P. 1
Pengertian Dan Karakteristik Madrasah.1

Pengertian Dan Karakteristik Madrasah.1

|Views: 1,936|Likes:
Published by niechanisa

More info:

Published by: niechanisa on Dec 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2013

pdf

text

original

MADRASAH

PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK MADRASAH Pengertian Madrasah Kata "madrasah" dalam bahasa Arab adalah bentuk kata "keterangan tempat" dari akar kata "darasa". Secara harfiah "madrasah" diartikan sebagai "tempat belajar para pelajar", atau "tempat untuk memberikan pelajaran".1 Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kata "madrasah" memiliki arti "sekolah" kendati pada mulanya kata "sekolah" itu sendiri bukan berasal dari bahasa Indonesia,
2

melainkan dari bahasa asing, yaitu school atau scola. Sungguhpun secara teknis, yakni dalam proses belajar-mengajarnya secara formal, madrasah tidak berbeda dengan sekolah, namun di Indonesia madrasah tidak lantas dipahami sebagai sekolah, melainkan diberi konotasi yang lebih spesifik lagi, yakni "sekolah agama", tempat di mana anak-anak didik memperoleh pembelajaran tentang seluk-beluk
3

agama dan keagamaan Islam. Madrasah dan sekolah islam saat ini, dari segi substansi sama saja, karena masingmasing mengajarkan agama dan bahasa arab, sedangkan kurikulum lain mengikuti standar nasional yang di tetapkan Badan Nasional Standar Pendidikan. 4 Dalam prakteknya memang ada madrasah yang di samping mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan , juga mengajarkan ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah-sekolah umum. Selain itu ada madrasah yang hanya mengkhususkan diri pada pelajaran ilmu-ilmu agama, yang biasa disebut madrasah diniyyah. Kenyataan bahwa kata "madrasah" berasal dari bahasa Arab, dan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, menyebabkan masyarakat lebih memahami "madrasah" sebagai lembaga pendidikan Islam, yakni "tempat untuk belajar agama" atau "tempat untuk memberikan pelajaran agama dan keagamaan".5
1

Karakteristik Madrasah di Indonesia Madrasah memiliki kurikulum, metode dan cara mengajar sendiri yang berbeda dengan sekolah. madrasah memiliki karakter tersendiri, yaitu sangat menonjolkan nilai religiusitas masyarakatnya. Sementara itu sekolah merupakan lembaga pendidikan umum dengan pelajaran universal dan terpengaruh iklim pencerahan Barat.

1. Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam, Edisi Indonesia (Surabaya: Risalah Gusti: 1996),h. 66 2 3

H.A. Malik Fadjar, Visi Pembaruan Pendidikan Islam (Jakarta: LP3NI, 1998),h. 111

Ibid..,h. 112. 4. Fadlullah,Dinamika Sistem pendidikan Islam Di Indonesia (Jakarta:Diadit Media,2008),h.132
5

A.LTibawi "Origin and Character of Al-Madrasah", Bulletin of The School of Oriental and African Studies 25 (1962): h. 227; dan Mehdi Nakosteen, loc., cit.

lembaga pendidikan tinggi lebih dikenal dengan nama al-jami'ah. Lihat Azyumardi Azra. h. Lembaga pendidikan madrasah ini secara berangsur-angsur diterima sebagai salah satu institusi pendidikan Islam yang juga berperan dalam perkembangan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. "Pesantren: Kontinuitas dan Perubahan". Tujuan dari pendirian madrasah ketika untuk pertama kalinya diadopsi di Indonesia ialah untuk mentransmisikan nilai-nilai Islam. h. 11 3 Madrasah di Indonesia merujuk pada pendidikan dasar sampai menengah. h. Aqib Suminto. masuk pada sistem pendidikan di Indonesia pada awal abad ke -20. 13 12 11 Nakosteen. Kata Pengantar untuk buku Nurcholish Madjid. sementara pada masa klasik Islam madrasah merujuk pada lembaga pendidikan tinggi. Politik Islam Hindia Belanda. 6 7 "Hanun Asrohah. 8 dengan maksud untuk melestarikan penjajahan.Perbedaan karakter antara madrasah dengan sekolah itu dipengaruhi oleh perbedaan tujuan antara keduanya secara historis. sebab masjid merupakan tempat ibadah. cit.47. 49. 1985). 1. Karena itu tidak heran jika di kalangan kaum pribumi. 160. 1982). ketika itu muncul resistensi yang kuat terhadap sekolah. . op. tapi juga menunjukkan perbed aan karakteristik antara keduanya. khususnya di Jawa. Jakarta: LP3ES. h. Xiv 8 H. Beberapa Aspek Tentang Islam Di Indonesia (Jakarta: Bulan Bintang. Merujuk pada penjelasan Nakosteen. selain untuk memenuhi kebutuhan modernisasi pendidikan. Perkembangan Madrasah Madrasah seperti kebanyakan lembaga modern lainnya. Ibid. tidak diberikan pelajaran agama sama sekali. 1999). 9 Dalam lembaga pendidikan yang didirikan Kolonial Belanda itu. Sekolah untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh pemerintah Belanda pada sekitar dasawarsa 1870-an bertujuan untuk menyiapkan calon pegawai pemerintah kolonial. yang dianggap kurang memadai jika dilakukan di dalam masjid.. ini dimaksudkan sebagai upaya menggabungkan hal-hal yang positif dari pendidikan pesantren dan sekolah itu. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (Jakarta: Logos.. yang mereka pandang sebagai bagian integral dari rencana pemerintah kolonial Belanda untuk "membelandakan" anak-anak mereka. Azyumardi Azra.13motif pendirian madrasah pada masa klasik Islam ialah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan pendidikan umum (sekuler). madrasah sebagai lembaga pendidikan tinggi ini tidak bisa disamakan artinya dengan universitas dalam arti lembaga pendidikan tinggi yang mengembangkan penyelidikan bebas berdasarkan nalar. h. cit. op. yang secara historis dan kelembagaan berkaitan dengan masjid jami' masjid besar tempat berkumpul jama'ah untuk menunaikan shalat Jum'at..cit. viii. Steenbrink. h. op.10 a.12Perbedaan tersebut pada gilirannya bukan hanya merupakan masalah perbedaan definisi. 192-193.6 sebagai jawaban atau respon dalam menghadapi kolonialisme dan Kristen. 9 10 Karel A. 7 di samping untuk mencegah memudarnya semangat keagam2aan penduduk akibat meluasnya lembaga pendidikan Belanda itu. Dalam tradisi pendidikan Islam. Get. Azyumardi Azra.

Madrasah di Indonesia secara historis juga memiliki karakter yang sangat populis (merakyat). Ada dua faktor penting yang melatarbelakangi kemunculan madrasah. 249-255. adanya kekhawatiran atas kecepatan perkembangan persekolahan Belanda yang akan akan menimbulkan pemikiran sekuler di masyarakat.Ted S. H. adanya pandangan yang mengatakan bahwa sistem pendidikan Islam tradisional dirasakan kurang bisa memenuhi kebutuhan pragmatis masyarakat. dan (b) madrasah yang didirikan tidak hanya untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam. . Malik Fadjar.Namun. Madrasah pertamakali didirikan oleh Dinasti Samaniyah (204 -395 H/819-1005 M) di Naisapur kota yang kemudian dikenal sebagai daerah kelahiran madrasah. Press. ternyata lebih dominan. Khuda Buksh dan DS Margoliuth.. Kedua. NY: AMS Press 1975. op. Sebab. para reformis kemudian memasukkan pendidikan Islam dalam persekolahan melalui pembangunan madrasah. Builiet. dan PUI di Majalengka. 116. h. Adam Mez..A. The Patrician of Nisyapur. seperti madrasah Adabiyah di Sumatera Barat. 4 y Perkembangan Madrasah pada masa pra kemerdekaan Pada era kolonialis Belanda. 16 madrasah dipahami sebagai lembaga pendidikan Islam yang berada di bawah Sistem Pendidikan Nasional dan berada di bawah pembinaan Departemen Agama. berbeda dengan madrasah pada masa klasik Islam. tetap berada dalam posisi pinggiran atau marjinal. 14 15 16 Azyumardi Azra. ix. cit. Cambridge: Mass. tafsir. dan madrasah yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah. h. dan hadits. 179. op. Untuk menyeimbangkan perkembangan sekulerisme. 1972. penekanan pada ilmu-ilmu agama (al-'ulum al-dmiyyah) terutama pada bidang fikih. h... perkembangan madrasah dimulai dari semangat reformasi yang dilakukan masyarakat Muslim. Sebagai lembaga pendidikan tinggi madrasah pada masa klasik Islam terlahir sebagai gejala urban atau kota. cit. 14 Hal itu berbeda dengan madrasah di Indonesia yang sejak awal pertumbuhannya telah dengan sadar menjatuhkan pilihan pada (a) madrasah yang didirikan sebagai lembaga pendidikan yang semata-mata untuk mendalami agama (li tafaqquh fiddin). The Renaissance ofhlam. yang biasa disebut madrasah diniyah salafiyah. sehingga ilmu-ilmu non-agama khususnya ilmu-ilmu alam dan eksakta. h. Persatuan Islam. Pertama. Harvard Univ.15 Dari keterangan di atas menarik untuk dicatat bahwa salah satu karakteristik madrasah yang cukup penting di Indonesia pada awal pertumbuhannya ialah bahwa di dalamnya tidak ada konflik atau upaya mempertentangkan ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum. tapi juga memasukkan pelajaran-pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah yang diselenggarakan pemerintah Hindia Belanda.. upaya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan pendidikan umum itu di madrasah sejak awal perkembangannya telah mengalami kegagalan. Pendidikan Islam.

Tidak heran kalau kebijakan yang dikeluarkan pemerintahan kolonial. Tentunya. madrasah harus memberikan pelajaran agama sebagai mata pelajaran pokok paling sedikit enam jam seminggu secara teratur disamping mata pelajaran umum.25 5 24 Karel A. yaitu bertahan. 1994). Departemen Agama secara lebih tajam mengembangkan program-program perluasan dan peningkatan mutu madrasah. guru madrasah wajib mempunyai izin dari penguasa.. (Jakarta : DEPAG RI. tidak juga melupakan usaha-usaha keras yang sudah dirintis oleh sejumlah tokoh seperti Ahmad Dahlan. Perkembangan itu akan lebih maju lagi terutama di daerah-daerah pe-losok yang jauh dari pengawasan penguasa. dan progresif. 1986). 4 1950 tentang dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di sekolah pasal 10 menyatakan bahwa belajar di sekolah agama yang telah mendapat pengakuan Departemen Agama. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. menolak. Kebijakan pembatasan yang dilakukan pemerintah kolonial tersebut tentunya mendapat reaksi dari kalangan Muslim. hlm. dan di bidang kurikulum. Pesantren Madrasah Sekolah.Pemerintah kolonial. 23 y Perkembangan Madrasah pada masa orde lama Mempelajari perkembangan madrasah terkait erat dengan peran Departemen Agama sebagai andalan politis yang dapat mengangkat posisi madrasah sehingga memperoleh perhatian yang terus menerus dari kalangan pengambil kebijakan. dan Kalimantan. Paling tidak ada tiga reaksi. madrasah ternyata mampu memantapkan eksistensinya di Jawa. merupa-kan bagian dari usahanya untuk mengkooptasi madrasah. sudah dianggap memenuhi kewajiban belajar24. Sumatera. Undang-Undang No. Di bawah tekanan dan pengawasan ketat dari pemerintahan kolonial. Kelompok progresif bersikap lunak pada pemerintah kolonial dan mengikuti aturan mainnya. Steenbrink. pelajaran yang diajarkan harus dilaporkan pada penguasa minta persetujuannya. Puasaka LP3ES. (Jakarta : PT. Kelompok yang ber-tahan kemudian membuat madrasah secara sembunyi-sembunyi di daerah yang jauh dari jangkauan penguasa. Untuk mendapat pengakuan dari Departemen Agama. 77 25Tim . hlm 98 Penyusun Departemen Agama. Dalam hal ini. Madrasah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan diakui oleh negara secara formal pada tahun 1950. Misalnya. ketika itu sangat khawatir madrasah akan melahirkan generasi yang menjadi penentang kekuasaannya. Hasyim Asy ari dan Mahmud Yunus.

124 (http://www2. Mes-kipun demikian. Madrasah Tsanawiyah Pertama untuk 4 tahun. Sistem pendidikan ini pula yang melahirkan dua dasar politik utama. 1983). y Perkembangan madrasah pada masa orde baru Sejak awal pemerintahan Orde Baru (1966).Jenjang pendidikan dalam system madrasah terdiri dari tiga jenjang. Alhasil. Menurut Dr Fasli Jalal dalam tulisannya yang berjudul Partnership Between Government and Religious Groups. 97-98 Op.932 siswa. 55 27Karel A. Rajawali. 27 Perkembangan madrasah yang cukup penting pada masa Orde Lama adalah berdirinya madrasah Pendidikan Guru Agama (PGA) dan Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN). Pada perkembangannya.28 PGA pada dasarnya telah ada sejak masa sebelum kemerdekaan. dualisme sistem pendidikan ini sebenarnya produk dari masa kolonialis Belanda. Steenbrink. 26Deliar Noer. 29 6 Di tahun 1966.com/kompas-cetak/0109/22/dikbud/pend08. tetapi pendiriannya oleh Departemen Agama menjadi jaminan strategis bagi kelanjutan madrasah di Indonesia. Pemerintah Indonesia berusaha menyatukannya dalam satu ideologi Pancasila. pemerintah mengizinkan madrasah swasta berubah statusnya menjadi madrasah negeri.881 siswa. Kedua. hlm. Indonesia mengembangkan dua sistem pendidikan. The Role of Madrasah in Basic Education in Indonesia. hlm. Jumlah peserta pendidikan ini merupakan angka yang luar biasa bagi sejarah pendidikan di Indonesia. Tujuan pendiriannya untuk mencetak tenaga-tenaga profesional yang siap mengembangkan madrasah sekaligus ahli keagamaan yang profesional.. Administrasi Islam di Indonesia. Madrasah Ibtidaiyah dengan lama pendidikan 6 tahun. Konsekuensi. sekitar 90 persen madrasah masih dikelola masyarakat setempat dengan bentuk yayasan. Khususnya di wilayah Minangkabau. ada 123 MI. dan 42 MA yang menjadi madrasah negeri. 182 MTs. Sedangkan di tingkat berikutnya atau Madrasah Aliyah (MA) terdapat 16 madrasah dengan 1.htm) 28Maksum. Pada pendidikan tingkat lanjutan pertama atau Madrasah Tsanawiyah (MTs) terdapat 776 madrasah dengan 87. Pertama.Cit.. yaitu pendidikan umum dan keagamaan. nlm. Op. 26 Sedangkan kurikulum yang diselenggarakan terdiri dari sepertiga pelajaran agama dan sisanya pelajaran umum.kompas. 29ImamPrihadiyoko . manajemen madrasah secara total bergeser dari masyarakat ke pemerintah. (Jakarta : CV. Madrasah Tsanawiyah Atas untuk 4 tahun. Ketiga. yaitu kekuatan Islam dan nasionalisme.Cit.

2 tahun 1989 adalah sekolah umum berciri khas agama islam dengan komposisi kurikulum 100 % sama dengan sekolah umum pad a semua jenjang SD. 30 Pada tingkat pendidikan dasar sistem pendidikan madrasah didominasi oleh swasta. Akibatnya. dikelola Menteri Agama.Pada awal pemerintahan Orde Baru. yaitu : Madrasah Diniyah Awaliyah. pendekatan legal formal yang dijalankannya tidak memberikan dukungan pada madrasah.h. tetapi harus memasukkan kurikulum umum yang sudah ditentukan pemerintah. kurikulum yang diterapkan ini bersifat sentralistik. Angka ini menjadi bukti bahwa peran masyarakat di ma-drasah sebenarnya masih sangat besar. dan SMA. jumlah SD swasta yang dikelola Depar-temen Pendidikan Nasional (Depdiknas) hanya enam persen. 7 30 . Sementara di tingkat lanjutan pertama. tsanawiyah. Tidak heran kalau masyarakat sebagai bagian dari komunitas pendidikan makin lama semakin menghilang. Menteri Agama (Menag). Madrasah Diniyah terdiri dari 3 jenjang. Reaksi yang muncul di kalangan muslim sangat keras. Namun. Isinya. Tahun 1972 Presiden Suharto mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 34 Tahun 1972 dan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 15 Tahun 1974 yang mengatur madrasah di bawah pengelolaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)-sebelumnya. Untuk menenangkan reaksi tersebut.Dinamika Sistem pendidikan Islam Di Indonesia (Jakarta:Diadit Media. Otoritas pendidikan juga meng-abaikan berbagai persepsi serta preferensi yang hidup di luar dirinya. Muchtar menilai. SMP. dan aliyah m enurut UU Sistem Pendidikan Nasional No. sekolah swasta hanya 46 persen. Padahal. Dewasa ini madrasah yang berfungsi sebagai sekolah agama disebut madrasah diniyah. masyarakat tidak memiliki kebebasan untuk mengelola dengan caranya sendiri. Madrasah Diniyah Wustho dan Madrasah Diniyah Ulya. Sedangkan madrasah tanpa embel-embel diniyah mulai tingkat ibtidaiyah.2008). pemerintah kemudian mengeluarkan keputusan bersama antara Mendikbud. Kebijakan itu dinilai sebagai usaha sekulerisme dan menghilangkan madrasah dari sistem pendidikan di Indonesia. mengembalikan status pengelolaan madrasah di bawah Men-teri Agama. karena hampir semua hal yang berkaitan dengan pendidikan sudah ditentukan oleh pemegang otoritas pendidikan. 127 . dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri).Fadlullah. segenap variabilitas yang lahir dari budaya lokal diabaikan.

Harus diakui bahwa jika pemerintah ingin menyukseskan wajib belajar sembilan tahun. Madrasah Ibtidaiyah (MI). Sekolah Menengah Pertama (SMP). 31 8 Berdasarkan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL BAB VI TENTANG JALUR. JENJANG. dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya. dan pendidikan tinggi. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). kepribadian. Pasal 11 (1) Peserta didik pada pendidikan keagamaan jenjang pendidikan dasar dan menengah yang terakreditasi berhak pindah ke tingkat yang setara di Sekolah Dasar (SD). Madrasah Tsanawiyah (MTs). akademik. Pasal 14 Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar. pendidikan menengah. dan khusus. 15 persen lembaga penyelenggara pendidikan dengan kurikulum umum adalah madrasah dan sekitar 91.com/kompas-cetak/0109/22/dikbud/pend08. Pasal 15 Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum. nonformal. Saat ini. dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya.1 persennya dikelola swasta. yang dimaksud dengan: 1. Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap. 31ImamPrihadiyoko (http://www2. maka peran madrasah swasta tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). DAN JENIS PENDIDIKAN Bagian Kesatu Umum Pasal 13 Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal.htm) . atau bentuk lain yang sederajat setelah memenuhi persyaratan. keagamaan. dan jenis pendidikan. kejuruan. vokasi. Sekolah Menengah Atas (SMA). 2. Bersadarkan PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2007 TENTANG PENDIDIKAN AGAMA DAN PENDIDIKAN KEAGAMAAN Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini. profesi. jenjang. Madrasah Aliyah (MA). yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur.kompas.

Madrasah memiliki kurikulum. tsanawiyah . sudah dianggap memenuhi kewajiban belajar. adanya pandangan yang mengatakan bahwa sistem pendidikan Islam tradisional dirasakan kurang bisa memenuhi kebutuhan pragmatis masyarakat. Madrasah Diniyah terdiri dari 3 jenjang. Pada dewasa ini madrasah yang berfungsi sebagai sekolah agama disebut madrasah diniyah. Madrasah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan diakui oleh negara secara formal pada tahun 1950. adanya kekhawatiran atas kecepatan perkembangan persekolahan Belanda yang akan akan menimbulkan pemikiran sekuler di masyarakat. Sedaangkan pada era kolonialis Belanda. masuk pada sistem pendidikan di Indonesia pada awal abad ke-20. madrasah memiliki karakter tersendiri. Sedangkan madrasah tanpa embelembel diniyah mulai tingkat ibtidaiyah. Undang-Undang No. Madrasah Diniyah Wustho dan Madrasah Diniyah Ulya.PENUTUP Dari semua uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan madrasah adalah tempat di mana anak-anak didik memperoleh pembelajaran tentang seluk-beluk agama dan keagamaan Islam. Pertama. Kedua. yaitu : Madrasah Diniyah Awaliyah. yaitu sangat menonjolkan nilai religiusitas masyarakatnya. metode dan cara mengajar sendiri yang berbeda dengan sekolah. Madrasah seperti kebanyakan lembaga modern lainnya. 4 1950 tentang dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di sekolah pasal 10 menyatakan bahwa belajar di sekolah agama yang telah mendapat pengakuan Departemen Agama. perkembangan madrasah dimulai dari semangat reformasi yang dilakukan masyarakat Muslim. ini dimaksudkan sebagai upaya menggabungkan hal-hal yang positif dari pendidikan pesantren dan sekolah itu. Ada dua faktor penting yang melatarbelakangi kemunculan madrasah.

Jakarta:Diadit Media. Surabaya: Risalah Gusti. Noer. Aqib. Tim Penyusun Departemen Agama. Steenbrink. : Politik Islam Hindia Belanda. Beberapa Aspek Tentang Islam Di Indonesia. Azyumardi. Jakarta : CV. Fadlullah : Dinamika Sistem pendidikan Islam Di Indonesia.DAFTAR PUSTAKA Nakosteen. 1998.htm ) . Jakarta : DEPAG RI. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. 1999. A.Malik : Visi Pembaruan Pendidikan Islam . Jakarta: Bulan Bintang.com/kompascetak/0109/22/dikbud/pend08. Mehdi : Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam.2008. Karel A. Fadjar. 1982.kompas.Jakarta: Logos. 1983 . Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Azra. Jakarta: LP3NI. Administrasi Islam di Indonesia . 1985. ImamPrihadiyoko (http://www2. Deliar. 1986. Rajawali. Jakarta: LP3ES. 1996. Suminto.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->