P. 1
Unprotected Makalah Buruh

Unprotected Makalah Buruh

|Views: 566|Likes:
Published by Andri Kumoro

More info:

Published by: Andri Kumoro on Dec 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/18/2013

pdf

text

original

Opini

BURUH DI INDONESIA: DILEMAHKAN DAN DITINDAS A. S. Finawati

Membicarakan perlindungan terhadap buruh haruslah bermula dari pemahaman buruh-majikan. tidak terhadap hubungan yang terjadi antara Dalam hubungan buruh-majikan, posisi buruh selalu kekuasaan ekonomi (yang pada akhirnya

subordinatif dengan majikan. Hal ini merupakan kesejatian akibat seimbangnya menimbulkan ketidakseimbangan kekuasaan politik) yang melekat pada buruh dan pada majikan. “Sosiologis buruh adalah tidak

bebas. Sebagai orang yang tidak mempunyai bekal hidup lain daripada tenaganya itu, ia terpaksa untuk bekerja pada orang lain. Dan majikan inilah yang pada dasarnya menentukan syarat-syarat kerja itu.”[1]
Atau yang dalam hubungan-hubungan Secara pribadi disebut sebagai kelemahan struktural.[2] sederhana

ketidakseimbangan hubungan buruh- majikan ini dapat diilustrasikan dengan pengalaman setiap orang saat melamar pekerjaan. Orang yang melamar pekerjaan pasti membutuhkan pekerjaan karenanya tidak gaji, berani dan maka resiko tidak tidak dapat menentukan syarat-syarat kerja. Apabila ada yang berani menentukan syarat-syarat kerja semisal diterima apabila pengusaha tidak setuju dengan penawaran dari pelamar kerja tersebut, harus ditanggung oleh si pelamar tersebut. Dengan demikian sebenarnya tidak pernah ada kekebebasan berkontrak dalam perjanjian kerja.

A.

Peran Negara Dalam Hubungan Perburuhan Konsekuensi dari hubungan subordinatif tersebut adalah

diperlukannya suatu faktor untuk menyeimbangkannya. Walaupun konsep keadilan sangat abstrak, namun cukup dapat diterima secara umum bahwa “adil” tidaklah berarti kesamaan dalam segala tindakan melainkan proporsional tergantung pada kebutuhannya. Bila www.pemantauperadi n. la 1 com

Opini
dianalogikan dengan kebutuhan baju, maka tidak adil bila orang gemuk dan kurus diberikan bahan baju yang sama banyaknya. Yang gemuk tentu membutuhkan lebih

com

2

Opini

banyak bahan dibandingkan Demikian pula halnya

dengan

seorang

yang

kurus.

dengan buruh dan pengusaha, karena buruh lebih lemah secara ekonomi yang otomatis mengakibatkan lemahnya posisi tawar dalam bidang kehidupan lainnya, maka justru tidak adil bila terdapat kesamaan perlindungan bagi buruh dan pengusaha. Yang lemah haruslah dilindungi lebih. Dan tugas tersebut tentunya terletak pada tangan Negara. Commons dan Andrews mengatakan “where the

parties are unequal (and public purpose is shown) then the state which refuses to redress the unequality is actually denying to the weaker party the equal protection of the laws.”[3]
Perlindungan terhadap yang lemah ini ternyata menjiwai UUD 1945 dalam wujud keadilan sosial yang berdasar kekeluargaan. DR. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat sebagai ketua BPUPKI dalam sidang pembentukan Undang-Undang Dasar mengatakan “Saya kira, saya

boleh

mengatakan

bahwa

semua

anggota-an ggota

telah

memufakati dasar yang dibicarakan di dalam sidang pertama daripada Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, yaitu dasar kekeluargaan atau dasar yang saya namakan dasar gotong-royong”.[4]
Muhammad Hatta pun yang dengan gigih meminta dimasukkannya hak asasi manusia dalam UUD, yang dikatakan oleh anggota yang lain berasal dari paham liberalisme, juga mengatakan “Memang kita

harus menentang individualisme dan saya sendiri boleh dikatakan lebih dari 20 tahun berjuang untuk menentang individualisme. Kita mendirikan negara baru di atas dasar gotong royong dan hasil usaha bersama.”[5] Akibatnya paham kapitalisme dan
ditolak. Hal ini tergambar dalam sidang kedua liberalisme saat BPUPKI,

Soekarno sebagai Ketua Panitia Kecil Perancang UUD diminta oleh ketua BPUPKI untuk menerangkan tentang UUD:

Kita semuanya mengetahui bahwa faham atau dasar falsafah individualisme telah menjadi sumber ekonomisch liberalisme Adam Smith dengan bukunya yang terkenal yagn sebenarnya tidak lain tidak bukan menjalankan teoricom
3

Opini

teori ekonomi di atas individualistis. Tetapi kita mengenal apakah hasil

dasar-dasar

falsafah

yang dengan

ekonomi individualisme,

adanya persaingan merdeka. Dengan adanya liberalisme, yang

ekonomisch

bersemboyan : “laissez faire, laissez

passer” dengan persaingan merdeka, timbullah kapitalisme yang sehebat-hebatnya di negeri-negeri yang merdeka.

Timbullah itu oleh karena ekonomisch liberalisme itu sistem yang memberi hak sepenuh-penuhnya kepada beberapa

orang manusia saja, untuk menghisap, memeras, menindas sesama yang lain. (Hal. 255)

Kita menghendaki keadilan sosial. … . Buat apa kita membikin grondwet, apa guna grondwet itu kalau ia tidak mengisi perut orang yang hendak mati kelaparan. … . Maka oleh karena itu, jikalau kita betul-betul hendak mendasarkan negara kita kepada faham kekeluargaan, faham tolong menolong, faham gotong royong dan keadilan sosial, enyahkanlah tiap-tiap pikiran, tiap-tiap faham individualisme dan liberalisme daripadanya.
(Hal. 259260)

Dengan

kata

lain

“UUD 1945 itu

sebenarnya juga menjadi

hukum dasar bagi kehidupan sosial, ekonomi dan kebudayaan di Indonesia[6].” Konsekuensi
1945 tersebut adalah dari pengaturan ekonomi dalam UUD

tidaklah

rasional

untuk

membatasi cakupan aspek

makna politik saja 4

kedaulatan rakyat sebagai konsep kekuasaan tertinggi, hanya dalam bidang politik saja. Karena, baik maupun aspek ekonomi, secara potensial, dapat www.pemantauperadi n. la com

Opini menjadi objek kekuasaan. … . Orang yang memiliki benda milik tertentu, memiliki kekuasaan (ekonomi) atas benda itu, seperti halnya orang yang memiliki budak, mempunyai kekuasaan (politik) atas budak yang dimilikinya. juga hubungan atasan-bawahan dalam pengertian Begitu

com

5

Opini

otoriter, meskipun dibandingkan antara tuan dan budak,

derajat tetapi

hubungannya atasan dalam

lebih

lunak

pengertian

tradisional mempunyai kekuasaan dan kewenangan tertentu terhadap bawahannya. Karena itu, dalam hubungan dengan gagasan kedaulatan rakyat, dapat dikatakan bahwa bidang ekonomi maupun politik sama-sama merupakan kategori dari objek kekuasaan yang dimiliki rakyat.[7]

Lebih lanjut, sikap Negara terhadap hubungan buruh-majikan serta tanggung jawab yang harus diembannya dapat dilihat dari sikap pembentuk Negara (founding fathers-mothers). Dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 19 Agustus 1945, panitia kecil yang ditunjuk Ketua PPKI, Soekarno, yang tugasnya rancangan departemen-departemen, mengusulkan membuat 13

Kementerian, salah satunya adalah Kementerian Kesejahteraan yang terbagi atas : a. Perburuhan b. Perawatan fakir-miskin dan anak yatim piatu c. Zakat fitrah[8]

Kementerian Kesejahteraan ini kemudian diputuskan menjadi Departemen Sosial dengan tugas “mengurus hal-hal perburuhan, fakir miskin

dan lain-lain.”[9] Konteks pengaturan departemen ini sangat jelas yaitu
melihat buruh sebagai pihak yang lemah dan karenanya harus dilindungi.

B. Politik Hukum Perburuhan Indonesia, Orde Lama VS Orde Baru Tujuan dari para pendiri Negara seperti yang tergambar dalam pemaparan sebelumnya, dalam kehidupan bernegara selanjutnya www.pemantauperadi n. la 6 com

Opini
sayangnya tidak bertahan lama. Pada masa Orde Lama, memang UU yang menyangkut perburuhan mengatur lebih lanjut perlindungan yang dimaksud oleh UUD 1945. Tercatat sejumlah UU yang amat pro buruh yaitu UU Berlakunya No. 1 Tahun 1951 tentang Pernyataan

com

7

Opini

UU No. 12 Tahun 1948 tentang Kerja, UU No. 2 Tahun 1951 tentang berlakunya UU No. 33 Tahun 1947 tentang Kecelakaan Kerja, UU 3 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya UU No. 23 tahun 1948 tentang Pengawasan Perburuhan, UU 21 Tahun 1954 tentang Perjanjian Perburuhan, UU No. 18 Tahun 1956 tentang Persetujuan Konvensi dasar dari Hak ILO No. 98 mengenai Berlakunya Dasaruntuk Berorganisasi dan untuk Berunding Bersama,

UU 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan dan UU 12 Tahun 1964 tentang Pemutusan Hubungan Kerja di Perusahaan Swasta.

NO. UNDANG-UNDANG 1. UU No. 1 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya UU No. 12 Tahun 1948 tentang Kerj a 2. UU No. 2 Tahun 1951 tentang berlakunya UU No. 33 Tahun 1947 tentang Kecelakaan Kerja UU 3 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya UU No. 23 tahun 1948 tentang Pengawasan Perburuha n

3.

4.

UU 21 Tahun 1954 tentang Perjanjian Perburuhan antara com

KONSEP PERLINDUNGAN · Larangan mempekerjakan anak · Pembatasan waktu kerja 7 jam sehari, 40 jam seminggu · Waktu istirahat bagi buruh · Larangan mempekerjakan buruh pada hari libur · Hak cuti haid · Hak cuti melahirkan/keguguran · Sanksi pidana untuk pelanggaran ketentuan dalam · Jaminan atas kecelakaan kerja · Hak pegawai pengawas untuk menjamin pelaksanaan jaminan kecelakaan kerja · Sanksi pidana untuk pelanggaran ketentuan dalam UU ini · Kewajiban Negara untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UU dan peraturan perburuhan · Hak pegawai pengawas memasuki dan memeriksa tempat usaha · Kewajiban majikan untuk memberikan keterangan lisan dan tertulis kepada pegawai pengawas · Sanksi pidana untuk pelanggaran · Jaminan perjanjian perburuhan tetap berlaku walau serikat buruh kehilangan anggotanya 8

Opini

Serikat Buruh Majikan

dan · Jaminan perjanjian perburuhan tetap berlaku walau serikat buruh bubar · Aturan tentang perjanjian perburuhan lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan perjanjian kerja antara seorang buruh dengan majikan · Pembatasan untuk majikan tidak boleh membuat perjanjian perburuhan dengan serikat buruh lain yang lebih rendah syarat kerjanya dengan perjanjian perburuhan yang sudah pernah dibuatnya

5.

6.

UU No. 18 Tahun 1956 tentang Persetujuan Konvensi ILO No. 98 mengenai Berlakunya Dasardasar dari hak untuk berorganisasi dan untuk berunding bersama UU 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuha n

7.

8.

Perlindungan hak berserikat (1) larangan diskriminasi karena menjadi anggota serikat buruh dan melakukan aktivitas sebagai anggota serikat buruh (2) larangan mendominasi atau melakukan kontrol · Definisi mogok yang cukup luas : (1) tindakan kolektif menghentikan atau memperlambat jalannya pekerjaan (2) akibat perselisihan perburuhan (3) maksud untuk menekan majikan atau membantu golongan buruh lain menekan majika n (4) agar menerima hubungan kerja, syarat-syarat kerja dan/atau keadaan perburuhan · Pembentukan P4D/P yang terdiri dari 3 pihak secara berimbang jumlahnya : pemerintah, wakil buruh dan wakil pengusaha · Ketentuan putusan P4D/P bersifat mengikat dan dapat dimintakan eksekusi ke pengadilan negeri UU 3 Tahun 1958 · Pengaturan dan pembatasan tentang mempekerjakan tenaga kerja asing yang Penempatan Tenaga berarti Asing perlindungan terhadap jaminan pekerjaan bagi UU 12 Tahun · Ketentuan pengusaha harus 1964 tentang mengusahakan tidak terjadi PHK Pemutusan 9

com

Opini

Hubungan Kerja di · Larangan PHK karena sakit selama tidak Perusahaan Swasta melebihi 12 bulan secara terus menerus dan karena menjalankan kewajiban negaradan ibadah agama · Kewajiban pengusaha merundingkan maksud PHK kepada serikat buruh/buruh · PHK hanya dengan izin P4D/P · PHK tanpa izin batal karena hukum · Selama belum ada izin pengusaha dan buruh harus menjalankan kewajibannya Kondisi ini berubah sejak pemerintah Orde baru mengeluarkan sejumlah peraturan dan kebijakannya. UU yang dikeluarkan pada awal Orde baru berkuasa yaitu UU 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja berserikat serta membuat memang memuat jaminan hak perjanjian perburuhan. Tetapi apabila

dicermati, mulai terjadi pergeseran paradigma. Kata “buruh” diganti dengan “tenaga kerja” diikuti dengan pasal-pasal yang memuat tidak lagi hanya perlindungan dalam konteks hubungan perburuhan tetapi juga pasal-pasal seputar hubungan industrial. Misalnya peran pemerintah untuk mengatur penyebaran dan penggunaan tenaga kerja dengan tekanan pada produktifitas dan pencapaian manfaat yang sebesar-besarnya. Peraturan dan kebijakan pemerintah tentang perburuhan selanjutnya secara garis besar dapat dikategorikan menjadi 2 besaran, yang menyangkut hak ekonomi dan hak politik buruh. Walaupun pembagian ini sebetulnya bias, karena soal-soal kesejahteraan bagi buruh tidak berarti persoalan ekonomi semata karena bila secara politik buruh lemah/dilemahkan maka otomatis hak ekonominya akan lemah pula, tetapi pembagian ini selain untuk memudahkan pengelompokkan justru untuk menunjukkan hubungan tak terpisahkan antara hak ekonomi dan hak politik buruh.

com

1 0

I. Menyangkut Hak Politik Buruh Secara sederhana dalam, hak politik buruh berarti peraturanperaturan yang menyangkut kegiatan berserikat. Seperti hak berserikat itu sendiri, hak untuk melakukan perundingan (pembuatan kesepakatan kerja bersama) dan hak mogok. Tercatat beberapa Peraturan Menteri Tenaga Kerja yaitu :

NO. PERATURAN/KEBIJAKAN ISI KETENTUAN 1. Permenaker 1/MEN/1975 Pembatasan serikat buruh yang

dapat didaftar di Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi yaitu gabungan di 20 serikat daerah buruh Tk. buruh I yang min. dan mempunyai pengurus daerah beranggota 15 SB · iuran serikat melalui pengusaha · serikat wajib buruh mempertanggungjawabkan

2.

Permenaker 1/MEN/1977

dipungut

keuangan organisasi tingkat basis pabrik kepada Menteri Tenaga kerja, Transmigrasi dan Koperasi[10] 3. Permenaker 5/MEN/1984 Permenaker 1/MEN/1985 Iuran buruh dipungut secara kolektif oleh perusahaan · Penyeragaman pola KKB · Syarat yang membatasi SB dapat membuat KKB yaitu memiliiki anggota sekurang- kurangnya 50% dari jumlah buruh di perusahaan 5. Permenaker 5/MEN/1987 Persyaratan organisasi yang dapat didaftarkan

4.

ke Depnaker 6. Kepmenaker 15A/MEN/1994 · Pengakuan tunggal Negara hanya pada FSPSI untuk 7. Permenaker 5/MEN/1998 perundingan perselisihan perburuhan · Pendaftaran SP yang sebenarnya merupakan bentuk perizinan · Penyeragaman asas organisasi

Selain itu masih ada “13 surat keputusan menteri …, 8 di antaranya bersifat campur tangan untuk menghegemoni buruh, dan selebihnya (5) yang secara lebih tegas membatasi, melarang dan menekan buruh.”[11] Dari delapan yang bersifat campur tangan tersebut di antaranya adalah Kepmen No. 645/Men/1985 tentang pelaksanaan Hubungan Industrial Pancasila. HIP yang berasal dari Hubungan Perburuhan (HPP) hakekatnya adalah melemahkan gerakan Pancasila buruh maupun

serikat buruh. Dengan “… menentang konflik, dalam praktek juga menolak hak untuk melakukan aksi mogok karena dianggap tidak selaras dengan prinsip kekeluargaan yang melandasi Pancasila.”[12] Sedangkan ketentuan yang tegas membatasi antara lain Kepmen 4/Men/1986 yang menekan hak mogok dan kebebasan membentuk serikat buruh, kepmen 342/Men/1986 yang menentukan aparat keamanan (Korem, kodim, Kores) boleh ikut campur menangani perselisihan perburuhan.[13] Dengan aturan-aturan di atas, kedudukan buruh dipastikan akan lemah. Rupanya Pemerintah Orde Baru amat paham bila kekuatan buruh terletak pada persatuannya yang terwujud pada serikat buruh. Secara garis besar yang dilakukan aturan-aturan menyangkut hak politik buruh tersebut serikat adanya adalah buruh satu secara dan serikat sistematis buruh yang menghambat hanya oleh diakui pembentukan memungkinkan membuat kebijakan

pemerintah. Kemudian

satu serikat buruh, yang menjadi mudah dikontrol ini, dipreteli pula hak asasinya yaitu hak mogoknya. Padahal “… hak mogok adalah salah satu sarana prinsip dimana para pekerja dan serikat buruh mereka dapat mempromosikan dan membela kepentingan ekonomi dan sosial mereka secara sah (ILO, 1996d, ayat 473 - 475).”[14]

II. Menyangkut Hak Ekonomi Buruh Hak ekonomi buruh secara sederhana diartikan sebagai peraturan-peraturan yang menyangkut kesejahteraan secara langsung bagi buruh. Beberapa di antaranya adalah

NO. PERATURAN/KEBIJAKAN ISI KETENTUAN 1. PP 8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah · Perlindungan pembayaran upah · Asas no work no pay · Daluwarsa tuntutan yang berkaitan dengan hubungan kerja selama 2 2. 3. Permenaker 6/Men/1985 Permenaker 5/MEN/1986, diganti 4. dengan Permenaker Permenaker 4/MEN/1986, Permenaker 3/MEN/1996 akhirnya menjadi Kepmenaker Penyelesaian PHK dan Penetapan pesangon, · Uang Jasa dan Ganti diganti tahun Aturan tentang pekerja harian lepas Aturan mengenai kesepakatan tertentu (pekerja kontrak) · Ketentuan tentang mangkir bagi buruh · Mereduksi menjalankan dalam UU kewajiban hak dan untuk kewajiban PHK kerja waktu

buruh-majikan selama proses terhadap buruh (tidak mendapat pesangon) Aturan pemberian SP

dengan adanya skorsing

150/MEN/2000 tentang · Aturan PHK karena kesalahan berat (surat

peringatan) bagi buruh

Ketentuan tentang besarnya pesangon 5. Permenaker 5/Men/1989 diganti Permenaker 1/MEN/1996 akhirnya Secara sekilas peraturan-peraturan tersebut memang berisi perlindungan terhadap buruh. Tetapi bila ditelaah lebih dalam, berbagai peraturan tersebut justru mengurangi hak-hak buruh. Aturan tentang pekerja harian lepas misalnya, tidak hanya melegitimasi jenis hubungan kerja harian lepas tetapi perlindungan yang ada dalam permenaker tersebut yaitu ketentuan jumlah bulan dan hari dalam sebulan untuk pekerja harian lepas (tidak boleh melebihi 3 bulan berturut-turut dan 20 hari kerja dalam setiap bulannya) membuka peluang untuk mengeksploitasi buruh dan membuatnya tetap pada status buruh harian lepas. Dalam sebuah kasus yang ditangani oleh Serikat Buruh Jabotabek Perjuangan (SBJ P), pengusaha mempekerjakan buruh selama bertahun-tahun pada tempat dan jenis pekerjaan yang sama, tetapi tidak pernah selama 3 bulan berturut-turut. Akibatnya buruh tersebut tetap berstatus harian lepas yang tentu saja hak-haknya lebih buruk dari buruh tetap. Kasus menuntut status ini, dalam putusan P4P mengalahkan buruh dengan alasan formalitas mengacu pada ketentuan Permenaker 6/Men/1985. Hal Tertentu serupa mengenai aturan Kesepakatan Kerja Waktu (KKWT) yang telah meluaskan praktek kerja kontrak. Aturan tentang Upah minimum

Pelanggaran tidak hanya untuk ketentuan waktu kontrak (yang tidak boleh melebihi 2 tahun dan perpanjangan 1 kali dengan total keseluruhan masa kontrak tidak boleh melebihi 3 tahun) tetapi juga untuk jenis pekerjaan yang boleh dikontrak.

“Dari data lapangan pemberlakuan KKWT

dapat

dilihat

bahwa

ternyata

sudah merupakan kondisi umum dari hubungan industrial. Hal ini bukan saja terjadi di perusahaan swasta, namum juga terjadi pada Badan Usaha Milik Negara. … data lapangan menunjukkan bahwa sistem kerja kontrak inipun hampir terjadi di semua jenis pekerjaan. Dari bagian kebersihan, keamanan sampai ke bagian pembukuan/accounting, marketing, perencanaan serta

penjualan. Dari segi jabatan pun dapat dilihat, bahwa sistem kerja kontrak juga terjadi dari posisi yang paling rendah seperti office boy, satpam sampai ke supervisor bahkan

manager.”[15]

Kondisi yang sedikit berbeda pada Kepmenaker 150/Men/2000 adalah apabila dua peraturan menteri tentang pekerja harian lepas dan kontrak membuka peluang penyelundupan hukum, maka pengaturan tentang pesangon ini dalam ketentuannya memang sudah melemahkan dan mengurangi perlindungan terhadap buruh yang ada dalam undangundang. Selain sering dikatakan melanggar asas praduga tak bersalah (karena pengusaha diberi hak melakukan alasan skorsing PHK tanpa (dengan melalui mekanisme seperti permintaan izin PHK), aturan ini juga mengenalkan kesalahan berat sebagai konsekuensi tidak mendapat pesangon) tanpa penyebutan mekanisme pembuktian yang jelas. Akibatnya, P4D/P merasa diberi kewenangan untuk memutus hal-hal yang sebetulnya merupakan lingkup tindak pidana yang seharusnya hanya menjadi kewenangan peradilan. Hal serupa pada aturan tentang upah minimum yang pada kenyataannya dengan justru menjadi hidup tidak ‘aturan upah maksimum.’ lagi Selain pada KFM), mendasarkan pada kebutuhan fisik minimum/KFM padahal lebih layak kebutuhan sering minimum/KHM sesuai dengan (ditambah prakteknya perhitungan

ketidakjelasan aturan ini menyebabkan buruh dengan masa kerja

bertahun-tahun juga mendapat upah sebesar upah minimum, sama dengan buruh yang baru masuk bekerja. Tidak heran masalah “upah sundulan” kerap menjadi sumber perselisihan

antara buruh tidak pernah

dengan

pengusaha.

Belum

lagi

masalah

diperhitungkannya kebutuhan buruh perempuan yang karena organ reproduksinya membutuhkan lebih banyak kebutuhan serta. Begitu pula dengan kebutuhan buruh yang telah berkeluarga yang tidak masuk dalam perhitungan upah minimum. Dari paparan di atas, walau undang-undang perburuhan banyak memberikan perlindungan, dalam praktek perlindungan tersebut hilang akibat aturan-aturan di bawahnya

“… kelonggaran yang diberikan kepada buruh oleh undangundang justru dijegal oleh peraturan-peraturan pelaksanaan di bawahnya. … . Selain itu banyaknya peraturan di bawah undang-undang yang bertentangan dengan undang-undang di atasnya yang dihasilkan pada masa ini juga menunjukkan usaha pemerintah yang semakin intensif untuk memanfaatkan

‘lubang- lubang’ kelemahan undang-undang perburuhan, karena pemerintah merasa berkepentingan untuk mempercepat

pertumbuhan ekonomi, … .”[16]

Pelemahan serikat buruh kehilangan

ternyata

membuat

buruh

harus

kesejahteraannya. Selain tidak mampu mempengaruhi kebijakankebijakan Negara (misal yang menyangkut kesejahteraan), buruh juga tidak mampu memaksa pemerintah untuk mengawasi pelaksanaan aturan yang ada (misal ketentuan tentang pengawasan perburuhan yang seharusnya dilakukan pemerintah terhadap pelanggaran UU perburuhan).

C. Saat ini

Keadaan berlakunya UU No. 25 Tahun 1997 tentang

Sejak

Ketenagakerjaan, yang dimaksud sebagai pengganti serta kompilasi

seluruh aturan perburuhan, gagal untuk diberlakukan dan harus ditunda setelah gelombang demonstrasi besar-besaran penolakannya. Pemerintah merubah strategi dengan “ menawarkan turunan dari UU

tersebut ke dalam paket 3 RUU Perburuhan, … UU 21/2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh, RUU Perlindungan Pembinaan Ketenagakerjaan (PPK) dan RUU PPHI … .”
[17]

Bila kebijakan perburuhan Orde Baru yang membatasi buruh berideologi pembangunanisme[18], maka dengan UU 25 Tahun 1997 dan tiga undang-undang turunannya tersebut, kebijakan ini dilanggengkan dengan tambahan motivasi dari tekanan lembaga keuangan internasional untuk kepentingan pasar. Sebagai prasyarat untuk mencairkan dana talangan yang disediakan IMF itu, pemerintah Indonesia memiliki kewajiban untuk melaksanakan sejumlah agenda ekonomi neoliberal melalui penandatangan Letter of Intent (LOI).[19] Agenda ekonomi neoliberal ini memiliki prasyarat untuk keberlakuannya. Arahnya adalah peran aktif pemerintah diganti dengan peran yang minimalis serta non intervensionis.[20] Hal ini tentu berlaku untuk semua bidang kehidupan, perburuhan tidak luput daripadanya. Kebijakan tersebut tentu perlu infrastruktur dan undangundang alat yang paling tepat untuk melegitimasinya. Karenanya tidak heran bila filosofi dasar tiga undang- undang perburuhan tersebut memiliki kesamaan yaitu mengurangi bahkan melepaskan peran Negara dalam hubungan buruh-majikan. Dengan asumsi liberalisasi pasar maka intervensi pemerintah dalam bentuk perlindungan terhadap buruh akan menjadi hambatan. Karenanya nasib buruh diserahkan pada mekanisme pasar atau dengan kata lain buruh yang bisa dianalogikan sebagai semut harus bertarung dengan gajah dengan senjata yang harus sama. Nuansa kental kepentingan agenda neoliberal pada pembentukan UU perburuhan ini secara gamblang diungkapkan oleh Ketua Komite Pemulihan Ekonomi Nasional (KPEN) Sofyan Wanandi saat mengomentari RUU Ketenagakerjaan “Kesepakatan yang telah diparaf bersama tersebut hendaknya tidak diubah sepihak oleh

Menakertrans secara mendadak. Apalagi kesepakatan tripartit telah mengadopsi kepentingan pasar global, karena masalah ketenagakerjaan

menjadi pertimbangan investasi, baik pengusaha nasional maupun asing.”[21] Lihat pula komentar Menteri Kehakiman dan HAM, Yusril Ihza Mahendra pada sidang judicial review UU Ketenagakerjaan 11 Desember 2003 saat menjawab argumentasi pemohon undang tersebut IMF: bukan “dalam dilatari bila pembuatan undangmelainkan tanggal

kepentingan rakyat

kepentingan

Letter of

Intent disepakati

tanggal berapa saja undang-undang apa harus sudah disepakati. Hal ini karena pemerintah meminjam uang atau berhutang.”[22]

UU 21 Tahun 2000 Pekerja/Serikat Buruh menjamin kebebasan

tentang

Serikat

Secara formalitas undang-undang ini memang mengakui serta buruh untuk berserikat. Tetapi jaminan tersebut direduksi oleh pasal- pasal berikutnya. Pencatatan yang seharusnya berfungsi administratif pada prakteknya menjadi legalisasi sah tidaknya suatu serikat buruh. Hal ini karena pencantuman hak-hak serikat buruh selalu diembel-embeli dengan “serikat buruh yang telah mencatatkan serta mempunyai nomor bukti berhak … .” Hal ini jelas merupakan pembatasan bagi serikat buruh yang tidak mencatatkan diri. Lebih buruk lagi dalam praktek, nomor bukti pencatatan ini selalu ditanyakan baik oleh pihak Departemen Tenaga Kerja maupun lembaga penyelesaian perslisihan perburuhan (P4D/P). Sehingga stigma serikat buruh illegal sebelum adanya UU 21 tahun 2000 ini belum bisa lepas dari serikat buruh yang memilih untuk tidak mencatatkan diri. Dalam hal ini kebebasan berserikat yang dijamin oleh UUD jelas telah dilanggar. Kesan undang-undang ini hanyalah lip service Negara diperkuat dengan tidak dapat diimplementasikannya aturan-aturan perlindungan terhadap kebebasan berserikat. Walaupun memuat ancaman hukuman penjara selama 1 – 5 tahun dan/atau denda sebesar 100 – 500 juta, pada kenyataannya tidak ada satupun pelaku pelanggaran berserikat yang

dikenai hukuman bahkan tidak ada satupun kasus pelanggaran berserikat yang sampai ke meja hijau untuk diadili. Kasus-kasus di bawah ini hanya bersumber dari kasus-kasus yang masuk ke LBH Jakarta, sehingga

bisa dipastikan ada lebih banyak kasus pelanggaran berserikat yang dilaporkan dan tidak ditindaklanjuti.

NO NAMA 1. Serikat Pekerja Mandiri

KASUS PHK massal terhadap 799 orang dan gugatan perdata terhadap 7 orang pengurus SB PHK beruntun dan

TEMPAT PELAPORAN Polda Metro Jaya

WAKTU STATUS KETERANGAN PELAPORAN PELAPORAN Januari 2001 Tidak Telah ada rekomendasi ILO bulan Juni 2002 yang menyatakan bahwa

2.

Serika t Pekerj a Bank Panin

Polda Metro jaya

Awal 2001

3.

massal terhada p penguru s dan aktivis Serikat PHK Polres Buruh Tangerang beruntun Nusantar dan a skorsing menuju PHK terhada p belasan penguru s dan aktivis SB, termasu k kriminalisa si ketua SBN,

Desember 2001

ada tindak lanjut penangana n kasus. Alasan tidak jelas. terjadi pelanggaran Konvensi ILO No. 87 Tidak Setelah ada ada tindak pengaduan, lanjut justru terjadi penangana kriminalisasi n kasus. terhadap Alasan tidak Ketua Umum jelas. SPBP, Imam Sutrisno dan Tidak Polisi sempat bertanya ada tindak tentang tindak lanjut pidana yang penangana dilaporkan dan n kasus. mengaku tahu Alasan tidak serta tidak memiliki UU ada juklak 21 teknis Tahun penangana 2000. n kasus Akhirnya 1 semacam kopi ini. UU 21 Tahun 2000 ditinggalkan untuk

Advokas i, Sujito 4. SPTP PT. Koinus Jaya Garment Skorsin g menuju PHK terhadap 9 orang pengurus SB yang memimpin aksi menuntut pelaksana an UMP Penyidik Desember Pegawai negeri 2001 Sipil (PPNS) Kandepnakertr ans Tangerang Tidak ada tindak lanjut penangana n kasus. Alasan tidak jelas. Pihak pengusaha akhirnya mencabut skorsing terhadap 9 orang pengurus SB tersebut setelah ada pelaporan ke Kandepnakertra ns Tangerang.

5.

6.

2002, pemberian cuti haid dan SP PT. cuti Skorsin Polres Cilegon Setia g Kawan menuju Menara PHK Motor terhada p ketua SB Ahmad PUK SPSI Skorsin Polda metro FARKES g jaya RS menuju Pondok PHK terhada Indah p Aktivis SB, Muchsin Rasjid dan Ketua SB, Edi Waluyo

Pertengahan Tidak 2001 ada tindak lanjut penangana n kasus. Alasan tidak jelas. Mei 2002 Tidak

Pengusaha berkeras mengajukan PHK terhadap Ahmad Syahbana Justru terjadi kriminalisasi terhadap Edi Waluyo

ada tindak lanjut penangana n kasus. Alasan tidak dengan alasan jelas. menganiaya atasan. Setelah diputus bersalah di PN Jakarta Selatan saat ini sedang menunggu *) Catatan Akhir Tahun (Catahu) 2002 LBH Jakarta

UU Ketenagakerjaan Setelah bertahun-tahun melewati proses pembahasan serta beberapa kali mengalami pengunduran pengesahan akibat penolakan buruh, akhirnya undang- undang ini disahkan dalam rapat paripurna DPR tanggal 25 Februari 2003. Melengkapi substansi undang-undang ini yang bermasalah, proses pembahasan bahkan pengesahan serta pengundangannya juga bermasalah. Setelah beberapa kali penolakan besar-besaran oleh buruh terhadap rencana pengesahan RUU Ketenagakerjaan (saat itu masih bernama RUU PPK) antara lain akhir Juli 2002 dan 23 September 2002[23], untuk melegitimasi bila undang-undang ini disetujui oleh buruh, maka DPR melibatkan serikat buruh secara intensif dan akhirnya membentuk tim kecil yang terdiri dari beberapa orang anggota serikat buruh. Tugasnya adalah membahas substansi undang-undang. Persetujuan mereka yang tergabung dalam tim kecil terhadap RUU Ketenagakerjaan ini kemudian dilegitimasi sebagai persetujuan seluruh buruh. Selain masalah pendanaan tim kecil yang tidak jelas asal usulnya, pembentukan tim kecil yang manipulatif, tidak partisipatif serta transparan, menyebabkan keanggotaan orangorang dalam tim kecil ini akhirnya ditolak serikat buruh di mana mereka menjadi anggota. Bahkan serikat buruh mereka ikut menjadi pemohon dalam judicial review UU Ketenagakerjaan. Pasca pengundangan, yang terjadi secara otomatis karena 30 hari telah lewat dari disahkannya tanpa penandatanganan presiden, terungkap bila terjadi perubahan dari naskah yang disahkan DPR dengan naskah yang diundangkan oleh sekretariat Negara. Tercatat ada 4 pasal yang mengalami perubahan yaitu pasal 159, pasal 170, pasal 171, dan pasal 172. Pasal 159 diubah dari 4 ayat menjadi 1 ayat saja. Sedangkan menyebutkan pasal lainnya mengalami perubahan yang redaksional. sakit “Misalkan, pasal 172 RUU Ketenagakerjaan versi DPR antara lain bahwa pekerja/buruh mengalami berkepanjangan, mengalami cacat akibat kecelakaan kerja dan tidak

dapat melakukan pekerjaannya setelah melampaui batas 12 bulan dapat mengajukan PHK dan diberikan uang pesangon dua kali ketentuan Pasal 159 ayat (2).”[24] Naskah

ini salah karena ketentuan pesangon dalam UU Ketenagakerjaan tidak diatur dalam pasal 159 ayat (2) melainkan dalam pasal 156 ayat (2). “Kesalahan tersebut kemudian dikoreksi, sehingga pasal 172 tidak lagi mengacu kepada pasal 159 melainkan pada pasal 156 UU No.13/2003.”[25] Diluar masalah prosedural, substansi pasal-pasal undangundang ini sangat jelas menggambarkan upaya sistematis untuk melepaskan tanggung jawab Negara akan kewajiban melindungi buruh. Hal ini dilakukan antara lain dengan mengurangi atau menghilangkan perlindungan DIbawah yang ini telah akan ada dalam undangbeberapa undang sebelumnya. dibandingkan untuk

aturan yang ada dalam UU 13/2003 dengan aturan menggambarkan hal tersebut yang lama

No. Masalah 1. Hubungan Kerja

Ketentuan UU 13/2003 Ketentuan Peraturan Lama a. Definisi buruh terdiri a. Definisi buruh terdiri dari dari 3 unsur : bekerja, 2 unsur : bekerja dan pada majikan dan menerima menerima upah (UU upah/imbalan dalam 22/195 bentuk lain (ps. 1 ayat 7) 3) Tidak ada b. Membedakan pembedaan, pembedaan ini pemberi berkaitan dengan kerja (pasal 4) dan aturan outsorcing Tidak pengusaha (pasal 5) ada aturan c. eksplisit tentang outsorcing/subkontrak Outsorcing/subkontrak akibatnya outsorcing diperbolehkan (pasal illegal 64) Hal ini tidak ada. d. Perjanjian kerja untuk d. Penambahan ini malah waktu tertentu membingungkan karena didasarkan tidak konsisten dengan atas jangka waktu pasal berikutnya ang atau selesainya membatasi perjanjian pekerjaan tertentu kerja waktu tertentu hanya untuk pekerjaan yang jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya

2.

Mogok

a.

Definisi mogok dibatasi sebagai akibat gagalnya perundingan (pasal 137) b. Harus dilakukan sah, tertib dan damai (pasal 137) c. Pembakuan isi pemberitahuan mogok : waktu dimulai dan diakhiri, tempat mogok, alasan mogok tanda tangan ketua dan sekretaris SB sebagai PJ (pasal 140 ayat 2) d. Mogok tidak sesuai prosedur = mogok tidak sah e. Mogok yang tidak sesuai prosedur : (1) Perusahaan dapat mengambil tindakan sementara : melarang buruh yang mogok berada di lokasi kegiatan proses produksi atau di lokasi perusahaan (2) Akibat hukum diatur dalam Keputusan Menteri

a.

Definisi mogok lebih luas : sebagai akibat perselisihan perburuhan, bisa untuk menekan majikan lain, agar majikan menerima hubungan kerja, syaratsyarat kerja dan/atau keadaan perburuhan (UU 22 Tahun 1957) b. Tidak ada ketentuan sah, tertib dan damai c. Pemberitahuan hanya harus memasukkan telah dilakukan perundingan tentang pokok perselisihan atau permintaan berunding ditolak oleh pihak lain atau telah 2X dalam waktu 2 minggu gagal mengajak berunding pihak lain. d. Tidak ada ketentuan eksplisit mogok tidak sesuai prosedur = mogok tidak sah e. Mogok yang tidak sesuai prosedur diancam hukuman kurungan max. 3 bulan atau denda Rp. 10.000

3.

Lock Out

a.

Definisi lock a. Definisi lock out lebih out dibatasi hanya luas : sebagai akibat sebagai akibat perselisihan gagalnya perburuhan, dapat perundingan (Pasal untuk membantu 146 ayat 1) majikan lain, agar b. Pembakuan buruh menerima isi pemberitahuan hubungan kerja, syarat lock out: kerja dan/atau keadaan waktu dimulai dan perburuhan (UU 22

4.

PHK

diakhiri, alasan lock 1957 out, tanda ) tangan b. Pemberitahuan hanya harus memasukkan pengusaha/pimpinan telah perusahaan (pasal dilakukan perundingan 140 ayat tentang pokok 2) perselisihan atau c. Tidak ada akibat permintaan berunding hukum ditolak oleh pihak lain bagi lock out yang atau telah 2X dalam tidak sesuai waktu 2 minggu gagal prosedur (berbeda mengajak berunding dengan mogok yang pihak lain. dilakukan buruh) c. Lock out tidak d. Lock out boleh sesuai tidak prosedur diancam sesuai prosedur : hukuman kurungan (1) buruh mogok max. 3 bulan atau tidak sesuai denda Rp. 10.000 prosedur (Hukuman ini sama (2) buruh dengan pelanggaran prosedur melanggar mogok) ketentuan d. Tidak ada normatif ketentuan diskriminatif Pasal 149 ayat (6) a dan a. Keharusan a. Selama izin PHK dari menjalankan hak dan lembaga penyelesaian kewajiban selama izin perselisihan belum ada, PHK dari lembaga buruh dan pengusaha penyelesaian harus menjalankan hak perselisihan belum dan kewajibannya tanpa ada, disimpangi kecuali (UU 12 Tahun dengan ketentuan 1964 pasal 11). skorsing (pasal 155 Skorsing pada aturan lalu ayat 2 dan 3). ada pada keputusan menteri tenaga kerja yang Aturan skorsing ini aturan yang melegitimasi ‘kesesata sebetulnya tidak sesuai dengan aturan n’ aturan skorsing sebelum yang ada di atasnya karena UU tidak membolehkanya. UU b. Ketentuan ini tidak 13 Tahun 2003. b. PHK boleh tanpa izin ada (alasan kesalahan berat bila buruh melakukan bagi PHK buruh tetap kesalahan berat (pasal harus melalui proses izin) 158 jo. pasal 171) c. Ketentuan ini tidak c. Kesalahan berat ada.

ata u (2) pengakuan buruh yang bersangkutan ata u (3) laporan kejadian yang dibuat pihak berwenang di perusahaan dan didukung min.2 saksi Pasal 158 ayat (2) Aturan ini pelanggaran dari asas praduga tak bersalah yang ada dalam UUD 1945 dan UU 14/1970 UU Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Bagian terakhir dari tiga paket UU perburuhan yang merupakan turunan dari UU Perselisihan 25 Tahun 1997 adalah UU penyelesaian Hubungan Industrial (PPHI). Undang-undang ini dapat

disebut sebagai hukum acara dari aturan materil yang ada dalam 2 undang-undang sebelumnya. Perubahan besar yang akan terjadi dengan diberlakukannya UU PPHI adalah menghilangkan corak perselisihan perburuhan yang istimewa berbeda dari perselisihan lainnya. Sesuai hakekat hubungan perburuhan yaitu tidak seimbangnya posisi buruh-majikan, perselisihan perburuhan selama ini dibuat bersifat kolektif (tidak individual) dan semi peradilan yaitu tidak sepenuhnya berada di bawah kekuasaan yudikatif tapi mempunyai kekuatan hukum tetap (yang karenanya dapat dimintakan eksekusi ke pengadilan negeri). Demi keperluan cepat, tepat, adil dan murah, perselisihan perburuhan yang selama ini diselesaikan di Panitia Penyelesaian

Perselisihan

Perburuhan Daerah/Pusat (P4D/P) akan di bawa ke

pengadilan negeri. Alasan yang jelas menimbulkan pertanyaan karena sistem perselisihan selama ini tidak membutuhkan biaya apapun bagi buruh. Lain persoalan bila seperti suap kepada biaya yang dimaksud dalam sistem perselisihan perburuhan selama ini adalah biaya-biaya siluman

petugas. Demikian perburuhan saat ini yang PTUN sebetulnya

pula

dengan

keluhan oleh

lamanya UU P4P

perselisihan tentang banding

bukan

disebabkan

22/1957 sebagai

Penyelesaian Perselisihan Perburuhan tapi karena UU 5/1986 tentang memasukkan dalam penjelasannya administrasi karenanya putusannya dapat dijadikan obyek gugatan. Karenanya UU PPHI tidak menjawab masalah yang ada dan hanya akan menimbulkan masalah baru. Bagaimana dengan mafia peradilan yang belum juga tuntas hingga saat ini. Demikian pula dengan tumpukan perkara di Mahkamah Agung yang masih menjadi keluhan para Hakim Agung hingga saat ini. Optimisme berlebihan akan sistem baru ini benar-benar mengabaikan realitas saat ini, lihat misalnya peradilan kepailitan yang tidak mampu memenuhi ketentuan limitasi waktu dalam prosesnya. Lagi-lagi pemerintah mengulangi kesalahannya dengan tidak menyelesaikan akar masalah tapi melarikan pada persoalan lain. Atau memang menghilangkan korupsi menjadi sesuatu yang dihindari oleh pemerintah? Diluar masalah tersebut, UU PPHI mempunyai agenda tersembunyi melemahkan gerakan serikat buruh. Lihat saja lingkup kewenangannya yang salah satunya adalah perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh. Modus operandi membentuk serikat buruh tandingan yang seringkali dilakukan pengusaha untuk membendung gerakan serikat buruh mensejahterakan anggotanya, diberikan tajinya dengan masuknya perselisihan antar serikat buruh dalam salah satu kewenangan pengadilan hubungan industrial. Serikat buruh akan kelelahan serta habis energinya untuk berselisih satu sama lain. Akibatnya, tujuan semula mengurus kesejahteraan anggota akan tersisihkan. Dari paparan kondisi terkini, dapat dilihat bila dulu pelemahan dan penindasan buruh dilakukan melalui peraturan di bawah undangundang, “yang memberikan semakin leluasa dan indikasi bahwa rezim eksekutif tidak terkontrol”[26], maka saat ini pelemahan

dan penindasan tersebut justru dilakukan melalui undang-undang yang berarti terjadi peningkatan serta perluasan instrumen negara

yang melakukan pelemahan serta penindasan tersebut, karena undang-

undang adalah produk legislatif dan eksekutif. Dalam situasi seperti ini harapan mungkin hanya dapat digantungkan pada mahakamah konstitusi atau rakyat diharuskan menentukan sejarahnya sendiri.

hal. 8.

Iman Soepomo, Pengantar Hukum Perburuhan. (Jakarta: Djambatan, 2003),
[1]

Hukum dan Perkembangan Sosial Buku Teks Sosiologi Hukum Buku III,
[2]

Editor A.A.G. Peters dan Koesriani Siswosoebroto. (Jakarta, 1990, Sinar Harapan), hal. 69.
[3] [4]

Soepomo, Op. Cit hal. 12

Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan

Kemerdekaan

Kemerdekaan Indonesia (PPKI) (Jakarta: Sekretariat Negara Republik
Indonesia 1995), hal.255
[5] [6]

ibid, hal. 259-260 Jimly Asshiddiqie, Konstitusi Politik dan Konstitusi Ekonomi

dalam Studi Hukum Tata Negara (Jakarta: Kapita Selekta Teori
Hukum Kumpulan Tulisan Tersebar, 2000), hal. 148.
[7] [8]

Ibid., hal. 160. Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan

Kemerdekaan

Kemerdekaan Indonesia (PPKI), (Jakarta: Sekretariat Negara Republik
Indonesia 1995), hal. 478.
[9]

Ibid., hal. 511.
Billah,

[10]

Strategi Pengendalian Negara Atas Buruh: Studi

Awal Masalah Perburuhan di Indonesia Pasca 1965 dari Perspektif Althusserian dan Gramscian, (Tesis Bidang Studi Sosiologi Program

Pasca Sarjana, 1995), hal. 88.
[11]

Billah, Op. Cit., hal. 119

Vedi R. Hadiz, Buruh dalam Penataan Politik Awal Orde Baru (Prisma: 7
[12]

Juli 1996), hal. 7.
[13] [14]

Billah, Op. Cit., hal. 120 Bernard Gernigon, Alberto Odero dan Horacio Guido, Prinsip-

Prinsip ILO tentang Hak Mogok. Kantor Perburuhan Internasional
(Jakarta: Kantor Perburuhan International, 2002), hal. 11.
[15]

Adi

Haryadi

dan

Timboel

Siregar,

Penelitian

Pekerja

Kontrak di 5 Kota Besar di Indonesia : Quo Vadis Pekerja Kontrak. Kerja sama AIRC (ASPEK Indonesia Research Centre) dan ACILs (American Cen for International Labor Solidarity). tre
[16] [17]

Billah, Op. Cit., hal. 189.

Release Komite Anti Penindasan Buruh (KAPB).

KAPB

beranggotakan puluhan serikat buruh (dari tingkat federasi hingga tingkat perusahaan) dan LSM perburuhan dengan sekretariat di LBH Jakarta.
[18] [19]

Lihat Billah dan Vedi R. Hadiz Revrisond Baswir, Makalah Bahaya Globalisasi Neoliberal

Bagi Negara- negara Miskin. Hal. 6.
Stiglitz, Washington Consensus Arah Menuju Jurang Kemiskinan (INFID :
[20]

2002), hal. 33.
[21] [22]

Kompas Cyber Media : 22 Februari 2003. Kutipan bebas penulis dari pernyataan Menteri Kehakiman judicial review UU Ketenagakerjaan di

dan HAM pada sidang 2003.
[23] [24]

Mahkamah Konstitusi, 11 Desember

Kompas Cyber Media Hukumonline : 24 April 2003

[25] [26]

Ibid
Billah, Op. Cit., hal. 177

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->