Disusun Oleh: Nama Nim Kelas Mata Kuliah Dosen Pembimbing

: Agung Subarkah : 2008131011 : VIIc : BCB ( Benda Cagar Budaya ) :Mirjah Dewi Indah Spd.

Departemin Pendidikan Nasional Kota Palembang Universitas PGRI Palembang Tahun Ajaran 2010 / 2011

.Desember 2010 Penulis i . Palembang…. Demikianlah sebagai pengantar kata. Atas semua ini penulis mengucapkan ribuan terima kasih yang tidak terhingga. dengan iringan serta harapan semoga tulisan sederhana ini dapat diterima dan bermanfaat bagi pembaca. isi dan lain sebagainya. semoga segala bantuan dari semua pihak mudah – mudahan mendapat amal baik yang diberikan oleh Allah SWT.KATA PENGANTAR Dengan segala kerendahan hati penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tugas Makalah ini untuk memenuhi dalam bidang penelaian benda cagar budaya yang berjudul “peranan juruh kunci di makam kawah tengkurep” Mungkin dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan baik itu dari segi penulisan. maka penulis sangat mengharapokan kritikan dan saran guna perbaikan untuk pembuatan makalah untuk hari yang akan datang.

.............................................................. Pokok Permasalahan .............. Komplek Makam Kawah Tengkurep .... C........... Tujuan............................................ B........................ Lampiran........................................................................................................................ Peranan Juru Kunci.. Daftar Pustaka....................... Daftar isi...................................................... Sejarah kawah Tengkurep……………………………………….................................................................................................................. Kata Pengantar.................................... D... i ii iii iii iii 1 1 7 9 10 ii ...................DAFTAR ISI Halaman Judul............................................. 1.......................................................... A..................................................... Latar Belakang.....................................................

Dia adalah tokoh controversial . • Pokok Permasalahan o Sejarah kawah Tengkurep o Bagaimana peranan Juru Kunci • Tujuan Agar generasi muda maupun pelajar dan mahasiswa di kota Palembang dapat mengetahui dan mengenal dan mencintai sejarah kota palembang. baik dibidang ekonomi.juga seorang petualang yang kompromistis . politik maupun tatanan social .seorang tokoh pembangunan yang modern . Makam ini dibangun tahun 1728 diatas perbukitan pinggir sungai Musi. Bangunan ini adalah bangunan berkubah yang pertama dibangun. Tiga buah bangunan monumental yang didirikan Sultan Mahmud Badarudin I. kubah merupakan cirri arsitek islam. Komering dan Musi. rialistis dan pragmatis . bukan saja untuk pertanian sekaligus untuk pertahanan. ii . Pembangunan pengairan sepanjang sungai Mesuji.• Latar Belakang Perkembangan Kota Palembang pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I mengalami kemajuan dan juga modernisasi. Sultan Mahmud Badarudin I adalah tokoh utama dalam pembangunan Palembang. dengan visi. Ogan.arsitektur dan fungsi yang berlainan satu sama lain salah satunya yaitu: Makam Kawah Tengkurep Pembangunan makam yang berbentuk kubah untuk dirinya dan keluarganya.

1” BT. Makam ketiga sultan tersebut masing-masing memiliki cungkup dan didampingi oleh makam permaisuri dan Imam Sultan. Dibanding dengan daerah sekitarnya. Kecamatan Ilir Timur II dan berjarak 100 m dari Sungai Musi. Ahmad Najamuddin. Mahmud Bahauddin. . kecuali makam Imam Sultan Bahauddin yang bertipe Aceh. kompleks pemakaman ini juga terletak di atas lahan yang lebih tinggi. Tercatat ada tiga orang sultan yang dimakamkan di kompleks ini. yaitu Mahmud Badaruddin I. Sejarah Kawah Tengkurep Kompleks Makam Kawah Tengkurep Termasuk dalam wilayah administrasi Kelurahan 3 Ilir.A.6” LS dan 104° 47’ 36. Keletakan geografis pemakaman ini adalah 02° 58’45. Seluruh makam mempunyai nisan tipe Demak-Troloyo.

Jika dilihat dari lokasi geografisnya.I Menurut mempengaruhi Inajati Adrisijati terdapat beberapa faktor yang keberadaan komponen kota. yaitu berada di perbukitan atau lahan yang lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya. ekonomi. Komponen- komponen kota tersebut berkaitan erat dengan kehidupan manuisa. yaitu tempat tinggal. Berkaitan dengan hal tersebut maka tulisan ini akan membahas tentang komplekskompleks makam para Sultan Palembang di mana makam sebagai salah satu komponen kota yang berhubungan dengan kehidupan religi penduduknya. dengan demikian dalam menentukan lokasi aktivitasnya manusia akan menempatkannya pada suatu bentang lahan tertentu stelah melalui pertimbangan-pertimbangan yang dimotivasi oleh kebutuhan untuk mendayagunakan sumber-sumber alam sekitarnya. Manusia dengan berbagai cara dan kemampuannya telah memanfaatkan sumber daya lingkungan untuk kelangsungan hidupnya. keamanan. keletakan kompleks makam para Sultan di Palembang memiliki kondisi yang sama. Berdasarkan hal ini dapat dikatakan bahwa ada keterkaitan antara lokasi kompleks-kompleks sekitarnya. Di samping itu komponen-komponen kota pada tiap-tiap periode berbeda-beda. Selain itu komplekskompleks tersebut terlihat didirikan di lokasi yang dekat dengan sumber air. Ditinjau dari sudut pandang Agama Islam geografis kompleks makam yang berupa perbukitan atau dataran yang meninggi telah sesuai dengan prinsip-prinsip penguburan secara Islam. makam sultan di Palembang dengan lingkungan . Agama Islam sendiri hanya memberi ketentuan bahwa dalam proses penguburan jenazah diarahkan menghadap kiblat dan untuk menghindarkan bau yang menyengat sehingga terhindar dari binatang buas maka makam tersebut harus diperdalam. religi dan rekreasi. tergantung dengan kebutuhan masyarakat pada waktu itu (Adrisijati 2000). Faktor yang menjadikan alasan atas kenyataan tersebut adalah adanya asumsi bahwa manusia dalam kehidupannya tidak terlepas dari lingkungan di mana ia melakukan aktivitasnya.

mereka percaya bahwa arwah . Kenyataan inilah yang menjadikan alasan dipilihnya daerah perbukitan atau dataran yang meninggi sebagai lokasi pemakaman. maka kegiatan reklamasipun dilakukan seperti di Kompleks Makam Sabokiking dan Kebon Gede. Keletakan kompleks-kompleks makam para sultan di Palembangyang berada di tempat yang tinggi dapat dikaitkan dengan prinsip Agama Islam mengenai penghargaan terhadap orang-orang yang dihormati. masih hidup terus di dunia arwah dan kehidupan mereka sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara mereka memperlakukan arwah nenek moyangnya. yaitu diletakan paling dekat dengan tempat ibadah atau ditempat yang paling tinggi. Dalam Agama Islam. Peletakan di tempat yang paling tinggi ini pada hakekatnya disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku pada masyarakat pendukungnya yang bisa saja telah ada sebelum Agama Islam berkembang di daerah tersebut. Pendukung tradisi ini percaya bahwa arwah nenek moyang yang telah meninggal. Karena itu dengan memakamkan orang yang dihormati di tempat yang tinggi. Kegiatan ini berupa pembuatan kanal-kanal yang bermuara di Sungai Musi dan hasil pengerukannya digunakan untuk meninggikan lahan di sekitarnya sehingga terbebas dari banjir dan selalu kering. Jika tidak ada lokasi yang memenuhi persyaratan. pada prinsipnya ada dua cara dalam meletakan makam orang yang dihormati.Pendalaman tersebut pada dasarnya harus di lokasi yang kering (Sayyid Sabiq 1983: 462-482). Dalam hal ini kebiasaan menempatkan makam di tempat yang tinggi seperti yang terjadi di nusantara berkaitan dengan kepercayaan yang telah ada sejak masa prasejarah. Pada masa tersebut telah ada tradisi yang menganggap bahwa tempat yang tinggi merupakan tempat bersemayam arwah nenek moyang. Secara umum keadaan geografis Palembang adalah dataran banjir dan tanggul alam. yang diikuti oleh dataran aluvial. karena itu pada musim penghujan di beberapa tempat mudah dilanda banjir. dalam hal ini berkenaan dengan tata letak makamnya. rawa belakang dan perbukitan rendah denudasial (Tim Penelitian Arkeologi Palembang 1992: 99).

orang itu bersama-sama arwah nenek moyang dapat memberkati bumi di mana mereka tinggal. di mana raja dianggap sebagai inkarnasi atau keturunan dewa (Heine-Geldern 1983: 16). yaitu Mahmud Badaruddin I. Tradisi ini kemudian melatari masyarakat pada masa perkembangan Agama Islam dalam meletakan makam orang dihormati di tempat yang tinggi. Pola pikir ini berkaitan juga dengan konsep Gunung Meru. Ahmad Najamuddin dan Muhammad Bahauddin. Jika dilihat kronologinya. Peletakan makam orang yang dihormati di tempat yang tinggi seperti yang terjadi di nusantara tidak dilarang karena semata-mata lebih cenderung disebabkan oleh penghargaan terhadap orang tersebut. dimana sebagai pusat jagad raya gunung ini merupakan tempat tinggal dewa-dewa penjaga jagad (Heine-Geldern 1983: 45). Pada kompleks-kompleks makam para sultan di Palembang. maka lahan yang memenuhi syarat adalah daerah pebukitan atau dataran yang ditinggikan. Meskipun demikian bila ditelusuri pendirian lebih lanjut terlihat adanya ketidakkonsistenan dalam kompleks makam sultan-sultan di Palembang. Kompleks Makam Kawah Tengkurep ini merupakan kompleks makam yang termuda dibanding kompleks-kompleks makam lainnya. Pada umummya kompleks makam di kota-kota tersebut berada di satu lokasi. berdasarkan data tekstual . Pada dasarnya Agama Islam tidak mengharamkan tradisi-tradisi yang berlaku sebelum agama tersebut berkembang di suatu tempat selama tidak bertentangan dengan ajarannya. keadaan ini juga dilatari oleh alasan praktis yaitu dengan kondisi geografis yang berupa rawa-rawa. Kepercayaan yang berkenaan dengan penghargaan terhadap orang yang dihormati pada masa Klasik berkaitan dengan adanya konsep Dewaraja yang berkembang di Asia Tenggara. Hal ini dapat dilihat pada Kompleks Makam Kawah Tengkurep. di mana di kompleks ini dimakamkan 3 orang Sultan. Menurut Retno Purwanti. Banyaknya kompleks makam sultan-sultan di Palembang adalah suatu yang tidak umum dijumpai pada kota-kota masa Islam di nusantara.

makam merupakan tinggalan arkeologi yang berkaitan dengan kegiatan religi masyarakat pendukungnya. Sesuai dengan prinsip peletakan makam dalam Agama Islam yang antara lain mengharuskan untuk memperdalam makam di tempat yang kering. Sebenarnya konflik elit politik pada masa Islam yang mempengaruhi keletakan kompleks makam penguasa tidak hanya terjadi di Kesultanan Palembang saja. Keadaan ini juga terjadi di kesultanan-kesultanan lain seperti Mataram danCirebon. Ketiadaan hukum tersebut rupanya menjadi pemicu konflik di antara kalangan elit politik kesultanan Palembang.disimpulkan bahwa sebelum pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I belum ada hukum yang mengatur tentang pewarisan tahta. maka kondisi lahan yang Akibat dari konflik tersebut antara lain mempengaruhi pendirian kompleks makam para sultanPalembang (Purwanti . sedangkan di Palembang. Selain sudut pandang religi. sultan yang berseteru dengan keluarga sultan pendahulunya cenderung memilih lokasi baru untuk makamnya dibanding menempati lokasi yang sama (Purwanti tt: 7-8 ). lahan di mana kompleks makam para sultan Palembang berada merupakan lokasi yang ideal. tt: 7). Ditinjau dari perspektif lingkungan. pola keletakan kompleks makam ini dapat ditinjau juga dari sudut pandang lingkungan dan budaya. yaitu berada di perbukitan atau dataran yang meninggi. Yang menjadi perbedaan antara Kesultanan Palembang dengan kesultanan Mataram dan Cirebon adalah kesultanankesultanan tersebut hanya memisahkan letak makam kelompok-kelompok yang berseteru pada sisi yang berbeda tetapi masih dalam satu kompleks. Secara keseluruhan keletakan kompleks makam sultan-sultan di Palembang menunjukkan pola yang sama. Konflik yang terjadi di dua kesultanan mengakibatkan adanya pemisahan lokasi makam-makam dari kelompok elit politik yang berseteru. II Sebagai salah satu aspek dari permukiman.

Banyaknya kompleks makam tersebut dapat ditinjau dari sudut pandang politik. Keunikan yang terdapat di kompleks makam sultan-sultan di Palembang yang tidak ditemui di kota-kota lainnya di nusantara adalah jumlahnya yang mencapai 7 buah.berupa dataran yang meninggi atau perbukitan merupakan tempat yang paling cocok dibanding kondisi lahan lainnya yang berupa rawa-rawa. terlihat bahwa penempatan kompleks makam sultan-sultan di Palembang berkaitan dengan cara penghargaan terhadap orang yang dihormati.Juru Kunci . Di kompleks-kompleks tersebut penghargaan ini dilakukan dengan meletakan makam Sultan beserta permasurinya dan Imam Sultan di tempat yang tertinggi. yang sebenarnya juga terpengaruh dari tradisi yang telah ada sebelum Islam masuk ke nusantara. Menurut Retno Purwanti sebelum masa pemerintahan Sultan mahmud badaruddin I belum ada hukum yang mengatur tentang pewarisan tahta. Tata cara tersebut adalah salah satu dari cara-cara peletakan makam orang yang dihormati secara Islami. Dalam perspektif budaya. sultan yang berseteru dengan keluarga sultan sebelumnya lebih memilih lokasi yang baru dibanding menempati lokasi yang sama. B. Ketiadaan hukum ini merupakan faktor yang memicu terjadinya konflik di antara kalangan elit politik Kesultanan Palembang yang mengakibatkan dalam meletakan makamnya.

di Palembang kosong dan digantikan oleh adiknya Susuhunan Husin Gamaludin. Mangku Bumi lorong SD 121 Rt.Pada tahun 2007 januari diteruskan oleh bapak Nirwan ini.28 No 40 3ilir Sistem juru kunci disini secara turun temurun.adapun apabila terjadi kerusakan akan dilaporkan di jambi.Peran juru kunci Nama Ttl Status Pendidikan Alamat :Nirwan : 18 April 1964 : Menikah / anak 4 orang : SEMEA Cinde :Jl.Pemerintah menunjuk siapa yang akan jadi juru pemelihara. Oleh pemerintah Belanda . Kesultanan Darussalam Palembang dari Candi Walang ( Sunan Abdul Rahman ) Masayu Masindi ( Candi Walang – Sultan Muhammad Mansyur – Sultan Mahmoed Badarudin I – Sultan / Susuhan Ahmad Najamudin – Sultan Muhammad Baha’udin. Tempat ini banyak didatangi masyarakat tanpa adanya hari yang ditentukan. • Sultan Mahmoed Badarudin II ( anak dari cucu ) dibuang oleh Belanda ke Ternate. • • • Peran dari BP3 juru pemelihara yaitu BCB agar terpelihara . BPPP ( Badan Penilaian pelestarian purbakala ) . dibuang juga dan diganti sultan Ahmad Najamudin kemudian diganti lagi yaitu sultan Ahmad Najamudin ke 4 .

dan membersihkan makam setiap hari dengan dibantu 3 orang teman dari dinas pembersih makam.jadi honor perbulan sebesar 900. lingkungan sekitarpun ikut berpartisipasi untuk menjaganya dan merawatnya.memelihara serta membimbing orang yang sedang berziarah ke makam tersebut. .kesultanan Palembang sibubarkan pada tahun • • Makam ini dikhususkan untuk keturunan Sultan Mahmud Badarudin tetapi dengan itu harus melapor dulu ke Pemerintah.000 dari BP3 jambi serta dari dinas pariwisata sebesar 470. Sebagai juru kunci diberikan honor sebedar 430.merawat .000. • Apabila juru kunci lalai akan dikenakan sangsi maka harus ada laporan terhadap BP3 dan dinas pariwisata. Ada tiga bagian bangunan yaitu: 1 Ruang utama ( Kawah tengkurep ) 2 Tengah 3 Luang / Luar Perananya : Menjaga . Bangunan Sultan 1728 dibangun dengan luas: Lebar 10 Tinggi 10 panjang Tebal 10 1 Meter 20 - Ketua kesultanan palembang yaitu sultan Iskandar – keturunan Perawatan merupakan tugas juru kunci tergantung dari masing – masing orang itu.000 tergantung dengan BP3.

2000. 278289. PIA IV hal. Inayanti.• Lampiran DAFTAR PUSTAKA Adrisijanti. “Makam-makam Kerajaan Mataram (Studi Pendahuluan tentang Keterkaitan dengan Perkotaan”. 1986. Arkeologi Perkotaan Mataram . ----------------------------.

Purwanti. Jakarta: Logos. Spatial Archaeology. Konsepsi tentang Negara dan Kedudukan Raja di Asia Tenggara. “Data Arkeologis tentang Kesultanan Palembang”. Zulkifli dan Abdul Karim Nasution (ed. 19-38. *) Tulisan ini telah diterbitkan di Jurnal Siddhayatra Volume 7 No 2 Mei 2001 Diposkan oleh Aryandini Novita di 00. 2000. Robert. -------. Beirut: Darrul Fiqir. 1997. Kotamadia Palembang (tidak diterbitkan). Sabiq. Studi tentang Pejabat Agama Masa Kesultanan dan Kolonial di Palembang. Bruce G. University ofCalcuta. David. Husni. Sistem Otorasi dan Administrasi Islam. Settlement Archaeology. tt.) hal. -------. Clarke. Retno. Yogyakarta: Penerbit Jendela. Rahim. ----------------------. 25-67. Jakarta: Rajawali Pers. KC Chang (ed. Fiqh Sunnah Jilid I. Heine-Geldern.36 . 1998. 1968. Islam dalam Sejarah dan Budaya Masyarakat Sumatera Selatan. 1946.). 1983. Aksara Balaputra Dewa no 9 hal 31-40. 2001. 1977. 1982. Mujib. Konflik Elit Politik pada Masa Kesultanan Palembang (Tinjauan Berdasarkan Letak Makam para Sultan Palembang) (tidak diterbitkan).Islam. London: Academic Press. Sayyid. Laporan Penelitian di Situs candi Angsoka. 1998. Stella Kramrisch. The Hindu Temple. “The Determinants of Settlement Patterns”. Intizar no 9 hal. “Peranan Ulama di Kesultanan PalembangDarussalam”. Palo Alto: National Press Book. “Pemilihan Ulama Kesultanan Palembang: Primordialisme atau Otoritas Sultan” . Trigger.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful