Pusat Sumber Daya Media Komunitas

Teori Dampak Media Televisi
Yossy Suparyo E-mail: yossysuparyo@combine.or.id Website: http://pelosokdesa.wordpress.com
Lisensi Dokumen: Copyright © http://kombinasi.net Sebagian atau seluruh berkas ini dapat digunakan dan disebarluaskan secara bebas untuk tujuan bukan komersial (nonprofit) dengan syarat tidak menghapus atau mengubah atribut penulis dan pernyataan hak cipta yang disertakan dalam dokumen ini.

Bagaimana modus operandi televisi mempengaruhi penonton? Berikut ini pendapat Satrio Arismunandar, Program Manager di TRANS TV, yang disampaikan dalam Pelatihan untuk Pelatih Masyarakat Peduli Media (MPM) di Hotel Rose In, Yogyakarta, pada 30 Agustus 2009. Menurutnya, ada beberapa teori yang bisa digunakan untuk mengkaji masalah ini, yaitu, teori peluru ajaib, pudarnya kepekaan, pembudidayaan atau kultivasi, pendekatan sosiologis, dan penetapan agenda. Pertama, teori peluru ajaib atau jarum suntik adalah teori yang populer di awal abad 20. Teori ini mengatakan pesan media berdampak pada orang secara langsung, bisa diukur, dan dampak itu bersifat segera. Jadi, dampaknya seperti peluru yang menghantam tubuh, atau seperti tubuh yang ditusuk jarum suntik. Namun, sekarang banyak ilmuwan berpendapat, dampak semacam ini jarang terjadi. Misalnya, seseorang yang melihat iklan sepeda motor Honda dan dia langsung membeli motor Honda itu, persis dengan model yang diiklankan di TV. Ada orang yang melihat tayangan tentang teroris yang mengebom Hotel Marriott dan orang ini pun segera membuat bom untuk menyerang hotel. Kedua, pudarnya kepekaan. Teori ini mengatakan, karena orang sudah terlalu banyak terekspos oleh kekerasan di media, misalnya, maka kekerasan tidak lagi memberi dampak emosional pada dirinya. Banyak orang tampaknya akan setuju dengan pandangan bahwa karena sering melihat tayangan kekerasan di televisi, maka seseorang tidak akan terlalu terganggu jika disuruh melihat film yang mengandung adegan kekerasan.

Teori Dampak Media Televisi 1 dari 3 halaman

Teori Dampak Media Televisi 2 dari 3 halaman . dan pengguna ringan media. Menurut teori ini. Teori-teori sosiologis tentang kekerasan di media mengeksplorasi cara-cara di mana media berdampak dan memperkuat ideologi-ideologi dan nilai-nilai yang dominan dalam sebuah budaya. Topik-topik yang tidak diangkat oleh media menjadi kurang atau tidak dianggap penting oleh publik. apakah dia tetap mengalami hilangnya kepekaan? Ketiga. pengguna menengah. Namun. pendekatan sosiologis terhadap (kekerasan di) Media. Orang yang kurang terekspos pada kekerasan di media memiliki rasa yang lebih realistis dalam memandang tingkat kekerasan di dunia nyata. pengaruh media bukanlah dalam persuasi (bujukan) atau perubahan sikap audiens. pembudidayaan atau kultivasi. ternyata dampak utama media berita adalah dalam penetapan agenda. Teori-teori sosiologis tentang media itu tidak bisa diukur. Cara yang kurang umum dalam mempelajari kekerasan di media adalah pendekatan sosiologis. dan bukan teori. itu lebih merupakan cara-cara teoretis tentang bagaimana melihat hubungan media dengan budaya. dan lalu melihat sesosok mayat nyata yang tergeletak di jalan.Pusat Sumber Daya Media Komunitas Pertanyaannya. Walau sikap dan perilaku berkaitan erat. dengan memberitahu masyarakat untuk berpikir tentang topik-topik tertentu. Keempat. Misalnya. Jadi. Banyak dari riset ini melibatkan perbandingan sikap dari para pengguna berat. ketimbang sekadar perilaku orang tersebut. apakah orang juga akan kehilangan kepekaan terhadap kekerasan dalam kehidupan nyata. seorang peneliti mungkin melihat saling-hubungan antara kekerasan di media dan sikap-sikap tentang maskulinitas dalam sebuah budaya. atau bagaimana kekerasan media memperkuat dan mencerminkan kebijakan luar negeri yang kasar dari sebuah negara. Kelima. media menetapkan agenda bagi opini publik. Misalnya. Ini berarti mereka melebih-lebihkan besarnya tingkat kekerasan yang benar-benar terjadi dalam komunitasnya dan di bagian dunia lain. Penetapan agenda ini biasanya lebih sering dirujuk sebagai fungsi media. teori penetapan agenda. mereka tampaknya akan memiliki salah konsepsi dalam penyikapan. Sesudah mempelajari cara peliputan kampanye politik. Salah satu temuan riset ini adalah bahwa ketika orang terekspos oleh kekerasan yang sarat di media. dengan cara mengangkat isu-isu tertentu. para penganut teori kultivasi berfokus pada bagaimana orang berpikir ketimbang pada apa yang diperbuat orang tersebut. Jika seseorang meninggalkan gedung bioskop sehabis menonton film berisi adegan kekerasan. yang dinamakan sindrom dunia yang ganas. Teori kultivasi atau pembudidayaan lebih berfokus pada bagaimana sikap orang dipengaruhi oleh media.

Pusat Sumber Daya Media Komunitas Yossy Suparyo. Untuk keperluan sehari-hari saya menggunakan sistem operasi Ubuntu. korespondensi. Teori Dampak Media Televisi 3 dari 3 halaman . (2) Jurusan Teknik MesinUniversitas Negeri Yogyakarta (1997). Bekerja sebagai Staf Manajemen Pengetahuan CRI (2007-sekarang). dan pengembangan perangkat lunak yang berbasis sumber terbuka (open source). aktif menulis karya jurnalistik. Riwayat pendidikan (1) Jurusan Ilmu Perpustakaan dan InformasiUniversitas Islam Negeri Yogyakarta (2002).