P. 1
kebijakan

kebijakan

|Views: 98|Likes:
Published by David Sigalingging

More info:

Published by: David Sigalingging on Dec 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/03/2013

pdf

text

original

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1

DASAR-DASAR KEBIJAKAN DI BIDANG PENDIDIKAN

Setelah selesai mempelajari Uraian Materi Kegiatan Pembelajaran 1 modul ini, diharapkan Anda dapat :

1. Menyebutkan dasar-dasar kebijakan di bidang pendidikan 2. Menjelaskan kedudukan Pancasila dan UUD 45 dalam kaitannya dengan kebijakan pendidikan 3. Menjelaskan kebijakan umum bidang pendidikan yang terdapat dalam GBHN 4. Menguraikan ketentuan-ketentuan pokok yang diatur dalam UU No.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional 5. Menguraikan substansi materi yang terdapat dalam UU No. 22- tahun 1999 khususnya yang terkait dengan bidang pendidikan . 6. Mengidantifikasikan kewenangan-kewenangan pendidikan dari PP No. 25 tahun 2000 7. Menguraikan pokok-pokok kebijakan di bidang pendidikan dasar dan menengah dalam propenas 2001-2005 Kebijakan-kebijakan pendidikan di Indonesia berpijak pada legalitas hukum yang diatur secara hirarkis dari yang tertinggi sampai yang paling rendah. Berdasarkan logika yuridis, kebijakan mengenai kebijakan pendidikan yang ada dewasa ini pada saatnya sudah dibuat sedemikian rupa sehingga selaras dengan logika hukum tersebut. Sebagai orang yang bertugas di wilayah praktis pendidikan. Sudah selayaknya Anda memahami betul tentang kebijakan-kebijakan bidang pendidikan. khususnya yang ada dalam lingkup pendidikan dasar dan menengah. Hal ini, sangat penting untuk diperhatikan, agar Anda selaku guru jenjang pendidikan dasar dan menengah memiliki pedoman yang jelas dalam melaksanakan tugas sehari-hari sambil terus meningkatkan profesionalisme diri.

Agar diperoleh gambaran yang jelas dan sitematis mengenai kebijakan-kebijakan bidang pendidikan dasar dan menengah, pelajarilah dengan seksama uraian materi berikut ini. Secara umum kegiatan pembelajaran 1 mengulas tentang pokok-pokok materi sebagai berikut:

Kedudukan Pancasila dan UUD 45 sebagai landasan idiil dan konstitusional dari sistem pendidikan di Indonesia Pokok-pokok kebijakan bidang pendidikan yang tertera dalam GBHN UU No.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Kebijakan desentralisasi pendidikan (UU No. 22 tahun 1999) Propenas 2001 - 2005 di bidang pendidikan.

MATERI PEMBELAJARAN A. Apa yang Dijadikan landasan Idiil dan Konstitusional Sistem Pendidikan di Indonesia? Pancasila yang berkedudukan sebagai Dasar Negara adalah landasan idiil sistem pendidikan di Indonesia. Pancasilalah yang secara filosofos menjadi landasan pijakan sekaligus tujuan ideal penyelenggaraan pendidikan di negara kita. Konsekwensi logisnya adalah iklim pendidikan di Indonesia harus kondusif terhadap terciptanya manusia yang Pancasilais, dalam arti:

1. Memiliki kuitur religius, sesuai tuntutan Sila Ketuhanan yang adil dan beradab. 2. Memiliki komitmen yang tinggi terhadap keutuhan bangsa, sesuai kehendak sila Persatuan Indonesia. 3. Mampu mengembangkan kultur demokratis sesuai Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan. 4. Memiliki kepedulian terhadap terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana amanat yang digariskan UUD 1945 di bidang pendidikan? Para Bapak Pendiri Bangsa (founding fathers) sejak awal kemerdekaan ternyata sudah sangat.

menyadari arti pentingnya pendidikan bagi pertumbuhan bangsa. Sebagai bukti silahkan Anda hayati makna yang terkandung dalam alinea ke IV Pembukaan UUD 45 berikut ini. "Kemudian daripada itu untuk membentuk pemerintahan negara. Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa ...." Perhatikan bagian kelima yang dicetak tebal, "mencerdaskan kehidupan bangsa" adalah cermin komitmen yang tinggi dari founding fathers terhadap pendidikan ditempatkan sebagai kunci kemajuan suatu bangsa. Secara instrumental amanat Pembukaan UUD 45 dijabarkan ke dalam Pasal 31 UUD 1945 yang menggariskan bahwa pendidikan merupakan hak dari tiap-tiap. warga negara. Implikasinya adalah pemerintah wajib mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang diatur melalui undang-undang. Asas keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam bidang pendidikan antara Pemerintah dengan Warga Negara secara eksflisit tergambar melalui pasal 31 UUD 45. B. Sampai Sejauh Mana Kemauan Politik (Political Will) dari Lembaga Tertinggi Nagara (MPR) dalam Memajukan Pendidikan? Untuk mengetahui seberapa jauh MPR memberikan perhatian terhadap masalah pendidikan, simaklah dengan cermat ketetapan politik bidang pendidikan yang digariskan Tap MPR No. IV/MPR/1999 tentang GBHN. Ulasan mengenai pendidikan dalam GBHN. Diawali dengan pemaparan mengenai masalah-masalah yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia dewasa ini. Beberapa masalah pendidikan yang mendapat sorotan tajam para wakil rakyat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Berlangsungnya pendidikan yang kurang bermakna bagi pengembangan kepribadian watak peserta didik yang berakibat hilangnya kepribadian dan kesadaran akan makna hakiki kehidupan. 2. Pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi belum dimanfaatkan secara berarti dalam kegiatan ekonomi, sosial dan budaya, sehingga belum memperkuat kemampuan Indonesia dalam menghadapi kerjasama dan persaingan global.

C. Bagaimana Gambaran Pengaturan Sistem Pendidikan Nasional? UU No.2 tahun 1989 dibentuk dengan maksud untuk memenuhi salah satu tuntutan UUD 1945 yaitu agar pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem "pengajaran" nasional yang diatur dengan undang-undang. Dangan diberlakukannya UU No.2 tahun 1989 diharapkan masyarakat luas akan lebih siap menerima penyesuaian. Penyesuaian yang perlu dilaksankan demi keserasiannya dengan UU itu. 1. Bagaimana Sistematikanya? UU No.2 tahun 1989 secara sistematis terdiri dari 20 bab yang terbagi ke dalam 59 pasal. Masing-masing bab memuat ketentuan sebagai berikut:

Bab I : Ketentuan umum (terdiri dari 1 pasal) Bab II : Dasar, fungsi dan tujuan (terdiri dari 3 pasal) Bab III : Hak warga negara untuk memperoleh pendidikan (terdiri dari 4 pasal) Bab IV : Satu, jalur dan jenis pendidikan (terdiri dari 2 pasal) Bab V : Jenjang pendidikan (terdiri dari 11 pasal) Bab VI : Peserta didik (terdiri dari 4 pasal) Bab VII : Tenaga kependidikan (terdiri dari 6 pasal) Bab VIII : Sumber daya pendidikan (terdiri dari 4 pasal) Bab IX : Kurikulum (terdiri dari 3 pasal) Bab X : Hari belajar dan libur sekolah (terdiri dari 1 pasal) Bab XI : Bahasa pengantar (terdiri dari 2 pasal) Bab XII : Penilaian (terdiri dari 4 pasal) Bab XIII : peran serta masyarakat (terdiri dari 1 pasal) Bab XIV : Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (terdiri dari1 pasal) Bab XV: Pengelolaan (terdiri dari 3 pasal) Bab XVI: Pengawasan (terdiri dari 2 pasal) Bab XVII: Ketentuan lain-lain (terdiri dari 1 pasal) Bab XVIII: Ketentuan Pidana (terdiri dari 2 pasal) Bab XIX: Ketentuan Peralihan (terdiri dari 2 pasal) Bab XX: Ketentuan Penutup (terdiri dari 2 pasal)

2. Jenjang pendidikan apa saja yang termasukjalur pendidikan sekolah? Bab V, Pasal 12 UU No.2 tahun 1989 mengatur tentang jenjang pendidikanyang termasuk jalur pendidikan sekolah. Untuk lebih jelasnya perhatikan 3 ketentuan di bawah ini:

1. Jenjang pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. 2. Selain jenjang pendidikan dasar, menengah dan tinggi, dapat diselenggarakan pendidikan pra sekolah. Dari ketentuan yang terdapat dalam Pasal 12 UU No.2 tahun 1989, dapat disimpulkan bahwa jenjang pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri: a) Pendidikan pra sekolah, b) Pendidikan Dasar, c) Pendidikan Menengah, dan d) Pendidikan Tinggi. Mengikuti jenjang pendidikan pacta jenjang pra sekolah bukan merupakan syarat untuk mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya. Dengan kata lain, walaupun mengikuti jenjang pendidikan pra sekolah itu penting tapi secara yuridis bukan merupakan suatu kewajiban. Sejak usia beberapa seorang warga negara RI wajib mengikuti Pendidikan Dasar atau setara? Pasal 14 UU No.2 tahun 1989 menyatakan bahawa usia 7 tahun adalah usia wajib mengikuti pendidikan dasar atau setara. Sedangkan bagi yang baru berusia 6 tahun berhak mengikuti pendidikan dasar. Hingga dewasa ini pemerintah masih memberikan kebijakan wajib belajar 9 tahun, yaitu 6 tahun SD dan 3 tahun SLTP. Apa yang dimaksud dengan pendidikan menengah ? Pasal 15 UU No.2 tahun 1989 menyatakan bahwa ruang lingkup pendidikan menengah terdiri atas: a) Pendidikan umum, b) Pendidikan kejuruan, c) Pendidikan luar biasa, d) Pendidikan kedinasan, dan e) Pendidikan keagamaan. Secara umum, pendidikan menengah merupakan pendidikan yang lamanya 3 (tiga) tahun sesudah pendidikan dasar dan diselenggarakan di sekolah lanjutan atas (SLTA) atau satuan pendidikan yang sederajat. 3. Untuk apa dibentuk Badan Pertmbangan Pendidikan Nasional? Badan ini pada dasarnya merupakan wujud upaya sunguh-sungguh dari pemerintah untuk melakukan demokratisasi di bidang pendidikan. Demokratisasi bidang pendidikan menuntut adanya perubahan paradigma dalam penyusunan kebijakan. Kebijakan yang sentralistis dengan pendekatan Top Down menuntut segara diubah dengan pendekatan desentralisatis melalui pendekatan Bottom Up.

Agar Anda memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai Badan Perimbangan Pendidikan Nasional, perhatikan dengan cermat yang tertera dalam halaman 48 UU No.2 tahun 1989 berikut ini:

1. Keikutsertaan masyarakat dalam penentuan kebijaksanaan menteri berkenaan dengan sistem pendidikan nasional diselenggarakan melalui suatu badan pertimbangan pendidikan nasional yang beranggotakan tbkoh-tokoh masyarakat dan yang menyampaikan saran nasihat, .dan . pemikiran lain sebagai bahan pertimbangan. 2. Pembentukan Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional dan pengangkatan anggota anggotanya dilakukan oleh Presiden. 4. Bagaimana upaya pemerintah dalam melakukan reformasi di bidang pendidikan? Reformasi di bidang pendidikan dewasa ini merupakan sesuatu yang mesti dilakukan. Dua faktor yang melatarbelakanginya adalah a) faktor eksternal yaitu adanya tuntutan persaingan global di era kesejagatan dan b) faktor internal, yaitu perlunya penyesuaian sistem pendidikan dengan kebijakan otonomi daerah yang menuntut adanya desentralisasi bidang pendidikan. Dengan telah dimulainya era otonomi daerah di Indonesia, make sistem pendidikan yang sentralistis, secara normatif, perangkat perundangundangan yang mengatur tentang pendidikan mesti disesuaikan dengan kebutuhan desentralisasi bidang pendidikan yang merupakan konsekwensi logis dan diberlakukannya otonomi daerah. Otonomi daerah pada dasarnya merupakan perwujudan dari asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintah di daerah. Dengan desentralisasi berarti pemerintah pusat diserahkan kepada daerah tersebut pada akhirnya manjadi urusan rumah tangga daerah yang bersangkutan. Dengan ditetapkannya kebijakan otonomi daerah mulai dari awal 2001, maka di Indonesia lahirlah daerah-daerah otonomi yang berbasis di kabupaten dan kota. Dengan demikian sebagai daerah otonomi, daerah kabupaten / kota memilki hak, wewenang dan tanggung jawab untuk mengurus rumahtangganya sendiri dalam bidangbidang tertentu yang telah diserahkan kewenangannya oleh pemerintah pusat kepada daerah yang bersangkutan. Di samping kabupaten/kota, UUno. 22 tahun 1999 juga memberikan status otonomi kepada propinsi. Berbeda dengan daerah kabupaten/kota yang berstatus otonomi penuh,

daerah propinsi adalah daerah otonomi sekaligus wilayah administrasi. Sebagai wilayah administrasi, propinsi menerima pelimpahan wewenang dalam bidang pemerintah dan pemerintah pusat kepada gubernur selaku wakil pemerintah. Masalah pendidikan termasuk salah satu bidang pemerintah yang wajib dilaksanakan oleh daerah dan daerah kola. Sementara kewenangan yang sifatnya lintas kabupaten/kota dilaksanakan oleh daerah otonomi propinsi. Kewenangan di bidang pendidikan yang bersifat lintas kabupaten/kota juga dilaksanakan oleh daerah otonomi propinsi. Uraian materi yang lebih rinci mengenai pembagian kewenangan bidang pendidikan dari pusat dan daerah dapat Anda pelajari melalui penjelasan PP. No. 25 tahun 2000 berikut ini.

D. Bagaimana Rincian Pembagian Kewenangan di Bidang Pendidikan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Berdasarkan PP No.25 Tahun 2000? PP No. 25 tahun 2000 secara umum mengatur tentang pembagian kewenangan pemerintah antara pemerintah pusat dan daerah. Dalam bidang pendidikan, rincian kewenangan pemerintah pusat dapat Anda pelajari melalui tabel berikut ini. RINCIAN KEWENANGAN PEMERINTAH PUSAT DI BIDANG PENDIDIKAN MENURUT PP 25 TAHUN 2000.

Rumusan No Kewenangan 1 Penetapan standar kompetensi siswa dan warga belajar serta pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar secara menjamin tercapainya tujuan pendidikan menjamin kualitas minimal pendidikan sehingga tidak terjadi kesenjangan antar daerah mengantisipasi persaingan global 2. 1. Penetapan kemampuan minimal yang meliputi aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan seswa dan pedoman pelaksanaannya. Penetapan standar 1. Kebijakan tentang kompetensi minimal yang meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan yang harus dikuasai oleh Rasional Rincian Kewenangan Hasil

nasional serta pedoman pelaksanaannya

untuk mengetahui keberhasilan program kegiatan belajar menjamin ketercapaian standar minimal dan pengembangan mutu pendidikan UU No. 22 tahun 1989 PP No 27, 28, 29 tahun 1990 4. 3.

kompetensi yang meliputi aspek pengetahuan sikap dan keterampilan warga belajar. Pengaturan program kegiatan TK dan kurikulum nasional SD/MI, SLTP, MTs, SM/MA Pengaturan kurikulum nasional kesetaraan SD, SLTP, dan pendidikan berkelanjutan 5. Pengaturan penilaian hasil belajar secara nasional serta pedoman pelaksanaannya. 3. 2.

anak didik pada TK dan siswa pada SD/MI, SLTP/MTs, dan SMU/MA Kompetensi minimal yang meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan minimal yang harus dikuasai oleh warga belajar pada setiap program dan jenjang pendidikan luar sekolah dan olahraga. Program pelaksanaan program kegiatan TK, Kurikulum Nasional untuk SD/MI, SLTP/MTs, SM/MA 4. Pedoman

pelaksanaan program kegiatan TK, Kurikulum Nasional untuk SD/MI, SLTP/MTs, SM/MA 5. Kurikulum nasional untuk setara SD, SLTP, persamaan SLTA. 6. Pedoman pelaksanaan kurikulum nasional untuk setara SD, SLTP, dan Pendidikan berkelanjutan. 7. Sistem penilaian hasil belajar secara nasional 8. Pedoman pelaksanaan penilaian hasil belajar nasional 9. Bank soal untuk

penilaian hasil belajar secara nasional.

2 Penetapan standar materi pelajaran pokok

menjaga setandar minimal dan kendali mutu pendidikan sesuai dengan tuntutan pembangunan dan persaingan global penjamin persatuan dan kesatuan negara UU No. 22 tahun 1989 PP No 27,28,29 tahun 1990

1.

Penetapan GBPP materi pelajaran pokok

1.

GBPP materi pelajaran pokok

2.

Pedoman penulisan dan seleksi buku pelajaran.

2.

Penetapan pedoman penulisan dan seleksi buku pelajaran. 3.

Model buku pelajaran pokok.

3.

Pengembangan model buku pelajaran pokok. 4.

kurikulum nasional pendidikan tinggi.

4.

Penetapan kurikulum nasional pendidikan tinggi. 5.

Pedoman penyusunan kurikulum nasional dan penilaian hasil evaluasi mahasiswa.

5.

Penataran pedoman penyusunan, pelaksanaan, dan evaluasi.

6.

Penetapan beban studi dan masa studi. 6.

Beban studi dan masa studi.

7.

Penetapan tahun akademik. 7.

Tahun akademik.

8.

Penetapan standar kompetensi lulusan pendidikan tinggi. 8.

Standar kompetensi lulusan

pendidikan tinggi.

3 Penetapan persyaratan perolehan dan penggunaan gelar akademik

menjaga mutu lulusan pendidikan keseragaman dan ketertiban penggunaan gelar menghindari penyalahgunaan gelar akademik PP No. 60 tahun 1999

1.

Penetapan persyaratan memperoleh gelar akademik.

1.

Keputusan menteri tentang persyaratan memperoleh gelar akademik.

2.

Penetapan jenis gelar akademik dan sebutan profesional serta singkatan dan penggunaannya. 2.

Jenis gelar akadmik dan sebutan profesional serta tingkatan dan penggunaannya .

3.

Penetapan pedoman tentang tatacara pemberian dan penggunaan doktor honoris causa (doktor kehormatan) 3.

Pedoman tentang tata cara pemberian dan penggunaan honoris causa (doktor kehormatan).

4 Penetapan pedoman pembiayaan dan penyelenggaraan pendidikan

Efisiensi dan penyelenggaraan. pemerataan kesempatan untuk memperolah pendidikan. menjaga standar

1.

Penetapan pedoman pembiayaan penyelenggaraan pendidikan meliputi komponen yang perlu dibiayai

Pedoman pembiayaan penyelenggaraa n pendidikan meliputi komponen yang perlu dibiayai

kualitas minimal pendidikan UU no. 2 tahun 1989 2.

sumber pembiayaan, strategi pembiayaan dan akuntabilitas. Penetapan sestem pedoman perencanaan anggaran pendidikan tinggi.

sumber pembiayaan, strategi pembiayaan dan akuntabilitas.

5 Penetapan persyaratan penerimaan, perpindahan, sertifikasi siswa, warga belajar, dan mahasiswa.

menjamin kelangsungan pendidikan menjamin kualitas lulusan menjamin persamaan hak bagi calon siswa, warga belajar, dan mahasiswa UU No. 2 tahun 1989 PP No 28 dan 29 tahun 1990

1.

Penetapan persyaratan penerimaan dan perpindahan siswa, warga belajar, dan mahasiswa didalam maupun ke dan dari luar negeri.

1.

Pedoman tentang persyaratan penerimaan dan perpindahan siswa, warga belajar di dalam maupun ke dan dari luar negeri

2.

Penetapan persyaratan sertifikasi siswa, warga belajar, dan mahasiswa 2.

Persyaratan sertifikasi siswa, warga belajar, dan mahasiswa

6 Penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar setiap tahun bagi

Pencapaian target kurikulum Mempermudah pendaftaran dan perpindahan siswa UU No. 2 tahun

1.

Penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif pendidikan dasar dan pendidikan

1.

Kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif pendidikan dasar dan

pendidikan dasar, menengah, dan luar sekolah

1989 PP No 28 dan 29 tahun 1990 2.

menegah Penetapan tentang kalender pendidikan dan jumlah belajar efektif luar sekolah 2.

pendidikan menengah. Keputusan tentang kalender pendidikan dan jumlah belajar efektif luar sekolah.

7 Pengaturan dan pengembangan pendidikan tinggi, pendidikan jarak jauh serta pengaturan sekolah internasional

Pengendalian mutu untuk kebijakan penyelenggaraan pendidikan tinggi. PP No 60 tahun 1999 Membantu kontrol masyarakat terhadap mutu dan kualifikasi lulusan pendidikan tinggi luar negeri Pengendalian mutu pendidikan Peningkatan peran guru tinggi untuk menyiapkan SDM

1.

Penetapan tentang pengaturan

1.

Aturan tentang :

persyaratan perguruan tinggi. penyelenggaraa 2. Penetapan n pendidikan kebijakan penilaian tinggi ijazah pendidikan penyusunan tinggi luar negeri struktur 3. Pengembangan akreditasi pendidikan tinggi. program studi Penetapan pendidikan kegijakan sisem tinggi penyelenggaraan standar pendidikan tinggi, persyaratan meliputi tujuan dan dosen, guru tatacara besar, dan guru penyelenggaraan besar ameritus sistem sesuai tuntutan penerimaan dan global pola Pemerintah pengembangan

pendidikan UU No 2 tahun 1989

karir ketenagaan perguruan tinggi. penetapan standar sarana dan persyaratan pendidikan tinggi. ketentuan penyelenggaraa n program pascasarjana

2. Keputusan pemerintah tentang penilaian ijazah pendidikan tinggi luar negeri.

3. Pengembangan pendidikan tinggi : Tujuan penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Setelah Anda mengamati dengan cermat rincian kewenangan pemerintah pusat dalam bidan pendidikan yang terjabarkan dalam tabel diatas, cobalah fokuskan perhatian Anda pada bidang pendidikan dasar dan menengah. Diskusikanlah dengan rekan sejawat Anda! Kewenangan apa saja yang dimiliki daerah propinsi dalam bidang pendidikan? Sebagaimana halnya pengaturan mengenai kewenangan pemerintah pusat No. 25 tahun 2000 juga mengatur kewenangan propinsi khususnya dalam bidan pendidikan.

Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut ini.

RINCIAN KEWENANGAN PROPINSI DI BIDANG PENDIDIKAN MENURUT PP. 25 TAHUN 2000

Rumusan No Kewenangan Penetapan kebijakan tentang penerimaan siswa dan mahasiswa dari masyarakat minoritas, terbelakang dan atau tidak mampu. untuk menjamin tercapainya pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan (wajib belajar) 2. 1. Penetapan kriteria masyarakat minoritas, terbelakang dan atau tidak mampu. Penetapan kebijakan penerimaan siswa, warga belajar, mahasiswa atas dasar kriteria butir 1 Kebijakan gurbernur tentang kriteria dan jenis bantuan agar siswa, warga belajar mahasiswa dan masyarakat minoritas terbelakang dan atau tidak mampu dapat memperoleh kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan. Rasional Rincian Kewenangan Hasil

2 Penyediaan bantuan pengadaan buku

untuk membantu tersedianya buku pelajaran pokok /

1.

Pengalokasian dana untuk buku pelajaran / modul.

Dana / kertas /percetakan buu pelajaran

pelajaran pokok/modul pendidikan

modul pendidikan sesuai dengan keperluan

2.

Pemberian keringanan biaya percetakan buku pelajaran / modul

pokok / modul pendidikan untuk membantu kab / kota dalam pengadaan buku.

3 Mendukung / membantu penyelenggaraan pendidikan tinggi selain pengaturan kurikulum akreditasi dan pengangkutan tenaga akademis

Pendidikan tinggi di daerahnya mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan daerah nasional maupun global

1.

Penyediaan sumber daya daerah untuk mendukung / membantu penyelenggaraan pendidikan tinggi

Bantuan dana, sarana, prasaran dan penutupan perguruan tinggi di propinsi yang bersangkutan.

4 Pertimbangan pembukaan dan penutupan perguruan tinggi

Perguruan tinggi efektif dan efisien dan sesuai dengan kebutuhan daerah nasional dan internasional

1.

Penentuan sumber daya yang berpengaruh terhadap kebutuhan daerah dalam hubungannya dengan pembukaan dan penutupan

Masukan gubernur tentang pembukaan dan penutupan perguruan tinggi di propinsi yang

perguruan tinggi

bersangkutan.

5 Penyelenggaraan
sekolah luar biasa dan balai pelatihan dan / atau penataran guru

Warga yang tidak normal (luar biasa ) dapat memperoleh pelayanan pendidikan. Standardisasi kemampuan profesional dan efisiensi pelaksanaan diklat guru tingkat propinsi

1.

Penetapan petunjuk pelaksanaan penyelenggara SLB dan alokasi dananya.

1.

Petunjuk pelaksanaan penyelenggar a SLB

2.

Petunjuk pelaksanaan diklat guru dan tenaga kependidikan dan kebudayaan lainnya sepropinsi agar ada persamaan kualitas

2.

Penetapan petunjuk pelaksanaan diklat tenaga kependidikan dan kebudayaan di Balai Latihan dan / atau LPMP

Perhatikan dengan cermat rincian kewenangan propinsi dalam bidang pendidikan yang tertera pada tabel 2 diatas. Lakukanlah identifikasi terhadap rincian kewenangan dalam lingkup pendidikan dasar dan menengah. Apabila Anda kesulitan melakukannya sendiri, diskusikan dengan rekan sejawat atau dengan tutor pada saat kegiatan tutorial. Bagaimana halnya dengan kewenangan yang dimiliki daerah kabupaten dan kota utamanya dalam bidang pendidikan dasar dan menengah serta pra sekolah? Peraturan pemerintah nomor 25 tahun 2000 tidak merinci kewenangan kabupaten kota, mengapa demikian ? Karena pada dasarnya seluruh kewenangan yang tidak dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan provinsi menjadi kewengan kabutapen/kota. Mengacu kepada PP No. 25 tahun 2000, kewenangan kabupaten/kota khususnya dalam bidang pendidikan dasar dan menengah serta pra sekolah dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Menyusun dan menetapkan petunjuk pelaksanaan pengelolaan TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK. 2. Menetapkan kurikulum muatan lokal SD, SLTP, SMU, dan SMK. 3. Melaksanakan kurikulum nasional atas dasar penetapan dan dalam pelaksanaan pemerintah dan lokal. 4. Mengembangkan standar kompetensi siswa TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK atas dasar minimal kompetensi yang ditetapkan minimal pemerintah. 5. Memantau, mengendalikan dan menilai pelaksanaan POM dan manajemen sekolah. 6. Menetapkan petunjuk pelaksanaan penilaian hasil belajar TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK. 7. Melaksanakan evaluasi hasil belajar tahap akhir TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK. 8. Menetapkan etunjuk pelaksanaan kalender pendidikan TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK. 9. Menyusun rencana dan melaksanaan pengadaan, pendistribusian, pendayagunaan dan perawatan sarana prasarana termasuk pembangunan infrastruktur TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK 10. Mengadakan blanko STTB dan NEM SD, SLTP, SMU, dan SMK di kabupaten/kota. 11. Mengadakan buku pelajaran pokok TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK. 12. Memantau dan mengevaluasipenggunaan sarana prasarana TK, SD, SLTP, SMU dan SMK 13. Menyusun petunjuk pelaksanaan kegiatan siswa TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK. 14. Melaksanakan pembinaan kegiatan siswa TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK. 15. Menetapkan kebijakan pelaksanaan penerimaan siswa TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK. 16. Menetapkan petunjuk pelaksanaan penerimaan siswa TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK. 17. Memantau dan mengevaluasi kegiatan siswa TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK. 18. Merencanakan dan menetapkan pendirian dan penutupan TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK.

19. Melaksanakan akreditasi TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK. 20. Melaksanakan monitoring dan evaluasi kinerja TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK. 21. Melaksanakan program kerjasama luar negeri di bidang pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan pemerintah 22. Membina pengelolaan TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK termasuk sekolah di daerahterpencil sekolah terbuka serta tenaga teknis kebudayaan. 23. Melaksanakan mutasi tenaga kependidikan TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK. 24. Melaksanakan pembinaan dan pengembangan karir tenaga kependidikan TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK, sekolah rintisan/unggulan dan sekolah yang terkena musibah bencana alam. 25. Merencanakan kebutuhan, pengadaan, dan penempatan tenaga kependidikan TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK. Rincian kewenangan daerah kabupaten/kota dalam bidang pendidikan dasar dan menengah serta pra sekolah yang baru saja Anda pelajari merupakan bagian dari 117 butir rincian kewenangan dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Agar wawasan Anda tentang pendidikan dan kebudayaan yang merupakan kewenangan kabupaten/kota lebih mantap, disarankan untuk mendiskusikannya dengan tutor atau pihak lain yang berkompeten. E. Bagaimana Gambaran Pokok-Pokok Kebijakan di Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Dalam Propenas 2001-2005? Pokok-pokok kebijakan bidang Pendidikan Dasar dan Menengah dalam propenas 20012005 berpijak kepada visi dan misi yang sesuai dengan tuntutan paradigma baru dunia pendidikan. Visi dan misi tersebut dijadikan pegangan pokok dalam perumusan tujuan organisasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Berangkat dari tujuan yang telah dirumuskan secara jelas, ditetapkanlah sejumlah program berikut sasarannya yang meliputi: (1) Pembinaan pendidikan pra sekolah; (2) Pembinaan pendidikan tingkat dasar; (3) Pembinaan pendidikan tingkat lanjutan pertama, (4) Pembinaan pendidikan menengah umum dan rnenengah kejuruan;

(5) Pembinaan pendidikan luar qiasa; dan (6) Pengembangan dan pembinaan tallage kependidikan 1. Bagaimana rumusan visi, misi dan tujuan organisasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah? Visi pendidikan dasar dan menengah adalah IImemberikan layanan pendidikan lebih baik yang mampu mewujudkan keunggulan bangsa, yaitu bangsa yang bertaqwa, memiliki intelektualitas yang prima, bermoral, kreatif, inovatif, professional, produktif dan demokratis": Adapun misi organisasi Direktorat Jenderat Pendidikan Dasar dan Menengah yaitu sebagai berikut:

a. Meningkatkan pembinaan pendidikan bagi anak usia dini melalui pendidikan pra sekolah. b. Menuntaskan pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. c. Melakukan pembinaan sekolah menengah untuk mempersiapkan pendidikan akademik dan pendidikan kejuruan d. Menetapkan kebijakan dan standar kompetensi nasional . e. Melaksanakan desentralisasi dan otonomi pemerintahan sampai tingkat sekolah f. Meningkatkan kesejahteraan dan mutu profesionalisme guru dan tenaga kependidikan g. Menyediakan intrastruktur dan sarana pendidikan yang layak h. Menyediakan buku pelajaran dan peralatan pendidikan yang cukup i. Memberikan layanan khusus anak-anak berbakat dan cerdas, memberikan kemudahan, menyediakan layanan pendidikan khusus bagi anak yang mengalami ketunaan, terbelakang, dan anak miskin j. Menggalang kemitraan dan peran serta masyarakat, termasuk dunia usaha

Sedangkan rumusan dari tujuan organisasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah adalah: Mewujudkan tercapainya keberhasilan pendidikan untuk menciptakan rnanusia yang bertaqwa, beriman, bermoral, cerdas, kreatif, inovatif, dan produktif'. .

2. Apa saja program dan sasaran Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah yang digariskan propenas 2001-2005? Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah telah menentukan sejumlah program pembinaan dan pengembangan berikut sasaran binanya. Program-program tersebut meliputi: .

a. Pembinaan pendidikan pra sekolah Dalam penyelenggaraan pendidikan TK, perlu diupayakan pengembangan pendidikan agama, kedisiplinan, kemampuan bahasa, kreativitas, daya pikir, daya cipta, perasaan, emosi, kemampuan bermasyarakat, keterampilan, dan jasmani. Partisipasi masyarakat sangat diperlukan terutama berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya dalam pendidiran TK sesuai ketentuan yang berlaku. Program lainnya adalah upaya peningkatan daya tampung TK dan upaya peningkatan mutu pendidikan TK. Upaya peningkatan daya tampung dilakukan melalui program pembangunan 120 unit TK pembina negeri tingkat kabupaten/kota dan 3875 TK negeri tingkat kecamatan. Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan akan disediakan alat pendidikan/peraga berupa alat bermain di luar dan di dalam sebanyak 83000 set, buku perpustakaan sebanya 562.500 eksemplar. Untuk meningkatkan kualitas tenaga guru, selama lima tahun kedepan (2001-2005) akan dilakukan pelatihan bagi guru, kepala dan pengawas TK sebanyak 165.750 orang. Pemberdayaan sekolah swasta dilakukan melalui banguan dalam bentuk imbas swadaya dengan melibatkan IGTKI dan GOPTKI.

b. Pembinaan Pendidikan Tingkat Sekolah Dasar. Tujuan dari pembinaan pendidikan tingkat SD adalah memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupan sebagai pribadi, masyarakat, warga negara dan umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan ke SLTP. Prioritas pembinaan pada jenjang sekolah dasar diarahkan pada :

1. Peningkatan pelayanan pendidikan di daerah terpencil daerah transmigrasi dan masyarakat terasing. Aplikasi programnya dilakukan dalam wujud layanan

pendidikan alternatif, pembangunan 300 unit sekolah baru dan pengembangan teknologi komunikasi tepat guna dalam bidang pendidikan. 2. Penyediaan bea siswa bagi anak berbakat. 3. Memberikan perhatian khusus kepada anak-anak yang kurang beruntung termasuk mereka yang berasal dari kalangan ekonomi lemah dalam rangka penuntasan wajib belajar SD. 4. Peningkatan fungsi Sekolah Dasar Percobaan. 5. Penyediaan berbagai fasilitas dalam rangka peningkatan mutu pendidikan seperti pusat sumber belajar, taman bacaan masyarakat, serta berbagai saranaprasarana lainnya. Di samping itu akan terus dilakukan peningkatan baru jumlah maupun mutu tenaga kependidikan dasar melalui pelatihan guru. Karena sekolah dan pengawas yang ditergetkan sebanya 1,3 juta orang, pemenuhan kebutuhannya akan lebih ditekankan pada pemberdayaan sekolah melalui dukungan dana operasional dalam bentuk “block grant”. 6. Memaksimalkan pelaksanaan kurikulum yang didukung oleh berbagai kegiatan yang menunjang. 7. Peningkatan pengajaran pendidikan kependudukan dan pelestarian sumber daya alam serta lingkungan hidup. 8. Pengahan buku pelajaran pokok, buku perpustakaan dan buku bacaan anakanak serta perbaikan mutu naskah.

c. Pembinaan pendidikan tingkat lanjutan pertama.

Pendidikan tingkat lanjutan pertama bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar yang merupakan perluasan dan peningkatan pengetahuan yang diperoleh di tingkat sekolah dasar. Untuk mencapai tujuan tersebut beberapa kegiatan pokok yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut.

1. Upaya penuntasan wajib belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan perluasan daya tampung SLTP dalam rangka meningkatkan APK SLTP menjadi

79,4 pada tahun 2006. Angka transisi dari SD ke SLTP diharapkan naik menjadi 76,87% dan angka pusus sekolah dapat ditekan menjadi 4,8%. 2. Peningkatan sarana-prasarana yang dilaksanakan secara bertahap antara lain penambahan 1985 UDB dan 11.909 RKB serta rehabilitasi gedung. 3. Melaksanakan program peningkatan mutu berbasis sekolah. 4. Penyediaan bantuan bea siswa atau bantuan lain yang bersifat mendidik terhadap 3.300.000 siswa selama lima tahun. 5. Pengembangan SLTP terbuka yang ditunjang dengan pengadaan modul sebanyak 909.972.800. 6. Upaya khusus terhadap murid yang memiliki kecerdasan luar biasa. 7. Upaya pemberian bekal keterampilan kepada murid SLTP melalui pengisian kurikulum muatan lokal dan atau kegiatan kurikuler dengan berbagai pilihan paket keterampilan. 8. Pembudayaan IPTK yang dikembangkan sejalan dengan penyempurnyaan metodi belajar-mengajar terutama bagi pengetahuan dasar. Pembudayaan IPTEK juga akan dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. 9. Pembinaan keimanan dan ketakwaan serta nilai-nilai murni, budi pekerti dan jiwa kepemimpinan pendidikan Pancasila dan pendidikan kewarganegaraan. 10. Pengadaan buku pelajaran pokok sekitar 48,6 juta eksemplar dan buku bacaan serta buku pendidikan lainnya sebanyak 2,9 juta eksemplar sebagai buku perpustakaan sekolah. Program ini dilakukan sebagai upaya mendukung proses belajar-mengajar yang lebih baik. 11. Upaya peningkatan kualitas guru dan tenaga kependidikan lainnya melalui berbagai penataran dan peningkatan kualifikasi setara D3. 12. Upaya peningkatan kesejahteraan guru melalui penyempurnaan pelayanan administrasi termasuk pengembangan sistem angka kredit bagi jabatan guru. Di samping itu diprogramkan pemberian insentif untuk merangsang motivaasi dan meningkatkan prestasi guru. 13. Pemerataan sebaran guru, penempatan dan pengangkatan guru kelas, guru agama, guru pendidikan jasmani dan kesehatan serta guru pengganti yang pensiun dan tenaga kependidikan lainnya secara tepat sasaran dan sesuai

kebutuhan. Hal ini, dilakukan untuk mengatasi kesenjangan tingkat kemajuan pendidikan antar sekolah. 14. Upaya pembukuan sarana dan prasarana pendidikan termasuk alat peraga pendidikan dan buku. Hal ini, bertujuan untuk peningkatan efisiensi, efektifitas dan produktivitas penyelengaraan pendidikan. 15. Upaya penataran, pembinaan dan pelatihan manajemen terutama bagi para kepala sekolah dan penilik.

d. Pembinaan Pendidikan Menengah

Program pembinaan pendidikan menengah meliputi pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah. kejuruan. Secara umum pendidikan menengah umum bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa untuk melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Melalui pendidikan menengah umum diharapkan siswa dapat mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan IPTEK dan IMTAQ sekaligus mempersiapkannya setelah lulus agar mandiri dan siap latih. Sementara itu, pendidikan menengah kejuruan bertujuan menyiapkan siswa untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang mempunyai kemampuan professional dalam percaturan persaingan global. Apa saja bentuk dari Pembina an Menengah Umum? Program kegiatan yang diprioritaskan untuk pendidikan menengah umum meliputi: .

1. Perluasan daya tampung SMU/MA. Targetnya adalah dapat meningkatkan APK SMU dan MA menjadi 29,96% pad a tahun 2005, sedangkan angka transisi dari SLTP ke SMU ditargetkan naik menjadi 41,36 % dan MA. 15.92%. 2. Penetapan program peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah ditargetkan menjadi program pembinaan SMU tahun 2006. 3. Program peningkatan daya tampung SMU/MA. Untuk merealkannya akan dibangun sekitar 1345 USB dan 8000 RKB, serta rehabilitasi gedung dan penggantian perabot yang rusak.

4. Program pemberian beasiswa dan berbagai bantuan lain yang bersifat mendidik terutama bagi siswa berprestasi tetapi tidak mampu dalam rangka pemerataan pendidikan. Sasaran dari program ini yaitu 1 juta siswa. 5. Pemberian sikap dan kepribadian peserta didik melalui pendidikan agama, pancasila dan kewarganegaraan. Untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik, dilakukan pembinaan melalui peningkatan sistem belajar mengajar dan penyediaan sarana-prasarana pendukung termasuk tempat ibadah sesuai dengan kebutuhan. 6. Pembinaan kesiswaan dilakukan melalui organisasi siwa dari kegiatan ekstra kurikuler terutama untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan. Disamping itu dikembangkan pula kegiatan ilmiah untuk dalam rangka menumbuhkan minat meneliti pengembangan budaya dan IPTEK. 7. Dalam rangka mendukurig kebijakan butir 5 dan 61 diselenggarakan penataran dan penyegaran pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan bagi guru, peningkatan wawasan pendidikan guru agama, peningkatan kemampuan guru olahraga dan kesehatan dan guru pembina siswa. 8. Program peningkatan mutu pendidikan yang, dilakukan melalui upayaupaya sebagai berikut: (a) pendidikan dan pelatihan guru; (b) peningkatan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan lainnya sekitar 63,6 ribu orang; (c) pengembangan kurikulum secara dinamis, (d) pemantapan proses belajar-mengajar; (e) penataan program studi; (f) pengembangan media dan teknologi pendidikan sesuai dengan kurikulum yang berlaku. (g) penyediaan buku pelajaran sebanyak 27,7 juta eksemplar, buku perpustakaan 2 juta eksemplar dan peralatan praktek dalam jumlah, jenis dan mutu yang memadai. 9. Program pemantapan Sistem manajemen sekolah dalam rangka peningkatan efisiensi, efektivitas dan produktivitas pendidikan.

Apa saja bentuk program yang diarahkan untuk pembinaan menengah kejuruan? Program pembinaan menengah kejuruan tetap mengacu pada peningkatan mutu dan relevansi, perluasan dan pemerataan kesempatan belajar, efisiensi dan efektivitas pengelolaan pendidikan. Untuk lebih jelasnya simak baik-baik beberapa program pembinaan menengah kejuruan berikut ini: 1) Peningkatan mutu dan relevansi pendidikan menengah kejuruan melalui program:

a. Penyusunan standar jabatan bagi kurang lebih 200 bidang keahlian; b. penyusunan dan pengesahan penggunaan standar. kompetensi; c. penyusunan standar operational pembelajran (SOP); d. penyusunan dokumen penunjang kurikulum; e. penyusunan standar pengujian dan sertifikasi; f. penyusunan standar akreditasi bagi lembaga pendidikan dan pelatihan;

g. penyempurnaan sistem evaluasi hasil belajar siswa.

2) Dalam rangka penataan penyelenggaraan program pendidikan, akan dilakukan:

a. pemberdayaan majelis pendidikan kejuruan nasional, propinsi dan sekolah (MPKN, MPKP, MS). Untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat mengikuti pendidikan di SMK; b. menyelenggarakan multi entry-exit sistem, kursus-kursus keterampiian, program diploma, untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat mengikuti pendidikan di SMK; c. memberikan layanan pendidikan pada 120 SMK negeri yang berpredikat istimewa dan amat baik menjadi regional Center pad a 72 SMK terpilih; d. meningkatkan usaha promosi dan sosialisasi program-program kejuruan; e. meningkatkan pemahaman dan penerapan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi, pembelajaran tuntas, sistem ganda pada kegiatan belajar-mengajar; f. meningkatkan koordinasi dengan pihak-pihak terkait dalam upaya meningkatkan mutu layanan pendidikan di SMK; 3) Peningkatan kualitas dan kuantitas ketenagaan, dilakukan melalui:

a. penyempurnaan standar kompetensi sebagai acuan dalam penyusunan peta tenaga kependidikan di SMK; b. pemenuhan kebutuhan guru kejuruan melalui program alih spesialisasi, mutasi guru, guru kontrak dan pengadaan guru baru; c. dalam rangka pengadaan tenaga kependidikan ditargetkan sebanyak kurang lebih 23.598 orang dan non guru kurang lebih 8264 orang; d. pengembangan program pendidikan dan pelatihan guru, peningkatan kemampuan kompetensi guru SMK negeri dan swasta baik untuk jangka pendek mapun jangka panjang. Pengembangan program ini dilakukan melalui In House Training (pelatihan di sekolah), pelatihan di PPPG terkait dan di Industri untuk sebanyak 14.760 orang, Di samping itu diprogramkan pula peningkatan kualifikasi guru SMK melalui penataran jangka pendek, jangka panjang dan perpanjangan (DIV/S1, S2) sebanyak 6000 orang dan peningkatan kemampuan manajeriai kepala sekolah menengah kejuruan negeri dan swasta dan tenaga non kependidikan (tekhnisi dan tenaga administrasi). 4) Peningkatan kualitas dan kuantitas fasilitas pendidikan melalui:

a. rehabilitasi gedung sebanyak 8.135 ruang; b. melengkapi peralatan praktek bagi SMK negeri dan swasta sebanyak 4.285 unit; c. pengadaan buku, bahan ajar dengan penulisan paket-paket pelajaran dalam bentuk modul yang sesuai dengan kebutuhan pendekatan kompetensi. Menterjemahkan/mengedit paket-paket program dan bahasa asing, khususnya untuk buku yang bersifat universal/berstandar internasional. Di samping itu juga dilakukan pembelian buku-buku yang di keluarkan oleh penerbit dan dijual bebas di pasaran. Untuk pemenuhan kebutuhan buku, ditargetkan akan diadakan buku siswa, buku guru dan buku perpustakaan sebanyak 16.715.000 eksemplar. d. pemberian bantuan, biaya opersional pendidikan dan bahan faktor bagi 3.342.900 siswa melalui pola pembiayaan "block grant” e. peningkatan mutu SMK swasta.

5) Perluasan dan pemeratan kesempatan belajar dilakukan melalui peningkatan daya tampung dengan mengacu kepada analisis perbandingan jumlah siswa SMK dengan siswa guru SMU. Terhadap SMK swasta akan diperkuat dengan pemberian subsidi dan pemberdayaan sdm. 6) Peningkatan mutu manajemen SMK, diiakukan melalui; (a) penyempurnaan sistem evaluasi dilakukan kinerja SMK dan kepala SMK; (b) penyempurnaan sistem penyiapan cajon kepala SMK; dan (c) penyempurnaan program pembinaan dan pengembangan sekolah. 7) Peningkatan Kemampuan tenaga pelaksana, dilakukan melalui :

a. peningkatan peran dan fungsi PPPG lingkup kejuruan, bidang Dikmenjur dan perguruan tinggi dalam seluruh proses pembinaan dan pengembangan Dikmenjur; b. peningkatan pengelolaan dan pengembangan sistem informasi manajemen. Dikmenjur, optimalisasi pendayagunaan sumber pendidikan SMK dengan pengaturan jadwal pelajaran pada SMK c. optimalisasi sumber-sumber luar SMK, antara lain dilakukan melalui program "out-sourcing facilities" dan pemanfaatan sarana yang "idle" dari instansi lain.

e. Pembinaan Pendidikan Luar Biasa Bagaimana pokok-pokok kebijakan pembinaan pendidikan luar biasa? Pendidikan luar biasa bertujuan untuk membantu peserta didik yang menyandang kelainan fisik/mental pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SLTP) agar mereka mampu mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai pribadi atau anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitarnya, serta dapat mengembangkan kemampuan diri dalam bekerja atau mengikuti pendidikan lanjutan. Berangkat dari tujuan yang baru saja diuraikan, propenas 2001 - 2005 menggantikan program-program pembinaan pendidikan luar biasa sebagai berikut.

1. Pengembangan kurikulum muatan lokal dan pengadaan berbagai alat keterampilan yang disesuaikan dengan keadaan daerah dan jenis ketunaannya dalam rangka peningkatan perhatian terhadap anak cacat. 2. Pembangunan UGB dan ruang belajar serta rehabilitasi gedung SLB negeri dan swasta 3. Peningkatan pembakuan perangkat pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Pendidikan Agama, IPS, IPA, Matematika, Kesenian, dan Kejuruan atau Keterampilan. 4. Mengingat adanya berbagai jenis ketunaan, kurikulum khusus akan dioptimalkan pelaksanaannya untuk; (a) tuna netra, (b) tuna rungu, (c) tuna grahita, (d) tuna daksa, (e) tuna laras, dan (f) tuna ganda: untuk TKLB, SDLB, SLTLB, dan SMLB. 5. Akan ditempuh berbagai upaya dalam rangka perintisan pelayanan pendidikan khusus bagi anak berbakat istimewa. 6. Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, akan dilakukan penataran guru dan pelatihan bagi kepala sekolah serta penyediaan guru. Di samping ini akan diadakan 500.000 kumpulan buku pelajaran dan 15.000 set alat peraga pendidikan. 7. Untuk meningkatkan kesejahteraan guru, akan dibangun rumah dinas guru/pembina/kepala SLB. Koordinasi lintas institusi menjadi agenda penting dalam peningkatan layanan bagi anak cacat.

f. Pengembangan dan Pembina Tenaga Kependidikan Bagaimana gambaran pengembangan dan pembinaan tenaga kependidikan menurut Propenas 2001-2005? Secara umum, pengembangan dan pembinaan tenaga kependidikan sampai tahun 2005 memiliki tujuan sebagai berikut.

1. Terwujudnya rencana induk dan pedoman perencanaan, rekrutmen, distribusi dan mutasi tenaga kependidikan. 2. Terealisasikannya jenjang jabatan, standar profesionalisme dan sistem , pengembangan karir tenaga kependidikan nasional.

3. Terwujudnya sistem pengembangan profesi tenaga kependidikan yang baku dan kondusif. 4. Tersedianya perangkat dan pedoman pelaksanaan pemberian penghargaan dan perlindungan hukum terhadap profesi tenaga kependidikim nasional. 5. Terwujudnya lembaga-Iembaga Oiklat tenaga kependidikan nasional yang lebih professional dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. 6. Terealisasikannya pendidikan dan latihan tenaga kependidikan yang akuntabel. Adapun secara khusus, tujuan yang hendak dicapai dari pengembangan dan pembinaan tenaga kependidikan yaitu:

1. terwujudnya jaringan sistem informasi manajemen (81M) tenaga kependidikan yang mampu memberikan informasi yang mutakhir, lengkap, akurat, sahih dan terpercaya tentang tenaga kependidikan dan dapat diakses oleh berbagai lembaga terkait di seluruh Indonesia sesuai dengan kebutuhannya; 2. terekrutnya dan terdistribusikannya guru dan tenaga kependidikan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan hakiki kuantitatif maupun kualitatif dan jenis spesialisasinya; 3. tersedianya dan terimplemenkan rencana induk pendayagunaan tenaga kependidikan untuk semua jenjang dan jenis pendidikan; 4. tersusunnya standar untuk jabatan guru, profesionalisme guru dan pengembangan karir guru untuk semua jenjang dan jenis pendidikan; 5. tersusunnya naskan perangkat dan jalur pengembangan profesi tenga kependidikan; 6. tersusunnya standar diklat tenaga kependidiklan yang terkait dengan sistem pengembangan profesi dan karir serta jenjang. jabatan tenaga kependidikan untuk semua jenis dan jenjang pendidikan; 7. terselenggarakannya diklat tenaga kependidikan yang terstandar dan berakuntabilitas yang meliputi: a) model penataran guru sistem terbuka bagi 61000 guru SD; b) model penataran kompetensi bagi 740 guru terpencil; c) model penataran kompetensi bagi 1500 guru pendidikan luar biasa;

d) diklat kualifikasi dari kompetensi bagi 165.750 orang tenaga kependidikan SD; e) diklat kualifikasi dan kompetensi bagi 147.000 orang tenaga kependidikan SLTP; f) diklat kualifikasi dan kompetensi bagi 63.600 orang tenaga kependidikan SMU; dan g) diklat kualifikasi dan kompetensi bagi 20.760 orang tenaga kependidikan SMK. 8. Terwujudnya kinerja yang handal dari lembaga diklat (12 PPPG dan 26 LPMP) yang tercermin dari: a) terciptanya pengelolaan kelembagaan yang kondusif dan berwawasan mutu; b) terpenuhinya. kebutuhan SDM lembaga diklat yang professional dalam jumlah yang cukup; c) terlengkapinya sarana dan prasarana yang terstandar baik jumlah jenis maupun kualitasnya. 9. Terwujudnya sistem perlindungan hukum terhadap profesi tenaga kependidikan dan sistem penghargaan materi dan non materi yang baku, layak, serta kondusif bagi peningkatan kualitas pendidikan nasional dan menciptakan rasa aman, sejahtera serta kebanggaan profesi bagi tenaga kependidikan. LATIHAN

Setelah Anda mempelajari Kegiatan Pembelajaran 1 tentang "Dasar-Dasar Kebijakan di Bidang Pendidikan", cobalah kerjakan latihan berikut ini:

1. Simaklah sekali lagi materi tentang landasan sistem pendidikan nasional RI. Selanjutnya rumuskanlah hubungan antara Pancasila sebagai landasan idiil, UUD 1945 sebagai landasan konstitusional dan GBHN sebagai landasan operasional sistem pendidikan nasional Indonesia. 2. Buktikan bahwa pasal 31 UUD 1945 menjunjung tinggi keseimbangan antara hak dan kewajiban warga negara di bidang pendidikan. 3. Masalah apa yang dihadapi bangsa Indonesia dalam bidang pendidikan menurut GBHN 1999 dan bagaimana cara mengatasinya?

4. Coba Anda simak kembali visi, misi dan tujuan organisasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Buatlah rumusan singkat yang membuktikan bahwa visi, misi dan tujuan direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah diarahkan untuk: a. menjawab tantangan global b. memenuhi kebutuhan era otonomi daerah c. memenuhi kebutuhan pengembangan asfek kognitif, afektif dan psikomotorik dari peserta didik.

RANGKUMAN

1. Kebijakan pendidikan di Indonesia berpijak pada legalita hukum yang diatur secara hirarkis dari yang tertinggi sampai yang terendah. Pancasila yang berkedudukan sebagai dasar negara merupakan landasan idiil dari sestem pendidikan di Indonesia. Sedangkan UUD 1945 dan GBHN masing-masing berkedudukan sebagai landasan konstitusional dan operasional dari sistem pendidikan nasional kita. 2. Sistem pendidikan nasional secara khusus diatur melalui UU No.2 tahun 1989. Walaupun UU No.2 tahun 1989 cukup lengkap mengatur tentang pendidikan, seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah yang menghendaki adanya desentralisasi bidang pendidikan, pemerintah memandang perlu untuk segera menyesuaikan UU tersebut dengan paradigma baru pendidikan di era otonomi daerah. 3. Kebijakan desentralisasi di bidang pendidikan membawa konsekwensi adanya sejumlah wewenang yang semula dimiliki oleh pusat berpindah menjadi kewenangan daerah. Pembagian kewenangan antara pusat dengan daerah tersebut secara yuridis diatur melalui PP No.25 tahun 2000. 4. Pokok-pokok kebijakan dalam bidang pendidikan selama lima tahun dijabarkan melalui propenas 2001-2005. Kebijakan di bidang pendidikan dasar dan menengah menurut propenas 2001-2005 meliputi hal-hal sebagai berikut. a. Pembinaan Pendidikan Pra Sekolah

b. Pembinaan Pendidikan Tingkat Sekolah Dasar c. Pembinaan Pendidikan Tingkat Lanjutan Pertama d. Pembinaan Pendidikan Menengah Umum dan Kejuruan e. Pembinaan Pendidikan Luar Biasa f. Pengembangan dan Pembinaan Tenaga Kependidikan.

TES FORMATIF 1 Berilah tanda silang (x) pada salah satu jawaban yang dianggap benar dari soal-soal di bawah ini: 1. Amanat yang tersurat dalam Pembukaan UUD 1945 dalam dengan pendidikan adalah .... a. membentuk manusia yang bertaqwa kepada Tuhan YME b. mencerdaskan kehidupan bangsa c. menciptakan manusia yang humanis d. membina persatuan

2. Pasal 31 UUD 45 memberikan tanggung jawab kepada pemerintah untuk a. menyelenggarakan sistem pendidikan nasional yang diatur dengan undang-undang b. membuat pokok-pokok kebijakan dalam bidang pendidikan yang bersifat makro c. mengawasi penyelenggaraan sistem pendidikan nasional menyusun standar kurikulum yang berlaku nasional d. menyusun standar kurikulum yang berlaku nasional. 3. Salah satu permasalahan penting dalam bidang pendidikan yang menjadi sorotan GBHN 1999 adalah .... a. rendahnya kualitas hasil pendidikan . b. pendidikan di Indonesia terlalu menekankan aspek intelektrualitas c. kurang bermaknanya pendidikan bagi pembentukan manusia Indonesia seutuhnya d. minimnya anggaran pendidikan menjadi kendala pokok dalam penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. 4. Dalam perkembangan dewasa ini, UU No.2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional perlu disesuaikan dengan paradigma baru dunia pendidikan. Dua faktor yang melatarbelakanginya adalah

a. penyesuaian dengan otonomi daerah dan tuntutan era globalisasi b. penyesuaian dengan amandemen UUD 45 dan GBHN 1999 c. tuntutan desentratisasi dan dekonsentrasi bidang pendidikan d. penyesuaian dengan era reformasi dan globalisasi 5. Kebijakan desentralisasi bidang pendidikan yang merupakan aplikasi dan diberlakukannya otonomi daerah, memberikan porsi kewenangan yang lebih besar untuk mengelola pendidikan kepada.... a. provinsi b. kabupaten c. kecamatan d. pusat 6. Di era otonomi daerah, pemerintah pusat memiliki kewenangan dalam penetapan standar kompetensi siswa dan warga belajar dengan alasan a. menjamin kualitas minimal pendidikan sehingga tidak terjadi kesenjangan antar daerah b. menjamin persatuan dan kesatuan bangsa c. demi efisiensi penyelengaraan pendidikan d. menjamin kelangsungan dan kesinambungan pendidikan 7. Salah satu kewenangan pemerintah kabupaten/kota yang berkaitan langsung dengan kewenangan pemerintah pusat dalam upaya menjaga standar mutu pendidikan nasional adalah a. menetapkan petunjuk pelaksanaan kalender pendidikan TK, SD,SLTP, SMU, dan SMK b. melaksanakan evaluasi belajar tahap akhir TK, SD, SL TP, SMU, dan SMK c. menetapkan petunjuk penilaian hasil belajar. d. mengembangkan standar kompetensi siswa TK, SO, SLTP, SMU dan SMK 8. Kedudukan jenjang pendidikan pra sekolah dalam program wajib belajar sembilan tahun yaitu a. pendidikan pra sekolah wajib diikuti dalam progrpm wajib belajar sembilan tahun b. pendidikan pra sekolah merupakan satu kesatuan dengan program wajib belajar sembilan tahun c. pendidikan pra sekolah tidak berkaitan dengan program wajib belajar sembiIan tahun d. pendidikan pra sekolah sangat rnenunjang program wajib belajar sembilan tahun 9. Program layanan pendidikan alternatif pada pembinaan tingkat sekolah dasar dimaksudkan untuk…

a. meningkatkan kualitas pendidikan pada umumnya b. meningkatkan pelayanan pendidikan di daerah terpencil c. menyukseskan program pemerataan pendidikan d. menyukseskan program efisiensi dan relevan pendidikan 10. Dalam rangka mensukseskan wajib belajar sembiIan tahun, salah satu langkah kebijakan yang diambil adalah .... a. menghapuskan penyelenggaraan EBTANAS SD b. menyatukan antara jenjang SD dengan SLTP c. meniadakan syarat masuk dari SD ke SLTP d. mempermudah syarat masuk dari SD ke SLTP

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)

Dalam kegiatan belajar dua ini, dibahas tentang Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sebagai terjemahan dari School Based Management (SBM). Untuk memudahkan Anda, istilah Manajemen Berbasis Sekolah selanjutnya saya tulis MBS saja. Tujuan yang hendak dicapai setelah Anda membaca bahasan MBS ini adalah, diharapkan Anda dapat:

1. menyebutkan pengertian MBS
2. mengidentifikasikan ciri-ciri MBS 3. menguraikan latar belakang diberlakukannya MBS 4. menjelaskan alasan dilaksanakannya MBS 5. menjelaskan tujuan MBS 6. menunjukkan manfaat MBS 7. menguraikan prinsip umum MBS

8. menguraikan asumsi dasar MBS 9. menjelaskan strategi pelaksanaan MBS 10. menunjukkan faktor pendukung keberhasilan MBS 11. menjelaskan hubungan antara MBS dengan Dewan Sekolah. Untuk mencapai tujuan tersebut, silakan Anda baca uraian berikut, serta jangan lupa kerjakan tugas dan latihan yang ada! Selamat belajar dan semoga sukses!

MATERI PEMBELAJARAN A. APA PENGERTIAN DAN CIRI-CIRI MBS? Mengingat MBS ini merupakan sebuah konsep baru dalam wacana pendidikan nasional, dan upaya sosialisasi belum dilaksanakan maksimal. Jadi sangat wajar apabila di antara para guru atau tenaga kependidikan lainnya belum memahami secara utuh tentang MBS ini. Oleh karena itu perlu ada pembahasan secara khusus tentang MBS. Sebelum membahas lebih lanjut, perlu kiranya diulas sepintas tentang pengertian dan ciri-ciri MBS. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) atau dalam terminologi bahasa Inggris disebut "School Based Management" (SBM), p ada dasarnya MBS adalah sebuah pendekatan pengelolaan sekolah yang bertitik tolak dari pemikiran, pertimbangan, kebutuhan dan harapan dari sekolah itu sendiri. Artinya, sekolah akan barakar dan bertopang pada kondisi nyata masyarakat setempat (bottom up) dan bukan lagi mengikuti "bulat-bulat" petunjuk pemerintah (top down). Dengan kala lain, sebuah sekolah akan melaksanakan keinginan masyarakat pendukungnya (stakeholders), yang terdiri dari orang tua peserta didik, pelaku ekonomi, masyarakat, lingkungan sosial yang mempunyai tuntutan pendidikan, kebutuhan pembangunan setempat, hingga kebijakan otonomi daerah untuk mempercepat kemajuan. Merujuk kepada. pendapat J. Chapman sebagaimana dikutip Nanang Fatah (2000), disebutkan bahwa MBS adalah suatu pendekatan politik yang bertujuan untuk meningkatkan me-redisain pengelolaan sekolah, bertujuan untuk memberikan kekuasaan dan meningkatkan partisipasi sekolah dalam upaya perbaikan kinerjanya yang mencakup

guru, siswa, orang tua siswa dan masyarakat. MBS memodivikasi struktur pemerintahan dengan memindahkan otoritas dalam pengambilan keputusan pemerintah dan manajemen kesetiap yang berkepentingan di tingkat lokal. Beberapa pakar lainnya mengartikan MBS sebagai pengalihan dalam pengambilan keputusan dari tingkat pusat sampai ke tingkat sekolah. Pemberian kewenangan dalam pengambilan keputusan dipandang sebagai otonomi di tingkat sekolah dalam pemberdayaan sumber-sumber (resources) sehingga sekolah mampu secara mandiri menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas, memanfaatkan, mengendalikan dan mempertanggungjawabkan (akuntabilitas) kepada setiap yang berkepentingan (stakehoiders). Selain beberapa pengertian terse but, MBS pun diartikan pula sebagai wujud dari reformasi pendidikan yang menginginkan adanya perubahan dari kondisi yang kurang baik menuju kondisi yang lebih baik dengan memberikan kewenangan (otorita) kepada sekolah untuk memberdayakan diri. Dari berbagai pengertian yang dikemukakan tersebut, dapat ditarik benang merah yang menunjukkari ciri-ciri MBS. MBS sekurang-kurangnya memiliki ciri sebagai berikut: 1. adanya otonomi yang kuat pad a tingkat sekolah 2. keterlibatan secara aktif masyarakat dalam pendidikan 3. proses pengambilan keputusan yang demokratis dan berkeadilan 4. menjunjung tinggi akuntabilitas dan tranparansi dalam setiap kegiatan pendidikan.

B. APA LATAR BELAKANG DIBERLAKUKANNYA MBS? Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu bidang utama dalam pembangunan jangka panjang kedua (PJP II) yang dimulai sejak Pelita VI adalah tentang pengembangan sumber daya manusia sebagaimana dinyatakan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Hal ini, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki tekad yang kuat untuk mencapai keunggulan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya di dunia. Komitmen nasional ini menjadi legitimasi bagi berlangsungnya upaya maksimal dan terus menerus dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Kesadaran tentang pentingnya pendidikan yang dapat memberikan harapan dan kemungkinan yang lebih baik di masa mendatang, telah

mendorong berbagai upaya dan perhatian seluruh lapisan masyarakat terhadap setiap gerak langkah dan perkembangan dunia pendidikan. Berbicara tentang pendidikan tentu saja tidak terlepas dari institusi yang bernama "sekolah", sekolah merupakan wahana tempat berlangsungnya pendidikan sekaligus sebagai tempat masyarakat berharap tentang kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Sejalan dengan bergulirnya era otonomi atas dasar UU Nomor 22 tahun 1999 dan UU Nomor 25 1999 Jo. Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000, membawa nuansa baru dalam sistem pengelolaan pendidikan. Nuansa baru itu antara lain berkembangnya pemikiran untuk melaksanakan desentralisasi pengelolaan pendidikan sejalan dengan otonomi daerah. Desentralisasi pendidikan diharapkan akan mendorong peningkatan pelayanan di bidang. pendidikan kepada masyarakat, yang bermuara pada upaya peningkatan kualitas pengelolaan pendidikan dalam tataran yang paling bawah yatiu sekolah. Dengan kata lain pendidikan perlu perubahan yang dapat dilakukan melalui perubahan dan peningkatan dalam pengelolaan atau manajemen pendidikan di sekolah. Sehubungan dengan hal tersebut, juga terdorong oleh suasana perubahan politik kenegaraan, masyarakat merasa yakin bahwa salah satu upaya penting yang harus dilakukan dalam peningkatan kualitas pendidikan, adalah dengan pemberdayaan sekolah melalui Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS ini pada intinya memberikan kewenangan dan pendelegasian kewenangan (delegation of authority) kepada sekolah urtuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas secara berkelanjutan (quality continous improvement). Di samping faktor internal sebagaimana diuraikan tersedut ada faktor luar (ekstemal) yang juga turut melatarbelakangi lahirnya MBS, antara lain adalah pelaksanaan MBS di beberapa negara maju. Di banyak negara, reformasi pendidikan dimulai pada dekade 1980-an. Banyak sekolah di Amerika Serikat, Kanada dan Australia yang berhasil menerapkan desentralisasi pendidikan dengan model MBS. Dalam rangka pelaksanaan MBS ini di negara-negara tersebut telah memberdayakan sekolah dengan membentuk organisasi yang bernama Dewan Sekolah (School Board di Amerika Serikat dan School Council di Australia). Model MBS tersebut ternyata telah membawa dampak terhadap peningkatan kualitas belajar mengajar. Hal tersebut disebabkan oleh adanya mekanisme yang lebih efektif, yaitu pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cepat, sekaligus memberikan dorongan semangat kinerja baru sebagai motivasi berprestasinya kepada Kepala Sekolah dalam melakukan tugasnya sebagai manajer sekolah. Di berbagai

negara, seperti halnya Selandia Baru dan Chile, ternyata penerapan MBS telah membawa dampak positif bagi dunia pendidikan.

C. APA ALASAN DILAKSANAKANNYA MBS? Setelah Anda memahami later belakang MBS, selanjutnya penulis mengajak Anda untuk memahami beberapa alasan diberlakukannya MBS. Sebetulnya bahasan ini merupakan satu kesatuan dengan bahasan later belakang MBS, namun untuk memudahkan Anda dalam pemahaman secara lebih detail, saya pisahkan dalam bahasan tersendiri. Adapun alasan dan pertimbangan dilaksanakan MBS adalah sebagai berikut.

1. Sekolah lebih mengetahui keadaan dirinya (baik berupa kekuatan, kelemahan,
peluang dan ancaman bagi dirinya), sehingga die dapat mengoptimalkan dalam pemberdayaan sumber daya yang dimiliki. 2. Sekolah lebih mengefahui kebutuhan lembaganya, khususnya berkaitan,dengan input dan output pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan. 3. Pengambilan keputusan relatif lebih tepat dan akurat, karena dilakukan oleh pihak sekolah yang lebih tahu permasalahanya, serta dibantu oleh masyarakat, sehingga di samping dapat menghasilkan keputusan yang tepat dan akurat, juga dapat menciptakan transparansi dan iklim demokrasi yang sehat. 4. Keterlibatan masyarakat dalam mengontrol sekolah melahirkan efektivitas dan efisiensi penggunaan sumber daya pendidikan secara maksimal. 5. Terjadi kompetisi yang sehat di antara masing-masing sekolah untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan melalui upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat dan pemerintah. 6. Sekolah dituntut untuk mempertanggungjawabkan mutu pendidikan kepada pemerintah, orang tua peserta didik dan masyarakat pad a umumnya. Sekaligus sekolah dapat secara tepat mengakomodir aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah secara cepat.

D. APA TUJUAN MBS?

Tujuan pelaksanaan MBSadalah sebagai berikut.

1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui pemberian otonomi kepada sekolah untuk mengelola dan memberdayakan sumber daya yang ada secara mandiri 2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui keputusan bersama. 3. Meningkatkan tanggung. jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat serta pemerintah tentang kualitas sekolah dan pendidikan pada umumnya. 4. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah dalam upaya menciptakan mutu pendidikan yang diharapkan.

E. APA MANFAAT MBS? Dari berbagai pengalaman yang terjadi di beberapa negara yang telah melaksanakan konsep MBS, dapat diketahui terdapat banyak manfaat yang diperoleh. Mengutip pendapat Tim Pokja MBS Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat, disebutkan bahwa sekurang-kurangnya terdapat 8 (delapan) manfaat yang bisa diperoleh dengan diberiakukannya MBS, yaitu sebagai berikut.

1. Sekolah dapat mengoptimalkan sumber daya yang. tersedia untuk memajukan
sekolahnya, karena bisa lebih mengetahui peta kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang mung kin dihadapi. 2. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input dan output pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik. 3. Pengambilan keputusan partisipatif yang dilakukan dapat memenuhi kebutuhan sekolah karena sekolah lebih tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya. 4. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif apabila masyarakat turut serta mengawasi keterlibatan warga sekolah dalam pengambilan keputusan sekolah menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. 5. Sekolah bertanggung jawab tentang mutu pendidikan di sekolahnya kepada pemerintah, orang tua, peserta didik dan masyarakat. 6. Sekolah dapat bersaing dengan sehat untuk meningkatkan mutu pendidikan.

7. Sekolah dapat merespon aspirasi masyarakat yang berubah dengan pendekatan yang tepat dan cepat.

F. APA SAJA YANG MENJADI PRINSIP UMUM SEBAGAI PEDOMAN DALAM PELAKSANAAN MBS? Ada beberapa prinsip umum yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan MBS, yaitu:

1. Memiliki visi, misi dan strategi yang jelas, sehingga dapat melancarkan ke arah pencapaian tujuan pendidikan yang berkualitas, khususnya kualitas siswa 2. Berpijak pada prinsip saling berbagi, mengisi, membantu dan menerima. Pembagian kekuasaan/kewenangan tersebut hendaknya sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing 3. Adanya profesionalisme seluruh komponen terkait, baik para praktisi pendidikan, pengelola, dan manager pendidikan lainnya, termasuk profesionalisme Dewan Sekolah. 4. Adanya tuntutan tanggung jawab dan keterlibatan masyarakat di dalam pelaksanaan pendidikan, Artinya bahwa tanggung jawab pelaksanaan pendidikan saja, tapi merupakan tanggung jawab bersama. 5. Diarahkan kepada terbentuknya Dewan Sekolah, sebagai institusi yang pada akhirnya bertugas melaksanakan MBS. Dengan demikian dapat disebutkan bahwa pembentukan Dewan Sekolah merupakan prasyarat implementasiMBS. 6. Adanya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan sekolah. Artinya bahwa prinsip MBS harus berpijak pada keterbukaan serta bertanggung jawab dalam pengelolaan sekolah, baik yang menyangkut fisik maupun nonfisik.

G.APA ASUMSI DASAR PELAKSANAAN MBS? Sebagaimana telah dijelaskan bahwa MBS adalah bentuk reformasi pehdidikan, yang pada prinsipnya menekankan bahwa sekolah memperoleh: (1) kewajiban (responsibility); (2) wewenang (authority) dan (3) tanggung jawab (acountability) yang tinggi dalam meningkatkan kinerja terhadap setiap stakeholders.

Ada beberapa asumsi dasar yang melandasi implementasi MBS, yaitu:

1. Sekolath dipandang sebagai suatu lembaga layanan jasa pendidikan yang memposisikan kepala sekolah sebagai manajer pendidikan. Kepala sekolah dituntut untuk bertanggung jawab alas seluruh komponen sekolah, serta berupaya meningkatkan mutu pelayanan dan hasil belajar yang berorientasi kepada pemakai, baik siswa, masyarakat, pemerintah maupun lembaga industri dan dunia kerja. 2. MBS dapat efektif diterapkan jika didukung oieh sistem berbagi kekuasaan (power sharing), antara pemerintah pusat dan Pemda dalam pengelolaan sekolah. Berkaitan dengan harapan untuk menghasilkan mutu yang baik, konsep MBS memperhatikan aspek-aspek mutu yang harus dikendalikan secara komprehensif, yaitu:

1. karakteristik mutu pendidikan baik input proses maupun output; 2. pembiayaan (cost); 3. metoda penyampaian bahan pelajaran; 4. pelayanan (service) kepada siswa, orang tua dan masyarakat.

H. BAGAIMANA STRATEGIIMPLEMENTASI MBS? Dari berbagai literatur menunjukkan, tidak sedikit beberapa sekolah di berbagai negara yang telah melaksanakan konsep MBS, mengalami kegagalan karena kesalahan dalam strategi. Oleh karena itu dipandang perlu menggunakan strategi yang tepat dalam implementasinnya. Sehubungan dengan strategi yang digunakan dalam implementasi MBS, saya mencoba mengutip strategi yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Propinsi jawa Barat. Tentu saja hal ini sebagai bahan pembanding saja, karena masing-masing propinsi kondisinya bisa berbeda. Strategi pelaksanaan MBS tersebut dalam garis besarnya terdiri dari 3 tahap, yaitu:

1. Penyiapan konsep MBS

Dalam strategi konsep MBS ini, minimal ada 6 syarat yang perlu dipenuhi, yaitu: . a. pemilihan kepala sekolah dari guru professional b. bentuk partisipasi orang tua c . motivasi orang tua d. kemampuan alokasi dana e. kualitas pembelajaran dan hasillulusan f. keterlibatan semua stakeholders pendidikan

2. Pendekatan impelentasi Karena MBS dianggap sebagai sesuatu yang masih baru, maka dalam pelaksananya harus ditempuh secara bertahap, dengan memperhatikan kondisi sekolah, kondisi sosial masyarakat serta mempertimbangkan faktor geografis, demografis, budaya setempat dan potensi dasar yang dimiliki masyarakat sekolah.

3. Tahap pelaksanaan Dalam tahap implementasi, ditempuh langkah langkah berikut: a. Sosialisasi konsep b. Seminar dan lokakarya c. Pelatihan MBS bagi Kepala Sekolah d. Pembentukan Dewan Sekolah e. Rencana pengembangan Sekolah Model MBS f. Monitoring dan evaluasi g. Pembinaan dan asistensi h. Desiminasi MBS ke seluruh sekolah i . Matrik model implementasi MBS

I.FAKTOR-FAKTOR APA SAJA YANG TURUT MENDUKUNG KEBERHASILAN MBS? Keberhasilan implementasi MBS, tentu saja didukung oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal (Iingkungan sekolah) maupun eksternal (Iuar sekolah).

Sehubungan dengan hal tersebut, secara umum dapat disebutkan terdapat beberapa faktor yang turut mendukung keberhasilan MBS, yaitu:

1. kepempimpinan dan manajemen sekolah yang baik
2. kondisi sosial, ekonomi dan apresiasi masyarakat terhadap pendidikan 3. dukungan pemerintah 4. profesionalisme

J. APAKAH TERDAPAT HUBUNGAN ANTARA MBS DANGAN DEWAN SEKOLAH? Sebelum saya menguraikan hubungan antara MBS dengan Dewan Sekolah. Nampaknya perlu terlebih dahulu diulas tentang pengertian Dewan Sekolah, serta siapa saja yang termasuk unsur Dewan Sekolah. Dewan Sekolah adalah suatu badan atau lembaga nonpolitis dan nonprofit, dibentuk berdasarkan musyawarah yang demokratis oleh para stake holders pendidikan di tingkat sekolah. Sebagai representasi dari berbagai unsur yang bertanggung jawab tehadap peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan. Adapun unsur-unsur Dewan Sekolah tersebut terdiri dari:

1. orang tua siswa 2. wakil siswa 3. wakil guru 4. kepala sekolah 5. wakil tokoh masyarakat setempat ulama, pemuka adat, budayawan, dan cendikia yang punya perhatian terhadap pendidikan. 6. wakil masyarakat terinstitusi (Iurah, camat, dan pejabat lainnya yang berada di wilayah tempat sekolah berada) 7. utusan pejabat pendidikan (Dinas Pendidikan) Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa antara MBS dengan Dewan Sekolah memiliki hubungan yang sangat erat. Keberadaan Dewan Sekolah merupakan bagian yang tidak terpisahkan (satu paket) dengan MBS. Artinya keberadaan Dewan Sekolah

merupakan satu keharusan yang perlu ada dalam MBS, karena MBS tanpa Dewan Sekolah bukari MBS.

LATIHAN Setelah Anda mempelajari kegiatan pembelajaran 2 tentang MBS, silakan Anda kerjakan latihan berikut!

1. Simaklah kembali beberapa pengertian tentang MBS, setetah dipahami betul. Cobalah Anda simpulkan sendiri tentang pengertian MBS tersebut! 2. Atas dasar beberapa pengertian tentang MBS. kemukakan beberapaciri MBS! 3. Jelaskan latar belakang dan alasan diberlakukannya MBS! 4. Uraikan beberapa asumsi dasar dilaksanakannya MBS! 5. Jelaskan hubungan antara MBS dengan Dewan Sekolah!

RANGKUMAN MBS adalah bentuk alternatif sekolah sebagai hasil dari desentralisasi di bidang pendidikan. Sebagai wujud dari reformasi pendidikan, MBS pada prinsipnya bertumpu pada sekolah dan masyarakat serta jauh dari birokrasi yang sentralistik. MBS memiliki potensi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, pemerataan, efisiensi serta manajemen yang bertumpu di tingkat sekolah. Mode ini dimaksudkan untuk menjamin semakin rendahnya kontrol pemerintah pusat, dan di pihak lain semakin meningkatnya otonomi sekolah untuk menentukan sendiri apa yang perlu diajarkan dan mengelola sumber daya yang ada untuk berinovasi. MBS menawarkan kebebasan kekuasaan yang besar pada sekolah, dengan tetap disertai seperangkat tanggung jawab yang harus dipikul, yaitu sikap "accountability" dengan intensitas yang tinggi dalam menjamin partisipasi sebagai unsur yang berkepentingan dengan sekolah. Dalam implementasinya, MBS perlu dilaksanakan melalui berbagai tahapan, sejak tahap persiapan, sosialisasi dan implementasi.

Sebagai konsekwensi legis dari MBS, maka. diperlukan adanya Dewan Sekolah, suatu wadah yang dapat menampung dan menyalurkan aspirasi, harapan dan kebutuhan stakeholders sekolah. Dewan Sekolah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan MBS.

TES FORMATIF Berilah tanda silang (x) pada salah satu jawaban yang dianggap benar dari soalsoal di bawah ini: 1. Pendekatan pengelolaan s_kolah menurut konsep MBS, adalah ....

a.

bertitik tolak dari pemikiran, pertimbangan, kebutuhan dan harapan dari sekolah

itu sendiri, . b. mengikuti kebijakan pemerintah daerah sesuai konsep konsep otonomi daerah, c. melaksanakan separuhnya li'asil penulisan para praktisi pendidikan di tingkat sekolah d. melaksanakan pengelolaan sekolah sesuai rekomendasi Bappenas dalam rangka pengembangan sekolah 2. Dalam tahap awal uji coba, implementasi MBS akan dilaksanakan melalui ....

a.

standarisasi kurikulum tingkat daerah b. pengangkatan guru dan tala usaha c. pengangkatan kepala sekolah d. mutasi guru dan kepala sekolah

3. Salah satu ciri pokok MBS , adalah ....

a.

Pemerintah pusat menyerahkan sepenuhnya pemerintah daerah b. Penyerahan kewenangan bidang pendidikan dari pemerintah kepada sekolah c. Adanya dominasi yang sangat kuat dari kepala sekolah dalam pengelolaan sekolah d. Adanya otonomi yang kuat pada tingkat sekolah

4. Salah satu faktor eksternal yang turut melatarbelakangi lahirnya MBS, adalah ...

a.

munculnya pemikiran yang baru dari para pakar mengenai pengelolaan sekolah b. keberhasilan pelaksanaan MBS di beberapa negara c. gejolak politik dalam negeri d. krisis. multi dimensional yang berkepanjangan

5. Salah satu sisi lemah konsep MBS, antara lain adalah ....

a.

MBS relatif, sulit dilaksanakan di sekolah yang kondisinya sangat minim . b. MBS tidak tepat dilaksanakan di daerah pedesaan c. Masyarakat mendapat beban yang berat d. Pemerintah meiepaskan sepenuhnya kebijakan di bidang pendidikan kepada daerah

6. Tujuan pokok MBS, pada dasarnya diarahkan kepada ....

a.

kontrol masyarakat terhadap pelaksanaan pendidikan b. akuntabilitas penggunaan uang negara c. peningkatan kualitas pendidikan berbasis sekolah d. penunjukan dan pemilihan kepala sekolah

7. Manfaat yang diperoleh sekolah dengan diberlakukannya MBS adalah

a.

dapat dengan mudah menciptakan sekolah favorit b. dapat menarik biaya dari orang tua siswa untuk pengelolaan sekolah c. dapat merespon aspirasi masyarakat sepenuhnya d. dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolah

8. Prinsip umum yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan MBS, adalah a. memiliki visi, misi dan strategi yang jelas b. adanya dana pendukung yang memadai c. sekolah seharusnya berlokasi di daerah perkotaan d. adanya perhatian dari pemerintah pusat dan daerah

9. Organisasi yang perlu dibentuk untuk kelancaran pelaksanaan MBS adalah ....

a.

Dewan Guru b. Dewan Sekolah c. Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan d. Komite Sekolah

10. Salah satu faktor pendukung keberhasilan MBS adalah...

a.

kepemimpinan dan manajemen sekolah yang baik b. kondisi gedung sekolah yang memadai c. input (siswa) yang masuk rata-rata memiliki IQ yang tinggi d. kualifikasi ijazah guru minimal sarjana

KEGIATAN PEMBELAJARAN 3

PUSAT PENGEMBANGAN PENATARAN GURU TERTULIS (PPPG TERTULIS)

Dalam kegiatan belajar tiga ini, akan saya ulas sepintas tentang Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis (PPPG Tertulis). Sengaja saya kemukakan dalam modul ini, dengan tujuan untuk mengenal lebih dekat PPPG Tertulis. Pembahasan tentang PPPG Tertulis dalam modul ini hanya garis besarnya saja. Keterangan lebih rinci mengenai PPPG Tertulis, telah dibuat balk dalam bentuk booklet maupun berbagai pedoman. Karena berbagai hal, pengadaannya sangat. terbatas, padahal upaya sosialisasi lembaga, khususnya kepada para guru di lapangan sangat diperlukan. Tujuan yang hendak dicapai setelah Anda membaca bahasan PPPG Tertulis ini adalah, diharapkan Anda dapat:

1. menyebutkan kedudukan PPPG Tertulis 2. menyebutkan tugas PPPG Tertulis 3. menyebutkan fungsi PPPG Tertuis 4. menyebutkan visi PPPG Tertuis 5. menyebutkan misi PPPG Tertulis 6. menguraikan latar belakang sejarah PPPG Tertulis

7. menjelaskan alasan diperlukannya PPPG Tertulis 8. menunjukan manfaat mengikuti penataran di PPPG Tertulis 9. menjelaskan jenis penataran yang dilaksanakan PPPG Tertulis 10. menjelaskan kegiatan belajar mandiri 11. menjelaskan sistem evaluasi yang dilaksanakan 12. menjelaskan sertifikasi yang diperoleh peserta penataran 13. menjelaskan prosedur pendaftaran peserta 14. menjelaskan program pengembangan yang dilaksanakan PPPG Tertulis. Untuk mencapai tujuan tersebut, silakan Anda baca uraian berikut, serta jangan lupa kerjakan tugas dan latihan yang ada! Selamat belajar dan semoga sukses!

MATERI PEMBELAJARAN

A. BAGAIMANA KEDUDUKAN PPPG TERTULIS? PPPG Tertulis adalah lembaga eselon dua dan merupakan unit pelaksana teknis pengembangan penataran tertulis (penataran jarak jauh). Lembaga ini berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional. Pelaksanaan kegiatannya berada dalam lingkup koordinasi Direktorat Tenaga Kependidikan. Pelaksanaan kegiatan PPPG Tertulis mencakup pelayanan terhadap semua guru di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, yaitu para guru Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan TIngkat Pertama (SLTP), dan Sekolah Menengah Umum (SMU) yang memerlukan penataran tertulis atau penataran jarak jauh. Pelayanan penataran secara tertulis dilakukan baik terhadap para guru yang karena kondisinya tak memungkinkan untuk meninggalkan sekolah untuk mengikuti program penataran tatap muka, para guru yang ingin memperoleh bahan-bahan tertulis sebagai pelengkap penataran tatap muka yang pernah diikuti, maupun para guru yang ingin memperoleh bahan pengayaan. Dalam menjalankan tugasnya PPPG Tertulis bertanggungjawab langsung kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

B. APA TUGAS DAN FUNGSI PPPG TERTULIS?

1. Tugas PPPG Tertulis Adapun tugas PPPG Tertulis adalah menjalankan penataran teknis kependidikan bagi guru secara tertulis mengembangkan materi serta cara penyajian materi beberapa mata pelajaran yang ditentukan. Dalam mengembangkan materi penataran PPPG Tertulis juga memperoleh masukan dari PPPG Mata Pelajaran yang telah melaksanakan pengembangan penataran sesuai dengan tugasnya masing-masing. PPPG Tertulis menerima hasil pengembangan mata pelajaran IPA dari PPPG IPA, mata pelajaran Matematika dari PPPG Matematika, mata pelajaran IPS dan PMP dari PPPG IPS dan PMP, mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Asing, dan Bahasa Daerah dari PPPG Bahasa. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 12 Mei 1980 Nomor 0161/U/1980 tentang Pedoman Dalam Sistem Penataran Terpadu Pada Pendidikan Formal Tingkat Dasar dan Menengah di Lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Butir III.3.b dan Butir IV.9.a,b dan c. 2. Fungsi PPPG Tertulis Untuk menjalankan tugas tersebut PPPG Tertulis mempunyai fungsi sebagai berikut.

a.

Menyusun program penataran tertulis sebagai pelengkap penataran tertulis b. Menentukan materi, menyusun naskah, mengadakan dan menyampaikan bahan penataran kepada peserta penataran tertulis c. Melaksanakan evaluasi atas program dan pelaksanaan program penataran tertulis. d. Mengembangkan materi dan cara penyajian materi penataran. e. Melaksanakan urusan tata usaha dan rumah tangga.

C. APA VISI DAN MISI PPPG TERTULlS? 1. Visi PPPG Tertulis Menjadi lembaga profesional dalam meningkatkan daya saing sumber daya manusia nasional melalui diklat jarak jauh dan program jaminan pendidikan lainnya. 2. Misi PPPG T ertulis

1. Mengembangkan Sumber Daya Internal dan Eksternal Secara Sinergis Untuk Mendukung 2. Mengembangkan Jejaring Dengan Instansi Yang Relevan Di Dalam maupun Di Luar Negeri 3. Mengembangkan Diklat jarak Jauh bagi Tenaga Kependidikan Yang Relevan, Berkualitas, Dan Inovatif 4. Mengembangkan Program Jaminan Mutu Pendidikan Non Diklat Yang Relevan, Sistematis, Dan Terpadu 5. Memberikan Layanan Prima Terhadap Pelanggan Sesuai Dengan Prinsip Total Quality Management

D. BAGAIMANA LATAR BELAKANG SEJARAH PPPG TERTULlS? Pada tahun 1950, yaitu saat kelahirannya pada tanggal 2 Juli 1950, PPPG Tertulis bernama Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru atau BKTPG. Balai ini didirikan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Pengajaran, dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor F. 503 tertanggal 2 Juli 1950 dengan menempati gedung Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Belanda yang dibangun pad a tahun 1918 di Jalan Dr. Cipto No.9 Bandung. Balai ini diberi tugas menyediakan bahan pelajaran untuk kursus-kursus tertulis pendidikan guru. Pada awal berdirinya sampai dengan tahun 1951/1952 BKTPG telah melayani 99.467 orang peserta yang tersebar di seluruh Indonesia. Pada tahun 1954 Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru diubah namanya menjadi Balai Penddikan Guru atau disingkat BPG. Nama baru ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan RI Nomor: 2156/Kab. Tertanggal 13 Januari 1954 dengan tugas menyelenggarakan kursus-kursus tertulis bagi guru yang masih memiliki ijazah yang lebih rendah dan berminat untuk meningkatkan kompetensinya guna mencapai ijazah SGB, SGA, PGSL TP, B-1 atau B-II. Pada tahun 1954 Bapak Dr. Muhammad Hatta, Wakil Presidan Republik Indonesia Pertama pernah melakukan kunjungan kerja ke lembaga ini untuk menyaksikan dari dekat persiapan kegiatan penataran guru tertulis, mengadakan wawancara dengan para penulis baha penataran, meninjau percetakan dan melihat perpustakaan yang memiliki koleksi buku-buku berbahasa Belanda yang tergolong cukup banyak. Prof. Moch. Yamin,

Menteri P dan K yang juga merangkap Rektor Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Bandung, pada waktu itu merupakan salah seorang anggota Perpustakaan PPPG Tertulis yang sangaf aktif. Wakil Presidan sangat menghargai kegiatan penataran jarak jauh dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia melalui peningkatan kualifikasi persyaratan kompetensi para guru. Beliau memahami benar betapa bermanfaatnya penataran tertulis bagi upaya peningkatan kemampuan para guru yang kegiatan sehari-harinya langsung berhadapan dengan siswa di sekolah yang letaknya tersebar di seluruh tanah air, bahkan banyak yang berada di daerah terpencil. Penataran tertulis pada saat itu memang merupakan pilihan utama, sedangkan penataran secara tatap muka tidak direkomendasikan, bukan itu saja oleh karena para guru harus meninggalkan tugas pada waktu mengikuti penataran, sementara para siswa sangat memerlukan kehadiran gurunya, akan tetapi biaya untuk kegiatan semacam itu tidak tersedia di dalam anggaran pendidikan. Pada tahun 1967 Balai Pendidikan Guru diubah nama dan fungsinya menjadi Pusat Penelitian Kurikulum, Metodik dan Didaktik atau disingkat PPKMD yang berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Dasar dan Menengah. Nama baru ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 18/1967 dengan tugas menyelenggarakan penelitian dalam bidang kurikulum dan metode mengajar dan tidak lagi menangani kursus-kursus ataupun penataran tertulis. Dalam kurun waktu selama kurang lebih tiga tahun itulah keberadaan lembaga ini menjadi semakin kurang menentu. Status kepegawaian para penulis bahan penataran dan staf administrasi pun menjadi terbengkalai. Banyak tenaga potensial yang pindah ke lembaga lain untuk mencari peluang yang lebih baik bagi pengembangan karir selanjutnya. Pada tahun 1970 Pusat Penelitian Kurikulum Metodik dan Didaktik dikembalikan lagi dan fungsinya menjadi Balai Pendidikan Guru dengan singkatan BPG.Balai ini diintegrasikan ke dalam lingkungan Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis yang berada di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Pengembalian nama ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor. 090/1970 dengan tugas menyelenggarakan kursus-kursus tertulis bagi guru SD, SLTP, dan SLTA. Status kepegawaian para penulis bahan penataran dan staf administrasi mulai ditata kembali, namun keadaan sumber daya manusia yang masih ada kurang memberi harapan untuk mengembalikan citra lembaga ini yang pernah cemerlang selama hampir dua dekade.

Pada tahun 1976 di samping menyelenggarakan kursus-kursus tertulis bagi guru SD, SLTP, dan SLTA. Balai Pendidikan Guru bertugas pula untuk menyelenggarakan Proyek Balai Pendidikan Guru Tertulis bagi guru SLTP dan SLTA. . Pada tahun 1977 BPG diubah lagi lagi menjadi Balai Penataran Guru Nasional Tertulis atau disingkat BPGNT. Perubahan ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 01 16/0/1977 dengan tugas menyelenggarakan penataran penyegaran guru SL TP dan SLTA melalui Proyek Balai Pendidikan Guru Tertulis selama tiga tahun mulai tahun anggaran 1976/1977, 1977/1978, dan 1978/1979. Pada tahun 1979 Balai Penataran Guru Nasional Terlulis diubah namanya menjadi Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis atau disingkat menjadi PPPG Tertulis. Sejak saat itulah nama PPPG Tertulis masih tetap diabadikan sampai dengan saat ini. Tugas pokok PPPG Tertulis adalah menyelenggarakan penataran teknis pendidikan secara tertulis bagi guru di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dan mengembangkan materi serta cara penyajian berbagai mata pelajaran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada tahun 1990 terjadi penyempurnaan organisasi dan tata kerja PPPG termasuk di dalamnya PPPG Tertulis, melalui SK Mendikbud Nomor: 0529/0/1990, taggal 14 Agustus 1990. Adapun para pejabat di lingkungan Oepartemen (dulu Kementerian) Pendidikan Nasional yang pernah diberi tugas untuk memimpin PPPG Tertulis sejak didirikan adalah sebagai berikut:

1. Mo Vastenhouw 2. Van Waandanberg 3. R. Moh, Soemardi 4. R. Tjetje Djajadisastra 5. R. Balnadi Sutadipura 6. R. Pandi Surjahardja 7. M. Rifai, MA 8. Bahaudin M. Nur 9. Drs. Jusuf Djajadisastra 10. Drs. H.M. Hasanudin 11. Drs. H. Faozan Tirtarukmana

12. Drs. H. Achmad Riyanto, M.Ed. 13. Drs. Suwondo, MS.MM 14. Abdorrakhman Gintings, Ph.D

E. MENGAPA PPPG TERTULIS DIPERLUKAN?

1. Luas wilayah Republik Indonesia yang terdiri dari puluhan ribu pulau dan banyak
daerah sui it dan terpencil berakibat belum semua guru di berbagai jenjang dan jenis pendidikan memperoleh pemerataan dan kesempatan untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi dan profesionalisme, akibat adanya kendala geografis, sosial ekonomi. 2. Sekolah-sekolah yang sang at terbatas jumlah tenaga pengajarnya, terutama di daerah terpencil sangat kecil kemungkinan dapat meninggalkan sekolah guna mengikuti penataran yang sebenarnya sangat mereka perlukan. 3. Sekolah-sekolah yang cukup jumlah tenaga pengajarnya mempunyai kesempatan untuk mengikuti penataran dengan meninggalkan sekolah sementara waktu. Namun dewasa ini semakin marak munculnya tuntutan para orang tua siswa agar guru dalam tugas sehari-hari untuk lebih banyak berada di sekolah dan rnencurahkan perhatian penuh kepada para siswa. Dangan demikian peluang untuk mengikuti penataran dengan meninggalkan sekolah menjadi semakin kecil. 4. Betapapun sibuknya, semua guru di manapun mereka berada harus diberi peluang untuk dapat memperoleh tambahan wawasan tentang perkembangan baru dalam dunia pendidikan secara terus menerus untuk meningkatkan kemampuan serta keterampilan mereka dalam mengajar. 5. Pemerintah yang selama ini harus menyediakan dana untuk meningkatkan mutu guru melalui penataran konvensional yang dilaksanakan dengan sistem tatap muka ternyata menghadapi kendala keterbatasan dalam segi keuangan. Lagi pula adanya kendala geografis yang sangat beragam yang tersebar di negara tercinta ini akan sangat membebani anggaran pemerintah apabila penataran harus dilakukan dengan tatap muka.

6. Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut penyelenggara penataran guru dengan sistem pemitaran jarak jauh yang sa at ini dilakukan oleh PPPG Tertulis cenderung menjadi pilihan utama.

F. APA MANFAAT MENGIKUTI PENATARAN DI PPPG TERTULlS?

1. Guru dapat mengikuti penataran tanpa harus meninggalkan tugas mengajarnya
di kelas. 2. Dapat meningkatkan dan mengembangkan budaya baca, yang pada akhirnya dapat diimbaskan pada orang lain khususnya kepada siswa yang menjadi tanggung jawabnya di kelas. 3. Adanya kemudahan dalam pengaturan waktu dan lokasi belajar yang luwes, sesuai dengan kondisi masing-masing peserta. 4. Tidak memerlukan biaya yang besar. 5. Tingkat ke dalaman materi lebih dalam dan lebih luas. 6. Dapat menjangkau daerah-daerah terpencil. G. PENATARAN APA SAJA YANG DILAKSANAKAN PPPG TERTULlS? Saat ini program penataran yang dilaksanakan adalah. 1. Penataran Penyegaran (Refreshing in Service Training) Tujuan dilaksanakan penataran penyegaran adalah memberikan tambahan bekal bagi para guru agar lebih mampu melaksanakan kurikulum atau garis-garis program pengajaran yang menjadi tugasnya. Adapun sasarannya adalah guru atau kepala sekolah (TK, SD, SLTP, dan SMU). Sedangkan lama belajarnya adalah 1 semester. Bidang tataran yang diberikan adalah untuk guru TK dan SD penataran tluru kelas untuk semua kelas dengan rincian sebagai berikut: a. Guru TK meliputi:

1. Metode Pengembangan Agama Moral Disiplin dan Afeksi

2. Metode Pengembangan Daya Pikir dan Daya Cipta 3. Metode Pengembangan Kemampuan Berbahasa 4. Metode Pengembangan Kemampuan Motorik 5. Psikologi Perkembangan 6. Pendidikan Seni 7. Kurikuium dan Pembelajaran di TK.

b. Guru SD meliputi mata pelajaran:

1. Pendidikari Pancasila dan Kewarganegaraan 2. Bahasa Indonesia 3. Matematika 4. IImu Pengetahuan Alam 5. IImu Pengetahuan Sosial 6. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan 7. IImu Keguruan 8. Kreativitas 9. Bahasa Inggris Bidang tataran untuk guru SLTP atau SMU penataran guru mata pelajaran untuk semua mata pelajaran dengan rincian sebagai berikut. Guru SLTP dan SMU meliputi mata pelajaran:

1. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 2. Bahasa Indonesia 3. Matematika 4. IPA (Biologi, Fisika dan Kimia) 5. IPS (Geografi Sejarah, dan Ekonomi) 6. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan 7. IImu Keguruan 8. Bahasa Inggris

9. Pendidikan Agama Islam

2. Penataran Pengayaan (Enrichment in Service Training) Tujuan dilaksanakan penataran pengayaan adalah memberikan tambahan materi atau wawasan baru yang diperlukan para guru, kepala sekolah maupun pengawas agar lebih mampu menghadapi berbagai perkembangan baru dalam penyelenggaraan pendidikan. . Adapun sasarannya adalah guru, kepala sekolah dan pengawas, (TK, SD, SLTP, dan SMU). Lama belajarnya adalah 1 semester. Sampai saat ini penataran pengayaan yang telah dilaksanakan adalah meliputi mata tataran:

a.

Penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografi (SMU) b. Ekonometri (SMU) . c. Thermodinamika (SMU) d. Bioteknologi (SMU) e. Bahasa Inggris (SMU) f. Penulisan Karya Tulis IImiah bagi semua guru dan kepala sekolah

g. Pengelolaan kelas bagi semua guru dan kepala sekolah h. Supervisi akademik bagi guru dan kepala sekolah. Tahap berikutnya akan dikembangkan bidang tataran lainnya.

3. Penataran Tertulis Model Kualifikasi PPPG Tertulis juga mengembangkan program penataran tertulis model kualifikasi 02 PGSD dan PGTK bagi guru SD dan TK. Pelaksanaannya kerjasama dengan LPTK. Program kualifikasi yang telah dilaksanakan, kerjasama dengan FKIP UNS (02 PGSO) dan FKIP UNJ (02PGSTK). Program ini akan terus dikembangkan lebih lanjut dengan berbagai LPTK di beberapa propinsi mengingat tuntutan dari para guru untuk mengikuti program ini terus meningkat dari berbagai daerah di Indonesia.

Di samping itu akan dikembangkan pula penataran tertulis model kualifikasi 03 bagi guru SLTP. Sesuai dengan Surat Edaran Dirjen Dikdasmen Nomor: 5710/C.O51PP/98, tanggal 25 Juni 1998 tentang Penataran Guru di lingkungan Ditjen Dikdasmen, kepada peserta penataran selain mendapatkan materi berupa substansi mata pelajaran sebagai Program Pokok, mereka pun mendapatkan materi tambahan dalam bentuk Program Umum dan Program Penunjang.

H. BAGAIMANA KEGIATAN BELAJAR MANDIRI PESERTA? Sistem belajar dikembangkan dalam penataran jarak jauh adalah sistem belajar mandiri. Sistem belajar ini lebih mengutamakan aktivitas peserta dalam mempelajari dan memahami materi pelajaran yang disajikan dalam bentuk modul. Oleh karena itu kegiatan dalam penataran ini meliputi:

1. Belajar Individual Kegiatan yang dilakukan dalam belajar individual antara lain peserta secara individu mempelajari dan mengerjakan tugas atau latihan-latihan yang terdapat dalam modul. Dalam satu minggu setiap peserta dituntut untuk belajar mandiri minimal 5 jam @ 60 menit.

2. Belajar Kelompok. Peserta yang berdomilisi berdekatan, minimal satu minggu satu kali mengadakan diskusi kelompok, dengan tujuan memantapkan pemahaman isi modul dan memecahkan masalah-masalah yang sulit dipelajari secara individual.

3.Tutorial Apabila terdapat permasalahan yang sulit dipecahkan pada saat belajar individual dan kelompok maka dilaksanakan kegiatan tatap muka (tutorial). Kegiatan tutorial dilakukan secara tatap muka di bawah bimbingan tutor dan dikoordinasikan oleh BPG. Untuk memantau pelaksanaan belajar peserta, PPPG Tertulis mengeluarkan instrumen kendali belajar peserta.

I. BAGAIMANA SISTEM EVALUASI YANG DlLAKSANAKAN?

Untuk mengukur hasil belajar peserta, dilaksanakan evaluasi hasil belajar. Jenis evaluasi yang dilaksanakan adalah:

1. Tes Awal Program Tes Awal Program dilakukan dengan tujuan untuk mengukur kemampuan peserta sebelum mengikuti penataran.

2. Tes Formatif Peserta yang telah selesai mempelajari satu kegiatan belajar dalam setiap modul diharuskan mengerjakan seal tes formatif yang terdapat di setiap akhir kegiatan belajar. Tes formatif dilaksanakan untuk mengukur daya serap peserta penataran terhadap materi yang telah dipelajarinya sebelum beralih kepada materi berikutnya.

3. Tugas Mandiri Setiap semester peserta diharuskan mengerjakan tugas-tugas mandiri yang naskahnya disiapkan oleh PPPG Tertulis untuk diperiksa dan diolah hasilnya. Tugas mandiri dilaksanakan di samping untuk mengetahui daya serap peserta terhadap materi yang diberikan juga sebagai pelengkap Tes Akhir Program.

4. Tes Akhir Program Tes akhir program dilaksanakan setelah peserta selesai mengikuti penataran. Nilai tes akhir program dijadikan bahan pertimbangan kelulusan peserta atau untuk mendapatkan sertifikat, STPPL. Di samping tes tersebut peserta pun diwajibkan melaksanakan program Praktek Kerja Lapangan (PKL).

J. BAGAIMANA SERTIFIKASINYA? Peserta yang memenuhi persyaratan, pada akhir semester diberikan Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Latihan (STPPL). Adapun perhitungan penyetaraan penataran tertulis ke dalam jam pelajaran mengacu kepada lampiran IV Surat Edaran Mendikbud No.

143/MPK/1990 dicantumkan bahwa ukuran penilaian untuk penghargaan angka kredit berkaitan dengan lamanya waktu pelaksanaan Oiklat, yaitu sebagai berikut:

No 1 2 3 4 5 6

Lama Diklat 30 - 80 jam 81 - 160 jam 161 - 480 jam 481 - 640 jam 641- 960 jam Lebih dari 960 jam

Angka Kredit 1 2 3 4 9 15

Untuk perhitungan jam dan angka kredit hasil penataran dapat kita gunakan perhitungan berdasarkan sistem belajar yang telah dilaksanakan dan dikembangkan dalam penataran tertulis sebagai berikut.

Lama belajar dalam Sistem Belajar Mandiri dengan tutorial adalah 1 semester, lama belajar efektif dihitung 5 bulan, dengan rincian:

1 Belajar Mandiri dan mengerjakan tugas-tugas (5 bulan x 4 minggu x 5 hari x 2 jam @ 60 menit) : 200 jam 2 Belajar Kelompok (5 bulan x 4 minggu x 1, hari x 5 jam @ 60 menit) 3 Belajar Tutorial (5 bulan x 2 x 3 hari x 4 jam @ 60 menit) 4 Tugas Mandiri (1 tugas x 10 jam @ 60 menit) : 10 jam : 120 jam : 100 jam

5 Mengikuti Evaluasi (2 x 1 0 jam @ 60 menit) Jumlah jam belajar total 1 semester : 20 jam : 450 jam

450 jam = 450 x 60/45 = 600 jam

K.BAGAIMANA PROSEDUR PENDAFTARANNYA? Prosedur pendaftaran peserta penataran tertulis sebgai berikut:

1. Formulir pendaftaran, peserta diketuarkan oleh PPPG Tertulis kepada peserta melalui pengelola daerah, sampai ke tingkat Kecamatan. 2. Pengelola daerah meneruskankepada peserta melalui kepala sekolah 3. Calon peserta didaftarkan oleh kepala sekolah bersama-sama dengan Kepala Dinas Pendidikan Kecamatan, selanjutnya diserahkan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. 4. Daftar kolektif cajon peserta dikirim ke PPPG Tertulis dengan tembusan kepada BPG dan Kepala Dinas Pendidikan Propinsi. 5. PPPG Tertulis melaksanakan seleksi administrasi dan bagi calon yang memenuhi syarat diberi nomor induk sebagai peserta. 6. Peserta yang diterima atau ditangguhkan oleh PPPG Tertulis diinformasikan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada BPG dan Kepala Dinas Pendidikan Propinsi. Bagi, peserta yang telah memiliki akses jaringan internet, pendaftaran dapat dilakukan melalui E-mail, dengan alamat E-mail: etraining@pppgtertulis.org atau multimedia@bdg.centrin.net.id

LATIHAN Setelah Anda mempelajari kegiatan pembelajaran tiga ini, silakan Anda kerjakan latihan berikut ini.

1. Jelaskan kedudukan PPPG Tertulis, di -lingkungan Departemen Pendidikan
Nasional! 2. Jelaskan visi dan misi PPPG Tertulis serta jelaskan pula hubungannya dengan visi dan misi pendidikan nasionai! 3. Tuliskan alasan-alasan diperlukannya penataran jarak jauh! 4. Tuliskan keuntungan mengikuti penataran jarak jauh! 5. Kenapa penataran tertulis membawa implikasi kepada terbentuknya masyarakat belajar (learning society)? Jelaskan dengan singkat!

RANGKUMAN Pusat Pengembangan Penataran GJJru Tertulis (PPPG Tertulis) merupakan unit pelaksana teknis kependidikan, mempunyai tugas pokok melaksanakan pengembangan dan penataran jarak jauh dengan sistem belajar mandiri dalam upaya meningkatkan mutu dan kompetensi kerja guru dalam kaitannya dengan usaha.peningkatan mutu pendidikan. Pelaksanaan tugas dan fungsi PPPG Tertulis sebagai lembaga yang turut ambil bagian dalam upaya mencerdaskan bangsa telah dilaksanakan sejak tahun 1950. Kondisi geografis negara Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, adanya sekolah terpencil, mutasi guru yang tidak merata, serta adanya tuntutan masyarakat bahwa guru jangan terlalu sering meninggalkan kelas, maka pelaksanaan penataran secara jarak jauh menjadi sebuah solusi alternatif yang cukup prospektif bagi pembinaan tenaga fungsional guru secara sinergis dan terus menerus. Dalam upaya meningkatkan dan mengembangkan program, PPPG Tertulis telah melaksanakan berbagai program inovatif, antara lain melalui pengembarigan kemitraan dengan instansi lain yang relevan.

TES FORMATIF III Berilah tanda silang (x) pada salah satu jawaban yang dianggap benar dari soalsoal di bawah ini.

1. Dalam menjalankan tugasnya PPPG Tertulis bertanggung langsung kepada A. Departemen Pendidikan Nasional B. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah C. Direktorat Tenaga Kependidikan D. Dinas Pendidikan Propinsi 2. Dalam upaya mencerdaskan bangsa, PPPG Tertulis telah berkiprah sejak tahun .... A. 1990 B. 1979 C. 1950 D. 1945 3. Menyusun program penataran tertulis sebagai pelengkap penataran lisan, merupakan A. Visi PPPG Tertulis B. Misi PPPG Tertulis C. Tugas PPPG Tertulis D. Fungsi PPPG Tertulis 4. Tujuan Penataran Penyegaran (Refreshing in Service Training) adalah untuk.. .. A. memberikan tambahan materi bagi para guru agar lebih mampu melaksanakan kurikulum dan G8PP B. memberikan tambahan materi atau wawasan baru C. meningkatkan kualifikasi ijazah sesuai yang dipersyaratkan D. persyaratan administratif untuk mencapai jabatan tertentu 5. Salah satu peluang yang paling dominan pentingnya penataran jarak jauh adalah .... A. jumlah guru yang cukup besar B. kondisi geografis yang terdiri dari ribuan pulau dan dipisahkan oleh laut C. anggaran penataran yang sangat minim D. diberiakukannya kebijakan otonomi daerah 6. Tujuan penataran pengayaan (enrichment in service training) adalah ... A. mendapatkan kualifikasi minimal ijasah yang dipersyaratkan B. memberikan tambahan bekai para guru agar mampu melaksanakan kurikulum atau G8PP C. untuk mencapai jenjang kepangkatan tertentu D. memberikan materi atau wawasan baru tentang perkembangan IPTEK

7. Angka kredit yangdiperoleh berdasarkan katagori 481-640 adalah A. 3 B. 4 C. 5 D. 6 8. Menjadi lembaga terdepan dan profesional pendidikan sebagai penjamin mutu adalah merupakan bagian dari isi ... A. Visi PPPG Tertulis B. Misi PPPG Tertulis C. Tugas PPPG Tertulis D. Misi PPPG Tertulis 9. Tujuan dilaksanakan Tes Awal Program adalah A. mengukur daya serap peserta terhadap materi penataran B. sebagai pelengkap Tes Akhir Program C. mengukur kemampuan peserta sebelum mengikuti penataran D. persyaratan mendapatkan STPPL 10. Secara filosofis tujuan penataran tertulis adalah .... A. meningkatkan kualitas program penataran B. membentuk masyarakat belajar (learning society) yang mandiri C. melengkapi penataran lisan D. meningkatkan perolehan NEM siswa

DAFTAR PUSTAKA Beberapa Permasalahan Pokok Pembangunan Pendidikan, Departemen Pendidikan Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan, Jakarta, 2000. Fasli Jalal dan Dedi Supriadi: Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Oaerah, Adi Cita, Yogyakarta, 2001 Identifikasi dan Penjabaran Kewenangan Pendidikan dan Kebudayaan dan PP Nomor 25 tahun 2000, Departemen Pendidikan Nasional, Kelompok Kerja Penataan Organisasi Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta,2000. . Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No.024, tahun ke-6, Juli 2000.

Laporan Hasil Evaluasi Pelaksanaan Program, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional,2000. Nanang Fatah , Manajemen Berbasis Sekolah, Andira, Bandung, 2000 Sekilas Informasi PPPG Te rtu lis , Bandung,2001 Selayang Pandang PPPG Tertulis, Bandung, 2000 Tim Pokja, Pedoman Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di Jawa Barat, Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat, Bandung,2001 UUD 1945 dan Amandemen 1999 - GBHN (Tap MPR No.IV/MPR/1999)- Tap tap MPR 1999, Pustaka Setia, Bandung,1999. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta penjelasannya, PT. Intan Pariwara.1989. Undang-Undang Otonomi Oaerah 1999, Sinar Grafika,Jakarta, 1999.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->