BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Perayaan Galungan bagi umat Hindudi Bali sudah sangat memasyarakat dari abad keabad. Tetapi sangat kita sayangkan memasyarakatnya Galungan tersebut sangat tidak seimbang antara Tattwa atau kasuksman Galungan,Susila dengan Upakaranya. Artinya antara Tattwa yang tercamtum dalam teks pustaka Sundaraigama dengan wujud susila dan upakara Galungan dalam kehidupan empirisnya sampai saat ini masih tidak nyambung. Bahkan kadang-kadang bertentangan.antara Tattwa Galungan yang demikian luhur dan idial dinyatkan dalam teks Pustakanya dengan kenyataan perayaan Galungan dalamkehidupan empiris setiap dalam kehidupan empiris setiap perayaan Galungan yang dirayakan setiap enam bulan wuku (210 hari). Ada kalanya disuatu waktu dan tempat perayaan Galungan lebih menonjolkan perayaan Galungan dengan pesta-pesta pora yang bersifat hedonis. Makan masakan khas daerah yang lebih nikmat dari sehari-harinya.Demikian pula Galungan diwujudkan dengan berpakaian serba baru,pergi ketempat-tempat hiburan dan melakukan hal-hal yang lebih menekankan keikmatan indria. Pada hal Galungan adalah sebagai suatu peringatan untuk menajamkan daya spiritual untuk mensinergikan penerapan Jnyana atau ilmu pengetahuan suci untuk mencerahkan hati nurani umat sehingga dapat membangun kehidupan yang cerah dan bergaiarah untuk mengamalkan Dharma. Galungan bukan sebagai media untuk lebih mendinamisir dominasi indria dalam diri. Sesungguhnya untuk mengimplementasikan Tattwa Galungan banyak hal yang dapat kita perbuat dengan mengembangkan Tattwa Galungan kedalam berbagai program nyata sehingga Tattwa Galungan menjadi nyata dalam wujud susila dan upakara nya, Inilah tujuan utama penulisan tentang Galungan dan Kuningan dalam tulisan singkat ini.

1

1.2.

Rumusan Masalah Untuk membatasi pembahasan, penulis hanya membahas beberapa rumusan masalah yaitu:
1. Bagaimana Pengertian, makna filosofis serta Macam-macam

Galungan?
2. Bagaimana Rangkaian Perayaan hari raya Galungan Tersebut? 3. Bagaimana pelaksanaan Galungan di India?

1.3.

Tujuan Penulisan Ada pun tujuan dari penulisan paper ini yaitu:
1. Memahami Pengertian, makna filosofis serta Macam-macam

Galungan.
2. Memahami Rangkaian Perayaan hari raya Galungan Tersebut. 3. Mengetahui Galungan di India.

4. Memenuhi tugas mata kuliah acara Hindu II.

2

Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan. tahun 804 Saka. kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan. Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI)memperkirakan. Karena itu di Jawa. ada sumber yang memberikan titik terang. Artinya: Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon. masih belum terjawab dengan pasti. Galungan juga sama artinya dengan dungulan. tapi artinya sama saja. isaka 804. Budha Kliwon Dungulan. Namun di Bali. 3 . 2.1.BAB II PEMBAHASAN 2.1. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis. yang artinya sama : manis. tanggal 15. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya". Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat. Menurut lontar Purana Bali Dwipa. Dalam lontar itu disebutkan: "Punang act Galungan ika ngawit. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka. sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Tetapi. Ka. Namanya berbeda. terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15. tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Pengertian umum Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Pengertian. Drs.1. Dungulan sasih kacatur. Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu popular dirayakan di Pulau Bali. makna filosofis serta Macam-macam Galungan. yang juga berarti menang. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia. Bu.

barulah Galungan dirayakan kembali. tak jauh dari Pura Besakih. tiba-tiba entah apa dasar pertimbangannya pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. konon musibah datang tak henti-henti. setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi.Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Untuk mengetahui penyebabnya. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau“bisikan religius” dari Dewi Durgha. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendekkarena tidak lagi merayakan Galungan. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu. Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali 4 . Dalamn lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Disamping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. sakti dari Dewa Siwa. Disebutkan pula. Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilahDewa Sraya artinya mendekatkan diri pada Dewa. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri. Selama Galungan tidak dirayakan. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu.

tetapi kala keletehan dan adharma. bukanlah melawan musuh berbentuk fisik. bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Yang terpenting. Dengan mempelajari pustaka-pustaka. Berdasarkan ini. Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. perayaan semacam ini juga sudah diadakan. diantaranya Panji Amalat Rasmi (Jaman Jenggala) pada abad ke XI di Jawa Timur. pustaka-pustaka mengajarkan bahwa sejak Redite Pahing Dungulan kita didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Jadi dalam hal ini umat berperang.Sejarah Hari Raya Galungan masih merupakan misteri. bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang. 5 . Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan. Memilik nama-nama itu. dapatlah kiranya diartikan sebagai berikut: Hari pertama = Sang Bhuta Galungan. angayubagia adalah suatu pertanda jiwa yang sadar akan Kinasihan. yang terpenting adalah kesungguhan niat dalam batin. tahu akan hutang budi. Disebutkan dalam pustaka-pustaka itu: mereka adalah simbul angkara (keletehan). Dalam Pararaton jaman akhir kerajaan Majapahit pada abad ke XVI. dalam pelaksanaan upakara pada hari-hari raya itu adalah sikap batin. berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. Menurut arti bahasa. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Ngaturang maha suksmaning idép. Galungan berarti berperang/ bertempur. Galungan itu sudah dirayakan. Namun sekali lagi. Hanya ditulis yang pokok-pokok saja menurut apa yang umum dilakukan oleh umat. Berjuang. Dalam rangkaian peringatan Galungan. boleh kita artikan bahwa pada hari Redite Pahing Dungulan kita baru kedatangan bhuta (kala) yang menyerang (kita baru sekedar diserang). Pada hari itulah umat angayubagia. Sang Kala Tiga ialah Sang Bhuta Galungan. Mengenai bebanten tidak kami tuliskan secara lengkap dan terinci. Tidak berarti bahwa Gumi/ Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Hari kedua = Sang Bhuta Dungulan. Galungan itu berarti peperangan.

Inilah hakikat Abhya-Kala (mabiakala) dan metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan itu. jiwa suci leluhur. juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang. Hari ketiga = Sang Bhuta Amangkurat Hari Anggara Wage Dungulan kita dijelang oleh Sang Bhuta Amangkurat. Dimaksudkan menguasai dunia besar (Bhuwana Agung). Menurut Pustaka (lontar) Djayakasunu. kemudian ditundukkan. Ini mempunyai arti: Penggugah hati umat. Pendeknya. jajanan dan lain-lain. Ini yang akan terjadi. Gembira dengan penuh rasa Parama Suksma. Janganlah penjor itu dibuat hanya sebagai hiasan sematamata. Pada penjor digantungkan hasil-hasil pertanian seperti: padi. Lebih-lebih pada hari raya Galungan. Kata Dungulan berarti menundukkan/ mengalahkan. atas anugrah Hyang Widhi. keletehan benar-benar akan menguasai kita. Ia adalah lambang pengayat ke Gunung Agung. Dalam hubungan inilah Sundari-Gama mengajarkan agar pada hari-hari ini umat den prayitna anjekung jnana nirmala. jagung. Penjor terpancang di muka rumah dengan megah dan indahnya. Amangkurat sama dengan menguasai dunia. Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta (keletehan-keletehan) hati tersebut. umat bergembira dan bersuka ria. gembira pula karena Bhatara-bhatara. karena penjor adalah suatu lambang yang penuh arti. sejak dari sugi manek turun dan berada di tengah-tengah pratisentana sampai dengan Kuningan. bila kita pasif saja kepada serangan-serangan itu. Memperhatikan makna Hari Raya Galungan itu.Ia mengunjungi kita pada hari Soma Pon Dungulan keesokan harinya. kelapa. pada hari Galungan itu Ida Sanghyang Widhi menurunkan anugrah berupa kekuatan iman. lamakane den kasurupan. dan akhirnya dikuasai. dan kesucian batin untuk memenangkan dharma melawan adharma. Gembira atas anugrah tersebut. rasa terimakasih. mula-mula kita diserang. Menghilangkan keletehan dari hati kita masing-masing. sebagai momentum untuk membangunkan rasa pada manusia. dan dunia kecil ialah badan kita sendiri (Bhuwana Alit). bahwa segala yang 6 . maka patutlah pada waktu-waktu itu. penghormatan ke hadirat Ida Sang Hyang Widhi.

Hendaklah kita berani merombak kesalahan-kesalahan/ kekeliruan-kekeliruan drsta lama yang nyata-nyata tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran susila. Semua yang kita pergunakan adalah karuniaNya. di Pengulun Setra (Prajapati). sedah woh. yang dilimpahkannya kepada kita semua karena cinta kasihNya. atau pengumbaran indria dilarang agama. penek ajuman. Selanjutnya bersama-sama oleh ke umat semua Hindu tempat di Bali dilakukan persernbahyangan persembahyangan. wewakulan. di lumbung. malam sastra. jerimpen. baik yang berupa material yang diperlukan bagi kehidupan. misalnya: di sanggah/ pemerajan. Bergembiralah dalam batas-batas kesusilaan (kesusilaan sosial dan kesusilaan agama) misalnya mengadakan pertunjukkan kesenian. kernbang payas serta wangi-wangian dan pesucian. olahraga dan lain-lainnya. Sesudah selesai menghaturkan upacara 7 . menghaturkan rasa Parama suksma. maupun yang dilimpahkan berupa kekuatan iman dan kesucian batin. di pura-pura seperti pura-pura Kahyangan Tiga dan lain-lainnya. di tugu (tumbal). dibuat rawon dan sebagainya. di bangunan-bangunan rumah dan lain-lain. Seterusnya di Kahyangan Tiga. mabuk. Untuk di persembahyangan (piasan) dihaturkan tumpeng pengambean. dyana dan yoga semadhi. Sedangkan oleh para spiritualis.pokok bagi hidupnya adalah anugrah Hyang Widhi. mapepawosan. Hari Raya Galungan ini dirayakan dengan dharana. Kita bergembira dan bersukacita menerima anugrah-anugrah itu. kala dan patra. di dapur. Agama disesuaikan dengan desa. Widhi-widhananya untuk di Sanggah/ parhyangan ialah: Tumpeng penyajaan. daging itik atau ayarn. kepada Dewi Laut (Samudera) Dewa Hutan (Wana Giri) di perabot-perabot / alat-alat rumah tangga dan sebagainya. Marilah kita bersama hangayu bagia. Mewujudkan kegembiraan dengan judi. pajegan serta dengan pelengkapnya. Lauk pauknya sesate babi dan daging goreng. Dalam mewujudkan kegembiraan itu janganlah dibiasakan cara-cara yang keluar dan menyimpang dari kegembiraan yang berdasarkan jiwa keagamaan. Persembahan dihaturkan ke hadapan Ida Sanghyang Widhi dan kepada semua dewa-dewa dan dilakukan di sanggah parhyangan. canang raka. di halaman. di atas tempat tidur.

Pada hari itu dibuat nasi kuning. 8 .dan upakara tersebut kemudian kita menghaturkan segehan tandingan sebagaimana biasanya. sehingga karena gembiranya mereka lupa dengan kewajiban.1.. Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaekat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita semua.2. Demikianlah hendaknya Hari Raya Galungan berlaku dengan aman dan diliputi oleh suasana suci hening.kewajibannya mengganggu dan menggoda ketentraman batin manusia. Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan karaksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Makna Filosofis Galungan dan Kuningan Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia. 2. mengsyukuri limpahan kemurahan Ida Sanghyang Widhi untuk keselamatan manusia dan seisi dunia. Demikian secara singkat keterangan-keterangan dalam merayakan hari Raya Galungan dan Kuningan dalam pelaksanaan dari segi batin. untuk pelaba-pelaba kepada Sang Para Bhuta Galungan. Pada hari Saniscara Keliwon Wuku Kuningan (hari raya atau Tumpek Kuningan). lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia (umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya itu dilimpahkan oleh beliau kepada umatNya atas dasar cinta-kasihnya. Ida Sanghyang Widhi para Dewa dan Pitara-pitara turun lagi ke dunia untuk melimpahkan karuniaNya berupa kebutuhan pokok tersebut. Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan. Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma.

Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut: Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi. Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. karena itu hari penyucian semua bhatara). Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Dan itulah yang disucikan. Artinya: Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan. Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. galang apadang maryakena sarwa byapaning idep. Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan.Dalam lontar Sunarigama. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. 9 . inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Kata Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa. Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. artinya luar. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Olehkarenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba. Jadi. enam hari sebelum Galungan. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujuddharma dalam diri. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang.

Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. umat menikmati waranugraha Dewata. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung Jñana. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri. 10 . Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria. Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaituhidup sehat panjang umur. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempattempat hiburan terutama panorama yang indah. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru.” Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan.Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Upacara tersebut barmakna. Dalam lontar disebutkan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan. “Pangastawaningsang ngamongyoga samadhi. Pada hari ini.

pasucian. dapetan berisi nasi kuning. Dewa Yadnya. telur dadar. Pada hari ini umat melakukan pemujaan kepada para Dewa. pesucian. wuku Kuningan. ketupat kukur 11 buah. lauk pauk dan daging bebek. Sesayut Prayascita Luwih : dasarnya kulit sesayut. panyeneng. Di kamar suci (tempat membuat sesajen/paruman) menghaturkan pengambeyan. kedirgayusan. lis bebuu. dan kolem. sehingga pelaksanaan upacara dan persembahyangan Hari Kuningan hanya sampai tengah hari saja. peras kecil. Untuk setiap rumah tangga membuat dapetan. Kliwon. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maringSwarga). Sesajen untuk Hari Kuningan yang dihaturkan di palinggih utama yaitu tebog. buah kelapa gading yang muda (bungkak). Hari Raya Kuningan atau sering disebut Tumpek Kuningan jatuh pada hari Sabtu. kewangen 11 pasucian. Tebog tersebut memaki dasar taledan yang berisi ketupat nasi 2 buah. Dalam lontar Sunarigama disebutkan.Keesokan harinya. sampian nagasari. Bagian tengahnya diisi nasi. upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksanakan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. canang meraka. pasucian. canang burat wangi berisi aneka kue dan buah. canang meraka. tamiang. canang burat wangi. perlindungan dan tuntunan lahir-bathin. ketupat gelatik. berisi tulung agung (alasnya berupa tamas) atasnya seperti cili. diiringi oleh para Pitara turun ke bumi hanya sampai tengah hari saja. kelilingi dengan nasi kecil-kecil sebanyak 11 buah. Di palinggih semua bangunan (pelangkiran) diisi gantung-gantungan. panyeneng. Bhatara. Jika tidak bisa membuat tebog. bisa diganti dengan piring. sampiannya disebut kepet-kepetan. Sabtu Kliwon disebut Kuningan. dan canang burat wangi. Tebog berisi nasi kuning. Sesajen ini dapat juga dipakai untuk sesajen Odalan. dan wayangwayangan dari bahan pepaya (atau timun). Di palinggih yang lebih kecil yaitu nasi selangi. Resi Yadnya dan Manusa Yadnya. laukpauk. Pada hari ini diyakini para Dewa. 11 . di atasnya diisi tumpeng yang ditancapkan bunga teratai putih. Pitara untuk memohon keselamatan. tulung kecil 11 buah. berisi sesayut prayascita luwih nasi kuning dengan lauk daging bebek (atau ayam). lauk-pauk ikan laut. 11 tulung kecil.

12 . Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya. Galungan (tanpa ada embel-embel). ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. 2. Kliwon. wuku Pahang. disebut dengan hari Pegat Wakan yang merupakan hari terakhir dari semua rangkaian Hari Raya Galungan-Kuningan. (Iloveblue) Jadi inti dari makna hari raya kuningan adalah memohon keselamatan. Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan.Beberapa perlengkapan Hari Kuningan yang khas yaitu: Endongan sebagai simbol persembahan kepada Hyang Widhi. Galungan Nara Mangsa. Macam-macam Galungan Meskipun Galungan itu disebut “Rerahinan Gumi” artinya semua umat wajib melaksanakan. Pada hari Rabu. panyeneng. perlindungan dan tuntunan lahir-bathin kepada para Dewa. para Dewa dan leluhur kita.1. Galungan Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. tatebus kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Penjelasannya adalah sebagai berikut: a. Kolem sebagai simbol tempat peristirahatan hyang Widhi. Bhatara. b.” Artinya. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: a. terhitung sejak hari Sugimanek Jawa. Dengan demikian berakhirlah semua rangkaian hari raya Galungan-Kuningan selama 42 hari. Tamyang sebagai simbol penolak malabahaya.3. Galungan Nadi dan c. Sesajen yang dihaturkan pada hari ini yaitu sesayut Dirgayusa. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan. kedirgayusan. dan para Pitara.

tenggek 9. Karena itu Galungan. Sapta Waranya Rabu. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut: "Yan Galungan nuju sasih Kapitu. saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan. Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Kalau Panca Waranya Kliwon.Jadi Galungan itu dirayakan. Galungan Nara Mangsa ngaran. Galungan Nara Mangsa Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah. rah 9. dan wukunya Dungulan. setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara. yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. “ Artinya: 13 . Misalnya upacara ngotoninatau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku. Galungan Nadi Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober. Tilem Galungan. Sapta Wara dan Wuku. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali. Disebutkan dalam lontar itu. c. b. mwang sasih kesanga.

Kala Rau ngaranya yon mengkana. sigug ya mengaba gering ngaran. Kala Rau namanya. Tan kawasa mabanten tumpeng. semoga tidak lupa. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah. yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung. Tidak baik itu.Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu. Yan tekaning sasih Kapitu. membawa penyakit adanya. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak 14 . ingatlah. itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. poma haywa lali elingakna. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru. anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika. rah 9 tenggek 9. bi]a demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berjsi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9. pada hari Galungan itu. tunggal kalawan sasih Kapitu. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa. Tilem Galungarniya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9. tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. tidak boleh merayakan Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan “Dewa Mauneb bhuta turun” yang artinya. Galungan Nara Mangsa namanya. Artinya: Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (liari buruk) bagi manusia. pemakan daging manusia. tan wenang ngegalung wong Baline. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika. Mwah yan anemu sasih Kesanga. Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. tenggek 9. nasi cacahan maoran keladi. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem. Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut: "Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali. moga ta sira kapereg denira Balagadabah".

berupa nasi cacahan bercampur keladi. Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. pertarungan antara aharma melawan adharma. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diiiustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang. Dalam lontar Sunarigama dijelaskan rincian upacara Hari Raya Galungan sebagai berikut : "Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri.Rangkaian Perayaan hari raya Galungan dan kuningan Setiap 210 hari sekali berdasarkan penanggalan Bali-Jawa (JavanoBalinese Calender) yakni pada hari Budha Kliwon Wuku Dungulan Umat Hindu di Indonesia merayakan Hari Raya Galungan dan sepuluh hari kemudian akan disusul dengan perayaan Kuningan. Disamping itu juga berarti kemampuan untuk membedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (daiwa sampad). Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa.2. karena hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan. Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari Adharma dan mana dari Budhi Atma yaitu : Suara Kebenaran (Dharma) dalam diri manusia. 15 . 2. Sedangkan segala kekacauan pikiran (byaparaning idep) adalah wujud Adharma. arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran" Jadi inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapatkan pikiran dan pendirian yang terang. Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru.dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen “tumpeng Galungan”.

Haywahaywan di magha mahanavami berarti perayaan Magha Mahanavami. dan Durganavaratri atau Durganavami pada bulan Asuji (September-Oktober). dan bunga yang akan digunakan pada Hari Raya Galungan. TUMPEK PENGARAH atau PENGATAG. inilah rangkaian awal dari perayaan Galungan. di antaranya adalah Śraddha Vijaya Daśami. daun. 1981:569). tepatnya 25 hari sebelum Hari Raya Galungan dan persembahan ditujukan kepada Dewa Sangkara (nama lain Dewa Śiva) sebagai penguasa tumbuhtumbuhan dengan mempersembahkan sesajen pada pohon-pohon kayu yang menghasilkan buah. Dalam bahasa Bali dewasa ini kata mahaywahaywa (dari kata mahayu-hayu) berarti merayakan. Durgapuja atau Mahanavami. Berdasarkan data prasasti yang ditemukan di Bali. 16 . Hari Raya Galungan sudah dirayakan terlebih dahulu di tanah Jawa. yakni Turunan Prasasti yang berasal dari tahun 813 Saka (891 M) yang menyebutkan haywahaywan di magha mahanavami (Goris. yakni Ramanavaratri atau Ramanavami pada bulan Caitra (April-Mei). 1954: 56). seperti halnya Hari Raya Galungan dan Kuningan di Indonesia. ini sesuai dengan lontar berbahasa Jawa Kuno yaitu : Kidung Panji Amalat Rasmi. Di Bali Hari Raya Galungan untuk pertama kali dilaksanakan pada Hari Purnama Kapat . Rangkaian perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan rangkaian perayaan yang paling panjang di antara hari-hari raya Agama Hindu. Di India Mahanavami identik dengan Dasara yakni hari pemujaan ditujukan kepada para leluhur (Dubois. Budha Kliwon Dungulan tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi ini sesuai dengan lontar "Purana Bali Dwipa". Swami Sivananda (1991:8) mengidentikkan Dasara dengan Durgapuja yang dirayakan dua kali setahun. jatuh pada hari Sabtu Kliwon Wuku Wariga. di antaranya: 1.Hari Raya Galungan dan Kuningan di India dikenal dengan berbagai nama. Perayaan ini disebut juga Vijaya Dasami atau Sraddha Vijaya Dasami yang dirayakan selama sepuluh hari.

SUGIHAN JAWA atau SUGIHAN JABA yaitu. karena itu hari penyucian semua bhatara). Dan yang terpenting adalah membersihkan badan fisik dari debu kotoran dunia maya. tempat tinggal. Pelaksanaan upacara ini dengan membersihkan alam lingkungan. manah. buddhi. chitta dan indriya). Melihat pesan Panyekeban ini mewajibkan umat Hindu untuk mulai melaksanakan Brata atau Upavasa sehingga 17 .2. Sebuah kegiatan rohani dalam rangka menyucikan bhuana agung (makrocosmos) yang jatuh pada hari Kamis Wage Sungsang. 4. baik pura. Panyekeban artinya mengendalikan semua indrya dari pengaruh negatif. tetapi juga badan rohani (Suksma Sarira. Persiapan secara jasmani dan rohani adalah modal awal yang harus diperkuat sehingga sistem kekebalan tubuh ini menjadi maksimal untuk menghadapi musuh yang akan menggoda pertapaan kita. Kata Sugihan berasal dari urat kata Sugi yang artinya membersihkan dan Jaba artinya luar. agar layak dihuni oleh Sang Jiwa Suci sebagai Brahma Pura. Manusia tidak saja terdiri dari badan fisik. 3. dalam lontar Sundarigama dijelaskan: bahwa Sugihan Jawa merupakan "Pasucian dewa kalinggania pamrastista bhatara kabeh" (pesucian dewa. Dalam Lontar Sunarigama disebutkan : "Anyekung Jnana" artinya mendiamkan pikiran agar tidak dimasuki oleh Bhuta Galungan dan juga disebutkan "Nirmalakena" (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Bhuta Galungan. SUGIHAN BALI. dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Jatuh pada hari Minggu Pahing Dungulan. ahamkara. PANYEKEBAN. Jadi Sugihan Bali memiliki makna yaitu menyucikan diri sendiri sesuai dengan lontar sunarigama: "Kalinggania amrestista raga tawulan" (oleh karenanya menyucikan badan jasmani-rohani masingmasing /mikrocosmos) yaitu dengan memohon tirta pembersihan /penglukatan. Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada dalam diri. karena hari ini Sang Kala Tiga Wisesa turun ke dunia untuk mengganggu dan menggoda kekokohan manusia dalam melaksanakan Hari Galungan.

agar tetap memiliki kekuatan untuk menghalau godaan Sang Mara. bukan bermaksud kasar). pikiran yang baik dan benar. manusia Hindu diajak untuk dapat memilah kemudian memilih mana yang benar dan mana yang salah. PENYAJAAN. malah kita akhirnya menjelma jadi Bhuta itu sendiri (maaf.pemenuhan akan kebutuhan semua indriya tidak jatuh ke dalam kubangan dosa. Dengan Wiweka dan Winaya. bukan semata-mata membunuh hewan korban. Anggara Wage Galungan. bahwa pada hari ini manusia melakukan pertempuran melawan Adharma. menikmati makanan. berperilaku bijak. mabuk. PENAMPAHAN. berbicara kebenaran.Nyupat Angga Sarira. Jadi tidak hanya “nyekeb” pisang atau tape untuk banten. "Pamyakala kala malaradan". 5. menikmati makanan yang sattvika. 6. Bukan semata-mata membuat “jaja” (kue) untuk upacara. Ini sesuai dengan lontar Sunarigama yaitu . mendengar kebenaran. dan yang lain. Penyajaan dalam lontar Sunarigama disebutkan : "Pangastawaning Sang Ngamong Yoga Samadhi".kegelapan yang bercokol di dalam diri masing-masing. Upacara ini dilaksanakan pada hari Senin Pon Dungulan. Sehingga bukan Nyomya Bhuta Kala. Atau ada pula yang memaknainya dari kata “tampah” yang artinya sembelih artinya . lupa terhadap jati diri. pada hari ini umat menancapkan Penjor Galungan sebagai lambang kemakmuran jagat. karena musuh sebenarnya ada di dalam diri. Penampahan berasal dari kata “tampa” yang artinya menerima atau menyambut. bukan di luar termasuk sifat hewani tersebut. Selama ini justru sebagian besar dari kita malah berpesta pora makan. artinya hari ini umat mengadakan Tapa Samadhi dengan pemujaan kepada Ista Dewata. atau hari untuk mengalahkan Bhuta Galungan dengan upacara pokok yakni Mabyakala yaitu memangkas dan mengeliminir sifatsifat kebinatangan yang ada pada diri kita. Inilah puncak dari Brata umat Hindu. bertempur melawan semua bentuk Ahamkara . 18 .

Budha Kliwon Galungan. Hari kemenangan dharma terhadap adharma setelah berhasil mengatasi semua godaan selama perjalan hidup ini. dan merupakan titik balik agar manusia senantiasa mengendalikan diri dan berkarma sesuai dengan dharma dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan dalam usaha mencapai ananda atau jagadhita dan moksa serta shanti dalam hidup sebagai mahluk yang berwiweka. semoga beliau senantiasa ada dalam kedamaian di mana pun tingkatan alam yang dicapainya sekarang. mengabarkan ajaran kebenaran betapa nikmatnya bisa meneguk kemenangan. Kuningan merupakan hari kasih sayang. MANIS GALUNGAN. 8. inilah misi umat Hindu: Dharmacara. Wrehaspati Umanis Galungan. Jadi hari ini umat Hindu wajib mewartakan Weda —menyampaikan pesan dharma kepada semua manusia. KUNINGAN. berbagi suka cita. Setelah merayakan kemenangan . 9. Demikian makna Hari Raya Galungan sebagai hari pendakian spiritual dalam mencapai kemenangan /wijaya dalam hidup ini ditinjau dari sudut pelaksanaan upacara dan filosofisnya. hidup sehat.menyampaikan ajaran kebenaran dengan Satyam Vada – mengatakan dengan kesungguhan dan kejujuran. 19 . manusia merasakan nikmatnya (manisnya) kemenangan dengan mengunjungi sanak saudara dengan penuh keceriaan. Saniscara Kliwon Kuningan. dan hari ini umat menikmati waranugraha dari dewata.7. PAMARIDAN GURU. umur panjang. pada hari ini dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugerah berupa kadirghayusan yaitu . Sepuluh hari setelah Galungan disebut Kuningan merupakan tonggak kembalinya para dewata dan roh suci leluhur menuju kahyangan stana-Nya masing-masing yang diyakini tempatnya di svargaloka (alam surga). Saniscara Pon Dungulan. 10. GALUNGAN. dan melaksanakan pitrapuja untuk mendoakan dan menghatarkan para leluhur.

3. Untuk membangun hidup sejahtra itu tidak mudah. Bahkan kemungkinan besar. Ini artinya puncak dari perjuangan membangun niat baik dan menguasai ilmu pengetahuan adalah hidup sejahtra lahir batin. Tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi. Tiga hari memuja Dewi Saraswati artinya untuk meningkatkan kemampuan kita menguasai ilmu pengetahuan. Niat baik itu hartus disertai dengan kemampuan untuk menguasai ilmu pengetahuan untuk menuntun hidup manusia.Galungan di India Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarunganantara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Pemujaan pada dewi Laksmi ini bertujuan agar niat baik dan ilmu pengetahuan itu benar-benar diarahkan untuk mewujudkan hidup sejahtra Sekala dan Niskala. Membangun niat baik inilah pekerjaan yang paling sulit. Niat baik saja tidak cukup. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuna. Nawa Ratri itu dilakukan dengan mumuja Dewi Durgha selama tiga hari. 20 . Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula “Hari Raya Dasara”.2. Tiga hari memuja Dewi Durgha bertujuan untuk membangun niat baik dalam hati nurani.karena itu harus dilakukan upaya spiritual dengan memuja Tuhan sebagai Dewi Laksmi pada tiga hari terakhir dari Nawa Ratri tersebut. parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Nawa Ratri lebih menekankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan. Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Kedua kata itu artinya “menang”. Tiga hari berikutnya memuja Dewi Saraswati dan tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi. Niat baik dan ilmu pengetahuan itu tidak ada apa-apanya kalau tidak menghasilkan hidup sejahtra lahir batin.

Di mana-mana. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. 21 . Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma. memiliki kemampuan yang tinggi.Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Parayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karena Dewi Parwati menang. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana. keganasan hawa nafsu. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. orang menjual panah sebagai lambang kenenangan. maka diberi julukan Dewi Durgha. Kumbakarna atau Surphanaka. Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Pengertian sakti di India adalah kuat. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Pada hari ini. Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Berbeda dengan di Bali. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai. kota menjadi ramai. Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. seram. sangat menakutkan. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.

Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. 22 . Dewi Sita. Laksmana dan Hanuman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Sita. Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersoraksorai gembira-ria. Laksmana dan Hanuman. Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama. Kasih sayang itulah suatu “sakti” atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan fllosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan.Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh setiap orang.

Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan.2. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang. Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan.1. dalam menghadapi hidup di dunia. agar menjadi Çura.BAB III PENUTUP 3. 23 . Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. bergembiralah atas anugrah Hyang Widhi dalam batas-batas kesusilaan agama dan keprihatinan bangsa. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Saran Dalam menyambut dan merayakan hari-hari raya itu. kokoh dan kuat). Dira dan Deraka (berani. 3. enam hari sebelum Galungan. karena itu hari penyucian semua bhatara). Terangkan hati. artinya luar. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Simpulan Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia. Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Terakhir dan bahkan yang terpenting ialah mohon anugrah Hyang Widhi dengan ketulusan hati. Hemat dan sederhanalah dalam mempergunakan biaya.

/2812..htm ℑ www.html ℑ www.org/index.com/bali_gaul_funky/artikel.php?option=com 24 .parisada.iloveblue..DAFTAR PUSTAKA ℑ http://sanggrahanusantara.com/2009/10/makna-hari-raya- galungan-dan-kuningan.blogspot.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful