P. 1
TUGAS PSIKOLOGI ORGANISASI

TUGAS PSIKOLOGI ORGANISASI

|Views: 156|Likes:
Published by lalamionk

More info:

Published by: lalamionk on Dec 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2012

pdf

text

original

TUGAS PSIKOLOGI ORGANISASI RESUME CHAPTER 11 “Group Processes in Work Organization” (Introduction to Industrial/Organizational Psychology 5th ed – Ronald

E. Riggio) Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Organisasi

Disusun oleh: Lamia Irhamny 190110080029

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2010

Dalam setting kerja. Hal ini disebut dengan role differentiation. Kategori yang kedua adalah group building and maintenance roles. Roles Didalam kelompok kerja. individu dapat memiliki berbagai macam peran atau bentuk-bentuk perilaku yang ditampilkan sesuai dengan harapan dari posisi yang dimilikinya. atau kemampuan-kemampuan tertentu yang dimiliki. dimana anggota lebih mengutamakan kepentingan dan kepuasan personal dibanding kepentingan dan kepuasan kelompoknya (misalnya. tujuan ini biasanya berkaitan dengan pekerjaannya sendiri. blocker. anggota di dalam kelompok kerja mulai memainkan peran-peran yang berbeda didalam kelompok kerjanya. Salah satu peran yang dibedakan secara jelas pada kebanyakan kelompok kerja adalah peran sebagai pemimpin. Sebagaimana kelompok kerja berkembang. mereka biasanya mengetahui tentang tanggung jawab dan apa saja yang dibutuhkan dari peran tersebut. Benne dan Sheats (1948) memberikan tiga kategori mengani rentang peran individu dalam setting kerja. tugas-tugas yang diberikan kepada setiap anggota. Pemimpin dalam kelompok kerja formal atau departemen memainkan bagian yang penting dalam mengarahkan aktivitas kelompok. menjadi juru bicara kelompok. peran sebagai encourager. harmonizer. Berbagai macam peran biasanya didasarkan pada beberapa faktor. individu-individu didalamnya belajar bertanggung jawab pada aspek-aspek yang berbeda. dan compromiser). Sedangkan kategori yang ketiga adalah self-centered roles. atau dalam hal ini disebut role expectation. status dalam kelompok. dan dominator). . yang berkaitan dengan bagaimana mempertahankan relasi interpersonal diantara anggota kelompok (misalnya. seperti menghasilkan suatu produk atau jasa. kategori yang pertama adalah group task roles. yang berkaitan dengan bagaimana pekerjaan itu dapat diselesaikan. peran sebagai aggressor. Dengan kata lain. Ketika individu memainkan peran tertentu didalam kelompok kerjanya. seperti posisi atau jabatan formal. yang bertujuan untuk meraih tujuan-tujuan tertentu.CHAPTER 11 GROUP PROCESSES IN WORK ORGANIZATIONS DEFINING WORK GROUPS Group atau kelompok dapat didefinisikan sebagai satu atau lebih individu yang terlibat dalam interaksi sosial. Peran kelompok ini penting karena dapat membantu menyiapkan perencanaan-perencanaan spesifik tentang perilaku yang seharusnya ditampilkan. dan menentukan arahan tindakan yang akan diikuti kelompoknya.

meliputi kecepatan dimana individu harus menyelesaikan pekerjaannya.Penting untuk diketahui bahwa terkadang individu tidak mengetahui dengan jelas tentang perannya dan harapan-harapan apa yang dilekatkan pada peran itu untuk ditampilkan oleh individu yang memiliki peran tersebut. Hal ini dapat menimbulkan role ambiguity. 1968). Dengan kata lain. Disamping itu. Kesimpulannya. yang mengindikasikan perilaku apa yang sesuai dan tidak sesuai ditampilkan oleh anggota kelompok. Norma memberikan banyak manfaat dan tujuan penting bagi kelompok. Adanya norma juga dapat membuat individu lebih berkomitmen dan termotivasi untuk menampilkan performa kerja yang baik. tetapi bagaimanapun juga semuanya harus menaati aturan-aturan tertentu yang ada dalam kelompoknya. . baik peran maupun norma keduanya membantu menyediakan suatu struktur atau rencana untuk perilaku anggota kelompok. Terdapat tiga proses yang penting dalam sosialisasi ini. serta membangun kemampuan kerja yang spesifik. seseorang seringkali diharapkan memainkan lebih dari satu peran pada waktu yang sama. Misalnya jika individu tidak menyukai dengan salah satu aturan yang ada didalam kelompoknya. Norms Setiap anggota dalam kelompok mungkin memiliki peran yang berbeda-beda. dll. Didalam sebuah organisasi. Norma tersebut biasanya mengenai berbagai macam aktivitas kerja. atau perasaan akan ketidakpastian mengenai kebutuhan dan peran yang diharapkan dimainkan oleh individu. norma juga dapat membuat individu menampilkan perilaku kerja yang buruk dan dengan hasil atau produk yang tidak bagus. Norma merupakan aturan-aturan yang diadopsi kelompok. (c) menyesuaikan diri dengan norma dan nilai-nilai kelompok (Feldman. Organizational Socialization: Learning Group Roles and Norms Organizational socialization merupakan suatu proses dimana pekerja baru mempelajari peran-peran kelompok dan norma-norma. 1981. Norma bisa bersifat formal dan informal. Tujuan yang paling utama adalah membantu kelompok untuk tetap bertahan. sehingga produktivitas atau hasilnya pun aan baik pula. (b) akusisi perilaku yang sesuai dengan peran. Peran-peran yang berbeda tersebut belum tentu konsisten dan sejalan dengan peran-peran lain yang dimiliki. yaitu (a) membangun kemampuan dan keahlian kerja yang spesifik. maka ia cenderung tidak termotivasi dan tidak semangat dalam melakukan pekerjaannya sehingga produktivitasnya menurun. sosialisasi organisasi ini menunjukkan bagaimana individu atau pekkerja baru terintegrasi dengan kelompok kerjanya. Schein. pakaian yang sopan dan tidak senonoh. Hal ini mengarah pada munculnya role conflict.

Perlu diketahui juga bahwa konformitas terkadang dapat meredam inovasi dan kreativitas individu dalam kelompok (Pech. dibawah kondisi-kondisi tertentu. Kohesivita ini dapat menjelaskan semangat yang dimiliki kelompok kerja. Pada tahap ini pendatang baru melakukan suatu transisi menjadi anggota biasa atau orang dalam. lebih berpartisipasi secara penuh dalam aktivitas-aktivitas kelompok. Tahap terakhir. Faktorfaktor tersebut dapat meningkatkan kohesivitas kelompok. Faktor-faktor yang palin penting. Conformity Merupakan proses dimana individu melekatan dan mematuhi norma-norma kelompok yang ada. yaitu anticipatory socialization. kesamaan anggota. BASIC GROUP PROCESSES 1. dan adanya keberadaan ancaman atau musuh. antara lain besarnya kelompok. 2001). 2. Hare. Karena kohesivitas kelompok secara teoritis berhubungan dengan kepuasan anggota dan. stabilitas keanggotaan. terutama meningkatnya level . konformitas terhadap norma ini sangat kuat dan membantu mempertahankan keteraturan dan kesatuan dalam perilaku kelompok. maka berdasarkan penelitian diketahui terdapat berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi kohesivitas ini. Kohesivitas ini layaknya sebuah lem dalam lingkungan sosial yang membuat individu bergabung bersama didalam kelompok. Tahapan yang kedua adalah accommodation. dan menerima serta bekerja mengarah kepada tujuan kelompok (Cartwright. secara umum dapat diasumsikan bahwa kelompok yang kohesif cenderung akan lebih puas dan lebih produktif daripada kelompok yang tidak kohesif karena mereka berinteraksi lebih banyak . 1968. Dalam kenyataannya. yaitu role management. produktivitas. Disini pendatang baru membangun harapan-harapan yang realistis terhadap pekerjaan dan organisasinya dan menentukan akan benar-benar sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. sosialisasi organisasi ini muncul dalam tiga tahapan. dimana hal tersebut dapat meningkatkan hasil kerja.Secara spesifik. tidak semua anggota melakukan konformitas terhadap norma yang ada. Secara umum. Seringkali individu tidak conform pada norma kelompok ketika tujuan-tujuan individualnya berbeda atau bertentangan dengan tujuan kelompoknya. 1976). Pada tahap ini mereka juga mulai membangun relasi interpersonal dengan anggota kelompok yang lain. Pada tahap ini pendatang baru mempelajari berbagai macam peran yang dimainkan oleh anggota dan belajar tentang peran spesifik dirinya sendiri didalam kelompoknya. Group Cohesiveness Kohesivitas mengacu kepada derajat sejauh mana ketertarikan diantara anggota kelompok. Tahap yang pertama. mulai menguasai tugas dan peran yang harus ditampilkannya. status anggota yang ekuivalen.

Mossholder. Steel. Selama semua pekerja atau anggota kelompok memiliki tujuan yang sama. Cooperation in Work Groups Kerjasama merupakan hal yang penting untuk efektivitas kelompok kerja dan organisasi. 5. dan mengurangi tingkat absenteeism dan turnover (Wech. Group Efficacy Merupakan kepercayaan dan keyakinan kelompok bahwa mereka memiliki kemampuan untuk dapat meraih tujuan-tujuan / hasil yang diharapkan kelompok atau organisasi. 1960). 3. Medsker. dan oleh karenanya individu tersebut bersedia memberikan bantuan atau balasan kepada orang yang membantunya tersebut. 2003). group efficacy ini memberikan dampak positif terhadap kohesivitas kelompok dan produktivitasnya (Baker. Disamping itu. & Bennett. Dengan kata lain. 4. komitmen organisasi. 1993. 2001. Fenomena ini lebih sering muncul pada kelompok yang memiliki tingkat kohesivitas yang rendah. 1998). Misalnya. Wageman & Baker. Pescosolido. atau derajat sejauh mana performa kerja yang ditampilkan individu atau anggota dalam kelompok kerja tergantung pada besarnya usaha atau kemampuan yang dimiliki orang lain (Campion. maka mereka biasanya melakukan kerjasama dengan anggota yang lain untuk meraihnya.kepuasan anggota. individu memiliki hutang budi terhadap orang yang pernah membantunya. & Higgs. Social loving merupakan fenomena dimana individu yang bekerja dalam kelompok memperlihatkan usaha yang lebih sedikit daripada saat bekerja seorang diri. Pekerja mungkin juga dapat keluar dari jalurnya untuk saling membantu dengan anggota lain karena adanya reciprocity rule (Gouldner. Akan menjadi sulit ketika kita harus berusaha meraih tujuantujuan kelompok seorang diri. Competition in Work Groups . 1997). Salah satu elemen lain yang dapat membantu meningkatkan kerjasama diantara anggota kelompok kerja adalah derajat dari task interdependence. Reciprocity rule ini merupakan kecenderungan individu untuk memberikan balasan kepada orang lain yang menolongnya. adanya bonus dan kesempatan untuk dipromosikan kepada posisi atau jabatan yang lebih tinggi. Keberadaan reward dalam organisasi pun dapat meningkatkan kerjasama anggota kelompok kerja didalamnya. seringkali ada anggota yang menolak untuk bekerja sama dan fenomena ini sering disebut dengan istilah social loafing didalam organisasi.

Intraindividual conflict Konflik yang muncul ketika satu individu dihadapkan pada beberapa set tujuan yang tidak sesuai. dua orang yang akan dipromosikan pada jabatan yang sama masing-masing akan mencoba mengahalangi untuk mencapai tujuan dalam rangka mendapatkan promosi itu. Jika konsekuensi yang ada positif untuk mereka. konflik ini muncul ketika dua orang berjuang untuk meraih tujuannya masing-masing. Hal ini seringkali muncul ketika individu mengalami konflik peran. 6. Suatu kompetisi bisa menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan motivasi kerja.Seperti kerjasama. Pada umumnya konflik sering mengarah kepada dampak negatif. Namun. namun hal ini juga bisa menurunkan performa kerja bila kompetisi tersebut memiliki dampak negatif terhadap individu yang bersangkutan. Conflict in Work Groups and Organizations Konflik dalam kelompok kerja dan organisasi meruapakan kondisi dimana perilaku dari individu cenderung menghalangi proses pencapaian tujuan individu yang lain (Gray & Starke. 3. Untuk mengetahui apakah konflik yang terjadi itu baik atau buruk. Jadi. Levels of Conflict: 1. maka kita harus melihat pada konsekuensi yang diperoleh pihak yang berkonflik dan untuk kelompok kerja atau organisasi secara keseluruhan. 1988). 1984). Kompetisi meruapakan suatu proses dimana individu dalam kelompok saling bersaing dan berlawanan untuk meraih tujuan-tujuan individual. 2. Kunci elemen dari definisi konflik adalah bahwa pihak yang berkonflik memiliki tujuan-tujuan yang tidak selaras atau tidak cocok (Tjosvold. maka dapat dikatakan bahwa konflik itu baik adanya dan begitu pula sebaliknya. seperti terjadinya permusuhan diantara pihak yang berseteru. Interindividual conflict Konflik ini muncul diantara dua orang dan bisanya lebih banyak terjadi dalam kelompok kerja dan organisasi. Intragroup conflict . dampak kompetisi ini bisa positif ataupun negatif. konflik juga dapat menjadi sesuatu hal yang konstruktif dan mempengaruhi hasik kerja yang positif. dan juga dengan menghalangi pencapaian atau usaha orang lain tersebut. kompetisi merupakan perilaku alami yang biasanya muncul dalam dinamika suatu kelompok kerja (Tjosvold. Tujuan dari salah satu peran yang dimilikinya berlawanan dengan tujuan dari peran lain yang dimainkannya. 1988). Misalnya.

Konflik yang muncul ketika individu atau golongan dalam kelompok mencoba berusaha meraih tujuan yang berlawanan dengan pencapaian tujuan kelompoknya. Sources of Conflict Organizational structure (ex: perbedaan status. Hal ini dapat menimbulkan konflik diantara departemen tersebut. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa pekerja yang berusia lebih muda lebih sering terlibat konflik daripada pekerja dengan umur yang lebih tua. ketidakadilan dalam pembagian tugas pada masing-masing posisi dengan level yang sama. Level ini sebenarnya diluar keempat level sebelumnya karena cakupan dari level ini lebih luas. yaitu konflik diantara lorganisasi. Adanya musuh didalam organisasi pencapaian tujuan oganisasi. Intergroup conflict Konflik yang terjadi ketika dua kelompok mencoba berusaha mencapai tujuannya masing-masing. Misalnya. ketika departemen tertentu diminta untuk mengajukan anggaran biaya tahunan kepada departemen keuangan dimana permintaan anggaran dari departemen itu melebihi jumlah yang dianggarkan oleh departemen keuangan. - - . Misalnya. yang menghalangi usaha Masalah interpersonal (ex: keengganan individu untuk bekerja bersama karena tidak menyukai salah satu anggota yang ada di kelompoknya). Kekurangan sumberdaya yang peralatan. 4. material. tidak mau menghargai pendapat orang lain. dan persediaan). Interorganizational conflict Konflik yang munculdiantara organisasi yang memiliki tujuan-tujuan yang tidak sesuai satu sama lain. Usia. seseorang yang melanggar norma atau aturan kelompoknya dapat menimbilkan terjadinya konflik didalam kelompok tersebut (Intragroup conflict). kemampuan regulasi emosi negative yang buruk. penting (ex: uang. dll). Perbedaan kepribadian dan temperamen antar individu (ex: mudah tersinggung. - Interdependensi individual dan kelompok. 5. dll).

Chen. Meningkatkan kepuasan dan komitmen kerja. . dimana ada satu pihak yang menang dan pihak yang kalah. Thomas (1976. Dapat juga disebut sebagai strategi win-lose. disebut juga sebagai strategi lose-win. Strategi penyelesaian konflik dimana seseorang melakukan pengorbanan untuk mengatasi konflik tersebut. Jika terlalu banyak terjadi konflik yang berdampak negatif. Dominating (forcing). Individu tetap bertahan dalam konflik yang terjadi sampai salah satu pihak akhirnya mencapai tujuan personalnya. dimana satu pihak mengalah demi menjaga relasi yang terjalin diantara pihak yang berkonflik. 1990). 1992) memberikan 5 tahap strategi penyelesaian konflik individual sebagai berikut: 1. Accommodation. Managing conflict Konflik harus dikelola agar tetap berada pada level optimal. Disisi lain. Meningkatkan kualitas dalam pembuatan keputusan atau decision making (Cosier & Dalton. Menurunnya efektivitas performa kelompok ketika konflik yang terjadi menghalangi proses komunikasi dakam kelompok. & Goldberg. Negative outcomes: Menurunnya kohesivitas kelompok (ex: absenteeism dan turn over). 1992). Dapat menstimulasi kreativitas dan inovasi (James.Conflict outcomes Positive outcomes: Meningkatkan motivasi dan level energi anggota kelompok untuk menampilkan performa kerja yang lebih baik. 2. maka konflik tersebut tentu harus segera diselesaikan. jika level konflik terlalu rendah (ex: jarang terjadi konflik) maka dibutuhkan stimulasi agar terjadi konflik yang tentunya dengan tujuan dampak yang positif.

memilih alur tindakan yang harus dilakukan. seperti kemampuannya dalam berkomunikasi (mempersuasi. dimana masing-masing pihak melakukan kompromi dan menghasilkan keputusan bersama berdasarkan hasil kesepakatan atau kompromi tersebut. Autocratic decision making Proses dimana pengambilan keputusan dilakukan oleh pemimpin seorang diri berdasarkan informasi-informasi yang dimilikinya. menghimpun Ide-ide. Disebut juga sebagai strategi win-win. Strategi penyelesaian konflik dimana kedua pihak bekerja sama untuk mencapai solusi yang dapat memberikan kepuasan dan keuntungan bagi kedua belah pihak. GROUP DECISION-MAKING PROCESSES Salah satu proses yang penting dalam kelompok kerja adalah mengenai pengambilan keputusan kelompok. Penyelesaian konflik dimana individu melarikan diri atau berusaha menghindar dari situasi konflik. membuat keputusan) dan mengelola apakah didalam organisasinya dibutuhkan adanya konflik atau tidak. memilih anggota baru. Disebut juga sebagai strategi lose-lose. Keuntungan dari strategi ini adalah tidak dibutuhkan waktu yang banyak untuk pengambilan keputusan sehingga dapat menghemat dan tidak membuang-buang waktu. dan menentukan standar perilaku yang sesuai. Democratic decision making . Akan tetapi. Compromise. Dalam pelaksanaannya dapat juga dilakukan consultative decision making dimana dengan tambahan informasi yang diperoleh dari pihak lain selain pemimpin dapat meningkatkan kualitas dari keputusan yang diambil. Avoidance. Kualitas pengambilan keputusan dengan strategi ini dapat dikatakan rendah karena hanya berdasarkan informasi dari pemimpinnya sendiri. Collaboration. Seorang manajer harus memiliki kemampuan untuk menengahi konflik yang terjadi. 4. 5. 2. yang meliputi pembuatan tujuan-tujuan kelompok. Berikut adalah beberapa strategi pengambilan kepurusan yang biasanya ada didalam organisasi: 1. Salah satu posisi di dalam organisasi yang dirasa paling membutuhkan kemampuan pengelolaan konflik adalah posisi manajer atau pemimpin.3. Strategi penyelesaian konflik dimana kedua pihak meyerah akan tujuantujuan mereka masing-masing.

may dominate the decision-making process Meskipun pengambilan keputusan kelompok memiliki kelemahan dan keterbatasannya sendiri. tetapi hal ini juga memiliki beberapa kelemahan yang akan disajikan dalam tabel di bawah ini: Advantages and Disadvantages of Group Decision Making Advantages Works from a broad knowledge base Decision is accepted by members Decision is highly critiqued Aspects of the problem can be divided among group members Disadvantages Slow (can be a problem in crisis situation) Creates intragroup conflict Potential for polarization groupthink and group Certain members. Salah satu kelemahan strategi ini. yaitu diperlukan waktu yang lama dalam proses pengambilan keputusannya. maka alternatif yang dihasilkan pun akan banyak dan beragam. Para psikolog telah menemukan dua situasi . such as leaders. Group Decision Making Gone Awry Dalam prosesnya seringkali terjadi penyimpangan dalam proses pengambilan keputusan secara kelompok. terutama dengan pengambilan keputuan secara kelompok dapat meningkatkan kualitas dari keputusan yang diambil dan meningkatkan komitmen untuk melaksanakan keputusan tersebut. Salah satu keuntungan dari strategi ini yaitu keputusan dibuat dengan landasan pengetahuan dan informasi yang banyak dan berdasarkan pengalaman serta pendapat seluruh anggota yang ada dalam kelompok organisasi. Karena dalam strategi ini setiap anggota dibebaskan untuk berpartisipasi dan mengeluarkan pendapatnya masing-masing. akan tetapi hal ini memberikan banyak keuntungan jika dibandingkan dengan pengambilan keputusan secara individual. Dengan strategi ini semua anggota cenderung akan menerima dan menjalankan keputusan yang diambil karena dalam proses pengambilannya melibatkan ide dan pendapat dari keseluruhan anggota.Merupakan strategi dimana keputusan yang diambil didasarkan pada pendapat mayoritas anggota yang ada dalam kelompok. Effectiveness of Group Decision Making Meskipun pengambilan keputusan kelompok memiliki aspek-aspek yang positif.

Setiap anggota memiliki kepercayaan bersama yang meminimalisasi resiko untuk terlibat dalam pembuatan keputusan atau cenderung meremehkan pandangan atau pendapat yang berlawanan. 1. anggota menganggap kelompoknya “baik” sedangkan lawannya adalah “buruk”. dimana norma yang ada didasarkan pada konsensus awal atau keputusan bersama sebelumnya. Anggota menjelaskan atau menyebarluaskan berbagai macam informasi negatif yang dapat mempengaruhi proses pembuatan keputusan. Irving Janis (1972) memberikan delapan symptom atau tanda dari groupthink. Kedua situasi ini. Shared negative stereotypes 4. yaitu groupthink dan group polarization. Illusion of morality 3. Anggota merepresi keraguan-keraguannya atau kritikannya tentang keputusan yang dibuat. Direct conformity . Ketertarikan dan kesetiaan mereka pada kelompok mengarahkan mereka untuk mengabaikan hasil keputusan yang sebenarnya membahayakan atau tidak bagus. Dari perasaan “kami-mereka”. dengan demikian menurunkan efektivitas kemampuan kelompok untuk membuat keputusan yang kritis dan berkualitas tinggi. Anggota percaya akan kebenaran dari moral yang ada dalam kelompoknya dan keputusan yang dibuat. Karena pandangan yang tidak sependapat tidak mendapatkan tempat dalm proses pembuatan keputusan. Groupthink Merupakan sindrom yang muncul dalam pembuatan keputusan kelompok dalam kohesivitas yang tinggi. Hal ini berkaitan dengan symptom yang pertama. Illusion of invulnerability Pembuatan keputusan secara kelompok dalam kohesivitas yang tinggi dimana anggota melihat dan menganggap diri/kelompoknya sangat kuat dan tidak terkalahkan. Self-censorship 6.dimana biasanya keuntungan dari group decision making mungkin tidak tercapai. Anggota dengan keliru percaya bahwa keputusan itu merupakan sebuah konsensus. maka diam diasumsikan bahwa mereka mendukung keputusan yang diambil. Ketika pandangan yang berlawanan atau keraguan 2. Illusion of unanimity 7. sebagai berikut: The Eight Symptomps of Groupthink 1. Collective rationalization 5.

Tim juga cocok untuk tugas pembuatan keputusan yang kompleks. Tim yang efektif harus didukung oleh berbagai macam hal. seperti kepemimpinan yang efektif. 1976). maka anggota tersebut menjadi lebih yakin bahwa pendapatnya itu benar.pressure diperlihatkan. 8. Istilah yang sering muncul dalam organisasi adalah self-managing work teams. TEAMS AND TEAMWORK Tim terdiri dari pekerja yang saling bergantung dengan kemampuan dan keterampilan kerja yang saling melengkapi dan mengarah pada tujuan bersama. Setelah mendengar anggota yang lain dalam kelompoknya berargumentasi tentang keputusan yang kebetulan sama dengan pendapat salah seorang anggota. Terdapat dua pandangan yang menjelaskan polarisasi kelompok ini. maka tekanan digunakan untuk menyangkal dan memaksa anggota setuju dengan keputusan yang dibuat. Beberapa anggota memainkan peran untuk melindungi atau mengisolasi kelompok dari berbagai macam informasi dan pendapat yang berlawanan dan negatif. Individu mungkin mendukung pandangan-pandangan kelompoknya untuk memperlihatkan bahwa dirinya menaati dan mendukung nilai-nilai yang ada pada kelompoknya. Penjelasan pertama adalah bahwa di dalam kelompok. Jika kelompoknya memberikan opini yang positif terhadap isu tertentu. individu diberikan arguneb-argumen persuasive oleh anggota lain yang mendukung sikap positif dan negatif individu terhadap isu yang terjadi. atau untuk tugas yang membutuhkan inovasi dan kreativitas. Tim juga cocok ketika situasinya bervariasi dan membutuhkan anggota yang dapat beradaptasi terhadap perubahan kondisi-kondisi eksternal (Dunphy & Bryant. maka individu cenderung menyetujui dan mengikuti kelompoknya. dan disitulah kecenderungan kelompok secara keseluruhan menjadi lebih ekstrim dalam pembuatan keputusannya. yaitu suatu tim yang memiliki tanggung jawab penuh akan keseluruhan tugas-tugas yang harus dilakukannya. . Mindguards 2. kepercayaan diantara anggotanya. Penjelasan yang kedua adalah bahwa individu mengadopsi nilai-nilai yang ada dalam kelompoknya. 1996). masukan dan arahan dari organisasi. Pembentukan suatu tim cocok ketika tugas yang diberikan kompleks. Group polarization Group polarization merupakan kecenderungan kelompok untuk membuat keputusan yang lebih ekstrim daripada mereka yang membuat keputusan secara individual (Myers & Lamm. sehingga membutuhkan individu dengan berbagai macam keahlian dan kompetensi untuk bekerja bersama. dan lain-lain. pelatihan.

United States of America.Sumber: Riggio. Introduction to Industrial/Organizational Psychology (5th edition). R. (2009).E. . New Jersey: Pearson Education.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->