P. 1
draf penelitian paradigma siap

draf penelitian paradigma siap

4.5

|Views: 745|Likes:
Published by Leo Sutrisno

More info:

Published by: Leo Sutrisno on Aug 07, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/12/2013

pdf

text

original

Pendahuluan

Dalam kamus umum bahasa Indonesia, dijelaskan bahwa paradigma adalah (linguistik) seperangkat unsur-unsur bahasa yang yang sebagian bersifat konstan dan sebagian lain berubah-ubah. (J.S. Badudu dan Sutan Mohammad Zain, 1996). Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (1999) menyatakan bahwa paradigma adalah seperangkat aturan yang digunakan untuk mengevaluasi informasi dan menyatukannya ke dalam hidupnya. Setiap orang memiliki paradigma sendiri berdasarkan pada pengalaman hidupnya. Hidup dengan satu paradigma tertentu seperti melihat melalui satu jendela yang sama. Setiap kali melihat lewat jendela akan memperoleh pemandangan yang sama. Dalam banyak hal berpikir dengan suatu paradigma itu lebih baik dari pada tidak memiliki sama sekali. Tetapi, juga dapat membatasi karena dapat menutupi peluang-peluang yang mungkin ada. Perubahan paradigma ibarat menemukan jendela baru. Melalui jendela baru, semua yang terlihat merupakan sesuatu yang baru atau hal-hal lama dapat dilihat dengan sudut pandang yang berbeda. Dengan paradigma baru pola pikir menjadi lebih segar. Jadi, akan lebih baik lagi bila dimiliki banyak paradigma, banyak jendela, banyak sudut pandang, banyak perspektif. Sesungguhnya, di dalam bidang penelitian, memang tidak ada satu paradigma pun yang diterima oleh semua peneliti pendidikan. Ada banyak debat yang mereka kembangkan, misalnya: kuantitaif lawan kualitatif, positivistik lawan interpretif, objektif lawan subjektif, atau rasionalistik lawan naturalistik. Namun demikian, kiranya hampir satu napas apabila kelompok pertama menekankan analisis kuantitatif dan kelompok kedua menekankan analisis kualitatif.
Hidup dengan paradigma

Hingga tahun delapan-puluh-an, penelitian PMIPA, seperti juga penelitian di bidang pendidikan yang lain, sangat kental diwarnai oleh penelitian kuantitatif yang diadopsi dari penelitian psikologi. Pada akhir tahun 80-an, di beberapa negara mulai mencoba mengembang penelitian yang berpusat pada konsepsi siswa tentang berbagai kejadian atau fenomena alam di sekitarnya yang dikenal dengan istilah penelitian tentang konsepsi alternatif. Kelompok ini menggunakan penelitian naturalistis yang dikembangkan oleh para antropolog dan sosiolog. Penelitian ini sangat berwarna kualitatif. Belakangan, di awal tahun 90-an, sekelompok peneiliti bidang pendidikan MIPA mulai mengembangkan penelitian yang sering digunakan para aktivis LSM, yaitu penelitian yang memberdayakan subjek yang diteliti-penelitian partisipatif. Penelitian ini dalam lingkungan pendidikan dikenal sebagai penelitian tindakan. Berikut disajikan tiga paradigma penelitian, yaitu: kuantitatif, kualitatif dan partisipatif. 1 Paradigma Penelitian Kuantitatif 1.1 Pandangan dasar Penelitian kuantitatif dalam pendidikan diwarnai oleh paham positivisme yang berkembang di negara-negara barat. Pandangan kelompok ini didasarkan pada anggapan bahwa pengetahuan ‘positif’ mampu menyelesaikan segalanya. Mereka berpendapat bahwa hanya dengan pengukuran yang seksama dan dengan percobaan-percobaan yang cermat, seperti dalam ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan dapat ditumbuh-kembangkan Philip C. Candy (1989). Sebenarnya banyak versi dari paham ini, tetapi ada sejumlah sifat yang mirip. Di antaranya adalah: (1) komitmen pada sikap objektif dalam pencarian ‘kebenaran ilmiah’; (2) Asumsi-asumsi keyakinan bahwa teori bersifat universal; (3) generalisasi,paradigma semacam hukum atau teori, tidak terikat pada suatu kontekskuantitatif

tertentu; (4) keyakinan bahwa setiap kejadian/peristiwa selalu memiliki penyebab; (5) keyajinan bahwa antara kejadian dan penyebabnya dapat dipisahkan satu sama lain secara diskrit; (6) pendapat bahwa variabel dapat diidentifikasi dan didefinisikan; serta hubungan antar variabel dapat dirumuskan secara matematis. Peter Reason (1994) menjelaskan bahwa paham positivisme memisahkan ilmu pengetahuan dari kehidupan sehari-hari, seperti juga antara peneliti dan subjek yang diteliti. Menempatkan peneliti di luar subjek yang diteliti, di luar penomena yang sedang diteliti, merupakan implementasi dari komitmen terhadap objektivitas. Dengan berdiri di luar, peneliti diharapkan dapat memperoleh data yang ‘tidak terkontaminasi’ oleh kehadiran dirinya di lingkungan subjek yang berpartisipasi dalam penelitiannya. Disebutkan, John Heron (1981) menyatakan bahwa penempatan peneliti di luar dari penomena yang sedang dipelajari karena ada anggapan peneliti harus dapat menunjukkan kehendak yang bebas dan kreatif agar dapat ‘menemukan’ pengetahuan baru. Sedangkan penomena yang dipelajari tunduk pada hukum sebab-akibat yang harus ditemukan peneliti. Penempatan peneliti di luar kejadian yang diteliti menggiring ke arah pemisahan bagian-bagian dari keseluruhannya. Para peneliti terdorong untuk menganalisis fenomena yang diteliti menjadi bagian-bagiannya, mengukur dan menghitung bagian-bagian ini, dn selanjutnya menghubung-hubungan bagian-bagian itu dalam bentuk sebabakibat. Karena itu, fenomena yang dipelajari diperlakukan sebagai ‘benda’ walaupun dalam pendidikan benda-benda (mati) hanya salah satu bagian. Memang, cara berpikir semacam ini terpengaruh oleh bidang MIPA (bukan PMIPA) yang menekankan bahwa akal merupakan alat utama bagi pengetahuan.

Implikasi praktis dari anggapan–anggapan ini, adalah kesepakatan tentang suatu ‘metode ilmiah’. Metode ilmiah mencakup keharusan menetapkan hipotesis di awal penelitian, selalu berusaha se-objektif mungkin, selalu mengambil jarak dengan yang diteliti, diarahkan untuk menemukan hubungan sebab-akibat yang invarian, dan berusaha menyederhanakan hubungan-hubungan itu ke dalam bentuk kuantitatif/matematis.

1.2 Model penelitian kuantitatif Secara garis besar, model penelitian kuantitatif dapatLangkahdigambarkan seperti Diagram 1a. (Sutrisno, 1990). Penelitilangkah penelitian melihat suatu realitas, suatu penomena. Masalah penelitiankuantitatif muncul saat mengamati realitas ini. Selanjutnya, peneliti melakukan proses ‘atomisasi’ masalah, yaitu memilah-milah variabel-variabel yang ada. Kemudian, dilakukan penelusuran literatur lanjutan yang lebih intensif dan terarah untuk menyusun suatu kerangka konsepsional yang menunjukkan hubungan antar variabel. Proses ini disebut konseptualisasi. Berdasarkan kerangka konsepsional ini diturunkanlah satu atau beberapa hipotesis. Agar hipotesis dapat diuji ‘kebenaran’-nya maka definisi konsepsional masing-masing variabel dioperasionalkan. Proses ini disebut operasionalisasi. Berdasarkan pada definisi operasional tersebut, disusun seperangkat instrumen – alat pengumpul data bagi setiap variabel. Data diambil dari sampel yang dianggap mewakili populasi. Proses penentuan besar sampel ini disebut ‘sampling’. Besar sampel ditetapkan di awal penelitian berdasarkan tingkat signifikansi penolakan hipotesis yang sesungguhnya benar (alpha = …%), tingkat kekuatan (power) yaitu tingkat keyakinan bahwa uji statistik yang digunakan akan menyimpulkan adanya penomena yang sedang diamati (Cohen, 1969), besar variansi yang diharapkan, dan tentu saja

jenis rancangan penelitian yang digunakan Sutrisno, Proses pengambilan data ini disebut pengukuran. Data yang telah terkumpul diolah dan dianalisi dengan rumus-rumus statistik untuk menguji kebenaran hipotesis yang telah ditetapkan di awal penelitian. Proses ini disebut ‘testing hypothesis’. Kesimpulan yang diperoleh berupa pernyataan menerima atau menolak hipotesis yang telah ditetapkan. Hasil penelitian ini berupa rumusan-rumusan yang berlaku umum yang merupakan penjelasan tentang kenyataan yang sedang dipelajari. Ibarat lukisan sebuah pohon berupa gambaran pohon secara umum. (Gambar 1) Peneliti kuantitatif beranggapan bahwa pembaca utama laporannya adalah komunitas ilmiah sehingga ditekankan reliabilitas, validitas, dan replikbilitas yang standar karena itu digunakan prosedur yang sistematis untuk menganalisis data serta dilakukan triangulasi dengan berbagai metode serta berbagai perspektif.

Atomisasi masalah; konseptualisasi; operasionalisasi; sampling; pengukuran; uji hipoteisis; 1992. kesimpulan

Penelitian kuantitatif Populasi sample Analisis Statistis Data

Pengukuran Instrumentasi Hipotesis Atomisasi

Uji hipotesis

Hasil
Menulis laporan

Riviu Literatur

Masalah penelitian

Laporan penelitian

Dunia nyata

Penjelasan

Presentasi/publikasi

Diagram 1a: Model penelitian kuantitatif Berangkat dari dunia nyata, dari keadaan lapangan, sekolah, peneliti kuantitatif menyusun rumusan masalah yang akan diselesaikan dengan suatu penelitian. Sudah barang tentu, agar rumusannya tajam dan sungguh penting, peneliti kuntitatif melaksanakan studi literature lebih dahulu. Selama proses studi literature, juga dilakukan proses atomisasi, yaitu suatu proses menguraikan masalah penelitian itu dalam konteks kedaan nyata di lapangan dan dalam konteks perkembangan

pengetahuan yang berkaitan dengan masalah yang sedang digarap itu. Akhir dari proses atomisasi ini dipeolehlah suatu hipotesis kerja serta bahan untuk mengembangkan alat pengumpul data (instrumen). Data yang telah terkumpul dari sample dianalisis secara statitik. Tujuan analisis statistic adalah menguji ‘kebenaran’ hipotesis yang telah disusun pada awal penelitian. Langkah akhir dari penelitian berupa energi.

2/5/2008

leo sutrisno / penelitian kuantitatif / msi untan

3

Gambar 2.1 : Gambar rumah berpagar dan bergarasi ini sangat umum ini(bagian tengah), mirip dengan deskripsi dari temuan penelitian kuantitaf. Gambar itu diperoleh dengan menyederhanakan bagian-bagainnya.

1.3 Bentuk penelitian kuantitatif Menurut bentuknya, penelitian kuantitatif dapat dibedakan menjadi penelitian survai dan penelitian percobaan.
Survai: 1.3.1 Survai Deskriptip Penelitian survai membahas data yang diperoleh padasederhana; waktu penelitian sedang dikakukan tanpa ada intervensi darikorelasional; kohort; kasus peneliti secara sengaja. Azrul Anwar dan Joedo Prihartonokelola (1987) membagi penelitian survai menjadi dua jenis, yaitu penelitian suvai tanpa kelompok pembanding dan panelitian survai dengan kelompok pembanding. Penelitian survai tanpa kelompok pembanding dibagi menjadi : deskriptif sederhana dan deskriptif korelasional. Penelitian survai dengan kelompok pembanding dibedakan antara kasus kelola dan kohort. Penelitian survai deskriptip sederhana meneliti perilaku satu variabel saja. Misalnya, deskripsi tentang kesulitan siswa dalam mempelajari tentang persamaan kuadrat; deskripsi tentang perilaku guru IPA di depan kelas, atau deskripsi tentang sikap siswa terhadap mata pelajaran matematika. Dsb. Apabila yang ditelaah lebih dari satu variabel maka perubahan perilaku suatu variabel tertentu akan diikuti oleh perubahan perilaku variabel yang lain. Penelitian survai deskriptif korelasional menelaah hubungan yang terjadi antar variabel. Misalnya, penelitian yang membahas berbagai faktor yang berhubungan dengan hasil belajar fisika, faktor-faktor yang berkaitan dengan perilaku guru di depan kelas, atau hubungan antar skor hasil belajar mata pelajaran kelompok MIPA. Dsb Penelitian survai dengan kelompok pembading memiliki dua arah. Arah pertama, melihat penyebab perbedaan antara kelompok yang satu dan kelompok pembandingnya. Misalnya, peneliti melihat ada perbedaan hasil belajar

matematika antara siswa laki-laki dan siswa perempuan, peneliti berusaha menemukan penyebab perbedaan itu. Penelitian yang diarahkan untuk mencari penyebab perbedaan disebut penelitian kasus kelola. Arah kedua, berdasarkan perbedaan yang ada peneliti mengarahkan perhatiannya pada akibat yang bakal terjadi. Penelitian yang mencari kemungkian yang akan terjadi sebagai akibat dari perbedaan yang ada disebut penelitian kohort. Misalnya, peneliti menemukan perbedaan cara guru fisika mengajar di dua kelas yang paralel, peneliti mengarahkan akibat yang mungkin terjadi dari perbedaan itu. 1.3.2 Penelitian percoban Penelitian percobaan mengolah data yang diperoleh pada saat penelitian dilakukan dengan satu atau beberapa variabel yang sengaja diubah-ubah (peneliti mengintervensi dengan sengaja) dengan tujuan akan dilihat pengaruhnya pada satu atau beberapa variabel yang lain. Pada dasarnya, percobaan yang bersifat ilmiah mencoba mengidentifikasi sesuatu yang menjadi ‘penyebab’ dan mengevaluasi ‘akibatnya’. Yang dilakukan pada umumnya adalah membuat perubahan secara sistematis pada satu faktor atau lebih (disebut variabel bebas) dan mencari perubahan pada satu atau lebih faktor yang lain (variabel terikat). Pengelompokkan variabel-variabel menjadi variabel bebas atau variabel terikat terserah sekehendak si peneliti. Namun, secara umum semua percobaan mecakup suatu perbandingan nilainilai variabel terikat apabila ada perbedaan nilai pada variabel lain (variabel bebas ada atau tidak ada). Ada dua cara yang mendasar dalam melakukanwithinpercobaan Michael J. mahoney, (1975). Pertama, satu orangsubject atau beberapa orang yang sama berada dalam suatu keadaandesign;. (variabel bebas) yang berbeda-beda (waktu) dan dicari apakahbetweenkeadaan yang lain (variabel terikat) berubah atau tidak (within-subjects design

subject design). Cara kedua adalah membandingkan nilai variabel terikat pada dua orang / kelompok atau lebih dalam keadaan satu/beberapa variabel bebas berbeda (betweensubjects design). Penelitian percobaan, menurut Campbell dan Stanley (1964) dapat dibedakan menjadi (dalam: Leo Sutrisno, 1992). pra-percobaan (pre-experiment), percobaan (true experiment), dan percobaan semu (quasi-experiment). Dengan menggunakan hurup X sebagai lambangPrevariabel yang sengaja dicobakan untuk diketahui pengaruhnyaexperimental pada variabel lain, dan O sebagai lambang hasil pengukurandesigns; True pada variabel lain yang akan dipastikan terpengaruh atau tidakexpperimental oleh kehadiran variabel X, serta R sebagai lambang caradesigns; dan quasimemilih subjek agar mengikuti salah satu kelompok dalamexperimentl percobaan bentuk-bentuk penelitian percobaan disajikan sbb. designs. Pra-percobaan 1. the one-shot case study: XO 2. the one-group pretest-posttest: O 1 X O2
3.

the static-group comparison:
X O1 - O2

Percobaan
1. the pretest-posttest control group: R O1 X O2 R O3 - O4

2.

the Solomon four-group design : R O1 X O2 R O3 - O4 R - X O5 R - - O6

3.

the posttest-only control group : R X O1 R - O2

Percobaan semu 1. time series:
O1 O2 O3 O4 O5 X O1 O2 O3 O4 O5

2. the equivalent time-samples design:
X1 O1 X2 O2 X3 O3 X4 O4 X5 O5 X6 O6 3.

the non-equivalent control group design, dsb

O1 X O2 O3 - O4

Dalam lapangan pendidikan, tampaknya penelitian percobaan yang sesungguhnya sulit dilaksanakan karena sekolah tidak dengan mudah menyediakan para siswanya untuk dipilah-pilah secara random. Yang paling mungkin adalah

kelas dipilih secara ramdom berikut seluruh siswanya. Cara ini disebut ‘intact group’ (Leo Sutrisno, 1990). 1.4 Kritik terhadap penelitian kuantitatif Walaupun hingga kini penelitian kuantitatif ini masih diunggulkan dalam penelitian pendidikan, namun mulai meningkat kesadaran bahwa penelitian ini tidak dapat menjawab semua masalah dari pendidikan MIPA (Fensham, 1979). Selain itu, karena tujuan penelitian kuantitaif ini adalah menemukan hukum-hukum umum yang dapat digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena atau suatu kejadian maka sering dirasakan sangat artifisial. Seperti diilustrasikan sebuah gambar rumah pada Gambar 2.1, yaitu gambar rumah, gambar pohon pada umumnya, gambar garasi dengan mobilnya dsb. Gambargambar ini bersifat sangat umum sehingga siapa saja, kapan saja, dimana saja akan dapat menerimanya (Sutrisno, 2001). Peter Reason (1994) menyatakan karena posisi peneliti yang mengambil jarak dari subjek yang ‘diteliti’ maka berarti si peneliti berada di luar yang diteliti. Si peneliti tidak menjadi satu bagian integral dari yang diteliti. Karena itu, peneliti juga tidak akan mungkin dapat mengungkap semua yang dipikirkan, yang dirasakan, dan yang dilakukan oleh subjek yang diteliti.

2. Penelitian kualitatif 2.1 Pandangan dasar Carr dan Kemmis (1983) menyatakan bahwa kegiatan manusia dan fenomena alam tidak dapat diamati dengan cara

interpretif

yang sama (metode kuatitatif). Kelompok peneliti yang mengembangkan penelitian kualitatif beranjak dari penolakan anggapan yang menyatakan bahwa tingkah laku manusia tunduk pada suatu hukum yang berlaku umum. Manusia hanya dapat dimengerti secara individual. Banyak aturan dalam hidup sehari-hari yang dinyatakan dengan simbol-simbol. Untuk memahami simbol perlu dilakukan interpretasiinterpretasi tentang simbol-simbol tersebut. Penelitian yang dikembangkan untuk memandang manusia secara unikindividual dengan segala macam simbol dan perikakunya adalah penelitian kualitatif. Pada awal tahun delapan puluh-an, ada sekelompok peneliti pendidikan, pembuat kebijakan, pendidik di AS mempelajari parameter-parameter yang berkaitan dengan krisis pendidikan IPA saat itu dan mencari kebijakan-kebijakan baru yang mungkin dapat diambil berserta implementasinya. Dua isu nasional yang utama saat itu adalah: kekurangan guru yang berkualitas dan jumlah materi ajar yang terlalu berat. Mereka menyadari bahwa model penelitian sebelumnya (kuantitatif) masih belum memadai untuk memahami yang lebih baik tentang proses perubahan di sekolah. Mereka, kemudian mengembangkan penelitian kualitatif yang mempunyai sasaran menemukan ‘grounded theory’ Barbara S. Spektor (1984) Berikut disajikan sejumlah asumsi yang mendasariAsumsi-asumsi kegiatan paradigma penelitian kualitatif (Candy, 1989). penelitian Pertama, setiap peristiwa atau tindakan merupakan hasil kualitatif interaksi dari banyak faktor: kejadian, proses, sebab dan akibat saling bergantungan satu dengan yang lain. Kedua, dalam mempelajari tentang manusia, obyetif yang sungguh-sungguh itu sangat-sangat sukar dicapai, karena makna suatu kejadian atau peristiwa tergantung pada pengalaman masing-masing orang termasuk si peneliti sendiri. Ketiga, tujuan dari pencarian kebenaran (dalam ilmu-ilmu sosial, termasuk pendidikan)

adalah memahami orang per orang secara unik, bukan menemukan hukum-hukum yang umum yang dianggap berlaku untuk semua orang. Keempat, karena dunia, secara keseluruhan, terdiri atas kenyataan baik yang dapat diungkapkan maupun yang tidak maka lebih baik dipelajari secara keseluruhan daripada dipotong-potong menjadi variabelvariabel bebas dan variabel-variabel terikat. Kelima, pencarian kebenaran (yang berkaitan dengan manusia) tidak bebas nilai, dan nilai-nilai yang dibawa peneliti akan berpengaruh pada kerangka berpikir yang dipergunakan dalam penelitiannya. Cakupan pencarian kebenaran penelitian kualitatif Intersubjektivitas meliputi: intersubjetivitas, motif, dan alasan. Intersubjektivitas , motif, dan alasan merujuk pada norma hasil konsensus yang menetapkan apa yang nyata atau valid di dalam setiap situasi sosial. Motif merujuk pada kejadian atau keadaan yang menimbulkan kejadian atau keadaan yang lain (‘karena …’). Dan, alasan merujuk pada harapan yang belum terpenuhi yang akan berpengaruh pada tingkah laku selanjutnya (‘demi …’). Cakupan kerja ini ternyata lebih luas dari pada cakupan kerja penelitian kuantitatif yang hanya memusatkan penemuan ‘motif’ (penyebab dari …). 2.2 Model penelitian kualitatif Secara garis besar, model penelitian kualitatif disajikan dalam Diagram 2.2. Inti dari aktivitas penelitian kuantitatif adalah menyusun ‘Grounded theory’ ( Spektor, 1984). Setiap sekelompok data yang terkumpul memberi arah pada setiap langkah berikutnya. Sebagai puncaknya adalah penyusunan hipotesis yang ‘grounded’ (yang mengakar) di dalam data itu sendiri. Beberapa hipotesis yang berkaitan satu dengan yang lain akan menghasilkan suatu teori. Dengan demikian, metode ilmiah yang digunakan lebih bernuansa penalaran induktif ketimbang penelitian kuantitatif.
Pencarian akses, pengumpulan data, analisis, konfirmasi, laporan

Aktivitas penelitian kuantitatif mencakup: pencarian akses untuk ‘memasuki’ subjek, pengumpulan data, analisis data, konfirmasi hasil, dan penulisan laporan naratif (bahkan mungkin berbentuk cerita). Sebagai orang baru, ‘memasuki’ suatu: organisasi, atau sekelompok masyarakat tertentu, bahkan orang perseorangan sekali pun ternyata tidak mudah. Apalagi, apabila mereka mengetahui bahwa akan diamati/diteliti. Tidak terkecuali di dalam bidang pendidikan, walaupun sistem pendidikan di Indonesia masih lebih bersifat komando dari atas sehingga akses formal dapat diperoleh dari ‘atas’ namun di tingkat sekolah tidak dengan serta merta pintu terbuka selebar-lebarnya untuk keperluan penelitian. Karena itu, kegiatan pencarian akses untuk dapat ‘bergabung’ dan berperan serta di sekolah menjadi kegiatan yang tidak boleh dikerjakan sambil lalu. Setelah memperoleh akses masuk ke sasaran, peneliti mulai menyusun sejumlah pertanyaan yang diproyeksikan kelak menjadi masalah yang akan dijawab dalam penelitian. Telaah literatur dan pengamatan di lapangan yang silih berganti akan membuat masalah berkembang semakin jelas dan tajam. Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif berbeda dengan pengumpulan data dalam penelitian kuantitatif. Jenis data, sumber, dan cara mengumpulkannya tidak selalu dapat dirancang sebelumnya seperti pada penelitian kuantitatif. Bahkan, waktu yang diperlukan pun juga sukar diramalkan secara tepat. Pengamatan dilakukan secara bebas tanpa bantuan checklist atau bentuk yang lain. Setiap kali pengamatan, dicatat status dari berbagai variabel yang ada, misalnya: keadaan fisik, waktu, partisipan, tindakan, bahasa, dan sebagainya (Spradley, 1980). Selain pengamatan wawancara sebaiknya juga dilakukan untuk menggali lebih dalam tentang apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan oleh partisipan.

Dalam penelitian kualitatif, pada umumnya, peneliti sekaligus menjadi instrumen maka reaksi peneliti merupakan bagian tetap dari data yang terekam dalam wujud bias anatu pandangan baru dari peneliti. Karena itu akan ditemukan banyak perbedaan dalam analisis data. (Eisner, 1981). Perbedaan yang terjadi bukan disebabkan oleh cara mengumpulkan, jenis dan sifat data yang terkumpul, atau hubungan antar peneliti dan subjek yang berpatisipasi dalam penelitian tetapi oleh persepsi peneliti tentang calon pembaca laporannya, metode untuk mereduksi data, metode untuk emngolah data, sikap pembaca terhadap konfirmasi temuan, dan format penyajian dari laporan. Karena peneliti kulitatif melakukan interpretasi maka hasil interpretasi tersebut perlu memperoleh konfirmasi dari sumber data yang bersangkutan. Interpretasi peneliti tidak boleh mengubah apa yang sesungguhnya dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh subjek yang diamati. Interpretasi peneliti membuat hal yang ada dalam subjek makin jelas, rinci, dan sistematis. Peneliti kualitatif berpandangan bahwa audiensnya tidak hanya kelompok masyarakat ilmiah. Karena itu, mereka mencoba mengembangkan suatu tema yang menyatukan unsurunsur kejadian yang diamati serta menghasilkan pengalaaman estetis bagi pembaca. Laporan penelitian kualitatif sering disebut ‘cerita’ (Smith, 1982). Cerita ini akan meningkatkan pemahaman pembaca tentang peristiwa, kejadian atau kasus yang diteliti. Secara analog, laporan penelitian kuantitatif mirip sebuah gambar sebuah rumah yang khas dan unik. Lihat Gambar 2.2. Gambar ini unik artinya tidak ada duanya. Gambaran ini juga khas karena rumah yang seperti itu tidak akan tersebar di seluruh lokasi. Unik dan khas merupakan salah satu ciri utama temuan dari penelitian kuantitatif yang memang tidak mengarah pada penemuan hukum-hukum yang berlaku umum.

penelitian kualitatif adalah keharusan koherensi dari interpretasi yang dibuat dan harus ‘lulus’ dari konfirmasi subjek yang berparitisipasi dalam penelitian. Koherensi disebut juga kepaduan yang baik dan kompak artinya hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsurnya. (Gorys Keraf, 1980)

Population

sample

Qualitative research
analyzing Data Verification & clarification Generating hypothesis conformation Report / story Writing report

Data Gathering Reshaping & focusing the problem Literature review

Research problem

Real world
5/29/2008

understanding
leo sutrisno / penelitian kuantitatif / msi untan

Presentation / publcation

9

Diagram 2.2. Model penelitian kualitatif

Qualitative research

5/29/2008

leo sutrisno / penelitian kuantitatif / msi untan

7

Gambar 2.2 : Gambar rumah yang khas dan unik ini mirip dengan deskripsi dari temuan penelitian kualitatif

2.3 Bentuk penelitian kualitatif Ada banyak nama yang digunakan untuk penelitian kualitatif ini. Di antaranya adalah: naturalistic research, grounded research, phenomenology, symbolic interactionism, ethnomethodology, ethnography, anthropological research, fieldwork, case-study, atau participant observation. istilah naturalistik (Smith, 1982) merujuk pada pada pandangan bahwa semua ilmu pengetahuan berkembang melalui suatu proses alamiah dimana seseorang belajar tentang struktur yang menggarisbawahi suatu penomena atau kejadian, dan bagaimana semua itu disusun serta kemudian, berdasarkan

pengetahuan ini, yang bersangkutan melanjutkannya ke arah yang lebih kuantitatif dengan metodologi yang formal. Istilah grounded (Spector, 1984) digunakan untuk menerangkan bahwa pembetukan teori didasarkan (grounded) pada keadaan data yang tersedia. Jadi, lebih bersifat induktif daripada deduktif. Penomenologi merujuk pada metode yang digunakan yang didasarkan pada anggapan bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil interaksinya dengan dunia sekitarnya. Dasar teoritis dari penomenologi adalah symbolic interaction, yaitu suatu cara mengamati tingkah laku seseorang. Untuk memahami seseorang harus dipahami pula bagaimana orang yang bersangkutan memandang dunia sekitarnya. Kata etnograpi dan etnometodologi, penelitian antropologi (LeCompte, 1982) digunakan untuk menunjukkan ‘objek’ penelitian yang dilakukan yaitu sekelompok etnis tertentu dalam disiplin ilmu antropologi dan sosiologi. Case study (Walker,1980) berarti telaah tentang satu kejadian yang berlangsung sesaat. Sedangkan participant observation lebih condong pada cara pengumpulan data yaitu pangamat bergabung menjadi satu dengan yang diamati. Penelitian semacam ini telah mulai diadopsi dalam penelitian pendidikan MIPA dalam tiga dasa warsa terakhir ini. Mengapa penelitian yang menekankan pada subjektivitas, efek kontekstual, dan mengembangkan kerangka berpikir induktif ini di dalam pendidikan MIPA diperlukan? Padahal, Para pemikir, para perngguna, dan para praktisi penidikan MIPA berlajar dan berkembang dalam iklim ilmiah yang dikembangkan di dalam MIPA murni, yaitu hypotetikodeductive process . Smith, 1982. menyajikan empat alasan. Pertama, keberadaan teori belajar dan pembelajaran yang Mengapa penelitian kuat dalam penididikan MIPA masih dipertanyakan. Para kualitatip praktisi pendidikan MIPA memang sering beranggapan bahwa diperlukan dalam PMIPA? metode ilmiah yang dapat diterapkan di dalam fisika, misalnya,

juga dapat diterapkan di dalam pendidikan fisika. Variabel diamati dalam keadaan terkontrol. Bukti-bukti yang ditemukan dapat digunakan untuk menguji hipotesis. Generalisasi dibuat dan teori dapat direvisi atau dikuatkan. Dan, bahwa setiap keadaan nyata dapat direduksi menjadi bentuk-bentuk hubungan yang sederhana dan karena itu juga dapat dipejarau dengan cara yang sama. Ternyata dalam dinua pendidikan tidak semua demikian. Kedua, teknologi pengukuran dalam bidang pendidikan MIPA masih kurang bila dibandingkan dengan dalam MIPA sendiri. Di antaranya, banyak konsep di dalam pendidikan MIPA yang berarti ganda. Misalnya, ‘belajar’ mempunyai banyak definisi. Peneliti bertitik tolak pada suatu konsep dengan arti yang sudah tertentu, dan selanjutnya, mencari cara pengukuran yang menghasilkan indikator numerik yang secara konseptual dan empiris berhubungan dengan arti dari konsep tersebut. Sayang, terlalu sering dalam penelitian pendidikan (termasuk pendidikan MIPA) proses konstruksi ini, memberi arti dari suatu konsep yang tepat dan jelas, kurang dipikirkan dengan seksama seperti dalam MIPA. Dalam MIPA metode pengukuran sangat erat berkaitan dengan teori dan eksperimen. Misalnnya, ‘arus listrik’ diartikan sebagai jumlah muatan yang mengalir pada tiap satu satuan luas penampang suatu konduktor tiap satu satuan waktu. Karena itu, cara mengukur kuat arus berkaitan dengan jumlah muatan, luas penampang konduktor, dan juga waktu. Ketiga, generalisasi yang berlaku di dalam MIPA tidak serta merta dapat berlaku di dalam pendidikan MIPA. Tujuan MIPA adalah menemukan hukum-hukum yang berlaku umum dalam semua keadaan tidak berlaku pada pnedidikan MIPA. Bahkan, walaupun suatu percobaan dalam pendidikan MIPA telah dirancang dengan baik dan dikontrol dengan cermat, ternyata tidak mungkin dilaksanakan replikasinya.

Keempat, penggunaan beberapa perspektif. Dalam penelitian MPIA dikembangkan penggunaan satu perspektif, atau satu alat ukur, satu cara mengukur. Sebaliknya, dalam penelitian pendidikan MIPA disarankan agar menggunakan berbagai perspektif, berbagai alat ukur, berbagai cara mengukur karena disadari bahwa setiap perspektif, setiap alat ukur, setiap cara mengukur selalu mengandung bias tertentu yang tidak dapat dihindari. 2.4 Kritik terhadap penelitian kualitatif Smith (1982) menyebutkan logika penemuan yangReliabilitas digunakanlah yang membedakan penelitian naturalistik daridan validitas penelitian eksperimen atau penelitian survai, yaitu data datangpenelitian kualitatif? yang pertama. Hipotesis atau teori muncul kemudian dari data yang tersedia. Hipotesis awal, mungkin juga memiliki peran, tetapi sangat lemah dan siap diubah kemudian. Selain logika penemuan yang digunakan, penggunakan berbagai alat pengumpul data yang kurang terstruktur juga menjadi ciri yang lain yang sering dianggap salah satu kelemahan. LeCompte dan Goetz (1982) membahas panjang lebar tentang reliabilitas dan validitas penelitian kualitatif ini. Reliabilitas suatu penelitian merujuk pada tingkat seberapa jauh penelitian yang bersangkutan dapat direplikasi. Replikasi maksudnya, pengulangan penelitian dengan metode yang sama akan menghasilkan temuan yang sama. Usaha untuk meningkatkan reliabilitas penelitian kualitatif tidak mudah karena sejumlah faktor saling kait mengkait, misalnya: sifat data dan proses penelitiannya, konvensi yang digunakan saat menyajikan temuan, serta kebiasaan lama peneliti dengan melakukan penelitian kuantitatif. Reliabilitas merupakan kelemahan lain dari penelitian kualitatif. Validitas suatu penelitian merujuk pada tingkat kesepadanan antara proposisi (penjelasan ilmiah) yang dibuat dan kenyataan dalam hidup sehari-hari. Ada dua pertanyaan

yang muncul menyangkut validitas penelitian. Pertama, apakah yang diamati dan diukur si peneliti sungguh-sungguh yang dipikirkan untuk diamati dan diukur (validitas internal)? Kedua, apakah proposisi-proposisi, teori, atau hipotesis yang dibangun peneliti dapat diterapkan pada kelompok lain (validitas eksternal)?. Validitas internal merupakan titik kekuatan. Peneliti kualitatif berada di antara subjek yang diteliti. Karena itu, mempunyai kesempatan untuk mengamati berulangkali serta memperhalus dan mempertajam interpretasiinterpretasi yang dibuat. Selain itu, karena penelitian ini menggunakan informan yang diwawancarai maka penjelasannya akan lebih sederhana dan lebih konkret, lebih dekat dengan keadaan nyata. Setting penelitian yang alami dan peneliti yang emngembangkan self-monitoring di setiap langkah memungkinkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan reevaluasi secara berkelanjutan. Sebaliknya, validitas eksternalnya sering dianggap ‘sepi’ oleh peneliti kualitatif. Pertama, karena penelitian kualitatif memusatkan perhatiannya pada satu penomena (sekelompok kecil orang, atau proses sosial). Kedua, bagi sejumlah peneliti kualitatif beranggapan bahwa mereka harus meninggalkan prekonsepsinya sendiri sesaat setelah masuk lapangan, dengan harapan dapat membuat deskripsi yang lebih akurat, sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya, daripada sudah menetapkan sekenario sebelumnya. Penelitian kualitaif ini di dalam pendidikan MIPA mulai dikembangkan sejak akhir tahun 80-an. Fokus penelitian ini adalah konsepsi siswa tentang fenomena alam yang sering diberi label penelitian alternatif (John Head, 1986).

3. Penelitian partisipatif 3.1 Pandangan dasar Penelitian kualitatif muncul sebagai reaksi penelitian kuantitif yang berusaha mengambil jarak terhadap subjek penelitian demi komitmennya terhadap objektivitas ilmu pengetahuan. Namun, ternyata penelitian kualitatif juga tetap menekankankan objektivitas dan bebas nilai memalui pemahamannya tentang apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan dan apa yang dilakukan subjek yang diteliti. Bahkan, Jennings (1985), menyatakan bahwa sejumlah penelitian kualitatif merupakan bentuk tersembunyi dari positivisme, sipeneliti memilih menjadi pengamat pasif dan subjek yang berpartisipasi pada penelitian berstatus sebagai ‘objek’ penelitian.. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran keterlibatan aktif peneliti akan berpengaruh pada subjek yang diteliti. Peter Reason (1994) menyatakan bahwa pandangan positivisme memang cukup kuat dan efektif dalam mempelajari suatu penomena yang dapat diperlakukan sebagai ‘benda’, suatu entitas yang dapat dipisahkan dari keseluruhan. Tetapi apabila diterapkan pada manusia hasilnya adalah menjauhkan manusia dari alam semesta. Manusia dibuat menjadi tidak ‘merasakan’ apa yang terjadi di alam sekitarnya. Akibatnya, manusia kini hanya mempunyai pilihan hidup selamat atau bunuh diri (Sutrisno, 1995). Karena itu, sudah saatnya untuk mengganti kerangka berpikir memisahkan bagian yang satu dari bagian lain atau dari keseluruhan dengan mengusahakan kebersatuan dengan sekitar. Dalam penelitian dikembangkan suatu paradigma ketiga, yaitu penelitian partisipatif. Berikut disajikan sejumlah pandangan dasar paradigma ini. Pertama, sebagian besar kegiatan manusia berada di luar kendali kesadaran dari manusia yang bersangkutan dan

Asumsiasumsi penelitian partisipatif

dikelilingi oleh kondisi sosial yang diluar jangkauan kesadaran pelaku itu sendiri. Kedua, pejelasan yang berupa interpretasi sering dirasa bertentangan dengan hukum-hukum sosial, kepercayaan atau prakteknya dalam hidup sehari-hari. Ada ‘logika keadaan’ yang berbeda dari ‘logika sebab akibat’. Ketiga, penelitian tidak dapat menghindarkan dari reformulasi dan resimbolisasi suatu kejadian, sehingga penelitian lebih merupakan tindakan mengkonstruksi ketimbang menemukan pengetahuan. Keempat, penggunaan pengetahuan para ahli dan ‘bahasa’ tertentu dalam membuat interpretasi, sering tidak dapat diakses oleh subjek yang berpartisipasi dalam penelitian. Kelima, kegiatan penelitian yang ingin ‘membongkar’ tata aturan sosial, atau oleh ‘endapan kebiasaan masa lalu’ yang membuat frustrasi sebagian orang, merupakan bagian dari pemerdekaan manunisa tidak mungkin dilakukan dengan dua paradigma yang terdahulu. Penelitian dengan paradigma partisipatif mempunyai komitmen pada perubahan sosial serta meninggalkan semua dalih demi netralitas pengetahuan. Penelitian ini mencoba secara eksplisit mengidetifikasi dan mengkritisi disjungsi, perbedaan-perbedaan, serta pertentangan-pertentangan dalam pengalaman hidup manusia. Fokus penelitian dengan paradigma ini adalah refleksi diri secara kritis dan tindakan untuk melakukan perubahan. Namun demikian tindakan ini tidak karena di-‘provokasi’ dari luar secara sengaja (oleh peneliti) tetapi karena kehendak bebas subjek yang diteliti untuk terlibat secara aktif untuk mengembangkan diri (Candy, 1994). 3.2 Model penelitian partisipatif Hasil akhir dari penelitian dengan paradigma partisipatif adalah subjek yang telah terberdayakan (Sutrisno, 1998) sebab setiap manusia adalah penentu bagi dirinya sendiri. Setiap orang adalah entitas spiritual yang fundamental, ia sendiri

berpotensi menjadi penyebab tindakannya sendiri. Salah satu cara untuk menunjukkan kapasitasnya dan menjadi seorang manusia sepenuhnya adalah hasil hasil belajar dan pengembangan diri sendiri (John Heron, 1992). Bagi banyak Ko-subjek dan ko-peneliti orang, pengembangan diri sendiri tidak mudah dilakukan. Mereka perlu dibantu agar mampu menjadi penentu dirinya sendiri. Karena merupakan pemberdayaan maka kehendak bebas subjek yang diteliti merupakan hal yang sangat penting. Agar kehendak bebas ini tetap terjaga, mereka yang berpartisipasi dalam penelitian diposisikan sebagai ko-subjek dan sekaligus sebagai ko-peneliti. Sebagai ko-subjek, mereka melakukan semua kegiatan bersama-sama dengan peneliti. Sebagai ko-peneliti, mereka bersama-sama dengan peneliti mencermati, menganilisis, mengambil keputusan, dan membuat rencana kegiatan dalam setiap langkah yang dilaksanakan selama penelitian. Posisi semacam ini berbeda dengan penelitian-penelitian yang lain yang menempatkan peneliti dan subjek yang berpartisipasi dalam penelitian memiliki tugas berlainan yang sama sekali berbeda. Peneliti menyumbang pemikiran yang dilaksanakan dan subjeknya melakukan kegiatan sesuai dengan yang telah dirancang peneliti. Peter Reason (1994) menyebutkan paling tidak ada tiga experiential macam pengetahuan yang dikonstruksi oleh manusia. Pertama knowledge; practical adalah experiential knowledge yaitu pengetahuan yang knowledge; dikonstruksi melalui pertemuan langsung dengan orang lain, di propositional knowledge tempat dan / atau benda-benda yang berbeda. Kedua adalah practical knowledge yaitu pengetahuan yang dikonstruksi melalui tindakan, melakukan sesuatu. Ketiga adalah propositional knowledge yaitu pengetahuan yang berbentuk proposisi-proposisi, atau teori-teori. Di dalam penelitian, propositional knowledge yang dikonstruksi pada akhir penelitian harus didasarkan (grounded) pada experiential knowledge dan pratical knowledge.

Disebutkan bahwa dalam penelitian partisipatif peneliti dan subjek yang berpartisipasi berhubungan timbal balik dalam putaran yang terdiri empat fase refleksi dan aksi seperti yang tersaji pada Diagram 2.3. Pada fase I, sekolompok orang (sebagai ko-peneliti) bersama dengan peneliti berkumpul, bersama-sama mencari aktivitas yang dapat dikerjakan bersama. Setelah setuju untuk melakukan kegiatan bersama, masing-masing mengungkapkan sejumlah masalah yang mereka rasakan. Masalah-masalah ini kemudian dikumpulkan Kemudian, dipilih sejumlah masalah yang dirasakan sebagai masalah bersama. Selanjutkan masalahmasalah bersama ini diurutkan menurut skala urgensinya untuk diselesaiakan bersama-sama secara ilmiah. Fase pertama ini diakhiri dengan dihasilkannya serangkaian rencana kegiatan yang rinci dan seksama untuk menyelesaiakan masalah. Dalam fase ke-1, peneliti membantu dengan pengetahuan yang dimiliki untuk menganalisis keadaan, merumuskan masalah, mengurutkan urgensinya, merancang strategi penyelesaiannya, serta menyusun prosedur kegiatan yang akan dilakukan. Dalam fase ini pengetahuan proposisional dikenalkan oleh peneliti kepada ko-peneliti, sekaligus menggali pengetahuan proposisional anggota ko-peneliti. Pada fase ke-2, kelompok ko-peneliti ini berubah fungsi sebagai ko-subjek. Mereka melaksanakan kegiatan sesuai dengan yang telah dirancang pada fase-1, termasuk mengamati, mengukur, mencatat proses yang berlangsung serta yang mereka hasilkan baik secara individual maupun secara kelompok. Mereka juga mencatat apa yang dapat dilaksanakan dan apa yang tidak dapat dilakukan di lapangan dari rencana kegiatan yang telah disusun pada fase ke-1. Mereka mengembangkan pengetahuan praktis bagaimana melakukan (atau tidak) tentang sejumlah kegiatan yang telah dirancang berdasarkan pada pengetahuan proposisional sebelumnya.

Fase ke-3, dapat dipandang sebagai batu uji pencarian pengetahuan dalam paradigma ini. Ko-subjek sungguh tenggelam di dalam pengalamannya. Karena mereka mengalami sendiri maka mereka sampai pada tingkat keterbukaan pikiran sehingga prekonsepsi-prekonsepsi yang mereka konstruksi sebelumnya mereka lihat dengan cakrawala baru. Mungkin pengetahuan mereka menjadi semakin mendalam, atau pengetahuan sebelumnya yang supervisial dielaborasi dan dikembangkan. Mungkin, mereka bahkan meninggalkan sama sekali pengetahuannya dan menggantinya dengan pengetahuan yang sama sekali baru. Fase ke-4, setelah ko-peneliti terlibat sebagai ko-subjek, dengan melibatkan diri dalam kegiatan pengamatan, pengumpulan data (fase ke-2) dan berbagi pengalaman dengan sesama teman yang berpartisipasi dalam kegiatan (fase ke-3), mereka memasuki tahap membahas pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah, serta hipotesis-hipotesis yang mereka ajukan pada tahap ke-1 berdasarkan pengalaman yang diperoleh. Selanjutnya, mereka akan kembali mengajukan peratnyaanpertanyaan baru berserta rancangan penyelesaiannya atau pertanyaan lama dengan perspektif baru sehingga memerlukan rancangan penyelesaian dengan sudut pandang yang lain. Pada tahap ini, dikembangkan lagi pengetahuan proposisional. Putaran berlangsung lagi seperti putaran pertama dengan fase ke-1, fase ke-2, fase ke-3 dan kembali ke fase ke-4. Jadi, tahaptahap penelitian dengan paradigma ini terdiri atas: aksi (melakukan tindakan bersama) dan refleksi (berbagi pengalaman) secara bergantian terus-menerus hingga mereka menjadi mandiri dalam menyelesaiakan masalah secara ilmiah. Mereka mampu menggunakan pengetahuan proposisional yang tersedia sekaligus mereka mampu mengelaborasi lewat kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Kegiatan semacam ini memang yang dilakukan oleh para ilmuwan dalam menyelesaikan masalah-masalah secara ilmiah.

Pengetahuan presentasional

Pengetahuan proposional Penyemaian gagasan

Penyajian data

Penyampaian pengetahuan proposisional
Penyampaian pengetahuan

Penyajian data ke-2

PROSEDUR
Endapan Pengalaman ke-2 Revisi Rencana kegiatan dan pelaksanaan

Endapan Pengalaman ke-1 Pengetahuan empiris 5/29/2008
leo sutrisno / penelitian kuantitatif / msi untan

Rencana kegiatan dan pelaksanaan
13 Pengetahuan praktis

Diagram 3: Prosedur penelitian paradigma partisipatif Menurut Peter Reason (1994), kegiatan berawal dari fase ke-1 pada saat peneliti (fasilitator) menyodorkan proposal kepada kelompok. Dalam proses selanjutnya proposal tersebut dipertajam, diperhalus, dan dilengkapi pada fase-fase berikutnya oleh kelompok itu sendiri. Pada awalnya, mungkin proposisi-proposisi yang diajukan sangat supervisial, misalnya: diadopsi dari tempat lain, asumsi-asumsi yang digunakan hanya diterima begitu saja tanpa kritik sama sekali, merupakan pendapat / pandangan umum, atau didasarkan atas kebiasaan saja. Kelompok pun belum terbentuk kecuali mereka samasama berkehendak untuk melakukan kegiatan bersama. Ada kemungkinan penelitian ini tidak sampai pada ujung yang sesungguhnya yaitu partisipan menjadi terberdayakan

apabila mereka tidak bereksplorasi cukup dalam atau tidak berhasil menciptakan suatu ‘ruang yang aman’ bagi mereka sendiri untuk saling ‘menentang’ satu dengan yang lain secara kritis tanpa tumbuh rasa permusuhan. 3.3 Bentuk penelitian partisipatif Penelitian partisipatif dapat dipandang sebagai suatu proses partisipasi peneliti pada subjek yang sedang mengeksplorasi sejumlah aspek dari hidupnya yang signifikan agar lebih memahami dan mentranformasikan tindakannya sehingga lebih sesuai dengan tujuan. Peter Reason (1994) membagi tiga bentuk penelitian dengan paradigma partisipatif ini, yaitu: co-operative experiential niquiry, participatory action research dan action inquiry. co-operative experiential inquiry co-operative experiential inquiry dikembangkan oleh co-operative John Heron (Lihat Peter Reason, 1994) pada akhir tahun tujuh- experiential puluhan. Asumsi yang mendasari bentuk penelitian co- inquiry operative experiential inquiry adalah setiap manusia adalah self-determining. Manusia mempunyai wewenang untuk mengelola dirinya sendiri. Perhatian dan penalarannya menentukan tingkah lakunya. Apabila, penelitian yang dirancang dan dikerjakan oleh peneliti diterapkan langsung pada subjek maka subjek tersebut bukan sebagai manusia yang utuh. Ia lebih mirip sebagai ‘objek’ – manusia yang di-‘benda’-kan oleh peneliti. Peneliti hanya dapat melakukan penelitian bersama orang apabila apa yang dirancang dan apa yang dilakukan di dalam penelitian diarahkan oleh orang itu sendiri. Jadi seorang peneliti hanya dapat mempelajari manusia secara penuh apabila ia mengembangkan hubungan yang aktif antara dirinya dengan subjek yang diteliti sedemikian rupa sehingga tingkah laku subjek yang sedang diteliti merupakan

perwujudan dari kehendak subjek itu sendiri setelah melewati suatu proses kerjasama. Karena itu, subjek yang diteliti dipandang sebagai kopeneliti. Mereka, bersama-sama peneliti menetapkan fokus penelitian, membuat rancangan penelitian, melaksanakannya, dan menarik kesimpulan. Mereka juga dipandang sebagai kosubjek. Mereka, dengan penuh kesadaran, melibatkan diri pada semua aktivitas yang dilaksanakan selama penelitian. Dalam penelitian semacam ini sumber pengetahuan utama adalah pengarahan diri sendiri setiap subjek yang berpartisipasi dalam kegiatan yang sedang diteliti untuk menemukan suatu kebenaran. Bentuk kegiatannya terdiri atas aksi dan reflesi yang terus menerus. Refleksi diperlukan untuk mempertajam dan memperkaya pengetahuannya sehingga dapat lebih kuat mengarahkan aksinya. Mereka akan berputar dalam siklus: pengetahuan proposisional untuk merancang aksi yang terarah, pengetahuan praktis untuk memningkatkan ketrampilan yang akan diendapkan sebagai pengetahuan karena telah mengalami sendiri dan berbagi pengalaman dengan yang lain, dan pengetahuan-pengalaman untuk memperkaya pengetahuan proposisional. Participatory action research Participatory action research (PAR) merupakan salah satu Participatory bentuk penelitian partisipatif yang paling dikenal. Penelitian iniaction research banyak dilakukan oleh kelompok-kelompok LSM yang bertemakan ‘pemberdayaan’. Bentuk penelitian ini disemangati oleh reformasi pendidikan yang dikembangkan Paulo Freire (1970) yang sangat perhatian pada kelompok yang terpinggirkan, kelompok yang teralinisiasi. Ada dua tujuan penelitian PAR (Peter Reason, 1994), yaitu: menghasilkan pengetahuan dan tindakan yang langsung berguna bagi masyarakat dan memberdayakan anggota masyarakat melalui konstruksi pengetahuannya sendiri dan

menggunakannya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya. PAR sangat menekankan kolaborasi dan dialog untuk menumbuhkan motivasi dan rasa percaya diri, serta mengembangkan solidaritas masyarakat. PAR menggunakan berbagai metode dan desain yang tumbuh dari kebiasaan atau tradisi setempat. Berbagai kegiatan dilakukan, misalnya: pertemuan, diskusi, pengumpulan data, melakukan sesuatu bersama-sama dsb. Peneliti berfungsi sebagai fasilitator bagi subjek yang berpartisipasi dalam PAR. Action inquiry Penelitian co-operative inquiry mempunyai tujuanAction menumbuhkan kesadaran subjek bahwa yang bersangkutan mereka sendiri adalah penentu bagi kehidupannya sendiri. Penelitian PAR mempunyai tujuan memberdayakan subjek agar dapat menggunakan penegtahuannya sendiri untuk meningkatkan harkat dan martabat kehidupannya. Penelitian Action inquiry bertujuan meningkatkan keadilan dan efektivitas dalam masyarakat. Masalah yang diperhatikan dalam action inquiry adalah bagaimana cara mengubah organisasi – organisasi dan komunitas-komunitas menjadi lebih bersifat kolaboratif, menjadi komunitas pencari kebenaran yang mampu melakukan refleksi diri. Menurut Torbert ada empat wilayah pengalaman manusia yang perlu dicermati dalam action inquiry yaitu: tujuan, strategi, pilihan-pilihan yang terbuka, dan dunia luar. Setiap manusia, secara alamiah, tentu memiliki tujuan-tujuan dalam hidupnya, termasuk tujuan-tujuan dari waktu ke waktu dan bahkan juga mungkin ada perubahan urgensi dari tujuantujuan itu. Semua ini perlu dipahami oleh setiap orang. Setelah mengetahui tujuannya, seseorang perlu memiliki strategi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan. Strategi pemecahan masalah meliputi: pemahaman tentang keadaan yang dihadapi

inquiry

secara penuh dan sungguh-sungguh, pemahaman jelas tentang masalah yang akan diselesaikan, pemahaman tentang berbagai kemungkinan yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, kemampuan untuk membuat rencana kegiatan yang perlu dilalui saat menyelesaikan masalahnya, dan kemampuan untuk mengevaluasi hasil penyelesaian yang telah dilakukan. (Sutrisno, 1995) Dalam hidup yang sesungguhnya, manusia dihadapkan banyak pilihan secara terbuka. Tetapi, tidak banyak orang yang berani menghadapi pilihan pilihan itu ketimbang yang menyerahkan pilihan pada orang yang ‘di atas’ agar terhindar dari tanggung jawab. Pengetahuan tetntang mengelola pilihan perlu dikembangkan dalam diri setiap orang. Akhirnya, setiap tindakan yang dilakukan, walaupun dipilih dengan penuh kesadaran, tetap memiliki akibat baik pada diri sendiri maupun pada diri orang lain. Konsekuensi akan tindakannya seharusnya juga diketahui sepenuh hati oleh setiap orang. Dalam posisi semacam ini action inquiry mengambil tempat.

Critical approach

5/29/2008

leo sutrisno / penelitian kuantitatif / msi untan

11

3.4 Kritik terhadap penelitian partisipatif Kritik pertama muncul karena penelitian dengan paradigma ini masih ‘pendatang baru’ dalam dunia penelitian maka belum banyak pakarnya. Karena itu, metodologinya masih kurang terbentuk. Sebagian besar terkesan gado-gado. Kelemahan kedua muncul dari sifat penelitian yang berpihak pada yang terpinggirkan. Akibatnya, penelitian dengan paradigma ini mempunyai beban politis yang bertentangan dengan sifat kenetralan ilmu pengetahuan. Menciptakan suatu kelompok yang kohesif dan dinamik tidak mudah, bahkan juga dirasakan oleh para pakar karena itu, penelitian ini akan menjadi sangat sukar bagi sebagian orang. Peter Reason mengingatkan ‘this is no easy way forward’.

Referensi Azrul Anwar dan Joedo Prihartono, 1987. Penelitian kedokteran. Jakarta: Badudu, J.S., dan Sutan Mohammad Zain, 1996. Kamus umum bahas Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, 1999. Quantum Learning, (Cetakan ke-5), Bandung: Kaifa Candy. Philip C., 1989. Alternative paradigms in educational research. Australian Educational Research. Vol.16. No.3. halaman: 1 -11 Carr, W. dan Kemmis, S. 1983. Becoming critical: knowing through action research. Highton, Vic. : Deakin University Press Eisner, E.W. , 1981, On the differences between scientific and artistic approaches to qualitative research. Educational Researcher.hal.5-9.

Fensham, P.J., 1979. Science education research: present and future. Research in Science Education. Vol.9 . halaman 1-4 Gorys Keraf, 1980, Komposisi: sebuah pengantar kemahiran bahasa. Ende, Flores: Arnoldus . Jenning, L.E., 1985. Paradigmatic choices in adult education: from the emperical to the critical. Australian Journal of Adult Education vol 25 No,2, halaman 3-7 John Head, 1986. Research into alternative frameworks: promise and problem. Research in Science & Technological Education. Vol 4 No.2. halaman: 203211 LeCompte, M.D. dan Goetz, J.P., 1982 Problem reliability and validity in ethnographic research. Review of Educational Research. Vol 52. No.1, halaman 31-60 Mahoney, Michael, J. 1975. Experiment meethods and outcome evaluation. Journal of councelling and clinical Psychology. Vol 46. No. 4, halaman 660-672 Peter Reason, (Editor), 1994.. Participation on human inquiry. London: Sage, Rob Walker. 1980. The conduct of educational case studies: ethics, theory and procedures. Di dalam William Bryan Dockrell. Dan Hamilton, D.F., 1982. Rethinking educational research. Kent, UK: Hodder dan Stoughton. Smith, Mary Lee, 1982. Benefits of maturalistic methods in research in science education. Journal of Research in Science Teachig. Vol. 119, No.8, halaman: 627-638 Spektor, Barbara S., 1984. Qualitative research data analysis framework generating grounded theory applicable to the crisis in science education. Journal of Research in Science Teaching. Vol.21 No.5 halaman 459-467. Sutrisno, L., 1990. Remediation of weaknesses in physics concepts. Melbourne, Universitas Monash: disertasi

Sutrisno, L., 1992a. Besar sample. Mimbar Untan tahun 9, No.11&12 Sutrisno, L., 1992b. Validitas dan rancangan percobaan. Makalah untuk pelatihan metode penelitian bagi dosen FKIP UNTAN Sutrisno, L., 1995a. Hak manusia atas perdamaian. Makalah umtuk seminar HAM, Untan, Agustus Sutrisno, L., 1995b. Kelas dengan lab penyelesaian masalah: Makalah untuk Seminar Nasional MIPA, UGM, Agustus Sutrisno, L., 1997. Arah penelitian pendidikan MIPA. Makalah untuk Seminar nasional hasil-hasil penelitian kependidikan dan Lokakarya Lembaga-lembaga penelitian LPTK, IKIP Ujung Pandang Sutrisno, L., 1998. Penelitian partisipatif: model alternatif kegiatan tugas akhir mahasiswa penyetaraan S1Pendidikan MIPA. FKIP Untan Sutrisno, L., 2001. Penelitian kuantitatif. Makalah untuk S2 Ilmu-ilmu sosial. Untan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->