P. 1
Munasabah Al Qur'An

Munasabah Al Qur'An

|Views: 4,912|Likes:

More info:

Published by: Agus Jaya Kholid Saude on Dec 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/08/2013

pdf

text

original

1

MUNASABAH AL-QUR’AN Agus Jaya

A. Pendahuluan Pengumpulan al-Qur’an pada masa Abu Bakar dikarenakan beliau gelisah oleh kenyataan bahwa dalam pertempuran di Yammah, yaitu ‘perang kemurtadan’ (riddah) banyak penghafal al-Qur’an yang mati terbunuh. Karena mereka adalah orang-orang yang menyimpan ayat-ayat al-Qur’an dalam hati mereka, Umar khawatir jika lebih banyak lagi yang gugur, maka ada bagian al-Qur’an yang akan hilang dan tak tertolong lagi. Abu Bakar menugasi Zaid ibn Tsabit untuk melaksanakan tugas itu karena ia merupkan mantan juru tulis Nabi Muhammad. Setelah Abu Bakar wafat penulisan al-Qur’an dilanjutkan oleh sahabat-sahabat Nabi lainnya. (Richard Bell 1998 : 35) Mengenai tertib surat terdapat perbedaan pendapat dikalangan Ulama Salaf, ada yang mengemukakan pendapat bahwa hal itu tauqifi dari Nabi SAW dan ada juga yang berpendapat bahwa hal itu berdasarkan ijtihadi para sahabat. (Ibrahim Al Abyari 1993 : 54) Atas dasar perbedaan pendapat tentang sistematika ini, wajarlah jika masalah korelasi atau persesuaian kandungan Al-Qur’an kurang mendapat perhatian mendalam dari para Ulama yang menekuni Ulumul Qur’an. Oleh karena itu makalah ini berupaya mengetengahkan mengenai munasabah yang mencakup: pengertian munasabah, sejarah perkembangan munasabah, eksistensi munasabah , macammacam munasabah serta urgensi munasabah. B. Pengertian Munasabah Menurut bahasa munasabah berarti al-musyâkalah dan al-muqarabah yang berarti saling munyerupai dan saling mendekati. Dikatakan bahwa si A bermunasabah dengan B, berarti A mendekati atau menyerupai B.

2

Secara etimologis, munasabah menurut Manna Al-Qaththan berarti keterkaiatan antara satu kalimat dengan kalimat lain dalam suatu ayat atau antara ayat dengan ayat atau antara surat dengan surat. (Manna’ Al-Qaththan 1973 : 94). Adapun yang dimaksud dengan munasabah dalam terminologi ahli-ahli ilmu al-Qur’an sesuai dengan pengertian menurut bahasa di atas adalah segi-segi hubungan atau persesuaian al-Qur’an antara bagian demi bagian dalam berbagai bentuk. Dimaksud dengan segi hubungan atau persesuaian disini ialah semua pertalian yang merujuk kepada makna-makna yang mempertalikan satu bagian dengan bagian yang lain. Sedangkan yang dimaksud dengan bagian demi bagian ialah semisal antara kata/kalimat dengan kata/kalimat, antara ayat dengan ayat, antara awal surah dengan akhir surah, antara surah yang satu dengan surah yang lain dan begitulah seterusnya hingga benar-benar tergambar bahwa al-Qur’an itu merupakan satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh.(Amin Suma, 2004: 144) Seperti diingatkan para pujangga dan sastrawan, diantara ciri gubahan suatu bahasa yang layak dikategorikan baik dan indah ialah manakala rangkaian susunan kata demi kata, kalimat demi kalimat, alenia demi alenia dan seterusnya memiliki keterkaitan atau hubungan sedemikian rupa sehingga menggambarkan satu kesatuan yang tidak pernah terputus.(Az-Zarkasyi,1988: 66) al-Qur’an sangat memenuhi persyaratan yang ditetapkan para pujangga itu, mengingat keseluruhan al-Qur’an yang terdiri dari 30 juz, 114 surah, hampir 88.000 kata dan lebih dari 300.000 huruf, itu seperti yang ditegaskan al-Qurthubi (w. 671) laksana satu surat yang tidak dapat dipisah-pisahkan.(Amin Suma, ibid., 145) Satu hal yang patut ditegaskan ialah bahwa kesatuan al-Qur’an terjadi sama sekali bukan karena dipaksakan melainkan bisa dibuktikan melalui hubungan antar bagian dengan bagiannya. Jadi munasabah adalah ilmu yang mempelajari tentang hikmah korelasi urutan ayat al-Quran, atau usaha pemikiran manusia untuk menggali rahasia hubungan antar ayat atau surat yang dapat diterima oleh akal. Melalui ilmu ini diharapkan rahasia Ilahi dapat terungkap dengan jelas yang mampu menjawab sanggahan yang selalu meragukan keberadaan al-Qur’an sebagai wahyu Allah.

3

B. Sejarah Perkembangan Munasabah Tercatat dalam sejarah bahwa Imam Abu Bakar al-Naisaburi (w.324 H) sebagai orang pertama melahirkan ilmu munasabah di Baghdad. Menurut al-Suyuthi (w. 911 H) sebagaimana dikutip oleh Ramli Adbdul Wahid dalam bukunya yang berjudul Ulumul Qur’an, orang pertama yang melahirkan ilmu munasabah adalah Syeikh Abu Bakar al-Naisaburi. Apabila al-Qur’an dibacakan kepadanya, ia bertanya mengapa ayat ini ditempatkan di samping ayat sebelahnya dan apa hikmah surat ini ditempatkan di samping surat sebelahnya. Bahkan ia mencela para ulama Bagdad karena mereka tidak mengetahui ilmu munasabah. (Ramli Abdul Wahid 2002 :91). Ulama yang datang kemudian menyusun pembahasan munasabah secara khusus. Diantara kitab al-Burhân fi Munasabati Tartib Suwar al-Qur’an susunan Ahmad Ibn Ibrahim al-Andalusi (w. 807 H). Menurut pengarang tafsir an-Nur, penulis yang membahas menasabah dengan sangat baik ialah Burhanuddin al-Biqa’I dalam kitab Nazhm ad-Durar di Tanasubi ayatii was Suwar. As-Suyuthi membahas tema munasabah dalam kitab al-Itqan dengan topik khusus yang berjudul Fî Munasabatil Ayat sebelum membahas ayat-ayat musyatabihat. Az-Zarkasyi membahas soal munasabah dalam Burhan dengan topik yang berjudul Ma’rifatul Munasabah bainal Ayati sesudah membahas asbab annuzul. Subhi Shalih memasukkan pembahasan munasabah dalam bagian ilmu asbab an nuzul, meskipun tidak dalam satu pasal tersendiri. Sebaliknya, Sa’id Ramadlan al Buthi tidak membicarakan munasabah dalam buku Min Rawai’il Qur’an. Terdapat beberapa istilah yang dikemukakan para mufassir mengenai munasabah. Ar-Razi menggunakan istilah ta’alluq sebagai sinonimnya. Sayyid Quthub menggunakan lafal irtibath sebagai pengganti kata munasabah. Sedangkan Sayyid Rasyid Ridla menggunakan dua istilah, yaitu al-ittishal dan at-ta’lil. Al-Alusi menggunakan istilah yang hampir sama dengan istilah yang digunakan Sayyid Quthb, yakni tartib. (Ahmad Izzan 2005:189)

4

C. Eksistensi Munasabah Para ulama sepakat bahwa tertib ayat-ayat dalam Al-Qur’an adalah tauqifi (tergantung pada petunjuk Allah dan Nabi-Nya). (Al-Qattan Terj.Mudzakir, 1992: 141) Mengenai tertib surat-surat Al-Qur’an mayoritas ulama berpendapat bahwa tertib surat-surat Al-Qur’an sebagaimana yang dijumpai pada mushhaf yang sekarang adalah tauqifi. Pendapat ini didasarkan atas keadaan Nabi SAW. yang setiap tahun melakukan mu’aradhah (memperdengarkan bacaannya) kepada Jibril AS. Termasuk yang diperdengarkan Rasul itu tertib surat-suratnya. Pada mu’aradhah terakhir, Zaid Ibn Tsabit hadir saat Nabi membacakan ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan tertib surat yang sama kepada kita jumpai sekarang. Adapun sebagian ulama memandang tertib ayat-ayat al-Qur’an masuk dalam masalah ijtihad. Pendapat ini didasarkan atas beberapa alasan. Pertama mushaf pada catatan para sahabat tidak sama. Kedua, sahabat pernah mendengar Nabi membaca alQur’an berbeda dengan tertib surat yang terdapat dalam al-Qur’an. Ketiga adanya perbedaan pendapat dalam masalah tertib surat al-Qur’an ini menunjukkan tidak adanya petunjuk yang jelas atas tertib yang dimaksud. Selain itu ada pula yang berpendapat bahwa sebagiannya tauqifi dan lainnya ijtihadi. Pendapat ini juga mengajukan beberapa alasan. Menurut pendapat ini, tidak semua nama surat alQur’an diberikan oleh Allah, tetapi sebagian diberikan oleh Nabi SAW. dan lainnya diberikan oleh para sahabat. Usman pernah ditanya mengapa surat Al-Baqarah tidak dimulai dengan basmalah. Ia menjawab bahwa ia melihat isinya sama dengan surat sebelumnya, surat Al-Anfal. Nabi tidak sempat menjelaskan tempat surat tersebut sampai wafatnya. Karena itu, saya-kata usman-meletakkannya setelah surat Al-Anfal. Meski ketiga pendapat diatas memiliki alasan, tetapi alasan-alasan yang dikemukankan itu tidak semuanya memiliki tingkat keabsahan yang sama. Alasan pendapat yang mengatakan tertib surat sebagai ijtihadi tampak tidak kuat. Riwayat tentang sebagian sahabat pernah mendengar Nabi membaca Al-Qur’an berbeda dengan tertib mushaf yang sekarang dan adanya cacatan mushaf sahabat yang berbeda bukanlah riwayat mutawatir. Tertib mushhaf sekarang berdasarkan khabar

5

mutawatir. Kemudian, tidak ada jaminan bahwa semua sahabat yang memiliki catatan mushaf itu hadir bersama Nabi setiap saat turun ayat al-Qur’an. Karena itu, kemungkinan tidak utuhnya tertib mushaf sahabat sangat besar. Demikian juga alasan pendapat yang mengatakan sebagian surat tauqifi dan sebagian lainnya ijtihadi tidak kuat. Keterangan bahwa Nabi tidak sempat menjelaskan letak surat Al-Baraah sehingga Usman menempatkannya setelah surat Al-Anfal adalah riwayat yang lemah, baik dari segi sanad maupun matan. Sebab periwayat, Yazid pada sanadnya dinilai majhul oleh Al-Bukhari dan Ibn Katsir. Dari segi matan juga riwayat ini lemah karena Nabi wafat tiga tahun setengah setelah turunnya surat Al-Baraah. Tentunya dalam rentang waktu demikian panjang sulit dibayangkan Nabi tidak sempat menjelaskan letak sebuah surat, sedangkan Nabi setiap tahun membacakan Al-Qur’an kepada Jibril. Sementara itu riwayat tentang mu’aradhah Nabi akan bacaanya kepada Jibril setiap tahun adalah riwayat yang shahih. Karena itu, pendapat mayoritas lebih kuat dari kedua pendapat lainnya. (Ramli Abdul Wahid 2002 : 92) Izzudin bin Abdus Salam (577-660 H) yang mewakili sebagian ahli ilmu-ilmu al-Qur’an masa klasik, Manna’ al-Qathan dan Shugbi as-Sholih yang mewakili ahli ilmu-ilmu al-Qur’an kontemporer yang tidak menyetujui pemaksaan ilmu munassabah untuk seluruh ayat-ayat al-Qur’an. Dengan argumentasi karena selain ayat-ayat al-Qur’an diturunkan dalam rangka menjawab pertanyaan dan kasus yang berbeda-beda, disamping pewahyuan al-Qur’an itu sendiri yang memakan waktu lama. Lalu bagaimana merangkai ayat al-Qur’an SWT dengan banyak hal yang dibicarakan dan juga memerlukan waktu yang tidak sedikit.(Al-Qathan, 1973: 98) Akan tetapi menurut sebagian ulama tetap berkeyakinan bahwa hubungan alQur’an antara bagian demi bagian dan ayat demi ayat serta surat demi surat pasti dapat ditelusuri. Karena az-Zarkasyi juga mengatakan bahwa munasabah tergolong ke dalam yang bersifat rasional dan akan terjangkau oleh akal manakala diserahi tugas itu. Berbagai hubungan antara pembuka-pembuka surat dan penutuppenutupnya, demikian pula dengan perujukan kepada makna apa pun yang menghubungkan antara keduanya; apakah itu berdasar pendekatan ‘am dan khas, aqli

6

maupun hissi dan bahkan hayali serta hubungan-hubungan yang lain-lainnya. Bisa juga dilakukan dengan pendekatan hubungan saling keterkaitan yang bersifat penalaran, sebagaimana hubungan sebab-musabbab, illat dan ma’lul, an-nazhirain dan lain-lain.(Az-Zarkasyi, 1988: 65) Terlepas dari kontropersi pendapat tentang keberadaan munasabah, ilmu ini termasuk yang kurang mendapat perhatian dari para mufassir. Buku-buku Ulumul Qur’an, terutama buku-buku dalam bahasa Indonesia janrang memuat bahasan ini. Sebab, ilmu munasabah-sebagaimana ditegaskan oleh al-Suyuthi –termasuk ilmu yang rumit. D. Macam-macam Munasabah a. Macam-macam Sifat Munasabah Ditinjau dari segi sifatnya munasabah atau keadaan persesuaian dan persambungannya, maka munasabah itu ada dua macam, yaitu: 1. Persesuaian yang nyata (Dzaahirul Irtibath) atau persesuaian yang tampak jelas, yaitu persesuaian antara bagian al-Qur’an yang satu dengan yang lain tampak jelas dan kuat, kerena kaitan kalimat yang satu dengan yang lain erat sekali sehingga tidak bisa menjadi kalimat yang sempurna, jika dipisahkan dengan kalimat yang lain. Maka deretan beberapa ayat yang menerangkan sesuatu materi itu kadang-kadang ayat yang satu itu berupa penguat, penafsir, penyambung, penjelasan, pengecualian atau pembatasan dari ayat yang lain, sehingga semua ayat-ayat tersebut tampak sebagai satu kesatuan yang sama. Contohnya, seperti persambungan antara ayat 1 surah Al-Isra:

Artinya: “ Maha Suci Allah, yang memperjuangkan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.” (al-Isra’: 1)

7

Ayat tersebut menerangkan Isra’ Nabi Muhammad SAW. selanjutnya, ayat 2 surah Al-Isra tersebut yang berbunyi: Artinya: “Dan kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israel.” (al-Isra’ : 2) Ayat yang pertama berbicara tentang perjalanan isra’ Nabi Muhammad Saw; sedangkan ayat kedua berbicara tentang penurunan Taurat kepada Musa. Segi penghubungnya, kata az-Zarkasyi, pada ayat pertama, Allah menampilkan hal yang ghaib (perjalanan isra’), kemudian diikuti informasi serupa (sama-sama ghaib) berkenaan dengan hal yang terjadi di masa lampau guna memperkuat kebenaran mukjizat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang selain Nabi Muhammad Saw yakni mukjizat nabi Musa As. Jadi, Allah mengibaratkan nabi Muhammad Saw sebagaimana nabi Musa juga pernah di-isra’kan Allah dari Mesir ke Palestina (alBaqarah 49-50, al-Anfal 54, Yunus 90, al-Isra’ 103, as-Syu’ara 65-67), beserta bala tentaranya dalam suasana yang sangat mencekam dan menakutkan.(Az-Zarkasyi, 1988: 69) 2. Persambungan yang tidak jelas (Khafiyyul Irtibadh) atau samarnya persesuaian antara bagian Al-Qur’an dengan yang lain, sehingga tidak tampak adanya pertalian untuk keduanya, bahkan seolah-olah masing-masing ayat / surah itu berdiri sendirisendiri, baik karena ayat yang satu itu diathafkan kepada yang lain, atau karena yang satu bertentangan dengan yang lain. Contohnya, seperti hubungan antara ayat 189 surah al-Baqarah dengan ayat 190 surah Al-Baqarah. Ayat 189 surah Al-Baqarah tersebut berbunyi:

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan tsabit. Katakan-lah, bulan tsabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah)haji.”

8

Ayat tersebut menerangkan bulan tsabit / tanggal-tanggal untuk tanda-tanda waktu dan untuk jadwal ibadah haji. Sedangkan ayat 190 surah Al-Baqarah berbunyi:

Artinya: “Dan perangilah di jalam Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas.” Ayat tersebut menerangkan perintah menyerang kepada orang-orang yang menyerang umat Islam. Sepintas, antara kedua ayat tersebut seperti tidak ada hubungannya atau hubungan yang satu dengan yang lainnya samar. Padahal sebenarnya ada hubungan antara kedua ayat tersebut, yaitu ayat 189 surah al-Baqarah menerangkan: Sebenarnya, waktu haji itu umat Islam dilarang berperang, tetapi jika ia diserang lebih dahulu, maka serangan-serangan musuh itu harus dibalas, walaupun pada musim haji. ( Abdul Djalil 1998 : 157). b. Macam-macam Materi Munasabah Ditinjau ari segi materunya, maka munasabah itu ada dua macam, sebagai berikut: 1. Munasabah antar surah, yaitu munasabah antara surah yang satu dengan surah yang lain. Munasabah ini ada beberapa bentuk, sebagai berikut: a. Munasabah antara dua surah dalam soal materinya, yaitu materi surah yang satu dengan materi surah yang lain. Contohnya, seperti surah kedua Al-Baqarah sama dengan isi surah yang pertama Al-Fatihah. Keduanya sama-sama menerangkan 3 hal kandunagn Al-Qur’an, yaitu masalah akidah, ibadah, muamalah, kisah dan janji serta ancaman. Dalam surah Al-Fatihah semua itu diterangkan secara ringkas, sedang dalam surah AlBaqarah dijelaskan dan dirinci secara panjang lebar. b. Persesuaian antara permulaan surah dengan penutupan surah sebelumnya. Sebab semua pembukaan surah itu erat sekali kaitannya dengan akhiran dari surah sebelumnya, sekalipun sudah dipisah dengan basmalah.

9

Contohnya, seperti awalan dari surah Al-An’am yang berbunyi: Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi.” Awalan surah Al-An’am tersebut sesuai dengan akhiran surah Al-Maidah yang berbunyi: Artinya: “Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi dan apa ayng ada didalmnya dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” c. Munasabah terjadi pula antara awal surah dengan akhir surah. Contohnya ialah apa yang terdapat dalam surah Qasas. Surah ini dimulai dengan menceritakan Musa, menjelaskan langkah awal dan pertolongan yang diperolehnya; kemudian menceritakan perlakuannya ketika ia mendapatkan dua orang laki-laki sedang berkelahi. Allah mengisahkan doa Musa: Artinya:“Musa berkata: ‘Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.’” (al-Qasas 28:17) Kemudian surah ini diakhiri dengan menghibur Rasul bahwa ia akan keluar dari Mekah dan dijanjikan akan kembali lagi ke Mekah serta melarangnya menjadi penolong bagi orang-orang yang kafir:

Artinya:“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (untuk melaksanakan hukumhukum) Qur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ketempat kembali (yaitu kota Mekah). Katakanlah: ’Tuhanku mengetahui arang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata.’ Dan kamu tidak pernah mengharap agar Qur’an diturunkan kepadamu, akan tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat besar dari Tuhanmu,

10

oleh sebab itu janganlah sekali-kali menjadi penolong bagi orang kafir.” (al-Qasas 28 : 85-86). (Al-Qattan Terj. Mudzakir 1992: 144) 2. Munasabah Antara Ayat dengan Ayat Dalam Satu Surat Munasabah ini bisa berbentuk persambungan-persambungan, sebagai berikut: a. Diathafkannya ayat yang satu kapada ayat yang lain, seperti munasabah antara ayat 103 surah Ali-Imran:

Artinya:“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.” Dengan ayat 102 surah Ali-Imran:

Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” Faedah dari munasabah dengan athaf ini ialah untuk menjadikan dua ayat tersebut sebagai dua hal yang sama (An-Nadziiraini). Ayat 102 surah AliImran menyeruh bertaqwa dan ayat 103 surah Ali-Imran menyuruh berpegang teguh kepada agama Allah, dua hal yang sama. b. Tidak diathafkannya ayat yang satu kepada yang lain, seperti munasabah antara ayat 11 surah ali-Imran: Artinya: “(Keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya, mereka mendustakan ayat-ayat Kami.”

11

Dengan ayat 10 surah Ali-Imran:

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka sedikit pun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itulah bahan bakar api neraka.” Dalam munasabah ini, tampak hubungan yang kuat antara ayat yang kedua (ayat 11 surah Ali-Imran) dengan ayat yang sebelumnya (ayat 10 surah AliImran), sehingga ayat 11 surah Ali-Imran itu dianggap sebagai bagian kelanjutan dari ayat 10 surah Ali-Imran. c. Digabungkannya dua hal yang sama, seperti persambungan antara ayat 5 surah Al-Anfal: Artinya: “Sebagaimana Tuhanmu menyeruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman tidak menyukainya.” dengan ayat 4 surah Al-Anfal:

Artinya: “Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” Kedua ayat itu sama-sama menerangkan tentang kebenaran. Ayat 5 surah AlAnfal itu menerangkan kebenaran bahwa Nabi diperintah hijrah dan ayat 4 surah Al-Anfal tersebut menerangkan kebenaran status mereka sebagai kaum mukminin.

12

d. Dikumpulkannya dua hal yang kontradiksi (Al-Mutashaddatu). Seperti dikumpulkan ayat 95 surah Al-A’raf:

Artinya: “Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: “Sesungguhnya nenek moyang kami pun telah merasakan pernderitaan dan kesenangan.” Dengan ayat 94 surah Al-A’raf:

Artinya : “Kami tidaklah mengutus seseorang nabi pun kepada suatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu) melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tuduk dengan merendahkan diri.” Ayat 94 surah Al-A’raf tersebut menerangkan ditimpakannya kesempitan dan penderitaan kepada penduduk, tetapi ayat 95 surah Al-A’raf menjelaskan kesusahan dan kesempitan itu diganti dengan kesenangan. e. Dipindahkannya satu pembicaraan ayat 55 surah Shaad: Artinya:“Beginilah (keadaan mereka). Sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka, benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk.” Dialihkan pembicaraan kepada nasib orang-orang yang durhaka yang benar-benar akan kembali ke tempat yang buruk sekali, dan pembicaraan ayat 54 surah Shaad yang membicarakan rezeki dari para ahli surga:

Artinya : “Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari Kami yang tiada habis-habisnya.”

13

3. Munasabah antara nama surat dengan kandungannya Nama-nama surat yang ada di dalam al-Qur’an memiliki kaitan dengan pembahasan yang ada pada isi surat. Surat al-Fatihah disebut juga umm al-kitab karena memuat berbagai tujuan al-Qur’an. 4. Munasabah antara Penutup Ayat dengan Isi Ayat Munasabah di sini bisa bertujuan: a. Tamkin (peneguhan). Misalnya:

Artinya: “Dan Allah menghalau orang-orang kafir yang keadaan mereka penuh kejengkelan, mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari perperangan. Dan Allah adalah Maha Kuasa lagi Maha Perkasa. (QS. Al-Ahzab 33 : 25) Sekiranya ayat ini terhenti pada, “Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari perperangan,” niscaya maknanya bisa dipahami orang-orang lemah sejalan dengan pendapat orang-orang kfir yang mengira bahwa mereka mundur dari perang karena angin yang kebetulan bertiup. Padahal bertiupnya angin bukan suatu yang kebetulan, tetapi atas rencana Allah mengalahkan musuh-musuh-Nya dan musuh kaum Muslim. Karena itu, ayat ini ditiup dengan mengingatkan kekuatan dan kegagahan Allah SWT menolong kaum Muslim. (Rosihan Anwar 2000 : 92) b. Tashdir (pengembalian). Misalnya: Artinya:“Dan mereka memikul dosa-dosa mereka di atas punggung mereka. Ingatlah amat buruk apa yang mereka pikul itu.” (QS. Al-An’am 6 : 31) Ayat ini ditutup dengan kata dalam ayat tersebut. untuk membuatnya sejenis dengan kata

14

c. Tausyih (hikmah). Misalnya:

Artinya: “Satu tanda (kekuasaan Allah) bagi mereka adalah malam. Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka tiba-tiba mereka berada dalam kegelapan.” (QS. Yasin 36 : 37) Dalam permulaan ayat ini terkandung penutupnya. Sebab, dengan hilangnya siang akan timbul kegelapan. Ini berarti bahwa kandungan awal ayat telah menunjukkan adanya hikmah dibalik kejadian tersebut. d. Ighal (penjelasan tambahan dan penajaman makna). Misalnya:

Artinya:“Sesungguhnya, kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati mendengar dan tidak pula orang-orang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang.” (QS. Al-Naml 27 : 80) Kandungan ayat ini sebenarnya sudah jelas sampai kata al-du’a (panggilan). Akan tetapi, untuk lebih mempertajam dan mempertandas makna, ayat itu diberi sambungan lagi sebagai penjelas tambahan. E. Urgensi Munasabah Pengertian tentang munasabah al-Qur’an terutama bagi seorang mufasir urgen. Di antaranya adalah sebagai berikut. 1. Mengetahui persambungan / hubungan antara bagian al-Qur’an, baik antara kalimat-kalimat atau ayat-ayat maupun surah-surahnya yang satu dengan yang lain sehingga lebih memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab alQur’an dan memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatannya. Karena itu, Izzuddin Abd. Salam mengatakan bahwa ilmu munasabah itu adalah ilmu yang baik sekali. Ketika menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat

15

yang lain, beliau mensyaratkan harus jatuh pada hal-hal yang betul-betul berkaitan, baik di awal ataupun di akhirnya.(Az-Zarkasyi, 1988: 65) 2. Mempermudah pemahaman al-Qur’an. Misalnya ayat enam dari surat AlFatihah yang artinya, “Tujukilah kami kepada jalan yang lurus” disambung dengan ayat tujuh yang artinya, “Yaitu, jalan orang-orang yang Engkau anugerahi nikmat atas mereka. “Antara keduanya terdapat hubungan penjelasan bahwa jalan yang lurus dimaksud adalah jalan orang-orang yang telah mendapat nikmat dari Allah SWT. 3. Menolak tuduhan bahwa susunan al-Qur’an kacau. Tuduhan misalnya muncul karena penempatan surat al-Fatihah pada awal Mushhaf sehingga surat inilah yang pertama dibaca. Padahal, dalam sejarah, lima ayat dari surat al-‘Alaq sebagai ayat-ayat pertama turun kepada Nabi SAW. akan tetapi, Nabi menetapkan letak al-Fatihah di awal Mushhaf yang kemudian disusul dengan surat al-Baqarah. Setelah didalami, ternyata dalam urutan ini terdapat munasabah. Surat al-Fatihah mengandung unsur-unsur pokok dari syariat Islam dan pada surat ini termuat doa manusia untuk memohon petunjuk ke jalan yang lurus. Surat al-Baqarah diawali dengan petunjuk al-Kitab sebagai pedoman menuju jalan uang lurus. Dengan demikian, surat al-Fatihah merupakan titk bahasan yang akan diprinci pada surat berikutnya, al-Baqarah. Dengan mengemukakan munasabah tersebut, ternyata susunan ayat-ayat dan surat-surat Al-Qur’an tidak kacau melainkan mengandung makna yang dalam. (Ramli Abdul Wahid, 2002 :95) 4. Dengan ilmu munasabah itu, dapat diketahui mutu dan tingkat ke-balaghahan bahasa al-Qur’an dan konteks kalimat-kalimatnya yang satu dengan yang lain, serta persesuaian ayat / surahnya yang satu dari yang lain, sehingga lebih menyakinkan kemukjizatannya, bahwa al-Qur’an itu benar-benar wahyu dari Allah SWT dan bukan buatan Nabi Muhammad SAW. karena itu, Abdul Djalal dalam bukunya menambahkan Imam Fakhruddin al-Razi (Abdul Djalal, 2000: 164) mengatakan kebanyakan keindahan-keindahan al-Qur’an terletak pada

16

susunan dan penyesuaiannya, sedangkan susunan kalimat yang paling bersetara adalah saling berhubungan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya. Sebagaimana yang dinyatakan oleh ahli ulumul Qur’an diantaranya adalah Abu Bakar bin al-Arabi, Izzuddin bin Abdus-Salam bahwa ilmu munasabah adalah ilmu yang baik (ilmun hasanun), ilmu mulia (ilmun syarifun), ilmu yang agung (ilmun adzimun). Dari semua julukan ini menandakan bahwa ilmu munasabah mendapat tempat dan penghargaan yang cukup tinggi atau peran yang cukup signifikan dalam memahami dan menafsirkan al-Qur’an. Sehingga az-Zarkasyi berpendapat bahwa ilmu ini dapat dijadikan tolak ukur untuk mengetahui kecerdasan seorang mufassir. (Az-Zarkasyi, 1988: 62) Kedudukan ilmu ini semakin terasa kebutuhannya manakalah seseorang menafsirkan al-Qur’an menggunakan metode tafsir al-maudhu’i (tematik) atau almuqaran (komparasi), karena metode ini memperhatikan keterkaitan (munasabah) antara ayat yang berbicara tentang masalah yang sejenis. (Az-Zarkasyi, 1988: 63) Berlainan dengan ilmu asbabun-nuzul yang digolongkan kedalam ilmu sima’i dan karenanya maka bersifat naqli (periwayatan), maka ilmu munasabah digolongkan ke dalam kelompok ilmu-ilmu ijtihadi yang karenanya bersifat penalaran. Sebagai ilmu ijtihadi ilmu ini sangat berpeluang untuk dikembangkan dalam upaya memperkaya dan memperkuat penafsiran al-Qur’an, yaitu dengan cara mencari hubungan antara ayat-ayat al-Qur’an dari berbagai aspeknya.(Amin Suma, 2004: 148) SIMPULAN Munasabah ialah cabang dari ilmu Ulumul Qur’an yang membahas persesuaian atau korelasi antara ayat dengan ayat atau surah dengan surah maupun surah dengan ayat didalam al-Qur’an. Terlepas dari kontropersi tentang keberadaan munasabah yang kurang mendapat perhatian dari para muffasir, penulis sangat tertarik karena mempelajari munasabah dapat mempermudah memahami dan memaknai hal-hal yang tersirat didalam al-Qur’an sehingga bagian-bagian dari al-Qur’an nampak saling

17

berhubungan menjadi satu rangkaian yang utuh selain itu juga dapat mempertebal keyakinan dan keimanan kita akan Kebesaran Illahi. DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’an Karim Al-Abyari, Ibrahim 1993. Sejarah al-Qur’an. Bina Utama, Semarang. Al-Qathathan, Manna’ 1973. Mabahits fi Ulum al-Qur’an. Al-Syarikah al-Muttahid li al-Tauzi, Beirut. Anwar, Rosihan 2000. Ulumul Qur’an. Pustaka Setia, Bandung. Az-Zarkasyi 1988. Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an. Darul Mathabah, Beirut. Bell, Richard 1998. Pengantar Qur’an. INIS, Jakarta. Djajal, Abdul 1998. Ulumul Qur’an. Dunia Ilmu, Surabaya. Izzan, Ahmad 2005. Ulumul Qur’an Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas alQur’an. Tafakur, Bandung. Halimuddin 1993. Pembahasan Ilmu al-Qur’an. Rineka Cipta, Jakarta. Mudzakir, AZ. 1992. Studi Ilmu-ilmu Qur’an. Lintera Antar Nusa, Jakarta. Suma, Muhammad Amin 2004. Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an. Pustaka Firdaus, Jakarta. Wahid, Ramli Abdul 1992. Ulumul Qur’an Edisi Revisi. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

18

Rijalul Hadits dan Karakteristik Periwayatannya

Pengertian Rijalul Hadits

19

Rijal al-Hadits berasal dari bahasa Arab rijal dan al-Hadits. Rijal jamak dari rajul yang berarti seorang pria. Namun, dalam konteks ilmu hadits lafadz rajul atau dalam bentuk jamak rijal bermakna seorang tokoh. Kemudian istilah rijal ini digunakan dalam kajian hadits secra khusus, bahkan terdapat ilmu tersendiri yang membahasa rijal al-hadits. Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Ilmu Rijal alHadits adalh ilmu yang membicarakan perihal tokoh atau orang yang membawa hadits semenjak dari Nabi hingga periwayatan terakhir. Menurut Hasbi Ash Shikddieqy, rijalul al-Hadits ialah ilmu yang membahas para perawi hadits, baik dari sahabat, dari tabi’in, maupun dari perangkat sesudahnya Tentang ilmu rijal al-hadits, beberapa ulama memberikan makna sekaligus cakupan yang dibahas di dalamnya. Diantaranya ‘Ajjaj al-Khatib yang

mengemukakan bahwa ilmu rijal al-hadits merupkan ilmu yang sangat penting. Dengan suatu alasan bahwa cakupan ilmu hadits meliputi sanad dan matan. 1. Kedudukan Rijal dalam Hadits Nabi Sebagaimana telah dikemukakan dalam uraian diatas, kedudukan rijal alhadits sebagai unsur dari sanad amat menentukan. Tanpa adanya rijal al-hadits maka tidak terdapat sanad di dalamnya; demikian pula tidak adanya sanad dalam suatu periwayatan menjadikannya tertolak, atau setidak-tidaknya diragukan secara pasti sebagai seuatu periwayatan yang datang dari Rasulullah Saw. Ilmu Rijal al-hadits sering pula disebut dengan ilm ǐlm miza al-rijal yang juga dinyatakan sebagai tonggak ilmu al-Sunnah yang dapat menentukann atau memilih sutau hadits shahih dan hadits-hadits dlai’f, hadits yang diterima (maqbul) dari hadis

20

yang bertolak (mardud). Oleh karenanya membicarakan tentang nilai kecacatan dan keadilan seorang rawi (al-jarh wa al ta’dl) hukumnya wajib bagi tipa mukmin, setidak-tidaknya fardlu Kifayah. Dari uraian diatas tampaknya yang menjadi titik persoalan dalam ilmu ini berpokus pada sejarah kehidupan para tokoh hadits dalam rangkaian sanad, yang meliputi masa kelahiran dan wafatnya; negeri asal dan negeri tempat pengembara (rihlah) dalam menuntut ilmu (khususnya hadits); kepadas siapa memereka memperoleh hadits tersebut serta beberapa hal yang dikaitkan dalam periwayatan hadits lainnya. Secara umum ilmu rijal al-hadits ini terbagi ke dalam dua bagian, yaitu 'ilm tarikh al-ruwah sebagai bagian pertama, yaitu ilmu yang mencoba mengenalkan para rawi hadits dari aspek yang berkaitan dengan periwayatan mereka terhadap hadits tersebut. Adapun bagian kedua, yaitu 'ilm al-jarh wa al ta'dil, merupakan ilmu yang membahas hal ihwal para perawi dari segi diterima atau ditolaknya. Memperhatikan definisi diatas, maka ilmu tarikh al-ruwat mencakup penjelasan tentang keadaan para perawi, sejarah kelahiran mereka, wafatnya gurugurunya, perjalanan-perjalanan ilmiah yang mereka lakukan, sejarah kedatangannya ke negeri yang berbeda-beda masa berlangsungnya, sebelum ataupun sesudah mengalami kekacauan pikiran serta penjelasan-penjelasan lain yang memiliki kaitan erat dengan persoalan-persoalan hadits. Adapun ilmu al-jarh wa al-ta'dil di dalamnya mencakup pembahasan tentang penilaian beberapa kritikus rijak al-hadits penilaian positif (ta'dil) maupun penilaian

21

negatif (tajrih) melalui lafadz-lafadz tertentu dengan beberapa kandungan atau tingkatan penilaian di dalamnya. Adapun ilmu ini menjadi pokus utama telaah rijal al-hadits. Sebab, upaya mengetahui kualitas para rawi hadits dalam suatu mata rantai periwayatan (isnad) melalui kritik (naqd) ulama mutlak dilakukan untuk mengetahui kredibilitas seorang rawi. Dengan ilmu ini pulalah seorang rawi dinyatakan 'adil atau tidaknya dan dengannya pula seorang rawi dinyatakan dhabith atau tidaknya.

2. Syarat Rijal Hadits Yang dimaksud syarat rijal hadits adalah syarat bagi rijal hadits yang diterima periwayatannya atau disebut dengan riwayat yang shahih. Dengan demikian, syarat rijal hadits tidak dapat dipisahkan dari persyaratan riwayat atau hadits yang shahih. Ada lima komponen persyaratan suatu hadits dianggap shahih menurut jumhur ulama, antara lain: Pertama, bersambung sanadnya; Kedua, diriwayatkan oleh orang yang 'adil; ketiga, diriwayatkan oleh rawi yang dhabith; keempat, terhindar dari syududz; dan kelima, terhindar dari 'illat. Untuk mengetaui sekaligus menetapkan seorang rawi dinyatakan 'adil dapat dilakukan melalui; 1) popularitas keutamaan periwayat di kalangan ulama hadits; 2) Penialaian dari para kritikus periwayat hadits; 3) penerapan kaedah al-jarh wa alta'dil. Sementara untuk menetapkan seorang rawi itu dhabith dilakukan melalui; 1) kesaksian ulama; 2) kesusuaian riwayatnya dengan riwayat yang disampaikan oleh periwayat lain yang telah dikenal ke-dhabith-annya; 3) kesalahan sesekali masih

22

dapat dinyatakan dhabith tetapi bila sering kali maka tidak dapat disebut lagi sebagai seorang rawi yang dhabith. Dari persyaratan yang dikehendaki di atas, tampaknya ilmu rijal al-hadits yang meliputi ilmu tarikh al-ruwat dan ilmu al-jarh wa al- ta'dil memiliki kompetensi yang tinggi untuk menentukan suatu sanad hadits itu berkriteria shahih. Lebih khusus lagi peran kritikus hadits sebagai penilai para rijal al-hadits sangat emnentukan tingkat kualitas seorang rawi tersebut disamping memperhatikan unsurunsur kaedah periwayat 'adil dan dhabith juga memperhatikan pila kritikus hadits. B. Kritik Rijal Istilah kritik mengambil makna dari Arab al-naqd yang secara bahasa memiliki pengertian sama dengan al-tanqad yaitu meneliti seksama, menempatkan secara khusus uang asli dan menyingkirkan uang palsu darinya. Sedangkan naqadtu fulanan berarti meneliti seseorang atau mengujinya pada perkara tertentu. Memperhatiakn pengertian di atas, nampaknya makna naqd telah memiliki kejelasan terutama penggunaan pada umumnya, yaitu mencakup setiap pengungkapan sesuatu dan memeriksanya atau menentukan yang baik dan yang rusak dan seterusnya. Para ulama telah memberikan suatu definisi bagi ilmu naqd al-hadits sebagai penilaian terhadap seorang rawi dengan sifat-sifat yang mencatat (tajrih) atau memujinya (ta'dil) melalui lafadz-lafadz tertentu yang mengandung kaedah atau ketentuan-ketentuan yang dapat dipahami dan dimengerti oleh ahlinya dalam rangka memberikan pertimbangan untuk men-shahih-kan, meng-hasan-kan ataupun mendla'if-kan suatu hadits.

23

Upaya menilai hadits kemudian disebut dengan istilah kritik hadits yang mencakup kritik sanad (naqd al-sanad) dan kritik matam (naqd al-matan). Kritik sanad sering diistilahkan dengan kritik rijal (naqd al-rijal) atau dalam ilmu sejarah disebut dengan kritik ekstern (naqd al-khariji), sementara kritik matan sering disebut pula dengan kritik materi (naqd al-nashi) atau kritik intern ((naqd al-dakhili). 1. sejarah tumbuhnya kritik rijal hadits secara garis besar perjalanan kritik hadits timbuh melalui tahapan-tahapan yang paling sedehana hingga mencapai tahapan sempurna sebagai bagian dari ilmu pemahaman hadits (fiqh al-hadits) antara lain : 1. Tahap pelacakan akan kepastian suatun khabar (hadits), hal mana proses kritis ini terjadi pada masa Rasulullah dalam bentuk mempertanyakan suatu khabar yang mereka peroleh kepada Rasulullah atau kepada mereka yang secara langsung mendengar berita tersebut dari Rasulullah . 2. Tahap kehati-hatian para sahabat dalam menerima serta menyampaikan suatu hadits. Upaya ini dilakukan untuk mengkritisi hadits yang mereka terima dari seorang sahabat dan untuk dapat diakui sebagai berita yang datang dari Rasulullah, harusnya disertai saksi lainnya.disamping mereka sangat berhati-hati dalam menyapaikan suatu riwayat; meminimalisasi periwayatan; menyampaikan kepada muidnya secara proporsional dengan menjaga netralitas pemikiran juga mengoreksi makna matan dan mempertanyakan keberadaan daya hafal rijal (sejak ini pula dapat dinyatakan sebagai embrio munculnya kritik rijal al-hadits).

24

3. Tahap koreksi makna hadits, hal mana sikap kritis ini sejak masa sahabat. Khususnya 'Aisyah yang dianggap paling banyak melakukan kritik model ini pada masanya, sebagaiman catatan yang dihimpun Badr al-Din al-Zakasi dalam kitabnya al-Ijabah li iradah ma istadrakathu 'Aisyah 'ala al-Shahabah 4. Tahap kritik rawi dari sisi dhabith serta pemeliharaan rawi terhadap kompleksitas matan, dalam hal ini mencakup kritik terhadap rawi kaitannya dengan keadilan dan ke-dhabit-annya, sehingga diperoleh kejelasan seorang rawi itu dhabith, 'Adil, wahm, dhai'f dan sebagainya. 5. Tahap penelitian sifat keadilan seorang rawi, hal ini mencul bersama timbulnya intrik politik di saat terbunuhnya 'Utsman. Akibat intrik politik yang memasuki areal pengajaran agama inilah menjadikan netralitas seorang rawi hadits diragukan, disebabkan dengan semakin menonjolnya sektarianisme pada masa itu. Pada tahap ini kritik rijal mulai menyusun kaedah jeadilan seorang rawi. 6. tahap pelacakan jalur sanad, upaya kritik melalui pelacakan jalur sanad ini timbul sebagai akibat meraknya kebohongan, di samping rasa keingintahuan dalam melacakjalur periwayatan setelah sekian lama tersebar luas ke berbagai wilayah serta dari masa sahabat hingga generasi abad ke-3 H. menjadikan jalur sanad hadits sebagai sesuatu yang harus dalam suatu hidits, tanpanya suatu hadits tertolak secara tegas. Pada tahap ini kritik rijal memperoleh obyek yang semakin jelas dengan disyaratkannya sanad hadits bagi setiap hadits. 7. Tahap pembentukan ilmu al-Jarh wa al-Ta'dil. Ilmu ini merupakan kaedah khusus bagi ulama dalam melakukan kritik terhadap para rawi. Ilmu ini mencapai

25

kesempurnaan-nya pada pertengahan abad II H. yaitu dengan munculnya kelompok pemula dari kalangan kritikus hadits masa Atba' al-Tabi'in seperti Imam Malik bin Anas, Syu'bah bin al-Hajjaj, Sufyan al-Tsauri dan lainnya. Pada tahap ini kritik rijal semakin jelas sebagai ilmu tersendiri dalam wacana ilmu hadits dengan adanya metode serta kaedah yang dibakukan dalam rangka mengkritisi seorang rawi. 8. Tahap berikutnya adalah pembahasan tentang kecacatan sutau hadits (ilmu 'ilal al-hadits), di mana ilmu ini saat itu merupakan salah satu cabang ilmu kritik hadits sebagai sisi lain dari ilmu al-jarh wa al-ta'dil. Ilmu ini ('ilal al-hadits) dalam penerapannya bisa pada sanad juga pada matan hadits. Seperti pada sanad hadits, kecacatan rawi akan memunculkan hadits-hadits munkar, maqlub dan sebagainya, sementara pada matan memunculkan hadits mudhtharib, mudraj dan sebaginya. 9. Tahap terbaru dari kritik makna hadits, yaitu menolak adanya pertentangan dua matan hadits serta memberikan jalan keluar dengan membuang kemusykilan di dalamnya. Tahap ini mencakup beberapa pembahasan ilmu di antaranya 'ilmu Mukhtalif al-Hadits, 'ilmu al-Nasikh wa al-Mansukh, 'ilmu Asbab al-Wurud alHadits dan sebagainya. 10 Tahap kritik kebahasaan hadits yang di dalamnya memuat penafsiran terhadap kejanggalan (gharib) pada matan hadits, di sampaing itu meluruskan beberapa pergeseran huruf ataupun harakat pada teks yang menyebabkan kejanggalan pada makna atau al-Tashhif.

26

11. Sebagai tahap terakhir kritik hadits adalah penjelasan ataupun perincian terhadap pemahaman suatu hadits secara keseluruhan khususnya yang terkait dengan subtansi suatu hadits yang dikenal dengan fiqh al-hadits. Adapun perawi yang tidak dikenal (al-Majhul) menurut ahli hadits minimal untuk menghilangkan “jahalah” (tidak dikenal seorang perawi) adalah adanya dua orang yang meriwayatkan dari perawi yang bersangkutan, atau lebih. Dengan hal ini maka hilanglah sebutan “jahalah” terhadap dirinya dan tetaplah sifat adilnya. Bagi perawi yang Mastur (tidak dikenal Jal-ihkwalnya), menurut mayoritas ulama tidak bisa dinilai secara tegas diterima atau ditolak riwayatnya, tetapi harus ditangguhkan sampai keadaanya menjadi jelas. Bila seorang perawi adil meriwayatkan dari seorang perawi lain tanpa menyabutkan namanya, maka periwayatannya itu tidak merupakan penta’dilan. Namun bila perawi adil menyertakan penilaian adil, misanya dengan mengatakan : “Telah meriwayatkan kepadaku orang yang saya percayai” atau “orang Thiqat” ataupun “orang yang saya ridhai”, makaterdapat dua pendapat di kalangan ulama’: Pertama, penilaian tsiqat seperti itu belum cukup, tanpa menyebutkan nama. Karena bisa jadi, perawi yang bersangkutan tsiqat menurutnya, tetapi tidak tsiqat menurut yang lain seandainya ia menyebut nama perawi itu. Bisa jadi pula, ia termasuk orang yang sendiri dalam menilai tsiqat, sementara yang lain memberikan jarh terhadap perawi yang bersangkutan. Sehingga penyebutan nama secara jelas akan menghilangkan keraguan dan praduga semacam itu.

27

Kedua, penta’dilannya diterima secara mutlak, sama halnya ketika ia menyebutkan nama perawi secara tegas dan menilai tsiqat perawi yang dikritiknya, dan ketika menilainya tsiqat dan menyembunyikan namanya. Menurut penulis yang benar adalah yang pertama dan dipegang oleh mayoritas ulama’ hadits. Begitu pula mengenai periwayatan perawi yang bid’ah, terdapat beberapa pendapat sebagai berikut: 1. Bila ia menghalahkan dusta untuk membela bid’ahnya, maka haditsnya tidak bisa diterima dan tidak boleh diambil riwayat darinya 2. Bila ia tidak menghalalkan kedustaan dalam membela ailrannya, maka ada yang mengatakan riwayatnya bisa diterima, baik ia mendakwahkan bid’ahnya (mempropagandakannya) ataupun tidak. Ada yang mengatakan, bila ia tidak mendakwakannya bid’ahnya, maka riwayatnya bisa diterima. Tetapi bia ia mempropagandakan bid’ahnya, maka riwayatnya tidak bisa diterima. Adapun yang terakhir ini merupakan pendapat mayoritas ahli hadits. Sedangkan bila seorang perawi yang terkena jarh karena kefasikannya telah bertaubat dan perilakunya telah kembali baik, serta sifat adilnya diketahui setelah taubatnya itu, maka setelah itu khabar-khabarnya bisa diterima. Ini bersifat umum untuk setiap bentuk kemaksiatan kecuali sengaja berdusta atas suatu hadits Nabi SAW. yang terakhir ini tetap tidak bisa diterima. Yakni khabar dari orang yang

28

mendustkan hadits-hadits Rasul SAW. tidak bisa diterima, meskipun ia telah bertaubat dan perilakunya kembali baik setelah itu. Barang siapa yang menekuni bidang ini harus memenui kreteria alim, bertakwa, wira’I, jujur, tidak terkena jarh, tidak fanatik terhadap sebagian perawi dan mengerti betul sebab-sebab jarh dan adl. Sedangkan yang tidak memenuhi syaratsyarat itu, maka kritiknya terhadap perawi tidak bisa diterima. 2. Kritikus Rijal al-Hadits Pertumbuhan ilmu kritik hadits di atas telah memunculkan beberpa tokoh yang mengkhususkan diri di bidang kritik hadits ini, hal ini terjadi kira-kira di mulai sejak pertengahan abad ke 2 H. dan terus berkembang hingga saat ini. Dapatlah dikelompokkan para tokoh kritikus hadits ini kepada kelompk zaman dan wilayah, anatara lain: 1. Pada tingkatan sahabat, orang yang dianggap banyak membicarakan rijal al hadits ini berdasarkan tahun wafatnya adalah 'Umar bin al-khathab (23), 'Ubadah bin al-Shamit (34), 'Ali bin Abi Thalib (40), 'Abd Allah bin Salam (43), 'Aisyah ummu al-Mu'minin (58), 'Abd Allah bin 'Abbas (68), 'Abd Allah bin 'Umar (73) dan Anas bin Malik (93). 2. Pada tingkat Tabi'in, kritikus hadits yang ada pada masa ini adalah al-Hasan alBishri (110), Thawus (106), Ayyub al-Sukhtiyani (131), 'Abd Allah bin 'Aun (151), Sulaiaman al-Taimi (143) dan lainnya. 3. Pada tingkatan Atba' al-Tabi'in, kritikus hadits yang masyhur masa ini cukup banyak hingga menjadi 26 Thabaqat antara lain:

29

a. Thabaqat pertama: Di Hijaz terdapat Malik bin Anas (179) dan Sufyan bin 'Uyainah (198); sementara si Iraq terdapat Sufyan al-Tsauri (161), Syu'bah bin al-Hajjaj (161), Hammad bin Zaid (179), Hammad bin salamah (176); sedangkan di Syam kita kenal al-Auza'I (157) dan di Mesir terdapat al-Laits bin Sa'id (175) serta banyak lagi lainnya. Sehingga menurut al-Dzahabi diperkirakan mencapai 31 kritikus . b. Thabaqat kedua: Di Iraq ada Yahya al-Qathan (198), Waki' bin al-Jarrah (197), 'abd al-rahman bin Mahdi (198); sementara di Khurasan terdapat 'Abd Allah bin Mubarak (181); di Syam terdapat Abu Ishaq al-Farazi (186) dan Abu Mashar 'Abd al-A'la (218); di Mekah terdapat al-Syafi'I (204); dan banyak lagi lainnya yang diperkirakan oleh al-Dzahabi mencapai 58 tokoh kritikus. c. Thabaqat ketiga: Di Iraq terdapat Yahya bin Masir (23), Ahmad bin Hanbal (241), 'Ali bin al-Madini (234) dan Muhammad bin 'Abd Allah bin Numair (234), Abu Bakr bin al-Syaibah (235), Ishaq bin Rahawiyah (238), 'Abd Allah bin 'Umar al-Qawariri (235) serta Abu Haitsumah (234). d. Thabaqat keempat: Di Khurasan terdapat Abu Hatim (277), Abu Zurah (264), Bukhari (256), Muslim (261), al-Darimi (255). e. Thabaqat kelima; Al-Turmudzi (279), Abu Bakr bin al-Bazzar (292) dan di Basrah ada 'Abd al-Rahman bin Yusuf (283), f. Thabaqat keenam: Di Khurasan dan sekitarnya ada al-Nasa'i (304), Ibn Huzaimah (311), al-'Uqaili (322), Abu Ja'far al-Thabari (310).

30

g. Thabaqat ketujuh: Abu Ja'far al-Thahawi (321), 'Abd al-Rahman bin Abi Hatim (327) dan Ibn 'Uqdah (332) h. Thabaqat kedelapan: Ibn Hibban (Abu Hatin al-Busti) (332), Abu 'Addi (365), Thabrani (360), al-Hasan al-Ramahurmuzi (360). i. Thabaqat kesembilan: Al-Husain al-Masarjusi al-Naisaburi (365), Abu Ahmad al-Hakim al-Kabir (378), Abu Bakr al-Isma'ili al-Jurjani (371), Abu al-Hasan al-Daruquthni (385), al-Hasan al-Askari (382), Abu Sulaiman alKhithabi (388). j. Thabaqat kesepuluh: Abu 'Abd Allah al-Hakim al-Naisaburi (404), Ibn Manduh (395) dan 'Abd al-Rahman bin Fathis (402) k. Thabaqat kesebelas: 'Abd al-Ghani al-Azadi al-Mishri (murid al-Daruquthni) (409), Abu Bakr al-Barqani (425), Ahmad al-Kalabadzi (398) dan Abu Mas'ud al-Dimasyqi (401). l. Thabaqat keduabelas: Ibn al-Furadli al-Qurtubi (403), Abu al-Hasan al-Qabisi (403). m. Thabaqat ketiga belas:Masa ini disebut pula sebagai masa kritikus pasca tadwin kutub al-Hadits yang induk yaitu ummahat kutub al-Hadits, di antara tokoh pada masa ini adalah Ahmad al-Baihaqi (458), Ibn 'Abd al-Barr alAndalusi (463), Ibn Hazm penyusun al-Ahkam fi Ushul al-Ahkan, Abu alWalid al-Baji (474). n. Thabaqat keempat belas: Abu 'Ali al-Jayani al-Andalusi (298), Ibn Makula (475).

31

o. Thabaqat kelima belas: Al-Humaidi al-Andalusi (488) p. Thabaqat keenam belas: al-Qadhi 'Iyadh al-Yahshabi al-Sabuti (544) dan Abu al-Qasim Ibn 'Asakir seorang muhaddits dari Syam (571) q. Thabaqat ketujuh belas: Ibn Basykuwal al-Andalusi (578), Abu al-Qasim alSuhaili al-Andalusi (581), Abu al-Faraj bin al-Jauzi dari Iraq (597), Abu Bakr al-Hazimi al-Hamdani (584). r. Thabaqat keelapan belas: Abu Bakr bin 'Abd Allah bin al-Hasan al-Maliqi (611), Majd al-Din al-Mubarak bin al-Atsir (606). s. Thabaqat kesembilan belas: Ibn al-Qatthan al-Kattami al-Fasi (628), 'Izz alDin 'Ali bin al-Atsir al-Jazari. t. Thabaqat keduapiluh: 'Abd al-Adhim al-Mundziri al-Syami al-Mishri (656), Ibn al-Shalah Taqi al-Din Abu 'Amr 'Utsman al-Syahrazi (643) u. Thabaqat keduapuluh satu: Yahya al-Nawawi (677), Ibn Daqiq al-'Aid Taqi al-Din (Abu al-Fath) (702) v. Thabaqat keduapuluh dua: Yusuf al- Mizi (742), al-Dzahabi Syams al-Din bin Muhammad bin Ahmad al-Turkimani (748), Ahmad bin Taimiyah (728) w. Thabaqat keduapuluh tiga: Ibn Katsir al-Dimasyiqi (774) x. Thabaqat keduapuluh empat: Zain al-Din al-'Iraqi al-Kurdi al-Mishri (806), Abu Zur'ah (826) y. Thabaqat keudapuluh lima: Ibn Hajar al-'Asqalani (852) z. Thabaqat keduapuluh enam: Symas al-Din al-Sakhawi salah seorang murud Ibn hajar (902), Jalal al-Din al-Suyuthi (911).

32

4. Masa Mutaakhkhirin hingga masa-masa berikutnya menunjukkan adanya ilmu aljarh wa al-Ta'dil yang final. Hak ini disebabkan karena telah terhentinya perkembangan ilmu pada sekitar akhir abad ke 3 H. Sekaligus telah dibukukannya kritikan mereka terhadap rijal al-Hadits pada kitab-kitan rijal-al-Hadits berikut tarjih dan ta'dil yang terdapat rijal al-Hadits didalamnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->