P. 1
Pemikiran Politik Ibnu Khaldun

Pemikiran Politik Ibnu Khaldun

|Views: 1,845|Likes:

More info:

Published by: Agus Jaya Kholid Saude on Dec 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2015

pdf

text

original

Pemikiran Politik Ibnu Khaldun1

Oleh : H. Agus Jaya2 Pendahuluan Sepanjang sejarah pemikir politik mulai dari Socrotes hingga para pemikir kontemporer, mereka senantiasa eksis dengan masalah-masalah relevan untuk dikaji yang mereka suguhkan. Karena itu mempelajari, menelaah dan merenungkan masalah-masalah yang mereka kemukakan tetap urgen terutama dalam rangka menanggulangi problem nyata yang kita hadapi. Di antara topik besar yang mereka kemukakan adalah masalah kehidupan berpolitk manusia dalam sebuah masyarakat yang dikemukan oleh Ibnu Khaldun. Dalam makalah ini, penulis berusaha mengemukakan pendapat Ibnu Khaldun (1332-1406) yang berdasarkan pengalamannya yag sangat luas di bidang politik praktis dan pengamatannya yang tajam dalam bidang pemikiran Politik yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul Muqoddimah3 Dalam bukunya tersebut Ibnu Khaldun menawarkan suatu penafsiran yang sekaligus sederhana dan mendasar terhadap masalah kekuasaan dan negara sehingga relevansinya sangat kental terhadap pemikiran politik yang demikian dominan terjadi saat ini. Kondisi Masyarakat Islam Masa Ibnu Khaldun Era Ibnu Khaldun hidup dipandang dari segi sejarah Islam adalah era kemunduran dan perpecahan. Beberapa abad sebelumnya semenjak abad ke-8 sampai sekitar abad 12 dan 13 arab pernah dijuluki ”mukjizat Arab”4. Tokoh Ibnu Khaldun digambarkan sebagai tokoh budaya Arab-Islam yang paling kuat dimasa kemundurannya.5

Tugas Makalah bidang studi Filsafat Politik, Dosen Pembimbing : DR Hatamar Rasyid, MA, disajikan pada Seminar Kelas SPI Semester II. 2 Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Raden Fatah Palembang, Semester II, Program Studi Sejaraha Peradaban Islam, Konsentrasi Tafsir Hadits. 3 A. Rahman Zainuddin, Kekuasaan dan Negara, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1992. hal : x 4 Ibid, Mengutip dari Yves Lacoste, “la Grande Oeuvre d’Ibn Khaldoun,” La Pensee (Paris) LXIX (1956), 11 5 M. Talbi, Encyclopedia Of Islam, dalam bab Ibnu Khaldun

1

1

Dimasa hidup Ibnu Khaldun, di Afrika Utara bagian Barat tepatnya Maghrib

tempat Beliau lahir dan malang melintang dalam bidang politik aktif terdapat tiga buah negara yang selalu berperang antar sesamanya.masing-masing berusaha menghancurkan pihak lain. Ketika itu perpindahan loyalitas dari negara Islam yang satu kepada negara Islam yang lain tidak diangggap sebagai hal yang luar biasa. Hal yang demikian menimbulkan penafsiran pada sebagian pemerhati politik Ibnu Khaldun bahwa ia tidak mengenal loyalitas dan bersifat sangat oportunis.6 Sementara itu Di Eropa telah tanpak tanda-tanda perubahan dan kebangkitan, suatu suasana yang bisa langsung dirasakan oleh Ibnu Khaldun sendiri. Abad ke-13 di Eropa didominasi para pemikir konstruktif positif, masa para ahli teologi dan filosof spekulatif. Saling kritik dalam sebuah masalah menjadi sebuah fenomena baru yang membangun, meskipun demikian mereka tetap menerima prinsip-prinsip metafisis yang mendasar. Mereka juga mempercaya bahwa otak manusia memiliki kemampuan untuk melampaui dunia fenomena ini dan mencapai kebenaran metafisis. Karena itu abad ke-13 itu juga merupakan abad yang sangat menonjol dibidang intelektual, karena di waktu itu disadari adanya sintesa antara rasio dan keyakinan atau antara filsafat dan teologi.7 Pada abad ke-14, di Barat terjadi kecendrungan kuat kalangan penguasa sipil untuk menegaskan kemandiriannya dari Gereja. Dari abad inilah dimulainya sejarah timbulnya negara-negara nasional yang kuat yang kemudian menjadi ciri yang sangat penting dari bentuk negara di Eropa setelah masa abad pertengahan. Proses sentralisasi kekasaan itu dipercepat juga oleh peristiwa pengasingan para Paus yang berasa di Avignon antara tahun 1305-1377. Jadi, apabila abad ke-13 digambarkan sebagai abad pemikir kreatif dan orisinal, maka abad ke-14 adalah abad timbulnya berbagai mazhab yang saling berbeda pendapat.8 Sedangkan dipandang dari segi kehidupan universitas, terutama di Paris merupakan abad berkembangnya sains.9

6

Maroko Muhammad Abdullah Enan, Ibnu Khaldun : His Life and Work, Lahore : M. Asraf, 1973 hal.

1941 Frederik Copleston, A History Of Fhilosophy, Volume III: Ockham To Suarez The Bellarmine Series XIV, London : Search Press Limited, 1953. Hal. 1 8 Copleston, 10. 9 Copleston, 15
7

2

Ibnu Khaldun sendiri telah menyadari fenomena ini, dalam al-Muqoddimah, Beliau menulis10 : Demikianlah dimasa sekarang ini telah sampai berita-berita kepada kami bahwa ilmu-ilmu filsafat ini telah mengalami kemajuan yang pesat di negeri Franka (Ifranjah), di tanah Roma dan daerah-daerah bagian utara yang berdekatan dengannya. Teori-teoraninya telah diperbahaarui kembali, tempat-tempat mempelajarinya banyak sekali, buku-buku serba mencakup dan dan terdapat dalam jumlah yang memadai, sedangkan orang-orang yang mempelajarinya juga sangat banyak jumlahnya. Hanya Tuhanlah yang lebih tahu tentang apa sebenarnya yang sedang terjadi. Ia menciptakan dan memilih apa saja yang dikehendaki-Nya. Sementara Di Afrika Utara kampung halaman Ibnu Khaldun dibesarkan, terjadi perkembangan politik yang sangat pesat. Ketika itu Imperim al-Muwahhidun baru saja pecah dan berdirilah sejumlah negara-negara kecil, Di Tunis terdapat Emirat Bani Hafs (1228-1574). Di Tlemsen dan Di Barbaria Tengah berdiri Emirat Bani Wad. Di Maroko terdapat kerajaan Bani Marin (1269-1420). Di Mesir Mamluk tengah berkuasa (12501517), pada masa itu juga terdapat Imperium Timurlane yang usianya dan masa hidupnya hampir sama dengan Ibnu Khaldun. Mereka sempat bertemu pada tahun 1401 di luar dinding kota Damaskus. Suatu pertemuan yang sangat bersejarah.11 Di Iran masa Ibnu Khaldun adalah sama dengan seorang penyair dari Syiraz (13201389), demikian juga seorang ahli sejarah yang bernama Nizamuddin Syami, yang pernah menulis tentang sejarah pemerintahan Timurlane pada tahun 1401. selain mereka, Ibnu Khaldun menulis beberapa nama penulis Arab diantaranya : Ibnu Battuta yang tak pernah bertemu (1304-1369), demikian juga seorang ahli Ilmu Bumi, Umary (1349)- Mesir dari Suriah, dan al-Maqrizi mendapatkan kesempatan duduk dalam kelas yang diajar oleh Ibnu Khaldun di al Azahar.12

Abdurrahman Ibn Kholdun, Tarikh Ibnu Khaldun (Diwan al-Mubtada’I wa al-Khobar fi Tarikh al-Arab wa al-Barbar wa Man A’shorohum min Zawi as-Syakni al-Akbar), Libanon : Dar al-Fikr, 1996, hal. 117-118  Al-Jazair Sekarang 11 Ibnu Khaldn, Discours sur I’historie Universelle (al-Muqoddimah) Tradction novella, preface et notes par Vincent monteil; Beirut : Bommisiopn internationale pour la traduction des chefs d’oevres, 1967, Jil. I, Hal. Vii. 12 Monteil, Jil. I, Hal. vii

10

3

Sebagai perbandingan dengan dunia yang dihadapi Ibnu Khaldun di Afrika Utara dan di Andalusia, di belahan dunia yang lain bisa kita temukan Premiers Valois (13281498) di Prancis, dan seorang ahli kebudayaan Jean Froissart.13

Afrika Utara, Terjadi cekcok Politik sesama Islam

Semasa dgn : Timurlane, Nizamuddin, Ibnu Batuta, Umary, dll

Eropa, sejak abad 13 terjadi kebangkitan intelektual

Masa hidup Ibnu Khaldun Abad 14

Paris, klngn Universitas terjadi perkembangan sains

Barat, abad 14, upaya kemandirian Negara dari Gereja

13

Monteil, Jil I hal. viii

4

Sumber Munculnya Pemikiran Excellent Ibnu Khaldun

Munculnya pemikiran-pemikiran exellent Ibnu Khaldun baik dibidang sosiologi, ekonomi maupun politik menimbulkan spekulasi bahwa hal itu merupakan dorongandorongan ajaran Islam yang dianutnya, atau karena ia berani melanggar batas-batas yang telah ditentukan ajaran Islam? Ada yang mengatakan bahwa pemikiran genius Ibnu khaldun tersebut dimotivasi oleh pemahamannya yang dalam terhadap agama Islam yang sempurna.14 Ada pula yang berpendapat bahwa sebabnya adalah karena Ibnu Khaldun telah berani melanggar pendapat-pendapat yang baku dalam Islam.15 Dengan mengamati dan mencerna pola fikir Ibnu Khaldun dalam bukunya al Muqoddimah kita bisa tarik sebuah kesimpulan bahwa ia tidak sejalan dengan cara penafsiran Ulama Islam pada ummnya yang selalu meletakan masalah kemasyarakatan kedalam hukum agama sebagaimana yang telah dirumuskan oleh para ulama itu sendiri. Justru Ibnu Khaldun lebih melihat bahwa fenomena itu adalah sebuah sunnatullah. Dari hal ini Beliau tidak bisa dikatakan melanggar ketentuan agama, karena-dalam pemikiran Ibnu Khaldun- justru para ulama itu sendiri yang telah mempersempit ruang bahasan kemasyarakatan yang demikian luas.16 Ibnu Khaldun adalah seorang Islam yang lahir dan tumbuh berkembang di keluarga dan lingkungan Islam, dididik dalam cabang-cabang ilmu pengetahuan yang baku dalam kalangan umat Islam dan ia juga tidak pernah keluar dari dunia Islam. Satu-satunya kesempatan keluar dari kawasan yang diperintah oleh orang Islam adalah sewaktu ia diutus sebagai delegasi Raja Muhammad untuk menemui Pedro yang kejam yang saat itu menjadi penguasa daerah sevilla.

Hamilton Gibb, Studies on The Civilation of Islam, Boston : Beacon Press, 1962. hal. 173 Gibb, Studies. 168 16 Penulis memperkuat pendapat Ibnu Khaldun. Sebagaimana firman Allah swt dalam surat al Baqoroh ayat 184, …. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan bukan kesusahan.....
15

14

5

Ibnu Kaldun

Sosiologi Pemikiran Exxelent Ibnu Khaldun Wawasan yang luas terhadap syariat Islam

Ekonomi

Politik

Riwayat Hidup Ibnu Khaldun Nama lengkapnya adalah Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Abi Bakr Muhammad ibn al-Hasan Ibn Khaldun. Lahir pada 27 Mei 1332 di Tunisia dan meninggal 17 Maret 1406 di Kairo, Mesir. Keluarga Ibn Khaldun merupakan orang berada yang memberikan pendidikan terbaik kepadanya. Ibn Khaldun merupakan salah seorang pakar sejarah Arab teragung, juga dikenali sebagai bapak sejarah kebudayaan dan sains sosial modern. Ibn Khaldun turut mengembangkan falsafah tidak berasaskan keagamaan paling awal, terkandung dalam karyanya Muqaddimah (“Pengenalan”). Ibn Khaldun juga menulis sejarah Muslim di Afrika Utara yang terulung. Dari riwayat hidup Ibnu Khaldun dalam bukunya Muqoddimah, dapat diketahui bahwa asal usul keluarga Ibnu Khaldun adalah dari Hadramaut, Yaman Selatan. Nenek moyangnya pindah ke Hijaz sebelum datangnya Islam, ada diantara nenek moyangnya yang menjadi sahabat Rasulullah saw yang terkenal bernama Wa’il bin Hujr. Beliau pernah

6

meriwayatkan sejumlah hadits, serta pernah pula dikirim Nabi ke daerah-daerah untuk mengajarkan agama Islam kepada penduduk daerah itu.17 Di Andalusia keluarga Khaldun ini memainkan peranan yang sangat menonjol, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun dari segi politik. Mula-mula mereka menetap di kota Carmona, dan kemudian pindah kekota Sevilla. Kemudian situasi di Andalusia sudah mulai kacau. Adapun faktor munculnya kekacauan tersebut adalah : perpecahan yang terjadi diantara kaum muslimin sendiri serangan pihak Kristen dari utara semakin lama semakin meningkat sehingga akhirnya seluruh semenanjung itu jatuh ketangan mereka. Disaat terjadi gejolak di Sevilla itu, tokoh-tokoh dari keluarga Khaldun juga ikut memainkan peranan aktif.18 Ketika situasi semakin gawat di Andalusia, kelurga khaldun pindah ke Tunis. Di tempat baru ini, mereka juga memainkan peranan penting, baik di bindang politik maupun di bidang ilmu pengetahuan, kecuali bapaknya Ibnu Khaldun yang memahami demikian berbahanya bergerak dibidang politik sehingga ia memutuskan untuk menjauh dari bidang politik dan lebih fokus di bidang ilmu pengetahuan. Ibnu Khaldun adalah lima orang bersaudara, akan tetapi yang cukup dikenal dalam sejarah hanya dia dan saudaranya yang bernama Yahya.19 Dari latar belakang ini dapat disimpulkan bahwa keluarga Ibnu Khaldun banyak bergerak dibidan politik dan ilmu pengetahuan, karenanya adalah hal yang sangat logis jika Ibnu Khaldun mampu menyatukan kedua hal ini dalam dirinya. Masa hidup Ibnu Khaldun secara garis besar bisa dibagi menjadi tiga tahapan yaitu : 1. masa di Tunis yang merupakan masa pendidikan dan permulaan karir di bidang pemerintahan (1332-1350)20 pendidikan pertama diperolehnya dari orang tuanya sendiri dan berbentuk suatu pendidikan tradisional. Mata pelajaran yang dipelajarinya adalah Bahasa Arab dan sastra, al-Qur’an dan tafsir, hadits dan ilmuilmu hadits, kemudian ia mendapat pelajaran lain seperti logika dan filsafat.

Ibnu Kholdun, Muqoddimat Ibni Kholdun, ed. Abdul Wahid Wafi, Kairo : Lajnah al-Bayan alAraby, 1958. hal. 28 18 waif, 28-29 19 wafi, 31-32 20 wafi, 37

17

7

2. masa ketika berada di Fez di Maroko (1351-1382), ditandai oleh keterlibatan Ibnu Khaldun dalam politik praktis.21 Ketika itu bakat Ibnu Khaldun yang sangat luar biasa telah tampak. Melalui persekongkolannya dengan berbagai tokoh kelompok dan kelompok, Ibnu Khaldun berhasil memegang berbagai jabatan yang tinggi tanpa meninggalkan perkembangan ilmu pengetahuan. Keterlibatannya dalam politik praktis menyebabkannya mendekam dalam penjara selama kira-kira dua tahun. Pertualangan Ibnu Khaldun di bidang politik ini tidak memberikannya ketenangan dan ketentraman sehinga ia melarikan diri ke Andalusia dan berbakti kepada raja Muhammad yang sedang berkuasa di Andalusia saat itu. Di Andalusia Ibnu Khaldun bertemu Ibnu al Khatib seorang pemikir dan budayawan yang juga menjadi perdana menteri. Ketika berada di Andalusia inilah Ibnu Khaldun mendapatkan tugas untuk mengadakan perundingan dengan Pedro yang kejam, penguasa kristiani yang telah menjadikan Sevilla sebagai ibu kotanya. Keberhasilan Ibnu Khaldun dalam perundingan ini menyebabkan raja semakin percaya dan memberinya kedudukan penting. Keberhasilan yang diraih oleh Ibnu Khaldun ini menimbulkan rasa isi pada sahabatnya Ibnu al Khatib, menyadari gelagat ini Ibnu Khaldun memutuskan kembali ke Afrika Utara. Namun kembali lagi ketika ia berada di Afrika utara ia terlibat kembali dalam politik praktis yang ditandai dengan pertempuran dan persaingan yang tidak habis-habisnya antara berbagai dinasti kecil yang ada. Hal ini membuktikan bahwa Ibnu Khaldun sangat terkenal dan harapkan oleh setiap penguasa untuk senantiasa berada dibarisannya, karena perananya yang demikian besar dalam setiap pertepuran. Menyadari demikian berbahanya politik praktis maka Ibnu Khaldun memutuskan untuk bergerak dibidang ilmu pengetahuan. Karenanya Ibnu Khaldun mengasingkan diri di tengah padang pasir di Qol’at Bani Salamah di daerah Aljazair. Disanalah lahirnya Muqoddimah yang membuat namanya terkenal. Setalah empat tahun terpencil di Qol’at Bani Salamah ia kembali ke Tunis untuk menyempurnakan tulisannya dengan menggunakan fasilitas perpustakaan yang terdapat di Tunis Namun karena adanya dua hal yaitu : penguasa di Tunis ingin melibatkannya dalam politik praktis

21

wafi, 40

8

-

para ahli ilmu pengetahuan tidak menerimanya dengan baik bahkan menjadikannya sebagai saingan.

maka Ibnu Khaldun meninggalkan Afrika Utara belahan Barat dan pergi ke Timur dengan alasan menunaikan ibadah haji. 3. Kehidupannya di Mesir hingga wafat (1382-1406), tahap terakhir dalam kehidupannya ini dilaluinya dengan menjadi guru dan hakim. Sesampainya di Mesir, ia sangat cepat menarik perhatian penguasa dan memberikannya kesempatan untuk memberikan perkuliahan diberbagai perguruan tinggi termasuk juga al Azhar, disamping itu ia juga diangkat menjadi mufti mazhab Maliki oleh Sultan Abul Abbas raja Mesir kala itu. Setelah merasa mantap tentram menetap di Mesir iapun membawa keluarganya Ke Mesir setelah mendapat dukungan dari pemerintah Mesir saat itu, ketika kapal yang mereka tumpangi tiba di Iskandariah terjadilah angin topan yang sangat dahsyat hingga menenggelamkan kapal dan seluruh penumpangnya hingga Ibnu Khaldun berkata ”habislah seluruh harta dan keluarga”.

Tahapan Masa Hidup Ibnu Khaldun Masa Di Tunis (1332-1350) Masa Di Maroko (1351-1382) Masa Di Mesir (1382-1406)

Manusia Makhluk Politik Manusia dan politik memiliki hubungan yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam hubungan politik sifat kekerasan, kekuasaan dan pemaksaan lebih tampak. Definisi tentang politik itu sendiri terkesan membenarkan ungkapan diatas.

9

Worsley22 misalnya memperhatikan adanya dua tingkat penggunaan istilah politik, pada tahap pertama politik diangggap sebagai suatu konsep yang sangat luas mencakup pembatasan terhadap orang lain. Ia berpendapat : .... kita dapat dikatakan bertindak secara politis apabila kita menghalangi orang lain sehingga mereka bertindak sesuai dengan apa yang kita inginkan dari mereka. Dengan definisi ini tindakan menghalangi dalam dalam hubungan apapun bersifat politis. Semua jenis tekanan, mulai dari perang massal dan penyiksaan yang terorganisir, sampai pada nilai-nilai yang tersembunyi dalam pembicaraan antar pribadi, semuanya itu merupakan dimensi yang bersifat politis.23 Dari definisi diatas ciri khas politik yang tampak adalah menghalangi orang lain untuk mencapai tujuan demi tercapainya tujuan sendiri. Dengan pembatasan yang ada pada definisi tersebut maka aspek persaingan dan permusuhan lebih menonjol, terutama lagi contoh yang angkat adalah tindakan kekerasan dan pemaksaan.24 Dalam defenisi seperti diatas tidak kelihatan aspek kerjasama yang menguntungkan dan keputusan yang bersifat kepentingan bersama, seperti yang akan tampak dalam pandangan Ibnu Khaldun yang menjadi ciri khas dalam kehidupan berpolitik. Adapun tahap kedua menurut Worsley, pengertian politik hanya terbatas pada instansi-instansi khusus pemerintahan bersama dengan peralatan administratif negara dan organisasi partai politik25 Ibnu Khaldun sebagai seorang ahli sosial, ekonomi dan politik yang besar dilingkungan dan keluarga muslim memberikan defenisi umum tentang politik yang berasal dari Yunani Kuno : bahwa manusia itu pada dasarnya adalah makhluk politik, artinya mereka hidup bermasyarakat dalam sebuah kota atau negara. Jadi yang dimaksud dengan ’umran’ (bermasyarakat) itu adalah kenyataan hidup bermasyarakat.26 Dalam hal ini terdapat pula unsur agama yang menunjukkan bahwa memelihara kelestarian umat manusia diatas di dunia ini adalah sebuah kewajiban. Karena Allah telah memerintahkan jenis manusia itu agar dilestarikan. Disamping itu juga Allah

22 Peter Worsley, Power in Britian: Sociological Reading’s, (eds) John Urry dan John Wakeford, London : Heinemann Educational Books, 1973 23 Worsley, 247 24 A. Rahman Zainudin, Kekuasaan …, 61 25 Worsley, 247 26 Ibnu KHaldun, jil. 1 hal. 89

10

memerintahkan agar bumi ini dibangun.27 Jadi menurut Ibnu Khaldun ada dua tugas pokok yang tidak boleh dilupakan manusia yaitu : 1. melakukan setiap perbuatan yang akan menjadikan manusia lestari di atas dunia 2. melakukan perbuatan yang bersifat membangun dunia. Dua hal inilah yang menjadi sasaran utama dari buku Muqoddimah yang ditulisnya.28 Menurut Ibnu Khaldun peranan politk dalam kehidupan kemasyarakatan manusia sangat penting karena kehidupan politik hanya dimiliki oleh manusia saja. Karenanya hendaklah dalam menghadapi kehidupan politik itu dengan mengedepankan sisi terbaik yang ada pada diri manusia bukan yang terburuk. Politik adalah juga suatu mekanisme yang harus digunakan manusia dalam mencapai keselamatan dunia akhirat. Politik berusaha agar manusia dapat bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan pokok dan mempertahankan diri, baik terhadap ancamanancaman yang datang dari luar mapun terhadap permusuhan yang terjadi dalam masyarakat itu sendiri. Politik juga harus mapu menjaga manusia agar tidak tenggelam dalam gejolak hawa nafsu dan berusaha menaikkan kualitas manusia. Walaupun demikian Ibnu Khaldun tidak memungkiri terjadinya pemaksaan dalam politik, hal itu bisa terjadi karena adanya dua faktor, yaitu : 1. ketidak mengertian manusia akan kepentingannya yang sesngguhnya, terutama karena lebih mementingkan kepentingan pribadi dan melalaikan kepentingan bersama. Karenanya menurut Ibnu Khaldun, mereka harus dipaksa untuk mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi. 2. penguasa lebih mementingkan kepentingan pribadi atau kelompoknya daripada kepentingan rakyat dan masyarakat secara keseluruhan. Kehidupan politik, dengan segala kelebihan dan kekurangnya dalam pemikiran Ibnu Khaldun, adalah suatu kemestian dalam kehidupan manusia bermasyarakat. Tanpa politik kehidupan manusia dalam masyarakat akan kacau. Tolong menolong demi mencapai tujuan bersama tidak akan terwjud. Karena itu, politik adalah sebuah mekanisme yang menjadikan

27

QS : Hud : 61, ……..Dia telah menciptakanmu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya, Ibnu Khaldun, jil. 1, hal. 91.

….
28

11

kehidupan manusia dalam masyarakat berjalan dengan lancar dan dapat mencapai tujuan bersama yang dicita-citakan.

Manusia Sebagai Makhluk Politik Dalam Konsep Ibnu Khaldun

Tugas Pokok Manusia : Menjaga

Tugas Pokok Manusia : menghindarkan

Menjadikan manusia lestari di muka bumi

Membangun Dunia

Tidak mengertinya manusia thdp kepentingan sesungguhnya

Faktor Kepentingan Penguasa

Kekuasaan dalam Pemikiran Politik Modern

12

Konsep kekuasaan di dalam ilmu politik adalah suatu konsep yang banyak dibahas. Sekalipun ada banyak pandangan yang berbeda mengenai kekuasaan, akan tetapi ada satu inti yang bisa dijadikan tolok ukur yaitu bahwa kekuasaan dianggap sebagai kemampuan pelaku untuk mempengaruhi tingkah laku pelaku lain sedemikian rupa, sehingga tingkahlaku pelaku terakhir menjadi sesuai dengan keinginan dari pelaku yang mempunyai kekuasaan.29 Dalam hal ini kekuasaan kadang diartikan sebagai pengaruh tetapi adakalanya kedua kalimat tersebut dipahami memiliki pengertian tersendiri yang berbeda intensitasnya. Robert A. Dahl lebih memilih untuk tidak membedakan antara kekuasaan dan pengaruh serta istilah-istilah lain yang mirip dengan kekuasaan. Dahl menyebutkan istilah-istilah seperti power, influenca, authority and rule, dan menamakan semua itu dengan kekuasaan. Dan ia mengajak, “lets us call them “power terms”. Dasar pendapat seperti ini adalah karena pengertian umumnya sama. Sehingga istilah-istilah itu dapat dipertukarkan, yang berbeda hanya intensitasnya. Dahl telah memberikan perhatian yang besar terhadap konsep kekuasaan, namun tetap saja ia mendapat kritik dari sarjana-sarjana politik lain, Talcott Parsons misalnya mengeritik konsep kekuasaan yang dikemukakan Dahl yang pokoknya berasal dari Hobes, dimana gejala kekuasaan itu hanya diartikan sebagai kemampuan untuk mencapai tujuan dalam hubungan sosial terlepas dari alat yang digunakan, atau dari status wewenang untuk membat putusan dan menentukan kewajiban.dan konsep kekuasaan Dahl juga lebih menekankan pada pembicaraan politik dengan dasar kalah-menang total (zero-sum). Dalam pengertian ini yang satu mendominasi, sedangkan yang lain menyerah kepada dominasi itu secara keseluruhan.berdasarkan argumen yang dikemukakan diatas jelas bahwa Dahl memang telah berhasil mengemukakan konsep kekuasaan dalam bentuk yang jelas, namun harga yang harus dibayar untuk kejelasan itu terlalu mahal karena harus mengorbankan hakikat kekuasaan itu sendiri.30 Dalam pemikiran Ibnu Khaldun, kekuasaan memegang peranan penting bahkan dapat di anggap sebagai benang merah yang menelusuri hampir seluruh pemikirannya dalam Muqoddimah. Sebagaimana dalam buku-buku ulama terdahulu bahwa perhatian dan
Miriam Budiardjo, “konsep kekuasaan: Tinjauan Kepustakaan” tentang Kuasa dan wibawa, Jakarta : Sinar Harapan, 1984. hal 9 30 A. Rahman Zainudin, Kekuasaan …, 109
29

dalam Aneka Pemikiran

13

pokok bahasan telah tergambar sejak ia mengucapkan hamdalah dan syahadat, demikian juga Ibnu Khaldun. Perhatikanlah kata pengantar dari buku Muqoddimahnya . Puji-pujian bagi Allah yang memiliki kemegahan (al-izzah) dan kekuasaan (al-jabaruut). Di tangan-Nyalah kekuasaan di dunia nyata (almulk) dan kekuasaan di dunia gaib (al-malakut).31 Kata kekuasaan banyak terdapat dalam al-Qur’an, Abdullah Yusuf Ali memberikan penjelasannya sebagai berikut : Mulk: kekuasaan, ketuhanan, kedaulatan, hak untuk melaksanakan kehendaknya atau melakukan segala sesuatu yang diinginkannya. Kekuasaan adalah kemampuan untuk melaksanakan kehendaknya sehingga tidak ada yang dapat menantangnya atau menetralisisrnya. Ini adalah kemurahan hati yang seluruhnya diidentifikasikan dengan ketuhanan dan kekuasaan. Dan hal itu dicontohkan dalam ayat-ayat berikut : perhatikanlah bahwa ”mulk” surat al-Mulk mempunyai nuansa pengertian yang berbeda dari kata malakut dalam surat Yasin. Kedua kata itu berasal dari akar kata yang sama dan saya telah menerjemahkan keduanya dengan kekuasaan, tetapi malakut menunjukkan pada ketuhanan dalam dunia yang tidak tampak/terlihat sedangkan mulk menunjukkan pada ketuhanan dalam dunia yang dapat dilihat. Tuhan adalah penguasa dari keduanya.32 Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian kekuasaan dalam pemikiran politik modern sangat dipengaruhi oleh tokoh yang menjadi prakarsa konsep kekuasaan dan kondisi sosial serta tatanan masyarakat saat itu.

Negara dan Solidaritas dalam Pemikiran Ibnu Khaldun Dalam kerangka pemikiran Ibnu Khaldun, perkembangan kekuasaan sangat dipengaruhi oleh solidaritas. Solidaritas (a’shobiyah) adalah faktor yang menggerakkan kekuasaan dan para pendukungnya untuk maju terus ke depan. Kata-kata yang dipilih oleh Ibnu Khaldun untuk mengungkapkan solidaritas adalah ”ashobiyah”. Pilihan kata ”ashobiyah” sebenarnya kurang menguntungkan, karena dalam ajaran Islam gagasan itu tidak disenangi dan diasosiasikan sebagai praktek kesukuan yang terdapat pada masa
Ibnu Khaldun, Jil. 1 hal. 5 Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an: Text, Translation and Commentary. Beirut : Darl Fikr, TT. Hal. 1576, No Komentar 5555
32 31

14

Jahiliah. Jelas bahwa Ibnu Khaldun dalam hal ini tidak berbicara sebagai seorang agamawan akan tetapi lebih tampak sebagai seorang sejarawan yang mengemukakan fakta dalam sejarah. Ibnu Khaldun menyadari keadaan di atas sehingga ia berusaha memberikan alasan untuk membenarkan praktek yang telah ditempuhnya itu. Ia berkata : Ketahuilah bahwa kekuasaan negara (al-mulk) itu adalah tujuan alami dari solidaritas (’ashobiyah). Timbulnya kekuasaan negara dari sodaritas itu bukan karena pilihan, akan tetapi karena kemestian dan susunan alam wujud ini, seperti telah dikemukakan sebelumnya, hukum agama dan agama serta segala hal yang didukung orang banyak, harus dengan solidaritas. Karena perjuangan tidak dapat dilakukan tanpa adanya hal itu. Jadi solidaritas penting bagi agama. Dengan adanya solidaritas itu dapat disempurnakan apa yang dikehendaki Allah dengannya. Dalam sebuah hadits dikatakan : ”Allah tidak akan mengutus seorang nabi kalau tidak dengan dukungan bangsanya.33 Dalam ungkapannya di atas Ibnu Khaldun menanamkan statemen bahwa perjuangan politik memerlukan solidaritas, bahkan agama dan hukum agama yang diturunkan Allah pun memerlukan solidaritas untuk kesuksesannya34. Selanjutnya Ibnu Khaldun menulis : Kemudian kita dapati nabi Muhammad saw telah mencela solidaritas dan menganjurkannya untuk ditinggalkan. Raslullah berkata : ”Allah telah menghilangkan dari kamu semangat jahiliah (”ubiyyatul Jahiliyyah) dan berbangga-bangga degan nenek moyang. Kamu adalah anak cucu adam, dan adam berasal dari tanah. Allah berfirman : ”Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah adalah yang paling bertakwa di antara kamu.35.36 Dari ungkapan di atas jelas ada larangan untuk membangkitkan kembali semangat solidaritas seperti yang ada pada masa jahiliah, namun menarik untuk dicermati kata yang dipakai adalah kata ubiyah bukan kata ashobiyah. Walaupun keduanya memiliki segi-segi kesamaan arti. Jadi menurut Ibnu Khaldun ajaran agama juga mencela kekuasaan dan orang-orang yang mengembannya, karena biasanya mereka hidup bermewah-mewahan dan menyeleweng dari ajaran Allah, sedang yang diharapkan agama adalah persatuan. Kekuasaan memiliki peran yang sangat penting karena berkaitan erat dengan eksistensi keberadaan manusia di muka bumi ini. Ibnu Khaldun memiliki penafsiran sendiri terhadap hukum33 34

Ibnu KHaldun, jil. 1 hal : 414-425 sukses dalam persepsi manusia. 35 QS : al Hujarat : 13 36 Ibn KHaldun, Jil 1 Hal : 414-425

15

hukum agama, sebuah penafsiran yang mendalam dan tidak terhenti pada bentuk luar larangan atau perintah saja, tetap ia mengupas sebab yang menjadikan sesuatu larangan atau perintah itu. Larangan untuk marah tidak berarti mutlak larangan untuk marah, tetapi perang di jalan Allah, menegakkan kebenaran dan keadilan, membela orang-orang kecil dan tertindas semua itu memerlukan kamarahan dalam jiwa manusia, karena manusia harus memiliki rasa tidak senang menghadapi segala hal yang tidak benar dan adil sehingga timbul dorongan dalam jiwanya untuk bangkit menegakkan kebenaran dan keadilan. Kemarahan memang tidak dibenarkan jika dikendalikan oleh syaithan dan tidak dalam koridor kebenaran serta bertujuan duniawi serta hawa nafsu. Demikian juga halnya hawa nafsu dan syahwat serta hal-hal lain. Demikian juga kekuasaan jika dipergunakan untuk menindas dan memperlakukan orang secara sewenang-wenang adalah hal yang tidak diperbolehkan akan tetapi jika digunakan untuk kepentingan menegakkan kebenaran dan untuk kepentingan umum maka menjadi hal yang sah dan bisa diterima. Peranan Agama dalam Negara Menurut Ibnu Khaldun, agama memiliki peranan yang sangat signifikan dalam mendirikan negara yang besar. Setiap negara yang luas daerah kekuasaannya pasti didasari oleh agama baik yang disiarkan oleh seorang nabi atau penyeru/da’i. Peranan agama dalam menciptakan persatuan di kalangan masyarakat tidak dapat ditandingi oleh faktor apapun. Dalam al-Quran Allah swt berfirman : ”Walaupun engkau membelanjakan seluruh yang ada di muka bumi ini, engkau tetap tidak akan mampu mempersatukan hati mereka itu.”37 Persatuan bukanlah hasil usaha manusia akan tetapi karena hidayah dan perkenan Allah swt. Kekuasaan negara itu hanya dapat diperoleh dengan perantaraan dominasi. Dominasi itu hanya dapat diraih dengan adanya solidaritas dan persatuan tekad untuk berjuang. Persatuan seperti ini hanya dapat dicapai dengan perantaraan agama saja. Agama memiliki peranan yang penting dalam memupuk persatuan, dengan jalan menghilangkan persaingan dan perasaan saling iri serta dengki yang biasa ada dalam
37

QS : al-Anfal : 63

16

kelompok solidaritas. Dengan adanya unsur agama maka perhatian tertuju pada kebenaran saja. Dengan adanya faktor agama ini tidak ditemukan sesuatupun yang mampu menghambat kemajuan mereka, dengan dimasukkannya agama dalam politik maka tujuan menjadi satu dan tidak terpecah-pecah. Hal ini dibuktikan pada permulaan sejarah Islam, bahwa tentara yang sangat sedikit jumlahnya mampu mengalahkan Persia yang memiliki balatentara jauh lebih besar dan dilengkapi persenjataan yang modern.38 Untuk memperkaya makalah ini, penulis mencoba membandingkan pandangan Ibnu Khaldun dengan Sukarno, Nurkholis Madjid dan Magnis Suseno Tentang Agama dan Politik sebagai berikut : 39

Pemikiran Bidang Ibnu Khaldun40 Agama = Asumsi menunjang kemajuan Pendekatan Konsep Agama Gagasan Dialog & Normatif Agama Universal Penyatuan antara agama dengan negara Soekarno Agama = penghambat kemajuan41 Non-dogmatis Agama Pribadi Pemisahan Formal: warna ”Islam Budaya” dalam negara
A. Rahman Zaimudin, Kekuasaan, hal. 166 Muhammad Hari Zamharir, Agama dan Negara, Analisis Kritis Pemikiran Politik Nur Cholish Madjid, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2004, hal. 278. kecuali pemikiran Ibnu Khaldun karena pada poin pemikiran Ibnu Khaldun di atas adalah hasil rangkuman penulis. 40 Telaah Penulis. 41 Mungkin tidak terlalu keliru jika dikatakan bahwa Orde Lama (masa Soekarnao) adalah eranya kaum nasionalis dan komunis. Sementara kaum muslim di era ini tertutup untuk memperjuangkan citacitanya. Salah satu partai yang mewakili aspirasi umat Islam kala itu, Masyumi harus dibubarkan pada tanggal 15 Agustus 1960 oleh Soekarno, dengan alasan tokoh-tokohnya terlibat pemberontakan (PRRI di Sumatera Barat). Sementara NU bersama dengan PKI dan PNI kemudian menyusun komposisi DPR Gotong Royong yang berjiwa Nasakom.
39 38

Nurcholis Madjid Unsur ”modern” agama menunjang kemajuan Dialog & Normatif Agama Sipil Islam berkaitan dengan Kenegaraan

Magnis Agama = Penghambat Kemajuan Dogmatis & Normatif Agama Pribadi Agama dipisah total & formal (dari negara)

17

Pancasila Apabila peranan faktor agama telah menurun atau hilang sama sekali maka perimbangan kekuatan itu akan kembali pada keadaanya semula, yaitu kemenangan akan ditentukan oleh jumlah pendukung solidaritas itu saja.42 Dan kiranya hal seperti inilah yang saat ini tengah menimpa dunia Islam khususnya Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam. Penguasa dalam Tinjauan Ibnu Khaldun Bagi Ibnu Khaldun adanya penguasa adalah ciri yang membedakan manusia dari makhluk lain yang ada di muka bumi ini. Setiap manusia pasti memerlukan penguasa karena dalam diri manusia itu masih tersisa sifat-sifat kebinatangan dan kecendrungan untuk menzolimi orang lain. Seandainya penguasa tidak ada maka kehidupan masyarakat manusia akan berada dalam keadaan kacau dan penuh dengan situasi anarki yang pada akhirnya akan berakibat pada eksistensi manusia di muka bumi ini. Bagi Ibnu Khaldun, penguasa bukanlah orang yang memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Akan tetapi seseorang yang melakukan suatu tugas sosial yang penting dengan tujuan berkaitan erat dengan kalanjutan eksistensi manusia itu sendiri. Ibnu Khaldun dengan tegas menyatakan bahwa kekuasaan adalah hubungan. Dalam bukunya ia berkata : Ketahuilah bahwa kepentingan rakyat pada penguasa bukan pada diri dan tubuhnya, seperti keelokan bentuk badannya, kecantikan mukanya, kebesaran tubuhnya, luasnya ilmu pengetahuannya, indah tulisannya atau ketajaman otaknya. Kepentingan mereka itu terletak dalam hubungan antara dia dan mereka. Karena itu kekuasaan dan penguasa itu termasuk hal yang bersifat relasional. Jadi terdapat keseimbangan antara kedua belah pihak. Dia dinamakan sebagai penguasa karena ia mengurus soal rakyat, sedangkan rakyat adalah mereka yang memiliki penguasa.43 Dari kutipan di atas jelas Ibnu Khaldun berpendapat bahwa tidak terdapat suatu keistimewaan pada penguasa kecuali bahwa ia dipercaya rakyat untuk mengurus mereka. Baik buruknya seorang penguasa sangat tergantung pada bagaimana caranya ia mengurus
42 43

Ibnu Khaldun, Jil. 1 hal 322 Ibnu KHaldun, 382-383

18

kepentingan rakyat itu. Apabila kekuasaanya dilaksanakan dengan lemah lembut, tegas dan adil maka semua pihak termasuk penguasa dan rakyat akan berada dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Sedang apabila kekuasaan itu dilaksanakan dengan keras, penuh hukuman, dan penindasan serta selalu mencari-cari kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan rakyat, maka rakyat akan diselimuti rasa takut dan merasa tertindas. Karena hal inilah Ibnu Khaldun berpendapat, ” Bahwa seoarang penguasa yang baik adalah seseorang yang berada di tengah rakyat, serta berlaku baik dan lemah lembut terhadap mereka. Dengan demikian rakyat akan menyayanginya serta akan mempertahankannya sampai tetesan darah terakhir. Penguasa yang demikian akan terlindung dari segala pihak. Dalam ungkapan pendeknya Ibnu Khaldun mengutarakan : al-mahmudu huwa attawassuth (sifat yang terpuji adalah pertengahan). Dalam melaksanakan tugasnya ini penguasa hendaklah memiliki perangkat fasilitas yaitu : Dominasi, pemerintahan dan kekuasaan. Kesemua ini digunakan untuk antisipasi agar tidak terjadi perselisihan dan kesewengan dalam masyarakat. Perangkat Penguasa adalah : Dominasi (alGholabah) Mewujudkan kesejahteraan rakyat dan antisipasi terjadinya kesewenangan dalam masyarakat

Penguasa

Pemerinta han (asSulthon)

Kekuasaan

(al-yad alQohiroh)

Kaitan antara Politik dan Ekonomi dalam Pemikiran Ibnu Khaldun.

19

Kaitan antara politk dengan ekonomi sudak terjalin sejak lama. Dengan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan di Barat, kita bisa menyimpulkan bahwa hubungan itu sudah ada sejak lama. Adam Smith adalah salah seorang yang terkenal karena gagasan-gagasan ekonominya melihat bahwa demikian eratnya hubungan politik dengan ekonomi.44 Demikian juga Ibnu Khaldun melihat adanya hubungan yang sangat erat antara kehidupan ekonomi suatu kelompok manusia dengan kehidupan mereka di pihak lain pada umumnya. Kehidupan suatu kelompok manusia ditentukan cara mereka melaksanakan kehidupan di bidang ekonomi. Pendapat Ibnu Khaldun ini merujuk kepada kehidupan kelompok-kelompok manusia yang mendiami padang pasir. Dalam bukunya Ibnu Khaldun berkata : Ketahuilah bahwa perbedaan kondisi antara berbagai kelompok manusia disebabkan oleh perbedaan dalam cara kehidupan ekonomi mereka.45 Dalam pandangan Ibnu Khaldun dalam sebuah negara hendaklah ada bagian-bagian dari pemerintahan yang mengurus masalah-masalah ekonomi. Yang terpenting di antara urusan ekonomi itu adalah pengurusan pajak. Lembaga tersebut diberinya nama : Diwan al-Amal wa al-Jibayah, yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan ”The ministry of (financial) operations and taxation”. Mengenai operasional badan tersebut, Ibnu Khaldun menulis : Ketahuilah bahwa instansi ini adalah salah satu instansi yang sangat penting bagi kekuasaan negara.tugasnya adalah melaksanakan operasi pajak dan menjaga hak-hak negara dalam hal yang berkenaan dengan pendapatan dan pengeluaran. Ia juga membuat daftar nama anggota militer, menentukan gaji mereka, membayarkan pendapatan mereka pada waktu yang tertentu. Dalam hal ini bahan rujukannya adalah peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh para pakar instansi itu dan para pejabat negara.46 Menurut Ibnu Khaldun orang yang pertama sekali meletakkan dasar pengelolaan ekonomi dan keuangan dalam sejarah Islam adalah Umar bin Khattab atas dasar usulan Khalid bin Walid untuk membuat Diwan seperti yang lihatnya selama tinggal tinggal di Persia dan Syria
44 45

Adam Smith, The Wealth Of Nations, London : everyman’s Library, 1981 Ibnu Khaldun, jil. 1. hal. 249 46 Ibnu KHaldun, Jil. 2 hal. 19-20

20

Dengan demikian Ibnu Khaldun ingin membuktikan bahwa kehidupan ekonomi sangat penting bagi kehidupan negara. Kekuasaan negara tidak bisa ditegakkan apabila masalah ekonomi dan keuangan tidak ditata dengan baik. Penutup Demi terwujudnya manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, Allah sediakan sarana yang sangat sempurna berupa bumi dan langit beserta isinya, manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang teragung di muka bumi ini diberikan tugas untuk menjaga, memberikan kedamaian dan ketentraman demi tercapainya eksistensi manusia di muka bumi dan nenghindarkan manusia dari percekcokan dan perselisihan. Untuk mengapresiasikan perintah itu maka Ibnu Khaldun memaparkan konsep negara dan kekuasaan yang ditatanya dengan sangat rapih dan diabadikannya dalam karyanya ”Muqoddimah”. Dengan memahami pemikiran Ibnu Khaldun diharapkan pembaca mampu mentransfer ide-ide genius Ibnu Khaldun dengan tetap mampu menfilterisasi pemikirannya.

21

Daftar Pustaka
Al-Qur’an. Abdullah, Muhammad, Enan, Ibnu Khaldun : His Life and Work, Lahore : M. Asraf, 1973 Ali, Abdullah, Yusuf. The Holy Qur’an: Text, Translation and Commentary. Beirut : Darl Fikr, TT Copleston, Frederik, A History Of Fhilosophy, Voleme III: Ockham To Suarez The Bellarmine Series XIV, London : Search Press Limited, 1953. Budiardjo, Miriam, “Konsep kekuasaan: Tinjauan Kepustakaan” dalam Aneka Pemikiran tentang Kuasa dan Wibawa, Jakarta : Sinar Harapan, 1984 Gibb, Hamilton, Studies on The Civilation of Islam, Boston : Beacon Press, 1962. Ibn Kholdun, Abdurrahman, Tarikh Ibnu Khaldun (Diwan al-Mubtada’I wa al-Khobar fi Tarikh al-Arab wa al-Barbar wa Man A’shorohum min Zawi as-Syakni alAkbar), Libanon : Dar al-Fikr, 1996. Ibnu Khaldn, Discours sur I’historie Universelle (al-Muqoddimah) Tradction novella, preface et notes par Vincent monteil; Beirut : Bommisiopn internationale pour la traduction des chefs d’oevres, 1967. Ibnu Kholdun, Muqoddimat Ibni Kholdun, ed. Abdul Wahid Wafi, Kairo : Lajnah al-Bayan al-Araby, 1958. Lacoste, Yves, “la Grande Oeuvre d’Ibn Khaldoun,” La Pensee (Paris) LXIX (1956) Rahman, A, Zainuddin, Kekuasaan dan Negara, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1992. Smith, Adam, The Wealth Of Nations, London : everyman’s Library, 1981 Talbi, M, Encyclopedia Of Islam, dalam bab Ibnu Khaldun Worsley, Peter, Power in Britian: Sociological Reading’s, (eds) John Urry dan John Wakeford, London : Heinemann Educational Books, 1973 Zamharir, Muhammad, Hari, Agama dan Negara, Analisis Kritis Pemikiran Politik Nurcholish Madjid, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2004

22

23

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->