P. 1
Periwayatan Hadits Secara Lafadz Dan Makna

Periwayatan Hadits Secara Lafadz Dan Makna

4.0

|Views: 2,085|Likes:

More info:

Published by: Agus Jaya Kholid Saude on Dec 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/04/2013

pdf

text

original

Periwayatan Hadits Secara Lafadz dan Makna Oleh : H.

Agus Jaya
PENDAHULUAN Hadits merupakan sumber pokok ajaran Islam yang kedua setelah al- Qur'an, yang di dalamnya terkandung ajaran yang terkait dengan umat zaman Nabi sampai kepada umat era globalisasi sekarang ini, oleh karena itu perlu bagi umat manusia untuk memahami, mengkaji teks hadits lebih dalam, baik yang tersurat maupun yang tersirat, dan mengaflikasikannya dalam kehidupan nyata, serta mentaatinya, sehingga tercapai kehidupan yang penuh dengan ridho Allah swt. Hadits1 yang dapat diartikan sebagai laporan sesuatu yang dihubungkan kepada Nabi saw. berupa pernyataan, perbuatan, penetapan, dan persifatan atau perilaku Nabi, merupakan dokumen penting ajaran keagamaan dan sekaligus sumber ajaran keagamaan Islam bagi kehidupan.2

Periwayatan Hadits Secara Lafadz dan Makna Defenisi periwayatan Hadits secara lafadz adalah periwayatan yang disampaikan sesuai dengan redaksi yang dikatakan oleh nabi Muhammad saw secara persis. Akan tetapi dalam kenyataannya periwayatan secara lafadz jumlahnya sangat sedikit.3

Penggunaan kata Hadits tanpa dibedakan dengan penggunaan kata sunnah, karena keduanya merujuk pada perkataan Nabi, yang berupa perbuatan, perkataan, dan ketetapan Nabi secara umum, namun dalam segi penggunaannya, seringkali perkataan keduanya digunakan secara bergantian. Tanpa membedakan mana yang betul dan salah, keduanya sama. 2 Moh. Erfan Soebahar, Respon Muhadditsun Menghadapi Tantangan Kehidupan Umat, Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Hadits IAIN Wali Songo, Semarang, 31 Agustus 2005, hlm. 57 3 Ensikloedi Islam, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2003. Cet. 11 hal. 55

1

1

Adapun Periwayatan Hadits secara Makna : adalah meriwayatkan sesuatu hadits yang sesuai dengan makna lafadznya yang pernah didengarnya.4 Atau hadits yang diriwayatkan dengan makna yang dimaksud oleh nabi Muhammad saw, meskipun dari segi redaksi terdapat perubahan. Dan realitanya mayoritas hadits nabi Muhammad saw diriwayatkan dalam bentuk makna, karena Memang Rasulullah saw memberikan isyarat bahwa meriwayatkan hadits dengan makna diperbolehkan. Walau meriwayatkan hadits dengna ma’na diperbolehkan, namun tetap harus memenuhi kriteria berikut ; a. perawi harus paham betul isi dan kandungan hadits dimaksud b. perawi harus memahami secara luas perbedaan-perbedaan lafadz sinonim (murodif) dalam bahasa Arab. c. Perawi tersebut hanya lupa lafadz hadits yang disampaikan Rasulullah saw sementara maknanya diingat secara persis d. Muslim e. Baligh f. Adil g. Dhabit (cermat dan kuat)5 Adapun periwayatan hadits yang dilakukan oleh para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in dilakukan dengan dua cara, yaitu : 1. periwayatan dengan lafadz (riwayah bi al-lafzi) 2. periwayatan dengan ma’na (riwayat bi al-ma’na) Diantara kategori hadits yang diriwayatkan dengan lafadz antara lain : 1. Hadits-hadits tentang do’a 2. Dalam bentuk muta’abbad seperti tentang azan dan syahadat 3. Tentang jawami’ al-kalimah

4

Muhammad Shoddin al-Munshowi, Kamus Mustholah al-Hadits Nabawi, Dar al-Fadhilah, Hal. Ensiklopedi Islam , PT Ichtir Baru Van Hoeve, Jakarta. 2003, Cet. 11 Hal. 55

62
5

2

Cara Periwayatan Hadits

Periwayatan secara lafadz

Periwayatan secara makna

HaditsHadits Do’a

Hadits dalam bentuk Muta’abbad

Jawami’ al Kalim

Menyikapi hal diantas sebagian ahli hadits, ahli fiqh, dan ahli ushul bersikap ketat, mereka mewajibkan periwayatan hadits dengan lafadz dan tidak memperbolehkan meriwayatkan dengan makna sama sekali.6 Disisi lain mayoritas ulama cendrung berpendapat bahwa seorang muhaddits boleh meriwayatkan dengan makna tidak hanya dengan lafadz, hal inipun tetap mengacu pada persyaratan yang sangat ketat yaitu mampu memahami bahasa Arab dengan segala seluk beluknya dan mengerti maknamakna dan kandungan hadits serta memahami kata yang bisa berubah makna dan kata yang tidak merubahnya, Jika syarat-syarat tersebut telah terpenuhi maka seorang muhaddits diperbolehkan untuk meriwayatkan dengan makna.

6

Ajaj al-Khotib, Assunnah qobla at-Tadwin, Beiru, Dar al-Fikr, 1997, hal 126

3

Karena dengan pemahamannya yang kuat seorang muhaddits bisa menghindari perubahan makna dan pergeseran hukum-hukum yang terkandung didalamnya.7 Namun bila seorang perawi tidak mengerti dan tidak memahami kata-kata yang bisa merubah makna, maka ia tidak diperbolehkan untuk meriwayatkan hdits dengan makna. Para ulama sependapat dalam hal penyampaian sebuah hadits hendaklah sesuai dengan yang didengarnya, dalam hal ini imam as-Syafi’i mengatakan ”orang yang meriwayatkan hadits haruslah kukuh agamanya, mengetahui dengan benar haditsnya, memahami apa yang diriwayatkannyadan mengerti betul kata-kata yang bisa berubah makna. Disamping itu, ia juga harus menyampaikan hadits dengan huruf-hurufnya seperti yang ia dengar, tidak meriwayatkannya dengna makna. Karena bila demikian (bila ia tidak mengerti kata-kata yang dapat merubah makna) ia akan tidak menyadari barangkali ia telah merubh yang halal menjadi haram. Jika ia menyampaikan hadits dengan lafadz akan menutup kemungkinan terjadinya pergeseran pengertian hadits yang bersangkutan. Perawi juga harus hafal betul seandainya ia akan meriwayatkan dengna hafalannya dan mengerti betul tulisannya jika ia akan meriwayatkan dengan tulisannya.8 Jelaslah bahwa orang yang mengerti betul kata-kata yang bisa merubah makna boleh meriwayatkan hadits dengan makna bila ia tidak ingat redaksinya, karena ia telah menerima kata dan makna. Namun karena ia tak mampu menyampaikan keduanya maka bolehlah baginya dalam menyampaikan hadits untuk memilih salah satu diantara keduanya. Maka tidak ada halangan meriwayatkan hadits secara makna selama ia aman dari keterpelesetan dan kekeliruan. Bahkan imam Mawardi mewajibkan seseorang menyampaikan dengan makna bila ia telah lupa akan lafadznya, karena bila tidak ia sampaikan maka ia termasuk golongn orang ang menyembunyikan hukum. Kemudian Beliau berkata ”namun bila ia tidak lupa lafadznya maka tidak boleh baginya menyampaikan selainnya, karena kalam Nabi saw mengandung fashahah yang tidak dimiliki oleh kalam lainnya.9 Bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa
7 8

Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadits, Jakarta, Gaya Media Pratama, Cet. 3 hal. 216 Kutipan Ajjaj dari Arrisalah. Hal. 370-271 9 Kutipan Ajjaj dari Tadrib ar-Rawi, hal 313

4

periwayatan sebuah hadits dengna makana hanya diperbolehkan bagi ornagorang yang benar-benar mengerti, disamping dengan syarat yang diriwayatkannya bukan kata-kata yang merupakan bacaan ibadah atau ungkapan-ungkapan nabi saw yang padat makna (jami’) Pada prakteknya para sahabat dan tabi’in serta ahli-ahli hadits setelah mereka tidak beralih dari redaksi aslinya kecuali berkenaan dengan keterangan mengenai keadaan peperangan atau peristiwa tertentu. Para sahabat, tabi’in dan ahli hadits sesudah mereka sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits dan setelah meriwayatkan sebuah hadits mereka mengatakan : atau seperti yang disabdakan Nabi (au kama Qola), atau ungkapan sejenis (au nahwa haza) atau ungkapan yang serupa (au Syibhahu) seperti yang diungkapkan oleh Abdullah Ibnu Mas’ud, Abu Darda’, Anas Ibn Malik dan lain-lain10. Demikian juga sebaliknya para ulama melarang seorang perawi untuk meriwayatkan hadits secara makna apabila ia tidak ’Alim dan tidak mengetahui apa maksud maknanya. Kalangan sahabat Nabi saw sendiri ada yang dikenal dengan sungguhsungguh berusaha menghafal hadits secara lafadz, misalnya Abdullah bin Umar bin al-Khattab. Hal ini memberi petunjuk adanya sabda Nabi yang diriwayatkan secara lafadz. Adapun hadits nabi yang tidak berupa sabda, periwayatan yang dilakukan oleh sahabat sebagai saksi mata berlangsung secara makna (riwayat bi almakna), karena hadits yang non sabda ketika disampaikan oleh sahabat maka rumusan kalimatnya berasal dari sahat itu sendiri bukan dari Nabi Muhammad saw. Para sahabat Nabi sendiri umunya memperbolehkan periwayatan hadits dengna makna, diantara mereka itu adalah Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud, Anas bin Malik, Abu Darda’, Abu Hurairoh, Aisyah. Sebagian kecil saja diantara mereka yang cukup ketat berpegang teguh pada periwayatan secara lafadz, diantaranya Umar bin Khattab dan Zid bin Arqom, walaupun demikian mereka tidaklah melarang secara tegas kepada sahabat lain
10

Ajjaj al-Khatib, As-Sunnah Qobla at-Tadwin, Beirut, Dar al-Fikr, 1971, hal. 130

5

yang meriwayatkan secara makna. Para sahabat yang sangat ketat dalam meriwayatkan secara lafadz sangat memahami semikian sulitny auntuk meriwayatkan seluruh sabda nabi Muhammad saw secara lafadz.11 Urgensi Periwayatan Hadits secara Lafadz dan Makna a. Secara Lafadz Menjaga keotentikan hadits sehingga tidak berubah Menjaga kebenaran makna sehingga tidak ada walapun hanya dalam bentuk kata. perebedaan dari dikeluarkannya hadits tersebut oleh Rasulullah saw hingga sampai ketangan para pembaca. hadits b. Secara Makna Membantu mempermudah menyampaikan maksud yang dikehendaki Mempermudah menyampaikan nilai-nilai yang terkandung dalam hadits tanpa harus menghabiskan tenaga, waktu dan biaya untuk menelusuri terlebih dahulu keotentikan lafadz hadits Mempermudah Proses tabligh al hadits kepada orang yang Memudahkan para pelajar hadits terutama pemula untuk tidak terlalu memahami bahasa Arab. memahami kandungan hadits. Periwayatan Hadits Secara Makna Bagi Selain Sahabat. Ulama mempermasalahkan boleh tidaknya selain sahabat Nabi meriwayatkan hadits secara makna. Abu Bakar bin al-Araby (wafat 573 H/1148 M) berpendapat ”selain sahabat Nabi tidak diperkenalkan meriwayatkan hadits secara makna. Menurut Ibnu al-Araby ’sahabat Nabi dibolehkan meriwayatkan hadits secara makna, karena mereka itu :
11

Membantu menghindari kesalahan dalam menafsirkan

Syuhudi Ismail, Kaedah Keshahihan Sanad Hadits, Jakarta, PT Bulan Bintang 1988, hal. 98

6

c. memiliki pengetahuan bahasa Arab yang tinggi (al-Fashohah dan al-Balaghah) d. menyaksikan langsung keadaan dan perbuatan nabi.12 Ulama lainnya yang dikenal sangat ketat berpegang pada periwayatan secara lafadz ialah : Muhammad bin Sirin, Raja’ bin Haywah, Muhammad, Tsa’lab bin Nahwi dan Abu Bakar are-Razi. Disisi lain mayoritas ulama hadits memperbolehkan periwayatan hadits secara makna dengan beberapa ketentuan. Walau ketentuan tersebut cukup beragam namun ada beberapa ketentuan yang disepakati, yaitu : a. yang boleh meriwayatkan hadits secara makna hanyalah mereka yang benarbenar memiliki pengetahuan bahasa Arab yang dalam. Dengan demikian periwayatan matan hadits akan terhindar dari kekeliruan. Misalnya menghalalkan yang haram dan sebaliknya. b. Periwayatan dengan makna dilakukan karena sangat terpaksa misalnya karena lupa susunan secara harfiah. c. Yang diriwayatkan secara makna bukanlah sabda Nabi saw dalam bentuk bacaan yang sifatnya ta’abbudi, misalnya zikir, do’a, azan, takbir, dan syahadat serta sabda Nabi dalam bentuk jawami’ al-kalam. d. Periwayat yang meriwayatkan hadits secara makna atau yang mengalami keraguan akan susunan matan hadits yang diriwayatkan agar menambah kata-kata ”au kama qola”, atau ”au nahwa haza”, atau yang semakna dengannya setelah menyetakan hadits yang bersangkutan. e. Kebolehan periwayatan hadits secara makna hanya terbatas pada masa sebelum dibukukannya hadits-hadits secara resmi. Setelah masa pembukuan hadits (tadwin al-Hadits) dimaksud, maka periwayatan hadits harus secara lafadz.13 Ketentuan yang terakhir dikemukakan oleh kalangan al-Mmuta’akhirin, sedang keempat ketentuan yang disebutkan pertama banyak disinggung bik oleh kalangan ulama al-mutaqoddimin dan al-muta’akhirin.
12 13

Qoaim bin

ibid. ibid.

7

Adanya berbagai ketentuan tersebut menandakan bahwa periwayatan hadits secara makna walaupun oleh sebagian besar ulama hadits dibolehkan, tetapi prakteknya sangatlah selektif karena para perawi tidak begitu saja diperbolehkan meriwayatkan secara makna akan tetapi mereka diikat oleh ketentuan-ketentuan yang sangat ketat. Tapi karena ketentuan-ketentuan yang mengikat para perawi tidaklah berstatus ijma’ maka keragaman susunan redaksi matan untuk hadits-hadits yang semakna tetap sulit terhindarkan. Contoh konkrit periwayatan hadits secara makna adalah kejadian seorang badui yang kencing dalam masjid dan hal itu hanya tejadi sekali, namun dalam kutub as-sittah kita temukan beberapa riwayat dengan yang dalam redaksinya terdapat sedikit perbedaan.14

‫1. فى صحيح البخارى : عن أنس قال : قال رسول الله ص للى الل له‬ ‫ل‬ ‫ل‬
15

.‫عليه وسلم : ل تزرموه, ثم دعا بدلو من ماء فصب عليه‬

Dalam shohih Imam Bukhori dari Anas ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda “Dan janganlah kamu mengusir oang Badui itu, kemudian Rasulullah meminta seember air, dan air tersebut disiramkan ditempat kencingnya”.

: ‫2. وفيه : عن أبى هريرة قال رسول الله صلى الله عليلله وسلللم‬
16

.‫دعوه و أهرقوا على بوله ذنوبا من ماء أو سجل من ماء‬

Demikian juga dari Abi Hurairoh ra, Rasulullah saw bersabda biarkan dia dan siramlah tempat yang dikencangi a’raby tadi dengan setimba air.

‫3. وفى صحيح مسلم عن أنس قال : قلال رسلول اللله صللى اللله‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫عليه وسلم "دعوه ول تزرموه "قال : فلما فرغ دع لا ب لدلو م لن م لاء‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل ل‬
17

‫فصب عليه‬

14

Musfir ‘Azmillah ad-Daminy, Maqoyis Naqdi Mutun as-Sunnah, Riyadh, tanpa penerbit dan tt.

hal. 20 Ibnu Hajar al-Asqolani, Fathul Bari bi syarhi Shohihi al-Bukhori, Kairo, Dar al-Hadits 1998. Hadits no. 625 jil. 10 hal 542 16 Ibid, Hadits no. 220 Jil. 1 Hal 403 17 Imam Muhyiddin Abi Zakaria Yahya bin Syaraf an0Nawawi, Shohih Muslim bi Syarhi anNawawi, Kairo, Dar al-Fajr li at-Turats, 1999 Jil. 1 hal. 98
15

8

Dan pada shohih Imam Muslim diriwayatkan dari Anas ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda biarkan dia dan janganlah kamu mengusirnya, ketia ia (a’raby) selesai kencing, Rasulullah meminta seember air lalu Beliau menyirami tempat nya (tempat kencing a’raby tersebut).

‫4. وفيه أيضا عن أنس قال : فصلاح بله النلاس, فقلال رسلول اللله‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫صلى الله عليه وسلم دعوه, فلما فرغ أمر رس لول الل له ص للى الل له‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬
18

‫عليه وسلم بذنوب فصب على بوله‬

Dalam kitab yang sama dari Anas, ia berkata ketika orang-orang berbunyi (untuk mengusirnya) Rasulullah saw bersabda biarkanlah, ketika ia selesai kencing Rasulullah saw memerintahkan untuk supaya membawa seember air dan Beliau menyiramkannya pada air kencingnya (tempat kencingnya).

‫5. وفيله علن أنلس أيضلا قلال : قلال رسلول اللله صللى الله عليله‬ .... ‫وسلم : ل يزرموه, دعوه‬
Dalam kitab yang sama dari Anas, ia berkat abahwa Rasulullah saw bersabda janganlah kalia usir dia dan biarkan ia.

‫6. وفى سنن إبى داود : عن أبى هريرة قال : ثم ل لم يلب لث أن ب لال‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫فى ناحية المسجد فأسرع الناس إليه فنهاهم النبى صلى الل له علي له‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫وسلم وقال : إنما بعثتم ميسرين وللم تبعثلوا معسلرين صلبوا عليله‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫سسجل من ماء أو قال ذنوبا من ماء‬
Didalam Sunan Abi Daud, dari Abu Hurairoh ia berkata kemudian ia (a’rabi) tidak lama berdiam dlaam masjid, lalu ia kencing dalam masjid sehingga para sahabat segera menghampirinya (untuk mengusirnya), maka Rasulullah saw bersabda sesungguhnya kamu diutus supaya mempermudah dan kamu tidak di utus untuk mempersulit. Siramlah dengna seember air diatasnya atau Beliau berkata atau dengan seember air

‫7. وفى سنن الترمذى عن أبى هريرة فقال النبى ص للى الل له علي له‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ .‫وسلم " أهرقوا عليه سجل من ماء‬
18

Ibid, Hal 100

9

Dalam kitab sunan at-tamizie dari Abu hurairoh ra Rasulullah saw bersabda dalam hal ini ”siramlah diatasnya dengan setimba air atau seember air.

‫8. وفى سنن النسائى : عن أنس فقال : قال النبى صلى الله عليلله‬ ‫وسلم "دعوه ل يزرموه وصبوا عليه سجل من ماء‬
Dalam Sunan an-Nasa’i diriwayatkan dari Anas ia berkata Rasululah saw bersabda, biarkan dia dan siramlah ditempat kencing dengan seember air.

‫9. وفيه أيضا عن أبى هريرة قال رسول الله صلى الله عليه وسلللم‬ .‫دعوه وأهرقوا على بوله دلوا من ماء إنما بعثتم ميسرين‬
Di dalam kitab yang sama dari Abu Hurairoh, Rasulullah saw bersabda : ”biarkanlah dan siramilah tempat kencingnya dengan seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk menciptakan keringanan. Dengan pemaparan beberapa riwayat hadits ini, kita akan menemukan bahwasanya periwayatan yagn mereka riwayatkan sebagaimana disabdakan Rasulullah saw dengan menggunakan makna dan tidak meriwayatkan dengan menggunakan lafadz. Dalam riwayat ini kita temukan ungkapan bahwa Rasulullah kadang menggunakan kata menggunakan lafadz

‫دعوه‬

dan pada kesempatan lain Beliau saja, atau

‫ ل تزرمللوه‬atau ‫ لتللرزوه‬atau ‫دعللوه‬ ‫ل‬ ‫ل‬

menggabungkan keduanya ‫ل تزرموه , دعوه‬ Dari redaksi-redaksi di atas dapat dipahami bahwa Nabi Muhammad saw tidak mengucapkan redaksi-redaksi tersebut yang diriwayatkan pada beberapa contoh diatas akan tetapi Beliau mengungkapkan dengan salah satu riwayat saja dan perawi telah meriwayatkan dengan menggunakan makna bukan dengan lafadz Rasulullah saw sebagaimana yang di ungkapkannya. Pendapat lain mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda …….. kemudian ada diantara para rawi tersebut yang cukup dengan menggunakan sebagian kalimatnya, kemudian ada juga rawi yang mengatakan ........ atau ……… ada pula yang menggabungkan keduanya. Kemudian ada yang menjelaskan riwayat dengan lafadz ……. Atau periwayatan lain ………, dengan

10

mendahulukan ...... atau dalam riwayat an-Nasai ........... ini adalah kalimat bersambung yang masih memiliki hubungan. Dimana kalimat itu memuat makna yang tidak dimuat dalam kalimat ........... atau ....... kemudian perawi tidak menulisnya, hal ini berarti rawi menukil dari perkataan Nabi Muhammad saw dan tidak persis redaksinya. Periwayatan hadits pada masa sahabat dan orang-orang sesudahnya biasa menggunakan makna sehingga harus memunculkan banyak lafadz yang memiliki kesesuain makna, keadaan seperti ini terjadi secara alami, walau dalam perjalanan seorang perawi senantiasa memiliki motivasi dan semangat untuk menyampaikan lafadz hadits Nabi muhammad Ibnu Umar sangat melarang seseorang meriwayatkan hadits dengan makna, beliau mengutip hadits nabi Muhammad saw : ”perumpamaan orang munafik seperti kambing yang duduk bersimpuh diantara dua kambing. Selanjutnya Ibnu Umar berkata : ”celakalah kamu, janganlah kamu mendustakan Rasul. Disaat lawin Nabi Muhammad saw jug apernah bersabda : ”orang munafik itu bagaikan seorang yang sakit kedua belah matanya yang berada dikedua kambing yang sehat. Ambillah pelajaran dari perubahan dua lafadz ”.....” yang asal katanya adalah ”...” ini adalah bentuk kedustaa terhadap Rasulullah saw,. Diriwayatkan dari Muhammad bin Ali ia berkata ketika Ibnu Umar pernah mendengar hadits maka Ibnu Umar tidak menambahnya, tidak mengurangi, tidak melampaui batas dan juga tidak meringkasnya.19 Syarat yang harus dipenuhi dalam periwayatan hadits : 1. Perawi hendaklah ’Alim (mengetahui lafadznya dan penunjukkan maknanya) 2. Perawi mengetahui cakupan makna 3. Perawi mengetahui kadar perbedaan diantaranya (makna yang tercakup hadits) Mayoritas Ulama berpendapat bahwa boleh meriwayatkan hadits dengan makna, namun kebolehan tersebut tetap di sertai persyarata-persyatan ketat yang harus terpenuhi sehingga diharapkan periwayatan it sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh lafadz dari nabi Muhammad saw, dan jika seorang perawi
19

Musfir ‘Azmillah ad-Daminy, Maqoyisi Naqdi Mutun as-Sunannah, Kairo, Dar al-Waroq. Hal.

21

11

tidak memahami maksud yang terkandung dalam lafadz sebuah hadits maka perawi tersebut tidak diperbolehkan untuk meriwayatkan hadits tersebut secara makna. Imam as-Sarahsi berkata bahwa khabar itu adakalanya muhkam (jelas/sempurna), atau dhomir (bukan makna hakiki), atau musykil (sulit dipahami), atau musytarak (memiliki makna lebih dari satu) atau mujmal (global), atau mutasyabih (memiliki kesamaan), atau jawami’ al-kalim (sarat dengan makna). Bagi seorang perawi boleh meriwayatkan khabar yang muhkam secara makna dengan syarat bahwa sang perawi tersebut mengetahui aspek-aspek bahasa. Adapan khabar yang dhomir hanya boleh diriwayatkan secara makna bagi para perawi yang menguasai bahasa Arab dan memahami syariah. Sedang khabr musykil dan musytarak tidak boleh diriwayatkan secara makna, karena keduanya tidak bisa dipahami kecuali dnegan metode takwil, sedangkan takwil itu sendiri memiliki sumber yang sama dengan qiyas yaitu akal, maka dengan sendirinya tidak bisa dijadikan hujjah untuk penetapan yang lain. Begitu juga khabar mutasyabih dan jawami’ al-kalim. Walaupun demukian masih ada sebagian kecil ulama yang memperbolehjkan periwayatan hadits dengan makna. Argumen kelompok yang melarang dan memperbolehkan periwayatan hadits secara makna Argumen kelompok yang menolak periwayatan hadits secara makna adalah hadits nabi Muhammad saw yang berbunyi :

‫نضر الله إمرأ سمع منا حديثا فحفظه‬
Allah swt memuji orang yang menerima hadits dariku kemudian ia menghafalnya lalu ia menyampaikannya kepada orang lain, karena bisa jadi orang yang menerima hadits tersebut (dari perawi) lebih hafal dari yang mendengan (perawi yang langsung mendenga hadits nabi tersebut). Pada riwayat lain Nabi Muhammad saw bersabda :

‫رب حامل فقه غير فقيه و رب حامل فقه إلى من هو أفقه‬

12

”banyak orang yang menyampaikan fiqih namun bukan ahli fiqih, dan banyak yang menyampaikan fiqih kepada orang yang ahli fiqih. Hadits diatas walaupun dijadikan argumen bagi keompok yang menolak periwayatan hadits tidak berarti penyampaian hadits harus dengan lafadz, justru sebaliknya meriwayatkan hadits dengan makna atau maksud yang ada di dalam lafadz tanpa mengurangi dan menambahi esensi isi hadits maka dipandang sah atau benar dan hadits diatas juga menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan khabar itu adalah mentransfer makna bukan lafadz. Oleh karena itu sering kita temukan redaksi hadits yang berbeda-beda dengan makna yang sama. Adapun argumen kelompok yang membolehkan seorang perawi meriwayatkan hadits dengan makna adalah :

‫عن إبن مسعود أن رجل سأل التبى صلى الله علية وسلم وقال له ي لا رس لول‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫الله تحدثنا يحديث ل نقدر أن نسوقه كما سمعناه, فقال النبى صلى الله عليه‬ ‫وسلم إذا أصاب احدكم المعنى فليحدث‬
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa ada seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah saw, wahai Rasulullah : kami telah menerima sebuah hadits, kami tidak mampu untuk menyebutkan dengna sempeurna sebagaimana saya (saya mendengarnya), kemudian nabi Muhammad saw bersabda : apabila salah seorang diantara kamu memperoleh makna hadits maka sampaikanlah hadits itu kepada orang lain. Dari segi sejarah as-Siba’i menjelaskan dapat dipastikan bahwa tidak pernah terjadi dalam masa hidup Rasulullah saw seseorang yang berserah diri dan menjadi sabahat Beliau kemudian memalsukan suatu ucapan dari sabda Beliau.

Penutup

13

Periwayatan hadits dengan makna hanya dapat dilakukan oleh mereka yang telah memenuhi syaratnya dan dalam keadaan yang sangat mendesak mereka untuk meriwayatkannya serta perawi tersebut benar-benar memahami kandungan hadits yang diriwayatkannya dengan makna. Walaupun demikian fokus utama bagi ahli hadits hendaklah meriwayatkan sesuai lafadznya, sebagai upaya penjagaan hadits-hadits Rasulullah saw. Wallahu A’lam.

Daftar Pustaka

14

al-Asqolani, Ibnu Hajar, Fathul Bari bi syarhi Shohihi al-Bukhori, Kairo, Dar alHadits 1998 ad-Daminy, ‘Azmillah, Musfir, Maqoyis Naqdi Mutun as-Sunnah, Riyadh, tanpa penerbit dan tt. Ensikloedi Islam, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2003 An Nawawi, Syaraf, Yahya, Abi Zakaria, Muhyiddin, Imam, Shohih Muslim bi Syarhi an-Nawawi, Kairo, Dar al-Fajr li at-Turats, 1999 Syuhudi Ismail, Kaedah Keshahihan Sanad Hadits, Jakarta, PT Bulan Bintang 1988 al-Khatib, Ajjaj, Muhammad, Ushul al-Hadits, Jakarta, Gaya Media Pratama _______Assunnah qobla at-Tadwin, Beiru, Dar al-Fikr, 1997 al-Munshowi, Shoddin, Muhammad, Kamus Mustholah al-Hadits Nabawi, Dar alFadhilah Soebahar, Erfan, Moh, Respon Muhadditsun Menghadapi Tantangan

Kehidupan Umat, Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Hadits IAIN Wali Songo, Semarang, 31 Agustus 2005

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->