P. 1
Tugas Laporan Buku Individu

Tugas Laporan Buku Individu

|Views: 1,004|Likes:
Published by Awell Hotmant
tugas kuliah laporan buku
tugas kuliah laporan buku

More info:

Published by: Awell Hotmant on Dec 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2015

pdf

text

original

Laporan Buku

Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
1

1UDUL BUKU : Membangun Karakter dan Kepribadian melalui PKn
PENULIS : Syahrial Syarbaini. Aliaras Wahid. H.A Djasli. Sugeng Wibowo
PENERBIT : Graha Ilmu. Yogyakarta
TAHUN : I. 2006
1UMLAH BAB : IX BAB
TEBAL : IX dan 191 Halaman

BAB I
PENDAHULUAN
Apabila kita simak bersama, bahwa dalam pendidikan atau mendidik tidak hanya sebatas
mentransIer ilmu saia, namun lebih iauh dan pengertian itu yang lebih utama adalah dapat
mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar meniadi lebih baik, lebih
sopan dalam tataran etika maupun estetika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Memang idealnya demikian. Namun apa yang teriadi di era sekarang? Banyak kita
iumpai perilaku para anak didik kita yang kurang sopan, bahkan lebih ironis lagi sudah tidak
mau menghormati kepada orang tua, baik guru maupun sesama. Banyak kalangan yang
mengatakan bahwa "watak" dengan "watuk" (batuk) sangat tipis perbedaannya. Apabila
"watak" bisa teriadi karena sudah dari sononya atau bisa iuga karena Iaktor bawaan yang sulit
untuk diubah, namun apabila "watak" ÷ batuk, mudah disembuhkan dengan minum obat
batuk. Mengapa hal ini bisa teriadi? Jelas hal ini tidak dapat terlepas adanya perkembangan
atau laiu ilmu pengetahuan dan teknologi serta inIormasi yang mengglobal, bahkan sudah
tidak mengenal batas-batas negara hingga mempengaruhi ke seluruh sendi kehidupan
manusia.
Banyak kalangan memberikan makna tentang pendidikan sangat beragam, bahkan sesuai
dengan pandangannya masing-masing. Azyumardi Azra dalam buku "Paradigma Baru
Pendidikan Nasional Rekonstruksi dan Demokratisasi", memberikan pengertian tentang
"pendidikan" adalah merupakan suatu proses di mana suatu bangsa mempersiapkan generasi
mudanya untuk menialankan kehidupan dan untuk memenuhi tuiuan hidup secara eIektiI dan
eIisien. Bahkan ia menegaskan, bahwa pendidikan lebih sekedar pengaiaran, artinya, bahwa
pendidikan adalah suatu proses dimana suatu bangsa atau negara membina dan
mengembangkan kesadaran diri diantara individu-individu (www.tnial.mil.id).
Dengan wacana di atas kita harus sadar, bahwa salah satu yang utama adalah
pembentukan karakter dan watak atau kepribadian karena hal ini sangat penting, bahkan
sangat mendesak dan mutlak adanya (tidak bisa ditawar-tawar lagi). Hal ini cukup beralasan.
Mengapa mutlak diperlukan? Karena adanya krisis yang terus berkelaniutan melanda bangsa
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
2

dan negara kita sampai saat ini belum ada solusi secara ielas dan tegas, lebih banyak berupa
wacana yang seolah-olah bangsa ini diaiak dalam dunia mimpi. Tentu masih ingat beberapa
waktu yang lalu Pemerintah mengeluarkan pandangan, bahwa bangsa kita akan makmur,
seiahtera nanti di tahun 2030. Suatu pemimpin bangsa yang besar untuk mengaiak bangsa
atau rakyatnya meniadi "pemimpi" dalam menggapai kemakmuran yang dicita-citakan.
Tidak perlu disangsikan lagi, bahwa pendidikan karakter merupakan upaya yang harus
melibatkan semua pihak baik rumah tangga dan keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah,
masyarakat luas. Oleh karena itu, perlu menyambung kembali hubungan dan educational
networks yang mulai terputus tersebut. Pembentukan dan pendidikan karakter tersebut, tidak
akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan
keharmonisan.
Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan
pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan. Sebagaimana disarankan
Philips, keluarga hendaklah kembali meniadi 8.hool of love, sekolah untuk kasih sayang
(Philips, 2000 dalam www.tnial.mil.id) atau tempat belaiar yang penuh cinta seiati dan kasih
sayang (keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah). Sedangkan pendidikan karakter
melalui sekolah, tidak semata-mata pembelaiaran pengetahuan semata, tatapi lebih dari itu,
yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur dan lain
sebagainya. Pemberian penghargaan (prizing) kepada yang berprestasi, dan hukuman kepada
yang melanggar, menumbuhsuburkan (.heri8ing) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya
mengecam dan mencegah (di8.owaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk. Selaniutnya
menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (.hara.9erba8e edu.a9ion) dengan menerapkan
ke dalam setiap pelaiaran yang ada di samping mata pelaiaran khusus untuk mendidik
karakter, seperti; pelaiaran Agama, PKn dan sebagainya.
Untuk itu pendidikan kewarganegaraa yang bertuiuan untuk meniadikan warga negara
yang baik (good .i9izen) dan meniadikan warga negara yang cerdas (82ar9 .i9ezen) memiliki
peran penting dalam pelaksanaan pemeblaiaran untuk mencapai apa yang dicita-citakan oleh
bangsa dan negara kita.
Buku yang dilaporkan ini terdiri dari IX bab yang secara umum membahas menganai
tentang bagamana membangun karakter dan kepribadian melalui pembelaiaran pendidikan
kewarganegaraan yang meliputi pembelaiaran tentang IilsaIat pancasila, identitas nasional,
politik dan strategi, demokrasi, HAM dan Rule oI Law, hak dan kewaiiban warga negara,
geopolitik dan geostrategi Indonesia.
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
3

BAB II
PEMBAHASAN

A. RUMUSAN ISI POKOK PEMIKIRAN PENULIS
Buku ini terdiri dari IX bab, yang secara umum memuat materi tentang mata kuliah
'Pendidikan Kewarganegaraan Me2bangun Karak9er dan Kepribadian¨. Berikut ini
kami rumuskan isi pokok pemikiran penulis buku yang diuraikan dengan menelusuri bab
demi bab.
BAB I Pendahuluan
Ruang lingkup pada Bab I ini, penulis menggambarkan tiga point penting yang
dimulai dengan latar belakang FilsaIat pendidikan kewarganegaraan di perguruan tinggi
Umum, kemudian visi dan misi kelompok mata kuliah pengembangan kepribadian, dan
kompetensi dasar mata kuliah PKn.
a. Latar belakang IilsaIat pendidikan kewarganegaraan di perguruan tinggi umum
Perubahan yang teriadi di dunia dewasa ini tersa begitu cepat, sehingga berakibat
pada tatanan yang telah ada di dunia ini berubah, sedangkan disisi lain tatanan yang
baru masih belum terbentuk. Hal ini berakibat pada sendi-sendi kehidupan yang
selama ini diyakini kebenarannya meniadi usang. Nilai-nilai yang selama ini meniadi
panutan hidup telah kehilangan otoritasnya, sehingga manusia meniadi bingung.
Kebingungan itu menimbulkan berbagai krisis, terutama ketika teiadi krisis moneter
yang dampaknya terasa sekalidibidang politik sekaligus iuga mempengaruhi bidang
moraldan sikap prilaku manusia di berbagai belahan dunia, khususnya negara
berkembang termasuk Indonesia. Guna mengantisipasi kondisi tersebut diatas,
pemerintah perlu membuat tindakan yang signiIikan agar tidak menuiu suatu kondisi
yang lebih memperhatinkan. Salah satu tindakan yang dapat dilakukan pemerintah
dalam meniaga nilai-nilai panutan hidup dalam bangsa dan bernegara secara lebih
eIektiI yaitu melalui bidang pendidikan. Adapun upaya dibidang pendidikan
khususnya dibidang pendidikan tinggi yaitu mengadakan perubahan-perubahan di
bidang kurikulum yang diharapkan mampu meniawab problem transIormasi nilai-
nilai tersebut.


Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
4

b. Visi dan misi kelompok mata kuliah pengembangan kepribadian
Visi kelompok MPK di perguruan tinggi merupakan sumber nilai dan pedoman
dalam mengembangkan dan menyelenggarakan program studi guna mengantar
mahasiswa memantapkan kepribadiannya sebagai manusia Indonesia seutuhnya.
Misi kelompok MPK diperguruan tinggi membantu mahasiswa memantapkan
kepribadiannya agar secara konsisten mampu mewuiudkan nilai-nilai dasar
keagamaan dan kebudayaan, rasa kebangsaan dan cinta tanah air sepaniang hayat
dalam menguasai, menerapkan dan mengembangkan ilmu pengtahuan, teknologi dan
seni yang dimilikinya dengan rasa tanggung iawab.
c. Kompetensi dasar mata kuliah PKn
Kompetensi dasar mata kuliah PKn dirumuskan sebagai berikut: Agar mahasiswa
meniadi ilmuan dan propesional yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air
demokratis yang berkeadaban, meniadi warga negara yang memiliki daya saing,
bedisiplin dan berdedikasi aktiI dalam membangun kehidupan yang damai
bedasarkan sistem nilai-nilai Pancasila.

Bab II Filsafat Pancasila
Permasalah yang paling mendasar di angkat dalam bab ini adalah tentang pancasila
sebagai sistem IilsaIat yang meliputi kaiian Ontologi, Epistimologi, dan aksiologi
pancasila. Secara ontologis kaiian pancasila sebagai IilsaIat dimaksudkan sebagai upaya
untuk mengetahui hakekat dasar dari sila-sila Pancasila. Menurut Notonagoro 'hakekat
dasar ontologis Pancasila adalah manusia¨. Mengapa? Karena manusia merupakan
subyek hukum pokok dari sila-sila Pancasila.
Hal ini dapat diielaskan bahwa yang berketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan
yang adil dan beradab, berkeastuan Indonesia, berkerakyatan yang dipinpin oleh hikmat
kebiiaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, berkeadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia pada hakekatnya adalah manusia.
Jadi secara ontologis hakekat dasar keberadaan dari sila-sila pancasila adalah
manusia. Untuk hal ini penulis iuga tetap menggunakan peniabaran Notonagoro yang
mengemukakan bahwa manusia sebagai pendukung pokok sila-sila pancasila secara
ontologi memiliki hal-hal yang mutlak, yaitu terdiri atas susunan kodrat, raga dan iiwa,
iiwa iasmani dan rohani. Juga sebagai makhluk individu dan sosial serta kedudukan
kodrat manusia sebagai makluk pribadi dan sebagai makluk Tuhan Yang Maha Esa. Oleh
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
5

karena itu, maka secara hirarkis sila pertama mendasari dan meniiwai keempat sila-sila
Pancasila.
Kaiian 05istimologi IilsaIat pancasila dimaksudkan sebagai upaya untuk mencari
hakekat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan. Hal ini dimungkinkan karena
epistimologi merupakan bidang IilsaIat yang membahas hakekat ilmu pengetahuan (ilmu
tentang ilmu). Kaiian epistimologi pancasila tidak dapat dipisahkan dengan dasar
ontologisnya. Oleh karena itu dasar epistimologis Pancasila sangat berkaitan erat dengan
konsep dasarnya tentang hakekat manusia.
Epistimologi Pancasila sebagai suatu obyek kaiian pengetahuan pada hakekatnya
meliputi masalah sumber pengetahuan pancasila dan susunan pengetahuan Pancasila.
Tentang sumber pengetahuan Pancasila, sebagaimana telah dipahami bersama adalah
nilai-nilai yang ada pada bangsa Indonesia sendiri. Meruiuk pada pemikiran IilsaIat
Aristoteles, bahwa nilai-nilai tersebut sebagai kausa materialis Pancasila.
Sila pertama memberi landasan kebenaran pengetahuan manusia yang bersumber
pada intuisi. Manusia pada hakekatnya kedudukan dan kodratnya adalah sebagai
makhluk Tuhan Yang Maha Esa, maka sesuai dengan sila pertama Pancasila,
epistimologi pancasila iuga mengakui kebenaran wahyu yang bersiIat mutlak. Hal ini
sebagai tingkat kebenaran yang tinggi.
Selain itu dalam sila ketiga, keempat, dan kelima, maka epistimologi Pancasila
mengakui kebenaran konsensus terutama dalam kaitan dengan hakekat siIat kodrat
manusia sebagai makhluk individu dan makhlik sosial.
Sebagai suatu paham epistimologi, maka pancasila mendasarkan pandangannya
bahwa ilmu pengetahuan pada hakekatnya tidak bebas nilai karena harus diletakkan pada
kerangka moralitas kodrat manusia serta moralitas religius dalam upaya untuk
mendapatkan suatu tingkatan pengetahuan dalam kehidupan manusia. Itulah sebabnya
Pancasila secara epitimologi harus meniadi dasar moralitas bangsa dalam membangun
perkembangan sains dan teknologi dewasa ini.
Kaiian aksiologi IilsaIat Pancasila pada hakekatnya membahas tentang nilai praktis
atau manIaat suatu pengetahuan tentang Pancasila. Karena sila-sila pancasila sebagai
suatu sistem IilsaIat memiliki satu kesatuan dasar aksiologi, sehingga nilai-nilai yang
terkandung dalam pancasila pada hakekatnya iuga merupakan suatu kesatuan.
Selaniutnya aksiologi pancasila mengandung arti bahwa kita membahas tentang IilsaIat
niali Pancasila. Istilah nilai dalam kaiian IilsaIat pancasila dipakai untuk meruiuk pada
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
6

ungkapan abstrak yang dapat iuga diartikan sebagai 'keberhargaan` (wor9h) atau
'kebaikan` (goodne8). dan kata keria yang artinya sesuatu tindakan keiiwaan tertentu
dalam menilai atau melakukan penilaian.
Secara aksiologi, bangsa Indonesia merupakan pendukung nilai-nilai Pancasila
(8ub8.riber of value Pan.a8ila). Bangsa Indonesia yang berketuhanan, yang
berkemanusiaan, yang berpersatuan, yang berkerakyatan dan yang berkeadilan sosial.
Sebagai pendukung nilai, bangsa Indonesia itulah yang menghargai, mengakui,
menerima pancasila sebagai sesuatu yang bernilai. Hal ini akan tampak menggeiala
dalam sikap, tingkah laku, dan perbuatan bangsa Indonesia.

Bab III Identitas Nasional
Ruang lingkup bagian ketiga ini penulis mengupas terkait karakteristik identitas
nasional dan proses berbangsa dan bernegara.
Penulis dalam menggambarkan tentang karakteristik identitas nasional memulai
dengan melihat kedaan dan kondisi bangsa kita dewasa ini yang menghadapkan kita pada
suatu keprihatinan dan sekaligus iuga mengundang kita untuk ikut bertanggung iawab
atas mozaik Indonesia yang retak bukan sebagai ukiran melainkan membelah dan
meretas iahitan busana tanah air, tercabik-cabik dalam kerusakan yang menghilangkan
keindahannya. untaian kata-kata ini merupakan untaian tamsilan bahwasanya bangsa
inidonesia yang dulunya dikenal sebagai "he9 za.h89e volk 9er aarde" dalam pergaulan
antar bagsa, kini sedang mengalami tidak saia krisis identitas melainkan iuga krisis
dalam berbagai dimensi kehidupan yang melahirkan instabilitas yang berkepaniangan
semeniak reIormasi dikomandangkan pada tahun 1998.
Krisis multidimensi yang sedang melanda masyarakat kita semua bahwa pelestarian
budaya sebagai upaya untuk mengembangkan identitas nasional kita telah ditegaskan
sebagai komitmen konstitusional sebagaimana dirumuskan oleh para pendiri negara kita
dalam pembukaan UUD 1945 yang intinya adalah memaiukan kebudayaan Indonesia.
Dengan demikian secara konstitusional pengembangan kebudayaan untuk membina dan
mengembangkan identitas nasional kita telah diberi dasar dan arahnya.
Selaniutnya, yang paling penting dalam bagian ini adalah penulis menguraikan
tentang : Per9a2a, unsur-unsur identitas nasional yang mencakup suku bangsa, agama,
kebudayaan dan bahasa. Kemudia dari unsur-unsur ini penulis merumuskan meniadi tiga
bagian sebagai berikut: 1) identitas Iundamental, yaitu pancasila yang merupakan
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
7

IalsaIah bangsa, dasar negara, dan idiologi negara. 2) identitas instrumental yang berisi
UUD 1945 dan tata perundangannya, bahasa Indonesia, lembaga negara, lagu
kebangsaan Indonesia raya. 3) identitas alamiah yang meliputi negara kepulauan dan
pluralisme dalam suku, bahasa, budaya dan agama serta kepercayaan.
Kedua, integrasi nasional Indonesia dan identitas nasional. Masalah integrasi
nasional di Indonesia sangat kompleks dan multidemensional. Untuk mewuiudkannya
dperlukan keadilan, kebiiakan yang diterpakan oleh pemerintah dengan tidak
membedakan ras, suku, agama, dan sebagainya. Sebenarnya upaya membangun keadilan,
kesatuan dan persatuan bangsa merupakan bagian dari upaya membangun dan membina
stabilitas politik disamping upaya lain seperti banyaknya keterlibatan pemerintah dalam
menentukan komposisi dan mekanisme parlemen.
Dengan demikian upaya integrasi nasional dengan strategi yang mantap perlu terus
dilakukan agar terwuiud integrasi bangsa Indonesia yang diinginkan. Upaya
pembangunan dan pembinaan integrasi nasional ini perlu karena pada hakekatnya
integrasi nasionaltidak lain menuniukkan tingkat kuatnya persatuan dan kesatuan bangsa
yang diinginkan. Pada akhirnya persatuan dan kesatuan bangsa inilah yang dapat lebih
meniamin terwuiudnya negara yang makmur, aman dan tentram. Jika melihat konIlik
yang teriadi di Aceh, Ambon, Kalimantan dan berbagai daerah lainnya merupakan
cerminan dan belum terwuiudnya integrasi nasional yang diharapkan. Sedangkan
kaitannya dengan identitas nasional adalah bahwa adanya integrasi nasional dapat
menguatkan akar dari identitas nasional yang sedang dibangun.
Sedangkan dalam menguraikan proses berbangsa dan bernegara, penulis
manguraikan tentang paham nasionalisme kebangsaan dan revitalisasi pancasila sebagai
pemberdayaan identitas nasional. Paham nasionalisme atau paham kebangsaan adalah
sebuah situasi keiiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total diabdikan langsung
kepada negara bangsa atas nama sebuah bangsa. Munculnya nasionalaisme terbukti
sangat eIektiI sebagai alat periuangan bersama merebut kemerdekaan dari cengkraman
kolonial. Semangat nasionalisme diharapkan secara eIektiI oleh para penganutnya dan
dipakai sebagai metode perlawanan dan alat identiIikasi untuk mengetahui siapa lawan
dan kawan.
Secara garis besar terdapat tiga pemikiran besar tentang nasionalisme di Indonesia
yang teriadi pada masa sebelum kemerdekaan yaitu paham ke-Islaman, Marxisme, dan
Nasionalisme Indonesia.
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
8

Yang menarik dalam bagian ini, penulis iuga memaparkan tentang merevitalisasi
pancasila sebagai maniIestasi identitas nasional, penyelenggaan MPK hendaknya
dikaitkan dengan wawasan:
O Spri9ual, untuk meletakkan landasan etik, moral, nilai relegius, sebagai dasar dan
arah perkembangan suatu proIesi.
O Akade2ik, untuk menuniukkan bahwa MPK merupakan aspek being yang tidak
kalah pentingnya bahkan lebih penting dari pada aspek having dalam kerangka
penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang bukan sekedar instrumen
melainkan adalah subiek pembaharuan dan pencerahan.
O Kebang8aan, untuk menumbuhkan kesadaran nasionalismenya agar dalam
pergaulan antar bangsanya, bangga dan respek kepada iati diri bangsanya yang
memiliki idiologi tersendiri.
O Mondial, untuk menyadarkan bahwa manusia dan bangsa di masa kini siap
mengahadapi dialektikanya perkembangan dalam masyarakat dunia yang
'terbuka¨.
Revitalisasi sebagai maniIestasi identitas nasional mangandung makna bahwa
pancasila harus kita letakkan dalam keutuhannya dengan pembukaan, diekplorasikan
demensi-dimensi yang melekat padanya, yang meliputi:
a. Reali9a8, dalam arti bahwa nilai-nilai yang terkadung di dalamnya dikonsentrasikan
sebagai cerminan kondisi obyektiI yang tumbuhdan berkembang dalam masyarakat
kampus utamanya, suatu rangkaian nilai-nilai yang bersiIat 8ein i2 8ollen dan da8
8ollen i2 8ein.
b. Iden9i9a8, dalam arti bahwa idealisme yang terkandung di dalamnya bukanlah
sekedar utopia tanpa makna, melainkan diobyektivitas sebagai kata keria untuk
membangkitkan gairah dan optimisme para warga masyarakat guna melihat hari
depan secara prospektiI, menuiu hari esok yang lebih baik, melalui seminar atau
gerakan dengan tema 'Revitalisasi Pancasila¨.
c. Flek8ibili9a8, dalam arti bahwa Pancasila bukanlah barang iadi yang sudah selesai
dan tertutup meniadi suatu yang sakral, melainkan terbuka bagi taIsir-taIsir baru
untuk memenuhi kebutuhan zaman yang terus menerus berkembang.
Melalui revitalisasi Pancasila sebagai wuiud pemberdayaan identitas nasional inilah,
maka identitas nasional dalam alur rasional akademik tidak saia segi sektual melainkan
iuga segi konseptualnya diekplorasikan sebagai reIerensi kritik sosial terhadap berbagai
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
9

penyimpangan yang melanda masyarakat kita dewasa ini. Untuk membentuk iati diri
maka nilai-nilai yang ada tersebut harus digali dulu misalnya nilai-nilai agama yang
datang dari Tuhan dan nilai-nilai yang lain misalnya gotong royong, persatuan kesatuan,
saling menghargai menghormati yang hal ini sangat berarti dalam memperkuat rasa
nasionalisme bangsa. Dengan saling mengerti antara satu dengan yang lain maka secara
langsung dapat memperlihatkan iati diri bangsa kita yang akhirnya mewuiudkan identitas
nasional kita.

Bab IV Politik dan Strategi
Dalam ruang lingkup bab ini, ada dua permasalahan yang paling disoroti oleh penulis
yaitu terkait tentang sistem konstitusi dan sistem politik dan kenegaraan Indonesia.
a. Substansi Konstitusi
Dalam sistem konstitusi diiabarkan mengenai substansi konstitusi yang para
sariana banyak yang menyamakan dan banyak iuga yeng mebedakan antara
konstitusi dan undang-undang dasar. Seperti L.J Van Aveldoorn yang membedakan
konstitusi dengan Undang-Undang Dasar, bahwa Konstitusi (.on89i9u9ion) adalah
memuat peraturan tertulis dan pertauran tidak tertulis, sedangkan Undang-Undang
Dasar (grondwe9) adalah bagian bagian tertulis dari konstitusi. Sedangkan Sri
Sumantri menyamakan arti keduanya sesuai dengan praktek ketatanegaraan di
sebagian besar negara-negara dunia termasuk Indonesia.
Herman Heller membagi pengetian konstitusi meniadi tiga, yaitu:
1)Konstitusi adalah mencerminkan kehidupan politik di dalam masyarakat sebagai
suatu kenyataan (mengandung arti politis dan sosiologis).
2)Konstitusi adalah suatu kesatuan kaedah yang hidup dalam dalam masyarakat
(mengandung arti hukum atau yuridis).
3)Konstitusi adalah yang ditulis dalam suatu naskah sebagai undang-undang yang
tertinggi yang berlaku dalam suatu negara.
Selain membedakan dua istilah itu, dalam substansi ini penulis iuga
menguraikan tentang sistem dan prosedur Amandemen UUD. Yang secara umum
sistem yang dianut oleh negara-negara dalam mengamandemen UUD-nya dapat
dibedakan meniadi dua sistem, yaitu:
O Sistem Eropa Kontinental, yaitu amandemen dengan membuat UUD yang
secara keseluruhan. Penganutnya adalah Belanda, Jerman, dan Prancis.
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
10

O Sistem negara-negara Anglo-Saxon (Amerika), yaitu apabila konstitusi berubah
makna yang asli tetap berlaku, yang mana perubahan itu sebagai lampiran dari
konstitusi.
Indonesia menganut sistem yang berkembang di negara Anglo Saxon (Amerika)
dengan alasan:
1. Perubahan UUD itu tidak dilakukan secara keseluruhan, melainkan beberapa
pasal yang nyata-nyata dipendang tidak sesuai dengan keadaan atau
bersembranagan dengan tuntutan reIormasi.
2. Pasal-pasal hasil amandemen masih merupakan bagian dari UUD aslinya,
sehingga tidak ada distorsi seiarah antara konstsitusi asli dengan ahasil
perubahan.
Ada beberapa pendapat para ahli ketatanegaraan tentang prosedur perubahan
UUD, yaitu:
o07g0 10llin0k, membedakan cara perubahan UUD dibedakan atas:
4 ara senagaia sesuai dengan ketentuan dalam UUD.
4 ara yang tidak sesuai dengan cara yang ditentukan dalam UUD-nya melainkan
dengan prosedur istimewa, seperti revolusi, coup d`etat, convensi dan
sebagainya.
.F. St7ong, menyebutkan empat cara perubahan UUD, yaitu:
4 Dirubah oleh legislatiI dengan persyaratan khusus.
4 Prubahan konstitusi dilakukan oleh rakyat melalui reIerendum.
4 Dalam negara Iederal perubahan itu disetuiui oleh negara-negara bagian.
4 Perubahan melalui konvensi khusus oleh suatu lembaga negara yang dibentuk
untuk itu.
Perubahan UUD 1945 tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatanhukum
mengatur tata cara perubahan, tetapi lebih ditentukan oleh berbagai kekuatan dan
sosial yang sedang bergulir di era reIormasi. Apabila menikuti prosedur hukum,
maka harus terlebih dahulu dilakukan reIerendumdan barulah MPR malakukan
perubahan sesuai pasal 37 UUD 1945 setelah rakyat menyetuiui 90° suara.
b. Sist0m 5olitik dan k0n0ga7aan Indon0sia
Dalam sub kaiian ini, penulis memaparkan dua point penting yaitu tentang
stratiIikasi politik nasional dan ketatanegaraan Indonesia.
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
11

S9ra9ifika8i poli9ik (kebiiakan) nasional dalam negara republik Indonesia sebagai
berikut:
1. Tingka9 Penen9u Kebiiakan Pun.ak. meliputi kebiiakan tertinggi yang
menyeluruh secara nasional dan mencakup: penentuan undang-undang dasar,
pengarisan masalah makro politik bangsa dan negara untuk merumuskan tuiuan
nasional (national goals) berdasarkan IalsaIah pancasila dan UUD 1945.
2. Tingka9 Kebiiakan U2u2, merupakan tingkat kebiiakan dibawah tingakat
kebiiakan puncak yang lingkupnya menyeluruh nasional dan berupa
penggarisan menenai masalah makro strategis guna mencapai tuiuan nasional
dalam situasi dan kondisi tertentu.
3. Tingka9 Penen9u Kebiiakan Khu8u8, merupakan pengagarisan terhadap suatu
bidang utama (maior area) pemerintahan. Wewenang pengeluaran kebiiakan
khusus ini terletak ditangan pemimpin eselon pertama departemen pemerintahan
dan pemimpin lembaga-lembaga non departemen.
4. Tingka9 Penen9uan Kebiiakan Tekni8, meliputi penggarisan dalam satu sektor
dari bidang utama di atas dalam bentuk prosedur serta tekhnik untuk
mengimplementasikan rencana, program dan kegiatan. Kebiiakan tekhnis ini
dlakukan oleh kepala daerah, propensi dan kabupaten/kota. Sementara itu
terdapat dua kekuasaan dalam pembuatan aturan di Daerah.
Ke9a9anegaraa Indone8ia. berdasarkan perubahan UUD 1945 tidak mengenal
lembaga tertinggi dan tinggi negara, melainkan lembaga kekuasaan negara yang
terdiri dari:
a. Lembaga legislatiI yaitu MPR, terdiri atas DPR, DPD.
b. Lembaga eksekutiI, yaitu presiden dan wakil presiden.
.. Lembaga yudikatiI yang memegang kekuasaan kehakiman, terdiri dari MA,
MK, dan KY.
d. Badan pemeriksa keuangan (BPK).
Perubahan sistem kelembagaan negara dalam UUD 1945, dalam perubahan
pasal-pasal tentang kelembagaan negara tidak lepas dari konteks dari reaksi keadaan
sosial politik masyarakat, sehingga mempengaruhi substansi perubahan beberapa
pasal reaktiI tersebut. Berdasarkan hal tersebut, maka struktur kelembagaan negara
tentu akan mengalami perubahan.

Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
12

Bab V Demokrasi Indonesia
Ada tiga konsep yang dikupas dalam bab ini, yaitu teriait dengan konsep demokrasi,
prinsip demokrasi, dan pendidikan demokrasi.
a. Kons05 d0mok7asi dan P7insi5 d0mok7asi
Di dalam 9he advan..ed learner8 di.9ionarv of .urren9 engli8h dikemukakan
bahwa yang dimaksud dengan democracy adalah:
'(1) .oun9rv wi9h prin8iple8 of gaver2en9 in whi.h all adul9 .i9izen8 8hare
9hrough 9heir elle.9ed repre8en9a9ive8 (2) .oun9rv wi9h gaver2en9 whi.h en.ourage8
and allow8 righ98 of .i9izen8hip 8u.h a8 freedo2 of 8pee.h. religion. opinion. and
a88o.ia9ion. 9he a88er9ion of rule of law. 2aiori9v rule. a..o2panied bv re8pe.9 for
9he righ98 of 2inori9ie8. (3) 8o.ie9v in whi.h 9hree i8 9rea92en9 of ea.h o9her bv
.i9izen8 a8 equal8`.

Dari kutipan pengertian tersebut tanpak bahwa kata demokrasi meruiuk kepada
konsep kehidupan kenegaraan atau masyarakat diaman warga negara dewasa turu
berpartisipasi dalam pemerintahan melalui wakilnya yang dipilih; pemerintahannya
mendorong dan meniamin kemerdekaan berbicara, beragama, berpendapat,
berserikat, menegakkan Rule oI Law, adanya pemerintahan mayoritas yang
menhormati hak-hak kelompok minoritas; dan masyarakat yang warga negaranya
saling memberi peluang yang sama.
Istilah demokrasi, pertama kali dipakai di Yunani kuno, khususnya di Kota
Athena, untuk menuniukkan sistem pemerintahan yang berlaku disana.
Secara umum demokrasi itu ada dua yaitu demokrasi langsung dan demokrasi
tidak langsung. De2okra8i lang8ung adalah demokrasi yang secara langsung rakyat
diikut sertakan dalam proses pengambilan keputusan untuk menialankan kebiiakan
pemerintah. Sedangkan de2okra8i 9idak lang8ung adalah demokrasi yang diialankan
melalui wakil rakyat yang dipilihnya melalui pemilu.
Menurut Henry B.Mayor merincikan nilai-nilai demokrasi sebagai berikut:
1) Menyelesaikan perselisihan dengan damai secara melembaga
2) Meniamin terselenggaranya perubahan secara damai dan dalam suatu
masyarakat yang sedang berubah.
3) Menyelenggarakan pergantian pemimpin secara teratur
4) Membatasi pemakaian kekerasan sampai minimum
5) Mengakui dan menganggap waiar adanya keanekaragaman
6) Meniamin tegaknya keadilan.
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
13

Dengan demikian, bahwa untuk melaksanakan nilai-nilai demokrasi perlu
diselenggarakan beberapa lembaga sebagai berikut:
4 Pemerintahan yang bertanggung iawab
4 Suatu dewan perwakilan rakyat yang mewakili golongan-golongan dan
kepentingan-kepentingan dalam masyarakat yang dipilih melalui pemilihan
umum secara bebas dan rahasia. Dewan ini harus mempunyai Iungsi
pengawasan terhadap pemerintah tentu saia pengawasan yang konstruktiI (kritik
membangun) dan sesuai normatiI (aturan yang berlaku).
4 Semua organisasi politik yang mencakup satu atau lebih partai politik. Parpol ini
menialin hubungan yang rutin dan berkesinambungan antara rakyat dengan
pemerintah.
4 Pers dan media massa yang bebas untuk menyatakan pendapat
4 Sistem peradilan yang bebas untuk meniamin hak-hak azasi dan
mempertahankan keadilan.
b. P0ndidikan D0mok7asi
Pendidikan de2okra8i dibagi a9a8 9iga bagian.
1. Pendidikan demokrasi secara Iormal yaitu pendidikan yang melewati tatap
muka, diskusi timbal balik, presentasi, studi kasus untuk memberikan gambaran
kepada siswa agar supaya mempunyai kemampuan untuk cinta negara dan
bangsa. Pendidikan Iormal biasanya dilakukan disekolah atau di perguruan
tunggi.
2. Pendidikan demokrasi secara inIormal yaitu pendidikan yang melewati tahap
pergaulan dirumah maupun dimasyarakat, sebagai bentuk aplikasi nilai
berdemorasi sebagai hasil intraksi terhadap lingkungan sekitarnya, langsung
dapat merasakan hasilnya.
3. Pendidikan nonIormal yaitu pendidikan melewati tahap diluar lingkungan
masyarakat lebih makro dalam berintraksi sebab pendidikan di luar sekolah
mempunyai variabel maupun parameter yang signiIikan terhadap pembentukan
iiwa seseorang.
Ji8i Pendidikan De2okra8i
Sebagai wahana substantis, pedagogis dan sosial kulturaluntuk membangun
cita-cita, nilai, konsep, prinsip, sikap dan keterampilan demokrasi dalam diri warga
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
14

negara melalui pengalaman hidup dan berkehidupan demokrasi dalam berbagai
konteks.
Mi8i Pendidikan De2okra8i
Mampasilitasi warga negara untuk mendapatkan bebagai akses kepada dan
menggunakan secara cerdas bebagai sumber inIormasi tentang demokrasi dalam
teori dan praktek untuk berbagi konteks kehidupan. Sehingga memiliki wawasan
yang luas dan memadai.
Mampasilitasi warga negara untuk dapat malakukan kaiian konseptual dan
oprasional secara cermat, dan bertanggung iawab terhadap barbagai cita-cita,
instrumentasi praksis demokrasi guna mendapatkan keyakinan dalam melakukan
pengambilan keputusan individual dan atau kelompok dalam kehidupannya sehari-
hari serta berargumentasi atas keputusannya itu.
Mempasilitasi warga negara untuk memperoleh dan memaIaatkan kesempatan
berpartisipasi serta cerdas dan bertanggung iawab dalam praktis kehidupan
demokrasi di lingkungannya, seperti mengeluarkan pendapat, berkumpul, berserikat,
memilih, serta memonitor dan mempengaruhi kebiiakan publik.

Bab VI HAM dan Rule of Law
Ruang lingkup yang dibahas dalam bab ini adalah arti, makna HAM dan rule oIlaw.
a. A7ti dan makna Hak Asasi Manusia
HAM adalah hak-hak yang melekat pada diri manusia, dan tanpa hak-hak itu
manusia tidak dapat hidup layak sebagai manusia. Hak tersebut diperoleh
bersamadengan kelahiran atau kehadiran didalam kehidupan masyarakat.
Ruang lingkup ham meliputi : hak pribadi: hak-hak persamaan hidup, kebebasan
keamanan, dan lain sebagainya; hak milik pribadi dalam kelompok sosial diamana ia
ikut serta; kebebasan sipil dan politik untuk dapat ikut serta dalam pemerintahan;
hak-hak yang berkenaan dengan maslah ekonomi dan sosial.
Konsep HAM ini dibidani oleh sebuah komisi PBB yang dipimpin oleh Elenor
Roosevelt (10 Desember 1948) dan secara resmi disebut 'Univer8al Deklara9ion of
Hu2an Rig9h8¨ didalamnya diielaskan tentang hak-hak sipil, politik ekonomi, sosial
dan kebudayaan yang dinikmati manusia di dunia yang mendorong penghargaan
terhadap hak-hak asasi manusia. Seiak tahun 1957, konsep ham dilengkapi dengan
tiga perianiian, yaitu; 1) hak ekonomi sosial dan budaya, 2) perianiian internasional
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
15

tentang hak sipil dan politik, 3) protokol opsional bagi perianiian hak sipil dan
politik internasional. Pada sidang PBB pada tanggal 16 Desember 1966 ketiga
dokumen tersebut diterima dan di ratiIikasi.
Di Indonesia HAM di dasarkan pada Konstitusi NKRI, yaitu: Pembukaan UUD
1945 (alenia I), Pancasila sila ke-4, Batang Tubuh UUD 1945 (pasal 27, 29, dan 30),
UU no.39/1999 tentang HAM dan UU no.26/2000 tentang pengadilan HAM. HAM
di Indonesia meniamin hak untuk hidup, hak bekeluarga dan melaniutkan keturunan,
hak mengembangkan diri, hak memperoleh keadilan, hak atas kebebasan, hak atas
rasa aman, hak atas keseiahteraan, hak turut serta dalam pemerintahan, hak wanita
dan hak anak.
b. #ul0 of Law
Rule of Law adalah suatu doktrin hukum yang mulai muncul pada abad ke 19,
bersama dengan kelahiran negara konstitusi dan demokrasi. Ia lahir seialan dengan
tumbuh suburnya demokrasi dan meningkatkan peran parlemen dalam
penyelenggaraan negaradan sebagai reaksi terhadap negara absolut yang
berkembang sebelumnya. Rule of Law merupakan konsep tentang common law
dimana segenap lapisan masyarakat dan negara beserta seluruh kelembagaannya
meniuniung tinggi supremasi hukum yang dibangun diatas prinsip keadilan dan
egalitarian. Rule oI Law adalah rule by the law dan bukan rule by the man. Ia lahir
yang mengmbil alih dominasi yang dimiliki kaum gereia, ningrat dan keraiaan dan
munculkan negara konstitusi dari mana doktrin Rule oI Law ini lahir. Ada tidaknya
Rule oI Law disuatu negara tergantung dari kenyataan, apakah rakyat benar-benar
menikmati keadilan dalam arti mendapat perlakuan yang adil, baik sesama
warganegara, maupun dari pemerintah. Oleh karena itu pelaksanaan kaidah-kaidah
hukum yang berlakudi suatu negara merupakan suatu premis bahwa kaedah-kaedah
yang dilaksnakan itu merupakan hukum yang adil, artinya kaidah hukum yang
meniamin perlakuan yang adil bagi masyarakat.
Untuk membangun kesadaran dimasyarakat tentang pentingnya Rule of Law, not
rule by the man, maka dipandang perlu dimasukkan materi intruksional Rule of Law
sebagai salah satu materi di dalam mata kuliah pendidikan kewarganegaraan (PKn).
PKn merupakan desain baru kurikulum inti di PTU yang menuniang pencapaian Visi
Indoensia 2020 (Tap MPR No. VII/MPR/2001) dan Visi pendidikan Tinggi 2010
(HELTS 2003-2010-DGHE) dan merupakan elemen dalam kelompok mata kuliah
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
16

pengembangan kepribadian (MPK). Ia salah satu bentuk peniabaran UU No.20 tahun
2003 tentang Sikdiknas yang tidak lagi menyinggung masalah pendidikan
pendahuluan bela negara (PPBN) atau diperguruan tinggi di sebut pendidikan
kewiraan dan ditiadakannya pendidikan pancasila sebagai mata kuliah tersendiri dari
kurikulum perguruan tinggi.
Di Indonesia, prinsip-prinsip rule oI law secara Iormal tertera dalam pembukaan
UUD 1945 yang menyatakan: (1) bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala
bangsa,...... karena tidak sesuia dengan peri kemanusiaan dan 'peri keadilan¨, (2)
......kemerdekaan Indonesia yang merdeka, bersatu, bedaulat 'adil¨ dan makmur; (3)
.....untuk memaiukan 'keseiahteraan umum¨,.....dan 'keadilan sosial¨;
(4)..........disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu 'Undang-
Undang Dasar Negara Indonesia¨; (5)........¨kemanusiaan yang adil dan beradab¨;
dan (6) ............serta dengan mewuiudkan suatu 'keadilan sosial¨ bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Inti dari rule oI law adalah iaminan adanya keadilan bagi masyarakat, teruatama
keadilan sosial. Prinsip-prinsip Rule of Law diatas merupakan dasar hukum
pengambilan kebiiakan bagi penyelenggara negara/pemerintah, baik ditingkat pusat
maupun tingkat daerah, yang berkaitan dengan iaminan atas rasa keadilan tertama
keadilan sosial.
S9ra9egi pelak8anaan (penge2bangan) Rule of Law
Agar pelaksanaan Rule oI Law berialan eIektiI sesuai dengan yang diharapkan,
maka:
1. Keberhasilan '9he enfor.e2en9 of 9he rule of law¨ harus didasarkan pada corak
masyarakat hukum yang bersangkuta dan kepribadian nasional masing-masing
bangsa.
2. Rule oI Law merupakan indtitusi sosial harus didasarkan pada akar budaya yang
tumbuh dan berkembang pada bangsa.
3. Rule oI Law sebagai suatu legalisme yang memuat wawasan sosial, gagasan
tentang hubungan antara manusia, masyarakat dan negara, harus dapat
ditegakkan secara adil, dan hanya memihak kepada keadilan.
Untuk mewuiudkan hal tersebut, perlu dikembangkan hukum progresiI yang
hanya memihak kepada keadilan itu sendiri, bukan sebagai alat politik yang
memihak kepada kekuasaan seperti yang selama ini diperlihatkan. Hukum progresiI
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
17

merupakan gagasan yang ingin mencari cara untuk mengatasi keterpurukan hukum
di Indonesia secara lebih bermakna. Asumsi dasar hukum positiI bahwa 'hukum
adalah untuk manusia¨, bukan sebaliknya, hukum bukan institusi yang absolut dan
Iinal, hukum selalu berada dalam proses untuk terus menerus meniadi (law a8
pro.e88. law in 9he 2aking). Hukum progresiI memuat kandungan moral yang
sangat kuat, karena tidak ingin meniadikan hukum sebagai teknologi yang tidak
bernurani, melainkan suatu institusi yang bermoral yaitu kemanusiaan.

Bab VII Hak dan Kewajiban Warga Negara
Ada tiga hal yang dibahas dalam bab ini, yaitu terkait dengan negara dan kedaulatan,
warga negara Indonesia, dan hak dan kewaiiban warga negara.
a. A0ga7a dan K0daulatan
Bangsa Indonesia adalah sekelompok manusia yang mempunyai kepentingan
yang sama dan menyatakan dirinya sebagai suatu bangsa serta berproses di dalam
suatu wilayah; nusantara/Indonesia.
Banyak para ahli memberikan deIinisi tentang negara, namun syarat dan
pengrtiannya mencakup elemen sebagai berikut:
1) Penduduk, yaitu semua orang yang berdomisili dan menyatakan dirinya ingin
bersatu.
2) Wilayah, yaitu batas teritorial yang ielas atas darat dan laut serta udara
diatasnya.
3) Pemerintah, yaitu organisasi utama yang bertindak menyelenggarakan
kekuasaan, Iungsi-Iungsi dan kebiiakan mencapai tuiuan.
4) Kedaulatan, yaitu supremasi wewenang secara merdeka dan bebas dari dominasi
negara lain dan negara memperoleh pengakuan dunia Internasional.
b. Wa7ga A0ga7a Indon0sia
Warga negara dari suatu negara berarti anggota dari negara itu yang merupakan
pendukung dan penanggung iawab terhadap kemaiuan dan kemunduran suatu
negara. Oleh karena itu seorang meniadi anggota atau warga suatu negara aruslah
ditentukan oleh undang-undang yang dibuat oleh negara tersebut. Sebelum negara
yang menentukan siapa-siapa yang meniadi warga negara terlebih dahulu negara
harus mengakui bahwa setiap orang berhak memilih kewarganegaraan, mamilih
tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya serta berhak
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
18

kembalisebagaimana dinyatakan oleh pasal 28E ayat (1) UUD 1945. Pernyataan ini
mengandung makna bahwa orang-orang yang tinggal dalam wilayah negara dapat
diklasiIikasikan meniadi berikut ini:
1) Penduduk, ialah yang memiliki domisili atau tempat tinggal tetap di wilayah
negara itu, yang dapat dibedakan warga negara dengan warga negara asing
(WNA).
2) Bukan penduduk, yaitu orang-orang asing yang tinggal dalam negara bersiIat
sementara sesuai dengan visi yang diberikan oleh negara (kantor imigrasi) yang
bersangkutan, seperti turis.
A8a8 Kewarganegaraan
O Asas Kelahiran (Iu8 Soli)
O Asas Keturunan (Iu8 Sanguini8)
O Asas Perkawinan
O Unsur Pewarganegaraan (Na9urali8)
Proble2 89a9u8 kewarganegaraan
Problem status kewarganegaraan seseorang apabila asas kewarganegaraan diatas
diterapkan secara tegas dalam sebuah negara akan menakibatkan status
kewarganegaraan seseorang sebagai berikut:
O Apa9ride, yaitu seorang tidak mendapat kewarganegaraan disebabkan oleh orang
yang tersebut lahir disebuah negara yang menganut asas ius sanguinis.
O Bipa9ride, yaitu seorang akan mendapatkan dua kewarganegaraan apabila orang
tersebut berasal dari orang tua yang mana negaranya menganut sanguinis
sedangkan dia lahir di sutu negara yang manganut asas ius soli.
O Mul9ipa9ride, yaitu seorang penduduk yang tinggal diperbatasan antara dua
negara.
.. Hak dan K0wajiban Wa7ga A0ga7a
1) Hak Warga Negara
Dalam UUD 1945 telah dinyatakan hak warga negara sebagai berikut:
a) Hak atas pekeriaan dan penghidupan yang layak.
b)Berhak berserikat, berkumpul serta mengeluarkan pikiran.
c) Berhak untuk hidup dan mempertahankan kehidupan.
d)Berhak membentuk keluarga dan melaniutkan keturunan melalui perkawinan.
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
19

e) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta
perlindungan kekerasan dan diskriminasi.
I) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan
dasarnya.
g)Berhak mendapatkan pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan
budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya demi keseiahteraan hidup
manusia.
h)Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan.
i) Dan seterusnya.
2) Kewaiiban Warga Negara
O Waiib meniuniung hukum dan pemerintahan
O Waiib ikut serta dalam upaya membela negara
O Waiib menghormati hak asasi manusia orang lain
O Waiib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang
untuk meniamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan
orang lain.
O Waiib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara.
O Waiib mengikuti pendidikan dasar.

Bab VIII Geopolitik Indonesia
Ruang lingkup dalam bab ini, penulis memaparkan tentang dua hal yaitu: wilayah
sebagai ruang hidup dan otonomi daerah.
. Wilavah s0bagai #uang Hidu5
a. Geopoli9ik Indone8ia
Geopolitik Indonesia adalah wawasan nusantara merupakan cara pandang
dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang serba beragam
dan bernilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan wilayah dan
tetap menghargai serta menghormati kebhinekaan dalam setiap aspek kehidupan
nasional untuk mencapai tuiuan nasonal.
Wawasan nusantara sebagai wawasan nasional bangsa Indonesia merupakan
aiaran yang dinyakini kebenarannya oleh seluruh rakyat agar tidak teriadi
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
20

penyesatan dan penyimpangan dalam upaya mencapai dan mewuiudkan cita-cita
dan tuiuan nasional.
Wawasan nusantara berIungsi sebagai pedoman, motivasi, dorongan serta
rambu-rambu dalam menentukan segala kebiiaksanaan, keputusan, tindakan, dan
perbuatan begi penyelenggara negara di tingkat pusat dan di daerah maupun bagi
seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.
Wawasan nusantara bertuiuan mewuiudkan nasionalisme yang tinggi
disegala aspek kehidupan rakyat Indonesia yang lebih mengutamakan
kepentingan nasional dari pada kepentingan individu, kelompok, golongan, suku
bangsa ataupun daerah. Nasionalisme yang tinggi disegala bidang kehidupan
demi tercapainya tuiuan nasional tersebut merupakan pancaran dari makin
meningkatnya rasa, paham, dan semangat kebangsaan dalam iiwa bangsa
Indonesia sebagai hasil pemahaman dan penghayatan Wawasan Nusantara.
Asas wawasan nusantara terdiri atas: kepentingan bersama, tuiuan yang
sama, keadilan, keiuiuran, solidaritas, keriasama, dan kesetiaan terhadap ikrar
atau kesepakatan bersama demi terpiliharanya persatuan dan kesatuan dalam
kebhinekaan.
b. Pro8pek i2ple2en9a8i geopoli9ik Indone8ia
Berkaitan dengan wawasan nusantara yang sarat dengan nilai-nilai budaya
bangsa dan di bentuk dalam proses paniang seiarah periuangan bangsa, apakah
wawasan bangsa Indonesia tentang persatuan dan kesatuan itu akan hanyut tanpa
bekas atau akan tetap kokoh dan mampu bertahan dalam terpaan nilai globalyang
menantang wawasan persatuan bangsa? Tantangan itu antara lain adalah
pemberdayaan rakyat yang optimal, dunia tanpa batas, era baru kapitalisme dan
kesadaran warga negara.
Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia melui deklarasi tanggal 13
desember 1957 mengaiukan NKRI perlu laut wilayah (territory water) selebar 12
mil laut dari Garis Pangkal/Garis Dasar (base line) atas dasar 'point to point
theory¨ . Dengan demikian laut antara pulau meniadi perairan pedalaman
(internal waters). Selaniutnya laut wilayah dan laut pedalaman dikenalkan sebagai
laut nusantara.
. tnomi Da07ah
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
21

Penyelenggaraan negara secara garis besar diselenggarakan dengan dua sistem
yakni sistem sentralisasi dan sistem desentralisasi. Sistem sentralisasi iika urusan
yang besangkutan dengan aspek kehidupan dikelola ditingkat pusat. Pada
hakekatnya siIat sentralistik itu merupakan konsekuensi dari siIat negara kasatuan.
Perdebatan penyelenggaraan negara yang sentralistik yang dipertentangkan
dengan desentralisasi sudah sangat lama diperbincangkan, namun sampai sekarang
isu tentang penyelenggaraan negara yang diinginkan terus berkembang sebagaimana
dikemukakan oleh Graham yang menyatakan 'The old over de8en9ralized ver8u8
.en9ralized develop2en9 89ra9egie8 2av will be dead. bu9 9he i88ue8 are 89ill 2u.h
alive¨.
Dalam perkembangan selaniutnya nampak desentralisasi merupakan pilihan
yang dianggap terbaik untuk menyelenggarakan pemerintahan, meskipun
implentasinya dibeberapa negara, terutama di negara ketiga masih banyak mendapat
ganialan struktural, sehingga penyelenggaraan desentralisasi politik masih setengah
hati (Wahab, 1994).

Bab IX Geostrategi Indonesia
Dalam bab ini, penulis memaparkan dua hal penting yaitu konsep Astra Gatra dan
Indonesia dan perdamaian dunia.
. Kons05 Ast7a at7a
Geostrategi merupakan strategi dalam pemamIaatan konstelasi geograIis negara
untuk menentukan kebiiakan, tuiuan, sarana-sarana untuk mencapai tuiuan nasional,
geostrategi dapat pula dikatakan sebagai pemenIaatan kondisi lingkungan dalam
upaya mewuiudkan tuiuan politik.
Geostrategi indonesia pada dasarnya adalah strategi nasional bangsa Indonesia
dalam memanIaatkan wilayah negara republik Indonesia sebagai ruang hidup
nasional guna merancang arahan tentang kebiiakan, sarana dan prasarana
pembangunan untuk mencapai kepentingan dan tuiuan nasional tersebut diatas.
Geostrategi Indonesia sebagai pelaksanaan geopolitik Indonesia memiliki dua
siIat pokok:
O BersiIat daya tangkal. Dalam kedudukannya sebagai konsepsi penangkalan
geostrategi Indonesia dituiukan untuk menangkal segala bentuk ancaman,
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
22

gangguan hambatan dan tantangan terhadap identitas, integritas, eksistensi
bangsa dan Negara Indonesia.
O BersiIat developmental/pengembangan yaitu pengembangan potensi kekuatan
bangsa dalam idiologi, politik, ekonomi, sosial budaya, hankam sehingga
tercapainya keseiahteraan rakyat.
Konsep Astra Gatra merupakan perangkat hubungan bidang-bidang kehidupan
manusia dan budaya yang berlangsung diatas bumi ini dengan memanIaatkan segala
kekayaan alam yang dapat dicapai dengan menggunakan kemampuannya. Model
yang dikembangkan oleh Lemhanas menyimpulkan adanya 8 unsur aspek kehidupan
nasional yaitu: 1) aspek tri gatra kehidupan alamiah mencakup gatra letak dan
kedudukan geograIis, gatra keadaan dan kekayaan alam, gatra keadaan dan
kemampuan penduduk; 2) aspek panca gatra kehidupan sosial mencakup gatra
idiologi, gatra politik, gatra okonomi, gatra sosial budaya dan gatra pertahanan
keamanan.
. Indon0sia dan P07damaian Dunia
Dalam dunia modern era globalisasi hubungan antar bangsa sudah tersebar
keseluruh pelosok dunia, tidak ada suatu bangsa yang dapat membebaskan diri dari
keterlibatan dengan bangsa dan negara lain. Karena semua bangsa merupakan warga
dunia. Hubungan internasional terdapat dalam berbagai bentuk, yaitu:
O Hubungan individual, misalnya turis, mahasiswa, pedagang dll.
O Hubungan antar kelompok, misalnya lembaga sosial, keagamaan, dan
perdagangan dll.
O Hubungan antar negara, yaitu segala macam hubungan internasional yang
dilakukan oleh aparatur negara atas nama negaranya masing-masing.
Hubungan yang beranekaragam antara pribadi, kelompok dan negara itu
menciptakan hubungan yang menyerapseluruh kegiatan manusia diseluruh dunia,
sehingga terciptalah masyarakat internasional. Hubungan internasional dilaksanakan
dengan prinsip persamaan deraiat, yang didasari pada kemauan bebas dan
persetuiuan dari beberapa atau semua negara.




Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
23



B. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan didalam buku ini adalah bahwa :
1. Dengan memahami latar belakang IilsosoIi pendidikan kewarganegaraan di
Perguruan Tinggi Umum, maka pelaksanaan pembelaiaran PKn dapat dipertanggung
iawabkan dengan alasan bahwa melalui PKn paradigma pendidikan demokrasi secara
sistemik dengan pengmabangan .ivi. in9ellegen.e. .ivi. par9i8ipa9ion. and .ivi.
re8pon.ibili9v dari '.ivi. edu.a9ion¨ merupakan wahana pendidikan demokrasi yang
diharapkan dapat menghasilkan menusia berkualitas dengan keahlian proIesional
serta berkeadaban khas Pancasila.
2. Pancasila bersumber dari nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia, dimana budaya
akan selalu mengalami perkembangan sesuai dengan perubahan yang teriadi dalam
dinamika kehidupan masyarakat, maka pancasila akan terbuka dalam menerima nilai-
nilai baru yang lahir akibat perkembangan masyarakat. Oleh karena itu idiologi
pancasila akan melekat dengan siIat keterbukaan.
3. Melalui revitalisasi Pancasila sebagai wuiud pemberdayaan identitas nasional inilah,
maka identitas nasional dalam alur rasional akademik tidak saia segi sektual
melainkan iuga segi konseptualnya diekplorasikan sebagai reIerensi kritik sosial
terhadap berbagai penyimpangan yang melanda masyarakat kita dewasa ini. Untuk
membentuk iati diri maka nilai-nilai yang ada tersebut harus digali dulu misalnya
nilai-nilai agama yang datang dari Tuhan dan nilai-nilai yang lain misalnya gotong
royong, persatuan kesatuan, saling menghargai menghormati yang hal ini sangat
berarti dalam memperkuat rasa nasionalisme bangsa. Dengan saling mengerti antara
satu dengan yang lain maka secara langsung dapat memperlihatkan iati diri bangsa
kita yang akhirnya mewuiudkan identitas nasional kita.
4. Pendidikan demokrasi merupakan suatu proses untuk melaksanakan demokrasi yang
benar, sehingga sasaran yang akan dicapai adalah mengaiak warga negara, terutama
mahasiswa pada umumnya untuk malaksanakan pendidikan ini secara baik dan benar
dengan memperhatikan kaidah-kaidah maupun asas dalam berdemokrasi masyarakat.
5. Hukum progresiI merupakan salah satu gagasan yang ingin mencari cara untuk
mengatasi keterpurukan hukum di Indonesia secara lebih bermakna. Asumsi dasar
hukum positiI bahwa 'hukum adalah untuk manusia¨, bukan sebaliknya, hukum
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
24

bukan institusi yang absolut dan Iinal, hukum selalu berada dalam proses untuk terus
menerus meniadi (law a8 pro.e88. law in 9he 2aking). Hukum progresiI memuat
kandungan moral yang sangat kuat, karena tidak ingin meniadikan hukum sebagai
teknologi yang tidak bernurani, melainkan suatu institusi yang bermoral yaitu
kemanusiaan.
6. Pemecahan persoalan internasional dalam semua bidang pada akhirnya akan
dikamebalikan kepada permasalahan-permasalahan nasional, keserasian antara
pemerataan, pertumbuhan, dan stabilitas nasionaldari negara masing-masing,
khususnya kepada negara miskindan berkembang. Usaha untuk menggalang negara-
negara berkembang atau negara-negara selatan- atas dasar kemandirian bersama
patatu dikembangkan.






















Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
25



BAB III
TANGGAPAN TERHADAP ISI BUKU
Setelah membaca buku beriudul 'Me2bangun Karak9er dan Kpribadian 2elalui
Pendidikan Kewarganegaraan¨ yang ditulis oleh Drs. Syahrial Syarbaini, Ph.D, Drs. Aliaras
Wahid, MM, Drs. H.A. Diali, Drs. Sugen Wibowo, M.Si di terbitkan oleh Garaha Ilmu,
Jogiakarta Tahun: I, 2006 dan tebal bukunya adalah 191 halaman. Kami seakan sadar akan
pentingnya pendidikan kewaraganegaraan untuk membangun karakter dan kepribadian yang
baik dan cerdas (Good and S2ar9 Ci9izen) melalui Perguruan Tinggi Umum. Dengan bahasa
ilmiah yang lugas dan mudah dicerna, penulis menielaskan dengan mendalam tanpa ada
kesan berpaniang lebar. Disinilah letak kelebihan dari buku ini. Pembaca baik itu mahasiswa
atau umum tidak akan bosan membaca, karena uraian pada tiap bab sangat singkat namun
padat dan kaya makna.
JUDUL buku ini sangat menarik: membangun karakter dan kepribadian melalui
pendidikan kewarganegaraan! Bagaimana eksistensi pendidikan kewarganegaraan dalam
membangun karakter bangsa dan kepribadian mahasiswa meniadi Iokus buku ini.
Mengandalkan pendekatan historis, analisis indikator pemahaman konsep dan melatih
kemampuan implementasi konsep meniadi tuiuan dari penulisan buku ini. Pendidikan
kewarganegaraan merupakan mata pelaiaran yang mengemban peran untuk mengembangkan
potensi mahasiswa sebagai warga negara Indonesia yang berkepribadian mantap serta
mempunyai rasa tanggung iawab kemsyarakatan dan kebangsaan (halaman 11). Hal ini sesuai
dengan amanat Undang-undang Sisdiknas No 20 tahun 2003 pasal (l), yang menyebutkan
bahwa: ¨Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewuiudkan suasana belaiar dan
proses pembelaiaran agar peserta didik secara aktiI mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian (karakter),
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa
dan negara¨.
Adapun aktualisasi dari pendidikan kewarganegaraan adalah melahirkan mahasiswa
sebagai ilmuan proIesional sekaligus warga negara Indonesia yang mamiliki rasa kebangsaan
dan cinta tanah air (na8ionali82e) yang tinggi. Hal ini sesuai dengan paragma pendidikan
tinggi nasional yang telah dicanangkan untuk 2003-2010 (halaman 11). Sesuai dengan iudul
buku ini, bahwa PKn bisa membangun karakter dan kepribadian menusia adalah merupakan
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
26

andil yang sangat mendasar dan sangat besar untuk kemaiuan moral bangsa kedepan.
Merbicara tentang karakter dalam literatur lain, sebenarnya memang merupakan bagian
integral dari pendidikan kewarganegaraan seiak Indonesia menyatakan kemerdekaanya.
Sebagai contoh, sepaniang masa Orde Lama (1945-1966), Orde Baru (1966-1998) dan pasca
Soeharto (1998-kini), wacana 'pembangunan karakter¨, 'pengembangan moral¨ dan
penyiapan warga negara yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti tidak pernah luntur dari
pendidikan kewarganegaraan dan tuiuan pendidikan nasional yang melandasinya. Akan
tetapi, pendidikan kewarga negaraan yang berupaya untuk memperkuatkan pengembangan
pelbagai atribut keutamaan (vir9ue8. .ivi. vir9ue8, atau 2oral .hara.9er) ini sering terdistorsi
secara mendasar oleh strategi dan praktik politikal rezim-rezim yang berkuasa melalui sistem
dan tuiuan-tuiuan pendidikan kewarganegaraan pada khususnya dan pendidikan nasional
pada umumnya. Alhasil, perhatian dicurahkan pada agenda besar pada tataran makro melalui
indoktrinasi politikal, seperti integrasi sosial, nota bene untuk mencapai kepentingan-
kepentingan rezim dalam mengontrol warga negara. Sementara itu, yang terabaikan adalah
tataran-tataran Iungsi sosio mikro atau interaksi sosial antara individu dan kelompok individu
yang iustru merupakan basis pengemabangan karakter (iuiur, peduli dan bertanggung iawab)
dan pengalaman karakter (disiplin, tabah dan raiin), yang dahulu dikaitkan dengan butir-butir
luhur pancasila (Kalidiernih, F.K. 2010).
Seperti apa yang maniadi tuiuan buku ini adalah membangun karakter dan kepribadian,
dalam proses belaiar mengaiar di kelas pengembangan nilai/karakter dilakasnakan dengan
menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelaiara (e2beded aproa.h).
Pendidikan kewarganegaraan memiliki misi mengmbangkan nilai dan sikap maka
pengembangan nilai/karakter harus meniadi Iokus utama yang dapat menggunakan berbagai
strategi/metode pendidikan nilai (value/.harak9er edu.a9ion). Oleh karena itu, untuk mata
pelaiaran pendidikan kewarganegaraan nilai/karakter harus dikembangkan sebagai dampak
pembelaiaran (in9ru.9ional effe..98) dan meniadi dampak pengiring (nur9uran9 effe.98)
(Budimansyah, D. 2010).
Berdasarkan dampak pembelaiaran dan dampak pengiring ini akan mewuiudkan
masyarakat yang memiliki 'demokratis dan beadab¨ atau masyarakat yang berkarakter.
Indikator masyarakat berkarakter dalam buku ini adalah sebagai berikut:
1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Pancasilais
2. Demokratik, berkeadaban, menghargai perbedaan, keragaman, pendapat dan
pandangan.
Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
27

3. Mengakui dan meniuniung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) kesetaraan dan tidak
diskriminatiI.
4. Sadar, tunduk pada hukum dan ketertiban.
5. Mampu berpartisipasi dalam pengambilan keputusan publik, memilik keahlian,
keterampilan kompetitiI dengan solidaritas universal.
6. Meniuniung tinggi nilai-nilai luhur yang mengakar pada masyarakat beradab dan
demokratis.
7. Belaiar dan berlangsung sepaniang hayat, membangun warga negara berkeadaban
(halaman 10).
Untuk itu, sebagai praktisi pendidikan memahami latar belakang IilosoIis pendidikan
kewarganegaraan di Perguruan Tinggi Umum sangatlah penting, sehingga pelaksanaan
pendidikan pembelaiaran dapat dipertanggung iawabkan dengan alasan bahwa pendidikan
kewarganegaraan, paradigma pendidikan karakter secara sistematik dengan pengembangan
.ivil in9ellegen.e. .ivi. par9i8ipa9ion. and .ivi. re8pon8ibili9v dari .ivi. edu.a9ion.



















Laporan Buku
Oleh . Sawaludin. S.Pd
..... -·.·· ·. -··..·.. 20,: Rendidikan
Kewarganegaraan
28




Sumber Bacaan
Syarbaini, S. Wahid, A. Dkk. (2006). Me2bangun Karak9er dan Kepribadian 2elalui
Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta. Graha Ilmu.
Kalidiernih, F.K. (2010). Situsionalisme: ReIleksi untuk Pendidikan Karakter di Indonesia
dalam Aktualisasi Pendidikan Karakter Bangsa. Bandung. WAP
Nurokhim Bambang. (2008). Me2bangun Karak9er dan Wa9ak Bang8a Melalui Pendidikan
Mu9lak Diperlukan. (Online) http://www.tnial.mil.id. Diakses pada tanggal 06
Desember 2010.
Ramli. (2010). Krea9ivi9a8 Anak Perlu Dike2bangkan Dala2 Pe2belaiaran. (Online)
http://ramlimpd.blogspot.com/2010/09/kreativitas-anak-perlu-dikembangkan.html.
Diakses pada tanggal 04 desmber 2010.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->