P. 1
Makalah Perkembangan Peserta Didik

Makalah Perkembangan Peserta Didik

|Views: 1,936|Likes:
Published by Puguh Gita Januar

More info:

Published by: Puguh Gita Januar on Dec 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

Perkembangan Biologis Manusia Indonesia Kita hidup dari kecil sampai saat ini pasti karena kita tumbuh

dan berkembang, perkembangan itu terjadi secara bertahap dan dalam waktu yang relatif lama. Kali ini saya akan sedikit menjelaskan materi tentang Perkembangan biologis manusia Indonesia. Sebenarnya perkembangan itu dibagi menjadi perkembangan biologis, perkembangan motorik dan perkembangan perseptual. Perkembangan biologis atau fisik sangat berkaitan erat dengan terjadinya proses evolusi manusia seperti : 1. Perubahan sikap tubuh dan cara bergerak 2. Perubahan fungsi bagian tertentu tubuh manusia 3. Perkembangan kepala 4. Perkembangan alat pembau, dan 5. Perkembangan alat penglihatan. Sedangkan pada perkembangan motorik anak akan menjadi lebih halus dan lebih terkoordinasi dibandingkan dengan masa bayi. Anak-anak terlihat lebih cepat dalam berlari dan pandai meloncat serta mampu menjaga keseimbangan badannya. Untuk memperhalus ketrampilan-ketrampilan motorik, anakanak harus terus melakukan berbagai aktivitas fisik informal dalam bentuk permainan. Sedangkan perkembangan perseptual adalah kemampuan memahami dan menginterprestasikan informasi sensori, atau kemampuan intelek untuk mencarikan makna dari data yang diterima oleh berbagai indra. Ada tiga proses aktivitas perseptual yang perlu dipahami, yaitu : sensasi, persepsi, dan atensi. Sensasi adalah peristiwa penerimaan informasi oleh indra penerima, persepsi adalah interprestasi terhadap informasi yang ditangkap oleh indra penerima, sedangkan atensi mengacu kepada selektifitas persepsi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan individu. Yang pertama adalah faktor hereditas atau keturunan, dalam hal ini hereditas diartikan sebagai totalitas karakteristik individu yang diwariskan orang tua kepada anak atau segala potensi, baik fisik maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen. Adapun yang diturunkan orang tua kepada anaknya adalah sifat strukturnya, penurunan sifat ini mengikuti prinsip-prinsip berikut : a. Reproduksi, penurunannya hanya berlangsung melalui sel benih. b. Konformitas (keseragaman) merupakan penurunan sifat yang mengikuti pola jenis generasi sebelumnya. c. Variasi, karena jumlah gen dalam setiap kromosom sangat banyak, maka kombinasi gen pada setiap pembuahan akan mempunyai kemungkinan yang banyak pula. d. Regresifillial merupakan penurunan sifat cenderung kearah rata-rata. Sedangkan individu yang lahir ke dunia dengan suatu hereditas tertentu, warisan atau turunan yang dimiliki manusia adalah bentuk tubuh dan warna kulit, sifat-sifat, intelegensi atau kecerdasan, bakat dan penyakit. Yang kedua adalah faktor lingkungan, yang dimaksud faktor lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak, sekolah tempat mendidik, masyarakat tempat anak bergaul juga bermain sehari-hari dan keadaan sekitar dengan iklim, flora dan faunanya. Faktor lingkungan terdiri dari :

A. Keluarga, menurut F.J. Brown keluarga dapat diartikan dalam arti luas yaitu keluarga meliputi semua pihak yang ada hubungan darah atau keturunan yang dapat dibandingkan dengan clam atau marga, dalam arti sempit keluarga meliputi orang tua dan anak. B. Sekolah, merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik aspek moral-spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial. Hurlock mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak (siswa) baik dalam cara berfikir, bersikap, maupun cara berperilaku. C. Masyarakat, adalah lingkungan tempat tinggal anak, mereka juga termasuk teman-teman anak di luar sekolah. Kondisi orang-orang di lingkungan desa atau kota tempat tinggal anak juga turut mempengaruhi perkembangan jiwanya. D. Teman sebaya, kelompok teman sebaya mempunyai peranan yang cukup penting terutama pada saat terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat pada beberapa dekade terakhir ini. Aspek kepribadian remaja yang berkembang secara menonjol dalam pengalamannya bergaul dengan teman sebaya adalah : a. Social cognitium yaitu kemampuan untuk memikirkan tentang pikiran, perasaan, motif, dan tingkah laku dirinya dan orang lain. b. Konformitas yaitu motif untuk menjadi sama, sesuai, seragam, kebiasaan, kegemaran, atau budaya teman sebayanya. c. Keadaan alam sekitar, juga berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Keadaan alam yang berbeda akan berpengaruh terhadap perkembangan pola pikir atau kejiwaan anak. Lingkungan sangat besar artinya bagi setiap pertumbuhan fisik. Sejak individu berada dalam konsepsi, lingkungan telah ikut memberi andil bagi proses pembuahan atau pertumbuhan. Antara hereditas dan lingkungan terjadi hubungan atau interaksi. Setiap faktor hereditas beroperasi dengan cara yang berbeda-beda menurut kondisi dan keadaan lingkungan yang berbeda-beda pula. Sedangkan implikasinya bagi kegiatan belajar mengajar adalah agar pendidik memberikan perhatian yang cukup terhadap aspek perkembangan fisik dan perseptual anak. Implikasi yang biasa ditimbulkan antara lain : a. Implikasi bagi penyelenggaraan pembelajaran. b. Implikasi bagi penyelenggaraan pendidikan olahraga. c. Implikasi bagi pemeliharaan kesehatan dan nutrisi anak. Demikian penjelasan singkat mengenai perkembangan biologis manusia Indonesia, apabila masih banyak kesalahan saya mohon maaf yang setulusnya. Semoga bermanfaat.

Motivasi Motif, sebenarnya apa yang dimaksud motif?, apakah motif batik atau motif yang lainnya?. MenurutWoolfolk (1993) motivasi adalah keadaan internal yang menaikkan, mengarahkan dan memelihara perilaku, sedangkan menurut Santrock dan Yussen (1992) motivasi dapat dipelajari sebagai motif biologis, motif untuk kompetisi, motif yang dipelajari dan berprestasi. Pertama, motivasi yang berarti motif biologis dipahami sebagai pola yang terbangun dalam sistem syaraf sentral anak sejak lahir, terutama berwujud pola tindakan baku yaitu seperangkat respons yang berbasis biologis yang terkait dengan perilaku yang distereotipkan. Misalnya seperti: memegang tangan anak untuk memotivasinya, tentu saja ini dapat membuat kekuatan tersendiri bagi anak. Kedua, motivasi kompetensi pada waktu bayi terbukti memberikan dasar yang lebih baik dalam memprediksi kompetensi lebih lanjut daripada hasil skor tes perkembangan. Mereka diberikan kesempatan untuk menentukan langkahnya sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri dalam berinteraksi dengan dan mengontrol lingkungan. Ketiga, motivasi dipelajari adalah motif yang diperoleh dari pengalaman berinteraksi dengan lingkungan. Tentu saja pertimbangan utamanya adalah dalam rangka menjaga eksistensi diri individu dan mengembangkan diri , sehingga menjadi individu yang bermakna baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Keempat, motivasi berprestasi. Sebagai salah satu motif yabg dipelajari, merupakan dorongan untuk menyelesaikan sesuatu, mencapai suatu standar keunggulan, dan memperluas usaha untuk berhasil secara. Sebagai salah satu motif yang dipelajari, merupakan dorongan untuk menyelesaikan sesuatu, mencapai suatu standar keunggulan, dan memperluas usaha untuk berhasil secara. Sebagai salah satu motif yabg dipelajari, merupakan dorongan untuk menyelesaikan sesuatu, mencapai suatu standar keunggulan, dan memperluas usaha untuk berhasil secara memuaskan. Kelima, motivasi keridhoan merupakan dorongan yang keluar dari hati yang ingin mengharapkan ridho Tuhan dalam setiap peilakunya. Perilaku yang muncul benar-benar tidak didasarkan pada pencapain kepuasan yang bersifat dunia semata, melainkan kepuasan yang sangat tinggi yang hanya mengharapkan ridho dan pahala dari Tuhan. Hirarki motif merupakan konsep Maslow yang mengisyaratkan semua individu memiliki lima kebutuhan utama yang harus dipuaskan yaitu; Kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta, dan kepemilikan, harga diri dan aktualisasi diri. Adalah disadari bahwa di antara faktor internal dan eksternal, faktor internal lah yang memiliki sumbangan yang besar bagi terciptanya kegiatan belajar mengajar yang efektif serta hasil pendidikan yang memuaskan. Adapun salah satu faktor psikologis yang sangat potensial untuk mendukung keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran adalah motivasi kompetensi dan berprestasi.

Sebenarnya apa itu belajar?, apakah belajar hanya berpikir atau membaca buku? dan apakah arti belajar yang sesungguhnya?. Menurut orang Indonesia yang bernama Thursan Hakim: belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan. Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai berikut : Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan Menurut Gagne (Whandi: 2009) Belajar adalah suatu proses dimana suatu organisma berubah tingkah lakunya sebagai akibat pengalaman Dari pengertian tersebut terdapat tiga atribut pokok atau ciri utama belajar, yaitu: proses, perilaku, dan pengalaman, dengan pengertian sebagai berikut 1) Proses Belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan. Seseorang dikatakan belajar apabila pikiran dan perasaannya aktif. Aktifitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diamati orang lain, akan tetapi terasa oleh yang bersangkutan yang dapat diamati guru adalah manifestasinya, yaitu kegiatan siswa sebagai akibat dari adanya aktifitas pikiran dan perasaan pada diri siswa tersebut. 2) Perubahan Perilaku Hasil belajar berupa perubahan perilaku atau tingkah laku seseorang yang belajar akan berubah atau bertambah perilakunya, baik yang berupa pengetahuan, ketrampilan, atau penguasaan nilai-nilai sikap. 3) Pengalaman Belajar adalah mengalami, dalam arti belajar terjadi di dalam interaksi antara individu dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Lingkungan fisik, misalnya :buku, alat peraga, alam sekitar. Lingkungan sosial, misalnya: guru, siswa pustakawan, dan Kepala Sekolah. Belajar bisa melalui pengalaman langsung maupun melalui pengalaman tidak langsung. Belajar melalui pengalaman langsung, misalnya siswa belajar dengan melakukan sendiri dan pengalaman sendiri. Belajar melalui pengalaman tidak langsung, misalnya mengatahui dari membaca buku, mendengarkan penjelasan guru. Belajar dengan melalui pengalaman langsung hasilnya akan lebih baik karena siswa lebih memahami, lebih menguasai pelajaran tersebut, bahkan pelajaran terasa oleh siswa lebih bermakna. Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar: 1).Perubahan terjadi secara sadar Ini berarti bahwa seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurangkurangnya ia merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya. Misalnya ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah, kecakapanya bertambah, kebiasaanya bertambah. Jadi perubahan tingkah laku yang terjadi karena mabuk atau dalam keadaan tidak sadar, tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar , karena orang yang bersangkutan tidak menyadari akan perubahan itu. 2). Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara

berkesinambungan , tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya. Misalnya jika seorang anak belajar menulis maka ia akan mengalami perubahan dari tidak dapat menulis menjadi dapat menulis. Perubahan ini berlangsung terus hingga kecakapan menulisnya menjadi lebih baik dan sempurna. 3). Perubahan dalam belajar bersifat Positif dan aktif Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh Sesutu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian makin banyak usaha belajar itu dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu sendiri. Misalnya perubahan tingkah laku karena proses kematangan yang terjadi dengan sendirinya karena dorongan dari dalam , tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar. 4). Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen. Ini berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap. Misalnya kecakapan seorang anak dalam memainkan piano setelah belajar, tidak akan hilang begitu saja melainkan akan terus dimiliki bahkan akan semakin berkembang kalau terus dipergunakan atau dilatih. 5). Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai. Perbuatan belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari. Misalnya seseorang yang belajar mengetik sebelumnya sudah menetapkan apa yang mungkin dapat dicapai dengan belajar mengetik, atau tingkat kecakapan mana yang akan dicapainya. 6). Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seorang belajar Sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya. Dengan begitu kesimpulan dari belajar adalah : a) Situasi belajar harus bertujuan. Tujuan merupakan salah satu aspek dari situasi belajar. Tujuantujuan belajar harus diterima baik oleh masyarakat. Tujuan dan maksud belajar timbul dari kehidupan anak sendiri. Didalam mencapai tujuan itu, murid akan senantiasa menemui kesulitan, rintangan, dan situasi yang tidak menyenangkan. b) Hasil belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat.

c) Proses belajar terutama mengerjakan hal-hal yang sebenarnya. Dengan kata lain belajar apa yang diperbuat dan mengerjakan apa yang dipelajari. d) Kegiatan-kegiatan dan hasil-hasil belajar dipersatukan dan dihubungkan dengan tujuan dan situasi belajar. e) f) g) Murid memberikan reaksi secara keseluruhan. Murid mereaksi suatu aspek dari lingkungan yang bermakna baginya. Murid diarahkan dan dibantu oleh orang-orang yang berada dalam lingkungan itu.

Tujuan pendidikan kita antara lain untuk mencerdaskan bangsa. Sayang selama ini secara umum yang menjadi perhatian adalah kecerdasan intelektual, menjadikan anak pandai tetapi kurang atau tidak cerdas dalam segi-segi lain. Maka saya ingin mengingatkan dengan adanya berbagai jenis kecerdasan yang perlu diperhatikan di dalam dunia pendidikan, antara lain: kecerdasan phisik, kecerdasan intelektual, kecerdasan sosial, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Yang dimaksud Kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan masalah atau menciptakan suatu produk yang bernilai dalam satu latar belakang budaya atau lebih. Kecerdasan dibagi beberapa macam yaitu: 1. Kecerdasan Linguistik (Bahasa). Kemampuan membaca, menulis, dan berkomunikasi dengan kata-kata atau bahasa. Contoh orang yang memiliki kecerdasan linguistic adalah penulis, jurnalis, penyair, orator, dan pelawak. 2. Kecerdasan Logis-Matematis. Kemanpuan berpikir (bernalar) dan menghitung, berpikir logis dan sistematis. Ini adalah jenis keterampilan yang sangat dikembangkan pada diri insinyur, ilmuwan, ekomon, akuntan, detektif, dan para anggota profesi hukum. 3. Kecerdasan Visual-Spasial. Kemampuan berpikir menggunakan gambar, memvisualisasikan hasil masa depan. Membayangkan berbagai hal pada mata pikiran Anda. Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini antara lain para arsitek, seniman, pemahat, pelaut , fotografer, dan perencara strategis. 4. Kecerdasan Musikal. Kemampuan menggubah atau mencipta musik, dapat menyanyi dengan baik, dapat memahami atau memainkan musik, serta menjaga ritme. Ini adalah bakat yang dimiliki oleh para musisi, composer, perekayasa rekaman 5. Kecerdasan Kinestik Tubuh. Kemampuan menggunakan tubuh secara terampil untuk memecahkan masalah, menciptakan produk atau mengemukakan gagasan dan emosi. Kemampuan ini dimiliki oleh para atlet, seniman tari atau akting atau dalam bidang banguan atau konstruksi. 6. Kecerdasan Interpersonal (social). Kemampuan bekerja secara efektif dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain dan memperlihatkan empati dan pengertian, memeperhatikan motivasi dan tujuan mereka. Kecerdasan jenis ini biasanya dimiliki oleh para guru yang baik, fasilitator, penyembuh, polisi, pemuka agama, dan lain-lain 7. Kecerdasan Intrapersonal. Kemampuan menganalis-diri dan merenungkan-diri, mampu merenung dalam kesunyian dan menilai prestasi seseorang, meninjau perilaku seseorang dan perasaan-perasaan terdalamnya, membuat rencana dan menyusun tujuan yang hendak dicapai, mengenal benar diri sendiri. Kecerdasan ini

biasanya dimiliki oleh para filosof, penyuluh , pembimbing, dan banyak penampil puncak dalam setiap bidang. 8. Kecerdasan Naturalis. Kemampuan mengenal flora dan fauna, melakukan pemilahan-pemilahan runtut dalam dunia kealaman, dan menggunakan kemampuan ini secara produktif- misalnya berburu, bertani, atau melakukan penelitian biologi. Yang dimaksud kreativitas menurut beberapa pendapat para ahli tentang kreativitas 1. Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta atau daya cipta. (K B B I) 2. Kreativitas adalah pengalaman mengekpresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain. (Clark Moustatis) 3. Kreativitas merupakan kemampuan untuk memberi gagasan baru yang menerapkannya dalam pemecahan masalah. (Conny R. Semiawan). 4. Kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang ,kecenderungan untuk mengekpresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme (Rogers). 5. Kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya: (1) Baru (novel): inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh, mengejutkan. (2) Berguna (useful): lebih enak , lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, memdidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik/ banyak. (3) Dapat dimengerti (understandable): hasil yang sama dapat dimengerti dan dapat dibuat di lain waktu. (David Cambell) Dari beberapa uraian definisi di atas dapat dikemukakan bahwa kreativitas pada intinya merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk cirri-ciri aptitude maupun non aptitude, baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Pengertian kreativitas menunjukkan ada tiga tekanan kemampuan yaitu yang berkaitan dengan kemampuan untuk mengkombinasikan, memecahkan atau menjawab masalah, dan cerminan kemampuan operasional anak kreatif (Utami Munandar: 1992) Proses Kreatif Kreativitas dalam perkembangannya sangat sangat terkait dengan empat aspek, yaitu: 1. Aspek Pribadi Ditinjau dari aspek pribadi, kreativitas muncul dari interaksi pribadi yang unik dengan lingkungannya.

2. Aspek Pendorong Ditinjau dari aspek pendorong kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan internal maupun eksternal dari lingkungan. 3. Aspek Proses Ditinjau sebagai proses, menurut Torrance (1988) kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai, dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyaipaikan hasil-hasilnya. 4. Aspek Produk Definisi produk kreativitas menekankan bahwa apa yang dihasilkan dari proses kreativitas adalah sesuatu yang baru, orisinil, dan bermakna. Kreativitas tidak timbul serta-merta, tetapi melalui proses. Proses kreatif menurut Bobbi De Porter & Mike Hernacki (2001:301) dalam bukunya Quantum Learning mengalir melalui lima tahap, hatap-tahap tersebut sebagai berikut : 1. Persiapan Mendifinisikan masalah, tujuan, atau tantangan. 2. Inkubasi Mencerna fakta-fakta dan mengolahnya dalam pikiran. 3. Iluminasi Mendesak ke permukaan, gagasan-gagasan bermunculan. 4. Verifikasi Memastikam apakah solusi itu benar-benar memecahkan masalah. 5. Aplikasi Mengambil langkah-langkah untuk menindaklanjuti solusi tersebut Ciri-ciri Kreativitas Setelah kita mengetahui tahap-tahap bagaimana kreativitas tercipta, berikutnya kami akan uraikan bagaimana ciri-ciri orang yang kreatif itu. Menurut David Cambell ciri-ciri kreativitas ada tiga kategori: 1. Ciri-ciri pokok: kunci untuk melahirkan ide, gagasan, ilham, pemecahan, cara baru, penemuan. 2. Ciri-ciri yang memungkinkan: yang membuat mampu mempertahankan ide-ide kreatif, sekali sudah ditemuka tetap hidup. 3. Ciri-ciri sampingan: tidak langsung berhubungan dengan penciptaan atau menjaga agar ide-ide yang sudah ditemukan tetap hidup, tetapi kerap mempegaruhi perilaku orang-orang kreatif. Semoga artikel ini bermafaat.

Kita sering berbicara untuk berkomunikasi dengan orang lain, berbicara untuk menyampaikan sesuatu. Tapi sadarkah anda jika bahasa sangat mempengaruhi perkembangan peserta didik kita?, sadarkah anda jika bahasa adalah seperangkat kebiasaan yang bisa mengubah hal terkecil yang anda anggap sepele?. Nah, dalam kesempatan kali ini saya akan mengulas apa itu bahasa beserta peranannya dalam kegiatan belajar mengajar, mari kita mulai. Setiap manusia memulai dan mengawali komunikasinya dengan menangis, seperti saat kita bayi yang mungkin sudah tidak diingat lagi bagaimana kita menangis saat masih bayi, karena kita belum bisa berbahasa dan berbicara pada waktu bayi. Lalu apa itu bahasa dan berbicara?, ternyata terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara perbedaan pengertian bahasa dan berbicara, bahasa mencakup segala bentuk komunikasi sedangkan berbicara adalah bahasa lisan yang merupakan bentuk apresiasi atau praktek dari bahasa. Sedangkan perkembangan bahasa dimulai dari tangisan sampai dengan anak mampu bertutur kata, dan perkembangan itu dibagi atas dua periode besar yaitu: Periode Prelinguistik dan Periode Linguistik. Kali ini saya hanya akan menjelaskan tentang periode linguistik yang terjadi saat anak berumur 1-5 tahun, dan periode Linguistik dibagi dalam tiga fase besar, yaitu: 1. Fase Satu Kata atau Holofrase Pada fase ini anak hanya menggunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kompleks, pada umumnya kata yang pertama kali diucapkan oleh anak adalah kata benda baru disusul kata kerja. 2. Fase Lebih dari Satu Kata Fase ini muncul ketika anak berumur kira-kira 18 bulan, pada fase ini anak sudah dapat mengucapkan dan membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Kalimat tersebut kadang-kadang terdiri dari pokok kalimat dan predikat, kadang pokok kalimat dengan obyek. Setelah itu baru anak bisa mengucapkan kalimat yang terdiri dari tiga kata atau lebih, pada periode ini anak sudah tidak lagi menggunakan bahasa untuk dirinya sendiri (egosentris) tetapi sudah melakukan pembicaraan dengan orang lain. 3. Fase Diferensiasi Ketrampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat dalam fase ini, dalam berbicara anak bukan saja menambah kosakatanya yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengucapkan kata demi kata menurut jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan kata kerja. Terlebih lagi, anak sudah menganggap dirinya sebagai subyek (saya) dalam setiap pembicaraan dengan orang lain. Singkat kata, dalam fase ini anak sudah mampu berbicara menggunakan gaya dewasa . Bahasa Tubuh adalah cara seseorang berkomunikasi dengan menggunakan bagian bagian dari tubuhnya, seperti orang yang Tunawicara mereka menggunakan bahasa itu untuk berkomunikasi dengan orang lain. Biasanya orang berbahasa dengan maksud menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya, tetapi orang tersebut belum tentu memahaminya. Fungsi dari berbicara adalah: a. Sebagai pemuas kebutuhan dan keinginan b. Sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain c. Sebagai alat untuk membina hubungan sosial

d. Sebagai alat untuk menilai diri sendiri e. Untuk dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain f. Untuk mempengaruhi perilaku orang lain Bakat perlu dikembangkan, demikian juga dengan potensi anak untuk berbicara yang sangat tergantung pada kematangan alat berbicara dan juga kesiapan anak tersebut dalam berbicara. Sangat tidak mungkin jika bayi berumur 1 hari dapat berbicara dengan sempurna, karena alat pembicaraannya belum tumbuh dengan sempurna. Anak perlu diberikan contoh dan dibimbing dengan baik dalam berbicara, diperlukan latihan agar anak tidak merasa minder dalam penyampaian isi pikirannya. Jalan tidak selalu lurus dan mulus, suatu saat pasti ada tikungan dan halangan. Begitu juga dengan perkembangan berbicara, yang mempunyai beberapa halangan. Biasanya halangannya berupa kondisi fisik dan psikis anak, terutama saat anak menangis karena ketidakmampuannya dalam berbahasa, tentu itu akan menjadi halangan yang sangat besar bagi perkembangan bahasa anak. Kesukaran anak dalam memahami pembicaraan dari orang lain juga sangat menghalangi, hal ini dikarenakan sedikitnya perbendaharaan kata yang dimiliki oleh anak, maka dari itu peran orang tua sangat dibutuhkan dalam menangani hal ini. Demikian sedikit coretan dari saya, maaf apabila masih banyak kesalahan dan semoga artikel ini bermanfaat.

Hakikat perkembangan peserta didik
Tidak sah jika semua orang tidak ingin berkembang dan tidak ingin tumbuh, karena semua itu merupakan siklus alami yang dialami oleh manusia. Begitu juga dengan anak-anak, mereka juga berkembang dan tumbuh seperti layaknya manusia lainnya, tanpa sadar mereka akan menjadi dewasa cepat ataupun lambat. Tentu saja sebagai seorang calon guru yang baik saya mencoba mempelajari dan memahami hal tersebut, dengan harapan saya menjadi lebih memahami, mengerti sekaligus merasakan bagaimana perkembangan anak dan seperti apa watak anak?. Untuk itu kali ini saya akan menjelaskan apa itu hakikat perkembangan anak didik. Pertama saya akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan perkembangan, menurut E.B. Hurlock perkembangan adalah serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman dan terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Sedangkan menurut tokoh Indonesia Drs.H.M. Arifin, M.Ed perkembangan adalah perubahan-perubahan dalam bentuk bagian tubuh dan integrasi dan hanya dapat dilihat dari gejalagejalanya. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan adalah suatu pola perubahan organisme baik dalam struktur maupun fungsi yang terjadi secara teratur dan terorganisasi dan berlangsung sepanjang hayat. Nah itulah pengertian atau definisi dari perkembangan, sekarang kita simak pengertian dari pertumbuhan. Menurut Werner pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada waktu yang normal, sedangkan menurut Drs. H. M. Arifin, M. Ed. Pertumbuhan adalah suatu penambahan dalam ukuran, bentuk, berat, atau ukuran dimensif tubuh serta bagian-bagiannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan adalah suatu proses perubahan secara fisik yang menunjuk kepada kuantitas. Lalu apa itu perkembangan anak sebagai suatu totalitas?, yang dimaksud perkembangan anak sebagai totalitas mempunyai sekurang-kurangnya tiga pengertian yaitu : 1. Anak adalah makhluk hidup yang merupakan suatu kesatuan dari keseluruhan aspek yang terdapat dalam dirinya. 2. Dalam kehidupan perkembangan anak, keseluruhan aspek anak tersebut saling terjalin satu sama lain. 3. Anak berbeda dari orang dewasa bukan sekedar secara fisik, tetapi secara keseluruhan. Demikian pengertian anak sebagai totalitas yaitu sebagai suatu individu yang merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi dari keseluruhan organ fisik dan aspek psikis yang terdapat dalam dirinya, keseluruhan aspek yang terdapat dalam diri anak tersebut saling terjalin satu sama lain karena itu perbedaan anak dengan orang dewasa tidak hanya terjadi pada aspek fisik atau psikis melainkan secara keseluruhan. Sesuai dengan konsep anak sebagai suatu totalitas, perkembangan juga merupakan suatu proses yang sifatnya menyeluruh atau holistik. Artinya perkembangan itu terjadi tidak hanya dalam aspek tertentu, melainkan melibatkan keseluruhan aspek yang saling terjalin (interwoven) satu sama lain. Secara garis besar proses perkembangan dapat dikelompokkan ke dalam tiga domain yaitu proses Biologis, Kognitif dan Psikososial. Proses Biologis mencakup perubahan dalam tubuh individu, proses Kognitif melibatkan perubahan-perubahan dalam kemampuan dan pola berpikir, kemahiran berbahasa dan cara individu memperoleh pengetahuan dari lingkungannya, sedangkan proses Psikososial melibatkan perubahanperubahan dalam aspek perasaan, emosi dan kepribadian individu serta cara yang bersangkutan berhubungan dengan orang lain.

Pertanyaan tentang apakah faktor kematangan (pembawaan) atau pengalaman (lingkungan) yang terutama mempengaruhi perkembangan individu telah lama diperdebatkan. Yang dimaksud kematangan (maturation) adalah urutan perubahan yang dialami individu yang teratur yang ditentukan oleh rancangan genetiknya, di sisi lain Pengalaman merupakan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh individu dalam berinteraksi dengan lingkungan. Menurut pandangan maturasional, pada dasarnya individu berkembang dalam cara yang terpola secara genetik, sebaliknya kaum Environmentalis menekankan pentingnya pengalaman dalam perkembangan anak. Di samping dua kelompok aliran tersebut, ada pula para ahli perkembangan (interactionists) yang mempercayai bahwa hampir semua kualitas fisik dan psikis individu merupakan hasil dari pengaruh pembawaan dan lingkungan. Dakam prakteknya menentukan kontribusi kematangan dan pengalaman terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu secara pasti akan sangat sulit di lakukan. Isu lain yang sering diperdebatkan oleh para ahli perkembangan adalah pertanyaan apakah perkembangan itu merupakan sesuatu yang sinambung (continue) atau tidak sinambung (discontinue). Para ahli yang menekankan segi kesinambungan (continuity) dalam perkembangan menjelaskan bahwa perkembangan itu merupakan perubahan komulatif yang berlangsung secara bertahap dari masa konsepsi hingga meninggal dunia. Di sisi lain para ahli yang menekankan segi ketidaksinambungan (discontinuity) dalam perkembangan menganggap bahwa proses perkembangan individu melibatkan tahapan-tahapan yang berbeda. Berkenaan dengan isu kontinuitas dan diskontinuitas Emde & Harmon menjelaskan bahwa persoalan tersebut melibatkan dua komponen yang diperdebatkan. Pertama, isu ini menjelaskan tentang pola-pola perkembangan. Kedua, perdebatan ini berkenaan dengan masalah keterkaitan perkembangan. Demikianlah sedikit penjelasan mengenai hakikat perkembangan anak didik dalam artikel saya ini, apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan maupun yang lainnya saya mohon maaf yang setulusnya, dan semoga artikel ini bermanfaat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->