P. 1
Penentuan Nilai Inventory Dengan Index Inventory Turn Over (Ito) Sebagai Standar Key Performance Indicator (Kpi)

Penentuan Nilai Inventory Dengan Index Inventory Turn Over (Ito) Sebagai Standar Key Performance Indicator (Kpi)

|Views: 1,498|Likes:
Published by pmondy

More info:

Published by: pmondy on Dec 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/20/2015

pdf

text

original

Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi V Program Studi MMT-ITS, Surabaya 3 Pebruari 2007

PENENTUAN NILAI INVENTORY DENGAN INDEX INVENTORY TURN OVER (ITO) SEBAGAI STANDAR KEY PERFORMANCE INDICATOR (KPI) DI PT. PETROKIMIA GRESIK
Setiawan Budi Satoto, I Nyoman Pujawan Program Studi Magister Manajemen Teknologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia

ABSTRAK Index Inventory Turn Over (ITO) merupakan salah satu target dalam bidang logistik yang ditetapkan dalam Key Performance Indicator (KPI) perusahaan. Dengan index ITO tersebut nantinya dapat ditentukan besarnya nilai persediaan yang harus ada dalam perusahaan. Dalam penelitian yang dilakukan akan dianalisa besarnya index ITO yang harus ditetapkan sebagai target perusahaan. Dengan dasar perhitungan penentuan ITO dan referensi dari beberapa sumber maka akan dapat ditentukan besarnya index ITO. Dengan mengetahui index ITO yang telah ditetapkan maka akan diketahui besarnya nilai persediaan yang harus ada di perusahaan. Berdasarkan index ITO yang ada dapat pula ditetapkan besarnya anggaran bulanan untuk pengadaan barang persediaan/inventory disesuaikan dengan nilai persediaan & nilai pemakaian barang persediaan. Kata kunci : Index Inventory Turn Over, Key Performance Indicator, Nilai Persediaan

PENDAHULUAN
Dalam perkembangan teknologi saat ini, dimana setiap perusahaan dituntut untuk mendapatkan profit yang sebesar-besarnya sehingga kegiatan-kegiatan yang tidak mempunyai nilai tambah bagi perusahaan sedikit demi sedikit mulai dikurangi aktivitasnya. Seiring dengan tuntutan tersebut (profit oriented) maka setiap unit kerja dipersyaratkan untuk mempunyai target tahunan yang harus dipenuhi atau dicapai di akhir tahun, dimana target yang ada harus disetujui oleh kedua belah pihak, dalam hal ini manager dan Direksi. Penetapan target tersebut saat ini dikenal sebagai Key Performance Indicator (KPI). Unit kerja Logistik yang dalam hal ini merupakan unit kerja pendukung perusahaan, yang merencanakan & mengendalikan kebutuhan material untuk operasional perusahaan tentunya tidak terlepas dari target KPI yang ditetapkan oleh jajaran Direksi. Salah satu point penting yang menjadi target KPI adalah Nilai Inventory. Nilai Inventory selalu menjadi perhatian serius pihak manajemen perusahaan (jajaran Direksi), namun sampai saat tidak dapat ditentukan berapa nilai Inventory yang optimal. Pihak Manajemen terkadang menginginkan nilai Inventory dijaga serendah mungkin, namun hal ini terkadang berimbas pada matinya pabrik karena material stock-out. Atau bahkan sebaliknya pihak Manajemen menginginkan agar operasional pabrik tetap terjaga dengan kesediaan stock material yang terjamin, namun hal ini terkadang menimbulkan over-stock yang merugikan ditinjau dari sisi finansial.

Di samping itu juga dapat ditentukan besarnya anggaran yang harus dibelanjakan untuk setiap bulan dengan mengacu ke index Inventory Turn Over (ITO) yang ada. membuat formula penetapan ITO untuk kondisi 5 tahun ke depan sebagai salah satu target Key Performance Indicator (KPI). 6 bulanan & 1 tahun. Dengan menetapkan suatu target yang bisa dipahami dan disepakati kedua belah pihak (Manager Logistik & Direksi) maka nantinya akan terdapat suatu acuan yang bisa berfungsi sebagai alarm dan data untuk pengambilan keputusan selanjutnya. berapa rupiah yang harus dibelanjakan agar nilai Inventory tetap optimal. maka perlu dicari cara/metode yang dapat mengukur kinerja manager logistik yang terkait dengan tingginya nilai inventory. baik ditinjau dari sisi operasional perusahaan maupun ditinjau dari sisi nilai inventory (finansial). diharapkan untuk masa mendatang tidak ada pertentangan antara pihak manajemen logistik dengan jajaran Direksi dalam menentukan besarnya nilai inventory yang ada. Dengan penentuan index ITO tersebut. Sehingga dari 2 (dua) kondisi tersebut akan ditentukan nilai ITO yang optimal. Kedua belah pihak tentunya menginginkan nilai ITO yang sebesar mungkin karena hal ini akan berimbas terhadap makin kecilnya nilai inventory yang ada. mengelompokkan nilai inventory yang ada. Di samping menentukan ITO sebagai standar KPI. nantinya pihak manajemen logistik bisa memberikan informasi mengenai anggaran yang harus dikeluarkan setiap bulan & berapa target bulanan yang harus dicapai manajemen logistik untuk mengurangi nilai inventory yang ada. berapa macam kelompok barang yang ditangani.Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi V Program Studi MMT-ITS. maka nantinya penetapan target KPI hanya mengacu kepada index ITO yang ada. Manfaat Penelitian Dengan penelitian ini nantinya diharapkan ada suatu acuan yang digunakan oleh manager logistik & Direksi untuk menetapkan target Key Performance Indicator (KPI) terkait nilai Inventory. ISBN : 979-99735-2-X A-50-2 . Penetapan ITO sebagai standar KPI Pengambilan topik ini didasarkan bahwa dengan pendekatan index ITO maka kita akan mendapatkan nilai Inventory yang optimal. berapa kali pihak manajemen menginginkan suatu barang ditransaksikan. menganalisa index ITO dengan kondisi perusahaan saat ini. Perhitungan index ITO ini didasarkan pada kondisi sesungguhnya. mempunyai acuan untuk anggaran pengadaan barang 3 bulanan. misalnya dengan menawarkan stock yang ada sebagai substitusi material permintaan user. Dari besaran ITO & kedua parameter tersebut. Metode yang akan digunakan disini adalah dengan menggunakan Inventory Turn Over (ITO) yang mempunyai parameter nilai rata-rata inventory & nilai pemakaian inventory. yaitu berapa kebutuhan rutin akan barang tersebut. Diharapkan juga hasil penelitian ini bisa digunakan dalam menentukan target KPI dalam bidang logistik di seluruh pabrik pupuk di bawah holding APPI (Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia). mengetahui nilai pemakaian barang inventory. menetapkan index ITO dan nilai inventory yang optimal. Surabaya 3 Pebruari 2007 Dari hal tersebut di atas. namun di satu sisi juga diharapkan bahwa operasional perusahaan tidak terganggu akibat terjadinya shortage material. menghitung index Inventory Turn Over (ITO). Dengan penelitian ini. penelitian yang dilakukan ditujukan juga antara lain untuk mengetahui kondisi inventory yang ada saat ini.

Finished Product (Barang Jadi) Kelompok barang yang terdiri dari barang/produk jadi dan produk samping yang dapat langsung dipasarkan & merupakan suatu output dari suatu proses produksi. Raw Material Kelompok barang yang terdiri dari bahan baku. 2. bahan penolong/chemical bahan bakar yang merupakan input dari suatu proses produksi. Kelompok Barang dalam Inventory Adapun definisi dari kelompok barang tersebut sebagai berikut : 1. sementara yang kedua mendasarkan pada kapan order harus dibuat.Operating Supplies . component parts (part untuk equipment pabrik). Yang pertama mendasarkan order pada berapa jumlah yang harus diorderkan.Raw Material PROSES . LANDASAN TEORI Definisi Inventory Dalam melakukan penelitian untuk menentukan besarnya nilai persediaan yang optimal ditinjau dari index Inventory Turn Over (ITO). Component Parts Kelompok barang yang terdiri dari spare part dari suatu equipment/peralatan pabrik yang mendukung suatu proses produksi. maka perlu didefinisikan arti dari Inventory (persediaan). Surabaya 3 Pebruari 2007 Diharapkan juga di masa mendatang dapat dihasilkan lagi penelitian untuk menentukan nilai inventory optimal dengan menggunakan metode/cara lain yang ada dalam bidang Logistik. Suatu system Inventory merupakan suatu kelompok kebijakan dan pengendalian yang memonitor dan menentukan berapa level sediaan yang harus dijaga. Aquilano & Jacobs (1998) mendefinisikan Inventory sebagai sediaan dari seluruh item atau sumber daya yang digunakan dalam suatu organisasi (perusahaan) . Sementara itu menurut Taylor (2002).Component Parts .Barang dalam proses OUTPUT . ketika suatu sediaan harus diisi lagi. Ada sejumlah definisi Inventory dalam beberapa literature. Chase.Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi V Program Studi MMT-ITS. Klasifikasi Inventory Inventory dalam suatu perusahaan secara tipikal dapat diklasifikasikan menjadi raw material (bahan baku). seperti ditunjukkan pada gambar 1 INPUT . dan berapa jumlah yang harus diorderkan. ISBN : 979-99735-2-X A-50-3 . Ada 2 (dua) tipe dasar dari system inventory yaitu a continuous (fixed-order quantity) system dan a periodic (fixedtime period) system. operating supplies & barang dalam proses. suatu system Inventory merupakan suatu struktur untuk mengendalikan tingkat inventory dengan menentukan berapa jumlah yang harus diorderkan & kapan order tersebut harus dibuat. 3. finished product (barang jadi).Finished Product Gambar 1.

3. 2. work in process dan finished good cost. karena adanya biaya untuk membuat setiap set-up produksi yang baru. inventory obsolescence. 5. Fungsi Inventory Tujuan dasar dari analisa inventory adalah menentukan kapan suatu item harus diorderkan dan berapa banyak besar order yang seharusnya. Suatu supply material pada suatu unit kerja memberikan fleksibilitas unit kerja tersebut dalam beroperasi. Banyak perusahaan yang melakukan hubungan (kontrak) jangka panjang dengan vendor untuk mensupply kebutuhan mereka selama periode waktu tertentu (6 bulan atau 1 tahun). Menyediakan suatu pengaman untuk variasi waktu pengiriman raw material. Biaya Inventory Menurut Bowersox (2002). misalnya tools dan peralatan safety. Surabaya 3 Pebruari 2007 4. dapat berupa investasi bangunan. mesin dan peralatan. biaya Inventory meliputi semua biaya yang berkaitan dengan penanganan dan penyimpanan inventory yaitu inventory investment. Menjaga kebebasan operasional perusahaan. Operating Supplies Kelompok barang selain component parts yang mendukung proses produksi. dan suatu safety atau buffer stock dijaga untuk mengatasi variasi dalam permintaan (demand) yang ada. Barang Dalam Proses Kelompok barang yang merupakan hasil dari salah satu proses produksi yang masih memerlukan proses selanjutnya agar dapat mempunyai nilai jual (menjadi produk jadi). inventory ini akan mendorong manajemen perusahaan untuk mengurangi jumlah set-up yang dilakukan. Untuk mendapatkan keuntungan dari jumlah order pembelian yang ekonomis (Economic Order Quantity). Dengan inventory maka tidak perlu suatu barang harus dikirim dengan peasawat udara yang memang lebih cepat. 2. ISBN : 979-99735-2-X A-50-4 . maka akan diproduksi produk untuk memenuhi permintaan tersebut. Tujuan dari semua perusahaan untuk menjaga kontinuitas supply dari inventory adalah : 1. Bila suatu permintaan diketahui secara pasti. 4. 5. pergudangan dan distribution center.Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi V Program Studi MMT-ITS. Sebagai contoh. Adapun definisi dari biaya-biaya tersebut sebagai berikut : 1. Suatu stock dari inventory akan mengurangi tekanan pada system produksi untuk menghasilkan produk. Memberikan flesibilitas dalam schedule produksi. Memenuhi variasi dalam permintaan (demand) akan produk yang ada. Namun sering sekali suatu permintaan tidak diketahui secara pasti. namun membutuhkan biaya pengiriman yang mahal. sehingga hal ini merubah konsep yang ada dari semula kapan dan berapa banyak yang harus “diorderkan” menjadi kapan dan berapa banyak yang harus “dikirim/dideliver”. Inventory Obsolescence Merupakan semua biaya yang timbul karena kerusakan material dan atau produk selama penyimpanan. Inventory Investment Merupakan semua biaya yang dikeluarkan untuk investasi di pabrik.

misalnya harga barang & biaya administrasi yang dikeluarkan saat memesan barang tersebut. 4. Holding (carrying) costs. Q Qmax ROP Qmin SS LT T Gambar 2. Biaya yang dikeluarkan akibat terjadinya stock-out pada item sediaan. Finished Good Cost Merupakan semua biaya yang timbul selama proses handling dan penyimpanan barang jadi Sedangkan menurut Chase. misalnya biaya fasilitas penyimpanan. 4. Ada beberapa formula yang digunakan untuk menentukan tingkat minimum dan maksimum tersebut. antara lain : 1. depresiasi & pajak-pajak. asuransi. Suatu biaya yang dikeluarkan akibat adanya perubahan set-up mesin karena akan dibuatnya produk baru yang berbeda dari produk yang ada sebelumnya. 2. berapa kerugian yang ada akibat kehilangan customer dan lain-lain. Work In Process Merupakan semua biaya yang timbul selama ada penyimpanan produk setengah jadi yang masih menunggu untuk diproses lebih lanjut menjadi barang jadi. selain perlu dipahami mengenai konsep system inventory. dalam merencanakan dan mengendalikan system inventory. Ordering costs. Setup (production change) costs. Surabaya 3 Pebruari 2007 3. Biaya ini sulit dihitung karena harus menentukan berapa keuntungan yang hilang. Aquilano & Jacobs (1998). Yang termasuk dalam kategori biaya ini. Shortage costs. Kurva Persediaan ISBN : 979-99735-2-X A-50-5 . Semua biaya yang dikeluarkan saat melakukan pembelian barang. 3. handling. Tingkat Inventory Minimum – Maximum Dalam melakukan penelitian ini.Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi V Program Studi MMT-ITS. perlu diketahui pula biaya-biaya (costs) yang akan timbul. tentunya juga harus diketahui berapa tingkat/level minimum dan maksimum dari nilai persediaan. salah satunya adalah dengan system ROL (Re-Order Level).

Dalam penelitian ini akan ditentukan nilai persediaan optimal ditinjau dari tingkat Inventory Turn Over (ITO) yang telah disepakati manajemen. Model persediaan probabilistik. Sistem Inventory Untuk menentukan system inventory yang baik.. maka range standard nilai persediaan tersebut akan dijadikan acuan performance kinerja manajemen logistik (Key Performance Indicator/KPI). yaitu volume permintaan belum diketahui dengan pasti ISBN : 979-99735-2-X A-50-6 . yaitu volume permintaan sudah diketahui dengan pasti 2. penentuan tingkat/level ITO tersebut didasarkan pada besarnya nilai pemakaian inventory selama setahun dibandingkan nilai rata-rata persediaan bulanan selama 1 (satu) tahun. Model persediaan deterministik. Menurut Ballou (1999).1 Sedangkan : Max Level = 2 x Min Level Dari formula tersebut nantinya dapat dihitung berapa range nilai dari total minimum & maksimum inventory. yaitu : 1. Bila diinginkan lagi bahwa nilai persediaan optimal tersebut harus diberi batasan toleransi agar tidak terjadi stock-out ataupun over-stock. Adapun formulanya dapat digambarkan sebagai berikut : ITO = Σ nilai pemakaian inventory setahun Σ nilai persediaan bulanan / 12 = X1 + X2 + X3 + X4 + X5 +……+ X12 (Y1 + Y2 + Y3 + …. Surabaya 3 Pebruari 2007 Dalam menentukan tingkat minimum & maksimum persediaan dengan ROL dapat digunakan formula berikut : Min Level = (C/R x LT) + SS dimana : C/R : Consumption Rate LT : Lead Time SS : Safety Stock : SF (C/R x LT) SF : Safety Factor : nilainya berkisar 0 .Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi V Program Studi MMT-ITS. maka ada 2 (dua) model persediaan.+ Y12) / 12 dimana : X1 = nilai pemakaian inventory bulan ke-1 X2 = nilai pemakaian inventory bulan ke-2 X3 = nilai pemakaian inventory bulan ke-3 X4 = nilai pemakaian inventory bulan ke-4 X5 = nilai pemakaian inventory bulan ke-5 X12 = nilai pemakaian inventory bulan ke-12 Y1 = nilai persediaan bulan ke-1 Y2 = nilai persediaan bulan ke-2 Y3 = nilai persediaan bulan ke-3 Y12 = nilai persediaan bulan ke-12 Dengan mengetahui besarnya index ITO tersebut maka nantinya akan diperoleh suatu nilai persediaan yang optimal. seperti ditunjukkan pada gambar 2.

Model persediaan ini digunakan sebagai awal untuk mengetahui lebih dalam tentang persediaan pada kondisi yang ideal. Kurva Persediaan Deterministik Pada model deterministic. dimana pada pola persediaan ini ada suatu safety stock untuk mengantisipasi terjadinya ketidakpastian dalam lead time (waktu tunggu). karena pemakaian barang dan kedatangan barang sudah pasti. Surabaya 3 Pebruari 2007 Model Persediaan Deterministik Menurut Tersine (1994). Tingkat permintaan dan biaya persediaan diasumsikan bisa diketahui dengan pasti. model deterministic digunakan pada kondisi permintaan yang tetap untuk menentukan kebijakan persediaan yang optimal. Model Persediaan Probabilistik Model persediaan probabilistik digunakan apabila permintaan di masa datang tidak diketahui secara pasti. Paramete-parameter yang dibutuhkan adalah : • volume permintaan • biaya persediaan • waktu tunggu Qmax Q ROP Qmin LT T Gambar 3. yaitu waktu yang diperlukan sejak permintaan hingga barang datang. sehingga lebih baik menggunakan model persediaan probabilistik. semua parameter dan variabel diketahui atau bisa dihitung dengan pasti. Pola persediaan probablistik dapat dilihat seperti pada gambar 2. sehingga bisa diterapkan proses pengadaan/pembelian barang secara JIT (Just In Time). ISBN : 979-99735-2-X A-50-7 . sedangkan penambahan & waktu tunggu dianggap konstan. seperti terlihat pada gambar 3 Dalam persediaan yang deterministic tidak diperlukan adanya safety stock. tetapi dapat diketahui melalui masa lalu. Pada kenyataannya kondisi tersebut jarang terjadi.Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi V Program Studi MMT-ITS.

Pola Musiman (S) yang terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh factor musiman 4. yaitu mengurangi lamanya waktu tunggu (lead time) ISBN : 979-99735-2-X A-50-8 . sehingga metoda yang paling tepat dengan pola data tersebut dapat diuji. Pada persediaan probabilistik. Pola Trend (T) yang terjadi bilamana terdapat kenaikan atau penurunan sekuler jangka panjang dalam data 2. ada 10 (sepuluh) cara untuk menurunkan nilai inventory. Analisa deret waktu adalah suatu analisa yang dilakukan berdasarkan nilai masa lalu dari suatu variabel dan atau kesalahan masa lalu dengan tujuan untuk menemukan pola dalam deret data histori dan mengekstrapolasikan pola tersebut ke masa yang akan datang sebagai suatu perkiraan kondisi masa depan (Makridakis. Whellwright dan Mc Gee. Menurut Makridakis. yaitu mereview besarnya safety stock yang ada 5. Langkah penting memilih suatu metoda deret berkala yang tepat adalah dengan mempertimbangkan jenis pola data. permintaan barang dan waktu tunggu merupakan variabel yang real. Pola Siklus (C) yang terjadi bilamana datanya dipengaruhi oleh fluktuasi jangka panjang seperti yang berhubungan dengan siklus bisnis 3. Review safety stocks. 1999). Eliminate obsolete inventory. Terdapat 2 (dua) langkah dasar yang harus dilakukan dalam membuat atau menghasilkan suatu peramalan yang akurat dan berguna. Implement ABC inventory management strategies. yaitu membatasi stock yang slow moving atau surplus 3. Improve inventory accuracy. yaitu mengimplementasikan strategi pengelompokkan ABC 4. Surabaya 3 Pebruari 2007 Model persediaan probabilistik digunakan apabila permintaan di masa datang tidak diketahui secara pasti. yaitu : 1. Whellwright dan Mc Gee (1999). tetapi dapat diketahui melalui masa lalu. Metoda Peramalan Menurut Henke dan Reitch (1995). Pola Horisontal (H) terjadi bilamana nilai data berfluktuasi di sekitar nilai ratarata yang konstan. yaitu : 1. Langkah dasar yang pertama adalah pengumpulan data yang relevan dengan tujuan peramalan yang dimaksud dan menurut informasi-informasi yang dapat menghasilkan peramalan yang akurat. yaitu Improvisasi ketepatan data inventory 2. Reduce lead times. pola data dapat dibedakan menjadi 4 (empat) jenis. Langkah dasar yang kedua adalah memilih metoda peramalan yang tepat yang akan digunakan dalam mengolah informasi yang terkandung dalam data yang telah dikumpulkan. Salah satu metoda peramalan yang dapat digunakan adalah Analisa Deret Waktu. sehingga factor resiko & ketidakpastian diperhitungkan dalam model-modelnya. Untuk itu perlu safety stock yang tujuannya untuk menghindari ketiadaan persediaan (stockout) selama proses pemesanan atau jumlah actual permintaan yang lebih besar daripada permintaan yang diperhitungkan. Pengelolahan Inventory Menurut Williams (2001).Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi V Program Studi MMT-ITS. peramalan adalah sebuah prediksi mengenai apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Partner with customer. tahapan yang akan dilakukan meliputi observasi awal hingga didapatnya suatu hail penelitian yang berupa kesimpulan.Petrokimia Gresik. sedangkan kelompok B akan mempunyai nilai persediaan sekitar 25-40% nilai persediaan dan sisanya kelompok C yang hanya mempunyai nilai persediaan sebesar 10-20% dari nilai persediaan. Ballou (1999) menjelaskan bahwa konsep 80-20 berguna untuk merencanakan persediaan bilamana klasifikasi ABC akan diterapkan. yaitu mengurangi pekerjaan-pekerjaan work in process dalam proses pengadaan barang yang tidak mempunyai nilai tambah 9. Reduce WIP space. Data yang akan diambil adalah data sejak bulan Januari 2005 sampai dengan bulan Desember 2005. Data yang dikumpulkan tersebut berasal dari data persediaan di PT. Sejumlah persediaan akan dibagi menjadi 3 kelompok. Partner with suppliers. 30% item disebut kelompok B dan sisanya 50% disebut kelompok C. Eradicate Individual Incentive Systems. yang nantinya akan dianalisa untuk ditentukan besarnya nilai ITO yang ada. yaitu 20% item disebut kelompok A. METODOLOGI PENELITIAN Dalam penelitian ini. yaitu memperlakukan system incentive per kelompok untuk meningkatkan performance kerja 10. Educate & train. yaitu bermitra dengan pelanggan atau saling berkoordinasi dengan user atau peminta barang 7. Surabaya 3 Pebruari 2007 6. yaitu bermitra dengan pemasok melalui kontrak pembelian jangka panjang atau blanket order 8. Diagram Alir Metodologi Penelitian ISBN : 979-99735-2-X A-50-9 .Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi V Program Studi MMT-ITS. yaitu memberikan pendidikan & pelatihan tambahan Pengelompokkan ABC Pengelompokkan ABC dalam manajemen inventory berangkat dari konsep 8020 yang dikenal sebagai hukum Pareto. Adapun urutan metodologi penelitian ini. Mulai Observasi Awal Perumusan Masalah & Tujuan Penelitian - Studi Literatur : Peramalan Sistem Inventory Pemilihan Metode Persediaan Optimal Pengumpulan Data A Gambar 4. digambarkan dalam bentuk diagram alir (flow chart) seperti pada gambar 4. Kelompok A yang terdiri dari 20% item akan mempunyai nilai persediaan sekitar 60-75% dari total nilai persediaan.

R. N. maka akan ditetapkan standard nilai ITO yang harus dicapai. Dengan mempertimbangkan parameter-parameter lainnya seperti nilai persediaan slow moving (tidak ada transaksi selama 3 tahun) dan nilai persediaan Insurance. Diagram Alir Metodologi Penelitian (lanjutan) Analisa data nilai pemakaian & persediaan selama tahun 2005 akan dilakukan setelah terkumpulnya data yang ada. Jacobs. dan nilai persediaan rata-rata bulanan sehingga nilai ITO & nilai persediaan akan tetap terjaga sesuai target yang ditetapkan dalam KPI (Key Performance Indicator). Penelitian ini juga akan didasarkan pada literature-literature yang ada (study literature).B. Dari data hasil analisa tersebut nantinya akan dapat ditetapkan realisasi nilai ITO.H. Menghitung ITO per kelompok barang 2. Prentice Hall. R. Mc Graw Hill. Analisa yang dilakukan akan melalui beberapa tahapan. Boston ISBN : 979-99735-2-X A-50-10 .. Penetapan anggaran pengadaan bulanan / 3 bulanan Data tersebut selain dapat digunakan sebagai acuan dalam menetapkan anggaran pengadaan barang.J. nilai pemakaian bulanan. nantinya juga akan berguna untuk menentukan nilai safety stock. New Jersey Chase. DAFTAR PUSTAKA Ballou. F. Pengelompokkan ABC dan pemetaan ITO terhadap kelompok ABC 3.Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi V Program Studi MMT-ITS. (1999) ’Business Logistics/Supply Chain Management’. Evaluasi ITO dan penentuan nilai persediaan optimal 5. yaitu : 1. nilai persediaan minimal & maksimal. Fifth Edition. Eighth Edition. R. Surabaya 3 Pebruari 2007 A Analisa Data Menghitung ITO per kelompok barang Pengelompokkan ABC & Pemetaaan ITO terhadap Kelompok ABC Benchmarking Evaluasi ITO & Penentuan Nilai Persediaan Optimal Penetapan Anggaran Pengadaan Bulanan / 3 bulanan Kesimpulan & Saran Selesai Gambar 4. Benchmarking 4.. (1998) ’Production and Operation Management’. Aquilano.

Sixth Edition. International Conference Proceedings. Bunaputra Aksara.C. M. Third Edition. Edisi Kedua. Jakarta Taylor III. Sixth Edition. New Jersey Williams. (1999) ’Metoda dan Aplikasi Peramalan’. New Jersey Makridakis. (1998) ’Bussiness Forecasting’. (1994) ’Principles of Inventory and Materials Management’. dan Mc Gee. (2001) ’Ten Keys to Inventory Reduction’. R. S. dan Reitch.Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi V Program Studi MMT-ITS. Prentice Hall. Prentice Hall.K.. Whellwright. B. G.. Surabaya 3 Pebruari 2007 Henke.W. Prentice Hall. E. (2002) ’Management Science’...J. APICS ISBN : 979-99735-2-X A-50-11 . V. S.. New Jersey Tersine.E.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->