Sejarah Perlawanan Rakyat Aceh Melawan Belanda

Pada tanggal 12 Februari 1904 pasukan Belanda telah tiba di daerah tujuan,yaitu di daerah Gayo Laut, kira-kira 50 kilometer dari Takengon. Tetapi begitu Belanda menginjakkan kakinya di desa dekat Ketol, disambut dengan pertempuran sengit yang pertama, dimana pasukan Belanda mengalami korban, baik mati maupun luka-luka. Dalam perjalanan menuju Takengon, pasukan Belanda tidak henti-hentinya mendapat perlawanan, Sampai mereka berhasil membuat markasnya di desa Kung, kira-kira 7 kilometer ari Takengon. Dari markas yang baru didirikan ini, pasukan Belanda melakukan operasi m iliter di sekitar Gayo Laut. Walau perlawanan pasukan rakyat Gayo cukup sengit, dan hampir setiapdaerah yang dilalui pasukan Belanda terjadi pertempuran, tetapi akhirnya daerah Gayo Laut pun jatuh ke tangan pasukan kolonial. Setelah pasukan Belanda berhasil menguasai daerah Gayo Laut, operasi militernya maju menuju Gayo Lues, dimana pada tanggal 9 Maret 1904, pasukannya telah mencapai daerah Kla, yaitu daerah yang merupakan pintu masuk Gayo Lues. Berbeda dengan pertempuran di Gayo Laut, di sini rakyat memperkuat pertahanannya dengan benteng-benteng yang dibangun dari tanah dicampur batu-batu. Di sekelilingnya dibuat pagar kayu berduri yang telah dibuat runcing, dan dilapisi pula dengan tanaman hidup bambu berduri, yang oleh orang Gayo disebut 'uluh kaweh' yang berlapis-lapis. Kemudian dipasang pula bambu runcing dan kayu runcing dalam bentuk ranjau-ranjau. Di bagian dalam benteng dibuat lobang-lobang perlindungan, lubang pengintaian lubang penembak di bagian dinding-dinding benteng. Selain itu dibuat pula lubang perlindungan untuk wanita dan anak-anak di dalam benteng tersebut. Dengan cara ini, benteng pertahanan rakyat Gayo berusaha menahan serangan pasukan Belanda yang jauh lebih kuat dan modern. Salah satu bukti tentang pertempuran benteng yang dahsyat, yaitu benteng Gemuyang, setelah berhari-hari bertempur, akhirnya baru jatuh setelah rakyat Gayo sebanyak 308 orang tewas : antaranya 168 orang laki--laki, 92 orang wanita dan 48 orang anak-anak. Sedangkan korban dari pihak pasukan Belanda hanya dua orang tewas dan 15 orang luka-luka berat. Kuta Reh Pertempuran di benteng Reket Goib antara pasukan penyerbu dengan pasukan rakyat Gayo lebih berimbang, sehingga korban yang jatuh di kedua belah pihak cukup banyak. Di pihak rakyat Gayo telah meninggal dunia sebanyak 148 orang: antaranya 143 orang pria, 41 orang wanita dan anak-anak. Korban di pihak pasukan Belanda: 7 orang mati, diantaranya 2 orang perwira dan 42 orang luka-luka berat, diantaranya 15 orang perwira. Pertempuran dari benteng ke benteng yang tersebar di daerah-daerat Gayo tidak kurang dari sepuluh buah banyaknya, dengan korban ribuan rakyat Gayo yang mati terbunuh. Hanya dengan cara itu pasukan Belanda dapat menaklukkan Gayo. Setelah daerah Gayo berhasil ditundukkan, maka pada tanggal 13 Juni 1904 pasukan Belanda melanjutkan serangan ke daerah Alas, dengan sasaran utamanya desa Batu Mbulen dimana tinggal seorang ulama besar bernama Teungku Haji Telege Makar dengan pondok pesa ntrennya. Mendengar kedatangan pasukan Belanda mau menyerbu kaum muslimin, dengan pimpinan para ulama mereka mengosongkan desa tersebut dan semuanya berkumpul di

dengan korban yang sangat besar di pihak rakyat Alas. Sedangkan di pihak musuh hanya dua orang mati dan 17 orang luka-luka berat. Pertempuran dahsyat dan bermandikan darah berlangsung berhari-hari antara pasukan musuh dengan pasukan kaum muslimin di benteng Kute Reh tersebut. di . termasuk Letnan Kolonel Van Daalen dan Kapten Watrin. Letnan B. pemerintah kolonial Belanda mengumpulkan kembali bekas-bekas pasukan marsose dari seluruh Hindia Belanda. diantaranya 338 orang pria dan 186 wanita serta anak-anak 130 orang. karena kekuatan yang tak seimbang dengan pasukan musuh. Schmidt secara sistimatis me-nyerang dan menangkap pasukan gerilyawan muslimin Tiro. Seluruh pasukan Belanda sebanyak 160 orang tentara mati terbunuh. kekuatan pasukan gerilyawan muslimin Tiro ini berjumlah 250 orang. Menado dan Ambon Yang dipimpin oleh Van Daalen. maka 'perang gerilya' merupakan satu-satunya jawaban untuk melumpuhkan pasukan Belanda. Sebagaimana telah terjadi di daerah-daerah lainnya di Aceh. Apalagi daerah Gayo dan Alas adalah daerah bergunung-gunung dan berhutan lebat. di mana 654 orang tewas. Pasukan gerilyawan muslimin Aceh masih terus efektif melakukan serangan-serangan terhadap pasukan Belanda di daerah-daerah seperti Lhong. 189 orang wanita. yaitu kira-kira 160 orang tentara. ter-masuk Kapten Campion yang mati karena luka-luka berat. Benteng Kute Reh jatuh ke tangan pasukan Belanda. Untuk mengatasi kekuatan gerilyawan muslimin Aceh ini. sehingga 432 orang mati terbunuh. Pada tanggal 20 Juni 1904 pasukan Belanda dibawah pimpinan Van Daalen sendiri melanjutkan penyerbuannya ke benteng Likat. jika pertempuran terbuka telah tidak mungkin dilakukan. dan 88 orang anak-anak. Jawa. Daerah Alas dapat dikuasai pasukan Belanda setelah jatuhnya benteng Lengat Baru pada tanggal 24 Juli 1904. diantaranya 313 orang pria. Pada bulan Maret 1904 sebuah kolonne yang terdiri dari enam brigade marsose. Dipihak pasukan musuh yang mati hanya seorang dan 18 orang tentara luka-luka. Pertempuran sengit bermandikan darah berlangsung dahsyat dan ngeri.Di pihak musuh hanya 4 orang mati.benteng Kute Reh yang telah disiapkan jauh sebelum pasukan musuh datang. Sebab pasukan Belanda main bantai tanpa pandang bulu. sehingga dapat dihancurkan secara total. sehingga 'perang gerilya' yang dilakukan rakyat Gayo dan Alas sangat menguntungkan. Pada bulan Desember 1909. Menurut taksiran. Bahkan bivak-bivak rahasia pasukan marsose sering diserang dan dibakar oleh pasukan gerilyawan. Schmidt mendapat perintah untuk menyerang pasukan gerilyawan muslimin Tiro di daerah Tangse. masuk ke dalam jebakan pasukan gerilya muslimin yang berkekuatan sebanyak 300 orang gerilyawan. Dengan menggunakan dua brigade pasukan marsose. diantaranya 220 pria. Dengan gerak cepat dan ketangkasan yang luar bi asa. pasukan gerilyawan muslimin Aceh ini menyerang dengan kelewang dan rencong terhadap pasukan marsoseyang terjebak itu. Operasi-operasi pasukan marsose di sungai atau di darat seringkali terjebak oleh pasukangerilya-wan muslimin.J. Keganasan Pasukan Marsose dari yang tergabung prajurit Belanda. setelah 561 orang pasukan yang mempertahankan benteng itu tewas. dan 59 orang anak-anak. Di Gayo dan Alas pun berlaku hal yang sama. dimana pada tahun 1925 dan tahun 1926 dan kemudian pada tahun 1953 telah berkembang menjadi 'perang terbuka'. 124 wanita. Dan sebaliknya pasukan Belanda tidak pernah bisa tinggal tenteram di daerah-daerah yang didudukinya.

Perang Aceh tidaklah berakhir pada tahun 1913 atau 1914. raja langsung bertanggung jawab kepada Residen Bali dan Lombok yang berkedudukan di Singaraja. Dari tahun 1914 terentang benang merah sampai tahun 1942. dan ternyata yang seorang itu bernama Cit Ma'az (Ma'at). berarti secara keseluruhan Bali telah jatuh ke tangan Belanda. Perlawananperlawanan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 1.mana pada tahun 1909 dan 1911 dapat dikatakan hampir seluruhnya tertangkap. maka berarti tiga generasi Teuku di Tiro di abadikan di dalam Perang Aceh. kedudukan raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi. Dalam serangan ini. . Perang Buleleng (1846) 2. yang pada tahun 1925. Perlawananperlawanan ini ditandai dengan meletusnya berbagai perang di wilayah Bali. alur perlawanan di bawah tanah. sedangkan untuk Bali Selatan. Di dalam bidang pertanggungjawaban. yaitu para kaum bangsawan yang menjadi kolaborator Belanda. Perang gerilya. Pada tahun 1913 dibuka sebuah sekolah dengan nama Erste Inlandsche School dan kemudian disusul dengan sebuah sekolah Belanda dengan nama Hollands Inlandshe School (HIS) yang muridnya kebanyakan berasal dari anakanak bangsawan dan golongan kaya. Perlawanan Terhadap Orang-Orang Belanda di Bali Masa ini merupakan masa perlawanan terhadap kedatangan bangsa Belanda di Bali. yakni di Singaraja (1875) yang dikenal dengan nama Tweede Klasse School. Hal ini dilaksanakan dengan mengubah nama raja sebagai penguasa daerah dengan nama regent untuk daerah Buleleng dan Jembrana serta menempatkan P. dimana Belanda angkat kaki untuk selama-lamanya. yang baru berusia lima belas tahun. raja-rajanya betanggung jawab kepada Asisten Residen yang berkedudukan di Denpasar. Dengan demikian perang Aceh berlangsung mulai sejak tahun 1873. yaitu tetap mengaktifkan kepemimpinan tradisional dalam melaksanakan pemerintahan di daerah-daerah. Zaman Penjajahan Belanda Sejak kerajaan Buleleng jatuh ke tangan Belanda mulailah pemerintah Belanda ikut campur mengurus soal pemerintahan di Bali.L. pemerintah Belanda telah membuka sebuah sekolah rendah yang pertama di Bali. Puputan Badung (1906) 6. tokoh utama perang Aceh. Perang Banjar (1868) 5. adalah perang terlama di dalam sejarah perang kolonial Belanda di Indonesia. Van Bloemen Waanders sebagai controleur yang pertama di Bali. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga administrasi. tahun 1926. yang pada waktu pemerintahan kolonial didampingi oleh seorang controleur. Untuk di daerah Bali. terus sambungmenyambung sampai tahun 1942. Pada bulan Desember 1911. Struktur pemerintahan di Bali masih berakar pada struktur pemerintahan tradisional. Perang Jagaraga (1848--1849) 3. perwira Marsose dengan pasukannya bernama Nussy menyerang tempat persembunyian gerilyawan muslimin Tiro yang terakhir. dua orang dari tiga gerilyawan muslimin Tiro ini tewas menjadi syuhada. Puputan Klungkung (1908) Dengan kemenangan Belanda dalam seluruh perang dan jatuhnya kerajaan Klungkung ke tangan Belanda. Dengan wafatnya Cit Ma'az. Keberhasilan pasukan Belanda dalam menumpas pasukan gerilyawan muslimin Tiro ini karena pengkhianatan orang-orang Aceh sendiri. yang tinggal tiga orang saja lagi. sampai tahun 1933 berkembang menjadi perlawanan terbuka lagi. Perang Kusamba (1849) 4. adalah keturunan terakhir dari Syeikh Saman.

Pada tanggal 18 Agustus 1618 tentara Mataram melakukan penyerbuan ke kantor dagang VOC di Jepara. Mataram ternyata gagal. beberapa luka-luka dan sisanya dijadikan tawanan. Usaha pembelian beras ini berhasil. Situasi antara Kompeni dan Mataram antara 1620 hingga 1628 dalam keadaan bermusuh-musuhan. rumah-rumah di sekitar kantor dagang ini dibakar. sumber dari Mataram sendiri menceritakan bagaimana setelahnya Sultan Agung memberikan hukuman kepada panglima bawahannya yang paling dianggap bertanggungjawab atas kegagalan itu (pasca 1628). Dari pihak VOC Coen merasa bahwa Kompeni memerlukan beras akan tetapi kejadian di Jepara sangat mengganggu pikirannya. hanya ada satu cara untuk melepaskan diri dari . Pada tahun 1619 Coen yang belum puas dengan penyerangan ke Jepara telah mengerahkan 400 orang-orang Kompeni. yaitu Balthasar van Eynthoven dan Cornelis Maseuck dipanggil oleh raja Hulubalang (sebutan Belanda untuk raja/Adipati) dan kemudian ditahan. Dalam penyerbuan ini. terutama juga kepada prajuritnya yang berkhianat (pasca 1629). Oleh sebab itu ia mengirim utusan Jacob van der Marct ke Jepara untuk menemui raja Hulubalang. Hubungan antara Mataram dan Malaka dipersukar oleh Batavia. Di samping itu juga karena kelakuan dan tindakan Balthasar van Eynthoven yang tidak senonoh. Dalam penyerbuan ke Jepara ini jatuh beberapa korban di pihak Kompeni. Alasannya adalah perampokan-perampokan yang telah dilakukan kapal-kapal Belanda terhadap jung-jung Jepara. Batavia merupakan suatu kota yang merugikan kerajaannya. namun alasan yang sebenarnya adalah karena janji-janji Belanda terhadap Mataram tidak ditepati dan sudah berlangsung empat tahun. Tetapi setelah beras ini diterima ia mengadakan suatu balasan terhadap penyerbuan ke kantor dagang Kompeni di Jepara. Jacob van der Marct diperintahkan untuk bertindak sebaik mungkin dalam usaha pembelian beras. Keadaan pertahanan Jepara ternyata lebih baik. Di pihak lain Belanda mencoba-coba untuk menuntut raja supaya memenuhi janji-janji yang telah disampaikan oleh utusan VOC pertama van Surck. Pada tahun 1603 VOC memutuskan untuk mengangkat Jan Pieterszoon Coen sebagai kepala tata buku yang mempunyai wewenang atas kantor dagang di Banten dan Jakarta. Bagi Sultan Agung. sikap permusuhan dinyatakan oleh Mataram dan Banten. Dalam penyerbuan ini mereka berhasil merebut beras yang terdapat di atas jung-jung. jung-jung yang berada di sekitar Jepara dan Demak dibakar.PERLAWANAN MATARAM TERHADAP KOMPENI BELANDA PADA MASA SULTAN AGUNG (1) Tentara Mataram di masa pemerintahan Sultan Agung melakukan penyerbuan ke benteng Kompeni Belanda di Batavia pada tahun 1628 dan 1629. laporan dan pengakuan dari pihak Kompeni Belanda sendiri tentang jalannya peristiwa itu? Posting berikut ini banyak menyajikan keterangan-keterangan terkait itu yang kemungkinan besar didapat dari sumber resmi pihak Kompeni Belanda itu sendiri. Kedua alasan tersebut adalah alasan yang jelas. pimpinan dari kantor dagang. Motif dari penyerangan Kompeni ini di samping untuk membalas penyerangan orang-orang Mataram pada tahun 1618 terhadap kantor dagang VOC juga untuk merusakkan kantor dagang Inggris dan untuk membuat orang-orang Cina pindah ke Jakarta. asalkan saja orang asing itu tidak mencoba merebut daerah kekuasaannya. Bagi raja-raja. … Bagaimana cerita. VOC juga mencoba-coba membatalkan janji-janji yang telah diberikan van Surck kepada Mataram. kantor dagang Inggris dibakar dan beberapa puluh orang Jawa terbunuh. Sebelumnya Sultan Agung telah mensinyalir akan bahaya yang datang dari kantor dagang di Jepara. Laskar Dipati Ukur dari tanah Pasundan (awalnya) juga turut membantu penyerbuan Mataram ke Batavia itu. setelah mendengar bahwa kantor dagang Kompeni di Jakarta diperkuat. sehingga tidak mudah bagi Kompeni untuk menyerbu kota itu. Antara Tahun 1602 -1628 M Keadaan bagi Kompeni menjelang tahun 1602 sangat gawat. Mataram mau berdagang dengan orang asing. tiga orang terbunuh. Kemungkinan kantor dagang di Jepara juga dapat membahayakan kerajaannya. Sebelum penyerbuan ini. kira-kira tiga puluh orang Jawa terbunuh dalam serangan ini. Kantor dagang ini diserang oleh 160 orang Kompeni.

Ia memulai dengan menyusuri sungai di tepi mana terdapat Tumenggung Baureksa. membuat benteng-benteng mereka dari bambu anyaman.000 anggota tentara Mataram yang berkeliaran di hutan mencari makanan. maka pastilah seluruh kota Batavia sudah jatuh ke tangan laskar Mataram. Pada tanggal 21 September 1628 tentara Mataram menyerang benteng Hollandia. Banyak perahu Mataram yang berlabuh di sungai Marunda dimusnahkan. di bagian lain mereka mereka membunyikan alarm untuk mengurangi perhatian pada penyerbuan atas benteng Hollandia. Akan tetapi VOC menolak memberi bantuan atas dasar ditutupnya pelabuhan-pelabuhan di pantai utara. ketika melihat hasil penyerbuan ke benteng yang mengakibatkan banyak korban. Dari tawanan-tawanan yang ditahan Kompeni mereka dapat keterangan bahwa masih terdapat kira-kira 4. Rangga ini datang untuk meminta kepada VOC untuk membantu Mataram menyerbu Banten. Mereka mencoba menaiki benteng tersebut dengan tangga. Setelah penyerbuan ke perkampungan pasukan Mataram sepanjang sungai Marunda selesai. Setelah 2 hari muncul lagi 7 buah perahu yang singgah untuk meminta ijin perjalanan ke malaka. tidak mau mendekati Batavia tetapi mendekati Marunda di mana pada keesokan harinya suatu pasukan di bawah pimpinan Tumenggung Baureksa mendarat. Tujuh perahu yang datang pada tanggal 24 Agustus 1628. Atas dasar ini Sultan Agung mengadakan persiapan untuk menyerbu Batavia. Karenanya kerugian manusia terlalu banyak di pihak Mataram. Orang-orang Mataram yang datang dengan perahu-perahu itu naik ke darat. Banyak korban jatuh. Usaha ini gagal. Taktik VOC untuk menghadapi pasukan yang telah maju sekali adalah dengan mengirim sejumlah tentara Kompeni ke parit-parit ini yang dilindungi oleh 150 penembak sehingga orang-orang ini berhasil mengusir tentara Mataram dari parit-parit ini. Bilamana tak ada tembakan yang berasal dari dua perahu Kompeni Belanda dan bilamana kota Batavia tidak mempunyai tembok yang tinggi. Penyerbuan ini berlangsung sampai pagi. tentara Kompeni pulang. Dengan segera pasukan Mataram dapat mempersiapkan diri lagi. Dengan jumlah yang tidak kecil yaitu 2. sehingga banyak menimbulkan korban. ketika bantuan baru pasukan Mataram datang. Dengan segala kekuatan mereka menyerang parit-parit dan pusat kanan tentara Mataram. Terhadap mereka Kompeni mengutus Jacques Lefebres untuk menyerang sisa-sisa laskar ini. Jacques Lefebres mengadakan penyerbuan. Sudah berkali-kali Sultan Agung mengirim utusan kepada VOC untuk mengirim wakil kepadanya tetapi hal ini tidak dilakukan Kompeni. Penyerbuan terhadap perkampungan laskar Mataram di mana Baureksa berada menemui perlawanan yang hebat dan pertempuran berlangsung satu lawan satu. Sambil menjalankan penyerangan ini. Pada pagi hari 20 buah perahu menyerang pasar dan benteng yang belum siap. Penyerbuan Mataram ke Batavia pada Tahun 1628 M Pada tanggal 22 Agustus 1628. Dalam menghadapi kekuatan Mataram.Batavia yaitu dengan menghancurkan kota tersebut. Kompeni mengorbankan daerah sekitar benteng. Pantai utara mulai tertutup bagi pedagang dari orang asing. Api mesiu belum habis terbakar. Kyai Rangga dikirim ke Batavia dengan 14 perahu yang memuat beras. Mereka berhasil mencapai benteng. Mereka yang datang ke Mataram ditahan bahkan kantor dagang Inggris ditutup. Pada bulan April 1628. Kampung di sekitarnya dibakar dan diratakan dengan tanah. Akan tetapi orang Belanda dapat mencium bahwa tujuan tentara Mataram hanya benteng Hollandia.866 orang. Pada waktu tentara Mataram menarik diri ke daerah-daerah yang agak jauh yang berpohon. akan tetapi mereka lupa merusak benteng. Kompeni pada akhirnya berhasil memusnahkan isi perkampungan ini. 50 kapal muncul di depan Batavia dengan perbekalan yang sangat banyak. Meskipun demikian mereka berhasil maju juga karena mereka menggali parit-parit dan membuat benteng seperti yang tersebut di atas. Pimpinan dari bantuan . VOC mencoba untuk tidak mempertemukan kapal-kapal yang tiba dahulu dan yang belakangan karena khawatir kapal-kapal yang baru datang akan memberi senjata-senjata pada perahu lainnya. Dan korban yang tercatat pada peristiwa ini diperkirakan antara tiga puluh sampai empat puluh orang. oleh sebab itu mereka merubah perhatian menjadi penyerangan. Tumenggung Baureksa dan putranya gugur dalam pertempuran ini. Hal ini membuat Kompeni menjadi sangat prihatin.

Mataram bersaing. hampir seluruh Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat adalah takluk dan menjadi pendukung kekuatan Mataram. Suatu usaha untuk menyerbu benteng Hollandia gagal dan oleh sebab itu sebagai hukuman terhadap gagalnya usaha menundukkan musuh. Persainganpersaingan dagang dan pengaruh kekuasaan di antara semua aktor-aktor utama saat itu memang sungguh terasa. Mataram juga melakukan hubungan perdagangan langsung sampai ke Malaka. dapat kita nilai bahwa persaingan Mataram-Banten ini. Tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Mataram meminta dukungan kerja sama dari sesama kerajaan nusantara untuk mengenyahkan Kompeni Belanda. Mataram menghormati Cirebon (meski Cirebon tidak terlalu kuat) karena Mataram menganggap bahwa Cirebon adalah penerus Sunan Gunung Jati. Namun saat itu ada pula Cirebon dan Banten. Mereka menyangka bahwa pasukan yang pertama datang telah berhasil menguasai kota Batavia. Seluruh Jawa Tengah. . Ketika ia melihat bahwa kota masih dalam tangan Kompeni. Mandurareja dan Upasanta. ketidakkompakan antara Mataram dan Banten ini. Akan tetapi perbuatan ini hanya cocok untuk Surabaya. Setelah masa Demak. yaitu dengan membendung sungai. adalah salah satu penyebab mengapa Kompeni Belanda di Jayakarta/Batavia tetap tidak dapat terkalahkan saat itu. Tidak diragukan lagi bahwa Mataram pada masa Sultan Agung adalah satu kekuatan besar. Bila saja Mataram menyerang Kompeni dari timur. Sementara itu. Visi nasionalisme Indonesia. Pengaruh Mataram pada masa ini juga sampai ke GowaTallo di Makasar. Mataram masa Sultan Agung justru malah mengupayakan untuk minta bantuan dari Portugis di Malaka (sebelum akhirnya pada th 1641 Malaka diduduki juga oleh VOC). padahal kenyataannya kekuatan yang disusun dimilikinya belum memadai untuk sampai dapat mengalahkan mereka. Bila ada upaya minta bantuan. Beberapa analis sejarah memberikan penilaian bahwa Sultan Agung Mataram terlalu berambisi untuk mengenyahkan Kompeni Belanda dari Batavia. nusantara. juga Palembang di Sumatra. Dalam pandangan masa kita kini anak bangsa Indonesia. di antara sesama kerajaan-kerajaan nusantara sendiri juga saling bersaing. Mungkin Mataram sudah merasa paling kuat. maka penyerbuan Mataram yang pertama berakhir pula. bersama-sama dengan anak-buahnya dibunuh dengan ditusuk dengan keris atau tombak. Selain Belanda. maka timbul suatu akal yaitu seperti telah pernah dilakukan terhadap Surabaya. kiranya Mataram inilah kerajaan terkuat di Jawa pada abad ke-17 itu. bukan mustahil saat itu Kompeni kalah di Batavia. sementara Portugis mengincar Malaka. Dengan kegagalan Mataram menduduki Batavia pada akhir tahun 1628. saat itu di Jawa juga (masih) ada perwakilan dagang Inggris. lalu Banten dari barat. Tidak ada riwayat yang menunjukkan bahwa Mataram telah melakukan upaya diplomasi itu. tentu memang belum terbentuk saat itu.yang baru adalah Tumenggung Sura Agul-Agul dan bersaudara Kyai Dipati Mandurareja dan Upasanta. Namun terbukti dari keterangan dari beberapa sumber bahwa terhadap Banten. Tidak ada persatuan di antara ‘sesama anak bangsa’. tapi tidak untuk Batavia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful