Kinerja Pemerintahan SBY-JK di Bidang Perekonomian

Kamis, 27 Maret 2008

Harry Azhar Azis Wakil Ketua Panitia Anggaran, Anggota Komisi XI (Keuangan, Perbankan dan Perencanaan Pembangunan) DPR RI dan PhD lulusan Oklahoma State University, Amerika Serikat.

Pendahuluan Wajah perekonomian Indonesia menjelang Pemilu tahun 2009 terkait erat dengan kemampuan Pemerintahan SBY-JK mengelola kebijakan di bidang ekonomi pada sisa masa pemerintahannya, yang kini kurang dari dua tahun. Target-target perekonomian pemerintahan ini sesungguhnya dapat dilihat dalam rumusan tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009.2Menurut Pasal 4 ayat 2 Undang Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), RPJMN merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Presiden, seperti yang telah dikampanyekan selama proses Pemilihan Presiden. Artinya, visi, misi dan program setiap (calon) Presiden harus mewujud dalam bentuk RPJMN, begitu ia terpilih sebagai Presiden, dan menjadi pedoman kebijakan pemerintahannya selama lima tahun ke depan. Hal ini, sampai tahun 2024, telah diatur dengan jelas dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-20253. UU ini membagi periodesasi lima tahunan kepemimpinan nasional secara jangka panjang 20 tahun ke depan dimulai tahun 2005. Pemerintahan SBY-JK merupakan pemerintahan pertama dalam sejarah Indonesia kontemporer yang memulai pelaksanaan RPJMN. Pada tahun 2001, Perubahan Ketiga terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memang menghilangkan tugas MPR yang menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai program lima tahunan suatu pemerintahan. MPR tidak lagi berwewenang menetapkan program pemerintahan lima tahunan karena Presiden tidak lagi dipilih oleh MPR tetapi langsung oleh rakyat. Pedoman program Pemerintah lima tahunan, RPJMN, cukup ditetapkan melalui Peraturan Presiden oleh Presiden terpilih. Dengan demikian, Presiden sebagai pemimpin pemerintahan bertanggung jawab penuh atas keberhasilan program-program yang telah dijanjikannya dalam Pemilu. RPJMN itu menjadi pegangan dan sekaligus ukuran kinerja pemerintahan setiap lima tahunan. Dengan ukuran-ukuran RPJMN 2004-2009, sesungguhnya kinerja pemerintahan SBY-JK selama lima tahun dapat dievaluasi keberhasilannya secara transparan. Keberhasilan itulah yang menjadi modal utama bagi seorang Presiden untuk maju kedua kalinya pada pemilihan berikutnya4. Benar, seperti yang dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla5, Pemerintahan SBY-JK dengan demikian harus mampu menjelaskan apa (keberhasilan) yang telah dicapai, bukan (janji) apa yang akan dikerjakan, bila keduanya ingin maju lagi bersama atau sendiri-sendiri pada Pemilu 2009 nanti. Logika pernyataan ini, bagi Presiden incumbent yang terutama akan ditanya oleh rakyat adalah kerjanya selama ini. Karena kerja pemerintahan adalah kinerja bersama, tentu lebih mudah mengevaluasi kinerja pemerintahan, jika Presiden dan Wakil Presiden maju kembali secara bersama pada pemilu berikut dibanding jika mereka maju secara sendiri-sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mengukur kinerja pemerintahan pada kurun tahun transisi. Karena jangkar utama kinerja pemerintahan adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pada tahun-tahun transisi, perencanaan dan pelaksanaan APBN bisa saja dilakukan oleh dua pemerintahan berbeda. Sebagai contoh, APBN tahun 2005 direncanakan oleh Pemerintahan Megawati Soekarnoputri, melalui Nota Keuangan Presiden yang disampaikan kepada DPR pada 16 Agustus 2004, yang kemudian disetujui bersama DPR periode 1999-2004. Pemerintahan SBY-JK yang dilantik 20 Oktober 2004 tentu harus melaksanakan UU APBN 2005 yang telah disahkan itu. Hal yang sama juga akan terjadi pada APBN tahun 2010 (bila SBY tidak terpilih lagi pada Pemilu 2009) atau pada APBN 2015 (bila SBY terpilih tahun 2009). Pada APBN 2009, APBN tidak sepenuhnya dilaksanakan pemerintahan SBY-JK karena berakhir Oktober 2009, kecuali terpilih kembali. Dengan demikian, penilaian atas APBN 2006, 2007 dan 2008 sepenuhnya tanggung jawab pemerintahan SBY-JK karena pada APBN tahun-tahun tersebut direncanakan dan dilaksanakan oleh pemerintahan ini. Sementara untuk APBN 2005 atau APBN dimana fungsi perencanaan dan pelaksanaannya dilakukan dua pemerintahan berbeda, evaluasi harus dilakukan secara adil di antara penyusun rencana dan pelaksana APBN. Masalah ini timbul karena di negeri ini kalender anggaran pemerintahan dan kalender kepemimpinan politik tidak berlaku sama 6. Logika ini seharusnya juga berlaku untuk evaluasi kinerja APBD, baik untuk tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Kinerja

Tiga

Tahun

Tabel Pertumbuhan PDB Indonesia 1.6%. pertumbuhan ekonomi berturut-turut mencapai angka 5. maka rata-rata pertumbuhan ekonomi pemerintahan SBY-JK selama lima tahun menjadi 6. Pertumbuhan ekonomi era Soeharto tertinggi terjadi pada tahun 1980 dengan angka 9.6% per tahun.7keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan.8%. Tentu relatif lebih sulit menilai kinerja Presiden BJ Habibie (21 Mei 1998-20 Oktober 1999) dan Presiden Abdurahman Wahid (20 Oktober 1999–23 Juli 2001). Bila target rata-rata lima tahun seperti tercantum pada RPJMN dari pemerintahan SBY-JK terhadap pertumbuhan ekonomi 6.7%) terlihat tidak begitu menggembirakan.5%). Angka ini dibandingkan dengan target RPJMN untuk tahun 2005 (5. karena pemerintahannya relatif pendek. 5. Tren yang sama sebenarnya terjadi di semua pemerintahan setelah reformasi. Abdurrahman Wahid mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi yang pertama sejak krisis 1997. angka yang mendekati target 6. Sedangkan pada pemerintahan Megawati Soekarnoputri (23 Juli 2001-20 Oktober 2004).5% dan 6. yang lebih panjang dari dua Presiden sebelumnya.Tingkat pertumbuhan ekonomi periode 2005-2007 yang dikelola pemerintahan SBY-JK relatif lebih baik dibanding pemerintahan selama era reformasi dan rata-rata pemerintahan Soeharto (1990-1997) yang pertumbuhan ekonominya sekitar 5%. menunjukkan tren yang meningkat. SBY-JK mencatat pertumbuhan ekonomi yang mulai solid di atas 6% dan menjadi benchmark bagi perekonomian yang mulai stabil.6% (target RPJMN). Habibie mampu mengubah pertumbuhan ekonomi negatif menjadi positif secara signifikan dengan prestasi year on year 12. misalnya minimal lima tahun. pemerintahan SBY-JK menghadapi gejolak harga minyak dunia. Data : BPS Catatan : *) Q3 tahun 2007 **) Asumsi APBN 2008 ***) Target RPJM 2004-2009 Inflasi 2005: Otoritas Moneter versus Otoritas Fiskal Kilas balik tahun pertama. Bila dapat dicapai perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2008 sebesar 6.1%) dan 2007 (6.6%. 2006 (6. Para ekonom tampaknya sepakat bahwa pertumbuhan ekonomi minimal di atas 6% saja yang dapat dijadikan barometer Indonesia sudah mampu melihat the light at the end of dark tunnel. dimana fungsi perencanaan dan pelaksanaan APBN tidak sepenuhnya dilakukan mereka. kinerja pertumbuhan ekonomi SBY-JK masih perlu peningkatan. maka pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dan 2009 haruslah diupayakan minimal rata-rata 7. dibanding kinerja Soeharto selama 32 tahun yang pertumbuhan ekonominya sekitar 7%. dengan fluktuasi yang berbeda. Megawati mampu menjaga pertumbuhan ekonomi secara stabil dan menunjukkan peningkatan terus menerus tiap tahunnya. ternyata berimbas pada situasi .3%.9%.3%. Apakah ini berarti dengan memberi waktu yang cukup bagi suatu pemerintahan. seperti terlihat pada Tabel 1. 2006 dan 2007. Kebijakan menaikkan harga BBM 1 Oktober 2005. maka pertumbuhan ekonomi yang stabil dapat dicapai? Pada tahun 2005.8% (asumsi APBN 2008) dan tahun 2009 sebesar 7. dan sebelumnya Maret 2005.4%. Tetapi. Misalnya.

Yang menarik. yang menunjukkan kebijakan Bank Indonesia (BI) sebagai pemegang otoritas moneter menjadi tidak sepenuhnya efektif. karena inflasi aktual pada tahun 2005 jauh di atas prediksi mereka. Tingkat inflasi Desember 2006 kemudian menurun menjadi 6. Pasal 7 ayat 1. Kedua otoritas ini tidak siap menghadapi policy shock dan implikasinya pada prediksi perekonomian yang berubah.5%) dan tahun 2007 (5%). Pada Agustus 2005.6%. Sampai September 2006. Kinerja Perbankan Kebijakan perbankan sesungguhnya memang bukan domain pemerintahan SBY-JK. tetapi perbankan yang sehat dan mampu menjalankan fungsi intermediasinya terkait dengan situasi perekonomian. Tetapi di bulan Desember 2005. Menurut UU Nomor 3 Tahun 2004 tentang BI. Kemampuan lembaga melemah begitu menghadapi kebijakan mendadak. Bila dibandingkan dengan target inflasi pada RPJMN 20042009 untuk tahun 2006 (5. Dengan pola ini. Bila target itu dipercaya pelaku ekonomi.6% dan inflasi tahun 2007 stabil di angka 6. Gubernur BI memprediksi inflasi tahun 2005 sebesar 14%8 dan Menteri PPN/BAPPENAS lebih berani lagi menjanjikan inflasi 2005 tidak akan lebih 12%. BI bertujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah dan. konsisten dan transparan serta harus mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian. inflasi aktual pada tahun 2006 dan 2007 masih belum menggembirakan. maka kebijakan BI selayaknya menaikkan tingkat suku bunga (SBI). Dengan . Penyumbang inflasi terbesar adalah kenaikan biaya transportasi lebih 40% dan harga bahan makanan 18%. Dalam konteks kasus inflasi tahun 2005. yang menjadi referensi suku bunga simpanan di dunia perbankan. 2005 (YoY). ayat 2.6%. oleh pemegang otoritas moneter dan fiskal ini menimbulkan pertanyaan tentang pola koordinasi kebijakan. Ketika pada Juli 2005.1%. yang bila sering terjadi justru mengganggu akuntabilitas kelembagaan Negara yang dipercaya. BI mengenalkan kebijakan Inflation Targeting Framework (ITF). Inflasi sampai bulan Februari 2006 (YoY) masih amat tinggi 17. keadaan menjadi kontraproduktif karena suku bunga SBI (12. maka roda perekonomian akan bergerak sesuai rencana sehingga fungsi intermediasi perbankan bekerja secara optimal. asumsi APBNP II 2005 8. Begitu pula. angka inflasi masih cukup tinggi (14.4%. misalnya. Inflasi yang mencapai dua digit ini jauh melampaui angka target inflasi APBNP II tahun 2005 sebesar 8. Dengan target inflasi itu. target inflasi adalah fokus kebijakan moneter (dan juga fiskal). mekanisme koordinasi seperti diperintahkan oleh kedua undang-undang tampaknya harus menjadi perhatian serius di masa-masa datang. Menurut UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Insentif untuk menabung di perbankan masih menarik. Sebutlah.15% atau Februari 2004 (YoY) yang hanya 4.5%). yang karena itu harus mendapat perhatian untuk diperbaiki. yang dipengaruhi oleh kebijakan otoritas moneter dan fiskal. tingkat suku bunga SBI masih lebih tinggi (9. bandingkan dengan Februari 2005 (YoY) 7. Pemerintahan SBY-JK memang harus menaikkan harga BBM dalam menghadapi tekanan APBN yang makin berat karena lonjakan harga minyak dunia. yang tercermin dalam ketidakakuratan pernyataan pemimpin lembaga itu.75%) jauh di bawah angka inflasi (17.3%). menyebut Pemerintah Pusat dan Bank Sentral berkoordinasi dalam penetapan dan pelaksanaan kebijakan fiskal dan moneter. BI dan Pemerintah harus bekerja erat bersama untuk mencapainya.1%.5%) dari tingkat inflasi (8. Akuntabilitas perencanaan dan evaluasi kebijakan dipertanyakan. Ketidakcermatan itu terlihat dari perbedaan cukup besar antara angka prediksi inflasi dan aktual inflasi. bila tingkat inflasi (aktual) berada di atas target. Efek inflasi tahun 2005 cukup berpengaruh terhadap tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).5% dan bahkan terhadap target inflasi tahun 2005 RPJMN 2004-2009 mencapai 10.92%.59%. Kebijakan fiskal yang mempengaruhi fungsi perbankan berjalan dengan baik menjadi wilayah tanggungjawab SBY-JK.1%. Pasal 21. investor/produsen dan konsumen. Mungkin saja masalahnya adalah institusional. yang menunjukkan transmisi efek kenaikan harga BBM Oktober 2005 berlangsung hampir setahun.9 Perbedaan prediksi inflasi. misalnya.7% (MoM) yang merupakan puncak tingkat inflasi bulanan selama tahun 2005 dan akhirnya ditutup dengan angka 17. Kenaikan harga BBM tersebut telah mendorong tingkat inflasi Oktober 2005 mencapai 8. sebaliknya bila inflasi berada di bawah target. akibat kenaikan harga BBM. Core inflation pun naik menjadi 9. untuk mencapai tujuan itu BI melaksanakan kebijakan moneter secara berkelanjutan.1%). terhadap prediksi BI bias3. gangguan berikutnya tentu mengarah kepada likuiditas perbankan.1% per Desember 30.perekonomian tahun-tahun berikutnya. Kepercayaan publik meningkat begitu target inflasi sesuai dengan ekspektasi inflasi. Jika keadaan ini kronis. prediksi Bappenas 5. melihat target inflasi pada APBN tahun 2008 sebesar 6% masih belum sesuai dengan target inflasi 5% yang tercantum pada RPJMN 2004-2009. Bias prediksi ini di samping menunjukkan kinerja koordinasi yang lemah juga mencerminkan kemampuan profesional yang memprihatinkan. penetapan target inflasi dirumuskan bersama dengan Pemerintah. suku bunga dapat segera diturunkan.

. dan BTN Rp 158 milyar. UU 31/1999 maupun Perubahannya UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi memang mengancam hukuman paling lama 20 tahun bagi setiap orang melakukan perbuatan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. piutang. BPK. Hampir separuh nilai utang itu telah diserahkan kepada pengelolaan Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) atau DJKN sehingga sisa kredit macet UMKM yang dikelola Bank BUMN harusnya menjadi lebih sederhana. Data Bank Indonesia menunjukkan sampai Maret 2007 kredit konsumsi sebesar Rp231. per April 2007. serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang. Kesepakatan rapat itu adalah agar kredit macet UMKM segera diselesaikan. Keadaan perbankan yang membaik di tahun 2007 harus mampu terus di tingkat di tahun 2008 dan 2009.08% (Januari 2006) menjadi 17.1 triliun. Karena itu. Perbankan dalam kenyataannya masih terbelit dengan situasi kredit macet UMKM terutama pada bank-bank BUMN. Yang menarik. pimpinan bank-bank BUMN masih kuatir dianggap merugikan keuangan negara bila PP 33/2006 dilaksanakan. Semakin tidak akurat penetapan target inflasi.13% (Maret 2007). keberhasilan menjaga tingkat inflasi 6. Bank Indonesia. perilaku spekulatif pelaku ekonomi dapat ditekan seminimal mungkin dan perekonomian berkembang secara rasional. pada periode yang sama undisbursed loan (kredit yang sudah disetujui tapi belum ditarik) justru meningkat dengan total sekitar 21% dari pangsa kredit . Bank-bank Pemerintah seharusnya meyakini. Keadaan tahun 2007 relatif membaik karena dari target pertumbuhan kredit 22%.6% dan menurunnya tingkat suku bunga SBI menjadi 9.9% dan modal kerja 0. usaha karya rakyat kecil sebagai komponen utama perekonomian bangsa akan kembali bergairah. BRI Rp 4.75% pada Desember 2006 ternyata tidak berhubungan langsung dengan peningkatan investasi. Pasal 2 huruf g UU 17/2003 tentang Keuangan Negara juga menjelaskan keuangan negara meliputi kekayaan negara/daerah yang dikelola sendiri atau oleh pijhak lain berupa uang.1%. BRI dan BTN. sikap profesional dalam penetapan target menjadi kebutuhan bersama dalam mengembangkan perekonomian yang sehat. Setelah setahun PP 33/2006 dikeluarkan progresnya tidak menggembirakan. dengan selesainya kredit macet UMKM. termasuk kekayaan negara yang dipisahkan pada perusahaan negara/daerah. Sementara pada periode yg sama pertumbuhan kredit investasi hanya 0. Seharusnyalah demikian tugas utama bank-bank Pemerintah. Bank tampaknya justru lebih mendorong kredit konsumsi dibanding penyaluran kredit investasi maupun modal kerja. Diduga. Bila dihitung sampai 31 Desember 2006 nilainya bertambah menjadi Rp 17. arus bawah perekonomian akan kembali bergerak. Peran perbankan bagi pertumbuhan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memang harus terus ditingkatkan. Piutang negara adalah sejumlah uang yang wajib dibayar kepada negara atau Badan-badan yang baik secara langsung atau tidak langsung dikuasai oleh negara. sama artinya dengan mengembangkan perilaku spekulatif di masyarakat. Melalui PP 33/2006 yang dikeluarkan Pemerintah pada 6 Oktober 2006.4%. Walau suku bunga kredit investasi dan suku bunga kredit modal kerja turun tetapi pada level yang masih cukup tinggi yakni masih sebesar 14.38% (Maret 2007). jenis kredit konsumsi ini bersifat inelastis. barang. naiknya suku bunga tidak menyebabkan permintaan atas kredit menurun. BNI.kepercayaan target inflasi akan “pasti” tercapai.8% pada November 2007. bunga dan ongkos atas piutang UMKM dapat dilakukan. motor. Gejala penurunan sempat terlihat pada LDR dari 64.9 triliun yang tersebar di 783. Sementara kredit macet yang telah diserahkan kepada DJKN atau PUPN diselesaikan sesuai UU 49/Prp/1960 tentang PUPN yang ditetapkan Presiden Soekarno 14 Desember 1960 dan berlaku sampai sekarang. Pasal 8 UU 49/Prp/1960 menyebut definisi piutang negara sangat jelas. Berdasarkan Statististik Ekonomi Keuangan Bank Indonesia. Sehingga total kredit triwulan I/2007 menjadi Rp 826T turun sebesar 0. apalagi pemerataannya. Target pertumbuhan kredit selama tahun 2006 sebesar 18% ternyata tidak tercapai karena penyaluran kredit hanya tumbuh 14.477 unit UMKM. dengan perincian di Bank Mandiri sebesar Rp 4. Menunggu perubahan itu.01% (Januari 2006) menjadi 8. penyelesaian konvensional tanpa pemotongan pokok piutang (hair cut) seperti penghapusan denda.5% dibanding akhir tahun 2006. Walaupun demikian. Cara terbaik adalah segera mengubah UU 49/Prp/1960 khususnya tentang definisi piutang negara.26 naik 2.7 triliun.8% (qtq). Bank Indonesia menyebut penurunan ini sebagai hal yang rutin karena diharapkan akan naik kembali pada triwulan berikutnya. suku bunga kredit konsumsi (rumah. Wakil Presiden Jusuf Kalla berinisiatif tanggal 9 Oktober 2007 mengundang rapat koordinasi terbatas dengan beberapa menteri. perbankan mampu menyalurkan sampai 24%. BNI Rp 3 triliun. Melihat itu. Kejaksaan dan Kepolisian serta Direktur Utama Bank Mandiri. Total kredit macet per 31 Desember 2005 mencapai Rp 11. Kekuatiran para bankir Pemerintah selayaknya dihentikan. Bank BUMN diberi kewenangan menyelesaikan kredit macet itu berpedoman pada UU 19/2003 tentang BUMN dan UU 40/2007 tentang Perseroan Terbatas. Namun. karena akan berhubungan langsung pada kegairahan perekonomian. kartu kredit dan multiguna) justru naik dari 17. Karena UMKM merupakan sektor ekonomi yang mampu mnyerap tenaga kerja banyak.53% dan 14.49% pada akhir triwulan I/2007.7% (triwulan IV/2006) menjadi 64. sementara suku bunga deposito turun dari 12.4 triliun.4% (triwulan I/2007). tetapi kemudian naik lagi menjadi 69. surat berharga.

Koordinasi Pemerintah dan Bank Indonesia dalam rangka pertumbuhan kredit perbankan tampaknya harus dilakukan dengan lebih terencana apalagi mengingat pangsa pasar bank-bank Pemerintah masih cukup besar sekitar 33% (Bank Mandiri 13. dengan CAR minimum 12%.016 yang terdiri dari 1.21%) yang diharapkan dapat menjadi pemimpin dalam penyaluran kredit apabila ada policy design dari Pemerintah. 11 Bank Asing dan 3 Bank Umum Syariah. Sampai saat ini Pemerintah tampaknya belum memiliki sikap yang solid dalam menghadapi kebijakan API yang telah diterapkan oleh BI. dan Bank Jangkar (Anchor Bank). sekitar 75% dari total aset perbankan (per Maret 2006 berjumlah Rp 1. Demikian pula dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD). bahkan sampai ke daerah-daerah . Sekali lagi. tentu akan ada pihak-pihak yang diuntungkan dan dirugikan dengan regulasi API. Beberapa Bank BUMN mengeluh tentang gencarnya “serbuan” asing atas aset dan pangsa kredit perbankan nasional. ekspansi kredit riil minimal 22% pertahun. dengan modal inti di atas Rp 100 miliar dan CAR minimum 10%. Dari struktur perbankan yang ada sekarang ini. misalnya. Tetapi tidak demikian dengan kepemilikan oleh swasta nasional maupun oleh Bank BUMN.42%. dalam kebijakan apa yang disebut Single Present Ploicy (SPP) yang dikeluarkan BI dalam rangka mendukung API terlihat seperti tidak berkoordinasi dengan Pemerintah. 68 Bank Umum Swasta Nasional. ROA minimal 1.57% dan BNI 8. Komposisi kepemilikan aset dan kredit perbankan terus berubah sejak tahun 1999 sampai kuartal II tahun 2007. khususnya dalam kaitan peranan bank-bank itu bagi pembangunan perekonomian. walau secara jangka panjang akan menguntungkan perekonomian nasional. Nasional Data di atas jelas menunjukkan aset perbankan yang dimiliki asing semakin meningkat cepat selama delapan tahun terakhir. BRI 11. Konsolidasi perbankan sesuai target kebijakan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) tentu menjadi tidak mudah bila tidak didorong dengan mekanisme “intervensi” tertentu. perlu dipertanyakan dalam konteks kemungkinannya mencapai piramida API. dengan kondisi perbankan sekarang. jumlah bank umum mencapai 130 dengan perincian 5 Bank Persero.466 triliun) dikuasai oleh hanya 11 bank besar yang umumnya dikuasai oleh bank-bank Pemerintah. seperti Tabel 2 di bawah ini: Tabel Komposisi Perbankan 2. Bekerja sendiri-sendiri antara otoritas fiskal dan moneter jelas bertentangan dengan Pasal 21 UU No 17/2003. yakni BI. dengan merger atau akuisisi. LDR minimal 50% NPL net maksimal 5%. Paket kebijakan Pemerintah yang dikeluarkan Juni 2007 tentang Percepatan pertumbuhan sektor riil dan UMKM selayaknya dikoordinasikan dengan badan pengatur perbankan. 26 Bank Pembangunan Daerah. Sementara Bank Perkreditan Rakyat (BPR) mencapai 2. Asing dengan mudah menguasai perbankan nasional. dalam rangka meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi. BI sebagai pengatur perbankan nasional dianggap telah mengeluarkan kebijakan yang tidak seimbang.5%. Walaupun demikian. Pola intervensi regulasi seperti kriteria Bank Kinerja Baik (BKB). Per 31 Desember 2006. Melihat perkembangan kepemilikan perbankan oleh asing yang terus meningkat. Kebijakan itu berpengaruh pada kondisi bank-bank BUMN milik Pemerintah. 17 Bank Campuran (sebelumnya 18 per Maret 2006). Misalnya. yang sampai saat ini seperti mengalami disorientasi. koordinasi otoritas fiskal dan moneter masih dipertanyakan dalam konteks intermediasi perbankan.914 BPR Konvensional (turun dari 1983 per Maret 2006) dan 102 BPR Syariah (naik dari 94 per Maret 2006).

Pemerintah menggunakan Pasal 27 ayat 3 UU itu yang memberi peluang perubahan karena perkembangan ekonomi makro yang tidak sesuai dengan asumsi APBN. 2 dan 4 pasal itu perubahan APBN dilakukan normalnya sekitar bulan Juli. kenaikan harga komoditi pangan dunia. Belanja negara membengkak karena subsidi BBM. karena target pertumbuhan ekonomi 6. perkembangan ekonomi tentu lebih baik. Pemerintah percaya pada angka USD 60/barel.6 triliun (dari Rp 854. Terkait langsung APBN adalah harga minyak dunia. ternyata belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara seimbang karena rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi (rate of growth) hanya 14% pertahun pada periode sama. defisit APBN menjadi Rp 87. Menurut UU Nomor 17/2003 tentang Keuangan Negara. tanggal 30 Januari 2008. Pertanyaannya.3 triliun) dan belanja negara menjadi Rp 910. APBN 2008 dapat dikatakan sebagai APBN yang pro-growth with cautious (hati-hati). menurut ayat 1.4 triliun (akhir era Soeharto) atau Rp 279.6 triliun). bila dianggap darurat. mengapa asumsi makro yang belum lama disetujui menjadi tidak valid? Apakah kemampuan . didampingi Menteri PPN/Bappenas. sampai berapa besar pihak asing boleh menguasai aset perbankan nasional. program penjaminan. Lifting minyak. Ke depan tampaknya perlu penguatan dalam bentuk regulasi undang-undang agar perbankan nasional mampu menjadi tuan di negara sendiri sekaligus menjadi bank dalam skala internasional.2 triliun.7 triliun dalam RAPBN 2008. Perkiraan Awal APBN 2008 disampaikan Departemen Keuangan pada Rapat Kerja Panitia Anggaran DPR. Sampai saat ini belum jelas strategi perbankan nasional.Pro-growth. yang sejak pertengahan tahun lalu melonjak di luar perkiraan. ketiga. Pertumbuhan penerimaan pajak rata-rata 18. disampaikan ke DPR paling lambat akhir Juli. kedua. yang seharusnya di bawah kontrol Pemerintah pun. dan. Pendapatan negara bertambah. Dari segi perencanaan.2%. Indikator penerimaan pajak tentu yang terpenting. kondisi BUMN. perubahan APBN dilakukan bersamaan Laporan Realisasi Semester I APBN. Besaran RAPBN 2008 menggambarkan pertumbuhan ekonomi cukup signifikan. perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. kenaikan harga minyak dunia. Tanda perubahan dimulai dari Sidang Kabinet 1 Februari 2008 yang dipimpin Presiden SBY dan Wapres JK.034 juta barel/hari menjadi 910 ribu barel/hari. Diusulkan menjadi USD 80/barel.2 triliun pada APBN 2004 (akhir era Megawati). Rapat kerja itu menyepakati agar Pemerintah segera menyampaikan rancangan perubahan APBN bila dianggap perlu. Dengan demikian dapat diketahui berapa besar faktor resiko yang dapat dikendalikan dalam pelaksanaan APBN dan berapa resiko-resiko yang di luar kemampuan Pemerintah mengendalikannya. pemerintahan SBY-JK di akhir tahun 2008 mungkin makin mewujudkan janji-janji kampanyenya: negara makin kuat dan rakyat makin sejahtera.2% pertahun selama lima tahun ini. Tetapi di APBN 2008. menjadi Rp 823. Pasal 27 ayat 1 dan 2. Dua hari sebelumnya. berubah dari 1. Namun. dan transfer daerah.8% tahun 2008 merupakan target ambitious paling tinggi selama reformasi. misalnya.7% menjadi 2. tetapi BI tidak mampu memfasilitasi pengembangan bank-bank nasional ke luar negeri. listrik. pangan. APBN 2008 Nota Keuangan RAPBN 2008 yang disampaikan Presiden SBY pada Sidang Paripurna DPR RI tanggal 16 Agustus 2007 merupakan yang ketiga kali dimana fungsi perencanaan dan implementasi APBN dilakukan penuh pemerintahan SBY-JK. bencana alam dan kebijakan pensiun dan jaminan sosial. Pemerintah dapat melakukan pengeluaran yang belum tersedia anggarannya dan diusulkan dalam rancangan perubahan APBN. mulai diubah lagi. Pemotongan belanja kementerian dan lembaga negara sekitar 15% ternyata tidak mampu mengimbangi naiknya jumlah subsidi. akibat windfall. Tiga alasan Pemerintah atas perubahan ini: pertama. Menteri Keuangan. diharapkan memberi konstribusi besar atas pencapaian target ekonomi. RAPBN 2008 itu kemudian disepakati dengan beberapa perubahan menjadi Undang-Undang pada Sidang Paripurna DPR tanggal 9 Oktober 2007. Artinya. Misalnya. Gubernur BI dan Kepala BPS. Hati-hati. APBN yang dimulai 1 Januari dan baru sebulan dilaksanakan tampaknya harus diubah.terpencil.3 triliun (dari APBN 2008 Rp 781.3 triliun (dari Rp 73. seperti resiko perubahan pada asumsi makro. Dengan demikian. Target ini sebenarnya lebih rendah dari target yang ditetapkan dalam RPJMN yaitu sebesar 7. menjadi Rp 583. Menurut ayat 4. rencana perubahan ini jelas di luar jadwal.5 triliun. resmi menyampaikan Perkiraan Perubahan APBN 2008 pada Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR.0% terhadap PDB. total pajak pada APBN 1998/1999 sekitar Rp 102. Dengan sistem dan insentif perpajakan makin baik. Alokasi belanja negara tahun 2008 untuk infrastruktur ekonomi yang makin besar seperti belanja modal Rp 101. Bila pola ini diikuti APBD-APBD tahun 2008 di seluruh Indonesia. Faktor-faktor ini seharusnya dapat terukur kontribusinya dan tidak boleh menjadi alasan ‘cuci tangan’ (escape clause) bila target-target APBN 2008 tidak tercapai. karena untuk pertama kali Presiden menyebut secara eksplisit faktor resiko sebagai bagian integral dalam perencanaan APBN. Belum lama RAPBN 2008 menjadi APBN 2008. Pada 4 Februari 2008. yang disepakati tiga bulan lalu.3 triliun) atau dari 1. dibanding APBN-P 2007 yang Rp 86.

ternyata realisasinya tetap lebih rendah yaitu sebesar 5. kemampuan memformulasi faktor resiko sebagai bagian inklusif sistem APBN mendapat perhatian yang lebih serius. kemajuan wilayah. yang tidak sempat dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya. Evaluasi atas kinerja anggaran itu selayaknya bukan saja terkena pada pelaksana atau penanggungjawab anggaran tetapi juga seharusnya pada distribusi alokasi anggaran sehingga tujuan utama APBN untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sebagaimana amanat UUD NRI 1945 dapat diwujudkan. Konsep perencanaan pembangunan ekonomi yang berkesinambungan seperti dirumuskan dalam Undang-Undang tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional sesungguhnya lebih menjelaskan kewajiban setiap pemerintahan untuk melanjutkan pembangunan ekonomi secara terus menerus. rencana APBN sebesar 6. ternyata realisasinya hanya 5. kesehatan. Kinerja itu. Sehingga setiap pemerintahan baru memperoleh catatan apa yang seharusnya diperbaiki. walau sejak tahun 2005 penyusunan APBN mulai menerapkan pola anggaran berbasis kinerja (performance based budgeting). kemampuan perencanaan Pemerintah jelas harus ditingkatkan untuk menjaga akuntabilitas Pemerintah. Pertumbuhan ekonomi memang bukan satu-satunya ukuran atas kinerja suatu pemerintahan. Kinerja tahun 2008 dan 2009 tentu belum dapat dilihat. Karena rencana harus sesuai realitas. dalam hal rencana APBN atas pertumbuhan ekonomi. kemiskinan. APBN yang sehat harus selalu dapat dievaluasi dan berorientasikan sesuai amanat konstitusi negara. Dalam praktek. evaluasi kinerja APBN ternyata belum menjadi praktek dalam politik anggaran negara.kita memprediksi perekonomian setahun ke depan menurun drastis? Padahal Presiden dalam Nota keuangan 16 Agustus 2007 menyebut komponen resiko agar embodied dalam APBN. Angkaangka perencanaan ekonomi seperti yang dirumuskan dalam APBN umumnya selalu lebih tinggi dari angka-angka pelaksanaan atau realisasinya. Pemerintah yang meneruskan kebijakan yang dirumuskan oleh Pemerintah sebelumnya. yang menghendaki perwujudan sasaran harus sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam kesepakatan perencanaan. tetapi angka realisasi yang rendah justru menunjukkan kemampuan kerja atau kinerja Pemerintah karena pelaksanaan anggaran adalah tanggung jawab Pemerintah. pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 6. Walaupun demikian. Angka perencanaan yang tinggi sebenarnya dapat dipandang sebagai ambisi politik Pemerintah.8%. . Ukuran-ukuran lain seperti tingkat pengangguran. Kiranya.48%. misalnya. Kompetisi antar pemerintahan lintas periode atau antar pemimpin politik dalam tiap pemilu seharusnya memang diarahkan pada pengukuran kualitas kinerja sebagai implikasi pemilihan kebijakan dan kemampuan mengelola pemerintahan. APBN (dan juga APBD) sebagai jangkar utama kinerja pemerintahan di Indonesia seharusnya dapat dijadikan alat bagi mendorong kemajuan ekonomi bangsa untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. ke depan. Kinerja pada tahun 2007 jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.3%. ekspektasi perencanaan APBN dan pelaksanaannya ternyata dua hal yang berbeda. kebanggaan berbangsa dan seterusnya dapat saja dijadikan variabel untuk menilai kinerja suatu pemerintahan secara lebih komprehensif. Pada tahun 2005. Kesimpulan Konsep penilaian kinerja suatu pemerintahan memang seharusnya mencakup wilayah perencanaan dan pelaksanaan. pertumbuhan ekonomi direncanakan mencapai angka 6%. pendidikan. harus menjadi perhatian terutama bagi mereka yang pemegang otoritas yang bertanggung jawab atas kemajuan perekonomian karena tantangan pencapaian target pertumbuhan ekonomi pada pada dua tahun terkahir ini akan menentukan apakah target ratarata pertumbuhan ekonomi pemerintahan SBY-JK dapat dicapai. Tahun 2006. Karena implikasi pelaksanaan bergantung pada rumusan perencanaan. kegairahan usaha. ketertiban. Dalam menegakkan politik anggaran yang sehat. menurut Undang-Undang tentang Keuangan Negara. tetapi pembangunan bangsa tetap berjalan senantiasa. dan tentu juga DPR karena APBN ditetapkan Pemerintah bersama DPR.2%. kenyataannya Pemerintah mampu mengangkatnya menjadi 6. kemajuan budaya dan seni. Yang menarik.6%. Tidak boleh dibiarkan terus menerus kemakmuran rakyat dikorbankan karena kinerja buruk pelaksanaan APBN. memang dimungkinkan untuk melakukan perubahan.33%. Pemerintahan sebagai bagian sistem politik nasional dapat saja dan akan berganti. keamanan. kinerja yang baik haruslah memperoleh reward dan sebaliknya kinerja yang buruk layak memperoleh punishment. yang kemudian diubah menjadi 5. dalam hal ini APBN.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful