Kinerja Pemerintahan SBY-JK di Bidang Perekonomian

Kamis, 27 Maret 2008

Harry Azhar Azis Wakil Ketua Panitia Anggaran, Anggota Komisi XI (Keuangan, Perbankan dan Perencanaan Pembangunan) DPR RI dan PhD lulusan Oklahoma State University, Amerika Serikat.

Pendahuluan Wajah perekonomian Indonesia menjelang Pemilu tahun 2009 terkait erat dengan kemampuan Pemerintahan SBY-JK mengelola kebijakan di bidang ekonomi pada sisa masa pemerintahannya, yang kini kurang dari dua tahun. Target-target perekonomian pemerintahan ini sesungguhnya dapat dilihat dalam rumusan tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009.2Menurut Pasal 4 ayat 2 Undang Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), RPJMN merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Presiden, seperti yang telah dikampanyekan selama proses Pemilihan Presiden. Artinya, visi, misi dan program setiap (calon) Presiden harus mewujud dalam bentuk RPJMN, begitu ia terpilih sebagai Presiden, dan menjadi pedoman kebijakan pemerintahannya selama lima tahun ke depan. Hal ini, sampai tahun 2024, telah diatur dengan jelas dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-20253. UU ini membagi periodesasi lima tahunan kepemimpinan nasional secara jangka panjang 20 tahun ke depan dimulai tahun 2005. Pemerintahan SBY-JK merupakan pemerintahan pertama dalam sejarah Indonesia kontemporer yang memulai pelaksanaan RPJMN. Pada tahun 2001, Perubahan Ketiga terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memang menghilangkan tugas MPR yang menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai program lima tahunan suatu pemerintahan. MPR tidak lagi berwewenang menetapkan program pemerintahan lima tahunan karena Presiden tidak lagi dipilih oleh MPR tetapi langsung oleh rakyat. Pedoman program Pemerintah lima tahunan, RPJMN, cukup ditetapkan melalui Peraturan Presiden oleh Presiden terpilih. Dengan demikian, Presiden sebagai pemimpin pemerintahan bertanggung jawab penuh atas keberhasilan program-program yang telah dijanjikannya dalam Pemilu. RPJMN itu menjadi pegangan dan sekaligus ukuran kinerja pemerintahan setiap lima tahunan. Dengan ukuran-ukuran RPJMN 2004-2009, sesungguhnya kinerja pemerintahan SBY-JK selama lima tahun dapat dievaluasi keberhasilannya secara transparan. Keberhasilan itulah yang menjadi modal utama bagi seorang Presiden untuk maju kedua kalinya pada pemilihan berikutnya4. Benar, seperti yang dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla5, Pemerintahan SBY-JK dengan demikian harus mampu menjelaskan apa (keberhasilan) yang telah dicapai, bukan (janji) apa yang akan dikerjakan, bila keduanya ingin maju lagi bersama atau sendiri-sendiri pada Pemilu 2009 nanti. Logika pernyataan ini, bagi Presiden incumbent yang terutama akan ditanya oleh rakyat adalah kerjanya selama ini. Karena kerja pemerintahan adalah kinerja bersama, tentu lebih mudah mengevaluasi kinerja pemerintahan, jika Presiden dan Wakil Presiden maju kembali secara bersama pada pemilu berikut dibanding jika mereka maju secara sendiri-sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mengukur kinerja pemerintahan pada kurun tahun transisi. Karena jangkar utama kinerja pemerintahan adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pada tahun-tahun transisi, perencanaan dan pelaksanaan APBN bisa saja dilakukan oleh dua pemerintahan berbeda. Sebagai contoh, APBN tahun 2005 direncanakan oleh Pemerintahan Megawati Soekarnoputri, melalui Nota Keuangan Presiden yang disampaikan kepada DPR pada 16 Agustus 2004, yang kemudian disetujui bersama DPR periode 1999-2004. Pemerintahan SBY-JK yang dilantik 20 Oktober 2004 tentu harus melaksanakan UU APBN 2005 yang telah disahkan itu. Hal yang sama juga akan terjadi pada APBN tahun 2010 (bila SBY tidak terpilih lagi pada Pemilu 2009) atau pada APBN 2015 (bila SBY terpilih tahun 2009). Pada APBN 2009, APBN tidak sepenuhnya dilaksanakan pemerintahan SBY-JK karena berakhir Oktober 2009, kecuali terpilih kembali. Dengan demikian, penilaian atas APBN 2006, 2007 dan 2008 sepenuhnya tanggung jawab pemerintahan SBY-JK karena pada APBN tahun-tahun tersebut direncanakan dan dilaksanakan oleh pemerintahan ini. Sementara untuk APBN 2005 atau APBN dimana fungsi perencanaan dan pelaksanaannya dilakukan dua pemerintahan berbeda, evaluasi harus dilakukan secara adil di antara penyusun rencana dan pelaksana APBN. Masalah ini timbul karena di negeri ini kalender anggaran pemerintahan dan kalender kepemimpinan politik tidak berlaku sama 6. Logika ini seharusnya juga berlaku untuk evaluasi kinerja APBD, baik untuk tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Kinerja

Tiga

Tahun

7%) terlihat tidak begitu menggembirakan. dan sebelumnya Maret 2005. dimana fungsi perencanaan dan pelaksanaan APBN tidak sepenuhnya dilakukan mereka. dibanding kinerja Soeharto selama 32 tahun yang pertumbuhan ekonominya sekitar 7%. yang lebih panjang dari dua Presiden sebelumnya. seperti terlihat pada Tabel 1. maka rata-rata pertumbuhan ekonomi pemerintahan SBY-JK selama lima tahun menjadi 6. 2006 dan 2007. karena pemerintahannya relatif pendek.1%) dan 2007 (6. Bila target rata-rata lima tahun seperti tercantum pada RPJMN dari pemerintahan SBY-JK terhadap pertumbuhan ekonomi 6. 2006 (6. ternyata berimbas pada situasi . SBY-JK mencatat pertumbuhan ekonomi yang mulai solid di atas 6% dan menjadi benchmark bagi perekonomian yang mulai stabil.6%.4%. maka pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dan 2009 haruslah diupayakan minimal rata-rata 7.6%. Pertumbuhan ekonomi era Soeharto tertinggi terjadi pada tahun 1980 dengan angka 9. Megawati mampu menjaga pertumbuhan ekonomi secara stabil dan menunjukkan peningkatan terus menerus tiap tahunnya.9%. Sedangkan pada pemerintahan Megawati Soekarnoputri (23 Juli 2001-20 Oktober 2004). angka yang mendekati target 6. dengan fluktuasi yang berbeda.Tingkat pertumbuhan ekonomi periode 2005-2007 yang dikelola pemerintahan SBY-JK relatif lebih baik dibanding pemerintahan selama era reformasi dan rata-rata pemerintahan Soeharto (1990-1997) yang pertumbuhan ekonominya sekitar 5%. Apakah ini berarti dengan memberi waktu yang cukup bagi suatu pemerintahan. Misalnya. menunjukkan tren yang meningkat. Tentu relatif lebih sulit menilai kinerja Presiden BJ Habibie (21 Mei 1998-20 Oktober 1999) dan Presiden Abdurahman Wahid (20 Oktober 1999–23 Juli 2001). Habibie mampu mengubah pertumbuhan ekonomi negatif menjadi positif secara signifikan dengan prestasi year on year 12.6% (target RPJMN). Tren yang sama sebenarnya terjadi di semua pemerintahan setelah reformasi. Kebijakan menaikkan harga BBM 1 Oktober 2005. pemerintahan SBY-JK menghadapi gejolak harga minyak dunia. kinerja pertumbuhan ekonomi SBY-JK masih perlu peningkatan. Bila dapat dicapai perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2008 sebesar 6. Angka ini dibandingkan dengan target RPJMN untuk tahun 2005 (5.5%). misalnya minimal lima tahun. 5.8% (asumsi APBN 2008) dan tahun 2009 sebesar 7. Tabel Pertumbuhan PDB Indonesia 1.3%.7keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan.3%.5% dan 6. pertumbuhan ekonomi berturut-turut mencapai angka 5. Para ekonom tampaknya sepakat bahwa pertumbuhan ekonomi minimal di atas 6% saja yang dapat dijadikan barometer Indonesia sudah mampu melihat the light at the end of dark tunnel. Abdurrahman Wahid mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi yang pertama sejak krisis 1997.6% per tahun. Data : BPS Catatan : *) Q3 tahun 2007 **) Asumsi APBN 2008 ***) Target RPJM 2004-2009 Inflasi 2005: Otoritas Moneter versus Otoritas Fiskal Kilas balik tahun pertama. maka pertumbuhan ekonomi yang stabil dapat dicapai? Pada tahun 2005.8%. Tetapi.

Bila dibandingkan dengan target inflasi pada RPJMN 20042009 untuk tahun 2006 (5. Efek inflasi tahun 2005 cukup berpengaruh terhadap tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).1%. Ketika pada Juli 2005. Kebijakan fiskal yang mempengaruhi fungsi perbankan berjalan dengan baik menjadi wilayah tanggungjawab SBY-JK.6%. inflasi aktual pada tahun 2006 dan 2007 masih belum menggembirakan. yang karena itu harus mendapat perhatian untuk diperbaiki. Mungkin saja masalahnya adalah institusional. asumsi APBNP II 2005 8.6%. sebaliknya bila inflasi berada di bawah target. bandingkan dengan Februari 2005 (YoY) 7. Yang menarik.4%. yang menunjukkan kebijakan Bank Indonesia (BI) sebagai pemegang otoritas moneter menjadi tidak sepenuhnya efektif. BI dan Pemerintah harus bekerja erat bersama untuk mencapainya.1%.5%). Sebutlah.perekonomian tahun-tahun berikutnya. Penyumbang inflasi terbesar adalah kenaikan biaya transportasi lebih 40% dan harga bahan makanan 18%. target inflasi adalah fokus kebijakan moneter (dan juga fiskal). Kinerja Perbankan Kebijakan perbankan sesungguhnya memang bukan domain pemerintahan SBY-JK.6% dan inflasi tahun 2007 stabil di angka 6. Kedua otoritas ini tidak siap menghadapi policy shock dan implikasinya pada prediksi perekonomian yang berubah.1%). Dengan . Menurut UU Nomor 3 Tahun 2004 tentang BI. Gubernur BI memprediksi inflasi tahun 2005 sebesar 14%8 dan Menteri PPN/BAPPENAS lebih berani lagi menjanjikan inflasi 2005 tidak akan lebih 12%. Inflasi yang mencapai dua digit ini jauh melampaui angka target inflasi APBNP II tahun 2005 sebesar 8. investor/produsen dan konsumen. ayat 2. karena inflasi aktual pada tahun 2005 jauh di atas prediksi mereka. Ketidakcermatan itu terlihat dari perbedaan cukup besar antara angka prediksi inflasi dan aktual inflasi.1% per Desember 30. Kepercayaan publik meningkat begitu target inflasi sesuai dengan ekspektasi inflasi. maka kebijakan BI selayaknya menaikkan tingkat suku bunga (SBI). angka inflasi masih cukup tinggi (14. gangguan berikutnya tentu mengarah kepada likuiditas perbankan. Akuntabilitas perencanaan dan evaluasi kebijakan dipertanyakan. Pemerintahan SBY-JK memang harus menaikkan harga BBM dalam menghadapi tekanan APBN yang makin berat karena lonjakan harga minyak dunia. Dalam konteks kasus inflasi tahun 2005.75%) jauh di bawah angka inflasi (17. Kenaikan harga BBM tersebut telah mendorong tingkat inflasi Oktober 2005 mencapai 8. menyebut Pemerintah Pusat dan Bank Sentral berkoordinasi dalam penetapan dan pelaksanaan kebijakan fiskal dan moneter. Tingkat inflasi Desember 2006 kemudian menurun menjadi 6. akibat kenaikan harga BBM. Sampai September 2006. yang dipengaruhi oleh kebijakan otoritas moneter dan fiskal. penetapan target inflasi dirumuskan bersama dengan Pemerintah. BI bertujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah dan. Dengan target inflasi itu. Pasal 21. yang bila sering terjadi justru mengganggu akuntabilitas kelembagaan Negara yang dipercaya.7% (MoM) yang merupakan puncak tingkat inflasi bulanan selama tahun 2005 dan akhirnya ditutup dengan angka 17. Kemampuan lembaga melemah begitu menghadapi kebijakan mendadak. suku bunga dapat segera diturunkan. maka roda perekonomian akan bergerak sesuai rencana sehingga fungsi intermediasi perbankan bekerja secara optimal. bila tingkat inflasi (aktual) berada di atas target. Menurut UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. terhadap prediksi BI bias3. mekanisme koordinasi seperti diperintahkan oleh kedua undang-undang tampaknya harus menjadi perhatian serius di masa-masa datang. prediksi Bappenas 5.1%. yang menunjukkan transmisi efek kenaikan harga BBM Oktober 2005 berlangsung hampir setahun. Pasal 7 ayat 1. tingkat suku bunga SBI masih lebih tinggi (9. Begitu pula. melihat target inflasi pada APBN tahun 2008 sebesar 6% masih belum sesuai dengan target inflasi 5% yang tercantum pada RPJMN 2004-2009.5%) dan tahun 2007 (5%). untuk mencapai tujuan itu BI melaksanakan kebijakan moneter secara berkelanjutan. Inflasi sampai bulan Februari 2006 (YoY) masih amat tinggi 17. Dengan pola ini. Jika keadaan ini kronis.5%) dari tingkat inflasi (8. keadaan menjadi kontraproduktif karena suku bunga SBI (12. konsisten dan transparan serta harus mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian. oleh pemegang otoritas moneter dan fiskal ini menimbulkan pertanyaan tentang pola koordinasi kebijakan. Bias prediksi ini di samping menunjukkan kinerja koordinasi yang lemah juga mencerminkan kemampuan profesional yang memprihatinkan. Bila target itu dipercaya pelaku ekonomi.5% dan bahkan terhadap target inflasi tahun 2005 RPJMN 2004-2009 mencapai 10. Tetapi di bulan Desember 2005. yang tercermin dalam ketidakakuratan pernyataan pemimpin lembaga itu.3%).59%. misalnya. 2005 (YoY). Pada Agustus 2005. Core inflation pun naik menjadi 9. tetapi perbankan yang sehat dan mampu menjalankan fungsi intermediasinya terkait dengan situasi perekonomian. Insentif untuk menabung di perbankan masih menarik.15% atau Februari 2004 (YoY) yang hanya 4. BI mengenalkan kebijakan Inflation Targeting Framework (ITF).9 Perbedaan prediksi inflasi. yang menjadi referensi suku bunga simpanan di dunia perbankan. misalnya.92%.

4%.08% (Januari 2006) menjadi 17. pada periode yang sama undisbursed loan (kredit yang sudah disetujui tapi belum ditarik) justru meningkat dengan total sekitar 21% dari pangsa kredit . Namun.8% pada November 2007.6% dan menurunnya tingkat suku bunga SBI menjadi 9. Karena UMKM merupakan sektor ekonomi yang mampu mnyerap tenaga kerja banyak.38% (Maret 2007).9% dan modal kerja 0. pimpinan bank-bank BUMN masih kuatir dianggap merugikan keuangan negara bila PP 33/2006 dilaksanakan. sikap profesional dalam penetapan target menjadi kebutuhan bersama dalam mengembangkan perekonomian yang sehat. Total kredit macet per 31 Desember 2005 mencapai Rp 11. Sehingga total kredit triwulan I/2007 menjadi Rp 826T turun sebesar 0.49% pada akhir triwulan I/2007.7% (triwulan IV/2006) menjadi 64.1%. Seharusnyalah demikian tugas utama bank-bank Pemerintah. bunga dan ongkos atas piutang UMKM dapat dilakukan. karena akan berhubungan langsung pada kegairahan perekonomian.7 triliun. Cara terbaik adalah segera mengubah UU 49/Prp/1960 khususnya tentang definisi piutang negara.13% (Maret 2007). naiknya suku bunga tidak menyebabkan permintaan atas kredit menurun. termasuk kekayaan negara yang dipisahkan pada perusahaan negara/daerah.01% (Januari 2006) menjadi 8. sementara suku bunga deposito turun dari 12. arus bawah perekonomian akan kembali bergerak. dengan selesainya kredit macet UMKM. Piutang negara adalah sejumlah uang yang wajib dibayar kepada negara atau Badan-badan yang baik secara langsung atau tidak langsung dikuasai oleh negara.26 naik 2. kartu kredit dan multiguna) justru naik dari 17.1 triliun. Semakin tidak akurat penetapan target inflasi. dengan perincian di Bank Mandiri sebesar Rp 4. Perbankan dalam kenyataannya masih terbelit dengan situasi kredit macet UMKM terutama pada bank-bank BUMN. penyelesaian konvensional tanpa pemotongan pokok piutang (hair cut) seperti penghapusan denda. dan BTN Rp 158 milyar. Walau suku bunga kredit investasi dan suku bunga kredit modal kerja turun tetapi pada level yang masih cukup tinggi yakni masih sebesar 14. BNI.5% dibanding akhir tahun 2006. keberhasilan menjaga tingkat inflasi 6. BPK. Bank-bank Pemerintah seharusnya meyakini.kepercayaan target inflasi akan “pasti” tercapai. apalagi pemerataannya. Setelah setahun PP 33/2006 dikeluarkan progresnya tidak menggembirakan. Pasal 8 UU 49/Prp/1960 menyebut definisi piutang negara sangat jelas. Berdasarkan Statististik Ekonomi Keuangan Bank Indonesia. BNI Rp 3 triliun. barang. Sementara kredit macet yang telah diserahkan kepada DJKN atau PUPN diselesaikan sesuai UU 49/Prp/1960 tentang PUPN yang ditetapkan Presiden Soekarno 14 Desember 1960 dan berlaku sampai sekarang. usaha karya rakyat kecil sebagai komponen utama perekonomian bangsa akan kembali bergairah. perbankan mampu menyalurkan sampai 24%. Data Bank Indonesia menunjukkan sampai Maret 2007 kredit konsumsi sebesar Rp231. Bank Indonesia. Kejaksaan dan Kepolisian serta Direktur Utama Bank Mandiri. tetapi kemudian naik lagi menjadi 69. Kekuatiran para bankir Pemerintah selayaknya dihentikan. . suku bunga kredit konsumsi (rumah. Wakil Presiden Jusuf Kalla berinisiatif tanggal 9 Oktober 2007 mengundang rapat koordinasi terbatas dengan beberapa menteri. Peran perbankan bagi pertumbuhan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memang harus terus ditingkatkan. Hampir separuh nilai utang itu telah diserahkan kepada pengelolaan Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) atau DJKN sehingga sisa kredit macet UMKM yang dikelola Bank BUMN harusnya menjadi lebih sederhana. Gejala penurunan sempat terlihat pada LDR dari 64. per April 2007.53% dan 14. jenis kredit konsumsi ini bersifat inelastis. BRI dan BTN. Karena itu. Bila dihitung sampai 31 Desember 2006 nilainya bertambah menjadi Rp 17. Kesepakatan rapat itu adalah agar kredit macet UMKM segera diselesaikan. UU 31/1999 maupun Perubahannya UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi memang mengancam hukuman paling lama 20 tahun bagi setiap orang melakukan perbuatan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Sementara pada periode yg sama pertumbuhan kredit investasi hanya 0. Bank BUMN diberi kewenangan menyelesaikan kredit macet itu berpedoman pada UU 19/2003 tentang BUMN dan UU 40/2007 tentang Perseroan Terbatas. Bank tampaknya justru lebih mendorong kredit konsumsi dibanding penyaluran kredit investasi maupun modal kerja. piutang. Target pertumbuhan kredit selama tahun 2006 sebesar 18% ternyata tidak tercapai karena penyaluran kredit hanya tumbuh 14. Keadaan tahun 2007 relatif membaik karena dari target pertumbuhan kredit 22%. Melalui PP 33/2006 yang dikeluarkan Pemerintah pada 6 Oktober 2006. perilaku spekulatif pelaku ekonomi dapat ditekan seminimal mungkin dan perekonomian berkembang secara rasional. BRI Rp 4.477 unit UMKM.9 triliun yang tersebar di 783. Walaupun demikian. Keadaan perbankan yang membaik di tahun 2007 harus mampu terus di tingkat di tahun 2008 dan 2009. serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang.4 triliun. motor. surat berharga.8% (qtq). Diduga. Bank Indonesia menyebut penurunan ini sebagai hal yang rutin karena diharapkan akan naik kembali pada triwulan berikutnya. Menunggu perubahan itu. Pasal 2 huruf g UU 17/2003 tentang Keuangan Negara juga menjelaskan keuangan negara meliputi kekayaan negara/daerah yang dikelola sendiri atau oleh pijhak lain berupa uang. Melihat itu. sama artinya dengan mengembangkan perilaku spekulatif di masyarakat.75% pada Desember 2006 ternyata tidak berhubungan langsung dengan peningkatan investasi.4% (triwulan I/2007). Yang menarik.

Pola intervensi regulasi seperti kriteria Bank Kinerja Baik (BKB). Sementara Bank Perkreditan Rakyat (BPR) mencapai 2. Demikian pula dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD). dalam kebijakan apa yang disebut Single Present Ploicy (SPP) yang dikeluarkan BI dalam rangka mendukung API terlihat seperti tidak berkoordinasi dengan Pemerintah. Konsolidasi perbankan sesuai target kebijakan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) tentu menjadi tidak mudah bila tidak didorong dengan mekanisme “intervensi” tertentu. Per 31 Desember 2006. sekitar 75% dari total aset perbankan (per Maret 2006 berjumlah Rp 1. LDR minimal 50% NPL net maksimal 5%. 26 Bank Pembangunan Daerah. dengan CAR minimum 12%. Melihat perkembangan kepemilikan perbankan oleh asing yang terus meningkat. Sekali lagi.016 yang terdiri dari 1.42%. misalnya.914 BPR Konvensional (turun dari 1983 per Maret 2006) dan 102 BPR Syariah (naik dari 94 per Maret 2006). jumlah bank umum mencapai 130 dengan perincian 5 Bank Persero.Koordinasi Pemerintah dan Bank Indonesia dalam rangka pertumbuhan kredit perbankan tampaknya harus dilakukan dengan lebih terencana apalagi mengingat pangsa pasar bank-bank Pemerintah masih cukup besar sekitar 33% (Bank Mandiri 13. dengan kondisi perbankan sekarang. Walaupun demikian. Asing dengan mudah menguasai perbankan nasional. Kebijakan itu berpengaruh pada kondisi bank-bank BUMN milik Pemerintah. Sampai saat ini Pemerintah tampaknya belum memiliki sikap yang solid dalam menghadapi kebijakan API yang telah diterapkan oleh BI.466 triliun) dikuasai oleh hanya 11 bank besar yang umumnya dikuasai oleh bank-bank Pemerintah. perlu dipertanyakan dalam konteks kemungkinannya mencapai piramida API. ekspansi kredit riil minimal 22% pertahun.57% dan BNI 8. walau secara jangka panjang akan menguntungkan perekonomian nasional. seperti Tabel 2 di bawah ini: Tabel Komposisi Perbankan 2. BI sebagai pengatur perbankan nasional dianggap telah mengeluarkan kebijakan yang tidak seimbang. 11 Bank Asing dan 3 Bank Umum Syariah.5%. tentu akan ada pihak-pihak yang diuntungkan dan dirugikan dengan regulasi API. 68 Bank Umum Swasta Nasional. Nasional Data di atas jelas menunjukkan aset perbankan yang dimiliki asing semakin meningkat cepat selama delapan tahun terakhir. yang sampai saat ini seperti mengalami disorientasi. Komposisi kepemilikan aset dan kredit perbankan terus berubah sejak tahun 1999 sampai kuartal II tahun 2007. dan Bank Jangkar (Anchor Bank). BRI 11. ROA minimal 1. Beberapa Bank BUMN mengeluh tentang gencarnya “serbuan” asing atas aset dan pangsa kredit perbankan nasional. Tetapi tidak demikian dengan kepemilikan oleh swasta nasional maupun oleh Bank BUMN. khususnya dalam kaitan peranan bank-bank itu bagi pembangunan perekonomian.21%) yang diharapkan dapat menjadi pemimpin dalam penyaluran kredit apabila ada policy design dari Pemerintah. Paket kebijakan Pemerintah yang dikeluarkan Juni 2007 tentang Percepatan pertumbuhan sektor riil dan UMKM selayaknya dikoordinasikan dengan badan pengatur perbankan. yakni BI. dengan modal inti di atas Rp 100 miliar dan CAR minimum 10%. dengan merger atau akuisisi. dalam rangka meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi. bahkan sampai ke daerah-daerah . Bekerja sendiri-sendiri antara otoritas fiskal dan moneter jelas bertentangan dengan Pasal 21 UU No 17/2003. koordinasi otoritas fiskal dan moneter masih dipertanyakan dalam konteks intermediasi perbankan. 17 Bank Campuran (sebelumnya 18 per Maret 2006). Dari struktur perbankan yang ada sekarang ini. Misalnya.

Dengan sistem dan insentif perpajakan makin baik. 2 dan 4 pasal itu perubahan APBN dilakukan normalnya sekitar bulan Juli.6 triliun). akibat windfall. Tanda perubahan dimulai dari Sidang Kabinet 1 Februari 2008 yang dipimpin Presiden SBY dan Wapres JK. Lifting minyak. Pemotongan belanja kementerian dan lembaga negara sekitar 15% ternyata tidak mampu mengimbangi naiknya jumlah subsidi. bila dianggap darurat. diharapkan memberi konstribusi besar atas pencapaian target ekonomi. APBN yang dimulai 1 Januari dan baru sebulan dilaksanakan tampaknya harus diubah. APBN 2008 Nota Keuangan RAPBN 2008 yang disampaikan Presiden SBY pada Sidang Paripurna DPR RI tanggal 16 Agustus 2007 merupakan yang ketiga kali dimana fungsi perencanaan dan implementasi APBN dilakukan penuh pemerintahan SBY-JK. Sampai saat ini belum jelas strategi perbankan nasional. berubah dari 1. kenaikan harga komoditi pangan dunia. tanggal 30 Januari 2008.5 triliun. Diusulkan menjadi USD 80/barel.4 triliun (akhir era Soeharto) atau Rp 279.034 juta barel/hari menjadi 910 ribu barel/hari. Rapat kerja itu menyepakati agar Pemerintah segera menyampaikan rancangan perubahan APBN bila dianggap perlu. Indikator penerimaan pajak tentu yang terpenting. Dengan demikian dapat diketahui berapa besar faktor resiko yang dapat dikendalikan dalam pelaksanaan APBN dan berapa resiko-resiko yang di luar kemampuan Pemerintah mengendalikannya. Pasal 27 ayat 1 dan 2.8% tahun 2008 merupakan target ambitious paling tinggi selama reformasi.6 triliun (dari Rp 854. perkembangan ekonomi tentu lebih baik. yang disepakati tiga bulan lalu. ternyata belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara seimbang karena rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi (rate of growth) hanya 14% pertahun pada periode sama. Dengan demikian. APBN 2008 dapat dikatakan sebagai APBN yang pro-growth with cautious (hati-hati). yang seharusnya di bawah kontrol Pemerintah pun.2 triliun.terpencil. kondisi BUMN. Pemerintah menggunakan Pasal 27 ayat 3 UU itu yang memberi peluang perubahan karena perkembangan ekonomi makro yang tidak sesuai dengan asumsi APBN. dan transfer daerah. pemerintahan SBY-JK di akhir tahun 2008 mungkin makin mewujudkan janji-janji kampanyenya: negara makin kuat dan rakyat makin sejahtera. bencana alam dan kebijakan pensiun dan jaminan sosial.3 triliun) dan belanja negara menjadi Rp 910. Menteri Keuangan. defisit APBN menjadi Rp 87. Belum lama RAPBN 2008 menjadi APBN 2008. Bila pola ini diikuti APBD-APBD tahun 2008 di seluruh Indonesia. Pemerintah dapat melakukan pengeluaran yang belum tersedia anggarannya dan diusulkan dalam rancangan perubahan APBN. Dari segi perencanaan. menjadi Rp 583.2%. Terkait langsung APBN adalah harga minyak dunia. Pertumbuhan penerimaan pajak rata-rata 18. Pemerintah percaya pada angka USD 60/barel. tetapi BI tidak mampu memfasilitasi pengembangan bank-bank nasional ke luar negeri. dibanding APBN-P 2007 yang Rp 86. Dua hari sebelumnya. misalnya. karena target pertumbuhan ekonomi 6. Perkiraan Awal APBN 2008 disampaikan Departemen Keuangan pada Rapat Kerja Panitia Anggaran DPR. dan. karena untuk pertama kali Presiden menyebut secara eksplisit faktor resiko sebagai bagian integral dalam perencanaan APBN. Menurut ayat 4. didampingi Menteri PPN/Bappenas. pangan. program penjaminan.7 triliun dalam RAPBN 2008. resmi menyampaikan Perkiraan Perubahan APBN 2008 pada Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR. Target ini sebenarnya lebih rendah dari target yang ditetapkan dalam RPJMN yaitu sebesar 7.7% menjadi 2. mengapa asumsi makro yang belum lama disetujui menjadi tidak valid? Apakah kemampuan . Menurut UU Nomor 17/2003 tentang Keuangan Negara.0% terhadap PDB. rencana perubahan ini jelas di luar jadwal. seperti resiko perubahan pada asumsi makro. perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. yang sejak pertengahan tahun lalu melonjak di luar perkiraan. RAPBN 2008 itu kemudian disepakati dengan beberapa perubahan menjadi Undang-Undang pada Sidang Paripurna DPR tanggal 9 Oktober 2007. perubahan APBN dilakukan bersamaan Laporan Realisasi Semester I APBN. Namun. kenaikan harga minyak dunia. Tetapi di APBN 2008.2% pertahun selama lima tahun ini. listrik. menurut ayat 1. Pada 4 Februari 2008. Tiga alasan Pemerintah atas perubahan ini: pertama. Besaran RAPBN 2008 menggambarkan pertumbuhan ekonomi cukup signifikan. Artinya.3 triliun (dari APBN 2008 Rp 781. Alokasi belanja negara tahun 2008 untuk infrastruktur ekonomi yang makin besar seperti belanja modal Rp 101.2 triliun pada APBN 2004 (akhir era Megawati). sampai berapa besar pihak asing boleh menguasai aset perbankan nasional. kedua.Pro-growth.3 triliun) atau dari 1. mulai diubah lagi. ketiga.3 triliun (dari Rp 73. Pendapatan negara bertambah. disampaikan ke DPR paling lambat akhir Juli. total pajak pada APBN 1998/1999 sekitar Rp 102. Gubernur BI dan Kepala BPS. Misalnya. Hati-hati. menjadi Rp 823. Pertanyaannya. Belanja negara membengkak karena subsidi BBM. Ke depan tampaknya perlu penguatan dalam bentuk regulasi undang-undang agar perbankan nasional mampu menjadi tuan di negara sendiri sekaligus menjadi bank dalam skala internasional. Faktor-faktor ini seharusnya dapat terukur kontribusinya dan tidak boleh menjadi alasan ‘cuci tangan’ (escape clause) bila target-target APBN 2008 tidak tercapai.

ketertiban. dalam hal rencana APBN atas pertumbuhan ekonomi. Kompetisi antar pemerintahan lintas periode atau antar pemimpin politik dalam tiap pemilu seharusnya memang diarahkan pada pengukuran kualitas kinerja sebagai implikasi pemilihan kebijakan dan kemampuan mengelola pemerintahan.3%.8%. Pada tahun 2005.2%. Pertumbuhan ekonomi memang bukan satu-satunya ukuran atas kinerja suatu pemerintahan. Dalam menegakkan politik anggaran yang sehat. pertumbuhan ekonomi direncanakan mencapai angka 6%. ke depan. APBN yang sehat harus selalu dapat dievaluasi dan berorientasikan sesuai amanat konstitusi negara. Karena implikasi pelaksanaan bergantung pada rumusan perencanaan. keamanan. memang dimungkinkan untuk melakukan perubahan. .6%. ternyata realisasinya hanya 5. kemampuan memformulasi faktor resiko sebagai bagian inklusif sistem APBN mendapat perhatian yang lebih serius. kemiskinan. kemampuan perencanaan Pemerintah jelas harus ditingkatkan untuk menjaga akuntabilitas Pemerintah. Kinerja itu. tetapi angka realisasi yang rendah justru menunjukkan kemampuan kerja atau kinerja Pemerintah karena pelaksanaan anggaran adalah tanggung jawab Pemerintah. kinerja yang baik haruslah memperoleh reward dan sebaliknya kinerja yang buruk layak memperoleh punishment. yang kemudian diubah menjadi 5. Karena rencana harus sesuai realitas. Pemerintahan sebagai bagian sistem politik nasional dapat saja dan akan berganti. Yang menarik. yang menghendaki perwujudan sasaran harus sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam kesepakatan perencanaan. evaluasi kinerja APBN ternyata belum menjadi praktek dalam politik anggaran negara. Kiranya. APBN (dan juga APBD) sebagai jangkar utama kinerja pemerintahan di Indonesia seharusnya dapat dijadikan alat bagi mendorong kemajuan ekonomi bangsa untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. kenyataannya Pemerintah mampu mengangkatnya menjadi 6. harus menjadi perhatian terutama bagi mereka yang pemegang otoritas yang bertanggung jawab atas kemajuan perekonomian karena tantangan pencapaian target pertumbuhan ekonomi pada pada dua tahun terkahir ini akan menentukan apakah target ratarata pertumbuhan ekonomi pemerintahan SBY-JK dapat dicapai. Tidak boleh dibiarkan terus menerus kemakmuran rakyat dikorbankan karena kinerja buruk pelaksanaan APBN. Tahun 2006. Angkaangka perencanaan ekonomi seperti yang dirumuskan dalam APBN umumnya selalu lebih tinggi dari angka-angka pelaksanaan atau realisasinya. Kesimpulan Konsep penilaian kinerja suatu pemerintahan memang seharusnya mencakup wilayah perencanaan dan pelaksanaan. Sehingga setiap pemerintahan baru memperoleh catatan apa yang seharusnya diperbaiki. ekspektasi perencanaan APBN dan pelaksanaannya ternyata dua hal yang berbeda. kemajuan wilayah. kegairahan usaha. pendidikan. Ukuran-ukuran lain seperti tingkat pengangguran. misalnya.48%. tetapi pembangunan bangsa tetap berjalan senantiasa. Kinerja tahun 2008 dan 2009 tentu belum dapat dilihat. Evaluasi atas kinerja anggaran itu selayaknya bukan saja terkena pada pelaksana atau penanggungjawab anggaran tetapi juga seharusnya pada distribusi alokasi anggaran sehingga tujuan utama APBN untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sebagaimana amanat UUD NRI 1945 dapat diwujudkan. pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 6. yang tidak sempat dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya. rencana APBN sebesar 6. walau sejak tahun 2005 penyusunan APBN mulai menerapkan pola anggaran berbasis kinerja (performance based budgeting). dan tentu juga DPR karena APBN ditetapkan Pemerintah bersama DPR. ternyata realisasinya tetap lebih rendah yaitu sebesar 5. Angka perencanaan yang tinggi sebenarnya dapat dipandang sebagai ambisi politik Pemerintah. Dalam praktek. kesehatan. Walaupun demikian. Konsep perencanaan pembangunan ekonomi yang berkesinambungan seperti dirumuskan dalam Undang-Undang tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional sesungguhnya lebih menjelaskan kewajiban setiap pemerintahan untuk melanjutkan pembangunan ekonomi secara terus menerus. menurut Undang-Undang tentang Keuangan Negara.kita memprediksi perekonomian setahun ke depan menurun drastis? Padahal Presiden dalam Nota keuangan 16 Agustus 2007 menyebut komponen resiko agar embodied dalam APBN. Pemerintah yang meneruskan kebijakan yang dirumuskan oleh Pemerintah sebelumnya. kebanggaan berbangsa dan seterusnya dapat saja dijadikan variabel untuk menilai kinerja suatu pemerintahan secara lebih komprehensif.33%. kemajuan budaya dan seni. dalam hal ini APBN. Kinerja pada tahun 2007 jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful