P. 1
KEP biologi

KEP biologi

|Views: 1,316|Likes:
Published by causahrul

More info:

Categories:Types, Reviews, Book
Published by: causahrul on Dec 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2013

pdf

text

original

ABSTRAK

Risnawati. Biologi Keperawatan Abstrak Sitogenetika: Berasal dari kata Sitologi: Ilmu yang mempelajari struktur, fungsi, perkembangan, reproduksi, dan sejarah hidup dari sel; Genetika: Ilmu yang mempelajari struktur materi genetik, replikasi dan transmisi materi genetik, mutasi, dan segregasi gengen dari tetua (parental) kepada keturunannya; Sitogenetika: Merupakan ilmu yang berkembang dari ilmu pengetahuan sitologi dan genetika. Ilmu ini mempelajari perilaku kromosom-kromosom selama mitosis dan meiosis, hubungan kromosom dengan transmisi dan rekombinasi dari gen-gen, dan mempelajari penyebab serta akibat dari perubahan struktur dan jumlah kromosom Hereditas Mendel: Percobaan hukum Mendel menggunakan kacang ercis yaitu: mudah untuk dilakukan persilangan, cepat menghasilkan keturunan, memiliki pasangan-pasangan yang mencolok (bersifat galur murni), menghasilkan banyak keturunan, daur hidupnya pendek (cepat menghasilkan keturunan). Hukum Mendel ada 2 yaitu: Hukum Mendel I yaitu hukum segregasi menyatakan bahwa pasanganpasangan alel selama pembentukan gamet dan berpasangan kembali secara acak pada saat fertilisasi antar gamet;Hukum Mendel II yaitu hukum pemisahan bebas menyatakan bahwa pada persilangan dengan dua sifat beda atau lebih maka sifat yang sepasang tidak tergantung dengan sifat pasangannya. Macam-macam Persilangan: Persilangan Monohibrid adalah persilangan antar induk yang memiliki satu sifat beda. Aberasi Kromosom: Penyimpangan struktur atau jumlah kromosom dari keadaan yang normal. Aberasi kromosom dapat terjadi secara spontan atau diinduksi oleh mutagen kimiawi, radiasi dan sebagainya. Aberasi kromosom dapat dideteksi secara sitologis selama pembelahan mitosis dan meiosis yaitu dengan membuat kariotip. Probabilitas adalah ekspresi matematis dari kemungkinan (chance), yakni merupakan rasio atau perbandingan dari jumlah kejadian dari suatu peristiwa dengan jumlah dari semua kemungkinan yang dapat terjadi. Darah diklasifikasikan menjadi empat kelompok utama berdasarkan antigen permukaan sel darah merah, antibodi yang bersirkulasi dalam plasma, dan ada tidaknya antigen Rhesus (D). Gen-gen yang mengkode antigen memiliki tiga alel, yaitu A, B, dan O. Gen A dan B merupakan ko-domain sehingga dapat muncul bersama-sama, tetapi jika A atau B berpasangan dengan O, maka fenotipe O tidak diekspresikan.

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas segala nikmat iman, rahmat dan hidayah-Nya yang telah diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan resume Biologi Keperawatan ini walaupun dalam bentuk yang sederhana. Teriring pula salam dan syalawat kepada junjungan kami Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya. Banyak hal yang diperoleh penulis selama melaksanakan prosedur pemunculan ide penulisan dan pengolahan usulan resume hingga selesainya penyusunan makalah proposal ini, dan hal tersebut menjadi suatu tantangan yang dapat memotivasi penulis untuk menyelesaikan penyusunannya.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis sampaikan resume ini kepada dunia pendidikan, khususnya bidang keperawatan, walaupun penulis menyadari bahwa resume ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki penulis, olehnya itu diharapkan adanya saran dan kritikan yang sifatnya membangun dari semua pihak. Semoga ini dapat bermanfaat dan mendapat pahala di sisi Allah SWT. Amin. Makassar, Desember 2010

Penulis

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL................................................................................................ ABSTRAK ............................................................................................................... KATA PENGANTAR ............................................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................................ DAFTAR TABEL .................................................................................................... DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... PENDAHULUAN Latar Belakang ............................................................................................ Hipotesa ....................................................................................................... Tujuan dan Kegunaan ................................................................................... 1 3 3 i ii iii iv vi vii

TINJAUAN PUSTAKA Genetika dan Karakteristik Sapi Perah Friesh Holland ................................. Tinjauan Umum Susu ................................................................................... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Air Susu ................................. Periode Laktasi ............................................................................................. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat........................................................................................ Materi Penelitian .......................................................................................... Metode Penelitian ........................................................................................ 13 13 13 4 8 9 11

Parameter Yang Diukur ................................................................................ Analisa Data ................................................................................................. DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. LAMPIRAN..............................................................................................................

16 17 24

DAFTAR TABEL

Nomor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

Teks Genotif dan fenotipnya botak Hubungan antara usia ibu dengan resiko kelahiran trisomi 21 Terminologi golongan darah Fenotipe dan Genotipe pada penggolongan darah sisterm ABO Penggolongan darah sistem MN Sawar permukaan tubuh Komponen sistem imun Sel-sel sistem imun Faktor terlarut pada sistem imun Jenis imunoglubin dalam serum manusia Jadwal imunisasi untuk anak-anak Imunoglobin spesifik imunisasi pasif Golongan darah manusia Perkembangan janin perbulan Perbandingan zat gizi dalam beberapa jenis susu Alat dan mekanisme kerja alat KB yang digunakan untuk

Halaman

DAFTAR GAMBAR

Nomor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Teks Struktur pengemasan DNA pada kromosom Bentuk-bentuk kromosom Klasifikasi kromosom manusia Pasangan gen alel Daur mitosis Pembelahan meiosis Gametogenesis Pembelahan miosis Balanced translocation Struktur reproduksi laki-laki Sistem reproduksi wanita dan uterus pada manusia

Halaman

PENDAHULUAN Di sekitar kita terdapat beragam variasi yang kita lihat, baik pada manusia, hewan, dan tumbuhan. Dalam satu keluarga kita misalnya, terdapat beragam variasi sifat yang diturunkan orangtua kepada kita. Mungkin ada yang berambut keriting, lurus maupun ikal. Hal tersebut semuanya disebabkan oleh faktor keturunan atau yang biasa kita kenal sebagai gen. Ilmu yang mempelajari gen disebut genetika dimana Gregor Mendel adalah ahli genetiknya. Kemudian mendel mengemukakan 2 teorinya yaitu teori mendel yang pertama mengenai hukum segregasi dimana pada waktu pembentukan gamet terjadi segregasi atau pemisahan alel alel secara bebas, dari diploid menjadi haploid. Contoh dari teori mendel yang pertama adalah pada persilangan monohibrid. Teori mendel yang kedua dinamakan juga hukum penggabungan bebas mengenai ketentuan penggabungan bebas yang harus menyertai terbentuknya gamet pada perkawinan dihibrid. Contoh dari teori mendel kedua yaitu pada persilangan dihibrid. Namun pada hukum mendel juga terdapat penyimpangan, penyimpangan tersebut dikarenakan adanya interaksi antar alel dan genetik, juga adanya tautan dan pindah silang. Salah satu contoh dari penyimpangan hukum mendel pautan yaitu gen tertaut kromosom X. Gen tertaut kromosom X adalah gen yang terdapat pada kromosom X. Gen tertaut kromosom X merupaka gen tertau tidak sempurna. Pada perempuan yang memiliki susunan kromosom kelamin XX, terdapat kromosom seks yang bener bener homolog. Hal ini menyebabkan hukum hukum dominansi dan resesif bagi sifat sifat yang ditentukan oleh gen gen tertaut hukum X pada perempuan sama dengan sifat sifat yang ditentukan oleh gen gen pada autosom. Dan biasanya gen gen yang tertaut pada kromosom X ini banyak terdapat pada pria. Contoh dari gen tertaut kromosom X adalah penderita anodontia. Di mana anodontia adalah suatu keadaan di mana semua benih gigi tidak terbentuk sama sekali, dan merupakan suatu kelainan yang sangat jarang terjadi. Anodontia dapat terjadi hanya pada periode gigi tetap/permanen, walaupun semua gigi sulung terbentuk dalam jumlah yang lengkap. Sedangkan bila yang tidak terbentuk hanya beberapa gigi saja, keadaan tersebut disebut hypodontia atau oligodontia. Hereditas juga terdapat pada golongan darah, di mana golongan darah dibedakan menjadi empat golongan yaitu A, B, AB dan O

BAB I SITOGENETIKA

I.1 LOKASI GEN/DNA DALAM KROMOSOM Unit herediter yang mengarahkan atau menentukan pembentukan sifatsifat tubuh dengan cara mengatur proses metabolisme dan diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya disebut gen. Istilah ini diberikan oleh Johanssen (bukan oleh Mendel). Dan istilah ini dibentuk kata “genetika” (genesis artinya kejadian).Kinii diketahui bahwa gen adalah suatu segmen dari DNA yang mengarahkan pembentukan (sintesis) suatu polipeptida tertentu (satu gen-satu polipeptida). Cukup banyak bukti yang dikemukakan oleh ahli genetika, bahwa gen/DNA berlokus di dalam kromosom. Beberapa persyaratan utama dari DNA sebagai material genetik bersesuaian dengan sifat kromosom, antara lain struktur kromosom stabil (meskipun seperti DNA dapat pula mengalami mutasi), kromosom dapat bereproduksi/replikasi dan dapat diwariskan secara konsisten dari sel ke sel (mitosis) dan dari generasi ke generasi berikutnya, oleh reproduksi seksualis dan vegetatif. Perilaku kromosom dalam pembentukan gamet (meiosis) dan fertilisasi bersesuaian pula dengan hukum segregasi dan hukum Asortasii Bebas dari Mendel. Tiga segmen DNA yang merupakan 3 gen yang berurutan, terpaut tinier pada molekul DNA diberi sandi genetik A, B, dan C. Letak gen A pada DNA yang mengambil tempat tertentu di kromosom disebut lokus gen A.

Seluruh gen/DNA yang terdapat pada ke 23 pasang kromosom manusia disebut genom. Karena pakar-pakar biologi molekuler berusaha membuat peta gen manusia. Human Genomen Project (HGP) yang dimulai sekitar tahun 1980 bertujuan untuk mendeteksi secara total informasi genetik (ger vane berada di 23 perangkat kromosom (genom) dan lokasinya dalam setiap kromosom (peta gen). Jika susunan kimia dan dari segmen DNA, umpama gen A mengalami perubahan secara alamiah atau oleh pengaruh radiasi UV, sinar X, gamma, partikelradioaktif zat mutagen dan lain-lain, maka peristiwa ini disebut mutasi gen. Gen mutasi ini diberi sandi a huruf kecil yang sejenis. Gen A bermutasi menjadi a. Suatu mutasi balik (point mutation) pada manusia, dimana asam glutamik pada polipeptida dari hemoglobin A normal diganti oleh asam amino valin, sehingga mengakibatkan eritrosit normal yang berbentuk bikonkaf menjadi bentuk sabit dan orang ini disebut menderita sicklemia (sicklecells disease). I.2 ORGANISASI DNA Jumlah DNA di dalam genom haploid merupakan ciri khas bagi setiap spesies. Pada manusia terhadap 275 x 109 (bp = base pairs atau pasangan basa) didalam genom haploida. Dihitung dari jumlah pasangan base ini, diperkirakan bahwa jumlah panjang DNA di dalam satu genom haploid dari satu set adaalah 97 cm. Dapat diambil kesimpulan bahwa molekul DNA tidak mungkin terentang memanjang di dalam kromosom yang jauh lebih pendek dibanding panjang molekul DNA. Untuk dapat termuat didalam ruang kromosom, maka molekul DNA melingkar padat. Tiap kromosom mengandung asam molekul rantai

double helix DNA yang linier dan, tidak terputus-putus melingkar dan ujung ke ujung kromosom. Struktur kromosom dibentuk terutama pada protein histon. DNA, dan protein non histon. Peranan protein histon ini ialah mengikat DNA didalam kromosom. Pada sebuah kromosom terdapat dua kali lebih banyak protein histon dibanding jumlah DNA dengan protein disebut kromatin. Ada 2 macam kromatin, yakni eukromatin dan heterokromatin. Eukromatin berkondensasi selama pembelahan sel mitosis dan memanjang kembali pada waktu interfase. Heterokromatin tetap berkondensasi selama daur mitosis. Eukkromatin aktif berfungsi sedang heterokromatin tidak aktif secara genetik. Pada fase S dan daur mitosis eukromatin bereplikasi lebih dahulu dari heterokromatin. Ada beberapa tingkat pengemasan (packing) rantai heliks DNA di dalam kromosom, sehingga memungkinkan kromosom menempati ruang nukleus yang terbatas. Panjang kromosom dapat beberapa mm atau cm sedang diameter nukleus hanya beberapa mikrometer. Tingkat pengemasan yang sederhana ialah melingkarnya DNA disekeliling suatu batang histon dalam suatu struktur disebut nukleosom pada interfase. Lihat gambar 1.2 :

Gambar : 1.2 Struktur pengemasan DNA pada kromosom (suumber: substansigenetika.net)

Tingkat pengemasan yang tinggi terjadi pada kromosom metafase. Pelingkaran DNA lebih intensif dan terjadi pada tonjolan-tonjolan batang histon agar memperbanyak tempat lingkaran DNA. Diagram pengemasan DNA pada nukleosom. Bagian DNA yang menghubungkan lukleosom yang satu dengan tetanngganya disebut DNA penghubunng (linker DNA). I.3 MORFOLOGI DAN JUMLAH KROMOSOM Identitas setiap kromosom diketahui dengan jelas pada sediaan mikroskopis dan sel yang sedang membelah mitosis dalam stadium metafas : pada stadium metafase kromosom telah berkondensasi secara maksimal dan memencar dibidang equator sehingga morfologi setiap kromosom dapat dilihat dengan jelas, kromosom yang berada pada metafasesetiap telah mengalami replikasi DNA pada fase S dan kromosom telah berduplikasi terdiri atas 2

kromatid yang masih berpegang pada sentromer. Berdasarkan letak sentromer kromosom manusia dibagi atas 3 bentuk. a. Mentasentris jika sentroomer terletak dibagian tengah dan kromosom (lengan p dan q sama panjang) b. Submetasentris jika sentromen membagi lengan kromosom tidak sama panjang. Lengan p lebih pendek dari lengan q.
c. Telosentris jika sentromen berada di ujung kromosom. Adakalahnya di ujung

kromosom ini ada perpanjangan disebut set kromosom.

Gambar : 1.3 Bentuk-bentuk kromosom (Sumber http://substansigenetika.net)

Berdasarkan morfologi kromosom, diketahui bahwa

tiap kromosom

mempunyai pasangan yang berbentuk sama, kecuali sepasang kromosom kelamin X dan Y pada sel lakii-laki. Sepasang kromosom yang berbentuk sama disebut sepasang kromosom homolog. Kromosom yang satu dibawa oleh spermatozoa disebut kromosom paternal, dan pasangannya dibawa oleh ovum disebut kromosom maternal pada waktu fertilisasi. Karena kromosom

berpasangan, mak jumlah kromosom pada set soma dan bakal sel kelamin (gametogonium) senantiasa genap. Setiap individu anggota suatu species mempunyai jumlah kromosom yang tetap dan khas (dalam keadaan normal), sebagai contoh sapiens mempunyai 46 kromosom (23 pasang) dalam setiap sel soma atau bakal sel kelamin. Jika ada n passang kromosom dalam sebuah sel, maka jumlah kromosom adalah 2n. Set yang mengandung 2n kromosom disebut diploid dan set yang hanya mengandung n kromosom (sel kelamin) disebut haploid. Pada beberapa spesies, termasuk manusia jenis kelamin laki-laki = tak jantang ditentukan oleh sepasang kromosom yang heteromorfik, artinya berbedaF bentuk. Kromosom ini disebut kromosom kelamin, yakni yang satu kromosom X dan yang lain kromosom Y. Pada perempuan, jenis kelamin ditentukan oleh 2 kromosom X. Laki-laki adalah heterogametik karena menghasilkan 2 macam gamet, yakni yang satu mengandung kromosom X dan yang lain mengandung kromosom Y. Perempuan adalah homogametik. Setiap ovum mengandung satu kromosom X. Kromosom lain disebut kromosom autosom. Pada manusia ada 22 pasang kromosom autosom. (A) dan 1 pasang kromosom kelamin. Laki-laki ditulis 44A + XY- dan perempuan 44A + XX. I.4 KROMOSOM MANUSIA YANG NORMAL Klasifikasi kromosom manusia mula-mula dilakukan pada tahun 1960 oleh para ahli sitogenetika manusia di kota Denver, Colorado, sehingga disebut “Klasifikasi Denvee". Klasifikasi ini membagi kromosom manusia dalam 7 kelompok, diidentifikasi dengan huruf A, B, C, D, E, F, dan G. Pengelompokan

didasarkan terutama atas panjang kromosom dan letak sentromer pada fase metafase dan pembelahan mitosis. Tiap kromosom diberi nomor mulai dari nomor 1 sampai dengan nomor 22 untuk kromosom autosom dan huruf besar X dan Y untuk kromosom kelamin. Kelompok A adalah kromosom nomor 1, 2 dan 3 Kelompok B adalah kromosom nomor 4 dan 5 Kelompok C adalah kromosom nomor 6 sampai dengan 12 Kelompok D adalah kromosom nomor 13, 14 dan 15 Kelompok E adalah kromosom nomor 16, 17 dan 18 Kelompok F adalah kromosom nomor 19 dan 20 Kelompok G adalah kromosom nomor 21 dan 22 Klasifikasi kromosom dimantapkan kembali pada tahun 1966 di konferensi Chicago. Klasifikasi Denver dan Chicago disempurnakan lagi pada tahun 1971 di kota Paris, Perancis dalam suatu konferensi yang melakukan standarisasi sitogenetika manusia. Dalam konferensi tersebut telah ditetapkan standar penggunaan simbol atau tanda-tanda untuk kelainan atau struktur kromosom.

Gambar: 1.4 Klasifikasi kromosom manusia (Sumber http://substansigenetika.net)

Klasifikasi kromosom digunakan untuk melakukan analisis kromosom dengan membuat kariotipe dari seorang pasien. Kariotipe dibuat untuk mengetahui apakah pasien menderita kelainan genetik disebabkan oleh aberasi kromosom. I.5 PASANGAN GEN ALEL PADA PASANGAN KROMOSOM HOMOLOG Jika suatu gen A (suatu segmen dan DNA) berlokus pada sebuah kromosom paternal pada lokus yang sama dari kromosom maternal yang sehomolog juga terdapat gen A yang sama atau gen mutan a. Jadi ada 3 kemungkinan pasangan gen pada lokus yang sama (gambar I.4)

P = kromosom paternal M = kromosom maternal Gambar 1.5 Pasangan gen alel Pasangan gen yang berlokus sama pasa sepasang kromosom homolog disebut sepasang gen alel atau dapat dikatakan bahwa sepasang gen alel berada pada satu lokus. Jika pasangan gen alel sama disebut homozigot (AA dan aa) dan jika berbeda disebut heterozigot (Aa). Jika pada genotif heterozigot Aa gen A berfungsi membentuk fenotip sedang gen a tidak, maka gen A bertindak dominan dan gen a adalah resesif. Dalam keadaan demikian genotip AA dan Aa berfenotip sama pada genotip aa berfenotip lain. Jika gen A dan a dalam keadaan heterozigot kedua-duanya berfungsi menentukan fenotip maka kedua gen tersebut adalah kodominan. Dalam hal ini genotip M, Aa dan as masing-masing

berlainan fenotipnya. Dari sekian triliun jumlah sel dari seorang dewasa, semuanya berasal dari satu sel, yakni zigot, dengan cara pembelahan mitosis. Daur mitosis diperlihatkan pada gambar I.5.

Gambar : 1.6 Daur mitosis (Sumber http://substansigenetika.net) Pada fase S dan daur mitosis DNA bereplikasi, sehingga kedua anak DNA mempunyai susunan kimia yang sama dengan induk DNA. Dengan kata lain setiap gen didua kalikan. Kemudian kromosom berduplikasi menjadi 2 kromatid yang sampai pada metafase masih berpegang di sentromer, sehingga tiap kromosom terdiri atas 2 kromatid. Kedua anak DNA yang terbentuk terpisah pada kedua kromatid. Jadi kedua kromatid dari sebuah kromosom mempunyai gen yang sama. Perhatikan perilaku gen-gen dan kromosom pada 2 pasang kromosom homolog selama pembelahan mitosis. Perkembangan tubuh individu dimulai dari pembelahan zigot secara mitosis menjadi 2 sel kemudian berlanjut berulang-ulang sampai terbentuk beberapa triliun sel pada orang yang telah dewasa. Semua sel tersebut mempunyai genotip sama. Hal ini disebabkan oleh replikasi DNA dan dibagi sama pada kedua annak sel. Meskipun kemudian sel-sel berdiferensiasi menjadi berbagai jenis set yang mengambil bentuk dann fungsi yang khusus; seperti set

otot, epitel, saraf tulang dan lain-lain semuanya tetap mempunyai gen yang sama dengan zigot. Jadi gen yang menentukan mata tidak hanya terdapat pada sel-sel akan tetapi berada pada semua sel termasuk sel-sel kaki.

Gambar 1.7 Pembelahan meiosis (Sumber http://substansigenetika.net) I.6 KLON Sekelompok sel yang berasal dari satu sel oleh pembelahan mitosis mempunyai genotip lama disebut klon. Bakteri E.coli dapat klon setelah dilakukan manipulasi genetik (rekayasa genetik) untuk menghasilkan insulin manusia. Tahun 1996 peneliti Jan Wilmut di Institut Roslin, Scotlan telah berhasil mengklon sel epitel kambing domba dan dikembangkan dengan rekayasa genetik menjadi domba utuh, yang diberi nama Dolly. Genotip Dolly sama dengan genotip domba dimana sel epitel diambil dan diklon menjadi Dolly. Peneliti Wolf di Amerika Serikat telah berhasil menciptakan monyet melalui proses kloning embrio. Monyet yang lahir diklon dari sel embrio dan bukan dari sel binatang dewasa seperti pada Dolly. Pada tahun 1993 Dr, Jeny L. Hall dari Amerika Serikat telah berhasil memisahkan sel-sel embrio manusia dan mengembangkannya menjadi beberapa

embrio. Bakal sel kelamin (gametogonium) pada manusia adalah produk pembelahan sel secara mitosis, sehingga bergenotip sama ddengan zigot (diploid=2n kromosom). Gametogenesis (proses pembentukan gamet dan gametogonium) pada manusia terdiri atas spermatogenesis pada laki-laki dan oogenesis pada wanita, Spermatozea dan ovum yang terbentuk adalah haploid. Terjadinya sel haploid disebabkan oleh berpisahnya pasangan kromosom homolog pada pembelahan Miosis I, yakni pada waktu oosit I mengalami pembelahan sel meiosis I menjadi 2 anak sel oosit II dan pada waktu spermatosit I membelah menjadi 2 anak sel oosit II dan pada waktu spermatosit I membelah menjadi 2 spermatosit II. Kromosom paternal pada oosit I mendatangi anak sel oosit II, sedang kromosom maternal mendatangi polosit I atau sebaliknya. Demikian pula halnya yang terjadi pada spermatosit II, dimana setiap pasangan kromosom homolog berpisah ke kedua spermatosit II yang terbentuk. Pada meiosis II dan oogenesis kedua kromatid yang membentuk sebuah kromosom berpisah ke kedua anak sel, yakni ootid, dan polosit II, sedang pada spermatogenesis kedua kromatid berpisah ke kedua spermatid. Proses spermiogenesis atau metamorphosis tidak lagi berpengaruh terhadap kromosom.

Gambar : 1.8 Gametogenesis (Sumber http://substansigenetika.net)

perilaku kromosom pada miosis pertama dimana tiap pasangan kromosom homolog berpisah bersesuaian dengan hukum Segregasi dari Mendel. Pemisahan tiap pasangan kromosom homolog terjadi secara acak, sehingga anak sel miosis pertama (oosit II dan spermatosit II) dapat mengandung berbagai kombinasi dari kromosom paternal dan maternal. Hal ini bersesuaian dengan Hukum Asortasi bebas dari Mendel. Untuk lebih jelasnya lihat diagram pembelahan sel miosis pada spermatogenesis dalam gambar I.7A

Gambar : 1.9 Pembelahan miosis (spermatogenesis) (Sumber http://substansigenetika.net)

Skema ringkas tentang 2 kemungkinan segregasi kromosom homolog tanpa terjadi pindah silang. Gamet yang terbentuk, ialah salah satu dari kedua kemungkinan tersebut. Hal ini menjelaskan bahwa dalam keadaan heterozigot satu spermatosit I atau satu oosit I hanya dapat menghasilkan 2 macam gamet. Dua pasang gen alel atau lebih yang berlokus pada sebuah kromosom disebut sintenik. Jika chiasma berada diantara kedua gen alel sintenik yang heterogizot maka pindah silang memperkaya jenis genotip dari gamet yang dihasilkan. Menurut perhitungan, rata-rata pada sebuah pasang kromosom homolog manusia terdapat 40 gel alel yang bergenotip heterozigot. Jika tidak terjadi pindah silang pada ke 23 pasang kromosom homolog, maka dapat diperoleh 223 gamet yang dihasilkan (223 = 8.388.608). Jika terjadi pindah silang tunggal disetiap antara kedua lokus gen sintetik yang berdekatan, maka setiap pasang kromosom homolog pada akhir meiosis menghasilkan 80 macam kombinasi (2 non=cross over dan 78 cross over). Karena pada pembelahan meiosis I letak masing-masing tetrad pada bidang ekuator secara acak sehingga kromosom

homolog berpisah secara acak, maka jenis gamet yang dapat dihasilkan ialah 2380 [2380 = 823 x 1023 (223) x 1023 = (8.388,608)3 x 103]. Sekedar mendapat gambaran kita sederhanakan dengan pembulatan ke bawah untuk memudahkan perhitungan, yakni angka 8.388.608 dikalikan 8.300.000, maka diperoleh (8.300.000)3x1023= 58838700.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 jenis gamet yang dapat dihasilkan. Satu kali ejakulasi pada pria “hanya” mengandung kurang lebih 200-300 juta spermatozoa, sedang pada wanita setiap ovulasi umumnya hanya satu ovum. Dapat dimengerti bahwa praktis setiap spermatozoa dan setiap ovum yang dihasilkan selama hidup, tidak ada yang bergenotip sama sehingga setiap individu hasil reproduksi seksualis mempunyai genotip dan fenotip yang unik (kecuali kembar monozigotik atau produk kloning). Heterozigot, pindah silang, meiosis dan fertilisasi memperkaya variabilitas dikalangan makhluk hidup. I.7 DETERMINASI SEKS Sepasang kromosom kelamin XX pada wanita dan sepasang kromosom kelamin XY pada laki-laki berpisah pula pada meiosis pertama, ke anak sel yang berbeda. Dengan demikian wanita adalah homogametik, artinya setiap ovum yang terbentuk mengandung satu kromosom X. Laki-laki adalah heterogametik, karena menghasilkan spermatozoa yang berbeda 50% dari spermatozoa mengandung kromosom X dan 50% lain mengandung kromosom Y. Jika ovum a mengandung kromosom X dibuahi oleh spermatozoa yang mengandung kromosom X maka individu yang berkembang dari zigot ini mengandung

kromosom XX yang akan menjadi wanita. Jika ovum dibuahi oleh spermatozoa yang mengandung Y, maka zigot XY akan berkembang menjadi laki-laki. Untuk lebih memahami perilaku kromosom kelamin dan kromosom autosom sejak pembentukan gamet laki-laki dan perempuan, sampai menjadi individu dewasa diperlihatkan pada gambar I.14A. Pada gambar tersebut diperlihatkan 1 pasang kromosom kelamin dan 2 pasang kromosom autosom.

BAB II HEREDITAS MENDEL

II.1 INTISARI TEORI DAN HUKUM MENDEL Hukum-hukum mendel yang terungkap dari hasil penelitiannya pada kacang ercis, ternyata berlaku pula pada manusia. Eksperimen Mendel - Monohibrida Pisum sativum berbunga putih yang murni (artinya biji diperoleh dari hasil perkawinan sendiri setelah beberapa generasi dilakukan perkawinan sendiri tetap menghasilkan bunga berwarna putih), demikian pula cara memperoleh biji dari tanaman berbunga ungu. P F1 : putih (♂) x ungu (♀) : ungu : ungu 750 perbandingan kesimpulan Mendel:
a. Ada unit penentu sifat yang menyebabkan masing-masing warna putih dan

F2 (hasil perkawinan sendiri F1)

: :

putih 224

3

: 1

ungu. Unit penentu sifat oleh Johannsen disebut gen. b. Semua F1 berbunga ungu, akan tetapi setelah dilakukan perkawinan sendiri dikalangan F1 maka diperoleh kembali warna putih. Hal ini membuktikan bahwa gen penyebab putih terdapat pula pada F1 bersama-sama dengan gen penyebab ungu, tetapi gen putih tidak terekspresi menjadi fenotip.

c. Pada point b di atas ditarik lagi kesimpulan bahwa: 1. Jika pada ungu F1 terdapat 2 gen (satu gen penentu ungu dan satu gen penentu putih. Kini kita sebut sepasang gen alel). Maka tentu semua fenotip pada P. F1 dan F2 ditentukan oleh sepasang gen alel. 2. Bertentangan dengan dugaan sebelum Mendel bahwa gen dari induk jantan dan induk betina melebur menjadi satu (blending) pada F1. Mendel berkesimpulan bahwa gen putih, dan gen ungu tidak melebur pada F1, sebab warna bunga F1 tetap ungu sama dengan induk betina (jika gen-gen melebur, seharusnya warna bunga F1 adalah antara ungu dan putih, yakni ungu muda). Lebih lanjut pada F2 diperoleh kembali warna putih, mana mungkin gen penentu putih diwariskan ke F2 jika gen ini sudah melebur menjadi satu dengan gen penentu ungu di F1. Jadi masing-masing gen tetap pada F1 sehingga memungkinkan adanya ungu dan putih di F2.
d. Pada point c2 di atas ini ditarik pula kesimpulan bahwa kedua gen pada F1

memisah (dapat memisah karena tidak melebur) pada pembentukan gamet (sel kelamin). Lahirlah Hukum Segregasi dari Mendel (segregasi artinya memisah). Oleh karena itu pula maka jika bakal sel kelamin adalah diploid (2n), maka pada sel kelamin menjadi haploid (a).
e. Pembuahan gamet (♂) dengan gamet (♀) dari F1 yang menghasilkan F2

terjadi secara acak (random), artinya setiap gamet (♂) mempunyai kemungkinan yang sama membuahi suatu gamet (♀). Oleh karena itu rasio fenotip F2 memungkinkan perolehan 3 : 1.

f.

Pada F1 semua berbunga ungu, meskipun pada tanaman ini mengandung gen ungu dan gen putih. Gen penentu putih ternyata pasif atau tidak berpartisipasi dalam pembentukan warna ungu, jika berada bersama-sama dengan gen penentu ungu. Gen penentu ungulah yang aktif berfungsi menentukan warna. Mendel menyebut gen penentu ungu dominan dan gen penentu putih

resesif. Gen resesif putih baru dapat mengekspresikan dirinya (menyebabkan fenotip warna putih) jika tidak bersama-sama dengan gen dominan ungu. Adanya dominasi dari segregasi menyebabkan semua F1 berwarna ungu dan F2 memperlihatkan rasio fenotip 3:1. Keterangan gen dominan penentu ungu diberi sandi huruf A biasanya dalam genetika gen dominan diberi sandi huruf beesar dan gen resesif penentu putih diberi sandi a (huruf kecil). Gen A dan gen a merupakan sepasang gen alel yang menentukan sifat, yaitu warna. Huruf sandi harus menggunakan huruf sejenis dan hanya dibedakan dengan menulis huruf besar untuk dominan dan huruf kecil untuk resesif. Eksperimen Mendel: Dihibrida Mendel kemudian berpikir dan bertanya: bagaimana jika 2 sifat dibastarkan (dihibrida). Salah satu eksperimen dilakukannya sebagai berikut: P : Biji bernas berwarna hijau (d) X biji kisut berwarna kuning (y) F1: semua bernas kuning. F1 : (hasil perkawinan sendiri antara F1): 315 bernas, kuning : 9

108 bernas, hijau : 3 101 kisut, kuning : 3 32 kisut, hijau 1 Kesimpulan: Bernas : kisut = (315 + 108) : (101 + 32) = 423 : 133 = 3 : 1 Kuning : hijau = (315 + 101) : (108 + 32) = 416 : 140 = 3 : 1 Dari hasil pembatasan ini Mendel mengambil kesimpulan bahwa untuk masing-masing sifat tetap diwariskan menurut pola monohibrida, dan antara kedua sifat tersebut tidak ada saling pengaruh, yakni segregasi gen-gen dalam pembentukan gamet dan kombinasi gen-gen pada pembuahan terjadi secara acak (random). Dari segi matematika (probabilitas) 9 : 3 : 3 : 1 adalah hasil kombinasi acak (random) dari 2 rasio 3:1 yang bebas (independent). Dua rasio yang bebas jika dikombinasikan, maka diperoleh rasio baru dengan cara membuat perkalian antara rasio yang satu dengan rasio kedua. Jadi contoh perkawinan di atas diperoleh perbandingan fenotip ddi F2 adalah sebagai berikut: P BBHH x bbhh kisut hijau

Bernas, kuning Gamet : BH F1 BbHh

Gamet : bakal sel kelamin jantan dan bakal sel kelamin betina dari satu tanaman F1 adalah BbHh (pisum sativum) adalah monoecius sehingga dapat terjadi perkawinan sendiri.

II.2 GENETIKA MANUSIA Ternyata bahwa pola atau mekanisme pewarisan sifat pada tanaman seperti apa yang diketemukan oleh Mendel, berlaku pada semua makhluk yang bereproduksi secara seksualis, baik pada hewan maupun pada manusia. Manusia tentu tidak boleh diadakan eksperimen untuk mengetahui pola pewarisan sifat, akan tetapi dari hasil-hasil perkawinan dalam masyarakat dapat diambil kesimpulan bahwa pola penurunan sifat pada manusia dalam banyak hal mengikuti hukum-hukum Mendel. Contoh: albino pada manusia. Diketahui bahwa albino disebabkan oleh gen resesif autosom, sedang orang yang normal oleh gen dominan. Kelainan genetik ini diwariskan seperti pola pewaisan sifat pada Pisum sativum sesuai hukum Mendel. Beberapa contoh sebagai berikut: a. albino X albino = semua anak albino (aa) (umumnya albino steril) (aa) (aa) X albino (aa) = semua anak normal Heterozigot carrier (Aa)

b. Homozigot normal (AA)

c. Jika anak albino dari kedua orang tuanya normal, maka kedua orang tua tersebut bergenotip heterozigot (Aa). d. Jika Aa X aa = anak-anak ada yang normal dan ada pula yang albino e. AA X AA = semua anak normal f. AA X Aa = semua anak normal Contoh yang diberikan di atas berkenaan dengan sifat yang ditentukan oleh sepasang gen alel, dimana alel yang satu bertindak dominan, sedang alel lain resesif. Berdasarkan lokus gen perlu dibedakan gen yang berlokus di:

a. Kromosom autosom b. Kromosom kelamin (X dan Y) Sifat atau kelainan herditer yang disebabkan oleh sepasang gen alel dapat diklasifikasikan lebih lanjut berdasarkan lokus dan dominan resesif. ♀♂ II.3 PEDIGREE Data keluarga mengenai sifat atau kelainan herefiter disusun dalam suatu bentuk silsilah yang disebut pedigree. Simbol yang digunakan dalam pedigree. II.4 KRITERIA PEWARISAN SIFAT Sebagai contoh diperlihatkan pada pedigree (gambar II.4) dimana ada individu yang menderita Dentinogenesis imperfekcta disebabkan oleh gen dominan autosom. Insidens kelainan herditer tersebut 1 dari 8000 orang. Gen D dominan menyebabkan Dentinogenesis imperfecta dan gen alel d menyebabkan normal. Meskipun genotip heterozigot Dd dan homozigoc DD memperlihatkan fenotip sama akan tetapi di dalam dunia kedokteran praktis tidak diketemukan orang yang bergenotip homozigot DD, karena homozigot DD hanya diperoleh jika suami isteri menderita kelainan tersebut dan keduanya bergenotip heterozigot. Karena langkahnya kelainan ini maka dari segi statistik praktis tidak ada kemungkinan 2 orang bergenotip heterozigot Dd akan kawin. Perkawinan yang melahirkan anak menderita kelainan disebabkan oleh gen dominan, umumnya terjadi antara individu bergenotip heterozigot yang menderita dengan orang yang normal. Contoh perkawinan antara Dd (menderita) X dd (normal)

dapat diprediksi bahwa setiap kelahiran dihadapkan pada 50% kemungkinan menderita Dd dan 50% kemungkinan normal (dd). Orangtua Anak Dd Menderita : Dd (♂) x dd Normal dd (♀)

Suami istri normal : dd x dd tentu tidak mungkin melahirkan anak yang menderita. II.4.1 Gen dominan autosom
a. Sifat/kelainan tampak pada setiap generasi, kecuali jika terjadi mutasi

pada probandus. b. Setiap anak dan seorang yang menderita atau mempunyai sifat herediter disebabkan oleh gen dominan autosom beresiko sebesar 50% mewarisi sifat kelainan tersebut. c. Suami isteri yang normal & IA akan melahirkan anak yang menderita. d. Pola penurunan sifat/kelainan ini tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, artinya baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kemungkinan yang sama menderita dan dapat mewariskan kelainan tersebut kepada anak laki-laki dan anak perempuan. II.4.2 Gen Resesif Autosom Contoh pewarisan albino disebabkan oleh gen resesif autosom telah dikemukakan sebelumnya. Contoh pedigree disebabkan oleh gen resesif autosom.

Konsangunitas adalah perkawinan antara 2 individu yang masih mempunyai hubungan keluarga dekat. Dalam pedigree perkawinan ini dihubungkan oleh 2 garis seperti contoh pedigree di atas. Perkawinan konsanguinitas dapat memperbesar kemungkinan memperoleh anak yang menderita kelainan genetik disebabkan oleh gen resesif autosom, jika sekurang-kurangnya salah satu orang bergenotip heterozigot. Makin dekat kekeluargaan pada perkawinan konsanguinitas makin besar kemungkinan memperoleh anak menderita. Kriteria pewarisan sifat disebabkan oleh gen resesif autosom. a. Kelainan atau penyakit genetik ini umumnya diwarisi dari kedua orang tua yang normal.
b. Rata-rata Y jumlah dari saudara-saudara (kakak-adik) probandus

menderita kelainan genetik ini. c. Orang tua dari anak yang menderita penyakit genetik ini dapat merupakan perkawinan konsanguinitas. d. Baik laki-laki maupun wanita berkemungkinan yang sama menderita kelainan ini. e. Kelainan genetik ini dapat tampak terlampaui satu atau beberapa generasi. II.4.3 Gen terpaut pada kromosom kelamin Makhluk yang bertipe kelamin XY, lokus gen-gen dapat dibagi pada 3 daerah kromosom X dan Y. a. Daerah I, terdapat di ujung kromosom X dan kromosom Y. Daerah ini disebut daerah homolog, yang dapat bersinapsis pada waktu meiosis I dan

profase. Tiap gen pada daerah 1 dari kromosom X mempunyai pasangan gen homolog (gen alel) pada daerah 1 dan kromosom Y. Gen-gen ini disebut sex-linkage tidak sempurna atau sex Linkage parsial. b. Daerah II pada kromosom X tidak mempunyai bagian yang homolog dengan kromosom Y. Gen-geen yang berlokus di sini disebut sex linkage sempurna. Pada laki-laki satu gen sex linkage langsung menentukan fenotip karena hanya mempunyai satu kromosom X, sedang pada perempuan fenotip ditentukan oleh sepasang gen alel sex linkage sempurna (XX). c. Daerah III ialah daerah pada kromosom Y yang tidak mempunyai bagian homolog dengan bagian dari kromosom X. Gen-gen di sini disebut gen holandrik. Gen holandrik hanya menurun dari laki-laki ke anak laki-laki, karena kromosom Y hanya menurun dari ayah kepada anak laki-laki. Gen-gen sex linkage sempurna yang berloci pada daerah II dan kromosom X pada manusia antara lain menyebabkan: a. Hemofilia (gen resesif) b. Buta warna merah-hijau (gen resesif) c. Duchene’s muncular dystrophy (gen resesif) d. Hypophosphaternia (gen dominan) Gen pada kromosom Y jarang diketemukan pada manusia. Gen holandrik yang diketahui ialah menyebabkan pinggiran daun telinga berambut.

II.4.4 Gen Resesif Sex Linkage Buta warna merah-hijau ditentukan oleh gen resesif yang terpaut pada kromosom X di daerah II, simbol diberikan sebagai berikut: CY cY CC Cc cc : laki-laki normal (C=gen dominan-normal) (Y kromosom Y) : laki-laki buta warna : wanita normal homozigot : wanita normal beterozigot : wanita buta warna

II.4.5 Gen dominan terpaut pada daerah II dari kromosom X Sifat ditemukan oleh gen dominan terpaut pada daerah II kromosom X lebih banyak diketemukan pada wanita (apa sebabnya?). seorang laki-laki yang mempunyai sifat atau menderita kelainan ini mewariskannya kepada semua anak perempuan dan tidak kepada anak lakilakinya (apa sebabnya?). golongan darah sistem Xg adalah contoh yang ditentukan oleh gen dominan terpaut pada kromosom X (daerah II). Kriteria a. Laki-laki yang menderita mewariskan gen penyebab penyakit genetik ini kepada anak perempuan dan tidak kepada anak laki-laki. b. Wanita yang menderita heterozigot mewariskan sifat atau kelainan ini kepada setengah jumlah anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. c. Lebih banyak wanita menderita dibanding laki-laki.

II.5 SINDROM X YANG RAPUH (FRAGILE X SYNDROME) Penyakit genetik ini banyak diketemukan pada laki-laki. Pasien ini menderita retardasi mental yang disebabkan oleh adanya bagian yang rapuh di ujung distal lengan q dan kromosom X. Di daerah ini terjadi konstruksi. II.6 SIFAT YANG DIPENGARUHI OLEH JENIS KELAMIN (SEX INFLUENCED TRAITS) Gen-gen yang menentukan sifat-sifat ini berada pada kromosom autosom, akan tetapi ekspresi gen-gen ini berbedsa pada laki-laki dan perempuan. Jika suatu gen B bertindak dominan pada laki-laki, maka pada perempuan gen tersebut menjadi resesif. Ekspresi gen-gen tersebut dipengaruhi oleh perbedaan lingkungan internal, yakni adanya perbedaan jumlah dan jenis hormon kelamin. Contoh sifat-sifat yang dipengaruhi jenis kelamin ialah botak herediter, yang lebih banyak diketemukan pada laki-laki dibanding pada perempuan. Jari telunjuk lebih panjang dari jari manis lebih banyak pada wanita. Genotif dan fenotipnya botak diperlihatkan pada tabel berikut ini: Genotif BB Bb Fenotip Laki-laki Botak Botak Perempuan Botak Normal (tidak botak) Normal

bb Normal II.7 SIFAT ATAU KELAINAN GENETIK

Kelainan genetik, seperti pubertas precocios, diwariskan oleh gen autosom dan hanya diekspresikan dalam keadaan heterozigot pada laki-laki. Pubertas precocious menyebabkan laki-laki yang bergenotip heterozigot

mengalami pertumbuhan tanda-tanda seksual sekunder pada usia 4 tahun atau kurang. Pewarisannya terjadi dari ayah kepada anak laki-laki oleh gen dominan autosom. II.8 ANALISIS PEDIGREE Jika anda telah mendapatkan seorang probandus yang menderita atau memiliki sifat yang diperkirakan adalah heredirer, dan sudah dibuatkan pedigreenya, maka anda tentu ingin mengetahui tentang gen penyebab penyakit sifat genetik tersebut. Untuk mencari tahu jenis apa gen tersebut, dilakukan analisis pedigree.

a. Apakah penyakit/sifat tersebut disebabkan oleh gen resesif autosom? Jawab: Tidak mungkin, sebab menurut salah satu kriteria pewarisan gen resesif autosom ialah suami isteri yang menderita tidak mungkin melahirkan anak yang normal (perhatikan II1, II2, III1 dan III2). b. Apakah penyakit/sifat tersebut dissebabkan oleh gen dominan autosom? Jawab: Tidak mungkin, sebab suami isteri yang normal tidak mungkin melahirkan anak yang menderita. Perhatikan II4, II5, dan III4. c. Apakah penyakit ini disebabkan oleh gen resesif terpaut pada kromosom X? Jawab: Tidak mungkin, sebab wanita yang menderita tidak mungkin melahirkan anak laki-laki yang normal (perhatikan II1, dan III2). d. Apakah penyakit/sifat ini disebabkan oleh gen holandrik?

Jawab: Tidak mungkin, sebab penyakit/sifat yang disebabkan oleh gen holandrik hanya ditemukan pada laki-laki (perhatikan II1). e. Apakah penyakit ini disebabkan oleh gen dominan terpaut pada kromosom X? Jawab: Tidak mungkin, sebab wanita yang normal tidak mungkin memperoleh anak laki-laki yang menderita (perhatikan II5 dan II4). Demikian seterusnya dalam melakukan analisis pedigree. II.9 VARIASI DALAM EKSPRESI GEN a. Penetrans Suatu gen mutan tidak selalu diekspresikan dalam suatu fenotip. Jika dieskpresikan, adakalanya fenotip bervariasi pada individu-individu yang berbeda. Penetrans artinya pada suatu individu gen mutan mengekspresikan diri secara penuh dalam suatu fenotip, sedang pada orang lain tidak terekspresi. Jika genotip dd berpenetrans 90%, berarti 90% dari individu yang bergenotip dd memperlihatkan fenotipnya (umpama berupa penyakit genetik), sedang 10% yang sisa meskipun bergenotip dd tidak menderita penyakit genetik tersebut (tampak normal). Orang tua yang tampak normal bergenotip dd mewariskan gen ini kepada anaknya dan anak ini dapat menderita. Gen d tidak mengekspresi diri pada orang tua, tetapi terekspresi pada anaknya.

b. Ekspresikan gen

Jika gen penyebab suatu penyakit genetik terekspresi, maka orang yang mengandung gen tersebut menderita. Akan tetapi variasi ekspresi dari suatu gen dapat terjadi pada beberapa orang, ada yang ringan, sedang dan parah. c. Pleiotropi Suatu gen menyebabkan lebih dari satu efek. Suatu gen mutan dapat menyebabkan efek multipel terhadap fenotip. Kelainan tunggal efek primer disebabkan oleh suatu gen pada perkembangan dini dan embrio dapat menyebabkan sindroma dikemudian hari. Contoh: penyakit phenylketonuria, yang disebabkan oleh gen resesif autosom. Gen mutan ini dalam keadaan homozigot tidak mampu mensintesis enzim phenylalanine hydroxylase (efek primer), sehingga mengakibatkan efek sekunder berupa retardasi mental yang parah, mengekskresi phenylketon dalam urine dan lain-lain (sindroma). Penyakit genetik lain oleh pleiotropi ialah galactosemia yang disebabkan oleh gen resesif/autosom. d. Heterogeneitas Banyak gen menyebabkan satu efek. Jika banyak gen pada beberapa lokus atau beberapa mutasi pada satu lokus masing-masing menyebabkan suatu kelainan genetik yang sama, maka keadaan ini disebut heterogeneitas. Contoh bisa tuli. Orang-orang yang bergenotip Ddee. ddEE atau ddee semuanya bisu tuli.

e. Gen Lethal

Gen lethal, artinya gen yang menyebabkan kematian pada individu. Umumnya gen lethal adalah resesif (apa sebabnya?). berbagai macam gen lethal memberikan efek mematikann, ada yang mematikan gamet, zigot, embrio, foetus, masa kanak-kanak sampai dewasa. Gen lethal yang pada seseorang mematikan tetapi pada orang lain tidak, disebut sub-vital.

BAB III ABERASI KROMOSOM

III.1 UMUM Penyimpangan struktur atau jumlah kromosom dari keadaan yang normal disebut aberasi kromosom. Aberasi kromosom dapat menjadi secara spontan atau diinduksi oleh mutagen kimiawi, radiasi dan lain-lain. Aberasi kromosom dapat dideteksi secara sitologis selama pembelahan mitosis dan meiosis yakni dengan membuat kariotip. III.2 KELAINAAN JUMLAH KROMOSOM Kelainan jumlah kromosom dapat dibagi atas:
a. Aneuploidi , jika bertambah atau berkurang satu atau beberapa kromosom

tertentu. b. Monoploidi disebut juga haploidi, jika individu hanya mengandung jumlah n kromosom. c. Poliploidi, jika jumlah kromosom digandakan, umpama 3n, 4n dan seterusnya. Aneuploidi Satu atau beberapa kromosom hilang atau bertambah pada jumlah yang normal. Aneuploidi umumnya letal pada binatang sedang pada tumbuhan banyak dapat hidup. Aneuploidi dapat terjadi oleh nondisjunction, dimana satu atau lebih pasangan kromosom homolog tidak berpisah pada anafase meiosis pertama.

Ada 4 macam individu aneuploid: a. Kehilangan satu pasang kromosom homolog sehingga jumlah kromosom menjadi (2n – 2). b. Monosomi, kehilangan hanya satu kromosom (2n – 1). c. Trisomi, penambahan 1 kromosom tertentu (2n + 1). d. Tetrasomi, penambahan satu pasang kromosom homolog (2n + 2). Beberapa contoh aneuploidi pada manusia: a. Trisomi 21 Pasien mempunyai 3 kromosom nomor 21 (insidens + 1500 anak dari 1 juta kelahiran). Orang trisomi 21 menderita Sindroma Down (IQ sangat

rendah), lipatan epicantus menutupi sebagian mata. Tangan pendek dan lebar, tinggi badan lebih rendah dari rata-rata populasi). Pasien trisomi 21 dapat hidup sampai dewasa pada manusia, karena kromosom No. 21 kecil dan mengandung sedikit gen sehingga penambahan satu kromosom. Ternyata ada kaitan antara usia ibu dengan kelahiran anak yang menderita trisomi 21. Apakah anda masih ingat bahwa semua oogonia dari wanita sudah selesai terbentuk pada waktu wanita masih berupa fetus dalam kandungan ibunya. Oogenesis (meiosis I) berhenti pada substadium diploten sampai wanita lahir dan memasuki masa pubertas (mulai menstruasi), yakni masa fertil. Mulai masa ini umumnya setiap bulan satu oosit I diovulasi, sedang yang lain menunggu gilirannya pada bulan-bulan mendatang. Masa menunggu ini disebut masa diktioten.

Ovum yang paling lama masa diktioten, ialah ovum yang diovulasi menjelang menopause. Diduga bahwa makin tua usia wanita (lihat tabel III.1), artinya makin lama masa diktioten makin lebih besar kemungkinan lanjutan pembelahan meiosis I dan II mengalami nondisjunction sehingga ovum mempunyai 24 kromosom (21 kromosom autosom lain + 2 kromosom noo 21 hasil nondisjunction + kromosom kelamin X atau Y), maka zigot mengandung 42 kromosom autosom lain + 3 kromosom no.21 ditambah XX atau XY, sehingga berjumlah 47 kromosom. Karyotifnya diberi rumus (konvensionaal): 47, XX, 21 atau 47, XY, +21. Tabel III.1 Hubungan antara usia ibu dengan resiko kelahiran trisomi 21 Usia Ibu < 29 30-34 35-39 40-44 45-49 Resiko melahirkan anak trisomi 21 (sindroma down) 1 dari 3000 kelahiran 1 dari 600 kelahiran 1 dari 280 kelahiran 1 dari 70 kelahiran 1 dari 40 kelahiran

Selain nondisjunction, translokasi Robertson dapat pula menyebabkan tisomi 21. Translokasi Robertson ialah dimana lengan panjang (lengan q) dari 2 kromosom yang non homolog menyambung pada satu sentromer. Dalam hal ini satu kromosom 21 menyambung pada salah satu kromosom 14 (atau pada salah satu kelompok kromosom D) (gambar III.2). Fenotip orang yang mengalami translokasi Robertson tetap normal, karena tidak kehilangan kromosom.

Peristiwa ini disebut “balanced trannslocation”, dan diberi rumus: 45, XX, -14, -21, +t(1+q, 21q). Berarti wanita yang mempunyai 45 kromosom, kehilangan satu kromosom 14 dan satu kromosom 21 dan penambahan satu kromosom baru yang merupakan pertautan antara lengan q kromosom no 14 dengan lengan q kromosom no.21 hasil translokasi (t).

Gambar 3.1 Balance translocasion Sumber http://substansigenetika.net)

Rumus ini dapat dipersingkat menjadi 45 XX, t (14q.2 Lq). Jika kromosom t(14q.21q) ini masuk ke dalam ovum dan dibuahi oleh spermatozoon Y akan dapat menghasilkan zigot 46, XY, -14, + t(14.21q). Anak laki-laki ini menderita sindroma down yang mempunyai 3 kromosom no.21, yakni satu melekat pada kromosom 14 dan 2 bebas. Trisomi kromosom autosom lain,

umppama trisomi 18 (sindroma Edward) dan trisomi 13 (sindroma Patau) sangat jarang terjadi dan umumnya letal. Aneuploidi kromosom kelamin manusia Aberasi jumlah kromosom X dan Y cukup banyak terdapat pada orang dewasa. Orang yang mempunyai kelebihan kromosom X dan Y ternyata dapat hidup sampai dewasa. Perempuan: 45,X 47,XXX 48,XXXX 49,XXXXX Laki-laki: 47,XYY 47,XXY 48,XXYY 48,XXXY 49,XXXXY : trisomi (normal) : trisomi (sindroma Klinefelter) : tetrasomi : tetrasomi : pentasomi : monosomi (Sindroma Turner) : trisomi : tetrasomi : pentasomi

50XXXXXY : hexasomi Apa sebab orang yang kelebihan kromosom X dapat hidup sampai dewasa? Hal ini dikaitkan dengan teori Lyon tentang “Dosage compensation”. Menurut teori ini hanya 1 kromosom X yang aktif sedang kromosom X selebihnya pasif dan berkondensasi berupa butir pada dinding nukleas, disebut “Barr body”. Sel laki-laki normal XY, hanya mempunyai satu kromosom X

yang aktif dan tidak berkondensasi sehingga tidak terbentuk Barr body. Sel wanita normal XX mempunyai satu Barr body, laki-laki tetrasomi mempunyai 3 Barr body, dan wanita pentasomi mempunyai 4 Barr body. Proses inaktivasi kromosom X menjadi Barr body disebut Lyonisasi (untuk menghormati Lyon). Monopoli dan poliploidi Monoploidi hanya mempunyai satu sel kromosom, sebab itu individu disebut pula haploidi. Haploidii terdapat pada binatang seperti semut dan lebah. Poliploidi mempunyai kromosom lebih dari jumlah sel yang normal, seperti 3n, 4n dan seterusnya. Keadaan ini ditemukan pada binatang dan tumbuhan (tidak pada manusia). III.3 ABERASI STRUKTUR KROMOSO Variasi aberasi struktur kromosom, ialah antara lain: a. Delesi b. Duplikasi c. Inversi d. Translokasi

Delesi Hilangnya suatu segmen dari kromosom, termasuk informasi genetik dibagian yang hilang ini. Delesi climatal dengan retaknya kromosom yang diinduksi oleh panas radiasi (terutama radiasi ionisasi), virus dan zat kimia atau kesalahan dalam rekombinasi enzim. Duplikasi

Pada duplikasi terjadi penggandaan suatu segmen dan kromosom. Invers Suatu segmen dari kromosom terpotong kemudian terpasang kembali tetapi tetap terbalik 1800 dan orientasii semula. Jika urutan kromosom normal ditandai dengan huruf ABCDEFGH dan segmen yang mengalami inversi BCD, maka setelah inversi berakhir urutan menjadi: ADCBEFGH. Translokasi Translokasi atau transposisi terjadi jika suatu segmen dan suatu

kromosom pindah dan menyambung atau tersisip pada kromosom nonhomolog lain. Jenis translokasi ini disebut translokasi interkromosomal. Jika pindah tempat pada kromosom yang sama disebut translokasi intrakromosomal. Akibat translokasi ialah gen-gen mengalami perubahan urutannya. Translokasi resiprokal jika terjadi pertukaran antara 2 segmen kromosom yang nonhomolog (berbeda dengan pindah saling pada meiosis). Translokasi Robertson jika seluruh lengan dari suatu kromosom pnidah melekat di ujung nonhomolog. Aberasi kromosom dan tumor manusia
a. Burkitt lymphoma, penyakit ini banyak di Afrika, berupa tumor yyang

kromosom

diinduksi oleh virus yang merusak sistem immun sel-sel B. Kurang lebih 90% dari pasien ini mengalami translokasi resiprokal antara kromosom no.8 dan 14.

b. Kromosom Phiadelphia penyebab leukemia myelogen yang kronis terdapat

pada pasien yang mengalami translokasi resiprokal antara kromosom 9 dan 22. c. Retinoblastoma, terjadi delesi pada suatu pita segmen dari kromosom no.13. Teknik Deteksi Aberasi Kromosom Sel-sel jaringan apapun yang dapat diinduksi mengalami mitosis dapat dibuat preparat untuk kepeluan analisis kromosom. Banyak digunakan darah. Kelainan genetik dapat dideteksi pada fetus yang sedang berkembang in utero, dengan menggunakan teknik amnioncentesis atau teknik sampling vulus chorion. Amniocentesis Fetus berkembang di dalam kantong amnion yang berisi pula cairan amnion. Cairan amnion mengandung sel-sel yang terlepas dari kulit fetus. Dengan alat suntik diambil carian amnion dan kemudian dibuat kultur jaringan. Dan hasil kultur ini dibuat kariotip dan dilakukan analisis kromosom, apakah fetus mempunyai kelainan kromosom. Amniocentesis dilakukan pada fetus berusia 4 bulan, antara lain untuk keperluan konseling genetik. Teknik sampling villus chorion Teknik ini dapat dilakukan pada usia kehamilan antara 8 dan 12 minggu. Teknik ini lebih menguntungkan karena dapat dilakukan lebih awal dari teknik amniocentesis. Jaringan chorion berasal dari fetus, sehingga jika dikultur dan dibuat kariotip maka akkan menggambarkan keadaan genetik dari fetus. Kedua teknik tersebut tidak hanya digunakan untuk mendeteksi kelainan

kromosom, akan tetapi digunakan pula mendeteksi kelainan metabolisme berlatar belakang mutasi gen/DNA yang menyebabkan defisiensi suatu enzim. III.4 GENETIKA BIOKIMIAWI MANUSIA Defisien enzim berlatar belakang genetik. Archibald Garrod (dokter Inggris) adalah orang pertama yang membuktikan adanya hubungan antara gen dan enzim pada tahun 1902. Penyakit Alkaptonuria Urine akan menjadi hitam jika berada diudara, dan pasien cenderung menderita arthritis. Bersama William Bateson mereka menemukan: a. Beberapa anggota dari suatu keluarga yang sama menderita alkaptonuria. b. Lebih banyak anak menderita dari perkawinan konsanguinitas Dari analisis pedigree diketahui bahwa alkaptonuria disebabkan oleh gen resesif aautosom. Orang yang menderita alkaptonuria mengeksresi semua homogentisic acid (HA) yang dimakannya ke dalam urine. HA dalam urin menjadi hitam di udara. Garrod mengambil kesimpulan bahwa orang yang menderita tidak dapat mengkatabolisme atau menguraikan (dekomposisi) HA, sebab tidak mempunyai enzim tertentu untuk menguraikan HA. Penyakit

herediter demikian disebut Garrod ‘inborn error of metabolism’. Tahapan biokimiawi dari katabolisme dari phenylalanine-tyrosine pada orang normal dan yang menderita alkaptonuria. Pada penderita alkaptonuria, HA-oxidase yang seharusnya menguraikan HA tidak ada atau cacat, sehingga HA terakumulasi, dan tubuh membuangnya melalui urine. Dalam hal ini terjadi ”genetic block”. Kini kita ketahui bahwa gen/DNA yang memproduksi enzim HA-oxidase

mengalami mutasi resesif sehingga tidak dapat menghasilkan enzim tersebut. Bukan hanya katabolisme akan tetapi sintesis (anabolisme) juga berlangsung tahap demi tahap dan tiap tahap memerlukan enzim yang spesifik. Tiap enzim disintesis oleh gen tertentu. Dari pengertian inilah disusun hipotesis satu: satu gen-satu enzim. Albino pada manusia disebabkan oleh mutasi resesif. Mutasi terjadi pada suatu gen yang memproduksi enzim yang diperlukan pada suatu tahapan biokimiawi dan tyrosine menjadi pigmen melanin. Melanin berfungsi mengabsorbsi cahaya, termasuk UV. Sehingga melanin mencegah kerusakan kulit oleh radiasi cahaya matahari. Albino sangat sensitif terhadap cahaya. Sekurang-kurangnya ada 2 macam albino, yakni tergantung gen manusia pada tahapan biokimiawi mengalami mutasi. Umpama Tyrosine  subst.A  subst.b . .  melanin

enzim a

enzim b

gen A

gen B

Jadi ada sejenis albino disebabkan oleh mutasi gen A dan ada jenis albino lain disebabkan oleh mutasi gen B. Dengan demikian ada kemungkinan sepasang suami istri albino dapat melahirkan anak normal, jika suami isteri berbeda genotip albino.

Umpama: aaBB albino 1 x Aabb albino 2

anak kemungkinan normal bergenotip AaBb. Contoh lain:
a. Sindroma Lesch – Nyhan, disebabkan oleh defisiensi enzim hypoxanthine

guanine phosphoribosyl transferase (NG PRT), yang diakibatkan oleh terjadinya mutasi resesif pada gen yang memproduksi enzim tersebut pada kromosom X. Biasanya pasien meninggal pada usia sebelum 20 tahun dan sindroma ini hanya diderita oleh laki-laki (diwariskan oleh ibu yang carrier). b. Tay-Sachs disease disebabkan oleh mutasi resesif pada gen berlokus pada kromosom no.15, sehingga tidak dapat mensintesis enzim N-acetylhexosaminidase A.(hex A). Pasien mengalami degenerasi otak dan mati pada usia sekitar 3 tahun. c. Pada golongan darah sistem ABO, terjadinya fenotip O disebabkan oleh mutasi gen H menjadi gen resesif. Terjadinya sickle cells disease (sicklemia) yang disebabkan oleh mutasi gen sehingga satu asam amino glu diganti oleh val.
d. Beberapa penyakit genetik yang telah diketahui disebabkan oleh defisiensi

enzim tertentu diakibatkan oleh mutasi gen.

III.5 MUTASI GEN Protein non-enzimatik atau protein struktural merupakan massa organik tubuh makhluk hidup. Kebanyakan protein sangat kompleks dan mempunyai berat molekul tinggi. Urutan asam amino dalam protein sudah diketahui pada beberapa jenis protein, seperti hemoglobin, insulin, ribonuklease pankreas sapi, TMV, lysozym, dan tryptophan synthetase. Hemoglobin dapat menyebabkan sicklernia. Mutasi disebabkan oleh terjadinya penggantian asam amino glutamik oleh asama amino lysin. Salah satu kodon asam amino glutanik adalah GAA. Jika terjadi mutasi, yakni basa A pertama diganti oleh U, maka kodon menjadi GUA dan kodon ini mentranslasi valine. Jika G diganti A, maka kodon menjadi AAA dan kodon ini mengkode lysin. Jadi perubahan nukleotida dalam gen hemoglobin sudah cukup menyebabkan substitusi satu asam amino dalam rantai hemoglobin, sehingga terjadi perubahan fenotip. Radiasi ionisasi Radiasi ionisasi, seperti sinar X dapat mempertinggi mutasi gen dan berkorelasi positif dengan dosis radiasi. Hubungan tinier antara dosis (diukur dengan unit rontgen = r) dengan induksi mutasi gen resesif sex linkage pada Drosophila diperlihatkan dalam grafik. Diketahui bahwa tidak ada tingkat dosis yang aman dipandang dari sudut genetika. Jika suatu jumlah kecil radiasi diberikan secara kontinyu dalam jangka waktu yang panjang (dosis kronis, maka kerusakan genetik kadang-kadang lebih kurang dibanding dengan dosis akut yakni keseluruhan dosis jangka panjang diberikan dalam interval waktu yang

pendek. Radiasi ionisasi sering menyebabkan efek mutagenik dengan menginduksi delesi kecil pada kromosom. III.6 KLASIFIKASI MUTASI 1. Ukuran
a. Mutasi titik (point mutation). Perubahan pada suatu segmen kecil dari

DNA, umumnya terjadi pada satu atau sepasang nukleotida.
-

Mutasi diam (silent mutation), penggantian suatu kodon oleh kodon sinonim (umumnya pada posisi ke 3 dan triplet) sehingga tidak terjadi perubahan fenotip.

-

Mutasi Nonsens (nonsense mutation), penggantian suatu kodon oleh kodon terminal, sehingga produk protein menjadi pendek dan cacat.

-

Mutasi missens (missense mutation), penggantian nukleotida oleh nukleotida lain, sehingga suatu asam amino diganti oleh asam amino lain dalam rantai polipeptida (umpama hemoglobin HbA menjadi HbS).

-

Frameshift mutation, pergeseran nukleotida, sehingga terbentuk kodon nonsens.

b. Mutasi Besar Perubahan lebih dari sepasang nukleotida, sehingga terjadi perubahan pada seluruh gen, kromosom atau suatu perangkat kromosom (poliploidi).

2. Kualitas a. Mutasi struktural, perubahan pada nukleotida yang menyusun gen. 1. Mutasi substitusi, penggantian suatu nukleotida oleh nukleotida lain.
-

Mutasi transisi, substitusi suatu purine lain atau satu pirimidin oleh pirimidin lain.

-

Mutasi transverse, substitusi suatu purine old pirimidin atau sebaliknya.

2. Mutasi delesi kehilangan sebagian dari gen. 3. Mutasi insersi, penambahan satu atau lebih nukleotida ekstra pada suatu gen.
b. Mutasi pengaturan ulang (rearrangement mutation), perubahan lokasi

geen dalam genom (position effect). 1. Dalam suatu gen. Dua mutasi dalam suatu gen dapat menyebabkan efek berbeda. 2. Jumlah gen per kromosom seperti duplikasi gen pada sepasang kromosom homolog. 3. Perpindahan lokus gen, seperti pada translokasi dan inversi. 3. Asal Mula
a. Mutasi spontan, asalnya tidak diketahui disebut pula “background

mutation”. b. Kontrol genetik, mutabilitas dari suatu gen dipengaruhi oleh gen mutator. c. Mutasi induksi, diekspos pada lingkungan abnormal.

1. Radiasi ionisasi, perubahan valensi kimia oleh injeksi elektron yang

disebabkan oleh proton, neutron atau oleh sinar α, β, γ atau X.
2. Radiasi non-ionisasi, peningkatan tingkat energi dari atom (eksitasi),

sehingga menjadi kurang stabil, umpama radiasi UV, panas, dan lainlain. UV sering memproduksi dimerthymin, yakni Ikatan thymin pada satu rantai DNA. 3. Mutagen kimiawi, substansi kimia yang meningkatkan mutabilitas dari gen.
-

Kesalahan cetak (copy error). Oleh kekeliruan, mutan terbentuk pada waktu replikasi DNA (umpama oleh kekeliruaan, biasa dan mutagen yang menyerupai basa asam nukleat dapat diinkoporasi ke dalam DNA).

-

Perubahan langsung terjadi pada DNA yang tidak bereplikasi.

4. Besarnya efek mutasi terhadap fenotip a. Perubahan kecepatan mutasi Beberapa alel hanya diketahui dari frekuensi dalam populasi besar. b. Isoalel, menghasilkan fenotip identik dalam keadaan homozigot atau heterozigot jika berkombinasi antara mereka, tetapi berbeda fenotip jika berkombitiasi dengan alel lain. c. Efek terhadap viabilitas. 1. Subvital, viabilitas lebih dari 10% tetapi kurang dari 100%. 2. Semiletal, mortalitas lebih dari 90% akan tetapi kurang dari 100%. 3. Letal, membunuh semua indiviidu sebelum dewasa.

5. Arah Mutasi a. Mutasi ke depan (forward mutation), perubahan dsari jenis liar ke fenotip

abnormal.
b. Mutasi balik (reverse atau back mutation), perubahan dari fenotip

abnormal ke fenotip jenis liar.
1. Mutasi satu tempat (singel site mutation), perubahan hanya terjadi

pada satu nukleotida dari gen. Contooh: kedepan Adenin guanine balik Adenin

2. Mutasi repressor, perubahan gen yang terjadi pada tempat yang berbeda dari mutasi primer. Supresor ekstragenik, terjadi pada gen yang berbeda denngan gen mutan. Supresor intragenik, terjadi pada nukleotida berbeda dalam gen yang sama. 6. Jenis Sel a. Mutasi Somatik Terjadi pada sel-sel soma yang dapat menyebabkan perubahan fenotip pada suatu sektor dari tubuh individu (mosaik atau chimera). b. Mutasi Gametik

Definisi Gen Setelah genetika berkembang mutasi dari era genetika klasikal sampai pada era genetika molekuler, maka gen perlu diredefinisi. Mendel mengemukakan bahwa tiap gen menentukan satu fenotip tertentu. Gen A menyebabkan biji Pisum sativum menjadi bernas. Penelitian yang dilakukan sesudah Mendel ternyata bahwa ada fenotip yang ditentukan oleh banyak gen (poligen) dan ada pula satu gen menyebabkan beberapa fenotip (pleiotropi). Konsep gen tentang kelainan metabolisme pada manusia menyatakan bahwa kelainan tersebut disebabkan oleh reaksi enzim tertentu yang melahirkan hipotesis: “Satu gen satu enzim” kemudian diketemukan bahwa beberapa enzim terdiri atas lebih dari satu macam rantai polipeptida. Umpama enzim triptofan synthetase terdiri atas 2 rantai, yang masing-masing dispesifikasi oleh 2 gen yang berbeda locus. Definisi gen berubah menjadi: satu gen – Sama rantai polipeptida.

BAB IV PROBABILITAS DAN GOLONGAN DARAH

IV.1 PROBABILITAS Jika sepasang suami isteri berfenotip normal datang kepada anda sebagai dokter dan bertanya. “Dokter, anak pertama kami seorang albino”. Kami merencanakan menambah seorang anak. Berapa besar kemungkinan bagi kami memperoleh anak kedua seorang albino lagi? Apakah karena anak pertama albino, maka anak kedua pasti normal? Untuk menjawab kasus tersebut anda memerlukan pemahaman tentang dasar-dasar teori probabilitas. IV.1.1 Definisi Probabilitas Probabilitas adalah ekspresi matematis darri kemungkinan (chance), yakni merupakan rasio (perbandingan) dari jumlah kejadian dari suatu peristiwa tertentu dengan jumlah dari semua kemungkinan yang dapat terjadi. Jadi probabilitas berkisar antara 0 sampai 1 atau 0 sampai 100%. Nol artinya tidak ada kemungkinan. Artinya pasti terjadi. a. Berapa besar kemungkinan bagi suami isteri melahirkan anak laki-laki (isteri sedang hamil)? Jawab: Hanya ada 2 kemungkinan, yakni laki-laki atau perempuan. Jadi lakilaki 1 dari 2 kemungkinan = ½

b. Jawaban atas pertanyaan suami isteri normal yang sudah beranak pertama albino, yakni berapa besar kemungkinan bagi mereka melahirkan anak kedua albino adalah sebagai berikut: Anak pertama albino (aa), sedang suami isteri normal. Jadi suami istri tersebut bergenotip Aa (carier). Perkawinan Aa x Aa, menghasilkan kemungkinan genotip anak: AA, Aa, Aa dan aa. Genotip aa adalah albino dan hanya muncul 1 kali dari keempat genotip tersebut. Jadi kemungkinan memperoleh albino adalah satu dari 4 kemungkinan = ¼ Kemungkinan memperoleh anak normal = ¾ Kemungkinan anak bergenotip AA = ¼ Kemungkinan anak bergenotip Aa = 2/4 (Aa muncul 2 kali dari 4 kemungkinan). IV.1.2 Aturan Produk Probabilitas Probabilitas dari 2 peristiwa yang tidak bergantung satu sama lain (independen atau bebas) jika dikombinasikan adalah produk (hasil kalian) dan kedua probabilitas masing-masing peristiwa. Contoh: a. Tiap kelahiran anak tidak berpengaruh atau independen terhadap kelahiran berikutnya. Jika ditanya berapa besar kemungkinan

melahirkan anak pertama laki-laki dan anak kedua perempuan?

Jawab: Kelahiran pertama ½ kemungkinan laki-laki dan kelahiran kedua ½ kemungkinan perempuan. Jadi kemungkinan melahirkan anak pertama laki-laki dan anak kedua perempuan adalah: ½ x ½ = ¼. b. Kembali ke suami isteri normal dan anak pertama yang sudah lahir seorang albino. Jika mereka ingin menambah 3 anak lagi, berapa besar kemungkinan anak kedua normal, anak ketiga albino dan anak keempat normal? Jawab: ¾ x ¼ x ¾ = 9/64. IV.1.3 Aturan Menjumlahkan Probabilitas Jika peristiwa yang satu atau peristiwa yang lain dikombinasikan, maka probabilitas ialah: probabilitas peristiwa-peristiwa ditambahkan dengan probabilitas kedua (jumlah dari kedua probabilitas). Contoh: a. Berapa besar kemungkinan bagi suami isteri memperoleh 2 anak, terdiri atas 1 laki-laki dan 1 perempuan. Jawab: 2 anak terdiri atas 1 laki-laki dan 1 perempuan dihadapkan pada 2 kemungkinan kombinasi yaitu: Anak I dan anak II Anak I dan anak II Jumlah =½x½=¼ =½x½=¼+ = 2/4

Jadi 2/4 kemungkinan memperoleh 2 anak terdiri atas 1 perempuan dan 1 laki-laki.

b. Perhatikan kembali suami isteri di atas yang berkonsultasi dengan anda sebagai dokter. Jika mereka bertanya berapa besar kemungkinan bagi mereka menambah lagi 3 anak (anak pertama sudah lahir seorang albino) terdiri atas 2 anak normal dan 1 albino. Jawab: Kemungkinan kommbinasi I: normal – normal – albino: ¾ x ¾ x ¾ = 9/64 c. Kemungkinan kombinasi II: normal – albino – normal: ¼ x ¾ x ¾ = 9/64 d. Kemungkinan kombinasi III: albino – normal – normal: ¼ x ¾ x ¾ = 9/64 Jumlah 3 = (9/64) = 27/64 Ekspansi Binominal Ambil contoh probabilitas tiap kelahiran anak laki-laki. p = ½ dan kelahiran anak perempuan q = ½, maka kemungkinan melahirkan 2 anak terdiri atas:
a) 2 anak ♂ adalah: p x p = p2

b) 1 anak ♂ dan 1 anak ♀:  Anak pertama ♂ anak kedua ♀
 Anak pertama ♀ anak kedua ♂

= p x q = pq = p x q = Pq = 2 pq

Jumlah
c) 2 anak ♀ adalah q x q = q2

Probabilitas 2 anak mengikuti distribusi binomial:

(p + q)2 = p2

+

2pq

+

q2 = 1

Probabilitas 2 anak ♂

probabilitas 1 anak ♂ dan 1 anak ♀

probabilitas 2 anak ♀

Mari kita uji dengan 2 anak. Probabilitas untuk:
 3 anak ♂ adalah: p x p x p = p3

 2 anak ♂ dan 1 anak ♀ Laki – laki – perempuan Laki – perempuan – laki Perempuan – laki – laki Jumlah  1 anak ♂ dan 2 ♀ Laki – perempuan – perempuan Perempuan – laki – perempuan Perempuan – perempuan – laki Jumlah
 3 anak ♀ adalah = q x q x q = q3

=pxpxq =pxqxp =qxpxp

= p2q = p2q = p2q 3 p2q

=pxqxq =qxpxq =qxpxp

= pq2 = pq2 = pq2 3 pq2

Probabilitas 3 anak tetap mengikuti distribusi binomial: (p+q) = p3 + 3p2q + 3pq2 + q3=1

Probabilitas 3♂

2♂1♀

1♂2♀

3♀

Demikianlah seterusnya sehingga rumus binomium dapat kita tulis: (p+q)n, n adalah jumlah trial, dalam hal ii jumlah anak. Makin banyak jumlah n, makin sulit mencari angka koefisien atau

jumlah kombinasi anak. Kesulitan ini dapat diatasi dengan menerapkan segi tiga Pascal. Contohnya berapa besar

kemungkinan memperoleh anak, terdiri atas 3 laki-laki dan 2 perempuan. Koefisien jumlah kombinasi dicari dengan segi tiga Pascal sebagai berikut: 1 1 2 1 1 3 3 1 1 4 6 4 1 1 5 10 10 5 1 10 p3q2 = 10 (1/2)3(1/2)2 Probabilitas dari 3 laki dan 2 perempuan

Tetapi jika jumlah anak banyak maka banyak waktu untuk mengembangkan. Koefisien atau jumlah kombinasi dapat

menggunakan rumus sebagai berikut: Jumlah kombinasi = n! a ! b!

IV.1.4 Penerapan Probabilitas dalam Pedigree Perhatikan pedigree berikut ini Individu yang dihitamkan menderita albino disebabkan oleh gen resesif autosom.

Jika suami istri II2 x II3 ingin menambah satu anak lagi, berapa besar kemungkinan bagi mereka melahirkan anak ketiga seorang albino. Jawab:
 Karena II1 dan II4 adalah albino, maka kedua suami isteri I1 x I2 dan I3 x

I4 bergenotip heterozigot (Aa).
 Untuk dapat memperoleh anak menderita albino, hanya mungkin jika II2

x II3 bergenotip heterozigot (carrier) Aa x Aa.
 Tetapi berapa besar kemungkinan II2 x II3 bergenotip heterozigot (Aa)?  Kedua orang tua dari II2 bergenotif Aa x Aa, sehingga kemungkinan

genotip anak-anak mereka adalah: AA, Aa, Aa, dan aa. Tetapi II2 adalah normal, jadi kemungkinan ia bergenotif Aa adalah 2/3, bukan 2 dari 4, karena albino tidak termasuk dalam kemungkinan normal.
 Demikian pula II3 mempunyai kemungkinan kemungkinan bergenotip

Aa sebesar 2/3. Contoh kelahiran anak, maka n a b = jumlah anak yang dikehendaki = jumlah anak laki-laki = jumlah anak perempuan

hitunglah probabilitas 5 anak terdiri atas 3 laki-laki dan 2 perempuan. Rumus lengkap ialah: n! p a qb a ! b! p = probabilitas tiap kelahiran anak laki-laki ½ q = probabilitas tiap kelahiran anak perempuan ½ Jadi, probabilitas memperoleh 5 anak terdiri atas 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan yaitu: 5! (1/ 2)3 (1/ 2)3 = 10 (1/ 2)3 (1/ 2) 2 3! 2! Jika suami istri bergenotif Aa, berapa besar kemungkinan memperoleh 4 anak terdiri atas 3 normal 1 albino? Jadi, kemungkinan II2 x II3 memperoleh anak ketiga albino adalah: 2/3 Aa x 2/3 Aa = (Aa x Aa) ½ albino = = 1/9 kemungkinan albino

(2//3) x (2/3) x 4/9 x

(2/3 x 2/3) disebut koefisien perkawinan. IV.1.5 Gen Dominan Autosom Perhatikan pedigree di bawah ini individu yang dihitamkan mampu menggulung lidahnya disebabkan oleh gen dominan autosom.

Jika II3 kawin dengan sepupu pertamanya yang tidak dapat menggulung lidah, berapa kemungkinan anak mereka tidak mampu menggulung lidah? Jawab: Kemungkinan genotif II3 adalah 2/3 Rr 1/3 RR. Sepupu pertamanya tidak dapat menggulung lidah, sehingga genotiipnya pasti rr. Kemungkinan kombinasi perkawinan 2/3 x ½ rr 2/3 Rr x rr = 2/3 x ½ Rr 1/3 RR x rr Jadi kemungkinan memperoleh anak tiddak dapat menggulung lidah (rr) adalah 1/3. IV.2 GOLONGAN DARAH Golongan darah manusia sangat penting diketahui untuk keperluan transfusi darah. Transpalantasi jaraingan dan pemahaman tentang penyakit. Hemolitik pada bayi yang baru lahir (HDN) = hemolitic disease of the new born) dan polimorfisme darah yang terkait dengan antrhopologi dan evolusi. Apakah suatu jenis sistem golongan darah tertentu penting secara klinis, tergantung terutama pada kemampuan antibodi dari sistem tersebut meniadakan atau memperkecil ketahanan eritrosit in vivo, dan banyak sedikitnya antibodi tersebut terdapat di dalam tubuh. = 1/3 = 1/3 rr

Terminologi golongan darah
Sistem Year of discovery Comments

ABO MNSs P Secretor Rh Lutheran Kell Lewis Duffy Kidd Diego Camright Auberger Xg Domerockk Calton Sid Scianna Complement C4

1900 1927 1927 1930 1940 1945 1946 1946 1950 1951 1955 1956 1961 1962 1965 1967 1967 1974 1967

major clinical importance useful marken little clinical importance determines presence of ABH antigens in secretions major clinical importance lutheran secretor was the first culosamal linkage know clinical importance relcied to ABO see text first to be assigned to a chromosome clinical importance oneptol marker

X-linked

after activation of comeciement, red ceils carry

C4 antigents 1976 (chida and Rodgers) Terminologi notasi utama digunakan untuk alel sistem golongan darah. a. Urutan huruf (A dan B, M dan N) b. Huruf besar dan huruf kecil (S dan s, K dan k, C dan c). Huruf kecil tidak berarti resesif.
c. Alel dinyatakan dengan simbol huruf yang diberi superskrip, seperti Lua dan

Lub, Fya dan Fyb.

Beberapa golongan darah diberi nama dan orang yang pertama kali jenis antibodinya diketemukan. Umpama Duffy dan Kidd. Beberapa huruf dari namanya digunakan untuk simbol gen alel atau lokus gennya. Umpama gen/lokus Fy untuk Duffy, Jk untuk J. Kidd. Sistem Lutheran diberi nama dari donor yang mengandung antigen unik. IV.3 PRODUKSI ANTIBODI Antibodi diprodukssi oleh beberapa cara:
a. Secara alamiah, seperti sistem ABO dan Lewis (natural antibody)

b. Hasil imunisasi pada binatang (MN, P)
c. Dalam tubh ibu yang mengandung foetus HDN (Rh, Kell, Kidd Diego)

(provoked antibody). IV.3.1 Sistem golongan darah ABO Furuhata, ilmuwan Jepang, pada tahun 1952 menegaskan bahwa golongan darah merupakan sifat yang diwariskan. Secara fisiologi, berdasarkan adanya Aglutinin dalam plasma darah dan aglutinogen dalam eritrosit yang telah dikemukakan oleh K. Landsteiner (1868-1943), darah dibedakan menjadi empat golongan, yaitu A, B, O dan AB. Tinjauan secara genetika menurut hipotesis Bernstein (Jerman) dan Furuhata (Jepang) adalah bahwa golongan darah ditentukan oleh tiga macam alel, yaitu: IA, IB, dan IO (I : isoaglutinogen). Contoh perkawinan antara laki-laki yang bergolongan darah AB dengan perempuan yang bergolongan darah O, kemungkinan golongan darah anak-anaknya adalah sebagai berikut:

P Genotipe Gamet : | A

: AB : |A|B

X

O |O|O |O

|B Famet : | A|O = 50% Golongan darah A : |B|O = 50 % Golongan darah B

Jadi anak-anaknya memiliki kemungkinan bergolongan darah A (50%) dan bergolongan darah B (50%). Fenotipe AB A B O Genotipe homozigot |A|A |B|B |O|O Genotipe heterozigot |A|B |A|O |B|O -

Tabel 4.2 Fenotipe dan Genotipe penggolongan darah sistem ABO IV.3.2 Golongan Darah Rhesus (Rh) K. Landsteiner dan Weiner tahun 1940 menemukan cara penggolongan darah yang disebut Rhesus (Rh). Kedua ahli ini telah menyuntikkan sel darah kera Macaca mulatta ke dalam tubuh kelinci dan marmut. Kelinci dan marmut kemudian membentuk antibodi terhadap antigen rhesus dalam serum darahnya. Antiserum dari kelinci ini jika disuntikkan ke dalam tubuh kera akan menyebabkan penggumpalan eritrosit. Antiserum dari kelinci itu kemudian digunakan untuk menguji darah manusia dengan hasil sebagai berikut:

a) Seseorang bergolongan darah (Rh+), apabila mempunyai antigen Rh

(factor rhesus di dalam eritrositnya), sehingga darah menggumpal jika diuji dengan antiserum antiRh.
b) Seseorang bergolongan darah (Rh-), apabila di dalam eritrositnya tidak

terdapat antigen Rh, sehingga darah tidak menggumpal jika diuji dengan antiserum anti Rh. Menurut Landsteiner, golongan darah Rh ini diatur oleh gen yang terdiri dari dua buah alel, yaitu (Rh+) dan (Rh-). (Rh+) dominan terhadap (Rh-). Oleh karena itu, kedua golongan darah menurut sistem Rh dapat dirumuskan sebagai berikut: golongan darah yang fenotipenya (Rh+) memiliki genotipe |Rh|Rh atau |Rh|rh, sedangkan fenotipe (Rh-) memiliki genotipe |rh|rh. Embrio (Rh+) yang dikandung oleh seoranng ibu (Rh-) pada kandungan pertamanya biasanya normal (tidak ada kelainan). Akan tetapi kalau ibu itu mengandung lagi, dan embrionya juga (Rh+) maka pada

kandungan yang kedua ini kelak bayi yang dilahirkan menderita anemia parah, yaitu di dalam darahnya hanya ada eritroblas (eritrosit yang belum matang). Inilah yang dinamakan eritroblastosis faetalis yang dapat menyebabkan kematian. Proses adalah jika eritrosit janin kandungan pertama masuk ke peredaran darah ibu, maka tubuh ibunya akan memproduksi antibodi. Antibodi ini akan masuk ke peredaran darah pada kehamilan keduanya dan mengaglutinasikan (menggumpalkan) eritrosit janin yang dikandungnya. Inilah yang menyebabkan eritroblastosis tersebut.

Gejala bayi penderita eritroblastosis adalah tubuhnya berwarna. Hal ini disebabkan pembuluh darah dalam hati terseumbat oleh sel-sel darah yang rusak sehingga empedu terserap oleh darah. Tubuhnya menggembung kuning keemasan. Darahnya banyak mengandung eritroblas yang memiliki daya afinitas (kemampuan mengikat) rendah terhadap O2. IV.3.3 Golongan Darah Lewis Angglutinogen Angglutinin : Lea dan Leb : anti Lea dan anti Leb

Antigen Lewis sebenarnya bukan antigen eritrosit, tetapi antigen cairan tubuh yang diserap oleh eritrosit dari plasma darah. Antigen disintesis oleh gen Le dan le.genotip dapat LeLe, Lele dan lele. Antigen Lewis dapat disekresikan di air ludah oleh gen sekreter yang berkaitan dengan sistem ABO - H. IV.3.4 Golongan Darah Sistem MN Pada tahun 1927, K. Landsteiner dan P. Levine menemukan antigen baru yang diberi nama antigen M dan antigen N. Sel darah merah seseorang dapat mengandung salah satu atau kedua antigen tersebut.

Pengelompokannya ada tiga macaam, yaitu golongan darah M, N dan MN. Tabel 4.3 Penggolongan Darah Sistem MN Golongan Darah M N MN Antigen dalam eritrosit M N MN Genotype LMLM LNLN LMLN

Jika terjadi persilangan antara golongan darah M dan golongan darah MN, maka keturunannya (F1) bergolongan darah M dan MN. Lihat diagram berikut! P Genotipe Gamet :M : |M|M : |M |B Famet : |M|N : |M|N = Golongan darah M = golongan darah MN X MN |M|N |M dan |N

Dalam bidang hukum “Medical Genetic”, untuk mengidentifikasi golongan darah seseorang sering digunakan penggabungan cara antara penggolongan darah sistem ABO dan sistem MN. Dengan penggabungan sistem ABO dan sistem MN, kita dapat mengelompokkan darah menjadi 12 kelompok, sehingga makin sempitlah bidang penentuan seseorang yang diselidiki sifat genetikanya. Jika perlu, dapat dipersempit lagi dengan menggabungkan sistem Rh. Contoh: Amir yang bergolongan darah OM mengaku sebagai anak dari pasangan suami istri yang bergolongan darah AN dan BM. Benarkah pengakuan Amir tersebut? I. Menurut tinjauan dari golongan darah sistem ABO, pengakuan Amir ini benar, sebab kemungkinan dari persilangan golongan darah A heterozigot dan B heterozigot dapat menghadilkan F1 bergolongan darah O.

II.

Menurut tinjauan dari sistem MN, pengakuan Amir ini salah, sebab persilangan golongan darah N dengan M akan menghasilkan keturunan F1 bergolongan darah MN. Jadi, pengakuan Amir tersebut tidak benar.

IV.3.5 Sistem Lutheren Gen berlokus pada kromosom no.19. Gen Lua dan Lub. Gen Luse (sekretor) adalah sintenik dan dapat mengalami pindah silang. IV.3.6 Sistem Kell Ada 2 macam golongan darah yakni K+ dan K-. Seperti sistem Rh dapat menyebabkan HDN. Agglutinogen anti K tidak terbentuk jika ibu dan anak ABO inkompatibel. IV.3.7 Sistem Dufty Gen berlokus pada kromosom no.1. ada 3 alel mmultipel: Fya, Fyb dan Fy. Fy hanya terdapat pada orang Afrika. Fenotip Fy (a-b-) melindungi eritrosit terhadap malaria yang disebabkan oleh Palsmodium vivax. IV.3.8 Polimorfisme Protein Plasma Darah Lebih dari 100 macam protein dalam plasma darah manusia. Hal ini berarti bahwa banyak mutasi atau pindah silang yang terjadi pada segmen DNA di lokus gen yang mensintesis polipeptida protein plasma. Polimorfisme dapat digunakan untuk penelitian bidang antropologi dan evolusi manusia.

BAB V IMUNOLOGI

V.1 SISTEM IMUN Sistem imun terdiri dari semua sel, jaringan, dan organ yang diperlukan untuk respons imun. Fungsi sistem imun adalah melindungi tubuh dari patogen dan menghancurkan sel-sel yang sudah tidak dikenali sebagai ‘sel tubuh sendiri’. Jika sistem ini tidak bekerja maka dapat menyebabkan penyakit autoimun, defisiensi imun, atau penyakit alergi. V.1.1 Sawar Permukaan Sistem imunlah yang memungkinkan terjadinya penyembuhan dari infeksi oleh mikroorganisme yang menginvasi pertahana permukaan tubuh. Pasien rawat inap lebih berisiko terhadap invasi mikroorganisme karena penyakit mereka atau karena terapi yang yang diberikan harus melewati mekanisme pertahanan normal. Contohnya adalah pada kasus luka bakar, kateterisasi urin, neutropenia (jumlah sel darah putih/neutrofil rendah), kurangnya flora bakteri normal, dan malnutrisi pada pasien pascaoperasi atau pasien yang dirawat di perawatan intensif. Lini pertahanan tubuh pertama adalah kulit (sawar permukaan). Jika kulit dilewati atau diinvasi, maka akan terjadi respons inflamasi (peradangan).

V.1.2 Respon Inflamasi Tanda kerja sistem imun yang paling terlihat adalah adanya

kemerahan, pembengkakan, dan nyeri yang dilihat/dirasakan saat terluka atau terinvasi oleh benda asing. Reaksi ini disebut juga respons inflamasi. Tabel 5.1 Sawar permukaan tubuh. Sawar Kulit Flora bakteri normal (komensal) Mekanisme Sawar fisik Secara efektif berkompetisi dengan patogen pada kulit, usus, vagina, dan saluran pernapasan atas Lisozim pada air mata, cairan sekresi Menghancurkan dinding sel bakteri tubuh (bukan urin), dan jaringan pH Membran mukosa pH rendah pada lambung dan vagina menghambat pertumbuhan bakteri Menahan mikroorganisme dan menghentikan penempelan mikroorganisme ke sel epitel Tanda-tanda ini disebabkan oleh:  Dilatasi pembuluh darah yang akan meningkatkan aliran darah sehingga lebih banyak darah mencapai area yang terkena.  Meningkatkan permeabilitas kapiler, yang memungkinkan molekul sistem imun yang berukuran besar dan sel fagosit bermigrasi ke jaringan.  Zat kimia seperti histamin dan limfokin yang dilepaskan dari sel-sel yang rusak.

 Akumulasi cairan inflamasi ke ruang tertutup, sehinggga terjadi peningkatan tekanan. Efek ini membuat area inflamasi terlokalisasi, dan terjadi pengenceran (dilusi) zat iritan serta eliminasi melalui fagositosis. Kondisi inflamasi yang sering terjadi, misalnya pada kolitis, meningitis, pneumonia, dan pleuritis. Kadang respons inflamasi berlangsung lama dan dapat menyebabkan kematian jaringan. Misalnya gengren dan tuberkulosis. V.2 IMUNITAS ALAMIAH DAN IMUNITAS DAPATAN Sistem imun dapat membedakan sel-sel atau komponen tubuh ‘sendiri’ dari zat ‘asing’, zat asing ini disebut juga antigen. Respons imun terjadi berdasarkan pengenalan zat/komponen asing ini dan eliminasinya. Ada dua bagian fungsional sistem imun, yaitu sistem imun alamiah atau intrinsik (innate) yang bereaksi terlebih dulu melawan setiap antigen, dan sistem imun dapatan atau adaptif yang teraktivasi jika sistem imun intrinsik gagal. Kedua sistem ini kemudian bekerja sama. Respons adaptif bersifat spesifik terhadap antigen khusus, dan sistem imun akan terus menyimpan memori dan mengingatnya. Hal ini berarti jika respons imun terhadap suatu antigen telah teraktivasi maka jika suatu saat anda terpapar dengan antigen yang sama untuk kedua kalinya, akan terjadi respons yang lebih cepat. Sistem imun alamiah maupun dapatan bergantung pada sel dan komponen terlarut untuk dapat bekerja dengan baik. Tabel 5.2 Komponen Sistem Imun
Sel Imunitas alamiah Imunitas dapatan Fagosit Sel pembunuh alami (natural killer. NK) Sel T dan B (limfosit) Faktor terlarut Komplemen, lisozim Antibodi interferon

Tabel 5.3 Sel-sel sistem imun
Jenis sel Limfosit 1. 2. 3. Limfosit B (sel B) Limfosit T (sel T)* Sel NK Fungsi Imunitas dapatan (produksi antibodi) Imunitas dapatan (destruksi patogen intraselular) Imunitas alamiah (sitotoksik, membunuh sel asing)

Fagosit polimorfonuklear (PMN): 1. 2. Netrofil Eosinofil, basofil Fagositosis Terlibat dalam reaksi alergi dan destruksi parasit

Fagosit mononuklear: 1. Monosit (di jaringan berdiferensiasi menjadi makrofag) Fagositosis mikroorganisme intraselular, contohnya mycobacteria

2. Makrofag Membantu respons imun, fagositosis *Sel T dapat dibagi lagi berdasarkan aktivitasnya menjadi helper, supresor, sitotoksik, dan sel memori

V.2.1 Sel Darah Putih pada Sistem Imun Sel darah putih merupakan pertahanan utama terhadap mikroorganisme. Sel ini harus melintasi dinding pembuluh darah untuk mencapai jaringan yang telah terinfeksi mikroorganissme. Sel darah putih dapat dibagi menjadi dua golongan berdasarkan fungsinya. Golongan pertama, sel fagosiit, akan menelan substansi yang menginvasi dan kemudian menghancurkan substannsi tersebut. Golongan kedua, sel limfosit, penting untuk pertahanan jangka panjang. Sel fagosit dan limfosit juga dapat bekerja sama terutama untuk menghasilkan respons imun dapatan.

V.2.2 Faktor Terlarut pada Sistem Imun

Terdapat banyak faktor terlarut yang terlibat dalam respons imun. Beberapa faktor ini dihasilkan oleh limfosit, misalnya antibody dan sitokin, dan faktor lainnya terdapat dalam serum darah. Fungsii faktor-faktor ini dapat dilihat pada tabel 5.4. Tabel 5.4 Faktor Teratur pada system imun Komponen Sitokin: 1. Interferon 2. Interleukin 3. Faktor Komplemen CRP Antibodi Fungsi resistensi terhadap virus mengarahkan diferisiansi sel pembelahan dan diferesiansi sel-sel sumsum tulang Kontrol Inflamasi berkaitan dengan bakteri Netralisasi antigen Protein reaktif-C (C-reaktive protein, Aktivasi komplemen dengan cara pembelahan dan

Komplemen merupakan suatu seri 20 protein serum yang akan teraktivasi oleh kompleks antigen/antibodi pada imunitas dapatan atau oleh mikroorganisme pada imunitas alamiah. Aktivasi komponen pertama akan mengaktivasi komponen berikutnya sehingga terjadi rangkaian beruntun (kaskade). Dari berbagai bagian reaksi beruntun akan dihasilkan tiga efek utama:

Fagositosis yang lebih efektif (opsonisasi), karena komplemen akan menyelubungi kompleks imun dan mikroorganisme sehingga fagosit

yang mengandung reseptor komplemen dapat berikatan dengan lebih efektif • • Lisis sel (disrupsi) Aktivasi fagosit. Sitokin merupakan molekul yang berperan sebagai pembawa pesan antarsel; limfokin merupakan salah satu sitokin yang membawa pesan ke sel limfosit. Antibodi atau immunoglobulin (Ig) diproduksi oleh sel plasma (limfosit B berdiferensiasi). Semua antibody memiliki struktur dasar yang sama yang memungkinkan antibodi untuk berikatan dengan antigen, fagosit dan komplemen. Akan tetapi, karena semua antigen berbeda, maka tempat pengikatan antigen akan tersusun dari asam amino yang berbeda (variasi regio). Hal ini memungkinkan dihasilkannya antibodi yang spesifik untuk setiap antigen yang terpapar pada tubuh kita. V.2.3 Jenis Antibodi Terdapat lima kelas antibodi atau molekul imunoglobulin, dimana setiap kelasnya memiliki fungsi yang berbeda. IgG adalah imunoglobulin terbanyak dan dapat melintasi plasenta untuk memberikan perlindungan terhadap janin. IgM terdiri dari lima unit dasar dan merupakan lini pertama untuk menyerang bakteri. IgA terdapat dalam cairan sekresi tubuh, seperti saliva, kolostrum, air susu, dan sekret trakeobronkial. IgD terdapat pada permukaan sel B tetapi konsentrasinya dalam serum darah sangat rendah, fungsinya masih belum jelas. IgE dikaitkan dengan reaksi alergi, misalnya

asma. Jumlah relative setiap kelas imunoglobulin dapat dilihat pada tabel 5.5. Jenis Imunoglubin dalam serum manusia. Tabel 5.5 Jenis imunoglubin dalam serum manusia Jenis Imunoglobulin (Ig) IgG IgM IgA IgD IgE V.3 STRUKTUR SISTEM IMUN Sistem imun selalu siaga secara konstan dan setiap komponennya harus siap sedia dan dapat mencapai area yang terserang dengan cepat agar sistem bekerja efektif. Sistem limfoid menyediakan jaringan dan sel-sel yang dibutuhkan untuk respons imun. Lokasi utama produksi limfosit adalah pada sumsum tulang dan timus. Limpa, kelenjar getah bening, dan jaringan yang dekat mukosa, seperti tonsil (organ dan jaringan perifer) merupakan lokasi di mana mikroorganisme adalah limpa. Jika limpa diangkat, maka sistem imun akan kurang efektif. Limfosit berpindah dari lokasi produksinya ke jaringan perifer melalui darah dan sistem limfatik (jaringan yang terdiri dari saluran kecil diseluruh tubuh). Sekitar 1-2% limfosit akan bersirkulasi setiap jam, tetapi jika terdapat antigen yang dikenali maka sirkulasinya akan berhenti dan sel-sel yang tersensitisasi oleh antigen dapat % dari Ig total dalam serum manusia 70-75 10 15-20 >1 Jarang

dilokalisasi di kelenjar getah bening tempat antigen pertama kali dikenali. Dengan cara ini maka respons imun yang baik dapat tercapai dengan cepat. V.3.1 Pengenalan Antigen Telah dikatakan bahwa pengenalan (zat asing) merupakan langkah pertama dalam aktivasi sistem imun. Hal ini berarti bahwa sistem imun harus mengenali sel mana yang berasal dari tubuh sehingga sel tersebut tidak dihancurkan. Semua sel telah diberi label yang membuatnya dapat dikenali yaitu suatu penanda protein yang disebut kompleks

histokompatibilitas mayor (major histocompatibility complex, MHC). Terdapat dua set MHC, yaitu kelas I dan kelas II. Jika suatu mikroorganisme memasuki tubuh untuk pertama kalinya, maka

mikroorganisme tersebut akan difagositosis oleh makrofag karena mikroorganisme teersebut tidak dikenali sebagai sel tubuh normal. Mikroorganisme akan dihancurkan atau ‘diproses’ sehingga fragmenfragmen peptide antigen akan terlihat pada permukaan sel oleh molekul MHC. Makrofag ini kemudian disebut sel presentan antigen (antigen presenting cell. APC). Istilah APC dapat digunakan untuk setiap sel yang memiliki bagian dari antigen yang telah diproses pada permukaan selnya. Termasuk golongan APC adalah sel B baru yang memiliki molekul antibodi pada seluruh membran permukaan yang dapat terikat secara spesifik pada mikroorganisme. Jika mikroorganisme difagositosis ke dalam sel maka mikroorganisme akan diproses. Presentasi APC dapat dilakukan oleh protein

MHC kelas I maupun II, dan keduanya menentukan jenis sel T yang akan bereaksi. V.3.2 Produksi Antibodi Antibodi diproduksi oleh sel B yang distimulasi untuk membelah saat terikat pada antigen. Pada sebagian besar antigen, sel B tidak dapat membelah tanpa adanya sinyal dari sel T helper (Th) (helper : pembantu) yang akan bereaksi terhadap APC dengan antigen yang sama. Reaksi positif akan menyebabkan multiplikasi (proliferasi)) dan diferensiasi sel T. Sel Thelper akan bereaksi dengan sel B yang tersensitisasi dengan mengenali antigen dan molekul MHC kelas II. Sel T helper akan memproduksi interleukin (IL) yang menyebabkan produksi banyak sel B efektor (sel plasma) yang dapat mensekresi antibodi spesifik terhadap antigen tersebut. Sejumlah kecil sel memori B dan T juga disintesis untuk respons sekunder di masa depan. Jika suatu antigen telah dieliminasi, maka antibodi tidak akan dibutuhkan lagi dan sintesis antibodi akan dihentikan oleh sel T supresor, suatu jenis sel T yang berbeda. Tidak semua antibodi yang terbentuk akan digunakan, sehingga sebagian antibodi akan terdapat dalam sirkulasi darah. Antibodi dalam sirkulasi darah ini sangat berguna dalam uji diagnostik penyakit virus, seperti hepatitis. V.3.3 Waktu Respon Imun Jika suatu antigen masih baru, waktu yang diperlukan sampai antibodi terdapat dalam darah (respons imun primer) akan lebih lama daripada jika

antigen telah dikenali sebelumnya (respons sekunder). Respons sekunder ini merupakan dasar penjadwalan booster vaksinasi. V.3.4 Respon Imun Diperantarai Sel Antibodi efektif dalam melawan patogen dan toksin ekstraselular, tetapi tidsak dapat mengikat patogen intraselular, misalnya virus dan toksin. Untungnya, terdapat respons sistem imun lain yang hanya melibatkan sel T, yaitu respons imun yang diperantarai sel. Respons ini tidak hanya efektif melawan patogen intraselular, tetapi juga dapat mengenali sel-sel abnormal, misalnya sel kanker dan sel jaringan organ cangkok (graft) oleh karena itu pada transpalantasi organ penting diperhatikan kecocokan jaringan, dan diberikan obat-obatan yang menekan respons imun sehingga tidak terjadi penolakan terhadap organ donor. Sel T juga akan meningkatkan jumlah sel lainnya, misalnya makrofag yang akan membantu pembersihan sel-sel yang terinfeksi. Pada keadaan inflamasi kronik, misalnya tuberkulosis, terbentuk granuloma (kumpulan makrofag yang berfusi, sel-sel raksasa, sel epitel, dan sel T) yang mengalami kalsifikasi sehingga menyebabkan gangguan fungsi jaringan. Sel T matur di dalam timus dan berdiferensiasi menjadi sel T helper dan sel T sitotoksik serta mensintesis reseptor untuk setiap antigen spesifik, jadi setiap sel T akan memberi respons pada antigen yang berbeda. Sel T yang baru ini akan memasuki aliran darah dan tetap tidak aktif sampai bertemu dengan sel presentan antigen dengan kompleks MHC kelas I atau II pada permukaan selnya yang dapat dikenali oleh sel T. Pengenalan terhadap kompleks tersebut akan menstimulasi sel T yang tepat (Th/MHC kelas II,

Tc/MHC kelas I) untuk kemudian membelah dan membentuk suatu populasi atau klon sel, yang akan bereaksi dengan kompleks antigen MHC yang sama. Dengan bantuan sel T helper, yang memproduksi interleukin, maka klon sel T sitotoksik akan berdiferensiasi menjadi sel efektor dan sel memori yang akan berespons terhadap antigen yang sama. Interaksi dengan sel yang terinfeksi atau sel ‘asing’ akan mengaktivasi sel T sitotoksik untuk membunuh dengan melubangi membran plasma dan mensekresi toksin ke sel asing tersebut. Kemudian sel T sitotoksik bebas menyerang sel lainnya. V.3.5 Hasil Respon Imun Dapatan Ada dua efek dari proses imun dapatan: • Antibodi akan menetralisasi antigen untuk membuatnya menjadi tidak efektif, mengaktivasi komplemen, dan membantu respon imfalmasi. • Sel T sitotoksik membunuh sel ‘asing’ Kunci dari imunitas dsapatan adalah bahwa respons ini spesifik terhadap antigen tertentu dan suatu antigen akan terus diingat. Hal ini memungkinkan tubuh untuk bereaksi bila terpapar lagi dengan antigen yang sama. V.4 DEFEK RESPON IMUN Kadang sistem imun tidak bekerja dengan baik; contoh yang paling sering adalah pada reaksi hipersensitivitas, di mana terjadi respons imun yang berlebihan. Hal ini ditandai dengan reaksi inflamasi segera atau lambat terhadap antigen, yang biasanya tidak berbahaya. Contoh antigen adalah antibiotik, kosmetik, makanan (seperti kacang-kacangan), dan plester yang lengket. Orang-

orang yang hipersensitif atau ‘alergik’ akan mensintesis IgE setiap kali terpapar dengan alergen. Alergen ini berikatan dengan permukaan sel darah putih yaitu sel mast. Pada paparan antigen selanjutnya, alergen akan terikat kepada IgE pada permukaan sel mast yang kemudian memicu pelepasan histamin dan bahan kimia lainnya dari sel mast. Hal ini menyebabkan otot saluran napas berkontraksi dan meningkatkan produksi mukus sehingga dapat menyebabkan serangan asma. V.4.1 Desensititisasi Terhadap Antigen Salah satu pendekatan pada terapi hipersensitivitas adalah dengan mendesensitisasinya dengan memberikan antigen dosis rendah sehingga hanya IgG yang diproduksi, bukan IgE. Dengan meningkatkan konsentrasi antigen pada periode waktu tertentu, maka konsentrasi IgG dalam sirkulasi juga meningkat. Jika antigen berikatan dengan IgG, maka hal ini akan menurunkan jumlah antigen yang berikatan dengan IgE pada permukaan sel mast, sehingga dapat mencegah reaksi hipersensitivitas (respons inflamasi) dengan efektif. V.4.2 Inkompetensi Imun Sebagian orang dapat dilahirkan dengan defisiensi pada sistem imun (defek pada produksi antibodi atau fungsi sel T) atau defesiensi imun karena infeksi, seperti AIDS (acquired immunodeficiency syndrome), yang menyerang populasi sel T helper, atau kanker darah. Selain itu, pasien dapat mengalami keadaan imunosupresi karena obat-obatan, misalnya pada pasien pascatransplantasi ginjal, atau pasien kanker yang diterapi dengan obat-

obatan sitotoksik yang dapat menghancurkan sel. Tentu saja pasien-pasien ini rentan terhadap infeksi yang pada keadaan normal tidak mengancam nyawa. Perawatan pasien ini harus sangat berhati-hati. V.4.3 Penyakit Autoimun Penyakit autoimun adalah keadaan dimana sistem imun tidak lagi mengenali sel tubuhnya sendiri sehingga menyerangnya. Dua penyakit autoimun yang sering terjadi adalah arthritis reumatoid dan lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus, SLE). Artritis reumatoid mengenai membran sendi dimulai dari sendi kecil pada tangan dan kaki. Orang yang menderita artritis reumatoid memiliki kadar antibodi (faktor reumatoid) yang tinggi, yang akan terikat pada molekul IgG seperti halnya antigen. Kompleks antigen-antibodi yang terbentuk akan

berakumulasi pada membran sendi, kemudian memicu respons inflamasi kronik yang akhirnya menyebabkan imobilisasi sendi. Pada lupus eritematosus sistemik, pasien akan membentuk antibody terhadap DNA-nya dan terjadi akumulasi kompleks antigen-antibodi pada pembuluh darah, sendi, dan ginjal. Mengapa respons autoimun dapat terjadi masih merupakan pertanyaan yang belum terjawab, dan belum ada terapi efektif, selama proses ini masih belum dimengerti. V.5 APLIKASI SISTEM IMUN Sebagaimana kita ketahui bahwa antibodi dibuat sebagai respons terhadap antigen. Pengetahuan ini menjadi dasar pembentukan antibodi oleh tubuh terhadap suatu penyakit (imunitas aktif) atau pemberian antibody untuk

melindungi tubuh dari penyakit (imunitas pasif). Baru-baru ini telah dikembangkan suatu antibodi khusus yang disebut antibodi monoklonal yang dihasilkan oleh sel yang dikultur. Antibodi monoklonal merupakan antibodi yang identik dan sangat spesifik. Antibodi ini telah berhasil digunakan untuk meningkatkan teknik diagnostik dan memiliki potensi sebagai terapi berskala besar. V.5.1 Imunisasi Aktif Vaksin diberikan untuk membentuk imunitas seseorang secara aktif dengan menstimulasi produksi antibodi, yang dapat bertahan hingga bertahun-tahun. Anda akan terbiasa dengan jadwal imunisasi untuk anakanak atau mungkin harus mendapatkan vaksinasi sebelum pergi ke negar tertentu. Program imunisasi yang efektif dapat mencegah penyakit infeksi atau mengontrol penyebarannya. Beberapa penyakit misalnya cacar (smallpox), telah dieliminasi di seluruh dunia melalui vaksinasi. Contoh terbaru adalah keberhasilan vaksinasi meningitis C yang telah menurunkan insidensi penyakit ini secara signifikan. Tabel 5.6 Jadwal imunisasi untuk anak-anak
Vaksin Difteria/tetanus/pertusis (DPT) Polio Haemophilus influenzae tipe B (HiB) (diberikan dalam bentuk DPT-HiB) Campak/gondongan/rubela (measles/mumps/rubella, MMR) Ulangan/booster DPT Bakteri/toksin yang Virus hidup yang dilemahkan 5 tahun 5 tahun 10-14 tahun whole cell Jenis Toksoid/bakteri yang dinonaktifkan Virus hidup yang dilemahkan Polisakarida kapsul Usia saat diberikan Tahun pertama Tahun pertam Tahun pertama Tahun kedua

Ulangan/booster polio Bacillus Calmette-Guerin (BCG) Meningitis C

dinonaktifkan Virus hidup yang dilemahkan Bakteri hidup yang dilemahkan Konjugat polisakarida kapsul

di bawah 18 tahun

* Berlaku di Inggris, untuk Indonesia terdapat jadwal imunisasi yang berbeda

V.5.2 Empat Jenis Vaksin Secara umum di strain patogen hidup yang dilemahkan atau nonvirulen untuk proteksi terhadap virus, dan bakteri yang dinonaktifkan untuk penyakit bakterial. Akan tetapi, perkecualian pada kasus tuberkulosis, digunakan vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG) yang menggunakan bakteri hidup yang dilemahkan, dan vaksin influenza yang menggunakan virus yang telah dimatikan. Perbedsaan penting antara keduanya adalah strain bakteri yang hidup dan dilemahkan dapat bereplikasi, sedangkan strain yang dinonaktifkan tidak dapat bereplikasi lagi. Hal ini berarti bahwa imunitas dari vaksinasi yang menggunakan patogen hidup akan lebih tahan lama dan umumnya dapat dicapai dengan dosis tunggal, tetapi vaksinasi dengan patogen nonaktif seringkali membutuhkan suntikan ulangan (booster) dan hanya bertahan beberapa bulan. Vaksin aselular proteksi terhadap pertusis (batuk rejan) telah diperkenalkan sebagai bagian dari booster vaksin balita pada November 2001. Vaksin aselular menggunakan hanya sebagian kecil dari mikroorganisme seperti kapsul polisakarida untuk meningkatkan respons antibodi. Vaksin pertusis tidak dibuat dari seluruh sel bakkteri (whole cell) karena akan meningkatkan reaksi pada anak-anak yang berusia lebih tua.

V.5.3 Vaksin Tidak Tersedia Untuk Semua Penyakit Beberapa penyakit tidak mudah dikontrol dengan vaksinasi, seperti misalnya kolera. Vaksin dibuat dari bakteri yang mati, walaupun demikian, vaksin kolera yang baru masih dikembangkan. Enterotoksin menyebabkan diare kolera yang khas, dan enterotoksin maupun bakteri tidak akan mencapai aliran darah. Sehingga walaupun antibodi terhadap bakteri dari vaksinasi telah diproduksi melalui respons imun, antibodi harus mencapai jaringan usus yang terinfeksi oleh bakteri. Hal ini membuat vaksinasi relatif tidak efektif karena hanya sebagian kecil antibodi yang akan berkontak dengan bakteri. Contoh lain adalah virus influenza. Virus influenza dapat bermutasi dengan cepat dan mudah sehingga vaksin influenza harus dikaji lagi setiap tahun untuk memastikan strain yang digunakan untuk vaksinasi akan memberikan perlindungan terbaik bagi kelompok berisiko tinggi. Pada tahun 2001, digunakan dua strain yaitu Influenza A (H3N2 dan H1N1) dan Influenza B (Sichuan). V.5.4 Imunisasi Pasig Imunisasi pasif memberikan proteksi dengan cepat, tetapi hanya berlangsung selama beberapa minggu. Injeksi plasma yang mengandung antibodi atau immunoglobulin untuk melawan suatu penyakit diberikan pada pasien yang berisiko. Saat ini antiserum (plasma yang mengandung antibodi, berasal dari plasma hewan) sudah jarang diberikan karena seringkali terjadi efek samping. Ada dua jenis imunoglobulin,

imunoglobulin normal manusia (human normal immunoglobulin, HNIG)

dan immunoglobulin spesifik. HNIG digunakan untuk proteksi terhadap virus hepatitis A, campak, dan rubela. Imunoglobulin spesifik dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.7. Imunoglobin spesifik yang digunakan untuk imunisasi pasif
Imunoglobulin spesifik Imunoglobulin hepatitis B (HBIG) Imunoglobulin tetanus (HTIG) Imunoglobulin varisela zoster (VZIG) Kegunaan Bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi, tenaaga medis/ karyawan yang bekerja menangani virus Tata laksana luka yang rentan terinfeksi kuman tetanus Wanita yang terpapar cacar air saat hamil, pasien imunosupresi

V.5.5 Antibodi Untuk Terapi dan Uji Diagnostik Produksi antibodi monoklonal merupakan perkembangan baru yang menarik dan dapat digunakan di berbagai daerah. Antibodi monoklonal diproduksi melalui kultur sel dan hanya berespons terhadap satu bagian antigen. Semua antibodi yang terbentuk adalah identik, sehingga reaksi yang terjadi sangat spesifik dan efektif. Reaksi yang terjadi dapat ‘dilihat’ dengan memberi label pada antibodi misalnya dengan isotop radioaktif atau tinta fluoresen. Contoh potensial kegunaan antibodi monoklonal yang relevan untuk kesehatan pasien adalah: melacak materi asing, misalnya sel kanker; mencari jenis sel yang cocok sebelum transpalantasi organ, dan uji diagnostic cepat, seperti tes kehamilan dan tes golongan darah. V.5.6 Peluru Ajaib Jika antibodi ditandai dengan suatu bahan kimia yang dapat menghancurkan sel yang bereaksi, maka secara teoretis, semua sel yang bereaksi dengan antibodi dapat dieleminasi. Pendekatan ini sedang diteliti

untuk pengobatan kanker. Contohnya, isotop radioaktif, seperti

131

| yang

menjadi penanda antibodi dapat berikatan dengan sel tumor dan menghancurkannya. Isotop radioaktif dapat juga ditransmisikan ke sel yang tidak terikat antibodi, sehingga meningkatkan dosis radioaktif. Antibodi terhadap sel tumor yang terikat dengan obat sitotoksik sedang dalam penelitian. V.5.7 Transpalansi Organ Antibodi monoklonal telah meningkatkan kesuksesan transpalantasi organ melalui dua cara. Pertama, dapat dilakukan pencocokan jenis jaringan donor dan resipen (penerima) dengan baik. Kedua, dengan mencegah pengikatan sel T sitotoksik ke organ donor, karena sel T sitotoksik akan menghancurkan organ donor. Terapi pasien dengan antibodi telah meningkatkan kesuksesan transpalantasi ginjal besar 90%. V.5.8 Dipstick/Strip Pada uji diagnostik, antibodi diberi label sehingga hasilnya dapat dilihat dengan mudah. Salah satu contoh adlah alat uji kehamilan. Pada uji ini, antibodi dilekatkan pada partikel lateks berwarna, yang akan bereaksi dengan hormon hCG (human chorionic gonadotrophin) yang terdapat pada urin wanita hamil. Strip ini memiliki antibodi yang bebas begerak (mobile) pada bagian bawah strip dan antibodi yang terfiksasi (tidak dapat bergerak) pada dua tempat berbeda di atasnya. Jika strip dicelupkan pada sampel urin, maka antibodi bebas bergerak yang melekat pada partikel lateks berwarna akan bereaksi dengan hormon dan berdifusi ke bagian atas strip sampai

mencapai pita antibodi terfiksasi pertama kompleks antibodi bebas/hCG.

yang kemudian mengikat pita berwarna ini

Pembentukan

menunjukkan hasil uji positif. Jika seorang wanita tidak hamil, maka tidak akan ada reaksi. Urin akan terus berdifusi ke atas strip di mana terdapat pita antibodi terfiksasi kedua yang lebih tinggi. Pita ini akan mengikat antibodi saja. Munculnya satu pita berwarrna pada tempat yang lebih tinggi menunjukkan hasil tes negatif dan ini menunjukkan bahwa uji ini bekerja dengan baik. Bila muncul dua pita berwarna, berarti hasilnya positif. V.5.9 Golongan Darah Darah diklasifikasikan menjadi empat kelompok utama berdasarkan antigen permukaan sel darah merah, antibodi yang bersirkulasi dalam plasma, dan ada tidaknya antigen Rhesus (D). Gen-gen yang mengkode antigen memiliki tiga alel, yaitu A, B, dan O. Gen a dan B merupakan kodominan sehingga dapat muncul bersama-sama, tetapi jika A atau B berpasangan dengan O, maka fenotipe O tidak diekspresikan. Tabel 5.8 golongan darah manusia
Genotipe Fenotipe % populasi AB dalam plasma Fenotipe darah yang dapat diterima

||

I I

O A B AB

45 40 10 5

A, B B A Tidak ada

O A dan O B dan O Semua

|A| A atau |A| I |B| B atau |B| I |A| B

Golongan darah dapat ditentukan dengan mencampur antibodi spesifik dengan sampel darah. Jadi jika anda memiliki golongan darah A, maka sel

darah merah akan memiliki antigen A dan akan bereaksi dengan antibodi anti-A. Reaksi terlihat sebagai reaksi penggumpalan atau aglutinasi sel darah, yang berarti reaksi positif. Menguji sampel darah yang sama tidak akan terjadi algutinasi bila dicampurkan dengan antibodi antigen anti-B, yang menunjukkan bukan golongan darah B. Sangat penting mengetahui golongan darah pasien jika kita akan melakukan transfusi darah. Mencampur darah yang tidak kompatibel (tidak cocok) akan menyebabkan aglutinasi sel darah merah dan hemolisis (pecahnya sel darah merah). Reaksi yang terjadi akan sangat fatal. Antigen utama lainnya yang penting dalam penentuan golongan darah adalah antigen Rhesus atau antigen D. Sekitar 85% populasi memiliki Rhesus positif. Antigen ini pertama kali ditemukan pada monyet, maka dinamakan sesuai nama monyet tersebut, Rhesus. Bila anda memiliki Rhesus positif berarti terdapat antigen Rh pada sel darah merah anda, tetapi tidak ada antibodi Rhesus pada sirkulasi darah. Akan tetapi, jika anda memiliki Rhesus negatif, tanpa antigen pada sel darah merah, dan mendapat darah dengan Rhesus positif, maka akan terbentuk antibodi terhadap antigen Rhesus. Rhesus sangat penting pada kehamilan wanita yang memiliki Rhesus negatif yang janinnya mungkin Rhesus positif. Saat persalinan, ibu mungkin terpapar dengan sel darah janin sehingga antibodi terbentuk. Jika bayi berikutnya juga memiliki Rhesus positif, maka antibodi dari tubuh ibu akan menghancurkan darah bayi yang kedua (disebut juga penyakit hemolisis neonatus). Saat ini, ibu Rhesus negatif diberikan suntikan antibodi D segera setelah persalinan, yang akan

menghancurkan sel-sel Rhesus positif jannin yang ada di sirkulasi darah ibu. Hal ini mencegah tubuh ibu membentuk antibodi Rhesus sehingga anak berikutnya tidak akan terkena penyakit hemolisis. Dosis suntikan antibodi hanya sedikit saja agar tidak mempengaruhi kehamilan berikutnya.

BAB VI SISTEM REPRODUKSI MANUSIA

VI.1 ORGAN REPRODUKSI Pada manusia, reproduksi berlangsung secara seksual. Alat reproduksi pada manusia berupa alat kelamin pada laki-laki dan alat kelamin pada wanita. 1. Alat Kelamin Laki-laki Alat kelamin laki-laki berfungsi menghasilkan gamet jantan, yaitu spermatozoa (sperma). Alat kelamin laki-laki dibedakan menjadi alat kelammin luar dan alat kelamin dalam. a. Alat Kelamin Luar Alat kelamin luar berupa penis yang fungsinya sebagai alat kopulasi (persetubuhan). b. Alat Kelamin Dalam Alat kelamin dalam terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut: 1) Testis Testis berbentuk bulat telur dan jumlahnya sepasang, terdapat pada skrotum (zakar). Testis merupakan tempat pembentukan sel kelamin jantan (spermatozoa) dan hormon kelamin (testosteron). Pada testis terdapat pembuluh-pembuluh halus yang disebut tubulus seminiferus. Pada dinding tubulus seminiferus terdapat calon-calon sperma (spermatogonium) yang diploid. Di antara tubulus seminiferus terdapat sel-sel intersisial yang menghasilkan hormon testosteron dan

hormon kelamin jantan lainnya. Selain itu, terdapat pula sel-sel berukuran besar yang berfungsi menyediakan makanan bagi spermatozoa. Sel ini disebut sel Sertoli. 2) Saluran Reproduksi Saluran reproduksi terdiri dari duktus epididimis, yaitu tempat pematangan sperma lebih lanjut dan tempat penyimpaangan sperma sementara. Selanjutnya terdapat vasa deferensia yang merupakan suatu saluran untuk mengangkut sperma ke vesika seminalis (kantong sperma). Arah vasa deferensia ini ke atas, kemudian melingkar dan salah satu ujungnya berakhir pada kelenjar prostas. Di belakang kantong kemih, saluran ini bersatu membentuk duktus ejakulatorius pendek yang berakhir di uretra. Uretra dan duktus ejakulatorius samasama berakhir di ujung penis.

Gambar 6.1 Struktur Reproduksi Laki-laki (Sumber: lembarkesehatan.blogspot.com)

3) Saluran Reproduksi Saluran kelamin dilengkapi dengan tiga kelenjar yang dapat mengeluarkan getah/semen. Kelenjar-kelenjar ini antara lain Vesikula seminalis, kelenjar prostat, kelenjar bulbouretral (Cowper). a) Vesikula seminalis Vesikula seminalis berjumlah sepasang dan terletak di atas dan bawah kantong kemih. Vesikula seminalis menghasilkan 60% dari volume total semen. Cairan dari vesikula seminalis berwarna jernih, kental, berlendir, mengandung asam amino dan fruktosa. Cairan ini berfungsi untuk memberi makan sperma. Selain itu, vesikula seminalis juga mengekskresikan prostaglandin yang berfungsi membuat otot uterin berkontraksi untuk mendorong semen mencapai uterus. b) Kelenjar prostat Kelenjar prostat berukuran lebih besar dibandingkan dengan dua kelenjar lainnya. Cairan yang dihasilkan encer seperti susu dan bersifat alkalis (basa) sehingga dapat menyeimbangkan keasaman residu urin di uretra dan keasaman vagina. Cairan ini langsung bermuara ke uretra lewat beberapa saluran kecil. c) Kelenjar bulbouretral (Cowper) kelenjar ini kecil, berjumlah sepasang, dan terletak di sepanjang uretra. Cairan kelenjar ini kental dan disekresikan sebelum penis mengeluarkan sperma dan semen.

2. Alat Kelamin Wanita Alat kelamin wanita dibedakan menjadi alat kelamin luar dan alat kelamin dalam. a. Alat Kelamin Luar alat kelamin luar terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut:
1) Labia mayor (bibir luar vagina yang tebal) berlapiskan lemak 2) Mons veneris, pertemuan antara kedua bibir vagina dengan bagian

atas yang tampak membukit
3) Labia minor (bibir kecil), yaitu sepasang lipatan kulit yang halus dan

tipis, tidak dilapisi lemak
4) Klitoris, tonjolan kecil disebut juga kelentit 5) Orificium urethrae (muara saluran kencing), tepat di bawah klitoris 6) Himen (selaput dara), berlokasi di bawah saluran kencing yang

mengelilingi lubang vagina. b. Alat Kelamin Dalam\ Alat kelamin dalam terdiri atas bagian-bagian sebagaii berikut: 1) Indung telur (ovarium) Ovarium berjumlah sepasang dan terletak di rongga perut, yaitu di daerah pinggang kiri dan kanan. Ovarium diselubungi oleh kapsul pelindung dan mengandung beberapa folikel. Tiap folikel mengandung satu sel telur yang diselubungi oleh satu atau lebih lapisan sel-sel folikel. Folikel adalah struktur seperti bulatan-bulatan yang

mengelilingi

oosit

dan

berfungsi menyediakan

makanan

dan

melindungi perkembangan sel telur. 2) Oviduk (tuba fallopi) Oviduk berjumlah sepasang. Saluran oviduk menghubungkan ovarium dengan rahim (uterus). Ujung oviduk berbentuk wrong berjumbaijumbai (fimbriae). Fimbriae berfungsi menangkap ovum. Setelah ovum ditangkap oleh fimbriae, kemudian diangkat oleh bagian oviduk yang menyempit dengan gerak peristaltik dinding tuba menuju ke rahim. 3) Uterus (rahim) Pada manusia, rahim hanya satu ruang dan beroto serta tebal. Pada wanita yang belum pernah melahirkan, ukuran rahim biasanya mempunyai panjang 7 cm dan lebarnya 4-5 cm. Rahim bawah mengecil dan dinamakan leher rahim (serviks uteri) sedangkan bagian yang besar disebut badan rahim (korpus uteri). Rahim tersusun atas tiga lapisan, yaitu perimetrium, mioinetrium, dan endometrium. Endometrium menghasilkan banyak lendir dan mengandung banyak pembuluh darah. Lapisan inilah yang mengalami penebalan yang akan mengelupas setiap bulannya bila tidak ada zigot (sel telur yang telah dibuahi) yang ditanamkan (implantasi). 4) Vagina Vagina ialah sebuah tabung berlapiskan otot yang membujur ke arah belakang dan atas. Dinding vagina lebih tipis daripada rahim dan banyak memiliki lipatan. Hal ini untuk mempermudah jalan kelahiran

bayi. Vagina juga memiliki lendir yang dihasilkan oleh dinding vagina dan kelenjar Bartholin (Marieb & Mallatt 2001).

Gambar 6.2 Sistem Reproduksi Wanita (Sumber: gurungeblog.wordpress.com )

Gambar 6.3 Uterus Pada Wanita (Sumber: forum.vivanews.com)

VI.2 MEKANISME PEMBENTUKAN GAMET Gamet jantan dibentuk di dalam testis pada skrotum, sedangkan gamet betina dibentuk di dalam ovarium. Pembentukan gamet jantan disebut spermatogenesis dan pembentukan gamet betina disebut oogenesis. 1. Mekanisme Spermatogenesis Spermatogenesis terjadi setelah seorang laki-laki mengalami masa puber (dewasa secara biologis). Spermatogenesis kemudian akan terjadi secara teratur dan terus menerus seumur hidup laki-laki. Di dalam testis, spermatogenesis terjadi di tubulus seminiferus. Pada dinding tubulus seminiferus telah tersedia calon-calon sperma (spermatogonia) yang berjumlah ribuan. Setiap spermatogonia melakukan pembelahan mitosis membentuk spermatosit primer. Spermatosit primer melakukan pembelahan meiosis pertama membentuk 2 spermatosit sekuder. Tiap spermatosit sekunder melakukan pembelahan meiosis kedua, menghasilkan 2 spermatid yang bersifat haploid. Keempat spermatid ini berkembang menjadi sperma

matang yang bersifat haploid. Sperma yang telah matang akan menuju epididimis. Setiap spermatogenesis memerlukan waktu 65067 hari. Struktur sperma matang terdiri dari kepala, leher, bagian tengah, dan ekor. Kepala sperma tebal mengandung inti haploid yang ditutupi badan khusus yang disebut akromosom. Akromosom mengandung enzim yang membantu sperma menembus sel telur. Bagian tengah sperma mengandung mitokondria spiral yang berfungsi menyediakan energi untuk gerak ekor sperma. Setiap melakukan ejakulasi, seorang laki-laki mengeluarkan kurang lebih 400 juta sel sperma. 2. Mekanisme Oogenesis Oogenesis terjadi di ovarium. Di ovarium ini telah tersedia caloncalon sel telur (oosit primer) yang terbentuk sejak bayi lahir. Saat pubertas, oosit primer melakukan pembelahan meiosis mnghasilkan oosit sekunder dan badan polar pertama (polosit primer). Proses ini terjadi di bawah pengaruh FSH (Follicle Stimulating Hormone). Oosit sekunder dikelilingi oleh folikel. Oosit yang terms berkembang. Lama kelamaan akan dipisahkan dari folikel-folikel di sekelilingnya oleh zona pelusida. Di bawah pengaruh FSH, folikel-folikel ini membelah berkali-kali dan membentuk Folikel Graaf (folikel yang telah masak), di antaranya mempunyai rongga. Kemudian, selsel folikel ini memproduksi estrogen yang merangsang hipfisis untuk mensekresikan LH (Luteinizing Hormone). LH berfungsi mendorong terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur). Jika pada saat ovulasi terjadi pembuahan, maka oosit sekunder meneruskan pembelahan menjadi ootid

(haploid) dan badan polar kedua. Ootid berdiferensiasi menjadi ovum. Jadi dalam oogenesis ini dihasilkan oosit sekunder yang akan dibuahi oleh sperma. Setelah pembuahan, oosit sekunder membelah lagi secara meiosis hingga dihasilkan ovum. Berbeda dengan laki-laki, wanita hanya mengeluarkan 1 sel telur saja selama waktu tertentu (siklus). Ovulasi pada wanita berhubungan dengan siklus yang dikontrol oleh hormon. Pada manusia dan primat, siklus reproduksinya disebut siklus menstruasi sedangkan pada mamalia lain disebut siklus estrus. Menstruasi dapat diartikan sebagai luruhnya ovum yang tidak dibuahi beserta lapisaan dinding uterus yang terjadi secara periodik. Darah menstruasi wring disertai jaringan-jaringan kecil yang bukan darah. Siklus reproduksi ini umumnya memiliki periode 28 hari hingga 1 bulan, oleh karena itu disebut mens (berasal dari bahasa latin, menses yang artinya bulan). Siklus estrus merupakan suatu perilaku seksual yang aggresif dari hewan betina pada saat terjadi ovulasi. Estrus ini merupakan peristiwa yang paling menonjol dari siklus reproduksi mamalia selain manusia dan primata. Oleh karena itu, siklus reproduksinya disebut siklus estrus. Perbedaan utama antara siklus estrus dan menstruasi ini adalah pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan maka endometrium akan dikeluarkan bersama darah. Sedangkan pada siklus estrus tidak terjadi pendarahan karena endometrium diserap (reabsopsi) oleh uterus. Siklus menstruasi wanita umumnya 28 hari sekali, sedangkan siklus estrus pada tikus hanya 5 hari sekali, beruang dan anjing satu tahun sekali dan gajah

beberapa kali dalam setahun. Selama ovulasi, kandungan estrogen tinggi sehingga lendir pada serviks tipis. Keadaan itu melancarkan sperma untuk bergerak dari vagina ke uterus. Setelah ovulasi, kandungan progesteron meningkat, dan lendir serviks menebal dan lengket. Lendir itu akan menghalangi jalan masuk sperma ke uterus (Marieb 2004). VI.3 SIKLUS MENSTRUASI Siklus menstruasi pada wanita terdiri dari tiga fase, yaitu fase aliran menstruasi, fase proliferasi, dan fase sekresi. 1. Fase proliferasi Fase ini dikendalikan oleh hormon estrogen maka disebut juga “fase estrogenik”. Fase ini dimulai pada hari ke-5 sampai hari ke-14 dari siklus. Setiaap bulan setelah haid, hipofisis anterior mensekresikan FSN (Follicle Stimulating Hormone). Hormon ini berpengaruh terhadap proses

pertumbuhan dan pematangan ovum dan folikel Graaf. Selama pertumbuhan folikel menjadi folikel Graaf terjadi proses pembentukan dan pengeluaran hormon estrogen. Estrogen berfungsi untuk membangun endometrium sehingga endometrium rahim emenbal hingga 5-7 cm. Selain itu, estrogen juga mempengaruhi kelenjar serviks untuk menghasilkan cairan encer. Adanya estrogen akan menghabat pengeluaran FSH dan memacu pengeluaran LH yang dikeluarkan oleh lobus anterior hipofisis. Pada tahap akhir, dengan pecahnya folikel Graaf, ovum terlepas dan terlempar keluar, disebut ovulasi, kira-kira hari ke-14 dari suatu siklus.

2. Fase Sekresi (Fase Progesteron) Fase ini terjadi pada hari ke-14 sampai hari ke-28 dari siklus. Folikel Graaf yang pecah pada saat ovulasi berubah menjadi korpus rubrum yang mengandung banyak darah. Adanya LH menyebabkan korpus rubrum berubah menjadi korpus luteum (badan kuning). Korpus luteum

mensekresikan hormon progesteron. Selama fase sekresi, endometrium terus menebal. Arteri-arteri membesar, dan kelenjar endometrium tumbuh. Perubahan endometrium dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron yang disekresikan oleh korpus luteum sesudah ovulasi. Jika tidak ada kehamilan korpus luteum berdegenerasi sehingga progesteron dan estrogen menurun bahkan sampai hilang. 3. Fase Menstruasi Tahap ini berlangsung selama 4-6 hari dalam satu siklus. Oleh karena hormon estrogen dan progesteron berhenti dikeluarkan, maka endometrium mengalami degenerasi. Darah, mukus, dan sel-sel epitel dikeluarkan sebagai darah haid dari rongga uterus ke vagina. Dengan menurun dan hilangnya progesteron dan estrogenn, FSH aktif diproduksi lagi dan siklus dimulai kembali. VI.4 FERTILISASI DAN KEHAMILAN Fertilisasi adalah proses penggabungan sperma dan ovum. Setelah ejakulasi ke dalam saluran reproduksi wanita, sperma akan tetap hidup selama beberapa hari. Sedangkan ovum akan tetap fertil selama 24 jam setelah ovulasi. Setelah sperma memasuki uterus, kontraksi pada dinding uterin akan membantu

sperma mendekati ovum. Setelah sperma bertemu dengan ovum, akan muncul bukaan di bagian akrosom sperma. Bukaan tersebut akan mengeluarkan enzim pelarut zona pelusida pada oosit sekunder. Setelah sperma memasuki ovum, akan segera terjadi perubahan yang mencegah sperma lain masuk. Biasanya sperma akan kehilangan ekornya ketika masuk untuk membuahi ovum. Proses masuknya sperma akan merangsang oosit sekunder menyelesaikan pembelahan meiosis keduanya. Kepala sperma yang bersifat haploid membengkak dan membentuk pronukleus jantan. Pronukleus jantan akan melebur dengan pronukleus betina, kemudian membentuk nukleus zigot yang diploid. Zigot akan tumbuh menjadi embrio di dalam uterus sejak terjadi fertilisasi hingga dilahirkan. Waktu kehamilan manusia berkisar rata-rata 266 hari atau 38 minggu. Kehamilan pada rodentia, misalnya tikus berlangsung selama 28 hari; pada anjing 60 hari; pada kerbau 270 haari; pada jerapah 420 hari; dan pada gajah 600 hari. 1. Perkembangan Embrio di Rahim Proses perkembangan embrio di dalam rahim adalah sebagai berikut: Telur yang telah dibuahi oleh sperma membentuk zigot. Kemudian zigot digerakkan oleh silia oviduk mennuju ke uterus. Setelah 24 jam, terjadilah pembelahan sel (cleavage). Pembelahan ini terjadi saat telur yang dibuahi berjalan dari oviduk ke uterus yang memakan waktu 3-5 hari. Sel telur yang sudah dibuahi tadi akan mengalami pembelahan menjadi dua sel, empat sel, delapan sel, enam belas sel, dan akhirnya akan menjadi satu kelompok sel baru yang merupakan suatu benda bulat seperti buah murbei yangdisebut

stadium/fase morula. Morula kemudian membentuk bola berongga; bentuk ini diseubt blastosit. Blastosit berdiferensiasi menjadi 3 bagian yaitu: a. Sel-sel terluar disebut tropoblas b. Sel-sel bagian dalam disebut embrioblas c. Rongga berisi cairan disebut blastosol Proses perubahan morula menjadi blastosit disebut blastulasi. Blastosit kemudian turun ke uterus dan menanammkan diri di endrometrium atau melakukan implantasi. Implantasi terjadi pada hari ke-7 atau ke-8. Implantasi terjadi karena sel tropoblas mengeluarkan enzim proteolitik. Selanjutnya embrioblas membelah diri sehingga menjadi satu kelompok sel yang sedikit menonjol dan diberi nama bintik benih. Sel0sel lapisan tropoblas mengeluarkan semacam cairan sehingga antara tropoblas dan bagian bintik benih terpisah. Antara keduanya terbentuk suatu ruangan yang berisi cairan yang makin lama makin luas. Akan tetapi antara bintik benih dengan tropoblas masih berhubungan pada satu tempat yang dinamakan selom (coelom). Stadium/fase ini dinamakan fase blastula. Setelah terjadi blastula maka stadium selanjutnya adalah stadium gastrula. Di stadium ini bintik benih mengalami pertumbuhan sel yang berbeda-beda dan membagi diri menjadi beberapa lapisan sel-sel yang berlainan sifatnya. Lapisan-lapisan itu antara lain ektoderma (lapisan luar) yang dekat dengan tropoblas, lapisan endoderma (lapisan dalam) yang sedikit menonjol ke dalam ruangan eksoselom, dan mesoderma (lapisan tengah). Saat embrio tumbuh, endoderma berkembang menjadi batas epitelium gastrointestinum, alat

pernapasan dan sejumlah organ. Mesoderma membentuk peritonium, otot, tulang dan jaringan ikat lain. Ektoderma membentuk kulit dan sistem saraf. 2. Pembentukan Membran Embrio Selama periode embrionik, membran embrio terbentuk. Membran-membran ini berada di luar embrio dan berfungsi melindungi dan memberi makan embrio. Membran-membran tersebut adalah kantong kuning telur, amnion, korion, dan alantois. a. Kantong kuning telur Kantong ini adalah membran yang dibatasi endoderma. Pada beberapa spesies, kantong kuning telur berfungsi menyediakan nutrisi utama bagi embrio. Pada manusia, kantong ini berfungsi menyediakan tempat mulamula bagi pembentukan darah. Kantong kunning telur juga mengandung sel-sel yang akan berkembang menjadi spermatogonium atau oogonium setelah bayi dewasa. b. Amnion Amnion merupakan membran pelindung yang tebal. Saat embrio tumbuh, amnion menyelubungi embrio dan membentuk ruang yang berisi cairan amnion. Cairan amnion berfungsi melindungi embrio dari gesekan dan membantu regulasi suhu tubuh embrio. c. Korion Korion merupakan derivat dari ektoderma dan mesoderma tropoblas. Korion menjadi bagian utama plasenta. Korion ini meenyelubungi amnion dan kantong kuning telur.

d. Alantois Alantois berupa membran vascular kecil yang merupakan tempat mulamula pembentukan darah. Fungsi alantois adalah untuk respirasi, saluran makanan, dan ekskresi. 3. Pembentukan Plasenta Pada bulan ketiga, terjadi pembentukan plasenta (ari-ari attau tembuni). Plasenta berbentuk pipih dan berkembangg dari korion dan sebagian endometrium. Fungsi plasenta adalah sebagai berikut: 1. Memungkinkan oksigen dan makanan dari darah ibu berdifusi ke darah janin. 2. Memungkinkan karbon dioksida dan sisa metabolisme janin berdifusi ke darah ibu. 3. Mencegah mikroorganisme masuk ke tubuh janin. 4. Menyuplai makanan seperti karbohidrat, proteiry kalsium dan besi ke tubuh janin. 5. Menghasilkan beberapa hormon yang dibutuhkan untuk memelihara kehamilan. Tali pusar Selama pertumbuhan embrio, pada korion tumbuh struktur seperti jarijari yang disebut vili korion. Vili korion mengandung pembuluh darah janin dari alantois. Vili korion tumbuh terus hingga terendam pada ruang darah ibu yang disebut ruang intervili. Darah ibu dan janin akan berdekatan, namun

tidak bercampur. Fungsi vili korion adalah tempat pertukaran oksigen dan makana dari darah ibu ke bayi. Dari pembuluh darah pada vili, makanan akan disirkulasikan ke vena umbilikus (tali pusar), dan sisa metabolisme dari janin akan meninggalkan janin lewat arteri umbilikus dan berdifussi ke darah ibu. Tali pusar tersusun atas lapisan terluar amnion yang mengandung arteri umbilikus dan vena umbilikus serta diperkuat oleh jaringan ikat pipih dan alantois. Apabila bayi telah lahir maka tali pusar akan tetap menempel di perut bayi hingga beberapa hari. Setelah tali pusar tanggal, akan meninggalkan bekas di perut yang sering disebut pusar (Marieb & Mallat 2001). Perkembangan janin perbulan dapat dilihat pada Tabel 6.1
Bulan 1 Panjang dan Berat 0,6 cm Perkembangan Janin Tulang belakang dan saluran tulang belakang terbentuk. Calon tangan dan kaki muncul, jantung terbentuk dan 2 3 cm dan 1 g mulai berdetak Mata muncul dan berjauhan letaknya, hidung pipih. Penulangan mulai terjadi. Tubuh mulai ada, tangan kaki, dan jari-jemari terbentuk sempurna. Pembuluh darah 3 7,5 cm dan 28 g utama terbentuk. Berbagai organ dalam berkembang Mata berkembang sempurna, tetapi kelopak mata masih menyatu dengan mata, hidung membentuk jalur, dan telinga luar muncul. Anggota gerak terbentuk sempurna dan kuku mulai berkembang. Detak jantung sudah bisa 4 18 cm dan 113 g dideteksi. Proporsi kepala lebih besar dari tubuh. Wajahnya mulai berbentuk manusia dan rambut kepala tumbuh. Kulit berwarna merah muda terang, beberapa tulang mengeras dan sendi terbentuk. 5 25-30 cm, 227-254 g Proporsi kepala lebih besar dari tubuh. Rambut-rambut halus (lanugo) menyelubungi tubuh. Kulit berwarna

6 7 8 9

27-35 cm, 567-871 g 32-42 cm, 1.135-1.362 g 41-45 cm, 2.043-2.270 g 50 cm, 3.178-3.405 g

merah muda terang. Kepala agak proporsional. Kulit keriput dan berwarna merah muda. Kelopak mata terpisah dengan mata Kepala dan tubuh lebih proporsional. Kulit merah keriput. Lemak subkutan mengendap, testis turun ke skrotum, tulang kepala lunak, dan keriput kulit berkurang. Endapan lemak subkutan bertambah, lanugo mengelupas, dan kuku tumbuh di ujung jari.

Tabel 6.1 perkembangan janin

Pada umumnya, bayi hanya memerlukan ASI sampai usia 3 bulan. Biasanya tidak terdapat gangguan pertumbuhan dalam masa usia ini, kecuali jika anak menderita penyakit atau karena hal-hal tertentu di luar faktor makanan. Akan tetapi, setelah tiga bulan, jumlah ASI yang dihasilkan ibu akan mulai berkurang, sehingga tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan anak akan kalori dan protein. Anak mulai memperlihatkan tanda-tanda awal gangguan pertumbuhan, seperti kenaikan berat badan mulai lambag dan sebagainya. Pengaturan makanan yang tepat dan benar merupakan kunci pemecahan masalah ini. Khasiat ASI sebagai makanan untuk bayi tidak perlu disangsikan lagi. Ahli kedokteran anak di seluruh dunia telah mengadakan penelitian terhadap kebaikan ASI sebagai makanan bayi, dan menyimpulkan sebagai berikut: a. Air susu ibu mengandung hampir semua zat gizi yang diperlukan oleh bayi dengan komposisi yang sesuai dengan kebutuhan bayi. ASI mengandung kadar laktosa tinggi. Laktosa dalam usus akan mengalami

peragian hingga membentuk asam laktat. Asam laktat dalam susu bayi bermanfaat untuk: 1. Menghambat pertumbuhan bakteri yang patogen 2. Merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menghasilkan berbagai asam organik dan mensintesis beberapa jenis vitamin dalam usus.
3. Memudahkan terjadinya pengendapan calsium caseinate (protein

susu) 4. Memudahkan penyerapan berbagai jenis mineral, seperti kalsium, fosfor dan magnesium.
b. ASI tidak mengandung bibit penyakit, justru mengandung zat penolak

untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. Zat kekebalan yang terdapat dalam ASI antara lain laktoferin, dan antibodi yang dapat melindungi anak dari bakteri, virus, dan jamur. c. ASI lebih aman terhadap kontaminasi, karena ASI diberikan langsung, maka kemungkinan tercemar zat yang berbahaya lebih kecil. d. Resiko alergi pada bayi sangat kecil. e. Temperatur ASI sesuai dengan temperatur tubuh bayi. f. Pemberian ASI dapat mempererat hubungan kasih sayang antara ibu dan bayinya. g. Bayi yang menyusu pada ibunya, memiliki pertumbuhan geraham lebih baik. h. Bentuk payudara ibu memungkinkan bayi menyusui tanpa tersendak.

ASI yang dihasilkan pada hari pertama sampai hari ketiga atau keempaat setelah persalinan disebut kolostrum. Setelah hari keempat sampai kira-kira minggu kelima disebut air susu peralihan. Setelah minggu kelima dan seterusnya, ASI yang diproduksi mempunyai komposisi zat gizi yang tetap. Kolostrum berwarna lebih kuning dan lebih kental daripada ASI. Kolostrum berkhasiat membersihkan saluran pencernaan bayi dari

tnukoneutn (kotoran yang terdapat dalam saluran pencernaan janin). Selain itu, kolostrum juga merangsangg kematangan mukosa usus sehingga saluran pencernaan bayi siap untuk mencerna ASI. ASI memiliki kandungan gizi lengkap, baik makronutrien seperti proteiry lemak, karbohidrat, maupun mikronutrien, yaitu vitamin dan mineral. Mineral yang terdapat dalam ASI sama dengan yang terkandung dalam kolostrum, hanya kadarnya lebih rendah. Keuntungan lain dari pemberian ASI adalah praktis, karena dapat diberikan kapan saja, dimana saja dalam keadaan segar dengan suhu yang sesuai dengan suhu bayi, higienis dan ekonomis. Apakah ASI lebih baik dibandingkan susu jenis lain untuk bayi? Apakah alasanmu?

Perbandingan zat gizi Protein Lemak Laktosa Kalori Kapur

Kadar zat gizi dalam tiap 100 ml ASI 12,0 g 3,8 g 7,0 g 75 kal 30 mg

Kadar gizi dalam tiap 100 ml susu sapi 3,3 g 3,8 g 4,8 g 66 kal 125 mg

Kadar gizi dalam tiap 100 ml susu kerbau 4,8 g 7,8 g 5,0 g 67 kal 180 mg

Besi Vitamin A Vitamin B Vitamin C

0,15 mg 53 Kl 0,11 mg 4,3 mg

0,10 mg 34 Kl 0,42 mg 1,8 mg

0,24 mg 0,50 mg 1,0 mg

Tabel 6.2 Perbandingan Zat Gizi dalam beberapa jenis Sussu

VI.5 PENGATURAN KELAHIRAN Sejalan dengan perkembangan zaman, pertumbuhan penduduk pun mengalami perkembangan pesat. Dengan lahan hidupyang tetap, maka pertumbuhan penduduk yang tingggi dapat menimbulkan masalah diberbagai bidang, seperti sandang, pangan, papan, dan kesehatan. Untuk mengatasi

masalah ini maka dilakukan upaya pengaturan kelahiran yang di Indonesia disebut program Keluarga Berenccana (KB). Program KB dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat buatan maupun dengan sistem kalender (tidak melakukan hubungan seksual di saat subur). Selain itu, ada pula metode KB yang sifatnya permanen, yaitu vasektomi dan tubektomi. a. Vasektoni Vasektomi adalah pemotongan vasa deferensia dan kemudian tiap ujung potongan diikat. b. Tubektomi Tubektomi adalah pemotongan oviduk dan kemudian tiap ujung potongan diikat.
Nama Alat PIL Suntikan depoprovera Pil yang Mekanisme mengandung hormon Hipofisis Akibat anterior tidak

diminum tiap hari Suntikan progesteron seperti steroid

mengeluarkan FSH dan LH Hipofisis anterior tidak

Susuk KB

dilakukan 4 kali setahun Tabung Progestin (dibuat kulit Gulungan dalam uterus Spon yang

dari

mengeluarkan FSH dan LH Hipofisis anterior tidak mengeluarkan FSH dan LH Mencegah implantasi Membunuh masuk Menghalangi sperma masuk vagina Mencegah vagina sperma masuk sperma yang

progesterone) ditanam di bawah IUD (spiral) Spon Vagina plastik diberi dimasukkan spermasida

(pembunuh sperma) dimasukkan Diafragma Karet KB (kondom) dalama vagina Cawan plastik dimasukkan pada vagina untuk menutup serviks Dipakai untuk menyelubungi penis

Alat dan Mekanisme Kerja Alat KB VI.6 KELAINAN SISTEM REPRODUKSI Kelainan pada sistem reproduksi dapat mengalami gangguan akibat penyakit atau kelainan. Penyakit pada sistem reproduksi dapat disebabkan oleh kuman penyakit, faktor genetik, atau hormon. Beberapa gangguan pada sistem reproduksi adalah sebagai berikut: a. Tumor Payudara Tumor payudara dapat bersifat jinak seperti fobroadenoma, yaitu berupa benjolan yang dapat dihilangkan melalui operasi. Tumor juga dapat bersifat ganas,disebut kanker payudara. Kanker payudara dialami wanita setelah menopaus dan jarang terdapat pada wanita di bawah usia 30 tahun. Pengobatan bisa dengan operasi, sinar radioaktif, dan obat-obatan. b. Vulvovaginitis Vulvovaginitis adalah peradangan pada vulva dan vagina yang sering menimbulkan gejala keputihan (flour albus) yaitu keluarnya cairan putih kehijauan dari vagina. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Gardnerella

vaginalis. Dapat pula disebabkan oleh Protozoa, misalnya Trichomonas vaginalis atau oleh jamur Candida albicans. c. Impotensi Impotensi adalah ketidakmampuan mempertahankan ereksi penis. Impotensi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain gangguan produksi

hormone testoteron, kelainan psikis, penyakit diabetes mellitus, kecanduan alkohol, obat-obatan (misalnya obat anti tekanan darah tinggi) dan gangguan sistem saraf. d. Gonorea Gonorea merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang selaput lendir pada uretra, serviks, rektum, sendi, tulang, faring, dan mata. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Gonorea yang ditularkan dari ibu ke anaknya saat kelahiran dapat menyebabkan kebutaan. Bakteri Neisseria mudah bermutasi sehingga resisten terhadap antibiotik. Oleh karena itu gonorea harus segera ditangani secara intensif. Gejalanya adalah rasa sakit saat buang air kecil dan keluarnya nanah berwarna kuning kehijauan dari uretra. e. Hipertropik Prostat Hipertropi prostat adalah pembesaran kelenjar prostat yang terjadi pada pria berusia diatas 50 tahun. Penyakit ini diduga berhubungan dengan penuaan dan proses perubahan hormon. Gejalanya adalah rasa ingin kencing terus menerus dan kencing tidak lancar karena uretra tersumbat dan infeksi

kandung kemih. Penyumbatan kronis dapat menyebabkan ginjal Penyakit ini dapat diobati dengan cara operasi. f. Prostatitis

rusak.

Prostatitis adalah peradangan pada prostat yang sering disertai dengan peradangan pada uretra. Gejalanya berupa pembengkakan yang dapat menyumbat uretra sehingga timbul rasa nyeri dan sulit buang air kecil. Penyumbatan uretra yang kronis dapat menyebabkan pembendungan, infeksi, dan kerusakan pada kandung kemih dan ginjal. g. Infertilitas Infertilitas adalah ketidakmampuan menghasillkan keturunan, infertilitas ini dapat terjadi pada pria dan wanita. h. Kanker Serviks Kanker serviks (kanker leher rahim banyak dialami wanita berusia 40-55 tahun, kanker serviks diduga berhubungan erat dengan infeksi Virus Herpes Simpleks tipe dua dan human papilloma virus. Pengobatannya dengan operasi, sinar radioaktif dan obat-obatan.

i. Sifilis Sifilis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri treponema pallidun. Infeksi terjadi pada organ kelamin bagian luar. Sifilis dapat berkembang ke tahap sekunder dan tersier yang sulit diamati. Sifilis sekunder menular sedangkan sifilis tersier tidak menular. Meskipun

demikian sifilis tersier menimbulkan berbagai kerusakan pada tubuh selain pada organ kelamin seperti otak, jantung, pembuluh darah, hati, dan lainlain. Sifilis yang ditularkan ibu kepada anaknya saat kelahiran, dapat mengakibatkan kebutaan dan kematian. Sifilis dapat diobati penisilin dosis tinggi, namun kerusakan jaringan yang terjadi selama infeksi tidak dapat disembuhkan kembali. j. Non-Gonococcal Urethritis (UGU) Non-Gonococcal Urethritis merupakan peradangan pada uretra dan serviks yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatid dan Ureaplasm aurealyticum. k. Herpes Simpleks Genitalis Herpes simpleks genitalis adalah penyakit yang disebabkan oleh Virus Herpes Simpleks tipe 2 yang menyerang kulit di daerh genital luar, anus dan vagina. Gejalanya adalah rasa gatal, pedih, dan kemerahan pada kulit di daerah kelamin disertai gejala flu seperti sakit kepala dan demam. Kemudian pada daerah tersebut timbul lepuh kecil-kecil, selanjutnya lepuh menjadi keruh dan pecah, timbul luka yang sering disertai pembesaran kelenjar limfa.

l. Endometriosis Endometriosis adalah terdapatnya jariangan endometrium di luar rahim. Jaringan endometrium dapat ditemukan di ovarium, peritonium, usus besar, dan kandung kemih, akibat pengaliran balik darah menstruasi melalui tuba Fallopi sewaktu menstruasi. Gejalanya adalah rasa nyeri saat menstruasi

karena jaringan endometriosis luruh bersamaan dengan menstruasi. Pengobatan dapat dilakukan dengan operasi atau peemberian hormone progesterone. m. Sindrom Premenstual Sindrom premenstrual adalah keadaan dimana terjadi gangguan emosi, lesu, sakit kepala, bengkak pada tungkai, rasa pedih, dan nyeri pada payudara yang terjadi beberapa hari sebelum menstruasi. Penyebabnya diduga adalah kadar estrorogen tinggi, progesteron rendah, gangguan metabolisme karbohidrat, kadar prolaktin tinggi dan gangguan psikis yang berhubungan dengan sindrom premenstruasi. n. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) Penyakit AIDS disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga penderita AIDS menjadi rentan terhadap berbagai penyakit infeksi. Penyakit flu bisa mematikan bagi penderita AIDS. Gejala AIDS sulit diamati karena mirip gejala penyakit lain. Untuk memastikan seseorang terkena AIDS atau

terinfeksi HIV diperlukan tes khusus. AIDS ditularkan melalui hubungan seksual, transfuse darah, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, dan dari ibu kepada bayi yang dikandungnya. Hingga kini belum ada obat untuk AIDS (Marieb & Mallat 2001;Mareib 2004).

PENUTUP KESIMPULAN

Sitogenetika: Merupakan ilmu yang berkembang dari ilmu pengetahuan sitologi dan genetika. Ilmu ini mempelajari perilaku kromosom-kromosom selama mitosis dan meiosis, hubungan kromosom dengan transmisi dan rekombinasi dari gen-gen, dan mempelajari penyebab serta akibat dari perubahan struktur dan jumlah kromosom Hereditas Mendel: Percobaan hukum Mendel menggunakan kacang ercis yaitu: mudah untuk dilakukan persilangan, cepat menghasilkan keturunan, memiliki pasangan-pasangan yang mencolok (bersifat galur murni), menghasilkan banyak keturunan, daur hidupnya pendek (cepat menghasilkan keturunan). Aberasi Kromosom: Penyimpangan struktur atau jumlah kromosom dari keadaan yang normal. Aberasi kromosom dapat terjadi secara spontan atau diinduksi oleh mutagen kimiawi, radiasi dan sebagainya. Probabilitas adalah ekspresi matematis dari kemungkinan (chance), yakni merupakan rasio atau perbandingan dari jumlah kejadian dari suatu peristiwa dengan jumlah dari semua kemungkinan yang dapat terjadi. Sistem Reproduksi adalah suatu rangkaian dan interaksi organ dan zat dalam organisme yang dipergunakan untuk berkembang biak.

DAFTAR PUSTAKA

Gardener, E.J.M.J.Simons, & D.P. Snustad.1991. Principles of Genetics. Eight Edition. John Wiley & Sons, Inc. Published simultaneously in Canada. Harty,F.J.1995.Kamus Kedokteran Gigi.Jakarta:Penerbit buku kedokteran EGC Itjiningsih.1995.Anatomi Gigi.Jakarta:Penerbit buku kedokteran EGC James, J., Colin, B., & Helen, S. 2008. Prinsip-prinsip sains Untuk Keperawatan. Terjemahan dari: Principles of Science for Nurses. Oleh Indah, R.W. Penerbit Erlangga, Jakarta. Linda, J.H. & Danny, J.S. 2006. Sistem Reproduksi. Terjemahan dari: The Reproductive System at a Glance. Oleh Vidhia, U. Penerbit Erlangga, Jakarta. http://adulgopar.files.wordpress.com/2009/12/anodontia.pd
http://www.klikdokter.com/illness/detail/112

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->