P. 1
Skripsi Evaluasi Manajemen Sekolah Unes

Skripsi Evaluasi Manajemen Sekolah Unes

5.0

|Views: 1,751|Likes:
Published by jipenx_saga

More info:

Published by: jipenx_saga on Dec 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/15/2014

pdf

text

original

Sections

  • 2.4.2 Kajian Penelitian yang telah Dilakukan
  • 3.4.1 Metode Angket
  • 3.5.1 Validitas
  • 3.6.1 Analisis Deskriptif Kualitatif
  • 3.6.1.1 Pengkategorian Skor
  • e) Manajemen Sarana Prasarana
  • HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  • 4.1 Hasil Penelitian
  • 4.1.1 Gambaran Umum Populasi dan Sampel Penelitian
  • 4.1.2 Analisis Diskriptif Variabel dan Indikator Penelitian
  • 4.2 Pembahasan
  • 5.1 Simpulan
  • DAFTAR PUSTAKA

ANALISIS KINERJA MANAJEMEN SEKOLAH MENENGAH

KEJURUAN (SMK) NEGERI DAN SWASTA SE-KABUPATEN KENDAL

SKRIPSI

Diajukan dalam Rangka Menyelesaikan Studi Strata 1 Guna

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Agus Nur Ikhsan Kurniawan

3301404526

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2009

i

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan kesidang panitia

ujian pada:

Hari

:

Tanggal

:

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Sukardi Ikhsan,M.Si

Amir Mahmud, S.Pd., M.Si

NIP 130515747

NIP 132205936

Mengetahui,

Ketua Jurusan Akuntansi

Drs. Sukirman. M.Si

NIP 131967646

ii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan

Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang pada:

Hari

:

Tanggal :

Penguji Skripsi,

Rediana Setyani, S.Pd., M.Si.

NIP. 132320173

Anggota I

Anggota II

Drs. Sukardi Ikhsan, M.Si.

Amir Mahmud, S.Pd., M.Si.

NIP.130515747

NIP.132205936

Mengetahui,
Dekan Fakultas Ekonomi

Drs. Agus Wahyudin, M.Si.

NIP. 131658236

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis didalam skripsi ini benar-benar hasil

karya saya sendiri, bukan karena jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian

atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini

dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Januari 2009

Agus Nur Ikhsan Kurniawan

NIM.3301404526

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto ;

“Didalam kehidupan terkadang Tuhan tidak memberikan apa
yang kamu inginkan, akan tetapi sebenarnya Tuhan telah
memberikan sesuatu kepadamu, dan begitu juga sebaliknya”.
(Imam ibnu Atha’illah As Sakandary dalam kitab Al Hikam)
“Menunda amal perbuatan yang baik karena menanti-nanti
kesempatan yang lebih baik merupakan tanda kebodohan yang
mempengaruhi jiwa”. (Ibnu Atha’illah dalam Gubuk Maya Gus
Mus)

“Tak ada rahasia untuk mencapai sukses. Sukses itu dapat
terjadi karena persiapan, kerja keras dan mau belajar dari
kegagalan”. (General Colin Power)

Persembahan ;

Dengan tanpa mengurangi rasa syukurku

pada Allah SWT, kupersembahkan karyaku

ini dengan penuh cinta dan ketulusan untuk

:

• Ibu bapakku tercinta, terima kasih atas
cinta,

kasih

sayang,

do’a

dan

dukungannya.

• Adikku Dwi Maghfiroh makasih atas do’a
dan semangatnya.

• Dek Barid YNs terima kasih atas do’a,
bantuan, dukungan dan semangatnya.

• Teman-teman pendidikan akuntansi 2004

v

• Teman-teman kost Zona Ngapak
• Almamaterku

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat,

berkah dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan

judul “Analisis Kinerja Manajemen Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) negeri

dan swasta Se-Kabupaten Kendal”

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat tersusun dengan baik dan

selesai tepat waktu tanpa adanya dukungan dan batuan dari berbagai pihak. Oleh

karena itu, rasa terima kasih yang tulus penulis ucapkan kepada:

1. Prof. Drs. H. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si. Rektor Universitas Negeri

Semarang.

2. Drs. Agus Wahyudin, M.Si. Dekan Fakultas Ekonomi

3. Drs. Sukirman, M.Si. Ketua Jurusan Akuntansi yang telah memberikan surat

ijin penelitian.

4. Drs. Sukardi Ikhsan, M.Si Dosen Pembimbing I yang telah memberikan

bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi.

5. Amir Mahmud, S.Pd,. M.Si Dosen Pembimbing II yang telah memberikan

bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi.

6. Kepala BAPPEDA Kabupaten Kendal yang telah memberikan ijin kepada

penulis untuk melaksanakan penelitian.

vi

7. Kepala DIKPORA Kabupaten Kendal yang telah memberikan ijin kepada

penulis untuk melaksanakan penelitian.

8. Kepala SMK se-Kabupaten Kendal yang telah memberikan ijin kepada penulis

untuk melaksanakan penelitian.

9. Guru-guru di SMK se-Kabupaten Kendal yang telah bersedia membantu

penulis dalam mengisi angket penelitian.

10. Ibu, bapak, adikku beserta keluarga besarku atas do’a dan dukungannya.

11. Dek Barid YNs atas do’a dan semangatnya.

12. Teman-temanku dikost Zona Ngapak beserta alumninya atas bantuan dan

motivasinya.

13. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

Semoga bantuan yang telah diberikan kepada penulis menjadi catatan amal

baik, serta mendapat pahala yang setimpal dari Allah yang Maha Pemurah. Pada

akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat.

Semarang, Januari 2009

Penulis

vii

SARI PENELITIAN

Kurniawan, Agus Nur Ikhsan., 2009. Analisis Kinerja Manajemen Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) Negeri dan Swasta Se-Kabupaten Kendal. Jurusan
Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Drs.
Sukardi Ikhsan, M.Si., Pembimbing II: Amir Mahmud, S.Pd., M.Si.

Kata Kunci : Manajemen Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri dan
Swasta.

Formula agar sekolah dapat diberdayakan secara optimal, sekolah perlu
diberikan kepercayaan dan kesempatan untuk mengelola sekolah secara mandiri.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut pemerintah merasa perlu untuk menerapkan
manajemen berbasis sekolah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
kinerja kepemimpinan kepala sekolah, manajemen kurikulum, manajemen tenaga
kependidikan, manajemen kesiswaan, dan manajemen sarana prasarana di SMK
negeri dan swasta se-Kabupaten Kendal.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh SMK negeri dan swasta se-
Kabupaten Kendal yang berjumlah 17. Sampel penelitian berjumlah 4 SMK negeri
dan 13 SMK swasta dengan teknik populasi sampling. Variabel dalam penelitian ini
adalah kepemimpinan kepala sekolah, manajemen kurikulum, manajemen tenaga
kependidikan, manajemen kesiswaan, dan manajemen sarana prasarana. Metode
pengumpulan data, dengan metode angket. Uji validitas menggunakan rumus Product
Moment, sedang uji reliabilitas menggunakan rumus alpha. Metode analisis data
adalah analisis deskriptif kualitatif dengan kategorisasi skor tiap variabel.
Berdasarkan hasil penelitian skor rata-rata SMK negeri pada komponen
kepemimpinan kepala sekolah berkriteria sangat ideal, manajemen kurikulum sangat
optimal, manajemen tenaga kependidikan sangat ideal, manajemen kesiswaan sangat
tinggi, dan manajemen sarana prasarana optimal serta output berkriteria tinggi.
Kemudian pada SMK swasta komponen kepemimpinan berkriteria sangat ideal,
manajemen kurikulum sangat optimal, manajemen tenaga kependidikan ideal,
manajemen kesiswaan sangat tinggi, manajemen sarana prasarana optimal, serta
output berkriteria tinggi.

Simpulan yang dapat diambil adalah bahwa kinerja manajemen sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) se-Kabupaten Kendal sudah optimal. Saran dalam
penelitian ini masing-masing kepala sekolah baik SMK negeri maupun swasta
hendaknya dapat mengoptimalkan kompetensi manajerialnya. Khusus pada SMK
swasta ditambah lagi untuk dapat mengoptimalkan program supervisi. Pada aspek
kurikulum hendaknya SMK swasta membuat kalender pendidikan yang sesuai dengan
kebutuhan. Pada aspek out put, hendaknya sekolah merencanakan dampak yang akan
dialami oleh lulusannya. Pada perekrutan tenaga laborat dan pustakawan sebaiknya di
cari orang yang memiliki keahlian dibidangnya. Pada aspek sarana prasarana, SMK

viii

negeri hendaknya meningkatkan usahanya dalam pengadaaan dan inventarisasi
secara lengkap. Sedangkan untuk SMK swasta disarankan dalam pengadaan dan
pemeliharaaan agar ditingkatkan.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................ ii

HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... iii

PERNYATAAN ........................................................................................... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................... v

KATA PENGANTAR ................................................................................. vi

SARI PENELITIAN .................................................................................... viii

DAFTAR ISI ................................................................................................ ix

DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xii

DAFTAR TABEL ........................................................................................ xiii

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xvi

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1

1.1 Latar Belakang Masalah .............................................................. 1

1.2 Rumusan Permasalahan ............................................................... 10

1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................... 11

1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................ 11

BAB II LANDASAN TEORI ...................................................................... 13

ix

2.1..............................................................................................Kinerj

a ................................................................................................... 13

2.1.1.....................................................................................Penger

tian Kinerja ...................................................................... 13

2.2..............................................................................................Penger

tian Manajemen dan Fungsi-fungsi Manajemen ......................... 13

2.2.1.....................................................................................Penger

tian Manajemen ............................................................... 13

2.2.2.....................................................................................Fungsi

-fungsi Manajemen .......................................................... 14

2.3..............................................................................................Manaj

emen Sekolah ............................................................................... 16

2.3.1.....................................................................................Penger

tian Manajemen Sekolah .................................................. 16

2.3.2.....................................................................................Tujuan

Manajemen Sekolah ......................................................... 17

2.3.3.....................................................................................Fungsi

-fungsi Manajemen Sekolah ............................................ 18

2.3.4.....................................................................................Prinsip

-prinsip Manajemen Sekolah ........................................... 21

2.3.5.....................................................................................Kepem

impinan Kepala Sekolah .................................................. 22

x

2.3.6.....................................................................................Manaj

emen Komponen-komponen Sekolah .............................. 26

2.4..............................................................................................Hasil

Penelitian Terdahulu .................................................................... 42

2.4.1.....................................................................................Hasil-

hasil yang sudah diteliti ................................................... 42

2.4.2.....................................................................................Kajian

Penelitian yang telah dilakukan ....................................... 44

2.5..............................................................................................Kerang

ka Berfikir .................................................................................... 46

BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. 53

3.1..............................................................................................Jenis

Penelitian ..................................................................................... 53

3.2..............................................................................................Popula

si Penelitian .................................................................................. 53

3.3..............................................................................................Variab

el Penelitian ................................................................................. 54

3.4..............................................................................................Metod

e Pengumpulan Data .................................................................... 58

3.4.1 Metode Angket ................................................................ 58

3.5..............................................................................................Validit

as dan Realibilitas ........................................................................ 60

3.5.1 Validitas ........................................................................... 60

xi

3.5.2 Realibilitas ....................................................................... 63

3.6..............................................................................................Metod

e Analisis Data ............................................................................. 64

3.6.1 Analisis Deskriptif Kualitatif ........................................... 64

3.6.1.1 Pengkategorian Skor ............................................ 64

3.6.1.2 Penyusunan Tabel Kritria Manajemen Sekolah ... 67

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................. 84

4.1 Hasil Penelitian ............................................................................ 84

4.1.1 Gambaran Umum Populasi dan Sampel Penelitian ......... 84

4.1.2 Analisis Diskriptif Variabel dan Indikator Penelitian ...... 85

4.2 Pembahasan ................................................................................. 112

4.2.1 Kinerja Manajemen SMK negeri dan swasta di

Kabupaten Kendal ........................................................... 112

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 122

5.1 Simpulan ...................................................................................... 122

5.2 Saran ............................................................................................ 124

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 126

LAMPIRAN ................................................................................................. 128

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kerangka Berfikir ....................................................................... 52

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

Kompetensi-kompetensi kepala sekolah ........................................................ 24

Kajian penelitian yang telah dilakukan .......................................................... 44

Populasi dan Sampel ...................................................................................... 54

Variabel-variabel penelitian ........................................................................... 55

Jumlah angket yang disebar disekolah ............................................................ 59

Hasil uji coba validitas angket ....................................................................... 62

Distribusi skor manajemen sekolah ............................................................... 66

Kategori skor kepemimpinan kepala sekolah ................................................ 66

Kategori skor kurikulum ................................................................................ 66

Kategori skor tenaga kependidikan ................................................................. 66

Kategori skor manajemen kesiswaan ............................................................. 67

Kategori skor output ........................................................................................ 67

Kategori skor sarana prasarana ...................................................................... 67

Kepemimpinan kepala sekolah ....................................................................... 68

Kategori skor kompetensi kepribadian kepala sekolah ................................... 69

Kategori skor kompetensi manajerial kepala sekolah .................................... 69

xiv

Kategori skor kompetensi kewirausahaan kepala sekolah .............................. 70

Kategori skor kompetensi supervisi kepala sekolah ...................................... 70

Kategori skor kompetensi sosial kepala sekolah ............................................ 71

Manajemen Kurikulum .................................................................................. 71

Kategori skor KTSP ....................................................................................... 72

Kategori skor kalender pendidikan ................................................................ 73

Kategori skor program pembelajaran .............................................................. 73

Kategori skor penilaian hasil belajar ............................................................... 74

Kategori skor peraturan akademik .................................................................. 74

Manajemen tenaga kependidikan..................................................................... 75

Kategori skor wakil kepala sekolah ................................................................ 76

Kategori skor guru .......................................................................................... 76

Kategori skor konselor .................................................................................... 77

Kategori skor pustakawan .............................................................................. 77

Kategori skor laborat ...................................................................................... 78

Kategori skor tenaga administrasi ................................................................... 79

Manajemen kesiswaan .................................................................................... 79

Kategori skor input siswa ................................................................................ 80

Kategori skor proses pengajaran ..................................................................... 80

Kategori skor out put (kelulusan) ................................................................... 81

Manajemen sarana prasarana .......................................................................... 81

Kategori skor pengadaan sarana prasarana sekolah ....................................... 82

Kategori skor pemeliharaan sarana prasarana sekolah .................................... 82

xv

Kategori skor inventarisasi sarana prasarana sekolah .................................... 83

Deskripsi kepemimpinan kepala sekolah negeri ............................................. 86

Deskripsi kepemimpinan kepala sekolah swasta ............................................ 89

Deskripsi kurikulum sekolah negeri ............................................................... 92

Deskripsi kurikulum sekolah swasta ............................................................... 95

Deskripsi manajemen tenaga kependidikan sekolah negeri ............................ 97

Deskripsi manajemen tenaga kependidikan sekolah swasta ........................... 101

Deskripsi manajemen kesiswaan sekolah negeri ............................................ 104

Deskripsi output SMK Negeri ....................................................................... 105

Deskripsi manajemen kesiswaan sekolah swasta ............................................ 106

Deskripsi output SMK swasta ......................................................................... 107

Deskripsi manajemen sarana prasarana sekolah negeri .................................. 108

Deskripsi manajemen sarana prasarana sekolah swasta .................................. 110

Rekap hasil penelitian ..................................................................................... 111

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A. Instrumen Penelitian

Lampiran B. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Lampiran C. Cara Perhitungan Skor Setiap Variabel dan Sub Variabel

Lampiran D. Hasil Penelitian

Lampiran E. Surat Ijin Penelitian

Lampiran F. Surat Rekomendasi dari BAPPEDA dan DIKPORA Kendal

Lampiran G. Surat Keterangan Penelitian

xvii

xviii

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Keberhasilan suatu bangsa dalam membangun kehidupan berbangsa dan

bernegara sangat ditentukan oleh kemampuan bangsa yang bersangkutan untuk

memandang dan menyikapi secara benar persoalan-persoalan yang dihadapi.

Salah satu persoalan yang perlu kita pandang sangat penting adalah pendidikan.

Pendidikan dalam kehidupan tidak bisa ditinggalkan dan tidak bisa dipandang

sebelah mata. Artinya bangsa yang selalu memandang penting dan perlunya

sebuah pendidikan bagi manusia yang menghuni didalamnya, maka bangsa

tersebut sudah menanamkan modal dari setengah tujuan dan cita-cita bangsa

dalam lingkup nasional.

Dalam perkembangannya, manusia ingin mencapai suatu kehidupan yang

lebih baik. Untuk meningkatkan kehidupannya itu manusia akan selalu berusaha

untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Usaha tersebut adalah sebuah

fenomena nyata sebuah pendidikan yang sedang dijalankan oleh manusia.

Pendidikan merupakan usaha sadar dan sistematis, yang dilakukan oleh orang-

orang yang diserahi tanggungjawab untuk mempengaruhi peserta didik agar

mempunyai sifat dan tabiat sesuai dengan cita-cita nasional dalam dimensi

pendidikan.

Sesuai dengan tujuan negara sebagaimana termaktub dalam pembukaan

Undang-undang Dasar (UUD) 1945, pemerintah berkewajiban mencerdaskan

2

kehidupan bangsa, maka pasal 31 UUD 1945 menegaskan bahwa setiap warga

negara berhak mendapatkan pendidikan. Pemerintah mengusahakan dan

menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang diatur dalam undang-

undang. Dengan demikian tugas pemerintah begitu berat menyangkut pendidikan

yang diemban didalamnya, karena mengandung unsur perbaikan moral, keimanan,

ketakwaan dan akhlaq sehingga memerlukan substansi materi pendidikan yang

cocok dan juga penggunaan sistem yang baik.

Amanat yang berat ini, tentunya tidak bisa dilaksanakan oleh pemerintah

pusat sendiri. Adanya otonomi daerah yang memungkinkan bagi masing-masing

wilayah/daerah untuk mengembangkan identitas wilayahnya terutama pada dunia

pendidikan, menciptakan keringanan tersendiri pada diri pemerintah pusat.

Perbedaan model pendidikan diseluruh wilayah Indonesia, memberikan nilai

positif tersendiri dimasing-masing daerah. Alasan yang tepat untuk menjelaskan

hal diatas adalah, karena tanggungjawab dan peraturan yang dibuat guna

mencerdaskan kehidupan bangsa adalah milik pemerintah daerah. Bisa dikatakan

dalam otonomi daerah peranan dan kebijakan penting ada pada pemerintah

daerah. Sehingga mutu sumber daya manusia yang ada didaerah akan semakin

terjaga sesuai dengan kelebihan daerah tersebut dan akan meningkat seiring

dengan semakin baiknya penanganan pendidikan khususnya dalam sekolah.

Agar sekolah dapat diberdayakan secara optimal, sekolah perlu diberikan

kepercayaan dan wewenang serta kesempatan untuk mengelola sendiri sesuai

dengan kebijakan pemerintah mengenai pendidikan nasional dan desentralisasi.

Untuk memenuhi kebutuhan ini pemerintah merasa perlu untuk menerapkan dan

3

mengembangkan model manajemen yang disebut ”school based manajement”

atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Menurut Morphi (2005) menyebutkan bahwa, salah satu indikator efisiensi

manajemen pendidikan adalah terkelolanya sekolah secara optimal dalam situasi

yang kondusif, seluruh komponen manajemen sekolah memiliki kinerja yang

efektif, serta kepala sekolah memegang peranan penting dalam keberhasilan

manajemen sekolah.

Selanjutnya Helmi (2005) menjelaskan bahwa manajemen peningkatan mutu

berbasis sekolah ditandai dengan adanya otonomi sekolah dan partisipasi

masyarakat tanpa mengabaikan kebijaksanaan nasional dengan harapan

kemandirian sekolah, partisipasi orang tua dan masyarakat, efisiensi, mutu dan

pemerataan pendidikan.

Secara realitas, sekolah terdiri atas sekolah yang maju, sedang dan

tertinggal. Kemudian secara ekstrim dibagi atas sekolah negeri dan swasta, oleh

sebab itu, sekolah perlu penanganan kegiatan manajemen sekolah yang spesifik

sesuai kondisi obyektifnya. Sistem pendidikan disekolah dalam konsep

manajemen sekolah menganut pola otonomi sekolah yang memiliki suatu

landasan pada pemberdayaan seluruh potensi sekolah. Sekolah menggunakan

perencanaan strategis yang lebih menjamin efektifitas dan efisiensi, serta kualitas

manajemen sekolah untuk memenangkan persaingan mutu.

Manajemen pendidikan dipandang merupakan hal yang primer bagi

peningkatan mutu pendidikan. Tidak adanya manajemen pendidikan disuatu

lembaga pendidikan, adalah simbol matinya sistem pendidikan. Dalam

4

perkembangannya istilah manajemen disamakan secara substansial dengan istilah

administrasi. Perbedaan keduanya terletak pada ruang lingkupnya saja.

Administrasi lebih luas ruang lingkupnya dibanding dengan manajemen.

Keduanya menekankan pada tercapainya efisiensi dan efektifitas kerja sebagai

implementasi tujuan organisasi.

Pada hakikatnya tujuan manajemen sekolah tidak dapat terlepas dari tujuan

sekolah sebagai suatu organisasi. Sekolah sebagai suatu organisasi memiliki

tujuan yang ingin dicapai yang sering disebut tujuan institusional (kelembagaan)

baik tujuan institusional umum (visi) maupun institusional khusus (misi). Dalam

melaksanakan tugas kelembagaan tersebut diperlukan adanya proses manajemen

yang baik.

Proses manajemen yang baik manakala didalamnya terdapat kegiatan

manajerial yang operatif. Dapat dikatakan tujuan manajemen sekolah adalah

membantu memperlancar pencapaian tujuan sekolah agar tercapai secara efektif

dan efisien. Dasar dari model penerapan manajemen sekolah adalah Manajemen

Berbasis Sekolah (MBS), karena sifat yang dimiliki oleh manajemen sekolah

hanya berbasis pada lingkup pengaturan organisasi sekolah itu sendiri.

Manajemen berbasis sekolah merupakan pelimpahan wewenang pada lapis

sekolah untuk mengambil keputusan mengenai alokasi dan pemanfaatan sumber-

sumber berdasarkan akuntanbilitas yang berkaitan dengan sumber tersebut,

(Yusufhadi, 2004:726). Tujuan manajemen sekolah adalah agar sekolah dapat : 1)

meningkatkan efisiensi dalam penggunaan sumber, 2) meningkatkan efektivitas

sekolah melalui perbaikan mutu belajar dan pembelajaran, 3) lebih responsif

5

terhadap kebutuhan dan kondisi customer, 4) menambah kesempatan bagi siapa

saja untuk mengikuti pendidikan, 5) memberikan kesempatan kepada masyarakat

termasuk keluarga untuk berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

Meskipun sekolah diberikan wewenang khusus untuk mengatur dan

mengelola pendidikan secara mandiri, namun perlu diingat sekolah tidak bisa

berbuat semaunya sendiri. Ada beberapa rambu-rambu legal yang harus diikuti

oleh masing-masing sekolah. Salah satu rambu-rambu tersebut adalah tujuan

pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat selaku poros utama dalam

membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, kemudian dirumuskan kembali

oleh masing-masing daerah dengan tidak melenceng dari tujuan utama pendidikan

nasional. Terakhir oleh setiap sekolah merumuskan lebih rinci tentang tujuan yang

ingin dicapai dimasing-masing organisasi sekolah.

Pada saat ini Kabupaten Kendal menjadi salah satu daerah untuk program

percontohan SMK di wilayah Jawa Tengah. Dimana Sekolah Menengah Kejuruan

akan dioptimalkan guna mengembangkan potensi yang ada diwilayah Kendal. Hal

yang sangat menggembirakan bagi para sivitas akademika didaerah tersebut, lebih

jauh lagi lulusan SMK akan langsung bisa bekerja sesuai dengan kemampuan dan

keahlian yang mereka miliki.

Namun demikian sedikitnya terdapat empat komponen sekolah yang harus

dikelola dengan baik dalam rangka MBS, hal ini untuk mengoptimalkan kualitas

pendidikan diwilayah Kendal. Manajemen tersebut adalah manajemen kurikulum,

tenaga kependidikan, kesiswaan, dan sarana prasarana (sarpras) pendidikan.

6

Komponen-komponen manajemen sekolah tersebut akan dikendalikan oleh

pimpinan sekolah, dalam hal ini adalah peranan kepemimpinan kepala sekolah.

Kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor utama bagi keberhasilan

dalam setiap proses pendidikan yang ada disekolah. Kepala sekolah selain

memimpin penyelenggaraan pendidikan disekolah juga berperan sebagai

pendidik, manager, administrator, supervisor, pembaharu dan pembankit minat.

(Suprihatin, 2004:79)

Berdasarkan hasil observasi awal pada bulan Maret 2008 dalam pelaksanaan

manajemen sekolah di SMK se-Kabupaten Kendal pada aspek kepemimpinan

kepala sekolah teryata dalam kaitannya dengan MBS, kepala sekolah belum bisa

secara optimal menjalankan fungsinya. Yaitu dalam menjalin hubungan yang

harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan secara aktif dalam rangka

mewujudkan tujuan sekolah.

Menurut Pidarta dalam Suprihatin (2004:80) mengemukakan tiga macam

ketrampilan yang harus dimiliki oleh kepala sekolah untuk mensukseskan

kepemimpinannya, yaitu ketrampilan konseptual; ketrampilan untuk memahami

dan mengoperasikan organisasi, ketrampilan manusiawi; ketrampilan untuk

bekerjasama, memotivasi, memimpin, serta ketrampilan teknik; ketrampilan

dalam menggunakan pengetahuan, metode, teknik serta perlengkapan untuk

menyelesaikan tugas tertentu. Lebiha lanjut dikemukakan bahwa untuk memiliki

kemampuan, terutama ketrampilan konsep, para kepala sekolah diharapkan

melakukan kegiatan-kegiatan berikut:

7

1. Senantiasa belajar dari pekerjaan sehari-hari terutama dari cara kerja para

guru dan pegawai seklah lainnya;

2. Melakukan observasi kegiatan manajemen secara terencana;

3. Membaca berbagai hal yang berkaitan dengan kegiatan yang sedang

dilaksanakan;

4. Memanfaatkan hasil penelitian orang lain;

5. Berfikir untuk masa yang akan datang;

6. Merumuskan ide-ide yang dapat diujicobakan.

Dari berbagai kegiatan-kegiatan diatas yang belum dilaksanakan secara

berkala oleh kepala SMK kendal adalah memanfaatkan hasil penelitian orang lain.

Hal ini tentunya untuk menambah masukan pada kegiatan manajemen yang ada

disekolah. Apabila seorang kepala sekolah belum bisa memanfaatkan temuan

yang dihasilkan dari sebuah penelitian, khususnya terkait dengan manajemen

sekolah, maka dapat diperkirakan bahwa sekolah yang dipimpin akan terlambat

pemahamannya tentang manajemen sekolah.

Hasil temuan pada manajemen kurikulum adalah dalam melaksanakan

model kegiatan pembelajaran, guru belum mengacu pada Standar Proses. Padahal

dalam Permendiknas 2007 manajemen kurikulum pada aspek program

pembelajaran mengemukakan bahwa mutu pembelajaran disekolah dikembangkan

dengan; 1) model kegiatan pembelajaran yang mengacu pada Standar Proses, 2)

melibatkan peserta didik secara aktif, demokratis, mendidik, memotivasi,

mendorong kreativitas dan dialogis.

8

Temuan pada aspek manajemen tenaga kependidikan berupa tidak tepatnya

pemberian tugas kepada tenaga kependidikan, yang dalam hal ini adalah tenaga

laborat, pustakawan dan sebagian tenaga pendidik (guru mata pelajaran).

Diungkapkan oleh Suprihatin (2004:42) agar para personel atau tenaga

kependidikan dapat melaksanakan tugasnya secara tepat guna, berdaya guna dan

berhasil guna, mereka perlu ditata berdasarkan prinsip ”The right man on the

right place”, dengan memperhatikan latar belakang pendidikan,

ijazah/keahliannya, dan interes kerjanya.

Sebaliknya, demi suksesnya penataan itu, dari pihak pimpinan sekolah

hendaknya dapat menyediakan situasi dan kondisi kerja yang memadai, tenteram,

aman serta nyaman sehingga para pegawai makin mencintai pekerjaannya, makin

menekuni tugasnya, puas dengan hasil kerjanya, bangga dengan jabatannya,

sehingga menimbulkan kepuasan lahir dan batin yang dapat senantiasa

memotivasi peningkatan kariernya disertai loyalitas kerja yang tinggi.

Pada SMK swasta tenaga kependidikan belum merasakan kondisi kerja yang

tersebut diatas. Fakta ini menujukkan belum ada insentif kepada tenaga

kependidikan di SMK swasta. Setidaknya ini juga disampaikan oleh Pak Said

(salah seorang guru besar Universitas Kebangsaan Malaysia), bahwa sebetulnya

yang sangat mempengaruhi kualitas guru adalah kondisi sosial guru. Berikut

adalah unkapannya "Di Indonesia sebetulnya gurunya pintar-pintar jika

dibandingkan dengan Malaysia, lalu kenapa pendidikan disana lebih maju pesat,

karena kami saat mengajar dalam benak kami tidak punya pikiran aduh gimana

9

besok, sehingga kami benar-benar bekerja keras untuk pendidikan". (Artikel Info

Pendidikan, 18 Juni 2008)

Dalam bidang manajemen kesiswaan baik SMK negeri maupun swasta

mengalami kondisi yang sama, yaitu mereka masih disulitkan dengan pengelolaan

dampak dari para lulusan (out put) yang mereka ciptakan. Hal ini terlihat para

lulusan SMK masih sulit untuk mengaplikasikan ilmunya, baik itu dengan bekerja

diperusahaan maupun berwirausaha.

Penyelenggaraan pendidikan di SMK pada hakikatnya merupakan suatu

proses sistem yang secara utuh meliputi, pelayanan kepada siswa sebagai masukan

(in put), pelayanan proses pembelajaran dalam satuan waktu tertentu, dan

pelayanan pada tamatan (out put). {Kepmen Dikbud Nomor 0490/U/1992, Pasal

25 ayat (1)}. Pelayanan kepada tamatan yang dimaksud adalah pemasaran dan

penelusuran tamatan. Untuk menjamin kelangsungan kegiatan pemasaran dan

penelusuran tamatan secara berkesinambungan dan mencapai sasaran yang

diharapkan, SMK menunjuk petugas khusus untuk menanganinya. Hal ini belum

dilakukan secara menyeluruh pada SMK di Kab. Kendal, sehingga mengakibatkan

para lulusan di SMK Kendal belum bisa terserap secara maksimal oleh lowongan

pekerjaan yang ada.

Pada manajemen sarpras, perlengkapan dan fasilitas sekolah sudah cukup

lengkap dan mendukung sekolah, akan tetapi dilihat dari SMK negeri dan swasta,

SMK negeri lebih lengkap dari pada SMK swasta yang meliputi ruang kelas,

ruang laboratorium bahasa, laboratorium komputer, perpustakaan, ruang

keterampilan, dan ruang serba guna. Sarana olah raga seperti lapangan voly,

10

lapangan sepak bola, tenis meja, lapangan basket. Sarana kebersihan meliputi

tempat sampah, kamar mandi untuk guru dan siswa. Sarana penunjang lainya

yaitu ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang TU, dan ruang ibadah.

Manajemen sarpras baik SMK negeri maupun swasta juga tidak

mensosialisasikan seluruh program pengelolaan sarpras pendidikan kepada

pendidik, tenaga pendidik, dan peserta didik. Hal ini seharusnya dilaksanakan oleh

setiap sekolah, karena telah termaktub dalam Permendiknas tahun 2007. Maksud

dari hal tersebut adalah supaya semua sivitas akademika turut bertanggung jawab

agar sarpras yang ada terpelihara dengan baik.

Melihat sangat pentingnya penerapan manajemen sekolah dalam aspek

manajemen kurikulum, tenaga kependidikan, kesiswaan dan sarana prasarana,

seperti dalam praktiknya yang sudah ditemukan dilapangan, maka penyusunan

skripsi hanya dibatasi pada hal tersebut. Berpijak dari latar belakang diatas, judul

yang dapat dipetik adalah ”Analisis Kinerja Manajemen Sekolah Menengah

Kejuruan (SMK) Negeri dan Swasta se-Kabupaten Kendal”.

1.2 Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis merumuskan permasalahan dalam

penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana kinerja kepemimpinan kepala sekolah di SMK negeri dan swasta

se-kabupaten Kendal?

2. Bagaimana kinerja manajemen kurikulum di SMK negeri dan swasta se-

kabupaten Kendal?

11

3. Bagaimana kinerja manajemen tenaga kependidikan di SMK negeri dan

swasta se-kabupaten Kendal?

4. Bagaimana kinerja manajemen kesiswaan di SMK negeri dan swasta se-

kabupaten Kendal?

5. Bagaimana kinerja manajemen sarana dan prasarana di SMK negeri dan

swasta se-kabupaten Kendal?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah disajikan maka

tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui kinerja kepemimpinan kepala sekolah di SMK negeri dan

swasta se-kabupaten Kendal.

2. Untuk mengetahui kinerja manajemen kurikulum di SMK negeri dan swasta

se-kabupaten Kendal.

3. Untuk mengetahui kinerja manajemen tenaga kependidikan di SMK negeri

dan swasta se-kabupaten Kendal.

4. Untuk mengetahui kinerja manajemen kesiswaan di SMK negeri dan swasta

se-kabupaten Kendal.

5. Untuk mengetahui kinerja manajemen sarana dan prasarana di SMK negeri

dan swasta se-kabupaten Kendal.

1.4 Manfaat Penelitian

Kegunaan penelitian ini adalah:

1.4.1 Kegunaan teoritis:

12

a. Bagi penulis, dapat menambah pengetahuan dan mengembangkan ilmu

yang telah didapat selama kuliah, sehingga terciptanya wacana ilmiah.

b. Bagi para akademisi, dapat digunakan sebagai referensi dalam menambah

khasanah ilmu pengetahuan dibidang pendidikan, khususnya tentang

manajemen sekolah.

1.4.2 Kegunaan Praktis:

a. Bagi pihak sekolah, dapat memberikan masukan dalam usaha

meningkatkan mutu sekolah dengan mengimplementasikan manajemen

sekolah yang efektif & efisien.

b. Bagi praktisi pendidikan, yaitu seluruh personel sekolah, mahasiswa calon

guru, ilmuan pendidikan dan masyarakat luas sebagai pemerhati

pendidikan, diharapkan dapat terbantu memberi arah, dasar dan titik tolak

penyelenggaraan pendidikan disekolah.

13

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Kinerja

2.1.1 Pengertian Kinerja

Menurut Vroom dalam Asa’ad (2000:50) kinerja adalah tingkat sejauh mana

keberhasilan seseorang didalam melakukan tugas pekerjaanya, sehingga kegiatan

yang lazim dinilai dalam suatu organisasi adalah kinerja pegawai yakni

bagaimana ia melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan suatu

pekerjaan, jabatan atau peran dalam organisasi.

2.2 Pengertian Manajemen dan Fungsi-fungsi Manajemen

2.2.1 Pengertian Manajemen

Definisi manajemen menurut Stoner dalam T. Hani Handoko (2003:8)

adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-

usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya

agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Stoner menggunakan kata

proses bukan seni yang berarti cara yang sistematis untuk melakukan pekerjaan.

Manajemen diartikan sebagai proses karena semua manajer, tanpa memperdulikan

kecakapan atau keterampilan khusus mereka, harus melaksanakan kegiatan-

kegiatan tertentu yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka

inginkan.

Menurut Handoko (2003;12) manajemen bukan hanya merupakan ilmu atau

seni, tetapi kombinasi dari keduanya. Kombinasi ini tidak dalam proporsi yang

14

tetap tetapi dalam proporsi yang bermacam-macam. Pada umumnya manajer yang

efektif mempergunakan pendekatan yang ilmiah dalam pembuatan keputusan,

apalagi dengan berkembangnya peralatan komputer. Dilain pihak dalam banyak

aspek perencanaan, kepemimpinan, komunikasi, dan segala sesuatu yang

menyangkut unsur manusia, bagaimanapun manajer harus menggunakan

pendekatan artistik (seni).

2.2.2 Fungsi-fungsi Manajemen

Fattah (2003:1) mengungkapkan, bahwa dalam proses manajemen terlibat

fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang manajer/pimpinan, yaitu

perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pemimpinan (leading),

dan pengawasan (controlling). Oleh karena itu manajemen diartikan sebagai

proses merencana, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan upaya

organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif

dan efisien.

Fungsi perencanaan antara lain menentukan tujuan atau kerangka tindakan

yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu. Fungsi pengorganisasian

meliputi fungsi, hubungan, dan struktur. Fungsi pemimpin menggambarkan

bagaimana manajer mengarahkan dan memepengaruhi para bawahan, bagaimana

orang lain melaksanakan tugas yang esensial dengan menciptakan suasana yang

menyenangkan untuk bekerja sama. Fungsi pengawasan meliputi penentuan

standar, supervisi, dan mengukur penampilan/pelaksanaan terhadap standar dan

memberikan keyakinan bahwa tujuan organisasi tercapai. Pengawasan sangat erat

15

kaitannya dengan perencanaan, karena melalui pengawasan efektivitas

manajemen dapat diukur (Nanang, 2003:2).

Sesudah rencana dibuat, organisasi dibentuk dan disusun personalianya,

langkah berikutnya adalah menugaskan karyawan untuk bergerak menuju tujuan

yang telah ditentukan. Bila fungsi perencanaan dan fungsi pengorganisasian lebih

banyak menyangkut aspek-aspek abstrak proses manajemen, kegiatan pengarahan

langsung menyangkut orang-orang dalam organisasi.

Semua fungsi terdahulu tidak akan efektif tanpa fungsi-fungsi pengawasan

(controlling). Pengawasan adalah penemuan dan penerapan cara dan peralatan

untuk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah

ditetapkan. Fungsi pengawasan pada dasarnya menyangkut hal-hal sebagai

berikut:

a. Penetapan standar pelaksanaan

b. Penentuan ukuran-ukuran pelaksanaan

c. Pengukuran pelaksanaan nyata dan membandingkannya dengan standar yang

telah ditetapkan

d. Pengambilan tindakan koreksi yang diperlukan bila pelaksanaan menyimpang

dari standar.

Fungsi manajemen menurut Bafadal (2003:42) meliputi, perencanaan,

pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan. Perencanaan dapat diartikan

sebagai keseluruhan proses pemikiran dan penentuan semua aktivitas yang akan

dilakukan pada masa yang akan datang dalam rangka mencapai tujuan.

Pengorganisasian merupakan keseluruhan proses kerja sama sehingga tercipta

16

suatu sistem kerja yang baik dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Pengorganisasian dilakukan berdasarkan tujuan dan program kerja sebagaimana

dihasilkan dalam perencanaan. Kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai

keseluruhan proses memepengaruhi, mendorong, mengajak, menggerakkan, dan

menuntun orang lain dalam proses kerja agar berpikir, bersikap dan bertindak

sesuai aturan yang berlaku dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Semua fungsi-fungsi manajemen ini harus dilaksanakan oleh manajer kapan

saja dan dimana saja kelompok-kelompok diorganisasi, walaupun ada perbedaan

tekanan untuk tipe organisasi, jabatan-jabatan fungsional, dan tingkatan

manajemen yang berbeda. Akhirnya gagal atau suksesnya suatu organisasi sangat

tergantung pada kemampuan manajer untuk melaksanakan fungsi-fungsi tersebut

secara efektif.

2.3 Manajemen Sekolah

2.3.1 Pengertian Manajemen Sekolah

Menurut Suprihatin (2004:2), mengungkapkan pengertian manajemen

sekolah sebagai aplikasi ilmu manajemen dalam bidang persekolahan. Demikian

pula istilah administrasi pendidikan, merupakan aplikasi ilmu administrasi

kedalam bidang pendidikan. Penggunaan istilah administrasi dan manajemen

dalam bidang persekolahan atau pendidikan secara substansial sebenarnya tidak

ada perbedaan, keduanya dapat dipandang secara esensial dari tiga sudut pandang

yakni sebagai ilmu, seni dan sebagai proses kegiatan.

Pengertian manajemen sekolah menurut Sagala (2006:55) adalah proses

pendayagunaan sumber daya sekolah melalui kegiatan fungsi-fungsi perencanaan,

17

pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian secara lebih efektif dan efisien

dengan segala aspeknya dengan menggunakan semua potensi yang tersedia agar

tercapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien serta produktifitas sekolah

yang bermutu.

2.3.2 Tujuan Manajemen Sekolah

Pada hakekatnya tujuan manajemen sekolah tidak dapat terlepas dari tujuan

sekolah sebagai suatu organisasi. Sekolah sebagai suatu organisasi memiliki

tujuan yang ingin dicapai yang disebut tujuan institusional (kelembagaan) baik

tujuan institusional umum maupun institusional khusus. Tujuan institusional

umum mengacu pada jenjang dan jenis pendidikan, sedangkan tujuan institusional

khusus disamping diwarnai oleh jenjang dan jenis pendidikan juga diwarnai oleh

penyelenggara pendidikan itu sendiri (Suprihatin, 2004:4)

Suatu tujuan institusional baik umum maupun khusus akan tercapai

manakala ada suatu proses kegiatan dalam lembaga (organisasi sekolah). Dengan

kata lain tujuan institusi dapat tercapai tergantung dari bagaimana lembaga

tersebut melakukan tugas kelembagaannya. Dalam melaksanakan tugas

kelembagaan tersebut diperlukan adanya proses manajemen yang baik.

Proses manajemen yang baik manakala didalamnya terdapat keemauan

untuk membantu memperlancar pencapaian tujuan sekolah agar tercapai secara

efektif dan efisien. Kehadiran manajemen dalam proses persekolahan sebagai

salah satu alat untuk membantu memperlancar pencapaian tujuan. Pencapaian

tujuan sekolah dipengaruhi oleh banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam

proses kegiatan sekolah.

18

Manakala tujuan pada tiap jenjang dan jenis sekolah sebagai suatu

organisasi pendidikan telah tercapai dengan baik, maka diharapkan tujuan

pendidikan nasional dapat tercapai. Tujuan pendidikan nasional dapat tercapai

dengan baik diperlukan partisipasi aktif seluruh komponen masyarakat.

Secara lebih terinci tujuan khusus dilaksanakannya manajemen sekolah

yang baik agar: pertama, pada tiap jenis dan jenjang pendidikan terjadi adanya

efektivitas produksi. Para lulusannya dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan

diatasnya, dapat bekerja sesuai dengan pengetahuan dan keterampilannya. Kedua,

tercapainya efisiensi penggunaan sumber daya dan dana, tidak terjadi pemborosan

baik waktu, tenaga, maupun uang dan lainnya. Ketiga, lulusannya mampu

menyesuaikan diri dalam kehidupan dimasyarakat, dan keempat, terciptanya

kepuasan kerja pada setiap anggota warga sekolah. Untuk itu perlu dibangun

suatu iklim organisasi sekolah yang sehat.

2.3.3 Fungsi-fungsi Manajemen Sekolah

Menurut Suprihatin (2004:5), fungsi manajemen sekolah dilihat dari wujud

problemanya terdiri dari bidang-bidang garapan dari manajemen sekolah.

Problema-problema yang merupakan bidang garapan dari manajemen sekolah

terdiri dari:

a. Bidang pengajaran atau lebih luas disebut kurikulum

b. Bidang kesiswaan

c. Bidang personalia

d. Bidang keuangan

e. Bidang sarana

19

f. Bidang prasarana, dan

g. Bidang hubungan sekolah dengan masyarakat (humas)

Fungsi manajemen sekolah menurut Sagala (2007:56-64) adalah sebagai

berikut:

a. Fungsi perencanaan

Perencanaan mengutamakan kontinuitas program sebagai lanjutan bagi

terciptanya stabilitas kegiatan belajar-mengajar disekolah. Sekolah harus

membuat rencana jangka pendek pada tiap semester dan tahunan, karena

kegiatannya selalu berubah. Perencanaan adalah proses memikirkan dan

menetapkan kegiatan-kegiatan atau program-program yang akan dilakukan

pada masa yang akan datang untuk mencapai tujuan tertentu. Baghart dan

Trull dalam Sagala (2007:56) mengemukakan ’Educational planning is first of

all a rational procces

b. Fungsi pengorganisasian

Pengorganisasian diartikan sebagai kegiatan pembagi tugas-tugas pada orang

yang terlibat dalam kerja sama sekolah. Karena tugas-tugas ini demikian

banyak dan tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, tugas-tugas ini

dibagi untuk dikerjakan oleh masing-masing unit organisasi. Kegiatan

pengorganisasian menentukan siapa yang akan melaksanakan tugas sesuai

prinsip pengorganisasian. Salah satu prinsip pengorganisasian terbaginya

tugas-tugas dalam berbagai unsur organisasi, dengan kata lain

pengorganisasian yang efektif adalah membagi habis dan menstrukturkan

20

tugas-tugas kedalam sub-sub atau komponen-komponen organisasi secara

proporsional.

c. Fungsi penggerakan

Menggerakkan menurut Terry dalam Sagala (2007:60) berarti merangsang

anggota-anggota kelompok melaksanakan tugas-tugas dengan antusiasdan

kemauan yang baik. Tugas menggerakkan dilakukan oleh pemimpin. Oleh

karena itu kepemimpinan kepala sekolah mempunyai peran yang sangat

penting dalam menggerakkan personal sekolah melaksanakan program

kerjanya.

d. Fungsi pengkoordinasian

Koordinasi dalam operasionalnya mengerjakan unit-unit, orang-orang, lalu

lintas informasi, dan pengawasan seefektif mungkin, semuanya harus

seimbang dan selaras dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Organisasi yang baik menurut Sergiovanni dalam Sagala (2007:61)

memberikan

susunan

administratif,

aturan-aturan,

mekanisme

pengkoordinasian yang dibutuhkan untuk memudahkan menjalankan aktivitas

organisasi secara maksimal.

e. Fungsi pengarahan

Pengarahan dilakukan agar kegiatan yang dilakukan bersama tetap melalui

jalur yang telah ditetapkan, tidak terjadi penyimpangan yang dapat

menimbulkan terjadinya pemborosan.

21

f. Fungsi pengawasan

Pengendalian manajemen menurut Stoner (1982:257) ialah proses melalui

manajer dapat memastikan bahwa aktivitas yang aktual sesuai dengan yang

direncanakan, sedangkan proses pengawasan mencatat pengembangan ke arah

tujuan dan memungkinkan manajer mendeteksi penyimpangan dari

perencanaan tepat pada waktunya untuk mengambil tindakan korektif sebelum

terlambat. Pengawasan dan pengendalian sekolah harus dilakukan oleh kepala

sekolah, pengawasan layanan belajar harus dilakukan oleh supervisor, dan

pengawasan layanan teknis kependidikan dilakukan oleh tenaga kependidikan

yang diberi wewenang untuk itu. Pengendalian dan pengawasan penggunaan

anggaran dalam penyelenggaraanprogram sekolah harus ditentukan batas dari

sumber-sumber anggaran sekolah yang dapat digunakan untuk menjalankan

operasi sekolah. Kualitas layanan belajar biasanya akan diawasi melalui

metode pengawasan kualitas menurut ilmu statistik dan ilmu pendidikan

dalam hal pengukuran kemajuan belajar siswa dan juga kinerja sekolah secara

keseluruhan.

2.3.4 Prinsip-prinsip Manajemen Sekolah

Menurut Suprihatin (2004:7) dalam pengelolaan sekolah agar dapat

mencapai tujuan sekolah yang baik, maka perlu mendasarkan pada prinsip-prinsip

manajemen sebagai berikut:

a. Prinsip efisiensi, yakni dengan penggunaan modal yang sedikit dapat

menghasilkan hasil yang optimal.

b. Prinsip efektivitas, yakni ketercapaian sasaran sesuai tujuan yang diharapkan

22

c. Prinsip pengelolaan, yakni seorang manajer harus melakukan pengelolaan

sumber-sumber daya yang ada.

d. Prinsip pengutamaan tugas pengelolaan, yakni seorang manajer harus

mengutamakan tugas-tugas pokoknya.

e. Prinsip kerja sama, yakni seorang manajer hendaknya dapat membangun kerja

sama yang baik secara vertikal maupun secara horizontal.

f. Prinsip kepemimpinan yang efektif, yakni bagaimana seorang manajer dapat

memberi pengaruh, ajakan pada orang lain untuk pencapaian tujuan bersama.

2.3.5 Kepemimpinan Kepala Sekolah

Menurut Richard dalam Sagala (2007:19), kepemimpinan adalah salah satu

fenomena yang paling mudah diobservasi, tetapi menjadi salah satu hal yang

paling sulit dipahami, sedangkan menurut Joseph dalam Sagala (2007:19),

kepemimpinan adalah sebuah hubungan yang saling mempengaruhi diantara

pemimpin dan pengikut yang menginginkan perubahan nyata yang mencerminkan

tujuan bersamanya.

Kepala sekolah adalah orang yang diberi tugas dan tanggung jawab

mengelola sekolah menghimpun, memanfaatkan, dan menggerakkan seluruh

potensi sekolah secara optimal untuk mencapai tujuan. Kepala sekolah

sebagai”Human Resource Manager” adalah individu yang biasanya menduduki

jabatan yang memainkan peran sebagai adviser (staff khusus) tatkala bekerja

dengan manajer lain terkait dengan urusan SDM.

Kepala sekolah termasuk pemimpin akademik, adalah pemain alam yang

berangkat dari masing-masing latar pendidikan, pengetahuan, dan pengalaman.

23

Karena itu kepemimpinan kepala sekolah harus memiliki jiwa entrepreneurship,

konsep kelembagaan, dan visioner. Setiap kepala sekolah membawa pengaruh

besar terhadap pengajaran untuk kebaikan atau keburukan. Kepala sekolah

memerlukan instrumen yang mampu menjelaskan berbagai aspek lingkungan

sekolah dan kinerjanya dalam memantau perjalanan kearah masa depan yang

menjanjikan.

Berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab kepala sekolah dalam

mengelola sekolah, menurut PERMENDIKNAS No.13 Tahun 2007 tentang

standar kepala sekolah/madrasah, maka kepala sekolah harus memiliki beberapa

kualifikasi dan kompetensi yang harus dipenuhi, kualifikasi dan kompetensi

tersebut adalah sebagai berikut:

A. Kualifikasi

1. Kualifikasi Umum

a. Memilki kualitas akademik sarjana (SI) atau diploma empat (D IV)

kependidikan atau non kependidikan pada perguruan tinggi yang

terakreditasi

b. Pada waktu diangkat sebagai kepala sekolah berusia setinggi-tingginya 56

tahun.

c. Memilki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun

menurut jenjang sekolah masing-masing

d. Memiliki pangkat serendah-rendahnya III/c bagi pegawai negeri sipil

(PNS) dan bagi non-PNS disetarakan dengan kepangkatan yang

dikeluarkan oleh yayasan atau lembaga berwenang.

24

2. Kualifikasi Khusus

Kualifikasi khusus bagi kepala Sekolah Menengah Kejuruan

(SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) adalah sebagai berikut:

a. Berstatus sebagai guru SMK/MAK.

b. Memiliki sertifikat pendidik sebagai guru SMK/MAK.

c. Memiliki sertifikat kepala SMK/MAK yang diterbitkan oleh lembaga

yang ditetapkan oleh pemerintah.

B. Kompetensi

Seorang kepala sekolah harus memiliki beberapa kompetensi yang terdiri

dari kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial., kompetensi kewirausahaan,

kompetensi supervisi dan kompetensi sosial. Kompetensi-kompetensi tersebut

adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1
Kompetensi-kompetensi Kepala Sekolah

NO

DIMENSI
KOMPETENSI

KOMPETENSI

1

2

Kepribadian

Manajerial

a. Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan
tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan akhlak
mulia bagi komunitas sekolah
b. Memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin
c. Memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan
diri sebagai kepala sekolah
d. Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok
dan fungsinya
e. Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah
dalam pekerjaan sebagai kepala sekolah.
f. Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin
pendidikan

a. Menyusun perencanaan sekolah untuk berbagai
tingkatan perencanaan.
b. Mengembangkan organisasi sekolah sesuai dengan
kebutuhan
c. Memimpin sekolah dalam rangka pendayagunaan
sumber daya sekolah secara optimal
d. Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah

25

3

Kewirausahaan

menuju organisasi pembelajar yang efektif
e. Menciptakan budaya dan iklim sekolah yang
kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta
didik.
f. Mengelola guru dan staf dalam rangka
pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal
g. Mengelola sarana prasarana sekolah dalam rangka
pendayagunaan secara optimal.
h. Mengelola hubungan sekolah dan masyarakat dalam
rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan
pembiayaan sekolah.
i. Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan
peserta didik baru, dan penempatan dan
pengembangan kapasitas peserta didik.
j. Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan
pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dunia usaha
dan tujuan pendidikan nasional.
k. Mengelola keuangan sekolah sesuai prinsip
pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien.
l. Mengelola ketata usahaan sekolah dalam
mendukung pencapaian tujuan sekolah.
m. Mengelola unit layanan khusus sekolah dalam
mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan
peserta didik disekolah.
n. Mengelola sistem informasi sekolah dalam
mendukung penyusunan program dan pengambilan
keputusan
o. Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi
peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah
p. Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan
pelaksanaan program kegiatan sekolah dengan
prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak
lanjutnya.

a. Menciptakan inovasi yang berguna bagi
pengembangan sekolah.
b. Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah
sebagai organisasi pembelajar yang efektif.
c. Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam
melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai
pemimpin sekolah.
d. Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik
dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah.
e. Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola
kegiatan produksi jasa sekolah sebagai sumber
belajar peserta didik.

26

4

5

Supervisi

Sosial

a. Merencanakan program supervisi akademik dalam
rangka peningkatan profesionalisme guru.
b. Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru
dengan menggunakan pendekatan dan teknik
supervisi yang tepat.
c. Menindaklanjuti hasil observasi akademik terhadap
guru dalam rangka peningkatan profesionalisme
guru.

a. Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan
sekolah
b. Berpartisipasi dalam kegiatan sosial
kemasyarakatan.
c. Memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau
kelompok lain.

Sumber : PERMENDIKNAS TAHUN 2007

2.3.6 Manajemen Komponen-komponen Sekolah

Salah satu cara untuk mengembangkan manajemen sekolah adalah dengan

menggunakan pendekatan sistem, yang memberikan gambaran menyeluruh

terhadap semua komponen serta lingkungan yang mempengaruhi sistem sekolah

yang bersangkutan. Menurut Mulyasa (2004:22), manajemen sekolah akan

melihat bagaimana manajemen substansi-substansi pendidikan di suatu sekolah

atau manajemen berbasis sekolah agar dapat berjalan dengan tertib, lancar, dan

benar-benar terintegrasi dalam suatu sistem kerja sama untuk mencapai tujuan

secara efektif dan efisien. Hal yang paling penting dalam manajemen sekolah

adalah manajemen terhadap komponen-komponen sekolah itu sendiri.

Menurut Suprihatin (2004:5) bahwa fungsi manajemen sekolah dilihat dari

wujud problemanya terdiri dari bidang-bidang garapan dari manajemen sekolah.

Problema-problema yang merupakan bidang garapan dari manajemen sekolah

terdiri dari: 1). Bidang pengajaran atau lebih luas disebut kurikulum, 2). Bidang

27

personalia, 3). Bidang kesiswaan, 4). Bidang keuangan, 5). Bidang sarana, 6).

Bidang prasarana, dan 7). Bidang hubungan sekolah dengan masyarakat (humas).

1) Manajemen Kurikulum

Dalam program akademik yang bersifat umum, kurikulum sekolah

sekarang sudah sedemikian inovatif sampai kejenjang Kurikulum Tingkat

Satuan Pendidikan (KTSP). Hal ini tidak harus berarti bahwa seluruh materi

pelajaran yang ditentukan dalam kurikulum tersebut harus diliput atau

diajarkan. Yang lebih penting adalah bahwa siswa mampu menguasai

kemampuan dasar (basic competencies) dari tiap mata pelajaran, yang

mengarah pada pencapaian kualifikasi akademik.

Ukuran keberhasilan pendidikan tidak semata-mata didasarkan pada

keberhasilan lulusan dalam Ujian Nasional sehingga dapat diterima

diperguruan tinggi. Terbentuknya sikap yang positif terhadap ilmu

pengetahuan dan teknologi serta terhadap lingkungan, merupakan indikator

keberhasilan yang lebih penting. Kecuali itu atas penguasaan piranti (tools)

atau metode untuk belajar lebih lanjut/sepanjang hayat juga merupakan

indikator yang lebih penting dari pada hanya sekedar mampu menjawab

pertanyaan atau mengerjakan soal ujian. Kedua hal terakhir ini (mampu

menjawab pertanyaan dan mengerjakan soal) merupakan apa yang dilakukan

oleh lembaga bimbingan belajar, dan bukanlah tugas dari lembaga pendidikan.

Penguasaan atas tujuan belajar harus diusahakan tidak hanya pada

jenjang yang rendah. Dalam ranah kognitif misalnya, penguasaan itu tidak

cukup pada kemampuan untuk mengingat dengan menyebutkan,

28

mengidentifikasi, dan mengulang, melainkan pada jenjang kognitif yang lebih

tinggi seperti kemampuan menganalisis, menilai, dan mencipta. Dalam ranah

afektif tujuan tidak hanya pada jenjang pengenalan dan pemberian respons,

melainkan pada jenjang pengorganisasian dan pengamalan (Yusufhadi,

2004:732).

Manajemen kurikulum mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan,

dan penilaian kurikulum. Perencanan dan pengembangan kurikulum nasional

pada umumnya telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada

tingkat pusat. Sekolah yang paling penting adalah merealisasikan dan

menyesuaikan kurikulum tersebut dengan kegiatan pembelajaran. Sekolah

juga bertugas dan berwewenang untuk mengembangkan kurikulum muatan

lokal sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan setempat.

Kurikulum muatan lokal yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi

objektif lingkungan, perlu dikembangkan dan mendapat perhatian yang besar.

Pengembangan kurikulum muatan lokal sperti diamanatkan dalam UUSPN

[Pasal 50 Ayat (5)] merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota.

Namun sekolah perlu memberikan masukan agar dimungkinkan adanya

fleksebilitas dalam pelaksanaan kurikulum tersebut agar sesuai dengan

kebutuhan masyarakat, termasuk orang tua siswa dan kemampuan sekolah.

Sekolah merupakan ujung tombak pelaksanaan kurikulum, baik

kurikulum nasional maupun muatan lokal yang diwujudkan melalui proses

belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, institusional,

kurikuler, dan instruksional. Menurut Mulyasa (2004:24) manajemen atau

29

administrasi pengajaran adalah keseluruhan proses pengajaran yang bertujuan

agar seluruh kegiatan pengajaran terlaksana secara efektif dan efisien.

Untuk menjamin efektifitas pengembangan kurikulum dalam manajemen

berbasis sekolah, kepala sekolah sebagai pengelola program pengajaran

bersama guru-guru harus menjabarkan isi kurikulum secara lebih rinci dan

operasional kedalam program tahunan, caturwulan dan bulanan. Adapun

program mingguan atau program satuan pelajaran, wajib dikembangkan guru

sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar.

Manajemen kurikulum meliputi tiga kegiatan pokok yaitu kegiatan yang

berhubungan dengan tugas guru, peserta didik, dan seluruh sivitas akademika

atau warga sekolah.

1. Kegiatan yang berhubungan dengan tugas guru meliputi

a. Pembagian tugas guru yang dijabarkan dari struktur program

pengajaran dan ketentuan tentang beban mengajar wajib bagi guru,

beban tugas maksimum seorang guru 24 jam per minggu.

b. Tugas guru dalam mengikuti jadwal pelajaran. Adapun jadwal tugas

guru ada tiga yaitu

1) Jadwal pelajaran kurikuler dengan memperhatikan ketentuan

akademik seperti keseimbangan berat ringan bobot pelajaran tiap

hari, pengaturan mata pelajaran mana yang didahulukan/

ditengah/diakhir pelajaran, mata pelajaran bersifat praktikum/

PKL/PPL.

30

2) Jadwal pelajaran non kurikuler, disusun sesuai situasi dan kondisi

individual atau kelompok peserta didik.

3) Jadwal pelajaran ekstra kurikuler disusun diluar jam pelajaran.

Kurikuler dan program kurikuler, biasanya bersifat

pengembangan ekspresi, hobi, bakat, minat serta prestasi seperti

seni tari, musik, Pencinta Alam (PA), palang merah remaja,

pramuka serta penunjang proses belajar mengajar lainya.

c. Tugas guru dalam kegiatan proses belajar mengajar meliputi

1) Membuat persiapan atau perencanaan pengajaran

2) Melaksanakan pengajaran

3) Mengevaluasi hasil pengajaran

2. Kegiatan yang berhubungan dengan tugas peserta didik

Tugas ini adalah tugas guru dalam membimbing siswa supaya dapat

melaksanakan belajar dengan hasil yang maksimal.

3. Kegiatan yang berhubungan dengan seluruh sivitas akademika.

Kegiatan ini merupakan pedoman sinkronasi segala kegiatan sekolah, yang

kurikuler, ekstra kurikuler, akademik atau non akademik, hari-hari kerja,

hari-hari libur, karya wisata, hari-hari besar nasional atau agama.

(Suprihatin, 2002 : 10-11)

Berdasarkan PERMENDIKNAS Tahun 2007 peraturan di bidang

kurikulum dan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:

a. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

1) Sekolah atau madrasah menyusun KTSP

31

2) Penyusunan KTSP memperhatikan Standar Kompetensi Lulusan,

Standar isi, dan peraturan pelaksanaannya.

3) KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi sekolah/madrasah,

potensi atau karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat,

dan peserta didik.

4) Kepala sekolah/madrasah bertanggungjawab atas KTSP.

5) Wakil kepala sekolah bidang kurikulum bertanggungjawab atas

pelaksanaan penyusunan KTSP

6) Setiap guru bertanggungjawab menyusun silabus setiap mata pelajaran

yang diampunya sesuai dengan standar isi, standar kompetensi

lulusan, dan panduan penyusunan KTSP.

7) Dalam penyusunan sillabus, guru dapat bekerjasama dengan

kelompok kerja guru, MGMP, LPMP atau perguruan tinggi.

8) Penyusunan KTSP dikoordinasi, disupervisi, dan difasilitasi oleh

Dinas Pendidikan Provinsi yang bertanggungjawab dibidang

pendidikan, sedangkan untuk penyusunan KTSP Pendidikan agama

islam oleh kantor wilayah Departemen Agama Provinsi.

b. Kalender pendidikan

1) Sekolah/madrasah menyusun kalender pendidikan yang meliputi

jadwal pembelajaran, ulangan, ujian, kegiatan ekstrakurikuler, dan

hari libur.

2) Penyusunan kalender akademik didasarkan pada standar isi, berisi

mengenai pelaksanaan aktivitas sekolah selama satu tahun dan dirinci

32

secara semesteran, bulanan dan mingguan, serta diputuskan dalam

rapat dewan pendidik dan ditetapkan oleh kepala sekolah/madrasah.

3) Sekolah menyusun jadwal penyusunan KTSP

4) Sekolah menyusun mata pelajaran yang dijadwalkan pada semester

gasal, dan semester genap.

c. Program pembelajaran

1) Sekolah/madrasah menjamin mutu kegiatan pembelajaran untuk setiap

mata pelajaran dan program pendidikan tambahan yang dipilihnya.

2) Kegiatan pembelajaran didasarkan pada Standar Kompetensi Lulusan,

standar isi, dan peraturan pelaksanaannya, serta Standar Proses dan

Standar Penilaian.

3) Mutu pembelajaran disekolah/madrasah dikembangkan dengan model

kegiatan pembelajaran yang mengacu pada Standar Proses, melibatkan

peserta didik secara aktif, demokratis, mendidik, memotivasi,

mendorong kreativitas dan dialogis, tujuan agar peserta didik

mencapai pola pikir dan kebebasan berfikir, berargumentasi,

mempertanyakan, mengkaji, menemukan dan memprediksi serta

pemahaman bahwa keterlibatan peserta didik secara aktif dalam

proses belajar yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan mendalam

untuk mencapai pemahaman konsep, tidak terbatas pada materi yang

diberikan oleh guru

4) Setiap guru mempertanggungjawabkan terhadap mutu perencanaan

kegiatan pembelajaran untuk setiap mata pelajaran yang diampunya

33

agar peserta didik mampu meningkatkan rasa ingin tahu, mencapai

keberhasilan belajarnya secara konsisten sesuai dengan tujuan

pendidikan, mengolah informasi menjadi pengetahuan, menggunakan

pengetahuan untuk menyelesaikan masalah, mengkomunikasikan

pengetahuan pada pihak lain, dan mengembangkan belajar mandiri

dan kelompok dengan proporsi yang wajar.

5) Kepala sekolah bertanggungjawab terhadap kegiatan pembelajaran

sesuai dengan peraturan yang ditetapkan pemerintah

6) Kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum

bertanggungjawab terhadap mutu kegiatan pembelajaran.

7) Setiap guru bertanggungjawab terhadap mutu kegiatam pembelajaran

untuk setiap mata pelajaran yang diampunya.

d. Penilaian hasil belajar peserta didik

1) Sekolah/madrasah menyusun program penilaian hasil belajar yang

berkeadilan, bertanggungjawab dan berkesinambungan

2) Penyusunan program penilaian hasil belajar didasarkan pada standar

penilaian pendidikan.

3) Sekolah/madrasah menilai hasil belajar untuk seluruh kelompok mata

pelajaran, dan membuat catatan keseluruhan, untuk menjadi bahan

program remedial, klarifikasi capaian ketuntasan yang direncanakan,

laporan kepada pihak yang memerlukan, pertimbangan kenaikan kelas

atau kelulusan, dan dokumentasi

4) Seluruh program penilaian disosialisasikan kepada guru.

34

5) Program penilaian hasil belajar perlu ditinjau secara periodik.

6) Sekolah menetapkan prosedur yang mengatur transparasi sistem

evaluasi hasil belajar.

7) Semua guru mengembalikan hasil kerja siswa yang dinilai.

8) Sekolah menetapkan petunjuk pelaksanaan operasional mengenai

penilaian hasil belajar.

9) Penilaian meliputi semua kompetensi dan materi yang diajarkan.

10) Seperangkatn metode penilaian yang sesuai dengan metode/strategi

pembelajaran yang digunakan.

11) Sekolah menyusun ketentuan pelaksanaan penilaian hasil belajar

sesuai dengan Standar Penilaian Pendidikan.

12) Kemajuan yang dicapai oleh peserta didik dipantau

13) Penilaian yang didokumentasikan disertai bukti bukti kesahihan,

keandalan, dan dievaluasi secara periodik untuk perbaikan metode

penilaian.

14) Sekolah/madrasah melaporkan hasil belajar kepada orang tua peserta

didik, komite sekolah, dan institusi diatasnya.

e. Peraturan akademik

1) Sekolah menyusun dan menetapkan peraturan akademik.

2) Peraturan akademik berisi, persyaratan minimal kehadiran siswa,

ketentuan mengenai ulangan, remedial, ujian, kenaikan kelas, dan

kelulusan, ketentuan mengenai hak siswa, ketentuan mengenai

35

layanan konsultasi kepada guru mata pelajaran, wali kelas dan

konselor.

3) Peraturan akademik diputuskan oleh rapat dewan pendidik dan

ditetapkan oleh kepala sekolah.

2) Manajemen Tenaga Kependidikan

Pengembangan kapabilitas dan tenaga merupakan aspek yang sangat

penting dalam setiap usaha pembaharuan, meskipun disadari bahwa tenaga

yang kapabel dan kompeten saja tidak akan cukup untuk dapat mencapai

tujuan yang diharapakan. Keseluruhan organisasi perlu dikembangkan secara

serentak. Tenaga yang perlu dikembangkan meliputi guru dan tenaga

kependidikan lain, baik yang bertugas didalam sekolah dan berinteraksi

langsung dengan siswa seperti guru, pustakawan, dan konselor maupun

mereka yang bertugas diluar sekolah dan tidak berintraksi langsung dengan

siswa-siswa seperti supervisor/pengawas, kepala sekolah, orang tua siswa,

pengurus yayasan, dan pengelola program pendidikan di daerah (provinsi,

kabupaten dan kota) dan di Pusat. Para pengelola ini berperan memfasilitasi

dan membina pengembangan persekolahan secara keseluruhan.

Pengembangan tenaga guru merupakan prioritas pertama.

Pengembangan ini dengan mendidik kembali dan menatar guru yang telah ada

sehingga berkelayakan, menambah guru baru yang sesuai dengan kebutuhan,

dan memberikan penugasan yang cocok dengan latar belakang pendidikan

atau keahliannya. Pengembangan tenaga dalam lingkup sekolah tidak hanya

dilakukan oleh guru semata, melainkan tenaga kependidikan lain seperti

36

konselor, pustakawan dan kepala sekolah sendiri perlu deberi kesempatan

untuk mengembangkan kemampuan profesionalismenya sesuai dengan

tuntutan perkembangan IPTEK.

Kepala sekolah selaku tampuk pimpinan tinggi yang ada dalam

manjemen sekolah merupakan faktor sangat penting dalam pengambilan setiap

kebijakan terkait dengan manajemen tenaga kependidikan. Manajemen tenaga

kependidikan atau manajemen personalia pendidikan bertujuan untuk

mendayagunakan tenaga kependidikan secara efektif dan efisien untuk

mencapai hasil yang optimal namun tetap dalam kondisi yang menyenangkan.

Sehubungan dengan itu, fungsi personalia yang harus dilaksanakan pimpinan

adalah menarik, mengembangkan, mengkaji, dan memotivasi personil guna

mencapai tujuan sistem, membantu anggota mencapai posisi dan standar

peilaku, memaksimalkan perkembangan karier tenaga kependidikan serta

menyelaraskan tujuan individu dan organisasi.

Berdasarkan PERMENDIKNAS Tahun 2007, peraturan di bidang tenaga

kependidikan adalah:

a. Sekolah menyusun program pendayagunaan pendidik dan tenaga

kependidikan

b. Program pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan disusun

dengan memperhatikan Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, serta

dikembangkan sesuai dengan kondisi sekolah.

c. Pengangkatan pendidik dan tenaga kependidikan tambahan dilaksanakan

berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh penyelenggara sekolah.

37

d. Sekolah perlu mendukung upaya, promosi pendidik dan tenaga

kependidikan berdasarkan asas kamanfaatan, kepatutan dan

profesionalisme, pengembangan tenaga kependidikan yang diidentifikasi

secara sistematis sesuai dengan aspirasi individu, kebutuhan kurikulum

dan sekolah, penempatan tenaga kependidikan disesuaikan dengan

kebutuhan fisik jumlah maupun kualifikasinya dengan menetapkan

prioritas, serta mutasi tenaga kependidikan dari satu posisi ke posisi

lainnya didasarkan pada analisis jabatan.

e. Sekolah/ madrasah mendayagunakan kepala sekolah sebagai pengelola

sekolah, wakil kepala sekolah sebagai pembantu kepala sekolah, wakil

kepala sekolah bidang kurikulum sebagai pembantu kepala sekolah dalam

mengelola bidang kurikulum, wakil kepala sekolah bidang sarana

prasarana sebagai pembantu dalam mengelola sarana prasarana, wakil

kepala sekolah bidang kesiswaan sebagai pembantu dalam mengelola

peserta didik, guru melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai

agen pembelajaran, konselor memberikan layanan bimbingan dan

konseling kepada peserta didik, instruktur memberikan pelatihan teknis

kepada peserta didik pada kegiatan pelatihan, tenaga perpustakaan

melaksanakan pengelolaan sumber belajar di perpustakaan, tenaga

laboratorium membantu guru mengelola kegiatan praktikum di

laboratorium, tenaga administrasi menyelenggarakan pelayanan

administratif, dan tenaga kebersihan malaksanakan tugas dalam

memberikan layanan kebersihan lingkungan.

38

4) Manajemen Kesiswaan

Peserta didik (kesiswaan) merupakan komponen utama setiap program

pendidikan. Sesuai dengan ketentuan perundangan (UUSPN No. 20 Pasal 5

ayat 1), setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh

pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu penerimaan siswa baru harus tidak

dibatasi pada kriteria keunggulan atau jenis kelamin dan suku tertentu,

melainkan diterima dengan kriteria yang berlaku umum atau yang disepakati

bersama dengan komite sekolah.

Setiap siswa berhak untuk memperoleh perlakuan adil sesuai dengan

karakteristik masing-masing. Mereka yang memiliki keunggulan tertentu

diberikan kesempatan untuk berkembang tanpa mendapat hambatan, misalnya

dengan program pengayaan. Sedangkan mereka yang mengalami hambatan,

misalnya lambat dalam belajar, perlu mendapat bimbingan atau program

remidial, sehingga mampu dicapai dengan standar minimum yang diharapkan.

Para siswa perlu dipersiapkan sehingga mampu menguasai pengetahuan,

mampu mengenal jati diri, mampu berkarya, dan mampu untuk hidup bersama

dalam keselarasan dengan lingkungan.

Pemilihan jurusan atau program pendidikan ketrampilan harus dilakukan

sesuai dengan kemampuan serta bakat dan minat maing-masing siswa. Mereka

yang tidak berminat untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi, perlu

diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya atau

ketrampilannya hingga dapat bermanfaat untuk kehidupan bermasyarakat,

baik untuk memasuki dunia kerja, maupun untuk berwirausaha.

39

Manajemen peserta didik merupakan hal yang penting untuk menjadi

sebuah pemikiran utama dalam setiap manajemen sekolah. Pemikiran yang

selalu berevolusi sehingga menghasilkan inovasi guna menunjang

perkembangan siswa diharapkan jangan pernah berhenti untuk menuju titik

inovasi yang maksimal.

Menurut Soetjipto (2007:165) terdapat tiga kegiatan dalam manajemen
kesiswaan, yaitu penerimaan siswa baru, pembinaan siswa, dan penamatan
program siswa di sekolah. Ketiga program tersebut yaitu:
1. Penerimaan siswa

Penerimaan siswa adalah proses pencatatan dan layanan kepada siswa yang
baru masuk sekolah, setelah mereka memenuhi persyaratan-persyaratan yang
ditentukan oleh sekolah itu.
2. Pembinaan siswa

Pembinaan siswa adalah pemberian layanan kepada siswa di suatu lembaga
pendidikan, baik di dalam maupun di luar jam pelajaran. Pembinaan dilakukan
dengan menciptakan kondisi atau membuat siswa sadar akan tugas-tugas
belajarnya.
3. Tamat belajar

Apabila siswa telah menamatkan semua mata pelajaran atau telah menempuh
kurikulum sekolah dengan memuaskan, maka siswa berhak mendapatkan surat
tanda tamat belajar.

5) Manajemen Sarana dan Prasarana

Menurut Mulyasa (2004:49) sarana pendidikan adalah peralatan dan

perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses

pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas,

meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran.

Sarana yang dikembangkan disekolah meliputi ruang kelas dengan

perabotannya, laboratorium dengan kelengkapannya, perpustakaan dengan

koleksi buku serta bahan belajar lain, ruang ketrampilan dengan peralatannya,

40

ruang perkantoran, gedung serbaguna, dan sarana penunjang lain, seperti

mushola, kamar kecil dan lain-lain.

Semua sarana diatas dapat didayagunakan secara optimal dengan tujuan

untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi program pembelajaran. Sarana ini

harus diusahakan sebagai tempat yang menyenangkan dan menarik untuk

belajar.

Dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan peserta didik dalam

melaksanakan kegiatan belajar mengajar, maka sarana dan prasarana sangat

mutlak dibutuhkan. Dalam hubungannya dengan sarana pendidikan, Nawawi

dalam Bafadal (2003:2) mengklasifikasikannya menjadi beberapa macam

sarana pendidikan, yaitu ditinjau dari sudut habis tidaknya dipakai, bergerak

tidaknya pada saat digunakan, dan hubungannya dengan peroses belajar

mengajar.

Sedangkan prasarana pendidikan di sekolah bisa diklasifikasikan

menjadi dua macam yaitu prasarana pendidikan yang secara langsung

digunakan untuk proses belajar mengajar dan prasarana sekolah yang

keberadaannya tidak digunakan untuk proses belajar mengajar, tetapi secara

langsung sangat menunjang terjadinya proses balajar mengajar.

Menurut Bafadal (2003:5) secara umum, tujuan manajemen

perlengkapan sekolah adalah memberikan layanan secara profesional di

bidang saran prasarana pendidikan dalam rangka terselenggaranya proses

pendidikan secara efektif dan efisien. Tujuannya adalah untuk mengupayakan

pengadaan sarana dan prasarana pendidikan malalui sistem perencanaan dan

41

pengadaan yang hati-hati dan seksama, untuk mengupayakan pemakaian

sarana dan prasarana sekolah secar tepat dan efisien, dan untuk mengupayakan

pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah sehingga keberadaannya selalu

dalam kondisi siap pakai dalam setiap diperlukan oleh semua personil sekolah.

Berdasarkan PERMENDIKNAS tahun 2007 mengatur bidang sarana

prasarana sebagai berikut:

a. Sekolah menetapkan kebijakan program secara tertulis mengenai

pengelolaan sarana prasarana.

b. Program pengelolaan sarana prasarana mengacu pada Standar Sarana dan

Prasarana dalam hal merencanakan, memenuhi, mendayagunakan,

mengevaluasi, pemeliharaan, melengkapi, menyusun skala prioritas

pengembangan fasilitas pendidikan serta pemeliharaan semua fasilitas fisik

dan peralatan dengan memeperhatikan kesehatan dan keamanan

lingkungan.

c. Seluruh program pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan

disosialisasikan kepada pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik

d. Pengelolaan sarana prasarana sekolah direncanakan secara sistematis dan

dituangkan dalam rencana pokok yang meliputi gedung dan laboratorium

serta pengembangannya.

e. Pengelolaan perpustakaan perlu menyediakan petunjuk pelaksanaan

operasional peminjaman buku dan bahan pustaka lain, merencanakan

fasilitas peminjaman buku dan bahan pustaka lain, membuka pelayanan

42

minimal enam jam sehari pada jam kerja, melengkapi fasilitas peminjaman

antar perpustakaan, baik internal maupun eksternal

f. Pengelolaan laboratorium dikembangkan sejalan dengan perkembangan

ilmu pengetahuan.

g. Pengelolaan fasilitas fisik untuk kegiatan ekstra-kurikuler disesuaikan

dengan perkembangan kegiatan ekstra-kurikuler peserta didik dan

mengacu pada standar sarana dan prasarana.

2.4 Hasil Penelitian Terdahulu

2.4.1 Hasil-hasil yang sudah Diteliti

Untuk mendukung pencapaian hasil secara maksimal dalam pelaksanaan

MBS, berbagai program pendukung/pengiring hingga saat ini telah dilakukan oleh

pemerintah baik pusat, propinsi, maupuan kabupaten/kota, bekerjasama dengan

komponen masyarakat (LSM).

Beberapa program yang telah dilakukan antara:

1) Program Advokasi dan Pendampingan MBS

Tujuan program ini adalah meningkatkan pemahaman dan komitmen

para penyelenggara pendidikan, mancakup unsur pimpinan dan pelaksana

(pengawas sekolah, kepala sekolah dan guru) terhadap pentingnya

menerapkan program MBS dalam pengelolaan pendidikan (sekolah). Agar

pemahaman dan komitmen para penyelenggara sekolah terhadap program

MBS tetap tinggi dan terarah, maka dilakukan advokasi dan pendampingan.

Hasil yang diperoleh adalah adanya pemahaman dan komitmen yang

43

meningkat dari para penyelenggara pendidikan terhadap pentingnya

pelaksanaan MBS secara maksimal di sekolah.

2) Program Pelatihan Peran Serta Masyarakat (PSM)

Program ini bertujuan meningkatkan partisipasi masyarakat dan

stakeholder pendidikan dalam mendukung program-program sekolah,

terutama berkaitan dengan pelaksanaan MBS. Implementasi program ini

berupa: (a) pelatihan bagi pelaksana pendidikan, kelompok (tokoh/LSM)

masyarakat, Komite Sekolah yang peduli terhadap kemajuan pendidikan di

lingkungannya; (b) mendorong kelompok masyarakat/LSM untuk

menciptakan program-program kerjasama dengan lembaga pendidikan,

khususnya lembaga pendidikakan yang melaksanakan program MBS.

Hasil-hasil yang dapat dicapai dalam program PSM ini antara lain:

a) Meningkatnya pemahaman dan apresiasi penyelenggara pendidikan,

kelompok masyarakat/LSM, Komite Sekolah, serta stakeholder terkait,

terhadap substansi program MBS;

b) Meningkatnya dukungan masyarakat/komite sekolah dalam pengelolaan

sekolah melalui program MBS;

c) Meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap perkembangan dan

kemajuan pendidikan, baik pada konteks lokal, regional maupun

nasional.

3) Program Pembelajaran Aktif, Kretaif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM)

Program ini berkaitan langsung dengan pelaksanaan MBS, khususnya

dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru.

44

Sebagai salah satu unsur manajemen sekolah yang didesentralisasikan, guru

sejatinya adalah aset utama pendidikan. Untuk itu, kinerja dan

profesionalismenya harus selalu berkembang.

Model PAKEM, pada dasarnya telah diakui keberadaannya oleh

kalangan pendidik tingak pendidikan dasar. Dalam konteks MBS, model ini

perlu diadopsi oleh guru-guru yang sekolahnya melaksanakan program MBS.

Hasil yang diharapkan bagi guru-guru peserta pelatihan PAKEM adalah

bahwa dirinya memiliki bekal kemampuan yang meningkat, serta berpeluang

menerapkan dan mengembangkan pembelajaran secara kreatif khususnya

merujuk kepada prinsip pembelajaran PAKEM.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->