Analisis Kasus Gabungan Tindak Pidana (Concursus

)
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Adakalanya seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus sehingga menimbulkan masalah tentang penerapannya. Kejadian yang sekaligus atau serentak tersebut disebut samenloop yang dalam bahasa Belanda juga disebut samenloop van strafbaar feit atau concursus. Perbarengan merupakan terjemahan dari samenloop atau concursus. Ada juga yang menerjemahkannya dengan gabungan. Dalam pembahasan kali ini yang menjadi sorotan adalah perbarengan dua atau lebih tindak pidana yang dipertanggungjawabkan kepada satu orang atau beberapa orang dalam rangka penyertaan. Tindak pidana-tindak pidana yang telah terjadi itu sesuai dengan yang dirumuskan dalam perundang-undangan. Sedangkan kejadiannya sendiri dapat merupakan hanya satu tindakan saja, dua/lebih tindakan atau beberapa tindakan secara berlanjut. Dalam hal dua/lebih tindakan tersebut masing-masing merupakan delik tersendiri, dipersyaratkan bahwa salah satu di antaranya belum pernah diadili. Ajaran mengenai samenloop ini merupakan salah satu ajaran yang tersulit di dalam ilmu pengetahuan hukum pidana, sehingga orang tidak akan dapat memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan samenloop van strafbaar feit itu sendiri, maupun permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam ajaran tersebut, apabila orang itu tidak mengikuti perkembangan pahampaham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. Perkembangan paham-paham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri, khususnya yang terdapat didalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP, terjemahan perkataan feit di pasal ini dengan perkataan perbuatan menunjukkan bahwa team penerjemah Departemen Kehakiman R.I. (sekarang Departemen Hukum dan HAM) Secara resmi telah menafsirkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu sebagai suatu perbuatan yang nyata, yakni suatu penafsiran yang oleh Hoge Raad (HR) sendiri telah ditinggalkan sejak lebih dari setengah abad yang lalu. Kiranya tim penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman itu juga tidak akan menerjemahkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu dengan perkataan

antara lain: . seseorang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana dan di dalam jangka waktu tersebut orang yang bersangkutan belum pernah dijatuhi hukuman oleh pengadilan. hakim harus memperhatikan kenyataan-kenyataan apakah tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perlunya studi kasus berupa suatu gabungan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang secara sadar maupun tidak sadar serta pembedaan yang sangat mendasar untuk mengetahui sebatas mana gabungan tindak pidana dapat ditafsirkan menjadi sebuah eendaadse samenloop ataukah meerdaadse samenloop. atau dengan perkataan lain apabila dengan melakukan satu tindak pidana itu. apabila di dalam suatu jangka waktu yang tertentu. oleh pembentuk undang-undang telah diatur di dalam Bab ke-VI dari Buku ke-1 KUHP atau tegasnya di dalam pasal 63 sampai dengan pasal 71 KUHP. bahwa apabila tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana dan dengan melakukan tindakan tersebut.perbuatan. yang perkaranya telah diserahkan kepadanya untuk diadili secara bersama-sama. Simons berpendapat. Sebelum kita membicarakan apa yang disebut samenloop van strafbare feiten itu sendiri. seandainya tim tersebut mengetahui bahwa sudah sejak setengah abad yang lalu terdapat keberatan-keberatan terhadap penggunaan perkataan perbuatan itu sendiri. atau ia telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. Dalam suatu samenloop itu. karena salah satu dari tindakan-tindakan yang telah ia lakukan. tertuduh ternyata telah melakukan beberapa tindak pidana. maka di situ terdapat apa yang disebut eendaadse samenloop atau concursus idealis ataupun apa yang oleh Prof. yaitu berkenaan dengan pengaturan mengenai berat ringannya hukuman yang dapat dijatuhkan oleh seorang hakim terhadap seorang tertuduh yang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. Apa yang disebut samenloop van strafbare feiten atau gabungan tindak-tindak pidana itu. tindakannya itu ternyata telah memenuhi rumusan-rumusan dari beberapa ketentuan pidana. perlu diketahui bahwa orang hanya dapat berbicara mengenai adanya suatu samenloop van strafbare feiten. Prof. Ukuran Pidana yang dapat dijatuhkan atas diri seseorang dalam tindak pidana Concursus. Perumusan Masalah Dari pembahasan diatas. penulis ingin menyampaikan beberapa inti permasalahan. Van Hamel juga telah disebut sebagai samenloop van strafbepalingen atau gabungan ketentuan-ketentuan pidana.

Demikian pula masinis lokomotif menderita luka-luka terkena genteng yang dimuat truk yang jatuh berterbangan dan berhamburan. maka truk tidak bisa lari lebih cepat seperti yang dikehendaki oleh PA. dengan pengalaman kerja selama sepuluh tahun sebagai sopir truk. Truk terbelah menjadi 2 (dua). DAKWAAN Dakwaan Pertama: Pasal 360 ayat (2) KUHP. PA baru sadar ketika kereta api akan melintasi rel tersebut. yaitu “Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan atau pekerjaannya sementara. cabin dengan baknya. karena truk sarat muatannya. ia telah membunyikan tanda semboyan 35 dan berusaha mengurangi kecepatan lokomotifnya. mengangkut bahan bangunan berupa 4000 genteng. pada April 1988 PA mengemudikan truk dibantu dengan keneknya. Akan tetapi. yang menunjukan adanya Rel Kereta Api tanpa pintu. karena bak truk masih ada ruangan yang kosong. masinis kereta api telah melihat ada truk akan melintasi rel kereta api. Tabrakan dan benturan antara kereta api dengan truk yang dikemudikan PA tidak dapat dihindarkan. setelah kenek truk berteriak-teriak ada kereta api akan lewat.Apakah dalam kasus benturan truk dan kereta api dapat digolongkan tindakan satu perbuatan (eendaadse samenloop) ataukah beberapa perbuatan (meerdaadse samenloop)? Apakah Putusan Pengadilan Negeri. maka PA bermaksud mengambil lagi genteng di tempat lain untuk diangkutnya. ataupun Mahkamah Agung sudah tepat? BAB II KASUS Paulus Arisman Bin Suripto (PA) adalah seorang pengemudi truk AB 2282 D. melainkan hanya dipasang beberapa rambu. yang memiliki SIM B1 Umum. maka PA berusaha mempercepat jalannya truk yang akan melintasi kereta api tersebut. Pada suatu hari. Dari jarak ± 200 meter. sedangkan tutup mesin lokomotifnya menjadi rusak berat. Mendengar teriakan kenek tersebut. Beberapa puluh meter sebelum truk melintasi rel kereta api. Dalam perjalanannya. PA dengan keneknya terlempar keluar dari truk dan menderita luka-luka. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan . truk yang dikemudikan PA tersebut harus melewati rel kereta api yang tidak ada pintu pengamannya. PA kurang memperhatikan situasi kanan kiri dari rel tersebut. Pengadilan Tinggi.

.” PUTUSAN Pengadilan Negeri No.. 2.... . 2. dirusakkan atau dibuat tak dapat dipakai. ..... Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 2 bulan dan 15 hari. . Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak.bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah....S/1987/PN. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau pidana denda paling banyak seribu lima ratus rupiah. Register Perkara 1286 K/Pid/1988 1.KBM 1.... Untuk kejahatan ke-2 dengan pidana Kurungan selama 15 hari. 3. 3.. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak.. yaitu “Barangsiapa yang karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan bangunanbangunan tersebut dalam pasal di atas dihancurkan.... Pengadilan Tinggi No.. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Register Perkara 60/Pid. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 10 bulan... Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. ..” Dakwaan Kedua: Pasal 409 KUHP. 2.. Mahkamah Agung No.SMG 1.. 3. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Untuk kejahatan ke-1 dengan pidana Penjara selama 3 bulan.. Register Perkara 762/Pid/1987/PN.

yaitu: Sistem Absorpsi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang masing-masing diancam dengan pidana yang berbeda.BAB III LANDASAN TEORI Samenloop / concursus dapat diterjemahkan gabungan atau perbarengan. Sistem Pemidanaan Pada dasarnya teori gabungan tindak pidana dimaksudkan untuk menentukan pidana apa dan berapa ancaman maksimum pidana yang dapat dijatuhkan terhadap seseorang yang telah melakukan lebih dari satu tindak pidana. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut belum ada yang diadili. dan itu belum dijatuhi putusan hakim atas diri orang tersebut dan terhadap beberapa pelanggaran dari beberapa peraturan pidana itu diadili sekaligus. ia melanggar beberapa peraturan pidana atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut dilakukan oleh satu orang (atau dua orang dalam hal penyertaan). Dalam makalah ini akan digunakan istilah “gabungan”. Sistem Absorpsi Diperberat . dan Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut akan diadili sekaligus. Gabungan tindak pidana yaitu apabila seseorang atau lebih melakukan satu perbuatan dan dengan melakukan satu perbuatan. maka menurut sistem ini hanya dijatuhkan satu pidana saja. Sistem Kumulasi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang diancam dengan pidana sendiri-sendiri. yaitu pidana yang terberat walaupun orang tersebut melakukan beberapa delik. maka menurut sistem ini tiap-tiap pidana yang diancamkan terhadap delik-delik yang dilakukan oleh orang itu semuanya dijatuhkan. Dengan demikian maka syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menyatakan adanya gabungan adalah: Ada dua/ lebih tindak pidana dilakukan. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenal 4 (empat) sistem atau stelsel pemidanaan.

Sistem Kumulasi Terbatas Apabila seeorang melakukan beberapa jenis perbuatan yang menimbulkan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. akan tetapi dalam hal ini diperberat dengan menambah 1/3 (sepertiga). maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu. Bentuk-Bentuk Gabungan Tindak Pidana Gabungan memiliki beberapa bentuk. Akan tetapi. Jika suatu perbuatan. makna dari pasal 63 ayat (1) menjadi sempit. Akibat dari pendirian Hoge Raad ini. jika berbeda-beda yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat. Sebelum tahun 1932. jumlah pidana itu harus dibatasi. yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum. menurut stelsel ini pada hakikatnya hanya dapat dijatuhkan 1 (satu) pidana saja yakni yang terberat.Hal ini diatur dalam pasal 63 KUHP yang bunyinya sebagai berikut: Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. bahwa yang dimaksud dengan satu tindakan dalam pasal 63 ayat (1) KUHP adalah tindakan nyata atau tindakan materiil. tetapi dengan satu perbuatan itu ia melanggar beberapa peraturan pidana yang berarti ia telah melakukan beberapa tindak pidana. maka hanya yang khusus itulah yang dikenakan. diatur pula dalam aturan pidana yang khusus. Hoge Raad barpendirian yang ternyata dalam putusannya. semua pidana yang diancamkan terhadap masing-masing delik dijatuhkan semuanya. Pendirian Hoge Raad bersandar kepada sifat atau ciri yang terdapat pada tindakan tersebut. yaitu: Gabungan dalam satu perbuatan (Eendaadse Samenloop/Concursus Idealis) Eendaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan satu perbuatan. namun belum secara tegas dapat diketahui apa yang dimaksud dengan satu tindakan . Taverne bertolak pangkal dari pandangan hukum pidana bahwa tindakan itu terdiri dari dua/lebih tindakan yang terdiri sendiri yang mempunyai sifat yang berbeda yang tak ada kaitannya satu sama lain dapat dibayangkan keterpisahan masing-masing. Di antara para sarjana terdapat perbedaan pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan satu tindakan.Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. yaitu jumlahnya tidak boleh melebihi dari pidana terberat ditambah 1/3 (sepertiga). maka menurut stelsel ini. Hanya dalam hal-hal terbatas masih apat dibayangkan kemanfaatan dari ketentuan pasal tersebut.

dan tiap-tiap perbuatan tindak pidana sendiri-sendiri dan terhadap perbuatan-perbuatan tadi diadili sekaligus. Tindak pidana kejahatan termuat dalam pasal 65 dan 66 KUHP. Pasal 65 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok sejenis dan sistem pemidanaan menggunakan sistem absorpsi diperberat. Sedangkan pasal 70 KUHP mengatur apabila seseorang melakukan beberapa pelanggaran atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan dan pelanggaran. Modderman mengatakan bahwa dilihat dari sudut badaniah tindakan itu hanyalah satu saja akan tetapi dari sudut rohani ia merupakan pluralitas (ganda). concursus realis dibedakan antara jenis tindak pidana yang dilakukan. 70 dan 70 bis KUHP. Ketentuan dalam pasal 63 ayat (2) sesuai dengan asas lex spesialis derogat lex general. Pemidanaan dalam hal concursus idealis menggunakan stelsel absorpsi murni yaitu dengan salah satu pidana yang terberat. namun harus dipandang merupakan beberapa tindakan apabila tindakan itu mempunyai lebih dari satu tujuan atau cukupan. Sedangkan Pompe mengutarakan bahwa apabila seseorang melakukan satu tindakan pada suatu tempat dan saat. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam prakterknya Hoge Raad menyelesaikan perkara secara kasuistis. Perbedaan antara pasal 65 dan 66 KUHP terletak pada pidana pokok yang diancamkan terhadap kejahatan-kejahatan yang timbul karena perbuatan-perbuatannya itu yaitu apakah pidana pokok yang diancamkannya itu sejenis atau tidak.dan beberapa perbuatan. Hal ini diatur dalam pasal 65. Menurut ketentuan yang termuat dalam KUHP. akan tetapi padanya masih ada unsur lainnya atau suatu kekhususan. Sedangkan tindak pidana pelanggaran termuat dalam pasal 70 dan 70 bis. 66. Gabungan dalam beberapa perbuatan (Meerdaadse Samenloop/concursus realis) Meerdaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. Yang dimaksud dengan ketentuan pidana khusus adalah jika pada tindak pidana khusus itu termuat atau tercakup semua unsur-unsur yang ada pada tindak pidana umum. Pasal 66 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis dan sistem pemidanaanya juga menggunakan absorpsi diperberat. Jika pasal 65 dan 66 menyebutkan tentang gabungan kejahatan dengan kejahatan. yang artinya ketentuan khusus mengenyampingkan ketentuan yang umum. pasal 70 memberi ketentuan tentang gabungan kejahatan dengan pelanggaran atau pelanggaran .

Hanya tentang pemidanaan pasal 64 KUHP menyimpang dari ketentuan pasal 65 KUHP dan 66 KUHP. dan . Tetapi di antara perbuatan itu ada yang hubungan sedemikian eratnya satu sama lain sehingga beberapa perbuatan itu harus dianggap sebagai satu peruatan lanjutan. Dalam hal ini maka kejahatannya dijatuhkan hukumannya sendiri.dengan pelanggaran. Hal ini diatur dalam pasal 64 KUHP dan pemidanaannya menggunakan sistem absorpsi. Menurut pasal 65 KUHP dan 66 KUHP yang dijatuhkan adalah satu pidana yang terberat ditambah dengan sepetiganya. Adapun ciri-ciri dari perbuatan berlanjut adalah: Tindakan-tindakan yang terjadi adalah sebagai perwujudan dari satu kehendak jahat. Oleh karena itu. sedangkan bagi masing-masing pelanggarannya pun dikenakan hukuman sendiri-sendiri dengan pengertian bahwa jumlah semuanya dari hukuman kurungan yang dijatuhkan bagi pelanggaran-pelanggaran itu tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan dan mengenai hukuman kurungan pengganti denda tidak lebih dari delapan bulan. Simons menganggap pasal 64 KUHP sebagai pengecualian terhadap concursus realis/ meerdaadse samenloop. Pasal 70 bis menentukan kejahatan-kajahatan ringan dianggap sebagai pelanggaran. Perbuatan berlanjut (Voorgezette Handeling) Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan dan beberapa perbuatan itu merupakan tindak pidana sendriri. Sedangkan Simons mengatakan bahwa KUHP yang berlaku sekarang tidak mengenal vorgezette handeling sebagaimana diatur dalam pasal 64 KUHP yang merupakan bentuk gabungan dalam concursus realis. Apa yang dimaksud dengan perbuatan berlanjut? Terdapat beberapa pendapat mengenai perbuatan berlanjut tersebut. Ada sarjana yang memberikan pengertian bahwa perbuatan berlanjut adalah apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing merupakan delik. tetapi beberapa perbuatan yang masing-masing delik itu seolah-olah digabungkan menjadi satu delik. Delik-delik yang terjadi itu sejenis. Bagi masing-masing kejahatan ringan tersebut harus dijatuhkan hukuman sendiri-sendiri dengan ketentuan bahwa jika dijatuhkan hukuman penjara maka jumlah semua hukuman tidak boleh lebih dari delapan bulan. Sedangkan menurut pasal 64 KUHP yang dijatuhkan hanya satu pidana yang diperberat.

Tenggang waktu antara terjdinya tindakan-tindakan tersebut tidak terlampau lama. Walaupun istilah concursus realis dan idealis masih diperdebatkan oleh para sarjana. Oleh karena itu. BAB IV ANALISIS KASUS Perbuatan Terdakwa merupakan Concurus Realis Setelah menganalisa kasus tersebut berdasarkan teori-teori penggabungan seperti yang sudah diterangkan diatas. MA juga tidak mencantumkan dasar-dasar hukum lainnya yang menguatkan posisi dari Concursus Realis dalam kasus tersebut dan hanya mencermati dari pemidanaan yang seharusnya diberikan kepada terdakwa. Untuk delik dolus dalam hubungannya dengan delik materiil/ formal tidak ada persoalan mengenai cakupan dari sau kehendak jahat tersebut. akan tetapi penulis menggunakan istilah ini untuk memudahkan dengan landasan teori yang telah dijabarkan sebelumnya. yang menyebutkan: “Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri. sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis. Hal ini membuktikan bahwa MA tidak tahu secara pasti bentuk dari Concursus Realis yang terjadi. dalam rumusan pasal 66 ayat (1) KUHP pun disebutkan bahwa ”masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri . Persoalan mengenai sejauh mana cakupan dari satu kehendak jahat tersebut erat hubungannya dengan delik dolus/ culpa dan delik materil/ formil. Putusan Mahkamah Agung (MA) pada kasus tersebut memang sudah tepat bahwa memang terdapat penggabungan yaitu Concursus Realis dalam kasus tersebut. Akan tetapi. MA tidak menerangkan dasar hukum dari Concursus Realis secara tepat karena mencantumkan baik pasal 65 dan 66 KUHP secara bersamaan padahal kedua pasal tersebut mengatur dua hal yang berbeda. Bentuk penggabungan yang terjadi dalam kasus tersebut adalah Concursus Realis Heterogenius. pasal yang tepat dalam menjelaskan dan menggali pertimbangan tersebut kami menjelaskan Pasal 66 ayat (1) KUHP yang menjadi landasan kami untuk menganalisis. kelompok kami mengambil kesimpulan bahwa kasus tersebut merupakan kasus yang termasuk ke dalam penggabungan. maka dijatuhkan pidana atas tiap-tiap kejahatan tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga. Akan tetapi.” Dalam rumusan pasal tersebut terdapat kata ”beberapa perbuatan” yang membuat perbuatan pidana yang mendasari Concursus Realis terlihat menjadi sempit. yaitu hanya perbuatan fisik semata. Selain itu.

tiap-tiap kompleks kejadian yang tercangkup dalam satu ketentuan pidana. Dengan membuat definisi yang negatif ini. dan juga tidak tidak perlu ada hubungan antara fakta-fakta itu. akan tetapi telah memberikan sedikit pemahaman bahwa concursus idealis. hanya tepat untuk delik-delik komisi (commisie delicten) saja. . dan harus dicari ukuran lain yang tidak begitu materiil dan tidak begitu fisik. concursus realis. Menurut Pompe. Jadi. VOS berpendapat bahwa yang harus dimaksud dengan ”perbuatan” dalam pasal 65-66 KUHP adalah seluruh kompleks (gedraging).sehingga merupakan beberapa kejahatan. serta fakta-fakta lain yang menyertai terjadinya delik. kami juga berusaha mencari dari sumber hukum lainnya yaitu berupa doktrin dari beberapa sarjana. VOS membuat definisi bahwa concursus realis terjadi dalam hal beberapa fakta yang harus dipandang sebagai perbuatan yang tersendiri-sendiri dan yang masing-masing merupakan peristiwa pidana. Walaupun demikian. dilakukan oleh satu orang dan diantara waktu terjadinya masing-masing fakta itu tidak diputuskan hukuman terhadao salah satu fakta-fakta tersebut. Definisi Jonkers tentang concursus realis tersebut memang tidak memberikan penjelasan yang tepat dan pasti dari concursus realis apalagi membahas tentang ”beberapa perbuatan” yang merupakan unsur dari concursus realis. unsur-unsur kesalahan yang subjektif. dan juga perbuatan berlanjut. Jadi. adalah tiga jenis bentuk perbuatan yang berbeda. seperti Jonkers secara negatif mengatakan bahwa segala yang tidak termasuk concursus idealis atau perbuatan terus-menerus merupakan concursus realis. akibat. pendapat klasisk tersebut sebenarnya hanya tepat untuk delik-delik yang terjadi karena dilakukan perbuatanperbuatan materiil (fisik). terhadap penafsiran tentang perbuatan (feit) sebagai satu perbuatan yang dilihat sebagai perbuatan fisik (materiil) saja. untuk menentukan apakah suatu penggabungan tindak pidana merupakan Concursus Realis atau Concursus Idealis maka hubungan dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah sangat penting. Dengan kata lain. harus berdiri sendiri-sendiri. Jonkers merasa bahwa dirinya telah terbebas dari kewajiban membuat satu uraian tersendiri tentang apa itu concursus realis. Pompe juga mengemukakan keberatan-keberatan baik yang ditinjau dari sudut teoritis mapun yang ditinjau dari sudut praktis. Dalam hal dilakukannya delik-delik lain maka ajaran klasik ini tidak dapat digunakan.” Rumusan ini menjelaskan bahwa diantara perbuatan-perbuatan yang terjadi yang merupakan kejahatan dan dapat dihukum pidana.

Biarpun satu tabrakan tetapi HR beranggapan bahwa perbuatan tersebut adalah concursus realis. Kenyataan yang satu itu tidak ada kaitannya dengan kenyataan yang lain dan kenyataan yang satu itu bukan merupakan syarat bagi tumbulnya kenyataan yang lain. Pertimbangan Hoge Raad menyatakan bahwa “Tertuduh telah mengendarai mobilnya pada waktu ia sedang dalam keadaan mabuk. peristiwa pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa.Ukuran yang dimaksud oleh Pompe juga lebih sesuai dengan sifat dari hukum karena dalam hukum tidak dipermasalahkan tentang gerak badan tertentu. Kenyataan-kenyataan tersebut dapat dipandang sebagai . Kenyataankenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataan-kenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. perbuatan tersebut termasuk concursus realis dan hukuman yang dipakai adalah ketentuan dalam pasal 70 KUHP. bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat menentukan. Dalam pada itu mobilnya tersebut tidak dilengkapi dengan dua buah lampu. R. Satu diantara tiga orang tersebut mati dan dua diantaranya luka berat. Kasus yang dapat menjelaskan suatu perbuatan tidak hanya dilihat dari perbuatan fisik saja. Bahwa dua kenyataan itu telah timbul pada waktu yang bersamaan. atau dengan kata lain tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata antara lain: A mengendarai sebuah mobil tanpa memasang lampu dan pada saat itu juga berada dibawah pengaruh minuman keras.Soesilo dalam penjelasan pasal 63 KUHP mengatakan bahwa seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor di malam hari tanpa memakai penerangan dengan tidak membawa SIM. meskipun ia hanya melakukan satu perbuatan fisik yaitu mengedarai sepeda motor tetapi tidak bisa dianggap sebagai concursus idealis. lalu menabrak orang sehingga luka berat. Dapat pula dicatat bahwa peristiwa yang satu dapat dilihat terlepas dari peristiwa yang lain. sedang id dalam kenyataan yang kedua adalah keadaan mobilnya. tetapi yang dipersoalkan adalah apakah sikap tertentu seseorang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai orang tersebut. A dengan mobilnya menabrak sekaligus tiga orang yang naik sepeda. karena. Masing-masing merupakan pelanggaran yang berdiri sendiri-sendiri dengan sifat yang berbeda-beda. Maka. Yang penting di dalam kenyataan yang pertama itu adalah keadaan tertuduh. Hoge Raad melihat apa yang dilakukan oleh A sebagai concursus realis karena tidak mungkin ada concursus apabila yang bersangkutan tidak melakukan suatu perbuatan yang berjiwa satu.

Dalam hal ini yang harus diberlakukan itu bukanlah Pasal 63 ayat (1) KUHP melainkan Pasal 65 KUHP. sebagai tindakan dan sebagai segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. apabila menggunakan ukuran lain dalam menentukan perbuatan dalam pasal tersebut seperti yang sudah diuraikan dalam doktrin-doktrin para sarjana hukum dan yurisprudensi diatas. dimana undang-undang sendiri telah menggunakan perkataan tersebut untuk menunjukan segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. Akan tetapi. Simons yang mengatakan didalam suatu samenloop itu orang harus membedakan apakah si pelaku hanya melakukan satu tindakan – diartikan menurut arti sebenarnya.” Artinya dalam suatu perbuatan yang terlihat dengan kasat mata hanya terlihat satu tindak pidana saja. Ini merupakan dua tindakan. jadi sebagai pelaksanaan secara material – ataupun ia telah melakukan beberapa tindakan sehingga dapat ditarik benang merah yaitu perkataan feit itu menurut paham yang baru harus diartikan lebih sempit dari pada tindakan dalam arti material dan pada saat yang sama ia juga harus diartikan lebih luas dari pada tindak pidana. Disini terdapat suatu meerdaadse samenloop. Pasal 65 KUHP telah menyebut tindakan-tindakan tersebut kejahatan-kejahatan yang berbeda-beda. Dari kasus tabrakan truk dengan kereta diatas. dan begitu sebaliknya. maka dapat terlihat bahwa sebenarnya telah terjadi beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan yang dapat dipidana. Apa yang sesungguhnya telah terjadi itu bukanlah pelanggaran-pelanggaran ataupun suatu pelanggaran – oleh karena hal tersebut dengan sendirinya tidaklah relevan – melainkan perbuatan menimbulkan dua akibat yang terlarang oleh undang-undang. Hoge Raad pada kasus poin 2 diatas menjelaskan pertimbangannya yaitu “Di dalam suatu kecelakaan itu seorang pengemudi mobil telah menyebabkan matinya seorang pengendara sepeda dan telah menyebabkan seorang lainnya mendapat luka-luka berat pada tubuhnya. Mengutip dari pendapat Prof. . memang apabila dilihat dari sudut perbuatan materiil (fisik) semata maka unsur ”beberapa perbuatan” tidak terpenuhi.kenyataan-kenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila pelaku melakukan suatu perbuatan yang mau tidak mau akan mengakibatkan beberapa akibat.” Selain itu. sedangkan Hoge Raad sudah menafsirkan sebagai kenyataan. harus dipandang sebagai suatu perbuatan.

selain itu ada perbuatan lain yaitu PA juga mengetahui seandainya terjadi tabrakan akan menyebabkan rusaknya lokomotif atau rel kereta api. perbuatan yang dilakukan seharusnya bukan mau tidak mau akan terjadi.Walaupun demikian. Dua akibat tersebut merupakan hal-hal yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya dan dapat dipisah-pisahkan. khususnya menjadi 2 perbuatan akibat lalainya PA. untuk dengan sengaja merusakan fasilitas umum. tanpa melihat bahwa ketentuan pasal yang diancamkan pada Pasal 360 ayat (2) KUHP dan Pasal 409 KUHP mempunyai jenis yang berbeda yaitu penjara dan kurungan. untuk menentukan concursus realis dalam kasus diatas adalah dengan melihat pasal yang didakwakan pada terdakwa (P. yaitu: Hal-hal yang meringankan . PA tidak harus dengan lalainya menyebabkan orang lain terluka. bentuk yang terjadi dalam kasus diatas adalah concursus realis heterogenius. Penjatuhan Pidana Dalam kasus diatas dapat dilihat yaitu penerapan pasal 66 ayat (1) KUHP tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. maka akan terjadi suatu tabrakan. akan tetapi dapat memperkirakan bahwa apa yang terjadi yaitu tabrakan dan rusaknya fasilitas umum dapat diperhitungkan. Pertimbangan Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri (PN) tidak bisa menjadi patokan karena Hakim PN hanya menjatuhkan pidana dengan jenis Penjara saja.Aris) yaitu pasal 360 ayat (2) KUHP tentang karena kealpaan menyebabkan orang lain luka-luka dan pasal 409 KUHP tentang kesengajaan merusakkan fasilitas umum. tidak perlu ada keterkaitan antara akibat-akibat yang terjadi. Majelis Hakim Pengadilan Tinggi juga tidak mempertimbangkan masalah yang sama. Memang PA tidak bisa menyadari. Maka dari itu. Jadi. akan tetapi PA mengetahui apabila truk di gas dan ada kemungkinan untuk tidak bisa mengejar target untuk sampai melawati rel. Apabila melihat akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang muncul dari kasus diatas. dapat terlihat dengan jelas bahwa ”perbuatan yang menimbulkan akibat-akibat pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. sehingga memperbaiki putusan PN hanya masalah beratnya pidana yang dijatuhkan tanpa melihat ada dasar-dasar yang meringankan pidana nonyuridis yang lebih banyak dibandingkan dasar pemberat pidana non-yuridis.” Maksudnya. dan karena diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis maka dasar pemidanaannya cukup dengan pasal 66 ayat (1) KUHP. karena sudah terbuktinya suatu tindak pidana yang dilakukan oleh PA. Selain itu.

Kurungan 1 bulan.1. Terdakwa bersikap sopan 3.PENGADILAN NEGERI PENGADILAN TINGGI MAHKAMAH AGUNG Penjara 2 bulan dan 15 hari Penjara 10 bulan Kejahatan I: Penjara 3 Bulan Vonis Kejahatan II: Kurungan 15 hari Dalam penentuan pidana pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak menerapkan hukum dalam menjatuhkan sanksi pemidanaan. sehingga harus dijatuhkan pidana yang berbeda terhadap kejahatan yang berbeda pula. maka apabila kita melihat ancaman hukuman pasal yang didakwakan. Terlepas dari hukuman yang dijatuhkan. . artinya penjatuhan pidana yang maksimal akan dikurangi lebih banyak ketimbang ditambahkan pemidanaannya. Terdakwa masih muda 4. karena berdasarkan pasal 66 ayat (1) KUHP. atau (2) KUHP Pasal 409 KUHP Kurungan 6 bulan. yaitu: Pasal Dakwaan Ancaman Pidana Pasal 360 ayat Penjara 9 bulan. seharusnya Hakim menjatuhkan maksimum penjara adalah sebagai berikut: Kejahatan I: Penjara 12 bulan Kejahatan II: Kurungan 1 bulan 10 hari Dengan demikian. Terdakwa mengaku terus terang sehingga memperlancar jalannya persidangan 2. 1500. Akibat perbuatan terdakwa menimbulkan keterlambatan perjalanan kereta api sampai 5 jam. 4500. maka perbuatan yang diancamkan berbeda jenisnya (vide pasal 10 KUHP). atau Denda Rp. dan kelompok kami setuju dengan amar putusan tersebut. atau Denda Rp. Apabila kita meneliti dari hal-hal yang meringankan dan memberatkan non-yuridis. maka kita akan menyimpulkan bahwa hal-hal yang meringankan lebih banyak dari pada hal-hal yang memberatkan. Terdakwa belum pernah dihukum Hal-hal yang memberatkan 1. pertimbangan Mahkamah Agung dari segi penjatuhan pidana sudah tepat.

perlu suatu pelatihan mengenai teori-teori hukum pidana yang dipelajari bagi para penegak hukum nantinya. agar selalu mempertimbangkan dan menganalisis suatu permasalahan dengan menyeluruh sehingga mendapatkan suatu penafsiran yang tidak salah. sedangkan Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak tepat. dalam kasus benturan Truk dan Kereta Api terdapat suatu gabungan tindak pidana berupa concursus realis atau perbarengan beberapa perbuatan. Hal tersebut merupakan ukuran yang paling mudah dimengerti dan digunakan untuk menentukan apakah bentuk penggabungan yang terjadi merupakan concursus realis atau bukan.BAB IV PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan dihubungkan dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan. Selain itu. sehingga putusan tersebut haruslah diperbaiki. terutama Hakim. Saran Kelompok kami memberikan beberapa rekomendasi yang penting bagi para aparatur penegak hukum termasuk calon aparatur penegak hukum kelak di masa datang. sehingga dalam kasus yang dibahas akan menjadi terang suatu permasalahan yang dihadapi di prakteknya. Akan tetapi.. ukuran dari concursus realis (juga untuk membedakan dengan concursus idealis) yang terbaik adalah melihat keterkaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa pidana yang terjadi beserta akibat-akibatnya. maka kami dapat menarik kesimpulan bahwa: Perbuatan yang dilakukan yang terdapat dalam pasal 65-66 KUHP tidak dapat hanya diartikan sebagai perbuatan materiil atau fisik saja. Apakah suatu peristiwa pidana A merupakan syarat dari peristiwa pidana B dan seterusnya. . Selain itu. Dalam Putusan Mahkamah Agung sudah tepat. karena tidak mempertimbangkan dasar-dasar dikenakannya suatu penjatuhan hukuman berupa vonis maupun masalah gabungan tindak pidana tidak dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana. Apakah peristiwa-peristiwa pidana yang terjadi merupakan perbuatan yang tidak dapat dipisah-pisah yang satu dengan lainnya tanpa melenyapkan peristiwa yang lain ataukah dapat dipisah-pisah satu dengan lainnya tanpa melenyapkan salah satu peristiwa? Apabila ternyata dapat dipisah-pisah tanpa melenyapkan peristiwa yang lain maka bentuk penggabungan yang terjadi adalah concursus realis. Dengan demikian. perbuatan-perbuatan yang terjadi harus dilihat dalam suatu kompleks perbuatan dan juga akibat-akibat yang terjadi.

Putusan Keputusan HR tertanggal 11 April 1927. (Jakarta: Rineka Cipta. Soesilo. akan tetapi meliputi juga doktrin. is meerdaadsche samanloop. R.. Simons.R. NJ 1927.. P. Citra Aditya Bakti. Prodjodikoro. 1967). Loqman. Dengan demikian. (Jakarta: Eresco.R. P. 1996). Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. 1937). Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. Sianturi. Leerboek van het Nederlandsee Straftrecht. yurisprudensi hakim dan lain-lain. Rangkaian Sari Kuliah: Hukum Pidana II. 1967). dan S. (Groningen: Batavia. 1993).. Prodjodikoro. Loebby. 1958). 1997).Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana. (Jakarta: Penerbit Storia Grafika. . S. 2005). (Jakarta : Bina Aksara. Utrecht. Keputusan HR tertanggal 24 Oktober 1932. Lamintang. (Bandung: PT. (Jakarta: Universitas Tarumanegara.Tindak Pidana Tertentu. (Jakarta: Eresco. 1985).Y. Penyertaan. Marpaung.F. DAFTAR PUSTAKA Buku Jonkers “Alles. Leden . E. Wirjono. teori-teori gabungan tindak pidana hendaknya tidak ditafsirkan secara leterlijk saja yaitu yang berdasar pada undang-undang. 2002). (Jakarta : Sinar Grafika. Sianturi.Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia. (Bandung: PT.” Kanter. tetapi juga sumber hukum tidak terbatas dari perundang-undangan. dan Gabungan Tindak Pidana. Pemahaman ataupun konsep yang salah akan menimbulkan permasalahan yang berlarut-larut dan kontroversial. wat niet eendaadsche samanloop of voortgezette handeling is.A.. Noordhoff N. (Bogor: Politeia. NJ 1932. Penerbitan Universitas. Moeljatno..Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal. Percobaan. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. V. W Nr 11673.khususnya mengenai pemidanaan yang terkadang tidak adil dirasakan oleh terdakwa. 1987). Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia. E. Wirjono.

289. is meerdaadsche samanloop. wat niet eendaadsche samanloop of voortgezette handeling is. Pompe. Penerbitan Universitas.. Noordhoff N.. Keputusan HR tertanggal 24 Oktober 1932. E. P. Jonkers “Alles. 682 . op. cit. NJ 1927. Ibid. NJ 1932.F. hal. 136. W Nr 11673.Keputusan HR tertanggal 8 Februari 1932. Keputusan HR tertanggal 8 Februari 1932. hal.”. 1997). NJ 1932. Simons. 1937). P. Prof. hal. hal. Kritik terhadap Keputusan HR tertanggal 11 April 1927. Leerboek van het Nederlandsee Straftrecht. (Bandung: PT. (Bandung: PT. hal. NJ 1932. 1958). Utrecht. Citra Aditya Bakti. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. 16. Vos (hal 312). V. 681. hal. Lamintang. Mr. Rangkaian Sari Kuliah: Hukum Pidana II. (Groningen: Batavia. 680. Lamintang. hal. hal 145. 464.A.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful