P. 1
Hukum Administrasi Negara-daerah

Hukum Administrasi Negara-daerah

|Views: 241|Likes:
Published by Mega Triana Juanda

More info:

Published by: Mega Triana Juanda on Dec 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/28/2014

pdf

text

original

TUGAS HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

DISKRESI PEMERINTAHAN DAERAH

Oleh: Nama Semester Dosen : : : Mega Triana Juanda IV Asep B Hermanto S.H.,M.H.

Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus JAKARTA

1

Daftar Isi: JUDUL..............................................................................................................................1 DAFTAR ISI....................................................................................................................2 DARI PENULIS..............................................................................................................3 BAGIAN 1. DISKRESI DAN PEMERINTAHAN DAERAH....................................4 BAGIAN 2. PEMERINTAHAN DAERAH PASCA REFORMASI..........................7 BAGIAN 3. INTERVENSI POLITIK...........................................................................9 BAGIAN 4. DISKRESI BIROKRASI.........................................................................11 BAGIAN 5. DEMOKRASI DAN DESENTRALISASI.............................................12 BAGIAN 6. PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH.............................................13 BAGIAN 7. EVALUASI KELEMBAGAAN PERANGKAT DAERAH……...….14 BAGIAN 8. SISTEM MANAJEMEN PEMDA...................................................….15 BAGIAN 9. KESIMPULAN DAN SARAN..........................................................….17

2

Dari Penulis...

Assalamualaikum, shallom, salam sejahtera... Puji Syukur saya haturkan ke hadirat Tuhan YME atas terselesaikannya tugas akhir semester IV, mata kuliah Hukum Administrasi Negara (HAN) yang saya beri judul: “DISKRESI PEMERINTAHAN DAERAH” ini.

Mengapakah topik ini yang saya ambil? Hal ini dikarenakan saya melihat adanya koherelasi yang berkesinambungan antara topik DISKRESI yang sudah dipelajari pada semester IV dengan materi tentang Pemerintah Daerah yang kelak dipelajari pada semester V yaitu pada mata kuliah Hukum Administrasi Daerah (HAD).

Makalah yang saya buat ini tentu saja masih jauh dari sempurna,tapi baiklah saya coba untuk mengetengahkannya. Besar harapan saya akan bermanfaat dengan sebaik-baiknya. Saran serta kritik yang membangun akan sangat saya hargai demi pemahaman yang lebih mendalam dan kaya mengenai topik yang saya pilih ini.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Dosen, Bp asep Bambang Hermanto atas sumbangsih dan bimbingannya, tidak lupa juga kepada keluarga tercinta dan rekan-rekan atas dukungan, cinta dan sarannya.Demikianlah makalah ini saya buat, atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih... Salam, Penulis,

3

mhtw9978 Bagian 1 DISKRESI dan PEMERINTAHAN DAERAH Sebuah pendahuluan...

A. DISKRESI

“DISKRESI” pada dasarnya merupakan bagian dari Peraturan kebijaksanaan (Beleidsregel) yakni peraturan yang digunakan pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dikarenakan prinsip penyelenggaraan pemerintahan modern pada saat ini adalah prinsip doelmatigheid yang berarti: Tujuan untuk kepentingan umum. Jadi dalam pelaksaannya terdapat penekanan pada “kegunaan” (doelstalling) dan “kebijaksanaannya” (belleids). Dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam pemerintahan, seringkali pemerintah dalam hal ini pejabat administrasi negara diberikan suatu kewenangan yang bebas. Kewenangan yang bebas tersebutlah yang disebut dengan Diskresi & kewenangan tersebut melekat pada kewenangan pejabat administrasi negara. Jadi dapat diambil pengertian bahwa DISKRESI adalah: ” Kewenangan pejabat administrasi negara yang dijalankan demi kepentingan masyarakat dan tidak melanggar azas pemerintahan yang bersih.” Diskresi tidak memiliki dasar hukum akan tetapi boleh dilakukan sepanjang kegunaannya adalah bagi kepentingan masyarakat.

4

B. PEMERINTAHAN DAERAH

Bicara tentang Pemerintahan Daerah berati kita bicara mengenai Desentralisasi. Sebagai negara yang Demokratis, Indonesia termasuk kepada negara yang telah menjalankan sistem ini. Desentralisasi merupakan solusi yang baik dalam menjalankan pemerintahan yang demokratis. Desentralisasi yang memberikan peranan yang lebih bermakna terhadap otonomi daerah yaitu kepada pemerintah daerah sekarang ini merupakan penekanan perubahan paradigma dalam tata kepemerintahan yang baik. Oleh karena itu desentralisasi kewenangan pemerintah tersebut mutlak perlu dilakukan agar terwujudnya harmonisasi hubungan antara pemerintah daerah dan pusat. Pemerintahan daerah (local government) pada sejarahnya di Inggris, istilah ini menunjukkan adanya kekuasaan (authority) dari unit pemerintahan yang berdiri sendiri (dependent) yang didirikan atas persetujuan parlemen untuk memberikan pelayanan dan yang mewakili kepentingan umum (general interest) dari suatu daerah/wilayah tertentu di bawah kepemimpinan kepala daerah yang dipilih oleh rakyat. Sebagaimana kita ketahui Inggris termasuk kepada negara yang menganut sistem hukum Anglo Saxon. Pemerintahan daerah di Inggris dibentuk atas dasar Undang-undang parlemen. Susunan,fungsi,anggaran dan pelbagai proses tindakan pejabat pemerintahan daerah di Barat mengikuti sistem demokrasi liberal. Pemerintahannya lalu disusun melalui perundangan daerah dan bukan berdasarkan konstitusi nasional. Misalnya di Amerika Serikat (USA), dimana yang menentukan susunan pemerintahan dan kewenangan pejabat daerah adalah negara bagian sendiri (state) bukan pemerintah nasional (federal). Berikutnya adalah yang berlaku di Indonesia yang menganut paham Eropa Kontinental.

5

Di Indonesia saat ini setelah pasal 18 ayat (1) UUD 1945 telah diamandemen dinyatakan bahwa: ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah Provinsi dan daerah-daerah Provinsi tersebut dibagi atas Kabupaten dan Kota dan mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dalam Undang-Undang.” Dalam hal ini dapat ditafsirkan bahwa Pemerintahan Daerah tersebut dimiliki masingmasing Provinsi, Kabupaten juga Kota yang mengatur/mengurus sendiri urusan pemerintahannya. Mengenai kelembagaan Pemerintahan daerah itu sendiri diatur dalam UU No.32’2004. Sebelum reformasi, yang diberlakukan adalah UU No.22/1999 dan dikeluarkan PP No.84/2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah. PP No.84/2000 ini memberikan keleluasaan dan kekuasaan yang sangat besar kepada pemerintahan daerah dalam menyusun dan menetapkan organisasi perangkat daerahnya. Walaupun telah ditegaskan bahwa penyusunan kelembagaan perangkat daerah harus mempertimbangkan: -kewenangan yang dimiliki, -karakteriskik, potensi -kebutuhan daerah, kemampuan keuangan daerah -ketersediaan sumber daya aparatur -pengembangan pola kemitraan antar daerah -pola kemitraan dengan pihak ketiga. Namun pada prakteknhya kemudian kewenangan ini diterjemahkan secara berbeda-beda oleh masing-masing daerah, nuansa politiknya kemudian menjadi lebih kental dibandingkan pertimbangan rasional objektif, efisiensi dan efektifitas. Terjadilah kemudian in-efisiensi dimana-mana terutama pada alokasi dana anggaran.

6

Lalu kemudian pada era reformasi, untuk mengatasi hal ini Pemerintahpun mengupayakan penyempurnaannya dengan PP No.8/2003.

Bagian 2 PEMERINTAHAN DAERAH PASCA REFORMASI

Perkembangan PEMDA setelah reformasi ini, kedudukan sistem birokrasi PEMDA terhadap kepemimpinan pejabat politik yang memimpinnya menjadi sangat

mengkhawatirkan. Banyak ditemui adanya hubungan yang tidak serasi antara pemerintah daerah dengan rakyat yang notabene telah memilihnya sendiri. Contoh kasus: -kasus Bupati Banyuwangi yang kebijakannya ditolak masyarakat, yang lalu diikuti dengan pemecatan pejabat birokrasinya akibat adanya penyimpangan yang dilakukan. -kasus Pemda Temanggung,Jawa Tengah, dimana Bupatinya didemo oleh pejabat birokrasi daerahnya sendiri. Yang kemudian berakhir dengan pemecatan Bupati tersebut, lalu dimasukkan ke penjara karena terbukti korupsi. Ketidakserasian hubungan ini juga tergambar jelas saat Pemilihan langsung Kepala Daerah ataupun Presiden. Dapat dilihat apabila salah satu calon mer Kepala Daerah tersebut adalah Bupati/Walikota yang menjabat maka pejabat2 birokrasi lainnya seakan tidak memiliki diskresinya untuk tidak memihak calon tersebut. Begitu juga halnya pada saat Pilpres. Pemerintah maupun Parpol (DPRD) terkesan kurang peka dengan situasi seperti ini, seringkali kejadian2 seperti ini hanya dianggap sebagai hal yang biasa sebagai dinamika demokrasi.

Diskresi pejabat birokrasi dalam melaksanakan kebijakan2 pemerintah menjadi terkendali oleh aspirasi pejabat politik yang memimpinnya sebagai kepala daerah. Belum

7

lagi intervensi kekuatan politik dari parpol yang berada di luar DPRD. Intervensi inilah yang kemudian mengurangi diskresi pejabat birokrasi daerah. Dijelaskan oleh S.Masdar bahwa DISKRESI PEJABAT adalah keleluasaan yang dimiliki pemerintah dalam menjalankan kewenangannya sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku. Sementara ada hal-hal yang memang bertentangan dengan peraturan namun harus segera dilakukan demi kepentingan masyarakat. Birokrasi pejabat mempunyai keleluasan dalam batas2 nominal (nominal boundaries) yang melekat pada jabatan atau sistem yang ada. Misalnya dalam hal sbb; -seorang Sekda (Sekretaris Daerah) di dalam menjalankan dan melaksanakan kebijakan dan peraturan pemerintah/daerah harus berani menolak campur tangan kepala daerah apabila hanya mementingkan kepentingan golongan atau partai tertentu. -atau dalam hal keputusan kepala daerah yang mengakomodir kepentingan politik atau pribadi kepala daerah, maka seorang Kadin (Kepala Dinas) diharapkan untuk berani menolak keputusan tersebut. Singkat kata, suatu kebijakan pemerintah dilaksanakan tidak hanya hitam putih saja, tetapi dapat lebih berseni dan berwarna apabila diwarnai dengan diskresi pejabat yang bertanggung jawab. Pejabat yang memiliki keluasan ruang gerak Diskresi diharapkan adalah pejabat yang memahami seluk beluk urusan kewenangannya sepanjang tidak menyalahi peraturan yang berlaku, bertujuan bagi kepentingan masyarakat dan berdasar kepada azas pemerintahan yang bersih. Diskresi yang menyimpang dari ketentuan2 tersebut berarti diskresi yang telah menjadi korupsi.

8

Bagian 3 INTERVENSI POLITIK

Pada era Reformasi dapat dikatakan kjedudukan birokrasi pemerintahan secara organisatoris berada di bawah kekuasaan kepala daerah yang adalah kepala daerah yang berasal dari partai politik pemenang pemilihan yang notabene memperoleh mandat dari rakyatnya (konstituen pemilih dari parpol tertentu). Keterikatan kepala daerah dengan partai politiknya mustahil dapat dielakkan, seringkali berujung dengan komitmen kepala daerah untuk membantu pendanaan kepada partai politiknya. Sebagaimana kita ketahui ada dana taktis yang disediakan untuk kegiatan kepala daerah. Disinilah diskresi dimungkinkan untuk beralih kepada korupsi yaitu disaat komitmen kepala daerah terhadap parpolnya tersebut memaksanya untuk

menyalahgunakan dana taktis tersebut. Hal ini merupakan salah satu contoh intervensi politik yang berujung kepada penyempitan wilayah diskresi pejabat yang bersangkutan. Intervensi lain yang tak kalah menjadi momok yang menakutkan bagi pejabat untuk berimprovisasi dalam wilayah diskresinya adalah pemberantasan korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Terutam bila ada kasus terjadinya tunjuk langsung pada rekanan tanpa melalui sistem tender. Adakalanya dalam menjalankan diskresinya pada saat yang mendesak, waktu yang sempit dan kepentingan serta keamanan/keselamatan masyarakat dipertaruhkan, seorang pejabat harus menggunakan hak diskresinya akan tetapi kemudian diusut KPK lalu beralih menjadi dugaan korupsi. Misalnya pada kasus pembelian mobil pemadam kebakaran (kasus Damkar) yang baru2 ini cukup menghebohkan.

9

Mungkin pembelian mobil Damkarnya merupakan diskresi pejabat saat itu dikarenakan waktu yang sempit dan kebakaran hutan yang dikhawatirkan dapat meluas bila tidak segera ditangani, akan tetapi, diskresi tersebut berubah menjadi korupsi saat terjadi mark-up harga yang tidak masuk diakal, yang disinyalir adalah untuk kepentingan pribadi pihak2 yang turut bermain.

10

Bagian 4 DISKRESI BIROKRASI

Robert Klitgaard (dalam bukunya Corrupt Cities:A Practical To Cure & Prevention, Robert.Klitgaard 2000) memandang Diskresi Birokrasi sebagai penyebab terluas terjadinya Korupsi apabila tidak diimbangi dengan Akuntabilitas Publik yang baik. Maka untuk pada saat penyembuhan sekarang ini adalah lebih baik untuk mengurangi kekuasaan dan diskresi tersebut terlebih dahulu dan menggiatkan akuntabilitas publik. Pemahaman mengenai bahay korupsi dan diskresi yang bertanggung jawab dapat terus dibina mulai dari masyarakat itu sendiri. Diskresi dan Korupsi merupakan 2 sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Di satu sisi Diskresi yang dijalankan dengan tujuan yang benar dan bersih merupakan seni tersendiri dari kreatifitas masing2 pejabat daerah dalam menjalankan fungsinya. Dan di sisi lain dapat bergeser nilai menjadi korupsi apabila menyimpang dari kebenaran. Untuk itu, seyogyanya kita perlu meninjau kembali sistem birokrasi kita saat ini, perlu ada evaluasi ulang dan reformasi yang menyeluruh seiring dengan perubahan sistem perekonomian dan politik saat ini yang telah jauh berkembang.

11

Bagian 5 DEMOKRASI &DESENTRALISASI

Timbulnya suatu pemerintahan adalah berasal dari bawah, yakni dari adanya kebutuhan bersama dari rakyat yang berada pada wilayah tertentu. Kebutuhan dan cita2 bersama ini adalah cikal bakal timbulnya pemerintahan, berarti pemerintahan itu bukan hanya milik atau sarana penyaluran aspirasi kaum/golongan/elite/penguasa saja. Dari sinilah lalu muncul istilah Pemerintahan yang Demokratis yaitu suatu pemerintahan yang dijalankan dari rakyat, oleh rakyat & untuk rakyat. Dengan demikian sumber otoritas & kewenangan mengatur pemerintahan adalah berasal dari rakyat itu sendiri. Pelaksanaan demokrasi berkaitan erat dengan desentralisasi. PBB telah

mengadakan Global Forum untuk membahas praktek desentralisasi dalam pemerintahan yang demokratis yaitu 6th Global Forum’2005. Terciptalah Deklarasi Seoul 27 Mei 2005 yang menyatakan bahwa: ”Good governance requires and appropriate level of decentralization, innovation and development of local government. Local administration can be made more effective and autonomous through the promotion of administrative and financial decentralization, digitalization of government, and result-base performance management”. “suatu kepemerintahan yang baik bisa dicapai jika dipenuhi suatu tingkat desentralisasi, inovasi dan pembangunan pemerintahan daerah yang memadai. Administrasi dan otonomi pemerintahan daerah bisa diwujudkan lebih efektif melalui peningkatan desentralisasi baik administratif maupun financial, digitalisasi

pemerintahan dan tata manajemen yang berdasarkan hasil.”

12

Deklarasi Seoul tersebut perlu kiranya kita jadikan bahan renungan untuk menata sistem diskresi pemerintahan yang demokratis. Bagian 6 PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH

Pelaksanaan Otonomi Daerahpun perlu kita evaluasi lebih lanjut yaitu pada 3 aspek: 1.aspek penataan kelembagaan perangkat daerah. 2.sistem penataan manajemen Pemerintahan Daerah. 3.aspek perilaku pelaksanaan manajemen Pemda. Dan ukuran yang kia pakai adalah bagaimana sistem demokrasi Pemda itu diterapkan.

13

Bagian 7 EVALUASI KELEMBAGAAN PERANGKAT DAERAH

Kelembagaan organisasi pemerintah baik di pusat maupun di daerah saat ini menurut saya belum dianalisis secara serius mengenai efektifitas & ketetapan eksistensinya. Pemda ditenggarai jarang mau melakukan rasionalisasi antara pegawai yang dibutuhkan dengan jumlah organisasi perangkat yang ada. Pengaturan pemerintahan pusat masih dirasakan begitu besar sehingga dapat mengurangi upaya pelaksanaan desentralisasi yang demokratis. Mestinya sistem demokrasi yang dijalankan di Pemda adalah diskresi daerah untuk menentukan jumlah organisasi perangkat daerahnya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan daerah sendiri untuk membiayainya. Begitu juga halnya dengan proses recruitment pejabat di daerah masih banyak diwarnai oleh aspirasi politik praktis dari pimpinan politik yang menjadi kepala daerah, demikian pula promosi jabatan & PNS di pemerintah daerah (PEMDA). Oleh karena itu pendidikan politik kepada rakyat tidak hanya menjadi tugas pokok pemerintah akan tetapi juga tugas pokok parpol2 tempat rakyat menjadi konstituennya, agar rakyat dapat belajar untuk lebih sportif dalam menanggapi kehidupan berpolitik.

14

Bagian 8 SISTEM MANAJEMEN PEMDA

Sistem Mnajemen Pemda dijalankan berdasar 3 azas: 1.Desentralisasi 2.Dekonsenrasi 3.Perbantuan. Ketiga asas tersebut sebenarnya bertujuan unutk memperjelas hubungan kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah, juga tata hubungan antara lembaga eksekutif daerah dan lembaga perwakilan daerah. Kekuatan sistem desentralisasi dan otonomi daerah didukung oleh 3 pilar utamanya yakni; 1.Kemampuan daerah untuk mengatur apa2 yang diwujudkan dalam peraturan daerah bersama wakil rakyat daerah. 2.Didukung oleh kemampuan daerah menggali sumber pendapatan/keuangan daerah yang bisa digunakan untuk membiayai pembangunan dan pemerintahan di daerah. 3.Didukung juga oleh sistem manajemen pengelolaan SDM/ kepegawaian daerah yang profesional dan berkualitas. Dekonsentrasi merupakan pelimpahan wewenang pemerintah oleh pemerintah pusat kepada gubernur sebagai wakil pemerintah dan atau kepada instansi vertikal di bawahnya (Pasal 1 ayat (8) UU No.32/2004). Dalam hal ini tampak jelas ada upaya resentralisasi yang amat kental. Juga dalam hal banyaknya pembatalan perda2 oleh pusat.

15

Sedangkan untuk membuat Perda tersebut daerah telah mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Sistem lain yang juga membingungkan adalah pada pasal 222 ayat (2) yang menyatakan pembinaan dan pengawasan erhadap kabupaten dan kota dilakukan oleh Gubrenur. Sebagaimana tertuang dalam PP No.79/2005 pasal 25 ayat (1),(2): ”Inspektur provinsi dalam melaksanakan tugas pengawasan, bertanggung jawab terhadap Gubernur dan mendapat pembinaan dari Sekda Provinsi” Membingungkannya sistem ini adalah inspektur provinsi mestinya adalah aparat perangkat daerah dari pemda provinsi bukan aparat dekonsentrasi. Oleh karenanya kita perlu mencari solusi yang lebih baik demi terciptanya pemerintahan daerah yang lebih demokratis. Begitu juga halnya dengan sistem hubungan kerja antara DPRD dengan Kepala Daerah yang dalam Undang-undang masing-masing sebagai penyelenggara pemerintahan daerah perlu dicari upaya untuk mewujudkan check & balance dalam pemerintahan yang demokratis. Sistem pemilihan langsung Kepala Daerah yang semula diharapkan mampu melaksanakan pemilihan secara demokratis & bebas politik uang (money politics), ternyata malah menjadi kental nuansa politik uangnya. Misalnya saja saat pemilihan, parpol menentukan sejumlah uang yang harus diberikan oleh calonnya, belum lagi dana yang sangat besar yang harus dikeluarkan sang calon untuk memikat hati pemilihnya kemudian. Betapa mahalnya untuk menjadi seorang Kepala Daerah. Makanya tak heran di kemudian hari, calon yang terpilih kemudian akan memperhitungkan bagaimana mengembalikan dana modalnya tersebut saat yang bersangkutan menjabat. Akibatnya timbul fenomena bahwa yang jadi Kepala daerah adalah orang2 kaya bermodal besar yang masih diragukan profesionalismenya. Perilaku2 manajemen pemerintahan daerah dalam pelayanan terhadap

16

masyarakat perlu dikaji kembali tujuan utamanya, apakah demi kepentingan rakyat ataukah pribadi/golongan.

Bagian 9 KESIMPULAN & SARAN

Dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaannya, otonomi daerah masih perlu memperoleh tanggapan dan perhatian. Persoalan2 yang perlu diperhatikan tersebut adalah mengenai; 1.Penataan organisasi perangkat daerah hendaknya tidak membatasi diskresi pemda itu sendiri. 2.Eksistensi suatu organisasi perangkat daerah haruslah semata-mata didasarkan pada kemampuan dan kebutuhan daerah atas organisasi tersebut. 3.Hubungan antara jabatan politik dan pejabat karir perlu ditata dengan memberikan dasar hukum yang tegas bagi birokrasi pemda, sehingga tidak mudah ditarik ataupun diintervensi oleh kekuatan politik praktis parpol. Pentingnya check & balance antara hubungan kelembagaan eksekutif & legislatif juga perlu lebih ditekankan agar tercipta harmonisasi hubungan kerja dengan tetap menjalankan diskresinya masing-masing demi kepentingan masyarakat. Penilaian Pemda yang seringkali tidak percaya diri atas kemampuannya sendiri perlu diperbaiki. Misalnya dalam meminta bimbingan pusat baik dalam rangka memperoleh tambahan anggaran, dsb. Hal ini perlu sekali untuk dikurangi agar Pemda dapat berprilaku lebih mandiri, mengingat ketergantungan daerah terhadap pusat dengan berlebihan tersebut hanya akan melegitimasi intervensi pemerintah pusat ke daerah.

17

Selanjutnya akuntabilitas publik hendaknya dijadikan etos kerja dalam meberikan pelayanannya terhadap masyarakat.

Kontrol masyarakat dapat dijadikan kriteria untuk mengevaluasi pelayanan publik tersebut. Kontrol masyarakat dan akuntabilitas pemerintahan adalah selayaknya 2 sisi mata uang yang sama mata uang logam, yang juga hendaknya dapat dijadikan acuan dalam menerapkan Diskresi Pemda. Dengan terciptanya Pemerintahan Daerah yang profesional dan memahami betul batasan2 kewenangannya maka Diskresi dapat dijalankan sebagai bentuk kreatifitas masing2 pemimpin daerah yang ada. Demikianlah pokok2 pikiran sederhana yang dapat saya tuangkan dalam makalah ini. Mohon maaf atas segala kekurangannya dan atas perhatiannya, saya ucapkan banyak terima kasih.

PENULIS DEPOK2009

18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->