P. 1
Buku MAKP

Buku MAKP

|Views: 183|Likes:

More info:

Published by: Januar isnan Fauzy H on Dec 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2013

pdf

text

original

METODE PENUGASAN DALAM ASUHAN KEPERAWATAN

Prinsip pemilihan metode penugasan adalah : jumlah tenaga, kualifikasi staf dan klasifikasi pasien. Adapun jenis-jenis metode penugasan yang berkembang saat ini adalah sebagai berikut :

A. METODE FUNGSIONAL
Metode fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaa n asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia kedua. Pada saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat maka setiap perawat hanya melakukan satu

sampai dua jenis intervensi, misalnya merawat luka kepada semua pasien di bangsal.

Kepala Ruang

Perawat Pengobatan

Perawatan Luka

Perawat Pengobatan

Perawatan Luka

Pasien / Klien

Gambar 1 : Sistem pemberian asuhan Keperawatan Fungsional (Nursalam, 2002)

1. Kelebihan : a) Manajemen klasik yang menekankan efisiensi, pembagian tiugas yang jelas dan
pengawasan yang baik. b) c) Sangat baik untuk Rumah Sakit yang kekurangan tenaga Perawat senior menyibukkan diri dengan tugas manajerial, sedangkan perawat

pasien diserahkan kepada perawat junior dan atau belum berpengalaman.

2. Kelemahan : a. Tidak memberikan kepuasan pada pasien maupun perawat.
b. Pelayanan keperawatan. c. Persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan keterampuilan saja. keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan proses

1

b) Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin. Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi tim.B. yang biasanya membutuhkan waktu dimana sulit untuk melaksanakan pada waktu-waktu sibuk (memerlukan waktu ) b. Tujuan Metode Tim : a) Memfasilitasi pelayanan keperawatan yang komprehensif b) Menerapkan penggunaan proses keperawatan sesuai standar c) Menyatukan kemampuan anggota tim yang berbeda-beda 2. Kelemahan : a. METODE PERAWATAN TIM Metode pemberian asuhan keperawatan dimana seorang perawat profesional memimpin sekelompok kolaboratif (Douglas. Jika pembagian tugas tidak jelas. maka tanggung jawab dalam tim kabur 2 . 4. d) Peran kepala ruang penting dalam model tim. Kelebihan : a) Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh. 1992) tenaga keperawatan dengan berdasarkan konsep kooperatif & 1. Model tim akan berhasil baik jika didukung oleh kepala ruang. b) Mendukung pelaksanaan proses keperawatan. Perawat yang belum terampil & kurang berpengalaman cenderung untuk bergantung/berlindung kepada perawat yang mampu c. c) Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim. Konsep Metode Tim : a) Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai teknik kepemimpinan. c) Memungkinkan komunikasi antar timsehingga konflik mudah diatasi dan memberikan kepuasan kepada anggota tim. 3.

1998) C. Ada tanggungjawab dan tanggunggugat b. Kelemahannya : a) Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai keputusan yang denga kriteria asertif. melakukan. Metode primer ini ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dengan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan. kemampuan t mengambil keperawatan klinik. 1. Konsep dasar metode primer : a. Ada otonomi c. ada kejelasan antara pembuat perencana asuhan dan pelaksana. Bersifat kontinuitas dan komprehensif c. dan koordinasi asuhan keperawatan selama pasien dirawat.Kepala Ruang Ketua Tim Ketua Tim Ketua Tim Staf Perawat Staf Perawat Staf Perawat Pasien / Klien Pasien / Klien Pasien / Klien Gambar 2 : Sistem pemberian asuhan keperawatan ³ Team Nursing ³ (Nursalam. menguasai direcion. akontable serta mampu 3 . Ketertiban pasien dan keluarga 2. Kelebihannya : a. Klien/keluarga lebih mengenal siapa yang merawatnya 3. Perawat primer mendapatkan akontabilitas yang tinggi terhadap hasil dan memungkinkan pengembangan diri kepuasan perawat d. self n tepat. Mendorong praktek kemandirian perawat. Model praktek profesional b. METODE PRIMER Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh selama 24 terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari masuk sampai jam keluar rumah sakit.

Perawat lebih memahami kasus per kasus b. 1. Kelebihan : a.berkolaborasi dengan berbagai disiplin. Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah 2. Belum dapatnya diidentifikasi perawat penanggungjawab b. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Kekurangan : a. umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk perawatan khusus seperti : isolasi. Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang sama 4 . 2002) D. b) Biaya lebih besar Dokter Kepala Ruang Sarana RS Perawat Primer Pasien Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana Gambar 3 : Diagram sistem asuhan keperawatan ³ Primary Nursing ³ (Nursalam. intensive care. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat. METODE KASUS Setiap pasien ditugaskan kepada semua perawat yang melayani seluruh kebutuhannya pada saat ia dinas.

Mengkaji setiap klien. Tanggung Jawab Karu : a. Tanggung Jawab Kepala Ruangan (Karu). antara lain : 1. Menciptakan iklim komunikasi terbuka 2. (renpra). Tanggung Jawab Katim : a. menetapkan rencana keperawatan c. ketua tim dan anggota tim memiliki tanggung jawab yang berbeda-beda. maka perlu diperhatikan hal-hal berikut di bawah ini. setiap ruangan/unit perawatan dapat mempertimbangkan kemungkinan penerapan dari salah satu metode di atas berdasarkan prinsip pemilihan penugasan yang tepat. dan efisien. Memberi kesempatan katim untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan managemen d. menerapkan tindakan keperawatan dan mengevaluasi renpra d.Kepala Ruang Ketua Tim Ketua Tim Ketua Tim Pasien / Klien Pasien / Klien Pasien / Klien Gambar 4 : Sistem sistem asuhan keperawatan ³ Case Method Nursing ³ (Nursalam. Menjadi narasumber bagi tim f. Membantu staf menetapkan sasaran dari ruangan c. Namun dalam mengembangkan metode penugasan Tim. 2002) Dari berbagai metode penugasan yang ada. Mendorong kemampuan staf untuk menggunakan riset keperawatan g. Mengkoordinasikan renpra dengan tindakan medis melalui komunikasi yang 5 . menganalisa. Melakukan orientasi kepada pasien baru & keluarga b. Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf b. masing-masing kepala ruangan. Mengorientasikan tenaga baru e. efektif. Ketua Tim (Katim) dan Anggota Tim Secara umum.

e. karu bersama katim menilai langsung pada masing-masing tim yang menjadi tanggung jawabnya. Bertanggung jawab terhadap kepala ruangan 3. melalui : ‡ Setiap pagi. implementasi dan evaluasi.konsisten e. Penerapan Metode Tim a. seluruh anggota tim mulai melakukan asuhan keperawatan langsung maupun tidak langsung 6 . Katim menghitung jumlah kebutuhan tenaga d. atau ‡ Setiap tim keperawatan (yang dinas malam) membuat klasifikasi pasien kemudian diserahkan kepada karu/katim. permasalahan. Membagi tugas anggotatim dan merencanakan kontinuitas asuhan keperawatan melalui konfrens f. Kepala ruangan membagi jumlah tim keperawatan berdasarkan klasifikasi pasien b. Karu dan katim membagi pasien kepada perawat yang bertugas sesuai kemampuan perawat (pengetahuan dan keterampilan) Serah terima antar shift oleh karu. Tanggung Jawab Anggota Tim : a) Melaksanakan perawatan sesuai renpra yang dibuat katim b) Memberikan perawatan total/komprehensif pada sejumlah pasien c) Bertanggung jawab atas keputusan keperawatan selama katim tidak ada di tempat d) Berkontribusi terhadap perawatan observasi terus menerus ikut ronde keperawatan berinterkasi dgn pasien & keluarga berkontribusi dgn katim/karu bila ada masalah 4. atau keliling langsung ke pasien (sebelum dan selesai dinas). Menilai tingkat ketergantungan pasien. Cara ini dapat lebih menghemat waktu c. Membimbing dan mengawasi pelaksanan asuhan keperawatan oleh anggota tim g. Selain itu perencanaan yang harus dilanjutkan oleh tim yang akan bertugas. Materi yang diserah terimakan yaitu laporan hasil pengkajian. Selesai konfrens. katim dan semua perawat pelaksana yang dapat dilakukan melalui konfrens.

Dengan demikian seorang manajer dapat menentukan je nis metode pertimbangan jumlah penugasan yang tepat untuk diterapkan pada suatu unit keperawatan melalui kajian situasi yang memperhatikan prinsip pemilihan metode penugasan. Kesimpulan Metode Penugasan merupakan suatu alternative metode yang akan diterapkan dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien/pasien dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas asuhan dan peningkatan derajat kesehatan pasien. Prinsip dalam pemilihan metode penugasan yaitu tenaga. kualifikasi staf dan klasifikasi pasien. Pada dasarnya seluruh jenis metode penugasan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. 7 .5.

29 g brilliant green. tidak satupun yang lebih baik dari pada yang lainnya untuk membatasi kolonisasi bakteri.Krem Silver sulfadiazine . 2. Kemudian untuk menghilangkan darah dan mekonium dari wajah. Untuk ini dapat dipakai obat-obat topikal seperti : .Betadine 10% Semua obat diatas dapat memperlambat atau mengurangi kolonisasi bakteri di 8 . kepala dan badan dipakai spans katun yang steril dengan air hangat. mengurangi trauma pada kulit dan mencegah pemberian chat -chat topikal yang mempunyai efek samping terhadap kulit.7 : 1. Untuk ini dapat dipakai obat mata topical seperti setetes larutan Perak Nitrat 1%.6.PENGENDALIAN INFEKSI NOSOKOMIAL Untuk mengendalikan infeksi nosokomial pada bayi baru lahir dan neonatus diperlukan suatu prosedur standard yang harus dipatuhi oleh petugas yang terlibat di dalamnya. .Triple dye (2. 1.14 g proflavine hemisulfate dan 2. Untuk perawatan tali pusat. yaitu 5.29 g crystal violet dalam air). Misalnya prosedur di bangsal bayi baru lahir yang sehat tidak sama dengan prosedur perawatan di bangsal perawatan intensif. Kedua salep mata ini juga dapat mencegah Klamidia trakomatis. Perawatan kulit dan tali pusat Dianjurkan untuk merawat kulit neonatus dengan teknik "dry skin care". Secara umum berbagai prosedur dibawah ini harus dikerjakan di bangsal perawatan bayi.Salep Bacitracin . Prosedur standard ini berbeda untuk setiap bangsal perawatan. Profilaksis pada mata Pencegahan ophthalmia neonatorum adalah satu cara yang praktis dilakukan untuk mengkontrol infeksi pada bayi baru lahir.5% atau Tetrasiklin 1%. Yang penting ialah membuat tali pusat kering. maksudnya membuat kulit agar tetap kering dengan mengatur suhu kamar. Dalam hal ini termasuk membersihkan bayi hendaknya setelah temperaturnya stabil dan tidak menggunakan antiseptik. salep mata Eritromisin 0.

terutama Stafilokokkus aureus. Setiap orang yang ma suk ke kamar bayi harus memakai sandal khusus dan mencuci tangan.bayi yang dirawat di bangsal perawatan bayi normal. Desain ruang perawatan Jarak yang adekuat antara tempat tidur bayi dengan peralatan lainnya dapat menc egah kepadatan dan mengurangi risiko kontaminasi yang tidak disengaja antara bayi dengan petugas. 4. . maksudnya satu perawat untuk 3-4 bayi.8.tali pusat. dan pada bangsal perawatan intensif (NICU) 1 perawat untuk 1. Rawat gabung Banyak rumah sakit melakukan rawat gabung untuk merawat bayi normal. 9 . 3. akan meningkatkan terjadinya infeksi nosokomial. Dari berbagai penelitian terlihat bahwa tidak ada kenaikan insiden infeksi nosokomial pada bayi.bayi yang dirawat gab ung bila dibandingkan pada bayi. Untuk level I : 20 -25 feet/tempat tidur. Akan tetapi obat ini tidak efektif untuk membatasi kolonisasi bakteri.Alkohol. yang sering dipakai di rumah sakit maupun setelah pulang dari rumah sakit mempercepat keringnya tali pusat dan lepasnya tali pusat. Level II 30-50 feet dan Level III 80. Disini dianjurkan agar perawat mencuci tangan terlebih dulu sebelum kontak dengan bayi. Staf perawatan Oleh karena banyaknya penderita dalam satu bangsal dan kurangnya staf.2 bayi.100 feet/inkubator. sedangkan bangsal bayi dengan rawat gabung parsiel membutuhkan 1 perawat untuk 4 5 pasangan ibu bayi. 5. Luas lantai yang di rekomendasikan untuk satu tempat tidur bayi bervariasi tergantung intensitas perawatannya. Di bangsal bayi baru lahir dengan perawatan intensif yang sederhana diperlukan rasio 1 : 3-4. American Academy of Pediatrics menganjurkan pada bangsal bayi baru lahir yang sehat (level I) rasio perawat : bayi adalah 1 : 6. Jadi program ini adalah suatu cara yang potensial untuk mengurangi risiko kepadatan dan menurunkan kontaminasi silang di bangsal perawatan bayi normal.

Kemudian tangan dibersihkan dengan kertas pembersih. 8.jari. Sedangkan untuk membersihkan bakteri residen diperlukan waktu yang lebih lama dan harus memakai detergen antibakteri. 10 . 3. maka mencuci tangan merupakan satu cara yang efektif untuk melaksakan program mengkontrol infeksi. 7. 6. Clavano (1982) dengan cara rawat gabung dan penggunaan ASI berhasil menurunkan kejadian diare. Pakaian : Dulu pemakaian gaun dianjurkan.6. Mencuci tangan : Oleh karena cara penularan infeksi yang utama di bangsal bayi adalah melalui tangan petugas (bakteri transien) . 4. Bersihkan jari dan kuku. Bersihkan semua area dan jari. jam tangan serta gelang tangan. Lengan baju digulung diatas siku dan buka cincin. Sedangkan Narayan (1981) dengan penggunaan ASI pada BBLR berhasil pula menurunkan kejadian infeksi. Mencuci tangan selama 15 detik atau lebih bila akan mengerjakan bayi yang lain. Menggalakkan penggunaan air susu ibu adalah sangat penting karena ASI memberi perlindungan alamiah terhadap problema saluran cerna yang sering timbul pada neonatus. Prosedur mencuci tangan yang dianjurkan adalah sebagai berikut : 1. Semua hal diatas dibersihkan dibawah air yang mengalir. Mencuci tangan dengan memakai sabun selama 15 detik akan menghilagkan mikroba yang berada di tangan (bakteri transien). 5. Dengan mencuci tangan maka mikroba yang berada di tangan petugas akan hilang. Air Susu Ibu Air susu ibu adalah makanan standard bagi semua bayi. Cuci tangan selama 2 menit dengan sikat dan detergen antimikroba. moniliasis mulut dan sepsis. Akan tetapi ternyata pemakaian gaun ini tidak mengurangi penularan bakteri atau tidak menurunkan insiden infeksi nosokomial di bangsal bayi baru lahir. 2.

dirawat pada "single room" atau isolator plastik mengurangi penyebaran melalui udara atau dari penderita 3. Perlindungan fisik (isolasi) adalah suatu cara untuk mengendalikan penyebaran infeksi di rumah sakit. Isolasi ada dua cara : a. Adanya program pendidikan yang kontinu mengenai penyebaran infeksi nosokomial terhadap petugas medis yang bekerja diruang neonatus/perinatologi. Pada perawatan neonatus sebenarnya kamar isolasi saja tidak perlu jika : 1.9. bila untuk keempat point tersebut diatas tidak ada maka perlulah ruang isolasi dengan fasilitas yang terpisah dari ruang rawatan neonati. 10. 11 . Neonatus dengan infeksi berat sebaiknya dirawat di ruang perawatan intensif (sepsis. Neonatus dengan infeksi yang penyebarannya melalui udara harus dipisahkan dari neonatus lainnya dan sebaiknya ditempatkan di luar ruang perawatan neonatus. meningitis dan pneumonia). Barrier nursing. konjungtivitis bakterialis. Mengisolasi sumber . Ada perawatan yang adekwat dan tenaga dokternya dan mempunyai waktu yang cukup untuk mencuci tangan 2. Pengunjung : Harus dibatasi masuk ke bangsal perawatan bayi untuk mencegah timbulnya infeksi. yaitu prosedur perawatan khusus untuk mengurangi penyebaran infeksi melalui kontak langsung/perawatan 2. Isolasi protektif. Tiap kamar rawatan mempunyai tempat cuci tangan 4. untuk mengurangi penyebaran melalui udara dengan cara mengeluarkan bakteri dari kamar penderita dan pada isolasi protektif yang membebaskan kamar penderita dari bakteri yang ada diluar kamar. Ruang rawatan yang cukup adekuat 3. b. dan diare. Dengan kata lain. Isolasi : Diperlukan pada kasus yang menular seperti penyakit karena stafilokokkus. Pemisahan penderita. terutama terhadap pengunjung yang sakit. mengisolasi penderita risiko tinggi untuk mendapat infeksi Metode Isolasi : 1. Ventilasi mekanik.

pasien yang disangkakan untuk mendeteksi karier asimptomatik (misalnya tali pusat lubang hidung pada epidemi stafilokokkus) 2. ternyata hanya berperan untuk mempercepat keringnya tali pusat tetapi tidak untuk membatai kolonisasi bakteri. Merubah cara membersihkan tangan dan antiseptik yang digunakan 7.11.bayi yang dirawat 4. Memperhatikan kesehatan petugas 5. 03. 3. 05.2 %.rumah sakit. Pemberian antibiotika yang lebih dari 3 hari akan meningkatkan kolonisasi bakteri di saluran cerna dan tenggorok. Alkohol yang sering dipakai di rumah sakit.bagian tubuh petugas yang selalu berhubungan dengan perawatan bayi untuk mengetahui sumber dan cara penularan.bayi. seperti penisilin pada epidemi streptokokkus. Kejadian infeksi nosokomial pad a bayi baru lahir diberbagai rumah sakit di Indonesia bervariasi dari 1.4 % sampai dengan 19. RINGKASAN 01. Survei Kultur dari pasien. Memperhatikan bayi. Kultur bagian. 07. 04. Perlu diperhatikan rasio perawat dan bayi serta desain ruangan rawatan yang benar untuk mencegah timbulnya infeksi nosokomial. 06. Air susu ibu sangat penting dalam hal memberikan perlindungan alamiah 12 . Pengkontrolan terhadap epidemi : Yaitu dengan pemeriksaan epidemiologi mendata prosedur dan teknik yang selama ini digunakan untuk merawat bayi seperti perawatan kulit dan tali pusat. caracara desinfeksi dan sterilisasi alat . Untuk mengendalikan infeksi nosokomial pada neonatus diperlukan suatu prosedur standard yang harus dipatuni oleh para petugas kesehatan yang terlibat di dalamnya. Rawat gabung mempunyai peranan untuk mengurangi kepadatan bangsal perawatan dan menurunkan kontami nasi silang dari bayi.alat. dimana terlihat dari tahun ke tahun kejadian infeksi nosokomial ini semakin berkurang. Antimikroba profilaksis. 02. Hal ini dilakukan dengan cara : 1. Merubah prosedur perawatan kulit dan tali pusat 6.

Oleh karena infeksi nosokomial yang terjadi pacta masa neonatus lebih sering melalui tangan. 13 .kepada bayi. 08.bayi. maka mencuci tangan merupakan satu prosedur yang harus dikerjakan bila kita akan memeriksa bayi. sehingga akan dapat menurunkan kejadian infeksi.

PROSEDUR TIMBANG TERIMA 1. Kedua kelompok shift dalam keadaan sudah siap b. e. Perawat primer dan anggota kedua shift dinas bersama-sama secara langsung melihat klien 4. c. Intervensi dan kolaborasi dan dependesi.persiapan untuk konsultasi atau Prosedur melakukannya yang tidak dilaksanakan secara rutin f. Tujuan a. Penyampaian operan harus dilakukan secara jelas dan tidak terburu-buru e. d. Menyampaikan kondisi atau keadaan secara umum klien Menyampaikan hal-hal yang penting dan perlu ditidaklanjuti dinas berikutnya Tersusunnya rencana kerja untuk dinas berikutnya 3. 2. Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan selanjutnya.misalnya oprasi. Langkah-langkah a. b. Shift yang akan menyerhakan dan mengoperkan perlu mempersiapkan hal.pemeriksan laboratorium/pemeriksan penunjang lainnya. Identitas pasen dan diagnosa medis. Perawat primer menyapaikan kepada penanggungjawab shift yang selanjutnya meliputi : 1) Kondisi atau keadaan klien secara umum 2) Tindak lanjut untuk dinas yang menerima operan 3) Rencana kerja untuk dinas yang menerima operan d. Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat timbang terima adalah : a.hal apa yang akan disampaikan c. Masalah keperawatan yang kemungkinan masih muncul. b. 14 . Tindakan keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan.tanya jawab dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang ditimbangterimakan dan berhak menanyakan mengenai hal-hal yang kurang jelas. Pengertian Suatu cara dalam menyampaikan dan menerima suatu laporan yang berkaitan dengan keadaan klien. Perawat yang melakukan timbang terima dapat melakukan klarifikasi. c.

Ny. Resti infeksi dan gangguan integritas kulit. Persiapan lain: USG abdomen dan Cek albumin besok pagi. Rencana yg belum dilakukan: Kaji tanda-tanda infeksi. B kompleks 3 x 1 tablet. N: 100 x/mnt. Relaksasi & distraksi. Terapi: Asam mefenamat 3 x 500 mg. Musayadah (47 thn) (5873281) Ca Recti / Dr. Rencana yang sudah dilakukan: monitor TTV dan distraksi dan relaksasi. Vit. RR: 20 x/mnt. 15 . T l (42 thn) (5870049) Ca. i. Keluhan nyeri diarea anal. pucat. TD: 110/80. h. ganti balut. RR : 20 x mnt. Terapi: Tramadol 3x1 amp. Pelaporan untuk timbang terima dituliskan secara langsung pada buku laporan ruangan oleh perawat primer. Rencana yang belum dilakukan : pemberian asam mefenamat 500 mg peroral.Mammae post mastektomi / Dr. Keluhan: nyeri pada luka lengan atas sebelah kanan dengan skala 7. Persiapan kolon in loop. Injeksi Tramadol 1 ampul. OPE CONTOH DOKUMENT OPE N T M A N 1. anemis. S: 37 C. Lama timbang terima untuk setiap pasien tidak lebih dari 5 menit kecuali pada kondisi khusus dan melakukan penjelasan yang lengkap dan rinci. Nindi KU : lemah.Nindi KU: baik. Kaji luka dan kaji nyeri. Persiapan lain tidak ada. Penyampain pada saat timbang terima secara singkat dan jelas. komposmentis. 2. Ny.g. komposmentis. N: 80 x/mnt. Masalah keperawatan: Nyeri. T: 37 C. Infus NaCl 20 tts/mnt. skala 7 dari 10. Konsul ke Internis. Injeksi Cefotaxim 500 mg. TD: 100/ 0. Cefotaxim 2 x 500 mg. Masalah k eperawatan: Nyeri. Rencana yg sudah dilakukan: monitor TTV.

com 16 .Suarli Drs MM.DAFTAR PUSTAKA MNurs . Salemba Medika . Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Tasikmalaya 2004 www.nursing-begin. 2004 Manajemen Keperawatan dengan Pendekatan Praktis. Nursalam (Honour) (2002) Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam praktek keperawatan Profesional. Jakarta S.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->