P. 1
jurnal_penetas_telur_5223080299

jurnal_penetas_telur_5223080299

|Views: 163|Likes:
Published by salmansyah

More info:

Published by: salmansyah on Dec 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/09/2015

pdf

text

original

Tugas JURNAL Mat.

Kuliah Bahasa Indonesia

Mesin Tetas Konvensional
Singgih Suto Aji 5223080299
Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta Program Studi Diploma III Teknik Elektronika Masalah utama yang dihadapi oleh peternak mitra adalah keterbatasan produksi bibit ayam Lurik (khususnya DOC) sehingga tidak mampu melayani seluruh pembeli yang memesan. Salah satu faktor penyebabnya adalah daya tetas telur yang belum maksimal (baru sekitar 60-65%) sebagai akibat masih digunakannya mesin tetas konvensional.
Kata kunci : suhi, mesin, motor penggerak, mesin tetas telur

Kontruksi mesin tetas ini masih sederhana, yaitu terbuat dari triplek dengan pemanas lampu listrik. Mesin ini belum dilengkapi dengan beberapa komponen untuk otomatisasi, sehingga cara pemutaran telur masih dikerjakan secara manual. Selain itu kontrol suhu dan kelembaban masih menggunakan termometer dan hygrometer biasa yang ditempatkan di dalam mesin tetas. Kelemahan mesin tetas konvensional ini antara lain : (1) pemutaran dengan tangan masih kurang halus dan menimbulkan getaran yang dapat mengakibatkan kematian embrio ayam; (2) tidak dapat melakukan pemutaran yang merata pada semua telur ; (3) frekuensi pemutaran telur sangat terbatas, yaitu hanya tiga kali sehari (pagi, siang, dan sore); (4) suhu dan kelembaban kurang merata; serta (5) panas dalam mesin kurang stabil. produksi DOC dan sekaligus dapat meningkatkan efisiensi usaha. Untuk itu perlu penerapan teknologi tepat guna yang mudah dikerjakan, murah, meningkatkan

singgihsutoaji_5223080299

1

Motor akan diberi tuas yang diberi tempat untuk menaruh egg tray. TUJUAN DAN MANFAAT A. 3) Untuk meningkatkan produksi bibit (DOC dan pullet) ayam lurik. KERANGKA PENYELESAIAN MASALAH Mesin tetas konvensional yang digunakan mempunyai beberapa kelemahan. Pemutaran telur dapat dilakukan secara berkala setiap waktu tertentu. Manfaat 1) Meningkatkan produksi bibit (DOC) ayam lurik di peternak mitra. yaitu : (1) Pemutaran telur masih dilakukan secara manual. Rak telur disusun secara bertingkat yang dihubungkan dengan palt besi tipis satu dengan yang lain. Berdasarkan kelemahan tersebut. 2) Menambah informasi tentang sistem penetasan telur semi modern yang sebelumnya hanya dikeluarkan oleh pabrik-pabrik dari luar negeri. sehingga dapat bergerak bersama-sama sesuai putaran motor. khususnya dalam memberikan pengetahuan mesin tetas kepada para mahasiswa sudah tidak lagi menggunakan cara-cara manual. (3) Aerasi di dalam mesin tetas belum sempurna. Kuliah Bahasa Indonesia II. B. tergantung waktu yang diinginkan. 2) Untuk meningkatkan daya tetas telur ayam lurik. Untuk mengatur singgihsutoaji_5223080299 2 . (2) Kontrol suhu masih menggunakan termometer biasa. III. 4) Untuk meningkatkan efisiensi usaha melalui pengurangan waktu dan tenaga yang semula digunakan untuk memutar telur. TUJUAN 1) Untuk menghasilkan desain mesin tetas dengan sistem pemutaran telur secara otomatis dan kontrol suhu digital. dan (4) sulit untuk menjaga stabilitas suhu.Tugas JURNAL Mat. 3) Desain mesin tetas ini selanjutnya bermanfaat bagi dunia akademik. Otomatisasi yang dimaksud adalah membuat desain baru mesin tetas yang dapat memutar telur secara otomatis. maka dalam program vucer ini akan didesain mesin tetas otomatis dengan menambahkan beberapa komponen untuk otomatisasi.

yaitu triplek tebal halus. Selain itu juga ditambahkan komponen pengatur uap air. dinding mesin dibuat 3 lapis. Kipas angin ukuran sedang ini akan didesian ulang siripnya. singgihsutoaji_5223080299 3 . sehingga meningkatkan daya tetas. Oleh karena itu termometer tersebut akan diganti dengan termometer digital yang ditempatkan di luar mesin tetas. Kuliah Bahasa Indonesia waktu putar. motor dihubungkan dengan riley dan akhirnya dihubungkan dengan timer (motor jam yang sudah dipola khusus untuk waktu putar). demikian pula suhu luar tidak dapat merambat masuk ke dalam mesin. Untuk mengatasi hal ini. Akibatnya suhu mesin tetas menjadi turun. sehingga memungkinkan untuk dapat mendistribusikan panas dan kelembaban ke seluruh ruanga di dalam mesin tetas. Keuntungan penambahan kipas ini adalah seluruh telur yang ditetaskan akan memperoleh panas secara merata. Keuntungantermometer digital ini akan lebih akurat. mudah dilihat/dikontrol dan tidak mengganggu kestabilan suhu.Tugas JURNAL Mat. Kontrol suhu selama ini menggunakan termometer biasa yang ditempatkan di dalam mesin tetas. siang dan malam hari. Keuntungan lain adalah akan menghasilkan kelembaban udara yang baik. Kondisi ini akan lebih menjamin stabilitas suhu dalam ruang mesin tetas. gabus dan teriplek yang dibalut dengan lapisan anti air di bagian bawah. karena untuk melihatnya harus membuka mesin terlebih dahulu. maka akan ditambahkan kipas angin (blower). Untuk memperbaiki distribusi panas dan kelembaban dalam mesin. karena pengaruh suhu luar. Penempatan termometer di dalam mesin tetas ini kurang baik. karena panas tidak dapat merambat keluar. Kondisi ini menyebabkan panas dalam mesin tidak stabil. Akibatnya suhu berfluktuasi antara pagi. Peternak mitra selama ini menggunakan mesin tetas dengan bahan dinding triplek 1 lapis.

Tabel 1. maka dalam program vucer ini telah dilaksanakan beberapa perbaikan dan penyempurnaan. pengetahuan dan ketrampilan tentang penetasan telur dan teori penetasan telur yang baik pada peternak. 3. PELAKSANAAN KEGIATAN a. (2) Penggunaan kontrol suhu digital yang ditempatkan di bagian luar mesin tetas. Otomatisasi mesin tetas didesain dengan menggunakan komponen sebagai berikut : (1) Penggunaan motor khusus dalam mesin tetas untuk melakukan pemutaran telur secara otomatis 6 kali dalam 24 jam. serta (5) Penggunaan bahan dinding mesin tetas untuk menjamin stabilitas panas. Kuliah Bahasa Indonesia IV. 2. (3) Penggunaan kipas angin (blower) yang ditempatkan di dalam mesin bagian bawah yang berfungsi untuk mendistribusikan panas kelembaban secara merata ke sluruh bagian mesin tetas. Pembuatan mesin tetas otomatis kapasitas 500 butir telur. Kelemahan mesin tetas pada peternak mitra Mesin tetas masih konvensional Pemutaran telur secara manual Kontrol suhu dengan termometer dalam mesin Langkah pemecahan Penggunaan mesin tetas yang lebih baik Pemutaran telur secara otomatis Pemindahan dan penggantian kontrol suhu Teknologi yang diterapkan Otomatisasi mesin Penambahan motor khusus Penambahan kontrol suhu digital di luar mesin singgihsutoaji_5223080299 4 . Mesin tetas otomatis ini didesain sendiri oleh Tim Pelaksana dengan teknologi yang cukup baik. Langkah-langkah kegiatan untuk merealisasikan penyelesaian masalah tersebut adalah sebagai berikut : Memberi pengertian. 2. (4) Penggunaan pengatur uap air. Peternak mitra bersedia untuk dibimbing dan diberi bantuan mesin tetas otomatis untuk mengatasi masalah tersebut.Tugas JURNAL Mat. penerapan teknologi pada mesin tetas N0 1. 1. Penyelesaian Masalah Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. tetapi mudah dalam pengoperasiannya.

mesin tetas dan pengoperasiannya. tim pelaksana masih akan memantau terus hingga beberapa waktu. uji coba penetasan. Bentuk pemantauan ini berupa kunjungan langsung untuk memastikan mesin tetas berfungsi baik dan dilaksanakan oleh peternak mitra. Target utama yang dicanangkan pelaksana adalah. baik melalui tatap muka maupun melalui telepon. V. tahap pelaksanaan serta monitoring dan evaluasi. Metode Pelaksanaan Kegiatan vucer dilaksanakan dengan metode bimbingan langsung. Tahapan-tahapan kegiatan tersebut telah dilaksanakan oleh tim pelaksana kepada peternak mitra. demo alat di laboratorium. Peternak mitra juga masih dapat melakukan konsultasi. pengadaan telur bibit (fertil). Pada tahap pelaksanaan dilakukan bimbingan awal. yaitu tahap persiapan. Setelah program vucer selesai. bimbingan dan demo alat oleh peternak. bimbingan individual serta praktek langsung. Stabilitas panas dalam mesin belum baik 2. peternak mitra memperoleh pengetahuan tentang perbibitan ayam lurik. Distribusi panas dan kelembaban kurang merata Perbaikan aerasi dalam mesin Stabilitas panas dalam mesin Penembahan kipas angin dan blower dalam mesin Pembuatan 3 lapisan dinding mesin tetas 5. memproduksi telur fertile melalui inseminasi buatan serta ketrampilanm mengoperasikan mesin tetas otomatis yang diberikan. pembuatanmesin tetas. Pelaksana menggunakan metode tatap langsung.Tugas JURNAL Mat. dan akhirnya pelaksanaan penetasan oleh peternak sendiri. Tujuan akhir tentu saja agar pendapatan peternak meningkat akibat teknologi penetasan yang diberikan. HASIL KEGIATAN singgihsutoaji_5223080299 5 . Pelaksanaan kegiatan dibagi dalam beberapa tahap. Teori diberikan melalui penjelasan ke peternak mitra tentang bibit. Kuliah Bahasa Indonesia 4.

Mesin ini dibuat dengan spesifikasi sebagai berikut : panjang = 60 cm. lembut.5 M. Alat ini termasuk baru dan pertama kali dibuat dengan teknologi sederhana. Pada saat uji coba. B. Demo ini dimaksudkan untuk menguji teknis mesin tetas. tombol on/off pemutar rak telur otomatis. kayu. lebar= 50 cm. Telur Menetas 4. dan tanpa getaran yang dapat merusak pembuluh darah embrio. pengatur uap air. Frekuensi pemutaran telur dibuat 6 kali dalam 24 jam.Tugas JURNAL Mat. tinggi = 1. Hasil uji coba penetasan telur ayam kampung/lurik di laboratorium. Kuliah Bahasa Indonesia a. Tabung air untuk menjaga kelembaban juga ditempatkan di bagian luar mesin. sehingga mudah dilihat. pertama kali dilakukan demo di laboratorium. kawat. tuas. Peternaka-Perikaann Universitas Muhammadiyah Malang. karena kontrol suhu dibuat secara digital dan ditempatkan di bagian luar mesin tetas. Telur Fertil 3. dan lain-lain serta dilengkapi dengan panel kontrol suhu digital. Hasil Uji Coba Mesin Tetas Mesin tetas otomatis yang sudah selesai dibuat. Bahan yang digunakan : tripleks. rak telur (8 buah). Jumlah Telur 2. Hasil uji coba ditampilkan pada tabel 1. Tabel 1. Rak akan berputar 90o secara otomatis. timer. dalam arti untuk mengetauhi fungsi mesin. Uraian 1. yaitu sesuai kehendak peternak. Pelaksanaan di laboratorium Fak. pelaksana mencoba menetaskan 100 butir telur ayam kampong dan ayam lurik. blower pendistribusi suhu dan kelembaban. jumlah rak = 8 buah dan kapasitas = + 600 butir telur ayam kampung/lurik. No. Mesin tetas dapat di-set up suhunya. Daya Tetas*) Keterangan : Jumah (butir) 98 71 39 Persentase 72% 54% *) Daya Tetas = Jumlah Telur Menetas/Jumlah Telur Fertil x 100% singgihsutoaji_5223080299 6 . sehingga perlu dilakukan uji coba terlebih dahulu. Pengaturan suhu sangat mudah. Mesin Tetas Otomatis Mesin tetas otomatis yang dirancang oleh tim pelaksana program vucer ternyata mempunyai kemampuan yang baik.

Penyebabnya adalah ada komponen heater yang kurang berfungsi baik dan segera dapat diatasi. ternyata hanya 72% yang fertil. sistem penetasan dan tentang pengoperasian mesin tetas otomatis. Dari telur sejumlah 98 butir yang dibeli bebas di pasar dan peternak. Kuliah Bahasa Indonesia Tabel 3 memperlihatkan bahwa daya tetas telur masih termasuk rendah. Hasil Demo Penetasan oleh Peternak Mitra Hasil demo (uji coba) oleh peternak disajikan pada tabel 2. Hasil Bimbingan Teknis ke Peternak Mitra Sebelum dilakukan demo mesin tetas oleh peternak. c. lembut dan hampir tanpa getaran yang berarti. Perlu diketahui bahwa sebelum ini. Uraian Jumah (butir) Persentase singgihsutoaji_5223080299 7 . Hasil kajian dan evaluasi kesimpulan bahwa mesin tetas kurang berfungsi optimal dengan daya tetas 54% disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut : (1) Suhu penetasan dalam mesin kurang stabil dan tidak merata. pengadaan bibit. dan (2) Kelembaban udara kurang baik dan tidak merata. Materi ini dapat dipahami dengan baik oleh peternak. Demikian pula tentang sistem seleksi ayam. (4) Panel kontrol suhu digital sudah berfungsi baik. cara melakukan seleksi bibit dan cara pemeliharaan bibit yang baik.Tugas JURNAL Mat. peternak juga belum tahu caranya. peternak tidak mempunyai pengetahuan sama sekali tentang hal perbibitan ayam lurik. (3) Rak telur sudah dapat berputar secara otomatis 6 kali dalam 24 jam (4 jam sekali). sedangkan sisanya tidak fertil (tanpa bibit). Hasil pengamatan terhadap mesin tetas diperoleh informasi : (1) Mesin tetas sudah dapat dihidupkan. yaitu hanya 54%. D. sehingga siap untuk mengoperasikan mesin sendiri. (2) Panas yang ditimbulkan sudah mampu memanasi mesin tetas hingga suhu yang ditetapkan. halus. pengadaan telur fertil. Hasil evaluasi. ternyata peternak juga mampu menyerap materi yang diberikan. Tabel 2. Hasil uji coba penetasan telur oleh peternak mitra dengan mesin tetas Otomatis program vucer No. tim pelaksana melakukan beberpa bimbingan teknis. Materi yang diberikan secara lisan berupa: bibit ayam lurik dan sistem seleksi. Pengetahuan tentang bibit ayam lurik meliputi : cara memilih pejantan dan induk.

Kali ini mencoba jumlah yang sama. Daya Tetas*) Keterangan : Jumah (butir) 400 330 271 Persentase 82. pelaksana memberi saran agar peternak memasang kawat pada saat posisi rak miring. tetapi perlu mengamankan telur agar tidak bergerak. Telur Menetas 4. Caranya dengan memberi gabus pada susunan telur itu. Pada penetasan perdana ini yang hasilnya tersaji pada tabel 3.50% 82. Tabel 4. Telur Fertil 3. dan peternak mampu mengoperasikan masin dengan baik. Untuk itu. E. Uraian 1. Hasil penetasan disajikan pada table 4. maka peternak secara resmi melakukan penetasan perdana dengan telur ayam lurik. Kuliah Bahasa Indonesia 1. Tabel 3. Telur Fertil 3. Jumlah Telur 2. Masalah yang muncul dalam uji coba adalah : peternak masih sulit memasang kawat ram yang berfungsi untuk mencegah jatuhnya DOC dari rak setelah menetas. Hasil penetasan I oleh peternak mitra dengan mesin tetas otomatis program vucer No.Tugas JURNAL Mat. Hasil Penetasan oleh Peternak Mitra Setelah dilakukan evaluasi dan perbaikan terhadap mesin tetas dan cara pengoperasian. Hasil penetasan II oleh peternak mitra dengan mesin tetas otomatis program vucer singgihsutoaji_5223080299 8 . Hal ini berati masin tetas otomatis sudah berfungsi baik.51%.51% *) Daya Tetas = Jumlah Telur Menetas/Jumlah Telur Fertil x 100% Tabel 2 memperlihatkan bahwa daya tetas telur sangat tinggi. yaitu sekitar 82. Telur Menetas 4.12% *) Daya Tetas = Jumlah Telur Menetas/Jumlah Telur Fertil x 100% Selanjutnya peternak mencoba menetaskan telur lagi. sehingga pada saat pemasangan tidak terjadi pergerakan telur yang dapat mematikan embrio ayam. yaitu 400 butir ayam lurik. Daya Tetas*) Keterangan : 400 386 302 91. Jumlah Telur 2.5% 82.

Tugas JURNAL Mat. Jumlah Telur 2. pembatasan pengambilan nutrien oleh embrio dan (3) kegagalan embrio dalam menggunakan sisa albumen (Tullett dan Deeming. Telur Menetas 4. Willson (1991) menyatakan bahwa pemutaran telur sebaiknya dilakukan setiap jam sekali dan dihentikan pada hari ke delapan belas inkubasi. Kuliah Bahasa Indonesia No. Penghambatan pertumbuhan embrio terjadi karena berhubungan dengan hal-hal : (1) pengurangan pertukaran gas. Hasil penelitian sebelumnya. Sedangkan menurut Tri Yuwanto (1983) untuk daerah tropik suhu ideal penetasan adalah 38. Suyatno (2001) melaporkan bahwa secara sederhana pemutaran telur secara otomatis dapat digunakan motor dengan menggunakan motor power window yang dihubungkan dengan rak telur. (2) pengurangan perluasan daerah vaceculosa.4 0C. singgihsutoaji_5223080299 9 .5 – 39. kelembaban. 1999).20% 81. Penggunakan motor ini ternyata mampu memperbaiki daya tetas telur ayam kampung hingga mencapai 95% dari keseluruhan telur fertil yang ditetaskan (Suyatno. Telur Fertil 3. frekuensi pemutaran telur. kegagalan chorioallantois menjadi garis permukaan yang lengkap pada membran kerabang dalam.5 – 37. 2001). 1987).8 0C. Penetasan sangan tergantung oleh beberapa factor antara lain suhu dan kelembaban udara dalam mesin serta pemutaran telur. Suhu inkubator yang paling baik adalah 37. Uraian 1. Pada seri penelitian lain penghentian pemuataran telur pada hari ke 13 dan 16 tidak menyebabkan penurunan daya tetas. penggunaan mesin tetas otomatis Humidare produksi USA bahkan mampu menetaskan telur hampir 100% dari telur fertil (Suyatno.17% *) Daya Tetas = Jumlah Telur Menetas/Jumlah Telur Fertil x 100% Hasil penerapan mesin tetas otomatis ternyata menjamin daya tetas yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Tullett (1990) bahwa keberhasilan penetasan tergantung dari suhu. Daya Tetas*) Keterangan : Jumah (butir) 500 406 332 Persentase 81. ventilasi dan kebersihan telur. karena beberapa syarat penetasan sesuai dengan kondisi alami pengeraman.

Tugas JURNAL Mat. yaitu menambah pendapatan. 2. Penggunaan Penambahan tinggi. sehingga kendala keterbatasan bibit untuk peremajaan dapat teratasi. Kuliah Bahasa Indonesia Secara umum penerapan mesin tetas otomatis ini membawa dampak yang baik bagi peternak. Peternak terdorong untuk terus menggunakan. 5. V. Otomatisasi mesin tetas menyebabkan daya tetas baik yang tinggi. pelaksana optimis bahwa peternak mitra dapat mengembangkan usahanya ke arah penyediaan bibit (DOC). khususnya ingin mengembangkan usaha pembibitan ayam lurik. Peternak juga semakin tertarik untuk memproduksi bibit ayam lurik yang dapat dijual atau minimal untuk peremajaan sendiri. yaitu di atas 80% dengan kualitas DOC yang relatif baik. komponen pengatur memperbaiki kelembaban udara dalam mesin tetas untuk menjamin daya tetas yang Target akhir diharapkan permasalahan ketersediaan bibit ayam dapat sedikit terpecahkan. Bahan dinding mesin tetas yang dibuat berlapis mampu menstabilkan suhu dalam mesin tetas. Peternak juga memperoleh pengetahuan baru tentang pembibitan ayam Lurik. Dengan tambahan informasi pengetahun dan bantuan mesin tetas otomatis ini. blower ternyata menjamin uap air pendistribusian mampu panas dankelembaban yang baik di dalam mesin tetas. meningkatkan efisiensi tenaga serta memperoleh pengetahuan tambahan yang sangat berguna bagi pengelolaan usaha pembibitan ayam. KESIMPULAN DAN SARAN a. Peternak memperoleh keuntungan banyak dalam penggunaan mesin tetas otomatis. Penambahan motor khusus untuk memutar telur secara otomatis dapat mengefisienkan tenaga dan kematian embrional ayam dapat dikurangi. 3. apalagi setelah diberi bimbingan teori dan teknis tentang penetasan telur. singgihsutoaji_5223080299 10 . 6. 7. Peternak merasa terdorong untuk lebig meningkatkan usahanya. sehingga daya tetas meningkat. 4. Kesimpulan 1.

Universitas Muhammadiyah Malang. Tri Yuwanta. D. 2001.Tugas JURNAL Mat. sehingga menambah pendapatan selain telur konsumsi. S. khususnya ayam yang akan digunakan sebagai induk dan pejantan untuk menghasilkan telur fertil. Sci. Tullett. Thesis. Br. Sejalan dengan program vucer yang diberikan peternak mitra. 69 : 1-15 singgihsutoaji_5223080299 11 . 3. Dirjen DIKTI Depdikbud. Program Studi Bioteknologi. Universitas Gadjah Mada. retarded embryonic growth and poor albumen utilization. 30: 253-263. Mengingat manfaat yang ada. maka sebaiknya peternak mitra meningkatkan manajemen pemeliharaan ayam. maka pemerintah melalui DIKTI perlu mempertahankan program vucer pada masa yang akan datang. Kultur In Vitro Embrio Ayam Dari Ovum Fertil. Peternak mitra dapat menggunakan mesin tetas otomatis ini untuk memproduksi DOC yang dapat digunakan untuk peremajaan sendiri atau dijual. Bebarapa Metode Praktis Penetasan Telur. S a r a n 1. 1983. yaitu dengan melakukan analisis ekonomi. 1990. Poult. Suyatno. Sci. Penyempurnaan Mesin Tetas Konvensional Dengan Penambahan Beberapa Komponen Untuk Otomatisasi Pemuatan Telur. 1999. Laporan Penelitian DPP. 1989. Characteristic ofuntuned eggs: critical period. Peternak mitra sudah saatnya melakukan penerapan manajemen usaha pembibitan yang baik.G.C. DAFTAR PUSTAKA Deeming. Kuliah Bahasa Indonesia B. _______. Science and the art of incubation. Yogyakarta. 2. Pult.. Jakarta. 4.

Exp. 47 : 5-20.Tugas JURNAL Mat.G. Kuliah Bahasa Indonesia Tullett. H.C. chick size. Tullett. 1982. The relationship between eggshell porosity and axygen consumption of the embryo in he domistic fowl. Burton. posthatching growth and hatchability. Comp. Interrelationships of egg size. Physiol. and D. J. 1987. Zool. Biochem.G. singgihsutoaji_5223080299 12 . Effect of two gas mixtures on growth of the domestic fowl embryo from days 14 through 17 of incubation.G. S. S. Suppl. J. World. Deeming. Sci. 1 : 347-350 Willson. 72A : 529-533. and F..s Poult.R. 1991.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->