P. 1
Bahan Kuliah Meteorologi Laut (1)

Bahan Kuliah Meteorologi Laut (1)

|Views: 2,655|Likes:
Published by Asep Irwan

More info:

Published by: Asep Irwan on Dec 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/02/2013

pdf

text

original

Easterly waves - MJO di Indonesia

Easterly waves atau terjemahannya gelombang ke timur terjadi di berbagai belahan dunia.

Penjalaran gelombang di timur yang dikenal dengan easterly waves terjadi sebenarnya di

samudra atlantik dari benua amerika selatan menuju pantai afrika. Penjalaran gelombang ditandai

dengan timbulnya siklon tropis yang menjalar ke arah timur. Peristiwa easterly wave yang

digambarkan disini biasanya terjadi di permukaan laut yang merupakan gejala interaksi laut

atmosfir dimana selain tekanan udara juga terjadi perubahan suhu permukaan laut yang pada

akhirnya menghasilkan siklon tropis. Untnk daerah lain seperli di daerah dekat kutub (diatas

lintang 60 derajat) dikenal juga gelombang menjalar ke timur yang disebut dengan rossby wave.

Penjalaran gelombang ini ditandai dengan perubahan tekanan udara naik dan turun dalam

perioda sekitar 10 harian ditandai dengan kenaikan dan turunnya tekanan permukaan. Dengan

kenaikan maka udara menjadi cerah dan sebaliknya akan menyebabkan udara dalam kondisi

hujan. Pcnyebab udara cerah karena pada pusat tekanan tinggi masa udara akan menjauh dan uap

air juga sehingga tidak ada suplai udara basah yang mendukung turunnya hujan.

Untuk daerah benua maritim Indonesia penjalaran gelombang ke timur juga terjadi yang dikenal

dengan istilah Madden Julian Oscillation yang merupakan istilah dari kedua nama penemu

gelombang ini. Serupa dengan yang terjadi di samudra Atlantik, gejala ini juga terjadi di samudra

India dan peristiwa yang dimulai di laut akan berakibat pada daerah hujan yang mana daerah

hujan ini akan bergerak ke arah timur masuk di kepulauan Indonesia melalui propinsi Sumatera

Barat dan terus bergerak ke Timur. Apabila peristivva tersebut terjadi pada bulan musim hujan

maka pergerakan akan lebih ke arah selatan mengikuti jalur ITCZ yang sedang berada di bumi

belahan selatan. Apabila penjalaran terjadi pada saat musim kemarau maka akan bergerak ke

utara juga mengikuti jalur ITCZ. Peristiwa penjalanan dengan gelombang ini terjadi dengan

periode antara 30 - 90 hari atau periode seasonal dan intraseasonal sehingga gejala MJO ini

dikenal juga dengan istilah intraseasonal wave. Pergerakan gelombang ini membawa implikasi

ke laut dan atmosphere seperti perpindahan suhu laut hangat menuju timur dan daerah konvektif

yang juga searah.

18

19

SST rainfall relationship

Hubungan antara suhu muka laut dan hujan menunjukkan hubungan antara laut dan atmosphere

dengan hubungan langsung atau interaksi antara keduanya. Dari data lokal Indonesia terdapat

hubungan antara suhu muka laut dan hujan dengan ciri-ciri yang tidak linear. Hubungan antara

keduanya dapat dibagi dalam tiga jarak yaitu antara dibawah sekitar 28°C, antara 28 hingga

29.6°C dan diatas 29.6°C. Apabila dilihat dari gambar tersebut, apabila suhu muka laut naik

maka kemungkinan nilai curah hujan akan lebih tinggi dan demikian juga sebaliknya. Pada suhu

muka laut diatas 29.6°C terdapat penurunan curah hujan pada saat kenaikan suhu muka laut. Dari

gambaran tersebut terlihat puncak curah hujan tercapai pada saat suhu muka laut mencapai

29.6°C dimana suhu diatas atau dibawahnya menurunkan nilai curah hujan.

Kenaikan suhu laut yang membawa implikasi naiknya curah hujan karena naiknya suhu muka

laut menunjukkan peningkatan energi di laut yang memberikan kemungkinan naiknya tingkat

penguapan di atmosfir. Dengan demikian ada hubungan yang tidak langsung antara kenaikan

SST dan curah hujan serta evaporasi.

Dengan nilai suhu muka laut di Indonesia berada dinilai kritis seperti 29.6°C diatas, maka

dengan dampak pemanasan global, suhu muka laut di Indonesia tidak akan meningkat lebih jauh

lagi tetapi kenaikan suhu bumi akan lebih berdampak pada peningkatan suhu di daratan.

Hadley and Walker cell

Di wilayah Indonesia ada dua aliran udara regional global yang terjadi. Proses sirkulasi barat

timuran disebut sebagai sirkulasi walker, sementara proses sirkulasi udara utara selatan disebut

dengan sirkulasi hadley. Proses pembentukan sirkulasi barat timuran terjadi karena distribusi laut

dan benua di daerah khatulistiwa Indonesia sebagai benua maritim memiliki kekhasan dengan

menjadi pusat konveksi aktif karena panjangnya daerah pesisir atau garis pantai yang memicu

konveksi di pinggir laut. Sementara di sebelah barat dan timur wilayah Indonesia terdapat dua

samudra luas yang merupakan badan air terluas di dunia. Dengan sistim tersebut maka akan

terjadi udara naik di daerah maritim Indonesia dan udara turun di daerah lautan pasifik dan India.

20

Aliran udara naik disekitar wilayah Indonesia terjadi disebelah utara pulau Irian atau dikenal

dengan istilah kolam hangat (Warm Pool). Sedangkan proses aliran udara dari sirkulasi ini lebih

banyak dikendalikan oleh perbedaan suhu muka laut di daerah pasifik. Pada kondisi normal

sirkulasi terjadi dengan naiknya udara di daerah kolam hangat (barat Pasifik) dan menurun di

timur Pasifik. Pergerakan dari sirkulasi Walker ini dapat tcrlihat dan juga terasa pada aliran laut

di sebelah timur Indonesia dengan aliran masa air laut menuju kolam hangat di daerah

khatulistiwa samudra Pasifik. Pada kondisi tidak normal yang lebih dikenal dengan El Nino

terjadi pergeseran pusat naik atmosfir dari kolam hangat menuju ke timurnya dan mengakibatkan

terjadinya dua sirkulasi di daerah Pasifik. Peristiwa El Nino sendiri diakibatkan oleh proses

interaksi laut atmosfir di daerah Pasifik yang tidak hanya merubah arah sirkulasi atmosfir tetapi

juga pola arus dan iklim di benua maritime Indonesia.

Gambar. Aliran udara dalam sirkulasi walker di daerah Pasifik Tropis.

Selain pola sirkulasi tersebut, ada juga

sirkulasi utara selatan yang dikenal dengan

sirkulasi Hadley. Pola sirkulasi ini terjadi

akibat dari gaya koriolis akibat rotasi bumi

dan posisi titik equinok puncak radiasi

matahari yang selalu berpindah utara

selatan. Sirkulasi Hadley di daerah tropis

merupakan bagian dari beberapa sirkulasi

lain pada lintang tinggi yang merupakan

sistim ventilasi bumi yang terbentuk secara

natural yaitu sirkulasi Ferrel dan sirkulasi

Kutub. Sering menjadi kesalahan bahwa

sirkulasi Hadley tergantung pada posisi

garis lintang absolut, tetapi kenyataannya

sirkulasi ini tergantung pada puncak

equinok matahari yang memberikan radiasi maksimum. Salah satu akibat dari sirkulasi ini adalah

angin pasat tenggara di bumi belahan utara dan angin pasat barat laut di bumi belahan selatan.

Pusat pertemuan dari kedua angin pasat tersebut dikenal sebagai daerah ITCZ (Inter Tropical

Convergence Zone) atau daerah Konvergensi lintas Tropis.

ENSO and laut Indonesia

ENSO atau El Nino Southern Oscillation adalah fenomena alam global yang berpusat di

samudra Pasifik. Fluktuasi atau osilasi dari ENSO terdiri dari tiga fenomena yaitu kondisi

normal, El Ninodan La Nina. Pembagian kriteria pada masing-masing tergantung pada nilai suhu

muka laut pada daerah acuan yang dikenal sebagai daerah Ninol, Nino2 .. Nino4. Daerah tersebut

tersebar dari yang paling timur (Ninol) hingga mendekati daerah Warm Pool di sebelah utara

Papua Nugini (Nino4). Apabila anomali suhu muka laut di daerah Nino tersebut bersifat positif

21

atau lebih hangat melebihi 1°C dari normalnya maka akan terjadi El Nino, sedangkan peristiwa

sebaliknya disebut dengan La Nina. Peristiwa El Nino merupakan peristiwa yang terjadi di

atmosfir dan laut. Pemicu dari El Nino ini hingga saat ini belum diidentifikasi secara pasti. Pada

fase awal El Nino akan terjadi tiupan angin ke timur yang dikenal dengan easterly wind burst dan

pergeseran kolam hangat ke timur sehingga terjadi perubahan pola arus laut dan angin. El Nino

banyak membawa dampak terhadap iklim dan laut di wilayah Indonesia terutama di Indonesia

bagian timur. Perpindahan kolam hangat ke sebelah timur samudra Pasifik akan berakibat

dinginnya kolam hangat yang biasanya mengalir ke wilayah Indonesia Timur. Aliran arus dingin

ini membawa konsekuensi berkurangnya evaporasi dan sekaligus berkurangnya curah hujan.

Pada kondisi El Nino ekstrem seperti kasus tahun 1997, perubahan yang terjadi membawa akibat

kemarau panjang dan resiko kebakaran hutan tinggi karena keringnyaudara saat. Salah satu

peluang dari masuknya arus dingin selama gejala El Nino ini adalah naiknya ikan-ikan laut

dalam ke atas permukaan laut karena suhu di lapisan atasnya mendukung lingkungan hidup

mereka (peristiwa upwelling). Ikan tuna sebagai contoh ikan laut dalam yang ternyata lebih

mudah ditangkap pada tahun-tahun El Nino yang dikarenakan lebih dinginnya laut di wilayah

Indonesia bagian timur.

Gambar Perubahan anomali suhu muka laut dan upwelling di laut Banda selama perioda El Nino

dan La Nina

Dari gambar diatas dapat terlihat bahwa dampak atau pengaruh El Nino tidak seragam dalam

tahun kejadian El Nino. Ada bulan-bulan dimana dampak tersebut menjadi maksimal dan ada

saat kapan dampak tersebut mulai terasa. Episode El Nino mulai terasa pada bulan April dan

berkembang hingga mencapai puncaknya pada bulan Agustus dan September. Setelah itu

dampak dari El Nino tersebut akan menghilang pada akhir tahun. Karena dampak dari ENSO

sangat terasa pada saat Indonesia mengalami musim kemarau, maka dari gejala alam diatas, yaitu

El Nino dan La Nina, kasus El Nino akan memberikan dampak yang lebih merusak. Hal ini

dikarenakan sifat dari El Nino yang akan memberikan kekeringan yang lebih pada saat kita

mengalami musim yang telah kering. Sedangkan pada kasus tahun La Nina, kekeringan di

musim kemarau akan berkurang dengan kejadian sebaliknya dari El Nino. Dampak ENSO akan

tidak terasa pada puncak musim hujan karena sistim monsoon dan arus laut menghambat

pengaruh tersebut. Besarnya dampak El Nino pada musim kemarau dan menghilangnya dampak

tersebut pada musim hujan lebih disebabkan oleh sirkulasi laut wilayah Indonesia. Pada

pertengahan musim kemarau, arus laut akan mengalirkan masa laut dari wilayah kolam hangat ke

wilayah timur Indonesia. Pada saat El Nino, sirkulasi arus laut ini membawa masa air dingin

yang menghambat hujan ke wilayah Indonesia. Pada paruh setengah tahun berikutnya, sirkulasi

arus laut akan membawa massa air dari wilayah Indonesia keluar menuju kolam hangat dan

menghambat dampak ENSO bagi wilayah Indonesia.

Permasalahan lain dari gejala El Nino adalah kemampuan untuk melakukan prediksi kedatangan

El Nino seperti kasus El Nino ekstrim. Mengingat dampak yang sangat luas yang terasa di

wilayah Indonesia, maka prediksi kedatangan El Nino merupakan hal yang sangat penting untuk

membuat penataan kerja dan manajemen lapangan bagi pertanian, pariwisata, transportasi energi

22

dan berbagai sektor ekonomi lainnya. Upaya untuk menghasilkan prediksi yang handal sering

dilakukan dengan memakai berbagai metoda peramalan seperti secara statistik atau dinamis

memakai model iklim. Kesulitan utama dari berbagai peramalan tersebut adalah turunnya kinerja

peramalan pada waktu musim peralihan ENSO yaitu pada bulan Maret, April dan Mei. Pada

masa peralihan ini belum jelas nampak kecendrungan El Nino, apakah menuju ke situasi normal,

El Nino atau La Nina. Kondisi yang tidak jelas ini biasanya menghambat kinerja berbagai teknik

peramalan yang ada. Setelah melewati masa tersebut, kinerja model akan menjadi lebih baik dan

kita dapat memperoleh gambaran apakah tahun ini kita melewati masa El Nino ekstrim atau

tidak.

Indian Dipole dan iklim Indonesia

Selain pengaruh dari samudra Pasifik, Indonesia, terutama wilayah bagian barat dipengaruhi oleh

aktivitas lautan di samudra India. Sama seperti di samudra Pasifik, indikator pengaruh tersebut

dinyatakan dengan besarnya nilai suhu permukaan laut. Di samudra India dikenal sebuah gejala

yang disebut sebagai Indian Dipole yang agak berbeda dengan yang di Pasifik. Untuk di samudra

India, dipole mengacu pada dua tempat sehingga aktivitas gejala tersebut ditandai dengan

anomali dari perbedaan suhu muka laut kedua tempat tersebut. Perbedaan perubahan suhu muka

laut untuk wilayah 50°E - 70°E / 10°S - 10°N (tengah samudra India) dikurangi 90°E - 110°E /

10°S - equator (sebelah barat pantai Sumatera adalah indikator gejala ini. Apabila terjadi indeks

sangat negatif (dibawah -1) yang berarti suhu di tengah samudra India lebih hangat dari pada di

pantai barat Sumatera, maka wilayah Indonesia Bagian Barat mendapat resiko kekeringan.

Apabila yang terjadi sebaliknya, maka wilayah yang sama akan mengalami curah hujan tinggi.

Pada gambar berikut ini digambarkan pengaruh kekuatan Indian dipole terhadap lamanya musim

kemarau pada beberapa waduk di pulau jawa.

Gambar Regressi linier hubungan antara lamanya musim kemarau (dry months) dan indeks

Indian Dipole pada inflow waduk saguling (kiri) dan waduk Kedung Ombo (kanan)

23

BAB VI

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->