Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 4, No.

1, April 2009

PENGANTAR REDAKSI

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen PMPTK dapat menerbitkan Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 4, No. 1, April 2009. Tujuan diterbitkannya jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dan opini tentang tenaga kependidikan. Dengan berbagi informasi ini diharapkan terjadi pertukaran informasi informasi antar penulis, pembaca, dan pembuat kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu tenaga kependidikan secara terus-menerus. Jurnal edisi ini diawali dengan artikel yang ditulis Sujono Surokarijo berjudul, ” Korelasi antara Kepemimpinan Demokratis Kepala Sekolah dengan Kepuasan Kerja Karyawan Tata Usaha.” Artikel ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan untuk mengetahui korelasi antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha dan perpustakaan sekolah di SMPN Kota Ponorogo. Penelitian menyimpulkan bahwa terdapat korelasi positif antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha. Selanjutnya, Wukir Ragil menulis artikel dengan judul, ” Makna Pendidikan dalam Menjunjung Nilai-nilai Budaya dan Hukum Positif dalam Rangka Menegakkan Akhlak Mulia Bangsa Indonesia.” Menurut Wukir R, dulu kita terkenal sebagai bangsa yang memiliki semangat gotong royong yang tinggi, sopan, ramah, murah senyum dan santun. Namun akhir-akhir ini kondisi tersebut seakanakan telah mulai luntur, dan memaksakan kehendak dalam menyampaikan pendapatnya. Melalui suatu kajian pustaka dan kajian empiris diketahui bahwa, perubahan perilaku ini disebabkan beberapa hal antara lain kini kita merasa telah ”Bebas” dari segala belenggu yang dianggap menghambat kreativitas dan ekspresinya sehingga kini seolah-olah bisa bebas dalam berperilaku apa saja dalam menentukan kehidupan bermasyarakat. Penegakkan hukum yang konsisten dan adil akan membawa kita pada suatu kepastian hidup bahwa dalam berkehidupan, berbangsa dan bernegara yang bebas, dan dalam kebinekaan ini kita harus menghargai juga hak asasi orang lain dan dengan tetap patuh pada norma dan hukum yang berlaku. Pendidikan dalam suatu sistem merupakan wahana yang ampuh untuk menegakkan kembali sikap bangsa Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila ini dalam sikap hidup gotong royong yang tinggi, ramah, santun, sopan

1

dalam berperilaku. Pendidikan bukan hanya menekankan aspek kognitif dan afektif, serta psikomotorik saja akan tetapi juga pembetukan akhlak mulia. Moh. Suryadi Syarif dengan artikelnya yang berjudul, ”Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Era Otonomi Daerah dan Beberapa Faktor yang Mempengaruhinya.” Menurut Moh. Suryadi Syarif, kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah mengutamakan pemberian kesempatan, dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur sehingga semua unsur yang terlibat bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh indikator-indikator: idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration. Ali Imron menulis artikel, “Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah dalam Pelayanan Publik di Tingkat Satuan Pendidikan.” Ali Imron mengemukakan gagasannya bahwa dalam perspektif total quality management (TQM), sekolah dipandang sebagai institusi publik yang harus dapat memuaskan customer-nya. Perspektif TQM ini, mendapatkan momentum tepat ketika reformasi di berbagai bidang digulirkan di negeri ini, termasuk di dalamnya adalah reformasi pelayanan publik di bidang pendidikan. Paradigma pelayanan publik di tingkat satuan pendidikan sekolah patut digeser dari yang konvensional menuju ke kondisi yang senantiasa ter-update, agar ketika dibutuhkan berada dalam keadaan on-service. Tenaga administrasi sekolah haruslah menunjukkan perilaku sebagai seorang pelayan publik yang pro aktif, responsif dan antisipatif terhadap berbagai kebutuhan, aspirasi dan harapan stake holders sekolah sesuai Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. Oleh karena itu, selain harus menguasai berbagai hard skill, yang berupa ketrampilan teknis, juga menguasai berbagai shoft skill yang senantiasa ditampilkan pada saat memberikan pelayanan prima sekaligus memuaskan kepada customer-nya. Sri Marmoh dengan artikelnya yang berjudul, “Problematika Perpustakaan Sekolah pada Pendidikan Dasar dan Alternatif Solusinya.” Artikel ini membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar, menumbuhkan minat baca, dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah pada pendidikan dasar yang belum memiliki

perpustakaan. Sementara sekolah yang memiliki perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala di lapangan. Tulisan ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Rokhmaniyah menulis artikel dengan judul, “Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah.”. Menurut Rokhmaniyah, kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator), pemimpin (leader), pengelola (manager), administrator (administrator), penyelia (supervisor), wirausahawan (entrepreneur), dan pencipta iklim kerja (climator). Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya, mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui), kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Selain itu, ia mampu bekerja keras dan berani menanggung risiko. Ujang Didi Supriadi menulis artikel berjudul, “Kajian atas Kebijakan Pemerintah tentang Kepemimpin Kepala Sekolah pada SMPN 115 Jakarta sebagai Salah Satu Rintisan Sekolah Bertaraf Internasioanal.” Ujang Didi Supriadi menyatakan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah harus memiliki tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. Selain itu terdapat pula 16 kriteria seorang kepala sekolah yang memimpin RSBI. Penetapan standar dan kriteria tersebut diarahkan untuk mewujudkan tujuan sebuah sekolah yang memiliki daya saing pada tingkat nasional dan internasional. Akhirnya, jurnal ini ditutup dengan artikel yang berjudul, “Pemimpin Komunitas Pembelajaran” ditulis oleh Zainun Misbah. Penulis mengungkapkan gasasannya bahwa Pembelajaran Profesional (KPP) telah dilakukan oleh peneliti pendidikan dan dipublikasikan dalam beberapa jurnal ilmiah. Selama tiga puluh tahun belakangan ini kajian tentang KPP terus dilakukan sebagai upaya pengembangan dan inovasi sekolah, meskipun penelitian tentang efek KPP terhadap nilai siswa belum banyak dilakukan. Dari beberapa kajian tersebut karakteristik KPP adalah adanya reflective dialogue, de-privatization of practice, collective focus on student learning, collaboration dan shared norms and values. Dengan terbitnya jurnal ini diharapkan saran-saran yang membangun dari pembaca sehingga penerbitan berikutnya semakin berkualitas. Adanya kekurangan-

kami mengucapkan banyak terima kasih. Atas segala saran-saran yang membangun pembaca. .kekurangan pada jurnal ini kiranya dapat dimaklumi karena di dunia ini tak ada yang sempurna.

Menurut Strauss (Hadikusumo. Caranya (1992). sedang reliabilitas dianalisis dengan teknik Alpha Cronbach. pada persamaan regresi = 35. Hasil penelitian menunjukan. Analisis data menggunakan teknik korelasi Product Moment dan teknik regresi linear. Bila seseorang dapat bekerja dan hidup layak. yaitu: (1) kebutuhan fisik dan keamanan. (3) kepuasan prestasi.70). diperoleh koefisien korelasi (r) = 0. dengan pendekatan korelasional. bahwa setiap manusia membutuhkan pekerjaan dan hidup layak.KORELASI ANTARA KEPEMIMPINAN DEMOKRATIS KEPALA SEKOLAH DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN TATA USAHA Sujono Surokarijo Universitas Negeri Jakarta Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha dan perpustakaan sekolah di SMPN Kota Ponorogo. Status sosial seseorang di masyarakat dipengaruhi oleh besar kecilnya penghasilan yang dihitung . dan kerja. Sampel penelitian 50 orang karyawan tata usaha. Instrumen yang dipakai adalah kuisioner tertutup menggunakan skala Likert dengan 4 alternatif jawaban. Metode penelitian adalah survai. yaitu: (1) kepuasan hubungan antar karyawan. terdapat korelasi positif antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha. kepuasan masa luang. dan (3) kebutuhan egois.36 X. di dapat th > tt ( 2. Dengan uang seseorang dapat memenuhi segala macam kebutuhan. divalidasi dengan analisis butir. dalam dirinya ada kepuasan hidup. dan (6) kepuasan tugas. Sedang kepuasan kerja sendiri mempunyai enam segi.93 > 1. (2) kepuasan supervise. perkawinan. kepuasan kerja. (5) kepuasan kepemimpinan. (4) kepuasan gaji. Setelah dikoreksi dengan uji t. Kebutuhan fisik pokok dapat berupa uang.48 + 0. Kata Kunci: Kepemimpinan. Kepemimpinan demokratis kepala sekolah memberi sumbangan positip 15 % pada kepuasan kerja karyawan tata usaha. menyatakan bahwa kepuasan hidup meliputi kepuasan: keluarga. dijaring secara teknik sampling acak sederhana dari 57 orang karyawan tata usaha. 1990). berarti korelasi signifikan. (2) kebutuhan sosial.39. kebutuhan yang terpenuhi dari pekerjaan ada tiga bentuk. PENDAHULUAN Sudah menjadi kodrat manusia.

Manusia dewasa membutuhkan pemenuhan kebutuhan egois dan aktualisasi diri tingkat tinggi melalui pekerjaan mereka. Oleh karenanya kinerja mereka menurun. walaupun kadang-kadang bertentangan dengan pihak pimpinan organisasi kerja. senioritas yang lebih tinggi biasanya berarti keamanan dalam pekerjaan lebih aman. Termasuk kemajuan yang akan diperoleh dari pekerjaan berupa: (1) kenaikan upah. Hal ini berakibat menurunnya mutu pendidikan di Indonesia termasuk pendidikan di SMP. maka keberhasilannya dihargai oleh pimpinan. SD. Karyawan cenderung bersikeras untuk membentuk kelompok-kelompok informal. dan (3) segi jaminan nilai material yang meningkat sehingga semua kebutuhan hidup terpenuhi baik kebutuhuan biologis maupun kebutuhan nonbiologis. SMP. tingkat pencapaian rata-rata hasil ujian nasional. Dalam aktivitasnya melaksanakan pekerjaan seseorang membutuhkan dukungan orang lain. Orang menyukai pekerjaan-pekerjaan yang dianggap berharga oleh masyarakat.Sujono Surokarijo berdasarkan besar-kecilnya uang. Kebutuhan egois yang utama adalah kebutuhan akan prestasi. Selain itu. Selanjutnya. Demikian juga untuk daya saing kemampuan sumber daya manusia Indonesia semakin menurun. Kebutuhan sosial pokok adalah keanggotaan dalam kelompoknya. pemenuhan kebutuhan keamanan dalam pekerjaan atau pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lain akan terpenuhi di masa yang akan datang. Menurut Iskandar (Media Indonesia. hasil kerjanya lebih baik dari yang sendirian karena kelemahan dari anggota team work ditutup oleh anggota team work yang lain. Kenyataan karyawan yang berbentuk team work memiliki moral yang lebih tinggi dari pada yang sendirian. ingin menjadi orang yang berarti dalam kelompoknya. (2) senioritas sebagai jalan untuk maju. Jika berhasil ingin dihargai dan bila ada kesulitan ingin dibantu. yaitu perasaan rasa bersatu dan diakui keberadaannya. dan tempat tinggal terpenuhi. Seseorang hidupnya layak bila kebutuhan pertama manusia sebagai makluk biologis yaitu kebutuhan makan. Pekerjaan tata usaha pada Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) termasuk jenis pekerjaan yang dihargai masyarakat karena statusnya sebagai pegawai negeri sipil. Seseorang bila berhasil melaksanakan tugas dan dapat mengatasi berbagai hambatan dalam melaksanakan tugas. Tuntutan seseorang dari pekerjaan adalah pekerjaan tersebut memberi penghasilan yang berupa gaji dan gaji tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidup yang layak. dan SMU tidak mencapai tingkat ketuntasan untuk semua mata pelajaran. pakaian. 2 . 20 November 2001). Seiring dengan pernyataan tersebut berarti sumber daya manusia para guru dan karyawan tata usaha pada sekolahsekolah di Indonesia menurun. Iapun akan merasa puas.

Sumber daya meliputi sumber daya manusia dan nonmanusia. usia. kearsipan. pada tipe ini pemimpin menganggap bawahan sebagai mitra kerja. dan organisasi. laboran. Darwis (Scermerhorn. pelaksanaan tugas atau pekerjaan diserahkan kepada bawahan. Dalam organisasi secara struktural ada pemimpin dan bawahan. Sesuai dengan pendapat di atas. Secara garis besar gaya kepemimpinan dibagi tiga tipe yaitu: (1) gaya kepemimpinan otokratis. lingkungan kerja. Dengan demikian. Pemimpin ialah orang yang mempengaruhi orang lain dan yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup organisasi. pada tipe ini. kepuasan kerja seseorang terkait dengan beberapa variabel. Hal ini dapat berakibat turunnya kinerja mereka. Variabel tersebut adalah pegawai. maka orang itu kecewa. perlengkapan. pangkat. dan karyawan perpustakaan. Karenanya dapat dikatakan keberhasilan organisasi dalam mencapai tujannya tergantung kemampuan pemimpin dalam mendayagunakan semua sumber daya yang tersedia dalam organisasi tersebut. para guru dan karyawan tata usaha sekolah tersebut kurang puas karena gaji yang ia terima kurang mencukupi untuk pemenuhan hidup. Kepala Sekolah sebagai manajer dan pemimpin menggerakkan bawahannya baik guru maupun karyawan tata usaha sekolah melalui gaya kepemimpinan. Siagian (1989) menyatakan bahwa pemimpin sebagai motor penggerak semua sumber daya yang tersedia dalam organisasi. dan (3) gaya kepemimpinan kendali bebas. Salah satu variabel yang ada sangkut pautnya adalah variabel organisasi.Korelasi Kepemimpinan Kenyataan gaji yang diterima para guru dan karyawan tata usaha sekolah di Indonesia kurang mencukupi untuk biaya hidup mereka. keuangan. Bawahan ialah orang yang dipengaruhi untuk melaksanakan tugas guna pencapaian tujuan organisasi. 3 . bimbingan penyuluhan. Argyris (Buchori Zainun. 1991) menyatakan bahwa kepuasan kerja berkaitan dengan sejumlah variabel yang memungkinkan para manajer memperkirakan kelompok yang lebih cenderung mengalami masalah ketidakpuasan. ketenagaan. hubungan masyarakat. kesiswaan.1976) menyatakan bahwa jika kebutuhan yang diidam-idamkan seseorang tidak tercukupi. Karyawan tata usaha sekolah merupakan sumber daya manusia yang tersedia di SMP yang terdiri atas: koordinator administrasi dan karyawan-karyawan yang menangani administrasi kurikulum. Apalagi bagi mereka yang sudah berkeluarga. (2) gaya kepemimpinan demokratis. Mereka resah. gundah dan runyam. pada tipe ini pemimpin menganggap bawahan sebagai alat produksi atau alat untuk pencapaian tujuan organisasi.

dan e. 1999) mendefinisikan kepuasan kerja ialah respons seseorang terhadap bermacam-macam lingkungan kerja yang dihadapinya termasuk komunikasi organisasi. pengakuan. Setelah kebutuhannya terpenuhi ia merasa puas. Teori Existence – Relatedness – 4 . kebutuhan pada peringkat di atasnya atau berikutnya muncul dan orang tersebut berusaha untuk memenuhinya. Menurut teori ini kebutuhan akan menimbulkan ketidak seimbangan pada diri seseorang. Coreman (Timpe A Dale. supervisor. kepuasan kerja dalam diri seseorang akan tumbuh bila bekerja selaras dengan diri sendiri. (2) Teori pemenuhan kebutuhan oleh Maslow (1970). sesorang akan menjadi resah dan ia melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan tersebut. 1989). kepuasan adalah perasaan lega atau senang karena merasa sudah terpenuhi kebutuhannya atau hasrat hatinya. tempat tinggal). Sedang Grunerberg (Buchori Zainun. kebutuhan rasa aman. Seterusnya setelah terpenuhi kebutuhannya dan merasa puas. Menurut teori ini. c. Seseorang akan merasa puas bila tidak ada perbedaan antara apa yang diinginkan atau diharapkan dengan kenyataan yang dirasakannya. pakaian. Pada penelitian ini teori-teori yang dianalisis dan relevan dengan tujuan penelitian adalah: (1) Teori discrepancy oleh Porter (Stoner. ”Bagaimana hubungan antara gaya kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah?” KAJIAN PUSTAKA Menurut Poerwadarminta (1991). untuk mengukur kepuasan kerja adalah dengan membandingkan apa yang seharusnya atau diharapkan dengan kenyataan yang dirasakan. promosi. kebutuhan fisiologis (makan. Menurut teori ini walaupun kebutuhan manusia beragam. namun kebutuhan utama manusia pada hakikatnya sama dan merupakan hirarki yang terdiri dari lima tingkat. 1976) menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah seperangkat perasaan karyawan tentang menyenangkan atau tidaknya jenis pekerjaan. hubungan teman sekerja. karena batas minimum yang diinginkan telah terpenuhi. maka permasalahannya dalam meningkatkan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah adalah. 3. Sedang yang dimaksud kerja adalah perbuatan melakukan sesuatu atau sesuatu yang dilakukan. Menurut Patton (Hesmes. kebutuhan hidup berkelompok dan bermasyarakat. d. b. kebutuhan penghargaan.Sujono Surokarijo Seiring kepuasan kerja karyawan terkait dengan gaya kepemimpinan. Hirarki kebutuhan manusia menurut Maslow sebagai berikut: a. Dengan demikian yang dimaksud kepuasan kerja adalah perasaan senang atau lega karena apa yang dilakukan tersebut sesuai dengan dirinya dan telah memenuhi kebutuhan atau hasrat hatinya. 2001). kebutuhan aktualisasi diri atau menunjukkan jati-diri.

(3) faktor fisik yaitu faktor faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja. Relatedness. meliputi minat. (2) hubungan teman sekerja. ada empat faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja. Dari pendapat-pendapat di atas. Indikator kepuasan kerja. Menurut Strauss (1990). yaitu: (1) sikap terhadap kelompok kerja. dan (5) jenis dan isi pekerjaan. Sedangkan Smith (Cranny. Growth. dan dasar pemikiran. penilaian diri. menurut ia ada lima komponen utama dalam kepuasan kerja. udara. dan (5) sikap terhadap supervisi. perbandingan perbandingan sosial. (2) faktor sosial. tunjangan maupun lain lain yang berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan. (4) gaji. puas karena hubungan sosial yang bermanfaat. dan c. Menurut teori ini hirarki kebutuhan seseorang terdiri dari tiga peringkat. yaitu: (1) kepercayaan pada pimpinan. Lain halnya dengan Hainan (1991). (3) sikap terhadap organisasi. (2) kondisi umum pekerjaan. minuman. hubungan dengan pimpinan. isi pekerjaan. Sedang Hotgetts dan Kuratko (1975) mendefinisikan bahwa kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi orang orang untuk mengarahkan kegiatan demi pencapaian tujuan. kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari para anggota kelompok. meliputi: gaji. tantangan pekerjaan. 5 . 1976).Korelasi Kepemimpinan Growth (ERG) oleh Aldefer (Stoner. b. serta lingkungan kerja (kondisi pekerjaan). norma-norma sosial. ketentraman dalam bekerja. keterikatan. kepuasan karena memberi sumbangan pada pribadi maupun organisasi. Lain lagi dengan Byars (Buchori Zainun.1992). 1989). yaitu: a. keceriaan kerja. sikap dan perilaku orang lain. dan (4) faktor kesejahteraan. (4) keuntungan keuangan. faktor faktor kepuasan kerja adalah: penghargaan. yaitu: (1) faktor psikologis. bakat. Dari beberapa teori-teori dan konsep konsep di atas. (3) supervisi. dapat disimpulkan bahwa dalam proses kepemimpinan ada orang yang mempengaruhi (pemimpin) dan ada orang yang dipengaruhi (bawahan). dan intensif tradisional. yang dimaksud kepuasan kerja dalam penelitian ini adalah perasaan senang atau lega karena merasa terpenuhi kebutuhan atas harapan yang dialami oleh seseorang dari suatu pekerjaan. Existence kebutuhan yang dipuaskan oleh faktor-faktor makanan. ia menyatakan bahwa yang dimaksud kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pandangan. hal hal yang berhubungan dengan interaksi antara sesama karyawan. Menurut Stoner (1989). berpendapat bahwa ada lima segi kepuasan kerja. Mitchel menyatakan bahwa penyebab kepuasan kerja adalah: supervisi.

Pemimpin yang cenderung menjalankan fungsi yang berkenaan dengan tugas menganggap bawahan sebagai alat produksi atau alat pencapaian tujuan. berupa pandangan. Lain dengan Siagian (1989). dan (2) fungsi yang berkenaan dengan pembinaan pelaksana tugas atau fungsi sosial. d. 1999). Sedang pemimpin yang cenderung menjalankan fungsi yang berkenaan dengan pelaksana tugas mengganggap bawahan sebagai mitra kerja. pemimpin memberi keleluasaan pada bawahan dalam menetapkan sasaran pekerjaan dalam pelaksanaan tugas. b. dan (4) memberi keleluasaan pada bawahan dalam pelaksanaan tugas. gaya kepemimpinan demokratis dalam mempengaruhi bawahan. Hodgetts (1975) menyatakan bahwa ciri-ciri kepemimipnan demokratis adalah pemimpin yang perhatiannya tinggi terhadap bawahan serta pelaksanaan tugas yang dilakukan bawahan. Menurut teori perilaku.Sujono Surokarijo Dengan demikian yang dimaksud kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain. Pemimpin yang efektif dapat menjalankan kedua fungsi tersebut. Menurut Woods (Timpe A Dale. pujian. saluran komunikasi ke segala arah. Sedang Bove (1995) menyatakan sifat kepemimpinan demokratis berorientasi pada pegawai atau karyawan. pemimpin dalam mempengaruhi dan berhubungan dengan bawahan mengemban dua fungsi utama. ia manyatakan bahwa ciri ciri kepemimpinan demokratis sebagai berikut: (1) pemimpin dalam proses menggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia adalah 6 . menciptakan arus informasi timbal balik. mendukung adanya pertukaran informasi antar bawahan yang berkelanjutan. pemimpin mendelegasikan sebagian wewenang pada bawahan dan mendorong bawahan untuk berperan aktif dalam pengoperasian perusahaan. memberi dorongan keberanian melalui arus komunikasi yang berkelanjutan antara ia dengan bawahan. Pada kepemimpinan ini perilaku pemimpin dalam pengambilan keputusan berdasarkan hasil musyawarah mufakat dengan bawahan. kritikan digunakan. (2) komunikasi lancar. (3) melibatkan bawahan dalam melaksanakan sasaran organisasi. c. sikap sehingga orang yang dipengaruhi mau melakukan kegiatan sesuai dengan tugasnya demi pencapaian tujuan yang telah ditentukan. kegiatannya: (1) bermusyawarah dengan kelompok mengenai hal hal yang menarik perhatian. maka bila ada bawahan yang kesulitan melaksanakan tugas dibimbingnya. saran. perilaku. Sehubungan tanggung jawab baik buruknya organisasi di tangan pemimpin. di dalam organisasi tercipta jalur komunikasi ke segala arah. yaitu: (1) fungsi yang berkenaan dengan tugas. Sedang Hodgetts dan Kuratko (1975) menyatakan ciri-ciri pemimpin yang demokratis dalam berhubungan dengan bawahan sebagai berikut: a.

(5) berusaha untuk menjadikan bawahan lebih sukses. (3) membudayakan adanya saran dan kritik. dan (11) berusaha meningkatkan kesejahteraan bawahan. sedang populasi terjangkau seluruh karyawan tata usaha SMPN Kota Ponorogo tahun 2007 yang berjumlah 57 orang. menggunakan skala Likert dengan empat alternatif jawaban. (10) melaksanakan supervisi. Sesuai analisis teori teori dan konsep konsep di atas. karena peneliti ingin mengetahui hubungan antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah. Indikator kepemimpinan demokratis adalah: (1) menganggap bawahan sebagai mitra kerja. langsung. terbuka dan ke segala arah. (3) senang dan mau menerima saran.Korelasi Kepemimpinan makluk yang mulia. pendapat maupun kritik dari bawahan. (2) berusaha mensinkronkan tujuan dan kepentingan organisasi dengan tujuan dan kepentingan pribadi bawahan. sedang variabel bebas adalah kepemimpinan demokratis kepala sekolah (variabel X). (5) memberi keleluasaan bawahan dalam melaksanakan tugas. (6) mendelegasikan sebagian wewenang pada bawahan. (7) lebih mengutamakan kerja sama. dalam penelitian ini yang dimaksud kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang memperhatikan bawahan dan juga memperhatikan proses pelaksanaan tugas yang dilakukan bawahan. Metode penelitian ini adalah metode survai. 7 . Analisis data menggunakan teknik korelasi product moment dan teknik analisis regresi linear. (4) berusaha mengutamakan kerja sama dalam team work dalam usaha pencapaian tujuan organisasi. Pengumpulan data dilakukan melalui angket. (4) menciptakan jalur komunikasi timbal balik. METODOLOGI PENELITIAN Dalam penelitian ini variabel terikat adalah kepuasan kerja karyawan tata usaha (variabel Y). dan (6) memberi keleluasaan bawahan dalam berbuat kesalahan kemudian dibimbing dan diperbaiki agar tidak membuat kesalahan yang sama. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan korelasional. (2) dalam menentukan kebijakan organisasi melalui musyawarah mufakat dengan bawahan. (8) memberi kesempatan bawahan untuk mengembangkan karier. Populasi penelitian seluruh karyawan tata usaha SMPN di Kabupaten Ponorogo. (9) mengakui dan menghargai keberhasilan bawahan. Sampel penelitian sebanyak 50 orang dijaring dengan teknik sampling acak sederhana.

1976. Setelah di analisis dengan analisis determinasi diperoleh r2 = 0. Management. S. Jakarta: Balai Pustaka. P. KESIMPULAN Berdasarkan temuan di atas peneliti menyimpulkan bahwa semakin demokratis kepemimpinan kepala sekolah. London: Harper and Row.R. Scermerhorn J. James G. L. Motivation and Personality. Job Satisfaction How People About Their Job And How It Affects Their Performance.R. 1970. Tokyo: Mc. Cranny. N.70).Sujono Surokarijo HASIL PENELITIAN Pada penelitian ini ditemukan bahwa terdapat korelasi positip antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah. Management. Selanjutnya dikoreksi dengan uji t. Buchori Zainun. 1992.39. berarti korelasi signifikan. Hodgeets. 1991.15. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. T. di dapat th > tt ( 2. 1982. The Human Problem of Management (Terjemahan)..36 X. 1975. Poerwadarminta W. A..93 > 1. Manajemen dan Motivasi.48 + 0. Kepemimpinan demokratis kepala sekolah memberi sumbangan positif sebesar 15% dan sumbangan tersebut berarti terhadap kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah. diperoleh koefisien korelasi r = 0. semakin meningkat kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah. 8 . 1991. People in Organization An Introcdution to Organization Behavior. R.Graw Hill Inc. New York: Lexington Books. pada persamaan regresi = 35. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Managing Organizational Behavior. 1995. C. Mitchell. C.H. DAFTAR RUJUKAN Bovee. 1990. Hadikusumo.M. termasuk karyawan perpustakaan. & Richard. Maslow. New York: John Willey Inc. Jakarta: Balai Aksara.S. New York: Mc Graw Hill Inc. 1991.J. London: Sounder Company.N.

Korelasi Kepemimpinan Siagian.F & Freeman. R. 1989. Filsafat Administrasi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Jakarta: CV Haji Masagung. Timpe A. Management. S. 9 . New Jersey: Prentice Hall Inc. Upper Saddle River. J.A. Stoner.E.P.Kepemimpinan. 1999. 1989.D. Leadership .(Terjemahan: Susanto Budidharmo).

Kata Kunci: Penegakkan hukum. 1. masyarakat. menghargai hak asasi orang lain terutama perbedaan dalam kebinekaan.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. perubahan perilaku ini disebabkan beberapa hal antara lain kini kita merasa telah ”Bebas” dari segala belenggu yang dianggap menghambat kreativitas dan ekspresinya sehingga kini seolah-olah bisa bebas dalam berperilaku apa saja dalam menentukan kehidupan bermasyarakat. Adalah penegakkan hukum yang konsisten dan adil akan membawa kita pada suatu kepastian hidup bahwa dalam berkehidupan. santun. Keteladanan. dan dalam kebinekaan ini kita harus menghargai juga hak asasi orang lain dan dengan tetap patuh pada norma dan hukum yang berlaku. sopan dalam berperilaku. pengendalian diri. Pendidikan bukan hanya menekankan aspek kognitif dan afektif. akhlak mulia. 4. dan Akhlak mulia. kepribadian. serta psikomotorik saja akan tetapi juga pembentukan akhlak mulia yang merupakan makna dari pendidikan budi pekerti yang harus dimiliki seluruh peserta didik dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. serta ketrampilan yang diperlukan oleh dirinya. No. dan memaksakan kehendak dalam menyampaikan pendapatnya. bangsa dan negara. murah senyum dan santun. Dulu kita terkenal sebagai bangsa yang memiliki semangat gotong royong yang tinggi. sopan. ramah. berbangsa dan bernegara yang bebas. Namun akhir-akhir ini kondisi tersebut seakan-akan telah mulai luntur. April 2009 (Suatu Kajian Empiris terhadap Perubahan Sosial bagi Warga Belajar) Wukir Ragil Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional Bidang Hukum dan Sosial Dosen Luar Biasa Fakultas Hukum Universitas Indonesia Abstrak Sistem Pendidikan Nasional menggariskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Adalah pendidikan dalam suatu sistem merupakan wahana yang ampuh untuk menegakkan kembali sikap bangsa Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila ini dalam sikap hidup gotong royong yang tinggi. Melalui suatu kajian pustaka dan kajian empiris diketahui bahwa. ramah. MAKNA PENDIDIKAN DALAM MENJUNJUNG NILAINILAI BUDAYA DAN HUKUM POSITIF DALAM RANGKA MENEGAKKAN AKHLAK MULIA BANGSA INDONESIA 10 .

dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. Masyarakat agraris yang selama ini dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia sehingga dapat mewujudkan swasembada beras sekaligus menciptakan suatu tatanan/nilai budaya dalam masyarakat petani yang relatif nrimo. 2) economic system ( sistim ekonomi). 3) family (keluarga). Kehidupan keluarga yang agamis akan membuat tata kehidupan dalam keluarga itu selalu menuju pada kehidupan keluarga sakinah. cipta. kecuali masyarakat pedesaan yang masih menjunjung sifat gotong royong ini sebagai sarana yang jitu dalam bermasyarakat. menulis. Kebudayaan akan berkembang karena ada perkembangan ilmu dan tehnologi sehingga akan menciptakan alat/sarana tehnologi yang baru/mutakhir. Kebudayaan akan berkembang seiring dengan berubahnya sistim ekonomi dalam masyarakat.Makna Pendidikan PENDAHULUAN Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. Sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan masyarakat. dan karsa. Kebudayaan yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat akan berbeda yang dimiliki oleh kelompok masyarakat lainnya. dan sifat gotong royong yang tinggi dan menjadi masyarakat produsen pangan. 1974 hal 113). perkembangan kebudayaan dalam masyarakat akan dipengaruhi adanya empat unsur pokok tersebut. (Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi. Kebudayaan akan berkembang atau berubah dengan berubah tata nilai dalam kehidupan keluarga. rasa. rasa. Dengan demikian menurut Herskovits. sabar. bersaing untuk mendapat produk yang terbaru dan terbaik. kompak. pendidikan berlangsung sepanjang hayat dengan mengembangkan budaya membaca. cipta. Kebudayaan adalah hasil dari karya. ”sifat gotong royong” agak luntur. dan karsa masyarakat tadi akan berguna bagi masyarakat yang menciptakannya. Penulis menambahkan unsur kelima yaitu Kaidah hukum yang berlaku dalam masyarakat setempat. pada saat tanah pertanian berubah menjadi kawasan industri seketika itu tata nilai masyarakat berubah menjadi bersifat konsumtif. Selanjutnya menurut Herskovits ada empat unsur pokok dalam kebudayaan yaitu: 1) technological equipment (alat-alat tehnologi). Herskovits menyatakan lebih dari seratus enam puluh definisi kebudayaan. Sedangkan pengertian budaya mempunyai makna yang luas. Kebudayaan akan dimiliki dan akan tetap hidup dalam masyarakat pemiliknya. Hal ini karena kebudayaan akan hidup dan berkembang dalam masyarakat itu sendiri serta untuk memenuhi keperluan masyarakat tersebut. mawardah. dan 4) political control (kekuasaan politik). Demikian semua hasil karya. dan 11 .

tata nilai. kaidah hukum itu berlaku. pola kehidupan. METODE PENELITIAN Kegiatan kajian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan yang bersifat yuridis-normatif dan penelitian empiris melalui pengamatan. dan privasinya. dipatuhi dan menyatu pada tata nilai budaya masyarakat setempat dan akan mampu mempertahankan kehidupan tata nilai atau berkembangnya kebudayaan masyarakat tersebut. 12 . Walaupun tidak menimbulkan korban jiwa. Namun demikian. demikian juga sanksi hukum dari penguasa akan membuat jera untuk mengulangi kesalahannya lagi.Wukir Ragil warokhmah dan selalu bersyukur. Kekuasaan politik yang mewarnai secara mencolok tata nilai dan kehidupan masyarakat apabila tidak disaring secara intensif oleh anggota masyarakat yang bersangkutan. Sanksi akan diberikan terhadap pelanggarnya terutama sanksi moral yang diberikan masyarakat untuk membuat jera perbuatan yang dianggap menyimpang dalam masyarakat tersebut. Penggabungan penelitian kepustakaan yang bersifat yuridis-normatis dan penelitian empiris ini akan dapat mengkaitkan antara konsep kebijakan peraturan perundang-undangan dan interaksi sosial masyarakat warga belajar terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. terlihat di televisi seorang oknum dengan membawa berbagai senjata tajam dalam bentrokan adalah sungguh sangat merisaukan. Sebaliknya keluarga yang berpola kehidupan ”modern kebarat-baratan” akan menjadikan kehidupan pada keluarga yang serba ”praktis” dan menganggap tata nilai akan mengganggu aktifitas. Penelitian normatif disini adalah untuk memahami kaidah hukum dan perundang-undangan mengenai gejala sosial dan kebijakan pendidikan. Dipicu oleh sebab musabab yang kurang jelas dan rasa solidaritas sesama teman telah menimbulkan sebuah kekerasan yang dilakukan oleh oknum mahasiswa antar fakultas disebuah perguruan tinggi di Makasar tanggal 3 November 2008 yang lampau. akan tetapi tindakan itu merupakan suatu yang mengarah pada indikasi bahwa budaya penyelesaian suatu perkara dengan kekerasan dianggap sebagai cara yang ”tepat”. Selanjutnya penelitian normatif ini akan didukung dengan penelitian empiris. ataupun kelestarian kebudayaan pada masyarakat tertentu. Mereka akan merasa terasing dalam lingkungannya. akan dapat merubah pola pikir.

Ini adalah contoh kecil. nilai budaya ini mempunyai fungsi primer untuk mempertahankan pola yang telah berkembang dalam masyarakat yang akan menghubungkan fungsi sosial dan nilai budaya sehingga kehidupan masyarakat akan menjadi bermakna. Dalam kehidupan sosial nilai-nilai ini akan terus disesuaikan dan dikembangkan oleh masyarakat untuk mengikuti tata kehidupan dalam kelompok masyarakat yang lebih luas lagi. hal 102). banyak contoh lain yang tidak kami sebutkan yang semua itu akan membuktikan betapa Besar dan Indahnya Indonesia. Organisasi kehidupan sosial masyarakat adalah dasar utama kehidupan hukum (Dawan Raharjo. Masing-masing tata nilai memberikan ciri tersendiri dan tidak bisa dihapuskan oleh tata nilai budaya dari daerah lain. Dinyatakan bahwa kehidupan masyarakat yang terorganisir dengan baik akan menciptakan suatu pranata dalam kehidupan masyarakat. Dalam konteks kehidupan bernegara dan berbangsa. Sebagai contoh.Makna Pendidikan Nilai-Nilai Budaya dalam Kehidupan Masyarakat. kemiripan tutur kata pada daerah tertentu belum tentu mempunyai arti yang sama pada tutur kata pada daerah lain. dan menyatu menjadi suatu tata nilai dan budaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia. tata nilai budaya semula yang berasal dari kelompok-kelompok masyarakat Indonesia ini akan menyatu dalam suatu konsep sosial budaya yang` satu sama lain saling mewarnai sehingga puncaknya akan menjadi tata nilai budaya Indonesia/budaya nasional. Suatu contoh ” kata nggih ” dalam Bahasa Jawa penggalan dari inggih bisa mempunyai arti ”iya”. Ia akan dipatuhi dan masyarakat akan memberikan sanksi bagi para pelanggarnya. Tata kehidupan yang semula baru merupakan gagasan sebagian dari anggota masyarakat ini lambat laun akan menjadi kesepakatan bersama dan diciptakan untuk menjadi norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Dawan Rahardjo dengan merujuk pendapat Talcott Parsons dalam teori tentang masyarakat menjelaskan bahwa dalam kehidupan masyarakat yang serba diliputi oleh tindakan individu yang mempunyai sifat fisik dan realitas akan selalu kait terkait sehingga dalam kehidupan sosial masyarakat akan mampu mengkaitkan dengan suatu tata hukum dan akan berkembang dalam masyarakat. Norma ini akan dihormati dan lambat laun akan menjadi suatu pola hidup atau nilai-nilai budaya dalam kehidupan masyarakat. akan tetapi dalam Bahasa Gayo. Para pakar menyatakan bahwa Budaya Nasional merupakan puncak-puncak budaya daerah yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Aceh Tengah ini ” kata nggih ” bukan kepanjangan dari kata inggih dan mempunyai arti ”tidak”. Keterkaitannya fungsi ini akan 13 . Menurut Dawam. Perbedaan ini kalau kita mampu meresapi dan mensyukuri merupakan suatu anugerah dari Allah yang sangat nikmat.

Adat istiadat atau kebiasaan sebagai hal yang dianggap mewakili kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat fungsinya mempertahankan pola kehidupan itu sendiri. adalah sangat berperan besar dalam membentuk pola perilaku. sikap dan kebiasaan para peserta didiknya yang pada akhirnya nanti akan membentuk dan mengembangkan semangat dan sikap hidupnya. Perbedaannya pada tingkat perkembangannya. wali/orangtua. Masyarakat melembagakan adat istiadat karena masyarakat memerlukan perubahan. Perubahan Tata Nilai dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia. Dengan perkataan lain bahwa budaya sekolah merupakan semangat. sikap. 43-56). Lantas bagaimana halnya dengan kondisi dan konsep pengembangan budaya pada lembaga pendidikan (satuan pendidikan)?. dan harapan yang diyakini oleh para warga sekolah dan dijadikan sebagai pedoman bagi perilaku dan pemecahan masalah yang mereka hadapi. Lebih lanjut dikatakan bahwa seluruh implementasi kebijakan sekolah. Dapat dikatakan bahwa hukum bersumber pada adat istiadat. dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan) dengan seluruh kebijakan operasionalnya. kondisi. Kajian masalah hukum akan memberikan makna yang tegas bahwa hukum harus bebas dari kontradiksikontradiksi. bernegara dan berbangsa. Dalam kehidupan masyarakat akan terjadi proses sosialisasi antara tata nilai dan kaidah hukum. layanan sekolah akan membentuk budaya sekolah yang semuanya akan membentuk pola nilai. Dengan demikian organisasi satuan pendidikan (sekolah/perguruan tinggi) dan seluruh warga belajarnya (pendidik. keyakinan. Pelembagaan adat istiadat ini membutuhkan sistem manajemen yang 14 . 14-29) antara lain dikatakan bahwa Budaya Sekolah merupakan perpaduan nilai-nilai. semangat bertindak. Nilai nilai yang dipertahankan adalah sangat jelas dan dari sudut antropologi sifat adat istiadat lebih statis dibandingkan dengan hukum (Bohannan. Prof. 1967. Muhaimin MA dalam tulisannya yang berjudul Pengembangan Budaya Agama dalam Komunitas Sekolah mengulas secara panjang lebar tentang pentingnya pengembangan Pendidikan Agama sebagai Budaya Sekolah (Religiusitas 4 September 2007 hal. sikap atau pola perilaku serta kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh para warga sekolah secara konsisten dalam memecahkan masalah (hal.Wukir Ragil menciptakan suatu tata nilai atau kebudayaan bagi masyarakat setempat. pemahaman. 16). asumsi. kebiasaan dan perilaku peserta didik. Hukum bermakna untuk mendisiplinkan tingkah tingkah laku manusia. Hukum adalah suatu sistim norma yang berlaku dalam suatu kehidupan bermasyarakat. masyarakat sekitar. Perbuatan individu merupakan suatu kelakuan dalam hukum yang seharusnya dijalaninya sesuai dengan aturan hukum yang diharuskan.

Makna Pendidikan lebih teratur yang lazim disebut lembaga hukum yang dilengkapi dengan peraturan hukum yang dalam masyarakat disebut adat istiadat. dan mempertahankan setiap norma dengan menyesuaikan dalam perubahan masyarakat. Dengan demikian Undang undang ini menetapkan bahwa akhlak mulia sebagai tujuan pendidikan nasional yang bermakna dalam kehidupannya sebagai individu. 275) fungsi hukum adalah. halaman 17). dan 4) mempertahankan adaptasi masyarakat dengan cara mengatur kembali hubungan-hubungan dalam masyarakat yang berubah. sehat. yang lebih jauh lagi akhirnya dalam kehidupan berbangsa dan kehidupan bernegara. Dengan demikian masyarakat dalam memberlakukan adat istiadat dan tata nilai membutuhkan norma-norma yang berlaku di masyarakat setempat agar adat istiadat dapat efektif bekerja. Menurut Hoebel. dan kehidupan dalam bermasyarakat. Jadi fungsi hukum disini mengatur hubungan antara manusia dengan manusia. mandiri. kreatif. 1) merumuskan hubungan-hubungan antara anggota-anggota masyarakat dengan menunjukkan perbuatan yang dilarang dan yang boleh dilakukan. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Undang undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Muhaimin menyatakan bahwa tujuan pendidikan dimaksud memiliki kekuatan spirituil keagamaan bagi peserta didik dalam pengendalian diri. serta ketrampilan yang diperlukan oleh masyarakat. kecerdasan. bangsa dan negara (Prof Muhaimin MA. berilmu. sebagai wasit yang netral dalam setiap ada sengketa dalam masyarakat. kepribadian. Peran Pendidikan dalam Menegakkan Nilai-Nilai Luhur Budaya dan Kepatuhan Terhadap Hukum. 2) mengalokasikan dan menegaskan siapa yang boleh menggunakan kekuasaan atas siapa. antara penguasa/pemerintah dengan manusia. berakhlak mulia. dan menjaga agar norma tersebut tetaf efektif dalam setiap kehidupan bermasyarakat. Pendidikan nasional yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. kehidupan dalam keluarga. bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. (1967. cakap. Dengan demikian hukum memiliki fungsi yang berbeda dengan fungsi adat istiadat atau tata nilai dalam masyarakat. perilaku. peserta didik harus memiliki sikap. dan tindakannya yang mengacu pada norma kehidupan sesama individu. dan mekanisme serta prosedur penggunaan. 3) penyelesaian sengketa-sengketa. 15 .

dan disamping itu mempertahankan kemajemukan bangsa. Dengan demikian. Mubarok mengibaratkan sebagai sekumpulan orang yang telah 32 tahun dikurung dalam penjara yang gelap gulita dan tiba-tiba penjara itu dirobohkan sehinga mereka bisa keluar melihat dunia baru yang terang benderang dan terlihat aneh akan tapi mengasyikkan. dengan tegas mengatur tanggungjawab pendidikan. falsafah hidup bangsa. faktor keturunan (teori nativisme) dan faktor lingkungan dan pendidikan (teori empirisme). maka masyarakat Indonesia mengalami keterkejutan budaya. akan tetapi menghargai perubahan dan perbedaan sebagai anugerah yang harus disyukuri oleh bangsa ini adalah suatu keniscayaan sepanjang dilaksanakan dalam koridor norma dan kepatuhan terhadap hukum. Kedua teori tersebut saling mempengaruhi terhadap perkembangan kualitas manusia.Wukir Ragil Berbagai sumber menyatakan bahwa perkembangan akhlak mulia dari ajaran agama. Harapan ini belum sepenuhnya dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Dinyatakan pula bahwa itu adalah gambaran masyarakat Indonesia pasca jatuhnya Presiden Soeharto yang sedang mencari jati dirinya kembali. Sebagian mereka mengimplementasikan kebebasan sebagai perbuatan yang berlebihan tanpa batas atau koridor norma dan hukum. Lebih lanjut dikatakan bahwa. Achmad Mubarok. dalam Jurnal Religiusitas 3 September 2008) menyatakan bahwa kualitas manusia ditentukan dalam dua hal yaitu faktor hereditas. Bangsa Indonesia memasuki dunia global dimana arus informasi dan keterbukaan tak bisa dihindari. nonformal. kemakmuran dan kehormatan yang ternyata tidak sinkron. dengan menghargai dan mempertahankan proses pembelajaran yang telah berlangsung selama ini. akan tetapi dalam proses yang masih kebingungan karena masalah yang dihadapi sangat komplikatif antara kerinduan kepada demokrasi. Sehingga mereka berpesta pora menikmatinya dengan melakukan apa saja yang sebelumnya mustahil dapat dilakukan. Memang Pemerintah tidak lagi menerapkan paradigma stabilitas nasional secara mutlak dalam mengatur kehidupan warganya. sehingga beberapa kali kita lihat dalam menyampaikan inspirasinya dibumbui 16 . mereka dihadapkan pada suatu kebingungan karena mendapatkan suatu kondisi yang tidak cocok menurut pandangan mereka sebelumnya. kebebasan. maupun secara informal. dalam masyarakat yang baru mendapat kebebasan dalam melihat dunia ”baru” dan kemudian mencoba untuk memaknai apa arti dunia ”baru” tersebut dengan suatu tindakan sesuai dengan harapannya. Sistem pendidikan nasional ini berfungsi sebagai mengubah/mereformasi sistem pendidikan baik secara formal. perkembangan tradisi yang tumbuh dalam suatu kelompok masyarakat. lingkungan dan perubahan alam sekitar.

Demikian pula falsafah hidup suatu bangsa ikut mempengaruhi perilaku masyarakat dalam negara itu. kesejahteraan yang berkeadilan dalam kebinekaan ini akan segera dirasakan dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Penerapan hukum untuk membela manusia agar mereka tetap terhormat sebagai manusia. Dikatakan. Falsafah hidup suatu negara. bergaul. dan memberikan peluang yang sama bagi mereka. apabila kita mampu meramu dan merasakan kebinekaan dalam rasa persatuan dan kesatuan. Atau mungkin kelompok masyarakat itu menganggap bahwa penyampaian inspirasi dengan cara tenang dan tertib tidak akan didengar oleh yang berwenang. Oleh karena itu apabila penegakkan hukum oleh negara secara adil tanpa pandang bulu. Sedangkan akhlak mulia menurut Dodi Nandika dikatakan sebagai suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia. termasuk penguatan akhlak mulia. menjamin setiap hak dan keberadaannya pada jalan kebenaran dan keadilan. Seolah-olah tanpa adanya sedikit kekerasan dan pemaksaan kehendak. apabila kita menganggap bahwa sebagai manusia yang memiliki keadilan yang beradap. tetapi juga menumbuh-kembangkan nilai-nilai luhur insani bagi kemajuan peradaban bangsa. apabila akan dijadikannya sebagai pedoman bagi bangsanya untuk berperilaku maka kedamaian suatu bangsa tersebut akan dapat terwujud. setiap kali lahir 17 . Pendidikan bukan sekedar proses pengayaan intelektual. Dodi Nandika (14 Juni 2008) mengatakan bahwa. maka hal ini akan mengusik rasa keadilan pada akhirnya dapat menimbulkan aksi protes. hal itu berarti akan memberikan rasa aman. dan wawasan kebangsaan. dengan hukum manusia hidup. menurut Mubarok. diatas penguasa ada yang Maha Kuasa. Indonesia memiliki falsafah Pancasila yang apabila dihayati dalam kehidupan sebagai masyarakat yang ber Ketuhanan yang menganggap bahwa diatas langit masih ada langit lagi.Makna Pendidikan dengan perbuatan oknum-oknum pengunjuk rasa yang melakukan perbuatan melanggar hukum maupun melanggar hak orang lain dalam menikmati ketenangan dalam aktifitasnya. Dengan demikian apabila penegakan hukum dalam masyarakat dirasa tidak adil. hukum bermakna sebagai mengatur kehidupan manusia sebagai makhluk yang beradap yang membedakannya dengan hewan. bersaing antar sesamanya secara fair dan adil. adil dan sejahtera terhadap masyarakat. penyampaian inspirasi tersebut kurang afdol. karakter unggul. apabila kita mampu menjadikan pola kehidupan bermusyawarah untuk mufakat adalah jalan yang terbaik dalam menentukan pilihan bersama serta memiliki jiwa keadilan dan jiwa sosial yang tinggi dalam kehidupannya maka ketentraman. Dalam hal efektifitas hukum ini Achmad Mubarok menyatakan bahwa. yang daripadanya.

dengan mudah. peningkatan potensi. Kurikulum di setiap satuan pendidikan ini akan bercorak keragaman potensi daerah dan lingkungan. 20 tahun 2003). agama. pada tahun 2015 nanti diharapkan akan terwujud suatu kondisi di Indonesia yang memiliki Insan yang berkemampuan olah hati untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan dan ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti. kecerdasan. 7) pendidikan jasmani dan olahraga.Wukir Ragil manifes hal-hal yang mulia. dan minat peserta didik. menurut Dodi Nandika. dinamika perkembangan global. tanpa melalui pertimbangan atau proses penalaran yang berat dan lama. 6) ilmu pengetahuan sosial. 7) keterampilan/kejuruan. perkembangan ilmu pengetahunan. Dalam kaitan itu. dan 8) muatan lokal. dan 3) bahasa. Untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut langkah pertama yang harus dilakukan adalah dimulai dari perumusan kebijakan dalam kegiatan belajar mengajar pada satuan pendidikan yaitu dengan kebijakan kurikulum. mewajibkan pengaturan kurikulum pada pendidikan dasar dan menengah meliputi: 1) pendidikan agama. 4) matematika. memiliki insan yang berkemampuan olah rasa. 3) bahasa. sesuai dengan tuntutan pembangunan daerah dan nasional. memiliki kecerdasan intelektual dan memiliki kecerdasan kinestika. dan 9) pengembangan diri (Permendiknas No. 2 tahun 2006). disamping kurikulum yang menjadi ciri pada 18 . Depdiknas menetapkan kerangka dasar dan model-model kurikulum yang dapat dijadikan rambu-rambu dan satuan pendidikan yang akan menyusunnya sesuai dengan kebutuhannya sendiri dengan memperhatikan pada peningkatan iman dan takwa. teknologi. 5) ilmu pengetahuan alam. peningkatan akhlak mulia. Demikian juga kurikulum pada pendidikan tinggi wajib memuat: 1) pendidikan agama. 2) pendidikan kewarganegaraan. Dengan demikan. 2) pendidikan kewarganegaraan. dan seni. Pada program pendidikan dasar dan menengah di masa otonomi daerah dan penerapan manajemen berbasis sekolah maka kebijakan Kurikulum Pada Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan salah satu langkah yang dianggap tepat. dan berkemampuan olah raga. Departemen Pendidikan Nasional menaruh harapan besar yang nanti pada tahun 2015 akan tercipta manusia Indonesia sebagai Insan Indonesia Komprehensif dan Kompetitif (insan kamil/insan paripurna) yaitu insan Indonesia yang memiliki kecerdasan emosional dan sosial. memiliki Insan yang berkemampuan olah pikir. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan (UU No. Lebih lanjut ditegaskan dalam pasal 37 ayat (1) UU Sisdiknas. dan dengan semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Yang kurang baik diluruskan dan 19 . Ketiga. Mahasiswa ingin menyampaikan perubahan. dan buta aksara yang merupakan kesenjangan dapat dihabisi. Demontrasi mahasiswa meneriakkan kebenaran ingin merubah sesuatu adalah hal yang wajar dan perlu didukung. memelihara. meneliti. Lebih lanjut dikatakan bahwa penelitian adalah suatu kegiatan problem solving. Lebih lanjut dikatakan bahwa kalau perguruan tinggi tidak mengatakan kebenaran maka akan batal. hal ini perlu ditumbuhkan sifat empati dan simpati. dan ketujuh to tell the truth mengatakan kebenaran. fakultas dan/atau perguruan tinggi tersebut yang merupakan hak otonomi kampus. mengkaji. tapi menghimpun. EQ. Anarchis No. Keenam to change. Lebih lanjut dikatakan bahwa misi yang paling utama dalam kegiatan di perguruan tinggi bukan hanya mengajar. to teach.Makna Pendidikan setiap jurusan. menyatakan bahwa ada tujuh academic duty. merubah. SQ. budaya respect to others. `mengajar` mentrasfer ilmu dan pengetahuan dari seorang sumber kepada mahasiswa. bukan to report atau bukan buat repot. mengangkat temuan ilmiah dan sekaligus menyibak kegelapan secara terus menerus sehingga almoust everyday discovery. menjangkau. keempat. kita belum berbudaya menulis. Dr. Pertama. melayani bagaimana sampah-sampah berserakan. dengan merujuk pendapat mantan presiden dari negara maju. Tapi caranya. melayani bagaimana kemiskinan. belum berbudaya mem-publish. to discovery. Kedua. menguak tabir kegelapan. Menyikapi perubahan perilaku masyarakat yang menjurus pada perubahan tata nilai luhur budaya bangsa. to mentor. Sekretaris Jenderal Depdiknas pada acara Rembug Penguatan Nilai-nilai dan Budaya Luhur dalam rangka peningkatan Akhlak Mulia di Perguruan Tinggi di Universitas Muhammadiyah Surakarta beberapa waktu yang lampau. Ini yang berat karena apabila satu rukun belum dilaksanakan maka batal. adalah to publish. MS. empati (IQ. membimbing. Ir Dodi N Nandika. melayani masyarakat. mencari. dan RQ) sebagai alat dan bekal untuk Hijrah dari budaya yang sangat tidak beradab menjadi budaya santun. Yaitu. menggali. kemudian Kelima to reach beyond the wall. Critis Yes. berakhaqul karimah. mensiarkan kedunia. dan mentrasfer nilai-nilai budaya. Prof. karena dibalik proses belajar mengajar tadi ada mandat untuk berbudaya luhur. tapi masih berbudaya lisan. Tujuh kewajiban akademik dipundak perguruan tinggi yang merupakan rukun direkomendasikan untuk dilaksanakan oleh perguruan tinggi sehingga terjadi keseimbangan antara pendidikan yang bersifat membangun kemampuan iptek dan seni dan pendidikan yang bersifat pendidikan moral. budaya membaca.

Benturan yang terjadi dalam menyampaikan pendapat dapat dijadikan pola evaluasi dalam kegiatan yang lain sehingga kita tidak membiarkan rekan-rekan mengalami duakali kesalahan yang sama namun tetap dalam semangat menuju suatu perubahan. dilindungi oleh negara. kearifan lokal dan semangat nasional agar energi anggota masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat dapat disalurkan dengan efektif dan efesien. Kita harus mempunyai tekad bahwa Bangsa Indonesia bisa melepaskan diri dari masa-masa yang sulit setelah kita semua sudah ”dewasa” dengan belajar dari kesalahan masa lalu dan terus bekerja keras saling bahu membahu dengan menatap kedepan dengan penuh keyakinan bahwa dengan perbedaan tapi penuh makna kebersamaan akan merupakan kekayaan yang tiada tara nilainya bagi kejayaan bangsa Indonesia. Samsul Wahidin (hal. pendidik. akan tetapi juga menumbuh-kembangan potensi peserta didik dalam mengekspresikan ide dan gagasannya setelah mereka melihat keadaan yang tidak sesuai dengan harapan dan teori yang dipelajari. pengambil kebijakan. Mereka harus peka melihat ketimpangan dalam kehidupan masyarakat sekitar. Hanya kita yang bisa mengatur bangsa kita sendiri menuju kearah yang lebih baik. 20 . Hak asasi merupakan hak yang melekat pada manusia yang wajib dihormati oleh siapapun. dan pemerintah mendapat suatu masukan yang sangat berharga. KESIMPULAN Beberapa hal yang perlu kita sadari bersama adalah Bangsa Indonesia memiliki suatu konsep menuju suatu bangsa yang besar yang mempunyai jati diri sendiri walaupun kita belum mampu mewujudkannya. hukum. Dengan demikian peranan pengajar/pendidik bukan hanya menyampaikan target pembelajaran saja. Menurut Samsul Wahidin (dalam M Solly Lubis) menyatakan bahwa kebebasan merupakan syarat mutlak untuk mencapai suatu hak. Dengan demikian dalam menjamin pelaksanaaan hak asasi tersebut. 54-55) memandang bahwa kebebasan mengeluarkan pendapat merupakan sesuatu yang asasi. dan Pemerintah (UU No. dan pejabat yang berwewenang perlu memiliki suatu kearifan sosial. dijunjung tinggi. para penguasa. Semangat untuk mengadakan perubahan ini perlu “dibimbing” agar sesuai dengan harapan masyarakat luas dengan tidak mengesampingkan kepentingan masyarakat lainnya. 39 Tahun 1999 tentang HAM).Wukir Ragil seluruh pengajar menjadi transmitter yang memancarkan akhlak mulia didepan kelas.

h. nyaman dipandang. Hukum sebagai perangkat aturan yang paling dominan akan memberi makna bahwa sesuatu boleh dilakukan dan sesuatu tidak boleh dilakukan akan dapat berlaku efektif apabila terdapat keteladan dan tegas dalam menegakkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. dan menumbuhkan nilai budaya luhur berakhlaqul karimah dalam proses belajar mengajar. perilaku. serta berhasil menyentuh para pejabat yang berwenang untuk segera mengambil tindakan yang diperlukan. Melalui pendidikan dan keteladanan akan ditumbuh-kembangkan dan ditingkatkan komitmen untuk menjunjung nilai-nilai budaya luhur bangsa bagi peserta didik dalam bersikap. sejahtera. Perubahan sikap. d. berperilaku. efektif dan efisien. f. Kini Pemerintah sangat menghargai adanya perbedaan. g. keanekaragaman dan kemajemukan serta kebebasan menyampaikan pendapat yang direspon dengan sangat bersemangat oleh masyarakat. e. Pola ini harus dimanfaatkan oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan dalam merumuskan kebijakan maupun dalam proses pembelajaran. santun. ramah. membentuk dan mengembangkan watak dan kebiasaannya. c.Makna Pendidikan Dari uraian ringkas tersebut diatas dapat ditarik suatu benang merah bahwa: a. mengawal. aman dan damai. . menarik perhatian secara positif. dan menjunjung nilai luhur budaya bangsa masih ada dan melekat disanubari masyarakat Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa ini. 21 b. Sangat erat kaitan antara tata nilai kehidupan/budaya dalam masyarakat dengan norma-norma/ kaidah hukum di Indonesia ini akan selalu berkembang mengikuti perkembangan global dan kehendak masyarakat. suasana yang sejuk. Sifat kegotongroyongan. dan ekspresi dalam segala tindakan terjadi oleh masyaraakat karena adanya perubahan paradigma dari semula pemerintah sangat yakin dengan pola stabilitas akan dapat mewujudkan suatu kehidupan masyarakat yang tentram. disampaikan dengan dengan enak. kebinekaan. Satuan pendidikan memegang peranan penting dalam membimbing/mendampingi peserta didik. Penyampaian pendapat oleh warga belajar setelah melihat keadaan yang dianggap tidak sesuai dengan harapan dan teori yang pelajarinya adalah suatu yang wajar dan bukanlah merupakan penyimpangan terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia sepanjang penyampaian pendapat tersebut tidak mengganggu hak asasi orang lain dan melanggar norma yang berlaku dan hukum posistif.

l. DAFTAR RUJUKAN Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Nomor 165 Tahun 1999. Semangat masyarakat ini merupakan potensi. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. sehingga Pemerintah perlu melakukan pembinaan agar kehidupan berbangsa dan bermasyarakat yang selama ini sudah baik dapat ditingkatkan lagi atau setidak-tidaknya dipertahankan serta perlu ditumbuhkan sifat kritis yang konstruktif kepada masyarakat luas dalam mensikapi terhadap seluruh proses kebijakan pembangunan bangsa. Sebagai bangsa yang besar. sehingga terjadi penyimpangan dari koridor hukum maupun norma kehidupan dalam bermasyarakat. k.Wukir Ragil Pendidikan sebagai penguatan akhlak mulia membentuk karakter unggul dalam peningkatan wawasan kebangsaan memiliki sifat dinamis sesuai dengan perkembangan tata nilai dalam masyarakat. sehingga sebagian menganggap bahwa perubahan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah yang dirasa tidak sesuai harus dilawan dengan ketidaksetujuan dengan memfaatkan hak dan caranya sendiri tanpa mengindahkan jalur hukum yang harus ditempuh. dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886). m. masyarakat mengalami pelakuan yang dirasakan tidak sesuai dengan harapannya. Mereka merasa selalu dikekang dan tiada kebebasan berekspresi. kita akan dapat melepaskan masa lalu yang pahit dan menuju masa sejahtera dan damai dimasa mendatang apabila kita mampu memaknai perbedaan. Masyarakat dalam menyampaikan pendapat akan lebih bermakna dan tepat sasaran apabila dilakukan dengan arif dan sekaligus menghindari terganggunya hak orang lain. Perubahan dalam kebebasan ini dirasa oleh masyarakat sangat fantastis. dan pengawasannya. (Lembaran Negara Nomor Tahun 2003 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301) 22 . n. j. Pada masa lampau. pelaksanaan kebijakan. kini setelah mengalami perubahan maka masyarakat kurang siap dengan perubahan itu. i.

Artikel 2005-2006. Jurnal Transformasi Kependidikan dan Keagamaan. Vol. 4 September 2007. SH. Pengembangan Budaya Agama dalam Komunitas Sekolah. (sebuah Introspeksi). (Jakarta: Raajawali. 23 . Ir: Pendidikan Akhlak Mulia. Dr.Makna Pendidikan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Unversitas Muhammadiyah Surakarta tanggal 14 Juni 2008. 2). Cetakan 2). MA. I. N Dodi. Membangun Keluarga Bangsa dalam Prespektif Psikologi Islam. Achmad. MS. Wahidin Samsul H. Departemen Pendidikan Nasional. MA. Pustaka Pelajar. Penelitian Hukum Normatif. Jurnal Transformasi Kependidikan dan Keagamaan. Nandika. Vol. hal 15. (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 42. Prof. 3 September 2008 hal. Sukanto Soerjono dan Sri Mamudji. dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4496) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. 1986. Bahan Paparan pada Rembug Penguatan Nilai-nilai dan Budaya Luhur. Prof Dr. Mubarok. Dr. hal 16). Antologi. I. Teropong Pendidikan Kita. Prof. Tahun 2006. Hukum Pers. Religiusitas. Prof. Muhaimin. Religiusitas.

manajemen. seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku kepada bawahannya. pegawai. kepala sekolah. siswa. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan inovasi dan kreativitas. dan akuntabilitas 24 .Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. dan Dosen PPs UHAMKA Jakarta Abstrak Kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah adalah kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. 2) Inspirational Motivation. April 2009 KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM ERA OTONOMI DAERAH DAN BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA (Suatu Pendekatan Teoritis) Moh. Kompetensi dan akuntabilitas kepala sekolah merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan. sehingga semua unsur yang terlibat (guru. dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur. pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasehat. 3) Intellectual Stimulation. masyarakat. Suryadi Syarif Kepala SMA Budi Mulia Ciledug Tangerang. No. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. serta harapan bagi yang berkepentingan terhadap keberhasilan pendidikan di sekolah. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan Kata Kunci: Otonomi sekolah. Jabatan kepala sekolah merupakan jabatan yang tidak bisa diserahkan kepada setiap guru tanpa melihat apakah guru tersebut memenuhi kompetensi dan akuntabilitas yang dipersyaratkan. 4. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh indikator-indikator: 1) Idealized Influence. hak dan kewajiban. Keefektifan kedua komponen ini akan memberikan keyakinan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan. kepemimpinan. 1. 4) Individualized Consideration. orangtua siswa. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. kompetensi.

Hal ini bahkan telah menjadi amanat rakyat sebagaimana disebutkan dalam Ketetapan MPR-RI Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN yang menyebutkan bahwa salah satu visi pembangunan bangsa adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. dan inovatif.Kepemimpinan Kepala Sekolah PENDAHULUAN Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Depdiknas saat ini tengah melaksanakan desentralisasi pendidikan yang di dalamnya terlaksana manajemen berbasis sekolah. No. Manajemen berbasis sekolah merupakan bentuk alternatif sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan. Sedangkan kebijakan nasional yang menjadi prioritas pemerintah harus pula dilakukan oleh sekolah. kreatif. tetapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Otonomi diberikan agar sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta agar sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat setempat. terampil. teknologi.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan Peraturan Pemerintahan No. Desentralisasi pendidikan merupakan terobosan besar dalam pembangunan bangsa yang selama ini memakai paradigma top-down berubah menjadi paradigma bottom-up. dan industrialisasi sehingga mampu menghadapi persaingan global. 25 tahun 2000 maka sejumlah kewenangan dalam bidang pendidikan yang selama ini berada di pusat dilimpahkan kepada institusi penyelenggara pendidikan dalam bingkai pemerintah daerah. Terutama untuk menciptakan insan-insan pembangunan yang ahli. yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah. Sejalan dengan amanat tersebut. otonomi keilmuan dan manajemen. Masyarakat dituntut partisipasinya agar mereka lebih memahami pendidikan. Dalam manajemen berbasis 25 . serta mengontrol pengelolaan pendidikan. Pelaksanaan desentralisasi pendidikan dalam era otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang No. Kualifikasi sumber daya seperti ini sangat diperlukan jika Indonesia ingin menjadi negara yang berhasil dalam menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan. partisipasi masyarakat yang tinggi. Undang-Undang No.25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi. Untuk mewujudkan visi tersebut dalam GBHN 1999 telah dinyatakan bahwa salah satu arah kebijakan dalam pembangunan pendidikan adalah melakukan pembaharuan dan pemantapan sistem pendidikan nasional berdasarkan prinsip desentralisasi. membantu. Sesuai dengan PP.

Umumnya mereka tidak cocok untuk mengemban tanggung jawab manajerial. Pada tingkat paling operasional. Ada guru yang dipandang sebagai faktor kunci yang berhadapan langsung dengan para peserta didik dan masih ada lagi sejumlah masukan instrumental dan masukan lingkungan yang mempengaruhi proses pembelajaran. seorang guru dapat berharap bahwa jika "beruntung" suatu saat kariernya akan berujung pada jabatan kepala sekolah. ia adalah pemimpin pendidikan yang bertanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang kondusif yang memungkinkan anggotanya mendayagunakan dan mengembangkan potensinya seoptimal mungkin. Suasana seperti ini memberi ruang untuk saling belajar melalui keteladanan. Tentu saja kepala sekolah bukan satu-satunya determinan bagi efektif tidaknya suatu sekolah karena masih banyak faktor lain yang perlu diperhitungkan. Misalnya. bukan sekadar kompetensi kognitif. Namun. Dapat dibayangkan. belajar bertanggung jawab. Dalam praktek di Indonesia. bahwa kepala sekolah bukan manajer sebuah unit produksi yang hanya menghasilkan barang mati. seperti manajer pabrik yang menghasilkan sepatu. kepala sekolah dituntut untuk memiliki "accountability" baik kepada masyarakat maupun kepada pemerintah. banyak di antaranya yang tadinya berkinerja bagus sebagai guru. bagaimana nasib sekolah-sekolah kita jika dipimpin oleh orang-orang yang tidak kompeten. Suryadi Syarif sekolah. menjadi tumpul setelah menjadi kepala sekolah. dan akan tetap menjalaninya sampai pensiun. dan saling memberdayakan. Dalam kenyataan. Biasanya guru yang dipandang baik dan cakap sebagai guru diangkat menjadi kepala sekolah. kepala sekolah memainkan peran yang termasuk sangat menentukan. saling memotivasi. kepala sekolah adalah guru senior yang dipandang memiliki kualifikasi menduduki jabatan itu. studi yang dilakukan oleh Lightfoot seperti dikutip oleh Dharma (2004: 2). melalui pendekatan sosiologi tentang efektivitas sekolah menengah menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah memainkan peran yang sangat penting. Kepala sekolah diangkat untuk menduduki jabatan yang bertanggunggugat (accountability) mengkoordinasikan upaya bersama mencapai tujuan pendidikan pada level sekolah masing-masing. Lebih dari para manajer lainnya. Demikian pula dalam telaahan mutakhir tren dan isu manajemen pendidikan yang dikompilasi dalam ERIC (2002: 1-3). kepala sekolah adalah orang yang berada di garis terdepan yang mengkoordinasikan upaya meningkatkan pembelajaran yang bermutu. 26 . Dalam lingkungan seperti itu.Moh. para guru dan peserta didik termotivasi untuk saling belajar. Guru-guru seperti ini tentunya telah terperosok ke suatu jabatan yang mereka sendiri tidak memiliki kompetensi untuk itu. Jadi. serta belajar mengembangkan kompetensi sepenuhnya.

Sudah sejak lama pula para kepala sekolah berhadapan dengan situasi di mana mereka lebih banyak tergantung pada konteks dan periferal pekerjaannya. Oleh sebab itu. Sejalan dengan itu maka dalam studi ini akan dikaji kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah yang ditinjau dalam aspek kompetensi. diperlukan paradigma baru untuk menanggalkan ketergantungan yang selama ini telah merugikan para kepala sekolah yang sebagian sebenarnya mungkin telah bekerja dengan serius. Mereka sering berada pada posisi nirdaya dalam situasi ketika kepemimpinan mereka benar-benar diperlukan.Kepemimpinan Kepala Sekolah Kepala sekolah seharusnya berada di gardu paling depan dalam hal peneladanan. pemotivasian.” Uraian singkat di atas telah menunjukkan betapa tidak ringannya tanggung jawab seseorang sebagai kepala sekolah. dan institusi sekolah dalam pelaksanaan desentralisasi pendidikan dalam konsep manajemen berbasis sekolah pada tingkat pendidikan menengah. “tutwuri handayani. dan akuntabilitas kepala sekolah berkaitan dengan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan pada era otonomi daerah. pemerintah daerah. dan pemberdayaan itu. praktis pendidikan harus ditingkatkan ke arah yang lebih baik dalam arti relevansinya bagi kepentingan daerah maupun 27 . “ing madyo mangun karso”. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dipandang banyak pihak dapat memberi ruang gerak lebih longgar bagi kepala sekolah untuk meningkatkan mutu sekolahnya. Manfaat dari kajian ini adalah untuk memberikan bahan masukan bagi pemerintah pusat. Apakah ini barang baru? Sama sekali tidak karena jauh sebelumnya Ki Hadjar Dewantara telah berujar dengan pernyataannya yang terkenal: “ing ngarso sung tulodo”. Sudah sekian lama birokrasi pemerintahan negara kita tidak banyak membantu kepala sekolah mengatasi kerumitan itu. di mana sektor pendidikan juga dikelola secara otonom oleh pemerintah daerah. OTONOMI SEKOLAH Dalam era desentralisasi sekarang ini. Sebenarnya pekerjaan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di sekolahnya tidak pernah ringan. yaitu sekolah. Konsepnya bagus karena MBS adalah strategi untuk meningkatkan kemandirian para pengelola pendidikan dengan memindahkan wewenang pengambilan keputusan penting dari pemerintah pusat dan daerah ke level paling operasional. Hasilnya masih belum jelas karena penerapannya ternyata juga masih harus menunggu kerelaan birokrasi pendidikan untuk mendelegasikan kekuasaannya.

Dalam konteks ini. Agar penerapan desentralisasi dan otonomi pendidikan berhasil dengan baik. dan (4) pengawasan. melakukan analisis sasaran. menyusun rencana sekolah. dan mengarahkan seluruh staf sekolah untuk bekerja dan bertanggungjawab atas tugasnya masing-masing. 28 . wewenang. yang meliputi: 1) perencanaan. Suryadi Syarif kepentingan nasional. membimbing. Tahap-tahap pelaksanaan MBS meliputi: mensosialisasikan konsep MBS. (3) pengarahan. orangtua. Sebagai manajer ia harus mampu mengatur agar semua potensi sekolah dapat berfungsi secara optimal. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran.Moh. Pemberdayaan yang dimaksudkan adalah peningkatan kemampuan secara fungsional. 2) pengorganisasian. Dalam implementasi MBS fungsi-fungsi dan tugas-tugas kepala sekolah berubah dari manajer tingkat menengah ke pimpinan sekolah. dan tanggung jawabnya. Pengambilan keputusan partisipatif adalah cara mengambil keputusan yang melibatkan kelompok-kelompok yang berkepentingan. Esensi MBS adalah otonomi sekolah dan pengambilan keputusan partisipatif. Otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri dan berdasarkan pada aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. maka kepemimpinan kepala sekolah perlu diberdayakan. maupun pemerintah pusat dan daerah. mendorong para guru untuk aktif dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah dalam mengumpulkan informasi tentang belajar. Hal ini dapat dilakukan jika kepala sekolah mampu melakukan fungsi-fungsi manajemen dengan baik. otonomi pendidikan dalam konteks MBS harus dilakukan dengan selalu mengacu pada manfaat pendidikan bagi masyarakat. Tujuan MBS adalah untuk memandirikan dan memberdayakan sekolah. sekolah harus meningkatkan keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaannya guna meningkatkan kualitas dan efisiensinya. dan memberikan ganjaran kepada siswa. Manajemen sekolah saat ini memiliki kecenderungan ke arah school based management (manajemen berbasis sekolah). merumuskan sasaran. terutama yang melaksanakan keputusan dan yang terkena dampak keputusan. sehingga kepala sekolah mampu berperan sesuai dengan tugas. untuk itu maka sekolah-sekolah yang MBS-nya aktif seharusnya mempunyai kepala sekolah yang memainkan peranan kunci dalam mengendalikan dan meningkatkan komitmen belajar siswa. siswa. Peranan utama kepala sekolah dalam hal ini adalah memotivasi. Meskipun demikian. Kepala sekolah harus bertindak sebagai manajer dan pemimpin yang efektif. melakukan analisis SWOT.

4) Individualized Consideration. siswa. sehingga semua unsur yang terlibat (guru. Kepemimpinan transformasional lahir sebagai upaya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan eksternal yang berlangsung cepat. seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku bagi yang bawahannya. orangtua siswa. 2) Inspirational Motivation. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi berkembangnya inovasi dan kreativitas. Dimensi-dimensi perubahan pola manajemen dari yang lama menuju yang baru tersebut. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mencapai tujuan sekolah. Kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. secara konseptual maupun secara praktek tertera dalam MBS. Berdasarkan konsep dasar yang telah diuraikan di atas. sehingga menimbulkan persaingan yang semakin ketat. 3) Intellectual Stimulation. dan merumuskan sasaran baru. Kepemimpinan transformasional mampu membangun komitmen organisasi terhadap tujuan-tujuannya. Kepemimpinan transformasional menganggap kepemimpinan sebagai proses kerjasama antara pemimpin dan pengikutnya untuk mencapai tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Dari segi implementasi MBS. Keempat karakteristik kepemimpinan transformasional ini diyakini mampu menciptakan organisasi yang lebih tangguh dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan baru. melakukan evaluasi. adalah: 1) Idealized Influence. masyarakat.Kepemimpinan Kepala Sekolah mengimplementasikan rencana sekolah. pegawai. dan atau dorongan kepada semua unsur yang ada dalam struktur organisasi sekolah agar dapat bekerja atas dasar sistem nilai (values system) yang luhur. maka perlu dilakukan penyesuaian dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru manajemen pendidikan masa depan yang bernuansa otonomi yang demokratis. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. Perubahan dimensi pola 29 . sekaligus memberdayakan anggota organisasi untuk meraih tujuan-tujuan itu. 2004: 5). agar semua potensi yang ada di sekolah dapat berfungsi secara optimal. pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasihat (Rusdiyanta. seorang kepala sekolah perlu mengadopsi kepemimpinan transformasional. Pemimpin dituntut untuk mampu mengubah budaya organisasi agar konsisten dengan strategi manajemen. Menurut Bass empat karakteristik kepemimpinan transformasional.

Pendelegasian .pendidikan.Deregulasi . Pengambilan keputusan akan dilakukan secara partisipatif dengan mengikutsertakan pihak-pihak yang berpentingan sebesar-besarnya.Gunakan yang seefisien mungkin .Pendekatan Profesional .Subordinasi . KEPEMIMPINAN Kepemimpinan berasal dari bahasa Inggris leader yang berarti pemimpin dan leadership berarti kepemimpinan. Pemimpin adalah orang yang menempati posisi sebagai pimpinan.Ruang gerak kaku . Manajemen Pendidikan Masa Depan (http://www.Overregulasi .Pendekatan birokratik .Diatur .Motivasi diri ..Memfasilitasi . p.Pengambilan keputusan partisipasi .Gunakan uang semuanya .Mengelola resiko . Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi sekelompok orang dan mengarahkannya untuk mencapai tujuan tertentu.Organisasi herarkis Menuju ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> .Sentralistik .Moh.Mengontrol . Nanus dan Dobbs (1999: 7) mengutip beberapa definisi pemimpin atau kepemimpinan. 2.Otonomi .Desentralistik .Organisasi datar Pola baru Sumber: Eman Suparman. Tabel 1.Menghindar Resiko . yaitu: 1) seorang pimpinan adalah seorang penyalur harapan 30 .Pengambilan keputusan terpusat .net/. Suryadi Syarif manajemen pendidikan dari yang lama ke yang baru menuju MBS dapat ditunjukkan dalam tabel 1.Informasi terbagi .Mengarahkan . Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Pola lama .Ruang gerak luwes .Informasi terpribadi .Mempengaruhi . Mengacu pada dimensi-dimensi tersebut di atas. sedangkan kepemimpinan adalah kegiatan atau tugasnya sebagai pemimpin. 2004).Pemberdayaan . maka kepala sekolah dalam era otonomi sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya.

dan atau perasaan orang lain (Howard Gardner). yang diartikan sebagai seperangkat ciri-ciri yang menjadi atribut seseorang yang dipersepsikan sebagai seorang pemimpin. yakni hanya orang-orang yang berbakat memimpin yang mampu menjadi pimpinan.Kepemimpinan Kepala Sekolah (Napoleon Bonaparte). 4) pimpinan adalah orang yang bertanggungjawab membangun organisasi di mana orang-orang secara berkesinambungan mengembangkan kemampuan untuk memahami kerumitan. yaitu mempelajari kepemimpinan berdasarkan keterampilan yang dimiliki. 5) Kepemimpinan adalah proses persuasi atau membujuk sekelompok orang untuk mengikuti tujuan yang ditetapkan oleh pimpinan atau bekerjasama dengan pimpinan dan para pengikutnya (John W. Kepemimpinan dapat dijelaskan melalui dua sudut pandang. dan (3) komunikasi. Gardner). yaitu: (1) sudut proses. dan kompetensi komunikasi terkait dengan kemampuan menyampaikan pesan-pesan agar dapat dipahami orang lain Ciri-ciri seorang pemimpin dapat dijelaskan melalui tiga pendekatan yaitu: (1) kepemimpinan bawaan. dan (3) kepemimpinan situasional Pendekatan pertama. dan membantu menciptakan budaya kelompok atau organisasi. serta selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuannya (Peter M. (2) kepemimpinan perilaku. mengarahkan perilaku mereka untuk mencapai tujuan. bagaimana mengendalikan manusia dan sumber daya untuk mencapai tujuan (Thomas E. bekerjasama dan berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu. dan meningkatkan bentuk-bentuk mental kerjasama. 2) pemimpin adalah seseorang yang secara signifikan mempengaruhi pikiran. Senge). (2) adaptasi. Dalam upaya mencapai keberhasilan dalam mempengaruhi orang lain. 3) pemimpin adalah orang yang mengetahui apa yang dibutuhkan. Terlihat bahwa acuan untuk mendefinisikan kepemimpinan bervariasi bagi masing-masing pakar kepemimpinan. Namun inti dari definisi-definisi tersebut adalah mempengaruhi atau mengendalikan sekelompok orang untuk mentaati aturan. melakukan koordinasi kegiatan. perilaku. maka pimpinan harus memiliki tiga dasar kepemimpinan. dan (2) sifat yang dimiliki. Kompetensi diagnosa merupakan kemampuan kognitif untuk memahami situasi sekarang dan harapan pada masa mendatang. Pendekatan kedua. melaksanakan tugas tertentu. yaitu: (1) diagnosa. Croin). 31 . memandang kemampuan memimpin sebagai bawaan sejak lahir. yang berarti penggunaan pengaruh yang tidak memiliki kekuasaan memberikan sanksi untuk membentuk tujuan kelompok-kelompok atau organisasi. memperjelas visi. kepemimpinan berperspektif perilaku. apa yang benar. kompetensi adaptasi adalah kemampuan menyesuaikan perilaku dengan lingkungan.

Moh. yaitu: (1) perhatian terhadap bawahan. pengetahuan tentang tugasnya. dan 3) konseptual. bahaya secara fisik yang mungkin terjadi. Perbedaan manajemen dan kepemimpinan Aspek Menciptakan agenda Manajemen Perencanaan dan penganggaran: menetapkan rincian langkah-langkah dan rencana waktu untuk mencapai hasil yang diperlukan. kepemimpinan situasional dibangun berdasarkan asumsi bahwa tidak ada satu cara apapun yang dapat mengarahkan manusia untuk bekerja pada semua situasi. luas bidang pekerjaan. Pendekatan ketiga. Tabel 2. yakni keterampilan 1) teknik. yang mencerminkan derajat pentingnya waktu yang dimiliki. yang berarti kepedulian pimpinan atas keahlian. dan strategi untuk menghasilkan perubahanperubahan untuk mencapai visi Mengembangkan jaringan untuk mencapai agenda Mempersatukan orang: mengkomunikasikan arah dengan kata-kata dan tindakantindakan kepada mereka yang turut bekerjasama untuk menciptakan tim dan koalisi yang memahami visi dan strategi dan menerima kinerja . ataupun kesamaan sikap dan perilakunya dengan orang-orang yang di atasnya. kemudian mengalokasikan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai hal tersebut Pengorganisasian: menetapkan stuktur organisasi untuk mencapai persyaratan rencana. mendelegasikan tanggung jawab dan wewenang untuk 32 Kepemimpinan Menentukan arah: mengembangkan visi masa depan. yang mencerminkan derajat pelaksanaan pengaruhnya. Dalam menerapkan kepemimpinan sesuai dengan situasi yang di hadapi. mensetafi struktur tersebut dengan individu-individu. mampu mendiagnosa gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Suryadi Syarif Kepemimpinan perilaku secara garis besarnya dapat dibagi dalam tiga kategori. dan karakteristik psikologis. dengan demikian pemimpin harus memiliki perilaku yang fleksibel. 2) manusiawi. tingkat hirarkis. standar kesalahan yang ditolerir. seorang pemimpin harus memperhatikan tiga faktor utama. derajat kebebasan. sering masa depan yang panjang. kemampuan. pengalaman. dan derajat kekaburan pelaksanaan tugas. (3) perhatian terhadap tugas. serta mampu menerapkannya dalam situasi kepemimpinan sebenarnya. (2) perhatian terhadap atasan.

rencana secara rinci dan kemudian merencanakan dan mengorganisasi untuk menyelesaikan masalah tersebut Menghasilkan sesuatu yang dapat diramalkan.Kepemimpinan Kepala Sekolah melaksanakan rencana. berpendapat bahwa manajemen adalah proses perencanaan. sering bersifat dramatik. misalnya manajemen keuangan. menciptakan metode untuk memonitor pelaksanaan rencana. birokrasi untuk merubahnya untuk memuaskan kebutuhan manusia yang sangat mendasar tapi sering tidak terpenuhin. Keluaran Sumber: John P. menyediakan kebijakan dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang. Untuk jelasnya perbedaan antara manajemen dan kepemimpinan dapat dirujuk dari pendapat Kotter. dan atau program. Menghasilkan perubahan. seperti terlihat pada Tabel 2. Kotter (1990) dalam Wirawan (2003: 22). Memotivasi dan Menginspirasi: mengenerji orang untuk memecahkan rintangan politik. Eksekutif Pengontrolan dan Penyelesaian masalah: memonitor hasil vs. manajemen berhubungan dengan benda. untuk stakeholder lainnya sesuai dengan anggaran). dan mempunyai potensi secara konsisten mencapai hasilhasil tertentu yang diharapkan oleh berbagai stakeholder (misalnya pelanggan selalu tepat waktu. mereka. sedangkan kepemimpinan berhubungan dengan manusia. dan mempunyai potensi menghasilkan perubahan yang sangat berguna (misalnya produk baru yang diinginkan pelanggan. pengorganisasian. Manajer adalah orang yang mengerjakan sesuatu secara benar. persediaan. sedangkan pimpinan adalah orang yang mengerjakan suatu kebenaran. pengaturan dan pengawasan aktivitas anggota organisasi yang berhubungan dengan sumber daya 33 . Sehubungan dengan fungsi-fungsi manajemen. pendekatan baru yang membuat perusahaan lebih kompetetif). Kepemimpinan dan manajemen berbeda menurut sasarannya masing-masing. Steers (1985: 29).

informasi. yang dimaksudkan untuk mendukung semua fungsi organik). Perencanaan mengindikasikan bagaimana tujuan organisasi akan dicapai. atau situasi tertentu. dan pengawasan setiap kegiatan yang mengharuskan tanggung jawab untuk mencapai suatu hasil. dan koreksi terhadap standar kinerja. Dijelaskan dalam New Zealand Qualifications Authority (Curfis dan Thorp. Dengan demikian maka kompetensi adalah karakteristik pokok dari seseorang yang memungkinkannya untuk mencapai kinerja standar dalam tugas. pengorganisasian. KOMPETENSI Istilah “competent” sinonim dengan kata “sufficient” dan “adequate” yang berarti mampu. dan atau memadai. Jika menyebutkan seseorang yang “incompetent” selalu berarti “incapable” atau “unqualified” yang berarti tidak mampu mengerjakan tugas tertentu atau tidak memiliki kemampuan yang dipersyaratkan. Pengorganisasian meliputi pengembangan tujuan. desain mengembangkan organisasi. Manajemen sebagai suatu cara untuk melaksanakan fungsi eksekutif seperti perencanaan. Suryadi Syarif untuk mencapai tujuan. jabatan. Seseorang disebut kompeten untuk mengerjakan sesuatu berarti orang tersebut benar-benar dapat melakukan pekerjaan yang dimaksud. cukup. Manajerial memiliki fungsi-fungsi yang berbeda namun saling berhubungan. 2004: 1) bahwa kompetensi mencakup tidak hanya pengetahuan atau keahlian tetapi juga terapannya dalam usaha memenuhi kinerja standar yang dipersyaratkan. 34 . pengontrolan. yang secara bersama-sama merupakan proses manajemen. untuk itu dibutuhkan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam lingkungan atau situasi baru. Sedangkan pengawasan meliputi tiga elemen penting yaitu standar kinerja. pengarahan. pembagian tugas dan otoritas sehubungan dengan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. tetapi juga kemampuan pokok yang dipersyaratkan oleh pekerjaan tersebut. Kompetensi tidak hanya berhubungan dengan tugas saja. dan kompetensi lebih tertuju pada aksi atau hasil daripada proses belajar mengajar.Moh. deviasi terhadap standar kinerja. Di sekolah. Pada dasarnya keseluruhan fungsi-fungsi manajerial dapat dikelompokkan atas fungsi organik (merupakan penjabaran kebijaksanaan dasar atau strategi organisasi yang telah ditetapkan dan harus digunakan sebagai dasar tindakan) dan fungsi penunjang (kegiatan yang diselenggarakan oleh orang-orang atau satuan-satuan kerja dalam organisasi. berkompeten berarti menjadi sedikit memuaskan dan baik. sedangkan sangat baik dan baik sekali merupakan kategori yang lebih tinggi.

menggunakan fasilitas untuk mendorong usahanya dan memaksimalkan kualitas dan efisiensi hasil kerjanya. mengumpulkan informasi secara terstruktur dan terorganisir dan menggunakan pendekatan sistematis untuk memastikan pengumpulan informasi secara kolektif. Kompetensi Kepala Sekolah adalah kemampuan atau kecakapan yang diperlihatkan oleh seorang kepala sekolah ketika mengerjakan tugas-tugasnya. (5) Mengumpulkan informasi dan menganalisis pembentukan konsep. (4) Sensitif terhadap hubungan interpersonal dan organisasi. Contoh kompetensi yang didefinisikan dengan menggunakan pendekatan unsur kunci adalah: mengelola informasi dan materi untuk memudahkan dalam memperolehnya. Agar berhasil. 2) Definisi elemen kunci. (12) Komunikasi. (3) Ketegasan. (2) Keterampilan hubungan manusia. penyebarluasan. Melayani pelanggan dengan cara bekerja sama dengan para pelanggan secara efektif untuk mencapai tujuan usaha sendiri dan pelanggan. menetapkan skala prioritas untuk memastikan bahwa batas waktu kritis dapat dicapai. menggunakan pengetahuan hubungan informasi dan kepekaan politis dalam organisasi untuk menciptakan keputusan yang efektif. Setidaknya ada kesepakatan bahwa kepala sekolah perlu memiliki sejumlah kompetensi berikut: 1) Memfasilitasi pengembangan. yaitu kemampuan seseorang untuk bekerja secara efektif dalam pekerjaan yang ditekuninya. yaitu: (1) Komitmen terhadap misi sekolah. Di samping keterampilan ini kepala sekolah juga diwajibkan untuk memenuhi atau memiliki kompetensi sebagai seorang kepala sekolah. (11) Kemampuan berorganisasi dan pendelegasian. Seorang kepala sekolah yang efektif diperlukan adanya kompetensi dan keterampilan administrasi berikut: (1) Keterampilan teknis. meningkatkan kinerja seseorang dan kinerja orang lain dengan membangun. (5) Keterampilan kognitif. (9) Motivasi dan perhatian terhadap pengembangan. (6) Fleksibilitas intelektual. (8) Kemampuan beradaptasi secara taktis. dan pelaksanaan visi pembelajaran 35 . menggunakan. dalam hal ini memahami visi dan misi serta memiliki integritas yang baik saja belum cukup. (7) Persuasif dan memanajemeni interaksi.Kepemimpinan Kepala Sekolah Kompetensi mempunyai dua pengertian yang relevan: 1) Definisi langsung. dan memelihara hubungan antara pribadi secara efektif. (3) Keterampilan membuat konsepsional. Contoh kompetensi dalam definisi langsung adalah: bekerja sama dengan orang lain. (2) Orientasi kepemimpinan proaktif. yaitu kemampuan individu untuk mencapai kinerja yang efektif dan bekerja secara efektif untuk mencapai tujuan pekerjaan secara efisien. (10) Kontrol dan evaluasi. (4) Keterampilan pendidikan dan pengajaran. kepala sekolah harus memiliki kompetensi yang disyaratkan untuk dapat mengemban tanggung jawabnya dengan baik dan benar.

5) mengelola kurikulum. menanggapi. dan mempengaruhi lingkungan politik. 9) mengelola keuangan. 5) Memberi contoh tindakan berintegritas. 16) mengembangkan diri. dan efektif. yaitu: 1) memiliki landasan dan wawasan pendidikan. 10) mengelola hubungan sekolahmasyarakat. dan keterwakilan semua kebutuhan dan harapan pihak pemangku kepentingan pada umumnya. 3) memahami manajemen berbasis sekolah. 8) mengelola kesiswaan. menanggapi kepentingan dan kebutuhan komunitas yang beragam. 20) melakukan koordinasi. 17) mengelola waktu. 22) melakukan monitoring dan evaluasi. 21) mengambil keputusan secara terampil. moralitas. 7) mengelola sarana dan prasarana. dan budaya yang lebih luas. 4) Bekerja sama dengan orang tua murid dan anggota masyarakat. AKUNTABILITAS Akuntabilitas mencakup isu-isu profesionalisme. 13) memimpin sekolah. sehat. 24) menyiapkan. dan mempertahankan lingkungan sekolah dan program pengajaran yang kondusif bagi proses belajar peserta didik dan pertumbuhan profesional para guru dan staf. 2) Membantu. Istilah accountability serupa dengan istilah responsibility (tanggung jawab). 6) mengelola tenaga kependidikan. sosial. kinerja organisasi. 36 . 11) mengelola kelembagaan. 2) memahami sekolah sebagai sistem. dan 25) membuat laporan akuntabilitas sekolah. 12) mengelola sistem informasi sekolah. bukan hanya sekedar budaya organisasi atau gaya kepemimpinan yang diharapkan. inovasi dan jiwa kewirausahaan. Accountability didefinisikan sebagai kemauan untuk mengakui kewajiban dan keinginan orang lain untuk menerima tanggung jawab sepenuhnya atas tindakannya dan akibat-akibatnya. 3) Menjamin bahwa manajemen organisasi dan pengoperasian sumber daya sekolah digunakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman. dan memobilisasi sumber daya masyarakat. efisien. 18) menyusun dan melaksanakan regulasi sekolah. Suryadi Syarif yang dikomunikasikan dengan baik dan didukung oleh komunitas sekolah. melaksanakan dan menindaklanjuti hasil akreditasi.Moh. 15) memiliki dan melaksanakan kreativitas. Akuntabilitas merupakan kewajiban nyata dalam organisasi yang tidak mencari keuntungan. 23) melaksanakan supervisi. 4) merencanakan pengembangan sekolah. 6) Memahami. 14) mengembangkan budaya sekolah. Sedangkan responsibility adalah tugas yang dibebankan kepada seseorang sebagai akibat dari wewenang yang dimiliki. 19) memberdayakan sumberdaya sekolah. ekonomi. Dengan demikian maka disimpulkan bahwa 25 kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah lanjutan. membina.

tetapi juga mencakup pemeriksaan. dan akuntabilitas tidak dapat didelegasikan. 1999: 6-8). Definisi akuntabilitas ini konsisten dengan pengelolaan hasil. Accountability (pertanggungjawaban) mencakup bagaimana sumber daya yang diterima dapat dikelola dengan sebaik-baiknya untuk kegiatan-kegiatan yang menunjang pencapain tujuan yang dinyatakan (state goals). Perlu dicatat bahwa akuntabilitas yang efektif tidak hanya mencakup laporan kinerja. akuntabilitas menggambarkan aturan-aturan permainan dan harapan bagi manajemen. sehubungan dengan hasil-hasil yang dicapai dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan (Barrados. wewenang merupakan sesuatu yang didelegasikan. seseorang harus mencoba memenuhi harapan yang diuraikan oleh akuntabilitas. 37 . khususnya yang berkenaan dengan konsep tanggung jawab pribadi. Setiap hubungan ini bersifat khusus dan mempunyai tingkat formalitas dan kompleksitas tersendiri. dan konsekuensinya terhadap perorangan. Akuntabilitas adalah suatu keterhubungan mendasar dalam kewajiban untuk mendemonstrasikan. 2004: 1). dan kesepakatan yang mengikuti seluruh sivitas akademika dalam mengupayakan peningkatan mutu berkelanjutan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat . Akuntabilitas adalah suatu usaha untuk membantu para bawahan agar dapat melakukan aktivitas sesuai dengan yang telah didelegasikan dan secara pribadi bertanggungjawab atas pekerjaannya (Martin. misalnya antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. akuntabilitas seyogianya menjadi acuan dasar dalam mengembangkan perangkat peraturan. Bagi manajemen sekolah. pengaturan. Dan terminologi tanggung jawab itu sendiri juga biasanya berhubungan dengan moral. terutama untuk akuntabilitas antara rekan kerja yang mungkin setara atau independen. Tanggung jawab merupakan kewajiban untuk melaksanakan sesuatu karena menerima tugas (Schermerhorn. dan bertanggungjawab atas hasil yang dicapai. berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan dan sumber daya yang digunakan. Akuntabilitas adalah suatu dasar hubungan antara kewajiban untuk mendemonstrasikan. Definisi ini mencakup sejumlah ide yang dapat diterapkan dalam bidang hubungan akuntabilitas yang luas. Dalam hal ini. Pertanggungjawaban tersebut antara lain menyangkut derajat efisiensi dan kesesuaian dengan norma dan peraturan yang berlaku umum termasuk pertanggungjawabannya. memeriksa. Sebagai manajer. tindakan korektif secara tepat.Kepemimpinan Kepala Sekolah Tanggung jawab merupakan sesuatu yang ditugaskan. dan/atau antara Depdiknas pusat dengan daerah. memeriksa. dan tanggung jawab atas kinerja. 2004: 1). dan mencakup kewajiban untuk semua kelompok dalam hubungan akuntabilitas.

Moh. akuntabilitas dari kinerja sulit dicapai. yaitu: 1) kerangka kerja akuntabilitas. Hal ini diperlukan untuk memberikan pemahaman yang jelas atas tugas dan tanggung jawab. yaitu: 1) akuntabilitas antara para sekutu. dan otoritas yang berhubungan dengan pelaku-pelaku organisasi dalam suatu hubungan akuntabilitas. seperti penguatan dan atau sanksi. Suryadi Syarif Definisi akuntabilitas di atas memberikan beberapa perbaikan terhadap akuntabilitas tradisional. 2) membantu pelaporan. sehingga tidak hanya digunakan dalam hubungan hirarkis. definisi ini memungkinkan saling hubungan akuntabilitas antara para sekutu yang setara dan/atau indepeden. untuk siapa. menitikberatkan pada kewajiban antara semua sekutu dalam hubungan akuntabilitas. dalam hal ini apakah terdapat laporan yang efektif. tidak hanya antara bawahan dengan atasan seperti dalam konsep akuntabilitas tradisional. 2) akuntabilitas resiprokal. Kerangka kerja akuntabilitas mempunyai empat elemen yang berdasarkan pada prinsip-prinsip akuntabilitas yang efektif. Dalam penerapan prinsip-prinsip tersebut perlu memperhatikan dua aspek proses akuntabilitas. dalam hal ini apakah tersedia kerangka kerja akuntabilitas untuk mendukung hubungan akuntabilitas yang kuat. Proses akuntabilitas berdasar pada prinsip-prinsip yang efektif. Tanggung jawab dapat didelegasikan dari atasan kepada bawahan atau dalam hubungan kerjasama dapat didelegasikan kepada mitra kerja. Dokumentasi ini dapat membantu memperjelas hubungan akuntabilitas. 38 . 3) Persyaratan pelaporan. 4) membutuhkan pemeriksanaan dan penyesuaian. Hal ini biasanya direfleksikan dalam dokumen-dokumen yang memuat susunan pokok-pokok akuntabilitas. yaitu: 1) Tugas dan tanggung jawab. 3) keduanya penting dan berarti. setiap kelompok bertanggungjawab tidak untuk mencapai hasil tetapi juga bagaimana mencapai hasil tersebut. Kerangka kerja yang tepat adalah sangat penting untuk menciptakan akuntabilitas yang efektif. dan penyesuaian laporan. Bagian-bagian dari suatu hubungan akuntabilitas perlu dijelaskan terutama tentang informasi apa yang akan dilaporkan. dan kapan dilaporkan. 4) Mekanisme pemeriksaan dan penyesuaian. pemeriksaan. Jika harapan tidak jelas. 2) Kinerja yang diharapkan. menetapkan suatu dasar untuk penilaian dan tidak merubahnya sebelum individu dalam pengaturan tersebut berubah. kewajiban. akuntabilitas mencakup tidak hanya laporan kinerja tetapi juga analisis dan refleksi terhadap kinerja tersebut menimbulkan perubahan yang tepat untuk perbaikan dan memberi konsekuensi yang tepat agar dapat membantu individu tersebut. Saling memahami dan harapan yang diterima termasuk kontribusi apa yang diharapkan dari masing-masing bagian dan sejauhmana ketepatan penggunaannya akan dapat memperkuat hubungan akuntabilitas.

KESIMPULAN Kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah adalah kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku kepada bawahannya. masyarakat. kejelasan diperlukan atas bagaimana dan siapa yang akan melakukan pemeriksaan dan penyesuaian. siswa. Kompetensi yang dimaksud adalah pola perilaku yang dibutuhkan oleh kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya agar dapat berfungsi sesuai dengan kemampuan atau kecakapan yang diperlihatkan ketika mengerjakan tugas-tugasnya. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. dan pemerintah. Terdapat beberapa hal pokok yang diperhatikan berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekolah. pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasehat. Hal ini merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan dan harapan bagi yang berkepentingan. Kepala sekolah dituntut untuk memiliki akuntabilitas kepada sekolah.Kepemimpinan Kepala Sekolah Akhirnya. dan pemerintah. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh: 1) Idealized Influence. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. Akuntabilitas ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan. 3) Intellectual Stimulation. orangtua siswa. bagaimana perbaikan harus dilaksanakan untuk meningkatkan kinerja. 2) Inspirational Motivation. masyarakat. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan inovasi dan kreativitas. dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur. Sedangkan akuntabilitas yang dimaksud adalah keterhubungan mendasar antara 39 . dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam proses peningkatan mutu. 4) Individualized Consideration. di antaranya adalah kompetensi dan akuntabilitas. sehingga semua unsur yang terlibat (guru. pegawai. Setiap kepala sekolah harus memberikan laporan pertanggungjawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua. masyarakat.

Inc. akuntabilitas secara bersama-sama dengan kepemimpinan kepala sekolah. M. S. dan tanggung jawab atas kinerja. 2004. Untuk itu terefektifkannya ketiga komponen tersebut dalam kepemimpinan maka diharapkan akan dapat meningkatkan kinerja kepala sekolah. J.ca/domino/aogbvg. 2004. Leaders Who Make a Difference: Essential Strategies for Meeting the Nonprofit Challenge. 1994. sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi sekolah. ERIC: http://www. Dengan demikian maka berdasarkan penalaran ini diduga bahwa terdapat hubungan positif antara kompetensi. New York: Delmar Publishers.eric. serta harapan bagi yang berkepentingan terhadap keberhasilan pendidikan di sekolah.1999. Curfis.measuring/%20competency.gc. Pendidikan Network: http://pendidikan. San Fransisco: Jossey-Bass Publisher.. dan penggunaan sumber daya tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan. Modernizing Accountability in the Public Sector (Report of the Auditor General of Canada: http://www. pencapaian tujuan. July 1993: http://www. B.oagbvg. T. & Dobbs.uoregon.. Dharma.. R. 2004. Standar Kompetensi Kepala Sekolah. kesejahteraan. Schermerhorn. al. 40 .defining%20..M.Moh. W. Jr. Nanus. Defining Competency (New Zealand. nst/htm. Clearinghouse: Educational Manajemen Trend and Issues: the Role of School Leader.net/.edu. Comstock.pdf. Fundamentals of Supervision: The First Line Manajemen at Work. D. inc. ERIC. et. DAFTAR RUJUKAN Barrados. Keefektifan kedua komponen ini akan memberikan keyakinan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan. & Thorp.. 2004. memeriksa. Agus. New York: John Wiley & Sons. hak dan kewajiban. G. Kompetensi dan akuntabilitas kepala sekolah adalah merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan. Management. 1999. 2002. Suryadi Syarif kewajiban untuk mendemonstrasikan.

Wirawan. Suparman.net/. R. Kapita Selekta Teori Kepemimpinan: Pengantar untuk Praktek dan Penelitian. Jakarta: Yayasan Bangun Indonesia dan Uhamka Press. Managing Effective Organization. 41 . 2004. 2003. Eman.M. USA: Kent Publishing Company. pendidikan.Kepemimpinan Kepala Sekolah Steers. 1985. http://www. Manajemen Pendidikan Masa Depan.

Pertama. bahkan sangat 42 . sekolah dipandang sebagai institusi publik yang harus dapat memuaskan customer-nya. bahwa publik sekarang telah mengalami perubahan sejalan dengan gerakan reformasi secara nasional. selain harus menguasai berbagai hard skill. dan satuan pendidikan sekolah. 4. publik di bidang pendidikan adalah customer yang harus ditingkatkan kepuasannya. responsif dan antisipatif terhadap berbagai kebutuhan. melainkan melayani kepentingan publik. juga menguasai berbagai shoft skill yang senantiasa ditampilkan pada saat memberikan pelayanan prima sekaligus memuaskan kepada customer-nya. Perspektif TQM ini. dan sesuai harapan-tidaknya. tenaga adminsitrasi. Pada hal. Tenaga administrasi sekolah haruslah menunjukkan perilaku sebagai seorang pelayan publik yang pro aktif. Paradigma pelayanan publik di tingkat satuan pendidikan sekolah patut digeser dari yang konvensional menuju ke kondisi yang senantiasa ter-update.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. termasuk dalam institusi pendidikan sedikitnya disebabkan dua hal. April 2009 PERILAKU TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH DALAM PELAYANAN PUBLIK DI TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Ali Imron Universitas Negeri Malang Abstrak Dalam perspektif total quality management (TQM). No. 1. dalam perspektif total quality management (TQM). Temuan kurang baiknya sistem pelayanan publik. memuaskan-tidaknya. Pelayanan publik. termasuk di bidang pendidikan. mendapatkan momentum tepat ketika reformasi di berbagai bidang digulirkan di negeri ini. Oleh karena itu. termasuk di dalamnya adalah reformasi pelayanan publik di bidang pendidikan. sehingga publik yang semula tidak berdaya (powerless) menjadi berdaya. yang berupa ketrampilan teknis. PENDAHULUAN Lembaga pendidikan dalam berbagai jenis dan tingkatannya diselenggarakan pada hakekatnya bukan untuk melayani dirinya sendiri. aspirasi dan harapan stake holders sekolah sesuai Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. Kata kunci: Perilaku. sering menjadi sorotan terutama kalau sudah menyangkut aspek kecepatan pelayanannya. agar ketika dibutuhkan berada dalam keadaan on-service. pelayanan publik.

Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah

berdaya (powerfull). Kedua, kenyataan di lapangan menunjukkan SDM institusi pendidikan belum memberikan pelayanan publik yang memuaskan. Pada latar institusi persekolahan, kedua alasan tersebut jika diruntut akan berujung pada persoalan tenaga kependidikan di sekolah. Salah satu dari tenaga kependidikan di sekolah yang banyak terkait langsung dengan pelayanan adalah tenaga administrasi sekolah. Ketatausahaan sendiri, dalam keseluruhan manajemen pendidikan di sekolah, adalah supporting system yang sangat menentukan keberhasilan sekolah secara keseluruhan. Dalam perspektif yuridis, setidaknya menurut Undang-undang nomor 20 tahun 2003 beserta peraturan perundangan-undangan turunannya, tenaga kependidikan (termasuk di dalamnya adalah tata administrasi sekolah), adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Pendidik dan tenaga kependidikan (termasuk tenaga administratisi sekolah) berkewajiban: menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Guna melaksanakan tugas-tugas administrasi sekolah, menurut Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah, dilakukan oleh tenaga administrasi sekolah/madrasah, yang terdiri atas kepala tenaga administrasi sekolah/madrasah, pelaksana urusan, dan petugas layanan khusus. KONDISI IDEAL PELAYANAN PUBLIK Menurut Lembaga Administrasi Negara (2000), pelayanan publik (public service) adalah pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah, termasuk institusi sekolah, baik dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pelayanan publik merupakan salah satu perwujudan dari fungsi aparatur negara sebagai abdi masyarakat disamping sebagai abdi negara. Pelayanan publik juga merupakan pelaksanaan dari peraturan pemerintah atau pihak lain yang terkait. Pelayanan publik juga dimaksudkan untuk mensejahterakan masyarakat, karena dengan pelayanan publik yang baik, diharapkan masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya. 43

Ali Imron

Pelayanan publik pada dasarnya merupakan kombinasi dari berbagai fungsi yang titik tekannya tergantung lembaga dan personel yang menerapkannya. Fungsifungsi yang harus dikombinasikan dalam penerapan pelayanan publik yang handal meliputi fungsi instrumental, politik, katalis, public interest, dan entrepreneurial (Sunaryo, 2005). Fungsi instrumental berkenan dengan menjabarkan perundang-undangan dan kebijakan publik ke dalam kegiatan rutin. Hal ini terkait dengan sosialisasi kebijakan yang berlaku bagi kegiatan tertentu yang berkaitan dengan pelayanan publik. Masyarakat butuh kejelasan kebijakan untuk urusan-urusan yang menyangkut dirinya. Semakin jelas kebijakan apa yang diterapkan untuk menyelesaikan urusan tertentu bagi masyarakat, maka semakin baik pula pelayanan publik tersebut. Tenaga administrasi sekolah memegang peranan penting dalam fungsi instrumental ini, karena lalu lintas informasi yang terkait dengan undang-undang dan peraturan pemerintah senantiasa melewati mereka. Fungsi politik pelayanan publik berarti memberikan input yang dapat berupa saran dan informasi. Berarti bahwa dalam pelayanan publik diperlukan tambahan informasi kepada masyarakat untuk memperjelas sistem pelayanan publik yang diberikan. Tenaga administrasi sekolah banyak berperan sebagai informan berbagai kebijakan sekolah kepada stake holders-nya. Pelayanan publik tidak boleh meninggalkan interes dan aspirasi masyarakat yang memerlukan pelayanan. Hal ini sesuai dengan fungsi katalis public interest. Interes dan aspirasi masyarakat diintegrasikan dengan kebijakan dan keputusan pemerintah atau pihak lain pembuat kebijakan pelayanan publik, dan diimplementasikan dalam bentuk layanan konkret oleh tenaga administrasi. Fungsi entrepreneurial, yang berkenaan dengan memberi inspirasi bagi kegiatan-kegiatan inovatif dan non-rutin. Dalam pelayanan publik diupayakan ada ruang untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan agar mempermudah, mempermurah dan mempercepat serta memperakurat data/informasi dalam pelayanan publik. Jika perlu, boleh menyimpang dari kelaziman asal tidak keluar dari koridor aturan dan misi sekolah. Di sinilah peran strategis tenaga administrasi ditantang, bagaimana agar lembaganya tetap akuntabel secara administratif. Birokrasi publik (termasuk birokrasi sekolah dikatakan profesional) manakala dalam pelayanan publik menunjukkan perilaku bertanggungjawab. Konsep tanggungjawab dibedakan menjadi 3, yaitu responsibilitas (responsibility), akuntabilitas (accountability), dan responsivitas (responsiveness) para pemberi layanan (Widodo, 2004). Responsibilitas diartikan sebagai kemampuan untuk 44

Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah

melaksanakan apa yang menjadi tugas pokok, fungsi, kewenangan, dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Tanggungjawab berarti capable to do atau professionality dan rasa tanggungjawab (sense of responsibility). Profesional berarti bahwa tatausahawan dituntut memiliki kecakapan teknis yang memadai dalam menjalankan tugas pokok, fungsi, kewenangan, dan tangungjawab dalam pelayanan publik. Dengan memiliki kecakapan teknis, mereka dapat menjalankan tugas dan tanggungjawab secara efektif, efisien, dan produktif. Rasa tanggungjawab berarti tenaga administrasi sekolah melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya secara serius meskipun tidak ada pihak lain yang mengawasinya. Tenaga administrasi tetap menjaga keberpihakan kepada kepentingan publik, meskipun untuk melakukan penyelewengan bagi mereka cukup terbuka. Akuntabilitas merupakan kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja atas tindakan seseorang/pimpinan/badan hukum suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. Untuk kepentingan ini, tenaga administrasi sekolah hendaknya bersikap transparan (transparency) dan terbuka (openness) atas apa yang ditanyakan publik. Tenaga administrasi dinyatakan akuntabel manakala mereka dinilai secara obyektif oleh masyarakat telah dapat mempertanggungjawabkan segala macam perbuatan, sikap, dan sepakterjangnya kepada publik. Responsivitas diartikan sebagai daya tanggap tenaga administrasi terhadap apa yang menjadi permasalahan, kebutuhan, keluhan, dan aspirasi publik yang dilayaninya. Dengan demikian, tenaga administrasi sekolah dikatakan responsif (cepat tanggap dan cepat menanggapi) yang tinggi jika tanggap terhadap permasalahan, kebutuhan, keluhan, dan aspirasi stake holders sekolah yang dilayani. Sunarto (2005) menyatakan bahwa prinsip-prinsip dalam pelayanan publik meliputi: berdayakan masyarakat, yang dapat berupa penciptaan iklim kebebasan untuk berprakarsa dan berkreasi bagi masyarakat; optimalkan pelayanan publik, yakni pelayanan masyarakat yang efisien, adil, mudah dan mendekatkan unit pelayanan ke masyarakat; buka ruang partisipasi publik, dimana dalam manajemen di lembaga pendidikan sedapat mungkin (jika perlu) melibatkan masyarakat dalam merencanakan, pengorganisasikan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan; dan ubah gaya kerja personel lembaga pendidikan, yang semula ingin dilayani menjadi pelayan bagi masyarakat yang memerlukan.

45

sehingga menyulitkan bagi mereka yang memerlukan pelayanan tersebut. pelayanan dilaksanakan dengan apa adanya.Ali Imron KONDISI RIIL PELAYANAN PUBLIK Menurut hasil survey yang dilakukan UGM pada tahun 2002. Keenam. Kondisi ini terjadi pada hampir semua tingkatan unsur pelayanan. Kedelapan. Berbagai unit pelayanan yang terkait satu dengan lainnya sangat kurang berkoordinasi. Kelima. Pelayanan pada umumnya dilakukan dengan melalui proses yang terdiri dari berbagai level. sebagaimana dikedepankan oleh Imron (2007). Berbagai persyaratan yang diperlukan (khususnya dalam pelayanan perijinan) seringkali tidak relevan dengan pelayanan yang diberikan. sehingga menyebabkan penyelesaian pelayanan yang terlalu lama. Berbagai unit pelaksana pelayanan terletak jauh dari jangkauan masyarakat. kemungkinan tenaga administrasi untuk dapat menyelesaikan masalah sangat kecil. maupun harapan masyarakat seringkali lambat atau bahkan diabaikan sama sekali. aspirasi. Pertama. lambat atau bahkan tidak sampai kepada mereka. kurang koordinasi. Dalam kaitan dengan penyelesaian masalah pelayanan. Akibatnya. Pada umumnya aparat pelayanan kurang memiliki kemauan untuk mendengar keluhan/saran/aspirasi dari masyarakat. Namun jika dilihat dari sisi efisiensi dan efektivitas. dan kesamaan perlakuan (tidak diskriminatif) masih jauh dari yang diharapkan. 46 . Akibatnya. Kedua. masih terlalu birokratis. Temuan Mohamad. berbagai masalah pelayanan memerlukan waktu yang lama untuk diselesaikan. tanpa ada perbaikan dari waktu ke waktu. dan di lain pihak kemungkinan masyarakat untuk bertemu dengan penanggungjawab pelayanan. masih kurang informatif. juga sangat sulit. mulai pada tingkatan petugas pelayanan (front line) sampai dengan tingkatan penanggungjawab institusi. Ketujuh. Respon terhadap berbagai keluhan. Berbagai informasi yang seharusnya disampaikan kepada masyarakat. Keempat. sering terjadi tumpang tindih ataupun pertentangan kebijakan antara satu instansi pelayanan dengan instansi pelayanan lain yang terkait. masih menunjukkan inefisien. kurang mau mendengar keluhan/saran/aspirasi masyarakat. responsivitas. bahwa secara umum stakeholders menilai bahwa kualitas pelayanan publik mengalami perbaikan setelah diberlakukannya otonomi daerah. masih kurang responsif. kurang accessible. bahwa pelayanan yang dilakukan oleh institusi publik paling tidak ditunjukkan dengan kondisi sebagai berikut. dalam rangka menyelesaikan masalah yang terjadi ketika pelayanan diberikan. Akibatnya.

menjadi berorientasi pada pelanggan sekolah. Oleh karena itu.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah MENGGESER PARADIGMA PELAYANAN PUBLIK DI SEKOLAH Sekolah (terutama yang berstatus negeri) adalah ujung tombak terdepan dalam pelayanan publik di lingkungan Depdiknas. dan memperhatikan hukum pelanggan (termasuk dalam hal ini hak-hak pelanggan sekolah) (Ramalia dalam LAN. Sekolah diharapkan memposisikan pelanggan sebagai hal yang paling depan. Untuk dapat menjalankan fungsi yang memuaskan pelanggan. Yang semula sekolah lebih banyak melayani kebutuhan birokrasi yang lebih tinggi dan kemungkinan sekolah sendiri minta dilayani masyarakat. Salah satu cara yang dapat digunakan sekolah agar dapat melayani masyarakat dengan prima adalah kemauan untuk menggeser paradigma birokrasi yang lebih sibuk dengan urusan internal. bagi sekolah tidak lepas dari kreatifitas tata usahawannnya. Untuk mewujudkan dan mempertahankan kepuasan pelanggan sekolah. Dalam persoalan pendidikan anak. sekolah haruslah responsif dalam menyikapi kemauan masyarakat tanpa mengorbankan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan sekolah. Tenaga administrasi sekolah perlu kreatif mengidentifikasi masalah-masalah yang sedang maupun yang akan dihadapi dalam praktik pemberian layanan sehari-hari. mengidentifikasi kembali siapa pelanggan sekolah tersebut. memperhatikan kebutuhan dasar dan keinginan pelangggan. Stakeholder dalam arti luas dilibatkan dalam pembuatan keputusan utamanya berkenaan dengan kepuasan pelayanan publik di sekolah. Pelayanan pelanggan sekolah diartikan sebagai proses yang secara sadar dan terencana yang dilakukan oleh sekolah melalui pemberian pelayanan kepada pelanggan agar pelanggan mencapai kepuasan secara optimal. Di sini peran personel hubungan masyarakat. perlu perubahan paradigma birokrasi di sekolah. Petama. 2001). Harapan tingkat kepuasan pelanggan. Oleh sebab itu. orang tua dan masyarakat selalu menginginkan agar anaknya mendapatkan pendidikan terbaik dan mendapatkan pelayanan yang prima. Dalam meningkatkan daya saing sekolah. Hal ini sebagai upaya untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi dan upaya mengantisipasi pemecahan masalah yang kemungkinan akan dihadapi pada masa yang akan datang. perlunya memahami tingkat harapan pelanggan sekolah atas kualitas pelayanan. pelanggan dipakai sebagai sasaran pencapaian tujuan. Sekolah selalu mendengar suara pelanggan. penting 47 . Kedua. dapat dilakukan 4 hal sebagaimana pendapat Ramalia (2001). dengan bantuan staf tata usaha haus dilakukan. maka diubah agar sekolah lebih responsif dalam memberikan pelayanan yang bersifat memenuhi kebutuhan pelanggan atau masyarakat yang memerlukan.

kegiatan ekstrakurikuler. Standar pelayanan yang dipakai sebagai tolak ukur adalah standar pelayanan prima. Pada pasal 35-37 dinyatakan sebagai berikut: Tenaga kependidikan pada: a. dan (9) menuntut keadilan. Lebih lanjut Ramalia (2001) mengemukakan bahwa layanan pelanggan sekolah yang baik memperhatikan sembilan aspek keinginan pelanggan sebagai berikut: (1) bebas membuat keputusan.Ali Imron diketahui sebagai acuan untuk menentukan tujuan dan tolak kepuasan pelanggan. Tanpa tolak ukur yang jelas. Keempat. jenis tenaga kependidikan (termasuk tenaga administrasi atau tenaga asministratif) diatur menurut jalur. Ketiga. (4) mendapatkan perlakuan secara adil. (7) merasa aman dan dilindungi haknya. 48 . Diantaranya. Dengan umpan balik akan dapat diketahui hal-hal mana yang perlu diperbaiki dan mana yang perlu dipertahankan atau ditingkatkan. proses belajar mengajar. dan pendidikan moral. POSISI STRATEGIS TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH Berdasarkan ketentuan dalam Standarisasi Nasional Pendidikan. bahwa sekolah hendaknya mengikutsertakan pembuatan keputusan bagi pelanggannya. TK/RA atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala TK/RA dan tenaga kebersihan TK/RA. Pelanggan perlu diikutsertakan dalam perencanaan hal-hal penting bagi keberlanjutan pelaksanaan pendidikan anak-anak di sekolah. Peranan staf tata usaha sebagai supporting system di sekolah sangatlah penting. (5) diterima dan disambut secara baik. (6) diberitahukan segala sesuatu yang terjadi. Umpan balik penting untuk mekanisme perencanaan dan pelaksanaan pelayanan berikutnya. maka kepuasan pelanggan atau pengguna jasa pelayanan di sekolah sulit diketahui. jenjang. (2) memperoleh hasil sesuai dengan keinginan. Perubahan paradigma yang disikapi oleh sekolah dalam hal ini cukup banyak. (3) mempertahankan harga diri. antara lain penentuan pelaksanaan kurikulum sekolah. dan jenis pendidikan. memahami siklus pengukuran dan umpan balik dari kepuasan pelanggan. Hal ini dapat dicapai melalui strategi yang dapat menjamin kualitas pelayanan prima yang didukung pula oleh personel pelayanan yang prima. memahami strategi kualitas layanan pelanggan yang terwujud dalam standar pelayanan prima. (8) didudukkan sebagai orang penting.

dan terapis. rincian biaya dan tata cara pembayaran pelayanan (jika ada). Agar pelayanan publik yang dilakukan oleh tenaga administrasi sekolah dapat optimal. dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang memerlukan pelayanan. tidak berbelit-belit. tenaga perpustakaan. Keamanan. tenaga administrasi. utamanya yang memerlukan pelayanan publik. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. ketepatan waktu dan kuantitatif. mudah dipahami. ekonomis. tenaga administrasi. dimana persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan. c. SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat dan SMA/MA. Paket A. Faktor keterbukaan. tenaga administrasi. Sistem pelayanan publik dengan sederhana perlu dilaksanakan. SMPLB. tenaga administrasi. artinya bahwa pelayanan publik dilaksanakan secara mudah. keterbukaan. Kejelasan dan kepastian tentang prosedur/tata cara pelayanan. artinya segala hal yang berkenaan dengan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat diberitahukan secara terbuka kepada masyarakat yang dilayani. tenaga perpustakaan. unit kerja atau personel yang bertanggungjawab memberikan pelayanan. Kriteria lain adalah efisiensi. tenaga laboratorium. atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. tenaga perpustakaan. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. dan jadwal waktu penyelesaian pelayanan. mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia (penerima layanan) masih berpendidikan rendah. dan SMALB atau bentuk lain yang sederajat sekurangkurangnya terdiri atas kepala sekolah. 49 . tenaga perpustakaan. kejelasan dan kepastian. d. Paket B dan Paket C sekurang-kurangnya terdiri atas pengelola kelompok belajar. pekerja sosial. f. e.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah b. Kesederhanaan. psikolog. tenaga administrasi. tepat. keadilan. yakni kesederhanaan. teknisi sumber belajar. tenaga laboratorium. keamanan. SDLB. dan tidak boleh ada pengulangan persyaratan. tenaga kebersihan sekolah. SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. efisiensi. Tentang hal ini perlu diinformasikan secara jelas kepada masyarakat luas. persyaratan pelayanan. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. dimana proses dan hasil pelayanan dapat memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat yang dilayani. cepat. ada beberapa kriteria. dan tenaga perpustakaan. tenaga laboratorium.

Faktor ketepatan waktu. meluangkan waktu melebihi dari waktu yang ditetapkan dalam memberikan layanan administrasi kepada customer. dan frekuensi keluhan dan pujian dari masyarakat yang diberi layanan. artinya pelayanan kepada masyarakat harus tepat waktu sesuai yang ditentukan dan diinformasikan kepada masyarakat. Terkait dengan relevansi layanan. Tenaga administrasi sekolah dapat memposisikan diri sesuai dengan TUPOKSI dalam memberikan layanan kepada customer. jika dirasakan perlu. Tenaga administrasi sekolah memahami ketepatan waktu sangat penting diperhatikan dalam memberikan layanan kepada customer. Faktor keadilan dan merata. sejumlah perilaku pelayanan haruslah dapat diinternalisasikan dan bahkan ditunjukkan oleh tenaga administrasi dalam memberikan layanan kepada customer-nya. 3. 4. berarti biaya pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhatikan nilai barang dan jasa pelayanan. menyangkut waktu. 50 . dan ketentuan perundangan yang berlaku. penggunaan perangkat teknologi modern untuk memperlancar pelayanan. yaitu: 1.Ali Imron Kriteria ekonomis. 2. 2007). Sejumlah perilaku pelayanan tersebut. perilaku berikut haruslah dapat ditunjukkan. dimana jangkauan pelayanan diusahakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata dan diberlakukan secara adil bagi seluruh lapisan masyarakat. proaktif. Tenaga administrasi sekolah selalu mengusahakan memberikan layanan kepada customer lebih cepat dari batasan waktu yang ditetapkan. kecermatan. kondisi/kemampuan masyarakat. helpful dan friendly. Tenaga administrasi sekolah mengetahui target waktu yang diperlukan untuk memberikan layanan kepada customer. Terkait dengan waktu. yakni jumlah masyarakat yang dilayani naik atau turun. PERILAKU TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH Agar pelayanan publik di sekolah bisa memuaskan customer. perilaku berikut haruslah dapat ditunjukkan: 1. 2. Tenaga administrasi sekolah menyadari keterkaitan TUPOKSI dengan keseluruhan layanan administrasi di dalam maupun di luar unit kerja. kapabel dan cakap (Imron. Yang terakhir adalah faktor kuantitatif. profesionalitas. Tenaga administrasi sekolah. responsif. rata-rata lamanya waktu pelayanan. semua itu terdata secara kuantitatif sebagai upaya terus menerus mengembangkan pelayanan kepada masyarakat.

Tenaga administrasi sekolah menyadari.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah 3. Agar tenaga administrasi bisa cermat dalam memberikan pelayanan. Tenaga administrasi sekolah memiliki sense perfective atas segala layanan yang dilakukannya. perilaku demikian akan ditunjukkan manakala: 1. . 2. Tenaga administrasi sekolah menggunakan peralatan bantu untuk kecepatan dan ketepatan proses dalam memberikan layanan kepada customer. 6. 5. karena itu ia senantiasa berpikir bahwa keberadaaan dirinya adalah untuk membantu mereka. Tenaga administrasi sekolah menyadari. 3. Tenaga administrasi sekolah memahami dan mampu mempraktikkan TUPOKSI-nya dalam rangka pemberian layanan administrasi kepada customer. sehingga mereka merasakan kepuasan dari layanan yang diterimanya. bahwa keberadaan dirinya sangat banyak ditentukan oleh keberadaan customer-nya. perilaku berikut haruslah memainkan peranan sebagai berikut: 1. 4. sesungguhnya dirinya tidak akan punya fungsi dan peran apapun dalam lingkup pekerjaannya. karena itu ia tidak pernah berpikir bahwa customer-lah yang harus melayani dirinya. Tenaga administrasi sekolah menyadari. Tenaga administrasi sekolah memahami langkah-langkah kerja yang harus dilalui sebelum memberikan layanan. bahwa customer adalah segalanya. 5. Tenaga administrasi sekolah menyadari. 2. jika persoalan yang dimiliki oleh customer sedikit banyak telah terpecahkan melalui bantuan dan pekerjaan yang ia lakukan. Tenaga administrasi sekolah mendahulukan kepentingan customers. Seorang tenaga administrasi sepatutnya juga helpful dan friendly. Oleh karena itu. 4. bahwa tanpa ada customer. tenaga administrasi sekolah melakukannya dengan sungguh-sungguh. Tenaga administrasi sekolah merasa bangga dan senang. 4. bahwa yang menjadi pelayan adalah dirinya. Ketika memberikan layanan. Tenaga administrasi sekolah berupaya melakukan check and recheck atas hasil layanan yang diberikan kepada customer. 51 3. Tenaga administrasi sekolah memiliki inisiatif untuk melakukan upaya pencegahan terhadap kesalahan/kelemahan/hambatan dari layanan kepada customer.

tidak dibawanya ke tempat kerja. bagaimana agar mereka mendapatkan kesukaran. Jika tenaga administrasi sekolah mempunyai persoalan (pribadi. Tenaga administrasi sekolah berusaha agar customer yang dilayani tidak usah menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan dari dirinya. Ketika ada customer yang kebingungan saat berproses mendapatkan pelayanan. Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir dan berangan-angan. tenaga administrasi sekolah menunjukkan wajah yang ramah. tenaga administrasi sekolah menawarkan bantuan. dengan menanyakan: apa yang dapat saya bantu? Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir dan berusaha bagaimana agar customer menjadi mudah dalam urusannya. sosial. tanpa terus menunggu perintah dari atasan langsungnya. agar ketika sejawatnya berhalangan. Tenaga administrasi sekolah berusaha agar persoalan yang dihadapi oleh klien terkait layanan yang ia dapatkan. secepatnya dapat dituntaskan. 6. tenaga administrasi sekolah melakukannya dengan senang hati. 8. smile. 9. dan bukan sebaliknya. 8. 10. Ketika customer tidak mengerti cara mengakses pelayanan. 52 . 5. 9. manakala: 1. Bukan sebaliknya. Responsiveness dan pro-aktif juga akan dapat ditunjukkan. Karena itu. kapan ia berhenti tidak memberikan pelayanan kepada customer. Tenaga administrasi sekolah menyadari. Dalam memberikan pelayanan. Karena itu. bahwa pekerjaan melayani customer adalah tanggungjawab dirinya sepenuhnya. ia selalu berusaha untuk mengutamakan kepentingan customer dalam setiap memberikan pelayanan. Tenaga administrasi sekolah berusaha untuk mengetahui alur kerja sejawatnya.Ali Imron Dalam memberikan layanan. kapan ia harus melayani customer-nya. 7. ketika memberikan pelayanan tidak menunggu perintah dari atasannya. menyenangkan. Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir. tenaga administrasi sekolah memperlakukan pihak yang dilayani sebagai customer (pelanggan). tidak sangar. bahwa yang harus ia utamakan dalam memberikan layanan adalah customer. ia akan dapat menggantikan dalam memberikan pelayanan. 3. 2. tenaga administrasi sekolah berusaha secepatnya untuk memberikan bantuan. 4. apa lagi sampai berpengaruh terhadap cara memberikan layanan kepada customer-nya. Dalam memberikan layanan. pekerjaan). 7.

9. 3. 53 . tenaga administrasi sekolah senantiasa berpedoman kepada alur kerja yang telah ditetapkan oleh atasannya. kapabilitas dan kecakapan juga akan dapat ditunjukkan. Tenaga administrasi sekolah selalu berusaha melakukan perbaikan terus menerus mutu pelayanan (kaizen) yang ia berikan sehingga kepuasan customer-nya makin lama makin meningkat. tenaga administrasi sekolah selalu mencari cara-cara yang tercepat. dan bisa memuaskan customernya. tertepat dan terakurat. 1. 10. tenaga administrasi sekolah tidak menunda-nunda (menggampangkan). sehingga seluruh pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. Profesionalitas. Tenaga administrasi sekolah memahami prosedur dan alur kerja beserta dengan jiwa yang dikandung oleh prosedur dan alur kerja tersebut. Ketika ia punya persoalan dan kesulitan dalam setiap memberikan pelayanan. tenaga administrasi sekolah selalu mencari alternatif solusi yang terbaik. Tenaga administrasi sekolah akan membantu memecahkannya. 5. benar-benar terencana (by design). Ketika ada sejawat yang mengalami masalah terkait dengan pekerjaannya. 6. sehingga pekerjaan sejawatnya tidak terbengkalai. Dalam menyelesaikan pekerjaan. Dalam setiap memberikan pelayanan. dan tidak semata-mata mengacu kepada waktu dan jam kerja. tanpa harus melanggar koridor aturan dan prosedur beserta dengan jiwa yang dikandung oleh aturan dan prosedur tersebut. 7.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah 10. 8. Dalam setiap memberikan pelayanan kepada customer. tanpa keluar dari koridor dan jiwa prosedur yang telah ditetapkan. Dalam melaksanakan setiap pekerjaannya. dan tidak justru menunggu kapan sejawat dan atasannya bertanya kepada dirinya. manakala: Tenaga administrasi sekolah menyusun schedule secara pribadi untuk penyelesaian pekerjaannya. akan memperendah mutu pelayanan yang dapat ia berikan. 2. karena jika menumpuk. tenaga administrasi sekolah bertindak tenang dan tidak panik meskipun ketika berada dalam tekanan. Terhadap berbagai persoalan terkait dengan pekerjaannya. ia tanya kepada atasannya atau sejawatnya. 4. Terhadap pekerjaan yang harus ia selesaikan. tenaga administrasi sekolah mengutamakan ketuntasan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya.

kapabel dan cakap. rekomendasi yang dapat diberikan adalah. tanggap. Birokrasi sekolah. responsif.Ali Imron KESIMPULAN Sekolah adalah institusi yang tidak hanya bermaksud untuk melayani diri sendiri. 2007. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara. atau stake holders sekolah. Konsekuensi logisnya. Jaminan Layanan Mutu Administrasi di Sekolah. DAFTAR RUJUKAN Imron. Ia tidak saja hanya dituntut menguasai hard skill dan shoft skill sebagai tenaga yang berada pada posisi supporting system dalam keseluruhan aspek substantif sekolah. karena posisinya yang secara langsung bersentuhan dengan layanan publik. sekolah harus menggeser paradigma pelayanan publik yang konvensional menjadi pelayanan publik yang pro aktif. dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Badan Kepegawaian Daerah di tingkat Kabupaten Kota. responsif. cepat. dengan demikian. Perilaku tersebut terkait dengan pengunaan waktu. Berdasarkan keseluruhan uraian tersebut. yang sepatutnya diposisikan sebagai pelanggan (customer). profesionalitas. sangatlah penting. Sekolah sebagai organisasi pembelajar. dan efektif sehingga memuaskan customer. Akuntabilitas dan Good Govermance. karena keberdayaan pengguna layanan memungkinkan mereka makin meningkatkan tuntutannya terhadap pelayanan publik yang diberikan oleh institusi sekolah. melainkan melayani publik. proaktif. Lembaga Administrasi Negara dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. berada dalam keadaaan senantiasa on-service. helpful dan friendly. sederhana. kecermatan. Guna mewujudkan birokrasi yang senantiasa on-service dan memuaskan pelanggan. Malang: Universitas Negeri Malang. maka posisi tenaga administrasi sekolah. 54 . Ali. juga patut selalu membelajarkan tenaga kependidikan (termasuk tata usahawannya) agar selalu meng-update berbagai cara yang dilakukan dalam pelayanan publik. berbiaya rendah. 2000. Makalah Disampaikan pada Pelatihan Administrasi Sekolah pada Staf Administrasi Sekolah. melainkan juga menunjukkan perilaku yang mendukung terhadap kepuasan customer sekolah. perlunya peningkatan hard skill dan shoft skill yang terkait dengan perilaku tenaga administrasi oleh institusi yang bertangungjawab dalam peningkatan kualitas SDM Pendidikan.

2005. Jakarta: Lembaga Administtasi Negara.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. Surabaya: Adipura. Bunga Ramapai Wacana Administrasi Publik: Menguak Peluang dan Tantangan Administrasi Publik. Etika Pelayanan Masyarakat (Pelanggan): Upaya Membangun Citra Birokrasi Modern. 2004. J. M. Reformasi Sistem Pelayanan Publik. 55 . Swantanisasi Alternatif Reformasi Birokrasi Pelayanan Publik. 2001. Sunaryo. Ramalia. Widodo. Surabaya: Badan Diklat Propinsi Jawa Timur.

1. Sementara sekolah yang memiliki perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. ada yang mengaturnya. Walaupun demikian. namun demikian gudang buku dan perpustakaan sangatlah berbeda. B. bahkan ada birokrasi di dalamnya. Itulah kesamaannya. 4. 56 . dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. di dalamnya terdapat buku-buku yang jumlahnya banyak. Perpustakaan Sekolah. No. Gudang buku mungkin bisa dikategorikan menjadi beberapa jenis atau tipe. Kata Kunci: Problematika solusinya. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala di lapangan. Kemiripan dari keduanya terletak pada sama-sama memiliki gedung. baik dalam jenis. April 2009 PROBLEMATIKA PERPUSTAKAAN SEKOLAH PADA PENDIDIKAN DASAR DAN ALTERNATIF SOLUSINYA Sri Marmoah Universitas Batanghari Jambi Abstrak Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. ada aturan mainnya. orang awam sekalipun tentu paham bahwa perpustakaan sangatlah berbeda dengan gudang buku walaupun terdapat banyak kesamaannya. sementara perpustakaan berorientasi sosial bukan untuk dijual. di sana ada pembukuannya. fungsi. baik itu secara konsep atau teori maupun secara empirikal. C. Tentang perpustakaan itu sendiri. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah pada pendidikan dasar yang belum memiliki perpustakaan. manfaat dan tujuan serta aktifitas di dalamnya. tidak terlalu banyak orang yang berminat untuk mengkajinya.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. alternatif PENDAHULUAN Ketika orang menyebut kata perpustakaan maka pikiran orang yang mendengar akan tertuju kepada sebuah tempat atau bangunan yang berisi banyak buku. menumbuhkan minat baca. Jurnal. misalnya tipe A. ada securitinya dan ada organisasi yang mengaturnya. Tulisan ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. dan seterusnya dan perpustakaanpun demikian. Gudang buku identik dengan toko buku. jelas bernuansa bisnis.

pembinaaan intelektual. dikaitkan dengan pengembangan budaya baik budaya daerah maupun nasional siswa pada pendidikan dasar itu dapat diperoleh melalui perpustakaan. untuk dapat membaca perlu sarana.Problematika Perpustakaan Sekolah masmedia dan sejenisnya juga tidak terlalu peduli dengan keberadaannya. kondisinya belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan sebagai tempat/sarana untuk menggairahkan semangat belajar. Kita tidak tahu apa alasannya dan mengapa hal demikian itu yang terjadi. dan berbicara maka peran dari perpustakaan sekolah itu sangat penting. menumbuhkan minat baca. berpidato. fasilitas kurang memadai. dan dana yang terbatas. menumbuhkan minat baca. Dengan adanya perpustakaan sekolah diharapkan dapat memenuhi harapan sebagai tempat/sarana untuk menggairahkan semangat belajar. Perpustakaan Sekolah bertujuan mendukung proses kegiatan belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan. pertama karena siswa pada pendidikan dasar untuk mendapatkan pengetahuan itu harus banyak membaca. jam buka yang sangat terbatas. Mengapa yang diteropong adalah perpustakaan sekolah. puisi termasuk membaca. Contoh guru memberi tugas ke perpustakaan kemudian siswa disuruh merangkum. Perpustakaan tidak dianggap penting. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala. membuat karangan baru. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. menulis. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah yang belum memiliki perpustakaan. Jikapun ada. harus dimulai dari anak pada tingkat pendidikan dasar. kutbah yang dapat mengembangkan kemampuan berbicara. Pada dasarnya keprihatinan kita akan kondisi perpustakaanlah yang membuat kita merasa perlu untuk melangkah secara serius dan lebih sistematis. cerita. spiritual. koleksi buku terbatas. salah satunya adalah perpustakaan sekolah. antara lain lokasinya kurang nyaman/kondusif. Memang perpustakaan sekolah menjadi objek yang kurang diminati di negeri ini. Pengelolaannya tidak profesional yang disebabkan oleh ketiadaan tenaga pengelola (pustakawan) yang profesional. Mengapa pada pendidikan dasar. Tugas siswa lainnya mencakup bercerita. Ketiga. majalah. menulis. Keempat. dikaitkan dengan pengembangan ketrampilan berbahasa baik membaca. Karena dasar awal anak yang diperoleh dari pembelajaran di kelas juga di perpustakaan. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Kedua. 57 . karena ada buku. bahwa perpustakaan sekolah sebagai perangkat pendidikan di sekolah merupakan bagian integral dari sistem kurikulum sekolah bersama dengan sumber belajar yang lain. sikap.

melalui jasa layanannya dan kegiatan perpustakaan lainnya yang menunjang kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolah. yaitu planning (perencanaan).Sri Marmoah Tulisan kecil ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Manajernen perpustakaan (Abdul Rahman Saleh dan Fahidin. dapat dijelaskan bahwa manajemen perpustakaan tidak semata-mata berdasarkan teoritis tetapi bagaimana mengimplementasikan teori tersebut dalam praktek operasionalnya. Dikaitkan dengan pendapat tersebut. serta dana”. 1995) maupun perpustakaan sekolah (Soelistia. Sedangkan prinsip-prinsip manajemen adalah dasar atau asas kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir dalam manajemen. sehingga perpustakaan memang merupakan salah satu sarana sumber belajar yang harus dikelola dengan manajemen terbaiknya. manajemen perpustakaan adalah pengelolaan perpustakaan yang didasarkan kepada teori dan prinsip-prinsip manajemen. 1995) melaksanakan fungsi manajemen sebagai dasar pengelolaannya. Dengan demikian manajemen perpustakaan sekolah juga melaksanakan hal-hal tersebut disertai dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun tujuan sekolah. alternatif solusi mengefektifkan peran perpustakaan sekolah. Dalam kenyataannya tidak semua teori dapat diterapkan sepenuhnya. tetapi perlu modifikasi dan penyesuaian diantara keduanya. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan sumbangan konsep pemikiran tentang alternatif solusi dari segala problematika perpustakaan sekolah yang terjadi di lapangan selama ini. dkk. idealnya perpustakaan sekolah ke depan. metode. Sedangkan menurut Sutarno (2006:20). Ruang lingkup penulisan ini mencakup tentang manajemen perpustakaan ditinjau dari fungsi dan unsur-unsurnya. sarana. meliputi SDM. kondisi riil perpustakaan sekolah di lapangan. organizing 58 . PEMBAHASAN Fungsi Manajemen Perpustakaan Sekolah Menurut Agus Sutoyo dan Joko Santoso (2001:189) “Manajemen perpustakaan adalah suatu proses kegiatan yang dilaksanakan perpustakaan untuk mencapai sasaran seefisien mungkin dengan mendayagunakan semua sumber daya yang ada. Saya yakin bahwa tulisan ini akan kembali mengingatkan kita tentang betapa besarnya peran perpustakaan sekolah dalam upaya mendukung keberhasilan pendidikan di lembaga itu dan tentunya mendukung tujuan pendidikan nasional. Teori manajemen adalah suatu konsep pemikiran atau pendapat yang dikemukakan mengenai bagaimana ilmu manajemen untuk diterapkan dalam suatu organisasi.

Menyediakan sistem yang efisien mengenai pelayanan pemesanan bahan atau koleksi yang ada di sekolah. Pengaturan pelayanan peminjaman yang efisien kepada staf pengajar maupun siswa. 2.Problematika Perpustakaan Sekolah (pengorganisasian). staffing (pengaturan staf). pustakawan sekolah dapat bekerjasama dengan guru untuk menentukan materi atau bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat pendidikan. serta staf pengajar untuk menggunakan perpustakaan sekolah sebagai tujuan proses belajar mengajar. Lebih lanjut Soelistia. Kegiatan ini meliputi: a. untuk menentukan keterampilan yang dibutuhkan oleh siswa. b. Mengidentifikasi pemakai perpustakaan sekolah yang akan dilayani. c. dan mengelola perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan para pemakainya. Perencanaan (Planning) Perencanaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam proses pengelolaan perpustakaan sekolah. Menjalankan suatu sistem yang memungkinkan sumber-sumber informasi dalam bentuk perangkat keras (jika dipusatkan). Memberikan sistem yang fleksibel bagi siswa baik perorangan maupun kelompok. Bahan-bahan atau sumber informasi yang ada di perpustakaan perlu diatur sebaik mungkin sehingga guru maupun siswa yang memerlukannya dapat memperoleh dengan cepat. Mengatur produksi sumber belajar dalam perpustakaan sekolah (jika d. Ada beberapa hal penting yang harus dipikirkan dalam tahap perencanaan. Organizing merupakan aspek manajemen yang menyangkut penyusunan organisasi manusia dan bahan atau materi. intisari penulisannya berikut ini: 1. yaitu: a. dan controlling (pengendalian). untuk membantu dalam penyediaan bahan sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. tepat. b. Menentukan tujuan perpustakaan sekolah Dalam menentukan tujuan. e. Pengorganisasian (Organizing) Pengorganisasian atau pengaturan perpustakaan sekolah merupakan tanggung jawab pustakawan sekolah. directing (pengarahan). dan akurat. dkk (1995-26-3-21) menjelaskan tentang manajemen perpustakaan sekolah yang berpedoman pada lima aspek tersebut. 59 .

seorang pustakawan sekolah harus mengetahui teknik dan proses yang diperlukan dalam seleksi dan penerimaan staf (staff recruitment). pengarahan merupakan tanggung jawab pimpinan perpustakaan. (3) evaluasi terhadap pelayanan yang telah dilakukan. Oleh karena itu. Dengan kata lain peran seorang pimpinan benarbenar diperlukan dalam mendorong staf yang dipimpinnya sehingga mereka dapat bekerja seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan yang diinginkan. gagasan. perencana. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam aspek kontrol di perpustakaan sekolah diantaranya adalah: (1) selalu menyadari tujuan yang sedang dilaksanakan. 4. dalam rangka 60 . dan f. training atau pelatihan staf. mau berkurban dan bermotivasi bekerja. disiplin. Manusia (Man) Pada dasarnya maju atau mundurnya sebuah perpustakaan akan sangat ditentukan oleh manusia-manusia yang mempunyai ide. cemerlang. (2) menghindari kegiatan yang tidak efisien. dan pelaksana yang handal. Pengendalian (Controlling) Pustakawan sekolah harus menyadari pentingnya kontrol di suatu organisasi.Sri Marmoah ada). dan mempunyai semangat untuk mengabdikan dirinya kepada kemajuan organisasi. 5. Pengaturan Staf (Staffing) Staffing adalah kegiatan pengaturan. dan konsep yang brilian. dan pembinaan staf sesuai tugas dan tanggung jawab yang diberikan berdasarkan kemampuan dan bidang keterampilan yang dimiliki. Sementara itu untuk pengawasan dapat dilakukan. Mengawasi dan mengatur pekerjaan bagi pustakawan atau staf perpustakaan yang lain. 3. termasuk perpustakaan. pemantauan. bermental dan bermoral jujur. Dalam kegiatan staffing ini. Pengarahan (Directing) Dalam konteks perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah sebagai salah satu sarana sumber belajar yang merupakan bagian dari organisasi sekolah memerlukan sumber daya manusia (SDM) sebagai pengelola perpustakaan. berkomunikasi dengan staf. baik dari dalam atau pengawasan melekat (built in control) maupun pengawasan dari luar (pengawasan fungsional). perpustakaan sebaiknya memiliki tenaga-tenaga ahli pemikir. dan pelayanan kepada staf. Unsur-Unsur Manajemen Perpustakaan 1.

antara lain layanan peminjaman buku dan layanan referensi. sebab “Everything that happens in an organization is the result of a process.. Seyogyanya 61 .. Dalam hal ini sumber daya manusia (SDM) pengelola perpustakaan sekolah adalah staf yang bekerja di perpustakaan. Dengan kata lain manusia merupakan salah satu sumber daya utama dalam menggerakkan proses produksi pada suatu organisasi yang menghasilkan produk dan layanan. They. and they generate a product or a service . Proses produksi di sini berlangsung dalam suatu organisasi termasuk perpustakaan sekolah yang merupakan bagian integral dari organisasi pendidikan (sekolah). Lebih lanjut Soelistia. guru. yaitu para siswa. A process is a series of steps designed to produce an effect. sedangkan layanan dapat berupa jasa. et. dan juga siswa pembantu . Layanan dalam bentuk jasa tersebut merupakan suatu proses produksi yang diberikan oleh sumber daya manusia (SDM) pengelola perpustakaan sekolah kepada para pengguna jasanya. Pustakawan Sekolah Pustakawan adalah seseorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu perpustakaan.consume resources. Mereka memerlukan sumbersumber dan menghasilkan suatu produk atau layanan). atau produk dapat berupa barang. tenaga kependidikan di lingkungan sekolah dan bahkan masyarakat sekitarnya. dan berkontribusi terhadap peningkatan prestasi belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. “ (Soelistia. “ (Jac Fitz-enz. All processes share a common pattern. 1995:19).al. et.Problematika Perpustakaan Sekolah menjaga eksistensinya. Semua proses merupakan bagian pola umum.al (1995:121-122) menjelaskan tentang keempat posisi staf (SDM) perpustakaan sekolah berikut ini: a. 11-000:6 1). dan “Staf perpustakaan sekolah dapat terdiri staf yang profesional.. dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan. Proses adalah rangkaian langkah-langkah yang dirancang untuk menghasilkan suatu akibat. (Segala sesuatu yang terjadi dalam organisasi adalah merupakan hasil dari proses. memberikan layanan terbaik kepada para pengguna jasanya. Demikian pula halnya dengan perpustakaan sekolah yang menghasilkan jasa layanan dalam bidangnya. Dalam hal ini sumber daya manusia (SDM) diartikan sebagai “potensi manusia yang dapat dikembangkan untuk proses produksi” (Kamus Besar Bahasa Indonesia. non profesional. 1995:973). teknisi..

Manfaat yang diperoleh tentu saja ada pada kedua belah pihak. Pustakawan sekolah harus mempunyai kualifikasi dalam bidang pendidikan dan perpustakaan. Sumber Pembiayaan (Money) Prinsip-prinsip anggaran atau biaya perpustakaan itu antara lain: a. pelabelan. Sukarelawan murid ini sebaiknya diperbantukan di bagian pelayanan pembaca. c. Asisten pustakawan Sebagian besar tugas asisten pustakawan adalah “membantu” tugas pustakawan. pengetikan kartu-kartu. terutama untuk jenis pekerjaan yang bersifat profesi. d. referensi maupun pelayanan lainnya secara bergiliran. sehingga mereka dapat memiliki pengalaman keterampilan informasi. baik di pelayanan sirkulasi. 2. bagi murid dapat memiliki pengalaman bekerja dengan berbagai bahan pustaka. Dari segi tingkatan kualifikasi pustakawan dimasukkan ke dalam tingkat profesional. Sedangkan bagi staf perpustakaan lainnya dapat meringankan beban tugas/kerja di perpustakaan. b. Penggunaannya menurut rencana c. menumbuhkan kesadaran dan kecintaannya terhadap buku serta rasa tanggung jawab yang besar. Teknisi Teknisi adalah tenaga perpustakaan yang sepenuhnya bertugas mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat non profesi. Sukarelawan Murid Murid-murid dapat dilibatkan dalam kegiatan perpustakaan sebagai petugas sukarela dan senantiasa berada di bawah tanggung jawab petugas perpustakaan. Sumbernya pasti b. penggandaan. asisten pustakawan dimasukkan ke dalam tingkat semi profesional. misalnya: pengagendaan. Pertangggungjawabannya menurut aturan tertentu 62 . Orientasinya berdasarkan program (budget based on program) d. pelayanan peminjaman dan pengembalian bahan pustaka.Sri Marmoah pustakawan sekolah berasal dari guru yang qualified atau memiliki pendidikan perpustakaan. dan sebagainya. Dari segi tingkatan kualifikasi. Pengelolaannya akuntabel dan responsible e.

sebuah metode yang dipilih untuk diterapkan di perpustakaan harus dapat membantu mempercepat waktu dan proses. Benda dan barang-barang tersebut harus diurus dan dipergunakan dengan baik. mesin foto kopi. h. dan mempermudah cara. Benda dan Barang Inventaris (Materials) Perpustakaan memiliki banyak sekali barang dan benda (materials) baik berupa inventaris. b. g. Mesin-mesin yang biasanya diperlukan di perpustakaan antara lain mesin tik. mengolah. mesin pres. (c) koleksi bahan pustaka. baik oleh petugas maupun pemakai perpustakaan. Benda-benda tersebut antara lain: (a) gedung dan ruangan. mempermudah dan menyederhanakan pekerjaan memperingan beban dan tugas. mesin jilid. i. baik spesifikasinya maupun jenisnya dan dipergunakan dengan baik dapat membantu meringankan tugas-tugas dan menunjang pekerjaan perpustakaan. memperingan biaya (murah). dan memperluas akses informasi. (e) sarana komunikasi dan transportasi. 5. (d) mesin-mesin. f. komputer. Lebih daripada itu. Jumlah anggaran diusahakan terus meningkat Pelaksanaannya selalu dapat dikontrol dengan baik Menerapkan sistem efektif efisien Tidak terjadi penyalahgunaan dan pemborosan anggaran Mesin-mesin (Machine) Pada dasarnya perangkat alat-alat yang berupa mesin-mesin yang tepat guna dan memadai. (b) perabot dan perlengkapan. d. dapat dipahami dan dilaksanakan serta dipergunakan.Problematika Perpustakaan Sekolah f. Sebuah metode yang dipilih jangan 63 . maupun perlengkapan dan perabot serta sarana prasarana yang lainnya. Metode yang diterapkan di perpustakaan adalah untuk menghimpun. mesin fax. mempercepat proses waktu kerja menghemat tenaga manusia (manual) menghemat biaya menghasilkan produk yang berkualitas memperbanyak hasil (luaran) meningkatkan performa dan kinerja perpustakaan 4. mengemas. e. g. c. Metode tersebut harus jelas. Semua jenis mesin tersebut dimaksudkan untuk: a. 3. menyimpan dan menyajikan serta memberdayakan informasi. Metode (Methodes) Setiap perpustakaan tentu mempunyai suatu metode tertentu yang dipergunakan untuk menjalankan aktivitasnya.

mempengaruhi dan bahkan saling menentukan. Sistem. dan proses akuisisinya sendiri.Sri Marmoah memperlama waktu. atau prosedut dan tata cara guna meningkatkan kinerja penyelenggaraan kegiatan. d. dan peminjaman. Pelanggan)/Customers Unsur yang keenam di dalam manajemen perpustakaan adalah pasar atau tempat di mana suatu transaksi (informasi) dapat dilangsungkan. dan menikmati hiburan batin dengan bacaan yang menyenangkan. Pengolahan. mana kala tidak diselenggarakan dengan suatu sistem atau mekanisme kerja yang tersusun dan terpola baik. Oleh sebab itu. d. Yang dikategorikan metode atau sistem dalam perpustakaan mencakup: a. e. mekanisme. Sirkulasi atau peminjaman dan pengembalian koleksi bahan pustaka. Tersebarnya informasi dan termanfaatkannya informasi. Promosi. 6. sebuah metode dapat terdiri atas sebuah sistem. dan mempermahal biaya. Yang dimaksudkan dengan pasar di sini adalah bahwa perpustakaan memenuhi syarat-syarat dan sifat-sifat yang memungkinkan terjadinya transaksi informasi. c. antara lain: a. terkait. Layanan misalnya menggunakan sistem terbuka atau tertutup. karena sangat tergantung kepada kebijakan dan pilihan masing-masing perpustakaan. Terpenuhinya kebutuhan informasi bagi pengunjung. Terjadinya akses informasi. Pengadaan yang dimulai dari perencanaan kebutuhan koleksi bahan pustaka. 64 . Dengan istilah lain. prosedur. Kunjungan orang-orang ke perpustakaan untuk membaca/belajar. Perpustakaan sebagai suatu pusat informasi. proses seleksi berdasarkan alat-alat seleksi (selection tools). yang antara satu dan lainnya saling berhubungan. c. tidak dapat berjalan baik. Sistem biasanya terdiri atas beberapa sub sistem. belum tentu baik untuk perpustakaan yang lain. sangat diperlukan dalam rangka mempublikasikan perpustakaan sekolah. mekanisme. Apa yang disebut sistem yang baik bagi sebuah perpustakaan? Hal ini sifatnya relatif. mempersulit akses. dan penentuan tajuk subjek dan lain-lain. yang dikerjakan dengan beberapa buku pedoman seperti dalam klasifikasi. penyiapan anggaran (untuk yang dibeli). b. suatu sistem yang baik untuk satu perpustakaan. bagaimana persyaratan keanggotaan. dan seterusnya. katalogisasi. metode dan tata cara lainnya yang dipergunakan di perpustakaan harus baku (standar). b. Pasar (Pemakai.

2) Struktur atau kerangka. staf. mengatakan perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah yang bermaksud menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal. Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang menyelenggarakan pengumpulan. baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya. d. b. Ada tempat (perpustakaan). Ada permintaan dan penawaran atau supplay and demmand informasi. tapi juga pusat penelitian sederhana. Perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka. Sebuah perpustakaan sebagai 65 . 3) Jabatan-jabatan. Ada “perjanjian” (kesepahaman) atau ketaatan aturan layanan dan sanksi bagi mereka yang terlibat di dalamnya. dikelola secara sistematis untuk digunakan sebagai informasi bagi pemakai perpustakaan. Sedangkan Soetopo (2002). penyimpanan dan pemeliharaan berbagai jenis bahan pustaka.(Sutarno 2006: 46). Perpustakaan sekolah dipandang sebagai unit organisasi karena perpustakaan sekolah merupakan bagian dari organisasi yang bernaung di bawah lembaga atau sekolah tersebut. f. Unsur-unsur itu meliputi: 1) Bentuk atau konfigurasi berupa bagan atau skema. 4) Prinsip-prinsip dan aturan permainan. dan rekreasi. Fungsi Perpustakaan Sekolah Perpustakaan adalah sumber informasi yang menyediakan segala keperluan bagi masyarakat pemakainya. toko buku. Ada staf layanan sebagai “penjual”. Ada unsur penyedia informasi (penerbit. misalnya jalur atau lini. e. agen).Problematika Perpustakaan Sekolah f. fungsional. dan organisasi dewan atau panitia. c. Unsur pasar (market) di perpustakaan harus memenuhi kriteria antara lain: a. Kalau perpustakaan sekolah dipandang sebagai unit organisasi itu maka harus memiliki unsur-unsur sebagaimana layaknya sebuah organisasi. lini dan staf. Terselenggaranya layanan perpustakaan. Fungsi perpustakaan sekolah tidak hanya sebagai sumber kegiatan belajar mengajar. Ada “pembeli” (pemakai perpustakaan). yakni formasi jabatan yang harus diisi oleh orang-orang yang tepat sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. wewenang dan tanggung jawab. yakni bentuk pembagian tugas.

Petugas yang ada pada meja terdepan ini sangat diharapkan agar lincah. cepat. dan petugas atau pengisian karyawan. baik secara lisan maupun melalui brosur dan media lainnya yang disediakan. ramah dan berjiwa membimbing (users friendly). Perpustakaan sebagai sebuah unit kerja atau unit organisasi perlu memiliki visi. Unsur-unsur yang terkait dengan system layanan perpustakaan yaitu: kesiapan petugas layanan. Penerapan suatu sistem layanan di perpustakaan sekolah adalah dimaksudkan agar proses pemberian jasa layanan dapat berjalan dengan tertib. meja sirkulasi. serta struktur organisasinya. Oleh karena dunia ini sudah sangat inclusive maka system pelayanan minimal dianjurkan untuk berangsur-angsur ditinggalkan dan semua perpustakaan sekolah hendaknya menggunakan system pelayanan prima agar bisa mencapai sasaran pelayanannya yakni kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dalam hal ini adalah guru dan siswa. baik fisik. persamaan persepsi antara petugas dan pelanggan. mudah dipahami dan dilaksanakan baik oleh petugas maupun oleh pelanggan. terampil. fungsi. kemampuan. garis wewenang dan tanggung jawab. Yang dimaksudkan adalah pelayanan yang berlangsung secara mudah. Formasi jabatan. kemauan. tepat. Meja informasi ini merupakan tempat pengunjung memperoleh informasi tentang alur layanan perpustakaan dari petugas. peraturan dan tata tertib perpustakaan yang singkat. dan memuaskan. kerja sama. pedoman pengadaan anggaran dan ruang lingkup bidangnya. murah serta bermanfaat. jelas. keharmonisan komunikasi. Dalam surat keputusan pendiriannya harus memuat secara jelas tentang tugas. meja informasi. Sistem pelayanan prima ini tentunya didukung oleh teknologi industri seperti computer. Bagi perpustakaan sekolah yang mempunyai sarana layanan yang masih terbatas dan konvensional maka diupayakan agar dapat memberikan pelayanan minimal kepada pengunjungnya. adalah tempat pelaksanaan transaksi peminjaman dan pengembalian buku atau bahan pustaka lainnya serta penyelesaian administrasi.Sri Marmoah salah satu unit kerja memiliki unsur-unsur seperti organisasi. kesiapan peralatan dan perlengkapan sebagai penunjang. cepat. dan program kerjanya yang semuanya berorientasi kepada pelayanan yang memuaskan. dan pedoman standar dibidang layanan perpustakaan yang berlaku umum sehingga mudah dipelajari untuk dipraktekkan. Kedua. pengalaman dan keterampilan. teratur. 66 . sederhana. Sedangkan bagi sekolah yang sudah modern dengan teknologinya maka hendaknya memberikan pelayanan prima. atau on line. Tempat ini merupakan customer service yang terdepan diperpustakaan. Gambaran mekanisme sebagai suatu system layanan yang memuaskan akan terlihat jelas melalui suatu formasi layanan yang jelas diantaranya: pertama. situs. misi. mental.

bagi yang menerapkan sistim anggota. Sarana pendukung dan mekanisme layanan perpustakaan sangatlah tergantung pada kompleksitasnya perpustakaan itu. dan rekreatif bagi komunitas sekolah. Sistem pelayanan prima dengan menggunakan teknologi informasi. lemari (laci) catalog. peraturan dan tata tertib layanan. Kemudahan akses informasi dan system temu kembali informasi agar pemanfaatan koleksi bisa optimal dan efisien. Tugas utama 67 . sebelum mencari ke tempat penyimpanan buku-bukunya. informatif. Keempat. Dari pernyataan di atas dapat digarisbawahi bahwa keadaan perpustakaan sekolah masih belum berkembang dan memerlukan penanganan segera. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. peningkatan dan pengembangan baik untuk sarana pendukung maupun system pelayanan tentunya selalu mengalami penyesuaian. persyaratan dan proses keanggotaan dilaksanakan menurut ketentuan yang berlaku. kartu catalog sebagai wakil dari koleksi untuk ditelusuri. Semua prosedur. dan pengaturan agar suasana diperpustakaan selalu tertib dan tenang. Semua itu merupakan alat atau media untuk memanfaatkan informasi diperpustakaan. riset. Perpustakaan sekolah pada jenjang pendidikan dasar ini sangat diperlukan terutama untuk membantu keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. Bagaimana dengan perpustakaan sekolah pada pendidikan dasar di SD dan SMP ?. computer. Perpustakaan yang jumlah pengunjungnya masih terbatas perlu diupayakan mencapai standar pelayanan minimal. Jika jumlah pengunjung setiap tahun kecenderungannya meningkat maka upaya perbaikan. Kelima. internet yang dipergunakan untuk memberikan layanan perpustakaan perlu didukung oleh petugas layanan yang mampu menggunakannya agar dapat memandu pengunjung yang belum mahir menggunakannya. peminjaman. adalah pengurusan keanggotaan perpustakaan.Problematika Perpustakaan Sekolah Ketiga. kemudahan akses informasi. menumbuhkan minat baca. administrasi keanggotaan. Statement ini cukup beralasan karena perpustakaan sekolah berfungsi sebagai sarana edukatif. Namun fungsi ini belum berjalan sebagaimana yang diharapkan karena tidak semua sekolah mempunyai perpustakaan. sementara sekolah yang mempunyai perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. adalah ketentuan-ketentuan tentang syarat menjadi anggota. Kondisi Riil Perpustakaan Sekolah di Lapangan Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. Keenam. sedangkan perpustakaan yang jumlah pengunjungnya relative banyak maka haruslah diupayakan mencapai standar pelayanan prima. sangsi atas pelanggaran.

Selain itu yang merupakan kekuatan adalah adanya koleksi buku yang memadai. Maksud kelemahan dalam analisis ini adalah permasalahan yang timbul dari penyelenggaraan program dan hasilnya. Opportunities (peluang). Weakness. koleksi buku yang terbatas. Sehingga pendekatannya menjadi SWOC. dan Threats (ancaman). dan pengembangan potensi siswa serta pengembangan sosial budaya siswa. dan ayat 3 yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki koleksi lain yang mendukung pelaksanaan kurikulum pendidikan. Maksud kekuatan dalam analisis ini adalah faktor-fakor yang mendukung penyelenggaraan program. Opportunity. Contohnya kekuatan-kekuatan yang ada pada program perpustakaan sekolah antara lain dapat menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada tanpa harus memenuhi persyaratan tertentu/ ketat. Permasalahan ini dapat kita lihat dengan menganalisis dengan SWOT (Strenghness. waktu kunjungan terbatas. Perpustakaan sebagai sumber belajar di sekolah. Ada banyak hal yang menyebabkan munculnya berbagai permasalahan pada perpustakaan sekolah. kata Threats mengandung unsur yang negatif. gudang ilmu. serta diakui eksistensinya oleh semua pihak (masyarakat). Kedua. Weaknesses (kelemahan). Hal ini sesuai dengan UU RI No. sedangkan tantangan selalu berisi peluang. kecil. Sarana perpustakaan yang tidak lengkap. sebagai sumber pengetahuan. Menurut Sihombing (2000). Kelemahan. SWOT merupakan singkatan dari kata Strengths (kekuatan). Ada beberapa hal yang sering menghambat fungsi perpustakaan sekolah. mendorong siswa untuk belajar mandiri. terbatasnya ruang perpustakaan 68 . dukungan dari kepala sekolah kurang dan keuangan yang sangat minim.43 tahun 2007 tentang perpustakaan pada pasal 23 ayat 1. Pengubahan ancaman menjadi tantangan karena dia melihat bahwa ancaman kalau dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi peluang. Permasalahan merupakan kelemahan yang dapat berubah menjadi tantangan kelancaran pelaksanaan tugas / program. Perpustakaan juga berfungsi untuk menggairahkan semangat belajar. Pertama.Sri Marmoah perpustakaan jenis ini adalah menunjang kurikulum. Sebagai contoh disebutkan bahwa lokasi perpustakaan di sekolah yang kurang strategis. dan didukung oleh kebijakan pemerintah. sehingga lebih cenderung menggunakan kata yang mengandung unsur positif yaitu tantangan (Challenges). sehingga bahan-bahan pustaka harus dikaitkan dengan kurikulum sekolah. menumbuhkan minat baca. yaitu setiap sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional pendidikan. tidak nyaman. sumber daya perpustakaaan yang rendah. Kekuatan. yang tidak mungkin dipenuhi oleh sekolah. Treath). sumber daya manusia yang berkompeten. Pertama.

perpustakaan dikatakan ideal apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: berani memantapkan keberadaan lembaga perpustakaan sesuai dengan jenisnya. Peluang. memiliki ruangan yang memadai. Banyak perpustakaan yang hanya menempati ruang sempit. Kurangnya ajakan untuk mengunjungi perpustakaan menjadikan anak asing terhadap perpustakaan. Keempat. Sedangkan menurut Rachmananta. baik dalam hal jumlah. Keempat. statis dan mudah puas. Idealnya Perpustakaan Sekolah ke Depan Perpustakaan yang ideal harus memenuhi pedoman-pedoman diantaranya adalah lokasi. memiliki tempat baca yang memadai. jenis koleksinya komposisinya 40% buku teks. Tantangan dapat berubah menjadi peluang bagi perencana yang tidak berperilaku apatis. direbut. Contoh perpustakaan sekolah swasta relatif lebih bagus daripada sekolah negeri. Tantangan. Maksud tantangan dalam analisis ini adalah hal-hal yang harus diatasi. Maksud peluang dari analisis ini adalah hal-hal atau faktorfaktor dari luar program yang kalau dicermati dan dimanfaatkan dengan baik dapat menjadi tumpuan harapan dimasa depan. diperbaiki dan ditingkatkan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dalam usaha mencapai tujuan. 43 Tahun 2007 dan adanya kebijakan dari Dinas Pendidikan tentang wajib adanya perpustakaan sekolah di setiap sekolah. variasi maupun kualitasnya. Sebagai contoh adanya dasar hukum yang kuat yakni dengan adanya UU No.Problematika Perpustakaan Sekolah di samping letaknya yang kurang strategis. partisipasi pemakainya baik dan aktif. struktur organisasi perpustakaan jelas dan berjalan baik. Sedangkan menurut Sudarmono (2004) dalam pengembangan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar. 30% buku 69 . 30% buku pengayaan. memiliki perabot yang memadai. melakukan promosi dan menyelenggarakan jaringan kerja sama baik dalam negeri maupun luar negeri. dengan tanpa memperhatikan kesehatan dan kenyamanan. pelayanan terhadap anggotanya dan koleksi buku-buku perpustakaan. Tantangan bukan penghambat. kurangnya promosi penggunaan perpustakaan menyebabkan tidak banyak siswa yang mau memanfaatkan jasa layanan perpustakaan. Kedua. administrasi. terbatasnya jumlah petugas perpustakaan (pustakawan). selalu meningkatkan mutu melalui pelatihan-pelatihan bagi tenaga pustakawan. melakukan upaya-upaya pengembangan dan pembinaan perpustakaan terus menerus dari segi sistem manejemen dan teknis operasional. keterbatasan bahan pustaka. Ketiga. Ketiga. tetapi perangsang untuk mendorong perencana pendidikan luar sekolah untuk lebih kreatif dan dinamis. tata ruang. kriteria dari perpustakaan sekolah yang ideal adalah: adanya status kelembagaan yang kuat.

Kedua. Sudah saatnya perpustakaan tidak hanya berisi buku-buku paket. maka perpustakaan akan cepat berkembang. atau seorang honorer yang diberi tugas tambahan untuk mengelola perpustakaan. standar sarana dan prasarana. Perpustakaan yang ideal dan tetap survive dengan perkembangan zaman. Hal keempat. tetapi berupa buku-buku bacaan yang menarik minat siswa untuk membacanya. memiliki program pengembangan minat membaca di kalangan siswa. administrasi perpustakaannya tertib. didukung dengan teknologi informasi dan komunikasi. yaitu berhubungan dengan dana dan untuk menambah pemasukan dapat mengembangkan entrepreneurship di perpustakaan. memiliki anggaran perpustakaan secara tetap.Sri Marmoah fiksi. standar penyelenggaraan. standar tenaga perpustakaan. Jika SDM-nya cukup berkompeten untuk membuat perpustakaan maju. Manajemen ini juga tergantung pada SDM dalam perpustakaan tersebut. memiliki program pengembangan secara jelas dan terarah. seharusnya memenuhi kriteria berikut: pertama. bahkan makanan dan minuman. 70 . memiliki tenaga pengelola dengan kompetensi yang memadai. pelayanannya menyenangkan. serta souvenir. koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan harus terus ditingkatkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. penjaga sekolah. Mengacu kepada Undang-undang tersebut sudah semestinya agar perpustakaan sekolah menjadi ideal dan mampu menjawab tantangan masa depan harus memenuhi kriteria tersebut. Cara yang ditempuh banyak sekali. menjual peralatan sekolah. dan adanya jam perpustakaan yang terintegrasi dalam kurikulum. memiliki program mitra perpustakaan. agar perpustakaan sekolah lebih efektif dan efisien dalam pengembangan perpustakaan harus menggunakan manajemen perpustakaan yang benar. adanya kerjasama dengan sekolah lain. perpustakaan juga membuka usaha lain seperti fotokopi. pengorganisasian koleksinya teratur. dan standar pengelolaan. Perpustakaan yang ideal harus mengacu kepada standar nasional perpustakaan. memiliki sarana penelusuran informasi yang baik. serta judul buku bervariasi. standar pelayanan perpustakaan. melakukan kegiatan promosi dan pemasyarakatan perpustakaan. diantaranya selain menjadikan tempat peminjaman buku pada masyarakat. Ketiga. Dalam Undang-Undang RI nomor 43 tahun 2007 pada bab III pasal 11 ayat 1 dijelaskan bahwa standar nasional perpustakaan terdiri atas: standar koleksi perpustakaan. koleksi sesuai dengan kebutuhan kurikulum. memiliki program keberaksaraan informasi (literasi informasi). memiliki peraturan perpustakaan. sumber daya yang mengelola di perpustakaan adalah benar-benar seorang pustakawan bukan guru.

serta layanan apa saja yang ada di sana. Guru wajib memberikan contoh kepada para siswa dengan rajin membaca di perpustakaan. untuk dikumpulkan dan dijadikan koleksi perpustakaan. Perlu partisipasi dari semua pihak yang terlibat untuk memajukan perpustakaan sekolah. e. i. setelah selesai diwajibkan untuk memberikan copian baik berupa softcopi maupun berupa buku-buku. Diperlukan SDM/pustakawan yang profesional. pengembangan SDM. g. kursus. b. 71 . Guru-guru harus mendukung pengembangan perpustakaan sekolah dengan wujud contoh gemar membaca dan menulis makalah. hal ini akan sangat membantu mendorong dan mengembangkan minat kemampuan serta kebiasaan membaca yang pada gilirannya dapat membentuk sikap siswa untuk belajar mandiri. a. h. berdaya guna bagi siswa. Perpustakaan sekolah dapat bekerjasama dengan perpustakaan umum/daerah. Perlu adanya kebijakan dari sekolah dan pemda untuk mengembangkan perpustakaan sekolah. l. pengembangan termasuk pendanaan. Kepala sekolah sebagai manajer atau pimpinan perlu menjadwalkan secara khusus kunjungan ke perpustakaan. jurnal. diwajibkan untuk memberikan hibah berupa buku-buku ke sekolah. d. Perlunya perpustakaan di setiap sekolah. Guru-guru sampai penjaga sekolah dilibatkan secara aktif untuk mengelola perpustakaan. hal ini dalam rangka membudayakan peninggalan kenang-kenangan untuk sekolah. Siswa akhir di sekolah kelas VI (SD). c. k. pelatihan. Guru-guru yang penataran. j. Kerjasama dapat dilakukan dengan study visit untuk mengetahui koleksi apa saja yang sesuai untuk siswa pada usia anak-anak atau remaja. Memperhatikan problematika yang ada serta memperhatikan kondisi riil dan yang ideal maka penulis menawarkan beberapa solusi untuk memperbaiki kondisi yang ada. Komite sekolah dan stakeholder harus memikirkan eksistensi perpustakaan sekolah agar dapat berhasil. dan kelas IX (SMP).Problematika Perpustakaan Sekolah Alternatif Solusi Mengefektifkan Peran Perpustakaan Sekolah. Masyarakat sekitar perlu mendukung perpustakaan sekolah misalnya dengan memberikan bantuan buku-buku dan dana. f. dll. dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan layanannya kepada siswa. m.

perpustakaan cukup melayani peminjaman buku kepada siswa untuk dibawa ke rumah dalam beberapa lama sesuai ketentuan. Sebagai contoh yaitu dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. harus mengacu kepada fungsi manajemen yang mencakup perencanaan (planning). Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. sebaiknya perpustakaan dikunjungi oleh siswa sebagai tempat belajar setelah keluar sekolah. Perpustakaan sebagai sumber informasi di sekolah memiliki peran yang penting dalam menunjang kegiatan belajar mengajar. Ketiga. maka dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. 2. . KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan. 72 3. Sebagai contoh yaitu dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. Pemanfaatan ICT sebagai sarana dalam meningkatkan kualitas layanan dan operasional telah membawa perubahan yang besar di perpustakaan. 4. untuk itu pelayanannya juga disesuaikan dengan kebutuhan siswa. pengarahan (directing). menumbuhkan minat baca. Sedangkan alternatif solusi bagi perpustakaan sekolah pemula. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. dapat dicari solusinya dengan tiga hal yang disarankan yaitu: pertama. Kedua. Perkembangan dari penerapan ICT dapat diukur dengan telah diterapkannya/ digunakannya sebagai sistem informasi manajemen (SIM) perpustakaan dan perpustakaan digital (digital library). Alternatif solusi dalam pemecahan problematika perpustakaan sekolah dengan memberdayakan unsur-unsur manajemen yang ada pada lembaga sekolah. pelayanan sebaiknya dilakukan saat istirahat dan atau setelah keluar sekolah. atau yang belum memadai. pengaturan staf (staffing). Perpustakaan sekolah yang ideal harus mengacu kepada standar nasional perpustakaan. dan pengendalian (controlling). pengorganisasian (organizing). Dengan pengelolaan (manajemen) perpustakaan yang baik akan dapat menarik para siswa senang berkunjung dan memanfaatkan sarana tersebut.Sri Marmoah Selain itu dengan pengelolaan (manajemen) perpustakaan yang baik akan dapat menarik para siswa senang berkunjung dan memanfaatkan sarana tersebut. Agar efektif dan efisien dalam mencapai tujuan perpustakaan sekolah. 5.

2. Memakai. 2002. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. Guru dan tenaga kependidikan lainnya hendaknya mengarahkan peserta didik untuk lebih memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar untuk memperoleh informasi yang mereka inginkan. Perpustakaan Nasional RI. Kepala Sekolah sebagai manajer atau pimpinan sekolah perlu menjadwalkan secara khusus kunjungan ke perpustakaan. New York: AMACOM (American Management Association). pengembangan termasuk pendanaan. Pengelola perpustakaan dan tenaga kependidikan hendaknya saling berkoordinasi sebagai sarana untuk meningkatkan pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar yang menyenangkan.al. Komite sekolah dan stakeholder harus memikirkan eksistensi perpustakaan sekolah agar dapat berhasil dan berdaya guna bagi siswa. Fitz-enz. 73 . Perpustakaan Sekolah. dan lain-lain. Jakarta: Universitas Terbuka. pengembangan SDM. Malang: UM Press. Perlu adanya kebijakan dari sekolah dan pemda untuk mengembangkan perpustakaan sekolah. Depdikbud. 2004. adalah : 1.Problematika Perpustakaan Sekolah Rekomendasi Saran yang dapat dikemukakan dalam rangka mencari solusi dari problematika perpustakaan sekolah. dkk. DAFTAR RUJUKAN Ali Lukman.. 1992. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. Jac. Soelistia. 4. Jakarta: Balai Pustaka. 1995. Darmono. 5. 3. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Manajemen Perpustakaan Sekolah. dan Memelihara Perpustakaan di Sekolah. ------------. Petunjuk untuk Membina. Cetakan ke-2 Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. Menjadi Pintar: Memanfaatkan Perpustakaan Sekolah sebagai Sumber Belajar. et. 2000. 1995. The ROI of Human Capital (Measuring the Economic Value of Employee Performance).

2001. Sutoyo. 2006. Strategi dan Pemikiran Perpustakaan Visi Hernandono. Suatu Pendekatan Praktik. NS. Manajemen Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto. 74 .Sri Marmoah Sutarno. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. dkk. Jakarta: Sagung Seto.

wirausahawan (entrepreneur). yaitu seorang kepala sekolah yang mampu mengelola sumber daya manusia maupun nonmanusia secara efektif dan efisien. pemimpin (leader). Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. pengelola (manager). Selain itu. dan pencipta iklim kerja (climator). seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator). Oleh karena itu. April 2009 PERILAKU KEPEMIMPINAN ENTREPRENEURSHIP KEPALA SEKOLAH Rokhmaniyah Universitas Negeri Jakarta Abstrak Tugas pokok Kepala Sekolah adalah mengelola kegiatan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok. administrator (administrator).Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. PENDAHULUAN Tugas pokok Kepala Sekolah adalah mengelola (memanaj) penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. entrepreneurship. mengemban misi. Kata kunci: perilaku sekolah. dan menjalankan aktifitas pendidikan mempersyaratkan adanya seorang kepala sekolah yang efektif. entrepreneurship harus dicontohkan oleh guru-guru dan kepemimpinan kepala sekolahnya. Untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok. pemimpin (leader). No. 4. Keefektifan suatu sekolah dalam menggapai visi. seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator). dan pencipta iklim kerja (climator). ia mampu bekerja keras dan berani menanggung risiko. 1. mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui). Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya. kepala .wirausahawan (entrepreneur). penyelia (supervisor). ia belum mampu membimbing guru dan staf tata 75 kepemimpinan. kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. pengelola (manager). Pengamatan sekilas di lapangan. Hal ini ditunjukkan sebagai educator. Budaya kita adalah budaya paternalistik. administrator (administrator). selama ini menunjukkan bahwa sebagian Kepala Sekolah agaknya masih belum memainkan peranannya secara optimal. Kepala sekolah adalah orang kunci yang menentukan sukses atau gagalnya sekolah dalam mencapai tujuannya. penyelia (supervisor).

Sebagai Supervisor. memiliki sifat-sifat pemimpin. Efektif. memperbaiki sistem insentif. Sebagai entrepreneur. ia belum mampu bertindak kreatif dan inovatif. Sebagian Kepala Sekolah kita masih berperilaku lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas lulusannya. Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya. menggunakan kekuasaannya dengan baik. Hal ini jelas sebagai dampak dari perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah. motivasi guru dan siswa agar memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas. lulusan akan memiliki life skill dan out come. ia belum mampu memenuhi kriteria sukses. mengelola konflik dan stres. dan waktu (belum BMW). Pada hal di era globalisasi sekarang ini secara khusus lebih dibutuhkan kepemimpinan enterprneurship agar lulusannya mampu menciptakan lapangan kerja bukan mencari pekerjaan. mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui).Rokhmaniyah usaha dalam melaksanakan tugas-tugasnya. membaca peluang sekolah dalam meningkatkan minat calon siswa masuk ke sekolahnya. Belum memiliki perencanaan program sekolah yang mantap dengan pelaksanaan yang belum tepat. dan mengelola waktu. kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. membuat rencana strategik. Masih lebih mementingkan pencapaian target kurikulum daripada kualitas daya serap siswanya. mengkoordinasikan tugas-tugas stafnya. Sebagai manager. memotivasi siswa belajar. ia belum mampu menciptakan budaya sekolah. mutu. penulis ingin menyoroti perilaku entrepreneushipr kepala sekolah. dan memiliki perilaku pemimpin. dapat mengurangi pengangguran bukan menambah pengangguran. Dengan demikian. bekerja sama dengan pengusaha. kepala sekolah belum mampu melaksanakan pengawasan secara ketat sehingga hasil praktik siswanya belum bernilai ekonomis dalam arti belum hemat biaya. 76 . Dalam rangka pemberdayaan Kepala Sekolah. mengembangkan unit produksi sekolah. ia belum memiliki kemampuan manajerial seperti memenej sekolah. Selain itu. dan memasarkan hasil unit produksi sekolah dan lulusannya. memberikan pendidikan yang bermutu bagi lulusannya sehingga dunia usaha dan industri mengeluh terhadap rendahnya mutu lulusan SMK. Akibatnya. Sebagai leader. membangun memotivasi guru bekerja. dan Menyenangkan (PAKEM). hasil pembelajaran belum mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan pengalaman kewiraswastaan bagi siswanya. ia lebih disibukkan pada penyelesaian tugas administratif daripada edukatif. Sebagai climator. Kreatif. mengambil keputusan. dan menciptakan suasana Pembelajaran yang Aktif.

d. atau wiraswasta. Menjelang pertengahan abad ke-18. Schumper dalam Peggy A Lambing & Charles R. bersikap. b. Entrepreneurship Entrepreneurship atau kewirausahaan atau kewiraswastaan merupakan kata benda dari entrepreneur. Adapun kepemimpinan secara sederhana dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses mempengaruhi.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah PEMBAHASAN Perilaku Kepemimpinan Perilaku (KBBI. 77 . Awal tahun 1934. para peneliti masih akan mendiskusikan apakah entrepreneur yang sukses merupakan bakat yang dibawa lahir atau tidak. dan menuntun orang lain dalam proses kerja agar berfikir. Berdasarkan definisi dan hakikat kepemimpinan di atas dapat disimpulkan bahwa proses kepemimpinan pada hakikatnya dapat muncul kapan dan dimanapun. entrepreneur berfokus pada seseorang dan untuk 200 tahun yang akan datang. mengajak. Kata entrepreneur berasal dari bahasa Prancis. Orang yang memimpin Orang-orang yang dipimpin Kegiatan atau tindakan penggerakkan untuk mencapai tujuan Tujuan yang ingin dicapai bersama Jadi. c. Richard Cantillon (1730) adalah seorang yang disebut-sebut sebagai pencetus istilah entrepreneur untuk pertama kalinya. mendorong. apabila ada unsur-unsur: a. Hakikat kepemimpinan adalah kegiatan seseorang menggerakkan orang lain agar orang lain berkenan melaksanakan tugas-tugasnya. 2002) adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. wirausaha. Kuehl (2003) menggambarkan entrepreneur sebagai seorang yang membuat produk baru dan memasarkannya. kepemimpinan merupakan motor penggerak bagi sumber daya yang dimiliki lembaga. Joseph A. Selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi entrepreneur yang artinya pengusaha. dan bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. entreprendre yang artinya mengusahakan. menggerakkan. Menurut Richard Cantillon dalam Leo-Paul Dana(1997). Oleh karena itu kepemimpinan disebut sebagai fungsi organik dalam proses manajemen.

Ketiga. seorang entrepreneur adalah orang yang betindak untuk melakukan inovasi. menggunakan teknologi sebagai sebuah komoditi baru atau memproduksi yang lama dengan cara baru).Rokhmaniyah Pendapat Joseph A. Tindakanlah yang membuat entrepreneur menjadi inovator. Menurut beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa enterpreneurship ialah seseorang yang berusaha secara mandiri. maupun yang bersifat mental (baca: dianggap gagal). ia melihat kemungkinan dan memiliki visi untuk menciptakan sesuatu yang baru yang memicu semangatnya untuk bertindak. seorang entrepreneur mampu melihat peluang bisnis yang tidak dilihat atau diperhitungkan oleh orang lain. memperkirakan keuangan. Alan J. senang menghadapi tantangan. lebih umum. Barang akan menumpuk dan akhirnya usaha akan bangkrut. Menurut Gifford Pinchot. Kedua. Oleh sebab itu. John J. dan kreator. berani mengambil risiko. kreatif memiliki empat gaya: (1) intuitif yang berfokus pada hasil pengalaman masa 78 . Sebenarnya di dalam kreator sudah termasuk inovator.” (Seseorang yang membentuk kembali atau mengubah dengan cepat bentuk produksi melalui penggalian penemuan atau. mengubah keadaan yang tidak/kurang menyenangkan menjadi keadaan yang diinginkan. Lambing dan Charles R. Pertama. kebebasan. Karena inovatif adalah salah satu gaya dari kreatif. seorang entrepreneur adalah pengambil risiko. “Entrepreneur both innovator and creator. Gifford Pinchot (1988) mengatakan bahwa Entrepreneur adalah orang yang mengintegrasikan bakat rekayasa dan pemasar dengan menciptakan proses dan jasa baru. Adapun. maka pertamatama yang harus diperhatikan adalah pemasarannya. Selanjutnya. Rodney Overton (2002) mendefinisikan enterpreneur sebagai. psikis. senang berpetualang. Apalah artinya banyak barang dan jasa yang dihasilkan tetapi tidak laku dijual di pasaran. Kao(1991) mendefinisikan. Rowe(2008). Schumper di atas dikembangkan oleh Peggy A. ”One who reforms or revolutionises the pattern of production by exploiting an invention or. Ciputra dalam Andreas Harefa (2006) mengatakan bahwa sedikitnya ada tiga ciri-ciri utama seorang entrepreneur. kepuasan pribadi. an untried technological a new coomudity or producing either an old in a new way. Gifford Pinchot menyarankan sebelum seseorang memutuskan akan membuka usaha. baik risiko yang bersifat finansial (baca: rugi). keuntungan finansial. more generally. Kuehl yang menyatakan bahwa seorang entrepreneur tidak hanya memproduksi barang dan jasa baru tetapi juga sebagai pencetus ide (gagasan) atau konsep baru. inovator dengan memperhatikan nilai waktu dan usaha. pertama-tama yang perlu dimiliki oleh seorang entrepreneur adalah bakat memasarkan produk barang dan jasa.

Singkatan dari intrasekolah dan preneurship. Pandai membaca peluang dan mau bekerja keras.” Seseorang dapat membawa gaya kreatifnya sendiri pada suatu usaha dan tindakan itu bukan saja akan membuat usahanya berjalan lancar bahkan kelancaran usaha itu akan dapat terjadi disebabkan karena adanya kreativitas Anda tersebut. Berani menanggung risiko. Howard Morhaim dalam Kathleen L. bukan modal sendiri tetapi modal sekolah. Walaupun dalam kesehariannya seorang kepala sekolah menghadapi tugas rutin yang tidak menyenangkan. tetapi sebagai seorang entrepreneur harus mampu menemukan jalan untuk menyelesaikannya. dan berpikir di luar kebiasaan. Sebagai seorang kepala sekolah yang entrepreneurship harus memiliki pribadi yang kreatif yang harus mau belajar mendisiplinkan dirinya untuk berurusan dengan tugas dan kewajibannya. Hawkins (1993) memperingatkan dengan berkata. Oleh sebab itu.” 79 . Mengingat Kepala Sekolah bukanlah seorang entrepreneur sejati karena ia tidak bekerja mandiri tetapi didukung oleh warga sekolah dan stakeholders-nya apalagi semua keuangan disiapkan oleh pemerintah atau yayasan untuk sekolah swasta. dan (4) inspiratif berfokus pada perubahan sosial dan memberikan ilham. Kepala Sekolah tidak bebas mengatur dirinya sendiri tetapi masih diatur oleh sekolah. maka yang dimaksud dengan perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. Sebagai intrapreneur. Kepala Sekolah yang Berperilaku Enterpreneurship Berdasarkan pengertian perilaku kepemimpinan dan entrepreneurship di atas. apakah sebagai seorang kepala sekolah telah menciptakan sesuatu yang berguna bagi pengembangan sekolah dan belum pernah ada sebelumnya. Renungkan. maka ia bekerja untuk sekolahnya sehingga semua tindakannya dibatasi oleh aturan-aturan sekolah. kepala sekolah adalah seorang inspirator bagi munculnya ide-ide kreatif dan inovatif dalam mengelola sekolah. keindahan. Refleksi atau menilai diri sendiri adalah menjadi kebiasaan. dan berdasarkan data. (2) inovatif yang berkonsentrasi pada pemecahan masalah. Bila telah merasa mendapat nilai tinggi dalam disiplin diri. (3) imajinatif yang dapat menggambarkan peluang. sistematika.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah lampau yang mengarahkan untuk bertindak. senang menulis. berarti dapat dikatakan telah mampu berkonsentrasi dan melihat hal-hal secara lengkap baik itu berupa tugas-tugas sekolah maupun tugas pribadi. bukan bekerja untuk sendiri tetapi untuk sekolah. lebih tepat disebut sebagai intrapreneurship.

Morhaim menambahkan. Kepala sekolah yang entrepreneurship haruslah dapat bersifat luwes.” Artinya. dan mampu melihat berbagai cara pemecahan masalah. penyelia(supervisor). dapat menyesuaikan diri. Anda mempunyai cukup banyak variasi untuk mengendalikan dan mengarahkan situasi menurut kesukaan Anda. wirausahawan(entrepreneur). pengendalian diri. Program sekolah tidak akan tercapai bila sekolah tidak pandai menjalin komunikasi baik dengan stakeholders. dan teguh dalam perundingan kontrak. Tindakan mengambil risiko berkaitan dengan pertumbuhan. dan pencipta iklim kerja(climator). Seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik(educator). berlaku sopan.” Jika jangkauan perilaku Anda lebih luas dibandingkan orang lain. Penguasaan kemampuan yang baik untuk berhubungan dengan orang-orang perlu dimiliki. pengelola(manager). Sebagai intrapreneur. perubahan. kepercayaan bawahan terhadap kepala sekolah tetap terjaga. Berani menanggung risiko sangat baik dibandingkan sibuk mencari pembelaan diri. Menjalin kerja sama dengan dunia industri atau dunia usaha adalah penting bagi kepala sekolah. dan kesadaran akan harga diri. kepala sekolah adalah seorang inspirator bagi munculnya ide-ide 80 . administrator(administrator). Richardon menerangkan. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Kepala sekolah adalah orang kunci yang menentukan sukses atau gagalnya sekolah dalam mencapai tujuannya. Bila dalam usaha atau tidakan yang telah direncanakan mengalami ketidakberhasilan maka secara tulus segera meminta maaf dengan berusaha untuk memperbaikinya.” Dalam hal ini kepala sekolah dapat menerapkan kepemimpinan situasional. pemimpin(leader). Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship.” kebanyakan agen yang berhasil dalam usaha mereka ialah orang-orang yang tenang dan mempunyai pikiran tajam yang tahu bagaimana melakukan sesuatu. Dengan demikian. sebagai kepala sekolah yang berjiwa entrepreneurship harus mau mengembangkan dirinya dan menajamkan pikirannya sehingga mampu membaca peluang serta mampu menyelesaikan tugas sesuai dengan tujuan yang diharapkan.Rokhmaniyah Selanjutnya. Untuk memperlancar kegiatan pembelajaran yang memusatkan pada life skill diperlukan dukungan dari orang lain / masyarakat / wali siswa / dunia industri / dunia usaha.

A. 2003. Upper Saddle River. & Kuehl. L. Ujilah Tingkat Kecerdasan Anda sebaga Seorang Wirausaha. Pengawasan terhadap peningkatan kompetensi kepala sekolah hendakanya dilakukan secara rutinitas sehingga kepala sekolah termotivasi untuk selalu meningkatkan kinerjanya. & Turla.A. Are You An Entrepreneur? Singapore: Wharton Books. Overton. Pte. DAFTAR RUJUKAN Andreas Harefa dan Eben Ezer Siadari. Englewood Cliftts. 2003.. 1993 Kao. Upper Saddle River. (Diterjemahkan oleh Dabar Publisshers). The Ciputra Way: Praktik Terbaik Menjadi Entrepreneur Sejati. 2008. Enterpreneurship. R. New Jersey: Prentice Hall. Ltd . Refleksi diri sangat penting dilakukan secara rutin sehingga dapat melihat tingkat keberhasilan dalam mengelola sekolah. Hawkins. Pandai membaca peluang dan mau bekerja keras. P. Solo: DABARA. C. Lambing. New Jersey: Prentice Hall 81 . Jakarta: PT Alex Media Komputindo. The Enterpreneur. Rekomendasi Untuk Kepala Sekolah Kepala sekolah hendaknya selalu meningkatkan kompetensi kepala sekolah khususnya kompetensi wirausahawan (intrapreneur) sehingga dapat memberi contoh dan motivasi terhadap warga sekolah.R. 1993. Untuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pendidikan dan latihan kepemimpinan entrepreneurship sangat penting diadakan untuk meningkatkan perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah. J. P. 2006. Creative Intelegence Discovering the Innovative Potential in Ourselves and Others. Rowe. Upper Sadle River. 1991. A. 2002. Berani menanggung risiko. J. New Jersey: Prentice Hall.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah kreatif dan inovatif dalam mengelola sekolah. Kerja sama dengan stakeholders harus senantiasa dibina dengan baik demi menghasilkan lulusan yang berkualitas. K.

Pendidikan bertaraf internasional juga harus relevan. No. baik untuk sekolah negeri maupun swasta. kondisi lingkungan. efisiensi. Pendidikan bertaraf internasional yang efisien adalah pendidikan yang menghasilkan standar mutu lulusan optimal (berstandar nasional dan internasional) dengan pembiayaan yang minimal. Kepemimpinan Kepala Sekolah dan RSBI. PENDAHULUAN Dalam upaya meningkatkan mutu. Pendidikan bertaraf internasional yang bermutu adalah pendidikan yang mampu mencapai standar mutu nasional dan internasional. maka Pemerintah telah menetapkan pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang bertaraf internasional. kondisi sekolah.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 2. berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan yang bertaraf internasional tersebut. Kata Kunci: Kebijakan Pemerintah. Kebijakan pemerintah dalam RSBI ditetapkan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah harus memiliki tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. yaitu penyelenggaraan pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. seperti yang tertuang dalam Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) adalah: 1. Selain itu terdapat pula 16 kriteria seorang kepala sekolah yang memimpin RSBI. maka upaya yang dilakukan oleh Pemerintah. masyarakat. Mandikdasmen Depdiknas Abstrak Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu aspek penting dalam komponen input pada sistem pendidikan nasional. Penetapan standar dan kriteria tersebut diarahkan untuk mewujudkan tujuan sebuah sekolah yang memiliki daya saing pada tingkat nasional dan internasional. 1. 82 3. April 2009 KAJIAN ATAS KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH PADA SMPN 115 JAKARTA SEBAGAI SALAH SATU RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI) Ujang Didi Supriadi Direktorat SMP Ditjen. 4. Selanjutnya. dan peningkatan daya saing secara nasional dan sekaligus internasional pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. dan kemampuan pemerintah daerahnya (kabupaten/kota dan provinsi). . relevansi. orang tua.

guru. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. hingga sampai penilaiannya. and learning to be merupakan patokan berharga bagi penyelarasan praktek-praktek penyelenggaraan pendidikan Indonesia. kebijakan yang dijadikan landasan oleh pemerintah adalah: Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. learning to live together. proses belajar mengajar. b. Penyelenggaraan SBI didasari oleh filosofi eksistensialisme dan esensialisme. dan daya saing yang kuat. minat. 83 a. maupun internasional. Menurut Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008). yang dimulai dari kurikulum. efisien.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah 4. proses. learning to do. d. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 menetapkan skala prioritas utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional ke-1 tahun 2004-2009 untuk meningkatkan kualitas dan akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan. nasional. sarana dan prasarana. 4. c. Era globalisasi yang menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam teknologi. 2. empat pilar pendidikan yaitu learning to know. . menumbuhkan dan mengembangkan bakat. dan kemampuan peserta didik. keluarga. baik kebutuhan individu. properubahan. baik lokal. Filosofi eksistensialisme berkeyakinan bahwa pendidikan harus menyuburkan dan mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitasi yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat. 3. dan input baik secara nasional dan internasional. beberapa alasan yang melatarbelakangi perlunya pendidikan bertaraf internasional yang selanjutnya disebut sebagai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). maupun kebutuhan berbagai sektor dan sub sektornya. maka dalam penyelenggaraan SBI. Dalam upaya peningkatan mutu. diantaranya adalah: 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Nasional Pendidikan. relevan. Sedangkan filosofi esensialisme menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi relevan dengan kebutuhan. Dalam mengaktualisasikan kedua filosofi di atas. Pendidikan bertaraf internasional harus memiliki daya saing yang tinggi dalam hal hasil-hasil pendidikan (output & outcome). manajemen dan sumber daya manusia. terutama pada Pasal 50 ayat 3.

pemimpin. regulator. mengelola dan menganalisis sekolah. dan keterampilan personal. Menjalankan perannya sebagai manajer. sebuah sekolah yang berstandar internasional. Menurut Slamet PH (2004) seperti yang dikutip dalam Panduan Pelaksanaan Pembinaan SMP SBI diungkapkan bahwa kepala sekolah SBI harus memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. Hal ini dikarenakan. Kepala sekolah sebagai penanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan pada sekolah bertaraf internasional memiliki fungsi yang strategis. peran kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu aspek yang menjadi aspek yang paling penting. 84 . namun berujung pada kualitas yang lebih tinggi lagi yaitu standar internasional. Kemampuan mengambil keputusan secara terampil. standar prestasi. 2. proses. pendidik. tetapi tidak toleran terhadap orang-orang yang meremehkan kualitas. pencipta iklim kerja. lingkungan. wirausahawan. misi. 4. pembaharu. Kemampuan dalam mengkoordinasikan menyerasikan sumberdaya dengan tujuan. 3. Tolerasi terhadap perbedaan pada setiap orang. 5. Menggunakan input manajemen. maka tentunya akan dipimpin oleh seorang kepala sekolah dengan kemampuan berstandar internasional. Peningkatan kualitas tersebut tidak lagi berujung pada standar kualitas nasional. 9. dan strategi. Menjalankan dimensi-dimensi tugas. Komitmen tersebut telah dituangkan ke dalam kebijakan pemerintah dalam pendidikan nasional seperti yang disampaikan di atas. administrator. 8. Di dalam Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) telah dituliskan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah yang memimpin SBI adalah kepala sekolah dengan tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. Menggunakan sistem sebagai cara berpikir. Salah satu aspek yang menjadi penting dalam upaya pemenuhan kualitas pendidikan yang berstandar internasional tersebut. dan pembangkit motivasi. 7. Memobilisasi sumber daya. 6. dan nilai-nilai. penyelia. Memiliki visi. terlihat bahwa Pemerintah memiliki komitmen yang sangat tinggi dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.Ujang Didi Supriadi Beberapa hal yang telah disampaikan di atas.

Gary sebagai guru ICT dan Mr. Menerapkan manajemen berbasis sekolah. Menciptakan sekolah belajar. Menggalan teamwork yang cerdas dan kompak. 11. Memusatkan perhatian pada pengelolaan proses belajar mengajar. Salah satu sekolah yang telah terpilih menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) adalah SMP Negeri 115 sejak tahun 2007. SH. Hj. Penandatanganan ini dilakukan oleh Kepala Sekolah Semabel's. Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam menjadikan SMPN 115 sebagai RSBI merupakan salah satu aspek penting untuk disampaikan pada makalah ini. Sebagai upaya peningkatan mutu internasional. para pejabat Kodya Jakarta Selatan. melakukan analisis SWOT dan mengupayakan langkah-langkah untuk meniadakan persoalan. 13. Sylviana Murni. dan dihadiri pula oleh seluruh Kepala Sekolah SMPN RSBI se-DKI Jakarta. dan 16. Justin sebagai guru Bahasa Inggris. Bpk. yaitu merumuskan sasaran. Adi Dasmin dan Mr. memilih fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran. Ivan sebagai Pupil Development). Mendorong kegiatan-kegiatan yang kreatif. Menjalankan gejala empat serangkai. 15. 14. Memberdayakan sekolah. 12. Beberapa kriteria yang disampaikan di atas bahwa Pemerintah melalui kebijakan peningkatan kualitas pendidikan yang bertaraf internasional telah membuktikan bahwa kepala sekolah merupakan salah satu komponen dalam sistem pendidikan yang menjadi faktor penentu tercapainya kualitas pendidikan bertaraf internasional tersebut. 85 . MSi selaku Kepala Dinas. pada bulan Maret 2008 SMPN 115 telah melakukan kerja sama kepada Queensway Secondary School Singapore (QSS).Kajian Atas Kebijakan Pemerintah 10. Mr. Dimana bila ditelaah melalui kebijakan pemerintah. selanjutnya dari Dinas Pendidikan Nasional DKI Jakarta diwakili oleh Dr. Herman Cher Ma'in (Wakil Kepala Sekolah QSSS) dan disaksikan oleh 3 guru dari QSSS (Mr. telah ditetapkan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah merupakan salah satu komponen input yang turut menentukan tercapainya kualitas pendidikan bertaraf internasional.

Dari aspek karakteristik dibedakan antara karakteristik pemimpin (leader) dengan karateristik manajer. melalui gayanya tersebut. Challenges the Status quo (menentang kemapanan). Eye on the horizon (berpandangan sama pada sesamanya). Focuses on people (terkonsentrasi pada manusia). Ia percaya pada bawahan. Selain itu menurut Dubrin (2001:3) bahwa kepemimpinan itu adalah kemampuan untuk menanamkan keyakinan dan memperoleh dukungan dari anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Develops (mengembangkan). 86 . bertanya (Democratic). dan selalu menyalakan api kepercayaan pada anggota organisasi. Asks what and why (ia menanyakan apa dan mengapa). Gagasan-gagasan yang dimiliki oleh pemimpin merupakan gagasan sendiri tidak meniru ataupun mencontoh gaya kepemimpinan orang lain. Ia menentang status quo. 2002: 577). Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan. Longrange perspective (memiliki prespektif jangka panjang). ia tidak puas dengan apa yang ada. Ia bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh bawahannya. Does the right thing (mengerjakan yang benar). Luthans (2002: 576) menegaskan bahwa karakteristik pemimpin di Abad XXI adalah: Innovates (menciptakan sesuatu yang baru). Pemimpin memiliki karakteristik selalu memiliki upaya untuk menciptakan hal yang baru (selalu berinovasi). ada kalanya pemimpin memberi kesempatan bawahan untuk berdiskusi. dan ada kalanya pemimpin itu membiarkan kondisi yang ada terserah pada bawahan (Laissez -fair) (The Iowa Leadershi Study) (Luthans. sehingga kepemimpinan menjadi sangat penting perannya dalam sebuah organisasi. Inspires trust (menghidupkan rasa percaya). Own person (mengakui tanggung jawab ada pada pemimpin). Originates (memiliki keaslian). dan ia mengerjakan yang benar.Ujang Didi Supriadi LANDASAN TEORI Kepemimpinan Kepala Sekolah Setiap organisasi selalu dipimpin oleh seorang pemimpin. seorang pemimpin ada kalanya pemimpin tidak memberi kesempatan pada bawahannya untuk bertanya ataupun minta penjelasan (Authoritarian). An original (asli dari pemimpin). Kepemimpinan itu ada pada diri pemimpin/manajer. Pemimpin selalu berupaya untuk mengembangkan apa yang ia lakukan. Ia bertanya pada bawahannya dengan pertanyaan apa dan mengapa?. Kepemimpinan menurut Northouse (2003:3) merupakan suatu proses dimana individu mempengaruhi kelompok untuk mencapai tujuan umum. Keberhasilan sebuah organisasi sangat bergantung dari keberhasilan peran pemimpin. Gagasannya memiliki prespektif jangka panjang.

Consideration. teori Contingency. Employee-Centered. didapatkan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa kepemimpinan ditujukan pada penyelesaian tugas atau orientasi pada sasaran (Initiating Structure). dan Human Resource Management. Pembahasan kepemimpinan juga dikaji tentang gaya kepemimpinan (Leadership Style). Sedangkan kegiatan mereka adalah: Routine Communication. (7) menetapkan tujuan dan menjelaskan visi. Selanjutnya penelitian dilanjutkan oleh The Early Michigan Leadership Study menunjukkan bahwa kepemimpinan itu adalah perhatian terhadap karyawan (employee-centered) dan juga perhatiannya terhadap proses produksi (production-centered). Sebagai pemimpin.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah Studi dilakukan oleh The Ohio State Leadership Study. Informational Roles. Traditional Management. 2002: 579-589). teori Jalur dan Tujuan (Path-Goal Leadership Theory). Democratic. Directive). Initiating Structure. 87 . (2) mengelola waktu dan stress. dimana pada akhir Perang Dunia ke 2. Production Centered. (5) memotivasi dan mempengaruhi orang lain. Berikutnya berkembang pula gaya kepemimpinan situasional yang dikembangkan oleh Harsey dan Blanchard yang kemudian dikenal dengan Harsey dan Blanchard’s Situational Leadership Model. Task-directed. Participative. Gaya kepemimpinan yang mendasarkan pada dua dimensi yaitu perhatian terhadap tugas (Concern for Task) dan perhatian terhadap karyawan (Concern for People) telah melahirkan teori gaya kepemimpinan yang terkenal dengan The Blake and Mouton Managerial Grid. manajer ataupun pimpinan memiliki peran (role). (4) mengakui. (6) mendelegasikan wewenang. Kajian terhadap teori kepemimpinan terus berkembang pada teori Sifat (Trait Theories). Serta skill bagi pemimpin adalah: (1) komunikasi verbal. dan (10) mengelola konflik (Luthans. Human relations. Close. Komponen dari Boss-Centered (meliputi: Theory X. Studi klasik tentang teori kepemimpinan telah mengembangkan gaya kepemimpinan yang kontinum Boss-Centered dan Employee Centered. (8) memiliki kesadaran diri. Supportive. menjelaskan. kegiatan. Gaya kepemimpinan tersebut telah mendasari teori Tannebaum and Schmidt Continuum of Leadership Behavior. 2002: 619627). Autocratic. General. Decisional Roles. Sedangkan Employee Centered memiliki komponen: Theory Y. dan skill. teori Kepemimpinan Transformasional (Transformational Leadership Theory) (Luthans. (9) membangun kerja tim. teori Kelompok dan Tukar Menukar (Group and Exchanges Theories). dan pengakuan terhadap kebutuhan individu dan hubungan (Consideration). Pimpinan memiliki peran Interpersonal Roles. (3) mengelola pengambilan keputusan. toeri Kepemimpinan Karismatik (Charismatic Leadership Theories). Networking. dan memecahkan permasalahan.

atau dengan kata lain kebijakan publik merupakan studi tentang apa yang dilakukan pemerintah. jika yang menjadi tujuan desentralisasi pendidikan adalah peningkatan kualitas proses belajar mengajar dan kualitas dari hasil proses belajar mengajar tersebut. Implisit ke dalam strategi desentralisi pendidikan yang seperti ini adalah target untuk mencapai efisiensi dalam penggunaan sumber daya (school resources. Sehingga kebijakan bebas dari konotasi yang dicakup dalam kata politis yang sering kali diyakini mengandung makna keberpihakan dan korupsi. dan apa akibat dari tindakan tersebut. Kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan diungkapkan oleh Alisjahbana (2000) memiliki dua jenis desentralisasi pendidikan. maka fokus desentralisasi pendidikan yang dilakukan adalah pada pelimpahan kewenangan yang lebih besar kepada pemerintah lokal atau kepada Dewan Sekolah. Konsep desentralisasi pendidikan yang pertama terutama berkaitan dengan otonomi daerah dan desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan dari pusat ke daerah. Dilain pihak. dana pendidikan yang berasal yang pemerintah dan masyarakat). Jika yang menjadi tujuan adalah pemberian kewenangan di sektor pendidikan yang lebih besar kepada pemerintah daerah. desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah. Menurut Alisjahbana (2000). seperti yang dikutip oleh Parson (2005). Dye dalam Parson (2005) adalah : “public policy is whatever governments choose to do or not to do”. tujuan dan orientasi dari desentralisasi pendidikan sangat bervariasi berdasarkan pengalaman desentralisasi pendidikan yang dilakukan di beberapa negara Amerika Latin. desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan dalam hal kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah (propinsi dan distrik). maka desentralisasi pendidikan lebih difokuskan pada reformasi 88 . Atas dasar pengertian di atas. sedangkan konsep desentralisasi pendidikan yang memfokuskan pada pemberian kewenangan yang lebih besar pada tingkat sekolah dilakukan dengan motivasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.Ujang Didi Supriadi Kebijakan Pendidikan Pengertian kebijakan publik menurut Thomas R. yaitu: pertama. Sedangkan menurut Lasswell (1951b). Amerika Serikat dan Eropa. maka pengertian dari kebijakan pendidikan merupakan sebuah pilihan stratejik yang dilakukan pemerintah karena berkaitan dengan kepentingan masyarakat banyak di bidang pendidikan. dan kedua. kata kebijakan umumnya dipakai untuk menunjukan pilihan terpenting yang diambil baik dalam kehidupan organisasi atau privat. mengapa pemerintah mengambil tindakan tersebut.

Partisipasi orang tua dalam proses belajar mengajar dianggap merupakan salah satu faktor yang paling menentukan. desentralisasi pendidikan yang dilakukan di banyak negara merupakan bagian dari proses reformasi pendidikan secara keseluruhan dan tidak sekedar merupakan bagian dari proses otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Tipologi Kewenangan-kewenangan Pendidikan yang Dapat Didesentralisasikan Sumber: Alisjahbana (2000) 89 . Desentralisasi pendidikan akan meliputi suatu proses pemberian kewenangan yang lebih luas di bidang kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat kepemerintah lokal dan pada saat yang bersamaan kewenangan yang lebih besar juga diberikan pada tingkat sekolah Selanjutnya menurut Alisjahbana (2000).Kajian Atas Kebijakan Pemerintah proses belajar-mengajar. tipologi komponen-komponen sektor pendidikan yang dapat dipertimbangkan untuk didesentralisasikan dapat dilihat dalam Tabel 1 berikut: Tabel 1. Dalam kenyataannya.

maksudnya adalah sekolah ini memiliki kelas berstandar pendidikan internasional yang ditunjukan dengan penyelenggaraan pendidikan beserta segala aspek intensitas dan kualitas layanan yang ditata secara efektif. ditambah konsep pembelajaran berwawasan global yang bertujuan mengembangkan potensi diri peserta didik. Selama dua setengah tahun renovasi gedung itu berjalan. Kombinasi prestasi akademik dan non akademik. Hal ini tentu tak terlepas dari pembinaan para guru dan kepemimpinan kepala sekolah. bahkan SMP Negeri 115 Jakarta ini merupakan pemasok terbesar siswa-siswi SMA Negeri 8 Jakarta yang merupakan sekolah SMA unggulan di DKI Jakarta. telah menempatkan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 115 Jakarta sebagai 'prototype' Rintisan Sekolah Bertaraf International (RSBI). Tekad kepemimpinan kepala sekolah berserta seluruh komponen sekolah untuk menjadikan SMPN 115 sebagai sekolah bertaraf international tidak saja direalisasikan dalam pengadaan berbagai fasilitas. profesional untuk mencapai keunggulan mutu pendidikan baik nasional maupun internasional dengan karakteristik seperti penggunaan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya sebagai bahasa pengantar secara aktif dan penggunaan ICT (Information and Communication Technology) dalam pembelajaran. Selain itu prestasi lainnya seperti di Olimpiade Sains Nasional maupun ajang kompetisi lokal dan internasional telah memotivasi sekolah ini menjadi SBI. SMP Negeri 115 Jakarta atau sering disebut SMABELS. sarana dan prasarana.Ujang Didi Supriadi PEMBAHASAN Kepemimpinan Kepala Sekolah SMP N 115 dalam Membangun RSBI SMP Negeri 115 Jakarta merupakan sekolah yang berdiri sejak tahun 1978. Prestasi yang diraih adalah sebagai sekolah dengan rata-rata nilai UAN tertinggi di DKI Jakarta selama 3 tahun terakhir. dan pada awal tahun 2005 renovasi selesai dan mulai menempati gedung baru yang megah. Pemerintah menetapkan SMPN 115 Jakarta sebagai salah satu Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Dari tahun-ke tahun hingga kini banyak lulusan SD se-DKI Jakarta yang berlomba-lomba ke SMP Negeri 115 Jakarta Sejak tahun 2008. Setelah berjalan 20 tahun gedung yang ditempati SMP Negeri 115 Jakarta akhirnya direnovasi oleh Pemda DKI Jakarta yaitu pada tahun 2001. Tapi juga diimplementasikan dalam manajemen sekolah (pendidikan) yang di dalamya 90 . telah tercatat berbagai prestasi yang telah diraih oleh siswa-siswinya. Sekolah ini berlokasi di Jalan Tebet Utara III Jakarta Selatan.

orkestra & paduan suara) telah mencapai juara I Pop Song Interasional. untuk menuju sekolah internasional juga diimplementasikan melalui penerapan Kelas Bilingual dan Kelas Internasional yang diisi oleh siswasiswi pilihan dan dalam proses belajar mengajar dominan menggunakan bahasa asing. laboratorium bahasa. Seluruh siswa dan siswi memiliki kesempatan sama besarnya untuk berprestasi baik di dalam dan di luar pelajaran. Guna mencapai visi tersebut. sarana olahraga dan kreativitas seni. kepemimpinan kepala sekolah sangat menekankan pada kelengkapan fasilitas belajar dan mengajar. SDM (guru dan tenaga kependidikan) pemanfaatan fasilitas. kepemimpinan kepala sekolah SMP N 115 tidak 91 . tari. Untuk prestasi di luar pelajaran (ekstra kurikuler) seperti lewat pentas seni (band. misalnya pengadaan laboratorium IPA. SMPN 115 telah menyelenggarakan proses pembelajaran dengan orientasi prestasi. Kepemimpinan Kepala Sekolah memiliki visi bahwa konsep SBI sesungguhnya telah sejalan dengan visi dan misi SMPN 115 yaitu menjadikan peserta didik yarig cerdas dan kompetitif di tingkat nasional maupun international. perpustakaan. terlihat bahwa kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki visi prestasi hingga mencapai tingkat internasional akan mampu mendorong sekolah untuk mewujudkan visi tersebut. Selaku kepala sekolah. Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan di atas. Selain itu. Selain itu pula telah berhasil dalam kejuaraan olahraga yang membawa SMPN 115 juara lomba renang tingkat regional di Thailand. Artinya. pengembangan diri dan kemampuan menguasai iptek di era globalisasi.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah mencakup kurikuluin. Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Luthans (2002: 576) bahwa salah satu karakteristik pemimpin di Abad XXI adalah memiliki prespektif jangka panjang (Longrange perspective). pemberdayaan peran guru sangat dimaksimalkan dimana para guru harus memahami situasi dan prestasi anak didik sehingga semua permasalahan yang muncul di kelas harus segera ditangani secara bersama. kepemimpinan kepala sekolah mencoba melakukan pendekatan kepada seluruh siswa selama di sekolah dengan menempatkan wali kelas dan guru pendamping untuk memantau proses belajar mengajar. Sejak berdiri 1978 sebagai sekolah reguler. metode. Untuk mendukung prestasi sekolah. moral. unggul dalam prestasi akademik dan non akademik melalui peningkatan ketaqwaan. termasuk memberikan dukungan penuh kepada siswa dalam upaya meraih 2 medali di Olimplade Sains Nasional 2007 di Surabaya Jawa Timur.

yaitu Queensway Secondary School Singapore (QSS). dan sebagainya. namun visi membangun prestasi sekolah yang unggul telah diinspirasikan untuk jangka panjang jauh sebelum pemerintah mengeluarkan kebijakan SBI. magang. Sehingga adanya kebijakan baru tentang SBI telah memudahkan SMP N 115 dalam meraih predikat tersebut. melakukan kerja sama dengan lembaga lain. sehingga kedua sekolah dapat saling belajar keunggulan-keunggulan yang dimiliki. Upaya pencapaian visi tersebut tidak hanya terbatas dalam prestasi akademik dan non-akademik. kepribadian. manajemen ISO 9000:2001. dan sebagainya. komunikasi. 92 . Pada Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) juga disampaikan bahwa di semua sekolah yang telah bertarafkan internasional. Sehingga melalui kemampuannya dalam berbahasa Inggris tersebut. Kerja sama ini dilakukan sebagai upaya untuk saling tukar-menukar informasi dalam menjalankan manajemen pendidikan. diantaranya adalah pelatihan. Adapun materi pengembangan kapasitas tersebut diantaranya dalam hal kemampuan intelektualitas.Ujang Didi Supriadi hanya ingin mencapai prestasi di tingkat nasional. penguasaan teknologi informasi dan telekomunikasi. kepemimpinan kepala sekolah dapat menjalin komunikasi dan kerja sama kepada sekolah berskala internasional di Singapura. kepemimpinan kepala sekolah telah pula menjalankan fungsi Networking dengan melakukan kerja sama kepada sekolah internasional yang berbasis di Singapura. keterampilan dalam berbagai bidang. memiliki kewajiban dalam upaya meningkatkan kapasitas kepala sekolahnya melalui berbagai kegiatan. kepala sekolah yang bertaraf internasional harus memiliki tingkat pendidikan minimal S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A. Untuk mendukung kualitas sekolah. Sehingga karakteristik kepala sekolah yang tangguh dan berwawasan internasional dapat tercapai secara bertahap dan berkelanjutan. bahasa Inggris. Kebijakan Pemerintah dalam Mengembangkan Kepemimpinan Kepala Sekolah pada Sekolah Bertaraf Internasional Kebijakan pemerintah dalam kualifikasi kepemimpinan kepala sekolah pada SBI diterangkan pada Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) telah dituliskan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah yang memimpin SBI adalah kepala sekolah dengan tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. Persyaratan ini telah dipenuhi oleh Kepala Sekolah SMPN 115 Jakarta yang telah menempuh pendidikan pasca sarjana (S2) dan kemampuanya dalam berbahasa Inggris. menajemen. Di dalam hal tingkat pendidikan yang harus ditempuh.

adalah desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah. kebijakan pendidikan dalam upaya mewujudkan sekolah yang berstandarkan internasional melalui peningkatan peran kepemimpinan kepala sekolah. KESIMPULAN Kepemimpinan memiliki peran yang paling strategis dalam mencapai tujuan organisasi. peran Dinas Pendidikan Kabupaten dan Provinsi dalam meningkatkan kapasitas kepala sekolah dapat dilakukan sebagai pembinaan. desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan dalam hal kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah (propinsi dan distrik). Peran tersebut harus mengedepankan aspek profesionalitas dan kualitas dalam pengembangan kepemimpinan kepala sekolah bertaraf internasional. Desentralisasi pendidikan tersebut telah membagi dua peran yang saling menunjang. yaitu: pertama. Dalam hal ini peran kepemimpinan kepala sekolah sangat dominan dalam membawa sekolah menuju prestasi internasional. dalam kebijakan di bidang pendidikan memiliki dua jenis desentralisasi pendidikan.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah Selain itu. seperti yang telah dijalankan oleh SMPN 115 Jakarta. Pada dimensi ini peran pemerintah (baik pusat maupun daerah) memberikan kebijakan sebagai arah masa depan pendidikan sehingga format pendidikan secara nasional memiliki keseragaman yang akan dicapai. 93 . Selanjutnya pada dimensi kedua. yaitu peran pemerintah sebagai payung kebijakan pengembangan pendidikan bertarafkan internasional. dan pengarahan. pembimbingan. Di dalam penerapannya. Demikian halnya dalam mencapai tujuan organisasi pendidikan yang diarahkan memiliki taraf kualitas internasional. Kebijakan pemerintah dalam memberikan kualifikasi kepemimpinan kepala sekolah dalam memimpin sebuah sekolah yang bertarafkan internasional telah mendukung percepatan pencapaian tujuan yang ingin dicapai. Seperti yang telah diungkapkan oleh Alisjahbana (2000). maka dapat dilakukan dengan menerapkan kebijakan desentralisasi. dan peran sekolah melalui kepemimpinan kepala sekolah dalam menjalankan kebijakan sekolah bertaraf internasional. penempatan/pengangkatan.

2002.Ujang Didi Supriadi DAFTAR RUJUKAN Alisjahbana. Leadership: Research Findings. Leadership: Theory and Practice. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Wayne. A. Luthans.G. Dokumen: Panduan Pelaksanaan Pembinaan Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraf Internasional (SMP-SBI). Makalah untuk disampaikan pada Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung. Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan. Tahun 2008. New Delhi: Response Book. Singapore: McGrawHill International Editions Northouse. J. Dubrin. Third Edition. Practices. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama. 94 .Public Policy: Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan. Boston: Houghton Mifflin Company. and Skills. Organizational Behavior. 2001. 2005. 2003. Third Edition. 2000. Armida S. Ninth Edition. Parsons. Fred. Departemen Pendidikan Nasional. P. Jakarta: Penerbit Kencana.

guru. peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah cukup strategis dalam mengembangkan KPP sekaligus mengembangkan kompetensi sesuai tuntutan peraturan dan tuntutan perubahan zaman. Berbagai kajian telah dilakukan untuk menilai keberhasilan sekolah baik dari prestasi siswa maupun pengembangan profesi guru dan tenaga kependidikan yang ada di dalamnya. No. tenaga administrasi dan seluruh warga sekolah sudah seharusnya terus belajar dan mengembangkan diri menjadi pembelajar agar keberhasilan sekolah terwujud. April 2009 PEMIMPIN KOMUNITAS PEMBELAJARAN Zainun Misbah Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen. Siswa. Meski demikian penelitian tentang efek KPP terhadap nilai siswa belum banyak dilakukan. pemimpin PENDAHULUAN Sekolah merupakan tempat transaksi pembelajaran berlangsung.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. Hasil-hasil kajian sekolah telah banyak digunakan pengambil kebijakan untuk menentukan arah pembangunan pendidikan 95 . collective focus on student learning. Kajian tentang school effectiveness berkembang cukup pesat sebagai usaha mengkaji keefektifan sekolah. dan kepala sekolah belajar dalam memimpin pembelajaran (leading in learning). Selama tiga puluh tahun belakangan ini kajian tentang KPP terus dilakukan sebagai upaya pengembangan dan inovasi sekolah. Siswa belajar ilmu-ilmu pelajaran untuk bekal hidup. 1. guru-guru belajar dari kegiatan mengajarnya (teaching for learning). pembelajaran. PMPTK Depdiknas Abstrak Kajian tentang Professional Learning Community (PLC) atau Komunitas Pembelajaran Profesional (KPP) telah dilakukan oleh peneliti pendidikan dan dipublikasikan dalam beberapa jurnal ilmiah. Karenanya. Kata Kunci: Komunitas pembelajaran profesional. Kepala sekolah dituntut untuk menjadi pemimpin pembelajaran dalam artian bahwa semua warga sekolah dipimpin untuk terus meningkatkan mutu pembelajaran mereka. collaboration dan shared norms and values. 4. Dari beberapa kajian tersebut karakteristik KPP yang mendukung keberhasilan pembelajaran adalah adanya reflective dialogue. de-privatization of practice. inovasi sekolah.

KPP dipandang sebagai salah satu proses dalam pengembangan sekolah yang dapat memperbaiki sistem pengajaran di kelas. 229) menyatakan bahwa ‘that professional communities share cultural practices reflecting their collective learning process’. (7) pemberdayaan orang tua dan masyarakat. demikian juga mengembangkan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan lainnya. Kajian ini menyimpulkan berbagai karakteristik proses sekolah efektif meliputi: (1) perencanaan dan pengembangan sekolah. yakni deprivatized practice and reflective dialogue (dalam Grodsky & Gamoran. PENGERTIAN PROFESSIONAL LEARNING COMMUNITIES Ada banyak definisi yang berbeda tentang Professional Learning Community (PLC). (5) pengembangan siswa. Newman dan Wehlage (dalam Oden. (5) pengembangan guru dan staf. dan (11) akuntabilitas sekolah. relevansi dan daya saing pendidikan. (8) penghargaan dan insentif. Lebih lanjut. Diharapkan dengan semakin banyaknya referensi tentang komunitas pembelajar profesional dapat meningkatkan upaya inovasi pendidikan di Indonesia sehingga terjadi akselerasi peningkatan mutu pendidikan dengan mempertimbangkan perluasan dan pemerataan akses pendidikan. engage in 96 . Borman & Fermanich. and Kruse (1996) mengemukakan ada dua hal penting dalam komunitas professional. (3) pemantauan terhadap kemajuan siswa.Zainun Misbah baik di tingkat individu peserta didik. kajian tentang Professional Learning Community (PLC) atau Komunitas Pembelajaran Profesional (KPP) secara kualitatif dan kuantitatif terus dilakukan. (10) pengelolaan kurikulum. akuntabilitas dan pencitraan publik. (9) tata tertib dan kedisiplinan. Pada beberapa tahun belakangan ini. 2004) menjelaskan professional community sebagai : “possessing three general traits in which teachers pursue a shared sense of purpose for student learning. Ke-11 karakteristik tersebut saling mendukung dalam mendorong terselenggaranya proses pembelajaran yang efektif di sekolah (Direktorat Tenaga Kependidikan. serta penguatan tata kelola. peningkatan mutu. Marks. tulisan ini juga mencoba menggali peran kepala sekolah yang cukup strategis dalam mewujudkan KPP dan memimpin organisasi pembelajar. Louis. Hord (1997) menyatakan bahwa “professional learning communities can be a significant force for empowering staff that leads to school change and improvement and increased student outcomes. level kelas. (4) kepemimpinan kepala sekolah. 2003). Wenger (2000. 2008).” Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji tentang komunitas pembelajar professional dari beberapa literatur dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. (2) iklim dan budaya sekolah. level sekolah ataupun lingkup nasional.

Adanya pengajaran secara berkelompok yang terjadi Adanya kerjasama yang terjadi diantara berbagai peran yang berbeda (contohnya guru dengan staf pendukung). Ada tekanan dari teman sebaya pada mereka yang tidak mengerjakan bagiannya dengan baik. Ada pernyataan mengenai nilai-nilai yang dikembangkan bersama dan dipahami oleh semua. • • • Perencanaan tim dan kerjasama tim adalah suatu hal yang biasa terjadi. 2. Dengan demikian dalam suatu KPP terdapat tanggung jawab bersama dalam meningkatkan pembelajaran siswa. yang didorong oleh motivasi pembelajaran yang sama.Pemimpin Komunitas Pembelajaran collaborative activities to achieve this purpose. • Ada budaya peningkatan yang tampak jelas. adanya budaya kerjasama. and take collective responsibility for student learning”. Tanggung jawab bersama atas pembelajaran siswa. • 3. mencari tahu mengenai praktek-praktek pembelajaran mereka dan bersama-sama mempelajari pendekatan yang baru dan yang lebih baik yang akan meningkatkan pembelajaran seluruh siswa’. Adanya kolaborasi yang terjadi di seluruh sekolah dan juga kerjasama antar bidang pelajaran yang diperlukan. Stoll dkk (2005) mengidentifikasi karakteristik dari KPP yang dapat meningkatkan proses pembelajaran adalah sebagai berikut: 1. baik di dalam dan di luar lingkungan terdekat mereka. Stoll dkk (2005) menyatakan bahwa ‘komunitas pembelajaran profesional adalah komunitas terbuka yang melibatkan semua orang. Kesamaan visi dan nilai • • Adanya fokus yang sama terhadap pembelajaran siswa dan keterlibatan mereka. • Staf secara bersama-sama bertanggung jawab atas pembelajaran siswa. jadi tidak hanya pada peran yang sama. • 97 . adanya kesamaan nilai dan norma yang berlaku. • Staf mempunyai harapan yang tinggi terhadap siswa. adanya refleksi dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan. menemukan solusi. serta kerterbukan dan sharing terhadap praktekpraktek pembelajaran yang dilakukan untuk evaluasi dan peningkatan dan penjaminan mutu. Kesemuanya itu bermuara pada memfasilitasi siswa belajar dengan lebih baik. Kerjasama yang bertujuan pada pembelajaran. yang mendukung dan bekerjasama satu sama lain.

pertambahan nilai dan penilaian untuk pembelajaran. pusat pelatihan. Latihan yang penuh pemikiran sangat dihargai. Staf mengambil tanggung jawab bersama untuk mempromosikan dan mendukung pembelajaran satu sama lain. • • • • • 98 . dan penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning). 5. jaringan dan kemitraan • • • Inisiatif dari luar digunakan untuk menganalisa apa yang terjadi di dalam Semua orang terbuka akan perubahan Staf secara aktif terlibat dalam kemitraan dengan pihak eksternal dan jaringan pembelajaran dengan sekolah. • Masukan (input) dari siswa sangat dihargai. institusi pendidikan yang lebih tinggi dan badan-badan lainnya. • • 6.Zainun Misbah 4. proyek penelitian dan pengembangan. lokakarya. nilai tambah (value-added). demonstrasi pembelajaran. evaluasi diri. contohnya tutor sebaya. Terdapat pembelajaran kelompok dan individual yang profesional • • Semua staf termasuk staf pendukung terlibat dan menghargai pembelajaran profesional Ada sejumlah kegiatan pembelajaran professional dan perkembangan berkesinambungan yang berlangsung. kreatif dan berani mengambil resiko sangat didukung. forum pembelajaran. Keterbukaan. Data dianalisis dan digunakan sebagai bahan refleksi dan pengembangan. contohnya hasil penilaian. contohnya hasil penilaian. Pencarian profesional yang penuh pemikiran • • Refleksi terhadap praktek-praktek dihargai Penelitian dan inkuiri mempengaruhi pengajaran dan pembelajaran. dan penelitian tindakan. evaluasi diri. Pemikiran yang inovatif. dan penelitian tindakan. Masukan dari siswa sangat dihargai. memandu pembelajaran siswa dan lainlain. Contohnya: pengamatan timbal balik. Penelitian dan pencarian mempengaruhi pengejaran dan pembelajaran sebagai contoh pengamatan mutual. Data dianalisa dan digunakan sebagai bahan pemikiran dan perkembangan.

Ada satu kumunitas besar yang melibatkan seluruh staf disekolah. manfaat yang bisa diperoleh dengan terciptanya komunitas pembelajaran di sekolah diantaranya terciptanya iklim pembelajaran yang kondusif. adanya upaya inovasi sekolah dalam perbaikan pembelajaran. 8. Stoll dkk (2005) menyarankan langkah-langkah untuk mengembangkan KPP adalah sebagai berikut: 1. Rasa percaya. KOMUNITAS PEMBELAJARAN PROFESIONAL BAGI MANFAAT SEKOLAH Stoll dkk (2005) menyatakan bahwa komunitas pembelajaran professional yang efektif mempunyai kemampuan untuk mendorong dan mempertahankan pembelajaran dari semua profesional di komunitas sekolah dengan tujuan bersama untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Sumber daya sekolah dapat secara sinergis bekerjasama dan berkolaborasi menuju cita-cita yang sama dengan merefleksikan dan mendiskusikan masalah-masalah dan mencari solusi secara bersama-sama. pendanaan digunakan untuk mendukung 99 .Pemimpin Komunitas Pembelajaran 7. pusat. Ada rasa percaya dan hormat yang mutual. ruang dan pengembangan KPP. dan dukungan yang mutual • • • • Hubungan kerja bersifat positif. Manfaat adanya komunitas pembelajaran profesional tersebut akan dirasakan jika tahapan-tahapan dalam mengembangkan KPP dilaksanakan dengan sungguhsungguh. rasa hormat. adanya peningkatan kompetensi kepemimpinan. Karenanya. atau koles. dan lain sebagainya yang masih terus dikaji oleh para peneliti pendidikan. bukan hanya komunitas-komunitas kecil yang banyak. Mengoptimalisasikan sumber daya dan struktur untuk mempromosikan KPP • Waktu. Sebagai inti dari konsep komunitas pembelajaran professional adalah berasal dari asumsi pada premis meningkatkan kualitas belajar siswa dari kualitas pengajaran di kelas. Keanggotaan yang inklusif • • • Staf pendukung dihargai sebagai anggota yang memberi kontribusi kepada KPP. fasilitasi pembelajaran peserta didik yang lebih baik. Pengawas atau anggota komite sekolah terlibat dalam KPP. Upaya terbaik dari pada staff dan guru sangat dihargai Staf merasa kompeten.

Zainun Misbah

• •

Gagasan mengenai KPP disertakan dalam dokumem-dokumen kebijakan dan rencana-rencana pengembangan. Ruangan staf, ruang kerja staf dan ruang belajar digunakan untuk pembinaan dan pembelajaran masyarakat.

2.

• ICT digunakan untuk meningkatkan komunikasi yang lebih efektif. Mempromosikan pembelajaran yang profesional • • Perkembangan yang professional dikoordinasikan untuk mempromosikan pembelajaran semua staf. Manajemen atau penilaian kinerja, induksi, profil perkembangan professional, dan mentoring bersifat konsisten dengan nilai-nilai untuk menggembangkan KPP.

• • 3.

Ada penekanan terhadap latihan dan pemahaman bersama. Ada dukungan yang diberikan untuk membantu mengembangkan strategi dan keahlian pembelajaran dan pengajaran. Mengevaluasi dan Mempertahankan KPP • Pengembangan dan kemajuan KPP diawasi secara teratur. • • • Adanya pembahasan yang jelas mengenai KPP beserta tujuan dan pengembangannya. Nilai-nilai KPP dipertimbangkan saat membuat pilihan untuk merekrut dan memberhentikan staf. Perhatian diberikan terhadap masalah-masalah yang menghalangi pengembangan KPP. memberikan

• 4.

Teman-teman yang kritis diundang untuk masukan/pandangan dari luar. Memimpin dan Mengelola untuk mempromosikan KPP

• • • • •

Pemimpin memusatkan perhatian pada pembelajaran untuk semua. Pembinaan kepercayaan dan merayakan keberhasilan menjadi prioritas. Pemimpin selalu melakukan pencarian pengetahuan dan mendorong hal ini pada yang lain. Pemimpin memberikan contoh pembelajaran dan melatih rekanrekannya.

Kepemimpinan dalam pembelajaran disebarkan di seluruh sekolah, pusat pelatihan atau institusi pendidikan. Dengan mengembangkan KPP, kepala sekolah dapat menemukan kepuasan yang mendalam karena seluruh warga sekolah memiliki tanggungjawab kolektif untuk keberhasilan siswa dan keberhasilan sekolah. Setiap warga sekolah memiliki 100

Pemimpin Komunitas Pembelajaran

kesadaran bahwa mereka memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil kerja siswa dan juga sadar atas peran mereka dalam membantu siswa mencapai harapannya. Kepala sekolah juga dapat terus mengembangkan kompetensinya dalam mengelola administrasi dan komunitas sekolah, memperbaiki sistem pembelajaran di kelas, dan juga mengembangkan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosialnya secara terintegrasi. Kepala sekolah memiliki peran penting dalam mengembangkan KPP, utamanya dalam mendorong perubahan agar senantiasa terdapat kesempatan refleksi dalam pembelajaran baik oleh siswa, guru maupun kepala sekolah; meningkatkan budaya kolaborasi dan kerjasama warga sekolah, semakin memfokuskan pada pembelajaran siswa, dan kesamaan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di sekolah. Inovasi sekolah juga akan lebih cepat berkembang dengan adanya KPP karena salah satu karakteristik KPP adanya shared vision dan value. Sejalan dengan Gladwell (2002), bahwa komunitas akan merubah nilai dan pandangan individu, “karena ketika orang dimintai pendapat tentang suatu kejadian atau harus membuat keputusan dalam suatu kelompok, mereka cenderung memberikan kesimpulankesimpulan sangat berbeda dibanding ketika pertanyaan serupa diajukan kepada tiap orang sesudah tidak bersama kelompoknya lagi. Begitu kita menjadi bagian sebuah kelompok, kita semua rentan terhadap tekanan dan norma-norma sosial serta bermacam-macam pengaruh lain yang dapat berperan penting dalam proses awal perubahan (sekolah).” KOMUNITAS PEMBELAJARAN PROFESIONAL DI INDONESIA Budaya organisasi dan berkumpul dan bekerja secara bersama-sama ini cukup kental di Indonesia. Dalam konteks dunia pendidikan di Indonesia, komunitas pembelajaran kepala sekolah terlihat dalam wadah semisal Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) dan lain-lain. Para kepala sekolah dalam satu wilayah mengadakan pertemuan dan merefleksikan peran dan tanggung jawab mereka, dan masalah-masalah yang dihadapi dalam melaksanakan peran tersebut. Namun demikian banyak pihak yang menganggap forum tersebut belum dapat dioptimalkan dan diberdayakan dengan baik karena diantaranya permasalahan dana, terbatasnya kemauan dan kemampuan sumberdaya manusia, kurangnya pemahaman pentingnya jejaring dan komunitas pembelajaran profesional, dan lain sebagainya.

101

Zainun Misbah

MKKS & KKKS, sebagai contoh KPP di Indonesia, perlu diefektifkan lagi agar manfaat yang diperoleh semakin nyata. Stoll dkk (2005) menunjukkan tiga cara menentukan keefektifan dari KPP adalah sebagai berikut: KPP mempunyai dampak pada pembelajaran siswa dan pengembangan sosial KPP mempunyai dampak pada semangat dan tindakan staf, dengan potensi untuk mengembangkan kemampuan memimpin. 3. Semua karakteristik KPP ada pada tempatnya dan semua proses berjalan lancar yang merupakan bagian dari ’cara kami melakukan sesuatu’. Selain aktif dalam komunitas pembelajaran profesional dalam skala distrik (district based level) seperti dalam MKKS dan organisasi kepala sekolah, kepala sekolah perlu membangun komunitas pembelajaran profesional di sekolahnya. Kepala sekolah memimpin warga sekolah untuk mengidentifikasi apa yang kurang di sekolahnya, dan apa yang perlu ditingkatkan. Kegiatan dilanjutkan dengan melakukan refleksi dan berbagi dengan warga sekolahnya sehingga semua warga sekolah mempunyai rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap mutu sekolah. Namun perlu disadari bahwa membangun KPP diperlukan waktu yang cukup lama untuk membangun keterbukaan, kepercayaan, fokus yang sama dan karenanya tidak bisa dilakukan secara instant. Kepala sekolah perlu ’mempelajari proses dan manejemen perubahan’, tidak hanya mengharapkan sekolah berubah ke arah yang lebih baik, tetapi terus ’berusaha dan mencari’. KESIMPULAN DAN SARAN Pemerintah telah berupaya memfasilitasi peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi tenaga kependidikan dengan berbagai upaya. Komunitas Pembelajaran Profesional untuk meningkatkan mutu sekolah perlu terus diupayakan baik di tingkat sekolah maupun antar sekolah. Kalaupun sudah terbentuk wadah-wadah pertemuan untuk jejaring kerja pendidik dan tenaga kependidikan seperti MKKS, MGMP, MKPS dan asosiasi profesi tenaga kependidikan, perlu kiranya ditingkatkan dan diberdayakan lagi dengan mengingat konsep dan karakteristik-karakteristik KPP. Komunitas Pembelajaran Profesional pada level sekolah juga perlu diupayakan, dan tentunya peran kepala sekolah sangat penting dan strategis dalam mengimplementasikan konsep KPP di sekolahnya. Pengambil kebijakan sudah semestinya mendukung dan mendorong upaya sekolah mewujudkan KPP. Kajian tentang KPP pun perlu terus dilakukan dan disebarluaskan agar percepatan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dapat segera terlihat dan terukur. 1. 2.

102

Tipping Point. theory and society. Hirsh.Pemimpin Komunitas Pembelajaran DAFTAR RUJUKAN DuFour.fsusd. Available at http://schools. (2004). (2000). Kumpulan Materi Pembekalan Fasilitator Program Kemitraan Kepala Sekolah Angkatan VI Tahun 2008. Principal Leadership. 7 (2). & Hord.k12. Leader and Learning.dfes. (2008).pdf Wenger. Creating and Sustaining Effective Professional Learning Communities. 225 – 246). (2002).us/education/PLC/Prof_Lrng_Community. Communities of practice and social learning systems. dkk. Available at www. University of Bristol.ca. 103 .gop. (2005). What is professional learning community? In: Schools as learning communities. DfES Research Report RR367. Stoll. Organization articles. S.. R. December 26 – 30.uk/research/data/uploadfiles/RR637. Organization: the interdisciplinary journal of organization. S. Gramedia : Jakarta. E.M.pdf Direktorat Tenaga Kependidikan (2008). Gladwell. M. Depdiknas : Jakarta. 6-11.

Sistematika artikel hasil pemikiran: judul. sedangkan penulis lainnya dicantumkan pada bagian bawah halaman pertama artikel. yang dicantumkan cukup penulis utamanya saja. dengan spasi 1. di tengah-tengah dengan huruf Times New Roman. nama penulis (tanpa gelar). dan ruang lingkup penulisan. abstrak (maksimal 100 kata) yang berisikan tujuan penelitian. tujuan penulisan. Penutup atau Kesimpulan. rata tepi kiri. abstrak (maksimal 100 kata). nama penulis (tanpa gelar). Daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk saja). 3. 5. kata kunci maksimal enam kata. . cetak tebal. disertai judul pada masing-masing bagian artikel. 8. 6. tebal. 4. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan huruf Times New Roman. diserahkan dalam bentuk printout sebanyak 2 eksemplar beserta disketnya atau dibuat dalam bentuk file dengan Microsoft Word (MS) dan dikirimkan ke alamat e-mail: jurnaltendik@yahoo. Peringkat 1 (huruf besar semua. Judul artikel dicetak tebal dan huruf besar semua. Peringkat 2 (Hanya awal kata huruf besar. metode penelitian. 7. Sistematika artikel hasil penelitian: judul. Naskah diketik dengan huruf Times New Roman. Pendahuluan (tanpa judul) berisikan latar belakang. ukuran 12 pts dan dicetak tebal. dan kata kunci maksimal enam kata. miring (italic) dan rata tepi kiri. Artikel yang ditulis untuk Jurnal Tenaga Kependidikan meliputi hasil pemikiran dan hasil penelitian di bidang tenaga kependidikan.PETUNJUK BAGI PENULIS ARTIKEL 1. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan format esai. Jika penulis empat orang atau lebih. kecuali bagian pendahuluan disajikan tanpa judul bagian. ukuran 12 pts.com Nama penulis artikel dicantumkan tanpa gelar akademik dan ditempatkan di bawah judul artikel. Pendahuluan (tanpa judul) berisikan latar belakang. sedikit tinjauan pustaka. dicetak pada kertas A4 maksimal 20 halaman. hasil penelitian. Penulis disarankan menuliskan alamat e-mail dan nomor telepon atau handphone pada halaman terakhir artikel untuk memudahkan komunikasi. cetak tebal. dan tujuan penelitian. 104 2. Peringkat 3 (Hanya awal kata huruf besar. rata tepi kiri. ukuran 14 pts. Pada judul bagian tidak menggunakan sistem angka/nomor. Bahasan utama (dapat dibagi ke dalam beberapa subbagian).5.

183-196). 105 . Buku Terjemahan Kouzes.M. Daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk saja). April: 14-16.A. Dalam M. 2. Mobil untuk Kepala Sekolah. B. Edisi 1. Satu spasi. Artikel dalam Koran (tanpa nama pengarang) Kompas. 1999. Hasil penelitian dan pembahasan. hlm 22. 2004. The Jossey-Bass Reader on Educational Leadership (hlm. Buku Hughes. Ginnett.New York: McGraw-Hill Irwin. Fullan (Editor). Daftar rujukan disusun dengan tata cara seperti contoh berikut ini dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis. No. Vol. R. 3 Mei 2005. Kesimpulan dan saran. Agustus:1-13. & Curphy. 2007. Transformation School Leadership in a Transactional Policy World.C. Kepemimpinan Pengawas Sekolah: Mengembangkan Budaya Tanggung Jawab dalam Jurnal Tenaga Kependidikan. Artikel dalam Koran Bro. Februari. & Posner. G. Buku dalam Kumpulan Artikel Leitwood. Jakarta: Interaksara. 1. Artikel dalam Majalah Surya Dharma. Artikel dalam Jurnal Surya Dharma.Z. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Dokumen Resmi Peraturan Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. R. J..J.1999. Leadership Enchancing the Lessons of Experience.9. K. 2007. Terjemahan oleh Anton Adiwiyoto. 1.L. Metode penelitian. 2006. Tajuk Rencana Pendidikan Sangat Penting untuk Bangsa. Kompas. Vol. 2007. Tantangan kepemimpinan. Fatal Jika Tenaga Kependidikan Bermutu Rendah dalam Forum Tenaga Kependidikan.

Internet (artikel dalam jurnal online) Surya Dharma & Husaini Usman. Jilid 16. such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting. atau Wiles & Bondi (2007) menyatakan: 11. and for this reason supervision often overlaps with administrative. 2007. Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. dan Laporan Penelitian Husaini Usman dan Darmono. Disertasi. (http://www. Tesis. 10. Pemda. Tata cara mengutip langsung empat baris atau lebih. Jurnal Ilmu Pendidikan. 1. No. Tata cara mengutip langsung kurang dari lima baris. Kemitraan sinerjis Perguruan Tinggi. Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan. The role of supervisor has many dimensions or facets. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Tahap II. but leaders do not have to be manager. but leaders do not have to be manager. dan Masyarakat. Contoh: Menurut Wiles & Bondi (2007). (Online).id. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. 106 . ”Managers can be leaders. dan tanpa tanda petik. menjorok ke dalam lima ketukan.Skripsi. diakses 8 Januari 2008). Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan. Model Pendidikan Kecakapan Hidup Berbasis Masyarakat Pedesaan sebagai Usaha Pengentasan Kemiskinan di Wilayah Kabupaten Kulon Progo DIY. curricular. but leaders do not have to be manager.” atau Hunsaker (2001) menyatakan.” atau ”Managers can be leaders. and instructional functions. Contoh: Menurut Hunsaker (2001). 2001).” (Hunsaker. Tidak Diterbitkan.ac. ”Managers can be leaders. satu spasi. kalimat dikutip sesuai dengan aslinya diberi tanda petik di awal dan diakhir bagian yang dikutip. dibuat alinia baru. 2007.malang.

Semua artikel ditelaah secara anonim oleh mitra bestari (reviewers) yang ditunjuk. Penulis artikel diberi kesempatan untuk memperbaiki artikelnya atas dasar saran dari mitra bestari. dan (8) evaluator. (7) manajer perubahan. (6) administrator. (4) pekerja hubungan manusiawi. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya. Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan. (3) spesialis pembelajaran. (7) manajer perubahan. and instructional functions. Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. 2007). atau Wiles & Bondi (2007) menyatakan bahwa ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. dan (8) evaluator. (5) pengembang personil sekolah. atau Ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. and for this reason supervision often overlaps with administrative. (3) spesialis pembelajaran. 14. curricular. Contoh: Menurut Wiles & Bondi (2007). 107 . (2) pengembang kurikulum. (2) pengembang kurikulum. kalimat yang dikutip langsung ditulis dalam kalimat penulis tanpa tanda petik. (3) spesialis pembelajaran. Cara mengutip tidak langsung. curricular. The role of supervisor has many dimensions or facets. 13. atau The role of supervisor has many dimensions or facets. such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting. (6) administrator. (6) administrator. such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting (Wiles & Bondi. (4) pekerja hubungan manusiawi.12. and instructional functions. (4) pekerja hubungan manusiawi. (2) pengembang kurikulum. Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. 2007). (5) pengembang personil sekolah. (5) pengembang personil sekolah. (7) manajer perubahan. dan (8) evaluator (Wiles & Bondi. and for this reason supervision often overlaps with administrative.

16. Artikel yang dimuat. 17. kepada penulis diberikan satu eksemplar dan penghargaan. Semua kata asing diketik miring (italic) 108 .15. Artikel yang tidak dimuat akan dikembalikan jika ada permintaan tertulis dari penulis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful