Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 4, No.

1, April 2009

PENGANTAR REDAKSI

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen PMPTK dapat menerbitkan Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 4, No. 1, April 2009. Tujuan diterbitkannya jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dan opini tentang tenaga kependidikan. Dengan berbagi informasi ini diharapkan terjadi pertukaran informasi informasi antar penulis, pembaca, dan pembuat kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu tenaga kependidikan secara terus-menerus. Jurnal edisi ini diawali dengan artikel yang ditulis Sujono Surokarijo berjudul, ” Korelasi antara Kepemimpinan Demokratis Kepala Sekolah dengan Kepuasan Kerja Karyawan Tata Usaha.” Artikel ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan untuk mengetahui korelasi antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha dan perpustakaan sekolah di SMPN Kota Ponorogo. Penelitian menyimpulkan bahwa terdapat korelasi positif antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha. Selanjutnya, Wukir Ragil menulis artikel dengan judul, ” Makna Pendidikan dalam Menjunjung Nilai-nilai Budaya dan Hukum Positif dalam Rangka Menegakkan Akhlak Mulia Bangsa Indonesia.” Menurut Wukir R, dulu kita terkenal sebagai bangsa yang memiliki semangat gotong royong yang tinggi, sopan, ramah, murah senyum dan santun. Namun akhir-akhir ini kondisi tersebut seakanakan telah mulai luntur, dan memaksakan kehendak dalam menyampaikan pendapatnya. Melalui suatu kajian pustaka dan kajian empiris diketahui bahwa, perubahan perilaku ini disebabkan beberapa hal antara lain kini kita merasa telah ”Bebas” dari segala belenggu yang dianggap menghambat kreativitas dan ekspresinya sehingga kini seolah-olah bisa bebas dalam berperilaku apa saja dalam menentukan kehidupan bermasyarakat. Penegakkan hukum yang konsisten dan adil akan membawa kita pada suatu kepastian hidup bahwa dalam berkehidupan, berbangsa dan bernegara yang bebas, dan dalam kebinekaan ini kita harus menghargai juga hak asasi orang lain dan dengan tetap patuh pada norma dan hukum yang berlaku. Pendidikan dalam suatu sistem merupakan wahana yang ampuh untuk menegakkan kembali sikap bangsa Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila ini dalam sikap hidup gotong royong yang tinggi, ramah, santun, sopan

1

dalam berperilaku. Pendidikan bukan hanya menekankan aspek kognitif dan afektif, serta psikomotorik saja akan tetapi juga pembetukan akhlak mulia. Moh. Suryadi Syarif dengan artikelnya yang berjudul, ”Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Era Otonomi Daerah dan Beberapa Faktor yang Mempengaruhinya.” Menurut Moh. Suryadi Syarif, kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah mengutamakan pemberian kesempatan, dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur sehingga semua unsur yang terlibat bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh indikator-indikator: idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration. Ali Imron menulis artikel, “Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah dalam Pelayanan Publik di Tingkat Satuan Pendidikan.” Ali Imron mengemukakan gagasannya bahwa dalam perspektif total quality management (TQM), sekolah dipandang sebagai institusi publik yang harus dapat memuaskan customer-nya. Perspektif TQM ini, mendapatkan momentum tepat ketika reformasi di berbagai bidang digulirkan di negeri ini, termasuk di dalamnya adalah reformasi pelayanan publik di bidang pendidikan. Paradigma pelayanan publik di tingkat satuan pendidikan sekolah patut digeser dari yang konvensional menuju ke kondisi yang senantiasa ter-update, agar ketika dibutuhkan berada dalam keadaan on-service. Tenaga administrasi sekolah haruslah menunjukkan perilaku sebagai seorang pelayan publik yang pro aktif, responsif dan antisipatif terhadap berbagai kebutuhan, aspirasi dan harapan stake holders sekolah sesuai Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. Oleh karena itu, selain harus menguasai berbagai hard skill, yang berupa ketrampilan teknis, juga menguasai berbagai shoft skill yang senantiasa ditampilkan pada saat memberikan pelayanan prima sekaligus memuaskan kepada customer-nya. Sri Marmoh dengan artikelnya yang berjudul, “Problematika Perpustakaan Sekolah pada Pendidikan Dasar dan Alternatif Solusinya.” Artikel ini membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar, menumbuhkan minat baca, dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah pada pendidikan dasar yang belum memiliki

perpustakaan. Sementara sekolah yang memiliki perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala di lapangan. Tulisan ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Rokhmaniyah menulis artikel dengan judul, “Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah.”. Menurut Rokhmaniyah, kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator), pemimpin (leader), pengelola (manager), administrator (administrator), penyelia (supervisor), wirausahawan (entrepreneur), dan pencipta iklim kerja (climator). Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya, mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui), kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Selain itu, ia mampu bekerja keras dan berani menanggung risiko. Ujang Didi Supriadi menulis artikel berjudul, “Kajian atas Kebijakan Pemerintah tentang Kepemimpin Kepala Sekolah pada SMPN 115 Jakarta sebagai Salah Satu Rintisan Sekolah Bertaraf Internasioanal.” Ujang Didi Supriadi menyatakan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah harus memiliki tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. Selain itu terdapat pula 16 kriteria seorang kepala sekolah yang memimpin RSBI. Penetapan standar dan kriteria tersebut diarahkan untuk mewujudkan tujuan sebuah sekolah yang memiliki daya saing pada tingkat nasional dan internasional. Akhirnya, jurnal ini ditutup dengan artikel yang berjudul, “Pemimpin Komunitas Pembelajaran” ditulis oleh Zainun Misbah. Penulis mengungkapkan gasasannya bahwa Pembelajaran Profesional (KPP) telah dilakukan oleh peneliti pendidikan dan dipublikasikan dalam beberapa jurnal ilmiah. Selama tiga puluh tahun belakangan ini kajian tentang KPP terus dilakukan sebagai upaya pengembangan dan inovasi sekolah, meskipun penelitian tentang efek KPP terhadap nilai siswa belum banyak dilakukan. Dari beberapa kajian tersebut karakteristik KPP adalah adanya reflective dialogue, de-privatization of practice, collective focus on student learning, collaboration dan shared norms and values. Dengan terbitnya jurnal ini diharapkan saran-saran yang membangun dari pembaca sehingga penerbitan berikutnya semakin berkualitas. Adanya kekurangan-

. kami mengucapkan banyak terima kasih.kekurangan pada jurnal ini kiranya dapat dimaklumi karena di dunia ini tak ada yang sempurna. Atas segala saran-saran yang membangun pembaca.

perkawinan. (3) kepuasan prestasi. 1990). dijaring secara teknik sampling acak sederhana dari 57 orang karyawan tata usaha. Setelah dikoreksi dengan uji t. divalidasi dengan analisis butir. yaitu: (1) kepuasan hubungan antar karyawan. pada persamaan regresi = 35. (2) kepuasan supervise. bahwa setiap manusia membutuhkan pekerjaan dan hidup layak. Kebutuhan fisik pokok dapat berupa uang. dan (3) kebutuhan egois. menyatakan bahwa kepuasan hidup meliputi kepuasan: keluarga. dan kerja. Caranya (1992).39. (2) kebutuhan sosial. Instrumen yang dipakai adalah kuisioner tertutup menggunakan skala Likert dengan 4 alternatif jawaban. Bila seseorang dapat bekerja dan hidup layak.KORELASI ANTARA KEPEMIMPINAN DEMOKRATIS KEPALA SEKOLAH DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN TATA USAHA Sujono Surokarijo Universitas Negeri Jakarta Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha dan perpustakaan sekolah di SMPN Kota Ponorogo. (4) kepuasan gaji. (5) kepuasan kepemimpinan. Sedang kepuasan kerja sendiri mempunyai enam segi. kepuasan masa luang.48 + 0. Hasil penelitian menunjukan. PENDAHULUAN Sudah menjadi kodrat manusia. Kepemimpinan demokratis kepala sekolah memberi sumbangan positip 15 % pada kepuasan kerja karyawan tata usaha. dan (6) kepuasan tugas. Dengan uang seseorang dapat memenuhi segala macam kebutuhan. Kata Kunci: Kepemimpinan. dengan pendekatan korelasional.93 > 1. Metode penelitian adalah survai. diperoleh koefisien korelasi (r) = 0. di dapat th > tt ( 2. terdapat korelasi positif antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha. dalam dirinya ada kepuasan hidup.70).36 X. Analisis data menggunakan teknik korelasi Product Moment dan teknik regresi linear. kebutuhan yang terpenuhi dari pekerjaan ada tiga bentuk. yaitu: (1) kebutuhan fisik dan keamanan. Status sosial seseorang di masyarakat dipengaruhi oleh besar kecilnya penghasilan yang dihitung . sedang reliabilitas dianalisis dengan teknik Alpha Cronbach. Menurut Strauss (Hadikusumo. berarti korelasi signifikan. Sampel penelitian 50 orang karyawan tata usaha. kepuasan kerja.

20 November 2001).Sujono Surokarijo berdasarkan besar-kecilnya uang. Selain itu. 2 . Kenyataan karyawan yang berbentuk team work memiliki moral yang lebih tinggi dari pada yang sendirian. Orang menyukai pekerjaan-pekerjaan yang dianggap berharga oleh masyarakat. dan SMU tidak mencapai tingkat ketuntasan untuk semua mata pelajaran. senioritas yang lebih tinggi biasanya berarti keamanan dalam pekerjaan lebih aman. Termasuk kemajuan yang akan diperoleh dari pekerjaan berupa: (1) kenaikan upah. Tuntutan seseorang dari pekerjaan adalah pekerjaan tersebut memberi penghasilan yang berupa gaji dan gaji tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidup yang layak. ingin menjadi orang yang berarti dalam kelompoknya. Menurut Iskandar (Media Indonesia. Jika berhasil ingin dihargai dan bila ada kesulitan ingin dibantu. Pekerjaan tata usaha pada Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) termasuk jenis pekerjaan yang dihargai masyarakat karena statusnya sebagai pegawai negeri sipil. hasil kerjanya lebih baik dari yang sendirian karena kelemahan dari anggota team work ditutup oleh anggota team work yang lain. Manusia dewasa membutuhkan pemenuhan kebutuhan egois dan aktualisasi diri tingkat tinggi melalui pekerjaan mereka. SD. Selanjutnya. Seseorang hidupnya layak bila kebutuhan pertama manusia sebagai makluk biologis yaitu kebutuhan makan. yaitu perasaan rasa bersatu dan diakui keberadaannya. dan tempat tinggal terpenuhi. Hal ini berakibat menurunnya mutu pendidikan di Indonesia termasuk pendidikan di SMP. maka keberhasilannya dihargai oleh pimpinan. pakaian. tingkat pencapaian rata-rata hasil ujian nasional. SMP. Kebutuhan sosial pokok adalah keanggotaan dalam kelompoknya. walaupun kadang-kadang bertentangan dengan pihak pimpinan organisasi kerja. Iapun akan merasa puas. Oleh karenanya kinerja mereka menurun. Seseorang bila berhasil melaksanakan tugas dan dapat mengatasi berbagai hambatan dalam melaksanakan tugas. Karyawan cenderung bersikeras untuk membentuk kelompok-kelompok informal. Dalam aktivitasnya melaksanakan pekerjaan seseorang membutuhkan dukungan orang lain. (2) senioritas sebagai jalan untuk maju. Kebutuhan egois yang utama adalah kebutuhan akan prestasi. dan (3) segi jaminan nilai material yang meningkat sehingga semua kebutuhan hidup terpenuhi baik kebutuhuan biologis maupun kebutuhan nonbiologis. Seiring dengan pernyataan tersebut berarti sumber daya manusia para guru dan karyawan tata usaha pada sekolahsekolah di Indonesia menurun. Demikian juga untuk daya saing kemampuan sumber daya manusia Indonesia semakin menurun. pemenuhan kebutuhan keamanan dalam pekerjaan atau pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lain akan terpenuhi di masa yang akan datang.

pelaksanaan tugas atau pekerjaan diserahkan kepada bawahan. Argyris (Buchori Zainun. dan organisasi. Darwis (Scermerhorn. Karenanya dapat dikatakan keberhasilan organisasi dalam mencapai tujannya tergantung kemampuan pemimpin dalam mendayagunakan semua sumber daya yang tersedia dalam organisasi tersebut. kearsipan. para guru dan karyawan tata usaha sekolah tersebut kurang puas karena gaji yang ia terima kurang mencukupi untuk pemenuhan hidup. kesiswaan. Secara garis besar gaya kepemimpinan dibagi tiga tipe yaitu: (1) gaya kepemimpinan otokratis. Apalagi bagi mereka yang sudah berkeluarga. Salah satu variabel yang ada sangkut pautnya adalah variabel organisasi. Siagian (1989) menyatakan bahwa pemimpin sebagai motor penggerak semua sumber daya yang tersedia dalam organisasi. ketenagaan. Kepala Sekolah sebagai manajer dan pemimpin menggerakkan bawahannya baik guru maupun karyawan tata usaha sekolah melalui gaya kepemimpinan. Variabel tersebut adalah pegawai. laboran. Sumber daya meliputi sumber daya manusia dan nonmanusia. pada tipe ini pemimpin menganggap bawahan sebagai mitra kerja.1976) menyatakan bahwa jika kebutuhan yang diidam-idamkan seseorang tidak tercukupi. 3 . Dengan demikian. Karyawan tata usaha sekolah merupakan sumber daya manusia yang tersedia di SMP yang terdiri atas: koordinator administrasi dan karyawan-karyawan yang menangani administrasi kurikulum. pada tipe ini pemimpin menganggap bawahan sebagai alat produksi atau alat untuk pencapaian tujuan organisasi. keuangan. Dalam organisasi secara struktural ada pemimpin dan bawahan. Bawahan ialah orang yang dipengaruhi untuk melaksanakan tugas guna pencapaian tujuan organisasi. bimbingan penyuluhan. dan (3) gaya kepemimpinan kendali bebas. pada tipe ini. pangkat. lingkungan kerja. Hal ini dapat berakibat turunnya kinerja mereka. maka orang itu kecewa. hubungan masyarakat. dan karyawan perpustakaan. perlengkapan. (2) gaya kepemimpinan demokratis. 1991) menyatakan bahwa kepuasan kerja berkaitan dengan sejumlah variabel yang memungkinkan para manajer memperkirakan kelompok yang lebih cenderung mengalami masalah ketidakpuasan. Pemimpin ialah orang yang mempengaruhi orang lain dan yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup organisasi. Sesuai dengan pendapat di atas. Mereka resah.Korelasi Kepemimpinan Kenyataan gaji yang diterima para guru dan karyawan tata usaha sekolah di Indonesia kurang mencukupi untuk biaya hidup mereka. kepuasan kerja seseorang terkait dengan beberapa variabel. gundah dan runyam. usia.

Menurut teori ini kebutuhan akan menimbulkan ketidak seimbangan pada diri seseorang. Sedang yang dimaksud kerja adalah perbuatan melakukan sesuatu atau sesuatu yang dilakukan. Menurut Patton (Hesmes. Pada penelitian ini teori-teori yang dianalisis dan relevan dengan tujuan penelitian adalah: (1) Teori discrepancy oleh Porter (Stoner. untuk mengukur kepuasan kerja adalah dengan membandingkan apa yang seharusnya atau diharapkan dengan kenyataan yang dirasakan. kepuasan adalah perasaan lega atau senang karena merasa sudah terpenuhi kebutuhannya atau hasrat hatinya. pengakuan. d. 3. sesorang akan menjadi resah dan ia melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan tersebut. c. namun kebutuhan utama manusia pada hakikatnya sama dan merupakan hirarki yang terdiri dari lima tingkat. Hirarki kebutuhan manusia menurut Maslow sebagai berikut: a. ”Bagaimana hubungan antara gaya kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah?” KAJIAN PUSTAKA Menurut Poerwadarminta (1991). promosi. Coreman (Timpe A Dale. 1976) menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah seperangkat perasaan karyawan tentang menyenangkan atau tidaknya jenis pekerjaan. maka permasalahannya dalam meningkatkan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah adalah. kebutuhan aktualisasi diri atau menunjukkan jati-diri. kebutuhan hidup berkelompok dan bermasyarakat. Seseorang akan merasa puas bila tidak ada perbedaan antara apa yang diinginkan atau diharapkan dengan kenyataan yang dirasakannya. hubungan teman sekerja. 2001). 1999) mendefinisikan kepuasan kerja ialah respons seseorang terhadap bermacam-macam lingkungan kerja yang dihadapinya termasuk komunikasi organisasi. kebutuhan penghargaan. karena batas minimum yang diinginkan telah terpenuhi. 1989). Teori Existence – Relatedness – 4 . Sedang Grunerberg (Buchori Zainun. kebutuhan rasa aman. Dengan demikian yang dimaksud kepuasan kerja adalah perasaan senang atau lega karena apa yang dilakukan tersebut sesuai dengan dirinya dan telah memenuhi kebutuhan atau hasrat hatinya. tempat tinggal). Seterusnya setelah terpenuhi kebutuhannya dan merasa puas. dan e. kebutuhan fisiologis (makan. b. Menurut teori ini walaupun kebutuhan manusia beragam. kebutuhan pada peringkat di atasnya atau berikutnya muncul dan orang tersebut berusaha untuk memenuhinya. kepuasan kerja dalam diri seseorang akan tumbuh bila bekerja selaras dengan diri sendiri. (2) Teori pemenuhan kebutuhan oleh Maslow (1970). Setelah kebutuhannya terpenuhi ia merasa puas. pakaian. Menurut teori ini.Sujono Surokarijo Seiring kepuasan kerja karyawan terkait dengan gaya kepemimpinan. supervisor.

Menurut teori ini hirarki kebutuhan seseorang terdiri dari tiga peringkat. Dari beberapa teori-teori dan konsep konsep di atas. faktor faktor kepuasan kerja adalah: penghargaan. (4) gaji.Korelasi Kepemimpinan Growth (ERG) oleh Aldefer (Stoner. yaitu: (1) faktor psikologis. dan dasar pemikiran. yaitu: a. Lain halnya dengan Hainan (1991). ia menyatakan bahwa yang dimaksud kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pandangan. dan intensif tradisional. Sedang Hotgetts dan Kuratko (1975) mendefinisikan bahwa kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi orang orang untuk mengarahkan kegiatan demi pencapaian tujuan. perbandingan perbandingan sosial. dan (5) jenis dan isi pekerjaan. Menurut Strauss (1990). dan c. dan (4) faktor kesejahteraan. serta lingkungan kerja (kondisi pekerjaan). Growth. (3) sikap terhadap organisasi. puas karena hubungan sosial yang bermanfaat. (3) supervisi. (2) hubungan teman sekerja. Indikator kepuasan kerja. isi pekerjaan. keceriaan kerja. Lain lagi dengan Byars (Buchori Zainun.1992). tantangan pekerjaan. Existence kebutuhan yang dipuaskan oleh faktor-faktor makanan. meliputi: gaji. Mitchel menyatakan bahwa penyebab kepuasan kerja adalah: supervisi. bakat. minuman. penilaian diri. tunjangan maupun lain lain yang berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan. Menurut Stoner (1989). b. (4) keuntungan keuangan. meliputi minat. 1989). sikap dan perilaku orang lain. yang dimaksud kepuasan kerja dalam penelitian ini adalah perasaan senang atau lega karena merasa terpenuhi kebutuhan atas harapan yang dialami oleh seseorang dari suatu pekerjaan. keterikatan. dan (5) sikap terhadap supervisi. hubungan dengan pimpinan. Sedangkan Smith (Cranny. menurut ia ada lima komponen utama dalam kepuasan kerja. Dari pendapat-pendapat di atas. udara. norma-norma sosial. (3) faktor fisik yaitu faktor faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja. (2) faktor sosial. hal hal yang berhubungan dengan interaksi antara sesama karyawan. yaitu: (1) sikap terhadap kelompok kerja. 1976). (2) kondisi umum pekerjaan. kepuasan karena memberi sumbangan pada pribadi maupun organisasi. 5 . ada empat faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja. yaitu: (1) kepercayaan pada pimpinan. Relatedness. kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari para anggota kelompok. dapat disimpulkan bahwa dalam proses kepemimpinan ada orang yang mempengaruhi (pemimpin) dan ada orang yang dipengaruhi (bawahan). ketentraman dalam bekerja. berpendapat bahwa ada lima segi kepuasan kerja.

saran. saluran komunikasi ke segala arah. d. (2) komunikasi lancar. dan (2) fungsi yang berkenaan dengan pembinaan pelaksana tugas atau fungsi sosial. Lain dengan Siagian (1989). perilaku. c. Pemimpin yang efektif dapat menjalankan kedua fungsi tersebut. berupa pandangan. yaitu: (1) fungsi yang berkenaan dengan tugas. Pada kepemimpinan ini perilaku pemimpin dalam pengambilan keputusan berdasarkan hasil musyawarah mufakat dengan bawahan. kegiatannya: (1) bermusyawarah dengan kelompok mengenai hal hal yang menarik perhatian. Sehubungan tanggung jawab baik buruknya organisasi di tangan pemimpin. Hodgetts (1975) menyatakan bahwa ciri-ciri kepemimipnan demokratis adalah pemimpin yang perhatiannya tinggi terhadap bawahan serta pelaksanaan tugas yang dilakukan bawahan. ia manyatakan bahwa ciri ciri kepemimpinan demokratis sebagai berikut: (1) pemimpin dalam proses menggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia adalah 6 . di dalam organisasi tercipta jalur komunikasi ke segala arah. Sedang Hodgetts dan Kuratko (1975) menyatakan ciri-ciri pemimpin yang demokratis dalam berhubungan dengan bawahan sebagai berikut: a. mendukung adanya pertukaran informasi antar bawahan yang berkelanjutan.Sujono Surokarijo Dengan demikian yang dimaksud kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain. kritikan digunakan. Sedang Bove (1995) menyatakan sifat kepemimpinan demokratis berorientasi pada pegawai atau karyawan. pemimpin mendelegasikan sebagian wewenang pada bawahan dan mendorong bawahan untuk berperan aktif dalam pengoperasian perusahaan. menciptakan arus informasi timbal balik. maka bila ada bawahan yang kesulitan melaksanakan tugas dibimbingnya. Menurut teori perilaku. pemimpin memberi keleluasaan pada bawahan dalam menetapkan sasaran pekerjaan dalam pelaksanaan tugas. Menurut Woods (Timpe A Dale. memberi dorongan keberanian melalui arus komunikasi yang berkelanjutan antara ia dengan bawahan. b. dan (4) memberi keleluasaan pada bawahan dalam pelaksanaan tugas. pujian. sikap sehingga orang yang dipengaruhi mau melakukan kegiatan sesuai dengan tugasnya demi pencapaian tujuan yang telah ditentukan. gaya kepemimpinan demokratis dalam mempengaruhi bawahan. pemimpin dalam mempengaruhi dan berhubungan dengan bawahan mengemban dua fungsi utama. (3) melibatkan bawahan dalam melaksanakan sasaran organisasi. Sedang pemimpin yang cenderung menjalankan fungsi yang berkenaan dengan pelaksana tugas mengganggap bawahan sebagai mitra kerja. 1999). Pemimpin yang cenderung menjalankan fungsi yang berkenaan dengan tugas menganggap bawahan sebagai alat produksi atau alat pencapaian tujuan.

(2) dalam menentukan kebijakan organisasi melalui musyawarah mufakat dengan bawahan. Populasi penelitian seluruh karyawan tata usaha SMPN di Kabupaten Ponorogo. menggunakan skala Likert dengan empat alternatif jawaban. 7 . Indikator kepemimpinan demokratis adalah: (1) menganggap bawahan sebagai mitra kerja. (10) melaksanakan supervisi. (7) lebih mengutamakan kerja sama. sedang populasi terjangkau seluruh karyawan tata usaha SMPN Kota Ponorogo tahun 2007 yang berjumlah 57 orang. Sampel penelitian sebanyak 50 orang dijaring dengan teknik sampling acak sederhana. karena peneliti ingin mengetahui hubungan antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah. pendapat maupun kritik dari bawahan. (9) mengakui dan menghargai keberhasilan bawahan. (4) menciptakan jalur komunikasi timbal balik. (5) berusaha untuk menjadikan bawahan lebih sukses. Sesuai analisis teori teori dan konsep konsep di atas. terbuka dan ke segala arah. langsung. (3) membudayakan adanya saran dan kritik. (5) memberi keleluasaan bawahan dalam melaksanakan tugas. Pengumpulan data dilakukan melalui angket. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan korelasional. (6) mendelegasikan sebagian wewenang pada bawahan. (4) berusaha mengutamakan kerja sama dalam team work dalam usaha pencapaian tujuan organisasi. METODOLOGI PENELITIAN Dalam penelitian ini variabel terikat adalah kepuasan kerja karyawan tata usaha (variabel Y). Metode penelitian ini adalah metode survai. sedang variabel bebas adalah kepemimpinan demokratis kepala sekolah (variabel X). Analisis data menggunakan teknik korelasi product moment dan teknik analisis regresi linear. dan (6) memberi keleluasaan bawahan dalam berbuat kesalahan kemudian dibimbing dan diperbaiki agar tidak membuat kesalahan yang sama. (2) berusaha mensinkronkan tujuan dan kepentingan organisasi dengan tujuan dan kepentingan pribadi bawahan. dalam penelitian ini yang dimaksud kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang memperhatikan bawahan dan juga memperhatikan proses pelaksanaan tugas yang dilakukan bawahan. dan (11) berusaha meningkatkan kesejahteraan bawahan. (8) memberi kesempatan bawahan untuk mengembangkan karier.Korelasi Kepemimpinan makluk yang mulia. (3) senang dan mau menerima saran.

London: Harper and Row.Graw Hill Inc. 1982. & Richard. New York: Mc Graw Hill Inc. T. 1975. di dapat th > tt ( 2. termasuk karyawan perpustakaan. New York: John Willey Inc. Mitchell. Maslow. Kepemimpinan demokratis kepala sekolah memberi sumbangan positif sebesar 15% dan sumbangan tersebut berarti terhadap kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah. pada persamaan regresi = 35. James G. P. Job Satisfaction How People About Their Job And How It Affects Their Performance. New York: Lexington Books. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.48 + 0. Jakarta: Balai Pustaka. Cranny. Poerwadarminta W. London: Sounder Company. 1991. A. berarti korelasi signifikan.M. Tokyo: Mc. DAFTAR RUJUKAN Bovee.Sujono Surokarijo HASIL PENELITIAN Pada penelitian ini ditemukan bahwa terdapat korelasi positip antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah.. Management. 1992. Kamus Umum Bahasa Indonesia. semakin meningkat kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah. Management. S. 1990. Hadikusumo. Buchori Zainun. Scermerhorn J. 1991. 1970..36 X. 1995.93 > 1.39. Selanjutnya dikoreksi dengan uji t. N. Hodgeets.R.J. Jakarta: Balai Aksara. diperoleh koefisien korelasi r = 0. KESIMPULAN Berdasarkan temuan di atas peneliti menyimpulkan bahwa semakin demokratis kepemimpinan kepala sekolah. 1976.H. C. The Human Problem of Management (Terjemahan).15. L. R. Motivation and Personality.S.70).N. People in Organization An Introcdution to Organization Behavior. Managing Organizational Behavior. 1991. 8 . Setelah di analisis dengan analisis determinasi diperoleh r2 = 0. Manajemen dan Motivasi. C.R.

Leadership . J. Timpe A.Korelasi Kepemimpinan Siagian. S. Management. Stoner. 1989. 1999. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. New Jersey: Prentice Hall Inc. Filsafat Administrasi.P. Upper Saddle River. R.Kepemimpinan. 9 .F & Freeman. 1989.(Terjemahan: Susanto Budidharmo). Jakarta: CV Haji Masagung.E.D.A.

sopan dalam berperilaku. bangsa dan negara. kepribadian. dan dalam kebinekaan ini kita harus menghargai juga hak asasi orang lain dan dengan tetap patuh pada norma dan hukum yang berlaku. Namun akhir-akhir ini kondisi tersebut seakan-akan telah mulai luntur. Keteladanan. santun. Dulu kita terkenal sebagai bangsa yang memiliki semangat gotong royong yang tinggi. akhlak mulia. 4. dan memaksakan kehendak dalam menyampaikan pendapatnya. No. pengendalian diri. Pendidikan bukan hanya menekankan aspek kognitif dan afektif. MAKNA PENDIDIKAN DALAM MENJUNJUNG NILAINILAI BUDAYA DAN HUKUM POSITIF DALAM RANGKA MENEGAKKAN AKHLAK MULIA BANGSA INDONESIA 10 . Kata Kunci: Penegakkan hukum. ramah. dan Akhlak mulia. Adalah pendidikan dalam suatu sistem merupakan wahana yang ampuh untuk menegakkan kembali sikap bangsa Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila ini dalam sikap hidup gotong royong yang tinggi. ramah. April 2009 (Suatu Kajian Empiris terhadap Perubahan Sosial bagi Warga Belajar) Wukir Ragil Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional Bidang Hukum dan Sosial Dosen Luar Biasa Fakultas Hukum Universitas Indonesia Abstrak Sistem Pendidikan Nasional menggariskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. perubahan perilaku ini disebabkan beberapa hal antara lain kini kita merasa telah ”Bebas” dari segala belenggu yang dianggap menghambat kreativitas dan ekspresinya sehingga kini seolah-olah bisa bebas dalam berperilaku apa saja dalam menentukan kehidupan bermasyarakat. sopan. 1. serta psikomotorik saja akan tetapi juga pembentukan akhlak mulia yang merupakan makna dari pendidikan budi pekerti yang harus dimiliki seluruh peserta didik dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. murah senyum dan santun. Adalah penegakkan hukum yang konsisten dan adil akan membawa kita pada suatu kepastian hidup bahwa dalam berkehidupan. Melalui suatu kajian pustaka dan kajian empiris diketahui bahwa. menghargai hak asasi orang lain terutama perbedaan dalam kebinekaan. serta ketrampilan yang diperlukan oleh dirinya. masyarakat. berbangsa dan bernegara yang bebas.

sabar. rasa. Kebudayaan yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat akan berbeda yang dimiliki oleh kelompok masyarakat lainnya.Makna Pendidikan PENDAHULUAN Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. Kebudayaan akan berkembang karena ada perkembangan ilmu dan tehnologi sehingga akan menciptakan alat/sarana tehnologi yang baru/mutakhir. cipta. dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. Penulis menambahkan unsur kelima yaitu Kaidah hukum yang berlaku dalam masyarakat setempat. dan 4) political control (kekuasaan politik). Kebudayaan akan dimiliki dan akan tetap hidup dalam masyarakat pemiliknya. 1974 hal 113). Kehidupan keluarga yang agamis akan membuat tata kehidupan dalam keluarga itu selalu menuju pada kehidupan keluarga sakinah. Masyarakat agraris yang selama ini dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia sehingga dapat mewujudkan swasembada beras sekaligus menciptakan suatu tatanan/nilai budaya dalam masyarakat petani yang relatif nrimo. Sedangkan pengertian budaya mempunyai makna yang luas. pendidikan berlangsung sepanjang hayat dengan mengembangkan budaya membaca. Kebudayaan akan berkembang atau berubah dengan berubah tata nilai dalam kehidupan keluarga. Demikian semua hasil karya. mawardah. Selanjutnya menurut Herskovits ada empat unsur pokok dalam kebudayaan yaitu: 1) technological equipment (alat-alat tehnologi). dan 11 . dan sifat gotong royong yang tinggi dan menjadi masyarakat produsen pangan. kecuali masyarakat pedesaan yang masih menjunjung sifat gotong royong ini sebagai sarana yang jitu dalam bermasyarakat. 2) economic system ( sistim ekonomi). Kebudayaan adalah hasil dari karya. Kebudayaan akan berkembang seiring dengan berubahnya sistim ekonomi dalam masyarakat. dan karsa. perkembangan kebudayaan dalam masyarakat akan dipengaruhi adanya empat unsur pokok tersebut. dan karsa masyarakat tadi akan berguna bagi masyarakat yang menciptakannya. Sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan masyarakat. menulis. Dengan demikian menurut Herskovits. Herskovits menyatakan lebih dari seratus enam puluh definisi kebudayaan. cipta. kompak. rasa. ”sifat gotong royong” agak luntur. 3) family (keluarga). Hal ini karena kebudayaan akan hidup dan berkembang dalam masyarakat itu sendiri serta untuk memenuhi keperluan masyarakat tersebut. bersaing untuk mendapat produk yang terbaru dan terbaik. pada saat tanah pertanian berubah menjadi kawasan industri seketika itu tata nilai masyarakat berubah menjadi bersifat konsumtif. (Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi.

Namun demikian. Sanksi akan diberikan terhadap pelanggarnya terutama sanksi moral yang diberikan masyarakat untuk membuat jera perbuatan yang dianggap menyimpang dalam masyarakat tersebut. Penelitian normatif disini adalah untuk memahami kaidah hukum dan perundang-undangan mengenai gejala sosial dan kebijakan pendidikan. Selanjutnya penelitian normatif ini akan didukung dengan penelitian empiris. dipatuhi dan menyatu pada tata nilai budaya masyarakat setempat dan akan mampu mempertahankan kehidupan tata nilai atau berkembangnya kebudayaan masyarakat tersebut. METODE PENELITIAN Kegiatan kajian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan yang bersifat yuridis-normatif dan penelitian empiris melalui pengamatan.Wukir Ragil warokhmah dan selalu bersyukur. tata nilai. ataupun kelestarian kebudayaan pada masyarakat tertentu. akan tetapi tindakan itu merupakan suatu yang mengarah pada indikasi bahwa budaya penyelesaian suatu perkara dengan kekerasan dianggap sebagai cara yang ”tepat”. Mereka akan merasa terasing dalam lingkungannya. Penggabungan penelitian kepustakaan yang bersifat yuridis-normatis dan penelitian empiris ini akan dapat mengkaitkan antara konsep kebijakan peraturan perundang-undangan dan interaksi sosial masyarakat warga belajar terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. kaidah hukum itu berlaku. Walaupun tidak menimbulkan korban jiwa. dan privasinya. terlihat di televisi seorang oknum dengan membawa berbagai senjata tajam dalam bentrokan adalah sungguh sangat merisaukan. 12 . Kekuasaan politik yang mewarnai secara mencolok tata nilai dan kehidupan masyarakat apabila tidak disaring secara intensif oleh anggota masyarakat yang bersangkutan. pola kehidupan. Sebaliknya keluarga yang berpola kehidupan ”modern kebarat-baratan” akan menjadikan kehidupan pada keluarga yang serba ”praktis” dan menganggap tata nilai akan mengganggu aktifitas. akan dapat merubah pola pikir. demikian juga sanksi hukum dari penguasa akan membuat jera untuk mengulangi kesalahannya lagi. Dipicu oleh sebab musabab yang kurang jelas dan rasa solidaritas sesama teman telah menimbulkan sebuah kekerasan yang dilakukan oleh oknum mahasiswa antar fakultas disebuah perguruan tinggi di Makasar tanggal 3 November 2008 yang lampau.

Organisasi kehidupan sosial masyarakat adalah dasar utama kehidupan hukum (Dawan Raharjo. Sebagai contoh. nilai budaya ini mempunyai fungsi primer untuk mempertahankan pola yang telah berkembang dalam masyarakat yang akan menghubungkan fungsi sosial dan nilai budaya sehingga kehidupan masyarakat akan menjadi bermakna. dan menyatu menjadi suatu tata nilai dan budaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dawan Rahardjo dengan merujuk pendapat Talcott Parsons dalam teori tentang masyarakat menjelaskan bahwa dalam kehidupan masyarakat yang serba diliputi oleh tindakan individu yang mempunyai sifat fisik dan realitas akan selalu kait terkait sehingga dalam kehidupan sosial masyarakat akan mampu mengkaitkan dengan suatu tata hukum dan akan berkembang dalam masyarakat. Ia akan dipatuhi dan masyarakat akan memberikan sanksi bagi para pelanggarnya. Tata kehidupan yang semula baru merupakan gagasan sebagian dari anggota masyarakat ini lambat laun akan menjadi kesepakatan bersama dan diciptakan untuk menjadi norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Para pakar menyatakan bahwa Budaya Nasional merupakan puncak-puncak budaya daerah yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Ini adalah contoh kecil. kemiripan tutur kata pada daerah tertentu belum tentu mempunyai arti yang sama pada tutur kata pada daerah lain. Perbedaan ini kalau kita mampu meresapi dan mensyukuri merupakan suatu anugerah dari Allah yang sangat nikmat.Makna Pendidikan Nilai-Nilai Budaya dalam Kehidupan Masyarakat. Suatu contoh ” kata nggih ” dalam Bahasa Jawa penggalan dari inggih bisa mempunyai arti ”iya”. banyak contoh lain yang tidak kami sebutkan yang semua itu akan membuktikan betapa Besar dan Indahnya Indonesia. Aceh Tengah ini ” kata nggih ” bukan kepanjangan dari kata inggih dan mempunyai arti ”tidak”. Menurut Dawam. Dalam konteks kehidupan bernegara dan berbangsa. Dinyatakan bahwa kehidupan masyarakat yang terorganisir dengan baik akan menciptakan suatu pranata dalam kehidupan masyarakat. Masing-masing tata nilai memberikan ciri tersendiri dan tidak bisa dihapuskan oleh tata nilai budaya dari daerah lain. tata nilai budaya semula yang berasal dari kelompok-kelompok masyarakat Indonesia ini akan menyatu dalam suatu konsep sosial budaya yang` satu sama lain saling mewarnai sehingga puncaknya akan menjadi tata nilai budaya Indonesia/budaya nasional. Dalam kehidupan sosial nilai-nilai ini akan terus disesuaikan dan dikembangkan oleh masyarakat untuk mengikuti tata kehidupan dalam kelompok masyarakat yang lebih luas lagi. Norma ini akan dihormati dan lambat laun akan menjadi suatu pola hidup atau nilai-nilai budaya dalam kehidupan masyarakat. hal 102). Keterkaitannya fungsi ini akan 13 . akan tetapi dalam Bahasa Gayo.

Kajian masalah hukum akan memberikan makna yang tegas bahwa hukum harus bebas dari kontradiksikontradiksi. Perbuatan individu merupakan suatu kelakuan dalam hukum yang seharusnya dijalaninya sesuai dengan aturan hukum yang diharuskan. dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan) dengan seluruh kebijakan operasionalnya. Pelembagaan adat istiadat ini membutuhkan sistem manajemen yang 14 . wali/orangtua. Lantas bagaimana halnya dengan kondisi dan konsep pengembangan budaya pada lembaga pendidikan (satuan pendidikan)?. Adat istiadat atau kebiasaan sebagai hal yang dianggap mewakili kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat fungsinya mempertahankan pola kehidupan itu sendiri. sikap dan kebiasaan para peserta didiknya yang pada akhirnya nanti akan membentuk dan mengembangkan semangat dan sikap hidupnya. sikap. Masyarakat melembagakan adat istiadat karena masyarakat memerlukan perubahan. Dengan perkataan lain bahwa budaya sekolah merupakan semangat. dan harapan yang diyakini oleh para warga sekolah dan dijadikan sebagai pedoman bagi perilaku dan pemecahan masalah yang mereka hadapi. Dengan demikian organisasi satuan pendidikan (sekolah/perguruan tinggi) dan seluruh warga belajarnya (pendidik. sikap atau pola perilaku serta kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh para warga sekolah secara konsisten dalam memecahkan masalah (hal. Muhaimin MA dalam tulisannya yang berjudul Pengembangan Budaya Agama dalam Komunitas Sekolah mengulas secara panjang lebar tentang pentingnya pengembangan Pendidikan Agama sebagai Budaya Sekolah (Religiusitas 4 September 2007 hal. kebiasaan dan perilaku peserta didik. Hukum adalah suatu sistim norma yang berlaku dalam suatu kehidupan bermasyarakat. 14-29) antara lain dikatakan bahwa Budaya Sekolah merupakan perpaduan nilai-nilai. Nilai nilai yang dipertahankan adalah sangat jelas dan dari sudut antropologi sifat adat istiadat lebih statis dibandingkan dengan hukum (Bohannan. Prof. masyarakat sekitar. pemahaman. Dapat dikatakan bahwa hukum bersumber pada adat istiadat. asumsi. kondisi. Perubahan Tata Nilai dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia. Hukum bermakna untuk mendisiplinkan tingkah tingkah laku manusia. bernegara dan berbangsa. keyakinan. 16).Wukir Ragil menciptakan suatu tata nilai atau kebudayaan bagi masyarakat setempat. Perbedaannya pada tingkat perkembangannya. 43-56). layanan sekolah akan membentuk budaya sekolah yang semuanya akan membentuk pola nilai. semangat bertindak. Dalam kehidupan masyarakat akan terjadi proses sosialisasi antara tata nilai dan kaidah hukum. adalah sangat berperan besar dalam membentuk pola perilaku. Lebih lanjut dikatakan bahwa seluruh implementasi kebijakan sekolah. 1967.

Menurut Hoebel. peserta didik harus memiliki sikap. berakhlak mulia. sehat. bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berilmu. 1) merumuskan hubungan-hubungan antara anggota-anggota masyarakat dengan menunjukkan perbuatan yang dilarang dan yang boleh dilakukan.Makna Pendidikan lebih teratur yang lazim disebut lembaga hukum yang dilengkapi dengan peraturan hukum yang dalam masyarakat disebut adat istiadat. Dengan demikian masyarakat dalam memberlakukan adat istiadat dan tata nilai membutuhkan norma-norma yang berlaku di masyarakat setempat agar adat istiadat dapat efektif bekerja. Jadi fungsi hukum disini mengatur hubungan antara manusia dengan manusia. Dengan demikian hukum memiliki fungsi yang berbeda dengan fungsi adat istiadat atau tata nilai dalam masyarakat. kepribadian. kreatif. antara penguasa/pemerintah dengan manusia. bangsa dan negara (Prof Muhaimin MA. 275) fungsi hukum adalah. 15 . Dengan demikian Undang undang ini menetapkan bahwa akhlak mulia sebagai tujuan pendidikan nasional yang bermakna dalam kehidupannya sebagai individu. Muhaimin menyatakan bahwa tujuan pendidikan dimaksud memiliki kekuatan spirituil keagamaan bagi peserta didik dalam pengendalian diri. yang lebih jauh lagi akhirnya dalam kehidupan berbangsa dan kehidupan bernegara. dan mekanisme serta prosedur penggunaan. kehidupan dalam keluarga. Peran Pendidikan dalam Menegakkan Nilai-Nilai Luhur Budaya dan Kepatuhan Terhadap Hukum. dan tindakannya yang mengacu pada norma kehidupan sesama individu. kecerdasan. perilaku. 3) penyelesaian sengketa-sengketa. cakap. serta ketrampilan yang diperlukan oleh masyarakat. halaman 17). dan kehidupan dalam bermasyarakat. dan mempertahankan setiap norma dengan menyesuaikan dalam perubahan masyarakat. dan 4) mempertahankan adaptasi masyarakat dengan cara mengatur kembali hubungan-hubungan dalam masyarakat yang berubah. mandiri. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Undang undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). 2) mengalokasikan dan menegaskan siapa yang boleh menggunakan kekuasaan atas siapa. sebagai wasit yang netral dalam setiap ada sengketa dalam masyarakat. (1967. dan menjaga agar norma tersebut tetaf efektif dalam setiap kehidupan bermasyarakat. Pendidikan nasional yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

dalam masyarakat yang baru mendapat kebebasan dalam melihat dunia ”baru” dan kemudian mencoba untuk memaknai apa arti dunia ”baru” tersebut dengan suatu tindakan sesuai dengan harapannya. lingkungan dan perubahan alam sekitar. Mubarok mengibaratkan sebagai sekumpulan orang yang telah 32 tahun dikurung dalam penjara yang gelap gulita dan tiba-tiba penjara itu dirobohkan sehinga mereka bisa keluar melihat dunia baru yang terang benderang dan terlihat aneh akan tapi mengasyikkan. Lebih lanjut dikatakan bahwa. maka masyarakat Indonesia mengalami keterkejutan budaya. dan disamping itu mempertahankan kemajemukan bangsa. perkembangan tradisi yang tumbuh dalam suatu kelompok masyarakat. Memang Pemerintah tidak lagi menerapkan paradigma stabilitas nasional secara mutlak dalam mengatur kehidupan warganya. Sebagian mereka mengimplementasikan kebebasan sebagai perbuatan yang berlebihan tanpa batas atau koridor norma dan hukum. Dinyatakan pula bahwa itu adalah gambaran masyarakat Indonesia pasca jatuhnya Presiden Soeharto yang sedang mencari jati dirinya kembali. faktor keturunan (teori nativisme) dan faktor lingkungan dan pendidikan (teori empirisme). dengan tegas mengatur tanggungjawab pendidikan. maupun secara informal. Achmad Mubarok.Wukir Ragil Berbagai sumber menyatakan bahwa perkembangan akhlak mulia dari ajaran agama. Kedua teori tersebut saling mempengaruhi terhadap perkembangan kualitas manusia. Sehingga mereka berpesta pora menikmatinya dengan melakukan apa saja yang sebelumnya mustahil dapat dilakukan. Dengan demikian. akan tetapi dalam proses yang masih kebingungan karena masalah yang dihadapi sangat komplikatif antara kerinduan kepada demokrasi. nonformal. Harapan ini belum sepenuhnya dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. akan tetapi menghargai perubahan dan perbedaan sebagai anugerah yang harus disyukuri oleh bangsa ini adalah suatu keniscayaan sepanjang dilaksanakan dalam koridor norma dan kepatuhan terhadap hukum. mereka dihadapkan pada suatu kebingungan karena mendapatkan suatu kondisi yang tidak cocok menurut pandangan mereka sebelumnya. dalam Jurnal Religiusitas 3 September 2008) menyatakan bahwa kualitas manusia ditentukan dalam dua hal yaitu faktor hereditas. kebebasan. falsafah hidup bangsa. Bangsa Indonesia memasuki dunia global dimana arus informasi dan keterbukaan tak bisa dihindari. dengan menghargai dan mempertahankan proses pembelajaran yang telah berlangsung selama ini. kemakmuran dan kehormatan yang ternyata tidak sinkron. sehingga beberapa kali kita lihat dalam menyampaikan inspirasinya dibumbui 16 . Sistem pendidikan nasional ini berfungsi sebagai mengubah/mereformasi sistem pendidikan baik secara formal.

Penerapan hukum untuk membela manusia agar mereka tetap terhormat sebagai manusia. Pendidikan bukan sekedar proses pengayaan intelektual. setiap kali lahir 17 . Demikian pula falsafah hidup suatu bangsa ikut mempengaruhi perilaku masyarakat dalam negara itu. adil dan sejahtera terhadap masyarakat. bersaing antar sesamanya secara fair dan adil. Falsafah hidup suatu negara. bergaul. Atau mungkin kelompok masyarakat itu menganggap bahwa penyampaian inspirasi dengan cara tenang dan tertib tidak akan didengar oleh yang berwenang. hal itu berarti akan memberikan rasa aman. Dodi Nandika (14 Juni 2008) mengatakan bahwa. karakter unggul. dengan hukum manusia hidup. apabila kita menganggap bahwa sebagai manusia yang memiliki keadilan yang beradap. Dalam hal efektifitas hukum ini Achmad Mubarok menyatakan bahwa. yang daripadanya. menurut Mubarok. penyampaian inspirasi tersebut kurang afdol. Dikatakan. diatas penguasa ada yang Maha Kuasa. hukum bermakna sebagai mengatur kehidupan manusia sebagai makhluk yang beradap yang membedakannya dengan hewan. dan memberikan peluang yang sama bagi mereka. maka hal ini akan mengusik rasa keadilan pada akhirnya dapat menimbulkan aksi protes. Oleh karena itu apabila penegakkan hukum oleh negara secara adil tanpa pandang bulu. termasuk penguatan akhlak mulia. Seolah-olah tanpa adanya sedikit kekerasan dan pemaksaan kehendak. apabila kita mampu meramu dan merasakan kebinekaan dalam rasa persatuan dan kesatuan. kesejahteraan yang berkeadilan dalam kebinekaan ini akan segera dirasakan dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan demikian apabila penegakan hukum dalam masyarakat dirasa tidak adil. Indonesia memiliki falsafah Pancasila yang apabila dihayati dalam kehidupan sebagai masyarakat yang ber Ketuhanan yang menganggap bahwa diatas langit masih ada langit lagi. Sedangkan akhlak mulia menurut Dodi Nandika dikatakan sebagai suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia. menjamin setiap hak dan keberadaannya pada jalan kebenaran dan keadilan. dan wawasan kebangsaan. apabila akan dijadikannya sebagai pedoman bagi bangsanya untuk berperilaku maka kedamaian suatu bangsa tersebut akan dapat terwujud. apabila kita mampu menjadikan pola kehidupan bermusyawarah untuk mufakat adalah jalan yang terbaik dalam menentukan pilihan bersama serta memiliki jiwa keadilan dan jiwa sosial yang tinggi dalam kehidupannya maka ketentraman.Makna Pendidikan dengan perbuatan oknum-oknum pengunjuk rasa yang melakukan perbuatan melanggar hukum maupun melanggar hak orang lain dalam menikmati ketenangan dalam aktifitasnya. tetapi juga menumbuh-kembangkan nilai-nilai luhur insani bagi kemajuan peradaban bangsa.

Depdiknas menetapkan kerangka dasar dan model-model kurikulum yang dapat dijadikan rambu-rambu dan satuan pendidikan yang akan menyusunnya sesuai dengan kebutuhannya sendiri dengan memperhatikan pada peningkatan iman dan takwa. Dalam kaitan itu. dan 3) bahasa. Dengan demikan. 2) pendidikan kewarganegaraan. 6) ilmu pengetahuan sosial. perkembangan ilmu pengetahunan. Untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut langkah pertama yang harus dilakukan adalah dimulai dari perumusan kebijakan dalam kegiatan belajar mengajar pada satuan pendidikan yaitu dengan kebijakan kurikulum. 2) pendidikan kewarganegaraan. memiliki insan yang berkemampuan olah rasa. 5) ilmu pengetahuan alam. dan seni. dan berkemampuan olah raga. mewajibkan pengaturan kurikulum pada pendidikan dasar dan menengah meliputi: 1) pendidikan agama. teknologi. Lebih lanjut ditegaskan dalam pasal 37 ayat (1) UU Sisdiknas. dinamika perkembangan global. 20 tahun 2003). menurut Dodi Nandika. disamping kurikulum yang menjadi ciri pada 18 . dan 9) pengembangan diri (Permendiknas No. agama.Wukir Ragil manifes hal-hal yang mulia. memiliki kecerdasan intelektual dan memiliki kecerdasan kinestika. dan 8) muatan lokal. tanpa melalui pertimbangan atau proses penalaran yang berat dan lama. peningkatan akhlak mulia. dan minat peserta didik. 2 tahun 2006). sesuai dengan tuntutan pembangunan daerah dan nasional. memiliki Insan yang berkemampuan olah pikir. Departemen Pendidikan Nasional menaruh harapan besar yang nanti pada tahun 2015 akan tercipta manusia Indonesia sebagai Insan Indonesia Komprehensif dan Kompetitif (insan kamil/insan paripurna) yaitu insan Indonesia yang memiliki kecerdasan emosional dan sosial. 4) matematika. kecerdasan. dengan mudah. Kurikulum di setiap satuan pendidikan ini akan bercorak keragaman potensi daerah dan lingkungan. Pada program pendidikan dasar dan menengah di masa otonomi daerah dan penerapan manajemen berbasis sekolah maka kebijakan Kurikulum Pada Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan salah satu langkah yang dianggap tepat. 7) keterampilan/kejuruan. Demikian juga kurikulum pada pendidikan tinggi wajib memuat: 1) pendidikan agama. 7) pendidikan jasmani dan olahraga. dan dengan semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan (UU No. 3) bahasa. pada tahun 2015 nanti diharapkan akan terwujud suatu kondisi di Indonesia yang memiliki Insan yang berkemampuan olah hati untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan dan ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti. peningkatan potensi.

meneliti. budaya respect to others. Demontrasi mahasiswa meneriakkan kebenaran ingin merubah sesuatu adalah hal yang wajar dan perlu didukung. Yaitu. to mentor. dan buta aksara yang merupakan kesenjangan dapat dihabisi. Kedua. merubah. Mahasiswa ingin menyampaikan perubahan.Makna Pendidikan setiap jurusan. Prof. Sekretaris Jenderal Depdiknas pada acara Rembug Penguatan Nilai-nilai dan Budaya Luhur dalam rangka peningkatan Akhlak Mulia di Perguruan Tinggi di Universitas Muhammadiyah Surakarta beberapa waktu yang lampau. empati (IQ. Critis Yes. Ketiga. belum berbudaya mem-publish. tapi masih berbudaya lisan. menyatakan bahwa ada tujuh academic duty. membimbing. Ir Dodi N Nandika. melayani masyarakat. Menyikapi perubahan perilaku masyarakat yang menjurus pada perubahan tata nilai luhur budaya bangsa. fakultas dan/atau perguruan tinggi tersebut yang merupakan hak otonomi kampus. Pertama. berakhaqul karimah. melayani bagaimana sampah-sampah berserakan. Tapi caranya. dan mentrasfer nilai-nilai budaya. mensiarkan kedunia. EQ. dan ketujuh to tell the truth mengatakan kebenaran. bukan to report atau bukan buat repot. dan RQ) sebagai alat dan bekal untuk Hijrah dari budaya yang sangat tidak beradab menjadi budaya santun. Yang kurang baik diluruskan dan 19 . adalah to publish. keempat. menguak tabir kegelapan. mengkaji. mengangkat temuan ilmiah dan sekaligus menyibak kegelapan secara terus menerus sehingga almoust everyday discovery. kita belum berbudaya menulis. tapi menghimpun. dengan merujuk pendapat mantan presiden dari negara maju. karena dibalik proses belajar mengajar tadi ada mandat untuk berbudaya luhur. Ini yang berat karena apabila satu rukun belum dilaksanakan maka batal. Lebih lanjut dikatakan bahwa penelitian adalah suatu kegiatan problem solving. MS. menggali. menjangkau. budaya membaca. Lebih lanjut dikatakan bahwa kalau perguruan tinggi tidak mengatakan kebenaran maka akan batal. to teach. Keenam to change. kemudian Kelima to reach beyond the wall. Anarchis No. melayani bagaimana kemiskinan. Tujuh kewajiban akademik dipundak perguruan tinggi yang merupakan rukun direkomendasikan untuk dilaksanakan oleh perguruan tinggi sehingga terjadi keseimbangan antara pendidikan yang bersifat membangun kemampuan iptek dan seni dan pendidikan yang bersifat pendidikan moral. memelihara. SQ. Lebih lanjut dikatakan bahwa misi yang paling utama dalam kegiatan di perguruan tinggi bukan hanya mengajar. hal ini perlu ditumbuhkan sifat empati dan simpati. to discovery. Dr. mencari. `mengajar` mentrasfer ilmu dan pengetahuan dari seorang sumber kepada mahasiswa.

dan Pemerintah (UU No. Menurut Samsul Wahidin (dalam M Solly Lubis) menyatakan bahwa kebebasan merupakan syarat mutlak untuk mencapai suatu hak. dijunjung tinggi. Semangat untuk mengadakan perubahan ini perlu “dibimbing” agar sesuai dengan harapan masyarakat luas dengan tidak mengesampingkan kepentingan masyarakat lainnya. Kita harus mempunyai tekad bahwa Bangsa Indonesia bisa melepaskan diri dari masa-masa yang sulit setelah kita semua sudah ”dewasa” dengan belajar dari kesalahan masa lalu dan terus bekerja keras saling bahu membahu dengan menatap kedepan dengan penuh keyakinan bahwa dengan perbedaan tapi penuh makna kebersamaan akan merupakan kekayaan yang tiada tara nilainya bagi kejayaan bangsa Indonesia. dilindungi oleh negara. Benturan yang terjadi dalam menyampaikan pendapat dapat dijadikan pola evaluasi dalam kegiatan yang lain sehingga kita tidak membiarkan rekan-rekan mengalami duakali kesalahan yang sama namun tetap dalam semangat menuju suatu perubahan. pendidik. pengambil kebijakan. Hanya kita yang bisa mengatur bangsa kita sendiri menuju kearah yang lebih baik. Hak asasi merupakan hak yang melekat pada manusia yang wajib dihormati oleh siapapun. Samsul Wahidin (hal. Dengan demikian peranan pengajar/pendidik bukan hanya menyampaikan target pembelajaran saja. Dengan demikian dalam menjamin pelaksanaaan hak asasi tersebut. hukum. para penguasa. kearifan lokal dan semangat nasional agar energi anggota masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat dapat disalurkan dengan efektif dan efesien. 54-55) memandang bahwa kebebasan mengeluarkan pendapat merupakan sesuatu yang asasi.Wukir Ragil seluruh pengajar menjadi transmitter yang memancarkan akhlak mulia didepan kelas. akan tetapi juga menumbuh-kembangan potensi peserta didik dalam mengekspresikan ide dan gagasannya setelah mereka melihat keadaan yang tidak sesuai dengan harapan dan teori yang dipelajari. dan pemerintah mendapat suatu masukan yang sangat berharga. dan pejabat yang berwewenang perlu memiliki suatu kearifan sosial. 20 . KESIMPULAN Beberapa hal yang perlu kita sadari bersama adalah Bangsa Indonesia memiliki suatu konsep menuju suatu bangsa yang besar yang mempunyai jati diri sendiri walaupun kita belum mampu mewujudkannya. Mereka harus peka melihat ketimpangan dalam kehidupan masyarakat sekitar. 39 Tahun 1999 tentang HAM).

Melalui pendidikan dan keteladanan akan ditumbuh-kembangkan dan ditingkatkan komitmen untuk menjunjung nilai-nilai budaya luhur bangsa bagi peserta didik dalam bersikap. santun. f. Penyampaian pendapat oleh warga belajar setelah melihat keadaan yang dianggap tidak sesuai dengan harapan dan teori yang pelajarinya adalah suatu yang wajar dan bukanlah merupakan penyimpangan terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia sepanjang penyampaian pendapat tersebut tidak mengganggu hak asasi orang lain dan melanggar norma yang berlaku dan hukum posistif. disampaikan dengan dengan enak. Sifat kegotongroyongan. membentuk dan mengembangkan watak dan kebiasaannya. dan menumbuhkan nilai budaya luhur berakhlaqul karimah dalam proses belajar mengajar. Kini Pemerintah sangat menghargai adanya perbedaan. Sangat erat kaitan antara tata nilai kehidupan/budaya dalam masyarakat dengan norma-norma/ kaidah hukum di Indonesia ini akan selalu berkembang mengikuti perkembangan global dan kehendak masyarakat. serta berhasil menyentuh para pejabat yang berwenang untuk segera mengambil tindakan yang diperlukan. 21 b. Hukum sebagai perangkat aturan yang paling dominan akan memberi makna bahwa sesuatu boleh dilakukan dan sesuatu tidak boleh dilakukan akan dapat berlaku efektif apabila terdapat keteladan dan tegas dalam menegakkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. sejahtera. ramah. dan ekspresi dalam segala tindakan terjadi oleh masyaraakat karena adanya perubahan paradigma dari semula pemerintah sangat yakin dengan pola stabilitas akan dapat mewujudkan suatu kehidupan masyarakat yang tentram. mengawal.Makna Pendidikan Dari uraian ringkas tersebut diatas dapat ditarik suatu benang merah bahwa: a. berperilaku. kebinekaan. perilaku. h. c. menarik perhatian secara positif. nyaman dipandang. suasana yang sejuk. Pola ini harus dimanfaatkan oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan dalam merumuskan kebijakan maupun dalam proses pembelajaran. aman dan damai. dan menjunjung nilai luhur budaya bangsa masih ada dan melekat disanubari masyarakat Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa ini. d. Satuan pendidikan memegang peranan penting dalam membimbing/mendampingi peserta didik. keanekaragaman dan kemajemukan serta kebebasan menyampaikan pendapat yang direspon dengan sangat bersemangat oleh masyarakat. Perubahan sikap. e. . efektif dan efisien. g.

kita akan dapat melepaskan masa lalu yang pahit dan menuju masa sejahtera dan damai dimasa mendatang apabila kita mampu memaknai perbedaan. masyarakat mengalami pelakuan yang dirasakan tidak sesuai dengan harapannya. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Perubahan dalam kebebasan ini dirasa oleh masyarakat sangat fantastis. i. l. DAFTAR RUJUKAN Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Nomor 165 Tahun 1999. j. Mereka merasa selalu dikekang dan tiada kebebasan berekspresi. sehingga Pemerintah perlu melakukan pembinaan agar kehidupan berbangsa dan bermasyarakat yang selama ini sudah baik dapat ditingkatkan lagi atau setidak-tidaknya dipertahankan serta perlu ditumbuhkan sifat kritis yang konstruktif kepada masyarakat luas dalam mensikapi terhadap seluruh proses kebijakan pembangunan bangsa. kini setelah mengalami perubahan maka masyarakat kurang siap dengan perubahan itu. pelaksanaan kebijakan. Masyarakat dalam menyampaikan pendapat akan lebih bermakna dan tepat sasaran apabila dilakukan dengan arif dan sekaligus menghindari terganggunya hak orang lain. n. Pada masa lampau. (Lembaran Negara Nomor Tahun 2003 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301) 22 . Semangat masyarakat ini merupakan potensi. Sebagai bangsa yang besar. dan pengawasannya. sehingga sebagian menganggap bahwa perubahan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah yang dirasa tidak sesuai harus dilawan dengan ketidaksetujuan dengan memfaatkan hak dan caranya sendiri tanpa mengindahkan jalur hukum yang harus ditempuh.Wukir Ragil Pendidikan sebagai penguatan akhlak mulia membentuk karakter unggul dalam peningkatan wawasan kebangsaan memiliki sifat dinamis sesuai dengan perkembangan tata nilai dalam masyarakat. k. m. dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886). sehingga terjadi penyimpangan dari koridor hukum maupun norma kehidupan dalam bermasyarakat.

Pustaka Pelajar. MS. Jurnal Transformasi Kependidikan dan Keagamaan. Tahun 2006. Vol. hal 16).Makna Pendidikan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. 4 September 2007. dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4496) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Ir: Pendidikan Akhlak Mulia. Sukanto Soerjono dan Sri Mamudji. MA. Prof. Departemen Pendidikan Nasional. Wahidin Samsul H. 3 September 2008 hal. Antologi. Prof. N Dodi. Dr. 1986. (sebuah Introspeksi). Prof Dr. Teropong Pendidikan Kita. I. Dr. Artikel 2005-2006. Religiusitas. Achmad. (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 42. 2). SH. 23 . Religiusitas. I. (Jakarta: Raajawali. Pengembangan Budaya Agama dalam Komunitas Sekolah. Unversitas Muhammadiyah Surakarta tanggal 14 Juni 2008. Prof. hal 15. Penelitian Hukum Normatif. Bahan Paparan pada Rembug Penguatan Nilai-nilai dan Budaya Luhur. MA. Hukum Pers. Membangun Keluarga Bangsa dalam Prespektif Psikologi Islam. Nandika. Cetakan 2). Jurnal Transformasi Kependidikan dan Keagamaan. Mubarok. Vol. Muhaimin.

Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. kepemimpinan. pegawai. siswa. 4) Individualized Consideration. Keefektifan kedua komponen ini akan memberikan keyakinan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh indikator-indikator: 1) Idealized Influence. Kompetensi dan akuntabilitas kepala sekolah merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan. seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku kepada bawahannya. 1. manajemen. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. hak dan kewajiban. serta harapan bagi yang berkepentingan terhadap keberhasilan pendidikan di sekolah. Suryadi Syarif Kepala SMA Budi Mulia Ciledug Tangerang. 3) Intellectual Stimulation. dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur. orangtua siswa. masyarakat. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan inovasi dan kreativitas. kepala sekolah. dan akuntabilitas 24 . sehingga semua unsur yang terlibat (guru. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasehat. kompetensi. No. dan Dosen PPs UHAMKA Jakarta Abstrak Kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah adalah kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. Jabatan kepala sekolah merupakan jabatan yang tidak bisa diserahkan kepada setiap guru tanpa melihat apakah guru tersebut memenuhi kompetensi dan akuntabilitas yang dipersyaratkan. 2) Inspirational Motivation. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan Kata Kunci: Otonomi sekolah. April 2009 KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM ERA OTONOMI DAERAH DAN BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA (Suatu Pendekatan Teoritis) Moh. 4.

25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi. tetapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional.25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan Peraturan Pemerintahan No. Kualifikasi sumber daya seperti ini sangat diperlukan jika Indonesia ingin menjadi negara yang berhasil dalam menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Otonomi diberikan agar sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta agar sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat setempat. serta mengontrol pengelolaan pendidikan. Terutama untuk menciptakan insan-insan pembangunan yang ahli. Sedangkan kebijakan nasional yang menjadi prioritas pemerintah harus pula dilakukan oleh sekolah. Undang-Undang No. Sejalan dengan amanat tersebut.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. otonomi keilmuan dan manajemen. Pelaksanaan desentralisasi pendidikan dalam era otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang No. kreatif. Depdiknas saat ini tengah melaksanakan desentralisasi pendidikan yang di dalamnya terlaksana manajemen berbasis sekolah. teknologi. Masyarakat dituntut partisipasinya agar mereka lebih memahami pendidikan. Untuk mewujudkan visi tersebut dalam GBHN 1999 telah dinyatakan bahwa salah satu arah kebijakan dalam pembangunan pendidikan adalah melakukan pembaharuan dan pemantapan sistem pendidikan nasional berdasarkan prinsip desentralisasi. terampil. Hal ini bahkan telah menjadi amanat rakyat sebagaimana disebutkan dalam Ketetapan MPR-RI Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN yang menyebutkan bahwa salah satu visi pembangunan bangsa adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Sesuai dengan PP. No. dan industrialisasi sehingga mampu menghadapi persaingan global. membantu. dan inovatif. partisipasi masyarakat yang tinggi. yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah.Kepemimpinan Kepala Sekolah PENDAHULUAN Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Manajemen berbasis sekolah merupakan bentuk alternatif sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan. Dalam manajemen berbasis 25 . 25 tahun 2000 maka sejumlah kewenangan dalam bidang pendidikan yang selama ini berada di pusat dilimpahkan kepada institusi penyelenggara pendidikan dalam bingkai pemerintah daerah. Desentralisasi pendidikan merupakan terobosan besar dalam pembangunan bangsa yang selama ini memakai paradigma top-down berubah menjadi paradigma bottom-up.

saling memotivasi. Ada guru yang dipandang sebagai faktor kunci yang berhadapan langsung dengan para peserta didik dan masih ada lagi sejumlah masukan instrumental dan masukan lingkungan yang mempengaruhi proses pembelajaran. bukan sekadar kompetensi kognitif. kepala sekolah adalah orang yang berada di garis terdepan yang mengkoordinasikan upaya meningkatkan pembelajaran yang bermutu.Moh. Pada tingkat paling operasional. seperti manajer pabrik yang menghasilkan sepatu. Namun. Lebih dari para manajer lainnya. studi yang dilakukan oleh Lightfoot seperti dikutip oleh Dharma (2004: 2). seorang guru dapat berharap bahwa jika "beruntung" suatu saat kariernya akan berujung pada jabatan kepala sekolah. serta belajar mengembangkan kompetensi sepenuhnya. dan akan tetap menjalaninya sampai pensiun. Suryadi Syarif sekolah. Dalam praktek di Indonesia. kepala sekolah adalah guru senior yang dipandang memiliki kualifikasi menduduki jabatan itu. bagaimana nasib sekolah-sekolah kita jika dipimpin oleh orang-orang yang tidak kompeten. ia adalah pemimpin pendidikan yang bertanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang kondusif yang memungkinkan anggotanya mendayagunakan dan mengembangkan potensinya seoptimal mungkin. 26 . kepala sekolah memainkan peran yang termasuk sangat menentukan. belajar bertanggung jawab. Biasanya guru yang dipandang baik dan cakap sebagai guru diangkat menjadi kepala sekolah. Kepala sekolah diangkat untuk menduduki jabatan yang bertanggunggugat (accountability) mengkoordinasikan upaya bersama mencapai tujuan pendidikan pada level sekolah masing-masing. dan saling memberdayakan. Suasana seperti ini memberi ruang untuk saling belajar melalui keteladanan. Misalnya. Dalam kenyataan. banyak di antaranya yang tadinya berkinerja bagus sebagai guru. Tentu saja kepala sekolah bukan satu-satunya determinan bagi efektif tidaknya suatu sekolah karena masih banyak faktor lain yang perlu diperhitungkan. Dalam lingkungan seperti itu. kepala sekolah dituntut untuk memiliki "accountability" baik kepada masyarakat maupun kepada pemerintah. Umumnya mereka tidak cocok untuk mengemban tanggung jawab manajerial. Demikian pula dalam telaahan mutakhir tren dan isu manajemen pendidikan yang dikompilasi dalam ERIC (2002: 1-3). melalui pendekatan sosiologi tentang efektivitas sekolah menengah menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah memainkan peran yang sangat penting. Dapat dibayangkan. menjadi tumpul setelah menjadi kepala sekolah. bahwa kepala sekolah bukan manajer sebuah unit produksi yang hanya menghasilkan barang mati. para guru dan peserta didik termotivasi untuk saling belajar. Jadi. Guru-guru seperti ini tentunya telah terperosok ke suatu jabatan yang mereka sendiri tidak memiliki kompetensi untuk itu.

Kepemimpinan Kepala Sekolah Kepala sekolah seharusnya berada di gardu paling depan dalam hal peneladanan. Sudah sejak lama pula para kepala sekolah berhadapan dengan situasi di mana mereka lebih banyak tergantung pada konteks dan periferal pekerjaannya. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dipandang banyak pihak dapat memberi ruang gerak lebih longgar bagi kepala sekolah untuk meningkatkan mutu sekolahnya. di mana sektor pendidikan juga dikelola secara otonom oleh pemerintah daerah.” Uraian singkat di atas telah menunjukkan betapa tidak ringannya tanggung jawab seseorang sebagai kepala sekolah. Sejalan dengan itu maka dalam studi ini akan dikaji kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah yang ditinjau dalam aspek kompetensi. Konsepnya bagus karena MBS adalah strategi untuk meningkatkan kemandirian para pengelola pendidikan dengan memindahkan wewenang pengambilan keputusan penting dari pemerintah pusat dan daerah ke level paling operasional. Sudah sekian lama birokrasi pemerintahan negara kita tidak banyak membantu kepala sekolah mengatasi kerumitan itu. yaitu sekolah. Oleh sebab itu. praktis pendidikan harus ditingkatkan ke arah yang lebih baik dalam arti relevansinya bagi kepentingan daerah maupun 27 . dan akuntabilitas kepala sekolah berkaitan dengan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan pada era otonomi daerah. pemotivasian. dan institusi sekolah dalam pelaksanaan desentralisasi pendidikan dalam konsep manajemen berbasis sekolah pada tingkat pendidikan menengah. “ing madyo mangun karso”. “tutwuri handayani. Hasilnya masih belum jelas karena penerapannya ternyata juga masih harus menunggu kerelaan birokrasi pendidikan untuk mendelegasikan kekuasaannya. dan pemberdayaan itu. Manfaat dari kajian ini adalah untuk memberikan bahan masukan bagi pemerintah pusat. OTONOMI SEKOLAH Dalam era desentralisasi sekarang ini. Sebenarnya pekerjaan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di sekolahnya tidak pernah ringan. Apakah ini barang baru? Sama sekali tidak karena jauh sebelumnya Ki Hadjar Dewantara telah berujar dengan pernyataannya yang terkenal: “ing ngarso sung tulodo”. pemerintah daerah. Mereka sering berada pada posisi nirdaya dalam situasi ketika kepemimpinan mereka benar-benar diperlukan. diperlukan paradigma baru untuk menanggalkan ketergantungan yang selama ini telah merugikan para kepala sekolah yang sebagian sebenarnya mungkin telah bekerja dengan serius.

wewenang. dan (4) pengawasan. (3) pengarahan. melakukan analisis SWOT. Manajemen sekolah saat ini memiliki kecenderungan ke arah school based management (manajemen berbasis sekolah). mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran. 28 . Tahap-tahap pelaksanaan MBS meliputi: mensosialisasikan konsep MBS. maka kepemimpinan kepala sekolah perlu diberdayakan. Meskipun demikian. Kepala sekolah harus bertindak sebagai manajer dan pemimpin yang efektif. siswa. melakukan analisis sasaran. Agar penerapan desentralisasi dan otonomi pendidikan berhasil dengan baik. Peranan utama kepala sekolah dalam hal ini adalah memotivasi. yang meliputi: 1) perencanaan. orangtua. Pengambilan keputusan partisipatif adalah cara mengambil keputusan yang melibatkan kelompok-kelompok yang berkepentingan. membimbing. Sebagai manajer ia harus mampu mengatur agar semua potensi sekolah dapat berfungsi secara optimal. Otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri dan berdasarkan pada aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. otonomi pendidikan dalam konteks MBS harus dilakukan dengan selalu mengacu pada manfaat pendidikan bagi masyarakat. Pemberdayaan yang dimaksudkan adalah peningkatan kemampuan secara fungsional. Dalam konteks ini. Tujuan MBS adalah untuk memandirikan dan memberdayakan sekolah. mendorong para guru untuk aktif dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah dalam mengumpulkan informasi tentang belajar. untuk itu maka sekolah-sekolah yang MBS-nya aktif seharusnya mempunyai kepala sekolah yang memainkan peranan kunci dalam mengendalikan dan meningkatkan komitmen belajar siswa. sekolah harus meningkatkan keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaannya guna meningkatkan kualitas dan efisiensinya. maupun pemerintah pusat dan daerah. dan memberikan ganjaran kepada siswa. merumuskan sasaran. Suryadi Syarif kepentingan nasional. terutama yang melaksanakan keputusan dan yang terkena dampak keputusan. sehingga kepala sekolah mampu berperan sesuai dengan tugas. dan mengarahkan seluruh staf sekolah untuk bekerja dan bertanggungjawab atas tugasnya masing-masing. Esensi MBS adalah otonomi sekolah dan pengambilan keputusan partisipatif. dan tanggung jawabnya. 2) pengorganisasian. menyusun rencana sekolah. Hal ini dapat dilakukan jika kepala sekolah mampu melakukan fungsi-fungsi manajemen dengan baik. Dalam implementasi MBS fungsi-fungsi dan tugas-tugas kepala sekolah berubah dari manajer tingkat menengah ke pimpinan sekolah.Moh.

Kepemimpinan Kepala Sekolah mengimplementasikan rencana sekolah. Menurut Bass empat karakteristik kepemimpinan transformasional. 2) Inspirational Motivation. Dari segi implementasi MBS. 2004: 5). pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasihat (Rusdiyanta. 4) Individualized Consideration. Pemimpin dituntut untuk mampu mengubah budaya organisasi agar konsisten dengan strategi manajemen. Kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. 3) Intellectual Stimulation. Dimensi-dimensi perubahan pola manajemen dari yang lama menuju yang baru tersebut. sehingga semua unsur yang terlibat (guru. pegawai. Perubahan dimensi pola 29 . agar semua potensi yang ada di sekolah dapat berfungsi secara optimal. sehingga menimbulkan persaingan yang semakin ketat. orangtua siswa. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mencapai tujuan sekolah. melakukan evaluasi. seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku bagi yang bawahannya. secara konseptual maupun secara praktek tertera dalam MBS. Kepemimpinan transformasional menganggap kepemimpinan sebagai proses kerjasama antara pemimpin dan pengikutnya untuk mencapai tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. dan atau dorongan kepada semua unsur yang ada dalam struktur organisasi sekolah agar dapat bekerja atas dasar sistem nilai (values system) yang luhur. seorang kepala sekolah perlu mengadopsi kepemimpinan transformasional. sekaligus memberdayakan anggota organisasi untuk meraih tujuan-tujuan itu. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi berkembangnya inovasi dan kreativitas. adalah: 1) Idealized Influence. dan merumuskan sasaran baru. Berdasarkan konsep dasar yang telah diuraikan di atas. Kepemimpinan transformasional lahir sebagai upaya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan eksternal yang berlangsung cepat. Keempat karakteristik kepemimpinan transformasional ini diyakini mampu menciptakan organisasi yang lebih tangguh dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan baru. masyarakat. Kepemimpinan transformasional mampu membangun komitmen organisasi terhadap tujuan-tujuannya. siswa. maka perlu dilakukan penyesuaian dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru manajemen pendidikan masa depan yang bernuansa otonomi yang demokratis.

Informasi terbagi .Menghindar Resiko .Pengambilan keputusan partisipasi .Subordinasi .Sentralistik .Mengarahkan .pendidikan. Suryadi Syarif manajemen pendidikan dari yang lama ke yang baru menuju MBS dapat ditunjukkan dalam tabel 1.Ruang gerak luwes .Organisasi datar Pola baru Sumber: Eman Suparman.Mempengaruhi .Pendekatan Profesional . yaitu: 1) seorang pimpinan adalah seorang penyalur harapan 30 .Memfasilitasi . Tabel 1.Overregulasi .Mengelola resiko . Manajemen Pendidikan Masa Depan (http://www. Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi sekelompok orang dan mengarahkannya untuk mencapai tujuan tertentu.Pengambilan keputusan terpusat . Mengacu pada dimensi-dimensi tersebut di atas. Pemimpin adalah orang yang menempati posisi sebagai pimpinan.Deregulasi .Organisasi herarkis Menuju ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> .Pendelegasian . maka kepala sekolah dalam era otonomi sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya.Pendekatan birokratik .Diatur . KEPEMIMPINAN Kepemimpinan berasal dari bahasa Inggris leader yang berarti pemimpin dan leadership berarti kepemimpinan. Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Pola lama .Mengontrol .Desentralistik . Pengambilan keputusan akan dilakukan secara partisipatif dengan mengikutsertakan pihak-pihak yang berpentingan sebesar-besarnya.Gunakan yang seefisien mungkin .net/. p.Ruang gerak kaku .Moh.. sedangkan kepemimpinan adalah kegiatan atau tugasnya sebagai pemimpin. 2.Otonomi .Pemberdayaan .Motivasi diri .Gunakan uang semuanya . Nanus dan Dobbs (1999: 7) mengutip beberapa definisi pemimpin atau kepemimpinan. 2004).Informasi terpribadi .

Gardner). perilaku. memandang kemampuan memimpin sebagai bawaan sejak lahir. memperjelas visi. 31 . (2) kepemimpinan perilaku. bagaimana mengendalikan manusia dan sumber daya untuk mencapai tujuan (Thomas E. bekerjasama dan berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu.Kepemimpinan Kepala Sekolah (Napoleon Bonaparte). apa yang benar. yang diartikan sebagai seperangkat ciri-ciri yang menjadi atribut seseorang yang dipersepsikan sebagai seorang pemimpin. dan (3) kepemimpinan situasional Pendekatan pertama. melaksanakan tugas tertentu. Croin). yakni hanya orang-orang yang berbakat memimpin yang mampu menjadi pimpinan. kepemimpinan berperspektif perilaku. yaitu: (1) sudut proses. 2) pemimpin adalah seseorang yang secara signifikan mempengaruhi pikiran. Dalam upaya mencapai keberhasilan dalam mempengaruhi orang lain. dan kompetensi komunikasi terkait dengan kemampuan menyampaikan pesan-pesan agar dapat dipahami orang lain Ciri-ciri seorang pemimpin dapat dijelaskan melalui tiga pendekatan yaitu: (1) kepemimpinan bawaan. Terlihat bahwa acuan untuk mendefinisikan kepemimpinan bervariasi bagi masing-masing pakar kepemimpinan. dan (2) sifat yang dimiliki. Kompetensi diagnosa merupakan kemampuan kognitif untuk memahami situasi sekarang dan harapan pada masa mendatang. Namun inti dari definisi-definisi tersebut adalah mempengaruhi atau mengendalikan sekelompok orang untuk mentaati aturan. maka pimpinan harus memiliki tiga dasar kepemimpinan. yang berarti penggunaan pengaruh yang tidak memiliki kekuasaan memberikan sanksi untuk membentuk tujuan kelompok-kelompok atau organisasi. kompetensi adaptasi adalah kemampuan menyesuaikan perilaku dengan lingkungan. serta selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuannya (Peter M. 4) pimpinan adalah orang yang bertanggungjawab membangun organisasi di mana orang-orang secara berkesinambungan mengembangkan kemampuan untuk memahami kerumitan. Senge). mengarahkan perilaku mereka untuk mencapai tujuan. yaitu: (1) diagnosa. yaitu mempelajari kepemimpinan berdasarkan keterampilan yang dimiliki. Pendekatan kedua. dan atau perasaan orang lain (Howard Gardner). melakukan koordinasi kegiatan. (2) adaptasi. dan meningkatkan bentuk-bentuk mental kerjasama. dan membantu menciptakan budaya kelompok atau organisasi. Kepemimpinan dapat dijelaskan melalui dua sudut pandang. 5) Kepemimpinan adalah proses persuasi atau membujuk sekelompok orang untuk mengikuti tujuan yang ditetapkan oleh pimpinan atau bekerjasama dengan pimpinan dan para pengikutnya (John W. 3) pemimpin adalah orang yang mengetahui apa yang dibutuhkan. dan (3) komunikasi.

bahaya secara fisik yang mungkin terjadi. seorang pemimpin harus memperhatikan tiga faktor utama. kemudian mengalokasikan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai hal tersebut Pengorganisasian: menetapkan stuktur organisasi untuk mencapai persyaratan rencana. (2) perhatian terhadap atasan. dan 3) konseptual. Suryadi Syarif Kepemimpinan perilaku secara garis besarnya dapat dibagi dalam tiga kategori. Pendekatan ketiga. kepemimpinan situasional dibangun berdasarkan asumsi bahwa tidak ada satu cara apapun yang dapat mengarahkan manusia untuk bekerja pada semua situasi. luas bidang pekerjaan. (3) perhatian terhadap tugas. kemampuan. tingkat hirarkis. derajat kebebasan. pengetahuan tentang tugasnya. sering masa depan yang panjang. yaitu: (1) perhatian terhadap bawahan. yakni keterampilan 1) teknik. Dalam menerapkan kepemimpinan sesuai dengan situasi yang di hadapi. 2) manusiawi. yang mencerminkan derajat pentingnya waktu yang dimiliki. dan strategi untuk menghasilkan perubahanperubahan untuk mencapai visi Mengembangkan jaringan untuk mencapai agenda Mempersatukan orang: mengkomunikasikan arah dengan kata-kata dan tindakantindakan kepada mereka yang turut bekerjasama untuk menciptakan tim dan koalisi yang memahami visi dan strategi dan menerima kinerja .Moh. yang berarti kepedulian pimpinan atas keahlian. dan derajat kekaburan pelaksanaan tugas. dan karakteristik psikologis. pengalaman. serta mampu menerapkannya dalam situasi kepemimpinan sebenarnya. mensetafi struktur tersebut dengan individu-individu. yang mencerminkan derajat pelaksanaan pengaruhnya. Perbedaan manajemen dan kepemimpinan Aspek Menciptakan agenda Manajemen Perencanaan dan penganggaran: menetapkan rincian langkah-langkah dan rencana waktu untuk mencapai hasil yang diperlukan. ataupun kesamaan sikap dan perilakunya dengan orang-orang yang di atasnya. Tabel 2. standar kesalahan yang ditolerir. dengan demikian pemimpin harus memiliki perilaku yang fleksibel. mampu mendiagnosa gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi yang dihadapinya. mendelegasikan tanggung jawab dan wewenang untuk 32 Kepemimpinan Menentukan arah: mengembangkan visi masa depan.

dan atau program. Kotter (1990) dalam Wirawan (2003: 22). Steers (1985: 29). manajemen berhubungan dengan benda. Eksekutif Pengontrolan dan Penyelesaian masalah: memonitor hasil vs. pengorganisasian. Keluaran Sumber: John P. Manajer adalah orang yang mengerjakan sesuatu secara benar. seperti terlihat pada Tabel 2. sedangkan kepemimpinan berhubungan dengan manusia. Sehubungan dengan fungsi-fungsi manajemen. Kepemimpinan dan manajemen berbeda menurut sasarannya masing-masing. misalnya manajemen keuangan. menciptakan metode untuk memonitor pelaksanaan rencana. persediaan. rencana secara rinci dan kemudian merencanakan dan mengorganisasi untuk menyelesaikan masalah tersebut Menghasilkan sesuatu yang dapat diramalkan. menyediakan kebijakan dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang. dan mempunyai potensi menghasilkan perubahan yang sangat berguna (misalnya produk baru yang diinginkan pelanggan. pengaturan dan pengawasan aktivitas anggota organisasi yang berhubungan dengan sumber daya 33 . sedangkan pimpinan adalah orang yang mengerjakan suatu kebenaran. birokrasi untuk merubahnya untuk memuaskan kebutuhan manusia yang sangat mendasar tapi sering tidak terpenuhin. sering bersifat dramatik. dan mempunyai potensi secara konsisten mencapai hasilhasil tertentu yang diharapkan oleh berbagai stakeholder (misalnya pelanggan selalu tepat waktu.Kepemimpinan Kepala Sekolah melaksanakan rencana. Menghasilkan perubahan. untuk stakeholder lainnya sesuai dengan anggaran). Untuk jelasnya perbedaan antara manajemen dan kepemimpinan dapat dirujuk dari pendapat Kotter. pendekatan baru yang membuat perusahaan lebih kompetetif). Memotivasi dan Menginspirasi: mengenerji orang untuk memecahkan rintangan politik. berpendapat bahwa manajemen adalah proses perencanaan. mereka.

untuk itu dibutuhkan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam lingkungan atau situasi baru. dan pengawasan setiap kegiatan yang mengharuskan tanggung jawab untuk mencapai suatu hasil. Di sekolah. 34 . deviasi terhadap standar kinerja. Sedangkan pengawasan meliputi tiga elemen penting yaitu standar kinerja. KOMPETENSI Istilah “competent” sinonim dengan kata “sufficient” dan “adequate” yang berarti mampu. dan kompetensi lebih tertuju pada aksi atau hasil daripada proses belajar mengajar. Manajerial memiliki fungsi-fungsi yang berbeda namun saling berhubungan. yang dimaksudkan untuk mendukung semua fungsi organik).Moh. atau situasi tertentu. dan atau memadai. Perencanaan mengindikasikan bagaimana tujuan organisasi akan dicapai. yang secara bersama-sama merupakan proses manajemen. pengarahan. desain mengembangkan organisasi. Pengorganisasian meliputi pengembangan tujuan. cukup. 2004: 1) bahwa kompetensi mencakup tidak hanya pengetahuan atau keahlian tetapi juga terapannya dalam usaha memenuhi kinerja standar yang dipersyaratkan. jabatan. berkompeten berarti menjadi sedikit memuaskan dan baik. pengontrolan. Seseorang disebut kompeten untuk mengerjakan sesuatu berarti orang tersebut benar-benar dapat melakukan pekerjaan yang dimaksud. Pada dasarnya keseluruhan fungsi-fungsi manajerial dapat dikelompokkan atas fungsi organik (merupakan penjabaran kebijaksanaan dasar atau strategi organisasi yang telah ditetapkan dan harus digunakan sebagai dasar tindakan) dan fungsi penunjang (kegiatan yang diselenggarakan oleh orang-orang atau satuan-satuan kerja dalam organisasi. Jika menyebutkan seseorang yang “incompetent” selalu berarti “incapable” atau “unqualified” yang berarti tidak mampu mengerjakan tugas tertentu atau tidak memiliki kemampuan yang dipersyaratkan. Dengan demikian maka kompetensi adalah karakteristik pokok dari seseorang yang memungkinkannya untuk mencapai kinerja standar dalam tugas. dan koreksi terhadap standar kinerja. Dijelaskan dalam New Zealand Qualifications Authority (Curfis dan Thorp. sedangkan sangat baik dan baik sekali merupakan kategori yang lebih tinggi. Suryadi Syarif untuk mencapai tujuan. Manajemen sebagai suatu cara untuk melaksanakan fungsi eksekutif seperti perencanaan. pengorganisasian. informasi. tetapi juga kemampuan pokok yang dipersyaratkan oleh pekerjaan tersebut. pembagian tugas dan otoritas sehubungan dengan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Kompetensi tidak hanya berhubungan dengan tugas saja.

menggunakan. Agar berhasil. dan memelihara hubungan antara pribadi secara efektif. Melayani pelanggan dengan cara bekerja sama dengan para pelanggan secara efektif untuk mencapai tujuan usaha sendiri dan pelanggan. mengumpulkan informasi secara terstruktur dan terorganisir dan menggunakan pendekatan sistematis untuk memastikan pengumpulan informasi secara kolektif. yaitu kemampuan seseorang untuk bekerja secara efektif dalam pekerjaan yang ditekuninya. meningkatkan kinerja seseorang dan kinerja orang lain dengan membangun. (2) Orientasi kepemimpinan proaktif. (11) Kemampuan berorganisasi dan pendelegasian. dan pelaksanaan visi pembelajaran 35 . Di samping keterampilan ini kepala sekolah juga diwajibkan untuk memenuhi atau memiliki kompetensi sebagai seorang kepala sekolah. (3) Keterampilan membuat konsepsional. (7) Persuasif dan memanajemeni interaksi. (2) Keterampilan hubungan manusia. (5) Mengumpulkan informasi dan menganalisis pembentukan konsep. dalam hal ini memahami visi dan misi serta memiliki integritas yang baik saja belum cukup. yaitu kemampuan individu untuk mencapai kinerja yang efektif dan bekerja secara efektif untuk mencapai tujuan pekerjaan secara efisien. Seorang kepala sekolah yang efektif diperlukan adanya kompetensi dan keterampilan administrasi berikut: (1) Keterampilan teknis. kepala sekolah harus memiliki kompetensi yang disyaratkan untuk dapat mengemban tanggung jawabnya dengan baik dan benar. (3) Ketegasan. menggunakan fasilitas untuk mendorong usahanya dan memaksimalkan kualitas dan efisiensi hasil kerjanya. Setidaknya ada kesepakatan bahwa kepala sekolah perlu memiliki sejumlah kompetensi berikut: 1) Memfasilitasi pengembangan. Kompetensi Kepala Sekolah adalah kemampuan atau kecakapan yang diperlihatkan oleh seorang kepala sekolah ketika mengerjakan tugas-tugasnya. (10) Kontrol dan evaluasi.Kepemimpinan Kepala Sekolah Kompetensi mempunyai dua pengertian yang relevan: 1) Definisi langsung. penyebarluasan. (12) Komunikasi. menggunakan pengetahuan hubungan informasi dan kepekaan politis dalam organisasi untuk menciptakan keputusan yang efektif. (8) Kemampuan beradaptasi secara taktis. (6) Fleksibilitas intelektual. (9) Motivasi dan perhatian terhadap pengembangan. (5) Keterampilan kognitif. Contoh kompetensi yang didefinisikan dengan menggunakan pendekatan unsur kunci adalah: mengelola informasi dan materi untuk memudahkan dalam memperolehnya. (4) Keterampilan pendidikan dan pengajaran. 2) Definisi elemen kunci. (4) Sensitif terhadap hubungan interpersonal dan organisasi. Contoh kompetensi dalam definisi langsung adalah: bekerja sama dengan orang lain. yaitu: (1) Komitmen terhadap misi sekolah. menetapkan skala prioritas untuk memastikan bahwa batas waktu kritis dapat dicapai.

8) mengelola kesiswaan. Istilah accountability serupa dengan istilah responsibility (tanggung jawab). kinerja organisasi. dan 25) membuat laporan akuntabilitas sekolah. 7) mengelola sarana dan prasarana. membina. inovasi dan jiwa kewirausahaan. 4) Bekerja sama dengan orang tua murid dan anggota masyarakat. Suryadi Syarif yang dikomunikasikan dengan baik dan didukung oleh komunitas sekolah. 3) Menjamin bahwa manajemen organisasi dan pengoperasian sumber daya sekolah digunakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman. moralitas. 2) memahami sekolah sebagai sistem. yaitu: 1) memiliki landasan dan wawasan pendidikan. dan mempengaruhi lingkungan politik. 16) mengembangkan diri. 24) menyiapkan. 19) memberdayakan sumberdaya sekolah. Akuntabilitas merupakan kewajiban nyata dalam organisasi yang tidak mencari keuntungan. Sedangkan responsibility adalah tugas yang dibebankan kepada seseorang sebagai akibat dari wewenang yang dimiliki. 36 . 13) memimpin sekolah. 17) mengelola waktu. 21) mengambil keputusan secara terampil.Moh. 22) melakukan monitoring dan evaluasi. 14) mengembangkan budaya sekolah. dan efektif. 18) menyusun dan melaksanakan regulasi sekolah. ekonomi. sehat. Dengan demikian maka disimpulkan bahwa 25 kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah lanjutan. 3) memahami manajemen berbasis sekolah. 5) mengelola kurikulum. 2) Membantu. AKUNTABILITAS Akuntabilitas mencakup isu-isu profesionalisme. Accountability didefinisikan sebagai kemauan untuk mengakui kewajiban dan keinginan orang lain untuk menerima tanggung jawab sepenuhnya atas tindakannya dan akibat-akibatnya. efisien. dan budaya yang lebih luas. 23) melaksanakan supervisi. menanggapi kepentingan dan kebutuhan komunitas yang beragam. 4) merencanakan pengembangan sekolah. 10) mengelola hubungan sekolahmasyarakat. 6) mengelola tenaga kependidikan. dan memobilisasi sumber daya masyarakat. dan keterwakilan semua kebutuhan dan harapan pihak pemangku kepentingan pada umumnya. bukan hanya sekedar budaya organisasi atau gaya kepemimpinan yang diharapkan. 20) melakukan koordinasi. menanggapi. 5) Memberi contoh tindakan berintegritas. dan mempertahankan lingkungan sekolah dan program pengajaran yang kondusif bagi proses belajar peserta didik dan pertumbuhan profesional para guru dan staf. 11) mengelola kelembagaan. 15) memiliki dan melaksanakan kreativitas. melaksanakan dan menindaklanjuti hasil akreditasi. sosial. 6) Memahami. 9) mengelola keuangan. 12) mengelola sistem informasi sekolah.

terutama untuk akuntabilitas antara rekan kerja yang mungkin setara atau independen. Setiap hubungan ini bersifat khusus dan mempunyai tingkat formalitas dan kompleksitas tersendiri. Dalam hal ini. tindakan korektif secara tepat. Bagi manajemen sekolah. wewenang merupakan sesuatu yang didelegasikan. pengaturan. berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan dan sumber daya yang digunakan. dan konsekuensinya terhadap perorangan. Akuntabilitas adalah suatu keterhubungan mendasar dalam kewajiban untuk mendemonstrasikan. Dan terminologi tanggung jawab itu sendiri juga biasanya berhubungan dengan moral. 37 . Akuntabilitas adalah suatu dasar hubungan antara kewajiban untuk mendemonstrasikan. dan mencakup kewajiban untuk semua kelompok dalam hubungan akuntabilitas. sehubungan dengan hasil-hasil yang dicapai dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan (Barrados. memeriksa. 2004: 1). 2004: 1). 1999: 6-8). Accountability (pertanggungjawaban) mencakup bagaimana sumber daya yang diterima dapat dikelola dengan sebaik-baiknya untuk kegiatan-kegiatan yang menunjang pencapain tujuan yang dinyatakan (state goals). khususnya yang berkenaan dengan konsep tanggung jawab pribadi. dan kesepakatan yang mengikuti seluruh sivitas akademika dalam mengupayakan peningkatan mutu berkelanjutan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat . dan tanggung jawab atas kinerja. Pertanggungjawaban tersebut antara lain menyangkut derajat efisiensi dan kesesuaian dengan norma dan peraturan yang berlaku umum termasuk pertanggungjawabannya. tetapi juga mencakup pemeriksaan. memeriksa. misalnya antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Definisi ini mencakup sejumlah ide yang dapat diterapkan dalam bidang hubungan akuntabilitas yang luas. akuntabilitas seyogianya menjadi acuan dasar dalam mengembangkan perangkat peraturan. Sebagai manajer. seseorang harus mencoba memenuhi harapan yang diuraikan oleh akuntabilitas. dan bertanggungjawab atas hasil yang dicapai. Tanggung jawab merupakan kewajiban untuk melaksanakan sesuatu karena menerima tugas (Schermerhorn. dan/atau antara Depdiknas pusat dengan daerah. akuntabilitas menggambarkan aturan-aturan permainan dan harapan bagi manajemen. dan akuntabilitas tidak dapat didelegasikan. Akuntabilitas adalah suatu usaha untuk membantu para bawahan agar dapat melakukan aktivitas sesuai dengan yang telah didelegasikan dan secara pribadi bertanggungjawab atas pekerjaannya (Martin.Kepemimpinan Kepala Sekolah Tanggung jawab merupakan sesuatu yang ditugaskan. Perlu dicatat bahwa akuntabilitas yang efektif tidak hanya mencakup laporan kinerja. Definisi akuntabilitas ini konsisten dengan pengelolaan hasil.

Hal ini biasanya direfleksikan dalam dokumen-dokumen yang memuat susunan pokok-pokok akuntabilitas. setiap kelompok bertanggungjawab tidak untuk mencapai hasil tetapi juga bagaimana mencapai hasil tersebut. dalam hal ini apakah tersedia kerangka kerja akuntabilitas untuk mendukung hubungan akuntabilitas yang kuat. Dalam penerapan prinsip-prinsip tersebut perlu memperhatikan dua aspek proses akuntabilitas. pemeriksaan. kewajiban. 3) keduanya penting dan berarti. menetapkan suatu dasar untuk penilaian dan tidak merubahnya sebelum individu dalam pengaturan tersebut berubah. dan penyesuaian laporan. 2) akuntabilitas resiprokal. 2) Kinerja yang diharapkan. dalam hal ini apakah terdapat laporan yang efektif. 38 . 4) membutuhkan pemeriksanaan dan penyesuaian. Jika harapan tidak jelas. dan kapan dilaporkan. menitikberatkan pada kewajiban antara semua sekutu dalam hubungan akuntabilitas. seperti penguatan dan atau sanksi.Moh. Tanggung jawab dapat didelegasikan dari atasan kepada bawahan atau dalam hubungan kerjasama dapat didelegasikan kepada mitra kerja. yaitu: 1) Tugas dan tanggung jawab. Kerangka kerja akuntabilitas mempunyai empat elemen yang berdasarkan pada prinsip-prinsip akuntabilitas yang efektif. yaitu: 1) akuntabilitas antara para sekutu. dan otoritas yang berhubungan dengan pelaku-pelaku organisasi dalam suatu hubungan akuntabilitas. Kerangka kerja yang tepat adalah sangat penting untuk menciptakan akuntabilitas yang efektif. yaitu: 1) kerangka kerja akuntabilitas. Dokumentasi ini dapat membantu memperjelas hubungan akuntabilitas. tidak hanya antara bawahan dengan atasan seperti dalam konsep akuntabilitas tradisional. 2) membantu pelaporan. Hal ini diperlukan untuk memberikan pemahaman yang jelas atas tugas dan tanggung jawab. 3) Persyaratan pelaporan. akuntabilitas mencakup tidak hanya laporan kinerja tetapi juga analisis dan refleksi terhadap kinerja tersebut menimbulkan perubahan yang tepat untuk perbaikan dan memberi konsekuensi yang tepat agar dapat membantu individu tersebut. Saling memahami dan harapan yang diterima termasuk kontribusi apa yang diharapkan dari masing-masing bagian dan sejauhmana ketepatan penggunaannya akan dapat memperkuat hubungan akuntabilitas. Bagian-bagian dari suatu hubungan akuntabilitas perlu dijelaskan terutama tentang informasi apa yang akan dilaporkan. Proses akuntabilitas berdasar pada prinsip-prinsip yang efektif. akuntabilitas dari kinerja sulit dicapai. definisi ini memungkinkan saling hubungan akuntabilitas antara para sekutu yang setara dan/atau indepeden. sehingga tidak hanya digunakan dalam hubungan hirarkis. 4) Mekanisme pemeriksaan dan penyesuaian. Suryadi Syarif Definisi akuntabilitas di atas memberikan beberapa perbaikan terhadap akuntabilitas tradisional. untuk siapa.

sehingga semua unsur yang terlibat (guru. masyarakat. 4) Individualized Consideration. seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku kepada bawahannya. Terdapat beberapa hal pokok yang diperhatikan berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekolah. pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasehat. pegawai. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam proses peningkatan mutu. 2) Inspirational Motivation. dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur. Akuntabilitas ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan. Setiap kepala sekolah harus memberikan laporan pertanggungjawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua. dan pemerintah. Kompetensi yang dimaksud adalah pola perilaku yang dibutuhkan oleh kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya agar dapat berfungsi sesuai dengan kemampuan atau kecakapan yang diperlihatkan ketika mengerjakan tugas-tugasnya. masyarakat.Kepemimpinan Kepala Sekolah Akhirnya. 3) Intellectual Stimulation. bagaimana perbaikan harus dilaksanakan untuk meningkatkan kinerja. kejelasan diperlukan atas bagaimana dan siapa yang akan melakukan pemeriksaan dan penyesuaian. siswa. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan inovasi dan kreativitas. Hal ini merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan dan harapan bagi yang berkepentingan. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. di antaranya adalah kompetensi dan akuntabilitas. Kepala sekolah dituntut untuk memiliki akuntabilitas kepada sekolah. Sedangkan akuntabilitas yang dimaksud adalah keterhubungan mendasar antara 39 . dan pemerintah. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh: 1) Idealized Influence. KESIMPULAN Kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah adalah kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. masyarakat. orangtua siswa.

Pendidikan Network: http://pendidikan.defining%20. et.. DAFTAR RUJUKAN Barrados.eric. G. dan tanggung jawab atas kinerja. 2004. serta harapan bagi yang berkepentingan terhadap keberhasilan pendidikan di sekolah. ERIC: http://www. M.gc. pencapaian tujuan. Agus. al. akuntabilitas secara bersama-sama dengan kepemimpinan kepala sekolah. July 1993: http://www. New York: Delmar Publishers. Kompetensi dan akuntabilitas kepala sekolah adalah merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan. & Thorp. J. Leaders Who Make a Difference: Essential Strategies for Meeting the Nonprofit Challenge. D.Moh.ca/domino/aogbvg. T. Jr.measuring/%20competency.net/.. San Fransisco: Jossey-Bass Publisher. New York: John Wiley & Sons. Dengan demikian maka berdasarkan penalaran ini diduga bahwa terdapat hubungan positif antara kompetensi. 2004. nst/htm. Standar Kompetensi Kepala Sekolah. B. hak dan kewajiban. & Dobbs. 2004. Suryadi Syarif kewajiban untuk mendemonstrasikan. Schermerhorn. 40 .M. Management. 2004. kesejahteraan. Comstock. ERIC. 2002. S. Inc. Dharma. inc. W. Curfis. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan.oagbvg. memeriksa. 1999. Keefektifan kedua komponen ini akan memberikan keyakinan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan.1999. Untuk itu terefektifkannya ketiga komponen tersebut dalam kepemimpinan maka diharapkan akan dapat meningkatkan kinerja kepala sekolah. R. Modernizing Accountability in the Public Sector (Report of the Auditor General of Canada: http://www. Defining Competency (New Zealand. Fundamentals of Supervision: The First Line Manajemen at Work. Nanus.uoregon. Clearinghouse: Educational Manajemen Trend and Issues: the Role of School Leader. sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi sekolah..pdf.. dan penggunaan sumber daya tertentu.edu. 1994..

Kapita Selekta Teori Kepemimpinan: Pengantar untuk Praktek dan Penelitian. Eman. pendidikan. http://www.net/. USA: Kent Publishing Company. Managing Effective Organization. Manajemen Pendidikan Masa Depan. Jakarta: Yayasan Bangun Indonesia dan Uhamka Press.M. Suparman. 41 . 2003. 2004. Wirawan.Kepemimpinan Kepala Sekolah Steers. R. 1985.

bahkan sangat 42 . Paradigma pelayanan publik di tingkat satuan pendidikan sekolah patut digeser dari yang konvensional menuju ke kondisi yang senantiasa ter-update. Kata kunci: Perilaku. Oleh karena itu. juga menguasai berbagai shoft skill yang senantiasa ditampilkan pada saat memberikan pelayanan prima sekaligus memuaskan kepada customer-nya. bahwa publik sekarang telah mengalami perubahan sejalan dengan gerakan reformasi secara nasional. melainkan melayani kepentingan publik. sekolah dipandang sebagai institusi publik yang harus dapat memuaskan customer-nya. 4. memuaskan-tidaknya. publik di bidang pendidikan adalah customer yang harus ditingkatkan kepuasannya. termasuk dalam institusi pendidikan sedikitnya disebabkan dua hal.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. PENDAHULUAN Lembaga pendidikan dalam berbagai jenis dan tingkatannya diselenggarakan pada hakekatnya bukan untuk melayani dirinya sendiri. dalam perspektif total quality management (TQM). selain harus menguasai berbagai hard skill. sering menjadi sorotan terutama kalau sudah menyangkut aspek kecepatan pelayanannya. Perspektif TQM ini. dan satuan pendidikan sekolah. Pertama. No. tenaga adminsitrasi. April 2009 PERILAKU TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH DALAM PELAYANAN PUBLIK DI TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Ali Imron Universitas Negeri Malang Abstrak Dalam perspektif total quality management (TQM). sehingga publik yang semula tidak berdaya (powerless) menjadi berdaya. 1. aspirasi dan harapan stake holders sekolah sesuai Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. yang berupa ketrampilan teknis. pelayanan publik. responsif dan antisipatif terhadap berbagai kebutuhan. Pada hal. dan sesuai harapan-tidaknya. termasuk di dalamnya adalah reformasi pelayanan publik di bidang pendidikan. termasuk di bidang pendidikan. Pelayanan publik. Temuan kurang baiknya sistem pelayanan publik. mendapatkan momentum tepat ketika reformasi di berbagai bidang digulirkan di negeri ini. agar ketika dibutuhkan berada dalam keadaan on-service. Tenaga administrasi sekolah haruslah menunjukkan perilaku sebagai seorang pelayan publik yang pro aktif.

Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah

berdaya (powerfull). Kedua, kenyataan di lapangan menunjukkan SDM institusi pendidikan belum memberikan pelayanan publik yang memuaskan. Pada latar institusi persekolahan, kedua alasan tersebut jika diruntut akan berujung pada persoalan tenaga kependidikan di sekolah. Salah satu dari tenaga kependidikan di sekolah yang banyak terkait langsung dengan pelayanan adalah tenaga administrasi sekolah. Ketatausahaan sendiri, dalam keseluruhan manajemen pendidikan di sekolah, adalah supporting system yang sangat menentukan keberhasilan sekolah secara keseluruhan. Dalam perspektif yuridis, setidaknya menurut Undang-undang nomor 20 tahun 2003 beserta peraturan perundangan-undangan turunannya, tenaga kependidikan (termasuk di dalamnya adalah tata administrasi sekolah), adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Pendidik dan tenaga kependidikan (termasuk tenaga administratisi sekolah) berkewajiban: menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Guna melaksanakan tugas-tugas administrasi sekolah, menurut Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah, dilakukan oleh tenaga administrasi sekolah/madrasah, yang terdiri atas kepala tenaga administrasi sekolah/madrasah, pelaksana urusan, dan petugas layanan khusus. KONDISI IDEAL PELAYANAN PUBLIK Menurut Lembaga Administrasi Negara (2000), pelayanan publik (public service) adalah pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah, termasuk institusi sekolah, baik dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pelayanan publik merupakan salah satu perwujudan dari fungsi aparatur negara sebagai abdi masyarakat disamping sebagai abdi negara. Pelayanan publik juga merupakan pelaksanaan dari peraturan pemerintah atau pihak lain yang terkait. Pelayanan publik juga dimaksudkan untuk mensejahterakan masyarakat, karena dengan pelayanan publik yang baik, diharapkan masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya. 43

Ali Imron

Pelayanan publik pada dasarnya merupakan kombinasi dari berbagai fungsi yang titik tekannya tergantung lembaga dan personel yang menerapkannya. Fungsifungsi yang harus dikombinasikan dalam penerapan pelayanan publik yang handal meliputi fungsi instrumental, politik, katalis, public interest, dan entrepreneurial (Sunaryo, 2005). Fungsi instrumental berkenan dengan menjabarkan perundang-undangan dan kebijakan publik ke dalam kegiatan rutin. Hal ini terkait dengan sosialisasi kebijakan yang berlaku bagi kegiatan tertentu yang berkaitan dengan pelayanan publik. Masyarakat butuh kejelasan kebijakan untuk urusan-urusan yang menyangkut dirinya. Semakin jelas kebijakan apa yang diterapkan untuk menyelesaikan urusan tertentu bagi masyarakat, maka semakin baik pula pelayanan publik tersebut. Tenaga administrasi sekolah memegang peranan penting dalam fungsi instrumental ini, karena lalu lintas informasi yang terkait dengan undang-undang dan peraturan pemerintah senantiasa melewati mereka. Fungsi politik pelayanan publik berarti memberikan input yang dapat berupa saran dan informasi. Berarti bahwa dalam pelayanan publik diperlukan tambahan informasi kepada masyarakat untuk memperjelas sistem pelayanan publik yang diberikan. Tenaga administrasi sekolah banyak berperan sebagai informan berbagai kebijakan sekolah kepada stake holders-nya. Pelayanan publik tidak boleh meninggalkan interes dan aspirasi masyarakat yang memerlukan pelayanan. Hal ini sesuai dengan fungsi katalis public interest. Interes dan aspirasi masyarakat diintegrasikan dengan kebijakan dan keputusan pemerintah atau pihak lain pembuat kebijakan pelayanan publik, dan diimplementasikan dalam bentuk layanan konkret oleh tenaga administrasi. Fungsi entrepreneurial, yang berkenaan dengan memberi inspirasi bagi kegiatan-kegiatan inovatif dan non-rutin. Dalam pelayanan publik diupayakan ada ruang untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan agar mempermudah, mempermurah dan mempercepat serta memperakurat data/informasi dalam pelayanan publik. Jika perlu, boleh menyimpang dari kelaziman asal tidak keluar dari koridor aturan dan misi sekolah. Di sinilah peran strategis tenaga administrasi ditantang, bagaimana agar lembaganya tetap akuntabel secara administratif. Birokrasi publik (termasuk birokrasi sekolah dikatakan profesional) manakala dalam pelayanan publik menunjukkan perilaku bertanggungjawab. Konsep tanggungjawab dibedakan menjadi 3, yaitu responsibilitas (responsibility), akuntabilitas (accountability), dan responsivitas (responsiveness) para pemberi layanan (Widodo, 2004). Responsibilitas diartikan sebagai kemampuan untuk 44

Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah

melaksanakan apa yang menjadi tugas pokok, fungsi, kewenangan, dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Tanggungjawab berarti capable to do atau professionality dan rasa tanggungjawab (sense of responsibility). Profesional berarti bahwa tatausahawan dituntut memiliki kecakapan teknis yang memadai dalam menjalankan tugas pokok, fungsi, kewenangan, dan tangungjawab dalam pelayanan publik. Dengan memiliki kecakapan teknis, mereka dapat menjalankan tugas dan tanggungjawab secara efektif, efisien, dan produktif. Rasa tanggungjawab berarti tenaga administrasi sekolah melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya secara serius meskipun tidak ada pihak lain yang mengawasinya. Tenaga administrasi tetap menjaga keberpihakan kepada kepentingan publik, meskipun untuk melakukan penyelewengan bagi mereka cukup terbuka. Akuntabilitas merupakan kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja atas tindakan seseorang/pimpinan/badan hukum suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. Untuk kepentingan ini, tenaga administrasi sekolah hendaknya bersikap transparan (transparency) dan terbuka (openness) atas apa yang ditanyakan publik. Tenaga administrasi dinyatakan akuntabel manakala mereka dinilai secara obyektif oleh masyarakat telah dapat mempertanggungjawabkan segala macam perbuatan, sikap, dan sepakterjangnya kepada publik. Responsivitas diartikan sebagai daya tanggap tenaga administrasi terhadap apa yang menjadi permasalahan, kebutuhan, keluhan, dan aspirasi publik yang dilayaninya. Dengan demikian, tenaga administrasi sekolah dikatakan responsif (cepat tanggap dan cepat menanggapi) yang tinggi jika tanggap terhadap permasalahan, kebutuhan, keluhan, dan aspirasi stake holders sekolah yang dilayani. Sunarto (2005) menyatakan bahwa prinsip-prinsip dalam pelayanan publik meliputi: berdayakan masyarakat, yang dapat berupa penciptaan iklim kebebasan untuk berprakarsa dan berkreasi bagi masyarakat; optimalkan pelayanan publik, yakni pelayanan masyarakat yang efisien, adil, mudah dan mendekatkan unit pelayanan ke masyarakat; buka ruang partisipasi publik, dimana dalam manajemen di lembaga pendidikan sedapat mungkin (jika perlu) melibatkan masyarakat dalam merencanakan, pengorganisasikan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan; dan ubah gaya kerja personel lembaga pendidikan, yang semula ingin dilayani menjadi pelayan bagi masyarakat yang memerlukan.

45

kurang koordinasi. Keenam. masih terlalu birokratis. pelayanan dilaksanakan dengan apa adanya. dalam rangka menyelesaikan masalah yang terjadi ketika pelayanan diberikan. Pertama. masih kurang responsif. sehingga menyebabkan penyelesaian pelayanan yang terlalu lama. Berbagai unit pelayanan yang terkait satu dengan lainnya sangat kurang berkoordinasi. Dalam kaitan dengan penyelesaian masalah pelayanan. kurang accessible. dan kesamaan perlakuan (tidak diskriminatif) masih jauh dari yang diharapkan. bahwa secara umum stakeholders menilai bahwa kualitas pelayanan publik mengalami perbaikan setelah diberlakukannya otonomi daerah. Temuan Mohamad. Akibatnya. Namun jika dilihat dari sisi efisiensi dan efektivitas. Kelima. Kedua. masih menunjukkan inefisien. Kedelapan. Berbagai unit pelaksana pelayanan terletak jauh dari jangkauan masyarakat. berbagai masalah pelayanan memerlukan waktu yang lama untuk diselesaikan. mulai pada tingkatan petugas pelayanan (front line) sampai dengan tingkatan penanggungjawab institusi. Berbagai informasi yang seharusnya disampaikan kepada masyarakat. responsivitas. Respon terhadap berbagai keluhan. Akibatnya. Akibatnya. Pada umumnya aparat pelayanan kurang memiliki kemauan untuk mendengar keluhan/saran/aspirasi dari masyarakat. tanpa ada perbaikan dari waktu ke waktu. Kondisi ini terjadi pada hampir semua tingkatan unsur pelayanan. bahwa pelayanan yang dilakukan oleh institusi publik paling tidak ditunjukkan dengan kondisi sebagai berikut. maupun harapan masyarakat seringkali lambat atau bahkan diabaikan sama sekali.Ali Imron KONDISI RIIL PELAYANAN PUBLIK Menurut hasil survey yang dilakukan UGM pada tahun 2002. dan di lain pihak kemungkinan masyarakat untuk bertemu dengan penanggungjawab pelayanan. juga sangat sulit. lambat atau bahkan tidak sampai kepada mereka. 46 . Berbagai persyaratan yang diperlukan (khususnya dalam pelayanan perijinan) seringkali tidak relevan dengan pelayanan yang diberikan. Keempat. Ketujuh. sehingga menyulitkan bagi mereka yang memerlukan pelayanan tersebut. aspirasi. kemungkinan tenaga administrasi untuk dapat menyelesaikan masalah sangat kecil. sebagaimana dikedepankan oleh Imron (2007). sering terjadi tumpang tindih ataupun pertentangan kebijakan antara satu instansi pelayanan dengan instansi pelayanan lain yang terkait. masih kurang informatif. Pelayanan pada umumnya dilakukan dengan melalui proses yang terdiri dari berbagai level. kurang mau mendengar keluhan/saran/aspirasi masyarakat.

Untuk dapat menjalankan fungsi yang memuaskan pelanggan. Kedua. Tenaga administrasi sekolah perlu kreatif mengidentifikasi masalah-masalah yang sedang maupun yang akan dihadapi dalam praktik pemberian layanan sehari-hari. penting 47 . Dalam meningkatkan daya saing sekolah. Dalam persoalan pendidikan anak. Salah satu cara yang dapat digunakan sekolah agar dapat melayani masyarakat dengan prima adalah kemauan untuk menggeser paradigma birokrasi yang lebih sibuk dengan urusan internal. Sekolah selalu mendengar suara pelanggan. Oleh sebab itu. perlu perubahan paradigma birokrasi di sekolah. Pelayanan pelanggan sekolah diartikan sebagai proses yang secara sadar dan terencana yang dilakukan oleh sekolah melalui pemberian pelayanan kepada pelanggan agar pelanggan mencapai kepuasan secara optimal. Untuk mewujudkan dan mempertahankan kepuasan pelanggan sekolah. bagi sekolah tidak lepas dari kreatifitas tata usahawannnya. mengidentifikasi kembali siapa pelanggan sekolah tersebut. Stakeholder dalam arti luas dilibatkan dalam pembuatan keputusan utamanya berkenaan dengan kepuasan pelayanan publik di sekolah. Harapan tingkat kepuasan pelanggan. Sekolah diharapkan memposisikan pelanggan sebagai hal yang paling depan. perlunya memahami tingkat harapan pelanggan sekolah atas kualitas pelayanan. dapat dilakukan 4 hal sebagaimana pendapat Ramalia (2001). 2001). Hal ini sebagai upaya untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi dan upaya mengantisipasi pemecahan masalah yang kemungkinan akan dihadapi pada masa yang akan datang. orang tua dan masyarakat selalu menginginkan agar anaknya mendapatkan pendidikan terbaik dan mendapatkan pelayanan yang prima. menjadi berorientasi pada pelanggan sekolah. sekolah haruslah responsif dalam menyikapi kemauan masyarakat tanpa mengorbankan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan sekolah. Yang semula sekolah lebih banyak melayani kebutuhan birokrasi yang lebih tinggi dan kemungkinan sekolah sendiri minta dilayani masyarakat. Oleh karena itu. memperhatikan kebutuhan dasar dan keinginan pelangggan. dengan bantuan staf tata usaha haus dilakukan. dan memperhatikan hukum pelanggan (termasuk dalam hal ini hak-hak pelanggan sekolah) (Ramalia dalam LAN. pelanggan dipakai sebagai sasaran pencapaian tujuan. Petama.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah MENGGESER PARADIGMA PELAYANAN PUBLIK DI SEKOLAH Sekolah (terutama yang berstatus negeri) adalah ujung tombak terdepan dalam pelayanan publik di lingkungan Depdiknas. Di sini peran personel hubungan masyarakat. maka diubah agar sekolah lebih responsif dalam memberikan pelayanan yang bersifat memenuhi kebutuhan pelanggan atau masyarakat yang memerlukan.

(8) didudukkan sebagai orang penting. Perubahan paradigma yang disikapi oleh sekolah dalam hal ini cukup banyak. Hal ini dapat dicapai melalui strategi yang dapat menjamin kualitas pelayanan prima yang didukung pula oleh personel pelayanan yang prima. proses belajar mengajar. Lebih lanjut Ramalia (2001) mengemukakan bahwa layanan pelanggan sekolah yang baik memperhatikan sembilan aspek keinginan pelanggan sebagai berikut: (1) bebas membuat keputusan. (2) memperoleh hasil sesuai dengan keinginan. Dengan umpan balik akan dapat diketahui hal-hal mana yang perlu diperbaiki dan mana yang perlu dipertahankan atau ditingkatkan. jenis tenaga kependidikan (termasuk tenaga administrasi atau tenaga asministratif) diatur menurut jalur. dan pendidikan moral. Keempat. (5) diterima dan disambut secara baik. 48 . (4) mendapatkan perlakuan secara adil. POSISI STRATEGIS TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH Berdasarkan ketentuan dalam Standarisasi Nasional Pendidikan. Ketiga. Pelanggan perlu diikutsertakan dalam perencanaan hal-hal penting bagi keberlanjutan pelaksanaan pendidikan anak-anak di sekolah. Diantaranya. jenjang. Tanpa tolak ukur yang jelas. bahwa sekolah hendaknya mengikutsertakan pembuatan keputusan bagi pelanggannya. TK/RA atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala TK/RA dan tenaga kebersihan TK/RA. dan jenis pendidikan. memahami siklus pengukuran dan umpan balik dari kepuasan pelanggan. kegiatan ekstrakurikuler. maka kepuasan pelanggan atau pengguna jasa pelayanan di sekolah sulit diketahui. Umpan balik penting untuk mekanisme perencanaan dan pelaksanaan pelayanan berikutnya. (7) merasa aman dan dilindungi haknya. dan (9) menuntut keadilan. (3) mempertahankan harga diri.Ali Imron diketahui sebagai acuan untuk menentukan tujuan dan tolak kepuasan pelanggan. (6) diberitahukan segala sesuatu yang terjadi. Standar pelayanan yang dipakai sebagai tolak ukur adalah standar pelayanan prima. Peranan staf tata usaha sebagai supporting system di sekolah sangatlah penting. memahami strategi kualitas layanan pelanggan yang terwujud dalam standar pelayanan prima. Pada pasal 35-37 dinyatakan sebagai berikut: Tenaga kependidikan pada: a. antara lain penentuan pelaksanaan kurikulum sekolah.

atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. keterbukaan. tidak berbelit-belit. dimana proses dan hasil pelayanan dapat memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat yang dilayani. Agar pelayanan publik yang dilakukan oleh tenaga administrasi sekolah dapat optimal. Sistem pelayanan publik dengan sederhana perlu dilaksanakan. kejelasan dan kepastian. dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang memerlukan pelayanan. Faktor keterbukaan. Keamanan. tenaga perpustakaan. tenaga administrasi. Paket A. rincian biaya dan tata cara pembayaran pelayanan (jika ada). Kesederhanaan. artinya segala hal yang berkenaan dengan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat diberitahukan secara terbuka kepada masyarakat yang dilayani. mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia (penerima layanan) masih berpendidikan rendah. ketepatan waktu dan kuantitatif. c. dimana persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan. SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. f. tenaga perpustakaan. Tentang hal ini perlu diinformasikan secara jelas kepada masyarakat luas. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. ada beberapa kriteria. dan SMALB atau bentuk lain yang sederajat sekurangkurangnya terdiri atas kepala sekolah. tenaga laboratorium. tenaga laboratorium. keamanan. dan terapis. tenaga administrasi. tenaga administrasi. Kejelasan dan kepastian tentang prosedur/tata cara pelayanan. e. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. tenaga laboratorium. dan tenaga perpustakaan. unit kerja atau personel yang bertanggungjawab memberikan pelayanan. SMPLB. utamanya yang memerlukan pelayanan publik. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. 49 . tenaga administrasi. SDLB. persyaratan pelayanan.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah b. pekerja sosial. cepat. tenaga perpustakaan. yakni kesederhanaan. SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. artinya bahwa pelayanan publik dilaksanakan secara mudah. mudah dipahami. tenaga administrasi. Paket B dan Paket C sekurang-kurangnya terdiri atas pengelola kelompok belajar. ekonomis. tepat. tenaga perpustakaan. d. SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat dan SMA/MA. dan tidak boleh ada pengulangan persyaratan. teknisi sumber belajar. keadilan. psikolog. Kriteria lain adalah efisiensi. efisiensi. dan jadwal waktu penyelesaian pelayanan. tenaga kebersihan sekolah.

menyangkut waktu. 2. kapabel dan cakap (Imron. dimana jangkauan pelayanan diusahakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata dan diberlakukan secara adil bagi seluruh lapisan masyarakat. artinya pelayanan kepada masyarakat harus tepat waktu sesuai yang ditentukan dan diinformasikan kepada masyarakat. jika dirasakan perlu. Faktor ketepatan waktu. dan ketentuan perundangan yang berlaku. 2. Sejumlah perilaku pelayanan tersebut. perilaku berikut haruslah dapat ditunjukkan. 2007). Tenaga administrasi sekolah. meluangkan waktu melebihi dari waktu yang ditetapkan dalam memberikan layanan administrasi kepada customer. Terkait dengan relevansi layanan. perilaku berikut haruslah dapat ditunjukkan: 1. proaktif. Terkait dengan waktu. Tenaga administrasi sekolah mengetahui target waktu yang diperlukan untuk memberikan layanan kepada customer. Tenaga administrasi sekolah memahami ketepatan waktu sangat penting diperhatikan dalam memberikan layanan kepada customer. kondisi/kemampuan masyarakat. 50 . rata-rata lamanya waktu pelayanan. Tenaga administrasi sekolah menyadari keterkaitan TUPOKSI dengan keseluruhan layanan administrasi di dalam maupun di luar unit kerja. berarti biaya pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhatikan nilai barang dan jasa pelayanan. dan frekuensi keluhan dan pujian dari masyarakat yang diberi layanan. responsif. semua itu terdata secara kuantitatif sebagai upaya terus menerus mengembangkan pelayanan kepada masyarakat. Faktor keadilan dan merata. penggunaan perangkat teknologi modern untuk memperlancar pelayanan. Yang terakhir adalah faktor kuantitatif. 3. 4. sejumlah perilaku pelayanan haruslah dapat diinternalisasikan dan bahkan ditunjukkan oleh tenaga administrasi dalam memberikan layanan kepada customer-nya. yaitu: 1.Ali Imron Kriteria ekonomis. PERILAKU TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH Agar pelayanan publik di sekolah bisa memuaskan customer. Tenaga administrasi sekolah dapat memposisikan diri sesuai dengan TUPOKSI dalam memberikan layanan kepada customer. helpful dan friendly. profesionalitas. Tenaga administrasi sekolah selalu mengusahakan memberikan layanan kepada customer lebih cepat dari batasan waktu yang ditetapkan. kecermatan. yakni jumlah masyarakat yang dilayani naik atau turun.

karena itu ia tidak pernah berpikir bahwa customer-lah yang harus melayani dirinya. 4. 3. Tenaga administrasi sekolah menyadari. .Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah 3. tenaga administrasi sekolah melakukannya dengan sungguh-sungguh. 2. Tenaga administrasi sekolah menggunakan peralatan bantu untuk kecepatan dan ketepatan proses dalam memberikan layanan kepada customer. Tenaga administrasi sekolah menyadari. Ketika memberikan layanan. Tenaga administrasi sekolah mendahulukan kepentingan customers. Tenaga administrasi sekolah berupaya melakukan check and recheck atas hasil layanan yang diberikan kepada customer. 51 3. 4. Tenaga administrasi sekolah menyadari. bahwa tanpa ada customer. Tenaga administrasi sekolah memiliki sense perfective atas segala layanan yang dilakukannya. bahwa yang menjadi pelayan adalah dirinya. Agar tenaga administrasi bisa cermat dalam memberikan pelayanan. 2. bahwa keberadaan dirinya sangat banyak ditentukan oleh keberadaan customer-nya. sesungguhnya dirinya tidak akan punya fungsi dan peran apapun dalam lingkup pekerjaannya. perilaku demikian akan ditunjukkan manakala: 1. Tenaga administrasi sekolah memiliki inisiatif untuk melakukan upaya pencegahan terhadap kesalahan/kelemahan/hambatan dari layanan kepada customer. Tenaga administrasi sekolah menyadari. 5. bahwa customer adalah segalanya. sehingga mereka merasakan kepuasan dari layanan yang diterimanya. Oleh karena itu. Tenaga administrasi sekolah memahami dan mampu mempraktikkan TUPOKSI-nya dalam rangka pemberian layanan administrasi kepada customer. jika persoalan yang dimiliki oleh customer sedikit banyak telah terpecahkan melalui bantuan dan pekerjaan yang ia lakukan. 6. Tenaga administrasi sekolah memahami langkah-langkah kerja yang harus dilalui sebelum memberikan layanan. Tenaga administrasi sekolah merasa bangga dan senang. 4. perilaku berikut haruslah memainkan peranan sebagai berikut: 1. karena itu ia senantiasa berpikir bahwa keberadaaan dirinya adalah untuk membantu mereka. 5. Seorang tenaga administrasi sepatutnya juga helpful dan friendly.

5. Ketika customer tidak mengerti cara mengakses pelayanan. Tenaga administrasi sekolah berusaha agar customer yang dilayani tidak usah menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan dari dirinya. tidak sangar. tenaga administrasi sekolah menunjukkan wajah yang ramah. apa lagi sampai berpengaruh terhadap cara memberikan layanan kepada customer-nya. manakala: 1. Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir. 10. tenaga administrasi sekolah berusaha secepatnya untuk memberikan bantuan. dan bukan sebaliknya. tenaga administrasi sekolah melakukannya dengan senang hati. Bukan sebaliknya. 2. ia akan dapat menggantikan dalam memberikan pelayanan. Tenaga administrasi sekolah berusaha untuk mengetahui alur kerja sejawatnya. 4. kapan ia berhenti tidak memberikan pelayanan kepada customer. pekerjaan). 7. 9. 8. secepatnya dapat dituntaskan. Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir dan berangan-angan. kapan ia harus melayani customer-nya. 52 . Dalam memberikan pelayanan. tenaga administrasi sekolah menawarkan bantuan. Tenaga administrasi sekolah menyadari. Dalam memberikan layanan. ketika memberikan pelayanan tidak menunggu perintah dari atasannya. bahwa yang harus ia utamakan dalam memberikan layanan adalah customer. Jika tenaga administrasi sekolah mempunyai persoalan (pribadi. smile. 3. menyenangkan. 9. dengan menanyakan: apa yang dapat saya bantu? Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir dan berusaha bagaimana agar customer menjadi mudah dalam urusannya. Karena itu. 6. bagaimana agar mereka mendapatkan kesukaran. sosial. 7. 8. tenaga administrasi sekolah memperlakukan pihak yang dilayani sebagai customer (pelanggan). Responsiveness dan pro-aktif juga akan dapat ditunjukkan.Ali Imron Dalam memberikan layanan. ia selalu berusaha untuk mengutamakan kepentingan customer dalam setiap memberikan pelayanan. Karena itu. bahwa pekerjaan melayani customer adalah tanggungjawab dirinya sepenuhnya. Ketika ada customer yang kebingungan saat berproses mendapatkan pelayanan. Tenaga administrasi sekolah berusaha agar persoalan yang dihadapi oleh klien terkait layanan yang ia dapatkan. tidak dibawanya ke tempat kerja. tanpa terus menunggu perintah dari atasan langsungnya. agar ketika sejawatnya berhalangan.

1. tenaga administrasi sekolah bertindak tenang dan tidak panik meskipun ketika berada dalam tekanan. tenaga administrasi sekolah selalu mencari alternatif solusi yang terbaik. Dalam setiap memberikan pelayanan. tenaga administrasi sekolah mengutamakan ketuntasan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. tanpa harus melanggar koridor aturan dan prosedur beserta dengan jiwa yang dikandung oleh aturan dan prosedur tersebut. 5. tanpa keluar dari koridor dan jiwa prosedur yang telah ditetapkan. Dalam melaksanakan setiap pekerjaannya. 10. Dalam setiap memberikan pelayanan kepada customer. 9. Ketika ada sejawat yang mengalami masalah terkait dengan pekerjaannya. Terhadap berbagai persoalan terkait dengan pekerjaannya. 6.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah 10. 8. manakala: Tenaga administrasi sekolah menyusun schedule secara pribadi untuk penyelesaian pekerjaannya. tertepat dan terakurat. Dalam menyelesaikan pekerjaan. karena jika menumpuk. tenaga administrasi sekolah senantiasa berpedoman kepada alur kerja yang telah ditetapkan oleh atasannya. 4. kapabilitas dan kecakapan juga akan dapat ditunjukkan. 3. tenaga administrasi sekolah selalu mencari cara-cara yang tercepat. 2. Profesionalitas. Tenaga administrasi sekolah memahami prosedur dan alur kerja beserta dengan jiwa yang dikandung oleh prosedur dan alur kerja tersebut. tenaga administrasi sekolah tidak menunda-nunda (menggampangkan). Tenaga administrasi sekolah akan membantu memecahkannya. dan tidak semata-mata mengacu kepada waktu dan jam kerja. akan memperendah mutu pelayanan yang dapat ia berikan. ia tanya kepada atasannya atau sejawatnya. Tenaga administrasi sekolah selalu berusaha melakukan perbaikan terus menerus mutu pelayanan (kaizen) yang ia berikan sehingga kepuasan customer-nya makin lama makin meningkat. benar-benar terencana (by design). dan bisa memuaskan customernya. dan tidak justru menunggu kapan sejawat dan atasannya bertanya kepada dirinya. 7. 53 . sehingga pekerjaan sejawatnya tidak terbengkalai. Ketika ia punya persoalan dan kesulitan dalam setiap memberikan pelayanan. Terhadap pekerjaan yang harus ia selesaikan. sehingga seluruh pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya.

tanggap. kecermatan. Ia tidak saja hanya dituntut menguasai hard skill dan shoft skill sebagai tenaga yang berada pada posisi supporting system dalam keseluruhan aspek substantif sekolah. responsif. sekolah harus menggeser paradigma pelayanan publik yang konvensional menjadi pelayanan publik yang pro aktif. dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Badan Kepegawaian Daerah di tingkat Kabupaten Kota. Berdasarkan keseluruhan uraian tersebut. proaktif. melainkan melayani publik. Lembaga Administrasi Negara dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara. Sekolah sebagai organisasi pembelajar. Akuntabilitas dan Good Govermance. juga patut selalu membelajarkan tenaga kependidikan (termasuk tata usahawannya) agar selalu meng-update berbagai cara yang dilakukan dalam pelayanan publik. Ali. 54 . Guna mewujudkan birokrasi yang senantiasa on-service dan memuaskan pelanggan. Konsekuensi logisnya. atau stake holders sekolah. kapabel dan cakap. profesionalitas. cepat. maka posisi tenaga administrasi sekolah. sederhana. helpful dan friendly.Ali Imron KESIMPULAN Sekolah adalah institusi yang tidak hanya bermaksud untuk melayani diri sendiri. dan efektif sehingga memuaskan customer. dengan demikian. melainkan juga menunjukkan perilaku yang mendukung terhadap kepuasan customer sekolah. karena keberdayaan pengguna layanan memungkinkan mereka makin meningkatkan tuntutannya terhadap pelayanan publik yang diberikan oleh institusi sekolah. DAFTAR RUJUKAN Imron. sangatlah penting. perlunya peningkatan hard skill dan shoft skill yang terkait dengan perilaku tenaga administrasi oleh institusi yang bertangungjawab dalam peningkatan kualitas SDM Pendidikan. rekomendasi yang dapat diberikan adalah. yang sepatutnya diposisikan sebagai pelanggan (customer). 2007. Jaminan Layanan Mutu Administrasi di Sekolah. berbiaya rendah. Birokrasi sekolah. Malang: Universitas Negeri Malang. berada dalam keadaaan senantiasa on-service. karena posisinya yang secara langsung bersentuhan dengan layanan publik. 2000. Makalah Disampaikan pada Pelatihan Administrasi Sekolah pada Staf Administrasi Sekolah. responsif. Perilaku tersebut terkait dengan pengunaan waktu.

Surabaya: Badan Diklat Propinsi Jawa Timur.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. 2004. Jakarta: Lembaga Administtasi Negara. Reformasi Sistem Pelayanan Publik. Surabaya: Adipura. Ramalia. 55 . Etika Pelayanan Masyarakat (Pelanggan): Upaya Membangun Citra Birokrasi Modern. M. 2001. Bunga Ramapai Wacana Administrasi Publik: Menguak Peluang dan Tantangan Administrasi Publik. Sunaryo. J. 2005. Swantanisasi Alternatif Reformasi Birokrasi Pelayanan Publik. Widodo.

fungsi. Gudang buku identik dengan toko buku. namun demikian gudang buku dan perpustakaan sangatlah berbeda. 4. C. No. Sementara sekolah yang memiliki perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. ada securitinya dan ada organisasi yang mengaturnya. misalnya tipe A. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. menumbuhkan minat baca. dan seterusnya dan perpustakaanpun demikian. baik dalam jenis. jelas bernuansa bisnis. alternatif PENDAHULUAN Ketika orang menyebut kata perpustakaan maka pikiran orang yang mendengar akan tertuju kepada sebuah tempat atau bangunan yang berisi banyak buku. tidak terlalu banyak orang yang berminat untuk mengkajinya. Kata Kunci: Problematika solusinya. ada aturan mainnya. Tentang perpustakaan itu sendiri. manfaat dan tujuan serta aktifitas di dalamnya. bahkan ada birokrasi di dalamnya. baik itu secara konsep atau teori maupun secara empirikal. Tulisan ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Kemiripan dari keduanya terletak pada sama-sama memiliki gedung. Gudang buku mungkin bisa dikategorikan menjadi beberapa jenis atau tipe. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah pada pendidikan dasar yang belum memiliki perpustakaan. Perpustakaan Sekolah. orang awam sekalipun tentu paham bahwa perpustakaan sangatlah berbeda dengan gudang buku walaupun terdapat banyak kesamaannya. Walaupun demikian. B. Itulah kesamaannya. 56 . 1. Jurnal. April 2009 PROBLEMATIKA PERPUSTAKAAN SEKOLAH PADA PENDIDIKAN DASAR DAN ALTERNATIF SOLUSINYA Sri Marmoah Universitas Batanghari Jambi Abstrak Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. di dalamnya terdapat buku-buku yang jumlahnya banyak.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. ada yang mengaturnya. sementara perpustakaan berorientasi sosial bukan untuk dijual. di sana ada pembukuannya. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala di lapangan.

puisi termasuk membaca. pertama karena siswa pada pendidikan dasar untuk mendapatkan pengetahuan itu harus banyak membaca. spiritual. karena ada buku. fasilitas kurang memadai. Pada dasarnya keprihatinan kita akan kondisi perpustakaanlah yang membuat kita merasa perlu untuk melangkah secara serius dan lebih sistematis. 57 . dikaitkan dengan pengembangan ketrampilan berbahasa baik membaca. Ketiga. Perpustakaan Sekolah bertujuan mendukung proses kegiatan belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan. Mengapa yang diteropong adalah perpustakaan sekolah. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Tugas siswa lainnya mencakup bercerita. Keempat. salah satunya adalah perpustakaan sekolah. menumbuhkan minat baca. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah yang belum memiliki perpustakaan. dikaitkan dengan pengembangan budaya baik budaya daerah maupun nasional siswa pada pendidikan dasar itu dapat diperoleh melalui perpustakaan. menumbuhkan minat baca.Problematika Perpustakaan Sekolah masmedia dan sejenisnya juga tidak terlalu peduli dengan keberadaannya. Dengan adanya perpustakaan sekolah diharapkan dapat memenuhi harapan sebagai tempat/sarana untuk menggairahkan semangat belajar. Contoh guru memberi tugas ke perpustakaan kemudian siswa disuruh merangkum. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala. majalah. Pengelolaannya tidak profesional yang disebabkan oleh ketiadaan tenaga pengelola (pustakawan) yang profesional. koleksi buku terbatas. dan dana yang terbatas. Kita tidak tahu apa alasannya dan mengapa hal demikian itu yang terjadi. untuk dapat membaca perlu sarana. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. menulis. Jikapun ada. Karena dasar awal anak yang diperoleh dari pembelajaran di kelas juga di perpustakaan. Mengapa pada pendidikan dasar. sikap. kutbah yang dapat mengembangkan kemampuan berbicara. kondisinya belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan sebagai tempat/sarana untuk menggairahkan semangat belajar. jam buka yang sangat terbatas. bahwa perpustakaan sekolah sebagai perangkat pendidikan di sekolah merupakan bagian integral dari sistem kurikulum sekolah bersama dengan sumber belajar yang lain. Kedua. menulis. berpidato. harus dimulai dari anak pada tingkat pendidikan dasar. Memang perpustakaan sekolah menjadi objek yang kurang diminati di negeri ini. pembinaaan intelektual. antara lain lokasinya kurang nyaman/kondusif. dan berbicara maka peran dari perpustakaan sekolah itu sangat penting. Perpustakaan tidak dianggap penting. membuat karangan baru. cerita.

alternatif solusi mengefektifkan peran perpustakaan sekolah. Dalam kenyataannya tidak semua teori dapat diterapkan sepenuhnya. organizing 58 . melalui jasa layanannya dan kegiatan perpustakaan lainnya yang menunjang kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolah. kondisi riil perpustakaan sekolah di lapangan.Sri Marmoah Tulisan kecil ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Ruang lingkup penulisan ini mencakup tentang manajemen perpustakaan ditinjau dari fungsi dan unsur-unsurnya. sarana. PEMBAHASAN Fungsi Manajemen Perpustakaan Sekolah Menurut Agus Sutoyo dan Joko Santoso (2001:189) “Manajemen perpustakaan adalah suatu proses kegiatan yang dilaksanakan perpustakaan untuk mencapai sasaran seefisien mungkin dengan mendayagunakan semua sumber daya yang ada. serta dana”. Dengan demikian manajemen perpustakaan sekolah juga melaksanakan hal-hal tersebut disertai dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun tujuan sekolah. 1995) melaksanakan fungsi manajemen sebagai dasar pengelolaannya. Manajernen perpustakaan (Abdul Rahman Saleh dan Fahidin. manajemen perpustakaan adalah pengelolaan perpustakaan yang didasarkan kepada teori dan prinsip-prinsip manajemen. yaitu planning (perencanaan). idealnya perpustakaan sekolah ke depan. Saya yakin bahwa tulisan ini akan kembali mengingatkan kita tentang betapa besarnya peran perpustakaan sekolah dalam upaya mendukung keberhasilan pendidikan di lembaga itu dan tentunya mendukung tujuan pendidikan nasional. Teori manajemen adalah suatu konsep pemikiran atau pendapat yang dikemukakan mengenai bagaimana ilmu manajemen untuk diterapkan dalam suatu organisasi. tetapi perlu modifikasi dan penyesuaian diantara keduanya. sehingga perpustakaan memang merupakan salah satu sarana sumber belajar yang harus dikelola dengan manajemen terbaiknya. metode. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan sumbangan konsep pemikiran tentang alternatif solusi dari segala problematika perpustakaan sekolah yang terjadi di lapangan selama ini. Sedangkan prinsip-prinsip manajemen adalah dasar atau asas kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir dalam manajemen. meliputi SDM. Sedangkan menurut Sutarno (2006:20). dkk. 1995) maupun perpustakaan sekolah (Soelistia. Dikaitkan dengan pendapat tersebut. dapat dijelaskan bahwa manajemen perpustakaan tidak semata-mata berdasarkan teoritis tetapi bagaimana mengimplementasikan teori tersebut dalam praktek operasionalnya.

Perencanaan (Planning) Perencanaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam proses pengelolaan perpustakaan sekolah. staffing (pengaturan staf). Lebih lanjut Soelistia. Mengatur produksi sumber belajar dalam perpustakaan sekolah (jika d. Bahan-bahan atau sumber informasi yang ada di perpustakaan perlu diatur sebaik mungkin sehingga guru maupun siswa yang memerlukannya dapat memperoleh dengan cepat. Menentukan tujuan perpustakaan sekolah Dalam menentukan tujuan. 59 . e. Organizing merupakan aspek manajemen yang menyangkut penyusunan organisasi manusia dan bahan atau materi. Ada beberapa hal penting yang harus dipikirkan dalam tahap perencanaan. Memberikan sistem yang fleksibel bagi siswa baik perorangan maupun kelompok. pustakawan sekolah dapat bekerjasama dengan guru untuk menentukan materi atau bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat pendidikan. b. dkk (1995-26-3-21) menjelaskan tentang manajemen perpustakaan sekolah yang berpedoman pada lima aspek tersebut. Pengorganisasian (Organizing) Pengorganisasian atau pengaturan perpustakaan sekolah merupakan tanggung jawab pustakawan sekolah. untuk menentukan keterampilan yang dibutuhkan oleh siswa. dan controlling (pengendalian). b.Problematika Perpustakaan Sekolah (pengorganisasian). c. dan akurat. Kegiatan ini meliputi: a. tepat. Mengidentifikasi pemakai perpustakaan sekolah yang akan dilayani. intisari penulisannya berikut ini: 1. Pengaturan pelayanan peminjaman yang efisien kepada staf pengajar maupun siswa. untuk membantu dalam penyediaan bahan sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. Menjalankan suatu sistem yang memungkinkan sumber-sumber informasi dalam bentuk perangkat keras (jika dipusatkan). yaitu: a. Menyediakan sistem yang efisien mengenai pelayanan pemesanan bahan atau koleksi yang ada di sekolah. dan mengelola perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan para pemakainya. serta staf pengajar untuk menggunakan perpustakaan sekolah sebagai tujuan proses belajar mengajar. directing (pengarahan). 2.

5. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam aspek kontrol di perpustakaan sekolah diantaranya adalah: (1) selalu menyadari tujuan yang sedang dilaksanakan. Pengarahan (Directing) Dalam konteks perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah sebagai salah satu sarana sumber belajar yang merupakan bagian dari organisasi sekolah memerlukan sumber daya manusia (SDM) sebagai pengelola perpustakaan. Mengawasi dan mengatur pekerjaan bagi pustakawan atau staf perpustakaan yang lain. gagasan. dan pelayanan kepada staf. cemerlang. dan konsep yang brilian. Pengaturan Staf (Staffing) Staffing adalah kegiatan pengaturan. pengarahan merupakan tanggung jawab pimpinan perpustakaan. baik dari dalam atau pengawasan melekat (built in control) maupun pengawasan dari luar (pengawasan fungsional).Sri Marmoah ada). (3) evaluasi terhadap pelayanan yang telah dilakukan. training atau pelatihan staf. perencana. mau berkurban dan bermotivasi bekerja. Dengan kata lain peran seorang pimpinan benarbenar diperlukan dalam mendorong staf yang dipimpinnya sehingga mereka dapat bekerja seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan yang diinginkan. seorang pustakawan sekolah harus mengetahui teknik dan proses yang diperlukan dalam seleksi dan penerimaan staf (staff recruitment). 3. bermental dan bermoral jujur. Manusia (Man) Pada dasarnya maju atau mundurnya sebuah perpustakaan akan sangat ditentukan oleh manusia-manusia yang mempunyai ide. (2) menghindari kegiatan yang tidak efisien. dan f. Unsur-Unsur Manajemen Perpustakaan 1. disiplin. 4. Dalam kegiatan staffing ini. termasuk perpustakaan. perpustakaan sebaiknya memiliki tenaga-tenaga ahli pemikir. berkomunikasi dengan staf. Oleh karena itu. dan pembinaan staf sesuai tugas dan tanggung jawab yang diberikan berdasarkan kemampuan dan bidang keterampilan yang dimiliki. pemantauan. Pengendalian (Controlling) Pustakawan sekolah harus menyadari pentingnya kontrol di suatu organisasi. Sementara itu untuk pengawasan dapat dilakukan. dan pelaksana yang handal. dan mempunyai semangat untuk mengabdikan dirinya kepada kemajuan organisasi. dalam rangka 60 .

(Segala sesuatu yang terjadi dalam organisasi adalah merupakan hasil dari proses. 1995:19). memberikan layanan terbaik kepada para pengguna jasanya.. teknisi.. atau produk dapat berupa barang. sebab “Everything that happens in an organization is the result of a process. 1995:973). Dengan kata lain manusia merupakan salah satu sumber daya utama dalam menggerakkan proses produksi pada suatu organisasi yang menghasilkan produk dan layanan. non profesional. They. Proses adalah rangkaian langkah-langkah yang dirancang untuk menghasilkan suatu akibat. Dalam hal ini sumber daya manusia (SDM) diartikan sebagai “potensi manusia yang dapat dikembangkan untuk proses produksi” (Kamus Besar Bahasa Indonesia. tenaga kependidikan di lingkungan sekolah dan bahkan masyarakat sekitarnya. antara lain layanan peminjaman buku dan layanan referensi. Dalam hal ini sumber daya manusia (SDM) pengelola perpustakaan sekolah adalah staf yang bekerja di perpustakaan. A process is a series of steps designed to produce an effect. Proses produksi di sini berlangsung dalam suatu organisasi termasuk perpustakaan sekolah yang merupakan bagian integral dari organisasi pendidikan (sekolah). “ (Jac Fitz-enz. dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan. Demikian pula halnya dengan perpustakaan sekolah yang menghasilkan jasa layanan dalam bidangnya. 11-000:6 1). et. dan juga siswa pembantu . yaitu para siswa. dan berkontribusi terhadap peningkatan prestasi belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. dan “Staf perpustakaan sekolah dapat terdiri staf yang profesional. Layanan dalam bentuk jasa tersebut merupakan suatu proses produksi yang diberikan oleh sumber daya manusia (SDM) pengelola perpustakaan sekolah kepada para pengguna jasanya. and they generate a product or a service . Mereka memerlukan sumbersumber dan menghasilkan suatu produk atau layanan). guru. “ (Soelistia.consume resources.al (1995:121-122) menjelaskan tentang keempat posisi staf (SDM) perpustakaan sekolah berikut ini: a. Lebih lanjut Soelistia. All processes share a common pattern. Seyogyanya 61 . Semua proses merupakan bagian pola umum. sedangkan layanan dapat berupa jasa.. Pustakawan Sekolah Pustakawan adalah seseorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu perpustakaan..al.Problematika Perpustakaan Sekolah menjaga eksistensinya. et.

penggandaan. bagi murid dapat memiliki pengalaman bekerja dengan berbagai bahan pustaka. Pertangggungjawabannya menurut aturan tertentu 62 . Dari segi tingkatan kualifikasi pustakawan dimasukkan ke dalam tingkat profesional. referensi maupun pelayanan lainnya secara bergiliran. Orientasinya berdasarkan program (budget based on program) d. d. Manfaat yang diperoleh tentu saja ada pada kedua belah pihak. Sukarelawan murid ini sebaiknya diperbantukan di bagian pelayanan pembaca. Teknisi Teknisi adalah tenaga perpustakaan yang sepenuhnya bertugas mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat non profesi. Pengelolaannya akuntabel dan responsible e. Sedangkan bagi staf perpustakaan lainnya dapat meringankan beban tugas/kerja di perpustakaan. Sumbernya pasti b. Dari segi tingkatan kualifikasi. sehingga mereka dapat memiliki pengalaman keterampilan informasi. baik di pelayanan sirkulasi. Sumber Pembiayaan (Money) Prinsip-prinsip anggaran atau biaya perpustakaan itu antara lain: a. c. 2. Asisten pustakawan Sebagian besar tugas asisten pustakawan adalah “membantu” tugas pustakawan. pelayanan peminjaman dan pengembalian bahan pustaka. pengetikan kartu-kartu. Pustakawan sekolah harus mempunyai kualifikasi dalam bidang pendidikan dan perpustakaan. Sukarelawan Murid Murid-murid dapat dilibatkan dalam kegiatan perpustakaan sebagai petugas sukarela dan senantiasa berada di bawah tanggung jawab petugas perpustakaan.Sri Marmoah pustakawan sekolah berasal dari guru yang qualified atau memiliki pendidikan perpustakaan. pelabelan. b. terutama untuk jenis pekerjaan yang bersifat profesi. dan sebagainya. misalnya: pengagendaan. menumbuhkan kesadaran dan kecintaannya terhadap buku serta rasa tanggung jawab yang besar. Penggunaannya menurut rencana c. asisten pustakawan dimasukkan ke dalam tingkat semi profesional.

dan memperluas akses informasi. mempercepat proses waktu kerja menghemat tenaga manusia (manual) menghemat biaya menghasilkan produk yang berkualitas memperbanyak hasil (luaran) meningkatkan performa dan kinerja perpustakaan 4. e. Semua jenis mesin tersebut dimaksudkan untuk: a. g. mempermudah dan menyederhanakan pekerjaan memperingan beban dan tugas. maupun perlengkapan dan perabot serta sarana prasarana yang lainnya. (b) perabot dan perlengkapan. komputer. (d) mesin-mesin. mengolah. c. sebuah metode yang dipilih untuk diterapkan di perpustakaan harus dapat membantu mempercepat waktu dan proses. (e) sarana komunikasi dan transportasi. memperingan biaya (murah). baik oleh petugas maupun pemakai perpustakaan. baik spesifikasinya maupun jenisnya dan dipergunakan dengan baik dapat membantu meringankan tugas-tugas dan menunjang pekerjaan perpustakaan. f. Benda-benda tersebut antara lain: (a) gedung dan ruangan. 5. Benda dan Barang Inventaris (Materials) Perpustakaan memiliki banyak sekali barang dan benda (materials) baik berupa inventaris. (c) koleksi bahan pustaka. Metode tersebut harus jelas. mesin fax. Metode yang diterapkan di perpustakaan adalah untuk menghimpun. dapat dipahami dan dilaksanakan serta dipergunakan. i. Benda dan barang-barang tersebut harus diurus dan dipergunakan dengan baik. d. dan mempermudah cara. mesin pres. h.Problematika Perpustakaan Sekolah f. Metode (Methodes) Setiap perpustakaan tentu mempunyai suatu metode tertentu yang dipergunakan untuk menjalankan aktivitasnya. menyimpan dan menyajikan serta memberdayakan informasi. g. b. mesin foto kopi. mengemas. Sebuah metode yang dipilih jangan 63 . Mesin-mesin yang biasanya diperlukan di perpustakaan antara lain mesin tik. 3. Jumlah anggaran diusahakan terus meningkat Pelaksanaannya selalu dapat dikontrol dengan baik Menerapkan sistem efektif efisien Tidak terjadi penyalahgunaan dan pemborosan anggaran Mesin-mesin (Machine) Pada dasarnya perangkat alat-alat yang berupa mesin-mesin yang tepat guna dan memadai. mesin jilid. Lebih daripada itu.

Sistem. Promosi. Apa yang disebut sistem yang baik bagi sebuah perpustakaan? Hal ini sifatnya relatif. dan mempermahal biaya. terkait. Oleh sebab itu. prosedur. metode dan tata cara lainnya yang dipergunakan di perpustakaan harus baku (standar). antara lain: a. Perpustakaan sebagai suatu pusat informasi. c. atau prosedut dan tata cara guna meningkatkan kinerja penyelenggaraan kegiatan. Pengadaan yang dimulai dari perencanaan kebutuhan koleksi bahan pustaka. mempersulit akses. Yang dimaksudkan dengan pasar di sini adalah bahwa perpustakaan memenuhi syarat-syarat dan sifat-sifat yang memungkinkan terjadinya transaksi informasi. Pengolahan. mana kala tidak diselenggarakan dengan suatu sistem atau mekanisme kerja yang tersusun dan terpola baik.Sri Marmoah memperlama waktu. Tersebarnya informasi dan termanfaatkannya informasi. Dengan istilah lain. yang antara satu dan lainnya saling berhubungan. katalogisasi. suatu sistem yang baik untuk satu perpustakaan. mekanisme. b. dan proses akuisisinya sendiri. belum tentu baik untuk perpustakaan yang lain. Pasar (Pemakai. dan penentuan tajuk subjek dan lain-lain. dan menikmati hiburan batin dengan bacaan yang menyenangkan. 6. dan peminjaman. 64 . Terjadinya akses informasi. Yang dikategorikan metode atau sistem dalam perpustakaan mencakup: a. Sirkulasi atau peminjaman dan pengembalian koleksi bahan pustaka. penyiapan anggaran (untuk yang dibeli). Kunjungan orang-orang ke perpustakaan untuk membaca/belajar. Layanan misalnya menggunakan sistem terbuka atau tertutup. mempengaruhi dan bahkan saling menentukan. yang dikerjakan dengan beberapa buku pedoman seperti dalam klasifikasi. tidak dapat berjalan baik. Sistem biasanya terdiri atas beberapa sub sistem. e. d. proses seleksi berdasarkan alat-alat seleksi (selection tools). mekanisme. Terpenuhinya kebutuhan informasi bagi pengunjung. karena sangat tergantung kepada kebijakan dan pilihan masing-masing perpustakaan. sebuah metode dapat terdiri atas sebuah sistem. dan seterusnya. c. sangat diperlukan dalam rangka mempublikasikan perpustakaan sekolah. b. Pelanggan)/Customers Unsur yang keenam di dalam manajemen perpustakaan adalah pasar atau tempat di mana suatu transaksi (informasi) dapat dilangsungkan. d. bagaimana persyaratan keanggotaan.

dan rekreasi. 4) Prinsip-prinsip dan aturan permainan. Ada staf layanan sebagai “penjual”. Kalau perpustakaan sekolah dipandang sebagai unit organisasi itu maka harus memiliki unsur-unsur sebagaimana layaknya sebuah organisasi. Fungsi Perpustakaan Sekolah Perpustakaan adalah sumber informasi yang menyediakan segala keperluan bagi masyarakat pemakainya. toko buku. b. misalnya jalur atau lini. wewenang dan tanggung jawab. Perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka. fungsional. Unsur-unsur itu meliputi: 1) Bentuk atau konfigurasi berupa bagan atau skema.Problematika Perpustakaan Sekolah f. Sebuah perpustakaan sebagai 65 . d. Ada unsur penyedia informasi (penerbit. Ada tempat (perpustakaan). Terselenggaranya layanan perpustakaan. c. mengatakan perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah yang bermaksud menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal. Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang menyelenggarakan pengumpulan. Unsur pasar (market) di perpustakaan harus memenuhi kriteria antara lain: a. e. f. Sedangkan Soetopo (2002). staf. yakni bentuk pembagian tugas. dikelola secara sistematis untuk digunakan sebagai informasi bagi pemakai perpustakaan. Ada permintaan dan penawaran atau supplay and demmand informasi. Ada “pembeli” (pemakai perpustakaan). agen). 2) Struktur atau kerangka.(Sutarno 2006: 46). baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya. yakni formasi jabatan yang harus diisi oleh orang-orang yang tepat sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. lini dan staf. Ada “perjanjian” (kesepahaman) atau ketaatan aturan layanan dan sanksi bagi mereka yang terlibat di dalamnya. dan organisasi dewan atau panitia. Fungsi perpustakaan sekolah tidak hanya sebagai sumber kegiatan belajar mengajar. penyimpanan dan pemeliharaan berbagai jenis bahan pustaka. 3) Jabatan-jabatan. tapi juga pusat penelitian sederhana. Perpustakaan sekolah dipandang sebagai unit organisasi karena perpustakaan sekolah merupakan bagian dari organisasi yang bernaung di bawah lembaga atau sekolah tersebut.

pengalaman dan keterampilan. atau on line. Kedua. cepat. Perpustakaan sebagai sebuah unit kerja atau unit organisasi perlu memiliki visi. sederhana. adalah tempat pelaksanaan transaksi peminjaman dan pengembalian buku atau bahan pustaka lainnya serta penyelesaian administrasi. Petugas yang ada pada meja terdepan ini sangat diharapkan agar lincah. ramah dan berjiwa membimbing (users friendly). terampil. peraturan dan tata tertib perpustakaan yang singkat. tepat. kemampuan. Sedangkan bagi sekolah yang sudah modern dengan teknologinya maka hendaknya memberikan pelayanan prima. persamaan persepsi antara petugas dan pelanggan. mental. Gambaran mekanisme sebagai suatu system layanan yang memuaskan akan terlihat jelas melalui suatu formasi layanan yang jelas diantaranya: pertama. pedoman pengadaan anggaran dan ruang lingkup bidangnya. dan memuaskan. kesiapan peralatan dan perlengkapan sebagai penunjang. baik secara lisan maupun melalui brosur dan media lainnya yang disediakan. Sistem pelayanan prima ini tentunya didukung oleh teknologi industri seperti computer. Formasi jabatan. Bagi perpustakaan sekolah yang mempunyai sarana layanan yang masih terbatas dan konvensional maka diupayakan agar dapat memberikan pelayanan minimal kepada pengunjungnya. kemauan. situs. Tempat ini merupakan customer service yang terdepan diperpustakaan. meja sirkulasi. baik fisik. keharmonisan komunikasi. garis wewenang dan tanggung jawab. mudah dipahami dan dilaksanakan baik oleh petugas maupun oleh pelanggan. Penerapan suatu sistem layanan di perpustakaan sekolah adalah dimaksudkan agar proses pemberian jasa layanan dapat berjalan dengan tertib. murah serta bermanfaat. fungsi. misi. meja informasi. Yang dimaksudkan adalah pelayanan yang berlangsung secara mudah. dan petugas atau pengisian karyawan. serta struktur organisasinya. Unsur-unsur yang terkait dengan system layanan perpustakaan yaitu: kesiapan petugas layanan. 66 . cepat. dan pedoman standar dibidang layanan perpustakaan yang berlaku umum sehingga mudah dipelajari untuk dipraktekkan. Oleh karena dunia ini sudah sangat inclusive maka system pelayanan minimal dianjurkan untuk berangsur-angsur ditinggalkan dan semua perpustakaan sekolah hendaknya menggunakan system pelayanan prima agar bisa mencapai sasaran pelayanannya yakni kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dalam hal ini adalah guru dan siswa. kerja sama. jelas. Meja informasi ini merupakan tempat pengunjung memperoleh informasi tentang alur layanan perpustakaan dari petugas. dan program kerjanya yang semuanya berorientasi kepada pelayanan yang memuaskan. Dalam surat keputusan pendiriannya harus memuat secara jelas tentang tugas. teratur.Sri Marmoah salah satu unit kerja memiliki unsur-unsur seperti organisasi.

adalah pengurusan keanggotaan perpustakaan. Tugas utama 67 . peminjaman. dan pengaturan agar suasana diperpustakaan selalu tertib dan tenang. Kondisi Riil Perpustakaan Sekolah di Lapangan Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. Sarana pendukung dan mekanisme layanan perpustakaan sangatlah tergantung pada kompleksitasnya perpustakaan itu. Semua prosedur. menumbuhkan minat baca. internet yang dipergunakan untuk memberikan layanan perpustakaan perlu didukung oleh petugas layanan yang mampu menggunakannya agar dapat memandu pengunjung yang belum mahir menggunakannya. Keempat. adalah ketentuan-ketentuan tentang syarat menjadi anggota. sebelum mencari ke tempat penyimpanan buku-bukunya. Kelima. sementara sekolah yang mempunyai perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. Namun fungsi ini belum berjalan sebagaimana yang diharapkan karena tidak semua sekolah mempunyai perpustakaan. Perpustakaan sekolah pada jenjang pendidikan dasar ini sangat diperlukan terutama untuk membantu keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. persyaratan dan proses keanggotaan dilaksanakan menurut ketentuan yang berlaku. Sistem pelayanan prima dengan menggunakan teknologi informasi. Keenam. Jika jumlah pengunjung setiap tahun kecenderungannya meningkat maka upaya perbaikan. Bagaimana dengan perpustakaan sekolah pada pendidikan dasar di SD dan SMP ?. Dari pernyataan di atas dapat digarisbawahi bahwa keadaan perpustakaan sekolah masih belum berkembang dan memerlukan penanganan segera. peraturan dan tata tertib layanan. kartu catalog sebagai wakil dari koleksi untuk ditelusuri. peningkatan dan pengembangan baik untuk sarana pendukung maupun system pelayanan tentunya selalu mengalami penyesuaian.Problematika Perpustakaan Sekolah Ketiga. Semua itu merupakan alat atau media untuk memanfaatkan informasi diperpustakaan. Kemudahan akses informasi dan system temu kembali informasi agar pemanfaatan koleksi bisa optimal dan efisien. administrasi keanggotaan. dan rekreatif bagi komunitas sekolah. Perpustakaan yang jumlah pengunjungnya masih terbatas perlu diupayakan mencapai standar pelayanan minimal. lemari (laci) catalog. sedangkan perpustakaan yang jumlah pengunjungnya relative banyak maka haruslah diupayakan mencapai standar pelayanan prima. informatif. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. sangsi atas pelanggaran. riset. bagi yang menerapkan sistim anggota. kemudahan akses informasi. Statement ini cukup beralasan karena perpustakaan sekolah berfungsi sebagai sarana edukatif. computer.

Menurut Sihombing (2000). Ada beberapa hal yang sering menghambat fungsi perpustakaan sekolah. Kekuatan. Permasalahan merupakan kelemahan yang dapat berubah menjadi tantangan kelancaran pelaksanaan tugas / program. kata Threats mengandung unsur yang negatif. Sehingga pendekatannya menjadi SWOC. Pertama. yaitu setiap sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional pendidikan. Weaknesses (kelemahan). Treath). Sarana perpustakaan yang tidak lengkap. waktu kunjungan terbatas. Pengubahan ancaman menjadi tantangan karena dia melihat bahwa ancaman kalau dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi peluang. koleksi buku yang terbatas. Sebagai contoh disebutkan bahwa lokasi perpustakaan di sekolah yang kurang strategis. Contohnya kekuatan-kekuatan yang ada pada program perpustakaan sekolah antara lain dapat menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada tanpa harus memenuhi persyaratan tertentu/ ketat. dan didukung oleh kebijakan pemerintah. Opportunity. sumber daya manusia yang berkompeten. Pertama. Kelemahan. Permasalahan ini dapat kita lihat dengan menganalisis dengan SWOT (Strenghness. sebagai sumber pengetahuan. Selain itu yang merupakan kekuatan adalah adanya koleksi buku yang memadai. dan Threats (ancaman).43 tahun 2007 tentang perpustakaan pada pasal 23 ayat 1. dan pengembangan potensi siswa serta pengembangan sosial budaya siswa. Kedua. SWOT merupakan singkatan dari kata Strengths (kekuatan). sedangkan tantangan selalu berisi peluang. sumber daya perpustakaaan yang rendah.Sri Marmoah perpustakaan jenis ini adalah menunjang kurikulum. dan ayat 3 yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki koleksi lain yang mendukung pelaksanaan kurikulum pendidikan. Opportunities (peluang). Hal ini sesuai dengan UU RI No. menumbuhkan minat baca. terbatasnya ruang perpustakaan 68 . dukungan dari kepala sekolah kurang dan keuangan yang sangat minim. sehingga bahan-bahan pustaka harus dikaitkan dengan kurikulum sekolah. Weakness. Perpustakaan sebagai sumber belajar di sekolah. mendorong siswa untuk belajar mandiri. serta diakui eksistensinya oleh semua pihak (masyarakat). Ada banyak hal yang menyebabkan munculnya berbagai permasalahan pada perpustakaan sekolah. Maksud kelemahan dalam analisis ini adalah permasalahan yang timbul dari penyelenggaraan program dan hasilnya. sehingga lebih cenderung menggunakan kata yang mengandung unsur positif yaitu tantangan (Challenges). kecil. gudang ilmu. Maksud kekuatan dalam analisis ini adalah faktor-fakor yang mendukung penyelenggaraan program. Perpustakaan juga berfungsi untuk menggairahkan semangat belajar. yang tidak mungkin dipenuhi oleh sekolah. tidak nyaman.

tetapi perangsang untuk mendorong perencana pendidikan luar sekolah untuk lebih kreatif dan dinamis. Contoh perpustakaan sekolah swasta relatif lebih bagus daripada sekolah negeri. Sedangkan menurut Sudarmono (2004) dalam pengembangan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar. melakukan promosi dan menyelenggarakan jaringan kerja sama baik dalam negeri maupun luar negeri. terbatasnya jumlah petugas perpustakaan (pustakawan). administrasi. partisipasi pemakainya baik dan aktif. Kedua. kurangnya promosi penggunaan perpustakaan menyebabkan tidak banyak siswa yang mau memanfaatkan jasa layanan perpustakaan. dengan tanpa memperhatikan kesehatan dan kenyamanan. Ketiga. memiliki ruangan yang memadai. Idealnya Perpustakaan Sekolah ke Depan Perpustakaan yang ideal harus memenuhi pedoman-pedoman diantaranya adalah lokasi. Peluang. Tantangan dapat berubah menjadi peluang bagi perencana yang tidak berperilaku apatis. Tantangan bukan penghambat. statis dan mudah puas. tata ruang. pelayanan terhadap anggotanya dan koleksi buku-buku perpustakaan. direbut. memiliki tempat baca yang memadai. Keempat. kriteria dari perpustakaan sekolah yang ideal adalah: adanya status kelembagaan yang kuat. memiliki perabot yang memadai. keterbatasan bahan pustaka. 43 Tahun 2007 dan adanya kebijakan dari Dinas Pendidikan tentang wajib adanya perpustakaan sekolah di setiap sekolah. Kurangnya ajakan untuk mengunjungi perpustakaan menjadikan anak asing terhadap perpustakaan. jenis koleksinya komposisinya 40% buku teks. Maksud tantangan dalam analisis ini adalah hal-hal yang harus diatasi. 30% buku 69 . 30% buku pengayaan. Tantangan. selalu meningkatkan mutu melalui pelatihan-pelatihan bagi tenaga pustakawan. Maksud peluang dari analisis ini adalah hal-hal atau faktorfaktor dari luar program yang kalau dicermati dan dimanfaatkan dengan baik dapat menjadi tumpuan harapan dimasa depan. struktur organisasi perpustakaan jelas dan berjalan baik. perpustakaan dikatakan ideal apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: berani memantapkan keberadaan lembaga perpustakaan sesuai dengan jenisnya. melakukan upaya-upaya pengembangan dan pembinaan perpustakaan terus menerus dari segi sistem manejemen dan teknis operasional.Problematika Perpustakaan Sekolah di samping letaknya yang kurang strategis. Banyak perpustakaan yang hanya menempati ruang sempit. variasi maupun kualitasnya. diperbaiki dan ditingkatkan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dalam usaha mencapai tujuan. Keempat. Sebagai contoh adanya dasar hukum yang kuat yakni dengan adanya UU No. Sedangkan menurut Rachmananta. Ketiga. baik dalam hal jumlah.

dan standar pengelolaan. menjual peralatan sekolah. serta souvenir.Sri Marmoah fiksi. melakukan kegiatan promosi dan pemasyarakatan perpustakaan. administrasi perpustakaannya tertib. memiliki sarana penelusuran informasi yang baik. bahkan makanan dan minuman. Cara yang ditempuh banyak sekali. Perpustakaan yang ideal dan tetap survive dengan perkembangan zaman. memiliki program pengembangan secara jelas dan terarah. tetapi berupa buku-buku bacaan yang menarik minat siswa untuk membacanya. memiliki anggaran perpustakaan secara tetap. pelayanannya menyenangkan. Dalam Undang-Undang RI nomor 43 tahun 2007 pada bab III pasal 11 ayat 1 dijelaskan bahwa standar nasional perpustakaan terdiri atas: standar koleksi perpustakaan. Sudah saatnya perpustakaan tidak hanya berisi buku-buku paket. 70 . Kedua. Manajemen ini juga tergantung pada SDM dalam perpustakaan tersebut. pengorganisasian koleksinya teratur. diantaranya selain menjadikan tempat peminjaman buku pada masyarakat. perpustakaan juga membuka usaha lain seperti fotokopi. yaitu berhubungan dengan dana dan untuk menambah pemasukan dapat mengembangkan entrepreneurship di perpustakaan. koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan harus terus ditingkatkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Mengacu kepada Undang-undang tersebut sudah semestinya agar perpustakaan sekolah menjadi ideal dan mampu menjawab tantangan masa depan harus memenuhi kriteria tersebut. seharusnya memenuhi kriteria berikut: pertama. memiliki program mitra perpustakaan. Hal keempat. memiliki program keberaksaraan informasi (literasi informasi). memiliki program pengembangan minat membaca di kalangan siswa. didukung dengan teknologi informasi dan komunikasi. koleksi sesuai dengan kebutuhan kurikulum. Perpustakaan yang ideal harus mengacu kepada standar nasional perpustakaan. memiliki peraturan perpustakaan. standar sarana dan prasarana. adanya kerjasama dengan sekolah lain. dan adanya jam perpustakaan yang terintegrasi dalam kurikulum. memiliki tenaga pengelola dengan kompetensi yang memadai. standar tenaga perpustakaan. Jika SDM-nya cukup berkompeten untuk membuat perpustakaan maju. standar penyelenggaraan. serta judul buku bervariasi. agar perpustakaan sekolah lebih efektif dan efisien dalam pengembangan perpustakaan harus menggunakan manajemen perpustakaan yang benar. sumber daya yang mengelola di perpustakaan adalah benar-benar seorang pustakawan bukan guru. Ketiga. maka perpustakaan akan cepat berkembang. standar pelayanan perpustakaan. atau seorang honorer yang diberi tugas tambahan untuk mengelola perpustakaan. penjaga sekolah.

Kepala sekolah sebagai manajer atau pimpinan perlu menjadwalkan secara khusus kunjungan ke perpustakaan. k. Masyarakat sekitar perlu mendukung perpustakaan sekolah misalnya dengan memberikan bantuan buku-buku dan dana. Perlunya perpustakaan di setiap sekolah. dan kelas IX (SMP). b. e. f. dll. Guru-guru sampai penjaga sekolah dilibatkan secara aktif untuk mengelola perpustakaan. hal ini dalam rangka membudayakan peninggalan kenang-kenangan untuk sekolah. berdaya guna bagi siswa. i. untuk dikumpulkan dan dijadikan koleksi perpustakaan.Problematika Perpustakaan Sekolah Alternatif Solusi Mengefektifkan Peran Perpustakaan Sekolah. Komite sekolah dan stakeholder harus memikirkan eksistensi perpustakaan sekolah agar dapat berhasil. Memperhatikan problematika yang ada serta memperhatikan kondisi riil dan yang ideal maka penulis menawarkan beberapa solusi untuk memperbaiki kondisi yang ada. j. l. Guru wajib memberikan contoh kepada para siswa dengan rajin membaca di perpustakaan. pengembangan SDM. Kerjasama dapat dilakukan dengan study visit untuk mengetahui koleksi apa saja yang sesuai untuk siswa pada usia anak-anak atau remaja. diwajibkan untuk memberikan hibah berupa buku-buku ke sekolah. pelatihan. pengembangan termasuk pendanaan. m. kursus. jurnal. dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan layanannya kepada siswa. c. h. setelah selesai diwajibkan untuk memberikan copian baik berupa softcopi maupun berupa buku-buku. Diperlukan SDM/pustakawan yang profesional. Siswa akhir di sekolah kelas VI (SD). g. Guru-guru harus mendukung pengembangan perpustakaan sekolah dengan wujud contoh gemar membaca dan menulis makalah. Perlu partisipasi dari semua pihak yang terlibat untuk memajukan perpustakaan sekolah. a. hal ini akan sangat membantu mendorong dan mengembangkan minat kemampuan serta kebiasaan membaca yang pada gilirannya dapat membentuk sikap siswa untuk belajar mandiri. 71 . d. Perlu adanya kebijakan dari sekolah dan pemda untuk mengembangkan perpustakaan sekolah. serta layanan apa saja yang ada di sana. Perpustakaan sekolah dapat bekerjasama dengan perpustakaan umum/daerah. Guru-guru yang penataran.

Agar efektif dan efisien dalam mencapai tujuan perpustakaan sekolah. Pemanfaatan ICT sebagai sarana dalam meningkatkan kualitas layanan dan operasional telah membawa perubahan yang besar di perpustakaan. untuk itu pelayanannya juga disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Sedangkan alternatif solusi bagi perpustakaan sekolah pemula. atau yang belum memadai. pengarahan (directing). Dengan pengelolaan (manajemen) perpustakaan yang baik akan dapat menarik para siswa senang berkunjung dan memanfaatkan sarana tersebut. Alternatif solusi dalam pemecahan problematika perpustakaan sekolah dengan memberdayakan unsur-unsur manajemen yang ada pada lembaga sekolah. Perpustakaan sekolah yang ideal harus mengacu kepada standar nasional perpustakaan. maka dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Perpustakaan sebagai sumber informasi di sekolah memiliki peran yang penting dalam menunjang kegiatan belajar mengajar. 5. Kedua. 72 3. Ketiga. Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. harus mengacu kepada fungsi manajemen yang mencakup perencanaan (planning). perpustakaan cukup melayani peminjaman buku kepada siswa untuk dibawa ke rumah dalam beberapa lama sesuai ketentuan. dan pengendalian (controlling). Sebagai contoh yaitu dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi.Sri Marmoah Selain itu dengan pengelolaan (manajemen) perpustakaan yang baik akan dapat menarik para siswa senang berkunjung dan memanfaatkan sarana tersebut. pelayanan sebaiknya dilakukan saat istirahat dan atau setelah keluar sekolah. Sebagai contoh yaitu dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. 4. . dapat dicari solusinya dengan tiga hal yang disarankan yaitu: pertama. pengorganisasian (organizing). KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan. pengaturan staf (staffing). Perkembangan dari penerapan ICT dapat diukur dengan telah diterapkannya/ digunakannya sebagai sistem informasi manajemen (SIM) perpustakaan dan perpustakaan digital (digital library). 2. sebaiknya perpustakaan dikunjungi oleh siswa sebagai tempat belajar setelah keluar sekolah. menumbuhkan minat baca.

Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. pengembangan termasuk pendanaan. Perpustakaan Nasional RI. 5.Problematika Perpustakaan Sekolah Rekomendasi Saran yang dapat dikemukakan dalam rangka mencari solusi dari problematika perpustakaan sekolah. Malang: UM Press. Memakai. 1992. dan Memelihara Perpustakaan di Sekolah. Depdikbud.. Menjadi Pintar: Memanfaatkan Perpustakaan Sekolah sebagai Sumber Belajar. dan lain-lain. Petunjuk untuk Membina. dkk. Darmono. et. 2002. 2000. 4. Perlu adanya kebijakan dari sekolah dan pemda untuk mengembangkan perpustakaan sekolah. 2. pengembangan SDM. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. Jac. 1995. Fitz-enz. ------------. Jakarta: Universitas Terbuka. Cetakan ke-2 Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. Soelistia. New York: AMACOM (American Management Association). Kepala Sekolah sebagai manajer atau pimpinan sekolah perlu menjadwalkan secara khusus kunjungan ke perpustakaan. DAFTAR RUJUKAN Ali Lukman. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Komite sekolah dan stakeholder harus memikirkan eksistensi perpustakaan sekolah agar dapat berhasil dan berdaya guna bagi siswa. 73 . Perpustakaan Sekolah. 1995. Manajemen Perpustakaan Sekolah. adalah : 1. 3. The ROI of Human Capital (Measuring the Economic Value of Employee Performance).al. Guru dan tenaga kependidikan lainnya hendaknya mengarahkan peserta didik untuk lebih memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar untuk memperoleh informasi yang mereka inginkan. 2004. Pengelola perpustakaan dan tenaga kependidikan hendaknya saling berkoordinasi sebagai sarana untuk meningkatkan pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar yang menyenangkan. Jakarta: Balai Pustaka.

Manajemen Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto. 74 . Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto. Sutoyo. NS.Sri Marmoah Sutarno. Strategi dan Pemikiran Perpustakaan Visi Hernandono. dkk. Suatu Pendekatan Praktik. 2006. 2001.

ia mampu bekerja keras dan berani menanggung risiko. penyelia (supervisor). 4. entrepreneurship. seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator). No. April 2009 PERILAKU KEPEMIMPINAN ENTREPRENEURSHIP KEPALA SEKOLAH Rokhmaniyah Universitas Negeri Jakarta Abstrak Tugas pokok Kepala Sekolah adalah mengelola kegiatan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. yaitu seorang kepala sekolah yang mampu mengelola sumber daya manusia maupun nonmanusia secara efektif dan efisien. dan pencipta iklim kerja (climator).wirausahawan (entrepreneur). Kata kunci: perilaku sekolah. Hal ini ditunjukkan sebagai educator. ia belum mampu membimbing guru dan staf tata 75 kepemimpinan. kepala . pemimpin (leader).Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 1. Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. Budaya kita adalah budaya paternalistik. Pengamatan sekilas di lapangan. entrepreneurship harus dicontohkan oleh guru-guru dan kepemimpinan kepala sekolahnya. mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui). administrator (administrator). Selain itu. pemimpin (leader). penyelia (supervisor). Untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok. pengelola (manager). dan pencipta iklim kerja (climator). Keefektifan suatu sekolah dalam menggapai visi. dan menjalankan aktifitas pendidikan mempersyaratkan adanya seorang kepala sekolah yang efektif. PENDAHULUAN Tugas pokok Kepala Sekolah adalah mengelola (memanaj) penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya. wirausahawan (entrepreneur). selama ini menunjukkan bahwa sebagian Kepala Sekolah agaknya masih belum memainkan peranannya secara optimal. Oleh karena itu. kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. administrator (administrator). Kepala sekolah adalah orang kunci yang menentukan sukses atau gagalnya sekolah dalam mencapai tujuannya. Untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok. pengelola (manager). seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator). mengemban misi.

mengembangkan unit produksi sekolah. memperbaiki sistem insentif. kepala sekolah belum mampu melaksanakan pengawasan secara ketat sehingga hasil praktik siswanya belum bernilai ekonomis dalam arti belum hemat biaya. Sebagian Kepala Sekolah kita masih berperilaku lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas lulusannya. Kreatif. penulis ingin menyoroti perilaku entrepreneushipr kepala sekolah. ia belum mampu bertindak kreatif dan inovatif. menggunakan kekuasaannya dengan baik. mengkoordinasikan tugas-tugas stafnya. mengambil keputusan. Sebagai Supervisor. Selain itu. bekerja sama dengan pengusaha. dan waktu (belum BMW). Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya. kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Sebagai entrepreneur. memotivasi siswa belajar. memberikan pendidikan yang bermutu bagi lulusannya sehingga dunia usaha dan industri mengeluh terhadap rendahnya mutu lulusan SMK. ia belum memiliki kemampuan manajerial seperti memenej sekolah. Belum memiliki perencanaan program sekolah yang mantap dengan pelaksanaan yang belum tepat. Akibatnya. mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui). dan memiliki perilaku pemimpin. Hal ini jelas sebagai dampak dari perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah. dan mengelola waktu. ia belum mampu menciptakan budaya sekolah.Rokhmaniyah usaha dalam melaksanakan tugas-tugasnya. membuat rencana strategik. membangun memotivasi guru bekerja. Sebagai manager. memiliki sifat-sifat pemimpin. Masih lebih mementingkan pencapaian target kurikulum daripada kualitas daya serap siswanya. Dengan demikian. ia lebih disibukkan pada penyelesaian tugas administratif daripada edukatif. dan Menyenangkan (PAKEM). Sebagai leader. hasil pembelajaran belum mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan pengalaman kewiraswastaan bagi siswanya. Efektif. motivasi guru dan siswa agar memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas. dapat mengurangi pengangguran bukan menambah pengangguran. Dalam rangka pemberdayaan Kepala Sekolah. Sebagai climator. lulusan akan memiliki life skill dan out come. Pada hal di era globalisasi sekarang ini secara khusus lebih dibutuhkan kepemimpinan enterprneurship agar lulusannya mampu menciptakan lapangan kerja bukan mencari pekerjaan. mengelola konflik dan stres. dan memasarkan hasil unit produksi sekolah dan lulusannya. dan menciptakan suasana Pembelajaran yang Aktif. ia belum mampu memenuhi kriteria sukses. 76 . membaca peluang sekolah dalam meningkatkan minat calon siswa masuk ke sekolahnya. mutu.

dan bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi entrepreneur yang artinya pengusaha. Hakikat kepemimpinan adalah kegiatan seseorang menggerakkan orang lain agar orang lain berkenan melaksanakan tugas-tugasnya. para peneliti masih akan mendiskusikan apakah entrepreneur yang sukses merupakan bakat yang dibawa lahir atau tidak. Joseph A. Menjelang pertengahan abad ke-18. Richard Cantillon (1730) adalah seorang yang disebut-sebut sebagai pencetus istilah entrepreneur untuk pertama kalinya. entreprendre yang artinya mengusahakan. menggerakkan. apabila ada unsur-unsur: a. Orang yang memimpin Orang-orang yang dipimpin Kegiatan atau tindakan penggerakkan untuk mencapai tujuan Tujuan yang ingin dicapai bersama Jadi. 2002) adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. entrepreneur berfokus pada seseorang dan untuk 200 tahun yang akan datang. Berdasarkan definisi dan hakikat kepemimpinan di atas dapat disimpulkan bahwa proses kepemimpinan pada hakikatnya dapat muncul kapan dan dimanapun. mengajak. atau wiraswasta. d. Awal tahun 1934. wirausaha. mendorong. kepemimpinan merupakan motor penggerak bagi sumber daya yang dimiliki lembaga. dan menuntun orang lain dalam proses kerja agar berfikir. Oleh karena itu kepemimpinan disebut sebagai fungsi organik dalam proses manajemen. Entrepreneurship Entrepreneurship atau kewirausahaan atau kewiraswastaan merupakan kata benda dari entrepreneur.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah PEMBAHASAN Perilaku Kepemimpinan Perilaku (KBBI. Menurut Richard Cantillon dalam Leo-Paul Dana(1997). Kata entrepreneur berasal dari bahasa Prancis. bersikap. Schumper dalam Peggy A Lambing & Charles R. c. b. 77 . Kuehl (2003) menggambarkan entrepreneur sebagai seorang yang membuat produk baru dan memasarkannya. Adapun kepemimpinan secara sederhana dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses mempengaruhi.

keuntungan finansial. inovator dengan memperhatikan nilai waktu dan usaha. maka pertamatama yang harus diperhatikan adalah pemasarannya. Menurut beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa enterpreneurship ialah seseorang yang berusaha secara mandiri. Menurut Gifford Pinchot. Adapun. Pertama. maupun yang bersifat mental (baca: dianggap gagal). Kedua. ia melihat kemungkinan dan memiliki visi untuk menciptakan sesuatu yang baru yang memicu semangatnya untuk bertindak. psikis. Selanjutnya. Kao(1991) mendefinisikan. Alan J. Rowe(2008). Apalah artinya banyak barang dan jasa yang dihasilkan tetapi tidak laku dijual di pasaran. Ketiga.Rokhmaniyah Pendapat Joseph A. kebebasan. berani mengambil risiko. mengubah keadaan yang tidak/kurang menyenangkan menjadi keadaan yang diinginkan. Gifford Pinchot menyarankan sebelum seseorang memutuskan akan membuka usaha. kreatif memiliki empat gaya: (1) intuitif yang berfokus pada hasil pengalaman masa 78 . “Entrepreneur both innovator and creator.” (Seseorang yang membentuk kembali atau mengubah dengan cepat bentuk produksi melalui penggalian penemuan atau. Schumper di atas dikembangkan oleh Peggy A. senang menghadapi tantangan. ”One who reforms or revolutionises the pattern of production by exploiting an invention or. Kuehl yang menyatakan bahwa seorang entrepreneur tidak hanya memproduksi barang dan jasa baru tetapi juga sebagai pencetus ide (gagasan) atau konsep baru. Oleh sebab itu. senang berpetualang. Ciputra dalam Andreas Harefa (2006) mengatakan bahwa sedikitnya ada tiga ciri-ciri utama seorang entrepreneur. baik risiko yang bersifat finansial (baca: rugi). menggunakan teknologi sebagai sebuah komoditi baru atau memproduksi yang lama dengan cara baru). Lambing dan Charles R. Karena inovatif adalah salah satu gaya dari kreatif. pertama-tama yang perlu dimiliki oleh seorang entrepreneur adalah bakat memasarkan produk barang dan jasa. John J. memperkirakan keuangan. Rodney Overton (2002) mendefinisikan enterpreneur sebagai. Gifford Pinchot (1988) mengatakan bahwa Entrepreneur adalah orang yang mengintegrasikan bakat rekayasa dan pemasar dengan menciptakan proses dan jasa baru. kepuasan pribadi. an untried technological a new coomudity or producing either an old in a new way. seorang entrepreneur adalah orang yang betindak untuk melakukan inovasi. Sebenarnya di dalam kreator sudah termasuk inovator. more generally. dan kreator. lebih umum. Tindakanlah yang membuat entrepreneur menjadi inovator. seorang entrepreneur mampu melihat peluang bisnis yang tidak dilihat atau diperhitungkan oleh orang lain. seorang entrepreneur adalah pengambil risiko. Barang akan menumpuk dan akhirnya usaha akan bangkrut.

Howard Morhaim dalam Kathleen L. Oleh sebab itu. tetapi sebagai seorang entrepreneur harus mampu menemukan jalan untuk menyelesaikannya. kepala sekolah adalah seorang inspirator bagi munculnya ide-ide kreatif dan inovatif dalam mengelola sekolah. Kepala Sekolah yang Berperilaku Enterpreneurship Berdasarkan pengertian perilaku kepemimpinan dan entrepreneurship di atas. bukan modal sendiri tetapi modal sekolah. Hawkins (1993) memperingatkan dengan berkata. dan (4) inspiratif berfokus pada perubahan sosial dan memberikan ilham. (2) inovatif yang berkonsentrasi pada pemecahan masalah. Sebagai intrapreneur.” Seseorang dapat membawa gaya kreatifnya sendiri pada suatu usaha dan tindakan itu bukan saja akan membuat usahanya berjalan lancar bahkan kelancaran usaha itu akan dapat terjadi disebabkan karena adanya kreativitas Anda tersebut. senang menulis. berarti dapat dikatakan telah mampu berkonsentrasi dan melihat hal-hal secara lengkap baik itu berupa tugas-tugas sekolah maupun tugas pribadi. Renungkan. Refleksi atau menilai diri sendiri adalah menjadi kebiasaan. Singkatan dari intrasekolah dan preneurship. Pandai membaca peluang dan mau bekerja keras. (3) imajinatif yang dapat menggambarkan peluang. maka ia bekerja untuk sekolahnya sehingga semua tindakannya dibatasi oleh aturan-aturan sekolah. Sebagai seorang kepala sekolah yang entrepreneurship harus memiliki pribadi yang kreatif yang harus mau belajar mendisiplinkan dirinya untuk berurusan dengan tugas dan kewajibannya. Walaupun dalam kesehariannya seorang kepala sekolah menghadapi tugas rutin yang tidak menyenangkan. Kepala Sekolah tidak bebas mengatur dirinya sendiri tetapi masih diatur oleh sekolah.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah lampau yang mengarahkan untuk bertindak. bukan bekerja untuk sendiri tetapi untuk sekolah. Berani menanggung risiko. keindahan. Bila telah merasa mendapat nilai tinggi dalam disiplin diri. sistematika.” 79 . dan berdasarkan data. dan berpikir di luar kebiasaan. Mengingat Kepala Sekolah bukanlah seorang entrepreneur sejati karena ia tidak bekerja mandiri tetapi didukung oleh warga sekolah dan stakeholders-nya apalagi semua keuangan disiapkan oleh pemerintah atau yayasan untuk sekolah swasta. maka yang dimaksud dengan perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. lebih tepat disebut sebagai intrapreneurship. apakah sebagai seorang kepala sekolah telah menciptakan sesuatu yang berguna bagi pengembangan sekolah dan belum pernah ada sebelumnya.

” Dalam hal ini kepala sekolah dapat menerapkan kepemimpinan situasional. dan mampu melihat berbagai cara pemecahan masalah. Menjalin kerja sama dengan dunia industri atau dunia usaha adalah penting bagi kepala sekolah. perubahan. Tindakan mengambil risiko berkaitan dengan pertumbuhan. pemimpin(leader). Dengan demikian. berlaku sopan.” Artinya. Berani menanggung risiko sangat baik dibandingkan sibuk mencari pembelaan diri. kepala sekolah adalah seorang inspirator bagi munculnya ide-ide 80 . sebagai kepala sekolah yang berjiwa entrepreneurship harus mau mengembangkan dirinya dan menajamkan pikirannya sehingga mampu membaca peluang serta mampu menyelesaikan tugas sesuai dengan tujuan yang diharapkan. kepercayaan bawahan terhadap kepala sekolah tetap terjaga.” kebanyakan agen yang berhasil dalam usaha mereka ialah orang-orang yang tenang dan mempunyai pikiran tajam yang tahu bagaimana melakukan sesuatu. Kepala sekolah yang entrepreneurship haruslah dapat bersifat luwes. dan kesadaran akan harga diri. Seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik(educator). Bila dalam usaha atau tidakan yang telah direncanakan mengalami ketidakberhasilan maka secara tulus segera meminta maaf dengan berusaha untuk memperbaikinya. pengendalian diri. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Kepala sekolah adalah orang kunci yang menentukan sukses atau gagalnya sekolah dalam mencapai tujuannya. Richardon menerangkan. Morhaim menambahkan. Untuk memperlancar kegiatan pembelajaran yang memusatkan pada life skill diperlukan dukungan dari orang lain / masyarakat / wali siswa / dunia industri / dunia usaha. Program sekolah tidak akan tercapai bila sekolah tidak pandai menjalin komunikasi baik dengan stakeholders.Rokhmaniyah Selanjutnya.” Jika jangkauan perilaku Anda lebih luas dibandingkan orang lain. pengelola(manager). Penguasaan kemampuan yang baik untuk berhubungan dengan orang-orang perlu dimiliki. Sebagai intrapreneur. dan pencipta iklim kerja(climator). administrator(administrator). Anda mempunyai cukup banyak variasi untuk mengendalikan dan mengarahkan situasi menurut kesukaan Anda. dan teguh dalam perundingan kontrak. penyelia(supervisor). wirausahawan(entrepreneur). Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. dapat menyesuaikan diri.

1991. 2008. Overton. C. Englewood Cliftts. L. New Jersey: Prentice Hall. The Enterpreneur. Rekomendasi Untuk Kepala Sekolah Kepala sekolah hendaknya selalu meningkatkan kompetensi kepala sekolah khususnya kompetensi wirausahawan (intrapreneur) sehingga dapat memberi contoh dan motivasi terhadap warga sekolah. Pengawasan terhadap peningkatan kompetensi kepala sekolah hendakanya dilakukan secara rutinitas sehingga kepala sekolah termotivasi untuk selalu meningkatkan kinerjanya.. A. J. Hawkins. The Ciputra Way: Praktik Terbaik Menjadi Entrepreneur Sejati. Untuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pendidikan dan latihan kepemimpinan entrepreneurship sangat penting diadakan untuk meningkatkan perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah. Upper Saddle River. Creative Intelegence Discovering the Innovative Potential in Ourselves and Others. Upper Sadle River. Kerja sama dengan stakeholders harus senantiasa dibina dengan baik demi menghasilkan lulusan yang berkualitas. Enterpreneurship. Jakarta: PT Alex Media Komputindo. 1993. Pandai membaca peluang dan mau bekerja keras. & Turla.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah kreatif dan inovatif dalam mengelola sekolah. Upper Saddle River. J. R.A. Pte. Solo: DABARA. Lambing. (Diterjemahkan oleh Dabar Publisshers). 2006. P.R. Rowe. 2002. 1993 Kao. Berani menanggung risiko. 2003. New Jersey: Prentice Hall 81 . 2003. K. New Jersey: Prentice Hall. Ujilah Tingkat Kecerdasan Anda sebaga Seorang Wirausaha. Are You An Entrepreneur? Singapore: Wharton Books. DAFTAR RUJUKAN Andreas Harefa dan Eben Ezer Siadari. Ltd . & Kuehl. P. Refleksi diri sangat penting dilakukan secara rutin sehingga dapat melihat tingkat keberhasilan dalam mengelola sekolah. A.

Selanjutnya. maka upaya yang dilakukan oleh Pemerintah. kondisi sekolah. dan kemampuan pemerintah daerahnya (kabupaten/kota dan provinsi).Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. Pendidikan bertaraf internasional yang bermutu adalah pendidikan yang mampu mencapai standar mutu nasional dan internasional. PENDAHULUAN Dalam upaya meningkatkan mutu. April 2009 KAJIAN ATAS KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH PADA SMPN 115 JAKARTA SEBAGAI SALAH SATU RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI) Ujang Didi Supriadi Direktorat SMP Ditjen. 82 3. berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan yang bertaraf internasional tersebut. Kata Kunci: Kebijakan Pemerintah. orang tua. dan peningkatan daya saing secara nasional dan sekaligus internasional pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. No. maka Pemerintah telah menetapkan pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang bertaraf internasional. seperti yang tertuang dalam Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) adalah: 1. masyarakat. Kebijakan pemerintah dalam RSBI ditetapkan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah harus memiliki tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. efisiensi. baik untuk sekolah negeri maupun swasta. relevansi. Penetapan standar dan kriteria tersebut diarahkan untuk mewujudkan tujuan sebuah sekolah yang memiliki daya saing pada tingkat nasional dan internasional. Pendidikan bertaraf internasional yang efisien adalah pendidikan yang menghasilkan standar mutu lulusan optimal (berstandar nasional dan internasional) dengan pembiayaan yang minimal. yaitu penyelenggaraan pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Mandikdasmen Depdiknas Abstrak Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu aspek penting dalam komponen input pada sistem pendidikan nasional. 1. Selain itu terdapat pula 16 kriteria seorang kepala sekolah yang memimpin RSBI. . 2. Pendidikan bertaraf internasional juga harus relevan. kondisi lingkungan. 4. Kepemimpinan Kepala Sekolah dan RSBI.

Filosofi eksistensialisme berkeyakinan bahwa pendidikan harus menyuburkan dan mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitasi yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat. relevan. dan kemampuan peserta didik. Menurut Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008). menumbuhkan dan mengembangkan bakat. maupun internasional. Pendidikan bertaraf internasional harus memiliki daya saing yang tinggi dalam hal hasil-hasil pendidikan (output & outcome). beberapa alasan yang melatarbelakangi perlunya pendidikan bertaraf internasional yang selanjutnya disebut sebagai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). and learning to be merupakan patokan berharga bagi penyelarasan praktek-praktek penyelenggaraan pendidikan Indonesia. 2. Dalam mengaktualisasikan kedua filosofi di atas. guru. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 menetapkan skala prioritas utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional ke-1 tahun 2004-2009 untuk meningkatkan kualitas dan akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan. Sedangkan filosofi esensialisme menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi relevan dengan kebutuhan. nasional.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah 4. minat. proses belajar mengajar. efisien. learning to do. manajemen dan sumber daya manusia. hingga sampai penilaiannya. b. empat pilar pendidikan yaitu learning to know. learning to live together. properubahan. baik lokal. dan daya saing yang kuat. yang dimulai dari kurikulum. Dalam upaya peningkatan mutu. proses. 83 a. d. sarana dan prasarana. keluarga. Era globalisasi yang menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam teknologi. Penyelenggaraan SBI didasari oleh filosofi eksistensialisme dan esensialisme. diantaranya adalah: 1. kebijakan yang dijadikan landasan oleh pemerintah adalah: Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. . maka dalam penyelenggaraan SBI. 4. dan input baik secara nasional dan internasional. terutama pada Pasal 50 ayat 3. c. baik kebutuhan individu. 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Nasional Pendidikan. maupun kebutuhan berbagai sektor dan sub sektornya.

sebuah sekolah yang berstandar internasional. 2. Komitmen tersebut telah dituangkan ke dalam kebijakan pemerintah dalam pendidikan nasional seperti yang disampaikan di atas. Menggunakan sistem sebagai cara berpikir. maka tentunya akan dipimpin oleh seorang kepala sekolah dengan kemampuan berstandar internasional. Menjalankan dimensi-dimensi tugas. Memobilisasi sumber daya. Di dalam Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) telah dituliskan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah yang memimpin SBI adalah kepala sekolah dengan tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. dan strategi. 9. regulator. wirausahawan. Peningkatan kualitas tersebut tidak lagi berujung pada standar kualitas nasional. pendidik. standar prestasi. Menjalankan perannya sebagai manajer. peran kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu aspek yang menjadi aspek yang paling penting. pencipta iklim kerja. Tolerasi terhadap perbedaan pada setiap orang. terlihat bahwa Pemerintah memiliki komitmen yang sangat tinggi dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. lingkungan. proses. Salah satu aspek yang menjadi penting dalam upaya pemenuhan kualitas pendidikan yang berstandar internasional tersebut. dan nilai-nilai. 4. 6. namun berujung pada kualitas yang lebih tinggi lagi yaitu standar internasional. mengelola dan menganalisis sekolah. penyelia. Menurut Slamet PH (2004) seperti yang dikutip dalam Panduan Pelaksanaan Pembinaan SMP SBI diungkapkan bahwa kepala sekolah SBI harus memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. 84 . administrator. 3. tetapi tidak toleran terhadap orang-orang yang meremehkan kualitas. pemimpin. pembaharu. Hal ini dikarenakan. Menggunakan input manajemen. Kemampuan mengambil keputusan secara terampil.Ujang Didi Supriadi Beberapa hal yang telah disampaikan di atas. 5. Kepala sekolah sebagai penanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan pada sekolah bertaraf internasional memiliki fungsi yang strategis. 7. dan keterampilan personal. Kemampuan dalam mengkoordinasikan menyerasikan sumberdaya dengan tujuan. misi. dan pembangkit motivasi. 8. Memiliki visi.

Sylviana Murni. Menciptakan sekolah belajar. melakukan analisis SWOT dan mengupayakan langkah-langkah untuk meniadakan persoalan. Menjalankan gejala empat serangkai. pada bulan Maret 2008 SMPN 115 telah melakukan kerja sama kepada Queensway Secondary School Singapore (QSS). Menggalan teamwork yang cerdas dan kompak. 85 . dan 16. 15. Gary sebagai guru ICT dan Mr.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah 10. Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam menjadikan SMPN 115 sebagai RSBI merupakan salah satu aspek penting untuk disampaikan pada makalah ini. Penandatanganan ini dilakukan oleh Kepala Sekolah Semabel's. Menerapkan manajemen berbasis sekolah. Dimana bila ditelaah melalui kebijakan pemerintah. memilih fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran. Sebagai upaya peningkatan mutu internasional. Beberapa kriteria yang disampaikan di atas bahwa Pemerintah melalui kebijakan peningkatan kualitas pendidikan yang bertaraf internasional telah membuktikan bahwa kepala sekolah merupakan salah satu komponen dalam sistem pendidikan yang menjadi faktor penentu tercapainya kualitas pendidikan bertaraf internasional tersebut. Mr. telah ditetapkan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah merupakan salah satu komponen input yang turut menentukan tercapainya kualitas pendidikan bertaraf internasional. Justin sebagai guru Bahasa Inggris. 12. Bpk. SH. Memberdayakan sekolah. Salah satu sekolah yang telah terpilih menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) adalah SMP Negeri 115 sejak tahun 2007. Ivan sebagai Pupil Development). dan dihadiri pula oleh seluruh Kepala Sekolah SMPN RSBI se-DKI Jakarta. Mendorong kegiatan-kegiatan yang kreatif. para pejabat Kodya Jakarta Selatan. Hj. Adi Dasmin dan Mr. 11. yaitu merumuskan sasaran. selanjutnya dari Dinas Pendidikan Nasional DKI Jakarta diwakili oleh Dr. Herman Cher Ma'in (Wakil Kepala Sekolah QSSS) dan disaksikan oleh 3 guru dari QSSS (Mr. MSi selaku Kepala Dinas. 13. Memusatkan perhatian pada pengelolaan proses belajar mengajar. 14.

Asks what and why (ia menanyakan apa dan mengapa). Focuses on people (terkonsentrasi pada manusia). Keberhasilan sebuah organisasi sangat bergantung dari keberhasilan peran pemimpin. An original (asli dari pemimpin). Gagasannya memiliki prespektif jangka panjang. Ia menentang status quo. 2002: 577).Ujang Didi Supriadi LANDASAN TEORI Kepemimpinan Kepala Sekolah Setiap organisasi selalu dipimpin oleh seorang pemimpin. Selain itu menurut Dubrin (2001:3) bahwa kepemimpinan itu adalah kemampuan untuk menanamkan keyakinan dan memperoleh dukungan dari anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Luthans (2002: 576) menegaskan bahwa karakteristik pemimpin di Abad XXI adalah: Innovates (menciptakan sesuatu yang baru). Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan. Ia percaya pada bawahan. Challenges the Status quo (menentang kemapanan). Kepemimpinan menurut Northouse (2003:3) merupakan suatu proses dimana individu mempengaruhi kelompok untuk mencapai tujuan umum. ia tidak puas dengan apa yang ada. Inspires trust (menghidupkan rasa percaya). dan selalu menyalakan api kepercayaan pada anggota organisasi. seorang pemimpin ada kalanya pemimpin tidak memberi kesempatan pada bawahannya untuk bertanya ataupun minta penjelasan (Authoritarian). Pemimpin memiliki karakteristik selalu memiliki upaya untuk menciptakan hal yang baru (selalu berinovasi). melalui gayanya tersebut. dan ada kalanya pemimpin itu membiarkan kondisi yang ada terserah pada bawahan (Laissez -fair) (The Iowa Leadershi Study) (Luthans. Pemimpin selalu berupaya untuk mengembangkan apa yang ia lakukan. Ia bertanya pada bawahannya dengan pertanyaan apa dan mengapa?. Own person (mengakui tanggung jawab ada pada pemimpin). Originates (memiliki keaslian). Does the right thing (mengerjakan yang benar). bertanya (Democratic). Dari aspek karakteristik dibedakan antara karakteristik pemimpin (leader) dengan karateristik manajer. Longrange perspective (memiliki prespektif jangka panjang). ada kalanya pemimpin memberi kesempatan bawahan untuk berdiskusi. Develops (mengembangkan). sehingga kepemimpinan menjadi sangat penting perannya dalam sebuah organisasi. Eye on the horizon (berpandangan sama pada sesamanya). Ia bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh bawahannya. Kepemimpinan itu ada pada diri pemimpin/manajer. dan ia mengerjakan yang benar. Gagasan-gagasan yang dimiliki oleh pemimpin merupakan gagasan sendiri tidak meniru ataupun mencontoh gaya kepemimpinan orang lain. 86 .

Studi klasik tentang teori kepemimpinan telah mengembangkan gaya kepemimpinan yang kontinum Boss-Centered dan Employee Centered. dan memecahkan permasalahan. Sebagai pemimpin. teori Kelompok dan Tukar Menukar (Group and Exchanges Theories). menjelaskan. Autocratic. Traditional Management. Networking. Participative. Supportive. teori Contingency. dan Human Resource Management. Democratic. manajer ataupun pimpinan memiliki peran (role). Pimpinan memiliki peran Interpersonal Roles. dan pengakuan terhadap kebutuhan individu dan hubungan (Consideration). Berikutnya berkembang pula gaya kepemimpinan situasional yang dikembangkan oleh Harsey dan Blanchard yang kemudian dikenal dengan Harsey dan Blanchard’s Situational Leadership Model. dan (10) mengelola konflik (Luthans. Employee-Centered. Informational Roles. Initiating Structure. (2) mengelola waktu dan stress. Sedangkan Employee Centered memiliki komponen: Theory Y. (5) memotivasi dan mempengaruhi orang lain. 87 . Gaya kepemimpinan yang mendasarkan pada dua dimensi yaitu perhatian terhadap tugas (Concern for Task) dan perhatian terhadap karyawan (Concern for People) telah melahirkan teori gaya kepemimpinan yang terkenal dengan The Blake and Mouton Managerial Grid. (4) mengakui. Kajian terhadap teori kepemimpinan terus berkembang pada teori Sifat (Trait Theories). Consideration. teori Jalur dan Tujuan (Path-Goal Leadership Theory). Human relations. Komponen dari Boss-Centered (meliputi: Theory X.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah Studi dilakukan oleh The Ohio State Leadership Study. kegiatan. (7) menetapkan tujuan dan menjelaskan visi. teori Kepemimpinan Transformasional (Transformational Leadership Theory) (Luthans. Decisional Roles. toeri Kepemimpinan Karismatik (Charismatic Leadership Theories). 2002: 579-589). Production Centered. (3) mengelola pengambilan keputusan. Directive). (8) memiliki kesadaran diri. (9) membangun kerja tim. General. Serta skill bagi pemimpin adalah: (1) komunikasi verbal. Selanjutnya penelitian dilanjutkan oleh The Early Michigan Leadership Study menunjukkan bahwa kepemimpinan itu adalah perhatian terhadap karyawan (employee-centered) dan juga perhatiannya terhadap proses produksi (production-centered). Pembahasan kepemimpinan juga dikaji tentang gaya kepemimpinan (Leadership Style). Task-directed. Close. didapatkan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa kepemimpinan ditujukan pada penyelesaian tugas atau orientasi pada sasaran (Initiating Structure). dan skill. 2002: 619627). (6) mendelegasikan wewenang. Gaya kepemimpinan tersebut telah mendasari teori Tannebaum and Schmidt Continuum of Leadership Behavior. Sedangkan kegiatan mereka adalah: Routine Communication. dimana pada akhir Perang Dunia ke 2.

Kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan diungkapkan oleh Alisjahbana (2000) memiliki dua jenis desentralisasi pendidikan. maka desentralisasi pendidikan lebih difokuskan pada reformasi 88 . Menurut Alisjahbana (2000). dan kedua. Atas dasar pengertian di atas. kata kebijakan umumnya dipakai untuk menunjukan pilihan terpenting yang diambil baik dalam kehidupan organisasi atau privat. jika yang menjadi tujuan desentralisasi pendidikan adalah peningkatan kualitas proses belajar mengajar dan kualitas dari hasil proses belajar mengajar tersebut. Implisit ke dalam strategi desentralisi pendidikan yang seperti ini adalah target untuk mencapai efisiensi dalam penggunaan sumber daya (school resources. tujuan dan orientasi dari desentralisasi pendidikan sangat bervariasi berdasarkan pengalaman desentralisasi pendidikan yang dilakukan di beberapa negara Amerika Latin. yaitu: pertama. Sehingga kebijakan bebas dari konotasi yang dicakup dalam kata politis yang sering kali diyakini mengandung makna keberpihakan dan korupsi. mengapa pemerintah mengambil tindakan tersebut. Dilain pihak. Konsep desentralisasi pendidikan yang pertama terutama berkaitan dengan otonomi daerah dan desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan dari pusat ke daerah. maka pengertian dari kebijakan pendidikan merupakan sebuah pilihan stratejik yang dilakukan pemerintah karena berkaitan dengan kepentingan masyarakat banyak di bidang pendidikan.Ujang Didi Supriadi Kebijakan Pendidikan Pengertian kebijakan publik menurut Thomas R. sedangkan konsep desentralisasi pendidikan yang memfokuskan pada pemberian kewenangan yang lebih besar pada tingkat sekolah dilakukan dengan motivasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. atau dengan kata lain kebijakan publik merupakan studi tentang apa yang dilakukan pemerintah. Dye dalam Parson (2005) adalah : “public policy is whatever governments choose to do or not to do”. dan apa akibat dari tindakan tersebut. Amerika Serikat dan Eropa. Jika yang menjadi tujuan adalah pemberian kewenangan di sektor pendidikan yang lebih besar kepada pemerintah daerah. seperti yang dikutip oleh Parson (2005). maka fokus desentralisasi pendidikan yang dilakukan adalah pada pelimpahan kewenangan yang lebih besar kepada pemerintah lokal atau kepada Dewan Sekolah. Sedangkan menurut Lasswell (1951b). desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah. dana pendidikan yang berasal yang pemerintah dan masyarakat). desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan dalam hal kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah (propinsi dan distrik).

desentralisasi pendidikan yang dilakukan di banyak negara merupakan bagian dari proses reformasi pendidikan secara keseluruhan dan tidak sekedar merupakan bagian dari proses otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah proses belajar-mengajar. Partisipasi orang tua dalam proses belajar mengajar dianggap merupakan salah satu faktor yang paling menentukan. Dalam kenyataannya. tipologi komponen-komponen sektor pendidikan yang dapat dipertimbangkan untuk didesentralisasikan dapat dilihat dalam Tabel 1 berikut: Tabel 1. Desentralisasi pendidikan akan meliputi suatu proses pemberian kewenangan yang lebih luas di bidang kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat kepemerintah lokal dan pada saat yang bersamaan kewenangan yang lebih besar juga diberikan pada tingkat sekolah Selanjutnya menurut Alisjahbana (2000). Tipologi Kewenangan-kewenangan Pendidikan yang Dapat Didesentralisasikan Sumber: Alisjahbana (2000) 89 .

dan pada awal tahun 2005 renovasi selesai dan mulai menempati gedung baru yang megah. bahkan SMP Negeri 115 Jakarta ini merupakan pemasok terbesar siswa-siswi SMA Negeri 8 Jakarta yang merupakan sekolah SMA unggulan di DKI Jakarta. Selain itu prestasi lainnya seperti di Olimpiade Sains Nasional maupun ajang kompetisi lokal dan internasional telah memotivasi sekolah ini menjadi SBI. Tekad kepemimpinan kepala sekolah berserta seluruh komponen sekolah untuk menjadikan SMPN 115 sebagai sekolah bertaraf international tidak saja direalisasikan dalam pengadaan berbagai fasilitas. maksudnya adalah sekolah ini memiliki kelas berstandar pendidikan internasional yang ditunjukan dengan penyelenggaraan pendidikan beserta segala aspek intensitas dan kualitas layanan yang ditata secara efektif. SMP Negeri 115 Jakarta atau sering disebut SMABELS. ditambah konsep pembelajaran berwawasan global yang bertujuan mengembangkan potensi diri peserta didik. telah menempatkan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 115 Jakarta sebagai 'prototype' Rintisan Sekolah Bertaraf International (RSBI). sarana dan prasarana. Pemerintah menetapkan SMPN 115 Jakarta sebagai salah satu Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). profesional untuk mencapai keunggulan mutu pendidikan baik nasional maupun internasional dengan karakteristik seperti penggunaan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya sebagai bahasa pengantar secara aktif dan penggunaan ICT (Information and Communication Technology) dalam pembelajaran.Ujang Didi Supriadi PEMBAHASAN Kepemimpinan Kepala Sekolah SMP N 115 dalam Membangun RSBI SMP Negeri 115 Jakarta merupakan sekolah yang berdiri sejak tahun 1978. Prestasi yang diraih adalah sebagai sekolah dengan rata-rata nilai UAN tertinggi di DKI Jakarta selama 3 tahun terakhir. Selama dua setengah tahun renovasi gedung itu berjalan. Sekolah ini berlokasi di Jalan Tebet Utara III Jakarta Selatan. telah tercatat berbagai prestasi yang telah diraih oleh siswa-siswinya. Setelah berjalan 20 tahun gedung yang ditempati SMP Negeri 115 Jakarta akhirnya direnovasi oleh Pemda DKI Jakarta yaitu pada tahun 2001. Kombinasi prestasi akademik dan non akademik. Dari tahun-ke tahun hingga kini banyak lulusan SD se-DKI Jakarta yang berlomba-lomba ke SMP Negeri 115 Jakarta Sejak tahun 2008. Tapi juga diimplementasikan dalam manajemen sekolah (pendidikan) yang di dalamya 90 . Hal ini tentu tak terlepas dari pembinaan para guru dan kepemimpinan kepala sekolah.

pemberdayaan peran guru sangat dimaksimalkan dimana para guru harus memahami situasi dan prestasi anak didik sehingga semua permasalahan yang muncul di kelas harus segera ditangani secara bersama. SDM (guru dan tenaga kependidikan) pemanfaatan fasilitas. Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan di atas. SMPN 115 telah menyelenggarakan proses pembelajaran dengan orientasi prestasi. Seluruh siswa dan siswi memiliki kesempatan sama besarnya untuk berprestasi baik di dalam dan di luar pelajaran. Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Luthans (2002: 576) bahwa salah satu karakteristik pemimpin di Abad XXI adalah memiliki prespektif jangka panjang (Longrange perspective). unggul dalam prestasi akademik dan non akademik melalui peningkatan ketaqwaan. orkestra & paduan suara) telah mencapai juara I Pop Song Interasional. Guna mencapai visi tersebut. moral. Artinya. Untuk mendukung prestasi sekolah. Kepemimpinan Kepala Sekolah memiliki visi bahwa konsep SBI sesungguhnya telah sejalan dengan visi dan misi SMPN 115 yaitu menjadikan peserta didik yarig cerdas dan kompetitif di tingkat nasional maupun international. kepemimpinan kepala sekolah mencoba melakukan pendekatan kepada seluruh siswa selama di sekolah dengan menempatkan wali kelas dan guru pendamping untuk memantau proses belajar mengajar. untuk menuju sekolah internasional juga diimplementasikan melalui penerapan Kelas Bilingual dan Kelas Internasional yang diisi oleh siswasiswi pilihan dan dalam proses belajar mengajar dominan menggunakan bahasa asing. tari. termasuk memberikan dukungan penuh kepada siswa dalam upaya meraih 2 medali di Olimplade Sains Nasional 2007 di Surabaya Jawa Timur. metode. perpustakaan. Selain itu pula telah berhasil dalam kejuaraan olahraga yang membawa SMPN 115 juara lomba renang tingkat regional di Thailand. misalnya pengadaan laboratorium IPA. Sejak berdiri 1978 sebagai sekolah reguler. pengembangan diri dan kemampuan menguasai iptek di era globalisasi. sarana olahraga dan kreativitas seni. Selaku kepala sekolah. kepemimpinan kepala sekolah sangat menekankan pada kelengkapan fasilitas belajar dan mengajar. laboratorium bahasa.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah mencakup kurikuluin. Selain itu. kepemimpinan kepala sekolah SMP N 115 tidak 91 . Untuk prestasi di luar pelajaran (ekstra kurikuler) seperti lewat pentas seni (band. terlihat bahwa kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki visi prestasi hingga mencapai tingkat internasional akan mampu mendorong sekolah untuk mewujudkan visi tersebut.

Pada Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) juga disampaikan bahwa di semua sekolah yang telah bertarafkan internasional. keterampilan dalam berbagai bidang. Untuk mendukung kualitas sekolah. kepemimpinan kepala sekolah dapat menjalin komunikasi dan kerja sama kepada sekolah berskala internasional di Singapura. diantaranya adalah pelatihan. yaitu Queensway Secondary School Singapore (QSS). Di dalam hal tingkat pendidikan yang harus ditempuh. kepribadian. Upaya pencapaian visi tersebut tidak hanya terbatas dalam prestasi akademik dan non-akademik. kepemimpinan kepala sekolah telah pula menjalankan fungsi Networking dengan melakukan kerja sama kepada sekolah internasional yang berbasis di Singapura. komunikasi.Ujang Didi Supriadi hanya ingin mencapai prestasi di tingkat nasional. dan sebagainya. namun visi membangun prestasi sekolah yang unggul telah diinspirasikan untuk jangka panjang jauh sebelum pemerintah mengeluarkan kebijakan SBI. manajemen ISO 9000:2001. Kebijakan Pemerintah dalam Mengembangkan Kepemimpinan Kepala Sekolah pada Sekolah Bertaraf Internasional Kebijakan pemerintah dalam kualifikasi kepemimpinan kepala sekolah pada SBI diterangkan pada Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) telah dituliskan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah yang memimpin SBI adalah kepala sekolah dengan tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. Sehingga adanya kebijakan baru tentang SBI telah memudahkan SMP N 115 dalam meraih predikat tersebut. melakukan kerja sama dengan lembaga lain. Sehingga karakteristik kepala sekolah yang tangguh dan berwawasan internasional dapat tercapai secara bertahap dan berkelanjutan. kepala sekolah yang bertaraf internasional harus memiliki tingkat pendidikan minimal S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A. Kerja sama ini dilakukan sebagai upaya untuk saling tukar-menukar informasi dalam menjalankan manajemen pendidikan. penguasaan teknologi informasi dan telekomunikasi. 92 . memiliki kewajiban dalam upaya meningkatkan kapasitas kepala sekolahnya melalui berbagai kegiatan. bahasa Inggris. Adapun materi pengembangan kapasitas tersebut diantaranya dalam hal kemampuan intelektualitas. Persyaratan ini telah dipenuhi oleh Kepala Sekolah SMPN 115 Jakarta yang telah menempuh pendidikan pasca sarjana (S2) dan kemampuanya dalam berbahasa Inggris. Sehingga melalui kemampuannya dalam berbahasa Inggris tersebut. dan sebagainya. menajemen. magang. sehingga kedua sekolah dapat saling belajar keunggulan-keunggulan yang dimiliki.

Demikian halnya dalam mencapai tujuan organisasi pendidikan yang diarahkan memiliki taraf kualitas internasional. kebijakan pendidikan dalam upaya mewujudkan sekolah yang berstandarkan internasional melalui peningkatan peran kepemimpinan kepala sekolah. Pada dimensi ini peran pemerintah (baik pusat maupun daerah) memberikan kebijakan sebagai arah masa depan pendidikan sehingga format pendidikan secara nasional memiliki keseragaman yang akan dicapai. dan peran sekolah melalui kepemimpinan kepala sekolah dalam menjalankan kebijakan sekolah bertaraf internasional. penempatan/pengangkatan. yaitu peran pemerintah sebagai payung kebijakan pengembangan pendidikan bertarafkan internasional. Kebijakan pemerintah dalam memberikan kualifikasi kepemimpinan kepala sekolah dalam memimpin sebuah sekolah yang bertarafkan internasional telah mendukung percepatan pencapaian tujuan yang ingin dicapai. maka dapat dilakukan dengan menerapkan kebijakan desentralisasi. Dalam hal ini peran kepemimpinan kepala sekolah sangat dominan dalam membawa sekolah menuju prestasi internasional. Selanjutnya pada dimensi kedua. Di dalam penerapannya. yaitu: pertama.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah Selain itu. seperti yang telah dijalankan oleh SMPN 115 Jakarta. Seperti yang telah diungkapkan oleh Alisjahbana (2000). Peran tersebut harus mengedepankan aspek profesionalitas dan kualitas dalam pengembangan kepemimpinan kepala sekolah bertaraf internasional. desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan dalam hal kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah (propinsi dan distrik). peran Dinas Pendidikan Kabupaten dan Provinsi dalam meningkatkan kapasitas kepala sekolah dapat dilakukan sebagai pembinaan. 93 . Desentralisasi pendidikan tersebut telah membagi dua peran yang saling menunjang. adalah desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah. KESIMPULAN Kepemimpinan memiliki peran yang paling strategis dalam mencapai tujuan organisasi. pembimbingan. dan pengarahan. dalam kebijakan di bidang pendidikan memiliki dua jenis desentralisasi pendidikan.

2003.G. Parsons. Departemen Pendidikan Nasional. Ninth Edition. 2000. Singapore: McGrawHill International Editions Northouse. P. Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan. Boston: Houghton Mifflin Company. Third Edition. Dokumen: Panduan Pelaksanaan Pembinaan Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraf Internasional (SMP-SBI). 2001. 2002. Tahun 2008.Public Policy: Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan. Leadership: Research Findings. Luthans. A. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.Ujang Didi Supriadi DAFTAR RUJUKAN Alisjahbana. 94 . J. Organizational Behavior. Wayne. Third Edition. Fred. New Delhi: Response Book. and Skills. Armida S. Makalah untuk disampaikan pada Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung. Dubrin. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama. 2005. Jakarta: Penerbit Kencana. Practices. Leadership: Theory and Practice.

PMPTK Depdiknas Abstrak Kajian tentang Professional Learning Community (PLC) atau Komunitas Pembelajaran Profesional (KPP) telah dilakukan oleh peneliti pendidikan dan dipublikasikan dalam beberapa jurnal ilmiah. inovasi sekolah. Hasil-hasil kajian sekolah telah banyak digunakan pengambil kebijakan untuk menentukan arah pembangunan pendidikan 95 . Siswa belajar ilmu-ilmu pelajaran untuk bekal hidup. 4. de-privatization of practice. guru. Siswa. Kajian tentang school effectiveness berkembang cukup pesat sebagai usaha mengkaji keefektifan sekolah. dan kepala sekolah belajar dalam memimpin pembelajaran (leading in learning). tenaga administrasi dan seluruh warga sekolah sudah seharusnya terus belajar dan mengembangkan diri menjadi pembelajar agar keberhasilan sekolah terwujud. collaboration dan shared norms and values. guru-guru belajar dari kegiatan mengajarnya (teaching for learning). Dari beberapa kajian tersebut karakteristik KPP yang mendukung keberhasilan pembelajaran adalah adanya reflective dialogue. Karenanya. pembelajaran. Kata Kunci: Komunitas pembelajaran profesional. Berbagai kajian telah dilakukan untuk menilai keberhasilan sekolah baik dari prestasi siswa maupun pengembangan profesi guru dan tenaga kependidikan yang ada di dalamnya.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. Kepala sekolah dituntut untuk menjadi pemimpin pembelajaran dalam artian bahwa semua warga sekolah dipimpin untuk terus meningkatkan mutu pembelajaran mereka. peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah cukup strategis dalam mengembangkan KPP sekaligus mengembangkan kompetensi sesuai tuntutan peraturan dan tuntutan perubahan zaman. Selama tiga puluh tahun belakangan ini kajian tentang KPP terus dilakukan sebagai upaya pengembangan dan inovasi sekolah. No. pemimpin PENDAHULUAN Sekolah merupakan tempat transaksi pembelajaran berlangsung. April 2009 PEMIMPIN KOMUNITAS PEMBELAJARAN Zainun Misbah Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen. Meski demikian penelitian tentang efek KPP terhadap nilai siswa belum banyak dilakukan. 1. collective focus on student learning.

demikian juga mengembangkan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan lainnya. engage in 96 . (4) kepemimpinan kepala sekolah. Borman & Fermanich. PENGERTIAN PROFESSIONAL LEARNING COMMUNITIES Ada banyak definisi yang berbeda tentang Professional Learning Community (PLC). (5) pengembangan guru dan staf. Wenger (2000. level sekolah ataupun lingkup nasional. (8) penghargaan dan insentif. relevansi dan daya saing pendidikan. dan (11) akuntabilitas sekolah. Ke-11 karakteristik tersebut saling mendukung dalam mendorong terselenggaranya proses pembelajaran yang efektif di sekolah (Direktorat Tenaga Kependidikan. Lebih lanjut. Marks. yakni deprivatized practice and reflective dialogue (dalam Grodsky & Gamoran. (3) pemantauan terhadap kemajuan siswa. serta penguatan tata kelola. Kajian ini menyimpulkan berbagai karakteristik proses sekolah efektif meliputi: (1) perencanaan dan pengembangan sekolah. Diharapkan dengan semakin banyaknya referensi tentang komunitas pembelajar profesional dapat meningkatkan upaya inovasi pendidikan di Indonesia sehingga terjadi akselerasi peningkatan mutu pendidikan dengan mempertimbangkan perluasan dan pemerataan akses pendidikan. 2004) menjelaskan professional community sebagai : “possessing three general traits in which teachers pursue a shared sense of purpose for student learning. 2003). peningkatan mutu. Newman dan Wehlage (dalam Oden. Hord (1997) menyatakan bahwa “professional learning communities can be a significant force for empowering staff that leads to school change and improvement and increased student outcomes. Pada beberapa tahun belakangan ini. (9) tata tertib dan kedisiplinan.Zainun Misbah baik di tingkat individu peserta didik.” Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji tentang komunitas pembelajar professional dari beberapa literatur dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. 229) menyatakan bahwa ‘that professional communities share cultural practices reflecting their collective learning process’. (5) pengembangan siswa. level kelas. (10) pengelolaan kurikulum. akuntabilitas dan pencitraan publik. tulisan ini juga mencoba menggali peran kepala sekolah yang cukup strategis dalam mewujudkan KPP dan memimpin organisasi pembelajar. KPP dipandang sebagai salah satu proses dalam pengembangan sekolah yang dapat memperbaiki sistem pengajaran di kelas. (2) iklim dan budaya sekolah. 2008). Louis. and Kruse (1996) mengemukakan ada dua hal penting dalam komunitas professional. (7) pemberdayaan orang tua dan masyarakat. kajian tentang Professional Learning Community (PLC) atau Komunitas Pembelajaran Profesional (KPP) secara kualitatif dan kuantitatif terus dilakukan.

• 97 . 2. Adanya pengajaran secara berkelompok yang terjadi Adanya kerjasama yang terjadi diantara berbagai peran yang berbeda (contohnya guru dengan staf pendukung). • • • Perencanaan tim dan kerjasama tim adalah suatu hal yang biasa terjadi.Pemimpin Komunitas Pembelajaran collaborative activities to achieve this purpose. baik di dalam dan di luar lingkungan terdekat mereka. yang mendukung dan bekerjasama satu sama lain. and take collective responsibility for student learning”. adanya budaya kerjasama. yang didorong oleh motivasi pembelajaran yang sama. Dengan demikian dalam suatu KPP terdapat tanggung jawab bersama dalam meningkatkan pembelajaran siswa. Stoll dkk (2005) mengidentifikasi karakteristik dari KPP yang dapat meningkatkan proses pembelajaran adalah sebagai berikut: 1. mencari tahu mengenai praktek-praktek pembelajaran mereka dan bersama-sama mempelajari pendekatan yang baru dan yang lebih baik yang akan meningkatkan pembelajaran seluruh siswa’. menemukan solusi. Adanya kolaborasi yang terjadi di seluruh sekolah dan juga kerjasama antar bidang pelajaran yang diperlukan. Ada pernyataan mengenai nilai-nilai yang dikembangkan bersama dan dipahami oleh semua. serta kerterbukan dan sharing terhadap praktekpraktek pembelajaran yang dilakukan untuk evaluasi dan peningkatan dan penjaminan mutu. Kesamaan visi dan nilai • • Adanya fokus yang sama terhadap pembelajaran siswa dan keterlibatan mereka. Tanggung jawab bersama atas pembelajaran siswa. jadi tidak hanya pada peran yang sama. Stoll dkk (2005) menyatakan bahwa ‘komunitas pembelajaran profesional adalah komunitas terbuka yang melibatkan semua orang. Kesemuanya itu bermuara pada memfasilitasi siswa belajar dengan lebih baik. • Staf mempunyai harapan yang tinggi terhadap siswa. adanya refleksi dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan. • Ada budaya peningkatan yang tampak jelas. • Staf secara bersama-sama bertanggung jawab atas pembelajaran siswa. Ada tekanan dari teman sebaya pada mereka yang tidak mengerjakan bagiannya dengan baik. adanya kesamaan nilai dan norma yang berlaku. • 3. Kerjasama yang bertujuan pada pembelajaran.

Zainun Misbah 4. proyek penelitian dan pengembangan. pertambahan nilai dan penilaian untuk pembelajaran. institusi pendidikan yang lebih tinggi dan badan-badan lainnya. dan penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning). Pencarian profesional yang penuh pemikiran • • Refleksi terhadap praktek-praktek dihargai Penelitian dan inkuiri mempengaruhi pengajaran dan pembelajaran. kreatif dan berani mengambil resiko sangat didukung. jaringan dan kemitraan • • • Inisiatif dari luar digunakan untuk menganalisa apa yang terjadi di dalam Semua orang terbuka akan perubahan Staf secara aktif terlibat dalam kemitraan dengan pihak eksternal dan jaringan pembelajaran dengan sekolah. Staf mengambil tanggung jawab bersama untuk mempromosikan dan mendukung pembelajaran satu sama lain. dan penelitian tindakan. evaluasi diri. evaluasi diri. Contohnya: pengamatan timbal balik. Masukan dari siswa sangat dihargai. Terdapat pembelajaran kelompok dan individual yang profesional • • Semua staf termasuk staf pendukung terlibat dan menghargai pembelajaran profesional Ada sejumlah kegiatan pembelajaran professional dan perkembangan berkesinambungan yang berlangsung. lokakarya. Keterbukaan. contohnya hasil penilaian. Data dianalisa dan digunakan sebagai bahan pemikiran dan perkembangan. memandu pembelajaran siswa dan lainlain. Latihan yang penuh pemikiran sangat dihargai. contohnya tutor sebaya. pusat pelatihan. • Masukan (input) dari siswa sangat dihargai. • • 6. dan penelitian tindakan. forum pembelajaran. contohnya hasil penilaian. Data dianalisis dan digunakan sebagai bahan refleksi dan pengembangan. nilai tambah (value-added). Pemikiran yang inovatif. demonstrasi pembelajaran. 5. • • • • • 98 . Penelitian dan pencarian mempengaruhi pengejaran dan pembelajaran sebagai contoh pengamatan mutual.

rasa hormat. Pengawas atau anggota komite sekolah terlibat dalam KPP. Keanggotaan yang inklusif • • • Staf pendukung dihargai sebagai anggota yang memberi kontribusi kepada KPP.Pemimpin Komunitas Pembelajaran 7. Rasa percaya. manfaat yang bisa diperoleh dengan terciptanya komunitas pembelajaran di sekolah diantaranya terciptanya iklim pembelajaran yang kondusif. 8. bukan hanya komunitas-komunitas kecil yang banyak. adanya peningkatan kompetensi kepemimpinan. Ada satu kumunitas besar yang melibatkan seluruh staf disekolah. dan dukungan yang mutual • • • • Hubungan kerja bersifat positif. Stoll dkk (2005) menyarankan langkah-langkah untuk mengembangkan KPP adalah sebagai berikut: 1. fasilitasi pembelajaran peserta didik yang lebih baik. atau koles. ruang dan pengembangan KPP. pendanaan digunakan untuk mendukung 99 . Mengoptimalisasikan sumber daya dan struktur untuk mempromosikan KPP • Waktu. adanya upaya inovasi sekolah dalam perbaikan pembelajaran. Sumber daya sekolah dapat secara sinergis bekerjasama dan berkolaborasi menuju cita-cita yang sama dengan merefleksikan dan mendiskusikan masalah-masalah dan mencari solusi secara bersama-sama. Upaya terbaik dari pada staff dan guru sangat dihargai Staf merasa kompeten. Sebagai inti dari konsep komunitas pembelajaran professional adalah berasal dari asumsi pada premis meningkatkan kualitas belajar siswa dari kualitas pengajaran di kelas. KOMUNITAS PEMBELAJARAN PROFESIONAL BAGI MANFAAT SEKOLAH Stoll dkk (2005) menyatakan bahwa komunitas pembelajaran professional yang efektif mempunyai kemampuan untuk mendorong dan mempertahankan pembelajaran dari semua profesional di komunitas sekolah dengan tujuan bersama untuk meningkatkan pembelajaran siswa. dan lain sebagainya yang masih terus dikaji oleh para peneliti pendidikan. pusat. Ada rasa percaya dan hormat yang mutual. Manfaat adanya komunitas pembelajaran profesional tersebut akan dirasakan jika tahapan-tahapan dalam mengembangkan KPP dilaksanakan dengan sungguhsungguh. Karenanya.

Zainun Misbah

• •

Gagasan mengenai KPP disertakan dalam dokumem-dokumen kebijakan dan rencana-rencana pengembangan. Ruangan staf, ruang kerja staf dan ruang belajar digunakan untuk pembinaan dan pembelajaran masyarakat.

2.

• ICT digunakan untuk meningkatkan komunikasi yang lebih efektif. Mempromosikan pembelajaran yang profesional • • Perkembangan yang professional dikoordinasikan untuk mempromosikan pembelajaran semua staf. Manajemen atau penilaian kinerja, induksi, profil perkembangan professional, dan mentoring bersifat konsisten dengan nilai-nilai untuk menggembangkan KPP.

• • 3.

Ada penekanan terhadap latihan dan pemahaman bersama. Ada dukungan yang diberikan untuk membantu mengembangkan strategi dan keahlian pembelajaran dan pengajaran. Mengevaluasi dan Mempertahankan KPP • Pengembangan dan kemajuan KPP diawasi secara teratur. • • • Adanya pembahasan yang jelas mengenai KPP beserta tujuan dan pengembangannya. Nilai-nilai KPP dipertimbangkan saat membuat pilihan untuk merekrut dan memberhentikan staf. Perhatian diberikan terhadap masalah-masalah yang menghalangi pengembangan KPP. memberikan

• 4.

Teman-teman yang kritis diundang untuk masukan/pandangan dari luar. Memimpin dan Mengelola untuk mempromosikan KPP

• • • • •

Pemimpin memusatkan perhatian pada pembelajaran untuk semua. Pembinaan kepercayaan dan merayakan keberhasilan menjadi prioritas. Pemimpin selalu melakukan pencarian pengetahuan dan mendorong hal ini pada yang lain. Pemimpin memberikan contoh pembelajaran dan melatih rekanrekannya.

Kepemimpinan dalam pembelajaran disebarkan di seluruh sekolah, pusat pelatihan atau institusi pendidikan. Dengan mengembangkan KPP, kepala sekolah dapat menemukan kepuasan yang mendalam karena seluruh warga sekolah memiliki tanggungjawab kolektif untuk keberhasilan siswa dan keberhasilan sekolah. Setiap warga sekolah memiliki 100

Pemimpin Komunitas Pembelajaran

kesadaran bahwa mereka memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil kerja siswa dan juga sadar atas peran mereka dalam membantu siswa mencapai harapannya. Kepala sekolah juga dapat terus mengembangkan kompetensinya dalam mengelola administrasi dan komunitas sekolah, memperbaiki sistem pembelajaran di kelas, dan juga mengembangkan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosialnya secara terintegrasi. Kepala sekolah memiliki peran penting dalam mengembangkan KPP, utamanya dalam mendorong perubahan agar senantiasa terdapat kesempatan refleksi dalam pembelajaran baik oleh siswa, guru maupun kepala sekolah; meningkatkan budaya kolaborasi dan kerjasama warga sekolah, semakin memfokuskan pada pembelajaran siswa, dan kesamaan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di sekolah. Inovasi sekolah juga akan lebih cepat berkembang dengan adanya KPP karena salah satu karakteristik KPP adanya shared vision dan value. Sejalan dengan Gladwell (2002), bahwa komunitas akan merubah nilai dan pandangan individu, “karena ketika orang dimintai pendapat tentang suatu kejadian atau harus membuat keputusan dalam suatu kelompok, mereka cenderung memberikan kesimpulankesimpulan sangat berbeda dibanding ketika pertanyaan serupa diajukan kepada tiap orang sesudah tidak bersama kelompoknya lagi. Begitu kita menjadi bagian sebuah kelompok, kita semua rentan terhadap tekanan dan norma-norma sosial serta bermacam-macam pengaruh lain yang dapat berperan penting dalam proses awal perubahan (sekolah).” KOMUNITAS PEMBELAJARAN PROFESIONAL DI INDONESIA Budaya organisasi dan berkumpul dan bekerja secara bersama-sama ini cukup kental di Indonesia. Dalam konteks dunia pendidikan di Indonesia, komunitas pembelajaran kepala sekolah terlihat dalam wadah semisal Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) dan lain-lain. Para kepala sekolah dalam satu wilayah mengadakan pertemuan dan merefleksikan peran dan tanggung jawab mereka, dan masalah-masalah yang dihadapi dalam melaksanakan peran tersebut. Namun demikian banyak pihak yang menganggap forum tersebut belum dapat dioptimalkan dan diberdayakan dengan baik karena diantaranya permasalahan dana, terbatasnya kemauan dan kemampuan sumberdaya manusia, kurangnya pemahaman pentingnya jejaring dan komunitas pembelajaran profesional, dan lain sebagainya.

101

Zainun Misbah

MKKS & KKKS, sebagai contoh KPP di Indonesia, perlu diefektifkan lagi agar manfaat yang diperoleh semakin nyata. Stoll dkk (2005) menunjukkan tiga cara menentukan keefektifan dari KPP adalah sebagai berikut: KPP mempunyai dampak pada pembelajaran siswa dan pengembangan sosial KPP mempunyai dampak pada semangat dan tindakan staf, dengan potensi untuk mengembangkan kemampuan memimpin. 3. Semua karakteristik KPP ada pada tempatnya dan semua proses berjalan lancar yang merupakan bagian dari ’cara kami melakukan sesuatu’. Selain aktif dalam komunitas pembelajaran profesional dalam skala distrik (district based level) seperti dalam MKKS dan organisasi kepala sekolah, kepala sekolah perlu membangun komunitas pembelajaran profesional di sekolahnya. Kepala sekolah memimpin warga sekolah untuk mengidentifikasi apa yang kurang di sekolahnya, dan apa yang perlu ditingkatkan. Kegiatan dilanjutkan dengan melakukan refleksi dan berbagi dengan warga sekolahnya sehingga semua warga sekolah mempunyai rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap mutu sekolah. Namun perlu disadari bahwa membangun KPP diperlukan waktu yang cukup lama untuk membangun keterbukaan, kepercayaan, fokus yang sama dan karenanya tidak bisa dilakukan secara instant. Kepala sekolah perlu ’mempelajari proses dan manejemen perubahan’, tidak hanya mengharapkan sekolah berubah ke arah yang lebih baik, tetapi terus ’berusaha dan mencari’. KESIMPULAN DAN SARAN Pemerintah telah berupaya memfasilitasi peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi tenaga kependidikan dengan berbagai upaya. Komunitas Pembelajaran Profesional untuk meningkatkan mutu sekolah perlu terus diupayakan baik di tingkat sekolah maupun antar sekolah. Kalaupun sudah terbentuk wadah-wadah pertemuan untuk jejaring kerja pendidik dan tenaga kependidikan seperti MKKS, MGMP, MKPS dan asosiasi profesi tenaga kependidikan, perlu kiranya ditingkatkan dan diberdayakan lagi dengan mengingat konsep dan karakteristik-karakteristik KPP. Komunitas Pembelajaran Profesional pada level sekolah juga perlu diupayakan, dan tentunya peran kepala sekolah sangat penting dan strategis dalam mengimplementasikan konsep KPP di sekolahnya. Pengambil kebijakan sudah semestinya mendukung dan mendorong upaya sekolah mewujudkan KPP. Kajian tentang KPP pun perlu terus dilakukan dan disebarluaskan agar percepatan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dapat segera terlihat dan terukur. 1. 2.

102

Pemimpin Komunitas Pembelajaran DAFTAR RUJUKAN DuFour. (2002). (2005). December 26 – 30.M. (2008). Stoll.pdf Wenger. 103 . S. Gladwell. & Hord. 225 – 246). Tipping Point. Gramedia : Jakarta. Depdiknas : Jakarta. Organization: the interdisciplinary journal of organization. M. S. Hirsh. University of Bristol.k12. R. 6-11.. Creating and Sustaining Effective Professional Learning Communities.us/education/PLC/Prof_Lrng_Community.gop. Communities of practice and social learning systems. dkk. E. Available at http://schools. Kumpulan Materi Pembekalan Fasilitator Program Kemitraan Kepala Sekolah Angkatan VI Tahun 2008. 7 (2). Principal Leadership. DfES Research Report RR367. (2000). theory and society.ca. Organization articles.uk/research/data/uploadfiles/RR637. (2004). What is professional learning community? In: Schools as learning communities.fsusd. Leader and Learning.dfes.pdf Direktorat Tenaga Kependidikan (2008). Available at www.

Peringkat 3 (Hanya awal kata huruf besar. Peringkat 2 (Hanya awal kata huruf besar. 4. 5. Artikel yang ditulis untuk Jurnal Tenaga Kependidikan meliputi hasil pemikiran dan hasil penelitian di bidang tenaga kependidikan. 3. dan tujuan penelitian. miring (italic) dan rata tepi kiri. tebal. Peringkat 1 (huruf besar semua. metode penelitian. sedangkan penulis lainnya dicantumkan pada bagian bawah halaman pertama artikel. nama penulis (tanpa gelar). Penutup atau Kesimpulan. dan ruang lingkup penulisan. yang dicantumkan cukup penulis utamanya saja. tujuan penulisan. cetak tebal. ukuran 12 pts. 8. Sistematika artikel hasil penelitian: judul. Daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk saja). nama penulis (tanpa gelar). abstrak (maksimal 100 kata). 104 2. dicetak pada kertas A4 maksimal 20 halaman. abstrak (maksimal 100 kata) yang berisikan tujuan penelitian. Jika penulis empat orang atau lebih. . 7. Penulis disarankan menuliskan alamat e-mail dan nomor telepon atau handphone pada halaman terakhir artikel untuk memudahkan komunikasi.com Nama penulis artikel dicantumkan tanpa gelar akademik dan ditempatkan di bawah judul artikel. Judul artikel dicetak tebal dan huruf besar semua.5.PETUNJUK BAGI PENULIS ARTIKEL 1. ukuran 12 pts dan dicetak tebal. sedikit tinjauan pustaka. di tengah-tengah dengan huruf Times New Roman. diserahkan dalam bentuk printout sebanyak 2 eksemplar beserta disketnya atau dibuat dalam bentuk file dengan Microsoft Word (MS) dan dikirimkan ke alamat e-mail: jurnaltendik@yahoo. ukuran 14 pts. hasil penelitian. rata tepi kiri. Naskah diketik dengan huruf Times New Roman. dengan spasi 1. cetak tebal. 6. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan huruf Times New Roman. Pendahuluan (tanpa judul) berisikan latar belakang. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan format esai. kecuali bagian pendahuluan disajikan tanpa judul bagian. Bahasan utama (dapat dibagi ke dalam beberapa subbagian). disertai judul pada masing-masing bagian artikel. Pada judul bagian tidak menggunakan sistem angka/nomor. kata kunci maksimal enam kata. dan kata kunci maksimal enam kata. rata tepi kiri. Pendahuluan (tanpa judul) berisikan latar belakang. Sistematika artikel hasil pemikiran: judul.

K.C. Artikel dalam Majalah Surya Dharma. Metode penelitian. Buku dalam Kumpulan Artikel Leitwood. Ginnett.A. Agustus:1-13. Vol.J. Fatal Jika Tenaga Kependidikan Bermutu Rendah dalam Forum Tenaga Kependidikan. Kesimpulan dan saran. Buku Hughes. 2007. & Posner. Tantangan kepemimpinan. J. No. G.New York: McGraw-Hill Irwin. Artikel dalam Koran Bro. B. April: 14-16. 1.L. R. Daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk saja). & Curphy. Satu spasi. Buku Terjemahan Kouzes. Kompas. Edisi 1. 2.1999.Z. 1999.M. 2007. Transformation School Leadership in a Transactional Policy World.9. Leadership Enchancing the Lessons of Experience. Dokumen Resmi Peraturan Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. Mobil untuk Kepala Sekolah. Vol. Dalam M. Terjemahan oleh Anton Adiwiyoto. hlm 22. Fullan (Editor). Jakarta: Interaksara. 1. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Artikel dalam Koran (tanpa nama pengarang) Kompas. Tajuk Rencana Pendidikan Sangat Penting untuk Bangsa. Artikel dalam Jurnal Surya Dharma. The Jossey-Bass Reader on Educational Leadership (hlm. Hasil penelitian dan pembahasan. 2006. 3 Mei 2005.. Daftar rujukan disusun dengan tata cara seperti contoh berikut ini dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis. R. 183-196). 2007. Februari. Kepemimpinan Pengawas Sekolah: Mengembangkan Budaya Tanggung Jawab dalam Jurnal Tenaga Kependidikan. 2004. 105 .

” atau Hunsaker (2001) menyatakan. Model Pendidikan Kecakapan Hidup Berbasis Masyarakat Pedesaan sebagai Usaha Pengentasan Kemiskinan di Wilayah Kabupaten Kulon Progo DIY. (http://www. ”Managers can be leaders. Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan. Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. kalimat dikutip sesuai dengan aslinya diberi tanda petik di awal dan diakhir bagian yang dikutip. 106 . Tata cara mengutip langsung empat baris atau lebih. 2001). Internet (artikel dalam jurnal online) Surya Dharma & Husaini Usman. such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting. but leaders do not have to be manager. 10.id. The role of supervisor has many dimensions or facets. Tesis. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. 1. dan Masyarakat. Kemitraan sinerjis Perguruan Tinggi. satu spasi. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Tahap II. Tata cara mengutip langsung kurang dari lima baris. and for this reason supervision often overlaps with administrative.” atau ”Managers can be leaders. 2007. No.Skripsi. Pemda. 2007.malang. dibuat alinia baru. dan tanpa tanda petik.ac. Contoh: Menurut Hunsaker (2001). Disertasi. Jurnal Ilmu Pendidikan. atau Wiles & Bondi (2007) menyatakan: 11. but leaders do not have to be manager. curricular. ”Managers can be leaders.” (Hunsaker. (Online). menjorok ke dalam lima ketukan. and instructional functions. but leaders do not have to be manager. dan Laporan Penelitian Husaini Usman dan Darmono. Contoh: Menurut Wiles & Bondi (2007). Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan. diakses 8 Januari 2008). Jilid 16. Tidak Diterbitkan.

such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting. curricular. such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting (Wiles & Bondi. Penulis artikel diberi kesempatan untuk memperbaiki artikelnya atas dasar saran dari mitra bestari. (2) pengembang kurikulum. (5) pengembang personil sekolah. atau Ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. (3) spesialis pembelajaran. dan (8) evaluator. kalimat yang dikutip langsung ditulis dalam kalimat penulis tanpa tanda petik. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya. Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan. 13. Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. Contoh: Menurut Wiles & Bondi (2007). 14. (7) manajer perubahan. (7) manajer perubahan. Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. dan (8) evaluator. ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. (3) spesialis pembelajaran. (4) pekerja hubungan manusiawi. 2007). and for this reason supervision often overlaps with administrative. (5) pengembang personil sekolah. 2007). (2) pengembang kurikulum. (5) pengembang personil sekolah. (4) pekerja hubungan manusiawi. (2) pengembang kurikulum. curricular. and for this reason supervision often overlaps with administrative. (7) manajer perubahan. atau Wiles & Bondi (2007) menyatakan bahwa ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. Cara mengutip tidak langsung. and instructional functions. dan (8) evaluator (Wiles & Bondi. Semua artikel ditelaah secara anonim oleh mitra bestari (reviewers) yang ditunjuk. (3) spesialis pembelajaran. atau The role of supervisor has many dimensions or facets. (4) pekerja hubungan manusiawi. (6) administrator. (6) administrator. The role of supervisor has many dimensions or facets.12. 107 . (6) administrator. and instructional functions.

kepada penulis diberikan satu eksemplar dan penghargaan. Artikel yang tidak dimuat akan dikembalikan jika ada permintaan tertulis dari penulis. Artikel yang dimuat. Semua kata asing diketik miring (italic) 108 . 17. 16.15.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful