Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 4, No.

1, April 2009

PENGANTAR REDAKSI

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen PMPTK dapat menerbitkan Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 4, No. 1, April 2009. Tujuan diterbitkannya jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dan opini tentang tenaga kependidikan. Dengan berbagi informasi ini diharapkan terjadi pertukaran informasi informasi antar penulis, pembaca, dan pembuat kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu tenaga kependidikan secara terus-menerus. Jurnal edisi ini diawali dengan artikel yang ditulis Sujono Surokarijo berjudul, ” Korelasi antara Kepemimpinan Demokratis Kepala Sekolah dengan Kepuasan Kerja Karyawan Tata Usaha.” Artikel ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan untuk mengetahui korelasi antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha dan perpustakaan sekolah di SMPN Kota Ponorogo. Penelitian menyimpulkan bahwa terdapat korelasi positif antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha. Selanjutnya, Wukir Ragil menulis artikel dengan judul, ” Makna Pendidikan dalam Menjunjung Nilai-nilai Budaya dan Hukum Positif dalam Rangka Menegakkan Akhlak Mulia Bangsa Indonesia.” Menurut Wukir R, dulu kita terkenal sebagai bangsa yang memiliki semangat gotong royong yang tinggi, sopan, ramah, murah senyum dan santun. Namun akhir-akhir ini kondisi tersebut seakanakan telah mulai luntur, dan memaksakan kehendak dalam menyampaikan pendapatnya. Melalui suatu kajian pustaka dan kajian empiris diketahui bahwa, perubahan perilaku ini disebabkan beberapa hal antara lain kini kita merasa telah ”Bebas” dari segala belenggu yang dianggap menghambat kreativitas dan ekspresinya sehingga kini seolah-olah bisa bebas dalam berperilaku apa saja dalam menentukan kehidupan bermasyarakat. Penegakkan hukum yang konsisten dan adil akan membawa kita pada suatu kepastian hidup bahwa dalam berkehidupan, berbangsa dan bernegara yang bebas, dan dalam kebinekaan ini kita harus menghargai juga hak asasi orang lain dan dengan tetap patuh pada norma dan hukum yang berlaku. Pendidikan dalam suatu sistem merupakan wahana yang ampuh untuk menegakkan kembali sikap bangsa Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila ini dalam sikap hidup gotong royong yang tinggi, ramah, santun, sopan

1

dalam berperilaku. Pendidikan bukan hanya menekankan aspek kognitif dan afektif, serta psikomotorik saja akan tetapi juga pembetukan akhlak mulia. Moh. Suryadi Syarif dengan artikelnya yang berjudul, ”Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Era Otonomi Daerah dan Beberapa Faktor yang Mempengaruhinya.” Menurut Moh. Suryadi Syarif, kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah mengutamakan pemberian kesempatan, dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur sehingga semua unsur yang terlibat bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh indikator-indikator: idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration. Ali Imron menulis artikel, “Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah dalam Pelayanan Publik di Tingkat Satuan Pendidikan.” Ali Imron mengemukakan gagasannya bahwa dalam perspektif total quality management (TQM), sekolah dipandang sebagai institusi publik yang harus dapat memuaskan customer-nya. Perspektif TQM ini, mendapatkan momentum tepat ketika reformasi di berbagai bidang digulirkan di negeri ini, termasuk di dalamnya adalah reformasi pelayanan publik di bidang pendidikan. Paradigma pelayanan publik di tingkat satuan pendidikan sekolah patut digeser dari yang konvensional menuju ke kondisi yang senantiasa ter-update, agar ketika dibutuhkan berada dalam keadaan on-service. Tenaga administrasi sekolah haruslah menunjukkan perilaku sebagai seorang pelayan publik yang pro aktif, responsif dan antisipatif terhadap berbagai kebutuhan, aspirasi dan harapan stake holders sekolah sesuai Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. Oleh karena itu, selain harus menguasai berbagai hard skill, yang berupa ketrampilan teknis, juga menguasai berbagai shoft skill yang senantiasa ditampilkan pada saat memberikan pelayanan prima sekaligus memuaskan kepada customer-nya. Sri Marmoh dengan artikelnya yang berjudul, “Problematika Perpustakaan Sekolah pada Pendidikan Dasar dan Alternatif Solusinya.” Artikel ini membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar, menumbuhkan minat baca, dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah pada pendidikan dasar yang belum memiliki

perpustakaan. Sementara sekolah yang memiliki perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala di lapangan. Tulisan ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Rokhmaniyah menulis artikel dengan judul, “Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah.”. Menurut Rokhmaniyah, kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator), pemimpin (leader), pengelola (manager), administrator (administrator), penyelia (supervisor), wirausahawan (entrepreneur), dan pencipta iklim kerja (climator). Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya, mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui), kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Selain itu, ia mampu bekerja keras dan berani menanggung risiko. Ujang Didi Supriadi menulis artikel berjudul, “Kajian atas Kebijakan Pemerintah tentang Kepemimpin Kepala Sekolah pada SMPN 115 Jakarta sebagai Salah Satu Rintisan Sekolah Bertaraf Internasioanal.” Ujang Didi Supriadi menyatakan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah harus memiliki tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. Selain itu terdapat pula 16 kriteria seorang kepala sekolah yang memimpin RSBI. Penetapan standar dan kriteria tersebut diarahkan untuk mewujudkan tujuan sebuah sekolah yang memiliki daya saing pada tingkat nasional dan internasional. Akhirnya, jurnal ini ditutup dengan artikel yang berjudul, “Pemimpin Komunitas Pembelajaran” ditulis oleh Zainun Misbah. Penulis mengungkapkan gasasannya bahwa Pembelajaran Profesional (KPP) telah dilakukan oleh peneliti pendidikan dan dipublikasikan dalam beberapa jurnal ilmiah. Selama tiga puluh tahun belakangan ini kajian tentang KPP terus dilakukan sebagai upaya pengembangan dan inovasi sekolah, meskipun penelitian tentang efek KPP terhadap nilai siswa belum banyak dilakukan. Dari beberapa kajian tersebut karakteristik KPP adalah adanya reflective dialogue, de-privatization of practice, collective focus on student learning, collaboration dan shared norms and values. Dengan terbitnya jurnal ini diharapkan saran-saran yang membangun dari pembaca sehingga penerbitan berikutnya semakin berkualitas. Adanya kekurangan-

. kami mengucapkan banyak terima kasih. Atas segala saran-saran yang membangun pembaca.kekurangan pada jurnal ini kiranya dapat dimaklumi karena di dunia ini tak ada yang sempurna.

KORELASI ANTARA KEPEMIMPINAN DEMOKRATIS KEPALA SEKOLAH DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN TATA USAHA Sujono Surokarijo Universitas Negeri Jakarta Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha dan perpustakaan sekolah di SMPN Kota Ponorogo. di dapat th > tt ( 2. Kepemimpinan demokratis kepala sekolah memberi sumbangan positip 15 % pada kepuasan kerja karyawan tata usaha. berarti korelasi signifikan.93 > 1. Instrumen yang dipakai adalah kuisioner tertutup menggunakan skala Likert dengan 4 alternatif jawaban. sedang reliabilitas dianalisis dengan teknik Alpha Cronbach. yaitu: (1) kebutuhan fisik dan keamanan. 1990). Sampel penelitian 50 orang karyawan tata usaha. Sedang kepuasan kerja sendiri mempunyai enam segi. Hasil penelitian menunjukan. dengan pendekatan korelasional. (3) kepuasan prestasi. Menurut Strauss (Hadikusumo. Dengan uang seseorang dapat memenuhi segala macam kebutuhan. Metode penelitian adalah survai. (2) kepuasan supervise. (2) kebutuhan sosial. (5) kepuasan kepemimpinan. dan (3) kebutuhan egois. terdapat korelasi positif antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha. Bila seseorang dapat bekerja dan hidup layak. perkawinan. Analisis data menggunakan teknik korelasi Product Moment dan teknik regresi linear.39. Caranya (1992).36 X. kebutuhan yang terpenuhi dari pekerjaan ada tiga bentuk.48 + 0. divalidasi dengan analisis butir. dalam dirinya ada kepuasan hidup. bahwa setiap manusia membutuhkan pekerjaan dan hidup layak. Kebutuhan fisik pokok dapat berupa uang. dan kerja.70). Setelah dikoreksi dengan uji t. kepuasan kerja. Status sosial seseorang di masyarakat dipengaruhi oleh besar kecilnya penghasilan yang dihitung . yaitu: (1) kepuasan hubungan antar karyawan. kepuasan masa luang. diperoleh koefisien korelasi (r) = 0. PENDAHULUAN Sudah menjadi kodrat manusia. pada persamaan regresi = 35. dan (6) kepuasan tugas. dijaring secara teknik sampling acak sederhana dari 57 orang karyawan tata usaha. Kata Kunci: Kepemimpinan. menyatakan bahwa kepuasan hidup meliputi kepuasan: keluarga. (4) kepuasan gaji.

Seiring dengan pernyataan tersebut berarti sumber daya manusia para guru dan karyawan tata usaha pada sekolahsekolah di Indonesia menurun. pemenuhan kebutuhan keamanan dalam pekerjaan atau pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lain akan terpenuhi di masa yang akan datang.Sujono Surokarijo berdasarkan besar-kecilnya uang. Orang menyukai pekerjaan-pekerjaan yang dianggap berharga oleh masyarakat. Kenyataan karyawan yang berbentuk team work memiliki moral yang lebih tinggi dari pada yang sendirian. Kebutuhan sosial pokok adalah keanggotaan dalam kelompoknya. 2 . Menurut Iskandar (Media Indonesia. ingin menjadi orang yang berarti dalam kelompoknya. yaitu perasaan rasa bersatu dan diakui keberadaannya. Selanjutnya. tingkat pencapaian rata-rata hasil ujian nasional. (2) senioritas sebagai jalan untuk maju. Termasuk kemajuan yang akan diperoleh dari pekerjaan berupa: (1) kenaikan upah. Jika berhasil ingin dihargai dan bila ada kesulitan ingin dibantu. Oleh karenanya kinerja mereka menurun. pakaian. dan SMU tidak mencapai tingkat ketuntasan untuk semua mata pelajaran. SD. Seseorang hidupnya layak bila kebutuhan pertama manusia sebagai makluk biologis yaitu kebutuhan makan. maka keberhasilannya dihargai oleh pimpinan. SMP. Karyawan cenderung bersikeras untuk membentuk kelompok-kelompok informal. Demikian juga untuk daya saing kemampuan sumber daya manusia Indonesia semakin menurun. hasil kerjanya lebih baik dari yang sendirian karena kelemahan dari anggota team work ditutup oleh anggota team work yang lain. senioritas yang lebih tinggi biasanya berarti keamanan dalam pekerjaan lebih aman. Manusia dewasa membutuhkan pemenuhan kebutuhan egois dan aktualisasi diri tingkat tinggi melalui pekerjaan mereka. Seseorang bila berhasil melaksanakan tugas dan dapat mengatasi berbagai hambatan dalam melaksanakan tugas. Selain itu. Dalam aktivitasnya melaksanakan pekerjaan seseorang membutuhkan dukungan orang lain. dan (3) segi jaminan nilai material yang meningkat sehingga semua kebutuhan hidup terpenuhi baik kebutuhuan biologis maupun kebutuhan nonbiologis. walaupun kadang-kadang bertentangan dengan pihak pimpinan organisasi kerja. Tuntutan seseorang dari pekerjaan adalah pekerjaan tersebut memberi penghasilan yang berupa gaji dan gaji tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Hal ini berakibat menurunnya mutu pendidikan di Indonesia termasuk pendidikan di SMP. Pekerjaan tata usaha pada Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) termasuk jenis pekerjaan yang dihargai masyarakat karena statusnya sebagai pegawai negeri sipil. Kebutuhan egois yang utama adalah kebutuhan akan prestasi. dan tempat tinggal terpenuhi. Iapun akan merasa puas. 20 November 2001).

Sesuai dengan pendapat di atas. dan organisasi. Siagian (1989) menyatakan bahwa pemimpin sebagai motor penggerak semua sumber daya yang tersedia dalam organisasi. pada tipe ini pemimpin menganggap bawahan sebagai mitra kerja. dan (3) gaya kepemimpinan kendali bebas. perlengkapan. maka orang itu kecewa. Apalagi bagi mereka yang sudah berkeluarga. Kepala Sekolah sebagai manajer dan pemimpin menggerakkan bawahannya baik guru maupun karyawan tata usaha sekolah melalui gaya kepemimpinan. (2) gaya kepemimpinan demokratis. Variabel tersebut adalah pegawai. bimbingan penyuluhan. pelaksanaan tugas atau pekerjaan diserahkan kepada bawahan. 3 . lingkungan kerja. Karenanya dapat dikatakan keberhasilan organisasi dalam mencapai tujannya tergantung kemampuan pemimpin dalam mendayagunakan semua sumber daya yang tersedia dalam organisasi tersebut. Pemimpin ialah orang yang mempengaruhi orang lain dan yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup organisasi. laboran. dan karyawan perpustakaan. para guru dan karyawan tata usaha sekolah tersebut kurang puas karena gaji yang ia terima kurang mencukupi untuk pemenuhan hidup. pada tipe ini. keuangan. hubungan masyarakat. Argyris (Buchori Zainun. pangkat. Hal ini dapat berakibat turunnya kinerja mereka. gundah dan runyam. Karyawan tata usaha sekolah merupakan sumber daya manusia yang tersedia di SMP yang terdiri atas: koordinator administrasi dan karyawan-karyawan yang menangani administrasi kurikulum. kesiswaan.1976) menyatakan bahwa jika kebutuhan yang diidam-idamkan seseorang tidak tercukupi. pada tipe ini pemimpin menganggap bawahan sebagai alat produksi atau alat untuk pencapaian tujuan organisasi. Salah satu variabel yang ada sangkut pautnya adalah variabel organisasi. Dalam organisasi secara struktural ada pemimpin dan bawahan. kearsipan.Korelasi Kepemimpinan Kenyataan gaji yang diterima para guru dan karyawan tata usaha sekolah di Indonesia kurang mencukupi untuk biaya hidup mereka. Secara garis besar gaya kepemimpinan dibagi tiga tipe yaitu: (1) gaya kepemimpinan otokratis. Bawahan ialah orang yang dipengaruhi untuk melaksanakan tugas guna pencapaian tujuan organisasi. 1991) menyatakan bahwa kepuasan kerja berkaitan dengan sejumlah variabel yang memungkinkan para manajer memperkirakan kelompok yang lebih cenderung mengalami masalah ketidakpuasan. Sumber daya meliputi sumber daya manusia dan nonmanusia. Darwis (Scermerhorn. ketenagaan. kepuasan kerja seseorang terkait dengan beberapa variabel. Dengan demikian. usia. Mereka resah.

Sedang Grunerberg (Buchori Zainun. kebutuhan rasa aman. c. b. 3.Sujono Surokarijo Seiring kepuasan kerja karyawan terkait dengan gaya kepemimpinan. Menurut teori ini. Menurut teori ini kebutuhan akan menimbulkan ketidak seimbangan pada diri seseorang. Teori Existence – Relatedness – 4 . 2001). kebutuhan pada peringkat di atasnya atau berikutnya muncul dan orang tersebut berusaha untuk memenuhinya. Dengan demikian yang dimaksud kepuasan kerja adalah perasaan senang atau lega karena apa yang dilakukan tersebut sesuai dengan dirinya dan telah memenuhi kebutuhan atau hasrat hatinya. kebutuhan fisiologis (makan. maka permasalahannya dalam meningkatkan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah adalah. pakaian. supervisor. Sedang yang dimaksud kerja adalah perbuatan melakukan sesuatu atau sesuatu yang dilakukan. namun kebutuhan utama manusia pada hakikatnya sama dan merupakan hirarki yang terdiri dari lima tingkat. Setelah kebutuhannya terpenuhi ia merasa puas. kepuasan adalah perasaan lega atau senang karena merasa sudah terpenuhi kebutuhannya atau hasrat hatinya. kebutuhan aktualisasi diri atau menunjukkan jati-diri. Menurut teori ini walaupun kebutuhan manusia beragam. kepuasan kerja dalam diri seseorang akan tumbuh bila bekerja selaras dengan diri sendiri. Seterusnya setelah terpenuhi kebutuhannya dan merasa puas. tempat tinggal). kebutuhan hidup berkelompok dan bermasyarakat. promosi. d. 1989). ”Bagaimana hubungan antara gaya kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah?” KAJIAN PUSTAKA Menurut Poerwadarminta (1991). kebutuhan penghargaan. Menurut Patton (Hesmes. Coreman (Timpe A Dale. Pada penelitian ini teori-teori yang dianalisis dan relevan dengan tujuan penelitian adalah: (1) Teori discrepancy oleh Porter (Stoner. (2) Teori pemenuhan kebutuhan oleh Maslow (1970). Seseorang akan merasa puas bila tidak ada perbedaan antara apa yang diinginkan atau diharapkan dengan kenyataan yang dirasakannya. pengakuan. 1976) menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah seperangkat perasaan karyawan tentang menyenangkan atau tidaknya jenis pekerjaan. Hirarki kebutuhan manusia menurut Maslow sebagai berikut: a. karena batas minimum yang diinginkan telah terpenuhi. hubungan teman sekerja. 1999) mendefinisikan kepuasan kerja ialah respons seseorang terhadap bermacam-macam lingkungan kerja yang dihadapinya termasuk komunikasi organisasi. dan e. untuk mengukur kepuasan kerja adalah dengan membandingkan apa yang seharusnya atau diharapkan dengan kenyataan yang dirasakan. sesorang akan menjadi resah dan ia melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

dan intensif tradisional. (4) keuntungan keuangan. b. kepuasan karena memberi sumbangan pada pribadi maupun organisasi. Relatedness. 1989). dan (5) jenis dan isi pekerjaan. penilaian diri. yaitu: (1) faktor psikologis. faktor faktor kepuasan kerja adalah: penghargaan. Menurut teori ini hirarki kebutuhan seseorang terdiri dari tiga peringkat. (2) kondisi umum pekerjaan. bakat. serta lingkungan kerja (kondisi pekerjaan). perbandingan perbandingan sosial. Growth.Korelasi Kepemimpinan Growth (ERG) oleh Aldefer (Stoner. dan (4) faktor kesejahteraan. yang dimaksud kepuasan kerja dalam penelitian ini adalah perasaan senang atau lega karena merasa terpenuhi kebutuhan atas harapan yang dialami oleh seseorang dari suatu pekerjaan. kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari para anggota kelompok. norma-norma sosial. yaitu: a. menurut ia ada lima komponen utama dalam kepuasan kerja. 5 .1992). dan c. yaitu: (1) sikap terhadap kelompok kerja. hal hal yang berhubungan dengan interaksi antara sesama karyawan. 1976). tantangan pekerjaan. (3) supervisi. minuman. Lain halnya dengan Hainan (1991). isi pekerjaan. keterikatan. puas karena hubungan sosial yang bermanfaat. ada empat faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja. berpendapat bahwa ada lima segi kepuasan kerja. hubungan dengan pimpinan. sikap dan perilaku orang lain. Existence kebutuhan yang dipuaskan oleh faktor-faktor makanan. keceriaan kerja. Sedangkan Smith (Cranny. Dari beberapa teori-teori dan konsep konsep di atas. dan (5) sikap terhadap supervisi. Menurut Strauss (1990). Mitchel menyatakan bahwa penyebab kepuasan kerja adalah: supervisi. dapat disimpulkan bahwa dalam proses kepemimpinan ada orang yang mempengaruhi (pemimpin) dan ada orang yang dipengaruhi (bawahan). meliputi: gaji. Menurut Stoner (1989). tunjangan maupun lain lain yang berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan. Indikator kepuasan kerja. Dari pendapat-pendapat di atas. ia menyatakan bahwa yang dimaksud kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pandangan. (3) faktor fisik yaitu faktor faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja. yaitu: (1) kepercayaan pada pimpinan. udara. ketentraman dalam bekerja. dan dasar pemikiran. (2) faktor sosial. (2) hubungan teman sekerja. (3) sikap terhadap organisasi. (4) gaji. Lain lagi dengan Byars (Buchori Zainun. meliputi minat. Sedang Hotgetts dan Kuratko (1975) mendefinisikan bahwa kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi orang orang untuk mengarahkan kegiatan demi pencapaian tujuan.

(2) komunikasi lancar. Pemimpin yang cenderung menjalankan fungsi yang berkenaan dengan tugas menganggap bawahan sebagai alat produksi atau alat pencapaian tujuan. saran. pemimpin mendelegasikan sebagian wewenang pada bawahan dan mendorong bawahan untuk berperan aktif dalam pengoperasian perusahaan. menciptakan arus informasi timbal balik. memberi dorongan keberanian melalui arus komunikasi yang berkelanjutan antara ia dengan bawahan. gaya kepemimpinan demokratis dalam mempengaruhi bawahan. pemimpin memberi keleluasaan pada bawahan dalam menetapkan sasaran pekerjaan dalam pelaksanaan tugas. Pemimpin yang efektif dapat menjalankan kedua fungsi tersebut. kritikan digunakan. sikap sehingga orang yang dipengaruhi mau melakukan kegiatan sesuai dengan tugasnya demi pencapaian tujuan yang telah ditentukan. dan (2) fungsi yang berkenaan dengan pembinaan pelaksana tugas atau fungsi sosial. pemimpin dalam mempengaruhi dan berhubungan dengan bawahan mengemban dua fungsi utama. Menurut teori perilaku. Hodgetts (1975) menyatakan bahwa ciri-ciri kepemimipnan demokratis adalah pemimpin yang perhatiannya tinggi terhadap bawahan serta pelaksanaan tugas yang dilakukan bawahan.Sujono Surokarijo Dengan demikian yang dimaksud kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain. d. dan (4) memberi keleluasaan pada bawahan dalam pelaksanaan tugas. Sedang Bove (1995) menyatakan sifat kepemimpinan demokratis berorientasi pada pegawai atau karyawan. mendukung adanya pertukaran informasi antar bawahan yang berkelanjutan. Sedang pemimpin yang cenderung menjalankan fungsi yang berkenaan dengan pelaksana tugas mengganggap bawahan sebagai mitra kerja. Sedang Hodgetts dan Kuratko (1975) menyatakan ciri-ciri pemimpin yang demokratis dalam berhubungan dengan bawahan sebagai berikut: a. c. (3) melibatkan bawahan dalam melaksanakan sasaran organisasi. Pada kepemimpinan ini perilaku pemimpin dalam pengambilan keputusan berdasarkan hasil musyawarah mufakat dengan bawahan. yaitu: (1) fungsi yang berkenaan dengan tugas. pujian. b. kegiatannya: (1) bermusyawarah dengan kelompok mengenai hal hal yang menarik perhatian. maka bila ada bawahan yang kesulitan melaksanakan tugas dibimbingnya. di dalam organisasi tercipta jalur komunikasi ke segala arah. saluran komunikasi ke segala arah. perilaku. berupa pandangan. 1999). ia manyatakan bahwa ciri ciri kepemimpinan demokratis sebagai berikut: (1) pemimpin dalam proses menggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia adalah 6 . Menurut Woods (Timpe A Dale. Sehubungan tanggung jawab baik buruknya organisasi di tangan pemimpin. Lain dengan Siagian (1989).

dalam penelitian ini yang dimaksud kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang memperhatikan bawahan dan juga memperhatikan proses pelaksanaan tugas yang dilakukan bawahan. (2) dalam menentukan kebijakan organisasi melalui musyawarah mufakat dengan bawahan. Indikator kepemimpinan demokratis adalah: (1) menganggap bawahan sebagai mitra kerja. dan (6) memberi keleluasaan bawahan dalam berbuat kesalahan kemudian dibimbing dan diperbaiki agar tidak membuat kesalahan yang sama. terbuka dan ke segala arah. Sampel penelitian sebanyak 50 orang dijaring dengan teknik sampling acak sederhana. karena peneliti ingin mengetahui hubungan antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah. (5) berusaha untuk menjadikan bawahan lebih sukses. sedang populasi terjangkau seluruh karyawan tata usaha SMPN Kota Ponorogo tahun 2007 yang berjumlah 57 orang. Sesuai analisis teori teori dan konsep konsep di atas. METODOLOGI PENELITIAN Dalam penelitian ini variabel terikat adalah kepuasan kerja karyawan tata usaha (variabel Y). (4) berusaha mengutamakan kerja sama dalam team work dalam usaha pencapaian tujuan organisasi. (3) senang dan mau menerima saran. langsung. (5) memberi keleluasaan bawahan dalam melaksanakan tugas. (2) berusaha mensinkronkan tujuan dan kepentingan organisasi dengan tujuan dan kepentingan pribadi bawahan. (10) melaksanakan supervisi. (3) membudayakan adanya saran dan kritik. (4) menciptakan jalur komunikasi timbal balik. Analisis data menggunakan teknik korelasi product moment dan teknik analisis regresi linear. Metode penelitian ini adalah metode survai. (7) lebih mengutamakan kerja sama. sedang variabel bebas adalah kepemimpinan demokratis kepala sekolah (variabel X). dan (11) berusaha meningkatkan kesejahteraan bawahan. 7 . (8) memberi kesempatan bawahan untuk mengembangkan karier.Korelasi Kepemimpinan makluk yang mulia. Pengumpulan data dilakukan melalui angket. pendapat maupun kritik dari bawahan. Populasi penelitian seluruh karyawan tata usaha SMPN di Kabupaten Ponorogo. (9) mengakui dan menghargai keberhasilan bawahan. (6) mendelegasikan sebagian wewenang pada bawahan. menggunakan skala Likert dengan empat alternatif jawaban. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan korelasional.

1995. London: Sounder Company. Mitchell. Scermerhorn J. Kamus Umum Bahasa Indonesia.M.S.R. James G. Setelah di analisis dengan analisis determinasi diperoleh r2 = 0. Management. Jakarta: Balai Pustaka. C. 1975. 1991. Buchori Zainun.15. Job Satisfaction How People About Their Job And How It Affects Their Performance. Tokyo: Mc. pada persamaan regresi = 35. Maslow. berarti korelasi signifikan. Hodgeets. diperoleh koefisien korelasi r = 0. 1990. N. The Human Problem of Management (Terjemahan). Cranny.48 + 0.70). Manajemen dan Motivasi..Graw Hill Inc.93 > 1. 1976. P.39. Jakarta: Balai Aksara. 8 . New York: John Willey Inc. London: Harper and Row. Managing Organizational Behavior. Poerwadarminta W. 1991.Sujono Surokarijo HASIL PENELITIAN Pada penelitian ini ditemukan bahwa terdapat korelasi positip antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah. termasuk karyawan perpustakaan.J. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. 1991.R. 1982. 1992. Kepemimpinan demokratis kepala sekolah memberi sumbangan positif sebesar 15% dan sumbangan tersebut berarti terhadap kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah.N. KESIMPULAN Berdasarkan temuan di atas peneliti menyimpulkan bahwa semakin demokratis kepemimpinan kepala sekolah.36 X. L. Selanjutnya dikoreksi dengan uji t. New York: Lexington Books.. People in Organization An Introcdution to Organization Behavior. Motivation and Personality. & Richard. Management. A. 1970. R. DAFTAR RUJUKAN Bovee. New York: Mc Graw Hill Inc. di dapat th > tt ( 2. T. semakin meningkat kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah.H. Hadikusumo. C. S.

(Terjemahan: Susanto Budidharmo).Kepemimpinan.A.E. J. Timpe A.Korelasi Kepemimpinan Siagian.D. Filsafat Administrasi. Jakarta: CV Haji Masagung. 1989. R. Upper Saddle River. Management. Leadership . Jakarta: PT Elex Media Komputindo. 1989. S. Stoner.P. New Jersey: Prentice Hall Inc. 9 .F & Freeman. 1999.

kepribadian. MAKNA PENDIDIKAN DALAM MENJUNJUNG NILAINILAI BUDAYA DAN HUKUM POSITIF DALAM RANGKA MENEGAKKAN AKHLAK MULIA BANGSA INDONESIA 10 .Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. ramah. berbangsa dan bernegara yang bebas. sopan dalam berperilaku. Pendidikan bukan hanya menekankan aspek kognitif dan afektif. dan memaksakan kehendak dalam menyampaikan pendapatnya. Kata Kunci: Penegakkan hukum. pengendalian diri. Adalah pendidikan dalam suatu sistem merupakan wahana yang ampuh untuk menegakkan kembali sikap bangsa Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila ini dalam sikap hidup gotong royong yang tinggi. serta ketrampilan yang diperlukan oleh dirinya. 1. menghargai hak asasi orang lain terutama perbedaan dalam kebinekaan. Melalui suatu kajian pustaka dan kajian empiris diketahui bahwa. murah senyum dan santun. April 2009 (Suatu Kajian Empiris terhadap Perubahan Sosial bagi Warga Belajar) Wukir Ragil Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional Bidang Hukum dan Sosial Dosen Luar Biasa Fakultas Hukum Universitas Indonesia Abstrak Sistem Pendidikan Nasional menggariskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. dan dalam kebinekaan ini kita harus menghargai juga hak asasi orang lain dan dengan tetap patuh pada norma dan hukum yang berlaku. perubahan perilaku ini disebabkan beberapa hal antara lain kini kita merasa telah ”Bebas” dari segala belenggu yang dianggap menghambat kreativitas dan ekspresinya sehingga kini seolah-olah bisa bebas dalam berperilaku apa saja dalam menentukan kehidupan bermasyarakat. No. Keteladanan. akhlak mulia. sopan. Dulu kita terkenal sebagai bangsa yang memiliki semangat gotong royong yang tinggi. serta psikomotorik saja akan tetapi juga pembentukan akhlak mulia yang merupakan makna dari pendidikan budi pekerti yang harus dimiliki seluruh peserta didik dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. santun. dan Akhlak mulia. masyarakat. Adalah penegakkan hukum yang konsisten dan adil akan membawa kita pada suatu kepastian hidup bahwa dalam berkehidupan. 4. bangsa dan negara. Namun akhir-akhir ini kondisi tersebut seakan-akan telah mulai luntur. ramah.

Sedangkan pengertian budaya mempunyai makna yang luas. Hal ini karena kebudayaan akan hidup dan berkembang dalam masyarakat itu sendiri serta untuk memenuhi keperluan masyarakat tersebut. dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. mawardah. cipta. Sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan masyarakat. menulis. 2) economic system ( sistim ekonomi). kecuali masyarakat pedesaan yang masih menjunjung sifat gotong royong ini sebagai sarana yang jitu dalam bermasyarakat. dan karsa. dan sifat gotong royong yang tinggi dan menjadi masyarakat produsen pangan. 1974 hal 113). Kehidupan keluarga yang agamis akan membuat tata kehidupan dalam keluarga itu selalu menuju pada kehidupan keluarga sakinah. perkembangan kebudayaan dalam masyarakat akan dipengaruhi adanya empat unsur pokok tersebut. Kebudayaan akan berkembang karena ada perkembangan ilmu dan tehnologi sehingga akan menciptakan alat/sarana tehnologi yang baru/mutakhir. dan 4) political control (kekuasaan politik). Dengan demikian menurut Herskovits.Makna Pendidikan PENDAHULUAN Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. cipta. Penulis menambahkan unsur kelima yaitu Kaidah hukum yang berlaku dalam masyarakat setempat. Herskovits menyatakan lebih dari seratus enam puluh definisi kebudayaan. Kebudayaan akan berkembang seiring dengan berubahnya sistim ekonomi dalam masyarakat. Masyarakat agraris yang selama ini dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia sehingga dapat mewujudkan swasembada beras sekaligus menciptakan suatu tatanan/nilai budaya dalam masyarakat petani yang relatif nrimo. pendidikan berlangsung sepanjang hayat dengan mengembangkan budaya membaca. Demikian semua hasil karya. pada saat tanah pertanian berubah menjadi kawasan industri seketika itu tata nilai masyarakat berubah menjadi bersifat konsumtif. dan karsa masyarakat tadi akan berguna bagi masyarakat yang menciptakannya. ”sifat gotong royong” agak luntur. Kebudayaan adalah hasil dari karya. rasa. (Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi. Kebudayaan yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat akan berbeda yang dimiliki oleh kelompok masyarakat lainnya. dan 11 . bersaing untuk mendapat produk yang terbaru dan terbaik. sabar. kompak. Kebudayaan akan dimiliki dan akan tetap hidup dalam masyarakat pemiliknya. rasa. 3) family (keluarga). Selanjutnya menurut Herskovits ada empat unsur pokok dalam kebudayaan yaitu: 1) technological equipment (alat-alat tehnologi). Kebudayaan akan berkembang atau berubah dengan berubah tata nilai dalam kehidupan keluarga.

akan tetapi tindakan itu merupakan suatu yang mengarah pada indikasi bahwa budaya penyelesaian suatu perkara dengan kekerasan dianggap sebagai cara yang ”tepat”. ataupun kelestarian kebudayaan pada masyarakat tertentu. akan dapat merubah pola pikir. Penggabungan penelitian kepustakaan yang bersifat yuridis-normatis dan penelitian empiris ini akan dapat mengkaitkan antara konsep kebijakan peraturan perundang-undangan dan interaksi sosial masyarakat warga belajar terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. dipatuhi dan menyatu pada tata nilai budaya masyarakat setempat dan akan mampu mempertahankan kehidupan tata nilai atau berkembangnya kebudayaan masyarakat tersebut. METODE PENELITIAN Kegiatan kajian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan yang bersifat yuridis-normatif dan penelitian empiris melalui pengamatan. Walaupun tidak menimbulkan korban jiwa. pola kehidupan. 12 . terlihat di televisi seorang oknum dengan membawa berbagai senjata tajam dalam bentrokan adalah sungguh sangat merisaukan. Mereka akan merasa terasing dalam lingkungannya. Dipicu oleh sebab musabab yang kurang jelas dan rasa solidaritas sesama teman telah menimbulkan sebuah kekerasan yang dilakukan oleh oknum mahasiswa antar fakultas disebuah perguruan tinggi di Makasar tanggal 3 November 2008 yang lampau. tata nilai. Penelitian normatif disini adalah untuk memahami kaidah hukum dan perundang-undangan mengenai gejala sosial dan kebijakan pendidikan. demikian juga sanksi hukum dari penguasa akan membuat jera untuk mengulangi kesalahannya lagi. Kekuasaan politik yang mewarnai secara mencolok tata nilai dan kehidupan masyarakat apabila tidak disaring secara intensif oleh anggota masyarakat yang bersangkutan. dan privasinya. Selanjutnya penelitian normatif ini akan didukung dengan penelitian empiris. Namun demikian. Sebaliknya keluarga yang berpola kehidupan ”modern kebarat-baratan” akan menjadikan kehidupan pada keluarga yang serba ”praktis” dan menganggap tata nilai akan mengganggu aktifitas.Wukir Ragil warokhmah dan selalu bersyukur. Sanksi akan diberikan terhadap pelanggarnya terutama sanksi moral yang diberikan masyarakat untuk membuat jera perbuatan yang dianggap menyimpang dalam masyarakat tersebut. kaidah hukum itu berlaku.

Suatu contoh ” kata nggih ” dalam Bahasa Jawa penggalan dari inggih bisa mempunyai arti ”iya”. akan tetapi dalam Bahasa Gayo. tata nilai budaya semula yang berasal dari kelompok-kelompok masyarakat Indonesia ini akan menyatu dalam suatu konsep sosial budaya yang` satu sama lain saling mewarnai sehingga puncaknya akan menjadi tata nilai budaya Indonesia/budaya nasional. Masing-masing tata nilai memberikan ciri tersendiri dan tidak bisa dihapuskan oleh tata nilai budaya dari daerah lain. Norma ini akan dihormati dan lambat laun akan menjadi suatu pola hidup atau nilai-nilai budaya dalam kehidupan masyarakat. Ini adalah contoh kecil. Para pakar menyatakan bahwa Budaya Nasional merupakan puncak-puncak budaya daerah yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan.Makna Pendidikan Nilai-Nilai Budaya dalam Kehidupan Masyarakat. Tata kehidupan yang semula baru merupakan gagasan sebagian dari anggota masyarakat ini lambat laun akan menjadi kesepakatan bersama dan diciptakan untuk menjadi norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Dalam kehidupan sosial nilai-nilai ini akan terus disesuaikan dan dikembangkan oleh masyarakat untuk mengikuti tata kehidupan dalam kelompok masyarakat yang lebih luas lagi. Dalam konteks kehidupan bernegara dan berbangsa. nilai budaya ini mempunyai fungsi primer untuk mempertahankan pola yang telah berkembang dalam masyarakat yang akan menghubungkan fungsi sosial dan nilai budaya sehingga kehidupan masyarakat akan menjadi bermakna. Dawan Rahardjo dengan merujuk pendapat Talcott Parsons dalam teori tentang masyarakat menjelaskan bahwa dalam kehidupan masyarakat yang serba diliputi oleh tindakan individu yang mempunyai sifat fisik dan realitas akan selalu kait terkait sehingga dalam kehidupan sosial masyarakat akan mampu mengkaitkan dengan suatu tata hukum dan akan berkembang dalam masyarakat. kemiripan tutur kata pada daerah tertentu belum tentu mempunyai arti yang sama pada tutur kata pada daerah lain. Aceh Tengah ini ” kata nggih ” bukan kepanjangan dari kata inggih dan mempunyai arti ”tidak”. Perbedaan ini kalau kita mampu meresapi dan mensyukuri merupakan suatu anugerah dari Allah yang sangat nikmat. Dinyatakan bahwa kehidupan masyarakat yang terorganisir dengan baik akan menciptakan suatu pranata dalam kehidupan masyarakat. Sebagai contoh. Keterkaitannya fungsi ini akan 13 . Organisasi kehidupan sosial masyarakat adalah dasar utama kehidupan hukum (Dawan Raharjo. Ia akan dipatuhi dan masyarakat akan memberikan sanksi bagi para pelanggarnya. hal 102). banyak contoh lain yang tidak kami sebutkan yang semua itu akan membuktikan betapa Besar dan Indahnya Indonesia. Menurut Dawam. dan menyatu menjadi suatu tata nilai dan budaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

sikap. Pelembagaan adat istiadat ini membutuhkan sistem manajemen yang 14 . Lebih lanjut dikatakan bahwa seluruh implementasi kebijakan sekolah. Hukum bermakna untuk mendisiplinkan tingkah tingkah laku manusia. wali/orangtua. 43-56). Hukum adalah suatu sistim norma yang berlaku dalam suatu kehidupan bermasyarakat. 14-29) antara lain dikatakan bahwa Budaya Sekolah merupakan perpaduan nilai-nilai. 16). layanan sekolah akan membentuk budaya sekolah yang semuanya akan membentuk pola nilai. dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan) dengan seluruh kebijakan operasionalnya.Wukir Ragil menciptakan suatu tata nilai atau kebudayaan bagi masyarakat setempat. kebiasaan dan perilaku peserta didik. Adat istiadat atau kebiasaan sebagai hal yang dianggap mewakili kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat fungsinya mempertahankan pola kehidupan itu sendiri. Perbuatan individu merupakan suatu kelakuan dalam hukum yang seharusnya dijalaninya sesuai dengan aturan hukum yang diharuskan. 1967. Nilai nilai yang dipertahankan adalah sangat jelas dan dari sudut antropologi sifat adat istiadat lebih statis dibandingkan dengan hukum (Bohannan. bernegara dan berbangsa. semangat bertindak. masyarakat sekitar. Perbedaannya pada tingkat perkembangannya. dan harapan yang diyakini oleh para warga sekolah dan dijadikan sebagai pedoman bagi perilaku dan pemecahan masalah yang mereka hadapi. Prof. Perubahan Tata Nilai dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia. Dengan demikian organisasi satuan pendidikan (sekolah/perguruan tinggi) dan seluruh warga belajarnya (pendidik. pemahaman. keyakinan. adalah sangat berperan besar dalam membentuk pola perilaku. asumsi. Masyarakat melembagakan adat istiadat karena masyarakat memerlukan perubahan. Muhaimin MA dalam tulisannya yang berjudul Pengembangan Budaya Agama dalam Komunitas Sekolah mengulas secara panjang lebar tentang pentingnya pengembangan Pendidikan Agama sebagai Budaya Sekolah (Religiusitas 4 September 2007 hal. Dengan perkataan lain bahwa budaya sekolah merupakan semangat. Dalam kehidupan masyarakat akan terjadi proses sosialisasi antara tata nilai dan kaidah hukum. Kajian masalah hukum akan memberikan makna yang tegas bahwa hukum harus bebas dari kontradiksikontradiksi. kondisi. Dapat dikatakan bahwa hukum bersumber pada adat istiadat. sikap atau pola perilaku serta kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh para warga sekolah secara konsisten dalam memecahkan masalah (hal. sikap dan kebiasaan para peserta didiknya yang pada akhirnya nanti akan membentuk dan mengembangkan semangat dan sikap hidupnya. Lantas bagaimana halnya dengan kondisi dan konsep pengembangan budaya pada lembaga pendidikan (satuan pendidikan)?.

Peran Pendidikan dalam Menegakkan Nilai-Nilai Luhur Budaya dan Kepatuhan Terhadap Hukum. kreatif. (1967. dan mekanisme serta prosedur penggunaan. mandiri. Pendidikan nasional yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. berakhlak mulia. yang lebih jauh lagi akhirnya dalam kehidupan berbangsa dan kehidupan bernegara. peserta didik harus memiliki sikap. 275) fungsi hukum adalah. Muhaimin menyatakan bahwa tujuan pendidikan dimaksud memiliki kekuatan spirituil keagamaan bagi peserta didik dalam pengendalian diri. kecerdasan. 2) mengalokasikan dan menegaskan siapa yang boleh menggunakan kekuasaan atas siapa. dan menjaga agar norma tersebut tetaf efektif dalam setiap kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian masyarakat dalam memberlakukan adat istiadat dan tata nilai membutuhkan norma-norma yang berlaku di masyarakat setempat agar adat istiadat dapat efektif bekerja. bangsa dan negara (Prof Muhaimin MA. Dengan demikian hukum memiliki fungsi yang berbeda dengan fungsi adat istiadat atau tata nilai dalam masyarakat. Dengan demikian Undang undang ini menetapkan bahwa akhlak mulia sebagai tujuan pendidikan nasional yang bermakna dalam kehidupannya sebagai individu. 15 . serta ketrampilan yang diperlukan oleh masyarakat. halaman 17). 1) merumuskan hubungan-hubungan antara anggota-anggota masyarakat dengan menunjukkan perbuatan yang dilarang dan yang boleh dilakukan. antara penguasa/pemerintah dengan manusia. berilmu.Makna Pendidikan lebih teratur yang lazim disebut lembaga hukum yang dilengkapi dengan peraturan hukum yang dalam masyarakat disebut adat istiadat. dan mempertahankan setiap norma dengan menyesuaikan dalam perubahan masyarakat. cakap. dan tindakannya yang mengacu pada norma kehidupan sesama individu. 3) penyelesaian sengketa-sengketa. kepribadian. Menurut Hoebel. sehat. kehidupan dalam keluarga. perilaku. dan kehidupan dalam bermasyarakat. bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. sebagai wasit yang netral dalam setiap ada sengketa dalam masyarakat. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Undang undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Jadi fungsi hukum disini mengatur hubungan antara manusia dengan manusia. dan 4) mempertahankan adaptasi masyarakat dengan cara mengatur kembali hubungan-hubungan dalam masyarakat yang berubah.

nonformal. perkembangan tradisi yang tumbuh dalam suatu kelompok masyarakat. dalam Jurnal Religiusitas 3 September 2008) menyatakan bahwa kualitas manusia ditentukan dalam dua hal yaitu faktor hereditas. maka masyarakat Indonesia mengalami keterkejutan budaya. Harapan ini belum sepenuhnya dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. kemakmuran dan kehormatan yang ternyata tidak sinkron. dan disamping itu mempertahankan kemajemukan bangsa. Sehingga mereka berpesta pora menikmatinya dengan melakukan apa saja yang sebelumnya mustahil dapat dilakukan. kebebasan. Mubarok mengibaratkan sebagai sekumpulan orang yang telah 32 tahun dikurung dalam penjara yang gelap gulita dan tiba-tiba penjara itu dirobohkan sehinga mereka bisa keluar melihat dunia baru yang terang benderang dan terlihat aneh akan tapi mengasyikkan. Dinyatakan pula bahwa itu adalah gambaran masyarakat Indonesia pasca jatuhnya Presiden Soeharto yang sedang mencari jati dirinya kembali. Lebih lanjut dikatakan bahwa. dengan menghargai dan mempertahankan proses pembelajaran yang telah berlangsung selama ini. akan tetapi menghargai perubahan dan perbedaan sebagai anugerah yang harus disyukuri oleh bangsa ini adalah suatu keniscayaan sepanjang dilaksanakan dalam koridor norma dan kepatuhan terhadap hukum. faktor keturunan (teori nativisme) dan faktor lingkungan dan pendidikan (teori empirisme). dalam masyarakat yang baru mendapat kebebasan dalam melihat dunia ”baru” dan kemudian mencoba untuk memaknai apa arti dunia ”baru” tersebut dengan suatu tindakan sesuai dengan harapannya. lingkungan dan perubahan alam sekitar. falsafah hidup bangsa. akan tetapi dalam proses yang masih kebingungan karena masalah yang dihadapi sangat komplikatif antara kerinduan kepada demokrasi. sehingga beberapa kali kita lihat dalam menyampaikan inspirasinya dibumbui 16 . maupun secara informal. Dengan demikian. Kedua teori tersebut saling mempengaruhi terhadap perkembangan kualitas manusia. Memang Pemerintah tidak lagi menerapkan paradigma stabilitas nasional secara mutlak dalam mengatur kehidupan warganya. mereka dihadapkan pada suatu kebingungan karena mendapatkan suatu kondisi yang tidak cocok menurut pandangan mereka sebelumnya. Sistem pendidikan nasional ini berfungsi sebagai mengubah/mereformasi sistem pendidikan baik secara formal. Achmad Mubarok. dengan tegas mengatur tanggungjawab pendidikan.Wukir Ragil Berbagai sumber menyatakan bahwa perkembangan akhlak mulia dari ajaran agama. Sebagian mereka mengimplementasikan kebebasan sebagai perbuatan yang berlebihan tanpa batas atau koridor norma dan hukum. Bangsa Indonesia memasuki dunia global dimana arus informasi dan keterbukaan tak bisa dihindari.

dan memberikan peluang yang sama bagi mereka. bergaul. Demikian pula falsafah hidup suatu bangsa ikut mempengaruhi perilaku masyarakat dalam negara itu. dan wawasan kebangsaan. Indonesia memiliki falsafah Pancasila yang apabila dihayati dalam kehidupan sebagai masyarakat yang ber Ketuhanan yang menganggap bahwa diatas langit masih ada langit lagi. diatas penguasa ada yang Maha Kuasa. Penerapan hukum untuk membela manusia agar mereka tetap terhormat sebagai manusia. kesejahteraan yang berkeadilan dalam kebinekaan ini akan segera dirasakan dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia. penyampaian inspirasi tersebut kurang afdol. Seolah-olah tanpa adanya sedikit kekerasan dan pemaksaan kehendak. hukum bermakna sebagai mengatur kehidupan manusia sebagai makhluk yang beradap yang membedakannya dengan hewan. Sedangkan akhlak mulia menurut Dodi Nandika dikatakan sebagai suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia. apabila kita mampu menjadikan pola kehidupan bermusyawarah untuk mufakat adalah jalan yang terbaik dalam menentukan pilihan bersama serta memiliki jiwa keadilan dan jiwa sosial yang tinggi dalam kehidupannya maka ketentraman. tetapi juga menumbuh-kembangkan nilai-nilai luhur insani bagi kemajuan peradaban bangsa. menurut Mubarok.Makna Pendidikan dengan perbuatan oknum-oknum pengunjuk rasa yang melakukan perbuatan melanggar hukum maupun melanggar hak orang lain dalam menikmati ketenangan dalam aktifitasnya. setiap kali lahir 17 . Oleh karena itu apabila penegakkan hukum oleh negara secara adil tanpa pandang bulu. Dodi Nandika (14 Juni 2008) mengatakan bahwa. apabila kita mampu meramu dan merasakan kebinekaan dalam rasa persatuan dan kesatuan. Dalam hal efektifitas hukum ini Achmad Mubarok menyatakan bahwa. Dengan demikian apabila penegakan hukum dalam masyarakat dirasa tidak adil. karakter unggul. Dikatakan. Falsafah hidup suatu negara. Pendidikan bukan sekedar proses pengayaan intelektual. apabila akan dijadikannya sebagai pedoman bagi bangsanya untuk berperilaku maka kedamaian suatu bangsa tersebut akan dapat terwujud. apabila kita menganggap bahwa sebagai manusia yang memiliki keadilan yang beradap. Atau mungkin kelompok masyarakat itu menganggap bahwa penyampaian inspirasi dengan cara tenang dan tertib tidak akan didengar oleh yang berwenang. menjamin setiap hak dan keberadaannya pada jalan kebenaran dan keadilan. bersaing antar sesamanya secara fair dan adil. termasuk penguatan akhlak mulia. hal itu berarti akan memberikan rasa aman. yang daripadanya. maka hal ini akan mengusik rasa keadilan pada akhirnya dapat menimbulkan aksi protes. dengan hukum manusia hidup. adil dan sejahtera terhadap masyarakat.

peningkatan potensi. dan 3) bahasa. 2 tahun 2006). dan dengan semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia. peningkatan akhlak mulia. dinamika perkembangan global. Kurikulum di setiap satuan pendidikan ini akan bercorak keragaman potensi daerah dan lingkungan. tanpa melalui pertimbangan atau proses penalaran yang berat dan lama. 7) keterampilan/kejuruan. dan 8) muatan lokal. dan seni. 6) ilmu pengetahuan sosial. Dalam kaitan itu. agama. Untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut langkah pertama yang harus dilakukan adalah dimulai dari perumusan kebijakan dalam kegiatan belajar mengajar pada satuan pendidikan yaitu dengan kebijakan kurikulum. 5) ilmu pengetahuan alam. Departemen Pendidikan Nasional menaruh harapan besar yang nanti pada tahun 2015 akan tercipta manusia Indonesia sebagai Insan Indonesia Komprehensif dan Kompetitif (insan kamil/insan paripurna) yaitu insan Indonesia yang memiliki kecerdasan emosional dan sosial. memiliki Insan yang berkemampuan olah pikir. perkembangan ilmu pengetahunan. menurut Dodi Nandika. dan minat peserta didik. mewajibkan pengaturan kurikulum pada pendidikan dasar dan menengah meliputi: 1) pendidikan agama. disamping kurikulum yang menjadi ciri pada 18 . Lebih lanjut ditegaskan dalam pasal 37 ayat (1) UU Sisdiknas.Wukir Ragil manifes hal-hal yang mulia. dan 9) pengembangan diri (Permendiknas No. dan berkemampuan olah raga. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan (UU No. Demikian juga kurikulum pada pendidikan tinggi wajib memuat: 1) pendidikan agama. 3) bahasa. pada tahun 2015 nanti diharapkan akan terwujud suatu kondisi di Indonesia yang memiliki Insan yang berkemampuan olah hati untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan dan ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti. teknologi. sesuai dengan tuntutan pembangunan daerah dan nasional. 7) pendidikan jasmani dan olahraga. 20 tahun 2003). memiliki kecerdasan intelektual dan memiliki kecerdasan kinestika. kecerdasan. 2) pendidikan kewarganegaraan. 4) matematika. dengan mudah. Depdiknas menetapkan kerangka dasar dan model-model kurikulum yang dapat dijadikan rambu-rambu dan satuan pendidikan yang akan menyusunnya sesuai dengan kebutuhannya sendiri dengan memperhatikan pada peningkatan iman dan takwa. memiliki insan yang berkemampuan olah rasa. Pada program pendidikan dasar dan menengah di masa otonomi daerah dan penerapan manajemen berbasis sekolah maka kebijakan Kurikulum Pada Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan salah satu langkah yang dianggap tepat. Dengan demikan. 2) pendidikan kewarganegaraan.

dan RQ) sebagai alat dan bekal untuk Hijrah dari budaya yang sangat tidak beradab menjadi budaya santun. fakultas dan/atau perguruan tinggi tersebut yang merupakan hak otonomi kampus. dan ketujuh to tell the truth mengatakan kebenaran. Ir Dodi N Nandika. Lebih lanjut dikatakan bahwa penelitian adalah suatu kegiatan problem solving. mensiarkan kedunia. dan mentrasfer nilai-nilai budaya. to teach. mengangkat temuan ilmiah dan sekaligus menyibak kegelapan secara terus menerus sehingga almoust everyday discovery. adalah to publish. Ketiga.Makna Pendidikan setiap jurusan. bukan to report atau bukan buat repot. merubah. meneliti. tapi masih berbudaya lisan. memelihara. mengkaji. Prof. Pertama. melayani bagaimana kemiskinan. Ini yang berat karena apabila satu rukun belum dilaksanakan maka batal. mencari. Menyikapi perubahan perilaku masyarakat yang menjurus pada perubahan tata nilai luhur budaya bangsa. Mahasiswa ingin menyampaikan perubahan. Tujuh kewajiban akademik dipundak perguruan tinggi yang merupakan rukun direkomendasikan untuk dilaksanakan oleh perguruan tinggi sehingga terjadi keseimbangan antara pendidikan yang bersifat membangun kemampuan iptek dan seni dan pendidikan yang bersifat pendidikan moral. dengan merujuk pendapat mantan presiden dari negara maju. empati (IQ. budaya membaca. berakhaqul karimah. keempat. menggali. to mentor. melayani bagaimana sampah-sampah berserakan. EQ. hal ini perlu ditumbuhkan sifat empati dan simpati. tapi menghimpun. SQ. `mengajar` mentrasfer ilmu dan pengetahuan dari seorang sumber kepada mahasiswa. Kedua. belum berbudaya mem-publish. menjangkau. melayani masyarakat. MS. Tapi caranya. kita belum berbudaya menulis. Keenam to change. dan buta aksara yang merupakan kesenjangan dapat dihabisi. Lebih lanjut dikatakan bahwa kalau perguruan tinggi tidak mengatakan kebenaran maka akan batal. membimbing. karena dibalik proses belajar mengajar tadi ada mandat untuk berbudaya luhur. menyatakan bahwa ada tujuh academic duty. budaya respect to others. Dr. Yaitu. Anarchis No. Demontrasi mahasiswa meneriakkan kebenaran ingin merubah sesuatu adalah hal yang wajar dan perlu didukung. kemudian Kelima to reach beyond the wall. Critis Yes. Yang kurang baik diluruskan dan 19 . Lebih lanjut dikatakan bahwa misi yang paling utama dalam kegiatan di perguruan tinggi bukan hanya mengajar. Sekretaris Jenderal Depdiknas pada acara Rembug Penguatan Nilai-nilai dan Budaya Luhur dalam rangka peningkatan Akhlak Mulia di Perguruan Tinggi di Universitas Muhammadiyah Surakarta beberapa waktu yang lampau. menguak tabir kegelapan. to discovery.

dan Pemerintah (UU No. Samsul Wahidin (hal. Benturan yang terjadi dalam menyampaikan pendapat dapat dijadikan pola evaluasi dalam kegiatan yang lain sehingga kita tidak membiarkan rekan-rekan mengalami duakali kesalahan yang sama namun tetap dalam semangat menuju suatu perubahan. KESIMPULAN Beberapa hal yang perlu kita sadari bersama adalah Bangsa Indonesia memiliki suatu konsep menuju suatu bangsa yang besar yang mempunyai jati diri sendiri walaupun kita belum mampu mewujudkannya. pendidik. dijunjung tinggi. Semangat untuk mengadakan perubahan ini perlu “dibimbing” agar sesuai dengan harapan masyarakat luas dengan tidak mengesampingkan kepentingan masyarakat lainnya. 39 Tahun 1999 tentang HAM). Mereka harus peka melihat ketimpangan dalam kehidupan masyarakat sekitar. hukum. dan pejabat yang berwewenang perlu memiliki suatu kearifan sosial. dilindungi oleh negara. Dengan demikian dalam menjamin pelaksanaaan hak asasi tersebut.Wukir Ragil seluruh pengajar menjadi transmitter yang memancarkan akhlak mulia didepan kelas. Dengan demikian peranan pengajar/pendidik bukan hanya menyampaikan target pembelajaran saja. Kita harus mempunyai tekad bahwa Bangsa Indonesia bisa melepaskan diri dari masa-masa yang sulit setelah kita semua sudah ”dewasa” dengan belajar dari kesalahan masa lalu dan terus bekerja keras saling bahu membahu dengan menatap kedepan dengan penuh keyakinan bahwa dengan perbedaan tapi penuh makna kebersamaan akan merupakan kekayaan yang tiada tara nilainya bagi kejayaan bangsa Indonesia. Hanya kita yang bisa mengatur bangsa kita sendiri menuju kearah yang lebih baik. Hak asasi merupakan hak yang melekat pada manusia yang wajib dihormati oleh siapapun. dan pemerintah mendapat suatu masukan yang sangat berharga. para penguasa. Menurut Samsul Wahidin (dalam M Solly Lubis) menyatakan bahwa kebebasan merupakan syarat mutlak untuk mencapai suatu hak. akan tetapi juga menumbuh-kembangan potensi peserta didik dalam mengekspresikan ide dan gagasannya setelah mereka melihat keadaan yang tidak sesuai dengan harapan dan teori yang dipelajari. 20 . pengambil kebijakan. 54-55) memandang bahwa kebebasan mengeluarkan pendapat merupakan sesuatu yang asasi. kearifan lokal dan semangat nasional agar energi anggota masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat dapat disalurkan dengan efektif dan efesien.

Pola ini harus dimanfaatkan oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan dalam merumuskan kebijakan maupun dalam proses pembelajaran. Hukum sebagai perangkat aturan yang paling dominan akan memberi makna bahwa sesuatu boleh dilakukan dan sesuatu tidak boleh dilakukan akan dapat berlaku efektif apabila terdapat keteladan dan tegas dalam menegakkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. disampaikan dengan dengan enak. santun. Kini Pemerintah sangat menghargai adanya perbedaan. Sifat kegotongroyongan. f. dan menumbuhkan nilai budaya luhur berakhlaqul karimah dalam proses belajar mengajar. Perubahan sikap. sejahtera. efektif dan efisien. nyaman dipandang.Makna Pendidikan Dari uraian ringkas tersebut diatas dapat ditarik suatu benang merah bahwa: a. ramah. aman dan damai. dan ekspresi dalam segala tindakan terjadi oleh masyaraakat karena adanya perubahan paradigma dari semula pemerintah sangat yakin dengan pola stabilitas akan dapat mewujudkan suatu kehidupan masyarakat yang tentram. h. Sangat erat kaitan antara tata nilai kehidupan/budaya dalam masyarakat dengan norma-norma/ kaidah hukum di Indonesia ini akan selalu berkembang mengikuti perkembangan global dan kehendak masyarakat. kebinekaan. berperilaku. 21 b. keanekaragaman dan kemajemukan serta kebebasan menyampaikan pendapat yang direspon dengan sangat bersemangat oleh masyarakat. Melalui pendidikan dan keteladanan akan ditumbuh-kembangkan dan ditingkatkan komitmen untuk menjunjung nilai-nilai budaya luhur bangsa bagi peserta didik dalam bersikap. c. membentuk dan mengembangkan watak dan kebiasaannya. Satuan pendidikan memegang peranan penting dalam membimbing/mendampingi peserta didik. serta berhasil menyentuh para pejabat yang berwenang untuk segera mengambil tindakan yang diperlukan. . g. Penyampaian pendapat oleh warga belajar setelah melihat keadaan yang dianggap tidak sesuai dengan harapan dan teori yang pelajarinya adalah suatu yang wajar dan bukanlah merupakan penyimpangan terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia sepanjang penyampaian pendapat tersebut tidak mengganggu hak asasi orang lain dan melanggar norma yang berlaku dan hukum posistif. d. mengawal. perilaku. e. dan menjunjung nilai luhur budaya bangsa masih ada dan melekat disanubari masyarakat Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa ini. menarik perhatian secara positif. suasana yang sejuk.

Pada masa lampau. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Semangat masyarakat ini merupakan potensi. j. kita akan dapat melepaskan masa lalu yang pahit dan menuju masa sejahtera dan damai dimasa mendatang apabila kita mampu memaknai perbedaan. Perubahan dalam kebebasan ini dirasa oleh masyarakat sangat fantastis. kini setelah mengalami perubahan maka masyarakat kurang siap dengan perubahan itu. pelaksanaan kebijakan. n. dan pengawasannya. sehingga Pemerintah perlu melakukan pembinaan agar kehidupan berbangsa dan bermasyarakat yang selama ini sudah baik dapat ditingkatkan lagi atau setidak-tidaknya dipertahankan serta perlu ditumbuhkan sifat kritis yang konstruktif kepada masyarakat luas dalam mensikapi terhadap seluruh proses kebijakan pembangunan bangsa. sehingga terjadi penyimpangan dari koridor hukum maupun norma kehidupan dalam bermasyarakat. i. dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886). l. sehingga sebagian menganggap bahwa perubahan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah yang dirasa tidak sesuai harus dilawan dengan ketidaksetujuan dengan memfaatkan hak dan caranya sendiri tanpa mengindahkan jalur hukum yang harus ditempuh.Wukir Ragil Pendidikan sebagai penguatan akhlak mulia membentuk karakter unggul dalam peningkatan wawasan kebangsaan memiliki sifat dinamis sesuai dengan perkembangan tata nilai dalam masyarakat. masyarakat mengalami pelakuan yang dirasakan tidak sesuai dengan harapannya. k. Mereka merasa selalu dikekang dan tiada kebebasan berekspresi. Masyarakat dalam menyampaikan pendapat akan lebih bermakna dan tepat sasaran apabila dilakukan dengan arif dan sekaligus menghindari terganggunya hak orang lain. DAFTAR RUJUKAN Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Nomor 165 Tahun 1999. (Lembaran Negara Nomor Tahun 2003 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301) 22 . Sebagai bangsa yang besar. m.

(sebuah Introspeksi). MS. Bahan Paparan pada Rembug Penguatan Nilai-nilai dan Budaya Luhur. Unversitas Muhammadiyah Surakarta tanggal 14 Juni 2008. Dr. Ir: Pendidikan Akhlak Mulia. Prof. hal 16). MA. Teropong Pendidikan Kita.Makna Pendidikan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Prof. dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4496) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jurnal Transformasi Kependidikan dan Keagamaan. Nandika. Artikel 2005-2006. I. Departemen Pendidikan Nasional. hal 15. Hukum Pers. Religiusitas. I. (Jakarta: Raajawali. 2). Prof. (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 42. 23 . Pustaka Pelajar. N Dodi. Antologi. Muhaimin. 3 September 2008 hal. Prof Dr. Tahun 2006. Vol. SH. Religiusitas. Sukanto Soerjono dan Sri Mamudji. Pengembangan Budaya Agama dalam Komunitas Sekolah. Wahidin Samsul H. 4 September 2007. Jurnal Transformasi Kependidikan dan Keagamaan. Mubarok. MA. Penelitian Hukum Normatif. Dr. Achmad. 1986. Cetakan 2). Vol. Membangun Keluarga Bangsa dalam Prespektif Psikologi Islam.

kepala sekolah. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. kompetensi.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. pegawai. 4. Jabatan kepala sekolah merupakan jabatan yang tidak bisa diserahkan kepada setiap guru tanpa melihat apakah guru tersebut memenuhi kompetensi dan akuntabilitas yang dipersyaratkan. hak dan kewajiban. pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasehat. Keefektifan kedua komponen ini akan memberikan keyakinan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan. seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku kepada bawahannya. orangtua siswa. 2) Inspirational Motivation. masyarakat. sehingga semua unsur yang terlibat (guru. April 2009 KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM ERA OTONOMI DAERAH DAN BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA (Suatu Pendekatan Teoritis) Moh. No. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan Kata Kunci: Otonomi sekolah. kepemimpinan. 3) Intellectual Stimulation. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan inovasi dan kreativitas. Kompetensi dan akuntabilitas kepala sekolah merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan. siswa. dan akuntabilitas 24 . dan Dosen PPs UHAMKA Jakarta Abstrak Kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah adalah kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. serta harapan bagi yang berkepentingan terhadap keberhasilan pendidikan di sekolah. 4) Individualized Consideration. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh indikator-indikator: 1) Idealized Influence. dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur. Suryadi Syarif Kepala SMA Budi Mulia Ciledug Tangerang. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. manajemen. 1.

Kepemimpinan Kepala Sekolah PENDAHULUAN Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. serta mengontrol pengelolaan pendidikan. membantu. tetapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. otonomi keilmuan dan manajemen. dan inovatif. teknologi.25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi. Terutama untuk menciptakan insan-insan pembangunan yang ahli. kreatif. Sesuai dengan PP. Depdiknas saat ini tengah melaksanakan desentralisasi pendidikan yang di dalamnya terlaksana manajemen berbasis sekolah. Dalam manajemen berbasis 25 . Undang-Undang No. Hal ini bahkan telah menjadi amanat rakyat sebagaimana disebutkan dalam Ketetapan MPR-RI Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN yang menyebutkan bahwa salah satu visi pembangunan bangsa adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Otonomi diberikan agar sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta agar sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat setempat. Manajemen berbasis sekolah merupakan bentuk alternatif sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan. Sedangkan kebijakan nasional yang menjadi prioritas pemerintah harus pula dilakukan oleh sekolah. No. Untuk mewujudkan visi tersebut dalam GBHN 1999 telah dinyatakan bahwa salah satu arah kebijakan dalam pembangunan pendidikan adalah melakukan pembaharuan dan pemantapan sistem pendidikan nasional berdasarkan prinsip desentralisasi. Sejalan dengan amanat tersebut. Kualifikasi sumber daya seperti ini sangat diperlukan jika Indonesia ingin menjadi negara yang berhasil dalam menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan. terampil. Pelaksanaan desentralisasi pendidikan dalam era otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang No. 25 tahun 2000 maka sejumlah kewenangan dalam bidang pendidikan yang selama ini berada di pusat dilimpahkan kepada institusi penyelenggara pendidikan dalam bingkai pemerintah daerah. partisipasi masyarakat yang tinggi.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Masyarakat dituntut partisipasinya agar mereka lebih memahami pendidikan. yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah.25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan Peraturan Pemerintahan No. Desentralisasi pendidikan merupakan terobosan besar dalam pembangunan bangsa yang selama ini memakai paradigma top-down berubah menjadi paradigma bottom-up. dan industrialisasi sehingga mampu menghadapi persaingan global.

bagaimana nasib sekolah-sekolah kita jika dipimpin oleh orang-orang yang tidak kompeten. Jadi. ia adalah pemimpin pendidikan yang bertanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang kondusif yang memungkinkan anggotanya mendayagunakan dan mengembangkan potensinya seoptimal mungkin. dan akan tetap menjalaninya sampai pensiun. serta belajar mengembangkan kompetensi sepenuhnya. belajar bertanggung jawab. Demikian pula dalam telaahan mutakhir tren dan isu manajemen pendidikan yang dikompilasi dalam ERIC (2002: 1-3). Tentu saja kepala sekolah bukan satu-satunya determinan bagi efektif tidaknya suatu sekolah karena masih banyak faktor lain yang perlu diperhitungkan. Dalam praktek di Indonesia.Moh. saling memotivasi. melalui pendekatan sosiologi tentang efektivitas sekolah menengah menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah memainkan peran yang sangat penting. Umumnya mereka tidak cocok untuk mengemban tanggung jawab manajerial. Dalam lingkungan seperti itu. Lebih dari para manajer lainnya. 26 . kepala sekolah dituntut untuk memiliki "accountability" baik kepada masyarakat maupun kepada pemerintah. Dapat dibayangkan. kepala sekolah adalah orang yang berada di garis terdepan yang mengkoordinasikan upaya meningkatkan pembelajaran yang bermutu. Suasana seperti ini memberi ruang untuk saling belajar melalui keteladanan. Dalam kenyataan. Ada guru yang dipandang sebagai faktor kunci yang berhadapan langsung dengan para peserta didik dan masih ada lagi sejumlah masukan instrumental dan masukan lingkungan yang mempengaruhi proses pembelajaran. para guru dan peserta didik termotivasi untuk saling belajar. menjadi tumpul setelah menjadi kepala sekolah. kepala sekolah adalah guru senior yang dipandang memiliki kualifikasi menduduki jabatan itu. bukan sekadar kompetensi kognitif. kepala sekolah memainkan peran yang termasuk sangat menentukan. seperti manajer pabrik yang menghasilkan sepatu. Pada tingkat paling operasional. Kepala sekolah diangkat untuk menduduki jabatan yang bertanggunggugat (accountability) mengkoordinasikan upaya bersama mencapai tujuan pendidikan pada level sekolah masing-masing. banyak di antaranya yang tadinya berkinerja bagus sebagai guru. studi yang dilakukan oleh Lightfoot seperti dikutip oleh Dharma (2004: 2). Biasanya guru yang dipandang baik dan cakap sebagai guru diangkat menjadi kepala sekolah. bahwa kepala sekolah bukan manajer sebuah unit produksi yang hanya menghasilkan barang mati. seorang guru dapat berharap bahwa jika "beruntung" suatu saat kariernya akan berujung pada jabatan kepala sekolah. Namun. Suryadi Syarif sekolah. Guru-guru seperti ini tentunya telah terperosok ke suatu jabatan yang mereka sendiri tidak memiliki kompetensi untuk itu. dan saling memberdayakan. Misalnya.

Sebenarnya pekerjaan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di sekolahnya tidak pernah ringan. Mereka sering berada pada posisi nirdaya dalam situasi ketika kepemimpinan mereka benar-benar diperlukan. di mana sektor pendidikan juga dikelola secara otonom oleh pemerintah daerah. pemotivasian. Oleh sebab itu.Kepemimpinan Kepala Sekolah Kepala sekolah seharusnya berada di gardu paling depan dalam hal peneladanan. dan pemberdayaan itu. “ing madyo mangun karso”. Sudah sekian lama birokrasi pemerintahan negara kita tidak banyak membantu kepala sekolah mengatasi kerumitan itu. Konsepnya bagus karena MBS adalah strategi untuk meningkatkan kemandirian para pengelola pendidikan dengan memindahkan wewenang pengambilan keputusan penting dari pemerintah pusat dan daerah ke level paling operasional. Manfaat dari kajian ini adalah untuk memberikan bahan masukan bagi pemerintah pusat. Apakah ini barang baru? Sama sekali tidak karena jauh sebelumnya Ki Hadjar Dewantara telah berujar dengan pernyataannya yang terkenal: “ing ngarso sung tulodo”. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dipandang banyak pihak dapat memberi ruang gerak lebih longgar bagi kepala sekolah untuk meningkatkan mutu sekolahnya. dan akuntabilitas kepala sekolah berkaitan dengan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan pada era otonomi daerah. dan institusi sekolah dalam pelaksanaan desentralisasi pendidikan dalam konsep manajemen berbasis sekolah pada tingkat pendidikan menengah. pemerintah daerah. Sejalan dengan itu maka dalam studi ini akan dikaji kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah yang ditinjau dalam aspek kompetensi. yaitu sekolah. OTONOMI SEKOLAH Dalam era desentralisasi sekarang ini. praktis pendidikan harus ditingkatkan ke arah yang lebih baik dalam arti relevansinya bagi kepentingan daerah maupun 27 .” Uraian singkat di atas telah menunjukkan betapa tidak ringannya tanggung jawab seseorang sebagai kepala sekolah. Sudah sejak lama pula para kepala sekolah berhadapan dengan situasi di mana mereka lebih banyak tergantung pada konteks dan periferal pekerjaannya. diperlukan paradigma baru untuk menanggalkan ketergantungan yang selama ini telah merugikan para kepala sekolah yang sebagian sebenarnya mungkin telah bekerja dengan serius. Hasilnya masih belum jelas karena penerapannya ternyata juga masih harus menunggu kerelaan birokrasi pendidikan untuk mendelegasikan kekuasaannya. “tutwuri handayani.

maupun pemerintah pusat dan daerah. melakukan analisis SWOT. Esensi MBS adalah otonomi sekolah dan pengambilan keputusan partisipatif. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran. dan memberikan ganjaran kepada siswa. Peranan utama kepala sekolah dalam hal ini adalah memotivasi. Pemberdayaan yang dimaksudkan adalah peningkatan kemampuan secara fungsional. untuk itu maka sekolah-sekolah yang MBS-nya aktif seharusnya mempunyai kepala sekolah yang memainkan peranan kunci dalam mengendalikan dan meningkatkan komitmen belajar siswa. Tujuan MBS adalah untuk memandirikan dan memberdayakan sekolah. sehingga kepala sekolah mampu berperan sesuai dengan tugas. yang meliputi: 1) perencanaan. Meskipun demikian. otonomi pendidikan dalam konteks MBS harus dilakukan dengan selalu mengacu pada manfaat pendidikan bagi masyarakat. Pengambilan keputusan partisipatif adalah cara mengambil keputusan yang melibatkan kelompok-kelompok yang berkepentingan. sekolah harus meningkatkan keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaannya guna meningkatkan kualitas dan efisiensinya. Hal ini dapat dilakukan jika kepala sekolah mampu melakukan fungsi-fungsi manajemen dengan baik. mendorong para guru untuk aktif dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah dalam mengumpulkan informasi tentang belajar. menyusun rencana sekolah. dan (4) pengawasan. 2) pengorganisasian.Moh. wewenang. Manajemen sekolah saat ini memiliki kecenderungan ke arah school based management (manajemen berbasis sekolah). terutama yang melaksanakan keputusan dan yang terkena dampak keputusan. dan mengarahkan seluruh staf sekolah untuk bekerja dan bertanggungjawab atas tugasnya masing-masing. Agar penerapan desentralisasi dan otonomi pendidikan berhasil dengan baik. orangtua. Tahap-tahap pelaksanaan MBS meliputi: mensosialisasikan konsep MBS. 28 . dan tanggung jawabnya. Dalam konteks ini. (3) pengarahan. Sebagai manajer ia harus mampu mengatur agar semua potensi sekolah dapat berfungsi secara optimal. Dalam implementasi MBS fungsi-fungsi dan tugas-tugas kepala sekolah berubah dari manajer tingkat menengah ke pimpinan sekolah. Otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri dan berdasarkan pada aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. merumuskan sasaran. membimbing. Suryadi Syarif kepentingan nasional. Kepala sekolah harus bertindak sebagai manajer dan pemimpin yang efektif. maka kepemimpinan kepala sekolah perlu diberdayakan. siswa. melakukan analisis sasaran.

siswa. pegawai. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. Dari segi implementasi MBS. Pemimpin dituntut untuk mampu mengubah budaya organisasi agar konsisten dengan strategi manajemen. Menurut Bass empat karakteristik kepemimpinan transformasional. 2) Inspirational Motivation.Kepemimpinan Kepala Sekolah mengimplementasikan rencana sekolah. Kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. Keempat karakteristik kepemimpinan transformasional ini diyakini mampu menciptakan organisasi yang lebih tangguh dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan baru. Dimensi-dimensi perubahan pola manajemen dari yang lama menuju yang baru tersebut. secara konseptual maupun secara praktek tertera dalam MBS. seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku bagi yang bawahannya. adalah: 1) Idealized Influence. Kepemimpinan transformasional menganggap kepemimpinan sebagai proses kerjasama antara pemimpin dan pengikutnya untuk mencapai tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. sehingga semua unsur yang terlibat (guru. seorang kepala sekolah perlu mengadopsi kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional mampu membangun komitmen organisasi terhadap tujuan-tujuannya. dan atau dorongan kepada semua unsur yang ada dalam struktur organisasi sekolah agar dapat bekerja atas dasar sistem nilai (values system) yang luhur. Berdasarkan konsep dasar yang telah diuraikan di atas. Perubahan dimensi pola 29 . pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasihat (Rusdiyanta. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi berkembangnya inovasi dan kreativitas. maka perlu dilakukan penyesuaian dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru manajemen pendidikan masa depan yang bernuansa otonomi yang demokratis. melakukan evaluasi. agar semua potensi yang ada di sekolah dapat berfungsi secara optimal. 4) Individualized Consideration. orangtua siswa. 3) Intellectual Stimulation. masyarakat. sehingga menimbulkan persaingan yang semakin ketat. 2004: 5). Kepemimpinan transformasional lahir sebagai upaya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan eksternal yang berlangsung cepat. sekaligus memberdayakan anggota organisasi untuk meraih tujuan-tujuan itu. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mencapai tujuan sekolah. dan merumuskan sasaran baru.

2004).Mempengaruhi .net/.Pendelegasian .Mengontrol . 2.Desentralistik . Nanus dan Dobbs (1999: 7) mengutip beberapa definisi pemimpin atau kepemimpinan. KEPEMIMPINAN Kepemimpinan berasal dari bahasa Inggris leader yang berarti pemimpin dan leadership berarti kepemimpinan.Ruang gerak luwes .Moh. sedangkan kepemimpinan adalah kegiatan atau tugasnya sebagai pemimpin. Mengacu pada dimensi-dimensi tersebut di atas.Deregulasi .Mengelola resiko .Ruang gerak kaku . Suryadi Syarif manajemen pendidikan dari yang lama ke yang baru menuju MBS dapat ditunjukkan dalam tabel 1.Menghindar Resiko .Pengambilan keputusan terpusat .Motivasi diri .Memfasilitasi .Mengarahkan .pendidikan.Gunakan uang semuanya . Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Pola lama .. maka kepala sekolah dalam era otonomi sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya.Organisasi datar Pola baru Sumber: Eman Suparman.Organisasi herarkis Menuju ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> . yaitu: 1) seorang pimpinan adalah seorang penyalur harapan 30 . Tabel 1.Diatur .Otonomi .Pengambilan keputusan partisipasi .Gunakan yang seefisien mungkin . Pengambilan keputusan akan dilakukan secara partisipatif dengan mengikutsertakan pihak-pihak yang berpentingan sebesar-besarnya. Manajemen Pendidikan Masa Depan (http://www.Informasi terbagi .Pemberdayaan . Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi sekelompok orang dan mengarahkannya untuk mencapai tujuan tertentu.Sentralistik .Informasi terpribadi .Pendekatan Profesional . p.Pendekatan birokratik . Pemimpin adalah orang yang menempati posisi sebagai pimpinan.Overregulasi .Subordinasi .

(2) adaptasi. 31 . Kepemimpinan dapat dijelaskan melalui dua sudut pandang. bagaimana mengendalikan manusia dan sumber daya untuk mencapai tujuan (Thomas E. yaitu mempelajari kepemimpinan berdasarkan keterampilan yang dimiliki. mengarahkan perilaku mereka untuk mencapai tujuan. yaitu: (1) sudut proses. 2) pemimpin adalah seseorang yang secara signifikan mempengaruhi pikiran. kompetensi adaptasi adalah kemampuan menyesuaikan perilaku dengan lingkungan.Kepemimpinan Kepala Sekolah (Napoleon Bonaparte). memandang kemampuan memimpin sebagai bawaan sejak lahir. 4) pimpinan adalah orang yang bertanggungjawab membangun organisasi di mana orang-orang secara berkesinambungan mengembangkan kemampuan untuk memahami kerumitan. dan (3) komunikasi. Gardner). Pendekatan kedua. dan meningkatkan bentuk-bentuk mental kerjasama. perilaku. yakni hanya orang-orang yang berbakat memimpin yang mampu menjadi pimpinan. Dalam upaya mencapai keberhasilan dalam mempengaruhi orang lain. 3) pemimpin adalah orang yang mengetahui apa yang dibutuhkan. 5) Kepemimpinan adalah proses persuasi atau membujuk sekelompok orang untuk mengikuti tujuan yang ditetapkan oleh pimpinan atau bekerjasama dengan pimpinan dan para pengikutnya (John W. apa yang benar. Namun inti dari definisi-definisi tersebut adalah mempengaruhi atau mengendalikan sekelompok orang untuk mentaati aturan. serta selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuannya (Peter M. Senge). dan (3) kepemimpinan situasional Pendekatan pertama. kepemimpinan berperspektif perilaku. melaksanakan tugas tertentu. dan (2) sifat yang dimiliki. bekerjasama dan berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu. dan membantu menciptakan budaya kelompok atau organisasi. Terlihat bahwa acuan untuk mendefinisikan kepemimpinan bervariasi bagi masing-masing pakar kepemimpinan. Kompetensi diagnosa merupakan kemampuan kognitif untuk memahami situasi sekarang dan harapan pada masa mendatang. yaitu: (1) diagnosa. melakukan koordinasi kegiatan. memperjelas visi. maka pimpinan harus memiliki tiga dasar kepemimpinan. dan kompetensi komunikasi terkait dengan kemampuan menyampaikan pesan-pesan agar dapat dipahami orang lain Ciri-ciri seorang pemimpin dapat dijelaskan melalui tiga pendekatan yaitu: (1) kepemimpinan bawaan. (2) kepemimpinan perilaku. dan atau perasaan orang lain (Howard Gardner). Croin). yang berarti penggunaan pengaruh yang tidak memiliki kekuasaan memberikan sanksi untuk membentuk tujuan kelompok-kelompok atau organisasi. yang diartikan sebagai seperangkat ciri-ciri yang menjadi atribut seseorang yang dipersepsikan sebagai seorang pemimpin.

serta mampu menerapkannya dalam situasi kepemimpinan sebenarnya.Moh. mendelegasikan tanggung jawab dan wewenang untuk 32 Kepemimpinan Menentukan arah: mengembangkan visi masa depan. Perbedaan manajemen dan kepemimpinan Aspek Menciptakan agenda Manajemen Perencanaan dan penganggaran: menetapkan rincian langkah-langkah dan rencana waktu untuk mencapai hasil yang diperlukan. Tabel 2. kemudian mengalokasikan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai hal tersebut Pengorganisasian: menetapkan stuktur organisasi untuk mencapai persyaratan rencana. yang mencerminkan derajat pelaksanaan pengaruhnya. dengan demikian pemimpin harus memiliki perilaku yang fleksibel. kepemimpinan situasional dibangun berdasarkan asumsi bahwa tidak ada satu cara apapun yang dapat mengarahkan manusia untuk bekerja pada semua situasi. luas bidang pekerjaan. kemampuan. bahaya secara fisik yang mungkin terjadi. tingkat hirarkis. dan strategi untuk menghasilkan perubahanperubahan untuk mencapai visi Mengembangkan jaringan untuk mencapai agenda Mempersatukan orang: mengkomunikasikan arah dengan kata-kata dan tindakantindakan kepada mereka yang turut bekerjasama untuk menciptakan tim dan koalisi yang memahami visi dan strategi dan menerima kinerja . yakni keterampilan 1) teknik. ataupun kesamaan sikap dan perilakunya dengan orang-orang yang di atasnya. yang mencerminkan derajat pentingnya waktu yang dimiliki. mensetafi struktur tersebut dengan individu-individu. standar kesalahan yang ditolerir. Suryadi Syarif Kepemimpinan perilaku secara garis besarnya dapat dibagi dalam tiga kategori. dan 3) konseptual. yaitu: (1) perhatian terhadap bawahan. pengalaman. 2) manusiawi. pengetahuan tentang tugasnya. derajat kebebasan. seorang pemimpin harus memperhatikan tiga faktor utama. mampu mendiagnosa gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Dalam menerapkan kepemimpinan sesuai dengan situasi yang di hadapi. dan derajat kekaburan pelaksanaan tugas. dan karakteristik psikologis. yang berarti kepedulian pimpinan atas keahlian. sering masa depan yang panjang. (3) perhatian terhadap tugas. Pendekatan ketiga. (2) perhatian terhadap atasan.

manajemen berhubungan dengan benda. Eksekutif Pengontrolan dan Penyelesaian masalah: memonitor hasil vs. sedangkan pimpinan adalah orang yang mengerjakan suatu kebenaran. berpendapat bahwa manajemen adalah proses perencanaan. dan atau program. Sehubungan dengan fungsi-fungsi manajemen. mereka. untuk stakeholder lainnya sesuai dengan anggaran). menyediakan kebijakan dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang. Manajer adalah orang yang mengerjakan sesuatu secara benar. Memotivasi dan Menginspirasi: mengenerji orang untuk memecahkan rintangan politik. persediaan. Keluaran Sumber: John P. Kotter (1990) dalam Wirawan (2003: 22). seperti terlihat pada Tabel 2. birokrasi untuk merubahnya untuk memuaskan kebutuhan manusia yang sangat mendasar tapi sering tidak terpenuhin. dan mempunyai potensi menghasilkan perubahan yang sangat berguna (misalnya produk baru yang diinginkan pelanggan. dan mempunyai potensi secara konsisten mencapai hasilhasil tertentu yang diharapkan oleh berbagai stakeholder (misalnya pelanggan selalu tepat waktu. menciptakan metode untuk memonitor pelaksanaan rencana. Untuk jelasnya perbedaan antara manajemen dan kepemimpinan dapat dirujuk dari pendapat Kotter. pengorganisasian. pendekatan baru yang membuat perusahaan lebih kompetetif). rencana secara rinci dan kemudian merencanakan dan mengorganisasi untuk menyelesaikan masalah tersebut Menghasilkan sesuatu yang dapat diramalkan.Kepemimpinan Kepala Sekolah melaksanakan rencana. sering bersifat dramatik. Kepemimpinan dan manajemen berbeda menurut sasarannya masing-masing. pengaturan dan pengawasan aktivitas anggota organisasi yang berhubungan dengan sumber daya 33 . Menghasilkan perubahan. Steers (1985: 29). misalnya manajemen keuangan. sedangkan kepemimpinan berhubungan dengan manusia.

Dengan demikian maka kompetensi adalah karakteristik pokok dari seseorang yang memungkinkannya untuk mencapai kinerja standar dalam tugas. jabatan. Sedangkan pengawasan meliputi tiga elemen penting yaitu standar kinerja. desain mengembangkan organisasi. Pada dasarnya keseluruhan fungsi-fungsi manajerial dapat dikelompokkan atas fungsi organik (merupakan penjabaran kebijaksanaan dasar atau strategi organisasi yang telah ditetapkan dan harus digunakan sebagai dasar tindakan) dan fungsi penunjang (kegiatan yang diselenggarakan oleh orang-orang atau satuan-satuan kerja dalam organisasi. pengarahan. Suryadi Syarif untuk mencapai tujuan. dan kompetensi lebih tertuju pada aksi atau hasil daripada proses belajar mengajar. 34 . untuk itu dibutuhkan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam lingkungan atau situasi baru. Jika menyebutkan seseorang yang “incompetent” selalu berarti “incapable” atau “unqualified” yang berarti tidak mampu mengerjakan tugas tertentu atau tidak memiliki kemampuan yang dipersyaratkan. KOMPETENSI Istilah “competent” sinonim dengan kata “sufficient” dan “adequate” yang berarti mampu. berkompeten berarti menjadi sedikit memuaskan dan baik. Dijelaskan dalam New Zealand Qualifications Authority (Curfis dan Thorp. atau situasi tertentu. dan koreksi terhadap standar kinerja. cukup. Di sekolah. Manajemen sebagai suatu cara untuk melaksanakan fungsi eksekutif seperti perencanaan. pengontrolan. pembagian tugas dan otoritas sehubungan dengan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Manajerial memiliki fungsi-fungsi yang berbeda namun saling berhubungan. deviasi terhadap standar kinerja. Perencanaan mengindikasikan bagaimana tujuan organisasi akan dicapai. informasi. pengorganisasian. dan pengawasan setiap kegiatan yang mengharuskan tanggung jawab untuk mencapai suatu hasil. sedangkan sangat baik dan baik sekali merupakan kategori yang lebih tinggi. Seseorang disebut kompeten untuk mengerjakan sesuatu berarti orang tersebut benar-benar dapat melakukan pekerjaan yang dimaksud. Kompetensi tidak hanya berhubungan dengan tugas saja. yang secara bersama-sama merupakan proses manajemen. tetapi juga kemampuan pokok yang dipersyaratkan oleh pekerjaan tersebut. 2004: 1) bahwa kompetensi mencakup tidak hanya pengetahuan atau keahlian tetapi juga terapannya dalam usaha memenuhi kinerja standar yang dipersyaratkan. dan atau memadai. yang dimaksudkan untuk mendukung semua fungsi organik).Moh. Pengorganisasian meliputi pengembangan tujuan.

kepala sekolah harus memiliki kompetensi yang disyaratkan untuk dapat mengemban tanggung jawabnya dengan baik dan benar. (6) Fleksibilitas intelektual. menggunakan pengetahuan hubungan informasi dan kepekaan politis dalam organisasi untuk menciptakan keputusan yang efektif. (8) Kemampuan beradaptasi secara taktis. yaitu kemampuan individu untuk mencapai kinerja yang efektif dan bekerja secara efektif untuk mencapai tujuan pekerjaan secara efisien. (5) Keterampilan kognitif. meningkatkan kinerja seseorang dan kinerja orang lain dengan membangun. 2) Definisi elemen kunci. (2) Orientasi kepemimpinan proaktif. (3) Ketegasan. Contoh kompetensi yang didefinisikan dengan menggunakan pendekatan unsur kunci adalah: mengelola informasi dan materi untuk memudahkan dalam memperolehnya. penyebarluasan. (4) Sensitif terhadap hubungan interpersonal dan organisasi. (10) Kontrol dan evaluasi. (9) Motivasi dan perhatian terhadap pengembangan. Seorang kepala sekolah yang efektif diperlukan adanya kompetensi dan keterampilan administrasi berikut: (1) Keterampilan teknis. Contoh kompetensi dalam definisi langsung adalah: bekerja sama dengan orang lain. dan pelaksanaan visi pembelajaran 35 . dan memelihara hubungan antara pribadi secara efektif. menetapkan skala prioritas untuk memastikan bahwa batas waktu kritis dapat dicapai. yaitu: (1) Komitmen terhadap misi sekolah. yaitu kemampuan seseorang untuk bekerja secara efektif dalam pekerjaan yang ditekuninya. Melayani pelanggan dengan cara bekerja sama dengan para pelanggan secara efektif untuk mencapai tujuan usaha sendiri dan pelanggan. (5) Mengumpulkan informasi dan menganalisis pembentukan konsep. menggunakan. (7) Persuasif dan memanajemeni interaksi.Kepemimpinan Kepala Sekolah Kompetensi mempunyai dua pengertian yang relevan: 1) Definisi langsung. Agar berhasil. menggunakan fasilitas untuk mendorong usahanya dan memaksimalkan kualitas dan efisiensi hasil kerjanya. (2) Keterampilan hubungan manusia. dalam hal ini memahami visi dan misi serta memiliki integritas yang baik saja belum cukup. Setidaknya ada kesepakatan bahwa kepala sekolah perlu memiliki sejumlah kompetensi berikut: 1) Memfasilitasi pengembangan. (12) Komunikasi. (11) Kemampuan berorganisasi dan pendelegasian. Di samping keterampilan ini kepala sekolah juga diwajibkan untuk memenuhi atau memiliki kompetensi sebagai seorang kepala sekolah. mengumpulkan informasi secara terstruktur dan terorganisir dan menggunakan pendekatan sistematis untuk memastikan pengumpulan informasi secara kolektif. Kompetensi Kepala Sekolah adalah kemampuan atau kecakapan yang diperlihatkan oleh seorang kepala sekolah ketika mengerjakan tugas-tugasnya. (4) Keterampilan pendidikan dan pengajaran. (3) Keterampilan membuat konsepsional.

inovasi dan jiwa kewirausahaan. Accountability didefinisikan sebagai kemauan untuk mengakui kewajiban dan keinginan orang lain untuk menerima tanggung jawab sepenuhnya atas tindakannya dan akibat-akibatnya. dan budaya yang lebih luas. 3) Menjamin bahwa manajemen organisasi dan pengoperasian sumber daya sekolah digunakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman. dan mempertahankan lingkungan sekolah dan program pengajaran yang kondusif bagi proses belajar peserta didik dan pertumbuhan profesional para guru dan staf. 20) melakukan koordinasi. 18) menyusun dan melaksanakan regulasi sekolah. Sedangkan responsibility adalah tugas yang dibebankan kepada seseorang sebagai akibat dari wewenang yang dimiliki. bukan hanya sekedar budaya organisasi atau gaya kepemimpinan yang diharapkan. 15) memiliki dan melaksanakan kreativitas. 12) mengelola sistem informasi sekolah. 16) mengembangkan diri. ekonomi. 10) mengelola hubungan sekolahmasyarakat. 2) memahami sekolah sebagai sistem. 21) mengambil keputusan secara terampil. 22) melakukan monitoring dan evaluasi. 4) Bekerja sama dengan orang tua murid dan anggota masyarakat. moralitas. dan 25) membuat laporan akuntabilitas sekolah. membina. Dengan demikian maka disimpulkan bahwa 25 kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah lanjutan. melaksanakan dan menindaklanjuti hasil akreditasi. 5) Memberi contoh tindakan berintegritas. Akuntabilitas merupakan kewajiban nyata dalam organisasi yang tidak mencari keuntungan. sosial. efisien. Istilah accountability serupa dengan istilah responsibility (tanggung jawab). 6) mengelola tenaga kependidikan. AKUNTABILITAS Akuntabilitas mencakup isu-isu profesionalisme. 24) menyiapkan. dan mempengaruhi lingkungan politik. dan efektif. menanggapi. 4) merencanakan pengembangan sekolah. 19) memberdayakan sumberdaya sekolah. 8) mengelola kesiswaan. 36 . sehat. menanggapi kepentingan dan kebutuhan komunitas yang beragam. 3) memahami manajemen berbasis sekolah. dan memobilisasi sumber daya masyarakat. Suryadi Syarif yang dikomunikasikan dengan baik dan didukung oleh komunitas sekolah. 14) mengembangkan budaya sekolah. 11) mengelola kelembagaan. 7) mengelola sarana dan prasarana. dan keterwakilan semua kebutuhan dan harapan pihak pemangku kepentingan pada umumnya.Moh. 23) melaksanakan supervisi. 6) Memahami. 2) Membantu. kinerja organisasi. 9) mengelola keuangan. 13) memimpin sekolah. 5) mengelola kurikulum. 17) mengelola waktu. yaitu: 1) memiliki landasan dan wawasan pendidikan.

memeriksa. khususnya yang berkenaan dengan konsep tanggung jawab pribadi. dan konsekuensinya terhadap perorangan. memeriksa. dan bertanggungjawab atas hasil yang dicapai. Dalam hal ini. wewenang merupakan sesuatu yang didelegasikan. Akuntabilitas adalah suatu dasar hubungan antara kewajiban untuk mendemonstrasikan. terutama untuk akuntabilitas antara rekan kerja yang mungkin setara atau independen. akuntabilitas menggambarkan aturan-aturan permainan dan harapan bagi manajemen. 37 . Bagi manajemen sekolah. berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan dan sumber daya yang digunakan.Kepemimpinan Kepala Sekolah Tanggung jawab merupakan sesuatu yang ditugaskan. pengaturan. dan/atau antara Depdiknas pusat dengan daerah. 2004: 1). dan kesepakatan yang mengikuti seluruh sivitas akademika dalam mengupayakan peningkatan mutu berkelanjutan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat . Definisi akuntabilitas ini konsisten dengan pengelolaan hasil. dan mencakup kewajiban untuk semua kelompok dalam hubungan akuntabilitas. Accountability (pertanggungjawaban) mencakup bagaimana sumber daya yang diterima dapat dikelola dengan sebaik-baiknya untuk kegiatan-kegiatan yang menunjang pencapain tujuan yang dinyatakan (state goals). dan tanggung jawab atas kinerja. 2004: 1). Sebagai manajer. Setiap hubungan ini bersifat khusus dan mempunyai tingkat formalitas dan kompleksitas tersendiri. Tanggung jawab merupakan kewajiban untuk melaksanakan sesuatu karena menerima tugas (Schermerhorn. seseorang harus mencoba memenuhi harapan yang diuraikan oleh akuntabilitas. 1999: 6-8). Akuntabilitas adalah suatu keterhubungan mendasar dalam kewajiban untuk mendemonstrasikan. Definisi ini mencakup sejumlah ide yang dapat diterapkan dalam bidang hubungan akuntabilitas yang luas. sehubungan dengan hasil-hasil yang dicapai dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan (Barrados. tindakan korektif secara tepat. akuntabilitas seyogianya menjadi acuan dasar dalam mengembangkan perangkat peraturan. tetapi juga mencakup pemeriksaan. Dan terminologi tanggung jawab itu sendiri juga biasanya berhubungan dengan moral. Perlu dicatat bahwa akuntabilitas yang efektif tidak hanya mencakup laporan kinerja. Pertanggungjawaban tersebut antara lain menyangkut derajat efisiensi dan kesesuaian dengan norma dan peraturan yang berlaku umum termasuk pertanggungjawabannya. dan akuntabilitas tidak dapat didelegasikan. Akuntabilitas adalah suatu usaha untuk membantu para bawahan agar dapat melakukan aktivitas sesuai dengan yang telah didelegasikan dan secara pribadi bertanggungjawab atas pekerjaannya (Martin. misalnya antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.

tidak hanya antara bawahan dengan atasan seperti dalam konsep akuntabilitas tradisional. akuntabilitas dari kinerja sulit dicapai. Jika harapan tidak jelas. Dalam penerapan prinsip-prinsip tersebut perlu memperhatikan dua aspek proses akuntabilitas. Hal ini diperlukan untuk memberikan pemahaman yang jelas atas tugas dan tanggung jawab. definisi ini memungkinkan saling hubungan akuntabilitas antara para sekutu yang setara dan/atau indepeden. 4) membutuhkan pemeriksanaan dan penyesuaian. 2) Kinerja yang diharapkan. Hal ini biasanya direfleksikan dalam dokumen-dokumen yang memuat susunan pokok-pokok akuntabilitas. akuntabilitas mencakup tidak hanya laporan kinerja tetapi juga analisis dan refleksi terhadap kinerja tersebut menimbulkan perubahan yang tepat untuk perbaikan dan memberi konsekuensi yang tepat agar dapat membantu individu tersebut. dan penyesuaian laporan. Kerangka kerja akuntabilitas mempunyai empat elemen yang berdasarkan pada prinsip-prinsip akuntabilitas yang efektif. pemeriksaan. dalam hal ini apakah terdapat laporan yang efektif. untuk siapa. Dokumentasi ini dapat membantu memperjelas hubungan akuntabilitas. Kerangka kerja yang tepat adalah sangat penting untuk menciptakan akuntabilitas yang efektif. setiap kelompok bertanggungjawab tidak untuk mencapai hasil tetapi juga bagaimana mencapai hasil tersebut. 3) keduanya penting dan berarti. yaitu: 1) akuntabilitas antara para sekutu. dan otoritas yang berhubungan dengan pelaku-pelaku organisasi dalam suatu hubungan akuntabilitas. sehingga tidak hanya digunakan dalam hubungan hirarkis. 2) membantu pelaporan. menitikberatkan pada kewajiban antara semua sekutu dalam hubungan akuntabilitas. Bagian-bagian dari suatu hubungan akuntabilitas perlu dijelaskan terutama tentang informasi apa yang akan dilaporkan. 4) Mekanisme pemeriksaan dan penyesuaian. 2) akuntabilitas resiprokal. yaitu: 1) kerangka kerja akuntabilitas. seperti penguatan dan atau sanksi. dan kapan dilaporkan. Tanggung jawab dapat didelegasikan dari atasan kepada bawahan atau dalam hubungan kerjasama dapat didelegasikan kepada mitra kerja. dalam hal ini apakah tersedia kerangka kerja akuntabilitas untuk mendukung hubungan akuntabilitas yang kuat. menetapkan suatu dasar untuk penilaian dan tidak merubahnya sebelum individu dalam pengaturan tersebut berubah. 3) Persyaratan pelaporan. Saling memahami dan harapan yang diterima termasuk kontribusi apa yang diharapkan dari masing-masing bagian dan sejauhmana ketepatan penggunaannya akan dapat memperkuat hubungan akuntabilitas. yaitu: 1) Tugas dan tanggung jawab. kewajiban. Proses akuntabilitas berdasar pada prinsip-prinsip yang efektif. Suryadi Syarif Definisi akuntabilitas di atas memberikan beberapa perbaikan terhadap akuntabilitas tradisional.Moh. 38 .

masyarakat. Akuntabilitas ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan. bagaimana perbaikan harus dilaksanakan untuk meningkatkan kinerja. seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku kepada bawahannya. KESIMPULAN Kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah adalah kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. dan pemerintah. sehingga semua unsur yang terlibat (guru. pegawai. di antaranya adalah kompetensi dan akuntabilitas. kejelasan diperlukan atas bagaimana dan siapa yang akan melakukan pemeriksaan dan penyesuaian.Kepemimpinan Kepala Sekolah Akhirnya. Kepala sekolah dituntut untuk memiliki akuntabilitas kepada sekolah. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan inovasi dan kreativitas. masyarakat. 3) Intellectual Stimulation. 4) Individualized Consideration. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. Sedangkan akuntabilitas yang dimaksud adalah keterhubungan mendasar antara 39 . dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam proses peningkatan mutu. dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur. masyarakat. Setiap kepala sekolah harus memberikan laporan pertanggungjawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua. 2) Inspirational Motivation. Hal ini merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan dan harapan bagi yang berkepentingan. Terdapat beberapa hal pokok yang diperhatikan berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekolah. Kompetensi yang dimaksud adalah pola perilaku yang dibutuhkan oleh kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya agar dapat berfungsi sesuai dengan kemampuan atau kecakapan yang diperlihatkan ketika mengerjakan tugas-tugasnya. siswa. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh: 1) Idealized Influence. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. dan pemerintah. pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasehat. orangtua siswa.

S. J. 40 .ca/domino/aogbvg. M.. Inc. Management.uoregon.pdf. Dengan demikian maka berdasarkan penalaran ini diduga bahwa terdapat hubungan positif antara kompetensi. Modernizing Accountability in the Public Sector (Report of the Auditor General of Canada: http://www.eric. Leaders Who Make a Difference: Essential Strategies for Meeting the Nonprofit Challenge. & Dobbs. & Thorp. G. Jr. serta harapan bagi yang berkepentingan terhadap keberhasilan pendidikan di sekolah. Dharma.1999. inc. Defining Competency (New Zealand. D.gc. July 1993: http://www.M. Comstock. Curfis. nst/htm. Standar Kompetensi Kepala Sekolah.. Clearinghouse: Educational Manajemen Trend and Issues: the Role of School Leader. hak dan kewajiban. 2004. Keefektifan kedua komponen ini akan memberikan keyakinan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan. W. akuntabilitas secara bersama-sama dengan kepemimpinan kepala sekolah. DAFTAR RUJUKAN Barrados. New York: John Wiley & Sons.. Schermerhorn..Moh. 2004. R. Agus. Kompetensi dan akuntabilitas kepala sekolah adalah merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan. ERIC. 2004. 1994. Nanus. memeriksa. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan. New York: Delmar Publishers. Fundamentals of Supervision: The First Line Manajemen at Work. dan tanggung jawab atas kinerja. kesejahteraan. San Fransisco: Jossey-Bass Publisher. pencapaian tujuan.defining%20. 2002. sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi sekolah. T. al. 1999. 2004. Untuk itu terefektifkannya ketiga komponen tersebut dalam kepemimpinan maka diharapkan akan dapat meningkatkan kinerja kepala sekolah. B.edu. Pendidikan Network: http://pendidikan.oagbvg. et. dan penggunaan sumber daya tertentu.net/. Suryadi Syarif kewajiban untuk mendemonstrasikan.measuring/%20competency.. ERIC: http://www.

http://www. 41 . Jakarta: Yayasan Bangun Indonesia dan Uhamka Press. 1985. R. Managing Effective Organization. 2003.Kepemimpinan Kepala Sekolah Steers. Eman. Wirawan. 2004.net/. Suparman. Manajemen Pendidikan Masa Depan. Kapita Selekta Teori Kepemimpinan: Pengantar untuk Praktek dan Penelitian. USA: Kent Publishing Company. pendidikan.M.

Temuan kurang baiknya sistem pelayanan publik. mendapatkan momentum tepat ketika reformasi di berbagai bidang digulirkan di negeri ini. tenaga adminsitrasi. bahwa publik sekarang telah mengalami perubahan sejalan dengan gerakan reformasi secara nasional. Perspektif TQM ini. Tenaga administrasi sekolah haruslah menunjukkan perilaku sebagai seorang pelayan publik yang pro aktif. Pada hal. April 2009 PERILAKU TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH DALAM PELAYANAN PUBLIK DI TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Ali Imron Universitas Negeri Malang Abstrak Dalam perspektif total quality management (TQM). dan satuan pendidikan sekolah. dan sesuai harapan-tidaknya. 1. aspirasi dan harapan stake holders sekolah sesuai Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. pelayanan publik. Pelayanan publik. 4.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. bahkan sangat 42 . termasuk di bidang pendidikan. termasuk di dalamnya adalah reformasi pelayanan publik di bidang pendidikan. Pertama. melainkan melayani kepentingan publik. memuaskan-tidaknya. responsif dan antisipatif terhadap berbagai kebutuhan. sekolah dipandang sebagai institusi publik yang harus dapat memuaskan customer-nya. dalam perspektif total quality management (TQM). Oleh karena itu. termasuk dalam institusi pendidikan sedikitnya disebabkan dua hal. PENDAHULUAN Lembaga pendidikan dalam berbagai jenis dan tingkatannya diselenggarakan pada hakekatnya bukan untuk melayani dirinya sendiri. yang berupa ketrampilan teknis. sehingga publik yang semula tidak berdaya (powerless) menjadi berdaya. No. juga menguasai berbagai shoft skill yang senantiasa ditampilkan pada saat memberikan pelayanan prima sekaligus memuaskan kepada customer-nya. agar ketika dibutuhkan berada dalam keadaan on-service. publik di bidang pendidikan adalah customer yang harus ditingkatkan kepuasannya. Kata kunci: Perilaku. selain harus menguasai berbagai hard skill. Paradigma pelayanan publik di tingkat satuan pendidikan sekolah patut digeser dari yang konvensional menuju ke kondisi yang senantiasa ter-update. sering menjadi sorotan terutama kalau sudah menyangkut aspek kecepatan pelayanannya.

Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah

berdaya (powerfull). Kedua, kenyataan di lapangan menunjukkan SDM institusi pendidikan belum memberikan pelayanan publik yang memuaskan. Pada latar institusi persekolahan, kedua alasan tersebut jika diruntut akan berujung pada persoalan tenaga kependidikan di sekolah. Salah satu dari tenaga kependidikan di sekolah yang banyak terkait langsung dengan pelayanan adalah tenaga administrasi sekolah. Ketatausahaan sendiri, dalam keseluruhan manajemen pendidikan di sekolah, adalah supporting system yang sangat menentukan keberhasilan sekolah secara keseluruhan. Dalam perspektif yuridis, setidaknya menurut Undang-undang nomor 20 tahun 2003 beserta peraturan perundangan-undangan turunannya, tenaga kependidikan (termasuk di dalamnya adalah tata administrasi sekolah), adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Pendidik dan tenaga kependidikan (termasuk tenaga administratisi sekolah) berkewajiban: menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Guna melaksanakan tugas-tugas administrasi sekolah, menurut Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah, dilakukan oleh tenaga administrasi sekolah/madrasah, yang terdiri atas kepala tenaga administrasi sekolah/madrasah, pelaksana urusan, dan petugas layanan khusus. KONDISI IDEAL PELAYANAN PUBLIK Menurut Lembaga Administrasi Negara (2000), pelayanan publik (public service) adalah pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah, termasuk institusi sekolah, baik dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pelayanan publik merupakan salah satu perwujudan dari fungsi aparatur negara sebagai abdi masyarakat disamping sebagai abdi negara. Pelayanan publik juga merupakan pelaksanaan dari peraturan pemerintah atau pihak lain yang terkait. Pelayanan publik juga dimaksudkan untuk mensejahterakan masyarakat, karena dengan pelayanan publik yang baik, diharapkan masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya. 43

Ali Imron

Pelayanan publik pada dasarnya merupakan kombinasi dari berbagai fungsi yang titik tekannya tergantung lembaga dan personel yang menerapkannya. Fungsifungsi yang harus dikombinasikan dalam penerapan pelayanan publik yang handal meliputi fungsi instrumental, politik, katalis, public interest, dan entrepreneurial (Sunaryo, 2005). Fungsi instrumental berkenan dengan menjabarkan perundang-undangan dan kebijakan publik ke dalam kegiatan rutin. Hal ini terkait dengan sosialisasi kebijakan yang berlaku bagi kegiatan tertentu yang berkaitan dengan pelayanan publik. Masyarakat butuh kejelasan kebijakan untuk urusan-urusan yang menyangkut dirinya. Semakin jelas kebijakan apa yang diterapkan untuk menyelesaikan urusan tertentu bagi masyarakat, maka semakin baik pula pelayanan publik tersebut. Tenaga administrasi sekolah memegang peranan penting dalam fungsi instrumental ini, karena lalu lintas informasi yang terkait dengan undang-undang dan peraturan pemerintah senantiasa melewati mereka. Fungsi politik pelayanan publik berarti memberikan input yang dapat berupa saran dan informasi. Berarti bahwa dalam pelayanan publik diperlukan tambahan informasi kepada masyarakat untuk memperjelas sistem pelayanan publik yang diberikan. Tenaga administrasi sekolah banyak berperan sebagai informan berbagai kebijakan sekolah kepada stake holders-nya. Pelayanan publik tidak boleh meninggalkan interes dan aspirasi masyarakat yang memerlukan pelayanan. Hal ini sesuai dengan fungsi katalis public interest. Interes dan aspirasi masyarakat diintegrasikan dengan kebijakan dan keputusan pemerintah atau pihak lain pembuat kebijakan pelayanan publik, dan diimplementasikan dalam bentuk layanan konkret oleh tenaga administrasi. Fungsi entrepreneurial, yang berkenaan dengan memberi inspirasi bagi kegiatan-kegiatan inovatif dan non-rutin. Dalam pelayanan publik diupayakan ada ruang untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan agar mempermudah, mempermurah dan mempercepat serta memperakurat data/informasi dalam pelayanan publik. Jika perlu, boleh menyimpang dari kelaziman asal tidak keluar dari koridor aturan dan misi sekolah. Di sinilah peran strategis tenaga administrasi ditantang, bagaimana agar lembaganya tetap akuntabel secara administratif. Birokrasi publik (termasuk birokrasi sekolah dikatakan profesional) manakala dalam pelayanan publik menunjukkan perilaku bertanggungjawab. Konsep tanggungjawab dibedakan menjadi 3, yaitu responsibilitas (responsibility), akuntabilitas (accountability), dan responsivitas (responsiveness) para pemberi layanan (Widodo, 2004). Responsibilitas diartikan sebagai kemampuan untuk 44

Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah

melaksanakan apa yang menjadi tugas pokok, fungsi, kewenangan, dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Tanggungjawab berarti capable to do atau professionality dan rasa tanggungjawab (sense of responsibility). Profesional berarti bahwa tatausahawan dituntut memiliki kecakapan teknis yang memadai dalam menjalankan tugas pokok, fungsi, kewenangan, dan tangungjawab dalam pelayanan publik. Dengan memiliki kecakapan teknis, mereka dapat menjalankan tugas dan tanggungjawab secara efektif, efisien, dan produktif. Rasa tanggungjawab berarti tenaga administrasi sekolah melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya secara serius meskipun tidak ada pihak lain yang mengawasinya. Tenaga administrasi tetap menjaga keberpihakan kepada kepentingan publik, meskipun untuk melakukan penyelewengan bagi mereka cukup terbuka. Akuntabilitas merupakan kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja atas tindakan seseorang/pimpinan/badan hukum suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. Untuk kepentingan ini, tenaga administrasi sekolah hendaknya bersikap transparan (transparency) dan terbuka (openness) atas apa yang ditanyakan publik. Tenaga administrasi dinyatakan akuntabel manakala mereka dinilai secara obyektif oleh masyarakat telah dapat mempertanggungjawabkan segala macam perbuatan, sikap, dan sepakterjangnya kepada publik. Responsivitas diartikan sebagai daya tanggap tenaga administrasi terhadap apa yang menjadi permasalahan, kebutuhan, keluhan, dan aspirasi publik yang dilayaninya. Dengan demikian, tenaga administrasi sekolah dikatakan responsif (cepat tanggap dan cepat menanggapi) yang tinggi jika tanggap terhadap permasalahan, kebutuhan, keluhan, dan aspirasi stake holders sekolah yang dilayani. Sunarto (2005) menyatakan bahwa prinsip-prinsip dalam pelayanan publik meliputi: berdayakan masyarakat, yang dapat berupa penciptaan iklim kebebasan untuk berprakarsa dan berkreasi bagi masyarakat; optimalkan pelayanan publik, yakni pelayanan masyarakat yang efisien, adil, mudah dan mendekatkan unit pelayanan ke masyarakat; buka ruang partisipasi publik, dimana dalam manajemen di lembaga pendidikan sedapat mungkin (jika perlu) melibatkan masyarakat dalam merencanakan, pengorganisasikan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan; dan ubah gaya kerja personel lembaga pendidikan, yang semula ingin dilayani menjadi pelayan bagi masyarakat yang memerlukan.

45

Namun jika dilihat dari sisi efisiensi dan efektivitas. kurang koordinasi. Berbagai unit pelayanan yang terkait satu dengan lainnya sangat kurang berkoordinasi. lambat atau bahkan tidak sampai kepada mereka. maupun harapan masyarakat seringkali lambat atau bahkan diabaikan sama sekali. bahwa secara umum stakeholders menilai bahwa kualitas pelayanan publik mengalami perbaikan setelah diberlakukannya otonomi daerah. masih terlalu birokratis. masih menunjukkan inefisien. kemungkinan tenaga administrasi untuk dapat menyelesaikan masalah sangat kecil. aspirasi. Respon terhadap berbagai keluhan. Pada umumnya aparat pelayanan kurang memiliki kemauan untuk mendengar keluhan/saran/aspirasi dari masyarakat. Ketujuh. Kelima. Akibatnya. Pelayanan pada umumnya dilakukan dengan melalui proses yang terdiri dari berbagai level. tanpa ada perbaikan dari waktu ke waktu. responsivitas. berbagai masalah pelayanan memerlukan waktu yang lama untuk diselesaikan. Temuan Mohamad. Berbagai persyaratan yang diperlukan (khususnya dalam pelayanan perijinan) seringkali tidak relevan dengan pelayanan yang diberikan. Kondisi ini terjadi pada hampir semua tingkatan unsur pelayanan. masih kurang responsif. juga sangat sulit.Ali Imron KONDISI RIIL PELAYANAN PUBLIK Menurut hasil survey yang dilakukan UGM pada tahun 2002. dan kesamaan perlakuan (tidak diskriminatif) masih jauh dari yang diharapkan. Kedua. sebagaimana dikedepankan oleh Imron (2007). Keenam. Keempat. masih kurang informatif. sering terjadi tumpang tindih ataupun pertentangan kebijakan antara satu instansi pelayanan dengan instansi pelayanan lain yang terkait. Pertama. kurang mau mendengar keluhan/saran/aspirasi masyarakat. Dalam kaitan dengan penyelesaian masalah pelayanan. sehingga menyebabkan penyelesaian pelayanan yang terlalu lama. Akibatnya. Berbagai unit pelaksana pelayanan terletak jauh dari jangkauan masyarakat. mulai pada tingkatan petugas pelayanan (front line) sampai dengan tingkatan penanggungjawab institusi. dan di lain pihak kemungkinan masyarakat untuk bertemu dengan penanggungjawab pelayanan. Berbagai informasi yang seharusnya disampaikan kepada masyarakat. pelayanan dilaksanakan dengan apa adanya. Akibatnya. Kedelapan. bahwa pelayanan yang dilakukan oleh institusi publik paling tidak ditunjukkan dengan kondisi sebagai berikut. sehingga menyulitkan bagi mereka yang memerlukan pelayanan tersebut. dalam rangka menyelesaikan masalah yang terjadi ketika pelayanan diberikan. 46 . kurang accessible.

pelanggan dipakai sebagai sasaran pencapaian tujuan. Yang semula sekolah lebih banyak melayani kebutuhan birokrasi yang lebih tinggi dan kemungkinan sekolah sendiri minta dilayani masyarakat. Oleh karena itu. mengidentifikasi kembali siapa pelanggan sekolah tersebut. Sekolah selalu mendengar suara pelanggan. Untuk mewujudkan dan mempertahankan kepuasan pelanggan sekolah. Dalam persoalan pendidikan anak. dan memperhatikan hukum pelanggan (termasuk dalam hal ini hak-hak pelanggan sekolah) (Ramalia dalam LAN. perlunya memahami tingkat harapan pelanggan sekolah atas kualitas pelayanan. Hal ini sebagai upaya untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi dan upaya mengantisipasi pemecahan masalah yang kemungkinan akan dihadapi pada masa yang akan datang. dapat dilakukan 4 hal sebagaimana pendapat Ramalia (2001). Pelayanan pelanggan sekolah diartikan sebagai proses yang secara sadar dan terencana yang dilakukan oleh sekolah melalui pemberian pelayanan kepada pelanggan agar pelanggan mencapai kepuasan secara optimal. penting 47 . orang tua dan masyarakat selalu menginginkan agar anaknya mendapatkan pendidikan terbaik dan mendapatkan pelayanan yang prima. sekolah haruslah responsif dalam menyikapi kemauan masyarakat tanpa mengorbankan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan sekolah. perlu perubahan paradigma birokrasi di sekolah. Oleh sebab itu. memperhatikan kebutuhan dasar dan keinginan pelangggan. Tenaga administrasi sekolah perlu kreatif mengidentifikasi masalah-masalah yang sedang maupun yang akan dihadapi dalam praktik pemberian layanan sehari-hari. Di sini peran personel hubungan masyarakat. dengan bantuan staf tata usaha haus dilakukan. Harapan tingkat kepuasan pelanggan. Petama. Kedua. 2001).Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah MENGGESER PARADIGMA PELAYANAN PUBLIK DI SEKOLAH Sekolah (terutama yang berstatus negeri) adalah ujung tombak terdepan dalam pelayanan publik di lingkungan Depdiknas. Sekolah diharapkan memposisikan pelanggan sebagai hal yang paling depan. Stakeholder dalam arti luas dilibatkan dalam pembuatan keputusan utamanya berkenaan dengan kepuasan pelayanan publik di sekolah. bagi sekolah tidak lepas dari kreatifitas tata usahawannnya. Untuk dapat menjalankan fungsi yang memuaskan pelanggan. menjadi berorientasi pada pelanggan sekolah. maka diubah agar sekolah lebih responsif dalam memberikan pelayanan yang bersifat memenuhi kebutuhan pelanggan atau masyarakat yang memerlukan. Salah satu cara yang dapat digunakan sekolah agar dapat melayani masyarakat dengan prima adalah kemauan untuk menggeser paradigma birokrasi yang lebih sibuk dengan urusan internal. Dalam meningkatkan daya saing sekolah.

jenjang. TK/RA atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala TK/RA dan tenaga kebersihan TK/RA. (5) diterima dan disambut secara baik. (8) didudukkan sebagai orang penting. Lebih lanjut Ramalia (2001) mengemukakan bahwa layanan pelanggan sekolah yang baik memperhatikan sembilan aspek keinginan pelanggan sebagai berikut: (1) bebas membuat keputusan. Perubahan paradigma yang disikapi oleh sekolah dalam hal ini cukup banyak. POSISI STRATEGIS TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH Berdasarkan ketentuan dalam Standarisasi Nasional Pendidikan. kegiatan ekstrakurikuler. (6) diberitahukan segala sesuatu yang terjadi. bahwa sekolah hendaknya mengikutsertakan pembuatan keputusan bagi pelanggannya. Diantaranya. Pada pasal 35-37 dinyatakan sebagai berikut: Tenaga kependidikan pada: a. proses belajar mengajar. Pelanggan perlu diikutsertakan dalam perencanaan hal-hal penting bagi keberlanjutan pelaksanaan pendidikan anak-anak di sekolah.Ali Imron diketahui sebagai acuan untuk menentukan tujuan dan tolak kepuasan pelanggan. memahami strategi kualitas layanan pelanggan yang terwujud dalam standar pelayanan prima. maka kepuasan pelanggan atau pengguna jasa pelayanan di sekolah sulit diketahui. Dengan umpan balik akan dapat diketahui hal-hal mana yang perlu diperbaiki dan mana yang perlu dipertahankan atau ditingkatkan. (2) memperoleh hasil sesuai dengan keinginan. jenis tenaga kependidikan (termasuk tenaga administrasi atau tenaga asministratif) diatur menurut jalur. Umpan balik penting untuk mekanisme perencanaan dan pelaksanaan pelayanan berikutnya. Ketiga. Tanpa tolak ukur yang jelas. memahami siklus pengukuran dan umpan balik dari kepuasan pelanggan. (7) merasa aman dan dilindungi haknya. Standar pelayanan yang dipakai sebagai tolak ukur adalah standar pelayanan prima. Hal ini dapat dicapai melalui strategi yang dapat menjamin kualitas pelayanan prima yang didukung pula oleh personel pelayanan yang prima. Peranan staf tata usaha sebagai supporting system di sekolah sangatlah penting. antara lain penentuan pelaksanaan kurikulum sekolah. dan jenis pendidikan. dan pendidikan moral. 48 . (3) mempertahankan harga diri. Keempat. (4) mendapatkan perlakuan secara adil. dan (9) menuntut keadilan.

persyaratan pelayanan. SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat dan SMA/MA. ada beberapa kriteria. artinya segala hal yang berkenaan dengan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat diberitahukan secara terbuka kepada masyarakat yang dilayani. Tentang hal ini perlu diinformasikan secara jelas kepada masyarakat luas. rincian biaya dan tata cara pembayaran pelayanan (jika ada). ekonomis. tenaga administrasi. unit kerja atau personel yang bertanggungjawab memberikan pelayanan. c. 49 . SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. tenaga administrasi. mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia (penerima layanan) masih berpendidikan rendah. dan terapis. f. dan tenaga perpustakaan. tenaga perpustakaan. dimana proses dan hasil pelayanan dapat memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat yang dilayani. tenaga laboratorium. tenaga administrasi. tenaga laboratorium. dimana persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan. Kriteria lain adalah efisiensi. Keamanan. dan SMALB atau bentuk lain yang sederajat sekurangkurangnya terdiri atas kepala sekolah. atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang memerlukan pelayanan. Kejelasan dan kepastian tentang prosedur/tata cara pelayanan. Agar pelayanan publik yang dilakukan oleh tenaga administrasi sekolah dapat optimal. dan jadwal waktu penyelesaian pelayanan. SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. dan tidak boleh ada pengulangan persyaratan. tenaga perpustakaan. e. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. tidak berbelit-belit. tenaga laboratorium. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. Paket B dan Paket C sekurang-kurangnya terdiri atas pengelola kelompok belajar. pekerja sosial. artinya bahwa pelayanan publik dilaksanakan secara mudah. tepat. yakni kesederhanaan. ketepatan waktu dan kuantitatif. Paket A. efisiensi. keamanan. kejelasan dan kepastian. Sistem pelayanan publik dengan sederhana perlu dilaksanakan. keterbukaan. teknisi sumber belajar. tenaga kebersihan sekolah. Kesederhanaan. tenaga perpustakaan. mudah dipahami. tenaga administrasi. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. Faktor keterbukaan. cepat. keadilan.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah b. d. utamanya yang memerlukan pelayanan publik. SDLB. tenaga perpustakaan. tenaga administrasi. psikolog. SMPLB.

meluangkan waktu melebihi dari waktu yang ditetapkan dalam memberikan layanan administrasi kepada customer. jika dirasakan perlu. sejumlah perilaku pelayanan haruslah dapat diinternalisasikan dan bahkan ditunjukkan oleh tenaga administrasi dalam memberikan layanan kepada customer-nya. Terkait dengan relevansi layanan. kecermatan. Sejumlah perilaku pelayanan tersebut. 2. Tenaga administrasi sekolah menyadari keterkaitan TUPOKSI dengan keseluruhan layanan administrasi di dalam maupun di luar unit kerja. responsif. semua itu terdata secara kuantitatif sebagai upaya terus menerus mengembangkan pelayanan kepada masyarakat. helpful dan friendly. penggunaan perangkat teknologi modern untuk memperlancar pelayanan.Ali Imron Kriteria ekonomis. yakni jumlah masyarakat yang dilayani naik atau turun. 4. Tenaga administrasi sekolah mengetahui target waktu yang diperlukan untuk memberikan layanan kepada customer. perilaku berikut haruslah dapat ditunjukkan. 2007). profesionalitas. perilaku berikut haruslah dapat ditunjukkan: 1. 3. dan frekuensi keluhan dan pujian dari masyarakat yang diberi layanan. artinya pelayanan kepada masyarakat harus tepat waktu sesuai yang ditentukan dan diinformasikan kepada masyarakat. yaitu: 1. Yang terakhir adalah faktor kuantitatif. Tenaga administrasi sekolah memahami ketepatan waktu sangat penting diperhatikan dalam memberikan layanan kepada customer. Tenaga administrasi sekolah selalu mengusahakan memberikan layanan kepada customer lebih cepat dari batasan waktu yang ditetapkan. kondisi/kemampuan masyarakat. rata-rata lamanya waktu pelayanan. PERILAKU TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH Agar pelayanan publik di sekolah bisa memuaskan customer. Tenaga administrasi sekolah dapat memposisikan diri sesuai dengan TUPOKSI dalam memberikan layanan kepada customer. Faktor keadilan dan merata. Faktor ketepatan waktu. 2. dimana jangkauan pelayanan diusahakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata dan diberlakukan secara adil bagi seluruh lapisan masyarakat. 50 . berarti biaya pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhatikan nilai barang dan jasa pelayanan. dan ketentuan perundangan yang berlaku. kapabel dan cakap (Imron. Terkait dengan waktu. menyangkut waktu. proaktif. Tenaga administrasi sekolah.

perilaku berikut haruslah memainkan peranan sebagai berikut: 1. bahwa keberadaan dirinya sangat banyak ditentukan oleh keberadaan customer-nya. bahwa yang menjadi pelayan adalah dirinya. bahwa tanpa ada customer. 4. 4. Tenaga administrasi sekolah berupaya melakukan check and recheck atas hasil layanan yang diberikan kepada customer. Oleh karena itu. jika persoalan yang dimiliki oleh customer sedikit banyak telah terpecahkan melalui bantuan dan pekerjaan yang ia lakukan. sesungguhnya dirinya tidak akan punya fungsi dan peran apapun dalam lingkup pekerjaannya. 5. perilaku demikian akan ditunjukkan manakala: 1. Tenaga administrasi sekolah menyadari. 2. bahwa customer adalah segalanya.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah 3. 51 3. Tenaga administrasi sekolah menggunakan peralatan bantu untuk kecepatan dan ketepatan proses dalam memberikan layanan kepada customer. karena itu ia tidak pernah berpikir bahwa customer-lah yang harus melayani dirinya. Seorang tenaga administrasi sepatutnya juga helpful dan friendly. sehingga mereka merasakan kepuasan dari layanan yang diterimanya. Tenaga administrasi sekolah memahami langkah-langkah kerja yang harus dilalui sebelum memberikan layanan. 6. . Agar tenaga administrasi bisa cermat dalam memberikan pelayanan. Tenaga administrasi sekolah menyadari. Tenaga administrasi sekolah memahami dan mampu mempraktikkan TUPOKSI-nya dalam rangka pemberian layanan administrasi kepada customer. Tenaga administrasi sekolah memiliki sense perfective atas segala layanan yang dilakukannya. Tenaga administrasi sekolah memiliki inisiatif untuk melakukan upaya pencegahan terhadap kesalahan/kelemahan/hambatan dari layanan kepada customer. karena itu ia senantiasa berpikir bahwa keberadaaan dirinya adalah untuk membantu mereka. Tenaga administrasi sekolah merasa bangga dan senang. Tenaga administrasi sekolah menyadari. Ketika memberikan layanan. 2. Tenaga administrasi sekolah mendahulukan kepentingan customers. tenaga administrasi sekolah melakukannya dengan sungguh-sungguh. 5. 3. 4. Tenaga administrasi sekolah menyadari.

pekerjaan). dan bukan sebaliknya. secepatnya dapat dituntaskan. 4. Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir. tidak dibawanya ke tempat kerja. 9. tidak sangar. sosial. Responsiveness dan pro-aktif juga akan dapat ditunjukkan. Karena itu. ketika memberikan pelayanan tidak menunggu perintah dari atasannya. tanpa terus menunggu perintah dari atasan langsungnya. menyenangkan. bahwa yang harus ia utamakan dalam memberikan layanan adalah customer. 10. 8. bagaimana agar mereka mendapatkan kesukaran. Tenaga administrasi sekolah berusaha agar persoalan yang dihadapi oleh klien terkait layanan yang ia dapatkan. manakala: 1. ia akan dapat menggantikan dalam memberikan pelayanan. smile. Ketika customer tidak mengerti cara mengakses pelayanan. apa lagi sampai berpengaruh terhadap cara memberikan layanan kepada customer-nya. Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir dan berangan-angan. Karena itu. Tenaga administrasi sekolah berusaha untuk mengetahui alur kerja sejawatnya. tenaga administrasi sekolah menunjukkan wajah yang ramah. Dalam memberikan layanan. tenaga administrasi sekolah menawarkan bantuan. 7. kapan ia harus melayani customer-nya. dengan menanyakan: apa yang dapat saya bantu? Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir dan berusaha bagaimana agar customer menjadi mudah dalam urusannya. ia selalu berusaha untuk mengutamakan kepentingan customer dalam setiap memberikan pelayanan. agar ketika sejawatnya berhalangan. 9. Jika tenaga administrasi sekolah mempunyai persoalan (pribadi. 6. Bukan sebaliknya. Tenaga administrasi sekolah berusaha agar customer yang dilayani tidak usah menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan dari dirinya. 7. 8. tenaga administrasi sekolah memperlakukan pihak yang dilayani sebagai customer (pelanggan). bahwa pekerjaan melayani customer adalah tanggungjawab dirinya sepenuhnya. 52 . 5. kapan ia berhenti tidak memberikan pelayanan kepada customer. Tenaga administrasi sekolah menyadari. 2. Dalam memberikan pelayanan. tenaga administrasi sekolah berusaha secepatnya untuk memberikan bantuan. tenaga administrasi sekolah melakukannya dengan senang hati. Ketika ada customer yang kebingungan saat berproses mendapatkan pelayanan.Ali Imron Dalam memberikan layanan. 3.

Tenaga administrasi sekolah akan membantu memecahkannya. dan tidak semata-mata mengacu kepada waktu dan jam kerja. manakala: Tenaga administrasi sekolah menyusun schedule secara pribadi untuk penyelesaian pekerjaannya. tenaga administrasi sekolah tidak menunda-nunda (menggampangkan). benar-benar terencana (by design). tanpa harus melanggar koridor aturan dan prosedur beserta dengan jiwa yang dikandung oleh aturan dan prosedur tersebut. tanpa keluar dari koridor dan jiwa prosedur yang telah ditetapkan. akan memperendah mutu pelayanan yang dapat ia berikan. tertepat dan terakurat. Dalam setiap memberikan pelayanan kepada customer. 8. tenaga administrasi sekolah senantiasa berpedoman kepada alur kerja yang telah ditetapkan oleh atasannya. 1. 4. tenaga administrasi sekolah selalu mencari cara-cara yang tercepat.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah 10. Tenaga administrasi sekolah selalu berusaha melakukan perbaikan terus menerus mutu pelayanan (kaizen) yang ia berikan sehingga kepuasan customer-nya makin lama makin meningkat. tenaga administrasi sekolah bertindak tenang dan tidak panik meskipun ketika berada dalam tekanan. Terhadap berbagai persoalan terkait dengan pekerjaannya. 53 . 3. tenaga administrasi sekolah mengutamakan ketuntasan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. karena jika menumpuk. 10. sehingga seluruh pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. Profesionalitas. Tenaga administrasi sekolah memahami prosedur dan alur kerja beserta dengan jiwa yang dikandung oleh prosedur dan alur kerja tersebut. Dalam setiap memberikan pelayanan. 2. Ketika ia punya persoalan dan kesulitan dalam setiap memberikan pelayanan. dan bisa memuaskan customernya. 7. kapabilitas dan kecakapan juga akan dapat ditunjukkan. 5. Terhadap pekerjaan yang harus ia selesaikan. Ketika ada sejawat yang mengalami masalah terkait dengan pekerjaannya. ia tanya kepada atasannya atau sejawatnya. Dalam menyelesaikan pekerjaan. tenaga administrasi sekolah selalu mencari alternatif solusi yang terbaik. dan tidak justru menunggu kapan sejawat dan atasannya bertanya kepada dirinya. Dalam melaksanakan setiap pekerjaannya. 9. 6. sehingga pekerjaan sejawatnya tidak terbengkalai.

Konsekuensi logisnya. Ali. juga patut selalu membelajarkan tenaga kependidikan (termasuk tata usahawannya) agar selalu meng-update berbagai cara yang dilakukan dalam pelayanan publik. 54 . dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Badan Kepegawaian Daerah di tingkat Kabupaten Kota. rekomendasi yang dapat diberikan adalah. tanggap.Ali Imron KESIMPULAN Sekolah adalah institusi yang tidak hanya bermaksud untuk melayani diri sendiri. responsif. Sekolah sebagai organisasi pembelajar. atau stake holders sekolah. kapabel dan cakap. karena posisinya yang secara langsung bersentuhan dengan layanan publik. melainkan melayani publik. Lembaga Administrasi Negara dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. sangatlah penting. 2007. sederhana. karena keberdayaan pengguna layanan memungkinkan mereka makin meningkatkan tuntutannya terhadap pelayanan publik yang diberikan oleh institusi sekolah. sekolah harus menggeser paradigma pelayanan publik yang konvensional menjadi pelayanan publik yang pro aktif. DAFTAR RUJUKAN Imron. perlunya peningkatan hard skill dan shoft skill yang terkait dengan perilaku tenaga administrasi oleh institusi yang bertangungjawab dalam peningkatan kualitas SDM Pendidikan. Birokrasi sekolah. cepat. dengan demikian. Berdasarkan keseluruhan uraian tersebut. Jaminan Layanan Mutu Administrasi di Sekolah. maka posisi tenaga administrasi sekolah. yang sepatutnya diposisikan sebagai pelanggan (customer). berada dalam keadaaan senantiasa on-service. Makalah Disampaikan pada Pelatihan Administrasi Sekolah pada Staf Administrasi Sekolah. proaktif. responsif. Akuntabilitas dan Good Govermance. helpful dan friendly. Ia tidak saja hanya dituntut menguasai hard skill dan shoft skill sebagai tenaga yang berada pada posisi supporting system dalam keseluruhan aspek substantif sekolah. dan efektif sehingga memuaskan customer. 2000. Perilaku tersebut terkait dengan pengunaan waktu. profesionalitas. Guna mewujudkan birokrasi yang senantiasa on-service dan memuaskan pelanggan. kecermatan. melainkan juga menunjukkan perilaku yang mendukung terhadap kepuasan customer sekolah. berbiaya rendah. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara. Malang: Universitas Negeri Malang.

Etika Pelayanan Masyarakat (Pelanggan): Upaya Membangun Citra Birokrasi Modern. Surabaya: Adipura. Surabaya: Badan Diklat Propinsi Jawa Timur. 2004. J. Bunga Ramapai Wacana Administrasi Publik: Menguak Peluang dan Tantangan Administrasi Publik. 2005. 55 . M. 2001. Ramalia.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. Reformasi Sistem Pelayanan Publik. Sunaryo. Widodo. Swantanisasi Alternatif Reformasi Birokrasi Pelayanan Publik. Jakarta: Lembaga Administtasi Negara.

namun demikian gudang buku dan perpustakaan sangatlah berbeda. 56 . ada aturan mainnya. Tentang perpustakaan itu sendiri. B. Sementara sekolah yang memiliki perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. alternatif PENDAHULUAN Ketika orang menyebut kata perpustakaan maka pikiran orang yang mendengar akan tertuju kepada sebuah tempat atau bangunan yang berisi banyak buku. Itulah kesamaannya. Kemiripan dari keduanya terletak pada sama-sama memiliki gedung. tidak terlalu banyak orang yang berminat untuk mengkajinya. baik dalam jenis. menumbuhkan minat baca. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah pada pendidikan dasar yang belum memiliki perpustakaan. manfaat dan tujuan serta aktifitas di dalamnya. ada securitinya dan ada organisasi yang mengaturnya. Tulisan ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. orang awam sekalipun tentu paham bahwa perpustakaan sangatlah berbeda dengan gudang buku walaupun terdapat banyak kesamaannya. bahkan ada birokrasi di dalamnya. misalnya tipe A. 4. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. fungsi. ada yang mengaturnya. dan seterusnya dan perpustakaanpun demikian. baik itu secara konsep atau teori maupun secara empirikal. 1. Perpustakaan Sekolah.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. Gudang buku identik dengan toko buku. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala di lapangan. Walaupun demikian. Jurnal. jelas bernuansa bisnis. No. di dalamnya terdapat buku-buku yang jumlahnya banyak. di sana ada pembukuannya. C. April 2009 PROBLEMATIKA PERPUSTAKAAN SEKOLAH PADA PENDIDIKAN DASAR DAN ALTERNATIF SOLUSINYA Sri Marmoah Universitas Batanghari Jambi Abstrak Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. sementara perpustakaan berorientasi sosial bukan untuk dijual. Kata Kunci: Problematika solusinya. Gudang buku mungkin bisa dikategorikan menjadi beberapa jenis atau tipe.

dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Kita tidak tahu apa alasannya dan mengapa hal demikian itu yang terjadi. spiritual. majalah. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala. menulis. Keempat. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Mengapa pada pendidikan dasar. menulis.Problematika Perpustakaan Sekolah masmedia dan sejenisnya juga tidak terlalu peduli dengan keberadaannya. Perpustakaan tidak dianggap penting. bahwa perpustakaan sekolah sebagai perangkat pendidikan di sekolah merupakan bagian integral dari sistem kurikulum sekolah bersama dengan sumber belajar yang lain. untuk dapat membaca perlu sarana. Perpustakaan Sekolah bertujuan mendukung proses kegiatan belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan. Dengan adanya perpustakaan sekolah diharapkan dapat memenuhi harapan sebagai tempat/sarana untuk menggairahkan semangat belajar. dan dana yang terbatas. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah yang belum memiliki perpustakaan. pertama karena siswa pada pendidikan dasar untuk mendapatkan pengetahuan itu harus banyak membaca. Pada dasarnya keprihatinan kita akan kondisi perpustakaanlah yang membuat kita merasa perlu untuk melangkah secara serius dan lebih sistematis. 57 . dikaitkan dengan pengembangan budaya baik budaya daerah maupun nasional siswa pada pendidikan dasar itu dapat diperoleh melalui perpustakaan. Ketiga. menumbuhkan minat baca. jam buka yang sangat terbatas. Kedua. pembinaaan intelektual. membuat karangan baru. fasilitas kurang memadai. berpidato. salah satunya adalah perpustakaan sekolah. antara lain lokasinya kurang nyaman/kondusif. harus dimulai dari anak pada tingkat pendidikan dasar. Mengapa yang diteropong adalah perpustakaan sekolah. Karena dasar awal anak yang diperoleh dari pembelajaran di kelas juga di perpustakaan. Memang perpustakaan sekolah menjadi objek yang kurang diminati di negeri ini. Contoh guru memberi tugas ke perpustakaan kemudian siswa disuruh merangkum. kutbah yang dapat mengembangkan kemampuan berbicara. dan berbicara maka peran dari perpustakaan sekolah itu sangat penting. Jikapun ada. sikap. cerita. dikaitkan dengan pengembangan ketrampilan berbahasa baik membaca. Pengelolaannya tidak profesional yang disebabkan oleh ketiadaan tenaga pengelola (pustakawan) yang profesional. Tugas siswa lainnya mencakup bercerita. karena ada buku. kondisinya belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan sebagai tempat/sarana untuk menggairahkan semangat belajar. puisi termasuk membaca. koleksi buku terbatas. menumbuhkan minat baca.

serta dana”. 1995) melaksanakan fungsi manajemen sebagai dasar pengelolaannya. alternatif solusi mengefektifkan peran perpustakaan sekolah. Dikaitkan dengan pendapat tersebut. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan sumbangan konsep pemikiran tentang alternatif solusi dari segala problematika perpustakaan sekolah yang terjadi di lapangan selama ini. manajemen perpustakaan adalah pengelolaan perpustakaan yang didasarkan kepada teori dan prinsip-prinsip manajemen. Dalam kenyataannya tidak semua teori dapat diterapkan sepenuhnya. kondisi riil perpustakaan sekolah di lapangan. organizing 58 . yaitu planning (perencanaan). sehingga perpustakaan memang merupakan salah satu sarana sumber belajar yang harus dikelola dengan manajemen terbaiknya. Sedangkan prinsip-prinsip manajemen adalah dasar atau asas kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir dalam manajemen. metode.Sri Marmoah Tulisan kecil ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. PEMBAHASAN Fungsi Manajemen Perpustakaan Sekolah Menurut Agus Sutoyo dan Joko Santoso (2001:189) “Manajemen perpustakaan adalah suatu proses kegiatan yang dilaksanakan perpustakaan untuk mencapai sasaran seefisien mungkin dengan mendayagunakan semua sumber daya yang ada. dkk. melalui jasa layanannya dan kegiatan perpustakaan lainnya yang menunjang kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Saya yakin bahwa tulisan ini akan kembali mengingatkan kita tentang betapa besarnya peran perpustakaan sekolah dalam upaya mendukung keberhasilan pendidikan di lembaga itu dan tentunya mendukung tujuan pendidikan nasional. Ruang lingkup penulisan ini mencakup tentang manajemen perpustakaan ditinjau dari fungsi dan unsur-unsurnya. sarana. idealnya perpustakaan sekolah ke depan. dapat dijelaskan bahwa manajemen perpustakaan tidak semata-mata berdasarkan teoritis tetapi bagaimana mengimplementasikan teori tersebut dalam praktek operasionalnya. meliputi SDM. 1995) maupun perpustakaan sekolah (Soelistia. Sedangkan menurut Sutarno (2006:20). Teori manajemen adalah suatu konsep pemikiran atau pendapat yang dikemukakan mengenai bagaimana ilmu manajemen untuk diterapkan dalam suatu organisasi. tetapi perlu modifikasi dan penyesuaian diantara keduanya. Dengan demikian manajemen perpustakaan sekolah juga melaksanakan hal-hal tersebut disertai dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun tujuan sekolah. Manajernen perpustakaan (Abdul Rahman Saleh dan Fahidin.

c. Bahan-bahan atau sumber informasi yang ada di perpustakaan perlu diatur sebaik mungkin sehingga guru maupun siswa yang memerlukannya dapat memperoleh dengan cepat. Menyediakan sistem yang efisien mengenai pelayanan pemesanan bahan atau koleksi yang ada di sekolah. e. directing (pengarahan). Mengatur produksi sumber belajar dalam perpustakaan sekolah (jika d. Pengorganisasian (Organizing) Pengorganisasian atau pengaturan perpustakaan sekolah merupakan tanggung jawab pustakawan sekolah. Perencanaan (Planning) Perencanaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam proses pengelolaan perpustakaan sekolah. Mengidentifikasi pemakai perpustakaan sekolah yang akan dilayani. Lebih lanjut Soelistia. Memberikan sistem yang fleksibel bagi siswa baik perorangan maupun kelompok.Problematika Perpustakaan Sekolah (pengorganisasian). serta staf pengajar untuk menggunakan perpustakaan sekolah sebagai tujuan proses belajar mengajar. dan mengelola perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan para pemakainya. pustakawan sekolah dapat bekerjasama dengan guru untuk menentukan materi atau bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat pendidikan. tepat. dan controlling (pengendalian). b. Pengaturan pelayanan peminjaman yang efisien kepada staf pengajar maupun siswa. b. staffing (pengaturan staf). untuk menentukan keterampilan yang dibutuhkan oleh siswa. intisari penulisannya berikut ini: 1. dkk (1995-26-3-21) menjelaskan tentang manajemen perpustakaan sekolah yang berpedoman pada lima aspek tersebut. yaitu: a. Organizing merupakan aspek manajemen yang menyangkut penyusunan organisasi manusia dan bahan atau materi. Menentukan tujuan perpustakaan sekolah Dalam menentukan tujuan. Ada beberapa hal penting yang harus dipikirkan dalam tahap perencanaan. untuk membantu dalam penyediaan bahan sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. Kegiatan ini meliputi: a. 59 . 2. dan akurat. Menjalankan suatu sistem yang memungkinkan sumber-sumber informasi dalam bentuk perangkat keras (jika dipusatkan).

Pengendalian (Controlling) Pustakawan sekolah harus menyadari pentingnya kontrol di suatu organisasi. bermental dan bermoral jujur. pemantauan. termasuk perpustakaan. Manusia (Man) Pada dasarnya maju atau mundurnya sebuah perpustakaan akan sangat ditentukan oleh manusia-manusia yang mempunyai ide. Pengaturan Staf (Staffing) Staffing adalah kegiatan pengaturan. dan pelaksana yang handal. Pengarahan (Directing) Dalam konteks perpustakaan sekolah. 3. 4. Dengan kata lain peran seorang pimpinan benarbenar diperlukan dalam mendorong staf yang dipimpinnya sehingga mereka dapat bekerja seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan yang diinginkan. mau berkurban dan bermotivasi bekerja. perpustakaan sebaiknya memiliki tenaga-tenaga ahli pemikir. (2) menghindari kegiatan yang tidak efisien. baik dari dalam atau pengawasan melekat (built in control) maupun pengawasan dari luar (pengawasan fungsional). pengarahan merupakan tanggung jawab pimpinan perpustakaan. Perpustakaan sekolah sebagai salah satu sarana sumber belajar yang merupakan bagian dari organisasi sekolah memerlukan sumber daya manusia (SDM) sebagai pengelola perpustakaan. Oleh karena itu. Mengawasi dan mengatur pekerjaan bagi pustakawan atau staf perpustakaan yang lain. seorang pustakawan sekolah harus mengetahui teknik dan proses yang diperlukan dalam seleksi dan penerimaan staf (staff recruitment). dan konsep yang brilian.Sri Marmoah ada). dalam rangka 60 . Dalam kegiatan staffing ini. berkomunikasi dengan staf. Unsur-Unsur Manajemen Perpustakaan 1. 5. Sementara itu untuk pengawasan dapat dilakukan. training atau pelatihan staf. dan pelayanan kepada staf. perencana. cemerlang. dan f. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam aspek kontrol di perpustakaan sekolah diantaranya adalah: (1) selalu menyadari tujuan yang sedang dilaksanakan. dan mempunyai semangat untuk mengabdikan dirinya kepada kemajuan organisasi. disiplin. gagasan. dan pembinaan staf sesuai tugas dan tanggung jawab yang diberikan berdasarkan kemampuan dan bidang keterampilan yang dimiliki. (3) evaluasi terhadap pelayanan yang telah dilakukan.

non profesional. memberikan layanan terbaik kepada para pengguna jasanya. dan “Staf perpustakaan sekolah dapat terdiri staf yang profesional. yaitu para siswa.. dan berkontribusi terhadap peningkatan prestasi belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dalam hal ini sumber daya manusia (SDM) diartikan sebagai “potensi manusia yang dapat dikembangkan untuk proses produksi” (Kamus Besar Bahasa Indonesia. Proses adalah rangkaian langkah-langkah yang dirancang untuk menghasilkan suatu akibat. 1995:973). Seyogyanya 61 .. atau produk dapat berupa barang. All processes share a common pattern. teknisi. antara lain layanan peminjaman buku dan layanan referensi. They. Demikian pula halnya dengan perpustakaan sekolah yang menghasilkan jasa layanan dalam bidangnya.Problematika Perpustakaan Sekolah menjaga eksistensinya. (Segala sesuatu yang terjadi dalam organisasi adalah merupakan hasil dari proses.al. et. sebab “Everything that happens in an organization is the result of a process. 11-000:6 1). tenaga kependidikan di lingkungan sekolah dan bahkan masyarakat sekitarnya. dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan.. A process is a series of steps designed to produce an effect. Pustakawan Sekolah Pustakawan adalah seseorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu perpustakaan. et. Dengan kata lain manusia merupakan salah satu sumber daya utama dalam menggerakkan proses produksi pada suatu organisasi yang menghasilkan produk dan layanan.consume resources. guru. Dalam hal ini sumber daya manusia (SDM) pengelola perpustakaan sekolah adalah staf yang bekerja di perpustakaan. Layanan dalam bentuk jasa tersebut merupakan suatu proses produksi yang diberikan oleh sumber daya manusia (SDM) pengelola perpustakaan sekolah kepada para pengguna jasanya.al (1995:121-122) menjelaskan tentang keempat posisi staf (SDM) perpustakaan sekolah berikut ini: a. sedangkan layanan dapat berupa jasa. dan juga siswa pembantu . and they generate a product or a service . “ (Jac Fitz-enz. Semua proses merupakan bagian pola umum. Lebih lanjut Soelistia.. Proses produksi di sini berlangsung dalam suatu organisasi termasuk perpustakaan sekolah yang merupakan bagian integral dari organisasi pendidikan (sekolah). Mereka memerlukan sumbersumber dan menghasilkan suatu produk atau layanan). “ (Soelistia. 1995:19).

Sumbernya pasti b. penggandaan. Sukarelawan Murid Murid-murid dapat dilibatkan dalam kegiatan perpustakaan sebagai petugas sukarela dan senantiasa berada di bawah tanggung jawab petugas perpustakaan. baik di pelayanan sirkulasi. Dari segi tingkatan kualifikasi. pelayanan peminjaman dan pengembalian bahan pustaka. Orientasinya berdasarkan program (budget based on program) d. pengetikan kartu-kartu. Dari segi tingkatan kualifikasi pustakawan dimasukkan ke dalam tingkat profesional. 2. asisten pustakawan dimasukkan ke dalam tingkat semi profesional. Pengelolaannya akuntabel dan responsible e.Sri Marmoah pustakawan sekolah berasal dari guru yang qualified atau memiliki pendidikan perpustakaan. sehingga mereka dapat memiliki pengalaman keterampilan informasi. Sukarelawan murid ini sebaiknya diperbantukan di bagian pelayanan pembaca. Sumber Pembiayaan (Money) Prinsip-prinsip anggaran atau biaya perpustakaan itu antara lain: a. Asisten pustakawan Sebagian besar tugas asisten pustakawan adalah “membantu” tugas pustakawan. c. Penggunaannya menurut rencana c. misalnya: pengagendaan. Pertangggungjawabannya menurut aturan tertentu 62 . bagi murid dapat memiliki pengalaman bekerja dengan berbagai bahan pustaka. Teknisi Teknisi adalah tenaga perpustakaan yang sepenuhnya bertugas mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat non profesi. menumbuhkan kesadaran dan kecintaannya terhadap buku serta rasa tanggung jawab yang besar. Pustakawan sekolah harus mempunyai kualifikasi dalam bidang pendidikan dan perpustakaan. Manfaat yang diperoleh tentu saja ada pada kedua belah pihak. terutama untuk jenis pekerjaan yang bersifat profesi. referensi maupun pelayanan lainnya secara bergiliran. b. d. Sedangkan bagi staf perpustakaan lainnya dapat meringankan beban tugas/kerja di perpustakaan. pelabelan. dan sebagainya.

(c) koleksi bahan pustaka. maupun perlengkapan dan perabot serta sarana prasarana yang lainnya. Mesin-mesin yang biasanya diperlukan di perpustakaan antara lain mesin tik. e. Metode tersebut harus jelas. f.Problematika Perpustakaan Sekolah f. Jumlah anggaran diusahakan terus meningkat Pelaksanaannya selalu dapat dikontrol dengan baik Menerapkan sistem efektif efisien Tidak terjadi penyalahgunaan dan pemborosan anggaran Mesin-mesin (Machine) Pada dasarnya perangkat alat-alat yang berupa mesin-mesin yang tepat guna dan memadai. komputer. 5. mempermudah dan menyederhanakan pekerjaan memperingan beban dan tugas. Semua jenis mesin tersebut dimaksudkan untuk: a. (e) sarana komunikasi dan transportasi. c. mesin fax. mesin pres. menyimpan dan menyajikan serta memberdayakan informasi. (d) mesin-mesin. g. Metode yang diterapkan di perpustakaan adalah untuk menghimpun. mesin foto kopi. Benda dan barang-barang tersebut harus diurus dan dipergunakan dengan baik. Lebih daripada itu. dan mempermudah cara. 3. dan memperluas akses informasi. h. (b) perabot dan perlengkapan. memperingan biaya (murah). Benda dan Barang Inventaris (Materials) Perpustakaan memiliki banyak sekali barang dan benda (materials) baik berupa inventaris. Sebuah metode yang dipilih jangan 63 . mesin jilid. baik oleh petugas maupun pemakai perpustakaan. mengolah. b. mengemas. baik spesifikasinya maupun jenisnya dan dipergunakan dengan baik dapat membantu meringankan tugas-tugas dan menunjang pekerjaan perpustakaan. Benda-benda tersebut antara lain: (a) gedung dan ruangan. i. Metode (Methodes) Setiap perpustakaan tentu mempunyai suatu metode tertentu yang dipergunakan untuk menjalankan aktivitasnya. mempercepat proses waktu kerja menghemat tenaga manusia (manual) menghemat biaya menghasilkan produk yang berkualitas memperbanyak hasil (luaran) meningkatkan performa dan kinerja perpustakaan 4. sebuah metode yang dipilih untuk diterapkan di perpustakaan harus dapat membantu mempercepat waktu dan proses. d. g. dapat dipahami dan dilaksanakan serta dipergunakan.

suatu sistem yang baik untuk satu perpustakaan. yang dikerjakan dengan beberapa buku pedoman seperti dalam klasifikasi. Terjadinya akses informasi. penyiapan anggaran (untuk yang dibeli). Sirkulasi atau peminjaman dan pengembalian koleksi bahan pustaka. Pengadaan yang dimulai dari perencanaan kebutuhan koleksi bahan pustaka. mekanisme. Sistem biasanya terdiri atas beberapa sub sistem. Promosi. mekanisme. terkait. karena sangat tergantung kepada kebijakan dan pilihan masing-masing perpustakaan. Tersebarnya informasi dan termanfaatkannya informasi. Pasar (Pemakai. Perpustakaan sebagai suatu pusat informasi. Apa yang disebut sistem yang baik bagi sebuah perpustakaan? Hal ini sifatnya relatif. sebuah metode dapat terdiri atas sebuah sistem. d. dan penentuan tajuk subjek dan lain-lain. dan mempermahal biaya. Sistem. b. b. Pelanggan)/Customers Unsur yang keenam di dalam manajemen perpustakaan adalah pasar atau tempat di mana suatu transaksi (informasi) dapat dilangsungkan. e. 64 . c. dan peminjaman. 6. prosedur. katalogisasi.Sri Marmoah memperlama waktu. metode dan tata cara lainnya yang dipergunakan di perpustakaan harus baku (standar). yang antara satu dan lainnya saling berhubungan. Yang dimaksudkan dengan pasar di sini adalah bahwa perpustakaan memenuhi syarat-syarat dan sifat-sifat yang memungkinkan terjadinya transaksi informasi. mempersulit akses. tidak dapat berjalan baik. Yang dikategorikan metode atau sistem dalam perpustakaan mencakup: a. bagaimana persyaratan keanggotaan. proses seleksi berdasarkan alat-alat seleksi (selection tools). Pengolahan. mempengaruhi dan bahkan saling menentukan. sangat diperlukan dalam rangka mempublikasikan perpustakaan sekolah. antara lain: a. dan seterusnya. Terpenuhinya kebutuhan informasi bagi pengunjung. Dengan istilah lain. atau prosedut dan tata cara guna meningkatkan kinerja penyelenggaraan kegiatan. Oleh sebab itu. dan proses akuisisinya sendiri. c. mana kala tidak diselenggarakan dengan suatu sistem atau mekanisme kerja yang tersusun dan terpola baik. Layanan misalnya menggunakan sistem terbuka atau tertutup. d. dan menikmati hiburan batin dengan bacaan yang menyenangkan. belum tentu baik untuk perpustakaan yang lain. Kunjungan orang-orang ke perpustakaan untuk membaca/belajar.

mengatakan perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah yang bermaksud menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal. Ada unsur penyedia informasi (penerbit. Perpustakaan sekolah dipandang sebagai unit organisasi karena perpustakaan sekolah merupakan bagian dari organisasi yang bernaung di bawah lembaga atau sekolah tersebut. lini dan staf. Sebuah perpustakaan sebagai 65 . Perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka. misalnya jalur atau lini. wewenang dan tanggung jawab. Ada “pembeli” (pemakai perpustakaan). f. Fungsi Perpustakaan Sekolah Perpustakaan adalah sumber informasi yang menyediakan segala keperluan bagi masyarakat pemakainya. Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang menyelenggarakan pengumpulan. Sedangkan Soetopo (2002). Kalau perpustakaan sekolah dipandang sebagai unit organisasi itu maka harus memiliki unsur-unsur sebagaimana layaknya sebuah organisasi. Unsur pasar (market) di perpustakaan harus memenuhi kriteria antara lain: a. Ada permintaan dan penawaran atau supplay and demmand informasi. dan rekreasi. d. agen). baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya. Ada “perjanjian” (kesepahaman) atau ketaatan aturan layanan dan sanksi bagi mereka yang terlibat di dalamnya. tapi juga pusat penelitian sederhana. penyimpanan dan pemeliharaan berbagai jenis bahan pustaka. toko buku. 3) Jabatan-jabatan. Terselenggaranya layanan perpustakaan.Problematika Perpustakaan Sekolah f. 2) Struktur atau kerangka. Ada tempat (perpustakaan). 4) Prinsip-prinsip dan aturan permainan. fungsional.(Sutarno 2006: 46). Ada staf layanan sebagai “penjual”. e. Fungsi perpustakaan sekolah tidak hanya sebagai sumber kegiatan belajar mengajar. b. dikelola secara sistematis untuk digunakan sebagai informasi bagi pemakai perpustakaan. dan organisasi dewan atau panitia. c. staf. yakni bentuk pembagian tugas. yakni formasi jabatan yang harus diisi oleh orang-orang yang tepat sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Unsur-unsur itu meliputi: 1) Bentuk atau konfigurasi berupa bagan atau skema.

Yang dimaksudkan adalah pelayanan yang berlangsung secara mudah. Unsur-unsur yang terkait dengan system layanan perpustakaan yaitu: kesiapan petugas layanan. terampil. Bagi perpustakaan sekolah yang mempunyai sarana layanan yang masih terbatas dan konvensional maka diupayakan agar dapat memberikan pelayanan minimal kepada pengunjungnya. serta struktur organisasinya. kerja sama. Perpustakaan sebagai sebuah unit kerja atau unit organisasi perlu memiliki visi. pengalaman dan keterampilan. mudah dipahami dan dilaksanakan baik oleh petugas maupun oleh pelanggan. dan pedoman standar dibidang layanan perpustakaan yang berlaku umum sehingga mudah dipelajari untuk dipraktekkan. ramah dan berjiwa membimbing (users friendly). persamaan persepsi antara petugas dan pelanggan. cepat. baik secara lisan maupun melalui brosur dan media lainnya yang disediakan. Formasi jabatan. adalah tempat pelaksanaan transaksi peminjaman dan pengembalian buku atau bahan pustaka lainnya serta penyelesaian administrasi. dan petugas atau pengisian karyawan. mental. kesiapan peralatan dan perlengkapan sebagai penunjang. Kedua. pedoman pengadaan anggaran dan ruang lingkup bidangnya. Sistem pelayanan prima ini tentunya didukung oleh teknologi industri seperti computer. keharmonisan komunikasi. cepat. garis wewenang dan tanggung jawab. murah serta bermanfaat. Penerapan suatu sistem layanan di perpustakaan sekolah adalah dimaksudkan agar proses pemberian jasa layanan dapat berjalan dengan tertib. teratur. jelas. meja informasi. Dalam surat keputusan pendiriannya harus memuat secara jelas tentang tugas. Sedangkan bagi sekolah yang sudah modern dengan teknologinya maka hendaknya memberikan pelayanan prima. 66 . sederhana. Gambaran mekanisme sebagai suatu system layanan yang memuaskan akan terlihat jelas melalui suatu formasi layanan yang jelas diantaranya: pertama. Petugas yang ada pada meja terdepan ini sangat diharapkan agar lincah. baik fisik. atau on line. situs.Sri Marmoah salah satu unit kerja memiliki unsur-unsur seperti organisasi. dan program kerjanya yang semuanya berorientasi kepada pelayanan yang memuaskan. meja sirkulasi. kemampuan. Oleh karena dunia ini sudah sangat inclusive maka system pelayanan minimal dianjurkan untuk berangsur-angsur ditinggalkan dan semua perpustakaan sekolah hendaknya menggunakan system pelayanan prima agar bisa mencapai sasaran pelayanannya yakni kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dalam hal ini adalah guru dan siswa. tepat. kemauan. Tempat ini merupakan customer service yang terdepan diperpustakaan. fungsi. dan memuaskan. Meja informasi ini merupakan tempat pengunjung memperoleh informasi tentang alur layanan perpustakaan dari petugas. peraturan dan tata tertib perpustakaan yang singkat. misi.

Statement ini cukup beralasan karena perpustakaan sekolah berfungsi sebagai sarana edukatif. Kelima. adalah pengurusan keanggotaan perpustakaan. Namun fungsi ini belum berjalan sebagaimana yang diharapkan karena tidak semua sekolah mempunyai perpustakaan. sebelum mencari ke tempat penyimpanan buku-bukunya. computer. Kondisi Riil Perpustakaan Sekolah di Lapangan Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. Keenam. bagi yang menerapkan sistim anggota. menumbuhkan minat baca. Semua itu merupakan alat atau media untuk memanfaatkan informasi diperpustakaan. Perpustakaan yang jumlah pengunjungnya masih terbatas perlu diupayakan mencapai standar pelayanan minimal. Dari pernyataan di atas dapat digarisbawahi bahwa keadaan perpustakaan sekolah masih belum berkembang dan memerlukan penanganan segera. sedangkan perpustakaan yang jumlah pengunjungnya relative banyak maka haruslah diupayakan mencapai standar pelayanan prima. administrasi keanggotaan. riset. internet yang dipergunakan untuk memberikan layanan perpustakaan perlu didukung oleh petugas layanan yang mampu menggunakannya agar dapat memandu pengunjung yang belum mahir menggunakannya. sangsi atas pelanggaran. peraturan dan tata tertib layanan. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Kemudahan akses informasi dan system temu kembali informasi agar pemanfaatan koleksi bisa optimal dan efisien. Keempat. informatif. Tugas utama 67 . sementara sekolah yang mempunyai perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. kemudahan akses informasi. Perpustakaan sekolah pada jenjang pendidikan dasar ini sangat diperlukan terutama untuk membantu keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. peminjaman. kartu catalog sebagai wakil dari koleksi untuk ditelusuri. lemari (laci) catalog. peningkatan dan pengembangan baik untuk sarana pendukung maupun system pelayanan tentunya selalu mengalami penyesuaian.Problematika Perpustakaan Sekolah Ketiga. Jika jumlah pengunjung setiap tahun kecenderungannya meningkat maka upaya perbaikan. persyaratan dan proses keanggotaan dilaksanakan menurut ketentuan yang berlaku. Sarana pendukung dan mekanisme layanan perpustakaan sangatlah tergantung pada kompleksitasnya perpustakaan itu. Bagaimana dengan perpustakaan sekolah pada pendidikan dasar di SD dan SMP ?. Sistem pelayanan prima dengan menggunakan teknologi informasi. adalah ketentuan-ketentuan tentang syarat menjadi anggota. Semua prosedur. dan pengaturan agar suasana diperpustakaan selalu tertib dan tenang. dan rekreatif bagi komunitas sekolah.

43 tahun 2007 tentang perpustakaan pada pasal 23 ayat 1. sebagai sumber pengetahuan. Pertama. dan Threats (ancaman). yaitu setiap sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional pendidikan. sedangkan tantangan selalu berisi peluang. dan ayat 3 yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki koleksi lain yang mendukung pelaksanaan kurikulum pendidikan. Maksud kekuatan dalam analisis ini adalah faktor-fakor yang mendukung penyelenggaraan program. Weakness. sehingga lebih cenderung menggunakan kata yang mengandung unsur positif yaitu tantangan (Challenges). sumber daya manusia yang berkompeten. menumbuhkan minat baca. dukungan dari kepala sekolah kurang dan keuangan yang sangat minim. SWOT merupakan singkatan dari kata Strengths (kekuatan). terbatasnya ruang perpustakaan 68 . Hal ini sesuai dengan UU RI No. yang tidak mungkin dipenuhi oleh sekolah. sumber daya perpustakaaan yang rendah. Perpustakaan sebagai sumber belajar di sekolah. Kedua. Treath). Kekuatan. sehingga bahan-bahan pustaka harus dikaitkan dengan kurikulum sekolah. Pertama. Menurut Sihombing (2000). Opportunities (peluang). tidak nyaman. Sehingga pendekatannya menjadi SWOC. Ada beberapa hal yang sering menghambat fungsi perpustakaan sekolah. Permasalahan ini dapat kita lihat dengan menganalisis dengan SWOT (Strenghness. Pengubahan ancaman menjadi tantangan karena dia melihat bahwa ancaman kalau dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi peluang. Sebagai contoh disebutkan bahwa lokasi perpustakaan di sekolah yang kurang strategis. mendorong siswa untuk belajar mandiri. Ada banyak hal yang menyebabkan munculnya berbagai permasalahan pada perpustakaan sekolah. Sarana perpustakaan yang tidak lengkap. dan didukung oleh kebijakan pemerintah. Contohnya kekuatan-kekuatan yang ada pada program perpustakaan sekolah antara lain dapat menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada tanpa harus memenuhi persyaratan tertentu/ ketat.Sri Marmoah perpustakaan jenis ini adalah menunjang kurikulum. Selain itu yang merupakan kekuatan adalah adanya koleksi buku yang memadai. Kelemahan. kecil. Permasalahan merupakan kelemahan yang dapat berubah menjadi tantangan kelancaran pelaksanaan tugas / program. kata Threats mengandung unsur yang negatif. koleksi buku yang terbatas. Maksud kelemahan dalam analisis ini adalah permasalahan yang timbul dari penyelenggaraan program dan hasilnya. gudang ilmu. Opportunity. waktu kunjungan terbatas. Weaknesses (kelemahan). serta diakui eksistensinya oleh semua pihak (masyarakat). dan pengembangan potensi siswa serta pengembangan sosial budaya siswa. Perpustakaan juga berfungsi untuk menggairahkan semangat belajar.

struktur organisasi perpustakaan jelas dan berjalan baik. memiliki perabot yang memadai. Sedangkan menurut Rachmananta. kriteria dari perpustakaan sekolah yang ideal adalah: adanya status kelembagaan yang kuat. partisipasi pemakainya baik dan aktif. Tantangan bukan penghambat. pelayanan terhadap anggotanya dan koleksi buku-buku perpustakaan. memiliki ruangan yang memadai. 43 Tahun 2007 dan adanya kebijakan dari Dinas Pendidikan tentang wajib adanya perpustakaan sekolah di setiap sekolah. perpustakaan dikatakan ideal apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: berani memantapkan keberadaan lembaga perpustakaan sesuai dengan jenisnya. dengan tanpa memperhatikan kesehatan dan kenyamanan. keterbatasan bahan pustaka. Banyak perpustakaan yang hanya menempati ruang sempit. Idealnya Perpustakaan Sekolah ke Depan Perpustakaan yang ideal harus memenuhi pedoman-pedoman diantaranya adalah lokasi. Sebagai contoh adanya dasar hukum yang kuat yakni dengan adanya UU No. kurangnya promosi penggunaan perpustakaan menyebabkan tidak banyak siswa yang mau memanfaatkan jasa layanan perpustakaan. selalu meningkatkan mutu melalui pelatihan-pelatihan bagi tenaga pustakawan. direbut. Peluang. tetapi perangsang untuk mendorong perencana pendidikan luar sekolah untuk lebih kreatif dan dinamis. variasi maupun kualitasnya. Maksud tantangan dalam analisis ini adalah hal-hal yang harus diatasi. tata ruang. Kedua. statis dan mudah puas. Ketiga. Tantangan. jenis koleksinya komposisinya 40% buku teks. melakukan promosi dan menyelenggarakan jaringan kerja sama baik dalam negeri maupun luar negeri. Maksud peluang dari analisis ini adalah hal-hal atau faktorfaktor dari luar program yang kalau dicermati dan dimanfaatkan dengan baik dapat menjadi tumpuan harapan dimasa depan. Tantangan dapat berubah menjadi peluang bagi perencana yang tidak berperilaku apatis. baik dalam hal jumlah. 30% buku 69 . 30% buku pengayaan. memiliki tempat baca yang memadai. Kurangnya ajakan untuk mengunjungi perpustakaan menjadikan anak asing terhadap perpustakaan. diperbaiki dan ditingkatkan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dalam usaha mencapai tujuan. administrasi. Contoh perpustakaan sekolah swasta relatif lebih bagus daripada sekolah negeri. Keempat. melakukan upaya-upaya pengembangan dan pembinaan perpustakaan terus menerus dari segi sistem manejemen dan teknis operasional. terbatasnya jumlah petugas perpustakaan (pustakawan).Problematika Perpustakaan Sekolah di samping letaknya yang kurang strategis. Ketiga. Keempat. Sedangkan menurut Sudarmono (2004) dalam pengembangan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar.

standar pelayanan perpustakaan. Perpustakaan yang ideal dan tetap survive dengan perkembangan zaman. serta judul buku bervariasi. adanya kerjasama dengan sekolah lain. perpustakaan juga membuka usaha lain seperti fotokopi. Mengacu kepada Undang-undang tersebut sudah semestinya agar perpustakaan sekolah menjadi ideal dan mampu menjawab tantangan masa depan harus memenuhi kriteria tersebut. agar perpustakaan sekolah lebih efektif dan efisien dalam pengembangan perpustakaan harus menggunakan manajemen perpustakaan yang benar. memiliki program pengembangan minat membaca di kalangan siswa. standar sarana dan prasarana. pengorganisasian koleksinya teratur. didukung dengan teknologi informasi dan komunikasi. memiliki tenaga pengelola dengan kompetensi yang memadai. Perpustakaan yang ideal harus mengacu kepada standar nasional perpustakaan. memiliki program mitra perpustakaan. Manajemen ini juga tergantung pada SDM dalam perpustakaan tersebut. yaitu berhubungan dengan dana dan untuk menambah pemasukan dapat mengembangkan entrepreneurship di perpustakaan. Dalam Undang-Undang RI nomor 43 tahun 2007 pada bab III pasal 11 ayat 1 dijelaskan bahwa standar nasional perpustakaan terdiri atas: standar koleksi perpustakaan. tetapi berupa buku-buku bacaan yang menarik minat siswa untuk membacanya.Sri Marmoah fiksi. atau seorang honorer yang diberi tugas tambahan untuk mengelola perpustakaan. dan standar pengelolaan. menjual peralatan sekolah. penjaga sekolah. Kedua. diantaranya selain menjadikan tempat peminjaman buku pada masyarakat. dan adanya jam perpustakaan yang terintegrasi dalam kurikulum. serta souvenir. koleksi sesuai dengan kebutuhan kurikulum. bahkan makanan dan minuman. 70 . administrasi perpustakaannya tertib. memiliki anggaran perpustakaan secara tetap. standar penyelenggaraan. Ketiga. sumber daya yang mengelola di perpustakaan adalah benar-benar seorang pustakawan bukan guru. Cara yang ditempuh banyak sekali. memiliki peraturan perpustakaan. Hal keempat. maka perpustakaan akan cepat berkembang. standar tenaga perpustakaan. pelayanannya menyenangkan. koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan harus terus ditingkatkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. memiliki program keberaksaraan informasi (literasi informasi). seharusnya memenuhi kriteria berikut: pertama. Sudah saatnya perpustakaan tidak hanya berisi buku-buku paket. memiliki sarana penelusuran informasi yang baik. melakukan kegiatan promosi dan pemasyarakatan perpustakaan. Jika SDM-nya cukup berkompeten untuk membuat perpustakaan maju. memiliki program pengembangan secara jelas dan terarah.

dll. hal ini akan sangat membantu mendorong dan mengembangkan minat kemampuan serta kebiasaan membaca yang pada gilirannya dapat membentuk sikap siswa untuk belajar mandiri. Masyarakat sekitar perlu mendukung perpustakaan sekolah misalnya dengan memberikan bantuan buku-buku dan dana. h. g. e. f. Kerjasama dapat dilakukan dengan study visit untuk mengetahui koleksi apa saja yang sesuai untuk siswa pada usia anak-anak atau remaja. Siswa akhir di sekolah kelas VI (SD).Problematika Perpustakaan Sekolah Alternatif Solusi Mengefektifkan Peran Perpustakaan Sekolah. Guru-guru harus mendukung pengembangan perpustakaan sekolah dengan wujud contoh gemar membaca dan menulis makalah. jurnal. b. Perlu partisipasi dari semua pihak yang terlibat untuk memajukan perpustakaan sekolah. 71 . c. dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan layanannya kepada siswa. berdaya guna bagi siswa. hal ini dalam rangka membudayakan peninggalan kenang-kenangan untuk sekolah. m. dan kelas IX (SMP). Guru-guru sampai penjaga sekolah dilibatkan secara aktif untuk mengelola perpustakaan. pengembangan SDM. pelatihan. Perpustakaan sekolah dapat bekerjasama dengan perpustakaan umum/daerah. Perlunya perpustakaan di setiap sekolah. diwajibkan untuk memberikan hibah berupa buku-buku ke sekolah. j. setelah selesai diwajibkan untuk memberikan copian baik berupa softcopi maupun berupa buku-buku. Memperhatikan problematika yang ada serta memperhatikan kondisi riil dan yang ideal maka penulis menawarkan beberapa solusi untuk memperbaiki kondisi yang ada. untuk dikumpulkan dan dijadikan koleksi perpustakaan. k. Guru wajib memberikan contoh kepada para siswa dengan rajin membaca di perpustakaan. Kepala sekolah sebagai manajer atau pimpinan perlu menjadwalkan secara khusus kunjungan ke perpustakaan. kursus. serta layanan apa saja yang ada di sana. d. Diperlukan SDM/pustakawan yang profesional. pengembangan termasuk pendanaan. l. Guru-guru yang penataran. i. Perlu adanya kebijakan dari sekolah dan pemda untuk mengembangkan perpustakaan sekolah. Komite sekolah dan stakeholder harus memikirkan eksistensi perpustakaan sekolah agar dapat berhasil. a.

Alternatif solusi dalam pemecahan problematika perpustakaan sekolah dengan memberdayakan unsur-unsur manajemen yang ada pada lembaga sekolah. Sedangkan alternatif solusi bagi perpustakaan sekolah pemula. pengorganisasian (organizing). 72 3. Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. atau yang belum memadai. Dengan pengelolaan (manajemen) perpustakaan yang baik akan dapat menarik para siswa senang berkunjung dan memanfaatkan sarana tersebut. pelayanan sebaiknya dilakukan saat istirahat dan atau setelah keluar sekolah. 2. Perpustakaan sekolah yang ideal harus mengacu kepada standar nasional perpustakaan. Agar efektif dan efisien dalam mencapai tujuan perpustakaan sekolah. maka dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. sebaiknya perpustakaan dikunjungi oleh siswa sebagai tempat belajar setelah keluar sekolah. harus mengacu kepada fungsi manajemen yang mencakup perencanaan (planning). Sebagai contoh yaitu dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi.Sri Marmoah Selain itu dengan pengelolaan (manajemen) perpustakaan yang baik akan dapat menarik para siswa senang berkunjung dan memanfaatkan sarana tersebut. perpustakaan cukup melayani peminjaman buku kepada siswa untuk dibawa ke rumah dalam beberapa lama sesuai ketentuan. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Sebagai contoh yaitu dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. menumbuhkan minat baca. Pemanfaatan ICT sebagai sarana dalam meningkatkan kualitas layanan dan operasional telah membawa perubahan yang besar di perpustakaan. 4. pengaturan staf (staffing). dapat dicari solusinya dengan tiga hal yang disarankan yaitu: pertama. Perpustakaan sebagai sumber informasi di sekolah memiliki peran yang penting dalam menunjang kegiatan belajar mengajar. pengarahan (directing). Kedua. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan. untuk itu pelayanannya juga disesuaikan dengan kebutuhan siswa. dan pengendalian (controlling). Perkembangan dari penerapan ICT dapat diukur dengan telah diterapkannya/ digunakannya sebagai sistem informasi manajemen (SIM) perpustakaan dan perpustakaan digital (digital library). Ketiga. 5. .

Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. dan lain-lain. 2000. 1995. 2004. pengembangan termasuk pendanaan. Pengelola perpustakaan dan tenaga kependidikan hendaknya saling berkoordinasi sebagai sarana untuk meningkatkan pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar yang menyenangkan. 1995. 1992. Malang: UM Press. Soelistia. ------------. dan Memelihara Perpustakaan di Sekolah. Depdikbud. 2.. Jac. Jakarta: Balai Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka. Perpustakaan Nasional RI. Menjadi Pintar: Memanfaatkan Perpustakaan Sekolah sebagai Sumber Belajar. Perlu adanya kebijakan dari sekolah dan pemda untuk mengembangkan perpustakaan sekolah. 3. 73 . 2002. Komite sekolah dan stakeholder harus memikirkan eksistensi perpustakaan sekolah agar dapat berhasil dan berdaya guna bagi siswa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 4. New York: AMACOM (American Management Association). 5. DAFTAR RUJUKAN Ali Lukman. Petunjuk untuk Membina. et. Guru dan tenaga kependidikan lainnya hendaknya mengarahkan peserta didik untuk lebih memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar untuk memperoleh informasi yang mereka inginkan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.Problematika Perpustakaan Sekolah Rekomendasi Saran yang dapat dikemukakan dalam rangka mencari solusi dari problematika perpustakaan sekolah. Fitz-enz. Cetakan ke-2 Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. Darmono. pengembangan SDM.al. dkk. Kepala Sekolah sebagai manajer atau pimpinan sekolah perlu menjadwalkan secara khusus kunjungan ke perpustakaan. The ROI of Human Capital (Measuring the Economic Value of Employee Performance). Manajemen Perpustakaan Sekolah. Perpustakaan Sekolah. Memakai. adalah : 1.

Sri Marmoah Sutarno. dkk. Sutoyo. Suatu Pendekatan Praktik. NS. Jakarta: Sagung Seto. Manajemen Perpustakaan. 2006. Jakarta: Sagung Seto. 74 . 2001. Strategi dan Pemikiran Perpustakaan Visi Hernandono. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.

Untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok. administrator (administrator). pengelola (manager). ia mampu bekerja keras dan berani menanggung risiko. kepala . administrator (administrator). Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya. selama ini menunjukkan bahwa sebagian Kepala Sekolah agaknya masih belum memainkan peranannya secara optimal. entrepreneurship harus dicontohkan oleh guru-guru dan kepemimpinan kepala sekolahnya. Kepala sekolah adalah orang kunci yang menentukan sukses atau gagalnya sekolah dalam mencapai tujuannya. 4. Oleh karena itu. seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator).wirausahawan (entrepreneur). ia belum mampu membimbing guru dan staf tata 75 kepemimpinan. yaitu seorang kepala sekolah yang mampu mengelola sumber daya manusia maupun nonmanusia secara efektif dan efisien. No. penyelia (supervisor). Keefektifan suatu sekolah dalam menggapai visi. dan menjalankan aktifitas pendidikan mempersyaratkan adanya seorang kepala sekolah yang efektif. pemimpin (leader). dan pencipta iklim kerja (climator). mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui). mengemban misi.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. dan pencipta iklim kerja (climator). Selain itu. Untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok. April 2009 PERILAKU KEPEMIMPINAN ENTREPRENEURSHIP KEPALA SEKOLAH Rokhmaniyah Universitas Negeri Jakarta Abstrak Tugas pokok Kepala Sekolah adalah mengelola kegiatan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. 1. penyelia (supervisor). Kata kunci: perilaku sekolah. entrepreneurship. seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator). PENDAHULUAN Tugas pokok Kepala Sekolah adalah mengelola (memanaj) penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. pemimpin (leader). Budaya kita adalah budaya paternalistik. wirausahawan (entrepreneur). Pengamatan sekilas di lapangan. pengelola (manager). Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. Hal ini ditunjukkan sebagai educator.

dapat mengurangi pengangguran bukan menambah pengangguran. Masih lebih mementingkan pencapaian target kurikulum daripada kualitas daya serap siswanya. dan waktu (belum BMW). membaca peluang sekolah dalam meningkatkan minat calon siswa masuk ke sekolahnya. Hal ini jelas sebagai dampak dari perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah. mutu. membangun memotivasi guru bekerja. memperbaiki sistem insentif. dan mengelola waktu.Rokhmaniyah usaha dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Akibatnya. menggunakan kekuasaannya dengan baik. ia belum memiliki kemampuan manajerial seperti memenej sekolah. membuat rencana strategik. Pada hal di era globalisasi sekarang ini secara khusus lebih dibutuhkan kepemimpinan enterprneurship agar lulusannya mampu menciptakan lapangan kerja bukan mencari pekerjaan. Dengan demikian. dan menciptakan suasana Pembelajaran yang Aktif. Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya. dan memiliki perilaku pemimpin. ia lebih disibukkan pada penyelesaian tugas administratif daripada edukatif. ia belum mampu bertindak kreatif dan inovatif. mengembangkan unit produksi sekolah. Efektif. dan Menyenangkan (PAKEM). kepala sekolah belum mampu melaksanakan pengawasan secara ketat sehingga hasil praktik siswanya belum bernilai ekonomis dalam arti belum hemat biaya. ia belum mampu memenuhi kriteria sukses. Sebagian Kepala Sekolah kita masih berperilaku lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas lulusannya. Belum memiliki perencanaan program sekolah yang mantap dengan pelaksanaan yang belum tepat. Kreatif. memberikan pendidikan yang bermutu bagi lulusannya sehingga dunia usaha dan industri mengeluh terhadap rendahnya mutu lulusan SMK. memotivasi siswa belajar. 76 . Dalam rangka pemberdayaan Kepala Sekolah. lulusan akan memiliki life skill dan out come. mengelola konflik dan stres. mengkoordinasikan tugas-tugas stafnya. mengambil keputusan. Sebagai leader. Selain itu. Sebagai Supervisor. bekerja sama dengan pengusaha. Sebagai climator. Sebagai manager. dan memasarkan hasil unit produksi sekolah dan lulusannya. penulis ingin menyoroti perilaku entrepreneushipr kepala sekolah. hasil pembelajaran belum mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan pengalaman kewiraswastaan bagi siswanya. ia belum mampu menciptakan budaya sekolah. kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Sebagai entrepreneur. memiliki sifat-sifat pemimpin. motivasi guru dan siswa agar memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas. mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui).

Hakikat kepemimpinan adalah kegiatan seseorang menggerakkan orang lain agar orang lain berkenan melaksanakan tugas-tugasnya. c. Joseph A. mengajak. Kata entrepreneur berasal dari bahasa Prancis. Kuehl (2003) menggambarkan entrepreneur sebagai seorang yang membuat produk baru dan memasarkannya. atau wiraswasta. mendorong. Adapun kepemimpinan secara sederhana dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses mempengaruhi. b. Menurut Richard Cantillon dalam Leo-Paul Dana(1997). 2002) adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. dan bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. wirausaha. Awal tahun 1934. Oleh karena itu kepemimpinan disebut sebagai fungsi organik dalam proses manajemen. menggerakkan. Entrepreneurship Entrepreneurship atau kewirausahaan atau kewiraswastaan merupakan kata benda dari entrepreneur. Selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi entrepreneur yang artinya pengusaha. apabila ada unsur-unsur: a. dan menuntun orang lain dalam proses kerja agar berfikir. Orang yang memimpin Orang-orang yang dipimpin Kegiatan atau tindakan penggerakkan untuk mencapai tujuan Tujuan yang ingin dicapai bersama Jadi. Berdasarkan definisi dan hakikat kepemimpinan di atas dapat disimpulkan bahwa proses kepemimpinan pada hakikatnya dapat muncul kapan dan dimanapun. Schumper dalam Peggy A Lambing & Charles R. bersikap. kepemimpinan merupakan motor penggerak bagi sumber daya yang dimiliki lembaga. d. Richard Cantillon (1730) adalah seorang yang disebut-sebut sebagai pencetus istilah entrepreneur untuk pertama kalinya.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah PEMBAHASAN Perilaku Kepemimpinan Perilaku (KBBI. Menjelang pertengahan abad ke-18. entreprendre yang artinya mengusahakan. para peneliti masih akan mendiskusikan apakah entrepreneur yang sukses merupakan bakat yang dibawa lahir atau tidak. 77 . entrepreneur berfokus pada seseorang dan untuk 200 tahun yang akan datang.

Adapun. Rodney Overton (2002) mendefinisikan enterpreneur sebagai. an untried technological a new coomudity or producing either an old in a new way. Gifford Pinchot menyarankan sebelum seseorang memutuskan akan membuka usaha. Lambing dan Charles R. ”One who reforms or revolutionises the pattern of production by exploiting an invention or. baik risiko yang bersifat finansial (baca: rugi). kepuasan pribadi. Barang akan menumpuk dan akhirnya usaha akan bangkrut. menggunakan teknologi sebagai sebuah komoditi baru atau memproduksi yang lama dengan cara baru). Gifford Pinchot (1988) mengatakan bahwa Entrepreneur adalah orang yang mengintegrasikan bakat rekayasa dan pemasar dengan menciptakan proses dan jasa baru. ia melihat kemungkinan dan memiliki visi untuk menciptakan sesuatu yang baru yang memicu semangatnya untuk bertindak. mengubah keadaan yang tidak/kurang menyenangkan menjadi keadaan yang diinginkan. Sebenarnya di dalam kreator sudah termasuk inovator. senang berpetualang. seorang entrepreneur adalah pengambil risiko. pertama-tama yang perlu dimiliki oleh seorang entrepreneur adalah bakat memasarkan produk barang dan jasa. maka pertamatama yang harus diperhatikan adalah pemasarannya. seorang entrepreneur adalah orang yang betindak untuk melakukan inovasi. lebih umum. Ciputra dalam Andreas Harefa (2006) mengatakan bahwa sedikitnya ada tiga ciri-ciri utama seorang entrepreneur.” (Seseorang yang membentuk kembali atau mengubah dengan cepat bentuk produksi melalui penggalian penemuan atau. inovator dengan memperhatikan nilai waktu dan usaha. more generally. Tindakanlah yang membuat entrepreneur menjadi inovator. “Entrepreneur both innovator and creator. Rowe(2008). Oleh sebab itu. berani mengambil risiko. seorang entrepreneur mampu melihat peluang bisnis yang tidak dilihat atau diperhitungkan oleh orang lain.Rokhmaniyah Pendapat Joseph A. kreatif memiliki empat gaya: (1) intuitif yang berfokus pada hasil pengalaman masa 78 . Kedua. Kao(1991) mendefinisikan. Menurut Gifford Pinchot. memperkirakan keuangan. dan kreator. kebebasan. senang menghadapi tantangan. Ketiga. Selanjutnya. Pertama. Karena inovatif adalah salah satu gaya dari kreatif. Kuehl yang menyatakan bahwa seorang entrepreneur tidak hanya memproduksi barang dan jasa baru tetapi juga sebagai pencetus ide (gagasan) atau konsep baru. keuntungan finansial. maupun yang bersifat mental (baca: dianggap gagal). Apalah artinya banyak barang dan jasa yang dihasilkan tetapi tidak laku dijual di pasaran. John J. Alan J. Menurut beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa enterpreneurship ialah seseorang yang berusaha secara mandiri. psikis. Schumper di atas dikembangkan oleh Peggy A.

bukan bekerja untuk sendiri tetapi untuk sekolah. keindahan. Hawkins (1993) memperingatkan dengan berkata. Sebagai seorang kepala sekolah yang entrepreneurship harus memiliki pribadi yang kreatif yang harus mau belajar mendisiplinkan dirinya untuk berurusan dengan tugas dan kewajibannya. senang menulis. Berani menanggung risiko. dan berdasarkan data. Bila telah merasa mendapat nilai tinggi dalam disiplin diri. apakah sebagai seorang kepala sekolah telah menciptakan sesuatu yang berguna bagi pengembangan sekolah dan belum pernah ada sebelumnya.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah lampau yang mengarahkan untuk bertindak. lebih tepat disebut sebagai intrapreneurship. sistematika. Pandai membaca peluang dan mau bekerja keras. (3) imajinatif yang dapat menggambarkan peluang. maka yang dimaksud dengan perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. maka ia bekerja untuk sekolahnya sehingga semua tindakannya dibatasi oleh aturan-aturan sekolah. Refleksi atau menilai diri sendiri adalah menjadi kebiasaan. Kepala Sekolah tidak bebas mengatur dirinya sendiri tetapi masih diatur oleh sekolah.” Seseorang dapat membawa gaya kreatifnya sendiri pada suatu usaha dan tindakan itu bukan saja akan membuat usahanya berjalan lancar bahkan kelancaran usaha itu akan dapat terjadi disebabkan karena adanya kreativitas Anda tersebut. dan (4) inspiratif berfokus pada perubahan sosial dan memberikan ilham. Kepala Sekolah yang Berperilaku Enterpreneurship Berdasarkan pengertian perilaku kepemimpinan dan entrepreneurship di atas. Singkatan dari intrasekolah dan preneurship. Sebagai intrapreneur. Renungkan.” 79 . Howard Morhaim dalam Kathleen L. dan berpikir di luar kebiasaan. kepala sekolah adalah seorang inspirator bagi munculnya ide-ide kreatif dan inovatif dalam mengelola sekolah. Walaupun dalam kesehariannya seorang kepala sekolah menghadapi tugas rutin yang tidak menyenangkan. bukan modal sendiri tetapi modal sekolah. berarti dapat dikatakan telah mampu berkonsentrasi dan melihat hal-hal secara lengkap baik itu berupa tugas-tugas sekolah maupun tugas pribadi. Mengingat Kepala Sekolah bukanlah seorang entrepreneur sejati karena ia tidak bekerja mandiri tetapi didukung oleh warga sekolah dan stakeholders-nya apalagi semua keuangan disiapkan oleh pemerintah atau yayasan untuk sekolah swasta. tetapi sebagai seorang entrepreneur harus mampu menemukan jalan untuk menyelesaikannya. Oleh sebab itu. (2) inovatif yang berkonsentrasi pada pemecahan masalah.

Tindakan mengambil risiko berkaitan dengan pertumbuhan. dan kesadaran akan harga diri.” Dalam hal ini kepala sekolah dapat menerapkan kepemimpinan situasional. sebagai kepala sekolah yang berjiwa entrepreneurship harus mau mengembangkan dirinya dan menajamkan pikirannya sehingga mampu membaca peluang serta mampu menyelesaikan tugas sesuai dengan tujuan yang diharapkan. dan teguh dalam perundingan kontrak. kepala sekolah adalah seorang inspirator bagi munculnya ide-ide 80 . Richardon menerangkan. Program sekolah tidak akan tercapai bila sekolah tidak pandai menjalin komunikasi baik dengan stakeholders. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Kepala sekolah adalah orang kunci yang menentukan sukses atau gagalnya sekolah dalam mencapai tujuannya. Anda mempunyai cukup banyak variasi untuk mengendalikan dan mengarahkan situasi menurut kesukaan Anda.” Jika jangkauan perilaku Anda lebih luas dibandingkan orang lain.” kebanyakan agen yang berhasil dalam usaha mereka ialah orang-orang yang tenang dan mempunyai pikiran tajam yang tahu bagaimana melakukan sesuatu. Morhaim menambahkan. administrator(administrator). perubahan. Seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik(educator). Menjalin kerja sama dengan dunia industri atau dunia usaha adalah penting bagi kepala sekolah. dan pencipta iklim kerja(climator). Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. Kepala sekolah yang entrepreneurship haruslah dapat bersifat luwes. wirausahawan(entrepreneur).” Artinya. pengendalian diri. Bila dalam usaha atau tidakan yang telah direncanakan mengalami ketidakberhasilan maka secara tulus segera meminta maaf dengan berusaha untuk memperbaikinya. kepercayaan bawahan terhadap kepala sekolah tetap terjaga. dapat menyesuaikan diri. berlaku sopan. Penguasaan kemampuan yang baik untuk berhubungan dengan orang-orang perlu dimiliki. Dengan demikian. dan mampu melihat berbagai cara pemecahan masalah. Sebagai intrapreneur. pemimpin(leader). Untuk memperlancar kegiatan pembelajaran yang memusatkan pada life skill diperlukan dukungan dari orang lain / masyarakat / wali siswa / dunia industri / dunia usaha. penyelia(supervisor). Berani menanggung risiko sangat baik dibandingkan sibuk mencari pembelaan diri. pengelola(manager).Rokhmaniyah Selanjutnya.

DAFTAR RUJUKAN Andreas Harefa dan Eben Ezer Siadari. K. Upper Sadle River.R. A. (Diterjemahkan oleh Dabar Publisshers). Ltd . Pengawasan terhadap peningkatan kompetensi kepala sekolah hendakanya dilakukan secara rutinitas sehingga kepala sekolah termotivasi untuk selalu meningkatkan kinerjanya. Are You An Entrepreneur? Singapore: Wharton Books. 2006. Englewood Cliftts. L. 2003. 1991. 2003. Untuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pendidikan dan latihan kepemimpinan entrepreneurship sangat penting diadakan untuk meningkatkan perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah. Pte. New Jersey: Prentice Hall 81 . The Enterpreneur. Ujilah Tingkat Kecerdasan Anda sebaga Seorang Wirausaha. Solo: DABARA. Rekomendasi Untuk Kepala Sekolah Kepala sekolah hendaknya selalu meningkatkan kompetensi kepala sekolah khususnya kompetensi wirausahawan (intrapreneur) sehingga dapat memberi contoh dan motivasi terhadap warga sekolah. P. Berani menanggung risiko. 2002. C. & Kuehl. Hawkins. Enterpreneurship. Upper Saddle River. A. P. Lambing. 1993 Kao. The Ciputra Way: Praktik Terbaik Menjadi Entrepreneur Sejati. Overton. R.. Jakarta: PT Alex Media Komputindo. New Jersey: Prentice Hall. J.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah kreatif dan inovatif dalam mengelola sekolah. 1993.A. Rowe. Refleksi diri sangat penting dilakukan secara rutin sehingga dapat melihat tingkat keberhasilan dalam mengelola sekolah. Upper Saddle River. 2008. & Turla. Creative Intelegence Discovering the Innovative Potential in Ourselves and Others. New Jersey: Prentice Hall. Kerja sama dengan stakeholders harus senantiasa dibina dengan baik demi menghasilkan lulusan yang berkualitas. J. Pandai membaca peluang dan mau bekerja keras.

berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan yang bertaraf internasional tersebut. 4. relevansi. seperti yang tertuang dalam Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) adalah: 1. Mandikdasmen Depdiknas Abstrak Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu aspek penting dalam komponen input pada sistem pendidikan nasional. Kata Kunci: Kebijakan Pemerintah. April 2009 KAJIAN ATAS KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH PADA SMPN 115 JAKARTA SEBAGAI SALAH SATU RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI) Ujang Didi Supriadi Direktorat SMP Ditjen. efisiensi. dan peningkatan daya saing secara nasional dan sekaligus internasional pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. baik untuk sekolah negeri maupun swasta. kondisi lingkungan. Selain itu terdapat pula 16 kriteria seorang kepala sekolah yang memimpin RSBI. 2. 82 3. Selanjutnya. yaitu penyelenggaraan pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Pendidikan bertaraf internasional yang efisien adalah pendidikan yang menghasilkan standar mutu lulusan optimal (berstandar nasional dan internasional) dengan pembiayaan yang minimal. 1. orang tua. No. . dan kemampuan pemerintah daerahnya (kabupaten/kota dan provinsi). PENDAHULUAN Dalam upaya meningkatkan mutu. maka Pemerintah telah menetapkan pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang bertaraf internasional.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. maka upaya yang dilakukan oleh Pemerintah. Kepemimpinan Kepala Sekolah dan RSBI. Penetapan standar dan kriteria tersebut diarahkan untuk mewujudkan tujuan sebuah sekolah yang memiliki daya saing pada tingkat nasional dan internasional. Pendidikan bertaraf internasional yang bermutu adalah pendidikan yang mampu mencapai standar mutu nasional dan internasional. masyarakat. Kebijakan pemerintah dalam RSBI ditetapkan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah harus memiliki tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. Pendidikan bertaraf internasional juga harus relevan. kondisi sekolah.

maka dalam penyelenggaraan SBI. baik kebutuhan individu. baik lokal. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 menetapkan skala prioritas utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional ke-1 tahun 2004-2009 untuk meningkatkan kualitas dan akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan. 2. Sedangkan filosofi esensialisme menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi relevan dengan kebutuhan. Penyelenggaraan SBI didasari oleh filosofi eksistensialisme dan esensialisme. and learning to be merupakan patokan berharga bagi penyelarasan praktek-praktek penyelenggaraan pendidikan Indonesia. terutama pada Pasal 50 ayat 3. Era globalisasi yang menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam teknologi. hingga sampai penilaiannya. Menurut Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008). 3. dan input baik secara nasional dan internasional. maupun internasional. learning to live together. menumbuhkan dan mengembangkan bakat. minat. keluarga. learning to do. diantaranya adalah: 1. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. dan daya saing yang kuat. maupun kebutuhan berbagai sektor dan sub sektornya. kebijakan yang dijadikan landasan oleh pemerintah adalah: Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. guru. nasional.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah 4. proses. Filosofi eksistensialisme berkeyakinan bahwa pendidikan harus menyuburkan dan mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitasi yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat. d. beberapa alasan yang melatarbelakangi perlunya pendidikan bertaraf internasional yang selanjutnya disebut sebagai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). proses belajar mengajar. 4. empat pilar pendidikan yaitu learning to know. sarana dan prasarana. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Nasional Pendidikan. . c. properubahan. Dalam mengaktualisasikan kedua filosofi di atas. Pendidikan bertaraf internasional harus memiliki daya saing yang tinggi dalam hal hasil-hasil pendidikan (output & outcome). manajemen dan sumber daya manusia. 83 a. efisien. dan kemampuan peserta didik. relevan. Dalam upaya peningkatan mutu. b. yang dimulai dari kurikulum.

pembaharu. Kemampuan dalam mengkoordinasikan menyerasikan sumberdaya dengan tujuan. Menurut Slamet PH (2004) seperti yang dikutip dalam Panduan Pelaksanaan Pembinaan SMP SBI diungkapkan bahwa kepala sekolah SBI harus memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. standar prestasi. Tolerasi terhadap perbedaan pada setiap orang. 7. Menggunakan sistem sebagai cara berpikir. Salah satu aspek yang menjadi penting dalam upaya pemenuhan kualitas pendidikan yang berstandar internasional tersebut. 8. Menjalankan perannya sebagai manajer. tetapi tidak toleran terhadap orang-orang yang meremehkan kualitas. pendidik. terlihat bahwa Pemerintah memiliki komitmen yang sangat tinggi dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. pencipta iklim kerja. dan nilai-nilai.Ujang Didi Supriadi Beberapa hal yang telah disampaikan di atas. Di dalam Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) telah dituliskan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah yang memimpin SBI adalah kepala sekolah dengan tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. 4. Komitmen tersebut telah dituangkan ke dalam kebijakan pemerintah dalam pendidikan nasional seperti yang disampaikan di atas. pemimpin. Memobilisasi sumber daya. lingkungan. dan strategi. namun berujung pada kualitas yang lebih tinggi lagi yaitu standar internasional. 84 . 9. Hal ini dikarenakan. dan pembangkit motivasi. Menjalankan dimensi-dimensi tugas. penyelia. proses. 6. Menggunakan input manajemen. sebuah sekolah yang berstandar internasional. Peningkatan kualitas tersebut tidak lagi berujung pada standar kualitas nasional. Kemampuan mengambil keputusan secara terampil. 5. maka tentunya akan dipimpin oleh seorang kepala sekolah dengan kemampuan berstandar internasional. administrator. wirausahawan. Kepala sekolah sebagai penanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan pada sekolah bertaraf internasional memiliki fungsi yang strategis. Memiliki visi. regulator. dan keterampilan personal. misi. 2. 3. peran kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu aspek yang menjadi aspek yang paling penting. mengelola dan menganalisis sekolah.

Menjalankan gejala empat serangkai. 12. Sebagai upaya peningkatan mutu internasional. Hj. Mr. 15.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah 10. Beberapa kriteria yang disampaikan di atas bahwa Pemerintah melalui kebijakan peningkatan kualitas pendidikan yang bertaraf internasional telah membuktikan bahwa kepala sekolah merupakan salah satu komponen dalam sistem pendidikan yang menjadi faktor penentu tercapainya kualitas pendidikan bertaraf internasional tersebut. Memusatkan perhatian pada pengelolaan proses belajar mengajar. Ivan sebagai Pupil Development). 11. 13. Penandatanganan ini dilakukan oleh Kepala Sekolah Semabel's. Menciptakan sekolah belajar. Salah satu sekolah yang telah terpilih menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) adalah SMP Negeri 115 sejak tahun 2007. selanjutnya dari Dinas Pendidikan Nasional DKI Jakarta diwakili oleh Dr. Menerapkan manajemen berbasis sekolah. Dimana bila ditelaah melalui kebijakan pemerintah. Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam menjadikan SMPN 115 sebagai RSBI merupakan salah satu aspek penting untuk disampaikan pada makalah ini. para pejabat Kodya Jakarta Selatan. Bpk. melakukan analisis SWOT dan mengupayakan langkah-langkah untuk meniadakan persoalan. Sylviana Murni. Adi Dasmin dan Mr. Justin sebagai guru Bahasa Inggris. 85 . SH. pada bulan Maret 2008 SMPN 115 telah melakukan kerja sama kepada Queensway Secondary School Singapore (QSS). yaitu merumuskan sasaran. Gary sebagai guru ICT dan Mr. Memberdayakan sekolah. Mendorong kegiatan-kegiatan yang kreatif. Menggalan teamwork yang cerdas dan kompak. dan 16. Herman Cher Ma'in (Wakil Kepala Sekolah QSSS) dan disaksikan oleh 3 guru dari QSSS (Mr. telah ditetapkan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah merupakan salah satu komponen input yang turut menentukan tercapainya kualitas pendidikan bertaraf internasional. 14. MSi selaku Kepala Dinas. dan dihadiri pula oleh seluruh Kepala Sekolah SMPN RSBI se-DKI Jakarta. memilih fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran.

Selain itu menurut Dubrin (2001:3) bahwa kepemimpinan itu adalah kemampuan untuk menanamkan keyakinan dan memperoleh dukungan dari anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Asks what and why (ia menanyakan apa dan mengapa). dan ia mengerjakan yang benar. Keberhasilan sebuah organisasi sangat bergantung dari keberhasilan peran pemimpin. An original (asli dari pemimpin). Ia bertanya pada bawahannya dengan pertanyaan apa dan mengapa?. 2002: 577). Does the right thing (mengerjakan yang benar). Pemimpin memiliki karakteristik selalu memiliki upaya untuk menciptakan hal yang baru (selalu berinovasi). Kepemimpinan itu ada pada diri pemimpin/manajer. Ia menentang status quo. dan selalu menyalakan api kepercayaan pada anggota organisasi. 86 . Gagasannya memiliki prespektif jangka panjang. Challenges the Status quo (menentang kemapanan). Focuses on people (terkonsentrasi pada manusia). Kepemimpinan menurut Northouse (2003:3) merupakan suatu proses dimana individu mempengaruhi kelompok untuk mencapai tujuan umum. Eye on the horizon (berpandangan sama pada sesamanya). Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan.Ujang Didi Supriadi LANDASAN TEORI Kepemimpinan Kepala Sekolah Setiap organisasi selalu dipimpin oleh seorang pemimpin. Luthans (2002: 576) menegaskan bahwa karakteristik pemimpin di Abad XXI adalah: Innovates (menciptakan sesuatu yang baru). bertanya (Democratic). Gagasan-gagasan yang dimiliki oleh pemimpin merupakan gagasan sendiri tidak meniru ataupun mencontoh gaya kepemimpinan orang lain. Pemimpin selalu berupaya untuk mengembangkan apa yang ia lakukan. ia tidak puas dengan apa yang ada. Originates (memiliki keaslian). ada kalanya pemimpin memberi kesempatan bawahan untuk berdiskusi. seorang pemimpin ada kalanya pemimpin tidak memberi kesempatan pada bawahannya untuk bertanya ataupun minta penjelasan (Authoritarian). dan ada kalanya pemimpin itu membiarkan kondisi yang ada terserah pada bawahan (Laissez -fair) (The Iowa Leadershi Study) (Luthans. Ia bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh bawahannya. sehingga kepemimpinan menjadi sangat penting perannya dalam sebuah organisasi. Develops (mengembangkan). Inspires trust (menghidupkan rasa percaya). Own person (mengakui tanggung jawab ada pada pemimpin). Ia percaya pada bawahan. Dari aspek karakteristik dibedakan antara karakteristik pemimpin (leader) dengan karateristik manajer. melalui gayanya tersebut. Longrange perspective (memiliki prespektif jangka panjang).

Pimpinan memiliki peran Interpersonal Roles. (9) membangun kerja tim. teori Kepemimpinan Transformasional (Transformational Leadership Theory) (Luthans. (8) memiliki kesadaran diri. Networking. manajer ataupun pimpinan memiliki peran (role). dan memecahkan permasalahan. 2002: 619627). dan pengakuan terhadap kebutuhan individu dan hubungan (Consideration). Democratic. teori Kelompok dan Tukar Menukar (Group and Exchanges Theories). Gaya kepemimpinan yang mendasarkan pada dua dimensi yaitu perhatian terhadap tugas (Concern for Task) dan perhatian terhadap karyawan (Concern for People) telah melahirkan teori gaya kepemimpinan yang terkenal dengan The Blake and Mouton Managerial Grid. Informational Roles. Selanjutnya penelitian dilanjutkan oleh The Early Michigan Leadership Study menunjukkan bahwa kepemimpinan itu adalah perhatian terhadap karyawan (employee-centered) dan juga perhatiannya terhadap proses produksi (production-centered). Serta skill bagi pemimpin adalah: (1) komunikasi verbal. (4) mengakui. (5) memotivasi dan mempengaruhi orang lain.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah Studi dilakukan oleh The Ohio State Leadership Study. General. (2) mengelola waktu dan stress. Task-directed. Berikutnya berkembang pula gaya kepemimpinan situasional yang dikembangkan oleh Harsey dan Blanchard yang kemudian dikenal dengan Harsey dan Blanchard’s Situational Leadership Model. (7) menetapkan tujuan dan menjelaskan visi. teori Jalur dan Tujuan (Path-Goal Leadership Theory). dan Human Resource Management. Supportive. (3) mengelola pengambilan keputusan. dimana pada akhir Perang Dunia ke 2. teori Contingency. Sedangkan kegiatan mereka adalah: Routine Communication. Kajian terhadap teori kepemimpinan terus berkembang pada teori Sifat (Trait Theories). Autocratic. Consideration. toeri Kepemimpinan Karismatik (Charismatic Leadership Theories). Human relations. Decisional Roles. Directive). 2002: 579-589). 87 . Studi klasik tentang teori kepemimpinan telah mengembangkan gaya kepemimpinan yang kontinum Boss-Centered dan Employee Centered. (6) mendelegasikan wewenang. Participative. kegiatan. Employee-Centered. Close. dan skill. Pembahasan kepemimpinan juga dikaji tentang gaya kepemimpinan (Leadership Style). Gaya kepemimpinan tersebut telah mendasari teori Tannebaum and Schmidt Continuum of Leadership Behavior. menjelaskan. Sebagai pemimpin. Traditional Management. didapatkan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa kepemimpinan ditujukan pada penyelesaian tugas atau orientasi pada sasaran (Initiating Structure). Komponen dari Boss-Centered (meliputi: Theory X. Initiating Structure. Production Centered. dan (10) mengelola konflik (Luthans. Sedangkan Employee Centered memiliki komponen: Theory Y.

Amerika Serikat dan Eropa. atau dengan kata lain kebijakan publik merupakan studi tentang apa yang dilakukan pemerintah. yaitu: pertama. jika yang menjadi tujuan desentralisasi pendidikan adalah peningkatan kualitas proses belajar mengajar dan kualitas dari hasil proses belajar mengajar tersebut. Menurut Alisjahbana (2000). desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan dalam hal kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah (propinsi dan distrik). seperti yang dikutip oleh Parson (2005). mengapa pemerintah mengambil tindakan tersebut. Dilain pihak. Konsep desentralisasi pendidikan yang pertama terutama berkaitan dengan otonomi daerah dan desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan dari pusat ke daerah. maka desentralisasi pendidikan lebih difokuskan pada reformasi 88 . Kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan diungkapkan oleh Alisjahbana (2000) memiliki dua jenis desentralisasi pendidikan. maka fokus desentralisasi pendidikan yang dilakukan adalah pada pelimpahan kewenangan yang lebih besar kepada pemerintah lokal atau kepada Dewan Sekolah. maka pengertian dari kebijakan pendidikan merupakan sebuah pilihan stratejik yang dilakukan pemerintah karena berkaitan dengan kepentingan masyarakat banyak di bidang pendidikan. desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah. dana pendidikan yang berasal yang pemerintah dan masyarakat). tujuan dan orientasi dari desentralisasi pendidikan sangat bervariasi berdasarkan pengalaman desentralisasi pendidikan yang dilakukan di beberapa negara Amerika Latin. dan kedua. Sedangkan menurut Lasswell (1951b). kata kebijakan umumnya dipakai untuk menunjukan pilihan terpenting yang diambil baik dalam kehidupan organisasi atau privat. Atas dasar pengertian di atas. Implisit ke dalam strategi desentralisi pendidikan yang seperti ini adalah target untuk mencapai efisiensi dalam penggunaan sumber daya (school resources. Jika yang menjadi tujuan adalah pemberian kewenangan di sektor pendidikan yang lebih besar kepada pemerintah daerah. Dye dalam Parson (2005) adalah : “public policy is whatever governments choose to do or not to do”.Ujang Didi Supriadi Kebijakan Pendidikan Pengertian kebijakan publik menurut Thomas R. dan apa akibat dari tindakan tersebut. Sehingga kebijakan bebas dari konotasi yang dicakup dalam kata politis yang sering kali diyakini mengandung makna keberpihakan dan korupsi. sedangkan konsep desentralisasi pendidikan yang memfokuskan pada pemberian kewenangan yang lebih besar pada tingkat sekolah dilakukan dengan motivasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

tipologi komponen-komponen sektor pendidikan yang dapat dipertimbangkan untuk didesentralisasikan dapat dilihat dalam Tabel 1 berikut: Tabel 1.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah proses belajar-mengajar. Tipologi Kewenangan-kewenangan Pendidikan yang Dapat Didesentralisasikan Sumber: Alisjahbana (2000) 89 . Desentralisasi pendidikan akan meliputi suatu proses pemberian kewenangan yang lebih luas di bidang kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat kepemerintah lokal dan pada saat yang bersamaan kewenangan yang lebih besar juga diberikan pada tingkat sekolah Selanjutnya menurut Alisjahbana (2000). desentralisasi pendidikan yang dilakukan di banyak negara merupakan bagian dari proses reformasi pendidikan secara keseluruhan dan tidak sekedar merupakan bagian dari proses otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Dalam kenyataannya. Partisipasi orang tua dalam proses belajar mengajar dianggap merupakan salah satu faktor yang paling menentukan.

Selain itu prestasi lainnya seperti di Olimpiade Sains Nasional maupun ajang kompetisi lokal dan internasional telah memotivasi sekolah ini menjadi SBI. Tekad kepemimpinan kepala sekolah berserta seluruh komponen sekolah untuk menjadikan SMPN 115 sebagai sekolah bertaraf international tidak saja direalisasikan dalam pengadaan berbagai fasilitas.Ujang Didi Supriadi PEMBAHASAN Kepemimpinan Kepala Sekolah SMP N 115 dalam Membangun RSBI SMP Negeri 115 Jakarta merupakan sekolah yang berdiri sejak tahun 1978. bahkan SMP Negeri 115 Jakarta ini merupakan pemasok terbesar siswa-siswi SMA Negeri 8 Jakarta yang merupakan sekolah SMA unggulan di DKI Jakarta. Selama dua setengah tahun renovasi gedung itu berjalan. Sekolah ini berlokasi di Jalan Tebet Utara III Jakarta Selatan. Prestasi yang diraih adalah sebagai sekolah dengan rata-rata nilai UAN tertinggi di DKI Jakarta selama 3 tahun terakhir. Hal ini tentu tak terlepas dari pembinaan para guru dan kepemimpinan kepala sekolah. Tapi juga diimplementasikan dalam manajemen sekolah (pendidikan) yang di dalamya 90 . ditambah konsep pembelajaran berwawasan global yang bertujuan mengembangkan potensi diri peserta didik. SMP Negeri 115 Jakarta atau sering disebut SMABELS. Dari tahun-ke tahun hingga kini banyak lulusan SD se-DKI Jakarta yang berlomba-lomba ke SMP Negeri 115 Jakarta Sejak tahun 2008. dan pada awal tahun 2005 renovasi selesai dan mulai menempati gedung baru yang megah. Kombinasi prestasi akademik dan non akademik. maksudnya adalah sekolah ini memiliki kelas berstandar pendidikan internasional yang ditunjukan dengan penyelenggaraan pendidikan beserta segala aspek intensitas dan kualitas layanan yang ditata secara efektif. telah tercatat berbagai prestasi yang telah diraih oleh siswa-siswinya. profesional untuk mencapai keunggulan mutu pendidikan baik nasional maupun internasional dengan karakteristik seperti penggunaan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya sebagai bahasa pengantar secara aktif dan penggunaan ICT (Information and Communication Technology) dalam pembelajaran. sarana dan prasarana. telah menempatkan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 115 Jakarta sebagai 'prototype' Rintisan Sekolah Bertaraf International (RSBI). Pemerintah menetapkan SMPN 115 Jakarta sebagai salah satu Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Setelah berjalan 20 tahun gedung yang ditempati SMP Negeri 115 Jakarta akhirnya direnovasi oleh Pemda DKI Jakarta yaitu pada tahun 2001.

SMPN 115 telah menyelenggarakan proses pembelajaran dengan orientasi prestasi. Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Luthans (2002: 576) bahwa salah satu karakteristik pemimpin di Abad XXI adalah memiliki prespektif jangka panjang (Longrange perspective). untuk menuju sekolah internasional juga diimplementasikan melalui penerapan Kelas Bilingual dan Kelas Internasional yang diisi oleh siswasiswi pilihan dan dalam proses belajar mengajar dominan menggunakan bahasa asing. Sejak berdiri 1978 sebagai sekolah reguler. Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan di atas.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah mencakup kurikuluin. Selaku kepala sekolah. Artinya. laboratorium bahasa. perpustakaan. orkestra & paduan suara) telah mencapai juara I Pop Song Interasional. SDM (guru dan tenaga kependidikan) pemanfaatan fasilitas. kepemimpinan kepala sekolah sangat menekankan pada kelengkapan fasilitas belajar dan mengajar. kepemimpinan kepala sekolah SMP N 115 tidak 91 . Selain itu pula telah berhasil dalam kejuaraan olahraga yang membawa SMPN 115 juara lomba renang tingkat regional di Thailand. Seluruh siswa dan siswi memiliki kesempatan sama besarnya untuk berprestasi baik di dalam dan di luar pelajaran. unggul dalam prestasi akademik dan non akademik melalui peningkatan ketaqwaan. pemberdayaan peran guru sangat dimaksimalkan dimana para guru harus memahami situasi dan prestasi anak didik sehingga semua permasalahan yang muncul di kelas harus segera ditangani secara bersama. moral. kepemimpinan kepala sekolah mencoba melakukan pendekatan kepada seluruh siswa selama di sekolah dengan menempatkan wali kelas dan guru pendamping untuk memantau proses belajar mengajar. Kepemimpinan Kepala Sekolah memiliki visi bahwa konsep SBI sesungguhnya telah sejalan dengan visi dan misi SMPN 115 yaitu menjadikan peserta didik yarig cerdas dan kompetitif di tingkat nasional maupun international. metode. sarana olahraga dan kreativitas seni. Untuk mendukung prestasi sekolah. tari. terlihat bahwa kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki visi prestasi hingga mencapai tingkat internasional akan mampu mendorong sekolah untuk mewujudkan visi tersebut. Selain itu. Untuk prestasi di luar pelajaran (ekstra kurikuler) seperti lewat pentas seni (band. termasuk memberikan dukungan penuh kepada siswa dalam upaya meraih 2 medali di Olimplade Sains Nasional 2007 di Surabaya Jawa Timur. pengembangan diri dan kemampuan menguasai iptek di era globalisasi. misalnya pengadaan laboratorium IPA. Guna mencapai visi tersebut.

kepribadian. namun visi membangun prestasi sekolah yang unggul telah diinspirasikan untuk jangka panjang jauh sebelum pemerintah mengeluarkan kebijakan SBI. menajemen. dan sebagainya. penguasaan teknologi informasi dan telekomunikasi. melakukan kerja sama dengan lembaga lain. memiliki kewajiban dalam upaya meningkatkan kapasitas kepala sekolahnya melalui berbagai kegiatan. kepemimpinan kepala sekolah dapat menjalin komunikasi dan kerja sama kepada sekolah berskala internasional di Singapura. magang. Di dalam hal tingkat pendidikan yang harus ditempuh. Kebijakan Pemerintah dalam Mengembangkan Kepemimpinan Kepala Sekolah pada Sekolah Bertaraf Internasional Kebijakan pemerintah dalam kualifikasi kepemimpinan kepala sekolah pada SBI diterangkan pada Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) telah dituliskan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah yang memimpin SBI adalah kepala sekolah dengan tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. Sehingga melalui kemampuannya dalam berbahasa Inggris tersebut. dan sebagainya. kepala sekolah yang bertaraf internasional harus memiliki tingkat pendidikan minimal S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A. Sehingga karakteristik kepala sekolah yang tangguh dan berwawasan internasional dapat tercapai secara bertahap dan berkelanjutan. bahasa Inggris. Untuk mendukung kualitas sekolah. Sehingga adanya kebijakan baru tentang SBI telah memudahkan SMP N 115 dalam meraih predikat tersebut. Upaya pencapaian visi tersebut tidak hanya terbatas dalam prestasi akademik dan non-akademik. 92 . sehingga kedua sekolah dapat saling belajar keunggulan-keunggulan yang dimiliki. Pada Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) juga disampaikan bahwa di semua sekolah yang telah bertarafkan internasional. keterampilan dalam berbagai bidang.Ujang Didi Supriadi hanya ingin mencapai prestasi di tingkat nasional. diantaranya adalah pelatihan. komunikasi. Persyaratan ini telah dipenuhi oleh Kepala Sekolah SMPN 115 Jakarta yang telah menempuh pendidikan pasca sarjana (S2) dan kemampuanya dalam berbahasa Inggris. manajemen ISO 9000:2001. Adapun materi pengembangan kapasitas tersebut diantaranya dalam hal kemampuan intelektualitas. yaitu Queensway Secondary School Singapore (QSS). Kerja sama ini dilakukan sebagai upaya untuk saling tukar-menukar informasi dalam menjalankan manajemen pendidikan. kepemimpinan kepala sekolah telah pula menjalankan fungsi Networking dengan melakukan kerja sama kepada sekolah internasional yang berbasis di Singapura.

KESIMPULAN Kepemimpinan memiliki peran yang paling strategis dalam mencapai tujuan organisasi. yaitu peran pemerintah sebagai payung kebijakan pengembangan pendidikan bertarafkan internasional. Desentralisasi pendidikan tersebut telah membagi dua peran yang saling menunjang. dan pengarahan. Seperti yang telah diungkapkan oleh Alisjahbana (2000). Dalam hal ini peran kepemimpinan kepala sekolah sangat dominan dalam membawa sekolah menuju prestasi internasional. dan peran sekolah melalui kepemimpinan kepala sekolah dalam menjalankan kebijakan sekolah bertaraf internasional. kebijakan pendidikan dalam upaya mewujudkan sekolah yang berstandarkan internasional melalui peningkatan peran kepemimpinan kepala sekolah. 93 . desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan dalam hal kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah (propinsi dan distrik). peran Dinas Pendidikan Kabupaten dan Provinsi dalam meningkatkan kapasitas kepala sekolah dapat dilakukan sebagai pembinaan. Selanjutnya pada dimensi kedua. Di dalam penerapannya. maka dapat dilakukan dengan menerapkan kebijakan desentralisasi. yaitu: pertama. Kebijakan pemerintah dalam memberikan kualifikasi kepemimpinan kepala sekolah dalam memimpin sebuah sekolah yang bertarafkan internasional telah mendukung percepatan pencapaian tujuan yang ingin dicapai. adalah desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah. dalam kebijakan di bidang pendidikan memiliki dua jenis desentralisasi pendidikan. Peran tersebut harus mengedepankan aspek profesionalitas dan kualitas dalam pengembangan kepemimpinan kepala sekolah bertaraf internasional.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah Selain itu. seperti yang telah dijalankan oleh SMPN 115 Jakarta. pembimbingan. Pada dimensi ini peran pemerintah (baik pusat maupun daerah) memberikan kebijakan sebagai arah masa depan pendidikan sehingga format pendidikan secara nasional memiliki keseragaman yang akan dicapai. penempatan/pengangkatan. Demikian halnya dalam mencapai tujuan organisasi pendidikan yang diarahkan memiliki taraf kualitas internasional.

2000. Practices. Luthans.Public Policy: Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan.G. Third Edition. Armida S. 2001. P.Ujang Didi Supriadi DAFTAR RUJUKAN Alisjahbana. 2005. Organizational Behavior. and Skills. Tahun 2008. Jakarta: Penerbit Kencana. Parsons. Fred. Boston: Houghton Mifflin Company. 2003. 2002. 94 . Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Departemen Pendidikan Nasional. Makalah untuk disampaikan pada Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung. Singapore: McGrawHill International Editions Northouse. New Delhi: Response Book. Ninth Edition. J. Dubrin. Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan. A. Third Edition. Leadership: Research Findings. Leadership: Theory and Practice. Dokumen: Panduan Pelaksanaan Pembinaan Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraf Internasional (SMP-SBI). Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama. Wayne.

Berbagai kajian telah dilakukan untuk menilai keberhasilan sekolah baik dari prestasi siswa maupun pengembangan profesi guru dan tenaga kependidikan yang ada di dalamnya. April 2009 PEMIMPIN KOMUNITAS PEMBELAJARAN Zainun Misbah Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen. 1. guru-guru belajar dari kegiatan mengajarnya (teaching for learning). pemimpin PENDAHULUAN Sekolah merupakan tempat transaksi pembelajaran berlangsung. 4. Selama tiga puluh tahun belakangan ini kajian tentang KPP terus dilakukan sebagai upaya pengembangan dan inovasi sekolah. Siswa belajar ilmu-ilmu pelajaran untuk bekal hidup.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. tenaga administrasi dan seluruh warga sekolah sudah seharusnya terus belajar dan mengembangkan diri menjadi pembelajar agar keberhasilan sekolah terwujud. dan kepala sekolah belajar dalam memimpin pembelajaran (leading in learning). guru. inovasi sekolah. Kata Kunci: Komunitas pembelajaran profesional. collaboration dan shared norms and values. de-privatization of practice. Kajian tentang school effectiveness berkembang cukup pesat sebagai usaha mengkaji keefektifan sekolah. Kepala sekolah dituntut untuk menjadi pemimpin pembelajaran dalam artian bahwa semua warga sekolah dipimpin untuk terus meningkatkan mutu pembelajaran mereka. Hasil-hasil kajian sekolah telah banyak digunakan pengambil kebijakan untuk menentukan arah pembangunan pendidikan 95 . PMPTK Depdiknas Abstrak Kajian tentang Professional Learning Community (PLC) atau Komunitas Pembelajaran Profesional (KPP) telah dilakukan oleh peneliti pendidikan dan dipublikasikan dalam beberapa jurnal ilmiah. Dari beberapa kajian tersebut karakteristik KPP yang mendukung keberhasilan pembelajaran adalah adanya reflective dialogue. peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah cukup strategis dalam mengembangkan KPP sekaligus mengembangkan kompetensi sesuai tuntutan peraturan dan tuntutan perubahan zaman. collective focus on student learning. pembelajaran. Meski demikian penelitian tentang efek KPP terhadap nilai siswa belum banyak dilakukan. Siswa. No. Karenanya.

(5) pengembangan guru dan staf. Newman dan Wehlage (dalam Oden. (4) kepemimpinan kepala sekolah.Zainun Misbah baik di tingkat individu peserta didik. (10) pengelolaan kurikulum. Hord (1997) menyatakan bahwa “professional learning communities can be a significant force for empowering staff that leads to school change and improvement and increased student outcomes. Diharapkan dengan semakin banyaknya referensi tentang komunitas pembelajar profesional dapat meningkatkan upaya inovasi pendidikan di Indonesia sehingga terjadi akselerasi peningkatan mutu pendidikan dengan mempertimbangkan perluasan dan pemerataan akses pendidikan. 2008). level sekolah ataupun lingkup nasional. peningkatan mutu. (3) pemantauan terhadap kemajuan siswa. PENGERTIAN PROFESSIONAL LEARNING COMMUNITIES Ada banyak definisi yang berbeda tentang Professional Learning Community (PLC). demikian juga mengembangkan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan lainnya. engage in 96 . (8) penghargaan dan insentif. 2004) menjelaskan professional community sebagai : “possessing three general traits in which teachers pursue a shared sense of purpose for student learning. Wenger (2000. Kajian ini menyimpulkan berbagai karakteristik proses sekolah efektif meliputi: (1) perencanaan dan pengembangan sekolah. and Kruse (1996) mengemukakan ada dua hal penting dalam komunitas professional. KPP dipandang sebagai salah satu proses dalam pengembangan sekolah yang dapat memperbaiki sistem pengajaran di kelas. 229) menyatakan bahwa ‘that professional communities share cultural practices reflecting their collective learning process’. tulisan ini juga mencoba menggali peran kepala sekolah yang cukup strategis dalam mewujudkan KPP dan memimpin organisasi pembelajar. Ke-11 karakteristik tersebut saling mendukung dalam mendorong terselenggaranya proses pembelajaran yang efektif di sekolah (Direktorat Tenaga Kependidikan. Louis. (5) pengembangan siswa. level kelas. Borman & Fermanich. Marks. Lebih lanjut. (9) tata tertib dan kedisiplinan. relevansi dan daya saing pendidikan. 2003).” Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji tentang komunitas pembelajar professional dari beberapa literatur dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. dan (11) akuntabilitas sekolah. kajian tentang Professional Learning Community (PLC) atau Komunitas Pembelajaran Profesional (KPP) secara kualitatif dan kuantitatif terus dilakukan. Pada beberapa tahun belakangan ini. akuntabilitas dan pencitraan publik. (7) pemberdayaan orang tua dan masyarakat. yakni deprivatized practice and reflective dialogue (dalam Grodsky & Gamoran. (2) iklim dan budaya sekolah. serta penguatan tata kelola.

Kesemuanya itu bermuara pada memfasilitasi siswa belajar dengan lebih baik. Adanya kolaborasi yang terjadi di seluruh sekolah dan juga kerjasama antar bidang pelajaran yang diperlukan. and take collective responsibility for student learning”. serta kerterbukan dan sharing terhadap praktekpraktek pembelajaran yang dilakukan untuk evaluasi dan peningkatan dan penjaminan mutu. adanya kesamaan nilai dan norma yang berlaku. yang mendukung dan bekerjasama satu sama lain. Kerjasama yang bertujuan pada pembelajaran. Tanggung jawab bersama atas pembelajaran siswa. Kesamaan visi dan nilai • • Adanya fokus yang sama terhadap pembelajaran siswa dan keterlibatan mereka. • Ada budaya peningkatan yang tampak jelas. Ada tekanan dari teman sebaya pada mereka yang tidak mengerjakan bagiannya dengan baik. baik di dalam dan di luar lingkungan terdekat mereka. • Staf mempunyai harapan yang tinggi terhadap siswa. Stoll dkk (2005) menyatakan bahwa ‘komunitas pembelajaran profesional adalah komunitas terbuka yang melibatkan semua orang. yang didorong oleh motivasi pembelajaran yang sama. • • • Perencanaan tim dan kerjasama tim adalah suatu hal yang biasa terjadi. Adanya pengajaran secara berkelompok yang terjadi Adanya kerjasama yang terjadi diantara berbagai peran yang berbeda (contohnya guru dengan staf pendukung). adanya refleksi dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan. • Staf secara bersama-sama bertanggung jawab atas pembelajaran siswa. Dengan demikian dalam suatu KPP terdapat tanggung jawab bersama dalam meningkatkan pembelajaran siswa. mencari tahu mengenai praktek-praktek pembelajaran mereka dan bersama-sama mempelajari pendekatan yang baru dan yang lebih baik yang akan meningkatkan pembelajaran seluruh siswa’. jadi tidak hanya pada peran yang sama. Ada pernyataan mengenai nilai-nilai yang dikembangkan bersama dan dipahami oleh semua. • 97 . adanya budaya kerjasama. menemukan solusi.Pemimpin Komunitas Pembelajaran collaborative activities to achieve this purpose. • 3. Stoll dkk (2005) mengidentifikasi karakteristik dari KPP yang dapat meningkatkan proses pembelajaran adalah sebagai berikut: 1. 2.

forum pembelajaran. jaringan dan kemitraan • • • Inisiatif dari luar digunakan untuk menganalisa apa yang terjadi di dalam Semua orang terbuka akan perubahan Staf secara aktif terlibat dalam kemitraan dengan pihak eksternal dan jaringan pembelajaran dengan sekolah. Pencarian profesional yang penuh pemikiran • • Refleksi terhadap praktek-praktek dihargai Penelitian dan inkuiri mempengaruhi pengajaran dan pembelajaran. kreatif dan berani mengambil resiko sangat didukung. Masukan dari siswa sangat dihargai. Data dianalisis dan digunakan sebagai bahan refleksi dan pengembangan. Penelitian dan pencarian mempengaruhi pengejaran dan pembelajaran sebagai contoh pengamatan mutual. pusat pelatihan. contohnya hasil penilaian. • • • • • 98 . Terdapat pembelajaran kelompok dan individual yang profesional • • Semua staf termasuk staf pendukung terlibat dan menghargai pembelajaran profesional Ada sejumlah kegiatan pembelajaran professional dan perkembangan berkesinambungan yang berlangsung. dan penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning). memandu pembelajaran siswa dan lainlain. Contohnya: pengamatan timbal balik. • • 6. Staf mengambil tanggung jawab bersama untuk mempromosikan dan mendukung pembelajaran satu sama lain. nilai tambah (value-added). lokakarya.Zainun Misbah 4. evaluasi diri. contohnya tutor sebaya. • Masukan (input) dari siswa sangat dihargai. demonstrasi pembelajaran. Keterbukaan. 5. evaluasi diri. Pemikiran yang inovatif. dan penelitian tindakan. dan penelitian tindakan. pertambahan nilai dan penilaian untuk pembelajaran. Data dianalisa dan digunakan sebagai bahan pemikiran dan perkembangan. Latihan yang penuh pemikiran sangat dihargai. institusi pendidikan yang lebih tinggi dan badan-badan lainnya. contohnya hasil penilaian. proyek penelitian dan pengembangan.

Pengawas atau anggota komite sekolah terlibat dalam KPP. dan dukungan yang mutual • • • • Hubungan kerja bersifat positif.Pemimpin Komunitas Pembelajaran 7. adanya upaya inovasi sekolah dalam perbaikan pembelajaran. Ada rasa percaya dan hormat yang mutual. KOMUNITAS PEMBELAJARAN PROFESIONAL BAGI MANFAAT SEKOLAH Stoll dkk (2005) menyatakan bahwa komunitas pembelajaran professional yang efektif mempunyai kemampuan untuk mendorong dan mempertahankan pembelajaran dari semua profesional di komunitas sekolah dengan tujuan bersama untuk meningkatkan pembelajaran siswa. manfaat yang bisa diperoleh dengan terciptanya komunitas pembelajaran di sekolah diantaranya terciptanya iklim pembelajaran yang kondusif. ruang dan pengembangan KPP. fasilitasi pembelajaran peserta didik yang lebih baik. 8. dan lain sebagainya yang masih terus dikaji oleh para peneliti pendidikan. Sumber daya sekolah dapat secara sinergis bekerjasama dan berkolaborasi menuju cita-cita yang sama dengan merefleksikan dan mendiskusikan masalah-masalah dan mencari solusi secara bersama-sama. Karenanya. Ada satu kumunitas besar yang melibatkan seluruh staf disekolah. Rasa percaya. Upaya terbaik dari pada staff dan guru sangat dihargai Staf merasa kompeten. adanya peningkatan kompetensi kepemimpinan. rasa hormat. Mengoptimalisasikan sumber daya dan struktur untuk mempromosikan KPP • Waktu. pendanaan digunakan untuk mendukung 99 . Sebagai inti dari konsep komunitas pembelajaran professional adalah berasal dari asumsi pada premis meningkatkan kualitas belajar siswa dari kualitas pengajaran di kelas. Stoll dkk (2005) menyarankan langkah-langkah untuk mengembangkan KPP adalah sebagai berikut: 1. atau koles. Manfaat adanya komunitas pembelajaran profesional tersebut akan dirasakan jika tahapan-tahapan dalam mengembangkan KPP dilaksanakan dengan sungguhsungguh. Keanggotaan yang inklusif • • • Staf pendukung dihargai sebagai anggota yang memberi kontribusi kepada KPP. pusat. bukan hanya komunitas-komunitas kecil yang banyak.

Zainun Misbah

• •

Gagasan mengenai KPP disertakan dalam dokumem-dokumen kebijakan dan rencana-rencana pengembangan. Ruangan staf, ruang kerja staf dan ruang belajar digunakan untuk pembinaan dan pembelajaran masyarakat.

2.

• ICT digunakan untuk meningkatkan komunikasi yang lebih efektif. Mempromosikan pembelajaran yang profesional • • Perkembangan yang professional dikoordinasikan untuk mempromosikan pembelajaran semua staf. Manajemen atau penilaian kinerja, induksi, profil perkembangan professional, dan mentoring bersifat konsisten dengan nilai-nilai untuk menggembangkan KPP.

• • 3.

Ada penekanan terhadap latihan dan pemahaman bersama. Ada dukungan yang diberikan untuk membantu mengembangkan strategi dan keahlian pembelajaran dan pengajaran. Mengevaluasi dan Mempertahankan KPP • Pengembangan dan kemajuan KPP diawasi secara teratur. • • • Adanya pembahasan yang jelas mengenai KPP beserta tujuan dan pengembangannya. Nilai-nilai KPP dipertimbangkan saat membuat pilihan untuk merekrut dan memberhentikan staf. Perhatian diberikan terhadap masalah-masalah yang menghalangi pengembangan KPP. memberikan

• 4.

Teman-teman yang kritis diundang untuk masukan/pandangan dari luar. Memimpin dan Mengelola untuk mempromosikan KPP

• • • • •

Pemimpin memusatkan perhatian pada pembelajaran untuk semua. Pembinaan kepercayaan dan merayakan keberhasilan menjadi prioritas. Pemimpin selalu melakukan pencarian pengetahuan dan mendorong hal ini pada yang lain. Pemimpin memberikan contoh pembelajaran dan melatih rekanrekannya.

Kepemimpinan dalam pembelajaran disebarkan di seluruh sekolah, pusat pelatihan atau institusi pendidikan. Dengan mengembangkan KPP, kepala sekolah dapat menemukan kepuasan yang mendalam karena seluruh warga sekolah memiliki tanggungjawab kolektif untuk keberhasilan siswa dan keberhasilan sekolah. Setiap warga sekolah memiliki 100

Pemimpin Komunitas Pembelajaran

kesadaran bahwa mereka memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil kerja siswa dan juga sadar atas peran mereka dalam membantu siswa mencapai harapannya. Kepala sekolah juga dapat terus mengembangkan kompetensinya dalam mengelola administrasi dan komunitas sekolah, memperbaiki sistem pembelajaran di kelas, dan juga mengembangkan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosialnya secara terintegrasi. Kepala sekolah memiliki peran penting dalam mengembangkan KPP, utamanya dalam mendorong perubahan agar senantiasa terdapat kesempatan refleksi dalam pembelajaran baik oleh siswa, guru maupun kepala sekolah; meningkatkan budaya kolaborasi dan kerjasama warga sekolah, semakin memfokuskan pada pembelajaran siswa, dan kesamaan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di sekolah. Inovasi sekolah juga akan lebih cepat berkembang dengan adanya KPP karena salah satu karakteristik KPP adanya shared vision dan value. Sejalan dengan Gladwell (2002), bahwa komunitas akan merubah nilai dan pandangan individu, “karena ketika orang dimintai pendapat tentang suatu kejadian atau harus membuat keputusan dalam suatu kelompok, mereka cenderung memberikan kesimpulankesimpulan sangat berbeda dibanding ketika pertanyaan serupa diajukan kepada tiap orang sesudah tidak bersama kelompoknya lagi. Begitu kita menjadi bagian sebuah kelompok, kita semua rentan terhadap tekanan dan norma-norma sosial serta bermacam-macam pengaruh lain yang dapat berperan penting dalam proses awal perubahan (sekolah).” KOMUNITAS PEMBELAJARAN PROFESIONAL DI INDONESIA Budaya organisasi dan berkumpul dan bekerja secara bersama-sama ini cukup kental di Indonesia. Dalam konteks dunia pendidikan di Indonesia, komunitas pembelajaran kepala sekolah terlihat dalam wadah semisal Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) dan lain-lain. Para kepala sekolah dalam satu wilayah mengadakan pertemuan dan merefleksikan peran dan tanggung jawab mereka, dan masalah-masalah yang dihadapi dalam melaksanakan peran tersebut. Namun demikian banyak pihak yang menganggap forum tersebut belum dapat dioptimalkan dan diberdayakan dengan baik karena diantaranya permasalahan dana, terbatasnya kemauan dan kemampuan sumberdaya manusia, kurangnya pemahaman pentingnya jejaring dan komunitas pembelajaran profesional, dan lain sebagainya.

101

Zainun Misbah

MKKS & KKKS, sebagai contoh KPP di Indonesia, perlu diefektifkan lagi agar manfaat yang diperoleh semakin nyata. Stoll dkk (2005) menunjukkan tiga cara menentukan keefektifan dari KPP adalah sebagai berikut: KPP mempunyai dampak pada pembelajaran siswa dan pengembangan sosial KPP mempunyai dampak pada semangat dan tindakan staf, dengan potensi untuk mengembangkan kemampuan memimpin. 3. Semua karakteristik KPP ada pada tempatnya dan semua proses berjalan lancar yang merupakan bagian dari ’cara kami melakukan sesuatu’. Selain aktif dalam komunitas pembelajaran profesional dalam skala distrik (district based level) seperti dalam MKKS dan organisasi kepala sekolah, kepala sekolah perlu membangun komunitas pembelajaran profesional di sekolahnya. Kepala sekolah memimpin warga sekolah untuk mengidentifikasi apa yang kurang di sekolahnya, dan apa yang perlu ditingkatkan. Kegiatan dilanjutkan dengan melakukan refleksi dan berbagi dengan warga sekolahnya sehingga semua warga sekolah mempunyai rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap mutu sekolah. Namun perlu disadari bahwa membangun KPP diperlukan waktu yang cukup lama untuk membangun keterbukaan, kepercayaan, fokus yang sama dan karenanya tidak bisa dilakukan secara instant. Kepala sekolah perlu ’mempelajari proses dan manejemen perubahan’, tidak hanya mengharapkan sekolah berubah ke arah yang lebih baik, tetapi terus ’berusaha dan mencari’. KESIMPULAN DAN SARAN Pemerintah telah berupaya memfasilitasi peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi tenaga kependidikan dengan berbagai upaya. Komunitas Pembelajaran Profesional untuk meningkatkan mutu sekolah perlu terus diupayakan baik di tingkat sekolah maupun antar sekolah. Kalaupun sudah terbentuk wadah-wadah pertemuan untuk jejaring kerja pendidik dan tenaga kependidikan seperti MKKS, MGMP, MKPS dan asosiasi profesi tenaga kependidikan, perlu kiranya ditingkatkan dan diberdayakan lagi dengan mengingat konsep dan karakteristik-karakteristik KPP. Komunitas Pembelajaran Profesional pada level sekolah juga perlu diupayakan, dan tentunya peran kepala sekolah sangat penting dan strategis dalam mengimplementasikan konsep KPP di sekolahnya. Pengambil kebijakan sudah semestinya mendukung dan mendorong upaya sekolah mewujudkan KPP. Kajian tentang KPP pun perlu terus dilakukan dan disebarluaskan agar percepatan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dapat segera terlihat dan terukur. 1. 2.

102

Kumpulan Materi Pembekalan Fasilitator Program Kemitraan Kepala Sekolah Angkatan VI Tahun 2008. Leader and Learning. S. Hirsh. Principal Leadership.pdf Wenger. E. Tipping Point. R. Depdiknas : Jakarta. (2008). dkk. Communities of practice and social learning systems. December 26 – 30.dfes. 103 . (2000).Pemimpin Komunitas Pembelajaran DAFTAR RUJUKAN DuFour. Organization: the interdisciplinary journal of organization. Gladwell. S. DfES Research Report RR367.ca.k12. (2004). Organization articles. 6-11. & Hord. Available at http://schools. Creating and Sustaining Effective Professional Learning Communities. Stoll. theory and society. University of Bristol.fsusd. 225 – 246).M. (2005). (2002).uk/research/data/uploadfiles/RR637.pdf Direktorat Tenaga Kependidikan (2008). M..gop. What is professional learning community? In: Schools as learning communities.us/education/PLC/Prof_Lrng_Community. Available at www. 7 (2). Gramedia : Jakarta.

Pada judul bagian tidak menggunakan sistem angka/nomor. Peringkat 3 (Hanya awal kata huruf besar. .com Nama penulis artikel dicantumkan tanpa gelar akademik dan ditempatkan di bawah judul artikel. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan huruf Times New Roman. sedangkan penulis lainnya dicantumkan pada bagian bawah halaman pertama artikel. disertai judul pada masing-masing bagian artikel. yang dicantumkan cukup penulis utamanya saja.5. 5. Penulis disarankan menuliskan alamat e-mail dan nomor telepon atau handphone pada halaman terakhir artikel untuk memudahkan komunikasi. sedikit tinjauan pustaka. dan kata kunci maksimal enam kata. ukuran 12 pts dan dicetak tebal. Artikel yang ditulis untuk Jurnal Tenaga Kependidikan meliputi hasil pemikiran dan hasil penelitian di bidang tenaga kependidikan. 8. Penutup atau Kesimpulan. Pendahuluan (tanpa judul) berisikan latar belakang. Jika penulis empat orang atau lebih. rata tepi kiri. Judul artikel dicetak tebal dan huruf besar semua. diserahkan dalam bentuk printout sebanyak 2 eksemplar beserta disketnya atau dibuat dalam bentuk file dengan Microsoft Word (MS) dan dikirimkan ke alamat e-mail: jurnaltendik@yahoo. abstrak (maksimal 100 kata). dicetak pada kertas A4 maksimal 20 halaman. 104 2. nama penulis (tanpa gelar). metode penelitian. Sistematika artikel hasil penelitian: judul.PETUNJUK BAGI PENULIS ARTIKEL 1. Peringkat 2 (Hanya awal kata huruf besar. Naskah diketik dengan huruf Times New Roman. Peringkat 1 (huruf besar semua. cetak tebal. dan ruang lingkup penulisan. kecuali bagian pendahuluan disajikan tanpa judul bagian. 3. Sistematika artikel hasil pemikiran: judul. cetak tebal. rata tepi kiri. dengan spasi 1. 7. di tengah-tengah dengan huruf Times New Roman. kata kunci maksimal enam kata. miring (italic) dan rata tepi kiri. tujuan penulisan. tebal. 6. ukuran 12 pts. Bahasan utama (dapat dibagi ke dalam beberapa subbagian). nama penulis (tanpa gelar). Pendahuluan (tanpa judul) berisikan latar belakang. ukuran 14 pts. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan format esai. Daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk saja). hasil penelitian. 4. abstrak (maksimal 100 kata) yang berisikan tujuan penelitian. dan tujuan penelitian.

& Posner. Fatal Jika Tenaga Kependidikan Bermutu Rendah dalam Forum Tenaga Kependidikan. Buku Terjemahan Kouzes.New York: McGraw-Hill Irwin. Dalam M. Kesimpulan dan saran. Artikel dalam Koran Bro.1999.J. 2004.A. Edisi 1. 1. 2007. 1999. Leadership Enchancing the Lessons of Experience. No. The Jossey-Bass Reader on Educational Leadership (hlm. Artikel dalam Majalah Surya Dharma. Daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk saja). Februari. Daftar rujukan disusun dengan tata cara seperti contoh berikut ini dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis. Vol. Buku Hughes. Artikel dalam Koran (tanpa nama pengarang) Kompas. Dokumen Resmi Peraturan Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. Jakarta: Interaksara. hlm 22.M. Mobil untuk Kepala Sekolah. & Curphy. Buku dalam Kumpulan Artikel Leitwood. Vol. Terjemahan oleh Anton Adiwiyoto. Fullan (Editor). Agustus:1-13. Metode penelitian. Satu spasi.. 2. Hasil penelitian dan pembahasan. J. B. April: 14-16. Transformation School Leadership in a Transactional Policy World.Z. Artikel dalam Jurnal Surya Dharma.9. 2007. 183-196). K. Ginnett. 2007. Kepemimpinan Pengawas Sekolah: Mengembangkan Budaya Tanggung Jawab dalam Jurnal Tenaga Kependidikan. Tantangan kepemimpinan. 3 Mei 2005. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. 105 . R. R. G.C. 1.L. Kompas. Tajuk Rencana Pendidikan Sangat Penting untuk Bangsa. 2006.

and instructional functions. Jilid 16.” (Hunsaker. 2007.” atau Hunsaker (2001) menyatakan. ”Managers can be leaders. 2007. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Tahap II. Model Pendidikan Kecakapan Hidup Berbasis Masyarakat Pedesaan sebagai Usaha Pengentasan Kemiskinan di Wilayah Kabupaten Kulon Progo DIY. Kemitraan sinerjis Perguruan Tinggi.id. The role of supervisor has many dimensions or facets. and for this reason supervision often overlaps with administrative. Tata cara mengutip langsung kurang dari lima baris. Contoh: Menurut Hunsaker (2001). but leaders do not have to be manager. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. 1.” atau ”Managers can be leaders. 10. curricular. Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. kalimat dikutip sesuai dengan aslinya diberi tanda petik di awal dan diakhir bagian yang dikutip. (http://www. dan tanpa tanda petik. Internet (artikel dalam jurnal online) Surya Dharma & Husaini Usman. such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting. but leaders do not have to be manager. ”Managers can be leaders.ac. 106 . dibuat alinia baru.Skripsi. Tidak Diterbitkan. diakses 8 Januari 2008). menjorok ke dalam lima ketukan. 2001). Contoh: Menurut Wiles & Bondi (2007). Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan. Disertasi. Tata cara mengutip langsung empat baris atau lebih. Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan. satu spasi. (Online). but leaders do not have to be manager. dan Laporan Penelitian Husaini Usman dan Darmono. dan Masyarakat. atau Wiles & Bondi (2007) menyatakan: 11. Jurnal Ilmu Pendidikan. No. Tesis. Pemda.malang.

and instructional functions. atau Ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. 14. (7) manajer perubahan. 13. (2) pengembang kurikulum. atau The role of supervisor has many dimensions or facets. (3) spesialis pembelajaran. (7) manajer perubahan. such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting (Wiles & Bondi. atau Wiles & Bondi (2007) menyatakan bahwa ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya. curricular. (5) pengembang personil sekolah. Penulis artikel diberi kesempatan untuk memperbaiki artikelnya atas dasar saran dari mitra bestari. Cara mengutip tidak langsung. (2) pengembang kurikulum. (3) spesialis pembelajaran. Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. (6) administrator. (3) spesialis pembelajaran. Contoh: Menurut Wiles & Bondi (2007). such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting. curricular. (4) pekerja hubungan manusiawi. (6) administrator. dan (8) evaluator.12. (7) manajer perubahan. and for this reason supervision often overlaps with administrative. dan (8) evaluator (Wiles & Bondi. kalimat yang dikutip langsung ditulis dalam kalimat penulis tanpa tanda petik. (4) pekerja hubungan manusiawi. Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan. The role of supervisor has many dimensions or facets. Semua artikel ditelaah secara anonim oleh mitra bestari (reviewers) yang ditunjuk. (2) pengembang kurikulum. 2007). (5) pengembang personil sekolah. (5) pengembang personil sekolah. and instructional functions. dan (8) evaluator. (6) administrator. (4) pekerja hubungan manusiawi. 2007). Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. and for this reason supervision often overlaps with administrative. 107 .

16. Semua kata asing diketik miring (italic) 108 . 17. Artikel yang dimuat.15. Artikel yang tidak dimuat akan dikembalikan jika ada permintaan tertulis dari penulis. kepada penulis diberikan satu eksemplar dan penghargaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful