Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 4, No.

1, April 2009

PENGANTAR REDAKSI

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen PMPTK dapat menerbitkan Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 4, No. 1, April 2009. Tujuan diterbitkannya jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dan opini tentang tenaga kependidikan. Dengan berbagi informasi ini diharapkan terjadi pertukaran informasi informasi antar penulis, pembaca, dan pembuat kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu tenaga kependidikan secara terus-menerus. Jurnal edisi ini diawali dengan artikel yang ditulis Sujono Surokarijo berjudul, ” Korelasi antara Kepemimpinan Demokratis Kepala Sekolah dengan Kepuasan Kerja Karyawan Tata Usaha.” Artikel ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan untuk mengetahui korelasi antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha dan perpustakaan sekolah di SMPN Kota Ponorogo. Penelitian menyimpulkan bahwa terdapat korelasi positif antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha. Selanjutnya, Wukir Ragil menulis artikel dengan judul, ” Makna Pendidikan dalam Menjunjung Nilai-nilai Budaya dan Hukum Positif dalam Rangka Menegakkan Akhlak Mulia Bangsa Indonesia.” Menurut Wukir R, dulu kita terkenal sebagai bangsa yang memiliki semangat gotong royong yang tinggi, sopan, ramah, murah senyum dan santun. Namun akhir-akhir ini kondisi tersebut seakanakan telah mulai luntur, dan memaksakan kehendak dalam menyampaikan pendapatnya. Melalui suatu kajian pustaka dan kajian empiris diketahui bahwa, perubahan perilaku ini disebabkan beberapa hal antara lain kini kita merasa telah ”Bebas” dari segala belenggu yang dianggap menghambat kreativitas dan ekspresinya sehingga kini seolah-olah bisa bebas dalam berperilaku apa saja dalam menentukan kehidupan bermasyarakat. Penegakkan hukum yang konsisten dan adil akan membawa kita pada suatu kepastian hidup bahwa dalam berkehidupan, berbangsa dan bernegara yang bebas, dan dalam kebinekaan ini kita harus menghargai juga hak asasi orang lain dan dengan tetap patuh pada norma dan hukum yang berlaku. Pendidikan dalam suatu sistem merupakan wahana yang ampuh untuk menegakkan kembali sikap bangsa Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila ini dalam sikap hidup gotong royong yang tinggi, ramah, santun, sopan

1

dalam berperilaku. Pendidikan bukan hanya menekankan aspek kognitif dan afektif, serta psikomotorik saja akan tetapi juga pembetukan akhlak mulia. Moh. Suryadi Syarif dengan artikelnya yang berjudul, ”Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Era Otonomi Daerah dan Beberapa Faktor yang Mempengaruhinya.” Menurut Moh. Suryadi Syarif, kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah mengutamakan pemberian kesempatan, dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur sehingga semua unsur yang terlibat bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh indikator-indikator: idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration. Ali Imron menulis artikel, “Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah dalam Pelayanan Publik di Tingkat Satuan Pendidikan.” Ali Imron mengemukakan gagasannya bahwa dalam perspektif total quality management (TQM), sekolah dipandang sebagai institusi publik yang harus dapat memuaskan customer-nya. Perspektif TQM ini, mendapatkan momentum tepat ketika reformasi di berbagai bidang digulirkan di negeri ini, termasuk di dalamnya adalah reformasi pelayanan publik di bidang pendidikan. Paradigma pelayanan publik di tingkat satuan pendidikan sekolah patut digeser dari yang konvensional menuju ke kondisi yang senantiasa ter-update, agar ketika dibutuhkan berada dalam keadaan on-service. Tenaga administrasi sekolah haruslah menunjukkan perilaku sebagai seorang pelayan publik yang pro aktif, responsif dan antisipatif terhadap berbagai kebutuhan, aspirasi dan harapan stake holders sekolah sesuai Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. Oleh karena itu, selain harus menguasai berbagai hard skill, yang berupa ketrampilan teknis, juga menguasai berbagai shoft skill yang senantiasa ditampilkan pada saat memberikan pelayanan prima sekaligus memuaskan kepada customer-nya. Sri Marmoh dengan artikelnya yang berjudul, “Problematika Perpustakaan Sekolah pada Pendidikan Dasar dan Alternatif Solusinya.” Artikel ini membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar, menumbuhkan minat baca, dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah pada pendidikan dasar yang belum memiliki

perpustakaan. Sementara sekolah yang memiliki perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala di lapangan. Tulisan ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Rokhmaniyah menulis artikel dengan judul, “Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah.”. Menurut Rokhmaniyah, kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator), pemimpin (leader), pengelola (manager), administrator (administrator), penyelia (supervisor), wirausahawan (entrepreneur), dan pencipta iklim kerja (climator). Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya, mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui), kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Selain itu, ia mampu bekerja keras dan berani menanggung risiko. Ujang Didi Supriadi menulis artikel berjudul, “Kajian atas Kebijakan Pemerintah tentang Kepemimpin Kepala Sekolah pada SMPN 115 Jakarta sebagai Salah Satu Rintisan Sekolah Bertaraf Internasioanal.” Ujang Didi Supriadi menyatakan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah harus memiliki tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. Selain itu terdapat pula 16 kriteria seorang kepala sekolah yang memimpin RSBI. Penetapan standar dan kriteria tersebut diarahkan untuk mewujudkan tujuan sebuah sekolah yang memiliki daya saing pada tingkat nasional dan internasional. Akhirnya, jurnal ini ditutup dengan artikel yang berjudul, “Pemimpin Komunitas Pembelajaran” ditulis oleh Zainun Misbah. Penulis mengungkapkan gasasannya bahwa Pembelajaran Profesional (KPP) telah dilakukan oleh peneliti pendidikan dan dipublikasikan dalam beberapa jurnal ilmiah. Selama tiga puluh tahun belakangan ini kajian tentang KPP terus dilakukan sebagai upaya pengembangan dan inovasi sekolah, meskipun penelitian tentang efek KPP terhadap nilai siswa belum banyak dilakukan. Dari beberapa kajian tersebut karakteristik KPP adalah adanya reflective dialogue, de-privatization of practice, collective focus on student learning, collaboration dan shared norms and values. Dengan terbitnya jurnal ini diharapkan saran-saran yang membangun dari pembaca sehingga penerbitan berikutnya semakin berkualitas. Adanya kekurangan-

.kekurangan pada jurnal ini kiranya dapat dimaklumi karena di dunia ini tak ada yang sempurna. Atas segala saran-saran yang membangun pembaca. kami mengucapkan banyak terima kasih.

dan (3) kebutuhan egois. (3) kepuasan prestasi. bahwa setiap manusia membutuhkan pekerjaan dan hidup layak. PENDAHULUAN Sudah menjadi kodrat manusia. dalam dirinya ada kepuasan hidup. pada persamaan regresi = 35. Kepemimpinan demokratis kepala sekolah memberi sumbangan positip 15 % pada kepuasan kerja karyawan tata usaha. yaitu: (1) kepuasan hubungan antar karyawan. kebutuhan yang terpenuhi dari pekerjaan ada tiga bentuk. Analisis data menggunakan teknik korelasi Product Moment dan teknik regresi linear. (2) kebutuhan sosial.KORELASI ANTARA KEPEMIMPINAN DEMOKRATIS KEPALA SEKOLAH DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN TATA USAHA Sujono Surokarijo Universitas Negeri Jakarta Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha dan perpustakaan sekolah di SMPN Kota Ponorogo. Kebutuhan fisik pokok dapat berupa uang. Sampel penelitian 50 orang karyawan tata usaha. Setelah dikoreksi dengan uji t. kepuasan masa luang. (5) kepuasan kepemimpinan. divalidasi dengan analisis butir. Menurut Strauss (Hadikusumo. menyatakan bahwa kepuasan hidup meliputi kepuasan: keluarga. Dengan uang seseorang dapat memenuhi segala macam kebutuhan. berarti korelasi signifikan. Instrumen yang dipakai adalah kuisioner tertutup menggunakan skala Likert dengan 4 alternatif jawaban. Kata Kunci: Kepemimpinan. Metode penelitian adalah survai. (4) kepuasan gaji. kepuasan kerja.39.36 X. diperoleh koefisien korelasi (r) = 0.93 > 1. dengan pendekatan korelasional. Caranya (1992). dan (6) kepuasan tugas. yaitu: (1) kebutuhan fisik dan keamanan. 1990). di dapat th > tt ( 2.48 + 0. Hasil penelitian menunjukan. perkawinan. Status sosial seseorang di masyarakat dipengaruhi oleh besar kecilnya penghasilan yang dihitung . dan kerja. Bila seseorang dapat bekerja dan hidup layak. terdapat korelasi positif antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha. (2) kepuasan supervise. dijaring secara teknik sampling acak sederhana dari 57 orang karyawan tata usaha. Sedang kepuasan kerja sendiri mempunyai enam segi.70). sedang reliabilitas dianalisis dengan teknik Alpha Cronbach.

Selanjutnya. Dalam aktivitasnya melaksanakan pekerjaan seseorang membutuhkan dukungan orang lain. SD. Pekerjaan tata usaha pada Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) termasuk jenis pekerjaan yang dihargai masyarakat karena statusnya sebagai pegawai negeri sipil.Sujono Surokarijo berdasarkan besar-kecilnya uang. Demikian juga untuk daya saing kemampuan sumber daya manusia Indonesia semakin menurun. maka keberhasilannya dihargai oleh pimpinan. pemenuhan kebutuhan keamanan dalam pekerjaan atau pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lain akan terpenuhi di masa yang akan datang. 20 November 2001). Seseorang bila berhasil melaksanakan tugas dan dapat mengatasi berbagai hambatan dalam melaksanakan tugas. dan tempat tinggal terpenuhi. 2 . (2) senioritas sebagai jalan untuk maju. Termasuk kemajuan yang akan diperoleh dari pekerjaan berupa: (1) kenaikan upah. yaitu perasaan rasa bersatu dan diakui keberadaannya. dan (3) segi jaminan nilai material yang meningkat sehingga semua kebutuhan hidup terpenuhi baik kebutuhuan biologis maupun kebutuhan nonbiologis. Seseorang hidupnya layak bila kebutuhan pertama manusia sebagai makluk biologis yaitu kebutuhan makan. Kenyataan karyawan yang berbentuk team work memiliki moral yang lebih tinggi dari pada yang sendirian. Kebutuhan sosial pokok adalah keanggotaan dalam kelompoknya. Menurut Iskandar (Media Indonesia. SMP. senioritas yang lebih tinggi biasanya berarti keamanan dalam pekerjaan lebih aman. Manusia dewasa membutuhkan pemenuhan kebutuhan egois dan aktualisasi diri tingkat tinggi melalui pekerjaan mereka. tingkat pencapaian rata-rata hasil ujian nasional. Kebutuhan egois yang utama adalah kebutuhan akan prestasi. hasil kerjanya lebih baik dari yang sendirian karena kelemahan dari anggota team work ditutup oleh anggota team work yang lain. Jika berhasil ingin dihargai dan bila ada kesulitan ingin dibantu. ingin menjadi orang yang berarti dalam kelompoknya. Karyawan cenderung bersikeras untuk membentuk kelompok-kelompok informal. pakaian. Selain itu. dan SMU tidak mencapai tingkat ketuntasan untuk semua mata pelajaran. Iapun akan merasa puas. Hal ini berakibat menurunnya mutu pendidikan di Indonesia termasuk pendidikan di SMP. Oleh karenanya kinerja mereka menurun. Seiring dengan pernyataan tersebut berarti sumber daya manusia para guru dan karyawan tata usaha pada sekolahsekolah di Indonesia menurun. walaupun kadang-kadang bertentangan dengan pihak pimpinan organisasi kerja. Orang menyukai pekerjaan-pekerjaan yang dianggap berharga oleh masyarakat. Tuntutan seseorang dari pekerjaan adalah pekerjaan tersebut memberi penghasilan yang berupa gaji dan gaji tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidup yang layak.

pada tipe ini pemimpin menganggap bawahan sebagai mitra kerja. maka orang itu kecewa.1976) menyatakan bahwa jika kebutuhan yang diidam-idamkan seseorang tidak tercukupi.Korelasi Kepemimpinan Kenyataan gaji yang diterima para guru dan karyawan tata usaha sekolah di Indonesia kurang mencukupi untuk biaya hidup mereka. pelaksanaan tugas atau pekerjaan diserahkan kepada bawahan. Dalam organisasi secara struktural ada pemimpin dan bawahan. Variabel tersebut adalah pegawai. pada tipe ini pemimpin menganggap bawahan sebagai alat produksi atau alat untuk pencapaian tujuan organisasi. Darwis (Scermerhorn. Karenanya dapat dikatakan keberhasilan organisasi dalam mencapai tujannya tergantung kemampuan pemimpin dalam mendayagunakan semua sumber daya yang tersedia dalam organisasi tersebut. ketenagaan. usia. Mereka resah. gundah dan runyam. laboran. Pemimpin ialah orang yang mempengaruhi orang lain dan yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup organisasi. dan organisasi. kesiswaan. dan (3) gaya kepemimpinan kendali bebas. para guru dan karyawan tata usaha sekolah tersebut kurang puas karena gaji yang ia terima kurang mencukupi untuk pemenuhan hidup. Dengan demikian. Siagian (1989) menyatakan bahwa pemimpin sebagai motor penggerak semua sumber daya yang tersedia dalam organisasi. Apalagi bagi mereka yang sudah berkeluarga. keuangan. hubungan masyarakat. pangkat. pada tipe ini. (2) gaya kepemimpinan demokratis. 1991) menyatakan bahwa kepuasan kerja berkaitan dengan sejumlah variabel yang memungkinkan para manajer memperkirakan kelompok yang lebih cenderung mengalami masalah ketidakpuasan. lingkungan kerja. Argyris (Buchori Zainun. Bawahan ialah orang yang dipengaruhi untuk melaksanakan tugas guna pencapaian tujuan organisasi. 3 . bimbingan penyuluhan. Secara garis besar gaya kepemimpinan dibagi tiga tipe yaitu: (1) gaya kepemimpinan otokratis. Salah satu variabel yang ada sangkut pautnya adalah variabel organisasi. kearsipan. Karyawan tata usaha sekolah merupakan sumber daya manusia yang tersedia di SMP yang terdiri atas: koordinator administrasi dan karyawan-karyawan yang menangani administrasi kurikulum. Sesuai dengan pendapat di atas. perlengkapan. Sumber daya meliputi sumber daya manusia dan nonmanusia. kepuasan kerja seseorang terkait dengan beberapa variabel. Kepala Sekolah sebagai manajer dan pemimpin menggerakkan bawahannya baik guru maupun karyawan tata usaha sekolah melalui gaya kepemimpinan. Hal ini dapat berakibat turunnya kinerja mereka. dan karyawan perpustakaan.

kebutuhan aktualisasi diri atau menunjukkan jati-diri. Hirarki kebutuhan manusia menurut Maslow sebagai berikut: a. 1976) menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah seperangkat perasaan karyawan tentang menyenangkan atau tidaknya jenis pekerjaan. Sedang Grunerberg (Buchori Zainun. ”Bagaimana hubungan antara gaya kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah?” KAJIAN PUSTAKA Menurut Poerwadarminta (1991). Coreman (Timpe A Dale. Menurut teori ini walaupun kebutuhan manusia beragam. untuk mengukur kepuasan kerja adalah dengan membandingkan apa yang seharusnya atau diharapkan dengan kenyataan yang dirasakan. Setelah kebutuhannya terpenuhi ia merasa puas. Seseorang akan merasa puas bila tidak ada perbedaan antara apa yang diinginkan atau diharapkan dengan kenyataan yang dirasakannya. 3. Sedang yang dimaksud kerja adalah perbuatan melakukan sesuatu atau sesuatu yang dilakukan. (2) Teori pemenuhan kebutuhan oleh Maslow (1970). dan e. Menurut Patton (Hesmes. b.Sujono Surokarijo Seiring kepuasan kerja karyawan terkait dengan gaya kepemimpinan. Pada penelitian ini teori-teori yang dianalisis dan relevan dengan tujuan penelitian adalah: (1) Teori discrepancy oleh Porter (Stoner. hubungan teman sekerja. Teori Existence – Relatedness – 4 . kebutuhan rasa aman. kebutuhan fisiologis (makan. d. Menurut teori ini. kepuasan adalah perasaan lega atau senang karena merasa sudah terpenuhi kebutuhannya atau hasrat hatinya. namun kebutuhan utama manusia pada hakikatnya sama dan merupakan hirarki yang terdiri dari lima tingkat. pengakuan. 1999) mendefinisikan kepuasan kerja ialah respons seseorang terhadap bermacam-macam lingkungan kerja yang dihadapinya termasuk komunikasi organisasi. kepuasan kerja dalam diri seseorang akan tumbuh bila bekerja selaras dengan diri sendiri. karena batas minimum yang diinginkan telah terpenuhi. kebutuhan hidup berkelompok dan bermasyarakat. Menurut teori ini kebutuhan akan menimbulkan ketidak seimbangan pada diri seseorang. sesorang akan menjadi resah dan ia melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan tersebut. pakaian. Seterusnya setelah terpenuhi kebutuhannya dan merasa puas. kebutuhan pada peringkat di atasnya atau berikutnya muncul dan orang tersebut berusaha untuk memenuhinya. 2001). c. tempat tinggal). Dengan demikian yang dimaksud kepuasan kerja adalah perasaan senang atau lega karena apa yang dilakukan tersebut sesuai dengan dirinya dan telah memenuhi kebutuhan atau hasrat hatinya. promosi. 1989). maka permasalahannya dalam meningkatkan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah adalah. supervisor. kebutuhan penghargaan.

Mitchel menyatakan bahwa penyebab kepuasan kerja adalah: supervisi. menurut ia ada lima komponen utama dalam kepuasan kerja.1992). (2) hubungan teman sekerja. (4) keuntungan keuangan. norma-norma sosial. Growth. Indikator kepuasan kerja. tantangan pekerjaan. dan (5) jenis dan isi pekerjaan. serta lingkungan kerja (kondisi pekerjaan). bakat. yaitu: (1) faktor psikologis. 1976). minuman. tunjangan maupun lain lain yang berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan. (3) sikap terhadap organisasi. dapat disimpulkan bahwa dalam proses kepemimpinan ada orang yang mempengaruhi (pemimpin) dan ada orang yang dipengaruhi (bawahan). dan (4) faktor kesejahteraan. Lain lagi dengan Byars (Buchori Zainun. dan (5) sikap terhadap supervisi. yaitu: (1) sikap terhadap kelompok kerja. 5 . hubungan dengan pimpinan. Relatedness. 1989). (3) faktor fisik yaitu faktor faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja. ada empat faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja. (2) faktor sosial. puas karena hubungan sosial yang bermanfaat. (2) kondisi umum pekerjaan. (4) gaji. udara.Korelasi Kepemimpinan Growth (ERG) oleh Aldefer (Stoner. b. ketentraman dalam bekerja. meliputi: gaji. meliputi minat. yang dimaksud kepuasan kerja dalam penelitian ini adalah perasaan senang atau lega karena merasa terpenuhi kebutuhan atas harapan yang dialami oleh seseorang dari suatu pekerjaan. Dari pendapat-pendapat di atas. berpendapat bahwa ada lima segi kepuasan kerja. isi pekerjaan. faktor faktor kepuasan kerja adalah: penghargaan. Menurut Strauss (1990). (3) supervisi. yaitu: a. Menurut teori ini hirarki kebutuhan seseorang terdiri dari tiga peringkat. sikap dan perilaku orang lain. dan dasar pemikiran. dan c. kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari para anggota kelompok. ia menyatakan bahwa yang dimaksud kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pandangan. hal hal yang berhubungan dengan interaksi antara sesama karyawan. Dari beberapa teori-teori dan konsep konsep di atas. keterikatan. keceriaan kerja. Existence kebutuhan yang dipuaskan oleh faktor-faktor makanan. Menurut Stoner (1989). penilaian diri. kepuasan karena memberi sumbangan pada pribadi maupun organisasi. Lain halnya dengan Hainan (1991). perbandingan perbandingan sosial. Sedang Hotgetts dan Kuratko (1975) mendefinisikan bahwa kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi orang orang untuk mengarahkan kegiatan demi pencapaian tujuan. Sedangkan Smith (Cranny. yaitu: (1) kepercayaan pada pimpinan. dan intensif tradisional.

(3) melibatkan bawahan dalam melaksanakan sasaran organisasi. pujian. (2) komunikasi lancar. memberi dorongan keberanian melalui arus komunikasi yang berkelanjutan antara ia dengan bawahan. pemimpin mendelegasikan sebagian wewenang pada bawahan dan mendorong bawahan untuk berperan aktif dalam pengoperasian perusahaan. Menurut Woods (Timpe A Dale. pemimpin dalam mempengaruhi dan berhubungan dengan bawahan mengemban dua fungsi utama. dan (4) memberi keleluasaan pada bawahan dalam pelaksanaan tugas. b. gaya kepemimpinan demokratis dalam mempengaruhi bawahan. c. Sehubungan tanggung jawab baik buruknya organisasi di tangan pemimpin. Lain dengan Siagian (1989). dan (2) fungsi yang berkenaan dengan pembinaan pelaksana tugas atau fungsi sosial. mendukung adanya pertukaran informasi antar bawahan yang berkelanjutan. Sedang Hodgetts dan Kuratko (1975) menyatakan ciri-ciri pemimpin yang demokratis dalam berhubungan dengan bawahan sebagai berikut: a. pemimpin memberi keleluasaan pada bawahan dalam menetapkan sasaran pekerjaan dalam pelaksanaan tugas. saluran komunikasi ke segala arah. berupa pandangan. Hodgetts (1975) menyatakan bahwa ciri-ciri kepemimipnan demokratis adalah pemimpin yang perhatiannya tinggi terhadap bawahan serta pelaksanaan tugas yang dilakukan bawahan. Pemimpin yang cenderung menjalankan fungsi yang berkenaan dengan tugas menganggap bawahan sebagai alat produksi atau alat pencapaian tujuan. Sedang pemimpin yang cenderung menjalankan fungsi yang berkenaan dengan pelaksana tugas mengganggap bawahan sebagai mitra kerja. yaitu: (1) fungsi yang berkenaan dengan tugas. maka bila ada bawahan yang kesulitan melaksanakan tugas dibimbingnya. kritikan digunakan. Pemimpin yang efektif dapat menjalankan kedua fungsi tersebut. kegiatannya: (1) bermusyawarah dengan kelompok mengenai hal hal yang menarik perhatian. di dalam organisasi tercipta jalur komunikasi ke segala arah.Sujono Surokarijo Dengan demikian yang dimaksud kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain. perilaku. Pada kepemimpinan ini perilaku pemimpin dalam pengambilan keputusan berdasarkan hasil musyawarah mufakat dengan bawahan. Sedang Bove (1995) menyatakan sifat kepemimpinan demokratis berorientasi pada pegawai atau karyawan. menciptakan arus informasi timbal balik. ia manyatakan bahwa ciri ciri kepemimpinan demokratis sebagai berikut: (1) pemimpin dalam proses menggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia adalah 6 . saran. d. sikap sehingga orang yang dipengaruhi mau melakukan kegiatan sesuai dengan tugasnya demi pencapaian tujuan yang telah ditentukan. 1999). Menurut teori perilaku.

METODOLOGI PENELITIAN Dalam penelitian ini variabel terikat adalah kepuasan kerja karyawan tata usaha (variabel Y). Analisis data menggunakan teknik korelasi product moment dan teknik analisis regresi linear. (8) memberi kesempatan bawahan untuk mengembangkan karier. sedang variabel bebas adalah kepemimpinan demokratis kepala sekolah (variabel X). dan (11) berusaha meningkatkan kesejahteraan bawahan. (3) membudayakan adanya saran dan kritik. (4) berusaha mengutamakan kerja sama dalam team work dalam usaha pencapaian tujuan organisasi. (4) menciptakan jalur komunikasi timbal balik. dalam penelitian ini yang dimaksud kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang memperhatikan bawahan dan juga memperhatikan proses pelaksanaan tugas yang dilakukan bawahan. (7) lebih mengutamakan kerja sama. Sesuai analisis teori teori dan konsep konsep di atas. (5) memberi keleluasaan bawahan dalam melaksanakan tugas. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan korelasional. Sampel penelitian sebanyak 50 orang dijaring dengan teknik sampling acak sederhana. terbuka dan ke segala arah. Populasi penelitian seluruh karyawan tata usaha SMPN di Kabupaten Ponorogo. (6) mendelegasikan sebagian wewenang pada bawahan. dan (6) memberi keleluasaan bawahan dalam berbuat kesalahan kemudian dibimbing dan diperbaiki agar tidak membuat kesalahan yang sama. pendapat maupun kritik dari bawahan. sedang populasi terjangkau seluruh karyawan tata usaha SMPN Kota Ponorogo tahun 2007 yang berjumlah 57 orang. Metode penelitian ini adalah metode survai. 7 . (3) senang dan mau menerima saran. menggunakan skala Likert dengan empat alternatif jawaban. (9) mengakui dan menghargai keberhasilan bawahan. (2) berusaha mensinkronkan tujuan dan kepentingan organisasi dengan tujuan dan kepentingan pribadi bawahan. langsung. (10) melaksanakan supervisi. (2) dalam menentukan kebijakan organisasi melalui musyawarah mufakat dengan bawahan.Korelasi Kepemimpinan makluk yang mulia. Pengumpulan data dilakukan melalui angket. Indikator kepemimpinan demokratis adalah: (1) menganggap bawahan sebagai mitra kerja. karena peneliti ingin mengetahui hubungan antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah. (5) berusaha untuk menjadikan bawahan lebih sukses.

The Human Problem of Management (Terjemahan). New York: Mc Graw Hill Inc. Buchori Zainun. New York: John Willey Inc. Manajemen dan Motivasi. Maslow. 1991. L. 1995. Jakarta: Balai Pustaka. & Richard. Hodgeets. London: Sounder Company... Mitchell. A. People in Organization An Introcdution to Organization Behavior. Selanjutnya dikoreksi dengan uji t.39. P.J. James G. 1991. Setelah di analisis dengan analisis determinasi diperoleh r2 = 0.H. Management. 1970. semakin meningkat kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah.36 X.N.48 + 0. Motivation and Personality. 1975. Kepemimpinan demokratis kepala sekolah memberi sumbangan positif sebesar 15% dan sumbangan tersebut berarti terhadap kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah. 1982. R.M. di dapat th > tt ( 2. Cranny. 8 . Hadikusumo. London: Harper and Row. S. T.S. pada persamaan regresi = 35. Job Satisfaction How People About Their Job And How It Affects Their Performance. N. KESIMPULAN Berdasarkan temuan di atas peneliti menyimpulkan bahwa semakin demokratis kepemimpinan kepala sekolah.R. Poerwadarminta W. New York: Lexington Books. Jakarta: Balai Aksara. 1990. Managing Organizational Behavior. Kamus Umum Bahasa Indonesia. 1991.Sujono Surokarijo HASIL PENELITIAN Pada penelitian ini ditemukan bahwa terdapat korelasi positip antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah. Scermerhorn J.70). Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. Management. 1976. diperoleh koefisien korelasi r = 0.93 > 1. termasuk karyawan perpustakaan. DAFTAR RUJUKAN Bovee.Graw Hill Inc. Tokyo: Mc. C. 1992.15. berarti korelasi signifikan.R. C.

Upper Saddle River.A. Timpe A. Management. Filsafat Administrasi.D.P. Jakarta: CV Haji Masagung.E. 1999.(Terjemahan: Susanto Budidharmo). J. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. 9 .Korelasi Kepemimpinan Siagian. Leadership . Stoner. S. R. New Jersey: Prentice Hall Inc. 1989. 1989.F & Freeman.Kepemimpinan.

Keteladanan. ramah. masyarakat. akhlak mulia. Namun akhir-akhir ini kondisi tersebut seakan-akan telah mulai luntur. dan Akhlak mulia. dan memaksakan kehendak dalam menyampaikan pendapatnya. Melalui suatu kajian pustaka dan kajian empiris diketahui bahwa. murah senyum dan santun. serta psikomotorik saja akan tetapi juga pembentukan akhlak mulia yang merupakan makna dari pendidikan budi pekerti yang harus dimiliki seluruh peserta didik dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. bangsa dan negara. berbangsa dan bernegara yang bebas. santun. Adalah penegakkan hukum yang konsisten dan adil akan membawa kita pada suatu kepastian hidup bahwa dalam berkehidupan. perubahan perilaku ini disebabkan beberapa hal antara lain kini kita merasa telah ”Bebas” dari segala belenggu yang dianggap menghambat kreativitas dan ekspresinya sehingga kini seolah-olah bisa bebas dalam berperilaku apa saja dalam menentukan kehidupan bermasyarakat. No. MAKNA PENDIDIKAN DALAM MENJUNJUNG NILAINILAI BUDAYA DAN HUKUM POSITIF DALAM RANGKA MENEGAKKAN AKHLAK MULIA BANGSA INDONESIA 10 . sopan. Kata Kunci: Penegakkan hukum. Pendidikan bukan hanya menekankan aspek kognitif dan afektif. Adalah pendidikan dalam suatu sistem merupakan wahana yang ampuh untuk menegakkan kembali sikap bangsa Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila ini dalam sikap hidup gotong royong yang tinggi. Dulu kita terkenal sebagai bangsa yang memiliki semangat gotong royong yang tinggi. sopan dalam berperilaku.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. April 2009 (Suatu Kajian Empiris terhadap Perubahan Sosial bagi Warga Belajar) Wukir Ragil Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional Bidang Hukum dan Sosial Dosen Luar Biasa Fakultas Hukum Universitas Indonesia Abstrak Sistem Pendidikan Nasional menggariskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. 1. 4. dan dalam kebinekaan ini kita harus menghargai juga hak asasi orang lain dan dengan tetap patuh pada norma dan hukum yang berlaku. kepribadian. ramah. pengendalian diri. menghargai hak asasi orang lain terutama perbedaan dalam kebinekaan. serta ketrampilan yang diperlukan oleh dirinya.

Kebudayaan akan berkembang atau berubah dengan berubah tata nilai dalam kehidupan keluarga. Selanjutnya menurut Herskovits ada empat unsur pokok dalam kebudayaan yaitu: 1) technological equipment (alat-alat tehnologi). Masyarakat agraris yang selama ini dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia sehingga dapat mewujudkan swasembada beras sekaligus menciptakan suatu tatanan/nilai budaya dalam masyarakat petani yang relatif nrimo. bersaing untuk mendapat produk yang terbaru dan terbaik. pendidikan berlangsung sepanjang hayat dengan mengembangkan budaya membaca. sabar. dan sifat gotong royong yang tinggi dan menjadi masyarakat produsen pangan. mawardah. Demikian semua hasil karya. 1974 hal 113). dan 11 . dan 4) political control (kekuasaan politik). Kebudayaan akan dimiliki dan akan tetap hidup dalam masyarakat pemiliknya. menulis. Hal ini karena kebudayaan akan hidup dan berkembang dalam masyarakat itu sendiri serta untuk memenuhi keperluan masyarakat tersebut. pada saat tanah pertanian berubah menjadi kawasan industri seketika itu tata nilai masyarakat berubah menjadi bersifat konsumtif. Kehidupan keluarga yang agamis akan membuat tata kehidupan dalam keluarga itu selalu menuju pada kehidupan keluarga sakinah. kompak. Penulis menambahkan unsur kelima yaitu Kaidah hukum yang berlaku dalam masyarakat setempat. rasa. ”sifat gotong royong” agak luntur. Sedangkan pengertian budaya mempunyai makna yang luas. 2) economic system ( sistim ekonomi).Makna Pendidikan PENDAHULUAN Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. Herskovits menyatakan lebih dari seratus enam puluh definisi kebudayaan. Kebudayaan akan berkembang seiring dengan berubahnya sistim ekonomi dalam masyarakat. rasa. Kebudayaan akan berkembang karena ada perkembangan ilmu dan tehnologi sehingga akan menciptakan alat/sarana tehnologi yang baru/mutakhir. (Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi. kecuali masyarakat pedesaan yang masih menjunjung sifat gotong royong ini sebagai sarana yang jitu dalam bermasyarakat. 3) family (keluarga). Kebudayaan adalah hasil dari karya. dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. perkembangan kebudayaan dalam masyarakat akan dipengaruhi adanya empat unsur pokok tersebut. cipta. Kebudayaan yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat akan berbeda yang dimiliki oleh kelompok masyarakat lainnya. cipta. Sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan masyarakat. dan karsa masyarakat tadi akan berguna bagi masyarakat yang menciptakannya. dan karsa. Dengan demikian menurut Herskovits.

terlihat di televisi seorang oknum dengan membawa berbagai senjata tajam dalam bentrokan adalah sungguh sangat merisaukan. akan tetapi tindakan itu merupakan suatu yang mengarah pada indikasi bahwa budaya penyelesaian suatu perkara dengan kekerasan dianggap sebagai cara yang ”tepat”. Namun demikian. dan privasinya. pola kehidupan. demikian juga sanksi hukum dari penguasa akan membuat jera untuk mengulangi kesalahannya lagi. dipatuhi dan menyatu pada tata nilai budaya masyarakat setempat dan akan mampu mempertahankan kehidupan tata nilai atau berkembangnya kebudayaan masyarakat tersebut. Kekuasaan politik yang mewarnai secara mencolok tata nilai dan kehidupan masyarakat apabila tidak disaring secara intensif oleh anggota masyarakat yang bersangkutan.Wukir Ragil warokhmah dan selalu bersyukur. METODE PENELITIAN Kegiatan kajian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan yang bersifat yuridis-normatif dan penelitian empiris melalui pengamatan. akan dapat merubah pola pikir. Penelitian normatif disini adalah untuk memahami kaidah hukum dan perundang-undangan mengenai gejala sosial dan kebijakan pendidikan. 12 . Dipicu oleh sebab musabab yang kurang jelas dan rasa solidaritas sesama teman telah menimbulkan sebuah kekerasan yang dilakukan oleh oknum mahasiswa antar fakultas disebuah perguruan tinggi di Makasar tanggal 3 November 2008 yang lampau. Selanjutnya penelitian normatif ini akan didukung dengan penelitian empiris. tata nilai. Sanksi akan diberikan terhadap pelanggarnya terutama sanksi moral yang diberikan masyarakat untuk membuat jera perbuatan yang dianggap menyimpang dalam masyarakat tersebut. ataupun kelestarian kebudayaan pada masyarakat tertentu. Penggabungan penelitian kepustakaan yang bersifat yuridis-normatis dan penelitian empiris ini akan dapat mengkaitkan antara konsep kebijakan peraturan perundang-undangan dan interaksi sosial masyarakat warga belajar terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. Walaupun tidak menimbulkan korban jiwa. Mereka akan merasa terasing dalam lingkungannya. kaidah hukum itu berlaku. Sebaliknya keluarga yang berpola kehidupan ”modern kebarat-baratan” akan menjadikan kehidupan pada keluarga yang serba ”praktis” dan menganggap tata nilai akan mengganggu aktifitas.

banyak contoh lain yang tidak kami sebutkan yang semua itu akan membuktikan betapa Besar dan Indahnya Indonesia. hal 102). dan menyatu menjadi suatu tata nilai dan budaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ini adalah contoh kecil. Norma ini akan dihormati dan lambat laun akan menjadi suatu pola hidup atau nilai-nilai budaya dalam kehidupan masyarakat. Masing-masing tata nilai memberikan ciri tersendiri dan tidak bisa dihapuskan oleh tata nilai budaya dari daerah lain. Aceh Tengah ini ” kata nggih ” bukan kepanjangan dari kata inggih dan mempunyai arti ”tidak”. Perbedaan ini kalau kita mampu meresapi dan mensyukuri merupakan suatu anugerah dari Allah yang sangat nikmat. tata nilai budaya semula yang berasal dari kelompok-kelompok masyarakat Indonesia ini akan menyatu dalam suatu konsep sosial budaya yang` satu sama lain saling mewarnai sehingga puncaknya akan menjadi tata nilai budaya Indonesia/budaya nasional. Tata kehidupan yang semula baru merupakan gagasan sebagian dari anggota masyarakat ini lambat laun akan menjadi kesepakatan bersama dan diciptakan untuk menjadi norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.Makna Pendidikan Nilai-Nilai Budaya dalam Kehidupan Masyarakat. Sebagai contoh. Para pakar menyatakan bahwa Budaya Nasional merupakan puncak-puncak budaya daerah yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Dalam konteks kehidupan bernegara dan berbangsa. Keterkaitannya fungsi ini akan 13 . Dalam kehidupan sosial nilai-nilai ini akan terus disesuaikan dan dikembangkan oleh masyarakat untuk mengikuti tata kehidupan dalam kelompok masyarakat yang lebih luas lagi. Organisasi kehidupan sosial masyarakat adalah dasar utama kehidupan hukum (Dawan Raharjo. Dawan Rahardjo dengan merujuk pendapat Talcott Parsons dalam teori tentang masyarakat menjelaskan bahwa dalam kehidupan masyarakat yang serba diliputi oleh tindakan individu yang mempunyai sifat fisik dan realitas akan selalu kait terkait sehingga dalam kehidupan sosial masyarakat akan mampu mengkaitkan dengan suatu tata hukum dan akan berkembang dalam masyarakat. Menurut Dawam. nilai budaya ini mempunyai fungsi primer untuk mempertahankan pola yang telah berkembang dalam masyarakat yang akan menghubungkan fungsi sosial dan nilai budaya sehingga kehidupan masyarakat akan menjadi bermakna. kemiripan tutur kata pada daerah tertentu belum tentu mempunyai arti yang sama pada tutur kata pada daerah lain. Suatu contoh ” kata nggih ” dalam Bahasa Jawa penggalan dari inggih bisa mempunyai arti ”iya”. Dinyatakan bahwa kehidupan masyarakat yang terorganisir dengan baik akan menciptakan suatu pranata dalam kehidupan masyarakat. Ia akan dipatuhi dan masyarakat akan memberikan sanksi bagi para pelanggarnya. akan tetapi dalam Bahasa Gayo.

Prof. pemahaman. kondisi. Dengan perkataan lain bahwa budaya sekolah merupakan semangat. Pelembagaan adat istiadat ini membutuhkan sistem manajemen yang 14 . keyakinan. Perbedaannya pada tingkat perkembangannya. sikap. sikap dan kebiasaan para peserta didiknya yang pada akhirnya nanti akan membentuk dan mengembangkan semangat dan sikap hidupnya. Kajian masalah hukum akan memberikan makna yang tegas bahwa hukum harus bebas dari kontradiksikontradiksi. asumsi. dan harapan yang diyakini oleh para warga sekolah dan dijadikan sebagai pedoman bagi perilaku dan pemecahan masalah yang mereka hadapi. Dengan demikian organisasi satuan pendidikan (sekolah/perguruan tinggi) dan seluruh warga belajarnya (pendidik. Lantas bagaimana halnya dengan kondisi dan konsep pengembangan budaya pada lembaga pendidikan (satuan pendidikan)?. wali/orangtua. semangat bertindak. sikap atau pola perilaku serta kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh para warga sekolah secara konsisten dalam memecahkan masalah (hal. adalah sangat berperan besar dalam membentuk pola perilaku. 14-29) antara lain dikatakan bahwa Budaya Sekolah merupakan perpaduan nilai-nilai. Muhaimin MA dalam tulisannya yang berjudul Pengembangan Budaya Agama dalam Komunitas Sekolah mengulas secara panjang lebar tentang pentingnya pengembangan Pendidikan Agama sebagai Budaya Sekolah (Religiusitas 4 September 2007 hal. Perubahan Tata Nilai dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia. Masyarakat melembagakan adat istiadat karena masyarakat memerlukan perubahan. dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan) dengan seluruh kebijakan operasionalnya. layanan sekolah akan membentuk budaya sekolah yang semuanya akan membentuk pola nilai. Hukum adalah suatu sistim norma yang berlaku dalam suatu kehidupan bermasyarakat. kebiasaan dan perilaku peserta didik. masyarakat sekitar. 43-56). Lebih lanjut dikatakan bahwa seluruh implementasi kebijakan sekolah.Wukir Ragil menciptakan suatu tata nilai atau kebudayaan bagi masyarakat setempat. 16). Dapat dikatakan bahwa hukum bersumber pada adat istiadat. Perbuatan individu merupakan suatu kelakuan dalam hukum yang seharusnya dijalaninya sesuai dengan aturan hukum yang diharuskan. Adat istiadat atau kebiasaan sebagai hal yang dianggap mewakili kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat fungsinya mempertahankan pola kehidupan itu sendiri. Nilai nilai yang dipertahankan adalah sangat jelas dan dari sudut antropologi sifat adat istiadat lebih statis dibandingkan dengan hukum (Bohannan. bernegara dan berbangsa. Dalam kehidupan masyarakat akan terjadi proses sosialisasi antara tata nilai dan kaidah hukum. Hukum bermakna untuk mendisiplinkan tingkah tingkah laku manusia. 1967.

Menurut Hoebel. kreatif. halaman 17). dan menjaga agar norma tersebut tetaf efektif dalam setiap kehidupan bermasyarakat. bangsa dan negara (Prof Muhaimin MA. 15 . dan tindakannya yang mengacu pada norma kehidupan sesama individu. dan 4) mempertahankan adaptasi masyarakat dengan cara mengatur kembali hubungan-hubungan dalam masyarakat yang berubah. kecerdasan. peserta didik harus memiliki sikap. berilmu. serta ketrampilan yang diperlukan oleh masyarakat. Dengan demikian hukum memiliki fungsi yang berbeda dengan fungsi adat istiadat atau tata nilai dalam masyarakat. Jadi fungsi hukum disini mengatur hubungan antara manusia dengan manusia. perilaku. mandiri. dan kehidupan dalam bermasyarakat. Muhaimin menyatakan bahwa tujuan pendidikan dimaksud memiliki kekuatan spirituil keagamaan bagi peserta didik dalam pengendalian diri. Dengan demikian Undang undang ini menetapkan bahwa akhlak mulia sebagai tujuan pendidikan nasional yang bermakna dalam kehidupannya sebagai individu. berakhlak mulia. cakap. bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Peran Pendidikan dalam Menegakkan Nilai-Nilai Luhur Budaya dan Kepatuhan Terhadap Hukum. 2) mengalokasikan dan menegaskan siapa yang boleh menggunakan kekuasaan atas siapa. 3) penyelesaian sengketa-sengketa. kehidupan dalam keluarga. sebagai wasit yang netral dalam setiap ada sengketa dalam masyarakat.Makna Pendidikan lebih teratur yang lazim disebut lembaga hukum yang dilengkapi dengan peraturan hukum yang dalam masyarakat disebut adat istiadat. Pendidikan nasional yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. dan mempertahankan setiap norma dengan menyesuaikan dalam perubahan masyarakat. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Undang undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). 1) merumuskan hubungan-hubungan antara anggota-anggota masyarakat dengan menunjukkan perbuatan yang dilarang dan yang boleh dilakukan. antara penguasa/pemerintah dengan manusia. dan mekanisme serta prosedur penggunaan. yang lebih jauh lagi akhirnya dalam kehidupan berbangsa dan kehidupan bernegara. sehat. kepribadian. Dengan demikian masyarakat dalam memberlakukan adat istiadat dan tata nilai membutuhkan norma-norma yang berlaku di masyarakat setempat agar adat istiadat dapat efektif bekerja. 275) fungsi hukum adalah. (1967.

Wukir Ragil Berbagai sumber menyatakan bahwa perkembangan akhlak mulia dari ajaran agama. akan tetapi dalam proses yang masih kebingungan karena masalah yang dihadapi sangat komplikatif antara kerinduan kepada demokrasi. lingkungan dan perubahan alam sekitar. faktor keturunan (teori nativisme) dan faktor lingkungan dan pendidikan (teori empirisme). Achmad Mubarok. Sistem pendidikan nasional ini berfungsi sebagai mengubah/mereformasi sistem pendidikan baik secara formal. akan tetapi menghargai perubahan dan perbedaan sebagai anugerah yang harus disyukuri oleh bangsa ini adalah suatu keniscayaan sepanjang dilaksanakan dalam koridor norma dan kepatuhan terhadap hukum. Sehingga mereka berpesta pora menikmatinya dengan melakukan apa saja yang sebelumnya mustahil dapat dilakukan. falsafah hidup bangsa. dalam masyarakat yang baru mendapat kebebasan dalam melihat dunia ”baru” dan kemudian mencoba untuk memaknai apa arti dunia ”baru” tersebut dengan suatu tindakan sesuai dengan harapannya. kemakmuran dan kehormatan yang ternyata tidak sinkron. dengan tegas mengatur tanggungjawab pendidikan. dan disamping itu mempertahankan kemajemukan bangsa. Harapan ini belum sepenuhnya dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. maupun secara informal. mereka dihadapkan pada suatu kebingungan karena mendapatkan suatu kondisi yang tidak cocok menurut pandangan mereka sebelumnya. nonformal. Dinyatakan pula bahwa itu adalah gambaran masyarakat Indonesia pasca jatuhnya Presiden Soeharto yang sedang mencari jati dirinya kembali. sehingga beberapa kali kita lihat dalam menyampaikan inspirasinya dibumbui 16 . kebebasan. Kedua teori tersebut saling mempengaruhi terhadap perkembangan kualitas manusia. Lebih lanjut dikatakan bahwa. Sebagian mereka mengimplementasikan kebebasan sebagai perbuatan yang berlebihan tanpa batas atau koridor norma dan hukum. dengan menghargai dan mempertahankan proses pembelajaran yang telah berlangsung selama ini. Memang Pemerintah tidak lagi menerapkan paradigma stabilitas nasional secara mutlak dalam mengatur kehidupan warganya. Bangsa Indonesia memasuki dunia global dimana arus informasi dan keterbukaan tak bisa dihindari. Mubarok mengibaratkan sebagai sekumpulan orang yang telah 32 tahun dikurung dalam penjara yang gelap gulita dan tiba-tiba penjara itu dirobohkan sehinga mereka bisa keluar melihat dunia baru yang terang benderang dan terlihat aneh akan tapi mengasyikkan. Dengan demikian. dalam Jurnal Religiusitas 3 September 2008) menyatakan bahwa kualitas manusia ditentukan dalam dua hal yaitu faktor hereditas. maka masyarakat Indonesia mengalami keterkejutan budaya. perkembangan tradisi yang tumbuh dalam suatu kelompok masyarakat.

bergaul. apabila akan dijadikannya sebagai pedoman bagi bangsanya untuk berperilaku maka kedamaian suatu bangsa tersebut akan dapat terwujud. penyampaian inspirasi tersebut kurang afdol. Seolah-olah tanpa adanya sedikit kekerasan dan pemaksaan kehendak. yang daripadanya. setiap kali lahir 17 . Sedangkan akhlak mulia menurut Dodi Nandika dikatakan sebagai suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia. apabila kita menganggap bahwa sebagai manusia yang memiliki keadilan yang beradap. dengan hukum manusia hidup. Dengan demikian apabila penegakan hukum dalam masyarakat dirasa tidak adil. dan wawasan kebangsaan. Atau mungkin kelompok masyarakat itu menganggap bahwa penyampaian inspirasi dengan cara tenang dan tertib tidak akan didengar oleh yang berwenang. diatas penguasa ada yang Maha Kuasa. adil dan sejahtera terhadap masyarakat. dan memberikan peluang yang sama bagi mereka. Dalam hal efektifitas hukum ini Achmad Mubarok menyatakan bahwa. hukum bermakna sebagai mengatur kehidupan manusia sebagai makhluk yang beradap yang membedakannya dengan hewan. Falsafah hidup suatu negara. menurut Mubarok. hal itu berarti akan memberikan rasa aman. Penerapan hukum untuk membela manusia agar mereka tetap terhormat sebagai manusia. kesejahteraan yang berkeadilan dalam kebinekaan ini akan segera dirasakan dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Dikatakan. bersaing antar sesamanya secara fair dan adil. tetapi juga menumbuh-kembangkan nilai-nilai luhur insani bagi kemajuan peradaban bangsa. apabila kita mampu meramu dan merasakan kebinekaan dalam rasa persatuan dan kesatuan. menjamin setiap hak dan keberadaannya pada jalan kebenaran dan keadilan.Makna Pendidikan dengan perbuatan oknum-oknum pengunjuk rasa yang melakukan perbuatan melanggar hukum maupun melanggar hak orang lain dalam menikmati ketenangan dalam aktifitasnya. termasuk penguatan akhlak mulia. Pendidikan bukan sekedar proses pengayaan intelektual. maka hal ini akan mengusik rasa keadilan pada akhirnya dapat menimbulkan aksi protes. karakter unggul. Indonesia memiliki falsafah Pancasila yang apabila dihayati dalam kehidupan sebagai masyarakat yang ber Ketuhanan yang menganggap bahwa diatas langit masih ada langit lagi. Dodi Nandika (14 Juni 2008) mengatakan bahwa. Demikian pula falsafah hidup suatu bangsa ikut mempengaruhi perilaku masyarakat dalam negara itu. apabila kita mampu menjadikan pola kehidupan bermusyawarah untuk mufakat adalah jalan yang terbaik dalam menentukan pilihan bersama serta memiliki jiwa keadilan dan jiwa sosial yang tinggi dalam kehidupannya maka ketentraman. Oleh karena itu apabila penegakkan hukum oleh negara secara adil tanpa pandang bulu.

Wukir Ragil manifes hal-hal yang mulia. 7) pendidikan jasmani dan olahraga. pada tahun 2015 nanti diharapkan akan terwujud suatu kondisi di Indonesia yang memiliki Insan yang berkemampuan olah hati untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan dan ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti. 2) pendidikan kewarganegaraan. agama. memiliki kecerdasan intelektual dan memiliki kecerdasan kinestika. 2) pendidikan kewarganegaraan. peningkatan akhlak mulia. dinamika perkembangan global. 20 tahun 2003). dan 3) bahasa. 5) ilmu pengetahuan alam. dan 9) pengembangan diri (Permendiknas No. teknologi. 7) keterampilan/kejuruan. Depdiknas menetapkan kerangka dasar dan model-model kurikulum yang dapat dijadikan rambu-rambu dan satuan pendidikan yang akan menyusunnya sesuai dengan kebutuhannya sendiri dengan memperhatikan pada peningkatan iman dan takwa. 2 tahun 2006). sesuai dengan tuntutan pembangunan daerah dan nasional. Dalam kaitan itu. Demikian juga kurikulum pada pendidikan tinggi wajib memuat: 1) pendidikan agama. dan dengan semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada program pendidikan dasar dan menengah di masa otonomi daerah dan penerapan manajemen berbasis sekolah maka kebijakan Kurikulum Pada Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan salah satu langkah yang dianggap tepat. dan 8) muatan lokal. tanpa melalui pertimbangan atau proses penalaran yang berat dan lama. Untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut langkah pertama yang harus dilakukan adalah dimulai dari perumusan kebijakan dalam kegiatan belajar mengajar pada satuan pendidikan yaitu dengan kebijakan kurikulum. dan seni. 6) ilmu pengetahuan sosial. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan (UU No. kecerdasan. 3) bahasa. memiliki Insan yang berkemampuan olah pikir. dan minat peserta didik. disamping kurikulum yang menjadi ciri pada 18 . dan berkemampuan olah raga. memiliki insan yang berkemampuan olah rasa. Lebih lanjut ditegaskan dalam pasal 37 ayat (1) UU Sisdiknas. peningkatan potensi. mewajibkan pengaturan kurikulum pada pendidikan dasar dan menengah meliputi: 1) pendidikan agama. Kurikulum di setiap satuan pendidikan ini akan bercorak keragaman potensi daerah dan lingkungan. dengan mudah. menurut Dodi Nandika. Departemen Pendidikan Nasional menaruh harapan besar yang nanti pada tahun 2015 akan tercipta manusia Indonesia sebagai Insan Indonesia Komprehensif dan Kompetitif (insan kamil/insan paripurna) yaitu insan Indonesia yang memiliki kecerdasan emosional dan sosial. perkembangan ilmu pengetahunan. 4) matematika. Dengan demikan.

kemudian Kelima to reach beyond the wall. Ini yang berat karena apabila satu rukun belum dilaksanakan maka batal. Ketiga. Yaitu. empati (IQ. Kedua. adalah to publish. Mahasiswa ingin menyampaikan perubahan. dan mentrasfer nilai-nilai budaya. melayani bagaimana kemiskinan. belum berbudaya mem-publish. Tapi caranya. kita belum berbudaya menulis. melayani masyarakat. `mengajar` mentrasfer ilmu dan pengetahuan dari seorang sumber kepada mahasiswa. Demontrasi mahasiswa meneriakkan kebenaran ingin merubah sesuatu adalah hal yang wajar dan perlu didukung. Lebih lanjut dikatakan bahwa misi yang paling utama dalam kegiatan di perguruan tinggi bukan hanya mengajar. Tujuh kewajiban akademik dipundak perguruan tinggi yang merupakan rukun direkomendasikan untuk dilaksanakan oleh perguruan tinggi sehingga terjadi keseimbangan antara pendidikan yang bersifat membangun kemampuan iptek dan seni dan pendidikan yang bersifat pendidikan moral. Yang kurang baik diluruskan dan 19 . to teach. hal ini perlu ditumbuhkan sifat empati dan simpati. membimbing. mencari. MS. keempat. mengangkat temuan ilmiah dan sekaligus menyibak kegelapan secara terus menerus sehingga almoust everyday discovery. Pertama. Menyikapi perubahan perilaku masyarakat yang menjurus pada perubahan tata nilai luhur budaya bangsa. Sekretaris Jenderal Depdiknas pada acara Rembug Penguatan Nilai-nilai dan Budaya Luhur dalam rangka peningkatan Akhlak Mulia di Perguruan Tinggi di Universitas Muhammadiyah Surakarta beberapa waktu yang lampau. tapi masih berbudaya lisan. Ir Dodi N Nandika. meneliti. dengan merujuk pendapat mantan presiden dari negara maju. memelihara. to discovery. bukan to report atau bukan buat repot. dan RQ) sebagai alat dan bekal untuk Hijrah dari budaya yang sangat tidak beradab menjadi budaya santun. mensiarkan kedunia. menguak tabir kegelapan. Keenam to change. merubah. dan ketujuh to tell the truth mengatakan kebenaran. karena dibalik proses belajar mengajar tadi ada mandat untuk berbudaya luhur. Lebih lanjut dikatakan bahwa penelitian adalah suatu kegiatan problem solving. menyatakan bahwa ada tujuh academic duty. tapi menghimpun. menjangkau. berakhaqul karimah. menggali. budaya membaca. Prof. melayani bagaimana sampah-sampah berserakan.Makna Pendidikan setiap jurusan. Dr. to mentor. dan buta aksara yang merupakan kesenjangan dapat dihabisi. Anarchis No. mengkaji. EQ. SQ. Critis Yes. budaya respect to others. fakultas dan/atau perguruan tinggi tersebut yang merupakan hak otonomi kampus. Lebih lanjut dikatakan bahwa kalau perguruan tinggi tidak mengatakan kebenaran maka akan batal.

dan Pemerintah (UU No. hukum. 54-55) memandang bahwa kebebasan mengeluarkan pendapat merupakan sesuatu yang asasi. 39 Tahun 1999 tentang HAM). pengambil kebijakan.Wukir Ragil seluruh pengajar menjadi transmitter yang memancarkan akhlak mulia didepan kelas. dan pemerintah mendapat suatu masukan yang sangat berharga. Hak asasi merupakan hak yang melekat pada manusia yang wajib dihormati oleh siapapun. 20 . Hanya kita yang bisa mengatur bangsa kita sendiri menuju kearah yang lebih baik. akan tetapi juga menumbuh-kembangan potensi peserta didik dalam mengekspresikan ide dan gagasannya setelah mereka melihat keadaan yang tidak sesuai dengan harapan dan teori yang dipelajari. dilindungi oleh negara. dijunjung tinggi. Samsul Wahidin (hal. Dengan demikian peranan pengajar/pendidik bukan hanya menyampaikan target pembelajaran saja. Kita harus mempunyai tekad bahwa Bangsa Indonesia bisa melepaskan diri dari masa-masa yang sulit setelah kita semua sudah ”dewasa” dengan belajar dari kesalahan masa lalu dan terus bekerja keras saling bahu membahu dengan menatap kedepan dengan penuh keyakinan bahwa dengan perbedaan tapi penuh makna kebersamaan akan merupakan kekayaan yang tiada tara nilainya bagi kejayaan bangsa Indonesia. pendidik. Dengan demikian dalam menjamin pelaksanaaan hak asasi tersebut. kearifan lokal dan semangat nasional agar energi anggota masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat dapat disalurkan dengan efektif dan efesien. Menurut Samsul Wahidin (dalam M Solly Lubis) menyatakan bahwa kebebasan merupakan syarat mutlak untuk mencapai suatu hak. Benturan yang terjadi dalam menyampaikan pendapat dapat dijadikan pola evaluasi dalam kegiatan yang lain sehingga kita tidak membiarkan rekan-rekan mengalami duakali kesalahan yang sama namun tetap dalam semangat menuju suatu perubahan. KESIMPULAN Beberapa hal yang perlu kita sadari bersama adalah Bangsa Indonesia memiliki suatu konsep menuju suatu bangsa yang besar yang mempunyai jati diri sendiri walaupun kita belum mampu mewujudkannya. Mereka harus peka melihat ketimpangan dalam kehidupan masyarakat sekitar. para penguasa. Semangat untuk mengadakan perubahan ini perlu “dibimbing” agar sesuai dengan harapan masyarakat luas dengan tidak mengesampingkan kepentingan masyarakat lainnya. dan pejabat yang berwewenang perlu memiliki suatu kearifan sosial.

efektif dan efisien. dan ekspresi dalam segala tindakan terjadi oleh masyaraakat karena adanya perubahan paradigma dari semula pemerintah sangat yakin dengan pola stabilitas akan dapat mewujudkan suatu kehidupan masyarakat yang tentram. aman dan damai. . g. nyaman dipandang. Perubahan sikap. disampaikan dengan dengan enak. d. sejahtera. Satuan pendidikan memegang peranan penting dalam membimbing/mendampingi peserta didik. c. Kini Pemerintah sangat menghargai adanya perbedaan. f. mengawal. menarik perhatian secara positif. Sifat kegotongroyongan. dan menjunjung nilai luhur budaya bangsa masih ada dan melekat disanubari masyarakat Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa ini. 21 b. suasana yang sejuk. ramah. Melalui pendidikan dan keteladanan akan ditumbuh-kembangkan dan ditingkatkan komitmen untuk menjunjung nilai-nilai budaya luhur bangsa bagi peserta didik dalam bersikap. santun. dan menumbuhkan nilai budaya luhur berakhlaqul karimah dalam proses belajar mengajar. Penyampaian pendapat oleh warga belajar setelah melihat keadaan yang dianggap tidak sesuai dengan harapan dan teori yang pelajarinya adalah suatu yang wajar dan bukanlah merupakan penyimpangan terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia sepanjang penyampaian pendapat tersebut tidak mengganggu hak asasi orang lain dan melanggar norma yang berlaku dan hukum posistif. Pola ini harus dimanfaatkan oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan dalam merumuskan kebijakan maupun dalam proses pembelajaran. Sangat erat kaitan antara tata nilai kehidupan/budaya dalam masyarakat dengan norma-norma/ kaidah hukum di Indonesia ini akan selalu berkembang mengikuti perkembangan global dan kehendak masyarakat.Makna Pendidikan Dari uraian ringkas tersebut diatas dapat ditarik suatu benang merah bahwa: a. perilaku. berperilaku. serta berhasil menyentuh para pejabat yang berwenang untuk segera mengambil tindakan yang diperlukan. Hukum sebagai perangkat aturan yang paling dominan akan memberi makna bahwa sesuatu boleh dilakukan dan sesuatu tidak boleh dilakukan akan dapat berlaku efektif apabila terdapat keteladan dan tegas dalam menegakkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. e. membentuk dan mengembangkan watak dan kebiasaannya. keanekaragaman dan kemajemukan serta kebebasan menyampaikan pendapat yang direspon dengan sangat bersemangat oleh masyarakat. h. kebinekaan.

Sebagai bangsa yang besar. sehingga terjadi penyimpangan dari koridor hukum maupun norma kehidupan dalam bermasyarakat. Semangat masyarakat ini merupakan potensi. Masyarakat dalam menyampaikan pendapat akan lebih bermakna dan tepat sasaran apabila dilakukan dengan arif dan sekaligus menghindari terganggunya hak orang lain.Wukir Ragil Pendidikan sebagai penguatan akhlak mulia membentuk karakter unggul dalam peningkatan wawasan kebangsaan memiliki sifat dinamis sesuai dengan perkembangan tata nilai dalam masyarakat. masyarakat mengalami pelakuan yang dirasakan tidak sesuai dengan harapannya. i. kita akan dapat melepaskan masa lalu yang pahit dan menuju masa sejahtera dan damai dimasa mendatang apabila kita mampu memaknai perbedaan. n. DAFTAR RUJUKAN Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Nomor 165 Tahun 1999. k. (Lembaran Negara Nomor Tahun 2003 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301) 22 . sehingga Pemerintah perlu melakukan pembinaan agar kehidupan berbangsa dan bermasyarakat yang selama ini sudah baik dapat ditingkatkan lagi atau setidak-tidaknya dipertahankan serta perlu ditumbuhkan sifat kritis yang konstruktif kepada masyarakat luas dalam mensikapi terhadap seluruh proses kebijakan pembangunan bangsa. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886). kini setelah mengalami perubahan maka masyarakat kurang siap dengan perubahan itu. pelaksanaan kebijakan. Pada masa lampau. m. Mereka merasa selalu dikekang dan tiada kebebasan berekspresi. sehingga sebagian menganggap bahwa perubahan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah yang dirasa tidak sesuai harus dilawan dengan ketidaksetujuan dengan memfaatkan hak dan caranya sendiri tanpa mengindahkan jalur hukum yang harus ditempuh. j. Perubahan dalam kebebasan ini dirasa oleh masyarakat sangat fantastis. dan pengawasannya. l.

Prof. Prof Dr. Muhaimin. 2). SH. Penelitian Hukum Normatif. Dr. Teropong Pendidikan Kita. Bahan Paparan pada Rembug Penguatan Nilai-nilai dan Budaya Luhur. 1986. Dr. Religiusitas. MA. 3 September 2008 hal. MA. Prof. (Jakarta: Raajawali. 23 . Pengembangan Budaya Agama dalam Komunitas Sekolah. 4 September 2007.Makna Pendidikan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Vol. MS. Artikel 2005-2006. (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 42. I. Achmad. Membangun Keluarga Bangsa dalam Prespektif Psikologi Islam. Pustaka Pelajar. Departemen Pendidikan Nasional. Nandika. dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4496) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Sukanto Soerjono dan Sri Mamudji. Jurnal Transformasi Kependidikan dan Keagamaan. hal 16). Wahidin Samsul H. Mubarok. N Dodi. Hukum Pers. Vol. Ir: Pendidikan Akhlak Mulia. hal 15. Tahun 2006. Cetakan 2). Antologi. Unversitas Muhammadiyah Surakarta tanggal 14 Juni 2008. Religiusitas. Prof. (sebuah Introspeksi). Jurnal Transformasi Kependidikan dan Keagamaan. I.

pegawai. orangtua siswa. 3) Intellectual Stimulation. Keefektifan kedua komponen ini akan memberikan keyakinan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan. Kompetensi dan akuntabilitas kepala sekolah merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan. dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur. 4. Jabatan kepala sekolah merupakan jabatan yang tidak bisa diserahkan kepada setiap guru tanpa melihat apakah guru tersebut memenuhi kompetensi dan akuntabilitas yang dipersyaratkan. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan Kata Kunci: Otonomi sekolah. hak dan kewajiban. dan Dosen PPs UHAMKA Jakarta Abstrak Kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah adalah kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh indikator-indikator: 1) Idealized Influence.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. kepemimpinan. sehingga semua unsur yang terlibat (guru. manajemen. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. dan akuntabilitas 24 . seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku kepada bawahannya. No. Suryadi Syarif Kepala SMA Budi Mulia Ciledug Tangerang. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan inovasi dan kreativitas. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. 2) Inspirational Motivation. masyarakat. kepala sekolah. kompetensi. 1. April 2009 KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM ERA OTONOMI DAERAH DAN BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA (Suatu Pendekatan Teoritis) Moh. serta harapan bagi yang berkepentingan terhadap keberhasilan pendidikan di sekolah. pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasehat. 4) Individualized Consideration. siswa.

dan industrialisasi sehingga mampu menghadapi persaingan global. Pelaksanaan desentralisasi pendidikan dalam era otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang No. 25 tahun 2000 maka sejumlah kewenangan dalam bidang pendidikan yang selama ini berada di pusat dilimpahkan kepada institusi penyelenggara pendidikan dalam bingkai pemerintah daerah. No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Sesuai dengan PP. Depdiknas saat ini tengah melaksanakan desentralisasi pendidikan yang di dalamnya terlaksana manajemen berbasis sekolah. kreatif. yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah. Terutama untuk menciptakan insan-insan pembangunan yang ahli. Hal ini bahkan telah menjadi amanat rakyat sebagaimana disebutkan dalam Ketetapan MPR-RI Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN yang menyebutkan bahwa salah satu visi pembangunan bangsa adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. otonomi keilmuan dan manajemen. terampil. Undang-Undang No. Otonomi diberikan agar sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta agar sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat setempat. Sedangkan kebijakan nasional yang menjadi prioritas pemerintah harus pula dilakukan oleh sekolah. Masyarakat dituntut partisipasinya agar mereka lebih memahami pendidikan.25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan Peraturan Pemerintahan No. teknologi. Dalam manajemen berbasis 25 . Kualifikasi sumber daya seperti ini sangat diperlukan jika Indonesia ingin menjadi negara yang berhasil dalam menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan. membantu. tetapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional.Kepemimpinan Kepala Sekolah PENDAHULUAN Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Desentralisasi pendidikan merupakan terobosan besar dalam pembangunan bangsa yang selama ini memakai paradigma top-down berubah menjadi paradigma bottom-up.25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi. partisipasi masyarakat yang tinggi. Untuk mewujudkan visi tersebut dalam GBHN 1999 telah dinyatakan bahwa salah satu arah kebijakan dalam pembangunan pendidikan adalah melakukan pembaharuan dan pemantapan sistem pendidikan nasional berdasarkan prinsip desentralisasi. Manajemen berbasis sekolah merupakan bentuk alternatif sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan. dan inovatif. serta mengontrol pengelolaan pendidikan. Sejalan dengan amanat tersebut.

kepala sekolah adalah guru senior yang dipandang memiliki kualifikasi menduduki jabatan itu. kepala sekolah memainkan peran yang termasuk sangat menentukan. dan akan tetap menjalaninya sampai pensiun. bahwa kepala sekolah bukan manajer sebuah unit produksi yang hanya menghasilkan barang mati. Misalnya. belajar bertanggung jawab. Tentu saja kepala sekolah bukan satu-satunya determinan bagi efektif tidaknya suatu sekolah karena masih banyak faktor lain yang perlu diperhitungkan. seperti manajer pabrik yang menghasilkan sepatu. Namun. Jadi. para guru dan peserta didik termotivasi untuk saling belajar. Suryadi Syarif sekolah. Demikian pula dalam telaahan mutakhir tren dan isu manajemen pendidikan yang dikompilasi dalam ERIC (2002: 1-3). Dalam lingkungan seperti itu. Dapat dibayangkan. Dalam kenyataan. Umumnya mereka tidak cocok untuk mengemban tanggung jawab manajerial. Ada guru yang dipandang sebagai faktor kunci yang berhadapan langsung dengan para peserta didik dan masih ada lagi sejumlah masukan instrumental dan masukan lingkungan yang mempengaruhi proses pembelajaran. Guru-guru seperti ini tentunya telah terperosok ke suatu jabatan yang mereka sendiri tidak memiliki kompetensi untuk itu. Dalam praktek di Indonesia. bukan sekadar kompetensi kognitif. menjadi tumpul setelah menjadi kepala sekolah. saling memotivasi. Suasana seperti ini memberi ruang untuk saling belajar melalui keteladanan. ia adalah pemimpin pendidikan yang bertanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang kondusif yang memungkinkan anggotanya mendayagunakan dan mengembangkan potensinya seoptimal mungkin. studi yang dilakukan oleh Lightfoot seperti dikutip oleh Dharma (2004: 2). serta belajar mengembangkan kompetensi sepenuhnya. seorang guru dapat berharap bahwa jika "beruntung" suatu saat kariernya akan berujung pada jabatan kepala sekolah. banyak di antaranya yang tadinya berkinerja bagus sebagai guru. Pada tingkat paling operasional. 26 . kepala sekolah adalah orang yang berada di garis terdepan yang mengkoordinasikan upaya meningkatkan pembelajaran yang bermutu. bagaimana nasib sekolah-sekolah kita jika dipimpin oleh orang-orang yang tidak kompeten. melalui pendekatan sosiologi tentang efektivitas sekolah menengah menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah memainkan peran yang sangat penting. Biasanya guru yang dipandang baik dan cakap sebagai guru diangkat menjadi kepala sekolah. Lebih dari para manajer lainnya. Kepala sekolah diangkat untuk menduduki jabatan yang bertanggunggugat (accountability) mengkoordinasikan upaya bersama mencapai tujuan pendidikan pada level sekolah masing-masing. kepala sekolah dituntut untuk memiliki "accountability" baik kepada masyarakat maupun kepada pemerintah.Moh. dan saling memberdayakan.

” Uraian singkat di atas telah menunjukkan betapa tidak ringannya tanggung jawab seseorang sebagai kepala sekolah. dan pemberdayaan itu. Manfaat dari kajian ini adalah untuk memberikan bahan masukan bagi pemerintah pusat. Oleh sebab itu. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dipandang banyak pihak dapat memberi ruang gerak lebih longgar bagi kepala sekolah untuk meningkatkan mutu sekolahnya. Apakah ini barang baru? Sama sekali tidak karena jauh sebelumnya Ki Hadjar Dewantara telah berujar dengan pernyataannya yang terkenal: “ing ngarso sung tulodo”. Mereka sering berada pada posisi nirdaya dalam situasi ketika kepemimpinan mereka benar-benar diperlukan. “ing madyo mangun karso”. di mana sektor pendidikan juga dikelola secara otonom oleh pemerintah daerah.Kepemimpinan Kepala Sekolah Kepala sekolah seharusnya berada di gardu paling depan dalam hal peneladanan. Sudah sejak lama pula para kepala sekolah berhadapan dengan situasi di mana mereka lebih banyak tergantung pada konteks dan periferal pekerjaannya. diperlukan paradigma baru untuk menanggalkan ketergantungan yang selama ini telah merugikan para kepala sekolah yang sebagian sebenarnya mungkin telah bekerja dengan serius. OTONOMI SEKOLAH Dalam era desentralisasi sekarang ini. dan akuntabilitas kepala sekolah berkaitan dengan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan pada era otonomi daerah. “tutwuri handayani. dan institusi sekolah dalam pelaksanaan desentralisasi pendidikan dalam konsep manajemen berbasis sekolah pada tingkat pendidikan menengah. Hasilnya masih belum jelas karena penerapannya ternyata juga masih harus menunggu kerelaan birokrasi pendidikan untuk mendelegasikan kekuasaannya. pemotivasian. pemerintah daerah. praktis pendidikan harus ditingkatkan ke arah yang lebih baik dalam arti relevansinya bagi kepentingan daerah maupun 27 . Sudah sekian lama birokrasi pemerintahan negara kita tidak banyak membantu kepala sekolah mengatasi kerumitan itu. Sebenarnya pekerjaan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di sekolahnya tidak pernah ringan. Konsepnya bagus karena MBS adalah strategi untuk meningkatkan kemandirian para pengelola pendidikan dengan memindahkan wewenang pengambilan keputusan penting dari pemerintah pusat dan daerah ke level paling operasional. yaitu sekolah. Sejalan dengan itu maka dalam studi ini akan dikaji kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah yang ditinjau dalam aspek kompetensi.

Manajemen sekolah saat ini memiliki kecenderungan ke arah school based management (manajemen berbasis sekolah). melakukan analisis SWOT. untuk itu maka sekolah-sekolah yang MBS-nya aktif seharusnya mempunyai kepala sekolah yang memainkan peranan kunci dalam mengendalikan dan meningkatkan komitmen belajar siswa. siswa. dan (4) pengawasan. 28 . orangtua. dan memberikan ganjaran kepada siswa. merumuskan sasaran. Kepala sekolah harus bertindak sebagai manajer dan pemimpin yang efektif. sehingga kepala sekolah mampu berperan sesuai dengan tugas. sekolah harus meningkatkan keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaannya guna meningkatkan kualitas dan efisiensinya. maupun pemerintah pusat dan daerah. yang meliputi: 1) perencanaan. melakukan analisis sasaran. Tahap-tahap pelaksanaan MBS meliputi: mensosialisasikan konsep MBS. Tujuan MBS adalah untuk memandirikan dan memberdayakan sekolah. Sebagai manajer ia harus mampu mengatur agar semua potensi sekolah dapat berfungsi secara optimal. Hal ini dapat dilakukan jika kepala sekolah mampu melakukan fungsi-fungsi manajemen dengan baik. Pengambilan keputusan partisipatif adalah cara mengambil keputusan yang melibatkan kelompok-kelompok yang berkepentingan.Moh. menyusun rencana sekolah. Otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri dan berdasarkan pada aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. Agar penerapan desentralisasi dan otonomi pendidikan berhasil dengan baik. terutama yang melaksanakan keputusan dan yang terkena dampak keputusan. otonomi pendidikan dalam konteks MBS harus dilakukan dengan selalu mengacu pada manfaat pendidikan bagi masyarakat. Peranan utama kepala sekolah dalam hal ini adalah memotivasi. membimbing. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran. dan mengarahkan seluruh staf sekolah untuk bekerja dan bertanggungjawab atas tugasnya masing-masing. Pemberdayaan yang dimaksudkan adalah peningkatan kemampuan secara fungsional. Suryadi Syarif kepentingan nasional. Esensi MBS adalah otonomi sekolah dan pengambilan keputusan partisipatif. dan tanggung jawabnya. Dalam konteks ini. Meskipun demikian. mendorong para guru untuk aktif dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah dalam mengumpulkan informasi tentang belajar. maka kepemimpinan kepala sekolah perlu diberdayakan. (3) pengarahan. wewenang. 2) pengorganisasian. Dalam implementasi MBS fungsi-fungsi dan tugas-tugas kepala sekolah berubah dari manajer tingkat menengah ke pimpinan sekolah.

3) Intellectual Stimulation. dan merumuskan sasaran baru. sehingga semua unsur yang terlibat (guru. Kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. adalah: 1) Idealized Influence. pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasihat (Rusdiyanta. orangtua siswa. Kepemimpinan transformasional mampu membangun komitmen organisasi terhadap tujuan-tujuannya. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mencapai tujuan sekolah. melakukan evaluasi. agar semua potensi yang ada di sekolah dapat berfungsi secara optimal. Perubahan dimensi pola 29 . seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku bagi yang bawahannya. Keempat karakteristik kepemimpinan transformasional ini diyakini mampu menciptakan organisasi yang lebih tangguh dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan baru. Menurut Bass empat karakteristik kepemimpinan transformasional. secara konseptual maupun secara praktek tertera dalam MBS. maka perlu dilakukan penyesuaian dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru manajemen pendidikan masa depan yang bernuansa otonomi yang demokratis. masyarakat. sehingga menimbulkan persaingan yang semakin ketat. 2004: 5). seorang kepala sekolah perlu mengadopsi kepemimpinan transformasional. 4) Individualized Consideration. Kepemimpinan transformasional lahir sebagai upaya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan eksternal yang berlangsung cepat.Kepemimpinan Kepala Sekolah mengimplementasikan rencana sekolah. Berdasarkan konsep dasar yang telah diuraikan di atas. Kepemimpinan transformasional menganggap kepemimpinan sebagai proses kerjasama antara pemimpin dan pengikutnya untuk mencapai tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi berkembangnya inovasi dan kreativitas. sekaligus memberdayakan anggota organisasi untuk meraih tujuan-tujuan itu. 2) Inspirational Motivation. dan atau dorongan kepada semua unsur yang ada dalam struktur organisasi sekolah agar dapat bekerja atas dasar sistem nilai (values system) yang luhur. Dimensi-dimensi perubahan pola manajemen dari yang lama menuju yang baru tersebut. Pemimpin dituntut untuk mampu mengubah budaya organisasi agar konsisten dengan strategi manajemen. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. pegawai. siswa. Dari segi implementasi MBS.

2004).Mengarahkan .Informasi terpribadi .Organisasi herarkis Menuju ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> .Informasi terbagi .Sentralistik . maka kepala sekolah dalam era otonomi sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya.Menghindar Resiko .Diatur .Memfasilitasi . Manajemen Pendidikan Masa Depan (http://www. 2.Pengambilan keputusan terpusat . sedangkan kepemimpinan adalah kegiatan atau tugasnya sebagai pemimpin.Overregulasi ..Deregulasi . yaitu: 1) seorang pimpinan adalah seorang penyalur harapan 30 .Mengontrol .Gunakan uang semuanya .Mengelola resiko .net/. Nanus dan Dobbs (1999: 7) mengutip beberapa definisi pemimpin atau kepemimpinan. p.Pendelegasian .pendidikan.Pendekatan birokratik .Mempengaruhi .Moh. Mengacu pada dimensi-dimensi tersebut di atas.Ruang gerak luwes . Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi sekelompok orang dan mengarahkannya untuk mencapai tujuan tertentu.Organisasi datar Pola baru Sumber: Eman Suparman. Suryadi Syarif manajemen pendidikan dari yang lama ke yang baru menuju MBS dapat ditunjukkan dalam tabel 1.Pengambilan keputusan partisipasi .Gunakan yang seefisien mungkin . Tabel 1. Pemimpin adalah orang yang menempati posisi sebagai pimpinan.Ruang gerak kaku .Desentralistik . Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Pola lama .Pemberdayaan .Otonomi . KEPEMIMPINAN Kepemimpinan berasal dari bahasa Inggris leader yang berarti pemimpin dan leadership berarti kepemimpinan.Pendekatan Profesional . Pengambilan keputusan akan dilakukan secara partisipatif dengan mengikutsertakan pihak-pihak yang berpentingan sebesar-besarnya.Motivasi diri .Subordinasi .

maka pimpinan harus memiliki tiga dasar kepemimpinan. dan meningkatkan bentuk-bentuk mental kerjasama. dan (3) kepemimpinan situasional Pendekatan pertama. 3) pemimpin adalah orang yang mengetahui apa yang dibutuhkan. 5) Kepemimpinan adalah proses persuasi atau membujuk sekelompok orang untuk mengikuti tujuan yang ditetapkan oleh pimpinan atau bekerjasama dengan pimpinan dan para pengikutnya (John W. perilaku. 2) pemimpin adalah seseorang yang secara signifikan mempengaruhi pikiran.Kepemimpinan Kepala Sekolah (Napoleon Bonaparte). apa yang benar. Gardner). dan kompetensi komunikasi terkait dengan kemampuan menyampaikan pesan-pesan agar dapat dipahami orang lain Ciri-ciri seorang pemimpin dapat dijelaskan melalui tiga pendekatan yaitu: (1) kepemimpinan bawaan. melakukan koordinasi kegiatan. yaitu: (1) diagnosa. kompetensi adaptasi adalah kemampuan menyesuaikan perilaku dengan lingkungan. (2) kepemimpinan perilaku. kepemimpinan berperspektif perilaku. dan (2) sifat yang dimiliki. memperjelas visi. (2) adaptasi. yang diartikan sebagai seperangkat ciri-ciri yang menjadi atribut seseorang yang dipersepsikan sebagai seorang pemimpin. Namun inti dari definisi-definisi tersebut adalah mempengaruhi atau mengendalikan sekelompok orang untuk mentaati aturan. serta selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuannya (Peter M. Terlihat bahwa acuan untuk mendefinisikan kepemimpinan bervariasi bagi masing-masing pakar kepemimpinan. dan membantu menciptakan budaya kelompok atau organisasi. Dalam upaya mencapai keberhasilan dalam mempengaruhi orang lain. Senge). dan (3) komunikasi. melaksanakan tugas tertentu. yaitu mempelajari kepemimpinan berdasarkan keterampilan yang dimiliki. Kompetensi diagnosa merupakan kemampuan kognitif untuk memahami situasi sekarang dan harapan pada masa mendatang. Pendekatan kedua. yaitu: (1) sudut proses. Croin). mengarahkan perilaku mereka untuk mencapai tujuan. 4) pimpinan adalah orang yang bertanggungjawab membangun organisasi di mana orang-orang secara berkesinambungan mengembangkan kemampuan untuk memahami kerumitan. bagaimana mengendalikan manusia dan sumber daya untuk mencapai tujuan (Thomas E. memandang kemampuan memimpin sebagai bawaan sejak lahir. bekerjasama dan berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu. yakni hanya orang-orang yang berbakat memimpin yang mampu menjadi pimpinan. Kepemimpinan dapat dijelaskan melalui dua sudut pandang. dan atau perasaan orang lain (Howard Gardner). yang berarti penggunaan pengaruh yang tidak memiliki kekuasaan memberikan sanksi untuk membentuk tujuan kelompok-kelompok atau organisasi. 31 .

standar kesalahan yang ditolerir. Suryadi Syarif Kepemimpinan perilaku secara garis besarnya dapat dibagi dalam tiga kategori. mensetafi struktur tersebut dengan individu-individu. dan strategi untuk menghasilkan perubahanperubahan untuk mencapai visi Mengembangkan jaringan untuk mencapai agenda Mempersatukan orang: mengkomunikasikan arah dengan kata-kata dan tindakantindakan kepada mereka yang turut bekerjasama untuk menciptakan tim dan koalisi yang memahami visi dan strategi dan menerima kinerja . pengalaman. dan karakteristik psikologis. Pendekatan ketiga. Tabel 2. kemudian mengalokasikan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai hal tersebut Pengorganisasian: menetapkan stuktur organisasi untuk mencapai persyaratan rencana. yakni keterampilan 1) teknik. mendelegasikan tanggung jawab dan wewenang untuk 32 Kepemimpinan Menentukan arah: mengembangkan visi masa depan. dan derajat kekaburan pelaksanaan tugas. kepemimpinan situasional dibangun berdasarkan asumsi bahwa tidak ada satu cara apapun yang dapat mengarahkan manusia untuk bekerja pada semua situasi. yang berarti kepedulian pimpinan atas keahlian.Moh. (3) perhatian terhadap tugas. pengetahuan tentang tugasnya. mampu mendiagnosa gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Dalam menerapkan kepemimpinan sesuai dengan situasi yang di hadapi. (2) perhatian terhadap atasan. yang mencerminkan derajat pelaksanaan pengaruhnya. serta mampu menerapkannya dalam situasi kepemimpinan sebenarnya. dan 3) konseptual. bahaya secara fisik yang mungkin terjadi. luas bidang pekerjaan. yang mencerminkan derajat pentingnya waktu yang dimiliki. kemampuan. dengan demikian pemimpin harus memiliki perilaku yang fleksibel. tingkat hirarkis. 2) manusiawi. derajat kebebasan. sering masa depan yang panjang. seorang pemimpin harus memperhatikan tiga faktor utama. ataupun kesamaan sikap dan perilakunya dengan orang-orang yang di atasnya. Perbedaan manajemen dan kepemimpinan Aspek Menciptakan agenda Manajemen Perencanaan dan penganggaran: menetapkan rincian langkah-langkah dan rencana waktu untuk mencapai hasil yang diperlukan. yaitu: (1) perhatian terhadap bawahan.

mereka. dan mempunyai potensi menghasilkan perubahan yang sangat berguna (misalnya produk baru yang diinginkan pelanggan. pengaturan dan pengawasan aktivitas anggota organisasi yang berhubungan dengan sumber daya 33 . menyediakan kebijakan dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang. sedangkan pimpinan adalah orang yang mengerjakan suatu kebenaran. birokrasi untuk merubahnya untuk memuaskan kebutuhan manusia yang sangat mendasar tapi sering tidak terpenuhin. sering bersifat dramatik. Kepemimpinan dan manajemen berbeda menurut sasarannya masing-masing. Manajer adalah orang yang mengerjakan sesuatu secara benar. manajemen berhubungan dengan benda. pengorganisasian. persediaan. dan mempunyai potensi secara konsisten mencapai hasilhasil tertentu yang diharapkan oleh berbagai stakeholder (misalnya pelanggan selalu tepat waktu. dan atau program. pendekatan baru yang membuat perusahaan lebih kompetetif). Kotter (1990) dalam Wirawan (2003: 22). Memotivasi dan Menginspirasi: mengenerji orang untuk memecahkan rintangan politik. Keluaran Sumber: John P. sedangkan kepemimpinan berhubungan dengan manusia. menciptakan metode untuk memonitor pelaksanaan rencana. Menghasilkan perubahan. seperti terlihat pada Tabel 2. rencana secara rinci dan kemudian merencanakan dan mengorganisasi untuk menyelesaikan masalah tersebut Menghasilkan sesuatu yang dapat diramalkan.Kepemimpinan Kepala Sekolah melaksanakan rencana. Steers (1985: 29). misalnya manajemen keuangan. Eksekutif Pengontrolan dan Penyelesaian masalah: memonitor hasil vs. berpendapat bahwa manajemen adalah proses perencanaan. Sehubungan dengan fungsi-fungsi manajemen. untuk stakeholder lainnya sesuai dengan anggaran). Untuk jelasnya perbedaan antara manajemen dan kepemimpinan dapat dirujuk dari pendapat Kotter.

Jika menyebutkan seseorang yang “incompetent” selalu berarti “incapable” atau “unqualified” yang berarti tidak mampu mengerjakan tugas tertentu atau tidak memiliki kemampuan yang dipersyaratkan. yang secara bersama-sama merupakan proses manajemen. Manajerial memiliki fungsi-fungsi yang berbeda namun saling berhubungan. KOMPETENSI Istilah “competent” sinonim dengan kata “sufficient” dan “adequate” yang berarti mampu. pembagian tugas dan otoritas sehubungan dengan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. deviasi terhadap standar kinerja. untuk itu dibutuhkan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam lingkungan atau situasi baru. Dijelaskan dalam New Zealand Qualifications Authority (Curfis dan Thorp. pengorganisasian. berkompeten berarti menjadi sedikit memuaskan dan baik. Sedangkan pengawasan meliputi tiga elemen penting yaitu standar kinerja. dan kompetensi lebih tertuju pada aksi atau hasil daripada proses belajar mengajar. Seseorang disebut kompeten untuk mengerjakan sesuatu berarti orang tersebut benar-benar dapat melakukan pekerjaan yang dimaksud.Moh. dan atau memadai. Pada dasarnya keseluruhan fungsi-fungsi manajerial dapat dikelompokkan atas fungsi organik (merupakan penjabaran kebijaksanaan dasar atau strategi organisasi yang telah ditetapkan dan harus digunakan sebagai dasar tindakan) dan fungsi penunjang (kegiatan yang diselenggarakan oleh orang-orang atau satuan-satuan kerja dalam organisasi. tetapi juga kemampuan pokok yang dipersyaratkan oleh pekerjaan tersebut. Dengan demikian maka kompetensi adalah karakteristik pokok dari seseorang yang memungkinkannya untuk mencapai kinerja standar dalam tugas. desain mengembangkan organisasi. Pengorganisasian meliputi pengembangan tujuan. Manajemen sebagai suatu cara untuk melaksanakan fungsi eksekutif seperti perencanaan. atau situasi tertentu. dan pengawasan setiap kegiatan yang mengharuskan tanggung jawab untuk mencapai suatu hasil. informasi. pengarahan. Perencanaan mengindikasikan bagaimana tujuan organisasi akan dicapai. dan koreksi terhadap standar kinerja. Di sekolah. sedangkan sangat baik dan baik sekali merupakan kategori yang lebih tinggi. yang dimaksudkan untuk mendukung semua fungsi organik). jabatan. 2004: 1) bahwa kompetensi mencakup tidak hanya pengetahuan atau keahlian tetapi juga terapannya dalam usaha memenuhi kinerja standar yang dipersyaratkan. Kompetensi tidak hanya berhubungan dengan tugas saja. cukup. pengontrolan. Suryadi Syarif untuk mencapai tujuan. 34 .

(4) Sensitif terhadap hubungan interpersonal dan organisasi. menggunakan. menggunakan fasilitas untuk mendorong usahanya dan memaksimalkan kualitas dan efisiensi hasil kerjanya. (7) Persuasif dan memanajemeni interaksi. Contoh kompetensi dalam definisi langsung adalah: bekerja sama dengan orang lain. Di samping keterampilan ini kepala sekolah juga diwajibkan untuk memenuhi atau memiliki kompetensi sebagai seorang kepala sekolah. 2) Definisi elemen kunci.Kepemimpinan Kepala Sekolah Kompetensi mempunyai dua pengertian yang relevan: 1) Definisi langsung. (6) Fleksibilitas intelektual. (4) Keterampilan pendidikan dan pengajaran. (9) Motivasi dan perhatian terhadap pengembangan. dan memelihara hubungan antara pribadi secara efektif. menetapkan skala prioritas untuk memastikan bahwa batas waktu kritis dapat dicapai. yaitu kemampuan individu untuk mencapai kinerja yang efektif dan bekerja secara efektif untuk mencapai tujuan pekerjaan secara efisien. (3) Keterampilan membuat konsepsional. dan pelaksanaan visi pembelajaran 35 . (11) Kemampuan berorganisasi dan pendelegasian. (8) Kemampuan beradaptasi secara taktis. Setidaknya ada kesepakatan bahwa kepala sekolah perlu memiliki sejumlah kompetensi berikut: 1) Memfasilitasi pengembangan. kepala sekolah harus memiliki kompetensi yang disyaratkan untuk dapat mengemban tanggung jawabnya dengan baik dan benar. (2) Keterampilan hubungan manusia. (5) Mengumpulkan informasi dan menganalisis pembentukan konsep. yaitu kemampuan seseorang untuk bekerja secara efektif dalam pekerjaan yang ditekuninya. mengumpulkan informasi secara terstruktur dan terorganisir dan menggunakan pendekatan sistematis untuk memastikan pengumpulan informasi secara kolektif. (10) Kontrol dan evaluasi. menggunakan pengetahuan hubungan informasi dan kepekaan politis dalam organisasi untuk menciptakan keputusan yang efektif. Agar berhasil. meningkatkan kinerja seseorang dan kinerja orang lain dengan membangun. (2) Orientasi kepemimpinan proaktif. yaitu: (1) Komitmen terhadap misi sekolah. (12) Komunikasi. Kompetensi Kepala Sekolah adalah kemampuan atau kecakapan yang diperlihatkan oleh seorang kepala sekolah ketika mengerjakan tugas-tugasnya. dalam hal ini memahami visi dan misi serta memiliki integritas yang baik saja belum cukup. (5) Keterampilan kognitif. Seorang kepala sekolah yang efektif diperlukan adanya kompetensi dan keterampilan administrasi berikut: (1) Keterampilan teknis. penyebarluasan. Contoh kompetensi yang didefinisikan dengan menggunakan pendekatan unsur kunci adalah: mengelola informasi dan materi untuk memudahkan dalam memperolehnya. Melayani pelanggan dengan cara bekerja sama dengan para pelanggan secara efektif untuk mencapai tujuan usaha sendiri dan pelanggan. (3) Ketegasan.

dan mempertahankan lingkungan sekolah dan program pengajaran yang kondusif bagi proses belajar peserta didik dan pertumbuhan profesional para guru dan staf. menanggapi kepentingan dan kebutuhan komunitas yang beragam. inovasi dan jiwa kewirausahaan. moralitas. 23) melaksanakan supervisi. 7) mengelola sarana dan prasarana. Istilah accountability serupa dengan istilah responsibility (tanggung jawab). 24) menyiapkan. kinerja organisasi. dan memobilisasi sumber daya masyarakat. Suryadi Syarif yang dikomunikasikan dengan baik dan didukung oleh komunitas sekolah. bukan hanya sekedar budaya organisasi atau gaya kepemimpinan yang diharapkan. dan efektif. 16) mengembangkan diri. 6) mengelola tenaga kependidikan. dan 25) membuat laporan akuntabilitas sekolah. dan budaya yang lebih luas. 13) memimpin sekolah. 15) memiliki dan melaksanakan kreativitas. ekonomi. melaksanakan dan menindaklanjuti hasil akreditasi. 4) merencanakan pengembangan sekolah. 17) mengelola waktu. 36 . sehat. sosial. 12) mengelola sistem informasi sekolah. dan mempengaruhi lingkungan politik. yaitu: 1) memiliki landasan dan wawasan pendidikan. AKUNTABILITAS Akuntabilitas mencakup isu-isu profesionalisme. 14) mengembangkan budaya sekolah. 2) memahami sekolah sebagai sistem. 19) memberdayakan sumberdaya sekolah. efisien.Moh. 21) mengambil keputusan secara terampil. Accountability didefinisikan sebagai kemauan untuk mengakui kewajiban dan keinginan orang lain untuk menerima tanggung jawab sepenuhnya atas tindakannya dan akibat-akibatnya. 3) Menjamin bahwa manajemen organisasi dan pengoperasian sumber daya sekolah digunakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman. 5) Memberi contoh tindakan berintegritas. membina. Akuntabilitas merupakan kewajiban nyata dalam organisasi yang tidak mencari keuntungan. 6) Memahami. 4) Bekerja sama dengan orang tua murid dan anggota masyarakat. 20) melakukan koordinasi. 5) mengelola kurikulum. 2) Membantu. 9) mengelola keuangan. 22) melakukan monitoring dan evaluasi. 18) menyusun dan melaksanakan regulasi sekolah. 3) memahami manajemen berbasis sekolah. 10) mengelola hubungan sekolahmasyarakat. 11) mengelola kelembagaan. menanggapi. Dengan demikian maka disimpulkan bahwa 25 kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah lanjutan. dan keterwakilan semua kebutuhan dan harapan pihak pemangku kepentingan pada umumnya. 8) mengelola kesiswaan. Sedangkan responsibility adalah tugas yang dibebankan kepada seseorang sebagai akibat dari wewenang yang dimiliki.

dan bertanggungjawab atas hasil yang dicapai. terutama untuk akuntabilitas antara rekan kerja yang mungkin setara atau independen. dan konsekuensinya terhadap perorangan. sehubungan dengan hasil-hasil yang dicapai dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan (Barrados. Dan terminologi tanggung jawab itu sendiri juga biasanya berhubungan dengan moral. 37 . 2004: 1). seseorang harus mencoba memenuhi harapan yang diuraikan oleh akuntabilitas. Tanggung jawab merupakan kewajiban untuk melaksanakan sesuatu karena menerima tugas (Schermerhorn. pengaturan. 1999: 6-8). dan akuntabilitas tidak dapat didelegasikan. dan/atau antara Depdiknas pusat dengan daerah. berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan dan sumber daya yang digunakan.Kepemimpinan Kepala Sekolah Tanggung jawab merupakan sesuatu yang ditugaskan. memeriksa. 2004: 1). Sebagai manajer. Akuntabilitas adalah suatu keterhubungan mendasar dalam kewajiban untuk mendemonstrasikan. misalnya antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. akuntabilitas seyogianya menjadi acuan dasar dalam mengembangkan perangkat peraturan. dan mencakup kewajiban untuk semua kelompok dalam hubungan akuntabilitas. Akuntabilitas adalah suatu dasar hubungan antara kewajiban untuk mendemonstrasikan. Accountability (pertanggungjawaban) mencakup bagaimana sumber daya yang diterima dapat dikelola dengan sebaik-baiknya untuk kegiatan-kegiatan yang menunjang pencapain tujuan yang dinyatakan (state goals). Definisi akuntabilitas ini konsisten dengan pengelolaan hasil. dan tanggung jawab atas kinerja. akuntabilitas menggambarkan aturan-aturan permainan dan harapan bagi manajemen. khususnya yang berkenaan dengan konsep tanggung jawab pribadi. Setiap hubungan ini bersifat khusus dan mempunyai tingkat formalitas dan kompleksitas tersendiri. Dalam hal ini. tetapi juga mencakup pemeriksaan. Perlu dicatat bahwa akuntabilitas yang efektif tidak hanya mencakup laporan kinerja. Akuntabilitas adalah suatu usaha untuk membantu para bawahan agar dapat melakukan aktivitas sesuai dengan yang telah didelegasikan dan secara pribadi bertanggungjawab atas pekerjaannya (Martin. wewenang merupakan sesuatu yang didelegasikan. memeriksa. Definisi ini mencakup sejumlah ide yang dapat diterapkan dalam bidang hubungan akuntabilitas yang luas. Pertanggungjawaban tersebut antara lain menyangkut derajat efisiensi dan kesesuaian dengan norma dan peraturan yang berlaku umum termasuk pertanggungjawabannya. tindakan korektif secara tepat. dan kesepakatan yang mengikuti seluruh sivitas akademika dalam mengupayakan peningkatan mutu berkelanjutan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat . Bagi manajemen sekolah.

setiap kelompok bertanggungjawab tidak untuk mencapai hasil tetapi juga bagaimana mencapai hasil tersebut. dalam hal ini apakah terdapat laporan yang efektif. kewajiban. 2) akuntabilitas resiprokal. Saling memahami dan harapan yang diterima termasuk kontribusi apa yang diharapkan dari masing-masing bagian dan sejauhmana ketepatan penggunaannya akan dapat memperkuat hubungan akuntabilitas. seperti penguatan dan atau sanksi. tidak hanya antara bawahan dengan atasan seperti dalam konsep akuntabilitas tradisional. pemeriksaan. Proses akuntabilitas berdasar pada prinsip-prinsip yang efektif. dalam hal ini apakah tersedia kerangka kerja akuntabilitas untuk mendukung hubungan akuntabilitas yang kuat. yaitu: 1) Tugas dan tanggung jawab. yaitu: 1) akuntabilitas antara para sekutu. Hal ini diperlukan untuk memberikan pemahaman yang jelas atas tugas dan tanggung jawab. 2) Kinerja yang diharapkan.Moh. dan penyesuaian laporan. 4) membutuhkan pemeriksanaan dan penyesuaian. dan otoritas yang berhubungan dengan pelaku-pelaku organisasi dalam suatu hubungan akuntabilitas. Tanggung jawab dapat didelegasikan dari atasan kepada bawahan atau dalam hubungan kerjasama dapat didelegasikan kepada mitra kerja. akuntabilitas dari kinerja sulit dicapai. sehingga tidak hanya digunakan dalam hubungan hirarkis. 4) Mekanisme pemeriksaan dan penyesuaian. untuk siapa. menetapkan suatu dasar untuk penilaian dan tidak merubahnya sebelum individu dalam pengaturan tersebut berubah. yaitu: 1) kerangka kerja akuntabilitas. definisi ini memungkinkan saling hubungan akuntabilitas antara para sekutu yang setara dan/atau indepeden. 2) membantu pelaporan. dan kapan dilaporkan. Jika harapan tidak jelas. Bagian-bagian dari suatu hubungan akuntabilitas perlu dijelaskan terutama tentang informasi apa yang akan dilaporkan. 3) keduanya penting dan berarti. menitikberatkan pada kewajiban antara semua sekutu dalam hubungan akuntabilitas. Dokumentasi ini dapat membantu memperjelas hubungan akuntabilitas. 3) Persyaratan pelaporan. Dalam penerapan prinsip-prinsip tersebut perlu memperhatikan dua aspek proses akuntabilitas. Suryadi Syarif Definisi akuntabilitas di atas memberikan beberapa perbaikan terhadap akuntabilitas tradisional. Kerangka kerja yang tepat adalah sangat penting untuk menciptakan akuntabilitas yang efektif. akuntabilitas mencakup tidak hanya laporan kinerja tetapi juga analisis dan refleksi terhadap kinerja tersebut menimbulkan perubahan yang tepat untuk perbaikan dan memberi konsekuensi yang tepat agar dapat membantu individu tersebut. Hal ini biasanya direfleksikan dalam dokumen-dokumen yang memuat susunan pokok-pokok akuntabilitas. 38 . Kerangka kerja akuntabilitas mempunyai empat elemen yang berdasarkan pada prinsip-prinsip akuntabilitas yang efektif.

siswa. pegawai. Hal ini merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan dan harapan bagi yang berkepentingan. masyarakat. bagaimana perbaikan harus dilaksanakan untuk meningkatkan kinerja. Setiap kepala sekolah harus memberikan laporan pertanggungjawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua. sehingga semua unsur yang terlibat (guru. Sedangkan akuntabilitas yang dimaksud adalah keterhubungan mendasar antara 39 . pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan inovasi dan kreativitas. orangtua siswa. dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam proses peningkatan mutu. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh: 1) Idealized Influence. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. dan pemerintah. 3) Intellectual Stimulation. di antaranya adalah kompetensi dan akuntabilitas. 4) Individualized Consideration.Kepemimpinan Kepala Sekolah Akhirnya. Kepala sekolah dituntut untuk memiliki akuntabilitas kepada sekolah. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. masyarakat. pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasehat. 2) Inspirational Motivation. seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku kepada bawahannya. Kompetensi yang dimaksud adalah pola perilaku yang dibutuhkan oleh kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya agar dapat berfungsi sesuai dengan kemampuan atau kecakapan yang diperlihatkan ketika mengerjakan tugas-tugasnya. dan pemerintah. Terdapat beberapa hal pokok yang diperhatikan berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekolah. Akuntabilitas ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan. masyarakat. KESIMPULAN Kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah adalah kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur. kejelasan diperlukan atas bagaimana dan siapa yang akan melakukan pemeriksaan dan penyesuaian.

dan penggunaan sumber daya tertentu.. Suryadi Syarif kewajiban untuk mendemonstrasikan. Nanus. New York: John Wiley & Sons. Curfis. G.pdf. Fundamentals of Supervision: The First Line Manajemen at Work. 2004. D. et. Dharma.gc. hak dan kewajiban. memeriksa.. 2002. 1994. al. Untuk itu terefektifkannya ketiga komponen tersebut dalam kepemimpinan maka diharapkan akan dapat meningkatkan kinerja kepala sekolah.1999.defining%20.. 40 .measuring/%20competency. nst/htm. M. Leaders Who Make a Difference: Essential Strategies for Meeting the Nonprofit Challenge. & Thorp. S. Keefektifan kedua komponen ini akan memberikan keyakinan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan. J.oagbvg. 1999. inc. Inc.edu. Standar Kompetensi Kepala Sekolah.uoregon. Agus. Defining Competency (New Zealand. akuntabilitas secara bersama-sama dengan kepemimpinan kepala sekolah. Management. kesejahteraan.Moh. 2004. DAFTAR RUJUKAN Barrados. R. Modernizing Accountability in the Public Sector (Report of the Auditor General of Canada: http://www.net/. Comstock. 2004. B. ERIC: http://www. San Fransisco: Jossey-Bass Publisher. pencapaian tujuan. Jr. serta harapan bagi yang berkepentingan terhadap keberhasilan pendidikan di sekolah.ca/domino/aogbvg.eric. T.. Dengan demikian maka berdasarkan penalaran ini diduga bahwa terdapat hubungan positif antara kompetensi. Schermerhorn.M. W. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan. & Dobbs.. Clearinghouse: Educational Manajemen Trend and Issues: the Role of School Leader. 2004. Pendidikan Network: http://pendidikan. dan tanggung jawab atas kinerja. Kompetensi dan akuntabilitas kepala sekolah adalah merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan. sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi sekolah. July 1993: http://www. New York: Delmar Publishers. ERIC.

http://www.net/. R. Kapita Selekta Teori Kepemimpinan: Pengantar untuk Praktek dan Penelitian. 2003. Jakarta: Yayasan Bangun Indonesia dan Uhamka Press.M. Managing Effective Organization. pendidikan. Manajemen Pendidikan Masa Depan.Kepemimpinan Kepala Sekolah Steers. Eman. 2004. USA: Kent Publishing Company. Suparman. 1985. Wirawan. 41 .

sekolah dipandang sebagai institusi publik yang harus dapat memuaskan customer-nya. No. memuaskan-tidaknya.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. Perspektif TQM ini. Temuan kurang baiknya sistem pelayanan publik. sehingga publik yang semula tidak berdaya (powerless) menjadi berdaya. Paradigma pelayanan publik di tingkat satuan pendidikan sekolah patut digeser dari yang konvensional menuju ke kondisi yang senantiasa ter-update. Oleh karena itu. termasuk dalam institusi pendidikan sedikitnya disebabkan dua hal. 1. sering menjadi sorotan terutama kalau sudah menyangkut aspek kecepatan pelayanannya. 4. Pada hal. yang berupa ketrampilan teknis. selain harus menguasai berbagai hard skill. Pertama. April 2009 PERILAKU TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH DALAM PELAYANAN PUBLIK DI TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Ali Imron Universitas Negeri Malang Abstrak Dalam perspektif total quality management (TQM). Kata kunci: Perilaku. publik di bidang pendidikan adalah customer yang harus ditingkatkan kepuasannya. Tenaga administrasi sekolah haruslah menunjukkan perilaku sebagai seorang pelayan publik yang pro aktif. dan satuan pendidikan sekolah. responsif dan antisipatif terhadap berbagai kebutuhan. PENDAHULUAN Lembaga pendidikan dalam berbagai jenis dan tingkatannya diselenggarakan pada hakekatnya bukan untuk melayani dirinya sendiri. melainkan melayani kepentingan publik. mendapatkan momentum tepat ketika reformasi di berbagai bidang digulirkan di negeri ini. bahkan sangat 42 . dalam perspektif total quality management (TQM). tenaga adminsitrasi. aspirasi dan harapan stake holders sekolah sesuai Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. juga menguasai berbagai shoft skill yang senantiasa ditampilkan pada saat memberikan pelayanan prima sekaligus memuaskan kepada customer-nya. Pelayanan publik. termasuk di bidang pendidikan. agar ketika dibutuhkan berada dalam keadaan on-service. dan sesuai harapan-tidaknya. bahwa publik sekarang telah mengalami perubahan sejalan dengan gerakan reformasi secara nasional. pelayanan publik. termasuk di dalamnya adalah reformasi pelayanan publik di bidang pendidikan.

Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah

berdaya (powerfull). Kedua, kenyataan di lapangan menunjukkan SDM institusi pendidikan belum memberikan pelayanan publik yang memuaskan. Pada latar institusi persekolahan, kedua alasan tersebut jika diruntut akan berujung pada persoalan tenaga kependidikan di sekolah. Salah satu dari tenaga kependidikan di sekolah yang banyak terkait langsung dengan pelayanan adalah tenaga administrasi sekolah. Ketatausahaan sendiri, dalam keseluruhan manajemen pendidikan di sekolah, adalah supporting system yang sangat menentukan keberhasilan sekolah secara keseluruhan. Dalam perspektif yuridis, setidaknya menurut Undang-undang nomor 20 tahun 2003 beserta peraturan perundangan-undangan turunannya, tenaga kependidikan (termasuk di dalamnya adalah tata administrasi sekolah), adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Pendidik dan tenaga kependidikan (termasuk tenaga administratisi sekolah) berkewajiban: menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Guna melaksanakan tugas-tugas administrasi sekolah, menurut Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah, dilakukan oleh tenaga administrasi sekolah/madrasah, yang terdiri atas kepala tenaga administrasi sekolah/madrasah, pelaksana urusan, dan petugas layanan khusus. KONDISI IDEAL PELAYANAN PUBLIK Menurut Lembaga Administrasi Negara (2000), pelayanan publik (public service) adalah pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah, termasuk institusi sekolah, baik dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pelayanan publik merupakan salah satu perwujudan dari fungsi aparatur negara sebagai abdi masyarakat disamping sebagai abdi negara. Pelayanan publik juga merupakan pelaksanaan dari peraturan pemerintah atau pihak lain yang terkait. Pelayanan publik juga dimaksudkan untuk mensejahterakan masyarakat, karena dengan pelayanan publik yang baik, diharapkan masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya. 43

Ali Imron

Pelayanan publik pada dasarnya merupakan kombinasi dari berbagai fungsi yang titik tekannya tergantung lembaga dan personel yang menerapkannya. Fungsifungsi yang harus dikombinasikan dalam penerapan pelayanan publik yang handal meliputi fungsi instrumental, politik, katalis, public interest, dan entrepreneurial (Sunaryo, 2005). Fungsi instrumental berkenan dengan menjabarkan perundang-undangan dan kebijakan publik ke dalam kegiatan rutin. Hal ini terkait dengan sosialisasi kebijakan yang berlaku bagi kegiatan tertentu yang berkaitan dengan pelayanan publik. Masyarakat butuh kejelasan kebijakan untuk urusan-urusan yang menyangkut dirinya. Semakin jelas kebijakan apa yang diterapkan untuk menyelesaikan urusan tertentu bagi masyarakat, maka semakin baik pula pelayanan publik tersebut. Tenaga administrasi sekolah memegang peranan penting dalam fungsi instrumental ini, karena lalu lintas informasi yang terkait dengan undang-undang dan peraturan pemerintah senantiasa melewati mereka. Fungsi politik pelayanan publik berarti memberikan input yang dapat berupa saran dan informasi. Berarti bahwa dalam pelayanan publik diperlukan tambahan informasi kepada masyarakat untuk memperjelas sistem pelayanan publik yang diberikan. Tenaga administrasi sekolah banyak berperan sebagai informan berbagai kebijakan sekolah kepada stake holders-nya. Pelayanan publik tidak boleh meninggalkan interes dan aspirasi masyarakat yang memerlukan pelayanan. Hal ini sesuai dengan fungsi katalis public interest. Interes dan aspirasi masyarakat diintegrasikan dengan kebijakan dan keputusan pemerintah atau pihak lain pembuat kebijakan pelayanan publik, dan diimplementasikan dalam bentuk layanan konkret oleh tenaga administrasi. Fungsi entrepreneurial, yang berkenaan dengan memberi inspirasi bagi kegiatan-kegiatan inovatif dan non-rutin. Dalam pelayanan publik diupayakan ada ruang untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan agar mempermudah, mempermurah dan mempercepat serta memperakurat data/informasi dalam pelayanan publik. Jika perlu, boleh menyimpang dari kelaziman asal tidak keluar dari koridor aturan dan misi sekolah. Di sinilah peran strategis tenaga administrasi ditantang, bagaimana agar lembaganya tetap akuntabel secara administratif. Birokrasi publik (termasuk birokrasi sekolah dikatakan profesional) manakala dalam pelayanan publik menunjukkan perilaku bertanggungjawab. Konsep tanggungjawab dibedakan menjadi 3, yaitu responsibilitas (responsibility), akuntabilitas (accountability), dan responsivitas (responsiveness) para pemberi layanan (Widodo, 2004). Responsibilitas diartikan sebagai kemampuan untuk 44

Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah

melaksanakan apa yang menjadi tugas pokok, fungsi, kewenangan, dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Tanggungjawab berarti capable to do atau professionality dan rasa tanggungjawab (sense of responsibility). Profesional berarti bahwa tatausahawan dituntut memiliki kecakapan teknis yang memadai dalam menjalankan tugas pokok, fungsi, kewenangan, dan tangungjawab dalam pelayanan publik. Dengan memiliki kecakapan teknis, mereka dapat menjalankan tugas dan tanggungjawab secara efektif, efisien, dan produktif. Rasa tanggungjawab berarti tenaga administrasi sekolah melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya secara serius meskipun tidak ada pihak lain yang mengawasinya. Tenaga administrasi tetap menjaga keberpihakan kepada kepentingan publik, meskipun untuk melakukan penyelewengan bagi mereka cukup terbuka. Akuntabilitas merupakan kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja atas tindakan seseorang/pimpinan/badan hukum suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. Untuk kepentingan ini, tenaga administrasi sekolah hendaknya bersikap transparan (transparency) dan terbuka (openness) atas apa yang ditanyakan publik. Tenaga administrasi dinyatakan akuntabel manakala mereka dinilai secara obyektif oleh masyarakat telah dapat mempertanggungjawabkan segala macam perbuatan, sikap, dan sepakterjangnya kepada publik. Responsivitas diartikan sebagai daya tanggap tenaga administrasi terhadap apa yang menjadi permasalahan, kebutuhan, keluhan, dan aspirasi publik yang dilayaninya. Dengan demikian, tenaga administrasi sekolah dikatakan responsif (cepat tanggap dan cepat menanggapi) yang tinggi jika tanggap terhadap permasalahan, kebutuhan, keluhan, dan aspirasi stake holders sekolah yang dilayani. Sunarto (2005) menyatakan bahwa prinsip-prinsip dalam pelayanan publik meliputi: berdayakan masyarakat, yang dapat berupa penciptaan iklim kebebasan untuk berprakarsa dan berkreasi bagi masyarakat; optimalkan pelayanan publik, yakni pelayanan masyarakat yang efisien, adil, mudah dan mendekatkan unit pelayanan ke masyarakat; buka ruang partisipasi publik, dimana dalam manajemen di lembaga pendidikan sedapat mungkin (jika perlu) melibatkan masyarakat dalam merencanakan, pengorganisasikan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan; dan ubah gaya kerja personel lembaga pendidikan, yang semula ingin dilayani menjadi pelayan bagi masyarakat yang memerlukan.

45

lambat atau bahkan tidak sampai kepada mereka. masih terlalu birokratis. Ketujuh. maupun harapan masyarakat seringkali lambat atau bahkan diabaikan sama sekali. Kelima. Kedua. Berbagai unit pelaksana pelayanan terletak jauh dari jangkauan masyarakat. Keempat. juga sangat sulit. Kedelapan. bahwa pelayanan yang dilakukan oleh institusi publik paling tidak ditunjukkan dengan kondisi sebagai berikut. Kondisi ini terjadi pada hampir semua tingkatan unsur pelayanan. dan kesamaan perlakuan (tidak diskriminatif) masih jauh dari yang diharapkan. masih menunjukkan inefisien. Akibatnya. tanpa ada perbaikan dari waktu ke waktu. responsivitas. Berbagai informasi yang seharusnya disampaikan kepada masyarakat. dan di lain pihak kemungkinan masyarakat untuk bertemu dengan penanggungjawab pelayanan. berbagai masalah pelayanan memerlukan waktu yang lama untuk diselesaikan.Ali Imron KONDISI RIIL PELAYANAN PUBLIK Menurut hasil survey yang dilakukan UGM pada tahun 2002. Namun jika dilihat dari sisi efisiensi dan efektivitas. sering terjadi tumpang tindih ataupun pertentangan kebijakan antara satu instansi pelayanan dengan instansi pelayanan lain yang terkait. dalam rangka menyelesaikan masalah yang terjadi ketika pelayanan diberikan. Berbagai unit pelayanan yang terkait satu dengan lainnya sangat kurang berkoordinasi. mulai pada tingkatan petugas pelayanan (front line) sampai dengan tingkatan penanggungjawab institusi. sebagaimana dikedepankan oleh Imron (2007). Akibatnya. pelayanan dilaksanakan dengan apa adanya. Dalam kaitan dengan penyelesaian masalah pelayanan. kurang accessible. masih kurang responsif. sehingga menyulitkan bagi mereka yang memerlukan pelayanan tersebut. kemungkinan tenaga administrasi untuk dapat menyelesaikan masalah sangat kecil. Temuan Mohamad. Pada umumnya aparat pelayanan kurang memiliki kemauan untuk mendengar keluhan/saran/aspirasi dari masyarakat. sehingga menyebabkan penyelesaian pelayanan yang terlalu lama. kurang mau mendengar keluhan/saran/aspirasi masyarakat. aspirasi. 46 . Akibatnya. Pertama. Keenam. Berbagai persyaratan yang diperlukan (khususnya dalam pelayanan perijinan) seringkali tidak relevan dengan pelayanan yang diberikan. kurang koordinasi. masih kurang informatif. bahwa secara umum stakeholders menilai bahwa kualitas pelayanan publik mengalami perbaikan setelah diberlakukannya otonomi daerah. Respon terhadap berbagai keluhan. Pelayanan pada umumnya dilakukan dengan melalui proses yang terdiri dari berbagai level.

Petama. dengan bantuan staf tata usaha haus dilakukan. mengidentifikasi kembali siapa pelanggan sekolah tersebut. Salah satu cara yang dapat digunakan sekolah agar dapat melayani masyarakat dengan prima adalah kemauan untuk menggeser paradigma birokrasi yang lebih sibuk dengan urusan internal. Oleh karena itu. dan memperhatikan hukum pelanggan (termasuk dalam hal ini hak-hak pelanggan sekolah) (Ramalia dalam LAN. Dalam meningkatkan daya saing sekolah. Stakeholder dalam arti luas dilibatkan dalam pembuatan keputusan utamanya berkenaan dengan kepuasan pelayanan publik di sekolah. Harapan tingkat kepuasan pelanggan. Kedua. Tenaga administrasi sekolah perlu kreatif mengidentifikasi masalah-masalah yang sedang maupun yang akan dihadapi dalam praktik pemberian layanan sehari-hari. Dalam persoalan pendidikan anak. Pelayanan pelanggan sekolah diartikan sebagai proses yang secara sadar dan terencana yang dilakukan oleh sekolah melalui pemberian pelayanan kepada pelanggan agar pelanggan mencapai kepuasan secara optimal. Untuk dapat menjalankan fungsi yang memuaskan pelanggan. maka diubah agar sekolah lebih responsif dalam memberikan pelayanan yang bersifat memenuhi kebutuhan pelanggan atau masyarakat yang memerlukan. penting 47 . sekolah haruslah responsif dalam menyikapi kemauan masyarakat tanpa mengorbankan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan sekolah. pelanggan dipakai sebagai sasaran pencapaian tujuan. Sekolah selalu mendengar suara pelanggan. perlu perubahan paradigma birokrasi di sekolah. perlunya memahami tingkat harapan pelanggan sekolah atas kualitas pelayanan. bagi sekolah tidak lepas dari kreatifitas tata usahawannnya. Sekolah diharapkan memposisikan pelanggan sebagai hal yang paling depan. Di sini peran personel hubungan masyarakat. Yang semula sekolah lebih banyak melayani kebutuhan birokrasi yang lebih tinggi dan kemungkinan sekolah sendiri minta dilayani masyarakat. Untuk mewujudkan dan mempertahankan kepuasan pelanggan sekolah. 2001).Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah MENGGESER PARADIGMA PELAYANAN PUBLIK DI SEKOLAH Sekolah (terutama yang berstatus negeri) adalah ujung tombak terdepan dalam pelayanan publik di lingkungan Depdiknas. Hal ini sebagai upaya untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi dan upaya mengantisipasi pemecahan masalah yang kemungkinan akan dihadapi pada masa yang akan datang. menjadi berorientasi pada pelanggan sekolah. Oleh sebab itu. orang tua dan masyarakat selalu menginginkan agar anaknya mendapatkan pendidikan terbaik dan mendapatkan pelayanan yang prima. memperhatikan kebutuhan dasar dan keinginan pelangggan. dapat dilakukan 4 hal sebagaimana pendapat Ramalia (2001).

Umpan balik penting untuk mekanisme perencanaan dan pelaksanaan pelayanan berikutnya. 48 . Standar pelayanan yang dipakai sebagai tolak ukur adalah standar pelayanan prima. Ketiga. Pada pasal 35-37 dinyatakan sebagai berikut: Tenaga kependidikan pada: a. (5) diterima dan disambut secara baik. jenis tenaga kependidikan (termasuk tenaga administrasi atau tenaga asministratif) diatur menurut jalur. (7) merasa aman dan dilindungi haknya. (2) memperoleh hasil sesuai dengan keinginan. (3) mempertahankan harga diri. (4) mendapatkan perlakuan secara adil. Peranan staf tata usaha sebagai supporting system di sekolah sangatlah penting. kegiatan ekstrakurikuler. Diantaranya. Hal ini dapat dicapai melalui strategi yang dapat menjamin kualitas pelayanan prima yang didukung pula oleh personel pelayanan yang prima.Ali Imron diketahui sebagai acuan untuk menentukan tujuan dan tolak kepuasan pelanggan. Lebih lanjut Ramalia (2001) mengemukakan bahwa layanan pelanggan sekolah yang baik memperhatikan sembilan aspek keinginan pelanggan sebagai berikut: (1) bebas membuat keputusan. jenjang. Pelanggan perlu diikutsertakan dalam perencanaan hal-hal penting bagi keberlanjutan pelaksanaan pendidikan anak-anak di sekolah. (6) diberitahukan segala sesuatu yang terjadi. Keempat. TK/RA atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala TK/RA dan tenaga kebersihan TK/RA. antara lain penentuan pelaksanaan kurikulum sekolah. Perubahan paradigma yang disikapi oleh sekolah dalam hal ini cukup banyak. POSISI STRATEGIS TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH Berdasarkan ketentuan dalam Standarisasi Nasional Pendidikan. (8) didudukkan sebagai orang penting. maka kepuasan pelanggan atau pengguna jasa pelayanan di sekolah sulit diketahui. Tanpa tolak ukur yang jelas. Dengan umpan balik akan dapat diketahui hal-hal mana yang perlu diperbaiki dan mana yang perlu dipertahankan atau ditingkatkan. bahwa sekolah hendaknya mengikutsertakan pembuatan keputusan bagi pelanggannya. proses belajar mengajar. dan pendidikan moral. dan (9) menuntut keadilan. dan jenis pendidikan. memahami siklus pengukuran dan umpan balik dari kepuasan pelanggan. memahami strategi kualitas layanan pelanggan yang terwujud dalam standar pelayanan prima.

Kesederhanaan. keterbukaan. teknisi sumber belajar. Kriteria lain adalah efisiensi. unit kerja atau personel yang bertanggungjawab memberikan pelayanan. SMPLB. tenaga laboratorium. dan terapis. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. tenaga perpustakaan. dimana persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan. cepat. dan SMALB atau bentuk lain yang sederajat sekurangkurangnya terdiri atas kepala sekolah. SDLB. tenaga administrasi. dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang memerlukan pelayanan. Kejelasan dan kepastian tentang prosedur/tata cara pelayanan. SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. yakni kesederhanaan. mudah dipahami. Paket A. dan jadwal waktu penyelesaian pelayanan. pekerja sosial. Tentang hal ini perlu diinformasikan secara jelas kepada masyarakat luas. dan tidak boleh ada pengulangan persyaratan. f. tenaga administrasi. SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat dan SMA/MA. tenaga perpustakaan. d. c. ekonomis. tepat. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. kejelasan dan kepastian. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. ketepatan waktu dan kuantitatif. artinya segala hal yang berkenaan dengan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat diberitahukan secara terbuka kepada masyarakat yang dilayani. tenaga laboratorium. Sistem pelayanan publik dengan sederhana perlu dilaksanakan. tenaga administrasi. keadilan. utamanya yang memerlukan pelayanan publik.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah b. tidak berbelit-belit. 49 . persyaratan pelayanan. tenaga perpustakaan. e. atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. Paket B dan Paket C sekurang-kurangnya terdiri atas pengelola kelompok belajar. efisiensi. tenaga administrasi. tenaga perpustakaan. psikolog. dan tenaga perpustakaan. rincian biaya dan tata cara pembayaran pelayanan (jika ada). Agar pelayanan publik yang dilakukan oleh tenaga administrasi sekolah dapat optimal. SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. dimana proses dan hasil pelayanan dapat memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat yang dilayani. artinya bahwa pelayanan publik dilaksanakan secara mudah. tenaga administrasi. keamanan. Keamanan. mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia (penerima layanan) masih berpendidikan rendah. ada beberapa kriteria. tenaga laboratorium. Faktor keterbukaan. tenaga kebersihan sekolah.

yakni jumlah masyarakat yang dilayani naik atau turun. artinya pelayanan kepada masyarakat harus tepat waktu sesuai yang ditentukan dan diinformasikan kepada masyarakat. proaktif. profesionalitas. rata-rata lamanya waktu pelayanan. Tenaga administrasi sekolah menyadari keterkaitan TUPOKSI dengan keseluruhan layanan administrasi di dalam maupun di luar unit kerja. 50 . Terkait dengan relevansi layanan. 2007). dan ketentuan perundangan yang berlaku. dimana jangkauan pelayanan diusahakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata dan diberlakukan secara adil bagi seluruh lapisan masyarakat. Tenaga administrasi sekolah memahami ketepatan waktu sangat penting diperhatikan dalam memberikan layanan kepada customer. menyangkut waktu. 2. Terkait dengan waktu. sejumlah perilaku pelayanan haruslah dapat diinternalisasikan dan bahkan ditunjukkan oleh tenaga administrasi dalam memberikan layanan kepada customer-nya. semua itu terdata secara kuantitatif sebagai upaya terus menerus mengembangkan pelayanan kepada masyarakat. PERILAKU TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH Agar pelayanan publik di sekolah bisa memuaskan customer. 2. kapabel dan cakap (Imron. kondisi/kemampuan masyarakat. 3. Faktor ketepatan waktu. jika dirasakan perlu. Yang terakhir adalah faktor kuantitatif. Tenaga administrasi sekolah mengetahui target waktu yang diperlukan untuk memberikan layanan kepada customer. penggunaan perangkat teknologi modern untuk memperlancar pelayanan. dan frekuensi keluhan dan pujian dari masyarakat yang diberi layanan. kecermatan.Ali Imron Kriteria ekonomis. Tenaga administrasi sekolah selalu mengusahakan memberikan layanan kepada customer lebih cepat dari batasan waktu yang ditetapkan. responsif. Tenaga administrasi sekolah. Sejumlah perilaku pelayanan tersebut. yaitu: 1. helpful dan friendly. berarti biaya pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhatikan nilai barang dan jasa pelayanan. Tenaga administrasi sekolah dapat memposisikan diri sesuai dengan TUPOKSI dalam memberikan layanan kepada customer. perilaku berikut haruslah dapat ditunjukkan. Faktor keadilan dan merata. 4. perilaku berikut haruslah dapat ditunjukkan: 1. meluangkan waktu melebihi dari waktu yang ditetapkan dalam memberikan layanan administrasi kepada customer.

5. bahwa yang menjadi pelayan adalah dirinya. 4. sesungguhnya dirinya tidak akan punya fungsi dan peran apapun dalam lingkup pekerjaannya. Tenaga administrasi sekolah menggunakan peralatan bantu untuk kecepatan dan ketepatan proses dalam memberikan layanan kepada customer. sehingga mereka merasakan kepuasan dari layanan yang diterimanya. 5. bahwa keberadaan dirinya sangat banyak ditentukan oleh keberadaan customer-nya. Tenaga administrasi sekolah memiliki sense perfective atas segala layanan yang dilakukannya. 2. 6. Seorang tenaga administrasi sepatutnya juga helpful dan friendly. 3. bahwa tanpa ada customer. bahwa customer adalah segalanya. . jika persoalan yang dimiliki oleh customer sedikit banyak telah terpecahkan melalui bantuan dan pekerjaan yang ia lakukan. perilaku demikian akan ditunjukkan manakala: 1.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah 3. Tenaga administrasi sekolah menyadari. Tenaga administrasi sekolah menyadari. Tenaga administrasi sekolah merasa bangga dan senang. karena itu ia tidak pernah berpikir bahwa customer-lah yang harus melayani dirinya. Tenaga administrasi sekolah memahami dan mampu mempraktikkan TUPOKSI-nya dalam rangka pemberian layanan administrasi kepada customer. 2. Oleh karena itu. Tenaga administrasi sekolah memiliki inisiatif untuk melakukan upaya pencegahan terhadap kesalahan/kelemahan/hambatan dari layanan kepada customer. Ketika memberikan layanan. Tenaga administrasi sekolah berupaya melakukan check and recheck atas hasil layanan yang diberikan kepada customer. 51 3. Tenaga administrasi sekolah mendahulukan kepentingan customers. 4. Tenaga administrasi sekolah memahami langkah-langkah kerja yang harus dilalui sebelum memberikan layanan. karena itu ia senantiasa berpikir bahwa keberadaaan dirinya adalah untuk membantu mereka. Tenaga administrasi sekolah menyadari. Agar tenaga administrasi bisa cermat dalam memberikan pelayanan. Tenaga administrasi sekolah menyadari. perilaku berikut haruslah memainkan peranan sebagai berikut: 1. tenaga administrasi sekolah melakukannya dengan sungguh-sungguh. 4.

manakala: 1. sosial. tidak dibawanya ke tempat kerja. Karena itu. 52 . apa lagi sampai berpengaruh terhadap cara memberikan layanan kepada customer-nya. dan bukan sebaliknya. Ketika ada customer yang kebingungan saat berproses mendapatkan pelayanan. 9. 10. Tenaga administrasi sekolah berusaha agar customer yang dilayani tidak usah menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan dari dirinya. 2. Tenaga administrasi sekolah berusaha untuk mengetahui alur kerja sejawatnya. 3. menyenangkan. 7. ia selalu berusaha untuk mengutamakan kepentingan customer dalam setiap memberikan pelayanan. 4. bahwa yang harus ia utamakan dalam memberikan layanan adalah customer. secepatnya dapat dituntaskan. kapan ia berhenti tidak memberikan pelayanan kepada customer. ia akan dapat menggantikan dalam memberikan pelayanan. smile. Dalam memberikan pelayanan. agar ketika sejawatnya berhalangan. Karena itu. kapan ia harus melayani customer-nya. 5. 8. Dalam memberikan layanan. tenaga administrasi sekolah menunjukkan wajah yang ramah. 8. tidak sangar. Tenaga administrasi sekolah berusaha agar persoalan yang dihadapi oleh klien terkait layanan yang ia dapatkan. Jika tenaga administrasi sekolah mempunyai persoalan (pribadi. 9. Responsiveness dan pro-aktif juga akan dapat ditunjukkan. tenaga administrasi sekolah memperlakukan pihak yang dilayani sebagai customer (pelanggan). ketika memberikan pelayanan tidak menunggu perintah dari atasannya. Bukan sebaliknya. Tenaga administrasi sekolah menyadari. 7. 6. Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir. bahwa pekerjaan melayani customer adalah tanggungjawab dirinya sepenuhnya.Ali Imron Dalam memberikan layanan. tanpa terus menunggu perintah dari atasan langsungnya. tenaga administrasi sekolah melakukannya dengan senang hati. dengan menanyakan: apa yang dapat saya bantu? Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir dan berusaha bagaimana agar customer menjadi mudah dalam urusannya. tenaga administrasi sekolah berusaha secepatnya untuk memberikan bantuan. tenaga administrasi sekolah menawarkan bantuan. Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir dan berangan-angan. pekerjaan). bagaimana agar mereka mendapatkan kesukaran. Ketika customer tidak mengerti cara mengakses pelayanan.

Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah 10. tanpa keluar dari koridor dan jiwa prosedur yang telah ditetapkan. tenaga administrasi sekolah senantiasa berpedoman kepada alur kerja yang telah ditetapkan oleh atasannya. 53 . dan bisa memuaskan customernya. ia tanya kepada atasannya atau sejawatnya. benar-benar terencana (by design). kapabilitas dan kecakapan juga akan dapat ditunjukkan. 10. dan tidak semata-mata mengacu kepada waktu dan jam kerja. Profesionalitas. Tenaga administrasi sekolah selalu berusaha melakukan perbaikan terus menerus mutu pelayanan (kaizen) yang ia berikan sehingga kepuasan customer-nya makin lama makin meningkat. Dalam setiap memberikan pelayanan. manakala: Tenaga administrasi sekolah menyusun schedule secara pribadi untuk penyelesaian pekerjaannya. tenaga administrasi sekolah selalu mencari alternatif solusi yang terbaik. tertepat dan terakurat. Dalam setiap memberikan pelayanan kepada customer. 4. 7. Tenaga administrasi sekolah memahami prosedur dan alur kerja beserta dengan jiwa yang dikandung oleh prosedur dan alur kerja tersebut. Dalam melaksanakan setiap pekerjaannya. dan tidak justru menunggu kapan sejawat dan atasannya bertanya kepada dirinya. 6. Ketika ada sejawat yang mengalami masalah terkait dengan pekerjaannya. 8. karena jika menumpuk. sehingga pekerjaan sejawatnya tidak terbengkalai. 3. tenaga administrasi sekolah bertindak tenang dan tidak panik meskipun ketika berada dalam tekanan. tanpa harus melanggar koridor aturan dan prosedur beserta dengan jiwa yang dikandung oleh aturan dan prosedur tersebut. tenaga administrasi sekolah selalu mencari cara-cara yang tercepat. 1. Ketika ia punya persoalan dan kesulitan dalam setiap memberikan pelayanan. tenaga administrasi sekolah mengutamakan ketuntasan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. 9. Tenaga administrasi sekolah akan membantu memecahkannya. 5. tenaga administrasi sekolah tidak menunda-nunda (menggampangkan). sehingga seluruh pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. 2. Terhadap berbagai persoalan terkait dengan pekerjaannya. akan memperendah mutu pelayanan yang dapat ia berikan. Dalam menyelesaikan pekerjaan. Terhadap pekerjaan yang harus ia selesaikan.

proaktif. DAFTAR RUJUKAN Imron. Guna mewujudkan birokrasi yang senantiasa on-service dan memuaskan pelanggan. berada dalam keadaaan senantiasa on-service. tanggap. Ia tidak saja hanya dituntut menguasai hard skill dan shoft skill sebagai tenaga yang berada pada posisi supporting system dalam keseluruhan aspek substantif sekolah. kapabel dan cakap. Malang: Universitas Negeri Malang. 54 . perlunya peningkatan hard skill dan shoft skill yang terkait dengan perilaku tenaga administrasi oleh institusi yang bertangungjawab dalam peningkatan kualitas SDM Pendidikan. Lembaga Administrasi Negara dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Badan Kepegawaian Daerah di tingkat Kabupaten Kota. profesionalitas. responsif. sekolah harus menggeser paradigma pelayanan publik yang konvensional menjadi pelayanan publik yang pro aktif. Ali. cepat. responsif. Birokrasi sekolah. Perilaku tersebut terkait dengan pengunaan waktu.Ali Imron KESIMPULAN Sekolah adalah institusi yang tidak hanya bermaksud untuk melayani diri sendiri. maka posisi tenaga administrasi sekolah. 2000. dengan demikian. dan efektif sehingga memuaskan customer. Berdasarkan keseluruhan uraian tersebut. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara. yang sepatutnya diposisikan sebagai pelanggan (customer). rekomendasi yang dapat diberikan adalah. atau stake holders sekolah. melainkan juga menunjukkan perilaku yang mendukung terhadap kepuasan customer sekolah. Makalah Disampaikan pada Pelatihan Administrasi Sekolah pada Staf Administrasi Sekolah. helpful dan friendly. Konsekuensi logisnya. 2007. berbiaya rendah. sangatlah penting. kecermatan. melainkan melayani publik. Jaminan Layanan Mutu Administrasi di Sekolah. juga patut selalu membelajarkan tenaga kependidikan (termasuk tata usahawannya) agar selalu meng-update berbagai cara yang dilakukan dalam pelayanan publik. karena keberdayaan pengguna layanan memungkinkan mereka makin meningkatkan tuntutannya terhadap pelayanan publik yang diberikan oleh institusi sekolah. karena posisinya yang secara langsung bersentuhan dengan layanan publik. Akuntabilitas dan Good Govermance. Sekolah sebagai organisasi pembelajar. sederhana.

Swantanisasi Alternatif Reformasi Birokrasi Pelayanan Publik. M. 2001. Sunaryo.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. Surabaya: Badan Diklat Propinsi Jawa Timur. Etika Pelayanan Masyarakat (Pelanggan): Upaya Membangun Citra Birokrasi Modern. Reformasi Sistem Pelayanan Publik. 55 . J. Ramalia. Bunga Ramapai Wacana Administrasi Publik: Menguak Peluang dan Tantangan Administrasi Publik. Widodo. 2005. Surabaya: Adipura. 2004. Jakarta: Lembaga Administtasi Negara.

di sana ada pembukuannya. 1. ada aturan mainnya. Perpustakaan Sekolah. ada securitinya dan ada organisasi yang mengaturnya. orang awam sekalipun tentu paham bahwa perpustakaan sangatlah berbeda dengan gudang buku walaupun terdapat banyak kesamaannya. Walaupun demikian. misalnya tipe A. 4. No. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala di lapangan. C. alternatif PENDAHULUAN Ketika orang menyebut kata perpustakaan maka pikiran orang yang mendengar akan tertuju kepada sebuah tempat atau bangunan yang berisi banyak buku. namun demikian gudang buku dan perpustakaan sangatlah berbeda. baik itu secara konsep atau teori maupun secara empirikal. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah pada pendidikan dasar yang belum memiliki perpustakaan. tidak terlalu banyak orang yang berminat untuk mengkajinya. B. Tulisan ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. dan seterusnya dan perpustakaanpun demikian. fungsi. Itulah kesamaannya. baik dalam jenis. bahkan ada birokrasi di dalamnya. jelas bernuansa bisnis. di dalamnya terdapat buku-buku yang jumlahnya banyak. Gudang buku mungkin bisa dikategorikan menjadi beberapa jenis atau tipe. Gudang buku identik dengan toko buku. April 2009 PROBLEMATIKA PERPUSTAKAAN SEKOLAH PADA PENDIDIKAN DASAR DAN ALTERNATIF SOLUSINYA Sri Marmoah Universitas Batanghari Jambi Abstrak Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. Kemiripan dari keduanya terletak pada sama-sama memiliki gedung. Jurnal. Kata Kunci: Problematika solusinya. Sementara sekolah yang memiliki perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 56 . manfaat dan tujuan serta aktifitas di dalamnya. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. sementara perpustakaan berorientasi sosial bukan untuk dijual. menumbuhkan minat baca. Tentang perpustakaan itu sendiri. ada yang mengaturnya.

berpidato. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah yang belum memiliki perpustakaan. majalah. Perpustakaan tidak dianggap penting. kutbah yang dapat mengembangkan kemampuan berbicara. dikaitkan dengan pengembangan ketrampilan berbahasa baik membaca. pembinaaan intelektual. dikaitkan dengan pengembangan budaya baik budaya daerah maupun nasional siswa pada pendidikan dasar itu dapat diperoleh melalui perpustakaan. Contoh guru memberi tugas ke perpustakaan kemudian siswa disuruh merangkum. Mengapa pada pendidikan dasar. karena ada buku. Karena dasar awal anak yang diperoleh dari pembelajaran di kelas juga di perpustakaan. dan berbicara maka peran dari perpustakaan sekolah itu sangat penting. puisi termasuk membaca. Pengelolaannya tidak profesional yang disebabkan oleh ketiadaan tenaga pengelola (pustakawan) yang profesional. Ketiga. Jikapun ada. menulis. Mengapa yang diteropong adalah perpustakaan sekolah. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. antara lain lokasinya kurang nyaman/kondusif. sikap. fasilitas kurang memadai. Kedua. jam buka yang sangat terbatas. salah satunya adalah perpustakaan sekolah. untuk dapat membaca perlu sarana. cerita. Pada dasarnya keprihatinan kita akan kondisi perpustakaanlah yang membuat kita merasa perlu untuk melangkah secara serius dan lebih sistematis. kondisinya belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan sebagai tempat/sarana untuk menggairahkan semangat belajar. spiritual. menumbuhkan minat baca. bahwa perpustakaan sekolah sebagai perangkat pendidikan di sekolah merupakan bagian integral dari sistem kurikulum sekolah bersama dengan sumber belajar yang lain. Kita tidak tahu apa alasannya dan mengapa hal demikian itu yang terjadi. menumbuhkan minat baca. harus dimulai dari anak pada tingkat pendidikan dasar. menulis. Memang perpustakaan sekolah menjadi objek yang kurang diminati di negeri ini. Perpustakaan Sekolah bertujuan mendukung proses kegiatan belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan. dan dana yang terbatas. koleksi buku terbatas. pertama karena siswa pada pendidikan dasar untuk mendapatkan pengetahuan itu harus banyak membaca. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala. Tugas siswa lainnya mencakup bercerita. 57 .Problematika Perpustakaan Sekolah masmedia dan sejenisnya juga tidak terlalu peduli dengan keberadaannya. Dengan adanya perpustakaan sekolah diharapkan dapat memenuhi harapan sebagai tempat/sarana untuk menggairahkan semangat belajar. membuat karangan baru. Keempat.

idealnya perpustakaan sekolah ke depan.Sri Marmoah Tulisan kecil ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. melalui jasa layanannya dan kegiatan perpustakaan lainnya yang menunjang kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolah. PEMBAHASAN Fungsi Manajemen Perpustakaan Sekolah Menurut Agus Sutoyo dan Joko Santoso (2001:189) “Manajemen perpustakaan adalah suatu proses kegiatan yang dilaksanakan perpustakaan untuk mencapai sasaran seefisien mungkin dengan mendayagunakan semua sumber daya yang ada. dapat dijelaskan bahwa manajemen perpustakaan tidak semata-mata berdasarkan teoritis tetapi bagaimana mengimplementasikan teori tersebut dalam praktek operasionalnya. Sedangkan prinsip-prinsip manajemen adalah dasar atau asas kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir dalam manajemen. Ruang lingkup penulisan ini mencakup tentang manajemen perpustakaan ditinjau dari fungsi dan unsur-unsurnya. organizing 58 . Tulisan ini bertujuan untuk memberikan sumbangan konsep pemikiran tentang alternatif solusi dari segala problematika perpustakaan sekolah yang terjadi di lapangan selama ini. metode. Dikaitkan dengan pendapat tersebut. dkk. Dengan demikian manajemen perpustakaan sekolah juga melaksanakan hal-hal tersebut disertai dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun tujuan sekolah. sarana. manajemen perpustakaan adalah pengelolaan perpustakaan yang didasarkan kepada teori dan prinsip-prinsip manajemen. kondisi riil perpustakaan sekolah di lapangan. Saya yakin bahwa tulisan ini akan kembali mengingatkan kita tentang betapa besarnya peran perpustakaan sekolah dalam upaya mendukung keberhasilan pendidikan di lembaga itu dan tentunya mendukung tujuan pendidikan nasional. meliputi SDM. Teori manajemen adalah suatu konsep pemikiran atau pendapat yang dikemukakan mengenai bagaimana ilmu manajemen untuk diterapkan dalam suatu organisasi. serta dana”. sehingga perpustakaan memang merupakan salah satu sarana sumber belajar yang harus dikelola dengan manajemen terbaiknya. Dalam kenyataannya tidak semua teori dapat diterapkan sepenuhnya. Manajernen perpustakaan (Abdul Rahman Saleh dan Fahidin. 1995) melaksanakan fungsi manajemen sebagai dasar pengelolaannya. 1995) maupun perpustakaan sekolah (Soelistia. Sedangkan menurut Sutarno (2006:20). tetapi perlu modifikasi dan penyesuaian diantara keduanya. alternatif solusi mengefektifkan peran perpustakaan sekolah. yaitu planning (perencanaan).

Pengaturan pelayanan peminjaman yang efisien kepada staf pengajar maupun siswa. Mengatur produksi sumber belajar dalam perpustakaan sekolah (jika d. Pengorganisasian (Organizing) Pengorganisasian atau pengaturan perpustakaan sekolah merupakan tanggung jawab pustakawan sekolah. dan akurat. Menjalankan suatu sistem yang memungkinkan sumber-sumber informasi dalam bentuk perangkat keras (jika dipusatkan). dan controlling (pengendalian). 2. tepat. Lebih lanjut Soelistia. Memberikan sistem yang fleksibel bagi siswa baik perorangan maupun kelompok. dan mengelola perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan para pemakainya. Bahan-bahan atau sumber informasi yang ada di perpustakaan perlu diatur sebaik mungkin sehingga guru maupun siswa yang memerlukannya dapat memperoleh dengan cepat. b. pustakawan sekolah dapat bekerjasama dengan guru untuk menentukan materi atau bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat pendidikan. intisari penulisannya berikut ini: 1. untuk menentukan keterampilan yang dibutuhkan oleh siswa.Problematika Perpustakaan Sekolah (pengorganisasian). Perencanaan (Planning) Perencanaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam proses pengelolaan perpustakaan sekolah. Menyediakan sistem yang efisien mengenai pelayanan pemesanan bahan atau koleksi yang ada di sekolah. serta staf pengajar untuk menggunakan perpustakaan sekolah sebagai tujuan proses belajar mengajar. e. staffing (pengaturan staf). untuk membantu dalam penyediaan bahan sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. Organizing merupakan aspek manajemen yang menyangkut penyusunan organisasi manusia dan bahan atau materi. Kegiatan ini meliputi: a. dkk (1995-26-3-21) menjelaskan tentang manajemen perpustakaan sekolah yang berpedoman pada lima aspek tersebut. directing (pengarahan). Ada beberapa hal penting yang harus dipikirkan dalam tahap perencanaan. Mengidentifikasi pemakai perpustakaan sekolah yang akan dilayani. yaitu: a. 59 . b. Menentukan tujuan perpustakaan sekolah Dalam menentukan tujuan. c.

berkomunikasi dengan staf. 3. (3) evaluasi terhadap pelayanan yang telah dilakukan. perpustakaan sebaiknya memiliki tenaga-tenaga ahli pemikir. baik dari dalam atau pengawasan melekat (built in control) maupun pengawasan dari luar (pengawasan fungsional). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam aspek kontrol di perpustakaan sekolah diantaranya adalah: (1) selalu menyadari tujuan yang sedang dilaksanakan.Sri Marmoah ada). Pengaturan Staf (Staffing) Staffing adalah kegiatan pengaturan. dan pelayanan kepada staf. Dalam kegiatan staffing ini. Perpustakaan sekolah sebagai salah satu sarana sumber belajar yang merupakan bagian dari organisasi sekolah memerlukan sumber daya manusia (SDM) sebagai pengelola perpustakaan. Unsur-Unsur Manajemen Perpustakaan 1. cemerlang. Mengawasi dan mengatur pekerjaan bagi pustakawan atau staf perpustakaan yang lain. dan mempunyai semangat untuk mengabdikan dirinya kepada kemajuan organisasi. Pengarahan (Directing) Dalam konteks perpustakaan sekolah. bermental dan bermoral jujur. Oleh karena itu. dan pelaksana yang handal. termasuk perpustakaan. training atau pelatihan staf. Pengendalian (Controlling) Pustakawan sekolah harus menyadari pentingnya kontrol di suatu organisasi. dan pembinaan staf sesuai tugas dan tanggung jawab yang diberikan berdasarkan kemampuan dan bidang keterampilan yang dimiliki. Manusia (Man) Pada dasarnya maju atau mundurnya sebuah perpustakaan akan sangat ditentukan oleh manusia-manusia yang mempunyai ide. seorang pustakawan sekolah harus mengetahui teknik dan proses yang diperlukan dalam seleksi dan penerimaan staf (staff recruitment). pemantauan. 5. disiplin. pengarahan merupakan tanggung jawab pimpinan perpustakaan. Dengan kata lain peran seorang pimpinan benarbenar diperlukan dalam mendorong staf yang dipimpinnya sehingga mereka dapat bekerja seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan yang diinginkan. 4. gagasan. mau berkurban dan bermotivasi bekerja. Sementara itu untuk pengawasan dapat dilakukan. (2) menghindari kegiatan yang tidak efisien. dalam rangka 60 . perencana. dan konsep yang brilian. dan f.

and they generate a product or a service . yaitu para siswa.consume resources. et. Proses produksi di sini berlangsung dalam suatu organisasi termasuk perpustakaan sekolah yang merupakan bagian integral dari organisasi pendidikan (sekolah). Semua proses merupakan bagian pola umum. non profesional. All processes share a common pattern. dan berkontribusi terhadap peningkatan prestasi belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.. tenaga kependidikan di lingkungan sekolah dan bahkan masyarakat sekitarnya. Layanan dalam bentuk jasa tersebut merupakan suatu proses produksi yang diberikan oleh sumber daya manusia (SDM) pengelola perpustakaan sekolah kepada para pengguna jasanya.al (1995:121-122) menjelaskan tentang keempat posisi staf (SDM) perpustakaan sekolah berikut ini: a.. sebab “Everything that happens in an organization is the result of a process. A process is a series of steps designed to produce an effect. Proses adalah rangkaian langkah-langkah yang dirancang untuk menghasilkan suatu akibat. Seyogyanya 61 . dan juga siswa pembantu . dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan.Problematika Perpustakaan Sekolah menjaga eksistensinya. “ (Soelistia. “ (Jac Fitz-enz. sedangkan layanan dapat berupa jasa. Dengan kata lain manusia merupakan salah satu sumber daya utama dalam menggerakkan proses produksi pada suatu organisasi yang menghasilkan produk dan layanan.al. teknisi. Demikian pula halnya dengan perpustakaan sekolah yang menghasilkan jasa layanan dalam bidangnya. Mereka memerlukan sumbersumber dan menghasilkan suatu produk atau layanan). (Segala sesuatu yang terjadi dalam organisasi adalah merupakan hasil dari proses. Lebih lanjut Soelistia. antara lain layanan peminjaman buku dan layanan referensi. guru. 1995:973). Dalam hal ini sumber daya manusia (SDM) diartikan sebagai “potensi manusia yang dapat dikembangkan untuk proses produksi” (Kamus Besar Bahasa Indonesia.. atau produk dapat berupa barang. memberikan layanan terbaik kepada para pengguna jasanya. Pustakawan Sekolah Pustakawan adalah seseorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu perpustakaan. 11-000:6 1). They. Dalam hal ini sumber daya manusia (SDM) pengelola perpustakaan sekolah adalah staf yang bekerja di perpustakaan. dan “Staf perpustakaan sekolah dapat terdiri staf yang profesional. 1995:19).. et.

Pengelolaannya akuntabel dan responsible e. Orientasinya berdasarkan program (budget based on program) d. misalnya: pengagendaan. Asisten pustakawan Sebagian besar tugas asisten pustakawan adalah “membantu” tugas pustakawan. d. pelayanan peminjaman dan pengembalian bahan pustaka. b. terutama untuk jenis pekerjaan yang bersifat profesi.Sri Marmoah pustakawan sekolah berasal dari guru yang qualified atau memiliki pendidikan perpustakaan. asisten pustakawan dimasukkan ke dalam tingkat semi profesional. Sumbernya pasti b. c. sehingga mereka dapat memiliki pengalaman keterampilan informasi. Penggunaannya menurut rencana c. Sukarelawan murid ini sebaiknya diperbantukan di bagian pelayanan pembaca. menumbuhkan kesadaran dan kecintaannya terhadap buku serta rasa tanggung jawab yang besar. pelabelan. Sumber Pembiayaan (Money) Prinsip-prinsip anggaran atau biaya perpustakaan itu antara lain: a. Manfaat yang diperoleh tentu saja ada pada kedua belah pihak. Teknisi Teknisi adalah tenaga perpustakaan yang sepenuhnya bertugas mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat non profesi. Pertangggungjawabannya menurut aturan tertentu 62 . baik di pelayanan sirkulasi. bagi murid dapat memiliki pengalaman bekerja dengan berbagai bahan pustaka. referensi maupun pelayanan lainnya secara bergiliran. Dari segi tingkatan kualifikasi. Dari segi tingkatan kualifikasi pustakawan dimasukkan ke dalam tingkat profesional. 2. Sedangkan bagi staf perpustakaan lainnya dapat meringankan beban tugas/kerja di perpustakaan. dan sebagainya. pengetikan kartu-kartu. penggandaan. Pustakawan sekolah harus mempunyai kualifikasi dalam bidang pendidikan dan perpustakaan. Sukarelawan Murid Murid-murid dapat dilibatkan dalam kegiatan perpustakaan sebagai petugas sukarela dan senantiasa berada di bawah tanggung jawab petugas perpustakaan.

(e) sarana komunikasi dan transportasi. Mesin-mesin yang biasanya diperlukan di perpustakaan antara lain mesin tik. (d) mesin-mesin. Benda-benda tersebut antara lain: (a) gedung dan ruangan. 3. 5. maupun perlengkapan dan perabot serta sarana prasarana yang lainnya. mesin fax. Semua jenis mesin tersebut dimaksudkan untuk: a. mengemas. Metode (Methodes) Setiap perpustakaan tentu mempunyai suatu metode tertentu yang dipergunakan untuk menjalankan aktivitasnya. mempercepat proses waktu kerja menghemat tenaga manusia (manual) menghemat biaya menghasilkan produk yang berkualitas memperbanyak hasil (luaran) meningkatkan performa dan kinerja perpustakaan 4. Benda dan Barang Inventaris (Materials) Perpustakaan memiliki banyak sekali barang dan benda (materials) baik berupa inventaris. baik spesifikasinya maupun jenisnya dan dipergunakan dengan baik dapat membantu meringankan tugas-tugas dan menunjang pekerjaan perpustakaan. i. h. komputer. memperingan biaya (murah). g. Lebih daripada itu. menyimpan dan menyajikan serta memberdayakan informasi. c. mesin jilid. e. d. dan mempermudah cara. sebuah metode yang dipilih untuk diterapkan di perpustakaan harus dapat membantu mempercepat waktu dan proses. g. Metode tersebut harus jelas. mengolah. (b) perabot dan perlengkapan. (c) koleksi bahan pustaka. mesin pres. baik oleh petugas maupun pemakai perpustakaan. dapat dipahami dan dilaksanakan serta dipergunakan. Sebuah metode yang dipilih jangan 63 . b. Jumlah anggaran diusahakan terus meningkat Pelaksanaannya selalu dapat dikontrol dengan baik Menerapkan sistem efektif efisien Tidak terjadi penyalahgunaan dan pemborosan anggaran Mesin-mesin (Machine) Pada dasarnya perangkat alat-alat yang berupa mesin-mesin yang tepat guna dan memadai. dan memperluas akses informasi. mesin foto kopi.Problematika Perpustakaan Sekolah f. Benda dan barang-barang tersebut harus diurus dan dipergunakan dengan baik. f. Metode yang diterapkan di perpustakaan adalah untuk menghimpun. mempermudah dan menyederhanakan pekerjaan memperingan beban dan tugas.

Kunjungan orang-orang ke perpustakaan untuk membaca/belajar. Sistem. bagaimana persyaratan keanggotaan. Perpustakaan sebagai suatu pusat informasi. Layanan misalnya menggunakan sistem terbuka atau tertutup. Oleh sebab itu. d. mekanisme. Terpenuhinya kebutuhan informasi bagi pengunjung. Tersebarnya informasi dan termanfaatkannya informasi.Sri Marmoah memperlama waktu. karena sangat tergantung kepada kebijakan dan pilihan masing-masing perpustakaan. 64 . katalogisasi. Pasar (Pemakai. dan penentuan tajuk subjek dan lain-lain. Apa yang disebut sistem yang baik bagi sebuah perpustakaan? Hal ini sifatnya relatif. c. Promosi. Sirkulasi atau peminjaman dan pengembalian koleksi bahan pustaka. dan peminjaman. mempersulit akses. Yang dikategorikan metode atau sistem dalam perpustakaan mencakup: a. suatu sistem yang baik untuk satu perpustakaan. dan menikmati hiburan batin dengan bacaan yang menyenangkan. dan proses akuisisinya sendiri. prosedur. Terjadinya akses informasi. mempengaruhi dan bahkan saling menentukan. belum tentu baik untuk perpustakaan yang lain. yang dikerjakan dengan beberapa buku pedoman seperti dalam klasifikasi. Dengan istilah lain. tidak dapat berjalan baik. mana kala tidak diselenggarakan dengan suatu sistem atau mekanisme kerja yang tersusun dan terpola baik. penyiapan anggaran (untuk yang dibeli). atau prosedut dan tata cara guna meningkatkan kinerja penyelenggaraan kegiatan. Pengolahan. dan mempermahal biaya. metode dan tata cara lainnya yang dipergunakan di perpustakaan harus baku (standar). dan seterusnya. terkait. sangat diperlukan dalam rangka mempublikasikan perpustakaan sekolah. sebuah metode dapat terdiri atas sebuah sistem. antara lain: a. b. 6. yang antara satu dan lainnya saling berhubungan. Pengadaan yang dimulai dari perencanaan kebutuhan koleksi bahan pustaka. mekanisme. Pelanggan)/Customers Unsur yang keenam di dalam manajemen perpustakaan adalah pasar atau tempat di mana suatu transaksi (informasi) dapat dilangsungkan. Yang dimaksudkan dengan pasar di sini adalah bahwa perpustakaan memenuhi syarat-syarat dan sifat-sifat yang memungkinkan terjadinya transaksi informasi. d. c. proses seleksi berdasarkan alat-alat seleksi (selection tools). e. b. Sistem biasanya terdiri atas beberapa sub sistem.

Perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka. toko buku. tapi juga pusat penelitian sederhana.Problematika Perpustakaan Sekolah f.(Sutarno 2006: 46). 4) Prinsip-prinsip dan aturan permainan. dikelola secara sistematis untuk digunakan sebagai informasi bagi pemakai perpustakaan. misalnya jalur atau lini. Ada “pembeli” (pemakai perpustakaan). agen). fungsional. Perpustakaan sekolah dipandang sebagai unit organisasi karena perpustakaan sekolah merupakan bagian dari organisasi yang bernaung di bawah lembaga atau sekolah tersebut. Sebuah perpustakaan sebagai 65 . lini dan staf. Fungsi Perpustakaan Sekolah Perpustakaan adalah sumber informasi yang menyediakan segala keperluan bagi masyarakat pemakainya. mengatakan perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah yang bermaksud menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal. staf. Unsur-unsur itu meliputi: 1) Bentuk atau konfigurasi berupa bagan atau skema. b. Fungsi perpustakaan sekolah tidak hanya sebagai sumber kegiatan belajar mengajar. dan organisasi dewan atau panitia. yakni bentuk pembagian tugas. Ada unsur penyedia informasi (penerbit. Ada staf layanan sebagai “penjual”. wewenang dan tanggung jawab. Ada permintaan dan penawaran atau supplay and demmand informasi. yakni formasi jabatan yang harus diisi oleh orang-orang yang tepat sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. penyimpanan dan pemeliharaan berbagai jenis bahan pustaka. c. e. Terselenggaranya layanan perpustakaan. Sedangkan Soetopo (2002). 3) Jabatan-jabatan. f. Unsur pasar (market) di perpustakaan harus memenuhi kriteria antara lain: a. Ada tempat (perpustakaan). dan rekreasi. Ada “perjanjian” (kesepahaman) atau ketaatan aturan layanan dan sanksi bagi mereka yang terlibat di dalamnya. Kalau perpustakaan sekolah dipandang sebagai unit organisasi itu maka harus memiliki unsur-unsur sebagaimana layaknya sebuah organisasi. d. Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang menyelenggarakan pengumpulan. 2) Struktur atau kerangka. baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya.

pengalaman dan keterampilan. Penerapan suatu sistem layanan di perpustakaan sekolah adalah dimaksudkan agar proses pemberian jasa layanan dapat berjalan dengan tertib. mudah dipahami dan dilaksanakan baik oleh petugas maupun oleh pelanggan. keharmonisan komunikasi. Oleh karena dunia ini sudah sangat inclusive maka system pelayanan minimal dianjurkan untuk berangsur-angsur ditinggalkan dan semua perpustakaan sekolah hendaknya menggunakan system pelayanan prima agar bisa mencapai sasaran pelayanannya yakni kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dalam hal ini adalah guru dan siswa. baik secara lisan maupun melalui brosur dan media lainnya yang disediakan. meja informasi. ramah dan berjiwa membimbing (users friendly). Tempat ini merupakan customer service yang terdepan diperpustakaan. terampil.Sri Marmoah salah satu unit kerja memiliki unsur-unsur seperti organisasi. Yang dimaksudkan adalah pelayanan yang berlangsung secara mudah. Sedangkan bagi sekolah yang sudah modern dengan teknologinya maka hendaknya memberikan pelayanan prima. Kedua. kerja sama. pedoman pengadaan anggaran dan ruang lingkup bidangnya. Bagi perpustakaan sekolah yang mempunyai sarana layanan yang masih terbatas dan konvensional maka diupayakan agar dapat memberikan pelayanan minimal kepada pengunjungnya. kemampuan. cepat. garis wewenang dan tanggung jawab. murah serta bermanfaat. dan memuaskan. cepat. Perpustakaan sebagai sebuah unit kerja atau unit organisasi perlu memiliki visi. dan pedoman standar dibidang layanan perpustakaan yang berlaku umum sehingga mudah dipelajari untuk dipraktekkan. adalah tempat pelaksanaan transaksi peminjaman dan pengembalian buku atau bahan pustaka lainnya serta penyelesaian administrasi. dan petugas atau pengisian karyawan. Meja informasi ini merupakan tempat pengunjung memperoleh informasi tentang alur layanan perpustakaan dari petugas. dan program kerjanya yang semuanya berorientasi kepada pelayanan yang memuaskan. Sistem pelayanan prima ini tentunya didukung oleh teknologi industri seperti computer. Formasi jabatan. Unsur-unsur yang terkait dengan system layanan perpustakaan yaitu: kesiapan petugas layanan. 66 . kemauan. fungsi. atau on line. peraturan dan tata tertib perpustakaan yang singkat. meja sirkulasi. kesiapan peralatan dan perlengkapan sebagai penunjang. mental. jelas. misi. Dalam surat keputusan pendiriannya harus memuat secara jelas tentang tugas. Petugas yang ada pada meja terdepan ini sangat diharapkan agar lincah. tepat. Gambaran mekanisme sebagai suatu system layanan yang memuaskan akan terlihat jelas melalui suatu formasi layanan yang jelas diantaranya: pertama. baik fisik. situs. persamaan persepsi antara petugas dan pelanggan. teratur. sederhana. serta struktur organisasinya.

riset. Kemudahan akses informasi dan system temu kembali informasi agar pemanfaatan koleksi bisa optimal dan efisien. Statement ini cukup beralasan karena perpustakaan sekolah berfungsi sebagai sarana edukatif. computer. sementara sekolah yang mempunyai perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. Keenam. Keempat. informatif. Dari pernyataan di atas dapat digarisbawahi bahwa keadaan perpustakaan sekolah masih belum berkembang dan memerlukan penanganan segera. dan rekreatif bagi komunitas sekolah. adalah pengurusan keanggotaan perpustakaan. bagi yang menerapkan sistim anggota. menumbuhkan minat baca. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Bagaimana dengan perpustakaan sekolah pada pendidikan dasar di SD dan SMP ?. dan pengaturan agar suasana diperpustakaan selalu tertib dan tenang. Perpustakaan yang jumlah pengunjungnya masih terbatas perlu diupayakan mencapai standar pelayanan minimal. adalah ketentuan-ketentuan tentang syarat menjadi anggota. peminjaman. peraturan dan tata tertib layanan. internet yang dipergunakan untuk memberikan layanan perpustakaan perlu didukung oleh petugas layanan yang mampu menggunakannya agar dapat memandu pengunjung yang belum mahir menggunakannya. peningkatan dan pengembangan baik untuk sarana pendukung maupun system pelayanan tentunya selalu mengalami penyesuaian. Semua prosedur. kartu catalog sebagai wakil dari koleksi untuk ditelusuri. kemudahan akses informasi. Namun fungsi ini belum berjalan sebagaimana yang diharapkan karena tidak semua sekolah mempunyai perpustakaan.Problematika Perpustakaan Sekolah Ketiga. persyaratan dan proses keanggotaan dilaksanakan menurut ketentuan yang berlaku. Kelima. Jika jumlah pengunjung setiap tahun kecenderungannya meningkat maka upaya perbaikan. Perpustakaan sekolah pada jenjang pendidikan dasar ini sangat diperlukan terutama untuk membantu keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. Sarana pendukung dan mekanisme layanan perpustakaan sangatlah tergantung pada kompleksitasnya perpustakaan itu. Kondisi Riil Perpustakaan Sekolah di Lapangan Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. Sistem pelayanan prima dengan menggunakan teknologi informasi. Semua itu merupakan alat atau media untuk memanfaatkan informasi diperpustakaan. sedangkan perpustakaan yang jumlah pengunjungnya relative banyak maka haruslah diupayakan mencapai standar pelayanan prima. lemari (laci) catalog. sangsi atas pelanggaran. administrasi keanggotaan. Tugas utama 67 . sebelum mencari ke tempat penyimpanan buku-bukunya.

koleksi buku yang terbatas.Sri Marmoah perpustakaan jenis ini adalah menunjang kurikulum. dan Threats (ancaman). sumber daya manusia yang berkompeten. dan pengembangan potensi siswa serta pengembangan sosial budaya siswa. dan ayat 3 yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki koleksi lain yang mendukung pelaksanaan kurikulum pendidikan. Ada banyak hal yang menyebabkan munculnya berbagai permasalahan pada perpustakaan sekolah. serta diakui eksistensinya oleh semua pihak (masyarakat). Maksud kelemahan dalam analisis ini adalah permasalahan yang timbul dari penyelenggaraan program dan hasilnya. terbatasnya ruang perpustakaan 68 . menumbuhkan minat baca. Kedua. kecil. Treath). sebagai sumber pengetahuan. yang tidak mungkin dipenuhi oleh sekolah. sehingga lebih cenderung menggunakan kata yang mengandung unsur positif yaitu tantangan (Challenges). mendorong siswa untuk belajar mandiri. Selain itu yang merupakan kekuatan adalah adanya koleksi buku yang memadai. Sarana perpustakaan yang tidak lengkap. Pertama. gudang ilmu. Sehingga pendekatannya menjadi SWOC. sumber daya perpustakaaan yang rendah. Ada beberapa hal yang sering menghambat fungsi perpustakaan sekolah. sehingga bahan-bahan pustaka harus dikaitkan dengan kurikulum sekolah. Maksud kekuatan dalam analisis ini adalah faktor-fakor yang mendukung penyelenggaraan program. Permasalahan ini dapat kita lihat dengan menganalisis dengan SWOT (Strenghness. Perpustakaan juga berfungsi untuk menggairahkan semangat belajar. dan didukung oleh kebijakan pemerintah. Perpustakaan sebagai sumber belajar di sekolah. Kelemahan. SWOT merupakan singkatan dari kata Strengths (kekuatan). sedangkan tantangan selalu berisi peluang. tidak nyaman. waktu kunjungan terbatas. Kekuatan. dukungan dari kepala sekolah kurang dan keuangan yang sangat minim. Weaknesses (kelemahan). Opportunities (peluang). Pertama. Sebagai contoh disebutkan bahwa lokasi perpustakaan di sekolah yang kurang strategis. yaitu setiap sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional pendidikan. Permasalahan merupakan kelemahan yang dapat berubah menjadi tantangan kelancaran pelaksanaan tugas / program. Hal ini sesuai dengan UU RI No. Menurut Sihombing (2000).43 tahun 2007 tentang perpustakaan pada pasal 23 ayat 1. Opportunity. kata Threats mengandung unsur yang negatif. Weakness. Contohnya kekuatan-kekuatan yang ada pada program perpustakaan sekolah antara lain dapat menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada tanpa harus memenuhi persyaratan tertentu/ ketat. Pengubahan ancaman menjadi tantangan karena dia melihat bahwa ancaman kalau dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi peluang.

Ketiga. Sedangkan menurut Sudarmono (2004) dalam pengembangan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar. Contoh perpustakaan sekolah swasta relatif lebih bagus daripada sekolah negeri. Banyak perpustakaan yang hanya menempati ruang sempit. Kedua. partisipasi pemakainya baik dan aktif. Peluang. tata ruang.Problematika Perpustakaan Sekolah di samping letaknya yang kurang strategis. Tantangan. Idealnya Perpustakaan Sekolah ke Depan Perpustakaan yang ideal harus memenuhi pedoman-pedoman diantaranya adalah lokasi. administrasi. Maksud tantangan dalam analisis ini adalah hal-hal yang harus diatasi. memiliki ruangan yang memadai. memiliki tempat baca yang memadai. melakukan promosi dan menyelenggarakan jaringan kerja sama baik dalam negeri maupun luar negeri. 30% buku pengayaan. terbatasnya jumlah petugas perpustakaan (pustakawan). keterbatasan bahan pustaka. variasi maupun kualitasnya. perpustakaan dikatakan ideal apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: berani memantapkan keberadaan lembaga perpustakaan sesuai dengan jenisnya. 43 Tahun 2007 dan adanya kebijakan dari Dinas Pendidikan tentang wajib adanya perpustakaan sekolah di setiap sekolah. pelayanan terhadap anggotanya dan koleksi buku-buku perpustakaan. direbut. dengan tanpa memperhatikan kesehatan dan kenyamanan. diperbaiki dan ditingkatkan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dalam usaha mencapai tujuan. Ketiga. selalu meningkatkan mutu melalui pelatihan-pelatihan bagi tenaga pustakawan. Kurangnya ajakan untuk mengunjungi perpustakaan menjadikan anak asing terhadap perpustakaan. statis dan mudah puas. Tantangan bukan penghambat. Sebagai contoh adanya dasar hukum yang kuat yakni dengan adanya UU No. Tantangan dapat berubah menjadi peluang bagi perencana yang tidak berperilaku apatis. jenis koleksinya komposisinya 40% buku teks. memiliki perabot yang memadai. struktur organisasi perpustakaan jelas dan berjalan baik. kurangnya promosi penggunaan perpustakaan menyebabkan tidak banyak siswa yang mau memanfaatkan jasa layanan perpustakaan. 30% buku 69 . Keempat. Maksud peluang dari analisis ini adalah hal-hal atau faktorfaktor dari luar program yang kalau dicermati dan dimanfaatkan dengan baik dapat menjadi tumpuan harapan dimasa depan. Keempat. Sedangkan menurut Rachmananta. kriteria dari perpustakaan sekolah yang ideal adalah: adanya status kelembagaan yang kuat. melakukan upaya-upaya pengembangan dan pembinaan perpustakaan terus menerus dari segi sistem manejemen dan teknis operasional. baik dalam hal jumlah. tetapi perangsang untuk mendorong perencana pendidikan luar sekolah untuk lebih kreatif dan dinamis.

70 . standar sarana dan prasarana. Mengacu kepada Undang-undang tersebut sudah semestinya agar perpustakaan sekolah menjadi ideal dan mampu menjawab tantangan masa depan harus memenuhi kriteria tersebut. seharusnya memenuhi kriteria berikut: pertama. standar tenaga perpustakaan. agar perpustakaan sekolah lebih efektif dan efisien dalam pengembangan perpustakaan harus menggunakan manajemen perpustakaan yang benar. penjaga sekolah. standar pelayanan perpustakaan. menjual peralatan sekolah. pelayanannya menyenangkan. Jika SDM-nya cukup berkompeten untuk membuat perpustakaan maju. melakukan kegiatan promosi dan pemasyarakatan perpustakaan. koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan harus terus ditingkatkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Kedua.Sri Marmoah fiksi. Sudah saatnya perpustakaan tidak hanya berisi buku-buku paket. memiliki peraturan perpustakaan. Cara yang ditempuh banyak sekali. bahkan makanan dan minuman. serta judul buku bervariasi. serta souvenir. adanya kerjasama dengan sekolah lain. memiliki sarana penelusuran informasi yang baik. memiliki anggaran perpustakaan secara tetap. dan standar pengelolaan. memiliki tenaga pengelola dengan kompetensi yang memadai. Perpustakaan yang ideal harus mengacu kepada standar nasional perpustakaan. atau seorang honorer yang diberi tugas tambahan untuk mengelola perpustakaan. tetapi berupa buku-buku bacaan yang menarik minat siswa untuk membacanya. administrasi perpustakaannya tertib. pengorganisasian koleksinya teratur. yaitu berhubungan dengan dana dan untuk menambah pemasukan dapat mengembangkan entrepreneurship di perpustakaan. sumber daya yang mengelola di perpustakaan adalah benar-benar seorang pustakawan bukan guru. memiliki program pengembangan secara jelas dan terarah. Perpustakaan yang ideal dan tetap survive dengan perkembangan zaman. Hal keempat. memiliki program pengembangan minat membaca di kalangan siswa. Manajemen ini juga tergantung pada SDM dalam perpustakaan tersebut. Ketiga. didukung dengan teknologi informasi dan komunikasi. koleksi sesuai dengan kebutuhan kurikulum. standar penyelenggaraan. dan adanya jam perpustakaan yang terintegrasi dalam kurikulum. diantaranya selain menjadikan tempat peminjaman buku pada masyarakat. memiliki program keberaksaraan informasi (literasi informasi). memiliki program mitra perpustakaan. Dalam Undang-Undang RI nomor 43 tahun 2007 pada bab III pasal 11 ayat 1 dijelaskan bahwa standar nasional perpustakaan terdiri atas: standar koleksi perpustakaan. perpustakaan juga membuka usaha lain seperti fotokopi. maka perpustakaan akan cepat berkembang.

serta layanan apa saja yang ada di sana. c. berdaya guna bagi siswa. j. dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan layanannya kepada siswa. Diperlukan SDM/pustakawan yang profesional. d. Perlu partisipasi dari semua pihak yang terlibat untuk memajukan perpustakaan sekolah. m. pelatihan. pengembangan termasuk pendanaan. Guru-guru harus mendukung pengembangan perpustakaan sekolah dengan wujud contoh gemar membaca dan menulis makalah. Perpustakaan sekolah dapat bekerjasama dengan perpustakaan umum/daerah. g. kursus. Perlunya perpustakaan di setiap sekolah. Memperhatikan problematika yang ada serta memperhatikan kondisi riil dan yang ideal maka penulis menawarkan beberapa solusi untuk memperbaiki kondisi yang ada. dan kelas IX (SMP). Kerjasama dapat dilakukan dengan study visit untuk mengetahui koleksi apa saja yang sesuai untuk siswa pada usia anak-anak atau remaja. Siswa akhir di sekolah kelas VI (SD). h. Masyarakat sekitar perlu mendukung perpustakaan sekolah misalnya dengan memberikan bantuan buku-buku dan dana. Guru wajib memberikan contoh kepada para siswa dengan rajin membaca di perpustakaan. Komite sekolah dan stakeholder harus memikirkan eksistensi perpustakaan sekolah agar dapat berhasil. Guru-guru sampai penjaga sekolah dilibatkan secara aktif untuk mengelola perpustakaan. a. e. l. i. pengembangan SDM.Problematika Perpustakaan Sekolah Alternatif Solusi Mengefektifkan Peran Perpustakaan Sekolah. hal ini akan sangat membantu mendorong dan mengembangkan minat kemampuan serta kebiasaan membaca yang pada gilirannya dapat membentuk sikap siswa untuk belajar mandiri. Perlu adanya kebijakan dari sekolah dan pemda untuk mengembangkan perpustakaan sekolah. untuk dikumpulkan dan dijadikan koleksi perpustakaan. Guru-guru yang penataran. f. b. jurnal. 71 . Kepala sekolah sebagai manajer atau pimpinan perlu menjadwalkan secara khusus kunjungan ke perpustakaan. k. setelah selesai diwajibkan untuk memberikan copian baik berupa softcopi maupun berupa buku-buku. diwajibkan untuk memberikan hibah berupa buku-buku ke sekolah. hal ini dalam rangka membudayakan peninggalan kenang-kenangan untuk sekolah. dll.

Ketiga. pelayanan sebaiknya dilakukan saat istirahat dan atau setelah keluar sekolah. menumbuhkan minat baca. dapat dicari solusinya dengan tiga hal yang disarankan yaitu: pertama. 2. Alternatif solusi dalam pemecahan problematika perpustakaan sekolah dengan memberdayakan unsur-unsur manajemen yang ada pada lembaga sekolah. Pemanfaatan ICT sebagai sarana dalam meningkatkan kualitas layanan dan operasional telah membawa perubahan yang besar di perpustakaan. Perkembangan dari penerapan ICT dapat diukur dengan telah diterapkannya/ digunakannya sebagai sistem informasi manajemen (SIM) perpustakaan dan perpustakaan digital (digital library). perpustakaan cukup melayani peminjaman buku kepada siswa untuk dibawa ke rumah dalam beberapa lama sesuai ketentuan. Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. pengarahan (directing). KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan.Sri Marmoah Selain itu dengan pengelolaan (manajemen) perpustakaan yang baik akan dapat menarik para siswa senang berkunjung dan memanfaatkan sarana tersebut. 5. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Sebagai contoh yaitu dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. sebaiknya perpustakaan dikunjungi oleh siswa sebagai tempat belajar setelah keluar sekolah. Sedangkan alternatif solusi bagi perpustakaan sekolah pemula. Agar efektif dan efisien dalam mencapai tujuan perpustakaan sekolah. Sebagai contoh yaitu dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. 72 3. untuk itu pelayanannya juga disesuaikan dengan kebutuhan siswa. atau yang belum memadai. pengaturan staf (staffing). Kedua. maka dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Perpustakaan sekolah yang ideal harus mengacu kepada standar nasional perpustakaan. . harus mengacu kepada fungsi manajemen yang mencakup perencanaan (planning). Dengan pengelolaan (manajemen) perpustakaan yang baik akan dapat menarik para siswa senang berkunjung dan memanfaatkan sarana tersebut. dan pengendalian (controlling). 4. Perpustakaan sebagai sumber informasi di sekolah memiliki peran yang penting dalam menunjang kegiatan belajar mengajar. pengorganisasian (organizing).

3. Komite sekolah dan stakeholder harus memikirkan eksistensi perpustakaan sekolah agar dapat berhasil dan berdaya guna bagi siswa. Pengelola perpustakaan dan tenaga kependidikan hendaknya saling berkoordinasi sebagai sarana untuk meningkatkan pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar yang menyenangkan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. Manajemen Perpustakaan Sekolah. pengembangan SDM. Darmono.al. New York: AMACOM (American Management Association). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menjadi Pintar: Memanfaatkan Perpustakaan Sekolah sebagai Sumber Belajar. 5. Jakarta: Balai Pustaka. Perlu adanya kebijakan dari sekolah dan pemda untuk mengembangkan perpustakaan sekolah. 1995. Depdikbud. Perpustakaan Sekolah. ------------. et. The ROI of Human Capital (Measuring the Economic Value of Employee Performance). Kepala Sekolah sebagai manajer atau pimpinan sekolah perlu menjadwalkan secara khusus kunjungan ke perpustakaan.Problematika Perpustakaan Sekolah Rekomendasi Saran yang dapat dikemukakan dalam rangka mencari solusi dari problematika perpustakaan sekolah. Perpustakaan Nasional RI. Cetakan ke-2 Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. 2004. 4. Jakarta: Universitas Terbuka.. 73 . Jac. DAFTAR RUJUKAN Ali Lukman. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. dan Memelihara Perpustakaan di Sekolah. 2. Fitz-enz. dan lain-lain. 1992. adalah : 1. Guru dan tenaga kependidikan lainnya hendaknya mengarahkan peserta didik untuk lebih memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar untuk memperoleh informasi yang mereka inginkan. 1995. dkk. Petunjuk untuk Membina. 2000. Soelistia. Malang: UM Press. 2002. Memakai. pengembangan termasuk pendanaan.

Strategi dan Pemikiran Perpustakaan Visi Hernandono. Jakarta: Sagung Seto. Suatu Pendekatan Praktik. 74 .Sri Marmoah Sutarno. dkk. NS. Manajemen Perpustakaan. 2006. Sutoyo. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto. 2001.

seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator).Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 1. Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya. Kata kunci: perilaku sekolah. administrator (administrator). mengemban misi. Oleh karena itu. kepala . administrator (administrator). seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator). dan pencipta iklim kerja (climator). Kepala sekolah adalah orang kunci yang menentukan sukses atau gagalnya sekolah dalam mencapai tujuannya. penyelia (supervisor). 4. entrepreneurship harus dicontohkan oleh guru-guru dan kepemimpinan kepala sekolahnya. ia mampu bekerja keras dan berani menanggung risiko. pengelola (manager). yaitu seorang kepala sekolah yang mampu mengelola sumber daya manusia maupun nonmanusia secara efektif dan efisien. Keefektifan suatu sekolah dalam menggapai visi. ia belum mampu membimbing guru dan staf tata 75 kepemimpinan. dan menjalankan aktifitas pendidikan mempersyaratkan adanya seorang kepala sekolah yang efektif. pengelola (manager).wirausahawan (entrepreneur). wirausahawan (entrepreneur). Selain itu. dan pencipta iklim kerja (climator). entrepreneurship. Pengamatan sekilas di lapangan. pemimpin (leader). Hal ini ditunjukkan sebagai educator. selama ini menunjukkan bahwa sebagian Kepala Sekolah agaknya masih belum memainkan peranannya secara optimal. Budaya kita adalah budaya paternalistik. mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui). penyelia (supervisor). kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. No. Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. April 2009 PERILAKU KEPEMIMPINAN ENTREPRENEURSHIP KEPALA SEKOLAH Rokhmaniyah Universitas Negeri Jakarta Abstrak Tugas pokok Kepala Sekolah adalah mengelola kegiatan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. PENDAHULUAN Tugas pokok Kepala Sekolah adalah mengelola (memanaj) penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok. Untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok. pemimpin (leader).

mutu. memiliki sifat-sifat pemimpin. Sebagai entrepreneur. Dengan demikian. ia belum memiliki kemampuan manajerial seperti memenej sekolah. dan waktu (belum BMW). Kreatif. mengkoordinasikan tugas-tugas stafnya. membaca peluang sekolah dalam meningkatkan minat calon siswa masuk ke sekolahnya. motivasi guru dan siswa agar memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas. mengelola konflik dan stres. dan Menyenangkan (PAKEM). Selain itu. Belum memiliki perencanaan program sekolah yang mantap dengan pelaksanaan yang belum tepat. Pada hal di era globalisasi sekarang ini secara khusus lebih dibutuhkan kepemimpinan enterprneurship agar lulusannya mampu menciptakan lapangan kerja bukan mencari pekerjaan. dapat mengurangi pengangguran bukan menambah pengangguran. Sebagai Supervisor. lulusan akan memiliki life skill dan out come. memperbaiki sistem insentif. ia belum mampu menciptakan budaya sekolah. mengambil keputusan. mengembangkan unit produksi sekolah. Sebagai climator. dan mengelola waktu. Sebagian Kepala Sekolah kita masih berperilaku lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas lulusannya.Rokhmaniyah usaha dalam melaksanakan tugas-tugasnya. menggunakan kekuasaannya dengan baik. Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya. Masih lebih mementingkan pencapaian target kurikulum daripada kualitas daya serap siswanya. kepala sekolah belum mampu melaksanakan pengawasan secara ketat sehingga hasil praktik siswanya belum bernilai ekonomis dalam arti belum hemat biaya. ia belum mampu memenuhi kriteria sukses. Efektif. mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui). ia belum mampu bertindak kreatif dan inovatif. dan memasarkan hasil unit produksi sekolah dan lulusannya. ia lebih disibukkan pada penyelesaian tugas administratif daripada edukatif. Akibatnya. dan memiliki perilaku pemimpin. Hal ini jelas sebagai dampak dari perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah. memberikan pendidikan yang bermutu bagi lulusannya sehingga dunia usaha dan industri mengeluh terhadap rendahnya mutu lulusan SMK. 76 . bekerja sama dengan pengusaha. Sebagai leader. Dalam rangka pemberdayaan Kepala Sekolah. dan menciptakan suasana Pembelajaran yang Aktif. hasil pembelajaran belum mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan pengalaman kewiraswastaan bagi siswanya. memotivasi siswa belajar. membuat rencana strategik. kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. membangun memotivasi guru bekerja. Sebagai manager. penulis ingin menyoroti perilaku entrepreneushipr kepala sekolah.

mengajak. Awal tahun 1934. b. kepemimpinan merupakan motor penggerak bagi sumber daya yang dimiliki lembaga. mendorong. Selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi entrepreneur yang artinya pengusaha. Berdasarkan definisi dan hakikat kepemimpinan di atas dapat disimpulkan bahwa proses kepemimpinan pada hakikatnya dapat muncul kapan dan dimanapun. Menjelang pertengahan abad ke-18. entreprendre yang artinya mengusahakan. d.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah PEMBAHASAN Perilaku Kepemimpinan Perilaku (KBBI. Orang yang memimpin Orang-orang yang dipimpin Kegiatan atau tindakan penggerakkan untuk mencapai tujuan Tujuan yang ingin dicapai bersama Jadi. Menurut Richard Cantillon dalam Leo-Paul Dana(1997). Entrepreneurship Entrepreneurship atau kewirausahaan atau kewiraswastaan merupakan kata benda dari entrepreneur. dan bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 77 . Joseph A. wirausaha. Hakikat kepemimpinan adalah kegiatan seseorang menggerakkan orang lain agar orang lain berkenan melaksanakan tugas-tugasnya. entrepreneur berfokus pada seseorang dan untuk 200 tahun yang akan datang. Schumper dalam Peggy A Lambing & Charles R. para peneliti masih akan mendiskusikan apakah entrepreneur yang sukses merupakan bakat yang dibawa lahir atau tidak. atau wiraswasta. dan menuntun orang lain dalam proses kerja agar berfikir. Adapun kepemimpinan secara sederhana dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses mempengaruhi. c. Richard Cantillon (1730) adalah seorang yang disebut-sebut sebagai pencetus istilah entrepreneur untuk pertama kalinya. Kuehl (2003) menggambarkan entrepreneur sebagai seorang yang membuat produk baru dan memasarkannya. menggerakkan. Kata entrepreneur berasal dari bahasa Prancis. apabila ada unsur-unsur: a. Oleh karena itu kepemimpinan disebut sebagai fungsi organik dalam proses manajemen. bersikap. 2002) adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan.

Kao(1991) mendefinisikan. lebih umum. Pertama. Kedua. Lambing dan Charles R. Gifford Pinchot menyarankan sebelum seseorang memutuskan akan membuka usaha. kebebasan. Ciputra dalam Andreas Harefa (2006) mengatakan bahwa sedikitnya ada tiga ciri-ciri utama seorang entrepreneur. keuntungan finansial. seorang entrepreneur adalah pengambil risiko. pertama-tama yang perlu dimiliki oleh seorang entrepreneur adalah bakat memasarkan produk barang dan jasa. berani mengambil risiko. ”One who reforms or revolutionises the pattern of production by exploiting an invention or. Selanjutnya. Ketiga. Sebenarnya di dalam kreator sudah termasuk inovator. Karena inovatif adalah salah satu gaya dari kreatif. inovator dengan memperhatikan nilai waktu dan usaha. Rodney Overton (2002) mendefinisikan enterpreneur sebagai. Alan J. maka pertamatama yang harus diperhatikan adalah pemasarannya. baik risiko yang bersifat finansial (baca: rugi). Schumper di atas dikembangkan oleh Peggy A.” (Seseorang yang membentuk kembali atau mengubah dengan cepat bentuk produksi melalui penggalian penemuan atau. Adapun. an untried technological a new coomudity or producing either an old in a new way. kepuasan pribadi. seorang entrepreneur mampu melihat peluang bisnis yang tidak dilihat atau diperhitungkan oleh orang lain. kreatif memiliki empat gaya: (1) intuitif yang berfokus pada hasil pengalaman masa 78 . seorang entrepreneur adalah orang yang betindak untuk melakukan inovasi. more generally.Rokhmaniyah Pendapat Joseph A. psikis. Menurut beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa enterpreneurship ialah seseorang yang berusaha secara mandiri. menggunakan teknologi sebagai sebuah komoditi baru atau memproduksi yang lama dengan cara baru). Tindakanlah yang membuat entrepreneur menjadi inovator. Gifford Pinchot (1988) mengatakan bahwa Entrepreneur adalah orang yang mengintegrasikan bakat rekayasa dan pemasar dengan menciptakan proses dan jasa baru. Apalah artinya banyak barang dan jasa yang dihasilkan tetapi tidak laku dijual di pasaran. Menurut Gifford Pinchot. ia melihat kemungkinan dan memiliki visi untuk menciptakan sesuatu yang baru yang memicu semangatnya untuk bertindak. dan kreator. “Entrepreneur both innovator and creator. senang berpetualang. Kuehl yang menyatakan bahwa seorang entrepreneur tidak hanya memproduksi barang dan jasa baru tetapi juga sebagai pencetus ide (gagasan) atau konsep baru. Barang akan menumpuk dan akhirnya usaha akan bangkrut. Oleh sebab itu. senang menghadapi tantangan. mengubah keadaan yang tidak/kurang menyenangkan menjadi keadaan yang diinginkan. John J. memperkirakan keuangan. maupun yang bersifat mental (baca: dianggap gagal). Rowe(2008).

bukan modal sendiri tetapi modal sekolah. Kepala Sekolah yang Berperilaku Enterpreneurship Berdasarkan pengertian perilaku kepemimpinan dan entrepreneurship di atas. Howard Morhaim dalam Kathleen L. Oleh sebab itu. Kepala Sekolah tidak bebas mengatur dirinya sendiri tetapi masih diatur oleh sekolah. Hawkins (1993) memperingatkan dengan berkata. Pandai membaca peluang dan mau bekerja keras. maka ia bekerja untuk sekolahnya sehingga semua tindakannya dibatasi oleh aturan-aturan sekolah. dan berpikir di luar kebiasaan. dan berdasarkan data. kepala sekolah adalah seorang inspirator bagi munculnya ide-ide kreatif dan inovatif dalam mengelola sekolah. senang menulis. Berani menanggung risiko. Sebagai intrapreneur. dan (4) inspiratif berfokus pada perubahan sosial dan memberikan ilham.” 79 . keindahan.” Seseorang dapat membawa gaya kreatifnya sendiri pada suatu usaha dan tindakan itu bukan saja akan membuat usahanya berjalan lancar bahkan kelancaran usaha itu akan dapat terjadi disebabkan karena adanya kreativitas Anda tersebut. Mengingat Kepala Sekolah bukanlah seorang entrepreneur sejati karena ia tidak bekerja mandiri tetapi didukung oleh warga sekolah dan stakeholders-nya apalagi semua keuangan disiapkan oleh pemerintah atau yayasan untuk sekolah swasta. apakah sebagai seorang kepala sekolah telah menciptakan sesuatu yang berguna bagi pengembangan sekolah dan belum pernah ada sebelumnya. tetapi sebagai seorang entrepreneur harus mampu menemukan jalan untuk menyelesaikannya. (2) inovatif yang berkonsentrasi pada pemecahan masalah. berarti dapat dikatakan telah mampu berkonsentrasi dan melihat hal-hal secara lengkap baik itu berupa tugas-tugas sekolah maupun tugas pribadi. Walaupun dalam kesehariannya seorang kepala sekolah menghadapi tugas rutin yang tidak menyenangkan. bukan bekerja untuk sendiri tetapi untuk sekolah. (3) imajinatif yang dapat menggambarkan peluang. Bila telah merasa mendapat nilai tinggi dalam disiplin diri. Renungkan.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah lampau yang mengarahkan untuk bertindak. lebih tepat disebut sebagai intrapreneurship. Singkatan dari intrasekolah dan preneurship. Refleksi atau menilai diri sendiri adalah menjadi kebiasaan. maka yang dimaksud dengan perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. sistematika. Sebagai seorang kepala sekolah yang entrepreneurship harus memiliki pribadi yang kreatif yang harus mau belajar mendisiplinkan dirinya untuk berurusan dengan tugas dan kewajibannya.

administrator(administrator). Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. dan mampu melihat berbagai cara pemecahan masalah.” Jika jangkauan perilaku Anda lebih luas dibandingkan orang lain. Bila dalam usaha atau tidakan yang telah direncanakan mengalami ketidakberhasilan maka secara tulus segera meminta maaf dengan berusaha untuk memperbaikinya.” Artinya.” kebanyakan agen yang berhasil dalam usaha mereka ialah orang-orang yang tenang dan mempunyai pikiran tajam yang tahu bagaimana melakukan sesuatu. berlaku sopan. dan teguh dalam perundingan kontrak. Anda mempunyai cukup banyak variasi untuk mengendalikan dan mengarahkan situasi menurut kesukaan Anda. Penguasaan kemampuan yang baik untuk berhubungan dengan orang-orang perlu dimiliki. Seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik(educator). pengelola(manager). dan pencipta iklim kerja(climator). kepala sekolah adalah seorang inspirator bagi munculnya ide-ide 80 . dapat menyesuaikan diri.Rokhmaniyah Selanjutnya. Program sekolah tidak akan tercapai bila sekolah tidak pandai menjalin komunikasi baik dengan stakeholders. Tindakan mengambil risiko berkaitan dengan pertumbuhan. sebagai kepala sekolah yang berjiwa entrepreneurship harus mau mengembangkan dirinya dan menajamkan pikirannya sehingga mampu membaca peluang serta mampu menyelesaikan tugas sesuai dengan tujuan yang diharapkan. kepercayaan bawahan terhadap kepala sekolah tetap terjaga. Menjalin kerja sama dengan dunia industri atau dunia usaha adalah penting bagi kepala sekolah. Untuk memperlancar kegiatan pembelajaran yang memusatkan pada life skill diperlukan dukungan dari orang lain / masyarakat / wali siswa / dunia industri / dunia usaha.” Dalam hal ini kepala sekolah dapat menerapkan kepemimpinan situasional. wirausahawan(entrepreneur). penyelia(supervisor). pemimpin(leader). Berani menanggung risiko sangat baik dibandingkan sibuk mencari pembelaan diri. pengendalian diri. Dengan demikian. Sebagai intrapreneur. Richardon menerangkan. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Kepala sekolah adalah orang kunci yang menentukan sukses atau gagalnya sekolah dalam mencapai tujuannya. perubahan. Morhaim menambahkan. dan kesadaran akan harga diri. Kepala sekolah yang entrepreneurship haruslah dapat bersifat luwes.

Upper Saddle River. Upper Sadle River. Rowe. J. Pte.. Ltd . 2003. P. 2008. Hawkins. Are You An Entrepreneur? Singapore: Wharton Books. & Turla. Untuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pendidikan dan latihan kepemimpinan entrepreneurship sangat penting diadakan untuk meningkatkan perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah. New Jersey: Prentice Hall 81 . 1993. P. K. (Diterjemahkan oleh Dabar Publisshers).R. & Kuehl. A.A. The Enterpreneur. 2002. Ujilah Tingkat Kecerdasan Anda sebaga Seorang Wirausaha. Creative Intelegence Discovering the Innovative Potential in Ourselves and Others. Overton. 1993 Kao. Pengawasan terhadap peningkatan kompetensi kepala sekolah hendakanya dilakukan secara rutinitas sehingga kepala sekolah termotivasi untuk selalu meningkatkan kinerjanya. J. Solo: DABARA. Lambing. Kerja sama dengan stakeholders harus senantiasa dibina dengan baik demi menghasilkan lulusan yang berkualitas. 2003. R.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah kreatif dan inovatif dalam mengelola sekolah. New Jersey: Prentice Hall. Upper Saddle River. Pandai membaca peluang dan mau bekerja keras. 2006. C. Berani menanggung risiko. L. New Jersey: Prentice Hall. The Ciputra Way: Praktik Terbaik Menjadi Entrepreneur Sejati. Englewood Cliftts. DAFTAR RUJUKAN Andreas Harefa dan Eben Ezer Siadari. Refleksi diri sangat penting dilakukan secara rutin sehingga dapat melihat tingkat keberhasilan dalam mengelola sekolah. Enterpreneurship. Jakarta: PT Alex Media Komputindo. Rekomendasi Untuk Kepala Sekolah Kepala sekolah hendaknya selalu meningkatkan kompetensi kepala sekolah khususnya kompetensi wirausahawan (intrapreneur) sehingga dapat memberi contoh dan motivasi terhadap warga sekolah. 1991. A.

1. Pendidikan bertaraf internasional juga harus relevan. Pendidikan bertaraf internasional yang efisien adalah pendidikan yang menghasilkan standar mutu lulusan optimal (berstandar nasional dan internasional) dengan pembiayaan yang minimal. maka Pemerintah telah menetapkan pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang bertaraf internasional. No. efisiensi. baik untuk sekolah negeri maupun swasta. kondisi lingkungan. Pendidikan bertaraf internasional yang bermutu adalah pendidikan yang mampu mencapai standar mutu nasional dan internasional. maka upaya yang dilakukan oleh Pemerintah. Penetapan standar dan kriteria tersebut diarahkan untuk mewujudkan tujuan sebuah sekolah yang memiliki daya saing pada tingkat nasional dan internasional. Kepemimpinan Kepala Sekolah dan RSBI. Mandikdasmen Depdiknas Abstrak Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu aspek penting dalam komponen input pada sistem pendidikan nasional. . 82 3. seperti yang tertuang dalam Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) adalah: 1. Kebijakan pemerintah dalam RSBI ditetapkan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah harus memiliki tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. Selain itu terdapat pula 16 kriteria seorang kepala sekolah yang memimpin RSBI. orang tua. yaitu penyelenggaraan pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. dan kemampuan pemerintah daerahnya (kabupaten/kota dan provinsi). Kata Kunci: Kebijakan Pemerintah. relevansi. 2. berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan yang bertaraf internasional tersebut. Selanjutnya.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. kondisi sekolah. dan peningkatan daya saing secara nasional dan sekaligus internasional pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. 4. masyarakat. April 2009 KAJIAN ATAS KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH PADA SMPN 115 JAKARTA SEBAGAI SALAH SATU RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI) Ujang Didi Supriadi Direktorat SMP Ditjen. PENDAHULUAN Dalam upaya meningkatkan mutu.

. Era globalisasi yang menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam teknologi. proses belajar mengajar. manajemen dan sumber daya manusia. empat pilar pendidikan yaitu learning to know. 4. maka dalam penyelenggaraan SBI. relevan. dan kemampuan peserta didik. learning to live together. Penyelenggaraan SBI didasari oleh filosofi eksistensialisme dan esensialisme. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Nasional Pendidikan. learning to do. Sedangkan filosofi esensialisme menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi relevan dengan kebutuhan. guru. d. beberapa alasan yang melatarbelakangi perlunya pendidikan bertaraf internasional yang selanjutnya disebut sebagai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). terutama pada Pasal 50 ayat 3. menumbuhkan dan mengembangkan bakat. b. maupun kebutuhan berbagai sektor dan sub sektornya. dan daya saing yang kuat. Filosofi eksistensialisme berkeyakinan bahwa pendidikan harus menyuburkan dan mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitasi yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Menurut Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008). Dalam upaya peningkatan mutu. yang dimulai dari kurikulum. diantaranya adalah: 1. 83 a. and learning to be merupakan patokan berharga bagi penyelarasan praktek-praktek penyelenggaraan pendidikan Indonesia. c. sarana dan prasarana. Pendidikan bertaraf internasional harus memiliki daya saing yang tinggi dalam hal hasil-hasil pendidikan (output & outcome). nasional. 2. maupun internasional. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 menetapkan skala prioritas utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional ke-1 tahun 2004-2009 untuk meningkatkan kualitas dan akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan. keluarga. baik lokal.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah 4. dan input baik secara nasional dan internasional. hingga sampai penilaiannya. efisien. proses. minat. Dalam mengaktualisasikan kedua filosofi di atas. 3. baik kebutuhan individu. properubahan. kebijakan yang dijadikan landasan oleh pemerintah adalah: Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Memiliki visi. 7. 6. proses. dan nilai-nilai. administrator. 3. Kepala sekolah sebagai penanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan pada sekolah bertaraf internasional memiliki fungsi yang strategis. penyelia. Menjalankan dimensi-dimensi tugas. misi. mengelola dan menganalisis sekolah. dan pembangkit motivasi. Menurut Slamet PH (2004) seperti yang dikutip dalam Panduan Pelaksanaan Pembinaan SMP SBI diungkapkan bahwa kepala sekolah SBI harus memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. 4. Di dalam Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) telah dituliskan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah yang memimpin SBI adalah kepala sekolah dengan tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. namun berujung pada kualitas yang lebih tinggi lagi yaitu standar internasional. maka tentunya akan dipimpin oleh seorang kepala sekolah dengan kemampuan berstandar internasional. Menggunakan sistem sebagai cara berpikir. Memobilisasi sumber daya. pembaharu. Komitmen tersebut telah dituangkan ke dalam kebijakan pemerintah dalam pendidikan nasional seperti yang disampaikan di atas. pemimpin. pencipta iklim kerja. tetapi tidak toleran terhadap orang-orang yang meremehkan kualitas. 5. terlihat bahwa Pemerintah memiliki komitmen yang sangat tinggi dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Salah satu aspek yang menjadi penting dalam upaya pemenuhan kualitas pendidikan yang berstandar internasional tersebut.Ujang Didi Supriadi Beberapa hal yang telah disampaikan di atas. Kemampuan mengambil keputusan secara terampil. lingkungan. Tolerasi terhadap perbedaan pada setiap orang. Kemampuan dalam mengkoordinasikan menyerasikan sumberdaya dengan tujuan. 9. Menjalankan perannya sebagai manajer. 2. 8. Menggunakan input manajemen. sebuah sekolah yang berstandar internasional. wirausahawan. 84 . dan strategi. standar prestasi. peran kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu aspek yang menjadi aspek yang paling penting. regulator. Hal ini dikarenakan. Peningkatan kualitas tersebut tidak lagi berujung pada standar kualitas nasional. pendidik. dan keterampilan personal.

13. dan 16. Mr. Adi Dasmin dan Mr. para pejabat Kodya Jakarta Selatan. Sebagai upaya peningkatan mutu internasional. Menerapkan manajemen berbasis sekolah. Beberapa kriteria yang disampaikan di atas bahwa Pemerintah melalui kebijakan peningkatan kualitas pendidikan yang bertaraf internasional telah membuktikan bahwa kepala sekolah merupakan salah satu komponen dalam sistem pendidikan yang menjadi faktor penentu tercapainya kualitas pendidikan bertaraf internasional tersebut. Ivan sebagai Pupil Development). yaitu merumuskan sasaran. Memusatkan perhatian pada pengelolaan proses belajar mengajar. 15.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah 10. Herman Cher Ma'in (Wakil Kepala Sekolah QSSS) dan disaksikan oleh 3 guru dari QSSS (Mr. 11. Gary sebagai guru ICT dan Mr. 12. selanjutnya dari Dinas Pendidikan Nasional DKI Jakarta diwakili oleh Dr. Bpk. melakukan analisis SWOT dan mengupayakan langkah-langkah untuk meniadakan persoalan. Menjalankan gejala empat serangkai. memilih fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran. MSi selaku Kepala Dinas. Menciptakan sekolah belajar. Salah satu sekolah yang telah terpilih menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) adalah SMP Negeri 115 sejak tahun 2007. telah ditetapkan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah merupakan salah satu komponen input yang turut menentukan tercapainya kualitas pendidikan bertaraf internasional. Penandatanganan ini dilakukan oleh Kepala Sekolah Semabel's. dan dihadiri pula oleh seluruh Kepala Sekolah SMPN RSBI se-DKI Jakarta. Sylviana Murni. pada bulan Maret 2008 SMPN 115 telah melakukan kerja sama kepada Queensway Secondary School Singapore (QSS). 85 . Hj. Menggalan teamwork yang cerdas dan kompak. SH. Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam menjadikan SMPN 115 sebagai RSBI merupakan salah satu aspek penting untuk disampaikan pada makalah ini. Mendorong kegiatan-kegiatan yang kreatif. 14. Dimana bila ditelaah melalui kebijakan pemerintah. Memberdayakan sekolah. Justin sebagai guru Bahasa Inggris.

Ia bertanya pada bawahannya dengan pertanyaan apa dan mengapa?. Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan. bertanya (Democratic). sehingga kepemimpinan menjadi sangat penting perannya dalam sebuah organisasi. Develops (mengembangkan). ada kalanya pemimpin memberi kesempatan bawahan untuk berdiskusi. Does the right thing (mengerjakan yang benar). melalui gayanya tersebut. seorang pemimpin ada kalanya pemimpin tidak memberi kesempatan pada bawahannya untuk bertanya ataupun minta penjelasan (Authoritarian). 86 . dan ada kalanya pemimpin itu membiarkan kondisi yang ada terserah pada bawahan (Laissez -fair) (The Iowa Leadershi Study) (Luthans. Gagasannya memiliki prespektif jangka panjang. Kepemimpinan itu ada pada diri pemimpin/manajer. Gagasan-gagasan yang dimiliki oleh pemimpin merupakan gagasan sendiri tidak meniru ataupun mencontoh gaya kepemimpinan orang lain. An original (asli dari pemimpin). Ia menentang status quo. Pemimpin selalu berupaya untuk mengembangkan apa yang ia lakukan. Ia bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh bawahannya. dan ia mengerjakan yang benar. ia tidak puas dengan apa yang ada. dan selalu menyalakan api kepercayaan pada anggota organisasi. Longrange perspective (memiliki prespektif jangka panjang). Keberhasilan sebuah organisasi sangat bergantung dari keberhasilan peran pemimpin. Kepemimpinan menurut Northouse (2003:3) merupakan suatu proses dimana individu mempengaruhi kelompok untuk mencapai tujuan umum. Own person (mengakui tanggung jawab ada pada pemimpin). Challenges the Status quo (menentang kemapanan). Luthans (2002: 576) menegaskan bahwa karakteristik pemimpin di Abad XXI adalah: Innovates (menciptakan sesuatu yang baru). Ia percaya pada bawahan. Focuses on people (terkonsentrasi pada manusia). 2002: 577). Pemimpin memiliki karakteristik selalu memiliki upaya untuk menciptakan hal yang baru (selalu berinovasi). Originates (memiliki keaslian). Selain itu menurut Dubrin (2001:3) bahwa kepemimpinan itu adalah kemampuan untuk menanamkan keyakinan dan memperoleh dukungan dari anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Dari aspek karakteristik dibedakan antara karakteristik pemimpin (leader) dengan karateristik manajer. Asks what and why (ia menanyakan apa dan mengapa). Eye on the horizon (berpandangan sama pada sesamanya). Inspires trust (menghidupkan rasa percaya).Ujang Didi Supriadi LANDASAN TEORI Kepemimpinan Kepala Sekolah Setiap organisasi selalu dipimpin oleh seorang pemimpin.

Studi klasik tentang teori kepemimpinan telah mengembangkan gaya kepemimpinan yang kontinum Boss-Centered dan Employee Centered. (9) membangun kerja tim. Close. Kajian terhadap teori kepemimpinan terus berkembang pada teori Sifat (Trait Theories). Democratic. Networking. Consideration. Komponen dari Boss-Centered (meliputi: Theory X. Gaya kepemimpinan yang mendasarkan pada dua dimensi yaitu perhatian terhadap tugas (Concern for Task) dan perhatian terhadap karyawan (Concern for People) telah melahirkan teori gaya kepemimpinan yang terkenal dengan The Blake and Mouton Managerial Grid. Traditional Management. teori Kelompok dan Tukar Menukar (Group and Exchanges Theories). manajer ataupun pimpinan memiliki peran (role). toeri Kepemimpinan Karismatik (Charismatic Leadership Theories). (3) mengelola pengambilan keputusan. teori Kepemimpinan Transformasional (Transformational Leadership Theory) (Luthans. teori Contingency. teori Jalur dan Tujuan (Path-Goal Leadership Theory). Decisional Roles. General. dan memecahkan permasalahan. Human relations. dan skill. Gaya kepemimpinan tersebut telah mendasari teori Tannebaum and Schmidt Continuum of Leadership Behavior. Participative. Pimpinan memiliki peran Interpersonal Roles. Pembahasan kepemimpinan juga dikaji tentang gaya kepemimpinan (Leadership Style). dan (10) mengelola konflik (Luthans. dan Human Resource Management. Sedangkan Employee Centered memiliki komponen: Theory Y. Serta skill bagi pemimpin adalah: (1) komunikasi verbal. (4) mengakui. Sedangkan kegiatan mereka adalah: Routine Communication. dimana pada akhir Perang Dunia ke 2. dan pengakuan terhadap kebutuhan individu dan hubungan (Consideration). (7) menetapkan tujuan dan menjelaskan visi. 2002: 619627). Informational Roles. (2) mengelola waktu dan stress. (5) memotivasi dan mempengaruhi orang lain. Berikutnya berkembang pula gaya kepemimpinan situasional yang dikembangkan oleh Harsey dan Blanchard yang kemudian dikenal dengan Harsey dan Blanchard’s Situational Leadership Model. Employee-Centered. Supportive.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah Studi dilakukan oleh The Ohio State Leadership Study. Autocratic. (8) memiliki kesadaran diri. Directive). Production Centered. Task-directed. 87 . Initiating Structure. menjelaskan. 2002: 579-589). kegiatan. Sebagai pemimpin. didapatkan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa kepemimpinan ditujukan pada penyelesaian tugas atau orientasi pada sasaran (Initiating Structure). (6) mendelegasikan wewenang. Selanjutnya penelitian dilanjutkan oleh The Early Michigan Leadership Study menunjukkan bahwa kepemimpinan itu adalah perhatian terhadap karyawan (employee-centered) dan juga perhatiannya terhadap proses produksi (production-centered).

Atas dasar pengertian di atas. kata kebijakan umumnya dipakai untuk menunjukan pilihan terpenting yang diambil baik dalam kehidupan organisasi atau privat. dan apa akibat dari tindakan tersebut. Menurut Alisjahbana (2000). Dye dalam Parson (2005) adalah : “public policy is whatever governments choose to do or not to do”. Jika yang menjadi tujuan adalah pemberian kewenangan di sektor pendidikan yang lebih besar kepada pemerintah daerah. maka pengertian dari kebijakan pendidikan merupakan sebuah pilihan stratejik yang dilakukan pemerintah karena berkaitan dengan kepentingan masyarakat banyak di bidang pendidikan.Ujang Didi Supriadi Kebijakan Pendidikan Pengertian kebijakan publik menurut Thomas R. desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan dalam hal kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah (propinsi dan distrik). maka fokus desentralisasi pendidikan yang dilakukan adalah pada pelimpahan kewenangan yang lebih besar kepada pemerintah lokal atau kepada Dewan Sekolah. Kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan diungkapkan oleh Alisjahbana (2000) memiliki dua jenis desentralisasi pendidikan. Dilain pihak. yaitu: pertama. tujuan dan orientasi dari desentralisasi pendidikan sangat bervariasi berdasarkan pengalaman desentralisasi pendidikan yang dilakukan di beberapa negara Amerika Latin. jika yang menjadi tujuan desentralisasi pendidikan adalah peningkatan kualitas proses belajar mengajar dan kualitas dari hasil proses belajar mengajar tersebut. dana pendidikan yang berasal yang pemerintah dan masyarakat). Sedangkan menurut Lasswell (1951b). atau dengan kata lain kebijakan publik merupakan studi tentang apa yang dilakukan pemerintah. maka desentralisasi pendidikan lebih difokuskan pada reformasi 88 . dan kedua. Konsep desentralisasi pendidikan yang pertama terutama berkaitan dengan otonomi daerah dan desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan dari pusat ke daerah. Sehingga kebijakan bebas dari konotasi yang dicakup dalam kata politis yang sering kali diyakini mengandung makna keberpihakan dan korupsi. Amerika Serikat dan Eropa. seperti yang dikutip oleh Parson (2005). sedangkan konsep desentralisasi pendidikan yang memfokuskan pada pemberian kewenangan yang lebih besar pada tingkat sekolah dilakukan dengan motivasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. mengapa pemerintah mengambil tindakan tersebut. desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah. Implisit ke dalam strategi desentralisi pendidikan yang seperti ini adalah target untuk mencapai efisiensi dalam penggunaan sumber daya (school resources.

Tipologi Kewenangan-kewenangan Pendidikan yang Dapat Didesentralisasikan Sumber: Alisjahbana (2000) 89 . Dalam kenyataannya.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah proses belajar-mengajar. tipologi komponen-komponen sektor pendidikan yang dapat dipertimbangkan untuk didesentralisasikan dapat dilihat dalam Tabel 1 berikut: Tabel 1. Partisipasi orang tua dalam proses belajar mengajar dianggap merupakan salah satu faktor yang paling menentukan. desentralisasi pendidikan yang dilakukan di banyak negara merupakan bagian dari proses reformasi pendidikan secara keseluruhan dan tidak sekedar merupakan bagian dari proses otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Desentralisasi pendidikan akan meliputi suatu proses pemberian kewenangan yang lebih luas di bidang kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat kepemerintah lokal dan pada saat yang bersamaan kewenangan yang lebih besar juga diberikan pada tingkat sekolah Selanjutnya menurut Alisjahbana (2000).

profesional untuk mencapai keunggulan mutu pendidikan baik nasional maupun internasional dengan karakteristik seperti penggunaan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya sebagai bahasa pengantar secara aktif dan penggunaan ICT (Information and Communication Technology) dalam pembelajaran.Ujang Didi Supriadi PEMBAHASAN Kepemimpinan Kepala Sekolah SMP N 115 dalam Membangun RSBI SMP Negeri 115 Jakarta merupakan sekolah yang berdiri sejak tahun 1978. ditambah konsep pembelajaran berwawasan global yang bertujuan mengembangkan potensi diri peserta didik. Pemerintah menetapkan SMPN 115 Jakarta sebagai salah satu Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). SMP Negeri 115 Jakarta atau sering disebut SMABELS. Tapi juga diimplementasikan dalam manajemen sekolah (pendidikan) yang di dalamya 90 . Prestasi yang diraih adalah sebagai sekolah dengan rata-rata nilai UAN tertinggi di DKI Jakarta selama 3 tahun terakhir. Selama dua setengah tahun renovasi gedung itu berjalan. Dari tahun-ke tahun hingga kini banyak lulusan SD se-DKI Jakarta yang berlomba-lomba ke SMP Negeri 115 Jakarta Sejak tahun 2008. maksudnya adalah sekolah ini memiliki kelas berstandar pendidikan internasional yang ditunjukan dengan penyelenggaraan pendidikan beserta segala aspek intensitas dan kualitas layanan yang ditata secara efektif. telah tercatat berbagai prestasi yang telah diraih oleh siswa-siswinya. bahkan SMP Negeri 115 Jakarta ini merupakan pemasok terbesar siswa-siswi SMA Negeri 8 Jakarta yang merupakan sekolah SMA unggulan di DKI Jakarta. Tekad kepemimpinan kepala sekolah berserta seluruh komponen sekolah untuk menjadikan SMPN 115 sebagai sekolah bertaraf international tidak saja direalisasikan dalam pengadaan berbagai fasilitas. Setelah berjalan 20 tahun gedung yang ditempati SMP Negeri 115 Jakarta akhirnya direnovasi oleh Pemda DKI Jakarta yaitu pada tahun 2001. dan pada awal tahun 2005 renovasi selesai dan mulai menempati gedung baru yang megah. Sekolah ini berlokasi di Jalan Tebet Utara III Jakarta Selatan. Hal ini tentu tak terlepas dari pembinaan para guru dan kepemimpinan kepala sekolah. Selain itu prestasi lainnya seperti di Olimpiade Sains Nasional maupun ajang kompetisi lokal dan internasional telah memotivasi sekolah ini menjadi SBI. sarana dan prasarana. Kombinasi prestasi akademik dan non akademik. telah menempatkan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 115 Jakarta sebagai 'prototype' Rintisan Sekolah Bertaraf International (RSBI).

orkestra & paduan suara) telah mencapai juara I Pop Song Interasional. Selain itu. Kepemimpinan Kepala Sekolah memiliki visi bahwa konsep SBI sesungguhnya telah sejalan dengan visi dan misi SMPN 115 yaitu menjadikan peserta didik yarig cerdas dan kompetitif di tingkat nasional maupun international. pemberdayaan peran guru sangat dimaksimalkan dimana para guru harus memahami situasi dan prestasi anak didik sehingga semua permasalahan yang muncul di kelas harus segera ditangani secara bersama. Selain itu pula telah berhasil dalam kejuaraan olahraga yang membawa SMPN 115 juara lomba renang tingkat regional di Thailand. Untuk mendukung prestasi sekolah. unggul dalam prestasi akademik dan non akademik melalui peningkatan ketaqwaan. untuk menuju sekolah internasional juga diimplementasikan melalui penerapan Kelas Bilingual dan Kelas Internasional yang diisi oleh siswasiswi pilihan dan dalam proses belajar mengajar dominan menggunakan bahasa asing. laboratorium bahasa. Guna mencapai visi tersebut. Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Luthans (2002: 576) bahwa salah satu karakteristik pemimpin di Abad XXI adalah memiliki prespektif jangka panjang (Longrange perspective). pengembangan diri dan kemampuan menguasai iptek di era globalisasi. moral. SMPN 115 telah menyelenggarakan proses pembelajaran dengan orientasi prestasi. termasuk memberikan dukungan penuh kepada siswa dalam upaya meraih 2 medali di Olimplade Sains Nasional 2007 di Surabaya Jawa Timur. Seluruh siswa dan siswi memiliki kesempatan sama besarnya untuk berprestasi baik di dalam dan di luar pelajaran. Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan di atas. misalnya pengadaan laboratorium IPA. kepemimpinan kepala sekolah SMP N 115 tidak 91 . Selaku kepala sekolah. metode. Artinya. tari.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah mencakup kurikuluin. terlihat bahwa kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki visi prestasi hingga mencapai tingkat internasional akan mampu mendorong sekolah untuk mewujudkan visi tersebut. Untuk prestasi di luar pelajaran (ekstra kurikuler) seperti lewat pentas seni (band. SDM (guru dan tenaga kependidikan) pemanfaatan fasilitas. kepemimpinan kepala sekolah mencoba melakukan pendekatan kepada seluruh siswa selama di sekolah dengan menempatkan wali kelas dan guru pendamping untuk memantau proses belajar mengajar. sarana olahraga dan kreativitas seni. Sejak berdiri 1978 sebagai sekolah reguler. perpustakaan. kepemimpinan kepala sekolah sangat menekankan pada kelengkapan fasilitas belajar dan mengajar.

melakukan kerja sama dengan lembaga lain. komunikasi. Sehingga melalui kemampuannya dalam berbahasa Inggris tersebut. Untuk mendukung kualitas sekolah. Persyaratan ini telah dipenuhi oleh Kepala Sekolah SMPN 115 Jakarta yang telah menempuh pendidikan pasca sarjana (S2) dan kemampuanya dalam berbahasa Inggris. namun visi membangun prestasi sekolah yang unggul telah diinspirasikan untuk jangka panjang jauh sebelum pemerintah mengeluarkan kebijakan SBI. manajemen ISO 9000:2001. Sehingga karakteristik kepala sekolah yang tangguh dan berwawasan internasional dapat tercapai secara bertahap dan berkelanjutan. 92 . kepemimpinan kepala sekolah dapat menjalin komunikasi dan kerja sama kepada sekolah berskala internasional di Singapura. penguasaan teknologi informasi dan telekomunikasi. bahasa Inggris. Kebijakan Pemerintah dalam Mengembangkan Kepemimpinan Kepala Sekolah pada Sekolah Bertaraf Internasional Kebijakan pemerintah dalam kualifikasi kepemimpinan kepala sekolah pada SBI diterangkan pada Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) telah dituliskan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah yang memimpin SBI adalah kepala sekolah dengan tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. Pada Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) juga disampaikan bahwa di semua sekolah yang telah bertarafkan internasional. yaitu Queensway Secondary School Singapore (QSS). kepala sekolah yang bertaraf internasional harus memiliki tingkat pendidikan minimal S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A. kepemimpinan kepala sekolah telah pula menjalankan fungsi Networking dengan melakukan kerja sama kepada sekolah internasional yang berbasis di Singapura. Kerja sama ini dilakukan sebagai upaya untuk saling tukar-menukar informasi dalam menjalankan manajemen pendidikan. menajemen. Upaya pencapaian visi tersebut tidak hanya terbatas dalam prestasi akademik dan non-akademik. dan sebagainya. dan sebagainya.Ujang Didi Supriadi hanya ingin mencapai prestasi di tingkat nasional. keterampilan dalam berbagai bidang. Di dalam hal tingkat pendidikan yang harus ditempuh. kepribadian. diantaranya adalah pelatihan. sehingga kedua sekolah dapat saling belajar keunggulan-keunggulan yang dimiliki. magang. Sehingga adanya kebijakan baru tentang SBI telah memudahkan SMP N 115 dalam meraih predikat tersebut. memiliki kewajiban dalam upaya meningkatkan kapasitas kepala sekolahnya melalui berbagai kegiatan. Adapun materi pengembangan kapasitas tersebut diantaranya dalam hal kemampuan intelektualitas.

yaitu peran pemerintah sebagai payung kebijakan pengembangan pendidikan bertarafkan internasional. Demikian halnya dalam mencapai tujuan organisasi pendidikan yang diarahkan memiliki taraf kualitas internasional. dan peran sekolah melalui kepemimpinan kepala sekolah dalam menjalankan kebijakan sekolah bertaraf internasional. dalam kebijakan di bidang pendidikan memiliki dua jenis desentralisasi pendidikan. pembimbingan. Kebijakan pemerintah dalam memberikan kualifikasi kepemimpinan kepala sekolah dalam memimpin sebuah sekolah yang bertarafkan internasional telah mendukung percepatan pencapaian tujuan yang ingin dicapai. KESIMPULAN Kepemimpinan memiliki peran yang paling strategis dalam mencapai tujuan organisasi. Desentralisasi pendidikan tersebut telah membagi dua peran yang saling menunjang. Pada dimensi ini peran pemerintah (baik pusat maupun daerah) memberikan kebijakan sebagai arah masa depan pendidikan sehingga format pendidikan secara nasional memiliki keseragaman yang akan dicapai. Seperti yang telah diungkapkan oleh Alisjahbana (2000). Selanjutnya pada dimensi kedua.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah Selain itu. dan pengarahan. desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan dalam hal kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah (propinsi dan distrik). penempatan/pengangkatan. Peran tersebut harus mengedepankan aspek profesionalitas dan kualitas dalam pengembangan kepemimpinan kepala sekolah bertaraf internasional. Di dalam penerapannya. maka dapat dilakukan dengan menerapkan kebijakan desentralisasi. adalah desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah. peran Dinas Pendidikan Kabupaten dan Provinsi dalam meningkatkan kapasitas kepala sekolah dapat dilakukan sebagai pembinaan. yaitu: pertama. Dalam hal ini peran kepemimpinan kepala sekolah sangat dominan dalam membawa sekolah menuju prestasi internasional. 93 . seperti yang telah dijalankan oleh SMPN 115 Jakarta. kebijakan pendidikan dalam upaya mewujudkan sekolah yang berstandarkan internasional melalui peningkatan peran kepemimpinan kepala sekolah.

Luthans. A. Practices. and Skills. Makalah untuk disampaikan pada Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung. P. Leadership: Research Findings. Ninth Edition. Armida S.Ujang Didi Supriadi DAFTAR RUJUKAN Alisjahbana. Boston: Houghton Mifflin Company. Departemen Pendidikan Nasional. Wayne. 2002. 2005. Third Edition. Leadership: Theory and Practice. 2001. J. Dokumen: Panduan Pelaksanaan Pembinaan Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraf Internasional (SMP-SBI). Singapore: McGrawHill International Editions Northouse. Parsons. 2003. Tahun 2008. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama. Third Edition. Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan.G. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.Public Policy: Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan. Fred. Organizational Behavior. Jakarta: Penerbit Kencana. New Delhi: Response Book. 2000. 94 . Dubrin.

pembelajaran. collective focus on student learning. inovasi sekolah. April 2009 PEMIMPIN KOMUNITAS PEMBELAJARAN Zainun Misbah Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen. peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah cukup strategis dalam mengembangkan KPP sekaligus mengembangkan kompetensi sesuai tuntutan peraturan dan tuntutan perubahan zaman. Dari beberapa kajian tersebut karakteristik KPP yang mendukung keberhasilan pembelajaran adalah adanya reflective dialogue. 4. collaboration dan shared norms and values. Kepala sekolah dituntut untuk menjadi pemimpin pembelajaran dalam artian bahwa semua warga sekolah dipimpin untuk terus meningkatkan mutu pembelajaran mereka. pemimpin PENDAHULUAN Sekolah merupakan tempat transaksi pembelajaran berlangsung. Kata Kunci: Komunitas pembelajaran profesional. Selama tiga puluh tahun belakangan ini kajian tentang KPP terus dilakukan sebagai upaya pengembangan dan inovasi sekolah. Siswa belajar ilmu-ilmu pelajaran untuk bekal hidup. dan kepala sekolah belajar dalam memimpin pembelajaran (leading in learning). Hasil-hasil kajian sekolah telah banyak digunakan pengambil kebijakan untuk menentukan arah pembangunan pendidikan 95 . Kajian tentang school effectiveness berkembang cukup pesat sebagai usaha mengkaji keefektifan sekolah. guru. tenaga administrasi dan seluruh warga sekolah sudah seharusnya terus belajar dan mengembangkan diri menjadi pembelajar agar keberhasilan sekolah terwujud. Siswa. PMPTK Depdiknas Abstrak Kajian tentang Professional Learning Community (PLC) atau Komunitas Pembelajaran Profesional (KPP) telah dilakukan oleh peneliti pendidikan dan dipublikasikan dalam beberapa jurnal ilmiah. 1. guru-guru belajar dari kegiatan mengajarnya (teaching for learning). No. Karenanya. Meski demikian penelitian tentang efek KPP terhadap nilai siswa belum banyak dilakukan. Berbagai kajian telah dilakukan untuk menilai keberhasilan sekolah baik dari prestasi siswa maupun pengembangan profesi guru dan tenaga kependidikan yang ada di dalamnya.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. de-privatization of practice.

2008). and Kruse (1996) mengemukakan ada dua hal penting dalam komunitas professional. serta penguatan tata kelola. level kelas. Louis. (10) pengelolaan kurikulum. (7) pemberdayaan orang tua dan masyarakat. engage in 96 . Marks. (9) tata tertib dan kedisiplinan. (3) pemantauan terhadap kemajuan siswa. demikian juga mengembangkan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan lainnya. akuntabilitas dan pencitraan publik. Wenger (2000. Newman dan Wehlage (dalam Oden. Hord (1997) menyatakan bahwa “professional learning communities can be a significant force for empowering staff that leads to school change and improvement and increased student outcomes. Lebih lanjut.” Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji tentang komunitas pembelajar professional dari beberapa literatur dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. (8) penghargaan dan insentif. kajian tentang Professional Learning Community (PLC) atau Komunitas Pembelajaran Profesional (KPP) secara kualitatif dan kuantitatif terus dilakukan. Ke-11 karakteristik tersebut saling mendukung dalam mendorong terselenggaranya proses pembelajaran yang efektif di sekolah (Direktorat Tenaga Kependidikan. (5) pengembangan siswa.Zainun Misbah baik di tingkat individu peserta didik. 229) menyatakan bahwa ‘that professional communities share cultural practices reflecting their collective learning process’. level sekolah ataupun lingkup nasional. 2003). Diharapkan dengan semakin banyaknya referensi tentang komunitas pembelajar profesional dapat meningkatkan upaya inovasi pendidikan di Indonesia sehingga terjadi akselerasi peningkatan mutu pendidikan dengan mempertimbangkan perluasan dan pemerataan akses pendidikan. Kajian ini menyimpulkan berbagai karakteristik proses sekolah efektif meliputi: (1) perencanaan dan pengembangan sekolah. relevansi dan daya saing pendidikan. yakni deprivatized practice and reflective dialogue (dalam Grodsky & Gamoran. 2004) menjelaskan professional community sebagai : “possessing three general traits in which teachers pursue a shared sense of purpose for student learning. (2) iklim dan budaya sekolah. peningkatan mutu. tulisan ini juga mencoba menggali peran kepala sekolah yang cukup strategis dalam mewujudkan KPP dan memimpin organisasi pembelajar. PENGERTIAN PROFESSIONAL LEARNING COMMUNITIES Ada banyak definisi yang berbeda tentang Professional Learning Community (PLC). dan (11) akuntabilitas sekolah. (5) pengembangan guru dan staf. (4) kepemimpinan kepala sekolah. Borman & Fermanich. Pada beberapa tahun belakangan ini. KPP dipandang sebagai salah satu proses dalam pengembangan sekolah yang dapat memperbaiki sistem pengajaran di kelas.

Adanya pengajaran secara berkelompok yang terjadi Adanya kerjasama yang terjadi diantara berbagai peran yang berbeda (contohnya guru dengan staf pendukung). and take collective responsibility for student learning”. Kerjasama yang bertujuan pada pembelajaran.Pemimpin Komunitas Pembelajaran collaborative activities to achieve this purpose. Ada pernyataan mengenai nilai-nilai yang dikembangkan bersama dan dipahami oleh semua. mencari tahu mengenai praktek-praktek pembelajaran mereka dan bersama-sama mempelajari pendekatan yang baru dan yang lebih baik yang akan meningkatkan pembelajaran seluruh siswa’. adanya budaya kerjasama. Adanya kolaborasi yang terjadi di seluruh sekolah dan juga kerjasama antar bidang pelajaran yang diperlukan. adanya refleksi dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Kesamaan visi dan nilai • • Adanya fokus yang sama terhadap pembelajaran siswa dan keterlibatan mereka. jadi tidak hanya pada peran yang sama. menemukan solusi. Dengan demikian dalam suatu KPP terdapat tanggung jawab bersama dalam meningkatkan pembelajaran siswa. adanya kesamaan nilai dan norma yang berlaku. baik di dalam dan di luar lingkungan terdekat mereka. Kesemuanya itu bermuara pada memfasilitasi siswa belajar dengan lebih baik. Ada tekanan dari teman sebaya pada mereka yang tidak mengerjakan bagiannya dengan baik. • Staf secara bersama-sama bertanggung jawab atas pembelajaran siswa. • Staf mempunyai harapan yang tinggi terhadap siswa. Tanggung jawab bersama atas pembelajaran siswa. Stoll dkk (2005) mengidentifikasi karakteristik dari KPP yang dapat meningkatkan proses pembelajaran adalah sebagai berikut: 1. • Ada budaya peningkatan yang tampak jelas. yang didorong oleh motivasi pembelajaran yang sama. • 97 . • 3. serta kerterbukan dan sharing terhadap praktekpraktek pembelajaran yang dilakukan untuk evaluasi dan peningkatan dan penjaminan mutu. • • • Perencanaan tim dan kerjasama tim adalah suatu hal yang biasa terjadi. Stoll dkk (2005) menyatakan bahwa ‘komunitas pembelajaran profesional adalah komunitas terbuka yang melibatkan semua orang. 2. yang mendukung dan bekerjasama satu sama lain.

contohnya hasil penilaian. Contohnya: pengamatan timbal balik. contohnya tutor sebaya. evaluasi diri. • • 6. nilai tambah (value-added). Data dianalisis dan digunakan sebagai bahan refleksi dan pengembangan. dan penelitian tindakan. Latihan yang penuh pemikiran sangat dihargai. dan penelitian tindakan. Terdapat pembelajaran kelompok dan individual yang profesional • • Semua staf termasuk staf pendukung terlibat dan menghargai pembelajaran profesional Ada sejumlah kegiatan pembelajaran professional dan perkembangan berkesinambungan yang berlangsung. pusat pelatihan. proyek penelitian dan pengembangan. Data dianalisa dan digunakan sebagai bahan pemikiran dan perkembangan. Staf mengambil tanggung jawab bersama untuk mempromosikan dan mendukung pembelajaran satu sama lain. lokakarya. pertambahan nilai dan penilaian untuk pembelajaran. dan penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning). demonstrasi pembelajaran. Penelitian dan pencarian mempengaruhi pengejaran dan pembelajaran sebagai contoh pengamatan mutual. • • • • • 98 . • Masukan (input) dari siswa sangat dihargai. kreatif dan berani mengambil resiko sangat didukung. Pencarian profesional yang penuh pemikiran • • Refleksi terhadap praktek-praktek dihargai Penelitian dan inkuiri mempengaruhi pengajaran dan pembelajaran. institusi pendidikan yang lebih tinggi dan badan-badan lainnya.Zainun Misbah 4. Keterbukaan. jaringan dan kemitraan • • • Inisiatif dari luar digunakan untuk menganalisa apa yang terjadi di dalam Semua orang terbuka akan perubahan Staf secara aktif terlibat dalam kemitraan dengan pihak eksternal dan jaringan pembelajaran dengan sekolah. evaluasi diri. Pemikiran yang inovatif. Masukan dari siswa sangat dihargai. 5. memandu pembelajaran siswa dan lainlain. contohnya hasil penilaian. forum pembelajaran.

Sebagai inti dari konsep komunitas pembelajaran professional adalah berasal dari asumsi pada premis meningkatkan kualitas belajar siswa dari kualitas pengajaran di kelas. KOMUNITAS PEMBELAJARAN PROFESIONAL BAGI MANFAAT SEKOLAH Stoll dkk (2005) menyatakan bahwa komunitas pembelajaran professional yang efektif mempunyai kemampuan untuk mendorong dan mempertahankan pembelajaran dari semua profesional di komunitas sekolah dengan tujuan bersama untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Sumber daya sekolah dapat secara sinergis bekerjasama dan berkolaborasi menuju cita-cita yang sama dengan merefleksikan dan mendiskusikan masalah-masalah dan mencari solusi secara bersama-sama. Stoll dkk (2005) menyarankan langkah-langkah untuk mengembangkan KPP adalah sebagai berikut: 1. manfaat yang bisa diperoleh dengan terciptanya komunitas pembelajaran di sekolah diantaranya terciptanya iklim pembelajaran yang kondusif. bukan hanya komunitas-komunitas kecil yang banyak. Ada satu kumunitas besar yang melibatkan seluruh staf disekolah.Pemimpin Komunitas Pembelajaran 7. ruang dan pengembangan KPP. 8. Rasa percaya. pendanaan digunakan untuk mendukung 99 . Pengawas atau anggota komite sekolah terlibat dalam KPP. Upaya terbaik dari pada staff dan guru sangat dihargai Staf merasa kompeten. atau koles. Manfaat adanya komunitas pembelajaran profesional tersebut akan dirasakan jika tahapan-tahapan dalam mengembangkan KPP dilaksanakan dengan sungguhsungguh. rasa hormat. adanya upaya inovasi sekolah dalam perbaikan pembelajaran. Ada rasa percaya dan hormat yang mutual. Karenanya. dan lain sebagainya yang masih terus dikaji oleh para peneliti pendidikan. adanya peningkatan kompetensi kepemimpinan. Keanggotaan yang inklusif • • • Staf pendukung dihargai sebagai anggota yang memberi kontribusi kepada KPP. Mengoptimalisasikan sumber daya dan struktur untuk mempromosikan KPP • Waktu. dan dukungan yang mutual • • • • Hubungan kerja bersifat positif. fasilitasi pembelajaran peserta didik yang lebih baik. pusat.

Zainun Misbah

• •

Gagasan mengenai KPP disertakan dalam dokumem-dokumen kebijakan dan rencana-rencana pengembangan. Ruangan staf, ruang kerja staf dan ruang belajar digunakan untuk pembinaan dan pembelajaran masyarakat.

2.

• ICT digunakan untuk meningkatkan komunikasi yang lebih efektif. Mempromosikan pembelajaran yang profesional • • Perkembangan yang professional dikoordinasikan untuk mempromosikan pembelajaran semua staf. Manajemen atau penilaian kinerja, induksi, profil perkembangan professional, dan mentoring bersifat konsisten dengan nilai-nilai untuk menggembangkan KPP.

• • 3.

Ada penekanan terhadap latihan dan pemahaman bersama. Ada dukungan yang diberikan untuk membantu mengembangkan strategi dan keahlian pembelajaran dan pengajaran. Mengevaluasi dan Mempertahankan KPP • Pengembangan dan kemajuan KPP diawasi secara teratur. • • • Adanya pembahasan yang jelas mengenai KPP beserta tujuan dan pengembangannya. Nilai-nilai KPP dipertimbangkan saat membuat pilihan untuk merekrut dan memberhentikan staf. Perhatian diberikan terhadap masalah-masalah yang menghalangi pengembangan KPP. memberikan

• 4.

Teman-teman yang kritis diundang untuk masukan/pandangan dari luar. Memimpin dan Mengelola untuk mempromosikan KPP

• • • • •

Pemimpin memusatkan perhatian pada pembelajaran untuk semua. Pembinaan kepercayaan dan merayakan keberhasilan menjadi prioritas. Pemimpin selalu melakukan pencarian pengetahuan dan mendorong hal ini pada yang lain. Pemimpin memberikan contoh pembelajaran dan melatih rekanrekannya.

Kepemimpinan dalam pembelajaran disebarkan di seluruh sekolah, pusat pelatihan atau institusi pendidikan. Dengan mengembangkan KPP, kepala sekolah dapat menemukan kepuasan yang mendalam karena seluruh warga sekolah memiliki tanggungjawab kolektif untuk keberhasilan siswa dan keberhasilan sekolah. Setiap warga sekolah memiliki 100

Pemimpin Komunitas Pembelajaran

kesadaran bahwa mereka memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil kerja siswa dan juga sadar atas peran mereka dalam membantu siswa mencapai harapannya. Kepala sekolah juga dapat terus mengembangkan kompetensinya dalam mengelola administrasi dan komunitas sekolah, memperbaiki sistem pembelajaran di kelas, dan juga mengembangkan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosialnya secara terintegrasi. Kepala sekolah memiliki peran penting dalam mengembangkan KPP, utamanya dalam mendorong perubahan agar senantiasa terdapat kesempatan refleksi dalam pembelajaran baik oleh siswa, guru maupun kepala sekolah; meningkatkan budaya kolaborasi dan kerjasama warga sekolah, semakin memfokuskan pada pembelajaran siswa, dan kesamaan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di sekolah. Inovasi sekolah juga akan lebih cepat berkembang dengan adanya KPP karena salah satu karakteristik KPP adanya shared vision dan value. Sejalan dengan Gladwell (2002), bahwa komunitas akan merubah nilai dan pandangan individu, “karena ketika orang dimintai pendapat tentang suatu kejadian atau harus membuat keputusan dalam suatu kelompok, mereka cenderung memberikan kesimpulankesimpulan sangat berbeda dibanding ketika pertanyaan serupa diajukan kepada tiap orang sesudah tidak bersama kelompoknya lagi. Begitu kita menjadi bagian sebuah kelompok, kita semua rentan terhadap tekanan dan norma-norma sosial serta bermacam-macam pengaruh lain yang dapat berperan penting dalam proses awal perubahan (sekolah).” KOMUNITAS PEMBELAJARAN PROFESIONAL DI INDONESIA Budaya organisasi dan berkumpul dan bekerja secara bersama-sama ini cukup kental di Indonesia. Dalam konteks dunia pendidikan di Indonesia, komunitas pembelajaran kepala sekolah terlihat dalam wadah semisal Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) dan lain-lain. Para kepala sekolah dalam satu wilayah mengadakan pertemuan dan merefleksikan peran dan tanggung jawab mereka, dan masalah-masalah yang dihadapi dalam melaksanakan peran tersebut. Namun demikian banyak pihak yang menganggap forum tersebut belum dapat dioptimalkan dan diberdayakan dengan baik karena diantaranya permasalahan dana, terbatasnya kemauan dan kemampuan sumberdaya manusia, kurangnya pemahaman pentingnya jejaring dan komunitas pembelajaran profesional, dan lain sebagainya.

101

Zainun Misbah

MKKS & KKKS, sebagai contoh KPP di Indonesia, perlu diefektifkan lagi agar manfaat yang diperoleh semakin nyata. Stoll dkk (2005) menunjukkan tiga cara menentukan keefektifan dari KPP adalah sebagai berikut: KPP mempunyai dampak pada pembelajaran siswa dan pengembangan sosial KPP mempunyai dampak pada semangat dan tindakan staf, dengan potensi untuk mengembangkan kemampuan memimpin. 3. Semua karakteristik KPP ada pada tempatnya dan semua proses berjalan lancar yang merupakan bagian dari ’cara kami melakukan sesuatu’. Selain aktif dalam komunitas pembelajaran profesional dalam skala distrik (district based level) seperti dalam MKKS dan organisasi kepala sekolah, kepala sekolah perlu membangun komunitas pembelajaran profesional di sekolahnya. Kepala sekolah memimpin warga sekolah untuk mengidentifikasi apa yang kurang di sekolahnya, dan apa yang perlu ditingkatkan. Kegiatan dilanjutkan dengan melakukan refleksi dan berbagi dengan warga sekolahnya sehingga semua warga sekolah mempunyai rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap mutu sekolah. Namun perlu disadari bahwa membangun KPP diperlukan waktu yang cukup lama untuk membangun keterbukaan, kepercayaan, fokus yang sama dan karenanya tidak bisa dilakukan secara instant. Kepala sekolah perlu ’mempelajari proses dan manejemen perubahan’, tidak hanya mengharapkan sekolah berubah ke arah yang lebih baik, tetapi terus ’berusaha dan mencari’. KESIMPULAN DAN SARAN Pemerintah telah berupaya memfasilitasi peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi tenaga kependidikan dengan berbagai upaya. Komunitas Pembelajaran Profesional untuk meningkatkan mutu sekolah perlu terus diupayakan baik di tingkat sekolah maupun antar sekolah. Kalaupun sudah terbentuk wadah-wadah pertemuan untuk jejaring kerja pendidik dan tenaga kependidikan seperti MKKS, MGMP, MKPS dan asosiasi profesi tenaga kependidikan, perlu kiranya ditingkatkan dan diberdayakan lagi dengan mengingat konsep dan karakteristik-karakteristik KPP. Komunitas Pembelajaran Profesional pada level sekolah juga perlu diupayakan, dan tentunya peran kepala sekolah sangat penting dan strategis dalam mengimplementasikan konsep KPP di sekolahnya. Pengambil kebijakan sudah semestinya mendukung dan mendorong upaya sekolah mewujudkan KPP. Kajian tentang KPP pun perlu terus dilakukan dan disebarluaskan agar percepatan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dapat segera terlihat dan terukur. 1. 2.

102

S.M.dfes. S. Leader and Learning. University of Bristol. dkk.us/education/PLC/Prof_Lrng_Community.. Organization: the interdisciplinary journal of organization. 6-11.ca. theory and society. Stoll.pdf Wenger. (2008). DfES Research Report RR367.gop. (2000). Available at www. Gramedia : Jakarta. Principal Leadership. R. December 26 – 30. Gladwell.fsusd.pdf Direktorat Tenaga Kependidikan (2008). What is professional learning community? In: Schools as learning communities. Tipping Point. (2004). Available at http://schools. 103 . Depdiknas : Jakarta. Hirsh. Kumpulan Materi Pembekalan Fasilitator Program Kemitraan Kepala Sekolah Angkatan VI Tahun 2008. Communities of practice and social learning systems. M.Pemimpin Komunitas Pembelajaran DAFTAR RUJUKAN DuFour. Creating and Sustaining Effective Professional Learning Communities. & Hord. E. Organization articles.k12. 225 – 246). 7 (2).uk/research/data/uploadfiles/RR637. (2002). (2005).

Jika penulis empat orang atau lebih. Sistematika artikel hasil penelitian: judul. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan huruf Times New Roman. kata kunci maksimal enam kata.PETUNJUK BAGI PENULIS ARTIKEL 1. Peringkat 3 (Hanya awal kata huruf besar. hasil penelitian. cetak tebal. Naskah diketik dengan huruf Times New Roman. dan ruang lingkup penulisan. 3. yang dicantumkan cukup penulis utamanya saja. miring (italic) dan rata tepi kiri. 104 2. . Bahasan utama (dapat dibagi ke dalam beberapa subbagian). rata tepi kiri. Penutup atau Kesimpulan. Sistematika artikel hasil pemikiran: judul. ukuran 14 pts. 5. ukuran 12 pts. Judul artikel dicetak tebal dan huruf besar semua. Penulis disarankan menuliskan alamat e-mail dan nomor telepon atau handphone pada halaman terakhir artikel untuk memudahkan komunikasi. dicetak pada kertas A4 maksimal 20 halaman. sedikit tinjauan pustaka. 6. dan kata kunci maksimal enam kata. kecuali bagian pendahuluan disajikan tanpa judul bagian. Peringkat 2 (Hanya awal kata huruf besar. dengan spasi 1.5. Pada judul bagian tidak menggunakan sistem angka/nomor. dan tujuan penelitian. 4. metode penelitian. cetak tebal. Artikel yang ditulis untuk Jurnal Tenaga Kependidikan meliputi hasil pemikiran dan hasil penelitian di bidang tenaga kependidikan. abstrak (maksimal 100 kata) yang berisikan tujuan penelitian. Daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk saja). 8. disertai judul pada masing-masing bagian artikel. di tengah-tengah dengan huruf Times New Roman.com Nama penulis artikel dicantumkan tanpa gelar akademik dan ditempatkan di bawah judul artikel. nama penulis (tanpa gelar). Peringkat 1 (huruf besar semua. diserahkan dalam bentuk printout sebanyak 2 eksemplar beserta disketnya atau dibuat dalam bentuk file dengan Microsoft Word (MS) dan dikirimkan ke alamat e-mail: jurnaltendik@yahoo. Pendahuluan (tanpa judul) berisikan latar belakang. tujuan penulisan. abstrak (maksimal 100 kata). Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan format esai. ukuran 12 pts dan dicetak tebal. nama penulis (tanpa gelar). Pendahuluan (tanpa judul) berisikan latar belakang. 7. tebal. sedangkan penulis lainnya dicantumkan pada bagian bawah halaman pertama artikel. rata tepi kiri.

April: 14-16.A. 1. K.M. Hasil penelitian dan pembahasan. Mobil untuk Kepala Sekolah. Vol. R. Fatal Jika Tenaga Kependidikan Bermutu Rendah dalam Forum Tenaga Kependidikan. Agustus:1-13. Buku dalam Kumpulan Artikel Leitwood. Artikel dalam Jurnal Surya Dharma. Transformation School Leadership in a Transactional Policy World. The Jossey-Bass Reader on Educational Leadership (hlm. R. Februari.1999.J. Kepemimpinan Pengawas Sekolah: Mengembangkan Budaya Tanggung Jawab dalam Jurnal Tenaga Kependidikan. B. Tantangan kepemimpinan. 3 Mei 2005. 1. 2007. & Posner. 183-196). Buku Terjemahan Kouzes. Dokumen Resmi Peraturan Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. 2007. G. 2004. Ginnett. Artikel dalam Majalah Surya Dharma. Tajuk Rencana Pendidikan Sangat Penting untuk Bangsa. J. 2007. Buku Hughes. & Curphy. 2.C. Jakarta: Interaksara. Kesimpulan dan saran. Leadership Enchancing the Lessons of Experience. hlm 22. Satu spasi. Daftar rujukan disusun dengan tata cara seperti contoh berikut ini dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis. Edisi 1. Dalam M. 2006. 105 . Artikel dalam Koran Bro. Metode penelitian.9. Vol.. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. No. 1999.L. Fullan (Editor). Artikel dalam Koran (tanpa nama pengarang) Kompas. Terjemahan oleh Anton Adiwiyoto.Z. Kompas. Daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk saja).New York: McGraw-Hill Irwin.

Internet (artikel dalam jurnal online) Surya Dharma & Husaini Usman. Contoh: Menurut Hunsaker (2001). Contoh: Menurut Wiles & Bondi (2007).” atau ”Managers can be leaders. 2007. Model Pendidikan Kecakapan Hidup Berbasis Masyarakat Pedesaan sebagai Usaha Pengentasan Kemiskinan di Wilayah Kabupaten Kulon Progo DIY. ”Managers can be leaders.Skripsi. curricular. ”Managers can be leaders. but leaders do not have to be manager. Jilid 16. Tesis. Disertasi. 2007. (http://www. Jurnal Ilmu Pendidikan. (Online). Tata cara mengutip langsung empat baris atau lebih. and for this reason supervision often overlaps with administrative. Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan.malang. kalimat dikutip sesuai dengan aslinya diberi tanda petik di awal dan diakhir bagian yang dikutip. No. satu spasi. Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. diakses 8 Januari 2008). atau Wiles & Bondi (2007) menyatakan: 11. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Tahap II. dan tanpa tanda petik. dan Laporan Penelitian Husaini Usman dan Darmono. Tata cara mengutip langsung kurang dari lima baris. Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. Pemda.id.” (Hunsaker. such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting. The role of supervisor has many dimensions or facets. 2001). Kemitraan sinerjis Perguruan Tinggi. but leaders do not have to be manager. Tidak Diterbitkan.ac. 10. and instructional functions. but leaders do not have to be manager. 106 . dibuat alinia baru. 1. menjorok ke dalam lima ketukan.” atau Hunsaker (2001) menyatakan. dan Masyarakat.

Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan. dan (8) evaluator. and for this reason supervision often overlaps with administrative. such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting (Wiles & Bondi. atau Ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. (2) pengembang kurikulum. and instructional functions. 107 . (6) administrator. and instructional functions. dan (8) evaluator (Wiles & Bondi. 2007). kalimat yang dikutip langsung ditulis dalam kalimat penulis tanpa tanda petik. curricular. (5) pengembang personil sekolah. Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. dan (8) evaluator. (6) administrator. Cara mengutip tidak langsung. 14. (3) spesialis pembelajaran. 2007). (6) administrator. atau Wiles & Bondi (2007) menyatakan bahwa ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting. (5) pengembang personil sekolah.12. (5) pengembang personil sekolah. (4) pekerja hubungan manusiawi. atau The role of supervisor has many dimensions or facets. Semua artikel ditelaah secara anonim oleh mitra bestari (reviewers) yang ditunjuk. Penulis artikel diberi kesempatan untuk memperbaiki artikelnya atas dasar saran dari mitra bestari. (3) spesialis pembelajaran. (2) pengembang kurikulum. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya. Contoh: Menurut Wiles & Bondi (2007). (7) manajer perubahan. (7) manajer perubahan. The role of supervisor has many dimensions or facets. (2) pengembang kurikulum. (3) spesialis pembelajaran. curricular. and for this reason supervision often overlaps with administrative. (7) manajer perubahan. ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. 13. (4) pekerja hubungan manusiawi. (4) pekerja hubungan manusiawi.

kepada penulis diberikan satu eksemplar dan penghargaan. Artikel yang tidak dimuat akan dikembalikan jika ada permintaan tertulis dari penulis. 17. 16. Semua kata asing diketik miring (italic) 108 .15. Artikel yang dimuat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful