Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 4, No.

1, April 2009

PENGANTAR REDAKSI

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen PMPTK dapat menerbitkan Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 4, No. 1, April 2009. Tujuan diterbitkannya jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dan opini tentang tenaga kependidikan. Dengan berbagi informasi ini diharapkan terjadi pertukaran informasi informasi antar penulis, pembaca, dan pembuat kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu tenaga kependidikan secara terus-menerus. Jurnal edisi ini diawali dengan artikel yang ditulis Sujono Surokarijo berjudul, ” Korelasi antara Kepemimpinan Demokratis Kepala Sekolah dengan Kepuasan Kerja Karyawan Tata Usaha.” Artikel ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan untuk mengetahui korelasi antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha dan perpustakaan sekolah di SMPN Kota Ponorogo. Penelitian menyimpulkan bahwa terdapat korelasi positif antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha. Selanjutnya, Wukir Ragil menulis artikel dengan judul, ” Makna Pendidikan dalam Menjunjung Nilai-nilai Budaya dan Hukum Positif dalam Rangka Menegakkan Akhlak Mulia Bangsa Indonesia.” Menurut Wukir R, dulu kita terkenal sebagai bangsa yang memiliki semangat gotong royong yang tinggi, sopan, ramah, murah senyum dan santun. Namun akhir-akhir ini kondisi tersebut seakanakan telah mulai luntur, dan memaksakan kehendak dalam menyampaikan pendapatnya. Melalui suatu kajian pustaka dan kajian empiris diketahui bahwa, perubahan perilaku ini disebabkan beberapa hal antara lain kini kita merasa telah ”Bebas” dari segala belenggu yang dianggap menghambat kreativitas dan ekspresinya sehingga kini seolah-olah bisa bebas dalam berperilaku apa saja dalam menentukan kehidupan bermasyarakat. Penegakkan hukum yang konsisten dan adil akan membawa kita pada suatu kepastian hidup bahwa dalam berkehidupan, berbangsa dan bernegara yang bebas, dan dalam kebinekaan ini kita harus menghargai juga hak asasi orang lain dan dengan tetap patuh pada norma dan hukum yang berlaku. Pendidikan dalam suatu sistem merupakan wahana yang ampuh untuk menegakkan kembali sikap bangsa Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila ini dalam sikap hidup gotong royong yang tinggi, ramah, santun, sopan

1

dalam berperilaku. Pendidikan bukan hanya menekankan aspek kognitif dan afektif, serta psikomotorik saja akan tetapi juga pembetukan akhlak mulia. Moh. Suryadi Syarif dengan artikelnya yang berjudul, ”Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Era Otonomi Daerah dan Beberapa Faktor yang Mempengaruhinya.” Menurut Moh. Suryadi Syarif, kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah mengutamakan pemberian kesempatan, dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur sehingga semua unsur yang terlibat bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh indikator-indikator: idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration. Ali Imron menulis artikel, “Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah dalam Pelayanan Publik di Tingkat Satuan Pendidikan.” Ali Imron mengemukakan gagasannya bahwa dalam perspektif total quality management (TQM), sekolah dipandang sebagai institusi publik yang harus dapat memuaskan customer-nya. Perspektif TQM ini, mendapatkan momentum tepat ketika reformasi di berbagai bidang digulirkan di negeri ini, termasuk di dalamnya adalah reformasi pelayanan publik di bidang pendidikan. Paradigma pelayanan publik di tingkat satuan pendidikan sekolah patut digeser dari yang konvensional menuju ke kondisi yang senantiasa ter-update, agar ketika dibutuhkan berada dalam keadaan on-service. Tenaga administrasi sekolah haruslah menunjukkan perilaku sebagai seorang pelayan publik yang pro aktif, responsif dan antisipatif terhadap berbagai kebutuhan, aspirasi dan harapan stake holders sekolah sesuai Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. Oleh karena itu, selain harus menguasai berbagai hard skill, yang berupa ketrampilan teknis, juga menguasai berbagai shoft skill yang senantiasa ditampilkan pada saat memberikan pelayanan prima sekaligus memuaskan kepada customer-nya. Sri Marmoh dengan artikelnya yang berjudul, “Problematika Perpustakaan Sekolah pada Pendidikan Dasar dan Alternatif Solusinya.” Artikel ini membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar, menumbuhkan minat baca, dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah pada pendidikan dasar yang belum memiliki

perpustakaan. Sementara sekolah yang memiliki perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala di lapangan. Tulisan ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Rokhmaniyah menulis artikel dengan judul, “Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah.”. Menurut Rokhmaniyah, kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator), pemimpin (leader), pengelola (manager), administrator (administrator), penyelia (supervisor), wirausahawan (entrepreneur), dan pencipta iklim kerja (climator). Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya, mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui), kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Selain itu, ia mampu bekerja keras dan berani menanggung risiko. Ujang Didi Supriadi menulis artikel berjudul, “Kajian atas Kebijakan Pemerintah tentang Kepemimpin Kepala Sekolah pada SMPN 115 Jakarta sebagai Salah Satu Rintisan Sekolah Bertaraf Internasioanal.” Ujang Didi Supriadi menyatakan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah harus memiliki tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. Selain itu terdapat pula 16 kriteria seorang kepala sekolah yang memimpin RSBI. Penetapan standar dan kriteria tersebut diarahkan untuk mewujudkan tujuan sebuah sekolah yang memiliki daya saing pada tingkat nasional dan internasional. Akhirnya, jurnal ini ditutup dengan artikel yang berjudul, “Pemimpin Komunitas Pembelajaran” ditulis oleh Zainun Misbah. Penulis mengungkapkan gasasannya bahwa Pembelajaran Profesional (KPP) telah dilakukan oleh peneliti pendidikan dan dipublikasikan dalam beberapa jurnal ilmiah. Selama tiga puluh tahun belakangan ini kajian tentang KPP terus dilakukan sebagai upaya pengembangan dan inovasi sekolah, meskipun penelitian tentang efek KPP terhadap nilai siswa belum banyak dilakukan. Dari beberapa kajian tersebut karakteristik KPP adalah adanya reflective dialogue, de-privatization of practice, collective focus on student learning, collaboration dan shared norms and values. Dengan terbitnya jurnal ini diharapkan saran-saran yang membangun dari pembaca sehingga penerbitan berikutnya semakin berkualitas. Adanya kekurangan-

kekurangan pada jurnal ini kiranya dapat dimaklumi karena di dunia ini tak ada yang sempurna. Atas segala saran-saran yang membangun pembaca. . kami mengucapkan banyak terima kasih.

Sedang kepuasan kerja sendiri mempunyai enam segi. Status sosial seseorang di masyarakat dipengaruhi oleh besar kecilnya penghasilan yang dihitung . Instrumen yang dipakai adalah kuisioner tertutup menggunakan skala Likert dengan 4 alternatif jawaban. dalam dirinya ada kepuasan hidup. Metode penelitian adalah survai. dijaring secara teknik sampling acak sederhana dari 57 orang karyawan tata usaha. Analisis data menggunakan teknik korelasi Product Moment dan teknik regresi linear. kebutuhan yang terpenuhi dari pekerjaan ada tiga bentuk. divalidasi dengan analisis butir.39.70). (4) kepuasan gaji. perkawinan. Kata Kunci: Kepemimpinan.93 > 1. di dapat th > tt ( 2. Kepemimpinan demokratis kepala sekolah memberi sumbangan positip 15 % pada kepuasan kerja karyawan tata usaha. dan (3) kebutuhan egois. (2) kepuasan supervise. (3) kepuasan prestasi. (5) kepuasan kepemimpinan. sedang reliabilitas dianalisis dengan teknik Alpha Cronbach. Sampel penelitian 50 orang karyawan tata usaha. Bila seseorang dapat bekerja dan hidup layak. PENDAHULUAN Sudah menjadi kodrat manusia. kepuasan masa luang. 1990). dan (6) kepuasan tugas.KORELASI ANTARA KEPEMIMPINAN DEMOKRATIS KEPALA SEKOLAH DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN TATA USAHA Sujono Surokarijo Universitas Negeri Jakarta Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha dan perpustakaan sekolah di SMPN Kota Ponorogo.48 + 0. pada persamaan regresi = 35. dengan pendekatan korelasional.36 X. kepuasan kerja. bahwa setiap manusia membutuhkan pekerjaan dan hidup layak. Dengan uang seseorang dapat memenuhi segala macam kebutuhan. Hasil penelitian menunjukan. dan kerja. menyatakan bahwa kepuasan hidup meliputi kepuasan: keluarga. Setelah dikoreksi dengan uji t. terdapat korelasi positif antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha. (2) kebutuhan sosial. yaitu: (1) kepuasan hubungan antar karyawan. Caranya (1992). diperoleh koefisien korelasi (r) = 0. berarti korelasi signifikan. yaitu: (1) kebutuhan fisik dan keamanan. Kebutuhan fisik pokok dapat berupa uang. Menurut Strauss (Hadikusumo.

yaitu perasaan rasa bersatu dan diakui keberadaannya. pakaian. Iapun akan merasa puas.Sujono Surokarijo berdasarkan besar-kecilnya uang. dan SMU tidak mencapai tingkat ketuntasan untuk semua mata pelajaran. pemenuhan kebutuhan keamanan dalam pekerjaan atau pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lain akan terpenuhi di masa yang akan datang. Seiring dengan pernyataan tersebut berarti sumber daya manusia para guru dan karyawan tata usaha pada sekolahsekolah di Indonesia menurun. Seseorang bila berhasil melaksanakan tugas dan dapat mengatasi berbagai hambatan dalam melaksanakan tugas. Oleh karenanya kinerja mereka menurun. Termasuk kemajuan yang akan diperoleh dari pekerjaan berupa: (1) kenaikan upah. dan (3) segi jaminan nilai material yang meningkat sehingga semua kebutuhan hidup terpenuhi baik kebutuhuan biologis maupun kebutuhan nonbiologis. Pekerjaan tata usaha pada Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) termasuk jenis pekerjaan yang dihargai masyarakat karena statusnya sebagai pegawai negeri sipil. maka keberhasilannya dihargai oleh pimpinan. Selanjutnya. walaupun kadang-kadang bertentangan dengan pihak pimpinan organisasi kerja. SD. 2 . Kenyataan karyawan yang berbentuk team work memiliki moral yang lebih tinggi dari pada yang sendirian. Dalam aktivitasnya melaksanakan pekerjaan seseorang membutuhkan dukungan orang lain. hasil kerjanya lebih baik dari yang sendirian karena kelemahan dari anggota team work ditutup oleh anggota team work yang lain. senioritas yang lebih tinggi biasanya berarti keamanan dalam pekerjaan lebih aman. Tuntutan seseorang dari pekerjaan adalah pekerjaan tersebut memberi penghasilan yang berupa gaji dan gaji tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Hal ini berakibat menurunnya mutu pendidikan di Indonesia termasuk pendidikan di SMP. Kebutuhan sosial pokok adalah keanggotaan dalam kelompoknya. ingin menjadi orang yang berarti dalam kelompoknya. Orang menyukai pekerjaan-pekerjaan yang dianggap berharga oleh masyarakat. Selain itu. tingkat pencapaian rata-rata hasil ujian nasional. 20 November 2001). Manusia dewasa membutuhkan pemenuhan kebutuhan egois dan aktualisasi diri tingkat tinggi melalui pekerjaan mereka. Menurut Iskandar (Media Indonesia. Kebutuhan egois yang utama adalah kebutuhan akan prestasi. Jika berhasil ingin dihargai dan bila ada kesulitan ingin dibantu. Seseorang hidupnya layak bila kebutuhan pertama manusia sebagai makluk biologis yaitu kebutuhan makan. dan tempat tinggal terpenuhi. Karyawan cenderung bersikeras untuk membentuk kelompok-kelompok informal. (2) senioritas sebagai jalan untuk maju. Demikian juga untuk daya saing kemampuan sumber daya manusia Indonesia semakin menurun. SMP.

1976) menyatakan bahwa jika kebutuhan yang diidam-idamkan seseorang tidak tercukupi. perlengkapan. dan karyawan perpustakaan. kepuasan kerja seseorang terkait dengan beberapa variabel. Darwis (Scermerhorn. dan organisasi. Hal ini dapat berakibat turunnya kinerja mereka. Argyris (Buchori Zainun. lingkungan kerja. Dengan demikian. (2) gaya kepemimpinan demokratis. gundah dan runyam. Sumber daya meliputi sumber daya manusia dan nonmanusia. ketenagaan. pangkat. Secara garis besar gaya kepemimpinan dibagi tiga tipe yaitu: (1) gaya kepemimpinan otokratis. 3 . kesiswaan. pada tipe ini pemimpin menganggap bawahan sebagai alat produksi atau alat untuk pencapaian tujuan organisasi. para guru dan karyawan tata usaha sekolah tersebut kurang puas karena gaji yang ia terima kurang mencukupi untuk pemenuhan hidup. maka orang itu kecewa. Karenanya dapat dikatakan keberhasilan organisasi dalam mencapai tujannya tergantung kemampuan pemimpin dalam mendayagunakan semua sumber daya yang tersedia dalam organisasi tersebut. pada tipe ini. bimbingan penyuluhan. Siagian (1989) menyatakan bahwa pemimpin sebagai motor penggerak semua sumber daya yang tersedia dalam organisasi. kearsipan. pelaksanaan tugas atau pekerjaan diserahkan kepada bawahan. Salah satu variabel yang ada sangkut pautnya adalah variabel organisasi. Pemimpin ialah orang yang mempengaruhi orang lain dan yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup organisasi. Dalam organisasi secara struktural ada pemimpin dan bawahan. keuangan. hubungan masyarakat. Bawahan ialah orang yang dipengaruhi untuk melaksanakan tugas guna pencapaian tujuan organisasi. Karyawan tata usaha sekolah merupakan sumber daya manusia yang tersedia di SMP yang terdiri atas: koordinator administrasi dan karyawan-karyawan yang menangani administrasi kurikulum. 1991) menyatakan bahwa kepuasan kerja berkaitan dengan sejumlah variabel yang memungkinkan para manajer memperkirakan kelompok yang lebih cenderung mengalami masalah ketidakpuasan.Korelasi Kepemimpinan Kenyataan gaji yang diterima para guru dan karyawan tata usaha sekolah di Indonesia kurang mencukupi untuk biaya hidup mereka. Variabel tersebut adalah pegawai. Sesuai dengan pendapat di atas. laboran. pada tipe ini pemimpin menganggap bawahan sebagai mitra kerja. Apalagi bagi mereka yang sudah berkeluarga. Kepala Sekolah sebagai manajer dan pemimpin menggerakkan bawahannya baik guru maupun karyawan tata usaha sekolah melalui gaya kepemimpinan. Mereka resah. usia. dan (3) gaya kepemimpinan kendali bebas.

Pada penelitian ini teori-teori yang dianalisis dan relevan dengan tujuan penelitian adalah: (1) Teori discrepancy oleh Porter (Stoner. kepuasan adalah perasaan lega atau senang karena merasa sudah terpenuhi kebutuhannya atau hasrat hatinya. kebutuhan aktualisasi diri atau menunjukkan jati-diri. Menurut Patton (Hesmes. Sedang yang dimaksud kerja adalah perbuatan melakukan sesuatu atau sesuatu yang dilakukan. Menurut teori ini. sesorang akan menjadi resah dan ia melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan tersebut. kepuasan kerja dalam diri seseorang akan tumbuh bila bekerja selaras dengan diri sendiri. b. tempat tinggal). hubungan teman sekerja. promosi. d. untuk mengukur kepuasan kerja adalah dengan membandingkan apa yang seharusnya atau diharapkan dengan kenyataan yang dirasakan. Seterusnya setelah terpenuhi kebutuhannya dan merasa puas. Teori Existence – Relatedness – 4 . dan e.Sujono Surokarijo Seiring kepuasan kerja karyawan terkait dengan gaya kepemimpinan. namun kebutuhan utama manusia pada hakikatnya sama dan merupakan hirarki yang terdiri dari lima tingkat. Sedang Grunerberg (Buchori Zainun. 1999) mendefinisikan kepuasan kerja ialah respons seseorang terhadap bermacam-macam lingkungan kerja yang dihadapinya termasuk komunikasi organisasi. Menurut teori ini walaupun kebutuhan manusia beragam. pengakuan. Seseorang akan merasa puas bila tidak ada perbedaan antara apa yang diinginkan atau diharapkan dengan kenyataan yang dirasakannya. kebutuhan fisiologis (makan. kebutuhan pada peringkat di atasnya atau berikutnya muncul dan orang tersebut berusaha untuk memenuhinya. 3. 2001). karena batas minimum yang diinginkan telah terpenuhi. maka permasalahannya dalam meningkatkan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah adalah. Hirarki kebutuhan manusia menurut Maslow sebagai berikut: a. kebutuhan hidup berkelompok dan bermasyarakat. 1976) menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah seperangkat perasaan karyawan tentang menyenangkan atau tidaknya jenis pekerjaan. c. Menurut teori ini kebutuhan akan menimbulkan ketidak seimbangan pada diri seseorang. pakaian. (2) Teori pemenuhan kebutuhan oleh Maslow (1970). kebutuhan penghargaan. Dengan demikian yang dimaksud kepuasan kerja adalah perasaan senang atau lega karena apa yang dilakukan tersebut sesuai dengan dirinya dan telah memenuhi kebutuhan atau hasrat hatinya. ”Bagaimana hubungan antara gaya kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah?” KAJIAN PUSTAKA Menurut Poerwadarminta (1991). kebutuhan rasa aman. supervisor. Coreman (Timpe A Dale. Setelah kebutuhannya terpenuhi ia merasa puas. 1989).

serta lingkungan kerja (kondisi pekerjaan). menurut ia ada lima komponen utama dalam kepuasan kerja. Dari beberapa teori-teori dan konsep konsep di atas. (2) kondisi umum pekerjaan. (2) hubungan teman sekerja. ia menyatakan bahwa yang dimaksud kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pandangan. yaitu: (1) sikap terhadap kelompok kerja. dapat disimpulkan bahwa dalam proses kepemimpinan ada orang yang mempengaruhi (pemimpin) dan ada orang yang dipengaruhi (bawahan). dan (5) jenis dan isi pekerjaan. Existence kebutuhan yang dipuaskan oleh faktor-faktor makanan. Dari pendapat-pendapat di atas. Menurut teori ini hirarki kebutuhan seseorang terdiri dari tiga peringkat. yaitu: a. keceriaan kerja. Menurut Strauss (1990). ada empat faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja. hal hal yang berhubungan dengan interaksi antara sesama karyawan. puas karena hubungan sosial yang bermanfaat. (3) supervisi. yaitu: (1) kepercayaan pada pimpinan. dan (4) faktor kesejahteraan. yang dimaksud kepuasan kerja dalam penelitian ini adalah perasaan senang atau lega karena merasa terpenuhi kebutuhan atas harapan yang dialami oleh seseorang dari suatu pekerjaan. Menurut Stoner (1989). tunjangan maupun lain lain yang berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan. ketentraman dalam bekerja. (3) faktor fisik yaitu faktor faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja. minuman. tantangan pekerjaan. berpendapat bahwa ada lima segi kepuasan kerja. Mitchel menyatakan bahwa penyebab kepuasan kerja adalah: supervisi. isi pekerjaan. (2) faktor sosial. dan c. Growth. Lain halnya dengan Hainan (1991). b. faktor faktor kepuasan kerja adalah: penghargaan. (3) sikap terhadap organisasi. udara.1992). (4) keuntungan keuangan. perbandingan perbandingan sosial. Indikator kepuasan kerja. meliputi minat. hubungan dengan pimpinan. norma-norma sosial. yaitu: (1) faktor psikologis. bakat. Sedang Hotgetts dan Kuratko (1975) mendefinisikan bahwa kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi orang orang untuk mengarahkan kegiatan demi pencapaian tujuan. penilaian diri. Lain lagi dengan Byars (Buchori Zainun. sikap dan perilaku orang lain. 1976). Relatedness. 1989). dan (5) sikap terhadap supervisi. (4) gaji. kepuasan karena memberi sumbangan pada pribadi maupun organisasi. dan intensif tradisional. 5 . meliputi: gaji. dan dasar pemikiran. kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari para anggota kelompok.Korelasi Kepemimpinan Growth (ERG) oleh Aldefer (Stoner. Sedangkan Smith (Cranny. keterikatan.

menciptakan arus informasi timbal balik. dan (2) fungsi yang berkenaan dengan pembinaan pelaksana tugas atau fungsi sosial. (2) komunikasi lancar. Hodgetts (1975) menyatakan bahwa ciri-ciri kepemimipnan demokratis adalah pemimpin yang perhatiannya tinggi terhadap bawahan serta pelaksanaan tugas yang dilakukan bawahan. c. pemimpin dalam mempengaruhi dan berhubungan dengan bawahan mengemban dua fungsi utama. pemimpin mendelegasikan sebagian wewenang pada bawahan dan mendorong bawahan untuk berperan aktif dalam pengoperasian perusahaan. b. (3) melibatkan bawahan dalam melaksanakan sasaran organisasi. saran. Pemimpin yang efektif dapat menjalankan kedua fungsi tersebut. sikap sehingga orang yang dipengaruhi mau melakukan kegiatan sesuai dengan tugasnya demi pencapaian tujuan yang telah ditentukan. saluran komunikasi ke segala arah. mendukung adanya pertukaran informasi antar bawahan yang berkelanjutan. d. berupa pandangan. Menurut Woods (Timpe A Dale. di dalam organisasi tercipta jalur komunikasi ke segala arah. Pada kepemimpinan ini perilaku pemimpin dalam pengambilan keputusan berdasarkan hasil musyawarah mufakat dengan bawahan. ia manyatakan bahwa ciri ciri kepemimpinan demokratis sebagai berikut: (1) pemimpin dalam proses menggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia adalah 6 . maka bila ada bawahan yang kesulitan melaksanakan tugas dibimbingnya. memberi dorongan keberanian melalui arus komunikasi yang berkelanjutan antara ia dengan bawahan. Menurut teori perilaku. kritikan digunakan. pujian. pemimpin memberi keleluasaan pada bawahan dalam menetapkan sasaran pekerjaan dalam pelaksanaan tugas. Lain dengan Siagian (1989). gaya kepemimpinan demokratis dalam mempengaruhi bawahan. kegiatannya: (1) bermusyawarah dengan kelompok mengenai hal hal yang menarik perhatian. yaitu: (1) fungsi yang berkenaan dengan tugas. perilaku.Sujono Surokarijo Dengan demikian yang dimaksud kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain. Sedang pemimpin yang cenderung menjalankan fungsi yang berkenaan dengan pelaksana tugas mengganggap bawahan sebagai mitra kerja. Sedang Bove (1995) menyatakan sifat kepemimpinan demokratis berorientasi pada pegawai atau karyawan. Sehubungan tanggung jawab baik buruknya organisasi di tangan pemimpin. dan (4) memberi keleluasaan pada bawahan dalam pelaksanaan tugas. Pemimpin yang cenderung menjalankan fungsi yang berkenaan dengan tugas menganggap bawahan sebagai alat produksi atau alat pencapaian tujuan. Sedang Hodgetts dan Kuratko (1975) menyatakan ciri-ciri pemimpin yang demokratis dalam berhubungan dengan bawahan sebagai berikut: a. 1999).

(6) mendelegasikan sebagian wewenang pada bawahan. (4) berusaha mengutamakan kerja sama dalam team work dalam usaha pencapaian tujuan organisasi. (7) lebih mengutamakan kerja sama. (3) membudayakan adanya saran dan kritik. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan korelasional. menggunakan skala Likert dengan empat alternatif jawaban. Metode penelitian ini adalah metode survai. Sesuai analisis teori teori dan konsep konsep di atas. Sampel penelitian sebanyak 50 orang dijaring dengan teknik sampling acak sederhana. (2) dalam menentukan kebijakan organisasi melalui musyawarah mufakat dengan bawahan. (3) senang dan mau menerima saran. (5) berusaha untuk menjadikan bawahan lebih sukses. sedang variabel bebas adalah kepemimpinan demokratis kepala sekolah (variabel X). METODOLOGI PENELITIAN Dalam penelitian ini variabel terikat adalah kepuasan kerja karyawan tata usaha (variabel Y). terbuka dan ke segala arah. Indikator kepemimpinan demokratis adalah: (1) menganggap bawahan sebagai mitra kerja. (4) menciptakan jalur komunikasi timbal balik. dalam penelitian ini yang dimaksud kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang memperhatikan bawahan dan juga memperhatikan proses pelaksanaan tugas yang dilakukan bawahan.Korelasi Kepemimpinan makluk yang mulia. (8) memberi kesempatan bawahan untuk mengembangkan karier. (10) melaksanakan supervisi. (5) memberi keleluasaan bawahan dalam melaksanakan tugas. karena peneliti ingin mengetahui hubungan antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah. (2) berusaha mensinkronkan tujuan dan kepentingan organisasi dengan tujuan dan kepentingan pribadi bawahan. (9) mengakui dan menghargai keberhasilan bawahan. dan (6) memberi keleluasaan bawahan dalam berbuat kesalahan kemudian dibimbing dan diperbaiki agar tidak membuat kesalahan yang sama. dan (11) berusaha meningkatkan kesejahteraan bawahan. pendapat maupun kritik dari bawahan. 7 . langsung. Pengumpulan data dilakukan melalui angket. sedang populasi terjangkau seluruh karyawan tata usaha SMPN Kota Ponorogo tahun 2007 yang berjumlah 57 orang. Populasi penelitian seluruh karyawan tata usaha SMPN di Kabupaten Ponorogo. Analisis data menggunakan teknik korelasi product moment dan teknik analisis regresi linear.

C. New York: John Willey Inc.S.J. 1975..R. New York: Mc Graw Hill Inc. KESIMPULAN Berdasarkan temuan di atas peneliti menyimpulkan bahwa semakin demokratis kepemimpinan kepala sekolah. R. 8 . London: Harper and Row. Cranny. semakin meningkat kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah. diperoleh koefisien korelasi r = 0. Hadikusumo. L. 1970.15. & Richard. C. Jakarta: Balai Pustaka. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta: Balai Aksara. termasuk karyawan perpustakaan.H. T. di dapat th > tt ( 2.N.Graw Hill Inc. Manajemen dan Motivasi. P. A. Scermerhorn J. People in Organization An Introcdution to Organization Behavior. 1991. berarti korelasi signifikan.93 > 1.39. Buchori Zainun. London: Sounder Company. Kamus Umum Bahasa Indonesia. N. 1991. Poerwadarminta W. Tokyo: Mc. DAFTAR RUJUKAN Bovee.M.. Motivation and Personality. 1990.70). Kepemimpinan demokratis kepala sekolah memberi sumbangan positif sebesar 15% dan sumbangan tersebut berarti terhadap kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah.Sujono Surokarijo HASIL PENELITIAN Pada penelitian ini ditemukan bahwa terdapat korelasi positip antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah.48 + 0. pada persamaan regresi = 35. New York: Lexington Books. Maslow. 1991.R.36 X. Management. 1992. James G. Setelah di analisis dengan analisis determinasi diperoleh r2 = 0. The Human Problem of Management (Terjemahan). 1982. S. Job Satisfaction How People About Their Job And How It Affects Their Performance. 1976. Management. 1995. Mitchell. Hodgeets. Managing Organizational Behavior. Selanjutnya dikoreksi dengan uji t.

Filsafat Administrasi.A. S. R.Kepemimpinan.D.F & Freeman. 1989. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.Korelasi Kepemimpinan Siagian. 9 . Management.E. New Jersey: Prentice Hall Inc. Stoner. 1989. Upper Saddle River.(Terjemahan: Susanto Budidharmo). J. 1999. Leadership .P. Timpe A. Jakarta: CV Haji Masagung.

dan Akhlak mulia. akhlak mulia. Melalui suatu kajian pustaka dan kajian empiris diketahui bahwa. berbangsa dan bernegara yang bebas. No. dan dalam kebinekaan ini kita harus menghargai juga hak asasi orang lain dan dengan tetap patuh pada norma dan hukum yang berlaku. bangsa dan negara. pengendalian diri. 1. kepribadian. dan memaksakan kehendak dalam menyampaikan pendapatnya. Keteladanan. Dulu kita terkenal sebagai bangsa yang memiliki semangat gotong royong yang tinggi. Kata Kunci: Penegakkan hukum. Adalah pendidikan dalam suatu sistem merupakan wahana yang ampuh untuk menegakkan kembali sikap bangsa Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila ini dalam sikap hidup gotong royong yang tinggi. sopan. santun. April 2009 (Suatu Kajian Empiris terhadap Perubahan Sosial bagi Warga Belajar) Wukir Ragil Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional Bidang Hukum dan Sosial Dosen Luar Biasa Fakultas Hukum Universitas Indonesia Abstrak Sistem Pendidikan Nasional menggariskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. masyarakat. ramah. perubahan perilaku ini disebabkan beberapa hal antara lain kini kita merasa telah ”Bebas” dari segala belenggu yang dianggap menghambat kreativitas dan ekspresinya sehingga kini seolah-olah bisa bebas dalam berperilaku apa saja dalam menentukan kehidupan bermasyarakat. menghargai hak asasi orang lain terutama perbedaan dalam kebinekaan. Adalah penegakkan hukum yang konsisten dan adil akan membawa kita pada suatu kepastian hidup bahwa dalam berkehidupan.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. serta psikomotorik saja akan tetapi juga pembentukan akhlak mulia yang merupakan makna dari pendidikan budi pekerti yang harus dimiliki seluruh peserta didik dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan bukan hanya menekankan aspek kognitif dan afektif. sopan dalam berperilaku. 4. serta ketrampilan yang diperlukan oleh dirinya. MAKNA PENDIDIKAN DALAM MENJUNJUNG NILAINILAI BUDAYA DAN HUKUM POSITIF DALAM RANGKA MENEGAKKAN AKHLAK MULIA BANGSA INDONESIA 10 . ramah. murah senyum dan santun. Namun akhir-akhir ini kondisi tersebut seakan-akan telah mulai luntur.

mawardah. Herskovits menyatakan lebih dari seratus enam puluh definisi kebudayaan. Kebudayaan akan berkembang atau berubah dengan berubah tata nilai dalam kehidupan keluarga. Kebudayaan akan dimiliki dan akan tetap hidup dalam masyarakat pemiliknya. Hal ini karena kebudayaan akan hidup dan berkembang dalam masyarakat itu sendiri serta untuk memenuhi keperluan masyarakat tersebut. ”sifat gotong royong” agak luntur.Makna Pendidikan PENDAHULUAN Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. Kebudayaan akan berkembang karena ada perkembangan ilmu dan tehnologi sehingga akan menciptakan alat/sarana tehnologi yang baru/mutakhir. perkembangan kebudayaan dalam masyarakat akan dipengaruhi adanya empat unsur pokok tersebut. 3) family (keluarga). dan 4) political control (kekuasaan politik). bersaing untuk mendapat produk yang terbaru dan terbaik. Sedangkan pengertian budaya mempunyai makna yang luas. pada saat tanah pertanian berubah menjadi kawasan industri seketika itu tata nilai masyarakat berubah menjadi bersifat konsumtif. dan 11 . Dengan demikian menurut Herskovits. Kebudayaan akan berkembang seiring dengan berubahnya sistim ekonomi dalam masyarakat. Kebudayaan adalah hasil dari karya. dan karsa masyarakat tadi akan berguna bagi masyarakat yang menciptakannya. rasa. dan karsa. cipta. Demikian semua hasil karya. Sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan masyarakat. cipta. rasa. sabar. 1974 hal 113). menulis. Selanjutnya menurut Herskovits ada empat unsur pokok dalam kebudayaan yaitu: 1) technological equipment (alat-alat tehnologi). 2) economic system ( sistim ekonomi). pendidikan berlangsung sepanjang hayat dengan mengembangkan budaya membaca. dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. Kebudayaan yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat akan berbeda yang dimiliki oleh kelompok masyarakat lainnya. dan sifat gotong royong yang tinggi dan menjadi masyarakat produsen pangan. Penulis menambahkan unsur kelima yaitu Kaidah hukum yang berlaku dalam masyarakat setempat. (Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi. kompak. kecuali masyarakat pedesaan yang masih menjunjung sifat gotong royong ini sebagai sarana yang jitu dalam bermasyarakat. Masyarakat agraris yang selama ini dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia sehingga dapat mewujudkan swasembada beras sekaligus menciptakan suatu tatanan/nilai budaya dalam masyarakat petani yang relatif nrimo. Kehidupan keluarga yang agamis akan membuat tata kehidupan dalam keluarga itu selalu menuju pada kehidupan keluarga sakinah.

Sebaliknya keluarga yang berpola kehidupan ”modern kebarat-baratan” akan menjadikan kehidupan pada keluarga yang serba ”praktis” dan menganggap tata nilai akan mengganggu aktifitas. akan tetapi tindakan itu merupakan suatu yang mengarah pada indikasi bahwa budaya penyelesaian suatu perkara dengan kekerasan dianggap sebagai cara yang ”tepat”. akan dapat merubah pola pikir. pola kehidupan. Kekuasaan politik yang mewarnai secara mencolok tata nilai dan kehidupan masyarakat apabila tidak disaring secara intensif oleh anggota masyarakat yang bersangkutan. METODE PENELITIAN Kegiatan kajian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan yang bersifat yuridis-normatif dan penelitian empiris melalui pengamatan. Namun demikian. Dipicu oleh sebab musabab yang kurang jelas dan rasa solidaritas sesama teman telah menimbulkan sebuah kekerasan yang dilakukan oleh oknum mahasiswa antar fakultas disebuah perguruan tinggi di Makasar tanggal 3 November 2008 yang lampau. dan privasinya. tata nilai. 12 . Selanjutnya penelitian normatif ini akan didukung dengan penelitian empiris.Wukir Ragil warokhmah dan selalu bersyukur. Sanksi akan diberikan terhadap pelanggarnya terutama sanksi moral yang diberikan masyarakat untuk membuat jera perbuatan yang dianggap menyimpang dalam masyarakat tersebut. dipatuhi dan menyatu pada tata nilai budaya masyarakat setempat dan akan mampu mempertahankan kehidupan tata nilai atau berkembangnya kebudayaan masyarakat tersebut. terlihat di televisi seorang oknum dengan membawa berbagai senjata tajam dalam bentrokan adalah sungguh sangat merisaukan. ataupun kelestarian kebudayaan pada masyarakat tertentu. kaidah hukum itu berlaku. Penggabungan penelitian kepustakaan yang bersifat yuridis-normatis dan penelitian empiris ini akan dapat mengkaitkan antara konsep kebijakan peraturan perundang-undangan dan interaksi sosial masyarakat warga belajar terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. Penelitian normatif disini adalah untuk memahami kaidah hukum dan perundang-undangan mengenai gejala sosial dan kebijakan pendidikan. demikian juga sanksi hukum dari penguasa akan membuat jera untuk mengulangi kesalahannya lagi. Mereka akan merasa terasing dalam lingkungannya. Walaupun tidak menimbulkan korban jiwa.

tata nilai budaya semula yang berasal dari kelompok-kelompok masyarakat Indonesia ini akan menyatu dalam suatu konsep sosial budaya yang` satu sama lain saling mewarnai sehingga puncaknya akan menjadi tata nilai budaya Indonesia/budaya nasional. Sebagai contoh. kemiripan tutur kata pada daerah tertentu belum tentu mempunyai arti yang sama pada tutur kata pada daerah lain. hal 102). akan tetapi dalam Bahasa Gayo. Dinyatakan bahwa kehidupan masyarakat yang terorganisir dengan baik akan menciptakan suatu pranata dalam kehidupan masyarakat. nilai budaya ini mempunyai fungsi primer untuk mempertahankan pola yang telah berkembang dalam masyarakat yang akan menghubungkan fungsi sosial dan nilai budaya sehingga kehidupan masyarakat akan menjadi bermakna. Ini adalah contoh kecil. Dalam konteks kehidupan bernegara dan berbangsa. Aceh Tengah ini ” kata nggih ” bukan kepanjangan dari kata inggih dan mempunyai arti ”tidak”. Masing-masing tata nilai memberikan ciri tersendiri dan tidak bisa dihapuskan oleh tata nilai budaya dari daerah lain. Norma ini akan dihormati dan lambat laun akan menjadi suatu pola hidup atau nilai-nilai budaya dalam kehidupan masyarakat. banyak contoh lain yang tidak kami sebutkan yang semua itu akan membuktikan betapa Besar dan Indahnya Indonesia. Perbedaan ini kalau kita mampu meresapi dan mensyukuri merupakan suatu anugerah dari Allah yang sangat nikmat. Tata kehidupan yang semula baru merupakan gagasan sebagian dari anggota masyarakat ini lambat laun akan menjadi kesepakatan bersama dan diciptakan untuk menjadi norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Suatu contoh ” kata nggih ” dalam Bahasa Jawa penggalan dari inggih bisa mempunyai arti ”iya”. Dawan Rahardjo dengan merujuk pendapat Talcott Parsons dalam teori tentang masyarakat menjelaskan bahwa dalam kehidupan masyarakat yang serba diliputi oleh tindakan individu yang mempunyai sifat fisik dan realitas akan selalu kait terkait sehingga dalam kehidupan sosial masyarakat akan mampu mengkaitkan dengan suatu tata hukum dan akan berkembang dalam masyarakat. Menurut Dawam. dan menyatu menjadi suatu tata nilai dan budaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Para pakar menyatakan bahwa Budaya Nasional merupakan puncak-puncak budaya daerah yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Keterkaitannya fungsi ini akan 13 . Dalam kehidupan sosial nilai-nilai ini akan terus disesuaikan dan dikembangkan oleh masyarakat untuk mengikuti tata kehidupan dalam kelompok masyarakat yang lebih luas lagi. Organisasi kehidupan sosial masyarakat adalah dasar utama kehidupan hukum (Dawan Raharjo.Makna Pendidikan Nilai-Nilai Budaya dalam Kehidupan Masyarakat. Ia akan dipatuhi dan masyarakat akan memberikan sanksi bagi para pelanggarnya.

Masyarakat melembagakan adat istiadat karena masyarakat memerlukan perubahan. Lebih lanjut dikatakan bahwa seluruh implementasi kebijakan sekolah. Lantas bagaimana halnya dengan kondisi dan konsep pengembangan budaya pada lembaga pendidikan (satuan pendidikan)?. Hukum bermakna untuk mendisiplinkan tingkah tingkah laku manusia. Perubahan Tata Nilai dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia. layanan sekolah akan membentuk budaya sekolah yang semuanya akan membentuk pola nilai. pemahaman. 43-56). Prof. adalah sangat berperan besar dalam membentuk pola perilaku. dan harapan yang diyakini oleh para warga sekolah dan dijadikan sebagai pedoman bagi perilaku dan pemecahan masalah yang mereka hadapi. bernegara dan berbangsa. Kajian masalah hukum akan memberikan makna yang tegas bahwa hukum harus bebas dari kontradiksikontradiksi. Nilai nilai yang dipertahankan adalah sangat jelas dan dari sudut antropologi sifat adat istiadat lebih statis dibandingkan dengan hukum (Bohannan. sikap atau pola perilaku serta kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh para warga sekolah secara konsisten dalam memecahkan masalah (hal. Dalam kehidupan masyarakat akan terjadi proses sosialisasi antara tata nilai dan kaidah hukum. 1967. 14-29) antara lain dikatakan bahwa Budaya Sekolah merupakan perpaduan nilai-nilai. kondisi. Adat istiadat atau kebiasaan sebagai hal yang dianggap mewakili kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat fungsinya mempertahankan pola kehidupan itu sendiri. Perbuatan individu merupakan suatu kelakuan dalam hukum yang seharusnya dijalaninya sesuai dengan aturan hukum yang diharuskan. asumsi. Hukum adalah suatu sistim norma yang berlaku dalam suatu kehidupan bermasyarakat. Perbedaannya pada tingkat perkembangannya. keyakinan. wali/orangtua. 16). Dapat dikatakan bahwa hukum bersumber pada adat istiadat. Dengan perkataan lain bahwa budaya sekolah merupakan semangat. masyarakat sekitar. sikap dan kebiasaan para peserta didiknya yang pada akhirnya nanti akan membentuk dan mengembangkan semangat dan sikap hidupnya. Dengan demikian organisasi satuan pendidikan (sekolah/perguruan tinggi) dan seluruh warga belajarnya (pendidik. Muhaimin MA dalam tulisannya yang berjudul Pengembangan Budaya Agama dalam Komunitas Sekolah mengulas secara panjang lebar tentang pentingnya pengembangan Pendidikan Agama sebagai Budaya Sekolah (Religiusitas 4 September 2007 hal. semangat bertindak. kebiasaan dan perilaku peserta didik.Wukir Ragil menciptakan suatu tata nilai atau kebudayaan bagi masyarakat setempat. dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan) dengan seluruh kebijakan operasionalnya. Pelembagaan adat istiadat ini membutuhkan sistem manajemen yang 14 . sikap.

Dengan demikian Undang undang ini menetapkan bahwa akhlak mulia sebagai tujuan pendidikan nasional yang bermakna dalam kehidupannya sebagai individu. 275) fungsi hukum adalah. dan 4) mempertahankan adaptasi masyarakat dengan cara mengatur kembali hubungan-hubungan dalam masyarakat yang berubah. dan mekanisme serta prosedur penggunaan. perilaku. berakhlak mulia. 3) penyelesaian sengketa-sengketa. bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. sehat. berilmu. Dengan demikian masyarakat dalam memberlakukan adat istiadat dan tata nilai membutuhkan norma-norma yang berlaku di masyarakat setempat agar adat istiadat dapat efektif bekerja. bangsa dan negara (Prof Muhaimin MA. kreatif. dan tindakannya yang mengacu pada norma kehidupan sesama individu. dan menjaga agar norma tersebut tetaf efektif dalam setiap kehidupan bermasyarakat. dan mempertahankan setiap norma dengan menyesuaikan dalam perubahan masyarakat. 1) merumuskan hubungan-hubungan antara anggota-anggota masyarakat dengan menunjukkan perbuatan yang dilarang dan yang boleh dilakukan. mandiri. Pendidikan nasional yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. kepribadian. halaman 17). cakap. sebagai wasit yang netral dalam setiap ada sengketa dalam masyarakat. kehidupan dalam keluarga. serta ketrampilan yang diperlukan oleh masyarakat. kecerdasan. 15 . (1967. Peran Pendidikan dalam Menegakkan Nilai-Nilai Luhur Budaya dan Kepatuhan Terhadap Hukum. 2) mengalokasikan dan menegaskan siapa yang boleh menggunakan kekuasaan atas siapa. peserta didik harus memiliki sikap.Makna Pendidikan lebih teratur yang lazim disebut lembaga hukum yang dilengkapi dengan peraturan hukum yang dalam masyarakat disebut adat istiadat. dan kehidupan dalam bermasyarakat. antara penguasa/pemerintah dengan manusia. yang lebih jauh lagi akhirnya dalam kehidupan berbangsa dan kehidupan bernegara. Menurut Hoebel. Dengan demikian hukum memiliki fungsi yang berbeda dengan fungsi adat istiadat atau tata nilai dalam masyarakat. Muhaimin menyatakan bahwa tujuan pendidikan dimaksud memiliki kekuatan spirituil keagamaan bagi peserta didik dalam pengendalian diri. Jadi fungsi hukum disini mengatur hubungan antara manusia dengan manusia. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Undang undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Sistem pendidikan nasional ini berfungsi sebagai mengubah/mereformasi sistem pendidikan baik secara formal. dengan menghargai dan mempertahankan proses pembelajaran yang telah berlangsung selama ini. kemakmuran dan kehormatan yang ternyata tidak sinkron. Dengan demikian. dalam masyarakat yang baru mendapat kebebasan dalam melihat dunia ”baru” dan kemudian mencoba untuk memaknai apa arti dunia ”baru” tersebut dengan suatu tindakan sesuai dengan harapannya. Memang Pemerintah tidak lagi menerapkan paradigma stabilitas nasional secara mutlak dalam mengatur kehidupan warganya. maka masyarakat Indonesia mengalami keterkejutan budaya. Achmad Mubarok.Wukir Ragil Berbagai sumber menyatakan bahwa perkembangan akhlak mulia dari ajaran agama. mereka dihadapkan pada suatu kebingungan karena mendapatkan suatu kondisi yang tidak cocok menurut pandangan mereka sebelumnya. dalam Jurnal Religiusitas 3 September 2008) menyatakan bahwa kualitas manusia ditentukan dalam dua hal yaitu faktor hereditas. akan tetapi menghargai perubahan dan perbedaan sebagai anugerah yang harus disyukuri oleh bangsa ini adalah suatu keniscayaan sepanjang dilaksanakan dalam koridor norma dan kepatuhan terhadap hukum. Lebih lanjut dikatakan bahwa. dengan tegas mengatur tanggungjawab pendidikan. faktor keturunan (teori nativisme) dan faktor lingkungan dan pendidikan (teori empirisme). nonformal. Sehingga mereka berpesta pora menikmatinya dengan melakukan apa saja yang sebelumnya mustahil dapat dilakukan. Harapan ini belum sepenuhnya dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Mubarok mengibaratkan sebagai sekumpulan orang yang telah 32 tahun dikurung dalam penjara yang gelap gulita dan tiba-tiba penjara itu dirobohkan sehinga mereka bisa keluar melihat dunia baru yang terang benderang dan terlihat aneh akan tapi mengasyikkan. Kedua teori tersebut saling mempengaruhi terhadap perkembangan kualitas manusia. kebebasan. Bangsa Indonesia memasuki dunia global dimana arus informasi dan keterbukaan tak bisa dihindari. Dinyatakan pula bahwa itu adalah gambaran masyarakat Indonesia pasca jatuhnya Presiden Soeharto yang sedang mencari jati dirinya kembali. dan disamping itu mempertahankan kemajemukan bangsa. maupun secara informal. perkembangan tradisi yang tumbuh dalam suatu kelompok masyarakat. lingkungan dan perubahan alam sekitar. falsafah hidup bangsa. akan tetapi dalam proses yang masih kebingungan karena masalah yang dihadapi sangat komplikatif antara kerinduan kepada demokrasi. Sebagian mereka mengimplementasikan kebebasan sebagai perbuatan yang berlebihan tanpa batas atau koridor norma dan hukum. sehingga beberapa kali kita lihat dalam menyampaikan inspirasinya dibumbui 16 .

kesejahteraan yang berkeadilan dalam kebinekaan ini akan segera dirasakan dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia. apabila kita mampu meramu dan merasakan kebinekaan dalam rasa persatuan dan kesatuan. dengan hukum manusia hidup. bergaul.Makna Pendidikan dengan perbuatan oknum-oknum pengunjuk rasa yang melakukan perbuatan melanggar hukum maupun melanggar hak orang lain dalam menikmati ketenangan dalam aktifitasnya. Falsafah hidup suatu negara. apabila akan dijadikannya sebagai pedoman bagi bangsanya untuk berperilaku maka kedamaian suatu bangsa tersebut akan dapat terwujud. Dikatakan. Dodi Nandika (14 Juni 2008) mengatakan bahwa. diatas penguasa ada yang Maha Kuasa. maka hal ini akan mengusik rasa keadilan pada akhirnya dapat menimbulkan aksi protes. Dalam hal efektifitas hukum ini Achmad Mubarok menyatakan bahwa. setiap kali lahir 17 . bersaing antar sesamanya secara fair dan adil. Penerapan hukum untuk membela manusia agar mereka tetap terhormat sebagai manusia. dan wawasan kebangsaan. Indonesia memiliki falsafah Pancasila yang apabila dihayati dalam kehidupan sebagai masyarakat yang ber Ketuhanan yang menganggap bahwa diatas langit masih ada langit lagi. Seolah-olah tanpa adanya sedikit kekerasan dan pemaksaan kehendak. menjamin setiap hak dan keberadaannya pada jalan kebenaran dan keadilan. Dengan demikian apabila penegakan hukum dalam masyarakat dirasa tidak adil. menurut Mubarok. Sedangkan akhlak mulia menurut Dodi Nandika dikatakan sebagai suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia. karakter unggul. apabila kita mampu menjadikan pola kehidupan bermusyawarah untuk mufakat adalah jalan yang terbaik dalam menentukan pilihan bersama serta memiliki jiwa keadilan dan jiwa sosial yang tinggi dalam kehidupannya maka ketentraman. Oleh karena itu apabila penegakkan hukum oleh negara secara adil tanpa pandang bulu. yang daripadanya. hukum bermakna sebagai mengatur kehidupan manusia sebagai makhluk yang beradap yang membedakannya dengan hewan. dan memberikan peluang yang sama bagi mereka. hal itu berarti akan memberikan rasa aman. tetapi juga menumbuh-kembangkan nilai-nilai luhur insani bagi kemajuan peradaban bangsa. adil dan sejahtera terhadap masyarakat. apabila kita menganggap bahwa sebagai manusia yang memiliki keadilan yang beradap. Atau mungkin kelompok masyarakat itu menganggap bahwa penyampaian inspirasi dengan cara tenang dan tertib tidak akan didengar oleh yang berwenang. termasuk penguatan akhlak mulia. Pendidikan bukan sekedar proses pengayaan intelektual. penyampaian inspirasi tersebut kurang afdol. Demikian pula falsafah hidup suatu bangsa ikut mempengaruhi perilaku masyarakat dalam negara itu.

agama. 6) ilmu pengetahuan sosial. pada tahun 2015 nanti diharapkan akan terwujud suatu kondisi di Indonesia yang memiliki Insan yang berkemampuan olah hati untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan dan ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti. dan 3) bahasa. tanpa melalui pertimbangan atau proses penalaran yang berat dan lama. perkembangan ilmu pengetahunan. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan (UU No. disamping kurikulum yang menjadi ciri pada 18 . 4) matematika. dinamika perkembangan global. 7) pendidikan jasmani dan olahraga. peningkatan akhlak mulia. Pada program pendidikan dasar dan menengah di masa otonomi daerah dan penerapan manajemen berbasis sekolah maka kebijakan Kurikulum Pada Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan salah satu langkah yang dianggap tepat. Departemen Pendidikan Nasional menaruh harapan besar yang nanti pada tahun 2015 akan tercipta manusia Indonesia sebagai Insan Indonesia Komprehensif dan Kompetitif (insan kamil/insan paripurna) yaitu insan Indonesia yang memiliki kecerdasan emosional dan sosial. Demikian juga kurikulum pada pendidikan tinggi wajib memuat: 1) pendidikan agama. peningkatan potensi. 2) pendidikan kewarganegaraan. memiliki insan yang berkemampuan olah rasa. 3) bahasa. Untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut langkah pertama yang harus dilakukan adalah dimulai dari perumusan kebijakan dalam kegiatan belajar mengajar pada satuan pendidikan yaitu dengan kebijakan kurikulum. dan berkemampuan olah raga. Lebih lanjut ditegaskan dalam pasal 37 ayat (1) UU Sisdiknas. Dalam kaitan itu. teknologi. dan 8) muatan lokal. dan seni. 20 tahun 2003). sesuai dengan tuntutan pembangunan daerah dan nasional. kecerdasan. 5) ilmu pengetahuan alam. menurut Dodi Nandika. dan 9) pengembangan diri (Permendiknas No. 2 tahun 2006). mewajibkan pengaturan kurikulum pada pendidikan dasar dan menengah meliputi: 1) pendidikan agama. 2) pendidikan kewarganegaraan. dengan mudah. Dengan demikan. 7) keterampilan/kejuruan. dan dengan semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia. memiliki kecerdasan intelektual dan memiliki kecerdasan kinestika.Wukir Ragil manifes hal-hal yang mulia. dan minat peserta didik. Depdiknas menetapkan kerangka dasar dan model-model kurikulum yang dapat dijadikan rambu-rambu dan satuan pendidikan yang akan menyusunnya sesuai dengan kebutuhannya sendiri dengan memperhatikan pada peningkatan iman dan takwa. Kurikulum di setiap satuan pendidikan ini akan bercorak keragaman potensi daerah dan lingkungan. memiliki Insan yang berkemampuan olah pikir.

Tapi caranya. dan buta aksara yang merupakan kesenjangan dapat dihabisi. MS. `mengajar` mentrasfer ilmu dan pengetahuan dari seorang sumber kepada mahasiswa. tapi masih berbudaya lisan. Dr. Ir Dodi N Nandika. dengan merujuk pendapat mantan presiden dari negara maju. SQ. budaya respect to others. melayani masyarakat. Mahasiswa ingin menyampaikan perubahan. tapi menghimpun. menguak tabir kegelapan. belum berbudaya mem-publish. melayani bagaimana sampah-sampah berserakan. mensiarkan kedunia. berakhaqul karimah.Makna Pendidikan setiap jurusan. fakultas dan/atau perguruan tinggi tersebut yang merupakan hak otonomi kampus. Pertama. Yaitu. Kedua. dan RQ) sebagai alat dan bekal untuk Hijrah dari budaya yang sangat tidak beradab menjadi budaya santun. mencari. membimbing. Keenam to change. merubah. Ini yang berat karena apabila satu rukun belum dilaksanakan maka batal. Lebih lanjut dikatakan bahwa misi yang paling utama dalam kegiatan di perguruan tinggi bukan hanya mengajar. dan mentrasfer nilai-nilai budaya. karena dibalik proses belajar mengajar tadi ada mandat untuk berbudaya luhur. Lebih lanjut dikatakan bahwa kalau perguruan tinggi tidak mengatakan kebenaran maka akan batal. menjangkau. Lebih lanjut dikatakan bahwa penelitian adalah suatu kegiatan problem solving. melayani bagaimana kemiskinan. menggali. kemudian Kelima to reach beyond the wall. dan ketujuh to tell the truth mengatakan kebenaran. mengangkat temuan ilmiah dan sekaligus menyibak kegelapan secara terus menerus sehingga almoust everyday discovery. to discovery. memelihara. Demontrasi mahasiswa meneriakkan kebenaran ingin merubah sesuatu adalah hal yang wajar dan perlu didukung. mengkaji. Anarchis No. Sekretaris Jenderal Depdiknas pada acara Rembug Penguatan Nilai-nilai dan Budaya Luhur dalam rangka peningkatan Akhlak Mulia di Perguruan Tinggi di Universitas Muhammadiyah Surakarta beberapa waktu yang lampau. Yang kurang baik diluruskan dan 19 . meneliti. hal ini perlu ditumbuhkan sifat empati dan simpati. budaya membaca. empati (IQ. Menyikapi perubahan perilaku masyarakat yang menjurus pada perubahan tata nilai luhur budaya bangsa. Critis Yes. Prof. menyatakan bahwa ada tujuh academic duty. kita belum berbudaya menulis. Ketiga. EQ. to mentor. to teach. adalah to publish. bukan to report atau bukan buat repot. Tujuh kewajiban akademik dipundak perguruan tinggi yang merupakan rukun direkomendasikan untuk dilaksanakan oleh perguruan tinggi sehingga terjadi keseimbangan antara pendidikan yang bersifat membangun kemampuan iptek dan seni dan pendidikan yang bersifat pendidikan moral. keempat.

dilindungi oleh negara. Dengan demikian dalam menjamin pelaksanaaan hak asasi tersebut. Semangat untuk mengadakan perubahan ini perlu “dibimbing” agar sesuai dengan harapan masyarakat luas dengan tidak mengesampingkan kepentingan masyarakat lainnya. Hak asasi merupakan hak yang melekat pada manusia yang wajib dihormati oleh siapapun. dan pemerintah mendapat suatu masukan yang sangat berharga. akan tetapi juga menumbuh-kembangan potensi peserta didik dalam mengekspresikan ide dan gagasannya setelah mereka melihat keadaan yang tidak sesuai dengan harapan dan teori yang dipelajari. KESIMPULAN Beberapa hal yang perlu kita sadari bersama adalah Bangsa Indonesia memiliki suatu konsep menuju suatu bangsa yang besar yang mempunyai jati diri sendiri walaupun kita belum mampu mewujudkannya.Wukir Ragil seluruh pengajar menjadi transmitter yang memancarkan akhlak mulia didepan kelas. Kita harus mempunyai tekad bahwa Bangsa Indonesia bisa melepaskan diri dari masa-masa yang sulit setelah kita semua sudah ”dewasa” dengan belajar dari kesalahan masa lalu dan terus bekerja keras saling bahu membahu dengan menatap kedepan dengan penuh keyakinan bahwa dengan perbedaan tapi penuh makna kebersamaan akan merupakan kekayaan yang tiada tara nilainya bagi kejayaan bangsa Indonesia. pendidik. hukum. pengambil kebijakan. dijunjung tinggi. dan Pemerintah (UU No. Benturan yang terjadi dalam menyampaikan pendapat dapat dijadikan pola evaluasi dalam kegiatan yang lain sehingga kita tidak membiarkan rekan-rekan mengalami duakali kesalahan yang sama namun tetap dalam semangat menuju suatu perubahan. Samsul Wahidin (hal. Hanya kita yang bisa mengatur bangsa kita sendiri menuju kearah yang lebih baik. Menurut Samsul Wahidin (dalam M Solly Lubis) menyatakan bahwa kebebasan merupakan syarat mutlak untuk mencapai suatu hak. Mereka harus peka melihat ketimpangan dalam kehidupan masyarakat sekitar. 39 Tahun 1999 tentang HAM). dan pejabat yang berwewenang perlu memiliki suatu kearifan sosial. para penguasa. 54-55) memandang bahwa kebebasan mengeluarkan pendapat merupakan sesuatu yang asasi. 20 . kearifan lokal dan semangat nasional agar energi anggota masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat dapat disalurkan dengan efektif dan efesien. Dengan demikian peranan pengajar/pendidik bukan hanya menyampaikan target pembelajaran saja.

d. Hukum sebagai perangkat aturan yang paling dominan akan memberi makna bahwa sesuatu boleh dilakukan dan sesuatu tidak boleh dilakukan akan dapat berlaku efektif apabila terdapat keteladan dan tegas dalam menegakkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. menarik perhatian secara positif. efektif dan efisien. e. ramah. mengawal. dan menumbuhkan nilai budaya luhur berakhlaqul karimah dalam proses belajar mengajar. 21 b. h. Kini Pemerintah sangat menghargai adanya perbedaan. Sangat erat kaitan antara tata nilai kehidupan/budaya dalam masyarakat dengan norma-norma/ kaidah hukum di Indonesia ini akan selalu berkembang mengikuti perkembangan global dan kehendak masyarakat. f. Pola ini harus dimanfaatkan oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan dalam merumuskan kebijakan maupun dalam proses pembelajaran. g. keanekaragaman dan kemajemukan serta kebebasan menyampaikan pendapat yang direspon dengan sangat bersemangat oleh masyarakat. perilaku. Satuan pendidikan memegang peranan penting dalam membimbing/mendampingi peserta didik. c. Perubahan sikap. kebinekaan. membentuk dan mengembangkan watak dan kebiasaannya. santun. dan ekspresi dalam segala tindakan terjadi oleh masyaraakat karena adanya perubahan paradigma dari semula pemerintah sangat yakin dengan pola stabilitas akan dapat mewujudkan suatu kehidupan masyarakat yang tentram.Makna Pendidikan Dari uraian ringkas tersebut diatas dapat ditarik suatu benang merah bahwa: a. nyaman dipandang. aman dan damai. dan menjunjung nilai luhur budaya bangsa masih ada dan melekat disanubari masyarakat Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa ini. sejahtera. serta berhasil menyentuh para pejabat yang berwenang untuk segera mengambil tindakan yang diperlukan. . suasana yang sejuk. Sifat kegotongroyongan. berperilaku. Melalui pendidikan dan keteladanan akan ditumbuh-kembangkan dan ditingkatkan komitmen untuk menjunjung nilai-nilai budaya luhur bangsa bagi peserta didik dalam bersikap. disampaikan dengan dengan enak. Penyampaian pendapat oleh warga belajar setelah melihat keadaan yang dianggap tidak sesuai dengan harapan dan teori yang pelajarinya adalah suatu yang wajar dan bukanlah merupakan penyimpangan terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia sepanjang penyampaian pendapat tersebut tidak mengganggu hak asasi orang lain dan melanggar norma yang berlaku dan hukum posistif.

sehingga Pemerintah perlu melakukan pembinaan agar kehidupan berbangsa dan bermasyarakat yang selama ini sudah baik dapat ditingkatkan lagi atau setidak-tidaknya dipertahankan serta perlu ditumbuhkan sifat kritis yang konstruktif kepada masyarakat luas dalam mensikapi terhadap seluruh proses kebijakan pembangunan bangsa. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (Lembaran Negara Nomor Tahun 2003 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301) 22 . pelaksanaan kebijakan. n. Perubahan dalam kebebasan ini dirasa oleh masyarakat sangat fantastis. sehingga sebagian menganggap bahwa perubahan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah yang dirasa tidak sesuai harus dilawan dengan ketidaksetujuan dengan memfaatkan hak dan caranya sendiri tanpa mengindahkan jalur hukum yang harus ditempuh. sehingga terjadi penyimpangan dari koridor hukum maupun norma kehidupan dalam bermasyarakat. DAFTAR RUJUKAN Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Nomor 165 Tahun 1999. i. k. Masyarakat dalam menyampaikan pendapat akan lebih bermakna dan tepat sasaran apabila dilakukan dengan arif dan sekaligus menghindari terganggunya hak orang lain. masyarakat mengalami pelakuan yang dirasakan tidak sesuai dengan harapannya. dan pengawasannya. kini setelah mengalami perubahan maka masyarakat kurang siap dengan perubahan itu. Pada masa lampau.Wukir Ragil Pendidikan sebagai penguatan akhlak mulia membentuk karakter unggul dalam peningkatan wawasan kebangsaan memiliki sifat dinamis sesuai dengan perkembangan tata nilai dalam masyarakat. Mereka merasa selalu dikekang dan tiada kebebasan berekspresi. l. kita akan dapat melepaskan masa lalu yang pahit dan menuju masa sejahtera dan damai dimasa mendatang apabila kita mampu memaknai perbedaan. dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886). j. Semangat masyarakat ini merupakan potensi. m. Sebagai bangsa yang besar.

Vol. N Dodi. Hukum Pers. Prof Dr. Jurnal Transformasi Kependidikan dan Keagamaan. Prof. Religiusitas. 4 September 2007. Jurnal Transformasi Kependidikan dan Keagamaan. Prof. Religiusitas. 1986. 3 September 2008 hal. Mubarok. Unversitas Muhammadiyah Surakarta tanggal 14 Juni 2008. hal 15. (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 42. I. Departemen Pendidikan Nasional. Dr. dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4496) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. MS. 2). Wahidin Samsul H. 23 . Membangun Keluarga Bangsa dalam Prespektif Psikologi Islam.Makna Pendidikan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (Jakarta: Raajawali. Pustaka Pelajar. Pengembangan Budaya Agama dalam Komunitas Sekolah. hal 16). Muhaimin. Antologi. (sebuah Introspeksi). Cetakan 2). Achmad. Sukanto Soerjono dan Sri Mamudji. Vol. Dr. Teropong Pendidikan Kita. Bahan Paparan pada Rembug Penguatan Nilai-nilai dan Budaya Luhur. Nandika. Tahun 2006. Penelitian Hukum Normatif. I. Artikel 2005-2006. Prof. Ir: Pendidikan Akhlak Mulia. MA. SH. MA.

Keefektifan kedua komponen ini akan memberikan keyakinan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan. Suryadi Syarif Kepala SMA Budi Mulia Ciledug Tangerang. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh indikator-indikator: 1) Idealized Influence. orangtua siswa. masyarakat. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. hak dan kewajiban. 4. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan inovasi dan kreativitas. kepemimpinan. kepala sekolah. kompetensi. 3) Intellectual Stimulation. Kompetensi dan akuntabilitas kepala sekolah merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan. 1. pegawai. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan Kata Kunci: Otonomi sekolah. serta harapan bagi yang berkepentingan terhadap keberhasilan pendidikan di sekolah. siswa. April 2009 KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM ERA OTONOMI DAERAH DAN BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA (Suatu Pendekatan Teoritis) Moh. dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur. dan Dosen PPs UHAMKA Jakarta Abstrak Kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah adalah kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. 4) Individualized Consideration.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. dan akuntabilitas 24 . pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasehat. manajemen. Jabatan kepala sekolah merupakan jabatan yang tidak bisa diserahkan kepada setiap guru tanpa melihat apakah guru tersebut memenuhi kompetensi dan akuntabilitas yang dipersyaratkan. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku kepada bawahannya. sehingga semua unsur yang terlibat (guru. 2) Inspirational Motivation. No.

Kepemimpinan Kepala Sekolah PENDAHULUAN Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam manajemen berbasis 25 . Manajemen berbasis sekolah merupakan bentuk alternatif sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan. Depdiknas saat ini tengah melaksanakan desentralisasi pendidikan yang di dalamnya terlaksana manajemen berbasis sekolah. Pelaksanaan desentralisasi pendidikan dalam era otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang No. Desentralisasi pendidikan merupakan terobosan besar dalam pembangunan bangsa yang selama ini memakai paradigma top-down berubah menjadi paradigma bottom-up. otonomi keilmuan dan manajemen. Undang-Undang No. serta mengontrol pengelolaan pendidikan. tetapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. teknologi. No. Kualifikasi sumber daya seperti ini sangat diperlukan jika Indonesia ingin menjadi negara yang berhasil dalam menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini bahkan telah menjadi amanat rakyat sebagaimana disebutkan dalam Ketetapan MPR-RI Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN yang menyebutkan bahwa salah satu visi pembangunan bangsa adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Otonomi diberikan agar sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta agar sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat setempat.25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan Peraturan Pemerintahan No. dan industrialisasi sehingga mampu menghadapi persaingan global. yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah. membantu. Sesuai dengan PP.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. kreatif. Sejalan dengan amanat tersebut. Untuk mewujudkan visi tersebut dalam GBHN 1999 telah dinyatakan bahwa salah satu arah kebijakan dalam pembangunan pendidikan adalah melakukan pembaharuan dan pemantapan sistem pendidikan nasional berdasarkan prinsip desentralisasi.25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi. partisipasi masyarakat yang tinggi. dan inovatif. Terutama untuk menciptakan insan-insan pembangunan yang ahli. Sedangkan kebijakan nasional yang menjadi prioritas pemerintah harus pula dilakukan oleh sekolah. Masyarakat dituntut partisipasinya agar mereka lebih memahami pendidikan. terampil. 25 tahun 2000 maka sejumlah kewenangan dalam bidang pendidikan yang selama ini berada di pusat dilimpahkan kepada institusi penyelenggara pendidikan dalam bingkai pemerintah daerah.

Ada guru yang dipandang sebagai faktor kunci yang berhadapan langsung dengan para peserta didik dan masih ada lagi sejumlah masukan instrumental dan masukan lingkungan yang mempengaruhi proses pembelajaran. Demikian pula dalam telaahan mutakhir tren dan isu manajemen pendidikan yang dikompilasi dalam ERIC (2002: 1-3). Pada tingkat paling operasional. Kepala sekolah diangkat untuk menduduki jabatan yang bertanggunggugat (accountability) mengkoordinasikan upaya bersama mencapai tujuan pendidikan pada level sekolah masing-masing. seorang guru dapat berharap bahwa jika "beruntung" suatu saat kariernya akan berujung pada jabatan kepala sekolah. bukan sekadar kompetensi kognitif. para guru dan peserta didik termotivasi untuk saling belajar. Biasanya guru yang dipandang baik dan cakap sebagai guru diangkat menjadi kepala sekolah. Lebih dari para manajer lainnya. dan saling memberdayakan. bahwa kepala sekolah bukan manajer sebuah unit produksi yang hanya menghasilkan barang mati. Namun. Jadi. serta belajar mengembangkan kompetensi sepenuhnya. Suryadi Syarif sekolah. saling memotivasi.Moh. Guru-guru seperti ini tentunya telah terperosok ke suatu jabatan yang mereka sendiri tidak memiliki kompetensi untuk itu. kepala sekolah adalah guru senior yang dipandang memiliki kualifikasi menduduki jabatan itu. menjadi tumpul setelah menjadi kepala sekolah. ia adalah pemimpin pendidikan yang bertanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang kondusif yang memungkinkan anggotanya mendayagunakan dan mengembangkan potensinya seoptimal mungkin. melalui pendekatan sosiologi tentang efektivitas sekolah menengah menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah memainkan peran yang sangat penting. bagaimana nasib sekolah-sekolah kita jika dipimpin oleh orang-orang yang tidak kompeten. Dalam kenyataan. dan akan tetap menjalaninya sampai pensiun. Dapat dibayangkan. banyak di antaranya yang tadinya berkinerja bagus sebagai guru. 26 . Suasana seperti ini memberi ruang untuk saling belajar melalui keteladanan. belajar bertanggung jawab. Umumnya mereka tidak cocok untuk mengemban tanggung jawab manajerial. Dalam praktek di Indonesia. seperti manajer pabrik yang menghasilkan sepatu. Tentu saja kepala sekolah bukan satu-satunya determinan bagi efektif tidaknya suatu sekolah karena masih banyak faktor lain yang perlu diperhitungkan. kepala sekolah memainkan peran yang termasuk sangat menentukan. Misalnya. kepala sekolah dituntut untuk memiliki "accountability" baik kepada masyarakat maupun kepada pemerintah. studi yang dilakukan oleh Lightfoot seperti dikutip oleh Dharma (2004: 2). kepala sekolah adalah orang yang berada di garis terdepan yang mengkoordinasikan upaya meningkatkan pembelajaran yang bermutu. Dalam lingkungan seperti itu.

“tutwuri handayani. pemerintah daerah. dan institusi sekolah dalam pelaksanaan desentralisasi pendidikan dalam konsep manajemen berbasis sekolah pada tingkat pendidikan menengah. Sebenarnya pekerjaan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di sekolahnya tidak pernah ringan. Mereka sering berada pada posisi nirdaya dalam situasi ketika kepemimpinan mereka benar-benar diperlukan. Apakah ini barang baru? Sama sekali tidak karena jauh sebelumnya Ki Hadjar Dewantara telah berujar dengan pernyataannya yang terkenal: “ing ngarso sung tulodo”. “ing madyo mangun karso”. praktis pendidikan harus ditingkatkan ke arah yang lebih baik dalam arti relevansinya bagi kepentingan daerah maupun 27 . pemotivasian. yaitu sekolah. Konsepnya bagus karena MBS adalah strategi untuk meningkatkan kemandirian para pengelola pendidikan dengan memindahkan wewenang pengambilan keputusan penting dari pemerintah pusat dan daerah ke level paling operasional. diperlukan paradigma baru untuk menanggalkan ketergantungan yang selama ini telah merugikan para kepala sekolah yang sebagian sebenarnya mungkin telah bekerja dengan serius. dan akuntabilitas kepala sekolah berkaitan dengan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan pada era otonomi daerah. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dipandang banyak pihak dapat memberi ruang gerak lebih longgar bagi kepala sekolah untuk meningkatkan mutu sekolahnya. OTONOMI SEKOLAH Dalam era desentralisasi sekarang ini. Sejalan dengan itu maka dalam studi ini akan dikaji kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah yang ditinjau dalam aspek kompetensi. Manfaat dari kajian ini adalah untuk memberikan bahan masukan bagi pemerintah pusat. di mana sektor pendidikan juga dikelola secara otonom oleh pemerintah daerah.” Uraian singkat di atas telah menunjukkan betapa tidak ringannya tanggung jawab seseorang sebagai kepala sekolah. Hasilnya masih belum jelas karena penerapannya ternyata juga masih harus menunggu kerelaan birokrasi pendidikan untuk mendelegasikan kekuasaannya. dan pemberdayaan itu. Oleh sebab itu. Sudah sejak lama pula para kepala sekolah berhadapan dengan situasi di mana mereka lebih banyak tergantung pada konteks dan periferal pekerjaannya.Kepemimpinan Kepala Sekolah Kepala sekolah seharusnya berada di gardu paling depan dalam hal peneladanan. Sudah sekian lama birokrasi pemerintahan negara kita tidak banyak membantu kepala sekolah mengatasi kerumitan itu.

dan mengarahkan seluruh staf sekolah untuk bekerja dan bertanggungjawab atas tugasnya masing-masing. merumuskan sasaran. dan (4) pengawasan. Agar penerapan desentralisasi dan otonomi pendidikan berhasil dengan baik. untuk itu maka sekolah-sekolah yang MBS-nya aktif seharusnya mempunyai kepala sekolah yang memainkan peranan kunci dalam mengendalikan dan meningkatkan komitmen belajar siswa. Hal ini dapat dilakukan jika kepala sekolah mampu melakukan fungsi-fungsi manajemen dengan baik. maka kepemimpinan kepala sekolah perlu diberdayakan. mendorong para guru untuk aktif dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah dalam mengumpulkan informasi tentang belajar. yang meliputi: 1) perencanaan. Dalam konteks ini. Manajemen sekolah saat ini memiliki kecenderungan ke arah school based management (manajemen berbasis sekolah). maupun pemerintah pusat dan daerah. dan memberikan ganjaran kepada siswa. Peranan utama kepala sekolah dalam hal ini adalah memotivasi. melakukan analisis sasaran. wewenang. Esensi MBS adalah otonomi sekolah dan pengambilan keputusan partisipatif. Sebagai manajer ia harus mampu mengatur agar semua potensi sekolah dapat berfungsi secara optimal. dan tanggung jawabnya. Kepala sekolah harus bertindak sebagai manajer dan pemimpin yang efektif.Moh. Pengambilan keputusan partisipatif adalah cara mengambil keputusan yang melibatkan kelompok-kelompok yang berkepentingan. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran. Dalam implementasi MBS fungsi-fungsi dan tugas-tugas kepala sekolah berubah dari manajer tingkat menengah ke pimpinan sekolah. membimbing. Tujuan MBS adalah untuk memandirikan dan memberdayakan sekolah. otonomi pendidikan dalam konteks MBS harus dilakukan dengan selalu mengacu pada manfaat pendidikan bagi masyarakat. terutama yang melaksanakan keputusan dan yang terkena dampak keputusan. sehingga kepala sekolah mampu berperan sesuai dengan tugas. 2) pengorganisasian. 28 . menyusun rencana sekolah. Meskipun demikian. Otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri dan berdasarkan pada aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. Pemberdayaan yang dimaksudkan adalah peningkatan kemampuan secara fungsional. Tahap-tahap pelaksanaan MBS meliputi: mensosialisasikan konsep MBS. sekolah harus meningkatkan keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaannya guna meningkatkan kualitas dan efisiensinya. (3) pengarahan. siswa. melakukan analisis SWOT. Suryadi Syarif kepentingan nasional. orangtua.

sehingga semua unsur yang terlibat (guru. maka perlu dilakukan penyesuaian dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru manajemen pendidikan masa depan yang bernuansa otonomi yang demokratis. pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasihat (Rusdiyanta. 3) Intellectual Stimulation. sekaligus memberdayakan anggota organisasi untuk meraih tujuan-tujuan itu. siswa. Keempat karakteristik kepemimpinan transformasional ini diyakini mampu menciptakan organisasi yang lebih tangguh dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan baru. Berdasarkan konsep dasar yang telah diuraikan di atas. orangtua siswa. dan atau dorongan kepada semua unsur yang ada dalam struktur organisasi sekolah agar dapat bekerja atas dasar sistem nilai (values system) yang luhur. 2) Inspirational Motivation. pegawai. dan merumuskan sasaran baru. adalah: 1) Idealized Influence. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. Kepemimpinan transformasional lahir sebagai upaya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan eksternal yang berlangsung cepat. Dari segi implementasi MBS.Kepemimpinan Kepala Sekolah mengimplementasikan rencana sekolah. agar semua potensi yang ada di sekolah dapat berfungsi secara optimal. seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku bagi yang bawahannya. Dimensi-dimensi perubahan pola manajemen dari yang lama menuju yang baru tersebut. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi berkembangnya inovasi dan kreativitas. Kepemimpinan transformasional mampu membangun komitmen organisasi terhadap tujuan-tujuannya. Kepemimpinan transformasional menganggap kepemimpinan sebagai proses kerjasama antara pemimpin dan pengikutnya untuk mencapai tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. sehingga menimbulkan persaingan yang semakin ketat. seorang kepala sekolah perlu mengadopsi kepemimpinan transformasional. Perubahan dimensi pola 29 . 2004: 5). Kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. 4) Individualized Consideration. Menurut Bass empat karakteristik kepemimpinan transformasional. melakukan evaluasi. Pemimpin dituntut untuk mampu mengubah budaya organisasi agar konsisten dengan strategi manajemen. secara konseptual maupun secara praktek tertera dalam MBS. masyarakat. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mencapai tujuan sekolah.

2004).Organisasi herarkis Menuju ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> .Deregulasi . Pemimpin adalah orang yang menempati posisi sebagai pimpinan. Mengacu pada dimensi-dimensi tersebut di atas.Gunakan uang semuanya .Moh. Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Pola lama .Sentralistik . Tabel 1.Organisasi datar Pola baru Sumber: Eman Suparman.Motivasi diri .Memfasilitasi .Pengambilan keputusan terpusat .Pengambilan keputusan partisipasi . Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi sekelompok orang dan mengarahkannya untuk mencapai tujuan tertentu.pendidikan. KEPEMIMPINAN Kepemimpinan berasal dari bahasa Inggris leader yang berarti pemimpin dan leadership berarti kepemimpinan.Otonomi . maka kepala sekolah dalam era otonomi sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya.Mempengaruhi .Gunakan yang seefisien mungkin .Pemberdayaan .Overregulasi . p.Pendekatan birokratik .Mengelola resiko .Mengontrol .Ruang gerak luwes .Informasi terpribadi .Diatur .Desentralistik .Mengarahkan . sedangkan kepemimpinan adalah kegiatan atau tugasnya sebagai pemimpin. Manajemen Pendidikan Masa Depan (http://www.Subordinasi . Nanus dan Dobbs (1999: 7) mengutip beberapa definisi pemimpin atau kepemimpinan. Pengambilan keputusan akan dilakukan secara partisipatif dengan mengikutsertakan pihak-pihak yang berpentingan sebesar-besarnya.Pendekatan Profesional .net/.Pendelegasian . Suryadi Syarif manajemen pendidikan dari yang lama ke yang baru menuju MBS dapat ditunjukkan dalam tabel 1.Informasi terbagi .Menghindar Resiko . 2..Ruang gerak kaku . yaitu: 1) seorang pimpinan adalah seorang penyalur harapan 30 .

memperjelas visi. kepemimpinan berperspektif perilaku. Kepemimpinan dapat dijelaskan melalui dua sudut pandang. maka pimpinan harus memiliki tiga dasar kepemimpinan. Pendekatan kedua. yaitu: (1) diagnosa. yaitu: (1) sudut proses. Senge). dan (3) kepemimpinan situasional Pendekatan pertama. (2) kepemimpinan perilaku. 5) Kepemimpinan adalah proses persuasi atau membujuk sekelompok orang untuk mengikuti tujuan yang ditetapkan oleh pimpinan atau bekerjasama dengan pimpinan dan para pengikutnya (John W. bagaimana mengendalikan manusia dan sumber daya untuk mencapai tujuan (Thomas E. 31 . perilaku. Kompetensi diagnosa merupakan kemampuan kognitif untuk memahami situasi sekarang dan harapan pada masa mendatang. dan atau perasaan orang lain (Howard Gardner). yaitu mempelajari kepemimpinan berdasarkan keterampilan yang dimiliki. Namun inti dari definisi-definisi tersebut adalah mempengaruhi atau mengendalikan sekelompok orang untuk mentaati aturan. kompetensi adaptasi adalah kemampuan menyesuaikan perilaku dengan lingkungan. dan kompetensi komunikasi terkait dengan kemampuan menyampaikan pesan-pesan agar dapat dipahami orang lain Ciri-ciri seorang pemimpin dapat dijelaskan melalui tiga pendekatan yaitu: (1) kepemimpinan bawaan. Croin). yakni hanya orang-orang yang berbakat memimpin yang mampu menjadi pimpinan. Gardner). melakukan koordinasi kegiatan. dan meningkatkan bentuk-bentuk mental kerjasama. 2) pemimpin adalah seseorang yang secara signifikan mempengaruhi pikiran. serta selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuannya (Peter M. dan (2) sifat yang dimiliki. bekerjasama dan berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu. yang diartikan sebagai seperangkat ciri-ciri yang menjadi atribut seseorang yang dipersepsikan sebagai seorang pemimpin. Dalam upaya mencapai keberhasilan dalam mempengaruhi orang lain. (2) adaptasi. dan (3) komunikasi. melaksanakan tugas tertentu.Kepemimpinan Kepala Sekolah (Napoleon Bonaparte). apa yang benar. mengarahkan perilaku mereka untuk mencapai tujuan. 4) pimpinan adalah orang yang bertanggungjawab membangun organisasi di mana orang-orang secara berkesinambungan mengembangkan kemampuan untuk memahami kerumitan. memandang kemampuan memimpin sebagai bawaan sejak lahir. Terlihat bahwa acuan untuk mendefinisikan kepemimpinan bervariasi bagi masing-masing pakar kepemimpinan. 3) pemimpin adalah orang yang mengetahui apa yang dibutuhkan. yang berarti penggunaan pengaruh yang tidak memiliki kekuasaan memberikan sanksi untuk membentuk tujuan kelompok-kelompok atau organisasi. dan membantu menciptakan budaya kelompok atau organisasi.

serta mampu menerapkannya dalam situasi kepemimpinan sebenarnya. yang berarti kepedulian pimpinan atas keahlian. standar kesalahan yang ditolerir. tingkat hirarkis. mampu mendiagnosa gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi yang dihadapinya. yang mencerminkan derajat pelaksanaan pengaruhnya. (3) perhatian terhadap tugas. pengalaman. Dalam menerapkan kepemimpinan sesuai dengan situasi yang di hadapi. Perbedaan manajemen dan kepemimpinan Aspek Menciptakan agenda Manajemen Perencanaan dan penganggaran: menetapkan rincian langkah-langkah dan rencana waktu untuk mencapai hasil yang diperlukan. kemampuan. (2) perhatian terhadap atasan. Tabel 2. derajat kebebasan. mendelegasikan tanggung jawab dan wewenang untuk 32 Kepemimpinan Menentukan arah: mengembangkan visi masa depan. yang mencerminkan derajat pentingnya waktu yang dimiliki. pengetahuan tentang tugasnya. dan derajat kekaburan pelaksanaan tugas. bahaya secara fisik yang mungkin terjadi. 2) manusiawi. luas bidang pekerjaan. dengan demikian pemimpin harus memiliki perilaku yang fleksibel. kepemimpinan situasional dibangun berdasarkan asumsi bahwa tidak ada satu cara apapun yang dapat mengarahkan manusia untuk bekerja pada semua situasi. Pendekatan ketiga. sering masa depan yang panjang. mensetafi struktur tersebut dengan individu-individu. dan karakteristik psikologis. dan strategi untuk menghasilkan perubahanperubahan untuk mencapai visi Mengembangkan jaringan untuk mencapai agenda Mempersatukan orang: mengkomunikasikan arah dengan kata-kata dan tindakantindakan kepada mereka yang turut bekerjasama untuk menciptakan tim dan koalisi yang memahami visi dan strategi dan menerima kinerja . dan 3) konseptual. yakni keterampilan 1) teknik.Moh. Suryadi Syarif Kepemimpinan perilaku secara garis besarnya dapat dibagi dalam tiga kategori. ataupun kesamaan sikap dan perilakunya dengan orang-orang yang di atasnya. yaitu: (1) perhatian terhadap bawahan. kemudian mengalokasikan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai hal tersebut Pengorganisasian: menetapkan stuktur organisasi untuk mencapai persyaratan rencana. seorang pemimpin harus memperhatikan tiga faktor utama.

dan atau program. pengorganisasian. rencana secara rinci dan kemudian merencanakan dan mengorganisasi untuk menyelesaikan masalah tersebut Menghasilkan sesuatu yang dapat diramalkan. Eksekutif Pengontrolan dan Penyelesaian masalah: memonitor hasil vs. Keluaran Sumber: John P. Manajer adalah orang yang mengerjakan sesuatu secara benar. seperti terlihat pada Tabel 2. menyediakan kebijakan dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang. sering bersifat dramatik. Memotivasi dan Menginspirasi: mengenerji orang untuk memecahkan rintangan politik. pendekatan baru yang membuat perusahaan lebih kompetetif). berpendapat bahwa manajemen adalah proses perencanaan. Sehubungan dengan fungsi-fungsi manajemen. sedangkan pimpinan adalah orang yang mengerjakan suatu kebenaran. birokrasi untuk merubahnya untuk memuaskan kebutuhan manusia yang sangat mendasar tapi sering tidak terpenuhin. Menghasilkan perubahan. sedangkan kepemimpinan berhubungan dengan manusia. untuk stakeholder lainnya sesuai dengan anggaran). misalnya manajemen keuangan. manajemen berhubungan dengan benda. mereka. pengaturan dan pengawasan aktivitas anggota organisasi yang berhubungan dengan sumber daya 33 . Kepemimpinan dan manajemen berbeda menurut sasarannya masing-masing. dan mempunyai potensi secara konsisten mencapai hasilhasil tertentu yang diharapkan oleh berbagai stakeholder (misalnya pelanggan selalu tepat waktu. menciptakan metode untuk memonitor pelaksanaan rencana. Steers (1985: 29). dan mempunyai potensi menghasilkan perubahan yang sangat berguna (misalnya produk baru yang diinginkan pelanggan.Kepemimpinan Kepala Sekolah melaksanakan rencana. Kotter (1990) dalam Wirawan (2003: 22). Untuk jelasnya perbedaan antara manajemen dan kepemimpinan dapat dirujuk dari pendapat Kotter. persediaan.

Jika menyebutkan seseorang yang “incompetent” selalu berarti “incapable” atau “unqualified” yang berarti tidak mampu mengerjakan tugas tertentu atau tidak memiliki kemampuan yang dipersyaratkan. dan atau memadai. Di sekolah. Dengan demikian maka kompetensi adalah karakteristik pokok dari seseorang yang memungkinkannya untuk mencapai kinerja standar dalam tugas. dan pengawasan setiap kegiatan yang mengharuskan tanggung jawab untuk mencapai suatu hasil. Sedangkan pengawasan meliputi tiga elemen penting yaitu standar kinerja.Moh. cukup. 34 . desain mengembangkan organisasi. pembagian tugas dan otoritas sehubungan dengan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. pengarahan. pengontrolan. jabatan. Pada dasarnya keseluruhan fungsi-fungsi manajerial dapat dikelompokkan atas fungsi organik (merupakan penjabaran kebijaksanaan dasar atau strategi organisasi yang telah ditetapkan dan harus digunakan sebagai dasar tindakan) dan fungsi penunjang (kegiatan yang diselenggarakan oleh orang-orang atau satuan-satuan kerja dalam organisasi. Pengorganisasian meliputi pengembangan tujuan. Kompetensi tidak hanya berhubungan dengan tugas saja. tetapi juga kemampuan pokok yang dipersyaratkan oleh pekerjaan tersebut. untuk itu dibutuhkan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam lingkungan atau situasi baru. Dijelaskan dalam New Zealand Qualifications Authority (Curfis dan Thorp. atau situasi tertentu. Manajemen sebagai suatu cara untuk melaksanakan fungsi eksekutif seperti perencanaan. Suryadi Syarif untuk mencapai tujuan. yang dimaksudkan untuk mendukung semua fungsi organik). dan kompetensi lebih tertuju pada aksi atau hasil daripada proses belajar mengajar. informasi. Perencanaan mengindikasikan bagaimana tujuan organisasi akan dicapai. Seseorang disebut kompeten untuk mengerjakan sesuatu berarti orang tersebut benar-benar dapat melakukan pekerjaan yang dimaksud. pengorganisasian. yang secara bersama-sama merupakan proses manajemen. KOMPETENSI Istilah “competent” sinonim dengan kata “sufficient” dan “adequate” yang berarti mampu. deviasi terhadap standar kinerja. berkompeten berarti menjadi sedikit memuaskan dan baik. dan koreksi terhadap standar kinerja. 2004: 1) bahwa kompetensi mencakup tidak hanya pengetahuan atau keahlian tetapi juga terapannya dalam usaha memenuhi kinerja standar yang dipersyaratkan. sedangkan sangat baik dan baik sekali merupakan kategori yang lebih tinggi. Manajerial memiliki fungsi-fungsi yang berbeda namun saling berhubungan.

yaitu: (1) Komitmen terhadap misi sekolah. dan pelaksanaan visi pembelajaran 35 . Contoh kompetensi dalam definisi langsung adalah: bekerja sama dengan orang lain. (8) Kemampuan beradaptasi secara taktis.Kepemimpinan Kepala Sekolah Kompetensi mempunyai dua pengertian yang relevan: 1) Definisi langsung. Contoh kompetensi yang didefinisikan dengan menggunakan pendekatan unsur kunci adalah: mengelola informasi dan materi untuk memudahkan dalam memperolehnya. mengumpulkan informasi secara terstruktur dan terorganisir dan menggunakan pendekatan sistematis untuk memastikan pengumpulan informasi secara kolektif. penyebarluasan. (4) Sensitif terhadap hubungan interpersonal dan organisasi. dalam hal ini memahami visi dan misi serta memiliki integritas yang baik saja belum cukup. menggunakan fasilitas untuk mendorong usahanya dan memaksimalkan kualitas dan efisiensi hasil kerjanya. (9) Motivasi dan perhatian terhadap pengembangan. (2) Keterampilan hubungan manusia. menggunakan pengetahuan hubungan informasi dan kepekaan politis dalam organisasi untuk menciptakan keputusan yang efektif. (2) Orientasi kepemimpinan proaktif. (3) Ketegasan. (5) Keterampilan kognitif. (3) Keterampilan membuat konsepsional. Setidaknya ada kesepakatan bahwa kepala sekolah perlu memiliki sejumlah kompetensi berikut: 1) Memfasilitasi pengembangan. Seorang kepala sekolah yang efektif diperlukan adanya kompetensi dan keterampilan administrasi berikut: (1) Keterampilan teknis. Melayani pelanggan dengan cara bekerja sama dengan para pelanggan secara efektif untuk mencapai tujuan usaha sendiri dan pelanggan. (4) Keterampilan pendidikan dan pengajaran. dan memelihara hubungan antara pribadi secara efektif. menggunakan. yaitu kemampuan seseorang untuk bekerja secara efektif dalam pekerjaan yang ditekuninya. Kompetensi Kepala Sekolah adalah kemampuan atau kecakapan yang diperlihatkan oleh seorang kepala sekolah ketika mengerjakan tugas-tugasnya. (6) Fleksibilitas intelektual. (11) Kemampuan berorganisasi dan pendelegasian. Di samping keterampilan ini kepala sekolah juga diwajibkan untuk memenuhi atau memiliki kompetensi sebagai seorang kepala sekolah. (7) Persuasif dan memanajemeni interaksi. yaitu kemampuan individu untuk mencapai kinerja yang efektif dan bekerja secara efektif untuk mencapai tujuan pekerjaan secara efisien. (10) Kontrol dan evaluasi. kepala sekolah harus memiliki kompetensi yang disyaratkan untuk dapat mengemban tanggung jawabnya dengan baik dan benar. Agar berhasil. (12) Komunikasi. menetapkan skala prioritas untuk memastikan bahwa batas waktu kritis dapat dicapai. meningkatkan kinerja seseorang dan kinerja orang lain dengan membangun. 2) Definisi elemen kunci. (5) Mengumpulkan informasi dan menganalisis pembentukan konsep.

Sedangkan responsibility adalah tugas yang dibebankan kepada seseorang sebagai akibat dari wewenang yang dimiliki. dan mempengaruhi lingkungan politik. 3) memahami manajemen berbasis sekolah. 4) Bekerja sama dengan orang tua murid dan anggota masyarakat. 11) mengelola kelembagaan.Moh. 5) mengelola kurikulum. 23) melaksanakan supervisi. 22) melakukan monitoring dan evaluasi. AKUNTABILITAS Akuntabilitas mencakup isu-isu profesionalisme. 6) Memahami. 13) memimpin sekolah. sehat. menanggapi. 5) Memberi contoh tindakan berintegritas. membina. kinerja organisasi. Istilah accountability serupa dengan istilah responsibility (tanggung jawab). dan keterwakilan semua kebutuhan dan harapan pihak pemangku kepentingan pada umumnya. 36 . Akuntabilitas merupakan kewajiban nyata dalam organisasi yang tidak mencari keuntungan. moralitas. dan budaya yang lebih luas. dan mempertahankan lingkungan sekolah dan program pengajaran yang kondusif bagi proses belajar peserta didik dan pertumbuhan profesional para guru dan staf. 4) merencanakan pengembangan sekolah. 10) mengelola hubungan sekolahmasyarakat. inovasi dan jiwa kewirausahaan. 18) menyusun dan melaksanakan regulasi sekolah. ekonomi. Accountability didefinisikan sebagai kemauan untuk mengakui kewajiban dan keinginan orang lain untuk menerima tanggung jawab sepenuhnya atas tindakannya dan akibat-akibatnya. yaitu: 1) memiliki landasan dan wawasan pendidikan. dan efektif. 15) memiliki dan melaksanakan kreativitas. sosial. 19) memberdayakan sumberdaya sekolah. bukan hanya sekedar budaya organisasi atau gaya kepemimpinan yang diharapkan. dan 25) membuat laporan akuntabilitas sekolah. 8) mengelola kesiswaan. 17) mengelola waktu. 7) mengelola sarana dan prasarana. 6) mengelola tenaga kependidikan. 21) mengambil keputusan secara terampil. 16) mengembangkan diri. 2) memahami sekolah sebagai sistem. 9) mengelola keuangan. 24) menyiapkan. efisien. 14) mengembangkan budaya sekolah. melaksanakan dan menindaklanjuti hasil akreditasi. dan memobilisasi sumber daya masyarakat. 12) mengelola sistem informasi sekolah. Dengan demikian maka disimpulkan bahwa 25 kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah lanjutan. 2) Membantu. 20) melakukan koordinasi. menanggapi kepentingan dan kebutuhan komunitas yang beragam. Suryadi Syarif yang dikomunikasikan dengan baik dan didukung oleh komunitas sekolah. 3) Menjamin bahwa manajemen organisasi dan pengoperasian sumber daya sekolah digunakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman.

terutama untuk akuntabilitas antara rekan kerja yang mungkin setara atau independen. tindakan korektif secara tepat. akuntabilitas seyogianya menjadi acuan dasar dalam mengembangkan perangkat peraturan.Kepemimpinan Kepala Sekolah Tanggung jawab merupakan sesuatu yang ditugaskan. Akuntabilitas adalah suatu keterhubungan mendasar dalam kewajiban untuk mendemonstrasikan. 1999: 6-8). 2004: 1). dan konsekuensinya terhadap perorangan. Accountability (pertanggungjawaban) mencakup bagaimana sumber daya yang diterima dapat dikelola dengan sebaik-baiknya untuk kegiatan-kegiatan yang menunjang pencapain tujuan yang dinyatakan (state goals). memeriksa. seseorang harus mencoba memenuhi harapan yang diuraikan oleh akuntabilitas. dan tanggung jawab atas kinerja. sehubungan dengan hasil-hasil yang dicapai dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan (Barrados. tetapi juga mencakup pemeriksaan. dan akuntabilitas tidak dapat didelegasikan. wewenang merupakan sesuatu yang didelegasikan. akuntabilitas menggambarkan aturan-aturan permainan dan harapan bagi manajemen. dan bertanggungjawab atas hasil yang dicapai. Sebagai manajer. misalnya antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. dan mencakup kewajiban untuk semua kelompok dalam hubungan akuntabilitas. memeriksa. Akuntabilitas adalah suatu usaha untuk membantu para bawahan agar dapat melakukan aktivitas sesuai dengan yang telah didelegasikan dan secara pribadi bertanggungjawab atas pekerjaannya (Martin. dan kesepakatan yang mengikuti seluruh sivitas akademika dalam mengupayakan peningkatan mutu berkelanjutan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat . Tanggung jawab merupakan kewajiban untuk melaksanakan sesuatu karena menerima tugas (Schermerhorn. Definisi akuntabilitas ini konsisten dengan pengelolaan hasil. 2004: 1). dan/atau antara Depdiknas pusat dengan daerah. pengaturan. Setiap hubungan ini bersifat khusus dan mempunyai tingkat formalitas dan kompleksitas tersendiri. berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan dan sumber daya yang digunakan. 37 . Perlu dicatat bahwa akuntabilitas yang efektif tidak hanya mencakup laporan kinerja. Dan terminologi tanggung jawab itu sendiri juga biasanya berhubungan dengan moral. Bagi manajemen sekolah. Akuntabilitas adalah suatu dasar hubungan antara kewajiban untuk mendemonstrasikan. Definisi ini mencakup sejumlah ide yang dapat diterapkan dalam bidang hubungan akuntabilitas yang luas. Dalam hal ini. khususnya yang berkenaan dengan konsep tanggung jawab pribadi. Pertanggungjawaban tersebut antara lain menyangkut derajat efisiensi dan kesesuaian dengan norma dan peraturan yang berlaku umum termasuk pertanggungjawabannya.

seperti penguatan dan atau sanksi. definisi ini memungkinkan saling hubungan akuntabilitas antara para sekutu yang setara dan/atau indepeden. Dokumentasi ini dapat membantu memperjelas hubungan akuntabilitas. Kerangka kerja akuntabilitas mempunyai empat elemen yang berdasarkan pada prinsip-prinsip akuntabilitas yang efektif. untuk siapa. menitikberatkan pada kewajiban antara semua sekutu dalam hubungan akuntabilitas. Jika harapan tidak jelas. 4) membutuhkan pemeriksanaan dan penyesuaian. Proses akuntabilitas berdasar pada prinsip-prinsip yang efektif. Bagian-bagian dari suatu hubungan akuntabilitas perlu dijelaskan terutama tentang informasi apa yang akan dilaporkan. yaitu: 1) akuntabilitas antara para sekutu. pemeriksaan. Dalam penerapan prinsip-prinsip tersebut perlu memperhatikan dua aspek proses akuntabilitas. dalam hal ini apakah tersedia kerangka kerja akuntabilitas untuk mendukung hubungan akuntabilitas yang kuat. Suryadi Syarif Definisi akuntabilitas di atas memberikan beberapa perbaikan terhadap akuntabilitas tradisional. 2) akuntabilitas resiprokal. 2) membantu pelaporan. kewajiban. sehingga tidak hanya digunakan dalam hubungan hirarkis. yaitu: 1) Tugas dan tanggung jawab. Kerangka kerja yang tepat adalah sangat penting untuk menciptakan akuntabilitas yang efektif. dalam hal ini apakah terdapat laporan yang efektif. akuntabilitas dari kinerja sulit dicapai. akuntabilitas mencakup tidak hanya laporan kinerja tetapi juga analisis dan refleksi terhadap kinerja tersebut menimbulkan perubahan yang tepat untuk perbaikan dan memberi konsekuensi yang tepat agar dapat membantu individu tersebut.Moh. dan kapan dilaporkan. 2) Kinerja yang diharapkan. 4) Mekanisme pemeriksaan dan penyesuaian. dan penyesuaian laporan. menetapkan suatu dasar untuk penilaian dan tidak merubahnya sebelum individu dalam pengaturan tersebut berubah. Hal ini diperlukan untuk memberikan pemahaman yang jelas atas tugas dan tanggung jawab. tidak hanya antara bawahan dengan atasan seperti dalam konsep akuntabilitas tradisional. Hal ini biasanya direfleksikan dalam dokumen-dokumen yang memuat susunan pokok-pokok akuntabilitas. setiap kelompok bertanggungjawab tidak untuk mencapai hasil tetapi juga bagaimana mencapai hasil tersebut. 3) Persyaratan pelaporan. yaitu: 1) kerangka kerja akuntabilitas. 3) keduanya penting dan berarti. 38 . Tanggung jawab dapat didelegasikan dari atasan kepada bawahan atau dalam hubungan kerjasama dapat didelegasikan kepada mitra kerja. dan otoritas yang berhubungan dengan pelaku-pelaku organisasi dalam suatu hubungan akuntabilitas. Saling memahami dan harapan yang diterima termasuk kontribusi apa yang diharapkan dari masing-masing bagian dan sejauhmana ketepatan penggunaannya akan dapat memperkuat hubungan akuntabilitas.

di antaranya adalah kompetensi dan akuntabilitas. dan pemerintah. Kompetensi yang dimaksud adalah pola perilaku yang dibutuhkan oleh kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya agar dapat berfungsi sesuai dengan kemampuan atau kecakapan yang diperlihatkan ketika mengerjakan tugas-tugasnya. sehingga semua unsur yang terlibat (guru. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur. dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam proses peningkatan mutu. Hal ini merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan dan harapan bagi yang berkepentingan. Akuntabilitas ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan.Kepemimpinan Kepala Sekolah Akhirnya. masyarakat. siswa. seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku kepada bawahannya. 3) Intellectual Stimulation. pegawai. dan pemerintah. KESIMPULAN Kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah adalah kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan inovasi dan kreativitas. 4) Individualized Consideration. 2) Inspirational Motivation. Sedangkan akuntabilitas yang dimaksud adalah keterhubungan mendasar antara 39 . Setiap kepala sekolah harus memberikan laporan pertanggungjawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua. bagaimana perbaikan harus dilaksanakan untuk meningkatkan kinerja. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. masyarakat. orangtua siswa. masyarakat. Kepala sekolah dituntut untuk memiliki akuntabilitas kepada sekolah. Terdapat beberapa hal pokok yang diperhatikan berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekolah. pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasehat. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh: 1) Idealized Influence. kejelasan diperlukan atas bagaimana dan siapa yang akan melakukan pemeriksaan dan penyesuaian.

eric. Jr.pdf. Curfis. ERIC: http://www. Nanus.oagbvg. akuntabilitas secara bersama-sama dengan kepemimpinan kepala sekolah. Inc. Suryadi Syarif kewajiban untuk mendemonstrasikan.M. G. T. nst/htm. 2004. sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi sekolah.uoregon. DAFTAR RUJUKAN Barrados. New York: John Wiley & Sons. 1994. Fundamentals of Supervision: The First Line Manajemen at Work. Dengan demikian maka berdasarkan penalaran ini diduga bahwa terdapat hubungan positif antara kompetensi. Keefektifan kedua komponen ini akan memberikan keyakinan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan. Pendidikan Network: http://pendidikan. J. ERIC. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan.net/. al. July 1993: http://www. & Thorp. Defining Competency (New Zealand. Leaders Who Make a Difference: Essential Strategies for Meeting the Nonprofit Challenge. Dharma.. serta harapan bagi yang berkepentingan terhadap keberhasilan pendidikan di sekolah. dan penggunaan sumber daya tertentu. Standar Kompetensi Kepala Sekolah. 2004.ca/domino/aogbvg. memeriksa. Modernizing Accountability in the Public Sector (Report of the Auditor General of Canada: http://www. & Dobbs.Moh.edu. dan tanggung jawab atas kinerja.defining%20. kesejahteraan. hak dan kewajiban. M. 1999. Agus. Schermerhorn.. San Fransisco: Jossey-Bass Publisher. W. Management.measuring/%20competency. 2004. 2002... S. pencapaian tujuan. Clearinghouse: Educational Manajemen Trend and Issues: the Role of School Leader. Untuk itu terefektifkannya ketiga komponen tersebut dalam kepemimpinan maka diharapkan akan dapat meningkatkan kinerja kepala sekolah.1999. inc. Comstock.gc. D. 2004. Kompetensi dan akuntabilitas kepala sekolah adalah merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan. 40 . R. et. New York: Delmar Publishers.. B.

Wirawan. 1985.Kepemimpinan Kepala Sekolah Steers. Eman. 41 . Kapita Selekta Teori Kepemimpinan: Pengantar untuk Praktek dan Penelitian. Jakarta: Yayasan Bangun Indonesia dan Uhamka Press.net/. http://www. Manajemen Pendidikan Masa Depan. 2004. 2003. pendidikan. USA: Kent Publishing Company. Managing Effective Organization.M. R. Suparman.

sehingga publik yang semula tidak berdaya (powerless) menjadi berdaya. termasuk di bidang pendidikan. Pelayanan publik.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. sering menjadi sorotan terutama kalau sudah menyangkut aspek kecepatan pelayanannya. April 2009 PERILAKU TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH DALAM PELAYANAN PUBLIK DI TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Ali Imron Universitas Negeri Malang Abstrak Dalam perspektif total quality management (TQM). dan satuan pendidikan sekolah. tenaga adminsitrasi. yang berupa ketrampilan teknis. Pertama. responsif dan antisipatif terhadap berbagai kebutuhan. Temuan kurang baiknya sistem pelayanan publik. mendapatkan momentum tepat ketika reformasi di berbagai bidang digulirkan di negeri ini. Oleh karena itu. agar ketika dibutuhkan berada dalam keadaan on-service. sekolah dipandang sebagai institusi publik yang harus dapat memuaskan customer-nya. dan sesuai harapan-tidaknya. selain harus menguasai berbagai hard skill. Kata kunci: Perilaku. dalam perspektif total quality management (TQM). Perspektif TQM ini. juga menguasai berbagai shoft skill yang senantiasa ditampilkan pada saat memberikan pelayanan prima sekaligus memuaskan kepada customer-nya. 1. memuaskan-tidaknya. termasuk di dalamnya adalah reformasi pelayanan publik di bidang pendidikan. aspirasi dan harapan stake holders sekolah sesuai Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. pelayanan publik. termasuk dalam institusi pendidikan sedikitnya disebabkan dua hal. Tenaga administrasi sekolah haruslah menunjukkan perilaku sebagai seorang pelayan publik yang pro aktif. bahwa publik sekarang telah mengalami perubahan sejalan dengan gerakan reformasi secara nasional. PENDAHULUAN Lembaga pendidikan dalam berbagai jenis dan tingkatannya diselenggarakan pada hakekatnya bukan untuk melayani dirinya sendiri. Pada hal. publik di bidang pendidikan adalah customer yang harus ditingkatkan kepuasannya. bahkan sangat 42 . 4. Paradigma pelayanan publik di tingkat satuan pendidikan sekolah patut digeser dari yang konvensional menuju ke kondisi yang senantiasa ter-update. No. melainkan melayani kepentingan publik.

Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah

berdaya (powerfull). Kedua, kenyataan di lapangan menunjukkan SDM institusi pendidikan belum memberikan pelayanan publik yang memuaskan. Pada latar institusi persekolahan, kedua alasan tersebut jika diruntut akan berujung pada persoalan tenaga kependidikan di sekolah. Salah satu dari tenaga kependidikan di sekolah yang banyak terkait langsung dengan pelayanan adalah tenaga administrasi sekolah. Ketatausahaan sendiri, dalam keseluruhan manajemen pendidikan di sekolah, adalah supporting system yang sangat menentukan keberhasilan sekolah secara keseluruhan. Dalam perspektif yuridis, setidaknya menurut Undang-undang nomor 20 tahun 2003 beserta peraturan perundangan-undangan turunannya, tenaga kependidikan (termasuk di dalamnya adalah tata administrasi sekolah), adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Pendidik dan tenaga kependidikan (termasuk tenaga administratisi sekolah) berkewajiban: menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Guna melaksanakan tugas-tugas administrasi sekolah, menurut Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah, dilakukan oleh tenaga administrasi sekolah/madrasah, yang terdiri atas kepala tenaga administrasi sekolah/madrasah, pelaksana urusan, dan petugas layanan khusus. KONDISI IDEAL PELAYANAN PUBLIK Menurut Lembaga Administrasi Negara (2000), pelayanan publik (public service) adalah pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah, termasuk institusi sekolah, baik dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pelayanan publik merupakan salah satu perwujudan dari fungsi aparatur negara sebagai abdi masyarakat disamping sebagai abdi negara. Pelayanan publik juga merupakan pelaksanaan dari peraturan pemerintah atau pihak lain yang terkait. Pelayanan publik juga dimaksudkan untuk mensejahterakan masyarakat, karena dengan pelayanan publik yang baik, diharapkan masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya. 43

Ali Imron

Pelayanan publik pada dasarnya merupakan kombinasi dari berbagai fungsi yang titik tekannya tergantung lembaga dan personel yang menerapkannya. Fungsifungsi yang harus dikombinasikan dalam penerapan pelayanan publik yang handal meliputi fungsi instrumental, politik, katalis, public interest, dan entrepreneurial (Sunaryo, 2005). Fungsi instrumental berkenan dengan menjabarkan perundang-undangan dan kebijakan publik ke dalam kegiatan rutin. Hal ini terkait dengan sosialisasi kebijakan yang berlaku bagi kegiatan tertentu yang berkaitan dengan pelayanan publik. Masyarakat butuh kejelasan kebijakan untuk urusan-urusan yang menyangkut dirinya. Semakin jelas kebijakan apa yang diterapkan untuk menyelesaikan urusan tertentu bagi masyarakat, maka semakin baik pula pelayanan publik tersebut. Tenaga administrasi sekolah memegang peranan penting dalam fungsi instrumental ini, karena lalu lintas informasi yang terkait dengan undang-undang dan peraturan pemerintah senantiasa melewati mereka. Fungsi politik pelayanan publik berarti memberikan input yang dapat berupa saran dan informasi. Berarti bahwa dalam pelayanan publik diperlukan tambahan informasi kepada masyarakat untuk memperjelas sistem pelayanan publik yang diberikan. Tenaga administrasi sekolah banyak berperan sebagai informan berbagai kebijakan sekolah kepada stake holders-nya. Pelayanan publik tidak boleh meninggalkan interes dan aspirasi masyarakat yang memerlukan pelayanan. Hal ini sesuai dengan fungsi katalis public interest. Interes dan aspirasi masyarakat diintegrasikan dengan kebijakan dan keputusan pemerintah atau pihak lain pembuat kebijakan pelayanan publik, dan diimplementasikan dalam bentuk layanan konkret oleh tenaga administrasi. Fungsi entrepreneurial, yang berkenaan dengan memberi inspirasi bagi kegiatan-kegiatan inovatif dan non-rutin. Dalam pelayanan publik diupayakan ada ruang untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan agar mempermudah, mempermurah dan mempercepat serta memperakurat data/informasi dalam pelayanan publik. Jika perlu, boleh menyimpang dari kelaziman asal tidak keluar dari koridor aturan dan misi sekolah. Di sinilah peran strategis tenaga administrasi ditantang, bagaimana agar lembaganya tetap akuntabel secara administratif. Birokrasi publik (termasuk birokrasi sekolah dikatakan profesional) manakala dalam pelayanan publik menunjukkan perilaku bertanggungjawab. Konsep tanggungjawab dibedakan menjadi 3, yaitu responsibilitas (responsibility), akuntabilitas (accountability), dan responsivitas (responsiveness) para pemberi layanan (Widodo, 2004). Responsibilitas diartikan sebagai kemampuan untuk 44

Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah

melaksanakan apa yang menjadi tugas pokok, fungsi, kewenangan, dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Tanggungjawab berarti capable to do atau professionality dan rasa tanggungjawab (sense of responsibility). Profesional berarti bahwa tatausahawan dituntut memiliki kecakapan teknis yang memadai dalam menjalankan tugas pokok, fungsi, kewenangan, dan tangungjawab dalam pelayanan publik. Dengan memiliki kecakapan teknis, mereka dapat menjalankan tugas dan tanggungjawab secara efektif, efisien, dan produktif. Rasa tanggungjawab berarti tenaga administrasi sekolah melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya secara serius meskipun tidak ada pihak lain yang mengawasinya. Tenaga administrasi tetap menjaga keberpihakan kepada kepentingan publik, meskipun untuk melakukan penyelewengan bagi mereka cukup terbuka. Akuntabilitas merupakan kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja atas tindakan seseorang/pimpinan/badan hukum suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. Untuk kepentingan ini, tenaga administrasi sekolah hendaknya bersikap transparan (transparency) dan terbuka (openness) atas apa yang ditanyakan publik. Tenaga administrasi dinyatakan akuntabel manakala mereka dinilai secara obyektif oleh masyarakat telah dapat mempertanggungjawabkan segala macam perbuatan, sikap, dan sepakterjangnya kepada publik. Responsivitas diartikan sebagai daya tanggap tenaga administrasi terhadap apa yang menjadi permasalahan, kebutuhan, keluhan, dan aspirasi publik yang dilayaninya. Dengan demikian, tenaga administrasi sekolah dikatakan responsif (cepat tanggap dan cepat menanggapi) yang tinggi jika tanggap terhadap permasalahan, kebutuhan, keluhan, dan aspirasi stake holders sekolah yang dilayani. Sunarto (2005) menyatakan bahwa prinsip-prinsip dalam pelayanan publik meliputi: berdayakan masyarakat, yang dapat berupa penciptaan iklim kebebasan untuk berprakarsa dan berkreasi bagi masyarakat; optimalkan pelayanan publik, yakni pelayanan masyarakat yang efisien, adil, mudah dan mendekatkan unit pelayanan ke masyarakat; buka ruang partisipasi publik, dimana dalam manajemen di lembaga pendidikan sedapat mungkin (jika perlu) melibatkan masyarakat dalam merencanakan, pengorganisasikan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan; dan ubah gaya kerja personel lembaga pendidikan, yang semula ingin dilayani menjadi pelayan bagi masyarakat yang memerlukan.

45

Ketujuh. dalam rangka menyelesaikan masalah yang terjadi ketika pelayanan diberikan. lambat atau bahkan tidak sampai kepada mereka. Namun jika dilihat dari sisi efisiensi dan efektivitas. sehingga menyulitkan bagi mereka yang memerlukan pelayanan tersebut. maupun harapan masyarakat seringkali lambat atau bahkan diabaikan sama sekali. Pelayanan pada umumnya dilakukan dengan melalui proses yang terdiri dari berbagai level. tanpa ada perbaikan dari waktu ke waktu. dan kesamaan perlakuan (tidak diskriminatif) masih jauh dari yang diharapkan. Respon terhadap berbagai keluhan. pelayanan dilaksanakan dengan apa adanya. Akibatnya. sebagaimana dikedepankan oleh Imron (2007). berbagai masalah pelayanan memerlukan waktu yang lama untuk diselesaikan. aspirasi. Temuan Mohamad. Keenam. Berbagai unit pelayanan yang terkait satu dengan lainnya sangat kurang berkoordinasi. responsivitas. masih terlalu birokratis. Pertama. Akibatnya. Pada umumnya aparat pelayanan kurang memiliki kemauan untuk mendengar keluhan/saran/aspirasi dari masyarakat. bahwa secara umum stakeholders menilai bahwa kualitas pelayanan publik mengalami perbaikan setelah diberlakukannya otonomi daerah. dan di lain pihak kemungkinan masyarakat untuk bertemu dengan penanggungjawab pelayanan. kurang accessible. Kedelapan. Kedua.Ali Imron KONDISI RIIL PELAYANAN PUBLIK Menurut hasil survey yang dilakukan UGM pada tahun 2002. kurang mau mendengar keluhan/saran/aspirasi masyarakat. kurang koordinasi. Kelima. masih menunjukkan inefisien. Berbagai informasi yang seharusnya disampaikan kepada masyarakat. Akibatnya. juga sangat sulit. Kondisi ini terjadi pada hampir semua tingkatan unsur pelayanan. sehingga menyebabkan penyelesaian pelayanan yang terlalu lama. kemungkinan tenaga administrasi untuk dapat menyelesaikan masalah sangat kecil. mulai pada tingkatan petugas pelayanan (front line) sampai dengan tingkatan penanggungjawab institusi. sering terjadi tumpang tindih ataupun pertentangan kebijakan antara satu instansi pelayanan dengan instansi pelayanan lain yang terkait. masih kurang responsif. masih kurang informatif. Keempat. Berbagai unit pelaksana pelayanan terletak jauh dari jangkauan masyarakat. bahwa pelayanan yang dilakukan oleh institusi publik paling tidak ditunjukkan dengan kondisi sebagai berikut. Berbagai persyaratan yang diperlukan (khususnya dalam pelayanan perijinan) seringkali tidak relevan dengan pelayanan yang diberikan. Dalam kaitan dengan penyelesaian masalah pelayanan. 46 .

Sekolah selalu mendengar suara pelanggan. bagi sekolah tidak lepas dari kreatifitas tata usahawannnya.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah MENGGESER PARADIGMA PELAYANAN PUBLIK DI SEKOLAH Sekolah (terutama yang berstatus negeri) adalah ujung tombak terdepan dalam pelayanan publik di lingkungan Depdiknas. Dalam persoalan pendidikan anak. dan memperhatikan hukum pelanggan (termasuk dalam hal ini hak-hak pelanggan sekolah) (Ramalia dalam LAN. Kedua. Yang semula sekolah lebih banyak melayani kebutuhan birokrasi yang lebih tinggi dan kemungkinan sekolah sendiri minta dilayani masyarakat. Petama. Oleh karena itu. dengan bantuan staf tata usaha haus dilakukan. memperhatikan kebutuhan dasar dan keinginan pelangggan. Stakeholder dalam arti luas dilibatkan dalam pembuatan keputusan utamanya berkenaan dengan kepuasan pelayanan publik di sekolah. Pelayanan pelanggan sekolah diartikan sebagai proses yang secara sadar dan terencana yang dilakukan oleh sekolah melalui pemberian pelayanan kepada pelanggan agar pelanggan mencapai kepuasan secara optimal. pelanggan dipakai sebagai sasaran pencapaian tujuan. Untuk dapat menjalankan fungsi yang memuaskan pelanggan. Hal ini sebagai upaya untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi dan upaya mengantisipasi pemecahan masalah yang kemungkinan akan dihadapi pada masa yang akan datang. penting 47 . Salah satu cara yang dapat digunakan sekolah agar dapat melayani masyarakat dengan prima adalah kemauan untuk menggeser paradigma birokrasi yang lebih sibuk dengan urusan internal. menjadi berorientasi pada pelanggan sekolah. Tenaga administrasi sekolah perlu kreatif mengidentifikasi masalah-masalah yang sedang maupun yang akan dihadapi dalam praktik pemberian layanan sehari-hari. sekolah haruslah responsif dalam menyikapi kemauan masyarakat tanpa mengorbankan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan sekolah. Untuk mewujudkan dan mempertahankan kepuasan pelanggan sekolah. Oleh sebab itu. orang tua dan masyarakat selalu menginginkan agar anaknya mendapatkan pendidikan terbaik dan mendapatkan pelayanan yang prima. maka diubah agar sekolah lebih responsif dalam memberikan pelayanan yang bersifat memenuhi kebutuhan pelanggan atau masyarakat yang memerlukan. Di sini peran personel hubungan masyarakat. perlunya memahami tingkat harapan pelanggan sekolah atas kualitas pelayanan. dapat dilakukan 4 hal sebagaimana pendapat Ramalia (2001). perlu perubahan paradigma birokrasi di sekolah. Dalam meningkatkan daya saing sekolah. 2001). Harapan tingkat kepuasan pelanggan. Sekolah diharapkan memposisikan pelanggan sebagai hal yang paling depan. mengidentifikasi kembali siapa pelanggan sekolah tersebut.

Pelanggan perlu diikutsertakan dalam perencanaan hal-hal penting bagi keberlanjutan pelaksanaan pendidikan anak-anak di sekolah. Lebih lanjut Ramalia (2001) mengemukakan bahwa layanan pelanggan sekolah yang baik memperhatikan sembilan aspek keinginan pelanggan sebagai berikut: (1) bebas membuat keputusan.Ali Imron diketahui sebagai acuan untuk menentukan tujuan dan tolak kepuasan pelanggan. Peranan staf tata usaha sebagai supporting system di sekolah sangatlah penting. Keempat. maka kepuasan pelanggan atau pengguna jasa pelayanan di sekolah sulit diketahui. proses belajar mengajar. Dengan umpan balik akan dapat diketahui hal-hal mana yang perlu diperbaiki dan mana yang perlu dipertahankan atau ditingkatkan. 48 . memahami siklus pengukuran dan umpan balik dari kepuasan pelanggan. jenis tenaga kependidikan (termasuk tenaga administrasi atau tenaga asministratif) diatur menurut jalur. (5) diterima dan disambut secara baik. dan (9) menuntut keadilan. antara lain penentuan pelaksanaan kurikulum sekolah. bahwa sekolah hendaknya mengikutsertakan pembuatan keputusan bagi pelanggannya. Tanpa tolak ukur yang jelas. Diantaranya. memahami strategi kualitas layanan pelanggan yang terwujud dalam standar pelayanan prima. (3) mempertahankan harga diri. Ketiga. Perubahan paradigma yang disikapi oleh sekolah dalam hal ini cukup banyak. (6) diberitahukan segala sesuatu yang terjadi. jenjang. TK/RA atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala TK/RA dan tenaga kebersihan TK/RA. Umpan balik penting untuk mekanisme perencanaan dan pelaksanaan pelayanan berikutnya. dan pendidikan moral. kegiatan ekstrakurikuler. Standar pelayanan yang dipakai sebagai tolak ukur adalah standar pelayanan prima. (8) didudukkan sebagai orang penting. Pada pasal 35-37 dinyatakan sebagai berikut: Tenaga kependidikan pada: a. dan jenis pendidikan. Hal ini dapat dicapai melalui strategi yang dapat menjamin kualitas pelayanan prima yang didukung pula oleh personel pelayanan yang prima. (2) memperoleh hasil sesuai dengan keinginan. (4) mendapatkan perlakuan secara adil. POSISI STRATEGIS TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH Berdasarkan ketentuan dalam Standarisasi Nasional Pendidikan. (7) merasa aman dan dilindungi haknya.

Agar pelayanan publik yang dilakukan oleh tenaga administrasi sekolah dapat optimal. tenaga administrasi. e. SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat dan SMA/MA. tenaga administrasi. dimana proses dan hasil pelayanan dapat memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat yang dilayani. f. dan tidak boleh ada pengulangan persyaratan. tenaga perpustakaan. tidak berbelit-belit. dan tenaga perpustakaan. SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. efisiensi. dan terapis. atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. tepat. Sistem pelayanan publik dengan sederhana perlu dilaksanakan. ketepatan waktu dan kuantitatif. SDLB. pekerja sosial. dan SMALB atau bentuk lain yang sederajat sekurangkurangnya terdiri atas kepala sekolah. teknisi sumber belajar. utamanya yang memerlukan pelayanan publik. yakni kesederhanaan. ada beberapa kriteria. tenaga laboratorium. Paket A. Kesederhanaan. psikolog. tenaga administrasi. tenaga perpustakaan. tenaga perpustakaan. Kejelasan dan kepastian tentang prosedur/tata cara pelayanan. ekonomis. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. Paket B dan Paket C sekurang-kurangnya terdiri atas pengelola kelompok belajar. persyaratan pelayanan. tenaga laboratorium. dimana persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan. Tentang hal ini perlu diinformasikan secara jelas kepada masyarakat luas. tenaga administrasi. unit kerja atau personel yang bertanggungjawab memberikan pelayanan. dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang memerlukan pelayanan. Faktor keterbukaan. tenaga kebersihan sekolah. rincian biaya dan tata cara pembayaran pelayanan (jika ada). keamanan. kejelasan dan kepastian. 49 . SMPLB. Kriteria lain adalah efisiensi. dan jadwal waktu penyelesaian pelayanan.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah b. tenaga administrasi. artinya segala hal yang berkenaan dengan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat diberitahukan secara terbuka kepada masyarakat yang dilayani. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. d. keterbukaan. tenaga perpustakaan. c. cepat. artinya bahwa pelayanan publik dilaksanakan secara mudah. keadilan. mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia (penerima layanan) masih berpendidikan rendah. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. Keamanan. tenaga laboratorium. mudah dipahami.

penggunaan perangkat teknologi modern untuk memperlancar pelayanan. dimana jangkauan pelayanan diusahakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata dan diberlakukan secara adil bagi seluruh lapisan masyarakat. 4. perilaku berikut haruslah dapat ditunjukkan: 1. Tenaga administrasi sekolah. perilaku berikut haruslah dapat ditunjukkan. Tenaga administrasi sekolah selalu mengusahakan memberikan layanan kepada customer lebih cepat dari batasan waktu yang ditetapkan. kecermatan. yaitu: 1. Yang terakhir adalah faktor kuantitatif. Tenaga administrasi sekolah memahami ketepatan waktu sangat penting diperhatikan dalam memberikan layanan kepada customer. Terkait dengan waktu. Sejumlah perilaku pelayanan tersebut. yakni jumlah masyarakat yang dilayani naik atau turun. artinya pelayanan kepada masyarakat harus tepat waktu sesuai yang ditentukan dan diinformasikan kepada masyarakat. responsif. 2. rata-rata lamanya waktu pelayanan. semua itu terdata secara kuantitatif sebagai upaya terus menerus mengembangkan pelayanan kepada masyarakat. meluangkan waktu melebihi dari waktu yang ditetapkan dalam memberikan layanan administrasi kepada customer. 3. sejumlah perilaku pelayanan haruslah dapat diinternalisasikan dan bahkan ditunjukkan oleh tenaga administrasi dalam memberikan layanan kepada customer-nya. PERILAKU TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH Agar pelayanan publik di sekolah bisa memuaskan customer. proaktif. dan frekuensi keluhan dan pujian dari masyarakat yang diberi layanan. dan ketentuan perundangan yang berlaku. Faktor ketepatan waktu. 2. 2007). kondisi/kemampuan masyarakat. menyangkut waktu. Tenaga administrasi sekolah dapat memposisikan diri sesuai dengan TUPOKSI dalam memberikan layanan kepada customer. profesionalitas. Terkait dengan relevansi layanan. Tenaga administrasi sekolah mengetahui target waktu yang diperlukan untuk memberikan layanan kepada customer. 50 . Faktor keadilan dan merata. Tenaga administrasi sekolah menyadari keterkaitan TUPOKSI dengan keseluruhan layanan administrasi di dalam maupun di luar unit kerja. kapabel dan cakap (Imron. berarti biaya pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhatikan nilai barang dan jasa pelayanan. helpful dan friendly. jika dirasakan perlu.Ali Imron Kriteria ekonomis.

4. 5. sehingga mereka merasakan kepuasan dari layanan yang diterimanya. Tenaga administrasi sekolah memahami langkah-langkah kerja yang harus dilalui sebelum memberikan layanan. jika persoalan yang dimiliki oleh customer sedikit banyak telah terpecahkan melalui bantuan dan pekerjaan yang ia lakukan. Tenaga administrasi sekolah menyadari. Tenaga administrasi sekolah memahami dan mampu mempraktikkan TUPOKSI-nya dalam rangka pemberian layanan administrasi kepada customer.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah 3. Tenaga administrasi sekolah menyadari. perilaku demikian akan ditunjukkan manakala: 1. Seorang tenaga administrasi sepatutnya juga helpful dan friendly. Tenaga administrasi sekolah merasa bangga dan senang. Agar tenaga administrasi bisa cermat dalam memberikan pelayanan. 3. karena itu ia senantiasa berpikir bahwa keberadaaan dirinya adalah untuk membantu mereka. bahwa customer adalah segalanya. Tenaga administrasi sekolah memiliki inisiatif untuk melakukan upaya pencegahan terhadap kesalahan/kelemahan/hambatan dari layanan kepada customer. bahwa yang menjadi pelayan adalah dirinya. 2. Tenaga administrasi sekolah mendahulukan kepentingan customers. 4. Oleh karena itu. 51 3. bahwa keberadaan dirinya sangat banyak ditentukan oleh keberadaan customer-nya. Tenaga administrasi sekolah memiliki sense perfective atas segala layanan yang dilakukannya. tenaga administrasi sekolah melakukannya dengan sungguh-sungguh. sesungguhnya dirinya tidak akan punya fungsi dan peran apapun dalam lingkup pekerjaannya. Tenaga administrasi sekolah menggunakan peralatan bantu untuk kecepatan dan ketepatan proses dalam memberikan layanan kepada customer. Tenaga administrasi sekolah berupaya melakukan check and recheck atas hasil layanan yang diberikan kepada customer. perilaku berikut haruslah memainkan peranan sebagai berikut: 1. Ketika memberikan layanan. 5. 4. 2. bahwa tanpa ada customer. 6. . karena itu ia tidak pernah berpikir bahwa customer-lah yang harus melayani dirinya. Tenaga administrasi sekolah menyadari. Tenaga administrasi sekolah menyadari.

agar ketika sejawatnya berhalangan. bagaimana agar mereka mendapatkan kesukaran. Tenaga administrasi sekolah berusaha agar customer yang dilayani tidak usah menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan dari dirinya. Dalam memberikan pelayanan. Ketika customer tidak mengerti cara mengakses pelayanan. Tenaga administrasi sekolah berusaha agar persoalan yang dihadapi oleh klien terkait layanan yang ia dapatkan. tidak sangar. kapan ia harus melayani customer-nya. 52 . ketika memberikan pelayanan tidak menunggu perintah dari atasannya. Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir dan berangan-angan. Ketika ada customer yang kebingungan saat berproses mendapatkan pelayanan. ia selalu berusaha untuk mengutamakan kepentingan customer dalam setiap memberikan pelayanan. bahwa pekerjaan melayani customer adalah tanggungjawab dirinya sepenuhnya. 3. Responsiveness dan pro-aktif juga akan dapat ditunjukkan. Karena itu. tenaga administrasi sekolah berusaha secepatnya untuk memberikan bantuan. Jika tenaga administrasi sekolah mempunyai persoalan (pribadi. 8. bahwa yang harus ia utamakan dalam memberikan layanan adalah customer. 7. tenaga administrasi sekolah melakukannya dengan senang hati. 5. apa lagi sampai berpengaruh terhadap cara memberikan layanan kepada customer-nya. smile. Dalam memberikan layanan. tenaga administrasi sekolah menunjukkan wajah yang ramah. kapan ia berhenti tidak memberikan pelayanan kepada customer. 9. secepatnya dapat dituntaskan. 8. Tenaga administrasi sekolah menyadari. Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir. tenaga administrasi sekolah menawarkan bantuan. manakala: 1. 2. 10. ia akan dapat menggantikan dalam memberikan pelayanan.Ali Imron Dalam memberikan layanan. tenaga administrasi sekolah memperlakukan pihak yang dilayani sebagai customer (pelanggan). tidak dibawanya ke tempat kerja. dengan menanyakan: apa yang dapat saya bantu? Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir dan berusaha bagaimana agar customer menjadi mudah dalam urusannya. tanpa terus menunggu perintah dari atasan langsungnya. 6. 9. sosial. dan bukan sebaliknya. pekerjaan). 4. Bukan sebaliknya. Karena itu. Tenaga administrasi sekolah berusaha untuk mengetahui alur kerja sejawatnya. menyenangkan. 7.

tenaga administrasi sekolah selalu mencari alternatif solusi yang terbaik. Profesionalitas. akan memperendah mutu pelayanan yang dapat ia berikan. Ketika ada sejawat yang mengalami masalah terkait dengan pekerjaannya. kapabilitas dan kecakapan juga akan dapat ditunjukkan. sehingga seluruh pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. Dalam setiap memberikan pelayanan. Tenaga administrasi sekolah akan membantu memecahkannya. tenaga administrasi sekolah mengutamakan ketuntasan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. 6. Tenaga administrasi sekolah selalu berusaha melakukan perbaikan terus menerus mutu pelayanan (kaizen) yang ia berikan sehingga kepuasan customer-nya makin lama makin meningkat. tenaga administrasi sekolah selalu mencari cara-cara yang tercepat. dan tidak justru menunggu kapan sejawat dan atasannya bertanya kepada dirinya. benar-benar terencana (by design). Tenaga administrasi sekolah memahami prosedur dan alur kerja beserta dengan jiwa yang dikandung oleh prosedur dan alur kerja tersebut. 10. 8. Dalam setiap memberikan pelayanan kepada customer. 3. 53 . 2. 4. tenaga administrasi sekolah tidak menunda-nunda (menggampangkan). dan tidak semata-mata mengacu kepada waktu dan jam kerja. Terhadap pekerjaan yang harus ia selesaikan. 5. dan bisa memuaskan customernya. 9. ia tanya kepada atasannya atau sejawatnya. manakala: Tenaga administrasi sekolah menyusun schedule secara pribadi untuk penyelesaian pekerjaannya. tanpa harus melanggar koridor aturan dan prosedur beserta dengan jiwa yang dikandung oleh aturan dan prosedur tersebut. Dalam menyelesaikan pekerjaan. tertepat dan terakurat. tenaga administrasi sekolah bertindak tenang dan tidak panik meskipun ketika berada dalam tekanan.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah 10. karena jika menumpuk. Ketika ia punya persoalan dan kesulitan dalam setiap memberikan pelayanan. 1. tanpa keluar dari koridor dan jiwa prosedur yang telah ditetapkan. Dalam melaksanakan setiap pekerjaannya. 7. tenaga administrasi sekolah senantiasa berpedoman kepada alur kerja yang telah ditetapkan oleh atasannya. Terhadap berbagai persoalan terkait dengan pekerjaannya. sehingga pekerjaan sejawatnya tidak terbengkalai.

kecermatan. kapabel dan cakap. Malang: Universitas Negeri Malang. Lembaga Administrasi Negara dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. melainkan melayani publik. berada dalam keadaaan senantiasa on-service. Guna mewujudkan birokrasi yang senantiasa on-service dan memuaskan pelanggan. DAFTAR RUJUKAN Imron. sangatlah penting. Jaminan Layanan Mutu Administrasi di Sekolah. rekomendasi yang dapat diberikan adalah. yang sepatutnya diposisikan sebagai pelanggan (customer). perlunya peningkatan hard skill dan shoft skill yang terkait dengan perilaku tenaga administrasi oleh institusi yang bertangungjawab dalam peningkatan kualitas SDM Pendidikan. juga patut selalu membelajarkan tenaga kependidikan (termasuk tata usahawannya) agar selalu meng-update berbagai cara yang dilakukan dalam pelayanan publik. Ia tidak saja hanya dituntut menguasai hard skill dan shoft skill sebagai tenaga yang berada pada posisi supporting system dalam keseluruhan aspek substantif sekolah. helpful dan friendly. proaktif. atau stake holders sekolah. Makalah Disampaikan pada Pelatihan Administrasi Sekolah pada Staf Administrasi Sekolah. sekolah harus menggeser paradigma pelayanan publik yang konvensional menjadi pelayanan publik yang pro aktif. Sekolah sebagai organisasi pembelajar. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara. profesionalitas. responsif. 2007. Konsekuensi logisnya. berbiaya rendah. 2000. karena posisinya yang secara langsung bersentuhan dengan layanan publik. dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Badan Kepegawaian Daerah di tingkat Kabupaten Kota. Birokrasi sekolah. 54 .Ali Imron KESIMPULAN Sekolah adalah institusi yang tidak hanya bermaksud untuk melayani diri sendiri. melainkan juga menunjukkan perilaku yang mendukung terhadap kepuasan customer sekolah. dengan demikian. Akuntabilitas dan Good Govermance. Perilaku tersebut terkait dengan pengunaan waktu. responsif. sederhana. karena keberdayaan pengguna layanan memungkinkan mereka makin meningkatkan tuntutannya terhadap pelayanan publik yang diberikan oleh institusi sekolah. Berdasarkan keseluruhan uraian tersebut. Ali. dan efektif sehingga memuaskan customer. cepat. maka posisi tenaga administrasi sekolah. tanggap.

Surabaya: Adipura. J. Widodo. M. 2004. 55 . Jakarta: Lembaga Administtasi Negara. Surabaya: Badan Diklat Propinsi Jawa Timur.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. Swantanisasi Alternatif Reformasi Birokrasi Pelayanan Publik. 2005. Sunaryo. Ramalia. Reformasi Sistem Pelayanan Publik. Etika Pelayanan Masyarakat (Pelanggan): Upaya Membangun Citra Birokrasi Modern. 2001. Bunga Ramapai Wacana Administrasi Publik: Menguak Peluang dan Tantangan Administrasi Publik.

B. namun demikian gudang buku dan perpustakaan sangatlah berbeda. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. 4. sementara perpustakaan berorientasi sosial bukan untuk dijual. April 2009 PROBLEMATIKA PERPUSTAKAAN SEKOLAH PADA PENDIDIKAN DASAR DAN ALTERNATIF SOLUSINYA Sri Marmoah Universitas Batanghari Jambi Abstrak Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. Gudang buku identik dengan toko buku. fungsi. No. Perpustakaan Sekolah. Kemiripan dari keduanya terletak pada sama-sama memiliki gedung. manfaat dan tujuan serta aktifitas di dalamnya. tidak terlalu banyak orang yang berminat untuk mengkajinya. ada yang mengaturnya. 56 . menumbuhkan minat baca. orang awam sekalipun tentu paham bahwa perpustakaan sangatlah berbeda dengan gudang buku walaupun terdapat banyak kesamaannya. ada securitinya dan ada organisasi yang mengaturnya. baik itu secara konsep atau teori maupun secara empirikal.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. Gudang buku mungkin bisa dikategorikan menjadi beberapa jenis atau tipe. di dalamnya terdapat buku-buku yang jumlahnya banyak. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala di lapangan. Sementara sekolah yang memiliki perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. 1. Kata Kunci: Problematika solusinya. Jurnal. jelas bernuansa bisnis. alternatif PENDAHULUAN Ketika orang menyebut kata perpustakaan maka pikiran orang yang mendengar akan tertuju kepada sebuah tempat atau bangunan yang berisi banyak buku. Tentang perpustakaan itu sendiri. Walaupun demikian. misalnya tipe A. bahkan ada birokrasi di dalamnya. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah pada pendidikan dasar yang belum memiliki perpustakaan. ada aturan mainnya. dan seterusnya dan perpustakaanpun demikian. baik dalam jenis. di sana ada pembukuannya. C. Itulah kesamaannya. Tulisan ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya.

Dengan adanya perpustakaan sekolah diharapkan dapat memenuhi harapan sebagai tempat/sarana untuk menggairahkan semangat belajar. Keempat. spiritual. sikap. salah satunya adalah perpustakaan sekolah. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. pembinaaan intelektual. Ketiga. Pengelolaannya tidak profesional yang disebabkan oleh ketiadaan tenaga pengelola (pustakawan) yang profesional. Kita tidak tahu apa alasannya dan mengapa hal demikian itu yang terjadi. pertama karena siswa pada pendidikan dasar untuk mendapatkan pengetahuan itu harus banyak membaca. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. dan dana yang terbatas.Problematika Perpustakaan Sekolah masmedia dan sejenisnya juga tidak terlalu peduli dengan keberadaannya. Tugas siswa lainnya mencakup bercerita. Mengapa yang diteropong adalah perpustakaan sekolah. harus dimulai dari anak pada tingkat pendidikan dasar. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah yang belum memiliki perpustakaan. membuat karangan baru. cerita. jam buka yang sangat terbatas. dikaitkan dengan pengembangan ketrampilan berbahasa baik membaca. menumbuhkan minat baca. dan berbicara maka peran dari perpustakaan sekolah itu sangat penting. puisi termasuk membaca. fasilitas kurang memadai. antara lain lokasinya kurang nyaman/kondusif. Jikapun ada. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala. untuk dapat membaca perlu sarana. koleksi buku terbatas. kondisinya belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan sebagai tempat/sarana untuk menggairahkan semangat belajar. Contoh guru memberi tugas ke perpustakaan kemudian siswa disuruh merangkum. bahwa perpustakaan sekolah sebagai perangkat pendidikan di sekolah merupakan bagian integral dari sistem kurikulum sekolah bersama dengan sumber belajar yang lain. Kedua. Karena dasar awal anak yang diperoleh dari pembelajaran di kelas juga di perpustakaan. majalah. Pada dasarnya keprihatinan kita akan kondisi perpustakaanlah yang membuat kita merasa perlu untuk melangkah secara serius dan lebih sistematis. Memang perpustakaan sekolah menjadi objek yang kurang diminati di negeri ini. menulis. dikaitkan dengan pengembangan budaya baik budaya daerah maupun nasional siswa pada pendidikan dasar itu dapat diperoleh melalui perpustakaan. kutbah yang dapat mengembangkan kemampuan berbicara. 57 . menumbuhkan minat baca. Mengapa pada pendidikan dasar. karena ada buku. Perpustakaan Sekolah bertujuan mendukung proses kegiatan belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan. Perpustakaan tidak dianggap penting. berpidato. menulis.

Sedangkan prinsip-prinsip manajemen adalah dasar atau asas kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir dalam manajemen. PEMBAHASAN Fungsi Manajemen Perpustakaan Sekolah Menurut Agus Sutoyo dan Joko Santoso (2001:189) “Manajemen perpustakaan adalah suatu proses kegiatan yang dilaksanakan perpustakaan untuk mencapai sasaran seefisien mungkin dengan mendayagunakan semua sumber daya yang ada. tetapi perlu modifikasi dan penyesuaian diantara keduanya. yaitu planning (perencanaan). manajemen perpustakaan adalah pengelolaan perpustakaan yang didasarkan kepada teori dan prinsip-prinsip manajemen. alternatif solusi mengefektifkan peran perpustakaan sekolah. dkk. Dikaitkan dengan pendapat tersebut. dapat dijelaskan bahwa manajemen perpustakaan tidak semata-mata berdasarkan teoritis tetapi bagaimana mengimplementasikan teori tersebut dalam praktek operasionalnya. Saya yakin bahwa tulisan ini akan kembali mengingatkan kita tentang betapa besarnya peran perpustakaan sekolah dalam upaya mendukung keberhasilan pendidikan di lembaga itu dan tentunya mendukung tujuan pendidikan nasional.Sri Marmoah Tulisan kecil ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Teori manajemen adalah suatu konsep pemikiran atau pendapat yang dikemukakan mengenai bagaimana ilmu manajemen untuk diterapkan dalam suatu organisasi. Sedangkan menurut Sutarno (2006:20). sehingga perpustakaan memang merupakan salah satu sarana sumber belajar yang harus dikelola dengan manajemen terbaiknya. Dengan demikian manajemen perpustakaan sekolah juga melaksanakan hal-hal tersebut disertai dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun tujuan sekolah. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan sumbangan konsep pemikiran tentang alternatif solusi dari segala problematika perpustakaan sekolah yang terjadi di lapangan selama ini. sarana. metode. melalui jasa layanannya dan kegiatan perpustakaan lainnya yang menunjang kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolah. organizing 58 . 1995) melaksanakan fungsi manajemen sebagai dasar pengelolaannya. 1995) maupun perpustakaan sekolah (Soelistia. Dalam kenyataannya tidak semua teori dapat diterapkan sepenuhnya. idealnya perpustakaan sekolah ke depan. meliputi SDM. serta dana”. Ruang lingkup penulisan ini mencakup tentang manajemen perpustakaan ditinjau dari fungsi dan unsur-unsurnya. kondisi riil perpustakaan sekolah di lapangan. Manajernen perpustakaan (Abdul Rahman Saleh dan Fahidin.

c. Mengatur produksi sumber belajar dalam perpustakaan sekolah (jika d. pustakawan sekolah dapat bekerjasama dengan guru untuk menentukan materi atau bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat pendidikan. dan mengelola perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan para pemakainya. e. serta staf pengajar untuk menggunakan perpustakaan sekolah sebagai tujuan proses belajar mengajar. dan controlling (pengendalian). dkk (1995-26-3-21) menjelaskan tentang manajemen perpustakaan sekolah yang berpedoman pada lima aspek tersebut. intisari penulisannya berikut ini: 1. Menentukan tujuan perpustakaan sekolah Dalam menentukan tujuan. Perencanaan (Planning) Perencanaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam proses pengelolaan perpustakaan sekolah. b. Pengorganisasian (Organizing) Pengorganisasian atau pengaturan perpustakaan sekolah merupakan tanggung jawab pustakawan sekolah. dan akurat. 59 . Pengaturan pelayanan peminjaman yang efisien kepada staf pengajar maupun siswa. Mengidentifikasi pemakai perpustakaan sekolah yang akan dilayani.Problematika Perpustakaan Sekolah (pengorganisasian). b. Bahan-bahan atau sumber informasi yang ada di perpustakaan perlu diatur sebaik mungkin sehingga guru maupun siswa yang memerlukannya dapat memperoleh dengan cepat. Ada beberapa hal penting yang harus dipikirkan dalam tahap perencanaan. staffing (pengaturan staf). Menjalankan suatu sistem yang memungkinkan sumber-sumber informasi dalam bentuk perangkat keras (jika dipusatkan). tepat. Menyediakan sistem yang efisien mengenai pelayanan pemesanan bahan atau koleksi yang ada di sekolah. 2. Lebih lanjut Soelistia. yaitu: a. directing (pengarahan). Organizing merupakan aspek manajemen yang menyangkut penyusunan organisasi manusia dan bahan atau materi. Kegiatan ini meliputi: a. untuk menentukan keterampilan yang dibutuhkan oleh siswa. Memberikan sistem yang fleksibel bagi siswa baik perorangan maupun kelompok. untuk membantu dalam penyediaan bahan sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan.

perencana. Dengan kata lain peran seorang pimpinan benarbenar diperlukan dalam mendorong staf yang dipimpinnya sehingga mereka dapat bekerja seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan yang diinginkan. dan f. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam aspek kontrol di perpustakaan sekolah diantaranya adalah: (1) selalu menyadari tujuan yang sedang dilaksanakan. 5. Pengendalian (Controlling) Pustakawan sekolah harus menyadari pentingnya kontrol di suatu organisasi. dan konsep yang brilian. bermental dan bermoral jujur. seorang pustakawan sekolah harus mengetahui teknik dan proses yang diperlukan dalam seleksi dan penerimaan staf (staff recruitment). baik dari dalam atau pengawasan melekat (built in control) maupun pengawasan dari luar (pengawasan fungsional). pemantauan. Pengarahan (Directing) Dalam konteks perpustakaan sekolah. dan pembinaan staf sesuai tugas dan tanggung jawab yang diberikan berdasarkan kemampuan dan bidang keterampilan yang dimiliki. dan pelaksana yang handal. dan mempunyai semangat untuk mengabdikan dirinya kepada kemajuan organisasi. dan pelayanan kepada staf. gagasan. disiplin. berkomunikasi dengan staf. pengarahan merupakan tanggung jawab pimpinan perpustakaan. Manusia (Man) Pada dasarnya maju atau mundurnya sebuah perpustakaan akan sangat ditentukan oleh manusia-manusia yang mempunyai ide. Sementara itu untuk pengawasan dapat dilakukan. perpustakaan sebaiknya memiliki tenaga-tenaga ahli pemikir. 4. mau berkurban dan bermotivasi bekerja.Sri Marmoah ada). 3. (2) menghindari kegiatan yang tidak efisien. Pengaturan Staf (Staffing) Staffing adalah kegiatan pengaturan. cemerlang. Unsur-Unsur Manajemen Perpustakaan 1. termasuk perpustakaan. Oleh karena itu. dalam rangka 60 . Perpustakaan sekolah sebagai salah satu sarana sumber belajar yang merupakan bagian dari organisasi sekolah memerlukan sumber daya manusia (SDM) sebagai pengelola perpustakaan. training atau pelatihan staf. Dalam kegiatan staffing ini. Mengawasi dan mengatur pekerjaan bagi pustakawan atau staf perpustakaan yang lain. (3) evaluasi terhadap pelayanan yang telah dilakukan.

Semua proses merupakan bagian pola umum. dan berkontribusi terhadap peningkatan prestasi belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. tenaga kependidikan di lingkungan sekolah dan bahkan masyarakat sekitarnya. A process is a series of steps designed to produce an effect. dan “Staf perpustakaan sekolah dapat terdiri staf yang profesional. (Segala sesuatu yang terjadi dalam organisasi adalah merupakan hasil dari proses. Lebih lanjut Soelistia. “ (Jac Fitz-enz.. They. Dengan kata lain manusia merupakan salah satu sumber daya utama dalam menggerakkan proses produksi pada suatu organisasi yang menghasilkan produk dan layanan. non profesional. 1995:973). antara lain layanan peminjaman buku dan layanan referensi.consume resources. guru.. Seyogyanya 61 . Mereka memerlukan sumbersumber dan menghasilkan suatu produk atau layanan). 11-000:6 1). Pustakawan Sekolah Pustakawan adalah seseorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu perpustakaan. Demikian pula halnya dengan perpustakaan sekolah yang menghasilkan jasa layanan dalam bidangnya. teknisi. and they generate a product or a service . et. Proses produksi di sini berlangsung dalam suatu organisasi termasuk perpustakaan sekolah yang merupakan bagian integral dari organisasi pendidikan (sekolah).al. sedangkan layanan dapat berupa jasa.. Layanan dalam bentuk jasa tersebut merupakan suatu proses produksi yang diberikan oleh sumber daya manusia (SDM) pengelola perpustakaan sekolah kepada para pengguna jasanya. Dalam hal ini sumber daya manusia (SDM) diartikan sebagai “potensi manusia yang dapat dikembangkan untuk proses produksi” (Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam hal ini sumber daya manusia (SDM) pengelola perpustakaan sekolah adalah staf yang bekerja di perpustakaan. yaitu para siswa. memberikan layanan terbaik kepada para pengguna jasanya. Proses adalah rangkaian langkah-langkah yang dirancang untuk menghasilkan suatu akibat. “ (Soelistia. All processes share a common pattern. atau produk dapat berupa barang. 1995:19). dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan. et.al (1995:121-122) menjelaskan tentang keempat posisi staf (SDM) perpustakaan sekolah berikut ini: a.Problematika Perpustakaan Sekolah menjaga eksistensinya. sebab “Everything that happens in an organization is the result of a process. dan juga siswa pembantu ..

misalnya: pengagendaan. Sumber Pembiayaan (Money) Prinsip-prinsip anggaran atau biaya perpustakaan itu antara lain: a. b. referensi maupun pelayanan lainnya secara bergiliran. terutama untuk jenis pekerjaan yang bersifat profesi. Pustakawan sekolah harus mempunyai kualifikasi dalam bidang pendidikan dan perpustakaan. Penggunaannya menurut rencana c. Sumbernya pasti b. Dari segi tingkatan kualifikasi pustakawan dimasukkan ke dalam tingkat profesional. menumbuhkan kesadaran dan kecintaannya terhadap buku serta rasa tanggung jawab yang besar. penggandaan. baik di pelayanan sirkulasi. Pertangggungjawabannya menurut aturan tertentu 62 . pelayanan peminjaman dan pengembalian bahan pustaka. Pengelolaannya akuntabel dan responsible e. Manfaat yang diperoleh tentu saja ada pada kedua belah pihak. pengetikan kartu-kartu.Sri Marmoah pustakawan sekolah berasal dari guru yang qualified atau memiliki pendidikan perpustakaan. c. asisten pustakawan dimasukkan ke dalam tingkat semi profesional. pelabelan. 2. Sedangkan bagi staf perpustakaan lainnya dapat meringankan beban tugas/kerja di perpustakaan. Sukarelawan murid ini sebaiknya diperbantukan di bagian pelayanan pembaca. d. Teknisi Teknisi adalah tenaga perpustakaan yang sepenuhnya bertugas mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat non profesi. bagi murid dapat memiliki pengalaman bekerja dengan berbagai bahan pustaka. Asisten pustakawan Sebagian besar tugas asisten pustakawan adalah “membantu” tugas pustakawan. dan sebagainya. Dari segi tingkatan kualifikasi. Sukarelawan Murid Murid-murid dapat dilibatkan dalam kegiatan perpustakaan sebagai petugas sukarela dan senantiasa berada di bawah tanggung jawab petugas perpustakaan. Orientasinya berdasarkan program (budget based on program) d. sehingga mereka dapat memiliki pengalaman keterampilan informasi.

Sebuah metode yang dipilih jangan 63 . mengolah. dan mempermudah cara. Metode tersebut harus jelas. Lebih daripada itu. memperingan biaya (murah). sebuah metode yang dipilih untuk diterapkan di perpustakaan harus dapat membantu mempercepat waktu dan proses. d. Metode (Methodes) Setiap perpustakaan tentu mempunyai suatu metode tertentu yang dipergunakan untuk menjalankan aktivitasnya. g. (e) sarana komunikasi dan transportasi. (c) koleksi bahan pustaka. (b) perabot dan perlengkapan. 5. e. Jumlah anggaran diusahakan terus meningkat Pelaksanaannya selalu dapat dikontrol dengan baik Menerapkan sistem efektif efisien Tidak terjadi penyalahgunaan dan pemborosan anggaran Mesin-mesin (Machine) Pada dasarnya perangkat alat-alat yang berupa mesin-mesin yang tepat guna dan memadai. mesin pres. mesin jilid. komputer. baik oleh petugas maupun pemakai perpustakaan. i. g. dapat dipahami dan dilaksanakan serta dipergunakan. baik spesifikasinya maupun jenisnya dan dipergunakan dengan baik dapat membantu meringankan tugas-tugas dan menunjang pekerjaan perpustakaan. mesin foto kopi. Benda dan barang-barang tersebut harus diurus dan dipergunakan dengan baik. menyimpan dan menyajikan serta memberdayakan informasi.Problematika Perpustakaan Sekolah f. 3. maupun perlengkapan dan perabot serta sarana prasarana yang lainnya. mesin fax. Benda dan Barang Inventaris (Materials) Perpustakaan memiliki banyak sekali barang dan benda (materials) baik berupa inventaris. c. f. Semua jenis mesin tersebut dimaksudkan untuk: a. Metode yang diterapkan di perpustakaan adalah untuk menghimpun. Mesin-mesin yang biasanya diperlukan di perpustakaan antara lain mesin tik. mempermudah dan menyederhanakan pekerjaan memperingan beban dan tugas. mengemas. h. (d) mesin-mesin. mempercepat proses waktu kerja menghemat tenaga manusia (manual) menghemat biaya menghasilkan produk yang berkualitas memperbanyak hasil (luaran) meningkatkan performa dan kinerja perpustakaan 4. Benda-benda tersebut antara lain: (a) gedung dan ruangan. b. dan memperluas akses informasi.

Sistem biasanya terdiri atas beberapa sub sistem. Kunjungan orang-orang ke perpustakaan untuk membaca/belajar. mempersulit akses. suatu sistem yang baik untuk satu perpustakaan. katalogisasi. dan penentuan tajuk subjek dan lain-lain. yang antara satu dan lainnya saling berhubungan. mekanisme. sebuah metode dapat terdiri atas sebuah sistem. Promosi. b. prosedur. dan mempermahal biaya. Terjadinya akses informasi. Dengan istilah lain. antara lain: a. Terpenuhinya kebutuhan informasi bagi pengunjung. 6. Perpustakaan sebagai suatu pusat informasi.Sri Marmoah memperlama waktu. b. yang dikerjakan dengan beberapa buku pedoman seperti dalam klasifikasi. Yang dikategorikan metode atau sistem dalam perpustakaan mencakup: a. Sistem. tidak dapat berjalan baik. c. e. Pengolahan. Oleh sebab itu. c. atau prosedut dan tata cara guna meningkatkan kinerja penyelenggaraan kegiatan. mana kala tidak diselenggarakan dengan suatu sistem atau mekanisme kerja yang tersusun dan terpola baik. karena sangat tergantung kepada kebijakan dan pilihan masing-masing perpustakaan. dan seterusnya. dan proses akuisisinya sendiri. metode dan tata cara lainnya yang dipergunakan di perpustakaan harus baku (standar). Layanan misalnya menggunakan sistem terbuka atau tertutup. d. mempengaruhi dan bahkan saling menentukan. d. Pelanggan)/Customers Unsur yang keenam di dalam manajemen perpustakaan adalah pasar atau tempat di mana suatu transaksi (informasi) dapat dilangsungkan. dan menikmati hiburan batin dengan bacaan yang menyenangkan. Apa yang disebut sistem yang baik bagi sebuah perpustakaan? Hal ini sifatnya relatif. Tersebarnya informasi dan termanfaatkannya informasi. 64 . Sirkulasi atau peminjaman dan pengembalian koleksi bahan pustaka. penyiapan anggaran (untuk yang dibeli). Pengadaan yang dimulai dari perencanaan kebutuhan koleksi bahan pustaka. bagaimana persyaratan keanggotaan. belum tentu baik untuk perpustakaan yang lain. mekanisme. sangat diperlukan dalam rangka mempublikasikan perpustakaan sekolah. Pasar (Pemakai. terkait. proses seleksi berdasarkan alat-alat seleksi (selection tools). Yang dimaksudkan dengan pasar di sini adalah bahwa perpustakaan memenuhi syarat-syarat dan sifat-sifat yang memungkinkan terjadinya transaksi informasi. dan peminjaman.

Ada unsur penyedia informasi (penerbit. agen). dan rekreasi. penyimpanan dan pemeliharaan berbagai jenis bahan pustaka. dikelola secara sistematis untuk digunakan sebagai informasi bagi pemakai perpustakaan. wewenang dan tanggung jawab. Terselenggaranya layanan perpustakaan. Unsur-unsur itu meliputi: 1) Bentuk atau konfigurasi berupa bagan atau skema. Unsur pasar (market) di perpustakaan harus memenuhi kriteria antara lain: a. mengatakan perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah yang bermaksud menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal. yakni formasi jabatan yang harus diisi oleh orang-orang yang tepat sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. fungsional. yakni bentuk pembagian tugas. Fungsi perpustakaan sekolah tidak hanya sebagai sumber kegiatan belajar mengajar. Kalau perpustakaan sekolah dipandang sebagai unit organisasi itu maka harus memiliki unsur-unsur sebagaimana layaknya sebuah organisasi. tapi juga pusat penelitian sederhana. c. lini dan staf. 2) Struktur atau kerangka. 3) Jabatan-jabatan. f. Ada “perjanjian” (kesepahaman) atau ketaatan aturan layanan dan sanksi bagi mereka yang terlibat di dalamnya. b. Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang menyelenggarakan pengumpulan. dan organisasi dewan atau panitia.Problematika Perpustakaan Sekolah f. e. 4) Prinsip-prinsip dan aturan permainan. Ada staf layanan sebagai “penjual”. Ada permintaan dan penawaran atau supplay and demmand informasi. toko buku. baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya. d. Perpustakaan sekolah dipandang sebagai unit organisasi karena perpustakaan sekolah merupakan bagian dari organisasi yang bernaung di bawah lembaga atau sekolah tersebut. Sebuah perpustakaan sebagai 65 . misalnya jalur atau lini. Sedangkan Soetopo (2002). staf. Ada “pembeli” (pemakai perpustakaan). Perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka.(Sutarno 2006: 46). Ada tempat (perpustakaan). Fungsi Perpustakaan Sekolah Perpustakaan adalah sumber informasi yang menyediakan segala keperluan bagi masyarakat pemakainya.

misi. fungsi. pengalaman dan keterampilan. kemampuan. baik secara lisan maupun melalui brosur dan media lainnya yang disediakan. garis wewenang dan tanggung jawab. Yang dimaksudkan adalah pelayanan yang berlangsung secara mudah. sederhana. Meja informasi ini merupakan tempat pengunjung memperoleh informasi tentang alur layanan perpustakaan dari petugas. serta struktur organisasinya. Oleh karena dunia ini sudah sangat inclusive maka system pelayanan minimal dianjurkan untuk berangsur-angsur ditinggalkan dan semua perpustakaan sekolah hendaknya menggunakan system pelayanan prima agar bisa mencapai sasaran pelayanannya yakni kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dalam hal ini adalah guru dan siswa. mudah dipahami dan dilaksanakan baik oleh petugas maupun oleh pelanggan. Sedangkan bagi sekolah yang sudah modern dengan teknologinya maka hendaknya memberikan pelayanan prima. cepat.Sri Marmoah salah satu unit kerja memiliki unsur-unsur seperti organisasi. situs. atau on line. kemauan. Penerapan suatu sistem layanan di perpustakaan sekolah adalah dimaksudkan agar proses pemberian jasa layanan dapat berjalan dengan tertib. Unsur-unsur yang terkait dengan system layanan perpustakaan yaitu: kesiapan petugas layanan. Bagi perpustakaan sekolah yang mempunyai sarana layanan yang masih terbatas dan konvensional maka diupayakan agar dapat memberikan pelayanan minimal kepada pengunjungnya. baik fisik. dan memuaskan. persamaan persepsi antara petugas dan pelanggan. jelas. Kedua. kesiapan peralatan dan perlengkapan sebagai penunjang. dan program kerjanya yang semuanya berorientasi kepada pelayanan yang memuaskan. dan petugas atau pengisian karyawan. adalah tempat pelaksanaan transaksi peminjaman dan pengembalian buku atau bahan pustaka lainnya serta penyelesaian administrasi. Petugas yang ada pada meja terdepan ini sangat diharapkan agar lincah. Sistem pelayanan prima ini tentunya didukung oleh teknologi industri seperti computer. mental. teratur. meja informasi. Tempat ini merupakan customer service yang terdepan diperpustakaan. murah serta bermanfaat. 66 . kerja sama. pedoman pengadaan anggaran dan ruang lingkup bidangnya. Dalam surat keputusan pendiriannya harus memuat secara jelas tentang tugas. peraturan dan tata tertib perpustakaan yang singkat. Formasi jabatan. keharmonisan komunikasi. Gambaran mekanisme sebagai suatu system layanan yang memuaskan akan terlihat jelas melalui suatu formasi layanan yang jelas diantaranya: pertama. terampil. Perpustakaan sebagai sebuah unit kerja atau unit organisasi perlu memiliki visi. meja sirkulasi. ramah dan berjiwa membimbing (users friendly). tepat. cepat. dan pedoman standar dibidang layanan perpustakaan yang berlaku umum sehingga mudah dipelajari untuk dipraktekkan.

Semua prosedur. Kemudahan akses informasi dan system temu kembali informasi agar pemanfaatan koleksi bisa optimal dan efisien. bagi yang menerapkan sistim anggota. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. menumbuhkan minat baca. lemari (laci) catalog. Semua itu merupakan alat atau media untuk memanfaatkan informasi diperpustakaan. Namun fungsi ini belum berjalan sebagaimana yang diharapkan karena tidak semua sekolah mempunyai perpustakaan. Kelima. Tugas utama 67 . sangsi atas pelanggaran. Dari pernyataan di atas dapat digarisbawahi bahwa keadaan perpustakaan sekolah masih belum berkembang dan memerlukan penanganan segera. kartu catalog sebagai wakil dari koleksi untuk ditelusuri. dan pengaturan agar suasana diperpustakaan selalu tertib dan tenang. Sistem pelayanan prima dengan menggunakan teknologi informasi. computer. peningkatan dan pengembangan baik untuk sarana pendukung maupun system pelayanan tentunya selalu mengalami penyesuaian. riset. Keempat.Problematika Perpustakaan Sekolah Ketiga. Perpustakaan yang jumlah pengunjungnya masih terbatas perlu diupayakan mencapai standar pelayanan minimal. sebelum mencari ke tempat penyimpanan buku-bukunya. Bagaimana dengan perpustakaan sekolah pada pendidikan dasar di SD dan SMP ?. peminjaman. Perpustakaan sekolah pada jenjang pendidikan dasar ini sangat diperlukan terutama untuk membantu keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. Sarana pendukung dan mekanisme layanan perpustakaan sangatlah tergantung pada kompleksitasnya perpustakaan itu. Statement ini cukup beralasan karena perpustakaan sekolah berfungsi sebagai sarana edukatif. informatif. Keenam. sementara sekolah yang mempunyai perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. sedangkan perpustakaan yang jumlah pengunjungnya relative banyak maka haruslah diupayakan mencapai standar pelayanan prima. internet yang dipergunakan untuk memberikan layanan perpustakaan perlu didukung oleh petugas layanan yang mampu menggunakannya agar dapat memandu pengunjung yang belum mahir menggunakannya. peraturan dan tata tertib layanan. Kondisi Riil Perpustakaan Sekolah di Lapangan Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. dan rekreatif bagi komunitas sekolah. adalah pengurusan keanggotaan perpustakaan. Jika jumlah pengunjung setiap tahun kecenderungannya meningkat maka upaya perbaikan. kemudahan akses informasi. administrasi keanggotaan. adalah ketentuan-ketentuan tentang syarat menjadi anggota. persyaratan dan proses keanggotaan dilaksanakan menurut ketentuan yang berlaku.

Sebagai contoh disebutkan bahwa lokasi perpustakaan di sekolah yang kurang strategis. sumber daya perpustakaaan yang rendah. yaitu setiap sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional pendidikan. Perpustakaan sebagai sumber belajar di sekolah. yang tidak mungkin dipenuhi oleh sekolah. kecil. menumbuhkan minat baca. Treath). Maksud kelemahan dalam analisis ini adalah permasalahan yang timbul dari penyelenggaraan program dan hasilnya. tidak nyaman. Weakness. sedangkan tantangan selalu berisi peluang. Kelemahan. sebagai sumber pengetahuan. Weaknesses (kelemahan). Contohnya kekuatan-kekuatan yang ada pada program perpustakaan sekolah antara lain dapat menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada tanpa harus memenuhi persyaratan tertentu/ ketat. waktu kunjungan terbatas. SWOT merupakan singkatan dari kata Strengths (kekuatan). gudang ilmu. Permasalahan merupakan kelemahan yang dapat berubah menjadi tantangan kelancaran pelaksanaan tugas / program. Opportunity. sehingga bahan-bahan pustaka harus dikaitkan dengan kurikulum sekolah. sehingga lebih cenderung menggunakan kata yang mengandung unsur positif yaitu tantangan (Challenges). Maksud kekuatan dalam analisis ini adalah faktor-fakor yang mendukung penyelenggaraan program. Opportunities (peluang). Pertama.43 tahun 2007 tentang perpustakaan pada pasal 23 ayat 1. Sarana perpustakaan yang tidak lengkap. Menurut Sihombing (2000). Kekuatan. Pengubahan ancaman menjadi tantangan karena dia melihat bahwa ancaman kalau dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi peluang. dan Threats (ancaman). Kedua. dukungan dari kepala sekolah kurang dan keuangan yang sangat minim. Pertama. kata Threats mengandung unsur yang negatif. dan pengembangan potensi siswa serta pengembangan sosial budaya siswa. Hal ini sesuai dengan UU RI No. terbatasnya ruang perpustakaan 68 . koleksi buku yang terbatas. Sehingga pendekatannya menjadi SWOC. dan didukung oleh kebijakan pemerintah. Ada banyak hal yang menyebabkan munculnya berbagai permasalahan pada perpustakaan sekolah. Permasalahan ini dapat kita lihat dengan menganalisis dengan SWOT (Strenghness. Perpustakaan juga berfungsi untuk menggairahkan semangat belajar. Selain itu yang merupakan kekuatan adalah adanya koleksi buku yang memadai. Ada beberapa hal yang sering menghambat fungsi perpustakaan sekolah. mendorong siswa untuk belajar mandiri. serta diakui eksistensinya oleh semua pihak (masyarakat). dan ayat 3 yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki koleksi lain yang mendukung pelaksanaan kurikulum pendidikan. sumber daya manusia yang berkompeten.Sri Marmoah perpustakaan jenis ini adalah menunjang kurikulum.

memiliki tempat baca yang memadai. selalu meningkatkan mutu melalui pelatihan-pelatihan bagi tenaga pustakawan. Tantangan. 30% buku 69 . tetapi perangsang untuk mendorong perencana pendidikan luar sekolah untuk lebih kreatif dan dinamis. Idealnya Perpustakaan Sekolah ke Depan Perpustakaan yang ideal harus memenuhi pedoman-pedoman diantaranya adalah lokasi. jenis koleksinya komposisinya 40% buku teks. Kedua. struktur organisasi perpustakaan jelas dan berjalan baik. diperbaiki dan ditingkatkan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dalam usaha mencapai tujuan. Kurangnya ajakan untuk mengunjungi perpustakaan menjadikan anak asing terhadap perpustakaan. administrasi. statis dan mudah puas. Sedangkan menurut Rachmananta. Sebagai contoh adanya dasar hukum yang kuat yakni dengan adanya UU No. kurangnya promosi penggunaan perpustakaan menyebabkan tidak banyak siswa yang mau memanfaatkan jasa layanan perpustakaan. terbatasnya jumlah petugas perpustakaan (pustakawan). 30% buku pengayaan. Keempat. Contoh perpustakaan sekolah swasta relatif lebih bagus daripada sekolah negeri. Keempat. memiliki perabot yang memadai. perpustakaan dikatakan ideal apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: berani memantapkan keberadaan lembaga perpustakaan sesuai dengan jenisnya. memiliki ruangan yang memadai. Sedangkan menurut Sudarmono (2004) dalam pengembangan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar. Tantangan dapat berubah menjadi peluang bagi perencana yang tidak berperilaku apatis.Problematika Perpustakaan Sekolah di samping letaknya yang kurang strategis. direbut. dengan tanpa memperhatikan kesehatan dan kenyamanan. Maksud peluang dari analisis ini adalah hal-hal atau faktorfaktor dari luar program yang kalau dicermati dan dimanfaatkan dengan baik dapat menjadi tumpuan harapan dimasa depan. baik dalam hal jumlah. Ketiga. Tantangan bukan penghambat. melakukan upaya-upaya pengembangan dan pembinaan perpustakaan terus menerus dari segi sistem manejemen dan teknis operasional. Banyak perpustakaan yang hanya menempati ruang sempit. kriteria dari perpustakaan sekolah yang ideal adalah: adanya status kelembagaan yang kuat. variasi maupun kualitasnya. Maksud tantangan dalam analisis ini adalah hal-hal yang harus diatasi. pelayanan terhadap anggotanya dan koleksi buku-buku perpustakaan. Peluang. Ketiga. 43 Tahun 2007 dan adanya kebijakan dari Dinas Pendidikan tentang wajib adanya perpustakaan sekolah di setiap sekolah. partisipasi pemakainya baik dan aktif. melakukan promosi dan menyelenggarakan jaringan kerja sama baik dalam negeri maupun luar negeri. tata ruang. keterbatasan bahan pustaka.

didukung dengan teknologi informasi dan komunikasi. Manajemen ini juga tergantung pada SDM dalam perpustakaan tersebut. memiliki program pengembangan secara jelas dan terarah. 70 . memiliki program pengembangan minat membaca di kalangan siswa. serta souvenir. memiliki anggaran perpustakaan secara tetap. bahkan makanan dan minuman. serta judul buku bervariasi. diantaranya selain menjadikan tempat peminjaman buku pada masyarakat. standar pelayanan perpustakaan. memiliki program keberaksaraan informasi (literasi informasi). standar penyelenggaraan. memiliki peraturan perpustakaan. memiliki tenaga pengelola dengan kompetensi yang memadai. maka perpustakaan akan cepat berkembang. Perpustakaan yang ideal dan tetap survive dengan perkembangan zaman. dan standar pengelolaan. Mengacu kepada Undang-undang tersebut sudah semestinya agar perpustakaan sekolah menjadi ideal dan mampu menjawab tantangan masa depan harus memenuhi kriteria tersebut. standar tenaga perpustakaan. sumber daya yang mengelola di perpustakaan adalah benar-benar seorang pustakawan bukan guru. koleksi sesuai dengan kebutuhan kurikulum. seharusnya memenuhi kriteria berikut: pertama. Sudah saatnya perpustakaan tidak hanya berisi buku-buku paket. Hal keempat.Sri Marmoah fiksi. pengorganisasian koleksinya teratur. menjual peralatan sekolah. Ketiga. memiliki program mitra perpustakaan. adanya kerjasama dengan sekolah lain. Kedua. yaitu berhubungan dengan dana dan untuk menambah pemasukan dapat mengembangkan entrepreneurship di perpustakaan. atau seorang honorer yang diberi tugas tambahan untuk mengelola perpustakaan. memiliki sarana penelusuran informasi yang baik. Cara yang ditempuh banyak sekali. pelayanannya menyenangkan. administrasi perpustakaannya tertib. penjaga sekolah. koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan harus terus ditingkatkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. perpustakaan juga membuka usaha lain seperti fotokopi. Dalam Undang-Undang RI nomor 43 tahun 2007 pada bab III pasal 11 ayat 1 dijelaskan bahwa standar nasional perpustakaan terdiri atas: standar koleksi perpustakaan. agar perpustakaan sekolah lebih efektif dan efisien dalam pengembangan perpustakaan harus menggunakan manajemen perpustakaan yang benar. melakukan kegiatan promosi dan pemasyarakatan perpustakaan. Jika SDM-nya cukup berkompeten untuk membuat perpustakaan maju. dan adanya jam perpustakaan yang terintegrasi dalam kurikulum. standar sarana dan prasarana. tetapi berupa buku-buku bacaan yang menarik minat siswa untuk membacanya. Perpustakaan yang ideal harus mengacu kepada standar nasional perpustakaan.

h. i. c. pelatihan.Problematika Perpustakaan Sekolah Alternatif Solusi Mengefektifkan Peran Perpustakaan Sekolah. berdaya guna bagi siswa. serta layanan apa saja yang ada di sana. jurnal. 71 . dan kelas IX (SMP). Perlu adanya kebijakan dari sekolah dan pemda untuk mengembangkan perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah dapat bekerjasama dengan perpustakaan umum/daerah. f. Perlunya perpustakaan di setiap sekolah. dll. untuk dikumpulkan dan dijadikan koleksi perpustakaan. d. dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan layanannya kepada siswa. Guru wajib memberikan contoh kepada para siswa dengan rajin membaca di perpustakaan. Komite sekolah dan stakeholder harus memikirkan eksistensi perpustakaan sekolah agar dapat berhasil. Guru-guru harus mendukung pengembangan perpustakaan sekolah dengan wujud contoh gemar membaca dan menulis makalah. Guru-guru yang penataran. Perlu partisipasi dari semua pihak yang terlibat untuk memajukan perpustakaan sekolah. l. diwajibkan untuk memberikan hibah berupa buku-buku ke sekolah. hal ini dalam rangka membudayakan peninggalan kenang-kenangan untuk sekolah. kursus. Masyarakat sekitar perlu mendukung perpustakaan sekolah misalnya dengan memberikan bantuan buku-buku dan dana. Diperlukan SDM/pustakawan yang profesional. g. Kepala sekolah sebagai manajer atau pimpinan perlu menjadwalkan secara khusus kunjungan ke perpustakaan. a. Memperhatikan problematika yang ada serta memperhatikan kondisi riil dan yang ideal maka penulis menawarkan beberapa solusi untuk memperbaiki kondisi yang ada. j. Guru-guru sampai penjaga sekolah dilibatkan secara aktif untuk mengelola perpustakaan. pengembangan SDM. pengembangan termasuk pendanaan. setelah selesai diwajibkan untuk memberikan copian baik berupa softcopi maupun berupa buku-buku. Kerjasama dapat dilakukan dengan study visit untuk mengetahui koleksi apa saja yang sesuai untuk siswa pada usia anak-anak atau remaja. hal ini akan sangat membantu mendorong dan mengembangkan minat kemampuan serta kebiasaan membaca yang pada gilirannya dapat membentuk sikap siswa untuk belajar mandiri. m. b. e. k. Siswa akhir di sekolah kelas VI (SD).

Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. Agar efektif dan efisien dalam mencapai tujuan perpustakaan sekolah. sebaiknya perpustakaan dikunjungi oleh siswa sebagai tempat belajar setelah keluar sekolah. 72 3. pengaturan staf (staffing). dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Ketiga. harus mengacu kepada fungsi manajemen yang mencakup perencanaan (planning). Sebagai contoh yaitu dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. maka dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Alternatif solusi dalam pemecahan problematika perpustakaan sekolah dengan memberdayakan unsur-unsur manajemen yang ada pada lembaga sekolah. Sebagai contoh yaitu dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. 5. Perpustakaan sekolah yang ideal harus mengacu kepada standar nasional perpustakaan. Perkembangan dari penerapan ICT dapat diukur dengan telah diterapkannya/ digunakannya sebagai sistem informasi manajemen (SIM) perpustakaan dan perpustakaan digital (digital library). pengorganisasian (organizing). dapat dicari solusinya dengan tiga hal yang disarankan yaitu: pertama. Pemanfaatan ICT sebagai sarana dalam meningkatkan kualitas layanan dan operasional telah membawa perubahan yang besar di perpustakaan. Dengan pengelolaan (manajemen) perpustakaan yang baik akan dapat menarik para siswa senang berkunjung dan memanfaatkan sarana tersebut. 2. perpustakaan cukup melayani peminjaman buku kepada siswa untuk dibawa ke rumah dalam beberapa lama sesuai ketentuan. Sedangkan alternatif solusi bagi perpustakaan sekolah pemula. . pengarahan (directing). pelayanan sebaiknya dilakukan saat istirahat dan atau setelah keluar sekolah. untuk itu pelayanannya juga disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Kedua. menumbuhkan minat baca. 4. dan pengendalian (controlling).Sri Marmoah Selain itu dengan pengelolaan (manajemen) perpustakaan yang baik akan dapat menarik para siswa senang berkunjung dan memanfaatkan sarana tersebut. atau yang belum memadai. Perpustakaan sebagai sumber informasi di sekolah memiliki peran yang penting dalam menunjang kegiatan belajar mengajar. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan.

2000. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. New York: AMACOM (American Management Association). Menjadi Pintar: Memanfaatkan Perpustakaan Sekolah sebagai Sumber Belajar. Komite sekolah dan stakeholder harus memikirkan eksistensi perpustakaan sekolah agar dapat berhasil dan berdaya guna bagi siswa. 1995. Manajemen Perpustakaan Sekolah. Jac. Darmono.al.Problematika Perpustakaan Sekolah Rekomendasi Saran yang dapat dikemukakan dalam rangka mencari solusi dari problematika perpustakaan sekolah. 73 . 1995. 1992. dan lain-lain. pengembangan SDM. Perlu adanya kebijakan dari sekolah dan pemda untuk mengembangkan perpustakaan sekolah. ------------. Pengelola perpustakaan dan tenaga kependidikan hendaknya saling berkoordinasi sebagai sarana untuk meningkatkan pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar yang menyenangkan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. Fitz-enz. dan Memelihara Perpustakaan di Sekolah. et. Jakarta: Universitas Terbuka. 2. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kepala Sekolah sebagai manajer atau pimpinan sekolah perlu menjadwalkan secara khusus kunjungan ke perpustakaan. Soelistia. 3. Guru dan tenaga kependidikan lainnya hendaknya mengarahkan peserta didik untuk lebih memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar untuk memperoleh informasi yang mereka inginkan. Petunjuk untuk Membina. Cetakan ke-2 Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. dkk. Jakarta: Balai Pustaka. The ROI of Human Capital (Measuring the Economic Value of Employee Performance). adalah : 1. 4. pengembangan termasuk pendanaan. DAFTAR RUJUKAN Ali Lukman. Perpustakaan Sekolah. 2002. 2004. Memakai. Malang: UM Press. Depdikbud. Perpustakaan Nasional RI. 5..

dkk. Jakarta: Sagung Seto. Jakarta: Sagung Seto. NS. Sutoyo. Strategi dan Pemikiran Perpustakaan Visi Hernandono. Suatu Pendekatan Praktik. 2006. Manajemen Perpustakaan. 74 .Sri Marmoah Sutarno. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. 2001.

pengelola (manager). selama ini menunjukkan bahwa sebagian Kepala Sekolah agaknya masih belum memainkan peranannya secara optimal. pemimpin (leader). dan pencipta iklim kerja (climator). Pengamatan sekilas di lapangan. dan menjalankan aktifitas pendidikan mempersyaratkan adanya seorang kepala sekolah yang efektif.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. Hal ini ditunjukkan sebagai educator. seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator). No. administrator (administrator). dan pencipta iklim kerja (climator). mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui). pemimpin (leader). PENDAHULUAN Tugas pokok Kepala Sekolah adalah mengelola (memanaj) penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. kepala .wirausahawan (entrepreneur). Selain itu. penyelia (supervisor). entrepreneurship. entrepreneurship harus dicontohkan oleh guru-guru dan kepemimpinan kepala sekolahnya. pengelola (manager). mengemban misi. Budaya kita adalah budaya paternalistik. April 2009 PERILAKU KEPEMIMPINAN ENTREPRENEURSHIP KEPALA SEKOLAH Rokhmaniyah Universitas Negeri Jakarta Abstrak Tugas pokok Kepala Sekolah adalah mengelola kegiatan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok. yaitu seorang kepala sekolah yang mampu mengelola sumber daya manusia maupun nonmanusia secara efektif dan efisien. Oleh karena itu. Keefektifan suatu sekolah dalam menggapai visi. 1. Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. ia belum mampu membimbing guru dan staf tata 75 kepemimpinan. wirausahawan (entrepreneur). administrator (administrator). Kepala sekolah adalah orang kunci yang menentukan sukses atau gagalnya sekolah dalam mencapai tujuannya. 4. kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok. Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya. seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator). ia mampu bekerja keras dan berani menanggung risiko. Kata kunci: perilaku sekolah. penyelia (supervisor).

hasil pembelajaran belum mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan pengalaman kewiraswastaan bagi siswanya. Selain itu. ia belum mampu menciptakan budaya sekolah. dan Menyenangkan (PAKEM). Dalam rangka pemberdayaan Kepala Sekolah. membaca peluang sekolah dalam meningkatkan minat calon siswa masuk ke sekolahnya. ia belum mampu memenuhi kriteria sukses. Belum memiliki perencanaan program sekolah yang mantap dengan pelaksanaan yang belum tepat.Rokhmaniyah usaha dalam melaksanakan tugas-tugasnya. 76 . Sebagai leader. mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui). memotivasi siswa belajar. memperbaiki sistem insentif. penulis ingin menyoroti perilaku entrepreneushipr kepala sekolah. Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya. Dengan demikian. memberikan pendidikan yang bermutu bagi lulusannya sehingga dunia usaha dan industri mengeluh terhadap rendahnya mutu lulusan SMK. dan menciptakan suasana Pembelajaran yang Aktif. menggunakan kekuasaannya dengan baik. Sebagian Kepala Sekolah kita masih berperilaku lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas lulusannya. Sebagai climator. lulusan akan memiliki life skill dan out come. kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Masih lebih mementingkan pencapaian target kurikulum daripada kualitas daya serap siswanya. kepala sekolah belum mampu melaksanakan pengawasan secara ketat sehingga hasil praktik siswanya belum bernilai ekonomis dalam arti belum hemat biaya. Sebagai Supervisor. Akibatnya. mengkoordinasikan tugas-tugas stafnya. ia belum memiliki kemampuan manajerial seperti memenej sekolah. ia lebih disibukkan pada penyelesaian tugas administratif daripada edukatif. Hal ini jelas sebagai dampak dari perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah. Efektif. membuat rencana strategik. dan mengelola waktu. mengelola konflik dan stres. bekerja sama dengan pengusaha. dapat mengurangi pengangguran bukan menambah pengangguran. Sebagai entrepreneur. Pada hal di era globalisasi sekarang ini secara khusus lebih dibutuhkan kepemimpinan enterprneurship agar lulusannya mampu menciptakan lapangan kerja bukan mencari pekerjaan. Kreatif. dan memasarkan hasil unit produksi sekolah dan lulusannya. dan memiliki perilaku pemimpin. Sebagai manager. dan waktu (belum BMW). membangun memotivasi guru bekerja. memiliki sifat-sifat pemimpin. mengembangkan unit produksi sekolah. mutu. mengambil keputusan. motivasi guru dan siswa agar memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas. ia belum mampu bertindak kreatif dan inovatif.

Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah PEMBAHASAN Perilaku Kepemimpinan Perilaku (KBBI. c. dan bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi entrepreneur yang artinya pengusaha. apabila ada unsur-unsur: a. Joseph A. dan menuntun orang lain dalam proses kerja agar berfikir. para peneliti masih akan mendiskusikan apakah entrepreneur yang sukses merupakan bakat yang dibawa lahir atau tidak. Kata entrepreneur berasal dari bahasa Prancis. Schumper dalam Peggy A Lambing & Charles R. Adapun kepemimpinan secara sederhana dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses mempengaruhi. wirausaha. kepemimpinan merupakan motor penggerak bagi sumber daya yang dimiliki lembaga. Oleh karena itu kepemimpinan disebut sebagai fungsi organik dalam proses manajemen. entreprendre yang artinya mengusahakan. Orang yang memimpin Orang-orang yang dipimpin Kegiatan atau tindakan penggerakkan untuk mencapai tujuan Tujuan yang ingin dicapai bersama Jadi. Menjelang pertengahan abad ke-18. d. menggerakkan. 77 . 2002) adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. b. Berdasarkan definisi dan hakikat kepemimpinan di atas dapat disimpulkan bahwa proses kepemimpinan pada hakikatnya dapat muncul kapan dan dimanapun. Menurut Richard Cantillon dalam Leo-Paul Dana(1997). Richard Cantillon (1730) adalah seorang yang disebut-sebut sebagai pencetus istilah entrepreneur untuk pertama kalinya. Hakikat kepemimpinan adalah kegiatan seseorang menggerakkan orang lain agar orang lain berkenan melaksanakan tugas-tugasnya. Awal tahun 1934. mengajak. Kuehl (2003) menggambarkan entrepreneur sebagai seorang yang membuat produk baru dan memasarkannya. mendorong. Entrepreneurship Entrepreneurship atau kewirausahaan atau kewiraswastaan merupakan kata benda dari entrepreneur. entrepreneur berfokus pada seseorang dan untuk 200 tahun yang akan datang. bersikap. atau wiraswasta.

mengubah keadaan yang tidak/kurang menyenangkan menjadi keadaan yang diinginkan. Ketiga. Rowe(2008). inovator dengan memperhatikan nilai waktu dan usaha. seorang entrepreneur adalah pengambil risiko. Lambing dan Charles R. pertama-tama yang perlu dimiliki oleh seorang entrepreneur adalah bakat memasarkan produk barang dan jasa. Gifford Pinchot menyarankan sebelum seseorang memutuskan akan membuka usaha. seorang entrepreneur mampu melihat peluang bisnis yang tidak dilihat atau diperhitungkan oleh orang lain. senang menghadapi tantangan. berani mengambil risiko. baik risiko yang bersifat finansial (baca: rugi). Alan J. seorang entrepreneur adalah orang yang betindak untuk melakukan inovasi. kepuasan pribadi. memperkirakan keuangan. Sebenarnya di dalam kreator sudah termasuk inovator. ”One who reforms or revolutionises the pattern of production by exploiting an invention or. kreatif memiliki empat gaya: (1) intuitif yang berfokus pada hasil pengalaman masa 78 . lebih umum. menggunakan teknologi sebagai sebuah komoditi baru atau memproduksi yang lama dengan cara baru). Tindakanlah yang membuat entrepreneur menjadi inovator. more generally. Oleh sebab itu. senang berpetualang.Rokhmaniyah Pendapat Joseph A. Apalah artinya banyak barang dan jasa yang dihasilkan tetapi tidak laku dijual di pasaran. ia melihat kemungkinan dan memiliki visi untuk menciptakan sesuatu yang baru yang memicu semangatnya untuk bertindak. maupun yang bersifat mental (baca: dianggap gagal). “Entrepreneur both innovator and creator. Adapun. Kedua. psikis. Kao(1991) mendefinisikan. Selanjutnya. Kuehl yang menyatakan bahwa seorang entrepreneur tidak hanya memproduksi barang dan jasa baru tetapi juga sebagai pencetus ide (gagasan) atau konsep baru. Schumper di atas dikembangkan oleh Peggy A. Menurut beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa enterpreneurship ialah seseorang yang berusaha secara mandiri. Gifford Pinchot (1988) mengatakan bahwa Entrepreneur adalah orang yang mengintegrasikan bakat rekayasa dan pemasar dengan menciptakan proses dan jasa baru. John J. Menurut Gifford Pinchot. Pertama. dan kreator. an untried technological a new coomudity or producing either an old in a new way. maka pertamatama yang harus diperhatikan adalah pemasarannya. Rodney Overton (2002) mendefinisikan enterpreneur sebagai.” (Seseorang yang membentuk kembali atau mengubah dengan cepat bentuk produksi melalui penggalian penemuan atau. Karena inovatif adalah salah satu gaya dari kreatif. Ciputra dalam Andreas Harefa (2006) mengatakan bahwa sedikitnya ada tiga ciri-ciri utama seorang entrepreneur. Barang akan menumpuk dan akhirnya usaha akan bangkrut. keuntungan finansial. kebebasan.

dan berpikir di luar kebiasaan. keindahan. Kepala Sekolah tidak bebas mengatur dirinya sendiri tetapi masih diatur oleh sekolah. Mengingat Kepala Sekolah bukanlah seorang entrepreneur sejati karena ia tidak bekerja mandiri tetapi didukung oleh warga sekolah dan stakeholders-nya apalagi semua keuangan disiapkan oleh pemerintah atau yayasan untuk sekolah swasta. dan berdasarkan data. Pandai membaca peluang dan mau bekerja keras. Refleksi atau menilai diri sendiri adalah menjadi kebiasaan. senang menulis. Sebagai seorang kepala sekolah yang entrepreneurship harus memiliki pribadi yang kreatif yang harus mau belajar mendisiplinkan dirinya untuk berurusan dengan tugas dan kewajibannya. Singkatan dari intrasekolah dan preneurship. maka ia bekerja untuk sekolahnya sehingga semua tindakannya dibatasi oleh aturan-aturan sekolah. dan (4) inspiratif berfokus pada perubahan sosial dan memberikan ilham. Kepala Sekolah yang Berperilaku Enterpreneurship Berdasarkan pengertian perilaku kepemimpinan dan entrepreneurship di atas. Sebagai intrapreneur. Howard Morhaim dalam Kathleen L. (2) inovatif yang berkonsentrasi pada pemecahan masalah. Berani menanggung risiko. Oleh sebab itu. Bila telah merasa mendapat nilai tinggi dalam disiplin diri.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah lampau yang mengarahkan untuk bertindak. Hawkins (1993) memperingatkan dengan berkata. Walaupun dalam kesehariannya seorang kepala sekolah menghadapi tugas rutin yang tidak menyenangkan. kepala sekolah adalah seorang inspirator bagi munculnya ide-ide kreatif dan inovatif dalam mengelola sekolah. Renungkan.” Seseorang dapat membawa gaya kreatifnya sendiri pada suatu usaha dan tindakan itu bukan saja akan membuat usahanya berjalan lancar bahkan kelancaran usaha itu akan dapat terjadi disebabkan karena adanya kreativitas Anda tersebut. berarti dapat dikatakan telah mampu berkonsentrasi dan melihat hal-hal secara lengkap baik itu berupa tugas-tugas sekolah maupun tugas pribadi. bukan modal sendiri tetapi modal sekolah.” 79 . apakah sebagai seorang kepala sekolah telah menciptakan sesuatu yang berguna bagi pengembangan sekolah dan belum pernah ada sebelumnya. (3) imajinatif yang dapat menggambarkan peluang. tetapi sebagai seorang entrepreneur harus mampu menemukan jalan untuk menyelesaikannya. lebih tepat disebut sebagai intrapreneurship. sistematika. maka yang dimaksud dengan perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. bukan bekerja untuk sendiri tetapi untuk sekolah.

penyelia(supervisor). Program sekolah tidak akan tercapai bila sekolah tidak pandai menjalin komunikasi baik dengan stakeholders. Anda mempunyai cukup banyak variasi untuk mengendalikan dan mengarahkan situasi menurut kesukaan Anda. dapat menyesuaikan diri. Seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik(educator). Tindakan mengambil risiko berkaitan dengan pertumbuhan. Berani menanggung risiko sangat baik dibandingkan sibuk mencari pembelaan diri. Menjalin kerja sama dengan dunia industri atau dunia usaha adalah penting bagi kepala sekolah. sebagai kepala sekolah yang berjiwa entrepreneurship harus mau mengembangkan dirinya dan menajamkan pikirannya sehingga mampu membaca peluang serta mampu menyelesaikan tugas sesuai dengan tujuan yang diharapkan. berlaku sopan.” Artinya. pemimpin(leader). Dengan demikian. Richardon menerangkan.” Dalam hal ini kepala sekolah dapat menerapkan kepemimpinan situasional. dan pencipta iklim kerja(climator). KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Kepala sekolah adalah orang kunci yang menentukan sukses atau gagalnya sekolah dalam mencapai tujuannya. administrator(administrator).Rokhmaniyah Selanjutnya. dan teguh dalam perundingan kontrak. Morhaim menambahkan. pengendalian diri. Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. Sebagai intrapreneur. Bila dalam usaha atau tidakan yang telah direncanakan mengalami ketidakberhasilan maka secara tulus segera meminta maaf dengan berusaha untuk memperbaikinya. Kepala sekolah yang entrepreneurship haruslah dapat bersifat luwes. Penguasaan kemampuan yang baik untuk berhubungan dengan orang-orang perlu dimiliki.” Jika jangkauan perilaku Anda lebih luas dibandingkan orang lain. wirausahawan(entrepreneur). dan kesadaran akan harga diri. Untuk memperlancar kegiatan pembelajaran yang memusatkan pada life skill diperlukan dukungan dari orang lain / masyarakat / wali siswa / dunia industri / dunia usaha. kepala sekolah adalah seorang inspirator bagi munculnya ide-ide 80 . perubahan.” kebanyakan agen yang berhasil dalam usaha mereka ialah orang-orang yang tenang dan mempunyai pikiran tajam yang tahu bagaimana melakukan sesuatu. dan mampu melihat berbagai cara pemecahan masalah. kepercayaan bawahan terhadap kepala sekolah tetap terjaga. pengelola(manager).

C. 2006. Rowe. Lambing. Are You An Entrepreneur? Singapore: Wharton Books. & Turla. A. Untuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pendidikan dan latihan kepemimpinan entrepreneurship sangat penting diadakan untuk meningkatkan perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah. P. J. Jakarta: PT Alex Media Komputindo. & Kuehl. 2003. 1991. 2002.. R.R. Ujilah Tingkat Kecerdasan Anda sebaga Seorang Wirausaha. Rekomendasi Untuk Kepala Sekolah Kepala sekolah hendaknya selalu meningkatkan kompetensi kepala sekolah khususnya kompetensi wirausahawan (intrapreneur) sehingga dapat memberi contoh dan motivasi terhadap warga sekolah. The Enterpreneur. The Ciputra Way: Praktik Terbaik Menjadi Entrepreneur Sejati.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah kreatif dan inovatif dalam mengelola sekolah. Berani menanggung risiko. Upper Saddle River. 2008. Englewood Cliftts.A. Pte. Ltd . DAFTAR RUJUKAN Andreas Harefa dan Eben Ezer Siadari. A. Pandai membaca peluang dan mau bekerja keras. Upper Sadle River. J. Creative Intelegence Discovering the Innovative Potential in Ourselves and Others. Pengawasan terhadap peningkatan kompetensi kepala sekolah hendakanya dilakukan secara rutinitas sehingga kepala sekolah termotivasi untuk selalu meningkatkan kinerjanya. New Jersey: Prentice Hall. 1993 Kao. 1993. Overton. New Jersey: Prentice Hall 81 . P. (Diterjemahkan oleh Dabar Publisshers). Upper Saddle River. New Jersey: Prentice Hall. Hawkins. Refleksi diri sangat penting dilakukan secara rutin sehingga dapat melihat tingkat keberhasilan dalam mengelola sekolah. K. Enterpreneurship. L. Solo: DABARA. 2003. Kerja sama dengan stakeholders harus senantiasa dibina dengan baik demi menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Mandikdasmen Depdiknas Abstrak Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu aspek penting dalam komponen input pada sistem pendidikan nasional. seperti yang tertuang dalam Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) adalah: 1. kondisi sekolah. April 2009 KAJIAN ATAS KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH PADA SMPN 115 JAKARTA SEBAGAI SALAH SATU RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI) Ujang Didi Supriadi Direktorat SMP Ditjen. maka Pemerintah telah menetapkan pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang bertaraf internasional. 82 3. Pendidikan bertaraf internasional yang efisien adalah pendidikan yang menghasilkan standar mutu lulusan optimal (berstandar nasional dan internasional) dengan pembiayaan yang minimal. maka upaya yang dilakukan oleh Pemerintah. kondisi lingkungan. relevansi. 1. Pendidikan bertaraf internasional yang bermutu adalah pendidikan yang mampu mencapai standar mutu nasional dan internasional. berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan yang bertaraf internasional tersebut. Penetapan standar dan kriteria tersebut diarahkan untuk mewujudkan tujuan sebuah sekolah yang memiliki daya saing pada tingkat nasional dan internasional. Kebijakan pemerintah dalam RSBI ditetapkan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah harus memiliki tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. Selanjutnya. dan peningkatan daya saing secara nasional dan sekaligus internasional pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. baik untuk sekolah negeri maupun swasta. orang tua. yaitu penyelenggaraan pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Pendidikan bertaraf internasional juga harus relevan. PENDAHULUAN Dalam upaya meningkatkan mutu. Kata Kunci: Kebijakan Pemerintah. Selain itu terdapat pula 16 kriteria seorang kepala sekolah yang memimpin RSBI. masyarakat.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. . Kepemimpinan Kepala Sekolah dan RSBI. 2. No. dan kemampuan pemerintah daerahnya (kabupaten/kota dan provinsi). efisiensi. 4.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 menetapkan skala prioritas utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional ke-1 tahun 2004-2009 untuk meningkatkan kualitas dan akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah 4. beberapa alasan yang melatarbelakangi perlunya pendidikan bertaraf internasional yang selanjutnya disebut sebagai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). . menumbuhkan dan mengembangkan bakat. Filosofi eksistensialisme berkeyakinan bahwa pendidikan harus menyuburkan dan mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitasi yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat. baik lokal. sarana dan prasarana. proses. Penyelenggaraan SBI didasari oleh filosofi eksistensialisme dan esensialisme. keluarga. properubahan. proses belajar mengajar. empat pilar pendidikan yaitu learning to know. kebijakan yang dijadikan landasan oleh pemerintah adalah: Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. minat. baik kebutuhan individu. and learning to be merupakan patokan berharga bagi penyelarasan praktek-praktek penyelenggaraan pendidikan Indonesia. maupun internasional. dan kemampuan peserta didik. dan input baik secara nasional dan internasional. Dalam mengaktualisasikan kedua filosofi di atas. guru. manajemen dan sumber daya manusia. c. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. efisien. learning to do. Menurut Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008). 83 a. 4. relevan. Pendidikan bertaraf internasional harus memiliki daya saing yang tinggi dalam hal hasil-hasil pendidikan (output & outcome). terutama pada Pasal 50 ayat 3. hingga sampai penilaiannya. maka dalam penyelenggaraan SBI. 3. b. learning to live together. Sedangkan filosofi esensialisme menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi relevan dengan kebutuhan. d. Era globalisasi yang menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam teknologi. dan daya saing yang kuat. yang dimulai dari kurikulum. diantaranya adalah: 1. Dalam upaya peningkatan mutu. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Nasional Pendidikan. 2. nasional. maupun kebutuhan berbagai sektor dan sub sektornya.

2. Tolerasi terhadap perbedaan pada setiap orang. Memiliki visi. proses. 7. tetapi tidak toleran terhadap orang-orang yang meremehkan kualitas. sebuah sekolah yang berstandar internasional. Kemampuan mengambil keputusan secara terampil. 5. dan strategi. penyelia. 6. Komitmen tersebut telah dituangkan ke dalam kebijakan pemerintah dalam pendidikan nasional seperti yang disampaikan di atas. Di dalam Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) telah dituliskan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah yang memimpin SBI adalah kepala sekolah dengan tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. 8. wirausahawan. pencipta iklim kerja. regulator. pembaharu. lingkungan. Menggunakan sistem sebagai cara berpikir. Menjalankan perannya sebagai manajer. mengelola dan menganalisis sekolah. 3. pemimpin. standar prestasi. Menjalankan dimensi-dimensi tugas. Kepala sekolah sebagai penanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan pada sekolah bertaraf internasional memiliki fungsi yang strategis. namun berujung pada kualitas yang lebih tinggi lagi yaitu standar internasional. Menggunakan input manajemen. Memobilisasi sumber daya. Menurut Slamet PH (2004) seperti yang dikutip dalam Panduan Pelaksanaan Pembinaan SMP SBI diungkapkan bahwa kepala sekolah SBI harus memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. Salah satu aspek yang menjadi penting dalam upaya pemenuhan kualitas pendidikan yang berstandar internasional tersebut. peran kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu aspek yang menjadi aspek yang paling penting. maka tentunya akan dipimpin oleh seorang kepala sekolah dengan kemampuan berstandar internasional.Ujang Didi Supriadi Beberapa hal yang telah disampaikan di atas. Kemampuan dalam mengkoordinasikan menyerasikan sumberdaya dengan tujuan. Peningkatan kualitas tersebut tidak lagi berujung pada standar kualitas nasional. dan keterampilan personal. Hal ini dikarenakan. 4. dan nilai-nilai. pendidik. misi. dan pembangkit motivasi. 84 . 9. administrator. terlihat bahwa Pemerintah memiliki komitmen yang sangat tinggi dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.

Menciptakan sekolah belajar. telah ditetapkan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah merupakan salah satu komponen input yang turut menentukan tercapainya kualitas pendidikan bertaraf internasional. melakukan analisis SWOT dan mengupayakan langkah-langkah untuk meniadakan persoalan. 15. 85 . Menerapkan manajemen berbasis sekolah. Memberdayakan sekolah. Beberapa kriteria yang disampaikan di atas bahwa Pemerintah melalui kebijakan peningkatan kualitas pendidikan yang bertaraf internasional telah membuktikan bahwa kepala sekolah merupakan salah satu komponen dalam sistem pendidikan yang menjadi faktor penentu tercapainya kualitas pendidikan bertaraf internasional tersebut. Sebagai upaya peningkatan mutu internasional. Bpk. Adi Dasmin dan Mr. Memusatkan perhatian pada pengelolaan proses belajar mengajar. Penandatanganan ini dilakukan oleh Kepala Sekolah Semabel's. Hj. dan 16. 11. 14. Mr. Herman Cher Ma'in (Wakil Kepala Sekolah QSSS) dan disaksikan oleh 3 guru dari QSSS (Mr. para pejabat Kodya Jakarta Selatan. Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam menjadikan SMPN 115 sebagai RSBI merupakan salah satu aspek penting untuk disampaikan pada makalah ini. Mendorong kegiatan-kegiatan yang kreatif. 12. selanjutnya dari Dinas Pendidikan Nasional DKI Jakarta diwakili oleh Dr. yaitu merumuskan sasaran. Menjalankan gejala empat serangkai. 13. MSi selaku Kepala Dinas. Justin sebagai guru Bahasa Inggris. SH. memilih fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran. Ivan sebagai Pupil Development). Menggalan teamwork yang cerdas dan kompak. dan dihadiri pula oleh seluruh Kepala Sekolah SMPN RSBI se-DKI Jakarta. Sylviana Murni. Dimana bila ditelaah melalui kebijakan pemerintah. Salah satu sekolah yang telah terpilih menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) adalah SMP Negeri 115 sejak tahun 2007.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah 10. pada bulan Maret 2008 SMPN 115 telah melakukan kerja sama kepada Queensway Secondary School Singapore (QSS). Gary sebagai guru ICT dan Mr.

dan selalu menyalakan api kepercayaan pada anggota organisasi. ada kalanya pemimpin memberi kesempatan bawahan untuk berdiskusi. dan ia mengerjakan yang benar. Ia bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh bawahannya. Asks what and why (ia menanyakan apa dan mengapa). Inspires trust (menghidupkan rasa percaya). Ia bertanya pada bawahannya dengan pertanyaan apa dan mengapa?. Luthans (2002: 576) menegaskan bahwa karakteristik pemimpin di Abad XXI adalah: Innovates (menciptakan sesuatu yang baru). Pemimpin selalu berupaya untuk mengembangkan apa yang ia lakukan. Eye on the horizon (berpandangan sama pada sesamanya). Kepemimpinan menurut Northouse (2003:3) merupakan suatu proses dimana individu mempengaruhi kelompok untuk mencapai tujuan umum. sehingga kepemimpinan menjadi sangat penting perannya dalam sebuah organisasi. bertanya (Democratic). ia tidak puas dengan apa yang ada. 86 . Does the right thing (mengerjakan yang benar). Develops (mengembangkan). Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan.Ujang Didi Supriadi LANDASAN TEORI Kepemimpinan Kepala Sekolah Setiap organisasi selalu dipimpin oleh seorang pemimpin. Kepemimpinan itu ada pada diri pemimpin/manajer. Selain itu menurut Dubrin (2001:3) bahwa kepemimpinan itu adalah kemampuan untuk menanamkan keyakinan dan memperoleh dukungan dari anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. An original (asli dari pemimpin). Pemimpin memiliki karakteristik selalu memiliki upaya untuk menciptakan hal yang baru (selalu berinovasi). Ia percaya pada bawahan. Ia menentang status quo. Challenges the Status quo (menentang kemapanan). Gagasannya memiliki prespektif jangka panjang. Dari aspek karakteristik dibedakan antara karakteristik pemimpin (leader) dengan karateristik manajer. Focuses on people (terkonsentrasi pada manusia). Own person (mengakui tanggung jawab ada pada pemimpin). dan ada kalanya pemimpin itu membiarkan kondisi yang ada terserah pada bawahan (Laissez -fair) (The Iowa Leadershi Study) (Luthans. seorang pemimpin ada kalanya pemimpin tidak memberi kesempatan pada bawahannya untuk bertanya ataupun minta penjelasan (Authoritarian). Gagasan-gagasan yang dimiliki oleh pemimpin merupakan gagasan sendiri tidak meniru ataupun mencontoh gaya kepemimpinan orang lain. Keberhasilan sebuah organisasi sangat bergantung dari keberhasilan peran pemimpin. melalui gayanya tersebut. Longrange perspective (memiliki prespektif jangka panjang). 2002: 577). Originates (memiliki keaslian).

Close. Directive). 2002: 579-589). Pembahasan kepemimpinan juga dikaji tentang gaya kepemimpinan (Leadership Style). dan memecahkan permasalahan. Democratic. (8) memiliki kesadaran diri. Participative. Sedangkan Employee Centered memiliki komponen: Theory Y. dan skill. Gaya kepemimpinan yang mendasarkan pada dua dimensi yaitu perhatian terhadap tugas (Concern for Task) dan perhatian terhadap karyawan (Concern for People) telah melahirkan teori gaya kepemimpinan yang terkenal dengan The Blake and Mouton Managerial Grid. Informational Roles. Berikutnya berkembang pula gaya kepemimpinan situasional yang dikembangkan oleh Harsey dan Blanchard yang kemudian dikenal dengan Harsey dan Blanchard’s Situational Leadership Model. menjelaskan. Serta skill bagi pemimpin adalah: (1) komunikasi verbal. teori Contingency. Komponen dari Boss-Centered (meliputi: Theory X. (6) mendelegasikan wewenang. General. Pimpinan memiliki peran Interpersonal Roles. teori Kelompok dan Tukar Menukar (Group and Exchanges Theories). Gaya kepemimpinan tersebut telah mendasari teori Tannebaum and Schmidt Continuum of Leadership Behavior. (3) mengelola pengambilan keputusan. Sedangkan kegiatan mereka adalah: Routine Communication. Networking. kegiatan.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah Studi dilakukan oleh The Ohio State Leadership Study. Task-directed. Traditional Management. 2002: 619627). Consideration. manajer ataupun pimpinan memiliki peran (role). Employee-Centered. 87 . (7) menetapkan tujuan dan menjelaskan visi. Supportive. Human relations. Sebagai pemimpin. toeri Kepemimpinan Karismatik (Charismatic Leadership Theories). teori Kepemimpinan Transformasional (Transformational Leadership Theory) (Luthans. dan (10) mengelola konflik (Luthans. dan pengakuan terhadap kebutuhan individu dan hubungan (Consideration). Production Centered. dan Human Resource Management. Autocratic. Kajian terhadap teori kepemimpinan terus berkembang pada teori Sifat (Trait Theories). teori Jalur dan Tujuan (Path-Goal Leadership Theory). (4) mengakui. Selanjutnya penelitian dilanjutkan oleh The Early Michigan Leadership Study menunjukkan bahwa kepemimpinan itu adalah perhatian terhadap karyawan (employee-centered) dan juga perhatiannya terhadap proses produksi (production-centered). (9) membangun kerja tim. (5) memotivasi dan mempengaruhi orang lain. Initiating Structure. didapatkan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa kepemimpinan ditujukan pada penyelesaian tugas atau orientasi pada sasaran (Initiating Structure). (2) mengelola waktu dan stress. dimana pada akhir Perang Dunia ke 2. Studi klasik tentang teori kepemimpinan telah mengembangkan gaya kepemimpinan yang kontinum Boss-Centered dan Employee Centered. Decisional Roles.

dan apa akibat dari tindakan tersebut. Jika yang menjadi tujuan adalah pemberian kewenangan di sektor pendidikan yang lebih besar kepada pemerintah daerah. kata kebijakan umumnya dipakai untuk menunjukan pilihan terpenting yang diambil baik dalam kehidupan organisasi atau privat. tujuan dan orientasi dari desentralisasi pendidikan sangat bervariasi berdasarkan pengalaman desentralisasi pendidikan yang dilakukan di beberapa negara Amerika Latin. desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah.Ujang Didi Supriadi Kebijakan Pendidikan Pengertian kebijakan publik menurut Thomas R. Konsep desentralisasi pendidikan yang pertama terutama berkaitan dengan otonomi daerah dan desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan dari pusat ke daerah. sedangkan konsep desentralisasi pendidikan yang memfokuskan pada pemberian kewenangan yang lebih besar pada tingkat sekolah dilakukan dengan motivasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. jika yang menjadi tujuan desentralisasi pendidikan adalah peningkatan kualitas proses belajar mengajar dan kualitas dari hasil proses belajar mengajar tersebut. yaitu: pertama. dana pendidikan yang berasal yang pemerintah dan masyarakat). Implisit ke dalam strategi desentralisi pendidikan yang seperti ini adalah target untuk mencapai efisiensi dalam penggunaan sumber daya (school resources. Amerika Serikat dan Eropa. Dilain pihak. atau dengan kata lain kebijakan publik merupakan studi tentang apa yang dilakukan pemerintah. Dye dalam Parson (2005) adalah : “public policy is whatever governments choose to do or not to do”. Kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan diungkapkan oleh Alisjahbana (2000) memiliki dua jenis desentralisasi pendidikan. Atas dasar pengertian di atas. dan kedua. desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan dalam hal kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah (propinsi dan distrik). Sedangkan menurut Lasswell (1951b). maka pengertian dari kebijakan pendidikan merupakan sebuah pilihan stratejik yang dilakukan pemerintah karena berkaitan dengan kepentingan masyarakat banyak di bidang pendidikan. mengapa pemerintah mengambil tindakan tersebut. Menurut Alisjahbana (2000). maka desentralisasi pendidikan lebih difokuskan pada reformasi 88 . Sehingga kebijakan bebas dari konotasi yang dicakup dalam kata politis yang sering kali diyakini mengandung makna keberpihakan dan korupsi. maka fokus desentralisasi pendidikan yang dilakukan adalah pada pelimpahan kewenangan yang lebih besar kepada pemerintah lokal atau kepada Dewan Sekolah. seperti yang dikutip oleh Parson (2005).

Kajian Atas Kebijakan Pemerintah proses belajar-mengajar. Tipologi Kewenangan-kewenangan Pendidikan yang Dapat Didesentralisasikan Sumber: Alisjahbana (2000) 89 . Desentralisasi pendidikan akan meliputi suatu proses pemberian kewenangan yang lebih luas di bidang kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat kepemerintah lokal dan pada saat yang bersamaan kewenangan yang lebih besar juga diberikan pada tingkat sekolah Selanjutnya menurut Alisjahbana (2000). Partisipasi orang tua dalam proses belajar mengajar dianggap merupakan salah satu faktor yang paling menentukan. tipologi komponen-komponen sektor pendidikan yang dapat dipertimbangkan untuk didesentralisasikan dapat dilihat dalam Tabel 1 berikut: Tabel 1. desentralisasi pendidikan yang dilakukan di banyak negara merupakan bagian dari proses reformasi pendidikan secara keseluruhan dan tidak sekedar merupakan bagian dari proses otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Dalam kenyataannya.

Kombinasi prestasi akademik dan non akademik. SMP Negeri 115 Jakarta atau sering disebut SMABELS. maksudnya adalah sekolah ini memiliki kelas berstandar pendidikan internasional yang ditunjukan dengan penyelenggaraan pendidikan beserta segala aspek intensitas dan kualitas layanan yang ditata secara efektif. dan pada awal tahun 2005 renovasi selesai dan mulai menempati gedung baru yang megah. Sekolah ini berlokasi di Jalan Tebet Utara III Jakarta Selatan. Prestasi yang diraih adalah sebagai sekolah dengan rata-rata nilai UAN tertinggi di DKI Jakarta selama 3 tahun terakhir. bahkan SMP Negeri 115 Jakarta ini merupakan pemasok terbesar siswa-siswi SMA Negeri 8 Jakarta yang merupakan sekolah SMA unggulan di DKI Jakarta. Setelah berjalan 20 tahun gedung yang ditempati SMP Negeri 115 Jakarta akhirnya direnovasi oleh Pemda DKI Jakarta yaitu pada tahun 2001. sarana dan prasarana. Pemerintah menetapkan SMPN 115 Jakarta sebagai salah satu Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Hal ini tentu tak terlepas dari pembinaan para guru dan kepemimpinan kepala sekolah. telah tercatat berbagai prestasi yang telah diraih oleh siswa-siswinya. profesional untuk mencapai keunggulan mutu pendidikan baik nasional maupun internasional dengan karakteristik seperti penggunaan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya sebagai bahasa pengantar secara aktif dan penggunaan ICT (Information and Communication Technology) dalam pembelajaran. Selama dua setengah tahun renovasi gedung itu berjalan. Tapi juga diimplementasikan dalam manajemen sekolah (pendidikan) yang di dalamya 90 . Tekad kepemimpinan kepala sekolah berserta seluruh komponen sekolah untuk menjadikan SMPN 115 sebagai sekolah bertaraf international tidak saja direalisasikan dalam pengadaan berbagai fasilitas. telah menempatkan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 115 Jakarta sebagai 'prototype' Rintisan Sekolah Bertaraf International (RSBI).Ujang Didi Supriadi PEMBAHASAN Kepemimpinan Kepala Sekolah SMP N 115 dalam Membangun RSBI SMP Negeri 115 Jakarta merupakan sekolah yang berdiri sejak tahun 1978. Dari tahun-ke tahun hingga kini banyak lulusan SD se-DKI Jakarta yang berlomba-lomba ke SMP Negeri 115 Jakarta Sejak tahun 2008. ditambah konsep pembelajaran berwawasan global yang bertujuan mengembangkan potensi diri peserta didik. Selain itu prestasi lainnya seperti di Olimpiade Sains Nasional maupun ajang kompetisi lokal dan internasional telah memotivasi sekolah ini menjadi SBI.

unggul dalam prestasi akademik dan non akademik melalui peningkatan ketaqwaan. Guna mencapai visi tersebut. orkestra & paduan suara) telah mencapai juara I Pop Song Interasional. moral. laboratorium bahasa. Kepemimpinan Kepala Sekolah memiliki visi bahwa konsep SBI sesungguhnya telah sejalan dengan visi dan misi SMPN 115 yaitu menjadikan peserta didik yarig cerdas dan kompetitif di tingkat nasional maupun international. metode. misalnya pengadaan laboratorium IPA. perpustakaan. Sejak berdiri 1978 sebagai sekolah reguler. Untuk prestasi di luar pelajaran (ekstra kurikuler) seperti lewat pentas seni (band. SMPN 115 telah menyelenggarakan proses pembelajaran dengan orientasi prestasi. Untuk mendukung prestasi sekolah. pemberdayaan peran guru sangat dimaksimalkan dimana para guru harus memahami situasi dan prestasi anak didik sehingga semua permasalahan yang muncul di kelas harus segera ditangani secara bersama. sarana olahraga dan kreativitas seni. untuk menuju sekolah internasional juga diimplementasikan melalui penerapan Kelas Bilingual dan Kelas Internasional yang diisi oleh siswasiswi pilihan dan dalam proses belajar mengajar dominan menggunakan bahasa asing. Seluruh siswa dan siswi memiliki kesempatan sama besarnya untuk berprestasi baik di dalam dan di luar pelajaran. termasuk memberikan dukungan penuh kepada siswa dalam upaya meraih 2 medali di Olimplade Sains Nasional 2007 di Surabaya Jawa Timur. Selaku kepala sekolah. Artinya.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah mencakup kurikuluin. tari. kepemimpinan kepala sekolah mencoba melakukan pendekatan kepada seluruh siswa selama di sekolah dengan menempatkan wali kelas dan guru pendamping untuk memantau proses belajar mengajar. Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan di atas. Selain itu. terlihat bahwa kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki visi prestasi hingga mencapai tingkat internasional akan mampu mendorong sekolah untuk mewujudkan visi tersebut. Selain itu pula telah berhasil dalam kejuaraan olahraga yang membawa SMPN 115 juara lomba renang tingkat regional di Thailand. kepemimpinan kepala sekolah SMP N 115 tidak 91 . Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Luthans (2002: 576) bahwa salah satu karakteristik pemimpin di Abad XXI adalah memiliki prespektif jangka panjang (Longrange perspective). SDM (guru dan tenaga kependidikan) pemanfaatan fasilitas. kepemimpinan kepala sekolah sangat menekankan pada kelengkapan fasilitas belajar dan mengajar. pengembangan diri dan kemampuan menguasai iptek di era globalisasi.

Kerja sama ini dilakukan sebagai upaya untuk saling tukar-menukar informasi dalam menjalankan manajemen pendidikan. yaitu Queensway Secondary School Singapore (QSS). Kebijakan Pemerintah dalam Mengembangkan Kepemimpinan Kepala Sekolah pada Sekolah Bertaraf Internasional Kebijakan pemerintah dalam kualifikasi kepemimpinan kepala sekolah pada SBI diterangkan pada Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) telah dituliskan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah yang memimpin SBI adalah kepala sekolah dengan tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. keterampilan dalam berbagai bidang. Sehingga karakteristik kepala sekolah yang tangguh dan berwawasan internasional dapat tercapai secara bertahap dan berkelanjutan. Di dalam hal tingkat pendidikan yang harus ditempuh. melakukan kerja sama dengan lembaga lain. menajemen. Untuk mendukung kualitas sekolah. Sehingga adanya kebijakan baru tentang SBI telah memudahkan SMP N 115 dalam meraih predikat tersebut. kepemimpinan kepala sekolah dapat menjalin komunikasi dan kerja sama kepada sekolah berskala internasional di Singapura. Pada Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) juga disampaikan bahwa di semua sekolah yang telah bertarafkan internasional. 92 . kepribadian. Persyaratan ini telah dipenuhi oleh Kepala Sekolah SMPN 115 Jakarta yang telah menempuh pendidikan pasca sarjana (S2) dan kemampuanya dalam berbahasa Inggris. Sehingga melalui kemampuannya dalam berbahasa Inggris tersebut. namun visi membangun prestasi sekolah yang unggul telah diinspirasikan untuk jangka panjang jauh sebelum pemerintah mengeluarkan kebijakan SBI. Adapun materi pengembangan kapasitas tersebut diantaranya dalam hal kemampuan intelektualitas. magang. sehingga kedua sekolah dapat saling belajar keunggulan-keunggulan yang dimiliki. kepemimpinan kepala sekolah telah pula menjalankan fungsi Networking dengan melakukan kerja sama kepada sekolah internasional yang berbasis di Singapura. komunikasi. manajemen ISO 9000:2001. penguasaan teknologi informasi dan telekomunikasi. dan sebagainya. diantaranya adalah pelatihan. kepala sekolah yang bertaraf internasional harus memiliki tingkat pendidikan minimal S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A. Upaya pencapaian visi tersebut tidak hanya terbatas dalam prestasi akademik dan non-akademik.Ujang Didi Supriadi hanya ingin mencapai prestasi di tingkat nasional. bahasa Inggris. memiliki kewajiban dalam upaya meningkatkan kapasitas kepala sekolahnya melalui berbagai kegiatan. dan sebagainya.

peran Dinas Pendidikan Kabupaten dan Provinsi dalam meningkatkan kapasitas kepala sekolah dapat dilakukan sebagai pembinaan. Desentralisasi pendidikan tersebut telah membagi dua peran yang saling menunjang.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah Selain itu. 93 . maka dapat dilakukan dengan menerapkan kebijakan desentralisasi. dalam kebijakan di bidang pendidikan memiliki dua jenis desentralisasi pendidikan. Seperti yang telah diungkapkan oleh Alisjahbana (2000). KESIMPULAN Kepemimpinan memiliki peran yang paling strategis dalam mencapai tujuan organisasi. yaitu peran pemerintah sebagai payung kebijakan pengembangan pendidikan bertarafkan internasional. desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan dalam hal kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah (propinsi dan distrik). penempatan/pengangkatan. adalah desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah. Di dalam penerapannya. Dalam hal ini peran kepemimpinan kepala sekolah sangat dominan dalam membawa sekolah menuju prestasi internasional. yaitu: pertama. pembimbingan. Selanjutnya pada dimensi kedua. seperti yang telah dijalankan oleh SMPN 115 Jakarta. Demikian halnya dalam mencapai tujuan organisasi pendidikan yang diarahkan memiliki taraf kualitas internasional. Kebijakan pemerintah dalam memberikan kualifikasi kepemimpinan kepala sekolah dalam memimpin sebuah sekolah yang bertarafkan internasional telah mendukung percepatan pencapaian tujuan yang ingin dicapai. dan pengarahan. kebijakan pendidikan dalam upaya mewujudkan sekolah yang berstandarkan internasional melalui peningkatan peran kepemimpinan kepala sekolah. Pada dimensi ini peran pemerintah (baik pusat maupun daerah) memberikan kebijakan sebagai arah masa depan pendidikan sehingga format pendidikan secara nasional memiliki keseragaman yang akan dicapai. dan peran sekolah melalui kepemimpinan kepala sekolah dalam menjalankan kebijakan sekolah bertaraf internasional. Peran tersebut harus mengedepankan aspek profesionalitas dan kualitas dalam pengembangan kepemimpinan kepala sekolah bertaraf internasional.

Ujang Didi Supriadi DAFTAR RUJUKAN Alisjahbana. 2002. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. and Skills. Singapore: McGrawHill International Editions Northouse. Wayne. P. Leadership: Theory and Practice. 2001. Practices. Parsons. Leadership: Research Findings. 2000. 2003. Makalah untuk disampaikan pada Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung. Fred. Luthans. Dokumen: Panduan Pelaksanaan Pembinaan Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraf Internasional (SMP-SBI). Organizational Behavior. Third Edition. Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan. J. Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama. New Delhi: Response Book. A.Public Policy: Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan. 94 . 2005. Tahun 2008. Armida S. Boston: Houghton Mifflin Company. Ninth Edition. Dubrin. Jakarta: Penerbit Kencana. Third Edition.G.

tenaga administrasi dan seluruh warga sekolah sudah seharusnya terus belajar dan mengembangkan diri menjadi pembelajar agar keberhasilan sekolah terwujud. PMPTK Depdiknas Abstrak Kajian tentang Professional Learning Community (PLC) atau Komunitas Pembelajaran Profesional (KPP) telah dilakukan oleh peneliti pendidikan dan dipublikasikan dalam beberapa jurnal ilmiah. pembelajaran. Kata Kunci: Komunitas pembelajaran profesional. dan kepala sekolah belajar dalam memimpin pembelajaran (leading in learning). Selama tiga puluh tahun belakangan ini kajian tentang KPP terus dilakukan sebagai upaya pengembangan dan inovasi sekolah. collaboration dan shared norms and values. Karenanya. Dari beberapa kajian tersebut karakteristik KPP yang mendukung keberhasilan pembelajaran adalah adanya reflective dialogue. 4. collective focus on student learning. peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah cukup strategis dalam mengembangkan KPP sekaligus mengembangkan kompetensi sesuai tuntutan peraturan dan tuntutan perubahan zaman. pemimpin PENDAHULUAN Sekolah merupakan tempat transaksi pembelajaran berlangsung. guru-guru belajar dari kegiatan mengajarnya (teaching for learning). No. Kajian tentang school effectiveness berkembang cukup pesat sebagai usaha mengkaji keefektifan sekolah. Berbagai kajian telah dilakukan untuk menilai keberhasilan sekolah baik dari prestasi siswa maupun pengembangan profesi guru dan tenaga kependidikan yang ada di dalamnya. April 2009 PEMIMPIN KOMUNITAS PEMBELAJARAN Zainun Misbah Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen. Hasil-hasil kajian sekolah telah banyak digunakan pengambil kebijakan untuk menentukan arah pembangunan pendidikan 95 . Meski demikian penelitian tentang efek KPP terhadap nilai siswa belum banyak dilakukan. 1. Kepala sekolah dituntut untuk menjadi pemimpin pembelajaran dalam artian bahwa semua warga sekolah dipimpin untuk terus meningkatkan mutu pembelajaran mereka. guru. Siswa belajar ilmu-ilmu pelajaran untuk bekal hidup. Siswa. inovasi sekolah.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. de-privatization of practice.

2004) menjelaskan professional community sebagai : “possessing three general traits in which teachers pursue a shared sense of purpose for student learning. (2) iklim dan budaya sekolah. Wenger (2000. level kelas. (10) pengelolaan kurikulum. (5) pengembangan siswa. Hord (1997) menyatakan bahwa “professional learning communities can be a significant force for empowering staff that leads to school change and improvement and increased student outcomes. akuntabilitas dan pencitraan publik.Zainun Misbah baik di tingkat individu peserta didik. Kajian ini menyimpulkan berbagai karakteristik proses sekolah efektif meliputi: (1) perencanaan dan pengembangan sekolah. Marks. (8) penghargaan dan insentif. kajian tentang Professional Learning Community (PLC) atau Komunitas Pembelajaran Profesional (KPP) secara kualitatif dan kuantitatif terus dilakukan. serta penguatan tata kelola. and Kruse (1996) mengemukakan ada dua hal penting dalam komunitas professional. (4) kepemimpinan kepala sekolah. Borman & Fermanich. Ke-11 karakteristik tersebut saling mendukung dalam mendorong terselenggaranya proses pembelajaran yang efektif di sekolah (Direktorat Tenaga Kependidikan. (3) pemantauan terhadap kemajuan siswa. engage in 96 . (7) pemberdayaan orang tua dan masyarakat. yakni deprivatized practice and reflective dialogue (dalam Grodsky & Gamoran. (5) pengembangan guru dan staf. PENGERTIAN PROFESSIONAL LEARNING COMMUNITIES Ada banyak definisi yang berbeda tentang Professional Learning Community (PLC).” Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji tentang komunitas pembelajar professional dari beberapa literatur dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. demikian juga mengembangkan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan lainnya. peningkatan mutu. tulisan ini juga mencoba menggali peran kepala sekolah yang cukup strategis dalam mewujudkan KPP dan memimpin organisasi pembelajar. Pada beberapa tahun belakangan ini. 229) menyatakan bahwa ‘that professional communities share cultural practices reflecting their collective learning process’. 2003). Newman dan Wehlage (dalam Oden. Louis. relevansi dan daya saing pendidikan. Lebih lanjut. (9) tata tertib dan kedisiplinan. Diharapkan dengan semakin banyaknya referensi tentang komunitas pembelajar profesional dapat meningkatkan upaya inovasi pendidikan di Indonesia sehingga terjadi akselerasi peningkatan mutu pendidikan dengan mempertimbangkan perluasan dan pemerataan akses pendidikan. 2008). dan (11) akuntabilitas sekolah. KPP dipandang sebagai salah satu proses dalam pengembangan sekolah yang dapat memperbaiki sistem pengajaran di kelas. level sekolah ataupun lingkup nasional.

baik di dalam dan di luar lingkungan terdekat mereka. Kesamaan visi dan nilai • • Adanya fokus yang sama terhadap pembelajaran siswa dan keterlibatan mereka. Stoll dkk (2005) mengidentifikasi karakteristik dari KPP yang dapat meningkatkan proses pembelajaran adalah sebagai berikut: 1. mencari tahu mengenai praktek-praktek pembelajaran mereka dan bersama-sama mempelajari pendekatan yang baru dan yang lebih baik yang akan meningkatkan pembelajaran seluruh siswa’. Tanggung jawab bersama atas pembelajaran siswa. • Staf mempunyai harapan yang tinggi terhadap siswa. • 3. Kerjasama yang bertujuan pada pembelajaran. serta kerterbukan dan sharing terhadap praktekpraktek pembelajaran yang dilakukan untuk evaluasi dan peningkatan dan penjaminan mutu. • • • Perencanaan tim dan kerjasama tim adalah suatu hal yang biasa terjadi. adanya budaya kerjasama. jadi tidak hanya pada peran yang sama. menemukan solusi. and take collective responsibility for student learning”. • Ada budaya peningkatan yang tampak jelas. Ada tekanan dari teman sebaya pada mereka yang tidak mengerjakan bagiannya dengan baik. Kesemuanya itu bermuara pada memfasilitasi siswa belajar dengan lebih baik. adanya kesamaan nilai dan norma yang berlaku. • Staf secara bersama-sama bertanggung jawab atas pembelajaran siswa. Dengan demikian dalam suatu KPP terdapat tanggung jawab bersama dalam meningkatkan pembelajaran siswa. • 97 . adanya refleksi dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan. yang didorong oleh motivasi pembelajaran yang sama. 2. yang mendukung dan bekerjasama satu sama lain. Adanya pengajaran secara berkelompok yang terjadi Adanya kerjasama yang terjadi diantara berbagai peran yang berbeda (contohnya guru dengan staf pendukung).Pemimpin Komunitas Pembelajaran collaborative activities to achieve this purpose. Adanya kolaborasi yang terjadi di seluruh sekolah dan juga kerjasama antar bidang pelajaran yang diperlukan. Stoll dkk (2005) menyatakan bahwa ‘komunitas pembelajaran profesional adalah komunitas terbuka yang melibatkan semua orang. Ada pernyataan mengenai nilai-nilai yang dikembangkan bersama dan dipahami oleh semua.

• Masukan (input) dari siswa sangat dihargai. Pemikiran yang inovatif. evaluasi diri. Pencarian profesional yang penuh pemikiran • • Refleksi terhadap praktek-praktek dihargai Penelitian dan inkuiri mempengaruhi pengajaran dan pembelajaran. dan penelitian tindakan. institusi pendidikan yang lebih tinggi dan badan-badan lainnya. proyek penelitian dan pengembangan. demonstrasi pembelajaran. evaluasi diri. Keterbukaan. pertambahan nilai dan penilaian untuk pembelajaran. Terdapat pembelajaran kelompok dan individual yang profesional • • Semua staf termasuk staf pendukung terlibat dan menghargai pembelajaran profesional Ada sejumlah kegiatan pembelajaran professional dan perkembangan berkesinambungan yang berlangsung. Data dianalisa dan digunakan sebagai bahan pemikiran dan perkembangan. nilai tambah (value-added). lokakarya. Staf mengambil tanggung jawab bersama untuk mempromosikan dan mendukung pembelajaran satu sama lain. forum pembelajaran. contohnya tutor sebaya. pusat pelatihan. Masukan dari siswa sangat dihargai. 5. Contohnya: pengamatan timbal balik. Data dianalisis dan digunakan sebagai bahan refleksi dan pengembangan. Penelitian dan pencarian mempengaruhi pengejaran dan pembelajaran sebagai contoh pengamatan mutual. Latihan yang penuh pemikiran sangat dihargai. contohnya hasil penilaian. • • • • • 98 . jaringan dan kemitraan • • • Inisiatif dari luar digunakan untuk menganalisa apa yang terjadi di dalam Semua orang terbuka akan perubahan Staf secara aktif terlibat dalam kemitraan dengan pihak eksternal dan jaringan pembelajaran dengan sekolah. dan penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning). • • 6.Zainun Misbah 4. dan penelitian tindakan. contohnya hasil penilaian. memandu pembelajaran siswa dan lainlain. kreatif dan berani mengambil resiko sangat didukung.

Rasa percaya. Sebagai inti dari konsep komunitas pembelajaran professional adalah berasal dari asumsi pada premis meningkatkan kualitas belajar siswa dari kualitas pengajaran di kelas. Mengoptimalisasikan sumber daya dan struktur untuk mempromosikan KPP • Waktu. Ada satu kumunitas besar yang melibatkan seluruh staf disekolah. adanya upaya inovasi sekolah dalam perbaikan pembelajaran. Upaya terbaik dari pada staff dan guru sangat dihargai Staf merasa kompeten. pusat. 8. rasa hormat. adanya peningkatan kompetensi kepemimpinan. atau koles. Stoll dkk (2005) menyarankan langkah-langkah untuk mengembangkan KPP adalah sebagai berikut: 1.Pemimpin Komunitas Pembelajaran 7. Sumber daya sekolah dapat secara sinergis bekerjasama dan berkolaborasi menuju cita-cita yang sama dengan merefleksikan dan mendiskusikan masalah-masalah dan mencari solusi secara bersama-sama. KOMUNITAS PEMBELAJARAN PROFESIONAL BAGI MANFAAT SEKOLAH Stoll dkk (2005) menyatakan bahwa komunitas pembelajaran professional yang efektif mempunyai kemampuan untuk mendorong dan mempertahankan pembelajaran dari semua profesional di komunitas sekolah dengan tujuan bersama untuk meningkatkan pembelajaran siswa. bukan hanya komunitas-komunitas kecil yang banyak. ruang dan pengembangan KPP. dan dukungan yang mutual • • • • Hubungan kerja bersifat positif. pendanaan digunakan untuk mendukung 99 . Pengawas atau anggota komite sekolah terlibat dalam KPP. dan lain sebagainya yang masih terus dikaji oleh para peneliti pendidikan. Manfaat adanya komunitas pembelajaran profesional tersebut akan dirasakan jika tahapan-tahapan dalam mengembangkan KPP dilaksanakan dengan sungguhsungguh. Keanggotaan yang inklusif • • • Staf pendukung dihargai sebagai anggota yang memberi kontribusi kepada KPP. Ada rasa percaya dan hormat yang mutual. Karenanya. fasilitasi pembelajaran peserta didik yang lebih baik. manfaat yang bisa diperoleh dengan terciptanya komunitas pembelajaran di sekolah diantaranya terciptanya iklim pembelajaran yang kondusif.

Zainun Misbah

• •

Gagasan mengenai KPP disertakan dalam dokumem-dokumen kebijakan dan rencana-rencana pengembangan. Ruangan staf, ruang kerja staf dan ruang belajar digunakan untuk pembinaan dan pembelajaran masyarakat.

2.

• ICT digunakan untuk meningkatkan komunikasi yang lebih efektif. Mempromosikan pembelajaran yang profesional • • Perkembangan yang professional dikoordinasikan untuk mempromosikan pembelajaran semua staf. Manajemen atau penilaian kinerja, induksi, profil perkembangan professional, dan mentoring bersifat konsisten dengan nilai-nilai untuk menggembangkan KPP.

• • 3.

Ada penekanan terhadap latihan dan pemahaman bersama. Ada dukungan yang diberikan untuk membantu mengembangkan strategi dan keahlian pembelajaran dan pengajaran. Mengevaluasi dan Mempertahankan KPP • Pengembangan dan kemajuan KPP diawasi secara teratur. • • • Adanya pembahasan yang jelas mengenai KPP beserta tujuan dan pengembangannya. Nilai-nilai KPP dipertimbangkan saat membuat pilihan untuk merekrut dan memberhentikan staf. Perhatian diberikan terhadap masalah-masalah yang menghalangi pengembangan KPP. memberikan

• 4.

Teman-teman yang kritis diundang untuk masukan/pandangan dari luar. Memimpin dan Mengelola untuk mempromosikan KPP

• • • • •

Pemimpin memusatkan perhatian pada pembelajaran untuk semua. Pembinaan kepercayaan dan merayakan keberhasilan menjadi prioritas. Pemimpin selalu melakukan pencarian pengetahuan dan mendorong hal ini pada yang lain. Pemimpin memberikan contoh pembelajaran dan melatih rekanrekannya.

Kepemimpinan dalam pembelajaran disebarkan di seluruh sekolah, pusat pelatihan atau institusi pendidikan. Dengan mengembangkan KPP, kepala sekolah dapat menemukan kepuasan yang mendalam karena seluruh warga sekolah memiliki tanggungjawab kolektif untuk keberhasilan siswa dan keberhasilan sekolah. Setiap warga sekolah memiliki 100

Pemimpin Komunitas Pembelajaran

kesadaran bahwa mereka memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil kerja siswa dan juga sadar atas peran mereka dalam membantu siswa mencapai harapannya. Kepala sekolah juga dapat terus mengembangkan kompetensinya dalam mengelola administrasi dan komunitas sekolah, memperbaiki sistem pembelajaran di kelas, dan juga mengembangkan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosialnya secara terintegrasi. Kepala sekolah memiliki peran penting dalam mengembangkan KPP, utamanya dalam mendorong perubahan agar senantiasa terdapat kesempatan refleksi dalam pembelajaran baik oleh siswa, guru maupun kepala sekolah; meningkatkan budaya kolaborasi dan kerjasama warga sekolah, semakin memfokuskan pada pembelajaran siswa, dan kesamaan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di sekolah. Inovasi sekolah juga akan lebih cepat berkembang dengan adanya KPP karena salah satu karakteristik KPP adanya shared vision dan value. Sejalan dengan Gladwell (2002), bahwa komunitas akan merubah nilai dan pandangan individu, “karena ketika orang dimintai pendapat tentang suatu kejadian atau harus membuat keputusan dalam suatu kelompok, mereka cenderung memberikan kesimpulankesimpulan sangat berbeda dibanding ketika pertanyaan serupa diajukan kepada tiap orang sesudah tidak bersama kelompoknya lagi. Begitu kita menjadi bagian sebuah kelompok, kita semua rentan terhadap tekanan dan norma-norma sosial serta bermacam-macam pengaruh lain yang dapat berperan penting dalam proses awal perubahan (sekolah).” KOMUNITAS PEMBELAJARAN PROFESIONAL DI INDONESIA Budaya organisasi dan berkumpul dan bekerja secara bersama-sama ini cukup kental di Indonesia. Dalam konteks dunia pendidikan di Indonesia, komunitas pembelajaran kepala sekolah terlihat dalam wadah semisal Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) dan lain-lain. Para kepala sekolah dalam satu wilayah mengadakan pertemuan dan merefleksikan peran dan tanggung jawab mereka, dan masalah-masalah yang dihadapi dalam melaksanakan peran tersebut. Namun demikian banyak pihak yang menganggap forum tersebut belum dapat dioptimalkan dan diberdayakan dengan baik karena diantaranya permasalahan dana, terbatasnya kemauan dan kemampuan sumberdaya manusia, kurangnya pemahaman pentingnya jejaring dan komunitas pembelajaran profesional, dan lain sebagainya.

101

Zainun Misbah

MKKS & KKKS, sebagai contoh KPP di Indonesia, perlu diefektifkan lagi agar manfaat yang diperoleh semakin nyata. Stoll dkk (2005) menunjukkan tiga cara menentukan keefektifan dari KPP adalah sebagai berikut: KPP mempunyai dampak pada pembelajaran siswa dan pengembangan sosial KPP mempunyai dampak pada semangat dan tindakan staf, dengan potensi untuk mengembangkan kemampuan memimpin. 3. Semua karakteristik KPP ada pada tempatnya dan semua proses berjalan lancar yang merupakan bagian dari ’cara kami melakukan sesuatu’. Selain aktif dalam komunitas pembelajaran profesional dalam skala distrik (district based level) seperti dalam MKKS dan organisasi kepala sekolah, kepala sekolah perlu membangun komunitas pembelajaran profesional di sekolahnya. Kepala sekolah memimpin warga sekolah untuk mengidentifikasi apa yang kurang di sekolahnya, dan apa yang perlu ditingkatkan. Kegiatan dilanjutkan dengan melakukan refleksi dan berbagi dengan warga sekolahnya sehingga semua warga sekolah mempunyai rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap mutu sekolah. Namun perlu disadari bahwa membangun KPP diperlukan waktu yang cukup lama untuk membangun keterbukaan, kepercayaan, fokus yang sama dan karenanya tidak bisa dilakukan secara instant. Kepala sekolah perlu ’mempelajari proses dan manejemen perubahan’, tidak hanya mengharapkan sekolah berubah ke arah yang lebih baik, tetapi terus ’berusaha dan mencari’. KESIMPULAN DAN SARAN Pemerintah telah berupaya memfasilitasi peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi tenaga kependidikan dengan berbagai upaya. Komunitas Pembelajaran Profesional untuk meningkatkan mutu sekolah perlu terus diupayakan baik di tingkat sekolah maupun antar sekolah. Kalaupun sudah terbentuk wadah-wadah pertemuan untuk jejaring kerja pendidik dan tenaga kependidikan seperti MKKS, MGMP, MKPS dan asosiasi profesi tenaga kependidikan, perlu kiranya ditingkatkan dan diberdayakan lagi dengan mengingat konsep dan karakteristik-karakteristik KPP. Komunitas Pembelajaran Profesional pada level sekolah juga perlu diupayakan, dan tentunya peran kepala sekolah sangat penting dan strategis dalam mengimplementasikan konsep KPP di sekolahnya. Pengambil kebijakan sudah semestinya mendukung dan mendorong upaya sekolah mewujudkan KPP. Kajian tentang KPP pun perlu terus dilakukan dan disebarluaskan agar percepatan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dapat segera terlihat dan terukur. 1. 2.

102

Depdiknas : Jakarta.k12. S. Available at http://schools. University of Bristol. DfES Research Report RR367.pdf Direktorat Tenaga Kependidikan (2008). Gladwell. S. E. Organization articles. (2005).us/education/PLC/Prof_Lrng_Community.fsusd.pdf Wenger. Stoll. (2008).uk/research/data/uploadfiles/RR637. Tipping Point. dkk.dfes. December 26 – 30. Available at www. What is professional learning community? In: Schools as learning communities. 6-11. (2000).M.Pemimpin Komunitas Pembelajaran DAFTAR RUJUKAN DuFour. (2002). Leader and Learning. Organization: the interdisciplinary journal of organization. Creating and Sustaining Effective Professional Learning Communities. 225 – 246). Hirsh. 7 (2). Principal Leadership. M. & Hord. 103 . Kumpulan Materi Pembekalan Fasilitator Program Kemitraan Kepala Sekolah Angkatan VI Tahun 2008. R. Gramedia : Jakarta. Communities of practice and social learning systems..gop. (2004). theory and society.ca.

Penulis disarankan menuliskan alamat e-mail dan nomor telepon atau handphone pada halaman terakhir artikel untuk memudahkan komunikasi. Jika penulis empat orang atau lebih. abstrak (maksimal 100 kata). Peringkat 2 (Hanya awal kata huruf besar. nama penulis (tanpa gelar). cetak tebal. 6. tujuan penulisan. dicetak pada kertas A4 maksimal 20 halaman. . 3. Pada judul bagian tidak menggunakan sistem angka/nomor. 4. Sistematika artikel hasil pemikiran: judul. dan ruang lingkup penulisan. Naskah diketik dengan huruf Times New Roman. tebal. dan kata kunci maksimal enam kata. abstrak (maksimal 100 kata) yang berisikan tujuan penelitian. metode penelitian. Pendahuluan (tanpa judul) berisikan latar belakang. kecuali bagian pendahuluan disajikan tanpa judul bagian. sedangkan penulis lainnya dicantumkan pada bagian bawah halaman pertama artikel. dan tujuan penelitian. rata tepi kiri. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan huruf Times New Roman.com Nama penulis artikel dicantumkan tanpa gelar akademik dan ditempatkan di bawah judul artikel. ukuran 14 pts. ukuran 12 pts dan dicetak tebal. Daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk saja). rata tepi kiri. Peringkat 3 (Hanya awal kata huruf besar. nama penulis (tanpa gelar). Peringkat 1 (huruf besar semua. Bahasan utama (dapat dibagi ke dalam beberapa subbagian). sedikit tinjauan pustaka. 7. 104 2. di tengah-tengah dengan huruf Times New Roman.5. miring (italic) dan rata tepi kiri. diserahkan dalam bentuk printout sebanyak 2 eksemplar beserta disketnya atau dibuat dalam bentuk file dengan Microsoft Word (MS) dan dikirimkan ke alamat e-mail: jurnaltendik@yahoo. yang dicantumkan cukup penulis utamanya saja. dengan spasi 1. disertai judul pada masing-masing bagian artikel. 8. cetak tebal. Pendahuluan (tanpa judul) berisikan latar belakang. Artikel yang ditulis untuk Jurnal Tenaga Kependidikan meliputi hasil pemikiran dan hasil penelitian di bidang tenaga kependidikan. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan format esai. Penutup atau Kesimpulan. Judul artikel dicetak tebal dan huruf besar semua. 5. Sistematika artikel hasil penelitian: judul. hasil penelitian. kata kunci maksimal enam kata. ukuran 12 pts.PETUNJUK BAGI PENULIS ARTIKEL 1.

Kompas.J. Metode penelitian. Daftar rujukan disusun dengan tata cara seperti contoh berikut ini dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis. 1.1999. 1999.New York: McGraw-Hill Irwin. Hasil penelitian dan pembahasan. Ginnett. Agustus:1-13. Dalam M. Leadership Enchancing the Lessons of Experience. Edisi 1. No. Satu spasi.C. Buku dalam Kumpulan Artikel Leitwood. Fullan (Editor). 2004. K. The Jossey-Bass Reader on Educational Leadership (hlm. & Curphy. Kepemimpinan Pengawas Sekolah: Mengembangkan Budaya Tanggung Jawab dalam Jurnal Tenaga Kependidikan. Terjemahan oleh Anton Adiwiyoto. Vol.. 2. 2007. 2007. Artikel dalam Majalah Surya Dharma. Kesimpulan dan saran. Buku Terjemahan Kouzes. Buku Hughes. Artikel dalam Koran (tanpa nama pengarang) Kompas. Artikel dalam Jurnal Surya Dharma. G.Z. & Posner. Fatal Jika Tenaga Kependidikan Bermutu Rendah dalam Forum Tenaga Kependidikan. B. R. 2007. hlm 22.L. Jakarta: Interaksara. Februari. Artikel dalam Koran Bro.M. 1. 3 Mei 2005. Dokumen Resmi Peraturan Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. Tantangan kepemimpinan. R. 2006.9. Vol. 183-196). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. J. Mobil untuk Kepala Sekolah. Daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk saja). April: 14-16. Transformation School Leadership in a Transactional Policy World. Tajuk Rencana Pendidikan Sangat Penting untuk Bangsa.A. 105 .

”Managers can be leaders. Contoh: Menurut Wiles & Bondi (2007). dan tanpa tanda petik. (http://www. dan Laporan Penelitian Husaini Usman dan Darmono. and for this reason supervision often overlaps with administrative. but leaders do not have to be manager. atau Wiles & Bondi (2007) menyatakan: 11. dan Masyarakat. but leaders do not have to be manager. ”Managers can be leaders.ac.” atau ”Managers can be leaders. Disertasi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting. kalimat dikutip sesuai dengan aslinya diberi tanda petik di awal dan diakhir bagian yang dikutip. 1. satu spasi. Contoh: Menurut Hunsaker (2001).Skripsi. curricular. diakses 8 Januari 2008). Tata cara mengutip langsung kurang dari lima baris. 2007.” atau Hunsaker (2001) menyatakan. but leaders do not have to be manager. Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan. 2001). Pemda. Jurnal Ilmu Pendidikan. Model Pendidikan Kecakapan Hidup Berbasis Masyarakat Pedesaan sebagai Usaha Pengentasan Kemiskinan di Wilayah Kabupaten Kulon Progo DIY. 2007. Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. menjorok ke dalam lima ketukan. Tidak Diterbitkan.id. 106 . No. 10. dibuat alinia baru. Kemitraan sinerjis Perguruan Tinggi. (Online). Tata cara mengutip langsung empat baris atau lebih. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Tahap II. and instructional functions. Jilid 16.” (Hunsaker. Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan.malang. The role of supervisor has many dimensions or facets. Tesis. Internet (artikel dalam jurnal online) Surya Dharma & Husaini Usman.

dan (8) evaluator. Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. (5) pengembang personil sekolah. (7) manajer perubahan. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya. (4) pekerja hubungan manusiawi. dan (8) evaluator (Wiles & Bondi. kalimat yang dikutip langsung ditulis dalam kalimat penulis tanpa tanda petik. The role of supervisor has many dimensions or facets. (4) pekerja hubungan manusiawi. (5) pengembang personil sekolah. (4) pekerja hubungan manusiawi. (3) spesialis pembelajaran. (7) manajer perubahan. 2007). such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting (Wiles & Bondi. Cara mengutip tidak langsung. (2) pengembang kurikulum. Penulis artikel diberi kesempatan untuk memperbaiki artikelnya atas dasar saran dari mitra bestari. (3) spesialis pembelajaran. Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan. 107 . Contoh: Menurut Wiles & Bondi (2007). (2) pengembang kurikulum. 13. ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. (6) administrator. such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting. curricular. Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. 14. Semua artikel ditelaah secara anonim oleh mitra bestari (reviewers) yang ditunjuk. atau The role of supervisor has many dimensions or facets. (5) pengembang personil sekolah. and for this reason supervision often overlaps with administrative. (7) manajer perubahan. and instructional functions. (6) administrator. dan (8) evaluator. (2) pengembang kurikulum. (3) spesialis pembelajaran. and for this reason supervision often overlaps with administrative.12. atau Wiles & Bondi (2007) menyatakan bahwa ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. and instructional functions. atau Ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. curricular. 2007). (6) administrator.

Artikel yang dimuat. kepada penulis diberikan satu eksemplar dan penghargaan. Artikel yang tidak dimuat akan dikembalikan jika ada permintaan tertulis dari penulis. 16.15. Semua kata asing diketik miring (italic) 108 . 17.