Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 4, No.

1, April 2009

PENGANTAR REDAKSI

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen PMPTK dapat menerbitkan Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 4, No. 1, April 2009. Tujuan diterbitkannya jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dan opini tentang tenaga kependidikan. Dengan berbagi informasi ini diharapkan terjadi pertukaran informasi informasi antar penulis, pembaca, dan pembuat kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu tenaga kependidikan secara terus-menerus. Jurnal edisi ini diawali dengan artikel yang ditulis Sujono Surokarijo berjudul, ” Korelasi antara Kepemimpinan Demokratis Kepala Sekolah dengan Kepuasan Kerja Karyawan Tata Usaha.” Artikel ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan untuk mengetahui korelasi antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha dan perpustakaan sekolah di SMPN Kota Ponorogo. Penelitian menyimpulkan bahwa terdapat korelasi positif antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha. Selanjutnya, Wukir Ragil menulis artikel dengan judul, ” Makna Pendidikan dalam Menjunjung Nilai-nilai Budaya dan Hukum Positif dalam Rangka Menegakkan Akhlak Mulia Bangsa Indonesia.” Menurut Wukir R, dulu kita terkenal sebagai bangsa yang memiliki semangat gotong royong yang tinggi, sopan, ramah, murah senyum dan santun. Namun akhir-akhir ini kondisi tersebut seakanakan telah mulai luntur, dan memaksakan kehendak dalam menyampaikan pendapatnya. Melalui suatu kajian pustaka dan kajian empiris diketahui bahwa, perubahan perilaku ini disebabkan beberapa hal antara lain kini kita merasa telah ”Bebas” dari segala belenggu yang dianggap menghambat kreativitas dan ekspresinya sehingga kini seolah-olah bisa bebas dalam berperilaku apa saja dalam menentukan kehidupan bermasyarakat. Penegakkan hukum yang konsisten dan adil akan membawa kita pada suatu kepastian hidup bahwa dalam berkehidupan, berbangsa dan bernegara yang bebas, dan dalam kebinekaan ini kita harus menghargai juga hak asasi orang lain dan dengan tetap patuh pada norma dan hukum yang berlaku. Pendidikan dalam suatu sistem merupakan wahana yang ampuh untuk menegakkan kembali sikap bangsa Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila ini dalam sikap hidup gotong royong yang tinggi, ramah, santun, sopan

1

dalam berperilaku. Pendidikan bukan hanya menekankan aspek kognitif dan afektif, serta psikomotorik saja akan tetapi juga pembetukan akhlak mulia. Moh. Suryadi Syarif dengan artikelnya yang berjudul, ”Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Era Otonomi Daerah dan Beberapa Faktor yang Mempengaruhinya.” Menurut Moh. Suryadi Syarif, kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah mengutamakan pemberian kesempatan, dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur sehingga semua unsur yang terlibat bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh indikator-indikator: idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration. Ali Imron menulis artikel, “Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah dalam Pelayanan Publik di Tingkat Satuan Pendidikan.” Ali Imron mengemukakan gagasannya bahwa dalam perspektif total quality management (TQM), sekolah dipandang sebagai institusi publik yang harus dapat memuaskan customer-nya. Perspektif TQM ini, mendapatkan momentum tepat ketika reformasi di berbagai bidang digulirkan di negeri ini, termasuk di dalamnya adalah reformasi pelayanan publik di bidang pendidikan. Paradigma pelayanan publik di tingkat satuan pendidikan sekolah patut digeser dari yang konvensional menuju ke kondisi yang senantiasa ter-update, agar ketika dibutuhkan berada dalam keadaan on-service. Tenaga administrasi sekolah haruslah menunjukkan perilaku sebagai seorang pelayan publik yang pro aktif, responsif dan antisipatif terhadap berbagai kebutuhan, aspirasi dan harapan stake holders sekolah sesuai Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. Oleh karena itu, selain harus menguasai berbagai hard skill, yang berupa ketrampilan teknis, juga menguasai berbagai shoft skill yang senantiasa ditampilkan pada saat memberikan pelayanan prima sekaligus memuaskan kepada customer-nya. Sri Marmoh dengan artikelnya yang berjudul, “Problematika Perpustakaan Sekolah pada Pendidikan Dasar dan Alternatif Solusinya.” Artikel ini membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar, menumbuhkan minat baca, dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah pada pendidikan dasar yang belum memiliki

perpustakaan. Sementara sekolah yang memiliki perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala di lapangan. Tulisan ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Rokhmaniyah menulis artikel dengan judul, “Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah.”. Menurut Rokhmaniyah, kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator), pemimpin (leader), pengelola (manager), administrator (administrator), penyelia (supervisor), wirausahawan (entrepreneur), dan pencipta iklim kerja (climator). Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya, mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui), kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Selain itu, ia mampu bekerja keras dan berani menanggung risiko. Ujang Didi Supriadi menulis artikel berjudul, “Kajian atas Kebijakan Pemerintah tentang Kepemimpin Kepala Sekolah pada SMPN 115 Jakarta sebagai Salah Satu Rintisan Sekolah Bertaraf Internasioanal.” Ujang Didi Supriadi menyatakan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah harus memiliki tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. Selain itu terdapat pula 16 kriteria seorang kepala sekolah yang memimpin RSBI. Penetapan standar dan kriteria tersebut diarahkan untuk mewujudkan tujuan sebuah sekolah yang memiliki daya saing pada tingkat nasional dan internasional. Akhirnya, jurnal ini ditutup dengan artikel yang berjudul, “Pemimpin Komunitas Pembelajaran” ditulis oleh Zainun Misbah. Penulis mengungkapkan gasasannya bahwa Pembelajaran Profesional (KPP) telah dilakukan oleh peneliti pendidikan dan dipublikasikan dalam beberapa jurnal ilmiah. Selama tiga puluh tahun belakangan ini kajian tentang KPP terus dilakukan sebagai upaya pengembangan dan inovasi sekolah, meskipun penelitian tentang efek KPP terhadap nilai siswa belum banyak dilakukan. Dari beberapa kajian tersebut karakteristik KPP adalah adanya reflective dialogue, de-privatization of practice, collective focus on student learning, collaboration dan shared norms and values. Dengan terbitnya jurnal ini diharapkan saran-saran yang membangun dari pembaca sehingga penerbitan berikutnya semakin berkualitas. Adanya kekurangan-

Atas segala saran-saran yang membangun pembaca. . kami mengucapkan banyak terima kasih.kekurangan pada jurnal ini kiranya dapat dimaklumi karena di dunia ini tak ada yang sempurna.

sedang reliabilitas dianalisis dengan teknik Alpha Cronbach.36 X. dan (3) kebutuhan egois.KORELASI ANTARA KEPEMIMPINAN DEMOKRATIS KEPALA SEKOLAH DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN TATA USAHA Sujono Surokarijo Universitas Negeri Jakarta Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha dan perpustakaan sekolah di SMPN Kota Ponorogo. (3) kepuasan prestasi. berarti korelasi signifikan. Metode penelitian adalah survai. kepuasan kerja. (5) kepuasan kepemimpinan. dengan pendekatan korelasional. PENDAHULUAN Sudah menjadi kodrat manusia. Sampel penelitian 50 orang karyawan tata usaha. Sedang kepuasan kerja sendiri mempunyai enam segi. Kebutuhan fisik pokok dapat berupa uang. kepuasan masa luang. Kepemimpinan demokratis kepala sekolah memberi sumbangan positip 15 % pada kepuasan kerja karyawan tata usaha. (2) kepuasan supervise. Instrumen yang dipakai adalah kuisioner tertutup menggunakan skala Likert dengan 4 alternatif jawaban.48 + 0. Caranya (1992).93 > 1. Analisis data menggunakan teknik korelasi Product Moment dan teknik regresi linear. perkawinan. dan (6) kepuasan tugas. terdapat korelasi positif antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha. dijaring secara teknik sampling acak sederhana dari 57 orang karyawan tata usaha. menyatakan bahwa kepuasan hidup meliputi kepuasan: keluarga. yaitu: (1) kepuasan hubungan antar karyawan. divalidasi dengan analisis butir. Hasil penelitian menunjukan. di dapat th > tt ( 2.70). (2) kebutuhan sosial. dan kerja. bahwa setiap manusia membutuhkan pekerjaan dan hidup layak. Bila seseorang dapat bekerja dan hidup layak. Setelah dikoreksi dengan uji t. 1990). pada persamaan regresi = 35.39. diperoleh koefisien korelasi (r) = 0. kebutuhan yang terpenuhi dari pekerjaan ada tiga bentuk. yaitu: (1) kebutuhan fisik dan keamanan. (4) kepuasan gaji. dalam dirinya ada kepuasan hidup. Status sosial seseorang di masyarakat dipengaruhi oleh besar kecilnya penghasilan yang dihitung . Dengan uang seseorang dapat memenuhi segala macam kebutuhan. Menurut Strauss (Hadikusumo. Kata Kunci: Kepemimpinan.

senioritas yang lebih tinggi biasanya berarti keamanan dalam pekerjaan lebih aman. Termasuk kemajuan yang akan diperoleh dari pekerjaan berupa: (1) kenaikan upah. dan SMU tidak mencapai tingkat ketuntasan untuk semua mata pelajaran. yaitu perasaan rasa bersatu dan diakui keberadaannya. (2) senioritas sebagai jalan untuk maju. ingin menjadi orang yang berarti dalam kelompoknya. maka keberhasilannya dihargai oleh pimpinan. Orang menyukai pekerjaan-pekerjaan yang dianggap berharga oleh masyarakat. walaupun kadang-kadang bertentangan dengan pihak pimpinan organisasi kerja. pakaian. Hal ini berakibat menurunnya mutu pendidikan di Indonesia termasuk pendidikan di SMP. pemenuhan kebutuhan keamanan dalam pekerjaan atau pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lain akan terpenuhi di masa yang akan datang. Manusia dewasa membutuhkan pemenuhan kebutuhan egois dan aktualisasi diri tingkat tinggi melalui pekerjaan mereka. Seseorang hidupnya layak bila kebutuhan pertama manusia sebagai makluk biologis yaitu kebutuhan makan. Iapun akan merasa puas. Selain itu. dan (3) segi jaminan nilai material yang meningkat sehingga semua kebutuhan hidup terpenuhi baik kebutuhuan biologis maupun kebutuhan nonbiologis. hasil kerjanya lebih baik dari yang sendirian karena kelemahan dari anggota team work ditutup oleh anggota team work yang lain. Oleh karenanya kinerja mereka menurun. dan tempat tinggal terpenuhi.Sujono Surokarijo berdasarkan besar-kecilnya uang. SD. 20 November 2001). Dalam aktivitasnya melaksanakan pekerjaan seseorang membutuhkan dukungan orang lain. Tuntutan seseorang dari pekerjaan adalah pekerjaan tersebut memberi penghasilan yang berupa gaji dan gaji tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Kenyataan karyawan yang berbentuk team work memiliki moral yang lebih tinggi dari pada yang sendirian. Karyawan cenderung bersikeras untuk membentuk kelompok-kelompok informal. Pekerjaan tata usaha pada Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) termasuk jenis pekerjaan yang dihargai masyarakat karena statusnya sebagai pegawai negeri sipil. Selanjutnya. Kebutuhan sosial pokok adalah keanggotaan dalam kelompoknya. Demikian juga untuk daya saing kemampuan sumber daya manusia Indonesia semakin menurun. Jika berhasil ingin dihargai dan bila ada kesulitan ingin dibantu. Seseorang bila berhasil melaksanakan tugas dan dapat mengatasi berbagai hambatan dalam melaksanakan tugas. Kebutuhan egois yang utama adalah kebutuhan akan prestasi. Seiring dengan pernyataan tersebut berarti sumber daya manusia para guru dan karyawan tata usaha pada sekolahsekolah di Indonesia menurun. SMP. Menurut Iskandar (Media Indonesia. 2 . tingkat pencapaian rata-rata hasil ujian nasional.

Darwis (Scermerhorn.Korelasi Kepemimpinan Kenyataan gaji yang diterima para guru dan karyawan tata usaha sekolah di Indonesia kurang mencukupi untuk biaya hidup mereka. Sesuai dengan pendapat di atas. maka orang itu kecewa. Dalam organisasi secara struktural ada pemimpin dan bawahan. kepuasan kerja seseorang terkait dengan beberapa variabel. hubungan masyarakat. pada tipe ini pemimpin menganggap bawahan sebagai alat produksi atau alat untuk pencapaian tujuan organisasi. dan karyawan perpustakaan. Bawahan ialah orang yang dipengaruhi untuk melaksanakan tugas guna pencapaian tujuan organisasi. 3 . usia. Argyris (Buchori Zainun. Kepala Sekolah sebagai manajer dan pemimpin menggerakkan bawahannya baik guru maupun karyawan tata usaha sekolah melalui gaya kepemimpinan. kearsipan. Karenanya dapat dikatakan keberhasilan organisasi dalam mencapai tujannya tergantung kemampuan pemimpin dalam mendayagunakan semua sumber daya yang tersedia dalam organisasi tersebut. Sumber daya meliputi sumber daya manusia dan nonmanusia. kesiswaan. Secara garis besar gaya kepemimpinan dibagi tiga tipe yaitu: (1) gaya kepemimpinan otokratis. lingkungan kerja. laboran. Salah satu variabel yang ada sangkut pautnya adalah variabel organisasi. dan organisasi. (2) gaya kepemimpinan demokratis.1976) menyatakan bahwa jika kebutuhan yang diidam-idamkan seseorang tidak tercukupi. Mereka resah. perlengkapan. bimbingan penyuluhan. Siagian (1989) menyatakan bahwa pemimpin sebagai motor penggerak semua sumber daya yang tersedia dalam organisasi. Karyawan tata usaha sekolah merupakan sumber daya manusia yang tersedia di SMP yang terdiri atas: koordinator administrasi dan karyawan-karyawan yang menangani administrasi kurikulum. 1991) menyatakan bahwa kepuasan kerja berkaitan dengan sejumlah variabel yang memungkinkan para manajer memperkirakan kelompok yang lebih cenderung mengalami masalah ketidakpuasan. pada tipe ini. Variabel tersebut adalah pegawai. Pemimpin ialah orang yang mempengaruhi orang lain dan yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup organisasi. pangkat. Apalagi bagi mereka yang sudah berkeluarga. gundah dan runyam. pelaksanaan tugas atau pekerjaan diserahkan kepada bawahan. Hal ini dapat berakibat turunnya kinerja mereka. keuangan. ketenagaan. para guru dan karyawan tata usaha sekolah tersebut kurang puas karena gaji yang ia terima kurang mencukupi untuk pemenuhan hidup. Dengan demikian. pada tipe ini pemimpin menganggap bawahan sebagai mitra kerja. dan (3) gaya kepemimpinan kendali bebas.

kebutuhan aktualisasi diri atau menunjukkan jati-diri. 3. Pada penelitian ini teori-teori yang dianalisis dan relevan dengan tujuan penelitian adalah: (1) Teori discrepancy oleh Porter (Stoner. 1999) mendefinisikan kepuasan kerja ialah respons seseorang terhadap bermacam-macam lingkungan kerja yang dihadapinya termasuk komunikasi organisasi. kebutuhan fisiologis (makan. Menurut Patton (Hesmes. Sedang yang dimaksud kerja adalah perbuatan melakukan sesuatu atau sesuatu yang dilakukan. Dengan demikian yang dimaksud kepuasan kerja adalah perasaan senang atau lega karena apa yang dilakukan tersebut sesuai dengan dirinya dan telah memenuhi kebutuhan atau hasrat hatinya. Menurut teori ini. Teori Existence – Relatedness – 4 . c. Seterusnya setelah terpenuhi kebutuhannya dan merasa puas. kepuasan kerja dalam diri seseorang akan tumbuh bila bekerja selaras dengan diri sendiri. kepuasan adalah perasaan lega atau senang karena merasa sudah terpenuhi kebutuhannya atau hasrat hatinya. 1989). Setelah kebutuhannya terpenuhi ia merasa puas. namun kebutuhan utama manusia pada hakikatnya sama dan merupakan hirarki yang terdiri dari lima tingkat. Sedang Grunerberg (Buchori Zainun. promosi. pakaian. dan e. maka permasalahannya dalam meningkatkan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah adalah. pengakuan.Sujono Surokarijo Seiring kepuasan kerja karyawan terkait dengan gaya kepemimpinan. tempat tinggal). 2001). sesorang akan menjadi resah dan ia melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan tersebut. supervisor. Coreman (Timpe A Dale. (2) Teori pemenuhan kebutuhan oleh Maslow (1970). Seseorang akan merasa puas bila tidak ada perbedaan antara apa yang diinginkan atau diharapkan dengan kenyataan yang dirasakannya. Hirarki kebutuhan manusia menurut Maslow sebagai berikut: a. untuk mengukur kepuasan kerja adalah dengan membandingkan apa yang seharusnya atau diharapkan dengan kenyataan yang dirasakan. kebutuhan hidup berkelompok dan bermasyarakat. kebutuhan pada peringkat di atasnya atau berikutnya muncul dan orang tersebut berusaha untuk memenuhinya. ”Bagaimana hubungan antara gaya kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah?” KAJIAN PUSTAKA Menurut Poerwadarminta (1991). kebutuhan penghargaan. Menurut teori ini walaupun kebutuhan manusia beragam. karena batas minimum yang diinginkan telah terpenuhi. hubungan teman sekerja. Menurut teori ini kebutuhan akan menimbulkan ketidak seimbangan pada diri seseorang. b. kebutuhan rasa aman. 1976) menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah seperangkat perasaan karyawan tentang menyenangkan atau tidaknya jenis pekerjaan. d.

ketentraman dalam bekerja. tantangan pekerjaan. keceriaan kerja. Lain halnya dengan Hainan (1991). dan (4) faktor kesejahteraan. Mitchel menyatakan bahwa penyebab kepuasan kerja adalah: supervisi. Sedangkan Smith (Cranny. berpendapat bahwa ada lima segi kepuasan kerja. 1976). yaitu: (1) kepercayaan pada pimpinan. bakat. keterikatan. dan (5) sikap terhadap supervisi. (2) hubungan teman sekerja. puas karena hubungan sosial yang bermanfaat. yang dimaksud kepuasan kerja dalam penelitian ini adalah perasaan senang atau lega karena merasa terpenuhi kebutuhan atas harapan yang dialami oleh seseorang dari suatu pekerjaan. kepuasan karena memberi sumbangan pada pribadi maupun organisasi. kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari para anggota kelompok. serta lingkungan kerja (kondisi pekerjaan). Menurut teori ini hirarki kebutuhan seseorang terdiri dari tiga peringkat. dan dasar pemikiran. Dari pendapat-pendapat di atas. 1989). perbandingan perbandingan sosial. (4) keuntungan keuangan. ada empat faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja. yaitu: a. dapat disimpulkan bahwa dalam proses kepemimpinan ada orang yang mempengaruhi (pemimpin) dan ada orang yang dipengaruhi (bawahan). Growth. menurut ia ada lima komponen utama dalam kepuasan kerja. Menurut Strauss (1990). yaitu: (1) sikap terhadap kelompok kerja. tunjangan maupun lain lain yang berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan. hal hal yang berhubungan dengan interaksi antara sesama karyawan. meliputi: gaji.1992). 5 . Dari beberapa teori-teori dan konsep konsep di atas. sikap dan perilaku orang lain. meliputi minat. dan (5) jenis dan isi pekerjaan. (3) faktor fisik yaitu faktor faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja. (3) supervisi. udara. Sedang Hotgetts dan Kuratko (1975) mendefinisikan bahwa kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi orang orang untuk mengarahkan kegiatan demi pencapaian tujuan. isi pekerjaan. norma-norma sosial. Existence kebutuhan yang dipuaskan oleh faktor-faktor makanan. minuman. (2) kondisi umum pekerjaan. Lain lagi dengan Byars (Buchori Zainun. (2) faktor sosial. (4) gaji. Relatedness. ia menyatakan bahwa yang dimaksud kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pandangan. penilaian diri. dan intensif tradisional. Menurut Stoner (1989). dan c. (3) sikap terhadap organisasi. yaitu: (1) faktor psikologis.Korelasi Kepemimpinan Growth (ERG) oleh Aldefer (Stoner. hubungan dengan pimpinan. b. faktor faktor kepuasan kerja adalah: penghargaan. Indikator kepuasan kerja.

maka bila ada bawahan yang kesulitan melaksanakan tugas dibimbingnya. mendukung adanya pertukaran informasi antar bawahan yang berkelanjutan. yaitu: (1) fungsi yang berkenaan dengan tugas. Sedang pemimpin yang cenderung menjalankan fungsi yang berkenaan dengan pelaksana tugas mengganggap bawahan sebagai mitra kerja. Pemimpin yang cenderung menjalankan fungsi yang berkenaan dengan tugas menganggap bawahan sebagai alat produksi atau alat pencapaian tujuan. pemimpin dalam mempengaruhi dan berhubungan dengan bawahan mengemban dua fungsi utama. Sehubungan tanggung jawab baik buruknya organisasi di tangan pemimpin. (2) komunikasi lancar. Sedang Hodgetts dan Kuratko (1975) menyatakan ciri-ciri pemimpin yang demokratis dalam berhubungan dengan bawahan sebagai berikut: a. saran. di dalam organisasi tercipta jalur komunikasi ke segala arah. 1999). Pada kepemimpinan ini perilaku pemimpin dalam pengambilan keputusan berdasarkan hasil musyawarah mufakat dengan bawahan. dan (4) memberi keleluasaan pada bawahan dalam pelaksanaan tugas. d. gaya kepemimpinan demokratis dalam mempengaruhi bawahan. c. Hodgetts (1975) menyatakan bahwa ciri-ciri kepemimipnan demokratis adalah pemimpin yang perhatiannya tinggi terhadap bawahan serta pelaksanaan tugas yang dilakukan bawahan. pemimpin mendelegasikan sebagian wewenang pada bawahan dan mendorong bawahan untuk berperan aktif dalam pengoperasian perusahaan. (3) melibatkan bawahan dalam melaksanakan sasaran organisasi. Sedang Bove (1995) menyatakan sifat kepemimpinan demokratis berorientasi pada pegawai atau karyawan. Lain dengan Siagian (1989). perilaku. dan (2) fungsi yang berkenaan dengan pembinaan pelaksana tugas atau fungsi sosial. Pemimpin yang efektif dapat menjalankan kedua fungsi tersebut. berupa pandangan. menciptakan arus informasi timbal balik. Menurut Woods (Timpe A Dale. b. Menurut teori perilaku. kegiatannya: (1) bermusyawarah dengan kelompok mengenai hal hal yang menarik perhatian.Sujono Surokarijo Dengan demikian yang dimaksud kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain. ia manyatakan bahwa ciri ciri kepemimpinan demokratis sebagai berikut: (1) pemimpin dalam proses menggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia adalah 6 . pujian. memberi dorongan keberanian melalui arus komunikasi yang berkelanjutan antara ia dengan bawahan. kritikan digunakan. pemimpin memberi keleluasaan pada bawahan dalam menetapkan sasaran pekerjaan dalam pelaksanaan tugas. sikap sehingga orang yang dipengaruhi mau melakukan kegiatan sesuai dengan tugasnya demi pencapaian tujuan yang telah ditentukan. saluran komunikasi ke segala arah.

dan (6) memberi keleluasaan bawahan dalam berbuat kesalahan kemudian dibimbing dan diperbaiki agar tidak membuat kesalahan yang sama. (10) melaksanakan supervisi. Populasi penelitian seluruh karyawan tata usaha SMPN di Kabupaten Ponorogo. (5) berusaha untuk menjadikan bawahan lebih sukses. dan (11) berusaha meningkatkan kesejahteraan bawahan. terbuka dan ke segala arah. (8) memberi kesempatan bawahan untuk mengembangkan karier. Metode penelitian ini adalah metode survai. (2) dalam menentukan kebijakan organisasi melalui musyawarah mufakat dengan bawahan. sedang populasi terjangkau seluruh karyawan tata usaha SMPN Kota Ponorogo tahun 2007 yang berjumlah 57 orang. (9) mengakui dan menghargai keberhasilan bawahan. (5) memberi keleluasaan bawahan dalam melaksanakan tugas. (4) menciptakan jalur komunikasi timbal balik. Indikator kepemimpinan demokratis adalah: (1) menganggap bawahan sebagai mitra kerja. Sampel penelitian sebanyak 50 orang dijaring dengan teknik sampling acak sederhana. dalam penelitian ini yang dimaksud kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang memperhatikan bawahan dan juga memperhatikan proses pelaksanaan tugas yang dilakukan bawahan. Pengumpulan data dilakukan melalui angket. (7) lebih mengutamakan kerja sama. karena peneliti ingin mengetahui hubungan antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah. menggunakan skala Likert dengan empat alternatif jawaban. Sesuai analisis teori teori dan konsep konsep di atas. sedang variabel bebas adalah kepemimpinan demokratis kepala sekolah (variabel X). (4) berusaha mengutamakan kerja sama dalam team work dalam usaha pencapaian tujuan organisasi. (3) senang dan mau menerima saran. langsung. (3) membudayakan adanya saran dan kritik. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan korelasional.Korelasi Kepemimpinan makluk yang mulia. METODOLOGI PENELITIAN Dalam penelitian ini variabel terikat adalah kepuasan kerja karyawan tata usaha (variabel Y). pendapat maupun kritik dari bawahan. 7 . (6) mendelegasikan sebagian wewenang pada bawahan. Analisis data menggunakan teknik korelasi product moment dan teknik analisis regresi linear. (2) berusaha mensinkronkan tujuan dan kepentingan organisasi dengan tujuan dan kepentingan pribadi bawahan.

93 > 1. Jakarta: Balai Pustaka.N. Hodgeets. 1992. 1982. 1991. Hadikusumo. semakin meningkat kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah.70). DAFTAR RUJUKAN Bovee. Mitchell.M. Manajemen dan Motivasi. New York: John Willey Inc. L.. C.. T. London: Sounder Company. New York: Lexington Books. S. Tokyo: Mc. Buchori Zainun. New York: Mc Graw Hill Inc. Cranny. 1995. 1991. London: Harper and Row. Motivation and Personality.J. Scermerhorn J.39.R. Management. Managing Organizational Behavior. 1970. di dapat th > tt ( 2. A.15. N. Job Satisfaction How People About Their Job And How It Affects Their Performance.S. People in Organization An Introcdution to Organization Behavior. pada persamaan regresi = 35. The Human Problem of Management (Terjemahan).Sujono Surokarijo HASIL PENELITIAN Pada penelitian ini ditemukan bahwa terdapat korelasi positip antara kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah. 1975. 1976.48 + 0. termasuk karyawan perpustakaan. KESIMPULAN Berdasarkan temuan di atas peneliti menyimpulkan bahwa semakin demokratis kepemimpinan kepala sekolah. C. James G. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Poerwadarminta W. Jakarta: Balai Aksara. berarti korelasi signifikan. Setelah di analisis dengan analisis determinasi diperoleh r2 = 0.Graw Hill Inc. Management. Kepemimpinan demokratis kepala sekolah memberi sumbangan positif sebesar 15% dan sumbangan tersebut berarti terhadap kepuasan kerja karyawan tata usaha sekolah.H. & Richard. 8 . Maslow.36 X. P. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. R. Selanjutnya dikoreksi dengan uji t. 1990. 1991.R. diperoleh koefisien korelasi r = 0.

Timpe A. Filsafat Administrasi.P. 1999. J. 9 . Management.Korelasi Kepemimpinan Siagian.A.E. Stoner. Upper Saddle River. New Jersey: Prentice Hall Inc. R.D. 1989. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.(Terjemahan: Susanto Budidharmo).Kepemimpinan.F & Freeman. Leadership . Jakarta: CV Haji Masagung. 1989. S.

pengendalian diri. Namun akhir-akhir ini kondisi tersebut seakan-akan telah mulai luntur. Kata Kunci: Penegakkan hukum. masyarakat. serta ketrampilan yang diperlukan oleh dirinya. perubahan perilaku ini disebabkan beberapa hal antara lain kini kita merasa telah ”Bebas” dari segala belenggu yang dianggap menghambat kreativitas dan ekspresinya sehingga kini seolah-olah bisa bebas dalam berperilaku apa saja dalam menentukan kehidupan bermasyarakat. sopan dalam berperilaku. Dulu kita terkenal sebagai bangsa yang memiliki semangat gotong royong yang tinggi. ramah. berbangsa dan bernegara yang bebas. dan memaksakan kehendak dalam menyampaikan pendapatnya. 1. MAKNA PENDIDIKAN DALAM MENJUNJUNG NILAINILAI BUDAYA DAN HUKUM POSITIF DALAM RANGKA MENEGAKKAN AKHLAK MULIA BANGSA INDONESIA 10 . kepribadian. No. dan dalam kebinekaan ini kita harus menghargai juga hak asasi orang lain dan dengan tetap patuh pada norma dan hukum yang berlaku. Adalah pendidikan dalam suatu sistem merupakan wahana yang ampuh untuk menegakkan kembali sikap bangsa Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila ini dalam sikap hidup gotong royong yang tinggi. Melalui suatu kajian pustaka dan kajian empiris diketahui bahwa. murah senyum dan santun. akhlak mulia. Keteladanan. bangsa dan negara. menghargai hak asasi orang lain terutama perbedaan dalam kebinekaan. serta psikomotorik saja akan tetapi juga pembentukan akhlak mulia yang merupakan makna dari pendidikan budi pekerti yang harus dimiliki seluruh peserta didik dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. santun. dan Akhlak mulia. Pendidikan bukan hanya menekankan aspek kognitif dan afektif. 4.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. sopan. April 2009 (Suatu Kajian Empiris terhadap Perubahan Sosial bagi Warga Belajar) Wukir Ragil Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional Bidang Hukum dan Sosial Dosen Luar Biasa Fakultas Hukum Universitas Indonesia Abstrak Sistem Pendidikan Nasional menggariskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. ramah. Adalah penegakkan hukum yang konsisten dan adil akan membawa kita pada suatu kepastian hidup bahwa dalam berkehidupan.

”sifat gotong royong” agak luntur. Kehidupan keluarga yang agamis akan membuat tata kehidupan dalam keluarga itu selalu menuju pada kehidupan keluarga sakinah. (Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi. cipta. Sedangkan pengertian budaya mempunyai makna yang luas. bersaing untuk mendapat produk yang terbaru dan terbaik. Masyarakat agraris yang selama ini dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia sehingga dapat mewujudkan swasembada beras sekaligus menciptakan suatu tatanan/nilai budaya dalam masyarakat petani yang relatif nrimo. Kebudayaan adalah hasil dari karya. menulis. kecuali masyarakat pedesaan yang masih menjunjung sifat gotong royong ini sebagai sarana yang jitu dalam bermasyarakat. Kebudayaan akan berkembang seiring dengan berubahnya sistim ekonomi dalam masyarakat. rasa. dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. rasa. dan 11 . dan sifat gotong royong yang tinggi dan menjadi masyarakat produsen pangan. Sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan masyarakat. Herskovits menyatakan lebih dari seratus enam puluh definisi kebudayaan. Penulis menambahkan unsur kelima yaitu Kaidah hukum yang berlaku dalam masyarakat setempat. Demikian semua hasil karya. pada saat tanah pertanian berubah menjadi kawasan industri seketika itu tata nilai masyarakat berubah menjadi bersifat konsumtif. perkembangan kebudayaan dalam masyarakat akan dipengaruhi adanya empat unsur pokok tersebut. 3) family (keluarga). mawardah. cipta. dan 4) political control (kekuasaan politik). Dengan demikian menurut Herskovits. Kebudayaan akan berkembang karena ada perkembangan ilmu dan tehnologi sehingga akan menciptakan alat/sarana tehnologi yang baru/mutakhir. Hal ini karena kebudayaan akan hidup dan berkembang dalam masyarakat itu sendiri serta untuk memenuhi keperluan masyarakat tersebut. dan karsa masyarakat tadi akan berguna bagi masyarakat yang menciptakannya.Makna Pendidikan PENDAHULUAN Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. pendidikan berlangsung sepanjang hayat dengan mengembangkan budaya membaca. dan karsa. 2) economic system ( sistim ekonomi). 1974 hal 113). sabar. Selanjutnya menurut Herskovits ada empat unsur pokok dalam kebudayaan yaitu: 1) technological equipment (alat-alat tehnologi). Kebudayaan akan berkembang atau berubah dengan berubah tata nilai dalam kehidupan keluarga. kompak. Kebudayaan akan dimiliki dan akan tetap hidup dalam masyarakat pemiliknya. Kebudayaan yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat akan berbeda yang dimiliki oleh kelompok masyarakat lainnya.

Mereka akan merasa terasing dalam lingkungannya. dan privasinya. Selanjutnya penelitian normatif ini akan didukung dengan penelitian empiris. Dipicu oleh sebab musabab yang kurang jelas dan rasa solidaritas sesama teman telah menimbulkan sebuah kekerasan yang dilakukan oleh oknum mahasiswa antar fakultas disebuah perguruan tinggi di Makasar tanggal 3 November 2008 yang lampau. kaidah hukum itu berlaku. ataupun kelestarian kebudayaan pada masyarakat tertentu. Sanksi akan diberikan terhadap pelanggarnya terutama sanksi moral yang diberikan masyarakat untuk membuat jera perbuatan yang dianggap menyimpang dalam masyarakat tersebut. terlihat di televisi seorang oknum dengan membawa berbagai senjata tajam dalam bentrokan adalah sungguh sangat merisaukan. akan tetapi tindakan itu merupakan suatu yang mengarah pada indikasi bahwa budaya penyelesaian suatu perkara dengan kekerasan dianggap sebagai cara yang ”tepat”. Penelitian normatif disini adalah untuk memahami kaidah hukum dan perundang-undangan mengenai gejala sosial dan kebijakan pendidikan. METODE PENELITIAN Kegiatan kajian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan yang bersifat yuridis-normatif dan penelitian empiris melalui pengamatan. Penggabungan penelitian kepustakaan yang bersifat yuridis-normatis dan penelitian empiris ini akan dapat mengkaitkan antara konsep kebijakan peraturan perundang-undangan dan interaksi sosial masyarakat warga belajar terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. demikian juga sanksi hukum dari penguasa akan membuat jera untuk mengulangi kesalahannya lagi. Namun demikian. Walaupun tidak menimbulkan korban jiwa. Kekuasaan politik yang mewarnai secara mencolok tata nilai dan kehidupan masyarakat apabila tidak disaring secara intensif oleh anggota masyarakat yang bersangkutan. tata nilai. akan dapat merubah pola pikir. dipatuhi dan menyatu pada tata nilai budaya masyarakat setempat dan akan mampu mempertahankan kehidupan tata nilai atau berkembangnya kebudayaan masyarakat tersebut. pola kehidupan.Wukir Ragil warokhmah dan selalu bersyukur. Sebaliknya keluarga yang berpola kehidupan ”modern kebarat-baratan” akan menjadikan kehidupan pada keluarga yang serba ”praktis” dan menganggap tata nilai akan mengganggu aktifitas. 12 .

Para pakar menyatakan bahwa Budaya Nasional merupakan puncak-puncak budaya daerah yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Keterkaitannya fungsi ini akan 13 .Makna Pendidikan Nilai-Nilai Budaya dalam Kehidupan Masyarakat. kemiripan tutur kata pada daerah tertentu belum tentu mempunyai arti yang sama pada tutur kata pada daerah lain. Masing-masing tata nilai memberikan ciri tersendiri dan tidak bisa dihapuskan oleh tata nilai budaya dari daerah lain. Perbedaan ini kalau kita mampu meresapi dan mensyukuri merupakan suatu anugerah dari Allah yang sangat nikmat. Ini adalah contoh kecil. Menurut Dawam. hal 102). Dawan Rahardjo dengan merujuk pendapat Talcott Parsons dalam teori tentang masyarakat menjelaskan bahwa dalam kehidupan masyarakat yang serba diliputi oleh tindakan individu yang mempunyai sifat fisik dan realitas akan selalu kait terkait sehingga dalam kehidupan sosial masyarakat akan mampu mengkaitkan dengan suatu tata hukum dan akan berkembang dalam masyarakat. Suatu contoh ” kata nggih ” dalam Bahasa Jawa penggalan dari inggih bisa mempunyai arti ”iya”. tata nilai budaya semula yang berasal dari kelompok-kelompok masyarakat Indonesia ini akan menyatu dalam suatu konsep sosial budaya yang` satu sama lain saling mewarnai sehingga puncaknya akan menjadi tata nilai budaya Indonesia/budaya nasional. banyak contoh lain yang tidak kami sebutkan yang semua itu akan membuktikan betapa Besar dan Indahnya Indonesia. dan menyatu menjadi suatu tata nilai dan budaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Norma ini akan dihormati dan lambat laun akan menjadi suatu pola hidup atau nilai-nilai budaya dalam kehidupan masyarakat. Tata kehidupan yang semula baru merupakan gagasan sebagian dari anggota masyarakat ini lambat laun akan menjadi kesepakatan bersama dan diciptakan untuk menjadi norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Sebagai contoh. Dinyatakan bahwa kehidupan masyarakat yang terorganisir dengan baik akan menciptakan suatu pranata dalam kehidupan masyarakat. Aceh Tengah ini ” kata nggih ” bukan kepanjangan dari kata inggih dan mempunyai arti ”tidak”. Dalam kehidupan sosial nilai-nilai ini akan terus disesuaikan dan dikembangkan oleh masyarakat untuk mengikuti tata kehidupan dalam kelompok masyarakat yang lebih luas lagi. Organisasi kehidupan sosial masyarakat adalah dasar utama kehidupan hukum (Dawan Raharjo. nilai budaya ini mempunyai fungsi primer untuk mempertahankan pola yang telah berkembang dalam masyarakat yang akan menghubungkan fungsi sosial dan nilai budaya sehingga kehidupan masyarakat akan menjadi bermakna. akan tetapi dalam Bahasa Gayo. Ia akan dipatuhi dan masyarakat akan memberikan sanksi bagi para pelanggarnya. Dalam konteks kehidupan bernegara dan berbangsa.

Dengan perkataan lain bahwa budaya sekolah merupakan semangat. Perbuatan individu merupakan suatu kelakuan dalam hukum yang seharusnya dijalaninya sesuai dengan aturan hukum yang diharuskan. Lebih lanjut dikatakan bahwa seluruh implementasi kebijakan sekolah. sikap atau pola perilaku serta kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh para warga sekolah secara konsisten dalam memecahkan masalah (hal. Adat istiadat atau kebiasaan sebagai hal yang dianggap mewakili kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat fungsinya mempertahankan pola kehidupan itu sendiri. layanan sekolah akan membentuk budaya sekolah yang semuanya akan membentuk pola nilai. Dapat dikatakan bahwa hukum bersumber pada adat istiadat. sikap dan kebiasaan para peserta didiknya yang pada akhirnya nanti akan membentuk dan mengembangkan semangat dan sikap hidupnya. Nilai nilai yang dipertahankan adalah sangat jelas dan dari sudut antropologi sifat adat istiadat lebih statis dibandingkan dengan hukum (Bohannan. Hukum bermakna untuk mendisiplinkan tingkah tingkah laku manusia. Masyarakat melembagakan adat istiadat karena masyarakat memerlukan perubahan. kondisi. Kajian masalah hukum akan memberikan makna yang tegas bahwa hukum harus bebas dari kontradiksikontradiksi. bernegara dan berbangsa. Lantas bagaimana halnya dengan kondisi dan konsep pengembangan budaya pada lembaga pendidikan (satuan pendidikan)?. Prof. wali/orangtua. dan harapan yang diyakini oleh para warga sekolah dan dijadikan sebagai pedoman bagi perilaku dan pemecahan masalah yang mereka hadapi. 43-56). Perbedaannya pada tingkat perkembangannya. Dalam kehidupan masyarakat akan terjadi proses sosialisasi antara tata nilai dan kaidah hukum. 1967. Muhaimin MA dalam tulisannya yang berjudul Pengembangan Budaya Agama dalam Komunitas Sekolah mengulas secara panjang lebar tentang pentingnya pengembangan Pendidikan Agama sebagai Budaya Sekolah (Religiusitas 4 September 2007 hal. Hukum adalah suatu sistim norma yang berlaku dalam suatu kehidupan bermasyarakat. keyakinan. sikap. Dengan demikian organisasi satuan pendidikan (sekolah/perguruan tinggi) dan seluruh warga belajarnya (pendidik. Pelembagaan adat istiadat ini membutuhkan sistem manajemen yang 14 . semangat bertindak. asumsi. adalah sangat berperan besar dalam membentuk pola perilaku. kebiasaan dan perilaku peserta didik. Perubahan Tata Nilai dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia. pemahaman. dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan) dengan seluruh kebijakan operasionalnya.Wukir Ragil menciptakan suatu tata nilai atau kebudayaan bagi masyarakat setempat. 14-29) antara lain dikatakan bahwa Budaya Sekolah merupakan perpaduan nilai-nilai. masyarakat sekitar. 16).

Dengan demikian masyarakat dalam memberlakukan adat istiadat dan tata nilai membutuhkan norma-norma yang berlaku di masyarakat setempat agar adat istiadat dapat efektif bekerja. dan tindakannya yang mengacu pada norma kehidupan sesama individu. Muhaimin menyatakan bahwa tujuan pendidikan dimaksud memiliki kekuatan spirituil keagamaan bagi peserta didik dalam pengendalian diri. sehat. serta ketrampilan yang diperlukan oleh masyarakat. sebagai wasit yang netral dalam setiap ada sengketa dalam masyarakat. Menurut Hoebel. dan kehidupan dalam bermasyarakat. 2) mengalokasikan dan menegaskan siapa yang boleh menggunakan kekuasaan atas siapa. kecerdasan. peserta didik harus memiliki sikap. dan menjaga agar norma tersebut tetaf efektif dalam setiap kehidupan bermasyarakat.Makna Pendidikan lebih teratur yang lazim disebut lembaga hukum yang dilengkapi dengan peraturan hukum yang dalam masyarakat disebut adat istiadat. yang lebih jauh lagi akhirnya dalam kehidupan berbangsa dan kehidupan bernegara. 15 . Pendidikan nasional yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. mandiri. dan mempertahankan setiap norma dengan menyesuaikan dalam perubahan masyarakat. 3) penyelesaian sengketa-sengketa. Jadi fungsi hukum disini mengatur hubungan antara manusia dengan manusia. Dengan demikian hukum memiliki fungsi yang berbeda dengan fungsi adat istiadat atau tata nilai dalam masyarakat. perilaku. berakhlak mulia. halaman 17). 275) fungsi hukum adalah. kehidupan dalam keluarga. dan mekanisme serta prosedur penggunaan. Peran Pendidikan dalam Menegakkan Nilai-Nilai Luhur Budaya dan Kepatuhan Terhadap Hukum. Dengan demikian Undang undang ini menetapkan bahwa akhlak mulia sebagai tujuan pendidikan nasional yang bermakna dalam kehidupannya sebagai individu. dan 4) mempertahankan adaptasi masyarakat dengan cara mengatur kembali hubungan-hubungan dalam masyarakat yang berubah. 1) merumuskan hubungan-hubungan antara anggota-anggota masyarakat dengan menunjukkan perbuatan yang dilarang dan yang boleh dilakukan. antara penguasa/pemerintah dengan manusia. bangsa dan negara (Prof Muhaimin MA. kepribadian. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Undang undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). cakap. berilmu. kreatif. (1967. bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

dengan menghargai dan mempertahankan proses pembelajaran yang telah berlangsung selama ini. Lebih lanjut dikatakan bahwa. Kedua teori tersebut saling mempengaruhi terhadap perkembangan kualitas manusia. dengan tegas mengatur tanggungjawab pendidikan. dalam masyarakat yang baru mendapat kebebasan dalam melihat dunia ”baru” dan kemudian mencoba untuk memaknai apa arti dunia ”baru” tersebut dengan suatu tindakan sesuai dengan harapannya. akan tetapi dalam proses yang masih kebingungan karena masalah yang dihadapi sangat komplikatif antara kerinduan kepada demokrasi. Sistem pendidikan nasional ini berfungsi sebagai mengubah/mereformasi sistem pendidikan baik secara formal. dan disamping itu mempertahankan kemajemukan bangsa. Memang Pemerintah tidak lagi menerapkan paradigma stabilitas nasional secara mutlak dalam mengatur kehidupan warganya. nonformal. Bangsa Indonesia memasuki dunia global dimana arus informasi dan keterbukaan tak bisa dihindari. lingkungan dan perubahan alam sekitar. sehingga beberapa kali kita lihat dalam menyampaikan inspirasinya dibumbui 16 . Mubarok mengibaratkan sebagai sekumpulan orang yang telah 32 tahun dikurung dalam penjara yang gelap gulita dan tiba-tiba penjara itu dirobohkan sehinga mereka bisa keluar melihat dunia baru yang terang benderang dan terlihat aneh akan tapi mengasyikkan. faktor keturunan (teori nativisme) dan faktor lingkungan dan pendidikan (teori empirisme). maka masyarakat Indonesia mengalami keterkejutan budaya. Harapan ini belum sepenuhnya dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.Wukir Ragil Berbagai sumber menyatakan bahwa perkembangan akhlak mulia dari ajaran agama. kemakmuran dan kehormatan yang ternyata tidak sinkron. Dinyatakan pula bahwa itu adalah gambaran masyarakat Indonesia pasca jatuhnya Presiden Soeharto yang sedang mencari jati dirinya kembali. akan tetapi menghargai perubahan dan perbedaan sebagai anugerah yang harus disyukuri oleh bangsa ini adalah suatu keniscayaan sepanjang dilaksanakan dalam koridor norma dan kepatuhan terhadap hukum. Sehingga mereka berpesta pora menikmatinya dengan melakukan apa saja yang sebelumnya mustahil dapat dilakukan. Sebagian mereka mengimplementasikan kebebasan sebagai perbuatan yang berlebihan tanpa batas atau koridor norma dan hukum. mereka dihadapkan pada suatu kebingungan karena mendapatkan suatu kondisi yang tidak cocok menurut pandangan mereka sebelumnya. perkembangan tradisi yang tumbuh dalam suatu kelompok masyarakat. Achmad Mubarok. kebebasan. falsafah hidup bangsa. Dengan demikian. maupun secara informal. dalam Jurnal Religiusitas 3 September 2008) menyatakan bahwa kualitas manusia ditentukan dalam dua hal yaitu faktor hereditas.

Sedangkan akhlak mulia menurut Dodi Nandika dikatakan sebagai suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia. Seolah-olah tanpa adanya sedikit kekerasan dan pemaksaan kehendak. Demikian pula falsafah hidup suatu bangsa ikut mempengaruhi perilaku masyarakat dalam negara itu. bergaul. setiap kali lahir 17 . bersaing antar sesamanya secara fair dan adil. hukum bermakna sebagai mengatur kehidupan manusia sebagai makhluk yang beradap yang membedakannya dengan hewan. Indonesia memiliki falsafah Pancasila yang apabila dihayati dalam kehidupan sebagai masyarakat yang ber Ketuhanan yang menganggap bahwa diatas langit masih ada langit lagi. maka hal ini akan mengusik rasa keadilan pada akhirnya dapat menimbulkan aksi protes. kesejahteraan yang berkeadilan dalam kebinekaan ini akan segera dirasakan dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia. dan memberikan peluang yang sama bagi mereka. tetapi juga menumbuh-kembangkan nilai-nilai luhur insani bagi kemajuan peradaban bangsa. termasuk penguatan akhlak mulia. diatas penguasa ada yang Maha Kuasa. Oleh karena itu apabila penegakkan hukum oleh negara secara adil tanpa pandang bulu. menurut Mubarok. dengan hukum manusia hidup. yang daripadanya. Penerapan hukum untuk membela manusia agar mereka tetap terhormat sebagai manusia. Dalam hal efektifitas hukum ini Achmad Mubarok menyatakan bahwa. apabila akan dijadikannya sebagai pedoman bagi bangsanya untuk berperilaku maka kedamaian suatu bangsa tersebut akan dapat terwujud. Dodi Nandika (14 Juni 2008) mengatakan bahwa. Falsafah hidup suatu negara. Dikatakan. adil dan sejahtera terhadap masyarakat. dan wawasan kebangsaan.Makna Pendidikan dengan perbuatan oknum-oknum pengunjuk rasa yang melakukan perbuatan melanggar hukum maupun melanggar hak orang lain dalam menikmati ketenangan dalam aktifitasnya. karakter unggul. apabila kita mampu meramu dan merasakan kebinekaan dalam rasa persatuan dan kesatuan. penyampaian inspirasi tersebut kurang afdol. Dengan demikian apabila penegakan hukum dalam masyarakat dirasa tidak adil. Atau mungkin kelompok masyarakat itu menganggap bahwa penyampaian inspirasi dengan cara tenang dan tertib tidak akan didengar oleh yang berwenang. apabila kita mampu menjadikan pola kehidupan bermusyawarah untuk mufakat adalah jalan yang terbaik dalam menentukan pilihan bersama serta memiliki jiwa keadilan dan jiwa sosial yang tinggi dalam kehidupannya maka ketentraman. menjamin setiap hak dan keberadaannya pada jalan kebenaran dan keadilan. Pendidikan bukan sekedar proses pengayaan intelektual. hal itu berarti akan memberikan rasa aman. apabila kita menganggap bahwa sebagai manusia yang memiliki keadilan yang beradap.

Dalam kaitan itu. 6) ilmu pengetahuan sosial. Kurikulum di setiap satuan pendidikan ini akan bercorak keragaman potensi daerah dan lingkungan. Pada program pendidikan dasar dan menengah di masa otonomi daerah dan penerapan manajemen berbasis sekolah maka kebijakan Kurikulum Pada Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan salah satu langkah yang dianggap tepat. dan seni. 2) pendidikan kewarganegaraan. memiliki kecerdasan intelektual dan memiliki kecerdasan kinestika. teknologi. kecerdasan. tanpa melalui pertimbangan atau proses penalaran yang berat dan lama. Untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut langkah pertama yang harus dilakukan adalah dimulai dari perumusan kebijakan dalam kegiatan belajar mengajar pada satuan pendidikan yaitu dengan kebijakan kurikulum. 5) ilmu pengetahuan alam. dan 3) bahasa. Demikian juga kurikulum pada pendidikan tinggi wajib memuat: 1) pendidikan agama. 4) matematika. Depdiknas menetapkan kerangka dasar dan model-model kurikulum yang dapat dijadikan rambu-rambu dan satuan pendidikan yang akan menyusunnya sesuai dengan kebutuhannya sendiri dengan memperhatikan pada peningkatan iman dan takwa. peningkatan akhlak mulia. 2) pendidikan kewarganegaraan. 3) bahasa. mewajibkan pengaturan kurikulum pada pendidikan dasar dan menengah meliputi: 1) pendidikan agama. dan minat peserta didik. dengan mudah. Departemen Pendidikan Nasional menaruh harapan besar yang nanti pada tahun 2015 akan tercipta manusia Indonesia sebagai Insan Indonesia Komprehensif dan Kompetitif (insan kamil/insan paripurna) yaitu insan Indonesia yang memiliki kecerdasan emosional dan sosial. dan dengan semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan demikan. dan berkemampuan olah raga. disamping kurikulum yang menjadi ciri pada 18 . 20 tahun 2003).Wukir Ragil manifes hal-hal yang mulia. memiliki Insan yang berkemampuan olah pikir. 7) pendidikan jasmani dan olahraga. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan (UU No. dan 8) muatan lokal. memiliki insan yang berkemampuan olah rasa. 7) keterampilan/kejuruan. dan 9) pengembangan diri (Permendiknas No. perkembangan ilmu pengetahunan. Lebih lanjut ditegaskan dalam pasal 37 ayat (1) UU Sisdiknas. agama. 2 tahun 2006). peningkatan potensi. sesuai dengan tuntutan pembangunan daerah dan nasional. dinamika perkembangan global. menurut Dodi Nandika. pada tahun 2015 nanti diharapkan akan terwujud suatu kondisi di Indonesia yang memiliki Insan yang berkemampuan olah hati untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan dan ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti.

belum berbudaya mem-publish. kita belum berbudaya menulis. to discovery. mensiarkan kedunia. `mengajar` mentrasfer ilmu dan pengetahuan dari seorang sumber kepada mahasiswa. menguak tabir kegelapan. to teach. Mahasiswa ingin menyampaikan perubahan. Ini yang berat karena apabila satu rukun belum dilaksanakan maka batal. mencari. Tapi caranya. Dr. Critis Yes. dan ketujuh to tell the truth mengatakan kebenaran. menggali. Yaitu. dan mentrasfer nilai-nilai budaya. menyatakan bahwa ada tujuh academic duty. adalah to publish. budaya respect to others. Ir Dodi N Nandika. Anarchis No. melayani masyarakat. mengangkat temuan ilmiah dan sekaligus menyibak kegelapan secara terus menerus sehingga almoust everyday discovery. melayani bagaimana kemiskinan. Pertama. fakultas dan/atau perguruan tinggi tersebut yang merupakan hak otonomi kampus. Keenam to change. Yang kurang baik diluruskan dan 19 . Lebih lanjut dikatakan bahwa kalau perguruan tinggi tidak mengatakan kebenaran maka akan batal. kemudian Kelima to reach beyond the wall. empati (IQ. to mentor. SQ. tapi masih berbudaya lisan. mengkaji. meneliti. Lebih lanjut dikatakan bahwa penelitian adalah suatu kegiatan problem solving. menjangkau.Makna Pendidikan setiap jurusan. Menyikapi perubahan perilaku masyarakat yang menjurus pada perubahan tata nilai luhur budaya bangsa. Tujuh kewajiban akademik dipundak perguruan tinggi yang merupakan rukun direkomendasikan untuk dilaksanakan oleh perguruan tinggi sehingga terjadi keseimbangan antara pendidikan yang bersifat membangun kemampuan iptek dan seni dan pendidikan yang bersifat pendidikan moral. tapi menghimpun. dan RQ) sebagai alat dan bekal untuk Hijrah dari budaya yang sangat tidak beradab menjadi budaya santun. MS. hal ini perlu ditumbuhkan sifat empati dan simpati. budaya membaca. bukan to report atau bukan buat repot. Ketiga. Prof. Demontrasi mahasiswa meneriakkan kebenaran ingin merubah sesuatu adalah hal yang wajar dan perlu didukung. Lebih lanjut dikatakan bahwa misi yang paling utama dalam kegiatan di perguruan tinggi bukan hanya mengajar. karena dibalik proses belajar mengajar tadi ada mandat untuk berbudaya luhur. dengan merujuk pendapat mantan presiden dari negara maju. melayani bagaimana sampah-sampah berserakan. Kedua. membimbing. keempat. berakhaqul karimah. Sekretaris Jenderal Depdiknas pada acara Rembug Penguatan Nilai-nilai dan Budaya Luhur dalam rangka peningkatan Akhlak Mulia di Perguruan Tinggi di Universitas Muhammadiyah Surakarta beberapa waktu yang lampau. dan buta aksara yang merupakan kesenjangan dapat dihabisi. memelihara. EQ. merubah.

Benturan yang terjadi dalam menyampaikan pendapat dapat dijadikan pola evaluasi dalam kegiatan yang lain sehingga kita tidak membiarkan rekan-rekan mengalami duakali kesalahan yang sama namun tetap dalam semangat menuju suatu perubahan. KESIMPULAN Beberapa hal yang perlu kita sadari bersama adalah Bangsa Indonesia memiliki suatu konsep menuju suatu bangsa yang besar yang mempunyai jati diri sendiri walaupun kita belum mampu mewujudkannya. pendidik. Hak asasi merupakan hak yang melekat pada manusia yang wajib dihormati oleh siapapun. dilindungi oleh negara. dan pejabat yang berwewenang perlu memiliki suatu kearifan sosial. dan pemerintah mendapat suatu masukan yang sangat berharga. Dengan demikian peranan pengajar/pendidik bukan hanya menyampaikan target pembelajaran saja. 54-55) memandang bahwa kebebasan mengeluarkan pendapat merupakan sesuatu yang asasi. para penguasa. Hanya kita yang bisa mengatur bangsa kita sendiri menuju kearah yang lebih baik. dijunjung tinggi. Mereka harus peka melihat ketimpangan dalam kehidupan masyarakat sekitar. 20 . Samsul Wahidin (hal. akan tetapi juga menumbuh-kembangan potensi peserta didik dalam mengekspresikan ide dan gagasannya setelah mereka melihat keadaan yang tidak sesuai dengan harapan dan teori yang dipelajari. dan Pemerintah (UU No. Dengan demikian dalam menjamin pelaksanaaan hak asasi tersebut.Wukir Ragil seluruh pengajar menjadi transmitter yang memancarkan akhlak mulia didepan kelas. Semangat untuk mengadakan perubahan ini perlu “dibimbing” agar sesuai dengan harapan masyarakat luas dengan tidak mengesampingkan kepentingan masyarakat lainnya. pengambil kebijakan. Menurut Samsul Wahidin (dalam M Solly Lubis) menyatakan bahwa kebebasan merupakan syarat mutlak untuk mencapai suatu hak. kearifan lokal dan semangat nasional agar energi anggota masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat dapat disalurkan dengan efektif dan efesien. Kita harus mempunyai tekad bahwa Bangsa Indonesia bisa melepaskan diri dari masa-masa yang sulit setelah kita semua sudah ”dewasa” dengan belajar dari kesalahan masa lalu dan terus bekerja keras saling bahu membahu dengan menatap kedepan dengan penuh keyakinan bahwa dengan perbedaan tapi penuh makna kebersamaan akan merupakan kekayaan yang tiada tara nilainya bagi kejayaan bangsa Indonesia. 39 Tahun 1999 tentang HAM). hukum.

f. Sifat kegotongroyongan. h. nyaman dipandang. 21 b. dan menumbuhkan nilai budaya luhur berakhlaqul karimah dalam proses belajar mengajar. g. ramah. perilaku.Makna Pendidikan Dari uraian ringkas tersebut diatas dapat ditarik suatu benang merah bahwa: a. Perubahan sikap. disampaikan dengan dengan enak. berperilaku. menarik perhatian secara positif. membentuk dan mengembangkan watak dan kebiasaannya. Pola ini harus dimanfaatkan oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan dalam merumuskan kebijakan maupun dalam proses pembelajaran. . Satuan pendidikan memegang peranan penting dalam membimbing/mendampingi peserta didik. Kini Pemerintah sangat menghargai adanya perbedaan. kebinekaan. c. e. serta berhasil menyentuh para pejabat yang berwenang untuk segera mengambil tindakan yang diperlukan. dan ekspresi dalam segala tindakan terjadi oleh masyaraakat karena adanya perubahan paradigma dari semula pemerintah sangat yakin dengan pola stabilitas akan dapat mewujudkan suatu kehidupan masyarakat yang tentram. suasana yang sejuk. keanekaragaman dan kemajemukan serta kebebasan menyampaikan pendapat yang direspon dengan sangat bersemangat oleh masyarakat. santun. Penyampaian pendapat oleh warga belajar setelah melihat keadaan yang dianggap tidak sesuai dengan harapan dan teori yang pelajarinya adalah suatu yang wajar dan bukanlah merupakan penyimpangan terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia sepanjang penyampaian pendapat tersebut tidak mengganggu hak asasi orang lain dan melanggar norma yang berlaku dan hukum posistif. Sangat erat kaitan antara tata nilai kehidupan/budaya dalam masyarakat dengan norma-norma/ kaidah hukum di Indonesia ini akan selalu berkembang mengikuti perkembangan global dan kehendak masyarakat. mengawal. sejahtera. d. Hukum sebagai perangkat aturan yang paling dominan akan memberi makna bahwa sesuatu boleh dilakukan dan sesuatu tidak boleh dilakukan akan dapat berlaku efektif apabila terdapat keteladan dan tegas dalam menegakkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui pendidikan dan keteladanan akan ditumbuh-kembangkan dan ditingkatkan komitmen untuk menjunjung nilai-nilai budaya luhur bangsa bagi peserta didik dalam bersikap. aman dan damai. efektif dan efisien. dan menjunjung nilai luhur budaya bangsa masih ada dan melekat disanubari masyarakat Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa ini.

dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886). sehingga terjadi penyimpangan dari koridor hukum maupun norma kehidupan dalam bermasyarakat. Pada masa lampau. n. i. Mereka merasa selalu dikekang dan tiada kebebasan berekspresi. sehingga Pemerintah perlu melakukan pembinaan agar kehidupan berbangsa dan bermasyarakat yang selama ini sudah baik dapat ditingkatkan lagi atau setidak-tidaknya dipertahankan serta perlu ditumbuhkan sifat kritis yang konstruktif kepada masyarakat luas dalam mensikapi terhadap seluruh proses kebijakan pembangunan bangsa. pelaksanaan kebijakan. Masyarakat dalam menyampaikan pendapat akan lebih bermakna dan tepat sasaran apabila dilakukan dengan arif dan sekaligus menghindari terganggunya hak orang lain. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. k. (Lembaran Negara Nomor Tahun 2003 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301) 22 . DAFTAR RUJUKAN Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Nomor 165 Tahun 1999. Perubahan dalam kebebasan ini dirasa oleh masyarakat sangat fantastis.Wukir Ragil Pendidikan sebagai penguatan akhlak mulia membentuk karakter unggul dalam peningkatan wawasan kebangsaan memiliki sifat dinamis sesuai dengan perkembangan tata nilai dalam masyarakat. j. Semangat masyarakat ini merupakan potensi. kini setelah mengalami perubahan maka masyarakat kurang siap dengan perubahan itu. m. sehingga sebagian menganggap bahwa perubahan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah yang dirasa tidak sesuai harus dilawan dengan ketidaksetujuan dengan memfaatkan hak dan caranya sendiri tanpa mengindahkan jalur hukum yang harus ditempuh. kita akan dapat melepaskan masa lalu yang pahit dan menuju masa sejahtera dan damai dimasa mendatang apabila kita mampu memaknai perbedaan. masyarakat mengalami pelakuan yang dirasakan tidak sesuai dengan harapannya. dan pengawasannya. l. Sebagai bangsa yang besar.

3 September 2008 hal. MA. Muhaimin. Prof. N Dodi. Prof. 23 . (sebuah Introspeksi). Wahidin Samsul H. Mubarok. Vol. Vol. hal 16). SH. Nandika. hal 15. 1986.Makna Pendidikan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4496) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Teropong Pendidikan Kita. (Jakarta: Raajawali. Pengembangan Budaya Agama dalam Komunitas Sekolah. Departemen Pendidikan Nasional. I. Unversitas Muhammadiyah Surakarta tanggal 14 Juni 2008. Jurnal Transformasi Kependidikan dan Keagamaan. Prof Dr. Bahan Paparan pada Rembug Penguatan Nilai-nilai dan Budaya Luhur. MS. Achmad. Cetakan 2). (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 42. Antologi. MA. Sukanto Soerjono dan Sri Mamudji. Dr. Pustaka Pelajar. Penelitian Hukum Normatif. 2). Prof. 4 September 2007. Dr. Membangun Keluarga Bangsa dalam Prespektif Psikologi Islam. Religiusitas. Jurnal Transformasi Kependidikan dan Keagamaan. I. Tahun 2006. Ir: Pendidikan Akhlak Mulia. Religiusitas. Artikel 2005-2006. Hukum Pers.

4) Individualized Consideration. masyarakat. April 2009 KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM ERA OTONOMI DAERAH DAN BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA (Suatu Pendekatan Teoritis) Moh. Kompetensi dan akuntabilitas kepala sekolah merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan. Jabatan kepala sekolah merupakan jabatan yang tidak bisa diserahkan kepada setiap guru tanpa melihat apakah guru tersebut memenuhi kompetensi dan akuntabilitas yang dipersyaratkan. dan Dosen PPs UHAMKA Jakarta Abstrak Kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah adalah kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. kompetensi. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. hak dan kewajiban. manajemen. 1. pegawai. kepala sekolah. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan inovasi dan kreativitas. sehingga semua unsur yang terlibat (guru. pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasehat. No. kepemimpinan. dan akuntabilitas 24 . serta harapan bagi yang berkepentingan terhadap keberhasilan pendidikan di sekolah. 4. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan Kata Kunci: Otonomi sekolah. Keefektifan kedua komponen ini akan memberikan keyakinan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh indikator-indikator: 1) Idealized Influence.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. 3) Intellectual Stimulation. seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku kepada bawahannya. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. 2) Inspirational Motivation. orangtua siswa. siswa. Suryadi Syarif Kepala SMA Budi Mulia Ciledug Tangerang. dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur.

Pelaksanaan desentralisasi pendidikan dalam era otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang No. Undang-Undang No. Sesuai dengan PP. Sedangkan kebijakan nasional yang menjadi prioritas pemerintah harus pula dilakukan oleh sekolah. Hal ini bahkan telah menjadi amanat rakyat sebagaimana disebutkan dalam Ketetapan MPR-RI Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN yang menyebutkan bahwa salah satu visi pembangunan bangsa adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. dan industrialisasi sehingga mampu menghadapi persaingan global. No. 25 tahun 2000 maka sejumlah kewenangan dalam bidang pendidikan yang selama ini berada di pusat dilimpahkan kepada institusi penyelenggara pendidikan dalam bingkai pemerintah daerah. partisipasi masyarakat yang tinggi. terampil. Depdiknas saat ini tengah melaksanakan desentralisasi pendidikan yang di dalamnya terlaksana manajemen berbasis sekolah. Masyarakat dituntut partisipasinya agar mereka lebih memahami pendidikan. Dalam manajemen berbasis 25 .25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan Peraturan Pemerintahan No. Kualifikasi sumber daya seperti ini sangat diperlukan jika Indonesia ingin menjadi negara yang berhasil dalam menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan. yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah. tetapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional.Kepemimpinan Kepala Sekolah PENDAHULUAN Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sejalan dengan amanat tersebut.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Otonomi diberikan agar sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta agar sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat setempat. Terutama untuk menciptakan insan-insan pembangunan yang ahli. teknologi. membantu. Manajemen berbasis sekolah merupakan bentuk alternatif sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan. kreatif. serta mengontrol pengelolaan pendidikan. otonomi keilmuan dan manajemen.25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi. Desentralisasi pendidikan merupakan terobosan besar dalam pembangunan bangsa yang selama ini memakai paradigma top-down berubah menjadi paradigma bottom-up. Untuk mewujudkan visi tersebut dalam GBHN 1999 telah dinyatakan bahwa salah satu arah kebijakan dalam pembangunan pendidikan adalah melakukan pembaharuan dan pemantapan sistem pendidikan nasional berdasarkan prinsip desentralisasi. dan inovatif.

26 . seorang guru dapat berharap bahwa jika "beruntung" suatu saat kariernya akan berujung pada jabatan kepala sekolah. ia adalah pemimpin pendidikan yang bertanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang kondusif yang memungkinkan anggotanya mendayagunakan dan mengembangkan potensinya seoptimal mungkin. serta belajar mengembangkan kompetensi sepenuhnya. Dalam kenyataan. kepala sekolah memainkan peran yang termasuk sangat menentukan. banyak di antaranya yang tadinya berkinerja bagus sebagai guru. Misalnya. Dalam praktek di Indonesia. Pada tingkat paling operasional. para guru dan peserta didik termotivasi untuk saling belajar. Umumnya mereka tidak cocok untuk mengemban tanggung jawab manajerial. belajar bertanggung jawab. Jadi. dan saling memberdayakan. Dapat dibayangkan. Lebih dari para manajer lainnya. kepala sekolah adalah guru senior yang dipandang memiliki kualifikasi menduduki jabatan itu. bahwa kepala sekolah bukan manajer sebuah unit produksi yang hanya menghasilkan barang mati. Kepala sekolah diangkat untuk menduduki jabatan yang bertanggunggugat (accountability) mengkoordinasikan upaya bersama mencapai tujuan pendidikan pada level sekolah masing-masing. Guru-guru seperti ini tentunya telah terperosok ke suatu jabatan yang mereka sendiri tidak memiliki kompetensi untuk itu. Namun. dan akan tetap menjalaninya sampai pensiun. Tentu saja kepala sekolah bukan satu-satunya determinan bagi efektif tidaknya suatu sekolah karena masih banyak faktor lain yang perlu diperhitungkan. bukan sekadar kompetensi kognitif. menjadi tumpul setelah menjadi kepala sekolah. kepala sekolah dituntut untuk memiliki "accountability" baik kepada masyarakat maupun kepada pemerintah. bagaimana nasib sekolah-sekolah kita jika dipimpin oleh orang-orang yang tidak kompeten. studi yang dilakukan oleh Lightfoot seperti dikutip oleh Dharma (2004: 2).Moh. saling memotivasi. kepala sekolah adalah orang yang berada di garis terdepan yang mengkoordinasikan upaya meningkatkan pembelajaran yang bermutu. Demikian pula dalam telaahan mutakhir tren dan isu manajemen pendidikan yang dikompilasi dalam ERIC (2002: 1-3). Biasanya guru yang dipandang baik dan cakap sebagai guru diangkat menjadi kepala sekolah. melalui pendekatan sosiologi tentang efektivitas sekolah menengah menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah memainkan peran yang sangat penting. Dalam lingkungan seperti itu. Suasana seperti ini memberi ruang untuk saling belajar melalui keteladanan. seperti manajer pabrik yang menghasilkan sepatu. Suryadi Syarif sekolah. Ada guru yang dipandang sebagai faktor kunci yang berhadapan langsung dengan para peserta didik dan masih ada lagi sejumlah masukan instrumental dan masukan lingkungan yang mempengaruhi proses pembelajaran.

pemerintah daerah. Sudah sekian lama birokrasi pemerintahan negara kita tidak banyak membantu kepala sekolah mengatasi kerumitan itu. Sebenarnya pekerjaan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di sekolahnya tidak pernah ringan. “ing madyo mangun karso”. Manfaat dari kajian ini adalah untuk memberikan bahan masukan bagi pemerintah pusat. yaitu sekolah. dan pemberdayaan itu. “tutwuri handayani. Konsepnya bagus karena MBS adalah strategi untuk meningkatkan kemandirian para pengelola pendidikan dengan memindahkan wewenang pengambilan keputusan penting dari pemerintah pusat dan daerah ke level paling operasional. Apakah ini barang baru? Sama sekali tidak karena jauh sebelumnya Ki Hadjar Dewantara telah berujar dengan pernyataannya yang terkenal: “ing ngarso sung tulodo”. dan akuntabilitas kepala sekolah berkaitan dengan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan pada era otonomi daerah. diperlukan paradigma baru untuk menanggalkan ketergantungan yang selama ini telah merugikan para kepala sekolah yang sebagian sebenarnya mungkin telah bekerja dengan serius. OTONOMI SEKOLAH Dalam era desentralisasi sekarang ini. pemotivasian. praktis pendidikan harus ditingkatkan ke arah yang lebih baik dalam arti relevansinya bagi kepentingan daerah maupun 27 . Sejalan dengan itu maka dalam studi ini akan dikaji kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah yang ditinjau dalam aspek kompetensi.” Uraian singkat di atas telah menunjukkan betapa tidak ringannya tanggung jawab seseorang sebagai kepala sekolah. dan institusi sekolah dalam pelaksanaan desentralisasi pendidikan dalam konsep manajemen berbasis sekolah pada tingkat pendidikan menengah. Mereka sering berada pada posisi nirdaya dalam situasi ketika kepemimpinan mereka benar-benar diperlukan. di mana sektor pendidikan juga dikelola secara otonom oleh pemerintah daerah. Hasilnya masih belum jelas karena penerapannya ternyata juga masih harus menunggu kerelaan birokrasi pendidikan untuk mendelegasikan kekuasaannya. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dipandang banyak pihak dapat memberi ruang gerak lebih longgar bagi kepala sekolah untuk meningkatkan mutu sekolahnya. Sudah sejak lama pula para kepala sekolah berhadapan dengan situasi di mana mereka lebih banyak tergantung pada konteks dan periferal pekerjaannya.Kepemimpinan Kepala Sekolah Kepala sekolah seharusnya berada di gardu paling depan dalam hal peneladanan. Oleh sebab itu.

Tahap-tahap pelaksanaan MBS meliputi: mensosialisasikan konsep MBS. untuk itu maka sekolah-sekolah yang MBS-nya aktif seharusnya mempunyai kepala sekolah yang memainkan peranan kunci dalam mengendalikan dan meningkatkan komitmen belajar siswa. siswa. Dalam konteks ini. Manajemen sekolah saat ini memiliki kecenderungan ke arah school based management (manajemen berbasis sekolah). Pengambilan keputusan partisipatif adalah cara mengambil keputusan yang melibatkan kelompok-kelompok yang berkepentingan. wewenang. orangtua. Pemberdayaan yang dimaksudkan adalah peningkatan kemampuan secara fungsional. melakukan analisis sasaran. dan memberikan ganjaran kepada siswa. Sebagai manajer ia harus mampu mengatur agar semua potensi sekolah dapat berfungsi secara optimal. merumuskan sasaran. dan tanggung jawabnya. menyusun rencana sekolah. yang meliputi: 1) perencanaan. Hal ini dapat dilakukan jika kepala sekolah mampu melakukan fungsi-fungsi manajemen dengan baik.Moh. maka kepemimpinan kepala sekolah perlu diberdayakan. Peranan utama kepala sekolah dalam hal ini adalah memotivasi. Otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri dan berdasarkan pada aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. Kepala sekolah harus bertindak sebagai manajer dan pemimpin yang efektif. terutama yang melaksanakan keputusan dan yang terkena dampak keputusan. sekolah harus meningkatkan keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaannya guna meningkatkan kualitas dan efisiensinya. maupun pemerintah pusat dan daerah. Dalam implementasi MBS fungsi-fungsi dan tugas-tugas kepala sekolah berubah dari manajer tingkat menengah ke pimpinan sekolah. dan (4) pengawasan. Tujuan MBS adalah untuk memandirikan dan memberdayakan sekolah. melakukan analisis SWOT. membimbing. Meskipun demikian. sehingga kepala sekolah mampu berperan sesuai dengan tugas. Agar penerapan desentralisasi dan otonomi pendidikan berhasil dengan baik. dan mengarahkan seluruh staf sekolah untuk bekerja dan bertanggungjawab atas tugasnya masing-masing. Esensi MBS adalah otonomi sekolah dan pengambilan keputusan partisipatif. 28 . (3) pengarahan. Suryadi Syarif kepentingan nasional. 2) pengorganisasian. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran. mendorong para guru untuk aktif dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah dalam mengumpulkan informasi tentang belajar. otonomi pendidikan dalam konteks MBS harus dilakukan dengan selalu mengacu pada manfaat pendidikan bagi masyarakat.

sehingga menimbulkan persaingan yang semakin ketat. Keempat karakteristik kepemimpinan transformasional ini diyakini mampu menciptakan organisasi yang lebih tangguh dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan baru. dan merumuskan sasaran baru. Dimensi-dimensi perubahan pola manajemen dari yang lama menuju yang baru tersebut. Dari segi implementasi MBS. Kepemimpinan transformasional menganggap kepemimpinan sebagai proses kerjasama antara pemimpin dan pengikutnya untuk mencapai tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Perubahan dimensi pola 29 . pegawai. orangtua siswa. Pemimpin dituntut untuk mampu mengubah budaya organisasi agar konsisten dengan strategi manajemen. 2) Inspirational Motivation. seorang kepala sekolah perlu mengadopsi kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional mampu membangun komitmen organisasi terhadap tujuan-tujuannya. dan atau dorongan kepada semua unsur yang ada dalam struktur organisasi sekolah agar dapat bekerja atas dasar sistem nilai (values system) yang luhur. 4) Individualized Consideration. Berdasarkan konsep dasar yang telah diuraikan di atas. seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku bagi yang bawahannya. 3) Intellectual Stimulation. Kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. siswa. Kepemimpinan transformasional lahir sebagai upaya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan eksternal yang berlangsung cepat. pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasihat (Rusdiyanta.Kepemimpinan Kepala Sekolah mengimplementasikan rencana sekolah. 2004: 5). sehingga semua unsur yang terlibat (guru. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mencapai tujuan sekolah. melakukan evaluasi. secara konseptual maupun secara praktek tertera dalam MBS. masyarakat. sekaligus memberdayakan anggota organisasi untuk meraih tujuan-tujuan itu. adalah: 1) Idealized Influence. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. Menurut Bass empat karakteristik kepemimpinan transformasional. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi berkembangnya inovasi dan kreativitas. agar semua potensi yang ada di sekolah dapat berfungsi secara optimal. maka perlu dilakukan penyesuaian dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru manajemen pendidikan masa depan yang bernuansa otonomi yang demokratis.

Suryadi Syarif manajemen pendidikan dari yang lama ke yang baru menuju MBS dapat ditunjukkan dalam tabel 1. Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi sekelompok orang dan mengarahkannya untuk mencapai tujuan tertentu.Subordinasi . Nanus dan Dobbs (1999: 7) mengutip beberapa definisi pemimpin atau kepemimpinan.pendidikan. KEPEMIMPINAN Kepemimpinan berasal dari bahasa Inggris leader yang berarti pemimpin dan leadership berarti kepemimpinan.Pendekatan birokratik .Moh.Mengontrol . sedangkan kepemimpinan adalah kegiatan atau tugasnya sebagai pemimpin. Tabel 1.Gunakan uang semuanya .Pendekatan Profesional .Organisasi herarkis Menuju ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> ------> .Pengambilan keputusan terpusat .Gunakan yang seefisien mungkin . yaitu: 1) seorang pimpinan adalah seorang penyalur harapan 30 . Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Pola lama .Memfasilitasi . maka kepala sekolah dalam era otonomi sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya.Informasi terpribadi . Pemimpin adalah orang yang menempati posisi sebagai pimpinan.Menghindar Resiko .Mengarahkan .Mengelola resiko . 2004).Organisasi datar Pola baru Sumber: Eman Suparman.Sentralistik .Overregulasi .Pemberdayaan .Pendelegasian .Mempengaruhi . Pengambilan keputusan akan dilakukan secara partisipatif dengan mengikutsertakan pihak-pihak yang berpentingan sebesar-besarnya. 2.Deregulasi .Diatur .Motivasi diri .Informasi terbagi .Ruang gerak kaku . Manajemen Pendidikan Masa Depan (http://www..Pengambilan keputusan partisipasi .net/. p. Mengacu pada dimensi-dimensi tersebut di atas.Desentralistik .Otonomi .Ruang gerak luwes .

2) pemimpin adalah seseorang yang secara signifikan mempengaruhi pikiran. memperjelas visi. Gardner). dan membantu menciptakan budaya kelompok atau organisasi. (2) adaptasi. melaksanakan tugas tertentu. apa yang benar. perilaku. 31 . 4) pimpinan adalah orang yang bertanggungjawab membangun organisasi di mana orang-orang secara berkesinambungan mengembangkan kemampuan untuk memahami kerumitan. dan (3) kepemimpinan situasional Pendekatan pertama. 5) Kepemimpinan adalah proses persuasi atau membujuk sekelompok orang untuk mengikuti tujuan yang ditetapkan oleh pimpinan atau bekerjasama dengan pimpinan dan para pengikutnya (John W. mengarahkan perilaku mereka untuk mencapai tujuan. maka pimpinan harus memiliki tiga dasar kepemimpinan.Kepemimpinan Kepala Sekolah (Napoleon Bonaparte). bekerjasama dan berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu. Kompetensi diagnosa merupakan kemampuan kognitif untuk memahami situasi sekarang dan harapan pada masa mendatang. dan kompetensi komunikasi terkait dengan kemampuan menyampaikan pesan-pesan agar dapat dipahami orang lain Ciri-ciri seorang pemimpin dapat dijelaskan melalui tiga pendekatan yaitu: (1) kepemimpinan bawaan. yang berarti penggunaan pengaruh yang tidak memiliki kekuasaan memberikan sanksi untuk membentuk tujuan kelompok-kelompok atau organisasi. kepemimpinan berperspektif perilaku. kompetensi adaptasi adalah kemampuan menyesuaikan perilaku dengan lingkungan. serta selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuannya (Peter M. yakni hanya orang-orang yang berbakat memimpin yang mampu menjadi pimpinan. Terlihat bahwa acuan untuk mendefinisikan kepemimpinan bervariasi bagi masing-masing pakar kepemimpinan. dan atau perasaan orang lain (Howard Gardner). dan (3) komunikasi. yaitu: (1) diagnosa. melakukan koordinasi kegiatan. Croin). yaitu: (1) sudut proses. 3) pemimpin adalah orang yang mengetahui apa yang dibutuhkan. memandang kemampuan memimpin sebagai bawaan sejak lahir. Dalam upaya mencapai keberhasilan dalam mempengaruhi orang lain. (2) kepemimpinan perilaku. dan meningkatkan bentuk-bentuk mental kerjasama. bagaimana mengendalikan manusia dan sumber daya untuk mencapai tujuan (Thomas E. Namun inti dari definisi-definisi tersebut adalah mempengaruhi atau mengendalikan sekelompok orang untuk mentaati aturan. Senge). dan (2) sifat yang dimiliki. Pendekatan kedua. Kepemimpinan dapat dijelaskan melalui dua sudut pandang. yang diartikan sebagai seperangkat ciri-ciri yang menjadi atribut seseorang yang dipersepsikan sebagai seorang pemimpin. yaitu mempelajari kepemimpinan berdasarkan keterampilan yang dimiliki.

yang berarti kepedulian pimpinan atas keahlian. bahaya secara fisik yang mungkin terjadi. Pendekatan ketiga. Tabel 2. dengan demikian pemimpin harus memiliki perilaku yang fleksibel. 2) manusiawi. dan strategi untuk menghasilkan perubahanperubahan untuk mencapai visi Mengembangkan jaringan untuk mencapai agenda Mempersatukan orang: mengkomunikasikan arah dengan kata-kata dan tindakantindakan kepada mereka yang turut bekerjasama untuk menciptakan tim dan koalisi yang memahami visi dan strategi dan menerima kinerja . (3) perhatian terhadap tugas. dan 3) konseptual. Perbedaan manajemen dan kepemimpinan Aspek Menciptakan agenda Manajemen Perencanaan dan penganggaran: menetapkan rincian langkah-langkah dan rencana waktu untuk mencapai hasil yang diperlukan. yang mencerminkan derajat pentingnya waktu yang dimiliki. serta mampu menerapkannya dalam situasi kepemimpinan sebenarnya. yang mencerminkan derajat pelaksanaan pengaruhnya. dan karakteristik psikologis. mendelegasikan tanggung jawab dan wewenang untuk 32 Kepemimpinan Menentukan arah: mengembangkan visi masa depan. kepemimpinan situasional dibangun berdasarkan asumsi bahwa tidak ada satu cara apapun yang dapat mengarahkan manusia untuk bekerja pada semua situasi. pengetahuan tentang tugasnya. Suryadi Syarif Kepemimpinan perilaku secara garis besarnya dapat dibagi dalam tiga kategori. kemudian mengalokasikan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai hal tersebut Pengorganisasian: menetapkan stuktur organisasi untuk mencapai persyaratan rencana. tingkat hirarkis. sering masa depan yang panjang. Dalam menerapkan kepemimpinan sesuai dengan situasi yang di hadapi. mensetafi struktur tersebut dengan individu-individu. ataupun kesamaan sikap dan perilakunya dengan orang-orang yang di atasnya. dan derajat kekaburan pelaksanaan tugas. yaitu: (1) perhatian terhadap bawahan. luas bidang pekerjaan. seorang pemimpin harus memperhatikan tiga faktor utama. kemampuan. pengalaman. yakni keterampilan 1) teknik. standar kesalahan yang ditolerir. mampu mendiagnosa gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi yang dihadapinya. derajat kebebasan. (2) perhatian terhadap atasan.Moh.

dan mempunyai potensi secara konsisten mencapai hasilhasil tertentu yang diharapkan oleh berbagai stakeholder (misalnya pelanggan selalu tepat waktu. Manajer adalah orang yang mengerjakan sesuatu secara benar. Menghasilkan perubahan. Steers (1985: 29). Kotter (1990) dalam Wirawan (2003: 22). dan mempunyai potensi menghasilkan perubahan yang sangat berguna (misalnya produk baru yang diinginkan pelanggan. Sehubungan dengan fungsi-fungsi manajemen. mereka. Untuk jelasnya perbedaan antara manajemen dan kepemimpinan dapat dirujuk dari pendapat Kotter. seperti terlihat pada Tabel 2. rencana secara rinci dan kemudian merencanakan dan mengorganisasi untuk menyelesaikan masalah tersebut Menghasilkan sesuatu yang dapat diramalkan.Kepemimpinan Kepala Sekolah melaksanakan rencana. persediaan. untuk stakeholder lainnya sesuai dengan anggaran). Kepemimpinan dan manajemen berbeda menurut sasarannya masing-masing. birokrasi untuk merubahnya untuk memuaskan kebutuhan manusia yang sangat mendasar tapi sering tidak terpenuhin. dan atau program. sering bersifat dramatik. berpendapat bahwa manajemen adalah proses perencanaan. misalnya manajemen keuangan. sedangkan kepemimpinan berhubungan dengan manusia. manajemen berhubungan dengan benda. pengaturan dan pengawasan aktivitas anggota organisasi yang berhubungan dengan sumber daya 33 . Memotivasi dan Menginspirasi: mengenerji orang untuk memecahkan rintangan politik. pengorganisasian. Eksekutif Pengontrolan dan Penyelesaian masalah: memonitor hasil vs. menyediakan kebijakan dan prosedur untuk membantu mengarahkan orang. Keluaran Sumber: John P. pendekatan baru yang membuat perusahaan lebih kompetetif). sedangkan pimpinan adalah orang yang mengerjakan suatu kebenaran. menciptakan metode untuk memonitor pelaksanaan rencana.

dan kompetensi lebih tertuju pada aksi atau hasil daripada proses belajar mengajar. Sedangkan pengawasan meliputi tiga elemen penting yaitu standar kinerja. desain mengembangkan organisasi. berkompeten berarti menjadi sedikit memuaskan dan baik. pembagian tugas dan otoritas sehubungan dengan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Jika menyebutkan seseorang yang “incompetent” selalu berarti “incapable” atau “unqualified” yang berarti tidak mampu mengerjakan tugas tertentu atau tidak memiliki kemampuan yang dipersyaratkan. dan atau memadai. Pengorganisasian meliputi pengembangan tujuan. Seseorang disebut kompeten untuk mengerjakan sesuatu berarti orang tersebut benar-benar dapat melakukan pekerjaan yang dimaksud. Kompetensi tidak hanya berhubungan dengan tugas saja. dan koreksi terhadap standar kinerja. informasi. Dijelaskan dalam New Zealand Qualifications Authority (Curfis dan Thorp. deviasi terhadap standar kinerja. pengorganisasian. 2004: 1) bahwa kompetensi mencakup tidak hanya pengetahuan atau keahlian tetapi juga terapannya dalam usaha memenuhi kinerja standar yang dipersyaratkan. Perencanaan mengindikasikan bagaimana tujuan organisasi akan dicapai. 34 . atau situasi tertentu. yang dimaksudkan untuk mendukung semua fungsi organik). jabatan. dan pengawasan setiap kegiatan yang mengharuskan tanggung jawab untuk mencapai suatu hasil.Moh. Dengan demikian maka kompetensi adalah karakteristik pokok dari seseorang yang memungkinkannya untuk mencapai kinerja standar dalam tugas. Di sekolah. Manajemen sebagai suatu cara untuk melaksanakan fungsi eksekutif seperti perencanaan. KOMPETENSI Istilah “competent” sinonim dengan kata “sufficient” dan “adequate” yang berarti mampu. yang secara bersama-sama merupakan proses manajemen. cukup. untuk itu dibutuhkan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam lingkungan atau situasi baru. tetapi juga kemampuan pokok yang dipersyaratkan oleh pekerjaan tersebut. sedangkan sangat baik dan baik sekali merupakan kategori yang lebih tinggi. pengontrolan. Manajerial memiliki fungsi-fungsi yang berbeda namun saling berhubungan. Pada dasarnya keseluruhan fungsi-fungsi manajerial dapat dikelompokkan atas fungsi organik (merupakan penjabaran kebijaksanaan dasar atau strategi organisasi yang telah ditetapkan dan harus digunakan sebagai dasar tindakan) dan fungsi penunjang (kegiatan yang diselenggarakan oleh orang-orang atau satuan-satuan kerja dalam organisasi. Suryadi Syarif untuk mencapai tujuan. pengarahan.

Di samping keterampilan ini kepala sekolah juga diwajibkan untuk memenuhi atau memiliki kompetensi sebagai seorang kepala sekolah. dan pelaksanaan visi pembelajaran 35 .Kepemimpinan Kepala Sekolah Kompetensi mempunyai dua pengertian yang relevan: 1) Definisi langsung. Kompetensi Kepala Sekolah adalah kemampuan atau kecakapan yang diperlihatkan oleh seorang kepala sekolah ketika mengerjakan tugas-tugasnya. (3) Ketegasan. (7) Persuasif dan memanajemeni interaksi. (5) Keterampilan kognitif. (2) Orientasi kepemimpinan proaktif. (3) Keterampilan membuat konsepsional. mengumpulkan informasi secara terstruktur dan terorganisir dan menggunakan pendekatan sistematis untuk memastikan pengumpulan informasi secara kolektif. dalam hal ini memahami visi dan misi serta memiliki integritas yang baik saja belum cukup. yaitu: (1) Komitmen terhadap misi sekolah. (8) Kemampuan beradaptasi secara taktis. Agar berhasil. kepala sekolah harus memiliki kompetensi yang disyaratkan untuk dapat mengemban tanggung jawabnya dengan baik dan benar. (2) Keterampilan hubungan manusia. Contoh kompetensi yang didefinisikan dengan menggunakan pendekatan unsur kunci adalah: mengelola informasi dan materi untuk memudahkan dalam memperolehnya. (6) Fleksibilitas intelektual. menggunakan pengetahuan hubungan informasi dan kepekaan politis dalam organisasi untuk menciptakan keputusan yang efektif. Setidaknya ada kesepakatan bahwa kepala sekolah perlu memiliki sejumlah kompetensi berikut: 1) Memfasilitasi pengembangan. yaitu kemampuan individu untuk mencapai kinerja yang efektif dan bekerja secara efektif untuk mencapai tujuan pekerjaan secara efisien. (12) Komunikasi. (5) Mengumpulkan informasi dan menganalisis pembentukan konsep. (4) Keterampilan pendidikan dan pengajaran. (9) Motivasi dan perhatian terhadap pengembangan. (4) Sensitif terhadap hubungan interpersonal dan organisasi. (11) Kemampuan berorganisasi dan pendelegasian. menggunakan. meningkatkan kinerja seseorang dan kinerja orang lain dengan membangun. menggunakan fasilitas untuk mendorong usahanya dan memaksimalkan kualitas dan efisiensi hasil kerjanya. penyebarluasan. dan memelihara hubungan antara pribadi secara efektif. Melayani pelanggan dengan cara bekerja sama dengan para pelanggan secara efektif untuk mencapai tujuan usaha sendiri dan pelanggan. yaitu kemampuan seseorang untuk bekerja secara efektif dalam pekerjaan yang ditekuninya. 2) Definisi elemen kunci. menetapkan skala prioritas untuk memastikan bahwa batas waktu kritis dapat dicapai. Contoh kompetensi dalam definisi langsung adalah: bekerja sama dengan orang lain. Seorang kepala sekolah yang efektif diperlukan adanya kompetensi dan keterampilan administrasi berikut: (1) Keterampilan teknis. (10) Kontrol dan evaluasi.

5) Memberi contoh tindakan berintegritas. 6) mengelola tenaga kependidikan. 9) mengelola keuangan. Istilah accountability serupa dengan istilah responsibility (tanggung jawab). moralitas. 3) memahami manajemen berbasis sekolah. dan keterwakilan semua kebutuhan dan harapan pihak pemangku kepentingan pada umumnya. 7) mengelola sarana dan prasarana. Suryadi Syarif yang dikomunikasikan dengan baik dan didukung oleh komunitas sekolah. 6) Memahami. 15) memiliki dan melaksanakan kreativitas. 36 . dan efektif. dan 25) membuat laporan akuntabilitas sekolah. 14) mengembangkan budaya sekolah. 3) Menjamin bahwa manajemen organisasi dan pengoperasian sumber daya sekolah digunakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman. melaksanakan dan menindaklanjuti hasil akreditasi. 20) melakukan koordinasi. Accountability didefinisikan sebagai kemauan untuk mengakui kewajiban dan keinginan orang lain untuk menerima tanggung jawab sepenuhnya atas tindakannya dan akibat-akibatnya. 23) melaksanakan supervisi. 24) menyiapkan. 22) melakukan monitoring dan evaluasi. AKUNTABILITAS Akuntabilitas mencakup isu-isu profesionalisme. 18) menyusun dan melaksanakan regulasi sekolah. inovasi dan jiwa kewirausahaan. bukan hanya sekedar budaya organisasi atau gaya kepemimpinan yang diharapkan. Akuntabilitas merupakan kewajiban nyata dalam organisasi yang tidak mencari keuntungan. yaitu: 1) memiliki landasan dan wawasan pendidikan. 11) mengelola kelembagaan. 2) Membantu. 13) memimpin sekolah. sehat. dan memobilisasi sumber daya masyarakat. membina. 4) Bekerja sama dengan orang tua murid dan anggota masyarakat. efisien.Moh. 5) mengelola kurikulum. dan mempertahankan lingkungan sekolah dan program pengajaran yang kondusif bagi proses belajar peserta didik dan pertumbuhan profesional para guru dan staf. 16) mengembangkan diri. Dengan demikian maka disimpulkan bahwa 25 kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah lanjutan. dan mempengaruhi lingkungan politik. kinerja organisasi. 19) memberdayakan sumberdaya sekolah. menanggapi. Sedangkan responsibility adalah tugas yang dibebankan kepada seseorang sebagai akibat dari wewenang yang dimiliki. 17) mengelola waktu. 8) mengelola kesiswaan. ekonomi. 12) mengelola sistem informasi sekolah. sosial. dan budaya yang lebih luas. 2) memahami sekolah sebagai sistem. 4) merencanakan pengembangan sekolah. 21) mengambil keputusan secara terampil. menanggapi kepentingan dan kebutuhan komunitas yang beragam. 10) mengelola hubungan sekolahmasyarakat.

dan kesepakatan yang mengikuti seluruh sivitas akademika dalam mengupayakan peningkatan mutu berkelanjutan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat . Setiap hubungan ini bersifat khusus dan mempunyai tingkat formalitas dan kompleksitas tersendiri. 1999: 6-8). wewenang merupakan sesuatu yang didelegasikan. seseorang harus mencoba memenuhi harapan yang diuraikan oleh akuntabilitas. Akuntabilitas adalah suatu keterhubungan mendasar dalam kewajiban untuk mendemonstrasikan. memeriksa. berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan dan sumber daya yang digunakan. Definisi akuntabilitas ini konsisten dengan pengelolaan hasil. dan/atau antara Depdiknas pusat dengan daerah. Perlu dicatat bahwa akuntabilitas yang efektif tidak hanya mencakup laporan kinerja. 2004: 1). Accountability (pertanggungjawaban) mencakup bagaimana sumber daya yang diterima dapat dikelola dengan sebaik-baiknya untuk kegiatan-kegiatan yang menunjang pencapain tujuan yang dinyatakan (state goals). memeriksa. pengaturan. Akuntabilitas adalah suatu dasar hubungan antara kewajiban untuk mendemonstrasikan. Tanggung jawab merupakan kewajiban untuk melaksanakan sesuatu karena menerima tugas (Schermerhorn. dan akuntabilitas tidak dapat didelegasikan. tetapi juga mencakup pemeriksaan. dan mencakup kewajiban untuk semua kelompok dalam hubungan akuntabilitas. Sebagai manajer. Dan terminologi tanggung jawab itu sendiri juga biasanya berhubungan dengan moral. Pertanggungjawaban tersebut antara lain menyangkut derajat efisiensi dan kesesuaian dengan norma dan peraturan yang berlaku umum termasuk pertanggungjawabannya. khususnya yang berkenaan dengan konsep tanggung jawab pribadi. dan tanggung jawab atas kinerja.Kepemimpinan Kepala Sekolah Tanggung jawab merupakan sesuatu yang ditugaskan. 37 . tindakan korektif secara tepat. dan konsekuensinya terhadap perorangan. akuntabilitas menggambarkan aturan-aturan permainan dan harapan bagi manajemen. Definisi ini mencakup sejumlah ide yang dapat diterapkan dalam bidang hubungan akuntabilitas yang luas. 2004: 1). Akuntabilitas adalah suatu usaha untuk membantu para bawahan agar dapat melakukan aktivitas sesuai dengan yang telah didelegasikan dan secara pribadi bertanggungjawab atas pekerjaannya (Martin. sehubungan dengan hasil-hasil yang dicapai dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan (Barrados. Bagi manajemen sekolah. akuntabilitas seyogianya menjadi acuan dasar dalam mengembangkan perangkat peraturan. Dalam hal ini. misalnya antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. terutama untuk akuntabilitas antara rekan kerja yang mungkin setara atau independen. dan bertanggungjawab atas hasil yang dicapai.

Kerangka kerja yang tepat adalah sangat penting untuk menciptakan akuntabilitas yang efektif. akuntabilitas dari kinerja sulit dicapai. akuntabilitas mencakup tidak hanya laporan kinerja tetapi juga analisis dan refleksi terhadap kinerja tersebut menimbulkan perubahan yang tepat untuk perbaikan dan memberi konsekuensi yang tepat agar dapat membantu individu tersebut. Dokumentasi ini dapat membantu memperjelas hubungan akuntabilitas. dalam hal ini apakah tersedia kerangka kerja akuntabilitas untuk mendukung hubungan akuntabilitas yang kuat. 2) membantu pelaporan. Proses akuntabilitas berdasar pada prinsip-prinsip yang efektif. sehingga tidak hanya digunakan dalam hubungan hirarkis. Suryadi Syarif Definisi akuntabilitas di atas memberikan beberapa perbaikan terhadap akuntabilitas tradisional. Jika harapan tidak jelas. Hal ini biasanya direfleksikan dalam dokumen-dokumen yang memuat susunan pokok-pokok akuntabilitas. untuk siapa. 3) Persyaratan pelaporan.Moh. 4) Mekanisme pemeriksaan dan penyesuaian. menitikberatkan pada kewajiban antara semua sekutu dalam hubungan akuntabilitas. pemeriksaan. Kerangka kerja akuntabilitas mempunyai empat elemen yang berdasarkan pada prinsip-prinsip akuntabilitas yang efektif. yaitu: 1) kerangka kerja akuntabilitas. dan penyesuaian laporan. definisi ini memungkinkan saling hubungan akuntabilitas antara para sekutu yang setara dan/atau indepeden. Bagian-bagian dari suatu hubungan akuntabilitas perlu dijelaskan terutama tentang informasi apa yang akan dilaporkan. yaitu: 1) akuntabilitas antara para sekutu. setiap kelompok bertanggungjawab tidak untuk mencapai hasil tetapi juga bagaimana mencapai hasil tersebut. 3) keduanya penting dan berarti. dan otoritas yang berhubungan dengan pelaku-pelaku organisasi dalam suatu hubungan akuntabilitas. menetapkan suatu dasar untuk penilaian dan tidak merubahnya sebelum individu dalam pengaturan tersebut berubah. 2) Kinerja yang diharapkan. Tanggung jawab dapat didelegasikan dari atasan kepada bawahan atau dalam hubungan kerjasama dapat didelegasikan kepada mitra kerja. Dalam penerapan prinsip-prinsip tersebut perlu memperhatikan dua aspek proses akuntabilitas. dan kapan dilaporkan. yaitu: 1) Tugas dan tanggung jawab. tidak hanya antara bawahan dengan atasan seperti dalam konsep akuntabilitas tradisional. 2) akuntabilitas resiprokal. 38 . kewajiban. Hal ini diperlukan untuk memberikan pemahaman yang jelas atas tugas dan tanggung jawab. seperti penguatan dan atau sanksi. Saling memahami dan harapan yang diterima termasuk kontribusi apa yang diharapkan dari masing-masing bagian dan sejauhmana ketepatan penggunaannya akan dapat memperkuat hubungan akuntabilitas. dalam hal ini apakah terdapat laporan yang efektif. 4) membutuhkan pemeriksanaan dan penyesuaian.

Hal ini merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan dan harapan bagi yang berkepentingan. di antaranya adalah kompetensi dan akuntabilitas. 2) Inspirational Motivation. Terdapat beberapa hal pokok yang diperhatikan berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekolah. orangtua siswa. dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam proses peningkatan mutu. Setiap kepala sekolah harus memberikan laporan pertanggungjawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua. pegawai. dan sebagainya) bersedia tanpa paksaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam mendukung komitmen organisasi sekolah dalam pencapaian tujuannya. seorang pemimpin bertindak dan memberi contoh melalui perilaku kepada bawahannya. KESIMPULAN Kepemimpinan kepala sekolah dalam era otonomi daerah adalah kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan. masyarakat. Karakteristik kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh: 1) Idealized Influence. Sedangkan akuntabilitas yang dimaksud adalah keterhubungan mendasar antara 39 . Akuntabilitas ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan. 4) Individualized Consideration. dan pemerintah. pemimpin memberi perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berpartisipasi dan berkembang dengan jalan bertindak seperti pelatih atau penasehat. 3) Intellectual Stimulation. pemimpin menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan inovasi dan kreativitas.Kepemimpinan Kepala Sekolah Akhirnya. sehingga semua unsur yang terlibat (guru. kejelasan diperlukan atas bagaimana dan siapa yang akan melakukan pemeriksaan dan penyesuaian. pemimpin memberi inspirasi kepada bawahannya dengan cara berkomunikasi secara jelas untuk menyampaikan tujuan serta harapan. Kepala sekolah dituntut untuk memiliki akuntabilitas kepada sekolah. masyarakat. dan atau mendorong semua unsur dalam struktur organisasi sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur. dan pemerintah. masyarakat. bagaimana perbaikan harus dilaksanakan untuk meningkatkan kinerja. Kompetensi yang dimaksud adalah pola perilaku yang dibutuhkan oleh kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya agar dapat berfungsi sesuai dengan kemampuan atau kecakapan yang diperlihatkan ketika mengerjakan tugas-tugasnya. siswa.

Inc.defining%20. Pendidikan Network: http://pendidikan. T. Curfis. Agus.measuring/%20competency.. serta harapan bagi yang berkepentingan terhadap keberhasilan pendidikan di sekolah. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang telah dikerjakan. dan penggunaan sumber daya tertentu. 2002. New York: John Wiley & Sons. New York: Delmar Publishers. & Thorp. DAFTAR RUJUKAN Barrados. San Fransisco: Jossey-Bass Publisher. ERIC.1999. Suryadi Syarif kewajiban untuk mendemonstrasikan. Nanus. Kompetensi dan akuntabilitas kepala sekolah adalah merupakan perpaduan antara komitmen terhadap standar keberhasilan.oagbvg.M. M. et. Standar Kompetensi Kepala Sekolah. Management. Dengan demikian maka berdasarkan penalaran ini diduga bahwa terdapat hubungan positif antara kompetensi. nst/htm.uoregon. Leaders Who Make a Difference: Essential Strategies for Meeting the Nonprofit Challenge. 1994. Clearinghouse: Educational Manajemen Trend and Issues: the Role of School Leader. ERIC: http://www. pencapaian tujuan. 40 .edu.pdf. sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi sekolah. July 1993: http://www. hak dan kewajiban. al. S.. G. 2004. W. 1999. Keefektifan kedua komponen ini akan memberikan keyakinan bahwa sumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan.. Comstock.. inc. R. D.ca/domino/aogbvg.. 2004. J. Jr. Dharma. Modernizing Accountability in the Public Sector (Report of the Auditor General of Canada: http://www. Fundamentals of Supervision: The First Line Manajemen at Work. akuntabilitas secara bersama-sama dengan kepemimpinan kepala sekolah. Untuk itu terefektifkannya ketiga komponen tersebut dalam kepemimpinan maka diharapkan akan dapat meningkatkan kinerja kepala sekolah.Moh. B. 2004. 2004. Schermerhorn.gc.net/.eric. memeriksa. Defining Competency (New Zealand. & Dobbs. kesejahteraan. dan tanggung jawab atas kinerja.

1985. pendidikan. Jakarta: Yayasan Bangun Indonesia dan Uhamka Press. Kapita Selekta Teori Kepemimpinan: Pengantar untuk Praktek dan Penelitian. Eman. R.Kepemimpinan Kepala Sekolah Steers. Suparman. Managing Effective Organization. 41 . USA: Kent Publishing Company. Manajemen Pendidikan Masa Depan.net/.M. Wirawan. 2004. 2003. http://www.

PENDAHULUAN Lembaga pendidikan dalam berbagai jenis dan tingkatannya diselenggarakan pada hakekatnya bukan untuk melayani dirinya sendiri. Perspektif TQM ini. Pertama. Pada hal.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. sekolah dipandang sebagai institusi publik yang harus dapat memuaskan customer-nya. bahwa publik sekarang telah mengalami perubahan sejalan dengan gerakan reformasi secara nasional. aspirasi dan harapan stake holders sekolah sesuai Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. tenaga adminsitrasi. melainkan melayani kepentingan publik. 1. dalam perspektif total quality management (TQM). April 2009 PERILAKU TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH DALAM PELAYANAN PUBLIK DI TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Ali Imron Universitas Negeri Malang Abstrak Dalam perspektif total quality management (TQM). responsif dan antisipatif terhadap berbagai kebutuhan. pelayanan publik. 4. termasuk di bidang pendidikan. sering menjadi sorotan terutama kalau sudah menyangkut aspek kecepatan pelayanannya. Kata kunci: Perilaku. agar ketika dibutuhkan berada dalam keadaan on-service. Paradigma pelayanan publik di tingkat satuan pendidikan sekolah patut digeser dari yang konvensional menuju ke kondisi yang senantiasa ter-update. mendapatkan momentum tepat ketika reformasi di berbagai bidang digulirkan di negeri ini. Temuan kurang baiknya sistem pelayanan publik. memuaskan-tidaknya. publik di bidang pendidikan adalah customer yang harus ditingkatkan kepuasannya. Tenaga administrasi sekolah haruslah menunjukkan perilaku sebagai seorang pelayan publik yang pro aktif. yang berupa ketrampilan teknis. termasuk di dalamnya adalah reformasi pelayanan publik di bidang pendidikan. dan satuan pendidikan sekolah. sehingga publik yang semula tidak berdaya (powerless) menjadi berdaya. No. dan sesuai harapan-tidaknya. Oleh karena itu. Pelayanan publik. termasuk dalam institusi pendidikan sedikitnya disebabkan dua hal. juga menguasai berbagai shoft skill yang senantiasa ditampilkan pada saat memberikan pelayanan prima sekaligus memuaskan kepada customer-nya. selain harus menguasai berbagai hard skill. bahkan sangat 42 .

Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah

berdaya (powerfull). Kedua, kenyataan di lapangan menunjukkan SDM institusi pendidikan belum memberikan pelayanan publik yang memuaskan. Pada latar institusi persekolahan, kedua alasan tersebut jika diruntut akan berujung pada persoalan tenaga kependidikan di sekolah. Salah satu dari tenaga kependidikan di sekolah yang banyak terkait langsung dengan pelayanan adalah tenaga administrasi sekolah. Ketatausahaan sendiri, dalam keseluruhan manajemen pendidikan di sekolah, adalah supporting system yang sangat menentukan keberhasilan sekolah secara keseluruhan. Dalam perspektif yuridis, setidaknya menurut Undang-undang nomor 20 tahun 2003 beserta peraturan perundangan-undangan turunannya, tenaga kependidikan (termasuk di dalamnya adalah tata administrasi sekolah), adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Pendidik dan tenaga kependidikan (termasuk tenaga administratisi sekolah) berkewajiban: menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Guna melaksanakan tugas-tugas administrasi sekolah, menurut Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah, dilakukan oleh tenaga administrasi sekolah/madrasah, yang terdiri atas kepala tenaga administrasi sekolah/madrasah, pelaksana urusan, dan petugas layanan khusus. KONDISI IDEAL PELAYANAN PUBLIK Menurut Lembaga Administrasi Negara (2000), pelayanan publik (public service) adalah pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah, termasuk institusi sekolah, baik dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pelayanan publik merupakan salah satu perwujudan dari fungsi aparatur negara sebagai abdi masyarakat disamping sebagai abdi negara. Pelayanan publik juga merupakan pelaksanaan dari peraturan pemerintah atau pihak lain yang terkait. Pelayanan publik juga dimaksudkan untuk mensejahterakan masyarakat, karena dengan pelayanan publik yang baik, diharapkan masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya. 43

Ali Imron

Pelayanan publik pada dasarnya merupakan kombinasi dari berbagai fungsi yang titik tekannya tergantung lembaga dan personel yang menerapkannya. Fungsifungsi yang harus dikombinasikan dalam penerapan pelayanan publik yang handal meliputi fungsi instrumental, politik, katalis, public interest, dan entrepreneurial (Sunaryo, 2005). Fungsi instrumental berkenan dengan menjabarkan perundang-undangan dan kebijakan publik ke dalam kegiatan rutin. Hal ini terkait dengan sosialisasi kebijakan yang berlaku bagi kegiatan tertentu yang berkaitan dengan pelayanan publik. Masyarakat butuh kejelasan kebijakan untuk urusan-urusan yang menyangkut dirinya. Semakin jelas kebijakan apa yang diterapkan untuk menyelesaikan urusan tertentu bagi masyarakat, maka semakin baik pula pelayanan publik tersebut. Tenaga administrasi sekolah memegang peranan penting dalam fungsi instrumental ini, karena lalu lintas informasi yang terkait dengan undang-undang dan peraturan pemerintah senantiasa melewati mereka. Fungsi politik pelayanan publik berarti memberikan input yang dapat berupa saran dan informasi. Berarti bahwa dalam pelayanan publik diperlukan tambahan informasi kepada masyarakat untuk memperjelas sistem pelayanan publik yang diberikan. Tenaga administrasi sekolah banyak berperan sebagai informan berbagai kebijakan sekolah kepada stake holders-nya. Pelayanan publik tidak boleh meninggalkan interes dan aspirasi masyarakat yang memerlukan pelayanan. Hal ini sesuai dengan fungsi katalis public interest. Interes dan aspirasi masyarakat diintegrasikan dengan kebijakan dan keputusan pemerintah atau pihak lain pembuat kebijakan pelayanan publik, dan diimplementasikan dalam bentuk layanan konkret oleh tenaga administrasi. Fungsi entrepreneurial, yang berkenaan dengan memberi inspirasi bagi kegiatan-kegiatan inovatif dan non-rutin. Dalam pelayanan publik diupayakan ada ruang untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan agar mempermudah, mempermurah dan mempercepat serta memperakurat data/informasi dalam pelayanan publik. Jika perlu, boleh menyimpang dari kelaziman asal tidak keluar dari koridor aturan dan misi sekolah. Di sinilah peran strategis tenaga administrasi ditantang, bagaimana agar lembaganya tetap akuntabel secara administratif. Birokrasi publik (termasuk birokrasi sekolah dikatakan profesional) manakala dalam pelayanan publik menunjukkan perilaku bertanggungjawab. Konsep tanggungjawab dibedakan menjadi 3, yaitu responsibilitas (responsibility), akuntabilitas (accountability), dan responsivitas (responsiveness) para pemberi layanan (Widodo, 2004). Responsibilitas diartikan sebagai kemampuan untuk 44

Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah

melaksanakan apa yang menjadi tugas pokok, fungsi, kewenangan, dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Tanggungjawab berarti capable to do atau professionality dan rasa tanggungjawab (sense of responsibility). Profesional berarti bahwa tatausahawan dituntut memiliki kecakapan teknis yang memadai dalam menjalankan tugas pokok, fungsi, kewenangan, dan tangungjawab dalam pelayanan publik. Dengan memiliki kecakapan teknis, mereka dapat menjalankan tugas dan tanggungjawab secara efektif, efisien, dan produktif. Rasa tanggungjawab berarti tenaga administrasi sekolah melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya secara serius meskipun tidak ada pihak lain yang mengawasinya. Tenaga administrasi tetap menjaga keberpihakan kepada kepentingan publik, meskipun untuk melakukan penyelewengan bagi mereka cukup terbuka. Akuntabilitas merupakan kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja atas tindakan seseorang/pimpinan/badan hukum suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. Untuk kepentingan ini, tenaga administrasi sekolah hendaknya bersikap transparan (transparency) dan terbuka (openness) atas apa yang ditanyakan publik. Tenaga administrasi dinyatakan akuntabel manakala mereka dinilai secara obyektif oleh masyarakat telah dapat mempertanggungjawabkan segala macam perbuatan, sikap, dan sepakterjangnya kepada publik. Responsivitas diartikan sebagai daya tanggap tenaga administrasi terhadap apa yang menjadi permasalahan, kebutuhan, keluhan, dan aspirasi publik yang dilayaninya. Dengan demikian, tenaga administrasi sekolah dikatakan responsif (cepat tanggap dan cepat menanggapi) yang tinggi jika tanggap terhadap permasalahan, kebutuhan, keluhan, dan aspirasi stake holders sekolah yang dilayani. Sunarto (2005) menyatakan bahwa prinsip-prinsip dalam pelayanan publik meliputi: berdayakan masyarakat, yang dapat berupa penciptaan iklim kebebasan untuk berprakarsa dan berkreasi bagi masyarakat; optimalkan pelayanan publik, yakni pelayanan masyarakat yang efisien, adil, mudah dan mendekatkan unit pelayanan ke masyarakat; buka ruang partisipasi publik, dimana dalam manajemen di lembaga pendidikan sedapat mungkin (jika perlu) melibatkan masyarakat dalam merencanakan, pengorganisasikan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan; dan ubah gaya kerja personel lembaga pendidikan, yang semula ingin dilayani menjadi pelayan bagi masyarakat yang memerlukan.

45

tanpa ada perbaikan dari waktu ke waktu. sering terjadi tumpang tindih ataupun pertentangan kebijakan antara satu instansi pelayanan dengan instansi pelayanan lain yang terkait. masih menunjukkan inefisien. Keenam. Kedua. lambat atau bahkan tidak sampai kepada mereka. kurang accessible. masih kurang informatif. Namun jika dilihat dari sisi efisiensi dan efektivitas. pelayanan dilaksanakan dengan apa adanya. Pertama. sebagaimana dikedepankan oleh Imron (2007). Berbagai unit pelayanan yang terkait satu dengan lainnya sangat kurang berkoordinasi. Pada umumnya aparat pelayanan kurang memiliki kemauan untuk mendengar keluhan/saran/aspirasi dari masyarakat. Berbagai informasi yang seharusnya disampaikan kepada masyarakat. Temuan Mohamad. 46 . aspirasi. sehingga menyebabkan penyelesaian pelayanan yang terlalu lama. berbagai masalah pelayanan memerlukan waktu yang lama untuk diselesaikan. Akibatnya. dalam rangka menyelesaikan masalah yang terjadi ketika pelayanan diberikan. Keempat. dan kesamaan perlakuan (tidak diskriminatif) masih jauh dari yang diharapkan. mulai pada tingkatan petugas pelayanan (front line) sampai dengan tingkatan penanggungjawab institusi. responsivitas. kurang mau mendengar keluhan/saran/aspirasi masyarakat. maupun harapan masyarakat seringkali lambat atau bahkan diabaikan sama sekali. Kondisi ini terjadi pada hampir semua tingkatan unsur pelayanan. bahwa pelayanan yang dilakukan oleh institusi publik paling tidak ditunjukkan dengan kondisi sebagai berikut. Dalam kaitan dengan penyelesaian masalah pelayanan. Ketujuh. Kelima. bahwa secara umum stakeholders menilai bahwa kualitas pelayanan publik mengalami perbaikan setelah diberlakukannya otonomi daerah. Akibatnya. Pelayanan pada umumnya dilakukan dengan melalui proses yang terdiri dari berbagai level. Kedelapan. masih kurang responsif. Respon terhadap berbagai keluhan. Berbagai unit pelaksana pelayanan terletak jauh dari jangkauan masyarakat. sehingga menyulitkan bagi mereka yang memerlukan pelayanan tersebut. kurang koordinasi. Berbagai persyaratan yang diperlukan (khususnya dalam pelayanan perijinan) seringkali tidak relevan dengan pelayanan yang diberikan. kemungkinan tenaga administrasi untuk dapat menyelesaikan masalah sangat kecil. juga sangat sulit. Akibatnya. dan di lain pihak kemungkinan masyarakat untuk bertemu dengan penanggungjawab pelayanan.Ali Imron KONDISI RIIL PELAYANAN PUBLIK Menurut hasil survey yang dilakukan UGM pada tahun 2002. masih terlalu birokratis.

penting 47 . Yang semula sekolah lebih banyak melayani kebutuhan birokrasi yang lebih tinggi dan kemungkinan sekolah sendiri minta dilayani masyarakat. dan memperhatikan hukum pelanggan (termasuk dalam hal ini hak-hak pelanggan sekolah) (Ramalia dalam LAN.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah MENGGESER PARADIGMA PELAYANAN PUBLIK DI SEKOLAH Sekolah (terutama yang berstatus negeri) adalah ujung tombak terdepan dalam pelayanan publik di lingkungan Depdiknas. Dalam persoalan pendidikan anak. Pelayanan pelanggan sekolah diartikan sebagai proses yang secara sadar dan terencana yang dilakukan oleh sekolah melalui pemberian pelayanan kepada pelanggan agar pelanggan mencapai kepuasan secara optimal. Petama. Oleh sebab itu. Stakeholder dalam arti luas dilibatkan dalam pembuatan keputusan utamanya berkenaan dengan kepuasan pelayanan publik di sekolah. maka diubah agar sekolah lebih responsif dalam memberikan pelayanan yang bersifat memenuhi kebutuhan pelanggan atau masyarakat yang memerlukan. pelanggan dipakai sebagai sasaran pencapaian tujuan. Oleh karena itu. menjadi berorientasi pada pelanggan sekolah. Harapan tingkat kepuasan pelanggan. 2001). perlu perubahan paradigma birokrasi di sekolah. Untuk dapat menjalankan fungsi yang memuaskan pelanggan. mengidentifikasi kembali siapa pelanggan sekolah tersebut. Sekolah selalu mendengar suara pelanggan. Sekolah diharapkan memposisikan pelanggan sebagai hal yang paling depan. Hal ini sebagai upaya untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi dan upaya mengantisipasi pemecahan masalah yang kemungkinan akan dihadapi pada masa yang akan datang. Di sini peran personel hubungan masyarakat. memperhatikan kebutuhan dasar dan keinginan pelangggan. Salah satu cara yang dapat digunakan sekolah agar dapat melayani masyarakat dengan prima adalah kemauan untuk menggeser paradigma birokrasi yang lebih sibuk dengan urusan internal. perlunya memahami tingkat harapan pelanggan sekolah atas kualitas pelayanan. orang tua dan masyarakat selalu menginginkan agar anaknya mendapatkan pendidikan terbaik dan mendapatkan pelayanan yang prima. bagi sekolah tidak lepas dari kreatifitas tata usahawannnya. Kedua. Tenaga administrasi sekolah perlu kreatif mengidentifikasi masalah-masalah yang sedang maupun yang akan dihadapi dalam praktik pemberian layanan sehari-hari. Untuk mewujudkan dan mempertahankan kepuasan pelanggan sekolah. sekolah haruslah responsif dalam menyikapi kemauan masyarakat tanpa mengorbankan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan sekolah. Dalam meningkatkan daya saing sekolah. dengan bantuan staf tata usaha haus dilakukan. dapat dilakukan 4 hal sebagaimana pendapat Ramalia (2001).

(4) mendapatkan perlakuan secara adil. bahwa sekolah hendaknya mengikutsertakan pembuatan keputusan bagi pelanggannya. Dengan umpan balik akan dapat diketahui hal-hal mana yang perlu diperbaiki dan mana yang perlu dipertahankan atau ditingkatkan. Perubahan paradigma yang disikapi oleh sekolah dalam hal ini cukup banyak. dan pendidikan moral. (2) memperoleh hasil sesuai dengan keinginan. Ketiga. 48 . Pada pasal 35-37 dinyatakan sebagai berikut: Tenaga kependidikan pada: a. proses belajar mengajar. TK/RA atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala TK/RA dan tenaga kebersihan TK/RA. Peranan staf tata usaha sebagai supporting system di sekolah sangatlah penting. (6) diberitahukan segala sesuatu yang terjadi. Lebih lanjut Ramalia (2001) mengemukakan bahwa layanan pelanggan sekolah yang baik memperhatikan sembilan aspek keinginan pelanggan sebagai berikut: (1) bebas membuat keputusan. Tanpa tolak ukur yang jelas. (8) didudukkan sebagai orang penting. kegiatan ekstrakurikuler. Standar pelayanan yang dipakai sebagai tolak ukur adalah standar pelayanan prima. POSISI STRATEGIS TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH Berdasarkan ketentuan dalam Standarisasi Nasional Pendidikan. Diantaranya. Pelanggan perlu diikutsertakan dalam perencanaan hal-hal penting bagi keberlanjutan pelaksanaan pendidikan anak-anak di sekolah. memahami siklus pengukuran dan umpan balik dari kepuasan pelanggan. dan (9) menuntut keadilan. jenjang. antara lain penentuan pelaksanaan kurikulum sekolah. Umpan balik penting untuk mekanisme perencanaan dan pelaksanaan pelayanan berikutnya. memahami strategi kualitas layanan pelanggan yang terwujud dalam standar pelayanan prima. Hal ini dapat dicapai melalui strategi yang dapat menjamin kualitas pelayanan prima yang didukung pula oleh personel pelayanan yang prima.Ali Imron diketahui sebagai acuan untuk menentukan tujuan dan tolak kepuasan pelanggan. jenis tenaga kependidikan (termasuk tenaga administrasi atau tenaga asministratif) diatur menurut jalur. Keempat. maka kepuasan pelanggan atau pengguna jasa pelayanan di sekolah sulit diketahui. (7) merasa aman dan dilindungi haknya. (3) mempertahankan harga diri. dan jenis pendidikan. (5) diterima dan disambut secara baik.

tenaga kebersihan sekolah. dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang memerlukan pelayanan. utamanya yang memerlukan pelayanan publik. keadilan. unit kerja atau personel yang bertanggungjawab memberikan pelayanan. tenaga laboratorium. ketepatan waktu dan kuantitatif. atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. tenaga administrasi. kejelasan dan kepastian. tenaga administrasi. cepat. c. tenaga laboratorium. tidak berbelit-belit. 49 . SMPLB. artinya segala hal yang berkenaan dengan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat diberitahukan secara terbuka kepada masyarakat yang dilayani. SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat dan SMA/MA. yakni kesederhanaan. dan tidak boleh ada pengulangan persyaratan. teknisi sumber belajar. tepat.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah b. mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia (penerima layanan) masih berpendidikan rendah. keamanan. psikolog. dan terapis. f. d. Tentang hal ini perlu diinformasikan secara jelas kepada masyarakat luas. tenaga perpustakaan. Kesederhanaan. dimana proses dan hasil pelayanan dapat memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat yang dilayani. Paket A. persyaratan pelayanan. Keamanan. tenaga perpustakaan. tenaga perpustakaan. efisiensi. SDLB. artinya bahwa pelayanan publik dilaksanakan secara mudah. dan jadwal waktu penyelesaian pelayanan. dimana persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. dan SMALB atau bentuk lain yang sederajat sekurangkurangnya terdiri atas kepala sekolah. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. tenaga laboratorium. dan tenaga perpustakaan. tenaga perpustakaan. tenaga administrasi. keterbukaan. SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. Kejelasan dan kepastian tentang prosedur/tata cara pelayanan. tenaga administrasi. SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. Kriteria lain adalah efisiensi. Paket B dan Paket C sekurang-kurangnya terdiri atas pengelola kelompok belajar. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. Agar pelayanan publik yang dilakukan oleh tenaga administrasi sekolah dapat optimal. Faktor keterbukaan. pekerja sosial. tenaga administrasi. mudah dipahami. Sistem pelayanan publik dengan sederhana perlu dilaksanakan. e. ada beberapa kriteria. ekonomis. rincian biaya dan tata cara pembayaran pelayanan (jika ada).

Tenaga administrasi sekolah mengetahui target waktu yang diperlukan untuk memberikan layanan kepada customer. Tenaga administrasi sekolah dapat memposisikan diri sesuai dengan TUPOKSI dalam memberikan layanan kepada customer. semua itu terdata secara kuantitatif sebagai upaya terus menerus mengembangkan pelayanan kepada masyarakat. 2. 3. penggunaan perangkat teknologi modern untuk memperlancar pelayanan. yakni jumlah masyarakat yang dilayani naik atau turun. Tenaga administrasi sekolah menyadari keterkaitan TUPOKSI dengan keseluruhan layanan administrasi di dalam maupun di luar unit kerja. PERILAKU TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH Agar pelayanan publik di sekolah bisa memuaskan customer. kapabel dan cakap (Imron. Tenaga administrasi sekolah. Terkait dengan relevansi layanan. sejumlah perilaku pelayanan haruslah dapat diinternalisasikan dan bahkan ditunjukkan oleh tenaga administrasi dalam memberikan layanan kepada customer-nya. perilaku berikut haruslah dapat ditunjukkan. yaitu: 1. Tenaga administrasi sekolah selalu mengusahakan memberikan layanan kepada customer lebih cepat dari batasan waktu yang ditetapkan. profesionalitas. dan ketentuan perundangan yang berlaku. berarti biaya pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhatikan nilai barang dan jasa pelayanan. proaktif.Ali Imron Kriteria ekonomis. meluangkan waktu melebihi dari waktu yang ditetapkan dalam memberikan layanan administrasi kepada customer. jika dirasakan perlu. 50 . 2. dan frekuensi keluhan dan pujian dari masyarakat yang diberi layanan. Sejumlah perilaku pelayanan tersebut. kondisi/kemampuan masyarakat. 4. artinya pelayanan kepada masyarakat harus tepat waktu sesuai yang ditentukan dan diinformasikan kepada masyarakat. responsif. Faktor ketepatan waktu. rata-rata lamanya waktu pelayanan. menyangkut waktu. helpful dan friendly. kecermatan. Terkait dengan waktu. 2007). dimana jangkauan pelayanan diusahakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata dan diberlakukan secara adil bagi seluruh lapisan masyarakat. Faktor keadilan dan merata. Yang terakhir adalah faktor kuantitatif. perilaku berikut haruslah dapat ditunjukkan: 1. Tenaga administrasi sekolah memahami ketepatan waktu sangat penting diperhatikan dalam memberikan layanan kepada customer.

bahwa customer adalah segalanya. 51 3. Ketika memberikan layanan. . 4. 3. Tenaga administrasi sekolah menyadari. Seorang tenaga administrasi sepatutnya juga helpful dan friendly. perilaku berikut haruslah memainkan peranan sebagai berikut: 1. 4. Tenaga administrasi sekolah memiliki sense perfective atas segala layanan yang dilakukannya. bahwa tanpa ada customer. Tenaga administrasi sekolah menyadari. 2. sesungguhnya dirinya tidak akan punya fungsi dan peran apapun dalam lingkup pekerjaannya. karena itu ia senantiasa berpikir bahwa keberadaaan dirinya adalah untuk membantu mereka. Agar tenaga administrasi bisa cermat dalam memberikan pelayanan. 5. sehingga mereka merasakan kepuasan dari layanan yang diterimanya. Tenaga administrasi sekolah mendahulukan kepentingan customers. karena itu ia tidak pernah berpikir bahwa customer-lah yang harus melayani dirinya. Tenaga administrasi sekolah menggunakan peralatan bantu untuk kecepatan dan ketepatan proses dalam memberikan layanan kepada customer. Tenaga administrasi sekolah memahami langkah-langkah kerja yang harus dilalui sebelum memberikan layanan. tenaga administrasi sekolah melakukannya dengan sungguh-sungguh. Tenaga administrasi sekolah menyadari. Tenaga administrasi sekolah merasa bangga dan senang. Oleh karena itu. bahwa yang menjadi pelayan adalah dirinya. Tenaga administrasi sekolah berupaya melakukan check and recheck atas hasil layanan yang diberikan kepada customer. Tenaga administrasi sekolah memahami dan mampu mempraktikkan TUPOKSI-nya dalam rangka pemberian layanan administrasi kepada customer. 4. jika persoalan yang dimiliki oleh customer sedikit banyak telah terpecahkan melalui bantuan dan pekerjaan yang ia lakukan. Tenaga administrasi sekolah menyadari. Tenaga administrasi sekolah memiliki inisiatif untuk melakukan upaya pencegahan terhadap kesalahan/kelemahan/hambatan dari layanan kepada customer. bahwa keberadaan dirinya sangat banyak ditentukan oleh keberadaan customer-nya. 6. 5. 2. perilaku demikian akan ditunjukkan manakala: 1.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah 3.

52 . bagaimana agar mereka mendapatkan kesukaran. ketika memberikan pelayanan tidak menunggu perintah dari atasannya. tanpa terus menunggu perintah dari atasan langsungnya. apa lagi sampai berpengaruh terhadap cara memberikan layanan kepada customer-nya. pekerjaan). 8. menyenangkan. Ketika customer tidak mengerti cara mengakses pelayanan. Tenaga administrasi sekolah berusaha untuk mengetahui alur kerja sejawatnya. tenaga administrasi sekolah melakukannya dengan senang hati. dengan menanyakan: apa yang dapat saya bantu? Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir dan berusaha bagaimana agar customer menjadi mudah dalam urusannya. 6. bahwa yang harus ia utamakan dalam memberikan layanan adalah customer. secepatnya dapat dituntaskan. kapan ia berhenti tidak memberikan pelayanan kepada customer. Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir. Responsiveness dan pro-aktif juga akan dapat ditunjukkan. ia akan dapat menggantikan dalam memberikan pelayanan. 4. Dalam memberikan layanan.Ali Imron Dalam memberikan layanan. Tenaga administrasi sekolah berusaha agar customer yang dilayani tidak usah menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan dari dirinya. Tenaga administrasi sekolah berusaha agar persoalan yang dihadapi oleh klien terkait layanan yang ia dapatkan. 2. Ketika ada customer yang kebingungan saat berproses mendapatkan pelayanan. tenaga administrasi sekolah menunjukkan wajah yang ramah. 8. 10. sosial. dan bukan sebaliknya. Tenaga administrasi sekolah menyadari. tidak sangar. smile. Karena itu. Karena itu. Dalam memberikan pelayanan. kapan ia harus melayani customer-nya. bahwa pekerjaan melayani customer adalah tanggungjawab dirinya sepenuhnya. Jika tenaga administrasi sekolah mempunyai persoalan (pribadi. Tenaga administrasi sekolah senantiasa berpikir dan berangan-angan. 5. manakala: 1. tenaga administrasi sekolah menawarkan bantuan. tenaga administrasi sekolah berusaha secepatnya untuk memberikan bantuan. tenaga administrasi sekolah memperlakukan pihak yang dilayani sebagai customer (pelanggan). 9. Bukan sebaliknya. 3. 9. tidak dibawanya ke tempat kerja. 7. agar ketika sejawatnya berhalangan. 7. ia selalu berusaha untuk mengutamakan kepentingan customer dalam setiap memberikan pelayanan.

2. 10. sehingga seluruh pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. ia tanya kepada atasannya atau sejawatnya. dan bisa memuaskan customernya. tanpa keluar dari koridor dan jiwa prosedur yang telah ditetapkan. dan tidak justru menunggu kapan sejawat dan atasannya bertanya kepada dirinya. kapabilitas dan kecakapan juga akan dapat ditunjukkan. 7. Ketika ada sejawat yang mengalami masalah terkait dengan pekerjaannya. tenaga administrasi sekolah mengutamakan ketuntasan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. tenaga administrasi sekolah selalu mencari alternatif solusi yang terbaik. dan tidak semata-mata mengacu kepada waktu dan jam kerja. Tenaga administrasi sekolah selalu berusaha melakukan perbaikan terus menerus mutu pelayanan (kaizen) yang ia berikan sehingga kepuasan customer-nya makin lama makin meningkat. Dalam menyelesaikan pekerjaan. Dalam melaksanakan setiap pekerjaannya. tenaga administrasi sekolah bertindak tenang dan tidak panik meskipun ketika berada dalam tekanan. 4. Tenaga administrasi sekolah akan membantu memecahkannya. akan memperendah mutu pelayanan yang dapat ia berikan. 8. tenaga administrasi sekolah senantiasa berpedoman kepada alur kerja yang telah ditetapkan oleh atasannya. 6. Terhadap berbagai persoalan terkait dengan pekerjaannya. tertepat dan terakurat. benar-benar terencana (by design). sehingga pekerjaan sejawatnya tidak terbengkalai. Ketika ia punya persoalan dan kesulitan dalam setiap memberikan pelayanan.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah 10. tenaga administrasi sekolah tidak menunda-nunda (menggampangkan). Dalam setiap memberikan pelayanan kepada customer. 1. tenaga administrasi sekolah selalu mencari cara-cara yang tercepat. tanpa harus melanggar koridor aturan dan prosedur beserta dengan jiwa yang dikandung oleh aturan dan prosedur tersebut. 9. Dalam setiap memberikan pelayanan. manakala: Tenaga administrasi sekolah menyusun schedule secara pribadi untuk penyelesaian pekerjaannya. 53 . karena jika menumpuk. Tenaga administrasi sekolah memahami prosedur dan alur kerja beserta dengan jiwa yang dikandung oleh prosedur dan alur kerja tersebut. 5. Terhadap pekerjaan yang harus ia selesaikan. Profesionalitas. 3.

Malang: Universitas Negeri Malang. melainkan juga menunjukkan perilaku yang mendukung terhadap kepuasan customer sekolah. Ali. proaktif.Ali Imron KESIMPULAN Sekolah adalah institusi yang tidak hanya bermaksud untuk melayani diri sendiri. cepat. Lembaga Administrasi Negara dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. tanggap. 2007. dan efektif sehingga memuaskan customer. DAFTAR RUJUKAN Imron. juga patut selalu membelajarkan tenaga kependidikan (termasuk tata usahawannya) agar selalu meng-update berbagai cara yang dilakukan dalam pelayanan publik. kapabel dan cakap. Guna mewujudkan birokrasi yang senantiasa on-service dan memuaskan pelanggan. Perilaku tersebut terkait dengan pengunaan waktu. karena posisinya yang secara langsung bersentuhan dengan layanan publik. Sekolah sebagai organisasi pembelajar. sangatlah penting. Konsekuensi logisnya. perlunya peningkatan hard skill dan shoft skill yang terkait dengan perilaku tenaga administrasi oleh institusi yang bertangungjawab dalam peningkatan kualitas SDM Pendidikan. atau stake holders sekolah. responsif. berada dalam keadaaan senantiasa on-service. Ia tidak saja hanya dituntut menguasai hard skill dan shoft skill sebagai tenaga yang berada pada posisi supporting system dalam keseluruhan aspek substantif sekolah. sederhana. 54 . berbiaya rendah. profesionalitas. 2000. Makalah Disampaikan pada Pelatihan Administrasi Sekolah pada Staf Administrasi Sekolah. yang sepatutnya diposisikan sebagai pelanggan (customer). dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Badan Kepegawaian Daerah di tingkat Kabupaten Kota. responsif. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara. Akuntabilitas dan Good Govermance. Berdasarkan keseluruhan uraian tersebut. Jaminan Layanan Mutu Administrasi di Sekolah. melainkan melayani publik. sekolah harus menggeser paradigma pelayanan publik yang konvensional menjadi pelayanan publik yang pro aktif. Birokrasi sekolah. maka posisi tenaga administrasi sekolah. helpful dan friendly. karena keberdayaan pengguna layanan memungkinkan mereka makin meningkatkan tuntutannya terhadap pelayanan publik yang diberikan oleh institusi sekolah. dengan demikian. kecermatan. rekomendasi yang dapat diberikan adalah.

2005. Sunaryo. 55 . Ramalia. Surabaya: Badan Diklat Propinsi Jawa Timur. Etika Pelayanan Masyarakat (Pelanggan): Upaya Membangun Citra Birokrasi Modern. 2004. M. Widodo. Swantanisasi Alternatif Reformasi Birokrasi Pelayanan Publik. Bunga Ramapai Wacana Administrasi Publik: Menguak Peluang dan Tantangan Administrasi Publik. Surabaya: Adipura.Perilaku Tenaga Administrasi Sekolah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah. Jakarta: Lembaga Administtasi Negara. Reformasi Sistem Pelayanan Publik. J. 2001.

Kata Kunci: Problematika solusinya. namun demikian gudang buku dan perpustakaan sangatlah berbeda. bahkan ada birokrasi di dalamnya. Itulah kesamaannya. Tulisan ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. 1. Tentang perpustakaan itu sendiri. C. misalnya tipe A. tidak terlalu banyak orang yang berminat untuk mengkajinya. di sana ada pembukuannya. jelas bernuansa bisnis. baik itu secara konsep atau teori maupun secara empirikal. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah pada pendidikan dasar yang belum memiliki perpustakaan. di dalamnya terdapat buku-buku yang jumlahnya banyak. Sementara sekolah yang memiliki perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. Jurnal. ada aturan mainnya. Gudang buku identik dengan toko buku. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. baik dalam jenis. ada securitinya dan ada organisasi yang mengaturnya. Gudang buku mungkin bisa dikategorikan menjadi beberapa jenis atau tipe. fungsi. 56 . Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala di lapangan. Walaupun demikian. No. orang awam sekalipun tentu paham bahwa perpustakaan sangatlah berbeda dengan gudang buku walaupun terdapat banyak kesamaannya. April 2009 PROBLEMATIKA PERPUSTAKAAN SEKOLAH PADA PENDIDIKAN DASAR DAN ALTERNATIF SOLUSINYA Sri Marmoah Universitas Batanghari Jambi Abstrak Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. B. ada yang mengaturnya. menumbuhkan minat baca. sementara perpustakaan berorientasi sosial bukan untuk dijual. Kemiripan dari keduanya terletak pada sama-sama memiliki gedung. 4. dan seterusnya dan perpustakaanpun demikian. Perpustakaan Sekolah. manfaat dan tujuan serta aktifitas di dalamnya. alternatif PENDAHULUAN Ketika orang menyebut kata perpustakaan maka pikiran orang yang mendengar akan tertuju kepada sebuah tempat atau bangunan yang berisi banyak buku.

Dengan adanya perpustakaan sekolah diharapkan dapat memenuhi harapan sebagai tempat/sarana untuk menggairahkan semangat belajar. fasilitas kurang memadai. Perpustakaan tidak dianggap penting. salah satunya adalah perpustakaan sekolah. menulis. cerita. kondisinya belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan sebagai tempat/sarana untuk menggairahkan semangat belajar. Keempat. Jikapun ada. puisi termasuk membaca. Fakta yang ada di tiap-tiap sekolah adalah banyaknya sekolah-sekolah yang belum memiliki perpustakaan. antara lain lokasinya kurang nyaman/kondusif. bahwa perpustakaan sekolah sebagai perangkat pendidikan di sekolah merupakan bagian integral dari sistem kurikulum sekolah bersama dengan sumber belajar yang lain. koleksi buku terbatas. membuat karangan baru. Pada dasarnya keprihatinan kita akan kondisi perpustakaanlah yang membuat kita merasa perlu untuk melangkah secara serius dan lebih sistematis. Contoh guru memberi tugas ke perpustakaan kemudian siswa disuruh merangkum. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. pertama karena siswa pada pendidikan dasar untuk mendapatkan pengetahuan itu harus banyak membaca. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala. Tugas siswa lainnya mencakup bercerita. sikap. Pengelolaannya tidak profesional yang disebabkan oleh ketiadaan tenaga pengelola (pustakawan) yang profesional. kutbah yang dapat mengembangkan kemampuan berbicara. harus dimulai dari anak pada tingkat pendidikan dasar.Problematika Perpustakaan Sekolah masmedia dan sejenisnya juga tidak terlalu peduli dengan keberadaannya. dan berbicara maka peran dari perpustakaan sekolah itu sangat penting. Perpustakaan Sekolah bertujuan mendukung proses kegiatan belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan. Mengapa yang diteropong adalah perpustakaan sekolah. Ketiga. dikaitkan dengan pengembangan ketrampilan berbahasa baik membaca. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Kedua. Kita tidak tahu apa alasannya dan mengapa hal demikian itu yang terjadi. dikaitkan dengan pengembangan budaya baik budaya daerah maupun nasional siswa pada pendidikan dasar itu dapat diperoleh melalui perpustakaan. 57 . spiritual. menumbuhkan minat baca. berpidato. Mengapa pada pendidikan dasar. menulis. Karena dasar awal anak yang diperoleh dari pembelajaran di kelas juga di perpustakaan. dan dana yang terbatas. Memang perpustakaan sekolah menjadi objek yang kurang diminati di negeri ini. untuk dapat membaca perlu sarana. jam buka yang sangat terbatas. karena ada buku. pembinaaan intelektual. majalah. menumbuhkan minat baca.

Dengan demikian manajemen perpustakaan sekolah juga melaksanakan hal-hal tersebut disertai dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun tujuan sekolah. Saya yakin bahwa tulisan ini akan kembali mengingatkan kita tentang betapa besarnya peran perpustakaan sekolah dalam upaya mendukung keberhasilan pendidikan di lembaga itu dan tentunya mendukung tujuan pendidikan nasional. sehingga perpustakaan memang merupakan salah satu sarana sumber belajar yang harus dikelola dengan manajemen terbaiknya. Sedangkan menurut Sutarno (2006:20). Sedangkan prinsip-prinsip manajemen adalah dasar atau asas kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir dalam manajemen. Teori manajemen adalah suatu konsep pemikiran atau pendapat yang dikemukakan mengenai bagaimana ilmu manajemen untuk diterapkan dalam suatu organisasi. serta dana”. dkk. PEMBAHASAN Fungsi Manajemen Perpustakaan Sekolah Menurut Agus Sutoyo dan Joko Santoso (2001:189) “Manajemen perpustakaan adalah suatu proses kegiatan yang dilaksanakan perpustakaan untuk mencapai sasaran seefisien mungkin dengan mendayagunakan semua sumber daya yang ada. melalui jasa layanannya dan kegiatan perpustakaan lainnya yang menunjang kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolah. alternatif solusi mengefektifkan peran perpustakaan sekolah. kondisi riil perpustakaan sekolah di lapangan.Sri Marmoah Tulisan kecil ini akan membahas tentang segala problematika perpustakaan sekolah yang selama ini kurang diminati dan kurang diberi makna oleh sekolah dan stakeholdersnya. Dalam kenyataannya tidak semua teori dapat diterapkan sepenuhnya. idealnya perpustakaan sekolah ke depan. tetapi perlu modifikasi dan penyesuaian diantara keduanya. Ruang lingkup penulisan ini mencakup tentang manajemen perpustakaan ditinjau dari fungsi dan unsur-unsurnya. organizing 58 . 1995) maupun perpustakaan sekolah (Soelistia. Manajernen perpustakaan (Abdul Rahman Saleh dan Fahidin. sarana. 1995) melaksanakan fungsi manajemen sebagai dasar pengelolaannya. meliputi SDM. Dikaitkan dengan pendapat tersebut. manajemen perpustakaan adalah pengelolaan perpustakaan yang didasarkan kepada teori dan prinsip-prinsip manajemen. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan sumbangan konsep pemikiran tentang alternatif solusi dari segala problematika perpustakaan sekolah yang terjadi di lapangan selama ini. dapat dijelaskan bahwa manajemen perpustakaan tidak semata-mata berdasarkan teoritis tetapi bagaimana mengimplementasikan teori tersebut dalam praktek operasionalnya. yaitu planning (perencanaan). metode.

yaitu: a. tepat. Pengaturan pelayanan peminjaman yang efisien kepada staf pengajar maupun siswa. dan mengelola perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan para pemakainya. Organizing merupakan aspek manajemen yang menyangkut penyusunan organisasi manusia dan bahan atau materi. Ada beberapa hal penting yang harus dipikirkan dalam tahap perencanaan. pustakawan sekolah dapat bekerjasama dengan guru untuk menentukan materi atau bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat pendidikan. untuk menentukan keterampilan yang dibutuhkan oleh siswa. Kegiatan ini meliputi: a. Mengatur produksi sumber belajar dalam perpustakaan sekolah (jika d. dan akurat. Pengorganisasian (Organizing) Pengorganisasian atau pengaturan perpustakaan sekolah merupakan tanggung jawab pustakawan sekolah. Menjalankan suatu sistem yang memungkinkan sumber-sumber informasi dalam bentuk perangkat keras (jika dipusatkan). Lebih lanjut Soelistia. b. Perencanaan (Planning) Perencanaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam proses pengelolaan perpustakaan sekolah.Problematika Perpustakaan Sekolah (pengorganisasian). untuk membantu dalam penyediaan bahan sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. Bahan-bahan atau sumber informasi yang ada di perpustakaan perlu diatur sebaik mungkin sehingga guru maupun siswa yang memerlukannya dapat memperoleh dengan cepat. staffing (pengaturan staf). 2. b. Memberikan sistem yang fleksibel bagi siswa baik perorangan maupun kelompok. intisari penulisannya berikut ini: 1. 59 . Mengidentifikasi pemakai perpustakaan sekolah yang akan dilayani. directing (pengarahan). serta staf pengajar untuk menggunakan perpustakaan sekolah sebagai tujuan proses belajar mengajar. e. Menentukan tujuan perpustakaan sekolah Dalam menentukan tujuan. dkk (1995-26-3-21) menjelaskan tentang manajemen perpustakaan sekolah yang berpedoman pada lima aspek tersebut. dan controlling (pengendalian). c. Menyediakan sistem yang efisien mengenai pelayanan pemesanan bahan atau koleksi yang ada di sekolah.

dalam rangka 60 . termasuk perpustakaan. pemantauan. cemerlang. 4. Perpustakaan sekolah sebagai salah satu sarana sumber belajar yang merupakan bagian dari organisasi sekolah memerlukan sumber daya manusia (SDM) sebagai pengelola perpustakaan. Pengendalian (Controlling) Pustakawan sekolah harus menyadari pentingnya kontrol di suatu organisasi. 3. dan pembinaan staf sesuai tugas dan tanggung jawab yang diberikan berdasarkan kemampuan dan bidang keterampilan yang dimiliki. Pengarahan (Directing) Dalam konteks perpustakaan sekolah. perencana. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam aspek kontrol di perpustakaan sekolah diantaranya adalah: (1) selalu menyadari tujuan yang sedang dilaksanakan.Sri Marmoah ada). Oleh karena itu. bermental dan bermoral jujur. dan konsep yang brilian. Unsur-Unsur Manajemen Perpustakaan 1. dan pelayanan kepada staf. (2) menghindari kegiatan yang tidak efisien. 5. berkomunikasi dengan staf. seorang pustakawan sekolah harus mengetahui teknik dan proses yang diperlukan dalam seleksi dan penerimaan staf (staff recruitment). Manusia (Man) Pada dasarnya maju atau mundurnya sebuah perpustakaan akan sangat ditentukan oleh manusia-manusia yang mempunyai ide. dan mempunyai semangat untuk mengabdikan dirinya kepada kemajuan organisasi. training atau pelatihan staf. mau berkurban dan bermotivasi bekerja. Pengaturan Staf (Staffing) Staffing adalah kegiatan pengaturan. gagasan. Sementara itu untuk pengawasan dapat dilakukan. (3) evaluasi terhadap pelayanan yang telah dilakukan. dan f. Dalam kegiatan staffing ini. Mengawasi dan mengatur pekerjaan bagi pustakawan atau staf perpustakaan yang lain. baik dari dalam atau pengawasan melekat (built in control) maupun pengawasan dari luar (pengawasan fungsional). dan pelaksana yang handal. Dengan kata lain peran seorang pimpinan benarbenar diperlukan dalam mendorong staf yang dipimpinnya sehingga mereka dapat bekerja seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan yang diinginkan. pengarahan merupakan tanggung jawab pimpinan perpustakaan. perpustakaan sebaiknya memiliki tenaga-tenaga ahli pemikir. disiplin.

A process is a series of steps designed to produce an effect. sedangkan layanan dapat berupa jasa.. dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan. atau produk dapat berupa barang. Dengan kata lain manusia merupakan salah satu sumber daya utama dalam menggerakkan proses produksi pada suatu organisasi yang menghasilkan produk dan layanan. Seyogyanya 61 . sebab “Everything that happens in an organization is the result of a process. dan juga siswa pembantu . Dalam hal ini sumber daya manusia (SDM) pengelola perpustakaan sekolah adalah staf yang bekerja di perpustakaan. “ (Jac Fitz-enz. memberikan layanan terbaik kepada para pengguna jasanya.al.. et. All processes share a common pattern. antara lain layanan peminjaman buku dan layanan referensi. 11-000:6 1). et. Semua proses merupakan bagian pola umum. and they generate a product or a service .consume resources. guru.. dan “Staf perpustakaan sekolah dapat terdiri staf yang profesional. non profesional. 1995:973).Problematika Perpustakaan Sekolah menjaga eksistensinya. “ (Soelistia.. tenaga kependidikan di lingkungan sekolah dan bahkan masyarakat sekitarnya.al (1995:121-122) menjelaskan tentang keempat posisi staf (SDM) perpustakaan sekolah berikut ini: a. Pustakawan Sekolah Pustakawan adalah seseorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu perpustakaan. Layanan dalam bentuk jasa tersebut merupakan suatu proses produksi yang diberikan oleh sumber daya manusia (SDM) pengelola perpustakaan sekolah kepada para pengguna jasanya. yaitu para siswa. Lebih lanjut Soelistia. teknisi. Proses produksi di sini berlangsung dalam suatu organisasi termasuk perpustakaan sekolah yang merupakan bagian integral dari organisasi pendidikan (sekolah). Demikian pula halnya dengan perpustakaan sekolah yang menghasilkan jasa layanan dalam bidangnya. Proses adalah rangkaian langkah-langkah yang dirancang untuk menghasilkan suatu akibat. dan berkontribusi terhadap peningkatan prestasi belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dalam hal ini sumber daya manusia (SDM) diartikan sebagai “potensi manusia yang dapat dikembangkan untuk proses produksi” (Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mereka memerlukan sumbersumber dan menghasilkan suatu produk atau layanan). 1995:19). (Segala sesuatu yang terjadi dalam organisasi adalah merupakan hasil dari proses. They.

Pustakawan sekolah harus mempunyai kualifikasi dalam bidang pendidikan dan perpustakaan. penggandaan. Asisten pustakawan Sebagian besar tugas asisten pustakawan adalah “membantu” tugas pustakawan. Pertangggungjawabannya menurut aturan tertentu 62 . dan sebagainya. 2. Pengelolaannya akuntabel dan responsible e. asisten pustakawan dimasukkan ke dalam tingkat semi profesional. Sumbernya pasti b. Dari segi tingkatan kualifikasi pustakawan dimasukkan ke dalam tingkat profesional. sehingga mereka dapat memiliki pengalaman keterampilan informasi. Dari segi tingkatan kualifikasi. Orientasinya berdasarkan program (budget based on program) d. bagi murid dapat memiliki pengalaman bekerja dengan berbagai bahan pustaka. pengetikan kartu-kartu. d. Sukarelawan Murid Murid-murid dapat dilibatkan dalam kegiatan perpustakaan sebagai petugas sukarela dan senantiasa berada di bawah tanggung jawab petugas perpustakaan. Teknisi Teknisi adalah tenaga perpustakaan yang sepenuhnya bertugas mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat non profesi. baik di pelayanan sirkulasi. c. misalnya: pengagendaan. Penggunaannya menurut rencana c. menumbuhkan kesadaran dan kecintaannya terhadap buku serta rasa tanggung jawab yang besar.Sri Marmoah pustakawan sekolah berasal dari guru yang qualified atau memiliki pendidikan perpustakaan. referensi maupun pelayanan lainnya secara bergiliran. Sukarelawan murid ini sebaiknya diperbantukan di bagian pelayanan pembaca. pelabelan. Manfaat yang diperoleh tentu saja ada pada kedua belah pihak. terutama untuk jenis pekerjaan yang bersifat profesi. pelayanan peminjaman dan pengembalian bahan pustaka. Sumber Pembiayaan (Money) Prinsip-prinsip anggaran atau biaya perpustakaan itu antara lain: a. Sedangkan bagi staf perpustakaan lainnya dapat meringankan beban tugas/kerja di perpustakaan. b.

(b) perabot dan perlengkapan. dan mempermudah cara.Problematika Perpustakaan Sekolah f. h. mesin jilid. mempermudah dan menyederhanakan pekerjaan memperingan beban dan tugas. komputer. mesin foto kopi. g. mempercepat proses waktu kerja menghemat tenaga manusia (manual) menghemat biaya menghasilkan produk yang berkualitas memperbanyak hasil (luaran) meningkatkan performa dan kinerja perpustakaan 4. b. i. mengolah. Metode yang diterapkan di perpustakaan adalah untuk menghimpun. (c) koleksi bahan pustaka. baik spesifikasinya maupun jenisnya dan dipergunakan dengan baik dapat membantu meringankan tugas-tugas dan menunjang pekerjaan perpustakaan. baik oleh petugas maupun pemakai perpustakaan. Benda dan Barang Inventaris (Materials) Perpustakaan memiliki banyak sekali barang dan benda (materials) baik berupa inventaris. memperingan biaya (murah). Mesin-mesin yang biasanya diperlukan di perpustakaan antara lain mesin tik. sebuah metode yang dipilih untuk diterapkan di perpustakaan harus dapat membantu mempercepat waktu dan proses. maupun perlengkapan dan perabot serta sarana prasarana yang lainnya. mengemas. mesin fax. Metode tersebut harus jelas. Benda dan barang-barang tersebut harus diurus dan dipergunakan dengan baik. Benda-benda tersebut antara lain: (a) gedung dan ruangan. (e) sarana komunikasi dan transportasi. g. d. f. c. Sebuah metode yang dipilih jangan 63 . Semua jenis mesin tersebut dimaksudkan untuk: a. e. (d) mesin-mesin. dapat dipahami dan dilaksanakan serta dipergunakan. Metode (Methodes) Setiap perpustakaan tentu mempunyai suatu metode tertentu yang dipergunakan untuk menjalankan aktivitasnya. Jumlah anggaran diusahakan terus meningkat Pelaksanaannya selalu dapat dikontrol dengan baik Menerapkan sistem efektif efisien Tidak terjadi penyalahgunaan dan pemborosan anggaran Mesin-mesin (Machine) Pada dasarnya perangkat alat-alat yang berupa mesin-mesin yang tepat guna dan memadai. 5. Lebih daripada itu. menyimpan dan menyajikan serta memberdayakan informasi. 3. mesin pres. dan memperluas akses informasi.

atau prosedut dan tata cara guna meningkatkan kinerja penyelenggaraan kegiatan. dan mempermahal biaya. yang antara satu dan lainnya saling berhubungan. b. mekanisme. Terpenuhinya kebutuhan informasi bagi pengunjung. d. Oleh sebab itu. Pengadaan yang dimulai dari perencanaan kebutuhan koleksi bahan pustaka. proses seleksi berdasarkan alat-alat seleksi (selection tools). Terjadinya akses informasi. Layanan misalnya menggunakan sistem terbuka atau tertutup. mempengaruhi dan bahkan saling menentukan. c. bagaimana persyaratan keanggotaan. belum tentu baik untuk perpustakaan yang lain. Sistem. Sirkulasi atau peminjaman dan pengembalian koleksi bahan pustaka. Pengolahan. prosedur. tidak dapat berjalan baik. sangat diperlukan dalam rangka mempublikasikan perpustakaan sekolah. Yang dikategorikan metode atau sistem dalam perpustakaan mencakup: a. b. dan proses akuisisinya sendiri. dan menikmati hiburan batin dengan bacaan yang menyenangkan. 6. Yang dimaksudkan dengan pasar di sini adalah bahwa perpustakaan memenuhi syarat-syarat dan sifat-sifat yang memungkinkan terjadinya transaksi informasi. karena sangat tergantung kepada kebijakan dan pilihan masing-masing perpustakaan. d. penyiapan anggaran (untuk yang dibeli). metode dan tata cara lainnya yang dipergunakan di perpustakaan harus baku (standar). mana kala tidak diselenggarakan dengan suatu sistem atau mekanisme kerja yang tersusun dan terpola baik. Apa yang disebut sistem yang baik bagi sebuah perpustakaan? Hal ini sifatnya relatif.Sri Marmoah memperlama waktu. dan seterusnya. antara lain: a. sebuah metode dapat terdiri atas sebuah sistem. e. Pelanggan)/Customers Unsur yang keenam di dalam manajemen perpustakaan adalah pasar atau tempat di mana suatu transaksi (informasi) dapat dilangsungkan. mekanisme. Dengan istilah lain. Kunjungan orang-orang ke perpustakaan untuk membaca/belajar. suatu sistem yang baik untuk satu perpustakaan. mempersulit akses. yang dikerjakan dengan beberapa buku pedoman seperti dalam klasifikasi. Tersebarnya informasi dan termanfaatkannya informasi. katalogisasi. 64 . dan penentuan tajuk subjek dan lain-lain. Pasar (Pemakai. c. Promosi. dan peminjaman. terkait. Sistem biasanya terdiri atas beberapa sub sistem. Perpustakaan sebagai suatu pusat informasi.

Problematika Perpustakaan Sekolah f. Unsur pasar (market) di perpustakaan harus memenuhi kriteria antara lain: a. d. wewenang dan tanggung jawab. dan rekreasi. Fungsi perpustakaan sekolah tidak hanya sebagai sumber kegiatan belajar mengajar. f. Terselenggaranya layanan perpustakaan. lini dan staf. 3) Jabatan-jabatan. penyimpanan dan pemeliharaan berbagai jenis bahan pustaka. mengatakan perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah yang bermaksud menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal. toko buku. dikelola secara sistematis untuk digunakan sebagai informasi bagi pemakai perpustakaan. c. misalnya jalur atau lini. Perpustakaan sekolah dipandang sebagai unit organisasi karena perpustakaan sekolah merupakan bagian dari organisasi yang bernaung di bawah lembaga atau sekolah tersebut. yakni bentuk pembagian tugas. dan organisasi dewan atau panitia. Ada tempat (perpustakaan). b. tapi juga pusat penelitian sederhana. Sedangkan Soetopo (2002). Sebuah perpustakaan sebagai 65 . Ada staf layanan sebagai “penjual”. Kalau perpustakaan sekolah dipandang sebagai unit organisasi itu maka harus memiliki unsur-unsur sebagaimana layaknya sebuah organisasi. staf. baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya. Ada unsur penyedia informasi (penerbit. Perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka. 4) Prinsip-prinsip dan aturan permainan. Unsur-unsur itu meliputi: 1) Bentuk atau konfigurasi berupa bagan atau skema. Fungsi Perpustakaan Sekolah Perpustakaan adalah sumber informasi yang menyediakan segala keperluan bagi masyarakat pemakainya. yakni formasi jabatan yang harus diisi oleh orang-orang yang tepat sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Ada permintaan dan penawaran atau supplay and demmand informasi. Ada “pembeli” (pemakai perpustakaan). 2) Struktur atau kerangka. agen). Ada “perjanjian” (kesepahaman) atau ketaatan aturan layanan dan sanksi bagi mereka yang terlibat di dalamnya. e. fungsional.(Sutarno 2006: 46). Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang menyelenggarakan pengumpulan.

meja sirkulasi. Dalam surat keputusan pendiriannya harus memuat secara jelas tentang tugas. kerja sama. cepat. Unsur-unsur yang terkait dengan system layanan perpustakaan yaitu: kesiapan petugas layanan. 66 . keharmonisan komunikasi. Perpustakaan sebagai sebuah unit kerja atau unit organisasi perlu memiliki visi. baik secara lisan maupun melalui brosur dan media lainnya yang disediakan. dan memuaskan. meja informasi. Sedangkan bagi sekolah yang sudah modern dengan teknologinya maka hendaknya memberikan pelayanan prima. garis wewenang dan tanggung jawab. Petugas yang ada pada meja terdepan ini sangat diharapkan agar lincah. atau on line. tepat. Bagi perpustakaan sekolah yang mempunyai sarana layanan yang masih terbatas dan konvensional maka diupayakan agar dapat memberikan pelayanan minimal kepada pengunjungnya. serta struktur organisasinya. Kedua. Gambaran mekanisme sebagai suatu system layanan yang memuaskan akan terlihat jelas melalui suatu formasi layanan yang jelas diantaranya: pertama. cepat. peraturan dan tata tertib perpustakaan yang singkat. Tempat ini merupakan customer service yang terdepan diperpustakaan. dan pedoman standar dibidang layanan perpustakaan yang berlaku umum sehingga mudah dipelajari untuk dipraktekkan. Penerapan suatu sistem layanan di perpustakaan sekolah adalah dimaksudkan agar proses pemberian jasa layanan dapat berjalan dengan tertib. Formasi jabatan. kemampuan. terampil. Yang dimaksudkan adalah pelayanan yang berlangsung secara mudah. murah serta bermanfaat. pengalaman dan keterampilan. ramah dan berjiwa membimbing (users friendly). Oleh karena dunia ini sudah sangat inclusive maka system pelayanan minimal dianjurkan untuk berangsur-angsur ditinggalkan dan semua perpustakaan sekolah hendaknya menggunakan system pelayanan prima agar bisa mencapai sasaran pelayanannya yakni kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dalam hal ini adalah guru dan siswa. mudah dipahami dan dilaksanakan baik oleh petugas maupun oleh pelanggan. fungsi. misi. Sistem pelayanan prima ini tentunya didukung oleh teknologi industri seperti computer. baik fisik. persamaan persepsi antara petugas dan pelanggan.Sri Marmoah salah satu unit kerja memiliki unsur-unsur seperti organisasi. Meja informasi ini merupakan tempat pengunjung memperoleh informasi tentang alur layanan perpustakaan dari petugas. dan petugas atau pengisian karyawan. kemauan. mental. kesiapan peralatan dan perlengkapan sebagai penunjang. situs. teratur. adalah tempat pelaksanaan transaksi peminjaman dan pengembalian buku atau bahan pustaka lainnya serta penyelesaian administrasi. dan program kerjanya yang semuanya berorientasi kepada pelayanan yang memuaskan. jelas. sederhana. pedoman pengadaan anggaran dan ruang lingkup bidangnya.

Bagaimana dengan perpustakaan sekolah pada pendidikan dasar di SD dan SMP ?. sedangkan perpustakaan yang jumlah pengunjungnya relative banyak maka haruslah diupayakan mencapai standar pelayanan prima. kartu catalog sebagai wakil dari koleksi untuk ditelusuri. lemari (laci) catalog. Sistem pelayanan prima dengan menggunakan teknologi informasi. administrasi keanggotaan. peminjaman. Dari pernyataan di atas dapat digarisbawahi bahwa keadaan perpustakaan sekolah masih belum berkembang dan memerlukan penanganan segera. Keempat. dan pengaturan agar suasana diperpustakaan selalu tertib dan tenang. peningkatan dan pengembangan baik untuk sarana pendukung maupun system pelayanan tentunya selalu mengalami penyesuaian. Kelima. persyaratan dan proses keanggotaan dilaksanakan menurut ketentuan yang berlaku. dan rekreatif bagi komunitas sekolah. sangsi atas pelanggaran. computer. Semua itu merupakan alat atau media untuk memanfaatkan informasi diperpustakaan. adalah ketentuan-ketentuan tentang syarat menjadi anggota. Statement ini cukup beralasan karena perpustakaan sekolah berfungsi sebagai sarana edukatif. bagi yang menerapkan sistim anggota. Perpustakaan yang jumlah pengunjungnya masih terbatas perlu diupayakan mencapai standar pelayanan minimal. Kondisi Riil Perpustakaan Sekolah di Lapangan Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. adalah pengurusan keanggotaan perpustakaan. peraturan dan tata tertib layanan. kemudahan akses informasi. Perpustakaan sekolah pada jenjang pendidikan dasar ini sangat diperlukan terutama untuk membantu keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. Sarana pendukung dan mekanisme layanan perpustakaan sangatlah tergantung pada kompleksitasnya perpustakaan itu.Problematika Perpustakaan Sekolah Ketiga. Kemudahan akses informasi dan system temu kembali informasi agar pemanfaatan koleksi bisa optimal dan efisien. Semua prosedur. riset. Namun fungsi ini belum berjalan sebagaimana yang diharapkan karena tidak semua sekolah mempunyai perpustakaan. Tugas utama 67 . sebelum mencari ke tempat penyimpanan buku-bukunya. Keenam. internet yang dipergunakan untuk memberikan layanan perpustakaan perlu didukung oleh petugas layanan yang mampu menggunakannya agar dapat memandu pengunjung yang belum mahir menggunakannya. sementara sekolah yang mempunyai perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. menumbuhkan minat baca. dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. informatif. Jika jumlah pengunjung setiap tahun kecenderungannya meningkat maka upaya perbaikan.

sumber daya perpustakaaan yang rendah. dukungan dari kepala sekolah kurang dan keuangan yang sangat minim. Permasalahan merupakan kelemahan yang dapat berubah menjadi tantangan kelancaran pelaksanaan tugas / program. Ada banyak hal yang menyebabkan munculnya berbagai permasalahan pada perpustakaan sekolah. sehingga bahan-bahan pustaka harus dikaitkan dengan kurikulum sekolah. Contohnya kekuatan-kekuatan yang ada pada program perpustakaan sekolah antara lain dapat menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada tanpa harus memenuhi persyaratan tertentu/ ketat. waktu kunjungan terbatas. Weaknesses (kelemahan). kecil. Ada beberapa hal yang sering menghambat fungsi perpustakaan sekolah. mendorong siswa untuk belajar mandiri. Selain itu yang merupakan kekuatan adalah adanya koleksi buku yang memadai. menumbuhkan minat baca. sedangkan tantangan selalu berisi peluang. Maksud kekuatan dalam analisis ini adalah faktor-fakor yang mendukung penyelenggaraan program. Maksud kelemahan dalam analisis ini adalah permasalahan yang timbul dari penyelenggaraan program dan hasilnya.Sri Marmoah perpustakaan jenis ini adalah menunjang kurikulum. Menurut Sihombing (2000). SWOT merupakan singkatan dari kata Strengths (kekuatan). Sebagai contoh disebutkan bahwa lokasi perpustakaan di sekolah yang kurang strategis. Pertama. Sehingga pendekatannya menjadi SWOC. yang tidak mungkin dipenuhi oleh sekolah. sumber daya manusia yang berkompeten. Hal ini sesuai dengan UU RI No. dan ayat 3 yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki koleksi lain yang mendukung pelaksanaan kurikulum pendidikan. sebagai sumber pengetahuan. dan didukung oleh kebijakan pemerintah. koleksi buku yang terbatas. Pengubahan ancaman menjadi tantangan karena dia melihat bahwa ancaman kalau dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi peluang. Perpustakaan juga berfungsi untuk menggairahkan semangat belajar. Opportunity. Kedua. sehingga lebih cenderung menggunakan kata yang mengandung unsur positif yaitu tantangan (Challenges). kata Threats mengandung unsur yang negatif. dan Threats (ancaman). Kekuatan. Sarana perpustakaan yang tidak lengkap. serta diakui eksistensinya oleh semua pihak (masyarakat). Weakness. Permasalahan ini dapat kita lihat dengan menganalisis dengan SWOT (Strenghness. Kelemahan. Pertama.43 tahun 2007 tentang perpustakaan pada pasal 23 ayat 1. Perpustakaan sebagai sumber belajar di sekolah. Opportunities (peluang). yaitu setiap sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional pendidikan. tidak nyaman. Treath). terbatasnya ruang perpustakaan 68 . dan pengembangan potensi siswa serta pengembangan sosial budaya siswa. gudang ilmu.

Problematika Perpustakaan Sekolah di samping letaknya yang kurang strategis. Tantangan. melakukan promosi dan menyelenggarakan jaringan kerja sama baik dalam negeri maupun luar negeri. jenis koleksinya komposisinya 40% buku teks. Kurangnya ajakan untuk mengunjungi perpustakaan menjadikan anak asing terhadap perpustakaan. perpustakaan dikatakan ideal apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: berani memantapkan keberadaan lembaga perpustakaan sesuai dengan jenisnya. diperbaiki dan ditingkatkan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dalam usaha mencapai tujuan. pelayanan terhadap anggotanya dan koleksi buku-buku perpustakaan. dengan tanpa memperhatikan kesehatan dan kenyamanan. memiliki perabot yang memadai. Keempat. Sedangkan menurut Rachmananta. 43 Tahun 2007 dan adanya kebijakan dari Dinas Pendidikan tentang wajib adanya perpustakaan sekolah di setiap sekolah. Idealnya Perpustakaan Sekolah ke Depan Perpustakaan yang ideal harus memenuhi pedoman-pedoman diantaranya adalah lokasi. keterbatasan bahan pustaka. struktur organisasi perpustakaan jelas dan berjalan baik. baik dalam hal jumlah. administrasi. 30% buku 69 . melakukan upaya-upaya pengembangan dan pembinaan perpustakaan terus menerus dari segi sistem manejemen dan teknis operasional. 30% buku pengayaan. variasi maupun kualitasnya. Sedangkan menurut Sudarmono (2004) dalam pengembangan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar. Contoh perpustakaan sekolah swasta relatif lebih bagus daripada sekolah negeri. Ketiga. partisipasi pemakainya baik dan aktif. statis dan mudah puas. kriteria dari perpustakaan sekolah yang ideal adalah: adanya status kelembagaan yang kuat. Banyak perpustakaan yang hanya menempati ruang sempit. memiliki tempat baca yang memadai. tata ruang. Peluang. Sebagai contoh adanya dasar hukum yang kuat yakni dengan adanya UU No. Tantangan bukan penghambat. terbatasnya jumlah petugas perpustakaan (pustakawan). Maksud peluang dari analisis ini adalah hal-hal atau faktorfaktor dari luar program yang kalau dicermati dan dimanfaatkan dengan baik dapat menjadi tumpuan harapan dimasa depan. Tantangan dapat berubah menjadi peluang bagi perencana yang tidak berperilaku apatis. Kedua. Keempat. Ketiga. direbut. selalu meningkatkan mutu melalui pelatihan-pelatihan bagi tenaga pustakawan. kurangnya promosi penggunaan perpustakaan menyebabkan tidak banyak siswa yang mau memanfaatkan jasa layanan perpustakaan. Maksud tantangan dalam analisis ini adalah hal-hal yang harus diatasi. memiliki ruangan yang memadai. tetapi perangsang untuk mendorong perencana pendidikan luar sekolah untuk lebih kreatif dan dinamis.

pengorganisasian koleksinya teratur. koleksi sesuai dengan kebutuhan kurikulum. melakukan kegiatan promosi dan pemasyarakatan perpustakaan. Dalam Undang-Undang RI nomor 43 tahun 2007 pada bab III pasal 11 ayat 1 dijelaskan bahwa standar nasional perpustakaan terdiri atas: standar koleksi perpustakaan.Sri Marmoah fiksi. menjual peralatan sekolah. memiliki peraturan perpustakaan. koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan harus terus ditingkatkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. penjaga sekolah. memiliki program mitra perpustakaan. tetapi berupa buku-buku bacaan yang menarik minat siswa untuk membacanya. memiliki tenaga pengelola dengan kompetensi yang memadai. Kedua. memiliki sarana penelusuran informasi yang baik. memiliki program keberaksaraan informasi (literasi informasi). Perpustakaan yang ideal harus mengacu kepada standar nasional perpustakaan. sumber daya yang mengelola di perpustakaan adalah benar-benar seorang pustakawan bukan guru. dan adanya jam perpustakaan yang terintegrasi dalam kurikulum. memiliki program pengembangan minat membaca di kalangan siswa. Perpustakaan yang ideal dan tetap survive dengan perkembangan zaman. maka perpustakaan akan cepat berkembang. didukung dengan teknologi informasi dan komunikasi. standar tenaga perpustakaan. memiliki anggaran perpustakaan secara tetap. standar penyelenggaraan. adanya kerjasama dengan sekolah lain. yaitu berhubungan dengan dana dan untuk menambah pemasukan dapat mengembangkan entrepreneurship di perpustakaan. administrasi perpustakaannya tertib. standar pelayanan perpustakaan. seharusnya memenuhi kriteria berikut: pertama. diantaranya selain menjadikan tempat peminjaman buku pada masyarakat. Ketiga. perpustakaan juga membuka usaha lain seperti fotokopi. memiliki program pengembangan secara jelas dan terarah. Manajemen ini juga tergantung pada SDM dalam perpustakaan tersebut. standar sarana dan prasarana. Jika SDM-nya cukup berkompeten untuk membuat perpustakaan maju. serta judul buku bervariasi. bahkan makanan dan minuman. pelayanannya menyenangkan. Sudah saatnya perpustakaan tidak hanya berisi buku-buku paket. agar perpustakaan sekolah lebih efektif dan efisien dalam pengembangan perpustakaan harus menggunakan manajemen perpustakaan yang benar. 70 . atau seorang honorer yang diberi tugas tambahan untuk mengelola perpustakaan. Hal keempat. Mengacu kepada Undang-undang tersebut sudah semestinya agar perpustakaan sekolah menjadi ideal dan mampu menjawab tantangan masa depan harus memenuhi kriteria tersebut. serta souvenir. Cara yang ditempuh banyak sekali. dan standar pengelolaan.

c. Masyarakat sekitar perlu mendukung perpustakaan sekolah misalnya dengan memberikan bantuan buku-buku dan dana. Komite sekolah dan stakeholder harus memikirkan eksistensi perpustakaan sekolah agar dapat berhasil. pelatihan. a. h. e.Problematika Perpustakaan Sekolah Alternatif Solusi Mengefektifkan Peran Perpustakaan Sekolah. Memperhatikan problematika yang ada serta memperhatikan kondisi riil dan yang ideal maka penulis menawarkan beberapa solusi untuk memperbaiki kondisi yang ada. i. pengembangan SDM. Perpustakaan sekolah dapat bekerjasama dengan perpustakaan umum/daerah. k. Guru-guru harus mendukung pengembangan perpustakaan sekolah dengan wujud contoh gemar membaca dan menulis makalah. jurnal. Perlunya perpustakaan di setiap sekolah. d. kursus. dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan layanannya kepada siswa. hal ini akan sangat membantu mendorong dan mengembangkan minat kemampuan serta kebiasaan membaca yang pada gilirannya dapat membentuk sikap siswa untuk belajar mandiri. untuk dikumpulkan dan dijadikan koleksi perpustakaan. Perlu adanya kebijakan dari sekolah dan pemda untuk mengembangkan perpustakaan sekolah. pengembangan termasuk pendanaan. Perlu partisipasi dari semua pihak yang terlibat untuk memajukan perpustakaan sekolah. Guru wajib memberikan contoh kepada para siswa dengan rajin membaca di perpustakaan. berdaya guna bagi siswa. dll. Guru-guru sampai penjaga sekolah dilibatkan secara aktif untuk mengelola perpustakaan. dan kelas IX (SMP). 71 . f. Guru-guru yang penataran. m. Kerjasama dapat dilakukan dengan study visit untuk mengetahui koleksi apa saja yang sesuai untuk siswa pada usia anak-anak atau remaja. diwajibkan untuk memberikan hibah berupa buku-buku ke sekolah. Siswa akhir di sekolah kelas VI (SD). b. hal ini dalam rangka membudayakan peninggalan kenang-kenangan untuk sekolah. g. l. Diperlukan SDM/pustakawan yang profesional. Kepala sekolah sebagai manajer atau pimpinan perlu menjadwalkan secara khusus kunjungan ke perpustakaan. j. setelah selesai diwajibkan untuk memberikan copian baik berupa softcopi maupun berupa buku-buku. serta layanan apa saja yang ada di sana.

harus mengacu kepada fungsi manajemen yang mencakup perencanaan (planning). pengorganisasian (organizing). Sebagai contoh yaitu dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. atau yang belum memadai. dapat dicari solusinya dengan tiga hal yang disarankan yaitu: pertama. Perkembangan dari penerapan ICT dapat diukur dengan telah diterapkannya/ digunakannya sebagai sistem informasi manajemen (SIM) perpustakaan dan perpustakaan digital (digital library). Perpustakaan sekolah yang ideal harus mengacu kepada standar nasional perpustakaan. pengarahan (directing).Sri Marmoah Selain itu dengan pengelolaan (manajemen) perpustakaan yang baik akan dapat menarik para siswa senang berkunjung dan memanfaatkan sarana tersebut. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan. Perpustakaan sebagai sumber informasi di sekolah memiliki peran yang penting dalam menunjang kegiatan belajar mengajar. Agar efektif dan efisien dalam mencapai tujuan perpustakaan sekolah. 2. pelayanan sebaiknya dilakukan saat istirahat dan atau setelah keluar sekolah. 72 3. Sedangkan alternatif solusi bagi perpustakaan sekolah pemula. Kedua. untuk itu pelayanannya juga disesuaikan dengan kebutuhan siswa. pengaturan staf (staffing). dan pengendalian (controlling). dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri. Ketiga. Sebagai contoh yaitu dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. Pemanfaatan ICT sebagai sarana dalam meningkatkan kualitas layanan dan operasional telah membawa perubahan yang besar di perpustakaan. Dengan pengelolaan (manajemen) perpustakaan yang baik akan dapat menarik para siswa senang berkunjung dan memanfaatkan sarana tersebut. maka dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. menumbuhkan minat baca. sebaiknya perpustakaan dikunjungi oleh siswa sebagai tempat belajar setelah keluar sekolah. Eksistensi perpustakaan sekolah seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar. perpustakaan cukup melayani peminjaman buku kepada siswa untuk dibawa ke rumah dalam beberapa lama sesuai ketentuan. 4. . Alternatif solusi dalam pemecahan problematika perpustakaan sekolah dengan memberdayakan unsur-unsur manajemen yang ada pada lembaga sekolah. 5.

Fitz-enz. Kepala Sekolah sebagai manajer atau pimpinan sekolah perlu menjadwalkan secara khusus kunjungan ke perpustakaan. Menjadi Pintar: Memanfaatkan Perpustakaan Sekolah sebagai Sumber Belajar. Perpustakaan Nasional RI. 2002. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2004. dkk.Problematika Perpustakaan Sekolah Rekomendasi Saran yang dapat dikemukakan dalam rangka mencari solusi dari problematika perpustakaan sekolah. Perpustakaan Sekolah. The ROI of Human Capital (Measuring the Economic Value of Employee Performance). New York: AMACOM (American Management Association). Cetakan ke-2 Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. 73 . Pengelola perpustakaan dan tenaga kependidikan hendaknya saling berkoordinasi sebagai sarana untuk meningkatkan pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar yang menyenangkan. pengembangan SDM. Darmono. Memakai.. dan lain-lain. Depdikbud. Komite sekolah dan stakeholder harus memikirkan eksistensi perpustakaan sekolah agar dapat berhasil dan berdaya guna bagi siswa. ------------.al. pengembangan termasuk pendanaan. DAFTAR RUJUKAN Ali Lukman. Perlu adanya kebijakan dari sekolah dan pemda untuk mengembangkan perpustakaan sekolah. 2000. Jac. Jakarta: Universitas Terbuka. Guru dan tenaga kependidikan lainnya hendaknya mengarahkan peserta didik untuk lebih memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar untuk memperoleh informasi yang mereka inginkan. Jakarta: Balai Pustaka. 5. 4. 3. Malang: UM Press. Soelistia. 1992. 1995. Petunjuk untuk Membina. adalah : 1. Manajemen Perpustakaan Sekolah. 2. dan Memelihara Perpustakaan di Sekolah. et. 1995.

Sutoyo.Sri Marmoah Sutarno. Suatu Pendekatan Praktik. 2001. 74 . Manajemen Perpustakaan. 2006. Strategi dan Pemikiran Perpustakaan Visi Hernandono. dkk. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto. NS. Jakarta: Sagung Seto.

April 2009 PERILAKU KEPEMIMPINAN ENTREPRENEURSHIP KEPALA SEKOLAH Rokhmaniyah Universitas Negeri Jakarta Abstrak Tugas pokok Kepala Sekolah adalah mengelola kegiatan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. entrepreneurship harus dicontohkan oleh guru-guru dan kepemimpinan kepala sekolahnya. 1. Oleh karena itu. Hal ini ditunjukkan sebagai educator. Keefektifan suatu sekolah dalam menggapai visi. Selain itu. dan menjalankan aktifitas pendidikan mempersyaratkan adanya seorang kepala sekolah yang efektif. administrator (administrator). dan pencipta iklim kerja (climator). wirausahawan (entrepreneur). seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator). mengemban misi. pemimpin (leader). penyelia (supervisor). selama ini menunjukkan bahwa sebagian Kepala Sekolah agaknya masih belum memainkan peranannya secara optimal. Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya. kepala . dan pencipta iklim kerja (climator).Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. Kata kunci: perilaku sekolah. Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship.wirausahawan (entrepreneur). mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui). 4. Untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok. pemimpin (leader). ia belum mampu membimbing guru dan staf tata 75 kepemimpinan. penyelia (supervisor). administrator (administrator). seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik (educator). No. ia mampu bekerja keras dan berani menanggung risiko. pengelola (manager). Pengamatan sekilas di lapangan. kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Budaya kita adalah budaya paternalistik. Untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok. yaitu seorang kepala sekolah yang mampu mengelola sumber daya manusia maupun nonmanusia secara efektif dan efisien. pengelola (manager). Kepala sekolah adalah orang kunci yang menentukan sukses atau gagalnya sekolah dalam mencapai tujuannya. entrepreneurship. PENDAHULUAN Tugas pokok Kepala Sekolah adalah mengelola (memanaj) penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pembelajaran di sekolah.

Selain itu. dan memasarkan hasil unit produksi sekolah dan lulusannya. membangun memotivasi guru bekerja. membuat rencana strategik. Sebagai entrepreneur. dan Menyenangkan (PAKEM). Sebagai manager.Rokhmaniyah usaha dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Pada hal di era globalisasi sekarang ini secara khusus lebih dibutuhkan kepemimpinan enterprneurship agar lulusannya mampu menciptakan lapangan kerja bukan mencari pekerjaan. kepala sekolah belum mampu melaksanakan pengawasan secara ketat sehingga hasil praktik siswanya belum bernilai ekonomis dalam arti belum hemat biaya. hasil pembelajaran belum mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan pengalaman kewiraswastaan bagi siswanya. memberikan pendidikan yang bermutu bagi lulusannya sehingga dunia usaha dan industri mengeluh terhadap rendahnya mutu lulusan SMK. mutu. Dalam rangka pemberdayaan Kepala Sekolah. ia belum mampu bertindak kreatif dan inovatif. Belum memiliki perencanaan program sekolah yang mantap dengan pelaksanaan yang belum tepat. dan memiliki perilaku pemimpin. Kepala Sekolah dimaksud terbukti telah mampu memasarkan lulusannya. ia belum memiliki kemampuan manajerial seperti memenej sekolah. Sebagai climator. dan waktu (belum BMW). memiliki sifat-sifat pemimpin. ia belum mampu menciptakan budaya sekolah. bekerja sama dengan pengusaha. dapat mengurangi pengangguran bukan menambah pengangguran. 76 . mengambil keputusan. kreatif dan inovatif dalam membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. ia belum mampu memenuhi kriteria sukses. membaca peluang sekolah dalam meningkatkan minat calon siswa masuk ke sekolahnya. ia lebih disibukkan pada penyelesaian tugas administratif daripada edukatif. penulis ingin menyoroti perilaku entrepreneushipr kepala sekolah. lulusan akan memiliki life skill dan out come. menggunakan kekuasaannya dengan baik. memperbaiki sistem insentif. Sebagian Kepala Sekolah kita masih berperilaku lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas lulusannya. Hal ini jelas sebagai dampak dari perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah. Sebagai Supervisor. mengelola konflik dan stres. memotivasi siswa belajar. Efektif. motivasi guru dan siswa agar memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas. Masih lebih mementingkan pencapaian target kurikulum daripada kualitas daya serap siswanya. Sebagai leader. dan menciptakan suasana Pembelajaran yang Aktif. Kreatif. Akibatnya. mengkoordinasikan tugas-tugas stafnya. mengembangkan unit produksi sekolah. mampu membaca peluang tenaga kerja di dunia usaha dan industri (dui). Dengan demikian. dan mengelola waktu.

entreprendre yang artinya mengusahakan. Hakikat kepemimpinan adalah kegiatan seseorang menggerakkan orang lain agar orang lain berkenan melaksanakan tugas-tugasnya. mendorong. b. Joseph A. atau wiraswasta. 77 . Menurut Richard Cantillon dalam Leo-Paul Dana(1997). kepemimpinan merupakan motor penggerak bagi sumber daya yang dimiliki lembaga. Selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi entrepreneur yang artinya pengusaha. dan bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. d. dan menuntun orang lain dalam proses kerja agar berfikir. bersikap. entrepreneur berfokus pada seseorang dan untuk 200 tahun yang akan datang. Oleh karena itu kepemimpinan disebut sebagai fungsi organik dalam proses manajemen. Richard Cantillon (1730) adalah seorang yang disebut-sebut sebagai pencetus istilah entrepreneur untuk pertama kalinya. wirausaha. Kata entrepreneur berasal dari bahasa Prancis. Schumper dalam Peggy A Lambing & Charles R. Kuehl (2003) menggambarkan entrepreneur sebagai seorang yang membuat produk baru dan memasarkannya. Awal tahun 1934. mengajak. 2002) adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Entrepreneurship Entrepreneurship atau kewirausahaan atau kewiraswastaan merupakan kata benda dari entrepreneur. Berdasarkan definisi dan hakikat kepemimpinan di atas dapat disimpulkan bahwa proses kepemimpinan pada hakikatnya dapat muncul kapan dan dimanapun. para peneliti masih akan mendiskusikan apakah entrepreneur yang sukses merupakan bakat yang dibawa lahir atau tidak. c. Adapun kepemimpinan secara sederhana dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses mempengaruhi. apabila ada unsur-unsur: a. Menjelang pertengahan abad ke-18. Orang yang memimpin Orang-orang yang dipimpin Kegiatan atau tindakan penggerakkan untuk mencapai tujuan Tujuan yang ingin dicapai bersama Jadi.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah PEMBAHASAN Perilaku Kepemimpinan Perilaku (KBBI. menggerakkan.

kebebasan. ”One who reforms or revolutionises the pattern of production by exploiting an invention or. Selanjutnya. Rowe(2008). dan kreator. “Entrepreneur both innovator and creator. Sebenarnya di dalam kreator sudah termasuk inovator. Menurut beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa enterpreneurship ialah seseorang yang berusaha secara mandiri. Oleh sebab itu. an untried technological a new coomudity or producing either an old in a new way. Ketiga. Lambing dan Charles R. seorang entrepreneur adalah pengambil risiko. Ciputra dalam Andreas Harefa (2006) mengatakan bahwa sedikitnya ada tiga ciri-ciri utama seorang entrepreneur. pertama-tama yang perlu dimiliki oleh seorang entrepreneur adalah bakat memasarkan produk barang dan jasa. senang menghadapi tantangan. mengubah keadaan yang tidak/kurang menyenangkan menjadi keadaan yang diinginkan. Schumper di atas dikembangkan oleh Peggy A. Kedua. maka pertamatama yang harus diperhatikan adalah pemasarannya. Karena inovatif adalah salah satu gaya dari kreatif. Barang akan menumpuk dan akhirnya usaha akan bangkrut. Rodney Overton (2002) mendefinisikan enterpreneur sebagai. Tindakanlah yang membuat entrepreneur menjadi inovator.Rokhmaniyah Pendapat Joseph A. John J. Alan J. ia melihat kemungkinan dan memiliki visi untuk menciptakan sesuatu yang baru yang memicu semangatnya untuk bertindak.” (Seseorang yang membentuk kembali atau mengubah dengan cepat bentuk produksi melalui penggalian penemuan atau. Menurut Gifford Pinchot. Gifford Pinchot menyarankan sebelum seseorang memutuskan akan membuka usaha. Gifford Pinchot (1988) mengatakan bahwa Entrepreneur adalah orang yang mengintegrasikan bakat rekayasa dan pemasar dengan menciptakan proses dan jasa baru. seorang entrepreneur mampu melihat peluang bisnis yang tidak dilihat atau diperhitungkan oleh orang lain. Apalah artinya banyak barang dan jasa yang dihasilkan tetapi tidak laku dijual di pasaran. senang berpetualang. Pertama. keuntungan finansial. lebih umum. kreatif memiliki empat gaya: (1) intuitif yang berfokus pada hasil pengalaman masa 78 . baik risiko yang bersifat finansial (baca: rugi). psikis. Kao(1991) mendefinisikan. maupun yang bersifat mental (baca: dianggap gagal). more generally. menggunakan teknologi sebagai sebuah komoditi baru atau memproduksi yang lama dengan cara baru). Adapun. inovator dengan memperhatikan nilai waktu dan usaha. memperkirakan keuangan. Kuehl yang menyatakan bahwa seorang entrepreneur tidak hanya memproduksi barang dan jasa baru tetapi juga sebagai pencetus ide (gagasan) atau konsep baru. seorang entrepreneur adalah orang yang betindak untuk melakukan inovasi. berani mengambil risiko. kepuasan pribadi.

keindahan. (2) inovatif yang berkonsentrasi pada pemecahan masalah. (3) imajinatif yang dapat menggambarkan peluang. Sebagai seorang kepala sekolah yang entrepreneurship harus memiliki pribadi yang kreatif yang harus mau belajar mendisiplinkan dirinya untuk berurusan dengan tugas dan kewajibannya. Oleh sebab itu. Sebagai intrapreneur. sistematika. apakah sebagai seorang kepala sekolah telah menciptakan sesuatu yang berguna bagi pengembangan sekolah dan belum pernah ada sebelumnya. Walaupun dalam kesehariannya seorang kepala sekolah menghadapi tugas rutin yang tidak menyenangkan. senang menulis. lebih tepat disebut sebagai intrapreneurship. Mengingat Kepala Sekolah bukanlah seorang entrepreneur sejati karena ia tidak bekerja mandiri tetapi didukung oleh warga sekolah dan stakeholders-nya apalagi semua keuangan disiapkan oleh pemerintah atau yayasan untuk sekolah swasta. Berani menanggung risiko. dan berdasarkan data. bukan modal sendiri tetapi modal sekolah. Renungkan. berarti dapat dikatakan telah mampu berkonsentrasi dan melihat hal-hal secara lengkap baik itu berupa tugas-tugas sekolah maupun tugas pribadi.” Seseorang dapat membawa gaya kreatifnya sendiri pada suatu usaha dan tindakan itu bukan saja akan membuat usahanya berjalan lancar bahkan kelancaran usaha itu akan dapat terjadi disebabkan karena adanya kreativitas Anda tersebut. tetapi sebagai seorang entrepreneur harus mampu menemukan jalan untuk menyelesaikannya. kepala sekolah adalah seorang inspirator bagi munculnya ide-ide kreatif dan inovatif dalam mengelola sekolah. Singkatan dari intrasekolah dan preneurship. Howard Morhaim dalam Kathleen L. maka ia bekerja untuk sekolahnya sehingga semua tindakannya dibatasi oleh aturan-aturan sekolah. maka yang dimaksud dengan perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. bukan bekerja untuk sendiri tetapi untuk sekolah.” 79 . Hawkins (1993) memperingatkan dengan berkata. dan (4) inspiratif berfokus pada perubahan sosial dan memberikan ilham. dan berpikir di luar kebiasaan.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah lampau yang mengarahkan untuk bertindak. Bila telah merasa mendapat nilai tinggi dalam disiplin diri. Kepala Sekolah yang Berperilaku Enterpreneurship Berdasarkan pengertian perilaku kepemimpinan dan entrepreneurship di atas. Pandai membaca peluang dan mau bekerja keras. Refleksi atau menilai diri sendiri adalah menjadi kebiasaan. Kepala Sekolah tidak bebas mengatur dirinya sendiri tetapi masih diatur oleh sekolah.

Menjalin kerja sama dengan dunia industri atau dunia usaha adalah penting bagi kepala sekolah. Program sekolah tidak akan tercapai bila sekolah tidak pandai menjalin komunikasi baik dengan stakeholders. Seorang kepala sekolah harus dapat melaksanakan fungsinya sebagai pendidik(educator). pengelola(manager). penyelia(supervisor). Kepala sekolah yang entrepreneurship haruslah dapat bersifat luwes. Bila dalam usaha atau tidakan yang telah direncanakan mengalami ketidakberhasilan maka secara tulus segera meminta maaf dengan berusaha untuk memperbaikinya. dan pencipta iklim kerja(climator). Morhaim menambahkan. Untuk memperlancar kegiatan pembelajaran yang memusatkan pada life skill diperlukan dukungan dari orang lain / masyarakat / wali siswa / dunia industri / dunia usaha. Berani menanggung risiko sangat baik dibandingkan sibuk mencari pembelaan diri. pengendalian diri.Rokhmaniyah Selanjutnya. kepercayaan bawahan terhadap kepala sekolah tetap terjaga. dan teguh dalam perundingan kontrak. Dengan demikian. sebagai kepala sekolah yang berjiwa entrepreneurship harus mau mengembangkan dirinya dan menajamkan pikirannya sehingga mampu membaca peluang serta mampu menyelesaikan tugas sesuai dengan tujuan yang diharapkan.” kebanyakan agen yang berhasil dalam usaha mereka ialah orang-orang yang tenang dan mempunyai pikiran tajam yang tahu bagaimana melakukan sesuatu. dan kesadaran akan harga diri. Richardon menerangkan. administrator(administrator).” Artinya. Tindakan mengambil risiko berkaitan dengan pertumbuhan. pemimpin(leader). Sebagai intrapreneur. dapat menyesuaikan diri. dan mampu melihat berbagai cara pemecahan masalah.” Jika jangkauan perilaku Anda lebih luas dibandingkan orang lain. berlaku sopan. wirausahawan(entrepreneur). Perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah adalah ilmu dan seni mempengaruhi warga sekolah agar mau dan mampu bertindak sebagai intrapreneurship. Anda mempunyai cukup banyak variasi untuk mengendalikan dan mengarahkan situasi menurut kesukaan Anda. kepala sekolah adalah seorang inspirator bagi munculnya ide-ide 80 .” Dalam hal ini kepala sekolah dapat menerapkan kepemimpinan situasional. perubahan. Penguasaan kemampuan yang baik untuk berhubungan dengan orang-orang perlu dimiliki. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Kepala sekolah adalah orang kunci yang menentukan sukses atau gagalnya sekolah dalam mencapai tujuannya.

Jakarta: PT Alex Media Komputindo. New Jersey: Prentice Hall 81 . Overton. 2002. J. J. New Jersey: Prentice Hall.. Rekomendasi Untuk Kepala Sekolah Kepala sekolah hendaknya selalu meningkatkan kompetensi kepala sekolah khususnya kompetensi wirausahawan (intrapreneur) sehingga dapat memberi contoh dan motivasi terhadap warga sekolah. C. New Jersey: Prentice Hall. Are You An Entrepreneur? Singapore: Wharton Books. P. & Turla. Kerja sama dengan stakeholders harus senantiasa dibina dengan baik demi menghasilkan lulusan yang berkualitas. Pengawasan terhadap peningkatan kompetensi kepala sekolah hendakanya dilakukan secara rutinitas sehingga kepala sekolah termotivasi untuk selalu meningkatkan kinerjanya. 2003. Lambing. Upper Saddle River. Ltd . The Enterpreneur. & Kuehl. 1993 Kao. Upper Saddle River. (Diterjemahkan oleh Dabar Publisshers). DAFTAR RUJUKAN Andreas Harefa dan Eben Ezer Siadari. Hawkins. Solo: DABARA. 2003. Englewood Cliftts. L. Refleksi diri sangat penting dilakukan secara rutin sehingga dapat melihat tingkat keberhasilan dalam mengelola sekolah. A. P.A. Creative Intelegence Discovering the Innovative Potential in Ourselves and Others. Pandai membaca peluang dan mau bekerja keras. R. Untuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pendidikan dan latihan kepemimpinan entrepreneurship sangat penting diadakan untuk meningkatkan perilaku kepemimpinan entrepreneurship kepala sekolah. Upper Sadle River. A. 2006. Berani menanggung risiko.R. Ujilah Tingkat Kecerdasan Anda sebaga Seorang Wirausaha. Pte. 1991. 1993. Rowe. Enterpreneurship. The Ciputra Way: Praktik Terbaik Menjadi Entrepreneur Sejati.Perilaku Kepemimpinan Entrepreneurship Kepala Sekolah kreatif dan inovatif dalam mengelola sekolah. K. 2008.

Pendidikan bertaraf internasional yang bermutu adalah pendidikan yang mampu mencapai standar mutu nasional dan internasional. dan peningkatan daya saing secara nasional dan sekaligus internasional pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Selanjutnya. 1. dan kemampuan pemerintah daerahnya (kabupaten/kota dan provinsi). Kebijakan pemerintah dalam RSBI ditetapkan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah harus memiliki tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. Kata Kunci: Kebijakan Pemerintah. kondisi sekolah. Selain itu terdapat pula 16 kriteria seorang kepala sekolah yang memimpin RSBI. relevansi. Pendidikan bertaraf internasional yang efisien adalah pendidikan yang menghasilkan standar mutu lulusan optimal (berstandar nasional dan internasional) dengan pembiayaan yang minimal. seperti yang tertuang dalam Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) adalah: 1. Mandikdasmen Depdiknas Abstrak Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu aspek penting dalam komponen input pada sistem pendidikan nasional. Kepemimpinan Kepala Sekolah dan RSBI. efisiensi. Penetapan standar dan kriteria tersebut diarahkan untuk mewujudkan tujuan sebuah sekolah yang memiliki daya saing pada tingkat nasional dan internasional. 4. kondisi lingkungan. 82 3. April 2009 KAJIAN ATAS KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH PADA SMPN 115 JAKARTA SEBAGAI SALAH SATU RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI) Ujang Didi Supriadi Direktorat SMP Ditjen. PENDAHULUAN Dalam upaya meningkatkan mutu. orang tua. yaitu penyelenggaraan pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Pendidikan bertaraf internasional juga harus relevan. . berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan yang bertaraf internasional tersebut. maka upaya yang dilakukan oleh Pemerintah. baik untuk sekolah negeri maupun swasta.Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. No. maka Pemerintah telah menetapkan pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang bertaraf internasional. 2. masyarakat.

learning to live together. b. Era globalisasi yang menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam teknologi. minat. 4. 83 a. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. . proses belajar mengajar. relevan. empat pilar pendidikan yaitu learning to know. Pendidikan bertaraf internasional harus memiliki daya saing yang tinggi dalam hal hasil-hasil pendidikan (output & outcome). maupun internasional. diantaranya adalah: 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Nasional Pendidikan. maupun kebutuhan berbagai sektor dan sub sektornya. dan input baik secara nasional dan internasional. proses. c.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah 4. Dalam upaya peningkatan mutu. dan daya saing yang kuat. manajemen dan sumber daya manusia. nasional. baik kebutuhan individu. guru. sarana dan prasarana. menumbuhkan dan mengembangkan bakat. 2. 3. maka dalam penyelenggaraan SBI. Filosofi eksistensialisme berkeyakinan bahwa pendidikan harus menyuburkan dan mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitasi yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat. Dalam mengaktualisasikan kedua filosofi di atas. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 menetapkan skala prioritas utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional ke-1 tahun 2004-2009 untuk meningkatkan kualitas dan akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan. d. baik lokal. learning to do. yang dimulai dari kurikulum. beberapa alasan yang melatarbelakangi perlunya pendidikan bertaraf internasional yang selanjutnya disebut sebagai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). properubahan. Penyelenggaraan SBI didasari oleh filosofi eksistensialisme dan esensialisme. efisien. Menurut Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008). kebijakan yang dijadikan landasan oleh pemerintah adalah: Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sedangkan filosofi esensialisme menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi relevan dengan kebutuhan. and learning to be merupakan patokan berharga bagi penyelarasan praktek-praktek penyelenggaraan pendidikan Indonesia. hingga sampai penilaiannya. dan kemampuan peserta didik. keluarga. terutama pada Pasal 50 ayat 3.

4. namun berujung pada kualitas yang lebih tinggi lagi yaitu standar internasional. wirausahawan. dan nilai-nilai. 7. peran kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu aspek yang menjadi aspek yang paling penting. penyelia. maka tentunya akan dipimpin oleh seorang kepala sekolah dengan kemampuan berstandar internasional. Kemampuan mengambil keputusan secara terampil. Komitmen tersebut telah dituangkan ke dalam kebijakan pemerintah dalam pendidikan nasional seperti yang disampaikan di atas. administrator. 5. pencipta iklim kerja. 84 . Hal ini dikarenakan.Ujang Didi Supriadi Beberapa hal yang telah disampaikan di atas. Menggunakan input manajemen. tetapi tidak toleran terhadap orang-orang yang meremehkan kualitas. dan pembangkit motivasi. Salah satu aspek yang menjadi penting dalam upaya pemenuhan kualitas pendidikan yang berstandar internasional tersebut. Memiliki visi. proses. misi. Peningkatan kualitas tersebut tidak lagi berujung pada standar kualitas nasional. Kepala sekolah sebagai penanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan pada sekolah bertaraf internasional memiliki fungsi yang strategis. Tolerasi terhadap perbedaan pada setiap orang. Menjalankan dimensi-dimensi tugas. pemimpin. dan keterampilan personal. lingkungan. 2. Memobilisasi sumber daya. mengelola dan menganalisis sekolah. 9. Menurut Slamet PH (2004) seperti yang dikutip dalam Panduan Pelaksanaan Pembinaan SMP SBI diungkapkan bahwa kepala sekolah SBI harus memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. 6. Di dalam Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) telah dituliskan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah yang memimpin SBI adalah kepala sekolah dengan tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. 8. regulator. pendidik. dan strategi. Menggunakan sistem sebagai cara berpikir. standar prestasi. terlihat bahwa Pemerintah memiliki komitmen yang sangat tinggi dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Kemampuan dalam mengkoordinasikan menyerasikan sumberdaya dengan tujuan. sebuah sekolah yang berstandar internasional. Menjalankan perannya sebagai manajer. 3. pembaharu.

Mr. Sylviana Murni. 15. Dimana bila ditelaah melalui kebijakan pemerintah. Menggalan teamwork yang cerdas dan kompak. Mendorong kegiatan-kegiatan yang kreatif. memilih fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran. Ivan sebagai Pupil Development). Beberapa kriteria yang disampaikan di atas bahwa Pemerintah melalui kebijakan peningkatan kualitas pendidikan yang bertaraf internasional telah membuktikan bahwa kepala sekolah merupakan salah satu komponen dalam sistem pendidikan yang menjadi faktor penentu tercapainya kualitas pendidikan bertaraf internasional tersebut. Bpk. Adi Dasmin dan Mr. 14. Justin sebagai guru Bahasa Inggris. SH. 11. selanjutnya dari Dinas Pendidikan Nasional DKI Jakarta diwakili oleh Dr. Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam menjadikan SMPN 115 sebagai RSBI merupakan salah satu aspek penting untuk disampaikan pada makalah ini. para pejabat Kodya Jakarta Selatan. 13. Herman Cher Ma'in (Wakil Kepala Sekolah QSSS) dan disaksikan oleh 3 guru dari QSSS (Mr. dan dihadiri pula oleh seluruh Kepala Sekolah SMPN RSBI se-DKI Jakarta. Menerapkan manajemen berbasis sekolah. telah ditetapkan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah merupakan salah satu komponen input yang turut menentukan tercapainya kualitas pendidikan bertaraf internasional. Menciptakan sekolah belajar. dan 16. Memusatkan perhatian pada pengelolaan proses belajar mengajar. Menjalankan gejala empat serangkai. yaitu merumuskan sasaran. Sebagai upaya peningkatan mutu internasional. Hj. 12. MSi selaku Kepala Dinas. pada bulan Maret 2008 SMPN 115 telah melakukan kerja sama kepada Queensway Secondary School Singapore (QSS). Gary sebagai guru ICT dan Mr. Salah satu sekolah yang telah terpilih menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) adalah SMP Negeri 115 sejak tahun 2007.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah 10. Penandatanganan ini dilakukan oleh Kepala Sekolah Semabel's. Memberdayakan sekolah. melakukan analisis SWOT dan mengupayakan langkah-langkah untuk meniadakan persoalan. 85 .

Dari aspek karakteristik dibedakan antara karakteristik pemimpin (leader) dengan karateristik manajer. Own person (mengakui tanggung jawab ada pada pemimpin). Keberhasilan sebuah organisasi sangat bergantung dari keberhasilan peran pemimpin. Challenges the Status quo (menentang kemapanan). melalui gayanya tersebut. Luthans (2002: 576) menegaskan bahwa karakteristik pemimpin di Abad XXI adalah: Innovates (menciptakan sesuatu yang baru). dan ia mengerjakan yang benar. Pemimpin memiliki karakteristik selalu memiliki upaya untuk menciptakan hal yang baru (selalu berinovasi). Gagasannya memiliki prespektif jangka panjang. Focuses on people (terkonsentrasi pada manusia). Asks what and why (ia menanyakan apa dan mengapa). Ia bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh bawahannya. bertanya (Democratic). Selain itu menurut Dubrin (2001:3) bahwa kepemimpinan itu adalah kemampuan untuk menanamkan keyakinan dan memperoleh dukungan dari anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Eye on the horizon (berpandangan sama pada sesamanya). Ia menentang status quo. 2002: 577). Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan. seorang pemimpin ada kalanya pemimpin tidak memberi kesempatan pada bawahannya untuk bertanya ataupun minta penjelasan (Authoritarian). Does the right thing (mengerjakan yang benar). Inspires trust (menghidupkan rasa percaya). ada kalanya pemimpin memberi kesempatan bawahan untuk berdiskusi. dan ada kalanya pemimpin itu membiarkan kondisi yang ada terserah pada bawahan (Laissez -fair) (The Iowa Leadershi Study) (Luthans. Pemimpin selalu berupaya untuk mengembangkan apa yang ia lakukan. sehingga kepemimpinan menjadi sangat penting perannya dalam sebuah organisasi. Longrange perspective (memiliki prespektif jangka panjang). Originates (memiliki keaslian).Ujang Didi Supriadi LANDASAN TEORI Kepemimpinan Kepala Sekolah Setiap organisasi selalu dipimpin oleh seorang pemimpin. Develops (mengembangkan). An original (asli dari pemimpin). Kepemimpinan menurut Northouse (2003:3) merupakan suatu proses dimana individu mempengaruhi kelompok untuk mencapai tujuan umum. Ia percaya pada bawahan. ia tidak puas dengan apa yang ada. Gagasan-gagasan yang dimiliki oleh pemimpin merupakan gagasan sendiri tidak meniru ataupun mencontoh gaya kepemimpinan orang lain. dan selalu menyalakan api kepercayaan pada anggota organisasi. 86 . Ia bertanya pada bawahannya dengan pertanyaan apa dan mengapa?. Kepemimpinan itu ada pada diri pemimpin/manajer.

2002: 619627). Gaya kepemimpinan yang mendasarkan pada dua dimensi yaitu perhatian terhadap tugas (Concern for Task) dan perhatian terhadap karyawan (Concern for People) telah melahirkan teori gaya kepemimpinan yang terkenal dengan The Blake and Mouton Managerial Grid. Berikutnya berkembang pula gaya kepemimpinan situasional yang dikembangkan oleh Harsey dan Blanchard yang kemudian dikenal dengan Harsey dan Blanchard’s Situational Leadership Model. manajer ataupun pimpinan memiliki peran (role). teori Kelompok dan Tukar Menukar (Group and Exchanges Theories). Supportive. teori Kepemimpinan Transformasional (Transformational Leadership Theory) (Luthans. Gaya kepemimpinan tersebut telah mendasari teori Tannebaum and Schmidt Continuum of Leadership Behavior. 2002: 579-589). menjelaskan. teori Jalur dan Tujuan (Path-Goal Leadership Theory). Informational Roles. Human relations. Autocratic. (7) menetapkan tujuan dan menjelaskan visi. Studi klasik tentang teori kepemimpinan telah mengembangkan gaya kepemimpinan yang kontinum Boss-Centered dan Employee Centered. Pimpinan memiliki peran Interpersonal Roles. (8) memiliki kesadaran diri. Directive). 87 . (9) membangun kerja tim. didapatkan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa kepemimpinan ditujukan pada penyelesaian tugas atau orientasi pada sasaran (Initiating Structure). (5) memotivasi dan mempengaruhi orang lain. Employee-Centered. Networking. (2) mengelola waktu dan stress. Close. General. Democratic. dan memecahkan permasalahan. Decisional Roles. dan (10) mengelola konflik (Luthans. Selanjutnya penelitian dilanjutkan oleh The Early Michigan Leadership Study menunjukkan bahwa kepemimpinan itu adalah perhatian terhadap karyawan (employee-centered) dan juga perhatiannya terhadap proses produksi (production-centered). Komponen dari Boss-Centered (meliputi: Theory X. kegiatan. dan pengakuan terhadap kebutuhan individu dan hubungan (Consideration). (3) mengelola pengambilan keputusan. Consideration. Traditional Management. Serta skill bagi pemimpin adalah: (1) komunikasi verbal. Sedangkan Employee Centered memiliki komponen: Theory Y. dan skill. toeri Kepemimpinan Karismatik (Charismatic Leadership Theories). Pembahasan kepemimpinan juga dikaji tentang gaya kepemimpinan (Leadership Style). (6) mendelegasikan wewenang. Task-directed. dimana pada akhir Perang Dunia ke 2. teori Contingency. Participative. dan Human Resource Management.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah Studi dilakukan oleh The Ohio State Leadership Study. Kajian terhadap teori kepemimpinan terus berkembang pada teori Sifat (Trait Theories). Sebagai pemimpin. (4) mengakui. Production Centered. Initiating Structure. Sedangkan kegiatan mereka adalah: Routine Communication.

maka fokus desentralisasi pendidikan yang dilakukan adalah pada pelimpahan kewenangan yang lebih besar kepada pemerintah lokal atau kepada Dewan Sekolah. maka desentralisasi pendidikan lebih difokuskan pada reformasi 88 . tujuan dan orientasi dari desentralisasi pendidikan sangat bervariasi berdasarkan pengalaman desentralisasi pendidikan yang dilakukan di beberapa negara Amerika Latin. Menurut Alisjahbana (2000). Sedangkan menurut Lasswell (1951b). desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah. dan apa akibat dari tindakan tersebut. yaitu: pertama. maka pengertian dari kebijakan pendidikan merupakan sebuah pilihan stratejik yang dilakukan pemerintah karena berkaitan dengan kepentingan masyarakat banyak di bidang pendidikan.Ujang Didi Supriadi Kebijakan Pendidikan Pengertian kebijakan publik menurut Thomas R. atau dengan kata lain kebijakan publik merupakan studi tentang apa yang dilakukan pemerintah. dan kedua. desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan dalam hal kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah (propinsi dan distrik). Jika yang menjadi tujuan adalah pemberian kewenangan di sektor pendidikan yang lebih besar kepada pemerintah daerah. Konsep desentralisasi pendidikan yang pertama terutama berkaitan dengan otonomi daerah dan desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan dari pusat ke daerah. seperti yang dikutip oleh Parson (2005). kata kebijakan umumnya dipakai untuk menunjukan pilihan terpenting yang diambil baik dalam kehidupan organisasi atau privat. mengapa pemerintah mengambil tindakan tersebut. Kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan diungkapkan oleh Alisjahbana (2000) memiliki dua jenis desentralisasi pendidikan. sedangkan konsep desentralisasi pendidikan yang memfokuskan pada pemberian kewenangan yang lebih besar pada tingkat sekolah dilakukan dengan motivasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Atas dasar pengertian di atas. Dilain pihak. Sehingga kebijakan bebas dari konotasi yang dicakup dalam kata politis yang sering kali diyakini mengandung makna keberpihakan dan korupsi. dana pendidikan yang berasal yang pemerintah dan masyarakat). Dye dalam Parson (2005) adalah : “public policy is whatever governments choose to do or not to do”. Amerika Serikat dan Eropa. Implisit ke dalam strategi desentralisi pendidikan yang seperti ini adalah target untuk mencapai efisiensi dalam penggunaan sumber daya (school resources. jika yang menjadi tujuan desentralisasi pendidikan adalah peningkatan kualitas proses belajar mengajar dan kualitas dari hasil proses belajar mengajar tersebut.

Kajian Atas Kebijakan Pemerintah proses belajar-mengajar. Desentralisasi pendidikan akan meliputi suatu proses pemberian kewenangan yang lebih luas di bidang kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat kepemerintah lokal dan pada saat yang bersamaan kewenangan yang lebih besar juga diberikan pada tingkat sekolah Selanjutnya menurut Alisjahbana (2000). desentralisasi pendidikan yang dilakukan di banyak negara merupakan bagian dari proses reformasi pendidikan secara keseluruhan dan tidak sekedar merupakan bagian dari proses otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Tipologi Kewenangan-kewenangan Pendidikan yang Dapat Didesentralisasikan Sumber: Alisjahbana (2000) 89 . Partisipasi orang tua dalam proses belajar mengajar dianggap merupakan salah satu faktor yang paling menentukan. Dalam kenyataannya. tipologi komponen-komponen sektor pendidikan yang dapat dipertimbangkan untuk didesentralisasikan dapat dilihat dalam Tabel 1 berikut: Tabel 1.

Tapi juga diimplementasikan dalam manajemen sekolah (pendidikan) yang di dalamya 90 . sarana dan prasarana. Kombinasi prestasi akademik dan non akademik. Prestasi yang diraih adalah sebagai sekolah dengan rata-rata nilai UAN tertinggi di DKI Jakarta selama 3 tahun terakhir. Sekolah ini berlokasi di Jalan Tebet Utara III Jakarta Selatan. Setelah berjalan 20 tahun gedung yang ditempati SMP Negeri 115 Jakarta akhirnya direnovasi oleh Pemda DKI Jakarta yaitu pada tahun 2001. ditambah konsep pembelajaran berwawasan global yang bertujuan mengembangkan potensi diri peserta didik. Pemerintah menetapkan SMPN 115 Jakarta sebagai salah satu Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). profesional untuk mencapai keunggulan mutu pendidikan baik nasional maupun internasional dengan karakteristik seperti penggunaan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya sebagai bahasa pengantar secara aktif dan penggunaan ICT (Information and Communication Technology) dalam pembelajaran. Selama dua setengah tahun renovasi gedung itu berjalan.Ujang Didi Supriadi PEMBAHASAN Kepemimpinan Kepala Sekolah SMP N 115 dalam Membangun RSBI SMP Negeri 115 Jakarta merupakan sekolah yang berdiri sejak tahun 1978. Hal ini tentu tak terlepas dari pembinaan para guru dan kepemimpinan kepala sekolah. bahkan SMP Negeri 115 Jakarta ini merupakan pemasok terbesar siswa-siswi SMA Negeri 8 Jakarta yang merupakan sekolah SMA unggulan di DKI Jakarta. telah tercatat berbagai prestasi yang telah diraih oleh siswa-siswinya. dan pada awal tahun 2005 renovasi selesai dan mulai menempati gedung baru yang megah. Dari tahun-ke tahun hingga kini banyak lulusan SD se-DKI Jakarta yang berlomba-lomba ke SMP Negeri 115 Jakarta Sejak tahun 2008. Tekad kepemimpinan kepala sekolah berserta seluruh komponen sekolah untuk menjadikan SMPN 115 sebagai sekolah bertaraf international tidak saja direalisasikan dalam pengadaan berbagai fasilitas. telah menempatkan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 115 Jakarta sebagai 'prototype' Rintisan Sekolah Bertaraf International (RSBI). Selain itu prestasi lainnya seperti di Olimpiade Sains Nasional maupun ajang kompetisi lokal dan internasional telah memotivasi sekolah ini menjadi SBI. maksudnya adalah sekolah ini memiliki kelas berstandar pendidikan internasional yang ditunjukan dengan penyelenggaraan pendidikan beserta segala aspek intensitas dan kualitas layanan yang ditata secara efektif. SMP Negeri 115 Jakarta atau sering disebut SMABELS.

pemberdayaan peran guru sangat dimaksimalkan dimana para guru harus memahami situasi dan prestasi anak didik sehingga semua permasalahan yang muncul di kelas harus segera ditangani secara bersama. sarana olahraga dan kreativitas seni. terlihat bahwa kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki visi prestasi hingga mencapai tingkat internasional akan mampu mendorong sekolah untuk mewujudkan visi tersebut. Seluruh siswa dan siswi memiliki kesempatan sama besarnya untuk berprestasi baik di dalam dan di luar pelajaran. untuk menuju sekolah internasional juga diimplementasikan melalui penerapan Kelas Bilingual dan Kelas Internasional yang diisi oleh siswasiswi pilihan dan dalam proses belajar mengajar dominan menggunakan bahasa asing. perpustakaan. kepemimpinan kepala sekolah sangat menekankan pada kelengkapan fasilitas belajar dan mengajar. Untuk prestasi di luar pelajaran (ekstra kurikuler) seperti lewat pentas seni (band. Kepemimpinan Kepala Sekolah memiliki visi bahwa konsep SBI sesungguhnya telah sejalan dengan visi dan misi SMPN 115 yaitu menjadikan peserta didik yarig cerdas dan kompetitif di tingkat nasional maupun international. Untuk mendukung prestasi sekolah. tari. Guna mencapai visi tersebut. Selain itu. unggul dalam prestasi akademik dan non akademik melalui peningkatan ketaqwaan. misalnya pengadaan laboratorium IPA. kepemimpinan kepala sekolah mencoba melakukan pendekatan kepada seluruh siswa selama di sekolah dengan menempatkan wali kelas dan guru pendamping untuk memantau proses belajar mengajar. Selaku kepala sekolah. laboratorium bahasa. Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan di atas. SDM (guru dan tenaga kependidikan) pemanfaatan fasilitas. metode. Sejak berdiri 1978 sebagai sekolah reguler. Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Luthans (2002: 576) bahwa salah satu karakteristik pemimpin di Abad XXI adalah memiliki prespektif jangka panjang (Longrange perspective). kepemimpinan kepala sekolah SMP N 115 tidak 91 . orkestra & paduan suara) telah mencapai juara I Pop Song Interasional. Selain itu pula telah berhasil dalam kejuaraan olahraga yang membawa SMPN 115 juara lomba renang tingkat regional di Thailand. pengembangan diri dan kemampuan menguasai iptek di era globalisasi. termasuk memberikan dukungan penuh kepada siswa dalam upaya meraih 2 medali di Olimplade Sains Nasional 2007 di Surabaya Jawa Timur. SMPN 115 telah menyelenggarakan proses pembelajaran dengan orientasi prestasi. moral.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah mencakup kurikuluin. Artinya.

melakukan kerja sama dengan lembaga lain. Kebijakan Pemerintah dalam Mengembangkan Kepemimpinan Kepala Sekolah pada Sekolah Bertaraf Internasional Kebijakan pemerintah dalam kualifikasi kepemimpinan kepala sekolah pada SBI diterangkan pada Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) telah dituliskan bahwa kualifikasi seorang kepala sekolah yang memimpin SBI adalah kepala sekolah dengan tingkat pendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara aktif. Sehingga adanya kebijakan baru tentang SBI telah memudahkan SMP N 115 dalam meraih predikat tersebut. kepemimpinan kepala sekolah telah pula menjalankan fungsi Networking dengan melakukan kerja sama kepada sekolah internasional yang berbasis di Singapura. yaitu Queensway Secondary School Singapore (QSS). Upaya pencapaian visi tersebut tidak hanya terbatas dalam prestasi akademik dan non-akademik. Sehingga karakteristik kepala sekolah yang tangguh dan berwawasan internasional dapat tercapai secara bertahap dan berkelanjutan. namun visi membangun prestasi sekolah yang unggul telah diinspirasikan untuk jangka panjang jauh sebelum pemerintah mengeluarkan kebijakan SBI. Sehingga melalui kemampuannya dalam berbahasa Inggris tersebut. 92 . kepala sekolah yang bertaraf internasional harus memiliki tingkat pendidikan minimal S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A. dan sebagainya. magang. Pada Panduan Pelaksanaan SMP SBI (2008) juga disampaikan bahwa di semua sekolah yang telah bertarafkan internasional. menajemen. Kerja sama ini dilakukan sebagai upaya untuk saling tukar-menukar informasi dalam menjalankan manajemen pendidikan. Adapun materi pengembangan kapasitas tersebut diantaranya dalam hal kemampuan intelektualitas. kepribadian. penguasaan teknologi informasi dan telekomunikasi. Untuk mendukung kualitas sekolah. bahasa Inggris. memiliki kewajiban dalam upaya meningkatkan kapasitas kepala sekolahnya melalui berbagai kegiatan. Persyaratan ini telah dipenuhi oleh Kepala Sekolah SMPN 115 Jakarta yang telah menempuh pendidikan pasca sarjana (S2) dan kemampuanya dalam berbahasa Inggris. manajemen ISO 9000:2001. komunikasi.Ujang Didi Supriadi hanya ingin mencapai prestasi di tingkat nasional. dan sebagainya. Di dalam hal tingkat pendidikan yang harus ditempuh. sehingga kedua sekolah dapat saling belajar keunggulan-keunggulan yang dimiliki. diantaranya adalah pelatihan. keterampilan dalam berbagai bidang. kepemimpinan kepala sekolah dapat menjalin komunikasi dan kerja sama kepada sekolah berskala internasional di Singapura.

peran Dinas Pendidikan Kabupaten dan Provinsi dalam meningkatkan kapasitas kepala sekolah dapat dilakukan sebagai pembinaan. desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan dalam hal kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah (propinsi dan distrik). dan peran sekolah melalui kepemimpinan kepala sekolah dalam menjalankan kebijakan sekolah bertaraf internasional. 93 . Pada dimensi ini peran pemerintah (baik pusat maupun daerah) memberikan kebijakan sebagai arah masa depan pendidikan sehingga format pendidikan secara nasional memiliki keseragaman yang akan dicapai. Kebijakan pemerintah dalam memberikan kualifikasi kepemimpinan kepala sekolah dalam memimpin sebuah sekolah yang bertarafkan internasional telah mendukung percepatan pencapaian tujuan yang ingin dicapai. adalah desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah. seperti yang telah dijalankan oleh SMPN 115 Jakarta. KESIMPULAN Kepemimpinan memiliki peran yang paling strategis dalam mencapai tujuan organisasi. dan pengarahan. dalam kebijakan di bidang pendidikan memiliki dua jenis desentralisasi pendidikan. yaitu peran pemerintah sebagai payung kebijakan pengembangan pendidikan bertarafkan internasional. maka dapat dilakukan dengan menerapkan kebijakan desentralisasi. Peran tersebut harus mengedepankan aspek profesionalitas dan kualitas dalam pengembangan kepemimpinan kepala sekolah bertaraf internasional. Di dalam penerapannya. Selanjutnya pada dimensi kedua. Demikian halnya dalam mencapai tujuan organisasi pendidikan yang diarahkan memiliki taraf kualitas internasional. kebijakan pendidikan dalam upaya mewujudkan sekolah yang berstandarkan internasional melalui peningkatan peran kepemimpinan kepala sekolah. penempatan/pengangkatan.Kajian Atas Kebijakan Pemerintah Selain itu. yaitu: pertama. Desentralisasi pendidikan tersebut telah membagi dua peran yang saling menunjang. Dalam hal ini peran kepemimpinan kepala sekolah sangat dominan dalam membawa sekolah menuju prestasi internasional. Seperti yang telah diungkapkan oleh Alisjahbana (2000). pembimbingan.

Luthans. Organizational Behavior. Fred. Dubrin. 2003. Wayne. Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan. Third Edition. Tahun 2008. 2001. Boston: Houghton Mifflin Company. 2005. Departemen Pendidikan Nasional. Leadership: Theory and Practice.Ujang Didi Supriadi DAFTAR RUJUKAN Alisjahbana.Public Policy: Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan. Practices. Jakarta: Penerbit Kencana. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama. and Skills. Armida S. Makalah untuk disampaikan pada Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung. 2002. 2000. Dokumen: Panduan Pelaksanaan Pembinaan Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraf Internasional (SMP-SBI). P. 94 . New Delhi: Response Book. Singapore: McGrawHill International Editions Northouse. Leadership: Research Findings. Third Edition. J. Parsons. A. Ninth Edition.G. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah cukup strategis dalam mengembangkan KPP sekaligus mengembangkan kompetensi sesuai tuntutan peraturan dan tuntutan perubahan zaman. collective focus on student learning. Siswa. Siswa belajar ilmu-ilmu pelajaran untuk bekal hidup. Selama tiga puluh tahun belakangan ini kajian tentang KPP terus dilakukan sebagai upaya pengembangan dan inovasi sekolah. Kata Kunci: Komunitas pembelajaran profesional. Kajian tentang school effectiveness berkembang cukup pesat sebagai usaha mengkaji keefektifan sekolah. pemimpin PENDAHULUAN Sekolah merupakan tempat transaksi pembelajaran berlangsung. 4. collaboration dan shared norms and values. PMPTK Depdiknas Abstrak Kajian tentang Professional Learning Community (PLC) atau Komunitas Pembelajaran Profesional (KPP) telah dilakukan oleh peneliti pendidikan dan dipublikasikan dalam beberapa jurnal ilmiah. Meski demikian penelitian tentang efek KPP terhadap nilai siswa belum banyak dilakukan. 1. Kepala sekolah dituntut untuk menjadi pemimpin pembelajaran dalam artian bahwa semua warga sekolah dipimpin untuk terus meningkatkan mutu pembelajaran mereka. tenaga administrasi dan seluruh warga sekolah sudah seharusnya terus belajar dan mengembangkan diri menjadi pembelajar agar keberhasilan sekolah terwujud. Hasil-hasil kajian sekolah telah banyak digunakan pengambil kebijakan untuk menentukan arah pembangunan pendidikan 95 .Jurnal Tenaga Kependidikan Vol. de-privatization of practice. Dari beberapa kajian tersebut karakteristik KPP yang mendukung keberhasilan pembelajaran adalah adanya reflective dialogue. pembelajaran. guru. No. dan kepala sekolah belajar dalam memimpin pembelajaran (leading in learning). April 2009 PEMIMPIN KOMUNITAS PEMBELAJARAN Zainun Misbah Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen. guru-guru belajar dari kegiatan mengajarnya (teaching for learning). Karenanya. inovasi sekolah. Berbagai kajian telah dilakukan untuk menilai keberhasilan sekolah baik dari prestasi siswa maupun pengembangan profesi guru dan tenaga kependidikan yang ada di dalamnya.

(3) pemantauan terhadap kemajuan siswa. (8) penghargaan dan insentif. Borman & Fermanich. (10) pengelolaan kurikulum. akuntabilitas dan pencitraan publik. serta penguatan tata kelola. Kajian ini menyimpulkan berbagai karakteristik proses sekolah efektif meliputi: (1) perencanaan dan pengembangan sekolah. engage in 96 . level sekolah ataupun lingkup nasional. (4) kepemimpinan kepala sekolah. Hord (1997) menyatakan bahwa “professional learning communities can be a significant force for empowering staff that leads to school change and improvement and increased student outcomes. (9) tata tertib dan kedisiplinan. Lebih lanjut. Ke-11 karakteristik tersebut saling mendukung dalam mendorong terselenggaranya proses pembelajaran yang efektif di sekolah (Direktorat Tenaga Kependidikan. tulisan ini juga mencoba menggali peran kepala sekolah yang cukup strategis dalam mewujudkan KPP dan memimpin organisasi pembelajar. dan (11) akuntabilitas sekolah. (5) pengembangan guru dan staf. KPP dipandang sebagai salah satu proses dalam pengembangan sekolah yang dapat memperbaiki sistem pengajaran di kelas. (2) iklim dan budaya sekolah. demikian juga mengembangkan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan lainnya. level kelas. Marks. yakni deprivatized practice and reflective dialogue (dalam Grodsky & Gamoran. Wenger (2000. PENGERTIAN PROFESSIONAL LEARNING COMMUNITIES Ada banyak definisi yang berbeda tentang Professional Learning Community (PLC). Diharapkan dengan semakin banyaknya referensi tentang komunitas pembelajar profesional dapat meningkatkan upaya inovasi pendidikan di Indonesia sehingga terjadi akselerasi peningkatan mutu pendidikan dengan mempertimbangkan perluasan dan pemerataan akses pendidikan. Louis. (7) pemberdayaan orang tua dan masyarakat. peningkatan mutu. relevansi dan daya saing pendidikan. 229) menyatakan bahwa ‘that professional communities share cultural practices reflecting their collective learning process’. Pada beberapa tahun belakangan ini.” Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji tentang komunitas pembelajar professional dari beberapa literatur dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Newman dan Wehlage (dalam Oden. 2003). 2004) menjelaskan professional community sebagai : “possessing three general traits in which teachers pursue a shared sense of purpose for student learning. (5) pengembangan siswa.Zainun Misbah baik di tingkat individu peserta didik. and Kruse (1996) mengemukakan ada dua hal penting dalam komunitas professional. 2008). kajian tentang Professional Learning Community (PLC) atau Komunitas Pembelajaran Profesional (KPP) secara kualitatif dan kuantitatif terus dilakukan.

Tanggung jawab bersama atas pembelajaran siswa. yang didorong oleh motivasi pembelajaran yang sama. • 97 . adanya refleksi dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Adanya pengajaran secara berkelompok yang terjadi Adanya kerjasama yang terjadi diantara berbagai peran yang berbeda (contohnya guru dengan staf pendukung). • Ada budaya peningkatan yang tampak jelas. adanya kesamaan nilai dan norma yang berlaku.Pemimpin Komunitas Pembelajaran collaborative activities to achieve this purpose. Kerjasama yang bertujuan pada pembelajaran. 2. and take collective responsibility for student learning”. • Staf secara bersama-sama bertanggung jawab atas pembelajaran siswa. serta kerterbukan dan sharing terhadap praktekpraktek pembelajaran yang dilakukan untuk evaluasi dan peningkatan dan penjaminan mutu. Kesamaan visi dan nilai • • Adanya fokus yang sama terhadap pembelajaran siswa dan keterlibatan mereka. jadi tidak hanya pada peran yang sama. • Staf mempunyai harapan yang tinggi terhadap siswa. Stoll dkk (2005) mengidentifikasi karakteristik dari KPP yang dapat meningkatkan proses pembelajaran adalah sebagai berikut: 1. menemukan solusi. mencari tahu mengenai praktek-praktek pembelajaran mereka dan bersama-sama mempelajari pendekatan yang baru dan yang lebih baik yang akan meningkatkan pembelajaran seluruh siswa’. adanya budaya kerjasama. • • • Perencanaan tim dan kerjasama tim adalah suatu hal yang biasa terjadi. baik di dalam dan di luar lingkungan terdekat mereka. Stoll dkk (2005) menyatakan bahwa ‘komunitas pembelajaran profesional adalah komunitas terbuka yang melibatkan semua orang. • 3. Ada tekanan dari teman sebaya pada mereka yang tidak mengerjakan bagiannya dengan baik. Ada pernyataan mengenai nilai-nilai yang dikembangkan bersama dan dipahami oleh semua. yang mendukung dan bekerjasama satu sama lain. Dengan demikian dalam suatu KPP terdapat tanggung jawab bersama dalam meningkatkan pembelajaran siswa. Adanya kolaborasi yang terjadi di seluruh sekolah dan juga kerjasama antar bidang pelajaran yang diperlukan. Kesemuanya itu bermuara pada memfasilitasi siswa belajar dengan lebih baik.

proyek penelitian dan pengembangan. dan penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning). lokakarya. pertambahan nilai dan penilaian untuk pembelajaran. • • • • • 98 . Masukan dari siswa sangat dihargai. evaluasi diri. evaluasi diri. • Masukan (input) dari siswa sangat dihargai. 5.Zainun Misbah 4. Staf mengambil tanggung jawab bersama untuk mempromosikan dan mendukung pembelajaran satu sama lain. dan penelitian tindakan. Pemikiran yang inovatif. contohnya tutor sebaya. contohnya hasil penilaian. pusat pelatihan. demonstrasi pembelajaran. Latihan yang penuh pemikiran sangat dihargai. Contohnya: pengamatan timbal balik. Data dianalisis dan digunakan sebagai bahan refleksi dan pengembangan. Penelitian dan pencarian mempengaruhi pengejaran dan pembelajaran sebagai contoh pengamatan mutual. institusi pendidikan yang lebih tinggi dan badan-badan lainnya. kreatif dan berani mengambil resiko sangat didukung. Pencarian profesional yang penuh pemikiran • • Refleksi terhadap praktek-praktek dihargai Penelitian dan inkuiri mempengaruhi pengajaran dan pembelajaran. nilai tambah (value-added). • • 6. Terdapat pembelajaran kelompok dan individual yang profesional • • Semua staf termasuk staf pendukung terlibat dan menghargai pembelajaran profesional Ada sejumlah kegiatan pembelajaran professional dan perkembangan berkesinambungan yang berlangsung. memandu pembelajaran siswa dan lainlain. Keterbukaan. Data dianalisa dan digunakan sebagai bahan pemikiran dan perkembangan. dan penelitian tindakan. contohnya hasil penilaian. forum pembelajaran. jaringan dan kemitraan • • • Inisiatif dari luar digunakan untuk menganalisa apa yang terjadi di dalam Semua orang terbuka akan perubahan Staf secara aktif terlibat dalam kemitraan dengan pihak eksternal dan jaringan pembelajaran dengan sekolah.

Rasa percaya. 8. Sumber daya sekolah dapat secara sinergis bekerjasama dan berkolaborasi menuju cita-cita yang sama dengan merefleksikan dan mendiskusikan masalah-masalah dan mencari solusi secara bersama-sama. dan lain sebagainya yang masih terus dikaji oleh para peneliti pendidikan. atau koles. Karenanya. manfaat yang bisa diperoleh dengan terciptanya komunitas pembelajaran di sekolah diantaranya terciptanya iklim pembelajaran yang kondusif.Pemimpin Komunitas Pembelajaran 7. rasa hormat. Keanggotaan yang inklusif • • • Staf pendukung dihargai sebagai anggota yang memberi kontribusi kepada KPP. Ada satu kumunitas besar yang melibatkan seluruh staf disekolah. Manfaat adanya komunitas pembelajaran profesional tersebut akan dirasakan jika tahapan-tahapan dalam mengembangkan KPP dilaksanakan dengan sungguhsungguh. adanya peningkatan kompetensi kepemimpinan. ruang dan pengembangan KPP. Stoll dkk (2005) menyarankan langkah-langkah untuk mengembangkan KPP adalah sebagai berikut: 1. pusat. Pengawas atau anggota komite sekolah terlibat dalam KPP. KOMUNITAS PEMBELAJARAN PROFESIONAL BAGI MANFAAT SEKOLAH Stoll dkk (2005) menyatakan bahwa komunitas pembelajaran professional yang efektif mempunyai kemampuan untuk mendorong dan mempertahankan pembelajaran dari semua profesional di komunitas sekolah dengan tujuan bersama untuk meningkatkan pembelajaran siswa. bukan hanya komunitas-komunitas kecil yang banyak. Sebagai inti dari konsep komunitas pembelajaran professional adalah berasal dari asumsi pada premis meningkatkan kualitas belajar siswa dari kualitas pengajaran di kelas. Ada rasa percaya dan hormat yang mutual. Mengoptimalisasikan sumber daya dan struktur untuk mempromosikan KPP • Waktu. Upaya terbaik dari pada staff dan guru sangat dihargai Staf merasa kompeten. dan dukungan yang mutual • • • • Hubungan kerja bersifat positif. fasilitasi pembelajaran peserta didik yang lebih baik. pendanaan digunakan untuk mendukung 99 . adanya upaya inovasi sekolah dalam perbaikan pembelajaran.

Zainun Misbah

• •

Gagasan mengenai KPP disertakan dalam dokumem-dokumen kebijakan dan rencana-rencana pengembangan. Ruangan staf, ruang kerja staf dan ruang belajar digunakan untuk pembinaan dan pembelajaran masyarakat.

2.

• ICT digunakan untuk meningkatkan komunikasi yang lebih efektif. Mempromosikan pembelajaran yang profesional • • Perkembangan yang professional dikoordinasikan untuk mempromosikan pembelajaran semua staf. Manajemen atau penilaian kinerja, induksi, profil perkembangan professional, dan mentoring bersifat konsisten dengan nilai-nilai untuk menggembangkan KPP.

• • 3.

Ada penekanan terhadap latihan dan pemahaman bersama. Ada dukungan yang diberikan untuk membantu mengembangkan strategi dan keahlian pembelajaran dan pengajaran. Mengevaluasi dan Mempertahankan KPP • Pengembangan dan kemajuan KPP diawasi secara teratur. • • • Adanya pembahasan yang jelas mengenai KPP beserta tujuan dan pengembangannya. Nilai-nilai KPP dipertimbangkan saat membuat pilihan untuk merekrut dan memberhentikan staf. Perhatian diberikan terhadap masalah-masalah yang menghalangi pengembangan KPP. memberikan

• 4.

Teman-teman yang kritis diundang untuk masukan/pandangan dari luar. Memimpin dan Mengelola untuk mempromosikan KPP

• • • • •

Pemimpin memusatkan perhatian pada pembelajaran untuk semua. Pembinaan kepercayaan dan merayakan keberhasilan menjadi prioritas. Pemimpin selalu melakukan pencarian pengetahuan dan mendorong hal ini pada yang lain. Pemimpin memberikan contoh pembelajaran dan melatih rekanrekannya.

Kepemimpinan dalam pembelajaran disebarkan di seluruh sekolah, pusat pelatihan atau institusi pendidikan. Dengan mengembangkan KPP, kepala sekolah dapat menemukan kepuasan yang mendalam karena seluruh warga sekolah memiliki tanggungjawab kolektif untuk keberhasilan siswa dan keberhasilan sekolah. Setiap warga sekolah memiliki 100

Pemimpin Komunitas Pembelajaran

kesadaran bahwa mereka memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil kerja siswa dan juga sadar atas peran mereka dalam membantu siswa mencapai harapannya. Kepala sekolah juga dapat terus mengembangkan kompetensinya dalam mengelola administrasi dan komunitas sekolah, memperbaiki sistem pembelajaran di kelas, dan juga mengembangkan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosialnya secara terintegrasi. Kepala sekolah memiliki peran penting dalam mengembangkan KPP, utamanya dalam mendorong perubahan agar senantiasa terdapat kesempatan refleksi dalam pembelajaran baik oleh siswa, guru maupun kepala sekolah; meningkatkan budaya kolaborasi dan kerjasama warga sekolah, semakin memfokuskan pada pembelajaran siswa, dan kesamaan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di sekolah. Inovasi sekolah juga akan lebih cepat berkembang dengan adanya KPP karena salah satu karakteristik KPP adanya shared vision dan value. Sejalan dengan Gladwell (2002), bahwa komunitas akan merubah nilai dan pandangan individu, “karena ketika orang dimintai pendapat tentang suatu kejadian atau harus membuat keputusan dalam suatu kelompok, mereka cenderung memberikan kesimpulankesimpulan sangat berbeda dibanding ketika pertanyaan serupa diajukan kepada tiap orang sesudah tidak bersama kelompoknya lagi. Begitu kita menjadi bagian sebuah kelompok, kita semua rentan terhadap tekanan dan norma-norma sosial serta bermacam-macam pengaruh lain yang dapat berperan penting dalam proses awal perubahan (sekolah).” KOMUNITAS PEMBELAJARAN PROFESIONAL DI INDONESIA Budaya organisasi dan berkumpul dan bekerja secara bersama-sama ini cukup kental di Indonesia. Dalam konteks dunia pendidikan di Indonesia, komunitas pembelajaran kepala sekolah terlihat dalam wadah semisal Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) dan lain-lain. Para kepala sekolah dalam satu wilayah mengadakan pertemuan dan merefleksikan peran dan tanggung jawab mereka, dan masalah-masalah yang dihadapi dalam melaksanakan peran tersebut. Namun demikian banyak pihak yang menganggap forum tersebut belum dapat dioptimalkan dan diberdayakan dengan baik karena diantaranya permasalahan dana, terbatasnya kemauan dan kemampuan sumberdaya manusia, kurangnya pemahaman pentingnya jejaring dan komunitas pembelajaran profesional, dan lain sebagainya.

101

Zainun Misbah

MKKS & KKKS, sebagai contoh KPP di Indonesia, perlu diefektifkan lagi agar manfaat yang diperoleh semakin nyata. Stoll dkk (2005) menunjukkan tiga cara menentukan keefektifan dari KPP adalah sebagai berikut: KPP mempunyai dampak pada pembelajaran siswa dan pengembangan sosial KPP mempunyai dampak pada semangat dan tindakan staf, dengan potensi untuk mengembangkan kemampuan memimpin. 3. Semua karakteristik KPP ada pada tempatnya dan semua proses berjalan lancar yang merupakan bagian dari ’cara kami melakukan sesuatu’. Selain aktif dalam komunitas pembelajaran profesional dalam skala distrik (district based level) seperti dalam MKKS dan organisasi kepala sekolah, kepala sekolah perlu membangun komunitas pembelajaran profesional di sekolahnya. Kepala sekolah memimpin warga sekolah untuk mengidentifikasi apa yang kurang di sekolahnya, dan apa yang perlu ditingkatkan. Kegiatan dilanjutkan dengan melakukan refleksi dan berbagi dengan warga sekolahnya sehingga semua warga sekolah mempunyai rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap mutu sekolah. Namun perlu disadari bahwa membangun KPP diperlukan waktu yang cukup lama untuk membangun keterbukaan, kepercayaan, fokus yang sama dan karenanya tidak bisa dilakukan secara instant. Kepala sekolah perlu ’mempelajari proses dan manejemen perubahan’, tidak hanya mengharapkan sekolah berubah ke arah yang lebih baik, tetapi terus ’berusaha dan mencari’. KESIMPULAN DAN SARAN Pemerintah telah berupaya memfasilitasi peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi tenaga kependidikan dengan berbagai upaya. Komunitas Pembelajaran Profesional untuk meningkatkan mutu sekolah perlu terus diupayakan baik di tingkat sekolah maupun antar sekolah. Kalaupun sudah terbentuk wadah-wadah pertemuan untuk jejaring kerja pendidik dan tenaga kependidikan seperti MKKS, MGMP, MKPS dan asosiasi profesi tenaga kependidikan, perlu kiranya ditingkatkan dan diberdayakan lagi dengan mengingat konsep dan karakteristik-karakteristik KPP. Komunitas Pembelajaran Profesional pada level sekolah juga perlu diupayakan, dan tentunya peran kepala sekolah sangat penting dan strategis dalam mengimplementasikan konsep KPP di sekolahnya. Pengambil kebijakan sudah semestinya mendukung dan mendorong upaya sekolah mewujudkan KPP. Kajian tentang KPP pun perlu terus dilakukan dan disebarluaskan agar percepatan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dapat segera terlihat dan terukur. 1. 2.

102

(2002). Gladwell. R. Available at www. Communities of practice and social learning systems.uk/research/data/uploadfiles/RR637. Depdiknas : Jakarta. & Hord. Stoll. 103 . Principal Leadership. Hirsh.pdf Direktorat Tenaga Kependidikan (2008).fsusd. DfES Research Report RR367. Organization articles. 6-11. 7 (2).pdf Wenger. (2008). 225 – 246). Gramedia : Jakarta.gop..k12.dfes.ca. Creating and Sustaining Effective Professional Learning Communities. Kumpulan Materi Pembekalan Fasilitator Program Kemitraan Kepala Sekolah Angkatan VI Tahun 2008. theory and society. December 26 – 30. Tipping Point. Leader and Learning. dkk. M.us/education/PLC/Prof_Lrng_Community. What is professional learning community? In: Schools as learning communities. S.M. Available at http://schools. (2005). (2000). Organization: the interdisciplinary journal of organization. University of Bristol. (2004). S. E.Pemimpin Komunitas Pembelajaran DAFTAR RUJUKAN DuFour.

Jika penulis empat orang atau lebih. nama penulis (tanpa gelar). sedangkan penulis lainnya dicantumkan pada bagian bawah halaman pertama artikel. rata tepi kiri. abstrak (maksimal 100 kata). Peringkat 3 (Hanya awal kata huruf besar. ukuran 14 pts. 3. tujuan penulisan. di tengah-tengah dengan huruf Times New Roman. Penulis disarankan menuliskan alamat e-mail dan nomor telepon atau handphone pada halaman terakhir artikel untuk memudahkan komunikasi. abstrak (maksimal 100 kata) yang berisikan tujuan penelitian. Artikel yang ditulis untuk Jurnal Tenaga Kependidikan meliputi hasil pemikiran dan hasil penelitian di bidang tenaga kependidikan. metode penelitian. Peringkat 1 (huruf besar semua. dicetak pada kertas A4 maksimal 20 halaman. dan ruang lingkup penulisan. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan huruf Times New Roman. dan kata kunci maksimal enam kata.5. miring (italic) dan rata tepi kiri. kecuali bagian pendahuluan disajikan tanpa judul bagian. ukuran 12 pts. Sistematika artikel hasil penelitian: judul. dengan spasi 1. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan format esai. nama penulis (tanpa gelar).PETUNJUK BAGI PENULIS ARTIKEL 1. disertai judul pada masing-masing bagian artikel. Sistematika artikel hasil pemikiran: judul. Penutup atau Kesimpulan. Peringkat 2 (Hanya awal kata huruf besar.com Nama penulis artikel dicantumkan tanpa gelar akademik dan ditempatkan di bawah judul artikel. 4. diserahkan dalam bentuk printout sebanyak 2 eksemplar beserta disketnya atau dibuat dalam bentuk file dengan Microsoft Word (MS) dan dikirimkan ke alamat e-mail: jurnaltendik@yahoo. 7. ukuran 12 pts dan dicetak tebal. cetak tebal. Pendahuluan (tanpa judul) berisikan latar belakang. tebal. rata tepi kiri. 6. cetak tebal. . Pada judul bagian tidak menggunakan sistem angka/nomor. Daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk saja). Judul artikel dicetak tebal dan huruf besar semua. 8. dan tujuan penelitian. sedikit tinjauan pustaka. yang dicantumkan cukup penulis utamanya saja. hasil penelitian. 5. Naskah diketik dengan huruf Times New Roman. kata kunci maksimal enam kata. 104 2. Bahasan utama (dapat dibagi ke dalam beberapa subbagian). Pendahuluan (tanpa judul) berisikan latar belakang.

Buku dalam Kumpulan Artikel Leitwood. Kompas. 105 . Hasil penelitian dan pembahasan. Dalam M.J. April: 14-16. J. 2. The Jossey-Bass Reader on Educational Leadership (hlm. Artikel dalam Jurnal Surya Dharma.Z. Buku Hughes.. 2004. 3 Mei 2005. Kepemimpinan Pengawas Sekolah: Mengembangkan Budaya Tanggung Jawab dalam Jurnal Tenaga Kependidikan.1999. Fatal Jika Tenaga Kependidikan Bermutu Rendah dalam Forum Tenaga Kependidikan. Agustus:1-13. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. B. Artikel dalam Koran Bro. Tajuk Rencana Pendidikan Sangat Penting untuk Bangsa. Metode penelitian. Satu spasi. & Curphy. Artikel dalam Majalah Surya Dharma. Kesimpulan dan saran. & Posner. hlm 22. K. Februari. 1999. Leadership Enchancing the Lessons of Experience. Ginnett. Terjemahan oleh Anton Adiwiyoto. No. 2007. Edisi 1.A.9.L. R. 2006.M. Artikel dalam Koran (tanpa nama pengarang) Kompas. Dokumen Resmi Peraturan Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. Tantangan kepemimpinan. Jakarta: Interaksara. Vol. 1. Vol. 1. 183-196). Mobil untuk Kepala Sekolah. R. G. Fullan (Editor). Daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk saja). Daftar rujukan disusun dengan tata cara seperti contoh berikut ini dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis. 2007.C. 2007. Buku Terjemahan Kouzes.New York: McGraw-Hill Irwin. Transformation School Leadership in a Transactional Policy World.

malang. kalimat dikutip sesuai dengan aslinya diberi tanda petik di awal dan diakhir bagian yang dikutip. Pemda. but leaders do not have to be manager. Model Pendidikan Kecakapan Hidup Berbasis Masyarakat Pedesaan sebagai Usaha Pengentasan Kemiskinan di Wilayah Kabupaten Kulon Progo DIY. curricular. such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting. Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan. dan Masyarakat. Tesis. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. (http://www. Contoh: Menurut Wiles & Bondi (2007). satu spasi. Jurnal Ilmu Pendidikan. diakses 8 Januari 2008).” (Hunsaker. Tidak Diterbitkan. Internet (artikel dalam jurnal online) Surya Dharma & Husaini Usman. Kemitraan sinerjis Perguruan Tinggi. and for this reason supervision often overlaps with administrative. dan tanpa tanda petik. Contoh: Menurut Hunsaker (2001). The role of supervisor has many dimensions or facets. 106 . Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan. (Online).Skripsi. but leaders do not have to be manager.ac. Disertasi. ”Managers can be leaders. ”Managers can be leaders.id. Tata cara mengutip langsung kurang dari lima baris. 2001).” atau ”Managers can be leaders. and instructional functions. atau Wiles & Bondi (2007) menyatakan: 11. No. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Tahap II. 10. 2007. but leaders do not have to be manager. 2007. Jilid 16. menjorok ke dalam lima ketukan. 1. dan Laporan Penelitian Husaini Usman dan Darmono. Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning.” atau Hunsaker (2001) menyatakan. dibuat alinia baru. Tata cara mengutip langsung empat baris atau lebih.

(6) administrator. Semua artikel ditelaah secara anonim oleh mitra bestari (reviewers) yang ditunjuk. (6) administrator. dan (8) evaluator.12. (3) spesialis pembelajaran. Contoh: Menurut Wiles & Bondi (2007). dan (8) evaluator. Penulis artikel diberi kesempatan untuk memperbaiki artikelnya atas dasar saran dari mitra bestari. The role of supervisor has many dimensions or facets. (4) pekerja hubungan manusiawi. atau Wiles & Bondi (2007) menyatakan bahwa ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. curricular. (2) pengembang kurikulum. (4) pekerja hubungan manusiawi. and for this reason supervision often overlaps with administrative. (2) pengembang kurikulum. 107 . (5) pengembang personil sekolah. 14. such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting. Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. and for this reason supervision often overlaps with administrative. such overlap is natural and should be perceived as an asset in a school setting (Wiles & Bondi. Because supervision is a general leadership role and a coordinating role among all school activities concerned with learning. curricular. (2) pengembang kurikulum. (5) pengembang personil sekolah. (7) manajer perubahan. and instructional functions. (6) administrator. 13. (7) manajer perubahan. (7) manajer perubahan. atau Ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. kalimat yang dikutip langsung ditulis dalam kalimat penulis tanpa tanda petik. 2007). dan (8) evaluator (Wiles & Bondi. Cara mengutip tidak langsung. 2007). ada delapan kompetensi pengawas yaitu pengawas sebagai: (1) pengembang peserta didik. (5) pengembang personil sekolah. Tuliskan sumber dan tahunnya di awal atau diakhir kutipan. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya. (3) spesialis pembelajaran. and instructional functions. atau The role of supervisor has many dimensions or facets. (3) spesialis pembelajaran. (4) pekerja hubungan manusiawi.

Semua kata asing diketik miring (italic) 108 . Artikel yang tidak dimuat akan dikembalikan jika ada permintaan tertulis dari penulis. kepada penulis diberikan satu eksemplar dan penghargaan.15. 17. 16. Artikel yang dimuat.