P. 1
ISI SKRIPSI

ISI SKRIPSI

|Views: 1,215|Likes:
Published by Renaldi McJimmy

More info:

Published by: Renaldi McJimmy on Jan 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/30/2013

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga pasangan suami istri merupakan hal yang selalu didambakan. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah libido (gairah seksual), yang didefinisikan sebagai keinginan individual untuk terlibat dalam aktivitas seksual. Berkurangnya libido dapat dipengaruhi oleh kelainan fisiologis fungsi tubuh, psikologis individu, atau pemberian obat-obat tertentu seperti potassium nitrat dan obat-obat sedatif (Kartawinata, 1991). Hal yang sering berpengaruh terhadap libido adalah kelainan seksual (disfungsi seksual) pada kaum pria. Disfungsi seksual ini dapat berupa disfungsi ereksi, hiposeksualitas (hasrat seks yang berkurang), dan impotensia (kemampuan ereksi berkurang atau tidak mampu sama sekali) (Yogha, 2006). Tindakan yang dilakukan untuk mengatasi masalah penurunan libido ini dapat dilakukan dengan menggunakan afrodisiaka yang merupakan obat untuk
meningkatkan gairah seksual dan menimbulkan ereksi. Secara alami banyak

tanaman yang dipercaya oleh masyarakat dapat meningkatkan libido seperti pala, bawang merah, cabe, daun saga, merica dan Pausinystalia yohimbe. Tanaman yang berkhasiat sebagai afrodisiaka pada umumnya mengandung senyawa turunan saponin, alkaloid, flavonoid dan senyawa lain yang berkhasiat sebagai penguat tubuh serta memperlancar peredaran darah, seperti tanaman kolesom (Talinum triangulare) dengan kandungan ginsenoside (turunan saponin)

2

(Nugroho et al., 2009), dan Ginko biloba dengan bahan aktifnya 9-6 ginkobiloba flavonoid glycoside (Gizi, 2009). Bahan yohimbin (turunan alkaloid) yang berasal dari tanaman

P. yohimbe telah diteliti dan memiliki aktivitas afrodisiaka (Syarif et al., 2007), tetapi juga terdapat efek samping yang dapat menyebabkan jantung berdebardebar dan sediaannya langka di Indonesia. Begitu pula dengan afrodisiaka yang berupa hormon yang dapat menyebabkan disfungsi hati. Selain itu, apabila testosteron diberikan secara oral, maka akan diabsorbsi dengan cepat, dan umumnya dikonversi menjadi metabolit inaktif, serta hanya sekitar seperenam dari dosis yang diberikan tersedia dalam bentuk aktif (Katzung, 2004). Adanya alternatif obat yang aman dan berkualitas untuk mengatasi penurunan libido sangat diperlukan. Manuran (Coptosapelta tomentosa Valeton ex K.Heyne) merupakan

salah satu tumbuhan yang terdapat di daerah Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan yang secara empiris digunakan oleh masyarakat sekitarnya sebagai afrodisiaka. Cara pengolahannya cukup sederhana, yaitu dengan merebus akar dengan 2 bagian air sampai air tertinggal menjadi 1 bagian, kemudian diminum setelah dingin. Penelitian mengenai efek afrodisiaka dari tumbuhan ini telah dilakukan dengan menggunakan ekstrak metanol dan terbukti berkhasiat sebagai afrodisiaka pada dosis 2 g/KgBB (Rezeky, 2009). Pembuktian aktivitas afrodisiaka akar manuran dengan menggunakan ekstrak metanol dapat dilanjutkan ke uji aktivitas afrodisiaka terhadap fraksifraksi akar manuran, misalnya fraksi petroleum eter. Pemilihan fraksi petroleum

3

eter pada penelitian ini adalah karena pelarut ini umumnya dapat menarik senyawa terpenoid, steroid dan flavonoid (Nainggolan & Simanjuntak, 2005). Berdasarkan hasil penelitian Fitriana (2009) mengenai isolasi fraksi petroleum eter akar manuran dan identifikasi dengan spektroskopi ultraviolet (UV) dan infrared (IR), nampak adanya cincin aromatik yang diduga adalah golongan flavonoid. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian aktivitas afrodisiaka dengan menggunakan fraksi petroleum eter akar manuran. Uji aktivitas afrodisiaka fraksi petroleum eter akan dilakukan terhadap mencit putih jantan sebagaimana pada penelitian sebelumnya yang dilakukan Rezeky (2009). Selain itu, hewan uji mencit putih jantan merupakan hewan uji yang umum digunakan untuk penelitian secara biologi ataupun obat-obatan, mudah dipelihara dan dikendalikan, serta harganya lebih murah dibandingkan hewan uji yang lainnya. 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, dapat ditetapkan perumusan masalah sebagai berikut: 1. Apakah fraksi petroleum eter akar manuran memiliki aktivitas afrodisiaka pada mencit putih jantan? 2. Berapa dosis fraksi petroleum eter akar manuran yang dapat memberikan efek afrodisiaka pada mencit putih jantan?

4 1. Mengetahui dan membuktikan adanya aktivitas afrodisiaka fraksi petroleum eter akar manuran pada mencit putih jantan. . 2. Menjadi dasar dalam penelitian lebih lanjut terhadap akar manuran dalam hal efek afrodisiaka. 2.3Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Memberikan informasi kepada masyarakat ilmiah mengenai aktivitas fraksi petroleum eter akar manuran sebagai afrodisiaka.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1. sehingga di masa depan akar manuran dapat dikembangkan menjadi fitofarmaka yang bermanfaat bagi kesejahteraan dan perbaikan kesehatan masyarakat. Mengetahui dosis fraksi petroleum eter akar manuran yang dapat memberikan efek afrodisiaka pada mencit putih jantan. 1.

5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tumbuhan Manuran Manuran merupakan salah satu tumbuhan yang hidup di daerah Kalimantan. . Tumbuhan ini dapat ditemukan di daerah Kalimantan. Klasifikasi dari manuran adalah sebagai berikut: Kerajaan Divisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Rubiales : Rubiaceae : Coptosapelta (BHL. Tumbuhan manuran (Gambar 1) merupakan tumbuhan dengan arah tumbuh batang memanjat dan jenis batang berkayu. berwarna hijau jika muda dan berwarna coklat setelah tua. 2009). Bau akar. 2009). dan rasanya agak sepat dan pahit. 2009) : Coptosapelta tomentosa Valeton ex K. Bentuk akarnya membulat seperti bonggol dan berkayu. berwarna coklat kekuningan.Heyne (LIPI. daunnya tipis berwarna hijau dengan tepian bergerigi. tepatnya di desa Gedambaan Kecamatan Pulau Laut Utara Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan. daun dan batangnya sangat khas dan menyengat seperti plastik karet. Secara empiris masyarakat sekitar menggunakan bagian akar tumbuhan untuk diminum yang dipercayai berkhasiat meningkatkan vitalitas dan stamina (Rezeky.

1979). perkolasi. tomentosa Valeton ex K. dan pengempaan. Ekstrak adalah sediaan kering. 1992). Hasil dari ekstraksi ini disebut ekstrak. Maserasi merupakan proses perendaman sampel dengan pelarut organik yang digunakan pada temperatur ruangan. Sokletasi menggunakan alat soklet . sokletasi. Jenis ekstraksi yang tepat tergantung pada tekstur dan kandungan air bahan tumbuhan yang diekstraksi. Manuran ( C. Perkolasi merupakan proses melewatkan pelarut organik pada sampel sehingga pelarut akan membawa senyawa organik bersama-sama pelarut.6 Gambar 1. tergantung bahan yang digunakan dan kondisi ekstraksi (Tjokronegoro & Baziad.Heyne) Ekstraksi Ekstraksi adalah penarikan zat yang diinginkan dari bahan obat dengan menggunakan bahan pelarut yang dipilih sesuai zat yang diinginkan. Beberapa metode ekstraksi senyawa organik bahan alam yang umum digunakan antara lain maserasi. destilasi uap. yang tidak hanya mengandung satu zat saja tetapi berbagai macam zat. kental atau cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok dan di luar pengaruh cahaya matahari (Depkes RI.

7 dengan pemanasan dan pelarut akan dapat dapat dihemat karena terjadinya sirkulasi pelarut yang selalu membasahi sampel. terlindung dari cahaya (untuk mencegah reaksi yang dikatalisis cahaya atau perubahan warna) (Tjokronegoro & Baziad. Metode pengempaan lebih banyak digunakan dalam proses industri seperti pada isolasi katekin dari daun gambir dan proses ini tidak menggunakan pelarut (Lenny. 1994). tiraks dan lilin (Tjokronegoro & Baziad. kulit batang dan akar dapat dilakukan dengan menggunakan sistem maserasi dengan pelarut organik polar seperti metanol. Proses destilasi lebih banyak digunakan untuk senyawa organik yang tahan pada suhu cukup tinggi. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar. Metode maserasi digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari. buah. yang lebih tinggi dari titik didih pelarut yang digunakan. daun. Lama perendaman yang optimal kira-kira selama 5 hari dengan pengadukan sebanyak tiga kali sehari untuk mencapai keseimbangan konsentrasi bahan ekstraksi yang lebih cepat ke dalam cairan. Secara umum ekstraksi senyawa metabolit sekunder dari seluruh bagian tumbuhan seperti bunga. . karena cocok untuk jumlah sampel yang banyak. 1992). dan tidak mengandung zat yang mudah mengembang seperti benzoin. 1992). Jika tidak diaduk akan menyebabkan lambatnya perpindahan zat aktif ke dalam pelarut (Svehla. Salah satu metode ekstraksi yang sering dilakukan adalah metode maserasi. 2006a).

Ekstraksi cair-cair juga lazim disebut dengan fraksinasi. lapisan satunya merupakan larutan jenuh eter dalam air (Sudjadi. Beberapa cairan tidak dapat bercampur. jika dilakukan penambahan air lebih lanjut maka akan menghasilkan dua lapisan cairan. densitas uap 2. misalnya air dan air raksa. sedangkan lainnya seperti air dan etanol atau aseton. serta . Petroleum eter (PE) merupakan suatu pelarut nonpolar yang biasa dikenal juga dengan nama petroleum Naphtha. dan larutannya tidak berwarna. Sebagai contoh jika air ditambahkan dengan eter dan ampura dikocok maka pada suatu titik tertentu masih terjadi larutan. Selain itu. 1987). Naphtha ASTM. terlindung dari temperatur yang ekstrim dan cahaya matahari. Salah satu pelarut yang dapat digunakan dalam fraksinasi adalah petroleum eter.5 mmHg. PE memiliki tekanan uap 40 mmHg. bersih. dapat bercampur satu dengan lainnya dalam semua perbandingan. X4 atau ligroin. Jumlah dan jenis senyawa yang dapat dipisahkan menjadi fraksi tergantung pada jenis tumbuhan (Harborne. Petroleum spirits.1986). Ada pula cairan yang bercampur sebagian dengan cairan lain. dan tidak larut dalam air. Satu lapisan mengandung larutan jenuh air dalam eter. Namun. PE memilliki aroma seperti minyak tanah. Bahan ini harus disimpan di area yang didesain aman dari bahaya kebakaran. Petroleum eter memiliki titik beku -400C dan titik didih 350C.8 Fraksinasi Penelaahan profil fitokimia lengkap dari suatu jenis tumbuhan memerlukan fraksinasi ekstrak kasar (crude extract) untuk memisahkan kandungan senyawa kimia yang satu dari kandungan senyawa kimia yang lainnya.

Androgen yang paling penting pada manusia yang disekresikan oleh testis adalah testosteron. 2006). dan dalam jaringan ini dehidrotestosteron merupakan androgen aktif utama (Katzung. . metabolik dan konjugat (Syarif et al.9 dihindarkan dari bahan yang dapat menyebabkan inkompatibilitas. Kadar testosteron plasma pada pria adalah sekitar 0. Testosteron di banyak jaringan target dikonversi menjadi dehifdrotestosteron oleh 5α-reductase. asam. basa.6 µg/dL setelah masa puber dan berkurang setelah mencapai usia 50 tahun.. oksida.4. Afrodisiaka Afrodisiaka adalah obat yang bekerja secara hormonal atau non hormonal dan sangat erat hubungannya dengan libido. 2007). androstenedion dan dehidroepiandrosteron yang merupakan androgen lemah. 2.1 Cara hormonal Kerja afrodisiaka secara hormonal sangat erat kaitannya dengan androgen yang sangat berperan penting untuk stimulasi dan memelihara fungsi seksual pada pria. 2008). perklorat. Turunnya kadar testosteron saat usia bertambah membuat banyak laki-laki yang beranjak usia mengalami pengalaman seksual yang tidak memuaskan (Tjahjono. 2004). Pada pria sekitar 8 mg testosteron diproduksi setiap hari. senyawa nitrogen-flourine. Sekitar 95% diproduksi oleh sel Leydig dan hanya 5% oleh adrenal. Testosteron diekskresi 90% melalui urine dan 6% melalui tinja dalam bentuk asal. dan eksplosif (Burdick & Jackson. serta mensekresi sejumlah kecil androgen kuat lain. Testis juga dehidrotestosteron. sulfit.

Sekresi LH terjadi karena rangsangan gonadotropin-releasing hormone (GnRH) yang diekskresi oleh hipotalamus. berfungsi merangsang spermatogenesis (Syarif et al. Kadar testosteron dalam testis ± 100 kali kadar testosteron dalam sirkulasi sistemik. Kadar yang tinggi dalam testis ini secara fisiologis diperlukan untuk spermatogenesis. Follicle stimulating hormone (FSH). Sekresi LH yang terhambat akan . Kadar tinggi testosteron plasma merupakan umpan balik negatif yag akan menghambat sekresi LH dan sedikit menghambat sekresi FSH. yang juga diproduksi oleh hipofisis anterior. maka testosteron yang dihasilkan dari konversi proandrogen korteks adrenal tidak cukup untuk mempertahankan fungsi reproduksi laki-laki. Estradiol. merupakan penghambat sekresi LH dan FSH dengan potensi yang lebih kuat daripada testosteron. Aktivitas steroidogenik LH diperantai perangsangan siklik AMP dan sintesis kalmodulin. Terdapat mekanisme umpan balik pada sumbu testis-hipofisis-hipotalamus dalam pengaturan sekresi hormon. yang diproduksi testis maupun yang merupakan hasil konversi androgen melalui reaksi aromatisasi di jaringan perifer. Sekresi LH bersifat pulsatil setiap 2 jam dan tertinggi di pagi hari. 2007). suatu hormon gonadotropin yang disekresi oleh hipofisis anterior.. Steroidogenesis dalam testis terjadi di sel Leydig atas pengaruh luteinizing hormone (LH) yang juga disebut interstitial cell stimulating hormone (ICSH).10 Bahan dasar biosintesis testosteron adalah kolesterol. Sekresi testosteron juga pulsatil dengan kadar tertinggi pagi hari sekitar jam 8 dan terendah sekitar jam 8 malam. Bila terjadi gangguan produksi testosteron dalam testis.

. kemudian diturunkan menjadi 50–75 mg per hari dalam dosis terbagi sebagai dosis pemeliharaan (Kendal. Dosis pada defisiensi androgen dan infertilisasi pada pria dengan hipogonadism adalah 25 mg 3–4 kali sehari untuk beberapa bulan. Mesterolon merupakan androgen oral yang bentuk aktifnya berupa 1 metil-dihidrotestosteron. androgen sintetik yang tidak mengalami aromatisasi menjadi estrogen. dan kadang-kadang digunakan untuk meningkatkan jumlah sperma. 2007). Hambatan serupa juga terjadi terhadap sekresi hormon tropik GnRH pada tingkat hipotalamus (Syarif et al. Berbeda dengan inhibin. Aktivitas mesterolon adalah sebagai androgen kuat yang tidak aromatisasi ke estrogen. yang sering disebabkan rendahnya tingkat testosteron endogen. Oleh karena itu. namun kurang menghambat hipofisis pada dosis terapi. misalnya oksandrolon. hingga sekresi androgen dan spermatogenesis tidak dihambat.11 menyebabkan penurunan produksi testosteron. Mesterolon adalah derivat dihidrometil dari testosteron. 2007). kurang menghambat sekresi gonadotropin dibandingkan dengan testosteron yang mengalami aromatisasi. Efek sampingnya lebih ringan dan kurang toksik bagi hati. DHT (dihidrotestosteron) merupakan bentuk produk konversi testosteron oleh enzim 5-alpha-reduktase. Mesterolon tidak . suatu peptida yang dihasilkan oleh sel Sertoli dalam tubulus seminiferus juga berfungsi menghambat sekresi FSH. Hasilnya akan membentuk hormon sebanyak 3-4 kali sebagai androgen. Mesterolon biasanya dapat memulihkan masalah seksual dan impotensi. Dalam situasi klinis mesterolon umumnya digunakan untuk mengobati berbagai jenis disfungsi seksual.

2009). Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa mesterolon dengan cepat dapat dikurangi menjadi metabolit aktif dalam jaringan otot. Cara yang lain dengan menimbang bobot jengger ayam jantan yang telah diberi obat peningkat gairah seksual setelah beberapa waktu (Arnida. 2007). Yohimbin juga merupakan antagonis serotonin yang dapat meningkatkan aktivitas seksual pada tikus jantan. 2003). tetapi efek anabolik dari mesterolon dianggap terlalu lemah untuk tujuan membangun otot. . Pengaruh antiestrogenik dari senyawa ini diduga disebabkan oleh kemampuannya untuk bersaing dengan substrat lain untuk mengikat ke enzim aromatase (Anabolic.2 Cara non hormonal Peningkatan libido dengan cara non hormonal dapat diberikan oleh yohimbin. 2. yohimbe (Afrika Barat) dan pohon Aspidosperma quebracho-blauco (Amerika Selatan) (Directorat of Health Promotion and Wellness.12 merangsang tubuh untuk memproduksi testosteron. 2010). sehingga mengurangi kemampuan steroid dalam membangun otot lebih kuat. Alkaloid yohimbin diperoleh dari kulit pohon C. Mesterolon sangat androgenik. tetapi hanya mengganti androgen oral yang digunakan untuk mengkompensasi kekurangan androgen pria alami (Anabolic. Pengujian terhadap efek afrodisiaka secara hormonal dilakukan dengan cara menghitung kadar testosteron mencit jantan yang telah diberi obat peningkat gairah seksual setelah beberapa waktu (Winarni. Sifat anabolik lemah dari senyawa ini menunjukkan kecenderungan untuk memblokir reseptor androgen dalam jaringan otot. 2010).4. Mesterolon juga memiliki pengaruh antiestrogenik.

kegelisahan. fatigue dan fungsi seksual. sehingga secara tidak langsung dapat melenturkan pembuluh darah dan memperbaiki kelenturan pembuluh darah. tremor. takikardi. Beberapa tanaman obat yang memiliki fungsi afrodisiaka atau pembangkit gairah (obat erogenik atau sex arousal agent). hipotensi. lalu akan membangkitkan kesegaran tubuh dan mendorong gairah seksual. pertumbuhan otot. dan Malaysia.. sakit kepala. muntah. bronkospasme. mual. dan tinktura yang dapat meningkatkan kadar terstosteron dalam darah. kekuatan. kapsul. diantaranya bawang putih digolongkan sebagai afrodisiaka karena sifatnya yang menurunkan kadar kolesterol dalam darah. frekuensi miksi meningkat. Tumbuhan ini bermanfaat memperbaiki peredaran darah perifer maupun . Yohimbin (4 mg-20 mg) dapat menyebabkan efek samping berupa insomnia.13 dan mungkin berguna bagi beberapa pasien dengan disfungsi ereksi psikogenik (Syarif et al. 2009). tanaman yang banyak dijumpai di Amerika dan mengandung bahan aktif 9-6 ginkgobiloba flavonoid glycoside. Ada pula Ginkgo biloba. yaitu pasak bumi (Eurycoma longifolia). dan sindrom lupus (Directorat of Health Promotion and Wellness. serta akhirnya fungsi ereksi membaik. juga bersifat afrodisiaka karena bahan aktif eurycomanol yang dikandungnya. Tanaman obat yang berkhasiat afrodisiaka bekerja memperbaiki imunitas tubuh. Tanaman lainnya. Yohimbin merupakan penghambat monoamin oksidase yang dapat menstimulasi peningkatan pembebasan norepinefrin. kelelahan. dan membangkitkan rangsang pada sistem syaraf pusat yang juga memperbaiki sirkulasi darah. 2007). yang banyak ditemukan di Kalimantan. Yohimbin digunakan dalam bentuk tablet. Sumatera.

Senyawa-senyawa ini memiliki aktivitas sebagai afrodisiaka dengan efek yang berbeda. Cara ini lebih tepat digunakan untuk meneliti tumbuhan atau obat peningkat gairah seksual yang belum diketahui mekanisme aksinya dalam meningkatkan gairah seksual (Arnida. sehingga memproduksi neurotransmitter nitrit oksida (NO). . 2005). penunggangan (climbing). Flavonoid dalam tumbuhan afrodisiaka berfungsi sebagai antioksidan dan dapat melancarkan sirkulasi darah. yang merupakan turunan steroid yang biasa terkandung dalam tumbuhan bersifat afrodisiaka. Senyawa kimia yang umum terdapat dalam tanaman afrodisiaka adalah senyawa terpenoid. 2008). Senyawa sitosterol. Ini akan membangkitkan libido melalui susunan syaraf pusat dan otonom. 2003). Introduction terjadi pada waktu mencit jantan mendekati mencit betina hingga mulai mencium atau menjilat vagina mencit betina. dan coitus. NO merupakan syarat utama untuk terjadinya relaksasi otot polos dalam korpus kavernosum yang diperlukan untuk membangkitkan ereksi (Gizi. Pengujian aktivitas afrodisiaka non hormonal dilakukan dengan cara mengamati tingkah laku seksual tikus jantan terhadap tikus betina. adalah senyawa awal pembentuk hormon steroid dalam tubuh (Tempo. Coitus terjadi pada waktu mencit putih jantan menunggangi mencit putih betina dan terjadi senggama dengan tanda pada mencit betina merenggangkan badannya serta ekornya terangkat.14 peredaran darah otak yang akan menciptakan rangsang erotik lebih baik. meliputi pendekatan (introduction). 2009). Climbing terjadi pada waktu mencit jantan menunggangi mencit betina. steroid dan flavonoid (Nainggolan & Simanjuntak.

Beberapa struktur senyawa kimia yang dapat berkhasiat afrodisiaka ditunjukkan pada Gambar 2 dan 3.1996) . 1992). Struktur umum flavonoid (Sastrohamidjojo. Struktur dasar steroid (Harborne.15 sehingga baik untuk mengatasi disfungsi ereksi yang disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah (Wijayakusuma. 1987) Gambar 3. Gambar 2.

metanol proanalisis 95% (Merck®).16 BAB III METODE PENELITIAN 3. pipet.9%) dan Petroleum eter (Merck®)’ . waterbath (Memmert®). jarum suntik oral. rotary vacum evaporator IKA type RV OS-ST IP-B. 3. stoples kaca dan kandang mencit. aquades. larutan Na-CMC (natrium carboxymetylcellulose) 0. spuit.1 Alat penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah neraca analitik (Ohauss®). mikroskop. blender. alat-alat gelas (Pyrex®).2 Alat dan Bahan Penelitian 3. corong. larutan fisiologis NaCl (0.2.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Februari 2010 sampai bulan April 2010 di Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia dan Farmakologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lambung Mangkurat.2 Bahan penelitian Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah akar manuran.5%. gelas beker.2. 3. Proviron® (mesterolon). corong pisah. baskom. mortir dan stamper (RRC®).

Sampel maserasi sekali-kali diaduk perlahan-lahan pada saat pergantian cairan penyari. Setiap 24 jam cairan penyari diganti dan cairan tersebut ditampung di wadah yang sesuai.2 Pembuatan ekstrak manuran Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi.4.4 kg dan dimasukkan ke dalam stoples.4 Prosedur Penelitian 3. Sampel serbuk manuran ditimbang 3. .1 Pembuatan simplisia uji Akar manuran dicuci hingga bersih dan dipotong-potong kecil. Sampel dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari secara langsung hingga diperoleh simplisia uji yang kering. 3.3 Hewan Uji Hewan uji yang digunakan adalah mencit putih jantan dan betina (Mus musculus L) galur DDY usia 2-3 bulan dengan berat badan 24-35 gram yang diperoleh dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Setelah itu diuapkan dengan rotary vacuum evaporator hingga diperoleh ekstrak metanol manuran yang kental. Simplisia yang telah kering dan dipotongpotong kecil disebut dengan haksel. Perlakuan tersebut diulang sampai cairan penyari bening. Cairan penyari dibiarkan merendam sampel hingga 1 cm di atas permukaan sampel.17 3. Simplisia uji yang diperoleh dihaluskan terlebih dahulu hingga menjadi serbuk dengan cara diblender.4. Cairan penyari (metanol) kemudian dituangkan secara perlahan-lahan ke dalam stoples yang berisi sampel sambil diaduk hingga cairan penyari merata. 3.

lalu dilarutkan dengan aquades panas sedikit demi sedikit sampai semua Na-CMC larut.5% dibuat dengan menimbang Na-CMC sebanyak 0. lalu diperoleh fraksi petroleum eter yang kental. Lapisan air kemudian ditambahkan petroleum eter lagi dan pengerjaan ini diulang hingga diperoleh fraksi PE yag bening. Campuran dipisahkan di corong pisah yang akan membentuk 2 lapisan.18 3. Selanjutnya lapisan air dengan lapisan PE dipisahkan.3 Pembuatan fraksi petroleum eter akar manuran Pembuatan fraksi petroleum eter akar manuran ini dilakukan sebanyak 2 kali. Fraksi petroleum eter yang didapat diuapkan.5% sebanyak 10 mL. Pembuatan pertama yaitu menggunakan ekstrak metanol akar manuran sebanyak 21 gram dan disuspensikan dengan H2O sebanyak 10 mL.4. . Sisa aquades ditambahkan ke dalam labu ukur sampai didapatkan volume larutan Na-CMC sebanyak 100 mL.4.4. Selanjutnya ditambahkan pelarut petroleum eter sebanyak 50 mL.5 Pembuatan Larutan dan Penetapan Dosis Proviron® Pembuatan larutan dari obat Proviron® yang mengandung mesterolon 25 mg untuk setiap tabletnya yaitu dengan menggerus halus tablet terlebih dahulu.5 g. Larutan Na-CMC dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL.5% Larutan Na-CMC 0. Sedangkan untuk pembuatan fraksi yang kedua yaitu menggunakan ekstrak metanol akar manuran sebanyak 50 gram lalu disuspensikan dengan H2O sebanyak 25 mL dan pelarut PE yang ditambahkan sebanyak 100 mL. 3.4 Pembuatan larutan Na-CMC 0. 3. Serbuk tablet yang diperoleh digunakan untuk membuat stok mesterolon 25 mg/10 mL dengan pelarut Na-CMC 0.

Fraksi petroleum eter akar manuran kental ditimbang sesuai dengan dosis yang ditentukan.46 g/10 mL.5 ml/30gBB.4. Fraksi kemudian dicampur secukupnya sesuai stok dengan suspending agent.3 mL/30gBB dan 0.5%.19 3. 100 mg/kgBB. 3. Hasil suspensi dimasukkan dalam wadah (botol kaca) tertutup. Selain itu. Hasil yang diperoleh yaitu pada dosis 200 mg/kgBB dapat memberikan efek. Selanjutnya volume pemberian ini dikonversi ke dalam bentuk dosis. 0. Penentuan dosis ini dilakukan dengan menentukan terlebih dahulu kemampuan fraksi PE akar manuran tersuspensi dalam pelarut Na-CMC karena fraksi PE akar manuran agak sukar menjadi suspensi dengan baik. Dengan demikian. Berdasarkan hasil orientasi yang menunjukkan adanya efek adalah penggunaan volume pemberian fraksi PE akar manuran sebesar 0. Selanjutnya diperoleh konsentrasi dari fraksi PE yang dapat tersuspensi yaitu sebesar 0.5 mL/30gBB.7 Orientasi untuk Penentuan Dosis Dosis yang digunakan berdasarkan pada hasil orientasi yaitu dosis terkecil sampai dengan dosis terbesar yang dapat memberikan efek. berdasarkan orientasi yang telah dilakukan.6 Pembuatan suspensi fraksi petroleum eter akar manuran Pembuatan suspensi dilakukan untuk mempermudah dalam pemberian pada hewan uji. dan 1 mL/30gBB. dan 200 mg/kgBB. Konsentrasi tersebut menjadi dasar stok untuk pemberian fraksi PE secara oral dengan volume pemberian yang berbeda yaitu 0. dilakukan orientasi pula dengan dosis 50 mg/kgBB. yaitu Na-CMC 0. yaitu 460 mg/kgBB dan 767 mg/kBB.3 mL/30gBB.4. maka dipilih 3 peringkat .

Cara pemeriksaan ini yaitu pertama-tama mempersiapkan larutan fisiologis (NaCl 0. Kelompok perlakuan yang terdiri dari: a Kelompok perlakuan 1 (P1) yaitu kelompok yang diberi dosis suspensi fraksi akar manuran 200 mg/kgBB secara oral b Kelompok perlakuan 2 (P2) yaitu kelompok perlakuan yang diberi suspensi fraksi akar manuran dosis 460 mg/kgBB secara oral. 3.9%) yang digunakan untuk mengambil cairan vagina. Pengelompokan tersebut yaitu: 1.4. 460 mg/kgBB dan 767 mg/kgBB.5% secara oral.20 dosis yang digunakan dalam penelitian. 2. c Kelompok perlakuan 3 atau (P3) yaitu kelompok yang diberi suspensi fraksi akar manuran dosis 767 mg/kgBB secara oral . 3.4.26 mg/kgBB secara oral. b Kelompok kontrol positif (K2) yaitu kelompok yang diberi mesterolon 3. Mencit putih betina yang digunakan dipegang dengan cara lazim . masing-masing kelompok dilakukan pengulangan sebanyak 5 kali.9 Pemeriksaan daur estrus Pemeriksaan daur estrus pada mencit betina dilakukan sebelum hewan uji diperlakukan dalam pengujian.8 Pengelompokan dan perlakuan hewan uji Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari lima kelompok uji. Kelompok kontrol yang terdiri dari: a Kelompok kontrol negatif (K1) yaitu kelompok yang diberi Na-CMC 0. yaitu 200 mg/kgBB.

Larutan fisiologis yang tersedot tersebut agak keruh yang menunjukkan cairan apus vagina. Gambar 4. Proses selanjutnya yaitu mengambil larutan fisiologis secukupnya dengan pipet tetes dan dipegang dengan tangan kanan. Karakteristik sel pada fase estrus yaitu folikel sudah matang.21 menggunakan tangan kiri sehingga berada dalam posisi punggung di bawah. selanjutnya tekanan pipet dilepaskan agar larutan fisiologis tadi tersedot kembali ke dalam pipet. Proses terakhir yaitu memeriksa sampel cairan apus vagina dengan mikroskop untuk mengetahui terjadinya fase daur estrus pada mencit betina.1992). kemudian karet pipet ditekan agar larutan fisiologis masuk ke liang vagina. Sel epitel pada apusan vagina mencit betina yang estrus dapat diliat pada Gambar 4. Fase estrus ini terjadi selama 12 jam (Adnan. Cairan apus vagina yang diperoleh diteteskan pada gelas obyek. Sel-sel mencit betina hasil apus vagina pada estrus (Adnan. Pipet tetes dibiarkan beberapa saat dalam keadaan pipet tertekan.1992) . Pipet tetes dimasukkan ke dalam liang vagina mencit dengan hati-hati. dan sel-sel epitel sudah tidak berinti.

Introduction terjadi pada waktu mencit jantan mendekati mencit betina yang berupa kissing mouth dan kissing vagina. climbing. Pengamatan efek afrodisiaka dilakukan selama 1 jam dan pada waktu malam hari dari pukul 18. climbing. Pengamatan yang dilakukan berupa perilaku seksual mencit jantan dengan menghitung jumlah introduction. maka data dianalisis menggunakan uji Anova satu arah dengan taraf kepercayaan 95%. dan coitus yang telah diperoleh dimasukkan ke dalam tabel distribusi frekuensi. 3. dan coitus. Proses selanjutnya yaitu dilakukan uji normalitas dengan uji Saphiro-Wilk dan uji homogenitas dengan uji Levene.22 3. Jika data terdistribusi normal dan homogen.30-19. Coitus terjadi pada waktu mencit putih jantan menunggangi mencit betina dan terjadi senggama dengan tanda pada mencit betina merenggangkan badannya serta ekornya terangkat (Arnida.10 Uji Aktivitas Afrodisiaka Pada Mencit Jantan Pengujian aktivitas afrodisiaka dimulai dengan memberikan sediaan uji pada mencit jantan secara oral dengan menggunakan sonde.4. 2003). Sesudah itu dimasukkan tiga ekor mencit betina yang sebelumnya sudah diperiksa daur estrusnya ke dalam kandang yang berisi mencit jantan. Climbing terjadi pada waktu mencit jantan menunggangi mencit betina. Apabila terbukti adanya hubungan yang bermakna.4.30 WITA.11 Pengumpulan dan Pengolahan Data Semua data kuantitatif hasil pengamatan jumlah introduction. dilanjutkan dengan uji . Mencit jantan yang sudah diberi perlakuan dimasukkan dalam wadah yang cukup luas dan terbuat dari kaca atau plastik yang tembus pandang dan didiamkan selama 15 menit.

Berdasarkan analisis data ini maka akar manuran dapat dikatakan berkhasiat sebagai afrodisiaka apabila ada perbedaan signifikan pada jumlah salah satu perilaku seksual mencit jantan yaitu introduction.Rkp x 100% Rtl Keterangan Rtl Rkp : Rata-rata perilaku seksual pada kelompok yang diberi akar manuran : Rata-rata perilaku seksual pada kelompok kontrol positif BAB IV .23 posthoc LSD. Persentase rata-rata jumlah introduction. climbing.2003): % Efek = Rtl . climbing. dan coitus terhadap positif penghitungannya tersebut menggunakan rumus yaitu (Arnida.2003): % Efek = Rtl . climbing. dan coitus pada setiap perlakuan dapat dihitung dengan menggunakan nilai rata-rata jumlah introduction. yang kemudian dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. dan coitus terhadap kontrol negatif dimaksudkan untuk mengetahui adanya perbedaan jumlah yang ditimbulkan dari setiap perlakuan. Penghitungannya dengan menggunakan rumus (Arnida. Persentase rata-rata jumlah introduction.Rkn x 100% Rtl Keterangan : Rtl Rkn kontrol : Rata-rata perilaku seksual pada kelompok yang diberi akar manuran : Rata-rata perilaku seksual pada kelompok kontrol negative Persentase rata-rata jumlah introduction. Apabila tidak terdistribusi normal dan homogen. climbing. climbing. dilakukan uji non parametrik dengan uji Kruskal-Wallis. dan coitus terhadap kontrol negatif. dan coitus terhadap kontrol negatif dan kontrol positif.

64 gram. Untuk mengetahui bahwa dalam ekstrak yang didapat tidak mengandung metanol lagi.514 gram dari 3.4 kg serbuk akar manuran. Hasil ekstraksi akar manuran dapat dilihat pada Lampiran 3.24 HASIL DAN PEMBAHASAN 4. lalu menimbangnya hingga beratnya konstan. Ekstrak kental yang diperoleh berwarna coklat kehitaman. Hasil fraksinasi diperoleh fraksi kental PE sebanyak 3. Penyari yang digunakan adalah metanol proanalisis. Proses penguapan dengan rotary vacum evaporator dihentikan setelah ekstrak mulai mengental. Hasil fraksi PE akar . tetapi masih mudah dituang atau dipindahkan dari labu alas bulat ke wadah yang lain. Ekstrak kental metanol yang digunakan yaitu sebanyak 71 gram dan pelarut PE sebanyak 6 liter. Pada fraksinasi ini pelarut yang digunakan yaitu petroleum eter (PE) yang bersifat non polar. Hasil ekstraksi diperoleh ekstrak kental sebanyak 582. maka dilakukan penguapan ekstrak dengan waterbath pada suhu 400C. Selanjutnya ekstrak cair diuapkan dengan rotary vacum evaporator pada suhu 550C. 4.2 Fraksinasi akar manuran Ekstrak kental metanol akar manuran yang diperoleh dari ekstraksi dilanjutkan dengan fraksinasi.1. dan dihasilkan ekstrak cair metanol.1 Hasil 4.1.1 Ekstraksi akar manuran Sampel yang digunakan untuk pengujian aktivitas afrodisiaka ini sebelumnya dilakukan ekstraksi secara maserasi.

yang dihitung jumlahnya selama 1 jam.1. 460 mg/kgBB (P2) dan 767 mg/kgBB (P3) . 4. Dosis yang digunakan dalam pengujian berdasarkan hasil orientasi terdiri dari 200 mg/kgBB (P1). yang terdiri dari introduction. Penghitungan introduction dilakukan ketika mencit putih jantan mendekati mencit putih betina. Hasil rata-rata jumlah introduction ini dapat .4 Uji aktivitas afrodisiaka Pengujian aktivitas afrodisiaka dilakukan dengan mengamati perilaku seksual mencit putih jantan terhadap mencit betina. dan coitus. climbing. lebih aktif serta vaginanya membengkak dan berwarna merah. climbing dan coitus dapat dilihat pada Lampiran 5.3 Pemeriksaan estrus Pemeriksaan estrus mencit betina dilakukan pada sore hari sebelum dilakukan pengamatan. dilihat Gambar 5. Mencit betina pada saat estrus biasanya terlihat tidak tenang. Pemeriksaan estrus apusan cairan vagina dengan menggunakan mikroskop menunjukkan sel-sel epitelnya tidak memiliki inti. 4. Hasil ekstraksi akar manuran dapat dilihat pada Lampiran 4.1. Hasil pengamatan introduction.25 manuran cair berwarna coklat kemerahan dan fraksi PE kentalnya berwarna coklat kehitaman.

Rata-rata jumlah introduction pada masing-masing kelompok perlakuan Pengamatan selanjutnya adalah jumlah climbing. Hasil rata-rata jumlah climbing dapat dilihat pada Gambar 6.26 Gambar 5. yang merupakan keadaan ketika mencit jantan menunggangi mencit putih betina dan terjadi senggama dengan . Gambar 6. Rata-rata jumlah climbing pada masing-masing kelompok perlakuan Pengamatan selanjutnya yaitu coitus.

Hasil persentase tersebut dapat dilihat pada Tabel 1 dan 2. P1 P2 P3 25.00 3.77 -142.86 0. climbing.00 -300. Hasil rata-rata jumlah coitus seperti terlihat pada Gambar 7.00 0.27 tanda pada mencit putih betina merenggangkan badannya serta ekornya terangkat. Kelompok Dosis Fraksi PE Akar Manuran Persentase (%) Introduction Persentase (%) Climbing Persentase (%) Coitus 1 P1 -96.38 58.80 63.33 61. Rata-rata jumlah coitus pada masing-masing kelompok perlakuan Berdasarkan rata-rata jumlah introduction. 2. dan coitus terhadap kontrol negatif dan kontrol positif. dapat diperoleh nilai persentase introduction.00 -300. climbing dan coitus mencit jantan terhadap kontrol positif No. Persentase introduction. 3.00 . Gambar 7. Tabel 1. climbing.16 Persentase (%) Coitus 1.00 Tabel 2 Persentase introduction. dan coitus. Kelompok Dosis Fraksi PE Akar Manuran Persentase (%) Introduction Persentase (%) Climbing 52. climbing dan coitus mencit jantan terhadap kontrol negatif No.

sedangkan perilaku introduction dan climbing memiliki data homogen (sig > 0.1.5 Analisis data Data jumlah introduction.05) .06 -2000 -2000 4.13 -122.05. Selanjutnya data dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis.00 -12. dan 8. 4. Akan tetapi. dan coitus. dan coitus (sig > 0. dan coitus memiliki nilai sig < 0. Pengamatan tersebut dilakukan selama 1 jam. Akan tetapi. climbing. yang menunjukkan hasil tidak adanya perbedaan signifikan pada jumlah introduction. climbing. Hasil analisis data dapat dilihat pada Lampiran 6. climbing.05). Selanjutnya data dilakukan transformasi untuk dapat memperoleh data yang normal dan homogen.28 2 3 P2 P3 -131. dan coitus diuji normalitasnya dengan menggunakan uji Saphiro-Wilk dan diuji homogenitasnya dengan uji Levene. Begitu pula hasil uji Levene menunjukkan data untuk perilaku coitus tidak homogen (sig < 0.2 Pembahasan Pengujian aktivitas afrodisiaka terhadap fraksi PE akar manuran dilakukan dengan pengamatan terhadap perilaku seksual mencit jantan terhadap mencit betina. 7. Hasil analisis dari uji Saphiro-Wilk menunjukkan bahwa data tidak normal karena perilaku introduction. yaitu . data yang diperoleh dari beberapa kali transformasi tidak menunjukkan hasil yang normal dan homogen. dengan menghitung jumlah introduction.05). climbing. Pengamatan terhadap perilaku mencit jantan terhadap mencit betina estrus ini dilakukan pada malam hari. analisis lanjutan dengan uji MannWhitney diperoleh hasil adanya perbedaan signifikan mengenai jumlah introduction dan climbing antara kontrol negatif dengan positif.50 -98.

460 mg/kgBB (P2). Selanjutnya mencit betina dimasukkan dalam kandang mencit jantan. dan 2 kelompok dosis kontrol. dan coitus.30. Hasil pengamatan menunjukkan rata-rata jumlah introduction (Gambar 5) pada P1. P2. dan 767 mg/kgBB (P3). Mencit jantan kemudian diberikan perlakuan. Pengujian ini menggunakan mencit jantan dan mencit betina dengan perbandingan 1 : 3. Pengamatan ini dilakukan pada malam hari selama 1 jam dengan mengamati perilaku mencit jantan dalam mendekati mencit betina dan menghitung jumlah introduction. Peringkat dosis yang diujikan terdiri dari 3 peringkat. Pengujian dilakukan dengan menempatkan mencit jantan dan mencit putih betina dalam kandang berbeda.5% (K1) dan kontrol positif mesterolon 3.26 mg/kgBB (K2). karenaberdasarkan hasil dari orientasi bahwa mencit jantan tersebut hanya aktif selama 1 jam. yaitu kontrol negatif Na-CMC 0. yaitu dosis 200 mg/kgBB (P1).46 g/10 mL dan konsentrasi tersebut menjadi dasar stok suspensi fraksi PE untuk pemberian secara oral dengan volume pemberian yang berbeda. Penentuan dosis untuk fraksi PE ini dilakukan dengan menentukan kemampuan fraksi PE tersuspensi di dalam pelarutnya. climbing. Hal ini karena fraksi PE tidak dapat tersuspensi sempurna dengan pelarut Na-CMC.30 s/d 19. Selanjutnya diperoleh konsentrasi fraksi PE akar manuran yang dapat tersuspensi.29 pada pukul 18. Kemudian diperoleh dosis terkecil sampai dosis terbesar yang dapat memberikan efek berdasarkan hasil orientasi. yaitu sebesar 0. dan P3 lebih besar jika dibandingkan dengan kontrol . yaitu pemberian fraksi PE akar manuran dengan dosis tertentu secara oral dan didiamkan selama 15 menit.

. diperoleh hasil yaitu ketiga dosis memiliki rata-rata jumlah coitus yang lebih kecil dibandingkan dengan kontrol negatif. semakin besar pula jumlah climbing yang terjadi. ketiga dosis tersebut jauh lebih kecil jumlahnya. Jika dibandingkan dengan kontrol positif. bahkan pada P1 tidak terjadi coitus selama pengujian dilakukan. jika dibandingkan dengan rata-rata jumlah introduction kontrol positif. pada penelitian dapat pula terjadi kondisi mencit putih jantan yang tidak banyak melakukan introduction atau tidak memerlukan pendekatan terlalu lama tetapi langsung melakukan climbing yang juga merupakan salah satu perilaku seksual dari mencit putih jantan. Begitu pula jika dibandingkan dengan kontrol positif. Pengamatan selanjutnya yaitu climbing yang terjadi jika mencit jantan mulai menunggangi mencit betina yang. Hal ini dapat disebabkan karena pengaruh kondisi mencit putih betina yang melakukan penolakan terhadap mencit putih jantan. Perhitungan rata-rata jumlah introduction tersebut juga menunjukkan bahwa pada P2 mengalami penurunan dan pada P3 mengalami kenaikan lagi. dengan P3 memberikan rata-rata jumlah climbing terbesar. Selain itu. Rata-rata jumlah climbing (Gambar 6) pada ketiga peringkat dosis akar manuran lebih besar jika dibandingkan kelompok kontrol negatif. Selain itu. ketiga dosis tersebut memiliki hasil rata-rata yang lebih kecil. semakin besar dosis yang diberikan.30 negatif yang hanya diberi sediaan Na-CMC. dengan P3 memberikan rata-rata jumlah introduction tertinggi. Akan tetapi. ketiga peringkat dosis tersebut memiliki rata-rata jumlah climbing yang lebih kecil Berdasarkan hasil penghitungan rata-rata jumlah coitus (Gambar 7).

diperoleh nilai paling besar pada P3. climbing. Hal ini disebabkan karena pada introduction terdiri dari 2 perilaku yang diamati yaitu berupa kissing mouth dan kissing vagina. climbing dan coitus mencit putih jantan setelah pemberian fraksi PE akar manuran. karena estrus hanya berlangsung selama 12 jam. Hasil persentase perilaku seksual terhadap kontrol negatif menunjukkan bahwa persentase introduction dan climbing memiliki nilai yang lebih besar daripada kontrol negatif. Adanya penolakan mencit putih betina dapat disebabkan karena kondisi mencit betina yang tidak estrus pada saat pengujian. Selain itu. sehingga mencit putih jantan hanya berhasil melakukan introduction dan climbing saja.31 Perolehan hasil yang berbeda pada hasil pengamatan terhadap jumlah coitus dari kelompok uji dibandingkan dengan jumlah introduction dan climbing dapat dipengaruhi oleh keadaan mencit putih betina yang melakukan penolakan terhadap mencit putih jantan yang ingin melakukan coitus. Berdasarkan data rata-rata jumlah introduction. tetapi pemeriksaan itu hanya dapat memastikan bahwa mencit mengalami estrus dan tidak dapat menentukan berapa lama mencit tersebut sudah mengalami estrus. Meskipun sebelum pengujian dilakukan pemeriksaan estrus. Berdasarkan nilai persentase antara ketiga dosis terhadap kontrol negatif. dari ketiga perilaku tersebut jumlah introduction dari ketiga peringkat dosis lebih besar dibandingkan dengan jumlah climbing dan coitus. dengan persentase introduction sebesar 63% . dan coitus dibandingkan terhadap kontrol negatif dan kontrol positif. maka dapat diperoleh nilai persentase perbedaan rata-rata jumlah introduction. Hanya persentase coitus saja yang tidak melebihi kontrol negatif.

32 dan climbing 61. Data jumlah introduction. climbing. dan coitus memiliki nilai sig < 0. climbing. Sedangkan persentase introduction. sedangkan untuk introduction dan climbing memiliki data yang homogen (sig > 0. Berdasarkan transformasi data yang dilakukan beberapa kali ternyata data yang diperoleh tetap tidak terdistribusi normal dan homogen. dan coitus dari 3 peringkat dosis peralakuan terhadap kontrol positif menunjukkan bahwa ketiga peringkat dosis yang digunakan tidak dapat menandingi hasil dari kontrol positif.05. climbing dan coitus ini kemudian dianalisis dengan uji statistik. dan coitus tidak berbeda signifikan (sig > 0. Data kemudian dilakukan transformasi karena data tidak terdistribusi normal dan homogen. ketika dilakukan analisis lanjutan dengan uji Mann Whitney. Data selanjutnya dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis. Hasil yang diperoleh yaitu data tersebut menunjukkan hasil tidak normal karena perilaku introduction. Hasil dari uji ini menunjukkan bahwa jumlah introduction.05).16%. Pertama-tama yang dilakukan adalah analisis terhadap normalitas data dengan menggunakan uji Saphiro-Wilk. Meskipun pada perhitungan rata-rata jumlah introduction dan climbing ketiga peringkat dosis melebihi kontrol negatif serta . climbing. Begitu pula dengan uji homogenitas dengan uji Levene yang menunjukkan adanya hasil tidak homogen pada perilaku coitus (sig < 0. Hasil uji Kruskall-Wallis tersebut menunjukkan bahwa fraksi PE akar manuran tidak menimbulkan efek afrodisiaka pada mencit putih jantan.05).05). Akan tetapi. ternyata terdapat perbedaan signifikan antara kontrol negatif dan positif untuk perilaku introduction dan climbing.

antioksidan untuk pencegahan kanker. antiinflamasi. Adanya kandungan flavonoid dalam fraksi PE akar manuran ini tidak menjamin fraksi ini dapat berkhasiat afrodisiaka dan kemungkinan senyawa flavonoid tersebut memiliki aktivitas yang lain seperti antihepatotoksik (Soegiharjo. namun efek itu tidak terbukti. Akan tetapi. Selain itu. 2010) dan fraksi n-Butanol akar manuran (Nugraha. Hasil kedua penelitian tersebut menunjukkan adanya aktivitas afrodisiaka. .2006b). dan sebagai antibiotik (Lenny. Hal ini berarti bahwa senyawa aktif yang beraktivitas afrodisiaka pada akar manuran itu lebih terlarut pada pelarut yang semi polar hingga polar dibandingkan pelarut non polar seperti petroleum eter.2008).33 adanya persentase perbedaan rata-rata jumlah introduction dan climbing ketiga peringkat dosis terhadap kontrol negatif. Meskipun berdasarkan hasil isolasi fraksi PE akar manuran menunjukkan adanya flavonoid yang merupakan salah satu senyawa yang dapat berkhasiat afrodisiaka dengan fungsinya melancarkan sirkulasi darah sehingga dapat meningkatkan libido (Wijayakusuma. Hasil ini dapat disebabkan karena senyawa aktif dari akar manuran yang dapat terlarut dengan PE tidak memiliki aktivitas afrodisiaka. penelitian terhadap fraksi akar manuran sebagai afrodisiaka tidak hanya menggunakan fraksi petroleum eter tetapi juga dilakukan penelitian lain yang menggunakan fraksi etil asetat (Gamaliana. perbedaan atau selisih itu tidak dianggap signifikan ketika dianalisis secara statistik. 2010). 1992). Penggunaan fraksi PE dari ekstrak metanol akar manuran ternyata terbukti tidak mempunyai efek afrodisiaka yang bermakna pada mencit putih jantan.

antiinflamasi.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah fraksi petroleum eter (PE) akar manuran tidak memiliki aktivitas bermakna terhadap mencit afrodisiaka yang putih jantan pada P1 (dosis 200 mg/kgBB). 5. P2 ( dosis 460 mg/kgBB).34 BAB V PENUTUP 5. . dan sebagai antibiotik. dan P3 ( dosis 767 mg/kgBB).2 Saran Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan mengenai pengujian aktivitas lain dari fraksi PE akar manuran seperti aktivitas antioksidan.

ac.2009.php.sciencestuff. Diakses tanggal 10 Oktober 2009 Yohimbine Fitriana. 2010. 1979.35 DAFTAR PUSTAKA Adnan.Biodiversitylibrary.php Diakses tanggal 29 Mei 2009. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Skripsi Fakultas MIPA UNLAM. 2007. Skripsi Fakultas MIPA UNLAM. M. http:// www. Pengaruh Mangostin terhadap Fungsi reproduksi Mencit (Mus musculus) Swiis Webster Betina. Directorat of Health Promotion and Wellness. Uji Afrodisiaka Kayu Sanrego (Lunasia amara Blanco) Terhadap Tikus Putih Jantan.org/name/coptosapelta diakses tanggal 7 Juni 2009 Burdick & Jackson.Y.itb.kesehatanonline. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Kimia Fraksi Petroleum Eter Akar Tumbuhan Manuran Asal Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan. Diakses tanggal 10 Oktober 2009 Anabolic. 2006. 1992.com/msds/C2214. BHL (Biodiversity Heritage Library) . Coptosapelta http:// www.apgea. Banjarbaru (tidak dipublikasikan) .com Diakses tanggal 24 Juni 2010 Arnida. Heyne) terhadap mencit putih jantan. http://www.html Diakses tanggal 10 Oktober 2009. Anabolicseshop. Farmakope Indonesia. Pendongkrak Gairah Seksual. (Pausinystalia yohimbe) http://chppm-www. Banjarbaru (tidak dipublikasikan) Gamaliana.mil/dhpw/Wellness. 2009. 2009. Jakarta.com/mod. Uji Aktivitas Afrodisiaka Fraksi Etil Asetat Akar Manuran (Coptosapelta tomentosa Valeton ex. D. 2010.aspx.digilib. Edisi III. Ciptadra. 2003. Depkes RI.K. Tesis Fakultas Farmasi UGM.army. Material Safety Data Sheet http://www.id/gdl. Yogyakarta. Proviron (Mesterolone) http://www.

Skripsi Fakultas Farmasi UGM. UK. 2009.D.36 Gizi.bawang putih.S. http://gizi. W.G.com/join?replylink=1&t=06003489 Diakses tanggal 5 Juni 2010 LIPPI.K. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2006b. Isolasi dan Uji Bioaktivitas Kandungan Kimia Utama Puding Merah dengan Metode Uji Brine Shrimp. 2006a.com Diakses tanggal 12 november 2009 Hamsah. 2005.B. Simanjutak. Skripsi Fakultas MIPA UNLAM.Net/cgi-bin/berita/fullnews. Pengaruh biji kapas. Hasil Identifikasi/determinasi Tumbuhan. S. Bandung. O. London WC1H 9JP. Katzung. Pengaruh Ekstrak Etanol Akar Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack) terhadap Perilaku Seksual Mencit Putih. Pengaruh Mesterolon pada Metabolisme Tubuh http://pamujihamsah. http://multiply.Bagian Farmakologi fakulltas kedokteran Universitas Airlangga. I.2009. M. Bogor. Yogyakarta. Kendal. B. Banjarbaru (tidak dipublikasikan) . Nainggolan. Diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata. http://www/portalkalbe/file/cdk/file/146_13PengaruhEkstrakEtanolAkarPas akBumi.J. 2009.com Diakses tanggal 18 Desember 2009 Harborne. pegagan dan mangkokkan terhadap libido tikus putih jantan. & J. S. Lenny.pdf/ Diakses tanggal 17 November 2007 Nugraha. 1991. Fenil propanoida. 2004. BMJ Publishing Group Ltd. Tavistock Square. British National Formulary Edisi 54. Uji Aktivitas Afrodisiaka Fraksi n-Butanol Akar Manuran (Coptosapelta tomentosa Valeton ex.Surabaya. Senyawa Flavonoida. Lenny. Kartawinata. Metode Fitokimia : Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Farmakologi dasar dan Klinik Buku 3 Edisi 8. Universitas Sumatera Utara. Pusat Penelitian Biologi. Medan. Penerbit ITB. dan Alkaloida.F. 1987. 2007. gingseng jawa. Kesehatan reproduksi Pria. Heyne) terhadap mencit jantan (Mus musculus) galur DDY. pasak bumi. 2010.

Buku Pelajaran Teknologi Farmasi.37 Nugroho. S. Skripsi Fakultas MIPA UNLAM. Wijayakusuma. Nuratmi. Surabaya. Viagra dari Bone. Yohimbine http://id. Metode Pemisahan. R. Penyebab dan Cara mengatasi http:// www. koranindonesia. 2008. A dan Baziad. Gadjah Mada University Press. Efek Ekstrak Akar Ginseng Jawa dan Korea terhadap Libido Mencit Jantan pada Prakondisi Testosteron Rendah.cinta. Jakarta.org Diakses tanggal 10 Oktober 2009 Winarni.lebih. A. Tanaman Berkhasiat Obat Indonesia. Gunawan. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Yogyakarta. Tempo. FMIPA Universitas Airlangga. Kolesom (Talinum triangulare willd. 1994. Efek Penelitian Obat Tradisional.wikipedia. 1992.tempointeraktif. Untuk Cinta yang Lebih Baik www. D. H. Jakarta. Farmakologi dan Terapi.id Diakses tanggal 10 0ktober 2009 Rezeky.A. 2007. 2009.go. Diakses tanggal 10 Oktober 2009 Tjokronegoro. Sintesis Bahan Alam.com/id/arsip/1998/12/29/INO/mbm. 1996. M.G. B.mail-archive.com/msg00975.baik.) tumbuhan berkhasiat afrodisiaka yang aman http://www litbang. Wikipedia. P.W. Gajah Mada University Press.C. Tjahjono. Banjarbaru (tidak dipublikasikan) Sastrohamidjojo. com/2008/01/13/ untuk.html Diakses tanggal 10 Oktober 2009. http://majalah. S. Winarno. 2007. 1986.1998122. Edisi V. Pustaka Kartini. 2009.. Fakultas Kedokteran UI. Disfungsi seksual. 1992. Y. Yogyakarta. Jakarta. 2009. F. Penerbit Kanisius.yang. Voigt. Yogyakarta Syarif. H. Sudjadi.2006.html Diakses tanggal 18 Desember 2009 . Yogha. Ascobat. ino98803. 1998.depkes. Aktivitas Afrodisiaka Ekstrak Metanol Akar Manuran Pada Mencit Putih Jantan. Majalah Tempo 29 Desember 1998.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->