KONSEPSI AKHLAK MENURUT ISLAM DAN URGENSI DALAM MENGHADAPI ERA MILENIUM KETIGA

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Islam mempunyai sejarah panjang, setua Islam itu sendiri. Dalam perubahan zaman, pendidikan Islam telah memberikan berbagai respon pembaharuan. Tetapi menyongsong dan menghadapi millenium ketiga yang ditandai arus globalisasi dengan berbagai tantangan, pendidikan Islam kembali menghadapi tantangan-tantangan yang tidak sederhana.1 Memasuki millenium ketiga, pendidikan ternyata mengalami proses globalisasi di berbagai bidang yang ditandai dengan adanya perubahan-perubahan besar dan mendalam di berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk terjadinya gejala krisis moral dan akhlak.2 Melihat keadaan tersebut perlu dilakukan pembenahan dalam upaya pengembangan moral dan akhlak.

F.X. Budianto dengan judul Sepuluh Langkah Baru untuk Tahun 1990 Megatrends 2000 (Cet. I ; Binarupa Aksara, 1990), h. 4. Muhammad Idrus, “Perubahan Masyarakat dan Peran Pendidikan Islam Kajian Pembangunan dan Pembahasan Keterbelakangan Umat” dalam Muslih Wijdan Sz (Penyunting), Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial (Cet I ; Yogyakarta: Aditya Media, 1997), h. 81.
2

1

1

2

Dewasa ini sering terjadi kejahatan dan kekerasan yang kadang-kadang di luar batas perikemanusiaan. Terjadinya halhal tersebut sebenarnya berkait langsung dengan iman dan akhlak seseorang. Semakin tipis iman dan akhlaknya, semakin besar kemungkinan kejahatan dan kekerasan merajalela di masyarakat. Sebaliknya, semakin kuat iman dan akhlak masyarakat, maka semakin kokoh pula tali pengendali dalam mengeliminasi angka kejahatan dan kekerasan. Penyakit sosial akan mudah dipahami bila diartikan sebagai pola kehidupan sosial yang merusak sendi sosial itu sendiri. Walaupun relatif sulit untuk memberikan penilaian obyektif mana perilaku sosial yang merupakan penyakit sosial, namun penyakit sosial itu nampaknya sudah bisa disepakati secara umum. Kriminalitas seperti pencurian, perampokan, pembunuhan, kekerasan, penyalahgunaan narkotika, kenakalan remaja dan tindak asusila seperti perkosaan sudah disepakati sebagai penyakit sosial atau sering disebut dengan istilah patologi sosial.3 Kasus tawuran antar pelajar yang kadang kala mengarah kepada pembunuhan beberapa tahun belakangan ini sering terjadi. Hal ini tidak hanya berakibat sebatas pelajar saja, tetapi juga mengganggu kepentingan umum, dan bahkan
A. Rasdiyanah, Sumber Daya Umat Islam dalam Era Globalisasi: Upaya Implementasi Teori Kekhalifaan, Orasi Ilmiah pada Upacara Wisuda Sarjana Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin di Kendari, 24 Desember 1996), h. 8.
3

cit. Hal ini menantang para ahli hukum. Kondisi pendidikan Islam pada era abad ke-20 mendapat sorotan tajam yang kurang menggembirakan dan dinilai menyandang keterbelakangan karena kelemahan yang dialaminya. memasukkan pendidikan Islam dalam klasifikasi yang belum berjalan dan memberikan hasil memuaskan.4 Kenyataan yang ada ini. pendidikan Islam didesak untuk melakukan reorientasi Hujair A. 4 . pemerintah terutama para orang tua untuk mencegah daya selanjutnya. para psikolog. Maka dari itu. “Pendidikan Islam di Indonesia Suatu Kajian Upaya Membangun Masa Depan” dalam Muslih Usa dan Aden Wijdan Sz. yaitu pada konsep. Demikian gambaran kejahatan yang melanda masyarakat dunia yang boleh dikatakan telah terjadi penyakit yang perlu mendapatkan perawatan dengan segera.3 meminta korban orang-orang yang berada jauh dari lingkungan pendidikan. Kenyataannya pendidikan Islam belum memperlihatkan target yang maksimal. h. sistem dan kurikulumnya yang dianggap mulai kurang relevan dengan kemajuan peradaban manusia era millenium ketiga. Hal ini mempunyai pengertian belum mampu menjawab arus perkembangan zaman yang amat deras. 213. Sanaky. Dan yang lebih penting lagi peran pendidikan Islam sangat menentukan dan merupakan institusi yang paling strategis untuk mengatasi dekadensi moral menuju pengembangan akhlak.. H. op.

sehingga mampu menghadapi tantangan-tantangan yang tentunya dibarengi dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. M. dan kultural dalam menunjukkan peranannya. h. Karena memasuki abad ke-21 yang ditandai oleh berbagai perubahan fundamental dalam kehidupan manusia dengan ketatnya persaingan. Akhlak atau perilaku merupakan tujuan utama dalam proses pendidikan Islam telah gagal. 1991). 5 . Untuk suatu jangka panjang. penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan suatu keniscayaan. Apalagi di era millenium ketiga ini yang banyak memberi tantangan yang besar menuntut manusia untuk memiliki akhlak. sosiologis.4 tidak hanya yang berkaitan dengan kurikulum dan perangkat manajemen. tetapi juga strategi dan operasionalnya. sehingga lebih efektif dan efisien dalam arti pedagogis. Kapita Selekta Pendidikan Islam (Jakarta: Bina Aksara. Strategi dan taktik itu menuntut perombakan model-model sampai dengan institusi-institusinya.5 Namun. Arifin. Kemampuan bersaing suatu H. keadaan ini akan memberi pengaruh besar pada sisi manusiawi umat dan bangsa. melihat kondisi pendidikan Islam yang ada sekarang ini. yakni semakin menipisnya penjunjungan akhlak. yaitu hilangnya rasa ukhuwah yang telah membantu dalam membangun peradaban manusia yang saling tolong-menolong. sesungguhnya menghadapi bahaya besar. 3.

I. hendaknya selalu berakhlak di tengah-tengah kegelapan abad teknologi mutakhir ini.7 Dengan demikian. Pandangan ini menyesatkan dan keliru. Banyak manusia yang menyangka bahwa akhlak tidak ada kaitan dan pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. h. dan keahlian manajerial. Sejarah mencatat bahwa kegagalan dan keteledoran manusia dalam menempatkan akhlak pada posisinya dalam kerangka ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadikan masyarakat kacau dan tidak beradab. 7 6 . tetapi akan ditentukan penguasaan informasi. h.). pendidikan Islam seyogyanya tidak hanya memberi penekanan pada ajaran agama. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Teknologi yang bermanfaat dan berberkah hanya dapat terwujud dari akhlak yang terjalin dalam segenap susunan masyarakat. I. “Pembangunan Sumber Daya Manusia Berwatak Iptek” dalam Fuaduddin dan Cik Hasan Basri (ed. Sebagai manusia ciptaan Allah.6 Posisi akhlak dalam ilmu pengetahuan teknologi sering tidak disadari manusia. Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi Wacana tentang Pendidikan Agama Islam (Cet. 1999). Saefuddin. 206-209. A. Desekularisasi Pemikiran Landasan Islamisasi (Cet. bahwa akhlak bukanlah bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi. 1987). tetapi harus Hidayat Syarif. teknologi. M. 5. Bandung: Mizan.5 negara sudah tidak lagi semata-mata ditentukan oleh keunggulan komparatif yang didasarkan pada pemilihan sumber daya alam dan ketersediaan tenaga kerja murah.

Pengertian Akhlak Kata “akhlak” berasal dari bahasa Arab. h. 9 8 Arab-Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.. Karena mengembangkan sains dan teknologi tidak berarti bahwa pendidikan Islam harus meninggalkan peranannya dalam memberikan bekal ilmu-ilmu keagamaan kepada peserta didik di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. 17. Bagaimana dampak modernisasi pada era millennium ketiga terhadap kemerosotan akhlak? 3. PEMBAHASAN A.8 Juga berarti budi pekerti.9 sedangkan dalam Dàirat alAchmad Warson Munawwir. 1984). h. 1985). Al-Munawwir Kamus (Yogyakarta: Pondok Pesantren al-Munawwir. . Apa yang dimaksud dengan akhlak? 2. Bagaimana urgensi pendidikan akhlak di era millennium ketiga? II. bentuk jamak dari khulqun. yang berarti tabiat atau tingkah laku.6 pula mengarahkan peserta didik kepada penguasaan sains dan ilmu-ilmu lain serta keterampilan yang akan membantu mereka untuk menyongsong dan menghadapi kemajuan dan perubahan yang terus menerus terjadi. kelakuan. maka permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini ialah: 1. 393. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut di atas. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka.

Demikian pula berhubungan dengan maf’l. Ensiklopedia Islam Indonesia (Jakarta: Djambatan. juga berkaitan dengan f±’il. Dari pengertian etimologi seperti ini.7 Ma’àrif al-Islàmiyah adalah sifat-sifat atau adat istiadat kebiasaan manusia. yakni Kh±liqun. Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. akhlak bukan saja merupakan tata aturan atau norma perilaku yang mengatur hubungan antara sesama manusia. 1969). yakni makhlq. 11 10 . h. 436. Dari rangkaian istilah ini nampak sekali bahwa “akhlak” mempunyai dua segi kehidupan manusia yakni segi vertikal dan horizontal. 1992). yang berarti pencipta. Kairo: D±r al-Sya’bi. melainkan juga norma yang mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan.10 Kata tersebut mempunyai segi-segi persesuaian dengan istilah khulqun sebagai ma¡dar yang berarti kejadian. artinya kehidupan manusia adalah berhubungan dengan Kh±liq dan juga dengan makhlq. berikut ini akan dipaparkan pendapat dari beberapa ahli: Ibrahim Zaki Khursyid. D±irat al-Ma’±rif al-Isl±miyah (Cet. Karena itu dalam akhlak sudah tercakup etika lingkungan hidup sebagaimana yang digalakkan pertumbuhannya guna menjaga keharmonisan sistem lingkungan akibat proses pembangunan. yang berarti yang diciptakan.11 Dari segi terminologi. 98. I. dan bahkan dengan alam semesta. h.

1993). (Cet. maka kebiasaan itu dinamakan akhlak. A. maka dapat dikatakan bahwa akhlak adalah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan mudah karena kebiasaan. Farid Ma’ruf dengan judul Etika (Ilmu Akhlaq). VII. Bandung: Pustaka Setia.8 Menurut Ahmad Amin dalam bukunya al-Akhlàq yang diterjemahkan oleh K. A. 5. Meskipun sifat utama manusia cenderung kepada kebaikan.13 Dari beberapa pengertian akhlak oleh para ahli tersebut di atas. Karena akhlak yang baik bersumber pada Ahmad Amin. Mustofa. 13 12 H. . tanpa memerlukan pertimbangan pemikiran terlebih dahulu. Farid Ma’ruf bahwa Akhlak adalah kehendak yang dibiasakan. yakni keadaan jiwa yang telah terlatih dalam jiwa tersebut benar-benar telah melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan dan diangan-angan. Akhlak Tasauf (Cet. Mustofa. Jakarta: Bulan Bintang. 62. h. I. tetapi untuk memperoleh akhlak yang baik perlu ada caranya. “al-Akhl±q” diterjemahkan oleh K. 1997). Artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu. di mana kehendak tersebut berkombinasi dengan membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar (dalam arti akhlak yang baik) atau pihak yang jahat (dalam artian akhlak yang jahat). H. H. akhlak adalah tabiat atau sifat seseorang.12 Menurut H. h.

serta sesuai dengan akal dan syariat.14 B. Pertama. emosi dan ambisi yang seimbang dan terkendali sepenuhnya oleh akal dan syariat. dan kesejahteraan. proporsional. memperoleh perangai yang baik melalui perjuangan melawan nafsu dan latihanlatihan rohani. Tetapi orang dengan santer menggunakan istilah modernisasi. Kedua. melalui anugerah ilahi dan kesempurnaan fitri. kemudahan. dan dalam bermacam-macam pidato yang melambangkan kehidupan yang penuh kemajuan. hikmah yang sempurna. “Tahz³b al-Akhl±q wa Mu’±laj±t Amr±« al-Qulb” diterjemahkan oleh Muhammad al-Baqir dengan judul Mengobati Penyakit Hati Membentuk Akhlaq Mulia (Cet.9 kekuatan akal yang moderat dan proporsional. 1999). h. 14 . kekuatan ambisi dan emosi yang terkendali sedang. yaitu ketika seseorang manusia dilahirkan dalam keadaan memiliki akal yang sempurna dan perangai yang baik. entah itu dalam percakapan sehari-hari. Bandung: Karisma. seimbang. Untuk itu agar lebih jelas perbedaannya sebelum Abu Hamid Muhammad al-Ghazali. 4950. Dampak Modernisasi terhadap Kemerosotan Akhlak Kata modernisasi seringkali dipakai dan dipergunakan secara meluas di kalangan masyarakat. V. sementara itu pula sebagian orang salah menanggapi dengan mengidentikkan begitu saja istilah modernisasi dengan werternisasi. Untuk mencapai keseimbangan ini dapat ditempuh dengan dua cara. sambutan. tulisan.

material dan mental untuk kebahagiaan hidup kita sehari-hari. h. Modernisasi adalah suatu usaha secara sadar menyesuaikan diri dengan konstalasi dunia.15 Sedang westernisasi adalah mengadopsi gaya hidup Barat. dengan mempergunakan kemajuan ilmu pengetahuan. diambil alih.. meniru-niru dan mengambil alih cara hidup Barat. cit.16 Suatu bangsa dapat melakukan dan melaksanakan modernisasi walaupun dengan unsur-unsur kebudayaan Barat. 198. yang pada mulanya dikembangkan dan berasal dari dunia Barat. diadaptasi atau dibeli. mengadaptasi dan mempergunakan teknologi Barat dalam usaha modernisasi untuk mempercepat akselesari modernisasi yang sedang dilakukan. . Unsur-unsur kebudayaan yang barangkali paling penting dewasa ini adalah ilmu pengetahuan dan teknologi modern.10 lebih jauh membahas pada sub ini akan dijelaskan perbedaan antara modernisasi dan westernisasi. Lihat ibid. 199. op. sebagai perorangan. h. Jadi unsur-unsur kebudayaan yang berasal dari Barat dapat ditiru. bangsa atau umat manusia.. akan tetapi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat tidak perlu menyebabkan suatu bangsa 15 16 Faisal Ismail. Banyak negara yang telah membeli teknologi.

“The Their Wave” diterjemahkan oleh Sri Koesdiyantinah dengan judul Gelombang Ketiga (Cet. Teknologi informasi tidak akan mengubah kehidupan intelektual dan perilaku moral manusia secara substansial. I. 1998). tidak usah hidup seperti gaya dan cara hidup orang Barat.17 Revolusi informasi kini sedang dijajakan sebagai suatu rahmat besar bagi umat manusia. Sonny Yuliar. “Paradigma Membangun Masyarakat Sains dan Teknologi” dalam Musa Kazhim (ed. Jakarta: Panta Simpati. era informasi merupakan era masyarakat gelombang ketiga.). I. 253. dan berbagai tele-tele lain yang memang bisa sangat bermanfaat. Bandung: Pustaka Hidayah.11 menjadi seperti orang Barat. dan majalah-majalah yang mewah begitu menarik. Menuju Indonesia Baru Menggagas Reformasi Total (Cet. Lihat Alvin Toffler. 18 17 . Ini sangat berarti demi memudahkan kehidupan manusia. Penjajakannya yang agresif di televisi. makin produktif dan makin efektif. Bagaimana pun teknologi informasi memegang peranan penting di dalam diseminasi informasi dan mempercepat komunikasi. surat-surat kabar. 1990). Menurut persepsi Alvin Toffler. Teleeducation. dalam bukunya yang berjudul Gelombang Ketiga. h. Zaman sekarang sering didengung-dengungkan sebagai era informasi. telemedicine. Namun manfaat itu terbatas pada kehidupan material manusia. h.18 Ledakan informasi ini berkat teknologi komunikasi yang makin lama makin canggih. 32-35.

rumah keselamatan dan kesentosaan. 151-152. Setiap hari dihadapkan pada ledakan-ledakan informasi yang luar biasa. Pada abad modern nilai berganti dengan cepat. 1998).12 Dan ini betul-betul merupakan gejala yang mengglobal. merusak. Tauhid Sosial: Formula Menggempur Kesenjangan (Cet. h. dengan akibat timbulnya rasa tidak menentu serta kejutan-kejutan. Hal ini telah membawa ekses besar terhadap kemerosotan akhlak.19 Perkembangan dunia yang semakin maju yang mengarah kepada globalisasi ditandai dengan peningkatan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat dalam berbagai bidang. Amin Rais. Tidak ada pojok dunia yang tidak bisa dicapai dengan teknologi komunikasi. tapi di lain pihak ada informasi yang mengajak manusia membangun dan mengajak kepada hal-hal yang konstruktif. dan ada juga informasi yang menjurus kepada d±rus sal±m. Dengan kata lain. ada informasi yang menuju kepada d±rul bawarrumah adalah perkampungan kebinasaan. dan memisahkan manusia semakin jauh dari akhlak yang baik. Posisi akhlak dalam teknologi sering tidak disadari oleh manusia. Di satu pihak ada informasi yang menjurus kepada hal-hal yang destruktif. Bandung: Mizan. Pengguna teknologi tersebut merambah begitu cepat dan meliputi seluruh dunia. III. Banyak manusia yang menyangka bahwa akhlak tidak ada kaitannya terhadap M. demikian pula cara hidup. 19 . menurut istilah Alquran.

sehingga menimbulkan Abdul Munir Mulkhan.13 teknologi.20 Dalam memasuki abad XXI dewasa ini umat manusia di muka bumi menghadapi banyak masalah besar. akhlak bukanlah bagain dari teknologi. h. Religiusitas Iptek (Cet. dkk. 24. Pengertian ini adalah pengertian yang menyesatkan. 20 . 1998). Tuntutan hidup modern sudah merupakan kebutuhan suatu masyarakat yang ingin memenuhi tanggung jawab hidup dan mencapai kesejahteraan. I. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Karena itu. penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan prasarat untuk memenuhi kebutuhan hidup modern yang sudah memasuki seluruh wilayah kehidupan manusia dan masyarakat bangsa. antara lain kecenderungan sebagian umat manusia untuk tidak mengindahkan nilai-nilai moral. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan pasangan yang tidak bisa dipisahkan dari kemoderenan yang semula dimaksudkan sebagai model bagaimana manusia mengolah dan mengelola alam dan mengatur tingkah laku masyarakat sehingga mempermudah manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dan melaksanakan tanggung jawab kemanusiaan. Sejarah mencatat bahwa kegagalan dan keteledoran manusia dalam menempatkan akhlak pada posisinya dalam kerangka ilmu pengetahuan dan teknologi telah menciptakan susunan masyarakat menjadi kacau dan tidak beradab.

surut. Tentu saja dampak yang dihasilkan selain sifatnya positif juga negatif. pornografi dan penghancuran terhadap lembaga keluarga menjadi fenomena yang semakin membahayakan kelangsungan peradaban manusia. Yang terjadi justru sebaliknya. bahkan suka atau tidak suka proses globalisasi akan merembes menembus masuk ke segala wilayah kehidupan.14 kehidupan yang permisif (serba boleh). dan berbagai . terutama menyentuh peradaban dan akhlak manusia. pembunuhan. Proses globalisasi bukannya akan semakin mereda. penyalahgunaan narkotika. Di berbagai penjuru dunia terdapat kekuatan-kekuatan tertentu yang menawarkan semacam moralitas baru di mana nilai-nilai moral yang berasal dari agama dianggap telah usang. sehingga aborsi. Proses globalisasi justru akan berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. judi. Proses globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi belum dapat diketahui kapan berakhir. Tidak terhitung betapa banyak bentuk kriminalitas yang terjadi seperti pencurian. cepat atau lambat. perampokan. Disadari atau tidak. zina. miras. Kemerosotan akhlak adalah merupakan salah satu dampak negatif yang dihasilkannya. dan pada akhirnya berhenti.

Media informasi mutakhir sarat dengan pesan-pesan yang mendorong ibahan seksual. Jakarta : Rajawali. 1. h. Bandung: Mizan. antena parabola. I. jilid I (Cet. V.15 tindak asusila. Salah satu aspek sosial dari kehadiran teknologi informasi yang baru adalah penjadwalan kembali kegiatan sehari-hari. Kesemuanya merupakan penyakit sosial atau patologi sosial. 22 21 . Lihat Kartini Kartono. Selain itu akibat penetrasi media adalah hancurnya nilai-nilai tradisional dan masuknya nilai-nilai modern destruktif. 1997). tetapi juga membentuk jaringan interaksi sosial yang baru.22 Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memang telah banyak membantu dalam meningkatkan kualitas dan kesejahteraan kehidupan umat manusia di dunia. Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia (Cet. yaitu kehadirannya dan isinya. dan sebagainya bukan saja meningkatkan status sosial.). dan sekularisme. perilaku agresif. Kehadiran televisi. tape recorder. video. teknologi informasi dapat mempengaruhi lewat dua cara.21 Menurut Jalaluddin Rakhmat. Yang kita cemaskan adalah efek kehadiran teknologi informasi ini pada kegiatan mereka sehari-hari yang hanya digunakan untuk rekreasi dan bukan edukasi. 219223. Jalaluddin Rakhmat¸”Generasi Muda di Tengah Arus Perkembangan Informasi” dalam Idi Subandi Ibrahim (ed. Buat para pemuda. konsumerisme. h. 1997). Patologi Sosial. teknologi informasi yang baru pasti menarik.

“Kata Pengantar” dalam Affan Gaffar. Di atas landasan iman dan taqwa. landasan etika. xix. 1996). penerapan dan pemanfaatan hasil-hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat selama ini telah melahirkan tuntutan dan kesadaran baru akan pentingnya landasan etika dan dimensi spritualitas serta moralitas. karena itu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di satu pihak merupakan prasayarat yang niscaya bagi negeri-negeri yang sedang berkembang untuk memenangkan persaingan global yang semakin ketat. kejujuran. di lain pihak penguasaan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi itu perlu dikembangkan di atas landasan etika moralitas dan spritualitas yang kokoh.16 Namun bersamaan dengan itu. h. Dalam kehidupan ini selayaknya tidak boleh merasa bosan atau lelah untuk menciptakan kehidupan bangsa yang dalam segenap aspeknya ditunjang oleh akhlak dan hati B. J. Jakarta: Amanah Putra Nusantara. Habibie. I. dkk. Merebut Masa Depan (Cet. moralitas. dan spritualitas yang kukuh itu ialah iman dan taqwa. 23 . Bagi umat Islam. dan keadilan. harus mempersiapkan kader yang mendalami keimanan dan mengutamakan ketaqwaan.23 Menghadapi masa depan yang penuh tantangan. sehingga mereka tidak alergi berbicara tentang nilai-nilai kebenaran. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diarahkan secara benar menuju pemenuhan tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi.

sehingga dengan demikian ia akan menjadi panutan atau idola di tengah-tengah masyarakat. yaitu melaksanakan ajaran Islam secara totalitas. Akhlak dalam Islam dibina atas dasar prinsip mengambil yang utama dan mencampakkan yang buruk sesuai dengan konsepsi rabbani. dan masyarakat itu sendiri akan menaruh simpati kepada dirinya. akhlak juga merupakan sarana yang paling efektif dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam ke seluruh pelosok . Di samping itu. sungguh akan sangat membekas dalam jiwa seseorang. Urgensi Pendidikan Akhlak di Era Millenium Ketiga Dalam upaya pembinaan individu dan pendidikan masyarakat. Islam sangat memprioritaskan segi akhlak dalam pengertiannya yang luas. seberat apapun tantangan di masa depan insya Allah akan dapat diatasi. Akhlak yang diwujudkan dalam bentuk panutan yang baik. C..17 nurani. Ia juga harus konsekuen menurut prinsip-prinsip akhlak yang telah dicanangkan oleh Alquran dan dianjurkan oleh Rasulullah saw. Kita tidak boleh membiarkan akhlak dan moralitas hanya menjadi hiasan bibir. Maka seseorang muslim dituntut agar menjauhi hal-hal yang buruk menurut syariat Islam. Dengan bermodalkan akhlak mulia dan hati nurani yang bersih.

pengamalan dan latihan. 24 . Zakiah Daradjat mengemukakan bahwa pendidikan akhlak perlu dilakukan dengan cara: 1. 2. Menumbuhkembangkan dorongan dari dalam yang bersumber dari pada iman dan taqwa. Meningkatkan pengetahuan tentang Alquran lewat ilmu pengetahuan. Abdullah Na¡I¥ ‘Ulw±n. Untuk itu perlu pendidikan agama. yang baik menurut akhlak adalah apa yang baik menurut ajaran agama Islam. 1996). VIII. Tauhid mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pendidikan akhlak dalam pengertian Islam adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan agama. Pencipta alam semesta. agar dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Jakarta: Gema Insani Press.18 bumi dan untuk menuntun umat manusia ke jalan keimanan dan kebaikan. Pendidikan akhlak berkaitan dengan pendidikan agama. h. 110. akhlak dan ajaran-ajaran moral dalam Islam bersumber dari Tuhan dan oleh karena itu mempunyai dasar yang kuat. “Hatt± Ya’lamu al-Syab±b” diterjemahkan oleh Jamaluddin Sais dengan judul Pesan untuk Pemuda Islam (Cet.24 Akhlak merupakan ajaran dasar dalam Islam di samping tauhid (aqidah). dan sumber dari segala-galanya. dan yang buruk adalah apa dianggap buruk oleh ajaran agama Islam.

h. Pembiasaan dan pengulangan melaksanakan yang baik. Jakarta: Ruhama. Al-Gazali menganjurkan agar dalam mendidik anak dan membina akhlaknya dengan cara latihan-latihan dan pembiasaanpembiasaan yang sesuai dengan perkembangan jiwanya. latihan-latihan dan pembiasaan-pmebiasaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembinaan pribadi anak-anak. mana yang benar dan mana yang salah.19 3. maka contoh-contoh. Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah (Cet. kebiasaan yang mendalam tumbuh dan berkembang secara wajar dalam diri manusia. 5. 4. sebelum anak dapat berpikir logis dan memahami hal-hal yang abstrak serta belum sanggup menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Meningkatkan pendidikan keimanan. sehingga perbuatan yang baik itu menjadi keharusan moral dan perbuatan akhlak terpuji. 25 . karena masa kanak-kanak adalah masa yang paling baik untuk menanamkan dasar-dasar pendidikan anak. II. 1995). 11-13. Latihan untuk melakukan yang baik serta mengajak orang lain untuk bersama-sama melakukan perbuatan baik tanpa paksaan. yang menumbuhkan pada manusia kebebasan memilih yang baik dan melaksanakannya. Oleh Zakiah Daradjat.25 Jadi pendidikan akhlak itu sangat penting ditanamkan sejak dini.

. Tujuan dari pembinaan itu dimaksudkan agar dimensi-dimensi jasmaniah dari kepribadian anak dapat terbentuk dengan memberikan kecakapan berbuat dan berbicara. 1997).20 karena pembiasaan dan latihan tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak. h. Karena itu manusia dapat diperbaiki akhlaknya dengan mengosongkan dari dirinya segala sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji dan luhur. 106-107.26 Menurut Ibn Miskawaih. “Tahz³b al-Akhl±q wa Ta¯hìr al-A’r±q” oleh Helmi Hidayat dengan judul Menuju Kesempurnaan Akhlaq (Cet. III. Seluk Beluk Pendidikan dari al-Ghazali (Jakarta: Bumi Aksara. sebab kebanyakan anak-anak yang hidup dan dididik dengan suatu cara tertentu dalam masyarakat ternyata mereka berbeda secara mencolok dalam menerima nilai-nilai akhlak terpuji. 29-30. al. 1991). h. Persoalan gaya hidup sangat sulit dibendung Zainuddin et. yang lambat laun sikap itu akan bertambah jelas dan kuat. Ia juga adalah merupakan tujuan pokok ajaran agama yaitu mengajarkan sejumlah nilai akhlak mulia agar manusia mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya baik di dunia lebih-lebih di akhirat. Abd al-Amid dan Abu al-Dawlah bi Suwaihi. Bandung: Mizan. Pengaruh budaya menyebabkan gaya hidup seseorang bisa berubah. akhirnya tidak tergoyahkan lagi karena telah termasuk menjadi bagian dari kepribadiannya.27 bahwa akhlak dapat selalu berubah dengan kebiasaan dan latihan serta pelajaran yang baik. 27 26 .

Strategi kebudayaan dalam satu segi harus bermakna dan berintikan pembaharuan sistem pendidikan Islam. . 253-254. h. Bandung: Mizan. bagi seorang muslim hendaknya berusaha melawan. “A Young Muslim’s Guide to the Modern World” diterjemahkan oleh Hasti Tarekat dengan judul Menjelajah Dunia Modern (Cet. I. karena pendidikan merupakan sub sistem dalam keseluruhan sistem budaya. menggantinya dengan bentuk kehidupan dan perilaku lain yang berdasar pada rel-rel ajaran Islam. Dari corak dan mutu 28 Sayyed Hossen Nassr.28 Pendidikan Islam dalam era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini semakin dipertanyakan relevansinya. Pendidikan dan kebudayaan dapat dipandang sebagai refleksi kehidupan intelektual dan kultural umat Islam dalam perjalanan misi sejarah yang disandangnya. ia harus berada dalam kesadaran penuh untuk menahannya sebisa mungkin dan menghindari apa yang bisa dihindari. Yang paling penting adalah memahami kepentingan dan efek seluruh aspek gaya hidup modern ini. Juga seandainya seseorang harus mengadopsi hal-hal tertentu darinya. 1994). terutama jika dikaitkan dengan kontribusinya bagi pembentukan budaya modern yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu dan teknologi. atau setidaknya menyeleksi aspek-aspek gaya hidup modern. Namun.21 apalagi bagi generasi muda karena daya tariknya sangat besar.

yang baik menurut akhlak adalah apa yang baik menurut ajaran agama. Bertolak dari pemikiran semacam inilah. yang dibentuk secara harmonis berdasarkan potensi jasmani dan rohani manusia. 29 . Hal tersebut telah dirumuskan dalam tujuan pendidikan Islam menurut hasil Kongres Pendidikan Islam se-Dunia yaitu pendidikan harus mewujudkan cita-cita Islam yang mencakup pengembangan kepribadian muslim yang utuh. dan yang buruk adalah apa yang dianggap buruk oleh ajaran agama. Para ahli pendidikan Islam sepakat bahwa fungsi utama pendidikan Islam adalah pembentukan kepribadian muslim. Arifin. Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner (Jakarta: Bumi Aksara. yang beriman dan berilmu secara seimbang sehingga terbentuklah manusia muslim sempurna yang berjiwa tawakkal kepada Allah swt. 224. h. M. Pendidikan agama dan spritual H. 1991). maka pembaharuan pendidikan Islam merupakan suatu keharusan guna membentuk pilar-pilar kebudayaan masa depan yang kukuh kuat menopang bangunan Islam dan umatnya. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pendidikan akhlak dalam pengertian Islam adalah bagian dari pendidikan agama.22 pendidikanlah dapat diamati kualitas intelektual dan kultural umat Islam di masa depan.29 Pendidikan akhlak berkaitan erat dengan pendidikan agama.

bahkan sejak dalam kandungan akan lahir akhlak yang mulia sehingga manusia dari generasi ke generasi mempunyai akhlak yang baik. 1997). Kesimpulan Asnelly Ilyas. 69. rasul-rasul Allah. Mendambakan Anak Saleh: Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak dalam Islam (Bandung: Mizan. kemudian iman kepada malaikat. kitab-kitab yang diturunkan Allah. Pendidikan agama dan spritual ini berarti membangkitkan kekuatan dan kesediaan spritual yang bersifat naluri yang ada pada anak melalui bimbingan agama. Yang pertama sekali harus ditanamkan kepada anak adalah keimanan yang kuat kepada Allah. 30 . PENUTUP A. dan kepercayaan bahwa semua perbuatan manusia selalu di bawah pengawasan Allah. h. Dengan akhlak yang baik manusia akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. III. hari akhirat. Begitu juga membekali anak dengan pengetahuan agama dan kebudayaan Islam sesuai dengan tingkat perkembangannya.30 Demikian pentingnya pendidikan akhlak di era millennium ini dengan latihan dan pembiasaan sejak dini.23 termasuk aspek-aspek pendidikan yang harus mendapat perhatian penuh oleh pendidik terutama keluarga.

di mana kehendak tersebut berkombinasi dengan membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar (dalam arti akhlak yang baik) atau pihak yang jahat (dalam artian akhlak yang jahat). 2.24 Dari uraian yang telah dipaparkan pada pembahasan di atas dapat disimpulkan ke dalam beberapa poin penting. Salah satu aspek yang ikut berperan dalam pembentukan kepribadian muslim adalah materi pendidikan Islam. mengingat krisis akhlak (dekadensi) moral yang terjadi dalam dunia pendidikan dewasa ini banyak terkait dengan krisis yang melanda masyarakat. Esensi materi pendidikan Islam adalah akhlak. Namun sebagai inti materi pendidikan Islam. akhlak adalah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan mudah karena kebiasaan. akhlak adalah hal yang paling mendasar dalam pendidikan Islam. Jadi. Akhlak yang sempurna merupakan keberhasilan tercapainya tujuan pendidikan Islam. pendidikan Islam sangat berperan dalam pembentukan kepribadian muslim terutama menghadapi millenium ketiga. . tanpa memerlukan pertimbangan pemikiran terlebih dahulu. tapi bukan berarti bahwa pendidikan jasmani terabaikan. yaitu: 1.

karena akhlak merupakan hal yang paling penting dalam masyarakat dan dalam penyempurnaan suatu bangsa. dekadensi moral/akhlak generasi muda sangat memprihatinkan. Runtuhnya. sehingga tidak terjadi lagi dikotomi dalam pendidikan Islam. Oleh karena itu. Tentu saja dalam hal pembinaan akhlak orang tua memegang peranan penting selain di lembaga pendidikan formal. pendidikan Islam perlu ditanggulangi dengan perencanaan-perencanaan kependidikan yang strategis sesuai dengan aspirasi agama Islam yang diturunkan oleh Allah untuk menjadi ra¥matan li al-‘±lam³n. bobroknya) akhlak . B. atau memberi nafas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah pada setiap bidang studi pendidikan umum di semua jenjang pendidikan Islam. Strategi tersebut diwujudkan dalam program pendidikan yang mengintegrasikan pendidikan agama dengan pendidikan umum. Untuk itu pendidikan Islam sebagai lembaga formal bertanggung-jawab terhadap pembinaan akhlak generasi muda.25 3. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dipandang sebagai tantangan yang penuh resiko. Saran-saran Dalam perkembangan zaman. Kejayaan suatu negara dilihat dari generasi mudanya.

Tentu disadari bahwa usaha reorientasi pendidikan Islam ini adalah tidak mudah karena memerlukan pengorbanan baik material maupun spritual. Untuk mencapai cita-cita ini diperlukan dukungan dari semua pihak. . orang tua.26 generasi bangsa maka bangsa itu akan hancur. pendidik. Dengan adanya dukungan dari semua pihak. dan masyarakat. insya Allah apa yang dicita-citakan akan tercapai.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1997. Binarupa Aksara. Cet. Jakarta: Amanah Putra Nusantara. M. “Kata Pengantar” dalam Affan Gaffar. Jakarta: Balai Pustaka. Merebut Masa Depan. V. H. Ahmad. Jakarta: Ruhama. M. Daradjat. Jakarta: Bumi Aksara. Cet. Cet.X. I. F. Cet. J. Bandung: Karisma. III. Ghazali. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner. 1990. H. 1996. 1985. Bandung: Mizan. “Tahz³b al-Akhl±q wa Ta¯hìr al-A’r±q” oleh Helmi Hidayat dengan judul Menuju Kesempurnaan Akhlaq. Abd dan Abu al-Dawlah bi Suwaihi. B. 1993. Cet. 1991. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Amin. “Tahz³b al-Akhl±q wa Mu’±laj±t Amr±« al-Qulb” diterjemahkan oleh Muhammad al-Baqir dengan judul Mengobati Penyakit Hati Membentuk Akhlaq Mulia. 1995. Budianto. dengan judul Sepuluh Langkah Baru untuk Tahun 1990 Megatrends 2000. Farid Ma’ruf dengan judul Etika (Ilmu Akhlaq). . II. VII. Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah. H.27 DAFTAR PUSTAKA Amid. “al-Akhl±q” diterjemahkan oleh K. Arifin. 1999. 1991. Arifin. Jakarta: Bina Aksara. Cet. Jakarta: Bulan Bintang. Abu Hamid Muhammad. I . Zakiah. dkk. Habibie.

D±irat al-Ma’±rif al-Isl±miyah. Nassr. 1997. Akhlak Tasauf. 1984. Saefuddin. A. Rais. Ilyas. Amin. Mendambakan Anak Saleh: Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak dalam Islam. Cet. Cet. Desekularisasi Pemikiran Landasan Islamisasi. A. 1969. Patologi Sosial. Yogyakarta: Aditya Media. A. Yogyakarta: Pondok Pesantren al-Munawwir. Cet. Cet. M. Abdul Munir. “Perubahan Masyarakat dan Peran Pendidikan Islam Kajian Pembangunan dan Pembahasan Keterbelakangan Umat” dalam Muslih Wijdan Sz (Penyunting). Jakarta : Rajawali. 1998. Cet I . Bandung: Mizan. Orasi Ilmiah pada Upacara Wisuda Sarjana Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin di Kendari. Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Bandung: Pustaka Setia. Kartono. Mulkhan. I. “Generasi Muda di Tengah Arus Perkembangan Informasi” dalam Idi Subandi Ibrahim (ed. jilid I. 1997. 24 Desember 1996. Rasdiyanah. Cet. Muhammad. Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial. 1997. 1998. 1987 . Asnelly. Cet. V. Al-Munawwir Kamus ArabIndonesia. I. Munawwir. Bandung: Mizan. Sumber Daya Umat Islam dalam Era Globalisasi: Upaya Implementasi Teori Kekhalifaan. 1997. Kartini. Sayyed Hossen. Bandung: Mizan. Ibrahim Zaki. 1994.28 Idrus. Kairo: D±r al-Sya’bi. I. M. H. I. Mustofa. III. Cet. 1997. Bandung: Mizan. Bandung: Mizan. Tauhid Sosial: Formula Menggempur Kesenjangan. Cet. Rakhmat¸ Jalaluddin. I. Iptek. dkk. I. Religiusitas Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Achmad Warson. “A Young Muslim’s Guide to the Modern World” diterjemahkan oleh Hasti Tarekat dengan judul Menjelajah Dunia Modern. Khursyid.).

1998. al. Jakarta: Bumi Aksara. Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi Wacana tentang Pendidikan Agama Islam. Cet. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Toffler. “The Their Wave” diterjemahkan oleh Sri Koesdiyantinah dengan judul Gelombang Ketiga. VIII. I. Ensiklopedia Islam Indonesia. “Paradigma Membangun Masyarakat Sains dan Teknologi” dalam Musa Kazhim (ed. Yuliar. .29 Sanaky. “Pembangunan Sumber Daya Manusia Berwatak Iptek” dalam Fuaduddin dan Cik Hasan Basri (ed. I. Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jakarta: Djambatan. 1999. Zainuddin et.d. 1996.). Alvin. “Hatt± Ya’lamu al-Syab±b” diterjemahkan oleh Jamaluddin Sais dengan judul Pesan untuk Pemuda Islam.). Menuju Indonesia Baru Menggagas Reformasi Total. Sonny. I. Hujair A. 1991.. 1992. “Pendidikan Islam di Indonesia Suatu Kajian Upaya Membangun Masa Depan”t. Ulw±n. Hidayat. H. Jakarta: Panta Simpati. Cet. Syarif. Jakarta: Gema Insani Press. Seluk Beluk Pendidikan dari al-Ghazali. Abdullah Na¡i¥. 1990. Cet. Cet. Bandung: Pustaka Hidayah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful