Kata Pengantar Segala puja dan puji syukur kami ucapkan kepada Alloh SWT yang mana telah

memberikan rahmat dan hidayahnya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “KOMUNIKASI TERAPEUTIK” dengan sebaikbaiknya. Makalah yang berjudul Komunikasi Terapeutik ini berisikan penjelasan tentang pengertian komunikasi efektif dalam pelayanan kesehatan. Dalam menyusun makalah ini, kami juga menggunakan beberapa sumber sebagai referensi kami dari buku dan website. Kami sebagai penulis makalah ini menyadari bahwa makalah ini belum semurna, oleh karena itu saran dan kritik dari pembaca kami harapkan agar kami dapat memperbaiki kesalahan dan kekurangan kami dikemudikan hari. Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Mojokerto, 13 Oktober 2009 Penulis

BAB I PENDAHULUAN Komunikasi mempunyai banyak sekali makna dan sangat bergantung pada konteks pada saat komunikasi dilakukan. Bagi beberapa orang, komunikasi merupakan pertukaran informasi diantara dua orang atau lebih, atau dengan kata lain pertukaran ide atau pemikiran. Metodenya antara lain berbicara dan mendengarkan atau menulis dan membaca, melukis, menari, bercerita, dan ain sebagainya. Sehingga dapat dikatakan bahwa segala bentuk upaya penyampaian pikiran kepada orang lain, tidak hanya secara lisan (verbal) atau tulisan tetapi juga gerakan tubuh atau gestru (non verbal) Komunikasi merupakan suatu proses karena melalui komunikasi seseorang menyampaikan dan mendapat respons. Komunikasi dalam hal ini mempunyai dua tujuan, yaitu mempengaruhi orang lain dan untuk mendapat informasi. Akan tetapi komunikasi dapat digambarkan sebagai komunikasi yang memiliki kegunaan atau berguna (berbagi informasi, pemikiran, perasaan). Keterampilan berkomunikasi merupakan keterampilan yang dimiliki oleh seseorang untuk membangun suatu hubungan, baik tiu hub ungan yang kompleks maupun yang sederhana melalui sapaan atau hanya sekedar senyuman. Pesan verbal dan non verbal yang dimilki oleh seseorang menggambarkan secara utuh dirinya, perasaanya dan apa yang ia sukai dan tidak sukai. Melalui komunikasi seorang individu dapat bertahan hidup, membangun hubungan dan merasakan kebahagiaan. Effendy O.U (2002) dalam suryani (2005) menyatakan lima komponen dalam komunikasi yaitu komunikator, komunikan, pesan, media dan efek. Komunikator (pengirim pesan) menyampaikan pesan baik secara langsung atau melalui media kepada komunikas (penerima pesan) sehingga timbul efek atau akibat terhadap pesan yang telah diterima. Selain itu, komunikasi juga dapat memberikan umpan balik kepada komunikator sehingga terciptalah suatu komunikasi yang lebih lanjut. Keterampilan berkomunikasi merupakan critical skill yang harus dimiliki oleh perawat, karena komunikasi merupakan proses yang dinamis yang digunakan untuk mengumpulkan data pengkajian, memberikan pendidikan atau informasi kesehatan, mempengaruhi klien untuk mengaplikasikannya dalam hidup, menunjang sering,

Addalatoi (1983). seorang perawat yang tidak care dengan orang lain (pasien) adal berdosa. Seorang perawat yang berkomunikasi secara efektif akan lebih mampu dalam mengumpulkan data. melakukan perubahan untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah terjadinya masalah-masalah legal yang berkaitan dengan proses keperawatan. komunikasi merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan. tidak peduli terhadap pasien. Bucaille (1979) dan Amsyari (1995) menegaskan bahwa seorang perawat yang beragama. Seoarang perawat yang tidak menjalankan profesinya ecara profesional akan merugikan orang lain (pasien). Demikian pula ditegaskan dalam poter dan perry (1993) bahwa komunikasi dalam prosesnya terjadi dalam tiga tahaan yakni komunikasi interpersonal. Sehingga dapat juga disimpulkan bahwa dalam keperawatan. melakukan tindakan keperawatan (intervensi). . Komunikasi yang efektif merupakan hal yang esensial dalam menciptakan hubungan antara perawat dan klien. interpersonal dan komunal/ kelompok. menumbuhkan rasa percaya diri dan menghargai nilainilai klien. interpersonal dan publik. unit kerjanya dan dirinya sendiri. mengevaluasi pelaksanaan dari intervensi yang telah dilakukan. Komunikasi seorang perawat dengan pasien pada umumnya menggunakan komunikasi yang berjenjang yakni komunikasi interpersonal. tidak dapat bersikap masa bodoh.menumbuhkan rasa nyaman. Proses komunikasi dibangun berdasarkan hubungan saling percaya dengan klien dan keluarganya.

W (1998) menyatakan bahwa komunikasi terapeutik merupakan hubungan personal antara perawa dan klien. Northouse (1998) mendefinisikan komunikasi terapeutik sebagai kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu klien beradaptasi untuk stres.Sundeen (1990) menyatakan bahwa hubungan terapeutik adalah hubungan kerja sama yang ditandai tukar menukar perilaku. Akan tetapi. perawat membantu dan pasien menerima bantuan.BAB II LANDASAN TEORI A. bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. S. dalam hubungan ini perawat dan klien memperoleh pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional klien. Stuart G. dan merupakan tindakan profesional. namun harus direncanakan. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien. pikiran. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dan komunikasi in adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien. Indrawati (2003) mengemukakan bahwa komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar. dan pengalaman dalam membina hubungan intim yang terapeutik. perasaan. disengaja. mengatasi gangguan psikologis dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. Pengertian Komunikasi dalam keperawatan disebut dengan komunikasi terapeutik. dalam hal ini komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat pada saat melakukan intervensi keperawatan harus mampu memberikan khasiat therapi bagi proses penyembuhan pasien. Sedangkan Arwana (2003) menyatakan bahwa komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan. Oleh karenanya seorang perawat harus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan aplikatif komunikasi terapeutik agar kebutuhan dan kepuasan pasien dapat dipenuhi. . jangan sampai karena terlalu asyik bekerja. kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya.

penerimaan diri dan peningkatan penghormatan diri Memulai komunikasi terapeutik diharapkan terjadi perubahan dalm diri klien. Tujuan Komunikasi terapeutik bertujuan untuk mengembangkan pribadi klien kearah yang lebih positif atau adaptif dan diarahkan pada pertumbuhan klien yang meliputi : 1. penurunan harga diri. merasa tidak berarti dan pada akhirnya merasa putus asa dan depresi. Rogers (1974) dalam Abraham dan Shanley (1997) mengemukakah bahwa hubungan mendalam yang digunakan dalam proses interaksi antara perawat dan klien merupakan area untuk mengekspresikan kebutuhan.Dari beberapa pengertian diatas dapat dipahami bahwa komunikasi terpeutik adalah komunikasi yang memiliki makna terapeutik bagi klien dan dilakukan oleh perawat untuk membantu klien mencapai kembali kondisi yang adaptif dan pootif. Terkadang klien menetapkan ideal diri atau tujuan terlalu tinggi tanpa mengukur kemampuannya. mengalami gambaran diri. perawat akan dapat meningkatkan kemampuan klien dalam membina hubungan saling percaya (Hibdon. Dengan komunikasi yang terbuka. jujur dan menerima klien apa adanya. orang belajar bagaimana menerima dan diterima orang lain. Kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak superfisial dan saling bergantung dengan orang lain. Taylor. Klien yang menderita penyakit kronis ataupun terminal umumnya mengalami perubahan dalam dirinya. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan mencapai tujuan yang reistis. kebutuhan serta kebutuhan serta . 200). Lilis dan La Mone (1997) mengemukakan bahwa individu yang merasa kenyataan dirinya mendekati ideal diri mempunyai harga diri yang tinggi sedangkan individu yang merasa kenyataan hidupnya jauh dari ideal dirinya akan merasa rendah diri. 3. 4. Melalui komunikasi terapeutik. memecahkan masalah dan meningkatkan kemampuan koping. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan mencapai tujuan yang reistis. ia tidak mampu menerima keberadaan dirinya. B. Realisi diri. 2.

Hubungan saling percaya antara perawat dan klien adalah kunci dan komunikasi terapeutik. Prinsip Dasar Komunikasi Terapeutik Komunikasi terapeutik meningkatkan pemahaman dan membantu terbentuknya hubungan yang konstruktif meningkatkan pemahaman dan membantu terbentuknya hubungan yang konstruktif diantar perawat klien. budaya. Perawat haruis menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap maupun tingkah lakunya . dalam hal ini perawat harus mampu menjaga harga dininya dan harga diri klien. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik maupun mental. Tidak seperti komunikasi sosial. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan perawat dapat membantu klien meningkatkan integritas dirinya dan identitas diri yang jelas. dan keunikan setiap . 6. 4. 9. Hubungan perawat dan klien adalah hubungan terapeutik yang saling menguntungkan.1998). Oleh karena itu sangat penting bagi perawat untuk memahami prinsip dasar komunikasi terapeutik berikut ini : 1. memahami perasaan dan perilaku klien dengan melihat perbedaan latar belakang keluarga. 8. 5. Komunikasi yang menciptakan tumbuhnya hubungan saling percaya (trust) harus dicapai terlebih dahulu sebelum menggali permasalahan dan memberikan alternatif pemecahan masalah (Stuart. menghayati nilai yang dianut oleh klien. Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima.individu. Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut. saling percaya dan saling menghargai. Perawat harus menghargai keunikan klien. komunikasi ini mempunyai tujuan untuk membantu klien mencapai suatu tujuan dalam asuhan keperawatan. menghargai perbedaan karakter. 7. C.Klien yang mengalami gangguan identitas personal biasanya tidak mempunyai rasa percaya diri dan mengalami harga diri rendah. didasarkan pada prinsip ‘humanity of nurses and clients’ 2. Perawat harus memahami. Semua komunikasi yang dilakukan harus dapat menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan. 3.

F. 3. 2 Empati (Empathy) Merupakan sikap jujur dalam menerima kondisi pasien. Terjadi antara perawat dengan pasien Mempunyai hubungan akrab Berfokus pada pasien yang membutuhkan bantuan Perawat dengan aktif. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira. 2003 : 54). 4. Obyektif dalam memberikan penilaian terhadap kondisi pasien dan tidak berlebihan. mendengarkan dan memberikan respon pada . keberhasilan maupun fungsi. sehingga pasien bisa mengekspresikan perasaannya lebih mendalam. 3. 1. 2.Ciri Komunikasi Terapeutik Komunikasi terapeutik mempunyai ciri sebagai berikut 1.sehingga tumbuh makin matang dan dapat memecahkan masalah – masalah yang dihadapi. komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal. Menurut Potter dan Perry (1993) dalam Purba (2003). 10. interpersonal dan publik. Hangat (Warmth) Kehangatan dan sikap permisif yang diberikan diharapkan pasien dapat memberikan dan mewujudkan ide-idenya tanpa rasa takut. marah. Jenis Komunikasi Terapeutik Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Ciri . Ikhlas (Genuiness) Semua perasaan negatif yang dimiliki oleh pasien barus bisa diterima dan pendekatan individu dengan verbal maupun non verbal akan memberikan bantuan kepada pasien untuk mengkomunikasikan kondisinya secara tepat. pasien E. Karakteristik Komunikasi Terapeutik Ada tiga hal mendasar yang memberi ciri-ciri komunikasi terapeutik yaitu sebagai berikut: (Arwani. sedih. D.

observasi dan ingatan. Sering juga untuk menyampaikan arti yang tersembunyi. seperti komunikasi melalui surat menyurat. pembuatan memo. Komunikasi Verbal Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka. dan menguji minat seseorang. atau menguraikan obyek. laporan. Komunikasi Verbal yang efektif harus: 1) Jelas dan ringkas 2) Perbendaharaan Kata (Mudah dipahami) 3) Arti denotatif dan konotatif 4) Selaan dan kesempatan berbicara 5) Waktu dan Relevansi 6) Humor 2. dan Tappen (1995) dalam Purba (2003) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal.lain. Komunikasi Tertulis Komunikasi tertulis merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sering digunakan dalam bisnis. tertulis dan non-verbal yang dimanifestasikan secara terapeutik.Menurut Potter dan Perry (1993). Prinsip-prinsip komunikasi tertulis terdiri dari : 1) Lengkap 2) Ringkas 3) Pertimbangan 4) Konkrit 5) Jelas 6) Sopan 7) Benar . iklan di surat kabar dan lain. 1. Kata-kata adalah alat atau simbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan. Szilagyi (1984). Swansburg (1990). Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap individu untuk berespon secara langsung. membangkitkan respon emosional.

menafsirkan dan menjelaskan komunikasi lisan. surat perintah. surat pengangkatan. Perawat perlu menyadari pesan verbal dan non-verbal yang disampaikan klien mulai dan saat pengkajian sampai evaluasi asuhan . misalnya surat yang telah diarsipkan. 5) Pedoman atau dasar bertindak. 4) Jaminan keamanan. Merupakan cara yang paling meyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. 7) Membentuk dasar kontrak atau perjanjian 8) Untuk penelitian dan bukti di pengadilan Kerugian Komunikasi tertulis adalah: 1) Memakan waktu lama untuk membuatnya 2) Memakan biaya yang mahal 3) Komunikasi tertulis cenderung lebih formal 4) Dapat menimbulkan masalah karena salah penafsiran 5) Susah untuk mendapatkan umpan balik segera 6) Bentuk dan isi surat tidak dapat di ubah bila telah dikirimkan 7) Bila penulisan kurang baik maka akan membingungkan Si pembaca. 3. misalnya. persetujuan operasi. evaluasi dan ringkasan 5) menyebarkan informasi kepada khalayak ramai 6) Dapat menegaskan. Komunikasi Non Verbal Komunikasi non-verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan kata-kata. misalnya surat keputusan. misalnya surat dalam arsip lama yang digali kembali untuk mengetahui perkembangan masa lampau. umpamanya surat keterangan jalan.Fungsi komunikasi tertulis adalah: 1) Sebagai tanda bukti tertulis yang otentik. 2) Alat pengingat/berpikir bilamana diperlukan. 3) Dokumentasi historis. Keuntungan Komunikasi tertulis adalah: 1) Adanya dokumen tertulis 2) Sebagai bukti penerimaan dan pengiriman 3) Dapat meyampaikan ide yang rumit 4) Memberikan analisa.

Atas dasar itu maka ada ahli kumunikasi non verbal yang mengatakan haptik itu sama dengan menepuk-nepuk. 2) Proksemik Proksemik yaitn bahasa non verbal yang ditunjukkan oleh “ruang” dan “jarak” antara individu dengan orang lain waktu berkomunikasi atau antara individu dengan objek. Perawat yang mendektesi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. 4) Paralinguistik Paralinguistik meliputi setiap penggunaan suara sehingga dia bermanfaat kalau kita hendak menginterprestasikan simbol verbal. Ini berbeda dengan orang Batak dan Timor yang mengungkapkan segala sesuatu dengan suara keras. memegang. cara memakai kondom. mengelus dan mencubit. Mengeritik orang lain biasanya tidak diungkapkan secara langsung tetapi dengan anekdot. dan lain-lain. meraba-raba. cara mengaduk obat. orang-orang Muang Thai merupakan orang yang rendah hati. Perhatikan bahwa dalam pengalihan informasi mengenai kesehatan. para penyuluh tidak saja menggunakan katakata secara verbal tetapi juga memperkuat pesan-pesan itu dengan bahasa isyarat untuk mengatakan suatu penyakit yang berbahaya. mirip dengan orang jawa yang tidak mengungkapkan kemarahan dengan suara yang keras.keperawatan. artinya tidak ada lagi jarak di antara dua orang waktu berkomunikasi. Haptik mengkomunikasikan relasi anda dengan seseorang. Morris (1977) dalam Liliweni (2004) membagi pesan non verbal sebagai berikut: 1) Kinesik Kinesik adalah pesan non verbal yang diimplementasikan dalam bentuk bahasa isyarat tubuh atau anggota tubuh. obat yang mujarab. 3) Haptik Haptik seringkali disebut zero proxemics. . karena isyarat non verbal menambah arti terhadap pesan verbal. Sebagai contoh.

warna dan huruf yang mengandung visi dan misi organisasi. artinya bagaimana kita merancang pesan sedemikian rupa sehingga mampu mempengaruhi orang lain agar mereka dapat mengetahui informasi. mobil. terutama bagi organisasi swasta. Sepeda motor. Salah satu keutamaan pesan atau informasi kesehatan adalah persuasif. building trust. kurus. Fase ini dicirikan oleh lima kegiatan pokok yaitu testing. kulkas. Kita dapat menduga status sosial seseorang dan pakaian atau mobil yang mereka gunakan. namun model keija m dapat ditirn dalam komunikasi kesehatan. clarification of roles dan contract formation. maka makin tinggi status sosial orang itu. Kita sering menilai seseorang mulai dari warna kulitnya. (Liliweri. lalu bagaimana cara benda-benda itu digunakan untuk menampilkan pesan tatkala dipergunakan. ceking. Namun dalam situasi sosial tertentu benda-benda itu memberikan pesan kepada orang lain.5) Artifak Kita memehami artifak dalam komunikasi komunikasi non verbal dengan pelbagai benda material disekitar kita. 7) Tampilan Fisik Tubuh Acapkali anda mempunyai kesan tertentu terhadap tampilan fisik tubuh dari lawan bicara anda. Biasanya logo dirancang untuk dijadikan simbol da suatu karaya organisasi atau produk da suatu organisasi. 6) Logo dan Warna Kreasi pan perancang untuk menciptakan logo dalam penyuluhan merupaka karya komunikasi bisnis. dan lain-lain). identification of problems and goals. komputer mungkin sekedar benda. menikmati informasi. 2007:108). Tipe tubuh itu merupakan cap atau warna yang kita berikan kepada orang itu. gendut. G. bungkuk. gemuk. Makin mahal mobil yang mereka pakai. Orientasi (Orientation) Pada fase ini hubungan yang terjadi masih dangkal dan komunikasi yang terjadi bersifat penggalian informasi antara perawat dan pasien. tipe tubuh (atletis. Bentuk logo umumnya berukuran kecil dengan pilihan bentuk. . Fase – fase Komunikasi Terapeutik 1. memutuskan untuk membeli atau menolak produk bisnis yang disebarluaskan oleh sumber informasi. pakaian. televisi.

Fase ini terdiri dari dua kegiatan pokok yaitu menyatukan proses komunikasi dengan tindakan perawatan dan membangun suasana yang mendukung untuk proses perubahan. karena tanpa adanya kejujuran mustahil bisa terbina hubungan saling percaya. Kejujuran Kejujuran sangat penting. 2003 61). Menurut Roger dalam Stuart G. H. Kegiatan pada fase ini adalah penilaian pencapaian tujuan dan perpisahan (Arwani.2. Hubungan Perawat dan Klien/Helping Relationship Salah satu karakteristik dasar dan komunikasi yaitu ketika seseorang melakukan komunikasi terhadap orang lain maka akan tercipta suatu hubungan diantara keduanya. Ketika hubungan antara perawat dan Klien terjadi. untuk mencapai tujuan yaitu terpenuhinya kebutuhan dasar manusia klien. Pada konteks keperawatan hubungan yang dimaksud adalah hubungan antara perawat dan klien. perawat sebagai penolong (helper) membantu klien sebagai orang yang membutuhkan pertolongan. yaitu: 1. agar tujuan yang tercapai adalah kondisi yang saling menguntungkan dan memuaskan. Helping relationship adalah hubungan yang terjadi diantara dua (atau lebih) individu maupun kelompok yang saling memberikan dan menerima bantuan atau dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sepanjang kehidupan. 3. ada beberapa karakteristik seorang helper (perawat) yang dapat memfasilitasi tumbuhnya hubungan yang terapeutik. Kerja (Working) Pada fase ini perawat dituntut untuk bekerja keras untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan pada fase orientasi. Seseorang akan menaruh rasa percaya pada lawan . selain itu komunikasi bersifat resiprokal dan berkelanjutan. Bekerja sama dengan pasien untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang merintangi pencapaian tujuan. Penyelesaian (Termination) Paa fase ini perawat mendorong pasien untuk memberikan penilaian atas tujuan telah dicapai. Hal inilah yang pada akhirnya membentuk suatu hubungan ‘helping relationship’.W (1998).

karena dengan sikap diri perawat akan mampu merasakan dan memikirkan permasalahan klien seperti yang dirasakan dan dipikirkan klien (Brammer.2005). penuh perhatian dan penghargaan terhadap klien. Bersikap positif Bersikap positif terhadap apa saja yang dikatakan dan disampaikan lewat komunikasi nonverbal sangat penting baik dalam membina hubungan saling percaya maupun dalam membuat rencana tindakan bersama klien..). J. perawat sebaiknya menggunakan katakata yang mudah dipahami oleh klien dan tidak menggunakan kalimat yang berbelit-belit.1996 dalam Suryani. Bersikap positif ditunjukkan dengan bersikap hangat. 3. sebaliknya ia akan berhati-hati pada lawan bicara yang terlalu halus sehingga sering menyembunyikan isi hatinya yang sebenarnya dengan kata-kata atau sikapnya yang tidak jujur (Rahmat. Tidak membingungkan dan cukup ekspresif Dalam berkomunikasi dengan klien. merasa dibohongi.2005). Untuk mencapai kehangatan dan ketulusan dalam hubungan yang terapeutik tidak memerlukan kedekatan yang kuat atau ikatan tertentu diantara perawat dan klien akan tetapi penciptaan suasana yang dapat membuat klien merasa aman dan diterima dalam mengungkapkan perasaan dan pikirannya (Burnard. Komunikasi nonverbal perawat harus cukup ekspresif dan sesuai dengan verbalnya karena ketidaksesuaian akan menimbulkan kebingungan bagi klien. Dengan bersikap empati perawat dapat memberikan alternative pemecahan masalah karena perawat tidak hanya merasakan permasalahan klien tetapi juga tidak berlarut-larut dalam perasaan tersebut dan untuk berupaya mencari penyelesaian masalah secara objektif. Empati bukan simpati Sikap empati sangat diperlukan dalam asuhan keperawatan. 4.bicara yang terbuka dan mempunyai respons yang tidak dibuat-buat. Sangat penting bagi perawat untuk menjaga kejujuran saat berkomunikasi dengan klien. 2.1991 dalam Suryani. .P dan Morrison P. 1993 dalam Suryani.2005). karena apabila hal tersebut tidak dilakukan maka klien akan menarik diri. membenci perawat atau bisa juga berpurapura patuh terhadap perawat.

tetapi berfokus pada kebutuhan pembicara. Mendengarkan dengan penuh perhatian menunjukkan sikap caring sehingga memotivasi klien untuk berbicara atau menyampaikan perasaannya.5. 1995 dalam Suryani. Jika seseorang merasa diterima maka dia akan merasa aman dalam menjalin hubungan interpersonal (Sullivan. 2005). Lilis dan Le Mone. Stuart G. Mendengarkan dengan penuh perbatian berarti mengabsorpsi isi dan komunikasi (kata-kata dan perasaan) tanpa melakukan seleksi. 1971 dalam Antai Ontong. Mampu melihat permasalahan dan kacamata klien Dalam memberikan asuhan keperawatan. 8. 6. 7. demikian pula terhadap dininya sendiri. Nilai yang diyakini atau diterapkan oleh perawat terhadap dirinya tidak dapat diterapkan pada klien. perawat harus berorientasi pada klien (Taylor. apabila hal ini terjadi maka perawat tidak menunjukkan sikap menerima klien apa adanya. Menerima klien apa adanya Seorang helper yang efektif memiliki kemampuan untuk menerima klien apa adanya. Tahapan Komunikasi Terapeutik Telah disebutkan sebelumnya bahwa komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang terstruktur dan memiliki tahapan-tahapan.W. 1998 menjelaskan bahwa dalam prosesnya komunikasi terapeutik terbagi menjadi . I. Dengan bersikap sensitif terhadap perasaan klien perawat dapat terhindar dan berkata atau melakukan hal-hal yang menyinggung privasi ataupun perasaan klien. Pendengar (perawat) tidak sekedar mendengarkan dan menyampaikan respon yang di inginkan oleh pembicara (klien). oleh karenanya perawat harus mampu untuk melihat permasalahan yang sedang dihadapi klien dan sudut pandang klien. 1993). Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu klien ataupun diri perawat sendiri Perawat harus mampu memandang dan menghargai klien sebagai individu yang ada pada saat mi. bukan atas masa lalunya. Untuk mampu melakukan hal ini perawat harus memahami dan memiliki kemampuan mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian. Sensitif terhadap perasaan klien Seorang perawat harus mampu mengenali perasaan klien untuk dapat menciptakan hubungan terapeutik yang baik dan efektif dengan klien.

G. Tugas perawat dalam tahapan ini adalah: a. dia tidak akan mampu mendengarkan apa yang dikatakan oleh klien dengan baik (Brammer. Mengeksplorasi perasaan. d. 1993 dalam Suryani. 2005). mendefinisikan harapan dan mengidentifikasi kecemasan. Tahap Persiapan/Pra-interaksi Dalam tahapan ini perawat menggali perasaan dan menilik dirinya dengan cara mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. 2000 dalam Suryani. . b. Tujuan dalam tahap ini adalah memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat sesuai dengan keadaan klien saat mi. serta mengevaluasi basil tindakan yang telah lalu (Stuart. 1. Merencanakan pertemuan pertama dengan klien.empat tahapan yaitu tahap persiapan atau tahap pra-interaksi. Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri. Hal ini disebabkan oleh adanya kesalahan dalam menginterpretasikan apa yang diucapkan oleh lawan bicara. tahap perkenalan atau orientasi. Kecemasan yang dialami seseorang dapat sangat mempengaruhi interaksinya dengan orang lain (Ellis. c. 2005) sehingga tidak mampu melakukan active listening (mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian). Gates dan Kenworthy. Tahap Perkenalan/Orientasi Tahap perkenalan dilaksanakan setiap kali pertemuan dengan klien dilakukan. menunjukkan penerimaan dan komunikasi terbuka. Pada saat perawat merasa cemas. tahap kerja dan tahap terminasi. Tugas perawat dalam tahapan ini adalah: a. Setelah hal ini dilakukan perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan klien. Tahapan im dilakukan oleh perawat dengan tujuan mengurangi rasa cemas atau kecemasan yang mungkin dirasakan oleh perawat sebelum melakukan komunikasi terapeutik dengan klien. Pada tahap ini juga perawat mencari informasi tentang klien sebagai lawan bicaranya. 1998). 2.W. Membina rasa saling percaya. Mengumpulkan data tentang klien.

W. dan membantu perawat dan klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray.W. dan topik pembicaraan) bersama-sama dengan klien dan menjelaskan atau mengklarifikasi kembali kontrak yang telah disepakati bersama. Tahap Kerja Tahap kerja merupakan inti dan keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart.G.B.2005). Menggali pikiran dan perasaan serta mengidentifikasi masalah klien yang umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik komunikasi pertanyaan terbuka.1997 dalam Suryani. perawat diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. c. Merumuskan kontrak (waktu.P. 4. Sangat penting bagi perawat untuk melaksanakan tahapan ini dengan baik karena tahapan ini merupakan dasar bagi hubungan terapeutik antara perawat dan klien.1998). Tahap kerja merupakan tahap yang terpanjang dalam komunikasi terapeutik karena didalamnya perawat dituntut untuk membantu dan mendukung klien untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya dan kemudian menganalisa respons ataupun pesan komunikasi verbal dan non verbal yang disampaikan oleh klien. & Judith.1998). tempat pertemuan. Merumuskan tujuan interaksi dengan klien.b. d. Dalam tahap ini pula perawat mendengarkan secara aktif dan dengan penuh perhatian sehingga mampu membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Di bagian akhir tahap mi. Tahap tenninasi dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart. Dengan dilakukannya penarikan kesimpulan oleh perawat maka klien dapat merasakan bahwa keseluruhan pesan atau perasaan yang telah disampaikannya diterima dengan baik dan benar-benar dipahami oleh perawat. Tahap Terminasi Terminasi merupakan akhir dan pertemuan perawat dan klien. mencari penyelesaian masalah dan mengevaluasinya. Teknik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan. .G. Terminasi sementara adalah akhir dan tiap pertemuan perawat dan klien. 3.

Menunjukkan penerimaan berarti kesediaan mendengar tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan. Penerimaan bukan berarti persetujuan. kegiatan Mendengar pasif adalah kegiatan mendengar dengan non verbal untuk klien. Klarifikasi sama dengan validasi yaitu menanyakan kepada klien apa yang tidak dimengerti perawat terhadap situasi yang ada. Mendengar mempunyai arti: konsentrasi aktif . Penerimaan: Yang dimaksud menerima adalah mendukung dan menerima informasi dengan tingkah laku yang menunjukkan ketertarikan dan tidak menilai. Tehnik Komunikasi Terapeutik 1. . J. Klarifikasi dilakukan apabula pesan yang disampaikan oleh klien belum jelas bagi perawat dan perawat mencoba memahami situasi yang digambarkan oleh klien. Misalnya dengan kontak mata. 4. Liendberg et al. sedangkan terminasi akhir dilakukan oleh perawat setelah menyelesaikan seluruh proses keperawatan. Brammer dan McDonald (1996) menyatakan bahwa meminta klien untuk menyimpulkan tentang apa yang telah didiskusikan merupakan sesuatu yang sangat berguna pada tahap ini. cit Nurjanah (2001) 2. Melakukan evaluasi subjektif dengan cara menanyakan perasaan klien setelah berinteraksi dengan perawat. Tindak lanjut dievaluasi dalam tahap orientasi pada pertemuan berikutnya. Klarifikasi. Tugas perawat dalam tahap ini adalah: Mengevaluasi pencapaian tujuan dan interaksi yang telah dilaksanakan (evaluasi objektif). menganggukkan kepala dan juga keikutsertaan secara verbal 3. Tindak lanjut yang disepakati harus relevan dengan interaksi yang baru saja dilakukan atau dengan interaksi yang akan dilakukan selanjutnya. Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan.dan persepsi terhadap pesan orang lain yang menggunakan semua indra.setelah hal ini dilakukan perawat dan klien masih akan bertemu kembali pada waktu yang berbeda sesuai dengan kontrak waktu yang telah disepakati bersama. Mendengar aktif. Mendengar pasif.

(2001). Beberapa keuntungan dari menawarkan informasi adalah akan memfasilitasi komunikasi. meskipun begitu diam yang tidak tepat menyebabkan orang lain merasa cemas. Menyediakan tambahan informasi dengan tujuan untuk mendapatkan respon lebih lanjut. . 7. Stuart & Sundeen. Observasi dilakukan apabila terdapat konflik antara verbal dan non verbal klien dan saat tingkah laku verbal dan non verbal nyata dan tidak biasa ada pada klien. cit Nurjanah (2001). Stuart & Sundeen. memproses informasi. Observasi dilakukan sedemikian rupa sehingga klien tidak menjadi malu atau marah. mendorong pendidikan kesehatan. 9. 10. Memberi kesempatan untuk mengklarifikasi komunikasi agar sama denga ide dalam pikiran. Stuart & Sundeen. Nurjanah. cit. Diam (memelihara ketenangan). 2001. cit. Menyimpulkan. Diam disini juga menunjukkan kesediaan seseorang untuk menanti orang lain agar punya kesempatan berpikir. Fokusing. Diam tidak dapat dilakukan dalam waktu yang lama karena akan mengakibatkan klien menjadi khawatir. Varcarolis.5. Diam dapat juga diartikan sebagai mengerti. atau marah. cit Nurjanah (2001). 6. menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk menunggu respon. dan memfasilitasi klien untuk mengambil keputusan. Menawarkan informasi. Fokusing adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan untuk membatasi area diskusi sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti. Kediaman ini akan bermanfaat pada saat klien mengalami kesulitan untuk membagi persepsinya dengan perawat. Observasi merupakan kegiatan mengamati klien/orang lain. 8. 2001. Nurjanah. Observasi. Hal yang tidak boleh dilakukan adalah menasehati klien pada saat memberikan informasi. Diam dilakukan dengan tujuan mengorganisir pemikiran. Nurjanah. Assertive: Assertive adalah kemampuan dengan secara meyakinkan dan nyaman mengekspresikan pikiran dan perasaan diri dengan tetap menghargai hak orang lain. Penahanan informasi pada saat klien membutuhkan akan mengakibatkan klien tidak percaya. Membawa poin-poin penting dari diskusi untuk meningkatkan pemahaman.

Offering general leads (memberikan petunjuk umum). Mendukung klien untuk meneruskan. Menawarkan diri adalah menyediakan diri anda tanpa respon bersyarat atau respon yang diharapkan. penghargan merupakan tehnik untuk memberikan menandakan kesadaran. cit. Schultz & Videbeck. 2001. Encourage deskripition of perception (mendukung deskripsi dari persepsi). Schulz & Videbeck.11. 15. Boyd & Nihart. 2001 17.cit. Placing the time in time/sequence (penempatan urutan/waktu). Nurjanah. Encourage Comparison (mendukung perbandingan). 2001. Menanyakan kepada klien mengenai persamaan atau perbedaan 18. 19. Nurjanah 20. 16. 2001 14. Nurjanah. Reflekting (Refleksi): Digunakan pada saat klien menanyakan pada perawat tentang peneliaian atau kesetujuannya. Giving recognition (memberiakn pengakkuan/penghargaan). meyakinkan atau tidak mengakui klien. Stuart & Sundeen. Teknik bernilai terapeutik apabila perawat dapat mengeksplorasi klien dan memahami masalah yang penting. Offering Sel (menawarakan diri). Nurjanah. 2001. 2001 13. Mempelajari suatu topik lebih mendalam . Restating (mengulang) Restating. cit. Nurjanah. Schultz & Videbeck cit. Schultz & Videbeck. Stuart % Sundeen. Nurjanah. Memberi dan pengakkuan 12. cit. cit. Tehnik ini akan membantu perawat untuk tetap memelihara pendekatan yang tidak menilai. Eksploring (Eksporasi). adalah pengulangan pikiran utama yang diekspresiakn klien. Melakukan klarifikasi antara waktu dan kejadian atau antara satu kejadian dengan kejadian lain. Tehnik ini menjadi tidak terapeutik bila perawat memberikannasehat. Kegiatan ini bernilai terapeuitik apabila klien menunjukkan penerimaan dan nilai dari inisiatif klien dan menjadi non terapeuitk apabila perawatan mendominasi interaksi dan menolak res[pon klien. Meminta kepada klien mengungkapkan secara verbal apa yang dirasakan atau diterima. Giving broad opening (memberikan pertanyaan terbuka): Mendorong klien untuk menyeleksi topik yang akan dibicarakan. Cit Nurjanah.

25. Mendukung pandangan bahwa terdapat kemungkinan perubahan melalui kolaborasi. 27. Statemen yang alternative dari tindakan untuk masa yang akan datang. Encouraging evaluation (mendukung evaluasi): Perawat membantu klien mempertimbangkan orang dan kejadian kedalam nilai dirinya 26. 28.21. menunjukkan peran. Hal ini akan mengijinkan klien untuk memutuskan apa topik/materi yang paling relevan dan mendukung klien untuk meneruskan interaksi. Tehnik ini digunakan dengan sangat berhati-hati dan hanya pada saat perawat merasa yakin tentang suatu yang detil. Ini digunakan pada saat perawat ingin memberi petunjuk pada klien mengenai penjelasan lain. Seeking consensual validation. Membantu klien untuk mengidentifikasi perasaan berhubungan dengan kejadian atau pernyataan . Encouragingformulation of plan of action (mendukng terbentuknya rencana tindakan): 29. Hal ini akan menolong klien untuk mengetahui apa yang dia harapkan dari dirinya. Estabilising Memberikan kesempatan pada klien untuk mengantisipasi guidelines (menyediakan petunjuk). Attempting to translate into feeling (usaha menerjemahkan perasaan). Suggesting collaborating (menganjurkan kolaborasi): Penekanan kegiatan kerja dengan klien tidak menekan melakukan sesuatu untuk klien. Menyediakan informasi dengan perilaku yang tidak menilai 22. Open. Voucing doubt (menunjukkan keraguan). Pencarian pengertian mengenai komunikasi baik oleh perawat maupun klien. tujuan dan batasan untuk interaksi. Presenting reality (menghadikan realitas/kenyataan). . Menyelipkan persepsi perawat mengenai realitas. Verbalizing the implied: Memverbalisasikan kata-kata yang klien tunjukkan atau anjuran. Membantu klien lebih jelas terhadap apa yang mereka pikirkan. 23. 24. 30.ended comments (komentar terbuka-tertutup): Komentar secara umum untuk menentukan arah dari interaksi yang seharusnya dilakukan.

Pertahankan kontak mata.31. K. Berhadapan dengan lawan bicara Dengan posisi ini perawat menyatakan kesiapannya (“saya siap untuk anda”).al (2004). Menunduk/memposisikan tubuh kearah lebih dekat dengan lawan bicara Hal ini menunjukkan bahwa perawat bersiap untuk merespon dalam komunikasi (berbicara mendengar). sejajar. telah menggambarkan lima cara yang spesifik untuk menunjukkan kehadiran secara fisik ketika melaksanakan komunikasi terapeutik. Menurunkan jarak fisik antara perawat dank lien. Sikap Dalam Melakukan Komunikasi Terapeutik Egan (1998) dalam Kozier. kaki dan tangan terbuka (tidak bersilangan) Sikap tubuh yang terbuka menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk mendukung terciptanya komunikasi. dan natural Dengan posisi mata sejajar perawat menunjukkan kesediaannya untuk mempertahankan komunikasi. Humor. 4. 5. Berikut adalah tindakan atau sikap yang dilakukan ketika menunjukkan kehadiran secara fisik : 1.et. Bersikap tenang Akan lebih terlihat bila tidak terburu-buru saat berbicara dan menggunakan gerakan/bahasa tubuh yang natural. 3. Sikap tubuh terbuka. Dugan (1989) menyebutkan humor sebagai hal yang penting dalam komunikasi verbal dikarenakan: tertawa mengurangi keteganan dan rasa sakit akibat stress. . yang ia definisikan sebagai sikap atas kehadiran atau keberadaan terhadap orang lain atau ketika sedang berada dengan orang lain. Reducing distant (penurunan jarak). 2. Hal ini menunjukkan komunikasi non verbal dimana perawat ingin terlibat dengan klien. serat meningkatkan keberhasilan asuhan keperawatan . 32.

Jakarta : Graha Ilmu. Suryani. Jakarta : EGC http://jancokan.blogspot.html http://www.web.wordpress.com/2009/03/komunikasiterapeutik. Komunikasi Terapeutik Teori Dan Praktik.com http://creasoft.html http://perawatpskiatri.lusa.DAFTAR PUSTAKA Mundakir. Komunikasi Keperawatan.id/komunikasi-terapeutik/ . 2006. 2005.com/2008/04/15/komunikasiterapeutik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful