P. 1
Laporan Review Penyusunan Dan Pelaksanaan RAD PK Di Kota Bandung

Laporan Review Penyusunan Dan Pelaksanaan RAD PK Di Kota Bandung

|Views: 877|Likes:
Review pelaksanaan RAD-PK Kota Bandung secara khusus dilakukan dalam rangka mendorong penguatan komitmen dan kapasitas Pemerintah Kota Bandung untuk mengembangkan sistem integritas pelayanan publik pada bidang-bidang pelayanan yang menjadi fokus isu dalam Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD-PK) Kota Bandung.
Dari hasil review, hampir semua SKPD mengakui tidak terlalu memahami siklus RAD-PK, mulai dari pembentukan tim penyusun, penyusunan draft RAD-PK, kampanye dan konsultasi publik, penyempurnaan draft RAD-PK, legalisasi, implementasi, sampai dengan monitoring dan evaluasi RAD-PK.
Review pelaksanaan RAD-PK Kota Bandung secara khusus dilakukan dalam rangka mendorong penguatan komitmen dan kapasitas Pemerintah Kota Bandung untuk mengembangkan sistem integritas pelayanan publik pada bidang-bidang pelayanan yang menjadi fokus isu dalam Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD-PK) Kota Bandung.
Dari hasil review, hampir semua SKPD mengakui tidak terlalu memahami siklus RAD-PK, mulai dari pembentukan tim penyusun, penyusunan draft RAD-PK, kampanye dan konsultasi publik, penyempurnaan draft RAD-PK, legalisasi, implementasi, sampai dengan monitoring dan evaluasi RAD-PK.

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Muhammad Taufik Rahmat on Jan 02, 2011
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2012

pdf

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

KATA PENGANTAR
Puji syukur Kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya atas karunia-Nya, Kami dapat menyelesaikan proses review terhadap penyusunan dan pelaksanaan Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD-PK) Kota Bandung. Terimakasih sebesar-besarnya Kami sampaikan kepada Direktorat Hukum dan HAM Bappenas dan Kemitraan (Partnership) yang telah mempercayakan pelaksanaan tugas review RAD-PK Kota Bandung kepada lembaga Kami. Patut pula Kami sampaikan terimakasih dan penghargaan kepada Walikota Bandung bersama seluruh jajaran Pemerintah Kota Bandung terutama Sekretaris Daerah dan Kepala Bappeda Kota Bandung yang menyambut baik atas pelaksanaan review ini. Begitu pula Kami sampaikan terimakasih atas kesediaan narasumber dari SKPD-SKPD pelaksana RAD-PK yang bersedia diwawancarai dan berdiskusi terkait dengan penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK di Kota Bandung.Tentu saja Kami juga tidak lupa menyampaikan terimakasih dan salam perjuangan kepada rekan-rekan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), NGO, media massa, dan perguruan tinggi yang juga memberikan konstribusi atas terlaksananya review ini. Perlu Kami sampaikan bahwa hasil review RAD-PK ini tentu berbeda dengan hasil evaluasi yang dilakukan oleh pihak lain. Perbedaan itu disebabkan oleh kerangka pendekatan yang berbeda, namun secara subtansi pasti ditemukan hasil review dan evaluasi yang sama. Oleh sebab itu rekomendasi yang Kami sampaikan berdasarkan hasil review dapat dijadikan tambahan rujukan dari berbagai rekomendasi yang telah dsampaikan pihak lain. Kami berharap, berawal dari hasil review ini, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama kita dapat membangun konsep tentang strategi pemberantasan korupsi di Kota Bandung yang berbasis inisiatif Kota Bandung dan terintegrasikan dengan RAD-PK. Bandung, 5 Desember 2010 Tim Review RAD-PK Kota Bandung

Fridolin Berek Direktur Eksekutif Lembaga Advokasi Kerakyatan (LAK)

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

RINGKASAN EKSEKUTIF
Menyikapi Inpres No. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, Pemerintah Kota Bandung telah mengeluarkan Peraturan Walikota Bandung No. 891 Tahun 2008 tentang Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD-PK) Kota Bandung Tahun 2009 - 2013. Sejak ditetapkannya Peraturan Walikota tersebut hingga kini belum ada pemantuan dan laporan yang dapat dibaca oleh masyarakat tentang capain perubahan yang telah dilakukan melalui agenda pelaksanaan RAD-PK. Sesungguhnya, berdasarkan Diktum 11, point 4 Inpres No. 5 Tahun 2004, tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, monitoring dan evaluasi pelaksanaan Inpres ini adalah tugas Kementrian PAN (Pendayagunaan Aparatur Negara)1. Namun dalam rangka mencatat kembali capaian daerah setelah disusunnya RAD-PK, maka Direktorat Hukum dan HAM Bappenas memandang perlu melakukan review ke daerah, terutama pada daerah-daerah yang telah menetapkan RAD-PK sebagai Peraturan Kepala Daerah. Review ini menggunakan tiga kerangka pendekatan utama yaitu: pertama pendekatan proses pelaksanaan RAD-PK yang didasarkan pada siklus RAD-PK yang terdiri 7 tahap yaitu: 1. Pembentukan tim penyusun 2. Penyusunan draft RAD-PK 3. Kampanye dan Konsultasi Publik draft RAD-PK 4. Penyempurnaan draft RAD-PK 5. Legalisasi draft RAD-PK menjadi Peraturan Daerah 6. Implementasi dari Peraturan Daerah tentang RAD-PK yang telah disahkan 7. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan RAD-PK di masing-masing SKPD Kedua, pendekatan keterkaitan RAD-PK dengan dokumen perencanaan lain, yaitu: keterkaitan dengan RPJMD, RKPD, Renstra SKPD, Renja SKPD, RKA dan DPA. Ketiga, pendekatan dengan menggunakan model evaluasi yang dikembangkan oleh OECD - DAC (Organisation for Economic Cooperation and Development-Development Assistance Committee), yaitu: 1. Relevansi RAD-PK 2. Efektifitas RAD-PK 3. Koordinasi RAD-PK 4. Efisiensi RAD-PK 5. Dampak RAD-PK 6. Peluang RAD-PK 7. Tantangan. RAD-PK. Review pelaksanaan RAD-PK Kota Bandung secara khusus dilakukan dalam rangka mendorong penguatan komitmen dan kapasitas Pemerintah Kota Bandung untuk mengembangkan sistem integritas pelayanan publik pada bidang-bidang pelayanan yang menjadi fokus isu dalam Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD-PK) Kota Bandung.

1 Dictum 11, point 4 Inpres Nomor 5 Tahun 2004 : “… Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara :..... (e). Mengoordinasikan, memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan Instruksi Presiden ini.”

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Dari hasil review, hampir semua SKPD mengakui tidak terlalu memahami siklus RAD-PK, mulai dari pembentukan tim penyusun, penyusunan draft RAD-PK, kampanye dan konsultasi publik, penyempurnaan draft RAD-PK, legalisasi, implementasi, sampai dengan monitoring dan evaluasi RADPK. Beberapa SKPD mengetahui RAD-PK pada saat diskusi persiapan penyusunan Draft RAD-PK dan sebagian lagi mengetahui pada saat dilaksanakan KKP atau penyempurnaan Draft RAD-PK. Namun ada juga SKPD mengetahui RAD-PK pada saat diskusi dan kunjungan ketika review ini dilaksanakan. Variasi sumber pengetahuan adanya RAD-PK ini menggambarkan bahwa pengetahuan RAD-PK antar SKPD maupun antar aparat di internal SKPD ternyata masih belum merata. Meski demikian, seluruh SKPD pada dasarnya telah melaksanakan rencana aksi percepatan pemberantasan korupsi. Aksi-aksi tersebut ada yang tersurat dalam matrik RAD-PK dan ada juga aksiaksi yang tidak tersurat dalam matrik RAD-PK. Walaupun secara keseluruhan rencana aksi yang tercantum dalam matrik RAD-PK juga tercantum dalam dokumen perencanaan SKPD, tidak ada jaminan bagi SKPD tersebut melaksanakannya. Ini dapat terjadi karena paradigma kebijakan penggunaan anggaran tidak didasarkan pada daya serap anggaran, tetapi pada output yang dihasilkan. Dalam hal ini sesungguhnya SKPD-SKPD pelaksana tidak mempertimbangkan RAD-PK dalam hal pelaksanaan program dan kegiatan yang tecantum dalam dokumen RKA/DPA. Inilah salah satu indikasi yang mencerminkan bahwa RAD-PK bagi SKPD hingga saat ini belum harus diperhatikan dan dilaksanakan. Namun demikian terlalu dini untuk menyatakan SKPD-SKPD yang ada di Pemerintahan Kota Bandung, menolak Peraturan Walikota tentang RAD-PK, karena Peraturan Walikota tersebut berlaku sampai dengan Tahun 2013. RAD-PK memang bukanlah satu-satunya kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dalam upaya pemberantasan korupsi. Namun RAD-PK yang secara formal dikeluarkan oleh pemerintah daerah memberikan makna yang berbeda dibandingkan dengan kebijakan-kebijakan lain yang secara formal diaturkan dan dikeluarkan oleh pemerintah pusat. RAD-PK menurut persepsi masyarakat sangat relevan untuk menggambarkan bahwa Kota Bandung mempunyai prioritas dalam pemberantasan korupsi. Lebih jauh lagi, sesungguhnya masyarakat membutuhkan sistem pemberantasan korupsi yang berasal dari pemerintah daerah memiliki khas sesuai dengan kondisi geografis, demografis dan budaya Kota Bandung. RAD-PK telah menjadi kebijakan Pemerintah Kota Bandung sejak 2 tahun lalu, namun kebijakan ini masih belum banyak dikenal dibandingkan dengan berbagai kebijakan pemberantasan korupsi lain yang pada umumnya berasal dari pemerintah pusat atau KPK. Persepsi masyarakat terhadap ketidakpopuleran RAD-PK dapat diatasi dengan koordinasi yang baik antar stakeholders. Selain karena dapat mempermudah kerjasama dalam pelaksanaan RAD-PK, dengan koordinasi juga masyarakat dapat membantu mengawal, memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan RAD-PK. Secara umum, dampak dari pelaksanaan RAD-PK saat ini belum dapat dilihat, namun persepsi masyarakat menyatakan bahwa RAD-PK akan mempunyai dampak yang signifikan terhadap percepatan pemberantasan krorupsi di Kota Bandung. Oleh sebab itu masyarakat juga meyakini RADPK akan menjadi suatu kebijakan yang bukan hanya sekedar memenuhi aspek administrasi, tetapi juga mampu menurunkan kasus-kasus korupsi, sehingga kepercayaan masyarakat kepada pemerintah Kota Bandung terutama mengenai komitmen pemberantasan korupsi menjadi meningkat pula.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Selain peluang RAD-PK yang tinggi untuk tetap berlanjut, RAD-PK juga menghadapi berbagai kendala antara lain adalah ketersediaan dana/anggaran yang terbatas. Di lain pihak diakui bahwa percepatan pemberantasan korupsi sangat membutuhkan dana yang tinggi khususnya upaya pemberantasan korupsi melalui peningkatan pelayanan publik, yang menurut pengakuan SKPD-SKPD di Kota Bandung, membutuhkan prasarana dan sarana yang pada umumnya berbasis teknologi informasi. Anggapan adanya kendala seperti itu belum sepenuhnya benar, karena inisiatif menciptakan inovasi kreatif pemberantasan korupsi khas Kota Bandung yang rendah biaya ternyata belum banyak banyak digali dan dilakukan. Kerjasama dengan berbagai pihak, baik antar SKPD dalam mengatasi keterbatasan dana/anggaran juga belum banyak dilakukan oleh SKPD pelaksana RAD-PK. Oleh sebab itu berbagai hambatan bagi SKPD untuk berinisiatif menciptakan inovasi kreatif pemberantasan korupsi harus dihilangkan. Dari hasil review dengan menggunakan tiga kerangka pendekatan ini dihasilkan beberapa catatan-catatan penting dalam upaya pemberantasan korupsi di Kota Bandung diantaranya adalah:  Upaya pemberantasan korupsi harus terus dilanjutkan karena mempunyai relevansi yang tinggi dengan kondisi Kota Bandung yang masih menghadapi berbagai keluhan ketidakpuasan pelayanan publik.  Selain itu pemberantasan korupsi merupakan tuntutan masyarakat yang harus segera terwujud, bukan hanya sekedar asesoris Pemerintah Kota Bandung atau sekedar slogan kosong, akan tetapi harus diwujudkan dengan aksi nyata yang dirasakan oleh masyarakat. Oleh sebab itu beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam RAD-PK adalah: 1) Keterlibatan semua pihak dalam proses penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK 2) Sosialisasi RAD-PK 3) Rencana Tindak Lanjut dan keterkaitan RAD-PK dengan Dokumen Perencanaan dari masing-masing SKPD 4) Integrasi RAD-PK dengan dokumen perencanaan dari masing-masing SKPD 5) Monitoring dan evaluasi RAD-PK yang dilakukan oleh multistakeholder Keterlibatan berbagai pihak dalam penyusunan RAD-PK masih sangat rendah karena berbagai kendala teknis yang dihadapi SKPD-SKPD maupun Bappeda sebagai koordinator. Ketidaktahuan adanya RAD-PK dan ketidakpahaman subtansi disusunnya RAD-PK di hampir semua SKPD-SKPD pelaksana di Pemerintahan Kota Bandung, merupakan indikasi bahwa proses sosialisasi belum dilaksanakan secara optimal, baik diinternal masing-masing SKPD, maupun ke masyarakat Kota Bandung Sejak diterbitkannya Peraturan Walikota Bandung tentang RAD-PK dua tahun yang lalu, ternyata tidak ada satupun SKPD yang mempertimbangkan RAD-PK dalam menetapkan dan melaksanaan program dan kegiatan di masing-masing SKPD. Program-program prioritas yang dicantumkan oleh masing-masing SKPD pelaksana RAD-PK ke dalam Peraturan Walikota Bandung tentang RAD-PK, terlihat hanyalah copy-paste dari Peraturan Daerah Kota/Kabupaten lain yang juga telah melaksanakan RAD-PK di daerahnya. Tentu saja ini mengindikasikan bahwa SKPD-SKPD belum optimal melaksanakan Rencana Tindak Lanjut RAD-PK untuk mengintegrasikan RAD-PK ke dalam RKA dan DPA pada tahun anggaran berjalan. Selain itu juga mengindikasikan kurangnya sumberdaya manusia berkualitas pada masing-masing SKPD yang ada di Pemerintahan Kota Bandung

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Seperti yang terpublikasikan di media massa bahwa Kota Bandung telah membentuk Tim Kormonev Inpres No. 4/2005. Namun tim yang terbentuk tersebut masih belum mempunyai mekanisme dan agenda yang jelas dalam memonitor pelaksanaan RAD-PK. Sehubungan dengan hal itu, dalam upaya meningkatan pelaksanaan RAD-PK di Kota Bandung tampaknya perlu dikeluarkan pedoman umum dan teknis dalam hal penyusunan, sosialisasi dan pelaksanaan RAD-PK, pengintegrasian RADPK dengan dokumen perencanaan lain yang ada di tiap-tiap SKPD, mekanisme monitoring dan evaluasi RAD-PK Kota Bandung.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam rangka optimalisasi pencegahan korupsi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berupaya menelusuri akar permasalahan korupsi di sektor pelayanan publik serta mendorong dan membantu lembaga publik mempersiapkan upayaupaya pencegahan korupsi yang efektif pada wilayah dan layanan yang rentan terjadinya korupsi. Hasil survey integritas sektor publik tahun 2, menyebutkan nilai rata-rata integritas 2009 sektor publik secara nasional adalah 6,50, dengan perincian rata-rata integritas di tingkat pusat 6,64 , rata-rata nilai integritas sektor publik di tingkat pemerintah provinsi adalah 6,18, dan rata-rata nilai integritas di tingkat pemerintah kota/kabupaten 6,46. Bila dibandingkan, nilai integritas pemerintah provinsi relatif lebih buruk dibanding nilai integritas instansi di tingkat pusat maupun pemerintah kabupaten/kota. Untuk Kota Bandung sendiri, hasil survey memberikan nilai Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 3.4 di Tahun 2009. Namun kemudian di Tahun 2010 meningkat menjadi 5,4. Hal ini menggambarkan bahwa ada upaya perbaikan pelayanan publik di Kota Bandung dan hasil upaya tersebut telah menunjukan adanya perbaikan yang signifikan Hasil survey tersebut mendapat tanggapan dari banyak pihak. Umumnya berbagai pihak menyatakan bahwa hasil survey integritas telah menunjukkan sisi buruk kualitas pelayanan publik. Harapannya melalui pengungkapan ini, pemerintah/birokrasi dapat melakukan perubahan dan perbaikan secara lebih nyata. Selain mendapat tanggapan, hasil survey integritas telah dijadikan semacam tolak ukur capaian dari perubahan/perbaikan yang telah dilakukan. Hasil survey integritas telah menjadi semacam “trigger” untuk terus meningkatkan kualitas layanan publik yang diberikan kepada masyarakat, atau menjadi stimulus yang mampu memotivasi pemerintah/birokrasi untuk terus berbenah/berbuat lebih baik bagi masyarakat. Upaya berbenah/berbuat lebih baik bagi masyarakat inilah yang dimaknai sebagai upaya membangun sistem integritas dalam pelayanan publik. Definisi yang lebih utuh adalah keutuhan (wholeness) yang diturunkan dari kata kejujuran (honesty), konsistensi kebenaran (consistent on upraightness) yang menjadi sebuah karakter (character). Secara umum integritas dipahami publik sebagai ciri kepribadian yang jujur, berperilaku konsisten serta berpegang teguh pada prinsip kebenaran untuk menjalankan apa yang dikatakan secara bertanggung jawab. Dalam hal kenegaraan,
2

Kompas, 23 Desember 2009

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

integritas nasional memiliki korelasi kuat terhadap istilah “good governance”. Mengacu pada konsep diatas maka survey integritas yang dilakukan KPK sangatlah tepat, karena berkenaan dengan cara untuk mendesakkan agenda perubahan dan perbaikan pelayanan publik dalam rangka mencapai “good governance”3 Sejalan dengan upaya mencapai “good governance”, maka agenda pencegahan korupsi perlu menjadi perhatian bersama baik pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Hal ini disadari betul oleh pemerintah sehingga dalam Strategi Nasional Pemberantasan Korupsi 2010 - 2025 telah dirumuskan 6 strategi besar, termasuk strategi pencegahan disamping penindakan, harmonisasi kebijakan, asset recovery, kerjasama internasional serta mekanisme monitoring, evaluasi dan pelaporan. Secara umum, terdapat 5 (lima) isu strategis4 dalam upaya pencegahan korupsi secara nasional yaitu : 1. Peningkatan efektivitas kebijakan dan kelembagaan dalam rangka Pencegahan Korupsi. 2. Pelaksanaan transparansi administrasi publik, efektivitas kewajiban pelaporan kepada publik, dan meningkatkan akses publik untuk mendapatkan informasi tentang penyelenggaraan administrasi publik. 3. Percepatan reformasi manajemen keuangan negara dan pengadaan barang/jasa publik. 4. Peningkatan efektivitas reformasi birokrasi di sektor publik di pusat dan daerah. 5. Penguatan komitmen anti-korupsi, Merujuk pada lima isu strategis bidang pencegahan korupsi secara nasional tadi, maka pemerintah dan pemerintah daerah diwajibkan untuk menyusun Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD-PK). Hal ini telah ditegaskan dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010 – 2014, yang menyebutkan bahwa salah satu hal yang menandakan terwujudnya pemerintahan yang bersih dan bebas Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN), adalah terlaksananya RAD-PK di provinsi/kabupaten/kota (Bab VIII: Hukum dan Aparatur, Sub Bab: Sasaran). Hal ini berarti, penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK telah diamanatkan menjadi bagian dari cita-cita pemberantasan korupsi secara nasional yang perlu didukung oleh penyusunan dan pelaksanaan rencana aksi di tingkat daerah. Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD-PK), merupakan dokumen penyearah dari implementasi komitmen Pemerintah Daerah dalam upaya pemberantasan korupsi, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pelayanan publik, penataan sistem keuangan daerah, perbaikan sistem administrasi pemerintahan daerah serta penetapan program dan wilayah bebas korupsi. Program dan kegiatan aksi daerah tersebut berisikan langkah-langkah konkrit yang telah disepakati para pemangku kepentingan di daerah dalam rangka percepatan pemberantasan korupsi. Langkahlangkah konkrit dalam upaya pencegahan korupsi, tersusun melalui pendekatan sistematik dan terintegrasi dengan skema/pola perencanaan pembangunan daerah. Pemerintah Kota Bandung sendiri, telah menyusun dan menetapakan RAD-PK Kota Bandung kedalam Peraturan Walikota No 891 Tahun 2008 tentang RAD PK Kota Bandung Tahun 2009 - 2013. Masing-masing program/kegiatan ditetapkan untuk kemudian dilaksanakan pada tahun yang berbeda.

3 4

LAK News Edisi 1/November/2010 Buku Strategi Nasional Pemberantasan Korupsi, Bappenas RI

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Kenyataan menunjukkan bahwa, sejak ditetapkannya Peraturan Walikota di atas, hingga kini belum ada pemantuan dan laporan yang dapat dibaca oleh masyarakat tentang capaian perubahan yang telah dilakukan melalui agenda pelaksanaan RAD-PK di Kota Bandung. Tidak adanya laporan pemantauan tentang capaian pelaksanaan RAD-PK Kota Bandung disebabkan oleh beberapa hal antara lain : 1. Belum adanya mekanisme pemantauan dan laporan yang baku atas pelaksanaan RAD-PK. 2. Belum terbentuknya forum multi stakeholder yang secara khusus melakukan pengawalan terhadap penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK di Kota Bandung. 3. Belum adanya “public awareness”, akan pentingnya RAD-PK sebagai bagian dari upaya mengembangkan sistem integritas dalam pelayanan publik dan pencegahan korupsi di Kota Bandung. Sehubungan dengan kenyataan di atas, maka perlu ada review dan pemantauan terhadap pelaksanaan RAD-PK Kota Bandung sebagai suatu cara untuk menilai komitmen dan kapasitas pemerintah Kota Bandung dalam rangka pengembangkan integrity system pada pelayanan publik di Kota Bandung. Sesungguhnya, berdasarkan Diktum 11, point 4 pada Inpres No. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, monitoring dan evaluasi pelaksanaan dari amanat pada Inpres ini merupakan tugas Kementrian PAN (Pendayagunaan Aparatur Negara)5. Namun hingga kini belum ada laporan tentang kemajuan pelaksanaan yang dapat dibaca oleh masyarakat. Review dan pemantauan terhadap pelaksanaan RAD-PK di Kota Bandung, juga wajib dilakukan pada bidang-bidang pelayanan public yang menjadi focus isu dalam Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi yang telah di Perwal-kan

1.2

Tujuan

Tujuan utama dari review RAD-PK Kota Bandung, adalah untuk meninjau kembali proses penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK serta tindak lanjutnya di Kota Bandung. Berdasarkan tujuan di atas maka, sasaran utama review meliputi tiga hal pokok yakni : 1. Review dari tahapan dan proses penyusunan RAD-PK berdasarkan alur penyusunan RAD-PK 2. Menilai keterkaitan RAD-PK dengan dokumen perencanaan di masing-masing SKPD pelaksana RAD-PK 3. Mengungkap persepsi birokrasi terhadap RAD-PK yang meliputi : a. Relevansi penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK dalam kerangka percepatan pemberantasan korupsi b. Efektifitas dalam proses penyusunan RAD-PK terutama pada saat pelaksanaan Kampanye dan Konsultasi Publik (KKP) c. Efisiensi yang terjadi, berkaitan dengan penyusunan dan pelaksanaan RADPK
5 Dictum 11, point 4 Inpres Nomor 5 Tahun 2004 : “… Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara :..... (e). Mengoordinasikan, memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan Instruksi Presiden ini.”

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

d. Tingkat koordinasi antar para stakeholder dalam proses penyusunan maupun pelaksanaan RAD-PK e. Dampak langsung maupun tidak langsung dari proses penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK f. Peluang dan kendala bagi keberlanjutan RAD-PK

1.3

Kerangka Akademik
Secara singkat, alur penyusunan RAD-PK terdiri dari tahapan yang diuraikan sebagai berikut :  Pembentukan Tim Penyusun RAD-PK. Tim penyusun terdiri dari perwakilan berbagai stakeholder meliputi pemerintah, dunia usaha, organisasi profesi, swasta dan masyarakat.  Penentuan Isu Prioritas Dalam RAD-PK. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menggali masukan dari berbagai pihak mengenai isu pelayanan publik yang akan menjadi prioritas dalam RAD-PK. Beberapa cara untuk memperoleh input dari masyarakat adalah dengan melakukan Citizen Report Card Survey, penerapan IKM (Indeks Kepuasan Masyarakat) dalam penilaian kualitas pelayanan publiik, dll  Penyusunan Draft RAD-PK serta Rencana Tindak Lanjut (RTL). Setelah teridentifikasi, maka dilakukan penyusunan draft RAD-PK. Agar lebih implementatif, RAD-PK dituangkan juga kedalam rencana tindak lanjut (RTL), yang merupakan pedoman bagi SKPD pelaksana kegiatan  Konsultasi dan Kampanye Publik RAD-PK. Untuk memperoleh masukan yang lebih luas, maka dilakukan Konsultasi dan Kampanye Publik (KKP) dengan mengundang berbagai stakeholder untuk memberi input terhadap draft RAD-PK dan rencana tindak lanjutnya  Penyempurnaan draft RAD-PK. Dimana input dari konsultasi dan kampanye public (KKP), menjadi masukan untuk finalisasi RAD-PK. Proses finalisasi ini dapat dilakukan melalui workshop atau serial diskusi yang dikoordinir oleh Tim Penyusun RAD-PK  Menuangkan RAD-PK Ke Dalam Dasar Hukum. Hal ini merupakan salah satu bentuk komitmen dan wujud nyata kepemilikan daerah dari para stakeholder di daerah. Di beberapa daerah yang telah difasilitasi, RAD-PK dituangkan kedalam bentuk Peraturan Kepala Daerah (Peraturan Gubernur, Peraturan Bupati dan/atau Peraturan Walikota)  Sosialisasi RAD-PK. RAD-PK yang telah dituangkan dalam Peraturan Kepala Daerah, disosialisasikan agar masyarakat luas mengetahui.  Implementasi RAD-PK. Implementasi RAD-PK diharapkan memberi dampak langsung kepada masyarakat sebagai pengguna layanan publik.  Kormonev (koordinasi, monitoring dan evaluasi).

1.3.1 Alur Penyusunan RAD-PK

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Kormonev ini diharapkan melibatkan berbagai pihak, terutama masyarakat. Hasil kormonev akan menjadi bahan penyempurnaan RAD-PK yang merupakan Living Document. Penyempurnaan disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi dalam kurun waktu tertentu. Analisa kebutuhan dilakukan berdasarkan proses monitoring dan evaluasi tiap semester dan tahun

1.3.2 Keterkaitan RAD PK dengan Dokumen Perencanaan Lainnya
RAD-PK tidak berdiri sendiri, tetapi harus terkait dengan dokumen perencanaan lainnya. Program dan kegiatan yang tercantum dalam matriks RAD-PK semestinya terintegrasi dalam dokumen perencanaan pembangunan, baik 5 tahunan maupun rencana tahunan. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan seluruh rencana aksi yang tercantum dalam matriks RAD-PK dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang telah dijadwalkan. Dokumen perencanaan terkait tersebut adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD), Rencana Strategis (RENSTRA), Rencana Kerja (RENJA), Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dari SKPD pelaksana RAD-PK. Keterkaitan dilihat dengan cara membandingkan pernyataan program dan kegiatan yang tercantum dalam matrik RAD-PK, dengan pernyataan program dan kegiatan yang tercantum dalam dokumen perencanaan lainnya. Keterkaitan tersebut dinyatakan dalam tiga klasifikasi sebagai berikut : 1. Persis sama, artinya pernyataan program dan kegiatan pada RAD-PK sama dengan pernyataan program dan kegiatan pada dokumen perencanaan lainnya. 2. Mirip, artinya pernyataannya tidak sama namun subtansi program dan kegiatannya sama 3. Tidak ada artinya pernyataan program dan kegiatan pada RAD-PK sama sekali tidak terakomodir dalam dokumen perencanaan lainnya.

1.3.3

Persepsi terhadap RAD-PK

Persepsi terhadap RAD-PK dianalisa dengan menggunakan pendekatan kriteria evaluasi dari Model Evaluasi yang dikembangkan oleh OECD – DAC (Organisation for Economic Cooperation and Development - Development Assistance Committee) yang berdiri pada tahun 1999. OECD - DAC mengembangkan 7 kriteria evaluasi yaitu: 1. Relevance/Appropriateness 2. Connectedness 3. Coherence 4. Coverage 5. Efficiency 6. Effectiveness (tercakup di dalamnya kriteria koordinasi dan keterkaitan) 7. Impact. Masing-masing kriteria memiliki definisi tersendiri dan pokok-pokok pertanyaan yang jelas.6

6 Kriteria evaluasi ini pertama- tama digunakan untuk mengevaluasi program-program aksi kemanusian (humanitarian action) di Rwanda. Kriteria yang sama pernah digunakan oleh WFP (World Food Program) untuk

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Untuk evaluasi penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK, tidak semua kriteria di atas digunakan. Hal ini didasarkan pada beberapa alasan sebagai berikut : 1. Evaluasi ini tidak menyangkut seluruh diktum yang terkandung dalam Inpres 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi. Oleh karena itu, kriteria coherence (keterpaduan dari berbagai aspek: politik, ekonomi, social dan budaya) tidak dimasukkan dalam evaluasi ini). 2. Evaluasi ini tidak menunjuk pada ketercapaian cakupan wilayah program. Oleh karena itu criteria coverage (cakupan wilayah) tidak digunakan. Indikator ini dapat digunakan apabila kita hendak menilai ketercapaian suatu program berdasarkan cakupan wilayah yang dilayani. Apakah setingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi atau Negara. Berangkat dari pemahaman tentang kriteria evaluasi di atas serta kekhususan program/kegiatan penyusunan RAD-PK, maka hanya 6 kriteria yang digunakan yakni Relevansi (Relevance/Appropriatness), Efektifitas, Keterkaitan (Coordination), Efisiensi, Impact dan Keberlanjutan (Suistenability/Connectedness). Secara rinci, penjelasan tentang kriteria-kriteria tersebut dapat dibaca pada tabel berikut ini. Tabel 1.1 Penjelasan tentang Kriteria Evaluasi
No 1. Jenis Kriteria Relevansi (Relevance) Penjelasan Umum Relevansi didefinisikan sebagai derajad kesahihan tujuan. Artinya, sejauh mana tujuan program tetap sahih (valid) dan penting, seperti pada saat awal perencanaan atau setelah ada perubahan karena adanya kondisi yang berubah dalam lingkup program maupun luar program. Pertanyaan Pokok Apakah program/kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan konteks kekinian atau situasi lingkungan? Apakah program/kegiatan dirancang untuk menjawab masalah (menemukan kebutuhan) yang sedang terjadi? Apakah program/kegiatan yang dilaksanakan sejalan dengan kebutuhan masyararakat? Apakah tujuan, sasaran dan hasil program sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi kelompok sasaran dan kelompok penerima manfaat program Sejauh mana program terlaksana; apakah semua kegiatan yang direncanakan berjalan sesuai jadwal yang ditentukan? Apakah output (luaran) yang dihasilkan cukup memberi kontribusi pada pencapaian hasil dan manfaat program? Mengapa suatu kegiatan dapat mencapai atau tidak mencapai output (luaran) sebagaimana direncanakan, termasuk di dalamnya bagaimana kegiatan direncanakan dan dilaksanakan? Apakah setiap/suatu kegiatan yang

2.

Efektifitas

Efektifitas didefinisikan sebagai derajad/tingkat ketercapaian tujuan. Artinya sejauh mana program mencapai tujuan atau mewujudkan hasil yang direncanakan

mengevaluasi program bantuan kemanusian di Somalia, UNHCR untuk emergency program di Kosovo, DFID untuk evaluasi program WFP di Bangladesh, dan masih banyak lagi.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

dilaksanakan mencapai output (luaran) sebagaimana direncanakan sebelumnya? Tercakup di dalamnya, ketercapaian pada sasaran para pihak yang berkepentingan (stakeholders) 3. Koordinasi (Coordination) Koordinasi didefinisikan sebagai suatu system penerapan instrumen-instrumen kebijakan yang terintegrasi dalam pelaksanaan program/kegiatan. Artinya sejauh mana koordinasi tercipta di antara organ-organ fungsional pelaksana suatu program/ kegiatan (orchestrating a functional division of labour) dapat berjalan dengan baik sehingga menunjang tercapainya efektifitas program/kegiatan. Siapa saja orang/pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program/kegiatan? Apakah ada koordinasi di antara orang/pihak-pihak tersebut? Siapa yang menjadi pemeran utama (lead agency/leading sector) dalam pelaksanaan program/kegiatan dan bagimana koordinasi dilakukan? Apa saja/pada bagian mana koordinasi dilakukan? Siapa yang berperan penting dalam melakukan koordinasi dan apakah koordinasi berjalan dengan baik? Apa saja xivember-faktor yang menghambat maupun yang mendukung koordinasi tersebut? Apakah koordinasi dapat xivember kontribusi yang signifikan untuk efektifitas pelaksaan program/kegiatan maupun pencapaian manfaat dan dampak program/kegiatan? Apakah ada keterkaitan antara program/kegiatan yang direncanakan dengan program lain yang dilaksanakan oleh lembaga lain? Apakah ada kerja sama pelaksanaan kegiatan dan bagaimana kerjasama itu dikelola? Apakah kerjasama-kerjasama tersebut mendukung atau justru melemahkan pencapaian cita-cita program? Apakah cukup tersedia sumber daya (terutama) dana untuk pelaksanaan program/kegiatan? Apakah cukup berimbang antara input yang digunakan dengan output yang diperoleh? Tercakup di dalamnya sumber daya apa saja yang digunakan untuk pelaksanaan program/kegiatan. Apakah sumber daya (terutama dana) dikelola dengan baik dan benar (akuntabel) untuk mensukseskan program/kegiatan Apakah secara sosial, ekonomi maupun politik, program/kegiatan ini memberi manfaat bagi masyarakat sekitar? Apa saja perubahan yang terjadi akibat pelaksanaan program/ kegiatan? Tercakup di dalamnya perubahan yang positif maupun negatif Apakah ada nilai tambah bagi masyarakat (di

4

Keterkaitan (Cooperation)

Keterkaitan dipahami sebagai keterkaitan antara program/kegiatan dengan program/kegiatan lain atau pihak lain. Artinya sejauh mana kerja sama dapat dibangun dari suatu program/kegiatan yang dilaksanakan. Efesiensi didefinisikan upaya perubahan input menjadi output secara optimal. Artinya apakah sumber daya yang tersedia terserap dengan baik untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang direncanakan?

5

Efesiensi

6

Dampak (Impact)

Dampak didefinisikan sebagai hasil dari program yang dinilai berdasarkan tujuan jangka panjang program. Dengan kata lain dampak dipahami sebagai perubahan terhadap kondisi, baik yang direncanakan maupun tidak direncanakan, positif atau negatif

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

yang dihasilkan program.

oleh

suatu

luar penerima manfaat program yang direncanakan) dari hasil-hasil program/kegiatan ini? Apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan kegiatan? Aspek-aspek mana saja yang masih dapat dipertahankan dan perlu dirubah? Apakah ada rencana jangka panjang yang hendak dikembangkan?

7

Keberlanjutan (Sustainability/ Connectedness)

Keberlanjutan didasarkan pada kebutuhan untuk menjadikan kegiatan yang bersifat jangka pendek menjadi bersifat jangka panjang. Artinya sejauh mana program/kegiatan yang dilaksanakan memiliki peluang dikembangkan dan keberlanjutannya di masa yang akan datang.

1.4

Metodologi

1.4.1 Pendekatan Studi
Metode yang digunakan dalam proses review ini adalah metode evaluasi partisipatif. Dalam hal ini Tim Review berperan sebagai fasilitator yang memandu penggalian dan pengungkapan berbagai pengalaman dari berbagai narasumber yang terlibat dalam proses menyusun, menetapkan dan melaksanaan RAD-PK. Sejalan dengan metode di atas maka pendekatan yang dipakai dalam proses evaluasi ini terdiri dari pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan menyebarkan kuesioner untuk mendapatkan persepsi para stakeholder tentang penyusunan dan pelaksanaan RADPK. Pendekatan kualitatif dilakukan dengan cara wawancara maupun Focus Group Discussion (FGD) untuk mendapatkan review yang lebih mendalam tentang proses penyusunan dan pelaksanaan RADPK.

1.4.2 Populasi dan Sampel
Populasi yang digunakan dalam proses evaluasi ini adalah para pihak yang pernah terlibat dalam proses penyusunan RAD-PK, dalam hal ini pemerintah daerah, perwakilan masyarakat yang direpresentasikan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta rekan-rekan media (jurnalis/wartawan). Kelompok-kelompok ini dipilih, karena dipandang memiliki perhatian yang cukup serius pada upaya percepatan pemberantasan korupsi. Berdasarkan jumlah populasi yang terbatas maka teknik sampling yang digunakan adalah Teknik Sampling Purposif.

1.4.3 Teknik Pengumpulan Data
Secara teknis, tim review menggunakan berbagai teknik pengumpulan data sebagai berikut : 1. Studi dokumen Studi dokumen, dilakukan dengan cara mengkaji berbagai dokumen perencanaan program dan kegiatan, antara lain RPJMD, RKPD, RENSTRA, RENJA, RKA dan DPA masing-masing SKPD pelaksana RAD-PK. Selain itu dilakukan pula kajian terhadap dokumen penyusunan RAD-PK, laporan pelaksanaan RAD-PK, notulensi kegiatan dan

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

berbagai dokumen tertulis lain yang terkait dengan penyusunan dan pelaksanaan RADPK 2. Wawancara Metode wawancara yang akan digunakan adalah wawancara semi terstruktur baik kepada penanggungjawab kegiatan (leading sector), penerima manfaat program, pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat maupun kelompok stakeholder lainnya. 3. Diskusi Kelompok Terfokus Diskusi kelompok terfokus dilakukan bersama pemerintah, perwakilan LSM dan media yang terlibat dalam penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK 4. Penyebaran Kuesioner Kuesioner disebar kepada beberapa kelompok stakeholder dengan jumlah sampel terbatas melalui Teknik Sampling Purposif.

1.4.4 Definisi Operasional
Beberapa definisi operasional yang patut atau akan dijelaskan, adalah: A. Relevansi didefiinisikan sebagai derajat kesahihan tujuan. Artinya, sejauh mana tujuan program tetap sahih (valid) dan penting seperti pada saat awal perencanaan atau setelah ada perubahan karena adanya kondisi yang berubah dalam lingkup program maupun luar program. Persepsi masyarakat terhadap relevansi RAD-PK diukur dari tanggapan responden atas beberapa penyataan sebagai berikut : a) Penyusunan dan pelaksanaan RAD PK penting bagi Kota Bandung dalam upaya pemberantasan korupsi b) Penyusunan dan pelaksanaan RAD PK merupakan pelaksanaan visi dan misi Kota Bandung c) Penyusunan dan pelaksanaan RAD PK merupakan keharusan bagi pemerintah Kota Bandung d) Penyusunan dokumen RAD PK merupakan tuntutan masyarakat e) RAD PK dibutuhkan oleh masyarakat Kota Bandung f) Isu prioritas RAD PK dibahas bersama-sama dengan masyarakat g) Program dan kegiatan RAD PK merupakan usulan/kebutuhan masyarakat B. Efektifitas didefinisikan sebagai derajat/tingkat ketercapaian tujuan, artinya sejauh mana program mencapai tujuan atau mewujudkan hasil yang direncanakan. Persepsi masyarakat terhadap efektivitas RAD-PK diukur dari tanggapan responden terhadap beberapa penyataan sebagai berikut: a) Tahapan proses penyusunan RAD PK berjalan dengan baik b) Semua tahapan penyusunan RAD PK berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan c) Setiap tahapan proses penyusunan RAD PK mencapai hasil yang direncanakan d) Dokumen RAD PK ditetapkan menjadi peraturan kepala daerah dalam waktu yang singkat e) Peraturan Kepala Daerah tentang RAD PK disosialisasikan seluruh lapisan masyarakat

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

f) Masyarakat mengetahui proses dan substansi penyusunan RAD PK g) SKPD yang ditetapkan menjadi SKPD Pelaksana menyusun Rencana Tindak Lanjut setelah ada peraturan Kepala Daerah h) SKPD pelaksana mensosialisasikan program/kegiatan pelaksanaan RAD PK (Rencana Tindak Lanjut) kepada masyarakat C. Efesiensi didefinisikan sebagai upaya perubahan input menjadi output secara optimal. Artinya apakah sumberdaya yang tersedia terserap dengan baik untuk pelaksanaan kegiatan yang direncanakan. Hubungan antara persepsi masyarakat terhadap efisiensi penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK adalah tanggapan atas pernyataan sebagai berikut: a) Dana yang dialokasikan untuk proses penyusunan RAD-PK memadai b) Hasil yang dicapai dari seluruh tahapan proses penyusunan, seimbang dengan besarnya biaya yang dialokasikan c) Ada pertanggungjawaban pengelolaan dana yang dialokasikan untuk penyusunan RAD-PK d) SKPD pilot mengalokasikan dana untuk pelaksanaan kegiatan yang dimuat dalam dokumen RAD-PK e) SKPD pilot melakukan internal audit atas dana pelaksanaan kegiatan Aksi Daerah Pemberarantasan Korupsi D. Koordinasi didefinisikan sebagai suatu sistem penerapan instrumen-instrumen kebijakan yang terintegrasi dalam pelaksanaan program/kegiatan, artinya sejauh mana koordinasi tercipta diantara organ-organ fungsional pelaksana suatu program/kegiatan dapat berjalan dengan baik, sehingga menunjang tercapainya efektifitas program/kegiatan. Kaitan antara koodinasi dengan persepsi masyarakat atas penyusunan serta pelaksanaan RAD-PK adalah sebagai berikut: a) Stakeholder memperoleh informasi kegiatan penyusunan RAD-PK b) Koordinasi dengan pemerintah pusat berjalan dengan baik c) Koordinasi dengan pemerintah pusat dilakukan atas inisiatif daerah d) Pertemuan stakeholder didikoordinir oleh Bappeda tingkat Kota/Kabupaten e) Koordinasi memudahkan penyelesaian penyusunan program/kegiatan E. Dampak (impact) didefinisikan sebagai hasil dari program yang dinilai berdasarkan tujuan jangka panjang program. Dengan kata lain dampak dipahami sebagai perubahan terhadap kondisi, baik yang direncanakan maupun tidak direncanakan, positif atau negative yang dihasilkan oleh suatu program. Kaitan antra dampak pelaksanaan RAD-PK dengan tanggapan dan persepsi responden adalah: a) Stakeholders terlibat dalam proses penyusunan RAD-PK b) Kinerja SKPD dalam RAD-PK menjadi lebih baik c) Masyarakat menyatakan puas atas pelayanan yang diberikan SKPD d) Kasus korupsi di Kota Bandung menurun e) Masyarakat makin percaya pada pemerintah

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

F. Keberlanjutan RAD-PK akan bergantung pula pada peluang dan kendala. Oleh sebab itu kriteria keberlanjutan RAD-PK harus dilihat dari aspek peluang dan kendala. a. Peluang Peluang antara lain dilihat dari tanggapan dan persepsi masyarakat terhadap kondisi yang terjadi atau mungkin terjadi terhadap RAD-PK, yaitu: a) Pencegahan korupsi harus menjadi prioritas Kota Bandung b) RAD-PK harus dilaksanakan setiap tahun c) Setiap tahun pemerintah harus menetapkan minimal satu program bebas korupsi di setiap SKPD d) Pencegahan korupsi harus menjadi perhatian bersama baik pemerintah maupun masyarakat e) Pemerintah dan masyarakat bisa bekerjasama untuk pencegahan korupsi f) Masyarakat bisa mendorong upaya percepatan pemberantasan korupsi g) Masyarakat dapat menyusun aksi pemberantasan korupsi berbasis budaya setempat b. Kendala Kendala RAD-PK dalam persepsi masyarakat atau berdasarkan identifikasi yang dilakukan masyarakat adalah sebagai berikut : a) Sumber dana untuk penyusunan program anti korupsi kurang memadai b) Pencegahan korupsi belum menjadi prioritas dalam penyusunan program tahunan daerah c) Ada pihak-pihak yang menentang dan menghalangi upaya-upaya percepatan pemberantasan korupsi. Dan pihak-pihak tersebut tak jarang berasal dari dalam pemerintahan daerah sendiri d) Adanya benturan kebijakan, antara kebijakan pusat dengan kebijakan daerah e) RAD-PK belum terpadu dengan siklus perencanaan dan penganggaran daerah f) Ada kesulitan untuk melibatkan masyarakat dalam penyusunan dan pelaksanaan RAD PK Sedangkan yang dimaksud dengan keberlanjutan itu sendiri adalah kebutuhan untuk menjadikan kegiatan yang bersifat jangka pendek menjadi bersifat jangka panjang, artinya sejauh mana program/kegiatan yang dilaksanakan memiliki pengembangan dan berkelanjutan di masa yang akan datang. Hal ini dapat ditelusuri dari beberapa pernyataan sebagai berikut : 1. Penyusunan program/kegiatan perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan 2. Perlu strategi pemberantasan korupsi berbasis masyarakat 3. RAD-PK harus menjadi rencana aksi bersama antara pemerintah dan masyarakat 4. Harus ada montoring dan evaluasi RAD-PK berbasis persepsi masyarakat 5. Harus ada penyesuaian RAD-PK setiap tahun

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

1.4.5 Teknik Analisis
1. Analisis Keterkaitan RAD-PK dengan dokumen Perencanaan lain
Analisis keterkaitan RAD-PK dengan dokumen perencanaan lainnya adalah persentase pernyataan program dan kegiatan yang sama, mirip atau tidak, antara RAD-PK dengan dokumen perencanaan lain yang diperbandingkan, dengan rumus sebagai berikut :
Jml pernyataan program/kegiatan yang sama/mirip/tidak = -------------------------------------------------------------------------------- x 100 % Jumlah program/kegiatan

Persentase

Penetapan kategori keterkaitan RAD-PK dengan dokumen perencanaan lainnya ditetapkan sebagai berikut:  Apabila persentase pernyataan sama dan mirip = 0% - 33%, maka kategori Rendah  Apabila persentase pernyataan sama dan mirip = 34% - 67%, maka kategori Sedang  Apabila persentase pernyataan sama dan mirip = 68% - 100%, maka kategori Tinggi Data hasil perolehan analisi untuk masing-masing kriteria dan indikator disajikan dalam bentuk tabulasi sebagai berikut : Tabel 1.2. Tabulasi Analisis Atas Masing-Masing Kriteria dan Indikator Keterkaitan RAD-PK Dengan Dokumen Perencanaan Lainnya
No 1 2 Uraian Program Kegiatan Sama (%) Mirip (%) Tidak ada (%) Kategori

2. Analisis Persepsi
Persepsi tentang RAD-PK didasarkan pada indikator relevansi, efektifitas, efisiensi, koordinasi, keterkaitan, dampak dan keberlanjutan. Masing-masing kriteria dikembangkan menjadi pertanyaanpertanyaan operasional sebagai indikator evaluasi Teknik pengukuran dari indikator setiap kriteria mempergunakan skala ordinal dengan rentang 1 hingga 5, di mana skor 1 merupakan skor terendah, dan skor 5 merupakan skor tertinggi. Teknik penilaian dilakukan dengan cara menata ulang setiap pernyataan indikator pada setiap variable/kriteria dengan tujuan penajaman penilaian kepada enam kriteria evaluasi yakni : 1) Relevansi penyusunan dan pelaksnaan RAD-PK 2) Efektifitas penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK 3) Efisiensi dalam penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK 4) Kualitas koordinasi dan keterkaitan dalam penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK 5) Dampak (langsung maupun tidak langsung) dari penyusunan dan pelaksanaan RADPK 6) Keberlanjutan RAD-PK yang meliputi sub kriteria peluang dan kendala bagi keberlanjutan RAD-PK

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Persepsi yang diperoleh dari tanggapan atas pernyataan untuk masing-masing indikator pada setiap kriteria dinyatakan dalam bentuk pilihan jawaban yang diberi skor sebagai berikut : 1) Sangat Setuju ............ skor =5 2) Setuju ........................ skor =4 3) Ragu-ragu ................. skor =3 4) Tidak Setuju ............... skor =2 5) Sangat Tidak Setuju ...skor =1 Skor yang diperoleh masing-masing indikator adalah penjumlahan dari pilihan jawaban dan skor dari seluruh responden (skor kenyataan). Sedangkan skor yang diperoleh dari tiap kriteria adalah penjumlahan dari skor yang diperoleh dari seluruh indikator pada setiap kriteria yang bersangkutan. Skor Harapan adalah jumlah skor apabila seluruh responden menyatakan Sangat Setuju (skor =5) untuk setiap pernyataan. Persen kenyataan adalah persentase skor kenyataan dari skor harapannya. Pengolahan data selanjutnya mempergunakan analisis deskriptif dengan penyajian tabulasi. Tabulasi didasarkan pada skor yang diperoleh dari masing-masing indikator. Persentase skor yang diperoleh masing-masing kriteria mapun indikator dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu Tinggi, Sedang dan Kurang. Sedangkan penentuan kategori dilakukan berdasarkan persentase skor kenyataan yang diperoleh dari skor harapannya. Untuk penentuan panjang kelas interval (KI) skor untuk masingmasing indikator menggunakan rumus :
Persen skor tertinggi – Persen skor terendah = -----------------------------------------------------------Jumlah Kategori

KI

Misalnya:
100 % - 20 % = -------------------------------------------------- = 26,67 % 3

KI

Keterangan:

Persen skor tertinggi = 5/5 x 100% = 100% Persen skor terendah = 1/5 x 100% = 20% Berdasaran rumus di atas maka penentuan katagori kriteria dan indikator adalah sebagai  Jika diperoleh skor 20,00% - 46,67% dari skor harapan, maka kategori Rendah  Jika diperoleh skor 46,68% - 73,35% dari skor harapan, maka kategori Sedang  Jika diperoleh skor 73,36% - 100% dari skor harapan, maka kategori Tinggi

berikut :

Data hasil perolehan skor untuk masing-masing kriteria dan indikator disajikan dalam bentuk tabulasi sebagai berikut:

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Tabel 1.3. Tabulasi Antara Perolehan Skor Kenyataan dan Skor Harapan dengan Persetase Kenyataan Atas Kategori Dari Dokumen RAD-PK dengan Dokumen Perncanaan Daerah Lainya
No 1 2 Jumlah INDIKATOR Jumlah Skor Kenyataan Jumlah Skor Harapan Persen Kenyataan Kategori

Berdasarkan tabulasi diatas, maka penilaian untuk hasil pengukuran7 masing-masing criteria dijelaskan sebagai berikut : Tabel 1.4. Pengukuran dan Penilaian Kriteria Relevansi
Keterangan Hasil Pengukuran Penilaian berdasarkan indikator Skor 46,68% - 73,35% Sedang RAD-PK sudah mulai dijadikan prioritas pemerintah. Masyarakat memandang perlu ada RAD-PK dan sudah mulai terlibat dalam penyusunan RADPK Masih diperlukannya peningkatan pemahaman tentang perilaku koruptif serta peningkatan kesadaran tentang upaya percepatan pemberantasan korupsi Peningkatan pemahaman tentang perilaku korupsi dan upaya pencegahannya melalui pendidikan anti korupsi Evaluasi kinerja pelayanan publik

20.00% - 46.67% Rendah RAD-PK bukan prioritas daerah RAD-PK bukan tuntutan dan kebutuhan masyarakat Masyarakat tidak terlibat dalam penyusunan RADPK Patut dipertanyakan komitmen daerah dalam percepatan pemberantasan korupsi

73,36% - 100% Tinggi RAD-PK telah menjadi prioritas pemerintah daerah karena sangat dibutuhkan masyarakat. Masyarakat terlibat dalam penyusunan RADPK Upaya pencegahan korupsi telah menjadi komitmen pemerintah Telah ada tindakan nyata untuk percepatan pemberantasan korupsi

Makna

Perlu dilakukan monitoring dan publikasi kasus korupsi di daerah

Pengembangan stategi pencegahan korupsi berbasis multistakeholder Publikasi inovasi-inovasi untuk perbaikan kualitas pelayanan publik di daerah Pemberian reward bagi daerah yang punya inovasi untuk percepatan pemberantasan korupsi Upaya pencegahan

Rekomendasi

Evaluasi khusus bagi daerah-daerah yang belum menyusun RAD-PK Penerapan sanksi bagi daerah yang tidak melaksanakan dan melaporkan pelaksanaan Inpres No. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi Shock terapi bagi daerah

Techical assistance untuk peningkatan kualitas pelayanan publik Meningkatkan

Tujuan tindakan
7

Matriks pengukuran dan penilaian persepsi tentang RAD PK. Dikembangkan pertamakali oleh Tim Review RAD-PK pada tahun 2009

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

agar upaya percepatan pemberantasan korupsi dijadikan prioritas

profesionalisme birokrasi

korupsi menjadi perhatian bersama semua pihak baik pemerintah, masyarakat dan dunia usaha

Tabel 1.5. Pengukuran dan Penilaian Kriteria Efektifitas
Keterangan 20.00% - 46.67% Hasil Pengukuran Penilaian berdasarkan indikator Rendah Daerah memandang RAD-PK tidak perlu dikukuhkan dalam suatu peraturan Skor 46,68% - 73,35% Sedang Masih ada keraguan tentang perlu tidaknya pengukuhan RAD-PK dalam suatu peraturan 73,36% - 100% Tinggi RAD-PK perlu dikukuhkan menjadi Peraturan Kepala Daerah, disosialisasikan sehingga masyarakat paham proses dan substansi RAD-PK Adanya landasan hukum RADPK menjamin efektifitas pelaksanaan atau tindak lanjut di daerah. Revisi atau penyesuaian kembali peraturan tentang RAD-PK

Makna

Tidak ada kejelasan tentang pelaksanaan RAD-PK termasuk di dalamnya monitoring dan evaluasi hasil capaiannya. Perlu dilakukan penyamaan persepsi tentang penting tidaknya pengukuhan RAD-PK ke dalam kerangka peraturan daerah Penyusunan dan sosilasasi pedoman penyusunan RAD-PK

Rekomendasi

Tujuan tindakan

Kepastian hukum bagi daerah dalam menerapkan RADPK sebagai suatu dokumen perencanaan yang penting dalam keseluruhan proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan

Peraturan tentang RAD-PK terus – menerus dijadikan “living document” karena merupakan pedoman penyearah berbagai upaya percepatan pemberantasan korupsi di daerah

Tabel 1.6. Pengukuran dan Penilaian Kriteria Efisiensi
Keterangan 20.00% - 46.67% Hasil Pengukuran Penilaian berdasarkan indikator Rendah Alokasi dana untuk penyusunan RAD-PK tidak sesuai kebutuhan. Terlalu banyak pos belanja dalam kegiatan penyusunan RAD-PK Daerah cenderung memaknai kegiatan RAD-PK hanya sebatas project Skor 46,68% - 73,35% Sedang Dana untuk penyusunan RAD-PK disesuaikan dengan kebutuhan pada saat pelaksanaan kegiatan Daerah belum paham bagaimana mengintegrasikan rencana anggaran kegiatan RADPK ke dalam dokumen 73,36% - 100% Tinggi Alokasi dana untuk penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK terintegrasi dalam Renja, RKA dan DPA SKPD pelaksana Daerah tidak perlu menambah pos anggaran baru karena alokasi untuk kegiatan RADPK terintegrasi dalam dokumen rencana dan

Makna

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

perencanaan pengganggaran

dan

anggaran SKPD pelaksana Penegasan tentang dokumen RTL (Rencana Tindak Lanjut) bagi tiap SKPD pelaksana RAD-PK Penyesuaian besaran biaya sesuai standar harga pada masing-masing kegiatan di tiap daerah. Belanja kegiatan makin efisien RAD-PK

Penyamaan persepsi tentang sistem alokasi anggaran untuk kegiatan penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK Rekomendasi Dibutuhkan pedoman tentang proses alokasi anggaran untuk kegiatan penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK di daerah serta pedoman penyusunan RTL di tiap SKPD pelaksana RAD-PK Tujuan tindakan Daerah tidak mengalami kegamangan dalam menyusun alokasi anggaran untuk kegiatan RAD-PK

Tabel 1.7. Pengukuran dan Penilaian Koordinasi dan Keterkaitan
Keterangan 20.00% - 46.67% Hasil Pengukuran Penilaian berdasarkan indikator Rendah Skor 46,68% - 73,35% Sedang Koordinasi berjalan namun masih ada pertanyaan tentang pihak mana yang berwenang mengkoordinir para pihak tersebut. Daerah masih membutuhkan ketegasan tentang kelembagaan penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK 73,36% - 100% Tinggi Koordinasi dinilai sangat membantu proses penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK.

Penyusunan RAD-PK tidak melibatkan semua pihak yang berkepentingan

Makna

Belum tumbuh pemahaman bahwa RAD-PK harus dikembangkan menjadi suatu gerakan bersama semua pihak Discursus untuk peningkatan pemahaman tentang RAD-PK sebagai suatu dokumen penyearah berbagai tindakantindakan dalam upaya percepatan pemberantasan korupsi di daerah Merubah secara mendasar pemahaman tentang Aksi Pemberantasan Korupsi

Daerah sudah melakukan inovasi untuk penataan kelembagaan penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK

Rekomendasi

Pembentukan kelembagaan dan mekanisme penyusunan maupun monitoring dan evaluasi pelaksanaan RAD-PK Peningkatan peran tim Kormonev dari Inpres No. 5 Tahun 2004 Menguatkan dan mendayagunakan fungsi-fungsi yang sudah ada dalam pemerintahan maupun masyarakat untuk percepatan pemberantasan korupsi di daerah

Tujuan tindakan

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Tabel 1.8. Pengukuran dan Penilaian Kriteria Dampak
Keterangan 20.00% - 46.67% Hasil Pengukuran Rendah Skor 46,68% - 73,35% Sedang Tidak semua SKPD paham tentang RAD-PK. Masyarakat belum sepenuhnya percaya bahwa ada upaya percepatan pemberantasan korupsi yang dilakukan pemerintah RAD-PK dinilai masih belum memberi kontribusi pada penurunan kasus korupsi 73,36% - 100% Tinggi RAD-PK dinilai membantu mengurangi kasus korupsi sehingga pada gilirannya masyarakat diuntungkan dan kepercayaan pada pemerintah meningkat RAD-PK sangat berkorelasi dengan upaya pemberantasan korupsi di daerah Evaluasi Dampak Pelaksanaan Peraturan tentang RAD-PK melalui metode RIA (Regulatory Impact Assesment) Pemberian penghargaan bagi daerah yang melakukan inovasi untuk percepatan pemberantasan korupsi Memastikan bahwa dampak yang sudah ada berkesinambungan dan meningkat

Penilaian berdasarkan indikator

Tidak ada perubahan apapun yang terjadi setelah ada penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK

Makna

Penyusunan RAD-PK hanya untuk menggugurkan kewajiban administratif daerah

Survey integritas untuk menilai tingkat bebas korupsi di lingkup pemerintahan Rekomendasi Penerapan sanksi bagi daerah yang tidak melaksanakan dan melaporkan pelakanan Inpres No. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasn Korupsi

Tujuan tindakan

Merubah secara mendasar pemahaman tentang penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK agar lebih berdampak bagi masyarakat.

Tabel 1.9.a. Pengukuran dan Penilaian Kriteria Keberlanjutan Atas Dasar Peluang
Skor Keterangan 20.00% - 46.67% Hasil Pengukuran Rendah Tidak ada peluang karena menurut daerah tidak perlu ada penyesuaian isu prioritas untuk pencegahan korupsi setiap tahun, tidak perlu ada penetapan program bebas korupsi di tiap SKPD 46,68% - 73,35% Sedang Ada kemunginan bagi keberlanjutan RAD-PK karena pemerintah daerah memandang tidak perlu dana khusus bagi kegiatan RAD-PK karena RAD-PK dapat diintegrasikan delam rencana kerja tiap SKPD 73,36% - 100% Tinggi RAD-PK dinilai penting karena pencegahan korupsi telah menjadi “concern” bersama semua pihak serta masyarakat dapat bekerjasama dengan pemerintah untuk mendorong upaya percepatan

Penilaian berdasarkan indikator

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

pemberantasan korupsi di daerah. Perlu ada pertimbangan atau kajian ulang untuk melanjutkan program RAD-PK Penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK berpeluang tinggi untuk dilanjutkan di masa-masa yang akan datang

Makna

Penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK sebaiknya dihentikan. Pencabutan/pembekuan Inpres No. 5 Tahun 2004 tentang percepatan pemberantasan korupsi

Peningkatan kerangka hukum tentang penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK dan secara umum tentang percepatan pemberantasan korupsi. Penyusunan Program Percepatan Pemberantasan Korupsi secara Nasional tercakup di dalamnya pedoman pelaksanaan dan sosialisasi dan pendampingan pada tahap awal implementasi program secara nasional Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas daerah serta memastikan capaian yang diperoleh sekarang berkelanjutan dan lebih ditingkatkan

Rekomendasi Evaluasi sistemik tentang keberhasilan dan kegagalan Inpres No. 5 Tahun 2004

Tujuan tindakan

Merubah secara mendasar

Tabel 1.9.b. Pengukuran dan Penilaian Kriteria Keberlanjutan Atas Dasar Kendala
Keterangan 20.00% - 46.67% Hasil Pengukuran Rendah Skor 46,68% - 73,35% Sedang 73,36% - 100% Tinggi Masih sangat banyak tantangan karena program dan kegiatan untuk pencegahan korupsi belum menjadi prioritas daerah Masih ada pihak-pihak yang menentang Masih lemahnya koordinasi pusat dan daerah serta belum terintegrasinya penyusunan dan pelaksanan RAD-PK dengan siklus perencanaanpenganggaran daerah.

Penilaian berdasarkan indikator

Tidak ada banyak tantangan karena program dan kegiatan untuk pencegahan korupsi telah menjadi prioritas daerah dan masyarakat telah dilibatkan secara optimal dalam penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK

Masih ada kendala dari sisi pembiayaan karena daerah memperlakukan RAD-PK sebagai satu proyek/kegiatan terpisah dan belum diintegrasikan dalam kesuruhan proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerah

Makna

Rekomendasi

RAD-PK tidak sulit diakomodir dan dilaksanakan oleh pemerintah daerah Evaluasi capaian program dan kegiatan SKPD prioritas dalam RAD -PK

Perlu ada pendesainan ulang RAD-PK baik dari sisi kebijkan, kelembagaan maupun mekanisme pelaksaaan serta kerangka monitoring dan evaluasinya. Penetapan pedoman penyusunan, pelaksanaan monitoring dan evaluasi Pelaksanaan RAD PK serta

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Tujuan tindakan

Penyusuaian kembali dokumen RAD-PK setiap tahun sesuai kebutuhan daerah. Meningkatkan capaian hasil pelaksanan RAD-PK baik dari sisi kualitas maupun sebaran SKPD pelaksana

Sosialisasi pedoman dan pendampingan teknis (technical assistance) penyusunan RAD-PK

Memastikan bahwa RAD-PK tetap dilanjutkan

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

3 Analisis Siklus RAD-PK
Analisis data sekunder dilakukan untuk menilai capaian berdasarkan siklus penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK. Model penilian atas siklus RAD-PK disajikan Tabel 1.10 Tabel 1.10. Penilaian pelaksanaan RAD-PK Berdasarkan Siklus RAD-PK
No Tahapan Proses Pengukuran Hasil Indikator penilaian Tim Perumus terdiri dari perwakilan para pihak yang berkepentingan dan dikukuhkan melalui SK Kepala Daerah. Tim perumus hanya terdiri dari pemerintah saja namun dikukuhkan oleh SK Kepala Daerah dan pernah mengadakan pertemuan untuk penyusunan draft RADPK Tim perumus terbentuk namun belum dikukuhkan melalui SK Kepala Daerah Tidak ada tim perumus namun ada panitia adhoc yang dibentuk untuk menyusun draft RAD-PK Tidak ada panitia adhoc untuk penyusunan yang bertugas menyusun draft RAD-PK Kategori Makna Rekomendasi Tujuan tindakan

Kriteria

Nilai 5

Baik 4

Daerah telah terbiasa bekerja dengan menggunakan tim adhoc. Daerah memandang perlu keterlibatan para pihak dalam upaya percepatan pemberantasan korupsi

Perlu kajan tentang kapasitas tim penyusun yang sudah dibentuk

Memastikan capaian yang sudah ada tetap berlanjut dan lebih ditingkatkan

1

Pembentukan Tim Penyusun

Adanya Tim Perumus RADPK

3

Cukup

Daerah masih ragu tentang perlunya SK Kepala Daerah tentang tim penyusun

Perlu penegasan tentang pentingnya tim penyusun RADPK

Meningkatkan koordinasi antar lembaga dalam penyusunan RAD-PK Membangun pemahaman yang mendasar tentang proses penyusunan RAD-PK

2 Buruk 1 Daerah belum paham tentang kelembagaan dan mekanisme kerja tim penyusun RAD-PK

Sosialisasi/penegasan tentang pentingnya pembentukan tim penyusun

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

No

Tahapan Proses

Pengukuran Hasil Kriteria Indikator penilaian Ada serial pertemuan untuk pembahasan isu prioritas dan penyusunan dokumen draft RAD-PK yang dikoordinir oleh Bappeda atau pihak yang bertugas mengurus RADPK Ada notulensi pertemuan para pihak yang dikoordinir oleh Bappeda atau pihak yang ditugaskan mengurus RAD-PK

Nilai

Kategori

Makna

Rekomendasi

Tujuan tindakan

5 Baik

4

Daerah memandang perlunya keberadaan dokumen RADPK sebagai salah satu dokumen perencanaan yang penting bagi daerah. Daerah sudah menerapkan proses partisipasi dalam perencanaan program/kegiatan pembangunan

Perlu ada penegasan tentang format dokumen RAD-PK

Memastikan keberlanjutan proses penyusunan RAD-PK secara konsisten

2

Penyusunan draft RAD-PK

Ada dokumen draft RAD-PK Ada notulensi pertemuan pembahasan isu prioritas di Bappeda 3 Cukup

Sudah ada kehendak daerah untuk menjadikan RAD-PK sebagai salah satu dokumen perencanaan

Diperlukan bantuan teknis (technical assistance) untuk penyusunan draft RAD-PK

Dokumen draft RAD-PK dibuat menjelang hari pelaksanaan KKP Tidak ada dokumen draft RAD-PK

2 Buruk 1 RAD-PK belum dianggap penting untuk disusun oleh daerah

Diperlukan bantuan teknis (technical assistance) untuk penyusunan draft RAD-PK

Mengubah secara mendasar dan meningkatkan kapasitas pemahaman konsep, strategi dan teknis kegiatan Mengubah secara mendasar dan meningkatkan kapasitas pemahaman konsep, strategi dan teknis kegiatan

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

No

Tahapan Proses

Kriteria

3

Pelaksanaan KKP

Ada laporan pelaksanaan KKP

Pengukuran Hasil Indikator penilaian Dokumen laporan pelaksanaan KKP disampaikan kepada Kepala Daerah dan Bappenas serta para pihak yang hadir dalam pelaksanaan KKP Dokumen laporan pelaksanaan KKP disampaikan kepada Kepala Daerah dan Bappenas Ada dokumen laporan pelaksanaan KKP yang dibuat oleh panitia teknis daerah Ada notulensi pelaksanaan KKP Tidak ada dokumen apapun tentang pelaksanaan KKP

Nilai

Kategori

Makna

Rekomendasi

Tujuan tindakan

5 Baik

Daerah memandang konsultasi publik sebagai mekanisme pelibatan masyarakat dalam proses kebijakan

4

Perlu disusun panduan teknis Kampanye Konsultasi Publik penyusunan RAD-PK

Memastikan berjalannya konsultasi publik secara lebih baik

3

Cukup

Daerah memandang belum perlu melibatkan publik secara luas dalam penyusunan RADPK

2 Buruk 1

Daerah belum terbiasa menggunakan proses partisipatif dalam penyusunan program/kegiatan Daerah sudah menerapkan prinsip “colaborative governance” dan terbiasa melaksanakan proses partisipatif dalam penyusunan program/kegiatan

Perlu bimbingan teknis tentang pelaksanaan KKP RAD-PK yang lebih partisipatf Perlu ada upaya meningkatkan pemahaman tentang perencanaan partisipatif Pemberian penghargaan bagi daerah yang menerapkan pola partisipasi publik dalam penyusunan,

Penyempurnaa n Dokumen RAD-PK 4

Ada dokumen hasil pertemuan penyempurna an hasil KKP

Penyempurnaan RAD-PK dilakukan melalui workshop multistakeholder serta penyusunan RTL untuk SKPD prioritas dalam RAD-PK Penyempurnaan RAD-PK dilakukan melalui workshop yang melibatkan berbagai

5 Baik 4

Merubah secara mendasar praktek penyusunan program/kegiatan kearah yang lebih partisipatif Merubah secara mendasar praktek penyusunan program/kegiatan kearah yang lebih partisipatif Melanjutkan capaian yang telah dperoleh

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

pihak baik pemerintah, perwakilan masyarakat (LSM), media dan perguruan tinggi Penyempurnaan dokumen RAD-PK dilakukan melalui workshop lintas SKPD yang dikoordinir oleh Bappeda atau pihak yang mengurus RAD-PK Pembahasan hasil KKP hanya dilakukan oleh tim adhoc di Bappeda atau pihak yang mengurus RAD-PK Tidak ada pertemuan setelah pelaksanaan KKP Peraturan tentang RAD-PK disosialisasikan di internal pemerinah, LSM, media masa dan masyarakat luas Peraturan tentang RAD-PK disosialisasikan di internal pemerintah dan LSM Koordinasi internal dantara kelembagaan pemerintah dalam penyusunan RAD-PK sudah berjalan baik

3

Cukup

pelaksanaan, monitoring dan evaluasi RADPK Perlu ada panduan workshop penyempurnaan draft RAD-PK Perlu ada peringatan bagi daerah bahwa penyusunan RAD-PK harus partisipatif Perlu dipertimbangkan model penghargaan bagi daerah yang telah menetapkan peraturan tentang RAD-PK Perlu dilakukan penyamaan persepsi tentang pentingnya penetapan peraturan tentang RAD-PK

2 Buruk 1

Perhatian pemerintah daerah terhadap RAD-PK masih sangat rendah

Memastikan penyempurnaan RAD-PK mencapai hasil yang maksimal Merubah pemahaman dan komitmen tentang penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK secara partisipatif

5 Baik

5

Menuangkan RAD-PK dalam Peraturan (Legalisasi)

Ada peraturan tentang RADPK

4

Daerah mempunyai keyakinan bahwa Peraturan tentang RAD-PK, menjamin terlaksananya program/ kegiatan RAD-PK

Melanjutkan dan meningkatkan capaian yang sudah ada

Peraturan tentang RAD-PK tercatat dalam lembaran daerah namun tidak tersosialisasikan

3

Cukup

Peraturan tentang RAD-PK cenderung dipandang hanya untuk memenuhi kewajiban administrasi belaka

Memperbaiki kerangka pemahaman tentang kekuatan hukum RAD-PK

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Daerah masih ragu-ragu untuk menetapkan peraturan tentang RAD-PK Tidak ada peraturan tentang RAD-PK

2 Buruk 1

Daerah menganggap RAD-PK bukan suatu hal yang perlu dikuatkan melalui peraturan yang mengikat

Perlu pertimbangan pemberian sanksi administratif

Merubah secara mendasar pemahaman dan komitmen daerah tentang RAD-PK

No

Tahapan Proses

Kriteria

Pengukuran Hasil Indikator penilaian Program dan kegiatan dalam RAD-PK sudah direalisasikan oleh SKPD pelaksana SKPD belum mengakomodir program dan kegiatan dalam RADPK ke dalam Renja/RKA/DPA tetapi telah melaksanakan kegiatan serupa SKPD prioritas telah menetapkan program dan kegiatan RAD-PK dalam Renja/RKA/DPA (ada alokasi anggaran untuk kegiatan RAD-PK) SKPD pelaksana masih ragu-ragu (kurang paham) untuk mengakomodir program/kegiatan RAD-PK ke dalam Renja dan RKA SKPD

Nilai

Kategori

Makna Daerah memahami kerangka teknis pelaksanaan RAD-PK dan menuangkannya ke dalam program dan kegiatan yang sedang berjalan

Rekomendasi Perlu dipertimbangkan adanya penghargaan bagi daerah yang memilik inovasi dalam upaya mencapaian pemberantasan korupsi dengan RAD-PK sebagai pedomannya Perlu ada penegasan dan atau pendampingan bagi SKPD pelaksana RADPK Perlu dipertimbang-kan model sanksi bagi daerah yang tidak melaksanakan

Tujuan tindakan

5

Baik 4 Daerah dapat mengintegrasikan RAD-PK dalam program/kegiatan yang sedang berjalan

Meningkatkan dampak pelaksanaan RAD-PK

6

Melaksanakan RAD-PK

Ada program dan kegiatan dalam Renja/RKA/DPA SKPD yang menjadi prioritas dalam RAD-PK

3

Cukup

Daerah memiliki komitmen untuk melaksankan RAD-PK namun masih ragu dalam melaksanakan program dan kegiatan RAD-PK

Meningkatkan kapasitas daerah, baik dari sisi pemahaman maupun pelaksanaannya Merubah pemahaman dan memperbaiki secara mendasar strategi percepatan

2

Buruk

Daerah memposisikan RAD-PK hanya sebagai proyek singkat dengan anggaran yang besar

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Belum ada SKPD yang melaksanakan program/kegiatan dalam RAD-PK Sudah ada Tim Kormonev RAD-PK (Inpres No. 5 Tahun 2004) yang melaksanakan proses monitoring, evaluasi dan laporan pelaksanaan RADPK Tim Kormonev telah menetapkan struktur, mekanisme dan agenda kerja Monitoring dan evaluasi pelaksanaan RAD-PK

RAD-PK 1 Dipertimbangkan adanya penghargaan bagi daerah yang secara rutin melakukan monev dan melaporkannya secara periodic dari pelaksanaan RAD-PK maupun Inpres No. 5/2004 Perlu ada kajian tentang keberadaan tim monitoring dan evaluasi RAD-PK d setiap daerah

pemberantasan korupsi

5 Baik

Daerah memiliki komitmen yang tinggi untuk percepatan pemberantasan korupsi, paham tentangmekanisme monitoring dan evaluasi RAD-PK

Melanjutkan capaian yang sudah ada agar lebih berdampak bagi masyarakat

4

7

Ada Tim Kormonev RADPK

Daerah sudah membentuk Tim Kormonev berdasarkan SE Menpan meski sebatas untuk menggugurkan kewajiban administratif Tidak ada tim kormonev yang ditugaskan untuk melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan RADPK maupun Inpres No. 5 Tahun 2004 Daerah memandang tidak perlu ada tim kormonev, sehingga daerah belum membentuk tim kormonev

3

Cukup

Masih membutuhkan proses evaluasi untuk menguji komitmen daerah tentang percepatan pemberantasan korupsi

Menemukan dan mengenali permasalahan yang dihadapi daerah sekaligus untuk meningkatkan kapasitas tim monev

2 Buruk 1

Perlu dipertanyakan komitmen daerah tentang keberlanjutan percepatan pemberantasan korupsi di daerah

Penerapan sanksi bagi daerah yang tidak melaporkan capaian pelaksanaan RAD-PK maupun Inpres No. 5/2004

Merubah komitmen dan strategi secara menyeluruh dan mendasar

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG
Kota Bandung merupakan Ibukota Provinsi Jawa Barat, terletak di antara 107º 36’ Bujur Timur dan 6º 55’ Lintang Selatan, dan berada pada ketinggian ±791 m di atas permukaan laut (mean sea level). Daerah utara Kota Bandung pada umumnya lebih tinggi daripada daerah selatan. Rata-rata ketinggian di sebelah utara adalah ±1050 dpl, sedangkan di bagian selatan adalah ±675 dpl. Kota Bandung dikelilingi oleh pegunungan yang membuat Bandung menjadi semacam cekungan (Bandung Basin). Kota Bandung terdiri dari 30 Kecamatan, 151 Kelurahan, 1.558 RW (rukun warga) dan 9.678 RT (rukun tetangga). Sedangkan luas wilayah dari Kota Bandung sebesar 16.729,65 Ha.8, dengan jumlah penduduk sebanyak 2.417.287 jiwa (penduduk laki-laki 1.233.039 jiwa dan perempuan 1.184.248 jiwa), dengan persentase laju pertumbuhan tiap tahunnya berkisar 1,81%9 Rata-rata kepadatan penduduk Kota Bandung adalah 16.008,53 jiwa/Km², dan jika dilihat dari segi kepadatan penduduk per kecamatan pada Tahun 2009 maka ada 6 kecamatan dari 30 kecamatan di Kota Bandung dengan jumlah penduduk terpadat, yaitu: 1. Kecamatan Babakan Ciparay, dengan jumlah penduduk 144.892 2. Kecamatan Kiaracondong, dengan jumlah penduduk 131.978 3. Kecamatan Coblong, dengan jumlah penduduk 128.748 4. Kecamatan Bandung Kulon, dengan jumlah penduduk 127.622 5. Kecamatan Batununggal, dengan jumlah penduduk 125.636 6. Kecamatan Bojongloa Kaler, dengan jumlah penduduk 123.09210 Secara administratif wilayah Kota Bandung berbatasan dengan daerah kabupaten/kota lainnya yaitu :

8

Berdasarkan Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 10 Tahun 1989 tentang Perubahan batas Wilayah Kotamadya Tingkat II Bandung yang merupakan tindak lanjut dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 1987 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung 9 Hal. 43, Buku Bandung Dalam Angka 2010 dari BPS Provinsi Jawa Barat 10 Hal. 45, Buku Bandung Dalam Angka 2010 dari BPS Provinsi Jawa Barat

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat (KBB) Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bandung. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung.

2.1 Keadaan Fisik/Geologis
Keadaan geologis di Kota Bandung dan sekitarnya terdiri atas lapisan alluvial hasil letusan gunung Tangkuban Perahu. Jenis material di wilayah bagian utara umumnya jenis tanah andosol, sedangkan di bagian Selatan serta Timur terdiri atas jenis alluvial kelabu dengan bahan endapan liat. Di bagian tengah dan Barat tersebar jenis tanah andosol. Iklim asli kota Bandung dipengaruhi oleh iklim pegunungan di sekitarnya, namun pada dasarnya beberapa tahun belakangan mengalami peningkatan suhu, akibat polusi dan meningkatnya suhu global. Kota Bandung tergolong daerah yang cukup sejuk, dengan temperatur udara rata-rata 23oC (1995 - 2008). Temperatur ini dipengaruhi oleh ketinggian dari permukaan laut, lingkungan pegunungan atau cekungan dan berbagai danau besar yang terletak disekitarnya, Bagan 2.1. Peta Kota Bandung

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

2.2. Pemerintahan
Penyelenggaraan pemerintah daerah sebagai bagian Integral pemerintahan dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia, secara historis telah mengalami berbagai perubahan pada tatanan manajemen penyelenggaraan pemerintah daerah. Kondisi ini ditandai dengan adanya penyempurnaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Perubahan tersebut selain karena tuntutan reformasi yang mengharuskan pemerintah lebih transparan dan akuntabel, juga dipengaruhi oleh perkembangan dinamika institusi/badan/lembaga pemerintah dalam upaya mengakomodasi berbagai kebutuhan masyarakat serta upaya mengoptimalkan kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah. Berkenaan dengan perencanaan pembangunan daerah, pemerintah Kota Bandung telah mengeluarkan Perda No. 09 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2009 - 2013. Dokumen ini merupakan penjabaran visi, misi dan program Walikota Bandung terpilih dalam suatu periode masa jabatan. Penyusunan RPJM Daerah Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 berpedoman pada RPJP Daerah Kota Bandung 2005 – 2025 serta memperhatikan RPJM Nasional dan RPJM Provinsi, memperhatikan sumber daya dan poetnsi yang dimiliki, faktor-faktor keberhasilan, evaluasi pembangunan serta isu-isu strategis yang berkembang. Berdasarkan RPJMD Kota Bandung, isu-isu strategis yang menjadi fokus perhatian Kota Bandung antara lain : 1. Peningkatan kualitas pendidikan 2. Penumbuhan ekonomi kreatif kota dan sektor ekonomi kreatif dan tradisional 3. Peningkatan kualitas dan pencegahan degradasi lingkungan hidup kota 4. Penyediaan dan pengelolaan infrastruktur serta penataan kota 5. Peningkatan kualitas kesehatan dan penanganan penyakit 6. Penanggulangan kemiskinan dan pengangguran 7. Penyediaan pelayanan umum kota yang prima 8. Optimalisasi manajemen pemerintahan kota 9. Efektivitas dan efisiensi pengelolaan keuangan daerah.

2.3. IPM Kota Bandung
Pembangunan dilaksanakan untuk mewujudkan manusia yang berkualitas yang mempunyai 3 ciri yaitu pertama: sehat dan berumur panjang, kedua: cerdas, kreatif dan terampil, terdidik dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, ketiga: mandiri dan memiliki akses untuk hidup layak.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Pada tahun 2004, IPM Kota Bandung mencapai 77,17 dan sampai dengan tahun 2007 relatif tumbuh sangat lambat. Struktur IPM Kota Bandung bervariasi menurut aspeknya. Indeks Pendidikan adalah indeks tertinggi, sedangkan Indeks Daya Beli adalah indeks terendah. Berdasarkan data yang ada, Indeks Kesehatan adalah indeks yang diperkirakan dapat mengalami pertumbuhan paling cepat. Bila pada tahun 2007 adalah sekitar 80, maka ada kemunngkinan dapat mengalami peningkatan hingga 91, atau sedikit lebih rendah daripada indeks pendidikan. Indeks pendidikan walaupun mengalami peningkatan, namun peningkatannya lambat. Perkembangan yang mengkuatirkan adalah Indeks Daya Beli, dimana terdapat kecenderungan mengalami penurunan karena inflasi, kenaikan harga bahan bakar minyak dan perubahan-perubahan ekonomi makro lain yang menyebabkan penurunan daya beli.

2.3.1 Pelayanan Kesehatan
Sarana Kesehatan Kota Bandung sampai dengan tahun 2008 adalah Puskesmas 71 buah, 5 diantaranya adalah Puskesmas dengan tempat perawatan untuk persalinan, 16 Puskesmas diantaranya memiliki instalasi/unit gawat darurat serta 13 Puskesmas Keliling. Sarana Pelayanan Kesehatan lainnya adalah Rumah Sakit 31 buah, Praktek Dokter Umum 1.567 Orang, Praktek Dokter Gigi 583 Orang, Praktek Bidan 811 Orang, Praktek Dokter Spesialis 137 Orang, Balai Pengobatan Swasta 512 buah, Laboratorium Klinik 88 buah, Apotek sebanyak 493 buah dan Rumah Bersalin 51 buah. Dari 31 Rumah Sakit tersebut, 11 diantaranya milik Pemerintah. Sedangkan Rumah sakit Swasta berjumlah 20 buah, Dengan demikian sarana kesehatan Kota Bandung dengan jumlah seperti yang dipaparkan diatas, seharusnya sudah mampu menyediakan pelayanan kesehatan prima, sesuai dengan permasalahan kesehatan spesifik khas perkotaan. Aspek Kesehatan, melalui Angka Kematian Kasar/AKK (Crude Death Rate) dapat digunakan sebagai petunjuk umum status dan kondisi kesehatan di masyarakat serta secara tidak langsung menggambarkan kondisi lingkungan ekonomi, fisik dan sosial. AKK juga dapat menjadi dasar dalam menghitung laju pertambahan penduduk walaupun penilaian yang diberikan secara kasar dan tidak langsung. Kota Bandung belum memiliki Angka Kematian Kasar tahun 2007, tetapi dari data Rumah Sakit di Kota Bandung jumlah total kematian adalah sebesar 3.586 kasus di Tahun 2007 Angka Harapan Hidup (AHH) dianggap sebagai indikator umum bagi taraf hidup. Maka semakin tinggi usia harapan hidup menunjukkan bahwa taraf hidup di suatu wilayah juga semakin tinggi. Sejalan dengan keberhasilan pembangunan kesehatan maka harapan hidup di Kota Bandung juga mengalami kenaikan.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

2.3.2 Pelayanan Pendidikan
Pembangunan bidang pendidikan di Kota Bandung terus dilakukan, dan merupakan salah satu program prioritas dari tujuh program prioritas pembangunan Pemerintah Kota Bandung yang meliputi : (1) Bidang Pendidikan, (2) Bidang Kesehatan, (3) Bidang Kemakmuran, (4) Bidang Lingkungan Hidup, (5) Bidang Seni dan Budaya, (6) Bidang Olahraga, dan (7) Bidang Agama. Upaya meningkatkan SDM terus dikembangkan, diantaranya melalui Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yaitu suatu upaya penanganan anak sejak dini pada masa golden age. Demikian juga pada setiap jenjang pendidikan, terus diupayakan pengembangan infrastruktur dan sarana pendidikan, pengembangan tenaga kependidikan dan peningkatan kreativitas kegiatan siswa. Dalam upaya pengembangan SDM, kondisi penyelenggaraan pendidikan di Kota Bandung, masih dihadapkan kepada berbagai masalah, diantaranya penanganan pendidikan anak usia dini (PAUD) belum optimal, kondisi sarana dan prasarana (infra struktur) sekolah kurang memadai, masih adanya angka putus sekolah pada semua jenjang pendidikan, masih adanya angka buta huruf, kompetensi dan kesejahteraan guru masih perlu untuk ditingkatkan, serta semakin mahalnya biaya pendidikan di sekolah. Salah satu indikator keberhasilan dalam pembangunan pendidikan, diukur dari kemampuan baca tulis atau melek huruf yaitu presentase pendidikan 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis. Data BPS tahun 2007 menunjukan bahwa Penduduk Kota Bandung yang berpendidikan tertinggi Sekolah Dasar/MI yaitu 37,86 persen, sementara yang tamat SMP/MTs 16,84 persen dan SMA/SMK/MA 12,06 persen dan yang berhasil menamatkan sekolah sampai jenjang Diploma I/Perguruan Tinggi 3,22 persen. Dengan demikian, lebih dari separuh penduduk Kota Bandung berpendidikan SMP ke bawah. Dengan rata-rata lama sekolah penduduk yang hanya 9,93/tahun juga menunjukkan masih rendahnya pendidikan. Arah kebijakan dalam bidang pendidikan difokuskan kepada upaya perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan bagi seluruh masyarakat meliputi : 1. Memberi bantuan biaya pendidikan untuk tingkat pendidikan dasar (SD/MI, SMP/MTs) dan bantuan biaya pendidikan siswa tidak mampu untuk tingkat pendidikan menengah (SMA/MA/SMK) 2. Mengupayakan peningkatan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan pendidikan. 3. Mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur dan sarana pendidikan. 4. Mengupayakan peningkatan produktivitas kerja dan menciptakan pelayanan yang dapat memuaskan stakeholder pendidikan.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

5. Mendorong pengembangan kemampuan dan memberikan kesejahteraan kepada tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugas. 6. Mengupayakan peningkatan pengelolaan penyelenggaraan pendidikan secara efesien dan efektif sesuai dengan perkembangan iptek.

2.3.3. Keadaan Ekonomi
Pertumbuhan makro ekonomi Kota Bandung pada tahun 2008 semakin menunjukan perkembangan yang cukup signifikan yang berdampak pada semakin membaiknya kondisi pendidikan dan kesehatan Kota Bandung. Berikut disampaikan indikator-indikator ekonomi Kota Bandung yang dapat dijadikan sebagai indikator kasar kondsi daya beli masyarakat. 1. PDRB Kota Bandung pada tahun 2007 (atas dasar harga berlaku) sebesar Rp 51.321.181, sedangkan pada tahun 2008 sebesar Rp 61.841.832, yang berarti mengalami kenaikan sebesar Rp 10.520.651 atau 20,52%. Hal ini mengindikasikan bahwa secara agregat kinerja prekonomian Kota Bandung mengalami peningkatan signifikan, adapun peningkatan tersebut merupakan kontribusi dominan sektor perdagangan, hotel dan restoran serta industri pengolahan. 2. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) tahun 2008 (atas dasar harga konstan) sebesar 8,29%, sedangkan pada tahun 2007 sebesar 8,24%, berarti mengalami kenaikan sebesar 0,05%. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa tingkat investasi naik sebesar Rp 5.405.271.206.138. 3. Inflasi Kota Bandung pada tahun 2008 sebesar 10,23%, sedangkan pada tahun 2007 sebesar 5,21%, berarti menunjukan peningkatan sebesar 5,02%. Peningkatan inflasi ini sebagian besar disebabkan oleh kenaikan berbagai komoditas pada kelompok bahan makanan serta kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau. Sumbangan dua kelompok tersebut mencapai 5,7%, atau membentuk lebih dari 50% inflasi Kota Bandung. 4. Indeks Daya Beli pada tahun 2007 sebesar 64,27 menunjukan kenaikan dibandingkan dengan Indeks Daya Beli tahun 2006 sebesar 64,04, yang berarti terdapat peningkatan pola konsumsi dan perbaikan kemampuan untuk membelanjakan kebutuhan mendasar sebesar 0,23%. Dari informasi tersebut di atas, yang menjadi indeks komposit dari Indikator Pembangunan Manusia (IPM) diperoleh hasil perhitungan yang menunjukan adanya kenaikan IPM, dari tahun 2007 sebesar 78,09 menjadi 78,33 pada tahun 2008, atau kenaikan sebesar 0,24%. Berdasarkan data dimaksud mengindikasikan terjadinya perubahan berupa penigkatan pembangunan di sektor kesehatan masyarakat, perekonomian-kesejahteraan masyarakat dan pendidikan masyarakat Kota Bandung.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

HASIL REVIEW
Review RAD-PK dilakukan dengan menggali informasi dari pihak-pihak yang pernah terlibat dalam penyusunan awal RAD-PK. Informasi juga diperoleh dari pihak-pihak lain yang dianggap berkepentingan terhadap RAD-PK. Informasi tentang pelaksanaan siklus penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK merupakan refleksi kepatuhan daerah terhadap Inpres No. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi. Siklus penyusunan RAD-PK terdiri atas pembentukan tim penyusun, penyusunan draft RADPK, Pelaksanaan Kampanye dan Konsultasi Publik (KKP), Penyempurnaan drat RAD-PK, Menuangkan RAD-PK dalam peraturan (legalisasi) dan mensosialisasikannya, pelaksanaan RAD-PK dan Pembentukan Tim Monitoring dan Evaluasi RAD-PK. Keterkaitan RAD-PK dengan dokumen perencanaan adalah keterkaitan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD), Rencana Strategis (RENSTRA), Rencana Kerja (RENJA), Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) SKPD pelaksana RAD-PK. Keterkaitan tersebut dilihat dengan cara membandingkan pernyataan program dan kegiatan yang tercantum dalam matrik RAD-PK dengan pernyataan program dan kegiatan yang tercantum dalam dokumen perencanaan lainnya. Keterkaitan diklasfikasikan kedalam 3 kelas yaitu: sama, mirip dan tidak adanya pernyataan dalam dokumen perencanaan lainnya. Persepsi stakeholder terhadap RAD-PK didasarkan pada respon responden terhadap berbagai pernyataan yang diajukan yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut: 1. Relevansi 2. Efektivitas 3. Efesiensi 4. Koordinasi & kerjasama 5. Keberlanjutan tercakup di dalamnya peluang dan kendala/tantangan 6. Dampak

3.1. Hasil Review terhdap Pelaksanaan Siklus Penyusunan RAD-PK di Kota Bandung
Tabel 3.1 Nilai dan Kategori Tahapan Siklus Penyusunan RAD-PK di Kota Bandung
No 1 2 3 4 5 6 7 Tahapan Siklus Pembentukan Tim perumus Penyusunan Draft RAD-PK Kampanye dan Konsultasi Draft RAD-PK Penyempurnaan Dokumen RAD-PK Legalisasi dan sosialisasi RAD-PK Pelaksanaan RAD-PK Pembentukan Tm Kormonev Nilai 4 3 4 3 4 4 5 Baik Cukup Baik Cukup Baik Baik Baik Kategori

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Bagan 3.1. Nilai dan Kategori Pelaksanaan Siklus Penyusunan RAD-PK Kota Bandung Nilai Pelaksanaan Siklus Penyusunan RAD-PK
Pembentukan Tim Perumus (BAIK) Pembentukan Tim Kormonev (BAIK)

Pelaksanaan RAD-PK (BAIK) Legalisasi dan Sosialisasi RAD-PK (BAIK)

5 4 3 2 1 0

Penyusunan Draft RAD-PK (CUKUP)

Kampanye dan Konsultasi Publik (BAIK) Penyempurnaan Draft RAD-PK (CUKUP)

3.2 . Keterkaitan RAD-PK dengan Dokumen Perencanaan Lainnya
Tabel 3.2 Keterkaitan Program dan Kegiatan RAD-PK dengan RPJMD
RPJMD No 1 2 RAD-PK Program Kegiatan Pernyataan Sama (%) 100 66 19 Pernyataan Mirip (%) 16 Pernyataan Tidak ada (%) Kategori Tinggi Tinggi

Tabel 3.3. Keterkaitan Program dan Kegiatan RAD-PK dengan RKPD
No 1 2 RADPK Program Kegiatan Pernyataan Sama (%) 100 67 RKPD Kota Bandung Pernyataan Mirip (%) 16 16 Pernyataan Tidak ada (%) Kategori Tinggi Tinggi

Tabel 3.4. Keterkaitan Program dan Kegiatan RAD-PK Renstra SKPD
RENSTRA SKPD No 1 2 RADPK Program Kegiatan Pernyataan Sama (%) 100 64 14 Pernyataan Mirip (%) 22 Pernyataan Tidak ada (%) Kategori

Tinggi Tinggi

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Tabel 3.5. Keterkaitan Program dan Kegiatan RAD-PK dengan Renja SKPD
RENJA SKPD No 1 2 RADPK Program Kegiatan Pernyataan Sama (%) 100 71 14 Pernyataan Mirip (%) 16 Pernyataan Tidak ada (%) Kategori Tinggi Tinggi

Tabel 3.6. Keterkaitan Program dan Kegiatan RAD-PK dengan RKA SKPD
RKA SKPD No 1 2 RADPK Program Kegiatan Pernyataan Sama (%) 100 71 14 Pernyataan Mirip (%) 16 Pernyataan Tidak ada (%) Kategori Tinggi Tinggi

Tabel 3.7. Keterkaitan Program dan Kegiatan RAD-PK dengan DPA SKPD
No 1 2 RADPK Program Kegiatan Pernyataan Sama (%) 100 69 12 DPA SKPD Pernyataan Mirip (%) 19 Pernyataan Tidak ada (%) Kategori Tinggi Tinggi

3.3. Persepsi Terhadap RAD-PK a. Profil Responden
Bagan 3.2. Komposisi responden berdasarkan Jenis kelamin Komposisi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Perempuan 47% Laki-Laki 53%

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Bagan 3.3 Komposisi responden berdasarkan Golongan Umur
Komposisi Responden Berdasarkan Golongan Umur
< 30 tahun 13% 31 - 40 tahun 23%

> 40 tahun 64%

Komposisi Responden BerdasarkanJenis Pekerjaan
LSM 20% Wartawan 4% PNS 76%

Bagan 3.4 Komposisi responden berdasarkan Jenis Pekerjaan

b. Persepsi tentang Relevansi RAD-PK
Bagan 3.5. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa Penyusunan dan Pelaksanaan RAD-PK penting bagi Kota Bandung dalam Upaya Pemberantasan Korupsi Penyusunan dan pelaksanaan RAD PK penting bagi Kota Bandung dalam upaya pemberantasan korupsi
60 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 3 0 0 51

47

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Penyusunan dan pelaksanaan RAD PK merupakan pelaksanaan visi misi Kota Bandung
68 70 60 50 40 30 20 10 0

31

1 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu

0 Tidak Setuju

0 Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.6. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa Penyusunan dan pelaksanaan RAD PK merupakan pelaksanaan visi dan misi Kota Bandung

Penyusunan dan pelaksanaan RAD PK merupakan keharusan bagi pemerintah Kota Bandung
60 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 8 0 0 37 55

Bagan 3.7. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa Penyusunan dan pelaksanaan RAD PK merupakan keharusan bagi pemerintah Kota Bandung

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Penyusunan dokumen RAD PK merupakan tuntutan masyarakat
58 60 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 11 0 0 31

Bagan 3.8. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa Penyusunan dokumen RAD-PK merupakan tuntutan masyarakat

Bagan 3.9. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa RAD-PK dibutuhkan oleh masyarakat RAD PK dibutuhkan oleh masyarakat
78 80 70 60 50 40 30 20 10 0

12

10 0 0 Sangat Tidak Setuju

Sangat Setuju

Setuju

Ragu-ragu

Tidak Setuju

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Bagan 3.10. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa isu prioritas RAD-PK dibahas bersama-sama dengan masyarakat Isu prioritas RAD PK dibahas bersama-sama dengan masyarakat.
50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 45 37

18

0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju

0 Sangat Tidak Setuju

Program dan kegiatan RAD PK merupakan usulan/kebutuhan masyarakat
70 60 50 40 30 20 10 0 64

14

18 5 0 Sangat Tidak Setuju

Sangat Setuju

Setuju

Ragu-ragu

Tidak Setuju

Bagan 3.11. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa program dan kegiatan RAD-PK merupakan usulan/kebutuhan masyarakat

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

c. Persepsi tentang Efektifitas RAD-PK
Bagan 3.12. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa tahapan proses penyusunan RAD-PK berjalan dengan baik
Tahapan proses penyusunan RAD PK berjalan dengan baik
67 70 60 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 5 0 0 28

Semua tahapan penyusunan RAD PK berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
41 39

45 40 35 30 25 20 15 10 5 0

16 5 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.13. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa semua tahapan penyusunan RAD-PK berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Dokumen RAD PK ditetapkan menjadi peraturan kepala daerah dalam waktu yang singkat
47

50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju 24

29

0 Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju

0 Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.14. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa dokumen RAD-PK ditetapkan menjadi peraturan kepala daerah dalam waktu yang singkat

Bagan 3.15. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa setiap tahapan proses penyusunan RAD-PK mencapai hasil yang direncanakan
Setiap tahapan proses penyusunan RAD PK mencapai hasil yang direncanakan

60 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju 29

51

18 2 Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju 0 Sangat Tidak Setuju

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Peraturan Kepala Daerah tentang RAD PK disosialisasikan seluruh lapisan masyarakat
40 43

45 40 35 30 25 20 15 10 5 0

17

0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju

0 Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.16. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa Peraturan Kepala Daerah tentang RAD-PK disosialisasikan seluruh lapisan masyarakat
Masyarakat mengetahui proses dan substansi penyusunan RAD PK
39 40 35 30 25 20 15 10 5 0 30 24

5 1

Sangat Setuju

Setuju

Ragu-ragu

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.17. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa masyarakat mengetahui proses dan substansi penyusunan RAD-PK

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

SKPD Pilot menyusun Rencana Tindak Lanjut setelah ada peraturan Kepala Daerah
73

80 70 60 50 40 30 20 10 0

20 3 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu 5 0 Sangat Tidak Setuju

Tidak Setuju

Bagan 3.18. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa SKPD yang ditetapkan menjadi pilot menyusun rencana tindak lanjut setelah ada peraturan Kepala Daerah

SKPD pilot mensosialisasikan program/kegiatan pelaksanaan RAD PK kepada masyarakat
50 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 0 0 25 25

Bagan 3.19. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa SKPD pilot mensosialisasikan program/kegiatan pelaksanaan RAD-PK kepada masyarakat

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

d. Persepsi tentang Efisensi RAD-PK
Bagan 3.20. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa dana yang dialokasikan untuk proses penyusunan RAD-PK memadai
Dana yang dialokasikan untuk proses penyusunan RAD PK memadai
41 37

45 40 35 30 25 20 15 10 5 0

11 5 5

Sangat Setuju

Setuju

Ragu-ragu

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

Hasil yang dicapai dari seluruh tahapan proses penyusunan, seimbang dengan besarnya biaya yang dialokasikan
41

45 40 35 30 25 20 15 10 5 0

39

16 5 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.21. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa hasil yang dicapai dari seluruh tahapan proses penyusunan, seimbang dengan besarnya biaya yang dialokasikan

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Bagan 3.22. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa ada pertanggungjawaban pengelolaan dana yang dialokasikan untuk penyusunan RAD-PK
Ada pertanggungjawaban pengelolaan dana yang dialokasikan untuk penyusunan RAD PK
47

50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju 24

29

0 Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju

0 Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.23. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa SKPD pilot mengalokasikan dana untuk pelaksanaan kegiatan yang dimuat dalam dokumen RAD-PK
SKPD pilot mengalokasikan dana untuk pelaksanaan kegiatan yang dimuat dalam dokumen RAD PK
70 70 60 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 12 3 15 0

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

SKPD pilot melakukan internal audit atas dana pelaksanaan kegiatan Aksi Daeah Pemberarantasan Korupsi

70 60 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.24. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa SKPD pilot melakukan internal audit atas dana pelaksanaan kegiatan Aksi Daeah Pemberarantasan Korupsi

e. Persepsi tentang Koordinasi Penyusunan dan Pelaksanaan RAD-PK
Bagan 3.25. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa stakeholder memperoleh informasi kegiatan penyusunan RAD-PK
Stakeholder memperoleh informasi kegiatan penyusunan RAD-PK
60 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 27 17 0 0 56

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Koordinasi dengan pemerintah pusat berjalan dengan baik
70

80 70 60 50 40 30 20 10 0

21 9 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju 0 Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.26. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa koordinasi dengan pemerintah pusat berjalan dengan baik

Koordinasi dengan pemerintah pusat dilakukan atas inisiatif daerah.
48 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0

29 22

1 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju

0 Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.27. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa koordinasi dengan pemerintah pusat dilakukan atas inisiatif daerah

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Pertemuan stakeholder dikoordinir oleh Bappeda
74

80 70 60 50 40 30 20 10 0

10

16 0 0 Sangat Tidak Setuju

Sangat Setuju

Setuju

Ragu-ragu

Tidak Setuju

Bagan 3.28. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa pertemuan stakeholder dikoordinir oleh Bappeda

Koordinasi memudahkan penyelesaian penyusunan program/kegiatan
54

60 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju 32

13 1 Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju 0 Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.29. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa koordinasi memudahkan penyelesaian penyusunan program/kegiatan

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

f. Persepsi tentang Dampak RAD-PK
Bagan 3.30. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa stakeholders terlibat dalam proses penyusunan RAD-PK
Stakeholders terlibat dalam proses penyusunan RAD PK
80 70 60 50 40 30 20 10 0 70

22 8 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju 0 Sangat Tidak Setuju

Kinerja SKPD Pelaksana RAD PK menjadi lebih baik
70 60 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 22 16 1 0 61

Bagan 3.31. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa kinerja SKPD pelaksana RAD-PK menjadi lebih baik

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Masyarakat menyatakan puas atas pelayanan yang diberikan SKPD
67 70 60 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 20 13 0 0

Bagan 3.32. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa Masyarakat menyatakan puas atas pelayanan yang diberikan SKPD

Kasus korupsi semakin menurun
70 70 60 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 18 8 5 0

Bagan 3.33. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa kasus korupsi semakin menurun

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Masyarakat makin percaya pada pemerintah
60 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 7 27 54

7

5

Bagan 3.34. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa masyarakat makin percaya pada pemerintah

g. Persepsi terhadap Peluang RAD-PK
Bagan 3.35. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa pencegahan korupsi harus menjadi prioritas Kota Bandung
Pencegahan korupsi harus menjadi prioritas Kota Bandung
36 27 20 17

40 35 30 25 20 15 10 5 0

0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Bagan 3.36. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa RAD-PK harus dilaksanakan setiap tahun
RAD PK harus dilaksanakan setiap tahun
42

45 40 35 30 25 20 15 10 5 0

28 16

14

0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Setiap tahun pemerintah harus menetapkan minimal satu program bebas korupsi di setiap SKPD
36 36

40 35 30 25 20 15 10 5 0

17 9 1 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.37. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa setiap tahun pemerintah harus menetapkan minimal satu program bebas korupsi di setiap SKPD

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Pencegahan korupsi harus menjadi perhatian bersama baik pemerintah maupun masyarakat
50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 14 1 0 46 39

Bagan 3.38. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa pencegahan korupsi harus menjadi perhatian bersama baik pemerintah maupun masyarakat

Pemerintah dan masyarakat bisa bekerjasama untuk pencegahan korupsi
47

50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju 20 29

5

0 Sangat Tidak Setuju

Ragu-ragu

Tidak Setuju

Bagan 3.39. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa pemerintah dan masyarakat bisa bekerjasama untuk pencegahan korupsi

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Masyarakat bisa mendorong upaya percepatan pemberantasan korupsi
39 40 35 30 25 20 15 10 5 0 35

18 8 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.40. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa masyarakat bisa mendorong upaya percepatan pemberantasan korupsi

Masyarakat dapat menyusun aksi pemberantasan korupsi berbasis budaya setempat
60 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 4 8 1 35 51

Bagan 3.41. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa Masyarakat dapat berperan serta menyusun aksi pemberantasan korupsi berbasis budaya setempat

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

h. Persepsi tentang kendala RAD-PK
Bagan 3.42. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa sumber dana untuk penyusunan program anti korupsi kurang memadai
Sumber dana untuk penyusunan program anti korupsi kurang memadai
40 35 30 25 20 15 10 5 0 36 38

24

1

1

Sangat Setuju

Setuju

Ragu-ragu

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

Pencegahan korupsi belum menjadi prioritas dalam penyusunan program tahunan daerah.
40 35 30 25 20 15 10 5 0 38 34

18 7

3

Sangat Setuju

Setuju

Ragu-ragu

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.43. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa pencegahan korupsi belum menjadi prioritas dalam penyusunan program tahunan daerah

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Ada pihak-pihak yang menentang upaya percepatan pemberantasan korupsi
40 35 30 25 20 15 10 5 0 38

19

22

20

1 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.44. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa ada pihak-pihak yang menentang upaya percepatan pemberantasan korupsi

Ada kebijakan baik di pusat maupun daerah yang berbenturan
60 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 2 24 11 11 53

Bagan 3.45. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa ada kebijakan baik di pusat maupun daerah yang berbenturan

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

RAD PK belum terpadu dengan siklus perencanaan dan penganggaran daerah
50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 1 23 18 12 45

Bagan 3.46. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa RAD-PK belum terpadu dengan siklus perencanaan dan penganggaran daerah

Ada kesulitan untuk melibatkan masyarakat dalam penyusunan dan pelaksanaan RAD PK
45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 41 33

16 9 1 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.47. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa ada kesulitan melibatkan masyarakat dalam penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

i.

Persepsi terhadap keberlanjutan RAD-PK.
Bagan 3.48. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa penyusunan program/kegiatan secara partisipatif perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan
Penyusunan program/kegiatan partisipatif perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan
47

50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju 26 26

1 Ragu-ragu Tidak Setuju

0 Sangat Tidak Setuju

Perlu strategi pemberantasan korupsi berbasis masyarakat
49 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0

30 20

1 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju

0 Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.49. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa perlu strategi pemberantasan korupsi berbasis masyarakat

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

RAD PK harus menjadi rencana aksi bersama antara pemerintah dan masyarakat
60 50 40 30 20 10 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 3 0 23 18 56

Bagan 3.50. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa RAD-PK harus menjadi rencana aksi bersama antara pemerintah dan masyarakat

Harus ada Monev RAD PK berbasis partisipasi Masyarakat
30 25 20 15 10 5 0 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 0 16 28 29 27

Bagan 3.51. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa harus ada proses monitoring dan evaluasi (Monev) RAD-PK berbasis partisipasi masyarakat

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Harus ada penyesuaian RAD PK setiap tahun
45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 41

19 14

17 9

Sangat Setuju

Setuju

Ragu-ragu

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

Bagan 3.52. Persentase respon responden terhadap pernyataan bahwa harus ada penyesuaian RAD-PK setiap tahun

3.4. Tingkat Persepsi Terhadap RAD-PK
a. Tingkat Relevansi RAD-PK
Tabel 3.8 Perolehan Skor Relevansi RAD-PK
No 1 INDIKATOR Penyusunan dan pelaksanaan RAD PK penting bagi Kota Bandung dalam upaya pemberantasan korupsi Penyusunan dan pelaksanaan RAD PK merupakan pelaksanaan visi misi Kota Bandung Penyusunan dan pelaksanaan RAD PK merupakan keharusan bagi pemerintah Kota Bandung Penyusunan dokumen RAD PK merupakan tuntutan masyarakat RAD PK dibutuhkan oleh masyarakat Isu prioritas RAD PK dibahas bersamasama dengan masyarakat. Program dan kegiatan RAD PK merupakan usulan/kebutuhan masyarakat Skor Kenyataan 657 Skor Harapan 740 Persen Kenyataan 88.78 Kategori

Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi

2 3 4 5 6 7 Jumlah

636 635 562 595 563 571 4219

740 740 740 740 740 740 5180

85.95 85.81 75.95 80.41 76.08 77.16 81.45

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

b. Tingkat Efektivitas RAD-PK
Tabel 3.9 Perolehan Skor Efektivitas RAD-PK
No 1 2 3 4 5 6 7 INDIKATOR Tahapan proses penyusunan RAD PK berjalan dengan baik Semua tahapan penyusunan RAD PK berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan Setiap tahapan proses penyusunan RAD PK mencapai hasil yang direncanakan Dokumen RAD PK ditetapkan menjadi peraturan kepala daerah dalam waktu yang singkat Peraturan Kepala Daerah tentang RAD PK disosialisasikan seluruh lapisan masyarakat Masyarakat mengetahui proses substansi penyusunan RAD PK dan Skor Kenyataan 557 497 585 602 626 556 Skor Harapan 740 740 740 740 740 740 Persen Kenyataan 75.27 67.16 79.05 81.35 84.59 75.14 Kategori Tinggi Sedang Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi

SKPD yang ditetapkan menjadi pilot menyusun Rencana Tindak Lanjut setelah ada peraturan Kepala Daerah SKPD pilot (prioritas) mensosialisasikan program/kegiatan pelaksanaan RAD PK (Rencana Tindak Lanjut) kepada masyarakat

603

740

81.49

Tinggi

8

592 4,618

740 5,920

80.00 78.01

Tinggi Tinggi

Jumlah

c. Tingkat Efisiensi RAD-PK
Tabel 3.10 Perolehan Skor Efisiensi RAD-PK
Skor Kenyataan proses 483 497 Skor Harapan 740 740 Persen Kenyataan 65.27 67.16

No 1 2 3

INDIKATOR Dana yang dialokasikan untuk penyusunan RAD PK memadai

Kategori Sedang Sedang

Hasil yang dicapai dari seluruh tahapan proses penyusunan, seimbang dengan besarnya biaya yang dialokasikan Ada pertanggungjawaban pengelolaan dana yang dialokasikan untuk penyusunan RAD PK SKPD pilot mengalokasikan dana untuk pelaksanaan kegiatan yang dimuat dalam dokumen RAD PK SKPD pilot melakukan internal audit atas dana pelaksanaan kegiatan Aksi Daeah Pemberarantasan Korupsi

585

740

79.05

Tinggi

4 5

561

740

75.81

Tinggi

579 2705

740 3700

78.24 73.11

Tinggi Sedang

Jumlah

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

d. Tingkat Koordinasi dalam Penyusunan dan Pelaksanaan RAD-PK
Tabel 3.11 Perolehan Skor Koordinasi RAD-PK
Skor Kenyataan 607 610 577 583 619 2996 Skor Harapan 740 740 740 740 740 3700 Persen Kenyataan 82.03 82.43 77.97 78.78 83.65 80.97

No 1 2 3 4 5 Jumlah

INDIKATOR Stakeholder memperoleh informasi kegiatan penyusunan RAD-PK Koordinasi dengan pemerintah pusat berjalan dengan baik Koordinasi dengan pemerintah pusat dilakukan atas inisiatif daerah. Pertemuan stakeholder didikoordinir oleh Bappeda Koordinasi memudahkan penyelesaian penyusunan program/kegiatan

Kategori Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi

e. Tingkat Dampak RAD-PK
Tabel 3.12 Perolehan Skor Dampak RAD-PK
Skor Kenyataan 612 597 603 592 509 2,913 Skor Harapan 740 740 740 740 740 3,700 Persen Kenyataan 82.70 80.68 81.49 80.00 68.78 78.73

No 1 2 3 4 5 Jumlah

INDIKATOR Stakeholders terlbat dalam proses penyesunan RAD PK Kinerja SKPD dalam RAD PK menjadi lebih baik Masyarakat menyatakan puas atas pelayanan yang diberikan SKPD Kasus korupsi di daerah menurun Masyarakat makin percaya pada pemerintah

Kategori Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Sedang Tinggi

f. Tingkat Peluang RAD-PK
Tabel 3.13 Perolehan Skor Peluang RAD-PK
No 1 2 3 INDIKATOR Pencegahan korupsi harus menjadi prioritas Kota Bandung RAD PK harus dilaksanakan setiap tahun Setiap tahun pemerintah harus menetapkan minimal satu program bebas korupsi di setiap SKPD Skor Kenyataan 553 505 499 Skor Harapan 740 740 740 Persen Kenyataan 74.73 68.24 67.43 Kategori Tinggi Sedang Sedang

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

4 5 6 7

Pencegahan korupsi harus menjadi perhatian bersama baik pemerintah maupun masyarakat Pemerintah dan masyarakat bisa bekerjasama untuk pencegahan korupsi Masyarakat bisa mendorong upaya percepatan pemberantasan korupsi Masyarakat dapat menyusun aksi pemberantasan korupsi berbasis budaya setempat

550 538 536 492 3673

740 740 740 740 5180

74.32 72.70 72.43 66.49 70.91

Tinggi Sedang Sedang Sedang Sedang

Jumlah

g. Tingkat Kendala RAD-PK
Tabel 3.14 Perolehan Skor Kendala RAD-PK
No
1 2 3 4 5 6 INDIKATOR Sumber dana untuk penyusunan program anti korupsi kurang memadai Pencegahan korupsi belum menjadi prioritas dalam penyusunan program tahunan daerah Ada pihak-pihak yang menentang upaya percepatan pemberantasan korupsi Ada kebijakan baik di pusat maupun daerah yang berbenturan RAD PK belum terpadu dengan siklus perencanaan dan penganggaran daerah Ada kesulitan untuk melibatkan masyarakat dalam penyusunan dan pelaksanaan RAD PK Skor Kenyataan 423 411 381 375 379 386 Skor Harapan 740 740 740 740 740 740 Persen Kenyataan Kategori

57.16 55.54 51.49 50.68 51.22 52.16 53.04

Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang

Jumlah

2,355

4,440

h. Tingkat Keberlanjutan RAD-PK
Tabel 3.15 Perolehan Skor Keberlanjutan RAD-PK
No 1 2 3 INDIKATOR Penyusunan program/kegiatan perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan Perlu strategi pemberantasan korupsi berbasis masyarakat RAD PK harus menjadi rencana aksi bersama antara pemerintah dan masyarakat Harus ada Monev RAD PK berbasis persepsi Masyasyarakat Harus ada penyesuaian RAD PK setiap tahun Skor Kenyataan 558 546 591 548 508 2,751 740 740 740 740 740 3,700 Skor Harapan Persen Kenyataan 75.41 73.78 79.86 74.05 68.65 74.35 Kategori Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Sedang Tinggi

4 5 Jumlah

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

PEMBAHASAN HASIL REVIEW
Menyikapi Inpres No. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, Pemerintah Kota Bandung telah mengeluarkan Peraturan Walikota Bandung No. 891 Tahun 2008 Tentang rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD-PK) Kota Bandung Tahun 2009 2013. Penyusunan RAD-PK tersebut terlaksana atas fasilitasi Bappenas dan Kemitraan untuk Pembaharuan Tata Pemerintahan di Indonesia yang dilakukan pada tahun 2008. Langkah-langkah pencegahan tindakan korupsi seperti yang tercantum dalam RAD-PK Kota Bandung antara lain adalah: 1. Penyempurnaan sistem pelayanan publik yang meliputi: a) Peningkatan pelayanan bidang perijinan b) Peningkatan pelayanan pendidikan c) Peningkatan pelayanan kesehatan d) Peningkatan pelayanan bidang pencegahan dan penanggulangan kebakaran 2. Penyempurnaan Manajemen keuangan daerah yang meliputi: a) Penyempurnaan pengadaan barang dan jasa b) Rekruitmen kebutuhan SDM pelaksana pengadaan barang dan jasa 3. Penyempurnaan sistem manajemen pemerintahan yang meliputi: a) Reformasi SDM aparatur pemerintah b) Penataan kelembagaan c) Optimalisasi PAD d) Peningkatan investasi e) Pengembangan dan pemanfaatan e-government Dalam Matriks RAD-PK Kota Bandung seperti yang tersaji pada Lampiran 2, terdapat 1 BUMD dan 9 SKPD yang merupakan SKPD pelaksana RAD-PK yakni 1. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT), 2. Dinas Pendidikan (Disdik), 3. Dinas Kesehatan (Dinkes), 4. Dinas Kebakaran (Diskar), 5. Perusahan Daerah Air Minum (PDAM), 6. UPT e-Procurement, 7. Badan Kepegawain Daerah (BKD), 8. Biro Organisasi–Setda 9. Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda)

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

10. Badan Komunikasi dan Informasi (Bakominfo). Sebagaimana disampaikan pada bagian awal bahwa, sejak ditetapkannya Peraturan Walikota Bandung Nomor 891 tahun 2008 tentang Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi Kota Bandung Tahun 2009 - 2013, maka review dilakukan pada Bulan Nopember 2010 telah mencatat berbagai capaian maupun tanggapan dan penilaian. Capaian, tanggapan dan penilaian tersebut dibagi ke dalam 4 pokok pembahasan yakni : 1. Capaian berdasarkan pelaksanaan Siklus RAD-PK 2. Penilaian tentang keterkaitan RAD-PK dengan berbagai dokumen perencanaan lainnya 3. Tanggapan atau persepsi tentang RAD-PK 4. Inisiatif atau inovasi-inovasi untuk percepatan pencegahan korupsi di Kota Bandung 4.1.

Capaian berdasarkan Pelaksanaan Siklus Penyusunan RAD-PK di Kota Bandung

Penyusunan RAD-PK erat kaitannya dengan proses perencanaan pembangunan daerah. Sebagai lembaga yang mempunyai tugas merumuskan kebijakan dan mengkoordinasikan perencanaan pembangunan, Bappeda diharapkan dapat mengkoordinasikan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) serta berbagai stakeholder lainnya dalam rangka penyusunan RAD-PK. Bappeda diharapkan bisa memegang kendali koordinasi perencanaan pemberantasan korupsi lintas bidang dan lintas sektor serta mengintegrasikannya ke dalam rencana-rencana pembangunan jangka panjang, menengah dan tahunan. Pelaksanaan Siklus penyusunan RAD-PK di Kota Bandung sebagian besar termasuk pada katagori Baik, kecuali pada tahap penyusunan draft RAD-PK dan tahap penyempurnaan draft RAD-PK, termasuk pada katagori Cukup.

1. Pembentukan Tim Perumus
Kualitas suatu perencanaan akan dipengaruhi oleh sejauhmana kematangan dalam tahap persiapan, sedangkan legitimasinya dari sisi partisipasi ditentukan oleh seberapa jauh keterlibatan para pemangku kepentingan. Tahapan persiapan perumusan RAD-PK meliputi diskusi persiapan dan pembentukan tim penyusun RAD-PK. Diskusi persiapan adalah diskusi terbatas yang berfungsi sebagai sarana komunikasi dan koordinasi antara pemerintah dan pemerintah daerah bersama para stakeholders terkait untuk mempersiapkan langkah teknis penyusunan RAD-PK. Diskusi ini bertujuan untuk pengenalan terhadap RAD-PK, membangun persamaan persepsi, komitmen bersama, serta identifikasi awal isu pelayanan publik yang rawan korupsi. Penyelenggaraan diskusi persiapan penyusunan RAD-PK Kota Bandung diawali dengan difasilitasi Bappenas dan Kemitraan. Selanjutnya ditindaklanjuti diskusi persiapan yang diselenggarakan Bappeda Kota Bandung dengan mengahadirkan narasumber dari Bappenas. Diskusi-diskusi internal antar SKPD yang dicalonkan menjadi SKPD pelaksana, dilakukan beberapa kali tanpa kehadiran Bappenas pada Bulan Mei sampai dengan Juni 2008. Peserta diskusi persiapan adalah perwakilan pemerintah daerah (SKPD), Inspektorat, namun tanpa kehadiran anggota DPRD. Dalam diskusi-diskusi persiapan ini dihasilkan pemahaman terhadap RAD-PK, penetapan jadwal dan tahapan proses

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

penyusunan RAD-PK, usulan pembentukan tim penyusun RAD-PK, serta gambaran umum usulan isu proritas yang akan dicantumkan dalam RAD-PK. Mengingat RAD-PK merupakan rencana aksi daerah yang mencakup seluruh bidang perencanaan pemberantasan korupsi di daerah, maka tim penyusun semestinya melibatkan unsur para pemangku kepentingan, seperti unsur dari Perguruan Tinggi, asosiasi/organisasi profesi, LSM dan unsur SKPD lain yang sangat terkait dengan pelaksanaan RAD-PK. Namun upaya mengkoordnasikan berbagai pihak untuk menjadi anggota tim perumus tidaklah mudah karena masing-masing perwakilan dari stakeholder mempunyai kepentingan dan kesibukan di kelembagaannya masing-masing.
“…….Kami menghadapi kendala dalam menyamakan persepsi tentang RAD-PK kepada setiap SKPD pelaksana RAD-PK, karena orang yang mewakili SKPD yang bersangkutan selalu berbeda-beda pada setiap pertemuan pembahasan persiapan penyusunan RAD-PK.” (Kamelia Purbani, Bappeda Kota Bandung)

Hal tersebut terungkap pula dari FGD review RAD-PK, bahwa perwakilan dari SKPD dan non pemerintah berbeda-beda pada setiap seri pelaksanaan diskusi, sehingga materi diskusi persiapan penyusunan RAD-PK selalu di ulang-ulang.
”.......Kami sering diundang untuk membahas persiapan penyusunan RAD-PK, namun kesulitan untuk keluar kantor karena harus selalu siap meyelesaikan berbagai permohonan perizinan.Oleh sebab itu orang yang mewakili SKPD selalu berbeda-beda bergantung pada orang yang mempunyai waktu kosong” (Sugiharto, BPPT Kota Bandung)

Meskipun tim perumus RAD-PK hanya terdiri dari unsur pemerintah saja namun dikukuhkan dengan Surat Keputusan Walikota Bandung. Berdasarkan lampiran SK Walikota tersebut tim penyusun terdiri Ketua dari Bappeda, Sekretaris dari Inspektorat dan para anggota tim dari Bappeda, Sekretariat Daerah dan Badan Kepegawaian Daerah Kota Bandung. Secara teknis, tim yang dibentuk melalui SK Walikota tersebut ini tidak melakukan serial pertemuan untuk menyusun draft RAD-PK. Hal ini disebabkan para anggota tim yang dibentuk tersebut adalah para pejabat yang tidak melakukan kegiatan teknis penyusunan draft RAD-PK. Agar penyusunan RAD-PK dapat dilakukan, maka Bappeda sebagai koordinator penyusunan RAD-PK membentuk tim/panitia adhoc yang diketuai oleh Sekretaris Bappeda. Selanjutnya, Kepala Bappeda melalui Surat Perintah No. 800/bapp/2008 memerintahkan kepada panitia adhoc untuk melaksanakan workshop penyusunan Draft Dokumen RAD-PK Kota Bandung. Berdasarkan hasil penilaian tim review, pembentukan tim penyusun RAD-PK di Kota Bandung mendapatkan kategori Baik. Hal ini berarti Kota Bandung tampaknya telah terbiasa membentuk tim adhoc walaupun masih didominasi oleh perwakilan dari unsur pemerintah. Namun demikian perlu pula diperhatikan kapasitas tim perumus yang sudah dibentuk tersebut agar pada penyusunan RAD-PK di masa yang akan datang menjadi jauh lebih baik dengan mempertahankan capaian yang sudah ada.

2. Penyusunan Draft RAD-PK
Draft (rancangan awal) RAD-PK sangat penting dalam menentukan kualitas seluruh proses penyusunan RAD-PK. Rancangan awal RAD-PK menginformasikan tentang isu prioritas dalam RADPK, rancangan program dan kegiatan untuk masing-masing isu prioritas yang mengarah pada upaya

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

perbaikan tata pemerintahan, pengelolaan keuangan daerah maupun peningkatan pelayanan publik dalam kerangka pencegahan korupsi. Rancangan awal RAD-PK berfungsi sebagai bahan kajian yang selanjutnya dibahas dalam Kampanye dan Konsultasi Publik (KKP) guna menyempurnakan dan menetapkan. Rancangan RAD-PK Kota Bandung ini disusun oleh Panitia/Tim adhoc penyusun yang telah dibentuk sebelumnya. Dari hasil temuan lapangan, rancangan awal (draft) RAD-PK disusun secara internal oleh tim teknis Bappeda termasuk penentuan isu prioritas.
“……Pada awalnya kami kesulitan untuk menyusun Draft RAD-PK karena tidak ada pedoman teknis terkait dengan itu. Setelah kami berkonsultasi dengan Bappenas dan mendapatkan bantuan teknis, kami memperoleh contoh RAD-PK sehingga kami berhasil menyusun draft RAD-PK” (Kamalia Purbani, Bappeda)

Namun demikian pertemuan-pertemuan tersebut tidak dilakukan secara serial dengan SKPD pelaksana sehingga pembahasan lebih mendalam terhadap isu prioritas tidak banyak dilakukan.
“…..Perubahan SOTK di lingkungan pemerintahan mengakibatkan perwakilan SKPD yang sejak awal mengikuti perkembangan proses persiapan penyusunan RAD-PK ternyata banyak berpindah tugas ke SKPD/SOTK atau bidang lain. Inilah salah satu faktor penyebab proses koordinasi penyusunan RAD-PK menjadi terhambat (Farhan Akbar, Bappeda)

Bappeda Kota Bandung juga mengakui adanya kendala untuk melakukan serial pertemuan secara khusus untuk membahas isu prioritas dan draft RAD-PK. Hal yang sama diakui oleh pihak SKPD yang juga tidak terlalu banyak tahu tentang proses penyusunan dan pembahasan isu prioritas dan draft RAD-PK.
“…..Kami lupa siapa yang dulu ditugaskan untuk menghadiri pembahasan draft RAD-PK dan kami sendiri baru diingatkan kembali bahwa Kota Bandung sekarang telah mempunyai RAD-PK, Padahal hampir seluruh isu, program dan kegiatan yang tercantum dalam matrik RAD-PK sebenarnya adalah program dan kegiatan peningkatan pelayanan publik yang selama ini kami lakukan” (Dadang, Dinas Pendidikan.)

Karena berbagai kepentingan dan kegiatan di masing-masing SKPD, proses koordinasi dengan SKPD hanya dilakukan melalui klarifikasi isu prioritas yang akan diusung masing-masing SKPD. Proses penyusunan draft RAD-PK lebih didominasi oleh tim internal Bappeda. Namun demikian secara keseluruhan pelaksanaan penyusunan draft RAD-PK Kota Bandung termasuk pada kategori Cukup. Tersusunnya draft RAD-PK sebelum dilakukan kampanye dan konsultasi publik ini menggambarkan bahwa pemerintah Kota Bandung sudah mempunyai kehendak untuk menjadikan RAD-PK sebagai salah satu dokumen perencanaan dalam percepatan pemberantasan korupsi. Namun demikan masih perlu lebih banyak berkonsultasi dengan pihak lain yang berkompeten untuk memperoleh bantuan teknis penyusunan draft RAD-PK dimasa mendatang.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

3. Pelaksanaan Kampanye dan Konsultasi Publik (KKP)
Kampanye dan Konsultasi Publik (KKP) merupakan salah satu tahapan untuk menjaga kualitas sekaligus pertanggungjawaban terhadap masyarakat mengenai proses yang sedang dilakukan. KKP dalam penyusunan RAD-PK ditujukan untuk mensosialisasikan rancangan RAD-PK sekaligus mendapatkan masukan terhadap substansi serta proses penyusunan, penetapan, pelaksanaan dan Monev RAD-PK. Selain itu, KKP juga bertujuan untuk menyamakan persepsi para pemangku kepentingan mengenai RAD-PK. Pelaksana teknis KKP dalam penyusunan RAD-PK adalah Bappeda bekerjasama dengan Bappenas. Kampanye dan Konsultasi Publik tersebut dilakukan pada tanggal 23 - 24 Agustus 2009 bertempat di Auditorium Rosada, Balaikota Bandung dan dihadiri oleh perwakilan dari pemerintah (SKPD), perwakilan masyarakat (LSM), organisasi profesi, perguruan Tinggi, dan media massa. Pelaksanaan KKP oleh dengan melibatkan berbagai pihak tersebut menggambarkan adanya mekanisme pelibatan masyarakat dalam proses penyusunan kebijakan.

4. Penyempurnaan Dokumen RAD-PK
Secara prosedur panitia pelaksana KKP menyampaikan hasil pelaksanaan KKP kepada Tim Penyusun RAD-PK untuk proses penyempurnaan. Penyempurnaan draft/rancangan dokumen RAD-PK adalah tahap finalisasi dokumen RAD-PK setelah melalui proses kampanye dan konsultasi publik. Penyempurnaan ini dilakukan untuk memastikan bahwa rancangan dokumen RAD-PK telah memenuhi syarat yang layak untuk dilegalisasi. Aspek-aspek yang diperhatikan dalam penyempurnaan ini meliputi validitas data, sistematika penulisan, substansi pembahasan, pemilihan bab dan sub bab, redaksional, dan kelengkapan matriks RAD-PK. Mengacu pada siklus penyusunan RAD-PK, maka setelah Kampanye dan Konsultasi Publik (KKP), Tim Perumus/penyusun semestinya melakukan proses penyempurnaan dan mendorong proses merumuskan dan menetapkan kerangka hukum atau peraturan tentang RAD-PK. Namun demkian, sampai akhir bulan Oktober 2008 draft RAD-PK hasil KKP yang dilaksanakan tanggal 23 - 24 Agustus 2008 tersebut belum sampai ke Bagian Hukum Pemerintah Kota untuk diproses menjadi Peraturan Walikota. Keterlambatan disebabkan oleh: 1) Tim perumus belum melakukan klarifikasi draft program dan kegiatan hasil KKP dengan SKPD-SKPD yang menjadi pelaksana RAD-PK 2) Secara internal tim penyusun di Bappeda sedang mengerjakan beberapa pekerjaan yang sama penting antara lain perumusan RPJMD Kota Bandung Tahun 2009 - 2013, penyusunan Renstra Bappeda, maupun pelaksanaan evaluasi berbagai proyek/kegiatan menjelang penutupan Tahun Anggaran 200811.
Keterlambatan itu disebabkan oleh padatnya pekerjaan di Bappeda. Tim yang tadinya menangani RAD-PK melakukan kegiatan lain seperti penyusunan RPJMD serta evaluasi berbagai kegiatan lainnya. Sementara itu SDM yang memahami tentang RAD-PK sangat terbatas (Dewi Gartika, Bappeda)

11

Laporan Kegiatan workshop penyempurnaan Draft RAD-PK Kota Bandung

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Mengatasi berbagai kendala tersebut tim bantuan teknis dari Kemitraan dan Bappenas dan Bappeda bersepakat untuk mempercepat proses penyempurnaan RAD-PK Kota Bandung melalui kegiatan workshop. Kesepakatan untuk menyelenggarakan workshop tersebut dibahas bersama dengan perwakilan pihak Bappeda Kota Bandung, pada tanggal 30 Oktober 2008 di Yogyakarta pada kesempatan pelatihan dan adopsi metode Suvey CRC. Selanjutnya disepakati workshop penyempurnaan dilaksanakan pada tanggal 19 - 20 November 2008 Penyempurnaan rancangan dokumen RAD-PK dilaksanakan oleh Tim Penyusun bersama SKPD pelaksana RAD-PK. Tim teknis dari SKPD pelaksana yang tercantum dalam RAD-PK dihadirkan dalam pertemuan ini dan selanjutnya tim teknis dari SKPD melaporkan hasil pertemuan kepada kepala SKPD untuk selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut pelaksanaan RAD-PK oleh SKPD yang bersangkutan. Penyempurnaan RAD-PK dilakukan melalui workshop penyempurnaan RAD-PK dengan menghadirkan setiap SKPD pelaksana yang tercantum dalam draft RAD-PK. Workshop penyempurnaan RAD-PK Kota Bandung berlangsung di Aula Bappeda Kota Bandung pada tanggal 19 20 November 2008. Sebelum workshop dilakukan, Bappeda menyampaikan Draft Matrik RAD-PK kepada SKPD untuk dibahas terlebih dahulu secara internal di masing-masing SKPD. Workshop ini dihadiri perwakilan dari SKPD-SKPD yang menjadi pelaksana dalam RAD-PK, yakni: Dinas Pendidikan Dinas Kesehatan Dinas Kebakaran Bappeda Bagian Organisasi BPPT Inspektorat Workshop penyempurnaan Draft RAD-PK tersebut dihadiri pula oleh perwakilan dari Bappenas. Pada hari pertama tidak semua SKPD yang diundang mengirimkan perwakilannya termasuk dari bagian hukum Setda Kota Bandung juga tidak hadir. Oleh sebab itu pada hari pertama hanya melakukan klarifikasi program dan kegiatan oleh masing-masing SKPD. Review subtansi draft RAD-PK dibahas pada hari kedua tanggal 20 November 2008. Penyempurnaan draft RAD-PK dilakukan melalui diskusi kelompok dan pleno. Walaupun tidak terlalu banyak perubahan, hasil diskusi pleno dan klarifikasi program/kegiatan menghasilkan beberapa penyempurnaan matrik RAD-PK, yaitu dengan: Merumuskan strategi pencapaian Menyusun keterkaitan dengan Program Jangka Menengah Secara keseluruhan keluaran yang diharapkan dari workshop penyempurnaan draft RAD-PK dapat dicapai. Setelah proses workshop penyempurnaan draft RAD-PK, tim adhoc dari Bappeda yang terus secara aktif merumuskan dan menyusun penyempurnaan draft RAD-PK tanpa banyak melibatkan SKPD terkait. Ini dikarenakan tim adhoc Bappeda hnya mengganggap kehadiran dari perwakilan SKPDSKPD hanya diberikan kesempatan pada waktu mendapatkan masukan atas draft RAD-PK. Menurut pihak Bappeda hal ini dilakukan agar penyempurnaan draft RAD-PK yang akan diajukan kepada Bagian Hukum Setda Kota Bandung dapat dilakukan dengan lebih cepat. Walaupun pelaksanaan workshop penyempurnaan draft RAD-PK tidak melibatkan perwakilan dari pihak non pemerintah namun workshop lintas SKPD ini mengindikasikan adanya koordinasi internal

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

diantara kelembagaan pemerintah dalam penyusunan RAD-PK. Secara umum pelaksanaan penyempurnaan draft RAD-PK Kota Bandung termasuk pada kategori Cukup.

5. Legalisasi dan Sosialisasi RAD-PK
Legalisasi adalah tahapan pelembagaan dokumen RAD-PK dalam bentuk Peraturan Walikota. Penetapan peraturan Walikota dimaksudkan untuk menguatkan RAD-PK secara hukum sehingga mengikat semua pihak terutama SKPD pelaksana RAD-PK yang telah ditetapkan. Proses legalisasi RAD-PK diawali oleh penyusunan rancangan Peraturan Walikota tentang RAD-PK oleh Tim Penyusun dan melaporkan capaian-capaian yang telah dihasilkan oleh tim penyusun RAD-PK. Selanjutnya tim penyusun menyerahkan dokumen RAD-PK dan rancangan Peraturan Walikota tentang RAD-PK ke Bagian Hukum Sekretariat Daerah untuk diproses dan ditetapkan sebagai Peraturan Walikota. Upaya legalisasi ini merupakan tanggung jawab Bagian Hukum di Sekretariat Daerah dan tim penyusun bertugas memantau proses legalisasi yang dilakukan oleh Bagian Hukum Setda. Sebenarnya penyusunan rancangan/draft peraturan Walikota mengenai RAD-PK adalah tugas Bagian Hukum Setda Kota Bandung, namun pada prakteknya penyusunan rancangan/draft peraturan wlikota tersebut sepenuhnya dilakukan oleh tim penyusun RAD-PK yang dikoordinir oleh Bappeda. Setelah RAD-PK dilegalisasi melalui Peraturan Kepala Daerah, semestinya Peraturan Walikota tersebut disosialisasikan. Sosialisasi kebijakan adalah proses penyampaian kebijakan dan dokumen RAD-PK kepada seluruh SKPD dan publik. Tujuan utama sosialisasi RAD-PK antara lain untuk meningkatkan pemahaman, persamaan persepsi dalam melaksanakan isi dari Peraturan Walikota tentang RAD-PK. RAD-PK Kota Bandung telah dilegalisasi melalui Peraturan Walikota No. 891 tentang Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi Tahun 2009 - 2013, tertanggal 19 Desember 2009. Matrik RADPK pernah disosialisasikan melalui media cetak (surat kabar) dan dimasukkan Berita Daerah Kota Bandung. Namun demikian masyarakat masih kesulitan untuk memperoleh informasi RAD-PK secara lengkap, termasuk matrik program dan kegiatan RAD-PK Kota Bandung.
“…..Sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku, proses sosialisasi program dan kegiatan yang tercantum dalam matrik RAD-PK adalah tugas SKPD yang bersangkutan, bukan Bappeda. Sedangkan sosalisasi terkait dengan RAD-PK sebagai sebuah Peraturan Walikota adalah tugas Bagian Hukum Setda. Jika sosialisasi RAD-PK kami lakukan juga, walaupun sifatnya hanya membantu, akan tetap dianggap sebagai potensi pelanggaran atas peraturan yang berlaku” (Kamalia Purbani, Bappeda)

Walaupun sudah masuk dalam berita daerah, tidak banyak SKPD pelaksana yang mengetahui dan memahami subtansi dari RAD-PK. Ketidakpahaman terjadi pula pada sebagian besar aparat inspektorat yang seharusnya berperan memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan RAD-PK. Padahal pada Inpres No. 5 Tahun 2004, disyaratkan untuk dibentuknya Tim Kormonev dalam untuk memonitoring dan mengevaluasi RAD-PK dan peran sebagi coordinator dari Tim Kormonev ini ditingkat Provinsi, Kota/Kabupaten berada di tangan Inspektorat.
“…..dulu kami pernah diundang dan menghadiri pertemuan dalam rangka sosialisasi persiapan penyusunan RAD-PK. Namun hingga saat ini kami belum pernah menerima Peraturan Walikota tentang

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

RAD-PK secara resmi dari pihak manapun, kami tidak tahu matrik RAD-PK, sampai tim review RAD-PK datang. (Iis, Dinas Kebakaran)

Kondisi diatas menggambarkan bahwa RAD-PK di Kota Bandung cenderung pada pemenuhan kewajiban administratiif, karena secara teknis tidak banyak dijadikan sebagai dokumen perencanaan yang setara dengan dokumen lainnya oleh SKPD-SKPD pelaksana “.....kalau tidak salah RAD-PK ini pernah di bicarakan sejak 3 tahun lalu, saya tahu karena pernah
diundang Bappenas dalam rangka sosialisasi RAN-PK dan RAD-PK. Sekarang Bandung mempunyai Peraturan Walikota tentang RAD-PK. Terus terang kami belum begitu paham posisi dan peran RAD-PK di SKPD. Walaupun kami tidak paham, namun sosialisasi tentang peningkatan pelayanan BPPT telah kami lakukan semaksimal yang kami mampu dengan memanfaatkan berbagai teknologi komunikasi dan informasi (Giya dan Sony dari BPPT Kota Bandung)

Melihat kondisi tersebut, perlu sosialisasi secara khusus baik internal maupun kepada publik agar terjadi persamaan persepsi tentang pentingnya RAD-PK sebagai sebuah kebijakan formal. Hal ini penting dilakukan agar semua pihak memahami RAD-PK sebagai sebuah kebijakan formal mengikat semua pihak. Walaupun proses sosialisasi belum menyentuh hampir seluruh stakeholder namun dilihat dari legalitas yang telah ditetapkan melalui Peraturan Walikota, maka proses legalisasi dan sosialisasi RADPK Kota Bandung termasuk pada kategori Cukup.

6. Pelaksanaan RAD-PK
Pelaksanaan (implementasi) merupakan proses untuk mewujudkan rumusan kebijakan menjadi tindakan dari kebijakan. Implementasi menjadi bagian yang sangat penting bagi proses pencapaian tujuan yang berkaitan erat dengan keluaran dan atau produk-produk yang telah direncanakan dan didesain untuk mendukung pencapaian manfaat RAD-PK. Secara internal, program dan kegiatan yang diusulkan sebagai percontohan oleh SKPD-SKPD pelaksana merupakan program dan kegiatan yang dihasilkan dalam forum SKPD dan terakomodir dalam Renja dan RKA SKPD. Dengan demikian, pembiayaan program dan kegiatan RAD-PK di SKPDSKPD Pelaksana mengacu pada DPA masing-masing SKPD tersebut pada setiap tahun anggaran sesuai dengan waktu pelaksanaan program/kegiatan yang ditetapkan lewat SK Kepala SKPD tentang Rencana Tindak Lanjut (RTL) Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi. Rencana tindak lanjut disusun oleh SKPD-SKPD Pelaksana RAD-PK secara internal dengan melibatkan para aparat yang terkait dengan pelaksanaan program dan kegiatan pada SKPD tersebut. Rencana tindak lanjut SKPD adalah dokumen pelaksanaan program RAD-PK yang dibuat oleh SKPD pelaksana. Secara prinsipil, dokumen pelaksanaan (RTL) RAD-PK harus menjadi acuan program dan kegiatan yang diakomodir ke dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) SKPD pada tahun anggaran berjalan. Tampaknya SKPD-SKPD pelaksanana tidak menyusun Rencana Tindak Lanjut untuk memastikan adanya kesesuaian antara program dan kegiatan RAD-PK dengan rencana program dan kegiatan di SKPD bersangkutan. Namun demikian bukan berarti bahwa RAD-PK tidak diakomodir dalam program dan kegiatan SKPD pelaksana. Hal ini karena sejak awal penyusunan matrik RAD-PK

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

telah diupayakan sesuai antara isu prioritas RAD-PK dengan rencana program/kegiatan SKPD yang bersangkutan.
“…..SKPD kami sudah jauh melangkah dalam upaya meningkatkan pelayanan yang menjadi tugas pokok kami, program dan kegiatan yang tercantum dalam RAD-PK sudah kami lakukan sejak sebelum RAD-PK disusun dan disosialisasikan. Adanya peningkatan pelayanan di SKPD tidak secara langsung disebabkan karena adanya RAD-PK, tapi karena peraturan/perundangan lain yang mendorong kami meningkatkan kualitas pelayanan publik” (Ricki, BPPT Kota Bandung)

Beberapa kegiatan RAD-PK memang tidak terakomodir dalam Renja/RKA/DPA Tahun 2009 dan 2010 dari SKPD-SKPD yang ada di Kota Bandung, akan tetapi beberapa SKPD-SKPD di Kota Bandung telah melaksanakan kegiatan serupa, khususnya dalam memberikan pelayanan public yang prima dan transparan. Walaupun tidak sejak dari awal setiap SKPD-SKPD pelaksana memahami RADPK, namun pada umumnya program dan kegiatan SKPD-SKPD terintegrasi dengan program dan kegiatan SKPD-SKPD yang sedang berjalan. “…..jika program dan kegiatan yang tercantum dalam RAD-PK semuanya harus selaras (terkait) dengan
dokumen perencanaan lainnya, sebaiknya ada pertemuan khusus seluruh SKPD pelaksana untuk melakukan teknis penyelarasan RAD-PK dengan dokumen lainnya” (Iis, Dinas Kebakaran).

Adanya perbedaan dalam menyikapi RAD-PK antar SKPD-SKPD pelaksana, maka perlu dipikirkan adanya penghargaan khusus bagi SKPD-SKPD yang mampu mengintegrasikan RAD-PK dengan program dan kegiatan SKPD-SKPD yang sedang berjalan dan mengimplementasikannya dengan baik. Penghargaan ini diharapkan mampu memberikan peningkatan posisi dan peran RAD-PK serta yang akan berdampak positif terhadap pelaksanaan RAD-PK di internal pemerintahan maupun terhadap masyarakat secara lebih nyata. Walaupun tidak didasarkan pada rencana tindak lanjut SKPD, namun dilihat dari kesesuaian program dan kegiatan RAD-PK dengan dokumen perencanaan SKPD-SKPD lain, maka pelaksanaan RAD-PK oleh SKPD-SKPD pelaksana termasuk pada katagori Baik.

7. Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan RAD-PK
Secara normatif, Koordinasi, Monitoring dan Evaluasi merujuk kepada Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 120/KEPMEN.PAN/4/2006 tentang Perubahan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 94/KEPMEN.PAN/8/2005 tentang Pedoman Umum Koordinasi, Monitoring, dan Evaluasi (Kormonev) dan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, serta kebijakan dan peraturan perundangundangan lainnya. Penanggungjawab utama monitoring dan evaluasi atas RAD-PK adalah Inspektorat Daerah dan seharusnya pula melibatkan pihak eksternal seperti Lembaga Swadaya Masyarakat dan tenaga profesional lainnya. Keterlibatan secara aktif komponen eksternal dapat diakomodasikan dalam bentuk kelompok kerja untuk Monev RAD-PK. Tim monitoring dan evaluasi atas RAD-PK dapat dibentuk oleh Inspektorat Daerah berdasarkan Pedoman Monev yang diterbitkan oleh Kementrian PAN kemudian dikukuhkan melalui SK Kepala

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Daerah. Tugas utama tim monitoring dan evaluasi RAD-PK adalah melakukan pemantauan atas pelaksanaan RAD-PK dan mengevaluasi capaian pelaksanaan RAD-PK pada akhir tahun anggaran. Kota Bandung telah membentuk Tim Kormonev (koordinasi, monitoring dan evaluasi) yang secara khusus akan memonitor dan mengevaluasi terhadap pelaksanaan Inpres Nomor 5/2004 dan Perwal Kota Bandung No. 891/2008 tentang RAD-PK. Tampaknya peran Inspektorat sebagai Koordinator Kormonev RAD-PK belum berjalan secara efektif. Hal ini diakui oleh SKPD-SKPD pelaksana RAD-PK yang menyatakan bahwa Inspektorat belum memberikan teguran apapun terkait dengan pelaksanaan RAD-PK pada masing-masing SKPD.
Secara periodik Inspektorat mengevaluasi kinerja SKPD kami, namun belum pernah membahas secara ekplisit kegiatan dan program SKPD seperti yang tercantum dalam matrik RAD-PK SKPD kami (Iis, Dinas Kebakaran)

Walaupun belum menetapkan mekanisme dan agenda kerja serta membuat laporan hasil monev RAD-PK yang dapat dibaca publik, namun pembentukan tim kormonev tersebut mengindikasi adanya kelembagaan yang fungsinya memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan RAD-PK. “…..Inspektorat setiap tahun memonitor dan mengevaluasi kinerja SKPD, namun belum secara khusus
memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan RAD-PK, karena yang saya ketahui secara internal belum melakukan konsolidasi terkait pelaksanaan RAD-PK (Riawati, Inspektorat.)

“ …..Tugas Bappeda dalam mengkoordiisasikan penyusunan RAD-PK sebenarnya sudah selesai
sampai dikeluarkannya Peraturan Walikota. Sedangkan monitoring dan evaluasi pelaksanaannya adalah tugas dari tim kormonev dibawah koordinasi Inspektorat. (Kamalia Purbani Bappeda)

Dengan terbentuknya Tim Kormonev maka tahapan pembentukan Tim montoring dan evaluasi dari siklus penyusunan RAD-PK Kota Bandung termasuk pada kategori Baik.

4.2. Keterkaitan RAD-PK dengan Dokumen Lainnya
Program dan kegiatan yang tecantum dalam matrik RAD-PK harus dapat dipastikan tercantum pula dalam program dan kegiatan perencanaan lainnya Hal ini untuk memastikan seluruh rencana aksi yang tercantum dalam matrik RAD-PK dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang telah dijadwalkan. Oleh sebab itu format keterkaitan dokumen perencanaan dengan RAD-PK adalah keterkaitan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD), Rencana Strategis (RENSTRA), Rencana Kerja (RENJA), Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) SKPD pelaksana RAD-PK. Keterkaitan tersebut dilihat dengan cara membandingkan pernyataan program dan kegiatan yang tercantum dalam matrik RAD-PK dengan pernyataan program dan kegiatan yang tercantum dalam dokumen perencanaan lainnya. Namun demikian dari hasil temuan ternyata tidak sepenuhnya kegiatan yang tercantum dalam RAD-PK dari SKPD-SKPD pelaksana tercantum pula dalam dokumen perencanaan SKPD yang bersangkutan.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

“…….sangat beresiko bagi kami jika program dan kegiatan RAD-PK dilaksanakan tetapi tidak selaras dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. Bagi kami apabila hal itu terjadi maka akan menjadi temuan yang membuat kami malah dianggap korupsi walaupun kami tahu RAD-PK justru ingin mencegah korupsi”, oleh sebab itu apabila RAD-PK akan dilaksanakan harus terintegrasi dengan dokumen perencanaan lain yang jauh lebih kuat dasar hukumnya (Ricky, BPPT Kota Bandung)

Keterkaitan antara program dan kegiatan RAD-PK dengan program dan kegiatan dokumen perencanaan lainnya termasuk pada kategori Tinggi. Adanya keterkaitan yang tinggi antara RAD-PK dengan dokumen lainnya mengindikasikan bahwa secara administratif sistem perencanaan dan penganggaran RAD-PK Kota Bandung di SKPDSKPD pelaksana sudah berjalan dengan baik. Walaupun demikian, secara subtansi belum dapat menjamin terjadinya peningkatan pelayanan public dan penurunan tindakan korupsi.
“…..RAD-PK Kota Bandung bisa hanya sekedar perencanaan, jika para pelaksana tidak mampu mendobrak perilaku koruptif yang terkadang justru didorong oleh kultur masyarakat. Oleh sebab itu selain perencanaan yang bersifat administratif juga diperlukan rencana aksi perubahan perilaku budaya masyarakat yang berindikasi sebagai perbuatan korupsi, Misalnya kultur atau budaya penyampaian rasa terimakasih berupa uang atau barang yang dapat dianggap sebagai gratifikasi atau pungutan liar. Menurut saya harus diawali dengan kampanye mencintai Kota Bandung, karena tindakan melanggar hukum yang dilakukan oleh birokrat maupun masyarakat pada intinya karena tidak mencintai Kota Bandung. (Bulgan Alamin, Diskominfo).

4.3. Persepsi Terhadap RAD-PK
Berdasarkan komposisi respon terhadap pernyataan indikator relevansi, masyarakat cenderung mengharapkan pemberantasan korupsi melalui penyusunan RAD-PK harus menjadi prioritas (Bagan 3.7). Selain karena merupakan kehendak politis yang diemban oleh Pemerintah Kota Bandung, maka relevansi penyusunan RAD-PK di Kota Bandung juga disebabkan oleh kebutuhan dan tuntutan masyarakat terhadap tindakan nyata terhadap pemberantasan korupsi (Bagan 3.9). Oleh sebab itu masyarakat cenderung enggan untuk membahas isu prioritas yang serigkali memakan waktu lama tanpa memberikan hasil nyata (Bagan 3.10). Walaupun persepsi masyarakat terhadap relevansi penyusunan RAD-PK bervariasi, namun apabila di kategorikan seluruh indikator relevansi menunjukkan kategori yang tinggi (Tabel 3.8). Hal ini mempunyai makna pula bahwa RAD-PK telah menjadi dan harus menjadi prioritas karena sangat dibutuhkan masyarakat. Oleh sebab itulah agar RAD-PK menjadi agenda bersama maka masyarakat harus dilibatkan dalam proses penyusunannya. Selain itu masyarakat menganggap bahwa upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi telah menjadi komitmen Pemerintah Kota Bandung dan telah ada tindakan nyata dengan dikeluarkannya Perwal mengenai RAD-PK. Pengembangan strategi dan publikasi serta inovasi peningkatan dan perbaikan pelayanan publik harus terus disosialisasikan dan dipublikasikan, sehingga upaya pencegahan korupsi melalui peningkatan pelayanan public menjadi perhatian bersama.
“…..walaupun selama ini BPPT mengacu pada standar kualitas berdasarkan ISO dalam mengukur kualitas layanannya, namun RAD-PK masih tetap relevan untuk digunakan sebagai standard kinerja SKPD sepanjang keberadaanya tidak hanya sekedar memenuhi aspek administrasi pemerintahan.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Penandatanganan fakta integritas belum tentu relevan karena yang diinginkan masyarakat adalah tindakan nyata, bukan seremonial. Saya khawatir kebijakan yang tadinya ditujukan untuk mencegah korupsi, justru menciptakan potensi terjadinya korupsi baru” (Ricki, BPPT Kota Bandung)

Berdasarkan komposisi respon atas efektivitas kegiatan penyusunan RAD-PK seperti yang ditampilkan pada Bagan 3.12, bahwa seluruh tahapan penyusunan RAD-PK berjalan dengan baik. Namun demikian masih terdapat kecenderungan responden meragukan akan pemahaman atas subtansi penyusunan RAD-PK (Bagan 3.17). Begitu pula terdapat kecenderungan meragukan adanya tindak lanjut sosialisasi RAD-PK kepada seluruh lapisan masyarakat oleh SKPD-SKPD pelaksana (Bagan 3.19). Responden hanya menganggap bahwa Peraturan Walikota tentang RAD-PK hanya dilakukan oleh Bappeda kepada SKPD-SKPD dan tidak dilanjutkan oleh SKPD-SKPD pelaksana kepada masyarakat sebagai pemanfaat langsung dari layanan publik SKPD yang bersangkutan (Bagan 3.16). Kondisi inilah yang dikhawatirkan bahwa RAD-PK menjadi tidak efektif karena masyarakat tidak memahami RAD-PK.
“…..sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku, proses sosialisasi program dan kegiatan yang tercantum dalam matrik RAD-PK adalah tugas SKPD yang bersangkutan, bukan Bappeda. Sedangkan sosalisasi terkait dengan RAD-PK sebagai sebuah Peraturan Walikota adalah tugas Bagian Hukum Setda. Jika sosialisasi RAD-PK kami lakukan sifatnya hanya membantu walaupun akan berpotensi melanggar peraturan”. (Kamalia Purbani, Bappeda)

Secara keseluruhan nilai yang diperoleh berdasar skoring persepsi terhadap efektivitas penyusunan RAD-PK termasuk pada kategori Tinggi (Tabel 3.9). Hal ini berarti bahwa RAD-PK telah dipahami oleh masyarakat, sehingga menjamin efektivitas pelaksanaannya. Pemahaman masyarakat terhadap RAD-PK mempunyai konsekuensi kepada pemerintah agar terus menyesuaikan/melakukan revisi berdasarkan kondisi kebutuhan masyarakat.
“….Kota Bandung memang telah berhasil menyusun RAD-PK, namun efektivitasnya tidak hanya dilihat dari keberhasilannya dalam menyusun matrik perencanaan program dan kegiatan RAD-PK, tapi harus pula diukur sampai sejauh mana rencana itu dapat dilaksanakan. Saya melihat banyaknya berbagai aturan yang bermaksud mencegah korupsi tapi justru menurunkan efektivitas perencanaan program dan kegiatan di hampir di semua SKPD karena birokrat mensikapinya dengan rasa kekhawatiran melakukan pelanggaran (Bulgan Alamin, Diskominfo)

Dilihat dari persepsi efsiensi tampaknya responden cenderung menghendaki adanya alokasi anggaran untuk proses penyusunan RAD-PK (Bagan 3.20), begitu pula alokasi anggaran untuk melaksanakan program dan kegiatan RAD-PK (Bagan 3.23). Selanjutnya alokasi dana baik untuk penyusunan maupun pelaksanaan tersebut harus dipertanggungjawabkan melalui pelaksanaan audit internal dan juga melibatkan auditor eksternal independen. Oleh sebab itu seluruh proses penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK harus mempertimbangkan jumlah alokasi dana yang tersedia (Bagan 3.21). Tentu saja kehendak ini mengharuskan SKPD mengkaitkan program dan kegiatan RAD-PK dengan program dan kegiatan yang tercantum pada dokumen perencanaan lain.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

“……pada saat penyusunan RAD-PK, kami kesulitan melaksanakannya karena, pada saat itu dana untuk itu tidak teralokasikan sebelumnya, Keberhasilan penyusunan RAD-PK Kota Bandung tidak terlepas dari adanya fasilitasi Bappenas dan Kemitraan”. (Kamalia, Bappeda Kota Bandung)

Kategori efisiensi berdasarkan persepsi responden baik keseluruhan maupun parsial termasuk pada kategori Tinggi (Tabel 3.10). Hal ini berarti tidak perlu menambah pos anggaran baru karena alokasi untuk kegiatan RAD-PK terintegrasi dalam dokumen rencana dan anggaran SKPD-SKPD pelaksana.
“…..walaupun kami tidak tahu program dan kegiatan dalam Matrik RAD-PK yang menyangkut SKPD kami. Namun seluruh kegiatan dalam RAD-PK dapat terakomodir dalam rencana kerja dan DPA SKPD, walaupun tidak secara ekpilisit dinyatakan sebagai pelaksanaan progam dan kegiatan RAD-PK. (Iis, Dinas Kebakaran)

Oleh sebab itu agar belanja APBD dilakukan secara efisien sekaligus program dan kegiatan RAD-PK dapat dilaksanakan maka perlu adanya penegasan tentang dokumen RTL (Rencana Tindak Lanjut) bagi tiap SKPD pelaksana RAD-PK. Koordinasi penyusunan RAD-PK Kota Bandung secara keseluruhan termasuk pada kategori tinggi. Hal ini ditunjukkan dari respon terhadap pernyataan bahwa koordinasi penyusunan RAD-PK dilakukan selain dengan pemerintah pusat (Bappenas) maupun internal SKPD-SKPD pelaksana. Selain itu responden menyatakan bahwa proses koordinasi dengan pemerintah pusat harus dilakukan atas inisiatif sendiri. Hal ini berarti bahwa Pemerintah Kota Bandung sudah melakukan inovasi untuk penataan kelembagaan penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK. Sementara itu dampak RAD-PK yang dirasakan masih bersifat internal pemerintah (Bagan 3.30 dan Bagan 3.31). Sementara dampak terhadap kepercayaan masyarakat atas kinerja pemerintah sebagai akibat RAD-PK masih perlu dibuktikan (Bagan 3.34).
“……. berbagai aturan pencegahan korupsi seringkali direspon oleh birokrat dengan rasa khawatir melakukan pelanggaran. Hal ini dapat dilihat dari daya serap alokasi dana dari program dan kegiatan di Kota Bandung untuk Tahun 2010 sampai pertengahan akhir bulan Nopember masih kurang dari 50 persen. Apabila ini terjadi sampai berakhirnya Tahun 2010, maka yang dirugikan adalah masyarakat, karena sebagian proses pembangunan yang direncanakan tidak terlaksana. Hal ini akan menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat” ( Bulgan Alamin, Diskominfo)

Peluang RAD-PK menjadi sebuah dokumen perencanaan yang dijadikan pedoman penyearah bagi upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi ditunjukkan dari persepsi yang menunjukkan bahwa RAD-PK selain diperlukan oleh Pemerintah Kota Bandung sebagai refleksi kepatuhan administratif atas Inpres No. 5/2004 tetapi juga karena tuntutan kebutuhan masyarakat. Responden berharap pemerintah lebih berinisiatif meningkatkan kualitas layanannya dibandingkan dengan hanya menunggu tuntutan dari masyarakat (Bagan 3.41) Secara keseluruhan kategori dampak RAD-PK termasuk pada kategori Tinggi. Hal ini berarti bahwa responden meyakini bahwa RAD-PK akan sangat berkorelasi dengan upaya pemberantasan korupsi di daerah. Oleh sebab itu diperlukan evaluasi dampak pelaksanaan RAD PK dan pemberian penghargaan bagi SKPD yang melakukan inovasi untuk percepatan pemberantasan korupsi.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Berbagai inovasi penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK tampaknya sangat dibutuhkan. Hal ini diharapkan akan menguatkan dan mendayagunakan fungsi-fungsi yang sudah ada dalam pemerintahan maupun masyarakat untuk percepatan pemberantasan korupsi di Kota Bandung. Beberapa SKPD yang tupoksinya melakukan pelayanan yang berhubungan secara langsung dengan masyarakat telah melakukan berbagai inovasi, misalnya Diskominfo menyediakan fasilitas komunikasi berbasis teknologi informasi bagi siapapun yang menginginkan dokumen-dokumen formal seperti Perda Kota Bandung yang telah diberlakukan dengan cara mengunduh (download) dari situs http://bandung.go.id atau menyediakan sarana bagi kecamatan yang akan menyampaikan potensi wilayahnya melalui situs internet. Begitu pula terkait dengan pengaduan masyarakat, selain mendirikan Unit Pengaduan Masyarakat, juga melakukan kerjasama dengan media massa dengan membuat kolom “Hallo Kang Dada” sebagai media bagi masyarakat untuk melakukan pengaduan terkait dengan pelayanan publik yang dilakukan pemerintah. Hal yang sama juga dilakukan di BPPT Kota Bandung, dengan menggunakan sistem pengaduan langsung di loket pelayanan, atau informasi kemajuan proses ijin yang diajukan masyarakat secara online.
“…..Kami berupaya terus menciptakan berbagai inovasi untuk mengkomunikasikan berbagai informasi terkait dengan Kota Bandung. Karena kami meyakini berbagai permasalahan yang terjadi dapat diselesaikan melalui komunikasi dan informasi yang proporsional. Keluhan pelayanan publik yang terjadi seringkali disebabkan karena kurangnya informasi yang diperoleh (Win Sepridjal, Diskominfo Kota Bandung).

Menurut persepsi responden kendala yang dihadapi dalam penyusunan dan pelaksanaan RADPK di Kota Bandung tidak banyak berpengaruh pada RAD-PK. Responden tidak yakin jika ada anggapan bahwa kendala utama dalam penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK disebabkan oleh ketersediaan dana yang tidak memadai (Bagan 3.42). Responden juga tidak terlalu yakin jika RAD-PK belum terpadu dengan siklus perencanaan dan anggaran Daerah sebagai sebuah kendala (Bagan 3.46). Kendala yang dianggap mengganggu adalah benturan antar kebijakan baik di tingkat pusat maupun daerah (Bagan 3.45). Secara keseluruhan kendala yang dihadapi dalam penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK termasuk pada kategori Sedang. Ini berarti masih ada kendala dalam pembiayaan RAD-PK, karena masih ada anggapan bahwa RAD-PK merupakan sebuah kegiatan/proyek tersendiri dan terpisah serta belum terintegrasi dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Oleh sebab itu perlu ada redesain RAD-PK baik dari sisi kebijakan, kelembagaan maupun mekanisme pelaksanaan serta kerangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan RAD-PK. Keberlanjutan RAD-PK di Kota Bandung menurut persepsi responden dapat dilakukan sepanjang pemerintah tidak terlalu mengandalkan pada inisiatif masyarakat, tetapi harus atas dasar inisiatif pemerintah (Bagan 3.48 dan 3.49). Hal ini sesuai dengan apa yang diamanatkan Inpres No. 5/2004, bahwa pemberantasan korupsi harus diawali dari perbaikan internal pemerintah terlebih dahulu.
“……sebuah kebijakan hanya ramai dibicarakan diawalnya tapi kemudian tidak dibicarakan lagi karena ada kebijakan lain yang baru. Saya harap RAD-PK tidak hanya hangat-hangat tahi ayam. Oleh sebab itu upaya keberlanjutan pemberantasan korupsi termasuk RAD-PK harus disertai komitmen semua pihak bukan hanya birokrat tapi juga masyarakat, walaupun harus diawali dengan komitmen dari birokrat tertebih dahulu (Alwi Nasution, Dinas Kebakaran Kota Bandung).

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Responden tidak terlalu yakin bahwa penyesuaian RAD-PK yang dilakukan setiap tahun akan menjamin keberlanjutan RAD-PK. Penyesuaian RAD-PK yang tidak berbasis pada kebutuhan masyarakat justru hanya akan terjebak pada penyusunan RAD-PK yang sekedar memenuhi aspek administrasi belaka dan tidak pada subtansi peningkatan pelayanan public dan memberantas korupsi pada badan publik.
“…...menurut saya potensi terjadinya korupsi bukan hanya karena adannya celah dari sistem yang diterapkan, tapi juga adanya dorongan dari masyarakat untuk melakukan korupsi. Oleh sebab itu kampanye perubahan perilaku masyarakat yang koruptif seperti menyuap, memberikan bingkisan kepada birokrat yang terkait dengan tugas juga harus pula dilakukan (Alwi Nasution, Dinas Kebakaran Kota Bandung)

Pada awal penyusunan RAD-PK, Kota Bandung telah berhasil memetakan situasi pelayanan publik rawan korupsi menjadi isu prioritas. Dilihat dari proses pemetaan yang didasarkan pada berbagai data dan masukan berbagai pihak di lingkungan pemerintahan dan masyarakat, memang terindikasi bahwa RAD-PK didasarkan pada konteks situasi lingkungan dan “kekinian”, walaupun pada proses penyempurnaan draft RAD-PK tidak lagi banyak melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dan cenderung dianggap sebagai tanggung jawab Bappeda untuk menyempurnakannya. Kehendak berbagai pihak memberantas korupsi tentu saja bukan sekedar menerbitkan berbagai peraturan hukum, tapi juga bagaimana para pelaksana pemerintahan (birokrat) dan masyarakat memandang situasi lingkungan terkait dengan kasus-kasus korupsi yang terjadi di daerahnya dan melakukan upaya pemberantasannya secara nyata. Dari hasil review, penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK di Kota Bandung hingga saat ini masih dianggap relevan oleh masyarakat sebagai bagian dari seluruh program pemberantasan korupsi yang telah ada, baik yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun inisiatif daerah.
“…..korupsi terjadi jika ada kesempatan dan niat. Membatasi kesempatan sudah banyak dilakukan melalui perubahan sistem administrasi dan keuangan pemerintahan. Sedangkan dari aspek penekanan niat masih belum banyak dilakukan karena menyangkut perilaku individu. Penandatangan pakta integritas sebagai upaya penekanan niat pada kenyataannya terkesan hanya “asesoris” belaka. Oleh itu diperlukan upaya yang mampu menekan niat dan kesempatan dalam satu kebijakan, diantaranya adalah RAD-PK (Wawan Supratman, Dosen Universitas Pasundan)

RAD-PK Kota Bandung yang secara administrasi dikukuhkan melalui Perwal No. 891 Tahun 2008, pada tahap implementasi selanjutnya belum tentu memberikan gambaran spesifik kebutuhan masyarakat yang menyeluruh karena selain setiap pihak mempunyai kepentingan masing-masing yang beragam, selain itu juga karena RAD-PK tersebut baru berumur kurang dari dua tahun. Namun demikian dengan diberlakukannya RAD-PK yang dikukuhkan melalui Perwal tersebut menunjukkan adanya kepatuhan terhadap apa yang diinstruksikan pemerintah pusat. Artinya sampai batas pemenuhan instruksi yang bersifat normatif/administratif Kota Bandung sudah memenuhinya. Terbitnya Perwal tentang RAD-PK memberikan arti penting bagi posisi dan peran RAD-PK ditengah-tengah berbagai kebijakan dan peraturan yang mengarah pada pemberantasan korupsi. Tentu saja dari hasil temuan di lapangan ada beberapa kalangan birokrat yang tidak terlalu paham subtansi menganggap

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

RAD-PK akan sama nasibnya dengan kebijakan-kebijakan lain yang sudah membuktikan ketidakefektifan dalam memberantas korupsi. Kebijakan Walikota tentang RAD-PK dalam rangka memenuhi instruksi presiden tidak serta merta dijabarkan oleh seluruh SKPD sebagai sesuatu yang harus ditindaklanjuti dengan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Beberapa SKPD malah tidak mengetahui secara terinci subtansi RAD-PK, walaupun sebenarnya program dan kegiatan dari SKPD mereka tercantum dalam RAD-PK dan sudah pula sebagai program dan kegiatan yang selama ini dilakukan oleh SKPD yang bersangkutan. Pencantuman rencana prioritas peningkatan pelayanan publik seperti program dan kegiatan yang di lakukan di Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung ternyata tidak mengacu pada RAD-PK, tetapi dilandaskan pada program lain yang berkaitan dengan upaya peningkatan pelayanan. Hal yang terjadi di BPPT tersebut sebenarnya terjadi pula di seluruh SKPD-SKPD pelaksana. Secara subtansial hal tersebut sebenarnya tidak menjadi masalah karena pada intinya program dan kegiatan yang dilakukan oleh SKPD yang bersangkutan adalah dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan public seperti yang diinginkan RAD-PK. Namun demikian secara bertahap RAD-PK Kota Bandung diharapkan menjadi acuan dalam menetapkan perencanaan dan penganggaran program dan kegiatannya di SKPD. Berdasarkan temuan lapangan, RAD-PK tidak begitu populer dibandingkan dengan kebijakan lain yang dilandaskan pada bentuk Undang-Undang maupun Keputusan Menteri, atau dengan kata lain SKPD lebih “suka” menetapkan rencana program dan kegiatan berdasarkan UU atau Kepmen dibandingkan RAD-PK. Sudut pandang seperti ini justru akan melumpuhkan kreatifitas SKPD dalam menciptakan inovasi peningkatan pelayanan publik
“….. sejak dulu kami berpkir untuk memperluas layanan informasi yang disebar melalui internet dengan membuat situs blog. Disamping meningkatkan layanan informasi juga dapat memberikan potensi pemasukan bagi SKPD tanpa membebani masyarakat dan APBD. Inovasi layanan belum kami lakukan karena khawatir akan dijadikan sebagai temuan pelanggaran” (Win Sepridjal, Diskominfo)

Walaupun dilihat dari hasil analisis relevansi, efektivitas, efisiensi, dampak maupun peluang RAD-PK Kota Bandung termasuk pada kategori tinggi, tetapi itu tidak menggambarkan subtansi dari RAD-PK yang sebenarnya. Keberhasilan RAD-PK pada dasarnya adalah terjadinya peningkatan pelayanan publik secara nyata sesuai dengan yang diharapkan dari matrik RAD-PK. Keterkaitan RADPK dengan dokumen perencanaan lain seperti DPA SKPD tidak menjadi jaminan program dan kegiatan RAD-PK dapat dilaksanakan, karena paradigma pelaksanaan program dan kegiatan saat ini berbasis output bukan lagi berbasis daya serap anggaran.
“...apapun alasannya daya serap anggaran APBD untuk program dan kegiatan SKPD Kota Bandung hingga pertengahan Nopember 2010 baru mencapai 43%. Sulit bagi SKPD untuk melaksanakan program dan kegiatan sesuai rencana hingga akhir Ttahun 2010 dengan sisa waktu 1,5 bulan. Kondisi ini akan berdampak pada kemajuan pembangunan Kota Bandung termasuk pembangunan sarana pelayanan publik “. (Bulgan Alimin, Diskominfo)

Paradigma pelaksanaan program dan kegiatan yang berbasis output inilah yang menjadikan strategi pelaksanaan RAD-PK dalam artian terlaksananya seluruh program dan kegiatan RAD-PK lebih

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

penting dibandingkan dengan aspek keterkaitan dengan dokumen yang cenderung administratif. Oleh sebab itu pembahasan rencana tindak lanjut keterkaitan dokumen perlu pula dilanjutkan dengan strategi teknis pelaksanaan seluruh program dan kegiatan RAD-PK secara lebih rinci di tingkat SKPD.

4.4. Inisiatif dan Inovasi Kota Bandung dalam Pemberantasan Korupsi
Komisi Pemberantasan Korupsi saat ini sedang mengembangkan metode penilaian terhadap instansi dan pemerintahan pusat maupun daerah dalam upaya pemberantasan korupsi yaitu PIAK (Penilaian Inisiatif Anti Korupsi). PIAK adalah alat ukur untuk menilai kemajuan instansi publik dalam mengembangkan upaya pemberantasan korupsi di instansinya dengan menggabungkan penilaian indikator kuantitatif dan kualitatif. PIAK mengukur suatu instansi dalam menerapkan sistem dan mekanisme yang efektif untuk mencegah dan mengurangi korupsi di lingkungannya. Berbeda dengan Survei Integritas (SI) yang memotret kualitas layanan yang diberikan instansi publik kepada pengguna layanan dari sisi integritas, PIAK menilai inisiatif dari lembaga tersebut untuk memperbaiki dirinya. Pada SI, penilaian didapat dari sisi pengguna layanan, sedangkan penilaian PIAK dari sisi instansi itu sendiri. Sejalan dengan PIAK, RAD-PK juga melihat upaya perbaikan pelayanan publik dilihat dari sisi instansi/SKPD. Pada umumnya program dan kegiatan peningkatan pelayanan publik dalam rangka pemberantasan korupsi di Kota Bandung didasarkan pada program yang bersifat nasional. Artinya setiap Pemerintah Daerah melakukan program dan kegiatan yang sama. Namun demikian terdapat beberapa kegiatan sebagai inisiatif daerah dari Kota Bandung seperti : 1. Kolom “Hallo Kang Dada” yang ditampilkan di Koran Tribun Jabar adalah kolom khusus bagi warga Bandung untuk menyampaikan keluhan atas ketidakpuasan pelayanan publik di Kota Bandung. Koodinator pelaksana Hallo Kang Dada ini adalah Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Bandung. Diskominfo mendistribusikan setiap keluhan kepada SKPD-SKPD yang menangani keluhan itu untuk ditanggapi dan memberikan penjelasan atas keluhan tersebut. 2. Diskominfo juga mengkoordinaskan kegiatan dialog interaktif antara SKPD dengan masyarakat yang dilakukan di Radio Sonata 47. Radio ini adalah Radio Siaran milik Pemerintah Daerah Kota Bandung. Selain menjelaskan berbagai tugas pokok dan fungsi SKPD juga di membuka sesi dialog interaktif dengan para pendengar terkait dengan layanan SKPD yang bersangkutan. SKPD-SKPD secara periodik diberi kesempatan untuk menyampaikan kegiatan yang sedang dan akan dilakukan yang berkaitan dengan masyarakat. Dalam acara ini SKPD-SKPD dapat memanfaatkannya sebagai media untuk sosialisasi program. 3. Fasilitasi pembentukan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) oleh Diskominfo juga dapat dianggap sebagai inisiatif daerah. Tujuan Pembentukan KIM ini antara lain adalah meningkatkan pengetahuan warga atas berbagai bentuk program dan kegiatan dari SKPDSKPD yang ada di Kota Bandung. Diskominfo berharap masyarakat paham atas hak dan kewajibannya sebagai warga Kota Bandung. Dalam KIM ini masyarakat dapat berdiskusi untuk memecahkan berbagai permasalahan yang terkait dengan fasilitas publik yang berada di sekitar wilayah pembentukan KIM. 4. Penyebaran Kotak Kritik dan Saran yang ditempatkan di setiap SKPD-SKPD oleh pihak Setda Kota Bandung, adalah sarana untuk memonitor kinerja SKPD-SKPD, sehingga berbagai keluhan dan dan saran yang disampaikan masyarakat dapat disikapi dan ditindaklanjuti.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

5. Perbaikan mekanisme penyelenggaraan pemerintahan melalui sistem yang terintegrasi melalui Bandung Integrated Resources Management System (BIRMS). Harapannya, melalui sistem yang terintegrasi ini proses perencanaan, penganggaran baik pengelolaan pendapatan dan belanja daerah serta pengelolaan aset di Kota Bandung menjadi sebuah sistem yang padu dan berbasis teknologi informasi.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

PENUTUP
5.1. Kesimpulan
5.1.1. Pelaksanaan Siklus Penyusunan RAD-PK di Kota Bandung Pelaksanaan siklus penyusunan RAD-PK di Kota Bandung sebagian besar termasuk pada katagori Baik kecuali pada tahap penyusunan draft RAD-PK dan tahap penyempurnaan Draft RAD-PK, termasuk pada katagori Cukup. Pada awalnya proses penyusunan RAD-K Kota Bandung agak tersendat, selain para anggota tim penyusun yang dikukuhkan dengan SK Walikota adalah pejabat SKPD juga karena padatnya kegiataN di masing-masing SKPD. Padatnya kegiatan administratif dan teknis SKPDSKPD di Kota Bandung tidak dijadikan pembenaran bagi Bappeda untuk tidak melaksanakan tugasnya sebagai koodinator penyusunan RAD-PK. Pemahaman akan beban tugas dan tanggungjawab yang harus dilaksanakan, membuat kendala yang dihadapi menghasilkan inovasi dengan menerbitkan Surat Perintah Kepala Bappeda No. 800/bapp/2008 tentang Pembentukan Panitia Workshop Penyusunan RAD-PK. Panitia internal Bappeda yang diketuai oleh Sekretaris Bappeda tersebut diperintahkan untuk menyelenggarakan workshop dan mengkoordinasikan penyusunan RAD-PK hingga selesai. Dengan Surat Perintah Kepala Bappeda tersebut, panitia adhoc menyelenggarakan tahapan siklus penyusunan RAD-PK sampai menjadi Perwal No 891/2008. Inisiatif yang demikian ini dapat dijadikan sebagai lesson learns atau base practice bagi daerah lain yang mempunyai kendala sama terkait dalam melakukan koordinasi lintas SKPD dalam penyusunan RAD-PK. Pengalaman dan keterbiasaan dalam menghadapi kendala teknis menghasilkan inovasi pemecahan masalah dengan membentuk panitia adhoc yang mampu mengkoordnasikan keterlibatan berbagai pihak dalam penyusunan RAD-PK. Proses dan pembentukan yang dilakukan tersebut menghasilkan penilaian atas tahapan pembentukan Tim Penyusun RAD-PK dalalam kategori Baik Penyusunan Draft RAD-PK lebih didominasi tim internal Bappeda, namun dalam penyusunan matrik RAD-PK melibatkan SKPD-SKPD pelaksana dengan mengklarifikasi program dan kegiatan yang telah dirancang. Ketidakterllibatan SKPD sejak awal dalam penyusunan Draft RAD-PK tersebut menghasilkan penilaian pada tahapan penyusunan Draft RAD-PK termasuk pada kategori Cukup. Jangka waktu Pelaksanaan KKP sejak tersusunnya Draft RAD-PK ternyata relatif lama, karena berbagai kendala. Banyak faktor yang dihadapi, antara lain kesibukan menghadapi akhir tahun anggaran yang mengharuskan semua SKPD mengevaluasi dan melaporkan seluruh kegiatan yang dilaksanakan. Atas dorongan dari tim bantuan teknis akhirnya pelaksanaan KKP berlangsung dengan

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

melibatkan hampir seluruh perwakilan stakeholders. Walaupun sosialisasi KKP dilakukan pula melalui media massa, namun tidak banyak masyarakat yang tahu tentang proses KKP RAD-PK Kota Bandung. Keterlibatan berbagai pihak dan laporan pelaksanaan KKP yang dibuat disampaikan kepada Walikota melalui Setda dan ditembuskan kepada Bappenas menandakan bahwa pelaksanaan KKP dinilai dengan kategori Baik. Pada tahap penyempurnaan Draft RAD-PK dilakukan workshop lintas SKPD, namun tidak melibatkan perwakilan dari unsur non-pemerintah. Walaupun target output dari workshop ini dapat tercapai, karena tidak melibatkan unsur non-pemerintah, maka penilaian proses penyempurnan termasuk pada kategori cukup. Selanjutnya penyusunan dari hasil workshop sepenuhnya dilakukan oleh tim internal Bappeda. Pada proses legalisasi dan sosialisasi yang seharusnya dilakukan oleh Bidang Hukum Setda pada kenyataanya draft/rancangan peraturan walikota dilakukan oleh tim internal Bappeda Hal ini memang diakui pula oleh beberapa SKPD yang menganggap bahwa proses penyusunan draft Perwal RAD-PK merupakan tugas Bappeda. Sementara Bappeda juga menganggap bahwa proses pelibatan Bagian Hukum Setda sulit dilakukan karena pada umumnya rancangan berbagai produk hukum dilakukan oleh SKPD pemohon dan Bagian Hukum hanya memberikan Nomor Perwal atau SK Walikota untuk kemudian memasukkannya pada Berita Daerah. Selain itu Bappeda menganggap menyusun rancangan Perwal tidak terlalu banyak perubahan yang berarti karena pada tahap KKP setiap SKPD telah diklarifikasi dan diberikan kesempatan menyempurnakan draft RAD-PK, sehingga pada proses menyusun rancangan Perwal tidak terlalu menghadapi hambatan yang berarti. Dalam jangka waktu satu bulan sejak dilaksanakan workshop penyempuraan Perwal tentang RAD-PK Kota Bandung telah diterbitan dalam bentuk Peraturan Walikota Nomor 891/2008 tertanggal 19 Desember 2008. Pada pelaksanaan RAD-PK semua SKPD berada pada kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa SKPD telah melaksanakan program/kegiatan dalam kerangka percepatan pemberantasan korupsi, dengan atau tidak bersumber dari RAD-PK. Bahkan beberapa SKPD telah melaksanakan program dan kegiatan, melebihi yang tercantum dalam RAD-PK. Hal ini terlihat dari analisis keterkaitan RAD-PK dengan dokumen perencanaan lainnya yang secara keseluruhan termasuk pada kategori tinggi. Pada tahapan monitoring dan evaluasi, walaupun telah dibentuk tim kormonev namun tim ini belum menyusun mekanisme dan agenda kerja dalam rangka monitoring dan evaluasi RAD-PK. Hal ini menunjukkan bahwa tim kormonev sama sekali tidak memahami kerangka umum monitoring dan evaluasi. Pihak kesekretariatan Inspektorat juga mengakui bahwa yang memahami RAD-PK sangat terbatas dan pihak Sekretariat Inspektorat merasa belum memiliki Perwal No. 891/2008 tentang RADPK Kota Bandung. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan penyusunan berdasarkan siklus adalah sebagai berikut: 1. Keterlibatan dalam proses penyusunan RAD-PK 2. Sosialisasi RAD-PK 3. Rencana Tindak Lanjut dan keterkaitan RAD-PK dengan Dokumen Perencanaan masingmasing SKPD 4. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan RAD-PK Keterlibatan berbagai pihak dalam penyusunan RAD-PK masih sangat rendah karena berbagai kendala teknis yang dihadapi SKPD maupun Bappeda sebagai kordinator.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Perwakilan dari SKPD yang hadir tidak selalu tetap pada setiap serial diskusi yang dilakukan dalam penyusunan draft RAD-PK Kota Bandung. Hal inilah yang menyebabkan diskusi pembahasan agak tersendat karena setiap kali diskusi selalu menjelaskan ulang tentang RAD-PK dan kemajuan yang telah dicapai. Walaupun bukanlah sebagai sebuah pembenaran, faktor utama yang menyebabkan silih gantinya perwakilan SKPD-SKPD yang hadir dalam serial diskusi penyusunan draft RAD-PK Kota Bandung, adalah keterbatasan sumberdaya manusi yang memiliki kapasitas dalam pemahaman akan mekanisme pelayanan publik yang prima dan bebas korupsi, volume kegiatan SKPD yang terkesan padat tak jelas dan adanya perubahan SOTK di internal Pemerintah Kota Bandung. Ketidaktahuan adanya RAD-PK dan ketidakpahaman subtansi disusunnya RAD-PK di hampir semua SKPD pelaksana merupakan indikasi bahwa proses sosialisasi belum dilaksanakan secara optimal. Hal ini terkait dengan perbedaan persepsi kelembagaan yang bertanggungjawab melaksanakan sosalisasi RAD-PK. Bappeda berpendapat bahwa RAD-PK adalah produk hokum, oleh karena itu harus disosialisasikan oleh Bagian Hukum Setda kepada seluruh SKPD-SKPD pelaksana. Selanjutnya masing-masing SKPD mensosialisasikan program dan kegiatan RAD-PK masing-masing SKPD bersangkutan kepada publik. Sedangkan tugas Bappeda hanya sampai pada tersusunnya Rancangan/Draft RAD-PK yang akan dajukan kepada Bagian Hukum Setda. Sejak diterbitkannya Perwal RAD-PK dua tahun lalu, ternyata tidak ada satupun SKPD yang mengaku bahwa program dan kegiatan yang dilakukan selama dua tahun terakhir ini mengacu pada RAD-PK yang disusunnya. Acuan yang digunakan adalah dokumen perencanaan lain diluar RAD-PK. Padahal kegiatan dan program selama dua tahun terakhir yang dilakukan oleh SKPD pelaksana adalah program dan kegiatan yang juga tercantum dalam RAD-PK SKPD yang bersangkutan. Hal ini mengindikasi ketidakpahaman SKPD pelaksana terhadap subtansi maksud dan tujuan penyusunan RAD-PK. Ketidakpahaman ini diakui hampir semua SKPD-SKPD pelaksana. Dorongan SKPD untuk menjadikan RAD-PK sebagai salah satu acuan dalam menetapkan program dan kegiatan SKPD juga masih sangat lemah bahkan cenderung tidak ada. Hal ini disebabkan karena: 1. Ketidaktahuan adanya RAD-PK 2. Tidak ada monitoring dan evaluasi dari tim kormonev dan inspektorat terkait dengan RAD-PK 3. Tidak ada sanksi apapun apabila program dan kegiatan RAD-PK tidak dilaksanakan. Faktor-faktor tesebut menyebabkan proses kegiatan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) tidak terlaksana di tingkat SKPD. Hal ini diindikasikan dari tidak adanya dokumen RTL di setiap SKPD. Padahal pelaksanaan RTL merupakan jembatan untuk mengintegrasikan RAD-PK dengan dokumen perencanaan lainnya. Keterkaitan program dan kegiatan RAD-PK dengan dokumen perencanaan lain di SKPD semata-mata hanya adanya pernyataan yang sama atau hampir sama diantara keduanya dalam rentang waktu Tahun 2009 s/d 2013. Namun tidak menggambarkan secara rinci strategi dan waktu pelaksanaannya seperti yang seharusnya tergambarkan dalam suatu rencana tindak lanjut. Ketercantuman program dan kegiatan yang sama antara RAD-PK dengan DPA pun tidak menjamin bahwa program dan kegiatannya dilaksanakan. Hal ini dapat terjadi karena sampai pertengahan Nopember 2009 dana yang dapat diserap dari APBD untuk melaksanakan kegiatan di Tahun Anggaran 2010 masih dibawah 50 persen dari yang direncanakan seluruh SKPD. Seperti yang terpublikasikan di media massa bahwa Kota Bandung telah membentuk Tim Kormonev Inpres No.4/2005. Namun tim yang terbentuk tersebut masih belum mempunyai mekanisme

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

dan agenda yang jelas dalam memontor pelaksanaan Inpres No. 4/2005 dan RAD-PK. Oleh sebab itu monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan RAD-PK belum efektif dilakukan. Padahal proses monitoring dan evaluasi ini penting dilakukan agar RAD-PK betul-betul terinternalisasikan pada setiap SKPD pelaksana dan dijadikan dokumen perencanaan yang diacu dalam menetapkan program/kegiatan SKPD.

5.1.2. Keterkaitan RAD-PK dengan Dokumen Perencanaan Lain
Keterkaitan antara program dan kegiatan RAD-PK dengan Program dan Kegiatan dokumen perencanaan lainnya termasuk pada kategori Tinggi. Namun dari hasil temuan ternyata tidak sepenuhnya kegiatan yang tercantum dalam RAD-PK dari SKPD pelaksana tercantum pula dalam dokumen perencanaan SKPD yang bersangkutan. Penyusunan RAD-PK Kota Bandung, selain berdasarkan pada pertimbangan isu prioritas juga didasarkan pada pertimbangan dokumen peraturan atau perencanaan yang telah ditetapkan sebelum RAD-PK tersusun. Berbagai pihak menyatakan bahwa penyusunan yang tidak terkait dengan dokumen perencanaan lainnya akan membuat RAD-PK hanya sekedar memenuhi aspek administrasi tanpa dapat diimplementasikan.

5.1.3. Persepsi Terhadap RAD-PK
Secara umum RAD-PK dinilai penting dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Sehingga relevansi RAD-PK dikategorikan tinggi. Hal ini sejalan dengan hasil survey Indeks Persepsi Korupsi yang dilansir TII yang baru mencapai 5,04. Walaupun tidak menggambarkan kasus korupsi yang sebenarnya. Penilaian adanya relevansi dari stakeholders ini menggambarkan bahwa RAD-PK dapat dijadikan sebagai suatu program/kegiatan prioritas Pemerintah Kota Bandung. Pada tahap berikutnya adalah bagaimana sikap Pemerintah Kota dalam melihat tingkat relevansi ini. Dalam hal ini dibutuhkan komitmen Pemerintah Kota Bandung dalam rangka pemberantasan korupsi melalui upaya peningkatan pelayanan publik dengan mempertimbangkan relevansi RAD-PK dan kasus-kasus ketidakpuasan publik terhadap pelayanan yang diberikan Pemerintah Kota Bandung. Meski relevan, tidak ada satupun SKPD yang menyusun rencana tindak lanjut dan menetapkan program/kegiatan berdasarkan RAD-PK. Selain karena konsep dasar yang belum dipahami secara baik, ketiadaan pedoman RAD-PK mempengaruhi efektifitas pelaksanaan RAD-PK termasuk ketidakadaan pedoman pelaksanaan rencana tindak lanjut bagi SKPD yang harus mengejawantahkan RAD-PK dalam bentuk strategi pelaksanaannya. Selain itu Peraturan Walikota tentang RAD-PK diyakini memberikan jaminan bagi pelaksanaan RAD-PK secara lebih optimal di setiap SKPD. Untuk itu, perlu ada dorongan dari pemerintah kota kepada SKPD agar secara konsisten melaksanakan program/kegiatan RAD-PK di masing-masing SKPD. Hal ini dapat dilakukan melalui proses monitoring dan evaluasi RAD-PK, penetapan panduan pelaksanaan rencan tindak lanjut dan format baku dokumen rencana tindak lanjut yang mudah dipahami. Adanya program dan kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan menggambarkan mekanisme perencanaan yang belum optimal. Tentu saja hal ini dapat terjadi juga pada program dan kegiatan yang telah disusun dalam matrik RAD-PK. Responden berharap adanya alokasi anggaran untuk kegiatan RAD-PK sesuai kebutuhan. Efisiensi juga bisa terjadi apabila program dan atau kegiatan RAD-PK sudah terintegrasi dalam pelaksanaan tupoksi masing-masing SKPD. Oleh karena itu, semestinya RAD-PK dikembangkan menjadi suatu konsepsi atau strategi yang pada gilirannya dapat mewarnai pelaksanaan tugas

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

keseharian semua SKPD. Efisiensi juga dapat dilakukan apabila melakukan kerjasama kelembagaan baik dengan SKPD lain maupun pihak lainnya. Kerjasama ini akan menciptakan kegiatan peningkatan pelayanan publik suatu SKPD tanpa harus menggunakan tambahan anggaran. Contoh di Dinas Kebakaran Kota Bandung, misalnya dalam program dan kegiatan RAD-PK tercantum kegiatan memberikan saran teknis membangun gedung yang aman dari bahaya kebakaran. Kegiatan ini dilaksanakan tanpa menambah anggaran karena dikerjasamakan dengan BPPT Kota Bandung dalam proses perijinan mendirikan bangunan. Koordinasi antar stakeholder telah berjalan dengan baik. Walau pernah terjadi hambatan administratif dan teknis. Namun dengan berbagai terobosan dan inovasi, berbagai hambatan koordinasi tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Hambatan administratif yang menetapkan tim penyusun yang tidak bisa bekerja secara teknis diatasi dengan membentuk tim teknis penyusunan RAD-PK berdasarkan Surat Perintah Kepala Bappeda. Tim teknis penyusun inilah yang aktif mengkordinasikan seluruh stakeholder dalam seluruh tahapan proses. Walaupun penilaian dampak yang sebenarnya RAD-PK tidak diukur, namun semua setuju jika RAD-PK ini dilaksanakan akan mempunyai dampak yang signifikan terhadap peningkatan kepuasan masyarakat pada pelayanan publik, penurunan kasus korupsi dan peningkatan kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Beberapa pihak menyatakan sulit untuk melihat secara terpisah (parsial) bahwa penurunan kasus korupsi yang terjadi disebabkan oleh RAD-PK. Karena upaya pemberantasan korupsi juga dilakukan melalui berbagai kebijakan dan kelembagaan. Oleh sebab itu tidak bisa suatu kebijakan mengklaim berhasil menurunkan kasus korupsi atau meningkatkan pelayanan publik. Namun RAD-PK sebagai suatu kebijakan diharapkan dapat memberikan konstribusi dan bersinergi dengan kebijakan lain dalam upaya pemberantasan korupsi. Kontribusi RAD-PK tentunya bukan hanya sematamata memenuhi azas kepatuhan belaka, tetapi secara nyata berdampak positif pada peningkatan pelayanan publik dan pemberantasan korupsi. Masyarakat meyakni jika RAD-PK mempunyai peluang besar untuk terus berlanjut. Hal ini didasarkan pada dua pihak yaitu: pemerintah dan masyarakat. Dilihat dari komitmen pemerintah, pertama, masyarakat meyakini bahwa Pemerintah Kota Bandung mempunyai komitmen dimana pemberantasan korupsi sebagai prioritas, kedua, pemerintah akan menetapkan minimal satu SKPD yang bebas korupsi per tahun. Dilhat dari sisi masyarakat, pertama, masyarakat akan mendorong upaya pembertantasan korupsi dan kedua masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama mampu memberikan perhatian dan bekerja sama memberantas korupsi. Peluang RAD-PK sebagai salah satu upaya pemberantasan korupsi didukung pula oleh fakta lapangan yang menunjukkan bahwa setiap SKPD berusaha mencapai pelayanan prima dengan ditandai sertifikat ISO, dan beberapa SKPD telah memperoleh sertifikat tersebut. Selain itu setiap SKPD berupaya menetapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dipublikasikan kepada publik untuk ikut mengawasi pelaksanaanya. Dari sisi masyarakat, selain media massa cetak dan elektronik yang memantau kinerja pelayanan publik, masyarakat pun mampu memberikan kritik dan keluhannya lewat berbagi media. Selain peluang, keberadaan RAD-PK pun menghadapi kendala. Kendala yang paling utama adalah bahwa pemberantasan korupsi memerlukan sarana dan prasarana pendukung yang harganya relatif mahal. Beberapa pihak menyebutkan bahwa tidak mungkin pelayanan publik akan meningkat apabila sarana pelayanan masih menggunakan peralatan konvensional. Pemanfaatan teknologi untuk mendukung keterbukaan informasi diakui oleh beberapa SKPD memang sangat mahal, seperti

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

penyediaan computer dengan koneksi internet, serta sarana dan prasarana lainnya. Keterbatasan anggaran dari APBD akan menyebabkan upaya pemberantasan korupsi melalui RAD-PK harus dilakukan secara bertahap. Masyarakat meyakini bahwa keberlanjutan RAD-PK juga sangat bergantung pada mekanisme monitoring dan evaluasi. Sebab tanpa monitoring dan evaluasi arah program dan kegiatan akan berjalan tidak sesuai dengan rencana. Dari aspek ini memang Pemerintah Kota Bandung belum efektif malakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan RAD-PK. Mekanisme dan agenda kerja yang belum ditetapkan oleh Tim Kormonev mengakibatkan laporan tentang pelaksanaan RAD-PK dari setiap SKPD masih sangat kurang. Khusus untuk keberlanjutan RAD-PK, semua sepakat bahwa RAD-PK harus dilanjutkan. Ini membuktikan bahwa ada peluang yang cukup tinggi untuk keberlanjutan RAD-PK, namun juga ada tantangan atau kendala yang juga cukup tinggi yang wajib diatasi dan diantisipasi. Artinya perlu upaya yang serius untuk mengatasi kendala-kendala tersebut agar apa yang sudah dicapai pada saat ini dapat dilanjutkan di masa yang akan datang dan menjadi lebih baik.

5.2. Rekomendasi
5.2.1. Rekomendasi Berdasarkan Proses Penyusunan RAD-PK
Mengacu hasil analisis pelaksanaan penyusunan RAD-PK, berdasarkan siklus diperlukan berbagai perbaikan agar seluruh proses penyusunan RAD-PK dapat dilakukan lebih baik. Rekomendasi terhadap pelaksanaan penyusunan RAD-PK adalah sebagai berikut: 1. Perlu kajian dan peningkatan kapasitas tim penyusun yang sudah dibentuk untuk memastikan capaian yang sudah ada tetap berlanjut dan lebih ditingkatkan. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan faslitator bagi Tim Penyusun RAD-PK. 2. Diperlukan bantuan teknis (technical assistance) untuk penyusunan draft RAD-PK dan meningkatkan kapasitas pemahaman konsep, strategi dan teknis kegiatan RAD-PK di tingkat SKPD. Hal ini dapat dilakukan melalui pendampingan dalam menetapkan isu prioritas rawan korupsi di SKPD masing-masing. 3. Perlu disusun Panduan Teknis Kampanye Konsultasi Publik Draft RAD-PK untuk memastikan berjalannya konsultasi publik secara lebih baik. Hal ini dapat dilakukan melalui penyelenggaraan pelatihan fasilitator KKP RAD-PK di tingkat Bappeda 4. Perlu ada panduan workshop penyempurnaan draft RAD-PK agar penyempurnaan RAD-PK mencapai hasil yang maksimal. Hal ini dapat dlakukan melalui penyusunan panduan pelaksanaan workshop penyempurnaan draft RAD-PK oleh Bappeda. 5. Perlu dipertimbangkan model penghargaan bagi SKPD yang telah menetapkan program dan kegiatan yang mengacu pada RAD-PK melalui pelaksanaan Rencana Tindak Lanjut. 6. Perlu dipertimbangkan adanya penghargaan bagi SKPD yang melakukan inovasi dalam upaya pemberantasan korupsi yang mengacu pada program dan kegiatan RADPK. 7. Dipertimbangkan adanya penghargaan bagi daerah atau SKPD yang secara rutin melakukan pelaporan secara periodik pelaksanaan RAD-PK maupun Inpres No. 5/2004.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

5.2.2. Rekomendasi Berdasarkan Hasil Analisis Keterkaitan RAD-PK dengan Dokumen Lain
1. Penegasan pentingnya melaksanakan Rencana Tindak Lanjut agar RAD-PK terintegrasi dengan dokumen lainnya. 2. Perlu dipertimbangkan pelaksanaan workshop penyusunan dokumen Rencana Tindak Lanjut yang dikoordinasikan oleh bappeda melalui tim penyusun RAD-PK

5.2.3. Rekomendasi berdasarkan hasil analisis persepsi terhadap RAD-PK
A. Relevansi Melakukan sosialisasi dan publikasi pengembangan strategi dan publikasi inovasi peningkatan dan perbaikan pelayanan publik agar masyarakat secara bersama-sama memperhatikan dan memonitor pelaksanaan kinerja pengembangan dan inovasi pelayanan publik. Hal ini dapat dilakukan melaui pemanfaatan media teknologi informasi internet, elektronik dan cetak yang pada pelaksanaannya dapat dilakukan melalui kerjasama dengan media massa baik swasta maupun milik pemerintah B. Efektivitas Revisi atau penyesuaian kembali RAD-PK khususnya matrik RAD-PK yang dapat dilakukan setiap tahun atau sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tahap peningkatan pelayanan publik yang telah dicapai. Hal ini dapat didahului dengan pelaksanaan survey kepuasan konsumen melalui metode CRC, hasil analisis kompilasi pengaduan dan saran dari kotak saran dan kritik yang telah ditempatkan disetiap SKPD, atau berbagai referensi hasil survey yang dilakukan pihak lain. C. Efisiensi Agar belanja APBD dilakukan secara efisien sekaligus program dan kegiatan RAD-PK dapat dilaksanakan maka perlu adanya penegasan tentang perlunya SKPD pelaksana menyusun dokumen RTL (Rencana Tindak Lanjut), serta penyesuaian besaran biaya sesuai standar harga pada masing-masing kegiatan. D. Koordinasi Pembentukan kelembagaan teknis multistakehoders serta menetapkan mekanisme penyusunan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi pelaksanaan RAD-PK, serta peningkatan peran Tim Kormonev Inpres No. 5 Tahun 2004 yang telah dbentuk E. Dampak Melaksanakan survey kepuasan konsumen atau Evaluasi Dampak Pelaksanaan RADPK, serta pemberian penghargaan bagi SKPD yang melakukan inovasi peningkatan pelayanan publik untuk percepatan pemberantasan korupsi F. Peluang Melibatkan masyarakat untuk mendorong upaya peningkatan pelayanan publik dalam rangka pemberantasan korupsi. Hal ini dapat dilakukan melalui penyedian lebih banyak media pengaduan masyarakat yang mudah diakses, melakukan kampanye / sosialisasi / publikasi / promosi pelayanan publik yang mudah, murah dan berkualitas

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

G. Kendala Melakukan kerjasama operasional dengan berbagai pihak baik antar SKPD maupun pihak lainnya untuk menekan biaya penambahan sarana/prasarana pendukung peningkatan pelayanan public atau memanfaatkan media internet untuk jangkauan publikasi dan pelayanan public secara online. Secara singkat, kesimpulan dan rekomendasi dari hasil review RAD PK Kota Bandung dapat dibaca pada tabel berikut ini.

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Tabel 5.1 Matrik Penilaian dan Rekomendasi Pelaksanaan RAD-PK di Kota Bandung Berdasarkan Siklus RAD-PK
Tahapan Proses Pembentukan Tim Penyusun Penyusunan draft RAD-PK Kategori Baik Makna Kota Bandung telah terbiasa bekerja dengan menggunakan Tim Adhoc, akan tetapi tetap perlu keterlibatan para pihak dalam upaya percepatan pemberantasan korupsi Sudah ada kehendak Pemerintah Kota Bandung untuk menjadikan RAD-PK sebagai salah satu dokumen perencanaan Rekomendasi Perlu kajan tentang kapasitas tim penyusun yang sudah dibentuk Diperlukan bantuan teknis (technical assistance) untuk penyusunan draft RADPK Perlu disusun Panduan Teknis Kampanye Konsultasi Publik Penyusunan RAD-PK Perlu ada panduan workshop penyempurnaan draft RAD-PK Perlu dipertimbangkan model penghargaan bagi daerah yang telah menetapkan peraturan tentang RAD-PK Perlu dipertimbangkan adanya penghargaan bagi daerah yang memiliki inovasi dalam upaya mencapaian pemberantasan korupsi dengan RAD-PK sebagai pedomannya Dipertimbangkan adanya penghargaan bagi daerah yang secara rutin melakukan monev dan melaporkannya secara periodik pelaksanaan RAD-PK maupun Inpres No. 5/2004 Tujuan tindakan Memastikan capaian yang sudah ada tetap berlanjut dan lebih ditingkatkan Mengubah secara mendasar dan meningkatkan kapasitas pemahaman konsep, strategi dan teknis kegiatan Memastikan berjalannya konsultasi public secara lebih baik Memastikan penyempurnaan RAD-PK mencapai hasil yang maksimal Melanjutkan dan meningkatkan capaian yang sudah ada

Cukup

Pelaksanaan KKP Penyempurnaan Dokumen RAD-PK Menuangkan RADPK dalam Peraturan (Legalisasi)

Baik

Kota Bandung memandang konsultasi public sebagai mekanisme pelibatan masyarakat dalam proses kebijakan Koordinasi internal diantara kelembagaan pemerintah dalam penyusunan RAD-PK sudah berjalan baik Kota Bandung mempunyai keyakinan bahwa Peraturan tentang RAD-PK, menjamin terlaksananya program / kegiatan RAD-PK

Cukup

Baik

Melaksanakan RAD-PK

Baik

Kota Bandung memahami kerangka teknis pelaksanaan RAD-PK ke dalam program dan kegiatan yang sedang berjalan Daerah dapat mengintegrasikan RAD-PK dalam program/kegiatan yang sedang berjalan Kota Bandung memiliki komitmen yang tinggi untuk percepatan pemberantasan korupsi, paham tentang mekanisme monitoring dan evaluasi RAD-PK

Meningkatkan dampak pelaksanaan RAD-PK

Monitoring dan evaluasi pelaksanaan RADPK

Baik

Melanjutkan capaian yang sudah ada agar lebih berdampak bagi masyarakat

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

Tabel 5.2. Matrik Kategori Penilaian dan Rekomendasi Berdasarkan Persepsi Terhadap RAD-PK di Kota Bandung
No Persepsi Kategori Makna Upaya pencegahan korupsi telah menjadi komitmen pemerintah dan telah ada tindakan nyata untuk percepatan pemberantasan korupsi Rekomendasi Pengembangan strategi pencegahan korupsi berbasis multistakeholder 2. Publikasi inovasi-inovasi untuk perbaikan kualitas pelayanan publik 3. Pemberian reward/penghargaan bagi SKPD yang punya inovasi untuk percepatan pemberantasan korupsi Revisi atau penyesuaian kembali RAD-PK khususnya matrik RAD-PK yang dapat dilakukan setiap tahun atau sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tahap peningkatan pelayanan publik yang telah dicapai. 1. Penegasan tentang dokumen RTL (Rencana Tindak Lanjut) bagi tiap SKPD pelaksana RAD-PK 2. Penyesuaian besaran biaya sesuai standar harga pada masing-masing kegiatan 1. Pembentukan kelembagaan dan mekanisme penyusunan maupun monitoring dan evaluasi pelaksanaan RAD-PK 2. Peningkatan peran Tim Kormonev Inpres No. 5 Tahun 2004 Melaksanakan survey kepuasan konsumen atau Evaluasi Dampak Pelaksanaan RAD-PK, serta pemberian penghargaan bagi SKPD yang melakukan inovasi peningkatan pelayanan publik untuk percepatan pemberantasan korupsi 1. Tujuan Tindakan Upaya pencegahan korupsi menjadi perhatian bersama semua pihak baik pemerintah, masyarakat dan dunia usaha

1

Relevansi

Tinggi

Landasan hukum RAD-PK menjamin efektifitas pelaksanaan atau tindak lanjut di daerah. 2 Efektifitas Tinggi

Peraturan tentang RAD-PK terus – menerus dijadikan “living document” karena merupakan pedoman penyearah berbagai upaya percepatan pemberantasan korupsi di daerah Belanja kegiatan RAD-PK makin efisien

3

Efisiensi

Tinggi

Daerah tidak perlu menambah pos anggaran baru karena alokasi untuk kegiatan RAD-PK terintegrasi dalam dokumen rencana dan anggaran SKPD pelaksana

Daerah sudah melakukan inovasi untuk penataan kelembagaan penyusunan dan pelaksanaan RAD-PK 4 Koordinasi Tinggi

Menguatkan dan mendayagunakan fungsi-fungsi yang sudah ada dalam pemerintahan maupun masyarakat untuk percepatan pemberantasan korupsi di daerah Memastikan bahwa dampak yang sudah ada berkesinambungan dan makin meningkat

RAD-PK sangat berkorelasi dengan upaya pemberantasan korupsi di daerah 5 Dampak Tinggi

No

Kriteria

Kategori

Makna

Rekomendasi

Tujuan Tindakan

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

6

Peluang

Tinggi

Penyusunan dan pelaksanaan RAD PK berpeluang tinggi untuk dilanjutkan di masa-masa yang akan datang

Melibatkan masyarakat untuk mendorong upaya peningkatan pelayanan public yang transparan dan akuntabel dalam rangka pemberantasan korupsi. Penetapan pedoman penyusunan, pelaksanaan serta monev pelaksanaan RAD-PK

7

Kendala

Sedang

Perlu ada redesain RAD-PK baik dari sisi kebijakan, kelembagaan maupun mekanisme pelaksanaan serta kerangka monevnya

Meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia dan kapabilitas daerah serta memastikan capaian yang diperoleh sekarang berkelanjutan dan lebih ditingkatkan Memastikan agar RAD-PK dilanjutkan

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

LAMPIRAN
Lampiran 1 Matrik Isue Strategis Program dan Kegiatan RAD-PK Kota Bandung 2009-2013
NO 1 PELAKSANA KEGIATAN Badan Pelayanan Perijnan Terpadu ISUE/PROGRAM 1. Meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik melalui transparansi, standarisasi pelayanan dan sertfikasi PROGRAM KEGIATAN 1. Meningkatkan mekanisme pelayanan perijinan STRATEGI PENCAPAIAN/KEGIATAN 1. Penyusunan system permohonan perijinan secara transparan yang meliputi persyaratan-persyaratan target waktu penyelesaian dan tariff biaya yang harus dibayar oleh masyarakat 2. 3. 4. Munyusun program pengawasan dan penindakan terhadap pungutan-pungutan liar Menyusun program pengawasan dan penindakan terhadap calo Sosalisasi kepada masyarakat mengenai program 30 ijin dari BMPPT

5. Pelayanan advokasi proses pengajuan perijinan untuk masyarakat umum 6. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM pelayanan perijinan

7. Menyusun akses proses pengajuan perijiann secara online/SMS 2. Penyusunan Sistem Informasi terhadap Perijianan Publik 2. Tersusunnya Sistem Informasi Pelayanan Perijnan yang efektif, efisien, transparan, akuntabel dan menjamin kepastian hukum 1. Penyusunan Peraturan Daerah SOP Pelayanan Perijnan Terpadu

2. Pengembangan aplikasi pelayanan berbasis teknologi informasi 3. Perbaikan/membangun citra pelayanan perijinan 4. Sosialisasi pelayanan perijinan dan penanganan pengaduan masyarakat 5. Survey indeks kepuasan konsumen (IKM) 6. Penerapan Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001-2000 2 Dinas Pendidkan Meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik melalui transparansi, standarisasi pelayanan dan sertfikasi 1. Optimalisasi penyelenggaraan Penerimaan Siswa Baru (PSB 1. Evaluasi penyelenggara-an PSB dengan melibatkan SKPD terkait dan masyarakat sebagai nara sumber 2. Menyusun program pengawasan pelaksanaan yang valid dan transparan 3. Menyusun program pengawasan pelaksanaan PSB yang transparan dan akuntabel

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG 2. Optimalisasi penyaluran dana bantuan siswa tidak mampu 1. Evaluasi penyaluran dana bantuan siswa tidak mampu dengan melibatkan SKPD terkait, aparat kewilayahan dan masyarakat melalui RW dan RT 2.. Menyusun program penyaluran dana bantuan siswa tidak mampu yang tepat guna, tepat sasaran, transparan dan akuntabel 3. Menyusun program pengawasan penyaluran dana bantuan siswa tidak mampu 1. Evaluasi pemberian ijin operasional sekolah dan lembaga pendidikan non formal dengan melibatkan SKPD terkait dan masyarakat sebagai nara sumber 2. Menyusun system permohonan jin operasional sekolah dan lembaga pendidiakn non formal secara transparan yang meliputi persyaratan-persyaraan target waktu penyelesaian dan tariff baya yang harus dibayar oleh masyarakat 3. Menyusun SOP penerbtan ijin operasional sekolah dan lembaga pendidikan non formal 4. Menyusun program pengawasan pemberian ijin operasional sekolah dan lembaga pendidikan non formal 1. Evaluasi penggunaan dana jamkesmas dengan melibatkan SKPD terkait dan masyarakat sebagai narasumber 2. Menyusun program pengawasan dan penindakan dalam pelaksanaan penggunaan dana jamkesmas yang tepat guna, tepat sasaran, transparan dan akuntabel 3. Optimalisasi penggunaan dana jamkesmas untuk operasinal RSUD dan Puskesmas dalam pelayanan terhadap masyarakat miskin 4. Koordinasi lintas sector dalam pendataan sasaran miskin 2. Optimalisasi pelayanan sarana kesehatan milik pemerintah daerah melalui peningkatan kualitas SDM dan pelayanan 1. Evaluasi kinerja pelayanan puskesmas, RSUD dan RS Khusus Milik Pemda dengan melibatkan SKPD terkait dan masyarakat 2. Penyusunan SOP pelayanan puskesmas, RSUD dan RS khusus milik Pemda 3. . Meningkatkan kualitas pelatihan bagi tenaga pelayanan kesehatan di puskesmas RSUD dan RS Khusus milik pemda 4. Meningkatkan anggaran operasional untuk pelayanan kesehatan di puskesmas, RSUD dan RS khusus milikpemda terutama keluarga tidak mampu 5. Menyusun program pengawasan dan penindakan terhadappungutan liar 6. Sosialisasi SOP pelayanan kesehatan di Puspkesmas, RSUD, RS khusus milik pemda

3. Optimalisasi pemberian ijin operasional Sekolah dan Lembaga Pendidikan non formal

3

Dinas Kesehatan

Meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik melalui transparansi, standarisasi pelayanan dan sertfikasi

1. Optmalisasi penggunaan dana jamkesmas

3. Optmalisasi pelayanan perijinan pendirian klnik pengobatan/RS dan puskesmas

1. Meningkatnya pelayanan perjinan pembangunan klinik/RS/puskesmas 2. Meningkatnya pengawasan dan penindakan terhadap klinik ilegal

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG 4 Dinas Kebakaran Meningkatnya kualtas pelayanan kepada public melaui transparansi, standarisasi pelayanan dan sertifikasi

1. Peningkatan kualitas pelayanan public melalui transparansi, standarisasi pelayanan dan sertfikasi dalampelayanan tindak pencegahan dan penanggulangan kebakaran

1. Menyusun petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan tindak pencegahan bahaya kebakaran dengan dibuatnya SOP

5

PDAM

Meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik melalui transparansi, standarisasi pelayanan dan sertfikasi

1 Peningkatan Pelayanan Air Bersih

2. Memberikan saran/advis teknik mengenai persyaratan-persyaratan pembangunan rumah bertingkat/apartemen/gedung bertingkat yang aman terhadap bahaya kebakaran bagi masyarakat sesuai dengan peraturan Daerah No. 15/2001 tentang pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran 3. Memberikan rekomendasi dan melakukan pengawasan dalam proses pengajuan IMB untu pembangunan rumah bertingkat yang harus dilengkapi dengan sarana pencegahan bahaya kebakaran, sarana pemadam kebakaran dan sarana penyelamatan korban bencana kebakaran sesuai dengan Perda No. 15/2001 tentan Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran 4. Meningkatnya pelayanan pemadaman dan ;enyelamatan dengan cepat, tepat dan selamat sesuai dengan UU No. 24/2007 Tentang Penanggulanngan Bencana 5. Menngkatkan ketrampilan dan keahlian petugas pemadam kebakaran dan petugas pemadam kebakaran dan petugas penyelamatan korban melalui sertifikasi keahlian 6. Penambahan petugas pemadam dan penyelamat sesuai dengan rasio penduduk dan standar nasional 7. Mengusulkan pemberian tunjangan (keahlian khusus) dan jaminan perlindungan keselamatan bagi petugas pemadaman kebakaran yang ditetapkan dengan keputusan walikota 8. Menyelenggarakan pencegahan dan pembinaan melalui sosialisasi dan BINTEK pencegahan 9. Menghilangkan pungutan liar oleh petugas dalam penanggulangannkebakaran dan penyelamatan melalui sosialisasi 1. Meningkatkan pengawasan prosedur pemasangan sambungan baru 2. Meningkatkan pengawasan dan penindakan terhadap sambungan illegal 3. Optimalisasi sosialisasi mekanisme pembacaan meteran air kepada masyarakat

6

UPT ePrecurement

Meningkatnya penerapan prinsipprinsp tata pemerintahan yang baik

1. Melaksanakan pengadaan barang/jasa pemerintah Kota Bandung secara terbuka dan transparan

1. Mengumukan pengadaan barang/jasa melaui media cetak dan website pemerintah Kota Bandung

LAPORAN AKHIR REVIEW PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI DAERAH PEMBERANTASAN KORUPSI (RAD-PK) DI KOTA BANDUNG

2. Melaksanakan pengadaan barang/jasa secara onlne 3. Melaksanakan pengadaan barang dan jasa secara terpusat di unit layanan pengadaan 1. Melakukan analisa kebutuhan SDM untuk pengadaan barang/jasa Pemkot Bandung 2. Meningkatkan kemampuan SDM dalam bdang pengadaan Barang/jasa
7 Badan Kepegawaian Daerah Bagian Organisasi Setda Meningkatnya penerapan prinsipprinsp tata pemerintahan yang baik Meningkatnya penerapan prinsipprinsp tata pemerintahan yang baik

2. Mempersiapkan SDM pelaksana Pengadaan barang/jasa Reformasi Birokrasi Reformasi Birokrasi

1. Melaksanakan reformasi SDM aparatur 1. Melaksanakan Penataan Kelembagaan 2. Evaluasi Kelembagaan Perangkat Daerah 3. Penyusunan Analsa Jabatan Struktural

8

9

10

Dinas Pendapatan Daerah Badan Komunikasi dan Informasi

Meningkatnya penerapan prinsipprinsp tata pemerintahan yang baik Meningkatnya penerapan prinsipprinsp tata pemerintahan yang baik

Reformasi Birokrasi Reformasi Birokrasi

1. Optmalisasi potensi PAD 1. Pengembangan dan pemanfaatan e-government

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->