P. 1
Koherensi Dalam Wacana the Born Loser Artikel Tesis

Koherensi Dalam Wacana the Born Loser Artikel Tesis

|Views: 1,371|Likes:
Published by andi yaurie

More info:

Published by: andi yaurie on Jan 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/01/2013

pdf

text

original

KOHERENSI DALAM WACANA KOMIK THE BORN LOSER (Coherence in The Born Loser Comic Discourse) Andi Muhammad

Yauri S. Abstrak The aims of this study are to describe cohesive devices, non-cohesive devices, and the mobilities of these devices which construct a coherence in The Born Loser comic discourse. This investigation applies a descriptive method which its data derived from written data. The data were selected purposively by recording technique. The collected data were analyzed by distributional method. The result of the research shows cohesive devices such as exophora, anaphora, cataphora, subtitution, ellipsis, conjunction, and lexical while non-cohesive is inference. Keyword: cohesive devices, coherence, discourse analysis I. PENDAHULUAN Wacana adalah kesatuan bahasa yang wajar misalnya paragraf, kalimat, klausa, frase, kata, dan morfem. Kesatuan tersebut merupakan aspek bentuk dari sebuah wacana yang berkaitan dengan kohesi. Wacana yang utuh adalah wacana yang mempunyai keterpaduan bentuk atau kohesif dan mempunyai keruntutan makna atau koheren. Keterpaduan itu sangat mudah dikenal melalui alat-alat kebahasaan seperti pemarkah kohesi referensi (pengacuan), substitusi (penyulihan), elipsis (pelesapan), konjungsi (perangkaian), dan leksikal. Keruntutan (kekoherenan) dapat berupa penggunaan alat-alat kebahasaan seperti yang digunakan untuk mencapai keterpaduan dan dapat pula terselubung sehingga pembaca atau pendengar terpaksa membuat penafsiran. Wacana sebagai media komunikasi terdiri atas rangkaian (tuturan) lisan dan tulis. Wacana lisan bersifat komunikatif yang dapat berupa percakapan, wacana tulis dapat dipahami dengan adanya paragraf-paragraf yang mempunyai hubungan kohesi atau kepaduan dan koherensi atau keruntutan (lihat Djadasudarma, 1994:6). Kohesi dalam wacana ditandai dengan alat penghubung yang disebut dengan pemarkah atau piranti kohesif yang berfungsi untuk menciptakan keselarasan dalam wacana. Keberadaannya bukan saja sebagai wahana tulisan, namun berhubungan dengan dunia makna. Itulah sebabnya piranti kohesi berkaitan dengan proses pengembangan
Staff pengajar STAIN Watampone Sulawesi Selatan Tim Komisi Pembimbing:

1

gagasan dalam sebuah wacana atau tulisan. Koherensi dalam wacana dapat tercipta melalui penggunaan alat-alat bahasa (pemarkah kohesi). Koherensi wacana dapat juga tercipta melalui unsur-unsur di luar bahasa (non-linguistik) seperti konteks, presuposisi, inferensi, dan tindak ujar. Pemarkah kohesi dan unsur non-linguistik harus digunakan secara bersamaan untuk dapat menemukan koherensi suatu wacana. Dalam penelitian ini, penulis memilih bentuk komik pendek yang terdiri atas tiga adegan dan paling banyak delapan adegan percakapan dalam setiap edisi. Komik pendek The Born Loser yang ditampilkan setiap hari di surat kabar berbahasa Inggris The Jakarta Post dan dalam situs www.comics.com. Cerita bergambar ini selalu memiliki tema sentral hal-hal yang lucu. Percakapan dalam komik pendek tersebut menggunakan bentuk-bentuk formal (pemarkah kohesi) dan bentuk-bentuk informal (non-kebahasaan). Hal lain pada The Born Loser adalah telah enam kali mendapatkan penghargaan dari National Cartoonists Society dengan kategori Best Humor Strip dalam tahun 1987 dan 1991. Untuk menganalisis dialog dalam komik pendek The Born Loser, penulis menggunakan analisis wacana. Salah satu tujuan analisis wacana salah satunya berupaya mengungkap apa yang sebenarnya yang dimaksudkan oleh penulis atau maksud penutur saat mengajukan satu ujaran. Penelitian ini diarahkan kepada aspek yang menciptakan keutuhan wacana pada komik The Born Loser yang dimuat dalam surat kabar The Jakarta Post dan ditampilkan secara on-line di http://www.comics.com/comics/bornloser/html. Adapun identifikasi masalahnya dapat dirunut sebagai berikut: (1) Apa unsur-unsur kohesi yang digunakan sehingga turut berperan menciptakan koherensi dalam wacana komik The Born Loser?, (2) Apa unsur-unsur non-kohesi yang mendukung kekoherenan wacana komik The Born Loser?, (3) Bagaimana mobilitas unsur-unsur kohesi dan non-kohesi yang mendukung koherensi wacana komik The Born Loser? Sumber data dalam penelitian ini adalah data tulis berupa wacana komik The Born Loser berjumlah 39 edisi dalam bentuk dialog dan monolog. Pemilihan data dilakukan secara purposif yakni mengambil data tanpa mengacaknya, melainkan langsung ditentukan oleh peneliti dengan teknik catat. Metode

2

kajian yang digunakan adalah metode distribusional dengan teknik kajian bagi unsur langsung yakni membagi satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur. II. KAJIAN TEORI 2.1 Wacana Djajasudarma (1994:2) memandang wacana sebagai unsur gramatikal tertinggi yang direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh dengan amanat lengkap dan dengan kohesi dan koherensi yang tinggi. Kohesi berhubungan dengan bentuk dan koherensi berhubungan dengan makna atau hubungan semantis. Dengan demikian, wacana yang padu adalah wacana yang apabila dilihat dari segi hubungan bentuk atau struktur lahir bersifat kohesif, dan dari segi hubungan makna atau struktur batinnya bersifat koheren. 2.2. Teori Tentang Kohesi Halliday dan Hasan (1976) memandang kohesi sebagai hubungan semantis atau hubungan makna yang terdapat dalam sebuah wacana. Hubungan tersebut saling memiliki keterkaitan makna antara yang terdapat di dalam dan di luar teks. Di samping itu, dari karya mereka tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat lima kategori jenis kohesi yakni referensi (reference), substitusi (substitution), elipsis (ellipsis), konjungsi
(conjunction), dan leksikal (lexical cohesion).

2.3 Referensi Bila referensi atau yang dirujuk berada di luar teks, maka relasi itu disebut referensi eksofora dan apabila berada di dalam teks itu sendiri disebut referensi endofora. Referensi endofora dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu: anafora, makna yang dirujuk berada pada kalimat bagian awal atau terdahulu dan katafora, makna yang dirujuk berada pada isi teks sesudahnya atau menunjuk ke muka (Halliday dan Hasan, 1976:33). Referensi dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu: (1) referensi personal mencakup tiga kelas kata ganti diri yaitu kata ganti diri orang pertama I dan we, kata ganti orang kedua you, dan kata ganti orang ketiga yaitu he, the, it dan they serta termasuk bentuk tunggal dan jamak. Kata ganti kepunyaan seperti my, your, his, her, its, our, their, mine, yours, his, hers, dan their, (2) referensi demonstratif mencakup kata tunjuk (demonstratives) seperti this, that, those, dan kata sandang tertentu (definite article), (3) referensi komparatif dapat dinyatakan dengan adjektiva atau adverbia yang berfungsi membandingkan unsur-unsur dalam teks. Adjektiva seperti kata same, identical, equal,

3

dan similar. Sedangkan adverbia seperti kata otherwise, so, more, less, dan likewise. 2.4 Substitusi Substitusi (penyulihan) adalah unsur yang menghubungkan kalimat dengan cara mengganti unsur yang akan atau telah disebutkan dengan penyulih (Djajasudarma 1999:86). Substitusi dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu: (1) substitusi nominal artinya penggantian yang berupa nominal (kata benda) seperti one, ones, dan same, (2) substitusi verbal artinya penggantian yang berupa verbal (kata kerja) seperti do, (3) substitusi klausal artinya penggantian yang berupa klausal (klausa) seperti so dan not. 2.5 Elipsis Elipsis (pelesapan) sebagai penanda hubungan antarkalimat. Dalam pelesapan adanya unsur kalimat yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada kalimat berikutnya (Djajasudarma 1999:93). Elipsis dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu: (1) elipsis nominal artinya penghilangan kata benda (nomina), (2) elipsis verbal artinya penghilangan kata kerja (verbs), dan (3) elipsis klausal artinya penghiIangan klausal. 2.6 Konjungsi Konjungsi (perangkaian) merupakan unsur yang menghubungkan konjoin (klausa/kalimat) di dalam wacana (Djajasudarma 1994:74). Konjungsi dibagi menjadi empat macam (Halliday dan Hasan, 1976:238-239) yaitu: (1) aditif (penambahan) yang menunjukkan hubungan penambahan seperti pada kata and, and also, nor, alternatively, or, dan by the way, (2) adversatif menunjukkan hubungan pertentangan seperti but, yet, however, nevertheless, on the other hand, in fact, dan as a matter of fact, (3) kausal menunjukkan hubungan sebab-akibat seperti kata hence, thus, consequently, accordingly, as a result, in consequence,dan because of that, (4) temporal menunjukkan hubungan waktu seperti then, next, afterwards, afterthat,dan subsequently. 2.7 Leksikal Kohesi leksikal dapat terjadi melalui diksi (pemilihan kata) yang mempunyai hubungan tertentu dengan kata yang digunakan terdahulu (Djajasudarma 1999:96). Jenis kohesi leksikal dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu pengulangan kembali (reiteration) dan sanding kata (collocation). Pengulangan kembali dapat dibagi atas pengulangan kata yang sama (same item or same word), sinonim adalah kata yang sama artinya (synonym or near- synonym), superordinat adalah nama yang membawahi nama-nama lain atau

4

ungkapan lain (Lubis,1993:43), dan kata umum (general word) kata yang sangat umum digunakan yang memiliki hubungan kelas kata yang terdapat dalam kamus. Sanding kata membicarakan mengenai penggunaan kata yang masih berada dalam suatu lingkungan yang sama. Membicarakan kamar tamu umpamanya akan melibatkan kata-kata seperti sofa, meja, vas bunga, dan poster. 2.8 Unsur-Unsur Non-Kohesi Dibutuhkan unsur-unsur non-kohesi untuk membantu memahami atau menemukan koherensi ujaran-ujaran. Unsur-unsur non-kohesi sangat beragam, namun dalam penulisan ini hanya akan membahas mengenai inferensi. 2.9 Inferensi Inferensi terjadi bila proses yang harus dilakukan pendengar atau pembaca untuk memahami makna yang secara ”harfiah” tidak terdapat pada wacana yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis. Pendengar atau pembaca dituntut untuk mampu memahami informasi (maksud) pembicara atau penulis (Djajasudarma, 1994: 43). Kemampuan seseorang untuk memahami amanat bahasa, merupakan kemampuan untuk membuat inferensi (dalam Tallei, 1988: 48) ditentukan oleh latar belakang pengetahuan yang dimiliki oleh pendengar atau pembaca, baik itu pengetahuan tentang dunia secara umum maupun pengetahuan secara individual. Dengan penarikan kesimpulan oleh pendengar/pembaca yang didasarkan pada pengetahuannya dengan maksud untuk memahami amanat bahasa yang disampaikan oleh pembicara/penulis, maka akan menciptakan wacana yang komunikatif sehingga wacana itu tidak dinyatakan secara eksplisit, tetap terjalin keruntutan makna (koherensi) wacana. III PEMBAHASAN 3.1 Eksofora 1. (1) Now, see here ↑ , Mr. Smarty-pants! You need to do what I say! ‘Sekarang, lihat di sini, Mr.Smarty-pants! Kamu harus menuruti yang saya katakan!’ Demonstrativa here ‘di sini’ (1) pada ujaran di atas merujuk silang pada unsur di luar teks yaitu di dekat tempat duduk Brutus. Verba see ‘lihat’ letaknya mendahului demonstrativa here ‘di sini’ yang fungsinya memperjelas makna eksofora secara 5

gramatikal. Dari analisis ini terbentuk pola FV + D. Secara ringkas, pola semua data eksofora berdasarkan kategorinya dalam penelitian ini seperti berikut: Pemarkah Eksofora D Pr N 3.2 Anafora 2. (7) And three of them are solicitations to apply for new credit cards! ‘Dan tiga diantaranya adalah surat permohonan pengisian kartu kredit baru!’ Pronomina persona ketiga jamak them ‘mereka’ (7) diterjemahkan menjadi ‘diantaranya’, merujuk silang pada unsur yang telah disebutkan sebelumnya yaitu four pieces of mail ‘empat helai surat’ (6). Pronomina persona ketiga jamak them ‘mereka’ didahului oleh nomina three ‘tiga’ sehingga membentuk makna secara gramatikal. Analisis ini menghasilkan pola N + Pr. Secara ringkas, pola semua data anafora berdasarkan katagorinya dalam penelitian ini seperti berikut: Pemarkah Anafora Pr it D 3.3 Katafora 3. (24) I’m bored! There’s nothin’ to do! ‘Saya merasa bosan! Tak satu pun yang bisa dikerjakan!’ Demonstrativa There ‘di sana’ (24) diikuti oleh frasa verbal is nothing to do ‘tak satu pun yang bisa dikerjakan’. Demonstrativa there ‘di sana’ tidak dipadankan secara langsung ke dalam bahasa Indonesia karena posisinya mirip dengan preparatory atau pengantar kalimat, namun memiliki acuan ke depan yaitu is nothin’ to do! ‘tak satu pun yang bisa dikerjakan!’. Analisis ini menghasilkan pola D + FV. Secara ringkas, pola didahului oleh N, V, NPrep FV V diikuti oleh V, VPrep, Adv, Adj, FAdj, N FN, FV, FV, Adj, Adv N. FN, FAdj, M didahului oleh FV, FN diikuti oleh N FV, no + FAdv, FPrep FAdv

6

semua data katafora berdasarkan katagorinya dalam penelitian ini seperti berikut: Pemarkah Katafora D Pr FAdj 3.4 Substitusi 4. (8) And what was the fourth one? ‘Dan apa isi surat keempat?’ Substitusi nominal pada data di atas yang menggantikan kata benda atau nomina. Unsur one (8) didahului oleh frasa adjektival the fourth ‘keempat’ dan menyulih unsur yang telah disebutkan yaitu nomina Mail ‘surat’ (4). Apabila one (8) disulih ke dalam kalimat (8), akan menjadi And what was the fourth mail? ‘Dan apa isi surat keempat?’. Analisis ini menghasilkan pola Adj + one. Secara ringkas, pola semua data substitusi berdasarkan katagorinya dalam penelitian ini seperti berikut: Pemarkah Substitusi one do not 3.5 Elipsis 5. (3) Yes, and you probably wont’t be for another year or two! Ya benar, dan mungkin kamu tidak akan bisa selama dua atau beberapa tahun! Bagian yang mengalami pelesapan pada data (3) adalah didahului oleh won’t singkatan dari will not ‘tidak akan’. Bagian yang hilang pada data (3), selengkapnya akan ditulis kembali dalam tanda kurung, Yes, and you probably wont’t be (as wise as your old man) for another year or two! ‘Ya benar, dan mungkin kamu tidak akan bisa (sebijaksana orang tua kamu) selama dua atau beberapa tahun!’. Bagian yang mengalami pelesapan 7 didahului oleh Adj, D Pr Whdiikuti oleh didahului oleh FAdv diikuti oleh FV, Adj, FAdj, FN, N N, FV -

merujuk silang pada unsur yang telah disebutkan atau anafora yaitu pada as wise as your old man ‘sebijaksana orang tua kamu’ (2). Bagian yang mengalami pelesapan adalah frasa adjektival yang didahului oleh won’t ‘tidak akan’. Hal yang ditemukan dalam analisis ini yaitu bagian yang mengalami pelesapan merupakan frasa adjektival, sedangkan dalam teori Halliday menyatakan bahwa elipsis (pelesapan) hanya terdiri atas elipsis nominal, verbal, dan klausal. Analisis ini menghasilkan pola won’t + FAdj. Secara ringkas, pola semua data elipsis berdasarkan katagorinya dalam penelitian ini seperti berikut: Pemarkah Elipsis FAdj FN N FV 3.6 Konjungsi 6. (3) Yes, and you probably wont’t be for another year or two! Ya benar, dan mungkin kamu tidak akan bisa selama dua atau beberapa tahun! Konjungsi and ‘dan’ (3) adalah konjungsi aditif yang menunjukkan hubungan penambahan, diikuti oleh pronomina persona kedua tunggal you ‘anda’. Analisis ini menghasilkan pola konj. + Pr. Secara ringkas, pola semua data konjungsi berdasarkan katagorinya dalam penelitian ini seperti berikut: Pemarkah Konjungsi and then but or 3.7 Leksikal 7. (12) It would be a week before I got around to worrying about it! ‘Akan seperti minggu sebelumnya saya selalu mengkhawatirkan didahului oleh diikuti oleh Pr, Num, Wh-, N, V, Adv Pr, WhPr, N, V, Adv, D Num didahului oleh Won’t FN, Pr, Wh-, D Num Pr diikuti oleh -

8

tentangnya!’ Unsur worrying ‘khawatir’ (12) adalah leksikal pengulangan worried ‘khawatir’ (10) dan diikuti oleh adverbia about ‘tentang’. Analisis ini menghasilkan pola L + Adv. Secara ringkas, pola semua data leksikal berdasarkan katagorinya dalam penelitian ini seperti berikut: Pemarkah Leksikal pengulangan sinonim didahului oleh diikuti oleh Adv, V, N, Prep, P Adv

3.8 Inferensi 8. (15) Poor bird! I’m getting’ outta here before she gets any ideas about me! ‘Ayam kasihan! Saya akan keluar dari sini sebelum ia merencanakan sesuatu pada saya!’ Inferensi pada ujaran (15) adalah seekor anjing (Kewpie) merasa takut setelah melihat Gladys memotong ayam kalkun. Kewpie berpikir dalam hati dengan ujaran (15) dan merasa khawatir, setelah ayam kalkun dipotong untuk dimasak, giliran berikutnya adalah Kewpie. Kewpie menyaksikan dan mendengar percakapan antara Wilberforce dan Gladys. Gladys sedang memotong dan meracik bumbu pada ayam kalkun yang akan dimasaknya. IV SIMPULAN Unsur-unsur kohesi yang dihasilkan dalam penelitian ini, yaitu pemarkah eksofora, anafora, katafora, substitusi, elipsis, konjungsi, dan leksikal. Unsur non-kohesi yang turut menciptakan koherensi dalam penelitian ini adalah inferensi. Mobilitas unsurunsur kohesi dan non-kohesi yaitu (1) pemarkah eksofora yang digunakan D, Pr, dan N. Pemarkah eksofora D didahului oleh FV, FN dan diikuti oleh N. Pemarkah eksofora Pr diikuti oleh FV, FAdv, dan FPrep. Pemarkah eksofora N diikuti oleh FAdv. Pemarkah eksofora D, Pr, dan N tersebut menghasilkan tujuh pola, (2) pemarkah anafora yang digunakan Pr, it, dan D. Pemarkah anafora Pr didahului oleh N, V, dan NPrep dan diikuti oleh V, VPrep, Adv, Adj, FAdj, dan N. Pemarkah anafora it didahului oleh FV dan 9

diikuti oleh FN, FV, Adj, dan Adv. Pemarkah anafora D didahului oleh V dan diikuti oleh N, FN, FAdj, dan M. Pemarkah anafora Pr, it, dan D tersebut menghasilkan 22 pola, (3) pemarkah katafora yang digunakan adalah D, Pr, dan FAdj. Pemarkah katafora D diikuti oleh FV, Adj, FAdj, FN, dan N. Pemarkah katafora Pr diikuti oleh N dan FV. Pemarkah katafora FAdj didahului oleh FAdv. Pemarkah katafora D, Pr, dan FAdj tersebut menghasilkan 8 pola, (4) pemarkah substitusi yang digunakan adalah one, do, dan not. Pemarkah substitusi one didahului oleh Adj dan D. Pemarkah substitusi do didahului oleh Pr. Pemarkah substitusi not didahului oleh Wh-. Pemarkah substitusi one, do, dan not tersebut menghasilkan 4 pola, (5) pemarkah elipsis yang digunakan adalah FAdj, FN, N, dan FV. Pemarkah elipsis FAdj didahului oleh won’t. Pemarkah elipsis FN didahului oleh FN, Pr, Wh-, dan D. Pemarkah elipsis nomina didahului oleh Num. Pemarkah elipsis FV didahului oleh Pr. Pemarkah elipsis FAdj, FN, N, dan FV tersebut menghasilkan 7 pola, (6) pemarkah konjungsi yang digunakan adalah and, then, but, dan or. Pemarkah konjungsi and diikuti oleh Pr, Num, Wh-, N, V, dan Adv. Pemarkah konjungsi then diikuti oleh Pr dan Wh-. Pemarkah konjungsi but diikuti oleh Pr, N, V, Adv, dan D. Pemarkah konjungsi or diikuti oleh Num. Pemarkah konjungsi and, then, but, dan or tersebut menghasilkan 7 pola, (7) pemarkah leksikal yang digunakan adalah pengulangan dan sinomim. Pemarkah leksikal pengulangan diikuti oleh Adv, V, N, Prep, dan P. Pemarkah leksikal sinonim diikuti oleh Adv. Pemarkah leksikal pengulangan dan sinonim tersebutmenghasilkan 5 pola, (8) data inferensi hanya ditemukan 8 buah dan tidak menggunakan pola seperti yang telah dijelaskan di atas. DAFTAR PUSTAKA Alwasilah, Chaedar A. 2002. Pokoknya Kualitatif Dasar-dasar Merancang dan Melakukan Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya dengan Pusat Studi Sunda. Austin, J.L. 1962. How to Do Things With Word. Cambridge, Mass.: Harvard U.P. Bryant, Arthur. 1954. “Makers of the Realm” dalam Bambang Kaswanti Purwo (Ed.). Bulirbulir Sastra dan Bahasa: Pembaharuan Pengajaran. Yogyakarta: Kanisius. Brown, Gillian and George Yule. 1989. Discourse Analysis. Cambridge: Cambridge University Press. 10

Cook, Guy. 1989. Discourse. Oxford: Oxford University Press. Djajasudarma, T. Fatimah. 1986. Kecap Anteuran Bahasa Sunda: Satu Kajian Semantik dan Struktur. Disertasi. Jakarta: Universitas Indonesia. 1993. Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: PT Eresco. 1993. Semantik 1 Pengantar ke Arah Ilmu Makna. Bandung: Eresco. 1994. Wacana Pemahaman dan Hubungan Antarunsur. Bandung: Eresco 1999. Penalaran Deduktif-Induktif dalam Wacana Bahasa Indonesia. Bandung: Alqaprint. Eriyanto 2001. Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LkiS. Firth, J. R. 1935. “The Technique of Semantics” dalam terjemahan Drs. Asruddin Barori Tou, M.A. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotika Sosial. Yogyakarta: Kanisius. Gutwinski, Waldemar. 1976. “Cohesion in Literary Text” in H. G. Tarigan. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa. Halliday, M. A. K. and Ruqaiyah Hasan. 1976. Cohesion in English. London: Longman. 1994. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotika Sosial. Translated by Drs. Asruddin Barori Tou, M. A. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Harris, Zellig. 1952. “Discourse Analysis” in Guy Cook. Discourse. Oxford: Oxford University Press. Hurford and Brendan Heasley. 1983. Semantics, A Course Book. Cambridge: Cambridge University Press. Jackson, Howard. 1983. Analyzing English: An Introduction to Descriptive Linguistics. Oxford: Pergamon Press Ltd. Kartomihardjo, Soeseno. 1993. “Analisis Wacana dengan Penerapannya pada Beberapa Wacana” dalam Bambang Kaswanti Purwo (Ed.). Pellba 6 Pertemuan Linguistik Atma Jaya: Keenam. Yogyakarta: Kanisius. Keraf, Gorys. 1993. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa. Cetakan ke-9. Ende: Nusa Indah. Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Diterjemahkan oleh M.D.D. Oka Jakarta: Universitas Indonesia Press. Lubis, Hamid Hasan. 1993. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa.

11

Oetomo, Dede. 1993. “Pelahiran dan Perkembangan Analisis Wacana”. In Bambang Kaswanti Purwo (Ed.). Pellba 6 Pertemuan Linguistik Atma Jaya: Keenam. Yogyakarta: Kanisius. Omar, Dato Asmah Haji. 1989. Kaedah Pengajaran Bahasa. Kuala Lumpur. Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia. Palmer, G. N. 1983. Semantics, 2nd edition. Cambridge: Cambridge University Press. Parera, J. D. 1990. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga. Purwo, Bambang Kaswanti (Ed.). 1991. Bulir-bulir Sastra dan Bahasa: Pembaharuan Pengajaran. Yogyakarta: Kanisius. 1993. Pellba 6 Pertemuan Linguistik Atma Jaya: Keenam. Yogyakarta: Kanisius. Quirk, Randolph (Eds.). 1972. A Grammar of Contemporary English. London: Longman Group Limited. Riggenbach, Heidi. 1999. Discourse Analysis in the Language Classroom. Ann Arbor: The University of Michigan Press Savory, Theodore H. 1967. The Language of Science. London: Andrew Deutsch. Sinclair, J. McH. and M. Coulthard. 1975. “Towards and Analysis of Discourse: The English Used by Teachers and Pupils” in Guy Cook. Discourse. Oxford: Oxford University Press. Sobur, Alex. 2001. Analisis Teks Media Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Stubbs, Michael. 1983. Discourse Analysis: The Sociolinguistics Analysis of Natural Language. Oxford British: Basil Blackwell Ltd. Sudaryanto. 1988a. Metode Linguistik Bagian Pertama: Kearah Memahami Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1988b. Metode Linguistik Bagian Kedua: Metode dan Aneka Teknik Pengumpulan Data. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Suladi, dkk. 2000. Kohesi dalam Media Massa Cetak Bahasa Indonesia Studi Kasus Tentang Berita Utama dan Tajuk. Jakarta: Pusat Bahasa. Sumarlam, dkk. 2003. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Cakra. Tallei. 1998. Analsis Wacana: Suatu Pengantar. Manado: Bina Patra.

12

Tarigan, H.G. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa Tarigan, H. G. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.

13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->