P. 1
Makalah Sistem Politik Fix

Makalah Sistem Politik Fix

|Views: 5,075|Likes:
Published by riskiarsanti91

More info:

Published by: riskiarsanti91 on Jan 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/17/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dalam Trias Politica menyatakan adanya pembagian kekuasaan menjadi 3 bagian, yakni lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Ketiga lembaga ini bekerja secara sinergis untuk menjalankan roda pemerintahan suatu negara, sehingga ketiga lembaga ini terlibat dalam suatu sistem politik yang terdapat di negara tersebut. Pada garis besarnya, lembaga eksekutif bergerak dalam menjalankan pemerintahan, lembaga legislatif bergerak dalam bidang pembuatan undang-undang, melakukan fungsi pengawasan, dan juga melakukan fungsi pembuatan anggaran (RAPBN), sedangkan lembaga yudikatif bergerak dalam bidang peradilan. Kekuasaan eksekutif dalam suatu negara ialah merupakan kekuasaan dimana dijalankannya segala kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan badan legislatif dan menyelenggarakan undang-undang yang telah diciptakan oleh badan legislatif. Akan tetapi, dalam perkembangannya pada masa negara modern seperti saat ini kekuasaan badan eksekutif jauh lebih luas karena kekuasaannya dapat pula mengajukan rancangan undang-undang pada lembaga legislatif. Ini menunjukkan bahwa peran lembaga eksekutif pada masa negara modern sudah mengalami peningkatan didalam menjalankan kekuasaan. Dalam sejarahnya, Indonesia telah mengalami rotasi pergantian kekuasaan. Ini ditandai dengan adanya masa kekuasaan yang dikenal dengan 3 masa, yaitu masa Orde Lama, masa Orde Baru, dan masa Orde Reformasi. Disetiap masa memiliki ciri khas kekuasaan yang berbeda-beda. Dari

1

perbedaan setiap masa, dapat dilihat cara dalam menerapkan kekuasaannya terhadap lembaga-lembaga yang terdapat pada masa itu. Apabila kita membahas tentang eksekutif, kita dapat juga melihat bagaimana pemimpin tersebut dalam memimpin lembaga eksekutifnya. Disetiap masa yang berbeda, Indonesia mengalami beberapa kali pergantian pemimpin. Dimulai dari Orde Lama yaitu pada saat di bawah pimpinan Presiden Soekarno, di mana masa Orde Lama itu sendiri terbagi atas 2 masa, yaitu masa Demokrasi Parlementer dan masa Demokrasi Terpimpin, yang dilanjutkan dengan masa Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto selama 32 tahun, dan masa Reformasi yang telah mengalami beberapa kali pergantian Presiden hingga sekarang ini. Oleh karena itu, penulis mencoba menyajikan suatu makalah yang memiliki konten seperti yang telah disebutkan di atas, dengan judul makalah ³Fungsi Lembaga Eksekutif dalam Sistem Politik Indonesia dari Masa Orde Baru hingga Masa Reformasi.´

B. Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah diatas, maka penulis dapat mengambil suatu rumusan masalah yaitu ³Bagaimanakah fungsi lembaga Eksekutif dalam menjalankan sistem politik Indonesia dari masa Orde Lama hingga Masa Pasca Reformasi?´.

2

Input dan Output Agar supaya sistem bekerja dengan baik. sistem politik memiliki ciri-ciri tertentu. TEORI SISTEM POLITIK a. yaitu: a. Analisis Sistem Politik Menurut David Easton Pendekatan sistem politik pada mulanya terbentuk dengan mengacu pada pendekatan yang terdapat dalam ilmu eksakta. Perbatasan (garis batas). dibutuhkan input-input yang mengalir secara konstan. b. 3 . dan dengan output kita dapat mengidentifikasi pekerjaan yang dikerjakan oleh sistem itu. 1. Ciri-ciri identifikasi. Adapun untuk membedakan sistem politik dengan sistem yang lain maka dapat dilihat dari definisi politik itu sendiri. yaitu unsur-unsur yang mmbentuk sistem 2.BAB II LANDASAN KONSEPTUAL A. Sebagai suatu sistem. Input akan membuat suatu sistem itu dapat berfungsi. Unit-unit sistem politik. Yang termasuk sistem politik kurang lebih yang berkaitan dengan pembuatan keputusan-keputusan yang mengikat masyarakat. yaitu dengan menggambarkan unit-unit dasar dan membuat garis batas yang memisahkan unit-unit tersebut dengan lingkunga luarnya.

Ini merupakan jantung dari analisis kehidupan politik dari David Easton. Kita harus memahami fungsi secara keseluruhan tidak hanya satu bagian fungsi saja. Anggota-anggota dari suatu sistem paling tidak mengenal pembagian kerja minimal yang memberikan suatu struktur tempat berlangusungnya kegiatan-kegiatan itu. Perbedaan pendapat mulai muncul ketika harus menentukan batas antara sistem politik dengan sistem lain yang terdapat dalam lingkungan sistem politik. Suatu sistem harus memiliki mekanisme yang bisa mengintegrasi atau memaksa anggota-anggotanya untuk bekerjasama walaupun dalam keadaan minimal sehingga mereka dapat membuat keputusan-keputusan yang otoritatif. Diferensiasi dalam suatu sistem. c. Pada awal abad 1950-an David Easton mengembangkan kerangka kerja untuk menjelaskan kehidupan politik dan bagaimana penerapan secara universal. Namun demikian. Menurut David Easton. Kerangka kerja ini disebut sebagai pendekatan sistem politik. kehidupan politik dilihat sebagai sebuah sistem. batas akan dapat dilihat apabila kita dapat memahami tindakan politik sebagai sebuah tindakan yang ingin berkaitan dengan pembuatan keputusan yang menyangkut publik. Integrasi dalam suatu sistem sosial.Apa yang terjadi di dalam suatu sistem merupakan akibat dari upaya angggota-anggota sistem yang menanggapi lingkungan yang selalu berubahubah. d. Pendekatan sistem politik ini tidak hanya untuk 4 .

Tipe komunikasi politik ini pula yang nantinya akan membedakan besarnya peranan dari organisasi politik. yaitu kebutuhan dan dukungan. Perbedaan sistem politik dengan sistem yang lain. yang memberikan enerji dan bahan informasi yang akan diproses oleh sistem tersebut dalam suatu sistem politik. Telah kita ketahui bahwa sistem politik merupakan suatu sistem yang terpenting dalam sebuah Negara dan merupakan pengatur input dan output sebuah sistem dalam sebuah tata Negara. Tuntutan-tuntutan (bersal dari orang-orang atau kelompokkelompok dalam masyarakat) disalurkan dengan suatu usaha yang 5 . Pembagian kerja yang ada tidak akan menghancurkan sistem politik karena ada fungsi integratif dalam sistem politik.telaah perbandingan politik tapi juga dapat menjelaskan kehidupan politik suatu Negara. Tuntutan. Ada dua jenis pokok input. Input yang berupa kebutuhan muncul sebagai konsekuensi dari kelangkaan atas berbagai sumber-sumber yang langka dalam masyarakat. yaitu: 1. tidak menjadikan jurang pemisah antara sistem politik dengan sistem yang lain. Input tidak akan sampai (masuk) secara baik dalam sistem politik jika tidak terorganisir secara baik. Sebuah sistem politik dapat menjadi input bagi sistem yang lainnya. Oleh sebab itu komunikasi politik menjadi bagian penting dalam hal ini. Dalam sistem politik terdapat pembagian kerja antar anggotanya. Terdapat perbedaan tipe komunikasi politik di negara yang demokratis dengan negara yang nondemokratis.  Input Input dalam sistem politik dibedakan menjadi dua.

 Output Output merupakan keputusan otoritatif (yang mengikat) dalam menjawab dan memenuhi input yang masuk. 6 . b. a.diorganisasikan secara khusus dalam masyarakat yang kemudian menjadi input dalam sistem politik. Output sering dimanfaatkan sebagai mekanisme dukungan dalam rangka memenuhi tuntutan-tuntutan yang muncul. yaitu berupa bentuk tindakan atau pandangan yang memajukan dan merintangi suatu sistem politik. pemerintah memiliki tanggung jawab tertinggi untuk menyesuaikan atau menyeimbangkan output berupa keputusan dengan input berupa tuntutan. yaitu mengarah pada tiga sasaran: komunitas. tuntutan-tuntutan di dalamnya. dan pemerintah. rejim. Kuantitas dan Ruang-lingkup Dukungan. Wilayah dukungan. Dorongan dapat bersifat positif maupun negatif. Tuntutan ini terbagi dua. dan keputusan-keputusan yang dihasilkannya. Jumlah dukungan tidak mesti seimbang dengan luas ruang lingkupnya. yaitu tuntutan eksternal (luar sistem) dan tuntutan internal (dalam sistem) 2. Dalam hal ini. Input dukungan (support) menjadi enerji untuk menjaga keberlangusungan fungsi sistem politik itu sendiri. Output (keputusan) dari suatu sistem politik merupakan pendorong khas bagi anggota-anggota dari suatu sistem untuk mendukung sistem itu. Dukungan.

pada awalnya adalah pengembangan dari teori 7 . Secara garis besar. Selain terlalu teoretis. yaitu lingkungan dalam (intra societal) dan lingkungan luar (extra societal). yaitu adanya anggapan bahwa pemikiran Easton terlalu teoretis sehingga sulit untuk diaplikasikan secara nyata. Politisiasi sendiri memiliki pengertian sebagai cara-cara yang ditempuh anggota masyarakat dalam mempelajari pola-pola politik. Pendekatan Struktural Fungsional Gabriel Almond Pendekatan struktural fungsional merupakan alat analisis dalam mempelajari sistem politik. pemikiran Easton dianggap tidak netral karena hanya mengedepankan nilai-nilai liberal Barat dengan tanpa memperhatikan kondisi pada masyarakat yang sedang berkembang.  Lingkungan Lingkungan mempunyai peranan penting berupa input. Kemampuan anggota sistem politik dalam mengelola dan menanggapi desakan ataupun pengaruh lingkungan bergantung pada pengenalannya pada lingkungan itu sendiri. Lingkungan merupakan semua sistem lain yang tidak termasuk dalam sistem politik. lingkungan dibagi menjadi dua. baik kebutuhan ataupun dukungan. Setidaknya ada dua kritik yang dilontarkan atas gagasan Easton. b. Politisiasi sebagai Mekanisme Dukungan Cadangan-cadangan yang telah diakumulasikan sebagai akibat dari keputusan-keputusan yang lalu bisa ditingkatkan dengan suatu metode rumit untuk menghasilkan dukungan secara tetap melalui proses yang disebut politisiasi.

Almond menggunakan pendekatan perbandingan dalam menganalisa jenis sistem politik. Agar dapat membuat penilaian yang objektif maka kita harus menempatkan sistem politik dalam lingkungannya. Mengenai fungsi politik ini. sistem politik adalah sistem interaksi yang terdapat dalam semua masyarakat yang bebas dan merdeka yang melaksanakan fungsi-fungsi integrasi dan adaptasi (baik dalam masyarakat ataupun berhadap-hadapan dengan masyarakat lainnya). perspektif yang digunakan adalah ekologis. Dengan begitu dapat diketahui perbedaan suatu sistem politik yang satu dengan sistem politik yang lain. fungsi input dan output. yaitu:  Tahap mencari informasi tentang sobjek.  Dengan menganalisa hasil pengklasifikasian itu dapat dilihat keteraturan (regularities) dan ubungan-hubungan di antara berbagai variabel dalam masing-masing sistem politik. Hal ini dilakukan guna mengetahui bagaimana lingkungan-lingkungan membatasi atau membantu dilakukannya sebuah 8 . partai.struktural fungsional dalam sosiologi. yang mana harus melalui tiga tahap. birokrasi. Semua sistem politik memiliki persamaan karena sifat universalitas dari struktur dan fungsi politik.  Memilah-milah informasi yang didapat pada tahap satu berdasarkan klasifikasi tertentu. seperti badan legislatif. Dalam pendekatan ini. Almond membaginya dalam dua jenis. sistem politik merupakan kumpulan dari peranan-peranan yang saling berinteraksi. dan lembaga-lembaga politik lain. Ahli ilmu politik memiliki perhatian yang fokus kepada sistem politik secara keseluruhan. termasuk bagian-bagian (unit-unit). Menurut Almond. Keuntungan dari perspektif ekologis ini adalah dapat mengarahkan perhatian kita pada isu politik yang lebih luas. Terkait dengan hubungannya dengan lingkungan.

kita dapat membandingkan suatu sistem politik dengan sistem politik yang lain. yaitu kelompok kepentingan. badan eksekutif. birokrasi. dan badan peradilan. Sifat saling bergantung bukan hanya dalam hubungan antara kebijaksanaan dengan sarana-sarana institusional saja. dalam setiap sistem politik terdapat enam struktur atau lembaga politik. Ciri sistem politik menurut Gabriel A. c. Hanya saja. Analisis Struktural Fungsional dalam Sistem Politik Menurut Gabriel Almond. kapabilitas responsif. bagaimana fungsi-fungsi dari sistem-sistem politik itu dijalankan dan bagaimana pula cara/gaya melaksanakannya. Kemudian sistem politik ini strukturnya dapat diperbandingkan. kapabilitas distributif. badan legislatif. partai politik. yaitu kapabilitas ekstraktif. y Semua sistem politik adalah merupakan sistem campuran apabila dipandang dari pengertian kebudayaan. namun lembagalembaga atau bagian dari sistem politik tersebut juga saling bergantung. Untuk dapat mengatasi pengaruh lingkungan. menjalankan fungsi yang sama walaupun frekuensinya berbeda yang disebabkan oleh perbedaan struktur. Almond: y y Semua sistem politik mempunyai sturukut politik Semua sistem politik. kapabilitas domestik dan internasional. perbandingan keenam struktur tersebut tidak terlalu membantu kita 9 .pilihan politik. betapapun terspesialisasinya sistem itu. y Semua struktur politik mempunyai sifat multi-fungsional. baik yang modern maupun primitif. kapabilitas simbolik. kapabilitas regulatif. Almond menyebutkan enam kategori kapabilitas sistem politik. Dengan melihat keenam struktur dalam setiap sistem politik.

bagaimana eksekutif. Suatu analisis struktur menunjukkan jumlah partai politik. Easton dan Almond selalu peka akan kompleksitas antara sistem politik dengan sistem sosial yang lebih besar. demokratis atau otoriter. berupa keputusan yang sah dan mengikat yang sebelumnya melalui proses konversi. Keunggulan dari kedua ragam pendekatan yang dikembangkan oleh Easton dan Almond antara lain adalah:  Dalam membuat analisis politik. Sedangkan fungsi output. Konsep ini dapat dipakai untuk menganalisis berbagai macam sistem politik.apabila tidak disertai dengan penelusuran dan pemahaman yang lebih jauh dari bekerjanya sistem politik tersebut. dan komunikasi politik. Konsep Easton dan Almon berasumsi bahwa semua sitem memproses komponen-komponen yang 10 . dan sebagainya. Fungsi input. antara lain pembuatan kebijakan. Dalam konversi terjadi interaksi antara faktor-faktor politik. sistem pemerintahan terpusat atau federal. agregasi kepentingan. yang mana sistem politik adalah sub-sistemnya. dan penghakiman kebijakan. tradisional atau modern. Adapun analisis fungsional menunjukkan bagaimana lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi tersebut berinteraksi untuk menghasilkan dan melaksanakan suatu kebijakan. dewan yang terdapat dalam parlemen. baik yang bersifat individu. kelompok ataupun organisasi. dan yudikatif diorganisir dan secara formal dihubungkan satu dengan yang lain.  Kesederhanaan pendekatan. penerapan kebijakan. Input yang masuk dalam sistem politik disalurkan oleh lembaga politik. artikulasi kepentingan. meliputi sosialisasi politik dan rekruitmen politik. kemudian akan menghasilkan output. legislatif.

 Konsep yang diajukan oleh Almond memberi arahan untuk mencari data baru yang dapat meluaskan cakrawala perhatian ke masyarakat non-Barat dan non-´modern´. Terlihat jelas pada asumsi Almond yang mengatakan bahwa fungsi-fungsi yang ada di sistem politik di Barat pasti juga ada di sistem non-Barat. Easton dan Almond menyamakan masyarakat dengan organisme. 11 . Almond tidak menjelaskan garis-garis yang membatasi fungsi-fungsi dalam masyarakat politik. Selain itu mereka juga memandang masyarakat sebagai makhluk biologis yang selalu mencari keseimbangan dan keselarasan.  Kedua pendekatan itu juga dikritik kecenderungan ideologisnya karena cara memandang masyarakat yang terlalu organismik. yang selalu terlibat dalam proses diferensiasi dan koordinasi. Analisis struktural-fungsional Almond memiliki masalah ketidakjelasan konsep tentang fungsi.   Tidak menjelaskan hubungan sebab-akibat.  Kedua pendekatan itu dikritik karena sangat dipengaruhi oleh ideologi demokrasi-liberal Barat. Kedua pendekatan itu lebih mentitikberatkan pada penjelasan analisis. Kelemahan dari konsep atau pendekatan yang dikembangkan oleh Easton dan Almond:  Analisis yang dikemukakan (baik sistem maupun struktural-fungsional) tidak memberikan rumusan yang terbukti secara empirik (tidak menghasilkan teori).sama sehingga kedua pendekatan itu bermanfaat dalam upaya mencari metode analisis dan pembandingan sistem politik yang seragam.

Sedangkan badan 12 . Badan eksekutif dalam arti luas juga mencakup para pegawai negeri sipil dan militer. Di negara-negara demokratis. Pelaksanaan undang-undang ini tetap masih diawasi oleh legislatif. ketika cara-cara konvensional tidak mungkin dilakukan. seperti revolusi atau perang kemerdekaan. Dis-ekuilibrum bisa dipakai untuk mencniptakan keadilan sosial. beserta menteri-menterinya. B. Oleh karenanya sebutan mudah bagi lembaga eksekutif adalah pemerintah. secara sempit lembaga eksekutif diartikan sebagai kekuasaan yang dipegang oleh raja atau presiden. Contohnya perang kemerdekaan melawan penjajah atau pemberontakan melawan kediktatoran. LEMBAGA EKSEKUTIF Lembaga Eksekutif adalah Lembaga Penyelenggara Kekuasaan Negara yang berfungsi menjalankan undang-undang. Lembaga eksekutif dijalankan oleh Presiden dan dibantu oleh para menteri. Jumlah anggota eksekutif jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah anggota legislatif. Kekuasaan eksekutif biasanya dipegang oleh badan eksekutif.Obsesi Almond tentang ekuilibrum dan kestabilan telah membuatnya keliru tentang manfaat yang mungkin terdapat dalam disekuilibrum. lembaga eksekutif juga mencakup para pegawai negeri sipil dan militer. Di negara-negara demokratis badan eksekutif biasanya terdiri atas kepala negara seperti raja atau presiden. beserta menteri-menterinya (kabinetnya). Jumlah anggota badan eksekutif jauh lebih kecil daripada jumlah anggota badan legislatif. Dalam arti luas. biasanya 20 atau 30 orang. hal ini bisa dimaknai karena eksekutif berfungsi hanya menjalankan undang-undang yang dibuat oleh legislatif.

y Legislatif. serta keamanan dalam negeri. menyelenggarakan perang. yaitu kekuasaan untuk menyelenggarakan hubungan diplomatik dengan negara-negara lain. (Miriam. artinya kekuasaan untuk mengatur polisi dan angkatan bersenjata.000 oranglebih. Badan eksekutif yang kecil dapat bertindak cepat dan memberi pimpinan yang tepat serta efektif. dalam hal ini ia berbeda dengan badan legislatif yang biasanya terlalu besar untuk mengambil keputusan dengan cepat. 2008:296) 13 .legislatif ada yang anggotanya sampai 1. amnesti dan sebagainya.295:2008) Badan Eksekutif Indonesia terletak pada Presiden yang mempunyai 2 kedudukan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.(Miriam. pertahanan negara. yaitu memberi grasi. y Keamanan. Diplomatik. yaitu kekuasaan untuk melaksanakan undang-undang dan perundangan lainnya dan menyelenggarakan administrasi negara. yaitu membuat rancangan undang-undang dan membimbingnya dalam badan perwakilan rakyat sampai menjadi undang-undang. Tugas-tugas lembaga eksekutif : y Administratif. y y Yudikatif.

Sebagai akhir dari masa demokrasi Parlementer adalah dikeluarkannya Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli tahun 1959. Hal ini terjadi karena keanggotaannya di dominasi anggota partai sehingga sering tetrjadi pergantian kabinet.BAB III PEMBAHASAN A. Masa Demokrasi Parlementer Pada massa Demokarasi Parlementer. yaitu: 1. saat itu Indonesia baru menunjukkan eksistensinya sebagai negara yang merdeka. Akibatnya. Sistem Politik pada Masa Orde Lama Pada zaman orde lama di bawah kepemimpinan Bung Karno. pemerintahan tidak stabil dan programprogram pemerintahan yang dilaksanakan lembaga eksekutif tidak bisa terealisasi. Presiden hanya sebagai Kepala Negara. 14 . Parlemen bertanggung jawab kepada Parlemen dan dapat menjatuhkan kabinet dengan mosi tidak percaya. sedangkan Kepala Pemerintahannya dipegang oleh Perdana Menteri. Dengan semangat kemerdekaan itulah Indonesia setapak demi setapak namun pasti menuju ke arah kemajuan. Dan hal itu sering terjadi pada masa demokrasi parlementer yang mengakibatkan jatuh bangunnya kabinet yang dipimpin oleh Perdana Menteri. Pada masa Orde Lama terdapat 2 sistem pemerintahan. begitu juga dengan rancangan undang-undang yang dibuat oleh lembaga legislatif yang sering disebut dengan Dewan Konstituante tidak bisa diselesaikan. dan negara yang baru saja merasakan nikmatnya sebuah kebebasan. negara yang berdaulat. Perkembangan Sistem Politik Indonesia dari Masa Orde Lama hingga pasca Masa Reformasi a.

yang justru lebih kuat dan terjadi dimasa kejayaannya ide hukum revolusi diawal tahun 1960-an. asas-asas moral dan wawasan kearifan yang tidak hidup dalam masyarakat awam. Presiden Soekarno mendeklarasikan diri sebagai presiden seumur hidup. hal ini terlihat gerakan-gerakan dari bawah untuk menuntut hak-hak asasi. Sebagai akhir dari masa demokrasi terpimpin adalah dengan adanya pemberontakan PKI pada tahun 1965. Dengan demikian Orde Baru telah menjadi kekuatan kontrol Pemerintah yang terlegitimasi (secara formal-yuridis) dan tidak merefleksikan konsep keadilan.2. Agama dan Komunis). Pada masa ini presiden merupakan kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Tidak ada kebebasan mengeluarkan pendapat karena sistem kepemimpinan dalam pemerintahan dibawah komando presiden dan komunikasi satu arah. Semua lembaga yang pernah ada dibubarkan oleh presiden dan diganti dengan orang-orang pilihan presiden sendiri. Presiden pula yang menetapkan seluruh anggota parlemen dan anggota lembaga eksekutif yang membantu presiden dalam menjalankan kekuasaan. di mana Presiden merupakan center of power. Masa Demokrasi Terpimpin Presiden mempunyai kekuasaan mutlak dan dijadikannya alat untuk melenyapkan kekuasaan-kekuasaan yang menghalanginya sehingga nasib parpol ditentukan oleh presiden (10 parpol yang diakui). b. dan Indonesia keluar dari organisasi dunia yaitu PBB. Sistem Politik pada Masa Orde Baru Sistem politik pada masa ini juga menganut sistem pemerintahan Presidensiil. Dimana kedudukan 15 . Hubungan dan kedudukan antara eksekutif (Presiden) dan legislatif (DPR) dalam sistem UUD 1945 sebenarnya telah diatur. berkembangnya ideologi partai-partai yang beraliran NASAKOM (Nasionalis.

Namun dalam praktik ketatanegaraan dan proses jalannya pemerintahan pada masa rezim Orde Baru. Walaupun demikian. kurang berkembang.III/MPR/1978). Oleh sebab itu. Karena µtrias politika¶ sebagai lembaga-lembaga tertinggi negara. Sebagai salah satu kekuatan yang tersisa setelah Partai Komunis Indonesia hancur. sementara dua lembaga lainnya. bahkan mengalami krisis yang berkepanjangan.dua lembaga ini (Presiden dan DPR) adalah sama karena kedua lembaga ini adalah merupakan lembaga tinggi negara (Tap MPR No. selama orde baru berkuasa. Keadaan ini tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Keduanya tak lebih hanyalah sebagai µrobot¶ yang gerak-geriknya diatur oleh lembaga eksekutif. semakin menurun.bangunan-bangunan besar dan mewah didirikan. ABRI mau tidak mau menambah perannya tidak sekedar kekuatan pertahanan dan keamanan tetapi juga kekuatan sosial dan politik. 16 . kekuasaan eksekutif begitu dominan terhadap semua aspek kehidupan kepemerintahan dalam negara kita. Di berbagai tempat terutama di kota-kota besar. tidak salah pula apabila terdapat pandangan yang menyatakan bahwa UUD 1945 menganut supremasi eksekutif. Indonesia sangat berkembang dan maju. Demikian juga dari segi ekonomi. yang berfungsi hanya lembaga eksekutif saja. Selama Orde Baru tak bisa dilepaskan dari doktrin dwifungsi ABRI. Hal ini didasarkan pada konsep bahwa stabilitas politik bisa tercipta kalau ada campur tangan ABRI dalam politik. terhadap kekuasaan legislatif maupun terhadap kekuasaan yudikatif. baik itu lembaga legistatif dan yudikatif kurang atau bahkan tidak berfungsi sama sekali. karena pengaturan yang terdapat di dalam UUD 1945 memungkinkan terjadinya hal ini. Untuk itu ABRI mencari pembenaran campur tangan dalam politik. sebenarnya pada masa Orde Baru. Tapi kalau ditinjau dari segi politik. Kedua lembaga ini tunduk di bawah lembaga eksekutif. kalau dilihat dari segi fisik.

Presiden menjadi sangat berkuasa tidak hanya dalam konteks kelembagaan bahkan jabatan presiden telah berubah jadi personifikasi Soeharto. Indonesia memulai kehidupan barunya dengan melaksanakan pemilu secara jurdil dan demokratis. Pemerintahan yang dipegang oleh Habibie hanya beberapa bulan saja. Jatuhnya kekuasaan pada masa Orde Baru diawali dengan serangkaian unjuk rasa mahasiswa terhadap pemerintahan. maka presiden Suharto memberikan mandat kepada wakil presiden Habibie. Ini dikarenakan adanya tekanan untuk mengadakan pemilu yang demokratis.Orde Baru yang telah ditinggalkan bangsa Indonesia telah meninggalkan banyak warisan. dominasi eksekutif yang berakhir dengan dominasi lembaga kepresidenan telah menyebabkan banyak kerancuan. c. Mahasiswa menganggap pada masa itu pemerintah tidak berhasil dalam mengendalikan stabilitas politik dan ekonomi. Hingga pada tahun 1999 dilaksanakanlah agenda pemilu yang pertama kali di Indonesia. system pemerintahan Indonesia mulai menggunakan sistem pemerintahan presidensiil. Sebuah orde di mana saat itu dilakukan reformasi secara total dengan agenda-agenda yang sejak lama direncanakan dan terjadi perombakan dalam segala bidang secara bertahap diawali dengan pergantian presiden dan kabinet di dalam pemerintahan Pada masa ini. Ini ditandai dengan berjalannya kekuasaan 17 . Di bidang politik. Akhirnya presiden Soeharto lengser karena dianggap semua yang terjadi adalah karena tanggungjawabnya yang memberikan persetujuan akan kebijakan yang merugikan rakyat. Sistem Politik Masa Pasca Reformasi Setelah rezim Orde Baru jatuh dan presiden Suharto lengser. Masa ini cukup dikenal sebagai "orde reformasi".

Kebebasan pers yang pada saat Orde Baru sangat diatur dan dikendalikan oleh pemerintah. bahkan pegawai pemerintah untuk menyalurkan dan menata diri mereka masing-masing. yaitu suatu demokrasi dan upaya demokratisasi Negara yang memprioritaskan upaya pemberdayaan dan keberdayaan masyarakat. ia mencoba memberikan satu kerangka kerja bagi petani. Menurut Gus Dur upaya menciptakan demokrasi hampir identik dengan upaya pembangunan civil society. pedagang kecil. Kemudian adanya UUD 1945 yang menetapkan fungsi sistem pemisahan kekuasaan sebagai adanya mekanisme kontrol antara Presiden dan MPR Kemudian adanya pengakuan HAM (Hak Azasi Manusia) dan kebebasan pers pada masa reformasi. maka pada masa ini masyarakat Indonesia mendesak agar pemerintah membuat suatu kebijakan dengan memberikan suatu pengakuan terhadap adanya HAM. buruh. kini mulai bebas dalam memberikan informasi kepada seluruh masyarakat. Setelah sekian lama pada masa Orde Baru terdapat banyak pelanggaran HAM. Era pemerintahan orde reformasi yang ketika dibawah kepemimpinan Gus Dur berusaha mencoba menampilkan strategi demokratisasi yang khas yang dikenal sebagai ³demokrasi bawah´.penuh oleh presiden sebagai kepala Negara dan kepala pemerintahan dengan tetap diawasi oleh badan legislatif. 18 . melalui saluran komunikasi yang dimilikinya. Lalu dibuatlah suatu Undang-Undang tentang HAM dan dibentuk suatu lembaga yang bernama KOMNAS HAM. Presiden bertanggung jawab penuh atas jalannya pemerintahan kepada MPR.

B. lembaga legislatif memiliki kedudukan yang kuat dalam mengontrol dan mengawasi fungsi dan peranan lembaga eksekutif. Eksekutif juga mengontrol lembaga peradilan. Dengan demikian. Dalam pertanggungjawaban yang diberikan lembaga eksekutif maka para anggota parlemen dapat mengajukan mosi tidak percaya kepada eksekutif jika tidak melaksanakan kebijakan dengan baik. Perkembangan Lembaga Eksekutif dari Masa Orde Lama hingga Masa Pasca Reformasi a. Hal ini terjadi karena lembaga eksekutif bertanggung jawab kepada lembaga legislatif. Dalam eksekutif terjadi kesenjangan dimana antara presiden dan jajarannya yang seharusnya memiliki kedudukan yang sejajar.  Demokrasi Terpimpin Peranan lembaga eksekutif jauh lebih kuat bila dibandingkan dengan peranannya di masa sebelumnya. dalam arti mendominasi lembaga-lembaga tinggi negara lainnya maupun melakukan pembatasan atas kehidupan politik. Apabila mosi tidak percaya diterima parlemen maka lembaga eksekutif harus menyerahkan mandat kepada Presiden. Lembaga eksekutif mendominasi sistem politik. Peranan dominan lembaga eksekutif tersentralisasi di tangan Presiden Soekarno. Eksekutif bisa membuat undang-undang dan seolah-olah semua terpusat pada lembaga ini. tetapi seolah presiden yang paling memegang kendali. Ex: pengangkatan presiden seumur hidup. yang dibuktikan dengan peraturan yang intinya berbunyi bahwa ketika hakim sudah tidak 19 . Masa Orde Lama  Demokrasi Parlementer Kedudukan lembaga eksekutif sangat dipengaruhi oleh lembaga legislatif.

b. Masa Orde Baru Kedudukan lembaga eksekutif tetap dominan. kekuatan politik yang berkuasa di jajaran eksekutif ternyata mampu bermanouver dan mendominasi DPR dan MPR. alasan kedua adalah dimana perkembangan politik pada era Orde Baru. Eksekutif memiliki kedudukan yang lebih kuat dibandingkan dengan kedudukan lembaga legislatif maupun yudikatif. dengan kompromi politik sebagai hasil trade-offs antara berbagai kekuatan polotik. Konstelasi dan kontruksi tersebut dalam abad ke 20 secara sempurna menjadi Government Social Control dan fungsi sebagai Tool of Social Engineering. Kontrol eksekutif tampak lebih menonjol manakala memperhatikan keleluasaan eksekutif dalam hal membuat regulatory laws sekalipun hanya bertaraf peraturan pelaksanaan. Pembatasan jumlah partai politik maupun partisipasi masyarakat ditujukan untuk menopang stabilitas politik untuk pembangunan dan kuatnya kedudukan lembaga eksekutif di bawah Presiden Soeharto. Adanya pendayagunaan wewenang konstitusional badan eksekutif yang melibatkan diri dalam pernacangan dan pembuatan undang-undang. dimana 100 dari 360 anggota Dewan adalah anggota yang diangkat dan ditunjuk oleh eksekutif yaitu fraksi ABRI ditunjuk dan diangkat sebagai konsesi tidak ikutnya anggota ABRI dalam menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Umum. Dominasi kedudukan eksekutif ini pada awalnya ditujukan untuk kelancaran proses pembangunan ekonomi. Untuk berhasilnya program pem-bangunan tersebut diperlukan stabilitas politik. karena dikusainya sumber daya yang ratif berlebihan akan menyebabkan 20 . Terlihat dari Pemilihan Umum tahun 1973.mampu lagi untuk memutuskan suatu perkara maka kewenangan itu di ambil alih oleh presiden.

DPR dan pemerintah yang dikuasai partai mayoritas menyebabkan DPR menjadi tersubordinasi terhadap pemerintah. Sistem kepartaian yang menguntungkan Golkar. yang seharusnya alih ide dan kebijakan diperakasai oleh lembaga perwakilan akan tetapi pada kenyataannya justru ide dan prakasa eksekutif yang lebih banyak merintis dan mengontrol perkembangan. Suatu hal yang sangat tidak pantas dan tidak pas dengan logika demokrasi. c. Dalam perkembangannya. masyarakat (terutama mahasiswa. lembaga eksekutif selalu bertindak hati-hati dalam menjalankan pemerintahan.16 Tahun 1969 jo UU No. baik itu dari lembaga pemerintahan lain maupun 21 . karena lembaga eksekutif diawasi oleh lembaga legislatif. yaitu lembaga legislatif dan lembaga yudikatif. kedudukan lembaga eksekutif setara dengan lembaga pemerintahan yang lain. Justru pada masa Reformasi hingga detik ini. ormas. Presiden juga memiliki kewenangan untuk menentukan keanggotaan MPR (pasal 1 ayat 4 huruf c UU No. sesuai dengan Undang-Undang.eksekutif mampu lebih banyak berprakasa.2 Tahun 1985). Masa Reformasi Di masa Reformasi yang dimulai dari tumbangnya rezim autoritarian yang dipimpin oleh Soeharto. dan media massa) dalam menjalankan pemerintahan. lembaga eksekutif yang dipimpin oleh presiden tidak menjadi lembaga paling kuat dalam pemerintahan. serta akan ditindaklanjuti oleh lembaga yudikatif jika terjadi pelanggaran. Hal ini pula yang menyebabkan fungsi pengawasan terhadap pemerintah (Eksekutif) yang seharusnya dilaksanakan oleh DPR/MPR (legislatif) menjadi tidak efektif. eksistensi ABRI yang lebih sebagai alat penguasa daripada alat negara. jika tidak hati-hati dalam mengambil dan melaksanakan kebijakan. LSM. maka lembaga eksekutif akan mendapatkan tekanan dari segala kalangan.

y Pemerintahan tidak stabil. y Perdana menteri bertanggung jawab kepada Parlemen. Tabel Perbandingan Sistem Politik di Indonesia dari Masa Orde Lama sampai Masa Pasca Reformasi JENIS PERBANDI NGAN SISTEM POLITIK ORDE LAMA DEMOKRASI DEMOKRASI PARLEMENTER TERPIMPIN y Menggunakan sistem pemerintahan parlementer. perjanjian dengan partai koalisi maupun dengan ditunjuk oleh Presiden. y Partai politik dibatasi dengan hanya memberi peluang berkembangnya partai-partai berideologi NASAKOM. y Parlemen bisa menjatuhkan kabinet dengan mosi tidak percaya. C.kelompok-kelompok kepentingan (NGO). y Sering terjadi pergantian kabinet yang dikarenakan pergeseran koalisi antar partai. Rekruitmen anggota lembaga eksekutif ditetapkan berdasarkan hasil pemilu. dan terutama dari mahasiswa yang semakin menyadari perannya sebagai agent of control. y Akhir dari masa demokrasi terpimpin adalah dengan adanya pemberontakan PKI ORDE BARU y Sistem politik pada masa ini menganut sistem pemerintahan Presidensiil y Presiden merupakan center of power y Lembaga eksekutif saat itu merupakan lembaga yang paling kuat dibandingkan lembaga-lembaga lain y kinerja lembaga legislatif berada di bawah tekanan Presiden y Lembaga yudikatif yang tidak bisa menegakkan supremasi hukum yang disebabkan karena lembaga yudikatif merupakan lembaga yang berada di bawah naungan Menteri PASCA REFORMASI y Menggunakan sistem pemerintahan presidensiil y Terjadi perombakan dalam segala bidang secara bertahap diawali dengan pergantian presiden dan kabinet di dalam pemerintahan y Pengadaan pengakuan HAM dan kebebasan pers y Sistem presidensiil bercampur baur dengan elemen-elemen sistem parlementer y Pertanggung jawaban Presiden kepada MPR y UUD 1945 menetapkan adanya fungsi sistem pemisahan kekuasaan sebagai 22 . y Presiden hanyalah sebagai kepala Negara. y Program-program pemerintahan yang dilaksanakan lembaga eksekutif tidak bisa y Menggunakan sistem pemerintahan Presidensiil y Presiden merupakan kepala negara sekaligus kepala pemerintahan y Kepemimpinan berada di bawah komando Presiden secara langsung y Peran lembagalembaga pemerintahan saat itu lumpuh y Presiden Soekarno mendeklarasikan diri sebagai presiden seumur hidup y Meluasnya peranan militer sebagai unsur sosial politik. y Kepala pemerintahan dipimpin oleh seorang Perdana Menteri.

y Akhir dari masa demokrasi Parlementer adalah dikeluarkannya Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli tahun 1959. y Komunikasi politik: didominasi oleh Presiden. y Sosialisasi politik: dipaksakan (harus dilaksanakan) tanpa protes. pada tahun 1965. kerabat. sehingga Presiden mempunyai kekuasaan penuh untuk mengontrol lembaga-lembaga pemerintahan tersebut. y Rekruitmen politik: penetapan anggota eksekutif berdasarkan hasil Pemilu (Presiden dan Wakil Presiden). karena sistem pemerintahannya terpimpin. y Sosialisasi politik: karena jatuh bangunnya parlemen menyebabkan proses sosialisasi politik yang berupa sosialisasi dan penerapan program pemerintah terhambat. di mana program pemerintahan disosialisasikan secara paksa (harus dilaksanakan oleh birokrasi dan jajarannya serta oleh rakyat). sehingga jika ada program pemerintah yang dianggap menyimpang atau merugikan rakyat akan 23 . y Rekruitmen politik: pemilihan anggota eksekutif ditentukan oleh Presiden dengan menempatkan orang-orang kepercayaannya. y Dalam eksekutif terjadi kesenjangan dimana antara presiden dan jajarannya yang Kehakiman yang notabene merupakan pejabat eksekutif y Tidak ada pengawasan atau check and balance terhadap kinerja lembaga eksekutif y Tidak ada yang berani menentang Presiden y Presiden mengontrol rekruitmen lembaga tinggi Negara. dan ditunjuk oleh Presiden. jika ada yang melawan akan berhadapan dengan pemerintah. adanya mekanisme kontrol antara Presiden dan MPR y Lebih mengarah kepada proses demokratisasi. sedangkan jajaran kabinet ditetapkan berdasarkan hasil Pemilu. rekruitmen politik juga berdasarkan hasil Pemilu yang dilakukan saat itu. PERAN LEMBAGA EKSEKUTIF DALAM SISTEM POLITIK INDONESIA (GABRIEL ALMOND) y Rekruitmen politik: penetapan anggota lembaga legislatif dan perdana menteri dilakukan oleh parlemen. y Sosialisasi politik: diapksakan (harus dilaksanakan). y Hubungan dengan eksekutif: karena pada masa demokrasi perlementer y Rekruitmen politik: pemilihan anggota lembaga legislatif dilakukan oleh Presiden secara langsung. dan ABRI. y Eksekutif bisa membuat undangundang dan seolaholah semua terpusat pada lembaga ini. y Sosialisasi politik: dilakukan oleh Presiden. kesepakatan dengan partai koalisi.terealisasi. namun diawasi oleh rakyat. y Komunikasi politik: banyak didominasi oleh parlemen karena lembaga eksekutif berada di bawah pengaruh parlemen.

seharusnya memiliki kedudukan yang sejajar. rakyat tidak boleh bicara selain hal itu. rakyat dibungkam aspirasinya. y Eksekutif juga mengontrol lembaga peradilan. Jika yang dibicarakan rakyat bukanlah hal-hal yang baik tentang pemerintahan. sehingga tidak ada yang berani menentang Presiden dan kroni-kroninya. yang dibuktikan dengan peraturan yang intinya berbunyi bahwa ketika hakim sudah tidak mampu lagi untuk memutuskan suatu perkara maka kewenangan itu di ambil alih oleh presiden. y Komunikasi politik: komunikasi 2 arah antara pemerintah dengan rakyat (adanya proses timbal balik dalam komunikasi politik) 24 . y Keadaan birokrasi berikutnya: dikarenakan terlalu tingginya semangat kepentingan dari kelompokkelompok/partai politik mengakibatkan terjadi kerjasama yang tidak sehat antara eksekutif dengan para pengusaha untuk memperlancar usaha mereka. y Keadaan birokrasi pada masa itu sangat politis sekali karena pada jabatan menteri seringnya dikuasai oleh partai politik sehingga mengakibatkan semua bawahan dari para mentri itu kebanyakan didominasi dari pihak partai politik dan bisa dipastikan mereka juga membawa kepentingan golongan maupun partai politik tersebut. tetapi seolah presiden yang paling memegang kendali. hanya dari pihak pemerintah. Ex: pengangkatan presiden seumur hidup.kabinet sering bergonta-ganti mengakibatkan peran eksekutif manjadi mandul yang dikarenakan program kerja dari tiap-tiap kabinet yang berbeda-beda serta terlalu banyak padahal masa baktinya sangat pendek. mendapatkan perlawanan rakyat. y Komunikasi politik: berjalan satu arah. mewujudkan budaya ³yes man person´ di kalangan rakyat.

Demokrasi Terpimpin Pada masa Demokrasi Terpimpin pemerintahan berpusat kepada presiden. Orde Baru Pada masa orde baru menggunakan sistem Presidensiil. Pemerintahan ini cenderung otoriter kerena Presiden mendeklarasikan diri sebagai Presiden seumur hidup. 2.BAB IV ANALISIS 1. Perdana menteri bertanggung jawab kepada Parlemen Presiden hanyalah sebagai kepala Negara kepala pemerintahan dipimpin oleh seorang Perdana Menteri. Sehingga semua berada dibawah kendali presiden. Pemerintahan ini cenderung otoriter karena semua semua kebijakan harus dengan persetujuan Presiden. Semua yang diprogramkan oleh lembaga eksekutif tidak terealisasikan karena sering terjadi pergantian kabinet b. pada masa ini banyak terjadi 25 . Sehingga terjadi banyak penyimpangan yang terjadi pada masa ini. Awal masa ini presiden membentuk kabinet pembangunan dan sistem desentralisasi tetapi realitasnya semua itu hanya janji ± janji yang tidak pernah diwujudkan. Demokrasi Parlementer Parlemen bisa menjatuhkan kabinet dengan mosi tidak percaya karena lebih berperannya lembaga legislatife daripada eksekutif. Orde Lama a. Menggunakan politik berdikari yang menolak semua investor asing menanamkan modal di Indonesia sehingga kehidupan ekonomi rakyat Indonesia semakin terpuruk.

Penegakan sangat diakui dan dihargai oleh semua lapisan masyarakat. Para investor malah melarikan uang rakyat sehingga negara harus menanggung kerugian. UUD 1945 menetapkan adanya fungsi sistem pemisahan kekuasaan sebagai adanya mekanisme kontrol antara Presiden dan MPR. Sehingga peran ketiga tersebut saling melengkapi satu sama lain. 26 . Masa Pasca Reformasi Setelah masa orde baru tumbang maka munculah masa reformasi. Peran eksekutif menjalankan fungsinya sesuai dengan undang ± undang. Banyak investor yang menanamkan modalnya di Indonesia dengan persetujuan presiden tetapi semua diluar dugaan. Pada masa reformasi lebih mengarah pada masa demokrasi. Pres sangat di bebas dalam mengemukakan pendapat. Presiden bertanggung jawab pada MPR. Pada masa ini menggunakan sistem presidensiil. 3. Menurut rakyat semua ini kesalahan presiden sehingga menimbulkan KKN. Pada masa ini terjadi perombakan disegala bidang dawali dengan pergantian presiden dan kabinet. Sistem presidensiil bercampur baur dengan elemen-elemen sistem parlementer Pelaksanaan demokrasi pancasila pada era reformasi telah banyak memberikan ruang gerak pada parpol maupun DPR untuk mengawasi pemerintah secara kritis dan dibenarkan untuk unjuk rasa. Pada masa ini kedudukan lembaga eksekutif sejajar dengan lembaga legislatif dan yudikatif.penyimpangan ± penyimpangan.

b. Eksekutif dapat membuat undang ± undang dan Presiden Soekarno saat itu mendeklarasikan dirinya sebagai Presiden seumur hidup. Semua lembaga dikontrol oleh eksekutif. Perdana Mentri pertanggung jawab pada parlemen. Semua kebijakan yang diajukan harus mendapatkan persetujuan presiden. Lembaga ± lembaga yang lain serasa lumpuh karena semua berpusat pada presiden sebagai lembaga eksekutif. Demokrasi Terpimpin Pada masa ini peran lembaga eksekutif cenderung otoriter dikarenakan peran presiden sangat mendominasi. Dalam eksekutif terjadi kesenjangn dimana antara president dan jajaranya yang seharusnya memiliki kedudukan yang sejajar. y Sistem Politik pada masa Orde baru Peran lembaga eksekutif pada masa inipun mengarah pada sistem yang otoriter. Program dari lembaga eksekutif tidak direalisasikan. Presiden hanya sebagai kepala Negara dan hanya merupakan symbol pemerintahan.BAB V KESIMPULAN y Sistem politik pada masa orde lama dibagi menjadi dua yaitu: a. 27 . tetapi seolah presiden yang paling memegang kendali. Demokrasi Parlementer Pada masa ini peran lembaga eksekutif tidak efektif karena lebih mendominasinya peran legislative.

28 . Lembaga eksekutif menjalankan fungsinya sebagai mana mestinya.y Sistem Politik pada masa Pasca Reformasi Terjadi perombakan dalam segala bidang secara bertahap diawali dengan pergantian presiden dan kabinet di dalam pemerintahan karena adanya keinginan rakyat memilik pemerintahan yang bersih tanpa adanya lembaga ± lembaga yang lebih mendominasi. Pada masa ini peran eksekutif sejajar dengan lembaga yang lainnya.

com/2010/02/09/review-konsep-sistempolitik/untitled2/ www.2008.legalitas.org/?q=Konfigurasi+Politik+pada+Era+Orde+Lama+dan+Orde+Baru% 3A+Suatu+Telaahan+dalam+Partai+Politik 29 .google.com/2008/06/08/hubungan-kerja-lembaga-eksekutif-danyudikatif/ http://www.com http://izzahluvgreen. Dasar-Dasar Ilmu Politik. http://manshurzikri.Miriam.wordpress.wordpress.Jakarta : Gramedia.DAFTAR PUSTAKA Budiardjo.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->