P. 1
Makna Filsafat Estetika

Makna Filsafat Estetika

|Views: 594|Likes:
Published by ardan

More info:

Published by: ardan on Jan 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/08/2013

pdf

text

original

Makna Filsafat Estetika

http://www.anneahira.com/filsafat-estetika.htm Filsafat estetika adalah cabang ilmu yang membahas masalah keindahan. Bagaimana keindahan bisa tercipta dan bagaimana orang bisa merasakannya dan memberi penilaian terhadap keindahan tersebut. Maka filsafat estetika akan selalu berkaitan dengan antara baik dan buruk, antara indah dan jelek. Bukan berbicara tentang salah dan benar seperti dalam filsafat epistemologi. Secara etimologi, estika diambil dari bahasa Yunani, aisthetike yang berarti segala sesuatu yang cerap oleh indera. Filsafat estetika membahas tentang refleks kritis yang dirasakan oleh indera dan memberi penilaian terhadap sesuatu, indah atau tidak indah, beauty or ugly. Estetika disebut juga dengan filsafat keindahan. Filsafat estetika pertama laki dicetuskan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten (1975) yang mengungkapkan bahwa estetika adalah cabang ilmu yang dimaknai oleh perasaan. Filasafat estetika adalah cabang ilmu dari filsafat Aksiologi, yaitu filsafat nilai. Istilah Aksiologi digunakan untuk menberikan batasan mengenai kebaikan, yang meliputi etika, moral, dan perilaku. Adapun Estetika yaitu memberikan batasan mengenai hakikat keindahan atau nilai keindahan. Kaum materialis cenderung mengatakan nilai-nilai berhubungan dengan sifat-sifat subjektif, sedangkan kaum idealis berpendapat nilai-nilai bersifat objektif. Andaikan kita sepakat dengan kaum materialis bahwa yang namanya nilai keindahan itu merupakan reaksi-reaksi subjektif. Maka benarlah apa yang terkandung dalam sebuah ungkapan ³Mengenai masalah selera tidaklah perlu ada pertentangan´. Serupa orang yang menyukai lukisan abstrak, sesuatu yang semata-mata bersifat perorangan. Jika sebagian orang mengaggap lukisan abstrak itu aneh, sebagian lagi pasti menganggap lukisan abstrak itu indah. Karena reaksi itu muncul dari dalam diri manusia berdasarkan selera. Berbicara mengenai penilaian terhadap keindahan maka setiap dekade, setiap zaman itu memberikan penilaian yang berbeda terhadap sesuatu yang dikatakan indah. Jika pada zaman romantisme di Prancis keindahan berarti kemampuan untuk menyampaikan sebuah keagungan, lain halnya pada zaman realisme keindahan mempunyai makna kemampuan untuk menyampaikan sesuatu apa adanya. Sedangkan

selain pengalaman. Sehingga estetika akan mempersoalkan pula teori-teori mengenai seni. estetika meliputi tiga hal. pemerintah. Pembahasan estetika akan berhubungan dengan nilai-nilai sensoris yang dikaitkan dengan sentimen dan rasa. '07 2:39 PM for everyone .co. pola. Hasil-hasil ciptaan seni didasarkan atas prinsip-prinsip yang dapat dikelompokkan sebagai rekayasa. guru. masalah yang berkaitan dengan penciptaan seni. lebih jauh dari itu. dan fenomena studi seni sebagai hasil pengalaman estetis. penyelidikan mengenai sesuatu yang indah. penilaian terhadap seni dan perenungan atas seni. pengalaman yang bertalian dengan seni. bentuk dsb. Dari pernyataan di atas.hardja-sapoetra. ESTETIKA VS ETIKA Jan 12. Dalam dunia pendidikan sebagaimana diungkapkan oleh Randall dan Buchler mengemukakan ada tiga interpretasi tentang hakikat seni (14) : 1. 2.di Belanda pada era de Stijl keindahan mempunyai arti kemampuan mengomposisikan warna dan ruang juga kemampuan mengabstraksi benda. pendidik serta masyarakat luas. b. berseni (sesuai dengan Islam). baik itu siswa. Namun. Seni sebagai ekspresi yang sebenarnya tentang pengalaman. fenomena estetis. Ini berarti pendidikan Islam diorientasikan pada upaya menciptakan suatu kepribadian yang kreatif.cc/2010/03/aksiologi-etika-dan-estetika-filsafat. estetika merupakan sebuah teori yang meliputi: 1. Dengan demikian. yaitu. penyelidikan mengenai prinsip-prinsip yang mendasari seni. dimana setiap persoalan pendidikan Islam coba dilihat dari perspektif yang mengikut sertakan kepentingan masing-masing pihak. Seni sebagai alat kesenangan. fenomena persepsi.html Estetika Estetika merupakan nilai-nilai yang berkaitan dengan kreasi seni dengan pengalaman-pengalaman kita yang berhubungan dengan seni. 3. 2. Seni sebagai penembusan terhadap realitas. maka dalam dunia pendidikan hendaklah nilai estetika menjadi patokan penting dalam proses pengembagan pendidikan yakni dengan menggunakan pendekatan estetis-moral. 3. Estetika dan Pendidikan www. Filsafat Pendidikan Islam dan Estetika Pendidikan Adapun yang mendasari hubungan antara filsafat pendidikan Islam dan estetika pendidikan adalah lebih menitik beratkan kepada predikat keindahan yang diberikan pada hasil seni.

Benar. estetika sudah barang tentu bekerja dalam bingkai penalaran yang radikal. estetika masuk dalam ruang lingkup bahasan filsafat manusia sejajar dengan logika. Estetika bukan melulu disibukkan oleh persoalan-persoalan karya seni yang tidak selalu mesti "indah" namun ia juga nyata-nyata memerlukan pisau bedah yang lain untuk merogoh hakikat seni secara mendalam. dan merupakan cerminan dari pemikiran filosofis seorang filsuf. setelah sebelumnya lebih mengkhususkan diri pada tela'ah atas karya-karya seni saja. . etika. Tidak benar. Maka estetika abad 20 dikenal juga sebagai estetika modern atau estetika ilmiah karena bekerja dengan bantuan ilmu-ilmu lain seperti psikologi. menyeluruh. dll. terutama sejak konsepsi keindahan tidak lagi banyak dipertahankan dalam memahami seni.com/journal/item/12/ESTETIKA_VS_ETIKA Estetika. justru manakala ruang lingkup keduanya yang luas dan beragam serta-merta direduksi kepada pemahaman-pemahaman kontemporer yang kerap bersifat ahistoris. dengan segumpal pertanyaan besar ontologis yang terus bergulir di sepanjang zaman: "apakah seni itu?". Artinya. jika pengidentikan itu didasari oleh pemahaman-pemahaman umum atas adanya persamaan ruang lingkup bahasan dan subjek-subjek pengkajian dari kedua ranah filosofis tersebut. filsafat seni merupakan bagian dari studi estetika ilmiah tersebut. Sebagai bagian dari kajian filsafat. pukul rata. sosiologi. Bahwa estetika tidak lain sebagai bagian dari filsafat nilai sejajar dengan etika. Namun dalam penggolongan objeknya. Telaah Jakob Sumardjo cukup signifikan untuk mengetahui akar distingsi dari kedua bidang yang berasal dari ibu kandung yang sama. dan cenderung malas mengungkap akar-akar distingsi antar keduanya. Maka tampillah filsafat seni untuk memikul tugas demikian. Filsafat Seni. yakni filsafat. dengan konsekuensi surutnya aspek spekulatif yang semakin tergeser oleh pendekatan empiris-ilmiah. spekulatif. Kendati begitu. dan Keindahan yang Terkubur Bener ga kalo estetika identik dengan filsafat seni? Jawabnya bisa benar dan bisa juga tidak. Nah.bacht. dan antropologi. ciri spekulatifnya terus diperkuat oleh aspek empiris. antropologi. tetap kerap terjadi penyamarataan bahwa estetika tidak lain dari filsafat seni.multiply. Baru pada abad 20 estetika menggeser perannya sebagai filsafat keindahan dan menuju ke arah keilmuan.

nyata-nyata menelan semua aspek dari nilai-nilai estetika. Plato. Pemikiran Croce setidaknya telah sangat dominan mempengaruhi pemikiran- . melainkan sebuah konsep tunggal". misalnya. (Saya jadi teringat akan katakata Michelangelo di zaman Renessans: "Karya seni sejati tidak lain dari bayang-bayang kesempurnaan Ilahi"). pengalaman-pengalaman. sebelum akhirnya ia sampai kepada penggunaan istilah tersebut dalam kaitan dengan persepsi atas rasa keindahan. cetus Croce. atau bahkan kaum Transendentalis.ISTILAH "estetika" muncul pertama kali pada pertengahan abad ke-18. Plotinus. Alexander Baumgarten. pengetahuan rasa yang berbeda dari pengetahuan logika. Estetika bukan melulu kualifikasi atas penilaian-penilaian atau evaluasi-evaluasi belaka. para penyair Romatik dan Victorian. keindahan tiada lain dari essensi yang berhasil diungkapkan. konsep estetika kemudian berkembang lebih luas. ragam penyikapan. Seiring perjalanan waktu. Croce menggeser konsepsi keindahan dengan konsep ekspresi dan mengumandangkan pandangan baru bahwa kreasi artistik dan pengalaman estetik sebagai berasal dari formula ganda. Atau menurut Melvin Rader. khususnya keindahan karya seni. mengusung keindahan sebagai nilai tertinggi yang diyakini setaraf dengan nilai-nilai keilahian. "Ekspresi dan keindahan bukanlah dua konsep berbeda. melainkan pula menyangkut penelusuran sifat-sifat dan manfaat/kegunaan. Emmanuel Kant melanjutkan penggunaan istilah tersebut dengan menerapkannya untuk menilai keindahan baik yang terdapat dalam karya seni maupun dalam alam. hingga pemikir di zaman kemudian seperti St. Domain estetika menjadi jauh lebih luas ketimbang sekadar penikmatan karya-karya seni secara estetik sekalipun. melalui seorang filsuf Jerman. Pandangan konsepsi keindahan Bernard Bosanquet dan Frank Sibley di penghujung abad tersebut. Bahkan pada abad 19. Sang filsuf memaksudkan estetika sebagai ranah pengetahuan sensoris. Bahkan kemudian penerapannya tidak lagi dibatasi oleh bingkai konsepsi keindahan semata-mata. sebagaimana diyakini para pendahulu di lapangan pemikiran seni sejak Yunani Kuno (500-300 SM) seperti Sokrates. dan penikmatan atas nilai-nilai keindahan tersebut. Yunani Kuno. Memudarnya nilai-nilai keindahan sebagai topik sentral dalam teori estetika sejak zaman Yunani hingga Idealisme Eropa abad 19. Aristoteles. Agustinus. yang berarti persepsi atau kemampuan mencerap sesuatu secara indrawi). karena ekspresi yang gagal bukanlah ekspresi. dan bahwa keindahan tak lebih dari ekspresi yang berhasil. diyakini banyak kalangan sebagai dimulai oleh estetikus Italia. pada permulaan abad 20. bahwa seni setaraf ekspresi setaraf intuisi. Benedetto Croce. (Estetika berasal dari kata aistheton atau aisthetikos. Maka menjadi lumrah jika "estetika" banyak diyakini sebagai filsafat tentang nilainilai keindahan.

Baru kemudian orang menangkap semacam adanya paradoks: jika seni identik dengan ekspresi.A. Pelopor awal manifesto pergerakan filsafat linguistik modern pada awal tahun 20-an. Atau seperti semburat orgasme seorang aktor di atas panggung Dadais pada tahun 20-an di Eropa. Atau seperti .E. yang menggeser konsepsi keindahan dengan manifestasi bentuk signifikan (significant form). theatre of cruelty. tentu dalam cara yang berbeda. sekadar untuk menunjukkan bahwa pernyataan apa pun yang terkait dengan keindahan atau apa pun yang dianggap indah sebagai nir-makna (meaningless).pemikiran estetika sepanjang tiga dekade. para penerusnya secara olok-olok mempermainkan kata beauty (keindahan) dengan booty (barang rampasan). pemikiran estetika yang kontras terhadap konsepsi keindahan setidaknya muncul dari dua pemikir seni amat penting di abad 20. Tonggak-tonggak peradaban dan sandaran nilai-nilai telah menjadi seperti sebongkah kepala babi busuk yang dipamerkan seorang seniman instalasi. Seni cenderung mau membetot kebenaran eksistensial dan eksperiensial dengan melepas topeng-topeng kepalsuan berwajah keindahan. maka bukankah keindahan itu merupakan esensi dari seni? Namun Croce tetap kukuh pada pendirian bahwa ekspresi dan intuisi merupakan konsepsi dasar dari mana estetika bisa dipahami. melainkan juga dari kalangan seniman yang jauh lebih serius seperti pelukis-pelukis ekspresionis dan penulis-penulis drama ideologis yang merasa pencapaian keindahan bukan tujuan yang utama dari seni. Perang Dunia I dan II menjadi salah-satu bukti terbesar yang memompa frustrasi dan depresi di tengah dekadensi. Sebuah pertentangan sengit yang sebetulnya mula pertama mencuat kuat dari kaum Realis dan Naturalis Prancis abad 19 seperti Flaubert dan Zola. Seni tampaknya telah semakin tidak memerlukan lagi menara gading yang malah berpretensi menyembunyikan mutiara hakikat di belantara realitas. pembahasan tentang konsepsi keindahan dalam karya seni sekalipun kini semakin terasa problematis. Ogden dan I. Clive Bell dan Roger Fry. Moore. Karena realitas sesungguhnya memang lebih banyak menawarkan warna-warna kelam kehidupan setelah puncak penghambaan manusia atas rasionalitas modern hanya menghasilkan mesin-mesin perang yang memicu perseteruan tak berujung-pangkal di tengah bergelimpangannya bangkai-bangkai dehumanistik manusia. mengusik. Richards. pada dekade kedua abad tersebut.K. Dan di tahun 40-an. Mereka lebih memilih menceburkan diri ke dalam intensifikasi pengalaman dan radikalisasi perasaan ketimbang terbuai oleh keindahan. black theatre. yang karya-karyanya dipersiapkan justru untuk membuang aspekaspek keindahan agar visi-visi kebenaran mereka tertemukan. abad 20 memang ditengarai oleh kuatnya penolakan keras seniman-seniman kreatif atas konsepsi keindahan. Bahwa "keindahan" masih banyak dipakai. bahkan kemudian kaum Pop Art dan gerakan-gerakan sejenis yang lebih kecil. memprovokasi bahkan memancing gundah hati. Selain sebagai abad pertama yang menyangkal eksistensi keindahan secara kategoris. bahkan menggunakan istilah keindahan dalam forum-forum diskusi demi menunjukkan kualitas emotif dari pergolakan batin. itu bukan melulu tujuan utama melainkan hanya sebuah cara. seperti C. menyakiti. TAK pelak. dan keindahan juga identik dengan ekspresi. bukan saja dari kaum Dadais. yang terkesan Platonik dan terpengaruh kuat oleh filsafat moral G. Selain Croce. Seni-seni mutakhir tampaknya akan semakin mengganggu.

berupa gambar-gambar tengkorak penuh tengkorak. Filsuf seni kontemporer yang lain. Seni menjadi refleksi yang mengumandangkan suara parau dari lapis-lapis kekelaman nihilistik di tengah kekosongan ontologis (ontological void) setelah sandaransandaran horizontal bahkan vertikal manusia (di)runtuh(kan). Atau seperti lukisan surealis Salvador Dali. dan ilmu-pengetahuan. John Passmore. cetus Gilles Deleuze. Filsafat abad 20 bahkan telah menjadi bidang keahlian yang terlalu teknis untuk mampu menggerus dan menemukan kembali struktur-struktur paling fundamental dari pengembaraan pemikiran. Konsep-konsep estetik diberangus oleh kepalan-kepalan anti-estetik seperti Monalisa yang dikasih kumis dalam karya Dadais berjudul Shaved (bercukur) Marcel Duchamp. sementara jawaban-jawabannya sangat kabur". seperti Michel Serres. Bahkan "pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang seni sangat tidak jelas dan tidak kena sasaran. walaupun kerap terasa aneh dan konyol. Di atas tumpang-tindih pemikiran-pemikiran estetik demikian. Tidak lain untuk menyuarakan gejolak-gejolak esoteris atas apa yang diyakininya sebagai kebenaran sejati. Di sudut lain. Atau seperti jerit hampa dan geliat tubuh mistik dari sejarah kekelaman estetika Butoh (dance of darkness) para seniman kontemporer Jepang yang meresistensi stagnasi tradisi dengan seabrek citra keindahan estetik yang membokong realitas. memang tidak berlebihan jika pelukis Barnett Newman mencetuskan kata-kata parodi. terus menggusur esensialisme seni kepada salah-satu trend terpenting pemikiran kontemporer yang menegaskan bahwa keterikatan satu dengan lain hal adalah jauh lebih penting ketimbang hakikat makna dari sebuah obyek (karya seni) yang tinggal sendirian. Situasi-situasi nirmakna atas ketiadaan tatanan nilai apa pun kemudian seolah-olah memaksa estetika/filsafat seni mutakhir untuk ditelaah dalam sudut pandang suram. Ia ingin menekankan bahwa upaya pengkajian makna adalah hampa dan sia-sia. menyebut situasi kemerosotan peran estetika secara akurat dengan mengedepankan istilah The Dreariness of Aesthetics (Kekeringan Estetika). Manusia menjadi kembara absurditas yang tak menemukan jawab apa pun setelah terbetot lubang kelam inasionalitas. karena obyek seni tidak lagi ditentukan secara material maupun konseptual melainkan secara relasional." kata Serres. "seperti anak terbelakang yang lahir dari sepasang orang tua glamor. cetus Danto. Danto. logika. Wajah Peperangan. dan harus digantikan oleh pengkajian atas proses itu sendiri. perbedaan-perbedaan apa yang bisa dirangkulnya. melainkan oleh apa yang bisa dilakukannya. tanpa harus terlalu terpengaruh oleh tumpangtindih pemikiran-pemikiran 'orang pintar' yang menyeret seni terlalu ke wilayah . cetus Nicholas Bourriaud. kaum Estetika Relasional (relational aesthetics/arts).bongkahan tubuh-tubuh binatang yang disembelih di atas pentas teater kaum Naturalis. mereka akan terus berkarya untuk menggali makna-makna terdalam dari realitas kehidupan dalam cara dan gayanya sendiri-sendiri. seperti dikemukakan filsuf seni kontemporer Arthur C. seperti dikutip di atas. "Kita tidak lagi memerlukan ontologi melainkan desmologi (desmos = link). bahasa. Nilai seni tidak lagi ditentukan oleh makna-makna yang terkandung di dalamnya. bahwa estetika (baca: filsafat seni) bagi para seniman laksana ilmu burung bagi burung-burung. yakni pokok persoalan dan disiplin estetikanya itu sendiri". Burung-burung akan selalu terbang dalam cara dan gayanya sendiri tanpa pernah perlu tahu bagaimana sih ilmu terbang untuk burung-burung? Begitu pun para seniman.

. Langer.diskursivitas-intelektual ketimbang intensifikasi perasaan. insight philosophy ketimbang insight aesthetic. seturut Sussanne K.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->