P. 1
Kewenangan Bapepam-LK dalam Menangani Praktek Money Laundering di Pasar Modal Indonesia_Agung Yuriandi

Kewenangan Bapepam-LK dalam Menangani Praktek Money Laundering di Pasar Modal Indonesia_Agung Yuriandi

|Views: 1,814|Likes:
Published by Agung Yuriandi
ada ke-ambiguan hukum disini. uu pasar modal bilang kalau bapepam-lk lah yang mengawasi seluruh tindakan-tindakan di dalam pasar modal. namun, salah satu tindak pidana yaitu money laundering yang menjadi kewenangan ppatk tidak diatur oleh bapepam-lk. sering terjadi praktek pencucian uang di pasar modal indonesia disebabkan lemahnya kewenangan bapepam-lk.
ada ke-ambiguan hukum disini. uu pasar modal bilang kalau bapepam-lk lah yang mengawasi seluruh tindakan-tindakan di dalam pasar modal. namun, salah satu tindak pidana yaitu money laundering yang menjadi kewenangan ppatk tidak diatur oleh bapepam-lk. sering terjadi praktek pencucian uang di pasar modal indonesia disebabkan lemahnya kewenangan bapepam-lk.

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Agung Yuriandi on Jan 03, 2011
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/19/2013

KEWENANGAN BADAN PENGAWAS PASAR MODAL (BAPEPAM-LK) DALAM MENGAWASI MONEY LAUNDERING DI PASAR MODAL Oleh : Agung Yuriandi

Medan 2011

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Pasar modal adalah tempat perusahaan mencari dana segar untuk

meningkatkan kegiatan bisnis sehingga dapat mencetak lebih banyak keuntungan. Dana segar yang ada di pasar modal berasal dari masyarakat yang disebut juga sebagai investor. Para investor melakukan berbagai teknik analisis dalam menentukan investasi dimana semakin tinggi kemungkinan suatu perusahaan menghasilkan laba dan semakin kecil resiko yang dihadapi maka semakin tinggi pula permintaan investor untuk menanamkan modalnya. Tujuan pasar modal adalah untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan dan stabilitas ekonomi nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat. Selain untuk kesejahteraan rakyat pasar modal juga mempunyai peranan strategis sebagai salah satu sumber pembiayaan bagi dunia usaha, sedangkan di sisi lain pasar modal juga merupakan wahana investasi bagi masyarakat, termasuk pemodal; kecil dan menengah. Keikutsertaan masyarakat melalui instrumen pasar modal diharapkan

2

mampu memberikan sumbangan bagi pembangunan ekonomi secara nasional dengan mengoptimalkan dana yang berlebih atau tersedia. 1 Berbicara mengenai pasar modal yang merupakan tempat favorit untuk dijadikan sebagai tempat berlangsungnya kejahatan. Salah satu kejahatan tersebut adalah pasar modal dijadikan tempat pencuci uang. Lembaga yang melakukan pengawasan pada pasar modal adalah Badan Pengawas Pasar Modal yang merupakan salah satu Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK). Menurut D. T. Hartono tentang money laundering mengakui bahwa bursa efek berpotensi menjadi tempat idola untuk mencuci uang kotor.2 Kemajuan teknologi informasi dan globalisasi keuangan saat ini

mengakibatkan semakin mendunianya perdagangan barang dan jasa serta arus finansial yang mengikutinya. Kemajuan yang dirasakan ternyata dalam prakteknya tidak selalu berdampak positif bagi negara dan masyarakat, melainkan seringkali justru menjadi sarana yang subur bagi berkembangnya kejahatan, khususnya kejahatan kerah putih (white collar crime).3

Bismar Nasution, “Modul Perkuliahan : Hukum Pasar Modal”, (Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009), hal. 11. 2 D. T. Hartono, “Bisakah Pasar Modal Sebagai Lahan Money Laundering?”, http://www.bapepam.go.id/pasar_modal/publikasi_pm/info_pm/warta/2005_pebruari/money_launderin g.pdf., diakses pada 19 November 2010. 3 Munir Fuady dalam bukunya yang berjudul “Bisnis Kotor : Anatomi Kejahatan Kerah Putih” di halaman 9 menjelaskan pengertian white collar crime sebagai suatu perbuatan (atau tidak berbuat) dalam sekelompok kejahatan yang spesifik yang bertentangan dengan hukum pidana yang dilakukan oleh pihak profesional, baik oleh individu, organisasi, sindikat kejahatan maupun yang dilakukan oleh badan hukum. Biasanya kejahatan tersebut sangat berkaitan dengan pekerjaannya sehari-hari dengan tujuan untuk melindungi kepentingan bisnis atau kepentingan pribadi, untuk mendapatkan uang, harta benda maupun jasa, atau kedudukan dan jabatan tertentu, perbuatan mana dilakukkan oleh pelakunya bukan dengan cara-cara kasar seperti mengancam, merusak atau memaksa secara fisik, melainkan dilakukan dengan cara-cara halus dan canggih, yakni dengan jalan menutupnutupi, menipu, menyuap, atau menerima suap, atau memainkan perhitungan akuntansi yang biasanya (tetapi tidak selamanya) dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam

1

3

Kejahatan kerah putih tersebut sekarang tidak hanya terjadi di dalam negeri saja, melainkan sudah pada taraf Trans Nasional4 yang tidak lagi mengenal adanya batas-batas negara. Oleh karena itu, sudah menembus batas negara maka bentuk dari kejahatan tersebut semakin canggih dan sangat terorganisir sehingga aparat penegak hukum seringkali mengalami kesulitan mendeteksinya. Salah satu contohnya adalah kejahatan di bidang pasar modal yang sedang marak akhir-akhir ini.5 Kejahatan di bidang pasar modal adalah kejahatan yang khas dilakukan oleh pelaku pasar modal dalam kegiatan pasar modal. Secara internasional, kasus-kasus kejahatan di bidang pasar modal bermodus tidak jauh berbeda dengan kejahatan konvensional lainnya. Pemerintah Indonesia, melalui Badan Pengawas Pasar Modal (selanjutnya disingkat BAPEPAM-LK) berupaya keras untuk mengatasi dan mencegah tindak kejahatan di pasar modal Indonesia dengan berbagai cara, antara lain : menertibkan dan membina pelaku pasar modal sebagai tindakan preventif yaitu pencegahan terjadinya kejahatan, dan menuntaskan kejahatan di bidang pasar modal sebagai tindakan represif yaitu penegakan hukum.6 Sebagai tindakan pencegahan BAPEPAM-LK mengeluarkan peraturan mengenai prinsip mengenal nasabah terlebih dahulu sebelum memasuki pasar yaitu Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal No. Kep-476/BL/2009 tentang

masyarakat dan mempunyai keahlian tertentu, dan biasanya pula perbuatan tersebut dilakukan ketika pelakunya sedang menjalankan tugas atau profesinya, sumber : Munir Fuady, Bisnis Kotor : Anatomi Kejahatan Kerah Putih, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2004), hal. 9. 4 Trans Nasional disini diartikan sebagai lintas batas negara. 5 Jurnal Hukum Bisnis, “Menyikapi Globalisasi Pencucian Uang”, Volume 22, No. 3, 2003, hal. 4. 6 M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Aspek Hukum Pasar Modal, (Jakarta : Prenada Media, 2004), hal. 257.

4

Prinsip Mengenal Nasabah oleh Penyedia Jasa Keuangan di Bidang Pasar Modal. Pada Lampiran Keputusan, Angka 11 huruf a dan b ini menyebutkan bahwa : ”sebelum Penyedia Jasa Keuangan di Bidang Pasar Modal menerima suatu Pihak menjadi Nasabah yang berinvestasi di Pasar Modal, baik melalui atau tanpa melalui pembukaan rekening Efek, Penyedia Jasa Keuangan di bidang Pasar Modal wajib melakukan pertemuan langsung (face to face) dengan calon Nasabah dan meminta informasi mengenai : 1) Latar belakang dan identitas calon nasabah; 2) Maksud dan tujuan pembukaan rekening Efek calon nasabah; 3) Informasi lain yang memungkinkan Penyedia Jasa Keuangan di bidang Pasar Modal untuk dapat mengetahui profil calon Nasabah; dan 4) Identitas Pihak Lain (beneficial owner), dalam hal calon Nasabah bertindak untuk dan atas nama Pihak Lain (beneficial owner). Informasi mengenai nasabah tersebut harus dapat dibuktikan dengan keberadaan dokumen-dokumen pendukung”. Tugas yang diemban oleh BAPEPAM-LK tidaklah ringan, oleh karena itu BAPEPAM-LK diberikan kewenangan untuk melakukan penyelidikan, pemeriksaan, penyidikan sampai dengan meneruskan penuntutan kepada kejaksaan atas dugaan terjadinya tindak kejahatan. Untuk kasus pelanggaran, BAPEPAM-LK mempunyai kewenangan melakukan pemeriksaan, penyidikan sampai pemberian sanksi administratif. 7 Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan efektivitas penegakan peraturan di bidang pasar modal, maka dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Perubahan UUPM ditegaskan beberapa ketentuan penambahan kewenangan BAPEPAM-LK dan perumusan sanksi secara lebih tegas lagi. Ketentuan mengenai perubahan yang diusulkan antara lain meliputi penambahan kewenangan bagi Penyidik Pegawai Negeri Sipil untuk melakukan cegah dan tangkal, sanksi pidana bagi perusahaan efek dan penasihat investasi atau pihak terafiliasinya yang memberikan keterangan mengenai nama dan kegiatan nasabah tanpa hak, serta sanksi
7

Ibid.

5

pidana bagi kustodian atau pihak terafiliasinya yang memberikan keterangan mengenai rekening efek tanpa hak.8 Kejahatan pasar modal sebenarnya sudah cukup lama ada di berbagai negara, meskipun jika dibandingkan dengan kejahatan di bidang lain, terutama kejahatan konvensional, tentu saja kejahatan pasar modal tergolong kejahatan baru. Di London, Inggris, sejak tahun 1285 telah ada peraturan yang mewajibkan para pialang saham mendapat izin terlebih dahulu sebelum menjalankan pekerjaannya sebagai pialang saham. Pelanggaran terhadap keharusan mendapatkan izin tersebut dianggap sebagai kejahatan pasar modal.9 Di Prancis, antara tahun 1834 sampai dengan tahun 1836 telah terjadi penyuapan terhadap operator dari Optical Telegraph oleh 2 (dua) orang banker Prancis agar dapat mengeluarkan informasi tidak benar tentang saham sehingga para penyuap mendapatkan keuntungan tertentu atas beban pihak investor lain. Tahun 1869, di Amerika Serikat terjadi ”cornering”10 oleh Jay Gould, James Fiske dan Daniel Drew terhadap pasar emas sehingga harga emas turun mendadak yang memicu terjadinya peristiwa ”Black Friday”. Black Friday ini merupakan salah satu kepanikan finansial terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Berbagai macam kejahatan di pasar modal terus saja terjadi dengan berbagai modus operandinya,
BAPEPAM-LK, Master Plan Pasar Modal Indonesia 2005 – 2009, (Jakarta : Departemen Keuangan Republik Indonesia, 2005), hal. 34. 9 Munir Fuady, Op.cit., hal. 115. 10 Munir Fuady dalam bukunya yang berjudul Pasar Modal Modern di halaman 163 menjelaskan cornering sebagai perbuatan dimana saham dikuasai oleh seseorang sampai terjadi shortage di pasar dan kemudian dia dapat mengontrol harga. Sering cornering dilakukan dengan cara terlebih dahulu melakukan penjualan dengan tidak memiliki efek (short selling), dengan cara meminjamkan efek dari cornering kepada pelaku short selling, tetapi kemudian menarik kembali saham dalam pinjaman tersebut sehingga pihak pelaku short selling harus mencarinya di pasar, sumber : Munir Fuady, Pasar Modal Modern, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1996), hal. 163.
8

6

dimana pada abad ke-19 dan abad ke-20 serta dalam memasuki abad ke-21, intensitas kejahatan pasar modal semakin tinggi, bahkan dengan cara-cara yang semakin lama semakin canggih sehingga sangat susah untuk dideteksi, yang kesemuanya bertujuan untuk mengecoh investor.11 Berbeda dengan di Indonesia dimana setiap orang yang melakukan tindak pidana kejahatan biasanya melakukan pencucian uang di pasar modal agar uang tersebut kelihatan bersih dengan cara membuat kesepakatan bisnis yang tampak aneh dan tidak normal yang sudah bukan rahasia lagi bahwa kini banyak beredar danadana liar yang asal muasalnya tidak jelas. Ada bersumber dari hasil korupsi, ada yang berasal dari transaksi ilegal seperti transaksi narkoba, penyelundupan, dan berbagai bentuk kejahatan kerah putih lainnya.12 Uang haram atau uang kotor yang tidak jelas asal-usulnya ini dari hari ke hari kian menumpuk dan sulit keluar dari brankas dengan warna bersih dan cemerlang. Karena itulah pemilik uang kotor rela menyusutkan nilainya asal bisa keluar dari brankas dengan aman dan bisa dipergunakan sebagaimana layaknya.13 Sebagaimana disebutkan di atas bahwa pasar modal adalah seperti juga jenis pasar lainnya dimana di dalamnya berkumpul orang-orang untuk melakukan jual beli, tetapi yang menjadi objeknya adalah Efek. Dengan demikian pasar modal berarti suatu pasar dimana dana-dana jangka panjang baik utang maupun modal

Munir Fuady, Bisnis Kotor : Anatomi Kejahatan Kerah Putih, Op.cit., hal. 116. Harian Ekonomi Neraca, “B.E.I Perketat Pencucian Uang”, tanggal 13 Juni 2010, http://www.neraca.co.id/2010/06/13/bei-perketat-pencucian-uang/., diakses pada 21 November 2010. Memberitakan bahwa Gayus Tambunan terlibat dalam kasus penggelapan dan pencucian uang pajak di Pasar Modal Indonesia. 13 M. Tri Agustiyadi, “Praktek Money Laundering pada Pasar Modal (Pasar Modal Bukan Mesin Cuci Uang)”, http://triagus.multiply.com/reviews/item/33., diakses pada 19 November 2010.
12

11

7

diperdagangkan. Karena di dalam pasar modal banyak uang yang beredar, maka orang-orang ramai untuk bergabung dengan perannya yang berbeda-beda satu sama lain. Ada di antara mereka yang merupakan pemain yang baik, tetapi banyak pula di antara mereka yang hanya sekedar mencari untung seketika dengan menghalalkan segala macam cara, sehingga mereka menjadi pelaku kejahatan di pasar modal. Banyak yang berpendapat bahwa pasar modal tidak terkait dengan pencucian uang, mengingat transaksi yang terjadi di pasar modal bukanlah transaksi yang melibatkan uang tunai. Dengan kata lain, untuk bertransaksi di pasar modal, pelaku harus terlebih dahulu menyetorkan uang tunai ke sistem perbankan, sehingga indikasi pencucian uang terdeteksi dan dicegah di pihak bank. Namun, demikian sebenarnya kegiatan pencucian uang sangatlah mungkin dilakukan di pasar modal, dimana kegiatannya tidak hanya melibatkan arus uang (flow of fund) tetapi juga arus efek (flow of securities).14 Berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, kegiatan pencucian uang adalah suatu proses atau perbuatan yang bertujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul uang atau harta kekayaan yang diperoleh dari hasil tindak pidana yang kemudian diubah menjadi harta kekayaan yang seolah-olah berasal dari kegiatan yang sah.15

Ibid. Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 5164.
15

14

8

Saat ini, banyak orang sudah menggunakan internet sebagai alat untuk berkomunikasi dalam hal jual beli Efek di Pasar Modal. Ironisnya, internet itu juga semakin meluas digunakan oleh para penjahat berdasi tersebut untuk melakukan kejahatan di pasar modal. Internet memang sangat menstimulasi orang untuk melakukan kejahatan pasar modal. Pertama, karena penggunaan internet relatif murah, kedua, karena internet sudah merata digunakan oleh orang-orang berdasi, dan yang ketiga adalah karena penggunaan internet tidak terlalu sulit, cukup sambil istirahat di rumah pribadi menekan beberapa tombol maka pekerjaan penjahat pasar modal sudah selesai. 16 Kejahatan pasar modal merupakan salah satu kejahatan tercanggih di dunia yang umumnya dilakukan dengan modus operandi yang sangat rumit dan tidak gampang untuk dilacak. Di samping modus operandinya yang canggih-canggih, para pelaku kejahatan pasar modal juga umumnya terdiri dari orang-orang terpelajar sehingga dikatakan bahwa kejahatan pasar modal termasuk ke golongan kejahatan kerah putih (white collar crime). Karena itu kejahatan pasar modal sulit untuk dibuktikan apalagi jika penegak hukum masih menggunakan metode-metode konvensional dalam melakukan law enforcement.17 Persoalan terjadinya kejahatan dan pelanggaran di pasar modal diasumsikan berdasarkan beberapa alasan, yaitu kesalahan pelaku, kelemahan aparat yang mencakup integritas dan profesionalisme dan kelemahan peraturan. Untuk itu BAPEPAM-LK berkewajiban selalu melakukan penelaahan hukum yang menyangkut

16 17

Munir Fuady, Bisnis Kotor : Anatomi Kejahatan Kerah Putih, Op.cit., hal. 116. Ibid., hal. 118.

9

perlindungan hukum dan penegakan hukum yang semakin penting. Dikatakan penting karena Lembaga Pasar Modal merupakan lembaga kepercayaan, yaitu sebagai lembaga perantara (intermediary) yang menghubungkan kepentingan pemakai dana (issuer, ultimate borrower) dan para pemilik dana (pemodal, ultimate lender).
18

Dengan demikian, penelitian aspek hukum, yaitu perangkat peraturan perundangundangan yang mengatur tentang pasar modal akan memberikan kontribusi positif bagi penegakan hukum dalam memberikan jaminan dan kepastian hukum kepada pelaku pasar modal. 19 Tantangannya yang dihadapi oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil BAPEPAM-LK sebagai aparat penegak hukum yang diberi kewenangan untuk melakukan penyidikan saat ini dan masa yang akan datang akan semakin berat seiring dengan semakin canggihnya teknik tindak pidana di bidang pasar modal. Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (selanjutnya disebut “UUPM”) telah menggariskan jenis-jenis tindak pidana di bidang pasar modal, seperti penipuan, manipulasi pasar dan perdagangan orang dalam (insider trading), UUPM juga menetapkan sanksi pidana bagi para pelaku tindak pidana tersebut yaitu denda dan pidana penjara/kurungan.20 Tindak pidana di bidang pasar modal memiliki karakteristik yang khas, yaitu antara lain adalah “barang” yang menjadi objek dari tindak pidana adalah “informasi”, selain itu pelaku tindak pidana tersebut bukanlah mengandalkan kemampuan fisik seperti halnya pencurian dan perampokan mobil, akan tetapi lebih
Lembaga Pasar Modal merupakan lembaga kepercayaan maka untuk itu diperlukan prinsip keterbukaan. Seperti yang dikemukakan oleh Bismar Nasution, Keterbukaan dalam Pasar Modal, (Jakarta : Universitas Indonesia, 2001), hal. 76. 19 M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op.cit., hal. 259. 20 Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3608.
18

10

mengandalkan pada kemampuan membaca situasi pasar serta memanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Selain itu, karakteristik lainnya yang membedakan dengan tindak pidana lain yaitu pembuktianya yang cenderung sulit dan dampak pelanggaran dapat berakibat fatal dan luas.21 Pada kejahatan di bidang pencucian uang, uang hasil kejahatan biasanya diputar atau diusahakan di pasar modal agar uang tersebut nampak berasal dari sebab yang halal. Uang merupakan nafas dari kejahatan, jika pelaku tindak pidana tidak mempunyai uang maka tidak akan terjadi tindak pidana lanjutan. Hal ini dilihat dari perspektif kejahatan kerah putih yang semua tindak kejahatannya membutuhkan uang untuk melakukan tindak kejahatan.22 Lembaga yang berfungsi untuk melacak uang kejahatan tersebut adalah Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi (PPATK) yang merupakan struktur dari UndangUndang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. PPATK dapat berkolaborasi dengan BAPEPAM-LK dalam pemberantasan pencucian uang di pasar modal untuk memperoleh informasi lengkap terkait dengan dugaan tindak pidana pencucian uang di bursa saham. Menurut Yanuar Rizky, peneliti Aspirasi Indonesia Research Institute, menilai “pelaku pasar modal berpotensi melakukan tindak pidana pencucian uang dalam jumlah besar, misalnya melalui modus menggoreng saham”.23

M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Loc.cit. Bismar Nasution, ”Catatan Perkuliahan : Hukum Anti Money Laundering”, (Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009). 23 Anugerah Perkasa, ”PPATK Bisa Menggandeng BAPEPAM-LK Terkait Pencucian Uang di Bursa”, http://bataviase.co.id/node/371225., diakses pada 19 November 2010.
22

21

11

Masalahnya adalah dugaan praktek pencucian uang itu jarang dilaporkan ke PPATK, meski BAPEPAM-LK sudah pasti mengetahui berbagai masalah pencucian uang tersebut. Ketua PPATK, Yunus Husein mengungkapkan bahwa : “PPATK menemukan sejumlah kecil praktek pencucian uang di pasar modal berkaitan dengan rendahnya pelaporan Suspicious Transaction Report (STR) kepada lembaga PPATK”.24 Para pelaku kejahatan di bidang pasar modal berupaya agar uang hasil kejahatannya dapat diselamatkan. Salah satu cara adalah melalui mekanisme pencucian uang (money laundering). Dengan cara tersebut, para pelaku kejahatan berusaha mengubah atau mencuci sesuatu yang didapat secara illegal menjadi legal. Pencucian uang ini dilakukan terhadap uang hasil tindak pidana perdagangan narkotika, korupsi, penyelundupan senjata, perjudian, penggelapan pajak, dan insider trading dalam transaksi saham di pasar modal.25 Dengan pencucian uang ini, pelaku kejahatan dapat menyembunyikan asal-usul yang sebenarnya dana atau uang hasil kejahatan yang dilakukannya. Melalui kegiatan ini pula para pelaku kejahatan dapat menikmati dan menggunakan hasil kejahatannya secara bebas seolah-olah tampak sebagai hasil kegiatan yang legal. Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, maka judul penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : “Kewenangan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM-LK) Dalam Penanganan Money Laundering di Pasar Modal”.

24 25

Ibid. Jurnal Hukum Bisnis, “Menyikapi Globalisasi Pencucian Uang”, Op.cit.

12

B.

Rumusan Masalah Mengingat luasnya lingkup tindak pidana di bidang pasar modal, maka ruang

lingkup pembahasan dalam penulisan ini difokuskan pada tindak pidana pencucian uang di pasar modal Indonesia sebagai predicate crime. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, selanjutnya dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimana terjadinya praktek money laundering di pasar modal? 2. Bagaimana kewenangan BAPEPAM-LK terhadap penanganan praktek money laundering di pasar modal? 3. Bagaimana kendala Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang terhadap praktek money laundering di pasar modal?

C.

Tujuan Penelitian Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui peranan hukum dalam

pembangunan ekonomi di Indonesia terkait dengan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM-LK). Bertolak dari rumusan masalah maka tujuan dari penelitian ini, antara lain : 1. Untuk mengetahui terjadinya praktek money laundering di pasar modal; 2. Untuk mengetahui kewenangan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAMLK) terhadap penanganan praktek money laundering di pasar modal; dan

13

3. Untuk menganalisis kendala dan hambatan dari Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang terhadap praktek money laundering di pasar modal.

D.

Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu : 1. Secara Teoritis a. Sebagai bahan informasi bagi para akademisi maupun sebagai bahan pertimbangan bagi penelitian lanjutan. b. Memperkaya khasanah kepustakaan. 2. Secara Praktis a. Sebagai bahan masukan bagi Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM-LK) dalam mengambil langkah yang ditempuh untuk mencegah terjadinya pencucian uang di Pasar Modal Indoensia. b. Sebagai bahan masukan bagi masyarakat (pelaku pasar) agar terbentuk peraturan atau kebijakan yang mampu menciptakan kestabilan, keterprediksian, dan keadilan bagi seluruh anggota masyarakat.

E.

Keaslian Penelitian Berdasarkan informasi dan penelusuran studi kepustakaan khususnya pada

lingkungan Perpustakaan Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, bahwa penelitian dengan judul “Kewenangan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM-

14

LK) Dalam Penanganan Money laundering di Pasar Modal” sudah pernah dilakukan, antara lain : 1. Tesis dengan judul “Kebijakan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) dalam Penanggulangan Pencucian Uang di Pasar Modal” yang dilakukan di Medan pada tahun 2008 oleh Mega Kartika; 2. Tesis dengan Judul “Penegakan Hukum Pidana di Bidang Pasar Modal”, yang dilakukan di Medan pada tahun 2009 oleh Budi Satrio; dan 3. Skripsi dengan judul “Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang di Pasar Modal melalui Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles) Berdasarkan Keputusan Ketua BAPEPAM-LK No. 476/BL/2009” oleh Ika Rahayu di Medan pada tahun 2010. Keduanya memiliki rumusan permasalahan dan kajian yang berbeda. Penelitian lanjutan ini mengkaji mengenai kewenangan BAPEPAM-LK khususnya masalah pencucian uang dan upaya penanggulangannya. Penelitian ini juga menjunjung tinggi kode etik penulisan karya ilmiah, oleh karena itu penelitian ini adalah benar keasliannya baik dilihat dari materi, permasalahan, dan kajian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

F.

Kerangka Teoritis dan Konsepsi 1. Kerangka Teori Untuk menjawab permasalahan yang dirumuskan dalam peneltian ini,

digunakan teori sistem hukum yang dikemukan oleh Lawrence M. Friedman, yang memandang hukum sebagai suatu sistem yang terdiri dari sub-sistem substansi

15

hukum, struktur hukum dan kultur hukum. Penggunaan teori ini didasarkan pada pandangan bahwa pembahasan terhadap penegakan hukum anti pencucian uang (money laundering) tidak bisa disandarkan pada analisis aspek substansi peraturan perundang-undangan saja, tetapi juga harus dipandang dalam suatu kerangka sistemik yang juga meliputi pembahasan terhadap struktur hukumnya yang meliputi lembagalembaga terkait dalam penegakannya, seperti PPATK, Kepolisian, Kejaksaan dan BAPEPAM-LK khusus terkait dengan tindak pidana pencucian uang yang terjadi di pasar modal. Di samping itu perlu pula diperhatikan aspek kultural, yang dalam penelitian ini lebih difokuskan pada kultur aparaturnya lebih khusus lagi terkait masih adanya budaya menerima suap pada oknum aparatur. Dengan pendekatan teori sistem ini diharapkan didapatkan suatu gambaran (deskripsi) yang utuh tentang berbagai aspek yang dirumuskan dalam permasalahan. Dengan demikian, beberapa alasan menggunakan teori sistem hukum dari Lawrence M. Friedman untuk menjawab permasalahan utama berupa kewenangan BAPEPAM-LK dalam penanganan money laundering di pasar modal, dapat dikemukakan sebagai berikut : (1) Diasumsikan bahwa salah satu letak permasalahan sulitnnya penanganan money laundering di pasar modal adalah karena lemahnya substansi Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang; (2) Secara struktural lembaga yang berwenang dalam penanganan pemberantasan tindak pidana pencucian uang adalah PPATK, kepolisian dan kejaksaan. Undang-

16

Undang No. 8 Tahun 2010 secara eksplisit tidak melibatkan BAPEPAM-LK sebagai otoritas pasar modal. (3) Masih adanya budaya menerima suap di kalangan oknum aparatur sehingga membuat tidak efektifnya penegakan Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. (4) Menggunakan teori sistem dapat menggambarkan secara utuh aspek substansi, struktur dan kultur hukum dimaksud. Teori sistem hukum ini dipergunakan sebagai teori umum, yang diperkuat oleh sejumlah teori-teori yang dipergunakan untuk menjawab hal-hal yang lebih bersifat aplikasi/terapan. Teori dimaksud digali dari teori-teori di bidang disiplin ilmu hukum pasar modal dan hukum tindak pidana pencucian uang. Lawrence M. Friedman membagi sistem hukum dalam tiga unsur yakni : struktur, substansi dan kultur hukum. Struktur dari sistem hukum terdiri dari unsur berikut ini : jumlah dan ukuran pengadilan, yurisdiksinya (yaitu jenis perkara yang mereka periksa, dan bagaimana serta mengapa), dan cara naik banding dari satu pengadilan ke pengadilan lainnya. Struktur juga berarti bagaimana badan legislatif ditata, berapa banyak anggota yang duduk di Komisi Dagang Federal, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan seorang presiden, prosedur apa yang diikuti oleh departemen kepolisian dan sebagainya. 26 Struktur hukum dengan demikian adalah bagaimana agensi-agensi, organorgan, pejabat-pejabat, badan atau lembaga yang mengawasi peraturan hukum dan

Lawrence M. Friedman. American Law An Introduction, (Second Edition), diterjemahkan oleh Wishnu Basuki, Hukum Amerika Sebuah Pengantar, (Jakarta : Tata Nusa, 2001), hal.7

26

17

melaksanakan fungsi struktural tersebut yang diawasi dengan sebuah sistem pengawasan yang memadai.27 Setiap peraturan perundang-undangan harus

mempunyai lembaga pengawas untuk menegakkan undang-undang tersebut agar tegaknya hukum yang dibuat. Struktur hukum disini adalah Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK) dan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). BAPEPAM-LK untuk mengawasi pasar modal dan PPATK untuk mengawasi tindak pidana pencucian uang atau money laundering. Setiap lembaga pengawas tersebut memiliki fungsi, wewenang, dan peran masingmasing. Substansi hukum adalah aturan, norma, peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam masyarakat, dan pola prilaku nyata manusia yang berada dalam sistem itu. Substansi hukum tidak hanya menyangkut peraturan perundang-undangan yang terdapat dalam kitab-kitab hukum (law in books) dalam hal ini berbicara mengenai pasar modal dan tindak pidana pencucian uang, maka tidak terlepas dari UndangUndang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dan Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, tetapi juga pada hukum yang hidup (living law) termasuk di dalamnya ”produk” yang dihasilkan oleh orang yang berada dalam sistem itu, misalnya keputusan-keputusan yang mereka keluarkan dan aturan-aturan yang mereka susun.28 Substansi hukum itu adalah alur jalan atau peraturan untuk melaksanakan aturan main dalam pasar modal

27 28

Ibid. hal. 9. Ibid. hal. 8.

18

dan tindak pidana pencucian uang. Substansi hukum berguna untuk mencapai kepastian hukum. Kultur hukum (budaya hukum) menyangkut sikap manusia terhadap hukum dan sistem hukum, bisa meliputi persoalan-persoalan kepercayaan, nilai, pemikiran dan harapan manusia terhadap hukum dan sistem hukum. Budaya hukum dapat diartikan pula sebagai suasana pikiran sosial dan kekuatan sosial yang menentukan bagaimana hukum digunakan, dihindari, atau disalahgunakan. Budaya hukum sangat dipengaruhi oleh ”sub-budaya hukum” seperti sub-budaya orang kulit putih, orang kulit hitam, orang-orang Katholik, Protestan, Yahudi, polisi, penjahat, penasehat hukum, pengusaha, dan lain sebagainya. Sub-budaya hukum yang sangat menonjol dan sangat berpengaruh terhadap hukum adalah budaya hukum dari ”orang dalam” (insiders) yaitu hakim dan para penegak hukum yang bekerja dalam sistem hukum itu. 29 Kultur hukum adalah budaya hukum suatu masyarakat untuk menegakkan hukum tersebut yang sudah dibuat, diawasi, ditegakkan oleh lembaga-lembaga yang tersebut di atas. Budaya hukum merupakan ”kunci starter” atas jalannya hukum itu. Budaya hukum setiap masyarakat jelas berbeda-beda. Inilah yang dituntut oleh masyarakat agar para pejabat publik yang berfungsi sebagai penyidik dalam hal money laundering agar memiliki budaya hukum yang baik demi menegakkan peraturan perundang-undangan. Unsur-unsur sistem hukum bekerja secara terintegral satu dengan yang lainnya agar tujuan dari hukum dapat tercapai, yaitu : keadilan, kepastian, dan

29

Ibid. hal. 10.

19

manfaat. Tercapainya tujuan hukum dapat menekan para pelaku kejahatan untuk melakukan aksinya. Penelitian tesis ini difokuskan pada aspek sistem hukum dalam penegakan Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, khususnya yang terjadi dalam kegiatan pasar modal. Struktur hukum yang terkait langsung dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang di pasar modal adalah PPATK, kepolisian, kejaksaan dan pengadilan. Namun, oleh karena kejahatan yang diteliti ini terkait dengan praktek di pasar modal, maka mau tidak mau harus bersentuhan dengan BAPEPAM-LK sebagai otoritas pasar modal. Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang di pasar modal akan efektif dengan adanya keterlibatan aktif dari BAPEPAM-LK sebagai otoritas di pasar modal. Lembaga ini memiliki banyak hal yang dibutuhkan untuk tercapainya secara efektif pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang di pasar modal. Permasalahannya adalah substansi hukum yang ada, dalam hal ini Undang-Undang No. 8 Tahun 2010, kurang melibatkan peran serta aktif dari BAPEPAM-LK. Dalam konteks ini ingin disampaikan bahwa terdapat kekurangan dalam subsistim substansi dan struktur hukum dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang di pasar modal. Hal ini diperburuk oleh masih adanya budaya mau menerima suap dari oknum aparatur. Selanjutnya teori sistem hukum didukung oleh uraian-uraian teoritis terkait praktek pencucian uang, sehingga dapat dijelaskan hal-hal yang lebih praktis atau lebih bersifat hukum terapan.

20

Para pelaku kejahatan di pasar modal sering juga disebut sebagai white collar crime karena perbuatannya merupakan akumulasi dari berbagai macam faktor antara lain kecerdikan, kelihaian, jaringan, kekuatan modal, kecepatan informasi, dan sasaran kejahatannya yang berkaitan dengan nilai keuntungan yang akan didapat oleh para pelaku kejahatan tersebut. Karena keuntungan yang didapat sangatlah besar, maka para pelaku kejahatan mempunyai kecenderungan untuk melakukan pratek pencucian uang sehingga hasil kejahatannya seolah-olah dianggap sebagai uang yang legal. Pada umumnya terdapat 3 (tiga) metode yang digunakan dalam pencucian uang, metode tersebut digunakan secara kumulatif ataupun alternatif. Salah satu dari tiga tersebut jika dilakukan untuk melakukan tindak pidana money laundering, berarti sudah bisa dikatakan pencucian uang atau money laundering. Ketiga hal tersebut antara lain : a. ”Penempatan (placement) merupakan menempatkan uang tunai yang berasal dari tindak pidana ke dalam sistem keuangan (financial system) atau upaya menempatkan uang giral (cheque, wesel bank, sertifikat deposito, dan lainlain) kembali ke dalam sistem keuangan, terutama sistem perbankan. Dalam proses penempatan uang tunai ke dalam sistem keuangan ini, terdapat pergerakan fisik uang tunai baik melalui penyelundupan uang tunai dari suatu negara ke negara lain, penggabungan antara uang tunai yang berasal dari kejahatan dengan uang yang diperoleh dari hasil kegiatan yang sah, atau caracara lain seperti pembukaan deposito, pembelian saham-saham atau juga mengkonversikannya ke dalam mata uang negara lain;

21

b. Transfer (layering) merupakan upaya untuk mentransfer harta kekayaan, berupa benda bergerak atau tidak bergerak yang berwujud maupun tidak berwujud, yang berasal dari tindak pidana yang telah berhasil masuk ke dalam sistem keuangan melalui penempatan (placement). Dalam proses ini terdapat rekayasa untuk memisahkan uang hasil kejahatan dari sumbernya melalui pengalihan dana hasil placement ke beberapa rekening atau lokasi tertentu lainnya dengan serangkaian transaksi yang kompleks yang didesain untuk menyamarkan/mengelabui sumber dana ”haram” tersebut. Layering dapat pula dilakukan dengan transaksi jaringan internasional baik melalui bisnis yang sah atau perusahaan-perusahaan ”shell” (perusahaan mempunyai nama dan badan hukum namun tidak melakukan kegiatan usaha apapun); c. Menggunakan harta kekayaan (integration), suatu upaya menggunakan harta kekayaan yang berasal dari tindak pidana yang telah berhasil masuk ke dalam sistem keuangan melalui placement atau layering sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan “halal”. Proses ini merupakan upaya untuk mengembalikan uang yang telah dikaburkan jejaknya sehingga pemilik semula dapat menggunakan dengan aman. Disini uang yang di ‘cuci’ melalui placement maupun layering dialihkan ke dalam kegiatan-kegiatan resmi sehingga tampak seperti tidak berhubungan sama sekali dengan aktivitas kejahatan yang menjadi sumber dari uang tersebut”.30

Bismar Nasution, Rejim Anti-Money Laundering di Indonesia, (Bandung : Book Terrace & Library, 2005).

30

22

Dengan melihat apa yang telah diuraikan di atas, BAPEPAM-LK sebagai otoritas di bidang pasar modal harus tanggap dalam menyikapi praktek kejahatan tersebut. Dengan demikian diperlukan kerjasama yang baik antar lembaga dan aparat penegak hukum di bidang pasar modal dan bidang lainnya yang terkait, seperti : PPATK, Kepolisian Negara Republik Indonesia, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan lain sebagainya sehingga segala bentuk tindak pidana di bidang pasar modal dapat diatasi bersama.

2.

Kerangka Konsep

Dalam melakukan penelitian tesis ini, perlu dijelaskan beberapa istilah di bawah ini sebagai definisi operasional dari konsep-konsep yang dipergunakan, yaitu : 1. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK) adalah suatu badan yang diberi kewenangan dan kewajiban untuk membina, mengatur dan mengawasi setiap pihak yang melakukan kegiatan di pasar modal. Semua itu dilakukan dengan tujuan mewujudkan terciptanya kegiatan pasar modal yang teratur, wajar, dan efisien, serta melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat.31 2. Wewenang BAPEPAM-LK adalah melakukan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan sehari-hari di Pasar Modal Indonesia. Menurut Pasal 5 Undang-

Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3608, pada Pasal 3-4.

31

23

Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal menyebutkan bahwa BAPEPAM-LK berwenang untuk32 : a. Memberi : 1) Izin usaha kepada Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, Reksa Dana, Perusahaan Efek, Penasihat Investasi, dan Biro Administrasi Efek; 2) Izin orang perseorangan bagi Wakil Penjamin Emisi Efek, Wakil Perantara Pedagang Efek, dan Wakil Manajer Investasi; dan 3) Persetujuan bagi Bank Kustodian. b. Mewajibkan pendaftaran Profesi Penunjang Pasar Modal dan Wali Amanat; c. Menetapkan persyaratan dan tata cara pencalonan dan

memberhentikan untuk sementara waktu komisaris dan atau direktur serta menunjuk manajemen sementara Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, serta Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian sampai dengan dipilihnya komisaris atau direktur yang baru; d. Menetapkan persyaratan dan tata cara Pernyataan, Pendaftaran serta menyatakan, menunda atau membatalkan efektifnya Pernyataan Pendaftaran; e. Mengadakan pemeriksaan dan penyidikan terhadap setiap Pihak dalam hal terjadi peristiwa yang diduga merupakan pelanggaran terhadap undang-undang dan atau peraturan pelaksanaannya;
32

Ibid., pada Pasal 1 angka 13.

24

f. Mewajibkan setiap pihak untuk : 1) Menghentikan atau memperbaiki iklan atau promosi yang berhubungan dengan kegiatan di Pasar Modal; atau 2) Mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi akibat yang timbul dari iklan atau promosi dimaksud. g. Melakukan pemeriksaan terhadap : 1) Setiap Emiten atau Perusahaan Publik yang telah atau diwajibkan menyampaikan Pernyataan Pendaftaran kepada Bapepam; atau 2) Pihak yang dipersyaratkan memiliki izin usaha, izin orang perseorangan, persetujuan, atau pendaftaran profesi berdasarkan undang-undang. h. Menunjuk Pihak lain untuk melakukan pemeriksaan tertentu dalam rangka pelaksanaan wewenang Bapepam sebagaimana dimaksud huruf g; i. Mengumumkan hasil pemeriksaan; j. Membekukan atau membatalkan pencatatan suatu Efek pada Bursa Efek atau menghentikan transaksi Bursa atas Efek tertentu untuk jangka waktu tertentu guna melindungi kepentingan pemilik modal; k. Menghentikan kegiatan perdagangan Bursa Efek untuk jangka waktu tertentu dalam hal keadaan darurat; l. Memeriksa keberatan yang diajukan oleh Pihak yang dikenakan sanksi oleh Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, atau Lembaga

25

Penyimpanan

dan

Penyelesaian

serta

memberikan

keputusan

membatalkan atau menguatkan pengenaan sanksi dimaksud; m. Menetapkan biaya perizinan, persetujuan, pendaftaran, pemeriksaan, dan penelitian serta biaya lain dalam rangka kegiatan Pasar Modal; n. Melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencegah kerugian masyarakat sebagai akibat pelanggaran atas ketentuan di bidang Pasar Modal; o. Memberikan penjelasan lebih lanjut yang bersifat teknis atas UndangUndang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal atau peraturan pelaksanaannya; p. Menetapkan instrumen lain sebagai Efek selain yang telah ditentukan dalam Pasal 1 angka 5 Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal; dan q. Melakukan hal-hal lain yang diberikan berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. 3. Fungsi BAPEPAM-LK adalah seperti yang dijelaskan dalam Pasal 3 Kepmenkeu RI No. 503/KMK.01/1997 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Pasar Modal, antara lain : a. Penyusunan peraturan di bidang Pasar Modal; b. Pembinaan dan pengawasan terhadap Pihak yang memperoleh izin usaha, persetujuan, pendaftaran dari Bapepam dan Pihak lain yagn bergerak di Pasar Modal;

26

c. Penetapan prinsip-prinsip keterbukaan perusahaan bagi Emiten di Perusahaan Publik; d. Penyelesaian keberatan yang diajukan oleh Pihak yang dikenakan sanksi oleh Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, dan Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian; e. Penetapan ketentuan akuntansi di bidang Pasar Modal; f. Pengamanan teknis pelaksanaan tugas pokok Bapepam sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan

berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 4. Tujuan BAPEPAM-LK adalah memperkuat pengawasan Pasar Modal, meningkatkan kepastian hukum di Pasar Modal, meningkatkan peran dan kualitas pelaku Pasar Modal, memperluas alternatif investasi dan pembiayaan di Pasar Modal, dan mengembangkan Pasar Modal berbasis syariah. 33 5. Kepastian hukum adalah landasan hukum yang kukuh, setiap pihak baik langsung maupun tidak langsung wajib untuk menghormati dan menegakkan substansi hukum yang berlaku dengan tujuan untuk menjamin dan meningkatkan kepercayaan pemodal terhadap industri efek nasional. 34

BAPEPAM-LK, Op.cit, hal. 42-66. Bismar Nasution, Hukum Kegiatan Ekonomi, Cet. 3, Ed. Revisi, (Bandung : Book Terrace & Library, 2009).
34

33

27

6. Pencucian Uang atau Money Laundering adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam undangundang.35 7. Pasar Modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek. 36 8. Transaksi adalah seluruh kegiatan yang menimbulkan hak atau kewajiban atau menyebabkan timbulnya hubungan hukum antara dua pihak atau lebih, termasuk kegiatan pentransferan dan/atau pemindahbukuan dana yang dilakukan oleh Penyedia Jasa Keuangan. 37 9. Transaksi Keuangan Mencurigakan adalah38 : a. Transaksi Keuangan yang menyimpang dari profil, karakteristik, atau kebiasaan pola transaksi dari Pengguna Jasa yang bersangkutan; b. Transaksi Keuangan oleh Pengguna Jasa yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelaporan Transaksi yang

bersangkutan yang wajib dilakukan oleh Pihak Pelapor sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini; c. Transaksi Keuangan yang dilakukan atau batal dilakukan dengan menggunakan Harta Kekayaan yang diduga berasal dari Hasil Tindak Pidana; atau
Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Op.cit., Pasal 1 angka 1. 36 Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Op.cit. 37 Loc.cit., angka 3. 38 Ibid., angka 5.
35

28

d. Transaksi Keuangan yang diminta oleh PPATK untuk dilaporkan oleh Pihak Pelapor karena melibatkan Harta Kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana. 10. Uang haram adalah uang hasil tindak pidana kejahatan atau uang yang didapat dari tindakan melawan hukum. 11. Predicate Crime adalah tindak pidana asal dan atau dasar pidana sebelum terjadinya pencucian uang. 12. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan yang selanjutnya disebut PPATK adalah lembaga independen yang dibentuk dalam rangka mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang.39 13. Penegakan Hukum adalah proses hukum itu diterapkan untuk menciptakan kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat. 14. Penyidikan adalah penelitian terhadap suatu kasus tindak pidana, dalam hal ini adalah TPPU atau money laundering. Dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, penyidikan dilakukan terhadap tindak pidana asal. 40

G.

Metode Penelitian

Ibid., angka 2 Ibid., Penjelasan Pasal 74, yang mengatakan bahwa : Yang dimaksud dengan “penyidik tindak pidana asal” adalah penjabat dari instansi yang oleh undang-undang diberi kewenangan untuk melakukan penyidikan, yaitu Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kejaksaan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Badan Narkotika Nasional (BNN), serta Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Penyidik tindak pidana asal dapat melakukan penyidikan tindak pidana pencucian uang apabila menemukan bukti permulaan yang cukup terjadinya tindak pidana pencucian uang saat melakukan penyidikan tindak pidana asal sesuai kewenangannya.
40

39

29

Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan juridis normatif empiris. 41 Dengan demikian objek penelitian adalah norma hukum yang terwujud dalam kaidah-kaidah hukum dibuat dan ditetapkan oleh pemerintah dalam sejumlah peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang terkait secara langsung dengan kewenangan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM-LK) terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang di Pasar Modal Indonesia.

1.

Jenis dan Sifat Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum normatif dengan

menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach) dalam melakukan pengkajian kewenangan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM-LK) dalam menangani Tindak Pidana Pencucian Uang di Pasar Modal Indonesia. Pendekatan tersebut berkaitan dengan pendekatan yang dilakukan dengan menggunakan teori hukum murni yang berupaya membatasi pengertian hukum pada bidang-bidang hukum saja, bukan karena hukum itu mengabaikan atau memungkiri pengertian-pengertian yang berkaitan, melainkan karena pendekatan seperti ini menghindari pencampuradukan berbagai disiplin ilmu yang berlainan metodologi (sinkretisme metodologi) yang mengaburkan esensi ilmu hukum dan meniadakan batas-batas yang ditetapkan pada hukum itu oleh sifat pokok bahasannya.42

Adapun tahap-tahap dalam analisis juridis normatif adalah : merumuskan azas-azas hukum dari data hukum positif tertulis; merumuskan pengertian-pengertian hukum; pembentukan standarstandar hukum; dan perumusan kaidah-kaidah hukum. Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Rajawali Press, 2010), hal. 166-167. 42 Hans Kelsen, Teori Hukum Murni : Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif, diterjemahkan oleh Raisul Muttaqien, disunting oleh Nurainun Mangunsong, (Bandung : Nusamedia & Nuansa, Cet. III, 2007).

41

30

Sifat penelitian adalah penelitian deskriptif analisis yang ditujukan untuk menggambarkan secara tepat, akurat, dan sistematis gejala-gejala hukum terkait dengan peranan hukum dalam pembangunan ekonomi studi terhadap kewenangan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM-LK) dalam menangani Tindak Pidana Pencucian Uang di Pasar Modal Indonesia.

2.

Sumber Bahan Hukum Penelitian hukum normatif yang menitikberatkan pada penelitian kepustakaan

dan berdasarkan pada data sekunder, maka sumber bahan hukum yang digunakan dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu : 1. Bahan hukum primer, meliputi seluruh peraturan perundang-undangan yang relevan dengan permasalahan dan tujuan penelitian, antara lain : UndangUndang No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal, Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, dan peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait seperti Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM-LK). 2. Bahan hukum sekunder digunakan untuk membantu memahami berbagai konsep hukum dalam bahan hukum primer, analisis bahan hukum primer dibantu oleh bahan hukum sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber baik jurnal, buku-buku, makalah, serta karya ilmiah mengenai pasar modal dan pencucian uang, berita, dan ulasan media, juga sumber-sumber lain yang relevan dengan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM-LK), Tindak Pidana Pencucian Uang, dan Pasar Modal.

31

3. Bahan hukum tertier diperlukan dipergunakan untuk berbagai hal dalam hal penjelasan makna-makna kata dari bahan hukum sekunder dan bahan hukum primer, khususnya kamus-kamus hukum dan ekonomi.

3.

Teknik Pengumpulan Data Seluruh bahan hukum dikumpulkan dengan menggunakan tehnik studi

kepustakaan43 (library research) dan studi dokumen dari berbagai sumber yang dipandang relevan, antara lain instansi terkait dan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM-LK). Perpustakaan yang digunakan adalah Perpustakaan Universitas Sumatera Utara dan Perpustakaan Cabang Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

4.

Analisis Data Data-data tersebut di atas berupa bahan-bahan hukum dianalisis dengan

menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Dilihat dari tujuan analisis, maka ada dua hal yang ingin dicapai dalam analisis data kualitatif, yaitu : 1) Menganalisis proses berlangsungnya suatu fenomena hukum dan memperoleh suatu gambaran yang tuntas terhadap proses tersebut; dan 2) Menganalisis makna yang ada di balik

Menurut Bambang Sunggono, studi kepustakaan dapat membantu peneliti dalam berbagai keperluan, misalnya : a) Mendapatkan gambaran atau informasi tentang penelitian yang sejenis dan berkaitan dengan permasalahan yang diteliti; b) Mendapatkan metode, teknik, atau cara pendekatan pemecahan permasalahan yang digunakan; c) Sebagai sumber data sekunder; d) Mengetahui historis dan perspektif dari permasalahan penelitiannya; e) Mendapatkan informasi tentang cara evaluasi atau analisis data yang dapat digunakan; f) Memperkaya ide-ide baru; dan g) Mengetahui siapa saja peneliti lain di bidang yang sama dan siapa pemakai hasil penelitian tersebut, seperti yang dikemukakan Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta : Rajawali Press, 2010), hal. 112-113.

43

32

informasi, data, dan proses suatu fenomena.44 Bahan hukum primer yang terinventarisasi terlebih dahulu disistematisasikan sesuai dengan substansi yang diatur dengan mempertimbangkan relevansinya terhadap rumusan permasalahan dan tujuan penelitian. Kemudian dilakukan prediktabilitas hukum, mencari keadilan hukum, perlindungan hukum, dan lain-lain. 45 Analisis dilakukan secara holistik46 dan integral untuk menemukan hubungan logis antara berbagai konsep hukum yang sudah ditemukan dengan menggunakan kerangka teoritis yang relevan. Dalam hal ini yang akan diuji hubungan logisnya antara lain meliputi hubungan antara Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAMLK), Pasar Modal, peran ekonomi Pelaku Usaha dalam Pasar Modal, Tindak Pidana Pencucian Uang, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), dan lain-lain yang ditemukan dalam penelitian. Melalui pendekatan holistik dalam ilmu hukum, maka ilmu hukum dapat menjalankan perkembangannya sebagai suatu ilmu pengetahuan yang lebih utuh dan tidak terintegrasi ke dalam ilmu-ilmu lain yang nantinya akan berakibat bagi perkembangan ilmu hukum itu sendiri, oleh sebab itu paradigma tersebut tentunya akan mengubah peta hukum dan pembelajaran hukum selama ini memandu kita

Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, Ed. 1, Cet. 3, (Jakarta : Kencana, 2009), hal. 153. 45 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Rosda, 2006), hal. 248, dalam Burhan Bungin, Ibid., hal. 144-145. 46 Menurut Dilthey, holistik adalah hubungan melingkar antara part (bagian) dan whole (keseluruhan) sebagai perputaran antara bagian dan keseluruhan dalam memahami sesuatu. Bagian yang satu dapat dipahami apabila direlasikan dengan bagian yang lain sehingga membentuk totalitas atau keseluruhan, dalam Yusran Darmawan, ”Membincang Holistik dalam Antropologi”, http://timurangin.blogspot.com/2009/08/membincang-holistik-dalam-antropologi.html., diakses pada 13 Agustus 2010.

44

33

dalam setiap kajian-kajian ilmu hukum yang lebih baik dalam prinsip keilmuan.47 Pendekatan secara integral maksudnya adalah suatu konsep yang meliputi seluruh bagian dari Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM-LK) agar menjadikan sebuah penelitian itu lengkap dan sempurna.48 Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menggunakan logika berfikir deduktif – induktif yaitu dilakukan dengan teori yang digunakan dijadikan sebagai titik tolak untuk melakukan penelitian. Deduktif artinya menggunakan teori sebagai alat, ukuran dan bahkan instrumen untuk membangun hipotesis, sehingga secara tidak langsung akan menggunakan teori sebagai pisau analisis dalam melihat masalah dalam kebijakan yang dibuat oleh Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM-LK). Teorisasi induktif adalah menggunakan data sebagai awal pijakan melakukan penelitian, bahkan dalam format induktif tidak mengenal teorisasi sama sekali artinya teori dan teorisasi bukan hal yang penting untuk dilakukan. Maka deduktif – induktif adalah penarikan kesimpulan didasarkan pada teori yang digunakan pada awal penelitian dan data-data yang didapat sebagai tunjangan pembuktian teori tersebut apakah : 1) hasil-hasil penelitian ternyata mendukung teori tersebut sehingga hasil penelitian dapat memperkuat teori yang ada; 2) apakah teori dalam posisi dapat dikritik karena telah mengalami perubahan-perubahan disebabkan karena waktu yang berbeda, lingkungan yang berbeda, atau fenomena yang telah berubah, untuk itu perlu dikritik dan direvisi teori yang digunakan tadi; 3) apakah membantah teori yang
Satjipto Rahardjo, “Pendekatan Holistik Terhadap Hukum”, (Jurnal Progresif, Vol. 1 No. 2), hal. 5, dalam Ronny Junaidy K., “Ilmu Hukum dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan Modern”, http://www.legalitas.org/content/ilmu-hukum-dalam-perspektif-ilmu-pengetahuan-modern., diakses pada 13 Agustus 2010. 48 Departemen Pendidikan Nasional, “Integral”, Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php., diakses pada 13 Agustus 2010.
47

34

digunakan untuk penelitian berdasarkan hasil penelitian, maka semua aspek teori tidak dapat dipertahankan karena waktu, lingkungan, dan fenomena yang berbeda, dengan demikian teori tidak dapat dipertahankan atau direvisi lagi, karena itu teori tersebut harus ditolak kebenarannya dengan menggunakan teori baru.49

49

Burhan Bungin, Op.cit., hal. 26-29.

35

BAB II PRAKTEK TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DI PASAR MODAL

Pasar modal merupakan salah satu bagian dari pasar keuangan (financial market), di samping pasar uang (money market) yang sangat penting peranannya bagi pembangunan nasional pada umumnya, khususnya bagi pengembangan dunia usaha sebagai salah satu alternatif sumber pembiayaan eksternal oleh perusahaan.50 Sama halnya dengan pencarian sumber dana segar untuk menyelenggarakan bisnis perusahaan yang dilakukan oleh pelaku usaha dan/atau pengelola perusahaan, dalam hal ini jajaran direksi. Pasar modal merupakan salah satu dari perkembangan bisnis dewasa ini. Pasar modal dapat memainkan peranan penting dalam perkembangan ekonomi di suatu negara, baik sebagai sarana investasi maupun sebagai sumber pembiayaan bagi para investor.51 Melalui pasar modal, perusahaan dapat mengembangkan instrumen

keuntungan, mendiversifikasikan resiko dan memobilisasi dana masyarakat sehingga dapat tercipta pengalokasian sumber dana secara lebih efisien dan dapat melahirkan budaya fairness melalui keterbukaan yang pada akhirnya akan menciptakan ekonomi yang sehat dari suatu negara.52 Fairness di atas dimaksudkan adalah keadilan dalam dunia usaha yaitu menguntungkan pengusaha dan pemodal. Tidak ada yang dirugikan disini, namun jika usaha yang dilakukan mengalami kemunduran atau kerugian maka
Nasarudin dan Surya, Op.cit., hal. 13. Perlindungan terhadap investor merupakan satu kata kunci di pasar modal. Perlindungan merupakan kebutuhan dasar investor yang harus dijamin keberadaannya. Hal ini penting dan mutlak. Bisa dibayangkan bagaimana mungkin investor bersedia menanamkan dananya, jika tidak ada jaminan perlindungan terhadap investasinya. Sumber : I Putu Gede Ary Suta, Peranan Pasar Modal, hal. 91. 52 I Putu Gede Ary Suta, Menuju Pasar Modal Modern, (Jakarta : Yayasan SAD Satria Bhakti, 2000), hal. 51.
51 50

36

dapat diambil jalan pembagian kerugian. Dengan kata lain, pemodal juga tidak dapat menerima untung atau laba saja melainkan kerugian juga ditanggung mereka. Adapun misi dari pasar modal di Indonesia adalah untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan, dan stabilitas ekonomi nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat. 53 Dari uraian di atas, dapat disimpulkan fungsi dari pasar modal, yaitu 54 : 1. Sarana untuk menghimpun dana-dana masyarakat untuk disalurkan ke dalam kegiatan-kegiatan yang produktif; 2. Sumber pembiayaan yang mudah, murah, dan cepat bagi dunia usaha dan pembangunan nasional; 3. Mendorong terciptanya kesempatan berusaha dan sekaligus menciptakan kesempatan kerja; 4. Mempertinggi efisiensi alokasi sumber produksi; 5. Memperkokoh beroperasinya mekanisme finansial market dalam menata sistem moneter, karena pasar modal dapat menjadi sarana ”open market operation” sewaktu-waktu diperlukan oleh Bank Sentral; 6. Menekan tingginya tingkat bunga menuju suatu ”rate” yang reasonable; dan 7. Sebagai alternatif investasi bagi para pemodal.

Adanya modal yang cukup mengakibatkan perusahaan dapat melanjutkan bidang usahanya dalam membuka lapangan pekerjaan dengan begitu dapat menampung banyak masyarakat yang dapat bekerja. Adanya masyarakat yang
53 54

Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Op.cit., dalam Penjelasan Umum. Nasarudin dan Surya, Op.cit., hal. 278.

37

bekerja akan memutar perekonomian negara dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penegakan hukum tidak boleh terlepas dari kerangka keadilan, karena kalau tidak, penegakan hukum malah akan menjadi counter productive, yang pada gilirannya akan menjadi bumerang bagi perkembangan pasar modal. Bagi investor sebaiknya membekali dirinya dengan pemahaman yang mencukupi sebelum mengambil keputusan untuk melakukan transaksi efek. Prospektus dan laporan berkala dan insidentil menjadi pedoman bagi investor untuk dapat melihat dan mempertimbangkan pengambilan keputusannya.55 BAPEPAM-LK secara tidak langsung berupaya agar pemegang saham mengetahui dan mempergunakan hak dalam melindungi kepentingannya menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perkembangan pasar modal sangatlah pesat sehingga perangkat hukum yang ada perlu penyempurnaan dan penajaman. Perkembangan dan kemajuan pasar modal sangat ditentukan oleh adanya kepastian hukum bagi para pelakunya, terutama masyarakat investor. Investor, khususnya investor internasional menaruh perhatian yang sangat besar terhadap aturan hukum (rule of law) disamping adanya aspek disclosure (keterbukaan informasi). Investor manapun pasti enggan masuk pasar jika pasar yang bersangkutan tidak memiliki perangkat aturan yang jelas. Apalagi bisnis di pasar modal dapat dibilang sebagai bisnis yang mengandalkan kepercayaan. Kepercayaan tersebut akan lebih aman dan terjamin jika dipayungi oleh peraturan yang jelas dan
55

Nasarudin dan Surya, Op.cit., hal. 279.

38

mengikat. Oleh karena itu, sejalan dengan semakin diakuinya peran strategis di bidang pasar modal, BAPEPAM-LK memiliki kewajiban untuk mengeluarkan regulasi di bidang pasar modal Standar dan praktek internasional telah mengharuskan BAPEPAM-LK untuk membuat setiap aturan yang mengacu kepada standar internasional. 56 Hal tersebut diwujudkan dalam kebijakan pembuatan peraturan BAPEPAMLK yang pada intinya menetapkan mekanisme pembuatan peraturan yang melibatkan semua pihak yang terkait. Sebagai hasilnya, telah dibuat peraturan dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, dimana keseluruhan peraturan tersebut tertuang dalam buku Peraturan BAPEPAM-LK (BAPEPAM-LK Rulebook) yang telah menjadi acuan bagi para pihak yang bergerak di bidang pasar modal. Tindak pidana dan aktivitas di pasar modal telah semakin kompleks yang antara lain berdampak pada semakin canggihnya tekhnik yang dilakukan oleh pihakpihak tertentu yang melakukan tindak pidana di Pasar Modal. Tantangan yang dihadapi oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil BAPEPAM-LK sebagai aparat penegak hukum yang diberi kewenangan untuk melakukan penyidikan saat ini dan pada masa yang akan datang akan semakin berat, seiring dengan semakin canggihnya tekhnik tindak pidana, termasuk di dalamnya tindak pidana di bidang pasar modal.57

BAPEPAM-LK adalah instansi yang berada di bawah Departemen Keuangan, merupakan instansi yang setingkat dengan Direktorat Jenderal. Dalam kegiatan pasar modal, BAPEPAM-LK bertindak sebagai wasit yang adil bagi pelaku pasar modal, yakni perusahaan go public (emiten), penjamin emisi (underwriter), investor dan broker/dealer. BAPEPAM-LK berwenang untuk menyiapkan berbagai perangkat aturan (hukum) yang berhubungan dengan aktivitas pasar modal, lihat Marzuki Usman, Singgih Riphat, dan Syahrir Ika, Pengetahuan Dasar Pasar Modal, (Jakarta : Jurnal Keuangan dan Moneter, 1997), hal. 13. 57 Nasarudin dan Surya, Op.cit., hal. 259.

56

39

Untuk dapat memahami lebih lanjut tentang tindak pidana di bidang Pasar Modal, berikut ini akan diuraikan lebih rinci jenis-jenis tindak pidana yang dikenal di Pasar Modal. Tindak pidana di pasar modal terbagi dalam 2 (dua) kelompok, yaitu : tindak pidana yang berasal dari dalam pasar modal itu sendiri dan tindak pidana yang berasal dari luar pasar modal.

A.

Tindak Pidana Pencucian Uang yang berasal dari dalam (Internal) Pasar Modal Tindak pidana pencucian uang yang berasal dari dalam (internal) pasar modal

terbagi 2 (dua), yaitu : penipuan dan manipulasi pasar. Penipuan dalam pasar modal, menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Pasal 90 huruf c adalah : ”membuat pernyataan tidak benar mengenai fakta material atau tidak mengungkapkan fakta material agar pernyataan yang dibuat tidak menyesatkan mengenai keadaan yang terjadi pada saat pernyataan dibuat dengan maksud untuk menguntungkan atau menghindarkan kerugian untuk diri sendiri atau pihak lain atau dengan tujuan mempengaruhi pihak lain untuk membeli atau menjual efek”. Informasi atau Fakta Material adalah informasi atau fakta penting dan relevan mengenai peristiwa, kejadian, atau fakta yang dapat mempengaruhi harga Efek pada Bursa Efek dan atau keputusan pemodal, calon pemodal, atau Pihak lain yang berkepentingan yang menjadi nasabahnya.58 Fakta material sebagai salah satu tujuan dari prinsip keterbukaan. Larangan ini ditujukan kepada semua pihak yang terlibat dalam perdagangan efek, bahkan turut serta melakukan penipuan pun tidak terlepas dari jerat pasal ini.
58

Pasal 1 angka 7, Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Op.cit.

40

Bagi kalangan tertentu yang mempunyai kemampuan dan fasilitas teknologi yang dengan itu semua mereka dapat melakukan penipuan pun tidak lepas dari pasal ini. BAPEPAM-LK dan PT. Bursa Efek Jakarta selaku regulator dan pengelola kegiatan perdagangan pasar modal harus mampu menjaga kredibilitas pasar modal Indonesia. Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal juga memberikan beberapa spesifikasi mengenai pengertian penipuan, yaitu terbatas dalam kegiatan perdagangan Efek yang meliputi kegiatan penawaran, pembelian, dan atau penjualan Efek yang terjadi dalam rangka Penawaran Umum, atau terjadi di Bursa Efek maupun di luar Bursa Efek atas Efek Emiten atau Perusahaan Publik. Berkaitan dengan pengertian tipu muslihat atau rangkaian kebohongan sebagaimana ditentukan dalam KUHP, Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal menegaskan bahwa hal tersebut termasuk membuat pernyataan yang tidak benar mengenai fakta material atau tidak mengungkapkan fakta yang material. Selain penipuan, dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dikenal pula suatu bentuk tindak pidana lain, yaitu manipulasi pasar. Secara sederhana manipulasi pasar adalah kegiatan untuk menciptakan gambaran semu atau menyesatkan mengenai kegiatan perdagangan, keadaan pasar, atau harga Efek di Bursa Efek atau memberi pernyataan, atau keterangan yang tidak benar atau menyesatkan sehingga harga Efek di bursa terpengaruh. Ketentuan tentang manipulasi pasar diatur dalam Pasal 91, 92, dan 93 Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

41

Menurut R. J. Shook dan Robert L. Shook dalam The Wall Street Direct Dictionary, manipulasi pasar adalah59 : “The illegal buying or selling of security to create the false impression that active trading exist in an effort to convince other people to buy more shares or sell the ones they own. Manipulation is done to influence prices so the person doing the manipulating can achieve a more advantegeous market”. False Impression tersebut mendorong pihak lain melakukan tindakan jual atau beli suatu efek pada tingkat harga yang diinginkan manipulator. Transaksi yang dapat menimbulkan gambaran semu antara lain adalah transaksi Efek yang tidak mengakibatkan perubahan kepemilikan atau penawaran jual atau beli Efek pada harga tertentu dimana Pihak tersebut juga telah bersekongkol dengan Pihak Lain yang melakukan penawaran beli atau jual Efek yang sama pada harga yang kurang lebih sama. Motif dari manipulasi pasar antara lain adalah untuk meningkatkan, menurunkan atau mempertahankan harga efek. Beberapa pola manipulasi pasar diantaranya60 : a. Menyebarluaskan informasi palsu mengenai emiten dengan tujuan untuk mempengaruhi harga efek perusahaan yang dimaksud di Bursa Efek (false information). Misalnya suatu pihak menyebarkan rumor bahwa Emiten A akan segera dilikuidasi, pasar merespon yang menyebabkan harga efeknya jatuh tajam di Bursa. b. Menyebarluaskan informasi yang menyesatkan atau informasi yang tidak lengkap (misinformation). Misalnya, suatu pihak menyebarkan rumor bahwa

59 60

R. J. Shook dan Robert L. Shook, The Wall Street Direct Dictionary, hal. 234. Nasarudin dan Surya, Op.cit., hal. 260.

42

Emiten A tidak termasuk perusahaan yang akan dilikuidasi oleh pemerintah, padahal Emiten A termasuk yang diambil alih oleh pemerintah.

Dalam praktek perdagangan Efek dikenal beberapa kegiatan yang dapat digolongkan sebagai manipulasi pasar, yaitu 61 : marking the close; painting the tape; pembentukan harga berkaitan dengan merger, konsolidasi, dan akuisisi; cornering the market; pools; wash sales; dan insider trading (perdagangan orang dalam). Selain bentuk tindak kejahatan di atas, Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, mengkategorikan sejumlah tindakan lain di bidang pasar modal sebagai tindakan kejahatan yang diancam pidana, yaitu 62 : 1. Setiap pihak yang tanpa izin, persetujuan atau pendaftaran melakukan kegiatan di bidang pasar modal sebagai : a. Lembaga Kliring dan Penjaminan atau Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian. b. Perseroan Reksa Dana. c. Perusahaan Efek. d. Penasihat Investasi. e. Penyelenggara Jasa Kustodian. f. Biro Administrasi Efek. g. Wali Amanat. h. Profesi Penunjang Pasar Modal, seperti Akuntan, Konsultan Hukum, Penilai, Notaris, dan Profesi Lain yang ditetapkan Pemerintah.
61 62

Ibid. Ibid., hal. 271.

43

2. Manajer Investasi dan Pihak terafiliasi yang menerima imbalan dari pihak lain dalam bentuk apapun, langsung maupun tidak untuk melakukan pembelian atau penjualan efek; 3. Emiten atau Perusahaan Publik melakukan penawaran umum namun tidak menyampaikan pernyataan pendaftaran atau pernyataan pendaftarannya belum dinyatakan efektif oleh BAPEPAM-LK (Pasal 70, Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal); 4. Siapa saja yang melakukan penipuan, menyesatkan BAPEPAM-LK, menghilangkan, memusnahkan, menghapuskan, mengubah, mengaburkan, menyembunyikan, atau memalsukan catatan dari pihak yang memperoleh izin, persetujuan dan pendaftaran dari BAPEPAM-LK (Pasal 107, Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal); 5. Pihak yang langsung atau tidak mempengaruhi pihak lain untuk melakukan pelanggaran pasal-pasal Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal diancam pidana seperti ditentukan dalam Pasal 103, 104, 105, 106, 107. (Pasal 108, Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal);

Setiap pelaku kejahatan atau tindakan lain yang dikualifikasikan sebagai kejahatan di bidang pasar modal, Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal mengancam pidana penjara selama 3 (tiga) sampai 10 (sepuluh) tahun dan denda sebanyak Rp. 5.000.000.000,(lima milyar rupiah) sampai

Rp. 15.000.000.000,- (lima belas milyar rupiah). 63 Bila dibandingkan dengan KUHP

63

Ibid., hal. 272.

44

Pasal 378, ancaman hukumannya paling lama adalah 4 (empat) tahun penjara bagi mereka yang terbukti melakukan penipuan. Sedanagkan dalam KUHP Pasal 390, ancaman hukumannya adalah paling lama 2 (dua) tahun 8 (delapan) bulan penjara. Dalam KUHP Pasal 378 disebutkan bahwa : ”Penipuan adalah tindakan untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan cara melawan hukum, mamakai nama palsu atau martabat palsu, tipu muslihat, rangkaian kebohongan, membujuk orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya atau supaya memberi utang atau menghapuskan piutang”. Dengan tetap memperhatikan ketentuan yang diatur dalam KUHP, UndangUndang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal memberikan beberapa spesifikasi mengenai pengertian penipuan, yaitu terbatas dalam kegiatan perdagangan efek yang meliputi kegiatan penawaran, pembelian, dan atau penjualan efek yang terjadi dalam rangka penawaran umum, atau terjadi di bursa efek maupun di luar bursa efek atas efek Emiten atau Perusahaan Publik. 64 Dari pengertian Penyedia Jasa Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf a, Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, beberapa di antaranya merupakan lembaga yang melakukan kegiatan di pasar modal seperti perusahaan efek, pengelola reksa dana, kustodian, wali amanat, lembaga penyimpanan dan penyelesaian. Sebagai lembaga yang termasuk dalam kategori Penyedia Jasa Keuangan, lembaga-lembaga

64

Ibid., hal. 262.

45

ini mempunyai kewajiban untuk menyampaikan laporan kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), dalam hal mendapatkan kondisi berikut65 : a. Transaksi Keuangan Mencurigakan; b. Transaksi Keuangan Tunai dalam jumlah paling sedikit Rp. 500.000.000,(lima ratus juta rupiah) atau dengan mata uang asing yang nilainya setara, yang dilakukan baik dalam satu kali Transaksi maupun beberapa kali Transaksi dalam 1 (satu) hari kerja; dan/atau c. Transaksi Keuangan transfer dana dari dan ke luar negeri.

Dalam hubungannya dengan kewajiban pelaporan perusahaan efek kepada PPATK, hal yang dilaporkan pada dasarnya adalah : a) mengetahui latar belakang, keadaan keuangan, dan tujuan investasi nasabahnya; dan b) membuat dan menyimpan catatan dengan baik mengenai pesanan, transaksi dan kondisi keuangannya.66 Selain itu, terhadap Perusahaan Efek, Pengelola Reksa Dana, dan Bank Kustodian, Wali Amanat, dan Lembaga Penyelesaian dan Penyimpanan, berdasarkan ketentuan Peraturan BAPEPAM No. V.D.10, kewajiban untuk menyampaikan laporan tersebut lebih difokuskan terhadap transaksi yang mencurigakan. Adapun contoh-contoh transaksi keuangan yang mencurigakan dalam pasar modal diantaranya67 : 1. Transfer dana tanpa disertai informasi yang jelas mengenai identitas pengirim atau penyetor dana tersebut;

Pasal 23 ayat (1), Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Op.cit. 66 Pasal 36, Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Op.cit. 67 Robinson Simbolon, “Mewaspadai Pencucian Uang Melalui Pasar Modal, dalam Jurnal Hukum Bisnis, Vol. 22, No. 3, (Jakarta : Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis, 2003), hal. 55.

65

46

2. Transfer dana, terutama dari luar negeri, untuk tujuan investasi tetapi jumlah investasinya relatif lebih kecil dibandingkan dengan jumlah dana yang ditransfer tersebut; 3. Keputusan investasi yang tidak memperhatikan pertimbangan ekonomis (misalnya menyimpan dana yang besar dalam rekening pasar uang); 4. Nasabah yang mempunyai beberapa rekening atau yang mempunyai rekening atas nama pihak lain yang tidak mempunyai hubungan bisnis atau alasan yang tepat lainnya dengan nasabah; 5. Adanya aliran dana yang masuk ke dalam rekening nasabah yang jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan pendapatan atau sumber penghasilan nasabah; 6. Nasabah yang memperlihatkan kehati-hatian yang berlebihan terutama terhadap kerahasiaan identitas atau kegiatan usahanya, atau nasabah yang menunda-nunda untuk memberikan informasi dan dokumen pendukung mengenai identitasnya; 7. Nasabah yang tidak memperhitungkan resiko dalam berinvestasi termasuk biaya-biaya yang timbul dalam berinvestasi; 8. Nasabah yang berasal dari atau yang mempunyai rekening di Negara yang dikenal sebagai tempat pencucian uang atas Negara yang kerahasiaan banknya sangat ketat; 9. Adanya transfer dana ke dalam suatu rekening yang sangat tinggi secara tibatiba padahal sebelumnya rekening tersebut tergolong tidak aktif;

47

10. Pembayaran transaksi melalui uang tunai, transfer dari rekening atas nama pihak lain, cek atas nama pihak lain, atau bentuk pembayaran lain yang sejenis dalam jumlah yang besar; dan 11. Adanya frekuensi transaksi pada rekening nasabah yang sangat tinggi tetapi frekuensi transaksi efeknya sangat sedikit.

B.

Tindak Pidana Pencucian Uang yang berasal dari luar (Eksternal) Pasar Modal Tindak pidana yang berasal dari luar (eksternal) pasar modal dapat dilihat

pada Pasal 2, Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian uang, yang menyatakan bahwa68 : (1) “Hasil tindak pidana adalah harta kekayaan yang diperoleh dari tindak pidana: a. Korupsi; b. Penyuapan; c. Narkotika; d. Psikotropika; e. Penyelundupan tenaga kerja; f. Penyelundupan imigran; g. Di bidang perbankan; h. Di bidang pasar modal; i. Di bidang perasuransian; j. Kepabeanan; k. Cukai; l. Perdagangan orang; m. Perdagangan senjata gelap; n. Terorisme; o. Penculikan; p. Pencurian; q. Penggelapan; r. Penipuan; s. Pemalsuan uang; t. Perjudian;
Pasal 2, Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Op.cit.
68

48

Prostitusi; Di bidang perpajakan; Di bidang kehutanan; Di bidang lingkungan hidup; Di bidang kelautan dan perikanan; atau Tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih, yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tindak pidana tersebut juga merupakan tindak pidana menurut hukum Indonesia. (2) Harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga akan digunakan dan/atau digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk kegiatan terorisme, organisasi teroris, atau teroris perseorangan disamakan sebagai hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf n”. Pembagian tindak pidana pasar modal ke internal dan eksternal adalah untuk memudahkan pemahaman mengenai kejahatan asal dari pencucian uang dilakukan. Untuk lebih lanjut akan dibahas mengenai contoh kasus pencucian uang. Kasus yang diangkat dalam penulisan riset penelitian ini adalah Kasus L/C Fiktif Bank BNI’46.

u. v. w. x. y. z.

C.

Kasus L/C Fiktif BNI’46 Kasus pembobolan Bank BNI menjadi isu yang mengejutkan masyarakat

Indonesia di akhir tahun 2003, dimana Bank BNI mengalami kerugian sebesar Rp.1,7 triliun yang diduga terjadi karena adanya transaksi ekspor fiktif melalui surat Letter of Credit (disingkat L/C). 69 Kasus ini menjadi fenomenal karena selain merugikan keuangan Bank BNI tetapi juga berimbas pada keuangan negara secara makro. Awal terbongkarnya kasus, pada saat BNI melakukan audit internal pada bulan Agustus

Letter of Credit (disingkat L/C) adalah suatu pernyataan tertulis dari bank atas permintaan nasabah untuk menyediakan dan menyelesaikan suatu jumlah kewajiban tertentu bagi kepentingan pihak ketiga (beneficiary), dengan syarat-syarat yang ditentukan. Pada umumnya L/C digunakan untuk membiayai penjualan barang jarak jauh antara eksportir dan importir. Lihat Black’s Law Dictionary, http://www.blackslawdictionary.com/Home/Default.aspx., diakses pada 20 Maret 2011.

69

49

2003. Dari audit itu diketahui bahwa ada posisi euro yang tinggi, senilai 52 juta euro. Pergerakan posisi euro dalam jumlah besar mencurigakan karena peredaran euro di Indonesia terbatas dan kinerja euro yang sedang baik pada saat itu.70 Dari audit akhirnya diketahui ada pembukaan L/C yang besar dan negara bakal rugi lebih dari satu triliun rupiah. Penjelasan mengenai L/C fiktif BNI 46 adalah sebagai berikut 71 : 1. Waktu kejadian 2. Opening Bank72 : Juli 2002 s/d Agustus 2003; : RosBank Switzerland, Dubai Bank Kenya Ltd., The Wall Street Banking Corp., dan Middle East Bank Ltd.; 3. Total nilai L/C : US$. 166,79 juta dan €. 56,77 juta atau sekitar Rp. 1,7 triliun; 4. Beneficiary/Penerima L/C73 : 11 Perusahaan di bawah Gramarindo Group dan 2 Perusahaan di bawah Petindo Group; 5. Objek Ekspor 6. Tujuan Eskpor 7. Skim : Pasir Kuarsa dan Minyak Residu; : Congo dan Kenya; : Usance L/C.74

“Indikasi Kejahatan yang dilakukan oleh Kreditur/Bank kepada Debitur/Nasabah”, http://korup5170.files.wordpress.com/2008/05/money-laundering.pdf., diakses pada 19 Maret 2011. 71 Ibid. 72 Opening Bank atau Issuing Bank atau Bank Penerbit adalah bank yang diminta oleh yang mengajukan permohonan/applicant untuk menerbitkan L/C. Dalam Black’s Law Dictionary, Op.cit. 73 Beneficiary atau Penerima adalah pihak yang menerima L/C dan biasanya juga adalah eksportir. Dalam Ibid. 74 Usance L/C adalah L/C yang mensyaratkan pembayaran atas unjuk, dimana kewajiban bank untuk melakukan pembayaran adalah pada saat dokumen-dokumen diajukan kepadanya. Dalam Ibid.

70

50

Adapun kronologis kejadian L/C BNI 46 tersebut, adalah sebagai berikut 75 : 1. Bank BNI Cabang Kemayoran Baru menerima 156 buah L/C dengan Issuing Bank : RosBank Switzerland, Dubai Bank Kenya Ltd., The Wall Street Banking Corp, dan Middle East Bank Ltd. Oleh karena BNI belum mempunyai hubungan koresponden langsung dengan bank yang tersebut di atas, mereka memakai bank mediator yaitu American Express bank dan Standard Chartered Bank; 2. Beneficiary mengajukan permohonan diskonto wesel ekspor berjangka (kredit ekspor) atas L/C-L/C tersebut di atas BNI dan disetujui oleh pihak BNI. Gramarindo Group menerima Rp. 1,6 triliun dan Petindo Group menerima Rp. 105 miliar; 3. Setelah beberapa tagihan tersebut jatuh tempo, Opening Bank tidak bisa membayar kepada BNI dan nasabahpun tidak bisa mengembalikan hasil ekspor yang sudah dicairkan sebelumnya; 4. Setelah diusut pihak Kepolisian, ternyata kegiatan ekspor tersebut tidak pernah ada terjadi; 5. Gramarindo Group telah mengembalikan Rp. 542 miliar, sisanya (Rp. 1,2 triliun) merupakan potensi kerugian BNI.

Dalam menanggapi kasus ini manajemen Bank BNI mengatakan bahwa tidak ada ekspor fiktif dan belum ada kerugian, tetapi yang ada hanya potensi kerugian

75

“Indikasi Kejahatan yang dilakukan oleh Kreditur/Bank kepada Debitur/Nasabah”, Op.cit.

51

(potential losses). Minimnya informasi mengenai sistem pembayaran perdagangan internasional melalui Letter of Credit (L/C) menimbulkan semakin banyaknya kerugian-kerugian yang akan ditimbulkan di kemudian hari. 76

1.

Pelanggaran dan Penyimpangan yang Terjadi Adapun beberapa pelanggaran atau penyimpangan yang terjadi pada kasus

yang sudah dipaparkan di atas, antara lain 77 : 1. Pelanggaran terhadap Peraturan Bank Indonesia dan peraturan perundangundangan lainnya; Dalam rangka penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan bank (prudential banking practice) Bank Indonesia telah membuat ketentuan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) yaitu 20 % dari modal disetor bank. Modal disetor BNI per 31 Desember 2003 adalah sebesar Rp 7.042 milyar, sehingga dengan demikian BMPK untuk kelompok Gramarindo dan Petindo adalah Rp 1,4 trilyun (20% modal disetor). Nilai L/C yang diberikan kepada Gramarindo transaksi sebesar Rp. 1,7 triliun jelas merupakan pelanggaran karena pada dasarnya dapat digolongkan dalam fasilitas pemberian kredit, terutama ketika fasilitas negosiasi tersebut efektif menjadi kredit karena tidak bisa dibayar oleh Issuing Bank. Diduga telah terjadi tindak pidana pemalsuan terhadap L/C dan dokumen ekspor (B/L), karena dari informasi yang ada, ternyata tidak pernah terjadi realisasi ekspor dan pengapalan barang ke Kenya dan Kongo.

76 77

Ibid. Ibid.

52

Di samping itu, berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah diputuskan terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Korupsi dan Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 Pasal 6 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (pada saat kasus diperiksa di pengadilan masih menggunakan Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang). 2. Pelanggaran terhadap aturan internal Bank; Semua bank, tidak terkecuali Bank BNI pasti sudah mempunyai aturan baku dalam menangani transaksi L/C, sehingga apabila semua aturan yang ada dilaksanakan niscaya kasus seperti Bank BNI tidak akan terjadi. Untuk lebih memberikan gambaran yang rinci, akan dianalisa kemungkinan pelanggaran pada setiap tahapan pemrosesan L/C sebagai berikut : a. Pada saat meneruskan L/C; Dari nama-nama Issuing Bank sebagaimana disebutkan, tidak terdapat dalam daftar nama-nama bank yang ada di Bankers Almanac atau setidak-tidaknya tidak cukup terkenal, untuk tidak mengatakan bahwa nama-nama bank itu hanya fiktif. Dalam praktek perbankan pada umumnya, kalau Issuing Bank tersebut bukan korespnden, tentunya pada saat L/C diterima mestinya tidak bisa diproses, karena tidak bisa dilakukan otentikasi atas kebenaran dan keabsahan L/C dimaksud, terlebih lagi kalau ternyata L/C itu diterbitkan oleh bank fiktif, jelas bank tidak boleh melakukan proses selanjutnya.

53

Dalam UCP 50078 Pasal 7 disebutkan bahwa dalam hal advising bank79 memutuskan untuk meneruskan L/C maka harus mengambil langkah-langkah yang benar dalam memeriksa keabsahan L/C yang diteruskannya dan apabila bank tersebut memutuskan tidak meneruskan, maka ia harus memberitahukan kepada Issuing Bank. Pasal 7 lebih lanjut mengatur bahwa apabila tidak bisa memastikan keabsahan L/C, Advising Bank pada kesempatan pertama harus memberitahukan kepada Issuing Bank dan apabila Advising Bank memilih untuk meneruskan L/C tersebut, maka ia harus memberitahukan kepada Beneficiary bahwa ia tidak dapat memastikan keabsahan L/C tersebut. Ada beberapa kemungkinan atas lolosnya L/C dari bankbank tersebut, yaitu : 1) L/C tersebut memang benar-benar asli dan otentik, dalam arti nama bank memang ada dan Bank BNI dapat melakukan otentikasi atas keabsahan L/C dimaksud. 2) L/C tersebut asli tapi palsu, dalam artian bukan diterbitkan oleh bank-bank tersebut,tapi dibuat seolah-olah diterbitkan oleh bank-bank tersebut dan dengan bantuan oknum-oknum yang ada di Bank BNI dapat diotentikasi dengan menggunakan sandi otentikasi dari bank-bank tersebut dengan cara-cara illegal. 3) 4) L/C memang tidak diotentikasi sama sekali oleh Bank BNI Satu hal yang juga sudah menjadi praktek standart yang dilakukan oleh bank-

UCP 500 adalah peraturan internasional mengenai perdagangan antar negara dengan menggunakan L/C. Kepanjangannya adalah Uniform Customs and Practice for Documentary Credits. Dikeluarkan oleh ICC (International Chamber of Commerce) di Paris, Perancis. 500 adalah nomor seri keluarannya. Dalam Black’s Law Dictionary, Op.cit. 79 Advising Bank atau Bank Penerus adalah bank koresponden dari Issuing Bank yang diminta untuk meneruskan L/C kepada eksportir. Dalam Ibid.

78

54

bank diseluruh dunia dan itu mungkin tidak dilakukan dalam kasus Bank BNI, adalah bahwa untuk nilai transaksi yang cukup besar biasanya dimintakan klarifikasi ulang kepada Issuing Bank untuk memastikan keabsahan dari L/C. b. Pada saat proses negosiasi (Diskonto Usance L/C); Sebelum melakukan negosiasi, bank biasanya melakukan rating terhadap resiko bank korespondennya dan kemudian dibuatkan commercial line. Ada atau tidaknya commercial line, dijadikan dasar pertimbangan untuk menegosiasi atau tidak. Artinya bahwa jika tidak ada commercial line, maka Bank dapat memutuskan untuk menolak negosiasi. Pada saat dokumen ekspor diajukan kepada bank, maka bank akan memeriksa untuk meyakini bahwa semua syarat dan kondisi L/C telah terpenuhi. Dalam memeriksa dokumen bank tidak bertanggung jawab terhadap kebenaran isi dokumen, sebagaimana diatur dalam UCP Pasal 4 : “dalam pelaksanaan L/C, bank hanya berurusan dengan dokumen-dokumen dan bukan dengan barangbarang, jasa-jasa dan atau pelaksanaan lainnya yang berkaitan dengan dokumen yang bersangkutan”. Meskipun UCP Pasal 4 mengatur demikian, bukan berarti bank tidak berhak mengecek apakah memang barang telah benar-benar dimuat di atas kapal, sehingga bisa diterbitkannya Bill of Lading.80 Dalam kasus BNI, seharusnya karena nilai dokumennya sangat besar, maka bank harus meyakini bahwa barang memang benarbenar telah dimuat diatas kapal dengan mengklarifikasi kepada perusahaan pelayaran

Bill of Lading adalah surat yang dikeluarkan maskapai pelayaran yang menerangkan bahwa ia telah menerima barang dari pengirim untuk diangkut sampai ke pelabuhan tujuan dan diserahkan kepada penerima; surat muatan mempunyai tiga fungsi yaitu sebagai perjanjian pengangkutan, tanda bukti penerimaan barang, dan tanda bukti pemilikan barang. Dalam Ibid.

80

55

atau dengan memeriksa secara langsung di pelabuhan muat. Setelah dokumen diperiksa lengkap dan sesuai dengan L/C, maka dalam kasus Bank BNI dimana L/C mensyaratkan pembayaran berjangka, maka tahap selanjutnya adalah memintakan akseptasi kepada Issuing Bank dan apabila sudah ada akseptasi maka baru bisa dilaksanakan negosiasi. c. Penanganan Pasca Negosiasi (Diskonto Usance L/C); Permasalahan di Bank BNI adalah bahwa setelah jatuh tempo, ternyata pihak Issuing Bank wanprestasi atau tidak bisa membayar tagihan wesel ekspor Usance. Sudah menjadi praktek umum di dunia perbankan, apabila terdapat tagihan wesel yang tidak dibayar oleh Issuing Bank, maka Negotiating Bank harus mengusahakan agar outstanding tagihan tersebut segera dibayar dan agar tidak terjadi akumulasi tagihan wesel yang tidak terbayar, maka bank seharusnya untuk sementara berhenti memberikan fasilitas negosiasi sampai semua tagihan weselnya dilunasi oleh Issuing Bank. Disamping itu pada saat memberikan fasilitas negosiasi, bank biasanya mensyaratkan kepada beneficiary untuk menyerahkan semacam surat jaminan yang dimana jika ternyata wesel ekspornya tidak dibayar oleh bank di luar negeri, negotiating bank dapat menarik kembali dari beneficiary atau sering disebut dengan hak regres. Hak regres adalah hak yang dimiliki oleh Negotiating Bank atas L/C yang tidak dikonfirmasi, untuk L/C yang dikonfirmasi Negotiating Bank tidak mempunyai hak regres (Pasal 9.IV UCP 500). Jadi dalam praktek, sebelum melakukan negosiasi bank akan meminta terlebih dahulu surat jaminan yang nantinya akan digunakan oleh Negotiating Bank untuk mengeksekusi hak regresnya. Bank juga harus meyakini

56

bahwa pada saat hak regres itu akan dieksekusi, maka rekening nasabah masih tersedia cukup dana. Dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas, dapat disimpulkan telah terjadi pelanggaran prosedur dalam menangani transaksi L/C tersebut di atas sejak dari tahap awal penerusan L/C sampai dengan L/C itu kemudian direalisir dan terjadi negosiasi. Pelanggaran tersebut kemudian berlanjut hingga saat fasilitas negosiasi menjadi bermasalah karena tidak dibayar oleh Issuing Bank, dimana kemungkinan Bank BNI kurang cepat dalam melakukan tindakan-tindakan pengamanan atas fasilitas yang telah diberikan kepada nasabahnya. 3. Pelanggaran terhadap UCP 500; Dalam kasus Bank BNI, pihak yang wanprestasi adalah Issuing Bank. Dengan asumsi bahwa nama-nama bank yang disebutkan sebelumnya adalah benar, maka Issuing Bank dimaksud telah melanggar Pasal 9.A.III, UCP 500 yang antara lain berbunyi : “Suatu irrevocable L/C merupakan jaminan yang pasti dari Issuing Bank asalkan dokumen-dokumen yang diminta diserahkan kepada Bank yang ditunjuk Negotiating Bank dan sesuai dengan syarat dan kondisi L/C, untuk : a. Apabila L/C mensyaratkan pembayaran atas unjuk (sight) – untuk membayar atas unjuk; b. Apabila L/C mensyaratkan pembayaran kemudian (defferred payment) – untuk membayar pada tanggal jatuh tempo yang ditentukan sesuai dengan yang disyaratkan L/C tersebut; c. Apabila L/C mensyaratkan akseptasi : 1) Oleh Issuing Bank – untuk mengaksep wesel yang ditarik oleh beneficiary pada Issuing Bank dan membayarnya pada saat jatuh tempo 2) Oleh bank tertarik lainnya untuk menerima dan membayar pada saat jatuh tempo wesel yang ditarik oleh beneficiary pada Issuing Bank dalam hal bank tertarik yang ditunjuk dalam L/C tidak mengaksep wesel yang ditarik atas bank tersebut, atau membayar wesel yang telah diaksep tetapi tidak dibayar oleh bank tertarik

57

tersebut pada saat jatuh tempo”. 4. Penyimpangan terhadap kebiasaan dan Best Practice di Dunia Perbankan; Berdasarkan penjelasan pada bagian sebelumnya, maka dapat disimpulkan telah terjadi penyimpangan terhadap Kebiasaan dan Best Practice di dunia perbankan sebagai berikut : a. Tidak dilakukan assessment resiko terhadap Issuing Bank (Commercial Line); b. Tidak dimintakan konfirmasi dari First Class International Bank, padahal untuk yang L/C berasal dari high risk country dan nilainya sangat besar lazimnya dikonfirmasi; c. Tidak dilakukan assessment terhadap nasabah penerima fasilitas (Gramarindo & Petindo), dengan analisa 5C (Character, Capability, Capital, Collateral & Condition) dan Trade Line; d. Tidak ada pemisahan fungsi manajemen risiko dan fungsi marketing karena semua keputusan dilakukan oleh satu pejabat yakni Kepala Cabang atau pejabat lain yang ditunjuk Kepala Cabang, tanpa adanya review dari sisi Risk Manajemen. 5. Pelanggaran terhadap Etika; Pegawai Bank BNI Kebayoran Baru lainnya tidak melaporkan adanya indikasi pelanggaran prosedur diskonto L/C kepada unit yang berwenang, sehingga potensi kerugian Bank BNI menjadi semakin besar. 6. Vonis Pengadilan Negeri Jakarta Selatan; Sehubungan dengan persidangan kasus L/C fiktif Bank BNI, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah menjatuhkan vonis sebagai berikut :

58

Vonis terhadap pelaku internal BNI : No. Nama Jabatan 1. Edi Santoso Kabid Pelayanan LN BNI Cab. Kebayoran Baru 2. Kusadiyuwoon Kepala Cab. BNI Kebayoran Baru Vonis terhadap pelaku nasabah BNI : No. Nama Jabatan 1. Olah Abdullah Agam Direktur PT. Gramarindo Legal Indonesia 2. Aprilla Widharta Direktur Pan Kifros

Vonis PN Penjara Seumur Hidup 16 Tahun Penjara

3.

Adrian P. Lumowa

Direktur Magnetique Esa Indonesia Direktur Binekatama Pasific Direktur Netrantara

4. 5.

Titik Pristiwanti Richard Kuontul

Vonis PN 15 Tahun penjara dikurangi masa tahanan; Denda Rp. 300 Juta. 15 Tahun Penjara dikurangi masa tahanan; Denda Rp. 200 juta 15 Tahun Penjara dikurangi masa tahanan; Denda Rp. 400 juta. 8 Tahun Penjara; Denda Rp. 300 juta. 10 Tahun Penjara; Denda Rp. 150 juta.

PASAL YANG DILANGGAR : PRIMAIR : - Pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 18 Undang-Undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-Undang No. 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 31 tahun 1999 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP. SUBSIDAIR : - Pasal 3 ayat (1) huruf a Undang-Undang No. 25 tahun 2003 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 64 ayat (1) ke-1 KUHP. LEBIH SUBSIDAIR : - Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang No. 25 tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.

59

Penjatuhan sanksi pidana kepada para pelaku baik internal maupun eksternal pada kasus L/C Fiktif Bank BNI’46 ini adalah terlalu ringan karena dana yang diambil lebih besar dari yang dijatuhi hukuman. Hal tersebut jelas tidak membuat jera para pelaku kejahatan. Seharusnya para pelaku kejahatan tersebut dimiskinkan atau disita seluruh harta bendanya baik atas namanya maupun atas nama anak, saudara dan 3 (tiga) garis keturunan ke bawah. Jika sudah dimiskinkan maka pelaku tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk naik banding ataupun ingin mengajukan upaya hukum lainnya. Sehingga kasus tersebut selesai sampai disitu.

2.

Analisis Hukum L/C Fiktif Bank BNI’46 Dalam Kasus seperti yang dijelaskan pada sub bab sebelumnya, ada beberapa

indikasi yang dilakukan oleh pihak kreditur bersama dengan para penegak hukum, yaitu81 : 1. Melaporkan tindak pidana kepada Aparat Kepolisian. Contoh kasus tersebut, kreditur melakukan penyuapan kepada pihak kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan agar kasus tersebut dapat dipidanakan, sehingga menyeret beberapa aparat kepolisian masuk penjara karena terlibat penyuapan. Pihak kejaksaan dan pengadilan belum ditemukan adanya kasus penyuapan karena terjadi kesepakatan-kesepakatan untuk saling menyelamatkan institusi; 2. Walaupun telah dilaporkan kepada pihak kepolisian, bahwa telah terjadi tindak pidana, tetapi beberapa Asset yang telah diserahkan karena Debitur melaksanakan Akte Pengakuan Hutang, dijual sendiri oleh kreditur dengan
81

“Indikasi Kejahatan yang dilakukan oleh Kreditu/Bank kepada Debitur/Nasabah”, Op.cit.

60

alasan melakukan recovery bank atau melakukan negosiasi sendiri apabila yang dijaminkan oleh debitur adalah Tagihan Piutang pada Pihak ke-III; 3. Polisi seharusnya menyita Asset dari Debitur, karena telah dibuktikan melakukan tindak pidana, tidak segera menyita, sebaliknya bersama kreditur ikut melakukan penjualan Asset tersebut tanpa melibatkan Debitur, sehingga Debitur tidak tahu dengan sebenar-benarnya berapa yang telah dijual dan yang telah disetorkan kepada pihak Kreditur, contoh kasus L/C BNI tersebut, aparat polisi bersama-sama dengan kreditur menjual Assets milik Debitur, dengan hasil penjualan adalah Rp. 5,3 miliar, disetorkan kepada Kreditur hanya Rp. 1 miliar, sisanya hilang begitu saja; 4. Terjadi tarik menarik dan saling menyalahkan, antara pihak kepolisian yang seharusnya berhak menyita, karena telah dilaporkan adanya tindak pidana, tetapi Kreditur tidak menyerahkan kepada aparat polisi karena mengharapkan melakukan recovery sendiri; 5. Kreditur sangat melindungi institusinya dengan mengorbankan pejabat rendahan. Bahwa pejabat tersebut yang telah bersama-sama dengan debitur melakukan tindak pidana padahal sistem pada BNI 46 tersebut sangatlah tidak mungkin apabila pejabat sampai tingkat pusat tidak mengetahui, karena semua transaksi sangat berpengaruh pada perdagangan Valuta Asing (Valas) yang bersifat harian dan menggunakan sistem online; 6. Kreditur selalu memberikan biaya operasi kepada setiap tindakan para aparat hukum, membelikan laptop, handphone, meubelair, uang saku, dan uang operasional perjalanan untuk melakukan sita administrasi dan biaya-biaya

61

lainnya agar tindak pidana tersebut tidak melebar dan mengarah kepada tindak pidana yang dilakukan oleh Kreditur, cukup para Debitur dan pegawai rendahan Kreditur yang dikorbankan; 7. Kreditur rela mengeluarkan uang untuk mengatur media massa, cetak dan elektronik dalam bentuk pemasangan iklan, sehingga semua pemberitaan menjadi tidak seimbang, semua pemberitaan menyudutkan debitor hanya untuk membentuk opini masyarakat; 8. Secara aktif melakukan pendekatan kepada institusi penegak hukum, melewati pengacaranya dan memberikan informasi kepada penegak hukum baik tertulis ataupun lisan yang menguntungkan Debitur; 9. Ada kecenderungan penegak hukum (polisi, jaksa, hakim) yang menangani kasus tersebut tidak begitu paham/pandai melihat kasus yang sebenarnya, penegak hukum dan Kreditur telah melakukan kolaborasi untuk memidanakan Debitur dengan alasan telah terjadi Tindak Pidana Korupsi, karena kalau dikenakan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang, penegak hukum yakin Debitur akan bebas karena alasan pembuktiannya akan lemah sekali dan mudah dibantahkan oleh Debitur; 10. Ada kecenderungan Kreditur mempengaruhi proses persidangan, bahkan daftar penyitaan asset yang dilakukan oleh hakim, bukan dari alat-alat bukti yang diajukan dalam persidangan yang terlebih dahulu telah disita oleh polisi tetapi daftar asset yang diajukan oleh Kreditur pada saat menjadi saksi dalam persidangan, dimana daftar asset-asset tersebut harus diteliti lebih dahulu

62

kepemilikannya bahkan kepemilikan pihak ketiga yang tidak terkait kasus tersebut ikut disita; 11. Ada perlakuan pidana yang tidak sama terhadap para Debitur, walaupun peran dan pasal yang divoniskan sama, Debitur A divonis ringan, tanpa penyitaan, Debitur B divonis berat, tanpa penyitaan, Debitur C divonis berat dan tetap dilakukan penyitaan, dan penghitungan uang pengganti untuk menutu pkerugian negara, tanpa menggunakan tolok ukur yang benar; 12. Penyitaan asset yang dilakukan, hanya Sita Administrasi karena ada unsur kesengajaan yang dilakukan Penegak Hukum dan Kreditur untuk tidak segera melakukan Sita Eksekusi terhadap asset debitur, sehingga asset potensial yang seharusnya dapat menutup kerugian negara, menjadi terlantar dan terjadi penurunan nilai ekonomis yang cukup signifikan; 13. Kreditur melakukan window dressing selama lebih dari satu tahun terhadap neraca keuangannya, karena ada maksud tersembunyi dari pemidanaan para Debitur yaitu menutupi kejadian Debitur lainnya yang lebih besar, agar Kreditur tidak ketahuan dan Debitur yang dilindungi dapat mempunyai waktu untuk melakukan penyelesaian kreditnya.

Dari seluruh poin-poin di atas yang terkait dengan pencucian uang dalam kasus L/C Fiktif BNI 46 dibuktikan dengan hasil pencucian uang kasus BNI masuk

63

ke pasar modal. 82 Menurut keterangan Ketua BAPEPAM, Herwidayatmo, sebagai berikut : ”Terdapat aliran dana ke pasar modal yang diduga merupakan hasil tindak pidana pencucian uang (money laundering). Jumlahnya sekitar Rp. 11,4 miliar. Berdasarkan laporan dari PPATK aliran dana diduga merupakan bagian dari hasil tindak pidana manipulasi kredit ekspor BNI. Sebagian dimasukkan ke reksadana, sebagian lagi ke pasar saham, dan sisanya dibelikan obligasi korporasi. BAPEPAM-LK sudah mengirim tim ke PPATK untuk mengkaji bahan-bahan dan temuan yang ada untuk ditindaklanjuti. Saat ini sudah ada empat perusahaan yang terindikasi menerima dana tersebut. Perusahaan tersebut harus diperksa apabila diketahui ada transaksi yang mencurigakan, maka berdasarkan peraturan yang ada perusahaan-perusahaan tersebut harus dilaporkan ke PPATK dan BAPEPAM-LK. Berdasarkan Peraturan BAPEPAM No. 5/D/10, perusahaan diwajibkan untuk menerapkan prinsip mengenal nasabah atau Know Your Customer (KYC). Kebanyakan perusahaan-perusahaan tersebut tidak mengetahui bahwa duit yang digunakan untuk membeli surat-surat berharta tersebut adalah uang haram. Sewaktu mengambil uangnya di bank tidak ada masalah karena kasusnya baru terbongkar beberapa waktu kemudian”. Sebelumnya berkas laporan telah terjadi pencucian uang di pasar modal sudah diserahkan kepada BAPEPAM-LK oleh PPATK. Hal ini diungkapkan oleh Ketua PPATK, Yunus Husein, sebagai berikut 83 : ”Yunus Husein mengakui adanya empat perusahaan sekuritas yang menjadi sarana pencucian uang (money laundering) dana hasil pembobolan BNI. Tetapi kemungkinan besar perusahaan tersebut tidak mengetahuinya. Sebagian dana hasil pembobolan BNI ternyata disalurkan ke pasar modal. Dana sebesar Rp. 11,4 miliar tersebut digunakan untuk membeli satu obligasi, dua saham, dan satu reksadana. Hal ini terungkap berkat laporan dari bank yang digunakan untuk menyalurkan dana tersebut. Jadi, bank tidak salah.
Ahmad Ihsan, “Hasil Pencucian Uang Kasus BNI Masuk Pasar Modal”, Kamis, 19 Februari 2004, http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2004/02/19/brk,20040219-28,id.html., diakses pada 19 Maret 2011. 83 Ahmad Ihsan, “PPATK : Empat Perusahaan Sekuritas Terlibat Pencucian Uang”, http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2004/02/19/brk,20040219-39,id.html., diakses pada 21 Maret 2011.
82

64

Bank justru yang membantu karena melaporkan adanya transaksi yang mencurigakan tersebut. PPATK kemudian menemukan adanya empat perusahaan sekuritas yang membantu menyalurkan dana tersebut. Selanjutnya, PPATK melayangkan surat pemberitahuan kepada perusahaan-perusahaan bahwa mereka telah menjadi sarana tindak pidana pencucian uang. Perusahaan tersebut hanyalah sebagai sarana, pelaku sebenarnya adalah yang menyuruh untuk membeli dan sekarang memiliki surat-surat berharga tersebut. Yunus mengakui keempat perusahaan tersebut bersalah karena tidak melaporkan dari awal adanya transaksi keuangan yang mencurigakan tersebut. Barulah setelah dikirimi pemberitahuan oleh PPATK keempatnya melaporkan konfirmasi adanya empat perusahan sekuritas tersebut. Yunus menduga kemungkinan besar mereka memang tidak mengetahui bahwa dana yang disetorkan oleh investornya adalah dana hasil pembobolan BNI. Informasi yang dikumpulkan PPATK menyatakan bahwa aktivitas pembelian surat berharga oleh uang haram tersebut dilakukan pada bulan September, Oktober, dan November 2003. Menurut Yunus Husein, wajar apabila empat perusahaan sekuritas tersebut tidak mencurigai dana dan si investor karena pada saat itu kasus BNI belum terbuka, BI baru menerima laporan dari BNI pada bulan Oktober 2003. Beberapa bank juga tidak mengetahui adanya uang haram hasil pembobolan BNI yang disimpannya. Bagaimana bank bisa curiga karena mereka menggunakan nama badan hukum lain, nama orang lain yang tidak dikenal untuk menyimpan maupun mencairkan uang tersebut. Oleh karena itu wajar saja kalau empat perusahaan sekuritas tersebut tidak menyadari bahwa dana yang diterima adalah uang haram. Bank saja awalnya tidak tahu. Baru setelah dikirimi surat pemberitahuan kemudian menjadi waspada dan berhasil menemukan beberapa rekening yang mencurigakan. Walaupun demikian pemeriksaan tetap dilakukan mengapa keempatnya tidak melaporkan adanya transaksi keuangan yang mencurigakan tersebut. Seluruh berkas laporan sudah diserahkan kepada Bapepam, kini semuanya tergantung dengan mereka. PPATK juga melaporkan temuan ini kepada Kepolisian karena dana tersebut merupakan barang bukti kasus BNI”.

Dalam hal pengejaran atau pencarian aliran dana yang masuk ke pasar modal dapat dilakukan dengan mengikuti arus aliran dana atau arus aliran saham, seperti

65

yang sudah dijelaskan pada sub-bab sebelumnya. Hal inilah yang dilakukan PPATK untuk mengejar para pelaku kejahatan pencucian uang. Pengejaran dimaksud harus didasarkan dengan laporan dari BAPEPAM-LK terlebih dahulu barulah PPATK dapat bekerja. Ini yang disebut passive responsive dari institusi PPATK. Dalam pemberian sanksi kepada perusahaan sekuritas tempat terjadinya pencucian uang kasus BNI ini diserahkan kembali oleh PPATK kepada BAPEPAM-LK karena pemberian sanksi bukanlah kewenangan PPATK. Ranah hukumnya adalah BAPEPAM-LK. Mengenai budaya hukum yang diutarakan dalam teori Sistem Hukum, Lawrence M. Friedman terkait dengan kasus L/C Fiktif BNI adalah bahwa belum adanya budaya anti korupsi di dalam masyarakat dan perbedaan pemahaman masyarakat (nasabah bank) mengenai praktik pencucian uang. Karena masih banyak masyarakat yang berpendapat bahwa pencucian uang tidak langsung akan merugikan masyarakat. Substansi dari sistem hukum adalah norma-norma yang tedapat dalam undang-undang dan putusan pengadilan. Aparatur atau organ dapat diumpamakan sebagai mesin yang menghasilkan produk hukum tersebut. Selanjutnya, yang menentukan berjalannya suatu sistem hukum adalah budaya hukum (legal culture) masyarakat. Budaya hukum masyarakat ditentukan oleh sub-culture. Sub-Culture tersebut dipengaruhi, antara lain oleh : agama; pendidikan, posisi atau kedudukan; kepentingan; dan nilai-nilai yang dianut.

66

Secara umum hambatan yang ada dalam tindak pidana pencucian uang dalam Kasus L/C Fiktif BNI tersebut, yaitu84 : 1. Kelemahan substansi sistem hukum yang antara lain disebabkan oleh : a. Materi dan sanksi hukum tidak lengkap; b. Sanksi hukum tidak menimbulkan efek jera; c. Hukum hanya mementingkan kepastian hukum dan mengabaikan keadilan; d. Tidak mengikuti perkembangan zaman. 2. Kelemahan aparatur negara; a. Ketidakpastian bank-bank dan penyedia jasa keuangan untuk

melaksanakan kewajiban pelaporan; b. Ketidakmampuan para petugas penyedia jasa keuangan dalam mendeteksi transaksi dan rekening yang ada, atau yang menimbulkan kecurigaan; c. Kinerja atau profesionalitas penegak hukum yang tidak memadai dalam mengungkapkan kejahatan money laundering; 3. Budaya hukum masyarakat belum mendukung anti pencucian uang.

Agar tindak pidana money laundering dapat diberantas maka harus dilakukan secara sistematis dengan cara melakukan perubahan pada struktur dan pelaku yang dualitas hubungan keduanya menentukan wajah sistem tersebut. Upaya memerangi tindak pidana ini harus digerakkan serta didukung sepenuhnya oleh Presiden dan pejabat yang menduduki posisi-posisi kunci seperti Menteri, Kepala Kepolisian,

84

“Indikasi Kejahatan yang dilakukan oleh Kreditur/Bank kepada Debitur/Nasabah”, Op.cit.

67

Kepala Kejaksaan, Ketua Mahkamah Agung, dan Ketua-ketua Pengadilan dan tentunya anggota Komisi Pemberantasan Korupsi. Para penegak hukum tersebut harus mengedepankan supremasi hukum di atas kekuatan dan kepentingan lainnya.85 Selain itu diperlukan peran serta masyarakat untuk melaporkan setiap transaksi (perbankan) yang mencurigakan serta lembaga-lembaga suatu ”kelompok pengawas” yang secara konsisten melakukan pengawasan terhadap penguasa dan jajaran pemerintahannya misalnya lembaga seperti Indonesian Corruption Watch (ICW) di setiap Kabupaten/Kota untuk mengawasi perilaku penguasa dan pemerintah daerah tersebut.86

D.

Terjadinya Praktek Pencucian Uang di Pasar Modal Adapun terjadinya praktek pencucian uang di Pasar Modal dilakukan dengan

2 (dua) cara yaitu : integration dan layering. Integration adalah mengembalikan dana yang telah tampak sah kepada pemiliknya sehingga dapat digunakan dengan aman. Layering adalah memindahkan atau mengubah bentuk dana melalui transaksi keuangan yang kompleks dalam rangka mempersulit pelacakan (audit trail) asal usul dana.87 Pertama, hasil dari tindak pidana selain tindak pidana pasar modal masuk ke dalam sistem pasar modal (dicuci melalui transaksi yang dilakukan di pasar modal, misalnya uang hasil korupsi diinvestasikan dengan cara pembelian saham. Kedua,
Ibid. Ibid. 87 Yunus Husein, “Rezim Anti Money Laundering : Aspek Hukum dan Perkembangan Terkini”, Disampaikan dalam Kuliah Umum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 8 Mei 2009, hal. 8.
86 85

68

hasil tindak pidana pasar modal dicuci melalui sistem pasar modal juga. Jika yang terjadi adalah keadaan yang kedua, maka kejahatan dan proses pencucian uang dilakukan dalam satu medium yang sama yaitu pasar modal.

69

BAB III KEWENANGAN BAPEPAM-LK TERHADAP PENANGANAN PRAKTEK MONEY LAUNDERING DI PASAR MODAL

Salah satu kejahatan kerah putih yang sedang naik daun di dunia kejahatan adalah pencucian uang. Maraknya tindak pidana jenis kerah putih seperti pencucian uang ini bisa disebabkan oleh sulitnya pendeteksian dini disamping canggihnya teknologi yang digunakan dalam aplikasi transfer uang melalui sistem perbankan. Sulitnya upaya pemberantasan tindak pidana pencucian uang terbukti suatu negara akan dimasukkan dalam daftar negara dan wilayah yang tidak kooperatif dalam memerangi tindak pidana pencucian uang oleh The Financial Action Task Force (FATF), sekalipun pemerintah telah memberlakukan Undang-Undang Money Laundering. Indonesia pernah masuk ke dalam daftar tersebut pada tahun 2003 tetapi saat ini sudah keluar dari daftar tersebut. FATF adalah sebuah lembaga internasional intra pemerintah yang didirikan oleh kelompok G-7 di Prancis, Juli 1989, dengan tujuan untuk mengembangkan dan mempromosikan kebijakan untuk memerangi pencucian uang.88 Tentu saja penerbitan peraturan tidaklah cukup tanpa diiringi oleh penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan itu sendiri. Namun, paling tidak pemerintah Indonesia telah dapat menunjukkan iktikad baik dan secara sungguh-sungguh berusaha memberantas kejahatan pencucian uang melalui penerapan prinsip

Robinson Simbolon, “Mewaspadai Pencucian Uang Melalui Pasar Modal”, (DIKTI : Journal Hukum Bisnis Vol. 22, No. 23, 2003), hal. 52.

88

70

pengenalan nasabah pada sektor lembaga keuangan seperti : bank, pasar modal, asuransi, dan sebagainya.89 Untuk melihat apa saja upaya BAPEPAM-LK dalam hal mengurangi money laundering akan dibahas pada sub-bab selanjutnya. Selanjutnya, akan dibahas mengenai peran dan kewenangan BAPEPAM-LK.

A.

Kewenangan BAPEPAM-LK di Pasar Modal Untuk Melakukan Penegakan Hukum BAPEPAM-LK sebagai lembaga pengatur, pengawas, dan pembina disebut

dengan wewenang. Wewenang disebut dengan peran, maka sub-bab ini membahas mengenai peran BAPEPAM-LK sebagai Regulator, Pengawas, dan Pembina. Mengingat pasar modal merupakan salah satu sumber pembiayaan dunia usaha dan sebagai wahana investasi bagi para pemodal, serta memiliki peranan strategis untuk menunjang pembangunan nasional, kegiatan pasar modal perlu mendapat pengawasan agar pasar modal dapat berjalan secara teratur, wajar, efisien serta melindungi kepentingan pemodal dan kelompok. Untuk itu, BAPEPAM-LK diberi kewenangan dan kewajiban untuk membina, mengatur, dan mengawasi setiap pihak yang melakukan kegiatan di Pasar Modal. Pengawasan tersebut dilakukan dengan menempuh upaya-upaya, baik yang bersifat prefentif dalam bentuk aturan, pedoman, bimbingan, dan arahan maupun secara represif dalam bentuk pemeriksaan, penyidikan, dan pengenaan sanksi. Wewenang BAPEPAM-LK tercantum pada Bab II Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, yang secara garis besarnya mencakup90 :
89

Ibid.

71

Pasal 3, menyebutkan bahwa : (1) “Pembinaan, pengaturan, dan pengawasan sehari-hari kegiatan Pasar Modal dilakukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal yang selanjutnya disebut Bapepam. (2) Bapepam berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri”. Pasal 4, menyebutkan bahwa : “Pembinaan, pengaturan, dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dilaksanakan oleh Bapepam dengan tujuan untuk mewujudkan terciptanya kegiatan Pasar Modal yang teratur, wajar, dan efisien serta melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat”. Pasal 5, menyebutkan bahwa : “Dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan Pasal 4, Bapepam berwenang untuk : a. Memberi : 1) Izin usaha kepada Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, Reksa Dana, Perusahaan Efek, Penasihat Investasi, dan Biro Administrasi Efek; 2) Izin orang perseorangan bagi Wakil Penjamin Emisi Efek, Wakil Perantara Pedagang Efek, dan Wakil Manajer Inestasi; dan 3) Persetujuan bagi Bank Kustodian. b. Mewajibkan pendaftaran Profesi Penunjang Pasar Modal dan Wali Amanat; c. Menetapkan persyaratan dan tata cara pencalonan dan memberhentikan untuk sementara waktu komisaris dan atau direktur serta menunjuk manajemen sementara Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, serta Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian sampai dengan dipilihnya komisaris dan atau direktur yang baru; d. Menetapkan persyaratan dan tata cara Pernyataan Pendaftaran serta menyatakan, menunda atau membatalkan efektifnya Pernyataan Pendaftaran; e. Mengadakan pemeriksaan dan penyidikan terhadap setiap Pihak dalam hal terjadi peristiwa yang diduga merupakan pelanggaran terhadap undangundang ini dan atau peraturan pelaksanaannya; f. Mewajibkan setiap Pihak untuk : 1) Menghentikan atau memperbaiki iklan atau promosi yang berhubungan dengan kegiatan di Pasar Modal; atau 2) Mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi akibat yang timbul dari iklan atau promosi dimaksud.
90

Pasal 3-5, Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Op.cit.

72

g. Melakukan pemeriksaan terhadap : 1) Setiap Emitten atau Perusahaan Publik yang telah atau diwajibkan menyampaikan Pernyataan Pendaftaran kepada Bapepam; atau 2) Pihak yang dipersyaratkan memiliki izin usaha, izin orang perseorangan, persetujuan, atau pendaftaran profesi berdasarkan undang-undang ini. h. Menunjuk Pihak lain untuk melakukan pemeriksaan tertentu dalam rangka pelaksanaan wewenang Bapepam sebagaimana dimaksud dalam huruf g; i. Mengumumkan hasil pemeriksaan; j. Membekukan atau membatalkan pencatatan suatu Efek pada Bursa Efek atau menghentikan Transaksi Bursa atas Efek tertentu untuk jangka waktu tertentu guna melindungi kepentingan pemodal; k. Menghentikan kegiatan perdagangan Bursa Efek untuk jangka waktu tertentu dalam hal keadaan darurat; l. Memeriksa keberatan yang diajukan oleh Pihak yang dikenakan sanksi oleh Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, atau Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian serta memberikan keputusan membatalkan atau menguatkan pengenaan sanksi dimaksud; m. Menetapkan biaya perizinan, persetujuan, pendaftaran, pemeriksaan, dan penelitian serta biaya lain dalam rangka kegiatan Pasar Modal; n. Melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencegah kerugian masyarakat sebagai akibat pelanggaran atas ketentuan di bidang Pasar Modal; o. Memberikan penjelasan lebih lanjut yang bersifat teknis atas undangundang ini atau peraturan pelaksanaannya; p. Menetapkan instrumen lain sebagai Efek selain yang telah ditentukan dalam Pasal 1 angka 5; dan q. Melakukan hal-hal lain yang diberikan berdasarkan undang-undang ini”. Kewenangan BAPEPAM-LK meliputi kewenangan untuk membuat peraturan, melakukan pemeriksaan dan penyidikan, menjatuhkan sanksi administratif dan denda. Secara garis besar, fungsi-fungsi yang dimiliki BAPEPAM-LK adalah fungsi pembuat peraturan (rule-making), pemeriksaan dan penyidikan, dan penegakan hukum (law enforcement). Fungsi rule-making bersifat quasi-legislatif karena BAPEPAM-LK bukanlah badan yang dibentuk negara untuk membuat peraturan perundang-undangan, tetapi diberikan kewenangan oleh undang-undang untuk membuat peraturan khusus di bidang pasar modal. Undang-undang memberikan

73

kewenangan kepada BAPEPAM-LK untuk melakukan penegakan hukum dengan memberikan kewenangan untuk melakukan pemeriksaan, penyidikan sampai menjatuhkan denda dan sanksi atas setiap pelanggaran dan kejahatan di bidang pasar modal. Untuk kejahatan di bidang pasar modal, fungsi penuntutan ada pada lembaga kejaksaan. Undang-undang juga memberikan kewenangan kepada BAPEPAM-LK untuk melakukan tindakan hukum represif dengan melakukan tindakan pemeriksaan, penyidikan, pengenaan sanksi. Fungsi ini disebut dengan fungsi kekuasaan quasijudicial. 91 Sehubungan dengan teori-teori tentang pencucian uang di atas, perlu ditegaskan bahwa dalam hal ini BAPEPAM-LK tidak memiliki kewenangan untuk melakukan upaya penegakan hukum terhadap perbuatan-perbuatan yang dapat diidentifikasikan sebagai tindak pidana pencucian uang. BAPEPAM-LK hanya melakukan kerjasama dengan PPATK dalam melakukan upaya penegakan hukum di bidang pencucian uang dalam hal ada dugaan terjadinya tindak pidana pencucian uang di pasar modal. Pencucian uang melalui Pasar Modal cenderung lebih merupakan tahapan layering ataupun integration daripada tahapan placement. Namun demikian, hal tersebut bukan berarti tidak ada transaksi uang tunai di Pasar Modal. Penempatan uang tunai dalam kegiatan Pasar Modal dimungkinkan pada saat92 : 1. Setoran awal pembukaan rekening nasabah; 2. Kewajiban penyetoran tunai pada saat memenuhi margin call;
Ismail Dalla, The Emerging Asian Bond Market, (Washington DC : The World Bank, 1995), hal. 37. 92 M. Tri Agustiyadi, Op.cit.
91

74

3. Masuknya uang tunai daria Pembeli Siaga dalam proses Right Issue; 4. Transaksi luar bursa.

Adapun proses layering dan atau integration di Pasar Modal dapat dilakukan melalui93 : 1. Transaksi bursa; 2. Transaksi luar bursa; 3. Penggunaan perusahaan Special Purpose Vehicle dalam transaksi.

Kegiatan-kegiatan tersebut dapat menyamarkan asal-usul dana yang berasal dari tindak pidana asal dengan adanya perpindahan efek dan atau perpindahan uang dari satu pelaku ke pelaku yang lain, sehingga akhirnya pelaku dapat menikmati uang hasil transaksi bursa maupun transaksi luar bursa tersebut seolah-olah merupakan hasil dari transaksi yang sah.94 Jika BAPEPAM-LK mempunyai wewenang sebagai pengatur, pengawas, dan pembina maka dalam hal pencucian uang juga BAPEPAM-LK haruslah bertindak mengatur, mengawasi dan membina setiap orang yang melakukan investasi di Pasar Modal Indonesia. Hal inilah yang disebut sebagai peran. Untuk mengejar pelaku pencucian uang di Pasar Modal Indonesia, BAPEPAM-LK menetapkan beberapa penyidik dari kalangan instansinya sendiri. Cara yang ditempuh untuk menetapkan penyidik tersebut adalah dengan mengeluarkan Surat Keputusan Kepala BAPEPAM-

93 94

Ibid. Ibid.

75

LK. Selanjutnya, apabila sudah terbentuk barulah menyelidiki setiap transaksi keuangan yang mencurigakan. Menurut Pasal 3 KMK No. 503/KMK.01/1997 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Pasar Modal, fungsi BAPEPAM-LK adalah95 : a. “Penyusun peraturan di bidang Pasar Modal; b. Pembinaan dan pengawasan terhadap Pihak yang memperoleh izin usaha, persetujuan, pendaftaran dari Bapepam dan Pihak lain yang bergerak di Pasar Modal; c. Menetapkan prinsip-prinsip keterbukaan perusahaan bagi Emitten dan Perusahaan Publik; d. Penyelesaian keberatan yang diajukan oleh Pihak yang dikenakan sanksi oleh Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, dan Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian; e. Penetapan ketentuan akuntansi di bidang Pasar Modal; f. Pengamanan teknis pelaksanaan tugas pokok Bapepam sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan-perundang-undangan yang berlaku”. Seharusnya BAPEPAM-LK langsung menindak setiap orang yang sudah dicurigai oleh PPATK dalam melakukan pencucian uang. Jadi, tidak perlu untuk menetapkan penyidik. Salah satu caranya adalah dengan membekukan rekening dari nasabah yang melakukan pencucian uang tersebut agar tidak bisa melakukan transaksi. Hal ini adalah dengan mencontoh badan pengawas dari negara lain. Penetapan penyidik yang dilakukan BAPEPAM-LK membutuhkan waktu yang lama karena terkait dengan birokrasi di Indonesia yang berbelit-belit. Jika langsung ditindaklanjuti dengan upaya hukum yang dilakukan maka akan tercipta kepastian hukum bagi pelaku kejahatan pencucian uang di pasar modal Indonesia.

95

Organisasi, http://www.bapepam.go.id/old/profil/organisasi.htm., diakses pada 31 Maret

2011.

76

Apabila BAPEPAM-LK tidak melaporkan bahwa telah terjadi transaksi keuangan mencurigakan di wilayah kewenangannya maka menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Pasal 30 ayat (3) mengatakan bahwa96 : “Sanksi administratif yang dikenakan oleh PPATK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa : a. Peringatan; b. Teguran tertulis; c. Pengumuman kepada publik mengenai tindakan atau sanksi; dan/atau d. Denda administratif”. BAPEPAM-LK juga menunggu laporan dari Penyedia Jasa Keuangan yang berada di bawah wewenangnya. Hal inilah yang menjadikan lambatnya penegakan hukum yang menjamin kepastian hukum di dalam tindak pidana pencucian uang di pasar modal. Seharusnya setelah BAPEPAM-LK menerima laporan dari setiap emiten, bank-bank kustodian, maupun perusahaan efek mengenai transaksi keuangan mencurigakan BAPEPAM-LK harus menyerahkan laporan secepatnya kepada PPATK agar dapat ditindaklanjuti dan disidangkan di pengadilan. Selanjutnya, PPATK memberikan berkas perkara kepada penyidik (sesuai dengan KUHAP). Bertolak dari kasus L/C Fiktif Bank BNI’46 pada bab sebelumnya, PPATK tidak menerima laporan dari BAPEPAM-LK mengenai Transaksi Keuangan Mencurigakan. Laporan yang tidak diterima tersebut menyebabkan para pelaku kejahatan money laundering leluasa untuk melakukan pencucian uang di pasar modal. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kesadaran hukum BAPEPAM-LK sebagai lembaga pengawas pasar modal dalam hal pelaporan Transaksi Keuangan
Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Op.cit.
96

77

Mencurigakan. Transaksi Keuangan Mencurigakan yang tidak disampaikan dikarenakan prinsip Know Your Customer tidak jalan. Hal tersebut sudah pasti mempengaruhi masyarakat dalam hal kepercayaan untuk menginvestasikan dananya ke pasar modal. Penyidik disini harus menerapkan azas pembuktian terbalik. Agar dapat menegakkan hukum dalam hal pencucian uang tersebut. Namun, hal ini sulit dilakukan karena pihak penyidik masih lemah dalam hal penerapan azas tersebut. Kesulitan itu dikarenakan azas yang digunakan selama ini untuk kejahatan konvensional adalah azas praduga tidak bersalah. Dimana setiap orang yang menjadi tersangka dalam tindak pidana haruslah diduga tidak bersalah untuk menjunjung tinggi hak azasi manusianya. Namun, hal ini dikecualikan untuk tindak pidana pencucian uang seperti yang terlihat dalam Pasal 69 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 97 Menurut teori Sistem Hukum (Lawrence M. Friedman), jika undang-undang sebagai substansinya sudah baik maka selanjutnya harus diikuti dengan lembaga pengawasnya sebagai struktur dari undang-undang tersebut. Selain kedua hal tersebut, Lawrence M. Friedman juga menyebutkan mengenai Kultur Hukum dari suatu negara dalam menanggapi kasus-kasus hukum. Dalam konteks pencucian uang yang dikaitkan dengan kultur hukum ini maka masalah selanjutnya adalah mengenai azas hukum yang belaku. Azas hukum tersebut adalah berubahnya pengaturan dari azas praduga tidak bersalah menjadi azas pembuktian terbalik.

97

Ibid.

78

Dengan perubahan azas yang terjadi, para penegak hukum kesulitan karena tidak adanya sosialisasi dari setiap lembaga seperti PPATK kepada Kepolisian dan Kejaksaan. Belum lagi dimentahkan dengan budaya korupsi di suatu negara. Buktinya dapat dilihat pada kasus L/C Fiktif Bank BNI 46 yang sudah dipaparkan di atas bahwa para pejabat petinggi bank tersebut sama sekali tidak tersentuh hukum. Bagaimana hukum di Indonesia ditegakkan jika setiap aspeknya tidak mendukung. Ditinjau dari segi perundang-undangannya bahwa ada kejanggalan dalam penyidikan yang dilakukan oleh BAPEPAM-LK terkait dengan pencucian uang di bursa efek. Kejanggalan tersebut adalah BAPEPAM-LK menetapkan kembali penyidik sebagai pihak internalnya untuk menyelidiki apakah benar telah terjadi pencucian uang atau tidak. Seharusnya di dalam peraturan mengenai hal itu harus jelas mengenai siapa yang menyelidiki, menuntut dan menjatuhkan hukuman. Dalam hal sudah diketahuinya telah terjadi pencucian uang di pasar modal oleh penyidik BAPEPAM-LK maka pihak BAPEPAM-LK melayangkan surat kembali pihak yang terlibat di dalamnya. Hal ini membutuhkan waku yang lama dan sudah pasti berbelit-belit dengan begitu para pelaku yang melakukan tindak pidana pencucian uang tersebut waspada dan menarik dananya ke tempat lain. Namun, untuk mencegah hal itu terjadi Ketua BAPEPAM-LK mengeluarkan Keputusan No. Kep476/BL/2009 tentang Prinsip Mengenal Nasabah Oleh Penyedia Jasa Keuangan di Bidang Pasar Modal. Prinsip mengenal nasabah (Know Your Customer) adalah

prinsip yang diterapkan Penyedia Jasa Keuangan di bidang Pasar Modal untuk mengetahui latar belakang dan identitas Nasabah, memantau rekening Efek dan transaksi Nasabah, serta melaporkan transaksi keuangan mencurigakan, dan transaksi

79

keuangan yang dilakukan secara tunai sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan tindak pidana pencucian uang, termasuk transaksi keuangan yang terkait dengan Pendanaan Kegiatan Terorisme. 98 Sebagaimana diatur dalam Pasal 100 Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, BAPEPAM-LK berwenang untuk melakukan pemeriksaan terhadap setiap pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap Undang-Undang Pasar Modal dan atau peraturan pelaksanaannya.99 1. Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, penyidik tersebut mempunyai wewenang untuk menerima laporan, pemberitahuan, dan pengaduan adanya tindak pidana di bidang pasar modal, meneliti kebenaran laporan, meneliti pihak yang diduga terlibat, memanggil, memeriksa, meminta keterangan dan barang bukti, memeriksa pembukuan, catatan dan dokumen, memeriksa tempat yang diduga terdapatnya barang bukti serta melakukan penyitaan, memblokir rekening pihak yang diduga terlibat; 2. Melakukan penggeledahan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku, untuk kepentingan penyidikan. Penyidik melakukan penggeledahan rumah atau penggeledahan pakaian atau penggeledahan badan menurut tata cara yang ditentukan dalam undang-undang. Lebih lanjut ditentukan bahwa yang berwenang untuk mengeluarkan Surat Perintah Penggeledahan di tempat tertentu adalah penyidik dengan tembusan kepada
Angka 1 huruf k., Lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM dan LK No. Kep-476/BL/2009 tentang Prinsip Mengenal Nasabah oleh Penyedia Jasa Keuangan di Bidang Pasar Modal 99 M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op.cit., hal. 276-278.
98

80

Ketua BAPEPAM-LK dan Kepala Biro Pemeriksaan dan Penyidikan. Sebelum melakukan penggeledahan, penyidik BAPEPAM-LK mengajukan permintaan izin kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat untuk melakkukan Pemeriksaan di tempat tertentu. 3. Melakukan pemanggilan terhadap pihak yang diduga mengetahui atau terlibat dalam pelanggaran terhadapUndang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dan atau peraturan pelaksanaannya atau pihak lain apabila dianggap perlu. 4. Memeriksa catatan, pembukuan, atau dokumen-dokumen pendukung lainnya. 5. Meminjam atau membuat salinan atas dokumen-dokumen sebagaimana disebut di atas. 6. Melakukan penyitaan terhadap benda bergerak atau tidak bergera, berwujud atau tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penuntutan dengan izin Ketua Pengadilan Negeri setempat. Dalam keadaan mendesak penyitaan bisa dilakukan tanpa izin dari KetuaPengadilan Negeri setempat. Benda-benda yang dapat disita dalam hal ini adalah benda-benda yang telah/sedang/akan dipergunakan oleh pihak mereka baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan tindak pidana di bidang Pasar Modal dan benda lainnya yang mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan tindak pidana yang dilkakukan oleh tersangka. Ditentukan dalam KUHAP bahwa penyidik berwenang untuk memerintahkan kepada orang yang menguasai benda yang disita, menyerahkan benda tersebut kepadanya untuk kepentingan pemeriksaan dan kepada yang menyerahkan benda itu harus diberikan surat

81

tanda terima. Ketentuan KUHAP menyatakan bahwa benda sitaan disimpan dalam rumah penyimpanan benda sitaan negara dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan tanggung jawab atasnya ada pada pejabat yang berwenang sesuai dengan tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan dan benda tersebut dilarang untuk dipergunakan oleh siapapun. 7. Penyelesaian Perkara. Setelah diadakan pemeriksaan ternyata diperoleh keyakinan bahwa terdapat pelanggaran atas Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal beserta peraturan pelaksanaannya yang dilakukan oleh pelaku, maka BAPEPAM-LK dapat mengenakan sanksi administratif ataupun pidana. 8. Penuntutan. Kewenangan BAPEPAM-LK dalam hal penuntutan terhadap kasus tindak kejahatan di bidang pasar modal berada di tangan kejaksaan. BAPEPAM-LK tidak berwenang untuk itu. Tugas BAPEPAM-LK adalah melakukan pemeriksaan dan penyidikan terhadap tindak pidana di bidang pasar modal, setelah semua hasil pemeriksaan dan penyidikan dibuat, BAPEPAM-LK akan menyerahkan berkas tersebut kepada kejaksaan. Selanjutnya pihak kejaksaan akan menindaklanjuti hasil kerja BAPEPAM-LK tersebut, setelah dikaji, kejaksaan akan memberikan keputusan, berkas perkara dianggap lengkap dan bisa diteruskan untuk melakukan penuntutan atau berkas perkara dianggap tidak lengkap, tidak jelas, maka kejaksaan akan mengembalikan berkas tersebut kepada BAPEPAM-LK untuk

disempurnakan. Namun, tampaknya sampai saat ini kerjasama BAPEPAMLK dan pihak Kejaksaan harus lebih ditingkatkan agar titik-titik kelemahan

82

dari hasil kerja kedua instansi tersebut bisa diatasi, sehingga penegakan hukum atas tindak pidana pasar modal bisa dioptimalkan.

BAPEPAM-LK memiliki struktur organisasi. Struktur yang terakhir diputuskan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 606/KMK.01/2005 tanggal 30 Desember 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan. Secara ringkas, mencakup100 : 1. ”Ketua BAPEPAM-LK; 2. Sekretaris BAPEPAM-LK, membawahi 5 (lima) bagian yaitu : a. Bagian Perencanaan dan Organisasi; b. Bagian Kepegawaian; c. Bagian Keuangan; d. Bagian Kerjasama Internasional dan Hubungan Masyarakat; e. Bagian Umum. 3. Biro Perundang-Undangan dan Bantuan Hukum, membawahi 4 (empat) bagian yaitu : a. Bagian Perundang-Undangan; b. Bagian Penetapan Sanksi; c. Bagian Bantuan Hukum; d. Bagian Profesi Hukum. 4. Biro Riset dan Teknologi Informasi, membawahi 5 (lima) bagian yaitu : a. Bagian Riset Ekonomi; b. Bagian Riset Pasar Modal; c. Bagian Riset Asuransi, Dana Pensiun dan Lembaga Keuangan Lain; d. Bagian Sistem dan Teknologi Informasi; e. Bagian Pengelolaan Data dan Informasi. 5. Biro Pemeriksaan dan Penyidikan, membawahi 4 (empat) bagian yaitu : a. Bagian Pemeriksaan dan Penyidikan Pengelolaan Investasi; b. Bagian Pemeriksaan dan Penyidikan Transaksi dan Lembaga Efek; c. Bagian Pemeriksaan dan Penyidikan Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Jasa;

BAPEPAM-LK, “Struktur Organisasi BAPEPAM-LK”, http://www.bapepam.go.id/bapepamlk/organisasi/struktur.htm., diakses pada 17 Mei 2011.

100

83

d. Bagian Pemeriksaan dan Penyidikan Emiten dan Perusahaan Sektor Riil. 6. Biro Pengelolaan Investasi, membawahi 5 (lima) bagian yaitu : a. Bagian Pengembangan Kebijakan Investasi; b. Bagian Pengembangan Produk Investasi; c. Bagian Bina Manajer Investasi dan Penasihat Investasi; d. Bagian Pengawasan Pengelolaan Investasi; e. Bagian Kepatuhan Pengelolaan Investasi. 7. Biro Transaksi dan Lembaga Efek, membawahi 5 (lima) bagian yaitu : a. Bagian Pengembangan Kebijakan Transaksi dan Lembaga Efek; b. Bagian Pengawasan Lembaga Efek; c. Bagian Kepatuhan Lembaga Efek; d. Bagian Pengawasan Perdagangan; e. Bagian Wakil Perusahaan Efek. 8. Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa, membawahi 5 (lima) bagian yaitu : a. Bagian Penilaian Perusahaan Jasa Keuangan; b. Bagian Penilaian Perusahaan Jasa Non-Keuangan; c. Bagian Pemantauan Perusahaan Jasa Keuangan; d. Bagian Pemantauan Perusahaan Perdagangan dan Perhubungan; e. Bagian Pemantauan Perusahaan Properti dan Real Estate. 9. Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil, membawahi 5 (lima) bagian yaitu : a. Bagian Penilaian Perusahaan Pabrikan; b. Bagian Penilaian Perusahaan Non-Pabrikan; c. Bagian Pemantauan Perusahaan Aneka Industri; d. Bagian Pemantauan Perusahaan Industri Dasar, Logam dan Kimia; e. Bagian Pemantauan Perusahaan Pertambangan dan Agrobisnis. 10. Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan, membawahi 4 (empat) bagian yaitu : a. Bagian Standar Akuntansi dan Pemeriksaan; b. Bagian Akuntan, Penilai, dan Wali Amanat Pasar Modal; c. Bagian Pengembangan Keterbukaan dan Tata Kelola; d. Bagian Pengembangan Pasar Modal Syariah. 11. Biro Pembiayaan dan Penjaminan, membawahi 4 (empat) bagian yaitu : a. Bagian Lembaga Pembiayaan; b. Bagian Pemeriksaan Lembaga Pembiayaan; c. Bagian Lembaga Penjaminan; d. Bagian Pembiayaan Khusus.

84

12. Biro Perasuransian membawahi 5 (lima) bagian yaitu : a. Bagian Kelembagaan Perasuransian; b. Bagian Analisis Keuangan Perasuransian; c. Bagian Analisis Penyelenggaraan Usaha Perasuransian; d. Bagian Pemeriksaan Perasuransian; e. Bagian Perasuransian Syariah. 13. Biro Dana Pensiun, membawahi 5 (lima) bagian yaitu : a. Bagian Kelembagaan Dana Pensiun; b. Bagian Analisis Penyelenggaraan Program Dana Pensiun; c. Bagian Pemeriksaan Dana Pensiun; d. Bagian Pengembangan dan Pelayanan Informasi Dana Pensiun; e. Bagian Analisis, Evaluasi, dan Pelaporan Pengelolaan Dana Program Pensiun Pegawai Negeri Sipil. 14. Biro Kepatuhan Internal, membawahi 4 (empat) bagian yaitu : a. Bagian Kepatuhan I; b. Bagian Kepatuhan II; c. Bagian Kepatuhan III; d. Bagian Kepatuhan IV”. Biro-biro yang ada pada BAPEPAM-LK lebih banyak dari yang dimiliki oleh SEC (Amerika Serikat) dan MAS (Singapura). Dengan kata lain, karyawan dan staff BAPEPAM-LK sebagai lembaga otoritas pasar modal lebih banyak jadi oleh karena itu pekerjaan yang diemban juga lebih sedikit.

B.

Peran dan Fungsi PPATK dalam Mengejar Pelaku Pencucian Uang Sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya, bahwa dewasa ini,

kejahatan kerah putih (white collar crime) sudah pada taraf melintasi batas-batas negara. Bentuk kejahatan yang semakin canggih dan terorganisir menyebabkan aparat penegak hukum sulit untuk mendeteksinya. Pelaku kejahatan selalu berusaha menyelamatkan uang hasil kejahatannya dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah dengan pencucian uang. Dengan cara ini, pelaku kejahatan berusaha

85

mengubah uang yang didapat dengan cara haram (dari hasil kejahatan) menjadi halal melalui mekanisme-mekanisme tertentu. Mengenai pengaturan pencucian uang di Indonesia diundangkanlah pada tanggal 17 April 2002 Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang melalui Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 30, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4191. Undang-undang tersebut diubah dengan Undang-Undang No. 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4324. Diubah kembali dengan Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang melalui Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5164. Pencucian uang adalah upaya untuk mengaburkan asal-usul harta kekayaan dari hasil tindak pidana sehingga harta kekayaan tersebut seolah-olah berasal dari aktivitas yang sah. Jika ada aktivitas yang sah maka ada yang tidak sah. Aktivitas yang tidak sah101 dalam dunia perbankan, pasar modal, asuransi, narkotika, psikotropika, perdagangan orang, perdagangan senjata gelap, penculikan, terorisme, pencurian, penggelapan, penipuan, pemalsuan uang, perjudian, prostitusi, perpajakan, cukai, lingkungan hidup, kehutanan, korupsi, penyuapan, penyelundupan barang,

Aktivitas yang tidak sah disini adalah pidana asal. Dalam Yunus Husein, ”Rezim Anti Pencucian uang Indonesia Berdasarkan UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU”, Desember 2010, http://elearning.ppatk.go.id., diakses pada 17 Maret 2011.

101

86

penyelundupan tenaga kerja, penyelundupan imigran, kepabeanan, kelautan dan perikanan, dan lain sebagainya. 102 Cara melakukan pencucian uang adalah dengan cara “placing, receiving or controlling dirty money”. Pihak yang dapat melaporkan transaksi keuangan mencurigakan adalah Penyedia Jasa Keuangan atau Penyedia Barang/Jasa lainnya. Transaksi keuangan mencurigakan merupakan dasar dari pelaporan tindak pidana pencucian uang. Setelah melakukan tindak pidana asal selanjutnya para pelaku menempatkan, mentransfer, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan. Pelaku tindakan tersebut adalah setiap orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber, lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak atau kepemilikan yang sebenarnya atas harta kekayaan. Selanjutnya setiap hasil tindak pidana kejahatan tersebut yang menerima, menguasai, menempatkan, mentransfer, membayarkan, menghibahkan, menyumbangkan,

menitipkan, menukarkan, atau menggunakan harta kekayaan adalah disebut dengan hasil tindak pidana yang tidak sah. 103 Adapun tujuan dari pencucian uang adalah memberikan legitimasi pada dana yang diperoleh secara tidak sah. 104 Dengan kata lain tujuannya antara lain : menyembunyikan uang/kekayaan yang diperoleh dari kejahatan; menghindari
Ibid., hal. 6. Pasal 3 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Op.cit., Lihat juga Yunus Husein, Loc.cit., hal. 6. 104 Erman Rajagukguk, “Rezim Anti Pencucian Uang dan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang”, disampaikan pada Lokakarya “Anti Money Laundering”, (Medan : Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 15 September 2005), hal. 1.
103 102

87

penyelidikan dan/atau tuntutan hukum; menghindari pajak (uang legal disembunyikan untuk menghindari pajak); meningkatkan keuntungan (uang ilegal diikutsertakan dalam bisnis legal). 105 Walaupun dapat dikatakan tidak ada sistem pencucian uang yang sama, tetapi pada umumnya proses pencucian uang terdiri dari tiga tahap : placement, layering, dan integration.106 Pencucian uang diberantas dan dinyatakan sebagai tindak pidana karena ada tiga alasan menurut pengamatan Guy Skessen. Pertama, karena pengaruh pencucian uang pada sistem keuangan dan ekonomi berdampak negatif bagi perekonomian dunia, misalnya terhadap efektifitas penggunaan sumber dana yang banyak digunakan untuk kegiatan yang tidak sah dan dapat merugikan masyarakat. Kedua, dengan ditetapkannya pencucian uang sebagai tindak pidana dan adanya sistem pelaporan transaksi dalam jumlah tertentu yang mencurigakan, maka hal ini lebih memudahkan bagi aparat penegak hukum untuk menyelidiki kasus pidana sampai kepada tokohtokoh yang ada di belakangnya.107 Ada beberapa aspek yang terkena dampak dari pencucian uang, yaitu 108 : 1. Bisnis, dapat merusakkan reputasi karena terlibat masalah hukum dan mengganggu operasional dan likuiditas bisnis;

Yunus Husein, Op.cit., hal. 7. Erman Rajagukguk, Loc.cit. 107 Guy Skessen dalam Bismar Nasution, Rejim Anti-Money Laundering di Indonesia, Op.cit., sebagaimana dikutip Nurmalawaty, ”Faktor Penyebab Terjadinya Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) dan Upaya Pencegahannya”, http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15240/1/equ-feb2006-3.pdf., diakses pada 19 Maret 2011. 108 Yunus Husein, Op.cit., hal. 10.
106

105

88

2. Ekonomi, meningkatkan instabilitas sistem keuangan, terjadi distorsi ekonomi, menyulitkan otoritas moneter dalam mengendalikan jumlah uang beredar; 3. Sosial, menciptakan/memperparah ketidakadilan sosial; 4. Internasional, menjadi persoalan dan perhatian dunia.

Selain merugikan masyarakat secara luas, dampak keberadaan pencucian uang juga mempunyai pengaruh negatif terhadap kegiatan perekonomian, terutama menyangkut lembaga keuangan (baik perbankan maupun non-perbankan), misalnya : (a) Merugikan reputasi lembaga-lembaga keuangan apabila diduga dipergunakan sebagai sarana untuk melakukan pencucian uang; (b) Menyebabkan terjadinya distorsi dalam hukum penawaran dan permintaan, sebagaimana yang terjadi di London Real Estate keetika memasuki investasi mafia dari Rusia; (c) Menyebabkan kelemahan ekonomi negara (misalnya negara Colombia yang banyak bergantung pada Drug Money; (d) Menumbuhkan kecurigaan dan keetidakpercayaan publik pada lembaga perbankan.109

Selanjutnya Pasal 17 ayat (1) Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, menyatakan bahwa110 pihak pelapor, meliputi :

109

Harkristuti dalam Nurmalawaty, Loc.cit.

89

a. ”Penyedia Jasa Keuangan : 1. Bank; 2. Perusahaan Pembiayaan; 3. Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Pialang Asuransi; 4. Dana Pensiun Lembaga Keuangan; 5. Perusahaan Efek; 6. Manajer Investasi; 7. Kustodian; 8. Wali Amanat; 9. Perposan sebagai Penyedia Jasa Giro; 10. Pedagang Valuta Asing; 11. Penyelenggara Alat Pembayaran menggunakan Kartu; 12. Penyelenggara e-money dan/atau e-wallet; 13. Koperasi yang melakukan kegiatan simpan pinjam; 14. Pegadaian; 15. Perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan berjangka komoditi; atau 16. Penyelenggara kegiatan usaha pengiriman uang. b. Penyedia Barang dan/atau jasa lain : 1. Perusahaan Properti/Agen Properti; 2. Pedagang Kendaraan Bermotor; 3. Pedagang Permata dan Perhiasan/Logam Mulia; atau 4. Balai Lelang”. Tujuan akhir dari Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang adalah dengan mengadakan pendekatan secara penegakan hukum dan pendekatan anti pencucian uang maka akan mencegah dan memberantas kriminalitas. Hasilnya kriminalitas dapat menurun. Jika penegakan hukum berhasil integritas dan stabilitas sistem keuangan juga meningkat. 111 Pencucian uang umumnya dilakukan terhadap uang hasil tindak pidana, misalnya perdagangan narkotika, korupsi, dan transaksi saham di pasar modal. Dengan pencucian uang, maka pelaku dapat menyembunyikan asal-usul dari uang
Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Op.cit. 111 Yunus Husein, Loc.cit., hal. 13.
110

90

hasil kejahatan tersebut. Para pelaku tindak pidana pencucian uang biasanya menyimpan dananya di suatu lembaga penyedia jasa keuangan misalnya bank, atau penyedia jasa lain yang terkait dengan keuangan, misalnya melalui instrumen pasar modal. Bertolak dari teori Sistem Hukum, Lawrence M. Friedman, maka yang menjadi badan atau struktur hukum pada Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang adalah Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). PPATK dibentuk berdasarkan undang-undang tersebut dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. PPATK tidak berada di bawah suatu Departemen, Kementerian atau Lembaga Negara. Personilnya berasal dari beberapa instansi terkait. Untuk laporan pelaksanaan tugas dan fungsinya PPATK berkewajiban untuk melaporkannya kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) setiap enam bulan sekali. 112 Pasal 40 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, menyatakan bahwa113 : ”Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39, PPATK mempunyai fungsi sebagai berikut : a. Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang; b. Pengelolaan data dan informasi yang diperoleh PPATK; c. Pengawasan terhadap kepatuhan Pihak Pelapor; dan d. Analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi Transaksi Keuangan yang berindikasi tindak pidana Pencucian Uang dan/atau tindak pidana lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)”.

Ibid., hal. 14. Pasal 40 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Op.cit.
113

112

91

Setelah mengetahui fungsinya pada Pasal 41 ayat (1) dijelaskan mengenai wewenang dari PPATK, Pasal 41 menyebutkan bahwa114 : ”Dalam melaksanakan fungsi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Pencucian Uang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf a, PPATK berwenang : a. Meminta dan mendapatkan data dan informasi dari instansi pemerintah dan/atau lembaga swasta yang memiliki kewenangan mengelola data dan informasi, termasuk dari instansi pemerintah dan/atau lembaga swasta yang menerima laporan dari profesi tertentu; b. Menetapkan pedoman identifikasi Transaksi Keuangan Mencurigakan; c. Mengoordinasikan upaya pencegahan tindak pidana Pencucian Uang dengan instansi terkait; d. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah mengenai upaya pencegahan tindak pidana Pencucian Uang; e. Mewakili pemerintah Republik Idnonesia dalam organisasi dan forum internasional yang berkaitan dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Pencucian Uang; f. Menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan anti pencucian uang; dan g. Menyelenggarakan sosialisasi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Pencucian Uang”. Pada pasal 41 ayat (2) Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang menyebutkan bahwa penyampaian data dan informasi dari instansi terkait pemerintahan ataupun lembaga swasta harus dikecualikan dari ketentuan kerahasiaan seperti kerahasiaan bank. Rahasia Bank artinya institusi keuangan harus menjaga informasi yang diterimanya tentang kliennya dalam rangka rahasia bisnis dan konfidensial. Dikatakan, karena pencucian uang itu terintegrasi dengan kegiatan kriminal, pada dasarnya adalah bukan kegiatan yang memiliki legitimasi untuk mengklaim kerahasiaan. 115

Pasal 41, Ibid. Charles Thelen Plombeek, “Confidentiality and Disclosure : The Money Laundering Control Act of 1986 and Banking Secrecy”, Vol. 22 No. 1, (Spring : The International Lawyer, 1988), hal. 70., sebagaimana dikutip Erman Rajagukguk, Op.cit.
115

114

92

Adapun fungsi analisis dan pemeriksaan oleh PPATK terdapat pada Pasal 44 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, yang menyebutkan bahwa : ”(1) Dalam rangka melaksanakan fungsi analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf d, PPATK dapat : a. Meminta dan menerima laporan dan informasi dari Pihak Pelapor; b. Meminta informasi kepada instansi atau pihak terkait; c. Meminta informasi kepada Pihak Pelapor berdasarkan pengembangan hasil analisis PPATK; d. Meminta informasi kepada Pihak Pelapor berdasarkan permintaan dari instansi penegak hukum atau mitra kerja di luar negeri; e. Meneruskan informasi dan/atau hasil analisis kepada instansi peminta, baik di dalam maupun di luar negeri; f. Menerima laporan dan/atau ifnormasi dari masyarakat mengenai adanya dugaan tindak pidana Pencucian Uang; g. Meminta keterangan kepada Pihak Pelapor dan pihak lain yang terkait dengan dugaan tindak pidana Pencucian Uang; h. Merekomendasikan kepada instansi penegak hukum mengenai pentingnya melakukan intersepsi atau penyadapan atas informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; i. Meminta penyedia jasa keuangan untuk menghentikan sementara seluruh atau sebagian transaksi yang diketahui atau dicurigai merupakan hasil tindak pidana; j. Meminta informasi perkembangan penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh penyidik tindak pidana asal dan tindak pidana Pencucian Uang; k. Mengadakan kegiatan administratif lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini; dan l. Meneruskan hasil analisis atau pemeriksaan kepada penyidik. (2) Penyedia Jasa Keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf i harus menindaklanjuti setelah menerima permintaan dari PPATK”. Dasar pelaporan kepada PPATK adalah berdasarkan Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (LTKM) atau Suspicious Transaction Report (STR). Berdasarkan Pasal 25 ayat (1) Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, bahwa pelaporan

93

oleh Penyedia Jasa Keuangan atau Penyedia Barang/Jasa lainnya dilakukan sesegera mungkin paling lama tiga hari sejak Penyedia Jasa Keuangan atau Penyedia Barang/Jasa lainnya mengetahui adanya unsur transaksi keuangan mencurigakan. Pasal 23 ayat (1) huruf c Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang juga menjerat orangorang yang terlibat dalam pencucian uang dalam hal membawa uang tunai ke luar negeri. Setiap orang yang membawa uang tunai dalam mata uang rupiah dan/asing dan/atau instrumen pembayaran lain dalam bentuk cek, cek perjalanan, surat sanggup bayar, atau bilyet giro ke dalam atau ke luar daerah kepabeanan Republik Indonesia sejumlah Rp. 100 juta atau lebih, atau mata uang asing yang nilainya setara, harus melaporkan ke Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Ditjend Bea Cukai). Penyampaian laporan dari Ditjend Bea Cukai wajib menyampaikan laporan tentang informasi yang diterimanya tersebut kepada PPATK selama jangka waktu lima hari kerja. Apabila dilakukan pelanggaran oleh instansi terkait maka akan dikenakan sanksi denda 10% dari seluruh jumlah, paling banyak Rp. 300 juta. Dengan menerima laporan tersebut maka Penyedia Jasa Keuangan harus menghentikan seluruh atau sebagian transaksi yang diketahui atau dicurigai merupakan hasil tindak pidana, rekening penampungan harta kekayaan berasal dari tindak pidana, ataupun menggunakan dokumen palsu. Pihak Penyedia Jasa Keuangan selanjutnya membuat berita acara

pemberhentian transaksi sementara. Paling lama lima hari sejak pembuatan berita acara, PPATK dapat memperpanjang 15 hari kerja. Apabila dalam waktu 20 hari tidak ada pihak yang mengajukan keberatan, PPATK menyerahkan penanganan

94

kepada penyidik. Dalam hal pelaku Tindak Pidana tidak ditemukan dalam 30 hari penyidik dapat mengajukan permohonan kepada pengadilan negeri untuk

memutuskan harta kekayaan tersebut sebagai aset negara dan dikembalikan kepada yang berhak yaitu negara. 116 Dalam hal prosedur hukum yang harus ditempuh dalam menjerat pelaku tindak pidana pencucian uang adalah penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di Pengadilan. Untuk dapat dilakukan penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan tidak wajib dibuktikan terlebih dahulu tindak pidana asalnya.117 Untuk kepentingan pemeriksaan, penyidik, penuntut umum atau hakim berwenang meminta pelapor untuk memberikan keterangan secara tertulis mengenai harta kekayaan dari : orang yang telah dilaporkan PPATK; tersangka; atau terdakwa. Surat permintaan tersebut ditembuskan kepada PPATK. 118 Mengenai pembuktian di pengadilan menggunakan sistem pembuktian terbalik, yaitu duga saja seseorang itu melakukan kejahatan pencucian uang barulah selanjutnya dibuktikan apakah benar melakukan atau tidak. Alat bukti yang digunakan adalah alat bukti yang dimaksudkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), ataupun alat bukti berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau alat yang serupa optik dan dokumen.119

Yunus Husein, Op.cit., hal. 23. Pasal 64-Pasal 67 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Op.cit. 118 Pasal 72, Ibid. 119 Pasal 73, Ibid.
117

116

95

Penyidik dalam tindak pidana pencucian uang disini adalah dilakukan oleh penyidik tindak pidana asal, yaitu : Kepolisian; Kejaksaan; Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK); Badan Narkotika Negara (BNN), Direktorat Jenderal Pajak, dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.120 Dalam hal penyidik menemukan bukti permulaan yang cukup terjadinya tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana asal, penyidik dapat menggabungkan penyidikan tindak pidana asal dan tindak pidana pencucian uang untuk selanjutnya dilaporkan kepada PPATK. 121 Penuntutan dilakukan oleh Penuntut Umum yang wajib menyerahkan berkas perkara tindak pidana pencucian uang kepada Pengadilan Negeri paling lambat 30 hari kerja sejak diterima berkas perkara yang dinyatakan lengkap. Pengadilan Negeri wajib membentuk majelis hakim paling lama 3 hari keja. Maksudnya adalah bahwa proses pelaksanaan persidangan agar tidak diperlambat hanya masalah penentuan majelis hakim.122 Pada proses pemeriksaan di persidangan terdakwa wajib membuktikan bahwa harta kekayaannya bukan merupakan hasil tindak pidana.123 Hakim memerintahkan terdakwa agar membuktikan bahwa harta kekayaan yang terkait dengan perkara bukan berasal atau terkait dengan tindak pidana. 124 Pembuktian oleh terdakwa dilakukan dengan mengajukan alat bukti yang cukup. Jika terdakwa ternyata tidak hadir di dalam persidangan setelah dipanggil secara sah dan patut tanpa alasan yang sah, perkara pencucian uang dapat diperiksa
120 121

Pasal 74, Ibid. Pasal 75, Ibid. 122 Pasal 76, Ibid. 123 Pasal 77, Ibid.. 124 Pasal 78, Ibid..

96

dan diputus tanpa hadirnya terdakwa.125 Namun, apabila kehadiran terdakwa sebelum putusan dijatuhkan, terdakwa wajib diperiksa kembali. Segala keterangan saksi dan surat-surat dianggap diucapkan dalam sidang selanjutnya. Dalam hal terdakwa meninggal dunia sebelum putusan dan terdapat bukti yang kuat, hakim atas tuntutan penuntut umum memutuskan perampasan harta kekayaan yang telah disita. Perampasan harta kekayaan yang telah disita diumumkan dan tidak dapat dilakukan upaya hukum lagi. Setiap orang yang berkepentingan dapat mengajukan keberatan selama 30 hari sejak diumumkannya perampasan harta kekayaan. Pelaksanaan kewajiban pelaporan oleh pihak pelapor dikecualikan dari kerahasiaan yang berlaku bagi pihak pelapor yang bersangkutan.126 Dalam melaksanakan kewenangannya, terhadap PPATK tidak berlaku ketentuan peraturan perundang-undangan dan kode etik yang mengatur kerahasiaan.127 Dalam meminta keterangan bagi penyidik, penuntut umum, atau hakim tidak berlaku ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur rahasia bank dan kerahasiaan transaksi keuangan lainnya.128 Pejabat dan Pegawai PPATK, penyidik, penuntut umum, atau hakim wajib merahasiakan pihak pelapor dan pelapor. Pelanggaran memberi hak pelapor menuntut ganti rugi. 129 Pihak pelapor, pelapor, dan saksi wajib diberi perlindungan khusus oleh negara dari ancaman yang membayakan diri, jiwa, dan atau hartanya, termasuk

125 126

Pasal 79, Ibid. Pasal 28, Ibid. 127 Pasal 45, Ibid. 128 Pasal 72 ayat (2), Ibid. 129 Pasal 83, Ibid.

97

keluarganya.130 Pada sidang pengadilan dilarang menyebutkan atau mengungkapkan identitas pelapor dan hakim wajib mengingatkan.131 Pelapor dan atau saksi tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana atas laporan atau kesaksian. 132 Pejabat atau Pegawai PPATK, penyidik, penuntut umum, hakim, dan setiap orang yang memperoleh Dokumen atau Keterangan dalam rangka pelaksanaan tugasnya menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang wajib merahasiakan Dokumen atau Keterangan tersebut, kecuali untuk memenuhi kewajiban menurut undang-undang. Pelanggaran pidana maksimal empat tahun.133 Direksi, Komisaris, Pengurus atau Pegawai Pihak Pelapor dilarang memberitahukan kepada Pengguna Jasa atau pihak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan cara apapun mengenai Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan yang sedang disusun atau telah disampaikan kepada PPATK. 134 Pejabat atau Pegawai PPATK atau Lembaga Pengawas dan Pengatur dilarang memberitahukan Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan yang akan atau telah dilaporkan kepada PPATK secara langsung atau tidak langsung dengan cara apapun kepada Pengguna Jasa atau Pihak Lain. 135 Pidana penjara maksimal lima tahun dan denda maksimal satu tahun. Untuk memberantas aksi pencucian uang maka harus dibentuk kerjasama antar lembaga. Tujuan dari kerjasama tersebut adalah untuk pertukaran informasi, pertukaran staf, sosialisasi dan pelatihan bersama, juga kerjasama yang harus
130 131

Pasal 84 dan Pasal 86, Ibid. Pasal 85, Ibid. 132 Pasal 87, Ibid. 133 Pasal 11, Ibid. 134 Pasal 12 ayat (1), Ibid. 135 Pasal 12 ayat (3), Ibid.

98

dituangkan di dalam M.o.U (Memorandum of Understanding) atau Nota Kesepahaman. PPATK mengadakan kerjasama di dalam maupun luar negeri. Setelah kesepakatan bersama dituangkan terlebih dahulu di dalam Nota Kesepahaman tersebut barulah antara lembaga yang berkesepahaman membuat perjanjian kerja sama dalam hal pemberantasan tindak pidana pencucian uang.

C.

Monetary Authority of Singapore (MAS) dalam Tindak Pidana Pencucian Uang di Pasar Modal Singapura Setelah melihat tindak pidana money laundering di Indonesia berikut akan

dilihat pengaturan pencucian uang pasar modal di Singapura. Lembaga pengawas pencucian uang di Indonesia adalah Pusat Pelaporan Atas Transaksi Keuangan (PPATK) dan lembaga yang mengawasi pasar modal Indonesia disebut dengan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM-LK). Sedangkan di Singapura lembaga pengawas pencuciannya adalah Financial Intelligence Unit (FIU-Singapura) dan lembaga pasar modalnya adalah Monetary Authority of Singapore (MAS).136 Bentuk dan jenis tindak pidana di Singapura mencakup : perdagangan palsu dan transaksi pasar yang curang; pemalsuan pasar obligasi; pernyataan yang salah atau palsu; kegiatan manipulasi dan penipuan; menyebarkan informasi mengenai transaksi illegal; perdagangan palsu, bucketing, pemalsuan harga kontrak dan pemonopolian; dan sebagainya. Hal ini terdapat dalam Securities and Futures Act. Chapter 289 secara tegas wilayah berlakunya diterapkan di dalam dan di luar

“Financial Investigation Division”, http://www.cad.gov.sg/topNav/abo/div/Financial+Investigation+Division.htm., diakses pada 31 Maret 2011.

136

99

Singapura, diantaranya untuk melindungi perusahaan, dan melindungi pasar obligasi di Singapura.137 Ditinjau dari sisi tindak pidananya perbedaan dengan Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang adalah di Indonesia tidak ada pengaturan mengenai bucketing.138 Dari jenis tindak pidana, di Indonesia dan Singapura terdiri dari kejahatan dan pelanggaran. Sedangkan dari segi sanksi pidana, di Indonesia dan Singapura mempunyai sanksi penjara maksimal dan minimal yang berbeda. Hal ini dapat terjadi karena perbedaan sistem hukum berimbas pada perbedaan kekhususan pengelompokan tindak pidana, sehingga mempengaruhi berat atau ringannyaa sanksi pidana yang dijatuhkan.139 Dalam Pasar Modal Singapura mengenai kewenangan lembaganya yaitu Monetary Authority of Singapore (MAS). MAS secara de facto adalah bank sentral Singapura. MAS didirikan berdasarkan Undang-Undang tentang Otoritas Keuangan Singapura (Monetary Authority of Singapore Act.). Selain mengawasi pasar efek dan perdagangan berjangka, MAS juga mengawasi industri perbankan dan asuransi.140 MAS adalah otoritas yang berwenang memberikan izin usaha kepada pemegang izin usaha jasa pasar modal yang diizinkan untuk melakukan kegiatan usaha dalam bidang-bidang yang telah ditentukan, yaitu kegiatan yang berkaitan dengan efek, perdagangan kontrak berjangka, perdagangan bursa asing yang
Lushiana Primasari, “Studi Perbandingan Formulasi Ketentuan Pidana dalam UndangUndang Pasar Modal di Indonesia dengan Singapura”, http://www.docstoc.com/docs/25952303/Studiperbandingan-formulasi-ketentuan-pidana-dalam-undang-undang., diakses pada 31 Maret 2011. 138 Bucketing adalah transaksi penjualan atau pembelian yang tidak jujur atau sah menurut peraturan bisnis dan terlibat dalam transaksi asing yang tidak sah dari kejahatan dan pelanggaran. 139 Loc.cit. 140 Monetary Authority of Singapore Act., Section 17.2.1., http://www.singaporelaw.sg/content/CorporateFinance.html., diakses pada 31 Maret 2011.
137

100

leveraged, manajemen dana (fund management), pemberian nasihat tentang pembiayaan perusahaan, pembiayaan efek dan/atau pemberian jasa penyimpanan efek (custodial services for securities). MAS juga memberikan izin usaha kepada individual dari pihak-pihak yang disebutkan di atas. Izin usaha harus diperbaharui setiap 3 (tiga) tahun dan dapat diperbaharui untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun berikutnya.141 MAS berwenang untuk meminta diterbitkannya buku-buku dan informasiinformasi oleh setiap bursa efek yang telah mempunyai izin, setiap pemegang izin usaha jasa pasar modal atau perwakilannya dan, tentu saja, setiap orang apabila terkait dengan hal yang sedang diselidiki. MAS dapat mewajibkan pihak pemegang izin usaha pasar modal atau orang yang dikecualikan (exempt person) untuk mengungkapkan nama orang yang berada di belakang suatu pengambilalihan atau pelepasan efek atau kontrak berjangka. MAS dapat pula mewajibkan seseorang mengungkapkan sifat instruksi yang diberikan kepadanya sehubungan dengan suatu pengambilalihan atau pelepasan efek. 142 Selain kewenangan untuk memperoleh keterangan dari bursa efek dan orangorang yang memiliki izin usaha, MAS dapat pula mewajibkan orang yang telah memperoleh, memegang atau melepaskan efek untuk mengungkapkan apakah ia bertindak sebagai trustee atau kuasa (agent) dari orang lain dan apabila demikian halnya, siapakah orang tersebut dan instruksi apa yang telah diberikan. MAS mempunyai kewenangan untuk memerintahkan pengungkapan informasi oleh

141 142

Section 17.2.2., Ibid. Section 17.2.3., Ibid.

101

pegawai suatu perusahaan yang telah tercatat di bursa, apabila hal tersebut perlu dalam rangka menetapkan suatu larangan perdagangan efek. Jika dianggap perlu, MAS dapat memerintahkan suatu penyelidikan untuk menemukan apakah telah terjadi pelanggaran hukum, untuk melaksanakan tugasnya berdasarkan Act. atau untuk memastikan ketentuan perundang-undangan telah dilaksanakan sebagaimana mestinya.143 MAS dapat memberikan petunjuk-petunjuk kepada bursa efek untuk memastikan adanya pasar yang adil dan teratur, memastikan berjalannya manajemen sistem resiko yang berintegritas dan baik dalam pasar, dan untuk melakukan hal-hal yang diperlukan untuk kepentingan publik. MAS mempunyai kewenangan untuk melarang perdagangan efek tertentu untuk melindungi orang-orang yang membeli atau menjual efek atau dengan alasan untuk kepentingan publik. MAS dapat pula membuat peraturan yang menentukan hal-hal apa saja yang dianggap bersifat menipu atau manipulatif berdasarkan Section 201 dari Securities and Futures Act. Pada awalnya dengan perdagangan orang dalam berdasarkan Securities Industry (Amendment) Act. 2000 yang kemudian diperluas untuk mencakup semua bentuk kesalahn tindak (misconduct) di pasar berdasarkan Securities and Futures Act., MAS telah diberi kewenangan untuk melakukan tindakan-tindakan pelaksanaan perdata (civil enforcement actions), yaitu MAS dapat memperoleh ganti rugi yang besar (treble damages) dari pihak yang melanggar. 144

143 144

Section 17.2.4., Ibid. Section 17.2.5., Ibid.

102

Dari peraturan perundangan Singapura mengenai badan pengawas pasar modalnya yaitu MAS diketahui bahwa, Singapura dan Indonesia sama-sama menunggu laporan dari penyedia jasa keuangan. Bedanya adalah di Singapura apabila sudah diketahui ada terjadi pencucian uang di pasar modalnya, MAS langsung membekukan dana nasabahnya tersebut sehingga terhentilah transaksinya di pasar modal Singapura. Jika di Indonesia, BAPEPAM-LK sebagai lembaga yang mengawasi harus menunggu laporan dan apabila sudah dilaporkan harus menetapkan penyidik dulu dengan Surat Keputusan Ketua BAPEPAM-LK. Dengan kata lain, MAS berwenang juga untuk mengatur, mengawasi, dan membina pasar modal di Singapura. Namun, kewenangan mengawasi dan membina tersebut tercermin dalam tindakan pertama pencegahan mereka adalah membekukan rekening. Hal ini patut dicontoh oleh BAPEPAM-LK agar bertindak lebih aktif lagi dalam memberantas tindak pidana money laundering. Dengan tindakan seperti itu, maka hasil yang akan didapat adalah stabilnya harga-harga saham pada pasar modal tersebut.

D.

Securities Exchange Commission (SEC) dalam Tindak Pidana Pencucian Uang di Pasar Modal Amerika Di Indonesia ada BAPEPAM-LK, di Singapura ada Monetary Authority of

Singapore (MAS), maka untuk di Amerika disebut dengan Securities Exchange Commission (SEC). Adapun tujuan dari dibentuknya SEC ini adalah untuk melindungi investor, mempertahankan pasar yang wajar, teratur, dan efisien, juga

103

memfasilitasi pembentukan modal. 145 Karena semakin berkembangnya pasar modal Amerika dengan meningkatnya grafik investor, adapun alasan investor mengalihkan dana ke Pasar Modal Amerika adalah untuk membantu masa depan, membayar tagihan rumah, menyekolahkan anak-anak, dan lain sebagainya. 146 Hukum dan peraturan yang mengatur pasar modal di Amerika Serikat berasal dari konsep sederhana dan mudah, yaitu : bagi semua investor baik perusahaan besar ataupun perseorangan, harus memiliki akses terhadap fakta-fakta dasar tertentu tentang investasi sebelum membelinya dan berapa lama asset tersebut ditahan.147 Untuk mewujudkan hal tersebut SEC mewajibkan seluruh perusahaan publik untuk mengungkapkan informasi keuangan yang baik bagi masyarakat. Hal ini bertujuan agar para investor dapat memutuskan sendiri apakah akan menjual, membeli, atau menahan saham yang dimiliki. Hanya dengan informasi yang akurat dan komprehensiflah maka investor dapat membuat keputusan investasi yang baik. 148 SEC mengawasi seluruh peserta dalam dunia efek, termasuk bursa efek, pialang saham, dan dealer, penasihat investasi dan reksadana. Setiap tahun SEC mengeluarkan ratusan keputusan-keputusan dalam hal penegakan hukum kepada korporasi dan perseorangan yang melanggar peraturan perundang-undangan yang

SEC Website, “The Investor’s Advocate : How the SEC Protects Investors, Maintains Market Integrity, and Facilitates Capital Formation”, http://www.sec.gov/about/whatwedo.shtml., diakses pada 02 Mei 2011. 146 Ibid., hal. 1. 147 Fakta-fakta dasar tertentu yang berlaku di Pasar Modal Amerika Serikat disebut di Indonesia adalah Fakta Materiel. 148 SEC Website, “The Investor’s Advocate : How the SEC Protects Investors, Maintains Market Integrity, and Facilitates Capital Formation”, Loc.cit.

145

104

berlaku. Pelanggaran tersebut termasuk insider trading, penipuan akuntansi, dan informasi palsu atau menyesatkan.149 Salah satu sumber informasi utama yang dapat diandalkan untuk menegakkan hukum dalam Pasar Modal Amerika Serikat adalah investor itu sendiri. Hal ini dikarenakan para investor sudah terdidik dan sangat berhati-hati karena berkaitan dengan menciptakan pasar yang efisien. Untuk membantu pendidikan para investor mengenai Pasar Modal Amerika Serikat, SEC menyediakan berbagai macam informasi pada lembaga tersebut.150 SEC Foundation dibentuk berdasarkan Securities Exchange Commission Act. 1934. Latar belakang dibentuknya peraturan ini adalah sebelum tahun 1929 ada peristiwa Great Crash. Pada saat itu Pasar Modal Amerika Serikat mengalami kerugian dikarenakan 20 juta pemegang saham besar dan kecil mengambil keuntungan dari kemenangan pasca Perang Dunia I. Diperkirakan bahwa lebih dari US$. 50 miliar dalam sekuritas baru yang ditawarkan selama periode tersebut menjadi tidak berharga. Ketika pasar saham jatuh pada bulan Oktober 1929, kepercayaan publik di pasar anjlok. Investor besar dan kecil, serta bank-bank yang telah menginvestasikan dananya ke pasar modal kehilangan sejumlah besar uang mereka dalam The Great Depression.151 Ada konsensus bahwa untuk pemulihan ekonomi di Pasar Modal Amerika Serikat dibutuhkan kepercayaan yang tinggi. Kongres mendengar jajak pendapat yang mengidentifikasikan masalah dan mencari solusi untuk mengembalikan kepercayaan
149 150

Ibid., hal. 3. Ibid. 151 Ibid., hal. 4.

105

publik kepada Pasar Modal. Berdasarkan temuan dalam sidang, Kongres mengeluarkan Securities Act. 1933. Peraturan ini bersama-sama dengan Securities Exchange Act 1934, yang menciptakan SEC, dirancang untuk memulihkan kepercayaan investor di pasar modal. Pemulihan kepercayaan tersebut ditempuh dengan mengakomodasikan fakta-fakta dasar yang benar dan dapat diandalkan, aturan yang jelas dan dijalankan dengan jujur. Tujuan utama dari Securities Exchange Act 1934 dapat dilihat pada 2 (dua) gagasan, yaitu 152 : a. Perusahaan publik yang menawarkan efek harus memberitahukan kepada publik mengenai kebenaran bisnis perusahaan tersebut dengan jujur, efek yang dijual, resiko yang terlibat dalam investasi dalam hal pembelian efek; b. Orang yang memperdagangkan efek seperti : broker, dealer, dan foreign exchange harus memperlakukan investor dengan adil dan jujur,

menempatkan kepentingan investor yang pertama dibanding dengan kepentingan pribadinya.

Pengawasan Pasar Modal membutuhkan upaya yang sangat terkoordinasi. Maka dari itu kongres membentuk Securities and Exchange Commission pada tahun 1934 untuk menerapkan peraturan perundang-undangan yang baru, mempromosikan stabilitas di pasar dan yang paling penting adalah untuk melindungi investor. Presiden Franklin Delano Roosevelt mengangkat Joseph P. Kennedy, ayah Presiden John F. Kennedy, untuk menjabat sebagai Ketua pertama dari SEC. 153

152 153

Ibid., hal. 5. Ibid.

106

1.

Organisasi SEC SEC terdiri dari 5 (lima) Komisaris yang ditunjuk oleh Presiden, dengan

jangka waktu jabatan 5 (lima) tahun. Secara hukum tidak lebih dari 3 (tiga) Komisaris dapat berasal dari Partai Politik yang sama, hal ini untuk memastikan non-partisan. Untuk menjalankan tanggung jawab fungsional Badan ini terorganisir menjadi 5 (lima) divisi dan 18 kantor, masing-masing yang berkantor pusat di Washington DC. Sekitar 3.500 Staf Komisi terletak di Washington dan di 11 Kantor Wilayah di seluruh Amerika Serikat. 154 Adapun wewenang SEC, antara lain 155 : a. Menafsirkan undang-undang mengenai efek; b. Mengeluarkan peraturan pelaksanaan dan mengubah peraturan pelaksanaan yang ada; c. Mengawasi pemeriksaan perusahaan sekuritas, pialang, penasehat investasi, dan badan-badan penafsir harga; d. Mengawasi peraturan organisasi perusahaan efek di Sekuritas mengenai akuntansi, dan bidang audit; dan e. Mengkoordinasikan peraturan perundang-undangan dengan peraturan yang ada di bawahnya, seperti : peraturan perundang-undangan pusat, federal (negara bagian), dan otoritas asing (badan pengawas pasar modal di luar Amerika Serikat).

154 155

Ibid. Ibid., hal. 6.

107

Komisi menyelenggarakan pertemuan secara berkala yang terbuka untuk umum dan media pemberitaan kecuali berkaitan dengan diskusi untuk hal-hal yang rahasia seperti akan menemukan investigasi penegakan hukum.

2.

Division of Corporation Finance (Divisi Keuangan Perusahaan) Division of Corporation Finance membantu Komisi dalam melaksanakan

tanggung jawabnya untuk mengawasi perusahaan dalam mengungkapkan informasi penting kepada investor. Korporasi harus mematuhi peraturan yang berkaitan dengan keterbukaan informasi yang harus dibuat ketika IPO (Initial Public Offering) tepatnya pada saat saham perdana dan kemudian secara berkala dan terus menerus. Staf Divisi secara rutin mereview dokumen-dokumen mengenai fakta-fakta materiel yang diajukan perusahaan emiten. Para Staf Divisi juga menyediakan bantuan untuk menafsirkan peraturan Komisi dan merekomendasikan kepada Komisi aturan-aturan baru untuk diadopsi.156 Dokumen-dokumen tersebut, meliputi : pendaftaran laporan untuk saham yang baru ditawarkan; laporan tahunan dan triwulanan (Formulir 10-K dan 10-Q); bahan proxy dikirim ke pemegang saham sebelum pertemuan tahunan; laporan tahunan kepada pemegang saham; dokumen tentang penawaran tender; dan pengajuan yang berkaitan dengan merger dan akuisisi. 157 Dokumen-dokumen tersebut mengungkapkan informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan emiten dan praktek bisnis untuk membantu investor membuat keputusan investasi. Melalui proses peninjauan Divisi, Staf Pemeriksaan melihat apakah perusahaan publik yang
156 157

Ibid., hal. 6. Ibid., hal. 6-7.

108

dimiliki adalah memenuhi persyaratan, pengungkapan Staf Pemeriksaan berusaha untuk menjaga kualitas penjelasan terhadap fakta materiel. 158 Division Corporation Finance memberikan interpretasi terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, yakni : Securities Act of 1933; Securities Exchange Act 1934; dan Trust Indenture Act 1939; dan merekomendasikan peraturan untuk melaksanakan undang-undang. Staf Divisi memberikan bimbingan dan konseling kepada pendaftar, calon pendaftar, dan masyarakat untuk membantu dalam hal investasi sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sebagai contoh : sebuah perusahaan mungkin akan bertanya apakah penawaran keamanan tertentu memerlukan pendaftaran dengan SEC. Division Corporation Finance akan berbagi penafsiran peraturan sekuritas dengan perusahaan dan memberikan nasihat tentang kepatuhan dengan persyaratan tersebut.159 Pembuatan peraturan adalah proses dimana agen-agen federal menerapkan undang-undang yang disahkan oleh Kongres dan ditandatangani menjadi undangundang oleh Presiden. Securities Act of 1933, Securities Exchange Act of 1934, Investment Company Act of 1940, dan Sabanes-Ocley Act memberikan kerangka atau dasar pijakan bagi SEC dalam hal pengawasan pasar modal. Undang-undang tersebut disusun secara luas dan menetapkan prinsip-prinsip dasar dan tujuannya. Untuk memastikan bahwa maksud dan tujuan dari Kongres dapat dilakukan dalam keadaan tertentu dan mengikuti perkembangan teknologi, memperluas ukuran, dan

158 159

Ibid. Ibid., hal. 7-8.

109

menawarkan produk-produk dan jasa baru maka SEC terlibat dalam pembuatan peraturan tersebut.160 Adapun proses pembuatan peraturan SEC dapat dilakukan dalam beberapa langkah, antara lain161 : 1) Concept Release; Konsep Rilis adalah proses pembuatan peraturan yang biasanya dimulai dengan aturan proposal, tapi kadang-kadang permasalahan yang ditemui begitu unik dan/atau rumit bahwa Komisi keluar mencari masukan dari masyarakat dimana jika ada pendekatan regulasi yang tepat. Sebuah Concept Realese dikeluarkan dengan menggambarkan bidang pembiayaan perusahaan efek/fee dalam menjual atau membeli saham. 2) Rule Proposal; dan Komisi menerbitkan rinci formal Rule Proposal untuk komentar publik. Tidak seperti Concept Release, sebuah tujuan aturan mempunyai kemajuan usulan spesifik dan metode dalam pencapaiannya. Biasanya komisi menyediakan antara 30-60 hari untuk tinjauan dan komentar. Sama seperti Concept Realese, komentar publik dianggap penting untuk merumuskan aturan akhir. 3) Rule Adaption. Pada akhirnya, Komisi mempertimbangkan apa yang telah dipelajari dari paparan publik mengenai aturan yang diusulkan, dan berusaha untuk menyetujui kekhususan suatu konsep final. Jika ukuran akhir yang kemudian diadopsi oleh suara

160 161

Ibid., hal. 8. Ibid.

110

terbanyak dari Komisi, maka itu menjadi bagian dari aturan resmi yang mengatur Pasar Modal.

3.

Division of Trading and Markets (Divisi Perdagangan dan Pasar Modal) Division of Trading and Markets membantu Komisi dalam melaksanakan

tanggung jawab dalam hal menjaga ketertiban dan keefisiensian pasar yang adil. Staf Divisi ini menyediakan pengawasan sehari-hari pasar modal, peserta utamanya : bursa efek, perusahaan sekuritas, Self-Regulatory Organizations (SROs) termasuk Financial Industry Regulatory Authority (FInRA), The Municipal Securities Rulemaking Board (MSRB), lembaga kliring dan penjaminan yang membantu penyelesaian perdagangan, Transfer Agents (pihak yang memelihara catatan dari pemilik efek), securities information processors, dan lembaga penafsir kredit. 162 Divisi ini juga mengawasi Securities Investor Protection Corporation (SIPC), yang merupakan pihak swasta perusahaan non-profit dalam menjamin efek dan uang tunai dalam rekening nasabah disebut dengan anggota perusahaan pialang terhadap kegagalan perusahaan-perusahaan. Penting untuk diingat bahwa asuransi SIPC tidak menutupi kerugian yang timbul dari penurunan harga efek atau penipuan.163 Adapun tanggung jawab Division of Trading and Markets antara lain164 : a. Melaksanakan integritas keuangan Komisi dalam program untuk pialang dan broker saham;

162 163

Ibid., hal. 9. Ibid. 164 Ibid., hal. 10.

111

b. Meninjau beberapa kasus di bawah kewenangan Komisi untuk mengusulkan peraturan baru dan perubahan yang diusulkan dalam hal peraturan yang diajukan oleh SRO; c. Membantu Komisi dalam menetapkan aturan dan menerbitkan interpretasi mengenai hal-hal yang mempengaruhi pengoperasian pasar modal; dan d. Mengawasi pasar modal.

4.

Division of Investment Management (Divisi Management Investasi) Divisi Manajemen Investasi membantu Komisi dalam melaksanakan tanggung

jawabnya untuk perlindungan investor dan untuk mempromosikan pembentukan modal melalui pengawasan dan peraturan investasi manajemen industri Amerika US$.26 triliun. Ini bagian terpenting dari Pasar Modal Amerika Serikat karena meliputi reksa dana dan manajer investasi profesional yang menasehati para investor besar karena menganalisa penelitian aktiva secara individual dan kelas aset, dan penasihat investasi untuk nasabah perorangan. Karena konsentrasi tingginya investor dalam reksa dana, maka dana yang diperdagangnkan di bursa dan investasi lain yang jatuh dalam lingkup Divisi ini memfokuskan untuk memastikan bahwa pengungkapan tetang investasi berguna untuk pelanggan ritel, dan bahwa aturan biaya dalam fee perusahaan efek maka konsumen/nasabah tidak harus membayar mahal untuk itu. 165 Adapun tanggung jawab Divisi Pengelolaan Investasi – Division of Investment Management, antara lain meliputi166 :

165 166

Ibid. Ibid.

112

a. Membantu Komisi dalam menafsirkan peraturan perundang-undangan dan peraturan lainnya bagi masyarakat dan SEC dalam menegakkan hukum; b. Menanggapi permintaan tidak ada tanggapan dan permintaan utnuk bantuan exemptive; c. Meninjau perusahaan investasi dan pengajuan penasihat investasi; d. Membantu Komisi dalam hal penegakan hukum yang melibatkan perusahaan investasi dan penasihat investasi; dan e. Memberikan saran kepada Komisi mengenai aturan SEC dalam hal beradaptasi dengan keadaan yang baru.

5.

Division of Enforcement (Divisi Penegakan Hukum) Divisi Penegakan Hukum membantu Komisi dalam melaksanakan fungsi

penegakan hukum dengan merekomendasikan dimulainya penyelidikan pelanggaran hukum surat berharga, dengan merekomendasikan bahwa Komisi membawa gugatan perdata di Pengadilan Federal atau sebelum seorang hakim mengeluarkan hukuman administrasi, dan menuntut kasus-kasus tersebut atas nama Komisi. Sebagai tambahan untuk penegakan otoritas sipil SEC, Divisi ini bekerja sama dengan lembaga penegak hukum lainnya di Amerika Serikat dan seluruh dunia untuk membawa kasus pidana ke Pengadilan Federal. 167 Divisi Penegakan Hukum memperoleh bukti yang cukup untuk dikembangkan semaksimal mungkin melalui penyidikan informal, wawancara saksi, memeriksa catatan broker, meninjau data perdagangan, dan menggunakan metode lainnya.

167

Ibid., hal. 11.

113

Setelah melakukan penyidikan, Staf SEC menyajikan temuan-temuan tersebut ke Komisi untuk direview. Komisi dapat mengotorisasi staf dalam pengajuan kasus tindak pidana ke Pengadilan Federal atau menjatuhkan tindakan administratif. Dalam banyak kasus, Komisi dan Pihak Lain yang bersengketa dibebankan untuk memutuskan menyelesaikan masalah tanpa jalur Pengadilan. 168 Pelanggaran umum yang biasa terjadi, menyebabkan SEC melakukan penyelidikan, antara lain meliputi169 : a. Misrepresentation informasi atau kelalaian informasi penting tentang efek; b. Memanipulasi harga pasar dari surat berharga; c. Mencuri dana nasabah atau surat berharga; d. Melanggar tanggung jawab antara broker saham dan dealer untuk memperlakukan investor dengan adil; e. Insider Trading (melanggar hubungan kepercayaan dengan pedagang pada fakta materiel, informasi non-publik tentang saham); dan f. Penjualan surat terdaftar.

Dalam hal memutuskan apakah membawa suatu kasus tindak pidana di pasar modal ke Pengadilan Federal atau hanya dalam SEC sebelum Hakim Hukum Administrasi memutuskannya adalah tergantung pada jenis sanksi atau keringanan yang sedang dicari. Misalnya : Komisi menduga seseorang dari industri broker saham dalam proses administrasi, tetapi perintah melarang seseorang dari bertindak sebagai pejabat perusahaan atau direktur harus diperoleh di Pengadilan Federal. Seringkali,
168 169

Ibid. Ibid., hal. 11-12.

114

ketika peringatan kesalahan tersebut Komisi membawa kedua proses hukum. Kedua proses tersebut, antara lain 170 : a. Civil Action; Komisi mengakomodasi keluhan-keluhan dari “orang yang melakukan” mengenai Pengadilan Distrik Amerika Serikat dan meminta Pengadilan untuk menjatuhi sanksi dan denda. Seringkali Komisi meminta perintah pengadilan, yang melarang tindakan lebih lanjut atau praktek-praktek yang melanggar hukum atau peraturan Komisi. Sebuah perintah juga dapat meminta Auditor, seorang akuntan untuk melihat kasus penipuan atau pengaturan pengawasan khusus. Selain itu, SEC dapat mencari hukuman moneter sipil, atau kembali keuntungan ilegal (disebut disgorgement). Pengadilan juga menunda seseorang dalam menjabat pejabat perusahaan atau direktur. Seseorang yang melanggar perintah pengadilan dapat disebut dengan penhinaan terhadap putusan pengadilan dan dapat dikenakan denda tamabahan atau penjara. b. Administrative Action. Komisi dapat mencari berbagai sanksi melalui proses administrasi. Proses administrasi berbeda dari tindakan pengadilan karena diputuskan oleh Administrative Law Judge (ALJ),171 yang terlepas dari Komisi. Hakim pada ALJ memimpin, mendengarkan, dan mempertimbangkan bukti yang ditunjukkan oleh Staf Divisi, serta setiap bukti yang diajukan oleh pihak yang bersengketa pada proses peradilan

Ibid. Administrative Law Judge (ALJ) di Amerika bersifat independen. Tidak di bawah SEC, sehingga menghasilkan putusan yang objektif. Hal ini terkait dengan independensi kehakiman di Amerika Serikat.
171

170

115

tersebut. Setelah mendengar dari ALJ, maka selanjutnya ALJ menerbitkan keputusan awal yang mencakup temuan fakta dan kesimpulan hukum. Keputusan awal juga berisi sanksi yang dituntut oleh Staf Divisi Penegakan Hukum. Kedua pihak yang bersengketa (Staf Divisi Penegakan Hukum dan Terdakwa) bisa mengajukan banding seluruhnya atau sebagian dari keputusan awal kepada Komisi. Komisi dapat menegaskan keputusan ALJ, membatalkan keputusan, atau mengembalikan Terdakwa ke penjara untuk pemeriksaan lanjutan/tambahan. Sanksi administratif yang diputuskan adalah berupa memberhentikan pesanan, penundaan, atau pencabutan izin broker-dealer dan mencabut izin pendaftaran investasi penasehat, civil monetary penalties,172 dan disgorgement.173

6.

Division of Risk, Strategy, and Financial Innovation (Divisi Risiko, Strategi, dan Inovasi Keuangan) Divisi Risiko, Strategi, dan Inovasi Keuangan didirikan pada bulan September

2009 untuk membantu mengidentifikasikan risiko yang berkembang dan tren di pasar modal. Divisi baru ini menyediakan analisis canggih yang mengintegrasikan disiplin ilmu ekonomi, keuangan, dan hukum. Tanggung jawab Divisi ini mencakup 3 (tiga)

Civil Monetary Penalties atau denda sipil adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan ketika Negara (Instansi Pemerintah, atau Pihak Swasta) mencari bantuan moneter terhadap individu sebagai restitusi kesalahan oleh individu. Kesalahan ini biasanya ditentukan oleh suatu kodefikasi undang-undang, peraturan, dan keputusan. Denda sipil tidak dianggap sebagai hukuman pidana, melainkan pengganti hukuman untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Contohnya : jika seseorang membuang limbah beracun di taman negara, maka negara akan meminta untuk memulihkan taman tersebut seperti sedia kala atau membawa hal tersebut ke pengadilan negeri jika diperlukan. Sumber : Black’s Law Dictionary, Op.cit. 173 Disgorgement adalah upaya paksa untuk menyerahkan seluruh keuntungan yang diperoleh dengan tindakan ilegal atau tidak etis. Pengadilan dapat memerintahkan Terpidana untuk membayar kembali keuntungan ilegal, dengan bunga, untuk mencegah perolehan keuntungan yang tidak adil. Dalam Black’s Law Dictionary, mengatakan disgorgement adalah tindakan memberi sesuatu (seperti keuntungan yang diperoleh secara ilegal atas permintaan atau dengan paksaan hukum. Sumber : Black’s Law Dictionary, Op.cit.

172

116

bidang yang luas, antara lain : risiko dan analisis ekonomi; riset strategis; dan inovasi keuangan. Munculnya derivatif, hedge funds, teknologi baru, dan faktor lain telah mengubah pasar modal menjadi lebih baik terkait dengan Good Corporate Governance (GCG). Divisi Risiko, Strategi, dan Inovasi Keuangan bekerja untuk memberikan nasihat kepada Komisi melalui pendekatan interdisipliner yang diinformasikan oleh hukum dan ekonomi keuangan yang modern, serta

perkembangan produk dunia nyata dan praktek di Wall Street dan Main Street. 174 Adapun fungsi dari Divisi Risiko, Strategi, dan Inovasi Keuangan, adalah sebagai berikut : a. Analisis strategis dan jangka panjang; b. Mengidentifikasi perkembangan baru dan tren di pasar modal dan risiko yang sistemik; c. Membuat rekomendasi tentang bagaimana perkembangan baru tersebut dan tren mempengaruhi regulasi kegiatan Komisi; d. Melakukan penelitian dan analisis sebagai kelanjutan dan mendukung fungsi Komisi dan Divisi-Divisi; dan e. Memberikan pelatihan tentang perkembangan baru, baik mengenai tren pasar dan hal-hal lainnya.

Setelah mengetahui tanggung jawab dan kewajiban BAPEPAM-LK (Indonesia), MAS (Singapura), dan SEC (Amerika Serikat) maka didapatlah benang merahnya. Jika ditinjau dengan teori Lawrence M. Friedman – Sistem Hukum –
SEC Website, “The Investor’s Advocate : How the SEC Protects Investors, Maintains Market Integrity, and Facilitates Capital Formation”, Op.cit.
174

117

bahwa secara substansial peraturan perundang-undangan ketiga negara pada dasarnya sama karena peraturan perundang-undangan tersebut terlihat mirip antar satu negara dengan negara lain. Ditinjau dari sisi badan hukumnya, ketiga badan hukum tersebut merupakan otoritas tertinggi dari pasar modal ketiga negara. Namun yang membuat perbedaan adalah budaya hukumnya, di Indonesia masih mengakar budaya suap pejabat-pejabat pemerintah. Sedangkan di Negara lain hal ini tidak dapat ditolerir. 175 Jika dibandingkan dari kewenangan penanganan money laundering, didapati SEC dan MAS adalah otoritas keuangan pasar modal yang melaporkan tindak pidana money laundering ke FIU dan untuk selanjutnya penyelidikan dan penjatuhan hukuman dilakukan. Sebenarnya BAPEPAM-LK juga wajib menyelidiki kasus money laundering tersebut jika ada, namun kenyataannya adalah BAPEPAM-LK tidak bertindak apapun dalam kasus tindak pidana money laundering yang terjadi pada ranah hukumnya. Kedudukan dan kewenangan Biro Pemeriksaan dan Penyidikan di BAPEPAM-LK sebagai lembaga penyidik bukanlah “kelanjutan” dari kedudukannya sebagai lembaga pemeriksa, melainkan merupakan kewenangan yang “mandiri”. Sehingga oleh pembentuk Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, kewenangan ini dipisahkan yaitu : Kewenangan Pemeriksaan dalam BAB XII dalam Pasal 100, sedangkan Kewenangan Penyidikan dalam BAB XIII dalam Pasal 101.
Dapat dilihat dari survey dari Political & Economic Risk Consultancy (PERC), Hongkong dan Transfarency Internasional, Indonesia merupakan peringkat pertama sebagai negara terkorup diikuti dengan Kamboja di posisi kedua dan Vietnam di posisi ketiga. Sedangkan Amerika Serikat berada di posisi ketigabelas yang merupakan negara bersih, lain halnya dengan Singapura menempati urutan paling akhir menempati urutan keenambelas sebagai negara terbersih. Sumber : Nusantaraku, “Memalukan, Indonesia Negara Terkorup Asia Pasifik”, http://nusantaranews.wordpress.com/2010/03/09/prestasi-terus-naik-indonesia-negara-terkorup-asia2010/., diakses pada 03 Mei 2011.
175

118

Karena itu, dapat saja BAPEPAM-LK langsung menggunakan kewenangan penyidikannya tanpa harus sebelumnya melakukan tindakan yang tergolong ke dalam Kewenangan Pemeriksaan. Dengan tugas barunya ini berarti BAPEPAM-LK mempunyai kewenangan yang sama seperti yang dipunyai oleh otoritas pasar modal di Negara lain seperti SEC di Amerika Serikat. Berdasarkan fungsinya tersebut seharusnya BAPEPAM-LK dapat mewujudkan tujuan penciptaan kegiatan pasar modal yang teratur dan efisien serta dapat melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat. Dalam melaksanakan fungsi penegakan hukum, BAPEPAM-LK bersikap proaktif bila terdapat indikasi pelanggaran peraturan perundang-undangan pasar modal. Dengan melakukan pemeriksaan dan atau penyidikan yang didasarkan kepada laporan atau pengaduan dari pelaku-pelaku pasar modal, data tersebut dianalisis oleh BAPEPAM-LK dan dari hasil tersebut dijadikan konsumsi publik dengan melakukan pemberitaan melalui media massa. 176 Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal juga tidak ada memberikan kewenangan untuk memberantas money laundering di pasar modal. Namun, seharusnya BAPEPAM-LK sudah tahu mengenai tugasnya karena money laundering adalah salah satu tindak pidana perbankan yang dapat dilakukan di sektor perbankan. Karena Pasar Modal adalah salah satu pasar perbankan, maka sudah seharusnya BAPEPAM-LK bertindak sebagai penyidik dalam kasus money laundering di Pasar Modal.

Hamud M. Balfas, Tindak Pidana Pasar Modal dan Pengawasan Perdagangan di Bursa Efek, Jurnal Hukum No. 11, Volume 6., 1999, hal. 93, sebagaimana dikutip Budi Satrio, “Penegakan Hukum Pidana di Pasar Modal”, (Tesis : Universitas Sumatera Utara, 2009), hal. 60-61.

176

119

BAB IV KENDALA UNDANG-UNDANG NO. 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DALAM MENCEGAH PRAKTEK MONEY LAUNDERING DI PASAR MODAL Dalam hal penegakan hukum tindak pidana pencucian uang, PPATK sangat berperan penting dalam menekan angka pencucian uang. Dengan kata lain, PPATK sebagai pemegang kunci dari mekanisme pemberantasan tindak pidana pencucian uang di Indonesia. Jika, PPATK tidak menjalankan fungsinya dengan benar maka efektifitas dari pelaksanaan Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pencucian Uang tidak akan tercapai. Dari latar belakang falsafah dibentuknya Rezim Anti Pencucian Uang, maka dapat dikaji beberapa kendala yang muncul dalam penerapan ketentuan ini di Indonesia. Seperti telah dipahami bahwa suatu keberhasilan dalam penegakan hukum sangat tergantung pada beberapa faktor yaitu bagaimana formulasi undang-undangnya, kualitas penegak hukumnya dan budaya masyarakatnya.177

A.

Penegakan Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dalam Praktek Money Laundering di Pasar Modal Pencucian uang sebagai suatu kejahatan mempunyai ciri khas yaitu bahwa

kejahatan ini bukan merupakan kejahatan tunggal tetapi kejahatan ganda. Hal ini ditandai dengan bentuk pencucian uang sebagai kejahatan yang bersifat follow up

Yenti Garnasih, “Anti Pencucian Uang di Indonesia dan Kelemahan dalam Implementasinya”, http://opinihukumkasus-lc-bni.blogspot.com/2008/07/anti-pencucian-uang-diindonesia-dan.html., diakses pada 21 Maret 2011.

177

120

crime atau kejahatan lanjutan, sedangkan kejahatan utamanya atau kejahatan asalnya disebut sebagai predicate offense atau core crime atau ada negara yang merumuskannya sebagai unlawful actifity yaitu kejahatan asal yang menghasilkan uang yang kemudian dilakukan proses pencucian uang. Tujuan pelaku memproses pencucian uang adalah untuk menyembunyikan atau menyamarkan hasil dari predicate offence agar tidak terlacak untuk selanjutnya dapat digunakan, jadi bukan untuk tujuan menyembunyikan saja tapi merubah performance atau asal usulnya hasil kejahatan untuk tujuan selanjutnya dan menghilangkan hubungan langsung dengan kejahatan asalnya. Dengan demikian jelas bahwa berbagai kejahatan keuangan (interprise crimes) hampir pasti akan dilakukan pencucian uang atau paling tidak harus sesegera mungkin dilakukan pencucian uang untuk menyembunyikan hasil kejahatan itu agar terhindar dari penuntutan petugas.178 Dari kekhasan jenis kejahatan ini telah melahirkan berbagai definisi tentang pencucian uang, yang ternyata tidak ada satupun yang bersifat universal serta komperhensif. Hal ini terlihat dalam pernyataan179 : “There is no universal or comprehensive definition of money laundering XE “money laundering”. Prosecutors and criminal intelligence agencies, businesspersons and companies, developed and developing countries-each has its own definition based on different priories and perspectives. In general, legal definitions for the purpose of persecution are narrower than definitions for intelligence purposes”. Dari berbagai definisi yang dibuat masing-masing negara bukan berarti berbeda sama sekali tetapi terdapat standar minimumnya berkaitan dengan kriteria kejahatan ini, dan terutama untuk kepentingan dilakukannya mutual legal assistance.
178 179

Ibid. Ibid.

121

Artinya bahwa masing-masing negara boleh saja tidak menyeragamkan definisi namun paling tidak terdapat standar yang harus diatur yaitu berkaitan dengan adanya unsur-unsur intent (maksud atau sengaja), a financial transaction, proceed of crime, knowledge or reason to know dan proceed of crime or unlawful activity. Dari sifatnya yang merupakan kejahatan ekonomi maka dipikirkan bahwa praktik pencucian uang sebagian besar menggunakan sarana lembaga keuangan, maka harus dilakukan upaya agar lembaga ini tidak digunakan untuk pencucian uang. Selain itu upaya pemberantasan melalui ketentuan lembaga keuangan dipandang sebagai suatu strategi dini sebagai penangkapan pelaku dan penyitaan hasil kejahatan dalam kaitannya dengan upaya preventif. 180 Namun demikian, karena sifatnya yang merupakan kejahatan tetap harus dilakukan upaya represif, maka ditawarkan suatu pemikiran pemberantasan dengan pendekatan dua jalur yang disebut sebagai twin track against money laundering181 : “A twin track policy has gradually evolved in the fight against money laundering, consisting of preventive approach, founded in banking law, and repressive approach founded in criminal law. To portray the distinction between the preventive and the repressive approach to money laundering as a dichotomy between criminal and financial law is, however, an oversimplification”. Berkaitan dengan pemberantasan pencucian uang maka kedua pendekatan tersebut hanya dibedakan tetapi tidak dipisahkan, bahkan dinyatakan antara pendekatan hukum pidana dan hukum ekonomi merupakan suatu keterpaduan. Diawali dengan pendekatan preventif yang diletakan pada lembaga keuangan nampaknya upaya pemberantasan melalui bidang ini dipandang sebagai strategi dini
180 181

Ibid. Ibid.

122

dan yang paling signifikan. Misalnya pada tahap placement lembaga keuangan (bank) dimanfaatkan dengan cara yang sederhana sampai yang rumit menggunakan wire transfer ataupun munculnya Payable Through Accounts (PTAs). 182 Selain itu, dengan perkembangan yang sangat pesat di bidang ekonomi, ditambah lagi dengan globalisasi ekonomi, maka ketentuan-ketentuan tentang kegiatan Pasar Modal diatur dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, dengan tetap mengacu pada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, BAPEPAM-LK mempunyai wewenang dalam hal penyidikan Tindak Pidana yang terjadi di Pasar Modal sesuai yang diatur dalam Pasal 101 yaitu 183 : (1) “Dalam hal Bapepam berpendapat pelanggaran terhadap Undang-undang ini dan atau peraturan pelaksanaannya mengakibatkan kerugian bagi kepentingan Pasar Modal dan atau membahayakan kepentingan pemodal atau masyarakat, Bapepam menetapkan dimulainya tindakan penyidikan. (2) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Bapepam diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Pasar Modal berdasarkan ketentuan dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. (4) Dalam rangka pelaksanaan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Bapepam mengajukan permohonan izin kepada Menteri untuk memperoleh keterangan dari bank tentang keadaan keuangan tersangka pada bank sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang perbankan. (5) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Kitab Undangundang Hukum Acara Pidana. (6) Dalam rangka pelaksanaan kewenangan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Bapepam dapat meminta bantuan aparat penegak hukum lain”.

182 183

Ibid. Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Op.cit.

123

Tetapi kenyataannya dalam hal penegakan supremasi hukum di lingkungan Pasar Modal masih sangatlah membingungkan dimana di dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal telah diatur bahwa yang menjadi penyidik dalam hal terjadi tindak pidana di lingkungan Pasar Modal adalah Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Bapepam. Sementara menurut Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana Pasal 1 menyatakan bahwa yang menjadi penyidik adalah Pejabat Polisi Negara RI dan Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan. Sesuai dengan Pasal 101 ayat 6 kedudukan Polri hanyalah sebagai pembantu penyidik BAPEPAM-LK dalam hal terjadi Tindak Pidana di lingkungan Pasar Modal. Sehingga dalam hal menyidik maupun memproses Tindak Pidana yang terjadi di Pasar Modal sampai saat ini sangatlah minim yang berhasil diproses sampai ke Pengadilan. Kasus pelanggaran di pasar modal Indonesia masih tidak jelas sanksi hukumnya. Contoh yang dapat kita lihat adalah kasus L/C Fiktif BNI 46 yang merugikan negara Rp. 11,4 miliar yang sampai saat ini belum jelas apa sanksi hukum yang dijatuhkan.184 Untuk meningkatkan dan mengefektifkan penegakan hukum di lingkungan BAPEPAM-LK, serta meningkatkan peran Polri dalam upaya membantu BAPEPAMLK dalam penegakan hukum maka pada tanggal 19 Pebruari 1998 dilangsungkan penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama (MOU) antara Badan Pengawas Pasar Modal Departemen Keuangan dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Agar pasar modal dapat berkembang dibutuhkan adanya landasan hukum yang kukuh

Rudi Hartono, “Lemahnya Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Pasar Modal”, http://masroed.wordpress.com/., diakses pada 21 Maret 2011.

184

124

untuk lebih menjamin kepastian hukum pihak-pihak yang melakukan kegiatan di pasar modal, serta melindungi kepentingan masyarakat pemodal dari praktik yang merugikan. Untuk menunjang tatanan hukum tersebut sangat diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan koordinasi dan kerja sama antara BAPEPAM-LK dan Polri dalam rangka menjamin terlaksananya penegakan hukum di pasar modal.185 Seharusnya BAPEPAM-LK juga dimasukkan di dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang sebagai suatu lembaga penyidik. Karena menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, yang menjadi penyidik adalah Kepolisian. Namun, di dalam UndangUndang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, yang melaporkan tindak pidana pencucian uang adalah PPATK. BAPEPAM-LK mempunyai kekuasaan yang absolut, karena dapat membuat peraturan (hak regulasinya), dapat mengawasi, dan dapat memberikan sanksi administratif. Tetapi kekuasaan yang diberikan tersebut sangat setengah-setengah dikarenakan proses penuntutan dilakukan oleh Kejaksaan Republik Indonesia yang sudah pasti hanya mengetahui kejahatan konvensional saja.

B.

Faktor-Faktor Penyebab yang Mempengaruhi Penegakan Hukum Tindak Pidana Money Laundering di Pasar Modal Untuk menegakkan hukum terhadap praktik pencucian uang memerlukan

kerja sama yang baik dari semua unsur Sistem Peradilan Pidana (SPP) yang dalam hal ini terdiri dari Polisi, Jaksa, Hakim dan juga PPATK. Masing-masing unsur SPP dan PPATK harus bisa berjalan dengan baik terkoordinir dan simultan. Namun,
185

Ibid.

125

nampaknya masih terdapat masalah dalam penegakan hukum terhadap pencucian uang di pasar modal.186 Tindak Pidana money laundering di Pasar Modal termasuk ke dalam kejahatan kerah putih (white collar crime). Tingkat kesulitan penegakan hukum pada kasus money laundering L/C Fiktif Bank BNI’46 memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, berbeda dengan penegakan hukum kejahatan konvensional lainnya. Kenyataan menunjukkan bahwa kasus tersebut sampai ke pengadilan jauh lebih sulit daripada membawa kasus-kasus konvensional. Kesulitan ini disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut187 : 1. Modus operandi dari white collar crime jauh lebih kompleks dibandingkan dengan kejahatan konvensional; 2. Pelaku white collar crime jarang yang mempunyai riwayat kriminil seperti yang umumnya dimiliki oleh pelaku kejahatan konvensional; 3. Kerugian dari white collar crime di pengadilan umumnya seperti orang-orang innoncent, tidak kelihatan sebagai penjahat karena pelaku white collar crime umumnya orang-orang terdidik, maka pintar merekayasa dan

menyembunyikan kesalahannya. Para pelaku white collar crime umumnya adalah orang-orang terpandang dan memiliki banyak teman dan uang, maka biasanya dapat menyewa pengacara mahal dan handal, yang dapat membebaskan dari jeratan hukuman. Dengan dasar uang yang banyak dan relasi yang punya kedudukan maka tidak terlalu sulit bagi seorang white
Yenti Garnasih, Op.cit. Munir Fuady, Bisnis Kotor : Anatomi Kejahatan Kerah Putih, Op.cit., hal. 180., sebagaimana dikutip Budi Satrio, Op.cit., hal. 55-56.
187 186

126

collar crime untuk mendekati aparat penegak hukum, seperti polisi, jaksa, atau hakim di seluruh tingkat peradilan.

Selain melihat dari faktor-faktor kesulitan dari pengungkapan fakta kejahatan white collar crime, dapat juga dilihat menggunakan teori Lawrence M. Friedman – Sistem Hukum, yaitu sebagai berikut :

1.

Substansi Hukum Kewajiban dari pihak Kepolisian selaku koordinator penyidikan, ditentukan

dalam Pasal 107 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, mengatakan bahwa188 : “Untuk kepentingan penyidikan, penyidik tersebut pada Pasal 6 ayat (1) huruf a., memberikan petunjuk kepada penyidik tersebut pada Pasal 6 ayat (1) huruf b., dan memberikan bantuan penyidikan”. Dalam praktek, penanganan kasus-kasus pasar modal, jarang sekali pihak kepolisian memberikan bantuan dalam tingkat penyidikan ini adalah sepanjang menyangkut tindakan polisionil, seperti : penangkapan; penggeledahan. Sedangkan pada saat proses proses pelaksanaan penyidikannya sendiri, pihak kepolisian memberikan kebebasan kepada penyidik BAPEPAM-LK untuk melakukan

penyidikannya. Hal ini terjadi karena masih kurangnya pemahaman dari penyidik kepolisian tentang kasus-kasus yang terjadi menyangkut kejahatan di pasar modal.189

Solahuddin, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Acara Pidana, dan Perdata, Cetakan Pertama, (Jakarta : Visimedia, 2008). 189 Budi Satrio, Loc.cit., hal. 80-82.

188

127

Hal ini diakui oleh Sardjito, Kepala Biro Pemeriksaan dan Penyidikan BAPEPAM-LK, yang mengatakan bahwa190 : “… salah satu kesulitan bagi penyidik BAPEPAM-LK, karena fungsi Kepolisian selaku koordinator kurang berperan, sedangkan pihak penyidik BAPEPAM-LK sendiri selaku penyidik dalam kasus-kasus yang terjadi di pasar modal masih harus belajar banyak dalam melakukan proses penyidikan pidana pada kasus-kasus tersebut karena selama ini pihak BAPEPAM-LK lebih sering menggunakan sanksi administratif sebagai senjata untuk menghukum pihak yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan perundang-undangan pasar modal”. Penetapan sanksi administratif tersebut adalah sama dengan yang diterapkan oleh Securities and Exchange Commission (SEC – Amerika Serikat) dalam menghadapi kasus-kasus pidana di Pasar Modal. Penjatuhan hukuman tersebut berupa disgorgement, pencabutan izin usaha, dan civil monetary penalties. Dalam hal pengejaran pelaku tindak pidana money laundering di Pasar Modal Indonesia, pihak BAPEPAM-LK tidak dimasukkan di dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan dan Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang sebagai penyidik. Maka dari itu pihak BAPEPAM-LK sendiri tidak mempunyai dasar hukum yang kuat untuk menghukum pelaku kejahatan money laundering.

2. a.

Stuktur Hukum BAPEPAM-LK Jika ditinjau dari struktur hukumnya kewenangan BAPEPAM-LK dalam

menangani money laundering sebenarnya BAPEPAM-LK mempunyai kewenangan untuk mengatur, mengawasi dan membina pasar modal di Indonesia. Namun kenyataannya tidak ada koordinasi antara Kepolisian dan BAPEPAM-LK. Pihak
190

Ibid., hal. 82.

128

BAPEPAM-LK sebagai otoritas pasar modal mengetahui seluk-beluk pasar modal, sedangkan Kepolisian mengetahui tata cara penyelidikan yang dilakukan. Jadi sebenarnya, antara BAPEPAM-LK dan Kepolisian saling membutuhkan satu sama lain. Dasar dari penyelidikan tersebut adalah laporan dari PPATK. Kerja sama itulah yang tidak ada antar lembaga, setiap lembaga menunjukkan tidak berkompeten menangani masalah money laundering dengan serius. Seharusnya di dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan dan Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang memasukkan pihak BAPEPAM-LK sebagai otoritas pasar modal yang merupakan salah satu tempat tindak pidana money laundering dilakukan itu sebagai Penyidik. Menurut Indra Safitri sebagai pengamat hukum pasar modal, mengatakan bawah191 : “… salah satu faktor penting untuk mengatasi masalah kejahatan di pasar modal itu adalah peran aktif dan ketegasan BAPEPAM-LK. Satu-satunya lembaga yang mempunyai otoritas di pasar modal Indonesia adalah BAPEPAM-LK dimana untuk memberantas kejahatan di pasar modal harus dengan mengoptimalkan BAPEPAM-LK, yakni : Pertama, BAPEPAM-LK harus menjalankan prinsip-prinsip good governance di lembaga itu, seperti transparansi; Kedua, Sumber Daya Manusia (SDM) dan take home pay. Kalau perangkat hukum bagus, tetapi institusinya belum menjalankan good governance, SDM dan sumber sosialnya tidak baik, penegakan hukum tidak dapat optimal. Sehingga, reposisi BAPEPAM-LK tidak begitu penting lagi untuk dipermasalahkan. Di bawah Presiden sekalipun, sebuah lembaga tidak dapat menjalankan good governance dengan baik maka itu tidak ada gunanya. Sebaliknya, sekalipun di bawah Kementerian, tetapi jika lembaga tersebut menjalankan good governance, memiliki SDM yang bagus dan penggajian yang bagus maka akan lebih efektif”. Pernyataan tersebut di atas adalah mengkaji penegakan hukum dari aspek kesejahteraan aparat penegak hukumnya. Sama saja menyebutkan bahwa apabila
191

Ibid., hal. 83.

129

diberi gaji tinggi maka aparat tersebut akan baik bekerja. Sebenarnya semuanya berasal dari dalam diri masing-masing (law from inside).192 Jika para aparat penegak hukum mempunyai kesadaran hukum yang tinggi maka, seberapa sulit penegakan itu dilakukan akan jalan dengan sendirinya.

b.

PPATK PPATK meskipun independen namun fungsinya sangat terbatas yaitu hanya

sebagai fungsi administratif. Di Indonesia PPATK tugasnya mengumpulkan dan memproses informasi yang berkaitan dengan kecurigaan atau indikasi pencucian uang. PPATK berfungsi sebagai motor penggerak untuk menganalisis adanya kecurigaan pencucian uang terutama melalui deteksi dini dalam alur transaksi yang mencurigakan. 193 Namun demikian, badan ini tetap dalam status melakukan tahap

penyelidikanpun sangat awal dan sangat terbatas membantu kepolisian. Hasil analisis atas transaksi atau kecurigaan adanya pencucian uang kemudian diserahkan kepada polisi yang ternyata oleh polisi masih dilakukan penyelidikan baru ditindaklanjuti dengan penyidikan dan proses selanjutnya. Artinya bahwa hasil analisis PPATK ini bukanlah sebagai alat bukti karena masih harus ditindaklanjuti dalam penyidikan, selain itu dalam masa penyidikan tersebut PPATK tidak berwenang untuk memblokir, artinya hasil analisis ini tidak terlalu berarti. 194

192 193

Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Op.cit. Yenti Garnasih, Op.cit., hal. 174. 194 Ibid.

130

c.

Kepolisian Dalam ketentuan Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan

Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, yang dimaksud penanganan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana pencucian uang berada dibawah kewenangan Kepolisian Republik Indonesia, disamping itu dibentuk lembaga (Financial Investigation Unit), yaitu Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), yang fungsinya antara lain penerima laporan (repository function) dan penganalisis (analysis function) dan sebagai clearing house yaitu lembaga yang menyediakan fasilitas untuk pertukaran informasi atas transaksi yang mencurigakan. 195 Berkenaan dengan tugas penyidikan polisi harus memperoleh alat bukti yang akan diajukan pada jaksa untuk selanjutnya diungkapkan di persidangan, dan untuk perkara pencucian uang bukanlah masalah mudah, apalagi harus dikaitkan dengan kejahatan asalnya. Peran polisi juga sangat dominan manakala berkaitan dengan pengembalian harta kekayaan hasil tindak pidana ini di luar negeri. Kemajuan di bidang teknologi informasi memungkinkan kejahatan pencucian uang bisa terjadi melampaui batas kedaulatan suatu Negara, untuk mencegah dan memberantasnya memerlukan kerjasama antara Negara. Penyidikan juga akan semakin sulit ketika melibatkan penggunaan jasa wire system, hal ini nampaknya dikarenakan tuntutan efisiensi, kecenderungan ekonomi, teknologi dan tuntutan kebutuhan pasar terbuka.196

195 196

Ibid. Ibid.

131

Sejak 1989 dihampir semua negara telah menerapkan wire transfer system secara internal, antar bank dan lembaga keuangan (transffering fund by electronic messages between banks-wire transfer), ini merupakan cara untuk memindahkan dana ilegal dengan cepat dan tidak mudah untuk dilacak oleh jangkauan hukum, dimana sekaligus pada saat yang sama terjadilah pencucian uang dengan cara mengacaukan audit trail. Cara ini juga sering disebut sebagai Electronic Fund Transfer (EFT) atau cyber payment yang merupakan salah satu jasa yang diberikan oleh electronic banking, yang memungkinkan pembayaran transfer berlangsung dengan mobilitas tinggi dengan mengoptimalkan jaringan perbankan international (International Offshore Banking Centers) sebagai lembaga intermediasi. Masalah wire transfer system yang menyertai money laundering juga semakin mempersulit pembuktian.197 Selain itu polisi juga harus menemukan fakta untuk dibuktikan jaksa yang meliputi unsur subyektif atau mens rea dan unsur obyektifnya atau actus reus. Mens rea yang harus dibuktikan yaitu knowledge (mengetahui atau patut menduga) dan intended (bermaksud). Kedua unsur tersebut berkaitan dengan unsur terdakwa mengetahui bahwa dana tersebut berasal dari hasil kejahatan dan terdakwa mengetahui tentang atau maksud untuk melakukan transaksi. Untuk memenuhi unsur yang harus dibuktikan jaksa tersebut sangat sulit, mengetahui atau cukup menduga apalagi bermaksud untuk menyembunyikan hasil kejahatan, benar-benar harus didukung berbagai faktor terutama dari perilaku dan kebiasaan pelaku. 198

197 198

Ibid. Ibid.

132

Perlu ditekankan bahwa polisi tidak selalu harus menunggu laporan atau hasil investigasi dari PPATK, bisa saja dan sangat mungkin polisi melakukan penyelidikan awal terlebih dahulu atas adanya dugaan pencucian uang. Dalam kasus seperti ini misalnya polisi telah mempunyai bukti awal tentang adanya korupsi atau aliran dana illegal logging misalnya, justru polisi berinisiatif meminta bantuan PPATK untuk rekening tertentu. Seperti yang terjadi sekarang ini, begitu banyak kasus korupsi yang terungkap seharusnya polisi mengambil inisiatif menelusuri aliran dana terlebih dahulu tidak perlu menunggu dari PPATK. Sebaiknya polisi juga mulai waspada terhadap praktek pencucian uang yang menggunakan cara-cara manual atau tradisional yaitu cara pemindahan uang dari bagasi ke bagasi. Nampaknya hal ini mulai marak di Indonesia, sebagai perbandingan di Amerika sendiri masih terjadi pencucian uang yang menggunakan cara-cara tradisional seperti hundi. 199 Sudah seharusnya mulai dipikirkan bahwa ketika suatu perkara pencucian uang terungkap maka para pelaku kejahatan itu akan mengevaluasi teknik-teknik yang mereka lakukan dan pada akhirnya akan menjatuhkan mereka. Mereka akan selalu mengikuti pemberitaan kasus mereka di media massa, menyimak jalannya persidangan dan mendengarkan keterangan-keterangan saksi yang dihadirkan serta mempelajari transkrip-transkrip persidangan untuk mengetahui di mana kelemahan mereka sehingga terjebak dalam penangkapan polisi. Artinya polisi harus menyadari bahwa penjahat tidak bisa didikte oleh pemerintah. Apabila di Indonesia saat ini sedang gencar-gencarnya untuk mengamankan sistem bank sebagai sarana pencucian

199

Ibid.

133

uang, sudah seharusnya polisi lebih mewaspadai proses pencucian uang yang tidak melalui bank. 200 Menghadapi ancaman pencucian uang yang semakin canggih dan dengan cara sederhana tetapi strategis bukan sesuatu yang mudah. Di berbagai negara hal ini sangat dipahami, sehingga Amerika mengeluarkan undang-undang yang disebut Stink Operation (operasi penjebakan). Pada intinya operasi ini adalah untuk mengungkap jaringan pencucian uang dengan cara penyamaran (undercover inquiring). Jadi polisi dalam waktu tertentu menyamar sebagai pelaku pencucian uang dengan menggunakan uang negara, seperti pada pengungkapan tindak pidana narkotika. Namun untuk operasi penjebakan pencucian uang ini lebih rumit, karena tidak sekedar penyamaran saja tetapi negara harus menyiapkan sejumlah uang yang akan digunakan dalam penyamaran tersebut untuk dicuci. Nampaknya tanpa adanya undang-undang stink operation ini akan sulit terwujud.201 Sampai sekarang ini operasi penyamaran untuk kasus-kasus besar oleh pihak Kepolisian Republik Indonesia masih kurang dilakukan karena keterbatasan anggaran dari pemerintah. Untuk menyelesaikan sebuah kasus, seorang polisi hanya dibayar yang nominalnya tidaklah cukup untuk operasional di lapangan. Bagaimana mungkin sebuah operasi penyamaran dapat dilakukan di Indonesia tanpa didukung oleh anggaran yang cukup. Mental polisinya juga harus dipertaruhkan dalam hal ini.

200 201

Ibid. Ibid.

134

3.

Budaya Suap Bagi Penegak Hukum Budaya hukum Indonesia masih merupakan budaya suap. Hal ini dibuktikan

dengan kasus L/C Fiktif BNI’46, yang dapat dilihat bahwa Komjen Polisi Suyitno Landung terseret kasus suap terkait dengan kasus tersebut. Adapun kutipan pernyataan Tim Penyidik Bareskrim Mabes Polri dalam mekanisme penuntasan kasus BNI’46, sebagai berikut202 : “…dulu Komjen Pol. Suyitno Landung menjadi atasan hukum (ankum) Penyidik yang terlibat kasus suap BNI. Kini dia malah dijadikan tersangka atas kasus serupa. Kasusnya adalah dugaan suap di tubuh Bareskrim Mabes Polri saat menangani kasus pembobolan BNI melalui letter of credit fiktif. Penetapan mantan Kabareskrim Polri Komjen Pol. Suyitno Landung sebagai tersangka ini terkait kasus penyalahgunaan tugas dan tanggung jawab jabatan di Bareskrim Mabes Polri dalam mekanisme penuntasan kasus BNI. Pemeriksaan masih berlanjut, pihak Bareskrim Mabes Polri menunggu temuan-temuan. Jadi unsur yang mengarah ke tindak pidana dan ketentuan yuridis masih diperiksa”. Terbukti bahwa lembaga penegak hukumnya saja terseret-seret dari kasus yang ditanganinya. Bagaimana mungkin sebuah penegakan hukum dapat berjalan dengan baik, apabila penegak hukumnya masih bisa disuap. Keganjilan lain yang dapat dilihat dari pernyataan di atas adalah bahwa pihak yang menginterogasi dan atau menyelidiki kasus tersebut adalah lembaga Kepolisian itu sendiri. Sebuah badan memeriksa badannya sendiri, kasus ini tidak akan selesai karena tidak terjadi checks and balances jika pemeriksaan dilakukan oleh Kepolisian itu sendiri. Seharusnya pemeriksaan dilakukan oleh lembaga lain. Budaya hukum suap inilah yang tidak dapat menegakkan keadilan.

Sirojul Muttaqien, “Komjen Pol. Suyitno Landung Jadi Tersangka Kasus Suap BNI”, http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/12/tgl/13/time/143429/idnews/4977 02/idkanal/10., diakses pada 04 Mei 2011.

202

135

Hal tersebut di atas dapat dilihat lagi dengan bukti lebih lanjut mengenai statistik survei yang digelar oleh KPK pada April-September 2009 dengan 11.413 responden yang menghasilkan Kepolisian adalah pemilik skor integritas terendah. Dengan kata lain Kepolisian merupakan lembaga terkorup pada tahun 2009. 203

Kewenangan BAPEPAM-LK terhadap tindak pidana money laundering di pasar modal semakin tidak didukung oleh lembaga penegak hukum lainnya. Sulit untuk mengungkapkan kasus tindak pidana money laundering di Pasar Modal karena tidak didukung oleh Substansi Hukum, Struktur Hukum, dan Budaya Hukumnya. Sebaiknya pihak-pihak penegak hukum diberikan kewenangan untuk menyelidiki dalam tindak pidana money laundering di pasar modal. BAPEPAM-LK juga diberikan kewenangan untuk menangani masalah itu. Jadi, revisi dapat dilakukan terhadap Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan dan Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang agar dapat mencantumkan BAPEPAM-LK sebagai Penyidik tindak pidana money laundering di Pasar Modal.

Monitor Indonesia, “Inilah 15 Lembaga Terkorup Versi KPK”, http://monitorindonesia.com/2010/01/inilah-15-lembaga-terkorup-versi-kpk/., diakses pada 04 Mei 2011.

203

136

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Setelah melakukan penelitian mengenai “Kewenangan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM-LK) Dalam Penanganan Money Laundering Di Pasar Modal”, maka kesimpulan yang didapat, sebagai berikut :

1. Terjadinya praktek money laundering di Pasar Modal dapat terjadi melalui 2 (dua) cara : Pertama, melalui hasil tindak pidana pasar modal itu sendiri kemudian masuk ke sistem pasar modal; Kedua, hasil tindak pidana di luar pasar modal kemudian masuk ke sistem pasar modal. Kedua hal tersebut lebih cenderung dengan cara tahapan layering ataupun integration daripada tahapan placement.

2. BAPEPAM-LK tidak berwenang untuk melakukan penyidikan money laundering di Pasar Modal, penanganannya hanya dengan melakukan pencegahan terhadap terjadinya money laundering di Pasar Modal dengan cara menerapkan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer – KYC). Kewenangan BAPEPAM-LK hanya sebatas melakukan penyidikan terhadap tindak pidana pasar modal sesuai dengan Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal;

3. Kendala dalam penanganan money laundering di Pasar Modal dalam UndangUndang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak

137

Pidana Pencucian Uang adalah tidak melibatkan BAPEPAM-LK sebagai otoritas pasar modal dalam hal terjadi praktek money laundering di pasar modal.

B. Saran Berdasarkan analisis dari kesimpulan di atas, selanjutnya akan disarankan halhal sebagai berikut sebagai pemecahan masalah :

1. Mengantisipasi masuknya

money laundering di Pasar Modal agar

BAPEPAM-LK mempelajari modus masuknya money laundering di Pasar Modal, BAPEPAM-LK perlu meningkatkan koordinasi dan kerjasama dengan lembaga terkait seperti : PPATK; Kepolisian; Kejaksaan; dan Pengadilan agar penegakan hukum terhadap pelaku bisa lebih maksimal, serta melakukan pengawasan terus-menerus terhadap kepatuhan pelaku pasar modal dalam rangka menjamin terlaksananya law enforcement di bidang Pasar Modal;

2. BAPEPAM-LK agar diberi kewenangan dalam hal penanganan money laundering di Pasar Modal karena BAPEPAM-LK sesuai dengan UndangUndang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal merupakan Penyidik dalam penanganan tindak pidana yang terjadi di Pasar Modal dan lebih memahami tentang kegiatan yang berlangsung di Pasar Modal dalam rangka terciptanya kepercayaan masyarakat terhadap industri Pasar Modal;

138

3. Melakukan revisi terhadap Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang khususnya mengenai substansi Pasal 74 yang mengatur mengenai Penyidik tindak pidana asal, agar dicantumkan BAPEPAM-LK sebagai Penyidik tindak pidana money laundering di Pasar Modal ataukah Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal diganti dimana penyidiknya bukan lagi BAPEPAM-LK saja tetapi juga Kepolisian Republik Indonesia.

Demikianlah saran yang diajukan agar kiranya dapat menjadi pertimbangan di kemudian hari, baik untuk memperkaya khasanah kepustakaan maupun untuk penelitian lanjutan mengenai BAPEPAM-LK dan money laundering di Pasar Modal.

139

DAFTAR PUSTAKA

BUKU Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta : Rajawali Press, 2010.

BAPEPAM-LK, Strategi Pengembangan Pelaku Pasar Modal : Cetak Biru Pasar Modal Indonesia 2000-2004, Jakarta : BAPEPAM-LK, 2000.

------------------., Master Plan Pasar Modal Indonesia 2005 – 2009, Jakarta : Departemen Keuangan Republik Indonesia, 2005.

Bungin, Burhan., Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, Ed. 1, Cet. 3, Jakarta : Kencana, 2009.

Dalla, Ismail., The Emerging Asian Bond Market, Washington DC : The World Bank, 1995. Friedman, Lawrence M., A History of American Law, 3rd Edition, New York : Simon & Schuster, Inc., 2005. ------------------------------., American Law An Introduction, 2nd Edition, diterjemahkan oleh Wishnu Basuki, Hukum Amerika Sebuah Pengantar, Jakarta : Tata Nusa, 2001.

Fuady, Munir., Bisnis Kotor : Anatomi Kejahatan Kerah Putih, Bandung : Citra Aditya Bakti, 2004.

-----------------., Pasar Modal Modern, Bandung : Citra Aditya Bakti, 1996.

Hukumonline.com, Tanya Jawab Hukum Perusahaan, Cetakan Pertama, Jakarta : Visimedia, 2009.

140

Husein, Yunus., “Rezim Anti Money Laundering : Aspek Hukum dan Perkembangan Terkini”, Disampaikan dalam Kuliah Umum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 8 Mei 2009.

Kelsen, Hans., Teori Hukum Murni : Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif, diterjemahkan oleh Raisul Muttaqien, disunting oleh Nurainun Mangunsong, Bandung : Nusamedia & Nuansa, Cet. III, 2007.

Jurnal Hukum Bisnis, “Menyikapi Globalisasi Pencucian Uang”, Volume 22, No. 3, 2003.

Nasarudin, M. Irsan dan Indra Surya, Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia, Jakarta : Prenada Media, 2004.

Nasution, Bismar., Keterbukaan dalam Pasar Modal, Jakarta : Universitas Indonesia, 2001.

--------------------., “Mengkaji Ulang Hukum Sebagai Landasan Pembangunan Ekonomi”, Medan : Pidato Pengukuhan Guru Besar, 2003.

--------------------., “Modul Perkuliahan : Hukum Pasar Modal”, Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009.

--------------------., Rejim Anti-Money Laundering di Indonesia, Bandung : Books Terrace & Library, 2005.

Rajagukguk, Erman., “Rezim Anti Pencucian Uang dan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang”, disampaikan pada Lokakarya “Anti Money Laundering”, Medan : Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 15 September 2005. Sagala, Parluhutan., ”Penyebaran Kepemilikan Saham Pemerintah pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk Menciptakan Perusahaan yang Sehat dan Efisien”, Medan : Disertasi, Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, 2009.

141

Satrio, Budi., “Penegakan Hukum Pidana di Pasar Modal”, Medan : Tesis, Universitas Sumatera Utara, 2009.

Shook, R. J., dan Robert L. Shook, The Wall Street Direct Dictionary.

Simbolon, Robinson., “Mewaspadai Pencucian Uang Melalui Pasar Modal, dalam Jurnal Hukum Bisnis, Vol. 22, No. 3, Jakarta : Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis, 2003.

Soekanto, Soerjono., Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta : Rajawali, tanpa tahun.

Solahuddin, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Acara Pidana, dan Perdata, Cetakan Pertama, Jakarta : Visimedia, 2008.

Sunggono, Bambang., Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta : Rajawali Press, 2010.

Suta, I Putu Gede Ary., Menuju Pasar Modal Modern, Jakarta : Yayasan SAD Satria Bhakti, 2000.

Tumanggor, M.S., “Kajian Hukum Atas Insider Trading di Pasar Modal Suatu Antisipasi Terhadap Pengembangan Ekonomi Indonesia (Satu Telaah Singkat)”, Bandung : Disertasi, Program Doktor Universitas Padjajaran.

Usman, Marzuki., Singgih Riphat, dan Syahrir Ika, Pengetahuan Dasar Pasar Modal, Jakarta : Jurnal Keuangan dan Moneter, 1997.

ARTIKEL INTERNET Agustiyadi, M. Tri., “Praktek Money Laundering pada Pasar Modal (Pasar Modal Bukan Mesin Cuci Uang)”, http://triagus.multiply.com/reviews/item/33., diakses pada 19 November 2010.

142

BAPEPAM-LK, “Struktur Organisasi BAPEPAM-LK”, http://www.bapepam.go.id/bapepamlk/organisasi/struktur.htm., diakses pada 17 Mei 2011.

Black’s Law Dictionary, http://www.blackslawdictionary.com/Home/Default.aspx., diakses pada 20 Maret 2011. Garnasih, Yenti., “Anti Pencucian Uang di Indonesia dan Kelemahan dalam Implementasinya”, http://opinihukumkasus-lc-bni.blogspot.com/2008/07/antipencucian-uang-di-indonesia-dan.html., diakses pada 21 Maret 2011. Hartono, Rudi., “Lemahnya Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Pasar Modal”, http://masroed.wordpress.com/., diakses pada 21 Maret 2011.

Departemen Pendidikan Nasional, “Integral”, Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php., diakses pada 13 Agustus 2010.

Darmawan, Yusran., ”Membincang Holistik dalam Antropologi”, http://timurangin.blogspot.com/2009/08/membincang-holistik-dalamantropologi.html., diakses pada 13 Agustus 2010.

“F i n a n c i a l I n v e s t i g a t i o n D i v i s i o n”, http://www.cad.gov.sg/topNav/abo/div/Financial+Investigation+Division.htm. diakses pada 31 Maret 2011.

Harian Ekonomi Neraca, “B.E.I Perketat Pencucian Uang”, tanggal 13 Juni 2010, http://www.neraca.co.id/2010/06/13/bei-perketat-pencucian-uang/., diakses pada 21 November 2010.

Hartono, D.T., “Bisakah Pasar Modal Sebagai Lahan Money Laundering?”, http://www.bapepam.go.id/pasar_modal/publikasi_pm/info_pm/warta/2005_p ebruari/money_laundering.pdf., diakses pada 19 November 2010.

143

Husein, Yunus., ”Rezim Anti Pencucian uang Indonesia Berdasarkan UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU”, Desember 2010, http://elearning.ppatk.go.id., diakses pada 17 Maret 2011.

Ihsan, Ahmad., “Hasil Pencucian Uang Kasus BNI Masuk Pasar Modal”, Kamis, 19 F e b r u a r i 2 0 0 4, http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2004/02/19/brk,2004021928,id.html., diakses pada 19 Maret 2011.

“Indikasi Kejahatan yang dilakukan oleh Kreditur/Bank kepada Debitur/Nasabah”, http://korup5170.files.wordpress.com/2008/05/money-laundering.pdf., diakses pada 19 Maret 2011.

MAS

Website, ”Monetary Authority of Singapore Act.”, http://www.singaporelaw.sg/content/CorporateFinance.html., diakses pada 31 Maret 2011.

Monitor Indonesia, “Inilah 15 Lembaga Terkorup Versi KPK”, http://monitorindonesia.com/2010/01/inilah-15-lembaga-terkorup-versi-kpk/., diakses pada 04 Mei 2011.

Muttaqien, Sirojul., “Komjen Pol. Suyitno Landung Jadi Tersangka Kasus Suap BNI”, http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/12/tgl/13/ti me/143429/idnews/497702/idkanal/10., diakses pada 04 Mei 2011.

Nurmalawaty, ”Faktor Penyebab Terjadinya Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) dan Upaya Pencegahannya”, http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15240/1/equ-feb2006-3.pdf., diakses pada 19 Maret 2011.

Nusantaraku, “Memalukan Indonesia Negara Terkorup Asia Pasifik”, http://nusantaranews.wordpress.com/2010/03/09/prestasi-terus-naikindonesia-negara-terkorup-asia-2010/., diakses pada 03 Mei 2011.

Organisasi, http://www.bapepam.go.id/old/profil/organisasi.htm., diakses pada 31 Maret 2011.

144

Perkasa, Anugerah., ”PPATK Bisa Menggandeng BAPEPAM-LK Terkait Pencucian Uang di Bursa”, http://bataviase.co.id/node/371225., diakses pada 19 November 2010.

Primasari, Lushiana., “Studi Perbandingan Formulasi Ketentuan Pidana dalam Undang-Undang Pasar Modal di Indonesia dengan Singapura”, http://www.docstoc.com/docs/25952303/Studi-perbandingan-formulasiketentuan-pidana-dalam-undang-undang., diakses pada 31 Maret 2011.

Ronny, Junaidy K., “Ilmu Hukum dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan Modern”, http://www.legalitas.org/content/ilmu-hukum-dalam-perspektif-ilmupengetahuan-modern., diakses pada 13 Agustus 2010.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan No. KEP02/PM/2003 tentang Prinsip Mengenal Nasabah.

Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan No. KEP476/BL/2009 tentang Prinsip Mengenal Nasabah oleh Penyedia Jasa Keuangan di Bidang Pasar Modal.

Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 No. 30, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4191.

Undang-Undang No. 25 Tahun 2003 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 No. 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4324.

Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 5164. Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3608.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->