“SEBAB-SEBAB DIWAJIBKAN SHALAT 5 WAKTU”

Sebab-sebab yang mewajibkan shalat banyak sekali, baik dalam Al-Qur'an maupun dalam Hadis Nabi Muhammad Saw. Dalil ayat-ayat Al-Qur'an yang mewajibkan shalat antara lain yang berbunyi : Wa-Aqiimush shalaata Wa-aatuz zakaata warja'uu ma'arraaki'iin. (Artinya: Dan dirikanlah shalat, dan keluarkanlah zakat,dan tunduklah/ruku' bersamasama orang-orang yang pada ruku) (S.Al-Baqarah,ayat.43). Wa-Aqimish Shalaata Innash Shalaata Tanhaa'anil FakhsyaaIwalmunkari. (Artinya: Kerjakanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan yang jahat / keji, dan mungkar) (S.Al-'Ankabut,ayat.45). Perintah shalat ini hendaklah di tanamkan kedalam hati dan jiwa anak-anak dengan cara pendidikan yang cermat, dan di lakukan sejak kecil, sebagaimana tersebut dalam hadis Nabi Muhammad Saw sbb : Muruu Aulaadakum bish Shalaati wahum Abna-u sab'in wadl-ribuuhum 'Alaihaa wahum abnna-u 'asyrin. (Artinya: perintahlah anak-anak mengerjakan shalat diwaktu usia mereka meningkat tujuh tahun, dan pukulah kalau tidak mau melakukan shalat di waktu usia meningkat sepuluh tahun) Berbicara tentang sholat tidak bisa dipisahkan dengan peristiwa isra’ mi’raj. Karena sholat adalah oleh-oleh rasulullah SAW ketika melakukan perjalanan isra’ mi’raj tersebut. Isro’ artinya berjalan malam yang dilakukan dan dilaksanakan rasul dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Jerussalem sejauh ± 2000 km, seperti tersebut dalam surat Al-Isra’ ayat 1 yang artinya : “Maha suci Allah yang telah menjalankan hamba nya (tubuh serta roh) di waktu malam dari Masjidil Haram (Mekkah) sapai ke Masjidil Aksa (Palestina), yang kami berkahi sekitarnya guna memperlihatkan kebesaran kami. Sesungguhnya Allah Maha Pendengar lagi Maha Melihat”. Mi’raj artinya alat untuk naik, pandangan tidak terhitung, tak terkira-kirakan oleh otak manusia. Nabi diajak Jibril demi perintah Tuhan Azza Wajalla naik menjelajahi ruang angkasa sejauh : 1395 tahun pantulan cahaya sesudah tamasya di bumi sejauh 2000 km. Menjelang sampai ke tempat yang ditentukan, Nabi sempat bertemu dengan Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Musa, Nabi Suaib, Nabi Harun Alaihis salam, terakhir nabi bertemu dengan Nabi Ibrahim khalilullah. Kemudian sampai ke sidrotul Muntaha sebuah planet yang paling besar, merupakan penggerak seluruh alam. Disini nabi menyaksikan rupa jibril AS, dalam bentuk aslinya. Disitu dilihatnya pula surga. Nabi berada di alam malaikat serta Mesjidil yang indah pantulan makmur. Tidaklah hatinya dusta akan apa yang dilihatnya. Apa yang dia ucapkan bukan kehendaknya, tapi adalah wahyu Allah. Ayat ini dasar keyakinan kita bahwa benar Nabi Muhammad melakukan Mi’raj dengan tubuh dan rohnya.

1

Dengan kesatuan unsur tersebut beliau menerima perintah shalat Kemampuan jibril dan mikail menemani rasul hanya sampai di Sidrotul Muntaha.Kalau dihubungkan pula dengan hambanya Abdihi. Nabi Musa menanyakan berapa jumlah shalat yang diterimanya. Karena perintah itu dianggapnya kecil kalau dibandingkan dengan betapa nikmat Tuhan yang telah diberikan kepada makhluknya. Sehingga akhirnya menjadi 5 kali sehari semalam. Ketika Nabi Muhammad turun bertemu dengan Nabi Musa. Serta beliau menerima perintah shalat 50 kali sehari semalam dengan tidak membantah lagi dan nabi menerimanya. menyatukan tekad dalam pengabdian. Jibril mengatakan bahwa dia tidak bisa menembus nur yang lebih atas lagi. Disana diceritakan bahwa Rasulullah SAW pada awalnya menerima perintah shalat 50 waktu. Hal ini didasarkan kepada hadist Nabi yang diriwayat kan oleh Imam Muslim dalam kumpulan hadist shahihnya. sudah mendarat di depan masjidil Haram. Pengertian hamba ialah kesatuan unsur roh dan tubuhnya yang mengabdi. Setelah diterangkan Rasul. Sebab asalnya dari nur itu pula. Dan sebelum waktu shalat subuh. Sampai Nabi Muhammad 9 kali pulang pergi agar Tuhan mengurangi Rakaat Shalat. tetapi akhirnya diturunkan sampai 5 waktu. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan oleh malaikat. Nabi Musa merasakan itu terlalu berat dikerjakan oleh umat Nabi Muhammad yang lebih kecil dari Umat Nabi Musa. Hal ini tertuang dalam Q. Beliau turun kembali. Nabi Muhammad menyaksikan sesuatu yang tak terkatakan betapa nikmatnya. Sehingga sampai ke Rafraf dimana berada arasy Tuhan Maha Kuasa. Maka nabi muhammad demi sangat cinta dan patuhnya kepada Allah berani menembus nur terse but. Kalau diteruskan dia akan hancur. Sementara jibril sudah menunggu. Dari perjalaan tersebut rasulullah mendapatkan wahyu berupa perintah untuk sholat 5 waktu. jiwanya tembus menerobos nur tersebut. lalu turun ke Masjidil Aqsa menaiki Burraq yang dengan kecepatan kilat (Barqun) melayang diatas udara jazirah Arab. lewat anas Ibn Malik. Nabi Muhammad manusia pilihan Tuhan yang suci.S Al Isra’ ayat : Artinya: Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikan pula shalat shubuh. Hamba berarti orang yang mengabdi mengerjakan perintah dengan seluruh jasadnya. 2 . Disitu beliau bercakap-cakap langsung dengan Allah. setelah Rasulullah disarankan oleh Nabi Musa untuk memohon keringanan.

dan shalat subuh diistilahkan dengan Qur-aanal fajr. Sedangkan yang dimaksud sampai gelap malam (Ilaa ghasaq al’lail) adalah sholat maghrib dan shalat Isya’. Dengan demikian waktu menunaikan sholat shubuh dimulai sejak terbit fajar hingga terbit matahari. menunjukkan waktu pelaksanaan sholat ketika gelap malam. menunjukkan waktu pelaksanaan sholat ketika matahari tergelincir. Li duluk asy-syamsi. Quraysh Shihab menjelaskan bahwa ayat tersebut memberikan perintah shalat 5 waktu secara langsung. Dalam tafsir Al Misbah. menunjukkan waktu pelaksanaan sholat ketika terbit fajar. Adapun waktu menunaikan sholat isya’ dimulai sejak mega kuning hingga tiba saat terbit fajar. yaitu mencakup waktu sholat maghrib dan sholat isya’. Saat menunaikan sholat dzuhur dijelaskan dalam sunah nabi. Ilaa ghasaq al’lail. Sedangkan Ilaa ghasaq al’lail berarti tibanya kewajiban menunaikan sholat maghrib dan sejak isya’. 3 . yakni sejak tergelincirnya matahari hingga tinggi-tinggi bayang suatu benda sama dengan benda itu sendiri. yaitu sholat dzuhur. meskipun kita tidak menemukan penjelasan yang eksplisit dalam firman Allah bahwa perintah shalat 5 waktu itu diterima oleh Rasulullah saw pada saat Mi’raj di langit ke tujuh. Isya’ dan shubuh. Waktu menunaikan sholat asar adalah sejak bayang-bayang suatu benda sama tingginya dengan benda itu sendiri hingga terbenamnya matahari. Waktu sholat maghrib dimulai sejak terbenam matahari hingga hilangnya mega kuning. Adapun kelima waktu sholat wajib itu diambil dari kata-kata berikut : 1.Kata ”Aqimi” dalam ayat ini adalah bentuk kata kerja untuk menunjukkan kata perintah. vol 7 : hal 525. Prof. berarti mencakup waktu sholat dzuhur dan sholat ashar. Menurut Quraysh Shihab. Yang dimaksud dengan sesudah matahari tergelincir (Li duluk asy-syamsi) adalah shalat Dzuhur dan Ashar. penempatan perintah shalat 5 waktu dalam surat Al Israa’ itu sangatlah tepat. waa Qur-aanal fajr. Li duluk asy-syamsimenjadi sebab adanya sebab kewajiban sholat dzuhur dan sholat asar. asar’ maghrib. Makna waa Qur-aanal fajr menjadikan terbit fajar sebagai awal tibanya kewajiban menunaikan sholat shubuh. Kata kerja perintah dalam bahasa arab disebut fiil amar. menunjukkan waktu shubuh. sejak saat terbenam matahari hingga terbit fajar. yakni sejak tergelincirnya matahari hingga saatnya terbenamnya matahari. 3. Kata as-shalat dalam ayat ini bererti sholat wajib. 2. karena terkait langsung dengan cerita Isra’ Mi’raj.

“Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik untuk memakmurkan masjid-masjid Allah padahal mereka menyaksikan atas diri mereka kekafiran. S. An-Nisa’ ayat 103.” (At-Taubah:17) 4 . Waktu dzuhur dimulai sejak matahari tergelincir. Pandangan-pandangan tersebut bermuara pada satu pandangan yang sama. Mereka itu. Ashar. dan (5) Subuh. (Shahih Muslim) Jalalain menulis pula dalam kitab tafsirnya yang termashur. Nasa’i dan Tirmidzi. “SEMBILAN SYARAT SAHNYA SHALAT” 1. (3) Maghrib. (4) Isya’. Taha ayat 130 yang didukung pula dengan hadis dari Jabir bin Abdullah yang diriwayatkan oleh Ahmad. 15:74 Menerangkan bahwa awal waktu sholat ada lima . At-Tafsir al-Kasif. Al-Isra’ ayat 78. Islam Lawannya adalah kafir. “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir. yakni Sholat dzuhur. Waktu shalat Subuh dari terbit fajar hingga sebelum terbit matahari. sampai tiba waktu Asar. bahwa sholat wajib yang diperintah Allah SWT melalui rasulnya Nabi Muhammad adalah ada lima sholat wajib. dan dalam keadaan bayangan dari seseorang sama panjangnya selama belum masuk waktu Ashar. S. Sedangkan lima sholat wajib tersebut mempunyai lima waktu yang berbeda sesuai dengan batas awal dan akhirnya masing-masing waktu sholat tersebut. waktu Asar dimulai saat panjang bayang-bayang suatu benda sama dengan bendanya ditambah dengan panjang bayang-bayang saat matahari berkulminasi sampai tibanya waktu Maghrib. yg dimaksud adalah shalat Dzuhur. Maghrib dan Isya’. Dan waktu Ashar hingga matahari belum berwarna kuning (terbenam). Ashar. (2) Asar. Berdasarkan pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadis tersebut dirinci ketentuan waktu-waktu salat sebagai berikut: (1) Dzuhur. waktu Subuh dimulai sejak terbit fajar sampai terbit matahari. artinya dari sejak matahari tergelincir – ila ghosaqil_lail (sampai gelap malam) hingga kegelapan malam tiba. “ Tafsir Jalalain”. isya’ dan shubuh. Hal ini didasarkan pada pemahaman terhadap Q. Nabi Muhammad bersabda: Waktu shalat Dzuhur jika matahari telah tergelincir.” Sementara itu. amal-amalnya telah runtuh dan di dalam nerakalah mereka akan kekal. Orang kafir amalannya tertolak walaupun dia banyak mengamalkan apa saja. dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla. Dan waktu shalat Isya’ hingga pertengahan malam bagian separuhnya. yaitu sesaat setelah matahari mencapai titik kulminasi (culmination) dalam peredaran hariannya. waktu Maghrib dimulai sejak matahari terbenam sampai tiba waktu Isya’. Dan waktu shalat Maghrib selama belum terbenam mega merah. maghrib. waktu Isya’ dimulai sejak hilang mega merah sampai separuh malam (ada juga yang menyatakan akhir salat Isya adalah terbit fajar). dalam Muhammad Jawad Muqniyyah. dan Q.Hadits dari Abdullah bin Umar ra.

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan. Berakal Lawannya adalah gila. maka sucikanlah.” (HR. Menghilangkan Najis Menghilangkan najis dari tiga hal: badan. dimulai dari umur sekitar tujuh tahun. dan hadats ashghar (hadats kecil) seperti buang air besar. “Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci. sebab kebanyakan adzab kubur disebabkan olehnya. ”Diangkat pena dari tiga orang: 1. “Allah tidak akan menerima shalat orang yang berhadats hingga dia berwudlu`. “Dan pakaianmu. “Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun. sedangkan wanita merdeka maka seluruh tubuhnya aurat selain wajahnya selama tidak ada ajnaby (orang yang bukan 5 . Menutup Aurat Menutupnya dengan apa yang tidak menampakkan kulit (dan bentuk tubuh). An-Nasa-i. berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. dalilnya sabda Rasulullah. Orang gila hingga dia sadar. Anak-anak sampai ia baligh. Al-Hakim. dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla. dan Ibnu Majah).Dan firman Allah ‘azza wa jalla. Menghilangkan Hadats (Thaharah) Hadats ada dua: hadats akbar (hadats besar) seperti janabat dan haidh. sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (AlMuddatstsir:4) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. dihilangkan dengan wudhu`. Orang gila terangkat darinya pena (tidak dihisab amalannya) hingga dia sadar.” (HR. Abu Dawud. “Allah tidak akan menerima shalat wanita yang telah haidh (yakni yang telah baligh) kecuali dengan khimar (pakaian yang menutup seluruh tubuh. Abu Dawud) Para ulama sepakat atas batalnya orang yang shalat dalam keadaan terbuka auratnya padahal dia mampu mendapatkan penutup aurat. 3. ”Bersucilah dari kencing. 2.” 6. dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing. dihilangkan dengan mandi (yakni mandi janabah).” (HR. lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. 3. dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla. Tamyiz Yaitu anak-anak yang sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Muslim dan selainnya) Dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. pakaian dan tanah (lantai tempat shalat).” (Aali ‘Imraan:85) 2. Batas aurat laki-laki dan budak wanita ialah dari pusar hingga ke lutut. Ahmad. Jika sudah berumur tujuh tahun maka mereka diperintahkan untuk melaksanakan shalat. berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Muttafaqun ‘alaih) 5. seperti mukenah).” (Al-Furqan:23) Shalat tidak akan diterima selain dari seorang muslim. “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam. air kecil atau buang angin. Orang tidur hingga dia bangun.” (HR. Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud) 4.

namun jika ada ajnaby maka sudah tentu wajib atasnya menutup wajah juga. adalah : 1. Di antara yang menunjukkan tentang mentutup aurat ialah hadits Salamah bin Al-Akwa` radhiyallahu ‘anhu. pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid. “Dirikanlah shalat dari sesudah tergelincirnya matahari sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Berjalan terlalu banyak tanpa ada keperluan 5. Tersingkapnya aurat 6 . sehingga sholatnya tidak sah dan harus diulang Yang termasuk hal-hal yang dapat membatalkan sholat. 7.” (Al-Israa`:78) 8. “Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit.” (An-Nisa`:103) Artinya diwajibkan dalam waktu-waktu yang telah tertentu. “Sesungguhnya amal-amal itu didasari oleh niat dan sesungguhnya setiap orang akan diberi (balasan) sesuai niatnya. “Wahai anak cucu Adam. shalat itu antara dua waktu ini.mahramnya) yang melihatnya.” (Al-Baqarah:144) 9. “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil-Haram. lalu dia berkata: “Wahai Muhammad. Makan dan minum 4. sedangkan melafazhkannya adalah bid’ah (karena tidak ada dalilnya). Tertawa 3. Menghadap Kiblat Dalilnya firman Allah.” (Muttafaqun ‘alaih dari ‘Umar Ibnul Khaththab) “HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SHOLAT 5 WAKTU” Yang dimaksud dengan hal-hal yang membatalkan sholat adalah gerakan-gerakan atau lisan yang bisa membatalkan sholat. “Kancinglah ia (baju) walau dengan duri.” Dan firman Allah ‘azza wa jalla. Dalil tentang waktu-waktu itu adalah firman Allah ‘azza wa jalla. Berbicara ketika sholat 2. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat). Dalil wajibnya niat adalah hadits yang masyhur. Masuk Waktunya Sholat Dalil dari As-Sunnah ialah hadits Jibril ‘alaihis salam bahwa dia mengimami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal waktu dan di akhir waktu (esok harinya). dan di mana saja kalian berada maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya. maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke Kiblat yang kamu sukai.” (Al-A’raaf:31) Yakni tatkala shalat.” Dan firman Allah ‘azza wa jalla. Niat Tempat niat ialah di dalam hati.

6. Dalil mengenai hal ini adalah firman Allah Ta’ala. sujud. buang air. Para ulama telah sepakat mengenai bolehnya orang sakit untuk tidak berpuasa secara umum. َ َ ُ ٍ ّ َ ْ ِ ٌ ّ ِ َ ٍ َ َ ََ ْ َ ً ِ َ َ َ ْ َ َ ‫ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر‬ “Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka). Yang dimaksudkan sakit adalah seseorang yang mengidap penyakit yang membuatnya tidak lagi dikatakan sehat. An Nisa’: 29) َ ْ ُ ْ ُ ُ ِ ُ ِ ُ َ َ ْ ُْ ُ ُ ِ ّ ُ ِ ُ ‫يريد ال بكم اليسر ول يريد بكم العسر‬ ُ 7 . maka (wajiblah baginya berpuasa). Mendahului imam dengan sengaja Perlu diingatkan disini bahwa batalnya sholat adalah rusaknya seluruh hal yang ada pada “Syarat-syarat (dibolehkannya) Sholat” saat sholat berlangsung. namun hal ini tidak membahayakan.” (QS. Menambah rukuk. ْ ُ َ ُ ْ َ ُُ ْ َ َ ‫ول تقتلوا أنفسكم‬ “Dan janganlah kamu membunuh dirimu. ْ ُ َ ُ ْ َ ُُ ْ َ َ ‫ول تقتلوا أنفسكم‬ “Dan janganlah kamu membunuh dirimu. pada hari-hari yang lain. dia diharuskan mengqodho’ puasanya (menggantinya di hari lain). Contohnya adalah pilek.” (QS. Kondisi kedua adalah apabila sakitnya bisa bertambah parah atau akan menjadi lama sembuhnya dan menjadi berat jika berpuasa. antara lain adanya Hadats (haid. Untuk kondisi pertama ini tetap diharuskan untuk berpuasa.” (QS. Untuk kondisi ini dianjurkan untuk tidak berpuasa dan dimakruhkan jika tetap ingin berpuasa. Karena orang ini dianggap seperti orang sakit yang jika berpuasa sakitnya akan bertambah parah atau akan bertambah lama sembuhnya. Allah Ta’ala berfirman. An Nisa’: 29) Apakah orang yang dalam kondisi sehat boleh tidak berpuasa karena jika berpuasa dia ditakutkan sakit? Boleh untuk tidak berpuasa bagi orang yang dalam kondisi sehat yang ditakutkan akan menderita sakit jika dia berpuasa. Nanti ketika sembuh. atau segala hal yang membatalkan wudhu. Kondisi ketiga adalah apabila tetap berpuasa akan menyusahkan dirinya bahkan bisa mengantarkan pada kematian. dan sebagainya) atau terkena najis. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala. Untuk kondisi ini diharamkan untuk berpuasa. berdiri atau duduk secara sengaja 8. “Hadist Dan Firman Allah Tentang Keringanan-Keringanan Dalam Ibadah Puasa” Pertama: Orang sakit ketika sulit berpuasa. dan perut keroncongan. Memalingkan badan dari kiblat 7. Al Baqarah: 185) Untuk orang sakit ada tiga kondisi: Kondisi pertama adalah apabila sakitnya ringan dan tidak berpengaruh apa-apa jika tetap berpuasa. sebanyak hari yang ditinggalkannya itu. pusing atau sakit kepala yang ringan.

” (QS. maka (wajiblah baginya berpuasa). Lalu ada seseorang yang diberi naungan. Kondisi pertama adalah jika berat untuk berpuasa atau sulit melakukan hal-hal yang baik ketika itu. Dalil dari hal ini dapat kita lihat dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah. puasanya dianggap sah? Mayoritas sahabat.“Allah menghendaki kemudahan bagimu. Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar yang menyatakan bahwa berpuasa ketika safar tidaklah sah dan tetap wajib mengqodho’. maka lebih utama untuk tidak berpuasa. Dalil dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala. Setelah meneliti lebih jauh dan menggabungkan berbagai macam dalil. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan.” (QS. Manakah yang lebih utama bagi orang yang bersafar. sebanyak hari yang ditinggalkannya itu. berpuasa ataukah tidak? Para ulama dalam hal ini berselisih pendapat. Namun pendapat mayoritas ulama lebih kuat sebagaimana dapat dilihat dari dalil-dalil yang nanti akan kami sampaikan. dapat kita katakan bahwa musafir ada tiga kondisi. “Ini adalah orang yang sedang berpuasa.” (QS. فقال » ليس من البر الصوم فى السفر‬ ِ ُ ْ ّ ّ ِْ َ ِ َ ْ َ َ َ َ ٌ ِ َ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar melihat orang yang berdesakdesakan. Jabir mengatakan. Musafir yang melakukan perjalanan jauh sehingga mendapatkan keringanan untuk mengqoshor shalat dibolehkan untuk tidak berpuasa. Di sini 8 . dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Al Baqarah: 185) ٍ َ َ ْ ِ ِ ّ ِ ْ ُ ْ ََ َ َ َ َ َ ‫وما جعل عليكم في الدين من حرج‬ “Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. pada hari-hari yang lain. ‫كان رسول ال – صلى ال عليه وسلم – فى سفر ، فرأى زحاما ، ورجل قد ظلل عليه ، فقال » ما هذا « . Ada riwayat dari Abu Hurairah. maka lakukanlah semampu kalian. tabi’in dan empat imam madzhab berpendapat bahwa berpuasa ketika safar itu sah. َ َ ُ ٍ ّ َ ْ ِ ٌ ّ ِ َ ٍ َ َ ََ ْ َ ً ِ َ َ َ ْ َ َ ‫ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر‬ “Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka). فقالوا‬ ُ ََ َ َ َ َ َ َ ِ ْ ََ َ ُّ ْ َ ً ُ َ َ ً َ ِ ََ َ ٍ َ َ ِ ِ ّ ُ َُ َ َ ِ َّ ‫صائم . “Siapa ini?” Orang-orang pun mengatakan.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Al Baqarah: 185) Apakah jika seorang musafir berpuasa.” Kedua: Orang yang bersafar ketika sulit berpuasa. Ada yang mengatakan bahwa seperti ini dimakruhkan. “Bukanlah suatu yang baik jika seseorang berpuasa ketika dia bersafar”. Al Hajj: 78) ْ ُ ْ َ َ ْ َ ُ ْ ِ ُ ْ َ ٍ ْ َ ِ ْ ُ ُ ْ َ َ َ َِ ‫وإذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم‬ “Jika aku memerintahkan kalian untuk melakukan suatu perkara.

Kondisi kedua adalah jika tidak memberatkan untuk berpuasa dan tidak menyulitkan untuk melakukan berbagai hal kebaikan. Setelah beliau melakukan hal tadi. juga pendapat Ishaq dan Al Hasan Al Bashri. Beliau ketika itu berpuasa. Dari Jabir bin ‘Abdillah. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ّ ُ ُ ّ َ َ َ ِ ِ َ ْ َ َ ُ َ ََ ّ َ َ َ َ َ َ َ َ ِ َ ّ َ َِ ِ ْ َ ْ َ َ َ َ َ ‫أ ّ رسول ال -صلى ال عليه وسلم. beliau berkata. Kemudian ketika sampai di Kuroo’ Al Ghomim (suatu lembah antara Mekkah dan Madinah). jika safar dimulai sebelum terbit fajar atau ketika fajar sedang terbit dan dalam keadaan bersafar. beliau berkata. ada yang mengatakan.خرج عام الفتح إلى مكة فى رمضان فصام حتى بلغ كراع الغميم فصام الناس ثم‬ ِ ّ َ ُ َ ‫َن‬ ُ َ ُ ْ َ ِ َ ُ َ َ َ َ َ ْ َ ِ ّ َ ْ َ ّ ِ َ َِ َ ْ َ ُ َ َ ِ َ َ ِ َ ّ ُ ِ ْ َِ ُ ّ َ َ َ ّ َ ُ َ َ َ َ ٍ َ ْ ِ ٍ َ َ ِ َ َ ‫دعا بقدح من ماء فرفعه حتى نظر الناس إليه ثم شرب فقيل له بعد ذلك إن بعض الناس قد صام فقال » أولئك العصاة‬ ُ َ ُ ْ َ َِ ُ ‫أولئك العصاة‬ “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada tahun Fathul Makkah (8 H) menuju Makkah di bulan Ramadhan. maka puasa itu lebih baik karena lebih cepat terlepasnya kewajiban. “Sesungguhnya sebagian orang ada yang tetap berpuasa. dan 9 . Di antara kami tidak ada yang berpuasa. Kemudian beliau meminta diambilkan segelas air. maka pada saat ini wajib tidak berpuasa dan diharamkan untuk berpuasa.” Apabila tidak terlalu menyulitkan ketika safar. maka menurut pendapat Imam Ahmad yang lain.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela keras seperti ini karena berpuasa dalam kondisi sangat-sangat sulit seperti ini adalah sesuatu yang tercela. ِ ّ ِ ْ ِ ِ ِ ْ َ ََ ُ َ َ ُ ُ ّ َ َ َ ّ َ ّ َ ٍ ْ َ ِ ِ ِ َ ْ َ ِ ْ َ ِ ‫خرجنا مع النبى – صلى ال عليه وسلم – فى بعض أسفاره فى يوم حار حتى يضع الرجل يده على رأسه من شدة‬ ّ ِّ َ َ َْ َ َ ََ َ َ ِ ْ َ ‫الحر ، وما فينا صائم إل ما كان من النبى – صلى ال عليه وسلم – وابن رواحة‬ ّ ِّ َ ِ َ َ َ ّ ِ ٌ ِ َ َ ِ َ َ ّ َ ْ “Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di beberapa safarnya pada hari yang cukup terik. maka pada saat ini lebih utama untuk berpuasa.dikatakan tidak baik berpuasa ketika safar karena ketika itu adalah kondisi yang menyulitkan. Hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dan Ibnu Rowahah yang berpuasa ketika itu. pada kondisi semacam ini sudah disebut musafir karena sudah adanya sebab yang memperbolehkan untuk tidak berpuasa. Alasannya. Kedua. Begitu pula hal ini lebih mudah dilakukan karena berpuasa dengan orang banyak itu lebih menyenangkan daripada mengqodho’ puasa sendiri sedangkan orang-orang tidak berpuasa. lalu diniatkan untuk tidak berpuasa pada hari itu. untuk kondisi semacam ini diperbolehkan untuk tidak berpuasa berdasarkan kesepakatan para ulama.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan. Mereka itu adalah orang yang durhaka”. orang-0rang ketika itu masih berpuasa. Kondisi ketiga adalah jika berpuasa akan mendapati kesulitan yang berat bahkan dapat mengantarkan pada kematian. jika safar dilakukan setelah fajar (atau sudah di waktu siang). kita mesti melihat beberapa keadaan: Pertama. Sehingga ketika itu orang-orang meletakkan tangannya di kepalanya karena cuaca yang begitu panas. Kapan waktu diperbolehkan tidak berpuasa bagi musafir? Dalam hal ini. di mana beliau masih tetap berpuasa ketika safar. Lantas beliau pun meminum air tersebut. Dari Abu Darda’. “Mereka itu adalah orang yang durhaka. Lalu beliau mengangkatnya dan orang-orang pun memperhatikan beliau.

Saat ini itu Anas juga ingin melakukan safar. Alasannya adalah dalil yang telah kami sebutkan pada kondisi kedua dari hadits Abu Darda: “Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di beberapa safarnya pada hari yang cukup terik. Dalil dari pendapat terakhir ini adalah keumuman firman Allah Ta’ala. Sedangkan apabila dia kembali pada siang hari. Al Baqarah: 185) Dan juga hadits Jabir sebagaimana telah disebutkan di atas: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada tahun Fathul Makkah (8 H) menuju Makkah di bulan Ramadhan. َ َ ُ ٍ ّ َ ْ ِ ٌ ّ ِ َ ٍ َ َ ََ ْ َ ً ِ َ َ َ ْ َ َ ‫ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر‬ “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka). jika berniat puasa padahal sedang bersafar. sedangkan sebelumnya tidak berpuasa. dan (2) jika telah kembali ke negerinya. Kemudian ketika sampai di Kuroo’ Al Ghomim (suatu lembah antara Mekkah dan Madinah). Kemudian aku mengatakan pada Annas. ٌ ّ ُ ُ َ ُ ْ ُ َ َ َ َ َ ٍ َ َ ِ َ َ َ ِ َ ّ َ َ ِ َ ِ ََ ُ ُ َِ َ ُ َ ْ َِ ُ ْ َ َ ً َ َ ُ ِ ُ َ ُ َ َ َ َ َ ِ ٍ ِ َ َ ْ َ َ َ ُ ْ َ َ ‫أتيت أنس بن مالك فى رمضان وهو يريد سفرا وقد رحلت له راحلته ولبس ثياب السفر فدعا بطعام فأكل فقلت له سنة‬ َ ِ َ ّ ُ ٌ ُّ َ َ ‫. Terdapat perkataan yang shohih dari Ibnu Mas’ud. kemudian karena suatu sebab di tengah perjalanan berbuka. Dia pun sudah mempersiapkan kendaraan dan sudah mengenakan pakaian untuk bersafar. Di antara kami tidak ada yang berpuasa. Inilah pendapat Imam Asy Syafi’i dan Imam Malik.pendapat ini juga dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Lalu beliau mengangkatnya dan orang-orang pun memperhatikan beliau. Lantas beliau pun meminum air tersebut. maka hal ini diperbolehkan.” Lantas beliau pun berangkat dengan kendaraannya. Kemudian beliau meminta diambilkan segelas air. orang-0rang ketika itu masih berpuasa. maka (wajiblah baginya berpuasa). Jika orang yang bersafar tersebut kembali ke negerinya pada malam hari.” Hadits ini merupakan dalil bahwa musafir boleh berbuka sebelum dia pergi bersafar. Pendapat yang lebih tepat adalah dia tidak perlu menahan diri dari makan dan minum. Hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dan Ibnu Rowahah yang berpuasa ketika itu.” (QS. dia jadi ikut berpuasa hingga berbuka? Untuk kasus yang satu ini ada dua pendapat. … Begitu pula yang menguatkan hal ini adalah dari Muhammad bin Ka’ab. boleh berbuka (tidak berpuasa) di hari itu.قال سنة. Jadi boleh tidak berpuasa hingga waktu berbuka. pada hari-hari yang lain. Ketiga. “Ini termasuk sunnah. Sehingga ketika itu orang-orang meletakkan tangannya di kepalanya karena cuaca yang begitu panas. “Apakah ini termasuk sunnah (ajaran Nabi)?” Beliau mengatakan.” Kapan berakhirnya keringanan untuk tidak berpuasa bagi musafir? Berakhirnya keringanan (rukhsoh) bagi musafir untuk tidak berpuasa adalah dalam dua keadaan: (1) ketika berniat untuk bermukim. ُ ‫من أكل أول النهار فليأكل آخر‬ ‫َ ْ َ َ َ َ ّ َ ّ َ ِ َ ْ َ ْ ُ ْ ِ َه‬ 10 . Kemudian beliau meminta makanan. apakah ketika dia sampai di negerinya. Dia mengatakan. sebanyak hari yang ditinggalkannya itu. Beliau ketika itu berpuasa. Inilah pendapat yang lebih kuat. ثم ركب‬ “Aku pernah mendatangi Anas bin Malik di bulan Ramadhan. maka keesokan harinya dia wajib berpuasa tanpa ada perselisihan ulama dalam hal ini. lantas beliau pun memakannya.

dan hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama. Ibnu ‘Abbas berpendapat cukup keduanya membayar fidyah saja. Ibnu Qudamah mengatakan. ia berkata. maka dia boleh tidak berpuasa dan diganti dengan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Al Jashshosh rahimahullah mengatakan. maka di siang atau sore harinya pun tidak perlu berpuasa. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. boleh baginya untuk tidak berpuasa dan tidak ada qodho baginya. ‘Ali berpendapat bahwa wanita hamil dan menyusui wajib qodho’ jika keduanya tidak berpuasa dan tidak ada fidyah ketika itu.karena sebab keduanya berpuasa. Pendapat ini juga menjadi pendapat Ibrahim.” Pendapat terkuat adalah pendapat yang menyatakan cukup mengqodho’ saja. Jika wanita hamil takut terhadap janin yang berada dalam kandungannya dan wanita menyusui takut terhadap bayi yang dia sapih – misalnya takut kurangnya susu. juga orang sakit yang tidak kunjung sembuh. maka boleh baginya untuk tidak berpuasa.” Jadi. dia disamakan dengan orang tua rentah yang tidak mampu melakukan puasa sehingga dia diharuskan mengeluarkan fidyah (memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan). Al Baqarah: 184) Begitu pula orang sakit yang tidak kunjung sembuh. jika di pagi harinya tidak berpuasa. Di antara kemudahan dalam syar’at Islam adalah memberi keringanan kepada wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa. Al Hasan dan ‘Atho’. wanita hamil dan menyusui. tanpa ada qodho’. cukup bagi mereka untuk memberi fidyah yaitu memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. َ َّ ِ َ َ ْ ّ ِ ِ ْ ُ ْ َ ِ ِ َ ْ َ ِ ِ َ ُ ْ ِ َ َ ِ َ ّ َ ْ َ ِ ِ َ ُ ْ ِ َ َ َ َ ّ َ َ ّ َ ّ ّ ِ ‫إن ال عز وجل وضع عن المسافر شطر الصلة وعن المسافر والحامل والمرضع الصوم أو الصيام‬ َ “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla meringankan setengah shalat untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir. “Orang sakit yang tidak diharapkan lagi kesembuhannya. apakah ada qodho’ ataukah mesti menunaikan fidyah? Inilah yang diperselisihkan oleh para ulama. Para ulama sepakat bahwa orang tua yang tidak mampu berpuasa. Ketiga: Orang yang sudah tua rentah dan dalam keadaan lemah. Sedangkan Ibnu ‘Umar dan Mujahid berpendapat bahwa keduanya harus menunaikan fidyah sekaligus qodho’. Ada dua alasan yang bisa diberikan. ٍ ِ ْ ِ ُ َ َ ٌ َ ْ ِ ُ َ ُ ِ ُ َ ِ ّ ََ َ ‫وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين‬ “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah. Alasan pertama: dari hadits Anas bin Malik.” Keempat: Wanita hamil dan menyusui. (yaitu): memberi makan seorang miskin. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala. Menurut mayoritas ulama.” (QS.“Barangsiapa yang makan di awal siang. maka makanlah pula di akhir siang. “Para ulama salaf telah berselisih pendapat dalam masalah ini menjadi tiga pendapat. ِ ِ ْ ُ ْ َ َْ ُ ْ ْ َ َ َ ْ ّ َ ِ َ ّ َ ْ ِ ِ ِ َ ُ ْ ْ َ َ َ َ ّ ّ ِ ‫إن ال وضع عن المسافر نصف الصلة والصوم وعن الحبلى والمرضع‬ َ 11 . Karena orang seperti ini disamakan dengan orang yang sudah tua. Pendapat mayoritas ulama inilah yang lebih kuat.” Namun apa kewajiban wanita hamil dan menyusui jika tidak berpuasa.

ia pun harus mengqodho’ di hari lain. Maka berlaku pula yang demikian pada wanita hamil dan menyusui. maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. … Dan telah diketahui bahwa keringanan puasa bagi musafir yang tidak berpuasa adalah mengqodhonya. -pen). Sebagian ulama berpendapat bahwa cukup baginya untuk menunaikan fidyah (memberi makan kepada orang miskin) untuk setiap hari yang ia tidak berpuasa. … Keringanan puasa bagi wanita hamil dan menyusui sama halnya dengan keringanan puasa bagi musafir. Alasan kedua: Selain alasan di atas. “Keringanan separuh shalat tentu saja khusus bagi musafir.” (QS. Para ulama tidak ada beda pendapat mengenai wanita hamil dan menyusui bahwa mereka tidak dibolehkan mengqoshor shalat. maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Pada kondisi ini. Sebagaimana orang sakit boleh tidak puasa. dengan cara memberi makan pada satu orang miskin setiap harinya. Catatan penting yang perlu diperhatikan bahwa wanita hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa jika memang ia merasa kepayahan. anak atau keduanya.” Al Jashshosh rahimahullah menjelaskan. maka pada kondisi ini 12 . ia bisa pindah pada penggantinya yaitu menunaikan fidyah. Yang benar. tanpa adanya fidyah. “Jika wanita hamil dan menyusui berpuasa. Namun mereka punya kewajiban untuk mengqodho (mengganti puasa) di saat mampu karena mereka dianggap seperti orang yang sakit. Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah. Dalam kondisi ini dia dianggap seperti orang sakit yang diharuskan untuk mengqodho’ di hari lain ketika ia tidak berpuasa. juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.” Perkataan Al Jashshosh ini sebagai sanggahan terhadap pendapat yang menyatakan wajib mengqodho’ bagi yang hamil sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan mengqodho’ dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. ulama yang berpendapat cukup mengqodho’ saja (tanpa fidyah) menganggap bahwa wanita hamil dan menyusui seperti orang sakit. maka keduanya boleh berbuka (tidak puasa). Al Baqarah: 184) Pendapat ini didukung pula oleh ulama belakangan semacam Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah. َ َ ُ ٍ ّ َ ْ ِ ٌ ّ ِ َ ٍ َ َ ََ ْ َ ً ِ َ ْ ُ ْ ِ َ َ ْ َ َ ‫فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر‬ “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka). Ini pula yang berlaku pada wanita hamil dan menyusui. maka mereka cukup mengqodho’ sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala. karena setelah hamil atau menyusui dalam keadaan lemah dan tidak kuat lagi. kesulitan.“Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir. takut membahayakan dirinya atau anaknya. Al Jashshosh rahimahullah mengatakan. Dari sini juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara wanita hamil dan menyusui jika keduanya khawatir membahayakan dirinya atau anaknya (ketika mereka berpuasa) karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak merinci hal ini. Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata. lalu dapat membahayakan diri. mereka berdua punya kewajiban qodho’ (mengganti puasa) karena keadaan mereka seperti musafir atau orang yang sakit (yaitu diharuskan untuk mengqodho’ ketika tidak berpuasa. Karena dianggap seperti orang sakit. maka kondisi mereka dianggap seperti orang sakit yang tidak kunjung sembuhnya. Al Baqarah: 184) Kondisi ini berlaku bagi keadaan wanita hamil dan menyusui yang masih mampu menunaikan qodho’. “Hukum wanita hamil dan menyusui jika keduanya merasa berat untuk berpuasa. Namun apabila mereka tidak mampu untukk mengqodho’ puasa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya). “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka).” (QS.

jika tidak membawa dampak bahaya apa-apa pada diri dan anak.lebih baik bagi keduanya untuk tidak berpuasa dan terlarang bagi keduanya untuk berpuasa. dan pada kondisi ini tidak boleh ia tidak berpuasa. Akan tetapi.” 13 . maka lebih baik ia berpuasa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful