“SEBAB-SEBAB DIWAJIBKAN SHALAT 5 WAKTU”

Sebab-sebab yang mewajibkan shalat banyak sekali, baik dalam Al-Qur'an maupun dalam Hadis Nabi Muhammad Saw. Dalil ayat-ayat Al-Qur'an yang mewajibkan shalat antara lain yang berbunyi : Wa-Aqiimush shalaata Wa-aatuz zakaata warja'uu ma'arraaki'iin. (Artinya: Dan dirikanlah shalat, dan keluarkanlah zakat,dan tunduklah/ruku' bersamasama orang-orang yang pada ruku) (S.Al-Baqarah,ayat.43). Wa-Aqimish Shalaata Innash Shalaata Tanhaa'anil FakhsyaaIwalmunkari. (Artinya: Kerjakanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan yang jahat / keji, dan mungkar) (S.Al-'Ankabut,ayat.45). Perintah shalat ini hendaklah di tanamkan kedalam hati dan jiwa anak-anak dengan cara pendidikan yang cermat, dan di lakukan sejak kecil, sebagaimana tersebut dalam hadis Nabi Muhammad Saw sbb : Muruu Aulaadakum bish Shalaati wahum Abna-u sab'in wadl-ribuuhum 'Alaihaa wahum abnna-u 'asyrin. (Artinya: perintahlah anak-anak mengerjakan shalat diwaktu usia mereka meningkat tujuh tahun, dan pukulah kalau tidak mau melakukan shalat di waktu usia meningkat sepuluh tahun) Berbicara tentang sholat tidak bisa dipisahkan dengan peristiwa isra’ mi’raj. Karena sholat adalah oleh-oleh rasulullah SAW ketika melakukan perjalanan isra’ mi’raj tersebut. Isro’ artinya berjalan malam yang dilakukan dan dilaksanakan rasul dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Jerussalem sejauh ± 2000 km, seperti tersebut dalam surat Al-Isra’ ayat 1 yang artinya : “Maha suci Allah yang telah menjalankan hamba nya (tubuh serta roh) di waktu malam dari Masjidil Haram (Mekkah) sapai ke Masjidil Aksa (Palestina), yang kami berkahi sekitarnya guna memperlihatkan kebesaran kami. Sesungguhnya Allah Maha Pendengar lagi Maha Melihat”. Mi’raj artinya alat untuk naik, pandangan tidak terhitung, tak terkira-kirakan oleh otak manusia. Nabi diajak Jibril demi perintah Tuhan Azza Wajalla naik menjelajahi ruang angkasa sejauh : 1395 tahun pantulan cahaya sesudah tamasya di bumi sejauh 2000 km. Menjelang sampai ke tempat yang ditentukan, Nabi sempat bertemu dengan Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Musa, Nabi Suaib, Nabi Harun Alaihis salam, terakhir nabi bertemu dengan Nabi Ibrahim khalilullah. Kemudian sampai ke sidrotul Muntaha sebuah planet yang paling besar, merupakan penggerak seluruh alam. Disini nabi menyaksikan rupa jibril AS, dalam bentuk aslinya. Disitu dilihatnya pula surga. Nabi berada di alam malaikat serta Mesjidil yang indah pantulan makmur. Tidaklah hatinya dusta akan apa yang dilihatnya. Apa yang dia ucapkan bukan kehendaknya, tapi adalah wahyu Allah. Ayat ini dasar keyakinan kita bahwa benar Nabi Muhammad melakukan Mi’raj dengan tubuh dan rohnya.

1

Dengan kesatuan unsur tersebut beliau menerima perintah shalat Kemampuan jibril dan mikail menemani rasul hanya sampai di Sidrotul Muntaha. Sementara jibril sudah menunggu. Nabi Muhammad manusia pilihan Tuhan yang suci. menyatukan tekad dalam pengabdian. Setelah diterangkan Rasul. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan oleh malaikat. lalu turun ke Masjidil Aqsa menaiki Burraq yang dengan kecepatan kilat (Barqun) melayang diatas udara jazirah Arab. Maka nabi muhammad demi sangat cinta dan patuhnya kepada Allah berani menembus nur terse but. Kalau diteruskan dia akan hancur. Dari perjalaan tersebut rasulullah mendapatkan wahyu berupa perintah untuk sholat 5 waktu. Hamba berarti orang yang mengabdi mengerjakan perintah dengan seluruh jasadnya.S Al Isra’ ayat : Artinya: Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikan pula shalat shubuh. Disana diceritakan bahwa Rasulullah SAW pada awalnya menerima perintah shalat 50 waktu. Sebab asalnya dari nur itu pula. Hal ini tertuang dalam Q. tetapi akhirnya diturunkan sampai 5 waktu. Hal ini didasarkan kepada hadist Nabi yang diriwayat kan oleh Imam Muslim dalam kumpulan hadist shahihnya. Serta beliau menerima perintah shalat 50 kali sehari semalam dengan tidak membantah lagi dan nabi menerimanya. Nabi Musa merasakan itu terlalu berat dikerjakan oleh umat Nabi Muhammad yang lebih kecil dari Umat Nabi Musa. Ketika Nabi Muhammad turun bertemu dengan Nabi Musa. sudah mendarat di depan masjidil Haram. Sehingga sampai ke Rafraf dimana berada arasy Tuhan Maha Kuasa. Karena perintah itu dianggapnya kecil kalau dibandingkan dengan betapa nikmat Tuhan yang telah diberikan kepada makhluknya.Kalau dihubungkan pula dengan hambanya Abdihi. 2 . Pengertian hamba ialah kesatuan unsur roh dan tubuhnya yang mengabdi. jiwanya tembus menerobos nur tersebut. Beliau turun kembali. Sampai Nabi Muhammad 9 kali pulang pergi agar Tuhan mengurangi Rakaat Shalat. setelah Rasulullah disarankan oleh Nabi Musa untuk memohon keringanan. lewat anas Ibn Malik. Disitu beliau bercakap-cakap langsung dengan Allah. Sehingga akhirnya menjadi 5 kali sehari semalam. Dan sebelum waktu shalat subuh. Nabi Muhammad menyaksikan sesuatu yang tak terkatakan betapa nikmatnya. Jibril mengatakan bahwa dia tidak bisa menembus nur yang lebih atas lagi. Nabi Musa menanyakan berapa jumlah shalat yang diterimanya.

Prof. menunjukkan waktu shubuh. menunjukkan waktu pelaksanaan sholat ketika matahari tergelincir. Menurut Quraysh Shihab. 3. Ilaa ghasaq al’lail. yaitu mencakup waktu sholat maghrib dan sholat isya’. Sedangkan yang dimaksud sampai gelap malam (Ilaa ghasaq al’lail) adalah sholat maghrib dan shalat Isya’. yakni sejak tergelincirnya matahari hingga tinggi-tinggi bayang suatu benda sama dengan benda itu sendiri. yakni sejak tergelincirnya matahari hingga saatnya terbenamnya matahari. karena terkait langsung dengan cerita Isra’ Mi’raj. 3 . menunjukkan waktu pelaksanaan sholat ketika terbit fajar. Adapun kelima waktu sholat wajib itu diambil dari kata-kata berikut : 1. dan shalat subuh diistilahkan dengan Qur-aanal fajr. waa Qur-aanal fajr. Dalam tafsir Al Misbah.Kata ”Aqimi” dalam ayat ini adalah bentuk kata kerja untuk menunjukkan kata perintah. asar’ maghrib. penempatan perintah shalat 5 waktu dalam surat Al Israa’ itu sangatlah tepat. Li duluk asy-syamsimenjadi sebab adanya sebab kewajiban sholat dzuhur dan sholat asar. 2. vol 7 : hal 525. meskipun kita tidak menemukan penjelasan yang eksplisit dalam firman Allah bahwa perintah shalat 5 waktu itu diterima oleh Rasulullah saw pada saat Mi’raj di langit ke tujuh. Yang dimaksud dengan sesudah matahari tergelincir (Li duluk asy-syamsi) adalah shalat Dzuhur dan Ashar. Sedangkan Ilaa ghasaq al’lail berarti tibanya kewajiban menunaikan sholat maghrib dan sejak isya’. Waktu sholat maghrib dimulai sejak terbenam matahari hingga hilangnya mega kuning. Dengan demikian waktu menunaikan sholat shubuh dimulai sejak terbit fajar hingga terbit matahari. Kata as-shalat dalam ayat ini bererti sholat wajib. Adapun waktu menunaikan sholat isya’ dimulai sejak mega kuning hingga tiba saat terbit fajar. Makna waa Qur-aanal fajr menjadikan terbit fajar sebagai awal tibanya kewajiban menunaikan sholat shubuh. yaitu sholat dzuhur. menunjukkan waktu pelaksanaan sholat ketika gelap malam. sejak saat terbenam matahari hingga terbit fajar. Isya’ dan shubuh. Saat menunaikan sholat dzuhur dijelaskan dalam sunah nabi. berarti mencakup waktu sholat dzuhur dan sholat ashar. Waktu menunaikan sholat asar adalah sejak bayang-bayang suatu benda sama tingginya dengan benda itu sendiri hingga terbenamnya matahari. Kata kerja perintah dalam bahasa arab disebut fiil amar. Quraysh Shihab menjelaskan bahwa ayat tersebut memberikan perintah shalat 5 waktu secara langsung. Li duluk asy-syamsi.

(3) Maghrib.” Sementara itu. (Shahih Muslim) Jalalain menulis pula dalam kitab tafsirnya yang termashur. “ Tafsir Jalalain”. S. 15:74 Menerangkan bahwa awal waktu sholat ada lima . At-Tafsir al-Kasif. “SEMBILAN SYARAT SAHNYA SHALAT” 1. waktu Isya’ dimulai sejak hilang mega merah sampai separuh malam (ada juga yang menyatakan akhir salat Isya adalah terbit fajar). dan dalam keadaan bayangan dari seseorang sama panjangnya selama belum masuk waktu Ashar. Dan waktu Ashar hingga matahari belum berwarna kuning (terbenam). bahwa sholat wajib yang diperintah Allah SWT melalui rasulnya Nabi Muhammad adalah ada lima sholat wajib. Ashar. Al-Isra’ ayat 78. Orang kafir amalannya tertolak walaupun dia banyak mengamalkan apa saja. dalam Muhammad Jawad Muqniyyah. sampai tiba waktu Asar. Ashar. waktu Asar dimulai saat panjang bayang-bayang suatu benda sama dengan bendanya ditambah dengan panjang bayang-bayang saat matahari berkulminasi sampai tibanya waktu Maghrib. waktu Subuh dimulai sejak terbit fajar sampai terbit matahari. Hal ini didasarkan pada pemahaman terhadap Q. An-Nisa’ ayat 103. Dan waktu shalat Maghrib selama belum terbenam mega merah. dan (5) Subuh. maghrib. (4) Isya’. waktu Maghrib dimulai sejak matahari terbenam sampai tiba waktu Isya’.” (At-Taubah:17) 4 . Waktu dzuhur dimulai sejak matahari tergelincir. Nasa’i dan Tirmidzi. (2) Asar. Dan waktu shalat Isya’ hingga pertengahan malam bagian separuhnya.Hadits dari Abdullah bin Umar ra. Taha ayat 130 yang didukung pula dengan hadis dari Jabir bin Abdullah yang diriwayatkan oleh Ahmad. Sedangkan lima sholat wajib tersebut mempunyai lima waktu yang berbeda sesuai dengan batas awal dan akhirnya masing-masing waktu sholat tersebut. S. isya’ dan shubuh. dan Q. Pandangan-pandangan tersebut bermuara pada satu pandangan yang sama. “Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik untuk memakmurkan masjid-masjid Allah padahal mereka menyaksikan atas diri mereka kekafiran. Mereka itu. Waktu shalat Subuh dari terbit fajar hingga sebelum terbit matahari. Nabi Muhammad bersabda: Waktu shalat Dzuhur jika matahari telah tergelincir. artinya dari sejak matahari tergelincir – ila ghosaqil_lail (sampai gelap malam) hingga kegelapan malam tiba. Berdasarkan pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadis tersebut dirinci ketentuan waktu-waktu salat sebagai berikut: (1) Dzuhur. yakni Sholat dzuhur. “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir. Maghrib dan Isya’. yaitu sesaat setelah matahari mencapai titik kulminasi (culmination) dalam peredaran hariannya. amal-amalnya telah runtuh dan di dalam nerakalah mereka akan kekal. yg dimaksud adalah shalat Dzuhur. dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla. Islam Lawannya adalah kafir.

Tamyiz Yaitu anak-anak yang sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk.” (Al-Furqan:23) Shalat tidak akan diterima selain dari seorang muslim. Orang tidur hingga dia bangun. Batas aurat laki-laki dan budak wanita ialah dari pusar hingga ke lutut. dan Ibnu Majah). Menghilangkan Najis Menghilangkan najis dari tiga hal: badan. Abu Dawud. “Allah tidak akan menerima shalat wanita yang telah haidh (yakni yang telah baligh) kecuali dengan khimar (pakaian yang menutup seluruh tubuh. pakaian dan tanah (lantai tempat shalat). dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. sebab kebanyakan adzab kubur disebabkan olehnya. “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan. berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud) 4. dihilangkan dengan wudhu`. maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. Menghilangkan Hadats (Thaharah) Hadats ada dua: hadats akbar (hadats besar) seperti janabat dan haidh. 3. Berakal Lawannya adalah gila. Ahmad. “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam. dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla. dalilnya sabda Rasulullah. berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci.” 6. maka sucikanlah. Jika sudah berumur tujuh tahun maka mereka diperintahkan untuk melaksanakan shalat. Muslim dan selainnya) Dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang gila hingga dia sadar.” (HR. ”Bersucilah dari kencing. lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. “Allah tidak akan menerima shalat orang yang berhadats hingga dia berwudlu`.” (HR. sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. dimulai dari umur sekitar tujuh tahun. 2.” (AlMuddatstsir:4) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.” (Muttafaqun ‘alaih) 5. air kecil atau buang angin.” (HR. ”Diangkat pena dari tiga orang: 1.Dan firman Allah ‘azza wa jalla. dihilangkan dengan mandi (yakni mandi janabah). Al-Hakim.” (Aali ‘Imraan:85) 2. dan hadats ashghar (hadats kecil) seperti buang air besar. “Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun. An-Nasa-i. seperti mukenah). Anak-anak sampai ia baligh. sedangkan wanita merdeka maka seluruh tubuhnya aurat selain wajahnya selama tidak ada ajnaby (orang yang bukan 5 . Orang gila terangkat darinya pena (tidak dihisab amalannya) hingga dia sadar. dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing. Abu Dawud) Para ulama sepakat atas batalnya orang yang shalat dalam keadaan terbuka auratnya padahal dia mampu mendapatkan penutup aurat. Menutup Aurat Menutupnya dengan apa yang tidak menampakkan kulit (dan bentuk tubuh). “Dan pakaianmu. dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla. 3.

Masuk Waktunya Sholat Dalil dari As-Sunnah ialah hadits Jibril ‘alaihis salam bahwa dia mengimami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal waktu dan di akhir waktu (esok harinya). Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil-Haram. namun jika ada ajnaby maka sudah tentu wajib atasnya menutup wajah juga. “Dirikanlah shalat dari sesudah tergelincirnya matahari sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh.” (An-Nisa`:103) Artinya diwajibkan dalam waktu-waktu yang telah tertentu. “Kancinglah ia (baju) walau dengan duri.” Dan firman Allah ‘azza wa jalla. sehingga sholatnya tidak sah dan harus diulang Yang termasuk hal-hal yang dapat membatalkan sholat.” (Al-Baqarah:144) 9. “Wahai anak cucu Adam. lalu dia berkata: “Wahai Muhammad. Makan dan minum 4. sedangkan melafazhkannya adalah bid’ah (karena tidak ada dalilnya). Dalil wajibnya niat adalah hadits yang masyhur.” (Al-Israa`:78) 8. Di antara yang menunjukkan tentang mentutup aurat ialah hadits Salamah bin Al-Akwa` radhiyallahu ‘anhu. maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke Kiblat yang kamu sukai. pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid. dan di mana saja kalian berada maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya.” (Al-A’raaf:31) Yakni tatkala shalat.mahramnya) yang melihatnya. “Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit. Berbicara ketika sholat 2. Menghadap Kiblat Dalilnya firman Allah. “Sesungguhnya amal-amal itu didasari oleh niat dan sesungguhnya setiap orang akan diberi (balasan) sesuai niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih dari ‘Umar Ibnul Khaththab) “HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SHOLAT 5 WAKTU” Yang dimaksud dengan hal-hal yang membatalkan sholat adalah gerakan-gerakan atau lisan yang bisa membatalkan sholat. Tersingkapnya aurat 6 . shalat itu antara dua waktu ini. Dalil tentang waktu-waktu itu adalah firman Allah ‘azza wa jalla. Niat Tempat niat ialah di dalam hati. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat). Berjalan terlalu banyak tanpa ada keperluan 5. “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. adalah : 1.” Dan firman Allah ‘azza wa jalla. Tertawa 3. 7.

atau segala hal yang membatalkan wudhu. namun hal ini tidak membahayakan. buang air. Kondisi ketiga adalah apabila tetap berpuasa akan menyusahkan dirinya bahkan bisa mengantarkan pada kematian. sebanyak hari yang ditinggalkannya itu.” (QS. ْ ُ َ ُ ْ َ ُُ ْ َ َ ‫ول تقتلوا أنفسكم‬ “Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Karena orang ini dianggap seperti orang sakit yang jika berpuasa sakitnya akan bertambah parah atau akan bertambah lama sembuhnya. َ َ ُ ٍ ّ َ ْ ِ ٌ ّ ِ َ ٍ َ َ ََ ْ َ ً ِ َ َ َ ْ َ َ ‫ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر‬ “Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka). Al Baqarah: 185) Untuk orang sakit ada tiga kondisi: Kondisi pertama adalah apabila sakitnya ringan dan tidak berpengaruh apa-apa jika tetap berpuasa.” (QS. dan perut keroncongan. dan sebagainya) atau terkena najis. Dalil mengenai hal ini adalah firman Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman. ْ ُ َ ُ ْ َ ُُ ْ َ َ ‫ول تقتلوا أنفسكم‬ “Dan janganlah kamu membunuh dirimu. An Nisa’: 29) Apakah orang yang dalam kondisi sehat boleh tidak berpuasa karena jika berpuasa dia ditakutkan sakit? Boleh untuk tidak berpuasa bagi orang yang dalam kondisi sehat yang ditakutkan akan menderita sakit jika dia berpuasa. Para ulama telah sepakat mengenai bolehnya orang sakit untuk tidak berpuasa secara umum. Contohnya adalah pilek. Yang dimaksudkan sakit adalah seseorang yang mengidap penyakit yang membuatnya tidak lagi dikatakan sehat. “Hadist Dan Firman Allah Tentang Keringanan-Keringanan Dalam Ibadah Puasa” Pertama: Orang sakit ketika sulit berpuasa. pusing atau sakit kepala yang ringan. Untuk kondisi pertama ini tetap diharuskan untuk berpuasa. Mendahului imam dengan sengaja Perlu diingatkan disini bahwa batalnya sholat adalah rusaknya seluruh hal yang ada pada “Syarat-syarat (dibolehkannya) Sholat” saat sholat berlangsung. maka (wajiblah baginya berpuasa). Kondisi kedua adalah apabila sakitnya bisa bertambah parah atau akan menjadi lama sembuhnya dan menjadi berat jika berpuasa. Untuk kondisi ini dianjurkan untuk tidak berpuasa dan dimakruhkan jika tetap ingin berpuasa. Memalingkan badan dari kiblat 7. antara lain adanya Hadats (haid.” (QS. dia diharuskan mengqodho’ puasanya (menggantinya di hari lain). pada hari-hari yang lain.6. sujud. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala. An Nisa’: 29) َ ْ ُ ْ ُ ُ ِ ُ ِ ُ َ َ ْ ُْ ُ ُ ِ ّ ُ ِ ُ ‫يريد ال بكم اليسر ول يريد بكم العسر‬ ُ 7 . Menambah rukuk. berdiri atau duduk secara sengaja 8. Untuk kondisi ini diharamkan untuk berpuasa. Nanti ketika sembuh.

pada hari-hari yang lain. “Ini adalah orang yang sedang berpuasa. dapat kita katakan bahwa musafir ada tiga kondisi. Al Hajj: 78) ْ ُ ْ َ َ ْ َ ُ ْ ِ ُ ْ َ ٍ ْ َ ِ ْ ُ ُ ْ َ َ َ َِ ‫وإذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم‬ “Jika aku memerintahkan kalian untuk melakukan suatu perkara. Al Baqarah: 185) Apakah jika seorang musafir berpuasa. فقالوا‬ ُ ََ َ َ َ َ َ َ ِ ْ ََ َ ُّ ْ َ ً ُ َ َ ً َ ِ ََ َ ٍ َ َ ِ ِ ّ ُ َُ َ َ ِ َّ ‫صائم . berpuasa ataukah tidak? Para ulama dalam hal ini berselisih pendapat. فقال » ليس من البر الصوم فى السفر‬ ِ ُ ْ ّ ّ ِْ َ ِ َ ْ َ َ َ َ ٌ ِ َ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar melihat orang yang berdesakdesakan.” (QS. “Siapa ini?” Orang-orang pun mengatakan. Di sini 8 . Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan. ‫كان رسول ال – صلى ال عليه وسلم – فى سفر ، فرأى زحاما ، ورجل قد ظلل عليه ، فقال » ما هذا « . Ada riwayat dari Abu Hurairah.” (QS. maka (wajiblah baginya berpuasa). “Bukanlah suatu yang baik jika seseorang berpuasa ketika dia bersafar”. Manakah yang lebih utama bagi orang yang bersafar. Musafir yang melakukan perjalanan jauh sehingga mendapatkan keringanan untuk mengqoshor shalat dibolehkan untuk tidak berpuasa.” Kedua: Orang yang bersafar ketika sulit berpuasa. sebanyak hari yang ditinggalkannya itu. Lalu ada seseorang yang diberi naungan. maka lebih utama untuk tidak berpuasa. Al Baqarah: 185) ٍ َ َ ْ ِ ِ ّ ِ ْ ُ ْ ََ َ َ َ َ َ ‫وما جعل عليكم في الدين من حرج‬ “Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. Dalil dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala. Ada yang mengatakan bahwa seperti ini dimakruhkan. tabi’in dan empat imam madzhab berpendapat bahwa berpuasa ketika safar itu sah.” (QS.“Allah menghendaki kemudahan bagimu. Kondisi pertama adalah jika berat untuk berpuasa atau sulit melakukan hal-hal yang baik ketika itu. Namun pendapat mayoritas ulama lebih kuat sebagaimana dapat dilihat dari dalil-dalil yang nanti akan kami sampaikan. dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. maka lakukanlah semampu kalian. Jabir mengatakan.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. َ َ ُ ٍ ّ َ ْ ِ ٌ ّ ِ َ ٍ َ َ ََ ْ َ ً ِ َ َ َ ْ َ َ ‫ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر‬ “Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka). Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar yang menyatakan bahwa berpuasa ketika safar tidaklah sah dan tetap wajib mengqodho’. Setelah meneliti lebih jauh dan menggabungkan berbagai macam dalil. Dalil dari hal ini dapat kita lihat dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah. puasanya dianggap sah? Mayoritas sahabat.

maka pada saat ini wajib tidak berpuasa dan diharamkan untuk berpuasa. juga pendapat Ishaq dan Al Hasan Al Bashri. dan 9 . Kemudian ketika sampai di Kuroo’ Al Ghomim (suatu lembah antara Mekkah dan Madinah). ّ ُ ُ ّ َ َ َ ِ ِ َ ْ َ َ ُ َ ََ ّ َ َ َ َ َ َ َ َ ِ َ ّ َ َِ ِ ْ َ ْ َ َ َ َ َ ‫أ ّ رسول ال -صلى ال عليه وسلم. lalu diniatkan untuk tidak berpuasa pada hari itu. kita mesti melihat beberapa keadaan: Pertama.” Apabila tidak terlalu menyulitkan ketika safar. Dari Abu Darda’. di mana beliau masih tetap berpuasa ketika safar. Mereka itu adalah orang yang durhaka”. Setelah beliau melakukan hal tadi. Kondisi kedua adalah jika tidak memberatkan untuk berpuasa dan tidak menyulitkan untuk melakukan berbagai hal kebaikan. orang-0rang ketika itu masih berpuasa. Beliau ketika itu berpuasa. ada yang mengatakan. Sehingga ketika itu orang-orang meletakkan tangannya di kepalanya karena cuaca yang begitu panas. Dari Jabir bin ‘Abdillah. jika safar dilakukan setelah fajar (atau sudah di waktu siang). beliau berkata. “Sesungguhnya sebagian orang ada yang tetap berpuasa. Lalu beliau mengangkatnya dan orang-orang pun memperhatikan beliau.خرج عام الفتح إلى مكة فى رمضان فصام حتى بلغ كراع الغميم فصام الناس ثم‬ ِ ّ َ ُ َ ‫َن‬ ُ َ ُ ْ َ ِ َ ُ َ َ َ َ َ ْ َ ِ ّ َ ْ َ ّ ِ َ َِ َ ْ َ ُ َ َ ِ َ َ ِ َ ّ ُ ِ ْ َِ ُ ّ َ َ َ ّ َ ُ َ َ َ َ ٍ َ ْ ِ ٍ َ َ ِ َ َ ‫دعا بقدح من ماء فرفعه حتى نظر الناس إليه ثم شرب فقيل له بعد ذلك إن بعض الناس قد صام فقال » أولئك العصاة‬ ُ َ ُ ْ َ َِ ُ ‫أولئك العصاة‬ “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada tahun Fathul Makkah (8 H) menuju Makkah di bulan Ramadhan. Hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dan Ibnu Rowahah yang berpuasa ketika itu. Kapan waktu diperbolehkan tidak berpuasa bagi musafir? Dalam hal ini. ِ ّ ِ ْ ِ ِ ِ ْ َ ََ ُ َ َ ُ ُ ّ َ َ َ ّ َ ّ َ ٍ ْ َ ِ ِ ِ َ ْ َ ِ ْ َ ِ ‫خرجنا مع النبى – صلى ال عليه وسلم – فى بعض أسفاره فى يوم حار حتى يضع الرجل يده على رأسه من شدة‬ ّ ِّ َ َ َْ َ َ ََ َ َ ِ ْ َ ‫الحر ، وما فينا صائم إل ما كان من النبى – صلى ال عليه وسلم – وابن رواحة‬ ّ ِّ َ ِ َ َ َ ّ ِ ٌ ِ َ َ ِ َ َ ّ َ ْ “Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di beberapa safarnya pada hari yang cukup terik. beliau berkata. Kedua. Kemudian beliau meminta diambilkan segelas air. pada kondisi semacam ini sudah disebut musafir karena sudah adanya sebab yang memperbolehkan untuk tidak berpuasa.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela keras seperti ini karena berpuasa dalam kondisi sangat-sangat sulit seperti ini adalah sesuatu yang tercela.dikatakan tidak baik berpuasa ketika safar karena ketika itu adalah kondisi yang menyulitkan. Alasannya. maka pada saat ini lebih utama untuk berpuasa. maka menurut pendapat Imam Ahmad yang lain. Begitu pula hal ini lebih mudah dilakukan karena berpuasa dengan orang banyak itu lebih menyenangkan daripada mengqodho’ puasa sendiri sedangkan orang-orang tidak berpuasa. Di antara kami tidak ada yang berpuasa. untuk kondisi semacam ini diperbolehkan untuk tidak berpuasa berdasarkan kesepakatan para ulama. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kondisi ketiga adalah jika berpuasa akan mendapati kesulitan yang berat bahkan dapat mengantarkan pada kematian.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan. jika safar dimulai sebelum terbit fajar atau ketika fajar sedang terbit dan dalam keadaan bersafar. Lantas beliau pun meminum air tersebut. maka puasa itu lebih baik karena lebih cepat terlepasnya kewajiban. “Mereka itu adalah orang yang durhaka.

sedangkan sebelumnya tidak berpuasa.” Lantas beliau pun berangkat dengan kendaraannya. Kemudian aku mengatakan pada Annas. … Begitu pula yang menguatkan hal ini adalah dari Muhammad bin Ka’ab. Di antara kami tidak ada yang berpuasa. maka keesokan harinya dia wajib berpuasa tanpa ada perselisihan ulama dalam hal ini. Terdapat perkataan yang shohih dari Ibnu Mas’ud. Dia pun sudah mempersiapkan kendaraan dan sudah mengenakan pakaian untuk bersafar. Al Baqarah: 185) Dan juga hadits Jabir sebagaimana telah disebutkan di atas: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada tahun Fathul Makkah (8 H) menuju Makkah di bulan Ramadhan. Dia mengatakan. Kemudian beliau meminta makanan. Inilah pendapat yang lebih kuat.” Kapan berakhirnya keringanan untuk tidak berpuasa bagi musafir? Berakhirnya keringanan (rukhsoh) bagi musafir untuk tidak berpuasa adalah dalam dua keadaan: (1) ketika berniat untuk bermukim. pada hari-hari yang lain. Jika orang yang bersafar tersebut kembali ke negerinya pada malam hari. Alasannya adalah dalil yang telah kami sebutkan pada kondisi kedua dari hadits Abu Darda: “Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di beberapa safarnya pada hari yang cukup terik. Dalil dari pendapat terakhir ini adalah keumuman firman Allah Ta’ala. Sedangkan apabila dia kembali pada siang hari. Ketiga. Lantas beliau pun meminum air tersebut. lantas beliau pun memakannya. jika berniat puasa padahal sedang bersafar. kemudian karena suatu sebab di tengah perjalanan berbuka.pendapat ini juga dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. apakah ketika dia sampai di negerinya. orang-0rang ketika itu masih berpuasa. maka (wajiblah baginya berpuasa). “Apakah ini termasuk sunnah (ajaran Nabi)?” Beliau mengatakan. dan (2) jika telah kembali ke negerinya. َ َ ُ ٍ ّ َ ْ ِ ٌ ّ ِ َ ٍ َ َ ََ ْ َ ً ِ َ َ َ ْ َ َ ‫ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر‬ “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka). sebanyak hari yang ditinggalkannya itu. ٌ ّ ُ ُ َ ُ ْ ُ َ َ َ َ َ ٍ َ َ ِ َ َ َ ِ َ ّ َ َ ِ َ ِ ََ ُ ُ َِ َ ُ َ ْ َِ ُ ْ َ َ ً َ َ ُ ِ ُ َ ُ َ َ َ َ َ ِ ٍ ِ َ َ ْ َ َ َ ُ ْ َ َ ‫أتيت أنس بن مالك فى رمضان وهو يريد سفرا وقد رحلت له راحلته ولبس ثياب السفر فدعا بطعام فأكل فقلت له سنة‬ َ ِ َ ّ ُ ٌ ُّ َ َ ‫. maka hal ini diperbolehkan. Inilah pendapat Imam Asy Syafi’i dan Imam Malik.” (QS. Beliau ketika itu berpuasa. Sehingga ketika itu orang-orang meletakkan tangannya di kepalanya karena cuaca yang begitu panas. Saat ini itu Anas juga ingin melakukan safar.” Hadits ini merupakan dalil bahwa musafir boleh berbuka sebelum dia pergi bersafar. ُ ‫من أكل أول النهار فليأكل آخر‬ ‫َ ْ َ َ َ َ ّ َ ّ َ ِ َ ْ َ ْ ُ ْ ِ َه‬ 10 . dia jadi ikut berpuasa hingga berbuka? Untuk kasus yang satu ini ada dua pendapat.قال سنة. Jadi boleh tidak berpuasa hingga waktu berbuka. ثم ركب‬ “Aku pernah mendatangi Anas bin Malik di bulan Ramadhan. Hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dan Ibnu Rowahah yang berpuasa ketika itu. Pendapat yang lebih tepat adalah dia tidak perlu menahan diri dari makan dan minum. boleh berbuka (tidak berpuasa) di hari itu. Lalu beliau mengangkatnya dan orang-orang pun memperhatikan beliau. “Ini termasuk sunnah. Kemudian ketika sampai di Kuroo’ Al Ghomim (suatu lembah antara Mekkah dan Madinah). Kemudian beliau meminta diambilkan segelas air.

karena sebab keduanya berpuasa. ia berkata. Para ulama sepakat bahwa orang tua yang tidak mampu berpuasa. Al Baqarah: 184) Begitu pula orang sakit yang tidak kunjung sembuh. maka dia boleh tidak berpuasa dan diganti dengan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. apakah ada qodho’ ataukah mesti menunaikan fidyah? Inilah yang diperselisihkan oleh para ulama. dia disamakan dengan orang tua rentah yang tidak mampu melakukan puasa sehingga dia diharuskan mengeluarkan fidyah (memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan). Sedangkan Ibnu ‘Umar dan Mujahid berpendapat bahwa keduanya harus menunaikan fidyah sekaligus qodho’.” Keempat: Wanita hamil dan menyusui.” Pendapat terkuat adalah pendapat yang menyatakan cukup mengqodho’ saja. Pendapat ini juga menjadi pendapat Ibrahim. Di antara kemudahan dalam syar’at Islam adalah memberi keringanan kepada wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa. Ibnu Qudamah mengatakan. Al Jashshosh rahimahullah mengatakan. maka boleh baginya untuk tidak berpuasa. Pendapat mayoritas ulama inilah yang lebih kuat. tanpa ada qodho’. Ketiga: Orang yang sudah tua rentah dan dalam keadaan lemah. (yaitu): memberi makan seorang miskin. Karena orang seperti ini disamakan dengan orang yang sudah tua. Al Hasan dan ‘Atho’. Ada dua alasan yang bisa diberikan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala. Ibnu ‘Abbas berpendapat cukup keduanya membayar fidyah saja.” Jadi. “Orang sakit yang tidak diharapkan lagi kesembuhannya. ‘Ali berpendapat bahwa wanita hamil dan menyusui wajib qodho’ jika keduanya tidak berpuasa dan tidak ada fidyah ketika itu. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. َ َّ ِ َ َ ْ ّ ِ ِ ْ ُ ْ َ ِ ِ َ ْ َ ِ ِ َ ُ ْ ِ َ َ ِ َ ّ َ ْ َ ِ ِ َ ُ ْ ِ َ َ َ َ ّ َ َ ّ َ ّ ّ ِ ‫إن ال عز وجل وضع عن المسافر شطر الصلة وعن المسافر والحامل والمرضع الصوم أو الصيام‬ َ “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla meringankan setengah shalat untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir.” Namun apa kewajiban wanita hamil dan menyusui jika tidak berpuasa. ٍ ِ ْ ِ ُ َ َ ٌ َ ْ ِ ُ َ ُ ِ ُ َ ِ ّ ََ َ ‫وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين‬ “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah.“Barangsiapa yang makan di awal siang. Jika wanita hamil takut terhadap janin yang berada dalam kandungannya dan wanita menyusui takut terhadap bayi yang dia sapih – misalnya takut kurangnya susu. ِ ِ ْ ُ ْ َ َْ ُ ْ ْ َ َ َ ْ ّ َ ِ َ ّ َ ْ ِ ِ ِ َ ُ ْ ْ َ َ َ َ ّ ّ ِ ‫إن ال وضع عن المسافر نصف الصلة والصوم وعن الحبلى والمرضع‬ َ 11 . maka di siang atau sore harinya pun tidak perlu berpuasa. maka makanlah pula di akhir siang. boleh baginya untuk tidak berpuasa dan tidak ada qodho baginya.” (QS. wanita hamil dan menyusui. jika di pagi harinya tidak berpuasa. cukup bagi mereka untuk memberi fidyah yaitu memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Alasan pertama: dari hadits Anas bin Malik. juga orang sakit yang tidak kunjung sembuh. Menurut mayoritas ulama. dan hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama. “Para ulama salaf telah berselisih pendapat dalam masalah ini menjadi tiga pendapat.

َ َ ُ ٍ ّ َ ْ ِ ٌ ّ ِ َ ٍ َ َ ََ ْ َ ً ِ َ ْ ُ ْ ِ َ َ ْ َ َ ‫فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر‬ “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka). Namun apabila mereka tidak mampu untukk mengqodho’ puasa. maka keduanya boleh berbuka (tidak puasa). “Jika wanita hamil dan menyusui berpuasa. Dari sini juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara wanita hamil dan menyusui jika keduanya khawatir membahayakan dirinya atau anaknya (ketika mereka berpuasa) karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak merinci hal ini. maka pada kondisi ini 12 . Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya). kesulitan. dengan cara memberi makan pada satu orang miskin setiap harinya. mereka berdua punya kewajiban qodho’ (mengganti puasa) karena keadaan mereka seperti musafir atau orang yang sakit (yaitu diharuskan untuk mengqodho’ ketika tidak berpuasa. Maka berlaku pula yang demikian pada wanita hamil dan menyusui. Sebagian ulama berpendapat bahwa cukup baginya untuk menunaikan fidyah (memberi makan kepada orang miskin) untuk setiap hari yang ia tidak berpuasa. tanpa adanya fidyah. -pen).“Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir. Namun mereka punya kewajiban untuk mengqodho (mengganti puasa) di saat mampu karena mereka dianggap seperti orang yang sakit. Karena dianggap seperti orang sakit.” Al Jashshosh rahimahullah menjelaskan. maka kondisi mereka dianggap seperti orang sakit yang tidak kunjung sembuhnya. … Dan telah diketahui bahwa keringanan puasa bagi musafir yang tidak berpuasa adalah mengqodhonya. maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Para ulama tidak ada beda pendapat mengenai wanita hamil dan menyusui bahwa mereka tidak dibolehkan mengqoshor shalat. Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah. lalu dapat membahayakan diri. anak atau keduanya. ia bisa pindah pada penggantinya yaitu menunaikan fidyah. Dalam kondisi ini dia dianggap seperti orang sakit yang diharuskan untuk mengqodho’ di hari lain ketika ia tidak berpuasa. maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Catatan penting yang perlu diperhatikan bahwa wanita hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa jika memang ia merasa kepayahan. juga puasa dari wanita hamil dan menyusui. Al Jashshosh rahimahullah mengatakan. “Hukum wanita hamil dan menyusui jika keduanya merasa berat untuk berpuasa. maka mereka cukup mengqodho’ sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala. “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka). Pada kondisi ini. ulama yang berpendapat cukup mengqodho’ saja (tanpa fidyah) menganggap bahwa wanita hamil dan menyusui seperti orang sakit. Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata. karena setelah hamil atau menyusui dalam keadaan lemah dan tidak kuat lagi.” Perkataan Al Jashshosh ini sebagai sanggahan terhadap pendapat yang menyatakan wajib mengqodho’ bagi yang hamil sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan mengqodho’ dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Alasan kedua: Selain alasan di atas. ia pun harus mengqodho’ di hari lain. Yang benar.” (QS. … Keringanan puasa bagi wanita hamil dan menyusui sama halnya dengan keringanan puasa bagi musafir. Al Baqarah: 184) Pendapat ini didukung pula oleh ulama belakangan semacam Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah. Ini pula yang berlaku pada wanita hamil dan menyusui. “Keringanan separuh shalat tentu saja khusus bagi musafir. Sebagaimana orang sakit boleh tidak puasa. takut membahayakan dirinya atau anaknya. Al Baqarah: 184) Kondisi ini berlaku bagi keadaan wanita hamil dan menyusui yang masih mampu menunaikan qodho’.

jika tidak membawa dampak bahaya apa-apa pada diri dan anak.” 13 . dan pada kondisi ini tidak boleh ia tidak berpuasa. maka lebih baik ia berpuasa. Akan tetapi.lebih baik bagi keduanya untuk tidak berpuasa dan terlarang bagi keduanya untuk berpuasa.