P. 1
Penjelasan Pph 25, Pph 21 & Pph 23

Penjelasan Pph 25, Pph 21 & Pph 23

|Views: 4,502|Likes:
Published by Benny Yo

More info:

Published by: Benny Yo on Jan 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2013

pdf

text

original

Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25

Pengertian PPh Pasal 25 Pajak Penghasilan (disingkat PPh) dikenakan terhadap Wajib Pajak dalam satu periode tertentu yang dinamakan tahun pajak. Berdasarkan hal ini, maka perhitungan dan penghitungan PPh dilakukan setahun sekali yang dituangkan dalam SPT Tahunan. Nah, karena penghitungan PPh dilakukan setahun sekali, maka penghitungan ini harus dilakukan setelah satu tahun tersebut berakhir agar semua data penghasilan dalam satu tahun sudah diketahui. Untuk perusahaan, tentu saja data penghasilan ini harus menunggu laporan keuangan selesai dibuat. Dengan cara seperti itu tentu saja jumlah PPh terutang yang wajib dibayar baru dapat diketahui ketika suatu tahun pajak telah berakhir. Agar pembayaran pajak tidak dilakukan sekaligus yang tentunya akan memberatkan, maka dibuatlah mekanisme pembayaran pajak di muka atau pembayaran cicilan setiap bulan. Pembayaran angsuran atau cicilan ini dinamakan Pajak Penghasilan Pasal 25. Cara Mengitung PPh Pasal 25 Besarnya angsuran PPh Pasal 25 harus dihitung sesuai dengan ketentuan. Pada umumnya, cara menghitung PPh Pasal 25 didasarkan kepada data SPT Tahunan tahun sebelumnya. Artinya, kita mengasumsikan bahwa penghasilan tahun ini sama dengan penghasilan tahun sebelumnya. Tentu saja nanti akan ada perbedaan dengan kondisi sebenarnya ketika tahun pajak sekarang sudah berakhir. Selisih tersebutlah yang kita bayar sebagai kekurangan pajak akhir tahun. Kekurangan bayar akhir tahun ini biasa dinamakan PPh Pasal 29. Apabila selisihnya menunjukkan lebih bayar, maka kondisi ini dinamakan restitusi atau Wajib Pajak meminta kelebihan pembayaran pajak yang telah dilakukan. Pada umumnya angsuran pajak ini adalah sebesar Pajak Penghasilan terutang menurut SPT Tahunan Pajak Penghasilan tahun lalu dikuranggi dengan kredit pajak Pajak Penghasilan Pasal 21, 22, 23 dan Pasal 24, dibagi 12 atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak. Misal, SPT Tahunan 2007 menunjukkan data sebagai berikut : Pajak Penghasilan terutang Kredit Pajak PPh Pasal 21,22,23 dan 24 50.000.000 35.000.000

Maka, PPh Pasal 25 tahun 2008 yang harus dibayar tiap bulan adalah sebagai berikut : Pajak Penghasilan terutang Kredit Pajak PPh Pasal 21,22,23 dan 24 Selisih PPh Pasal 25 = 15.000.000 : 12 = 1.250.000 PPh Pasal 25 Untuk Bulan-bulan Sebelum Bulan Batas Waktu Penyampaian SPT Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk bulan-bulan sebelum batas waktu penyampaian SPT Tahunan adalah sama besarnya dengan Pajak Penghasilan Pasal 25 bulan terakhir tahun pajak yang lalu. Apabila tahun pajaknya adalah tahun kalender (Januari-Desember), maka yang dimaksud dengan bulan-bulan sebelum batas waktu penyampaian SPT Tahunan adalah bulan Januari dan Pebruari. Dengan demikian PPh Pasal 25 bulan Januari dan Pebruari 2008 adalah sama dengan PPh Pasal 25 bulan Desember 2007. PPh Pasal 25 Jika Dalam Tahun Berjalan Telah Diterbitkan SKP Untuk Tahun Pajak Yang Lalu 50.000.000 35.000.000 15.000.000

Apabila dalam tahun berjalan diterbitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP) untuk tahun pajak yang lalu, maka besarnya angsuran pajak dihitung kembali berdasarkan SKP tersebut dan berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan penerbitan SKP PPh Pasal 25 Dalam Hal-hal Tertentu Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menetapkan penghitungan besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan dalam hal-hal tertentu, antara lain apabila : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Wajib Pajak berhak atas kompensasi kerugian; Wajib Pajak memperoleh penghasilan tidak teratur; ST tahunan Pajak Penghasilan tahun yang lalu disampaikan setelah lewat batas waktu yang ditentukan; Wajib Pajak diberikan perpanjangan jangka waktu penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan; Wajib Pajak membetulkan sendiri SPT Tahunan Pajak Penghasilan yang mengakibatkan angsuran bulanan lebih besar dari angsuran bulanan sebelum pembetulan. Terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak.

Keputusan Dirjen Pajak yang mengatur penghitungan besarnya angsuran pajak dalam tahun berjalan dalam halhal tertentu adalah Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-537/PJ./2000 tanggal 29 Desember 2000. PPh Pasal 25 Untuk Wajib Pajak Tertentu Penghitungan besarnya angsuran pajak bagi Wajib Pajak baru, bank, BUMN, BUMD, dan Wajib Pajak tertentu lainnya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Yang Mengatur Hal Ini Adalah Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 522/KMK.04/2000 tanggal 14 Desember 2000 Jo Keputusan Menteri Keuangan Nomor 84/KMK.03/2002 tanggal 8 Maret 2002 Tentang Penghitungan Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan Dalam Tahun Pajak Berjalan Yang Harus Dibayar Sendiri Oleh Wajib Pajak Baru, Bank, Sewa Guna Usaha Dengan Hak Opsi, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah Dan Wajib Pajak Lainnya Termasuk Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu Update : Keputusan Menteri Keuangan Nomor 522/KMK.04/2000 sudah tidak berlaku lagi. Ketentuan yang berlaku saat ini adalah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 255.PMK.03/2008 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 208/PMK.03/2009.

Penghitungan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 Karyawan
Perhitungan PPh Pasal 21 Pegawai Tetap 2009

Contoh berikut ini adalah lanjutan dari postingan saya sebelumnya tentang contoh perhitungan PPh Pasal 21 untuk karyawan. Tulisan tersebut saya buat ketika belum berlaku UU Nomor 36 Tahun 2008 dan ketentuan tentang pemotongan PPh Pasal 21 tahun 2009. Nah, untuk itu contoh dalam postingan tersebut saya modifikasi menjadi contoh yang relevan untuk tahun 2009. Misal, Tukul Arwana pegawai pada perusahaan PT Empat Mata, menikah tanpa anak, memperoleh gaji sebulan Rp. 4.000.000,00. PT Empat Mata mengikuti program Jamsostek, premi Jaminan Kecelakaan Kerja dan premi Jaminan Kematian dibayar oleh pemberi kerja dengan jumlah masing-masing 0,50% dan 0,30% dari gaji. PT Empat Mata menanggung iuran Jaminan Hari Tua setiap bulan sebesar 3,70% dari gaji sedangkan Tukul Arwana membayar iuran Jaminan Hari Tua sebesar 2,00% dari gaji setiap bulan. Disamping itu PT Empat Mata juga mengikuti program pensiun untuk pegawainya.

644.032.000 201. Biaya Jabatan 2.032.00 (2% dari gaji) per bulan.100.000. Iuran pensiun dan iuran JHT yang dibayar atau ditanggung oleh perusahaan tidak dapat dikurangkan.800 15.000 PPh Pasal 21 Sebulan Rp1.000. Perhatikan.00 atau sama dengan Rp201. jumlah seluruh pengurang adalah Rp381.160. Langkah berikutnya kita hitung pengurang yang diperbolehkan yaitu pada dasarnya ada dua macam yaitu biaya jabatan dan iuran pensiun (termsuk iuran jaminan hari tua). Iuran Jaminan Hari Tua Jumlah Pengurangan Penghasilan Neto Sebulan Penghasilan Neto Setahun PTKP .200 111. tunjangan-tunjangan.017 Langkah pertama kita menjumlahkan penghasilan bruto. Setelah itu barulah kita kurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang dalam hal ini jumlahnya adalah Rp17.400 43. Selanjutnya penghasilan neto sebulan ini kita buat setahunkan dengan cara penghasilan neto sebulan dikali 12 bulan atau Rp3. Pengurang lainnya adalah iuran pensiun dan iuran JHT yang masing-masing Rp100. Tidak termasuk dalam penghasilan bruto adalah imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan.00. Selisihnya (Rp43.000 17. Yang termasuk dalam penghasilan bruto ini misalnya adalah gaji.Diri WP Sendiri . yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan.000.600 100.000 20.600.600.00. Dengan demikian. 140.800.650.800 26.000.600 3.00 dikurangi pengurang Rp381.400 x 12 = Rp43.000 26.650.00.000 80.804.000 1. Gaji sebulan Premi Jaminan Kecelakaan Kerja Premi Jaminan Kematian Jumlah Penghasilan Bruto Pengurangan : 1.00 = Rp26.00.PT Empat Mata membayar iuran pensiun untuk Tukul Arwana ke dana pensiun.000.000. Jumlah ini masih di bawah maksimum yang diperkenankan yaitu sebesar Rp500.000.332.644.00 per bulan.804.160.000 381.800) inilah yang merupakan . Biaya jabatan sendiri besarnya 5% dari penghasilan bruto 5% x Rp4.320.000 12. perhitungan untuk mengetahui berapa besarnya pajak (penghasilan) yang harus dipotong PT Empat Mata untuk satu bulannya.160.00 dan Rp80.Status Kawin Jumlah PTKP Penghasilan Kena Pajak Setahun Pembulatan PPh Pasal 21 Setahun 5% x Rp26.000 4. uang lembur dan premi asuransi yang ditanggung oleh perusahaan.644. Penghasilan bruto ini adalah seluruh penghasilan yang diterima oleh karyawan atau pegawai secara teratur dalam sebulannya.650.400.00.644.840.000. setiap bulan sebesar Rp.800 – Rp17. Dalam contoh di atas penghasilan bruto yang menjadi objek PPh Pasal 21 adalah gaji.000 1.804. sedangkan Tukul Arwana membayar iuran pensiun sebesar Rp. Iuran Pensiun 3.3% dari gaji) yang dibayar atau ditanggung perusahaan.600 sama dengan Rp3.032. Jumlah inilah yang dimaksud dengan penghasilan neto sebulan. premi jaminan kecelakaan kerja (5% dari gaji) dan premi jaminan kematian (0.000.000.332.00.200 / 12 4. Penghasilan bruto Rp4.00.

Istlah didirikan mengandung arti bahwa badan tersebut didirikan berdasarkan ketentuan hukum di Indonesia. Perlu diketahui juga.017. Subjek Pajak Badan dalam negeri Berdasarkan Pasal 2 ayat (3) huruf b Undang-undang Pajak Penghasilan 1984. persekutuan. penerima penghasilan memenuhi kriteria sebagai fihak yang dipotong PPh Pasal 23 dan jenis penghasilan yang dibayarkan adalah termasuk penghasilan-penghasilan yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 23.Penghasilan Kena Pajak. seminar dan lain-lain. Ruang Lingkup Pemotongan PPh Pasal 23 Pada dasarnya pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 23 baru bisa dilakukan jika telah memenuhi ruang lingkup pengenaan. ya.00. yayasan. Sementara itu istilah bertempat kedudukan menunjukkan bahwa badan tersebut memiliki efektif manajemen di Indonesia di mana pengambilan keputusankeputusan penting tentang badan tersebut dilakukan di Indonesia. Badan Pemerintah Tidak ada penjelasan dalam Undang-undang Pajak Penghasilan tentang arti Badan Pemerintah ini.maka tarif yang dikenakan adalah 5% sehingga PPh Pasal 21 nya adalah 5% x Rp26.000. perseroan lainnya. b. firma. perkumpulan.000. Pengertian badan sendiri berdasarkan Pasal 2 ayat (1) huruf b Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas. Bentuk Usaha Tetap (BUT) . organisasi sosial politik. pemotong Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 23 adalah : a.00 = Rp1. Contoh penyelenggara kegiatan adalah orang pribadi atau badan yang mengorganisir suatu acara seperti pertunjukkan.800. subjek pajak badan dalam negeri adalah badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia. atau organisasi lainnya. lembaga. d. Penghasilan Kena Pajak tersebut harus dibulatkan dulu ribuan penuh ke bawah. yaitu pemberi penghasilan memenuhi kriteria sebagai pemotong PPh Pasal 23. pemotongan PPh Pasal 23 oleh instansi pemerintah dilakukan oleh bendahara pemerintah. maka PPh Pasal 21 terutang di atas tinggal dibagi 12 sehingga pajak yang dipotong oleh PT Empat Mata atas penghasilannya Tukul Arwana adalah Rp1. Penyelenggara kegiatan Penyelenggara kegiatan bisa berbentuk badan. tidak sulit untuk mengartikan bahwa yang dimaksud dengan Badan Pemerintah adalah Pemerintah negara Republik Indonesia dan Pemerintah Daerah di Indonesia beserta instansi-instansi di bawahnya.644. O. Namun demikian. karena kita menghitung PPh Pasal 21 untuk satu bulan.. koperasi. Dalam prakteknya. sebelum dikalikan tarif pajak. Nah. badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun. perlombaan.200 : 12 = Rp111. Karena Penghasilan Kena Pajak ini masih di bawah Rp50. organisasi massa. Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 23 Berdasarkan ketentuan Pasal 23 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 (Undang-undang Pajak Penghasilan 1984). orang pribadi atau kepanitiaan yang melakukan suatu event atau kegiatan.332. perseroan komanditer.332. kongsi. dana pensiun.00. dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap c. Pajak Penghasilan terutang adalah tarif pajak (berdasarkan tarif Pasal 17 UU Pajak Penghasilan) dikalikan Penghasilan Kena Pajak.200.

dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. kantor perwakilan. Penghasilan Yang Dipotong PPh Pasal 23 Hal ketiga yang menjadi ruang lingkup pemotongan PPh Pasal 23 adalah bahwa penghasilan yang diterima oleh penerima penghasilan adalah jenis penghasilan yang menjadi objek pemotongan PPh Pasal 23. bonus. dan imbalan sehubungan dengan jasa teknik. yang dapat berupa tempat kedudukan manajemen. jasa manajemen. kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta yang telah dikenai Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-undang Pajak Penghasilan. penghargaan. dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia. Contohnya adalah Representative Office (RO) dari perusahaan-perusahaan asing. bengkel dan lain-lain. jasa konsultan. jasa konstruksi. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. Pengertian BUT bisa kita temukan dalam Pasal 2 ayat (5) Undang-undang Pajak Penghasilan. e. cabang perusahaan. . 5. orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. pemenuhan hak dan kewajiban BUT disamakan dengan pemenuhan hak dan kewajiban Wajib Pajak dalam negeri. Ini berarti bahwa jika penerima penghasilan adalah Wajib Pajak luar negeri. Dengan demikian. dan sejenisnya selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf e Undang-undang Pajak Penghasilan 1984. Walaupun termasuk Wajib Pajak luar negeri. bunga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf f Undang-undang Pajak Penghasilan 1984.03/2008 Tentang Jenis Jasa Lain Sebagaimana Dimaksud Dalam Pasal 23 Ayat (1) Huruf c Angka 2 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan Sebagaimana Telah Beberapa Kali Diubah Terakhir Dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008. Undang-undang Pajak Penghasilan. maka imbalan jasa konstruksi tidak lagi menjadi objek pemotongan PPh Pasal 23. hadiah. Jenis-jenis penghasilan ini diatur dalam Pasal 23 ayat (1) huruf a dan huruf b Undang-undang Pajak Penghasilan. fihak yang dipotong PPh Pasal 23 bisa Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri ataupun Wajib Pajak badan dalam negeri. Untuk jenis jasa lain. pabrik. maka PPh Pasal 23 tidak bisa dikenakan. 4. melalui Pasal 23 ayat (2). gedung kantor. Khusus untuk jasa konstruksi. memberikan wewenang kepada Menteri Keuangan untuk mengatur lebih lanjut tentang jenis jasa lain ini dengan Peraturan Menteri Keuangan. Untuk itu Menteri Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 244/PMK. 2.BUT adalah bagian dari Subjek Pajak luar negeri yang melakukan kegiatan di Indonesia sehingga menerima atau memperoleh penghasilan yang bersumber dari Indonesia. yaitu bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia. 6. penerima penghasilan yang dapat dipotong PPh Pasal 23 adalah Wajib Pajak dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap. yaitu : 1. Fihak Yang Dipotong PPh Pasal 23 Berdasarkan Pasal 23 ayat (1) Undang-undang Pajak Penghasilan. royalti. dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf g Undang-undang Pajak Penghasilan 1984. Perwakilan Perusahaan Luar Negeri Lainnya Perwakilan perusahaan luar negeri lainnya selain BUT yang ada di Indonesia juga merupakan pemotong PPh Pasal 23. kecuali BUT. sehubungan dengan pengenaan Pajak Penghasilan final Pasal 4 ayat (2) terhadap semua jenis jasa konstruksi berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (2) Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 dan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 dan perubahannya. 3.

10. Jasa akuntansi. kecuali yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap (BUT). Jasa penebangan hutan. Jasa pengeboran (drilling) di bidang penambangan minyak dan gas bumi (migas). media luar ruang atau media lain untuk penyampaian informasi. f. Jasa penilai (appraisal). TV kabel. gas. 19. d. 25. 21. e. Jasa penyedia tenaga kerja (outsourcing services) Jasa perantara dan/atau keagenan. 2. 23. 13. selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi. b. air. Jasa pengepakan. Jasa penyelidikan dan keamanan. Jasa pengisian suara (dubbing) dan/atau sulih suara. dan atestasi laporan keuangan. 4. peralatan. Jasa penilai (appraisal). telepon. 8. Jasa pembasmian hama. termasuk perawatan. Jasa penunjang di bidang penambangan migas. Jasa perawatan/perbaikan/pemeliharaan mesin. dan atestasi laporan keuangan. peralatan. a. Jasa mixing film. Jasa maklon. kecuali yang dilakukan oleh Bursa Efek. listrik. 9. 12. Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga . Jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media masa. telepon. 1. Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer. 7. 14. listrik. 15. c. KSEI dan KPEI. pembukuan. Jasa penunjang di bidang penambangan migas. AC. Jasa perancang (design). Jasa aktuaris. 16. Inilah jenis jasa lain yang dikenakan PPh Pasal 23 dengan tarif 2% dari jumlah bruto berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 244/PMK. 22. alat transportasi/kendaraan dan/atau bangunan.03/2008. Jasa aktuaris. Jasa pengeboran (drilling) di bidang penambangan minyak dan gas bumi (migas).03/2008 yang dikenakan PPh Pasal 23 sebesar 2% dari jumlah bruto. selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi. Jasa custodian/penyimpanan /penitipan. Jasa kebersihan atau cleaning service. 11. kecuali yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap (BUT). pembukuan. 26. Jasa perancang (design). . gas.Jenis Jasa Lain Yang Dikenakan PPh Pasal 23 Jenis jasa lain sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 244/PMK. 6. 17. Jasa instalasi/pemasangan mesin. Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara. Jasa akuntansi. 20. Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan selain migas. pemeliharaan dan perbaikan. Jasa catering atau tata boga. 5. 24. air. Jasa sehubungan dengan software computer. dan/atau TV kabel. 18. 27. kecuali yang dilakukan oleh KSEI. AC. 3. Jasa pengolahan limbah.

aa. Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer. z. TV kabel. Perubahan tersebut adalah dengan menghilangkan istilah perkiraan penghasilan neto. termasuk perawatan. KSEI dan KPEI. y. peralatan. m. Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga . ketentuan baru dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 memperkenalkan tarif baru 2% dari penghasilan bruto. t. selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi. q. Jasa perantara dan/atau keagenan. w. Jasa pengisian suara (dubbing) dan/atau sulih suara. air. j. media luar ruang atau media lain untuk penyampaian informasi. o. h. Jasa pengepakan. dan/atau TV kabel. k. Jasa mixing film. Jasa kustodian/pemyimpanan /penitipan. Sebagai gantinya. Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara. Jasa penyedia tenaga kerja (outsourcing services) l. i. u. listrik.g. kecuali yang dilakukan oelh KSEI. Jasa instalasi/pemasangan mesin. Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan selain migas. Jasa sehubungan dengan software computer. Jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media masa. Jasa penebangan hutan. pemeliharaan dan perbaikan. peralatan. gas. selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi. Jasa Lain PPh Pasal 23 Mulai tahun 2009 ini pemotongan PPh Pasal 23 mengakami perubahan yang sangat signifikan. gas. Jasa catering atau tata boga. kecuali yang dilakukan oleh Bursa Efek. telepon. telepon. Jasa pembasmian hama. air. Jasa kebersihan atau cleaning service. Jenis-jenis penghasilan yang dikenakan tarif 2% dari penghasilan bruto ini adalah . Jasa maklon. r. s. AC. listrik. Jasa pengolahan limbah. alat transportasi/kendaraan dan/atau bangunan. Jasa penyelidikan dan keamanan. p. v. Jasa perawatan/perbaikan/pemeliharaan mesin. n. AC. x.

termasuk perawatan. kecuali yang dilakukan oleh Bursa Efek. air. media luar ruang. gas. dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong PPh Pasal 21 Nah jenis-jenis jasa lain ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 244/PMK. jasa konstruksi. kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta yang telah dikenai Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2). peralatan listrik. dan mempunyai ijin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi Jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan mesin. KSEI dan KPEI Jasa kustodian/penyimpanan/penitipan. jasa manajemen. telpon.• • • • • • sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. Berikut ini adalah jenis jasa-jasa tersebut : • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Jasa penilai (appraisal) Jasa aktuaris Jasa akuntansi. Tarif PPh Pasal 23 sendiri mengenal dua jenis . peralatan listrik. pemeliharaan dan perbaikan Jasa instalasi/pemasangan mesin. jasa konsultan. jasa teknik. AC dan/atau TV kabel selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang linkupnya di bidang konstruksi. AC dan/atau TV kabel selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang linkupnya di bidang konstruksi.03/2008 tanggal 31 Desember 2008. maka pertanyaan berikutnya adalah berapa besar PPh Pasal 23 yang harus dipotong? Untuk menjawab pertanyaan ini. dan mempunyai ijin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi Jasa maklon Jasa penyelidikan dan keamanan Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer Jasa pengepakan Jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media massa. telpon. ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu tarif pemotongan PPh Pasal 23 dan dasar pengenaan PPh Pasal 23. air. atau media lain untuk penyampaian informasi Jasa pembasmian hama Jasa kebersihan atau cleaning services Jasa ketering atau tata boga PPh Pasal 23 Dengan Tarif 15% Apabila PPh Pasal 23 bisa dikenakan setelah memenuhi ruang lingkup sebagaimana sudah saya jelaskan dalam tulisan Ruang Lingkup Pemotongan PPh Pasal 23. kecuali yang dilakukan oleh KSEI Jasa pengisian suara (dubbing) dan/atau sulih suara Jasa mixing film Jasa sehubungan dengan software komputer. gas. pembukuan dan atestasi laporan keuangan Jasa perancang (design) Jasa pengeboran (drilling) di bidang pertambangan migas kecuali yang dilakukan oleh BUT Jasa penunjang di bidang penambangan migas Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan selain migas Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandara Jasa penebangan hutan Jasa pengolahan limbah Jasa penyedia tenaga kerja (outsourcing services) Jasa perantara dan/atau keagenan Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga.

yaitu informasi yang belum diungkapkan secara umum. Perlu ditegaskan bahwa tidak semua dividen yang memenuhi definisi di atas adalah objek PPh Pasal 23. tidak semua bunga juga menjadi objek pemotongan PPh Pasal 23. Hadiah. Namun harus diperhatikan bahwa ruang lingkup pemotongan PPh Pasal 21 adalah bahwa penerima penghasilannya Wajib . misalnya pengalaman di bidang industri. dan sebagainya. Seperti halnya dividen. Ada jenis bunga yang bukan merupakan objek pajak sehingga tidak boleh dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (3) huruf h Undang-undang Pajak Penghasilan. merek dagang. ahli hukum. Ciri dari informasi dimaksud adalah bahwa informasi tersebut telah tersedia sehingga pemiliknya tidak perlu lagi melakukan riset untuk menghasilkan informasi tersebut. formula. walaupun mungkin belum dipatenkan. Bunga Pengertian bunga merujuk kepada Pasal 4 ayat (1) huruf f Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 di mana dalam pengertian bunga termasuk juga premium. 3. komersial. Tulisan ini akan memfokuskan pada objek pemotongan PPh Pasal 23 dengan tarif 15% dari jumlah bruto. yang dapat diberikan oleh setiap orang yang mempunyai latar belakang disiplin ilmu yang sama. atau ahli teknik sesuai dengan bidang keahliannya. komersial dan ilmu pengetahuan adalah setiap peralatan yang mempunyai nilai intelektual. 2. yaitu imbalan sehubungan dengan penggunaan: 1. c. penghargaan dan bonus sebenarnya merupakan objek pemotongan PPh Pasal 21 juga. atau rahasia perusahaan. Jenis bunga yang lain seperti bunga deposito dan tabungan menjadi objek pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) final. misalnya hak pengarang. dan ilmu pengetahuan. Yang dimaksud dengan alat-alat industri. diskonto. Tidak termasuk dalam pengertian informasi di sini adalah informasi yang diberikan oleh misalnya akuntan publik. Pengertian dividen ini mengacu kepada Pasal 4 ayat (1) huruf g Undang-undang Pajak Penghasilan 1984. d. Objek pemotongan PPh Pasal 23 yang dikenakan tarif 15% dari jumlah bruto ini adalah : a. penghargaan. Berdasarkan Pasal 23 ayat (1) huruf a Undang-undang Pajak Penghasilan 1984. Ada juga bunga yang menjadi objek pemotongan PPh Pasal 26 jika penerimanya adalah Wajib Pajak luar negeri sebagaimana diatur dalam Pasal 26 ayat (1) huruf b Undang-undang Pajak Penghasilan. hak atas harta tak berwujud. misalnya hak atas alat-alat industri. atau bidang usaha lainnya. hak atas harta berwujud. Dividen Dividen merupakan bagian laba yang diperoleh pemegang saham atau pemegang polis asuransi atau pembagian sisa hasil usaha koperasi yang diperoleh anggota koperasi. Hadiah. informasi. atas beberapa jenis objek PPh Pasal 23 dikenakan pemotongan PPh Pasal 23 dengan tarif 15% dari jumlah bruto. Terdapat juga dividen yang merupakan objek pemotongan lain sebagaimana diatur dalam Pasal 17 ayat (2c) dan Pasal 26 ayat (1) huruf a Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 b. paten. imbalan berupa royalti terdiri dari tiga kelompok. Royalti Berdasarkan penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf h Undang-undang Pajak Penghasilan 1984. bonus dan sejenisnya selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21. Perlu diperhatikan bahwa untuk imbalan royalti ini ada kemungkinan juga merupakan objek pemotongan PPh Pasal 26 jika penerima penghasilannya adalah Wajib Pajak luar negeri. misalnya peralatan-peralatan yang digunakan di beberapa industri khusus seperti anjungan pengeboran minyak (drilling rig). dan imbalan karena jaminan pengembalian utang.tarif yaitu tarif 15% dari jumlah bruto dan tarif 2% dari jumlah bruto. Ada dividen yang juga bukan merupakan objek pajak sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f Undangundang Pajak Penghasilan 1984.

Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta merupakan penghasilan yang diterima atau diperoleh sehubungan dengan kesepakatan untuk memberikan hak menggunakan harta selama jangka waktu tertentu baik dengan perjanjian tertulis maupun tidak tertulis sehingga harta tersebut hanya dapat digunakan oleh penerima hak selama jangka waktu yang telah disepakati. petunjuk produksi. Jasa Teknik. Sementara itu Jasa konsultan merupakan pemberian advice (petunjuk. dalam kelompok ini pada umumnya adalah imbalan jasa selain dari imbalan jasa konstruksi. Dan Jasa Konsultan Sebagaimana Dimaksud Dalam Pasal 23 Ayat (1) Huruf c Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan. seperti pemberian informasi dalam bentuk gambar-gambar. pemberian informasi dalam pembuatan suatu jenis produk tertentu. jasa konstruksi. PPh Pasal 23 Dengan Tarif 2% Tidak seperti sebelum tahun 2009 di mana PPh Pasal 23 mengenal perkiraan penghasilan neto sehingga tarif efektif PPh Pasal 23 sangat bervariasi. atau pemberian informasi yang berkaitan dengan pengalaman di bidang manajemen. seperti pemetaan dan/atau pencarian dengan bantuan gelombang seismik. untuk jenis Wajib Pajak tersebut maka PPh Pasal 23 lah yang bisa diterapkan. pemberian informasi dalam pelaksanaan suatu proyek tertentu. perdagangan dan ilmu pengetahuan yang dapat meliputi : 1. Jasa Manajemen. Nah. dan jasa lain Jasa konstruksi telah dikenakan PPh final Pasal 4 ayat (2) sehingga tidak lagi menjadi objek pemotongan PPh Pasal 23. jasa manajemen. seperti pemberian informasi melalui pelatihan atau seminar dengan peserta dan materi yang telah ditentukan oleh pengguna jasa. Apabila penerimanya adalah Wajib Pajak badan dalam negeri atau BUT. kegiatan. Perlu digarisbawahi bahwa tidak termasuk dalam objek pemotongan PPh Pasal 23 adalah sewa tanah dan/atau bangunan yang telah dikenakan PPh final berdasarkan Pasal 4 ayat (2) Undang-undang Pajak Penghasilan 1984. b. perhitungan-perhitungan dan sebagainya. Besarnya PPh Pasal 23 adalah 15% dikalikan jumlah bruto nilai penghargaan. atau pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga ahli . 2. Dan Jasa Konsultan Sebagaimana Dimaksud Dalam Pasal 23 Ayat (1) Huruf c Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan. tarif 15% dari jumlah bruto seperti dijelaskan di tulisan PPh Pasal 23 Dengan Tarif 15% dan tarif 2% dari jumlah bruto. Contoh untuk kasus PPh Pasal 23 ini misalnya sebuah yayasan lingkungan hidup memberikan penghargaan kepada perusahaan yang memiliki kepedulian kepada lingkungan sekitarnya. jasa manajemen. Apabila bentuk penghargaan ini diberikan dalam bentuk uang atau barang yang memiliki nilai naka penghargaan ini menjadi objek pemotongan PPh Pasal 23 karena penerimanya adalah Wajib Pajak badan dalam negeri. jasa konsultan. Dengan demikian. pertimbangan. atau nasihat) profesional dalam suatu bidang usaha. a. Berikut adalah jenisjenis penghasilan objek pemotongan PPh Pasal 23 yang dikenakan tarif PPh Pasal 23 2% dari jumlah bruto. Jasa Teknik. maka PPh Pasal 21 tidak bisa diterapkan. dan jasa konsultan dapat kita temui di Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-35/PJ/2010 tentang Pengertian Sewa Dan Penghasilan Lain Sehubungan Dengan Penggunaan Harta. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik. Pengertian jasa teknik. 3. Jasa manajemen merupakan pemberian jasa dengan ikut serta secara langsung dalam pelaksanaan atau pengelolaan manajemen. Jasa Manajemen. Jasa teknik merupakan pemberian jasa dalam bentuk pemberian informasi yang berkenaan dengan pengalaman dalam bidang industri. Definisi ini ditegaskan dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-35/PJ/2010 tentang Pengertian Sewa Dan Penghasilan Lain Sehubungan Dengan Penggunaan Harta.Pajak orang pribadi dalam negeri. sekarang tarif PPh Pasal 23 hanya ada dua.

Lebih jauh tentang jenis jasa lain yang dikenakan tarif PPh Pasal 23 sebesar 2% dari penghasilan bruto. Berikut ini adalah penghasilan-penghasilan yang dikecualikan dari pemotongan PPh Pasal 23. Pembayaran bunga ke bank misalnya tidak dapat dipotong PPh Pasal 23. Sama halnya dengan bank. Tidak termasuk obje Pajak Penghasilan adalah bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham. yang tidak disertai dengan keterlibatan langsung para tenaga ahli tersebut dalam pelaksanaannya. Penghasilan Yang Tidak Dipotong PPh Pasal 23 Terkait dengan penghasilan yang menjadi objek pemotongan PPh Pasal 23 ini. silahkan klik tulisan saya sebelumnya. persekutuan. tidak boleh dilupakan bahwa terdapat pengecualian penghasilan yang dipotong PPh Pasal 23. pelunasan Pajak Penghasilan perusahaan sewa guna usaha dengan hak opsi akan dilakukan dengan pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 25. Oleh karena itu atas bagian laba seperti ini tidak seharusnya dipotong Pajak Penghasilan Pasal 23. 5. Untuk itu Menteri Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 244/PMK. koperasi. atau badan usaha milik daerah.atau perkumpulan tenaga ahli. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank. Sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya. 1. . termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif. Penghasilan-penghasilan yang tidak dipotong PPh Pasal 23 ini dicantumkan dalam Pasal 23 ayat (4) Undang-undang Pajak Penghasilan 1984. 2. dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat tertentu. Berdasarkan Pasal 17 ayat (2c) dividen yang diterima oleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri dikenakan pemotongan PPh final sebesar 10% sehingga PPh Pasal 23 tidak melakukan pemotongan lagi terhadap jenis dividen ini. Undang-undang Pajak Penghasilan. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri. Untuk jasa lain. memberikan wewenang kepada Menteri Keuangan untuk mengatur lebih lanjut tentang jenis jasa lain ini dengan Peraturan Menteri Keuangan. Sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak opsi.03/2008 Tentang Jenis Jasa Lain Sebagaimana Dimaksud Dalam Pasal 23 Ayat (1) Huruf c Angka 2 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan Sebagaimana Telah Beberapa Kali Diubah Terakhir Dengan UndangUndang Nomor 36 Tahun 2008. 3. Bank akan melunasi Pajak Penghasilannya melalui pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 25. Bagian laba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf i Undang-undang Pajak Penghasilan. melalui Pasal 23 ayat (2). dan kongsi. firma. Dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f dan dividen yang diterima oleh orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2c) Undang-undang Pajak Penghasilan 1984. 4. bukan merupakan objek Pajak Penghasilan sehingga sewajarnya juga tidak dipotong PPh Pasal 23. badan usaha milik negara. perkumpulan.

PPh Pasal 23 yang dipotong oleh Pemotong PPh harus disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir. termasuk yang menggunakan pembiayaan berbasis syariah. kecil.6. • Tatacara Penyetoran dan Pelaporan PPh Pasal 23 Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 23 memiliki kewajiban melakukan penyetoran PPh Pasal 23 ke kas negara atas PPh Pasal 23 yang dipotong dari penerima penghasilan. Dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional. Adapun tempat pembayaran adalah Kantor Pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan sebagai tempat pembayaran pajak. Pelaporan dilakukan dengan menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPh Pasal 23. SSP dianggap sah jika telah divalidasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN). dan koperasi. menengah.03/2008 tentang Penghasilan Atas Jasa Keuangan Yang Dilakukan Oleh Badan Usaha Yang Berfungsi Sebagai Penyalur Pinjaman Dan/Atau Pembiayaan Yang Tidak Dilakukan Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23. Tatacara Penyetoran PPh Pasal 23 Berdasarkan ketentuan Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 80/PMK.03/2010 tanggal 1 April 2010 yang merupakan perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK. Atas pemotongan yang telah dilakukan salam suatu masa pajak. 1. pembayaran atau penyetoran pajak dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. Wajib Pajak sebagai pemotong pajak wajib melakukan pelaporan pemotongan PPh Pasal 23 yang telah dilakukan. penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa keuangan yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman dan/atau pembiayaan yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan Ketentuan lebih lanjut tentang hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 251/PMK. penghasilan sehubungan dengan jasa keuangan yang tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 23 adalah berupa bunga atau imbalan lain yang diberikan atas penyaluran pinjaman dan atau pemberian pembiayaan. Pembayaran dan penyetoran pajak harus dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) atau sarana administrasi lain yang disamakan dengan Surat Setoran Pajak. badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah yang khusus didirikan untuk memberikan sarana pembiayaan bagi usaha mikro. Dalam pengertian hari libur nasional termasuk hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama secara nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah. . termasuk PT (Persero) Permodalan Nasional Madani. Badan usaha jasa keuangan yang atas penghasilannya tidak dipotong PPh Pasal 23 ini terdiri dari : • perusahaan pembiayaan yang merupakan badan usaha di luar bank dan lembaga keuangan bukan bank yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan yang termasuk dalam bidang usaha lembaga pembiayaan dan telah memperoleh ijin usaha dari Menteri Keuangan. Berdasarkan ketentuan ini. Terhadap penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 23 kepadanya diberikan bukti pemotongan PPh Pasal 23.03/2007. SSP ini berfungsi sebagai bukti pembayaran pajak apabila telah disahkan oleh pejabat kantor penerima pembayaran yang berwenang atau apabila telah mendapatkan validasi.

2. hasilnya digunakan sendiri atau fihak lain.27/PJ/2010 tanggal 2 Juni 2010. Apabila masa pajak telah berakhir. untuk pemotongan PPh Pasal 23 bulan Oktober 2010. bukti pemotongan PPh Pasal 23 ini adalah bukti pelunasan PPh terutang dalam tahun tersebut yang nantinya akan dikreditkan dalam SPT Tahunannya. 5.03/2010 tanggal 22 Februari 2010 dan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER . dan/atau baja. 4. PPN Atas Kegiatan Membangun Sendiri Terima kasih Pak Sukisno atas pertanyaannya. diperuntukkan bagi tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha. beton. 3. Hal ini diatur dalam Pasal 16C Undangundang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009. Penjelasan saya di bawah ini mengacu kepada ketentuan-ketentuan tersebut di atas. Tatacara Pelaporan PPh Pasal 23 Pemotong PPh Pasal 23 wajib memberikan tanda bukti pemotongan PPh Pasal 23 kepada orang pribadi atau badan yang dipotong setiap melakukan pemotongan atau pemungutan. dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan. Contoh. Dalam hal batas akhir pelaporan di atas bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional. SPT Masa PPh Pasal 23 harus disampaikan paling lambat tanggal 20 Nopember 2010. dan luas keseluruhan paling sedikit 300 m2 (tiga ratus meter persegi). pemotong PPh Pasal 23 wajib melaporkan pemotongan yang telah dilakukan dalam masa pajak tersebut. pelaporan dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. Pelaporan ini dilakukan dengan menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 23/26 ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak pemotong PPh Pasal 23 terdaftar. • • • . Ruang Lingkup PPN Kegiatan Membangun Sendiri dikenakan atas kegiatan membangun sendiri yang memenuhi ruang lingkup berikut ini 1. berupa satu atau lebih konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada satu kesatuan tanah dan/atau perairan dengan kriteria : konstruksi utamanya terdiri dari kayu. Pengertian hari libur nasional termasuk hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama secara nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah. dilakukan oleh orang pribadi atau badan. pasangan batu bata atau bahan sejenis. Adapun ketentuan pelaksanaannya yang sekarang berlaku adalah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK. Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPh Pasal 23/26 harus disampaikan paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.2. Bagi penerima penghasilan. Memang benar bahwa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dikenakan atas kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain. terutang oleh orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri.

. jumlah PPN terutang tersebut paling lambat harus disetorkan ke Kas Negara melalui Bank atau Kantor Pos pada tanggal 15 Nopember 2010. misal bulan Oktober 2010. Dengan demikian.000. Dalam hal orang pribadi atau badan yang membangun sendiri bangunan untuk digunakan pihak lain tidak dapat menunjukkan bukti Surat Setoran Pajak asli Pajak Pertambahan Nilai atas kegiatan membangun sendiri. maka lembar ketiga SSP dilaporkan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Cimahi paling lambat tanggal 30 Nopember 2010 untuk contoh PPN terutang untuk bulan Oktober di atas. PPN yang terutang untuk bulan Oktober 2010 adalah 4% x Rp50. Cara perhitungan yang sama juga dilakukan pada bulan-bulan lainnya sepanjang masa pembangunan rumah masih berlangsung.000. Melanjutkan contoh sebelumnya di mana pada bulan Oktober 2010 terutang PPN sebesar Rp2. Besarnya DPP adalah 40% dari jumlah biaya yang dikeluarkan dan/atau yang dibayarkan untuk membangun bangunan.000. jika rumah yang akan dibangun luasnya kurang dari 300 m2 maka tidak terdapat kewajiban membayar PPN. Dengan demikian.000.-. PPN atas kegiatan membangun sendiri dibayarkan setiap bulan dan tidak menunggu sampai bangunan selesai dibangun. Misalnya saja luas rumah yang akan dibangun luasnya adalah 350 m2 sehingga terutang PPN. Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak Pajak Pertambahan Nilai terutang atas kegiatan membangun sendiri dihitung dengan cara mengalikan tarif 10% dengan Dasar Pengenaan Pajak (DPP).-.000. pasir.atau sama dengan Rp2. Misalnya jika bangunan rumah yang akan dibangun pak Sukisno berlokasi di Cimahi. Tatacara Pembayaran dan Pelaporan Pembayaran PPN terutang dilakukan setiap bulan sebesar 10% dikalikan dengan 40% (atau sama dengan 4%) dikalikan dengan jumlah biaya yang dikeluarkan dan/atau yang dibayarkan pada setiap bulannya sebagaimana dicontohkan di atas. orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri wajib menyerahkan bukti Surat Setoran Pajak asli Pajak Pertambahan Nilai atas kegiatan membangun sendiri kepada pihak lain yang menggunakan bangunan tersebut. jika bangunan rumah yang akan didirikan pak Sukisno luasnya 300 m2 atau lebih maka memang pak Sukisno mempunyai kewajiban membayar PPN atas kegiatan membangun rumah tersebut.Nah. tidak termasuk harga perolehan tanah. Sebaliknya. .000. Bangunan Digunakan Fihak Lain Dalam hal bangunan sebagai hasil kegiatan membangun sendiri digunakan oleh pihak lain sebagai tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha. pak Sukisno membeli material bangunan (semen. PPN terutang tersebut wajib disetor ke Kas Negara melalui Kantor Pos atau Bank Persepsi paling lama tanggal 15 bulan berikutnya setelah berakhirnya masa pajak. tidak termasuk harga perolehan tanah. Dalam suatu bulan.000.000.-. pihak lain yang menggunakan bangunan tersebut bertanggung jawab secara renteng atas pembayaran Pajak Pertambahan Nilai yang terutang. Orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri wajib melaporkan penyetoran PPN yang terutang kepada Kantor Pelayanan Pajak yang wilayahnya meliputi tempat bangunan tersebut dengan mempergunakan lembar ketiga Surat Setoran Pajak (SSP) paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya masa pajak. tarif efektifnya adalah 4% dari jumlah biaya yang dibayarkan dan/atau dikeluarkan. batu bata dan lain-lain) serta upah tukang dengan jumlah seluruhnya Rp50.

SKPKB PPh Pasal 21 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKB PPh Pasal 21. Putusan Banding. PPh Pasal 21 atas untuk kekurangan pembayaran pajak yang masih harus disetor yang penghentian penyidikan tercantum dalam SPT PPh Pasal 21 atas penghentian penyidikan tindak pidana tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B ayat (2) Undang-Undang KUP. PNS. SKPKB PPh Final Pasal 21 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang Pembayaran Sekaligus tercantum dalam SKPKB PPh Final Pasal 21 pembayaran sekaligus Atas Jaminan Hari Tua. Negara. Pesangon. Uang Tebusan Pensiun. Putusan Banding atau Putusan Peninjauan Kembali. Sanksi administrasi berupa untuk pembayaran sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan. Pembayaran Pendahuluan untuk pembayaran pajak sebelum diterbitkan surat ketetapan pajak skp PPh Pasal 21 PPh Pasal 21. dan Uang Uang Tebusan Pensiun. Pesangon. . sekaligus atas Jaminan Hari Tua. atau Putusan Peninjauan Kembali PPh Final Pasal 21 untuk pembayaran PPh Final Pasal 21 pembayaran sekaligus atas Pembayaran Sekaligus Jaminan Hari Tua. atas Jaminan Hari Tua. Surat Keputusan Surat Keputusan Keberatan. dan Uang Pesangon Pembayaran atas Surat untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang Keputusan Pembetulan. Keberatan. SKPKBT PPh Final Pasal untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang 21 Pembayaran Sekaligus tercantum dalam SKPKBT PPh Final Pasal 21 pembayaran Atas Jaminan Hari Tua. Uang Tebusan Pensiun. Tahunan PPh Pasal 21 untuk pembayaran pajak yang masih harus disetor yang tercantum dalam SPT Tahunan PPh Pasal 21.Kode Akun Pajak dan Kode Jenis Setoran Pajak Kode Akun Pajak 411121 Untuk Jenis Pajak PPh Pasal 21 KODE JENIS SETORAN JENIS SETORAN 100 Masa PPh Pasal 21 KETERANGAN 199 200 300 310 311 320 321 390 401 402 500 501 510 untuk pembayaran pajak yang masih harus disetor yang tercantum dalam SPT Masa PPh Pasal 21 termasuk SPT pembetulan sebelum dilakukan pemeriksaan. Uang Tebusan Pensiun. PNS. dan Uang Pesangon. dan Uang Pesangon SKPKBT PPh Pasal 21 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKBT PPh Pasal 21. STP PPh Pasal 21 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam Surat Tagihan Pajak (STP) PPh Pasal 21. anggota lain yang diterima Pejabat TNI/POLRI dan para pensiunnya. Uang Tebusan Pensiun dan Uang Uang Tebusan Pensiun. tercantum dalam Surat Keputusan Pembetulan. anggota TNI/POLRI dan para pensiunnya PPh Pasal 21 atas untuk kekurangan pembayaran pajak yang masih harus disetor yang pengungkapan tercantum dalam SPT PPh Pasal 21 atas pengungkapan ketidakbenaran ketidakbenaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) atau Pasal 8 ayat (5) Undang-Undang KUP. dan Uang Pesangon PPh Final Pasal 21 atas untuk pembayaran PPh Final Pasal 21 atas honorarium atau honorarium atau imbalan imbalan lain yang diterima Pejabat Negara. Atas Jaminan Hari Tua.

perpajakan Kode Akun Pajak 411122 Untuk Jenis Pajak PPh Pasal 22 KODE JENIS SETORAN JENIS SETORAN 100 Masa PPh Pasal 22 KETERANGAN 199 300 310 311 320 321 390 401 403 500 501 510 511 untuk pembayaran pajak yang harus disetor yang tercantum dalam SPT Masa PPh Pasal 22 termasuk SPT pembetulan sebelum dilakukan pemeriksaan. SKPKBT PPh Pasal 22 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKBT PPh Pasal 22. Putusan Banding atau Putusan Peninjauan Kembali PPh Final Pasal 22 atas untuk pembayaran PPh Final Pasal 22 atas Penebusan Migas. SPT PPh Pasal 21 Sanksi denda administrasi untuk pembayaran sanksi administrasi berupa denda. atas berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan penghentian penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B ayat (2) Undang-Undang . Putusan Banding. Keberatan. SKPKBT PPh Final Pasal 22 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKBT PPh Final Pasal 22. SPT Masa PPh Pasal 22 Sanksi denda administrasi untuk pembayaran sanksi administrasi berupa denda. Pembayaran atas Surat untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang Keputusan Pembetulan. STP PPh Pasal 22 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam STP PPh Pasal 22. SKPKB PPh Pasal 22 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKB PPh Pasal 22. Penebusan Migas PPh Final Pasal 22 atas untuk pembayaran PPh Final Pasal 22 atas Penjualan Barang yang Penjualan Barang yang Tergolong Sangat Mewah Tergolong Sangat Mewah PPh Pasal 22 atas untuk kekurangan pembayaran pajak yang masih harus disetor pengungkapan yang tercantum dalam SPT Masa PPh Pasal 22 atas ketidakbenaran pengungkapan ketidakbenaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) atau Pasal 8 ayat (5) Undang-Undang KUP.511 denda atau kenaikan atas atas pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT PPh Pasal 21 pengungkapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) atau Pasal 8 ayat (5) ketidakbenaran pengisian Undang-Undang KUP. Pembayaran Pendahuluan untuk pembayaran pajak sebelum diterbitkan surat ketetapan pajak skp PPh Pasal 22 PPh Pasal 22. Sanksi administrasi berupa untuk pembayaran sanksi administrasi berupa denda atau denda atau kenaikan atas kenaikan. Surat Keputusan Surat Keputusan Keberatan. atas pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT Masa pengungkapan PPh Pasal 22 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) atau ketidakbenaran pengisian Pasal 8 ayat (5) Undang-Undang KUP. atau Putusan Peninjauan Kembali. atas berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan penghentian penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B ayat (2) Undang-Undang tindak pidana di bidang KUP. PPh Pasal 22 atas untuk kekurangan pembayaran pajak yang masih harus disetor penghentian penyidikan yang tercantum dalam SPT Masa PPh Pasal 22 atas penghentian tindak pidana penyidikan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B ayat (2) Undang-Undang KUP. SKPKB PPh Final Pasal 22 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKB PPh Final Pasal 22. tercantum dalam Surat Keputusan Pembetulan.

perpajakan Pemungut PPh Pasal 22 untuk pembayaran PPh Pasal 22 yang dipungut oleh Pemungut. atas pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT Masa pengungkapan PPh atas pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT Masa PPh ketidakbenaran pengisian Pasal 22 Impor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) SPT Masa PPh Pasal 22 atau Pasal 8 ayat (5) Undang-Undang KUP. atau Putusan Peninjauan Kembali PPh Pasal 22 Impor atas untuk kekurangan pembayaran pajak yang masih harus disetor pengungkapan yang tercantum dalam SPT Masa PPh Pasal 22 atas pengungkapan ketidakbenaran atas transaksi Impor sebagaimana ketidakbenaran dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3). Sanksi administrasi berupa untuk pembayaran sanksi administrasi berupa denda atau denda atau kenaikan atas kenaikan. dan jasa) yang tercantum dalam SPT Masa PPh Pasal 23 termasuk SPT pembetulan sebelum dilakukan pemeriksaan. atas berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan penghentian penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B ayat (2) Undang-Undang tindak pidana di bidang KUP. bunga. Pembayaran Pendahuluan untuk pembayaran pajak sebelum diterbitkan surat ketetapan pajak skp PPh Pasal 22 Impor PPh Pasal 22 Impor. atau Putusan Peninjauan Kembali. SKPKBT PPh Pasal 22 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang Impor tercantum dalam SKPKBT PPh Pasal 22 atas transaksi impor. perpajakan Kode Akun Pajak 411124 Untuk Jenis Pajak PPh Pasal 23 KODE JENIS SETORAN JENIS SETORAN 100 Masa PPh Pasal 23 KETERANGAN 101 PPh Pasal 23 atas Dividen untuk pembayaran PPh Pasal 23 yang harus disetor (selain PPh Pasal 23 atas dividen. Kode Akun Pajak 411123 Untuk Jenis Pajak PPh Pasal 22 Impor KODE JENIS SETORAN JENIS SETORAN 100 Masa PPh Pasal 22 Impor KETERANGAN 199 300 310 320 390 500 501 510 511 untuk pembayaran pajak yang harus disetor yang tercantum dalam SPT Masa PPh Pasal 22 atas transaksi impor termasuk SPT pembetulan sebelum dilakukan pemeriksaan.900 tindak pidana di bidang KUP. Surat Keputusan Surat Keputusan Keberatan. Putusan Banding. tercantum dalam Surat Keputusan Pembetulan. royalti. STP PPh Pasal 22 Impor untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam STP PPh Pasal 22 atas transaksi impor. Pembayaran atas Surat untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang Keputusan Pembetulan. PPh Pasal 22 Impor atas untuk kekurangan pembayaran pajak yang masih harus disetor penghentian penyidikan yang tercantum dalam SPT Masa PPh Pasal 22 atas penghentian tindak pidana penyidikan tindak pidana atas transaksi Impor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B ayat (2) Undang-Undang KUP. atau Pasal 8 ayat (5) UndangUndang KUP. Impor Sanksi denda administrasi untuk pembayaran sanksi administrasi berupa denda. SKPKB PPh Pasal 22 Impor untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKB PPh Pasal 22 atas transaksi impor. Putusan Banding. untuk pembayaran PPh Pasal 23 yang harus disetor atas dividen . Keberatan.

atau Putusan Peninjauan Kembali. Putusan Banding. royalti dan jasa). Koperasi PPh Pasal 23 atas untuk kekurangan pembayaran pajak yang masih harus disetor pengungkapan yang tercantum dalam SPT Masa PPh Pasal 23 atas ketidakbenaran pengungkapan ketidakbenaran (termasuk PPh Pasal 23 atas dividen. Royalti. bunga. bunga. atau Putusan Peninjauan Kembali PPh Final Pasal 23 atas untuk pembayaran PPh Final Pasal 23 atas bunga simpanan Bunga Simpanan Anggota anggota koperasi. royalti. dan jasa). bunga. STP PPh Pasal 23 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam STP PPh Pasal 23 (selain STP PPh Pasal 23 atas dividen. royalti. dan jasa) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3). PPh Pasal 23 atas Royalti untuk pembayaran PPh Pasal 23 yang harus disetor atas royalti yang dibayarkan kepada Wajib Pajak dalam negeri yang tercantum dalam SPT Masa PPh Pasal 23. Putusan Banding. Sanksi administrasi berupa untuk pembayaran sanksi administrasi berupa denda atau denda atau kenaikan atas kenaikan. atau Pasal 8 ayat (5) Undang-Undang KUP. PPh Pasal 23 atas untuk kekurangan pembayaran pajak yang masih harus disetor penghentian penyidikan yang tercantum dalam SPT PPh Pasal 23 atas penghentian tindak pidana penyidikan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B ayat (2) Undang-Undang KUP. Jasa royalti. Bunga. bunga. royalti. Bunga. Bunga. SKPKB PPh Final Pasal 23 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKB PPh Final Pasal 23. dan jasa. SKPKB PPh Pasal 23 atas untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang Dividen. SKPKBT PPh Pasal 23 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKBT PPh Pasal 23 (selain SKPKBT PPh Pasal 23 atas dividen. PPh Pasal 23 atas Jasa untuk pembayaran PPh Pasal 23 yang harus disetor atas jasa yang dibayarkan kepada Wajib Pajak dalam negeri yang tercantum dalam SPT Masa PPh Pasal 23. Jasa royalti. Pembayaran Pendahuluan untuk pembayaran pajak sebelum diterbitkan surat ketetapan skp PPh Pasal 23 pajak PPh Pasal 23. dan tercantum dalam STP PPh Pasal 23 atas dividen.102 103 104 199 300 301 310 311 312 320 321 322 390 401 500 501 510 yang dibayarkan kepada Wajib Pajak Badan dalam negeri yang tercantum dalam SPT Masa PPh Pasal 23. atas pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT pengungkapan Masa PPh Pasal 23 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat ketidakbenaran pengisian (3) dan Pasal 8 ayat (5)Undang-Undang KUP. bunga. Pembayaran atas Surat untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang Keputusan Pembetulan. SKPKB PPh Pasal 23 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKB PPh Pasal 23 (selain SKPKB PPh pasal 23 atas dividen. bunga. SPT Masa PPh Pasal 23 . Royalti. royalti. dan tercantum dalam SKPKBT PPh Pasal 23 atas dividen. PPh Pasal 23 atas Bunga untuk pembayaran PPh Pasal 23 yang harus disetor atas bunga (termasuk premium. Keberatan. Jasa dan jasa. bunga. diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian utang) yang dibayarkan kepada Wajib Pajak dalam negeri yang tercantum dalam SPT Masa PPh Pasal 23. STP PPh Pasal 23 atas untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang Dividen. SKPKBT PPh Final Pasal 23 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKBT PPh Final Pasal 23. tercantum dalam Surat Keputusan Pembetulan. Royalti. dan tercantum dalam SKPKB PPh Pasal 23 atas dividen. dan jasa). dan jasa. SKPKBT PPh Pasal 23 atas untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang Dividen. Surat Keputusan Surat Keputusan Keberatan.

501 PPh Orang Pribadi atas untuk kekurangan pembayaran pajak yang masih harus disetor penghentian penyidikan yang tercantum dalam SPT PPh Orang Pribadi atas penghentian tindak pidana penyidikan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B ayat (2) Undang-Undang KUP. Surat Keputusan Surat Keputusan Keberatan. tercantum dalam Surat Keputusan Pembetulan. perpajakan Kode Akun Pajak 411125 Untuk Jenis Pajak PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi KODE JENIS SETORAN KETERANGAN JENIS SETORAN 100 Masa PPh Pasal 25 Orang untuk pembayaran Masa PPh Pasal 25 Orang Pribadi yang Pribadi terutang. SPT PPh Orang Pribadi 511 Sanksi denda administrasi untuk pembayaran sanksi administrasi berupa denda. atas berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan penghentian penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B ayat (2) Undang-Undang tindak pidana di bidang KUP. Keberatan.511 Sanksi denda administrasi untuk pembayaran sanksi administrasi berupa denda. atau Putusan Peninjauan Kembali 500 PPh Orang Pribadi atas untuk kekurangan pembayaran pajak yang masih harus disetor pengungkapan yang tercantum dalam SPT PPh Orang Pribadi atas pengungkapan ketidakbenaran ketidakbenaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) atau Pasal 8 ayat (5) Undang-Undang KUP. 510 Sanksi administrasi berupa untuk pembayaran sanksi administrasi berupa denda atau denda atau kenaikan atas kenaikan. 320 SKPKBT PPh Orang Pribadi untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKBT PPh Orang Pribadi. perpajakan Kode Akun Pajak 411126 Untuk Jenis Pajak PPh Pasal 25/29 Badan KODE JENIS SETORAN KETERANGAN JENIS SETORAN 100 Masa PPh Pasal 25 Badan untuk pembayaran Masa PPh Pasal 25 Badan yang terutang. 310 SKPKB PPh Orang Pribadi untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKB PPh Orang Pribadi. 390 Pembayaran atas Surat untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang Keputusan Pembetulan. 101 Masa PPh Pasal 25 Orang untuk pembayaran Masa PPh Pasal 25 Orang Pribadi Pengusaha Pribadi Pengusaha Tertentu Tertentu yang terutang. Putusan Banding. Putusan Banding. atas berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan penghentian penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B ayat (2) Undangtindak pidana di bidang Undang KUP. 300 STP PPh Orang Pribadi untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam STP PPh Orang Pribadi. 199 Pembayaran Pendahuluan untuk pembayaran pajak sebelum diterbitkan surat ketetapan pajak skp PPh Orang Pribadi PPh Orang Pribadi. 199 Pembayaran Pendahuluan untuk pembayaran pajak sebelum diterbitkan surat ketetapan . atas pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT PPh pengungkapan Orang Pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) dan ketidakbenaran pengisian Pasal 8 ayat (5) Undang-Undang KUP. 200 Tahunan PPh Orang Pribadi untuk pembayaran pajak yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SPT Tahunan PPh Orang Pribadi termasuk SPT pembetulan sebelum dilakukan pemeriksaan. atau Putusan Peninjauan Kembali.

312 SKPKB PPh Final Pasal 19 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKB PPh Final Pasal 19. 322 SKPKBT PPh Final Pasal 19 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKBT PPh Final Pasal 19. Keberatan. tercantum dalam Surat Keputusan Pembetulan. 310 SKPKB PPh Final Pasal 4 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang ayat (2) tercantum dalam SKPKB PPh Final Pasal 4 ayat (2). 320 SKPKBT PPh Final Pasal 4 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang ayat (2) tercantum dalam SKPKBT PPh Final Pasal 4 ayat (2). atas berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan penghentian penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B ayat (2) Undangtindak pidana di bidang Undang KUP. atau Putusan Peninjauan Kembali PPh Badan atas untuk kekurangan pembayaran pajak yang masih harus disetor pengungkapan yang tercantum dalam SPT PPh Badan atas pengungkapan ketidakbenaran ketidakbenaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) atau Pasal 8 ayat (5) Undang-Undang KUP. PPh Badan atas penghentian untuk kekurangan pembayaran pajak yang masih harus disetor penyidikan tindak pidana yang tercantum dalam SPT PPh Badan atas penghentian penyidikan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B ayat (2) Undang-Undang KUP. Sanksi administrasi berupa untuk pembayaran sanksi administrasi berupa denda atau denda atau kenaikan atas kenaikan. SKPKBT PPh Badan untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKBT PPh Badan. SKPKB PPh Badan untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKB PPh Badan. tercantum dalam Surat Keputusan Pembetulan. Surat Keputusan Surat Keputusan Keberatan. SPT PPh Badan Sanksi denda administrasi untuk pembayaran sanksi administrasi berupa denda. 321 SKPKBT PPh Final Pasal 15 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKBT PPh Final Pasal 15.200 skp PPh Badan Tahunan PPh Badan 300 310 320 390 500 501 510 511 pajak PPh Badan. Pembayaran atas Surat untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang Keputusan Pembetulan. untuk pembayaran pajak yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SPT Tahunan PPh Badan termasuk SPT pembetulan sebelum dilakukan pemeriksaan. 390 Pembayaran atas Surat untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang Keputusan Pembetulan. Surat Keputusan . Putusan Banding. Putusan Banding. atas pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT PPh pengungkapan Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) dan Pasal 8 ketidakbenaran pengisian ayat (5) Undang-Undang KUP. 311 SKPKB PPh Final Pasal 15 untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam SKPKB PPh Final Pasal 15. atau Putusan Peninjauan Kembali. STP PPh Badan untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar yang tercantum dalam STP PPh Badan. perpajakan Kode Akun Pajak 411128 Untuk Jenis Pajak PPh Final KODE JENIS SETORAN KETERANGAN JENIS SETORAN 199 Pembayaran Pendahuluan untuk pembayaran pajak sebelum diterbitkan surat ketetapan skp PPh Final pajak PPh Final. 300 STP PPh Final untuk pembayaran jumlah yang masih harus dibayar/disetor yang tercantum dalam STP PPh Final.

Penerbangan Luar Negeri PPh Final Pasal 15 atas untuk pembayaran PPh Final Pasal 15 atas penghasilan Penghasilan Perwakilan perwakilan dagang luar negeri. Dagang Luar Negeri PPh Final Pasal 15 atas Pola untuk pembayaran PPh Final Pasal 15 atas pola bagi hasil. saham. atau Putusan Peninjauan Kembali PPh Final Pasal 4 ayat (2) untuk pembayaran PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas diskonto/bunga atas Diskonto/Bunga Obligasi obligasi dan Surat Utang Negara dan Surat Utang Negara PPh Final Pasal 4 ayat (2) untuk pembayaran PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Pengalihan atas Pengalihan Hak atas Hak atas Tanah dan/atau Bangunan Tanah dan/atau Bangunan PPh Final Pasal 4 ayat (2) untuk pembayaran PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Persewaan atas Persewaan Tanah Tanah dan/atau Bangunan. Putusan Banding. Bagi Hasil PPh Final Pasal 15 atas untuk pembayaran PPh Final Pasal 15 atas kerjasama bentuk Kerjasama Bentuk BOT BOT. Jasa Giro dan Diskonto SBI PPh Final Pasal 4 ayat (2) untuk pembayaran PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas hadiah undian. PPh Final Pasal 19 atas untuk pembayaran PPh Final Pasal 19 atas revaluasi aktiva tetap. PPh Final Pasal 15 atas Jasa untuk pembayaran PPh Final Pasal 15 atas jasa pelayaran dalam Pelayaran Dalam Negeri negeri. PPh Final Pasal 4 ayat (2) untuk pembayaran PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas penjualan atas Penjualan Saham Saham Pendiri. Perusahaan Modal Ventura PPh Final Pasal 4 ayat (2) untuk pembayaran PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas jasa atas Jasa Konstruksi konstruksi. dan/atau Bangunan PPh Final Pasal 4 ayat (2) untuk pembayaran PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas bunga atas Bunga Deposito / deposito/tabungan. atau Putusan Peninjauan Kembali. atas Hadiah Undian PPh Final Pasal 4 ayat (2) untuk pembayaran PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas transaksi atas Transaksi Saham.401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 413 414 415 416 417 418 419 499 Surat Keputusan Keberatan. Keberatan. obligasi dan sekuritas lainnya. PPh Final Pasal 15 atas Jasa untuk pembayaran PPh Final Pasal 15 atas jasa pelayaran Pelayaran dan/atau dan/atau penerbangan luar negeri. Putusan Banding. Tabungan. dan di Bursa. Obligasi dan sekuritas lainnya di Bursa. jasa giro dan diskonto SBI. Pendiri PPh Final Pasal 4 ayat (2) untuk pembayaran PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas penjualan atas Penjualan Saham Milik saham milik Perusahaan Modal Ventura. Revaluasi Aktiva Tetap PPh Final Pasal 4 ayat (2) untuk Pembayaran PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Bunga atas Bunga Simpanan Simpanan Anggota Koperasi yang Dibayarkan kepada Orang Anggota Koperasi yang Pribadi Dibayarkan kepada Orang Pribadi PPh Final Pasal 4 ayat (2) untuk pembayaran PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas penghasilan atas penghasilan dari yang diterima dan/atau yang diterima dan/atau diperoleh orang transaksi derivatif yang pribadi atau badan dari transaksi derivatif yang diperdagangkan di diperdagangkan di bursa bursa PPh Final Pasal 17 ayat (2c) untuk pembayaran PPh Final Pasal 17 ayat (2c) atas dividen yang atas penghasilan berupa diterima atau diperoleh Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri dividen PPh Final Lainnya untuk pembayaran PPh Final lainnya .

dan SPT Masa PPN 1107 PUT.45 /PJ/2010 tentang Bentuk. SPT Masa PPN 1111. Ketentuan mengenai bentuk formulir SPT Masa PPN tersebut diatur masing-masing oleh: • SPT Masa PPN 1111. SPT PPh Final Sanksi denda administrasi atau untuk pembayaran sanksi administrasi berupa denda. dan Tata Cara Pengisian serta Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) Bagi Pengusaha Kena Pajak Yang Menggunakan Pedoman Penghilungan Pengkreditan Pajak Masukan. yang digunakan oleh PKP yang menggunakan mekanisme Pajak Masukan dan Pajak Keluaran (Normal) Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER. Sanksi administrasi berupa untuk pembayaran sanksi administrasi berupa denda atau denda atau kenaikan atas kenaikan. • SPT Masa PPN 1111 DM. lsi. sehingga dengan demikian mulai Masa Pajak Januari 2011 akan dikenal 3 (tiga) jenis SPT Masa PPN yaitu: 1. 3. dan Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE. Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE99/PJ/2010. PPh Final atas penghentian untuk kekurangan pembayaran pajak yang masih harus disetor penyidikan tindak pidana yang tercantum dalam SPT PPh Final atas penghentian penyidikan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B ayat (2) Undang-Undang KUP. Bentuk. dan Tata Cara Pengisian serta Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN). yang digunakan oleh PKP yang menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan. atas berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan penghentian penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B ayat (2) Undangtindak pidana di bidang Undang KUP. lsi. atas pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT PPh pengungkapan Final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) atau Pasal 8 ketidakbenaran pengisian ayat (5) Undang-Undang KUP. . lsi.44 /PJ/2010 tentang Benluk.98/PJ/2010. SPT Masa PPN 1111 DM. dan Tata Cara Pengisian SPT Masa PPN 1111 Mulai 1 Januari 2011 bentuk dan tata cata penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) mengalami perubahan dimana bentuk formulir SPT Masa PPN yang baru disebut dengan SPT Masa PPN 1111 dan SPT Masa PPN 1111 DM. perpajakan. yang digunakan oleh Pemungut PPN.500 PPh Final pengungkapan ketidakbenaran 501 510 511 atas untuk kekurangan pembayaran pajak yang masih harus disetor yang tercantum dalam SPT PPh Final atas pengungkapan ketidakbenaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) atau Pasal 8 ayat (5) Undang-Undang KUP. SPT Masa PPN 1111 berlaku mulai Masa Pajak Januari 2011. yang digunakan oleh PKP yang menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER. yang digunakan oleh PKP yang menggunakan mekanisme Pajak Masukan dan Pajak Keluaran (Normal). 2.

pdf. terdapat petunjuk pencetakan yang harus diikuti.10).32.1.Faktur Pajak yang dilaporkan secara gunggungan adalah Faktur Pajak yang tidak diisi dengan identitas pembeli serta nama dan tanda tangan penjual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf e angka 2) Undang-Undang KUP. dengan memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut: Dicetak dengan menggunakan kertas foliolF4 dengan be rat minimal 70 gram Pengaturan ukuran kertas pad a printer menggunakan ukuran kertas (paper size) 8. Formulir 1111 A2 – Daftar Pajak Keluaran atas Penyerahan Oalam Negeri dengan Faktur Pajak (0. Formulir 1111 B 1 – Daftar Pajak Masukan yang Dapat Dikreditkan atas Impor BKP dan Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud/JKP dari Luar Daerah Pabean (0. Formulir 1111 A 1 – Daftar Ekspor BKP Berwujud.2.2.1. 4.1. Formulir 1111 B2 – Daftar Pajak Masukan yang Dapat Dikreditkan atas Perolehan BKP/JKP Dalam Negeri (0.32.SPT Masa PPN 1111 SPT Masa PPN 1111 digunakan oleh PKP yang menggunakan mekanisme Pajak Masukan dan Pajak Keluaran (Normal) selain PKP yang menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan yang terdiri dari a. Tidak menggunakan printer dotmatrix. BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP (0. Formulir 1111 AB – Rekapitulasi Penyerahan dan Perolehan (0.32.1.09).07). 3.12).32.2.1.5 x 13 inci (215 x 330 mm).2.1. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengisian dan penyampaian SPT Masa PPN 1111. • Formulir SPT Masa PPN 1111 dalam bentuk file PDF terlebih dahulu dicetak.32. 5.11).1.32. menandatanganinya kemudian menyampaikannya ke KPP atau KP2KP. Induk SPT Masa PPN 1111. Faktur Pajak dan Nota Retur • Faktur Pajak yang diisikan dalam Formulir 1111 A2 – Daftar Pajak Keluaran atas Penyerahan Dalam Negeri dengan Faktur Pajak. selanjutnya PKP dapat mengisi formulir SPT Masa PPN 1111 tersebut. namun PKP tersebut juga melakukan penyerahan yang Faktur Pajaknya: . Penggunaan formulir SPT Masa PPN 1111 dalam bentuk PDF • PKP dapat mencetak/print formulir SPT Masa PPN 1111 langsung dari file PDF yang telah disediakan. 2. Dalam hal PKP merupakan pedagang eceran.2. dan b. yang tersimpan dalam bentuk file PDF dengan nama readme. adalah Faktur Pajak selain yang digunggung yang dilaporkan dalam Formulir 1111 AB – Rekapitulasi Penyerahan dan Perolehan pada butir I huruf B angka 2. dan Formulir 1111 B3 – Daftar Pajak Masukan yang Tidak Dapat Oikreditkan atau yang Mendapat Fasilitas (0. Lampiran SPT Masa PPN 1111: 1. 6.08).32.2.2. • • • Di samping pedoman tersebut.04).Formulir 1111 (F.

sebesar jumlah yang tidak dapat dikreditkan. Pada bulan Mei. Selanjutnya sesuai ketentuan. PKP wajib menyampaikan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Februari 2011 dalam bentuk data elektronik. Dalam hal demikian. Dalam hal Nota Retur tersebut terkait dengan Faktur Pajak yang dapat dikreditkan. PKP melakukan penyesuaian setiap akhir tahun sampai dengan selesainya masa manfaat BKP/JKP terkait dalam Formulir 1111 AB butir III huruf B angka 3 – Hasil Penghitungan Kembali Pajak Masukan yang telah dikreditkan sebagai penambah (pengurang) Pajak Masukan. PKP dalam SPT Masa PPN Masa Pajak Januari sampai dengan Mei 2011 melaporkan Faktur Pajak yang diterbitkan dan nota retur yang diterima dalam Formulir 1111 A2 pada setiap masa tidak melebihi 25 dokumen. dilaporkan di 2 (dua) tempat. tidak diperbolehkan lagi untuk menyampaikan SPT Masa PPN 1111 dalam bentuk formulir kertas (hard copy). PKP melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Februari 2011 yang mengakibatkan dokumen yang dilaporkan dalam Formulir 1111 A2 lebih dari 25. Sebagai contoh.• • diisi lengkap sesuai dengan Pasal13 ayat (5) Undang-Undang PPN. PKP wajib menyampaikan SPT Masa PPN 1111 dalam bentuk data elektronik. PKP melaporkan Faktur Pajak dimaksud dalam Formulir 1111 A2 – Daftar Pajak Keluaran atas Penyerahan Dalam Negeri dengan Faktur Pajak. Faktur Pajak Khusus tersebut dilaporkan dalam Formulir 1111 A2 – Daftar Pajak Keluaran atas Penyerahan Dalam Negeri dengan Faktur Pajak dan PKP Toko Retail tersebut tidak perlu membuat rincian penyerahan BKP kepada orang pribadi pemegang paspor luar negeri. • Nota Retur yang dilaporkan dalam Lampiran SPT Masa PPN 1111 dikaitkan dengan Faktur Pajaknya. Dalam hal PKP menerbitkan Nota Retur yang terkait dengan Faktur Pajak yang tidak dapat dikreditkan atau mendapat fasilitas. sebesar jumlah yang dapat dikreditkan dan di Formulir 1111 B3 – Daftar Pajak Masukan yang Tidak Dapat Dikreditkan atau yang Mendapat Fasilitas. • Faktur Pajak Khusus yang menggunakan kode transaksi ’06′ yang diterbitkan oleh PKP Toko Retail yang ditunjuk yang melakukan penyerahan BKP kepada orang pribadi pemegang paspor luar negeri semula dilaporkan secara gunggungan pada butir III – Penyerahan Dalam Negeri dengan Faktur Pajak Sederhana dalam Lampiran 1 – Daftar Pajak Keluaran dan PPnBM Formulir 1107 A sedangkan rinciannya dilaporkan dalam lampiran SPT Masa PPN yaitu Daftar Rincian Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) kepada Orang Pribadi Pemegang Paspor Luar NegeriDalam SPT Masa PPN 1111. Untuk masa pajak berikutnya yaitu Masa Pajak Juni 2011. dan menggunakan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak yang strukturnya mengikuti ketentuan dalam peraturan mengenai Faktur Pajak. yaitu di Formulir 1111 B2 – Daftar Pajak Masukan yang Dapat Dikreditkan atas Perolehan BKP/JKP Dalam Negeri. maka Nota Retur tersebut dilaporkan dalam Formulir 1111 B3 – Daftar Pajak Masukan yang Tidak Dapat Dikreditkan atau yang Mendapat Fasilitas. . dan/atau tidak diisi dengan identitas pembeli sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) huruf b Undang-Undang PPN. Penyampaian SPT Masa PPN 1111 PKP yang telah menyampaikan SPT Masa PPN 1111 dalam bentuk data elektronik. • Faktur Pajak atas perolehan BKP/JKP yang diterima oleh PKP yang melakukan penyerahan yang terutang dan tidak terutang pajak. maka Nota Retur tersebut dilaporkan dalam Formulir 1111 B2 – Daftar Pajak Masukan yang Dapat Dikreditkan atas Perolehan BKP/JKP Dalam Negeri.

000 (kurs) = 15% X 2000 X Kurs = 2.000 HPE-nya = USD.Pembetulan SPT Masa PPN 1111 Dalam hal PKP melakukan pembetulan SPT Masa PPN untuk Masa Pajak sebelum Masa Pajak Januari 2011. pembetulan dilakukan dengan menggunakan formulir SPT Masa PPN yang sama dengan formulir SPT Masa PPN yang dibetulkan.000 (Dua juta tujuh ratus ribu rupiah) Pembayaran menggunakan blanko STBS (Surat Tanda Bukti Setor) .200/M3 PE-nya = 15% Maka rumus perhitungannya adalah = PE * (HPE * Jumlah_kubikasi) * KursPajak = 15% X (US$ 200 X 10 M3) X 9. Nilai invoice = USD. Namun apabila PKP pada Masa Pajak April tersebut menggunakan Formulir 1108.700. pembetulannya menggunakan Formulir 1107. Sebagai contoh. PKP yang melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak April 2009 yang SPT Normalnya menggunakan Formulir 1107. 7. maka pembetulannya menggunakan Formulir 1108. Untuk menghitung pajak ekspor adalah sbb : Ketahui dulu : NI : Nilai invoice / Faktur barang HPE : Harga Patokan Ekspor (sesuai permendag) PE : Tarip Pajak Ekspor (sesuai permendag) Kurs : Kurs minggu ini yang berlaku (sesuai kepmenkeu) Contoh : Anda akan ekspor kayu albasia (jenis tanaman rakyat)sbb : Jumlah = 10 M3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->