P. 1
Pandangan Tiga Tokoh Utama Wanita Tentang Emansipasi Dalam Novel Tiga Orang Perempuan Karya Maria a. Sardjono

Pandangan Tiga Tokoh Utama Wanita Tentang Emansipasi Dalam Novel Tiga Orang Perempuan Karya Maria a. Sardjono

|Views: 2,092|Likes:
Published by adee13
Pandangan Tiga Tokoh Utama Wanita Tentang Emansipasi Dalam Novel Tiga Orang Perempuan Karya Maria a. Sardjono
Pandangan Tiga Tokoh Utama Wanita Tentang Emansipasi Dalam Novel Tiga Orang Perempuan Karya Maria a. Sardjono

More info:

Published by: adee13 on Jan 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

09/03/2014

PANDANGAN TIGA TOKOH UTAMA WANITA TENTANG EMANSIPASI DALAM NOVEL TIGA ORANG PEREMPUAN KARYA MARIA A.

SARDJONO

SKRIPSI
Untuk Meraih Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh : Nama NIM Program Studi Jurusan : Marfika Santiasih Isma : 2134990028 : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia : Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

SARI

Santiasih Isma, Marfika. 2005. Pandangan Tiga Tokoh Utama Wanita dalam Novel Tiga Orang Perempuan Karya Maria A. Sardjono. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Dra. Nas Haryati, M.Pd, Pembimbing II: Dra. L.M Budiyati Kata kunci: tokoh utama, pandangan tokoh, emansipasi

Novel merupakan karya fiksi yang menyuguhkan peristiwa dengan berbagai permasalahan yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Peristiwa tersebut merupakan perwujudan masalah yang ada di masyarakat baik pengalaman pribadi pengarang maupun orang lain. Demikian juga dengan novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono yang menyuguhkan tokoh utama wanita di dalamnya yaitu tokoh Nenek, Ibu, dan Gading. Ketiga tokoh utama wanita dalam novel tersebut berasal dari tiga generasi yang berbeda. Mereka memiliki pandangan yang berbeda tentang emansipasi. Pandangan yang berbeda tersebut mempengaruhi sikap dan tindakan ketiga tokoh dalam memperjuangan hak-haknya sebagai seorang wanita yang ingin sejajar dengan kaum lakilaki. Perjuangan tokoh utama dilakukan di bidang politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan di lingkungan keluarga. Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah yang dibahas dalam skripsi ini adalah struktur novel berupa tokoh penokohan, emansipasi dalam novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono, dan pandangan ketiga tokoh utama wanita mengenai emansipasi. Adapun tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk mengungkap struktur yang berupa tokoh penokohan, emansipasi wanita dan pandangan ketiga tokoh utama wanita tentang emansipasi yang terdapat dalam novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono. Metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. Penggunaan metode ini adalah untuk mendapatkan deskripsi penokohan lewat pendekatan objektif. Unsur penokohan dianalisis untuk mengetahui sejauh mana emansipasi yang dilakukan ketiga tokoh utama wanita dalam lingkungan keluarga (domestik) dan masyarakat. Analisis penokohan yang dilakukan dengan metode ini lebih ditekankan pada tokoh dan penokohannya yaitu pada watak atau karakter tokoh. Hasil pembahasan skripsi ini adalah mengenai tokoh dan penokohan yaitu Nenek, Ibu, dan Gading. Dari analisis penokohan ketiga tokoh utama wanita dalam novel ini tokoh Nenek digambarkan sebagai sosok wanita Jawa yang sudah berumur lebih dari delapan puluh empat tahun yang memegang teguh adat Jawa. Tokoh Ibu digambarkan berumur lebih dari lima puluh tahun, sosok wanita modern yang cenderung tidak lagi memegang teguh adat Jawa. Tokoh Ibu berani untuk memperjuangkan hak-haknya sebagai seorang wanita. Tokoh Gading adalah generasi ketiga yang hidup di masa

i

modern, berpandangan sangat luas dan selalu menjunjung emansipasi wanita. Analisis selanjutnya, membahas emansipasi wanita di bidang politik dimana tokoh Ibu dan Gading memperjuangkan haknya untuk memilih, menimbang, dan memutuskan. Di bidang hukum tokoh Ibu dan Gading memperjuangkan agar mendapatkan hak untuk memperoleh keadilan. Di bidang ekonomi tokoh Ibu memperjuangkan hak mendapatkan kehidupan yang layak dengan menjadi dosen, sedangkan tokoh Gading menjadi seorang wartawan. Di bidang pendidikan tokoh Ibu dan Gading memperjuangkan haknya dengan mendapatkan pendidikan yang tinggi. Di lingkungan keluarga tokoh Ibu memperjuangkan haknya agar tidak diperlakukan sewenang-wenang oleh suami sehingga cenderung otoriter. Pandangan ketiga tokoh utama wanita tentang emansipasi dalam novel Tiga Orang Perempuan ada yang mendukung dan ada yang kurang mendukung. Tokoh Ibu karena latar belakang pengalaman masa lalunya sewaktu dia kecil yang mendorong Ibu untuk mendukung sepenuhnya emansipasi wanita. Beliau tidak ingin mengalami apa yang dialami oleh ibunya yaitu Tokoh Nenek yang mendapat perlakuan tidak adil dari suaminya. Tokoh Gading mendukung emansipasi wanita dilatarbelakangi oleh lingkungan keluarga yang demokratis dan berwawasan modern serta pendidikan yang tinggi. Tokoh Nenek cenderung kurang mendukung karena latar belakang keluarganya yang mendidik sesuai nilai-nilai sosial yang berpedoman pada budaya dan adat Jawa yang dipengaruhi oleh sistem patriarkat. Bardasarkan hasil pembahasan di atas Penulis menyarankan agar hasil analisis skripsi yang berjudul Pandangan Tiga Tokoh Wanita Tentang Emansipasi Dalam Novel Tiga Orang Perempuan Karya Maria A. Sardjono ini dapat digunakan oleh peneliti sastra yang lain untuk menganalisis dari segi sosiologi sastra atau segi ilmu sastra yang lain.

ii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di dalam siding Panitia Ujian Skripsi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang pada hari tanggal : : Rabu : 7 September 2005

Panitia Ujian

Ketua

Sekretaris

Prof. Dr. Rustono, M.Hum. NIP 131281222

Drs. Mukh. Doyin, M.Si. NIP 132106367

Penguji I,

Penguji II,

Penguji III,

Drs. Agus Nuryatin, M.Hum. Dra. L.M. Budiyati, M.Pd. Dra. Nas Haryati, M.Pd. NIP 131813650 NIP 130529511 NIP 131125926

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, 27 Januari 2005 Penulis

(Marfika Santiasih Isma)

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto: Kedisiplinan adalah kunci keberhasilan Kesabaran dan pengendalian diri adalah kunci kesuksesan Dorongan semangat dan doa dari keluarga adalah kunci dari segalanya

Persembahan: Segala usaha yang telah menjadi sebuah karya cipta kupersembahkan kepada Ibunda tercinta, kakakkakakku yang selalu memberikan dorongan

semangat dan doa yang tiada henti, dan semua yang memberikan inspirasi.

v

PRAKATA

Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Allah Swt karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, skripsi yang berjudul Pandangan Tiga Tokoh Wanita Tentang Emansipasi Dalam Novel Tiga Orang Perempuan Karya Maria A. Sardjono telah selesai dibuat. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu memberikan bantuan, dorongan, semangat, dan doanya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada 1. Dra. Nas Haryati, M.Pd. sebagai dosen pembimbing I yang dengan penuh kesabaran memberikan bimbingan, masukan, dan arahan; 2. Dra. L.M Budiyati, M.Pd. sebagai dosen pembimbing II yang telah membimbing penulis dengan kesabaran; 3. Rektor UNNES yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu di UNNES dan menyusun skripsi; 4. Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia beserta pejabat jurusan yang telah memberikan fasilitas dan berbagai kemudahan dalam penyusunan skripsi; 5. Ibu dan Bapak Dosen Jurusan PBSI yang telah memberikan segenap dedikasi berupa bekal ilmu pengetahuan yang menunjang pembuatan skripsi ini; 6. Pengelola Komunitas Baca 202 Bahasa dan Sastra Indonesia dan Perpustakaan UNNES yang telah banyak memberikan kemudahan dengan menyediakan

vi

referensi buku-buku yang sangat bermanfaat bagi penyelesaian skripsi ini; 7. Keluargaku tercinta, ibu dan kakak-kakakku yang telah memberikan doa, dorongan semangat dalam pembuatan skripsi; 8. Teman-teman PBSI ankatan 1999 terima kasih atas dorongan semangat dan kerjasamanya selama ini; 9. Semua pihak yang telah banyak membantu namun tidak dapat disebutkan satu persatu. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembacanya, terutama adik kelas bisa menjadikan skripsi penulis sebagai bahan referensi. Semoga Allah Swt memberikan limpahan rahmat dan hidayah-Nya pada semua pihak yang telah membantu, Amin.

Semarang, Penulis

vii

DAFTAR ISI

SARI ………………………………………………………………………………….i PENGESAHAN KELULUSAN…… ………………………………………………….ii PERNYATAAN…… ………………………………………………………………….iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN…. ………………………………………………….v PRAKATA…. ………………………………………………………………………….vi DAFTAR ISI…………………………………………………………………………...viii DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………………...xi BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………….1

1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………………………...1 1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………….8 1.3 Tujuan Penelitian…………………………………………………………..8 1.4 Manfaat Penelitian…………………………………………………………9 BAB II LANDASAN TEORETIS……………………………………………………..10 2.1 Tokoh dan Penokohan……………………………………………………...10 2.1.1 Pengertian Tokoh………………………………………………...11 2.1.2 Macam-macam Tokoh……………………………………………12 2.1.3 Pengertian Tokoh Utama…………………………………………13 2.1.4 Ciri-ciri Tokoh Utama……………………………………………14 2.1.5 Pengertian Penokohan……………………………………………15 2.1.6 Cara Mengenali Watak Tokoh……………………………………17 2.2 Gender………………………………………………………………………21

viii

2.2.1 Pengertian Gender………………………………………………..21 2.2.2 Perbedaan Gender………………………………………………..23 2.2.3 Munculnya Gerakan Emansipasi…………………………………24 2.3 Emansipasi…………………………………………………………………26 2.3.1 Pengertian Emansipasi…………………………………………...26 2.3.2 Gerakan Emansipasi di Berbagai Bidang………………………..27 2.3.2.1 Emansipasi di Bidang Politik………………………….27 2.3.2.2 Emansipasi di Bidang Hukum…………………………28 2.3.2.3 Emansipasi di Bidang Ekonomi……………………….29 2.3.2.4 Emansipasi di Bidang Pendidikan…………………….31 2.3.2.5 Emansipasi di Lingkungan Keluarga…………………..31 2.4 Pandangan Orang tentang Emansipasi…………………………………….33 BAB III METODE PENELITIAN……………………………………………………38 3.1 Sasaran Penelitian…………………………………………………………38 3.2 Pendekatan Penelitian……………………………………………………..38 3.3 Metode Analisis Data……………………………………………………..39 3.4 Teknik Analisis Data………………………………………………………40 3.5 Langkah Kerja……………………………………………………………..41 BAB IV DESKRIPSI EMANSIPASI DAN PANDANGAN TIGA TOKOH UTAMA WANITA DALAM NOVEL TIGA ORANG PEREMPUAN……………...42 4.1 Tokoh dan Penokohan……………………………………………………42 4.1.1 Nenek…………………………………………………………...44 4.1.2 Ibu………………………………………………………………48

ix

4.1.3 Gading…………………………………………………………..53 4.2 Emansipasi dalam Novel Tiga Orang Perempuan ……………………….58 4.2.1 Emansipasi di Bidang Politik……………………………………60 4.2.2 Emansipasi di Bidang Hukum…………………………………..60 4.2.3 Emansipasi di Bidang Ekonomi…………………………………61 4.2.4 Emansipasi di Bidang Pendidikan………………………………63 4.2.5 Emansipasi di Lingkungan Keluarga……………………………65 4.3 Pandangan Tiga Tokoh Utama Wanita tentang Emansipasi dalam Novel Tiga Orang Perempuan………………………………………………………..67 4.3.1 Pandangan Nenek tentang Emansipasi…………………………68 4.3.2 Pandangan Ibu tentang Emansipasi…………………………….73 4.3.3 Pandangan Gading tentang Emansipasi………………………..80 4.3.4 Persamaan dan Perbedaan Pandangan Tiga Tokoh Utama Wanita………………………………………………………….83 BAB V PENUTUP…………………………………………………………………..87 5.1 Simpulan…………………………………………………………………87 5.2 Saran……………………………………………………………………..89 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………..90

x

xi

xii

xiii

BAB I PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang Masalah Indonesia saat ini memasuki era globalisasi yang ditandai dengan arus informasi dan teknologi yang canggih yang menuntut masyarakat untuk lebih berperan aktif dalam pembangunan. Tidak hanya kaum laki-laki saja yang berperan aktif, perempuan dituntut untuk beperan aktif juga dalam mengisi pembangunan. Mereka harus lebih mempunyai suatu sikap yang mandiri, disamping kebebasan untuk mengembangkan dirinya sebagai manusia sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Perempuan banyak yang memiliki peran ganda selain sebagai ibu rumah tangga, mereka juga berperan sebagai wanita yang bekerja atau lebih dikenal dengan sebutan wanita karier. Oleh karena itu wanita belum bisa berperan secara utuh di masyarakat. Di satu sisi perempuan ingin berperan secara penuh baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat, namun di sisi lain perempuan tidak boleh melupakan kodratnya sebagai seorang wanita.. Menghadapi permasalahan di atas diperlukan adanya strategi yang tepat yang mampu mendukung wanita dalam beperan aktif baik di lingkungan keluarga maupun di luar sebagai wanita karier tanpa mendapat pandangan negatif dari masyarakat. Strategi tersebut adalah dengan gerakan emansipasi wanita. Namun pada umumnya masyarakat berprasangka bahwa gerakan emansipasi wanita adalah gerakan pemberontakan terhadap kaum laki-laki, upaya melawan nilai-nilai atau norma-norma sosial yang ada, misalnya lembaga/institusi rumah tangga,

2

perkawinan maupun usaha pemberontakan untuk mengingkari apa yang disebut kodrat. Tujuan yang sebenarnya dari gerakan ini adalah untuk meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama atau sejajar dengan kedudukan serta derajat laki-laki, bukan untuk mengungguli atau mendominasi kaum laki-laki sevagai balas dendam dengan menindas atau menguasai kaum laki-laki. Dengan adanya pemahaman yang salah tentang gerakan emansipasi wanita banyak pihak yang menentang gerakan ini terutama dari pihak laki-laki. Namun dari pihak perempuan pun ada yang menentang terutama mereka yang masih memegang teguh nilai-nilai budaya tradisional yang masih kuat yaitu ciri tradisional yang mengharuskan wanita menjaga kesalehan serta kemurnian mereka, bersikap pasif dan menyerah, rajin mengurus keluarga dan rumah tangga atau memelihara domestisitas. Beberapa orang ahli berpendapat mengenai gerakan emansipasi atau sering disebut feminisme. Feminisme ialah teori tentang persamaan antara laki-laki dan wanita di bidang politik, ekonomi, dan sosial; atau kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan wanita (Geofe 1986:837). Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Dzuhayatin (dalam Bainar 1998:16-17) feminisme merupakan sebuah ideologi yang berangkat dari suatu kesadaran akan suatu penindasan dan pemerasan terhadap wanita dalam masyarakat. Pandangan yang menyatakan bahwa emansipasi wanita tidak hanya menuntut kesamaan saja dan itu dianggap tidak begitu penting, yang penting di

3

sini adalah bagaimana wanita memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi serta bakatnya agar lebih maju (Widoyo 1991:16). Permasalahan yang dihadapi oleh wanita terutama yang menyangkut emansipasi wanita ini merupakan kenyataan sosial yang dihadapi oleh wanita tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia. Dari kenyataan sosial yang dihadapi manusia khususnya wanita memberikan ilham kepada sastrawan untuk menuangkannya ke dalam karya sastra yang akan dibuatnya. Karya sastra ini merupakan buah pikiran seorang pengarang yang bersumber dari pengalaman hidupnya sendiri maupun orang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Wellek (dalam Budianta 1990:109) yang menyatakan bahwa sastra menyajikan kehidupan dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra itu juga meniru alam dan dunia subyektif manusia. Suharianto (1982:11) mengatakan bahwa karya sastra pada hakikatnya adalah pengejawantahan kehidupan, hasil pengamatan sastrawan atas kehidupan sekitarnya. Pengarang dalam menciptakan karya sastra didasarkan pada pengalaman yang telah diperolehnya dari realitas kehidupan di masyarakat. Peran tokoh dari dunia nyata kemudian dituangkan ke dalam bentuk karya sastra. Permasalaha yang menjadi sorotan publik dan ide dalam sebuah karya sastra saat ini adalah mengenai permasalahan gender. Adanya perbedaab gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inqualities). Namun yang menjadi persoalan ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan gender baik bagi kaum laki-laki dan terutama kaum perempuan. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan

4

struktur dimana baik kaum laki-laki dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut (Fakih 2001:12). Permasalahan gender tersebut yaitu bahwa kehidupan wanita di zaman dahulu sampai sekarang mengalami kegelapan dan sangat diabaikan keberadaannya. Gambaran sosok wanita selalu berada dalam kekuasaan laki-laki (Mukmin 1980:83). Menurut Fakih (2001:10) karena konstruksi sosial gender, kaum laki-laki harus bersifat kuat dan agresif, maka laki-laki kemudian terlatih dan tersosialisasi serta termotivasi untuk menjadi atau menuju sifat gender yang ditentukan oleh suatu masyarakat, yakni secara fisik lebih kuat dan lebih besar. Sebaliknya, karena perempuan harus lemah lembut, maka sejak bayi proses sosialisasi tersebut tidak saja berpengaruh kepada perkembangan emosi dan visi serta ideologi kaum perempuan, tetapi juga mempengaruhi perkembangan fisik dan biologis selanjutnya. Dengan adanya permasalahan gender tersebut membawa perkembangan baru bagi dunia sastra yaitu memberikan pengaruh terhadap cara pandang sastrawan untuk menciptakan tokoh perempuan dalam karya sastranya. Cara pandang sastrawan tersebut yang pertama adalah wanita sebagai pelengkap suami atau wanita yang melihat perannya berdasarkan keadaan biologisnya (baik sebagai isteri, ibu rumah tangga, nenek, dsb). Cara pandang yang kedua, wanita sebagai sentral kapitalis. Artinya wanita mampu mandiri dan berkarier di lingkungan luar (Mukmin 2001:13). Wanita yang mencoba menembus batas stereotip kedudukan perempuan dan melihat diri sendiri sebagai individu bukan hanya sebagai pendamping laki-laki. Tokoh perempuan seperti ini adalah mereka yang disebut perempuan feminis yang berusaha mandiri dalam berfikir dan bertindak, serta menyadari hak-haknya (Chudori 1991:28).

5

Berbicara mengenai karya sastra yang feminis dalam hubungannya dengan emansipasi tokoh wanita di masyarakat, salah seorang pengarang wanita Indonesia yang tertarik membicarakan masalah perempuan dalam dunia sastra melalui karya-karyanya adalah Maria A. Sardjono. Sebagai pengarang Maria A. Sardjono merupakan pengarang yang cukup poduktif membuat karya sastra yang bertemakan wanita. Maria A. Sardjono adalah pengarang wanita yang lahir di Semarang 22 April 1945 namun ia dibesarkan dan bersekolah di Jakarta. Ia menulis sejak remaja, namun baru pada tahun 1974 karya-karyanya dipublikasikan. Ia sudah menulis kurang lebih 80 novel, belasan novelet dan buku cerita anak-anak dan kurang lebih 120 cerpen. Novel-novel karya Maria A. Sardjono di antaranya adalah Langit di atas Merapi, Pengantin Kecilku, Sepatu Emas Untukmu, Daundaun yang Gugur, Menjolok Rembulan, Bintang Dini Hari, Kemuning, Ketika Flamboyan Berbunga, Melati di Musim Kemarau, Gaun Sutra Warna Ungu, Lembayung di Kaki Langit, Lembayung di matamu dan masih banyak lainnya. Di antara novel-novel karya Maria A. Sardjono tersebut ada empat novel yang sudah difilmkan dan beberapa kali dibeli rumah produksi untuk dibuat sinetron. Salah satu sinetron tersebut adalah Tiga Orang Perempuan. Novel ini mengisahkan tiga perempuan berbeda generasi terbentur oleh budaya yang diwarnai sistem patriarkat. Akibatnya timbul gejolak dalam kehidupan masing-masing dan kegiatannya mengalami kegamangan ketika harus mengungkapkan cinta terhadap perasaan laki-laki yang mereka kasihi.

6

Sang nenek membentengi dirinya dari perasaan cinta pada suaminya yang berpoligami. Sang Ibu lain lagi. Karena melihat rumah tangga orang tuanya, dia bertekad sebagai wanita super terhadap suami. Gading sebagai generasi ketiga yang hidup di masa sekarang pun mengalami benturan nilai-nilai tersebut. Yoyok, kekasihnya, masih memiliki pemikiran yang sama seperti kakek moyangnya, yaitu tempat yang paling pas bagi perempuan adalah di dalam rumah. Gading sadar bahwa ada nilai lain yang menyangkut kasih yaitu pengorbanan, Yoyok sudah pergi meninggalkannya ke negeri orang. Kemana harus dicarinya lelaki itu? Dia yang akhirnya memberinya kesadaran bahwa di rumah pun seorang wanita tetap bisa berkarya dan mengungkapkan eksistensinya, setara dengan laki-laki. Apakah dia harus menerima jodoh yang didesakkan neneknya, seorang lelaki ningrat modern yang pikirannya jauh lebih kuno dari Yoyok. Dari uraian cerita novel Tiga Orang Perempuan di atas dapat kita ambil suatu permasalahan yang menyangkut masalah emansipasi wanita, sehingga menarik untuk dibahas lebih lanjut dalam skripsi ini. Permasalahan yang sejenis juga pernah dibahas oleh penulis lain tetapi merujuk pada peran tokoh wanita di dalam keluarga dan masyarakat, bukan inti dari gerakan emansipasi yang dilakukan oleh tokoh utama wanita. Yang menarik dari novel Tiga Orang Perempuan ini adalah bagaimana pandangan tiga orang tokoh yang berbeda generasi yaitu Nenek, Ibu, dan Gading yang terbentur oleh budaya yang diwarnai sistem patriarkat, bisa menyatukan perbedaan tersebut dalam menghadapi berbagai permasalahan.

7

Berdasakan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, penelitian ini akan membahas secara lengkap dan utuh tentang tokoh wanita dalam sebuah karya sastra (novel), khususnya ditinjau dari segi feminisme. Penelitian sejenis sudah banyak. Penelitian yang menjadi landasan dalam penelitian skripsi ini diantaranya skripsi berjudul Feminisme Dalam Novel Tumini (Perawan Onderneming) oleh Suprapti Dewi Mahanani yang membahas masalah kedudukan wanita, tokoh wanita dilihat dari perspektif gender. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. Tokoh utama dalam novel ini yaitu Tumini yang digambarkan selalu menderita dan dilihat dari perspektif gender sebagai kaum perempuan ia mengalami ketidakadilan gender yang termanifestasi kekerasan dalam bentuk pemerkosaan. Kemudian skripsi Fitriani Nur Rahayu berjudul Perspektif Feminisme Tokoh Utama Wanita Dalam Novel Canting Karya Arswendo Atmowiloto yang membahas penentuan pola dan pendeskripsian feminisme. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Tokoh utama dalam novel ini Bu Bei. Ia memperjuangkan wanita agar memiliki kedudukan yang sejajar dengan kaum pria, persamaan hak atas rumah dan tanah serta persamaan hak untuk menikah lagi. Penelitian sejenis tersebut sangat relevan dengan penelitian dalam kajian ini, yang mencoba untuk melengkapi penelitian sejenis yang sudah ada. Perbedaannya adalah pada permasalahan yang dikaji. Pada skripsi Suprapti (2001) yang berjudul Feminisme Dalam Novel Tumini (Perawan Onderneming) dibahas masalah kedudukan wanita, tokoh wanita dilihat dari perspektif gender. Sedangkan pada skripsi Fitriani (2003) yang berjudul Perspektif Feminisme Tokoh Utama Wanita

8

Dalam Novel Canting Karya Arswendo Atmowiloto dibahas penentuan pola dan pendeskripsian feminisme. Berbeda dengan skripsi Tri Rahmawati yang berjudul Peran dan Emansipasi Tokoh Utama Wanita Pada Novel Jalan Bandungan Karya Nh. Dini (2003) dibahas peran dan emansipasi tokoh utama wanita baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat. Penelitian dalam skripsi ini membahas pandangan tiga tokoh utama wanita yang berbeda generasi tentang emansipasi. Perbedaan tersebut tidak hany dari segi umur tetapi juga menyangkut latar belakang kehidupan sosial ketiga tokoh wanita itu.

1. 2 Permasalahan Berdasarkan uraian latar belakang masalah mengenai emansipasi wanita, permasalahan yang muncul adalah sebagai berikut. 1. Bagaiamanakah watak tiga tokoh utama wanita dalam novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono? 2. Bagaimanakah deskripsi emansipasi tiga tokoh utama wanita dalam novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono? 3. Bagaimanakah pandangan tiga tokoh utama wanita tentang emansipasi dalam novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono?

1.3

Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini

dirumuskan sebagai berikut.

9

1. Mengungkapkan watak tiga tokoh utama wanita dalam novel Tiga Orang Perempuan Karya Maria A. Sardjono. 2. Mengungkapkan deskripsi emansipasi tiga tokoh utama wanita dalam novel Tiga Orang Perempuan Karya Maria A. Sardjono. 3. Mengungkapkan pandangan tiga tokoh utama wanita dari tiga generasi yang berbeda tentang emansipasi Tiga Orang Perempuan Karya Maria A. Sardjono.

1.4

Manfaat Penelitian Penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk

memberikan wawasan baru, pengetahuan, dan pemahaman yang benar tentang emansipasi untuk digunakan sebagai referensi mahasiswa Jurusan PBSI dalam membuat skripsi.

10

BAB II LANDASAN TEORETIS

Pada bab ini akan dipaparkan mengenai teori yang mendukung pembahasan pada BAB IV nanti sebagai landasan pokok dalam pengkajian. Teori yang digunakan dalam skripsi ini adalah teori tentang tokoh utama yang meliputi (1) tokoh penokohan meliputi pengertian tokoh, pengertian tokoh utama, cirri-ciri tokoh utama, pengertian penokohan, cara mengenali tokoh utama, kemudian teori yang berhubungan dengan emansipasi yang meliputi (2) teori gender meliputi pengertian gender, perbedaan/bias gender, munculnya gerakan emansipasi; (3) emansipasi yang meliputi pengertian emansipasi, berbagai bidang emansipasi, berbagai tanggapan tentang emansipasi.

2.1.

Tokoh dan Penokohan Dalam sebuah karya fisik berupa novel terdapat tokoh dan penokohan

yang sebagian besar tokoh-tokoh tersebut adalah tokoh-tokoh rekaan. Kendati berupa rekaan atau hanya imajinasi pengarang, masalah penokohan merupakan satu bagian penting dalam membangun sebuah cerita, tetapi juga berperan untuk menyampaikan ide, motif, plot, dan tema. Semakin berkembangnya ilmu jiwa, terutama psiko-analisa, merupakan salah satu alasan pentingnya peranan tokoh cerita sebagai bagian yang ditonjolkan oleh pengarang (Sumardjo 1986:63). Cerita dapat ditelusuri dan diikuti perkembangannya lewat perwatakan tokoh-tokoh cerita atau penokohan cerita. Konflik-konflik yang terdapat dalam

11

suatu cerita yang mendasari terjalinnya suatu plot, pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari tokoh-tokohnya, baik yang bersifat protagonis maupun antagonis, tokoh utama maupun tokoh bawahan. Karena itu, kemampuan pengarang mendeskripsikan karakter tokoh cerita yang diciptakan sesuai dengan tuntutan cerita dapat pula dipakai sebagi indikator kekuatan sebuah cerita fiksi. Penelitian ini memfokuskan pada tokoh khususnya tokoh utama wanita. Pada setiap cerita selalu terdapat tokoh utama yang memegang peranan penting dalam cerita. Berbicara mengenai tokoh utama tidak terlepas dari segala tindakan dan tingkah lakunya disetiap peristiwa. Kita akan memulai landasan teori ini dengan menguraikan pengertian tokoh penokohan dan pengertian tokoh utama. 2.1.1. Pengertian Tokoh Cerita rekaan pada dasarnya mngisahkan seseorang ataun beberapa orang yang menjadi tokoh. Menurut Sudjiman (1991:16) tokoh idividu adalah rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan didalam berbagai peristiwa cerita. Jadi tokoh adalah orangnya. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Suyati (1996:43) tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan dalam tindakan. Badudu dan Zain (1996:152) mengartikan tokoh sebagai pemegang peranan penting dalam cerita roman, novel dan cerita pendek. Dari pendapat ketiga ahli tentang tokoh tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa tokoh merupakan individu rekaan yang berperan sangat penting dalam suatu karya sastra (novel) yang mengalami berbagai peristiwa atau perlakuan. Dalam cerita rekaan terdapat berbagai peristiwa yang dialami tokohnya

12

dan peristiwa tersebut dialami tidak hanya satu tokoh saja tapi dialami oleh beberapa tokoh sehingga dalam cerita rekaan terdapat beberapa tokoh. Tokoh dalam cerita rekaan ini ada berbagai macam. 2.1.2. Macam-macam Tokoh Menurut beberapa ahli tokoh rekaan dalam cerita terbagi menjadi beberapa macam tokoh. Macam-macamnya adalah sebagai berikut : 1. Berdasarkan cara menampilkannya, tokoh cerita dibedakan menjadi tokoh datar atau tokoh sederhana (simple atau flat character) dan tokoh bulat atau tokoh kompleks (complex atau round character) (Nurgiyantoro 1998 :181). Menurut Forster (1970:750) didalam cerita rekaan tokoh datar disoroti satu segi wataknya saja. Tokoh datar bersifat statis, wataknya sedikit sekali atau bahkan tidak berubah dalam perkembangan lakuan (Sudjiman 1991:20-21). Tokoh bulat adalah tokoh yang ditampilkan lebih dari segi watak, kepribadian, dan jati dirinya secara berganti-gantian (Nurgiyantoro 1998:183: (Sudjiman 1991:21). Dibandingkan dengan tokoh sederhana, tokoh bulat lebih menyerupai kehidupan manusia yang sesungguhnya karena selain memiliki berbagai kemungkinan sikap dan tindakan, ia juga sering memberikan kejutan (Abrams 1981:20-21). 2. Berdasarkan peranan atau tingkat pentingnya (Nurgiyantoro 1998:176) atau fungsinya (Sudjiman 1991:17-18) tokoh didalam cerita rekaan dibedakan menjadi tokoh sentral atau tokoh utama (central character, main character ) dan tokoh bawahan atau tokoh tambahan (peripheral character). Tokoh sentral (dan tokoh tambahan) terdiri dari tokoh

13

protagonis

dan

tokoh

antagonis.

Tokoh

protagonis

merupakan

pengejawantahan dari norma-norma dan nilai-nilai

yang idela bagi

pembaca (Altenbernd dan Lewis 1966:59). Sementara itu, menurut (Sudjiman 1991:17-18), tokoh protagonis adalah tokoh yang memegang peran pimpinan didalam cerita. Dalam cerita rekaan juga terdapat tokoh antagonis yaitu tokoh penyebab konflik (Nurgiyantoro 1998:179). Tokoh antoganis adalah tokoh yang menjadi penentang utama atau yang berposisi dengan protagonis (Nurgiyantoro 1998:179; Sudjiman 1991: 19). Tokoh bawahan, menurut Grimes (1975:43), adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya didalam cerita, tetapi kehadirannya diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama. Ada tokoh tambahan yang menjadi kepercayaan tokoh protagonis yang disebut tokoh andalan (Sudjiman 1986:75; 1991:20).

2.1.3. Pengertian Tokoh Utama Seperti yang sudah dipaparkan diatas, bahwa tokoh dalam cerita rekaan ada bermacam-macam, salah satunya adalah tokoh sentral atau sering disebut dengan tokoh utama. Menurut Nurgiyantoro (2002:176-177), tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh utama menurut Nurgiyantoro digolongkan dari segi peranan atau

14

tingkat pentingnya tokoh dalam sebuah cerita, disamping itu dalam kategori ini juga terdapat tokoh tambahan. Sudjiman (1998:71) mengatakan bahwa tokoh utama disebut juga tokoh sentral. Tokoh ini memegang peranan penting dan selalu menjadi tokoh sentral, dalam cerita yang menjadi sorotan kisahan dalam cerita yang menjadi sorotan kisahan dalam cerita. Tokoh utama masuk kedalam jenis tokoh berdampingan dengan tokoh bawahan. Tokoh utama adalah tokoh yang mempunyai peranan penting didalam cerita, lebih sering muncul dan juga sering dibicarakan oleh pengarangnya (Aminuddin 2002:79). Tokoh utama disebut juga tokoh inti. Dari ketiga pendapat ahli tersebut diatas, pendapat Aminuddin dan Nurgiyantoro yang lebih mendekati pengertian tokoh utama yang sebenarnya karena mereka menambahkan adanya tokoh yang sering muncul dan sering dibicarakan oleh pengarang atau paling banyak diceritakan oleh pengarang.

2.1.4 Ciri-ciri Tokoh Utama Dalam sebuah cerita rekaan, kita dapat melihat adanya berbagai macam tokoh baik tokoh utama/sentral dan tokoh bawahan. Dalam membedakan antara tokoh utama dengan tokoh bawahan terdapat ciri-ciri yang melekatinya. Ciri-ciri yang akan dibahas adalah ciri-ciri tokoh utama. Kriteria yang digunakan untuk menentukan cirri-ciri tokoh utama bukan hanya frekuensi atu seringnya kemunculan tokoh itu didalam cerita, melainkan intensitas keterlibatannya didalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita.

15

Tokoh utama ini yang paling tinggi intensitas keterlibatannya didalam peristiwaperistiwa yang membangun cerita, wktu yang digunakan untuk menceritakan pengalaman tokoh utama lebih banyak dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk mengisahkan tokoh-tokoh lain, tokoh utama selalu berhubungan dengan semua tokoh yang ada didalam cerita sedangkan tokoh-tokoh lain tidak saling berhubungan, menentukan perkembangan plot secara keseluruhan. Tokonj ini selalu hadir sebagai pelaku atau yang dikenai kejadian dan konflik (Nurgiyantoro 2002:177). Ditambahkan oleh pendapat Aminuddin (2002:89) bahwa tokoh utama merupakan tokoh yang sering diberi komentar dan selalu dibicarakan oleh pengarang. Tokoh utama juga daapt dirunut dari judul, misalnya novel Siti Nurbaya yang secara langsung kita dapat mengetahuinya siapa tokoh utamanya yaitu Siti Nurbaya.

2.1.5 Pengertian Penokohan Penokohan berasal dari kata tokoh yang berarti pelaku. Karena yang dilukiskan mengenai watak-watak tokoh atau pelaku cerita, maka disebut perwatakan atau penokohan. Dengan demikian perwatakan atu penokohan adalah pelukisan tokoh/pelaku cerita melalui sifat-sifat, sikap dan tingkah lakunya dalam cerita. Moh. Thani Ahmad (dalam Dewan Bahasa 1974:509) menyebutkan adalah sifat menyeluruh dari manusia yang disorot, termasuk perasaan, keindahan ,cara berpikir, cara bertindak, dan sebagainya. Badudu dan Zain (1996:152) mengartikan tokoh sebagai pemegang peran penting dalam cerita-cerita roman,

16

novel dan cerita pendek. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Sudjiman (1991 :16) bahwa tokoh utama adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa dalam beberapa peristiwa cerita. Menurut Suyati (1996:43) tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan dalam tindakan. Tokoh dan penokohan merupakan unsur yang penting dalam karya naratif. Suatu peristiwa terjadi oleh karena adanya aksi/reaksi tokoh-tokoh. Tanpa tokoh tidak akan mungkin ada peristiwa cerita. Penokohan atau perwatakan adalah cara penyajian tokoh dan penyajian citra tokoh baik dalam keadaan lahir maupun batin. Sedangkan watak adalah kualitas tokoh, kualitas nalar dan jiwanya yang membedakan tokoh dengan tokoh lain (Suharianto 1982:31). Menurut Jones (dalam Nurgiyantoro 1995:165) penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang

ditampilkan dalam sebuah cerita. Penokohan menurut Aminuddin (1995:79) adalah cara pengarang menampilkan tokoh/pelaku itu dalam cerita. Menurut Nurgiyantoro (2000:165) penokohan itu juga disamakan artinya dengan karakter dan perwatakan menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak tertentu dalam sebuah cerita. Penokohan adalah penciptaan citra tokoh dalam karya sastra (Kridalaksana 1997:165). Istilah penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh dan perwatakan, sebab mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca.

17

Penyajian watak, penciptaan citra, atau pelukisan gambaran tentang seseorang yang ditampilkan sebagai tokoh cerita disebut penokohan (Jones 1986 : 33; Sudjiman 1986:53; 1991:23). Watak adalah kualitas tokoh yang meliputi kualitas nalar dan jiwa yang membedakannya dengan tokoh cerita yang lain (Sudjiman 1986 : 80; 1991 : 23). Watak itulah yang menggerakkan tokoh untuk melakukan perbuatan tertentu sehingga cerita menjadi hidup. Beberapa pendapat diatas dapat dikatakan bahwa penokohan yang berhasil menggambarkan tokoh-tokoh tersebut dan mengembangkan watak dari tokoh-tokoh tersebut yang memiliki tipe-tipe manusia yang dikehendaki tema dan amanat, perkembangan haruslah wajar dan dapat diterima berdasarkan hubungan kausalitas.

2.1.6

Cara Mengenali Watak Tokoh Seperti yang telah dikemukakan dalam uraian diatas bahwa cirri-ciri

tokoh utama adalah tokoh itu paling banyak diceritakan pengarang, selalu berhubungan dengan tokoh lain, selaslu menjadi sorotan, diutamakan, berperan penting, dan menentukan perkembangan plot secara keseluruhan. Tokoh ini selalu hadir sebagai pelaku atau yang dikenai kejadian atau konflik (Nurgiyantoro 2002 : 177). Ditambahkan oleh Aminuddin (2002 : 89) bahwa tokoh utama merupakan tokoh yang sering diberi komentar dan selalu dibicarakan oleh pengarang. Tokoh utama juga dapat dirunut dari judul, misalnya novel Siti Nurbaya yang secara langsung kita dapat mengetahui tokoh utamanya adalah Siti Nurbaya.

18

Setelah mengungkapkan ciri-ciri tokoh utama, kita beralih pada bagaimana cara mengenali watak dari tokoh utama tersebut. Berdasarkan ciri tokoh utama diatas, tokoh utama merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan atau mendominasi peristiwa. Untuk mengetahui dominasi tokoh dalam cerita, kita lebih dulu mendata peristiwa atau insiden diperlukan untuk menentukan tokoh utama. Menurut Luxemburg (dalam Nugiyantoro 2002 : 177), peristiwa adalah peralihan dari suatu keadaan yang lain. Sedangkan Sukada ( 1987 : 57) menggunakan istilah insiden untuk menyebut even sehubungan dengan peristiwa atau kejadian yang terkandung dalam cerita, baik besar atau kecil dan didalam insiden terkandung ide, tendens, amanat, motif, latar yang dituangkan pengarang. Berdasarkan pendapat-pendapat diatas disimpulkan bahwa istilah insiden dan peristiwa artinya sama, hanya istilah saja yang beda. Untuk mengenali watak atau karakter tokoh utama dapat dilihat dari apa yang dikatakan dan apa yang dilakuakan (Abrams 1981 : 20). Identifikasi tersebut adalah didasarkan pada konsistensi atau keajegannya. Dalam artian konsistensi sikap, moralitas pelaku, dan pemikiran dalam memecahkan, memandang dan bersikap dalam menghadapi berbagai peristiwa. Dengan bahasa yang berbeda, David Daiches menyebutkan bahwa karakter atau watak tokoh utama cerita fiksi dapat muncul dari sejumlah peristiwa atau insiden dan bagaimana reaksi tokoh utama itu pada peristiwa yang dihadapi (Daiches 1948 : 352). Oleh karena itu diperlukan cara atau teknik untuk mengenali watak tokoh.

19

Cara mengenali watak tokoh bisa juga dengan menggunakan metode penokohan. Ada beberapa metode penokohan yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Pertama menurut Hudson (1963 : 146-147), metode analitik atau metode langsung. Pengarang melalui narator memaparkan sifat-sifat, hasrat, pikiran dan perasaan tokoh, kadang-kadng disertai komentar tentang watak tersebut. Cara yang mekanis ini memang sederhana dan hemat, tetapi tidak menggalakkan imajinasi pembaca. Pembaca tidak dirangsang untuk membentuk gambarannya tentang si tokoh (Sudjiman 1991 : 24). Kedua, metode tidak langsung yang disebut juga metode ragaan atau metode dramatik. Watak tokoh dapat disimpulkan pembaca dari pikiran, percakapan, cakapan, dan lakukan tokoh yang disajikan pengarang melalui narrator. Bahkan watak juga dapat disimpulkan dari penampilan fisik tokoh, dari gambaran lingkungannya, serta dari pendapat dan cakapan tokoh-tokoh yang lain tentang tokoh utama. Metode ini lebih hidup dan menggalakkan pembaca untuk menyimpulkan watak tokoh (Sudjiman 1991 : 26). Para kritikus modern pada umumnya beranggapan bahwa secara intrinsik metode dramatik bermutu lebih tinggi daripada metode analitik (Sudjiman 1991 : 27). Metode yang ketiga, menurut Kenney (1996 : 36), adalah metode kontekstual. Dengan metode ini watak tokoh dapat disimpulkan dari bahasa yang digunakan narator didalam mengacu kepada tokoh cerita. Meskipun demikian ketiga metode tersebut dapat dipakai secara bersama-sama dalam menggarap sebuah novel.

20

Selain cara yang sudah disebutkan diatas, diperlukan juga teknik yang digunakan dalam menampilkan tokoh dalam suatu cerita disebut teknik penokohan yang digunakan oleh pengarang dalam menentukan karakteristik tokoh-tokoh melalui tiga dimensi, yaitu : a. Dimensi fisilogis, adalah ciri-ciri badan atau ragawi, misalnya usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, ciri muka, serta ciri fisik yang lain. b. Dimensi psikologis, adalah ciri-ciri rohani atau jiwa, misalnya mentalitas, temperamen, cipta, rasa, karsa, sikap, serta rohani yang lain. c. Dimensi sosiologis, adalah ciri kehidupan didalam masyarakat, misalnya status sosial, pekerjaan atau jabatan dalam masyarakat, jenjang pendidikan. d. Pandangan hidup, agama, ideologi, aktivitas sosial, dan ciri sosiologis yang lain.

Suardi Tasrif (dalam Lubis 1960 : 180), mengemukakan 7 macam cara melukiskan perwatakan tokoh cerita, yaitu : a. Physical description : menggambarkan bentuk lahir dari pelaku cerita. b. Portroyal of throught streem of concius : pelukisan jalan pikiran atau apa yang terlintas dalam pikiran tokoh. c. Reaction to event : penggambaran tentang bagaimana reaksi pelaku terhadap kejadian-kejadian. d. Direct auther analysis : menganalisis langsung watak tokoh.

21

e. Discussion of environment : pelukisan keadaan sekitar lingkungan pelaku, seperti keadaan kamar yang biasa memberi kesan jorok dan sebagainya. f. Reaction of others about to character : pelukisan mengenai bagaimana pandangan pelaku lain terhadap tokoh utama. g. Conversation of about to character : perbincangan pelaku-pelaku lain terhadap tokoh utama, untuk memberi kesan terhadap tokoh utama.

2.2.

Gender

2.2.1. Pengertian Gender Gender menurut Fakih (1999 : 77) adalah perbedaan perilaku antara lakilaki dan perempuan yang dokonstruksikan secara social, yakni perbedaan yang bukan ketentuan Tuhan melainkan diciptakan oleh manusia (laki-laki dan perempuan) melalui proses social dan kultur yang panjang. Caplan (dalam Fakih 1999:72) menguraikan bahwa perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan tidaklah sekedar biologi, namun melalui proses social dan cultural. Oleh karena itu gender berubah dari waktu kewaktu, berubah dari tempat ketempat bahkan dari kelas ke kelas, sedangkan jenis kelamin biologis (seks) akan tetap tidak berubah. Rahardjo (dalam Teguh 1995 : 5) menerangkan gender adalah suatu istilah untuk menerangkan bagaimana suatu budaya menginterpretasikan perbedaan kelamin yaitu dalam memberikan arti seseorang yang lahir sebagai

22

wanita serta stereotip gender yang berkaitan dengan citra, peran, dan kedudukan didalam masyarakat. Pendapat Hubies ( dalam Anshori 1997 : 24) tentang gender adalah suatu sistem peran dan hubungan perempuan dan laki-laki yang tidak ditentukan biologisnya tetapi lingkungan sosial, politik dan ekonomi. Kesemuanya dibangun berdasarkan konvensi yang lebih modern, yang tidak menempatkan suatu kelompok sebagai pusat dan membuang kelompok lainnya ke posisi marginal. Hal ini akan berarti hilangnya pertentangan peran laki-laki dan perempuan diberbagai sektor kehidupan, sehingga akan terjadi pergeseran peran. Wanita tidak lagi ditempatkan sebagai konco wingking, tetapi sebagai mitra dalam pengertian yang luas dan memiliki kesempatan saam berdasarkan kemampuan yang dimilki. Konsep gender yang dikembangkan Hubies (dalam Anshori 1997 : 25) meliputi : 1. Gender Different, yaitu perbedaan-perbedaan karakter, perilaku, harapan yang dirumuskan untuk tiap-tiap orang menurut jenis kelamin. 2. Gender Gap, yaitu perbedaan dalam hubungan berpolitik dan bersikap antara laki-laki dan perempuan. 3. Genderization, yaitu acuan konsep penempatan jenis kelamin pada identitas diri dan pandangan kepada orang lain. 4. Gender Identity, yaitu perilaku yang seharusnya dimiliki oleh seseorang menurut jenis kelaminnya. 5. Gender Role, yaitu peran perempuan dan laki-laki yang diterpakan dalam bentuk nyata menurut budaya setempat yang dianut.

23

Konsep gender yang dikembangkan oleh Mangun Wijaya (dalam Sumartan 1995 : 286-287) bahwa munculnya ketidakadilan gender disebabkan karena adanya ketidakpuasan dengan konsep seks yang melihat perbedaan antara kaum laki-laki dan perempuan dari segi biologisnya. Konsep ini hanya melihat perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dengan perempuan, akan mengakibatkan perbedaan perlakuan yang diterima oleh laki-laki dan perempuan tersebut di dalam kehidupannya di masyarakat.

2.2.2. Perbedaan Gender Untuk memahami konsep gender harus dibedakan kata gender dengan kata seks (jenis kelamin). Pengertian jenis kelamin merupakan penafsiran atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Secara permanen tidak berubah, tidak dapat dipertukarkan dan merupakan ketentuan biologis atau sering dikatakan sebagai ketentuan Tuhan atau kodrat. Sedangkan konsep gender adalah sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural. Ciri dan sifat itu dapat dipertukarkan antara laki-laki dengan perempuan. Pemahaman dan pembedaan antara konsep seks dengan gender sangatlah penting dalam melakukan analisis untuk memahami persoalan-persoalan ketidakadilan sosial yang menimpa kaum perempuan. Hal ini disebabkan karena ada kaitan yang erat antara perbedaan gender (gender differences) dan

24

ketidakadilan gender (gender inequalities) dengan struktur ketidakadilan masyarakat secara lebih luas (Fakih 2001:3-4). Sejarah perbedaan gender (gender differences) antara manusia jenis lkilaki dengan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang. Perbedaan tersebut dikarenakan oleh banyak hal, diantaranya benetuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksi secara sosial maupun kultural, melalui ajaran keagamaan maupun Negara yang pada akhirnya dianggap menjadi ketentuan Tuhan seolah-olah bersifat biologis yang tidak biasa diubah lagi. Sehingga perbedaan tersebut dianggap dan dipahami sebagai kodrat laki-laki dan kodrat perempuan. Perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities). Perbedaan tersebut melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki maupun perempuan. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur dimana baik kaum laki-laki dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut.

2.2.3. Munculnya Gerakan Emansipasi Perbedaan gender yang menyebabkan terjadinya ketidakadilan gender tersebut, dapat dilihat melalui pelbagai manifestasi ketidakadilan yang ada. Gerakan emansipasi merupakan salah satu menifestasi ketoidakadilan tersebut. Oleh karena itu kaum perempuan berusaha untuk menghilangkan ketidakadilan tersebut dengan menggerakkan emansipasi disegala bidang. Di Indonesia gerakan ini pertama kali dicetuskan oleh R.A Kartini. Melalui tenaganya mendidik dan

25

mengajar kaum wanita pada zamannya itu, ia telah membuka hati dan pikiran kaum wanita untuk lebih maju. Gerakan emansipasi ini kemudian diteruskan oleh pejuang-pejuang wanita seperti Dewi Sartika yang mendirikan sekolah khusus untuk wanita. Selain di Indonesia, gerakan emansipasi wanita juga terjadi dibelahan dunia yang lain seperti di Amerika. Gerakan ini muncul disebabkab oleh beberapa aspek, diantaranya adalah aspek politik, aspek agama, konsep sosialis dan konsep marxis. Ketiga aspek ini senantiasa menjadi landasan gerakan emansipasi atau lebih dikenal dengan sebutan gerakan feminisme. Tujuan kaum wanita melalui gerakan emansipasi ini adalah untuk tidak mengungguli atu mendominasi kaum laki-laki sebagai balas dendam dengan menindas atau menguasai kaum laki-laki. Tujuan yang sebenarnya dari gerakan ini adalah untuk meningkatkan kedudukan dan derajat kaum wanita agar sama atau sejajar dengan kedudukan derajat kaum laki-laki. Untuk mencapai tujuan ini dengan cara memperoleh hak dan peluang yang sama dengan yang dimiliki oleh kaum laki-laki, kemudian munculah istilah equal right’s movement atau gerakan persamaan hak. Cara yang lain adalah dengan membebaskan kaum perempuan dari ikatan lingkungan domestik atau lingkungan keluarga atau lebih dikenal dengan istilah women’s liberation movement, disingkat dengan women’s lib, atau women’s emancipation movement, yatiu gerakan emansipasi wanita. Pelopor dari gerakan ini adalah Elizabeth Cady Stanton, Lucretia Mott, dan Susan B. Anthony. Dalam konvensi di Seneca Falls, para pelopor itu menggalang dukungan bagi tuntutan agar para wanita diberi hak yang sama

26

dibidang hukum, ekonomi dan sosial. Kendala yang dihadapi pada masa-masa itu adalah nilai-nilai Victoria (Inggris) dengan ciri tradisional yang mengharuskan kaum perempuan menjaga kesalehan serta kemurnian mereka, bersiakap pasif dan menyerah, rajin mengurus rumah tangga dan keluarga atau memelihara domestisitas (www.sekitarkita.com 2002) Manifestasi ketidakadilan gender yang menyebabkan munculnya gerakan emansipasi, sebagai contoh kasus dibidang ekonomi. Program pemerintah yang menjadi penyebab kemiskinan kaum perempuan. Misalnya program swasembada pangan atau revolusi hijau (green revolution) secara eknomis telah menyingkirkan kaum perempuan dari pekerjaannya sehingga memiskinkan mereka. Pemiskinan terjadi juga didalam rumah tangga, masyarakat atau kultur dan bahkan Negara (Fakih 2001:14).

2.3.

Emansipasi

2.3.1. Pengertian Emansipasi Emansipasi adalah persamaan hak dalam berbagai bidang atau aspek kehidupan dalam masyarakat. Perjuangan wanita yang menuntut kesejajaran dengan pria, sesuai dengan norma-narma kesusilaan, agama dan batas-batas yang ada pada diri wanita sehingga tumbuh keseimbangan pikir dan rasa yang utuh kemudian timbul menjadi keharmonisan. Menurut Nadiyah (dalam Widoyo 1991 : 16) bahwa emansipasi wanita adalah keseimbangan partisipasi antara pria dan wanita. Madya berpendapat bahwa emansipasi wanita kemajuan secara harmonis yaitu bahwa antara pria dan

27

wanita tidak harus sama sebab kesejajaran wanita adalah untuk mengembangkan potensi sehingga mampu berfungsi secar harmonis (Widoyo 1991 : 16). Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa emansipasi wanita adalah bukan sekadar emansipasi berhadapan dengan persamaan hak dengan pria, tetapi emansipasi manusia sejati, baik secara lahiriah maupun rohaniah. Emansipasi harus mampu melahirkan wanita yang mempunyai watak dan kepribadian yang berintegritas tinggi, yang sanggup menepis dan menyingkirkan segala hal yang melecehkan dan merendahkan kehormatan dan martabat wanita dengan gagah berani bersama pria menegakkan nilai-nilai kemanusiaan, kebenaran dan keadialan.

2.3.2. Gerakan Emansipasi di Berbagai Bidang Gerakan emansipasi terjadi disegala bidang kehidupan. Diantaranya dibidang politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan kehidupan keluarga. Karena gerkan emansipasi yang terjadi diberbagai bidang kehidupan ini, maka diperlukan suatu pengklasifikasian/penggolongan untuk membedakan antara emansipasi dibidang yang satu dengan emansipasi dibidang yang lain. Berikut akan dijelaskan pengklasifikasian gerakan emansipasi tersebut.

2.3.2.1 Emansipasi di Bidang Politik Biasanya gerakan emansipasi yang terjadi dibidang politik disebabkab karena ketidakadilan gender yang terjadi ditingkat Negara. Banyak kebijakan dan hokum Negara, perundang-undangan serta program kegiatan yang masih

28

mencerminkan sebagian dari manifestasi ketidakadilan gender. Salah satu contoh adanya asumsi bahwa kedudukan seorang presiden sebaiknya dijabat oleh seorang laki-laki. Sebagian orang menganggap jabatan tersebut jika dipegang oleh wanita akan menimbulkan kekacauan. Wanita dianggap tidak mampu memikul tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Apa yang telah diuraikan diatas merupakan hal yang disebut subordinasi. Kebijakan dibuat tanpa “ menganggap penting “ kaum perempuan. Anggapan bahwa kaum perempuan memiliki pembawaan “ emosional “ sehingga dianggap tidak tepat tampil sebagai pemimpin partai atau menjadi manajer bahkan sebagai seorang presiden, adalah proses subordinasi dan diskriminasi berdasarkan gender. (Fakih 2001 : 74). Melalui gerakan emansipasi, wanita mencoba untuk menuntut keadilan agar mereka diakui dan diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam politik dan menjadi mitra yang sejajar dengan kaum laki-laki. Salah satu tuntutan wanita adalah agar mereka bisa mempertahankan keputusan sendiri tanpa adanya intervensi dari kaum laki-laki. 2.3.2.2 Emansipasi di Bidang Hukum Emansipasi di bidang hukum banyak terjadi di masyarakat. Emansipasi terjadi sebagai akibat adanya ketidakadilan gender di bidang hukum. Sistim perundang-undangan yang dibuat oleh pemerintah seringkali merugikan kaum perempuan. Diantaranya hukum mengenai kekerasan terhadap kaum perempuan baik fisik maupun non fisik, mengenai hak waris dan sebagainya. Dianggap merugikan kaum perempuan karena pelaku tidak mendapatkan hukuman yang berat atau bahkan terbebas dari hukuman.

29

Melalui gerakan emansipasi di bidang hukum diharapkan tidak lagi merugikan kaum perempuan dan memberikan keadilan yang seadil-adilnya terhadap kepentingan kaum perempuan sehingga mereka merasakan terlindungi dari ketidakadilan gender di bidang hukum yang dilakukan oleh kaum laki-laki. 2.3.2.3 Emansipasi di Bidang Ekonomi Pembangunan dewasa ini menuntut adanya partisipasi dari semua pihak. diharapkan baik laki-laki maupun perempuan untuk ikut berpartisipasi. Menurut teori neoklasik dengan perspektif mutu modal manusia (human capital), perspektif ini menekankan keterlibatan perempuan di pasar kerja (sektor publik) merupakan tututan pembangunan dan hal yang tidak dapat dielakkan dalam proses modernisasi. Tanpa keterlibatan itu sulit bagi kaum perempuan untuk merubah dan memperbaiki nasib dan memperbaiki kualitas hidup. Keterlibatan mereka dalam pasar kerja diharapkan secara lambat laun dapat memperbaiki status perempuan. Didalam dunia kerja memungkinkan bagi perempuan untuk

memperbaiki ketrampilan dan mutu kehidupan ketimbang tetap bertahan di sektor domestik. Pembangunan dan modernisasi membuka kesempatan bagi kaum perempuan untuk memasuki sektor publi (modern) untuk mendapatkan upah. Peluang itu dapat membantu kaum perempuan keluar dari kungkungan sektor domestik atau sektor tradisional (pertanian) biasanya bekerja untuk keluarga tanpa upah (Bhasin1993). Namun pada kenyataannya malah terjadi pemiskinan ekonomi (marginalisasi) terhadap kaum wanita. Meskipun tidak setiap marginalisasi

30

perempuan disebabkan oleh ketidakadilan gender, namun sebagian besar marginalisasi perempuan disebabkan oleh ketidakadilan tersebut. Misalnya banyak perempuan desa tersingkirkan dan menjadi miskin akibat program pertanian Revolusi hijau yang hanya memfokuskan pada petani laki-laki. Hal ini karena asumsinya bahwa petani itu identik dengan petani laki-laki. Atas dasar itu banyak petani perempuan tergusur dari sawah dan pertanian, bersamaan dengan tergusurnya ani-ani, kredit untuk petani yang artinya petani laki-laki serta pelatihan pertanian yang hanya ditujukan kepada petani laki-laki. Selain pekerjaan itu banyak sekali pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti,“ guru taman kanak-kanak atau sekretaris” yang dinilai lebih rendah dibanding pekerjaan laki-laki dan seringkali berpengaruh terhadap perbedaan gaji antara kedua jenis pekerjaan tersebut. Lebih ekstrim lagi kesempatan wanita untuk lebih maju seringkali dihambat bahkan dijegal oleh kaum laki-laki. Mereka tidak mau tersaingi atau bahkan tidak mau melihat wanita yang secara ekonomi lebih dari kaum laki-laki. Disamping itu adanya keyakinan masyarakat bahwa laki-laki adalah pencari nafkah (bread winer) misalnya maka setiap pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan dinilai hanya sebagai ‘tambahan” dan oleh karenanya boleh saja dibayar lebih rendah (Fakih 2001:5). Tuntutan wanita dengan gerakan emansipasi di bidang ekonomi ini adalah agar mereka diberi kebebasan untuk bekerja sesuai dengan bakat dan kemampuannya, serta diperlakukan sejajar dengan kaum laki-laki. Kesempatan untuk lebih maju terbuka lebar dan tidak ada hambatan yang sering dikaitkan dengan masalah gender. Peluang kerja disektor modern membuka kemungkinan

31

bagi kaum perempuan untuk menentukan pilihan-pilihan yang lebih baik dalam upaya mengembangkan diri serta memperbaiki kondisi kehidupan antara lain dengan meningkatkan pendidikan dan ketrampilan. 2.3.2.4 Emansipasi di Bidang Pendidikan Adanya subordinasi dan marginalisasi perempuan terjadi karena laki-laki menganggap kaum perempuan tidak memilki kemampuan yang paling tidak seperti laki-laki. Hal ini dikarenakan kaum wanita tidak diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang setinggi-tingginya. Berbeda dengan kaum laki-laki, mereka diberi kesempatan dan fasilitas lebih untuk mendapatkan pendidikan sehingga mereka bisa bekerja di segala bidang. Anggapan masyarakat bahwa perempuan nantinya akan kedapur, mengapa harus sekolah tinggi-tinggi, menyebabkan kaum wanita tidak maju. Pembodohan tersebut dimaksudkan agar wanita selalu berada dibawah kaum lakilaki, sehingga mereka bisa diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh kaum laki-laki. Oleh karena itu melalui gerakan emansipasi wanita ingin mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang stinggi-tingginya seperti yang didapat oleh kaum laki-laki. 2.3.2.5 Emansipasi di Lingkungan Keluarga Selain di bidang politik, ekonomi, maupun pendidikan ketidakadilan gender juga terjadi dilingkungan keluarga (domestik). Bagaimana proses pengambilan keputusan, pembagian kerja dan interaksi antar anggota keluarga dalam banyak rumah tangga sehari-hari dilaksanakan dengan menggunakan

32

asumsi bias gender. Oleh karenanya rumah tangga juga menjadi tempat kritis dalam mensosialisasikan ketidakadialn gender. Yang terakhir dan yang paling sulit untuk diubah adalah ketidakadilan gender tersebut telah mengakar didalam keyakinan dan menjadi ideologi kaum perempuan maupun laki-laki. Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa manifestasi ketidakadilan gender ini telah mengakar mulai dalam keyakinan masing-masing orang, keluarga hingga pada tingkat Negara yang bersifat Global (Fakih 2001:23). Dilingkungan keluarga peran gender perempuan adalah mengelola rumah tangga, maka banyak perempuan menanggung beban kerja domestik lebih banyak dan lebih lama (burden). Dengan kata lain peran gender perempuan tersebut, telah mengakibatkan tumbuhnya tradisi dan keyakinan masyarakat bahwa mereka harus betanggung jawab atas terlaksananya keseluruhan pekerjaan domestic. Sosisalisasi peran gender tersebut menimbulkan rasa bersalah dalam diri perempuan jika tidak menjalankan tugas-tugas domestik tersebut. Sedangkan bagi kaum laki-laki tidak saja merasa bukan tanggung jawabnya, bahkan dibanyak tradisi secara adat laki-laki dilarang terlibat dalam pekerjaan domestik. Beban kerja tersebut menjadi dua kali lipat bagi kaum perempuan yang bekerja diluar rumah. Selain bekerja diluar, mereka juga masih harus bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan domestik. Beban kerja yang dipikul oleh kaum wanita sangat berat dan seringkali kaum laki-laki tidak menghargai mereka. Kekerasan baik fisik maupun batin seringkali kaum laki-laki berikan kepada kaum wanita jika dalam menyelesaikan pekerjaan domestik atau yang lain dirasa tidak maksimal.

33

Oleh karena itu kaum perempuan juga mengusahakan agar kaum lakilaki juga mendapatkan bagian dalam pekerjaan domestik, meskipun dalam skala yang tidak besar. Kaum wanita juga menuntut agar dalam menyelesaikan pekerjaan domestic ini kaum laki-laki ikut membantu tidak hanya memberikan perintah, memarahi atau mencela pekerjaan domestik kaum perempuan yang tidak maksimal. Dalam hal ini kaum laki-laki menjadi mitra yang sejajar dengan kaum perempuan.

2.4

Pandangan Orang tentang Emansipasi Emansipasi wanita merupakan masalah yang dari dulu hingga sekarang

masih menjadi perbincangan yang serius di masyarakat. Hal ini menimbulkan berbagai pandangan atau asumsi yang berbeda-beda. Ada yang mendukung/pro dengan emansipasi, ada juga yang menentang/kontra dengan emansipasi. Beberapa pandangan yang beredar didalam masyarakat, antara lain menganggap bahwa wanita sebagai pelengkap, manusia kelas kedua, tempatnya dibelakang, dan punya kedudukan atau derajat yang lebih rendah dari kaum pria. Sadar atau tidak warisan yang berakar dikalangan masyarakat turut mewarnai pandangan dan sikap wanita tentang diri sendiri, maupun sikap kaum pria tentang diri wanita. Dalam kenyataan dunia modern, yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terasa ikut pula mengubah pandangan nilai-nilai yang beredar dalam masyarakat tentang kaum pria. Keberhasilan kaum wanita dalam peranan tertentu didalam

pembangunan masyarakat misalnya, sudah sering terdengar dan dapat disaksikan.

34

Ada wanita sukses dalam dunia kecantikan dan berbusana, sukses didalam dunia perdagangan, mengusahakan rumah makan, mendirikan rumah sakit, dunia pendidikan, ada pula wanita yang dikirim keluar angkasa sebagia astronot, polisi, camat, menteri, duta besar, perdana menteri dan bahkan sebagai presiden juga ada. Kenyataan diatas menunjukkan bahwa wanita telah membuktikan kemampuannya, ia berhasil menempatkan diri sejajar dengan kaum pria, duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Wanita yang telah menemukan ajti dirinya, memiliki martabat pribadi mampu menunjukkan kemandiriannya berdasarkan bakat-bakatnya serta keahliannya yang persis sama dengan pria, kendatipun dari sudut fisik wanita tidak dapat berubah menjadi pria. Kenyataan ini juga menunjukkan bahwa emansipasi sudah diterima dengan baik oleh masyarakat. Banyak juga kaum pria yang mengakui bahwa emansipasi yang dilakukan wanita di berbagai bidang seperti ekonomi, sosial, politik, sangat membantu kaum pria untuk menjadi mitra yang sejajar. Namun pandangan yang menentang dalam masyarakat juga masih banyak dilontarkan oleh kaum anti emansipasi baik kaum pria maupun kaum wanitanya sendiri. Mereka berprasangka bahwa gerakan emansipasi wanita adalah gerakan pemberontakan terhadap kaum laki-laki, upaya melawan pranata sosial yang ada, misalnya lembaga/institusi rumah tangga, perkawinan maupun usaha pemberontakan perempuan untuk mengingkari apa yang disebut kodrat. Dengan adanya pemahaman yang salah tentang gerakan emansipasi wanita banyak pihak yang menentang gerakan ini terutama dari pihak laki-laki. Pihak perempuanpun ada yang menentang terutama mereka yang masih memegang teguh nilai-nilai

35

budaya tradisional yang masih kuat, yaitu ciri tradisional yang mengharuskan wanita menjaga kesalehan serta kemurnian mereka, bersikap pasif menyerah, rajin mengurus keluarga dan rumah tangga atau memelihara domestisitas. Namun dimasyarakat kita masih pula mendengar dan melihat kenyataan-kenyataan negative, yang menghinggapi kaum wanita, misalnya wanita yang bersedia dijadikan isteri kedua, ketiga, atau piaraan, wanita diperkosa, dianiaya, dibunuh dan lain-lain (Fakih 2001:3-4). Didalam setiap pertemuan (lokakarya, seminar) wanita pada umunya kurang banyak berbicara, lebih banyak diam, belum berani mengeluarkan gagasan, kendati dalam hati nuraninya wanita memiliki bakat dan banyak gagasan yang brilian. Jati diri dan kemandirian wanita, sebenarnya suatu rangsangan untuk menghantarkan kaum wanita bertanya dan merefleksikan diri secara jujur. Seberapa jauh kaum wanita telah dapat membuktikan kemampuannya, bahwa mereka telah dapat menempatkan diri sejajar dengan kaum pria, dan berapa banyak wanita yang telah berusaha meningkatkan kualitas mencapai tingkatan hidup yang sejajar dengan kaum pria tanpa mengabaikan jati diri secara kodrati sebagai kaum pria. Namun demikian, satu hal yang patut disayangkan adalah berbaurnya kaum wanita dan laki-laki dalam banyak bidang, yang orang sebagai kemajuan, ternyata disisi lain malah menyebabkan kemunduran pada pribadi wanita itu sendiri.

36

Emansipasi bukanlah konsep yang berasal dari Timur. Ia diserap dari perbendaharaan Barat, yang pada realisasinya posisi agama telah disisihkan, digantikan oleh logika dan sementara itu semangat spiritualisme berganti pola menjadi nafsu materialisme. Wanita Barat menuntut untuk mandiri secara ekomoni. Gerakan yang hanya didasarkan pada materialisme ini telah mengikis sedikit demi sedikit sisi perasaan kewanitaan, dan Barat bukannnya menambah kehormatan wanita (Anshori 1992:200). Gerakan emansipasi tesebut memberikan kebebasan kepada kaum pria tetapi bukan berarti bebas tanpa batas. Ada norma-norma, nilai-nilai moral yang membatasinya terutama norma-norma atau nilai-nilai agama. Sebenarnya agama tidak melarang wanita untuk berperan langsung dalam kehidupan masyarakat dengan gerakan emansipasinya, asalkan realisasi peran tersebut ditata berdasarkan agama serta selalu didasarkan pada adanya perbedaan orientasi antara wanita dan pria. Novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono memaparkan bagaimana emansipasi para tokoh utamanya baik di bidang politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan keluarga. Tokoh Nenek cenderung menentang emansipasi wanita karena latar belakang keluarganya yang berasal dari kaum ningrat. Mereka masih memegang teguh adat Jawa yang masih dipengaruhi sistem patriarkat. Ayah Nenek seorang bangsawan keraton sedangkan ibunya adalah saudagar batik yang kaya raya. Kedua orang tua Nenek sejak kecil selalu menanamkan nilai-nilai Jawa dalam diri Nenek. Sejak Umur tujuh tahun Nenek dipingit, tidak boleh keluar rumah kecuali pada saat Nenek sekolah sampai

37

nantinya masa remaja Nenek akan dilamar oleh laki-laki pilihan dari keluarga ningrat. Masa pingitan dilalui nenek dengan berbagai kegiatan kewanitaan seperti belajar memasak, menjahit, mengurus rumah tangga dan berbagai pengetahuan mengenai urusan rumah tangga. Dalam diri Nenek ditanamkan nilai-nilai bahwa seorang wanita harus berani bersikap pasrah, nrimo, sabar, dan mengabdi pada suami dan nilai-nilai sosial lainnya. Hal tersebut yang menyebabkan Nenek cenderung menentang emansipasi wanita. Tokoh Ibu sangat mendukung emansipasi wanita. Hal tersebut dilatar belakangi pengalaman masa lalu Ibu sewaktu kecil. Orang tua Ibu (Kakek dan Nenek) hidup dalam perkawinan poligami. Kakek mempunyai banyak selir. Suatu ketika saat Nenek mengandung adik yang diidam-idamkan Ibu akan dilahirkan, Kakek tidak ikut menemani proses persalinan. Kakek pergi ke tempat selirnya yang baru. Hal itu mengakibatkan adik Ibu meninggal. Karena peristiwa itu, Ibu bertekad tidak akan mau diperlakukan sewenang-wenang oleh suaminya kelak dalam perkawinan. Bahkan, Ibu bertekad akan mengungguli suami maupun lakilaki manapun di bidang politik, hukum, ekonomi, dan pendidikan. Tokoh Gading mendukung emansipasi wanita di bidang politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan di lingkungan keluarga dilatarbelakangi lingkungan keluarga yang yang demokratis, berwawasan modern dan pendidikan yang tinggi. Dia berpandangan bahwa gerakan emansipasi wanita memang seharusnya diperjuangkan wanita agar mereka mendapat kesempatan untuk maju dan mengembangkan potensi serta bakat yang dimilikinya.

38

BAB III METODE PENELITIAN

3.1.

Sasaran Penelitian Sasaran penelitian ini adalah tentang emansipasi pada novel Tiga Orang

Perempuan karya Maria A. Sardjono. Lebih rinci penelitian ini meneliti tentang gambaran dan pandangan tiga tokoh utama wanita dari tiga generasi yang berbeda tentang emansipasi pada novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono. Sumber data penelitian ini adalah novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono. Penelitian bersumber dari keseluruhan teks novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2002 dan pernah juga diterbitkan oleh SAN Agency.

3.2.

Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif. Menurut Abrams

(dalam Baribin 1987 : 33) pendekatan objektif adalah pendekatan yang dipandang sebagai keseluruhan yang tersusun dari bagian-bagian yang berjalinan erat secara batiniah, yang menghendaki pertimbangan, dan analisis dengan kriteria unsure intrinsik berdasarkan keberadaannya, seperti kompleksitas, koherensi,

keseimbangan, integritas, dan saling hubungan antara unsur-unsur pembentuknya. Analisis ini dilakukan dengan mengidentifikasi dan mendeskripsikan unsure novel yaitu tokoh dan penokohan. Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif sebab penelitian ini memfokuskan pada unsur-unsur yang terdapat pada karya

39

sastra, dalam hal ini unsur intrinsik yang berhubungan dengan tokoh utama wanita, yang dihubungkan dengan emansipasi. Penelitian ini dilakukan pada pandangan emansipasi tokoh utama wanita dilihat dari perbedaan usia, latar belakang dan kebudayaan yang menjadi pedoman hdup mereka. Penelitian tentang emansipasi (gambaran dan pandangan) ketiga tokoh dalam novek Tiga Orang Perempuan ini merupakan penelitian yang dihubungkan dengan feminisme ini digunakan untuk mengungkapkan emansipasi wanita dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Setiap hasil penelitian ini selalu bersifat deskriptif artinya data yang dianalisis dan hasil analisisnya berbentuk deskripsi fenomena (Aminuddin 1990 : 16).

3.3.

Metode Analisis Data Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis

struktural.

Teori

yang

digunakan

adalah

teori

strukturalisme

untuk

mendeskripsikan tiga tokoh utama wanita yang memiliki pandangan yang berbeda tentang emansipasi dalam novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono. Penulis menggunakan metode ini karena penelitian ini , memfokuskan diri pada unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra. Penulis menitikberatkan pada unsur tokoh utama wanita tersebut tantang emansipasi dan gambaran emansipasi yang terdapat dalam novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono.

40

3.4.

Teknik Analisis Data Sebelum penulis membuat penelitian, terlebih dahulu penulis

merumuskan langkah-langkah atau teknik untuk menganalisis data yang sudah didapat. Tujuan perumusan ini adalah agar dalam pembuatan penelitian , penulis tidak melakukan penelitian yang tidak relevan dengan rumusan permasalahan yang sudah dibuat sebelumnya. Teknik dilakukan dengan menganalisis data secara urut sesuai kronologis. Teknik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara menganalisis unsur intrinsik yaitu tokoh dan penokohan. Unsur tokoh dan penokohan ini difokuskan pada tiga tokoh utama wanita yang terdapat didalam novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan mengenai gambaran secara umum emansipasi yang terdapat di dalam novel tersebut. Berikutnya dipaparkan pandangan ketiga tokoh utama wanita terhadap emansipasi.

3.5.

Langkah Kerja Langkah kerja yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut : 1. Membaca sumber data yaitu novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono secara heuristik dan hermeneutik. Tujuan dari membaca novel secara heuristik adalah agar penulis dapat mengangkat makna secara

harfiah novel tersebut yang berupa kode bahasa, sehingga diketahui bagaimana jalan ceritanya dan isi novel secara garis besar. Sedangkan

41

melalui pembacaan hermeneutik penulis dapat menangkap makna novel ini secara lebih mendalam dan mengungkapkan makna-makna yang tersirat. Pembacaan secara hermeneutik membantu kita untuk menafsirkan kode sastra dan kode budaya, yang pada penelitian ini digunakan untuk mengungkap bagaimana gambaran tentang emansipasi yang ada dalam novel tersebut dan mengungkapkan pandangan ketiga tokoh utama wanita dari tiga generasi yang berbeda tentang emansipasi. 2. Menentukan tokoh utama wanita, sebab itu adalah langkah awal untuk menuju penelitian tentang emansipasi tokoh utama wanita pada novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono. 3. Menganalisis penokohan ketiga tokoh utama wanita dalam novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono. 4. Memaparkan emansipasi yang ada dalam novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono. 5. Menganalsis pandangan tentang tiga tokoh utama wanita tentang emansipasi dalam novel tersebut. 6. Membuat simpulan hasil analisis.

42

42 BAB IV DESKRIPSI EMANSIPASI DAN PANDANGAN TIGA TOKOH UTAMA WANITA DALAM NOVEL TIGA ORANG PEREMPUAN

Penelitian dalam skripsi ini merupakan penelitian terhadap suatu teks karya sastra yang berbentuk novel. Penelitian terhadap novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono ini ditinjau dari segi struktural dan teori gender. Dari segi struktural, akan dianalisis tentang tokoh dan penokohan. Kemudian, akan dianalisis juga bagaimana gambaran dan pandangan tiga tokoh utama wanita yang berbeda tentang emansipasi wanita yang terbentur oleh budaya yang diwarnai oleh sistem patriarkat dan bagaimana wujud nyata emansipasi yang mereka sumbangkan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Pandangan tiga tokoh utama wanita tentang emansipasi dalam novel ini mencakup bidang politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan keluarga.

4.1

Tokoh dan Penokohan Novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono menampilkan tiga tokoh

utama wanita dari tiga generasi yang berbeda yang terbentur oleh budaya yang dipengaruhi sistem patriarkat. Faktor tersebut mempengaruhi pandangan mereka tentang emansipasi. Ketiga tokoh ini dianggap cukup membawa misi pengarang dalam kaitannya dengan emansipasi wanita. Pembahasan tiga tokoh utama wanita ini akan difokuskan pada bagaimana cara pandang ketiga tokoh yang berbeda generasi tersebut tentang

43 emansipasi yaitu tokoh Nenek, Ibu, dan Gading dalam novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono ini. Analisis penokohan dalam novel Tiga Orang Perempuan hanya ditekankan pada tokoh dan penokohannya yaitu tokoh utama. Sebab dalam skripsi ini tidak dibahas struktur secara keseluruhan, penelitian ini terfokus pada emansipasi wanita dalam novel dan pandangan ketiga tokoh utama wanita tentang emansipasi. Adapun tokoh utama novel ini adalah Nenek, Ibu, dan Gading. Ketiga tokoh tersebut merupakan tokoh utama karena memiliki ciri-ciri tertentu sebagai tokoh utama yaitu paling banyak diceritakan pengarang, tokoh diceritakan mulai dari awal permasalahan ketika Nenek ingin menjodohkan Gading kemudian ketika konflik antara Ibu dan Bapak sampai akhirnya ketiga tokoh ini mampu menyelesaikan konflik yang mereka alami. Ciri kedua, tokoh selalu berhubungan dengan tokoh lain, dalam setiap konflik tokoh Nenek berhubungan dengan Gading dan Ibu yaitu ketika Nenek ingin menjodohkan Gading dengan Hari, Ibu kurang menyetujuinya. Ciri ketiga, tokoh selalu menjadi sorotan, berperan penting, dan menentukan perkembangan plot secara keseluruhan. Tokoh Nenek, Ibu, dan Gading dalam setiap terjadinya konflik selalu dimunculkan oleh pengarang. Konflik-konflik tersebut diantaranya Nenek yang ingin menjodohkan Gading, perkawinan Ibu dan Bapak yang retak, dan pertemuan Gading dengan mantan kekasihnya yang belum juga mendapat restu dari Nenek. Ketiga tokoh ini sangat menentukan perkembangan plot dari awal munculnya permasalahan, konflik yang memuncak, sampai pada akhirnya konflik tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Ketiga tokoh juga berperan penting dalam setiap peristiwa, karena ketiga tokoh tersebutlah yang menjadi titik fokus pembicaraan dalam novel ini. Ketiga tokoh tersebut selalu hadir sebagai pelaku atau yang dikenai kejadian atau konflik,

44 yaitu ketika konflik yang terjadi antara Nenek dengan Gading saat beliau menjodohkannya, konflik antara Ibu dengan Nenek mengenai masalah rumah tangga, konflik Gading dengan Hari dan mantan kekasihnya. Berikut ini akan dijelaskan mengenai ketiga tokoh utama wanita tersebut di atas. 4.1.1 Nenek Secara fisik Nenek merupakan sosok wanita yang sudah tua yaitu berumur lebih dari delapan puluh empat tahun namun beliau masih sehat dan bicaranya pun begitu mantap. Seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “Malahan demi meyakinkan alat-alat di dalam telingaku itu kucondongkan tubuhku ke arah suara itu, yang keluar dari mulut seorang perempuan tua berumur lebih dari delapan puluh empat tahun, tapi masih tampak sehat.” (TOP hlm: 7)

Sosok nenek dalam keluarganya dikenal sebagai seorang wanita yang sangat keras pendiriannya, bahkan nyaris keras kepala. Beliau sulit sekali untuk menerima perubahanperubahan yang banyak sekali terjadi di zaman ini. Seperti saat Gading memberikan argumentasi saat sang nenek membujuknya untuk menikah dengan laki-laki yang dijodohkan nenek untuknya. Dijelaskan dalam kutipan berikut ini. “Eyang tadi bilang, kamu itu mbok jangan terlalu banyak memilih dan menimbang. memilih, menimbang, dan menimbang, dan memutuskan itu haknya kaum laki-laki. Bukan hak kita. Sebab, kita kaum perempuan ini adalah orangorang yang berada di tempat yang akan dipilih.” (TOP hlm: 8) “Eyang masalahnya bukan terletak pada hak untuk memilih dan dipilih, melainkan pada keyakinan mengenai satu hal yang penting. Yaitu, Mas Hari bukanlah laki-laki yang sesuai untuk Gading.” (TOP hlm: 10)

45 Nenek merupakan seorang sosok wanita Jawa tulen yang selalu memegang teguh adapt istiadat Jawa. Baginya adat istiadat itu sudah mendarah daging dalam didikan keluarganya sampai beliu mempunyai tujuh orang anak bahkan cucu dan cicitnya juga diberikan. Petikan berikut memaparkan pernyataan tersebut. “Tetapi selain itu, dia bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Hari. Baik wajah, penampilan, sikap, tutur bahasa, dan terutama dalam hal keunggulan keturunan dan asal usulnya. Bibitnya seperti apa, bobotnya bagaimana, dan bebetnya seberapa, kita tidak tahu. Tetapi Hari itu siapa, sudah jelas seperti apa latar belakangnya. Lahir dari keluarga ningrat, sehat, terhormat, dan tanpa cela.” (TOP hlm: 18)

Namun demikian, nenek di satu sisi adalah sosok perempuan yang sangat tabah, lembut, berjiwa seni, dan memperlihatkan segi-segi feminitasnya yang kuat sebagai wanita Jawa dengan sederet tuntutan mengenai keutamaan yang berhasil digapainya. Berikut ini kutipan pernyataan tersebut. “Berbagi kasih dan perhatian suami dengan banyak wanita lain adalah sesuatu yang biasa terjadi. Seperti yang eyangku sering katakana kepadaku bahwa perempuan haruslah rela menerima apa saja perlakuan sang suami,” (TOP hlm: 26) “Bahkan menurut budeku itu, eyangku pernah mengalami kesulitan melahirkan pada saat suaminya baru saja mengambil selir baru sesudah memulangkan yang lama.” (TOP hlm: 29)

Nenek adalah seorang isteri yang setia, patuh, dan menurut pada suami tidak pernah berbuat yang di luar batas norma dalam perkawinan. Dalam kehidupan perkawinan selalu beliau terapkan filsafat Jawa mengenai bagaimana menjadi isteri yang baik bagi suami dan anak-anaknya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini.

46 “Perempuan juga harus berani memiliki sikap untuk “nrimo ing pandum” dan menerima dengan rela “jatah” yang diberikan kepadanya sebagai suatu ketentuan yang sudah digariskan oleh Yang Mahakuasa. Sebab menurut ajaran yang diterimanya, perempuan sejati atau perempuan utama harus memiliki sikap pasrah dan merentangkan keselarasan baik terhadap Tuhan, terhadap sesama, maupun terhadap diri sendiri.” (TOP hlm: 26)

Meskipun demikian sebagai seorang wanita dan seorang isteri dia tidak pernah mencintai suaminya seratus persen karena baginya itu akan menimbulkan penderitaan batin. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “Perempuan renta yang dulu berwajah rupawan itu tak pernah berani mengungkapkan perasaan cintanya kepada seseorang, meskipun orang itu adalah suaminya, ayah ketujuh anaknya sendiri. Sebab baginya, perasaan cinta selalu sejalan dengan persaingan dan kecemburuan yang bisa menyakitkan karena penuh dengan perasaan tidak yakin terhadap masa depan, ketidakpercayaan diri, ketidaktenteraman, kegelisahan, penantian, harapan yang sering tidak terpenuhi, dan terutama ketakutan akan ditinggalkan.” (TOP hlm: 32) “Cukup dia saja yang mencintaimu. Dan kalau toh nanti muncul juga perasaan cinta karena terbiasa hidup bersama dalam mengarungi suka dan duka, janganlah perasaan itu kauserahkan sepenuhnya kepadanya kalau kau ingin hidup dengan hati yang damai.” (TOP hlm: 32)

Nenek merupakan sosok wanita Jawa yang modern, cukup berwawasan luas dan mementingkan anak-anaknya, terutama dalam hal kebutuhan akan pendidikan. Tekadnya untuk memberi pendidikan setinggi mungkin bagi ketujuh anaknya dan juga pengorbanannya untuk mengabdikan diri kepada keluarganya. Dia ingin membuktikan diri sebagai perempuan yang kuat, perempuan yang tidak hanya bisa menadahkan tangan menunggu pemberian suami saja. Hal itu untuk menunjukkan keberhasilannya sebagai isteri dan ibu melebihi apa yang bisa dilakukan oleh perempuan-perempuan saingannya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini.

47 “Dan menilik jumlah anak yang dilahirkan mencapai tujuh orang, termasuk ibuku sebagai si bungsu, aku mempunyai dugaan bahwa beliau termasuk isteri yang paling disayang. Terlebih dengan bukti bagaimana ketujuh anak itu mendapat pendidikan yang layak dan hidup dalam kecukupan. Apalagi ditambah pendidikan informal yang diajarkan di rumah dengan mendatangkan berbagai guru untuk mereka.” (TOP hlm: 27)

Tekad besar Nenek muncul ketika ia ingin melihat anak-anaknya berhasil dalam bidang studi mereka. Beliau selalu menemani anak-anak belajar sampai malam walaupun dengan terkantuk-kantuk. Apalagi di saat mereka akan menempuh ujian. Begitu juga dengan seluruh kasih dan pengabdiannya, nenek selalu berpuasa setiap kali mengetahui anaknya yang mangalami kesulitan dalam pelajaran di sekolah maupun hal-hal lainnya. Hal tersebut beliau lakukan agar mereka mendapat kemudahan dalam menghadapi kesulitan. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “Kalau bukan karena beliau, ibu tidak akan mungkin bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi dosen dan apa artinya dunia pengetahuan bagi kehidupan manusia, “ acap kali ibu berkata seperti itu setiap kali ada di antara anak-anaknya yang tampak agak kendor semangat belajarnya.” (TOP hlm: 80)

Nenek merupakan anak keturunan bangsawan. Ayah beliau adalah seorang bangsawan tinggi keratin Solo, sedangkan ibunya adalah anak saudagar batik yang kaya dari keluarga bukan bangsawan. Meskipun demikian, beliau memperlihatkan arogan, sikap keras yang nyaris seperti tangan besi, dan keberanian melakukan sesuatu yang jarang ditemui pada wanita-wanita seusianya yang lahir di balik tembok keraton yang tingginya dua setengah meter. Beliau meneruskan usaha batik ibunya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini.

48 “Tetapi berbeda dengan perempuan-perempuan bangsawan lain yang nyaris tak pernah terjun dalam urusan bisnis, Eyang Putri justru bergerak secara aktif mengurusi bisnisnya tanpa takut mendapat penilaian negatif. Maklum, pada masa itu perempuan-perempuan bangsawan tinggi jarang yang berkecimpung dalam dunia perdagangan karena takut akan menurunkan derajat mereka. Takut dinilai sebagai “bakul” (penjual). Sebab kebiasaan pada masa itu, hanya perempuanperempuan kelas bawah sajalah yang ikut aktif di dalam roda ekonomi, bahkan dengan berjualan di pasar ataupun dengan menjajakannya di jalan-jalan.” (TOP hlm: 78)

4.1.2

Ibu Ibu adalah sosok wanita yang digambarkan berumur lebih dari lima puluh tahun

tapi nada bicaranya masih tampak bersemangat. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “Aku tertegun. Kutatap wajah ibuku karena aku mendengar nada-nada yang meletup-letup dalam suaranya. Kulihat, wajah perempuan yang usianya sudah lebih dari lima puluh tahun itu tampak bersemangat ketika berbicara. Pada saat itu, wajahnya terlihat cantik sekali, sebab dengan matanya yang bercahaya ia jadi tampak lebih muda.” (TOP hlm: 120-121)

Sosok ibu sangat perhatian dengan keluarganya, baik suami maupun anakanaknya. Kasih sayang yang ia berikan ia wujudkan dalam kehidupan rumah tangga dengan memberikan pelayanan yang terkadang bagi anak-anak dan suaminya dianggap terlalu berlebihan, namun mereka tahu bahwa apa yang dilakukan oleh ibu semata-mata karena ia sangat menyayangi keluarganya itu. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “Kehujanan lagi, sayang?”Kudengar suara lembut di belakangku.” “Sudahlah,” katanya kemudian. “Lekaslah ganti bajumu yang basah itu, lalu mandilah dengan air panas. Minta Yu Mi, sana. Ibu akan menyiapkan wedang jahe untukmu. Ibu tidak ingin melihatmu sakit lagi!” (TOP hlm: 114)

49 Ibu sangat berbeda dengan Nenek yang memiliki hati tegar namun lembut keibuan, hangat dan suka berbicara tetapi keras kepala, Ibu merupakan wanita yang agak dingin, tertutup dan termasuk dominant dalam keluarga inti. Persamaan keduanya adalah sama-sama termasuk wanita mandiri dan keras hati. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “Namun entah apa pun alasan maupun kebenarannya, acap kali aku ingin mengangkat topi melihat bagaimana sempurnanya beliau mengatur segala sesuatunya, dari urusan dapur hingga penentuan pakaian yang dikenakan oleh ayahku. Bapak memang tidak terlalu memperdulikan penampilannya. kombinasi antara pantalon, kemeja, dan dasinya suka ngawur. Ibulah yang mengaturkan warna dan kepantasannya sehingga Bapak selalu tampak rapi dan keren. Kemudian ibuku juga mengurus hal-hal lainnya, dari urusan rekening koran, listrik, telepon, dan ini serta itu, sampai pada urusan servis mobil. Kapan mobil tuanya harus diservis, kapan pula mobil Bapak yang juga sudah jauh dari baru itu harus diganti oli gardannya, dan seterusnya lagi.” (TOP hlm: 122-123)

Meskipun demikian antara Nenek dengan Ibu dalam kehidupan yang menyangkut keluarga, mereka senantiasa melancarkan protes apabila terjadi ketidakadilan yang dialami oleh mereka, terutama yang menyangkut masalah budaya patriarkat. Yang berbeda adalah caranya. Eyang Putri melakukan protesnya dengan mengambil alih keterbatasan keuangan Eyang Kakung yang tak sanggup menyejahterakan ketiga isteri dan ketiga belas anaknya itu pada perusahaan batiknya.Ibu melakukan protesnya dengan menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi dan pada kemampuannya mengatur seluruh urusan rumah tangga. Seolah profesi dosen merupakan cara bagaimana dia memperlihatkan otoritas yang dimilikinya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “Ibuku melakukan protesnya dengan menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi dan pada kemampuannya mengatur seluruh urusan rumah tangga. Seolah profesi dosen merupakan cara bagaimana dia memperlihatkan otoritas yang dimilikinya.” (TOP hlm: 122)

50 “Sedangkan ibu, karena usianya belum memasuki usia pension, sampai sekarang beliau masih tetap mengajar. Dan semakin senior Ibu, semakin dihargai keberadaannya. Bahkan menurut kabar angina, Ibu termasuk dosen favorit, karena banyak mahasiswa yang memilihnya sebagai dosen pembimbing skripsi. Maka kesibukannya semakin bertambah saja.” (TOP hlm: 122)

Ibu sebagai seorang isteri tidak seperti Eyang Putri yang selalu bersikap sabar, penuh pemaafan dan pemahaman, nrimo, bakti, dan penuh pelayanan terhadap suami. Intinya bagi Eyang Putri sebagai isteri harus ikut kemana pun suaminya pergi. Pandangan Ibu bertolak belakang dengan pandangan Eyang Putri, Ibu tidak setuju dan menganggap pandangan Eyang Putri tersebut sudah tidak sesuai dengan zaman sekarang yang menuntut wanita untuk beremansipasi. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “Soalnya ibu teringat pada sikap Eyang. Zaman sudah maju begini, beliau masih saja mempunyai anggapan bahwa perempuan berada pada tataran yang lebih rendah darpada laki-laki karena katanya itu sedah merupakan tatanan dunia. Maka perempuan harus bersikap sabar, penuh pemaafan dan pemahaman, nrimo, bakti, dan penuh pelayanan terhadap suami, seorang isteri harus meletakkan seluruh hidup dan masa depannya, sehingga kemana pun suami pergi, dia harus ikut. Tetapi ibu menunjukkan bahwa anggapan seperti itu sama sekali tidak benar. Perempuan juga seorang manusia, bukan bayang-bayang dan bukan alas kaki suami! (TOP hlm: 124-125)

Ibu adalah sosok wanita yang memiliki sifat keras, tegas, dan sesekali juga meledak-ledak, itu terjadi jika ibu menghadapi masalah, berargumantasi, terutama yang menyangkut masalah emansipasi wanita. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “Seperti orang Jawa yang lain, Bapak juga mendapat ajaran kuno namun sangat relevan dengan keadaan sekarang, yaitu sebisanya menghindari konflik terbuka demi keharmonisan relasi antarmanusia. Sementara ibuku termasuk orang yang keras, tegas, dan sesekali juga meledak-ledak. (TOP hlm. )

51 Sebagai seorang isteri, ibu tidak pernah melayani suaminya seperti halnya Eyang Putri melayani Eyang Kakung dulu. Itu dikarenakan anggapan ibu bahwa mereka juga sama-sama capek selesai bekerja jadi apapun yang bisa dikerjakan oleh suaminya hendaknya dikerjakan sendiri tidak perlu isteri yang mengurusnya. Ibu menginginkan adanya kesetaraan gender dalam rumah tangganya, Tidak ada keharusan bagi ibu untuk melayani keperluan suami untuk hal-hal yang sepele yang bisa dikerjakan sendiri. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “Ibu ingin memperlihatkan kepada Bapak bahwa laki-laki dan perempuan itu setara dalam segala hal. Karenanya Ibu menunjukkan kepada Bapak bagaimana Ibu mampu menyelesaikan segala urursan yang ada tanpa harus minta tolong kepadanya. Sebaliknya, Ibu juga menginginkan bapakmu melakukan hal-hal yang bisa dilakukannya sendiri tanpa bantuan isteri, seperti misalnya mengatur dan menyediakan sendiri pakaian dalamnya. Atau mengambil makanannya, atau apa sajalah.” (TOP hlm: 182)

Sikap Ibu yang demikian itu memperlihatkan bahwa beliau dalam hal cinta memiliki prinsip dan pandangan yang berbeda dari Eyang Putri dan kakak-kakak perempuan yang lain. Termasuk dalam hal mencintai suami. Ia melihat bahwa dalam mencintai seseorang kita harus tetap realistis dan rasional. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “Cinta itu sangat indah, Sayang. Tetapi jangan pernah tenggelam di dalamnya sehingga kita lupa bahwa kenyataan hidup di dunia ini tidak selalu indah. Bahkan penuh dengan pelabagai macam perjuangan. Maka akhirnya nanti jika mereka yang sedang mabuk cinta itu mulai bersentuhan dengan realitas, keindahan cinta yang semula menggebu dan berkobar-kobar penuh berbunga indah itu akan berubah warna dan kadarnya. Jadi, Sayang, dalam menghadapi cinta itu hendaknya rasio dan perasaan itu selalu berjalan seiring dan setujuan dan selalu pula dalam keadaan seimbang.” ( TOP hlm: 167 ) “Ibu Cuma mau mengatakan bahwa betapapun tenggelamnya hati yang sedang jatuh cinta, kita harus tetap realistis dan rasional.” ( TOP hlm: 168 )

52 Sikap ibu yang begitu keras, ternyata membawanya ke dalam situasi yang tidak menyenangkan, di mana Bapak ternyata ketahuan berselingkuh dengan wanita lain. Bapak melakukan itu karena beliau tidak pernah mendapatkan kasih saying, perhatian, belaian manja dari isterinya sendiri. Perkawinannya dengan Ibu dirasakan begitu kaku dan dia merasa harga dirinya sebagai kepala rumah tangga tidak ada artinya lagi dihadapan Ibu. Apa yang dilakukan oleh Bapak sebagai suami telah mengahncurkan prinsip Ibu yang telah lama dibangunnya bagai benteng itu. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “Bapak mengkhianati Ibu, Nduk. Ada perempuan lain dalam kehidupannya.” Suara Ibu kembali bergetar.” Sakit sekali rasanya.” ( TOP hlm: 176 ) “Namun apa pun itu, kita tidak perlu menengok ke belakang. Sekarang yang penting, Ibu akan memperlihatkan kepada bapakmu bahwa Ibu tetap akan berpegang teguh prinsip hidup Ibu mengenai makna perkawinan.” “ Bapakmu tahu betul, Ibu tidak suka dimadu seperti Eyang.” “Jadi Ibu akan mengajukan suatu penyelesaian yang jelas dan pasti. Yaitu perceraian!” ( TOP hlm: 182-183 ) “Tetapi air mata yang ditumpahkannya beberapa malam yang lalu, sangat banyak. Waktu Gading melihat tangisnya itu, rasanya seolah Ibu tidak akan berhenti menangis, ” sahutku. “ Bapak tahu apa sebabnya? Itu karena laki-laki yang ia cintai telah mengkhianatinya dan tega merobohkan prinsip hidup yang dibangunnya bagai benteng itu.” ( TOP hlm: 199 )

Permasalahan yang dihadapi oleh Ibu menyebabkan perubahan sikap dari Ibu. Beliau terlihat rapuh, tidak seperti biasa sewaktu ada masalah yang menimpanya itu. Ia sangat tegas berwibawa, kuat, dan tegar. Namun demikian Ibu tetap mencoba untuk kuat menghadapi cobaan dengan bantuan Gading anaknya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Ibu jangan terlalu sedih,” bisikku di sisi telinganya. “ Sekarang masuklah ke kamar dan cobalah untuk tidur. Ibu harus tetap kuat. Gading ingin melihat Ibu seperti biasanya. Kuat, tegar, mandiri, tegas, berwibawa, dan tidak membiarkan emosi mewarnai rasio. Gading juga ingin melihat sisi Ibu yang lain, yang hangat

53 keibuan dan memancarkan rasa percaya dan damai di hati kami semua.” ( TOP hlm: 185) “ Ibu mencintai bapak dengan caranya sendiri. Tetapi Gading tahu betul, Ibu sangat mencintai Bapak. Tak ada laki-laki lain dalam hidupnya. Meskipun demikian, betapapun besar cinta Ibu kepada Bapak, tetapi dengan kenyataan seorang perempuan lain telah menyela dalam perkawinannya, tidak mengikis kekuatan prinsip hidupnya. Maka meskipun dengan hati hancur, Ibu akan tetap konsisten dan berpegang teguh pada suara hati dan penilaian moral dalam batinnya. Gading yakin sekali, tidaklah mudah bagi Ibu untuk menentukan sikap yang bukan hanya akan melukai dirinya sendiri saja, tetapi juga akan melukai hati kami anak-anaknya. Tetapi kemauan dan tekad Ibu sangat kuat. ” (TOP hlm:200)

Namun pada akhirnya berkat tekad Gading yang ingin menyelamatkan keluarga dari bencana akibat permasalahan yang dihadapi oleh kedua orang tuanya itu, keluarganya berhasil melewati masa-masa kritis dengan baik. Kedua orang tuanya bersatu kembali menjadi keluarga yang lebih berbahagia.

4.1.3

Gading Gading adalah seorang gadis dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya, baik

sebagai seorang anak, cucu, kakak, dan sebagai seorang wanita muda yang memiliki citacita yang tinggi untuk bisa mempersembahkan sesuatu yang dapat membanggakan keluarganya dan orang-orang yang dia cintai. Gading adalah sosok wanita yang kritis dengan keadaan di sekitarnya, terutama dengan hal-hal yang dia nilai bertentangan dengan hati nuraninya, seperti yang dapat kita lihat dalam cuplikan berikut. “ Dan ajaran pengembangan kepribadianku serta dalam proses pencarian diri, ajaran-ajaran keduanya kuolah dalam batinku, menjadi nilai-nilai sendiri yang kuyakini kebenarannya untuk kujadikan pegangan hidup. Aku adalah seorang perempuan yang cukup kritis, sehingga tidak menelan mentah-mentah begitu saja apa pun yang kupelajari. ” ( TOP hlm: 222 )

54 Seiring dengan tumbuhnya kedewasaan dalam diri Gading tersebut pola piker yang kritis menandainya dalam berbagai pola sikap dan tingkah lakunya, terutama dalam mengambil keputusan mana yang baik dan mana yang tidak baik bagi dirinya maupun orang lain. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Dan meskipun aku tumbuh dewasa di antara dua pola pikir yang berasal dari dua generasi yang berbeda, aku selalu belajar mengolah segala sesuatunya agar pas dengan hati nuraniku yang paling dalam, untuk kemudian menjadi nilai-nilaiku sendiri.” ( TOP hlm: 222 )

Gading sangat dekat dengan nenek dan ibunya sehingga dia selalu terbuka untuk menceritakan segala masalah yang dia hadapi dengan kedua wanita yang sangat dia hormati dan sangat dia cintai itu. Dia selalu meminta nasehat dan masukan yang sangat dia butuhkan dan itu cukup membantu untuk memecahkan segala masalah yang dia hadapi. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Hubunganku dengan orang tuaku amat dekat. Terutama dengan ibuku. Dan karena sebagai anak bungsu ibuku juga dekat dengan Eyang, maka aku pun juga cukup dekat dengan beliau. Apalagi aku termasuk cucu yang tak pernah merasa bosan mengobrol dan bertanya-tanya ini-itu kepadanya. Dengan demikian, dari kedua perempuan terdekatku itulah aku banyak menimba ilmu pengetahuan hidup. ” ( TOP hlm: 221-222) “ Karena kedekatanku dengan ibu, kuceritakanlah semua hal yang menyangkut hubunganku dengan Mas Yoyok dan bagaimana perasaanku terhadapnya. Demikian juga hal-hal yang menyangkut Mas Hari dan bagaimana pula perasaanku dalam hal ini. ” ( TOP hlm: 222)

Sebagai seorang gadis yang modern, Gading mempunyai profesi yang mendukung yaitu sebagai seorang wartawan. Profesi tersebut sangat cocok dengan kepribadian yang dimiliki olehnya. Seorang Gading yang kritis, supel dan mempunyai pikiran yang modern dan keinginan untuk maju tidak kalah dengan laki-laki, seorang

55 pekerja keras dan professional di bidangnya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Ya doakan saja aku tidak harus ke luar kota lagi pada hari itu. Kau tahu kan, sebagai wartawan pada prinsipnya kami bekerja dua puluh empat jam sehari. Kalau tidak begitu, kami bisa kehilangan berita besar karena keduluan orang!” (TOP hlm: 234)

Gading mempunyai sifat yang kurang tegas dalam mengambil keputusan, sehingga memberikan kesan dia seorang wanita yang tidak mudah mengambil keputusan sendiri untuk kebaikannya maupun orang lain. Kesan tersebut kadang menyebabkan orang lain menjadi salah paham akan sikap dia seolah memberikan harapan terhadap orang lain untuk bisa mendekatinya. Hal itu dikarenakan untuk menjaga perasaan Nenek. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Gading kalau nanti Nak Hari dating ke sini, usahakanlah agar kau bisa bersikap lebih tegas dan tidak memberinya harapan,” katanya kepadaku suatu ketika.” (TOP hlm: 223)

Ketakutan akan teringat kembali pada kenangan saat Gading bersama dengan Yoyok menjadi penghalang untuk kembali menjalin persahabatan dengan Ida adik Yoyok. Bahkan dia segan dating di hari pernikahan Ida gara-gara takut akan kenangan itu sendiri. Hal itu disebabkan Gading masih memendam rasa cinta terhadap Yoyok yang selama ini masih dia simpan. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Namun terlepas dari masalah itu, sebenarnya keenggananku yang paling besar bersumber pada rasa takut. Aku takut luka-luka hatiku akan kambuh kembali. Ada banyak tempat di rumah mereka yang pasti akan mengingatkanku pada laki-laki itu.” (TOP hlm: 234)

56 Sifat lain yang dimiliki oleh Gading adalah sifat itu akan muncul ketika dia menghadapi orang yang dicintainya yaitu Yoyok. Ketika ia bertemu dengan Yoyok dalam pesta pernikahan adik Yoyok, rasa itu timbul setelah sekian lama dia berpisah dengannya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Ah, alangkah iriku padanya. Kenapa aku tidak bisa bersikap tenang dan santai seperti dia? Mengapa pula lidahku masih saja kelu padahal Mas Yoyok tampak begitu percaya diri? Sungguh, alangkah memalukan diri ini!” (TOP hlm: 248)

Meskipun demikian Gading adalah seorang gadis yang cerdas, pengetahuannya sangat luas dan terkadang karena kecerdasannya itu, dalam berkata-kata sering menggunakan filsafat. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Lho, yang namanya kemungkinan itu kan luas cakupannya, Da. Sebab kata ‘ mungkin ’ dalam hal ini memiliki keterbukaan untuk pelbagai macam hal yang bisa terjadi. Aku kan manusia biasa dengan segala keterbatasan dalam ruang dan waktu. Jadi aku tak bisa menjawab pertanyaanmu tadi secara pasti dan mutlak.” “ Wah, wah Gading. Malam-malam kok berfilsafat!” Ida tertawa geli. “ Bukannya berfilsafat.” Aku juga tertawa. “ Aku uma mau mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada suatu kepastian yang mutlak kecuali ketidakpastian itu sendiri!” (TOP hlm: 258)

Gading adalah seorang gadis yang cerewet, suka berbicara tapi tidak untuk hal-hal yang berisi bualan. Berbicara dengan Gading terkadang teresan memperdebatkan sesuatu apalagi menyangkut hal yang berbeda dengan prinsip hidupnya pastilah dia akan segera memprotes atau mengomentari. Namun terkadang hal itu tidak dia lakukan jika dia berbicara dengan Nenek karena ia tidak ingin dianggap cucu yang suka membantah dan untuk menjaga perasaan Neneknya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Tetapi ayo, kita kembalikan pembicaraan pada pokok persoalan. Eyang ingin tahu, apa yang menyebabkanmu tidak seceriwis biasanya. Mana burung prenjak Eyang?” (TOP hlm: 36)

57 “ Lagi pula, aku tidak ingin berdebat dengannya. Aku juga tidak ingin membuatnya kecewa. Jadi terpaksalah lidahku kudorong dalam-dalam dan kusembunyikan jauh di dalam mulutku. Tetapi tenyata meskipun aku sudah berdiam diri seperti itupun, tetap saja sikapku tidak berkenan di hati nenekku.” (TOP hlm: 9)

Gading sangat mendukung adanya gerakan emansipasi. Segala hal yang menyangkut masalah kesetaraan gender selalu menjadi perhatiannya. Menurut dia kesetaraan itu sangat penting baik bagi kaum wanita maupun kaum pria untuk bisa memahaminya agar kesetaraan itu dapat terwujud meskipun ada pihak-pihak yang pro dan kontra. Dukungan tersebut dia wujudkan dengan menjadi seorang wartawan di sebuah tabloid terkenal. Di sana sia menjadi seorang wanita yang mampu sejajar dengan pria dan dia bisa mengembangkan potensi yang dimilikinya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Kau bekerja di mana, Gading?” Mas Yoyok menyela pembicaraan kami. Kusebutkan nama perusahaan yang menerbitkan tabloid tempatku bekerja. “ Itu perusahaan raksasa, Gading. Kau berbahagia dengan pekerjaanmu sebagai wartawan?” Mas Yoyok bertanya lagi. “Ya. Di tempat itu ilmu yang kupelajari terpakai. Suasananya juga enak dan aku bisa mengembangkan diri karena kesempatan untuk itu terbuka lebar bagi kami. Para atasan berpikir bahwa perusahaan akan berkembang maju kalau semua orang ikut berpartisipasi dan mendapat kesempatan untuk berkembang pula.” (TOP hlm: 260-261)

Sebagai seorang gadis yang sudah beranjak dewasa, Gading tidak mudah terhanyut oleh rayuan laki-laki, apalagi oleh laki-laki yang tidak dicintainya. Baginya perasaan suka apalagi cinta tidak dapat dipaksakan. Itu merupakan hak asasi setiap individu. Hal ini terjadi ketika laki-laki yang dijodohkan Nenek itu mulai merayu Gading. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini.

58 “ Sungguh, Dik Gading? Itu bukan semacam yah…… Sikap jual mahal atau strategi jinak-jinak merpati, begitu? Suara Mas Hari terdengar amat lembut dan mengandung rayuan. Kalau saja suara itu ditujukan kepa perempuan lain, aku yakin orang tiu akan mabuk kepayang dibuatnya. Tetapi aku, bukannya mabuk tetapi malah muak.” (TOP hlm: 210)

Menurut pendapat Gading pernikahan haruslah berdasarkan rasa cinta antara pihak laki-laki dan perempuan. Di samping itu pernikahan membutuhkan perencanaan dan persiapan yang matang sehingga dapat berjalan dengan lancar. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Tetapi kau harus tahu, Mas, bagiku hubungan seorang laki-laki dan seorang perempuan, apalagi kalau sudah menyangkut pada rencana perkawinan, itu perlu perencanan dan pemikiran yang mendalam. Perkawinan adalah satu wadah yang suci karena sedikitnya menyangkut kebahagiaan sebuah keluarga. Terutama karena menyertakan nama Tuhan di dalamnya. Jadi tidak bisa sembarangan!” (TOP hlm: 266)

4.2

Emansipasi Tiga Tokoh Utama Wanita dalam Novel Tiga Orang Perempuan Novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. sardjono mengemukakan masalah-

masalah ketidakadilan gender serta masalah lain yang menyangkut hal tersebut. Masalahmasalah tersebut saling berhubungan dan apabila dilihat dari kacamata feminisme, masalah ketidakadilan gender mendorong lahirnya emansipasi wanita. Dalam novel ini dipaparkan tentang emansipasi wanita. Pria dan wanita telah bergandengan tangan hampir di semua bidang kehidupan seperti di bidang politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan di lingkungan keluarga. Emansipasi yang ada dalam novel dipelopori oleh tokoh utama wanitanya yaitu Ibu, dan Gading. Sedangkan tokoh Nenek cenderung menentang emansipasi wanita. Emansipasi tokoh utama wanita dilakukan mencakup lingkungan keluarga, pendidikan, ekonomi, di kantor, dalam bidang politik dan hukum.

59 Pandangan yang salah tentang emansipasi oleh masyarakat pun turut mendukung adanya perbedaan pandangan. Bahkan terjadi peneguhan pemahaman yang tidak pada tempatnya mengenai emansipasi oleh masyarakat. Gerakan emansipasi ini oleh masyarakat dianggap melanggar kodrat Tuhan. Kodrat seorang wanita selain mengandung dan menyusui anak, adalah tugas mengurus rumah tangga (mengatur makan, pakaian, dan lainlain) dan mengasuh (memelihara, membesarkan, dan mendidik) anak. Karena wanita diposisikan pada tugas-tugas domestik, mereka tidak boleh bekerja di luar tugas-tugas domestik. Hal inilah yang menyebabkan sifat superioritas kaum pria terhadap kaum wanita dan mengukir dominasi mereka di masyarakat. Emansipasi wanita dalam novel ini mencakup bidang politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan keluarga. Emansipasi di bidang politik menyoroti masalah subordinasi atau pengambilan keputusan. Emansipasi di bidang hukum membahas mengenai perjodohan dan perkawinan poligami. Emansipasi di bidang ekonomi membahas masalah marginalisasi atau pemiskinan ekonomi terhadap kaum wanita yang menyebabkan ketergantungan kaum wanita terhadap kaum pria. Emansipasi di bidang pendidikan membahas mengenai masalah pentingnya memperoleh pendidikan yang layak untuk kesejahteraan manusia dan wanita berhak untuk mendapatkan pendidikan tersebut. Emansipasi di lingkungan keluarga membahas mengenai masalah kecenderungan wanita yang mendapat ketidakadilan gender di lingkungan keluarga. Semua bidang tersebut akan dibahas lebih lanjut oleh penulis. Berikut ini akan dibahas mengenai gambaran emansipasi di bidang politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan keluarga.

60 4.2.1 Emansipasi di Bidang Politik Munculnya gerakan emansipasi di bidang politik dalam novel ini digambarkan dengan adanya ketidakbebasan wanita dalam pengambilan keputusan dan dalam pusatpusat kekuasaan pembuat keputusan (subordinasi). Sebenarnya politik dan hukum yang berlaku di Indonesia adalah secara das sollen (keharusan normatif) menerima gerakan feminisme yang meletakkan pria dan wanita dalam kdudukan yang setara. Tetapi secara das sein (kenyataan praktis) kesetaraan/kesejajaran tersebut masih jauh dari

menggembirakan. Hukum adat memandang wanita sebagai makhluk yang rendah derajatnya daripada pria. Wanita dilarang mengambil keputusan karena hal itu bukanlah haknya, melainkan hak pria. Sebagai seorang wanita hanya diwajibkan untuk menerima segala keputusan yang diambil oleh pria dan tidak diperbolehkan membantahnya. Hal itu terjadi ketika Nenek ingin menjodohkan Gading dengan Hari, laki-laki pilihan Nenek. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Eyang tadi bilang, mbok kamu jangan terlalu banyak memilih dan menimbang. Memilih, menimbang, dan memutuskan itu haknya kaum laki-laki. Bukan hak kita. Sebab, kaum perempuan ini adalah orang-orang yang berada di tempat yang akan dipilih.” (TOP hlm: 8)

4.2.2

Emansipasi di Bidang Hukum Selain dalam hal pengambilan keputusan, emansipasi juga muncul dalam bidang

hukum. Hukum adat dan hukum pemerintah yang berupa hukum tentang perkawinan kurang melindungi hak kaum wanita dari ketidakadilan gender. Wanita tidak diprioritaskan dalam pengambilan keputusan politik dan hukum, peran mereka dalam kehidupan politik dan hukum selalu di bawah dominasi pria. Salah satu contoh ketidakadilan gender dalam perkawinan yaitu adanya perjodohan (dipaksa menerima jodoh pemberian orang tua dan

61 dipaksa tunduk pada suami). Hal ini terjadi ketika Nenek menjodohkan Gading dengan Hari. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Tetapi selain itu, dia bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Hari. Baik wajah, penampilan, sikap, tutur bahasa, dan terutama dalam hal keunggulan keturunan dan asal usulnya. Bibitnya seperti apa, bobotnya bagaimana, dan bebetnya seberapa, kita tidak tahu. Tetapi Hari itu siapa, sudah jelas seperti apa latar belakangnya. Lahir dari keluarga ningrat, sehat, terhormat, dan tanpa cela.” (TOP hlm: 18)

Adanya poligami yang dilakukan oleh kaum pria terhadap kaum wanita. Hal ini terjadi ketika Kakek menikah lagi dan Nenek membiarkan dirinya untuk dimadu tanpa membantah keinginan Kakek tersebut. Perceraian yang mengakibatkan terpisahnya hubungan antara ayah, ibu dan anak-anak mereka. Hal ini terjadi ketika perkawinan antara Ibu dengan ayah Gading retak akibat dari kesalahan Ibu yang terlalu menjunjung tinggi emansipasi tanpa memandang kodratnya sebagai seorang wanita dan seorang isteri sehingga hampir saja beliau kehilangan orang yang paling dicintainya yaitu ayah. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Sebelum Eyang Kakung memperisteri beliau, sudah ada beberapa selir yang tinggal di bagian belakang rumahnya. Namun pada masa itu, seorang laki-laki beristeri banyak bukanlah suatu masalah. Berbagi kasih dan perhatian suami dengan banyak wanita lain adalah sesuatu yang biasa terjadi.” (TOP hlm: 26)

4.2.3

Emansipasi di Bidang Ekonomi Gerakan emansipasi di bidang ini muncul karena ketidakadilan gender di bidang

ekonomi yang telah menimbulkan marginalisasi atau pemiskinan ekonomi terhadap kaum wanita. Kaum wanita miskin karena mereka hanya diperbolehkan bekerja pada sektor domestik (rumah tangga) seperti memasak, mengurus rumah tangga, dan mengasuh anak. Secara otomatis wanita tidak boleh bekerja di luar tugas domestik tersebut. Wanita tidak

62 dapat bekerja di luar rumah sebagaimana pria. Oleh karena itu, wanita lebih miskin daripada pria. Bahkan, ia tergantung pada pria. Kalaupun ada wanita yang bekerja di luar rumah, gajinya tidak setinggi gaji pria. Kaum wanita yang bekerja di sektor publik dianggap sebagai anomaly atau pekerjaan pelengkap sehingga bila dalam pengupahannya terdapat diskriminasi, hal itu dianggap wajar. Upaya peningkatan peranan wanita dalam pembangunan merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional dan merupakan salah satu fokus Pembangunan Jangka Panjang II. Kemitrasejajaran yang harmonis antara wanita dan pria memiliki persamaan hak, kewajiban, kedudukan, peranan, dan kesempatan yang dilandasi sikap dan perilaku saling menghormati, saling menghargai, saling membantu dan saling mengisi dalam pembangunan di berbagai bidang. Dalam novel ini tiga tokoh utama wanitanya sama-sama memiliki kesempatan bekerja di luar tugas domestik. Bekerja di sektor publik ketiga tokoh utama wanita tersebut sangat sukses. Nenek sukses dengan usaha batik peninggalan leluhurnya, Ibu sukses sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi bahkan beliau dicalonkan menjadi dekan dan juga dosen favorit untuk pembimbing skripsi, sedangkan Gading berprofesi sebagai wartawan sebuah tabloid terkenal, profesi yang sangat mewakili jiwanya sebagai seorang gadis yang cerdas. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Tetapi berbeda dengan perempuan-perempuan bangsawan lain yang nyaris tak pernah terjun dalam urusan bisnis, Nenek justru bergerak secara aktif mengurus bisnisnya tanpa takut mendapat penilaian negatif. Maklum, pada masa itu perempuan-perempuan bangsawan tinggi jarang yang berkecimpung dalam dunia perdagangan karena takut akan menurunkan derajat mereka. Takut dinilai sebagai “bakul” (penjual). Sebab kebiasaan pada masa itu, hanya perempuan-perempuan kelas bawah sajalah yang ikut aktif di dalam roda ekonomi, bahkan dengan berjualan di pasar ataupun dengan menjajakannya di jalan-jalan. ” (TOP hlm: 78)

63 “ Ibuku melakukan protesnya dengan menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi… Seolah, profesi dosen merupakan cara bagaimana dia memperlihatkan otoritas yang dimiliki. ” (TOP hlm: 122) “ Kau kan tahu, sebagai wartawan pada prinsipnya kami bekerja dua puluh empat jam sehari. Kalau tidak begitu, kami bisa kehilangan berita besar karena keduluan orang. ” (TOP hlm: 234) “ Ya, di tempat itu ilmu yang kupalajari terpakai. Suasananya juga enak dan aku bisa mengembangkan diri karena kesempatan untuk itu terbuka lebar bagi kami. Para atasan berpikir bahwa perusahaan akan berkembang maju kalau semua orang ikut berpartisipasi dan mendapat kesempatan untuk berkembang pula. ” (TOP hlm: 261)

Ketiga tokoh utama wanita tersebut beranggapan bahwa emansipasi yang dilakukan adalah untuk menghapuskan segala ketidakadilan gender di bidang ekonomi yang dapat menyebabkan pemiskinan ekonomi terhadap kaum wanita.

4.2.4

Emansipasi di Bidang Pendidikan Masyarakat menganggap wanita lebih rendah daripada pria dan hany mampu

mengerjakan pekerjaan domestik, oleh karena itu wanita tidak diperbolehkan menuntut ilmu tinggi-tinggi dan bekerja di luar rumah sebagaimana pria. Hal tersebut merupakan pembodohan terhadap kaum wanita. Mereka bodoh karena tidak mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu. Bahkan hal tersebut dilakukan oleh orang tua mereka sendiri. Para orang tua khawatir bahwa jika anak perempuannya pandai menulis dan membaca, akan menjadi jahat dan melupakan kodratnya sebagai seorang wanita. Hal inilah yang menyebabkan kekurangan intelektualitas kaum wanita yang merupakan akibat dari keterkekangan kehidupan mereka dan keterbatasan pendidikan formalnya. Perempuan yang bodoh, dalam arti tidak berpendidikan, cenderung bersifat pasif dan menyerah saja pada kemauan orang lain. Oleh karena itulah melalui gerakan emansipasi, tiga tokoh utama wanita dalam novel ini memperjuangkan hak mereka agar diberi kebebasan dan

64 kesempatan untuk menambah pengetahuan, menajamkan otak, mengeluarkan pendapat, dan menguasai apa yang harus dikuasai sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Tokoh Nenek berusaha menyekolahkan anak-anaknya sampai tinggi agar kelak bisa menjadi orang sukses, dihormati orang. Namun tujuan Nenek sebenarnya adalah untuk memperlihatkan pada suami dan selirnya bahwa tanpa bantuan Kakek, anak-anak Nenek dapat memperoleh pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak selir Kakek. Hal itu merupakan gengsi/prestise yang ingin ditunjukkan oleh Nenek agar dipandang sebagai wanita yang kuat dan mandiri serta berwawasan luas dan modern. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Terlebih dengan bukti bagaimana ketujuh anaknya mendapat pendidikan yang layak dan hidup dalam kecukupan. Apalagi ditambah pendidikan informal yang diajarkan di rumah dengan mendatangkan berbagai guru untuk mereka. ” (TOP hlm: 27) Tokoh ibu tidak kalah lagi. Beliau sangat menjunjung emansipasi wanita di bidang pendidikan. Karena menurutnya dengan pendidikan wanita dapat sejajar dengan kaum pria di segala bidang kehidupan bahkan mendominasi atau jauh mengalahkan kaum pria. Seorang wanita berhak untuk mendapatkan pendidikan setinggi mungkin dan menguasai apapun yang harus dikuasai sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Hal sudah menjadi keharusan agar wanita tidak diremehkan dan tidak direndahkan oleh kaum pria. Sebagai bukti keberhasilannya menyekolahkan anak-anak, sekarang Gading memiliki profesi sebagai wartawan. Tujuan yang ingin dicapai oleh Ibu adalah untuk mengalahkan dominasi kaum pria di segala bidang kehidupan. Bahkan kalau bisa seorang wanita bisa memimpin pria. Tokoh Gading juga sangat menjunjung tinggi emansipasi di bidang pendidikan. Ia beranggapan bahwa pendidikan sangat penting agar wanita bisa sejajar dengan kaum pria.

65 Namun tidak menyalahi kodratnya sebagai seorang wanita. Tidak seperti Ibunya yang ingin mengalahkan kaum pria tetapi hanya untuk memberikan kesempatan yang sama kepada kaumnya agar lebih maju.

4.2.5

Emansipasi di Lingkungan Keluarga Menurut penelitian di negara Barat, kasus ketidakadilan gender paling banyak

terjadi di lingkungan keluarga. Institusi “keluarga” merupakan tempat yang paling rawan bagi wanita. Mereka dalam keluarga cenderung menjadi korban potensial ketidakadilan gender. Hal ini disebabkan oleh posisi subordinat wanita dalam masyarakat yang mengakibatkan kekurangan penguasaan mereka terhadap sumber-sumber sosial ekonomi secara menyeluruh. Wanita mendapat perlakuan yang berbeda dengan pria terutama dalam hal perkawinan (dipaksa menerima jodoh pemberian orang tua). Seperti yang dialami oleh tokoh Gading, dia harus menerima perjodohannya dengan pria pilihan Nenek. Dengan alas an, laki-laki tersebut berasal dari keluarga ningrat yang jelas bibit, bobot, dan bebetnya. Seorang perempuan juga dipaksa tunduk kepada suami. Hal ini dialami oleh tokoh Nenek. Beliau sangat menghormati suaminya, dan tidak pernah membantah semua keinginan suaminya itu. Menurut Nenek, sebagai seorang isteri harus menerima apa saja perlakuan sang suami. Wanita juga harus berani memiliki sikap “nrimo ing pandum” dan menerima dengan rela “jatah” yang diberikan kepadanya sebagai suatu ketentuan yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.

66 Karena posisi wanita yang lemah tersebut, pria cenderung memperlakukan wanita (isteri) sebagai benda yang dimilikinya, layaknya benda-benda yang lain. Suami sering berbuat sewenang-wenang terhadap isteri, sedangkan isteri seolah-olah tidak mempunyai hak untuk melawan tindakan suami, termasuk mencegah suami untuk kawin lagi (poligami). Hal inilah yang dialami oleh tokoh Nenek. Beliau sangat menghormati keputusan suaminya untuk menikah lagi dengan wanita lain atau bahkan memiliki banyak selir. Paham nrimo ing pandum tetap dijunjung tinggi oleh Nenek, sehingga dia tidak pernah merasa dimadu atau diduakan oleh suaminya. Pasrah pada nasibnya dan tidak pernah memprotes segala perilaku suaminya yang tidak menyenangkan hatinya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Sebelum Eyang Kakung memperisteri beliau, sudah ada beberapa selir yang tinggal di bagian belakang rumahnya. Namun pada masa itu, seorang laki-laki beristeri banyak bukanlah suatu masalah. Berbagi kasih dan perhatian suami dengan banyak wanita lain adalah sesuatu yang biasa terjadi. ” (TOP hlm: 26) “ Seperti yang eyangku sering katakan kepadaku bahwa perempuan haruslah rela menerima apa saja perlakuan sang suami. Perempuan juga harus berani memiliki sikap untuk “ nrimo ing pandum ” dan menerima dengan rela “ jatah” yang diberikan kepadanya sebagai suatu ketentuan yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. ” (TOP hlm: 26) Hal ini sangat bertolak belakang dengan hati nurani tokoh lainnya yaitu Ibu dan Gading. Apa yang dilakukan oleh Nenek sebagai suatu kesalahan yang terbesar dalam kehidupan seorang wanita. Mereka menganggap apa yang dialami oleh Nenek adalah sebuah bentuk penindasan kaum laki-laki terhadap kaum perempuan. Kedua tokoh ini sangat menentang dengan apa yang menjadi pedoman hidup Nenek. Oleh karena itu dengan segala usaha mereka ingin terbebas dari belenggu budaya patriarkat, budaya yang sangat mengekang kebebasan kaum wanita untuk lebih maju dan sejajar dengan kaum pria. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini.

67 “ Maka perempuan harus bersikap sabar, penuh pemaafan, dan pemahaman, nrimo, bakti, dan penuh pelayanan. Terhadap suami, seorang isteri harus meletakkan seluruh hidup dan masa depannya, sehingga kemana pun suami pergi, dia harus ikut. Tetapi Ibu tidak bisa menerima pandangan seperti itu…. Perempuan juga seorang manusia, bukan bayang-bayang dan bukan alas kaki suami! ” (TOP hlm: 124-125)

4.3

Pandangan Tiga Tokoh Utama Wanita tentang Emansipasi dalam Novel Tiga Orang Perempuan Pandangan tiga tokoh utama wanita dalam novel ini memiliki perbedaan-

perbedaan. Hal tersebut disebabkan oleh faktor seperti latar belakang sosial yang berbeda, lingkungan keluarga yang mendidiknya, dan sebagainya. Pandangan tiga tokoh utama wanita dari tiga generasi yang berbeda tentang emansipasi ini menimbulkan pertentangan antara tokoh yang satu dengan tokoh lainnya. Meskipun demikian, dalam hal-hal tertentu ketiga tokoh tersebut saling mendukung satu sama lain. Misalnya ketika Nenek ingin menjodohkan Gading dengan laki-laki pilihan Nenek, Ibu sangat menentang niat tersebut. Ibu mendukung niat Gading yang menolak perjodohan tersebut. Pandangan ketiga tokoh muncul ketika mereka menghadapi suatu konflik yang menyangkut bidang politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan keluarga. Ketiga tokoh utama wanita terutama tokoh Ibu dan Gading memiliki pandangan yang sama tentang emansipasi. Keduanya sangat mendukung gerakan tersebut. Lain halnya dengan Nenek yang memiliki pandangan yang berbeda dengan tokoh Ibu dan Gading tentang emansipasi. Pandangan Nenek bertentangan bahkan cenderung bersifat tradisional. Berikut akan dipaparkan pandangan ketiga tokoh tentang emansipasi di bidang politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan keluarga.

68 4.3.1 Pandangan Nenek tentang Emansipasi Wanita Tokoh Nenek dalam novel ini diceritakan memiliki pandangan yang berbeda tentang emansipasi wanita dibandingkan dengan dua tokoh utama wanita yang lainnya yaitu ibu dan Gading. Tokoh Nenek cenderung menentang dan bersifat tradisional. Hal ini disebabkan oleh lingkungan tempat tinggal beliau tinggal sejak kecil yaitu lingkungan keratin. Baik ayahnya maupun ibunya sangat memegang teguh budaya Jawa, dan menanamkannya ke dalam jiwa dan batin Nenek sewaktu masih muda. Tembok keraton yang tinggi membatasi dia dalam pergaulan dengan dunia luar. Hal ini menyebabkan dia sangat sulit menerima perubahan-perubahan yang banyak terjadi di luar. Jangankan bergaul dengan gadis-gadis teman sebayanya, bergaul dengan teman laki-lakinya pun dia tidak diperbolehkan. Sebagai seorang gadis muda sejak berumur tujuh tahun menurut adat Jawa harus dipingit. Dia tidak diperbolehkan keluar rumah hingga saatnya tiba yaitu saat dia menerima lamaran dari laki-laki yang sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Selama dalam pingitan berbagai ajaran tentang kewanitaan diterimanya. Yaitu berbagai hal tentang memasak, menjahit, dan sebagainya. Sebagai seorang wanita diajarkan untuk selalu pasrah pada nasibnya, tidak diperbolehkan untuk mengambil keputusan, memilih, menimbang, tentang suatu hal karena itu bukan haknya sebagai seorang wanita, tetapi merupakan hak kaum pria. Hal tersebut beliau pegang teguh hingga saat beliau ingin menjodohkan Gading cucunya dengan laki-laki pilihannya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Eyang tadi bilang, kamu mbok ya jangan terlalu banyak memilih dan menimbang-nimbang. Memilih dan memutuskan itu haknya kaum laki-laki. Bukan hak kita. Sebab, kita kaum perempuan ini adalah orang-orang yang berada di tempat yang akan dipilih. ” (TOP hlm: 8)

69 Pandangan Nenek ini sangat bertentangan dengan emansipasi yang dilakukan kaum wanita yang ingin memperjuangkan haknya dalam bidang politik dan hukum. Kebebasan untuk memilih, menimbang, dan memutuskan, serta kebebasan untuk mengemukakan pendapat juga diperoleh kaum wanita tidak hanya kaum pria saja. Karena itu hak manusia yang dimilikinya, baik pria maupun wanita sama. Ayah Nenek seorang bangsawan tinggi keratin dan ibunya seorang saudagar batik yang kaya tapi bukan dari keluarga bangsawan. Sebagai perempuan Jawa, ia begitu patuh kepada adapt istiadat dan pekatnya budaya Jawa sama seperti perempuan-perempuan lain yang sezaman dengannya. Namun pandangan Nenek tentang emansipasi wanita di bidang ekonomi adalah penting. Beliau berani terjun dalam dunia bisnis yaitu menjadi pengusaha batik meneruskan usaha ibunya. Alasannya untuk menopang ekonomi keluarganya dan beliau sebagai seorang isteri tidak hanya bergantung menunggu jatah dari suaminya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Tetapi berbeda dengan perempuan-perempuan bangsawan lain yang nyaris tak pernah terjun dalam urusan bisnis, Nenek justru bergerak secara aktif mengurus bisnisnya tanpa takut mendapat penilaian negatif. Maklum, pada masa itu perempuan-perempuan bangsawan tinggi jarang yang berkecimpung dalam dunia perdagangan karena takut akan menurunkan derajat mereka. Takut dinilai sebagai “bakul” (penjual). Sebab kebiasaan pada masa itu, hanya perempuan-perempuan kelas bawah sajalah yang ikut aktif di dalam roda ekonomi, bahkan dengan berjualan di pasar ataupun dengan menjajakannya di jalan-jalan. ” (TOP hlm: 78)

Beliau memiliki sifat dan kemauan yang sedemikian keras dan kuat sampaisampai menelorkan gagasan dan bahkan cita-cita yang barangkali jarang dimiliki oleh perempuan-perempuan lain yang hidup sezaman dengan beliau. Cita-cita itu adalah mengusahakan agar ketujuh anaknya bersekolah setinggi mungkin. Gaji Eyang Kakung memang mampu membiayai hidup keluarga besarnya, yaitu seorang isteri, dua selir, dan

70 tiga belas anak. Tetapi untuk biaya sekolah semua anaknya sampai ke perguruan tinggi, jelas itu tidak akan mencukupi. Maka Nenek dengan seluruh tekadnya berusaha menambal kekurangan itu dengan memajukan pabrik batik warisan orang tuanya. Dan berkat usahanya itulah akhirnya semua anaknya berhasil menjadi sarjana. Bahkan empat orang diantaranya, termasuk Ibu, meraih sarjana strata dua. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Terlebih dengan bukti bagaimana ketujuh anaknya mendapat pendidikan yang layak dan hidup dalam kecukupan. Apalagi ditambah pendidikan informal yang diajarkan di rumah dengan mendatangkan berbagai guru untuk mereka. ” (TOP hlm: 27) “Kalau bukan karena beliau, ibu tidak akan mungkin bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi dosen dan apa artinya dunia pengetahuan bagi kehidupan manusia, “ acap kali ibu berkata seperti itu setiap kali ada di antara anak-anaknya yang tampak agak kendor semangat belajarnya.” (TOP hlm.80)

Pandangan Nenek tentang emansipasi wanita di bidang ekonomi adalah sangat penting dan tiu harus dilakukan oleh seorang wanita agar keluarganya dapat memperoleh kehidupan yang layak dan mencukupi segala kebutuhannya. Sehingga bisa mendapatkan apa yang patut didapat oleh wanita yaitu kehidupan yang layak, pendidikan yang tinggi. Meskipun demikian sebagai seorang wanita Jawa yang memegang teguh adat-istiadat Jawa, beliau tidak pernah lepas dari ajaran-ajaran orang tuanya. Sebagai seorang perempuan Jawa dalam hal perkawinan tidak diperbolehkan memilih calon sendiri atau dengan kata lain mereka dipaksa untuk menerima jodoh pemberian orangtuanya dan dipaksa tunduk kepada suaminya. Hal itu dialami Nenek dahulu ketika menikah dengan Kakek. Hal ini dikarenakan Nenek sebagai seorang wanita yang diposisikan sebagai orang yang mengurus rumah tangga, sejak kecil hingga dewasa kehidupannya sudah diatur oleh orang tua termasuk masalah jodoh. Menurut orang tua Nenek, menikahkan anak gadisnya dengan

71 seorang bangsawan dianggap sebagai satu cara termanjur untuk menaikkan derajat bagi keluarga besar mereka. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Maka nilai seperti itu pulalah yang tertanam dalam batin seluruh keluarga besar Eyang Putri. Wajahnya yang rupawan menjadi harapan keluarga untuk memurnikan kembali darah bangsawan mereka. Bibit, bobot, dan bebet Eyang Putri cukup bagus. Wajahnya rupawan. Pendidikannya lumayan. Maka menjadi seorang isteri bangsawan tinggi atau malah isteri salah satu putra raja merupakan sesuatu yang pantas baginya. ” (TOP hlm: 24) “ Bagi keluarga si gadis, semakin tinggi kedudukan anak perempuannya nanti dalam kehidupan rumah tangga bangsawan, akan semakin naik derajat mereka di mata masyarakat. ” (TOP hlm: 26)

Karena pandangan-pandangan itulah, Nenek ingin menjodohkan Gading dengan laki-laki yang dianggap pantas untuk cucunya itu. Pantas dari segi bibit, bobot, dan bebetnya, sehingga diharapkan akan menaikkan derajat keluarga mereka di mata masyarakat. Selain itu dalam rumah tangga seorang isteri harus tunduk kepada suami. Menurut ajaran yang diterimanya dari orang tuanya, bahwa seorang isteri harus patuh dan menurut pada suami. Tidak diperbolehkan membantah apa yang sudah menjadi kehendak suami. Segala yang dilakukan oleh suami harus diterima isteri sebagai suatu takdir. Ajaran ini beliau tanamkan di hati semua anak-anak, cucu bahkan cicitnya. Termasuk cucu kesayangannya yaitu Gading. Dengan segala cara beliau berusaha memberikan nasehatnya tentang sikap yang harus dimiliki oleh seorang isteri kepada suaminya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Seperti yang eyangku sering katakan kepadaku bahwa perempuan haruslah rela menerima apa saja perlakuan sang suami. Perempuan juga harus berani memiliki sikap untuk “ nrimo ing pandum ” dan menerima dengan rela “ jatah” yang diberikan kepadanya sebagai suatu ketentuan yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. ” (TOP hlm: 26)

72 “ Sebab menurut ajaran yang diterimanya, perempuan sejati atau perempuan utama harus memiliki sikap pasrah dan merentangkan keselarasan baik terhadap Tuhan, terhadap sesama, maupun terhadap diri sendiri. Sutu sikap yang harus dikuasai mereka melebihi kemampuan laki-laki untuk hal yang sama. Sebab, lakilaki tidak perlu memperhitungkan kehadiran sesama yang berjenis perempuan sebagai makhluk yang memiliki tataran setara. ” (TOP hlm: 27)

Apabila nilai-nilai tersebut tidak dimiliki dan diterapkan oleh perempuan, akan berakibat fatal. Hal-hal yang tidak diinginkan seperti perceraian akan terjadi. Pernyataan tersebut sperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Oleh karena itu kalau seorang perempuan tidak bisa bersikap kompromistis, maka akan lebih malanglah nasibnya. Bercerai dari suami, apalagi dipulangkan ke rumah orangtuanya, merupakan aib besar yang bukan hanya disandang dirinya sendiri, tetapi juga keluarga besarnya. ” (TOP hlm: 27)

Salah satu hal yang tidak dimengerti oleh Ibu dan Gading, adalah bagaimana seorang wanita seperti Nenek menerima perilaku Kakek yang memiliki isteri banyak atau selir. Pandangan Nenek terhadap perkawinan poligami, bahwa itu adalah hak seorang lakilaki. Apalagi Kakek adalah seorang keturunan bangsawan yang kaya. Bagi mereka tidaklah menjadi masalah meminang gadis mana pun yang disukainya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Pada masa itu, bagi bangsawan tinggi--- apalagi yang kaya --- tidaklah sulit untuk meminang gadis mana pun yang diinginkanya. Hanya dengan mengutus orang-orang kepercayaannya, ia bisa mengambil gadis yang diminatinya untuk dijadikan selir. ” (TOP hlm: 26) “ Sebelum Eyang Kakung memperisteri beliau, sudah ada beberapa selir yang tinggal di bagian belakang rumahnya. Namun pada masa itu, seorang laki-laki beristeri banyak bukanlah suatu masalah. Berbagi kasih dan perhatian suami dengan banyak wanita lain adalah sesuatu yang biasa terjadi. ” (TOP hlm: 26)

73 Agar kita sebagai isteri bertahan adalah dengan menerima pasrah apa yang sudah menjadi hak suaminya. Memiliki sikap “ nrimo ing pandum ” adalah jurus terampuh yang harus dimiliki oleh perempuan agar tidak menjadi orang yang kalah. Menurut Nenek kita boleh mencintai suami, namun jangan sampai menyerahkan semua hati kita kepada mereka. Hal ini dimaksudkan agar jika terjadi sesuatu kita tidak akan terlalu merasa sakit hati. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Bukankah sudah berapa belas kali Eyang nasihatkan padamu untuk jangan sekali-kali memberikan seluruh hatimu kepada seorang laki-laki. Sedikit saja sudah cukup, sehingga kalau ada apa-apa, yang sedikit itu akan segera terbang ditiup angina dan larut diterpa waktu. ” (TOP hlm: 18) “ Mengingat adanya perempuan-perempuan lain, aku tidak tahu apakah nenekku itu benar-benar mampu melayari kehidupan perkawinannya dengan cara seperti yang dimaksudkannya kepadaku, yaitu tidak menyerahkan seluruh hati kepada seorang laki-laki. ” (TOP hlm: 28)

Meskipun demikian Nenek bahagia dengan perkawinannya. Tidak pernah sekalipun beliau memperlihatkan air muka yang keruh dan wajah yang murung. Apalagi menangis. Kalaupun pernah menitikkan air mata, itu adalah tangis haru ketika anakanaknya berhasil dalam pendidikan atau ketika mereka menikah dan kemudian memberinya cucu-cucu.

4.3.2

Pandangan Ibu tentang Emansipasi Wanita Tokoh utama wanita yang kedua adalah Ibu. Tokoh ini merupakan generasi kedu,

anak bungsu dari tujuh anak yang dimiliki Nenek. Karena merupakan generasi yang berbeda dan terlahir di lingkungan yang berbeda pula, maka mempengaruhi pandangan Ibu terhadap emansipasi wanita. Tokoh ini sangat mendukung gerakan emansipasi wanita. Lingkungan keluarga yang tidak terlalu mengekang kebebasan dia. Ibu sangat mendukung

74 adanya gerakan emansipasi. Di bidang politik dan hukum, Ibu menentang adanya perjodohan. Wanita tidak diperkenankan untuk menolaknya. Padahal menurut Ibu perjodohan hanya akan menyengsarakan wanita itu sendiri. Dalam perjodohan si wanita tidak mengenal laki-laki yang nantinya akan menjadi suaminya, bahkan dari keluarga mana dia berasal pun tidak diketahui oleh si gadis. Pernyataan tersbut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Tetapi bagaimanapun juga dalam hal-hal yang menyangkut perkawinan semacam itu, eyangmu tidak akan berani terlalu jauh mencampuri urusan keluarga anak-anaknya. Lagi pula sudah bukan zamannya lagi melamar anak gadis tanpa lebih dulu meminta persetujuan yang bersangkutan, sahut ibuku. ” (TOP hlm: 120) “ ….memberinya pemahaman baru bahwa keberadaan perempuan, dalam arti eksistensinya sebagai seorang manusia atau individu, tidaklah berada di bawah dominasi siapa pun juga. Termasuk dominasi orang tua atau suaminya. Perempuan juga mempunyai hak atas dirinya sendiri. ” (TOP hlm: 120) “ Eyangmu harus tahu bahwa perempuan juga berhak menentukan nasibnya sendiri, berhak memilih siapa yang akan menjadi suaminya dan berhak pula menolak laki-laki yang disodorkan pada kita, kalau kita memang tidak menyukainya. ” (TOP hlm: 124)

Pandangan Ibu yang memperjuangkan hak-hak wanita tidak hanya beliau lakukan di bidang politik dan hukum saja. Di bidang pendidikan, Ibu mendapat pendidikan sampai ke jenjang yang tinggi, sehingga mampu untuk mencari penghasilan sendiri. Menurut beliau seorang perempuan berhak menentukan sendiri cara dia merealisasikan potensi dan bakatnya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Terutama kepada para wanita. Sikap mereka tetap saja diskriminatif dan seksis, tidak mau tahu bahwa perempuan juga mempunyai hak dan cita-cita sendiri. Bahwa, wanita juga ingin merealisasikan potensi dan bakatnya. ” (TOP hlm: 121) Ibu tidak menyetujui adanya penindasan kaum wanita di bidang ekonomi (pemiskinan ekonomi), pembodohan akibat kurangnya pendidikan yang diperoleh mereka. Oleh karena itu beliau melancarkan protes terhadap ketidakadilan gender di bidang

75 ekonomi dengan berprofesi sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Ibuku melakukan protesnya dengan menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi… Seolah, profesi dosen merupakan cara bagaimana dia memperlihatkan otoritas yang dimiliki. ” (TOP hlm: 122)

Dengan cara inilah menurut Ibu, seorang wanita tidak akan pernah ditindas lagi oleh laki-laki. Mereka tidaka akan berani memperlakukan wanita dengan semena-mena. Kaum wanita dapat mensejajarkan diri dengan kaum pria. Bahkan kalu perlu menjadi mitra yang sejajar dengan pria. Menunjukkan kemampuan kita sebagai seorang wanita untuk mengerjakan semua pekerjaan yang dilakukan oleh pria adalah cara yang tepat agar tidak direndahkan oleh mereka. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Kalau perempuan ingin dihargai haknya, ingin kesetaraannya dengan laki-laki diakui, maka mereka harus bisa pula menunjukkan kemampuan yang sama seperti apa yang dikerjakan oleh laki-laki. ” (TOP hlm: 123)

Pandangan Ibu sebenarnya sependapat dengan pandangan Nenek tentang emansipasi wanita di bidang pendidikan dan ekonomi. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Terlepas dari tujuan sesungguhnya, dalam beberapa hal Ibu menyetujui pendapat Eyang. Perempuan memang harus bisa mandiri agar jangan terlalu direndahkan laki-laki. Perempuan juga harus mempunyai pengetahuan tinggi dan kemampuan untuk bersikap mandiri agar tidak tergantung kepada laki-laki. ” (TOP hlm: 136)

Oleh karena itulah, Ibu tidak ingin hal itu terjadi pada putrinya. Sudah menjadi kewajiban kaum perempuan untuk memperjuangkan haknya agar sederajat dengan kaum laki-laki. Namun Ibu berharap apa yang telah diperjuangkan tersebut tidak akan melanggar

76 kodrat kita sebagai seorang perempuan yaitu mengurus rumah tangga. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Ibu berharap tidak seorang pun di antara kalian anak-anak perempuanku, pernah direndahkan orang hanya karena kalian berjenis kelamin perempuan. Kalau kau beranggapan bahwa perempuan itu memiliki hak, kewajiban, dan kesetaraan dengan laki-laki, kerjakanlah apa yang bisa kalian lakukan sejauh itu tidak menyalahi kodratmu sebagai perempuan yang mengalami haid, bisa mengandung, melahirkan, dan menyusui. ” (TOP hlm: 123)

Pandangan Ibu walaupun ada yang sependapat dengan pandangan Nenek, ada beberapa hal yang beliau tidak sependapat. Misalnya saja pandangan Nenek tentang perkawinan. Ibu sangat tidak menyukai adanya perjodohan atau kawin paksa, nilai-nilai Jawa yang harus dimiliki seorang wanita sebagai isteri yang terlalu memberatkan tugas mereka sebagai isteri. Ibu sangat tidak menyetujui pandangan bahwa seorang isteri harus memiliki sikap pasrah, sabar, pemaaf, nrimo, bakti dan penuh pelayanan kepada suami. Menurutnya, wanita adalah seorang manusia biasa bukanlah benda atau bayang-bayang yang dianggap tidak ada. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Maka perempuan harus bersikap sabar, penuh pemaafan, dan pemahaman, nrimo, bakti, dan penuh pelayanan. Terhadap suami, seorang isteri harus meletakkan seluruh hidup dan masa depannya, sehingga kemana pun suami pergi, dia harus ikut. Tetapi Ibu tidak bisa menerima pandangan seperti itu…. Perempuan juga seorang manusia, bukan bayang-bayang dan bukan alas kaki suami! ” (TOP hlm: 124-125)

Bagi Ibu, seorang isteri mempunyai hak dan kebebasan untuk melakukan sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan. Kebebasan yang terbatas tersebut sangat diperlukan agar dalam kehidupan berumahtangga, tidak terjadi penindasan oleh suami. Bahkan lebih parah lagi menurut pandangan Ibu, bila kebebasan wanita dalam kehidupan

77 rumahtangganya tidak ada, dia hanya dijadikan pembibitan untuk pria dalam mendapatkan keturunan. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Perempuan juga mempunyai hak atas dirinya sendiri. Maka, seorang isteri juga seorang individu merdeka yang memiliki kehendak bebas dan mampu mempertanggungjwabkan perbuatannya. Maka pula eyangmu harus bisa memahami bahwa seorang isteri bukan perhiasan rumah, bukan pula termasuk salah satu inventaris rumah. Lebih-lebih lagi, seorang isteri bukanlah tempat pembibitan untuk mendapatkan keturunan bagi laki-laki. ” (TOP hlm: 120)

Isteri adalah seorang manusia biasa yang mempunyai kemampuan terbatas. Ada kalanya seorang isteri tidak mampu mengerjakan sesuatu melebihi kemampuannya sebagai seorang isteri. Tugas rumah tangga yang cukup berat, masih dibebani pula dengan tugasnya di luar rumah yaitu sebagai wanita karier, tidak didukung oleh suami untuk membantu meringankan bebannya tersebut. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Bahwa perempuan juga manusia biasa yang mempunyai keterbatasan di saat masyarakat mengharuskan dia menjadi perempuan super yang bisa membagi diri ke dalam pelbagai peran. Ya sebagai Ibu, sebagai isteri, sebagai pengelola rumah tangga, sebagai warga masyarakat setempat, sebagai karyawati atau apa pun kariernya di luar rumah, dan sebagai anak bangsa di suatu negara berikut segala kewajibannya. ” (TOP hlm: 123)

Oleh karena itu, Ibu menganggap dalam pekerjaan rumah tangga sebaiknya ada pembagian tugas antara suami dengan isteri. Hal tersebut dikarenakan mereka berdua sama-sama bekerja di luar rumah. Agar adil suami membantu isteri dalam menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga seperti mencuci piring, pakaian, menyapu dan pekerjaan rumah yang lainnya. Ibu menganggap bahwa pembedaan tugas rumah tangga harus ditiadakan agar sama-sama berpartisipasi, tidak ada yang merasa dirugikan. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini.

78 “ Mestinya bapakmu yang mencuci piring-piring kotor ini, wong hari ini dia tidak pergi kemana-mana! ” (TOP hlm: 150) “ Yang harus kaukasihani itu Ibu, Mayang! ” Sudah bangunnya paling pagi, itulah sebenarnya yang mau Ibu katakana, bahwa pekerjaan ibu rumah tangga itu berat. ” (TOP hlm: 150)

Sebagai seorang isteri, Ibu tidak pernah melayani suaminya seperti Nenek melayani Kakek. Beliau menganggap menyediakan minuman, menyediakan air hangat untuk mandi adalah hal yang masih bisa dikerjakan oleh suaminya, sehingga Ibu tidak perlu untuk melayaninya. Hal itu Ibu lakukan agar suaminya tahu bahwa dalam rumah tangga harus ada kesetaraan. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Sebaliknya, Ibu juga menginginkan bapakmu melakukan hal-hal yang bisa dilakukannya sendiri tanpa bantuan isteri, seperti misalnya mengatur dan menyediakan sendiri pakaian dalamnya. Atau mengambil makanannya, atau apa sajalah. ” (TOP hlm: 182) “ Begitu pula ketika Eyang Putri menegur Ibu sewaktu beliau melihat Bapak mengambil sendiri minunmannya dari meja the, kudengar Ibu membantah dengan kalen tetapi tegas. Biar sajalah, Bu. Bukan hanya dia yang capek. Ratih juga merasakannya. Kami sama-sama bekerja seharian… ” (TOP hlm: 141)

Karena menganggap sama-sama capek, Ibu tidak mau melayani Bapak. Padahal, melayani suami adalah tugas utama sebagai seorang isteri. Namun, Ibu tetap bersikukuh untuk tidak melayani Bapak. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Nah, dalam kondisi sama-sama capek, bahkan lebih capek lagi, masih haurskah Ibu juga melayani kebutuhan Bapak? Adilkah kalau Ibu terus didesak-desak untuk melayani Bapak hany karena budaya kita mengatakan bahwa suami harus dicintai, dilayani, dan dimanjakan? ” (TOP hlm: 144)

79 Apa yang Ibu lakukan terhadap Bapak bukan tidak beralasan. Hal tersebut dikarenakan masa lalu Ibu yang begitu menyakitkan sehingga masih membekas sampai sekarang. Ibu mengalami masa di mana beliau harus menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Setiap hari Ibu harus menyaksikan ketidakadilan yang dialami oleh ibunya yaitu Nenek. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Semasa kecil, hidup Ibu penuh dengan pergolakan batin, antara lain karena melihat ketidakadilan yang terjadi di rumah tempat Ibu hidup dan menjadi bagian di dalamnya. ” (TOP hlm: 126)

Ketidakadilan yang dialami oleh ibunya adalah karena ayahnya menjalani hidup rumah tangga dengan melakukan poligami. Beliau mempunyai banyak selir. Ibu tidak bisa membayangkan bagaimana Nenek bila hidup berumah tangga dengan kondisi yang demikian. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Ketidakadilan terhadap perempuan yang diwakili oleh ibuku sendiri, yaitu eyang putrid kalian itu. Bayangkanlah bagaiamana seorang perempuan cantik, muda, dan cerdas seperti Eyang Putri, yang kalau menilik kemampuannya dia bisa hidup mandiri, harus memberikan kesetiaan dan pengabdiannya kepada seorang laki-laki yang tidak pernah menghargai pengorbanannya. Eyang kakung bukan hanya mempunyai selir-selir yang kemudian dinikahinya, tetapi sering bermainmain dengan perempuan lain tanpa memahami bagaimana perasaan istserinya. ” (TOP hlm: 126)

Namun ada hal yang paling membuat Ibu sakit hati dan trauma, yaitu saat Nenek mengandung dan akan melahirkan adiknya. Di saat penting seperti itu Kakek tidak mendampingi Nenek. Bahkan Beliau berada di rumah salah satu selirnya. Akibatnya Nenek kehilangan anak tersebut meninggal saat dilahirkan. Ibu tidak bisa membayangkan bagaimana situasi tersebut dialami Nenek. Kondisinya yang sudah tidak kuat menahan sakit, dan dia butuh dukungan suaminya harus berjuang sendiri melahirkan anaknya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini.

80 “ Waktu eyang putrimu mengandung adik Ibu dan kemudian tiba waktu untuk melahirkannya. Itulah saat yang pahit bagi Ibu. ” (TOP hlm:129) “ Nah, dalam keadaan hamil tua seperti itu, Eyang Putri ingin supaya Eyang Kakung lebih banyak menemaninya, terutama malam itu. Saat itu, perutnya memang sudah mulai terasa tegang-tegang. Tetapi Eyang Kakung menjawab bahwa beliau sudah terlanjur ditunggu oleh istrinya yang lain. ” (TOP hlm:129)

Itulah yang melatar belakangi pandangan Ibu terhadap Emansipasi Wanita di lingkungan keluarga yang sangat berbeda dengan pandangan Nenek. Pandangan Ibu terlalu berlebihan sehingga terkesan melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan yang sudah bersuami. Emansipasi yang Ibu lakukan itu justru memberi gambaran bahwa beliau ingin mendominasi bahkan mengungguli laki-laki di segala bidang.

4.3.3

Pandangan Gading tentang Emansipasi Wanita Gading adalah seorang gadis yang terlahir di era globalisasi dan di lingkungan

keluarga yang demokratis. Meskipun kedua orang tuanya masih menanamkan nilai-nilai budaya Jawa, namun tidak menutup kebebasan anak-anaknya untuk maju. Selain itu mereka dididik untuk berpikiran modern dan berwawasan luas. Kebebasan berbicara yang diajarkan oleh orang tuanya memberikan pengetahuan bahwa manusia bebas untuk mengemukakan pendapatnya, bebas untuk memilih, menimbang dan memutuskan sesuatu tanpa adanya campur tangan dari pihak luar. Oleh karena itu dia sangat setuju dengan perjuangan wanita untuk menuntut haknya di bidang politik, hukum dimana perempuan bebas untuk memilih, menimbang dan memutuskan suatu hal. Pandangan dia tentang hal ini, bahwa perempuan adalah manusia yang memiliki hak yang sama seperti halnya dengan laki-laki. Kebebasan untuk memilih, menimbang dan memutuskan tersebut tidak hanya dimiliki oleh kaum laki-laki saja tapi

81 juga dimiliki oleh perempuan. Pandangan yang dimiliki oleh Gading ini senada dengan pandangan yang dimiliki oleh Ibu, namun bertolak belakang dengan pandangan yang dimiliki oleh Nenek. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Celakanya, apa yang dikatakan oleh nenekku itu sangat bertentangan dengan apa yang ada di dalam batinku. Bagiku bicara soal hak untuk memilih, itu adalah milik setiap orang, entah dia laki-laki entah pula dia itu seorang perempuan. Bukan hany milik laki-laki saja. Terlebih jika itu menyangkut martabat manusia dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya sebagai hak dasar atau hak asasi manusia. ” (TOP hlm:9)

Dengan berdasarkan pandangannya tersebut, Gading menolak perjodohannya dengan laki-laki pilihan Neneknya. Pandangan Gading tentang emansipasi wanita tidak hanya di bidang politik/hokum saja, tetapi juga di bidang pendidikan. Gading sangat bersyukur dia dilahirkan di lingkungan keluarga yang sangat memperhatikan masalah pendidikan. Pendidikan adalah modal penting yang harus dimiliki manusia agar kelak dia bisa menjadi orang yang sukses. Dengan pendidikan yang didapat oleh Gading menjadikannya sebagai gadis yang kritis dengan keadaan sekitar, dan mengajarkannya menjadi perempuan yang bijak yang mampu memilih dan memilah hal mana yang dianggap benar dan mana yang salah. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Aku adalah seorang perempuan yang cukup kritis, sehingga tidak menelan mentah-mentah begitu saja apa pun yang kupelajari. Dan meskipun aku tumbuh dewasa diantara dua pola pikir yang berasal dari dua generasi yang berbeda, aku selalu belajar mengolah segala sesuatunya agar pas dengan hati nuraniku yang paling dalam, untuk kemudian menjadi nilai-nilaiku sendiri. ” (TOP hlm:222)

Gading mendapat pendidikan yang tinggi, oleh karena itu dia memilih profesi menjadi seorang wartawan. Sebuah cita-cita yang lama dia impikan untuk diwujudkan. Menurutnya, profesi sebagai wartawan adalah profesi yang paling tepat untuknya saat ini.

82 Karena dia memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar tentang suatu hal. Gading juga dapat memanfaatkan ilmu yang telah didapatnya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Kau kan tahu, sebagai wartawan pada prinsipnya kami bekerja dua puluh empat jam sehari. Kalau tidak begitu, kami bisa kehilangan berita besar karena keduluan orang. ” (TOP hlm:234) “ Ya, di tempat itu ilmu yang kupalajari terpakai. Suasananya juga enak dan aku bisa mengembangkan diri karena kesempatan untuk itu terbuka lebar bagi kami. Para atasan berpikir bahwa perusahaan akan berkembang maju kalau semua orang ikut berpartisipasi dan mendapat kesempatan untuk berkembang pula. ” (TOP hlm:261)

Dari profesinya ini, Gading mendapatkan kehidupan ekonomi yang serba berkecukupan. Bahkan berbagai fasilitas yang sebelumnya tidak dia miliki seperti mobil dan sebagainya. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Tak kuceritakan bahwa bulan depan aku sudah menempati posisi yang lebih tinggi, menggantikan atasanku yang mendapat tugas baru. Dan juga tak kuceritakan bahwa posisi baruku yang lebih menuntut tanggung jawabku nantinya, aku akan mendapat beberapa fasilitas yang sekarang tidak kumiliki, yaitu ruang sendiri, mobil dinas, dan tentu saja kenaikan gaji. ”

Selain itu emansipasi yang dilakukan oleh Gading juga di lingkungan keluarga. Dalam sebuah perkawinan, dia berpandangan bahwa jodoh yang nantinya menjadi suaminya adalah orang yang telah dia pilih sendiri, bukan pilihan orang lain. Sebuah perkawinan tidak bisa dilakukan sembarangan. Menurutnya perkawinan itu sakral, dan sebisanya dilakukan sekali seumur hidup. Oleh karena itu perkawinan harus dipersiapkan benar-benar, sehingga kita tidak menyesal di kemudian hari. Pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “ Tetapi kau harus tahu Mas, bagiku hubungan seorang laki-laki dan seorang perempuan, apalagi kalau sudah menyangkut pada rencana perkawinan, itu perlu perencanaan dan pemikiran yang mendalam. Perkawinan adalah satu wadah yang

83 suci karena sedikitnya menyangkut kebahagiaan sebuah keluarga. Terutama karena menyertakan nama Tuhan di dalamnya. Jadi, tidak bisa sembarangan! ” (TOP hlm:266)

Seperti halnya pandangan Ibu, menurut Gading perkawinan poligami tidak menghormati hak perempuan. Dengan poligami laki-laki telah melecehkan kaum perempuan dan merendahkan martabat perempuan.

4.3.4

Persamaan dan Perbedaan Pandangan Ketiga Tokoh Utama Wanita Pandangan ketiga tokoh utama wanita dalam novel ini memiliki persamaan dan

perbedaan. Persamaan pandangan tersebut didasarkan atas kesamaan visi dan misi yang ingin dicapai oleh tokoh-tokoh tersebut. Persamaan pandangan tokoh utama wanita dalam novel ini mencakup di bidang politik/hukum, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan keluarga. Dalam bidang politik/hukum tokoh Ibu dan Gading memiliki persamaan pandangan yaitu bahwa seorang wanita memiliki hak untuk memilih, menimbang, dan memutuskan sama halnya dengan hak yang dimiliki oleh kaum laki-laki. Hak tersebut merupakan hak individu yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia baik laki-laki maupun perempuan. Kebebasan untuk memilih, menimbang, dan memutuskan tersebut patut diperjuangkan oleh kaum perempuan agar mereka mendapat perlakuan yang sama dengan laki-laki sehingga tidak terjadi ketidakadilan gender yang merugikan kaum perempuan. Bidang lain yang memiliki persamaan pandangan yaitu bidang ekonomi. Tokoh Nenek, Ibu, dan Gading memiliki persamaan pandangan yaitu bahwa seorang wanita memiliki hak untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Dengan bekerjalah mereka memiliki kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki untuk mendapatkan penghidupan

84 yang layak. Kaum wanita yang bekerja memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi dan bakat yang dimilikinya sehingga menjadikannya sebagai wanita yang maju. Namun tokoh Nenek berpandangan seperti tersebut di atas lebih cenderung karena keadaan yang memaksa beliau untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Suaminya yang beristeri banyak tidak cukup menanggung biaya hidup Nenek dan anak-anaknya. Oleh karena itu Nenek bekerja mengembangkan usaha batik untuk menghidupi anak-anaknya. Dalam bidang pendidikan tokoh Nenek, Ibu, dan Gading memiliki persamaan pandangan yaitu bahwa pendidikan adalah kunci yang harus dimiliki manusia agar maju dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Pendidikan adalah hak yang dimiliki oleh semua manusia baik laki-laki maupun perempuan. Persamaan pandangan tersebut dibuktikan oleh tokoh Nenek dengan memberikan pendidikan yang setinggi mungkin kepada anakanaknya. Tokoh Ibu adalah bukti konkret dari cita-cita Nenek. Ibu berhasil menjadi seorang dosen di sebuah perguruan tinggi favorit. Sedangkan tokoh Ibu mampu menyekolahkan Gading sampai ia menjadi seorang wartawan. Menurut Gading profesinya sebagai wartawan sesuai dengan ilmu yang telah diperolehnya di bangku kuliah. Profesi tersebut juga menyalurkan bakat dan talenta yang dimiliki oleh Gading. Intinya dengan pendidikan membuka jalan kita untuk menjadi maju dan mendapatkan penghidupan yang layak. Dalam lingkungan keluarga tokoh Ibu dan Gading memiliki persamaan pandangan yaitu bahwa kaum perempuan sebagai seorang isteri adalah manusia biasa yang berhak mendapatkan perlakuan yang adil dari suaminya. Perjodohan dan perkawinan poligami adalah salah satu contoh ketidakadilan gender dalam lingkungan keluarga. Kedua hal tersebut sangat bertentangan dengan apa yang ingin diperjuangkan wanita melalui gerakan emansipasi wanita. Tokoh Ibu dan Gading juga sangat tidak menyetujui

85 perjodohan dan perkawinan poligami. Kebebasan kaum perempuan untuk memilih calon pendamping hidupnya adalah hak yang mendasar yang dimiliki oleh kaum perempuan. Perkawinan poligami cenderung membuat kaum wanita sebagai korban yang dirugikan oleh kaum laki-laki. Terkadang isteri yang satu tidak mendapat nafkah lahir batin yang sama dengan isteri yang lain bahkan diterlantarkan. Selain persamaan pandangan tentang emansipasi, ketiga tokoh ini juga memiliki perbedaan pandangan. Terlihat dalam bidang politik/hukum, tokoh Nenek memiliki perbedaab pandangan dengan tokoh Ibu dan Gading. Nenek sangat menentang kebebasan wanita untuk memilih, menimbang, dan memutuskan. Karena menurutnya hak itu hanya dimiliki oleh kaum laki-laki saja. Kita sebagai kaum perempuan tempatnya adalah untuk dipilih. Unsur tradisional cenderung lebih dominan untuk dipertahankan oleh tokoh Nenek. Sedangkan tokoh Ibu dan Gading sangat setuju dengan gerakan emansipasi yang memperjuangkan hak kaum perempuan untuk memilih, menimbang, dan memutuskan. Sebagai kaum yang feminis, kedua tokoh tersebut kurang mempertahankan unsure tradisional bahkan tokoh Ibu cenderung membuang unsur tersebut. Perbedaan pandangan juga terjadi dalam lingkungan keluarga. Tokoh Nenek yang memegang tradisi sangat kuat membenarkan adanya perjodohan. Karena dengan perjodohan, akan meningkatkan derajat keluarga di mata masyarakat. Dengan jalan perjodohan kita dapat memperoleh calon menantu yang bibit, bebet, dan bobotnya jelas dan sudah pasti dari keluarga ningrat. Tokoh Nenek memliki pandangan bahwa seorang wanita sebagai isteri harus berani memiliki sikap “nrimo ing pandum”, pasrah, berbakti kepada suami, dan melayani suami. Tokoh nenek meskipun tidak membenarkan perkawinan poligami yang dijalaninya bersama kakek, tidak mampu untuk menentang keinginan kakek

86 untuk beristeri banyak. Beliau lebih memilih diam tanpa protes sedikit pun kepada kakek dan menjalani kehidupan perkawinan dengan hati pasrah. Sedangkan tokoh Ibu dan Gading sangat tidak setuju dengan pandangan Nenek tersebut. Sebagai seorang isteri hendaknya diberi kebebasan juga untuk mensejajarkan diri dengan suaminya. Sehingga mereka tidak diperlakukan sewenang-wenang oleh suaminya.

87 BAB V PENUTUP

5.1 Simpulan Berdasarkan hasil pembahasan pada bab IV dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, pembahasan mengenai watak tiga tokoh utama wanita. Tokoh pertama, Nenek, adalah sosok wanita Jawa berumur lebih dari delapan puluh empat tahun. Beliau masih memegang teguh adat Jawa. Nilai-nilai atau norma-norma Jawa yang dianut mempengaruhi pandangannya tentang emansipasi. Tokoh kedua, Ibu, adalah sosok wanita Jawa berumur lebih dari lima puluh tahun. Berwawasan modern, dan tidak lagi memegang teguh adat Jawa sebagai pedoman hidupnya. Tokoh ini berpandangan bahwa emansipasi wanita adalah penting untuk diperjuangkan. Tokoh ketiga, Gading, adalah sosok wanita modern yang hidup di masa sekarang. Dia sangat mendukung emansipasi wanita namun tidak meninggalkan nilai-nilai atau norma-norma sosial yang ada di masyarakat Jawa. Kedua, analisis watak tiga tokoh utama wanita di atas selanjutnya digunakan untuk mendeskripsikan emansipasi yang ada di dalam novel Tiga Orang Perempuan.Hasil dari pembahasan tersebut adalah bahwa emansipasi wanita dalam novel ini terjadi dibidang politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan di lingkungan keluarga. Di bidang politik, emansipasi wanita menuntut adanya hak yang sama untuk memilih, menimbang, dan memutuskan. Tokoh Ibu dan Gadinglah yang memperjuangkannya. Hal tersebut dibuktikan dengan menolak keinginan Nenek untuk menjodohkan Gading dengan laki-laki pilihan Nenek. Seorang wanita berhak untuk memilih siapa calon suaminya kelak,

mempertimbangkan apakah laki-laki pilihannya itu benar-benar yang terbaik, baru

88 kemudian memutuskan apakah laki-laki itu menjadi suaminya atau tidak. Di bidang hukum, emansipasi wanita memperjuangkan hak wanita agar mendapatkan keadilan. Tokoh Ibu dan Gading adalah sosok wanita yang memperjuangkan haknya tersebut. Menurut kedua tokoh tersebut, kaum wanita berhak mendapatkan keadilan dan perlindungan hukum yang menyangkut masalah perkawinan, hak waris dan sebagainya. Di bidang ekonomi, tokoh Ibu memperjuangkan haknya untuk mendapatkan kehidupan yang layak yaitu dengan bekerja menjadi seorang dosen. Tokoh Gading dengan profesinya sebagai seorang wartawan menggambarkan wanita yang ingin memeperjuangkan emansipasi wanita di bidang ekonomi. Di bidang pendidikan, tokoh Ibu dan Gading menggambarkan adanya perjuangan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Di lingkungan keluarga, tokoh Ibu memperjuangkan hak agar mendapatkan perlakuan yang tidak sewenang-wenang dari suami. Ketiga, pembahasan mengenai tiga tokoh utama wanita dalam novel Tiga Orang Perempuan karya Maria A. Sardjono memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang emansipasi. Ada yang mendukung ada pula yang kurang mendukung. Tokoh Nenek kurang mendukung karena latar belakang budaya/adat. Tokoh Ibu mendukung emansipasi karena latar belakang pangalaman masa lalu semasa beliau masih kecil.Tokoh Gading mendukung emansipasi wanita karena latar belakang lingkungan keluarganya yang demokratis dan berwawasan modern. Kedua tokoh, Ibu dan Gading, sama-sama mendukung emansipasi wanita karena alasan bahwa wanita berhak untuk maju dan memperoleh hak yang sama seperti kaum laki-laki.

89 5.2 Saran Penulis menyarankan agar hasil analisis skripsi yang berjudul Pandangan Tiga Tokoh Wanita Tentang Emansipasi Dalam Novel Tiga Orang Perempuan Karya Maria A. Sardjono ini dapat bermanfaat memberikan pengetahuan dan pemahaman yang benar mengenai emansipasi wanita kepada para pembaca sastra. Manfaat lain bagi peneliti sastra, penelitian ini dapat digunakan untuk menganalisis novel ini dari segi sosiologi sastra atau segi ilmu sastra yang lain untuk mendapatkan penelitian yang baru bagi dunia sastra.

90 DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 1990. Sekitar Masalah Sastra. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh. _________. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Anshori. 1997. Feminisme Refleksi Muslimah Asas Peran Sosial Kaum Wanita. Bandung: Pustaka Hidayah. ______. 1997. Feminisme Refleksi Masyarakat Indonesia. Bandung: Pustaka Budaya. Badudu, J.S Zain, Muhammad. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Baribin, Raminah. 1987. Kritik dan Penilaian Sastra. Semarang: IKIP Press. Chudori, Leila S. 1991. Potret Perempuan dalam Novel Indonesia Tempo. No 10 Tahun XXI 4 Mei. Jakarta: Graffiti Press. Djajanegara, Soenarjati. 2002. Kritik Sastra Feminis. Jakarta: Gramedia. Dewi Mahanani, Suprapti. 2003. Feminisme dalam Novel Tumini (Perawan Onderneming) Karya Karmaputra. Semarang: Unnes. Fakih, Mansour. 1996. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Jakarta: Pustaka Pelajar. ____________. 2001. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Lubis, Mochtar. 1960. Teknik Mengarang. Jakarta: Balai Pustaka. Mido, Frans. 1994. Cerita Rekaan dan Seluk Beluknya. Jakarta: Ikrar Mandiri Abadi. Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press __________________. 1998. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. __________________. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

91

Nur Rahayu, Fitriani. 2003. Perspektif Feminisme Tokoh Utama Wanita dalam Novel Canting Karya Arswendo Atmowiloto. Semarang: Unnes. Rahmawati, Tri. 2001. Peran dan Emansipasi Tokoh Utama Wanita dalam Novel Jalan Bandungan Karya NH Dini. Semarang: Unnes. Sardjono, A. Maria. 2002. Tiga Orang Perempuan. Jakarta: Gramedia. Sayuti, A. Suminto. 1996. Apresiasi Prosa Fiksi. Jakarta: Depdikbud. Sudjiman, Panuti. 1986. Kamus Istilah Sastra. Cetakan II. Jakarta: Gramedia. ______________. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya. ______________. 1991. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya. Suharianto, S. 1982. Dasar-dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Utama. Sugihastuti. 2002. “Kritik Sastra Feminis” Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sumardjo, Jakob. 1986. Ikhtisar Sejarah Teater Barat. Bandung: Angkasa. Sumartan, dkk. 1995. Mendidik Manusia Merdeka, Romo YB Mangunwijaya 65 Th. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Suyati, dkk. 1996. Teori Sastra. Jakarta: Depdikbud Sukada, Made. 1987. Pembinaan Sistematika Analisis Struktur Fiksi. Bandung: Angkasa. Teguh. 1995. Gender dan Transformasi Sosial. Makalah disampaikan dalam seminar Bedah Buku Gender dan Transformasi Sosial Karya Mansour Fakih. ISI Yogyakarta: Yogyakarta.

92 LAMPIRAN

SINOPSIS

Judul novel Nama Pengarang

: Tiga Orang Perempuan : Maria A. Sardjono

TIGA ORANG PEREMPUAN

Kota Solo identik dengan budaya dan adat Jawa yang sangat kental. Masyarakatnya masih memegang teguh nilai-nilai dan norma-norma sosial yang masih dipengaruhi oleh budaya patriarkat. Salah seorang di antaranya adalah Nenek. Sosok wanita Jawa yang berumur kurang lebih delapan puluh empat tahun, namun masih menampakkan kekuatannya di masa muda. Beliau hidup bahagia dengan keluarganya yaitu Ibu dan Gading. Ibu adalah anak terakhir Nenek. Dia adalah sosok wanita modern berumur kurang lebih lima puluh tahun. Tokoh Gading adalah generasi ketiga, seorang gadis dengan pemikiran kritis dan berwawasan luas. Ketiga tokoh tersebut terlibat suatu masalah yang rumit. Masalah itu menyangkut kehidupan pribadi Gading yang akan dijodohkan Nenek dengan laki-laki pilihannya. Namun keinginan Nenek tersebut tidak disetujui oleh Ibu. Menurutnya, Gading berhak menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa ada campur tangan dari orang lain. Apalagi di masa sekarang wanita harus mampu untuk hidup mandiri, maju, dan bisa mengembangkan

93 potensi dan bakat yang dimilikinya. Emansipasi adalah jalan yang harus ditempuh oleh seorang wanita agar bisa disejajrkan dengan kaum laki-laki. Pendapat ini dibantah Nenek. Beliau cenderung menentang karena latar belakang keluarganya yang berasal dari keluarga ningrat. Semenjak kecil dia dipingit oleh keluarganya sampai beranjak remaja dan dilamar oleh laki-laki pilihan keluarganya. Berbeda dengan Gading yang sangat mendukung emansipasi seperti Ibunya, namun masih memegang nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat terutama masyarakat Jawa. Permasalahan semakin rumit ketika Ibu menghadapi kenyataan suaminya sendiri selingkuh dengan wanita lain yang lebih muda usianya. Suaminya melakukan itu dengan alasan Ibu terlalu otoriter dan menganggap rendah suaminya hanya karena ingin menunjukkan dominasi Ibu di mata suaminya dan semua laki-laki di mana pun baik di tempat kerja maupun di lingkungan keluarganya. Permasalahan itu berakhir setelah adanya campur tangan Gading yang tidak ingin melihat keluarganya hancur. Seiring dengan berjalannya waktu, Nenek pun menyadari bahwa apa yang selama ini diperjuangkan oleh Ibu dan Gading adalah semata-mata untuk membuka hati kaum laki-laki agar tidak memperlakukan kaum perempuan dengan seenaknya. Bukan untuk memberontak dan melanggar nilai-nilai yang sudah diyakini masyarakat sebagai ketetapan Tuhan yang disebut kodrat.

94

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->