P. 1
Peningkatan Keterampilan Membaca Cepat 250 Kpm Dengan Pembelajaran Latihan Berjenjang Dan Penilaian Authentic Assessment Pada Siswa Kelas Viiia Mts Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes

Peningkatan Keterampilan Membaca Cepat 250 Kpm Dengan Pembelajaran Latihan Berjenjang Dan Penilaian Authentic Assessment Pada Siswa Kelas Viiia Mts Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes

|Views: 5,678|Likes:
Published by adee13
Peningkatan Keterampilan Membaca Cepat 250 Kpm Dengan Pembelajaran Latihan Berjenjang Dan Penilaian Authentic Assessment Pada Siswa Kelas Viiia Mts Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes
Peningkatan Keterampilan Membaca Cepat 250 Kpm Dengan Pembelajaran Latihan Berjenjang Dan Penilaian Authentic Assessment Pada Siswa Kelas Viiia Mts Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes

More info:

Published by: adee13 on Jan 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

06/01/2013

Sections

PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA CEPAT 250 KPM DENGAN PEMBELAJARAN LATIHAN BERJENJANG DAN PENILAIAN AUTHENTIC ASSESSMENT PADA

SISWA KELAS VIIIA MTs MIFTAHUL ULUM RENGASPENDAWA KABUPATEN BREBES

SKRIPSI untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

oleh
Nama NIM Program Studi Jurusan : Elly Fatmawati : 2101401055 : Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia : Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi.

Semarang, Pembimbing I

14 September 2005

Pembimbing II

Drs. Wagiran, M.Hum. NIP 132058001

Drs. Subyantoro, M.Hum. NIP 132005032

ii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

pada hari tanggal

: Rabu : 14 September 2005

Panitia Ujian Skripsi Ketua, Sekretaris,

Prof. Dr. Rustono, M.Hum. NIP 131281222

Drs. Mukh Doyin, M.Si. NIP 132106167

Penguji I,

Penguji II,

Penguji III,

Drs. Haryadi, M.Pd. NIP 132058082

Drs. Wagiran, M.Hum. NIP 132058001

Drs. Subyantoro, M.Hum. NIP 132005032

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, 14 September 2005

Elly Fatmawati

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto: “Berdoa, berpikir, berusaha, dan bersabar merupakan kunci keberhasilan.”

Skripsi ini kupersembahkan kepada: 1. Bapak dan Ibu tercinta yang telah memberikan kasih sayang tulus, semangat, dan iringan doa dalam setiap langkahku; 2. Kedua kakakku yang tiada henti memberikan semangat kepada penulis; 3. Teman hidupku, dan sahabat-sahabatku yang

menciptakan rajutan kisah persahabatan yang indah, dan tanpa pamrih kepada penulis; dan 4. Guru dan almamaterku yang mengantarkan langkahku.

v

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga skripsi ini dapat deselesaikan dengan baik. Skripsi ini dapat diselesaikan berkat bantuan dan fasilitas yang diberikan oleh berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada, 1. Prof. Dr. Rustono M. Hu,. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, yang telah memberikan kesempatan untuk menyelesaikan skripsi ini. 2. Drs. Moh Doyin, M.Si, Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 3. Drs. Subyantoro, M.Hum., dosen pembimbing I yang telah

memberikan bimbingan, masuksn ide, dan dorongan sehingga skripsi ini diselesaikan dengan baik. 4. Drs. Wagiran, M.Hum,, dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, masuksn ide, dan dorongan sehingga skripsi ini diselesaikan dengan baik. 5. Semua dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, yang telah memberikan ilmu dan pengalamannya kepada penulis. 6. Petugas TU Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, TU Fakultas Bahasa dan Seni, dan petigas KOMBAT, yang telah membantudan memberikan kemudahan dalam urusan administrasi dan peminjaman buku. 7. Semua pihak dan instansi yang membantu terselesaikannya skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua yang membaca.

Semarang,

14 September 2005

Penulis

vi

SARI

Fatmawati, Elly.2005. Peningkatan Keterampilan Membaca Cepat 250 Kpm dengan Pembelajaran Latihan Berjenjang dan Penilaian Authentic Assessment pada Siswa Kelas VIII A MTs. Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2004/2005. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Drs. Subyantoro, M.Hum., Pembimbing II: Drs. Wagiran, M.Hum. Kata kunci: kemampuan membaca cepat, pembelajaran kontekstual, elemen authentic assessment Pembelajaran membaca cepat mempunyai peranan penting dalam mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Kecepatan membaca sangat mempengaruhi keberhasilan seseorang untuk menyerap segala macam informasi yang ada dalam media cetak maupun elektronik. Semua pendidik berharap agar para siswa mempunyai kecepatan membaca yang memadai. Pemilihan strategi dan pendekatan yang tepat dalam pembelajaran merupakan hal yang harus dipertimbangkan oleh guru agar tujuan pem,belajaran yang telah dirumuskan dapat mencapai sasaran. Berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan guru kelas pembelajaran membaca cepat kelas VIII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan kecepatan membaca siswa berkisar antara 90-170 kata per menit, demikian pula pemahaman bacaan hanya mampu memahami sebesar 60%. Rendahnya kemampuan siswa dalam membaca cepat disebabkan pada faktor internal dan eksternal. Faktor internal ini berasal dari siswa, sedangkan faktor eksternal berasal dari strategi guru dalam melaksanakan pembelajaran. Guru dalam melaksanakan pembelajaran masih menggunakan pola pembelajaran tradisional. Pemilihan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat berdasarkan tuntutan kurikulum berbasis kompetensi yang memberikan kebebasan para guru untuk memilih teknik yang beragam disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Kurikulum berbasis kompetensi ingin memusatkan diri pada pengembangan seluruh kompetensi siswa termasuk keterampilan berbahasa yang didalamnya mencakup kemampuan membaca cepat sebagai salah satu kompetensi dasar membaca. Berdasarkan paparan di atas penelitian ini mengangkat permasalahan, yaitu (1) bagaimanakah peningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas VIII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes dengan menerapkan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment? dan (2) bagaimanakah perubahan perilaku siswa kelas VIII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes dengan diadakan membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment? Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas VIII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah mengikuti pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Tujuan yang kedua adalah

vii

mendeskripsikan perubahan perilaku siswa kelas VIII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Subjek dalam penelitian ini adalah kecepatan membaca cepat siswa kelas VIII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes tahun pelajaran 2004/2005. Variabel dalam penelitian ini adalah kemampuan membaca cepat dan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas dengan dua siklus yang dilaksanakan pada siswa kelas VIII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes. Tiap-tiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pengambilan data digunakan dengan tes dan nontes. Alat pengambilan data yang digunakan berupa pedoman observasi, wawancara, dan jurnal. Analisis data yang digunakan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Setelah dilakukan penelitian dalam dua siklus, dihasilkan simpulan bahwa pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment dapat meningkatkan kecepatan membaca siswa. Pada kondisi awal rata-rata kecepatan membaca siswa kelas VIII A hanya 148,03 kpm. Pada akhir siklus pertama meningkat menjadi 222,92 kpm. Hal ini menunjukkan kenaikan 74,89 kpm (50,59%). Pada akhir siklus II rata-rata kecepatan membaca siswa 251,56 kpm ada kenaikan sebesar 28,64 kpm (12,85%). Perubahan tingkah laku dalam penelitian ini adalah para siswa tampak lebih semangat, merasa senang, aktif mengikuti pembelajaran, dan berusaha meminimalisir kebiasaan yang salah dalam membaca, serta siswa merasa dihargai. Hasil penelitian tersebut saran yang dapat direkomendasikan antara lain: (1) guru Bahasa dan Sastra Indonesia seyogyanya berperan aktif sebagai inovator untuk memilih teknik pembelajaran yang paling tepat sehingga pembelajaran yang dilaksanakan menjadi pengalaman yang bermakna bagi siswa; (2) guru Bahasa dan Sastra Indonesia dapat menggunakan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment dalam membelajarkan kemampuan membaca cepat; (3) pembelajaran dengan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment dapat dijadikan alternatif pilihan bagi guru bidang studi lain dalam membelajarkan bidang garapannya; (4) para praktisi atau peneliti di bidang pendidikan dan bahasa dapat melakukan penelitian serupa dengan teknik pembelajaran yang berbeda sehingga didapatkan berbagai alternatif teknik pembelajaran membaca cepat.

viii

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL......................................................................... PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ...................................... PENGESAHAN KELULUSAN ....................................................... PERNYATAAN................................................................................ MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................................... PRAKATA........................................................................................ SARI.................................................................................................. DAFTAR ISI..................................................................................... DAFTAR TABEL............................................................................. DAFTAR BAGAN ........................................................................... DAFTAR LAMPIRAN..................................................................... i ii iii iv v vi vii ix xii xii xiv

BAB

I

PENDAHULUAN 1 7 9 9 10 10

1.1 Latar Belakang Masalah............................................................. 1.2 Identifikasi Masalah ................................................................... 1.3 Pembatasan Masalah .................................................................. 1.4 Rumusan Masalah ...................................................................... 1.5 Tujuan Penelitian ....................................................................... 1.6 Manfaat Penelitian .....................................................................

BAB

II

LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS 12 18 18 19 21 23

2.1 Tinjauan Pustaka ........................................................................ 2.2 Landasan Teoretis ...................................................................... 2.2.1 Hakikat Membaca .................................................................. 2.2.2 Manfaat Membaca.................................................................. 2.2.3 Tujuan Membaca.................................................................... 2.2.4 Jenis-Jenis Membaca..............................................................

ix

2.2.5 Pengertian Membaca Cepat.................................................... 2.2.6 Hambatan-Hambatan Membaca Cepat .................................. 2.2.7 Teknik Membaca Cepat ......................................................... 2.2.8 Pembelajaran Kontekstual...................................................... 2.2.9 Penilaian Sebenarnya ............................................................. 2.3 Kerangka Berpikir...................................................................... 2.4 Hipotesis.....................................................................................

25 26 29 31 35 42 43

BAB III 3.1

METODE PENELITIAN 44 45 50 53 53 53 54 55 55 57 60 60 61 63 63 64

Desain Penelitian.....................................................................

3.1.1 Prosedur Tindakan pada Siklus I............................................. 3.1.2 Prosedur Tindakan pada Siklus II ........................................... 3.2 3.3 Subjek Penelitian..................................................................... Variabel Penelitian ..................................................................

3.3.1 Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat ............................ 3.3.2 Pembelajaran Kontekstual Elemen Authentic assessment ...... 3.4 Instrumen Penelitian ...............................................................

3.4.1 Instrumen Tes.......................................................................... 3.4.2 Instrumen Nontes .................................................................... 3.5 Teknik Pengumpulan Data......................................................

3.5.1 Teknik Tes............................................................................... 3.5.2 Teknik Nontes ......................................................................... 3.6 Teknik Analisis Data...............................................................

3.6.1 Teknik Kuantitatif (Analisis Data Tes) .................................. 3.6.2 Teknik Kualitatif (Analisis Data Nontes) ...............................

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 4.1.1 4.1 2 Hasil Penelitian ..................................................................... Kondisi Awal ........................................................................ Kondisi Siklus I..................................................................... 65 63 70 70

4.1.2.1 Hasil Tes ...............................................................................

x

4.1.2.2 Hasil Nontes ......................................................................... 4.1.3 Hasil Penelitian Siklus II......................................................

73 82 82 85 91 91 95

4.1.3.1 Hasil Tes .............................................................................. 4.1.3.2 Hasil Nontes ......................................................................... 4.2 4.4.1 4.4.2 Pembahasan.......................................................................... Kecepatan Membaca ............................................................ Perubahan Perilaku siswa.....................................................

BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan ................................................................................... 5.2 Saran.......................................................................................... 99 100

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................

102

LAMPIRAN.....................................................................................

105

xi

DAFTAR TABEL

TABEL 1. Pedoman Penilaian Tingkat Pemahaman............................... 2. Pedoman Kecepatan Membaca.............................................. 3. Pedoman Kecepatan Efektif Membaca.................................. 4. Hasil Kecepatan Membaca pada Kondisi Awal .................... 5. Hasil Pemahaman Membaca Siswa pada Kondisi Awal ....... 6. Hasil Kecepatan Efektif Membaca pada Kondisi Awal ........ 7. Hasil Kecepatan Membaca pada Siklus I .............................. 8. Hasil Pemahaman Membaca Siswa pada Siklus I ................. 9. Hasil Kecepatan Efektif Membaca pada Siklus I .................. 10. Hasil Kecepatan Membaca pada Siklus II ............................. 11. Hasil Pemahaman Membaca Siswa pada Siklus II................ 12. Hasil Kecepatan Efektif Membaca pada Siklus II ................. 13. Rekapitulasi Rata-Rata Pencapaian Kemampuan.................. 14. Perbandingan Observasi Kebiasaan Membaca ...................... 15. Perbandingan Observasi Penilaian Proses .............................

Halaman 87 58 58 67 68 69 71 72 73 81 82 83 93 96 99

xii

DAFTAR BAGAN

BAGAN Halaman 1. Kerangka berpikir.......................................................................... 44 2. Siklus Penelitian Tindakan Kelas ................................................. 46

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN

Halaman 105 106 107 108 109 111 113 114 115 116 117 118 120 122 134 156 158 168 170 172 174 177 179 182 183 184 185

1. Tabel Hasil Kecepatan Membaca Pra Siklus .................................... 2. Tabel Hasil Pemahaman Isi Bacaan Tes Pra Siklus.......................... 3. Tabel Hasil Kecepatan Efektif Membaca Pra Siklus ......................... 4. Tabel Hasil Observasi Kebiasaan Membaca Pra Siklus .................... 5. Wacana Kondisi Awal........................................................................ 6. Soal-Soal Pemahaman Wacana Kondisi Awal .................................. 7. Tabel Hasil Kecepatan Membaca Tes Siklus I .................................. 8. Tabel Hasil Pemahaman Isi Bacaan Tes Siklus I............................... 9. Tabel Hasil Kecepatan Efektif Membaca Siklus I ............................. 10. Tabel Observasi Kebiasaan Membaca Siklus I................................ 11. Tabel Observasi Penilaian Proses Siklus I ...................................... 12. Wacana Latihan Siklus I .................................................................. 13. Soal-Soal Latihan Pemahaman Siklus I ........................................... 14. Rencana Pembelajaran Siklus I........................................................ 15 Kecepatan Membaca dan Gerakan Mata........................................... 16. Wacana Latihan Siklus I ................................................................. 17. Soal-Soal Pemahaman Latihan Siklus I ........................................... 18. Lembar Observasi Kebiasaan Membaca Siklus I............................. 19. Lembar Observasi Penilaian Proses ................................................. 20. Jurnal Guru Siklus I ......................................................................... 21. Jurnal Siswa Siklus I ........................................................................ 22. Kartu Data Pengontrolan Kecepatan Membaca ............................... 23. Pedoman Wawancara Siklus I.......................................................... 24. Tabel Hasil Kecepatan Membaca Tes Siklus II ............................... 25. Tabel Hasil Pemahaman Isi Bacaan Tes Siklus II ........................... 26. Tabel Hasil Kecepatan Efektif Membaca Siklus II.......................... 27. Tabel Observasi Kebiasaan Membaca Siklus II...............................

xiv

28. Tabel Observasi Penilaian Proses Siklus II..................................... 29. Wacana Latihan Siklus II ................................................................. 30. Soal-Soal Pemahaman Latihan Siklus II.......................................... 31. Wacana Latihan Siklus II ................................................................. 32. Soal-Soal Pemahaman Latihan Siklus II.......................................... 33. Wacana Latihan Siklus II ................................................................. 34. Soal-Soal Pemahaman Latihan Siklus II.......................................... 35. Wacana Tes Siklus II ....................................................................... 36. Soal-Soal Pemahaman Tes Siklus II ................................................ 37. Rencana Pembelajaran Siklus II....................................................... 38. Lembar Observasi Kebiasaan Membaca Siklus II ........................... 39. Lembar Observasi Penilaian Proses Siklus II .................................. 40. Jurnal Guru Siklus II ........................................................................ 41. Jurnal Siswa Siklus II....................................................................... 42. Kartu Data Pengontrolan Kecepatan Membaca Siklus II ................ 43. Pedoman Wawancara Siklus I.......................................................... 44. Gerakan Mata dan Latihannya pada Siklus II .................................. 45. Surat Keterangan ............................................................................. 46. Tabel Perbandingan Kecepatan Membaca ....................................... 47. Tabel Perbandingan Pemahaman Isi Bacaan ................................... 48. Tabel Perbandingan Kecepatan Efektif Membaca........................... 49. Tabel Perbandingan Observasi Kebiasaan Membaca ...................... 50. Tabel Perbandingan Observasi Penilaian Proses ............................. 51. Tabel Rekapitulasi Rata-Rata Pencapaian Kemampuan ..................

185 187 189 191 193 196 198 201 203 205 215 217 219 221 224 226 229 236 238 239 240 241 242 243

xv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Pemberlakuan kurikulum 2004 oleh pemerintah menghendaki

terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, yaitu belajar berbahasa adalah belajar

berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilainilai kemanusiaannya (Depdiknas 2003b: 2). Kurikulum Berbasis Kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah salah satu program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa siswa, serta sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia (Depdiknas 2003b:3). Kegiatan-kegiatan ini sangat penting dilakukan untuk perkembangan sikap dan bahasa anak. Dengan kata lain, melibatkan siswa dalam proses pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia merupakan kebutuhan dan keharusan untuk dilaksanakan. Standar kompetensi Bahasa dan Sastra Indonesia SMP dan MTs adalah (1) mampu mendengarkan dan memahami beraneka ragam wacana lisan, baik sastra maupun nonsastra; (2) mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan secara lisan; (3) mampu membaca dan memahami suatu teks bacaan sastra dan nonsastra dengan kecepatan yang memadai; (4) mampu

2

mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam berbagai ragam tulisan; dan (5) mampu mengapresiasi berbagai ragam sastra (Depdiknas 2003b:4). Untuk mencapai Standar Kompetensi di atas, kegiatan sekolah adalah lebih dari sekadar pengajaran. Kegiatan sekolah adalah kegiatan pembelajaran. Siswa belajar, saling belajar, bukan hanya dari guru melainkan dari teman-teman sekelas, sesekolah, dari sumber belajar lain. Dan pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru juga harus dapat membawa siswa ke pembelajaran yang bermakna. Berdasarkan pengamatan dan informasi media massa umumnya beberapa sekolah telah mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi. MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes merupakan salah satu MTs swasta yang tengah menyiapkan diri terhadap implementasi KBK. Berbagai usaha telah diupayakan untuk menerapkan KBK seperti: (1) mendorong guru memahami konsep KBK; (2) mengirim guru mengikuti seminar atau work shop KBK; dan ( 3) menyiapkan perangkat atau fasilitas yang dibutuhkan. MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes juga merupakan sekolah yang sudah menerapkan prinsip KBK tetapi baru diberlakukan bagi kelas VII. MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes belum menerapkan prinsip KBK pada kelas VIIIA Salah satu indikator penyebab belum diberlakukannya/diterapkannya KBK pada kelas VIII adalah kurangnya kesiapan dan motivasi guru dalam menciptakan kegiatan belajar mengajar yang berorientasi kompetensi. Hal itu tampak pada masih diberlakukannya Kurikulum 1994 yang

3

sering menggunakan metode ceramah dalam kegiatan belajar mengajar daripada metode-metode yang lain. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan materi yang disajikan secara sistematis sesuai dengan kenyataan bahasa di masyarakat, diharapkan siswa mampu menyerap materi tentang berbagai hal; mampu mencari sumber, mengumpulkan, menyaring, dan menyerap pelajaran yang sebanyakbanyaknya sekaligus dapat berlatih mengenai Bahasa Indonesia khususnya keterampilan membaca. Siswa sekolah dasar seharusnya sudah memiliki kemampuan membaca karena kemampuan membaca dapat dijadikan sebagai modal utama dalam proses belajar mengajar. Dengan bekal kemampuan membaca, anak akan menjadi mudah dalam proses belajarnya. Kelancaran dan kesuksesan prestasi yang akan diperoleh anak adalah melalui membaca. Dengan sering membaca anak akan memperoleh pengetahuan, serta mempermudah pola pikirnya untuk berpikir secara kritis. Nurhadi (2004a:11) menyatakan hal-hal yang harus diperhatikan apabila ingin meningkatkan kemampuan membaca sebagai berikut. a. Menyadari adanya berbagai variasi tujuan membaca, yang berbeda dari satu kegiatan membaca dengan kegiatan membaca yang lain. b. Selalu merumuskan secara jelas setiap kegiatan membaca, minimal tahu apa yang akan diperoleh dari bacaan. c. Memerlukan pengembangan berbagai strategi membaca selaras dengan ragam tujuan membaca. d. Memerlukan latihan membaca dengan berbagai variasi tujuan membaca.

4

e. Menyadari bahwa seseorang mempunyai daya baca tinggi (baik) akan mampu memanfaatkan teknik membaca yang bervariasi, sejalan dengan tujuan membaca yang ingin dicapainya. Keterampilan membaca merupakan suatu kesinambungan yang berlangsung secara berangsur-angsur, berproses dari yang sederhana hingga yang lebih rumit. Demikian juga kemampuan membaca siswa SMP/MTs merupakan kelanjutan dari membaca dasar. Dalam menghadapi kenyataan pengajaran membaca di SMP/MTs hendaknya mempertimbangkan hal-hal seperti

perkembangan program membaca, keadaan murid-murid SMP/MTs, metode, serta bahan yang meliputi keterampilan-keterampilan yang perlu dikuasai, bidang isi, dan pelayanan perpustakaan (Hardjasudjana 1997:61). Sama halnya dengan siswa MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes, dilihat dari usia siswanya yang berkisar antara 12-15 tahun, pada usia tersebut merupakan periode sulit yang dapat mengundang banyak tafsiran dengan adanya perubahan-perubahan psikofisik yang terjadi karena pada usia tersebut merupakan peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Berdasarkan observasi, kecepatan membaca dan pemahaman bacaan siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes masih kurang maksimal. Seperti yang telah dikemukakan di atas, keterampilan membaca merupakan sesuatu yang berkesinambungan, sama halnya dengan siswa MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes ada yang cepat, ada yang lambat, dan masih mempunyai kebiasaan jelek dalam membaca.

5

Berdasarkan observasi tersebut, peneliti bermaksud mengadakan penelitian di kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes karena kecepatan dan pemahaman dalam membaca sebuah teks masih sangat kurang maksimal dibandingkan dengan kelas VIII yang lainnya. Kecepatan membaca siswa kelas VIIIA masih dalam tingkat lambat, yaitu berkisar antara 90170 kata per menit. Demikian pula dengan pemahaman bacaan hanya mampu memahami sebesar 60%. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara dengan guru Bahasa dan Sastra Indonesia dan pengamatan, siswa di MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes disimpulkan bahwa upaya khusus untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca cepat masih belum banyak dilakukan oleh guru. Kebanyakan guru hanya mengejar target materi yang harus diajarkan pada siswa. Berdasarkan hasil studi para ahli Amerika, kecepatan yang memadai untuk siswa tingkat akhir sekolah dasar kurang lebih 200 kpm, siswa lanjutan tingkat pertama anatra 200-250 kpm, siswa tingkat lanjutan atas antara 250-325 kpm, dan tingkat mahasiswa antara 325-400 kpm dengan pemahaman isi bacaan minimal 70 %. Adapun di Indonesia KEM minimal untuk klarifikasi pembaca adalah SD (140 kpm), SLTP (140-175 kpm), SMU (175-400kpm), PT (245-280 kpm) Hardjasudjana (1997:73). Dengan mengacu pada teori tersebut, kecepatan membaca siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes masih di bawah standard kecepatan membaca tingkat SMP/MTs. Kondisi siswa dalam menerima pelajaran juga belum efektif. Dikatakan belum efektif, karena dalam menerima pelajaran siswa ada yang ramai,

6

ada yang memperhatikan, dan berbicara sendiri dengan teman sebangku. Hal tersebut bisa terjadi karena ada rasa jenuh pada diri siswa atau penyampaian materi pelajaran yang kurang menarik. Dalam proses belajar mengajar sangat diperlukan kecepatan membaca untuk memahami bacaan. Dengan membaca cepat dan pemahaman cepat pula, isi bacaan akan mudah ditemukan. Untuk meningkatkan keterampilan membaca cepat, peneliti akan meningkatkan keterampilan membaca siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes dengan menerapkan pembelajaran kontekstual elemen authentic assesment/penilaian yang sebenarnya. Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupannya sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektifitas yakni, konstruktivisme

(Constructivisme), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment) (Depdikbud 2002: 5). Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual elemen authentic assesment diharapkan dapat meningkatkan kecepatan membaca. Dalam

pembelajaran tersebut akan dikaitkan antara materi yang diajarkan dengan dunia nyata siswa. Di samping itu, adanya penekanan penilaian proses pembelajaran. Penilaian pembelajaran didasarkan pada penilaian berbasis kelas. Penilaian Berbasis Kelas (PBK) menekankan pencapaian hasil belajar, siswa sekaligus

7

mencakup seluruh proses mengajar dan belajar melalui kegiatan PBK yang menilai karakteristik siswa, metode mengajar dan belajar, pencapaian kurikulum, alat dan bahan belajar, dan administrasi sekolah. Assessment adalah proses pengumpulan data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Siswa akan diberi latihan terstruktur, dan tugas-tugas yang berkaitan dengan membaca cepat. Dari latihan dan tugas-tugas tersebut akan dijadikan data yang dikumpulkan yang nantinya dapat mengetahui perkembangan belajar siswa.

1.2 Identifikasi Masalah Dalam membaca cepat, masalah yang sering ditemukan yaitu: a) huruf pada bacaan kurang standar, b) kecepatan membaca siswa masih dalam tahap per suku kata, dan c) kurangnya latihan secara terstruktur yang dilakukan oleh siswa. Kecepatan membaca siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes masih kurang maksimal, yaitu 90-170 kpm. Dalam proses belajar mengajar, kecepatan membaca siswa sangat diperlukan untuk bisa mengetahui isi buku dan pemahaman isi buku dengan cepat. Dengan membaca cepat dan pemahaman yang cepat pula, prestasi siswa bisa semakin meningkat. Akan tetapi, kenyataannya minat membaca atau kecepatan membaca dan pemahaman bacaan secara cepat, serta kurangnya latihan secara terstruktur yang dilakukan oleh siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes menyebabkan kecepatan membaca siswa kurang maksimal. Selain minat, kecepatan membaca, dan pemahaman bacaan, penilaian yang dilakukan guru di kelas kurang menggunakan cara dan alat yang

8

bervariasi. Penilaian diarahkan pada penguasaan bahan yang diujikan dalam bentuk tes objektif. Ini disebabkan oleh adanya beberapa hal sebagai berikut. a. Siswa kurang latihan dalam membaca secara benar. b. Bacaan kurang menarik, yaitu isi bacaan tidak sesuai dengan keinginan siswa, sehingga siswa membaca hanya sekadar pengisi waktu luang. c. Guru kurang memberikan latihan pada siswa dalam kegiatan membaca. d. Minat baca pada diri siswa yang kecil, yaitu pada diri kurang berminat pada kegiatan membaca. e. Guru kurang memiliki pengetahuan dan kemahiran tentang berbagai metode dan teknik penilaian, sehingga kurang dapat memilih dan melaksanakan dengan tepat metode dan teknik penilaian yang ada. f. Guru kurang mengetahui perkembangan hasil belajar siswa dalam membaca cepat. Salah satu Kompetensi Dasar keterampilan membaca yang harus di capai oleh siswa kelas VIII adalah membaca cepat 250 kpm dengan indikator sebagai berikut: a) mampu mengukur kecepatan membaca untuk diri sendiri dan teman; b) mampu meningkatkan kecepatan membaca dengan : 1) metode gerak mata memperluas jangkauan mata, mengurangi regresi (mengulang), 2) menghilangkan kebiasaan membaca dengan bersuara, 3) meningkatkan

konsentrasi: c) mampu menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75%. Berdasarkan Kompetensi Dasar tersebut, keterampilan yang

diharapkan adalah keterampilan membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment (penilaian yang sebenarnya). Dengan pembelajaran

9

tersebut diharapkan siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes mampu meningkatkan kemampuan membacanya lebih cepat, efektif, menyenangkan, lebih cepat memahami bacaan sehingga siswa semakin gemar membaca.

1.3 Pembatasan Masalah Masalah yang dibahas dalam penelitian adalah peningkatan

kemampuan membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assesment. Dalam penelitian ini peneliti berupaya mengatasi segala hambatan dalam membaca dan meningkatkan kecepatan, serta memberikan tindakan preventif untuk menghilangkan segala penghambat kecepatan membaca, serta menggunakan sistem penilaian yang sebenarnya. Peneliti membatasi

permasalahan karena peneliti berfokus pada peningkatan kemampuan membaca cepat, pemahaman bacaan dan sistem penilaian. Agar kemampuan membaca cepat meningkat, penulis menggunakan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment yang mengacu pada pengontrolan kecepatan efektif membaca.

1.4 Rumusan Masalah Sesuai dengan latar belakang dan pembatasan masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1. Bagaimanakah peningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes dengan menerapkan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment?

10

2. Bagaimanakah perubahan perilaku siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes dengan diadakan membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment?

1.5 Tujuan Penelitian Tujuan yang diharapkan dapat tercapai dalam penelitian ini adalah: a. Mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah menerapkan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. b. Mendeskripsikan perubahan perilaku siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah diadakan membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment.

1.6 Manfaat penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis. 1. Manfaat Teoretis Manfaat teoretis melalui pembelajaran setelah dilakukannya latihan membaca bersiklus adalah menambah Selain cepat

khasanah itu juga,

pengembangan

pengetahuan

membaca

cepat.

mengembangkan teori pembelajaran membaca cepat melalui pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment.

11

2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat,

khususnya bagi siswa, guru, dan peneliti yang lain. Bagi siswa, dengan adanya penelitian siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna dengan pembelajaran kontekstual dan peningkatan kemampuan membaca cepat. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan

pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca cepat siswa. Bagi peneliti yang lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan pelengkap terutama dalam hal bagaimana cara meningkatkan kemampuan membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual dan teknik membaca cepat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS

2.1 Tinjauan Pustaka Penelitian yang beranjak dari awal jarang ditemui, karena biasanya suatu penelitian mengacu pada penelitian lain yang dapat dijadikan sebagai titik tolak dalam penelitian selanjutnya. Dengan demikian, peninjauan terhadap penelitian lain sangat penting, sebab bisa digunakan untuk mengetahui relevansi penelitian yang telah lampau dengan penelitian yang akan dilakukan. Selain itu, peninjauan penelitian sebelumnya dapat digunakan untuk membandingkan seberapa besar keaslian dari penelitian yang akan dilakukan. Penelitian tindakan kelas tentang membaca cepat merupakan penelitian yang menarik. Banyaknya penelitian tentang membaca cepat itu dapat dijadikan salah satu bukti bahwa membaca cepat di sekolah-sekolah sangat menarik untuk diteliti. Penelitian membaca cepat telah banyak dilakukan, antara lain oleh Dwi Sulistyowati (2001) dan Tri Apriyanti (2004). Penelitian tentang kecepatan membaca efektif juga telah banyak dilakukan, antara lain oleh Sihabudin (1998), S Sumarsono (1998), Yatmin (1998), Siti Alimah, (1999), Ibnu Suparyanto (2000), Pujito (2000), Sri Wahyuningsih (2000), dan Asih Welasih (2003). Penelitian membaca cepat dilakukan oleh Dwi Sulistyowati (2001) dalam skripsi yang berjudul Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat dengan Teknik Pengontrolan Kecepatan Efektif Membaca Siswa Kelas III SLTP 1 Kudus

13

Tahun Pelajaran 2000/2001 membahas kemampuan membaca cepat dengan teknik pengontrolan kecepatan efektif membaca siswa kelas III SLTP 1 Kudus. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ada peningkatan kemampuan membaca cepat dengan teknik pengontrolan kecepatan efektif membaca siswa kelas III SLTP 1 Kudus. Penelitian membaca cepat juga dilakukan oleh Tri Apriyanti (2004) dalam skripsi yang berjudul Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat dengan Teknik Membaca Super Gaya Accelerated Learning pada Siswa Kelas II A SMP N I Doro Kabupaten Pekalongan Tahun Pelajaran 2003/2004 membahas kemampuan membaca cepat dengan teknik membaca super gaya accelerated learning siswa kelas IIA SMP N 1 Doro Kabupaten Pekalongan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ada peningkatan kemampuan membaca cepat dan pemahaman dengan teknik membaca super gaya accelerated learning siswa kelas IIA SMP N 1 Doro Kabupaten Pekalongan. Penelitian mengenai Kecepatan Efektif Membaca dilakukan oleh Mulyanto (1998) pada skripsi yang berjudul Perbedaan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) Siswa Kelas I SLTP dengan Mengacu Buku Krida Basa Jilid I Terbitan Intan Pariwara Klaten yang Sesuai Tingkat Keterbacaannya Lebih Baik daripada yang Tidak Sesuai Tingkat Keterbacaannya. Hasil penelitian yang diperoleh adalah tingkat keterbacaan teks buku Krida Basa Jilid I tidak semuanya sesuai dengan kemampuan siswa kelas I SLTP, sedangkan kecepatan membaca efektif siswa kelas I SLTP berdasarkan teks bacaan yang sesuai tingkat

14

keterbacaannya lebih baik daripada kecepatan efektif membaca siswa dengan teks yang sesuai tingkat keterbacaannya. Sihabudin (1998) pada skripsi yang berjudul Perbedaan Kecepatan Efektif Membaca Siswa Kelas III SLTP dari Teks Buku Pelajaran Bahasa Jawa Terbitan Aneka Ilmu yang Sesuai dengan Tidak Sesuai Tingkat Keterbacaannya. Masalah yang diteliti adalah apakah tingkat keterbacaan teks buku pelajaran bahasa Jawa jilid III semuanya sesuai dengan kemampuan siswa SLTP kelas III. Hasil yang dicapai dalam penelitian tersebut adalah tingkat keterbacaan teks buku pelajaran bahasa Jawa jilid III tidak semuanya sesuai dengan kemampuan siswa SLTP kelas III. Berdasarkan teks bacaan yang sesuai tingkat keterbacaannya lebih baik daripada yang tidak sesuai tingkat keterbacaannya. Sumarsono (1998) pada skripsi yang berjudul Perbedaan Kecepatan Efektif Membaca Siswa Kelas I SLTP dari Teks Bahasa Indonesia yang Sesuai dan Tidak Sesuai Tingkat Keterbacaannya. Masalah yang diteliti adalah apakah kecepatan efektif membaca siswa dari buku Pintar Berbahasa Indonesia I Terbitan Balai Pustaka yang sesuai tingkat keterbacaanya. Hasil penelitian diketahui bahwa pemberian teks yang sesuai tingkat keterbacaannya memberi pengaruh positif kecepatan efektif membaca siswa. Sebaliknya, teks yang tidak sesuai tingkat keterbacaannya akan sedikit sulit dipahami. Selain itu, Yatmin dalam skripsi yang berjudul Perbedaan Kecepatan Membaca Siswa SLTP Kelas I Berdasarkan Teks Bacaan Buku Piwulang Basa Jawa Jilid I Terbitan Yayasan Studi Bahasa Jawa Khantil Semarang. Masalah yang diteliti adalah apakah kecepatan efektif membaca siswa SLTP Kelas I

15

berdasarkan teks bacaan yang sesuai tingkat keterbacaannya berbeda dengan yang tidak sesuai dengan tingkat keterbacaannya. Hasil yang diperoleh menjelaskan bahwa tingkat keterbacaan buku Piwulang bahasa Jawa jilid I tidak semuanya sesuai dengan kemampuan siswa SLTP Kelas I. Adapun untuk kecepatan efektif membaca siswa SLTP Kelas I berdasarkan teks bacaan yang sesuai lebih baik daripada yang tidak sesuai dengan tingkat keterbacaannya. Penelitian mengenai Kecepatan Efektif Membaca Wacana Berbahasa Jawa SLTP (Studi Kasus di SLTP 3 Subah Kabupaten Batang) diteliti oleh Alimah (1999). Permasalahan yang diangkat adalah bagaimanakah tingkat kecepatan efektif membaca wacana berbahasa Jawa siswa. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah tingkat kecepatan efektif membaca wacana berbahasa Jawa belum baik. Pengaruh Kecepatan Efektif Membaca terhadap Prestasi Belajar

Bahasa Indonesia SLTP diteliti oleh Ibnu Suparyanto (2000) dengan mengangkat permasalahan adakah hubungan yang signifikan antara variabel X dan Y atau antara kecepatan efektif membaca dengan prestasi belajar mata pelajaran bahasa Indonesia siswa kelas I SLTP N 3 Wanasari. Berkenaan dengan peningkatan Kecepatan Efektif Membaca, Pujito (2000) dalam skripsi yang berjudul Peningkatan Kecepatan Efektif Membaca dengan Mengintensitaskan Kegiatan Membaca Kolektif Perpustakaan pada Siswa Kelas III SLTP 2 Jekulo Kudus Tahun 2000/2001 membahas bagaimanakah peningkatan kecepatan efektif membaca siswa SLTP N 2 Jekulo Kudus dengan mengintensitaskan kegiatan membaca kolektif perpustakaan serta bagaimana

16

perubahan perilaku siswa setelah itu. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ada peningkatan kecepatan efektif membaca siswa setelah mengintensitaskan kegiatan membaca koleksi perpustakaan. Wahyuningsih (2000) juga meneliti Peningkatan Kecepatan Efektif Membaca dalam skripsi yang berjudul Peningkatan Kecepatan Efektif Membaca dengan Pembelajaran Meresum Bacaan pada Siswa Kelas IIA SLTP Ksatrian I Semarang. Dengan mengangkat permasalahan apakah meresum bisa digunakan dalam pembelajaran membaca dengan tujuan untuk meningkatkan kecepatan efektif membaca siswa SLTP. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan adanya peningkatan kecepatan efektif membaca pada setiap siklusnya. Asih Welasih (2003) dalam skripsi yang berjudul Optimalisasi Kecepatan Efektif Membaca Siswa Kelas 2 SMU 01 Keling Jepara dengan Menggunakan Metode OK5R membahas apakah dengan digunakannya metode OK5R dalam pembelajaran kecepatan efektif membaca siswa kelas 2.1 SMU 1 Keling Jepara meningkat? Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan kecepatan efektif membaca siswa kelas 2 SMU 01 Keling. Berdasarkan kajian pustaka tersebut, dapat diketahui bahwa penelitian tindakan kelas tentang membaca cepat dan kecepatan efektif membaca sangat menarik dan banyak dilakukan orang. Baik itu dari teks keterbacaan, pengaruh kecepatan efektif membaca terhadap prestasi belajar dan peningkatan kecepatan efektif membaca dengan mengintensitaskan kegiatan membaca koleksi

perpustakaan, meningkatkan kecepatan efektif membaca dengan melatihkan teknik membaca cepat dan metode OK5R, meningkatkan keterampilan membaca

17

cepat dengan teknik pengontrolan kecepatan efektif membaca. Semuanya meneliti tentang peningkatan membaca cepat dengan bermacam-macam cara. Berdasarkan sumber dan penelitian yang dilakukan para mahasiswa, peneliti ini akan meneliti tentang peningkatan membaca cepat pada siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus. Pada penelitian ini akan dikaji tentang peningkatan kemampuan membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment dan perubahan tingkah laku siswa MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes kelas VIIIA. Pada penelitian ini, guru akan mengaitkan materi yang diajarkannya dengan dunia nyata siswa, dan guru menggunakan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) untuk

mengetahui gambaran perkembangan belajar siswa mengenai kemampuan membaca cepat. Kebaruan yang dilakukan dalam penelitian ini terletak pada proses pembelajaran dan proses penilaian membaca cepat yang masih jarang dilakukan oleh peneliti. Selama ini penelitian tentang membaca cepat dengan menggunakan teknik membaca cepat dan metode seperti OK5R, meningkatkan keterampilan membaca cepat dengan teknik pengontrolan kecepatan efektif membaca. Hasil kerja siswa harus dihargai oleh guru. Kemajuan hasil siswa juga harus diketahui oleh guru. Dengan pengumpulan data tersebut dapat mengetahui perkembangan hasil belajar membaca cepat siswa. Siswa akan termotivasi dengan hasil belajar yang memuaskan. Hasil belajar yang memuaskan merupakan rangsangan bagi siswa untuk melakukan tindakan. Apabila rangsangan diikuti oleh tindakan

18

(tingkah laku), maka hubungan di antara keduanya semakin diperkuat melalui “exercise” atau latihan ulangan dan akan lebih kerap diulangi atau terjadi dan siswa akan cenderung mengulang perbuatan tersebut. Penelitian ini mempunyai kedudukan sebagai pelengkap bagi penelitian-penelitian yang ada. Alasan penelitian ini dijadikan pelengkap karena penelitian ini merupakan penelitian yang dapat melengkapi penelitian kecepatan membaca yang sudah dilakukan oleh peneliti yang sebelumnya. Penelitian ini dapat menambah khasanah pengembangan pengetahuan tentang membaca cepat. Selain itu juga, dapat mengembangkan teori pembelajaran membaca cepat.

2.2 Landasan Teoretis 2.2.1 Hakikat Membaca Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas, dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak dipenuhi, maka pesan yang tersurat dan tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik (Hodgson, dalam Tarigan 1987:7). Membaca dari segi linguistik menurut Anderson (dalam Tarigan 1987:7) merupakan suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding process) berlainan dengan berbicara dan menulis yang

19

justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis (written word) dengan makna bahasa lisan (oral language meaning) yang mencakup pengubahan tulisan/cetakan menjadi bunyi yang bermakna. Menurut Soedarso (2002:4) membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan menggerakkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. Aktivitas yang kompleks dalam membaca meliputi pengertian dan khayalan, mengamati, serta mengingat-ingat. Sementara menurut Nurhadi, membaca melibatkan banyak hal. Kekomplekan dalam membaca meliputi intelegensi (IQ), minat, sikap, bakat, motivasi, dan tujuan membaca, sedangkan faktor eksternal meliputi sarana membaca, teks bacaan, faktor lingkungan atau faktor latar belakang sosial

ekonomi, kebiasaan, dan tradisi membaca (Nurhadi 1987:13). Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan, membaca merupakan kegiatan yang kompleks. Kompleksan dalam membaca meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi intelegensi (IQ), minat, sikap, bakat, motivasi, dan tujuan membaca, sedangkan faktor eksternal meliputi sarana membaca, teks bacaan, faktor lingkungan atau faktor latar belakang sosial

ekonomi, kebiasaan, dan tradisi membaca.

2.2.2

Manfaat Membaca Membaca merupakan kunci utama pembuka ilmu yang sekaligus

pembuka tabir rahasia hidup dan kehidupan. Seseorang yang ingin maju harus memiliki alternatif yang banyak berhubungan dengan buku. Selain itu, sering

20

berdialog dan beradu argumentasi dengan buku-buku atau istilah lain, banyak membaca bacaan lain apapun bentuk dan wujudnya. Membaca dapat memberi sumbangan bagi perkembangan persoalan maupun sosial. Orang yang serius membaca akan dapat memberikan pengarahan sikap berucap, berbuat dan berpikir. Pembaca yang baik akan selalu dapat menangkap pengalaman-pengalaman yang sangat berharga, walaupun hal itu belum atau tidak pernah dialami oleh pembaca secara langsung. Melalui bacaan sastra, orang banyak sekali menemukan filsafat hidup yang tertuang secara artistik, imajinatif dan persuasif. Dengan menekuninya orang akan dapat menikmati berbagai cerita yang menarik tentang kehidupan manusia yang multidimensi. Membaca berarti berkomunikasi dengan pemikir-pemikir kenamaan dari segala penjuru dunia. Begitu pula dengan membaca dapat mengetahui peristiwa tentang sejarah dan kebudayaan suatu bangsa. Emerson dalam Suyatmi (1984: 9) mengharapkan setiap orang (termasuk pelajar) dapat membiasakan diri sebagai pembaca yang baik, karena dengan kebiasaan membaca itu orang akan dapat menimba segala pengetahuan dan pengalaman. Moral, peradapan, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi dapat sampai pada tingkat perkembangannya yang sekarang ini merupakan akibat langsung dari hasil pembacaan buku-buku besar. Pada kenyataannya bacaan yang beredar dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan menjadi empat antara lain: (1) bacaan pemberi informasi. Misalnya: surat kabar, majalah, pengumuman dan lain-lain; (2) bacaan yang perlu

21

dipelajari. Misalnya: buku pelajaran, karya ilmiah, diktat dan lain-lain: (3) bacaan sastra. Misalnya: novel, sajak, cerpen, drama dan lain-lain; (4) bacaan hiburan. Misalnya: cerita detektif, cerita silat, dan sebagainya (Suyatmi 1984:89) Dengan membaca siswa dapat mengantongi segala pengetahuan dan pengalaman. Orang menjadi cerdik, cendekia, mampu melaksanakan tugas seharihari tanpa mengembangkan tenaga dan pikirannya kepada sesama, nusa, bangsa dan negara. Hal tersebut akan mengakibatkan lebih percaya pada kemampuan diri sendiri dengan dilandasi karya batin. Tidak mungkin seseorang dapat memberikan sesuatu pada orang lain/sesama tanpa terlebih dahulu memilikinya. Dengan membaca akan dapat memiliki apa saja tentang pengetahuan yang diinginkan. Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil simpulan bahwa manfaat membaca antara lain dapat: (1) menemukan sejumlah informasi dan pengetahuan yang sangat berguna dalam praktek hidup sehari-hari; (2) berkomunikasi dengan pemikiran, pesan, dan kesan pemikir-pemikir kenamaan dari segala penjuru dunia; (3) mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakir dunia; (4) mengetahui peristiwa besar dalam sejarah, peradapan dan kebudayaan suatu bangsa; (5) memecahkan berbagai masalah kehidupan dan menghantarkan seseorang menjadi cerdik dan pandai.

2.2.3

Tujuan Membaca Suatu kegiatan pasti memiliki tujuan. Demikian pula kegiatan

membaca, juga ada sesuatu yang ingin dicapai. Membaca mempunyai tujuan

22

utama yaitu mencari serta memperoleh informasi yang mencakup isi dan memahami makna bacaan. Anderson dalam Tarigan (1987:9-10) mengemukakan ada tujuh tujuan membaca yaitu: (1) membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau faktafakta (reading for facts), (2) membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas), (3) membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization), (4) membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi (reading for inference), (5) membaca untuk mengelompokkan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading for classify), (6) membaca menilai, membaca mengevaluasi (reading for evaluate), dan (7) membaca untuk membandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or contrast). Nurhadi (2004:11) berpendapat bahwa tujuan membaca antara lain: (1) memahami secara detail dan menyeluruh isi buku; (2) menangkap ide pokok/gagasan utama buku secara cepat (waktu terbatas); (3) mendapatkan informasi tentang sesuatu (misalnya, kebudayaan suku indian); (4) mengenali makna kata-kata (istilah sulit); (5) ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di masyarakat sekitar; (7) ingin memperoleh kenikmatan dari karya fiksi; (8) ingin memperoleh informasi tentang lowongan pekerjaan; (9) ingin mencari merek barang yang cocok untuk dibeli; (10) ingin menilai kebenaran gagasan pengarang/penulis; (11) ingin mendapatkan alat tertentu (instrument affect); (12) ingin mendapatkan keterangan tentang pendapat seseorang (ahli) atau keterangan tentang pendapat seseorang (ahli) atau keterangan tentang definisi suatu istilah. Secara singkat tujuan membaca adalah (1) membaca untuk tujuan studi (telaah

23

ilmiah); (2) membaca untuk tujuan menangkap garis besar bacaan; (3) membaca untuk menikmati karya sastra; (4) membaca untuk mengisi waktu luang; (5) membaca untuk mencari keterangan tentang suatu istilah. Berdasarkan kedua pendapat tersebut, pada dasarnya membaca mempunyai tujuan keterampilan dan untuk mencari kepuasan batin. Dengan demikian, untuk mencapai tujuan membaca tidak hanya diperlukan keterampilan memahami yang tersirat saja, tetapi juga pemahaman yang tersurat dalam bacaan.

2.2.4

Jenis-Jenis Membaca Membaca adalah suatu keterampilan yang sangat kompleks serta

melibatkan kerja fisik dan mental. Jenis membaca ada bermacam-macam. Menurut tingkatannya membaca dibedakan menjadi dua, yaitu membaca permulaan dan membaca lanjut. Membaca permulaan menitikberatkan pada kelancaran, yang biasa dilakukan di kelas I dan II Sekolah Dasar. Adapun membaca lanjut dilaksanakan mulai kelas III Sekolah Dasar sampai ke Perguruan Tinggi. Selain kelancaran yang lebih dipentingkan, pemahaman dan penerapan dalam praktek hidup sehari-hari sesuai dengan situasi dan kondisi juga dipentingkan (Suyatmi 1984:46). Tujuan kegiatan membaca ada beraneka ragam, berdasarkan tujuan yang beragam itu muncul jenis membaca yang biasa dipakai, yaitu sebagai berikut: (1) membaca intensif; (2) membaca kritis; (3) membaca cepat; (4) membaca indah; (5) membaca teknik.

24

Keterampilan membaca intensif merupakan kunci untuk memperoleh ilmu. Membaca jenis ini biasanya disebut membaca cermat, karena dilakukan dengan hati-hati, teliti, dan secara lambat dengan tujuan untuk memahami keseluruhan bahan bacaan secara mendalam sampai bagian-bagian yang sekecilkecilnya. Membaca kritis dilakukan untuk menemukan fakta-fakta yang terdapat dalam bacaan kemudian memberikan penilaian terhadap fakta-fakta tersebut. Dalam membaca kritis yang perlu di ingat hanya gagasan pokoknya saja. Jika bahan bacaan pendek dan bersahaja dapat dibaca dengan cepat. Bacaan perlu dibaca dengan lambat apabila gagasan yang dikemukakan berbelit-belit, bila perlu berhenti sebentar membacanya untuk memikirkan terlebih dahulu. Setelah dipahami barulah melanjutkan fakta berikutnya. Membaca cepat adalah menitikberatkan pada kecepatan memahami isi bacaan dengan cepat dan tepat dalam waktu yang relatif singkat. Membaca cepat dilakukan apabila pembaca hanya akan mengambil gagasan pokok dan garis besarnya saja. Dalam hal ini waktu harus diperhatikan dan dimanfaatkan sebaikbaiknya. Membaca yang indah erat sekali hubungannya dengan keterampilan membaca karya sastra. Membaca jenis ini menitikberatkan pada pengungkapan segi keindahan yang terdapat pada suatu karya sastra. Alur suaranya hendaknya jatuh pada gagasan-gagasan, sebagaimana layaknya orang bicara. Gerak-gerak dan mimik sejalan dengan pokok gagasan yang terkandung dalam teks, agar apa yang dibaca dapat dipahami oleh pendengar.

25

Membaca teknik biasanya disebut membaca bersuara atau membaca nyaring. Tujuannya agar siswa memiliki keterampilan membaca dengan lagu kalimat, intonasi kalimat, pemenggalan kata atau kalimat serta pengucapan fonem yang benar dan tepat. Selain itu, diharapkan dapat membaca kalimat dengan lancar tanpa cacat baca. Oleh karena itu, seseorang yang akan membaca teknik agar dapat menangkap maksud atau isi bacaan harus mengerti makna, perasaan dan jiwa yang terkandung pada bacaan. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan membaca adalah untuk memperoleh ilmu, untuk menemukan fakta-fakta yang terdapat dalam bacaan kemudian memberikan penilaian terhadap fakta-fakta tersebut, untuk mengambil gagasan pokok dan garis besar dalam bacaan, untuk mengungkapkan keindahan yang terdapat dalam suatu karya sastra, agar siswa memiliki keterampilan membaca dengan lagu kalimat, intonasi kalimat, pemenggalan kata atau kalimat serta pengucapan fonem yang benar dan tepat.

2.2.5

Pengertian Membaca Cepat Membaca cepat adalah kegiatan merespon lambang-lambang cetak

atau lambang tulis dengan pengertian yang tepat dan cepat (Hernowo 2003:9). Soedarso, dalam buku Speed Reading (2002:18) mengatakan bahwa membaca cepat adalah kemampuan dengan kecepatan yang sama. Menurutnya kecepatan membaca harus fleksibel. Artinya, kecepatan itu tidak harus selalu sama, ada kalanya diperlambat karena bahan-bahan dan tujuan kita membaca. Strategi

26

membaca cepat dilakukan dengan tujuan untuk memahami intisari bacaan, bukan bagian-bagian rinciannya yang detil-detil ( Hardjasujana 1996/1997 : 164-165). Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca cepat adalah proses membaca bacaan untuk memahami isi-isi bacaan dengan cepat. Membaca cepat memberi kesempatan untuk membaca secara lebih luas, bagianbagian bacaan yang sudah sangat dikenal atau dipahami tidak usah dihiraukan. Perhatian dapat difokuskan pada bagian-bagian yang baru atau bagian–bagian yang belum dikuasai. Dengan membaca cepat bisa memperoleh pengetahuan yang luas tentang apa yang dibacanya, sesuai dengan sifat bacaan yang tidak memerlukan pendalaman.

2.2.6

Hambatan-Hambatan Membaca Cepat Orang yang tidak mendapat bimbingan, latihan khusus membaca

cepat, sering mudah lelah dalam membaca karena lamban membaca, tidak ada gairah, merasa bosan, tidak tahan membaca buku, dan terlalu lama untuk bisa menyelesaikan buku yang tipis sekalipun. Untuk dapat membaca dengan cepat, hal-hal dapat menghambat kelancaran atau kecepatan membaca harus dihilangkan. Beberapa faktor yang dapat menghambat kecepatan membaca adalah sebagai berikut. Vokalisasi atau membaca dengan bersuara sangat memperlambat

membaca. Karena itu berarti mengucapkan kata demi kata dengan lengkap. Menggumam, sekalipun dengan mulut terkatup dan suara tidak terdengar, jelas termasuk membaca dengan bersuara.

27

Menggerakkan bibir atau komat-kamit sewaktu membaca, sekalipun tidak mengeluarkan suara, sama lambatnya dengan membaca bersuara. Semasa kanak-kanak penglihatan kita memang masih sulit menguasai penampang bacaan. Akibatnya adalah bahwa kita menggerakkan kepala kiri ke kanan untuk dapat membaca baris-baris secara lengkap. Cara membaca dengan menunjuk dengan jari atau benda lain itu sangat menghambat membaca sebab gerakan tangan lebih lambat daripada gerakan mata. Sering kali mata bergerak kembali ke belakang untuk membaca ulang suatu kata atau beberapa kata sebelumnya. Gerakan tersebut disebut regresi. Selain menghambat kecepatan membaca, regresi bahkan dapat mengaburkan pemahaman bacaan. Menurut Soedarso (2002:8) beberapa alasan seorang pembaca melakukan regresi adalah sebagai berikut: (1) pembaca merasa kurang yakin dalam memahami tulisan yang dibacanya; (2) pembaca merasa ada kesalahan cetak pada tulisan yang dibacanya, kemudian mempertanyakan hal tersebut dalam hati; (3) pembaca merasa ada kesalahan ejaan; (4) ada kata sulit atau baru; (5) pembaca terpaku pada detail; (6) pembaca salah persepsi, misalnya bertanya-tanya angka ang baru dibacanya 266 atau 267; (7) pembaca merasa ada sesuatu yang tertinggal. Menurut Redway dalam Wahyuningsih (2000: 15) dengan berlatih terus dan kecepatan membaca meningkat, maka usaha mencegah regresi ini akan lebih mudah lagi. Kecepatan akan memaksa si pembaca untuk berkonsentrasi lagi.

28

Hasilnya akan lebih meningkatkan pemahaman secara keseluruhan dan akan mendorong pembaca untuk lebih siap mengantisipasi. Subvokalisasi atau melafalkan dalam batin atau pikiran kata-kata yang dibaca dilakukan oleh pembaca yang kecepatannya lebih tinggi. Subvokalisasi juga menghambat karena kita menjadi lebih memperhatikan bagaimana melafalkan secara benar daripada berusaha memahami ide yang dikandung dalam kata-kata yang kita baca itu (Soedarso 2002: 8). Wiryodijoyo dalam Wahyuningsih (2000: 13) mengungkapkan bahwa subvokalisasi ini merupakan pengaruh kebiasaan dalam pengajaran membaca di sekolah dasar, yaitu: (1) mengeja kata-kata menjadi suku kata, kata menjadi huruf; dan (2) mengucapkan berulang-ulang hal yang dianggap penting oleh guru. Usaha menghilangkan sama sekali cara membaca dengan menghafalkan dalam hati hal yang kita baca, memang tidak mungkin. Namun ada cara lain untuk memperkecil akibat buruk dari subvokalisasi, yaitu dengan cara melebarkan jangkauan mata sehinga satu fiksasi (pandangan mata) dapat menangkap beberapa kata sekaligus dan langsung menyerap idenya. Cara ini lebih baik daripada melafalkannya (Soedarso 2002: 9). Ketiadaan perhatian hampir sama dengan ketidaksiapaan mental. Pembaca mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan karena ia terpaksa mempelajari bahan bacaan yang tidak menarik perhatiannya. Masalah ini lebih serius lagi bila ada kosa kata yang sulit atau baru dan belum dipahami oleh pembaca. Selain itu, pikiran pembaca tidak sepenuhnya tertuju pada bacaan karena masih ada masalah lain yang lebih menarik dan menganggu perhatiannya.

29

Hambatan dalam membaca cepat yang terakhir adalah kurang motivasi. Motivasi ini dapat berasal dari dalam diri sendiri, dapat pula dari luar. Ini sangat penting karena dengan adanya motivasi, pembaca terpacu untuk

membaca dengan sungguh-sungguh. Dalam membaca cepat motivasi juga perlu diperhatikan. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hambatan-hambatan dalam membaca cepat adalah vokalisasi, gerakan bibir, gerakan kepala, menunjuk dengan jari, regresi, subvokalisasi, ketiadaan perhatian, kurang motivasi.

2.2.7

Teknik Membaca Cepat Untuk dapat membaca cepat dengan efisien kunci utamanya adalah

sering berlatih. Ada beberapa teknik membaca cepat, yaitu gerakan mata dalam membaca, melebarkan jangkauan mata, gerakan otot mata, dan meningkatkan konsentrasi. Berikut penjelasannya. Gerakan mata tinggal tergantung pada jarak benda yang bergerak di lapangan yang luas, mata akan bergerak halus dan rata. Akan tetapi, apabila mata melihat benda-benda yang berjarak dekat seperti melihat gambar atau membaca gerakan mata akan cepat, tersentak-sentak dalam irama tarikan-tarikan kecil melompat. Dalam membaca mata tidak boleh mengambang liar, tetapi mengarah ke suatu sasaran (kata) sebentar lalu melompat ke sasaran berikutnya (satu atau dua kata berikutnya) melompat, berhenti, melompat dan seterusnya.

Pemberhentian ini disebut fiksasi. Pada saat berhenti itulah mata membaca. Dan saat melompat mata tidak mengamati apa-apa.

30

Pembaca yang tidak efisien dalam fiksasi hanya dapat satu atau dua kata yang terserap. Pembaca yang efisien dapat menyerap tiga atau empat kata. Kesulitan fiksasi bukan karena kesulitan fisik, melainkan karena kesulitan mental. Bukan karena otot mata, melainkan karena ketidakmampuan dari pikiran menyerap dengan cepat dan tanpa salah informasi berikutnya (Soedarso 2002: 29). Untuk mendapatkan kecepatan dan efisien dapat digunakan hal berikut. 1. Melebarkan jangkauan mata dan lompatan mata, yaitu satu fiksasi meliputi 2 atau 3 kata. 2. Membaca satu fiksasi untuk suatu unit pengertian. Cara ini lebih mudah diserap oleh otak. Contoh: Saya suka daripada Saya baju lengan panjang. lengan panjang. Lebih mudah

suka baju

3. Selalu membaca untuk mendapatkan isinya, artinya bukan untuk menghafalkan kata-katanya. 4. Mempercepat peralihan dari fiksasi ke fiksasi, tidak terlalu lama berhenti dalam satu fiksasi. Percepat gerak mata dari satu fiksasi ke fiksasi berikutnya. Semakin sedikit waktu untuk berhenti semakin baik. Pada saat mata berhenti, jangkauan mata dapat menangkap beberapa kata sekaligus. Kata-kata dalam jangkauan mata itu dapat dikenali sekalipun pembaca tidak memfokuskan pada setiap kata (Soedarso 2002:30). Gerakan mata dikendalikan oleh enam otot kecil yang kuat. Otot-otot ini bersama-sama menarik mata dalam rangkaian tarikan-tarikan kecil tatkala

31

menelusuri baris demi baris banyak memboroskan gerakan mata. Untuk merubah kebiasaan itu diperlukan latihan gerakan ke bawah, gerakan menyamping, pengurangan bidang baca, membaca kolom, membaca pola S. Latihan ini untuk kemajuan gerakan mata secara otomatis, cepat dan berpola menurut kebutuhan (Soedarso 2002:39). Kurangnya daya konsentrasi pada setiap orang disebabkan oleh hal-hal yang berbeda. Ada orang yang memerlukan tempat yang tenang untuk membaca, sementara orang lain perlu ditemani radio. Kurangnya konsentrasi dapat juga disebabkan oleh kurangnya minat perhatian terhadap apa yang dibaca, karena tidak menarik, terlalu sulit atau terlalu mudah atau memang membosankan. Dapat juga memang orang itu belum siap membaca misalnya karena badan terlalu lelah sehingga perhatiannya pecah. Untuk meningkatkan daya konsentrasi ada dua kegiatan penting, yaitu (1) menghilangkan atau menjauhi hal-hal yang dapat menyebabkan pikiran menjadi kusut dan; (2) memusatkan perhatian secara sungguh-sungguh. Hal ini termasuk memilih tempat dan waktu yang sesuai dengan dirinya, serta memilih bahan-bahan yang menarik. Teknik–teknik membaca seperti survai bahan bacaan sebelum memulai membaca, dan menentukan tujuan membaca, termasuk caracara untuk berkonsentrasi (Soedarso 2002:50).

2.2.8

Pembelajaran Kontekstual Pendekatan apapun yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar

diharapkan selalu mendudukkan siswa sebagai pusat perhatian. Peranan guru

32

dalam menentukan pola KBM di kelas bukan ditentukan oleh diktatik metodik “ apa yang akan dipelajari” saja, tetapi pada “bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar anak.” Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi secara aktif lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan buatan, serta berkonsultasi dengan narasumber lain (Depdiknas 2002:1). Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar di mana menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang di milikinya dengan keluarga dan masyarakat. Hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berpikir kritis, dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjang (Nurhadi 2003:4). Nurhadi (2003:5) menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang menekankan pentingnya lingkungan alamiah itu diciptakan dalam proses belajar agar kelas lebih “hidup”dan lebih “bermakna” karena siswa mengalami sendiri apa yang dipelajarinya. memungkinkan Pendekatan siswa untuk kontekstual menguatkan, merupakan memperluas pendekatan dan yang

menerapkan

pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan kehidupan baik sekolah maupun di luar sekolah. Pembelajaran kontekstual dikembangkan untuk meningkatkan kinerja kelas yang “hidup” diharapkan menghasilkan output yang bermutu tinggi.

33

Beberapa defnisi pembelajaran yang pernah ditulis dalam beberapa sumber menyatakan sebagai berikut (Nurhadi 2003:12). Johnson (dalam Nurhadi 2003:12) merumuskan sistem CTL merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara

menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya. The Washington State Consortium for Contextual Teaching and Learning (dalam Nurhadi 2003:12) pengajaran kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan siswa memperkuat, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademisnya dalam berbagai lahan sekolah dan di luar sekolah untuk memecahkan seluruh persoalan yang ada dalam dunia nyata. Menurut para penulis NWREL (Johnson dalam Nurhadi 2003:12), ada tujuh atribut yang mencirikan konsep CTL, yaitu kebermaknaan, penerapan ilmu, berpikir tingkat tinggi, kurikulum yang digunakan harus standar, berfokus pada budaya, keterlibatan siswa secara aktif, dan authentic assessment. Center on Education and Work at the University of Wisconsin-Madison, yang disebut TEACHNET (dalam Nurhadi 2003:12) mengemukakan pula bahwa pengajaran dan pembelajaran kontekstual adalah suatu konsepsi belajar mengajar yang membantu guru menghubungkan isi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan siswa sebagai anggota masyarakat, dan pekerja serta meminta ketekunan belajar.

34

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar di mana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari; sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupanya sebagai anggota masyarakat. Pembelajaran Kontekstual akan menciptakan ruang kelas yang dialaminya, siswa akan menjadi peserta aktif bukan pengamat yang pasif dan bertanggung jawab terhadap belajarnya. Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual siswa dan peranan guru (Nurhadi 2003:19). Karakteristik pembelajaran berbasis kontekstual adalah (1) kerja sama; (2) saling menunjang; (3) menyenangkan, tidak membosankan; (4) belajar dengan gairah; (5) pembelajaran terintegrasi; (6) menggunakan berbagai sumber; (7) siswa aktif; (8) sharing dengan teman; (9) siswa kritis guru kreatif; (10) dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain-lain; (11) laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan-lain-lain (Depdiknas 2002: 20-21).

35

Blanchard (2001) (dalam Depdiknas 2004:48) mengembangkan strategi pembelajaran metode kontekstual dengan: (1) menekankan pemecahan masalah; (2) menyadari kebutuhan pengajaran dan pembelajaran yang terjadi dalam berbagai konteks seperti rumah, masyarakat, dan pekerjaan; (3) mengajarkan siswa memonitor dan mengarahkan pembelajaran mereka sendiri sehingga menjadi mandiri; (4) mengaitkan pengajaran pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda; (5) mendorong siswa untuk belajar dari sesama teman dan belajar bersama; dan (6) menerapkan penilaian authentic. Pengajaran dan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) menawarkan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa dalam belajar lebih bermakna dan menyenangkan. Strategi yang ditawarkan dalam CTL ini diharapkan dapat membantu siswa aktif dan kreatif. Untuk itu, dalam menjalankan strategi ini, guru dituntut lebih kreatif pula. Dalam strategi pembelajaran kontekstual ini ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas. Menurut Nurhadi (2003:31), ketujuh komponen utama itu adalah Konstruktivisme (Constructivism), Bertanya (Questioning), Menemukan (Inquiry), Masyarakat Belajar (Learning Community), Pemodelan (Modeling), Refleksi (Reflection), dan Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment).

2.2.9

Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment) Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) merupakan bagian

dari strategi pembelajaran kontekstual. Assessment adalah proses pengumpulan

36

berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa (Nurhadi 2003:52). Gambaran itu perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan belajar, maka guru segera dapat mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Penilaian yang dilakukan bersama secara terintegrasi dari kegiatan pembelajaran. Penilaian otentik (authentic assessment) adalah nama lain dari penilaian berbasis kelas (PBK). Landasan teoretis penilaian berbasis kelas terangkum dalam landasan authentic assessment (Nurhadi 2004: 167). Penilaian berbasis kelas dilakukan untuk memberikan keseimbangan pada ketiga ranah kognitif, afektif, dan psikomotor dengan menggunakan berbagai bentuk dan model penilaian secara resmi maupun tidak resmi dengan berkesinambungan. Penilaian Berbasis Kelas merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsipprinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti-bukti otentik, akurat dan konsisten sebagai akuntabilitas publik. PBK dilakukan dengan pengumpulan

kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), tes tertulis (paper and pencil) (Depdiknas 2002:1-2). Tujuan penilaian berbasis kelas adalah untuk memberikan (1) informasi tentang kemajuan hasil kerja siswa secara individual dalam mencapai tujuan belajar sesuai dengan kegiatan belajar yang dilakukan; (2) informasi yang dapat digunakan untuk membina kegiatan belajar lebih lanjut, baik terhadap

37

masing-masing siswa maupun terhadap siswa seluruh kelas; (3) informasi yang dapat digunakan oleh guru dan siswa untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa, menetapkan tingkat kesulitan/kemudahan untuk melaksanakan remedial, pendalaman atau pengayaan; (4) motivasi belajar siswa dengan cara memberikan informasi kemajuannya dan rangsangannya untuk melakukan usaha pemantapan atau perbaikan; (5) informasi semua aspek kemajuan setiap siswa dan pada gilirannya guru dapat membantu pertumbuhannya secara afektif untuk menjadi anggota masyarakat dan pribadi yang utuh; (6) bimbingan yang tepat untuk memilih sekolah atau jabatan yang sesuai dengan keterampilan, minat, dan kemampuannya (Depdiknas 2002: 6). Ditinjau dari dimensi kompetensi yang ingin dicapai, ranah yang perlu dinilai dalam penilaian berbasis kelas meliputi ranah kognitif, psikomotor, dan afektif (Depdiknas 2002:17-18). a. Ranah Kognitif Kompetensi ranah kognitif meliputi tingkatan menghafal, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. (1) Tingkatan hafalan mencakup kemampaun menghafal verbal atau menghafal parafrase materi pembelajaran berupa fakta, konsep, prinsip, dan prosedural. (2) Tingkatan pemahaman meliputi kemampuan membandingkan

(menunjukkan persamaan dan perbedaan), mengidentifikasi karakteristik, menggeneralisasi, dan menyimpulkan.

38

(3) Tingkatan aplikasi mencakup kemampuan menerapkan rumus, dalil atau prinsip terhadap kasus-kasus nyata yang terjadi di lapangan. (4) Tingkatan analisis meliputi kemampuan mengklasifikasi, menggolongkan, memerinci, menguraikan suatu objek. (5) Tingkatan sintesis meliputi kemampuan memadukan berbagai unsur atau komponen, menyusun, membentuk bangunan, mengarang, melukis, menggambar, dan sebagainya. (6) Tingkatan evaluasi/penilaian mencakup kemampuan menilai terhadap objek studi menggunakan kriteria tertentu. Penguasaan kognitif diukur dengan menggunakan tes lisan di kelas atau berupa tes tulis. Ranah kognitif juga dapat diukur menggunakan portofolio. Portofolio adalah kumpulan tugas/pekerjaan seseorang. Hal yang penting pada penilaian yang didasarkan pada portofolio adalah mampu mengukur kecepatan membaca dan menulis yang luas, siswa menilai kemajuan sendiri, mewakili sejumlah karya siswa. b. Ranah Psikomotor Berkenaan dengan ranah psikomotor, kompetensi yang dicapai meliputi tingkatan gerakan awal, semi rutin. Penilaian terhadap pencapaian kompetensi tersebut adalah (1) Tingkatan penguasaan gerakan awal berisi kemampuan siswa dalam menggerakkan sebagian anggotanya. (2) Tingkatan semi rutin meliputi kemampuan melakukan atau menirukan gerakan yang melibatkan seluruh anggota badan.

39

(3) Tingkatan gerakan rutin berisi kemampuan melakukan gerakan sempurna dan sampai pada tingkatan otomatis. Tes untuk mengukur aspek psikomotor adalah tes untuk mengukur penampilan/perbuatan atau kinerja (performance) yang telah dikuasai siswa. c. Ranah Afektif Berkenaan dengan ranah afektif, ada dua hal yang perlu dinilai, yaitu pertama kompetensi afektif, dan kedua sikap dan minat siswa terhadap mata pelajaran dan proses pembelajaran. Kompetensi yang ingin dicapai dalam pembelajaran meliputi tingkatan pemberian respon, apresiasi, penilaian, dan internalisasi. Kemampuan afektif merupakan bagian dari hasil belajar dan memiliki peran yang penting. Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor sangat ditentukan oleh kondisi afektif siswa. Siswa yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tersebut, sehingga dapat diharapkan akan mencapai hasil belajar yang optimal (Depdiknas 2004: 4). Berbagai jenis tingkatan ranah afektif yang dinilai adalah kemampuan siswa dalam: (1) memberikan respon atau reaksi terhadap nilai-nilai yang dihadapkan kepadanya; (2) menikmati atau menerima nilai, norma, serta objek yang mempunyai nilai etika dan estetika;

40

(3) menilai ditinjau dari segi baik buruk, adil tidak adil, indah tidak indah terhadap objek studi; (4) menerapkan atau mempraktikkan nilai, norma, etika dan estetika dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Penekanan penilaian berbasis kelas yaitu pada proses pembelajaran. Oleh karena itu, data yang dikumpulkan pun harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat proses pembelajaran. Guru yang ingin mengetahui perkembangan belajar bahasa Indonesia siswanya harus

mengumpulkan data dari kegiatan nyata saat siswa menggunakan Bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulisan, bukan pada saat para siswa mengerjakan tes bahasa Indonesia. Data authentic adalah data yang dikumpulkan dari kegiatan siswa pada saat siswa melakukan kegiatan berbahasa Indonesia, baik di kelas maupun di luar kelas. Ada beberapa teknik penilaian diantaranya adalah sebagai berikut (Depdiknas 2003a:25-28). 1. Penilaian Kinerja (Performance Assessment). Penilaian kinerja

dikembangkan untuk mengetes kemampuan siswa dalam mendemostrasikan pengetahuan dan keterampilannya pada berbagai situasi nyata dan konteks tertentu. 2. Observasi Sistematik (Systematic Observation), yang bermanfaat untuk menyajikan informasi tentang dampak aktivitas pembelajaran terhadap siswa. 3. Portofolio (Portofolio) adalah koleksi/kumpulan dari berbagai keterampilan, ide, minat, dan keberhasilan atau prestasi siswa selama jangka waktu tertentu.

41

Portofolio pada kurikulum 2004 diposisikan sebagai tugas penilaian yang terstruktur. Portofolio berisi hasil karya siswa atau tugas terstruktur yang diberikan oleh guru. Jenis portofolio dibedakan menjadi dua macam, yaitu portofolio untuk beberapa/semua mata pelajaran, dan portofolio untuk satu mata pelajaran. Portofolio untuk semua mata pelajaran menggambarkan profil kemampuan dari siswa. Portofolio untuk satu mata pelajaran disusun untuk satu mata pelajaran tertentu seperti matematika, sains, pengetahuan sosial, kesenian atau pendidikan jasmani. Isi portofolio ini terdiri dari hasil karya siswa yang menggambarkan ketercapaian Kompetensi Dasar dari mata pelajaran tertentu (Depdiknas 2004a: 5-6). 4. Jurnal Sains (Journal) merupakan suatu proses refleksi di mana siswa berpikir tentang proses belajar dan hasilnya, kemudian menuliskan ide-ide, minat, dan pengalamannya. Prinsip yang dipakai dalam penilaian serta ciri-ciri penilaian authentic adalah sebagai berikut: (1) harus mengukur semua aspek pembelajaran: proses, kinerja, dan produk; (2) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung; (3) menggunakan berbagai cara dan berbagai sumber; (4) tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian; (5) tugas-tugas yang diberikan kepada siswa harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan siswa yang nyata setiap hari, mereka lakukan setiap hari; (6) penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian siswa, bukan keluasannya (kuantitas).

42

2.3 Kerangka Berpikir Membaca cepat adalah membaca yang melaju terus tanpa kembali pada bagian-bagian yang terlewati dengan pemahaman isi bacaan secara cepat, serta menemukan gagasan atau pokok pikiran utamanya. Masalah yang biasa ditemukan dalam pembelajaran membaca cepat adalah siswa membaca diiringi dengan gerakan anggota badan atau siswa masih mempunyai kebiasaan-kebiasan jelek dalam membaca, siswa kurang mendapat latihan membaca dengan benar, guru belum menggunakan sistem penilaian yang bervariasi sehingga guru belum mengetahui perkembangan membaca siswa. Siswa belum mengetahui kemampuan dan kekurangan dalam kegiatan membaca cepat sehingga siswa tidak termotivasi untuk memperbaiki hasil belajar membaca. Dengan menerapkan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment diharapkan segala hambatan membaca cepat akan hilang dan kecepatan membaca siswa meningkat. Pengumpulan data dari kegiatan siswa pada saat siswa melakukan kegiatan membaca, baik di kelas maupun di luar kelas dapat mengetahui perkembangan hasil belajar membaca cepat siswa. Siswa akan termotivasi dengan hasil belajar yang memuaskan. Hasil belajar yang memuaskan merupakan rangsangan bagi siswa untuk melakukan tindakan. Apabila rangsangan diikuti oleh tindakan (tingkah laku), maka hubungan di antara keduanya semakin diperkuat melalui “exercise” atau latihan ulangan dan akan lebih kerap diulangi atau terjadi dan siswa akan cenderung mengulang perbuatan.

43

Agar kecepatan memebaca siswa mencapai 250 kpm, ada beberapa faktor yang mendukung, yaitu dukungan pembelajaran membaca, orang tua, minat dari diri sendiri, latihan secara terstruktur, dan perpustakaan, serta penilaian dalam pembelajaran membaca. Pengaruh kemahiran guru memberikan umpan balik (merespon terhadap keberhasilan siswa dalam belajar sangat bermakna, karena siswa dapat mengutarakan segala pemahaman isi bacaan. Selain itu, dapat meningkatkan semangat belajar dan minat membaca siswa. Guru secara rutin melakukan tindakan pengontrolan kecepatan membaca, memotivasi siswa berkunjung ke perpustakaan, dan melakukan latihan membaca yang benar secara terstruktur, serta mengumpulkan hasil belajar siswa sehingga akan meningkatkan kemampuan membaca cepat dan adanya perubahan perilaku pada diri siswa.

2.4 Hipotesis Berdasarkan uraian di atas, hipotesis yang diajukan adalah akan terjadi peningkatan kemampuan membaca cepat dan perubahan tingkah laku siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes jika

pembelajarannya menggunakan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan penelitian yang berbasis kelas, maka masalahmasalah yang diteliti dalam PTK adalah masalah-masalah yang muncul di kelas. PTK juga mengupayakan perbaikan kondisi pembelajaran dan menyelesaikan bermacam-macam permasalahan yang muncul di dalam kelas. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, PTK dilaksanakan dalam bentuk proses pengkajian berdaur. Proses pengkajian ini terdiri atas empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Keempat tahap atau siklus dalam sebuah penelitian tindakan kelas dapat digambarkan sebagai berikut. Bagan I. Siklus PTK P OBA R Siklus I T R Siklus II T RP

O Keterangan: OBA P T : Observasi Awal : Perencanaan : Tindakan O R RP

O

: Observasi : Refleksi : Revisi Perencanaan.

45

3.1.1 Prosedur Tindakan pada Siklus I 1. Perencanaan Tahap Perencanaan ini berupa rencana kegiatan menentukan langkahlangkah yang akan dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Langkah ini merupakan upaya untuk memperbaiki kelemahan dalam proses pembelajaran membaca cepat selama ini. Rencana kegiatan yang akan dilakukan adalah (1) menyusun rencana pembelajaran membaca cepat dengan menggunakan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment, (2) membuat dan menyiapkan instrumen penelitian berupa lembar observasi, lembar wawancara, lembar jurnal untuk memperoleh data nontes, kartu kendali kecepatan membaca, dan (3) peneliti menyiapkan naskah atau teks wacana untuk menguji kecepatan efektif membaca siswa. Menyusun 10 pertanyaan soal pilihan ganda untuk menguji pemahaman siswa terhadap wacana. Siswa juga diminta untuk menyediakan alat tulis, jam tangan yang nanti akan digunakan dalam menanggapi bacaan yang diberikan dan mengukur waktu untuk membaca. 2. Tindakan Tindakan adalah perbuatan yang dilakukan oleh guru sebagai upaya untuk perbaikan. Peningkatan atau perubahan sebagai solusi. Tindakan yang dilakukan oleh peneliti dalam meneliti proses pembelajaran membaca cepat pada siklus I ini adalah sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Tindakan yang akan dilakukan peneliti secara garis besar adalah melaksanakan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment, yaitu

46

mengumpulkan data yang authentic dari siswa yang berupa latihan-latihan dan tugas-tugas yang nantinya akan menunjukkan perkembangan hasil belajar membaca cepat siswa. Dalam pelaksanaan tindakan peneliti melakukan dua tindakan, yaitu: a) Tindakan di Kelas Pada saat kegiatan belajar mengajar peneliti menyampaikan materi pokok bahasan tentang membaca. Adapun pelaksanaannya adalah sebagai berikut. 1) Ilustrasi Peneliti mengawali kegiatan dengan pertanyaan bimbingan, yakni pertanyaan awal untuk mengarahkan pikiran dan pandangan siswa. Tujuan ilustrasi untuk mengkondisikan siswa agar siap dalam menerima pelajaran. Guru juga melakukan kegiatan ”pemanasan” pikiran kepada siswa dengan memanggil kembali pengalamannya yang berkaitan dengan isi bacaan sebelum membaca teks. Pada kesempatan ini, peneliti memberikan penjelasan tentang aturan atau teknik membaca cepat yang akan dilakukan dalam pembelajaran. b) Proses belajar mengajar 1. Melatih kecepatan membaca yang meliputi 4 tahap, yaitu: (a) melihat dengan otak; (b) gerakan mata dalam membaca yaitu dengan melebarkan jangkauan mata dan melakukan transisi fiksasi ke fiksasi; (c) gerakan otot mata dan pelatihannya; dan (d) meningkatkan konsentrasi membaca. Guru atau peneliti

47

menyiapkan sebuah wacana dan siswa membaca wacana sebagai latihan kecepatan membaca. 2. Melatih pemahaman bacaan dengan menjawab pertanyaan yang sudah disiapkan oleh guru (peneliti). Peneliti memberikan soal uji yaitu 10 pilihan ganda untuk menguji pemahaman isi wacana. 3. Siswa menilai kecepatan membaca diri sendiri dan teman. Siswa melakukan pengontrolan membaca cepat dengan menuliskan kecepatan membacanya pada kartu kendali kecepatan membaca. Dalam setiap akhir pelajaran, siswa mengumpulkan hasil latihanlatihan yang telah dilakukan pada proses pembelajaran. 4. Melatih siswa mengukur kecepatan membaca diri sendiri dan teman. Pengukuran kecepatan membaca dapat diperoleh melalui suatu rumus yaitu jumlah kata yang di baca perwaktu tempuh baca dalam satu menit kali skor bobot tes yang dapat dijawab dengan benar perskoran ideal atau skor maksimal. Maka akan diperoleh nilai kecepatan efektif membaca dalam satuan kata per menit. Rumus kecepatan efektif membaca adalah sebagai berikut:

KEM =
Keterangan: p q r

p x r q 100

x 60

= jumlah kata yang terdapat dalam bacaan = jumlah waktu dalam hitungan detik = jumlah jawaban yang benar

48

b.) Tindakan di Luar Kelas Siswa melakukan kegiatan membaca koleksi perpustakaan. Kegiatan ini bisa dilakukan di perpustakaan saat istirahat atau jam-jam tidak efektif lain, atau dipinjam untuk dibaca di rumah. Koleksi (buku) perpustakaan yang dibaca diserahkan kepada selera siswa. 3. Observasi atau Pengamatan Observasi adalah mengamati hasil atau dampak dari tindakan-tindakan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran membaca cepat dengan elemen authentic assessment. Observasi dilaksanakan peneliti dengan bantuan guru mata pelajaran selama proses pembelajaran berlangsung. Sasaran observasi meliputi keaktifan siswa dalam mendengarkan penjelasan guru, keaktifan siswa selama pembelajaran membaca cepat, keaktifan siswa dalam mengumpulkan hasil kerja (latihan-latihan, tugas yang diberikan guru), dan keaktifan siswa dalam mengerjakan tes membaca cepat. Selain itu, peneliti juga melakukan observasi atau pengamatan terhadap kegiatan perpustakaan. Apakah siswa mau memanfaatkan perpustakaan pada saat istirahat atau jam-jam tidak efektif. Untuk meyakinkan data tersebut peneliti melakukan wawancara kepada petugas perpustakaan perpustakaan. mengenai keaktifan siswa dalam membaca koleksi

49

4. Refleksi Refleksi adalah mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dapat melakukan revisi terhadap rencana selanjutnya atau terhadap rencana awal tes siklus II. Pada tahap ini, peneliti menganalisis hasil tes dan nontes siklus I. Jika hasil tes tersebut belum memenuhi nilai target/nilai yang telah

ditentukan, akan dilakukan tindakan siklus II dan masalah-masalah yang timbul pada siklus I akan dicarikan alternatif pemecahannya pada siklus II. Sedangkan kelebihan-kelebihannya akan dipertahankan dan ditingkatkan. Berdasarkan data yang diperoleh selama pelaksanaan siklus I, peningkatan yang terjadi pada siswa secara kualitatif, maupun kuantitatif belum maksimal. Secara kualitatif, siswa belum melakukan aktivitas membaca dengan sepenuh hati. Penyebab tidak maksimalnya peningkatan adalah siswa baru pertama kali mengalami pembelajaran membaca cepat dengan pengontrolan kecepatan efektif membaca dan mengukur sendiri kecepatan membaca. Ada siswa yang belum begitu paham bagaimana cara menghitung kecepatan membaca dan kecepatan efektif membaca. Siswa kurang mendapat latihan membaca cepat sebelumnya dari guru. Siswa masih mengalami keraguan, kecemasan, dan grogi (merasa tidak nyaman) pada waktu diadakan pengukuran. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan siklus II siswa akan dipersiapkan sebaik-baiknya untuk menghadapi pengukuran selanjutnya. Siswa akan dibiasakan membaca cepat dan diberi latihan membaca cepat secara intensif sehingga kecepatan membaca meningkat.

50

Perhatian khusus diberikan kepada para siswa yang banyak melakukan kebiasaan yang salah pada waktu membaca. Siswa yang tidak membaca dengan benar diperingatkan, supaya tetap ingat bahwa kebiasaan itu sangat mengganggu kecepatan membaca.

3.1.2 Prosedur Tindakan pada Siklus II Setelah melakukan refleksi pada siklus I, pada siklus yang II ini dilakukan perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan yang meliputi strategi proses

pembelajaran, metode, dan sarana yang digunakan dalam penelitian mulai dari tahap perencanaan sampai refleksi. Proses penelitian tindakan kelas dalam siklus II dapat diuraikan sebagai berikut. 1. Perencanaan Perencanaan pada siklus II berdasarkan temuan hasil siklus I. Pada siklus II ini lebih dititikberatkan pada kecepatan membaca. Adapun rencana tindakan yang akan dilakukan adalah (1) membuat perbaikan rencana pembelajaran membaca cepat menggunakan elemen authentic assessment yang materinya masih sama dengan siklus I. Namun demikian, diupayakan dapat memperbaiki masalah atau kekurangan-kekurangan pada siklus I, (2) menyiapkan lembar wawancara, lembar observasi, dan lembar jurnal untuk memperoleh data nontes siklus II, (3) menyiapkan perangkat tes membaca cepat yang akan digunakan dalam evaluasi hasil belajar siklus II.

51

2. Tindakan Tindakan pada siklus II adalah perbaikan-perbaikan atau

penyempurnaan tindakan pada siklus I. Pada tahap ini guru menjelaskan kembali tentang materi pokok membaca cepat dan membahas kesalahankesalahan yang terdapat pada latihan-latihan membaca cepat yang telah dilakukan siswa pada saat membaca. Pada siklus II ini lebih dititikberatkan pada kecepatan membaca dan menghilangkan kebiasan buruk membaca yang masih dilakukan siswa, seperti regresi dan konsentrasi. Menugasi siswa untuk membaca wacana yang sudah disiapkan dalam siklus II. Siswa langsung menjawab pertanyaan pemahaman untuk menghindari kelupaan. Setelah siswa mengerjakan pertanyaan-pertanyaan siswa bersama guru mencocokkan

jawaban. Kemudian siswa menghitung kecepatan membaca dan kecepatan efektif membacanya. Siswa mencatat kecepatan efektif membaca dalam kartu pengontrolan data. Kartu data tersebut diperlihatkan kepada guru dan ditandatangani oleh guru dan ditandatangani oleh orang tua. 3. Observasi Observasi pada siklus II juga masih sama dengan siklus I yaitu difokuskan pada keaktifan siswa dalam menyimak penjelasan guru, keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, dan keaktifan siswa dalam mengerjakan tes. Kemajuan-kemajuan yang dicapai dan kelemahan-kelemahan yang masih muncul juga dijadikan pusat sasaran dalam observasi.

52

4. Refleksi Refleksi pada siklus II untuk merefleksi hasil evaluasi belajar siswa siklus I, untuk menentukan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai selama proses pembelajaran, dan untuk mencari kelemahan-kelemahan yang masih muncul dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan jurnal diperoleh data sebagai berikut. Aktivitas dan respon siswa pada saat membaca cepat sudah baik. Siswa merasa tertarik dengan membelajaran, dan siswa merasa aktif dalam proses pembelajaran. Kerjasama dengan teman terlihat pada saat siswa yang tidak tahu atau belum paham tentang bagaimana cara menghitung kecepatan efektif membaca, siswa tersebut langsung bertanya dengan teman sebangku untuk mengetahui cara menghitung kecepatan membaca tersebut. Siswa juga merasa senang dengan adanya pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment karena mereka merasa dihargai hasil karyanya dan mereka merasa senang dapat mengukur kecepatan membacanya kapan pun mereka mau. Siswa sudah mengurangi kebiasaan buruk dalam membaca. Kelebihan-kelebihan pada siklus I dapat dipertahankan, ditingkatkan, dikembangkan pada siklus II. Kekurangan-kekurangan pasa siklus I telah diperbaiki, diatasi, dimodifikasi pada siklus II.

53

3.2 Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah kemampuan membaca cepat MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes siswa kelas VIIIA tahun pelajaran 2004-2005. Kelas VIIIA tersebut terdiri atas 36 siswa yaitu 11 laki-laki dan 25 perempuan. Peneliti mengambil subjek tersebut dengan alasan yaitu kemampuan membaca cepat siswa kelas VIIIA masih kurang maksimal atau

masih rendah. Penyebab kecepatan membaca siswa kurang maksimal adalah siswa kurang latihan dalam membaca secara benar, bacaan kurang menarik, yaitu isi bacaan tidak sesuai dengan keinginan siswa, sehingga siswa membaca hanya sekadar pengisi waktu luang. Guru kurang memberikan latihan pada siswa dalam kegiatan membaca. Minat baca pada diri siswa yang kecil, yaitu pada diri kurang berminat pada kegiatan membaca. Guru kurang memiliki pengetahuan dan kemahiran tentang berbagai metode dan teknik penilaian, sehingga kurang dapat memilih dan melaksanakan dengan tepat metode dan teknik penilaian yang ada. Guru kurang mengetahui perkembangan hasil belajar siswa dalam membaca cepat.

3.3 Variabel Penelitian Variabel yang diungkap dalam penelitian ini adalah kemampuan membaca cepat dan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. 3.3.1 Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat Yang dimaksud membaca cepat dalam penelitian ini adalah proses membaca bacaan untuk memahami isi-isi bacaan dengan cepat. Membaca cepat

54

memberi kesempatan untuk membaca secara lebih luas, bagian-bagian bacaan yang sudah sangat dikenal atau dipahami tidak usah dihiraukan. Membaca cepat memberikan pemahaman dan dapat menimbulkan motivasi belajar pada diri siswa. Kemampuan membaca merupakan kemampuan untuk membuka jendela informasi dunia. Target kemampuan yang diharapkan adalah siswa mempunyai kecepatan membaca 250 kpm, siswa mampu menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk dalam membaca. Dengan pembelajaran membaca melalui teknis membaca ini diharapkan dapat memenuhi target kemampuan membaca para siswa kelas VIII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes dan perilaku dalam melakukan aktivitas membaca menjadi lebih baik.

3.3.2 Pembelajaran Kontekstual Elemen Authentic assessment Variabel pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment adalah pembelajaran membaca cepat 250 kpm dengan menggunakan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment. Dalam pembelajaran membaca cepat ini, siswa secara berpasangan mengukur kemampuan membaca diri sendiri dan secara bergantian mengukur kecepatan membaca temannya, setelah mengukur kecepatan siswa diminta untuk menuliskan hasil pengamatan membaca siswa pasangannya. Siswa melakukan latihan-latihan untuk menghilangkan kebiasaan jelek dalam membaca dengan bimbingan guru, siswa diberi tugas untuk membaca buku yang mereka sukai di perpustakaan dan di rumah. Setelah siswa melakukan kegiatan membaca, siswa diminta selalu mengontrol kecepatan membacanya setelah membaca buku baik di perpustakaan maupun di rumah. Siswa selalu

55

mengisi lembar/ kartu data pengontrolan kecepatan membaca dari minggu pertama sampai minggu yang telah ditentukan dan mengisi kartu data kebiasaankebiasaan buruk dalam membaca. Siswa selalu melaporkan hasil pengukuran kecepatan membaca kepada guru setelah diketahui atau ditandatangani oleh orang tua. Kemudian hasil kegiatan itu, dikumpulkan menjadi satu untuk mengetahui perkembangan hasil belajar membaca cepat siswa. Siswa yang mempunyai kecepatan membaca tinggi, kartu datanya ditempel di dinding kelas.

3.4 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini berupa soal tes dan nontes. Soal tes digunakan untuk mengungkap data tentang kemampuan membaca cepat siswa. Soal nontes (lembar observasi, lembar jurnal, dan lembar wawancara) digunakan untuk

mengungkapkan perubahan tingkah laku siswa.

3.4.1 Instrumen Tes Bentuk instrumen yang berupa tes yaitu berupa perintah kepada para siswa untuk mengerjakan soal-soal yang berdasarkan bacaan yang telah dibacanya dalam proses pembelajaran membaca, yang disediakan dalam penelitian ini. Pertanyaan bacaan diberikan kepada para siswa untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap teks bacaan yang dibacanya. Bentuk tes ini berupa soal pilihan ganda sebanyak 10 butir, setiap nomor yang dijawab benar akan memperoleh skor satu. Skor yang diperoleh siswa dalam menjawab

56

pertanyaan bacaan digunakan sebagai acuan untuk mengukur kecepatan membaca siswa. Selain untuk mengukur kecepatan membaca, perolehan skor juga digunakan sebagai dasar untuk menggolongkan tingkat pemahaman siswa. Penggolongan tingkat pemahaman siswa terhadap suatu bacaan didasarkan pada pedoman yang sudah ditentukan yaitu. Tabel 1 Pedoman Penilaian Tingkat Pemahaman No. 1. 2. 3. 4. 5. Tingkat Pemahaman 90-100 % 70-80 % 50-60 % 30-40 % 10-20 % Kategori sangat baik baik sedang kurang sangat kurang

Berdasarkan penghitungan kecepatan membaca yang dilakukan dapat diperoleh penggolongan tingkat kecepatan membaca siswa. Penggolongan tingkat kecepatan membaca didasarkan pada pedoman yang sudah dibuat yaitu. Tabel 2 Pedoman Kecepatan Membaca No. 1. 2. 3. 4. Kecepatan Membaca Lebih dari 250 kpm 200-249 kpm 150-199 kpm < 150 kpm Kategori cepat sedang lambat sangat lambat

57

Berdasarkan tabel 2 tersebut, siswa yang memiliki kecepatan membaca lebih dari 250 kpm masuk kategori cepat. Siswa yang mempunyai kecepatan membaca 200 kpm sampai 249 tergolong sedang. Siswa yang mempunyai kecepatan membaca 150 sampai 199 kpm rendah, dan siswa yang kecepatan membacanya kurang dari 150 kpm tergolong sangat rendah. Penggolongan tingkat kecepatan efektif membaca (KEM) didasarkan pada pedoman yang sudah dibuat yaitu. Tabel 3 Pedoman Kecepatan Efektif Membaca No. 1. 2. 3. 4. Kecepatan Efektif Membaca Lebih dari 175 kpm 150-174 kpm 125-149 kpm < 125 kpm Kategori cepat sedang lambat sangat lambat

Berdasarkan tabel di atas, siswa yang memiliki kecepatan efektif membaca lebih dari 175 kpm masuk kategori cepat. Siswa yang mempunyai kecepatan efektif membaca 150 kpm sampai 175 tergolong sedang. Siswa yang mempunyai kecepatan efektif membaca 125 sampai 149 kpm lambat, dan siswa yang kecepatan membacanya kurang dari 125 kpm tergolong sangat lambat.

3.4.2 Instrumen Nontes Instrumen nontes yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data kualitatif sebagai berikut.

58

3.4.2.1

Pedoman Observasi Pedoman observasi ini digunakan untuk mengamati perilaku, sikap dan

respons siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Aspek yang diamati dalam penelitian ini adalah kebiasaan buruk yang masih dilakukan oleh siswa pada saat membaca, sikap siswa terhadap bahan yang disajikan, keaktifan siswa dalam pembelajaran, dan sikap siswa terhadap teknik pembelajaran, kerja sama, sharing dengan teman, pembelajaran menyenangkan, tidak

membosankan, kekritisan siswa. Adapun intensitas membaca koleksi perpustakaan dapat diobservasi melalui situasi setiap hari di perpustakaan.

3.4.2.2

Pedoman Wawancara Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang keadaan

responden melalui tanya jawab dan diskusi kepada siswa. Pedoman wawancara dibuat oleh peneliti dan ditujukan kepada siswa yang berhasil maupun tidak berhasil tentang membaca cepat dan berbagai kendala dalam membaca cepat. Untuk mengetahui hal tersebut peneliti menyiapkan sepuluh pertanyaan untuk melakukan wawancara yang meliputi: kebiasaan dalam membaca, kegemaran membaca siswa, bacaan yang disukai, konsentrasi siswa pada saat membaca, gambaran isi bacaan, pemberian tanda baca/cek pada bacaan, catatan tentang isi bacaan, dan membaca bacaan di perpustakaan. Selain itu, wawancara juga digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa tentang pembelajaran yang dilakukan, kendala-kendala yang dihadapi siswa

59

dalam melakukan aktivitas baca. Peneliti juga menyiapkan lembar wawancara yang ditujukan kepada petugas perpustakaan untuk memperoleh data kegiatan siswa dalam memanfaatkan koleksi perpustakaan.

3.4.2.3

Pedoman Jurnal Setiap selesai pembelajaran membaca, jurnal dibuat sebagai bahan

sefleksi. Jurnal yang dibuat ada dua macam yaitu jurnal peneliti/guru dan jurnal siswa. Jurnal siswa diisi oleh siswa, sedangkan jurnal guru diisi oleh guru. Jurnal siswa berisi tentang kesan dan pesan siswa tentang proses pembelajaran membaca dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Jurnal guru berisi tentang uraian pendapat dan seluruh kejadian yang dilihat dan dirasakan oleh guru selama kegiatan pembelajaran membaca berlangsung.

3.4.2.4

Uji Validitas dan Realibilitas Instrumen Sebelum digunakan dalam penelitian bentuk soal tes diuji validitasnya.

Peneliti menggunakan uji validitas permukaan. Teknik uji validitas permukaan ini dilakukan dengan cara mengujicobakan soal tes pada kelas lain, yaitu kelas VIIIB dan kelas VIIIC. Selain itu juga dikonsultasikan kepada dosen pembimbing dan kepada guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Setelah soal dan skor dinyatakan valid (layak guna), maka soal tersebut digunakan sebagai instrument penelitian.

60

3.5 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, jurnal, dan wawancara, serta perangkat tes untuk memperoleh gambaran hasil pembelajaran membaca cepat menggunakan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. 3.5.1 Teknik Tes Peneliti mengumpulkan data dengan mengadakan tes. Tes ini dilakukan sebanyak dua kali pada siklus pertama dan siklus kedua. Bentuk tes dan criteria penilaian yang digunakan dalam siklus I dan siklus II sama, yaitu berbentuk tes objektif dengan jumlah sepuluh butir dengan skor penilaian jawaban benar mendapat skor satu. Langkah-langkah yang dilakukan di dalam pengambilan data dengan teknik tes adalah: a. Menyiapkan bahan tes berdasarkan bacaan; b. Siswa ditugasi membaca wacana yang sudah disediakan; c. Setelah selesai membaca para siswa menuliskan lama waktu yang diperlukan untuk membaca bacaan secara utuh; d. Setelah membaca, siswa mengerjakan soal-soal evaluasi; e. Menilai dan mengolah data dari hasil penelitian; serta f. Peneliti mengukur kemampuan membaca siswa berdasarkan hasil tes pada siklus I dan siklus II.

61

Target tingkat keberhasilan siswa ditetapkan jika siswa dapat membaca wacana dengan cepat dan dapat memahami isi bacaan 70%-100% yang ditujukan dalam menjawab soal-soal tes yang sudah disiapkan. 3.5.2 Teknik Nontes Teknik nontes yang digunakan adalah melalui observasi, jurnal, dan wawancara. 3.5.2.1 Observasi Observasi digunakan untuk mengungkap data keaktifan siswa selama proses pembelajaran menggunakan pembelajaran kontekstual elemen

authentic assessment. Observasi dilakukan dengan cara meminta bantuan guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, dan peneliti sendiri sambil melakukan pembelajaran. Adapun tahap observasinya yaitu (1)

mempersiapkan lembar observasi yang berisi butir-butir sasaran amatan tentang keaktifan siswa dalam mendengarkan penjelasan guru, keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, dan keaktifan siswa dalam mengerjakan tes, serta keaktifan siswa dalam mengumpulkan hasil kerja, (2) melaksanakan observasi selama proses pembelajaran yaitu mulai dari penjelasan guru, proses belajarmengajar sampai dengan cara mengerjakan tugas membaca cepat, (3) mencatat hasil observasi dengan mengisi lembar observasi yang telah dipersiapkan. Intensitas membaca koleksi perpustakaan diobservasi melalui situasi setiap hari di perpustakaan.

62

3.5.2.2 Jurnal Jurnal siswa dan guru dibuat setiap pembelajaran membaca cepat. Jurnal siswa tersebut dibuat pada selembar kertas mengenai kesulitan siswa dalam latihan-latihan dalam membaca cepat, mengenai hal-hal yang ingin dikemukakan siswa berkaitan dengan pembelajaran membaca cepat yang menggunakan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Jurnal guru mengenai segala sesuatu yang terjadi pada proses pembelajaran.

3.5.2.3 Wawancara Teknik wawancara digunakan untuk mengungkap data penyebab kesulitan dan hambatan dalam pembelajaran membaca cepat. Wawancara dilakukan pada 6 orang siswa yaitu 2 orang siswa yang memiliki kecepatan membaca tinggi, 2 orang siswa yang memiliki kecepatan membaca sedang, dan 2 orang siswa yang kecepatan membacanya rendah. Hal ini berdasarkan nilai tes pada tiap siklus dan berdasarkan observasi yang dilakukan guru selama proses pembelajaran. Wawancara dilaksanakan peneliti setelah pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment selesai dilaksanakan. Adapun cara yang ditempuh peneliti dalam pelaksanaan wawancara yaitu (1) mempersiapkan lembar wawancara yang berisi daftar pertanyaan yang akan diajukan pada siswa, (2) menentukan siswa yang kecepatan membacanya kurang, cukup, dan baik, untuk kemudian diajak

63

wawancara, (3) merekam dan mencatat hasil wawancara dengan menulis tanggapan terhadap tiap butir pertanyaan.

3.6 Teknik Analisis Data Data tes dianalisis dengan teknik kuanitatif, sedangkan data nontes dianalisis dengan teknik kualitatif. 3.6.1 Teknik Kuantitatif (Analisis Data Tes) Hasil analisis data tes diperoleh dari hasil tes siswa. Nilai hasil tiaptiap tes dihitung jumlahnya dalam satu kelas (∑N) kemudian dihitung dalam persentase dengan menggunakan rumus: Persentase kemampuan membaca siswa =

(∑N) x 100% nxs

Keterangan: ∑N = jumlah nilai dalam satu kelas n s Hasil = nilai maksimal soal tes = banyaknya siswa dalam satu kelas kemampuan siswa tiap-tiap tes kemudian

persentase

dibandingkan antara hasil tes awal dengan hasil siklus II. Hasil ini akan memberikan gambaran mengenai persentase peningkatan kemampuan

membaca cepat anak dan tingkat keberhasilan penelitian.

64

3.6.2 Teknik Kualitatif (Analisis Data Nontes) Teknik kualitatif digunakan untuk menganalisis data kualitatif. Data kualitatif ini diperoleh dari data nontes yaitu data observasi, jurnal, dan wawancara. Adapun langkah penganalisisan data kualitatif adalah dengan menganalisis lembar observasi yang telah diisi saat pembelajaran dan mengklarifikasikannya dengan teman peneliti yang membantu dalam penelitian. Data jurnal dianalisis dengan cara membaca seluruh jurnal siswa dan guru. Data wawancara dianalisis dengan cara membaca lagi catatan wawancara, dan dengan pemutaran kembali kaset rekaman jika catatan kurang jelas. Hasil analisis-analisis tersebut untuk mengetahui siswa yang mengalami kesulitan dalam latihan-latihan dalam membaca cepat, untuk mengetahui kelebihan, kekurangan pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment, dan untuk dasar mengetahui peningkatan kemampuan membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian. 4.1 Hasil Penelitian Hasil penelitian meliputi keadaan yang sebelum penelitian dimulai (kondisi awal), hasil penelitian pada siklus I, dan hasil penelitian pada siklus II. 4.1.1 Kondisi Awal Pengukuran kecepatan membaca siswa kelas VIIIA dilakukan yang pertama kali pada hari Sabtu 13 Mei 2005 untuk mengetahui gambaran kemampuan membaca cepat siswa pada kondisi awal. Pengukuran ini dimaksudkan sebagai tes awal dalam penelitian ini. Teks bacaan dibagikan kepada siswa sebagai bahan untuk mengukur kecepatan efektif membaca siswa. Setelah dijelaskan siswa ditugasi membaca teks dengan teliti, dan waktu yang diperlukan untuk membaca dicatat. Lama waktu yang diperlukan siswa untuk membaca teks secara utuh diukur dengan jam tangan atau stop watch. Lama waktu membaca yang diperlukan siswa dicatat untuk mengetahui kecepatan membaca siswa. Setelah semua siswa selesai membaca, lembar soal dibagikan kepada para siswa untuk dikerjakan. Pertanyaan yang diberikan adalah soal-sal tentang isi bacaan yang berbentuk soal-soal isian yang berjumlah 10 butir. Soal-soal ini

66

diberikan kepada siswa untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang isi bacaan. Setelah siswa selesai mengerjakan, siswa diminta mengumpulkan hasil pekerjaannya dan diperiksa. Skor perolehan siswa dalam mengerjakan soal dianalisis untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap isi bacaan. Setelah diketahui kecepatan membaca dan tingkat pemahaman siswa, maka data dianalisis dan digabungkan antara kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan dan didapatkan kecepatan efektif membaca para siswa. Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan pertama kali maka didapat kondisi awal perolehan kecepatan efektif membaca siswa kelas VIIIA dengan perincian sebagai berikut. Tabel 4 Kecepatan Membaca Siswa Kelas VIIIA pada Kondisi Awal No. Kecepatan (kpm) 1 2 3 4 >250 200-249 150-199 <150 Jumlah Cepat Sedang Lambat Sangat lambat 1 8 30 39 2,56 20,51 76,92 100 5773 : 39 = 148,03 Kategori Sangat Lambat Kategori Frekuensi % Rata-rata

Berdasarkan tabel 4 tersebut, dapat diketahui bahwa tidak terdapat siswa yang kecepatan membacanya termasuk tinggi (cepat), siswa yang kecepatan membacanya tergolong sedang adalah 1 orang atau 2,56%, siswa yang kecepatan

67

membacanya lambat adalah 8 orang atau 20,51%, dan siswa yang kecepatan membacanya sangat lambat adalah 30 orang atau 76,92%. Hasil rata-rata kecepatan membaca siswa kelas VIIIA pada kondisi awal adalah 148,03 kpm atau dalam kategori sangat lambat. Tabel 5 Pemahaman Membaca Siswa Kelas VIIIA pada Kondisi Awal No 1 2 3 4 5 Skor 90-100% 70-80% 50-60% 30-40% 10-20% Jumlah Kategori Sangat baik Baik Sedang Kurang Sangat kurang Frekuensi 1 9 27 2 39 % 2,56 23,08 69,23 5,13 100 2300 : 39 = 58,97% Kategori Sedang Rata-rata

Berdasarkan tabel 5 tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat 1 orang siswa yang pemahaman isi bacaannya termasuk sangat baik atau 2,56%, siswa yang pemahaman isi bacaannya tergolong baik adalah 9 orang atau 23,08%, siswa yang pemahaman isi bacaannya sedang adalah 27 orang atau 69,23%, siswa yang pemahaman isi bacaannya kurang adalah 2 orang atau 5,13%. Dan tidak terdapat siswa yang pemahaman isi bacaannya sangat kurang. Hasil rata-rata pemahaman isi bacaan siswa kelas VIIIA pada kondisi awal adalah 58,97% atau dalam kategori sedang.

68

Tabel 6 Kecepatan Efektif Membaca Siswa Kelas VIIIA pada Kondisi Awal No. Kecepatan (kpm) 1 2 3 4 >175 Cepat 150-174 125-149 < 125 Jumlah Sedang Lambat Sangat lambat 1 2 36 39 2,56 5,13 92,31 100 3492 : 39 = 89,54 kpm Kategori Sangat Lambat Kategori Frekuensi % Rata-rata

Berdasarkan tabel 6 tersebut, dapat diketahui bahwa siswa yang kecepatan efektif membacanya termasuk tinggi (cepat) adalah 1 orang atau 2,56%, tidak terdapat siswa yang kecepatan efektif membacanya tergolong sedang, siswa yang kecepatan efektif membacanya lambat adalah 2 orang atau 5,13%, dan siswa yang kecepatan efektif membacanya sangat lambat adalah 36 orang atau 92,31%. Hasil rata-rata kecepatan efektif membaca siswa kelas VIIIA pada kondisi awal adalah 89,54 kpm atau dalam kategori sangat lambat. Kecepatan Efektif Membaca siswa kelas VIIIA tergolong sangat lambat karena memang baru pertama kali ini diadakan pengukuran KEM. Hal ini merupakan hal yang wajar karena selama ini mereka belum pernah mengalami pengukuran KEM. Banyak siswa yang masih melakukan kesalahan teknik membaca. Hal ini terjadi karena mereka mungkin belum mengetahui tentang teknik membaca cepat dan efektif. Banyak siswa yang masih menunjukkan

69

ketegangan pada saat melakukan aktivitas membaca. Pengalaman pengukuran kecepatan membaca ini akan memberi dorongan pada siswa untuk melakukan latihan membaca secara efektif. Melihat kondisi awal seperti ini, diputuskan untuk mengambil teknik meningkatkan kecepatan membaca para siswa dengan cara melakukan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment dilakukan untuk memotivasi siswa agar melakukan aktivitas membaca dengan lebih bersungguh-sungguh, mengetahui gambaran kemampuan membaca cepat siswa, dan menghargai kemampuan siswa. Pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment ini diharapkan bisa membantu para siswa untuk meningkatkan kecepatan membacanya. Pelaksanaan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment dilakukan dengan pengukuran kecepatan efektif membaca secara kontinyu sehingga siswa menjadi terbiasa. Semakin sering melakukan pengukuran kecepatan membaca maka siswa akan merasa senang. Dengan demikian, pembelajaran ini akan membantu para siswa untuk meningkatkan kecepatan efektif membacanya, yang diperlukan dalam menghadapi sekian buku pelajarannya.

70

4.1.2 Hasil Siklus Pertama Pengukuran yang dilakukan pada siklus I ini meliputi hasil tes dan nontes. 4.1.2.1 Hasil Tes Setelah pengukuran kecepatan efektif membaca pada kondisi awal, para siswa dijelaskan tentang kegiatan membaca, teknik membaca yang benar, tentang pengontrolan KEM, manfaat pengukuran KEM, manfaat membaca cepat bagi para siswa, dan cara-cara meningkatkan kemampuan membaca dan kecepatan efektif membaca bagi para siswa. Selama kurang lebih dua kali siswa diberikan latihan secara terus-menerus. Kegiatan membaca ini diawasi dan apabila terjadi kesalahan teknik membaca, seperti menggerakkan bibir, menunjuk huruf dengan jari, membaca sambil menggeleng-gelengkan kepala, membaca sambil bermain, tidak bersungguh-sungguh dalam membaca, dan kegiatan lain yang akan mengurangi kecepatan membaca. Setelah dua kali latihan membaca efektif, selanjutnya diadakan pengukuran KEM yang kedua. Hasil pengukuran KEM pada pengukuran yang ke dua adalah sebagai berikut.

71

Tabel 7 Kecepatan Membaca Siswa Kelas VIIIA pada Siklus I No. Kecepatan (kpm) 1 2 3 4 >250 200-249 150-199 <150 Jumlah Cepat Sedang Lambat Sangat lambat 2 34 3 39 5,13 87,18 7,7 100 8694 : 39 = 222,92 kpm Kategori Sedang Kategori Frekuensi % Rata-rata

Berdasarkan tabel 7 tersebut, dapat diketahui bahwa siswa yang kecepatan membacanya termasuk tinggi (cepat) adalah 2 orang atau 5,13%, siswa yang kecepatan membacanya tergolong sedang adalah 34 orang atau 87,18%, siswa yang kecepatan membacanya lambat adalah 3 orang atau 7,7%, dan tidak terdapat siswa yang kecepatan membacanya sangat lambat Hasil rata-rata kecepatan membaca siswa kelas VIIIA pada siklus I adalah 222,92 kpm atau dalam kategori sedang. Dalam pengukuran kecepatan efektif membaca, faktor pemahaman isi bacaan juga menentukan tinggi rendahnya perolehan KEM karena yang diukur bukan hanya kecepatannya, tetapi juga pemahaman isi bacaan. Adapun pemahaman isi bacaan para siswa dalam siklus yang pertama adalah sebagai berikut.

72

Tabel 8 Pemahaman Membaca Siswa Kelas VIIIA pada Siklus I No. 1 2 3 4 5 Skor 90-100% 70-80% 50-60% 30-40% 10-20% Jumlah Kategori Sangat baik Baik Sedang Kurang Sangat kurang Frekuensi 8 22 8 1 39 % 20,51 56,41 20,51 2,56 100 2850 : 39 = 73,08% Kategori Baik Rata-rata

Berdasarkan tabel 8 tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat 8 orang siswa yang pemahaman isi bacaannya termasuk sangat baik atau 20,51%, siswa yang pemahaman isi bacaannya tergolong baik adalah 22 orang atau 56,41%, siswa yang pemahaman isi bacaannya sedang adalah 8 orang atau 20,51%, siswa yang pemahaman isi bacaannya kurang adalah 1 orang atau 2,56%. Dan tidak terdapat siswa yang pemahaman isi bacaannya sangat kurang. Hasil rata-rata pemahaman isi bacaan siswa kelas VIIIA pada tes siklus I adalah 73,08%. atau dalam kategori baik. Berdasarkan kedua tabel tersebut, dapat dihitung kecepatan efektif membaca siswa kelas VIIIA pada siklus I. Kecepatan efektif membaca diperoleh dengan memadukan antara kecepatan membaca dengan rumus pengukuran KEM yaitu kecepatan membaca dikalikan dengan skor perolehan yang benar dibagi 100. berdasarkan pengukuran KEM yang dilakukan pada siklus I ini dapat diketahui

73

tingkat kecepatan membaca para siswa pada siklus I, yang tampak dalam tabel di bawah ini. Tabel 9 Kecepatan Efektif Membaca Siswa Kelas VIII A pada Siklus I No. Kecepatan (kpm) 1 2 3 4 >175 Cepat 150-174 125-149 < 125 Jumlah Sedang Lambat Sangat lambat 15 14 4 6 39 38,46 35,9 10,26 15,38 100 6549 : 39 = 167,92 kpm Kategori Sedang Kategori Frekuensi % Rata-rata

Berdasarkan tabel 9 tersebut, dapat diketahui bahwa siswa yang kecepatan efektif membacanya termasuk tinggi (cepat) adalah 15 orang atau 38,46%, siswa yang kecepatan efektif membacanya termasuk tergolong sedang adalah 14 orang atau 35,9, siswa yang kecepatan efektif membacanya lambat adalah 4 orang atau 10,26%, dan siswa yang kecepatan efektif membacanya sangat lambat adalah 6 orang atau 15,38%. Hasil rata-rata kecepatan efektif membaca siswa kelas VIIIA pada siklus I adalah 167,92 kpm atau dalam kategori sedang. 4.1.2.2 Hasil Nontes Hasil penelitian nontes berupa hasil observasi, wawancara, dan jurnal. Hasil penelitian nontes tersebut diuraikan sebagai berikut.

74

4.1.2.2.1 Hasil Observasi Observasi dilakukan pada saat proses pembelajaran membaca berlangsung. Observasi dilakukan sejak awal proses pembelajaran ketika siswa diberi penjelasan tentang kecepatan membaca, kecepatan efektif membaca dan teknik membaca yang benar sampai siswa mengerjakan soal-soal evaluasi. Observasi juga dilakukan untuk mengetahui kebiasaan buruk dalam membaca yang masih dilakukan oleh siswa, sikap siswa terhadap bacaan yang disajikan, keaktifan siswa dalam pembelajaran, kerja sama, sharing dengan teman, pembelajaran menyenangkan atau tidak membosankan, kekritisan siswa. Intensitas membaca koleksi perpustakaan juga diobservasi melalui situasi setiap hari di perpustakaan. Observasi dilakukan kepada semua siswa kelas VIIIA yang berjumlah 39. Berdasarkan observasi siswa kelihatan tertarik sekali pada

pembelajaran membaca cepat. Ketika guru melakukan kegiatan “pemanasan” pikiran kepada siswa dengan memanggil kembali pengalamannya yang berkaitan dengan isi bacaan sebelum membaca teks bacaan, siswa kelihatan memperhatikan dengan sungguh-sungguh, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh kepada siswa. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi, siswa memperhatikan dengan antusias. Semua siswa tenang dan mendengarkan penjelasan tentang kecepatan efektif membaca, teknik membaca yang benar, dan manfaat membaca cepat, serta proses pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Hasil itu tersirat dari

75

sikap siswa memperhatikan dan ada beberapa siswa mengajukan pertanyaan tentang manfaat membaca cepat, dan bagaimana mengukur kecepatan membaca. Setelah selesai mendengarkan penjelasan tentang teknik membaca yang benar siswa ditugasi membaca bacaan yang sudah disiapkan Lengkap dengan prosedur pengukuran kecepatan efektif membaca, jumlah kata dalam bacaan. Ketika teks dibagikan, siswa kelihatan sangat tertarik karena teks bacaan tersebut dekat dengan dunia siswa atau lingkungan siswa, siswa juga tertarik dengan bacaan karena menurut mereka dapat menambah pengalaman atau pengetahuan baru. Mereka dengan serius membaca. Siswa membaca bacaan yang sudah diberi petunjuk dan sudah diberi cara pengukurannya. Siswa menulis mulai membaca dan akhir membaca. Setelah ada aba-aba mulai, siswa mulai membaca teks bacaan. Pada waktu siswa diberi tugas membaca ada 1 orang siswa yang tampak masih bingung apa yang harus dilakukannya. Ia malah menonton teman-temannya yang sedang membaca dengan serius. Melihat semua temannya serius, ia pun kemudian membaca. Pada saat membaca ditemukan ada siswa yang masih melakukan kesalahan dalam teknik membaca. Yang paling banyak adalah siswa yang membaca dengan subvokalisasi, ada 29 siswa (74,4%). Siswa yang membaca dengan vokalisasi ada 9 siswa (23,1%). Selain itu ada 9 siswa (23,1%) yang membaca dengan menggerakkan bibir. Ada 18 siswa (46,2%) yang membaca sambil menggerakkan kepala mengikuti bacaannya sampai di mana. Membaca dengan konsentrasi yang tidak sempurna ada 19 siswa (48,7%). Dan siswa yang membaca dengan menyangga kepala ada 2 siswa (5,13%). Menurut pengamatan,

76

semua siswa membaca dengan bacaan di depan. Jarak mata kurang lebih 30 cm ada 25 siswa (64,1%), dan siswa membaca dengan sikap badan tegak ada 25 siswa (64,1%). Setelah selesai membaca, sebagian besar siswa langsung menuliskan waktu akhir membaca. Hanya ada 2 orang yang kelihatan ragu-ragu. Ia menengok ke kanan dan ke kiri dulu. Kemudian semua siswa mengumpulkan teks bacaan siswa diberi soal pemahaman dan langsung mengerjakannya. Hal ini dilakukan untuk menghindari kelupaan. Setelah menjawab pertanyaan, siswa bersama guru membahas jawabannya. Setelah membahas jawaban siswa menghitung kecepatan membaca mereka sesuai dengan petunjuk yang sudah ada dalam bacaan. Kecepatan membaca mereka ditulis dalam kartu data yang sudah disediakan oleh guru. Setelah mengukur kecepatan membaca mereka melakukan latihanlatihan jangkauan mata, persepsi, dan fiksasi. Setelah latihan-latihan siswa mengukur kembali kecepatan membacanya. Kegiatan ini sama seperti kegiatan membaca sebelumnya. Dalam hal kerja sama dengan teman, tampak 74 siswa atau 63,24% melakukan kerja sama ketika siswa ada yang tidak bisa cara menghitung kecepatan membaca dan kecepatan efektif membaca, siswa tersebut langsung bertanya dengan teman sebangkunya yang sudah bisa cara menghitung kecepatan membaca dan kecepatan efektif membaca. Siswa aktif mengikuti proses pembelajaran membaca cepat ini atau 67,52%. Sharing dengan teman juga terlihat atau ada sekitar 63,25%. Kekritisan siswa ada 56,41%, terlihat pada siswa yang

77

belum paham dengan apa yang harus mereka lakukan dan masih ragu dengan cara menghitung kecepatan membaca dan kecepatan efektif membaca. Menurut pengamatan, 76,07% siswa merasa senang dan asyik dengan bahan bacaan yang disediakan. Menurut mereka bacaan yang disediakan mudah dipahami. Siswa juga merasa senang dan tidak membosankan dengan pembelajaran membaca cepat atau ada 86,32%, karena menurut mereka waktu terasa begitu cepat dengan keasyikan membaca bacaan yang disediakan. Observasi yang dilakukan di luar kelas atau di perpustakaan adalah mengamati langsung aktivitas siswa diperpustakaan. Peneliti juga melihat buku daftar peminjam yang dimiliki oleh petugas perpustakaan. Selain itu, peneliti meminta kartu anggota perpustakaan yang dimiliki oleh siswa untuk kegiatan pemainjamannya. Dari kegiatan tersebut, peneliti memperoleh gambaran bahwa dalam jangka satu minggu siswa yang hanya satu kali memminjam dan membaca buku 6 siswa atau 15,38%. Siswa yang meminjam 2 kali, ada 17 siswa atau 43,59%, yang meminjam 3 kali sebanyak 13 siswa atau 33,33%, sedangkan yang meminjam 4 kali ada 3 siswa atau 7,69%. Jadi, peneliti menyimpulkan bahwa semua siswa telah melakukan kegiatan membaca koleksi perpustakaan sekolah. Kecuali itu, peneliti juga melihat keadaan perpustakaan di saat istirahat. Ternyata ada beberapa siswa yang mempunyai kebiasaan melihat-lahat dan membaca-baca koleksi perpustakaan sekolah di saat istirahat tersebut.

78

Pengukuran yang dilakukan pada siklus I ini sudah berlangsung dengan baik. Hasilnya pun juga baik. Para siswa kelihatan sangat tertarik dengan kegiatan membaca cepat ini.

4.1.2.2.2 Hasil Wawancara Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini tidak dilakukan kepada semua siswa kelas VIIIA. Wawancara hanya dilakukan kepada 6 orang siswa, yaitu 2 orang siswa yang kecepatan efektif membacanya termasuk tinggi, 2 siswa yang kecepatan efektif membacanya tergolong rendah, dan 2 siswa yang kecepatan efektif membacanya tergolong sedang. Wawancara dilakukan untuk mengetahui tanggapan tentang pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh para siswa, mereka memberikan tanggapan yang baik tentang pembelajaran membaca cepat ini. Hanya saja mereka mengaku bahwa mereka masih grogi dan bingung, karena baru dua kali mengalami tingkat kecepatan efektif membaca. Menurut pengakuan siswa yang KEM-nya rendah, mereka membaca pokoknya asal cepat saja. Biar lekas selesai atau mendapat waktu membaca yang sedikit. Mereka merasa grogi ketika melihat teman-temannya sudah selesai membaca. Sehingga ketika mereka harus mengerjakan soal-soal, mereka tidak dapat menjawab dengan benar. Bagi yang KEM-nya tinggi, mereka senang sekali dengan pengukuran KEM ini karena bagi mereka ini merupakan ajang untuk berlomba membaca. Selain itu juga, untuk membantu memahami isi buku-buku pelajaran.

79

Menurut keterangan mereka, mereka gemar membaca buku atau Koran. Bacaan yang paling mereka sukai sebagaian besar buku fiksi. Ketika diberi pertanyaan mengenai bagaimana isi bacaan yang telah disajikan mereka menjawab menarik dan mudah dipahami walaupun ada sedikit kata yang tidak diketahui maknanya. Sebagian besar tidak memberikan cek atau tanda baca pada bacaan. Kebiasaan buruk yang agak sulit dihilangkan menurut siswa yang KEM-nya rendah adalah menghilangkan regresi pada saat membaca dan membaca dengan konsentrasi dengan penuh. Mereka mengaku merasa kesulitan untuk menghilangkan regresi tersebut dan berkonsentrasi dengan baik, karena mereka merasa grogi dan takut kalah cepat dengan temannya, serta ada bagian yang lupa sehingga ingin untuk mengulang kembali. Bagi mereka yang KEM-nya tinggi yang kebiasaan agak sulit dihilangkan adalah melakukan regresi. Mereka belum tahu cara menghilangkan regresi tersebut. Siswa yang KEM-nya tinggi ada yang mengaku sudah bisa tidak melakukan regresi dan sudah bisa konsentrasi dengan baik. Pertanyaan-pertanyaan bacaan yang diberikan kepada siswa, oleh para siswa yang KEM-nya tinggi dikatakan soalnya mudah sekali sehingga mereka bisa menjawab semua pertanyaan dengan benar. Bagi siswa yang berkecepatan sedang dan rendah mereka berpendapat bahwa soalnya mudah, sehingga mereka juga bisa menjawab pertanyaan dengan baik, walaupun tidak benar semua. Kesulitan yang dialami oleh siswa dalam membaca adalah memahami kalimat-kalimat yang mengandung kata yang tidak mereka ketahui artinya,

80

kurangnya latihan membaca, dan jarangnya mereka diberi kesempatan membaca baik di rumah maupun di sekolah. Di rumah yang ada adalah buku-buku pelajaran dan televisi. Sehingga mereka lebih tertarik dengan televisi daripada membaca buku pelajaran. Di sekolah, pelajaran membaca hanya dilakukan secara sekilas. Yang banyak adalah pengetahuan bahasa, sehingga kemampuan membaca mereka tidak terlatih dan masih melakukan kesalahan-kesalahan atau kebiasaan-kebiasaan buruk dalam membaca. Siswa kurang mampu melihat kalimat secara utuh. Siswa hanya mampu melihat kalimat secara kata demi kata. Siswa ada yang kurang mampu memahami isi bacaan dengan cepat karena membaca kalimat secara sekilas dan tanpa membaca ulang. Peneliti juga melakukan wawancara dengan petugas perpustakaan sekolah. Dari penjelasan petugas, peneliti dapat memperoleh gambaran bahwa siswa berkunjung ke perpustakaan sebagian besar pada waktu istirahat. Hanya sebagian kecil siswa mau memanfaatkan jam-jam kosong untuk membaca di perpustakaan. Sedangkan peminjaman rata-rata setiap harinya mencapai 25 siswa. Rendahnya rata-rata tersebut disebabkan oleh rendahnya minat siswa akan membaca. Di samping itu, minimnya guru dalam memberikan tugas kepada siswa untuk membaca buku perpustakaan, membuat rendahnya minat baca pada siswa.

4.1.2.2.3 Jurnal siswa Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh siswa menunjukkan bahwa pada kondisi awal para siswa belum mengetahui tentang pengukuran KEM dalam pembelajaran membaca. Banyak siswa yang merasa tidak siap untuk menjalani

81

pengukuran, sehingga mereka grogi saat diberi pembelajaran membaca dan mereka belum begitu paham tentang bagaimana mengukur kecepatan membaca. Rata-rata kecepatan efektif membaca mereka tergolong rendah. Setelah para siswa dijelaskan tentang kecepatan efektif membaca, manfaat membaca cepat, dan teknik membaca cepat yang benar, dan diberi latihan membaca cepat secara teratur, meskipun masih grogi tetapi ketika diukur KEMnya sudah dapat menunjukkan kemajuan yang cukup berarti. Rata-rata kecepatan efektif membaca mereka yang semula tergolong sangat lambat meningkat menjadi sedang. Hal ini menunjukkan bahwa para siswa berminat pada pembelajaran membaca dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment ini. Dari hasil jurnal siswa dapat disimpulkan bahwa siswa tertarik mengikuti pembelajaran membaca cepat. Dengan adanya pembelajaran model ini, memotivasi siswa untuk melakukan kegiatan membaca. Selain itu, tingkat pemahaman mereka terhadap isi bacaan yang dibacanya juga bertambah.

4.1.2.2.4 Jurnal Guru Dari hasil jurnal guru disimpulkan bahwa siswa masih belum bersungguh-sungguh dalam melakukan kegiatan membaca. Suasana kelas masih agak gaduh ketika mereka disuruh mengerjakan pertanyaan pemahaman. Ada beberapa siswa masih kurang begitu paham dengan cara menghitung kecepatan efektif membaca. Siswa masih memperhatikan stop watch yang dibawa oleh guru.

82

Ada siswa yang masih ingin berlomba dengan temannya. Kecepatan dalam membaca dijadikan perlombaan. Dan hal itu yang memicu minat siswa dalam kegiatan membaca cepat ini.

4.1.3 Hasil Penelitian Siklus II 4.1.3.1 Hasil Tes Dalam siklus I, hasil membaca cepat masih kurang memuaskan. Oleh karena itu, peneliti pembelajaran teknik membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment dengan memperhatikan hasil pada siklus I dan memberikan tindakan kelas terhadap segala penghambat kecepatan membaca siswa. Selain itu juga, dijelaskan kembali tentang teknik membaca yang benar, dan aspek-aspek yang mempengaruhi kecepatan efektif membaca. Setelah itu, diadakan evaluasi pada siklus II. Adapun hasil pengukuran kecepatan efektif membaca pada siklus II tampak dalam tabel di bawah ini. Tabel 11 Kecepatan Membaca Siswa Kelas VIIIA pada Siklus II No. Kecepatan (kpm) 1 2 3 4 >250 200-249 150-199 <150 Jumlah Cepat Sedang Lambat Sangat lambat 20 19 39 51,28 48,72 100 9811 : 39 = 251,56 Kategori Cepat Kategori Frekuensi % Rata-rata

83

Berdasarkan tabel 11 tersebut, dapat diketahui bahwa siswa yang kecepatan membacanya termasuk tinggi (cepat) adalah 20 orang atau 51,28%, siswa yang kecepatan membacanya tergolong sedang adalah 19 orang atau 48,72%, tidak terdapat siswa yang kecepatan membacanya lambat, dan juga tidak terdapat siswa yang kecepatan membacanya sangat lambat. Hasil rata-rata kecepatan membaca siswa kelas VIIIA pada siklus I adalah 251,56 kpm atau dalam kategori cepat. Seperti dalam pengukuran KEM pada siklus I, yang menjadi pedoman untuk menentukan KEM tidak hanya kecepatan membaca saja, tetapi juga didukung oleh faktor pemahaman isi bacaan. Tingkat pemahaman isi bacaan siswa kelas VIIIA tampak pada tabel di bawah ini. Tabel 12 Pemahaman Membaca Siswa Kelas VIIIA pada Siklus II No. 1 2 3 4 5 Skor 90-100% 70-80% 50-60% 30-40% 10-20% Jumlah Kategori Sangat baik Baik Sedang Kurang Sangat kurang Frekuensi 14 21 4 39 % 35,9 3200 : 39 53,87 = 82,055 10,26 Kategori Baik 100 Rata-rata

Berdasarkan tabel 12 tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat 14 orang siswa yang pemahaman isi bacaannya termasuk sangat baik atau 35,9%, siswa yang pemahaman isi bacaannya tergolong baik adalah 21 orang atau

84

53,87%, siswa yang pemahaman isi bacaannya sedang adalah 4 orang atau 10,26%, tidak terdapat siswa yang pemahaman isi bacaannya kurang, dan tidak terdapat siswa yang pemahaman isi bacaannya sangat kurang. Hasil rata-rata pemahaman isi bacaan siswa kelas VIIIA pada tes siklus I adalah 82,05 atau dalam kategori baik. Berdasarkan tabel 11 dan 12 yang sudah ditampilkan (tabel kecepatan membaca dan tingkat pemahaman isi bacaan) dapat diketahui tingkat kecepatan efektif membaca siswa kelas VIIIA pada siklus II ini, dengan cara memadukan antara kecepatan memabca siswa dengan pemahaman isi bacaan. Setelah dihitung menggunakan rumus KEM, diperoleh data tentang kecepatan efektif membaca siswa kelas VIIIA pada siklus II ini. Perolehan tingkat kecepatan efektif membaca siswa kelas VIIIA pada siklus II, tampak dalam tabel 9. Tabel 13 Kecepatan Efektif Membaca Siswa Kelas VIIIA pada Siklus II No. Kecepatan (kpm) 1 2 3 4 >175 Cepat 150-174 125-149 < 125 Sedang Lambat Sangat lambat 31 4 4 79,49 10,26 10,26 8148 : 39 = 208,92 kpm kategori cepat Jumlah 39 100 Kategori Frekuensi % Rata-rata

85

Berdasarkan tabel 13 tersebut, dapat diketahui bahwa siswa yang kecepatan efektif membacanya termasuk tinggi (cepat) adalah 31 orang atau 79,49%, siswa yang kecepatan efektif membacanya sedang adalah 4 orang atau 10,26%, siswa yang kecepatan efektif membacanya lambat adalah 4 orang atau 10,26%, dan tidak terdapat siswa yang kecepatan efektif membacanya sangat lambat. Hasil rata-rata kecepatan efektif membaca siswa kelas VIIIA pada kondisi awal adalah 208,92 kpm , termasuk dalam kategori cepat.

4.1.3.2 Hasil Nontes Pada siklus II, data nontes diperoleh melalui observasi, jurnal siswa dan wawancara. 4.1.3.2.1 Observasi Pengamatan dilakukan pada saat guru memberikan penjelasan kepada siswa tentang perbaikan cara membaca siswa yang sering dilakukan oleh siswa secara sadar atau pun tidak. Siswa tampak tertib dan antusias dalam menghadapi kesalahan-kesalahan membaca yang masih sering dilakukannya. Mereka mengaku masih melakukan subvokalisasi, membaca belum penuh konsentrasi, masih melakukan regresi. Siswa memperhatikan penjelasan yang diberikan guru dengan sungguh-sungguh, dan akan berusaha melakukan cara membaca yang benar. Pengamatan pada siklus II ini lebih ditekankan pada kegiatan membaca, terutama untuk mengamati perubahan kebiasaan salah dalam membaca yang sering dilakukan oleh para siswa. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, pelaksanaan kegiatan membaca pada siklus II ini lebih baik daripada pelaksanaan

86

kegiatan membaca pada siklus I. Para siswa kelihatan lebih serius dalam melaksanakan kegiatan membaca, dan lebih berusaha untuk mengurangi kebiasaan buruk dalam membaca. Mereka melakukan kegiatan membaca dengan baik. Berdasarkan pengamatan, memang masih ada 3 siswa atau 7,69% yang masih tampak menggerakkan bibir pada saat membaca. Siswa yang masih mengeja ini memang termasuk siswa yang kecepatan efektif membacanya termasuk kategori rendah. Siswa yang masih menggerakkan kepala ada 2 orang atau 5,13%. Kedua siswa ini merasa sulit menghilangkan kebiasaan buruk ini karena sudah merupakan kebiasaan mereka setiap kali mereka membaca. Sikap duduk yang dilakukan oleh siswa pada saat membaca sudah benar, yaitu dengan meletakkan teks di atas meja atau di depan siswa, duduk dengan tegak, dan jarak antara mata dengan teks kurang lebih 30 cm. Sebagian besar (80%) siswa sudah melakukan apa yang sudah dijelaskan. Mereka berusaha membaca dengan benar. Para siswa tidak lagi adu cepat dalam membaca, tetapi juga berusaha meningkatkan aspek pemahamannya tentang isi bacaan. Sehingga ada 31 siswa yang mempunyai kecepatan efektif yang tergolong cepat. Siswa tersebut tampak membaca dengan sangat serius dan teliti, serta hati-hati. Penjelasan yang diberikan kepada siswa menyadarkan para siswa, bahwa dalam membaca yang penting bukan hanya cepat, tetapi juga harus memahami apa yang dibacanya. Dari pengamatan aspek kerjasama dengan teman ada 93,16%, siswa dalam kategori baik. Siswa selalu bekerja sama dengan teman sebangkunya untuk

87

lebih meningkatkan kemampuan membaca cepatnya. Siswa yang belum begitu paham dengan cara menghitung kecepatan efektif membaca selalu berusaha bertanya dengan temannya yang bisa menghitung kecepatan efektif membaca. Dalam mengikuti pelajaran siswa aktif atau mencapai 93,16%, tidak pasif. Siswa selalu bertanya dengan guru tentang hal yang tidak diketahuinya. Siswa juga kritis menyikapi hal yang ada atau kekritisan siswa mencapai 80,34%. Sharing dengan teman pun dilakukan oleh siswa bahkan mencapai 98,58%. Sikap siswa terhadap bacaan yang disediakan, 93,16% siswa merasa tidak kesulitan dalam membaca bacaan yang disediakan. Ada siswa yang merasa sulit dengan kata yang tidak diketahui maknanya. Sikap siswa terhadap teknik pembelajaran menunjukkan baik. Siswa merasa senang dengan pembelajaran yang digunakan. Siswa merasa dihargai hasil karyanya, siswa merasa kecepatan membacanya dapat meningkat dengan diukur oleh diri sendiri. Mereka juga merasa senang karena mendapatkan pengetahun yang baru. Siswa merasa tidak bosan dengan diadakan latihan membaca cepat secara kontinyu atau terus menerus. Observasi terhadap aktivitas siswa dalam membaca koleksi

perpustakaan sekolah. Melalui lembar bantu yang berisi daftar peminjaman buku, peneliti dapat menegtahui bahwa siswa telah melakukan kegiatan membaca. Hanya intensitas yang dilakukan oleh setiap siswa berbeda. Siswa yang meminjam dan membaca buku sebanyak 1 kali, ada 4 orang siswa atau 10,26%. Siswa yang meminjam dan membaca buku sebanyak 2 kali, ada 11 orang siswa atau 28,21%. Siswa yang meminjam 3 kali, ada 14 orang siswa atau 35,89%, yang

88

meminjam 4 kali sebanyak 4 siswa atau 10,26%, yang meminjam 5 kali, ada 7 siswa atau 17,95%, sedangkan yang lebih dari 5 kali ada 6 siswa atau 15,38%.

4.1.3.2.2 Wawancara Pada siklus II ini, wawancara dilakukan pada enam orang siswa, yaitu dua orang siswa yang memiliki kategori KEM rendah, dua orang siswa yang berkategori sedang, dan dua orang siswa yang berkategori tinggi. Wawancara dilakukan untuk mengetahui tanggapan dan pendapat siswa tentang pembelajaran membaca cepat dengan menggunakan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Para siswa yang diwawancarai mengungkapkan bahwa mereka sangat tertarik pada pengukuran KEM ini. Mereka ingin pengukuran ini dilakukan terus menerus, sehingga mereka mengetahui perkembangan kecepatan membacanya. Apabila hasil pengukuran menunjukan bahwa kecepatan efektif membaca mereka masih rendah, mereka akan berusaha untuk meningkatkan kecepatan

membacanya. Tetapi ada satu siswa yang hanya senyum-senyum ketika diberi pertanyaan. Ia hanya menggeleng, mengangguk, dan senyum-senyum sambil garuk-garuk kepala. Siswa ini sebenarnya cerewet, tetapi memang termasuk lambat dalam kecepatan efektif membaca. Sehingga ia tidak segera menemukan jawaban ketika ditanya. Meskipun lambat membaca tetapi ia juga mengungkapkan rasa senangnya mengikuti pembelajaran model ini. Katanya, “Saya juga suka membaca.

89

Berdasarkan hasil wawancara, para siswa senang dengan bacaan yang diberikan. Soal-soal tentang isi bacaan yang harus dijawab juga tidak sulit. Hal ini membuat para siswa ingin mengulangi membaca lagi, karena cerita yang diberikan kepada siswa adalah bacaan yang menarik, dan sesuai dengan kehidupan yang dialami siswa sehari-hari yaitu cerita tentang kemanusiaan, dan tidak terlalu panjang. Menurut mereka cerita yang terlalu panjang akan membosonkan. Selain membosankan, mereka juga merasa kesulitan memahami isinya. Wawancara yang dilakukan terhadap petugas perpustakaan sekolah, peneliti memperoleh simpulan bahwa kunjungan siswa ke perpustakaan semakin bertambah. Kunjungan tersebut masih seperti biasa, yaitu dilakukan pada saat istirahat baik pertama atau kedua.

4.1.3.2.3 Hasil Jurnal Berdasarkan hasil jurnal yang dibuat oleh siswa, dapat disimpulkan bahwa siswa sangat tertarik pada pembelajaran membaca cepat dengan pengukuran kecepatan efektif membaca. Selain bacaannya menarik dan mudah dipahami, soal-soalnya mudah, siswa juga memperoleh pengalaman baru yaitu mengukur kecepatan membacanya sendiri dan mengukur kecepatan temannya. Sebagian besar siswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan setelah siswa membaca, meskipun ada dua orang yang tidak dapat menjawab pertanyaan dengan benar.

90

Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh siswa, siswa semuanya menyukai dengan pengukuran kecepatan efektif membaca ini. Tetapi ada siswa yang merasa bosan karena setiap hari disuruh membaca walaupun hanya sebentar. Mereka merasa bahwa membaca itu sebagai beban, dan merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Ia lebih suka kegiatan yang banyak bergerak. Memng dia anak yang tidak bisa diam. Tangan dan kakinya sama lincahnya. Ia kelihatan tertekan bila ada kegiatan membaca, karena ia memang tidak suka membaca maka kecepatan efektif membacanya pun termasuk lambat. Pengukuran kecepatan efektif membaca ini sangat menarik bagi sebagian besar siswa kelas VIIIA, karena sebelum penelitian ini dilakukan mereka belum pernah mengetahui cara pengukuran kecepatan efektif membaca. Pengukuran yang dilakukan pada siklus II ini sudah tidak membuat mereka grogi. Mereka merasa lebih tenang dalam melakukan kegiatan membaca. Mereka merasa sudah terbiasa. Meskipun begitu, masih ada beberapa siswa yang mengaku masih deg-degan, masih merasa cemas. Tetapi kecemasannya sudah tidak seperti ketika pertama kali mereka mengalamai pengukuran kecepatan efektif membaca. Siswa merasa senang dan bangga ketika mereka mengetahui kecepatan efektif membacanya sendiri. Mereka merasa disanjung oleh orang tuanya karena setiap kali melakukan pengukuran kecepatan efektif membaca siswa meminta tanda tangan orang tua. Ada semangat atau minat untuk sering melakukan pengukuran keceatan efektif membaca karena selalu dipantau dengan kartu data pengukuran kecepatan efektif membaca. Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh anak-anak yang kecepatan efektif membacanya rendah, sebenarnya

91

mereka juga ingin mempunyai kecepatan efektif membaca yang tinggi, oleh karena itu mereka akan banyak berlatih membaca.

4.2 Pembahasan 4.2.1 Pembahasan Kecepatan Membaca Berdasarkan hasil penelitian tentang pembelajaran membaca cepat dengan menggunakan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment dengan megacu pada pengukuran kecepatan efektif membaca dengan latihan yang terus menerus dapat diketahui bahwa ada peningkatan kecepatan efektif membaca siswa kelas VIIIA. Peningkatan kecepatan efektif membaca tersebut berdasarkan pengukuran yang dilakukan pada siklus I dan siklus ke II. Setelah siswa mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan menggunakan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment dengan mengacu pada pengukuran kecepatan efektif membaca dengan latihan yang terus menerus ternyata kecepatan efektif membaca meningkat tajam. Kecepatan efektif membaca siswa pada siklus pertama sudah mengalami perubahan. Pada kondisi awal rata-rata kecepatan efektif membaca siswa hanya 89,54 kpm, sehingga termasuk kategori sangat lambat. Pada pengukuran kecepatan efektif membaca siklus yang pertama, para siswa dapat mencapai rata-rata kecepatan efektif membaca 167,92 kpm. Kecepatan efektif membaca siswa mengalami kenaikan sebesar 78,38 kpm pada siklus pertama. Peningkatan tersebut dapat dirinci sebagai berikut. Kecepatan membaca siswa kelas VIIIA pada kondisi awal rata-rata 148,03 kpm, termasuk dalam kategori sangat lambat. Pada siklus pertama, rata-rata kecepatan membaca

92

siswa menjadi 222,92 kpm. Terjadi peningkatan 74,89 kpm. Kemampuan pemahaman isi bacaan pada kondisi awal rata-rata 58,97% termasuk kategori sedang. Pada siklus pertama rata-rata pemahaman isi bacaan siswa mencapai 73,08%, termasuk kategori baik. Dengan demikian, kecepatan efektif membaca yang dimiliki siswa pada siklus yang pertama ini mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi peningkatan ini adalah faktor intelegensi, minat dan motivasi. Sebenarnya para siswa kelas VIIIA adalah anakanak yang berintelegensi cukup tinggi. Ini bisa dilihat dari tes intelegensi yang pernah dilakukan oleh siswa dan hasil nilai mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang diperoleh oleh guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dengan adanya pengukuran kecepatan efektif membaca ini, tumbuh motivasi para siswa untuk membaca sehingga mereka mau membaca dengan sungguh-sungguh. Mereka ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak kalah dengan teman-temannya. Rasa ingin tahu yang dimiliki oleh para siswa terhadap kecepatan efektif membacanya juga ikut mewarnai peningkatan kecepatan efektif membaca ini. Faktor eksternal yang mempengaruhi peningkatan kecepatan efektif membaca siswa kelas VIIIA adalah pelatihan membaca cepat atau membaca efektif yang dilakukan secara kontinyu, penjelasan tentang manfaat membaca dan cara membaca yang benar. Latihan membaca yang benar dilakukan kepada para siswa setiap hari dalam waktu kurang lebih 15 menit sebelum pelajaran dimulai, sehingga siswa tidak bosan. Teks bacaan diambil dari buku-buku pengetahuan yang menarik untuk dibaca dan sesuai dengan konteks siswa. Bacaan yang

93

disajikan adalah bacaan yang dekat dengan kehidupan siswa sehingga siswa tidak merasa asing. Hasil karya yang dihargai juga merupakan faktor yang mempengaruhi kecepatan efektif membaca. Mereka merasa dapat mengetahui kecepatan membaca dan dapat mengukur kecepatan membaca kapan pun mereka mau. Penjelasan tentang teknik membaca yang benar ikut mempengaruhi peningkatan kecepatan efektif membaca siswa kelas VIIIA. Dengan pengetahuan cara membaca yang baik para siswa mulai mengurangi kebiasaan buruk membaca yang sering dilakukannya pada saat membaca. Siswa yang menggerakkan bibir pada saat membaca sudah mulai berkurang, apabila dibandingkan dengan kondisi awal. Peringatan selalu diberikan kepada para siswa yang masih melakukan kesalahan teknik membaca sehingga para siswa merasa diperhatikan. Pengetahuan bahwa membaca sangat berguna bagi para siswa, juga ikut mempengaruhi peningkatan kecepatan efektif membaca para siswa. Mereka mulai tahu bahwa membaca cepat itu perlu, karena mereka harus menguasai berbagai macam buku pelajaran. Oleh karena itu, mereka berlatih membaca cepat dengan sungguh-sungguh. Meskipun masih merupakan hal yang baru, tetapi para siswa sudah dapat menunjukkan peningkatan kecepatan efektif membaca dalam siklus pertama ini. Hal ini menunjukkan bahwa mereka bersungguh-sungguh dalam mengikuti proses pembelajaran. Mereka juga merasa dihargai dengan hasil karyanya sendiri. Berdasarkan data hasil penelitian pada siklus II, rata-rata kecepatan efektif membaca siswa kelas VIII A mencapai 208,92 kpm. Hasil ini termasuk

94

kategori tinggi atau cepat. Jika dibandingkan dengan siklus I yang mencapai ratarata-rata 167,92 kpm, berarti ada peningkatan sebesar 41 kpm atau kenaikan sebesar 24,42%. Apabila dibandingkan dengan kondisi awal yang hanya mencapai rata-rata 89,54 kpm, maka pada siklus II ini mengalami peningkatan sebesar 119,38 kpm atau 57,14 %. Peningkatan kecepatan efektif membaca kelas VIIIA dari siklus I ke siklus II dapat dirinci sebagai berikut. Kecepatan membaca pada siklus I rata-rata mencapai 222,92 kpm, termasuk kategori sedang, dan pada siklus II mencapai rata-rata 251,56 kpm, termasuk kategori cepat. Dengan demikian, terjadi peningkatan sebesar 28,64 kpm atau 12,27 %. Peningkatan kecepatan membaca ini terjadi karena para siswa sudah dapat mengatasi kelemahan-kelemahan siswa dalam siswa dalam membaca, terutama karena mereka sudah dapat mengurangi kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam membaca. Pada siklus II ini siswa sudah semakin terbiasa untuk membaca cepat karena mereka sudah sering latihan membaca cepat sehingga mereka lebih cepat daripada pada kondisi awal maupun pada siklus I. Dalam hal pemahaman isi bacaan, pada siklus I para siswa mencapai rata-rata 73,08 %, termasuk kategori baik, sedangkan pada siklus II mencapai rata-rata 82,05 %. Dalam aspek pemahaman para siswa mengalami kenaikan sebesar 8,97(12,27%). Hal ini disebabkan karena bacaan yang diberikan kepada siswa tidak terlalu sulit. Pada siklus II ini aspek pemahaman siswa terhadap isi bacaan naik 28,13% dibandingkan dengan pada kondisi awal.

95

Secara lengkap peningkatan kecepatan membaca, tingkat pemahaman, dan tingkat kecepatan efektif membaca siswa kelas VIII A dapat dilihat dalam tabel rekapitulasi rata-rata yang tertera dalam tabel 10. Tabel 10 Rekapitulasi Rata-Rata Pencapaian Kemampuan. Pencapaian Kemampuan Siklus K.Awal I II K.AwalI KM PIB KEM 148,03 58,97 89,54 222,92 251,56 74,89 73,08 82,05 14,11 50,59 28,64 12,85 23,93 8,97 87,54 41 12,27 24,42 Peningkatan Kemampuan % I-II % K.Aw al-II 103,53 23,08 119,38 41,16 28,13 57,14 %

167,92 208,92 78,38

Keterangan: KM PIB : Kecepatan Membaca : Pemahaman Isi Bacaan

KEM : Kecepatan Efektif Membaca

4.2.2 Perubahan Tingkah Laku Perubahan tingkah laku siswa selama pembelajaran membaca cepat tampak jelas ketika siswa mendapat tugas membaca. Sebelum diadakan pengukuran kecepatan efektif membaca dengan latihan membaca cepat secara kontinyu para siswa bersikap enggan bila ditugasi membaca. Sekarang minat siswa tampak terhadap pembelajaran membaca. Begitu siswa diminta untuk membaca, mereka langsung membaca dengan sungguh-sungguh. Meskipun masih

96

ada dua siswa yang masih enggan membaca karena belum tumbuh motivasi membaca pada diri mereka. Kebiasaan yang salah yang sering mereka lakukan oleh para siswa kelas VIIIA pada saat membaca juga sudah semakin berkurang. Para siswa mulai memperhatikan sikap yang benar pada saat membaca. Mereka tidak lagi membaca sambil bermain, membaca sambil menyelunjurkan badan, mendekatkan teks ke matanya. Para siswa mulai bisa membaca dengan baik, meskipun masih ada beberapa siswa yang masih melakukan kebiasaan yang salah. Dengan latihan terus menerus, kebiasaan yang salah ini lama-kelamaan akan hilang. Kebiasaan yang salah dalam membaca dari pra siklus ke siklus I, dan siklus ke II sedikit demi sedikit hilang. Jarak mata kurang dari 30 cm pada saat pra siklus ada 20,5%. Pada siklus I ada 64,1%. Hal ini menunjukkan bahwa ada kenaikan dari pra siklus ke siklus I sebesar 43,6%. Sikap badan tegak pada saat pra siklus ada 20,5%. Pada siklus I ada 64,1%. Hal ini menunjukkan bahwa ada kenaikan dari pra siklus ke siklus I sebesar 43,6%. Semua siswa sudah membaca bacaan di depan. Membaca dengan vokalisasi pada pra siklus ada 33,3%. Pada siklus I ada 23,1. Hal ini menunjukkan bahwa ada penurunan dari pra siklus ke siklus I sebesar 10,2%. Membaca dengan subvokalisasi dari pra siklus ada 66,6%. Pada siklus I ada 74,4%. Hal ini dapat dikatakan ada penurunan sebesar 7,7%. Membaca dengan gerakan bibir pada pra siklus ada 38,5. Pada siklus I ada sebesar 23,1. Ada penurunan sebesar 15,4%. Membaca dengan gerakan kepala ada sebesar 100.

97

Tabel 14 Perbandingan Observasi Kebiasaan Membaca No Aspek Kebiasaan 1. Jarak mata kurang lebih 30 cm 2. Sikap badan tegak 3. Bacaan di depan 4. Membaca dengan vokalisasi 5. Membaca dengan subvokalisasi 6. Membaca dengan gerakan bibir 7. Membaca dengan gerakan kepala 8. Membaca dengan menunjuk baris dengan jari/pena 9. Membaca dengan konsentrasi yang tidak sempurna 10. Menyangga kepala Pra Jml % Nilai 8 8 39 13 26 20,5 20,5 100 33,3 66,7 Siklus I Jml % Nilai 25 25 39 9 29 64,1 64,1 100 23,1 74,4 Siklus II Jml % Nilai 39 39 39 2 37 100 100 100 5,13 94,9 Perbandingan Pra-I Siklus I-II Jml % Jml % Nilai Nilai 17 17 0 11 3 43,6 43,6 0 10,2 7,7 14 14 0 7 8 35,9 35,9 0 17,97 20,5

15

38,5

9

23,1

3

7,69

6

15,4

6

15,41

39

100

18

46,2

2

5,13

21

53,8

16

41,07

11

28,2

0

0

0

0

11

28,2

0

0

32

82,1

19

48,7

0

0

13

33,4

19

48,7

6

15,4

2

5,13

0

0

4

10,27

2

5,13

Siswa yang tadinya tidak suka dengan membaca bacaan, sekarang mulai tertarik dengan bacaan yang fiksi atau bacaan yang ilmiah. Mereka mulai terbiasa dengan bacaan yang pengetahuan dengan cara membaca cepat. Bacaan yang dekat dengan dunia siswa sangat membantu mereka memahami isi bacaan

98

sehingga mereka mampu menangkap isi bacaan dengan cepat dan tepat. Dengan demikian, akan membuat mereka semakin tertarik pada bacaan lain. Siswa juga sudah memanfaatkan koleksi perpustakaan dengan baik. Berdasarkan data hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada perubahan tingkah laku membaca yang positif pada siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes. Hal ini ditunjukkan dengan berkurangnya kebiasaan yang buruk dalam membaca dan rasa senang ketika siswa ditugasi membaca. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca cepat melalui pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment dapat mengubah perilaku siswa kelas VIIIA dalam kegiatan membaca cepat. Tabel 15 Perbandingan Observasi Penilaian Proses No Aspek yang dinilai Kerja sama dengan teman Keaktifan Sharing Kekritisan siswa Sikap siswa terhadap bacaan Sikap siswa terhadap teknik pembelajaran. Pembelajaran menyenangkan, tidak membosankan Siklus I Jml nilai 1. 2. 3. 4. 5. 6. 74 79 74 66 77 % 63,25 67,52 63,25 56,41 65,81 Siklus II Jml Nilai 109 109 113 94 109 % 93,16 93,16 96,58 80,34 93,16 Peningkatan Observasi Penilaian proses I-II % 35 30 39 28 32 47,30 37,97 52,70 42,42 41,56

89

76,07

113

96,58

24

26,97

7.

101

86,32

113

96,58

12

11,88

99

BAB V PENUTUP

5.1 Simpulan Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian, dan pembahasan, dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Kemampuan membaca cepat siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment mengalami peningkatan. Pada kondisi awal tidak ada siswa yang mempunyai kemampuan membaca dengan kecepatan tinggi (> 250 kpm), pada siklus I berubah menjadi ada sebanyak 2 siswa dan pada siklus II meningkat menjadi 20 siswa. Yang mempunyai kemampuan membaca dengan kecepatan memadai (200-249 kpm) sebanyak 1 siswa, pada siklus I menjadi 34 siswa dan pada siklus II ada 19 siswa. Yang berkecepatan lambat atau rendah (150-199 kpm) sebanyak 8 siswa pada siklus I berkurang menjadi 3 siswa dan pada siklus II sudah tidak ada. Peningkatan kecepatan membaca siswa disebabkan siswa pada waktu kegiatan pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment serius mengikuti kegiatan belajar mengajar dan banyak berlatih, serta mendapat penghargaan dari hasil kerjanya. 2. Perilaku siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran

100

kontekstual elemen authentic assessment mengalami perubahan. Perubahan perilaku siswa dapat dilihat secara jelas saat proses pembelajaran. Berdasarkan data observasi pada siklus I kegiatan pembelajaran ada beberapa siswa yang masih melakukan keburukan dalam membaca cepat. Selama pelaksanaan pembelajaran siklus II telah terjadi perubahan perilaku siswa. Para siswa kelihatan lebih serius dalam melaksanakan kegiatan membaca, dan lebih berusaha untuk mengurangi kebiasaan buruk dalam membaca. Mereka melakukan kegiatan membaca dengan baik. Siswa selalu bekerja sama dengan teman sebangkunya untuk lebih meningkatkan kemampuan membaca cepatnya. Dalam mengikuti pelajaran siswa aktif, tidak pasif. Siswa selalu bertanya dengan guru tentang hal yang tidak diketahuinya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment dapat meningkatkan perilaku positif siswa dan dapat mengubah perilaku negatif siswa menjadi perilaku positif.

5.2 Saran Berdasarkan pada simpulan hasil penelitian tersebut, peneliti memberikan saran sebagai berikut. 1. Para guru Bahasa dan Sastra Indonesia berperan aktif sebagai inovator untuk memilih teknik pembelajaran yang paling tepat sehingga pembelajaran yang dilaksanakan menjadi pengalaman yang bermakna bagi siswa.

101

2. Para guru Bahasa dan Sastra Indonesia dapat menggunakan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment dalam membelajarkan

kemampuan membaca cepat. 3. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment dapat dijadikan alternatif pilihan bagi guru bidang studi lain dalam membelajarkan bidang garapannya. 4. Para praktisi atau peneliti di bidang pendidikan dan bahasa dapat melakukan penelitian penelitian serupa dengan teknik pembelajaran yang berbeda sehingga didapatkan berbagai alternatif teknik pembelajaran membaca cepat.

102

DAFTAR PUSTAKA

Alimah, Siti.1999. Tingkat KEM Wacana Berbahasa Jawa SLTP (studi kasus di SLTP N 3 Subah Kabupaten Batang).Skripsi. Semarang: Jurusan Sastra Indonesia. Apriyanti, Tri. 2004. Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat dengan Teknik Membaca Super Gaya Accelerated Learning pada Siswa Kelas II A SMP N 1 Doro Kabupaten Pekalongan Tahun Pelajaran 2003/2004. Skripsi. Semarang: Jurusan Sastra Indonesia. Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual. Jakarta: Dirjen Pend.Dasar dan Menengah. Depdiknas. 2003a. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah: Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual. Jakarta:Dirjen Pend. Dasar dan Menengah. ------------- 2003b. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Dirjen Pend. Dasar dan Menengah. ------------- 2004a. Pedoman Penilaian dengan Portofolio. Jakarta: Dirjen Pend. Dasar dan Menengah. ------------- 2004b. Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Pend. Dasar dan Menengah. -------------- 2004c. Pedoman Penilaian Afektif. Jakarta: Dirjen Pend. Dasar dan Menengah. Harjasujana, Ahmad.1996/1997. Membaca 2. Jakarta: Kurnia. Hernowo.2003. Quantum Reading. Bandung: MLC. Mulyanto.1998 Perbedaan KEM Siswa Kelas I SLTP dengan mengacu Buku Krida Basa Jilid I Terbitan Intan Pariwara Klaten yang sesuai dan tidak sesuai Tingkat Keterbacaannya. Skripsi. Semarang: Jurusan Sastra Indonesia. Nurhadi. 1987. Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: CV Sinar Baru. ---------- 2003. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Dan Penerapannya Dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.

103

--------- 2004a. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca? Bandung: CV Sinar Baru. ---------- 2004b. Kurikulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Bandung: CV Sinar Baru. Pujito. 2000. Peningkatan KEM dengan Mengintensitaskan Kegiatan Membaca Koleksi Perpustakaan pada siswa Kelas 3 SLTP N 2 Jekulo Kudus Tahun 2000/2001. Skripsi.Semarang:Jurusan Sastra Indonesia. Puskur. 2002. Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta: Dirjen Pend. Dasar dan Menengah. Sihabudin.1998. Perbedaan KEM Kelas 3 SMP dari Teks Buku Pelajaran Bahasa Jawa Terbitan Aneka Ilmu yang sesuai dengan yang tidak sesuai Tingkat Keterbacaannya. Skripsi.Semarang:Jurusan Sastra Indonesia. Soedarso.2002. Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Sumarsono, S.1998. Perbedaan KEM Kelas 1 SLTP dari Teks Bahasa Indonesia yang sesuai dengan Tingkat Keterbacaannya. Skripsi.Semarang:Jurusan Sastra Indonesia. Sulistyowati, Dwi. 2001. Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat Dengan Teknik Pengontrolan KEM Siswa Kelas III SLTP N 1 Kudus Tahun Pelajaran 2000/2001. Skripsi. Semarang: Jurusan Sastra Indonesia. Suparyanto, Ibnu. 2002. Pengaruh KEM Terhadap Prestasi Belajar pelajaran Bahasa Indonesia Siswa SLTP. Skripsi.Semarang: Jurusan Sastra Indonesia. Suyatmi. 1984. Keterampilan Membaca I. Surakarta: UNS Press. Tarigan, Henry Guntur. 1987. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Wahyuningsih, Sri. 2000. Peningkatan KEM Dengan Pembelajaran Meresum Bacaan pada Siswa Kelas 2 SLTP Ksatrian 1 Semarang. Skripsi.Semarang:Jurusan Sastra Indonesia Welasih, Asih. 2003. Optimalisasi Kecepatan E.feftif Membaca Siswa Kelas 2 SMU 01 Keling Jepara Dengan Menggunakan Metode OK5R. Skripsi.Semarang:Jurusan Sastra Indonesia.

104

Yatmin. 1998. Perbedaan KEM Siswa SLTP Kelas 1 Berdasarkan Teks Bacaan Buku Piwulang Basa jawa Jilid 1 Terbitan Yayasan Studi Bahasa Jawa Khantil Semarang yang sesuai Tingkat Keterbacaannya dengan yang tidak sesuai Tingkat Keterbacaannya. Skripsi. Semarang: Jurusan Sastra Indonesia.

105

106

SARI

Fatmawati, Elly.2005. Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat 250 Kpm dengan Pembelajaran Kontekstual Eleman Authentic Assessment pada Siswa Kelas VIII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2004/2005. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Drs. Subyantoro, M.Hum., Pembimbing II: Drs. Wagiran, M.Hum. Kata kunci: kemampuan membaca cepat, pembelajaran kontekstual, elemen authentic assessment Pembelajaran membaca cepat mempunyai peranan penting dalam mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Kecepatan membaca sangat mempengaruhi keberhasilan seseorang untuk menyerap segala macam informasi yang ada dalam media cetak maupun elektronik. Semua pendidik berharap agar para siswa mempunyai kecepatan membaca yang memadai. Pemilihan strategi dan pendekatan yang tepat dalam pembelajaran merupakan hal yang harus dipertimbangkan oleh guru agar tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat mencapai sasaran. Rendahnya kemampuan siswa dalam membaca cepat disebabkan pada faktor internal dan eksternal. Faktor internal ini berasal dari siswa, sedangkan faktor eksternal berasal dari strategi guru dalam melaksanakan pembelajaran. Guru dalam melaksanakan pembelajaran masih menggunakan pola pembelajaran tradisional. Pemilihan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat berdasarkan tuntutan kurikulum berbasis kompetensi yang memberikan kebebasan para guru untuk memilih teknik yang beragam disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Kurikulum berbasis kompetensi ingin memusatkan diri pada pengembangan seluruh kompetensi siswa termasuk keterampilan berbahasa yang didalamnya mencakup kemampuan membaca cepat sebagai salah satu kompetensi dasar membaca. Berdasarkan paparan di atas penelitian ini mengangkat permasalahan, yaitu (1) bagaimanakah peningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes dengan menerapkan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment? dan (2) bagaimanakah perubahan perilaku siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes dengan diadakan membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment? Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah mengikuti pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Tujuan yang kedua adalah mendeskripsikan perubahan perilaku siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment.

107

Subjek dalam penelitian ini adalah kecepatan membaca cepat siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes tahun pelajaran 2004/2005. Variabel dalam penelitian ini adalah kemampuan membaca cepat dan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas dengan dua siklus yang dilaksanakan pada siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes. Tiap-tiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pengambilan data digunakan dengan tes dan nontes. Alat pengambilan data yang digunakan berupa pedoman observasi, wawancara, dan jurnal. Analisis data yang digunakan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Setelah dilakukan penelitian dalam dua siklus, dihasilkan simpulan bahwa pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment dapat meningkatkan kecepatan membaca siswa. Pada kondisi awal rata-rata kecepatan membaca siswa kelas VIIIA hanya 144,8 kpm. Pada akhir siklus pertama meningkat menjadi 227,82 kpm. Hal ini menunjukkan kenaikan 83,02 kpm (57,33%). Pada akhir suklus II rata-rata kecepatn membaca siswa 251,59 kpm ada kenaikan sebesar 23,77 kpm (10,43%). Perubahan tingkah laku dalam penelitian ini adalah para siswa tampak lebih semangat, merasa senang, aktif mengikuti pembelajaran, dan berusaha meminimalisir kebiasaan yang salah dalam membaca, serta siswa merasa dihargai. Hasil penelitian tersebut saran yang dapat direkomendasikan antara lain: (1) guru Bahasa dan Sastra Indonesia seyogyanya berperan aktif sebagai inovator untuk memilih teknik pembelajaran yang paling tepat sehingga pembelajaran yang dilaksanakan menjadi pengalaman yang bermakna bagi siswa; (2) guru Bahasa dan Sastra Indonesia dapat menggunakan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment dalam membelajarkan kemampuan membaca cepat; (3) pembelajaran dengan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment dapat dijadikan alternatif pilihan bagi guru bidang studi lain dalam membelajarkan bidang garapannya; (4) para praktisi atau peneliti di bidang pendidikan dan bahasa dapat melakukan penelitian serupa dengan teknik pembelajaran yang berbeda sehingga didapatkan berbagai alternatif teknik pembelajaran membaca cepat.

108

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang Panitia Ujian Skripsi.

Pembimbing I,

Semarang, September 2005 Pembimbing II,

Drs. Subyantoro, M.Hum NIP 132005032

Drs. Wagiran, M.Hum NIP 132050001

109

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, September 2005

Elly Fatmawati

110

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto: “Berdoa, berpikir, berusaha, dan bersabar merupakan kunci keberhasilan.”

Skripsi ini kupersembahkan kepada: 1. Bapak dan Ibu tercinta yang telah memberikan kasih sayang tulus, semangat, dan iringan doa dlam setiap langkahku; 2. Kedua kakakku yang tiada henti memberikan semangat kepada penulis; 3. Teman hidupku, dan sahabat-sahabatku yang menciptakan rajutan kisah persahabatan yang indah, dan tanpa pamrih kepada penulis; dan 4. Guru dan almamaterku.

111

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan pihak. Terima kasih kepada Drs. Subyantoro, M.Hum. (pembimbing I) dan Drs. Wagiran, M.Hum. (pembimbing II) yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan masukan, arahan, dan bimbingan dengan penuh kesabaran kepada penulis. Tidak lupa penulis juga menyampaikan terima kasih kepada: 1. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan izin penelitian kepada penulis; 2. Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan arahan dan izin penelitian kepada penulis; 3. Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ilmu dan pengalaman yang tidak terlupakan selama perkuliahan; 4. Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah, Serta Dewan Guru MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes yang telah memberikan izin penelitian dan bantuannya kepada penulis; 5. Teman hidupku dan teman-temanku yang telah memberikan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini; 6. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga amal budi Bapak, Ibu, dan Saudara mendapat balasan yang setimpal darai Allah SWT. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Semarang, September 2005 Penulis

112

PEDOMAN WAWANCARA UNTUK PETUGAS PERPUSTAKAAN SIKLUS PERTAMA

1. Kapankah siswa mau memanfaatkan buku/koleksi perpustakaan sekolah? 2. Berapakah rata-rata siswa yang hadir ke perpustakaan untuk setiap harinya? 3. Siswa yang datang ke perpustakaan itu untuk membaca, meminjam, atau membaca lalu meminjamnya? Jelaskan! 4. Banyaknya siswa kelas VIIIA yang datang berkunjung dan memanfaatkan buku/koleksi perpustakaan? Bagaimana jika dibandingkan dengan kelas yang lain? 5. Bagaimanakah saran Anda kepada guru agar siswa semakin

tertarik/meningkat minat bacanya?

113

PEDOMAN WAWANCARA UNTUK PETUGAS PERPUSTAKAAN SIKLUS KEDUA

1. Kapankah siswa mau memanfaatkan buku/koleksi perpustakaan sekolah? 2. Berapakah rata-rata siswa yang hadir ke perpustakaan untuk setiap harinya, ada peningkatan atau tidak? 3. Siswa yang datang ke perpustakaan itu untuk membaca, meminjam, atau membaca lalu meminjamnya? Jelaskan! 4. Semakin banyakkah siswa kelas VIIIA yang datang berkunjung dan memanfaatkan buku/koleksi perpustakaan? Bagaimana jika dibandingkan dengan kelas yang lain? 5. Bagaimanakah pendapat Anda terhadap minat bacanya?

114

HASIL WAWANCARA PETUGAS PERPUSTAKAAN SIKLUS PERTAMA

Jawaban 1. Siswa memanfaatkan buku perpustakaan pada saat ada jam kosong atau pada waktu istirahat baik pertama atau kedua setiap harinya. 2. Siswa yang berkunjung rata-rata 20 siswa setiap harinya. 3. Sebagian besar siswa datang hanya untuk melihat-lihat atau membaca ditempat sedangkan sebagian kecil mau meminjam buku untuk dibawa pulang. 4. Kelas VIIIA cukup banyak dibandingkan dengan kelas yang lain. 5. Agar para guru mau memberi tugas kepada siswanya untuk memanfaatkan buku-buku di perpustakaan.

115

HASIL WAWANCARA PETUGAS PERPUSTAKAAN SIKLUS KEDUA

Jawaban 1. Siswa memanfaatkan buku perpustakaan pada saat ada jam kosong atau pada waktu istirahat baik pertama atau kedua setiap harinya. 2. Siswa yang berkunjung rata-rata harinya. 3. Sebagian besar siswa datang hanya untuk melihat-lihat atau membaca ditempat. Namun siswa yang mau meminjam buku untuk dibawa pulang semakin bertambah. 4. Kelas VIIIA cukup banyak dibandingkan dengan kelas yang lain, karena ada tugas tertentu. 5. minat membaca siswa sedikit meningkat dibandingkan beberapa waktu yang lalu. Hal ini kemungkinan besar karema ada dorongan/perintah dari guru atau bahkan ada tugas dari guru sehingga semakin meningkat. meningkat menjadi 25 siswa setiap

116

BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian, dan pembahasan, dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Kemampuan membaca cepat siswa kelas VIII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment mengalami peningkatan. Pada kondisi awal tidak ada siswa yang mempunyai kemampuan membaca dengan kecepatan tinggi (> 250 kpm), pada siklus I berubah menjadi ada sebanyak 2 siswa dan pada siklus II meningkat menjadi 20 siswa. Yang mempunyai kemampuan membaca dengan kecepatan memadai (200-249 kpm) sebanyak 1 siswa, pada siklus I menjadi 34 siswa dan pada siklus II ada 19 siswa. Yang berkecepatan lambat atau rendah (150-199 kpm) sebanyak 8 siswa pada siklus I berkurang menjadi 3 siswa dan pada siklus II sudah tidak ada. Peningkatan kecepatan membaca siswa disebabkan siswa pada waktu kegiatan pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment serius mengikuti kegiatan belajar mengajar dan banyak berlatih, serta mendapat penghargaan dari hasil kerjanya. 2. Perilaku siswa kelas VII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment mengalami perubahan. Perubahan perilaku siswa dapat dilihat secara jelas saat proses pembelajaran. Berdasarkan

101

data observasi pada siklus I kegiatan pembelajaran ada beberapa siswa yang masih melakukan keburukan dalam membaca cepat. Selama pelaksanaan pembelajaran siklus II telah terjadi perubahan perilaku siswa. Para siswa kelihatan lebih serius dalam melaksanakan kegiatan membaca, dan lebih berusaha untuk mengurangi kebiasaan buruk dalam membaca. Mereka melakukan kegiatan membaca dengan baik. Siswa selalu bekerja sama dengan teman sebangkunya untuk lebih meningkatkan kemampuan membaca cepatnya. Dalam mengikuti pelajaran siswa aktif, tidak pasif. Siswa selalu bertanya dengan guru tentang hal yang tidak diketahuinya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment dapat meningkatkan perilaku positif siswa dan dapat mengubah perilaku negatif siswa menjadi perilaku positif. 5.2 Saran Berdasarkan pada simpulan hasil penelitian tersebut, peneliti memberikan saran sebagai berikut. 1. Para guru Bahasa dan Sastra Indonesia berperan aktif sebagai inovator untuk memilih teknik pembelajaran yang paling tepat sehingga pembelajaran yang dilaksanakan menjadi pengalaman yang bermakna bagi siswa. 2. Para guru Bahasa dan Sastra Indonesia dapat menggunakan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment dalam membelajarkan

kemampuan membaca cepat.

102

3. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment dapat dijadikan alternatif pilihan bagi guru bidang studi lain dalam membelajarkan bidang garapannya. 4. Para praktisi atau peneliti di bidang pendidikan dan bahasa dapat melakukan penelitian penelitian serupa dengan teknik pembelajaran yang berbeda sehingga didapatkan berbagai alternatif teknik pembelajaran membaca cepat.

PEDOMAN WAWANCARA KEPADA SISWA

1. Bagaimana tanggapan kamu tentang bacaan yang disajikan? 2. Apakah kamu mudah dalam memahami bacaan itu? Mengapa? 3. Kesulitan apa yang kamu alami dalam memahami bacaan tersebut? 4. Jenis buku apa yang kamu suka? 5. Apakah kamu berkonsentrasi penuh dalam membaca? 6. Bagaimana gambaran isi bacaan tersebut? 7. Apakah kamu sudah bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca? 8. Apakah kamu dalam membaca memberi tanda baca/cek pada bacaan? 9. Apa yang kamu peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini? 10. Bagaimana pendapat kamu tentang pembelajaran yang telah dilakukan?

HASIL WAWANCARA KEPADA SISWA SIKLUS PERTAMA

1. No. Responden : R-O32 KEM : 97 kpm Kategori : sangat lambat Jawaban: a. Bacaan yang disajikan cukup menarik, dapat menambah pengetahuan dan wawasan. b. Lumayan mudah. c. Belum mengerti jelas tentang bacaan. d. Buku yang saya sukai adalah komik. e. Saya belum bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena baru pertama kali melakukan pengukuran KEM. f. Isi bacaan tadi lumayan membuat saya harus menguras otak. g. Saya belum bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca. h. Dalam membaca saya memberi cek/tanda baca pada bacaan karena untuk mempermudah saya. i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara pengukuran kecepatan membaca, dan KEM. j. Pembelajaran tadi lumayan menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah dipahami. 2. No. Responden : R-O25 KEM : 97 kpm Kategori : sangat lambat Jawaban: a. Bacaan yang disajikan baik, sesuai dengan standar baca, dan menarik. b. Lumayan mudah. c. Belum mengerti jelas tentang bacaan. d. Buku yang saya sukai adalah majalah e. Saya belum bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena baru pertama kali melakukan pengukuran KEM. f. Isi bacaan tadi lumayan mudah. g. Saya belum bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca, yaitu masih melakukan subvokalisasi. h. Dalam membaca saya memberi cek/tanda baca pada bacaan karena untuk mempermudah saya. i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara pengukuran kecepatan membaca, dan KEM. j. Pembelajaran tadi lumayan menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah dipahami, dan saya suka dengan pembelajaran membaca cepat. 3. No. Responden KEM : R-O30 : 159 kpm

Kategori : sedang Jawaban: a. Bacaan yang disajikan cukup menarik. b. Lumayan mudah. c. Saya sudah paham/jelas tentang bacaan. d. Buku yang saya sukai adalah koran. e. Saya belum bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena baru pertama kali melakukan pengukuran KEM. f. Isi bacaan tadi lumayan mudah. g. Saya belum bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca, terutama subvokalisasi, vokalisasi, karena saya sudah terbiasa dengan kedua hal tersebut. h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan. i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, serta saya merasa dihargai hasil karya saya, saya bisa mengukur kecepatan membaca saya kapan pun saya mau. j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah dipahami. 4. . No. Responden : R-O31 KEM : 152 kpm Kategori : sedang Jawaban: a. Bacaan yang disajikan cukup menarik. b. Lumayan mudah. c. Saya sudah paham/jelas tentang bacaan. d. Buku yang saya sukai adalah majalah. e. Saya belum bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena baru pertama kali melakukan pengukuran KEM. f. Isi bacaan tadi lumayan mudah. g. Saya belum bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca, terutama subvokalisasi, vokalisasi, regresi, karena saya sudah terbiasa dengan ketiga hal tersebut. h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan. i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, serta saya merasa dihargai hasil karya saya, saya bisa mengukur kecepatan membaca saya kapan pun saya mau. j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah dipahami. 5. . No. Responden KEM Kategori Jawaban: : R-O07 : 249 kpm : tinggi

a. b. c. d. e. f. g.

h. i.

j.

Bacaan yang disajikan menarik. Mudah dipahami. Saya sudah paham/jelas tentang bacaan. Buku yang saya sukai adalah koran. Saya belum bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena baru pertama kali melakukan pengukuran KEM. Isi bacaan tadi lumayan mudah. Saya belum bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca, terutama subvokalisasi, regresi karena saya sudah terbiasa dengan kedua hal tersebut. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, serta saya merasa dihargai hasil karya saya, saya bisa mengukur kecepatan membaca saya kapan pun saya mau. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah dipahami.

6. No. Responden : R-O28 KEM : 221 kpm Kategori : tinggi Jawaban: a. Bacaan yang disajikan menarik. b. Mudah. c. Saya sudah paham/jelas tentang bacaan. d. Buku yang saya sukai adalah koran. e. Saya belum bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena baru pertama kali melakukan pengukuran KEM. f. Isi bacaan tadi mudah dipahami. g. Saya belum bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca, terutama subvokalisasi, regresi karena saya sudah terbiasa dengan kedua hal tersebut. h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan. i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, serta saya merasa dihargai hasil karya saya, saya bisa mengukur kecepatan membaca saya kapan pun saya mau. j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah dipahami.

HASIL WAWANCARA KEPADA SISWA SIKLUS KEDUA

1. No. Responden : R-O25 KEM : 139 kpm Kategori : lambat Jawaban: a. Bacaan yang disajikan baik dan menarik. b. Lumayan mudah. c. Saya mengerti jelas tentang bacaan. d. Buku yang saya sukai adalah komik. e. Saya sudah bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena sudah diajari cara berkonsentrasi. f. Isi bacaan tadi lumayan mudah. g. Saya sudah bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca. h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan. i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, cara berkonsentrai, dan menghilangkan regresi. j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah dipahami. 2. No. Responden : R-O8 KEM : 143 kpm Kategori : lambat Jawaban: a. Bacaan yang disajikan baik dan menarik. b. Lumayan mudah. c. Saya mengerti jelas tentang bacaan. d. Buku yang saya sukai adalah majalah. e. Saya sudah bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena sudah diajari cara berkonsentrasi. f. Isi bacaan tadi mudah dipahami. g. Saya sudah bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca. h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan. i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, cara berkonsentrai, dan menghilangkan regresi. j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah dipahami dan saya suka dengan pembelajaran membaca cepat. 3. No. Responden KEM Kategori Jawaban: : R-O38 : 167 kpm : sedang

a. b. c. d. e. f. g. h. i.

j.

Bacaan yang disajikan baik dan menarik. Lumayan mudah. Saya mengerti jelas tentang bacaan. Buku yang saya sukai adalah majalah. Saya sudah bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena sudah diajari cara berkonsentrasi. Isi bacaan tadi mudah dipahami. Saya sudah bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, cara berkonsentrai, dan menghilangkan regresi. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah dipahami dan saya

4. No. Responden : R-O15 KEM : 169 kpm Kategori : sedang Jawaban: a. Bacaan yang disajikan baik dan menarik. b. Mudah. c. Saya mengerti jelas tentang bacaan. d. Buku yang saya sukai adalah koran. e. Saya sudah bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena sudah diajari cara berkonsentrasi. f. Isi bacaan tadi mudah dipahami. g. Saya sudah bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca. h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan. i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, cara berkonsentrai, dan menghilangkan regresi. j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah dipahami dan saya 5. No. Responden : R-O07 KEM : 249 kpm Kategori : tinggi Jawaban: a. Bacaan yang disajikan baik dan menarik. b. Mudah. c. Saya mengerti jelas tentang bacaan. d. Buku yang saya sukai adalah koran. e. Saya sudah bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena sudah diajari cara berkonsentrasi. f. Isi bacaan tadi mudah dipahami. g. Saya sudah bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca.

h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan. i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, cara berkonsentrai, dan menghilangkan regresi. j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah dipahami . 6. No. Responden : R-O21 KEM : 227 kpm Kategori : tinggi Jawaban: a. Bacaan yang disajikan menarik. b. Mudah. c. Saya sudah paham/jelas tentang bacaan. d. Buku yang saya sukai adalah koran. e. Saya sudah bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca. f. Isi bacaan tadi mudah dipahami. g. Saya sudah bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca. h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan. i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, serta saya merasa dihargai hasil karya saya, saya bisa mengukur kecepatan membaca saya kapan pun saya mau. j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah dipahami.

105 115 125 135 145 155 165 175 187 197 207 217 227

106 116 126 136 146 156 166 178 188 198 208 218 228

107 117 127 137 147 157 167 179 189 199 209 219 229

108 118 128 138 148 158 168 180 190 200 210 220 230

109 119 129 139 149 159 169 181 191 201 211 221 1

110 120 130 140 150 160 170 182 192 202 212 222 12

111 121 131 141 151 161 171 183 193 203 213 223 64

112 122 132 142 152 162 172 184 194 204 214 224 63

113 123 133 143 153 163 173 185 195 205 215 225 102

114 124 134 144 154 164 174 186 196 2060 216 226 100

RENCANA PEMBELAJARAN SIKLUS I PERTEMUAN 1

Mata Pelajaran

: Bahasa dan Sastra Indonesia

Jenjang Pendidikan : MTs MU Rengaspendawa-Brebes Tema Unit Kelas/ Semester Alokasi Waktu (Budi Pekerti) (Life Skill) : Kesenian : III : VIII/ II : 2 jam pelajaran : Menghargai waktu : Kecakapan lisan : Komunikasi tertulis

A. Standar Kompetensi Mampu memahami ragam teks/bacaan dengan berbagai cara membaca: membacakan teks untuk orang lain, membaca teks secara intensif, membaca cepat, dan membaca memindai teks khusus.

B. Kompetensi Dasar Membaca cepat 250 kata per menit

C. Indikator • • Mampu mengukur kecepatan membaca untuk diri sendiri dan teman. Mampu meningkatkan kecepatan membaca dengan: (1) Metode gerak mata memperluas jangkauan mata, mengurangi regresi (mengulang). • Mampu menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75 %.

D. Materi Pokok Teks ± 250, 500, atau 750 kata Kecepatan membaca: mengukur kecepatan membaca

-

latihan jangkauan mata I,II,III,IV latihan persepsi I,II,III,IV menjawab pertanyaan

E. Skenario Pembelajaran No Kegiatan Teknik Waktu 5’ ilustrasi, betapa Pemberian

1. Pendahuluan a. Guru memberikan

kebutuhan membaca cepat semakin tinggi. ilustrasi Setiap orang dituntut menjadi pembaca yang baik. b.Membaca cepat diperlukan ketika kita ingin memperoleh gambaran isi bacaan dengan cepat. c. Guru bertanya kepada siswa tentang hal- Tanya jawab hal yang menghambat kecepatan

membaca: membaca kata demi kata, menyuarakan, dan regresi (mengulang) d.Guru memberikan prosedur pembelajaran Ceramah pada hari itu. e. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Ceramah pada hari ini yaitu: (1) siswa dapat mengukur kecepatan membaca untuk diri sendiri dan teman, (2) siswa mampu meningkatkan kecepatan membaca dengan melakukan latihan jangkauan mata dan persepsi,(3) siswa dapat menjawab

pertanyaan dengan peluang ketepatan 75% 2. Kegiatan Inti a. Pengukuran awal kecepatan membaca siswa. Guru membagikan teks untuk Latihan mengukur kecepatan membaca. Dalam mengukur 70’

teks tersebut telah tercantumkan prosedur kecepatan pengukuran kecepatan membaca, jumlah membaca kata dalam teks, daftar kecepatan

membaca, dan soal-soal tes pemahaman. Guru memberikan kartu data kepada setiap siswa. b.Dengan aba-aba bersama, siswa yang membaca dengan kecepatan yang

menurutnya memadai, mengukur hasilnya, dan menjawab soal pemahaman. c. Guru meminta siswa untuk mencatat Authentic kecepatan membacanya pada kartu data. assessment

d.Guru meminta siswa untuk berpasang- Latihan pasangan. Guru meminta siswa untuk jangkauan latihan jangkauan mata I,II,III,IV. Guru mata membagikan bahan latihan kepada siswa, learning dan dengan aba-aba bersama siswa community dengan

melakukan latihan tersebut. e. Guru bersama siswa mengulas latihan Latihan jangkauan mata tersebut, kemudian guru persepsi meminta siswa untuk melanjutkan dengan

kegiatan belajar dengan latihan persepsi learning I,II,III,IV. Guru membagikan bahan community

latihan persepsi kepada siswa dan dengan aba-aba bersama siswa memulai latihan persepsi tersebut. f. Pengukuran kecepatan membaca siswa Pengukuran kedua. Guru membagikan teks untuk kecepatan mengukur kecapatan membaca. Dalam membaca teks tersebut telah tercantumkan prosedur setelah latihan pengukuran kecepatan membaca, jumlah jangkauan

kata

dalam teks,

daftar

kecepatan mata fiksasi

dan

membaca, dan soal-soal tes pemahaman.

g.Guru meminta siswa untuk merefleksi Refleksi kebiasaan kebiasaan siswa dalam membaca dengan membaca mengisi daftar pertanyaan yang disediakan oleh guru. h.Siswa diminta menuliskan kecepatan Authentic assessment

membacanya pada kartu data masingmasing mengumpulkan/menginventaris jangkauan mata dan fiksasi 3. Penutup a. Siswa membuat catatan-catatan tentang hasil yang diperolehnya dalam berlatih membaca cepat. b.Siswa mengisi jurnal siswa. c. Guru meminta siswa di rumah untuk latihan meningkatkan seperti yang kecepatan dilakukan dan latihan

Refleksi

5’

Pengisian Jurnal Pekerjaan rumah (PR)

membacanya

disekolah dengan

membaca buku yang

sesuai dengan kegemarannya/kesukaannya yang dipinjam dari perpustakaan.

F. Sarana dan Sumber Pembelajaran Sarana • Teks untuk mengukur kecepatan membaca dan pemahamannya, yang telah didesain lengkap: jumlah kata keseluruhan, daftar kecepatan membaca, dan soal pengukuran pemahaman bacaan. • Jam tangan/ stop wacth

Sumber Pembelajaran • • Sistem Membaca Cepat dan Efektif, Soedarso, 2002. Membaca Cepat, Depdiknas. 2004.

G. Penilaian 1.Penilaian proses dilaksanakan selama proses pembelajaran No 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Aspek yang dinilai
1 Kerja sama dengan teman Keaktifan siswa Sharing dengan teman Kekritisan siswa Sikap siswa terhadap bahan bacaan yang disajikan Sikap siswa terhadap teknik pembelajaran Pembelajaran menyenangkan, tidak membosankan

Kategori
2 3

7.

Jumlah Skala Penilaian: 1 = kurang 2 = cukup 3 = baik 2. Penilaian Hasil Kecepatan membaca dan pemahaman bacaan yang dicapai siswa di akhir pertemuan. -Kecepatan membaca yang dicapai: Lebih dari 250 kpm 200-249 kpm 150-199 kpm < 150 kpm : : : : cepat (target yang diinginkan) sedang rendah sangat rendah

- Tingkat Pemahaman 90-100 % 70-80 % 50-60 % 30-40 % 10-20 % : sangat baik : baik : sedang : kurang : sangat kurang Semarang, 19 Mei 2005 Menyetujui Guru Mata Pelajaran, Guru Pratikan,

Usnawati, S.Pd

Elly Fatmawati

Mengetahui, Kepala Sekolah,

M. Nadiri, B.A

RENCANA PEMBELAJARAN SIKLUS I PERTEMUAN 2

Mata Pelajaran

: Bahasa dan Sastra Indonesia

Jenjang Pendidikan : MTs MU Rengaspendawa-Brebes Tema Unit Kelas/ Semester Alokasi Waktu (Budi Pekerti) (Life Skill) : Kesenian : III : VIII/ II : 2 jam pelajaran : Menghargai waktu : Kecakapan lisan : Komunikasi tertulis

A. Standar Kompetensi Mampu memahami ragam teks/bacaan dengan berbagai cara membaca: membacakan teks untuk orang lain, membaca teks secara intensif, membaca cepat, dan membaca memindai teks khusus.

B. Kompetensi Dasar Membaca cepat 250 kata per menit

C. Indikator • Mampu meningkatkan kecepatan membaca dengan: (1) Metode gerak mata memperluas jangkauan mata, mengurangi regresi (mengulang). (2) Menghilangkan kebiasaan membaca dengan bersuara. (3) Meningkatkan konsentrasi. • Mampu menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75 %.

D. Materi Pokok Teks ± 250, 500, atau 750 kata Kecepatan membaca:

-

mengukur kecepatan membaca latihan fiksasi menjawab pertanyaan

E. Skenario Pembelajaran No 1. Pendahuluan a. Guru mengecek kartu data masing-masing Pengecekan siswa, kumpulan hasil latihan-latihan pada pertemuan sebelumnya, dan tugas rumah. b.Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Ceramah pada hari ini yaitu: kecepatan (1) latihan membaca mata, Kegiatan Teknik Waktu 5’

meningkatkan dengan

memperbaiki

gerak

sehingga kecepatan kecepatan membaca dapat ditingkatkan menjadi 250 kpm. 2. Kegiatan inti a. Guru meminta siswa untuk berpasangan Pengukuran mengukur kecepatan membacanya. Satu kecepatan siswa membaca, temannya menghitung membaca kecepatan teman yang sedang membaca. Kemudian mengerjakan soal pemahanan. b.Guru mengulas hasil pengukuran. c. Guru meminta siswa untuk berpasang- Latihan pasangan melakukan latihan fiksasi 70’

fiksasi. dengan learning

latihan fiksasi I, dilanjutkan dengan community fiksasi II, III, IV. Guru membagi bahan latihan dan memberi aba-aba dimulainya latihan. d.Guru mengulas kegiatan latihan yang Ceramah telah dilakukan siswa dan meminta siswa

untuk mengumpulkan latihan tersebut. e. Guru mengadakan perlombaan membaca Perlombaan cepat. Guru membagikan teks kepada membaca cepat siswa. Guru menyediakan kartu data dalam bentuk kertas karton. Bagi siswa yang sudah selesai membaca langsung mengisi kertas karton tersebut yang ada di depan kelas. f. Guru meminta siswa untuk menjawab Mengerjakan soal soal pemahaman yang telah disediakan. g.Siswa bersama guru membahas soal pertanyaan tersebut (siswa mencocokkan jawaban). h.Guru meminta siswa untuk merekap Authentic kecepatan membacanya pada kartu data assessment masing-masing. i. Guru mengumumkan hasil perlombaan tersebut. 3. Penutup a. Siswa mengisi jurnal siswa. Pengisian jurnal 5’ pemahaman

b.Guru memberikan reward kepada siswa Pemberian yang kecepatannya dan pemahamannya reward tinggi. c. Guru memberikan tugas kepada siswa. Pemberian PR

F. Sarana dan Sumber Pembelajaran Sarana • Teks untuk mengukur kecepatan membaca dan pemahamannya, yang telah didesain lengkap: jumlah kata keseluruhan, daftar kecepatan membaca, dan soal pengukuran pemahaman bacaan. • • • • Jam tangan/ stop wacth Kertas karton

Sumber Pembelajaran Sistem Membaca Cepat dan Efektif, Soedarso, 2002. Membaca Cepat, Depdiknas. 2004.

G. Penilaian 1.Penilaian proses dilaksanakan selama proses pembelajaran No 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Aspek yang dinilai
1 Kerja sama dengan teman Keaktifan siswa Sharing dengan teman Kekritisan siswa Sikap siswa terhadap bahan bacaan yang disajikan Sikap siswa terhadap teknik pembelajaran Pembelajaran menyenangkan, tidak membosankan

Kategori
2 3

7.

Jumlah Skala Penilaian: 1 = kurang 2 = cukup 3 = baik

2. Penilaian Hasil Kecepatan membaca dan pemahaman bacaan yang dicapai siswa di akhir pertemuan. -Kecepatan membaca yang dicapai: Lebih dari 250 kpm 200-249 kpm 150-199 kpm < 150 kpm : : : : cepat (target yang diinginkan) sedang rendah sangat rendah

- Tingkat Pemahaman 90-100 % 70-80 % 50-60 % 30-40 % 10-20 % : sangat baik : baik : sedang : kurang : sangat kurang Semarang, 19 Mei 2005 Menyetujui Guru Mata Pelajaran, Guru Pratikan,

Usnawati, S.Pd

Elly Fatmawati

Mengetahui, Kepala Sekolah,

M. Nadiri, B.A

RENCANA PEMBELAJARAN SIKLUS II Pertemuan 1

Mata Pelajaran Jenjang Pendidikan Tema Kelas/ Semester Alokasi Waktu (Budi Pekerti) (Life Skill)

: Bahasa dan Sastra Indonesia : MTs MU Rengaspendawa-Brebes : Transportasi : VIII/ II : 2 jam pelajaran : Menghargai Waktu : Kecakapan lisan : Komunikasi tertulis

A. Standar Kompetensi Mampu memahami ragam teks/bacaan dengan berbagai cara membaca: membacakan teks untuk orang lain, membaca teks secara intensif, membaca cepat, dan membaca memindai teks khusus.

B. Kompetensi Dasar Membaca cepat 250 kata per menit

C. Indikator • Mampu meningkatkan kecepatan membaca dengan (1) metode gerak mata memperluas jangkauan mata, mengurangi regresi (mengulang) (2) meningkatkan konsentrasi • Mampu menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75 %.

D. Materi Pokok Teks ± 250, 500, atau 750 kata Kecepatan membaca Gerakan otot mata dan latihannya: Latihan I : Gerakan ke bawah

-

Latihan II Latihan III Latihan IV Latihan V

: Gerakan menyamping : Pengurangan Bidang Baca. : Membaca kolom : Gerakan pola S

E. Skenario Pembelajaran No 1. Pendahuluan a. Guru mengulas kembali tentang hasil Ceramah Kegiatan Teknik Waktu 5’

kecepatan membaca yang telah lalu yang diadakan pada setiap pertemuan di siklus 1. b.Guru mengecek kartu data masing-masing Pengecekan siswa dan tugas rumah. c. Guru memberikan penjelasan kartu data mengenai Ceramah

manfaat membaca cepat, teknik membaca cepat yang benar, memberi saran dan pengarahan tentang latihan membaca cepat. d.Guru memberikan motivasi kepada siswa 2. agar siswa tidak jenuh/aktif mengikuti pelajaran. Kegiatan Inti
Pengukuran

70’

a. Guru meminta siswa untuk berpasangan kecepatan mengukur kecepatan membaca. Kemudian dilanjutkan pemahaman. b.Guru membahas pengukuran kecepatan Latihan gerakan dengan mengerjakan
membaca dengan learning

soal community

membaca yang telah dilakukan siswa.

c. Siswa secara berpasang-pasangan melakukan mata dengan latihan gerakan mata dengan diawali latihan learning gerakan ke bawah. Dilanjutkan dengan community latihan II sampai dengan latihan ke V. d.Guru mengulas hasil latihan siswa.

Kemudian

guru

meminta

siswa

untuk Ceramah Pengukuran

mengukur kecepatan membacanya kembali. e. Siswa mereka. mengukur Guru kecepatan

membaca kecepatan teks untuk membaca

membagikan

mengukur kecepatan membaca.Dalam teks tersebut telah tercantumkan prosedur P

pengukuran kecepatan membaca, jumlah kata dalam teks, daftar kecepatan membaca, dan soal-soal tes pemahaman. f. Guru bersama siswa mengoreksi hasil kerja mereka(mencocokkan jawaban). Authentic engoreksian

g.Guru meminta siswa untuk menuliskan assessment kecepatan membacanya pada kartu data dan 3. menginvestasi/mengumpulkan hasil kerjanya (latihan gerakan mata). Penutup a. Siswa bersama guru mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari itu. b.Siswa mengisi jurnal siswa c. Guru memberikan tugas rumah. Pengisian jurnal Pemberian PR Refleksi 5’

F. Sarana dan Sumber Pembelajaran Sarana • Teks untuk mengukur kecepatan membaca dan pemahamannya, yang telah didesain lengkap: jumlah kata keseluruhan, daftar kecepatan membaca, dan soal pengukuran pemahaman bacaan. • Bahan latihan gerakan otot mata ke bawah

• • • • • •

Bahan latihan gerakan otot mata menyamping Bahan latihan gerakan otot mata kolom Bahan latihan gerakan otot mata pola S Jam tangan/ stopwatch

Sumber Pembelajaran Sistem Membaca Cepat dan Efektif, Soedarso, 2002. Membaca Cepat, Depdiknas. 2004

G. Penilaian 1.Penilaian proses dilaksanakan selama proses pembelajaran No 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Aspek yang dinilai
1 Kerja sama dengan teman Keaktifan siswa Sharing dengan teman Kekritisan siswa Sikap siswa terhadap bahan bacaan yang disajikan Sikap siswa terhadap teknik pembelajaran Pembelajaran menyenangkan, tidak membosankan

Kategori
2 3

7.

Jumlah Skala Penilaian: 1 = kurang 2 = cukup 3 = baik 2. Penilaian Hasil Kecepatan membaca dan pemahaman bacaan yang dicapai siswa di akhir pertemuan. -Kecepatan membaca yang dicapai:

Lebih dari 250 kpm 200-249 kpm 150-199 kpm < 150 kpm

: : : :

cepat (target yang diinginkan) sedang rendah sangat rendah

- Tingkat Pemahaman 90-100 % 70-80 % 50-60 % 30-40 % 10-20 % : sangat baik : baik : sedang : kurang : sangat kurang

Semarang, 19 Mei 2005 Menyetujui Guru Mata Pelajaran, Guru Pratikan,

Usnawati, S.Pd

Elly Fatmawati

Mengetahui, Kepala Sekolah,

M. Nadiri, B.A

RENCANA PEMBELAJARAN SIKLUS II Pertemuan 2

Mata Pelajaran Jenjang Pendidikan Tema Kelas/ Semester Alokasi Waktu (Budi Pekerti) (Life Skill)

: Bahasa dan Sastra Indonesia : MTs MU Rengaspendawa-Brebes : Transportasi : VIII/ II : 2 jam pelajaran : Menghargai Waktu : Kecakapan lisan : Komunikasi tertulis

A. Standar Kompetensi Mampu memahami ragam teks/bacaan dengan berbagai cara membaca: membacakan teks untuk orang lain, membaca teks secara intensif, membaca cepat, dan membaca memindai teks khusus.

B. Kompetensi Dasar Membaca cepat 250 kata per menit

C. Indikator • Mampu meningkatkan kecepatan membaca dengan (1) metode gerak mata memperluas jangkauan mata, mengurangi regresi (mengulang) (2) meningkatkan konsentrasi • Mampu menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75 %.

D. Materi Pokok Teks ± 250, 500, atau 750 kata Kecepatan membaca mengukur kecepatan membaca menjawab pertanyaan

E. Skenario Pembelajaran No 1. Pendahuluan a. Guru mengingatkan kembali materi yang Ilustrasi lalu dan menjelaskan hasil kemajuan kecepatan membaca siswa. b. Guru mengecek kartu data dan kumpulan Pengecekan hasil kerja siswa, serta tugas rumah. c. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Ceramah saat itu, yaitu siswa dapat meningkatkan kecepatan membaca, melatih konsentrasi sehingga kecepatan membaca dapat Kegiatan Teknik Waktu 5’

mencapai target 250 kata per menit 2. Kegiatan Inti a. Guru meminta siswa mengukur kecepatan Pengukuran membaca. pemahaman pemahaman. b.Guru membahas pengukuran kecepatan membaca siswa. c. Guru melatihkan teknik membaca cepat yaitu dengan melatih meningkatkan Latihan konsentrasi Kemudian dengan mengukur kecepatan membaca soal
dengan

70’

menjawab

konsentrasi dalam membaca. d.Guru membagikan bahan latihan

konsentrasi dan memberikan aba-aba. e. Siswa melatih konsentrasi dalam membaca f. Guru membagikan teks bacaan untuk mengetahui kecepatan membaca siswa. Apakah siswa membaca dengan penuh konsentrasi dan apakah kecepatan Pengukuran kecepatan membaca setelah

membaca siswa meningkat setelah latihan latihan meningkatkan konsentrasi g.Siswa menjawab pertanyaan. h.Siswa mencatat hasil kecepatan authentic assessment untuk Mengistirahatkan dengan mata konsentrasi

membacanya pada kartu data. i. Guru meminta mata siswa sesuai

mengistirahatkan instruksi guru

j. Guru meminta siswa untuk memberi authentic tanggapan hasil kerja temannya, yaitu baik assessment mengenai kecepatan membacanya maupun hal-hal lain yang telah dikerjakan

temannya. 3. Penutup a. Siswa mengisi jurnal siswa. b.Guru menyimpulkan proses belajar yang telah berlangsung. Pengisian jurnal 5’

F. Sarana dan Sumber Pembelajaran Sarana • Teks untuk mengukur kecepatan membaca dan pemahamannya, yang telah didesain lengkap: jumlah kata keseluruhan, daftar kecepatan membaca, dan soal pengukuran pemahaman bacaan. • • • • Bahan latihan meningkatkan konsentrasi. Jam tangan/ stopwatch

Sumber Pembelajaran Sistem Membaca Cepat dan Efektif, Soedarso, 2002. Membaca Cepat, Depdiknas. 2004

G. Penilaian 1.Penilaian proses dilaksanakan selama proses pembelajaran No 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Aspek yang dinilai
1 Kerja sama dengan teman Keaktifan siswa Sharing dengan teman Kekritisan siswa Sikap siswa terhadap bahan bacaan yang disajikan Sikap siswa terhadap teknik pembelajaran Pembelajaran menyenangkan, tidak membosankan

Kategori
2 3

7.

Jumlah Skala Penilaian: 1 = kurang 2 = cukup 3 = baik

2. Penilaian Hasil Kecepatan membaca dan pemahaman bacaan yang dicapai siswa di akhir pertemuan. -Kecepatan membaca yang dicapai: 250- Lebih dari 250 kpm 200-249 kpm 150-199 kpm < 150 kpm - Tingkat Pemahaman 90-100 % 70-80 % 50-60 % : sangat baik : baik : sedang : : : : cepat (target yang diinginkan) sedang rendah sangat rendah

30-40 % 10-20 %

: kurang : sangat kurang Semarang, 20 Mei 2005

Menyetujui Guru Mata Pelajaran, Guru Pratikan,

Usnawati, S.Pd

Elly Fatmawati

Mengetahui, Kepala Sekolah,

M. Nadiri, B.A

MENGISTIRAHATKAN MATA

Instruksi a. Letakkan kedua sikut Anda di atas meja. Bentuklah kedua telapak tangan Anda seolah-olah menjadi dua mangkuk tempat mengistirahatkan mata Anda. Kata “istirahat…..” di sini mempunyai pengertian yang amat penting. Jangan menggunakan tekanan pada bola mata, karena hal ini akan menyebabkan latihan tersebut tidak berguna. Anda harus nyaman. b.Tutuplah mata Anda dan coba bayangkan sebuah gambar. Bayangkanlah diri Anda sedang berdiri pada suatu kebun jagung yang kuning keemasan. Saat itu adalah musim panas yang cerah. Tengoklah ke sekeliling Anda. Lihatlah ke kiri. Di sana nampak pohon cemara yang menjulang tinggi ke angkasa. Lihatlah hal itu mulai dari batang bawahnya menuju ke atas, lihatlah hal itu mulai dari batang bawahnya menuju atas, lihatlah daun-daun menghijau berlatar warna langit yang biru. Di atas langit, di bagian kanan tampak satu pesawat terbang yang sedang melayang dari kiri ke kanan. Sekarang lihatlah bagian kaki Anda, di sana tampak gerombolan bunga-bunga liar, yang berwarna merah terang dan di kejauhan, di bagian sebelah kanan nampak ujung menara gereja yang mencuat di kejauhan. Ingatlah bahwa kesemuanya ini harus dilakukan tanpa menambah tekanan bagi mata Anda itu. c. Pada saat Anda melepaskan kedua telapak tangan dan membuka mata, maka keadaan di sekeliling Anda akan tampak menjadi lebih cerah dan mata menjadi segar. Anda dapat merasakannya? Semoga mata Anda menjadi lebih segar.

Depdikbud. 2004. Membaca Cepat.Jakarta: Depdikbud

Tabel Perbandingan Observasi Kebiasaan Membaca No Aspek Kebiasaan Pra Jml Nilai % Siklus I Jml Nilai % Siklus II Jml Nilai % Peningkatan Pra-I Jml Nilai 1. Jarak mata 8 20,5 25 64,1 39 100 17 43,6 % Siklus I-II Jml Nilai 14 35,9 %

kurang lebih 30 cm 2. Sikap badan 8 tegak 3. Bacaan depan 4. Membaca dengan vokalisasi 5. Membaca dengn subvokalisasi 6. Membaca dengan gerakan bibir 7. Membaca dengan 39 100 18 46,2 2 5,13 21 53,8 16 41,07 15 38,5 9 23,1 3 7,69 6 15,4 6 15,41 26 66,7 29 74,4 37 94,9 3 7,7 8 20,5 13 33,3 9 23,1 2 5,13 11 10,2 7 17,97 di 39 100 39 100 39 100 0 0 0 0 20,5 25 64,1 39 100 17 43,6 14 35,9

gerakan kepala 8. Membaca dengan menunjuk baris dengan jari/pena 9. Membaca dengan konsentrasi yang tidak 32 82,1 19 48,7 0 0 13 33,4 19 48,7 11 28,2 0 0 0 0 11 28,2 0 0

sempurna 10. Menyangga kepala 6 15,4 2 5,13 0 0 4 10,27 2 5,13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->