HUBUNGAN ANTARA ORGANIZATION-BASED SELF-ESTEEM DENGAN ETOS KERJA DISUSUN OLEH

:

Ferry Novliadi, S.Psi, M.Si NIP. 132 316 960
DIKETAHUI OLEH: DEKAN FAKULTAS PSIKOLOGI USU Prof. dr. Chairul Yoel, Sp.A(K) NIP. 140 080 762

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009
II.A. ETOS KERJA II.A.1. Pengertian Etos Kerja Secara etimologis istilah etos berasal dari bahasa Yunani yang berarti ’tempat hidup’. Mula-mula tempat hidup dimaknai sebagai adat istiadat atau kebiasaan. Sejalan dengan waktu, kata etos berevolusi dan berubah makna menjadi semakin kompleks. Dari kata yang sama muncul pula istilah Ethikos yang berarti ’teori kehidupan’, yang kemudian menjadi ’etika’. Dalam bahasa Inggris Etos dapat diterjemahkan menjadi beberapa pengertian antara lain ‘starting point', 'to appear', 'disposition' hingga disimpulkan sebagai 'character'. Dalam bahasa Indonesia kita dapat menterjemahkannya sebagai ’sifat dasar’, ’pemunculan’ atau ’disposisi/watak’. Aristoteles menggambarkan etos sebagai salah satu dari tiga mode persuasi selain logos dan pathos dan mengartikannya sebagai ’kompetensi moral’. Tetapi Aristoteles berusaha memperluas makna istilah ini hingga ’keahlian’ dan ’pengetahuan’ tercakup didalamnya. Ia menyatakan bahwa etos hanya dapat dicapai hanya dengan apa yang dikatakan seorang pembicara, tidak dengan apa yang dipikirkan orang tentang sifatnya sebelum ia mulai berbicara. Disini terlihat bahwa etos dikenali berdasarkan sifat-sifat yang dapat terdeteksi oleh indera. Webster Dictionary mendefinisikan etos sebagai; guiding beliefs of a person, group or institution; etos adalah keyakinan yang menuntun seseorang, kelompok atau suatu institusi. A. S. Hornby (1995) dalam The New Oxford Advances Learner’s Dictionary mendefinisikan etos sebagai; the characteristic spirit, moral values, ideas or beliefs of a group, community or culture; karakteristik rohani, nilai-nilai moral, ide atau keyakinan suatu kelompok,

menjadi prinsip-prinsip pergerakan. Etos Kerja adalah seperangkat perilaku positif yang berakar pada keyakinan fundamental yang disertai komitmen total pada paradigma kerja yang integral. Prinsip utama atau pengendali dalam suatu pergerakan. disposisi. pekerjaan seni. Dalam rumusan Jansen Sinamo (2005). kesungguhan atau semangat dalam bekerja. Menurutnya.id). budaya atau kelompok yang membedakannya dari orang atau kelompok lain. mores. Dari sini dapat kita peroleh pengertian bahwa etos merupakan seperangkat pemahaman dan keyakinan terhadap nilai-nilai yang secara mendasar mempengaruhi kehidupan. Pada Webster's Online Dictionary. Makna berikutnya yaitu 2.depkop.komunitas. Work Ethic diartikan sebagai. atau sejenisnya. bentuk ekspresi. work of art. suatu . maka Etos Kerja dengan sendirinya akan rendah. or the like. mode of expression. adat-istiadat. Sedangkan dalam The American Heritage Dictionary of English Language. maka Etos Kerjanya akan cenderung tinggi. Sebaliknya sikap dan pandangan terhadap kerja sebagai sesuatu yang bernilai rendah bagi kehidupan. atau budaya. Etos Kerja diartikan sebagai sikap mental yang mencerminkan kebenaran dan kesungguhan serta rasa tanggung jawab untuk meningkatkan produktivitas (www. culture or a group that distinguishes it from other peoples or group. atau sikap khusus orang. suatu pandangan moral pada pekerjaan yang dilakoni. dan cara berekspresi yang khas pada sekelompok orang dengan budaya serta keyakinan yang sama. Bila individu-individu dalam komunitas memandang kerja sebagai suatu hal yang luhur bagi eksistensi manusia.The governing or central principles in a movement. or attitude peculiar to a specific people. morale with regard to the tasks at hand. character.go. Dari rumusan ini kita dapat melihat bagaimana Etos Kerja dipandang dari sisi praktisnya yaitu sikap yang mengarah pada penghargaan terhadap kerja dan upaya peningkatan produktivitas. Dalam situs resmi kementerian KUKM. 1. nilai atau jiwa yang mendasari. Earnestness or fervor in working. karakter. jika seseorang. Menurut Anoraga (1992) Etos Kerja merupakan suatu pandangan dan sikap suatu bangsa atau umat terhadap kerja. etos diartikan dalam dua pemaknaan. fundamental values or spirit.the disposition.

bertanggung jawab dan sebagainya melalui keyakinan.2. Keempat pilar inilah yang sesungguhnya bertanggung jawab menopang semua jenis dan sistem keberhasilan yang berkelanjutan (sustainable success system) pada semua tingkatan. bahwa keberhasilan di berbagai wilayah kehidupan ditentukan oleh perilaku manusia. dan berkomitmen pada paradigma kerja tersebut. terutama perilaku kerja. aspirasi-aspirasi. spirit dasar. keyakinan-keyakinan. semua itu akan melahirkan sikap dan perilaku kerja mereka yang khas. dan penghayatan atas paradigma kerja tertentu. Aspek-Aspek Etos Kerja Menurut Sinamo (2005) setiap manusia memiliki spirit/roh keberhasilan. Sinamo (2005) lebih memilih menggunakan istilah etos karena menemukan bahwa kata etos mengandung pengertian tidak saja sebagai perilaku khas dari sebuah organisasi atau komunitas tetapi juga mencakup motivasi yang menggerakkan mereka. Roh inilah yang menjelma menjadi perilaku yang khas seperti kerja keras. kreatif dan produktif. yaitu motivasi murni untuk meraih dan menikmati keberhasilan. komitmen. Sinamo (2005) memandang bahwa Etos Kerja merupakan fondasi dari sukses yang sejati dan otentik. Melalui berbagai pengertian diatas baik secara etimologis maupun praktis dapat disimpulkan bahwa Etos Kerja merupakan seperangkat sikap atau pandangan mendasar yang dipegang sekelompok manusia untuk menilai bekerja sebagai suatu hal yang positif bagi peningkatan kualitas kehidupan sehingga mempengaruhi perilaku kerjanya. tekun. kode perilaku. kebiasaan (habit) dan budaya kerja. kode moral. prinsip-prinsip. II. Dari ratusan teori sukses yang beredar di masyarakat sekarang ini. Dengan ini maka orang berproses menjadi manusia kerja yang positif. teliti. dan standar-standar.A. rasional. integritas. disiplin. Keempat . karakteristik utama. mempercayai. atau suatu komunitas menganut paradigma kerja. Pandangan ini dipengaruhi oleh kajiannya terhadap studi-studi sosiologi sejak zaman Max Weber di awal abad ke-20 dan penulisanpenulisan manajemen dua puluh tahun belakangan ini yang semuanya bermuara pada satu kesimpulan utama. pikiran dasar. sikap-sikap. Itulah yang akan menjadi Etos Kerja dan budaya.organisasi. Sebagian orang menyebut perilaku kerja ini sebagai motivasi. kode etik. Sinamo (2005) menyederhanakannya menjadi empat pilar teori utama.

Kerja adalah Pelayanan. kerja merupakan titipan berharga yang dipercayakan pada kita sehingga secara moral kita harus bekerja dengan benar dan penuh tanggung jawab. 2. Kerja adalah panggilan. Kerja adalah ibadah. 3. kerja merupakan suatu dharma yang sesuai dengan panggilan jiwa kita sehingga kita mampu bekerja dengan penuh integritas. sehingga melalui pekerjaan individu mengarahkan dirinya pada tujuan agung Sang Pencipta dalam pengabdian. yang . 4. bekerja merupakan bentuk bakti dan ketaqwaan kepada Sang Khalik. Anoraga (1992) juga memaparkan secara eksplisit beberapa sikap yang seharusnya mendasar bagi seseorang dalam memberi nilai pada kerja. pekerjaan adalah sarana bagi kita untuk mencapai hakikat manusia yang tertinggi sehingga kita akan bekerja keras dengan penuh semangat 5. Membangun masa depan dengan kepemimpinan visioner. maka individu harus dapat bekerja dengan tulus dan penuh syukur. yaitu: 1. Kerja adalah rahmat. Mencetak prestasi dengan motivasi superior. Kerja adalah seni. Keempat darma ini kemudian dirumuskan pada delapan aspek Etos Kerja sebagai berikut: 1. 4. kerja dapat mendatangkan kesenangan dan kegairahan kerja sehingga lahirlah daya cipta. Menciptakan nilai baru dengan inovasi kreatif. 2. Kerja adalah kehormatan. 6. 3. Meningkatkan mutu dengan keunggulan insani. pekerjaan dapat membangkitkan harga diri sehingga harus dilakukan dengan tekun dan penuh keunggulan. kreasi baru. 7. manusia bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri saja tetapi untuk melayani sehingga harus bekerja dengan sempurna dan penuh kerendahan hati. dan gagasan inovatif. 8. karena kerja merupakan pemberian dari Yang Maha Kuasa. Kerja adalah aktualisasi.elemen itu lalu dia konstruksikan dalam sebuah konsep besar yang disebutnya sebagai Catur Dharma Mahardika (bahasa Sanskerta) yang berarti Empat Darma Keberhasilan Utama. Kerja adalah amanah.

positif dan negatif. 5.disimpulkan sebagai berikut: 1. 2004). Pekerjaan merupakan suatu kesempatan untuk mengembangkan diri dan berbakti 5. Kerja yang dirasakan sebagai aktivitas yang bermakna bagi kehidupan manusia. maka akan ditunjukkan ciri-ciri yang sebaliknya (Kusnan. 4. yaitu. sebagai suatu hal yang amat luhur bagi eksistensi manusia. Kerja dilakukan sebagai bentuk ibadah. Kerja dipandang sebagai suatu penghambat dalam memperoleh kesenangan. 3. Menurutnya Etos Kerja mencerminkan suatu sikap yang memiliki dua alternatif. 1. Kurang dan bahkan tidak menghargai hasil kerja manusia. Kerja dirasakan sebagai suatu hal yang membebani diri. Bagi individu atau kelompok masyarakat yang memiliki Etos Kerja yang rendah. apabila menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut: 1. Pekerjaan merupakan sarana pelayanan dan perwujudan kasih Dalam penulisannya. 2. Kerja dilakukan sebagai bentuk keterpaksaan. 2. Bekerja adalah hakikat kehidupan manusia 2. 4. Menempatkan pandangan tentang kerja. Pekerjaan adalah suatu berkat Tuhan. 3. 3. Dari berbagai aspek yang ditampilkan ketiga tokoh diatas. sehingga penulisan . maka ia menggunakan lima indikator untuk mengukur Etos Kerja. Suatu individu atau kelompok masyarakat dapat dikatakan memiliki Etos Kerja yang tinggi. Akhmad Kusnan (2004) menyimpulkan pemahaman bahwa Etos Kerja menggambarkan suatu sikap. dapat dilihat bahwa aspek-aspek yang diusulkan oleh dua tokoh berikutnya telah termuat dalam beberapa aspek Etos Kerja yang dikemukakan oleh Sinamo. Kerja dihayati sebagai suatu proses yang membutuhkan ketekunan dan sekaligus sarana yang penting dalam mewujudkan cita-cita. Pekerjaan merupakan sumber penghasilan yang halal dan tidak amoral 4. Mempunyai penilaian yang sangat positif terhadap hasil kerja manusia. 5. Kerja dihayati hanya sebagai bentuk rutinitas hidup.

Ia menemukan Etos Kerja yang rendah secara tidak langsung dipengaruhi oleh rendahnya kualitas keagamaan dan orientasi nilai budaya yang konservatif turut menambah kokohnya tingkat Etos Kerja yang rendah itu. bersikap dan bertindak seseorang pastilah diwarnai oleh ajaran agama yang dianutnya jika ia sungguh-sungguh dalam kehidupan beragama. yang akhirnya menjadi titik tolak berkembangnya kapitalisme di dunia modern. berbagai studi tentang Etos Kerja berbasis agama sudah banyak dilakukan dengan hasil yang secara umum mengkonfirmasikan adanya korelasi positif antara sebuah sistem kepercayaan tertentu dan kemajuan ekonomi. yaitu rasionalitas (rationality) menurut Weber (1958) lahir dari etika Protestan. tekad. disiplin dan semangat kerja. dan modernitas (Sinamo. II. berdisiplin tinggi. Sejak Weber menelurkan karya tulis The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1958). Dengan demikian. . Menurut Rosmiani (1996) Etos Kerja terkait dengan sikap mental. Salah satu unsur dasar dari kebudayaan modern. serta menabung dan berinvestasi. yaitu: a. jelaslah bahwa agama akan turut menentukan jalannya pembangunan atau modernisasi. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Etos Kerja Etos Kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor. Sistem nilai ini tentunya akan mempengaruhi atau menentukan pola hidup para penganutnya.3. Sikap ini dibentuk oleh sistem orientasi nilai-nilai budaya. bekerja tekun sistematik.namun hemat dan bersahaja (asketik). berorientasi sukses (material). kalau ajaran agama itu mengandung nilai-nilai yang dapat memacu pembangunan. Weber (1958) memperlihatkan bahwa doktrin predestinasi dalam protestanisme mampu melahirkan etos berpikir rasional. Agama Dasar pengkajian kembali makna Etos Kerja di Eropa diawali oleh buah pikiran Max Weber. kemakmuran. 2005).A. tidak mengumbar kesenangan . Cara berpikir.ini mendasari pemahamannya pada delapan aspek Etos Kerja yang dikemukakan oleh Sinamo sebagai indikator terhadap Etos Kerja. yang sebagian bersumber dari agama atau sistem kepercayaan/paham teologi tradisional. Pada dasarnya agama merupakan suatu sistem nilai.

d. bahkan bisa sama sekali tidak memiliki Etos Kerja. masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya yang konservatif akan memiliki Etos Kerja yang rendah. Pernyataaan ini juga didukung oleh studi yang dilakukan Suryawati.b. Orientasi ke depan itu harus diikuti oleh penghargaan yang cukup kepada kompetisi dan pencapaian (achievement). jika masyarakat secara keseluruhan memiliki orientasi kehidupan yang teracu ke masa depan yang lebih baik. etos budaya ini juga disebut sebagai Etos Kerja. dan Utomo (1995) menemukan bahwa tinggi rendahnya Etos Kerja suatu masyarakat dipengaruhi oleh ada atau tidaknya struktur politik yang mendorong masyarakat untuk bekerja keras dan dapat menikmati hasil kerja keras mereka dengan penuh. Abdurrahman Wahid (2002) mengatakan bahwa Etos Kerja harus dimulai dengan kesadaran akan pentingnya arti tanggung jawab kepada masa depan bangsa dan negara. Putri dan weda (1997) juga menemukan adanya indikasi bahwa Etos Kerja dapat muncul dikarenakan faktor kondisi . Kualitas Etos Kerja ini ditentukan oleh sistem orientasi nilai budaya masyarakat yang bersangkutan. tekad. Sosial Politik Soewarso. Budaya Selain temuan Rosmiani (1996) diatas. c. Namiartha. Kondisi Lingkungan/Geografis Suryawati. kebodohan dan keterbelakangan hanya mungkin timbul. Dorongan untuk mengatasi kemiskinan. Dharmika. Orientasi ini akan melahirkan orientasi lain. Usman Pelly (dalam Rahimah. disiplin dan semangat kerja masyarakat juga disebut sebagai etos budaya dan secara operasional. Dharmika. yaitu semangat profesionalisme yang menjadi tulang-punggung masyarakat modern. Namiartha. Etos Kerja berdasarkan nilai-nilai budaya dan agama ini menurut mereka diperoleh secara lisan dan merupakan suatu tradisi yang disebarkan secara turuntemurun. KH. Masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya maju akan memiliki Etos Kerja yang tinggi dan sebaliknya. 1995) mengatakan bahwa sikap mental. Rahardjo. Etos Kerja juga sangat berpegang teguh pada moral etik dan bahkan Tuhan. Putri dan weda (1997) yang menyimpulkan bahwa semangat kerja/Etos Kerja sangat ditentukan oleh nilainilai budaya yang ada dan tumbuh pada masyarakat yang bersangkutan. Subagyo.

yang sering disebut dengan motivasi intrinsik.geografis. Pendidikan Etos Kerja tidak dapat dipisahkan dengan kualitas sumber daya manusia. yang mampu memberikan insentif bagi anggota masyarakat untuk bekerja keras dan menikmati hasil kerja keras mereka dengan penuh. dan bahkan dapat mengundang pendatang untuk turut mencari penghidupan di lingkungan tersebut. e. yang tentunya didasari oleh nilai-nilai yang diyakini seseorang. keahlian dan keterampilan. Rahardjo. Menurut Herzberg (dalam Siagian. 1995). disertai dengan peningkatan dan perluasan pendidikan. sehingga semakin meningkat pula aktivitas dan produktivitas masyarakat sebagai pelaku ekonomi (Rahimah. Motivasi Intrinsik individu Anoraga (1992) mengatakan bahwa Individu yang akan memiliki Etos Kerja yang tinggi adalah individu yang bermotivasi tinggi. Ketidakhadiran faktor ini dapat mencegah timbulnya motivasi. Meningkatnya kualitas penduduk dapat tercapai apabila ada pendidikan yang merata dan bermutu. Struktur Ekonomi Pada penulisan Soewarso. Lingkungan alam yang mendukung mempengaruhi manusia yang berada di dalamnya melakukan usaha untuk dapat mengelola dan mengambil manfaat. tetapi yang tertanam/terinternalisasi dalam diri sendiri. Keyakinan inilah yang menjadi suatu motivasi kerja. Suri dan Nasution. motivasi yang sesungguhnya bukan bersumber dari luar diri. 1995). yang akan menyebabkan ketidakpuasan. tetapi ia tidak menyebabkan munculnya motivasi. Fauziah. Ia membagi faktor pendorong manusia untuk melakukan kerja ke dalam dua faktor yaitu faktor hygiene dan faktor motivator. f. Peningkatan sumber daya manusia akan membuat seseorang mempunyai Etos Kerja keras. dan Utomo (1995) disimpulkan juga bahwa tinggi rendahnya Etos Kerja suatu masyarakat dipengaruhi oleh ada atau tidaknya struktur ekonomi. Faktor hygiene ini merupakan faktor dalam kerja yang hanya akan berpengaruh bila ia tidak ada. Subagyo. faktor ini disebut juga faktor . Maka Etos Kerja juga dipengaruhi oleh motivasi seseorang. Etos Kerja merupakan suatu pandangan dan sikap. g.

Ceria. tetapi kehadirannya menimbulkan rasa puas sebagai manusia. Gesit. Efisien.p df                Aktif. pengakuan/recognition. kemungkinan untuk meningkat dalam jabatan (Karier)/advancement. Fokus.ekstrinsik. Dinamis. dalam Anoraga. yang termasuk diantaranya yaitu gaji. Kerja Keras. Ikhlas. Jeli. . yang mana ketiadaannya bukan berarti ketidakpuasan. Efektif. Kerja Tim. tentunya organisasi tersebut perlu memastikan terlebih dahulu bahwa faktor hygiene tidak menjadi penghalang dalam upaya menghadirkan motivasi intrinsik. Sifat-sifat yang mencerminkan etos kerja yang baik yaitu : http://www. Jujur. yang meliputi pencapaian sukses/achievement. (Herzberg. kebijaksanaan organisasi. Faktor ini disebut juga faktor intrinsik dalam pekerjaan. kondisi kerja. Faktor yang kedua adalah faktor motivator sesungguhnya. Interaktif. keamanan kerja. 1992) Hal-hal ini sangat diperlukan dalam meningkatkan performa kerja dan menggerakkan pekerja hingga mencapai performa yang tertinggi. tanggung jawab/responsibility. dan supervisi. Energik. Ketika sebuah organisasi menargetkan kinerja yang lebih tinggi. dan pekerjaan itu sendiri/the work itself.co. status. kemungkinan berkembang/growth possibilities.posindonesia.id/promo/foto2007/etos. hubungan dengan rekan kerja. Disiplin.

Optimis. Ulet.                     Konsisten. Total. Tekun. Teliti. . Rajin. Menghargai. Sabar. Tanggung Jawab. Kreatif. Peka. Tepat Waktu. Teratur. Terkendali. Membagi. Lapang Dada. Ramah. Toleran. Menghibur. Semangat.