P. 1
Resume Buku ISLAM TUNTUNAN DAN PEDOMAN HIDUP

Resume Buku ISLAM TUNTUNAN DAN PEDOMAN HIDUP

|Views: 3,692|Likes:
Published by Kamal Fahrurizal

More info:

Published by: Kamal Fahrurizal on Jan 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/11/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Garis Besar Isi Buku

Buku yang berjudul “Islam : Tuntunan dan Pedoman Hidup” yang digunakan buku ajar mata kuliah Pendidikan Agama Islam yang digunakan sebagai buku pedoman dalam pembelajaran PAI di Kelas, diharapkan mampu bermanfaat bagi mahasiswa dan digunakan sebagai tuntunan dalam menjalani hidup untuk kebahagiaan dunia akhirat dan sebagai sumber nilai dan pedoman yang mengantarkan mahasiswa dalam mengembangkan profesi dan kepribadian Islam. Secara Garis besar buku yang berjudul “Islam : Tuntunan dan Pedoman Hidup” terdiri dari 15 bab, dimana setiap bab membahas pokok-pokok Islam masing-masing, Bab 1 menjelaskan tentang bagaimana mahasiswa memaknai makna tujuan dan metodologi dalam memahami Islam. Bab 2 menjelaskan tentang bagaimana memahami pengertian Manusia, Agama, dan Islam. Bab 3 mengajarkan kita untuk lebih memahami tentang Keimanan dan Ketakwaan sesuai dengan Al-Quran dan Hadits. Bab 4 menhuraikan tentang Al-Quran sebagai sumber ajaran Islam pertama. Bab 5 diharapkan mampu memahami Hadits sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Quran. Bab 6 bertujuan agar memahami dan menjelaskan tentang Itjihad sebagai Pengembangan Hukum Islam. Bab 7 menjelaska pokok-pokok Islam mengenai Syariah, Fikih, dan Hukum Islam. Bab 8 mengajarkan tentang bagaimana memahami Pola Ibadah sebagai bagian dari Aspek Ritual Umat Muslim. Bab 9 menjelaskan tentang Bagaimana Membangun Keluarga yang Islami. Bab 10 memaparkan tentang Makanan dan Minuman dalam Islam. Bab 11 menjelaskan dan maparkan tentang Konsep dasar ekonomi dan Transaksi dalam Sistem Muamalah Islam. Bab 12 mengajarkan bagaimana car Menanamkan Etos kerja dan Enterpreuneurship ( Kewirausahaan ) dalam Islam. Bab 13 menjelaskan tentang Akhlak dan Tashawuf. Serta Bab 14 mengenai Dakwah dan Amar Ma’ruf Nahyi Munkar, dan yang terakhir menjelaskan tentang Islam dan Isu-isu kontemporer. Semua yang tersusun dalam buku isi merupakan berbagai bentuk pokok-pokok ajaran Islam.

1

B. Permasalahan pokok

Pada zaman sekarang ini, pedoman untuk bagaimana kita mejalani hidup secara islami sudah sangat sulit dijumpai dalam masyarakat. Berbagai macam bentuk kemunkaran, kejahatan dan kemudharatan terjadi dimana-mana akibat dari lemahnya aklakul Islam yang tertanam pada diri setiap Individu. Masalah yang timbul dari lemahnya akhlak Islam ini sebagai buah dari kurangnya pembelajaran Islam yang setengah-setengah mengakibatkan kekurang fahaman dalam pembelajaran Islam sehingga mengakibatkan terbentuknya berbagai macam penyimpangan. Sebagai mahasiswa yang bertindak sebagai agen perubahan kita perlu juga memahami Islam dengan cara yang baik. Sehingga membutuhkan buku rujukan bagi ajaran Islam tersebut, yaitu melalui buku yang berjudul “Islam : Tuntunan dan Pedoman Hidup”. Dalam memahami isi buku yang berjudul “Islam : Tuntunan dan Pedoman Hidup” ini secara baik, benar, jelas dan meyeluruh membutuhkan cara tertentu, salah satunya dengan membuat resume buku ini. Dengan demikian kita dapat memahami dan mempelajari isi buku dengan lebih dalam dan Menyeluruh. C. Tujuan Kegiatan membuat resume buku yang berjudul “Islam : Tuntunan dan Pedoman Hidup” sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam. Tetapi selain itu tujuan yang paling penting adalah sebagai salah satu cara untuk mempelajari pokokpokok Islam, memahami, menjalankannya agar kita dapat menjadi manusia yang diberikan petunjuk untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

2

BAB II RESUME BUKU 1. MAKNA, TUJUAN, DAN METODOLOGI MEMAHAMI ISLAM
A. Makna Islam

Islam mempunyai makna yang secara lughawi kata “Islam” berasak dari tiga akar kata, yaitu : Aslama, artinya besresras diri atau tunduk patuh; Salam, artinya damai atau kedamaian ; Salamah, artinya keselamatan. Berdasarkan dari akar kata “ Islam “ tersebut, maka siapa saja yang meyakini dan mengamalkan aslama, salam, dan salamah maka dapat disebut beragama Islam. Adapun secara istilahi atau terminologis, “ Islam” adalah agama yang diturunkan dari Alloh SWT kepada umatnya melalui Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu Islam adalah sebutan eksklusif untuk agama yang dianut dan diamalkan oleh pengikut Nabi Muhammad SAW.            



  



“Maka Apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, Padahal kepadaNya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” ( Q.S Ali Imran : 83 ) Untuk memahami Islam perlu dipahami pula makna Taslim ( berserah diri ) yang memiliki tiga tingkatan yaitu : 1. Taslim fisik adalah menyerah secara fisik karena dikalahkan oleh lawan yang memiliki fisik lebih kuat 2. Taslim Akal adalah taslim atau menyerah diri karena kelemahan dalil, logika, dan argumentasi 3. Taslim hati adalah taslim dengan tidak kufur.
3

B. Tujuan syariah Islam

1. yaitu :

Menjaga dan memelihara agama.

Dalam menjaga dan memelihara agama ada beberapa hal yang harus dipenuhi, a) Perlunya melahirkan ulama. b) Membudayakan gerakan belajar agama. c) Perlunya menguasai ilmu – ilmu dasar agama. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Ilmu yang fardu’ain. Melaksanakan kewajiban agama. Menjaga dan memelihara jiwa. Menjaga dan memelihar akal. Menjaga dan memelihara harta. Menjaga dan memelihara kehormatan.

C. Metode Memahami Islam Metode metode yang digunakan cendekiawan muslim dalam pemahaman Islam, yaitu : 1. Metode Disiplin Ilmu Dan Kajian Isi. Disipin ilmu yang terperinci adalah ilmu tafsir dan ulum al-quran, ilmu hadits dan ulum al-hadits,perbandingan mashab dan ushul al-Fiqh. 2. Metode Kajian Al-Quran dan Sejarah Islam. a) Metode kajian teks secara integral Dalam arti lain bahwa pengkajian Al-quran tidak boleh secara sepotongsepotong ayat,melainkan harus secara keseluruhan. b) Metode Kajian Fenomena Alam Di dalam Al-Quran banyak mengangkat fenomena alam yang sulit bahkan tidak mungkin dipahami jika tidak dibantu oleh kajian kealaman.
3. Metode Tipologi.

Metode ini dikembangkan oleh Ali Syari’ ati untuk memahami tipe, profil, watak, dan misi Agama Islam. Metode in memiliki lima cirri
4

penting, yaitu : pertama mengidentifikasi lima aspek agama (yakni, Tuhan, Rassul, Kitab suci, situasi kemunculan Nabi, dan individuindividu dalam masing- masing agama); dan kedua, membandigkan kelima aspek tersebut dengan aspek yang sama dalam agama lain. Menurut Metode Tipologi ini, untuk dapat mengetahui lebih luas tentang Islam adalah sebagai berikut : Pertama, kita memahami Allah, tematema tentang keesaan dan Keadilan-Nya, Pendeknya, “ tipe “ Tuhan yang bagaimanakah Dia itu.

2. MANUSIA, AGAMA DAN ISLAM A. Manusia dan Agama
1. Beragama sebagai Kebutuhan Fitri

Manusia terdiri dari dimensi fisik dan non-fisik yang bersifat potensial. Rasa kebutuhan adalah perasaan pada diri seseorang yang menimbulkan keyakinan akan adanya sesuatu yang maha kuasa diluar dirinya yang capai oleh manusia menentukan segala nasib yang ada. Keyakinan akan adanya tuhan dicapai oleh manusia melalui tiga pendekatan, yaitu :
a)

Material experiance of humanity. Argumen membuktikan adanya Inner experiance of humanity. Argumen membuktikan adanya Spiritual experience of humanity. Argumen membuktikan adanya

tuhan melalui kajian terhadap fenomena alam semesta.
b)

tuhan melalui bathiniyah dirinya.
c)

tuhan didasarkan pada wahyu yang diturunkan oleh tuhan melalui Rasul-Nya.
2. Pengertian Agama dan Asal-Usul Agama

Agama adalah suatu system ajaran tentang Tuhan, dimana penganutpenganutnya melakukan tindakan-tindakan ritual, moral, atau social atau atas dasar aturan-aturan-Nya. Olah karena itu, umumnya suatu agama mencakup aspek-aspek sebagai berikut : a) Aspek kredial, yaitu ajaran tentang doktrin-doktrin ketuhanan yang harus diyakini.

5

b)

Aspek ritual, yaitu ajaran tentang tata cara berhubungan degan

tuha, atau minta meminta pertolongan dan perlindungan-Nya atau untuk menunjukan dan penghambaan.
c)

Aspek moral, yaitu ajaran tentang aturan berperilaku dan Aspek sosial, yaitu ajaran tentang aturan hidup bermasyarakat.

bertindak yang benar dan benar bagi individu dalam kehidupan.
d)

Kategorisasi tentang asal-usul terbentuknya agama :
a. Agama Bumi ( Agama Ardli ) agama yang muncul dan berkembang

dari perkembangan budaya suatu masyarakat.
b. Agama langit ( Agama Samawi ) agama yang disampaikan oleh orang-

orang yang mengaku mendapat wahyu dari Tuhan. c. Agama yang berkembang dari pemikiran seorang filosof besar. 3. Agama-agam besar di dunia Dari sekian banyak agama-agama di dunia ini ada beberapa agama yang dianggap besar di dunia karena banyak penganutnya dan sistematis ajaran ajarannya, yaitu Agama Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Budha, Kong Hu Chu, Shinto, Yahudi, Zoroaster. Agama ada yang bersifat kebangsaan dan mendunia. B. Agama Islam 1. Islam agama fitrah dari Allah swt

                 
Artinya :





   

        



  

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah;

(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”( Q.S Ar-Rum : 30 )
6

Islam adalah suatu system ajaran ketuhanan yang berasal dari Allah swt. Diturunkan kepada umat manusia dengan wahyu melalui perantara Nabi Muhammad saw. 2. Nama, Pengertian ,dan Misi Agama Islam. a. Islam sebagai nama agama (Ad-Din). Allah berfirman dalam alquran yang berarti : “ Pada hari ini Aku lengkapkan agamamu dan Aku sempurnakan nikmatKu atasmu dan Aku ridha Islam sebagai agamamu “ ( Q.S Al-Maidah : 3 ) dengan kata lain Islam adalah namayang sudah ditetapkan Allah SWT. b. Pengertian Islam Islam secara etimologis berasal dari 3 kata : salam arinya damai, aslama artinya berserah diri, salamah artinya keselamatan. c. Misi agama islam a) Mengajak dan menyuru manusia untuk tunduk dan patuh (aslama) pada atran –aturan Allah. b) Membimbing manusia untuk menemukan kedamaian dan dalam menciptakan kedamaian. c) Memberikan jaminan kepada manusia dalam mendapatakan keselamatan dan bebas dari bencana hidup baik di dunia atau di akhirat.
3. Islam Sebagai Hidayah (Petunjuk) dalam Kehidupan a. Hidayah Allah untuk Manusia

Ada empat hidayah yang diberikan oleh Allah swt.kepada manusia, yaitu :
1)

Hidayah ghariziyyah (bersifat instinktif), yaitu petunjuk Hidayah hissiah (bersifat indrawi), yaitu petunjukan

untuk kehidupan yang diberikan oleh Allah swt. 2) hidup. 3) Hidayah aqliyyah (bersifat intelektual), yaitu petnjuk yang diberikan Allah swt berupa kemampuan berfikar dan nalar. berupa kemampuan indra dalam menangkap citra lingkungan

7

4)

Hidayah dinniyah (berupa ajaran agama), yaitu berupa

ajaran-ajaran praktis untuk diterapkan dalam baik secara individual maupun bermasyarakat.
b. Islam Satu-Satunya Hidayah Dinniyah

       

  

      

Artinya : “ Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". ( Q.S Al-Baqarah :38 ) Dalam kedudukannya sebagai hidayah bagi kehidupan manusia di dunia, agama Ialam dapat berupa dan berfungsi bagi manusia yang dapat dikembangkan olah setiap indivdu, sebagai berikut :
1. Pemberi makna bagi kehidupan menusia.

2. Alat control bagi perasaan dan emosi. 3. Pemberi dorongan penguat terhadap kecenderungan berbuat baik pada manusia.
4. Penyeimbang bagi kondisi psikis yang berkembang.

3.

KEIMANAN DAN KETAKWAAN A. Keimanan

  

     





  
8

       



  

  

        

    



   



Artinya: “2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayatayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. 3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. 4. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.” ( Al-Anfal : 2-4 )

Menurut Raha AK (2000:75) mengemukakan unsur-unsur pokok iman itu ada tiga, yaitu yang berkaitan dengan keyakinan atau akidah, berkaitan dengan ucapan atau lisan, dan berkaitan dengan pelaksanaan anggota badan. Pengertian keimanan atau akidah tersusun dari enam perkara, yaitu : Pertama,marifat kepada Allah swt,sehingga akan menghasilkan beberapa tauhid, diantanya yaitu : tauhid al-rububiyah (berarti satu-satunya yang mencipta, memiliki mengatur dan mengurus alam semesta, tauhid al-asma wa al-sifat (meyakini hanya Allah yang mmiliki sifat-sifat sempurna), tauhid al-ibadah (Allah saatu-satunya tempat diembah), tauhid al-istianah (Allah sau-satunya tempat berharap dan bergantung).

9

Kedua , marifat kepada malaikat Allah, hal ini akan mengajak hati untuk mencontoh dan meniru perilakumereka yang serba baik dan terpuji. Ketiga, marifat kepada kiab-kitab Allah swt.hal ini dijadikan pdoman untuk membedakan yang hak dan yang bathil. Keempat, marifat kepada Rasul, agar setiapmanusia meniru akhlak para rasul. Kelima, marifat kepada hari akhir, sebagai pembangkit yang terkuat untuk mengajakmanusia berbuat baik dan meninggalkan keburukan. Keenam, marifat kepada takdir (qadla dan qadar)hal ini memberikan bekal kekuatan dankesnggupan manusia untuk menghadapi segala cobaan dan rintangan. Orang yang beriman dalam kehidupannya akan menampilkan perilaku sebagaiberikut : 1) Jihad, artinya berusaha degan sungguh-sungguh untuk melaksanakan segala aturan Allah swt. 2) Menyalasaikansegala persoalan dalam kehidupannya denganmenggunakan hokum Allah dan Rasul-Nya. 3) Ridho atas segala musibah yang menimpanya. 4) Sangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. 5) Mencintai sesama mislim. 6) Rajin dan sungguh-aungguh atas segala usahanya. 7) Berbudi pekerti yang baik. 8) Mencegah dan menghindarkan diri dari segala perbuatan yang buruk. 9) Selalu mnmbantu orang niskin dan anak yatim. B. Ketakwaan Sifat takwa dapat dikelompokan kedalam beberapa kategori : Pertama, iman kepada Allah, Malaikat Allah, kitab-kita Allah dan para nabi Allah.artinya. seseorang yang bertakwa adalah yang memelihara fitrah iman. Kedua,mencintai ssama umat manusia dan diwujudkan melalui mengorbankan harta karena inginmendapatkan ridho Allah. Ketiga, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Keempat, menyampurnakan janji apaila diaberjanji. Kelima, bersabar ketika mendapatkan musibah dan tantangan.

10

Kategori-kategori takwa yang diungkapkan diatas pada dasarnya dapat disarikan dalamdua kelompok perilaku,yaitu :
1. Sikap konsisten memelihara hibungan vertical kepada Allah yang

diwujudkan melalui iktikat dan keyakinan yang lurus,ketulusan dalam menalankan ibadah, dan keputusan terhadap ketentuan dan aturan yang dibuatnya.
2. Memelihara hubungan secara horizontal, yakni cinta dan kasih sayang

sesama umat manusia yang diwujudkan dalam segala tindak kebajikan, yaitu: berbakti kepada orang tua, menyayangi keluarga, tolog-menolong sesama teman, dll. 4. AL-QUR’AN : SUMBER AJARAN ISLAM PERTAMA

A. Al-Qur’an Wahyu Dari Allah 1. Pengertian Al-Qur’an Kata al-qur’an berasal dari kata qara’a artinya membaca. Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam yang merupakan kumpulan firman Allah yang diterima Oleh Nabi Muhammad saw.secara lafaz dan maknadengan perantara melaikat jibril dalam bahasa arab. Al-Qur’an merupakan tulisan dari kalimat Allah , membaca Al-qur’an merupakan ibadah dan mendapat pahala. 2. Nama-nama lain dari Al-Qur’an 1. Al-kitab artinya kumpulan yang tertulis. Hal ini karena al-qur’an adalah satu-satunya kumpulan wahyu Allah yang tertulis adanterpelihara dengan baik. 2. Al- furqan artinya yang membedakan. Karena isinya membedakan antara yang baik dan yang buruk. 3. Al- Nur artinya cahaya. Karena All-Qur’an merupakan cahaya peneranga bagi umat manusia. 4. Al-Syifa artinya obat penyembuh. Disebut demikian karena Al-qur’an dapat dijadikan obat bagi orang yang beriman.. 5. Adz-Dzikr, artinya ingat. Disebut demikian karena didalamnya terdapat peringatan dari Allah kepada menusia.
3. Al-qur’an firman Allah yang diwahyukan (wahyun Mutluwwun) a) Pengertian Wahyu

11

Wahyu secara estimologis dapat berarti bisikan, isyarat cepat, atau informasi secara diam-diam yang diterima secara cepat. Sedangkan dalam konteks kerasulan adalah kabar pemberutahuan dari Allah kepada nabi dan rasullnya baik secara langsung maupun melalui perantara malaikat jibril yang berisi ajaran-ajaran agama untuk disampaikan kepada umatnya. b) Cara-cara wahyu diterima oleh rasul 1) Secara inspiratif, dimana wahyu langsung masuk kedalan hati para nabi dan rasul. Seperti wahyu yang diterima oleh nabi Isa a.s.
2) Diajak bicara langsung olah Allah dari balik tabir. Contohnya ketika

nabi Musa mendapat wahyu dibukit Tursina. 3) Melalui penglihatan di waktu tidur. Contohnya ketika nabi Ibrahim a.s mendapat perintah untuk berkurban dengan menyembelih anaknya yaitu Ismail a.s.
4) Melalui utusan yang dikirim melalui nabi dan rasul, yaitu malaikat

jibril yang menjelma menjadi seorang laki-laki seperti waktu datang kepada nabi Luth a.s. c) Cara nabi Muhammad saw menerima wahyu 1) Wahyu langsung masuk ke dalam hati rasulullah. 2) Malaikat menyampaikan wahyu dengan menampakan dirinya berupa laki-laki dan mengucapkan kata-kata. 3) Malaikat menampakan dirinya dalam bentuk aslinya. 4) Dalam bentuk suara yang didengar langsung oleh rasulullah. d) Al-Quran Sebagai Wahyu yang Dibacakan Wahyu yang disampaikan pada Nabi Muhammad Saw melalui perantara malaikat Jibril dengan cara Jibril membacakan ayat-ayat itu. Kemudian Rasulullah SAW melafazkan ayat-ayat tersebut.
4. Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur

Beberapa hikmah dari diturunkannya Al-Quran secara berangsur-angsur :
a. Lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan.

b. Memudahkan penghafalan. c. Ayat al-qur’an diturunkan sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi sehingga lebih mengesankan dan berpengaruh di dalam hati.

12

d. Diantara ayat-ayat Al-quran tersebut ada yang berlaku sementara dan

diganti dengan ayat pengganti yang sesuai dengan kemaslahatannya yang datang kemudian. 5. Ayat Makkiyah dan Ayat Madaniyyah Ayat Makiyyah adalah ayat-ayat alquran yang diturunkan kepada rasulullah dalan periode kerasullan di Mekah, yaitu sejak beliau diangkat menjadi rasul pada tahun 611 sampai beliau hijrah ke madinah pada tahun 622. Ayat Madaniyyah adalah ayat-ayat Alquran yang diturunkan kepada Rasul dalam periode kerasullan di Madinah, yaitu sejak beliau hijrah kemadinah pada tahun 622 sampai beliau wafat pada tahun 632. b) Ciri-ciri ayat Makiyyah dan ayat Madaniyyah 1) 2) Ayat makiyyah banyak menjelaskan masalah akidah, sedangkan Ayat makiyyah umunya pendek-pendek dan surahnya ringkas. ayaat madaniyyah banyak menjelaskan masalah syari’ah. Sedangkan ayat madaniyyah ayatnya panjang-panjang dan surahsurahnya panjang.
3)

a) Pegertian ayat Makiyyah dan ayat Madaniyyah

Ayat makiyah sering menggunakan kata “ya ayyuhannas” wahai manusia, sedangkan ayat Madaniyyah sering

artinya

menggunakan kata “ ya ayyuhalla-dzina amanu” artinya wahai orang yang beriman.
4)

Ayat-ayat

makiyyahbanyan

menggunakan

“qasam”

(sumpah)dengan benda atau fenomena alam seperti demi waktu, demi waktu duha, , demi malam, demi bintang. Dsb. Sedangkan ayat madaniyyah lebih banyak menghimbau untuk berfikir. 5) Ayat makiyyah lebih menekankan pada dakwah untuk berpegang pada akhlak mulia, sedangkan ayat madaniyyah lebih menekankan dakwah untuk berjihad. B. Pokok-pokok isi Al-Qur’an 1. Aqidah a) Keesaan Allah, tuhan semesta alam dan sifat-sifatnya, b) Adanya malaikat, rasul dan kitab Allah. c) Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir.
13

d) Al-qur’an sebagai sumber kebenaran yang tidak diragukan. e) Adanya hari akhirat. 2. Ibadah Ibadah artinya menghamba atau mengabdi. Dalam hal ini, ibadah adalah hubungan antara menusia dan tuhannya. Al-quran memerintahkan beberapa bentuk ibadah yang harus dilakukan oleh setiap mikminin dan mikminat, seperti shalat, shaum, zakat, dan haji. 3. Mu’amalah Mu’amalah adalah tata cara hubungan antar manusia dengan manusia. Alqur’an menentukan beberapa aturan dalam bermu’amalah agar tidak terjadi persengketaan, percekcokan, seperti dalam hutang piutang.Al-qur’an mengharamkan hukum riba. 4. Akhlak Akhlak adalah pola perilaku kehidupan manusia, baik yang lahir maupun yang batin. Al-qur’an mengajarkan agar manusia memiliki dan melaksanakan akhlak yang baik. 5. Hukum 6. Kisah-kisah umat yang terdahulu. 7. Dasar-dasar ilmu pengetahuan tentang alam semesta. C. Fungsi Al-qur’an
1. Al-qur’an sebagai petunjuk. 2. Al-qur’an sebagai sumber pokok ajaran islam.

3. Al-qur’an sebagai peringatan dan bahan pelajaran. 5. HADIST : SUMBER AJARAN ISLAM KEDUA a. Penertian As-Sunnah dan Hadist As-sunnah secara lughawi (bahasa), artinya kebiasaanatau tradisi. Sedangkan menurut istilah ilmu hadist, as-sunnah adalah segala apa yang dilakukan oleh nabi saw, baik berupa perkataan (qauly), perbuatan (fi’ly), atau berupa pembiaran (taqriry) atas perbuatan sahabat. Hadits secara lughawi adalah baru atau kabar.sedangkan menurut istilah atau ilmu hadist adalah segala apa yang diberitakan dari nabi saw, baik berupa perkataan, perbuatan atau penbiaran atau sifat-sifat nabi. Pengertian
14

A. As-sunnah dan Ilmu Hadist

ini hampir sama dengan sunnah, bedanya kalau sunnah adalah yang dilakukan oleh nabi sendiri, sedangkan hadist merupakan berita yang datang oleh orang keorangtentang apa yang datang dari nabi. b. Macam-macaam Sunnah dan Hadist a) Sunnah qauliyyah Yaitu segala yang di ucapkan oleh rasulullah saw. setelah beliau diangkat menjadi rasul, baik pernyataan, perintah, perintah atau larangan. b) Sunnah fi’liyyah Yaitu apa yang diberitakan oleh sahabat mengenai apa yang dilakukan oleh rasul saw, baik pekerjaan yang berkaitan dengan syari’ahatau kehidupan sehari-hari. c) Sunnah taqririyyah Yaitu apa yang dilakukan oleh para sahabat di hadapan Nabi, atau tidak di hadapan Nabi tapi Nabi mengetahuinya, dan Nabi saw membenarkan atau membiarkannya adn tidak melarangnya. c. Ilmu hadist Istilah-istilah dalam ilmu hadist :
1) Sanad, yaitu rangkaian para periwayat (rawi) yang menukilkan

isi hadist secara berkesinambungan dari yang satu kepada yang lain sehingga sampai kepada periwayat (rawi) terakhir. 2) Mantan, yaitu isi yang dimuat daalam hadist itu sendiri, baaik berupa perkataan, perbuatan, atau penbiaran nabi. 3) Rawi, yaitu orang yaitu yang menerima suatu hadist dan dalam menyampaikannya kepada yang lain. 4) Rijalul-Hadist, B. Tingkatan hadist Secara umum, hadist terbagi menjadi tiga tingkatan, yakni :
a. Hadist Shahih

orang-orang

yang

terlibat

periwayatan suatu hadist, yaitu para perawi hadist itu sendiri.

Yaitu hadist yang (1) berkesinambungan rawi-rawinya diterima dari rawi yang adil (memiliki sifat : muslim, dewasa, sehat akal dan tak pernah berbuat dosa, dan dhabith yaitu kuat hafalannya, cermat, baik, tanggapan

15

dan tidak pelupa. (2)tidak cacat,(3) tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat lainnya. Hadist shasih dibagi menjadi tiga, yaitu :
1)

Hadist muttawatir, yaitu yang diriwayatkan dari nabioleh perawi dan kepada banyak perawisampai waktu

banyak

dituliskannya, sehimgga karena banyak tidak memungkunkan mereka untuk berbohong.
2)

Hadist masyur, yaitu hadist yang pada aawalnya

diriwayatkan dari nadi secara orang perorang tetapi pada tingkat akhirnya diriwayatkan oleh banyak perawi.
3)

Hadist ahad, yaitu hadist yang diriwayatkan dari nabi

oleh seorang rawilainnya, dalam rangkaian satu peristiwa sampai dituliskan oleh perawi terakhirnya.
b. Hadist Hasan

Yaitu hadist yang sanadnya berkesinambungan tanpa putus, disampaikan oleh perawi yang adil, tanpa kurang kedhabitannya (kekuatan hafalannya), terbebas dari cacatdan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat. c. Hadist Dha’if Yaitu hadist yang tidak memenihi kriteria hadist shahih dan dadist hasan, baik dalam sanad ataupun pada rawinya, atau mengandung cacat dan bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat. C. Kitab-Kitab Kumpulan Hadits 1. Kitab Shahih Bukhari 2. Kitab Shahih Muslim 3. Kitab Sunan Abu Daud 4. Kitab Jami’ut-Turmudzi 5. Kitab Sunan Ibnu Majah 6. Kitab Sunan An-Nasa’i 6. IJTIHAD : SUMBER PENGEMBANGAN HUKUM ISLAM

A. Pengertian Ijtihad

16

Ijtihad berasal dari kata ijtihada artinya berusaha dengan sungguh-sungguh atau mengerahkan segala kemampuannya. Yang dijadikan sandaran dalam beritjihad adalah hadits tentang Muadz bin Jabal tatkala diutus oleh Nabi SAW, untuk menjadi hakim di negeri Yaman. B. Bentuk dan metodologi ijtihad
1. Ijma, yaitu kesepakatan diantara para mujtahid pada masa

tertentu atas hukum bagi suatu kasus tertentu.
2. Qiyas, secara bahasa yaitu analogi, sedangkan menurut istilah

yaituushul fikih adalah menetapkan suatu hukum baru yang belum ada nash-nya dengan hukum yang sudah ada nash-nya karena persamaan illat hukum.
3. Istihsan, yaitu meninggalkan qiyas jali (qiyas nyata) untuk

menjelaskan qiyas kahfi( qiyas samar-samar).
4. Mashalih al-Mursalah, yaitu kemaslahatan yang tidak ditetapkan

oleh syura’ dan tidak pula nash, atau dalil syura’nya, baik yang memerintahkan ataupun yang melarang.
5. ‘Urf atau adat kebiasaan, yaitu merupakan adat kebiasaan

masyarakat baik berupa perkataan atau perbuatan yang baik, yang karenanya dapat dibenarkan oleh syara’. Perbedaan Hasil Itjihad 1. Perbedaan itjihad itu harus disadari keberadaanya, 2. perbedaan itu dipengaruhi oleh kultur, kondisi, ruang dan waktu 3. Karena hasil itjihad dipengaruhi oleh ruang dan waktu, maka belum tentu cocok dengan jaman sekarang. 7. SYARI’AH, FIKIH, DAN HUKUM ISLAM A. Pengertian syari’ah, fikih dan hukum islam 1. Pengertian syari’ah Syari’ah secara bahasa adalah jalan menuju mata air. Dalam istilah islam syari’ah berarti jalan besar bagi kehidupan yang baik, yakni nilainilai agama yang dapat memberi petunjuk bagi setiap manusia. 2. Pengertian fikih Dalam sejarah, fikih mengalami perkembangan paling tidak terdapat tiga fase. Pertama, berarti paham (fahm) . kedua berarti pengetahuan,
17

dan yang ketiga berarti suatu jenis disiplin ilmu dari ilmu-ilmu keislaman. 3. Hubungan antara syari’ah dan fikih Jika syari’ah dibandingkan dengan fikih, maka perbedaannya sebagai berikut : a) Syari’ah identik dengan wahyu Allah, sedangkan fikih adalah produk fuqaha atau mujtahid. b) Syari’ah memiliki nilai kebenaran mutlak, sedangkan fikih sebagai produk memiliki kebenaran relatif dan zanni (perkiraan). c) Syari,ah adalah sasaran untuk dipahami dalam rangka untuk dipraktikan, sedangkan fikih sebagai proses adalah upaya untuk memahami syari’ah untuk dipraktikan. d) Syari’ah tidak akan berubah sedangkan fikih dapat berubah sesuai dengan kebutuhan umat. e) Pembuat syari’ah adalah Allah, sedangkan pembuat fikih adalah manusia. 4. Hukum islam Suatu waktu hukum islam berarti fikih, diwaktu yang lain, hukum islam berarti syari’ah. Meskipun demikian, istilah hukum islam biasa digunakan untuk makna fikih, bukan syari’ah. 5. Perbedaan antara hukum islam dan hukum umum a.Hukum umum hanya berdasarkan pandangan umat manusia, sedangkan hukum islam berdasarkan al-quran dan hadist.
b.

Cakupan hukum islam sangat luas, yaitu termasuk

hubungan manusia dan tuhannya, sedangkan pada hukum umum tidak termasuk hubungan manusia dan tuhannya. c.Hukum islam erat kaitannya dengan akhlak.
d.

Hukum islam menyeimbangkan kepentingan individu dan

masyarakat serta negara.
B. Sejarah Perkembangan Hukum Islam 1. Periode Rasulullah dan Para Sahabat

Pada Masa ini, merupakan Masa dari Nabi SAW. Merupakan masa trunnya Al-quran sebagai sumber hukum Islam pertama. Dan kemudian tumbuhnya sunnah, sebagai sumber hukum kedua. Alquran adalah “ Kalamullah yang ditururnkan kepada Nabi
18

Muhammad SAW. Ditulis dalam sebuah mushaf berbahasa Arab, diriwayatkan dengan jalan mutawatir, dan menjadi ibadah dengan embacanya.”
2. Periode Pertumbuhan dan Perkembangan Madzhab

a. Pengertian Madzhab, madzhab berarti pendapat, kepercayaan ideologi, doktrin, ajaran, paham dan aliran. Sedangkan madzhab menurut istilah adalah kumpulan hukum yang mencakup berbagai masalah yang disertai seperangkat metode dalam menemukan dan menggali hukum dari sumbernya, yaitu Alquran dan hadits
b. Ulama Pendiri Madzhab fikih diantaranya : Madzhab Imam Hanafi,

Madzhab Imam malik bin Anas, Madzhab Imam Syafii, Madzhab Imam Ahmad bin Hambal, dan Madzhab Imam Ja’far al-Shadiq.
3. Periode Taqlid dan Kebangkitan

Periode ini terbagi dalam dua bagian besar, Pertama Periode Taqlid ( artinya ikutikutan dibelakang ). Pada masa ini merupakan masa berkembangnya paham tertutupnya pintu Itjihad dan para ulama mencukupkan diri dengan menyusun kitabkitab Mukhtashar dan matan lalu disusun Syarah ( komentar ), hasyiyah ( catatan pinggir ), takhrij ( analisis hadits ), dan tarjih ( mengkompromikan yang bertentangan ). Periode kedua yaitu periode kebangkitan diamana para ulama memilki kempuan beritjihad namun beralih kepada madzhab yang sudah ada. C. Sebab-Sebab Terjadinya Perbedaan Pendapat Para Ulama Fikih 1. Beragam arti dalam lafaz-lafaz bahasa Arab. 2. Perbedaan dalam masalah Hadits 3. Perbedaan dalam masalah penggunaan metode penggalia hukum
4. Perbedaan cara penyelesaian ketika terjadi pertentangan dalil

D. Kaidah-Kaidah Hukum Islam ( Al-qawa’id Al-fiqhiyyah )

( Al-qawa’id Al-fiqhiyyah adalah kaidah-kaidah yang menghimpun hukum-hukum yang mirip berdasarkan satu qiyas yang menghimpun hukum-hukum tersebut. Contoh-contoh penerapan kelima kaidah, yaitu :
1. Al-umur bi Maqasidiha ( Segala urusan disertai dengan tujuannya ) 2. La dlarara wa la dlirara ( Tidak membuat dan menimbulkan kemudaratan ) 3. Al-Yaqin la yuzalu bi al-syak ( Keyakinan tidak lenyap dengan keraguan ) 4. Al-masyaqqah tajlibu al-taisir ( Kesulitan membolehkan kemudahan ) 5. Al-‘adah muhakkamah ( Kebiasaan dijadikan rujukan hukum ) 19

8. IBADAH : ASPEK RITUAL UMAT ISLAM A. Pengertian dan hakikat ibadah
1. Makna ibadah, ibadah berasal dari bahasa arab yaitu ibadah, yang

secara etimologi berarti menyembah atau menghamba., sedangkan secara istilah atau etimologi, artinya menyembah atau menghamba. Sedangkan secara istilah atau terminologi, ibadah yaitu penghambaan seorang manusia kepada Allah untuk dapat mendekatkan diri kepadaNya sebagai realisasi dari pelaksanaan tugas hidupselaku makhluk yang diciptakan Allah.
2. Kewajiban ibadah bagi manusia, beribadah kepada Allah berarti

memusatkan penyembahan kepada Allah semata-mata, tidak ada yang disembah dan mengabdikan diri kecuali kepada-Nya saja.pengabdian berarti penyembahan mutlak dan kepatuhan sepenuhnya secara lahir dan batin kepada kehendak ilahi.
3. Fungsi Ibadah, manusia dalam hubungannya dengan Tuhan menempati

posisi sebagai ciptaan, dan Tuhan sebagai Pencipta. Posisi ini memiliki konsekuensi adanya keharusan manusia untuk taat dan patuh kepada Penciptanya. Ini lah fungsi ibadah sebagai pengabdian hamba keapada sang pencipta
B. Bentuk-bentuk peribadatan 1. Shalat : Sendi dan Induk Ibadah a) Pengertian shalat

Shalat merupakan salah satu ibadah yang diwajibkan Allah bagi setiap muslim lima kali dalam sehari semalam dalam waktu-waktu yang telah ditentukan b) Fungsi shalat Shalat merupakan media komunikasi antara hamba dengan Khaliknya, dengan cara menghadapkan diri dan hati kepadanya. Ditinjau dari segi kedisplinannya, shalat juga merupakan penndidikan positif yang dapat nenjadikan manusia dan masyarakat jadi hidip lebih teratur.
20

2. Shaum : Ibadah yang Melibatkan Hawa Nafsu

a) Pengertian dan ketentuan shaum Shaum menurut bahas artinya menahan diri dari segala ssesuatu, seperti menahan tidur, menahan berbicara dan juga menahan makan. Sedangkan secara istilah, shaum adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, makan, minum, bersetubuh dan juga dari hawa nafsu yang dapat mengurangi nilai puasa tersebut, seperti berkata kotor dan berbuat keji mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. b) Nilai shaum Seruan Allah menunjukan prioritas keimanan sebagai azaz kebaikan dan sumber keutamaan, dan pada akhirnya seruan itu menyebutkan taqwa yang merupakan roh keimanan dan rahasia kemenangan.
3. Zakat : Wujud Ibadah Sosial

a) Pengertian zakat Secara bahasa, zakat berasak dari kata zaka, yang berarti mensucikan. Secara istilah, Sayid Sabiq mwngartikan zakat sebagai nama atau sebutan sesuatu hak Allah yang dikeluarkan seseorang kepada fakir miskin. Sedangkan menurut Sulaiman Rasyid, zakat yaitu kadar harta tertentu yang diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan beberapa syarat. Jadi zakat adalah sebagian harta yang diambil dari milik seseorang yang punya dan diberikan kepeda seseorang yang berhakmenerimanya sesuai dengan ketentuan.
b)

Fungsi zakat

Zakat memiliki fungsi yang besar, baik bagi muzakki, mustahiq maupun bagi masyarakat muslim pada umumnya. Bagi muzakki, zakat berarti mendidik jiwa untuk suka berkorban dan membersihkan jiwa dari sifat kikir, sombong dan angkuh yang biasanya menyertai pemilikan harta yang banyak dan berlebihan.
4. Haji : Puncak Ibadah dan Pengorbanan Lahir dan Batin

a) Makna dan tujuan

21

Haji secara bahasa artinya menyengaja sesuatu. Sedangkan secara istilah syara’ yang dimaksud haji itu adalah menyengaja mengunjungi ka’bah untuk melakukan beberapa amal ibadah dangan syarat-syarat tertentu. Haji merupakan suatu ibadah yang sudah dikenal sejak zaman sebelum nabi Muhammad saw.yang menuntut dari orang yang melaksanakannya supaya dikerjakan dengan hati, badan, dan hartanya yang berbeda dengan ibadahibadah lainnya. b) Tata cara haji Ibadah haji dilakukan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang dikerjakan secara fisik berupa ihram, thawaf, sa’i, wuquf, mabit, lempar jumroh, dan tahallul.

9.

MEMBANGUN KELUARGA YANG ISLAMI A. Keluarga Untuk membangun sebuah keluarga yang islami, harus dimulai sejak persiapan pernikahan, pelaksanaan pernikahan, sampai pada bagaimana seharusnya suami istri membina keluarga setelah akad nikah di langsungkan. 1. Persiapan nikah Rasulullah memberikan tuntutan bahwa ketika seseorang akan menikah hendaknya bersabda : “ Wanita itu dinikahi karena empat hal, yaitu :karena hartanya, karena kecantikannya, karena keturunannya, karena agamanya. Utamakanlah karena agamanya, niscaya kamu akan selamat.” (H.R.Bukhori Muslim) Boleh saja seseorang yang akan menikah memperhatikan harta, keturunan atau kecantikan calon pasangannya, namun ketiga faktor tersebut hendaklah tidak menjadi penentu, karena : a. Harta hanya titipan dari Allah. b. Keturunan tidak menjamin. c. Kecantikan tidak relatif.
22

memperhatikan

agama

calon

pasangannya.

Beliau

Yang termasuk muhrim adalah : a. Diharamkan karena turunannya 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 1) 2) 1) 2) 3) 4) Ibu dan seterusnya keatas Anak perempuan dan seterusnya kebawah Saudara perempuan kandung, seayah, atau seibu Bibi dari bapak Bibi dari ibu Keponakan perempuan dari saudara laki-laki Keponakan perempuan dari saudara perempuan Ibu yang menyusui Saudara perempuan sesusuan Ibu Istri ( mertua ) Anak istri dari suami sebelumnya, jika istri tela digauli Istri bapak, walaupun sudah dicerai Istri anak, walaupun sudah dicerai

b. Diharamkan karena susuan

c. Diharamkan karena pernikahan

2. Pelaksanaan pernikahan a. Adanya pasangan yang akan dinikahkan, yaitu laki-laki muslim dan perempuan muslimah. b. Wali, yaitu orang yang bertanggung jawab untuk menikahkan calon pasangan suami istri. c. Dua orang saksi yang adil. d. Ijab-qabul e. Mahar 3. Pembinaan keluarga a. Kewajiban suami dalam keluarga Suami adalah pemimpin dalam keluarga disebabkan Allah telah memberikan kelebihan ( kekuatan ) kepada mereka atas kaum perempuan. Firman Allah : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah melebihkan sebagian dari mereka (laki-laki atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki)
23

telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Q.S.An-Nisa [4]: 34) Dengan kelebihan itulah, maka kepada suami dibebani tugas yang harus dilaksanakan, antara lain : a) Menggauli istri dengan sopan. b) Memberikan nafkah batin. (seperti keamana, ketenangan, dan termasuk kebutuhan biologis). c) Memberikan nafkah lahir, berupa makanan, pakaian dan tempat tinggal. b. Kewajiban istri dalam keluarga a) Patuh kepada suami. b) Malayani kebutuhan biologis suami. c) Berterima kasih atas pemberian suami. c. Kewajiban orang tua pada anak a) Mencukupi kebutuhan anak akan makanan, pakaian dan tempat tidur yang layak sesuai dengan kadar kamampuannya. b) Manjaga keselamatan anak, semenjak dari rahim hingga beranjak dewasa. c) Mendidik anak, baik secara langsung ataupun menitipkan pada lembaga, agar anak menjadi shaleh segaligus menjadi bekal hidupnya di masa yang akan datang. d) Selalu berdo’a untuk kebaikan anak-anak.. e) Mengawinkan jika sudah dewasa. d. Kewajiban anak kepada orang tua. a) Mematuhi perintah orang tua. b) Berbuat baik kepada orang tua. c) Berkata lemah lembut kepada orang tua. d) Merendahkan diri di hadapan orang tua. e) Memohon rahmat dan maghfiroh kepada kedua orang tua. f) Setelah mereka wafat. Shalatkan jenazahnya mohonkan rahmat dan ampunan untuknya, sempurnakan janjinya, hormati sahabatnya, dan teruskan jalinan kekeluargaan yang pernah dibina oleh keduanya.
24

B. Masalah harta peninggalan (mawaris)

Mawaris menyangkut tatacara pembagian harta yang ditinggalkan oleh seseorang karena meninggal dunia. 1. Pembagian mawaris adalah hak Allah. Harta yang ditinggalkan oleh seorang muslim karena meninggal dunia, menurut ajaran islam mesti di bagikan berdasarkan aturan pembagian yang telah ditetapkan sebagai mana tercantum dalam Al-quran dan Assunnah. Hal ini di kerenakan oleh beberapa prinsip : a) Bahwa harta itu hakekatnya adalah milik Allah, sedangkan manusia hanyalah memiliki hak memakai dan memanfaatkan berdasarkan ketentuan-ketentuan Allah. b) Harta hanya berhak dimanfaatkan dan digunakan oleh manusia yang masih hidup, karena materi menurt pandangan islam adalah alat untuk menjalani kehidupan di dunia. c) d) Seseorang yang meninggal dunia utus hubungan dengan Hanya Allah yang berhak menentukan kepada siapa dan harta dan harta kembali kepada pemiliknya, yaitu Allah swt. berapa banyak harta itu didistribusikan kembali. 2. Prinsip-prinsip Kewarisan dalam Islam a. Harta warisan dibagikan kepada orang -orang yang memiliki hubungan bathin terdekat dengan yang meninggal. b. Laki-laki dan perempuan sama-sama mendapatkan bagian dari harta yang diwariskan. c. Yang diwariskan kepada ahli waris adalah : 1) 2) Harta benda yang riil Hak-hak material

d. Harta yang diwariskan dapat dikurangi karena hal-hal sebagai berikut : 1) Pembayaran utnag orang yang meninggal

2)Biaya pemeliharaan mayat 3)

Pemenuhan wasit sampai batas yang

diperbolehkan syara’
25

e. Warisan terjadi setelah kematian dan yang hidup yang punya hak atas harta warisan.

3. Ketetapan Allah dan Rasul-Nya dalam Pembagian Warisan a. Ayat Al-Quran tentang warisan







                

         

             

       

          

  



               
Artinya : “Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anakanakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka
26

dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” ( Q.S AnNisa : 11 ) b. Hadis Tentang Warisan

Salah satunya dari Ibnu Mas’ud dalam kasus ahli waris terdiri dari anak perempuan, anak perempuan dari anak laki-laki dan seorang saudara perempuan bahwa Rasulullah SAW memutuskan seperdua untuk anak perempuan, sperenam untuk anak perempuan dari anak laki-laki memenuhi jatah dua pertiga dan sisanya ntuk saudara perempuan. ( H.R. Bukhari dalam Minhaaj ash-Shalihin ) c. Bagian warisan yang ditetapkan melalui itjihad adalah :

1) 1/3 bagian untuk ibu dari sisa suami atau isteri, apabila ahli waris terdiri dari

suami/istri, ayah, dan ibu serta saudara tidak lebih seorang. ( kasus ‘umariyah )
2) Saudara seayah seibu bersama-sama dengan saudara seibu mereka mendapatka

1/3 dari harta peninggalan
3) Hak anak-anak dari anak yang meninggal lebih dahulu sebelum orang yang

meninggalkan harta warisan sebanyak bagian orang tuannya, tapi tidak lebih dari 1/3 harta warisan. Hak ini disebut washiyat waajibah. 4. Pembagian Waris kepada Ahli Waris Dalam pembagian warisan kepada ahli waris diatur dalam ‘Ilmul-Faraai’dl (Ilmu Bagi Waris ).

27

a. Ahli Waris Ahli waris adalah orang-orang yang diberi hak oleh Alla SWT. Untuk mendapatkan bagian dalam mendistribusikan harta yang ditinggalkan oleh seseorang yang meninggal, baik karena ada kaitan kekerabatan, perkawinan, atau perwalian. 1) Jenis-jenis Ahli Waris :
a)

Ashaabul Furudl, yaitu ahli waris yang mendapatkan furudl,

yaitu bagia tertentu yang telah ditetapkan jumlahnya dari harta warisan, seperti 2/3 bagian, 1/4 bagian, 1/6 bagian, dan 1/8 bagian.
b)

Ashabah, yaitu ahli waris yang mendapatkan semua warisan

apabila tidak ada ashaabul-furudl. 10. Makanan dan Minuman dalam Islam A. Pendahuluan Halal dan Haram merupakan hak absolut Allah, artinya manusia tidak punya otoritas untuk mengharamkan atau menghalalkan sesuatu. Bahkan Al-Quran secara tegas mengecam para ahli kitab, yang memberi otoritas kepada para rahib dan pendeta untuk mnegharamkandan menghalalkan sesuatu. B. Konsep dasar halal dan haram dalam islam Yusuf Qardhawi (2005 : 11) mengemukakan yang dimaksud dengan halal adalah sesuatu yang tidak menimbulkankerigian dan Allah memberikan kewenangan untuk melakukannya. Sedangkan haram adalah sesuatu yang secara tegas dilarang Allah untuk dikerjakan dan pelakunya diancam siksa dan hukuman secara permanen diakhirat bahkan kadang-kadang ditambah dengan sanksi dunia.
1. Halal dan Haram adalah Hak Absolut Allah dan Rasul-Nya.

Otoritas Allah SWT sebagai Sang Pencipta segala keputusan halal dan haramnya segala sesuatu di tangan Allah SWT. Dia mencabut kewenangan ini dari tangan manusia, apapun kedudukan dan statusnya dalam masyarakat. Bahkan secara tegas Allah SWT mencela orang-orang menghalalkan dan mengharamkan sesuatu sekehendak hatinya. Dengan demikian jika manusia mengharamkan atau menghalalkan sesuatu sesuai dengan legitimasi-Nya, berarti telah melanggar bahkan merampas hak dan kewenangan Allah SWT.
28

Disamping sebagai hak absolut Allah SWT, kewenangan untuk mengharamkan atau menghalalkan sesuatu diberikan kepada Rasul-Nya. Disinilah Fungis Rasul SAW, sebagai penjelas kitab suci Al-Quran. 2. Kejelasan halal dan haram Dalam islam, sesuatu itu terbagi menjadi tiga macam hukum, yaitu halal, haram dan subhat.sesuatu yang ditegaskan halalnya oleh Allah, maka ia adalah halal, seperti firman Allah (Q.S..Al-maa’idah [5] :5 ), “ Aku halalkan bagi kamu halhal yang baikdan makanan (sembelihan) ahli kitab halal bagi kamu”. Adapun yang Allah nyatakan dengan tegas keharamannya, maka ia menjadi haram, seperti firman Allah dalam (Q.S An-Nisa[4];23), “ diharamkan bagi kamu menikahi ibu-ibu kamu, anak-anak permpuan kamu..........”. Adapun yang subhat (samar) yaitu setiap hal yang dalilnya masih dalam pembicaraan atau pertentangan, maka menjauhi perbuatan semacam ini termasuk wara’. Sebagian ulama berpendapat bahwa hal semacam itu haram hukumnya berdasarkan sabda rasulullah, “barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dam kehormatannya”. 3. Halal dan Haram Bersifat Universal Prinsip kehalalan dan keharaman bersifat Universal, Hukum Halal dan Haram tidak hanya berlaku bagi orang Arab saja melainkan bagis seuruh manusia, tidak ada toleransi. Semua yang dihalalkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya berarti Halal untuk semuanya
C. Hidangan Islami : Halal Haram dalam Makanan danMminuman

1. Perintah Allah encari makanan yang halal lagi baik “ Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan : karena sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.
2. Al-qur’an hanya mengharamkan Al khabaits

Makanan dan minuman yang diharamkan secara umum tidak lebih dari empat jenis makanan, yaitu : bangkai, darah, babi, dan binatang yang disembelih atas nama selain Allah dan satu jenis minuman yaitu minuman yang memabukan. Termasuk khabaits juga hal-hal yang diharamkan dalam hadits nabi Muhammad saw. a. Bangkai
29

1) 2) 3) tinggi. 4) 5) b. Darah

Al Munkaniah, hewan yang mati karena tercekik. Al Maukudzah, hewan yang mati karena terpukul. Al Muraradiyah, hewan yang terjatuh dari tempat yang Al Nathihah, hewan yang ditanduk dengan hewan lain. Hewan yang sebagian tubuhnya dimakan hewan buas.

Kelima jenis bangkai diatas nenjadi halal jika sempat disembelih sebelum mati. Darah yang haram disini adalah darah yang mengalir. Seperti dalam firman Allah SWT dalam surat Al An am :













          



   





 

 

  

            
Artinya : Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena Sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". ( Al An’am : 145 ) c. Babi

Makanan yang diharamkan adalah babi, Babi adalah hewan kotor, dan jorok, dan memamkan kotoran oleh karen aitu islam mengharamkan memakan Babi
30

d.

Binatang Yang Disembeli atas nama selain Allah

Pengharaman makanan jenis ini bukan sebatas aspek fisik hewan tersebut tetapi ada unsur ruhiyah yaitu peyembahan kepada selain Allah. e. Arak Termasuk kedalam minuman khamr, yaitu menutup akal, maksudnya orang yang meminum khamr akan mengalami kehilangan akal sehat. Menurut sabda Rasulullah SAW “Setiap yang memabukan adalah khamr dan setiap khamr itu diharamkan” ( H.R Ahmad ).

11. Konsep Dasar Ekonomi Dan Transaksi Dalam Sistem Muamalah Islam

A. Pendahuluan Muamalah adalah ajaran Islam yang menyangkut aturan-aturan dalam menata hubungan antar sesama manusia agar tercipta keadilan dan kedamaian dalam kebersamaan hidup manusia. Konsep dasar Mu’amalah dibangun atas asumsi tentang fungsi manusia menurut ajaran Islam sebagai khalifah di muka bumi, yang bertgas menata kehidupan sebak mungkin sehingga tercipta kedamaian dalam hidup di tengah perkembangan budaya manusia yang dinamis. B. Landasan Pemikiran Ekonomi Islam Kunci falsafah ekonomi Islam terletak pada hubungan manusia dan Tuhan, hubungan manusia dan manusia, dan hubungan manusia dengan alam semesta serta tujuan hidupnya dimuka bumi. Segala sesuatu yang ada di alam semesta dengan sumberdaya dan tenaga yang dikandungnya disediakan oleh Allah SWT bagi manusia untuk dimanfaatkan, tetapi semua itu adalah milik Allah semata.Islam menetapkan bahwa kehidupan harus dilakukan dengan wajar; bekal yang cukup dari sumber-sumber kehidupan yang dibutuhkan harus disiapkan agar manusia dapat bertahan dan mencapai tarap kehidupan yang lebih baik.
31

Dalam falsafah ekonomi diatas membuka perspektif yang baik bagi kegiatan ekonomi. Tiada larangan apapun untuk menjalankan usaha ekonomi. Manusia dianjurkan untuk memanfaatkan kesempatan luas untuk berproduksi. Tuuan dalam ekonomi merupakan sifatnya pribadi atau demi kepentingan sosial. Tidak ada batasan maksimum yang ditetapkan dalam jumlah kepemilikan, tapi kesederhanaan dalam pemenuhan kebutuhanhidup lebih diutamakan. Sedangkan keserakahan, kebakhilan dan keinginan berlebihan untuk mencapai kesenangan dan kemewahan adalah tercela. Dalam membentuk sistem perekonomian, Islam telah menetapkan prinsip-prinsip yang mesti dijadikan acuan dalam melaksanakannya. Prinsip-prinsip tersebut adalah : a. Harta yang baik merupakan tulang punggung kehidupan b. Setiap orang yang manpu dan punya potensi untuk bekerja. c. Sumber-sumber alami perlu dicari dan segala materi dan energi yang ada wajib dimanfaatkan. d. Sumber-sumber pemasukan tidak boleh diperoleh dari usaha yang tidak baik. e. Kegiatan ekonomi harus mendekatkan jarak antara berbagai lapisan masyarat yang berbeda-beda, baik pada golongan kaya-raya maupun fakir. f. Perlu ada jaminan sosial bagi setiap warga dan perlindungan atas kehidupan dan ada usaha untuk memberikan kesenangan dan ketenangan bagi mereka. g. Mendorong pengeluaran infak dalam kebajikan , membangun solidaritas antar warga, dan mewajibkan kerjasama atas dasar kebajikan dan takwa. h. Harta ditetapkan sebagai barang terhormat. i. Sistem transaksi material disusun berdasarkan aturan yang adil. j. Negara bertanggung jawab melindungi berjalannya sistem perekonomian. C. Masalah Kepemilikan 1. Pemilikan Pribadi Menurut Islam Islam mengakui pemilikan harta pribadi. Baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun orang dewasa. Mengikuti hak kepemilikan adalah dak pengelolaan, penggunaan, dan pengembangan harta oleh pemiliknya dengan syarat dilakukan dengan cara-cara yang baik dan halal serta sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama. 2. Sumber-sumber kepemilikan Kepemilikan harta pribadi dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti melalui hasil usaha sendiri dengan bentuk usahanya, warisan, atau pemberian yang dapat berupa hibah, hadiah, sodaqoh, infak, mahar, iqtha. 3. Usaha yang Dilarang
32

Semua keuntungan yang diperoleh adalah hram dimanfaatkan oleh orang yang melakukan. a. Riba b. Pencurian, perampokan, korupsi, dan mengambil hak orang lain. c. Perdagangan barang yang diharamkan agama d. Bisnis judi dan hiburan maksiat. e. Penyuapan f. Perdagangan secara licik dalam bentuk :
1. Ihtikar ( menimbun barang )

2. Manipulasi 3. Bersumpah atas barang dagangan 4. Iklan yang menipu D. Masalah Transaksi Islam menghormati perjanjian dan transaksi yang dibuat antar manusia. Transaksi dalam kegiatan ekonomi dapat berupa :
1. Transaksi Jual Beli

2. Transaksi utang piutang 3. Transaksi sewa menyewa 4. Transaksi upah mengupah
12. ETOS KERJA DAN ENTERPRENEURSHIP

A. Pendahuluan Seorang muslim harus yakin bahwa berusaha dan bekerja itu merupakan kewajiban dalam hidupnya, karena dalam bekerja terdapat tujuan mulia, manfaat dan hikmah yang banyak. Enterpreneirship memiliki nilai-nilai luhur untuk membangun dan mengatasi persoalan hidup yang sedang akan kita hadapi.









          
Artinya : “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” ( Q.S Hud : 15 ) B. Rizki Menurut Islam
33

1. Sumber Rizki Segalan bentuk rizki yang nyatanya berasal dari Allah Yang Maha Pemberi Rizki ( ArRazzaq ). Karena bumi dan lngit serta segala isisnya merupakan untuk kesejateraan manusia. 2. Jalan Memperoleh Rizki Ada banyak jalan bagi seseorang untuk memperoleh rizki, Ada orang yang memperoleh rizki karena adanya warisan. Ada juga orang yang memperoleh rizki dari hadiah, pemberian orang, undian berdagang, bertani, bekerja, berwirausaha, dan lainlain. Dan macam-macam jalan untuk memperoleh rizki itu semua dikelompokan menjadi dua saja, yaitu : Pemberian pihak yang lain dapat terjadi karena hubungan kekeluargaan, perkawinan, atau karena hubungan persahabatan. Berusaha atau bekerja untuk mengeksploitasi sumber-sumber alam dengan secara langsung berupa barang atau jasa. 3. Pembagian Rizki Walaupu manusia dilahirkan sama, namun dalam perkembangannya merka bisa berlainan tergantung niat, bakat, semangat, kesempatan, keterampilan, lingkungan, dan sebagainya. Faktor-faktor ini diasumsikan sangat mempengaruhi perolehan rizki, sehingga rizki yang diperoleh seseorang berbeda-beda. C. Perintah dan Hubungan Berusaha Sesungguhnya Allah telah menciptakan bumi terhampar luas disertai dengan banyaknya fasilitas disediakan manusia, agar manusia dapat berusaha mencari rizki yang disediakan-Nya bagi kehidupan manusia. Sudah menjadi sunatullah bahwa siapa yang rajin bekerja niscaya akan memperoleh hasil usahanya. Menari dan menjemput rizki merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam. D. Tujuan, Manfaat,dan Hikmah Berusaha Adapun manfaat dan hikmah berusaha, diantaranya sebagai berikut : 1. Membina Ketenraman dan Kebahagiaan 2. Memenuhi Nafkah Keluarga 3. Memenuhi Hajat Masyarakat 4. Sarana Ibadah 5. Shadaqah 6. Menolak Kemunkaran E. Jenis-jenis Usaha
34

1. 2. 3. 4.

Employee atau Karyawan Self Employee ( Akuntan, pengacara, notaris, Dokter Spesialis ) Business Investor

F. Hakikat Nilai Kewirausahaan Istilah kewirausahaan telah dipekenalkan dalam perekonomian oleh Cantillon tahun 1755 dan dikembangkan oleh ahli ekonomi Prancis J.B Say sekitar tahun 1800-an. Wirasusaha adalah seorang yang mengorganisasikan sumber-sumber, tenaga kerja, material, dan aset sehingga perubahan, inovasi, dan tatanan baru dengan tujuan mendapatkan nilai tambah. Sifat-sifat kewirausahaan mencerminkan ciri-ciri kepribadian wirausaha yang didalamnya tercermin nilai-nilai apa yang memberikan kekuatan pada pribadi wirausahawan. G. Meniti Jalan Enterpreneurship Langkah awal dalam meniti kewirausahaan : 1. Berani Memulai 2. Berani Menanggung Resiko 3. Setaip Tindakan yang dilakukan penuh perhitungan dan pertimbangan matang 4. Seorang enterpreneur harus mampu menyususn suatu rencana sekarang dan kedepan sebagai pedoman dan alat kontrol baginya 5. Tidak cepat puas dan putus asa 6. Setiap tindakan harus selalu diiringi dengan sikap optimis dan penuh keyakinan karena ini merupakan motivasi untuk melangkah maju 7. Memiliki tanggung jawab 8. Memiliki etika dan moral sebagai benteng agar menjadi sukses. 13. AKHLAK DAN TASAWUF A. Islam dan Problema Nilai 1. Problema Nilai Baik-Buruk dan Benar-Salah Dalam menentukan Baik-Buruk dan Benar –Salah kita memelukan patokan yang pasti, tidak berorientasi pada penilaian diri sendir, oleh karena itu kita memerlukan norma dan nilai; kita memerlukan satnadar untuk menentukan secara obyektif apakah perbuatan dan tindakan yang kita pilih itu baik atau tidak, benar atau salah sehingga yang terperhatikan bukan lagi kepentingan diri kita sendiri saja, melainkan juga kepentingan orang lain, kepentingan bersama, kepentingan umat manusia secara

35

keseluruhan. Dan untuk itu, setiap individu dituntut memiliki komitmen moral, yaitu ikatan spiritual pada norma kebajikan dan kebaikan. 2. Manusia dan Nilai-Nilai kehidupan Kehidupan manusia tidak terlepas dari nilai-nilai kehidupan di mana manusia, dalam membuat keputusan untuk bertindak atau tidak bertindak dalam kehidupan itu, didasari dan didorong oleh nilai-nilai kehidupan yang mereka anut. Nilai-nilai dalam kehidupan sendiri dapat diartikan sebagai seperangkat keyakinan tentang baik buruk, benar-salah, patut-tidak patut, atau bagus-tidak bagus yang dirasakan individu. Nilai-nilai ini mendorong untuk memutuskan apakah ia akan berbuat sesuatu atau tidak, akan bertindak atau tidak akan bertindak. Nilai nilai yang ada pada kelompok masyarakat biasanya tercipta akibat dari proses perkembangan nilai buday, berasal dari peraturan formal-formal, atau dari agama yang dianut oleh kelompok tersebut. 3. Islam sebagai Norma Kehidupan Norma-norma kehidupan yang ditetapkan oleh islam datang dari Allah, bersifat sakral, absolut, imperatif, adkurat, dan universal dan memiliki makna ukrawi. Normanorma keislaman ditentukan dengan pola-pola perilaku yang disebut dengan akhlak. Model perilaku yang baik disebut dengan Al-Akhlak al-karimah atau al-akhlaq al-mahmudah dan model-model perilaku yang tidak baik disebut dengan al-akhlak as-sayyiah atau alakhlaq al-madzmumah. Norma-norma dalam islam diwujudkan delam bentuk perintah dan larangan, dorongan dna cegahan, pujian atau kecaman, serta harapan dan penyesalan atas sesuatu perbuatan yang dilakukan. B. Akhlak : Misi dan Tujuan Utama Agama Islam
1. Tujuan Ajaran Akhlak

Akhlak merupakan dimensi ke tiga dari ajaran Islam setelah aqidah dan syariah. Akidah meyangkut masalah-masalah yang harus diimani dan diyakini oleh manusia sebgai suatu yang hakiki. Syariah menyangkut sesuatu ketentuan-ketentuan berbuat dalam menata hubungan dengan Allah dan sesama makhluk. Akhlak berkaitan dengan ajaran bagaimana seharusnya seorang manusia bertindak sehingga ia dapat mengukur dan diukur moralitasnya. Dengan begitu ia dapat ditentukan, apakah ia bermoral atau tidak bermoral, berdasarkan kaidah-kaidah oral yang telah ditetapkan Islam.
2. Akhlak sebagai Misi Utama Agama Islam

Perbuatan akhlak merupakan misi inti dari setiap diutusnya Rasul ditengah-tengah suaut umat. Rasul dan nabi hadir untuk mengajarkan akhlak mulia dan mencontohkan bagaimanaa akhlak itu ditampilkan dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu Nabi-nabi
36

dan rasul-rasul pilihan Allah itu memiliki memiliki akhlak yang terpuji dan moralitas yang tinggi. 3. Cakupan dan Lingkup Ajaran Akhlak Norma-norma Islam melingkupi : a. Akhlak terhadap Allah b. Akhlak terhadap diri sendiri c. Akhlak terhadap sesama manusia d. Akhlak terhadap lingkungan alam C. Sumber dan Model Akhlak Islami 1. Sumber Akhlak Islami Ukuran-ukuran normatif yang tercakup dalam ajaran akhlak Islam tersebut bersumber dari Al-Quran yang merupakan firman Allah SWT yang kebenarannya tidak dapat dibantah dan tak perlu diperdebatkan. Juiga bersumber dari As-Sunnah yang tertuang dalam hadis-hadis sebagai keterangan dan penjabaran serta petunjuk operasional dari apa yang dimaksud dalam Al-Quran, As-Sunnah pun merupakan sebuah ketetapan yang harus diikuti dan petunjuk yang harus ditaati serta contoh yang harus ditauladani. 2. Nabi Muhammad SAW sebagai Model dalam Melaksanakan Akhlak Islami Ketinggian Akhlak Rasulullah SAW itu ditunjukan dengan kepribadiannya yang terikat secara penuh pada nilai-nilai hidup yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Segala tindakan dalam kehidupannya selalu didasarkan pada kaidah moral yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Quran. Berfikir berbicara, berbuat, dan bertindak sepenuhnya merujuk pada apa yang tertuang dalam Al-Quran itu sendiri.

D. Tasawuf : Ekspresi Bathin Moral Islami 1. Akar Linguistik Kata Tasawuf Tashawuf secara historis berkaitan dengan zuhud, secara leksis berkaitan dengan kata shuf, dan secara semantik berkaitan dengan takziyatu-nafsi ( penyucian diri dan akhlak ). 2. Tujuan dan Smber Tasawuf a. Tujuan Dari Tasawuf
37

Tujuan dari tasawuf adalah untuk berusaha meresapi ajaran agama secara bathiniyah, maka orang yang beranggapan bahwa taswuf adalah mistisme dalam Islam, Tapi bagaimanapun Tasawuf pada umumnya adalah gerakan akhlak. Tujuan utama dari Tasawuf adalah keinginan kuat untuk merasa degan Allah SWT. Sehingga Allah hadir dalam dirinya. b. Sumber-Sumber Ajaran Tasawuf Ajaran-ajaran tasawuf bersumber dari : 1) Ayat suci Al-Quran 2) Perikehidupan, Perilaku, dan Perkataan Rasulullah SAW 3) Perikehidupan para sahabat yang shaleh dan para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW c. Konsep-Konsep dalam Ilmu Tasawuf Ada beberpa jenjang yang ditempuh para salik ( murid tasawuf ) dalam mencapai ma’rifat, yaitu Maqamat. Yang termasuk dalam Maqamat diantaranya adalah : 1. Taubah 2. Zuhud 3. Wara’ 4. Faqar 5. Shabr 6. Ridha 7. Tawakkal
14.

DAKWAH

DAN

AMAR

MA’RUF

NAHYI

MUNKAR A. Dakwah 1. Pengertian Dakwah Menurut bahasa dakwah berarti : memanggil, menanamkan, mengundang, menyeru, mengajak, mendoakan, yang terkandung di dalamnya artinya menyampaikan sesuatu kepada orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. 2. Tujuan Dakwah a. Memanggil kepada sya’riat b. Memanggil kita kepada fungsi hidup kita sebagai hamba Allah di atas dunia yang terbentang luas ini.
38

c. Memanggil kita kepada tujuan hidup kita yang hakiki. 3. Profil seorang Da’i a. Mempunyai ilmu pengetahuan yang bijaksana b. Pandangan jauh ke masa depan c. Arif bijaksana d. Teguh Pendirian e. Adil dalam Bertindak f. Sehat jasmani dan rohani g. Pandai berkomunikasi h. Ikhlas i. Yakin bahwa misinya akan berhasil B. Amar Ma’ruf Nahyi Munkar 1. Urgensi Amar Ma’ruf Nahyi Munkar Dalam menegakan amar ma’ruf nahyi munkar bagi seorang muslim yang beriman harus satu badan dengan muslim lainnya, kompak dalam menata kesolehan lingkungannya. Seorang muslim tidak boleh sendirian. Ia harus memiliki kepedulian terhadap baik buruk orang lain di lingkungannya. Jika tidak melakukan amar ma’ruf nahyi munkar sama artinya membiarkan ancaman bahaya menghampiri dirinya. 2. Pengertian dan Hukum Amar Ma’ruf Nahyi Munkar Secar Harfiah ma’ruf berarti diketahui. Maksudnya apa yang dipandang sebagai yang telah diketahui dan dikenal, dan secara sosial dapat diterima. Antitesis dari ma’ruf adalah munkar yang secara harfiah berarti tidak diketahui atau asing. Dengan kata lain Ma’ruf berarti segala sesuatu yang terjadi dari dan sesuai dengan nilai dan kebenaran agama, dan munkar berarti segala sesuatu atau perbuatan yang bertentangan dengan nilai dan kebenaran agama. 3. Pengaruh Kemunkaran Kemunkaran merupakan bencana yang paling berbahaya dan mengancam kehidupan masyarakat muslim. Kemunkaran dapat meracuni hati, meracuni fikiran, melemahkan dorongan untuk berbuat baik, membutakan mata hati, menghilngkan rasa malu, menjauhkan fikiran dan kesadaran diri mengingat Allah, menimbulkan bebagai rasa takut, khawatir dan gelisah didalam hati, menjungkirbalikan kemuliaan manusia menjadi kenistaan dan kehinaan. 4. Pencegah Kemunkaran
39

Dalam mencegah kemunkaran, hadis menggunakan istilah taghyir ( merubah ), maksudnya perubahan kearah kebaikan. Tingkat strategi dalam mencehgah kemunkaran ada tiga, yaitu : a. Dengan tangan, yang dapat diartikan kekuasaan dan kewenangan b. Dengan Lisan, yakni dengan segala bentuk ucapan atau tulisan yang berupa ajakan atau nasihat. c. Dengan Hati, orang tidak mampu mencegahnya dengan tindakan dan ucapan, tidak berarti ia hanya diam. C. Jihad 1. Konsep Jihad Manusia memiliki potensi kebajikan dan Islam datang membawa ajaran dan nilai-nilai kebaikan. Untuk memelihara kemanusiaanya, Allah menciptakan akal dan kalbu. Sementara untuk mengawal kebaikan, Islam memasukan jihad sebagai salah satu ajarannya dan sebagai perisai kebaikan, bahkan Islam menyuruh manusia untuk mempejuangkan kebaikan ( kebenaran ) hinga kekuatan kebatilan hancur tak terkalahkan. 2. Sabar dalam berjihad Jihad terambil dari akar kata “ ja-ha-da”, artinya sulit dab letih. Jihad memang suluit dan menyebabkan keletihan. Arti lain dari jihad adalah kemampuan, karena dalam jihad menuntut orangnya untuk mengeluarkan segala daya dan upaya serta dilakukan sebesar-besarnya kemampuan. Jihad juaga mengandung makna ujian/ cobaan, yakni ujian bagi kualitas seseorang. Dengan kata lain dalam berjihad kita perlu mebutuhkan kesabaran dan ketabahan. 3. Macam –macam Jihad Ada tiga macam jihad : a. Jihad dengan Fisik. b. Jihad dengan harta. c. Jihad dengan nyawa. d. Jihad dengan totalitas manusia. e. Jihad dengan apapun sesuai bentuk serangan lawan. 4. Jihad Sebagai upaya Mencapai Syahadah Syahadah artinya kesaksian atau bukti. Orang yang bersaksi atau meberikan bukti disebut syahid.
40

15.

ISLAM DAN ISU-ISU KONTEMPORER

A. Demokrasi dan Kepemimpinan Islam 1. Musyawarah Islami Versus Demokrasi Untuk menggali hukum musyawarah dalam Islam tidak terlalu sulit seperti menentukan hukum pandanannya yaitu demokrasi, yang diberi pengertian kedaulatan rakyat secara umum. Musyawarah dalam pemikiran fiqih adalah wajib. Secara terminologis, demokrasi tdak dikenal dalam Islam, adapun istilah musyawarah yang terdapat dalam praktik penyelengaraan negara modern diidentikan dengan demokrasi., paling tidak Syura ada kaitannya dengan demokrasi, namun syura yang diwajibkan dalam Islam itu tidak dapat dibayangkan berwujud seperti bentuk pertama, karena itulah dalam kehidupan empirikal sekarang justru menjadikan syura lumpuh. Prunsip Musyawarah ; a. Memelihara amanah Allah dengan sebaik-baiknya. b. Menegakan keadilan dalam segala urusan. c. Taat dan patuh kepada undang-undang yang ditetapkan. 2. Teokrasi dan Demokrasi Model kekuasaan di tangan Tuhan dikategoriakn sebagai Teokrasi. Teokrasi dalam arti yang sebenar-benarnya sudak tidak lagi ada di dunia ini. Perubahan pemikiran dan pengalaman empirik manusia yang melaksanakannya menghendaki persamaa, keadilan, dan kekuasaan empiriknya mulai dikembangkannya sendiri berdasarkan pengalaman dan penafsiran terhadap kekuasaan dan doktrin-doktrin ajaran tuhan. Alasan yang mempertahankan demokrasi sebagai konsep dasar yang meyakini akan keabsolutan dan mengajarkan kestiaan dan mengajarkan total manusia terhadap Tuhan secara vertikal akan sefaham dengan pendapat ini, karena alasan demokrasi sebagai ideologi konsep produk manusia yang merelatifkan pandangan dogmatis serta abslut, dan senatiasa mengasumsiakan proses tawar menawar antar sesama manusia secara horizontal. 3. Titik Temu Demokrasi Aktualisasi dari titik temu ini adalah dalam keadaan yang sama yaitu wilayah yang sama, yakni dunia dan segala komplesifitasnya, Titik temu intu terletak pada perilaku sesungguhnya bahwa keduanya merupakan realitas budaya, dengan subyak yang sama yaitu manusia. Isla diturunkan Allah kepada manusia maknanya teraktualisasi dan terwujud pada saat Islam difahami, dihayati dan dipraktekan oleh umatnya dalam
41

realitas budaya. Hubungan Islam dengan demokrasi dewasa ini difahami ummat Islam, tampak mengarah kepada akomodasi ajaran Islam dengan pemahaman demokrasi yang berkembang. 4. Demokrasi dan Muslim Indonesia Demokrasi sudah menjadi suatu suara politik yang memang diperebutkan antara negara barat dan timur, lengkap dengan argumentasi-argumentasi yang memperkuat diri sendiri serta tuduhan kepada piahk lawannya sebagai bukan demokrasi. Hak asasi dalam masyarakat demokratis ini menyangkut hak-hak : a) Politik b) Sipil c) Aktualisasi Yang kaidah-kaidahnya antara lain : a) Ta’aruf b) Syura c) Ta’awun d) Maslahah
e) Adl (adil )

B. Gender dalam Wacana Islam 1. Konsep Gender Hubungan berdasarkan gender merupakan : a. Hubungan antar-manusia yang berjenis kelamin berbeda dan itu merupakan hubungan hirarkis yang bisa menimbulkan masalah sosial.
b. Gender merupakan explanatoris tentang tingkah laku, kedudukan sosial, dan

pengalaman konsep yang cenderung diskriminatif daripada antara pria-wanita.
42

c. Gender memformulasikan bahwa hubungan asimetris pria-wanita sebagai natural order atau normal

43

A. BAB III ANALISIS DAN KOMENTAR Dalam memaknai Islam dengan menggunakan buku yang berjudul “Islam : Tuntunan dan Pedoman Hidup “ kita dihadapkan pada beberapa bagian bagian diantaranya yang pertama buku ini menjelaskan tentang bagaimana mahasiswa memaknai makna tujuan dan metodologi dalam memahami Islam, menjelaskan tentang bagaimana memahami pengertian Manusia, Agama, dan Islam, mengajarkan kita untuk lebih memahami tentang Keimanan dan Ketakwaan sesuai dengan Al-Quran dan Hadits, Quran, menguraikan tentang Al-Quran sebagai sumber ajaran Islam pertama, bertujuan agar memahami dan menjelaskan tentang Itjihad sebagai diharapkan mampu memahami Hadits sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah AlPenngembangan Hukum Islam, menjelaska pokok-pokok Islam mengenai Syariah, Fikih, dan Hukum Islam, mengajarkan tentang bagaimana memahami Pola Ibadah sebagai bagian dari Aspek Ritual Umat Muslim, menjelaskan tentang Bagaimana Membangun Keluarga yang islami, memaparkan tentang Makanan dan Minuman dalam Islam, menjelaskan dan memaparkan tentang Konsep dasar ekonomi dan Transaksi dalam Sistem Muamalah Islam, mengajarkan bagaimana cara Menanamkan Etos kerja dan Enterpreuneurship dalam Islam, menjelaskan tentang Akhlak dan Tashawuf, Serta mengenai Dakwah dan Amar Ma’ruf Nahyi Munkar, dan yang terakhir menjelaskan tentang Islam dan Isu-isu kontemporer. Pemahaman dalam tiap bagian dari buku sangat perlu untuk memahami secara keseluruhan, Islam yang membahas berbagai aspek kehidupan menjadikannya agama yang sempurna sebagai suatu pedoman hidup bagi umatnya, dan tidak terlepas dari Al-Quran dan Hadits sebagai sumber ajarannya. Menurut saya, buku ini dapat menjadikan terbukanya mata kita mengenai betapa luasnya Islam dan menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari ekonomi, sosial, dan politik. Mempelajari Islam secara penuh diharapkan mampu membantu kita dalam memahami dan menyelesaikan masalah-masalah duniawi tanpa mengingkari urusan akhirat, dengan kata lain, dengan Islam segala masalah dapat diselesaikan dengan jalan yang baik, tanpa penyimpangan, pantaslah Islam dianggap sebagai agama yang sempurna dan rahmatan lil alamin.

44

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->