METODE / SOLUSI MENGISI KEKOSONGAN HUKUM (RECHTSVACUUM) OLEH HAKIM

1. Latar Belakang dan Permasalahan 1.1.Latar Belakang Penegakan dan penerapan hukum khususnya di Indonesia seringkali menghadapi kendala berkaitan dengan perkembangan masyarakat. Berbagai kasus yang telah terjadi menggambarkan sulitnya penegak hukum atau aparat hukum mencari cara agar hukum dapat sejalan dengan norma masyarakat yang ada. Namun perkembangan masyarakat lebih cepat dari perkembangan aturan perundang-undangan, sehingga perkembangan dalam masyarakat tersebut menjadi titik tolak dari keberadaan suatu peraturan. Dalam kehidupan bermasyarakat memang diperlukan suatu system hukum untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis dan teratur. Kenyataannya hukum atau peraturan perundang-undangan yang dibuat tidak mencakup seluruh perkara yang timbul dalam masyarakat sehingga menyulitkan penegak hokum untuk menyelesaikan perkara tersebut. Asas legalitas yang kerap dianggap sebagai asas yang memberikan suatu kepastian hukum dihadapkan pada realita bahwa rasa keadilan masyarakat tidak dapat dipenuhi oleh asas ini karena masyarakat yang terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Perubahan cepat yang terjadi tersebut menjadi masalah berkaitan dengan hal yang tidak atau belum diatur dalam suatu peraturan perundang-undangan, karena tidak mungkin suatu peraturan perundang-undangan dapat mengatur segala kehidupan manusia secara

recht (Bld) secara obyektif berarti undang-undang atau hukum.1 Definisi Kekosongan Hukum Tidak ada pengertian atau definisi yang baku mengenai kekosongan hokum (rechtsvacuum). Indie´ mengungkapkan bahwa ³hukum adalah suatu gejala dalam pergaulan hidup yang bergejolak terus menerus dalam keadaan bentur dan membentur tanpa henti-hentinya dengan gejalagejala lainnya´. namun secara harafiah dapat diartikan sebagai berikut : Hukum atau recht (Belanda) Menurut Kamus Hukum. Bagaimana Solusinya jika terjadi kekosongan hokum? 2. Mengapa Kekosongan Hukum Terjadi dan Apa akibatnya dari adanya kekosongan hokum tersebut? 2. 1.tuntas sehingga adakalanya suatu peraturan perundang-undangan tidak jelas atau bahkan tidak lengkap yang berakibat adanya kekosongan hukum di masyarakat.2 Permasalahan Dari latar belakang tersebut diatas dalam tulisan ini akan kemukakan mengenai Permasalahan-permasalahan yang akan akan dibahas sebagai berikut: 1. Metode / Solusi Mengisi Kekosongan Hukum Oleh Hakim 2. Sedangkan Van Vollenhoven dalam ³Het Adatrecht van Ned. Grotius dalam bukunya ³De Jure Belli ac Pacis (1625)´ menyatakan bahwa ³hukum adalah peraturan tentang perbuatan moral yang menjamin keadilan´. .

Selain itu kekosongan hokum dapat terjadi karena hal-hal atau keadaan yang terjadi belum diatur dalam suatu peraturan perundangundangan. sehingga pada saat peraturan perundang-undangan itu dinyatakan berlaku maka hal-hal atau keadaan yang hendak diatur oleh peraturan tersebut sudah berubah. sifat.2. Kekosongan atau vacuum (Belanda) Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) cetakan kedua tahun 1989. sehingga kekosongan hukum dalam Hukum Positif lebih tepat dikatakan sebagai ³kekosongan undang-undang/peraturan perundang-undangan´. ³Kekosongan adalah perihal (keadaan.Surojo Wignjodipuro. dan sebagainya) kosong atau kehampaan´. yang dalam Kamus Hukum diartikan dengan Vacuum (Bld) yang diterjemahkan atau diartikan sama dengan ³kosong atau lowong´. Dengan peraturan-peraturan hidup disini dimaksudkan baik peraturanperaturan yang tertulis dalam peraturan perundangundangan maupun yang tidak tertulis (adat atau kebiasaan). atau sekalipun telah diatur dalam suatu peraturan perundang-undangan namun . 2. Terjadinya Kekosongan Hukum Dalam penyusunan peraturan perundang-undangan baik oleh Legislatif maupun Eksekutif pada kenyataannya memerlukan waktu yang lama. berisikan suatu perintah. Dari penjelasan diatas maka secara sempit ³kekosongan hukum´ dapat diartikan sebagai ³suatu keadaan kosong atau ketiadaan peraturan perundang-undangan (hukum) yang mengatur tata tertib (tertentu) dalam masyarakat´. larangan atau izin untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu serta dengan maksud untuk mengatur tata tertib dalam kehidupan masyarakat´. SH dalam ³Pengantar Ilmu Hukum´ memberikan pengertian mengenai hukum yaitu ³Hukum adalah himpunan peraturan-peraturan hidup yang besifat memaksa.

2.3. terhadap hal-hal atau keadaan yang tidak atau belum diatur itu dapat terjadi ketidakpastian hokum (rechtsonzekerheid) atau ketidakpastian peraturan perundang-undangan di masyarakat yang lebih jauh lagi akan berakibat pada kekacauan hukum (rechtsverwarring). Hal ini sebenarnya selaras dengan pameo yang menyatakan bahwa ³terbentuknya suatu peraturan perundang-undangan senantiasa tertinggal atau terbelakang dibandingkan dengan kejadian-kejadian dalam perkembangan masyarakat´. Solusi apabila terjadi kekosongan hukum Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya bahwa perkembangan masyarakat selalu lebih cepat dari perkembangan peraturan perundang-undangan. dalam arti bahwa selama tidak diatur berarti boleh.tidak jelas atau bahkan tidak lengkap.4. yang tentunya agak sulit untuk mengubah atau mencabutnya walaupun sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat yang harus diatur oleh peraturan perundang-undangan tersebut. selama belum ada tata cara yang jelas dan diatur berarti bukan tidak boleh. Dalam masyarakat menjadi tidak ada kepastian aturan yang diterapkan untuk mengatur hal-hal atau keadaan yang terjadi. 2. Dapatlah dikatakan bahwa peraturan perundang-undangan (hukum positif) yang berlaku pada suatu negara dalam suatu waktu tertentu merupakan suatu sistem yang formal. Peraturan perundangundangan sebenarnya dibuat sebagai panduan bersikap tindak masyarakat yang dapat . Hal inilah yang menyebabkan kebingungan (kekacauan) dalam masyarakat mengenai aturan apa yang harus dipakai atau diterapkan.Akibat dari Kekosongan Hukum Akibat yang ditimbulkan dengan adanya kekosongan hukum.

karena ada kalanya UU tidak jelas. (Algemene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesia. Untuk itu sangat diperlukan suatu hukum yang stabil dan fleksibel dan mampu mengikuti perkembangan tersebut. Usaha penafsiran terhadap hukum positif yang ada bisa diterapkan pada setiap kasus yang terjadi.menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. atau mungkin sudah tidak relevan dengan zaman (out of date). hakim . tidak lengkap. Berdasarkan Pasal 22 A.B. Dengan perkataan lain. terdapat suatu usaha interpretasi atau penafsiran peraturan perundang-undangan bisa diberlakukan secara positif. 14 Tahun 1970 (pokok-pokok kekuasaan Kehakiman) seorang hakim tidak boleh menangguhkan atau menolak memeriksa perkara dengan dalih UU tidak sempurna atau tidak adanya aturan hukum. Atau dengan bahasa lain penemuan hukum adalah upaya konkretisasi peraturan hukum yang bersifat umum dan abstrak berdasarkan peristiwa yang real terjadi. Hukum yang stabil dan ajeg dapat menjadi ukuran yang pasti di masyarakat. 1847 : 23) dan Pasal 14 UU No. Penemuan hukum diartikan sebagai sebuah proses pembentukan hukum oleh hakim atau petugas hukum lainnya terhadap peristiwa-peristiwa hukum yang konkrit. namun hukum yang berjalan ditempat pada kenyataannya akan menjadi hukum yang usang yang tertinggal jauh oleh perkembangan masyarakat yang acapkali menimbulkan kekosongan hokum (kekosongan peraturan perundang-undangan) terhadap hal-hal atau keadaan yang berkembang dalam masyarakat yang pastinya belum diatur atau jika sudah diatur namun tidak jelas bahkan tidak lengkap atau sudah usang. Stb. Dalam kondisi UU tidak lengkap atau tidak jelas maka seorang hakim harus melakukan penemuan hukum (rechtsvinding). Upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi terjadinya kekosongan hokum adalah sebagai berikut : Penemuan hukum (rechtsvinding) oleh hakim Meski terjadi kekosongan hukum.

yakni mencapai kepastian hukum. Lebih lanjut ditegaskan lagi dalam Pasal 1917 KUH Perdata (B. dalam upaya mengatasi kekosongan hukum di masyarakat sangat diperlukan kebijakan atau prakarsa dari Badan Pembentuk Perundangundangan. oleh karena peraturanperaturan yang ada tidak dapat mencakup segala peristiwa yang timbul dalam masyarakat.harus menyesuaikan UU dengan hal-hal yang konkrit.B. Kebijakan/prakarsa dari Pembentuk Perundang-undangan Walaupun hakim ikut menemukan hukum. 1847 : 23) yang menyatakan bahwa ³hakim tidak dapat memberi keputusan yang akan berlaku sebagai peraturan umum´.W. (Algemene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesia. namun kedudukan hakim bukanlah sebagai pemegang kekuasaan legislatif ataupun eksekutif (sebagai badan pembentuk perundang-undangan) sebagaimana DPR dan Pemerintah (Presiden). Keputusan hakim hanya berlaku terhadap pihak-pihak yang bersangkutan. Pasal 5 UUD Negara RI Tahun 1945 menegaskan pula bahwa ³Presiden berhak mengajukan rancangan undang- . yang berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945 yang telah diamandemen) Pasal 20 ayat (1) dan (2) menyatakan bahwa ³DPR memegang kekuasaan membentuk undang-undang´ dan ³setiap rancangan undang-undang dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama´. Selain itu apabila suatu peraturan perundang-undangan isinya tidak jelas maka hakim berkewajiban untuk menafsirkan sehingga dapat diberikan keputusan yang sungguhsungguh adil dan sesuai dengan maksud hukum.) bahwa ³kekuasaan keputusan hakim hanya berlaku tentang hal-hal yang diputuskan dalam keputusan itu´. Keputusan Hakim tidak mempunyai kekuatan hukum yang berlaku seperti peraturan umum. menciptakan peraturan perundangundangan. Oleh karenanya. Ini ditegaskan dalam Pasal 21 A. Stb.

Bahkan juga ada program legislasi yang dikelola oleh masyarakat (organisasi profesi dan lembaga swadaya masyarakat). Prolegnas menjadi salah satu dari mekanisme program legislasi. dan penyebarluasan´. terpadu dan sistematis´. pembahasan. Kemudian dalam Pasal 15 ayat (1) UU No. . teknik penyusunan. pengundangan. 10 Tahun 2004 ditegaskan bahwa ³Perencanaan penyusunan Undang-Undang dilakukan dalam suatu Program Legislasi Nasional (Prolegnas)´. Dalam hal ini berarti prakarsa atau kebijakan (political will) dari DPR dan Pemerintah (Presiden) memegang peranan yang sangat penting dalam menciptakan atau membentuk suatu undang-undang (lebih luas peraturan perundang-undangan) baik mengatur hal-hal atau keadaan yang tidak diatur sebelumnya maupun perubahan atau penyempurnaan dari peraturan perundangundangan yang telah ada namun sudah tidak sesuai dengan perkembangan di masyarakat. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan menyatakan bahwa ³Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah proses pembuatan peraturan perundangundangan yang pada dasarnya dimulai dari perencanaan. juga terdapat mekanisme program legislasi yang dikelola oleh Badan Legislasi (Baleg) DPR. Prolegnas itu sendiri menurut Pasal 1 angka 9 adalah ³instrumen perencanaan program pembentukan Undang-Undang yang disusun secara berencana. perumusan. Lebih lanjut dalam upaya mengatasi kekosongan hukum maka dalam pembentukan peraturan perundang-undangan berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU No.undang kepada DPR´ dan ³Presiden menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya´. Karena disamping Prolegnas (pemerintah/eksekutif) yang menampung rencana-rencana legislasi dari departemen-departemen/LPND. pengesahan. persiapan.

Penafsiran menurut sejarah hukum (Rechts historische interpretatie) adalah suatu cara penafsiran dengan jalan menyelidiki dan mempelajari sejarah perkembangan segala sesuatu yang berhubungan dengan hukum seluruhnya. Menurut sejarahnya mengikuti code civil Perancis dan di Belanda (Nederland) di kodifikasikan pada tahuan 1838.5. roda empat atau kenderaan bermesin. Jadi harus diperjelas dengan kenderaan yang mana yang dimaksudkan.Utrecht). KUHPerdata BW) yang dikodifikasikan pada tahun 1848 di Hindia Belanda. Peraturan per Undang-undangan yang melarang orang menghentikan ³Kenderaannya´ pada suatu tempat. Hukum wajib menilai arti kata yang lazim dipakai dalam bahasa sehari-hari yang umum. Mengenai istilah ³dipercayakan´ yang tercantum dalam pasal 342 KUHP Mis : sebuah paket yang diserahkan kepada Dinas Perkereta Apian (PJKA). b. apakah roda dua. Sedangkan yang berhubungan dengan pengiriman tidak ada selain Dinas tersebut artinya dipercayakan. 2. bagaimana dengan sepeda dan lain-lain (E.Metode penemuan hukum Penemuan hokum oleh Hakim dilakukan dengan melakukan Penafsiran (Interpretasi) dengan beberapa Metode sebagai berikut: 1. Metode Interprestasi secara historis yaitu menafsirkan Undang-undang dengan cara melihat sejarah terjadinya suatu Undang-undang.2. c. Kata kenderaan bisa ditafsirkan beragam. Metode interpretasi menurut bahasa (gramatikal) yaitu suatu cara penafsiran Undang-undang menurut arti kata-kata (istilah) yang terdapat pada Undang-undang. . Misalnya : a. Penafsran historis ini ada 2 yaitu : a. Istilah ³menggelapkan´ dalam pasal 41 KUHP sering ditafsirkan sebagai menghilangkan. Contoh : a.

b. Timbul pertanyaan : ³Apakah yang dimaksud dengan orang-orang yang belum dewasa´. Penafsiran menurut sejarah penetapan suatu undang-undang (Wethistoirsche interpretatie) yaitu penafsiran Undang-undang dengan menyelidiki perkembangan suatu undangundang sejak dibuat. atau dengan Undang-undang lain. tidak cukup hanya mencari ketentuan-ketentuan didalam KUHPerdata (BW) saja melainkan harus dihubungkan juga dengan pasal 278 KUHP. Ketentuan Undang-undang yang sudah tidak sesuai lagi disesuaikan dengan keadaan sekarang untuk . Dalam pasal 1330 KUHPerdata menyatakan ³Tidak cakap membuat persetujuan/perjanjian antara lain orang-orang yang belum dewasa´. Undang-undang pada maksud waktu ditetapkannya penjelasan pembentuk pembentukannya.Metode Interpretasi secara Teleologis Sosiologis yaitu makna Undang. Untuk hal tersebut harus dikaitkan pada pasal 330 KUHPerdata yang mengatur batasan orang yang belum dewasa yaitu belum berumur 21 tahun. atau perdebatan-perdebatan dari yang terjadi dilegislatif.b. 3. serta membaca penjelasan Undang-undang tersebut sehingga kita memahami maksudnya. Metode interpretasi secara sistematis yaitu penafsiran yang menghubungkan pasal yang satu dengan apasal yang lain dalam suatu per Undang-undangan yang bersangkutan.undang itu ditetapkan berdasarkan tujuan kemasyarakatan artinya peraturan perUndang-undangan disesuaikan dengan hubungan dan situasi sosial yang baru. Contoh : a. 4. Apabila hendak mengetahui tentang sifat pengakuan anak yang dilahirkan diluar perkawinan orang tuanya.

Penafsiran seperti ini yang harus dimiliki lebih banyak pada hakim-hakim di Indonesia mengingat negara Indonesia yang pluralistik dan kompleks. Tetapi tafsiran dalam Titel IX Buku I KUHP ini tidak semestinya berlaku juga untuk kata-kata yang dipergunakan oleh peraturan pidana diluar KUHP artinya Hakim tidak hanya bertindak sebagai corong hukum saja melainkan harus aktif mencari dan menemukan hukum itu sendiri dan menmsosialisasikannya kepada masyarakat. Umpamanya : Didaerah suku Dayak di Kalimantan. Peraturan perUndangundangan dalam tatanan Hukum Nasional harus diterjemahkan oleh para hakim sesuai kondisi sosial suatu daerah. 5 tahun 1960 tentang Pokok-pokok Agraria.Metode Intepretasi secara Authentik (Resmi) yaitu penafsiran yang resmi yang diberikan oleh pembuat Undang-undang tentang arti kata-kata yang digunakan dalam Undang-undang tersebut. Dalam hal ini hakim harus menserasikan pandangan social kemasyarakatannya dengan Undang-undang No. Peraturan yang lama dibuat aktual. 5. tanah dianggap seperti ibu yang dapat dimiliki oleh setiap orang dan harus dijaga/dirawat layaknya menjaga/merawat seorang ibu.memecahkan/menyelesaikan sengketa dalam kehidupan masyarakat. ³sebulan´ adalah masa yang lamanya 30 hari. Contoh : Dalam Titel IX Buku I KUHP memberi penjelasan secara resmi (authentik) tentang arti beberapa kata/sebutan didalam KUHP. Seperti dalam Pasal 97 KUHP yang dimaksud ³sehari´ adalah masa yang lamanya 24 jam. .

Apabila misalnya seseorang menghibahkan rumah miliknya kepada orang lain .Metode Interpretasi Restriktif yaitu penafsiran yang membatasi/mempersempit maksud suatu pasal dalam Undang-undang seperti : Putusan Hoge Road Belanda tentang kasus Per Kereta Api ³Linden baum´ bahwa kerugian yang dimaksud pasal 1365 KUHPerdata juga termasuk kerugian immateril yaitu pejalan kaki harus bersikap hati-hati sehingga pejalan kaki juga harus menanggung tuntutan ganti rugi separuhnya (orang yang dirugikan juga ada kesalahannya) ( Mr. 1986. C. Asser. hal 84-85). Contoh penafsiran penjualan dalam pasal 1576 KUHPerdata yaitu ³Penjualan barang yang disewa tidak memutuskan sewa menyewa kecuali apabila diperjanjikan´. 7. Contoh : Bahwa Jurisprudensi di Nederland : ³Menyambung´ atau ³menyadap´ aliran listrik dapat dikenakan pasal 362 KUHP artinya Jurisprudensi memperluas pengertian unsur barang (benda).Metode interpretasi Analogi yaitu memberi penafsiran pada sesuatu peraturan hukum dengan memberi kias pada kata-kata dalam peraturan tersebut sesuai dengan azas hukumnya sehingga suatu peristiwa yang sebenarnya tidak termasuk kedalamnya dianggap sesuai dengan bunyi peraturan tersebut. dalam pasal 362 KUHP.6.Metode interpretasi secara ekstentif yaitu penafsiran dengan cara memperluas arti kata-kata yang terdapat dalam Undang-undang sehingga suatu peristiwa dapat dimasukkan kedalamnya. 8.

Sedangkan di Uni Soviet menghilangkan dengan sengaja ketentuan nullum delictum dan menggunakan prinsip bahwa hakim pidana harus menghukum semua tindakan yang membahayakan masyarakat. Didalam hukum pidana analogi dilarang sedangkan metode interpretasi ekstensif dibolehkan (contoh Kasus penyambungan/penyadapan aliran listrik) Hukum di Inggris yang sebagian tertulis (Statute law) dan sebagian tidak tertulis (Common law) mengenal analogi. Oleh konstruksi hukum seperti itu. Konstruksi hukum seperti diatas menurut Scholten tidak boleh dilakukan secara sewenang-wenang. menukar mewariskan. dan persamaan itu adalah perbuatan yang bermaksud mengasingkan suatu benda maka hakim membuat suatu pengertian ³bahwa pengasingan (menukar. Konstruksi itu harus didasarkan atas pengertian-pengertian hukum yang memang ada dalam Undang-undang yang bersangkutan dan menjadi dasar Undang-undang yang bersangkutan. Konstruksi itu harus meliputi bahan-bahan yang positip (Contructive moet de positive stof dekken). Pasal 1576 KUHPerdata walau hanya menyebut kata ³menjual´ masih juga dapat diterapkan pada peristiwa hibah. mewariskan) tidak memutuskan (mengakhiri) sewa menyewa. Walaupun demikian Hukum di Inggris menolak menggunakan analogi terhadap hukum pidana. mewariskan dengan perbuatan menjual. menukar. Konstruksi tidak boleh didasarkan atas anasir-anasir (elemen-elemen) diluar sistem materil positip. Yang dimaksud dengan bahan-bahan positip adalah sistem materil Undang-undang yang sedang berlaku. . Hakim dapat menyempurnakan sistem formil hukum.sedangkan rumah tersebut dalam keadaan disewakan kepada orang lain. bagaimana? Berdasarkan persamaan yang ada dalam perbuatan memberi (hibah).

Metode interpretasi argumentus a contrario yaitu suatu penafsiran yang memberikan perlawanan pengertian antara peristiwa konkrit yang dihadapi dengan peristiwa yang diatur dalam Undang-undang.9. Menurut Azas hukum Perdata (Eropa) seorang perempuan harus menunggu sampai waktu 300 hari lewat sedangkan menurut Hukum Islam dikenal masa iddah yaitu 100 hari atau 4 x masa suci karena dikhawatirkan dalam tenggang waktu tersebut masih terdapat benih dari suami terdahulu. Apabila ia menikah sebelum lewat masa iddah menimbulkan ketidak jelasan status anak yang dilahirkan dari suami berikutnya. Scolten mengatakan bahwa tidak hakekatnya pada perbedaan antara menjalankan Undang-undang secara analogi dan menerapkan Undang-undang secara argumentum a contrario hanya hasil dari ke 2 menjalankan Undangundang tersebut berbeda-beda. analogi membawa hasil yang positip sedangkan menjalankan Undang-undang secara Argumentus a contrario membawa hasil yang negatif. Berdasar Argumentus a contrario (kebalikannya) maka ketentuan tersebut tidak berlaku bagi lelaki/pria. Berdasarkan perlawanan ini ditarik suatu kesimpulan bahwa perkara yang dihadapi tidak termasuk kedalam pasal tersebut melainkan diluar peraturan perundang-undangan. . Contoh : Dalam pasal 34 KUHPerdata menyatakan bahwa seorang perempuan tidak dibenarkan menikah lagi sebelum lewat suatu jangka waktu tertentu yaitu 300 hari sejak perceraian dengan suaminya.

penafsiran secara sistematis. Dalam kehidupan bermasyarakat memang diperlukan suatu sistem hukum untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis dan teratur. Dengan adanya Program Legislasi Nasional (Prolegnas) merupakan salah satu dari mekanisme program legislasi dan juga sebagai salah satu upaya untuk mengatasi kekosongan hukum. penafsiran secara ektensif. Namun perubahan cepat yang terjadi dalam masyarakat menjadi masalah berkaitan dengan hal yang tidak atau belum diatur dalam suatu peraturan perundang-undangan. yaitu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah (Presiden). karena tidak mungkin suatu peraturan perundang-undangan dapat mengatur segala kehidupan manusia secara tuntas sehingga adakalanya suatu peraturan perundang-undangan tidak jelas atau bahkan tidak lengkap yang berakibat adanya kekosongan hukum di masyarakat. penafsiran secara restriktif. Kesimpulan 1. penafsiran secara authentik. Dalam melakukan penemuan hukum. penafsiran secara analogi. penafsiran secara historis. penafsiran secara argumentus a contrario. penafsiran secara teleologis/sosiologis. atau dengan cara prakarsa dari Pembentuk Perundang-undangan. Kekosongan hukum dapat diatasi dengan jalan yaitu jika kondisi UU tidak lengkap atau tidak jelas maka seorang hakim dapat melakukan penemuan hokum (rechtsvinding). . 2.3. hakim menggunakan metode penafsiran terhadap Undang-undangseperti penafsiran menurut bahasa.

SH & M. Instrumen Prolegnas dalam Proses Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Yang Terencana dan Terpadu. Citra Aditya Bakti Bandung. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Dr.J. SH. Dasar-dasar Ilmu Hukum. 1985 Satjipto. Pengatar Ilmu Hukum. S. Yani Corp Medan. Balai Pustaka Jakarta. Asser. Prof. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. SH. Sudikno Merto Kusumo. Bab-bab Tentang Penemuan Hukum.T. Liberty Jogyakarta. Mengenal Hukum. 1993. Pradya Paramitha. Chainur Arrasjid. Balai Pustaka Jakarta. Kel Study Hukum & Masyarakat. Prof.H. Drs. SH. Ilmu Hukum. Mr. Mr/Paul Scholtes.. Mr. C. S. Citra Aditya Bakti. Penuntun Dalam Mempelajari Hukum Perdata Belanda. Kansil. Ahmad Ubbe. Jakarta. Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata Hukum Indonesia.. Sinar Grafika Jakarta. Drs. Pengantar Ilmu Hukum. 2000 C. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Medan 1992. S.. SH. H. Pengantar Dalam Hukum Indonesia. PT.S. Alumni Bandung. . Kansil. Saleh Djinjang. 1989. SH.H.Daftar Pustaka Surojo Wignjodipuro.H. 1996 Syahruddin Husin.S. Pengantar Ilmu Hukum (Himpunan Kuliah). Gajah Mada University Press. UU No. 1988 _____________________ . Utrecht. APU. SH. Dr. Prof.. Prof. 1986. 1971.T. Pengantar Ilmu Hukum. 1986 C. Van Apeldoorn.. 1982 L... MH. Dr. E. Raharjo. 1999 __________________________ ..

Balai Pustaka Jakarta. . 1989.Kamus Hukum (Edisi Lengkap). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful