Join Multiply to get updates from soemar

Sumaryadi's Site
HomeBlogPhotosReviewsLinks

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH: METODE IMERSI
Oleh: Sumaryadi Pendahuluan

Feb 22, '09 8:14 AM for everyone

soemarjadi

Salah satu warisan kebudayaan bangsa Indonesia berupa sastra Indonesia. Sebagai ahli waris, siswa harus mengenal, memahami, dan menghargai sastra miliknya. Namun, harapan akan tinggal harapan andaikata saja pihak sekolah tidak atau kurang berupaya sedemikian rupa untuk secara sadar dan sengaja memperkenalkan dan mendekatkan siswa pada karya-karya sastra. Kesadaran itulah tampaknya yang mendorong agar sastra Indonesia mendapat tempat untuk dipelajari siswa di sekolah, meskipun pada kenyataannya sastra belumlah merupakan satu bidang studi yang berdiri sendiri. Pembelajaran sastra notabena merupakan bagian saja dari pembelajaran Bahasa Indonesia. Dimasukkannya pembelajaran sastra ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kiranya dapat dimaklumi, karena secara umum -- dalam salah satu definisinya -- sastra adalah segala sesuatu yang ditulis (Wellek & Warren, 1956: 20), kendatipun pengertian semacam itu dianggap terlalu luas dan juga terlalu sempit

• • • •

Photos of soemar Personal Message RSS Feed [?] Report Abuse

1967: 7). sastra sangat mengutamakan dan setia terhadap hidup. yang tidak dapat diperoleh dengan cara lain . tidak termasuk dalam sastra. Dianggap terlalu sempit dengan keberatan bahwa macam balada yang dinyanyikan dan cerita yang dibacakan. karya sastra juga memberikan keagungan kepada siswa pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. pernyataan. Fungsi sastra kiranya tidak perlu diragukan lagi. Dianggap terlalu luas karena. Pembelajaran sastra penting bagi siswa karena berhubungan erat dengan keharuan. keagamaan. Sastra dapat menimbulkan rasa haru. Sebagai suatu karya seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya. sastra memberikan berbagai kepuasan yang sangat tinggi nilainya. atau kritik kehidupan bangsa. dan cara hidupnya sendiri dan bangsanya (Soeharianto. Secara lebih khusus Robert Frost menyatakan bahwa sastra adalah suatu pengungkapan dalam kata (a performance in words) (Barnet-Berman-Burto. Sastra Indonesia secara umum dapat dipakai sebagai cermin. moral. tetapi harus dianggap sebagai pernyataan yang sangat kompleks dan luas tentang dunia penulis dan pembacanya (Moody. semua buku termasuk sastra. benar dan salah. Karya sastra bukan hanya bahasa yang dipakai untuk merealisasikannya. 1982: 4). dengan demikian. Di samping memberikan kenikmatan dan keindahan. Norman Podhoretz ketika diwawancarai Arwah Setiawan mengemukakan bahwa sastra dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap cara berpikir orang mengenai hidup. dengan demikian. keindahan. Pendek kata. khidmat terhadap Tuhan. hasil cipta seseorang sebagai ungkapan penghayatannya ke dalam wujud bahasa (Rusyana. baik dan buruk. 1982: 67). 1972: 3). dan terhadap bahasa (Ahmadi. dan cinta terhadap sastra bangsanya (Broto. Sastra merupakan karangan rekaan. 1967: 1). 1976: 25). penafsiran.(Barnet-Berman-Burto. 1980: 10). terhadap manusia.

Metode.(Moody. Dengan demikian. yaitu pendekatan. secara hirarkis akan dikemukakan adanya tiga tataran. yaitu: pendekatan (approach). 1982: 19). Pendekatan bersifat aksiomatik. Tulisan sederhana ini akan menawarkan suatu metode -. dan teknik bersifat teknis pelaksanaan. Sastra memberikan pengaruh yang menguntungkan kepada penikmatnya (Barnet-Berman-Burto. metode (method). dan teknik (technique). 1967: 8). subjek yang belajar sastra. 1972: 2). pihak yang mengajarkan sastra. Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana proses pembelajaran sastra itu berlangsung supaya hasil yang diharapkan dapat mewujud. perlu diingat. jika kita berbicara masalah metode kita tidak dapat lepas dari masalah pendekatan atau ancangan (approach) yang menurunkan metode (method). Pendekatan. metode. suatu metode ternyata akan menyarankan penggunaan teknikteknik tertentu pula. 1963). Hubungan itu menyatakan bahwa teknik merupakan hasil dari (pelaksanaan) suatu metode yang selalu konsisten dengan pendekatan. Untuk selanjutnya. metode. Kenyataan menunjukkan bahwa para guru bahasa pada umumnya dan guru sastra pada khususnya masih menggunakan ketiga-tiganya secara kacau. dan teknik mempunyai hubungan hirarki (Anthony. metode bersifat teoretis prosedural.sebagai suatu alternatif -. Dalam hubungan . dan siswa. Teknik Dalam rangka metode sebenarnya terkandung beberapa istilah. Hanya saja. Proses pembelajaran sastra melibatkan guru sastra.yang tampaknya cukup efektif digunakan oleh guru dalam pembelajaran sastra. dan teknik (Broto. Masalah di atas dapat disederhanakan menjadi bagaimana upaya yang seyogianya ditempuh yang memungkinkan siswa dapat belajar sastra dengan seefektif mungkin. Pendekatan.

Pendekatan berupa seperangkat asumsi yang berhubungan dengan hakekat bahasa dan belajar-mengajar bahasa (Anthony. Pada bagian muka sudah disinggung beberapa pengertian tentang sastra. Kenyataan itu tampak menyarankan bahwa proses pembelajaran sastra di sekolah seyogianya disajikan dalam bentuk apresiasi. a) Pendekatan Apresiatif Pendekatan merupakan latar belakang filosofis tentang pokok-pokok yang hendak diajarkan (Broto. 1972). Pembelaran sastra mempunyai peranan besar dalam mencapai berbagai aspek dari tujuan pendidikan dan pengajaran. yang hasil penghayatan itu selanjutnya dijelmakan dengan media bahasa. mengembangkan rasa karsa. dan keagamaan (Rusyana.untuk menciptakan sesuatu yang baru. 1983: 23). pengenalan terhadap ketiga tataran itu sedapat mungkin akan langsung dikaitkan dengan pembelajaran sastra. meningkatkan pengetahuan budaya. merupakan komitmen terhadap pandangan tertentu (Strevens. sosial. sikap penilaian. perasaan.ini. dalam pengertian lebih mengutamakan atau . Paling tidak ada empat manfaat yang dapat diambil dari belajar sastra. 1980: 2). daya rasa. 1985). yaitu menunjang keterampilan berbahasa. Baradia. 1982: 5). 1982: 9-10). seperti aspek pendidikan susila. dan daya imajinasinya -. dan membentuk watak (Gani. yang secara umum dapat dikatakan bahwa sastra tidak lain dari hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya dengan menggunakan bahasa (Rusyana. Sastrawan memadukan daya pikir. 1963. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan kreatif. 1982: 6).penghayatan -. Sastra dalam keutuhan bentuknya menyentuh perilaku kehidupan kaum terdidik yang tentunya dapat mewarnai liku-liku hidup yang bersangkutan (Moody.

Pendekatan apresiatif bertolak dari sastra sebagai hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya dengan .mendahulukan kegiatan apresiasinya daripada pengetahuan sastranya. dan kritik sastra. 1984: 314). 1980: 12). Selama hubungan dengan karya sastra belum atau kurang menggambarkan kegiatan itu. 1981: 15) termasuk di dalamnya karya sastra. Tujuan (utama) pembelajaran sastra adalah mengapresiasi nilainilai yang terkandung dalam sastra (Rusyana. yaitu pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra dan kegairahan kepadanya. sudah barang tentu juga perlu pemahaman terhadap sastra. Apresiasi berisikan kegiatan atau usaha merasakan dan menikmati hasil-hasil karya seni (Soeharianto. Mengadakan pendekatan terhadap sastra. 1982: 7). Pengenalan yang semakin mendalam dan hasrat serta jawaban kita terhadap pengalaman hidup yang terkandung dalam sastra itulah yang dapat disebut sebagai apresiasi sastra (Rusyana. Untuk mendapatkan kenikmatan yang mendalam. sejarah. Pengetahuan sastra meliputi teori. 1974: 18). Apresiasi berisikan upaya merasakan dan menikmati karya sastra. berarti mengapresiasi nilai-nilai yang terkandung dalam sastra. esai. dan mengenal secara intuitif tentang kebenaran dan kualitas estetik karya sastra. Dalam karya sastra terkandung pengalaman manusia yang indah mendalam. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra (Effendi. sekali lagi. serta kenikmatan yang timbul sebagai akibat dari semua itu. belumlah dapat dikatakan bahwa kita sudah mengapresiasi karya sastra. kepekaan pikiran kritis. memahami. Dengan tegas dikatakan bahwa apresiasi sastra merupakan kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian. mengandung arti mempersepsi dan mengenal dengan cukup luas suatu karya sastra (Ahmadi. penghargaan. dimaksudkan mengerti.

Baradja. Guru sastra bertugas memberi siswa kesempatan untuk mengembangkan sendiri kemampuan apresiasinya.menggunakan bahasa. Siswa hendaknya didorong agar berkenalan dengan karya sastra. Makin baik metode akan makin efektif pula pencapaian tujuannya. Pembelajaran sastra dilaksanakan dengan pengutamaan pada kegiatan apresiasi sastra. Sebagai ilustrasi. yang kemudian didukung titik berat pembelajaran sastra yang diletakkan pada terbinanya kemampuan siswa mengapresiasi sastra. Sangatlah mungkin dalam suatu pendekatan akan terdapat beberapa metode. misalnya menyediakan bahan bacaan sastra dan mendorong siswa senang membaca. Hal itu menyarankan agar siswa diperkenalkan atau dipertemukan dengan karya sastra secara langsung dan sebanyak-banyaknya. b. direct method semestinya dipakai untuk menunjukkan pendekatan. Metode merupakan cara yang dalam fungsinya adalah alat untuk mencapai tujuan (Surakhmad. Metode Imersi Ada sedikit kekacauan dalam istilah yang digunakan untuk menunjukkan perbedaan antara metode dan pendekatan. bersifat membantu menyajikan lingkungan dan suasana yang kondusif. Dalam banyak hal. Metode tidak lain dari rencana keseluruhan dalam menyajikan materi bahasa secara teratur (Anthony. kematangan jiwa. Karya-karya sastra itu tentu sudah dipilih oleh guru dengan berbagai pertimbangan. dan prioritas. 1983: 23). penamaan seperti audio-lingual method. 1985). metode digunakan dengan makna yang sama dengan istilah pendekatan (Strevens. 1980: 75). mengadakan kontak dan dialog langsung dengan karya dengan cara membaca dan menikmatinya. 1963. di antaranya pertimbangan faktor usia. Untuk seterusnya dapat saja – bahkan sangat positif — diadakan . bahasa.

Metode Imersi (Immersion Method) yang ditawarkan di sini berangkat dari pandangan . cerita. Cara langsung merupakan cara yang paling diutamakan. atau secara langsung mendengarkan sajak dideklamasikan atau dibacakan (poetry reading) dan menyaksikan drama yang dipentaskan. cerpen.jika masih dimungkinkan -. sementara itu. menyaksikan — harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan sebanyak-banyaknya. dimaksudkan bahwa siswa itu sendiri harus secara langsung membaca bermacam sajak. atau drama dari berbagai sastrawan dan zaman. tokoh-tokoh cerita. kegiatan kreatif berupa kegiatan belajar atau berlatih mencipta sendiri sajak. Agar siswa memperoIeh pengertian yang sebaikbaiknya tentang wujud dan fungsi karya sastra dan dapat menghargainya secara wajar. Kecuali itu. memahami. Sesudah siswa bergaul. dua kegiatan lagi sebagai pelengkap -. yang akan ditingkatkan oleh hadirnya cara yang tak langsung tersebut. menganalisis. Kiranya perlu diingatkan di sini bahwasanya kegiatan apresiasi sastra belum berhenti hanya sampai di situ saja.ruang pembahasan atau diskusi. menghayati -. misalnya tentang pengalaman-pengalaman yang terkandung di dalamnya. dan sebagainya.yaitu kegiatan dokumentasi dan kegiatan kreatif (Effendi. diksi. Demi sempurnanya kegiatan apresiasi memang masih perlu diikuti dengan pemberian pengetahuan tentang sastra. atau drama kecil. mendengarkan. membuat kliping. Yang terakhir ini dapat disebut kegiatan tak langsung. kegiatan tersebut – membaca. berdialog langsung dan mendalam dengan karya -mengenal. artinya siswa tidak langsung menjamah karya sastranya.mereka diperkuat dengan pengetahuan tentang sastra. Kegiatan dokumentasi berupa kegiatan mengumpulkan dan menyusun buku-buku dan majalah-majalah sastra. Kegiatan menggauli karya sastra dilakukan secara langsung. dan seterusnya. 1974: 19).

Keberartian sesuatu yang dipelajari siswa untuk dirinya sendiri itulah yang menentukan kadar kelanggengan prestasi belajar siswa. c) Teknik Induksi Suatu teknik harus konsisten dengan metode dan sesuai pula dengan pendekatannya. Suatu strategi yang efektif dan efisien akan tercipta bila strategi itu dapat dengan mudah diterapkan dan dapat menunjang prestasi belajar siswa yang memadai dan langgeng (Natawidjaja. 1982: 23). Teknik induksi tampaknya sangat sesuai dan mendukung kegiatan ini. Baradja. Pembelajaran sastra yang berangkat dari pendekatan apresiatif (appreciative approach) dan memilih metode imersi sebagai suatu alternatif. Teknik berkaitan dengan strategi yang benarbenar terjadi di ruang kelas (Anthony. Jenis teknik belajar-mengajar dapat ditimbulkan dari metode tertentu (Broto. tetapi lebih jauh daripada itu. Siswa dibenamkan ke dalam sebuah dunia yang sarat dengan aneka ragam karya sastra (plus pengetahuan sastra). Teknik induksi tidak hanya menuntut peran serta aktif siswa. Teknik biasanya ditandai dengan penggunakan alat bantu atau media tertentu yang diperlukan. 1985). Dalam hal ini peran serta aktif dari pihak siswa sendiri dalam kegiatan pembelajaran ikut berpengaruh terhadap keberartian bahan pembelajaran. Dapat juga dikatakan bahwa siswa dibenami dengan beronggok-onggok karya sastra (plus pengetahuan sastra). Teknik merupakan pelaksanaan dari proses pembelajaran. akhirnya menggiring kita untuk menentukan dan mengangkat satu teknik yang dirasa paling sesuai. 1963.bahwa dalam pelaksanaan kegiatan apresiasi sastra (baca: pembelajaran sastra) siswa layaknya dibenamkan ke dalam sesuatu atau dibenami sesuatu. mendorong dan memberi . 1983: 2).

menggauli secara langsung. induksi berupaya menyimpulkan pengetahuan yang ’umum’ atau universal dari . dan menghargai karya sastra itu sendiri. Penamaan induksi untuk teknik ini sesungguhnya meminjam istilah dari bidang logika. Tujuan utama pembelajaran sastra masih jauh dari terpenuhi. Teknik induksi menghendaki lain. Siswa diberi kesempatan secara langsung bergaul intim dan berdialog dengan karya. Seperti diketahui. tanpa ada kontak langsung siswa-karya. 1984: 46). hal itu tidak terlepas sama sekali dari bimbingan guru.kesempatan yang seluas-luasnya dan sebanyakbanyaknya kepada siswa untuk mendekati sendiri karya sastra. Yang penting guru tidak bersikap menggurui dan menyuapkan sesuatu yang tinggal telan saja. Yang terjadi selama ini. tetapi tidak atau kurang mampu mengapresiasi karya. Guru hanya bersifat merangsang. Segala sesuatu yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa dalam pergaulan dan dialog biarlah ditemukan sendiri oleh siswa. Sebagai suatu proses tertentu. memancing. dan mengarahkan kegiatan itu. Tentu saja. Siswa dijejali sekian banyak teori dan sejarah sastra. Tidaklah mungkin seseorang dapat merasakan kenikmatan sesuatu hanya dengan diberitahu orang lain tanpa melakukan kontak langsung secara intim dan berdialog akrab dengan sesuatu itu sendiri. Logika induktif – yang dipakai di sini — erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. terdapat dua cara penarikan kesimpulan. Kegiatan macam itu jelas kegiatan yang sangat tidak apresiatif. yaitu logika induktif dan logika deduktif (Suriasumantri. mendorong. Dengan demikian. menghayati. dan akhirnya diharapkan mampu menikmati. siswa banyak tahu dan paham (baca: hafal) pengetahuan sastra. tampaknya para guru sastra di lapangan cukup dengan membuat siswanya paham dan mengerti karya sastra melalui penjelasan atau informasi.

atau definisi pantun. ciri-ciri khusus. guru bertindak membimbing dan mengarahkan siswanya agar berhasil menemukan sendiri halhal khusus. Dengan teknik induksi yang merupakan pembalikan langkah-langkah tersebut di atas. Implikasinya dalam pembelajaran sastra. dan menikmati karya puisi lama itu. Yang juga perlu diingat bahwa pembicaraan atau pembahasan tidak boleh hanya terbatas pada unsur bentuknya saja. Pembicaraan dapat saja berkisar pada pokok masalah yang diungkapkan. Yang lebih penting justru pembahasan terhadap unsur isinya. 1983: 40). Sebagai ilustrasi. dan seterusnya. Dengan bimbingan guru siswa diajak mampu menemukan Ietak-letak keindahannya. untuk kemudian dibimbing ke arah penarikan kesimpulan yang bersifat umum tentang karya sastra itu. yang akhirnya sampai pada penyimpulan bahwa karya puisi itu adalah pantun. sehingga hasilnya pun berupa pengetahuan hafalan belaka. misalnya. seperti sudah dikemukakan terdahulu. teknik yang cenderung selalu digunakan para guru sebagai berikut. nada bicara. perasaan. siswa diberi kesempatan langsung berhadapan. mengajarkan pantun. Berikutnya diberikanlah ciri-ciri pantun atau mengapa bentuk itu disebut pantun. ciri-ciri bentuknya. guru memberikan pengertian. Langkah tersebut sangat tidak apresiatif.pengetahuan yang ’khusus’ atau partikular (Ofm. amanat yang terkandung. Pertama. Akhirnya. disajikan contoh-contoh pantun. pendapat pengarang atau penyair tentang pokok masalah tersebut. peristiwa yang dibayangkan terjadi di belakang karya. Induksi merupakan cara berpikir dengan jalan menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Langkah tersebut masih ditambah lagi dengan model penyajian dikte oleh guru. berdialog. dan seterusnya. batasan. .

Daftar Pustaka Ahmadi. kemudian juga melahirkan metode-metode lain lagi. sangat dimungkinkan terpakainya teknik-teknik lain yang mirip. intelektual. Melaksanakan CBSA berarti guru melaksanakan suatu strategi pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa secara fisik. 1980. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. mental. Edward M. demikian pula. dan lain-lain yang relevan. guru tidak boleh lupa pada prinsip-prinsip CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Nomor 6. "Peranan Sastrawan dalam Apresiasi Sastra" dalam Bahasa dan Sastra Th.. dan tentunya diaplikasikan dengan teknik-teknik yang berbeda pula. Yang tetap harus diingat. pendekatan —metode—teknik yang dimunculkan dalam tulisan ini – barangkali juga bukanlah barang baru lagi — tidak lebih dari salah satu alternatif dari sekian banyak alternatif yang seharusnya memang ada. Anthony. umpamanya brainstorming. Dari metode imersi.Dalam pelaksanaannya dapat saja teknik induksi diramu dengan teknik-teknik yang lain. and Technique" dalam Allen & Campbell. Method. Sekali lagi ditekankan di sini. Dari pendekatan apresiatif ini pun sangat dimungkinkan lahirnya metode lain di samping imersi. sejalan. dan psikomotorik (Natawidjaja. atau bahkan bertentangan dengan teknik-teknik induksi yang ditawarkan di sini. "Approach. Teaching English as . 1983: 19). afektif. VI. 1972. ed. diskusi. Mukhsin. dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara matra kognitif. Penutup Sudah barang tentu pembelajaran sastra dapat dilaksanakan dengan berorientasi pada pendekatan lain yang berbeda.

1983. Broto. Peter. Strevens. 1976. An Introduction to Literature: Fiction—Poetry— Drama. "Pengajaran Apresiasi Puisi" dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Th. Nomor 3. 1974. -----------------1982. Solo: Tiga Serangkai. 1985. Surakarta: Widyaduta. "Peranan Puisi dalam Kehidupan Kita" dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Th. M. Metode Pengajaran Sastra. Natawidjaja. CBSA Cara Belajar Siswa Aktif.B. 1982. 1971. Rizanur. ---------------. Soeharianto. 1982. New York: McGraw-Hill. Ofm. 1980. Logika Selayang Pandang. Bandung: Diponegoro. Metode Proses BelajarMengajar Berbahasa Dewasa Ini. S. 1983.L. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. I. Gani. New Orientations in .a Second Language: A Book of Readings. Nomor 6. Pengantar Apreslasi Puisi. Baradja. London: Longman Group Ltd.S. Rusyana.1984. 1967. A Way to Analyze Method. Brown and Company. Jakarta: Ditjendikdasmen—Ditdikgutentis Depdikbud. Bandung: Gunung Larang. Metodologi Proses Belajar-Mengajar Berbahasa. Moody. Solo: Tiga Serangkai. ---------------. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. A. Alex Lanur. 1983. Semarang: Akademi Bahasa 17 Agustus 1945 Semarang.1981. Yus. VI. Effendi. Ende Flores: Nusa Indah.F. Rochman. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. Bimbingan Apresiasi Puisi. S. Yogyakarta: Kanisius. Boston. The Teaching of Literature. H. Barnet—Berman—Burto. Boston: Little.

1956. 3 CommentsChronological Reverse Threaded reply uwaykaramy wrote on Feb 26. Rene & Austin Warren. (CP.Nice and Elegant . New York: A Harvest Book Harcourt. Oxford University Press.. Thanks berat! reply hitungmundur wrote on Aug 15. '09 Saya setuju pak. s astra dapat menimbulkan rasa haru. . Winarno. moral.Mulberry. Bandung: Jemmars. dan cinta terhadap sastra bangsanya. Welleck. sontak saya teringat guru sastra. keindahan.the Teaching of English. khidmat terhadap Tuhan. Balenciaga. Suriasumantri. Jakarta: Sinar Harapan. di film dan novel Dead Poet's Society. Dik. '09 Membacanya. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Surakhmad. Sensual Click on Each Photos u like to read the description.. PR kita semua. and many more. Hanya saja orang masih sering bertanya untuk apa belajar sastra ?Mau jadi apa ? pertanyaan yang juga ditanyakan saat saya memutuskan masuk fakultas sastra Ingris.. 2/VIII/88) Prev: MENCERMATI PERAN GURU DALAM MPMBS reply share Sponsored Links Begging 4 A Bag part 2 Tas Branded kualitas KW1 . Belajar sastra sama juga dengan mengolah rasa. Pak Keating. Metodologi Pengajaran Nasional. bahwasannya. Theory of Literature. Hermes. Jujun S. Inc. Chanel.KW Super. '09 Nah tu dia. 1980. reply soemarjadi wrote on Feb 27. Brace & World. 1984.. keagamaan.High Quality ^___^ Ready Stock Jacket -Own Productio n.

audio reply video reply Add a Comment Quote original message Submit Preview & Spell Check © 2010 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Translate · API · Contact · Help .