Join Multiply to get updates from soemar

Sumaryadi's Site
HomeBlogPhotosReviewsLinks

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH: METODE IMERSI
Oleh: Sumaryadi Pendahuluan

Feb 22, '09 8:14 AM for everyone

soemarjadi

Salah satu warisan kebudayaan bangsa Indonesia berupa sastra Indonesia. Sebagai ahli waris, siswa harus mengenal, memahami, dan menghargai sastra miliknya. Namun, harapan akan tinggal harapan andaikata saja pihak sekolah tidak atau kurang berupaya sedemikian rupa untuk secara sadar dan sengaja memperkenalkan dan mendekatkan siswa pada karya-karya sastra. Kesadaran itulah tampaknya yang mendorong agar sastra Indonesia mendapat tempat untuk dipelajari siswa di sekolah, meskipun pada kenyataannya sastra belumlah merupakan satu bidang studi yang berdiri sendiri. Pembelajaran sastra notabena merupakan bagian saja dari pembelajaran Bahasa Indonesia. Dimasukkannya pembelajaran sastra ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kiranya dapat dimaklumi, karena secara umum -- dalam salah satu definisinya -- sastra adalah segala sesuatu yang ditulis (Wellek & Warren, 1956: 20), kendatipun pengertian semacam itu dianggap terlalu luas dan juga terlalu sempit

• • • •

Photos of soemar Personal Message RSS Feed [?] Report Abuse

sastra memberikan berbagai kepuasan yang sangat tinggi nilainya. tetapi harus dianggap sebagai pernyataan yang sangat kompleks dan luas tentang dunia penulis dan pembacanya (Moody.(Barnet-Berman-Burto. Secara lebih khusus Robert Frost menyatakan bahwa sastra adalah suatu pengungkapan dalam kata (a performance in words) (Barnet-Berman-Burto. keindahan. Sastra merupakan karangan rekaan. 1980: 10). Karya sastra bukan hanya bahasa yang dipakai untuk merealisasikannya. Pendek kata. terhadap manusia. Sebagai suatu karya seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya. dan cara hidupnya sendiri dan bangsanya (Soeharianto. karya sastra juga memberikan keagungan kepada siswa pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. khidmat terhadap Tuhan. 1982: 4). benar dan salah. hasil cipta seseorang sebagai ungkapan penghayatannya ke dalam wujud bahasa (Rusyana. dan terhadap bahasa (Ahmadi. dengan demikian. moral. Fungsi sastra kiranya tidak perlu diragukan lagi. dengan demikian. Norman Podhoretz ketika diwawancarai Arwah Setiawan mengemukakan bahwa sastra dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap cara berpikir orang mengenai hidup. 1972: 3). Sastra Indonesia secara umum dapat dipakai sebagai cermin. tidak termasuk dalam sastra. Dianggap terlalu luas karena. sastra sangat mengutamakan dan setia terhadap hidup. baik dan buruk. Pembelajaran sastra penting bagi siswa karena berhubungan erat dengan keharuan. 1976: 25). yang tidak dapat diperoleh dengan cara lain . keagamaan. Sastra dapat menimbulkan rasa haru. Dianggap terlalu sempit dengan keberatan bahwa macam balada yang dinyanyikan dan cerita yang dibacakan. Di samping memberikan kenikmatan dan keindahan. 1982: 67). dan cinta terhadap sastra bangsanya (Broto. pernyataan. 1967: 7). 1967: 1). penafsiran. atau kritik kehidupan bangsa. semua buku termasuk sastra.

subjek yang belajar sastra. 1972: 2). Pendekatan. Masalah di atas dapat disederhanakan menjadi bagaimana upaya yang seyogianya ditempuh yang memungkinkan siswa dapat belajar sastra dengan seefektif mungkin.(Moody. dan teknik bersifat teknis pelaksanaan. perlu diingat.sebagai suatu alternatif -. yaitu: pendekatan (approach). metode. Pendekatan. dan teknik (technique). 1967: 8). Tulisan sederhana ini akan menawarkan suatu metode -. dan teknik (Broto. secara hirarkis akan dikemukakan adanya tiga tataran. jika kita berbicara masalah metode kita tidak dapat lepas dari masalah pendekatan atau ancangan (approach) yang menurunkan metode (method). Hanya saja. Dalam hubungan . Dengan demikian. Proses pembelajaran sastra melibatkan guru sastra. metode. pihak yang mengajarkan sastra. metode bersifat teoretis prosedural. suatu metode ternyata akan menyarankan penggunaan teknikteknik tertentu pula.yang tampaknya cukup efektif digunakan oleh guru dalam pembelajaran sastra. Hubungan itu menyatakan bahwa teknik merupakan hasil dari (pelaksanaan) suatu metode yang selalu konsisten dengan pendekatan. Sastra memberikan pengaruh yang menguntungkan kepada penikmatnya (Barnet-Berman-Burto. Metode. yaitu pendekatan. metode (method). dan siswa. dan teknik mempunyai hubungan hirarki (Anthony. Kenyataan menunjukkan bahwa para guru bahasa pada umumnya dan guru sastra pada khususnya masih menggunakan ketiga-tiganya secara kacau. Untuk selanjutnya. 1963). 1982: 19). Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana proses pembelajaran sastra itu berlangsung supaya hasil yang diharapkan dapat mewujud. Teknik Dalam rangka metode sebenarnya terkandung beberapa istilah. Pendekatan bersifat aksiomatik.

mengembangkan rasa karsa. dalam pengertian lebih mengutamakan atau . Paling tidak ada empat manfaat yang dapat diambil dari belajar sastra. yaitu menunjang keterampilan berbahasa. a) Pendekatan Apresiatif Pendekatan merupakan latar belakang filosofis tentang pokok-pokok yang hendak diajarkan (Broto. Sastra dalam keutuhan bentuknya menyentuh perilaku kehidupan kaum terdidik yang tentunya dapat mewarnai liku-liku hidup yang bersangkutan (Moody. yang hasil penghayatan itu selanjutnya dijelmakan dengan media bahasa. 1963. 1985). 1983: 23). seperti aspek pendidikan susila. merupakan komitmen terhadap pandangan tertentu (Strevens. Pendekatan berupa seperangkat asumsi yang berhubungan dengan hakekat bahasa dan belajar-mengajar bahasa (Anthony. pengenalan terhadap ketiga tataran itu sedapat mungkin akan langsung dikaitkan dengan pembelajaran sastra. Baradia. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan kreatif. daya rasa.ini. sosial. yang secara umum dapat dikatakan bahwa sastra tidak lain dari hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya dengan menggunakan bahasa (Rusyana.untuk menciptakan sesuatu yang baru. dan keagamaan (Rusyana. meningkatkan pengetahuan budaya. perasaan. 1982: 6). 1982: 9-10). dan daya imajinasinya -. Sastrawan memadukan daya pikir. Kenyataan itu tampak menyarankan bahwa proses pembelajaran sastra di sekolah seyogianya disajikan dalam bentuk apresiasi. 1972). sikap penilaian. Pada bagian muka sudah disinggung beberapa pengertian tentang sastra. 1982: 5). 1980: 2). dan membentuk watak (Gani.penghayatan -. Pembelaran sastra mempunyai peranan besar dalam mencapai berbagai aspek dari tujuan pendidikan dan pengajaran.

kepekaan pikiran kritis. berarti mengapresiasi nilai-nilai yang terkandung dalam sastra. sekali lagi. 1980: 12). mengandung arti mempersepsi dan mengenal dengan cukup luas suatu karya sastra (Ahmadi. 1981: 15) termasuk di dalamnya karya sastra. serta kenikmatan yang timbul sebagai akibat dari semua itu. Tujuan (utama) pembelajaran sastra adalah mengapresiasi nilainilai yang terkandung dalam sastra (Rusyana. Dalam karya sastra terkandung pengalaman manusia yang indah mendalam.mendahulukan kegiatan apresiasinya daripada pengetahuan sastranya. 1974: 18). Apresiasi berisikan upaya merasakan dan menikmati karya sastra. Pendekatan apresiatif bertolak dari sastra sebagai hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya dengan . dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra (Effendi. yaitu pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra dan kegairahan kepadanya. dan kritik sastra. belumlah dapat dikatakan bahwa kita sudah mengapresiasi karya sastra. Apresiasi berisikan kegiatan atau usaha merasakan dan menikmati hasil-hasil karya seni (Soeharianto. memahami. Pengetahuan sastra meliputi teori. 1984: 314). sejarah. Mengadakan pendekatan terhadap sastra. esai. Dengan tegas dikatakan bahwa apresiasi sastra merupakan kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian. dimaksudkan mengerti. Pengenalan yang semakin mendalam dan hasrat serta jawaban kita terhadap pengalaman hidup yang terkandung dalam sastra itulah yang dapat disebut sebagai apresiasi sastra (Rusyana. Selama hubungan dengan karya sastra belum atau kurang menggambarkan kegiatan itu. 1982: 7). Untuk mendapatkan kenikmatan yang mendalam. penghargaan. dan mengenal secara intuitif tentang kebenaran dan kualitas estetik karya sastra. sudah barang tentu juga perlu pemahaman terhadap sastra.

mengadakan kontak dan dialog langsung dengan karya dengan cara membaca dan menikmatinya. b. 1980: 75). Pembelajaran sastra dilaksanakan dengan pengutamaan pada kegiatan apresiasi sastra. metode digunakan dengan makna yang sama dengan istilah pendekatan (Strevens. Hal itu menyarankan agar siswa diperkenalkan atau dipertemukan dengan karya sastra secara langsung dan sebanyak-banyaknya. bersifat membantu menyajikan lingkungan dan suasana yang kondusif. Makin baik metode akan makin efektif pula pencapaian tujuannya. Sebagai ilustrasi. 1963. 1983: 23). direct method semestinya dipakai untuk menunjukkan pendekatan. 1985). Dalam banyak hal. bahasa. Metode merupakan cara yang dalam fungsinya adalah alat untuk mencapai tujuan (Surakhmad. Baradja. di antaranya pertimbangan faktor usia.menggunakan bahasa. Untuk seterusnya dapat saja – bahkan sangat positif — diadakan . penamaan seperti audio-lingual method. Metode tidak lain dari rencana keseluruhan dalam menyajikan materi bahasa secara teratur (Anthony. yang kemudian didukung titik berat pembelajaran sastra yang diletakkan pada terbinanya kemampuan siswa mengapresiasi sastra. Guru sastra bertugas memberi siswa kesempatan untuk mengembangkan sendiri kemampuan apresiasinya. kematangan jiwa. Sangatlah mungkin dalam suatu pendekatan akan terdapat beberapa metode. Karya-karya sastra itu tentu sudah dipilih oleh guru dengan berbagai pertimbangan. Siswa hendaknya didorong agar berkenalan dengan karya sastra. dan prioritas. Metode Imersi Ada sedikit kekacauan dalam istilah yang digunakan untuk menunjukkan perbedaan antara metode dan pendekatan. misalnya menyediakan bahan bacaan sastra dan mendorong siswa senang membaca.

dua kegiatan lagi sebagai pelengkap -. atau secara langsung mendengarkan sajak dideklamasikan atau dibacakan (poetry reading) dan menyaksikan drama yang dipentaskan. misalnya tentang pengalaman-pengalaman yang terkandung di dalamnya. 1974: 19). memahami. cerita. atau drama dari berbagai sastrawan dan zaman. cerpen. sementara itu. tokoh-tokoh cerita. mendengarkan. Yang terakhir ini dapat disebut kegiatan tak langsung. berdialog langsung dan mendalam dengan karya -mengenal. kegiatan kreatif berupa kegiatan belajar atau berlatih mencipta sendiri sajak.jika masih dimungkinkan -. Agar siswa memperoIeh pengertian yang sebaikbaiknya tentang wujud dan fungsi karya sastra dan dapat menghargainya secara wajar. diksi. yang akan ditingkatkan oleh hadirnya cara yang tak langsung tersebut. dimaksudkan bahwa siswa itu sendiri harus secara langsung membaca bermacam sajak. Kecuali itu. artinya siswa tidak langsung menjamah karya sastranya. dan seterusnya. kegiatan tersebut – membaca. Cara langsung merupakan cara yang paling diutamakan.mereka diperkuat dengan pengetahuan tentang sastra. Sesudah siswa bergaul. Kiranya perlu diingatkan di sini bahwasanya kegiatan apresiasi sastra belum berhenti hanya sampai di situ saja. menyaksikan — harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan sebanyak-banyaknya. Kegiatan dokumentasi berupa kegiatan mengumpulkan dan menyusun buku-buku dan majalah-majalah sastra. dan sebagainya. Kegiatan menggauli karya sastra dilakukan secara langsung. atau drama kecil.ruang pembahasan atau diskusi. Demi sempurnanya kegiatan apresiasi memang masih perlu diikuti dengan pemberian pengetahuan tentang sastra. menganalisis. membuat kliping.yaitu kegiatan dokumentasi dan kegiatan kreatif (Effendi. menghayati -. Metode Imersi (Immersion Method) yang ditawarkan di sini berangkat dari pandangan .

Teknik biasanya ditandai dengan penggunakan alat bantu atau media tertentu yang diperlukan. 1982: 23).bahwa dalam pelaksanaan kegiatan apresiasi sastra (baca: pembelajaran sastra) siswa layaknya dibenamkan ke dalam sesuatu atau dibenami sesuatu. mendorong dan memberi . Siswa dibenamkan ke dalam sebuah dunia yang sarat dengan aneka ragam karya sastra (plus pengetahuan sastra). Teknik berkaitan dengan strategi yang benarbenar terjadi di ruang kelas (Anthony. Jenis teknik belajar-mengajar dapat ditimbulkan dari metode tertentu (Broto. 1983: 2). 1985). Teknik induksi tidak hanya menuntut peran serta aktif siswa. akhirnya menggiring kita untuk menentukan dan mengangkat satu teknik yang dirasa paling sesuai. Pembelajaran sastra yang berangkat dari pendekatan apresiatif (appreciative approach) dan memilih metode imersi sebagai suatu alternatif. Suatu strategi yang efektif dan efisien akan tercipta bila strategi itu dapat dengan mudah diterapkan dan dapat menunjang prestasi belajar siswa yang memadai dan langgeng (Natawidjaja. 1963. Teknik merupakan pelaksanaan dari proses pembelajaran. c) Teknik Induksi Suatu teknik harus konsisten dengan metode dan sesuai pula dengan pendekatannya. Baradja. Teknik induksi tampaknya sangat sesuai dan mendukung kegiatan ini. Dapat juga dikatakan bahwa siswa dibenami dengan beronggok-onggok karya sastra (plus pengetahuan sastra). Keberartian sesuatu yang dipelajari siswa untuk dirinya sendiri itulah yang menentukan kadar kelanggengan prestasi belajar siswa. tetapi lebih jauh daripada itu. Dalam hal ini peran serta aktif dari pihak siswa sendiri dalam kegiatan pembelajaran ikut berpengaruh terhadap keberartian bahan pembelajaran.

Siswa diberi kesempatan secara langsung bergaul intim dan berdialog dengan karya. Tentu saja. tetapi tidak atau kurang mampu mengapresiasi karya. menggauli secara langsung. Guru hanya bersifat merangsang. dan akhirnya diharapkan mampu menikmati. Seperti diketahui. Tujuan utama pembelajaran sastra masih jauh dari terpenuhi. Teknik induksi menghendaki lain. Siswa dijejali sekian banyak teori dan sejarah sastra. induksi berupaya menyimpulkan pengetahuan yang ’umum’ atau universal dari . dan mengarahkan kegiatan itu. Kegiatan macam itu jelas kegiatan yang sangat tidak apresiatif. Yang penting guru tidak bersikap menggurui dan menyuapkan sesuatu yang tinggal telan saja. hal itu tidak terlepas sama sekali dari bimbingan guru. tampaknya para guru sastra di lapangan cukup dengan membuat siswanya paham dan mengerti karya sastra melalui penjelasan atau informasi. menghayati. siswa banyak tahu dan paham (baca: hafal) pengetahuan sastra. Yang terjadi selama ini. Dengan demikian. dan menghargai karya sastra itu sendiri. mendorong. 1984: 46).kesempatan yang seluas-luasnya dan sebanyakbanyaknya kepada siswa untuk mendekati sendiri karya sastra. Penamaan induksi untuk teknik ini sesungguhnya meminjam istilah dari bidang logika. Sebagai suatu proses tertentu. tanpa ada kontak langsung siswa-karya. yaitu logika induktif dan logika deduktif (Suriasumantri. Tidaklah mungkin seseorang dapat merasakan kenikmatan sesuatu hanya dengan diberitahu orang lain tanpa melakukan kontak langsung secara intim dan berdialog akrab dengan sesuatu itu sendiri. Segala sesuatu yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa dalam pergaulan dan dialog biarlah ditemukan sendiri oleh siswa. Logika induktif – yang dipakai di sini — erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. memancing. terdapat dua cara penarikan kesimpulan.

1983: 40). misalnya. guru bertindak membimbing dan mengarahkan siswanya agar berhasil menemukan sendiri halhal khusus. Dengan teknik induksi yang merupakan pembalikan langkah-langkah tersebut di atas. peristiwa yang dibayangkan terjadi di belakang karya. Implikasinya dalam pembelajaran sastra. nada bicara. Langkah tersebut sangat tidak apresiatif. pendapat pengarang atau penyair tentang pokok masalah tersebut. dan menikmati karya puisi lama itu. dan seterusnya. batasan. Pembicaraan dapat saja berkisar pada pokok masalah yang diungkapkan. perasaan. ciri-ciri khusus. Dengan bimbingan guru siswa diajak mampu menemukan Ietak-letak keindahannya. dan seterusnya. teknik yang cenderung selalu digunakan para guru sebagai berikut. sehingga hasilnya pun berupa pengetahuan hafalan belaka. . berdialog. guru memberikan pengertian. seperti sudah dikemukakan terdahulu. atau definisi pantun. mengajarkan pantun. Sebagai ilustrasi. siswa diberi kesempatan langsung berhadapan. Akhirnya. Berikutnya diberikanlah ciri-ciri pantun atau mengapa bentuk itu disebut pantun. amanat yang terkandung. Pertama. Yang lebih penting justru pembahasan terhadap unsur isinya. Yang juga perlu diingat bahwa pembicaraan atau pembahasan tidak boleh hanya terbatas pada unsur bentuknya saja. untuk kemudian dibimbing ke arah penarikan kesimpulan yang bersifat umum tentang karya sastra itu. disajikan contoh-contoh pantun. yang akhirnya sampai pada penyimpulan bahwa karya puisi itu adalah pantun. Induksi merupakan cara berpikir dengan jalan menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Langkah tersebut masih ditambah lagi dengan model penyajian dikte oleh guru.pengetahuan yang ’khusus’ atau partikular (Ofm. ciri-ciri bentuknya.

dan psikomotorik (Natawidjaja. Nomor 6. Mukhsin. sejalan. pendekatan —metode—teknik yang dimunculkan dalam tulisan ini – barangkali juga bukanlah barang baru lagi — tidak lebih dari salah satu alternatif dari sekian banyak alternatif yang seharusnya memang ada. Penutup Sudah barang tentu pembelajaran sastra dapat dilaksanakan dengan berorientasi pada pendekatan lain yang berbeda. umpamanya brainstorming.. guru tidak boleh lupa pada prinsip-prinsip CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). afektif. demikian pula. 1980. dan lain-lain yang relevan. Dari pendekatan apresiatif ini pun sangat dimungkinkan lahirnya metode lain di samping imersi. sangat dimungkinkan terpakainya teknik-teknik lain yang mirip. Teaching English as . kemudian juga melahirkan metode-metode lain lagi. Dari metode imersi. ed. 1972. Melaksanakan CBSA berarti guru melaksanakan suatu strategi pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa secara fisik. Daftar Pustaka Ahmadi. and Technique" dalam Allen & Campbell. Method.Dalam pelaksanaannya dapat saja teknik induksi diramu dengan teknik-teknik yang lain. atau bahkan bertentangan dengan teknik-teknik induksi yang ditawarkan di sini. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. Edward M. VI. "Approach. dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara matra kognitif. "Peranan Sastrawan dalam Apresiasi Sastra" dalam Bahasa dan Sastra Th. diskusi. dan tentunya diaplikasikan dengan teknik-teknik yang berbeda pula. mental. Anthony. Sekali lagi ditekankan di sini. Yang tetap harus diingat. intelektual. 1983: 19).

Rochman. Natawidjaja. ---------------. I. The Teaching of Literature. 1982. 1980.S. New York: McGraw-Hill. 1982. Metode Pengajaran Sastra. Soeharianto.L. Gani. "Pengajaran Apresiasi Puisi" dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Th. An Introduction to Literature: Fiction—Poetry— Drama. S. Nomor 3. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta: Ditjendikdasmen—Ditdikgutentis Depdikbud. Alex Lanur. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Metodologi Proses Belajar-Mengajar Berbahasa. A Way to Analyze Method. H. M. Semarang: Akademi Bahasa 17 Agustus 1945 Semarang. Rusyana. Surakarta: Widyaduta. Peter. VI. Brown and Company. London: Longman Group Ltd. CBSA Cara Belajar Siswa Aktif. Baradja. Barnet—Berman—Burto.F. 1971. Logika Selayang Pandang.1984. Solo: Tiga Serangkai.1981. "Peranan Puisi dalam Kehidupan Kita" dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Th. Ofm.B.a Second Language: A Book of Readings. Yogyakarta: Kanisius. Boston: Little. S. A. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. 1974. ---------------. Nomor 6. Ende Flores: Nusa Indah. Bandung: Diponegoro. 1983. 1983. Rizanur. 1985. Strevens. 1983. Metode Proses BelajarMengajar Berbahasa Dewasa Ini. Yus. Boston. 1976. New Orientations in . Effendi. -----------------1982. Broto. Moody. Solo: Tiga Serangkai. Bandung: Gunung Larang. Pengantar Apreslasi Puisi. 1967.

. di film dan novel Dead Poet's Society. Thanks berat! reply hitungmundur wrote on Aug 15. Rene & Austin Warren. . 3 CommentsChronological Reverse Threaded reply uwaykaramy wrote on Feb 26. 1956. reply soemarjadi wrote on Feb 27. Pak Keating. Inc. Winarno. 1980. Chanel. Jakarta: Sinar Harapan. keindahan. Oxford University Press. Balenciaga.Nice and Elegant . '09 Saya setuju pak. Suriasumantri. s astra dapat menimbulkan rasa haru. Sensual Click on Each Photos u like to read the description. Dik. Surakhmad. keagamaan. khidmat terhadap Tuhan. dan cinta terhadap sastra bangsanya. New York: A Harvest Book Harcourt. PR kita semua. moral. '09 Nah tu dia. Hermes. Belajar sastra sama juga dengan mengolah rasa. sontak saya teringat guru sastra. Brace & World.KW Super.... Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Hanya saja orang masih sering bertanya untuk apa belajar sastra ?Mau jadi apa ? pertanyaan yang juga ditanyakan saat saya memutuskan masuk fakultas sastra Ingris. Jujun S. 1984. and many more. 2/VIII/88) Prev: MENCERMATI PERAN GURU DALAM MPMBS reply share Sponsored Links Begging 4 A Bag part 2 Tas Branded kualitas KW1 . '09 Membacanya.Mulberry. (CP.High Quality ^___^ Ready Stock Jacket -Own Productio n. Bandung: Jemmars. Metodologi Pengajaran Nasional. bahwasannya. Welleck. Theory of Literature.the Teaching of English.

audio reply video reply Add a Comment Quote original message Submit Preview & Spell Check © 2010 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Translate · API · Contact · Help .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful