P. 1
Pembelajaran Sastra Di Sekolah Metode Imersi

Pembelajaran Sastra Di Sekolah Metode Imersi

|Views: 191|Likes:
Published by Budi Suwarno

More info:

Published by: Budi Suwarno on Jan 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2015

pdf

text

original

Join Multiply to get updates from soemar

Sumaryadi's Site
HomeBlogPhotosReviewsLinks

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH: METODE IMERSI
Oleh: Sumaryadi Pendahuluan

Feb 22, '09 8:14 AM for everyone

soemarjadi

Salah satu warisan kebudayaan bangsa Indonesia berupa sastra Indonesia. Sebagai ahli waris, siswa harus mengenal, memahami, dan menghargai sastra miliknya. Namun, harapan akan tinggal harapan andaikata saja pihak sekolah tidak atau kurang berupaya sedemikian rupa untuk secara sadar dan sengaja memperkenalkan dan mendekatkan siswa pada karya-karya sastra. Kesadaran itulah tampaknya yang mendorong agar sastra Indonesia mendapat tempat untuk dipelajari siswa di sekolah, meskipun pada kenyataannya sastra belumlah merupakan satu bidang studi yang berdiri sendiri. Pembelajaran sastra notabena merupakan bagian saja dari pembelajaran Bahasa Indonesia. Dimasukkannya pembelajaran sastra ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kiranya dapat dimaklumi, karena secara umum -- dalam salah satu definisinya -- sastra adalah segala sesuatu yang ditulis (Wellek & Warren, 1956: 20), kendatipun pengertian semacam itu dianggap terlalu luas dan juga terlalu sempit

• • • •

Photos of soemar Personal Message RSS Feed [?] Report Abuse

sastra memberikan berbagai kepuasan yang sangat tinggi nilainya. 1982: 67). 1982: 4). Karya sastra bukan hanya bahasa yang dipakai untuk merealisasikannya. Di samping memberikan kenikmatan dan keindahan. tidak termasuk dalam sastra. penafsiran. dengan demikian. keagamaan. yang tidak dapat diperoleh dengan cara lain . dengan demikian. Sastra dapat menimbulkan rasa haru. Pendek kata. Dianggap terlalu sempit dengan keberatan bahwa macam balada yang dinyanyikan dan cerita yang dibacakan. khidmat terhadap Tuhan. karya sastra juga memberikan keagungan kepada siswa pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.(Barnet-Berman-Burto. terhadap manusia. 1972: 3). moral. hasil cipta seseorang sebagai ungkapan penghayatannya ke dalam wujud bahasa (Rusyana. Sastra merupakan karangan rekaan. benar dan salah. sastra sangat mengutamakan dan setia terhadap hidup. semua buku termasuk sastra. tetapi harus dianggap sebagai pernyataan yang sangat kompleks dan luas tentang dunia penulis dan pembacanya (Moody. 1976: 25). 1980: 10). 1967: 1). 1967: 7). Norman Podhoretz ketika diwawancarai Arwah Setiawan mengemukakan bahwa sastra dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap cara berpikir orang mengenai hidup. dan terhadap bahasa (Ahmadi. Fungsi sastra kiranya tidak perlu diragukan lagi. dan cinta terhadap sastra bangsanya (Broto. atau kritik kehidupan bangsa. Sastra Indonesia secara umum dapat dipakai sebagai cermin. baik dan buruk. dan cara hidupnya sendiri dan bangsanya (Soeharianto. keindahan. Sebagai suatu karya seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya. pernyataan. Secara lebih khusus Robert Frost menyatakan bahwa sastra adalah suatu pengungkapan dalam kata (a performance in words) (Barnet-Berman-Burto. Dianggap terlalu luas karena. Pembelajaran sastra penting bagi siswa karena berhubungan erat dengan keharuan.

Teknik Dalam rangka metode sebenarnya terkandung beberapa istilah. metode bersifat teoretis prosedural. pihak yang mengajarkan sastra. Pendekatan. yaitu: pendekatan (approach). Dalam hubungan . suatu metode ternyata akan menyarankan penggunaan teknikteknik tertentu pula. Hanya saja. Sastra memberikan pengaruh yang menguntungkan kepada penikmatnya (Barnet-Berman-Burto. Pendekatan bersifat aksiomatik. dan teknik (technique). metode. metode (method). dan teknik (Broto. Hubungan itu menyatakan bahwa teknik merupakan hasil dari (pelaksanaan) suatu metode yang selalu konsisten dengan pendekatan. Pendekatan. yaitu pendekatan.sebagai suatu alternatif -. dan teknik bersifat teknis pelaksanaan. perlu diingat. Untuk selanjutnya. Proses pembelajaran sastra melibatkan guru sastra. subjek yang belajar sastra. 1963). dan teknik mempunyai hubungan hirarki (Anthony. dan siswa.(Moody.yang tampaknya cukup efektif digunakan oleh guru dalam pembelajaran sastra. Dengan demikian. Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana proses pembelajaran sastra itu berlangsung supaya hasil yang diharapkan dapat mewujud. Metode. 1982: 19). 1967: 8). secara hirarkis akan dikemukakan adanya tiga tataran. Masalah di atas dapat disederhanakan menjadi bagaimana upaya yang seyogianya ditempuh yang memungkinkan siswa dapat belajar sastra dengan seefektif mungkin. Kenyataan menunjukkan bahwa para guru bahasa pada umumnya dan guru sastra pada khususnya masih menggunakan ketiga-tiganya secara kacau. Tulisan sederhana ini akan menawarkan suatu metode -. metode. 1972: 2). jika kita berbicara masalah metode kita tidak dapat lepas dari masalah pendekatan atau ancangan (approach) yang menurunkan metode (method).

dan membentuk watak (Gani. 1963. a) Pendekatan Apresiatif Pendekatan merupakan latar belakang filosofis tentang pokok-pokok yang hendak diajarkan (Broto. Baradia. Pembelaran sastra mempunyai peranan besar dalam mencapai berbagai aspek dari tujuan pendidikan dan pengajaran. Sastrawan memadukan daya pikir. 1985). Sastra dalam keutuhan bentuknya menyentuh perilaku kehidupan kaum terdidik yang tentunya dapat mewarnai liku-liku hidup yang bersangkutan (Moody. perasaan. 1972). merupakan komitmen terhadap pandangan tertentu (Strevens. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan kreatif.untuk menciptakan sesuatu yang baru. dan daya imajinasinya -. Paling tidak ada empat manfaat yang dapat diambil dari belajar sastra. meningkatkan pengetahuan budaya. 1980: 2). Pada bagian muka sudah disinggung beberapa pengertian tentang sastra. sosial. yang hasil penghayatan itu selanjutnya dijelmakan dengan media bahasa. yaitu menunjang keterampilan berbahasa. 1982: 6). 1982: 9-10). 1983: 23). yang secara umum dapat dikatakan bahwa sastra tidak lain dari hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya dengan menggunakan bahasa (Rusyana. seperti aspek pendidikan susila. pengenalan terhadap ketiga tataran itu sedapat mungkin akan langsung dikaitkan dengan pembelajaran sastra.ini. Kenyataan itu tampak menyarankan bahwa proses pembelajaran sastra di sekolah seyogianya disajikan dalam bentuk apresiasi. mengembangkan rasa karsa. 1982: 5).penghayatan -. daya rasa. dalam pengertian lebih mengutamakan atau . sikap penilaian. Pendekatan berupa seperangkat asumsi yang berhubungan dengan hakekat bahasa dan belajar-mengajar bahasa (Anthony. dan keagamaan (Rusyana.

Tujuan (utama) pembelajaran sastra adalah mengapresiasi nilainilai yang terkandung dalam sastra (Rusyana. dan mengenal secara intuitif tentang kebenaran dan kualitas estetik karya sastra. berarti mengapresiasi nilai-nilai yang terkandung dalam sastra. dan kritik sastra. Pendekatan apresiatif bertolak dari sastra sebagai hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya dengan . belumlah dapat dikatakan bahwa kita sudah mengapresiasi karya sastra. Selama hubungan dengan karya sastra belum atau kurang menggambarkan kegiatan itu. 1974: 18). sejarah. Mengadakan pendekatan terhadap sastra. 1982: 7). sudah barang tentu juga perlu pemahaman terhadap sastra. memahami.mendahulukan kegiatan apresiasinya daripada pengetahuan sastranya. serta kenikmatan yang timbul sebagai akibat dari semua itu. sekali lagi. esai. Apresiasi berisikan kegiatan atau usaha merasakan dan menikmati hasil-hasil karya seni (Soeharianto. mengandung arti mempersepsi dan mengenal dengan cukup luas suatu karya sastra (Ahmadi. penghargaan. yaitu pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra dan kegairahan kepadanya. 1980: 12). Pengetahuan sastra meliputi teori. Dalam karya sastra terkandung pengalaman manusia yang indah mendalam. 1984: 314). dimaksudkan mengerti. Dengan tegas dikatakan bahwa apresiasi sastra merupakan kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian. Apresiasi berisikan upaya merasakan dan menikmati karya sastra. kepekaan pikiran kritis. Untuk mendapatkan kenikmatan yang mendalam. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra (Effendi. 1981: 15) termasuk di dalamnya karya sastra. Pengenalan yang semakin mendalam dan hasrat serta jawaban kita terhadap pengalaman hidup yang terkandung dalam sastra itulah yang dapat disebut sebagai apresiasi sastra (Rusyana.

Baradja. Karya-karya sastra itu tentu sudah dipilih oleh guru dengan berbagai pertimbangan. 1985). Metode merupakan cara yang dalam fungsinya adalah alat untuk mencapai tujuan (Surakhmad. bersifat membantu menyajikan lingkungan dan suasana yang kondusif. penamaan seperti audio-lingual method. Pembelajaran sastra dilaksanakan dengan pengutamaan pada kegiatan apresiasi sastra. mengadakan kontak dan dialog langsung dengan karya dengan cara membaca dan menikmatinya. Makin baik metode akan makin efektif pula pencapaian tujuannya. di antaranya pertimbangan faktor usia. Metode tidak lain dari rencana keseluruhan dalam menyajikan materi bahasa secara teratur (Anthony. bahasa. dan prioritas.menggunakan bahasa. Guru sastra bertugas memberi siswa kesempatan untuk mengembangkan sendiri kemampuan apresiasinya. Untuk seterusnya dapat saja – bahkan sangat positif — diadakan . direct method semestinya dipakai untuk menunjukkan pendekatan. 1963. Sebagai ilustrasi. misalnya menyediakan bahan bacaan sastra dan mendorong siswa senang membaca. Metode Imersi Ada sedikit kekacauan dalam istilah yang digunakan untuk menunjukkan perbedaan antara metode dan pendekatan. Sangatlah mungkin dalam suatu pendekatan akan terdapat beberapa metode. Siswa hendaknya didorong agar berkenalan dengan karya sastra. metode digunakan dengan makna yang sama dengan istilah pendekatan (Strevens. kematangan jiwa. Dalam banyak hal. 1983: 23). yang kemudian didukung titik berat pembelajaran sastra yang diletakkan pada terbinanya kemampuan siswa mengapresiasi sastra. Hal itu menyarankan agar siswa diperkenalkan atau dipertemukan dengan karya sastra secara langsung dan sebanyak-banyaknya. 1980: 75). b.

diksi. cerita. 1974: 19). Kecuali itu. dua kegiatan lagi sebagai pelengkap -.jika masih dimungkinkan -. Kegiatan dokumentasi berupa kegiatan mengumpulkan dan menyusun buku-buku dan majalah-majalah sastra. atau secara langsung mendengarkan sajak dideklamasikan atau dibacakan (poetry reading) dan menyaksikan drama yang dipentaskan. menganalisis. menyaksikan — harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan sebanyak-banyaknya. mendengarkan. cerpen. kegiatan tersebut – membaca. Kiranya perlu diingatkan di sini bahwasanya kegiatan apresiasi sastra belum berhenti hanya sampai di situ saja. Kegiatan menggauli karya sastra dilakukan secara langsung. atau drama kecil. Agar siswa memperoIeh pengertian yang sebaikbaiknya tentang wujud dan fungsi karya sastra dan dapat menghargainya secara wajar. misalnya tentang pengalaman-pengalaman yang terkandung di dalamnya.mereka diperkuat dengan pengetahuan tentang sastra. membuat kliping. tokoh-tokoh cerita. Cara langsung merupakan cara yang paling diutamakan.ruang pembahasan atau diskusi. Sesudah siswa bergaul. dimaksudkan bahwa siswa itu sendiri harus secara langsung membaca bermacam sajak. dan sebagainya. kegiatan kreatif berupa kegiatan belajar atau berlatih mencipta sendiri sajak. Demi sempurnanya kegiatan apresiasi memang masih perlu diikuti dengan pemberian pengetahuan tentang sastra.yaitu kegiatan dokumentasi dan kegiatan kreatif (Effendi. menghayati -. berdialog langsung dan mendalam dengan karya -mengenal. memahami. atau drama dari berbagai sastrawan dan zaman. Metode Imersi (Immersion Method) yang ditawarkan di sini berangkat dari pandangan . artinya siswa tidak langsung menjamah karya sastranya. sementara itu. dan seterusnya. Yang terakhir ini dapat disebut kegiatan tak langsung. yang akan ditingkatkan oleh hadirnya cara yang tak langsung tersebut.

bahwa dalam pelaksanaan kegiatan apresiasi sastra (baca: pembelajaran sastra) siswa layaknya dibenamkan ke dalam sesuatu atau dibenami sesuatu. Siswa dibenamkan ke dalam sebuah dunia yang sarat dengan aneka ragam karya sastra (plus pengetahuan sastra). Teknik induksi tidak hanya menuntut peran serta aktif siswa. 1963. Dapat juga dikatakan bahwa siswa dibenami dengan beronggok-onggok karya sastra (plus pengetahuan sastra). 1983: 2). c) Teknik Induksi Suatu teknik harus konsisten dengan metode dan sesuai pula dengan pendekatannya. Teknik biasanya ditandai dengan penggunakan alat bantu atau media tertentu yang diperlukan. Teknik merupakan pelaksanaan dari proses pembelajaran. Keberartian sesuatu yang dipelajari siswa untuk dirinya sendiri itulah yang menentukan kadar kelanggengan prestasi belajar siswa. 1985). Suatu strategi yang efektif dan efisien akan tercipta bila strategi itu dapat dengan mudah diterapkan dan dapat menunjang prestasi belajar siswa yang memadai dan langgeng (Natawidjaja. Pembelajaran sastra yang berangkat dari pendekatan apresiatif (appreciative approach) dan memilih metode imersi sebagai suatu alternatif. akhirnya menggiring kita untuk menentukan dan mengangkat satu teknik yang dirasa paling sesuai. Dalam hal ini peran serta aktif dari pihak siswa sendiri dalam kegiatan pembelajaran ikut berpengaruh terhadap keberartian bahan pembelajaran. Teknik induksi tampaknya sangat sesuai dan mendukung kegiatan ini. tetapi lebih jauh daripada itu. Teknik berkaitan dengan strategi yang benarbenar terjadi di ruang kelas (Anthony. 1982: 23). mendorong dan memberi . Jenis teknik belajar-mengajar dapat ditimbulkan dari metode tertentu (Broto. Baradja.

Guru hanya bersifat merangsang. Yang penting guru tidak bersikap menggurui dan menyuapkan sesuatu yang tinggal telan saja. tampaknya para guru sastra di lapangan cukup dengan membuat siswanya paham dan mengerti karya sastra melalui penjelasan atau informasi. tetapi tidak atau kurang mampu mengapresiasi karya.kesempatan yang seluas-luasnya dan sebanyakbanyaknya kepada siswa untuk mendekati sendiri karya sastra. tanpa ada kontak langsung siswa-karya. dan menghargai karya sastra itu sendiri. Logika induktif – yang dipakai di sini — erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Segala sesuatu yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa dalam pergaulan dan dialog biarlah ditemukan sendiri oleh siswa. Sebagai suatu proses tertentu. Seperti diketahui. Kegiatan macam itu jelas kegiatan yang sangat tidak apresiatif. dan akhirnya diharapkan mampu menikmati. hal itu tidak terlepas sama sekali dari bimbingan guru. Tidaklah mungkin seseorang dapat merasakan kenikmatan sesuatu hanya dengan diberitahu orang lain tanpa melakukan kontak langsung secara intim dan berdialog akrab dengan sesuatu itu sendiri. Dengan demikian. Tentu saja. terdapat dua cara penarikan kesimpulan. memancing. yaitu logika induktif dan logika deduktif (Suriasumantri. mendorong. Yang terjadi selama ini. Teknik induksi menghendaki lain. Penamaan induksi untuk teknik ini sesungguhnya meminjam istilah dari bidang logika. menghayati. Tujuan utama pembelajaran sastra masih jauh dari terpenuhi. dan mengarahkan kegiatan itu. induksi berupaya menyimpulkan pengetahuan yang ’umum’ atau universal dari . siswa banyak tahu dan paham (baca: hafal) pengetahuan sastra. menggauli secara langsung. Siswa dijejali sekian banyak teori dan sejarah sastra. 1984: 46). Siswa diberi kesempatan secara langsung bergaul intim dan berdialog dengan karya.

Pembicaraan dapat saja berkisar pada pokok masalah yang diungkapkan. disajikan contoh-contoh pantun. Akhirnya. batasan. Pertama. Sebagai ilustrasi. Induksi merupakan cara berpikir dengan jalan menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. untuk kemudian dibimbing ke arah penarikan kesimpulan yang bersifat umum tentang karya sastra itu. mengajarkan pantun. Langkah tersebut sangat tidak apresiatif. Dengan teknik induksi yang merupakan pembalikan langkah-langkah tersebut di atas. guru memberikan pengertian. dan seterusnya. nada bicara. peristiwa yang dibayangkan terjadi di belakang karya. dan seterusnya. ciri-ciri bentuknya. siswa diberi kesempatan langsung berhadapan. amanat yang terkandung. sehingga hasilnya pun berupa pengetahuan hafalan belaka. pendapat pengarang atau penyair tentang pokok masalah tersebut. Implikasinya dalam pembelajaran sastra. Yang juga perlu diingat bahwa pembicaraan atau pembahasan tidak boleh hanya terbatas pada unsur bentuknya saja. 1983: 40).pengetahuan yang ’khusus’ atau partikular (Ofm. . teknik yang cenderung selalu digunakan para guru sebagai berikut. dan menikmati karya puisi lama itu. atau definisi pantun. Dengan bimbingan guru siswa diajak mampu menemukan Ietak-letak keindahannya. seperti sudah dikemukakan terdahulu. Langkah tersebut masih ditambah lagi dengan model penyajian dikte oleh guru. ciri-ciri khusus. yang akhirnya sampai pada penyimpulan bahwa karya puisi itu adalah pantun. Yang lebih penting justru pembahasan terhadap unsur isinya. guru bertindak membimbing dan mengarahkan siswanya agar berhasil menemukan sendiri halhal khusus. Berikutnya diberikanlah ciri-ciri pantun atau mengapa bentuk itu disebut pantun. misalnya. perasaan. berdialog.

Dari pendekatan apresiatif ini pun sangat dimungkinkan lahirnya metode lain di samping imersi. 1972. Method. Nomor 6. atau bahkan bertentangan dengan teknik-teknik induksi yang ditawarkan di sini. Teaching English as . ed. 1983: 19). pendekatan —metode—teknik yang dimunculkan dalam tulisan ini – barangkali juga bukanlah barang baru lagi — tidak lebih dari salah satu alternatif dari sekian banyak alternatif yang seharusnya memang ada. guru tidak boleh lupa pada prinsip-prinsip CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Dari metode imersi. afektif. "Peranan Sastrawan dalam Apresiasi Sastra" dalam Bahasa dan Sastra Th..Dalam pelaksanaannya dapat saja teknik induksi diramu dengan teknik-teknik yang lain. Edward M. umpamanya brainstorming. sejalan. "Approach. Sekali lagi ditekankan di sini. diskusi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. 1980. sangat dimungkinkan terpakainya teknik-teknik lain yang mirip. Daftar Pustaka Ahmadi. and Technique" dalam Allen & Campbell. VI. dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara matra kognitif. demikian pula. mental. Penutup Sudah barang tentu pembelajaran sastra dapat dilaksanakan dengan berorientasi pada pendekatan lain yang berbeda. kemudian juga melahirkan metode-metode lain lagi. dan psikomotorik (Natawidjaja. dan lain-lain yang relevan. Anthony. Yang tetap harus diingat. Melaksanakan CBSA berarti guru melaksanakan suatu strategi pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa secara fisik. intelektual. Mukhsin. dan tentunya diaplikasikan dengan teknik-teknik yang berbeda pula.

Brown and Company. Moody. Soeharianto. Baradja. CBSA Cara Belajar Siswa Aktif. Jakarta: Ditjendikdasmen—Ditdikgutentis Depdikbud. Yogyakarta: Kanisius. Ofm. Rusyana. New York: McGraw-Hill. Solo: Tiga Serangkai. Nomor 3. I. Metode Pengajaran Sastra.F.B. VI. Ende Flores: Nusa Indah. 1983. Bandung: Gunung Larang. Alex Lanur. Nomor 6. Rochman.1981. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. London: Longman Group Ltd. H. Broto.L. Metodologi Proses Belajar-Mengajar Berbahasa. Pengantar Apreslasi Puisi. ---------------. The Teaching of Literature. -----------------1982. 1982. S. Semarang: Akademi Bahasa 17 Agustus 1945 Semarang. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. "Peranan Puisi dalam Kehidupan Kita" dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Th. Surakarta: Widyaduta. "Pengajaran Apresiasi Puisi" dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Th. ---------------. Bimbingan Apresiasi Puisi. Strevens. 1976. Logika Selayang Pandang. 1983. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. 1982. Boston. Bandung: Diponegoro. Yus. M. Gani.a Second Language: A Book of Readings.1984. Solo: Tiga Serangkai. 1967. 1971. Boston: Little. Effendi. Barnet—Berman—Burto. 1983. Peter. S. 1980. Rizanur. 1985. A. An Introduction to Literature: Fiction—Poetry— Drama. 1974. Natawidjaja.S. Metode Proses BelajarMengajar Berbahasa Dewasa Ini. New Orientations in . A Way to Analyze Method.

Nice and Elegant . Rene & Austin Warren. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. bahwasannya.. 3 CommentsChronological Reverse Threaded reply uwaykaramy wrote on Feb 26.. and many more. Jakarta: Sinar Harapan. Suriasumantri. Hanya saja orang masih sering bertanya untuk apa belajar sastra ?Mau jadi apa ? pertanyaan yang juga ditanyakan saat saya memutuskan masuk fakultas sastra Ingris. Surakhmad. Winarno. Sensual Click on Each Photos u like to read the description. Theory of Literature.. (CP. Chanel. '09 Saya setuju pak.. Welleck. khidmat terhadap Tuhan. '09 Nah tu dia. Inc.KW Super.the Teaching of English. Dik. reply soemarjadi wrote on Feb 27. Bandung: Jemmars. Hermes. New York: A Harvest Book Harcourt. 1984. Brace & World.High Quality ^___^ Ready Stock Jacket -Own Productio n. Metodologi Pengajaran Nasional. sontak saya teringat guru sastra. 1980. Oxford University Press. dan cinta terhadap sastra bangsanya. 1956. Belajar sastra sama juga dengan mengolah rasa.Mulberry. Jujun S. 2/VIII/88) Prev: MENCERMATI PERAN GURU DALAM MPMBS reply share Sponsored Links Begging 4 A Bag part 2 Tas Branded kualitas KW1 . . keindahan. PR kita semua. Balenciaga. keagamaan. Pak Keating. moral. Thanks berat! reply hitungmundur wrote on Aug 15. s astra dapat menimbulkan rasa haru. di film dan novel Dead Poet's Society. '09 Membacanya.

audio reply video reply Add a Comment Quote original message Submit Preview & Spell Check © 2010 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Translate · API · Contact · Help .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->