Join Multiply to get updates from soemar

Sumaryadi's Site
HomeBlogPhotosReviewsLinks

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH: METODE IMERSI
Oleh: Sumaryadi Pendahuluan

Feb 22, '09 8:14 AM for everyone

soemarjadi

Salah satu warisan kebudayaan bangsa Indonesia berupa sastra Indonesia. Sebagai ahli waris, siswa harus mengenal, memahami, dan menghargai sastra miliknya. Namun, harapan akan tinggal harapan andaikata saja pihak sekolah tidak atau kurang berupaya sedemikian rupa untuk secara sadar dan sengaja memperkenalkan dan mendekatkan siswa pada karya-karya sastra. Kesadaran itulah tampaknya yang mendorong agar sastra Indonesia mendapat tempat untuk dipelajari siswa di sekolah, meskipun pada kenyataannya sastra belumlah merupakan satu bidang studi yang berdiri sendiri. Pembelajaran sastra notabena merupakan bagian saja dari pembelajaran Bahasa Indonesia. Dimasukkannya pembelajaran sastra ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kiranya dapat dimaklumi, karena secara umum -- dalam salah satu definisinya -- sastra adalah segala sesuatu yang ditulis (Wellek & Warren, 1956: 20), kendatipun pengertian semacam itu dianggap terlalu luas dan juga terlalu sempit

• • • •

Photos of soemar Personal Message RSS Feed [?] Report Abuse

karya sastra juga memberikan keagungan kepada siswa pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Sebagai suatu karya seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya. 1972: 3). atau kritik kehidupan bangsa. Karya sastra bukan hanya bahasa yang dipakai untuk merealisasikannya.(Barnet-Berman-Burto. dan cara hidupnya sendiri dan bangsanya (Soeharianto. khidmat terhadap Tuhan. keindahan. Pendek kata. 1980: 10). 1967: 1). Sastra Indonesia secara umum dapat dipakai sebagai cermin. semua buku termasuk sastra. Sastra merupakan karangan rekaan. tetapi harus dianggap sebagai pernyataan yang sangat kompleks dan luas tentang dunia penulis dan pembacanya (Moody. dan cinta terhadap sastra bangsanya (Broto. baik dan buruk. Dianggap terlalu luas karena. pernyataan. 1982: 4). sastra sangat mengutamakan dan setia terhadap hidup. Dianggap terlalu sempit dengan keberatan bahwa macam balada yang dinyanyikan dan cerita yang dibacakan. 1982: 67). penafsiran. Sastra dapat menimbulkan rasa haru. Secara lebih khusus Robert Frost menyatakan bahwa sastra adalah suatu pengungkapan dalam kata (a performance in words) (Barnet-Berman-Burto. dengan demikian. Norman Podhoretz ketika diwawancarai Arwah Setiawan mengemukakan bahwa sastra dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap cara berpikir orang mengenai hidup. Pembelajaran sastra penting bagi siswa karena berhubungan erat dengan keharuan. keagamaan. 1976: 25). benar dan salah. 1967: 7). moral. terhadap manusia. dengan demikian. tidak termasuk dalam sastra. Di samping memberikan kenikmatan dan keindahan. dan terhadap bahasa (Ahmadi. Fungsi sastra kiranya tidak perlu diragukan lagi. hasil cipta seseorang sebagai ungkapan penghayatannya ke dalam wujud bahasa (Rusyana. yang tidak dapat diperoleh dengan cara lain . sastra memberikan berbagai kepuasan yang sangat tinggi nilainya.

Pendekatan. metode bersifat teoretis prosedural.(Moody. subjek yang belajar sastra. Metode. secara hirarkis akan dikemukakan adanya tiga tataran. Tulisan sederhana ini akan menawarkan suatu metode -. 1963). 1967: 8). Hanya saja. jika kita berbicara masalah metode kita tidak dapat lepas dari masalah pendekatan atau ancangan (approach) yang menurunkan metode (method). dan teknik (Broto. Untuk selanjutnya. dan teknik bersifat teknis pelaksanaan. Masalah di atas dapat disederhanakan menjadi bagaimana upaya yang seyogianya ditempuh yang memungkinkan siswa dapat belajar sastra dengan seefektif mungkin. 1982: 19).yang tampaknya cukup efektif digunakan oleh guru dalam pembelajaran sastra. Sastra memberikan pengaruh yang menguntungkan kepada penikmatnya (Barnet-Berman-Burto. dan teknik mempunyai hubungan hirarki (Anthony. suatu metode ternyata akan menyarankan penggunaan teknikteknik tertentu pula. Hubungan itu menyatakan bahwa teknik merupakan hasil dari (pelaksanaan) suatu metode yang selalu konsisten dengan pendekatan. Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana proses pembelajaran sastra itu berlangsung supaya hasil yang diharapkan dapat mewujud. Pendekatan. perlu diingat. metode. Pendekatan bersifat aksiomatik. Dengan demikian. Proses pembelajaran sastra melibatkan guru sastra. Dalam hubungan . yaitu: pendekatan (approach).sebagai suatu alternatif -. Teknik Dalam rangka metode sebenarnya terkandung beberapa istilah. metode. 1972: 2). Kenyataan menunjukkan bahwa para guru bahasa pada umumnya dan guru sastra pada khususnya masih menggunakan ketiga-tiganya secara kacau. pihak yang mengajarkan sastra. metode (method). dan teknik (technique). yaitu pendekatan. dan siswa.

dalam pengertian lebih mengutamakan atau . 1985). Sastra dalam keutuhan bentuknya menyentuh perilaku kehidupan kaum terdidik yang tentunya dapat mewarnai liku-liku hidup yang bersangkutan (Moody. seperti aspek pendidikan susila. 1980: 2). 1982: 9-10). yang secara umum dapat dikatakan bahwa sastra tidak lain dari hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya dengan menggunakan bahasa (Rusyana. pengenalan terhadap ketiga tataran itu sedapat mungkin akan langsung dikaitkan dengan pembelajaran sastra. merupakan komitmen terhadap pandangan tertentu (Strevens.ini. Pembelaran sastra mempunyai peranan besar dalam mencapai berbagai aspek dari tujuan pendidikan dan pengajaran. 1972). Paling tidak ada empat manfaat yang dapat diambil dari belajar sastra. Baradia. dan daya imajinasinya -. 1982: 5). dan keagamaan (Rusyana. a) Pendekatan Apresiatif Pendekatan merupakan latar belakang filosofis tentang pokok-pokok yang hendak diajarkan (Broto. daya rasa. 1983: 23). sosial. mengembangkan rasa karsa.penghayatan -. yang hasil penghayatan itu selanjutnya dijelmakan dengan media bahasa.untuk menciptakan sesuatu yang baru. meningkatkan pengetahuan budaya. sikap penilaian. 1982: 6). 1963. Pada bagian muka sudah disinggung beberapa pengertian tentang sastra. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan kreatif. perasaan. yaitu menunjang keterampilan berbahasa. dan membentuk watak (Gani. Sastrawan memadukan daya pikir. Kenyataan itu tampak menyarankan bahwa proses pembelajaran sastra di sekolah seyogianya disajikan dalam bentuk apresiasi. Pendekatan berupa seperangkat asumsi yang berhubungan dengan hakekat bahasa dan belajar-mengajar bahasa (Anthony.

berarti mengapresiasi nilai-nilai yang terkandung dalam sastra. mengandung arti mempersepsi dan mengenal dengan cukup luas suatu karya sastra (Ahmadi. sejarah. Apresiasi berisikan kegiatan atau usaha merasakan dan menikmati hasil-hasil karya seni (Soeharianto. dan kritik sastra. dan mengenal secara intuitif tentang kebenaran dan kualitas estetik karya sastra. 1981: 15) termasuk di dalamnya karya sastra. esai. Apresiasi berisikan upaya merasakan dan menikmati karya sastra. 1984: 314). dimaksudkan mengerti. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra (Effendi. Tujuan (utama) pembelajaran sastra adalah mengapresiasi nilainilai yang terkandung dalam sastra (Rusyana. 1974: 18). 1980: 12). Pengetahuan sastra meliputi teori. memahami. Pengenalan yang semakin mendalam dan hasrat serta jawaban kita terhadap pengalaman hidup yang terkandung dalam sastra itulah yang dapat disebut sebagai apresiasi sastra (Rusyana. sekali lagi. Pendekatan apresiatif bertolak dari sastra sebagai hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya dengan . kepekaan pikiran kritis. serta kenikmatan yang timbul sebagai akibat dari semua itu. Selama hubungan dengan karya sastra belum atau kurang menggambarkan kegiatan itu.mendahulukan kegiatan apresiasinya daripada pengetahuan sastranya. belumlah dapat dikatakan bahwa kita sudah mengapresiasi karya sastra. Untuk mendapatkan kenikmatan yang mendalam. Mengadakan pendekatan terhadap sastra. Dengan tegas dikatakan bahwa apresiasi sastra merupakan kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian. yaitu pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra dan kegairahan kepadanya. 1982: 7). sudah barang tentu juga perlu pemahaman terhadap sastra. Dalam karya sastra terkandung pengalaman manusia yang indah mendalam. penghargaan.

1980: 75). Dalam banyak hal. Metode merupakan cara yang dalam fungsinya adalah alat untuk mencapai tujuan (Surakhmad. 1983: 23). Metode tidak lain dari rencana keseluruhan dalam menyajikan materi bahasa secara teratur (Anthony. Metode Imersi Ada sedikit kekacauan dalam istilah yang digunakan untuk menunjukkan perbedaan antara metode dan pendekatan. Sangatlah mungkin dalam suatu pendekatan akan terdapat beberapa metode. Baradja. metode digunakan dengan makna yang sama dengan istilah pendekatan (Strevens. penamaan seperti audio-lingual method. misalnya menyediakan bahan bacaan sastra dan mendorong siswa senang membaca. Karya-karya sastra itu tentu sudah dipilih oleh guru dengan berbagai pertimbangan. Sebagai ilustrasi. dan prioritas. bersifat membantu menyajikan lingkungan dan suasana yang kondusif. bahasa. 1985). Hal itu menyarankan agar siswa diperkenalkan atau dipertemukan dengan karya sastra secara langsung dan sebanyak-banyaknya. kematangan jiwa. direct method semestinya dipakai untuk menunjukkan pendekatan.menggunakan bahasa. Guru sastra bertugas memberi siswa kesempatan untuk mengembangkan sendiri kemampuan apresiasinya. b. mengadakan kontak dan dialog langsung dengan karya dengan cara membaca dan menikmatinya. Makin baik metode akan makin efektif pula pencapaian tujuannya. di antaranya pertimbangan faktor usia. 1963. Untuk seterusnya dapat saja – bahkan sangat positif — diadakan . Pembelajaran sastra dilaksanakan dengan pengutamaan pada kegiatan apresiasi sastra. yang kemudian didukung titik berat pembelajaran sastra yang diletakkan pada terbinanya kemampuan siswa mengapresiasi sastra. Siswa hendaknya didorong agar berkenalan dengan karya sastra.

membuat kliping. mendengarkan. misalnya tentang pengalaman-pengalaman yang terkandung di dalamnya. atau secara langsung mendengarkan sajak dideklamasikan atau dibacakan (poetry reading) dan menyaksikan drama yang dipentaskan. diksi. Kiranya perlu diingatkan di sini bahwasanya kegiatan apresiasi sastra belum berhenti hanya sampai di situ saja. menghayati -. memahami.yaitu kegiatan dokumentasi dan kegiatan kreatif (Effendi. artinya siswa tidak langsung menjamah karya sastranya. Sesudah siswa bergaul.ruang pembahasan atau diskusi. yang akan ditingkatkan oleh hadirnya cara yang tak langsung tersebut. menganalisis. cerita. atau drama kecil. Kecuali itu. Yang terakhir ini dapat disebut kegiatan tak langsung. Agar siswa memperoIeh pengertian yang sebaikbaiknya tentang wujud dan fungsi karya sastra dan dapat menghargainya secara wajar. Kegiatan menggauli karya sastra dilakukan secara langsung. 1974: 19). dan seterusnya. Metode Imersi (Immersion Method) yang ditawarkan di sini berangkat dari pandangan . kegiatan tersebut – membaca. dimaksudkan bahwa siswa itu sendiri harus secara langsung membaca bermacam sajak. sementara itu. atau drama dari berbagai sastrawan dan zaman. tokoh-tokoh cerita. dan sebagainya. cerpen. menyaksikan — harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan sebanyak-banyaknya.mereka diperkuat dengan pengetahuan tentang sastra. Kegiatan dokumentasi berupa kegiatan mengumpulkan dan menyusun buku-buku dan majalah-majalah sastra. dua kegiatan lagi sebagai pelengkap -. berdialog langsung dan mendalam dengan karya -mengenal. kegiatan kreatif berupa kegiatan belajar atau berlatih mencipta sendiri sajak. Cara langsung merupakan cara yang paling diutamakan.jika masih dimungkinkan -. Demi sempurnanya kegiatan apresiasi memang masih perlu diikuti dengan pemberian pengetahuan tentang sastra.

1963. tetapi lebih jauh daripada itu. Teknik berkaitan dengan strategi yang benarbenar terjadi di ruang kelas (Anthony. Teknik induksi tidak hanya menuntut peran serta aktif siswa. Teknik induksi tampaknya sangat sesuai dan mendukung kegiatan ini. Baradja. akhirnya menggiring kita untuk menentukan dan mengangkat satu teknik yang dirasa paling sesuai. Siswa dibenamkan ke dalam sebuah dunia yang sarat dengan aneka ragam karya sastra (plus pengetahuan sastra). Dalam hal ini peran serta aktif dari pihak siswa sendiri dalam kegiatan pembelajaran ikut berpengaruh terhadap keberartian bahan pembelajaran. 1985). mendorong dan memberi . 1982: 23).bahwa dalam pelaksanaan kegiatan apresiasi sastra (baca: pembelajaran sastra) siswa layaknya dibenamkan ke dalam sesuatu atau dibenami sesuatu. Jenis teknik belajar-mengajar dapat ditimbulkan dari metode tertentu (Broto. c) Teknik Induksi Suatu teknik harus konsisten dengan metode dan sesuai pula dengan pendekatannya. Pembelajaran sastra yang berangkat dari pendekatan apresiatif (appreciative approach) dan memilih metode imersi sebagai suatu alternatif. 1983: 2). Keberartian sesuatu yang dipelajari siswa untuk dirinya sendiri itulah yang menentukan kadar kelanggengan prestasi belajar siswa. Teknik biasanya ditandai dengan penggunakan alat bantu atau media tertentu yang diperlukan. Dapat juga dikatakan bahwa siswa dibenami dengan beronggok-onggok karya sastra (plus pengetahuan sastra). Teknik merupakan pelaksanaan dari proses pembelajaran. Suatu strategi yang efektif dan efisien akan tercipta bila strategi itu dapat dengan mudah diterapkan dan dapat menunjang prestasi belajar siswa yang memadai dan langgeng (Natawidjaja.

Seperti diketahui. Guru hanya bersifat merangsang. siswa banyak tahu dan paham (baca: hafal) pengetahuan sastra. 1984: 46). Dengan demikian. dan mengarahkan kegiatan itu. Segala sesuatu yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa dalam pergaulan dan dialog biarlah ditemukan sendiri oleh siswa. Siswa dijejali sekian banyak teori dan sejarah sastra. Siswa diberi kesempatan secara langsung bergaul intim dan berdialog dengan karya. tanpa ada kontak langsung siswa-karya. Tentu saja. Penamaan induksi untuk teknik ini sesungguhnya meminjam istilah dari bidang logika. Kegiatan macam itu jelas kegiatan yang sangat tidak apresiatif. Yang penting guru tidak bersikap menggurui dan menyuapkan sesuatu yang tinggal telan saja. hal itu tidak terlepas sama sekali dari bimbingan guru.kesempatan yang seluas-luasnya dan sebanyakbanyaknya kepada siswa untuk mendekati sendiri karya sastra. dan akhirnya diharapkan mampu menikmati. Logika induktif – yang dipakai di sini — erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. induksi berupaya menyimpulkan pengetahuan yang ’umum’ atau universal dari . Sebagai suatu proses tertentu. terdapat dua cara penarikan kesimpulan. dan menghargai karya sastra itu sendiri. Tidaklah mungkin seseorang dapat merasakan kenikmatan sesuatu hanya dengan diberitahu orang lain tanpa melakukan kontak langsung secara intim dan berdialog akrab dengan sesuatu itu sendiri. yaitu logika induktif dan logika deduktif (Suriasumantri. menggauli secara langsung. Tujuan utama pembelajaran sastra masih jauh dari terpenuhi. menghayati. tetapi tidak atau kurang mampu mengapresiasi karya. mendorong. tampaknya para guru sastra di lapangan cukup dengan membuat siswanya paham dan mengerti karya sastra melalui penjelasan atau informasi. Yang terjadi selama ini. memancing. Teknik induksi menghendaki lain.

ciri-ciri bentuknya. peristiwa yang dibayangkan terjadi di belakang karya. Berikutnya diberikanlah ciri-ciri pantun atau mengapa bentuk itu disebut pantun. berdialog. teknik yang cenderung selalu digunakan para guru sebagai berikut. Implikasinya dalam pembelajaran sastra. Yang lebih penting justru pembahasan terhadap unsur isinya. perasaan. guru memberikan pengertian. Dengan bimbingan guru siswa diajak mampu menemukan Ietak-letak keindahannya. amanat yang terkandung. Dengan teknik induksi yang merupakan pembalikan langkah-langkah tersebut di atas. seperti sudah dikemukakan terdahulu. batasan. sehingga hasilnya pun berupa pengetahuan hafalan belaka. 1983: 40). untuk kemudian dibimbing ke arah penarikan kesimpulan yang bersifat umum tentang karya sastra itu. dan seterusnya. dan seterusnya. nada bicara. ciri-ciri khusus. mengajarkan pantun. Yang juga perlu diingat bahwa pembicaraan atau pembahasan tidak boleh hanya terbatas pada unsur bentuknya saja. . guru bertindak membimbing dan mengarahkan siswanya agar berhasil menemukan sendiri halhal khusus. Langkah tersebut sangat tidak apresiatif. Sebagai ilustrasi. siswa diberi kesempatan langsung berhadapan. Pembicaraan dapat saja berkisar pada pokok masalah yang diungkapkan. Pertama. Langkah tersebut masih ditambah lagi dengan model penyajian dikte oleh guru. pendapat pengarang atau penyair tentang pokok masalah tersebut. misalnya. atau definisi pantun.pengetahuan yang ’khusus’ atau partikular (Ofm. yang akhirnya sampai pada penyimpulan bahwa karya puisi itu adalah pantun. disajikan contoh-contoh pantun. Akhirnya. Induksi merupakan cara berpikir dengan jalan menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. dan menikmati karya puisi lama itu.

1972. Dari metode imersi. mental. dan psikomotorik (Natawidjaja.. Mukhsin. 1983: 19). pendekatan —metode—teknik yang dimunculkan dalam tulisan ini – barangkali juga bukanlah barang baru lagi — tidak lebih dari salah satu alternatif dari sekian banyak alternatif yang seharusnya memang ada. Teaching English as . "Peranan Sastrawan dalam Apresiasi Sastra" dalam Bahasa dan Sastra Th. Method. Anthony. and Technique" dalam Allen & Campbell. intelektual.Dalam pelaksanaannya dapat saja teknik induksi diramu dengan teknik-teknik yang lain. Sekali lagi ditekankan di sini. diskusi. Nomor 6. demikian pula. afektif. atau bahkan bertentangan dengan teknik-teknik induksi yang ditawarkan di sini. Edward M. kemudian juga melahirkan metode-metode lain lagi. Penutup Sudah barang tentu pembelajaran sastra dapat dilaksanakan dengan berorientasi pada pendekatan lain yang berbeda. VI. guru tidak boleh lupa pada prinsip-prinsip CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara matra kognitif. Daftar Pustaka Ahmadi. sangat dimungkinkan terpakainya teknik-teknik lain yang mirip. Melaksanakan CBSA berarti guru melaksanakan suatu strategi pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa secara fisik. dan lain-lain yang relevan. umpamanya brainstorming. 1980. "Approach. sejalan. ed. Yang tetap harus diingat. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. Dari pendekatan apresiatif ini pun sangat dimungkinkan lahirnya metode lain di samping imersi. dan tentunya diaplikasikan dengan teknik-teknik yang berbeda pula.

Metode Pengajaran Sastra. 1983. 1980. ---------------. Boston.S. Jakarta: Ditjendikdasmen—Ditdikgutentis Depdikbud. Moody. Peter. Yus. -----------------1982. Bandung: Gunung Larang. Barnet—Berman—Burto. 1976. 1971. Rizanur. New York: McGraw-Hill. ---------------. 1985. "Peranan Puisi dalam Kehidupan Kita" dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Th. 1982. Metode Proses BelajarMengajar Berbahasa Dewasa Ini. CBSA Cara Belajar Siswa Aktif. Semarang: Akademi Bahasa 17 Agustus 1945 Semarang. VI. H. Bimbingan Apresiasi Puisi.B. An Introduction to Literature: Fiction—Poetry— Drama. London: Longman Group Ltd. Rusyana. Boston: Little. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud.a Second Language: A Book of Readings. Bandung: Diponegoro.F. S. Effendi. Brown and Company. Yogyakarta: Kanisius. Soeharianto. 1974. Pengantar Apreslasi Puisi. The Teaching of Literature. M. Metodologi Proses Belajar-Mengajar Berbahasa. 1983.L. Surakarta: Widyaduta. Logika Selayang Pandang. 1983. Natawidjaja. Solo: Tiga Serangkai. Ofm. 1982. A. A Way to Analyze Method.1984. 1967. Alex Lanur. Gani. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Nomor 6. Ende Flores: Nusa Indah. Rochman. "Pengajaran Apresiasi Puisi" dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Th.1981. I. Solo: Tiga Serangkai. New Orientations in . Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. S. Strevens. Nomor 3. Broto. Baradja.

Jakarta: Sinar Harapan. 2/VIII/88) Prev: MENCERMATI PERAN GURU DALAM MPMBS reply share Sponsored Links Begging 4 A Bag part 2 Tas Branded kualitas KW1 . 3 CommentsChronological Reverse Threaded reply uwaykaramy wrote on Feb 26.. reply soemarjadi wrote on Feb 27. PR kita semua. Winarno. Bandung: Jemmars. Pak Keating.High Quality ^___^ Ready Stock Jacket -Own Productio n. Hanya saja orang masih sering bertanya untuk apa belajar sastra ?Mau jadi apa ? pertanyaan yang juga ditanyakan saat saya memutuskan masuk fakultas sastra Ingris. s astra dapat menimbulkan rasa haru. New York: A Harvest Book Harcourt. Theory of Literature. 1956. di film dan novel Dead Poet's Society. Oxford University Press.Mulberry. Brace & World.Nice and Elegant . keagamaan. Thanks berat! reply hitungmundur wrote on Aug 15. bahwasannya.. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. '09 Nah tu dia. Dik. Surakhmad.. Belajar sastra sama juga dengan mengolah rasa. Welleck. Inc. Jujun S. sontak saya teringat guru sastra. 1980. Balenciaga. Rene & Austin Warren. 1984.. keindahan. Metodologi Pengajaran Nasional. and many more. (CP. Sensual Click on Each Photos u like to read the description. moral. khidmat terhadap Tuhan.KW Super. '09 Membacanya.the Teaching of English. dan cinta terhadap sastra bangsanya. Chanel. . Suriasumantri. '09 Saya setuju pak. Hermes.

audio reply video reply Add a Comment Quote original message Submit Preview & Spell Check © 2010 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Translate · API · Contact · Help .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful