Join Multiply to get updates from soemar

Sumaryadi's Site
HomeBlogPhotosReviewsLinks

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH: METODE IMERSI
Oleh: Sumaryadi Pendahuluan

Feb 22, '09 8:14 AM for everyone

soemarjadi

Salah satu warisan kebudayaan bangsa Indonesia berupa sastra Indonesia. Sebagai ahli waris, siswa harus mengenal, memahami, dan menghargai sastra miliknya. Namun, harapan akan tinggal harapan andaikata saja pihak sekolah tidak atau kurang berupaya sedemikian rupa untuk secara sadar dan sengaja memperkenalkan dan mendekatkan siswa pada karya-karya sastra. Kesadaran itulah tampaknya yang mendorong agar sastra Indonesia mendapat tempat untuk dipelajari siswa di sekolah, meskipun pada kenyataannya sastra belumlah merupakan satu bidang studi yang berdiri sendiri. Pembelajaran sastra notabena merupakan bagian saja dari pembelajaran Bahasa Indonesia. Dimasukkannya pembelajaran sastra ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kiranya dapat dimaklumi, karena secara umum -- dalam salah satu definisinya -- sastra adalah segala sesuatu yang ditulis (Wellek & Warren, 1956: 20), kendatipun pengertian semacam itu dianggap terlalu luas dan juga terlalu sempit

• • • •

Photos of soemar Personal Message RSS Feed [?] Report Abuse

1967: 1). yang tidak dapat diperoleh dengan cara lain . Fungsi sastra kiranya tidak perlu diragukan lagi. keagamaan. karya sastra juga memberikan keagungan kepada siswa pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. terhadap manusia. Dianggap terlalu sempit dengan keberatan bahwa macam balada yang dinyanyikan dan cerita yang dibacakan. sastra sangat mengutamakan dan setia terhadap hidup. dan terhadap bahasa (Ahmadi. baik dan buruk. moral. Karya sastra bukan hanya bahasa yang dipakai untuk merealisasikannya. Dianggap terlalu luas karena. semua buku termasuk sastra. dengan demikian. tidak termasuk dalam sastra. dan cara hidupnya sendiri dan bangsanya (Soeharianto. Pendek kata. benar dan salah. 1967: 7). sastra memberikan berbagai kepuasan yang sangat tinggi nilainya. Sebagai suatu karya seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya. Sastra merupakan karangan rekaan. 1976: 25). 1982: 4).(Barnet-Berman-Burto. keindahan. Secara lebih khusus Robert Frost menyatakan bahwa sastra adalah suatu pengungkapan dalam kata (a performance in words) (Barnet-Berman-Burto. Sastra dapat menimbulkan rasa haru. atau kritik kehidupan bangsa. hasil cipta seseorang sebagai ungkapan penghayatannya ke dalam wujud bahasa (Rusyana. 1972: 3). 1982: 67). tetapi harus dianggap sebagai pernyataan yang sangat kompleks dan luas tentang dunia penulis dan pembacanya (Moody. dengan demikian. 1980: 10). Sastra Indonesia secara umum dapat dipakai sebagai cermin. khidmat terhadap Tuhan. Pembelajaran sastra penting bagi siswa karena berhubungan erat dengan keharuan. pernyataan. penafsiran. Norman Podhoretz ketika diwawancarai Arwah Setiawan mengemukakan bahwa sastra dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap cara berpikir orang mengenai hidup. Di samping memberikan kenikmatan dan keindahan. dan cinta terhadap sastra bangsanya (Broto.

yang tampaknya cukup efektif digunakan oleh guru dalam pembelajaran sastra.sebagai suatu alternatif -. Proses pembelajaran sastra melibatkan guru sastra. perlu diingat. 1972: 2). Teknik Dalam rangka metode sebenarnya terkandung beberapa istilah. Hubungan itu menyatakan bahwa teknik merupakan hasil dari (pelaksanaan) suatu metode yang selalu konsisten dengan pendekatan.(Moody. yaitu pendekatan. yaitu: pendekatan (approach). dan teknik mempunyai hubungan hirarki (Anthony. Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana proses pembelajaran sastra itu berlangsung supaya hasil yang diharapkan dapat mewujud. jika kita berbicara masalah metode kita tidak dapat lepas dari masalah pendekatan atau ancangan (approach) yang menurunkan metode (method). Untuk selanjutnya. pihak yang mengajarkan sastra. Pendekatan bersifat aksiomatik. 1982: 19). Metode. dan teknik (technique). Hanya saja. Kenyataan menunjukkan bahwa para guru bahasa pada umumnya dan guru sastra pada khususnya masih menggunakan ketiga-tiganya secara kacau. metode. dan siswa. dan teknik bersifat teknis pelaksanaan. metode (method). suatu metode ternyata akan menyarankan penggunaan teknikteknik tertentu pula. subjek yang belajar sastra. Sastra memberikan pengaruh yang menguntungkan kepada penikmatnya (Barnet-Berman-Burto. 1963). dan teknik (Broto. Dengan demikian. Dalam hubungan . metode. 1967: 8). Pendekatan. metode bersifat teoretis prosedural. Pendekatan. secara hirarkis akan dikemukakan adanya tiga tataran. Tulisan sederhana ini akan menawarkan suatu metode -. Masalah di atas dapat disederhanakan menjadi bagaimana upaya yang seyogianya ditempuh yang memungkinkan siswa dapat belajar sastra dengan seefektif mungkin.

penghayatan -. merupakan komitmen terhadap pandangan tertentu (Strevens. daya rasa. pengenalan terhadap ketiga tataran itu sedapat mungkin akan langsung dikaitkan dengan pembelajaran sastra. Pembelaran sastra mempunyai peranan besar dalam mencapai berbagai aspek dari tujuan pendidikan dan pengajaran. 1972). sosial. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan kreatif. Paling tidak ada empat manfaat yang dapat diambil dari belajar sastra. Sastrawan memadukan daya pikir. mengembangkan rasa karsa. 1985). Pendekatan berupa seperangkat asumsi yang berhubungan dengan hakekat bahasa dan belajar-mengajar bahasa (Anthony. seperti aspek pendidikan susila. yaitu menunjang keterampilan berbahasa. yang secara umum dapat dikatakan bahwa sastra tidak lain dari hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya dengan menggunakan bahasa (Rusyana. 1980: 2). 1982: 9-10). yang hasil penghayatan itu selanjutnya dijelmakan dengan media bahasa.untuk menciptakan sesuatu yang baru. meningkatkan pengetahuan budaya. sikap penilaian. perasaan. dan keagamaan (Rusyana. a) Pendekatan Apresiatif Pendekatan merupakan latar belakang filosofis tentang pokok-pokok yang hendak diajarkan (Broto. Baradia. dan daya imajinasinya -. dalam pengertian lebih mengutamakan atau . 1982: 5). 1963. dan membentuk watak (Gani. Kenyataan itu tampak menyarankan bahwa proses pembelajaran sastra di sekolah seyogianya disajikan dalam bentuk apresiasi. 1982: 6). Pada bagian muka sudah disinggung beberapa pengertian tentang sastra. 1983: 23).ini. Sastra dalam keutuhan bentuknya menyentuh perilaku kehidupan kaum terdidik yang tentunya dapat mewarnai liku-liku hidup yang bersangkutan (Moody.

1982: 7). yaitu pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra dan kegairahan kepadanya. kepekaan pikiran kritis.mendahulukan kegiatan apresiasinya daripada pengetahuan sastranya. penghargaan. 1980: 12). Mengadakan pendekatan terhadap sastra. Pendekatan apresiatif bertolak dari sastra sebagai hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya dengan . esai. Tujuan (utama) pembelajaran sastra adalah mengapresiasi nilainilai yang terkandung dalam sastra (Rusyana. sejarah. Pengetahuan sastra meliputi teori. Pengenalan yang semakin mendalam dan hasrat serta jawaban kita terhadap pengalaman hidup yang terkandung dalam sastra itulah yang dapat disebut sebagai apresiasi sastra (Rusyana. Apresiasi berisikan upaya merasakan dan menikmati karya sastra. sudah barang tentu juga perlu pemahaman terhadap sastra. Dengan tegas dikatakan bahwa apresiasi sastra merupakan kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian. 1974: 18). serta kenikmatan yang timbul sebagai akibat dari semua itu. dan kritik sastra. Dalam karya sastra terkandung pengalaman manusia yang indah mendalam. dimaksudkan mengerti. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra (Effendi. belumlah dapat dikatakan bahwa kita sudah mengapresiasi karya sastra. berarti mengapresiasi nilai-nilai yang terkandung dalam sastra. Apresiasi berisikan kegiatan atau usaha merasakan dan menikmati hasil-hasil karya seni (Soeharianto. memahami. sekali lagi. 1984: 314). mengandung arti mempersepsi dan mengenal dengan cukup luas suatu karya sastra (Ahmadi. 1981: 15) termasuk di dalamnya karya sastra. Untuk mendapatkan kenikmatan yang mendalam. Selama hubungan dengan karya sastra belum atau kurang menggambarkan kegiatan itu. dan mengenal secara intuitif tentang kebenaran dan kualitas estetik karya sastra.

bersifat membantu menyajikan lingkungan dan suasana yang kondusif. metode digunakan dengan makna yang sama dengan istilah pendekatan (Strevens. Hal itu menyarankan agar siswa diperkenalkan atau dipertemukan dengan karya sastra secara langsung dan sebanyak-banyaknya.menggunakan bahasa. yang kemudian didukung titik berat pembelajaran sastra yang diletakkan pada terbinanya kemampuan siswa mengapresiasi sastra. 1983: 23). misalnya menyediakan bahan bacaan sastra dan mendorong siswa senang membaca. Siswa hendaknya didorong agar berkenalan dengan karya sastra. 1985). penamaan seperti audio-lingual method. mengadakan kontak dan dialog langsung dengan karya dengan cara membaca dan menikmatinya. Sangatlah mungkin dalam suatu pendekatan akan terdapat beberapa metode. direct method semestinya dipakai untuk menunjukkan pendekatan. 1963. bahasa. Sebagai ilustrasi. b. Baradja. Karya-karya sastra itu tentu sudah dipilih oleh guru dengan berbagai pertimbangan. 1980: 75). Makin baik metode akan makin efektif pula pencapaian tujuannya. Metode merupakan cara yang dalam fungsinya adalah alat untuk mencapai tujuan (Surakhmad. di antaranya pertimbangan faktor usia. Dalam banyak hal. Metode Imersi Ada sedikit kekacauan dalam istilah yang digunakan untuk menunjukkan perbedaan antara metode dan pendekatan. Pembelajaran sastra dilaksanakan dengan pengutamaan pada kegiatan apresiasi sastra. Metode tidak lain dari rencana keseluruhan dalam menyajikan materi bahasa secara teratur (Anthony. Guru sastra bertugas memberi siswa kesempatan untuk mengembangkan sendiri kemampuan apresiasinya. Untuk seterusnya dapat saja – bahkan sangat positif — diadakan . dan prioritas. kematangan jiwa.

misalnya tentang pengalaman-pengalaman yang terkandung di dalamnya. cerita. atau drama dari berbagai sastrawan dan zaman. berdialog langsung dan mendalam dengan karya -mengenal. Agar siswa memperoIeh pengertian yang sebaikbaiknya tentang wujud dan fungsi karya sastra dan dapat menghargainya secara wajar. menganalisis.ruang pembahasan atau diskusi. Kegiatan menggauli karya sastra dilakukan secara langsung. mendengarkan.yaitu kegiatan dokumentasi dan kegiatan kreatif (Effendi. Cara langsung merupakan cara yang paling diutamakan. dua kegiatan lagi sebagai pelengkap -. atau secara langsung mendengarkan sajak dideklamasikan atau dibacakan (poetry reading) dan menyaksikan drama yang dipentaskan. 1974: 19).jika masih dimungkinkan -. sementara itu. tokoh-tokoh cerita. artinya siswa tidak langsung menjamah karya sastranya. membuat kliping. dan seterusnya. Kegiatan dokumentasi berupa kegiatan mengumpulkan dan menyusun buku-buku dan majalah-majalah sastra. Demi sempurnanya kegiatan apresiasi memang masih perlu diikuti dengan pemberian pengetahuan tentang sastra. kegiatan kreatif berupa kegiatan belajar atau berlatih mencipta sendiri sajak. menghayati -. Metode Imersi (Immersion Method) yang ditawarkan di sini berangkat dari pandangan . Kecuali itu. kegiatan tersebut – membaca. cerpen. Sesudah siswa bergaul.mereka diperkuat dengan pengetahuan tentang sastra. diksi. atau drama kecil. menyaksikan — harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan sebanyak-banyaknya. yang akan ditingkatkan oleh hadirnya cara yang tak langsung tersebut. Yang terakhir ini dapat disebut kegiatan tak langsung. dimaksudkan bahwa siswa itu sendiri harus secara langsung membaca bermacam sajak. dan sebagainya. memahami. Kiranya perlu diingatkan di sini bahwasanya kegiatan apresiasi sastra belum berhenti hanya sampai di situ saja.

Baradja. 1983: 2). Teknik berkaitan dengan strategi yang benarbenar terjadi di ruang kelas (Anthony. Pembelajaran sastra yang berangkat dari pendekatan apresiatif (appreciative approach) dan memilih metode imersi sebagai suatu alternatif. 1963. 1985). akhirnya menggiring kita untuk menentukan dan mengangkat satu teknik yang dirasa paling sesuai. tetapi lebih jauh daripada itu. Teknik merupakan pelaksanaan dari proses pembelajaran. Teknik induksi tidak hanya menuntut peran serta aktif siswa. Keberartian sesuatu yang dipelajari siswa untuk dirinya sendiri itulah yang menentukan kadar kelanggengan prestasi belajar siswa. Teknik induksi tampaknya sangat sesuai dan mendukung kegiatan ini. Suatu strategi yang efektif dan efisien akan tercipta bila strategi itu dapat dengan mudah diterapkan dan dapat menunjang prestasi belajar siswa yang memadai dan langgeng (Natawidjaja. mendorong dan memberi .bahwa dalam pelaksanaan kegiatan apresiasi sastra (baca: pembelajaran sastra) siswa layaknya dibenamkan ke dalam sesuatu atau dibenami sesuatu. Teknik biasanya ditandai dengan penggunakan alat bantu atau media tertentu yang diperlukan. 1982: 23). Dalam hal ini peran serta aktif dari pihak siswa sendiri dalam kegiatan pembelajaran ikut berpengaruh terhadap keberartian bahan pembelajaran. c) Teknik Induksi Suatu teknik harus konsisten dengan metode dan sesuai pula dengan pendekatannya. Dapat juga dikatakan bahwa siswa dibenami dengan beronggok-onggok karya sastra (plus pengetahuan sastra). Siswa dibenamkan ke dalam sebuah dunia yang sarat dengan aneka ragam karya sastra (plus pengetahuan sastra). Jenis teknik belajar-mengajar dapat ditimbulkan dari metode tertentu (Broto.

Seperti diketahui. 1984: 46). Kegiatan macam itu jelas kegiatan yang sangat tidak apresiatif. Guru hanya bersifat merangsang. Tujuan utama pembelajaran sastra masih jauh dari terpenuhi. siswa banyak tahu dan paham (baca: hafal) pengetahuan sastra. Teknik induksi menghendaki lain. Tidaklah mungkin seseorang dapat merasakan kenikmatan sesuatu hanya dengan diberitahu orang lain tanpa melakukan kontak langsung secara intim dan berdialog akrab dengan sesuatu itu sendiri. dan menghargai karya sastra itu sendiri. tampaknya para guru sastra di lapangan cukup dengan membuat siswanya paham dan mengerti karya sastra melalui penjelasan atau informasi. menghayati. induksi berupaya menyimpulkan pengetahuan yang ’umum’ atau universal dari . hal itu tidak terlepas sama sekali dari bimbingan guru. Sebagai suatu proses tertentu. Siswa dijejali sekian banyak teori dan sejarah sastra. yaitu logika induktif dan logika deduktif (Suriasumantri. Yang penting guru tidak bersikap menggurui dan menyuapkan sesuatu yang tinggal telan saja. memancing.kesempatan yang seluas-luasnya dan sebanyakbanyaknya kepada siswa untuk mendekati sendiri karya sastra. Yang terjadi selama ini. Tentu saja. terdapat dua cara penarikan kesimpulan. Penamaan induksi untuk teknik ini sesungguhnya meminjam istilah dari bidang logika. Logika induktif – yang dipakai di sini — erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. dan mengarahkan kegiatan itu. menggauli secara langsung. dan akhirnya diharapkan mampu menikmati. mendorong. Dengan demikian. tetapi tidak atau kurang mampu mengapresiasi karya. tanpa ada kontak langsung siswa-karya. Segala sesuatu yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa dalam pergaulan dan dialog biarlah ditemukan sendiri oleh siswa. Siswa diberi kesempatan secara langsung bergaul intim dan berdialog dengan karya.

Yang lebih penting justru pembahasan terhadap unsur isinya. dan seterusnya. peristiwa yang dibayangkan terjadi di belakang karya. Sebagai ilustrasi. misalnya. Langkah tersebut sangat tidak apresiatif. Berikutnya diberikanlah ciri-ciri pantun atau mengapa bentuk itu disebut pantun. Dengan teknik induksi yang merupakan pembalikan langkah-langkah tersebut di atas. Langkah tersebut masih ditambah lagi dengan model penyajian dikte oleh guru. seperti sudah dikemukakan terdahulu. ciri-ciri bentuknya. teknik yang cenderung selalu digunakan para guru sebagai berikut. siswa diberi kesempatan langsung berhadapan. guru memberikan pengertian. Akhirnya. Pertama. Yang juga perlu diingat bahwa pembicaraan atau pembahasan tidak boleh hanya terbatas pada unsur bentuknya saja. berdialog. batasan. sehingga hasilnya pun berupa pengetahuan hafalan belaka. perasaan. ciri-ciri khusus. dan menikmati karya puisi lama itu. untuk kemudian dibimbing ke arah penarikan kesimpulan yang bersifat umum tentang karya sastra itu. mengajarkan pantun. pendapat pengarang atau penyair tentang pokok masalah tersebut. Induksi merupakan cara berpikir dengan jalan menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual.pengetahuan yang ’khusus’ atau partikular (Ofm. atau definisi pantun. yang akhirnya sampai pada penyimpulan bahwa karya puisi itu adalah pantun. Implikasinya dalam pembelajaran sastra. nada bicara. guru bertindak membimbing dan mengarahkan siswanya agar berhasil menemukan sendiri halhal khusus. Dengan bimbingan guru siswa diajak mampu menemukan Ietak-letak keindahannya. amanat yang terkandung. dan seterusnya. Pembicaraan dapat saja berkisar pada pokok masalah yang diungkapkan. 1983: 40). . disajikan contoh-contoh pantun.

Dari metode imersi. pendekatan —metode—teknik yang dimunculkan dalam tulisan ini – barangkali juga bukanlah barang baru lagi — tidak lebih dari salah satu alternatif dari sekian banyak alternatif yang seharusnya memang ada. kemudian juga melahirkan metode-metode lain lagi. Edward M. Melaksanakan CBSA berarti guru melaksanakan suatu strategi pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa secara fisik. guru tidak boleh lupa pada prinsip-prinsip CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). dan psikomotorik (Natawidjaja. diskusi. afektif. sejalan. Method. dan tentunya diaplikasikan dengan teknik-teknik yang berbeda pula. Mukhsin. "Approach. intelektual. Penutup Sudah barang tentu pembelajaran sastra dapat dilaksanakan dengan berorientasi pada pendekatan lain yang berbeda.. 1972. atau bahkan bertentangan dengan teknik-teknik induksi yang ditawarkan di sini. 1983: 19). dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara matra kognitif. umpamanya brainstorming. Nomor 6. Sekali lagi ditekankan di sini. demikian pula. sangat dimungkinkan terpakainya teknik-teknik lain yang mirip. VI. and Technique" dalam Allen & Campbell. mental. Daftar Pustaka Ahmadi. Anthony. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. Yang tetap harus diingat. Dari pendekatan apresiatif ini pun sangat dimungkinkan lahirnya metode lain di samping imersi. dan lain-lain yang relevan. ed. "Peranan Sastrawan dalam Apresiasi Sastra" dalam Bahasa dan Sastra Th. 1980. Teaching English as .Dalam pelaksanaannya dapat saja teknik induksi diramu dengan teknik-teknik yang lain.

L. Baradja. I.B. 1980. Brown and Company. VI. Alex Lanur. Bandung: Diponegoro. "Pengajaran Apresiasi Puisi" dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Th. 1982. Rusyana. Metode Pengajaran Sastra. Rochman. Yus. Broto. Semarang: Akademi Bahasa 17 Agustus 1945 Semarang. Strevens. Solo: Tiga Serangkai. Metode Proses BelajarMengajar Berbahasa Dewasa Ini. Soeharianto. A Way to Analyze Method. Ende Flores: Nusa Indah. New York: McGraw-Hill. 1971. 1974. S.F. Boston: Little. Rizanur. -----------------1982. Effendi. 1976. Nomor 6. Nomor 3. Pengantar Apreslasi Puisi. 1983. Jakarta: Ditjendikdasmen—Ditdikgutentis Depdikbud. Surakarta: Widyaduta. Gani. Peter. Bandung: Gunung Larang. Ofm. H. ---------------.1984. Solo: Tiga Serangkai. 1967. Metodologi Proses Belajar-Mengajar Berbahasa. New Orientations in . Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. A.a Second Language: A Book of Readings. ---------------. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. 1983. Barnet—Berman—Burto. London: Longman Group Ltd. "Peranan Puisi dalam Kehidupan Kita" dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Th. Moody. Natawidjaja.S. M. Logika Selayang Pandang. 1982. Yogyakarta: Kanisius.1981. The Teaching of Literature. 1985. Boston. 1983. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. S. CBSA Cara Belajar Siswa Aktif. An Introduction to Literature: Fiction—Poetry— Drama. Bimbingan Apresiasi Puisi.

and many more. khidmat terhadap Tuhan.KW Super. Surakhmad. Suriasumantri. Winarno. 3 CommentsChronological Reverse Threaded reply uwaykaramy wrote on Feb 26. Brace & World. Inc. s astra dapat menimbulkan rasa haru. reply soemarjadi wrote on Feb 27. 1980. 1984. dan cinta terhadap sastra bangsanya. keagamaan. Sensual Click on Each Photos u like to read the description.. Chanel. di film dan novel Dead Poet's Society. Rene & Austin Warren. Theory of Literature. sontak saya teringat guru sastra. Jakarta: Sinar Harapan. Thanks berat! reply hitungmundur wrote on Aug 15. 2/VIII/88) Prev: MENCERMATI PERAN GURU DALAM MPMBS reply share Sponsored Links Begging 4 A Bag part 2 Tas Branded kualitas KW1 . 1956. '09 Saya setuju pak.the Teaching of English. moral. PR kita semua. Oxford University Press. Metodologi Pengajaran Nasional. Dik. Bandung: Jemmars. '09 Nah tu dia.. Hanya saja orang masih sering bertanya untuk apa belajar sastra ?Mau jadi apa ? pertanyaan yang juga ditanyakan saat saya memutuskan masuk fakultas sastra Ingris.High Quality ^___^ Ready Stock Jacket -Own Productio n. Jujun S. Balenciaga. keindahan.Mulberry. Pak Keating. Hermes. New York: A Harvest Book Harcourt. bahwasannya.Nice and Elegant . Welleck. . Belajar sastra sama juga dengan mengolah rasa. '09 Membacanya. (CP... Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer.

audio reply video reply Add a Comment Quote original message Submit Preview & Spell Check © 2010 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Translate · API · Contact · Help .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful