Join Multiply to get updates from soemar

Sumaryadi's Site
HomeBlogPhotosReviewsLinks

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH: METODE IMERSI
Oleh: Sumaryadi Pendahuluan

Feb 22, '09 8:14 AM for everyone

soemarjadi

Salah satu warisan kebudayaan bangsa Indonesia berupa sastra Indonesia. Sebagai ahli waris, siswa harus mengenal, memahami, dan menghargai sastra miliknya. Namun, harapan akan tinggal harapan andaikata saja pihak sekolah tidak atau kurang berupaya sedemikian rupa untuk secara sadar dan sengaja memperkenalkan dan mendekatkan siswa pada karya-karya sastra. Kesadaran itulah tampaknya yang mendorong agar sastra Indonesia mendapat tempat untuk dipelajari siswa di sekolah, meskipun pada kenyataannya sastra belumlah merupakan satu bidang studi yang berdiri sendiri. Pembelajaran sastra notabena merupakan bagian saja dari pembelajaran Bahasa Indonesia. Dimasukkannya pembelajaran sastra ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kiranya dapat dimaklumi, karena secara umum -- dalam salah satu definisinya -- sastra adalah segala sesuatu yang ditulis (Wellek & Warren, 1956: 20), kendatipun pengertian semacam itu dianggap terlalu luas dan juga terlalu sempit

• • • •

Photos of soemar Personal Message RSS Feed [?] Report Abuse

dengan demikian. tetapi harus dianggap sebagai pernyataan yang sangat kompleks dan luas tentang dunia penulis dan pembacanya (Moody. Dianggap terlalu sempit dengan keberatan bahwa macam balada yang dinyanyikan dan cerita yang dibacakan. Sebagai suatu karya seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya. dan cara hidupnya sendiri dan bangsanya (Soeharianto. khidmat terhadap Tuhan. Sastra Indonesia secara umum dapat dipakai sebagai cermin. karya sastra juga memberikan keagungan kepada siswa pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. penafsiran. yang tidak dapat diperoleh dengan cara lain . moral.(Barnet-Berman-Burto. semua buku termasuk sastra. 1972: 3). dan cinta terhadap sastra bangsanya (Broto. 1967: 1). pernyataan. benar dan salah. Pembelajaran sastra penting bagi siswa karena berhubungan erat dengan keharuan. sastra sangat mengutamakan dan setia terhadap hidup. sastra memberikan berbagai kepuasan yang sangat tinggi nilainya. dengan demikian. 1980: 10). keindahan. 1967: 7). Di samping memberikan kenikmatan dan keindahan. keagamaan. atau kritik kehidupan bangsa. Dianggap terlalu luas karena. Sastra dapat menimbulkan rasa haru. 1982: 4). hasil cipta seseorang sebagai ungkapan penghayatannya ke dalam wujud bahasa (Rusyana. Karya sastra bukan hanya bahasa yang dipakai untuk merealisasikannya. Norman Podhoretz ketika diwawancarai Arwah Setiawan mengemukakan bahwa sastra dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap cara berpikir orang mengenai hidup. dan terhadap bahasa (Ahmadi. 1976: 25). Secara lebih khusus Robert Frost menyatakan bahwa sastra adalah suatu pengungkapan dalam kata (a performance in words) (Barnet-Berman-Burto. Sastra merupakan karangan rekaan. Fungsi sastra kiranya tidak perlu diragukan lagi. tidak termasuk dalam sastra. Pendek kata. baik dan buruk. 1982: 67). terhadap manusia.

Hanya saja. yaitu: pendekatan (approach). Sastra memberikan pengaruh yang menguntungkan kepada penikmatnya (Barnet-Berman-Burto. metode bersifat teoretis prosedural.(Moody. Pendekatan bersifat aksiomatik. Untuk selanjutnya. dan teknik mempunyai hubungan hirarki (Anthony. metode (method). 1967: 8). Masalah di atas dapat disederhanakan menjadi bagaimana upaya yang seyogianya ditempuh yang memungkinkan siswa dapat belajar sastra dengan seefektif mungkin. dan teknik (technique). subjek yang belajar sastra. Teknik Dalam rangka metode sebenarnya terkandung beberapa istilah. pihak yang mengajarkan sastra.sebagai suatu alternatif -. Pendekatan. Dengan demikian.yang tampaknya cukup efektif digunakan oleh guru dalam pembelajaran sastra. metode. yaitu pendekatan. perlu diingat. Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana proses pembelajaran sastra itu berlangsung supaya hasil yang diharapkan dapat mewujud. Pendekatan. Kenyataan menunjukkan bahwa para guru bahasa pada umumnya dan guru sastra pada khususnya masih menggunakan ketiga-tiganya secara kacau. jika kita berbicara masalah metode kita tidak dapat lepas dari masalah pendekatan atau ancangan (approach) yang menurunkan metode (method). dan teknik bersifat teknis pelaksanaan. dan siswa. secara hirarkis akan dikemukakan adanya tiga tataran. metode. 1963). Metode. Tulisan sederhana ini akan menawarkan suatu metode -. Hubungan itu menyatakan bahwa teknik merupakan hasil dari (pelaksanaan) suatu metode yang selalu konsisten dengan pendekatan. 1982: 19). suatu metode ternyata akan menyarankan penggunaan teknikteknik tertentu pula. Dalam hubungan . Proses pembelajaran sastra melibatkan guru sastra. 1972: 2). dan teknik (Broto.

meningkatkan pengetahuan budaya. daya rasa. 1983: 23). 1972). Paling tidak ada empat manfaat yang dapat diambil dari belajar sastra. Baradia. Pada bagian muka sudah disinggung beberapa pengertian tentang sastra. sosial. 1963.untuk menciptakan sesuatu yang baru. yang hasil penghayatan itu selanjutnya dijelmakan dengan media bahasa. Pendekatan berupa seperangkat asumsi yang berhubungan dengan hakekat bahasa dan belajar-mengajar bahasa (Anthony. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan kreatif. merupakan komitmen terhadap pandangan tertentu (Strevens. a) Pendekatan Apresiatif Pendekatan merupakan latar belakang filosofis tentang pokok-pokok yang hendak diajarkan (Broto. 1980: 2). dan keagamaan (Rusyana. Kenyataan itu tampak menyarankan bahwa proses pembelajaran sastra di sekolah seyogianya disajikan dalam bentuk apresiasi. 1982: 5). seperti aspek pendidikan susila. Pembelaran sastra mempunyai peranan besar dalam mencapai berbagai aspek dari tujuan pendidikan dan pengajaran. dalam pengertian lebih mengutamakan atau . 1985).penghayatan -. pengenalan terhadap ketiga tataran itu sedapat mungkin akan langsung dikaitkan dengan pembelajaran sastra. 1982: 9-10).ini. 1982: 6). dan membentuk watak (Gani. yaitu menunjang keterampilan berbahasa. Sastra dalam keutuhan bentuknya menyentuh perilaku kehidupan kaum terdidik yang tentunya dapat mewarnai liku-liku hidup yang bersangkutan (Moody. sikap penilaian. mengembangkan rasa karsa. dan daya imajinasinya -. Sastrawan memadukan daya pikir. perasaan. yang secara umum dapat dikatakan bahwa sastra tidak lain dari hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya dengan menggunakan bahasa (Rusyana.

kepekaan pikiran kritis. Pendekatan apresiatif bertolak dari sastra sebagai hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya dengan . serta kenikmatan yang timbul sebagai akibat dari semua itu. sudah barang tentu juga perlu pemahaman terhadap sastra. Apresiasi berisikan kegiatan atau usaha merasakan dan menikmati hasil-hasil karya seni (Soeharianto. Mengadakan pendekatan terhadap sastra. dan mengenal secara intuitif tentang kebenaran dan kualitas estetik karya sastra. Selama hubungan dengan karya sastra belum atau kurang menggambarkan kegiatan itu. 1984: 314). memahami. Dalam karya sastra terkandung pengalaman manusia yang indah mendalam. yaitu pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra dan kegairahan kepadanya. sekali lagi. penghargaan. 1974: 18). berarti mengapresiasi nilai-nilai yang terkandung dalam sastra. 1982: 7). dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra (Effendi. dimaksudkan mengerti. 1980: 12). sejarah. Tujuan (utama) pembelajaran sastra adalah mengapresiasi nilainilai yang terkandung dalam sastra (Rusyana. mengandung arti mempersepsi dan mengenal dengan cukup luas suatu karya sastra (Ahmadi. esai. belumlah dapat dikatakan bahwa kita sudah mengapresiasi karya sastra. 1981: 15) termasuk di dalamnya karya sastra. Untuk mendapatkan kenikmatan yang mendalam.mendahulukan kegiatan apresiasinya daripada pengetahuan sastranya. Dengan tegas dikatakan bahwa apresiasi sastra merupakan kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian. Pengetahuan sastra meliputi teori. Pengenalan yang semakin mendalam dan hasrat serta jawaban kita terhadap pengalaman hidup yang terkandung dalam sastra itulah yang dapat disebut sebagai apresiasi sastra (Rusyana. Apresiasi berisikan upaya merasakan dan menikmati karya sastra. dan kritik sastra.

b. Metode merupakan cara yang dalam fungsinya adalah alat untuk mencapai tujuan (Surakhmad. bahasa. 1983: 23). bersifat membantu menyajikan lingkungan dan suasana yang kondusif. Guru sastra bertugas memberi siswa kesempatan untuk mengembangkan sendiri kemampuan apresiasinya. Metode tidak lain dari rencana keseluruhan dalam menyajikan materi bahasa secara teratur (Anthony. di antaranya pertimbangan faktor usia. yang kemudian didukung titik berat pembelajaran sastra yang diletakkan pada terbinanya kemampuan siswa mengapresiasi sastra. metode digunakan dengan makna yang sama dengan istilah pendekatan (Strevens. kematangan jiwa. Makin baik metode akan makin efektif pula pencapaian tujuannya. Baradja. mengadakan kontak dan dialog langsung dengan karya dengan cara membaca dan menikmatinya. Pembelajaran sastra dilaksanakan dengan pengutamaan pada kegiatan apresiasi sastra. 1980: 75). Sangatlah mungkin dalam suatu pendekatan akan terdapat beberapa metode. penamaan seperti audio-lingual method. Metode Imersi Ada sedikit kekacauan dalam istilah yang digunakan untuk menunjukkan perbedaan antara metode dan pendekatan.menggunakan bahasa. Dalam banyak hal. dan prioritas. direct method semestinya dipakai untuk menunjukkan pendekatan. Untuk seterusnya dapat saja – bahkan sangat positif — diadakan . 1985). misalnya menyediakan bahan bacaan sastra dan mendorong siswa senang membaca. Karya-karya sastra itu tentu sudah dipilih oleh guru dengan berbagai pertimbangan. Sebagai ilustrasi. 1963. Hal itu menyarankan agar siswa diperkenalkan atau dipertemukan dengan karya sastra secara langsung dan sebanyak-banyaknya. Siswa hendaknya didorong agar berkenalan dengan karya sastra.

membuat kliping. Sesudah siswa bergaul. sementara itu. Kegiatan dokumentasi berupa kegiatan mengumpulkan dan menyusun buku-buku dan majalah-majalah sastra. Agar siswa memperoIeh pengertian yang sebaikbaiknya tentang wujud dan fungsi karya sastra dan dapat menghargainya secara wajar. tokoh-tokoh cerita. Metode Imersi (Immersion Method) yang ditawarkan di sini berangkat dari pandangan . Yang terakhir ini dapat disebut kegiatan tak langsung. menyaksikan — harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan sebanyak-banyaknya. dua kegiatan lagi sebagai pelengkap -. kegiatan kreatif berupa kegiatan belajar atau berlatih mencipta sendiri sajak. cerita. dan seterusnya. Demi sempurnanya kegiatan apresiasi memang masih perlu diikuti dengan pemberian pengetahuan tentang sastra. atau secara langsung mendengarkan sajak dideklamasikan atau dibacakan (poetry reading) dan menyaksikan drama yang dipentaskan. kegiatan tersebut – membaca. diksi. berdialog langsung dan mendalam dengan karya -mengenal.yaitu kegiatan dokumentasi dan kegiatan kreatif (Effendi. misalnya tentang pengalaman-pengalaman yang terkandung di dalamnya.ruang pembahasan atau diskusi. Kecuali itu. atau drama dari berbagai sastrawan dan zaman. memahami. artinya siswa tidak langsung menjamah karya sastranya.jika masih dimungkinkan -. atau drama kecil.mereka diperkuat dengan pengetahuan tentang sastra. yang akan ditingkatkan oleh hadirnya cara yang tak langsung tersebut. Kiranya perlu diingatkan di sini bahwasanya kegiatan apresiasi sastra belum berhenti hanya sampai di situ saja. menganalisis. Kegiatan menggauli karya sastra dilakukan secara langsung. mendengarkan. cerpen. menghayati -. dimaksudkan bahwa siswa itu sendiri harus secara langsung membaca bermacam sajak. 1974: 19). dan sebagainya. Cara langsung merupakan cara yang paling diutamakan.

Suatu strategi yang efektif dan efisien akan tercipta bila strategi itu dapat dengan mudah diterapkan dan dapat menunjang prestasi belajar siswa yang memadai dan langgeng (Natawidjaja.bahwa dalam pelaksanaan kegiatan apresiasi sastra (baca: pembelajaran sastra) siswa layaknya dibenamkan ke dalam sesuatu atau dibenami sesuatu. Teknik biasanya ditandai dengan penggunakan alat bantu atau media tertentu yang diperlukan. akhirnya menggiring kita untuk menentukan dan mengangkat satu teknik yang dirasa paling sesuai. Siswa dibenamkan ke dalam sebuah dunia yang sarat dengan aneka ragam karya sastra (plus pengetahuan sastra). Baradja. 1963. tetapi lebih jauh daripada itu. Dapat juga dikatakan bahwa siswa dibenami dengan beronggok-onggok karya sastra (plus pengetahuan sastra). 1982: 23). Pembelajaran sastra yang berangkat dari pendekatan apresiatif (appreciative approach) dan memilih metode imersi sebagai suatu alternatif. Teknik induksi tidak hanya menuntut peran serta aktif siswa. c) Teknik Induksi Suatu teknik harus konsisten dengan metode dan sesuai pula dengan pendekatannya. Teknik induksi tampaknya sangat sesuai dan mendukung kegiatan ini. Keberartian sesuatu yang dipelajari siswa untuk dirinya sendiri itulah yang menentukan kadar kelanggengan prestasi belajar siswa. Teknik merupakan pelaksanaan dari proses pembelajaran. mendorong dan memberi . Teknik berkaitan dengan strategi yang benarbenar terjadi di ruang kelas (Anthony. 1985). Dalam hal ini peran serta aktif dari pihak siswa sendiri dalam kegiatan pembelajaran ikut berpengaruh terhadap keberartian bahan pembelajaran. 1983: 2). Jenis teknik belajar-mengajar dapat ditimbulkan dari metode tertentu (Broto.

menghayati. Yang terjadi selama ini. dan menghargai karya sastra itu sendiri. Siswa dijejali sekian banyak teori dan sejarah sastra. Teknik induksi menghendaki lain. memancing. Penamaan induksi untuk teknik ini sesungguhnya meminjam istilah dari bidang logika. tampaknya para guru sastra di lapangan cukup dengan membuat siswanya paham dan mengerti karya sastra melalui penjelasan atau informasi. dan mengarahkan kegiatan itu. Tentu saja. Guru hanya bersifat merangsang. Tidaklah mungkin seseorang dapat merasakan kenikmatan sesuatu hanya dengan diberitahu orang lain tanpa melakukan kontak langsung secara intim dan berdialog akrab dengan sesuatu itu sendiri. tetapi tidak atau kurang mampu mengapresiasi karya. Kegiatan macam itu jelas kegiatan yang sangat tidak apresiatif. yaitu logika induktif dan logika deduktif (Suriasumantri. Tujuan utama pembelajaran sastra masih jauh dari terpenuhi.kesempatan yang seluas-luasnya dan sebanyakbanyaknya kepada siswa untuk mendekati sendiri karya sastra. menggauli secara langsung. hal itu tidak terlepas sama sekali dari bimbingan guru. siswa banyak tahu dan paham (baca: hafal) pengetahuan sastra. terdapat dua cara penarikan kesimpulan. Yang penting guru tidak bersikap menggurui dan menyuapkan sesuatu yang tinggal telan saja. tanpa ada kontak langsung siswa-karya. 1984: 46). Logika induktif – yang dipakai di sini — erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. dan akhirnya diharapkan mampu menikmati. Segala sesuatu yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa dalam pergaulan dan dialog biarlah ditemukan sendiri oleh siswa. Siswa diberi kesempatan secara langsung bergaul intim dan berdialog dengan karya. Sebagai suatu proses tertentu. mendorong. Dengan demikian. induksi berupaya menyimpulkan pengetahuan yang ’umum’ atau universal dari . Seperti diketahui.

batasan. guru memberikan pengertian. yang akhirnya sampai pada penyimpulan bahwa karya puisi itu adalah pantun. teknik yang cenderung selalu digunakan para guru sebagai berikut. Yang juga perlu diingat bahwa pembicaraan atau pembahasan tidak boleh hanya terbatas pada unsur bentuknya saja.pengetahuan yang ’khusus’ atau partikular (Ofm. Sebagai ilustrasi. Implikasinya dalam pembelajaran sastra. dan seterusnya. peristiwa yang dibayangkan terjadi di belakang karya. nada bicara. siswa diberi kesempatan langsung berhadapan. perasaan. ciri-ciri khusus. amanat yang terkandung. Yang lebih penting justru pembahasan terhadap unsur isinya. Akhirnya. 1983: 40). . berdialog. Langkah tersebut sangat tidak apresiatif. Pembicaraan dapat saja berkisar pada pokok masalah yang diungkapkan. dan menikmati karya puisi lama itu. seperti sudah dikemukakan terdahulu. guru bertindak membimbing dan mengarahkan siswanya agar berhasil menemukan sendiri halhal khusus. misalnya. Berikutnya diberikanlah ciri-ciri pantun atau mengapa bentuk itu disebut pantun. Induksi merupakan cara berpikir dengan jalan menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Langkah tersebut masih ditambah lagi dengan model penyajian dikte oleh guru. untuk kemudian dibimbing ke arah penarikan kesimpulan yang bersifat umum tentang karya sastra itu. dan seterusnya. Dengan teknik induksi yang merupakan pembalikan langkah-langkah tersebut di atas. ciri-ciri bentuknya. Pertama. pendapat pengarang atau penyair tentang pokok masalah tersebut. mengajarkan pantun. Dengan bimbingan guru siswa diajak mampu menemukan Ietak-letak keindahannya. atau definisi pantun. disajikan contoh-contoh pantun. sehingga hasilnya pun berupa pengetahuan hafalan belaka.

Method. Yang tetap harus diingat. Dari metode imersi. intelektual. afektif. VI. 1980. Daftar Pustaka Ahmadi. "Peranan Sastrawan dalam Apresiasi Sastra" dalam Bahasa dan Sastra Th. "Approach. dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara matra kognitif. dan psikomotorik (Natawidjaja. sangat dimungkinkan terpakainya teknik-teknik lain yang mirip. Penutup Sudah barang tentu pembelajaran sastra dapat dilaksanakan dengan berorientasi pada pendekatan lain yang berbeda. dan tentunya diaplikasikan dengan teknik-teknik yang berbeda pula.Dalam pelaksanaannya dapat saja teknik induksi diramu dengan teknik-teknik yang lain. Nomor 6. Edward M. dan lain-lain yang relevan.. Dari pendekatan apresiatif ini pun sangat dimungkinkan lahirnya metode lain di samping imersi. Mukhsin. mental. umpamanya brainstorming. Teaching English as . Melaksanakan CBSA berarti guru melaksanakan suatu strategi pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa secara fisik. kemudian juga melahirkan metode-metode lain lagi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. diskusi. pendekatan —metode—teknik yang dimunculkan dalam tulisan ini – barangkali juga bukanlah barang baru lagi — tidak lebih dari salah satu alternatif dari sekian banyak alternatif yang seharusnya memang ada. Sekali lagi ditekankan di sini. sejalan. atau bahkan bertentangan dengan teknik-teknik induksi yang ditawarkan di sini. Anthony. 1983: 19). 1972. guru tidak boleh lupa pada prinsip-prinsip CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). and Technique" dalam Allen & Campbell. demikian pula. ed.

Metode Proses BelajarMengajar Berbahasa Dewasa Ini. New York: McGraw-Hill. 1982. Pengantar Apreslasi Puisi. Peter. H. 1983. Brown and Company. Strevens. Barnet—Berman—Burto. "Pengajaran Apresiasi Puisi" dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Th. Rizanur. A. Bandung: Diponegoro. Alex Lanur. Metode Pengajaran Sastra. S. Semarang: Akademi Bahasa 17 Agustus 1945 Semarang. 1980. 1974. 1983. Ende Flores: Nusa Indah. Soeharianto.1981. I.L. Broto. 1983. London: Longman Group Ltd. Yus. Yogyakarta: Kanisius. The Teaching of Literature.S. New Orientations in . Ofm. VI. Surakarta: Widyaduta. An Introduction to Literature: Fiction—Poetry— Drama. Effendi. Logika Selayang Pandang. ---------------. Nomor 3. Rochman. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud.1984. CBSA Cara Belajar Siswa Aktif. S.F. Boston: Little. 1976. 1967. M. Solo: Tiga Serangkai. Bandung: Gunung Larang.B. -----------------1982. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. Gani. Metodologi Proses Belajar-Mengajar Berbahasa. ---------------. Moody. Bimbingan Apresiasi Puisi. "Peranan Puisi dalam Kehidupan Kita" dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Th. A Way to Analyze Method. Jakarta: Ditjendikdasmen—Ditdikgutentis Depdikbud. Rusyana. 1982. 1985. Natawidjaja. Boston. Solo: Tiga Serangkai. Baradja.a Second Language: A Book of Readings. 1971. Nomor 6. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan.

Metodologi Pengajaran Nasional.Mulberry. Dik. Hanya saja orang masih sering bertanya untuk apa belajar sastra ?Mau jadi apa ? pertanyaan yang juga ditanyakan saat saya memutuskan masuk fakultas sastra Ingris. keagamaan. bahwasannya. moral. sontak saya teringat guru sastra. Balenciaga. and many more. reply soemarjadi wrote on Feb 27. New York: A Harvest Book Harcourt. Rene & Austin Warren.. Surakhmad. '09 Nah tu dia. 3 CommentsChronological Reverse Threaded reply uwaykaramy wrote on Feb 26. Inc.High Quality ^___^ Ready Stock Jacket -Own Productio n.the Teaching of English. 1956. .KW Super. Suriasumantri. PR kita semua. 1984. (CP. Hermes. 1980. di film dan novel Dead Poet's Society. Jujun S. Sensual Click on Each Photos u like to read the description. khidmat terhadap Tuhan. Pak Keating. Jakarta: Sinar Harapan. 2/VIII/88) Prev: MENCERMATI PERAN GURU DALAM MPMBS reply share Sponsored Links Begging 4 A Bag part 2 Tas Branded kualitas KW1 . Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Brace & World. Belajar sastra sama juga dengan mengolah rasa. '09 Membacanya. Theory of Literature..Nice and Elegant .. dan cinta terhadap sastra bangsanya. Bandung: Jemmars. Chanel. keindahan. s astra dapat menimbulkan rasa haru. Thanks berat! reply hitungmundur wrote on Aug 15. Oxford University Press.. Winarno. Welleck. '09 Saya setuju pak.

audio reply video reply Add a Comment Quote original message Submit Preview & Spell Check © 2010 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Translate · API · Contact · Help .