Join Multiply to get updates from soemar

Sumaryadi's Site
HomeBlogPhotosReviewsLinks

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH: METODE IMERSI
Oleh: Sumaryadi Pendahuluan

Feb 22, '09 8:14 AM for everyone

soemarjadi

Salah satu warisan kebudayaan bangsa Indonesia berupa sastra Indonesia. Sebagai ahli waris, siswa harus mengenal, memahami, dan menghargai sastra miliknya. Namun, harapan akan tinggal harapan andaikata saja pihak sekolah tidak atau kurang berupaya sedemikian rupa untuk secara sadar dan sengaja memperkenalkan dan mendekatkan siswa pada karya-karya sastra. Kesadaran itulah tampaknya yang mendorong agar sastra Indonesia mendapat tempat untuk dipelajari siswa di sekolah, meskipun pada kenyataannya sastra belumlah merupakan satu bidang studi yang berdiri sendiri. Pembelajaran sastra notabena merupakan bagian saja dari pembelajaran Bahasa Indonesia. Dimasukkannya pembelajaran sastra ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kiranya dapat dimaklumi, karena secara umum -- dalam salah satu definisinya -- sastra adalah segala sesuatu yang ditulis (Wellek & Warren, 1956: 20), kendatipun pengertian semacam itu dianggap terlalu luas dan juga terlalu sempit

• • • •

Photos of soemar Personal Message RSS Feed [?] Report Abuse

hasil cipta seseorang sebagai ungkapan penghayatannya ke dalam wujud bahasa (Rusyana. Secara lebih khusus Robert Frost menyatakan bahwa sastra adalah suatu pengungkapan dalam kata (a performance in words) (Barnet-Berman-Burto.(Barnet-Berman-Burto. atau kritik kehidupan bangsa. Pendek kata. Fungsi sastra kiranya tidak perlu diragukan lagi. Sastra merupakan karangan rekaan. karya sastra juga memberikan keagungan kepada siswa pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. penafsiran. 1982: 4). tidak termasuk dalam sastra. yang tidak dapat diperoleh dengan cara lain . 1967: 7). Sebagai suatu karya seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya. benar dan salah. dengan demikian. Norman Podhoretz ketika diwawancarai Arwah Setiawan mengemukakan bahwa sastra dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap cara berpikir orang mengenai hidup. Di samping memberikan kenikmatan dan keindahan. sastra sangat mengutamakan dan setia terhadap hidup. Karya sastra bukan hanya bahasa yang dipakai untuk merealisasikannya. semua buku termasuk sastra. sastra memberikan berbagai kepuasan yang sangat tinggi nilainya. keagamaan. Pembelajaran sastra penting bagi siswa karena berhubungan erat dengan keharuan. 1982: 67). khidmat terhadap Tuhan. moral. 1967: 1). dengan demikian. 1980: 10). dan terhadap bahasa (Ahmadi. Sastra Indonesia secara umum dapat dipakai sebagai cermin. baik dan buruk. pernyataan. terhadap manusia. 1976: 25). tetapi harus dianggap sebagai pernyataan yang sangat kompleks dan luas tentang dunia penulis dan pembacanya (Moody. 1972: 3). Sastra dapat menimbulkan rasa haru. Dianggap terlalu luas karena. Dianggap terlalu sempit dengan keberatan bahwa macam balada yang dinyanyikan dan cerita yang dibacakan. dan cinta terhadap sastra bangsanya (Broto. keindahan. dan cara hidupnya sendiri dan bangsanya (Soeharianto.

dan teknik (technique). metode bersifat teoretis prosedural. Metode. jika kita berbicara masalah metode kita tidak dapat lepas dari masalah pendekatan atau ancangan (approach) yang menurunkan metode (method). dan teknik bersifat teknis pelaksanaan. perlu diingat.yang tampaknya cukup efektif digunakan oleh guru dalam pembelajaran sastra. 1982: 19). secara hirarkis akan dikemukakan adanya tiga tataran.sebagai suatu alternatif -. Kenyataan menunjukkan bahwa para guru bahasa pada umumnya dan guru sastra pada khususnya masih menggunakan ketiga-tiganya secara kacau. metode (method). Dalam hubungan . Masalah di atas dapat disederhanakan menjadi bagaimana upaya yang seyogianya ditempuh yang memungkinkan siswa dapat belajar sastra dengan seefektif mungkin. metode. yaitu: pendekatan (approach). Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana proses pembelajaran sastra itu berlangsung supaya hasil yang diharapkan dapat mewujud. Pendekatan.(Moody. Sastra memberikan pengaruh yang menguntungkan kepada penikmatnya (Barnet-Berman-Burto. dan teknik (Broto. suatu metode ternyata akan menyarankan penggunaan teknikteknik tertentu pula. Tulisan sederhana ini akan menawarkan suatu metode -. pihak yang mengajarkan sastra. dan teknik mempunyai hubungan hirarki (Anthony. 1972: 2). dan siswa. Pendekatan. Hubungan itu menyatakan bahwa teknik merupakan hasil dari (pelaksanaan) suatu metode yang selalu konsisten dengan pendekatan. Proses pembelajaran sastra melibatkan guru sastra. yaitu pendekatan. subjek yang belajar sastra. Hanya saja. Teknik Dalam rangka metode sebenarnya terkandung beberapa istilah. metode. Dengan demikian. Pendekatan bersifat aksiomatik. 1963). 1967: 8). Untuk selanjutnya.

yang secara umum dapat dikatakan bahwa sastra tidak lain dari hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya dengan menggunakan bahasa (Rusyana. 1982: 9-10). Sastra dalam keutuhan bentuknya menyentuh perilaku kehidupan kaum terdidik yang tentunya dapat mewarnai liku-liku hidup yang bersangkutan (Moody. 1982: 6). perasaan. meningkatkan pengetahuan budaya. Paling tidak ada empat manfaat yang dapat diambil dari belajar sastra. dan daya imajinasinya -. 1972). Baradia.penghayatan -. 1983: 23). Sastrawan memadukan daya pikir. yang hasil penghayatan itu selanjutnya dijelmakan dengan media bahasa. 1982: 5). 1963. sosial. dalam pengertian lebih mengutamakan atau . sikap penilaian. Pada bagian muka sudah disinggung beberapa pengertian tentang sastra. 1980: 2). Kegiatan tersebut merupakan kegiatan kreatif. 1985). dan keagamaan (Rusyana. Pembelaran sastra mempunyai peranan besar dalam mencapai berbagai aspek dari tujuan pendidikan dan pengajaran. merupakan komitmen terhadap pandangan tertentu (Strevens. seperti aspek pendidikan susila. dan membentuk watak (Gani. Kenyataan itu tampak menyarankan bahwa proses pembelajaran sastra di sekolah seyogianya disajikan dalam bentuk apresiasi. pengenalan terhadap ketiga tataran itu sedapat mungkin akan langsung dikaitkan dengan pembelajaran sastra. yaitu menunjang keterampilan berbahasa. mengembangkan rasa karsa. Pendekatan berupa seperangkat asumsi yang berhubungan dengan hakekat bahasa dan belajar-mengajar bahasa (Anthony.untuk menciptakan sesuatu yang baru. daya rasa. a) Pendekatan Apresiatif Pendekatan merupakan latar belakang filosofis tentang pokok-pokok yang hendak diajarkan (Broto.ini.

dimaksudkan mengerti. serta kenikmatan yang timbul sebagai akibat dari semua itu. mengandung arti mempersepsi dan mengenal dengan cukup luas suatu karya sastra (Ahmadi. 1984: 314). kepekaan pikiran kritis. sudah barang tentu juga perlu pemahaman terhadap sastra. berarti mengapresiasi nilai-nilai yang terkandung dalam sastra. dan mengenal secara intuitif tentang kebenaran dan kualitas estetik karya sastra. Tujuan (utama) pembelajaran sastra adalah mengapresiasi nilainilai yang terkandung dalam sastra (Rusyana. yaitu pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra dan kegairahan kepadanya. penghargaan. Dengan tegas dikatakan bahwa apresiasi sastra merupakan kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian. Dalam karya sastra terkandung pengalaman manusia yang indah mendalam. esai. Pengenalan yang semakin mendalam dan hasrat serta jawaban kita terhadap pengalaman hidup yang terkandung dalam sastra itulah yang dapat disebut sebagai apresiasi sastra (Rusyana. memahami. 1981: 15) termasuk di dalamnya karya sastra. 1980: 12). Pengetahuan sastra meliputi teori. 1982: 7). 1974: 18). Apresiasi berisikan kegiatan atau usaha merasakan dan menikmati hasil-hasil karya seni (Soeharianto. dan kritik sastra. Untuk mendapatkan kenikmatan yang mendalam.mendahulukan kegiatan apresiasinya daripada pengetahuan sastranya. Pendekatan apresiatif bertolak dari sastra sebagai hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya dengan . Apresiasi berisikan upaya merasakan dan menikmati karya sastra. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra (Effendi. Selama hubungan dengan karya sastra belum atau kurang menggambarkan kegiatan itu. belumlah dapat dikatakan bahwa kita sudah mengapresiasi karya sastra. sejarah. Mengadakan pendekatan terhadap sastra. sekali lagi.

Sebagai ilustrasi. 1980: 75). Dalam banyak hal. Sangatlah mungkin dalam suatu pendekatan akan terdapat beberapa metode. 1983: 23). misalnya menyediakan bahan bacaan sastra dan mendorong siswa senang membaca. Metode tidak lain dari rencana keseluruhan dalam menyajikan materi bahasa secara teratur (Anthony. b. Metode merupakan cara yang dalam fungsinya adalah alat untuk mencapai tujuan (Surakhmad. metode digunakan dengan makna yang sama dengan istilah pendekatan (Strevens. Karya-karya sastra itu tentu sudah dipilih oleh guru dengan berbagai pertimbangan. yang kemudian didukung titik berat pembelajaran sastra yang diletakkan pada terbinanya kemampuan siswa mengapresiasi sastra. Makin baik metode akan makin efektif pula pencapaian tujuannya. Pembelajaran sastra dilaksanakan dengan pengutamaan pada kegiatan apresiasi sastra. Guru sastra bertugas memberi siswa kesempatan untuk mengembangkan sendiri kemampuan apresiasinya. Hal itu menyarankan agar siswa diperkenalkan atau dipertemukan dengan karya sastra secara langsung dan sebanyak-banyaknya. bersifat membantu menyajikan lingkungan dan suasana yang kondusif. kematangan jiwa. di antaranya pertimbangan faktor usia. 1985). bahasa. direct method semestinya dipakai untuk menunjukkan pendekatan. Siswa hendaknya didorong agar berkenalan dengan karya sastra. penamaan seperti audio-lingual method. Baradja. Metode Imersi Ada sedikit kekacauan dalam istilah yang digunakan untuk menunjukkan perbedaan antara metode dan pendekatan. mengadakan kontak dan dialog langsung dengan karya dengan cara membaca dan menikmatinya.menggunakan bahasa. Untuk seterusnya dapat saja – bahkan sangat positif — diadakan . dan prioritas. 1963.

atau secara langsung mendengarkan sajak dideklamasikan atau dibacakan (poetry reading) dan menyaksikan drama yang dipentaskan. misalnya tentang pengalaman-pengalaman yang terkandung di dalamnya. Sesudah siswa bergaul. sementara itu.jika masih dimungkinkan -.mereka diperkuat dengan pengetahuan tentang sastra. menghayati -. diksi. menganalisis. cerpen. Kegiatan menggauli karya sastra dilakukan secara langsung. dua kegiatan lagi sebagai pelengkap -. yang akan ditingkatkan oleh hadirnya cara yang tak langsung tersebut. Demi sempurnanya kegiatan apresiasi memang masih perlu diikuti dengan pemberian pengetahuan tentang sastra. mendengarkan. dan seterusnya. memahami. Cara langsung merupakan cara yang paling diutamakan. Kecuali itu. tokoh-tokoh cerita. Yang terakhir ini dapat disebut kegiatan tak langsung. kegiatan tersebut – membaca.yaitu kegiatan dokumentasi dan kegiatan kreatif (Effendi. artinya siswa tidak langsung menjamah karya sastranya. Kiranya perlu diingatkan di sini bahwasanya kegiatan apresiasi sastra belum berhenti hanya sampai di situ saja. atau drama kecil. menyaksikan — harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan sebanyak-banyaknya. cerita.ruang pembahasan atau diskusi. Kegiatan dokumentasi berupa kegiatan mengumpulkan dan menyusun buku-buku dan majalah-majalah sastra. berdialog langsung dan mendalam dengan karya -mengenal. dan sebagainya. 1974: 19). Agar siswa memperoIeh pengertian yang sebaikbaiknya tentang wujud dan fungsi karya sastra dan dapat menghargainya secara wajar. Metode Imersi (Immersion Method) yang ditawarkan di sini berangkat dari pandangan . membuat kliping. atau drama dari berbagai sastrawan dan zaman. dimaksudkan bahwa siswa itu sendiri harus secara langsung membaca bermacam sajak. kegiatan kreatif berupa kegiatan belajar atau berlatih mencipta sendiri sajak.

tetapi lebih jauh daripada itu. Baradja. Siswa dibenamkan ke dalam sebuah dunia yang sarat dengan aneka ragam karya sastra (plus pengetahuan sastra). Suatu strategi yang efektif dan efisien akan tercipta bila strategi itu dapat dengan mudah diterapkan dan dapat menunjang prestasi belajar siswa yang memadai dan langgeng (Natawidjaja. akhirnya menggiring kita untuk menentukan dan mengangkat satu teknik yang dirasa paling sesuai. Dapat juga dikatakan bahwa siswa dibenami dengan beronggok-onggok karya sastra (plus pengetahuan sastra). 1985). Teknik merupakan pelaksanaan dari proses pembelajaran. Jenis teknik belajar-mengajar dapat ditimbulkan dari metode tertentu (Broto. Keberartian sesuatu yang dipelajari siswa untuk dirinya sendiri itulah yang menentukan kadar kelanggengan prestasi belajar siswa. Teknik berkaitan dengan strategi yang benarbenar terjadi di ruang kelas (Anthony. 1963. Teknik biasanya ditandai dengan penggunakan alat bantu atau media tertentu yang diperlukan. Pembelajaran sastra yang berangkat dari pendekatan apresiatif (appreciative approach) dan memilih metode imersi sebagai suatu alternatif. 1982: 23). mendorong dan memberi .bahwa dalam pelaksanaan kegiatan apresiasi sastra (baca: pembelajaran sastra) siswa layaknya dibenamkan ke dalam sesuatu atau dibenami sesuatu. 1983: 2). c) Teknik Induksi Suatu teknik harus konsisten dengan metode dan sesuai pula dengan pendekatannya. Teknik induksi tampaknya sangat sesuai dan mendukung kegiatan ini. Dalam hal ini peran serta aktif dari pihak siswa sendiri dalam kegiatan pembelajaran ikut berpengaruh terhadap keberartian bahan pembelajaran. Teknik induksi tidak hanya menuntut peran serta aktif siswa.

dan akhirnya diharapkan mampu menikmati. tampaknya para guru sastra di lapangan cukup dengan membuat siswanya paham dan mengerti karya sastra melalui penjelasan atau informasi. Kegiatan macam itu jelas kegiatan yang sangat tidak apresiatif.kesempatan yang seluas-luasnya dan sebanyakbanyaknya kepada siswa untuk mendekati sendiri karya sastra. Siswa dijejali sekian banyak teori dan sejarah sastra. Dengan demikian. siswa banyak tahu dan paham (baca: hafal) pengetahuan sastra. Sebagai suatu proses tertentu. tetapi tidak atau kurang mampu mengapresiasi karya. induksi berupaya menyimpulkan pengetahuan yang ’umum’ atau universal dari . terdapat dua cara penarikan kesimpulan. 1984: 46). menggauli secara langsung. dan mengarahkan kegiatan itu. Logika induktif – yang dipakai di sini — erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Tentu saja. Segala sesuatu yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa dalam pergaulan dan dialog biarlah ditemukan sendiri oleh siswa. Tujuan utama pembelajaran sastra masih jauh dari terpenuhi. dan menghargai karya sastra itu sendiri. tanpa ada kontak langsung siswa-karya. yaitu logika induktif dan logika deduktif (Suriasumantri. Penamaan induksi untuk teknik ini sesungguhnya meminjam istilah dari bidang logika. hal itu tidak terlepas sama sekali dari bimbingan guru. Yang terjadi selama ini. Yang penting guru tidak bersikap menggurui dan menyuapkan sesuatu yang tinggal telan saja. Tidaklah mungkin seseorang dapat merasakan kenikmatan sesuatu hanya dengan diberitahu orang lain tanpa melakukan kontak langsung secara intim dan berdialog akrab dengan sesuatu itu sendiri. mendorong. Siswa diberi kesempatan secara langsung bergaul intim dan berdialog dengan karya. menghayati. Guru hanya bersifat merangsang. Teknik induksi menghendaki lain. Seperti diketahui. memancing.

disajikan contoh-contoh pantun. dan seterusnya. Yang juga perlu diingat bahwa pembicaraan atau pembahasan tidak boleh hanya terbatas pada unsur bentuknya saja. siswa diberi kesempatan langsung berhadapan. Langkah tersebut masih ditambah lagi dengan model penyajian dikte oleh guru. perasaan. misalnya. Implikasinya dalam pembelajaran sastra. Yang lebih penting justru pembahasan terhadap unsur isinya. ciri-ciri khusus. untuk kemudian dibimbing ke arah penarikan kesimpulan yang bersifat umum tentang karya sastra itu. Dengan bimbingan guru siswa diajak mampu menemukan Ietak-letak keindahannya. Akhirnya. batasan. peristiwa yang dibayangkan terjadi di belakang karya. 1983: 40). dan seterusnya. Berikutnya diberikanlah ciri-ciri pantun atau mengapa bentuk itu disebut pantun. berdialog. seperti sudah dikemukakan terdahulu. nada bicara. dan menikmati karya puisi lama itu. pendapat pengarang atau penyair tentang pokok masalah tersebut. mengajarkan pantun. amanat yang terkandung. Induksi merupakan cara berpikir dengan jalan menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Langkah tersebut sangat tidak apresiatif. Pembicaraan dapat saja berkisar pada pokok masalah yang diungkapkan. guru bertindak membimbing dan mengarahkan siswanya agar berhasil menemukan sendiri halhal khusus. yang akhirnya sampai pada penyimpulan bahwa karya puisi itu adalah pantun. ciri-ciri bentuknya. sehingga hasilnya pun berupa pengetahuan hafalan belaka. Pertama. Dengan teknik induksi yang merupakan pembalikan langkah-langkah tersebut di atas.pengetahuan yang ’khusus’ atau partikular (Ofm. . atau definisi pantun. guru memberikan pengertian. teknik yang cenderung selalu digunakan para guru sebagai berikut. Sebagai ilustrasi.

Penutup Sudah barang tentu pembelajaran sastra dapat dilaksanakan dengan berorientasi pada pendekatan lain yang berbeda. Melaksanakan CBSA berarti guru melaksanakan suatu strategi pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa secara fisik. and Technique" dalam Allen & Campbell. ed. demikian pula. atau bahkan bertentangan dengan teknik-teknik induksi yang ditawarkan di sini. sejalan.Dalam pelaksanaannya dapat saja teknik induksi diramu dengan teknik-teknik yang lain. VI. 1972. Mukhsin. dan lain-lain yang relevan. pendekatan —metode—teknik yang dimunculkan dalam tulisan ini – barangkali juga bukanlah barang baru lagi — tidak lebih dari salah satu alternatif dari sekian banyak alternatif yang seharusnya memang ada. Dari pendekatan apresiatif ini pun sangat dimungkinkan lahirnya metode lain di samping imersi.. "Approach. dan psikomotorik (Natawidjaja. Edward M. Teaching English as . umpamanya brainstorming. 1983: 19). "Peranan Sastrawan dalam Apresiasi Sastra" dalam Bahasa dan Sastra Th. mental. Method. 1980. Daftar Pustaka Ahmadi. Sekali lagi ditekankan di sini. dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara matra kognitif. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. guru tidak boleh lupa pada prinsip-prinsip CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). kemudian juga melahirkan metode-metode lain lagi. afektif. dan tentunya diaplikasikan dengan teknik-teknik yang berbeda pula. Dari metode imersi. Yang tetap harus diingat. diskusi. intelektual. Anthony. sangat dimungkinkan terpakainya teknik-teknik lain yang mirip. Nomor 6.

1983. Bandung: Diponegoro. Barnet—Berman—Burto. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. 1983. Logika Selayang Pandang. Strevens. Rusyana. VI. Metode Proses BelajarMengajar Berbahasa Dewasa Ini. CBSA Cara Belajar Siswa Aktif. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bimbingan Apresiasi Puisi. 1974. S. 1976. 1983. Semarang: Akademi Bahasa 17 Agustus 1945 Semarang.a Second Language: A Book of Readings.L. Gani. 1982. Ofm. "Peranan Puisi dalam Kehidupan Kita" dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Th. A. H. Alex Lanur. Effendi. Brown and Company. Broto.B. Natawidjaja. "Pengajaran Apresiasi Puisi" dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Th.S. Yus. The Teaching of Literature. Moody. S. Metode Pengajaran Sastra. Baradja. 1985. A Way to Analyze Method. Rochman. London: Longman Group Ltd.1984. An Introduction to Literature: Fiction—Poetry— Drama. Boston. 1967. Nomor 6. Rizanur. Peter.F. Soeharianto. Boston: Little. Bandung: Gunung Larang. Solo: Tiga Serangkai. Pengantar Apreslasi Puisi. Metodologi Proses Belajar-Mengajar Berbahasa. ---------------. -----------------1982. Ende Flores: Nusa Indah. New Orientations in . M. Jakarta: Ditjendikdasmen—Ditdikgutentis Depdikbud. New York: McGraw-Hill. ---------------. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. 1980. I. Yogyakarta: Kanisius.1981. Nomor 3. Solo: Tiga Serangkai. Surakarta: Widyaduta. 1982. 1971.

Bandung: Jemmars. Rene & Austin Warren.. sontak saya teringat guru sastra. Inc. Welleck. Thanks berat! reply hitungmundur wrote on Aug 15.. Jakarta: Sinar Harapan. Sensual Click on Each Photos u like to read the description. (CP.High Quality ^___^ Ready Stock Jacket -Own Productio n. New York: A Harvest Book Harcourt. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer.the Teaching of English. keindahan. Winarno. Belajar sastra sama juga dengan mengolah rasa. Surakhmad. 3 CommentsChronological Reverse Threaded reply uwaykaramy wrote on Feb 26. PR kita semua. Pak Keating.KW Super.Mulberry. Balenciaga. '09 Nah tu dia. and many more. reply soemarjadi wrote on Feb 27.Nice and Elegant . keagamaan.. Hanya saja orang masih sering bertanya untuk apa belajar sastra ?Mau jadi apa ? pertanyaan yang juga ditanyakan saat saya memutuskan masuk fakultas sastra Ingris.. Theory of Literature. dan cinta terhadap sastra bangsanya. Brace & World. 1956. bahwasannya. khidmat terhadap Tuhan. s astra dapat menimbulkan rasa haru. 1980. . Hermes. 1984. Dik. Suriasumantri. '09 Membacanya. moral. Jujun S. Metodologi Pengajaran Nasional. Oxford University Press. '09 Saya setuju pak. 2/VIII/88) Prev: MENCERMATI PERAN GURU DALAM MPMBS reply share Sponsored Links Begging 4 A Bag part 2 Tas Branded kualitas KW1 . Chanel. di film dan novel Dead Poet's Society.

audio reply video reply Add a Comment Quote original message Submit Preview & Spell Check © 2010 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Translate · API · Contact · Help .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful