MAKALAH TUGAS RANCANG PRAKTIKUM SISTEM DIGITAL TAHUN AJARAN 2007/2008

JAM ALARM DIGITAL

Nama Anggota Kelompok Teddy Tjahyadi Friska Setiokoadiputro Stephen Jeffry Vernando Bustam Daniel Giovanni 1000835316 1000836445 1000837624 1000838085 1000838330

BINUS UNIVERSITY JAKARTA 2008

JAM ALARM DIGITAL Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program studi praktikum sistem digital tahun ajaran 2007/2008

Nama Anggota Kelompok Teddy Tjahyadi Friska Setiokoadiputro Stephen Jeffry Vernando Bustam Daniel Giovanni 1000835316 1000836445 1000837624 1000838085 1000838330

Asisten Pembimbing Ronny Haryanto

BINUS UNIVERSITY JAKARTA 2008

Binus University
Jurusan Sistem Komputer Tugas Rancang Sistem Digital semester genap tahun 2007/2008 JAM ALARM DIGITAL Nama Anggota Kelompok Teddy Tjahyadi Friska Setiokoadiputro Stephen Jeffry Vernando Bustam Daniel Giovanni Abstrak Dewasa ini, kita telah mengetahui banyaknya penggunaan jam digital. Hal ini dimaksudkan untuk pembacaan jam yang lebih mudah. Dengan demikian penulis bermaksud untuk membuat aplikasi dari pelajaran Sistem Digital dengan membuat sebuah jam alarm digital. Jam alarm digital yang penulis buat akan ditampilkan pada 6 buah seven segment, dan untuk melakukan setting jam, penulis menyediakan 4 buah tombol yang digunakan untuk melakukan setting terhadap jam alarm digital ini. Sedangkan untuk setting waktu alarm itu sendiri, penulis menyediakan 6 buah toggle-switch yang akan digunakan untuk melakukan setting kepada alarm. Dan 1 buah switch On-Off untuk alarm itu sendiri. Sedangkan untuk bunyi alarm sendiri, penulis menggunakan buzzer. Penulis juga menyediakan 1 buah socket DC yang akan digunakan untuk sebagai tempat masuknya sumber daya utama dari jam alarm digital yang penulis buat ini serta satu buah switch On-Off untuk sumber daya utama tersebut. Untuk pengolahan gerbang-gerbang logika yang digunakan, penulis menggunakan 7 buah IC GAL 16V8, 1 buah IC GAL 22V10, 1 buah IC gerbang NOT (74LS04), dan 1 buah IC gerbang XOR (74LS86). Sementara untuk pencengahan bouncing pada 4 buah tombol yang digunakan untuk pen-settingan waktu maka penulis menggunakan rangkaian monostable dari IC LM555. Kata Kunci: GAL 16V8, GAL 22V10, LM555, Seven Segment, Toggle Switch, Switch OnOff, Buzzer, Socket DC. 1000835316 1000836445 1000837624 1000838085 1000838330

.........5 Flow Chart............................. 2 Bab II Landasaran Teori................2 Blok Diagram....................................................................... 78 4.................................................................4 Cara Kerja Rangkaian Dan Coding..... 3... Lampiran..... 79 Bab V Kesimpulan........ Abstrak............................................................................................................. 3.........1 Programmable Logic device (PLD)......1 Latar Belakang................................................................................................................. 2 1...................................................5 Timer Dan Multivibrator........................................................................1 Data Hasil Percobaan...............................................1 Gambaran Sistem Secara Umum....................................................................................................................................................................... 82 Daftar Pustaka................................................ 1 1.............................................................................................................. 2............................................................. 83 85 .......... 2.................................................................................................................................................................... 3................................................................2 Software Development Tools (Wincupl)..............................................................................................................................................................................................................DAFTAR ISI Halaman luar makalah........................ 2.... 2........................................... Bab III Perancangan Sistem............................................. 3..................3 Rangkaian Sekuensial (Stepper) pada PLD. Halaman dalam makalah........ 2............4 Seven Segment................................................................................................... 4 5 8 15 19 21 35 36 38 39 40 69 Bab IV Evaluasi dan implementasi.........................................................................................................................................................................................................2 Tujuan dan Manfaat.....................................................3 Skematik Rangkaian.............................................. 3........ i ii iii iv Bab I Pendahuluan..................................................................................... Daftar isi.......

BAB I PENDAHULUAN TUGAS RANCANG SISTEM DIGITAL SEMESTER GENAP 2007 /2008 BINUS UNIVERSITY .

Jam analog memiliki beberapa kelemahan seperti ketelitian yang kurang tepat dalam membaca jam analog. akan sangat sulit untuk mengetahui tepat menit berapa saat itu. dijaman modern seperti sekarang ini waktu adalah hal yang sangat berharga bagi manusia. sebagai contoh jika jarum jam panjang yang menunjukan menit jika terletak diantara angka tiga dan angka empat. 1.00 alarm akan langsung berbunyi. pengaturan alarm akan lebih presisi karena menggunakan logiklogik yang membuat alarm akan lebih presisi. Pada jam digital.1 Latar Belakang Seperti kata pepatah “waktu adalah uang”. kebanyakan orang masih menggunakan jam alarm analog. Ada berbagai macam jenis dan model jam yang sudah beredar di pasaran. Jam adalah alat yang digunakan manusia untuk mengetahui waktu.2 Tujuan dan Manfaat Tujuan . sebagai contoh pada saat alarm di set pada pukul 05.BAB 1 PENDAHULUAN 1.00 maka pada saat jam menunjukan pukul 05. sampai jam digital dengan alarm.01 atau 04. Namun. sebagai contoh jika ingin mengatur alarm pada pukul 05.Sehingga ini membuat penulis tertarik untuk membuat jam alarm digital.00 pada jam analog alarm bisa saja bunyi pada pukul 05.59 karena tidak memiliki presisi yang tinggi. jam analog dengan fitur khusus seperti alarm. pada pengaturan alarm jam analog tidak memiliki presisi yang tinggi. Pada Jam analog yang memiliki fasilitas alarm. mulai dari jam analog biasa.

Pada pembacaan jam digital akan sangat mudah untuk dibaca dan sangat tepat karena jam digital menampilkan angka secara presisi karena jam digital menampilkan jam berupa angka-angka. Pada jam digital.Penulis bermaksud agar makalah dan tugas rancang ini dapat membuat pengguna jam akan menjadi mudah untuk membaca. . Serta penulis juga merasakan manfaat yaitu penulis dapat mengenal sistem digital dengan lebih baik beserta aplikasi-aplikasinya. Manfaat Penulis berharap agar jam alarm digital yang dibuat dapat bermanfaat bagi banyak orang khususnya dalam hal ketepatan indikasi waktu dan ketepatan alarm sebagai pengingat waktu. pengaturan alarm juga akan lebih presisi karena menggunakan logika-logika yang membuat alarm akan lebih presisi.

BAB II LANDASAN TEORI TUGAS RANCANG SISTEM DIGITAL SEMESTER GENAP 2007 /2008 BINUS UNIVERSITY .

IC (Integrated Circuit) yang dapat diprogram gerbang-gerbang logikanya bernama PLD (Programmable Logic Device).BAB 2 LANDASAN TEORI 2. diantaranya : a) SPLD ( Simple Programmable Logic Device) SPLD adalah sebuah device yang dapat diprogram secara logika yang mempunyai komplekstivitas dibawah CPLD Contoh : GAL 16V8 b) CPLD ( Complex Programmable Logic Device) CPLD adalah sebuah device yang dapat diprogram secara logika yang mempunyai komplekstivitas diantara PAL dan FPGA Contoh : Altera MAX 7000 (mempunyai 2500 gerbang) . Karena perkembangan zaman maka produsen pembuat IC memikirkan bagaimana kita membuat sebuah gerbang logika di dalam IC tidak ditentukan oleh produsen IC tersebut tetapi dapat diprogram oleh User. Sebelumnya kita harus mengenal dahulu jenis-jenis PLD.1 Progamable Logic Device (PLD) Selama ini kita mengenal pembuatan gerbang-gerbang logika menggunakan IC-IC khusus yang didalam telah terintegrasi gerbang-gerbang logika yang telah ditentukan. Tentunya ini bertujuan untuk memudahkan user dalam membuat gerbang-gerbang logika.

untuk rangkaian D –FlipFlop yang berada di dalam GAL Pin 2.3.Fungsi Pin : Pin 1 : Pin tempat masuknya Clock. Berikut adalah gambar konfigurasi dari pin GAL 16V8 Fungsi.Konfigurasi GAL GAL 16V8 merupakan IC PLD (Programmable Logic Device) berjenis SPLD (Simple Programmable Logic Device) keluaran perusahaan Lattice.7.4. Tetapi sebenarnya GAL 16V8 hanya mempunyai 20 pin. GAL 16V8 sesuai dengan namanya mempunyai 16 pin input dan 8 pin output.9 Pin 10 : Pin yang berfungsi sebagai input : Pin ground dari Gal 16V8 .8. Sehingga nantinya ada pin yang dapat berfungsi sebagai input dan output.5.6.

IC GAL dibawah ini diberi nama 22V10 karena memilki 22 pin input (11 pin input dan 11 lainnya pin input yang dapat berfungsi sebagai pin output) dan 10 pin output.71. - Pin 1 : Pin Tempat masuknya Clock.16.1.Pin 11 : Pin yang harus diaktifkan menggunakan Clock ketika GAL akan Pin 12.15.14.8.19 Pin 20 : Pin yang dapat berfungsi sebagai input ataupun output : Pin tempat VCC (5V) sebagai syarat agar GAL dapat bekerja.Pin 14 – 23 : Pin yang dapat berfungsi sebagai input ataupun output ( tergantung deklarasi pin tersebut) Pin 24 : Pin tempat Vcc (5V). . Pin 2-11 dan 13 : Pin yang berfungsi sebagai input Pin 12 : Pin Ground dari GAL 22V10 . input daya agar GAL 22V10 dapat bekerja.13.

Isilah Name : (dengan nama file yang akan di save) Device : (dengan nama device yang dipakai Contoh:Gal16V8) Kedua bagian inilah yang terpenting untuk diisi secara benar. Lalu akan muncul beberapa dialog box. Klik File  New Project atau Design File. Bukalah program WinCupl 2. 4. Lalu akan muncul dialog box.2 Software Development Tools (WinCupl) WinCUPL adalah program (Software Development Tools) buatan ATMEL yang berfungsi untuk memprogram PLD (Programmable Logic Device). 3.2. Program ini tidak tertutup untuk digunakan PLD diluar keluaran ATMEL. Yang lain biarkanlah secara default atau jika diganti tidak akan bermasalah. Contohnya PLD keluaran LATTICE GAL 16V8 dapat memakai program ini. Pembuatan File Baru Untuk pembuatan file baru dapat dilakukan dengan prosedur berikut : 1. diantaranya : a) Input Pin : Isi sebanyak input pin yang akan dipakai b) Output Pin : Isi sebanyak output pin yang akan dipakai c) Pinnode Pin : Pinnode adalah pin virtual yang dapat diubah perannya dalam program (biasanya diisi 0) .

Dialog box untuk menginput ke 3 pin tersebut hanyalah membantu kita dalam mengisi property yang akan kita gunakan dalam program. 8. 6. dan dialog box ini hanya muncul 1 kali pada saat kita membuat project baru. Setelah melakukan pemrograman compilelah dengan menggunakan tombol F9 atau Device Dependent Compile dan lakukan simulasi dengan WinSim. Namun demikian property tersebut masih dapat ditambahkan secara manual dengan mengetikkannya di program tersebut. file yang dituliskan adalah file yang berekstensi Jed. diantaranya adalah : a) Pin . Sampai langkah ini kita telah siap melakukan pemrograman 7. Perlu diketahui ada beberapa keyword yang cukup penting di WinCupl. maka kita dapat menuliskan program ke IC. Setelah compile sukses dan hasil simulasi sesuai dengan keinginan. 5. Pin yang telah ditentukan harus diberi inisialisasi dengan mengetikkan no pin sebelum tanda sama dengan dan nama pin sesudah tanda sama dengan.

Artinya Pin 3 diberi nama In1. Contoh : Pin 3 = In1. b) Field Field yang berarti lapangan. Dengan table kebenaran yang telah ditentukan oleh user maka user tidak perlu lagi memikirkan gerbang-gerbang logika untuk membuat table kebenaran tersebut. Dan untuk selanjutnya jika ingin melakukan operasi logika pada pin 3 cukup menggunakan nama In1.D1. Contoh field output =[D0. Digunakan untuk mengumpulkan nama-nama pin menjadi satu variable.D1. Sehingga dengan table kebenaran ini input yang diberikan akan keluar menjadi output sesuai dengan table kebenaran.D2] . Pada WinCupl penulisan gerbang logika mempunyai syntax sebagai berikut : . digunakan untuk pin input maupun output. Syntax-Syntax dan Deklarasi Variable pada WinCupl Karena wincupl merupakan software development tools untuk memprogram PLD. artinya pin dengan nama D0. c) Table Table adalah sebuah keyword untuk membuat sebuah table kebenaran.D2 diberi nama output.Pin adalah keyword yang digunakan untuk menyatakan pin yang dipakai pada GAL. Maka nantinya kita akan sering bermain dengan gerbang-gerbang logika. Dan juga digunakan untuk mendeklarasikan nama dari sebuah pin.

/*gerbang exclusive not or*/ .Misal input yang ada diberi nama in0 dan in1 a) And  in 0 & in1 . /*gerbang not or*/ Penulisannya dengan cara menempatkan character # diantara kedua inputnya lalu diberi tanda kurung serta di depannya diletakkan character ! g) XNOR  ! ( in0 $ in1 ) . /*gerbang exclusive or*/ Penulisannya dengan cara menempatkan character $ diantara kedua inputnya e) NAND  ! ( in0 & in1 ) . /*gerbang not and*/ Penulisannya dengan cara menempatkan character & diantara kedua inputnya lalu diberi tanda kurung serta di depannya diletakkan character ! f) NOR  ! ( in0 # in1 ) . /*gerbang not*/ Penulisannya dengan cara menempatkan character ! sebelum inputnya d) XOR  in0 $ in1 . /*gerbang and*/ Penulisannya dengan cara menempatkan character & diantara kedua inputnya b) Or  in 0 # in1 . /*gerbang or*/ Penulisannya dengan cara menempatkan character # diantara kedua inputnya c) Not  ! in0 .

Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan dekalarasi terlebih dahulu sebelum kita memulai menulis program.Penulisannya dengan cara menempatkan character $ diantara kedua inputnya lalu diberi tanda kurung serta di depannya diletakkan character ! Namun demikian kita dapat mengubah character-character tersebut menggunakan kata-kata yang lebih familiar dengan kita. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pembacaan program yang telah kita buat.  Jika sebelumnya untuk menuliskan gerbang and dengan memberikan character & diantara kedua inputnya.  Jika sebelumnya untuk menuliskan gerbang or dengan memberikan character # diantara kedua inputnya. maka character tersebut dapat diganti dengan tulisan or (sesuai dengan kata-kata yang telah kita define di atas untuk mengganti character #) . $define negasi ! $ define and & $define or # $define xor $ Out 0 = in0 and in1. maka character tersebut dapat diganti dengan tulisan and (sesuai dengan kata-kata yang telah kita define di atas untuk mengganti character &) Out 0 = in0 or in1.

maka character tersebut dapat diganti dengan tulisan negasi (sesuai dengan kata-kata yang telah kita define di atas untuk mengganti character !) Out 0 = in0 xor in1.3]. Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui untuk mempermudah pendeklarasian nama pin dan field. maka character tersebut dapat diganti dengan tulisan xor (sesuai dengan kata-kata yang telah kita define di atas untuk mengganti character $) Setelah kita mengenal character-character yang kita gunakan untuk melakukan operasi logika. Pin 4 = in2. Pin 5 = in3. .. Hal diatas dapat diganti dengan menggabungkannya ke dalam sebuah kalimat perintah sebagai berikut : Pin [2.  Jika sebelumnya untuk menuliskan gerbang exclusive or dengan memberikan character $ diantara kedua inputnya.Out 0 = negasi in1.  Jika sebelumnya untuk menuliskan gerbang not dengan memberikan character ! si sebelum inputnya.. Pin 3 = in1.5] = [in0. Pada umumnya kita mendeklarasikan pin input sebagai berikut : Pin 2 = in0.

Pin 4 = out2..in1..5] = [in0. Hal ini berlaku juga untuk pendeklarasian field: .Pin [2.in1.. Pin [2.in2. Pin [2..in3].5] = [out0. Hal diatas dapat diganti dengan menggabungkannya ke dalam sebuah kalimat perintah sebagai berikut : Pin [2.out1. Ketiga pin diatas tidak mempunyai maksud yang berbeda. Pin 3 = out1.3].5] = [out0.Pada intinya ketiganya mempunyai maksud yang sama dengan pendeklarasian pin output secara umum di atas.in3] .5] = [in0.5] = [out0. Hal ini berlaku juga di pin Output: Pada umumnya kita mendeklarasikan pin output sebagai berikut : Pin 2 = out0..out3] ..out3]..out2.out1.Pada intinya ketiganya mempunyai maksud yang sama dengan pendeklarasian pin input secara umum di atas. Pin [2.. Pin 5 = out3. Ketiga pin diatas tidak mempunyai maksud yang berbeda.

Pada intinya ketiganya mempunyai maksud yang sama dengan pendeklarasian field secara umum di atas.Pada umumnya kita mendeklarasikan field sebagai berikut : Field input = [in0. b) Rangkaian Sekuensial Rangkaian Sekuensial adalah rangkaian yang outputnya tergantung output-output sebelumnya. walaupun dengan input yang sama. Counter. Jadi ketika kita menginput sesuatu maka outputnya akan sama sampai kapanpun selama yang kita input selalu sama. Kedua cara penulisan diatas tidak mempunyai maksud yang berbeda.3].in3] Hal diatas dapat diganti menjadi penulisan yang lebih simple menjadi : Field input = [in0. hal ini juga berlaku untuk pendeklarasian field output (dengan cara yang sama)..in1. 2. Field input = [in0..in1. Jadi ketika kita menginput sesuatu maka outputnya bisa saja berbeda. Shift Register .3].in2. Contohnya : rangkaian flip-flop.3 Rangkaian Sekuensial (Stepper) pada PLD Telah kita ketahui bahwa rangkaian digital terdiri dari dua buah yaitu : a) Rangkaian Kombinasional Rangkaian Kombinasional adalah rangkaian yang outputnya tidak tergantung outputoutput sebelumnya.

. Designer Engineer . /* */ */ [2... /* */ field count = [Q3.. /* . Company Atmel .Perlu diketahui juga bahwa PLD (Programmable Logic Device) tidak hanya dapat memprogram rangkaian kombinasional.3] /* *************** OUTPUT PINS *********************/ PIN [12. Dapat dilihat dicontoh program berikut ini: Name PartNo Date HalfStep . Telah diketahui bahwa pada percobaan di LAB CE pada pertemuan 6 bahwa penggunaan rangkaian sekuensial pada PLD dikonsentrasikan untuk menggerakkan motor stepper. $define S0 'b'0000 . Assembly None ..1] . Location Device .15] = [Q3. Revision 01 . 5/22/2008 . /* *************** INPUT PINS *********************/ PIN PIN 1 = CLK = [D0.0].0] . tetapi juga dapat memprogram rangkaian sekuensial. G16V8 . 00 .

if stop next S0. present S4 if go next S5.1]. present S5 if go next S6. .. /*Stop*/ sequenced count { present S0 if go next S1.$define S1 'b'0001 $define S2 'b'0011 $define S3 'b'0010 $define S4 'b'0110 $define S5 'b'0100 $define S6 'b'1100 $define S7 'b'1000 $define S8 'b'1001 field mode = [D0. if back next S8. go = mode :1 . present S2 if go next S3.3] . if stop next S2. if back next S4. /*Counter CLockWise*/ stop = mode : [0. if back next S1. present S3 if go next S4. /*Clockwise*/ back = mode :2 . if back next S8. if stop next S3. if back next S3. if back next S2. if stop next S4. present S1 if go next S2. if stop next S1.

present S6 if go next S7. Contoh : Ketika output berada pada kondisi State S1 (0001) maka jika input pin 3 dan pin 2 menunjukkan mode go (01) maka jika clock berikutnya diberikan akan meloncat ke State S2. } Dapat dilihat bahwa program diatas bertujuan untuk menggerakkan motor stepper secara half step dengan arah yang dapat diatur sesuai input user pada pin 2 maupun pin 3 (Clockwise . if back next S5.if stop next S5. Atau jika mode stop (00 atau 11) yang menjadi input di pin 3 dan pin 2 maka jika clock berikutnya diberikan maka akan tetap berada pada state S1. . Tetapi jika mode back (10) yang menjadi input di pin 3 dan pin 2 maka jika clock berikutnya diberikan maka akan meloncat ke State S8. if stop next S7. Pada awalnya PLD akan mencheck kondisi mana yang terpenuhi di outputnya kemudian melihat kondisi di pin input (kondisi mana yang ingin dipenuhi oleh user) untuk clock selanjutnya. present S7 if go next S8. if back next S6. present S8 if go next S1. if stop next S6. Counter Clockwise. Stop). if back next S7. if stop next S8.

kaki cathode dari setiap LED perlu dihubungkan dengan Ground. Seven Segment dibedakan menjadi dua yaitu : a) Common Anode Common Anode adalah jenis seven segment yang menggabungkan seluruh kaki anode dari LED dan menghubungkannya ke satu pin yang akan diberi dengan Vcc. 2.4 Seven Segment Seven Segment merupakan device yang berfungsi untuk menampilkan bilangan decimal dimana bilangan tersebut dinyatakan oleh segment (LED) yang akan menyala untuk menampilkan bilangan decimal tersebut.Logika-logika seperti inilah yang nantinya akan diterapkan pada coding pada Jam Alarm Digital. . Sehingga untuk menyalakan satubuah segment.

Dapat kita lihat dari gambar di atas bahwa untuk menyalakan setiap segment dari LED tersebut pin2 Anode tersebut yang telah diberi nama huruf. harus diberikan logic 1 (Vcc) sehingga segment tersebut dapat menyala karena terjadi perbedaan tegangan di kaki cathode dan anode.Dapat kita lihat dari gambar di atas bahwa untuk menyalakan setiap segment dari LED tersebut pin2 cathode tersebut yang telah diberi nama huruf. b) Common Cathode Common Cathode adalah jenis seven segment yang menggabungkan seluruh kaki Cathode dari LED dan menghubungkannya ke satu pin yang akan diberi dengan Ground. kaki anode mempunyai tegangan lebih tinggi dari cathode. . kaki anode mempunyai tegangan lebih tinggi dari cathoode.harus diberikan logic 0 (ground) sehingga segment tersebut dapat menyala karena terjadi perbedaan tegangan di kaki cathode dan anode. Sehingga untuk menyalakan satu buah segment kaki Anode dari setiap LED perlu dihubungkan dengan Vcc (5V).

IC ini digunakan untuk membuat tundaan waktu atau osilasi (Osilator) yang cukup akurat dari mikro detik sampai beberapa menit.2. Pada rangkaian ini pengunaan clock amatlah penting. Yang biasanya diberikan kepada suatu rangkaian. didalamnya digabungkan sebuah osilator relaksasi.5 Timer dan Multivibrator Pada saat ini sudah banyak rangkaian digital yang menggunakan clock. dua pembanding (comparator). Salah satu rangkaian terpadu (IC) yang paling banyak digunakan sebagai timer adalah IC tipe 555. Terutama dalam penggunaan rangakaian synchronous. Clock biasanya terdiri dari logic-logic high dan low. flip-flop RS dan transistor . Pada IC Timer 555. Agar rangkaian tersebut dapat bekerja. IC LM 555 Rangkaian timer (pewaktu) adalah rangkaian yang menghasilkan perubahan keadaan output sesudah selang waktu yang ditentukan. Clock dapat dihasilkan dari berbagai cara mulai dari penggunaan gerbang-gerbang logika sampai dengan penggunaan IC contohnya LM555.

Pin 3 Pin 4  Pin Output  Pin Reset yang berfungsi untuk mereset rangkaian Flip-Flop yang terdapat di dalam LM 555. . biasanya digunakan untuk mengontrol tegangan agar lebih stabil dengan dihubungkan ke kapasitor. Pin 5  Pin Control Voltage. diperlukan untuk rangkaian monostable dan bistable pada LM 555. Pin 6  Pin Threshold merupakan pin tempat masuknya tegangan kapasitor yang digunakan untuk konfigurasi rangkaian astbale . Pin 7 Pin Discharge merupakan pin tempat masuknya arus discharging dari kapasitor ke ground yang melalui transistor yang terdapat di dalam LM 555. Biasanya dilambangkan dengan huruf T dan dalam satuan second (detik). Berikut adalah contoh gambar output dari sebuah clock : Penggunaan clock tidak lepas juga dari hal-hal yang perlu kita ketahui yaitu : a) Periode Periode adalah waktu yang diperlukan suatu signal untuk mendapatkan 1 cycle signalnya. monosatble dan bistable.Konfigurasi Pin dari LM 555 : Pin 1 Pin 2  Pin Ground  Pin untuk eksternal trigger. Pin 8  Pin Vcc merupakan pin input daya untuk LM554 agar bekerja.

Contoh alat-alat yang menggunakan konsep PWM adalah penggunaan lampu yang dapat diatur terangnya. Multivibrator adalah suatu rangkaian yang terdiri dari dua buah piranti aktif . duty cycle sangat berguna dalam merancang alat-alat yang menggunakan konsep PWM (Pulse Width Modulation). Rumus Duty Cycle Duty Cycle = Rangkaian pembangkit signal clock sering disebut multivibrator. namun lampu yang mengunakan konsep PWM dapat membuat derajat terangnya diantara terang total dan mati. tidak seperti lampu yang biasa dimana hanya dapat menyala dan mati. c) Duty Cycle Duty Cycle adalah perbandingan lama waktu suatu signal berada dalam kondisi high dengan lama waktu suatu signal tersebut dalam kondisi (high+low). Biasanya dilambangkan dengan huruf f dan dalam satuan Hertz (Hz).b) Frekuensi Frekuensi adalah banyaknya cycle yang dapat dibentuk oleh suatu signal dalam 1 detik.

sedangkan piranti yang lain dipaksa melakukan penghantaran. Dalam hal ini tidak diperlukan sinyal trigger luar untuk menghasilkan perubahan keadaan. Penggunaan konfigurasi astable dengan timer 555 . Umpan balik positif yang dihasilkan menyebabkan piranti yang satu harus di cut off. Karena sifat osilasi diantara dua keadaan ini. Berikut adalah contoh-contoh rangkaian multivibrator : a) Astable Astable adalah rangkaian pembangkit signal yang outputnya tidak stabil di dua state (high dan lownya) dan terus beroscilasi dari satu state ke state lainnya. monostable dan astable.dengan keluaran yang saling berhubungan dengan masukan yang lain. Multivibrator dikelompokkan kedalam bistable. rangkaian astabil digunakan untuk menghasilkan gelombang segi empat.

Ini membuat Op-Amp atas kaki input . karena tegangan kaki + lebih besar dari kaki – maka Op-Amp mengeluarkan logic 1.Cara kerja dari konfigurasi Astable pada LM 555  Tegangan kapasitor pada awalnya masih berlogic 0 . dan ketika tegangan kapasitor mencapai titik tegangan sedikit diatas 1/3 Vcc. Kemudian Op-Amp bawah kaki input – mendapatkan tegangan 0 V. Kedua hal tersebut diatas membuat pin S mendapatkan logic 0 dan pin R mendapatkan logic 1 sehingga RS Flip-Flop akan membuat Q berlogic 0 (membuat transistor tidak aktif dan kapasitor tidak bisa discharging) dan Q’ (Output) berlogic 1. karena tegangan kaki – lebih besar dari kaki + maka op-amp atas akan mengeluarkan logic 0. dan kaki + mendapatkan tegangan 1/3 Vcc. Sehingga Op-Amp atas kaki input – mendapatkan tegangan 2/3 Vcc sedangkan kaki + mendapatkan tegangan 0V.  Kemudian karena kapasitor yang terus charging.

Kemudian Op-Amp bawah kaki input – mendapatkan tegangan sedikit diatas 1/3Vcc. karena tegangan kaki – lebih besar dari kaki + maka op-amp atas akan mengeluarkan logic 0. Kedua hal tersebut diatas membuat pin S mendapatkan logic 1 dan pin R mendapatkan logic 0 sehingga RS Flip-Flop akan membuat kondisi Q berlogic 1 (membuat transistor aktif dan kapasitor bisa discharging) dan Q’ (Output) berlogic 0. karena tegangan kaki – lebih kecil dari kaki + maka op-amp atas akan mengeluarkan logic 1.  Kemudian kapasitor akan terus charging sampai tegangan kapasitor mencapai titik tegangan sedikit di atas 2/3 Vcc. . Ini membuat Op-Amp atas kaki input – mendapatkan tegangan 2/3 Vcc sedangkan kaki + mendapatkan tegangan sedikit diatas 2/3Vcc. dan kaki + mendapatkan tegangan 1/3 Vcc. dan kaki + mendapatkan tegangan 1/3 Vcc.– mendapatkan tegangan 2/3 Vcc sedangkan kaki + mendapatkan tegangan sedikit diatas 1/3Vcc. Kedua hal tersebut diatas membuat pin S mendapatkan logic 0 dan pin R mendapatkan logic 0 sehingga RS Flip-Flop akan membuat kondisi hold dan output sebelumnya yaitu Q berlogic 0 (membuat transistor tidak aktif dan kapasitor tidak bisa discharging) dan Q’ (Output) berlogic 1 akan dipertahankan. Kemudian Op-Amp bawah kaki input – mendapatkan tegangan sedikit diatas 2/3Vcc. karena tegangan kaki + lebih kecil dari kaki – maka Op-Amp mengeluarkan logic 0. karena tegangan kaki + lebih kecil dari kaki – maka Op-Amp mengeluarkan logic 0.

Kemudian Op-Amp bawah kaki input – mendapatkan tegangan sedikit dibawah 2/3Vcc.  Kemudian karena kapasitor terus dapat discharging maka tegangan kapasitor akan turun ketika tegangan kapasitor sedikit dibawah 1/3 Vcc. dan kaki + mendapatkan tegangan 1/3 Vcc. Kedua hal tersebut diatas membuat pin S mendapatkan logic 0 dan pin R mendapatkan logic 0 sehingga RS Flip-Flop akan membuat kondisi hold dimana output sebelumnya Q berlogic 1 (membuat transistor aktif dan kapasitor bisa discharging) dan Q’ (Output) berlogic 0 akan terus dipertahankan. Kedua hal tersebut diatas membuat pin S mendapatkan logic 0 dan pin R mendapatkan logic 1 sehingga RS Flip-Flop akan membuat kondisi Q berlogic 0 (membuat transistor tidak aktif dan kapasitor tidak bisa discharging) dan Q’ (Output) . karena tegangan kaki – lebih besar dari kaki + maka op-amp atas akan mengeluarkan logic 0. karena tegangan kaki + lebih besar dari kaki – maka Op-Amp mengeluarkan logic 1. dan kaki + mendapatkan tegangan 1/3 Vcc. Kemudian karena kapasitor terus dapat discharging maka tegangan kapasitor akan turun ketika tegangan kapasitor sedikit dibawa 2/3 Vcc. karena tegangan kaki – lebih besar dari kaki + maka op-amp atas akan mengeluarkan logic 0. Ini membuat Op-Amp atas kaki input – mendapatkan tegangan 2/3 Vcc sedangkan kaki + mendapatkan tegangan sedikit dibawah 2/3Vcc. karena tegangan kaki + lebih kecil dari kaki – maka Op-Amp mengeluarkan logic 0. Kemudian Op-Amp bawah kaki input – mendapatkan tegangan sedikit dibawah 1/3Vcc. Ini membuat Op-Amp atas kaki input – mendapatkan tegangan 2/3 Vcc sedangkan kaki + mendapatkan tegangan sedikit dibawah 1/3Vcc.

Kondisi tersebut diatas akan membuat kapasitor charging kembali dan mengulang kondisi dimana tegangan kapsitor sedikit diatas 1/3 Vcc dan seterusnya.duty cycle dari operasi astable ini dapat dihitung dengan rumus : .C tL = 0.berlogic 1. B) Resistor B akan mempengaruhi kecepatan discharging dari kapasitor. Hal penting yang perlu diketahui dalam konfigurasi Astable LM 555 adalah A) Resistor A dan B akan mempengaruhi kecepatan charging dari kapsitor. Dan dapat dihitung melalui rumus-rumus berikut ini : tH = 0.693 ( RA + 2RB ) C f= Dengan demikian. C) Besarnya Capasitor ( C ) juga akan mempengaruhi cepat atau lambatnya proses charging dan discharging.693 (RB).C Periode dan frekuensi T = tH+tL = 0.693 (RA+RB).

D= Siklus periode dari gelombang keluaran (pin 3) dapat digambarkan sebagai berikut: Keterangan : t tL tH : berlangsungnya periode : berlangsungnya periode saat sinyal “0” (low) : berlangsungnya periode saat sinyal “1” (high) b) Monostable Monostable adalah rangkaian pembagkit signal yang outputnya stabil di satu state saja dengan kata lain menghasilkan satu pulsa dengan selang waktu tertentu dalam menanggapi suatu sinyal trigger dari luar. Aplikasi yang banyak . namun setelah itu akan langsung berpindah state ke posisi stabil lagi. Sedangkan state yang lainnya tidak stabil. Ini berarti bahwa hanya satu saja keadaan stabil. Rangkaian monostable output statenya akan tidak stabil di suatu periode waktu tertentu (yang dapat ditentukan lewat rumus monostable) ketika mendapatkan trigger external. Karena itu rangkaian monostable banyak sekali dikenal dengan nama one shot circuit.

digunakan pada rangkaian monostable adalah penggunaan untuk mencegah bouncing pada saklar. Cara kerja dari konfigurasi Monostable pada LM 555 .

Setelah periode waktu tertentu karena trigger telah kembali ke posisi Vcc maka ini membuat kondiosi kaki – op-amp bawah lebih besar dari kaki + nya membuat op-amp bawah . Inilah yang dinamakan one shot. sedangkan kaki + mempunyai tegangan 1/3 Vcc karena kaki – mempunyai tegangan lebih besar dari kaki + maka Op-Amp bawah mengeluarkan logic 0. Hal ini akan terus berulang sampai mendapatkan trigger.  Step 1: Lalu ketika trigger diberikan artinya terhubung ke ground sesaat. Maka kaki - dari Op-Amp bawah akan berlogic 0 sesaat sehingga membuat kaki – mendapatkan tegangan yang lebih rendah dari kaki + yaitu 1/3 Vcc sehingga ini membuat Op-Amp bawah mengeluarkan logic 1. Untuk Op-Amp bawah ketika trigger dibiarkan dalam posisi high maka kaki – mempunyai tegangan sebesar Vcc. Karena kondisi Op-AMP atas output tidak berubah artinya mengeluarkan logic 0. sehingga output nya berubah menjadi Q berlogic 0 (membuat transistor tidak aktif dan kapasitor tidak dapat discharging melainkan kapasitor akan charging) dan Q’ berlogic 1. maka Rs Flip-Flop akan mendapat kondisi logic S bernilai 0 dan R berlogic 1. Step 0 : Pada awalnya tegangan kapasitor 0V sehingga membuat op-amp atas mempunyai kaki – bertegangan 2/3 Vcc dan kaki + bertegangan 0 V karena kaki – mempunyai tegangan lebih tinggi dari kaki + maka Op-Amp atas akan mengeluarkan logic 0. Sehingga RS Flip-Flop mempunyai input S berlogic 0 dan R berlogic 0. Ini akan membuat kondisi hold sehingga membuat output sebelumnya tertahan (jika dimisalkan output sebelumnya Q bernilai 1 dan Q’ bernilai 0) maka output sekarang Q berlogic 1 (membuat transistor aktif dan kapasitor dapat discharging) dan Q’ berlogic 0.

Sehingga RS Flip-Flop mempunyai input S berlogic 1 dan R berlogic 0. Ini akan membuat output sekarang Q berlogic 1 (membuat transistor aktif dan kapasitor discharging) dan Q’ berlogic 0 (kondisi ini akan stabil). Dan opamp bawah juga mengeluarkan logic 0.  Step 3 : Hal tersebut diatas akan membuat kapasitor discharging terus sehingga tegangan kapasitor 0 V dan membuat op-amp atas mengeluarkan logic 0. sedangkan kaki + mempunyai tegangan 1/3 Vcc karena kaki – mempunyai tegangan lebih besar dari kaki + maka Op-Amp bawah mengeluarkan logic 0. Pada saat kondisi inilah bouncing dapat dihilangkan (salah satu keunggulan dari Monostable)  Step 2: Ketika kapasitor charging terus dan mencapai tegangan sedikit diatas 2/3 Vcc (lamanya tergantung dari resistor Ra dan Kapasitor) sehingga membuat op-amp atas mempunyai kaki – bertegangan 2/3 Vcc dan kaki + bertegangan sedikit diatas 2/3 Vcc karena kaki – mempunyai tegangan lebih rendah dari kaki + maka Op-Amp atas akan mengeluarkan logic 1.mengeluarkan logic 0 sehingga ini dapat membuat RS Flip-Flop mengeluarkan kondisi hold (menahan output sebelumnya )karena input S berlogic 0 dan R berlogic 0. karena kaki – mempunyai tegangan Vcc dan kaki + hanya mempunyai 1/3 Vcc. Untuk Op-Amp bawah ketika trigger dibiarkan dalam posisi high maka kaki – mempunyai tegangan sebesar Vcc. Hal ini akan tetap sampai trigger kemabali diberikan. . Sehingga ini Output dari RS FF akan hold dan mengeluarkan output sebelumnya yaitu akan tetap yaitu Q berlogic 1 dan Q’ berlogic 0.

Dan dapat dihitung melaui rumus berikut : tH = 1. Hal yang perlu diketahui dalam konfigurasi monostable. Untuk step selanjutnya.1 RA.C c) Bistable . Logic perubahan (One Shot) akan ditahan berdasarkan waktu yang tergantung oleh konfigurasi Ra dan C. cara kerja akan terus berulang dimulai dari urutan step 1 (ketika trigger diberikan akan lanjut ke step 1 jika tidak diberikan akan terus berulang di step 3)  2  3  lalu kembali lagi ke step 1.

Penerapan sinyal dari luar akan menyebabkan perubahan keadaan.Bistable adalah rangkaian pembangkit signal yang outputnya stabil di kedua statenya (high maupun low). . Jadi rangkaian bistable memerlukan dua sinyal sebelum kembali kekeadaan awal. Rangkaian multivibrator bistable memiliki ciri-ciri. dan tingkat keluaran ini akan tetap sampai ada sinyal dari luar berikutnya. bahwa rangkaian ini tetap berada pada tingkatan (level) keluaran yang diberikan apabila tidak dikenakan sinyal (trigger) dari luar.

BAB III PERANCANGAN SISTEM TUGAS RANCANG SISTEM DIGITAL SEMESTER GENAP 2007 /2008 BINUS UNIVERSITY .

untuk jam satuan ini agak sedikit berbeda dengan sebelumnya. Dengan interval waktu masing-masing 1 detik. Ketika kembali lagi ke angka 0 maka GAL 16V8 (menit puluhan) ini akan memberikan clock untuk menggerakkan state dari GAL 16V8 ( jam satuan). Karena kita tahu sebelumnya bahwa jam satuan dapat bergerak dari angka 9 ke 0 ( jam 00 sampai dengan jam 19) atau dari 4 ke 0 (ketika jam 23 ke jam 00) sehingga ini diperlukan hubungan antara GAL 16V8 (jam satuan) dan GAL 16V8 (jam puluhan) agar terjadi . Kemudian setalah kembali ke angka 0 lagi maka GAL 16V8 (puluhan detik) akan mengeluarkan flag (clock) berikutnya untuk menggerakkan state dari GAL 16V8 (satuan menit) sehingga dapat membuat tampilan dari digit seven segment menit satuan pun ikut bergerak dan mengcounter angka mulai dari 0 sampai dengan 9. dimulai dari GAL 16V8 (satuan detik) yang mendapatkan clock 1 Hz. Ketika digit detik satuan telah menunjukkan state yang menunjukkan angka 0. Maka GAL 16V8 (satuan detik) ini akan mengeluarkan flag (clock) berikutnya untuk menggerakkan state dari GAL 16V8 (puluhan detik) dan membuat sevensegment mengcounter angka mulai dari 0 sampai 5.BAB 3 PERANCANGAN SISTEM 3. Setelah itu clock tersebut akan menggerakkan digit detik satuan untuk melakukan perpindahan state mulai dari menampilkan angka 0 sampai dengan 9.Dan ketika sampai dengan angka 0 maka GAL 16V8 (satuan menit) ini akan memberikan clock untuk menggerakkan state dari Gal 16V8( menit puluhan ) dari angka 0 sampai angka 5.1 Gambaran Sistem Secara Umum Clock 1 Hz diberikan pada GAL 16V8 yang digunakan untuk memberikan tampilan angka pada 7 segment.

jam satuan. Cara ini cukup efektif untuk mencegah permasalahan bouncing pada saklar. menit puluhan dan menit satuan. Untuk alarm sendiri kami penulis menggunakan 6 buah switch ( 2 buah untuk digit jam puluhan dan 4 buah untuk digit jam satuan ) yang akan dibentuk secara biner untuk dibandingkan dengan jam puluhan dan jam satuan yang tertera pada seven segment jika keduanya sama dengan inputan user dari switch maka buzzer akan berbunyi.sinkronisasi yang tepat dalam memberikan clock satu sama lainnya (akan dijelaskan di cara kerja). Untuk masalah pen-settingan waktu. kami penulis menggunakan sistem dari rangkaian timer monostable. Kami penulis menyediakan 4 buah tombol untuk mensetting digit waktu dari jam puluhan. Untuk mematikan alarm penulis juga menyediakan saklar On-Off. .

3.2 Blok Diagram .

3.3 Skematik Rangkaian .

/* *************** INPUT PINS *********************/ PIN 1 = CLK .3. G16V8 . /* */ /* *************** OUTPUT PINS *********************/ PIN [13. Designer Engineer . Revision 01 . $define S0 'b'0001000 $define S1 'b'0111110 $define S2 'b'0010001 $define S3 'b'0010100 $define S4 'b'0100110 $define S5 'b'1000100 $define S6 'b'1000000 $define S7 'b'0011110 . Location Device . field count = [Q0.. 00 .6] PIN 12 = Q7. Assembly None .. .6].. 3/26/2008 .19] = [Q0. Company Atmel .4 Cara Kerja Rangkaian dan Coding Coding Detik Satuan dan Menit Satuan (GAL 16V8) Name PartNo Date detsat.

} Cara kerja : 1) Penulis menggunakan nama file detsat 2) Device yang penulis pakai untuk Codingan ini merupakan G16V8 (Gal 16V8) 3) Pin 1 = Clk menunjukkan deklarasi pin input clock yang akan digunakan. present S3 next S4. present S6 next S7. present S5 next S6. artinya pin 13 memiliki nama Q0.19] = [Q0. dengan nama clk 4) Pin [13. . dst. present S2 next S3.$define S8 'b'0000000 $define S9 'b'0000100 sequenced count { present S0 next S1. sampai dengan pin 19 memiliki nama Q6. present S7 next S8. present S4 next S5. present S8 next S9. dan pin 12 memiliki nama Q7. present S1 next S2..6] serta Pin 12 = Q7 menunjukkan deklarasi pin output yang akan digunakan. present S9 next S0 out Q7. pin 14 memiliki nama Q1. Nama-nama tersebut akan digunakan pada coding selanjutnya untuk mewakili setiap pin..

5) Field count = [Q0..6] merupakan syntax yang digunakan untuk mengabungkan beberapa pin-pin menjadi satu nama field gabungan. Pada kondisi ini penulis menggunakan nama count. 6) $define S0 'b'0001000 merupakan define untuk menunjukan data angka nol pada seven segment. $define S1 'b'0111110 merupakan define untuk menunjukan data angka satu pada seven segment. $define S2 'b'0010001 merupakan define untuk menunjukan data angka dua pada seven segment. $define S3 'b'0010100 merupakan define untuk menunjukan data angka tiga pada seven segment. $define S4 'b'0100110 merupakan define untuk menunjukan data angka empat pada seven segment. $define S5 'b'1000100 merupakan define untuk menunjukan data angka lima pada seven segment. $define S6 'b'1000000 merupakan define untuk menunjukan data angka enam pada seven segment. $define S7 'b'0011110 merupakan define untuk menunjukan data angka tujuh pada seven segment. $define S8 'b'0000000 merupakan define untuk menunjukan data angka delapan pada seven segment. $define S9 'b'0000100 merupakan define untuk menunjukan data angka sembilan pada seven segment.

7) sequenced count {

present S0 next S1; present S1 next S2; present S2 next S3; present S3 next S4; present S4 next S5; present S5 next S6; present S6 next S7; present S7 next S8; present S8 next S9; present S9 next S0 out Q7;
}

Sequenced Count digunakan untuk mendeklarasi alur program sekuensial dari program yang kita buat. Clock 1  Maka state akan loncat ke S8 (default GAL ) dan menunjukkan angka 8. Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S9. Clock 2  Maka state akan loncat ke S9 dan menunjukkan angka 9. Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S0. Clock 3  Maka state akan loncat ke S0 dan menunjukkan angka 0 serta mengeluarkan bit 1 pada Q7. Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S1.

Clock 4  Maka state akan loncat ke S1 dan menunjukkan angka 1. Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S2. Clock 5  Maka state akan loncat ke S2 dan menunjukkan angka 2. Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S3. Clock 6  Maka state akan loncat ke S3 dan menunjukkan angka 3. Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S4. Clock 7  Maka state akan loncat ke S4 dan menunjukkan angka 4. Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S5. Clock 8  Maka state akan loncat ke S5 dan menunjukkan angka 5. Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S6. Clock 9  Maka state akan loncat ke S6 dan menunjukkan angka 6. Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S7. Clock 10  Maka state akan loncat ke S7 dan menunjukkan angka 7. Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S8. Clock 11  Maka state akan loncat ke S8 dan menunjukkan angka 8. Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S9. Untuk Clock selanjutnya akan berurut kembali ke clock 2, 3 ,4 ,5 dst...

Detik Puluhan dan Menit Puluhan (GAL 16V8)
Name PartNo Date detpul ; 00 ; 3/27/2008 ;

Revision 01 ; Designer Engineer ;

. Assembly None . G16V8 . . } . present S4 next S5. field count = [Q0. present S1 next S2. present S2 next S3. present S3 next S4. /* */ /* *************** OUTPUT PINS *********************/ PIN [13. present S5 next S0 out Q7. present S0 next S1.. /* *************** INPUT PINS *********************/ PIN 1 = CLK .6].6] PIN 12 = Q7.Company Atmel . Location Device .19] = [Q0.. $define S0 'b'0001000 $define S1 'b'0111110 $define S2 'b'0010001 $define S3 'b'0010100 $define S4 'b'0100110 $define S5 'b'1000100 $define S6 'b'0000000 sequenced count { present S6 next S0 out Q7.

Pada kondisi ini penulis menggunakan nama count. artinya pin 13 memiliki nama Q0.Cara kerja : 1) Penulis menggunakan nama file detpul 2) Device yang penulis pakai untuk Codingan ini merupakan G16V8 (Gal 16V8) 3) Pin 1 = Clk menunjukkan deklarasi pin input clock yang akan digunakan. Nama-nama tersebut akan digunakan pada coding selanjutnya untuk mewakili setiap pin. .6] merupakan syntax yang digunakan untuk mengabungkan beberapa pin-pin menjadi satu nama field gabungan.19] = [Q0. $define S1 'b'0111110 merupakan define untuk menunjukan data angka satu pada seven segment. $define S2 'b'0010001 merupakan define untuk menunjukan data angka dua pada seven segment. dan pin 12 memiliki nama Q7. $define S4 'b'0100110 merupakan define untuk menunjukan data angka empat pada seven segment. pin 14 memiliki nama Q1. dengan nama clk 4) Pin [13.. sampai dengan pin 19 memiliki nama Q6. 6) $define S0 'b'0001000 merupakan define untuk menunjukan data angka nol pada seven segment. 5) Field count = [Q0...6] serta Pin 12 = Q7 menunjukkan deklarasi pin output yang akan digunakan. $define S3 'b'0010100 merupakan define untuk menunjukan data angka tiga pada seven segment. dst.

$define S6 'b'0000000 merupakan define untuk menunjukan data angka delapan pada seven segment State ini hanya akan berlaku pada awal melakukan pensettingan. Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S0. present S1 next S2. present S2 next S3. present S0 next S1. present S5 next S0 out Q7. present S4 next S5. present S3 next S4. 7) sequenced count { present S6 next S0 out Q7. Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S1. } Sequenced Count digunakan untuk mendeklarasi alur program sekuensial dari program yang kita buat. Clock 1  Maka state akan loncat ke S6 (default GAL) dan menunjukkan angka 8. Clock 3  Maka state akan loncat ke S1 dan menunjukkan angka 1. Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S2. Clock 2  Maka state akan loncat ke S0 dan menunjukkan angka 0 serta mengeluarkan bit 1 pada Q7. .$define S5 'b'1000100 merupakan define untuk menunjukan data angka lima pada seven segment.

4 .5 dst. /* */ . Location Device . G16v8 .. Clock 8  Maka state akan loncat ke S0 dan menunjukkan angka 0 serta mengeluarkan bit 1 pada Q7. Assembly None . Untuk Clock selanjutnya akan berurut kembali ke clock 3 . Clock 5  Maka state akan loncat ke S3 dan menunjukkan angka 3. 3/27/2008 . Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S4.. Clock 6  Maka state akan loncat ke S4 dan menunjukkan angka 4. Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S1. /* *************** INPUT PINS *********************/ PIN 1 = CLK . Company Atmel . Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S5. Revision 01 . Designer Engineer . 00 . Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S3. Clock 7  Maka state akan loncat ke S5 dan menunjukkan angka 5.Clock 4  Maka state akan loncat ke S2 dan menunjukkan angka 2. Jam Satuan (GAL 16V8) Name PartNo Date jamsat . Dan next clock selanjutnya akan loncat ke S0.

PIN 2 = RST . if stop next S3. if stop next S1. $define S0 'b'0001000 $define S1 'b'0111110 $define S2 'b'0010001 $define S3 'b'0010100 $define S4 'b'0100110 $define S5 'b'1000100 $define S6 'b'1000000 $define S7 'b'0011110 $define S8 'b'0000000 $define S9 'b'0000100 field mode = RST. stop = mode:0. . present S2 if go next S3.... present S3 if go next S4. present S1 if go next S2. /* *************** OUTPUT PINS *********************/ PIN [13. . go = mode:1.19] = [Q0.6].6] PIN 12 = Q7. field count = [Q0. sequenced count { present S0 if go next S1. if stop next S2.

if stop next S0 out Q7. Pada kondisi ini penulis menggunakan nama count.. dst.. present S9 if go next S0 out Q7. if stop next S0 out Q7.. Pin 2 =RST menunjukkan deklarasi pin 1 sebagai input clock yang akan digunakan dengan nama clk. 5) Field count = [Q0. artinya pin 13 memiliki nama Q0. present S5 if go next S6. } Cara kerja : 1) Penulis menggunakan nama file jamsat 2) Device yang penulis pakai untuk Codingan ini merupakan G16V8 (Gal 16V8) 3) Pin 1 = Clk. Nama-nama tersebut akan digunakan pada coding selanjutnya untuk mewakili setiap pin. present S4 if go next S5.19] = [Q0.6] serta Pin 12 = Q7 menunjukkan deklarasi pin output yang akan digunakan. pin 14 memiliki nama Q1.6] merupakan syntax yang digunakan untuk mengabungkan beberapa pin-pin menjadi satu nama field gabungan. dan pin 2 sebagai input dengan nama RST 4) Pin [13. if stop next S9. present S8 if go next S9 . . present S7 if go next S8. dan pin 12 memiliki nama Q7. sampai dengan pin 19 memiliki nama Q6. present S6 if go next S7.

$define S8 'b'0000000 merupakan define untuk menunjukan data angka delapan pada seven segment. $define S4 'b'0100110 merupakan define untuk menunjukan data angka empat pada seven segment. $define S3 'b'0010100 merupakan define untuk menunjukan data angka tiga pada seven segment. 7) Field mode = RST menunjukkan RST digabungkan menjadi satu field bernama mode .6) $define S0 'b'0001000 merupakan define untuk menunjukan data angka nol pada seven segment $define S1 'b'0111110 merupakan define untuk menunjukan data angka satu pada seven segment. $define S6 'b'1000000 merupakan define untuk menunjukan data angka enam pada seven segment. $define S5 'b'1000100 merupakan define untuk menunjukan data angka lima pada seven segment. $define S7 'b'0011110 merupakan define untuk menunjukan data angka tujuh pada seven segment. $define S9 'b'0000100 merupakan define untuk menunjukan data angka sembilan pada seven segment. $define S2 'b'0010001 merupakan define untuk menunjukan data angka dua pada seven segment.

if stop next S3. if stop next S2. present S2 if go next S3. . present S5 if go next S6.8) Go = mode : 1 menunjukkan jika di pin RST menunjukkan logik 1 maka kondisi go yang dipenuhi sedangkan untuk stop = mode:0 menunjukkan jika di pin RST menunjukkan logic 0 maka kondisi stop yang dipenuhi 9) sequenced count { present S0 if go next S1. present S3 if go next S4. if stop next S0 out Q7. present S1 if go next S2. present S6 if go next S7. present S8 if go next S9 . present S4 if go next S5. if stop next S1. present S7 if go next S8.

Dan next clock selanjutnya untuk kondisi go akan loncat ke S5.Untuk kondisi stop . Clock 6  Maka state akan loncat ke S3 dan menunjukkan angka 3. Dan next clock selanjutnya baik untuk kondisi go maupun stop akan loncat ke S2. Clock 1  Maka state akan loncat ke S8 (default GAL ) dan menunjukkan angka 8. if stop next S0 out Q7. Clock 2  Maka state akan loncat ke S9 dan menunjukkan angka 9. Dan next clock selanjutnya baik untuk kondisi go maupun stop akan loncat ke S0. Dan next clock selanjutnya baik untuk kondisi go maupun stop akan loncat ke S3. Clock 5  Maka state akan loncat ke S2 dan menunjukkan angka 2. Dan next clock selanjutnya baik untuk kondisi go maupun stop akan loncat ke S9. Dan next clock selanjutnya baik untuk kondisi go maupun stop akan loncat ke S1. present S9 if go next S0 out Q7. Clock 4  Maka state akan loncat ke S1 dan menunjukkan angka 1. Clock 3  Maka state akan loncat ke S0 dan menunjukkan angka 0 serta mengeluarkan bit 1 pada Q7.if stop next S9. untuk kondisi stop akan loncat ke S0. Clock 7a (Go)  Maka state akan loncat ke S4 dan menunjukkan angka 4. } Sequenced Count digunakan untuk mendeklarasi alur program sekuensial dari program yang kita buat. Dan next clock selanjutnya untuk kondisi go akan loncat ke S4.

. Dan next clock selanjutnya baik untuk kondisi go maupun stop akan loncat ke S9. Clock 8  Maka state akan loncat ke S5 dan menunjukkan angka 5.pada sistem Jam Alarm digital tidak mungkin terjadi sehingga pada langkah ini tidak perlu didefine. Revision 01 . Clock 10  Maka state akan loncat ke S7 dan menunjukkan angka 7. Dan next clock selanjutnya untuk kondisi go akan loncat ke S8. Clock 7b (stop)  Maka akan ke kondisi clock 3 dan seterusnya. Untuk Clock selanjutnya akan berurut kembali ke clock 2. 00 ..Untuk kondisi stop pada sistem Jam Alarm digital tidak mungkin terjadi sehingga pada langkah ini tidak perlu didefine.Untuk kondisi stop pada sistem Jam Alarm digital tidak mungkin terjadi sehingga pada langkah ini tidak perlu didefine. . Jam Puluhan (GAL 16V8) Name PartNo Date jampul . 3 . 5/20/2008 .Untuk kondisi stop pada sistem Jam Alarm digital tidak mungkin terjadi sehingga pada langkah ini tidak perlu didefine. Dan next clock selanjutnya untuk kondisi go akan loncat ke S7.4 . Dan next clock selanjutnya untuk kondisi go akan loncat ke S6.5 dst. Clock 11  Maka state akan loncat ke S8 dan menunjukkan angka 8. Clock 9  Maka state akan loncat ke S6 dan menunjukkan angka 6.

sequenced count { present S0 if go next S1 . go = mode : [1.7]. present S3 if go next S0 .. Assembly None . /* */ */ [2.6]..4.7]. if stop next S0. if stop next S1. present S1 if go next S2 ..2] .4] /* *************** OUTPUT PINS *********************/ PIN [12. $define S0 'b'00010001 $define S1 'b'01111101 $define S2 'b'00100010 $define S3 'b'00000000 field mode = [D0. /* .2]. G16V8 . present S2 if go next S0 . /* *************** INPUT PINS *********************/ PIN PIN 1 = CLK = [D0.. Company Atmel .Designer Engineer . Location Device . /* */ field count = [Q0.5. .3.19] = [Q0. if stop next S0..7] .. stop = mode : [0.2.

} Cara kerja : 1) Penulis menggunakan nama file jampul 2) Device yang penulis pakai untuk Codingan ini merupakan G16V8 (Gal 16V8) 3) Pin 1 = Clk.19] = [Q0.4] =[D0. Nama-nama tersebut akan digunakan pada coding selanjutnya untuk mewakili setiap pin. 5) Field count = [Q0.7] merupakan syntax yang digunakan untuk mengabungkan beberapa pin-pin menjadi satu nama field gabungan... artinya pin 12 memiliki nama Q0. sampai dengan pin 19 memiliki nama Q7.1] angka 0 pada seven segment dan flag pada bit terakhir pada Q0 berlogic 1 $define S1 'b'01111101 merupakan define untuk menunjukan data [Q7. dan pin 2 sebagai input dengan nama D0... 6) $define S0 'b'00010001 merupakan define untuk menunjukan data [Q7.. Pada kondisi ini penulis menggunakan nama count.. pin 13 memiliki nama Q1. dst.1] angka 1 pada seven segment dan flag pada bit terakhir pada Q0 berlogic 1 $define S2 'b'00100010 merupakan define untuk menunjukan data [Q7. 4) Pin [12.2] menunjukkan deklarasi pin 1 sebagai input clock yang akan digunakan dengan nama clk. pin 3 sebagai input dengan nama D1 dan pin 4 sebagai input dengan nama D2...7] menunjukkan deklarasi pin output yang akan digunakan.1] angka 2 pada seven segment dan flag pada bit terakhir pada Q0 berlogic 0 . Pin [2.if stop next S0.

if stop next S0.7] menunjukkan jika di pin [D0. present S2 if go next S0.2] menunjukkan pin [D0. if stop next S0. . present S1 if go next S2.. if stop next S1.6] menunjukkan jika di pin [D0...2.2] menunjukkan logik 001(1) atau 010(2) atau 111(7) maka kondisi go yang dipenuhi sedangkan untuk stop = mode: [0. } Sequenced Count digunakan untuk mendeklarasi alur program sekuensial dari program yang kita buat.3.4.$define S3 'b'00000000 merupakan define untuk menunjukan data angka delapan (default GAL yang harus didefine jika tidak akan hang) pada seven segment dan flag pada bit terakhir pada Q0 berlogic 0.5.2] digabungkan menjadi satu field bernama mode 8) Go = mode : [1. 7) Field mode = [D0. if stop next S0. present S3 if go next S0.2] menunjukkan logic 000 (0) atau 011 (3) atau 100(4) atau 101(5) atau 110(6) maka kondisi stop yang dipenuhi 9) sequenced count { present S0 if go next S1..

Revision 01 . /* *************** INPUT PINS *********************/ PIN [2. Dan next clock selanjutnya untuk kondisi go akan loncat ke S2 sedangkan untuk kondisi stop akan loncat ke S0. Dan next clock selanjutnya baik untuk kondisi go maupun stop akan loncat ke S0.Clock 1  Maka state akan loncat ke S3 (default GAL ) dan menunjukkan angka 8.7] . Location Device . /* */ .. Dan next clock selanjutnya baik untuk kondisi go maupun stop akan loncat ke S0. 4/1/2008 . Designer Engineer . dst. Company Atmel . Clock 4a (go)  Maka state akan loncat ke S2 dan menunjukkan angka 2. Clock 2  Maka state akan loncat ke S0 dan menunjukkan angka 0.. Dan next clock selanjutnya baik untuk kondisi go maupun stop akan loncat ke S1. Clock 3  Maka state akan loncat ke S1 dan menunjukkan angka 1. 3. Assembly None . G16V8 . Alarm 1 (GAL 16V8) Name PartNo Date Alarm1 .. Clock 4b (stop) Maka akan kembali seperti clock 2 Untuk Clock selanjutnya akan berurut kembali ke clock 2.. 00 .9] = [S0.

. sampai dengan pin 16 memiliki nama D3. 4) Pin [19.9] = [S0. TABLE SEL => OUTPUT { 'b'00 => 'b'00. 'b'11 => 'b'01. dst. 'b'10 => 'b'10..16] = [D0. Cara kerja : 1) Penulis menggunakan nama file Alarm1 2) Device yang penulis pakai untuk Codingan ini merupakan G16V8 (Gal 16V8) 3) Pin [2. /* */ FIELD SEL = [S0. . Nama-nama tersebut akan digunakan pada coding selanjutnya untuk mewakili setiap pin.S1]. artinya pin 19 memiliki nama D0. } D2=(!(S2$S4))&(!(S3$S5)).7] menunjukkan deklarasi pin 2 sebagai input dengan nama S0.D1]. D3=S6&S7.16] = [D0..3] menunjukkan deklarasi pin output yang akan digunakan..3] . pin 3 sebagai input dengan nama S1 dst sampai dengan pin 9 sebagai input dengan nama S7./* *************** OUTPUT PINS *********************/ PIN [19... pin 18 memiliki nama D1. FIELD OUTPUT = [D0.

'b'11 => 'b'01.D0 ) menunjukkan logic 1 dan 0.S0 ) menunjukkan logic 0 dan 0 maka pin-pin OUTPUT ( D1.D0 ) menunjukkan logic 0 dan 0. } Pada coding diatas artinya kita membuat sebuah rangkaian kombinasional sehingga ketika pin-pin SEL ( S1.5) Field SEL = [S0.D1] merupakan syntax yang digunakan untuk mengabungkan beberapa pin-pin menjadi satu nama field gabungan. Pada baris pertama coding diatas artinya input dari S2 akan diXOR dengan S4 lalu hasilnya dilakukan operasi NOT serta dilakukan operasi AND dengan input S3 yang di . Ketika pin-pin SEL ( S1. Ketika pin-pin SEL ( S1.S0 ) menunjukkan logic 1 dan 0 maka pin-pin OUTPUT ( D1. 6) Field OUTPUT = [D0. 7) TABLE SEL => OUTPUT { 'b'00 => 'b'00. Pada kondisi ini penulis menggunakan nama SEL. 8) D2=(!(S2$S4))&(!(S3$S5)).D0 ) menunjukkan logic 0 dan 1.S0 ) menunjukkan logic 1 dan 1 maka pin-pin OUTPUT ( D1. D3=S6&S7. Pada kondisi ini penulis menggunakan nama OUTPUT.S1] merupakan syntax yang digunakan untuk mengabungkan beberapa pin-pin menjadi satu nama field gabungan. 'b'10 => 'b'10.

14] /* *************** OUTPUT PINS *********************/ PIN [23..9]. Alarm 2 (GAL 22V10) Name PartNo Date ALARM2 ... Company Atmel .6] /* . Location Device . FIELD OUTPUT=[D0.19] = [D0.XOR dengan S5 serta dilakukan operasi NOT terlebih dahulu. Dan hasilnya dikeluarkan pada pin D2.6]. /* *************** INPUT PINS *********************/ PIN [8.. /* */ FIELD SEL=[S0. 00 . Revision 01 .. /* .. Assembly None ..4] .18] = [S10. G22V10 . PIN [14. . */ */ PIN [9.. 4/1/2008 .2] = [S0. Designer Engineer . Pada baris kedua coding diatas artinya input dari pin S6 dan S7 dilakukan operasi AND serta hasilnya dikeluarkan pada pin D3.. TABLE SEL => OUTPUT { 'b'0001000 => 'b'0000.3]..11] = [S7.

6] menunjukkan deklarasi pin 8 sebagai input dengan nama S0.18] = [S10. 'b'0010001 => 'b'0010. sampai dengan pin 19 memiliki nama D4.4] menunjukkan deklarasi pin output yang akan digunakan.. Nama-nama tersebut akan digunakan pada coding selanjutnya untuk mewakili setiap pin.9] menunjukkan deklarasi pin 9 sebagai input dengan nama S7.19] = [D0. 'b'0011110 => 'b'0111.. ... 'b'0010100 => 'b'0011. pin 22 memiliki nama D1.. Pin [14.11] = [S7. 'b'1000000 => 'b'0110. artinya pin 23 memiliki nama D0. 'b'0100110 => 'b'0100. pin 10 sebagai input dengan nama S8 dan pin 11 sebagai input dengan nama S9. dst.. 4) Pin [23.} D4 = (!(S14$S7))&(!(S13 $S8))&(!(S12 $S9 ))&(!(S11 $S10 )).2] = [S0. 'b'1000100 => 'b'0101.'b'0111110 => 'b'0001. pin 7 sebagai input dengan nama S1 dst sampai dengan pin 2 sebagai input dengan nama S6. Cara kerja : 1) Penulis menggunakan nama file Alarm2 2) Device yang penulis pakai untuk Codingan ini merupakan G22V10 (Gal 22V10) 3) Pin [8.. pin 15 sebagai input dengan nama S11 dst sampai dengan pin 18 sebagai input dengan nama S14. 'b'0000000 => 'b'1000. Pin [9.. 'b'0000100 => 'b'1001.14] menunjukkan deklarasi pin 14 sebagai input dengan nama S10.

. 'b'0011110 => 'b'0111. 'b'0000100 => 'b'1001.. 6) Field OUTPUT = [D0.5) Field SEL = [S0.3) menunjukkan logic 0000..3] merupakan syntax yang digunakan untuk mengabungkan beberapa pin-pin menjadi satu nama field gabungan. 7) TABLE SEL => OUTPUT { 'b'0001000 => 'b'0000.. 'b'0010001 => 'b'0010. Pada kondisi ini penulis menggunakan nama SEL. 'b'0010100 => 'b'0011.. 'b'0111110 => 'b'0001. 'b'1000100 => 'b'0101. 'b'1000000 => 'b'0110. Pada kondisi ini penulis menggunakan nama OUTPUT. 'b'0100110 => 'b'0100..6 ) mendapatkan input logic 0111110 maka pin-pin OUTPUT (D0.} Pada coding diatas artinya kita membuat sebuah rangkaian kombinasional sehingga  ketika pin-pin SEL ( S0. .  ketika pin-pin SEL ( S0.6] merupakan syntax yang digunakan untuk mengabungkan beberapa pin-pin menjadi satu nama field gabungan.3) menunjukkan logic 0001.6 ) mendapatkan input logic 0001000 maka pin-pin OUTPUT (D0. 'b'0000000 => 'b'1000.

.3) menunjukkan logic 0100. Dan keempat hasil operasi diatas akan dilakukan operasi AND.  ketika pin-pin SEL ( S0..6 ) mendapatkan input logic 0100110 maka pin-pin OUTPUT (D0..3) menunjukkan logic 0011. Pada baris coding diatas artinya input dari S14 akan di XOR dengan S7 lalu hasilnya dilakukan operasi NOT..3) menunjukkan logic 0111.  ketika pin-pin SEL ( S0. ketika pin-pin SEL ( S0.3) menunjukkan logic 1001..3) menunjukkan logic 1000. . Dan hasilnya akan dikeluarkan pada pin D4...  ketika pin-pin SEL ( S0..6 ) mendapatkan input logic 0011110 maka pin-pin OUTPUT (D0...6 ) mendapatkan input logic 0010100 maka pin-pin OUTPUT (D0.6 ) mendapatkan input logic 1000000 maka pin-pin OUTPUT (D0..  ketika pin-pin SEL ( S0..3) menunjukkan logic 0101..  ketika pin-pin SEL ( S0..6 ) mendapatkan input logic 1000100 maka pin-pin OUTPUT (D0.6 ) mendapatkan input logic 0000000 maka pin-pin OUTPUT (D0.. 8) D4 = (!(S14$S7))&(!(S13 $S8))&(!(S12 $S9 ))&(!(S11 $S10 ))..3) menunjukkan logic 0010. input dari S13 akan di XOR dengan S8 lalu hasilnya dilakukan operasi NOT.3) menunjukkan logic 0110.6 ) mendapatkan input logic 0000100 maka pin-pin OUTPUT (D0.  ketika pin-pin SEL ( S0.6 ) mendapatkan input logic 0010001maka pin-pin OUTPUT (D0. input dari S12 akan di XOR dengan S9 lalu hasilnya dilakukan operasi NOT. input dari S11 akan di XOR dengan S10 lalu hasilnya dilakukan operasi NOT.  ketika pin-pin SEL ( S0.

Pin 18: a . Rangkaian tersebut diberi gerbang NOT agar didapatkan clock yang presisi yaitu 1 Hz.Rangkaian Power DC Power DC lewat adaptor 9V masuk ke dalam regulator 5V sehingga supply tegangan untuk rangkaian menjadi 5V. Sementara Seven segment yang penulis gunakan adalah seven segment jenis common anode dimana semua kaki anodenya dihubungkan dengan VCC dan dengan memberikan logika 0 pada kaki cathode dapat mengaktifkan atau menyalakan segment-segment yang ada. GAL 16V8 dan Seven Segment Clock yang berasal dari rangkaian clock 1 Hz masuk ke pin 1 dari GAL 16V8 yang digunakan untuk detik satuan. Perlu diketahui bahwa pin 11 pada seluruh IC GAL yang dipakai pada rangkaian jam alarm digital ini dihubungkan ke ground agar clock yang masuk ke pin 1 berfungsi sebagai input clock. Pada pin 12 akan keluar clock untuk memberikan clock bagi GAL selanjutnya sesuai dengan penjelasan coding di atas. Pin 10 dihubungkan dengan ground sedangkan pin 20 dihubungkan ke VCC. Konfigurasi seluruh pin GAL yang menuju seven segment adalah sebagai berikut: Pin 13: c Pin 14: d . Jika tidak menambahkan gerbang NOT pada rangkaian.Pin 17: f . Clock pada rangkaian diambil dari rangkaian clock pada jam analog. Pin 13-19 pada seluruh GAL dihubungkan dengan seven segment. Hal ini diketahui setelah penulis melakukan percobaan. maka clock yang dihasilkan tidak mampu mengubah logika dari high ke low secara sempurna.

01µF digunakan segabai control voltage pada rangkaian monostable.R. Penulis mendapatkan resistor yang tepat pada rangkaian monostable ini berdasarkan percobaan untuk menghindari bouncing yang terjadi pada saklar yang digunakan.10E-6 = 0.56000. LM555 Pin 1 pada IC LM555 dihubungkan dengan ground dan pin 2 berfungsi untuk input trigger.C . Gerbang XOR Gerbang XOR pada rangkaian ini memiliki inputan dari output LM 555 dan dari pin 12 pada GAL 16V8. hal ini dimaksudkan agar pada saat sevensegment menyala arus yang berasal dari seven segment yang akan masuk ke GAL 16V8 tidak terlalu besar. Rangkaian monostable ini digunakan mulai dari GAL yang mengatur menit satuan hingga jam puluhan.- Pin 15: e Pin 16: g .1. Penggunaan kapasitor 0. C1 ditentukan terlebih dahulu kemudian baru dilakukan pemilihan resistor yang tepat karena variasi resistor lebih mudah didapatkan. apabila pada GAL yang mengatur detik puluhan clocknya langsung berasal dari pin 12 GAL .1. jika tidak ditekan maka trigger akan menerima logic high terus menerus (Vcc).Pin 19: b Diantara pin-pin seven segment dan pin GAL 16V8 dipasangkan resistor 100Ohm. maka ketika push button ditekan maka LM 555 akan mengeluarkan logic high selama Th = 1. Trigger ini berasal dari push button yang jika ditekan akan terhubung dengan ground. Gerbang ini hanya akan mengeluarkan input 1 apabila kedua inputnya berbeda.616S. Sesuai dengan rumus Th=1. IC LM555 dioperasikan sebagai rangkaian monostable dengan RA= 56KΩ dan C1= 10µF.

Sehinga ini membuat output Xor akan mengeluarkan logic 1 sehingga memberikan clock untuk GAL yang akan disetting waktunya. Melainkan pin 12 GAL sebelumnya harus masuk terlebih dahulu pada gerbang XOR.3. clock tidak langsung berasal dari pin 12 GAL sebelumnya.sebelumnya. Jika kondisi push button tidak ditekan maka pin trigger dari LM 555 terhubung dengan VCC sehingga rangkaian monostable akan memberikan logic low terus menerus dan logika output yang dikeluarkan LM 555 adalah 0. menit puluhan. Pada GAL jam satuan terdapat 7 pin yang memberikan logika untuk menyalakan seven segment. Input dari LM 555 dan pin 12 GAL sebelumnya ini akan dikeluarkan menjadi sebuah logika sebagai clock untuk GAL yang otomatis akan merubah statenya jika mendapatkan clock rising edge.16) yang memiliki bit unik yang akan masuk ke pin 2. Namun mulai dari menit satuan. Lama dari one-shot (logika high) yang dihasilkan oleh LM 555 berasal dari konfigurasi R dan C.4 dari GALjam puluhan untuk membedakan antara nilai-nilai pemberi flag yang telah didefinisikan pada coding sebelumnya (stop & go pada jam puluhan). jam puluhan. Jika GAL sebelumnya belum memberikan clock namun push button telah ditekan maka inputan yang masuk ke gerbang XOR adalah input logika nol dari pin 12 GAL sebelumnya dan input logika 1 (one-shot) dari LM 555. jam satuan. Hal ini membuat clock output dari gerbang XOR hanya terpengaruh oleh lemparan clock GAL sebelumnya yang diberikan pada saat data yang masuk ke seven segment berupa angka nol (yang sebelumnya telah didefinisikan pada bagian coding). Diantara ketujuh pin tersebut terdapat 3 pin (pin 18. Ketiga pin ini akan dihubungkan dengan 3 pin input pada GAL yang mengatur .17. Hal ini berlaku untuk GAL menit satuan.

8.9 maka angka 2 tidak boleh muncul di jam puluhan. Karena range data pada jam puluhan hanya ada 3. Gunanya adalah memberi tahu kondisi dari jam satuan tersebut. Input kombinasi bit unik ini akan didecode dan dikeluarkan pada pin 18 dan 19 sebagai output decode. 14 dan selanjutnya input ini akan dibandingkan dengan input toggle untuk menset alarm (jam satuan) yang terhubung dengan pin 15-18. Alarm (Jam Satuan) Untuk men-setting alarm jam satuan.jam puluhan. Penulis menemukan perbedaan bit-bit ke -3 data tersebut pada pin e dan f pada sevensegment nya. pada setting jam puluhan hanya butuh 2 pin data. Pada pin 2-8. data yang terhubung dengan kaki e & f pada seven segment jam puluhan dihubungkan dengan pin 2 dan 3 dari GAL16V8.5.6. pada GAL22V10 merupakan input yang berasal dari pin output GAL 16V8 jam satuan (yang memberikan data ke -7 segment). Output decode tersebut akan dihubungkan secara hardware dengan pin 4 dan 5 untuk di compare dengan toggle setting . Sehinga ini menandakan angka pada display seven-segment jam satuan sama dengan inputan biner alarm untuk jam satuan. 10 . Berbeda dengan setting jam satuan. Ketujuh input tersebut akan di decode dari kombinasi bit untuk menyalakan 7-segment menjadi kombinasi bit BCD sesuai dengan nilai 7-segment yang dinyalakan. Output decode ini (yang keluar dari pin 20-23) akan disambung secara hardware dengan pin 9. Alarm (Jam puluhan) Untuk menset alarm jam puluhan. data diolah pada GAL 22V10. Hasil perbandingan antara input toggle dan output decode apabila sama akan menghasilkan logic 1 pada output compare keseluruhan (pin19). Sehingga tidak terlalu sulit untuk menemukan kombinasi bit yang membedakan 3 data tersebut.7. 11. tentunya hal ini diperlukan ketika jam satuan berada pada angka 4.

Keduanya akan diproses melalui gerbang AND. 3. Jika keduanya berlogic 1.alarm jam puluhan dari pin 6 dan 7. maka hasil compare akan menimbulkan ( logic 1 ) yang artinya kedua kedua digit jam telah menunjukkan display yang sama dengan inputan biner dari user sehingga ini akan membunyikan buzzer yang terhubung pada pin 16. Pada GAL16V8 yang sama akan diproses output compare dari GAL22V10 ( GAL22V10 pin 19 dihubungkan ke pin 9 GAL16V8 ) dan output compare dari GAL 16V8 ( pin 17 dihubungkan ke pin 8). agar siap untuk dibandingkan dengan output compare dari jam satuan. Apabila nilai nya sama akan menghasilkan logic 1( setelah di proses melalui gerbang XOR dan AND ) pada pin 17( output compare puluhan ) sehingga ini menandakan angka pada display seven-segment jam puluhan sama dengan inputan biner alarm untuk jam puluhan dan output ini akan dihubungkan dengan pin 8 untuk menjadi input kembali.5 Flow Chart .

Detik Puluhan dan Menit Puluhan Start Initialisas i Apakah ada clock? Next state Apakah S0? Out Q7 End .

Detik Satuan dan Menit Satuan Start Initialisasi Apakah ada clock? Next state Apakah S0? Out Q7 End .

2. Next state Apakah S0? B .3.Jam Puluhan Start Initialisasi C Apakah ada Y clock? T YY Apakah Y mode: [1.4.5.7]? Apakah mode: [0.

B Out Q7 C End .

Jam Satuan Start Initialisasi C Apakah ada clock? Apakah mode: 1? Apakah mode: 0? Next state B .

B Apakah S0? C Out Q7 C End .

Alarm Jam Puluhan Start Initialisasi D4 = (!(S14 $ S7)) & (!(S13 $ S8)) & (!(S12 $ S9 )) & (!(S11 $ S10 )) End .

Alarm Jam Satuan Start Initialisasi D2 = (!(S2 $ S4)) & (!(S3 $ S5)) D3=S6&S7 Apakah D3 berlogic 1 ?? Menghidupkan Buzzer End .

BAB IV EVALUASI DAN IMPLEMENTASI TUGAS RANCANG SISTEM DIGITAL SEMESTER GENAP 2007 /2008 BINUS UNIVERSITY .

1 Data Hasil Percobaan Data 1 2 3 4 5 Jam Komputer 20 : 27 : 00 07 : 29 : 16 09 : 54 : 50 12 : 00 : 00 21 : 54 : 02 Jam Alarm Digital 20 : 27 : 00 07 : 29 : 16 09 : 54 : 50 12 : 00 : 00 21 : 54 : 02 Pada percobaan di atas. Sehingga penulis memutuskan untuk menggunakan clock jam analog yang jauh lebih presisi. perlu diketahui bahwa sebelumnya penulis telah melakukan percobaan menggunakan timer 555 dengan konfigurasi rangkaian Astable yang telah disetting sedemikian rupa sehingga mendapatkan frekuensi 1Hz. ternyata setelah 12 jam penulis melihat bahwa pada jam komputer dan jam alarm digital yang penulis buat mengalamai perbedaan 5 menit. penulis melihat bahwa penggunaan clock pada jam analog untuk diimplementasikan pada clock jam digital cukup presisi.BAB IV EVALUASI DAN IMPLEMENTASI 4. Rangkaian Monostable .

1.616S. penulis berhasil mengatasi bouncing.C.Pada rangkaian monostable yang penulis buat penulis pada awalnya mengunakan potentiometer (resistor variable) untuk mengetahui batas waktu bouncing dari switch yang gunakan. Sehingga penulis mengerti bahwa bouncing dari switch yang penulis gunakan ketika dioperasikan tidak lebih dari 0.10E-6 = 0. Setelah dihitung dengan rumus Th = 1. .616S.R. Ternyata pada resistor 56K Ohm dan dengan capacitor 10 µF.56000. maka didapatkan Th = 1.1.

BAB V KESIMPULAN TUGAS RANCANG SISTEM DIGITAL SEMESTER GENAP 2007 /2008 BINUS UNIVERSITY .

State yang sama tidak boleh berada dalam penggunaan sequeenced stepper. 2. dan penulis berkesimpulan bahwa switch yang penulis buat akan bouncing sekitar 0. .BAB 5 Kesimpulan 1. sehingga penulis mengunakan adaptor dengan arus sekitar 1200mA. 3. Rangkaian Bouncing dapat dihilangkan dengan rangkaian monostable. Untuk penggunaan pin 1 sebagai clock maka pin 11 yaitu pin OE pada GAL harus dihubungkan ke ground. Rangkaian Astable sangat tidak cocok untuk membuat jam yang presisi. Pada Jam Alarm Digital yang penulis buat tidak dapat menggunakan baterai karena arus yang tidak cukup.6 detik ketika dioperasikan. 5. Nilai R dan C yang penulis pakai dalam rangkaian monostable sudah dilakukan dengan percobaan sebelumnya. 6. maka dari itu penulis mengunakan clock yang biasa digunakan untuk jam analog. 4.

DAFTAR PUSTAKA TUGAS RANCANG SISTEM DIGITAL SEMESTER GENAP 2007 /2008 BINUS UNIVERSITY .

Daftar Pustaka http://home.ca/~rpaisley4/LM555.cogeco.html .

LAMPIRAN TUGAS RANCANG SISTEM DIGITAL SEMESTER GENAP 2007 /2008 BINUS UNIVERSITY .

200 Rp 60.000 42 @ Rp 100 1 @ Rp 100 4 @ Rp100 4 @ Rp 200 4 @ Rp 300 4 @ Rp 300 6 @ Rp 10.500 1 @ 2. PCB.000 6 @ Rp 1.000 1 @ Rp 300 2 @ Rp 1.000 1 @ Rp 25.Daftar Harga Komponen yang Digunakan Komponen GAL GAL Socket Socket Socket Socket TIMER TTL TTL Regulator Resistor Resistor Resistor Resistor Capacitor Capacitor Seven Segment Toggle Switch Push Button LED Saklar Socket DC Buzzer MISC (Lain-Lain) Total Data Sheet Ic yang Digunakan GAL 16V8 Jumlah@Harga Satuan 7 @ Rp7.500 Rp 2.000 Rp 25.500 Rp 3.500 4 @ Rp 2.500 Rp 2.000 Rp 4200 Rp 100 Rp 400 Rp 800 Rp 1.01 µF Common Anode Merah On-Off Kabel.400 Harga Rp 49. Stiker Rp 245.200 Rp 1.800 Rp 600 Rp 800 Rp 500 Rp 6.500 1 @ Rp 2. Connector.000 Rp 9.500 1 @ Rp 3000 Keterangan 16V8 22V10 20 Pin 14 Pin 8 Pin 24 Pin LM 555 74LS04 74LS86 7805 100 Ohm 1K Ohm 10K Ohm 56K Ohm 10 µF 0. Kotak.000 Rp 2.000 Rp 60. Tulang Ikan.500 1 @ Rp 2.000 Rp 300 Rp 3000 Rp 2.000 Rp 2.500 1 @ Rp 2.000 7 @ Rp 400 2 @ Rp 300 4 @ Rp 200 1 @ Rp 500 4 @ Rp 1.000 .000 Rp 8.

.

GAL 22V10 LM 555 .

.

74LS04 ( NOT )

74LS86 (XOR) .