P. 1
Pembahasan Skripsi Spektroskopi Mengenai "Pengukuran Kadar Nifedipin Dalam Sediaan Tablet Menggunakan Spektroskopi Ultraviolet"

Pembahasan Skripsi Spektroskopi Mengenai "Pengukuran Kadar Nifedipin Dalam Sediaan Tablet Menggunakan Spektroskopi Ultraviolet"

|Views: 1,033|Likes:
Published by Kenny Ryan Limanto
DOWNLOAD PDF-nya di : http://adf.ly/be7s0
Pembahasan Skripsi Spektroskopi Mengenai "Pengukuran Kadar Nifedipin Dalam Sediaan Tablet Menggunakan Spektroskopi Ultraviolet"... Any comment, or suggestion, post it, or message me on fb..
DOWNLOAD PDF-nya di : http://adf.ly/be7s0
Pembahasan Skripsi Spektroskopi Mengenai "Pengukuran Kadar Nifedipin Dalam Sediaan Tablet Menggunakan Spektroskopi Ultraviolet"... Any comment, or suggestion, post it, or message me on fb..

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Kenny Ryan Limanto on Jan 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

01/05/2014

MAKALAH PRAKTIKUM SPEKTROSKOPI ”PENETAPAN KADAR NIFEDIPIN DALAM TABLET DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI ULTRA VIOLET”

DISUSUN OLEH :

Kenny Ryan Limanto (098114006) Bernadetta Arum Wijayanti (098114007) Rachelia Octavia (098114008) Danny Trias Prisnanda (098114009) Johanes Putra Wicaksono (098114010) Kelompok : A 2 Kelas : A

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2010

BAB I LATAR BELAKANG

Nifedipin termasuk derivat dihidropiridin, yang merupakan kelompok dari antagonis kalsium (Calcium Entry Blockers). Berkhasiat dalam pencegahan dan pengobatan angina pektoris dan pengobatan hipertensi. Obat ini bekerja dengan menghambat masuknya kalsium ke dalam sel-sel otot jantung dan sel-sel otot polos dinding arteri. Nifedipin diabsorbsi dengan cepat dan hampir sempurna (90%) dalam lambung, + 95% terikat oleh protein plasma (Siswandono, 1995). Nifedipin memiliki sifat yang tidak stabil di bawah pengaruh cahaya akan mengalami tata ulang fotokimia menjadi turunan 4-(2-nitrofenil)-piridin (Schunack, W., 1990). Pada pembuatan obat, pemeriksaan kadar zat aktif merupakan persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjamin kualitas sediaan obat. Sediaan obat yang berkualitas baik akan menunjang tercapainya efek terapeutik yang diharapkan. Salah satu persyaratan mutu adalah kadar yang dikandung harus memenuhi persyaratan kadar seperti yang tercantum dalam Farmakope Indonesia. Pada beberapa literatur penetapan kadar nifedipin dalam sediaan tablet dapat dilakukan dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi ( Farmakope Indonesia Edisi IV, 1995; USP XXX, 2007). Metode kromatografi cair kinerja tinggi memiliki kepekaan analisis yang tinggi namun memerlukan biaya yang relatif mahal dalam pelaksanaannya. Dilihat dari struktur nifedipin yang mempunyai gugus kromofor (ikatan rangkap terkonjugasi) dan gugus auksokrom (gugus nitro dan gugus karboksil), maka senyawa ini dapat menyerap radiasi pada panjang gelombang di daerah ultraviolet. Dalam The Merck Indeks, nifedipin memiliki serapan maksimum dalam larutan metanol pada panjang gelombang 235 dan 340 nm (e 21590, 5010), dalam larutan asam panjang gelombang 238 dan 338 nm (e 20600, 5740) dan dalam larutan basa 238 dan 340 nm (e 20510, 5740). Sedangkan dalam Clark, nifedipin hanya memiliki serapan maksimum dalam larutan asam pada panjang gelombang 238 nm ( = 595 b) dan 338 nm ( = 195 b).

Berdasarkan hal tersebut di atas, peneliti memilih metode spektrofotometri ultraviolet sebagai metode yang digunakan pada penetapan kadar nifedipin dalam sediaan tablet. Karena metode ini memiliki banyak keuntungan antara lain dapat digunakan untuk analisis suatu zat dalam jumlah kecil, pengerjaannya mudah, sederhana, cukup sensitif dan selektif, biayanya relatif murah dan mempunyai kepekaan analisis cukup tinggi (Munson, 1991).

PERUMUSAN MASALAH 1. Apakah metode spektrofotometri ultraviolet dapat digunakan pada penetapan kadar nifedipin dalam sediaan tablet? 2. Apakah kadar nifedipin dalam sediaan tablet yang beredar di pasaran telah sesuai dengan ketentuan Farmakope Indonesia Edisi IV tahun 1995 ?

TUJUAN 1. Untuk mengetahui metode spektrofotometri ultraviolet dapat digunakan dalam penetapan kadar nifedipin pada tablet. 2. Untuk mengetahui kadar nifedipin dalam sediaan tablet yang beredar di pasaran memenuhi persyaratan yang ditetapkan Farmakope Indonesia Edisi IV tahun 1995.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Spektrofotometri serapan merupakan pengukuran suatu interaksi antara radiasi elektromagnetik dan molekul atau atom dari suatu zat kimia. Teknik yang sering digunakan dalam analisis farmasi meliputi spektrofotometri ultraviolet, cahaya tampak, infra merah dan serapan atom. Jangkauan panjang gelombang untuk daerah ultraviolet adalah 190-380 nm, daerah cahaya tampak 380-780 nm, daerah infra merah dekat 780-3000 nm, dan daerah infra merah 2,5-40 µm atau 4000-250 cm-1(Ditjen POM, 1995). Radiasi ultraviolet dan sinar tampak diabsorpsi oleh molekul organik aromatik, molekul yang mengandung elektron-p terkonyugasi dan atau atom yang mengandung elektron-n, menyebabkan transisi elektron di orbital terluarnya dari tingkat energi elektron dasar ke tingkat energi elektron tereksitasi lebih tinggi. Besarnya serapan radiasi tersebut sebanding dengan banyaknya molekul analit yang mengabsorpsi sehingga dapat digunakan untuk analisis kuantitatif (Satiadarma, 2004). Gugus fungsi yang menyerap radiasi di daerah ultraviolet dekat dan daerah tampak disebut khromofor dan hampir semua khromofor mempunyai ikatan tak jenuh. Pada khromofor jenis ini transisi terjadi dari π→ π*, yang menyerap padaλmax kecil dari 200 nm (tidak terkonyugasi), misalnya pada >C=C< dan -C=C-. Khromofor ini merupakan tipe transisi dari sistem yang mengandung elektron π pada orbital molekulnya. Untuk senyawa yang mempunyai sistem konyugasi, perbedaan energi antara keadaan dasar dan keadaan tereksitasi menjadi lebih kecil sehingga penyerapan terjadi pada panjang gelombang yang lebih besar (Dachriyanus, 2004). Gugus fungsi seperti –OH, -NH2 dan –Cl yang mempunyai elektron-elektron valensi bukan ikatan disebut auksokhrom yang tidak menyerap radiasi pada panjang gelombang lebih besar dari 200 nm, tetapi menyerap kuat pada daerah ultraviolet jauh. Bila suatu auksokhrom terikat pada suatu khromofor, maka pita serapan khromofor bergeser ke panjang gelombang yang lebih panjang (efek batokhrom) dengan intensitas yang lebih kuat. Efek hipsokhrom adalah suatu pergeseran pita serapan ke panjang gelombang lebih pendek, yang sering kali terjadi bila muatan positif dimasukkan ke dalam molekul dan bila pelarut berubah dari non polar ke pelarut polar (Dachriyanus, 2004). Nifedipinadalah senyawa yang mempunyai rumus kimia berupa C17H18N2O6 dengan nama kimia Dimetil 1,4–dihidro-2,6–dimetil-4-(o-nitrofenil)-3,5–piridina dikarboksilat, dengan BM sebesar 346,34. Nifedipin,suatu turunan 4-(2-nitrofenil)-1,4-dihidropiridin, di

bawah pengaruh cahaya mengalami tata ulang fotokimia akan berubah menjadi turunan 4-(2nitrofenil-piridin

(Moffat, 2004).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian yang dilakukan peneliti adalah metode eksperimental. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Farmasi Kualitatif Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. ALAT Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas, spektrofotometer ultra violet (UV mini 1240 Shimadzu) dan neraca analitik (Vibra AJ). BAHAN Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : metanol (pro analisis dari E.Merck), akuades (Laboratorium Kimia Farmasi Kuantitatif), nifedipin baku (BPFI); tablet nifedipin generik dan nama dagang.

PENGAMBILAN SAMPEL Pengambilan sampel dilakukan secara purposif yaitu tanpa membandingkan antara satu sampel dengan yang lain, karena sampel dianggap homogen. Sampel yang digunakan adalah tablet generik Kimia Farma dan Dexa Medica serta tablet nama dagang Adalat® (Bayer), Cordalat® (Kimia Farma), (Bayer), Farmalat® (Pratapa Nirmala), dan Nifedin® (Sanbe Farma).

PROSEDUR Pembuatan Larutan Induk Baku Nifedipin BPFI Sejumlah lebih kurang 25 mg nifedipin BPFI ditimbang seksama, dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml, dilarutkan dengan metanol lalu dicukupkan sampai garis tanda dengan metanol dan dikocok homogen, sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 500 mcg/ml, larutan ini disebut larutan induk baku (LIB I). Dari larutan ini dipipet 5 ml masukkan ke dalam labu ukur 50 ml, encerkan dengan metanol sampai garis tanda sehingga diperoleh konsentrasi 50 mcg/ml (LIB II).

Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum Dipipet 3,5 ml dari larutan induk baku (LIB) II (50 mcg/ml) masukkan ke dalam labu ukur 25 ml, encerkan dengan metanol sampai garis tanda (7 mcg/ml). Lalu dikocok sampai homogen sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 7 mcg/ml. Kemudian ukur serapan pada panjang gelombang 200-400 nm.

Pembuatan Kurva Kalibrasi Dipipet larutan induk baku II BPFI (50 mcg/ml) 2,0; 3,0; 4,0; 5,0 dan 6,0 ml, masingmasing masukkan ke dalam labu ukur 25 ml, tambahkan metanol sampai garis tanda. Lalu dikocok sampai homogen. Diperoleh larutan dengan konsentrasi 4; 6; 8; 10; 12 mcg/ml. Kemudian diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum yang diperoleh dan sebagai blangko digunakan metanol.

Penentuan Kadar Nifedipin dalam Sediaan Tablet Timbang dan serbukkan tidak kurang dari 20 tablet. Timbang seksama sejumlah serbuk setara dengan 20 mg nifedipin (Penimbangan serbuk sebanyak 6 kali perlakuan), masukkan ke dalam labu ukur 25 ml. Lalu ditambahkan 5 ml metanol, kocok dan encerkan dengan metanol sampai garis tanda. Kemudian disaring, 5 ml filtrat pertama dibuang.. Dipipet 2 ml filtrat, masukkan ke dalam labu ukur 25 ml, dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda dan kocok homogen. Kemudian dipipet 3,5 ml larutan, masukkan ke dalam labu ukur 25 ml. Lalu dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda, kocok homogen dan diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum yang diperoleh.

BAB IV PEMBAHASAN Tujuan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah (1) untuk mengetahui metode spektrofotometri ultraviolet dapat digunakan dalam penetapan kadar nifedipin pada tablet dan (2) untuk mengetahui kadar nifedipin dalam sediaan tablet yang beredar di pasaran memenuhi persyaratan yang ditetapkan Farmakope Indonesia Edisi IV tahun 1995. Pada dasarnya, hukum Lambert-Beer mendasari penggunaan metode spektrofotometri. Hukum Lambert menyatakan bahwa intensitas sinar keluar menurun secara eksponensial sesuai dengan kenaikan tebal zat penyerap. Hukum Beer menyatakan bahwa intensitas sinar keluar menurun secara eksponensial sesuai dengan kenaikan konsentrasi zat penyerap. Secara matematis, hukum Lambert-Beer dapat dirumuskan sebagai berikut : A=εbc dimana : A = absorbansi ε = daya serap molar b = tebal zat penyerap c = konsentrasi zat penyerap

Spektrofotometri ultra violet adalah salah satu metode spektrofotometri absorbansi yang mengukur serapan radiasi elektromagnetik pada λ tertentu yang sempit (mendekati monokromatik) yang diserap oleh zat. Prinsip dari metode ini adalah penyerapan cahaya (paket energi/ foton) berupa cahaya ultra violet (λ 190-380 nm) oleh suatu molekul senyawa (dalam hal ini adalah nifedipin) yang menyebabkan eksitasi elektron dari keadaan dasar menuju ke tingkat energi yang lebih tinggi/ tingkat eksitasi. Elektron dalam tingkat eksitasi berada dalam keadaan yang tak stabil dan cenderung akan kembali ke keadaan dasar dengan melepaskan energi/ emisi. Sumber sinar yang dipancarkan ke senyawa kemudian ada yang diabsorbasi dan ada yang diteruskan. Sumber sinar yang diteruskan ini kemudian akan mengenai detektor yang mempunyai sistem read-out sehingga diperoleh nilai absorbansi dari zat tersebut. Syarat suatu senyawa dapat diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometri ultra violet adalah : 1. memiliki kromofor dan auksokrom : kromofor adalah gugus tak jenuh kovalen yang bertanggung jawab atas penyerapan radiasi pada daerah UV-Vis. Auksokrom adalah gugus jenus, heteroatom yang terikat langsung pada kromofor yang mampu mengubah panjang gelombang dan intensitas serapan maksimum. 2. memiliki ikatan rangkap selang-seling (terkonjugasi)/ terjadi transisi elektron dari orbital π π* : ikatan rangkap memiliki elektron π yang relatif mudah untuk dieksitasi ke tingkat

energi yang lebih tinggi setelah mengabsorbsi energi. panjang gelombang dimana terjadi serapan terantung seberapa kuat elektron terikat pada suatu molekul sehingga tiap molekul mempunyai harga λ yang khas dimana terjadi absorbansi maksimum. Elektron dalam ikatan kovalen tunggal terikat kuat sehingga diperlukan energi eksitasi yang lebih tinggi. 3. senyawa uji dapat menyerap energi yang dipancarkan pada λ 190-380 nm.

Pada dasarnya, spektrofotometri UV dapat digunakan sebagai data untuk analisis : 1. kualitatif ; dengan membandingkan λmax uji dengan λmax literatur. Ada berbagai alasan mengapa harus menggunakan λmax, (1) pada λmax, kepekaan juga akan maksimal karena pada panjang gelombang maksimal tersebut, perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar; (2) di sekitar λmax, bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi tersebut, hukum Lambert-Beer akan terpenuhi; (3) jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang disebabkan oleh pemasangan ulang panjang gelombang akan kecil sekali ketika digunakan λmax.

Bila λmax zat uji sesuai dengan λmax literatur, maka zat uji yang dituju sama dengan zat dalam literatur dengan kemurnian zat uji yang tinggi. Hal ini didasarkan prinsip bahwa

semua zat memiliki λ yang spesifik sehingga mampu dibedakan antara yang satu dengan yang lainnya. 2. kuantitatif ; absorbansi yang diperoleh akan sebanding dengan konsentrasi zat uji. Dari data tersebut, dapat diperoleh persamaan kurva baku y = ax + b. Dari persamaan kurva baku tersebut, dapat ditentukan kadar zat uji dengan memasukkan nilai absorbansi sebagai nilai y dan akan didapat kadar sebagai nilai x. Penetapan kadar nifedipin dalam tablet diawali dengan pembuatan, penyiapan larutan baku dan sampel. Untuk melarutkan nifedipin, pelarut yang dapat digunakan dalam analisis spektrofotometri harus memenuhi syarat, antara lain (1) dapat melarutkan sampel dan (2) dapat mentransmisikan sinar pada daerah λ yang diperiksa. Dalam hal ini, metanol memenuhi syarat-syarat tersebut. Menurut Merck Indeks (2001), dalam larutan asam, nifedipin akan memberikan spektrum serapan maksimum pada panjang gelombang 235 nm ( = 20600) dan 338 nm ( = 5740), dalam larutan basa pada panjang gelombang 238 nm ( = 20600) dan 340 ( = 5740) dan dalam metanol pada panjang gelombang 235 nm ( = 21590) dan 340 nm ( = 5010). Dari data literatur yang dipaparkan di atas, maka nifedipin dapat ditetapkan kadarnya secara spektrofotometri ultraviolet. Dalam penelitian tersebut digunakan pelarut berupa metanol, sebab dari hasil orientasi yang dilakukan oleh peneliti, baik di larutan asam maupun basa, diperoleh larutan yang kurang jernih (sehingga tidak memenuhi syarat pelarut). Adapun alasan peneliti memilih panjang gelombang 235 nm untuk pengukuran karena panjang gelombang tersebut, nifedipin memiliki nilai absorptivitas molar ( ) yang lebih besar dibandingkan pada panjang gelombang 334 nm. Dengan nilai absorptivitas yang besar, maka pengukuran dapat dilakukan pada konsentrasi rendah, sehingga diperoleh sensitivitas yang tinggi untuk metode ini. Sebelum dilakukan penetapan kadar dengan menggunakan metode ini, perlu dilakukan scanning panjang gelombang maksimum dari senyawa uji terlebih dahulu, meskipun panjang gelombang tersebut sudah diketahui di dalam literatur. Hal ini disebabkan karena panjang gelombang suatu senyawa dapat berbeda bila ditentukan pada kondisi dan alat yang berbeda.

Dari hasil percobaan yang didapat ternyata peneliti mendapatkan panjang gelombang maksimal 235 nm dimana absorbansi yang dihasilkan sebesar 0,4370. Selanjutnya, untuk penetapan kadar nifedipin dalam sediaan tablet yang beredar di pasaran dilakukan pada panjang gelombang maksimum nifedipin BPFI dengan absorptivitas terbesar yaitu pada panjang gelombang 235 nm. Menurut Satiadarma (2004), penentuan kadar dilakukan dengan mengukur serapan pada panjang gelombang maksimum (puncak kurva), agar dapat memberikan serapan tertinggi untuk setiap konsentrasi. Bila suatu senyawa mempunyai lebih dari satu puncak absorpsi maksimum, lebih diutamakan panjang gelombang absorpsi maksimum yang adsorptivitasnya terbesar dan memberikan kurva kalibrasi linier dalam rentang konsentrasi yang relatif lebar. Setelah dilakukan scanning panjang gelombang maksimal, kemudian dilakukan pembuatan kurva baku nifedipin dalam pelarut metanol dengan konsentrasi : 4, 6, 8, 10, dan 12 µg/ml pada panjang gelombang maksimal, dengan metanol sebagai blanko. Penetapan blanko diperlukan sebagai pengoreksi absorbansi sampel agar diperoleh absorbansi murni yang disumbangkan oleh nifedipin (absorbansi terkoreksi diperoleh dari pengurangan absorbansi larutan sampel/ baku terhadap absorbansi blanko). Hal ini diperlukan sebab bisa saja pelarut yang digunakan (metanol) memberikan nilai absorbansi tertentu dalam pengujian. Pembuatan larutan blanko dilakukan dengan menggunakan pereaksi yang sama, jumlah sama seperti pengujian zat uji, namun tanpa menggunakan zat uji. Dari hasil pembuatan kurva kalibrasi nifedipin diperoleh hubungan yang linier antara konsentrasi dan serapan dengan koefisien korelasi (r) = 0,9996 dan persamaan garis linier y = korelasi (r) yang didapat mendekati ± 1. Dari hasil percobaan yang dilakukan peneliti, dapat disimpulkan bahwa “ terdapat korelasi/ hubungan yang linear antara kenaikan konsentrasi dengan kenaikan nilai absorbansi yang dihasilkan “. 0,052807 x + 0,002798. Pada dasarnya, sebuah pengujian dikatakan baik apabila koefisien

Setelah dilakukan pembuatan kurva kalibrasi atau kurva baku, kemudian dilakukan pengukuran absorbansi dari sampel uji pada panjang gelombang maksimal. Dari data absorbansi yang diperoleh, nilai tersebut kemudian dimasukkan sebagai nilai y pada persamaan kurva baku sehingga akan didapat nilai x yang merupakan kadar dari sampel uji yang diukur secara spektrofotometrik. Berikut kadar rata-rata yang didapatkan setelah dilakukan perhitungan (perhitungan dilampirkan di halaman belakang). No 1 2 3 4 5 6 Nama Sediaan Nifedipin Generik KF Kadar Rata-rata (%) 107,75 Kadar Sebenarnya (%) 107,75 ± 1,970 107,75 ± 1,970 107,75 ± 1,970 105,75 ± 0,101 100,76 ± 2,041 100,02 ± 3,066

Nifedipin Generik Dexa 106,69 Cordalat Nifedin Farmalat Adalat 100,26 105,75 100,76 100,02

Dari data diatas, ditunjukkan bahwa kadar nifedipin dalam sediaan tablet generik maupun nama dagang, memenuhi persyaratan kadar yang tertera dalam Farmakope

Indonesia Edisi IV tahun 1995 yaitu tidak kurang dari 90,0 % dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. Keuntungan penggunaan metode spektrofotometri UV, antara lain : Sensitivitasnya yang tinggi, sehingga cocok digunakan untuk analisis yang membutuhkan ketelitian yang sangat tinggi. Kekurangan penggunaan metode spektrofotometri UV, antara lain : 1. Pembuatan larutan sampel dan baku yang harus benar-benar bebas dari zat pengotor. Jika terdapat zat pengotor di dalam sampel, dikhawatirkan akan terjadi penghamburan cahaya yang dipancarkan ke sampel. Akibatnya penetapan kadar sampel dengan menggunakan metode ini menjadi tidak akurat.

2. Tidak praktis. Hal ini dikarenakan banyaknya seri larutan baku dan sampel yang harus disiapkan untuk pengukuran dengan metode ini. 3. Alatnya yang mahal dan memerlukan tenaga ahli untuk mengoperasikannya. Dibandingkan dengan metode spektrofotometri visibel, metode ini mempunyai beberapa perbedaan, antara lain : Metode Deskripsi kuvet yang digunakan λ yang digunakan Senyawa yang diuji Terbuat dari kuarsa 190-380 nm Terbuat dari gelas 400-800 nm Spektrofotometri UV Spektrofotometri Visibel

Mempunyai kromofor yang Mempunyai kromofor yang relatif pendek (sehingga jika relatif panjang (sehingga jika dilihat, senyawa tersebut dilihat, senyawa tersebut senyawa

merupakan

senyawa

yang merupakan berwarna)

tidak berwarna)

BAB V KESIMPULAN

1. Metode spektrofotometri ultraviolet dapat digunakan untuk penetapan kadar nifedipin dalam sediaan tablet. 2. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa semua tablet yang diperiksa baik yang generik maupun nama dagang memenuhi standar persyaratan tablet menurut Farmakope

Indonesia Edisi IV Tahun 1995 yaitu tidak kurang dari 90,0 % dan tidak lebih dari 110,0 % dari jumlah yang tertera pada etiket.

BAB VI DAFTAR PUSTAKA

Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia edisi IV, 611-613, Departemen kesehatan Republik Indonesia, Jakarta Satiadarma, K., 2004, Azas Pengembangan Prosedur Analisis, edisi Pertama Cetakan Pertama, 378-388, Airlangga University Press, Surabaya Dachriyanus, 2004, Analisis Struktur Senyawa Organik Secara Spektrofotometri, 1, Andalas University Press, Padang Moffat, A.C., 2004, Clarke’s Isolation and Identification of Drugs, Third Edition, 1337, The Pharmaceutics Press, London

LAMPIRAN Perhitungan Persamaan Regresi Nifedipin BPFI

No 1 2 3 4 5 6 Σ Ratarata

X 0 4 6 8 10 12 40 6,6667

Y 0 0,215 0,328 0,421 0,527 0,638 2,129 0,3548

XY 0 0,86 1,968 3,368 5,270 7,656 19,122

X² 0 16 36 64 100 144 360

Y² 0 0,0462 0,1076 0,1772 0,2777 0,4070 1,0157

b = Y–aX = 0,3548 – (0,052807) (6,6667) = 0,002798

Maka persamaan garis regresinya adalah Y = 0,052807X – 0,002789 ΣXY − r = (ΣX )(∑Y ) / n

[(∑ X 2 ) − (ΣY ) 2 ][(ΣY 2 ) − (ΣY ) 2 / n] 19,122 − (40)(2,129) /

= =

[(360) − (40) 2 ][(1,0157) − (2,129) 2 / 6] 10,96 10,96265661

= 0,9996

Data kadar nifedipin sediaan tablet
Kons Nama sediaan Penimbangan (mg) Nifedipin Generik (Kimia Farma) 552 556 552 559 559 556 688 688 685 685 680 680 604 610 604 605 605 604 545 550 550 548 542 548 450 450 452 453 454 453 455 460 456 458 4585 460 Setara (mg) 20,08 20,23 20,23 20,35 20,35 20,23 20,96 20,96 20,87 20,87 20,72 20,72 20,10 20,30 20,10 20,14 20,14 20,10 20,16 20,34 20,34 20,27 20,04 20,27 20,04 20,04 20,13 20,17 20,21 20,17 19,82 20,04 19,87 19,95 19,95 20,04 Absorbansi Teoritis (mcg/ml) Konsentrasi Perolehan (mcg/ml) 0,5096 0,5237 0,5105 0,5247 0,5306 0,5159 0,5345 0,5341 0,5314 0,5293 0,5221 0,5201 0,4763 0,5034 0,4786 0,4835 0,4835 0,4800 0,5079 0,5120 0,5120 0,5104 0,5034 0,5104 0,4775 0,4724 0,4845 0,4867 0,4929 0,4858 0,4625 0,4872 0,4651 0,4735 0,4745 0,4886 8,9976 9,0631 8,9976 9,1116 9,1116 9,0631 9,3901 9,3901 9,3498 9,3498 9,2826 9,2826 9,0062 9,0957 9,0062 9,0212 9,0212 9,0062 9,0296 9,1124 9,1124 9,0793 9,0296 9,0793 8,9761 8,9761 9,0160 9,0357 9,0559 9,0357 8,8799 8,9776 8,8995 8,9385 8,9385 8,9774 9,5983 9,8641 9,6145 9,8826 9,9959 9,7162 10,070 10,061 10,010 9,9705 9,8341 9,7971 8,9672 9,4804 9,0111 9,1036 9,1036 9,0366 9,5659 9,6422 9,6422 9,6122 9,4804 9,6122 8,9510 8,8932 9,1221 9,1637 9,2816 9,1475 8,7060 9,1729 8,7545 8,9140 8,9325 9,2007 Kadar (%) 106,57 108,73 106,75 107,73 109,59 107,10 107,13 107,04 106,95 106,53 105,84 105,44 99,47 104,13 99,95 100,81 100,81 100,24 105,83 105,71 105,71 105,76 104,89 105,76 99,62 98,98 101,08 101,32 102,39 101,14 97,94 102,07 98,27 99,63 99,83 102,38

Nifedipin Generik (Dexa Medica)

Cordalat

Nifedin

Farmalat

Adalat

Contoh Perhitungan Penimbangan Sampel Berat 20 tablet Kandungan nifedipin pada etiket = 5, 497 g = 10 mg

Dibuat larutan uji dengan kadar lebih kurang 8 mcg/ml. Ditimbang serbuk setara dengan 20 mg nifedipin, maka berat sampel yang ditimbang adalah:

Berat penimbangan sampel =

20mg 20 ×10mg X 5497 mg

= 549,7 mg Sampel yang telah ditimbang dimasukkan dalam labu ukur 25 ml, lalu dilarutkan dalam pelarut metanol dan cukupkan sampai garis tanda dengan air.

20mg

Kadar larutan uji =
25ml

X 1000 mcg/ml = 800 mcg/ml

Kemudian dipipet 2,0 ml larutan uji, lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 25 ml dan dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda.

2ml × 800mcg / ml

Kadar larutan uji =
25ml

= 64 mcg/ml

Lalu dipipet lagi 3,5 ml larutan uji, dan dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml kemudian dicukupkan sampai garis tanda.

3,5mlx64mcg / ml Kadar larutan uji = 25ml = 8,96 mcg/ml

Perhitungan Konsentrasi Pengukuran Diketahui : nilai absorptivitas (ε) 21590 M-1cm-1 ( Merck Indeks, 2001) BM nifedipin adalah 346,34

A

= ε .b.c (mol/ liter)

0,4343 = 21590 M-1cm-1 x 1 cm x c c = 0,4343 21590x1 c c c c = 2,0115 x 10-5 M = 2,0115 x 10-5 mol/ liter = 2,0115 x 10-5 x 346,34 x 103 mcg/ml = 6,966 mcg/ ml M

Konsentrasi untuk Pengukuran Panjang Gelombang digunakan 7 mcg/ml.

PENERAPAN METODE SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET PADA PENETAPAN KADAR NIFEDIPIN DALAM SEDIAAN TABLET

SKRIPSI

Oleh: RINA AFRIYANA SIRAIT NIM 050804018

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2009 Rina Afriyana Sirait : Penerapan Metode Spektrofotometri Ultraviolet Pada Penetapan Kadar Nifedipin Dalam Sediaan Tablet, 2009.

PENERAPAN METODE SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET PADA PENETAPAN KADAR NIFEDIPIN DALAM SEDIAAN TABLET

SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

Oleh: RINA AFRIYANA SIRAIT NIM 050804018

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 Rina Afriyana Sirait : Penerapan Metode Spektrofotometri Ultraviolet Pada Penetapan Kadar Nifedipin Dalam Sediaan Tablet, 2009.

PENGESAHAN SKRIPSI

PENERAPAN METODE SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET PADA PENETAPAN KADAR NIFEDIPIN DALAM SEDIAAN TABLET

Oleh: RINA AFRIYANA SIRAIT NIM 050804018 Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Pada tanggal: Agustus 2009 Pembimbing I, Panitia Penguji,

(Dra. Nurmadjuzita, M.Si., Apt.) NIP 194809041974122001

(Drs. Chairul Azhar Dalimunthe, M.Sc., Apt.) NIP 194907061980021001

Pembimbing II,

(Dra. Nurmadjuzita, M.Si., Apt.) NIP 194809041974122001

(Drs. Fathur Rahman Harun, M.Si.,Apt.) NIP 19520041980031002 (Drs. Syafruddin, MS., Apt.) NIP 194811111976031003

(Dra. Salbiah, M.Si., Apt.) NIP 194810031987012001

Dekan,

(Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt.) NIP 195311281983031002 Rina Afriyana Sirait : Penerapan Metode Spektrofotometri Ultraviolet Pada Penetapan Kadar Nifedipin Dalam Sediaan Tablet, 2009.

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr.Wb. Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat, rahmat, hidayah dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat mengerjakan penelitian dan menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik, juga shalawat beserta salam kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Penulis mempersembahkan rasa terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Ayahanda Pachry Sirait dan Ibunda Nuraisyah Sinaga, serta saudaraku Rini Apryani Sirait dan Pebriansyah Sirait atas segala do’a, kasih sayang, dorongan moril maupun materil kepada penulis selama ini. Semoga Allah SWT selalu melindungi kalian semua. Dengan segala ketulusan hati penulis juga menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., sebagai Dekan Fakultas Farmasi, beserta seluruh staf, yang telah memberikan fasilitas dan membantu kelancaran pendidikan penulis selama perkuliahan hingga selesai. 2. Ibu Dra. Nurmadjuzita, M.Si., Apt., dan Bapak Drs. Fathur Rahman Harun, M.Si., Apt. selaku pembimbing yang telah meluangkan waktu dan kesabaran yang begitu besar dalam membimbing penulis selama penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini. 3. Bapak/Ibu Pembantu Dekan, Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi USU yang telah mendidik penulis selama masa perkuliahan dan

iv

Ibu Dra. Lely Sari Lubis M.Si., Apt. selaku penasehat akademik yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis selama ini. 4. Bapak Drs. Chairul Azhar Dalimunthe, M.Sc., Apt., Bapak Drs. Syafruddin, MS., Apt., dan Ibu Dra. Salbiah, M.Si., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberikan kritikan, saran dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 5. Bapak dan Ibu Staf Laboratorium Kimia Farmasi Kualitatif yang telah memberikan petunjuk dan saran serta fasilitas laboratorium selama penulis melakukan penelitian. 6. Rekan-rekan mahasiswa Fakultas Farmasi khususnya Stambuk 2005 dan buat sahabat-sahabatku Gema, Devi, Syabrina, Inayah, atas dukungan, semangat, bantuan dan persahabatan selama ini serta seluruh pihak yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan bantuan, motivasi dan inspirasi bagi penulis selama masa perkuliahan sampai penyusunan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurna. Untuk itu saran dan kritik diharapkan demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang farmasi. Wassalamu’alaikum Wr.Wb Medan, Agustus 2009 Penulis

(Rina Afriyana Sirait)

v

Penetapan Kadar Nifedipin Dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultraviolet

Abstrak

Tablet Nifedipin merupakan salah satu sediaan obat yang sering digunakan dalam pengobatan hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menetapkan kadar nifedipin dalam sediaan tablet yang beredar di pasaran apakah memenuhi persyaratan mutu obat. Sehingga dengan kadar yang tepat obat dapat memberikan efek terapi yang dikehendaki. Penetapan kadar nifedipin dalam sediaan tablet dilakukan secara spektrofotometri ultraviolet dengan pelarut metanol pada panjang gelombang 235 nm dan diuji validitasnya berdasarkan parameter akurasi (kecermatan) dengan metode penambahan baku (standard addition method), presisi (keseksamaan), batas deteksi (limit of detection), dan batas kuantitasi (limit of quantitation). Diperoleh kadar untuk tablet Nifedipin generik (Kimia Farma) sebesar 107,75 % ± 1,970 tablet Nifedipin (Dexa Medica) sebesar 106,69% ± 1,095 dan tablet nama dagang; tablet Adalat (Bayer) sebesar 100,02% ± 3,066, tablet

Cordalat (Kimia Farma) sebesar 100,26% ± 1,183, tablet Nifedin (Sanbe Farma) sebesar 105,75% ± 0,101, tablet Farmalat (Pratapa Nirmala)sebesar 100,76% ± 2,041. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar nifedipin dalam sediaan tablet generik dan tablet dengan nama dagang memenuhi standar persyaratan tablet menurut Farmakope Indonesia Edisi IV (1995) yaitu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.

Kata Kunci : nifedipin, penetapan kadar, spektrofotometri ultraviolet.

vi

Determination of Nifedipine in the Tablet Using by Ultraviolet Spectrophotometry

Abstract

Nifedipine tablet is one of the drugs, which was used in medication, and therapy of hypertension. The purpose of this research was used to determination Nifedipine in the tablet, which circulates in the general whether it fulfilled requirement of drug quality, or not so that it will give the therapeutic effect. The determining of nifedipin in tablet was done by ultraviolet spectrophotometry using methanol as a solvent at wavelength 235 nm and tested it validity based on parameter accuracy using standard addition method, precision, limit of detection and limit of quatitation. Based on quantitative determination of nifedipine in generic tablet; Kimia Farma was 107.75% ± 1.970, Dexa Medica was 106.69% ± 1.095 and branded name; Adalat (Bayer) was 100.02% ± 3.066, Cordalat (Kimia Farma) was 100.26% ± 1.183, Nifedin (Sanbe Farma) was 105,75% ± 0.101 and Farmalat (Pratapa Nirmala) was 100.76% ± 2.041. The result of research indicate that determining nifedipine in the generic tablet and branded name was fullfilled requirement of The Farmakope Indonesia Edisi IV (1995), not less than 90.0% and not more than 110.0% of the labelled amount.

Key word : nifedipine, determination, ultraviolet spectorphotometry

vii

DAFTAR ISI
Halaman JUDUL ............................................................................................................. i HALAMAN PENGESAHAN ..............................................................................ii KATA PENGANTAR ........................................................................................ iv ABSTRAK ........................................................................................................ vi ABSTRACT ..................................................................................................... vii DAFTAR ISI ...................................................................................................viii DAFTAR TABEL .............................................................................................. xi DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................xiii BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................. 1 1.1. Latar Belakang ................................................................................. 1 1.2. Perumusan Masalah .......................................................................... 2 1.3. Hipotesis .......................................................................................... 3 1.4. Tujuan ............................................................................................... 3 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 4 2.1. Uraian Bahan .................................................................................. 4 2.1.1. Sifat Fisika dan Kimia Nifedipin ............................................ 4 2.1.2. Farmakologi ........................................................................... 5 2.1.3. Efek Samping ........................................................................ 5 2.1.4. Dosis ..................................................................................... 6 2.1.5. Sediaan ................................................................................. 6 2.2. Spektrofotometri Ultraviolet ........................................................... 7

viii

2.2.1. Teori Spektrofotometri .......................................................... 7 2.2.2. Hukum Lambert Beer................................................................9 2.2.3. Penggunaan Spektrofotometri Ultraviolet ..............................10 2.2.4. Peralatan Untuk Spektrofotometri …………………………..13 2.3. Validasi ........................................................................................ 14 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN .......................................................... 16 3.1. Alat-alat ....................................................................................... 16 3.2. Bahan-bahan ................................................................................ 16 3.3. Pengambilan Sampel .................................................................... 16 3.4. Prosedur Penelitian ...................................................................... 17 3.4.1. Pembuatan Larutan Induk Baku BPFI ............................ ... 17 3.4.2. Penetapan Panjang Gelombang Serapan Maximum ........... 17 3.4.3. Pembuatan Kurva Kallibrasi .............................................. 17 3.4.4. Penetapan Kadar Nifedipin dalam Sediaan Tablet .............. 18 3.4.5.Uji Validasi dengan Parameter Akurasi, Presisi, Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi.......................................18 3.4.5.1 Uji Akurasi dengan Persen Perolehan Kembali (%Recovery)………………………………………..18 3.4.5.2 Uji Presisi…………………………………………..19 3.4.5.3 Penentuan Batas Deteksi (LOD) dan Batas Kuantitasi LOQ)….………………..........................19 3.4.6 Analisis Data secara Statistik .................................................20

.BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN..............................................................22 4.1. Penetuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum Nifedipin BPFI .................................................................................22

ix

4.2. Pembuatan Kurva Kalibrasi..............................................................24 4.3. Penentuan Kadar Nifedipin dalam sediaan tablet.............................26 4.4. Uji Validasi Metode Spektrofotometri Ultraviolet...........................26. BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................28 5.1. Kesimpulan.......................................................................................28 5.2. Saran.................................................................................................28 DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................29 LAMPIRAN............................................................................................................31

x

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.Data Absorbansi dari Kurva Serapan Maksimum.....................................24 Tabel 2.Data Kurva Kalibrasi BPFI .................................................................... 25 Tabel 3.Kadar rata-rata nifedipin pada sediaan tablet ................................. ...... 26 Tabel 4. Data hasil pengujian perolehan kembali nifedipin dengan metode penambahan bahan baku (standard addition method)…………..….......27

xi

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Kurva Serapan Nifedipin BPFI (konsentrasi 7 mcg/ml) dalam pelarut metanol…..…………………………………………...23 Gambar 2. Kurva Kalibrasi Nifedipin BPFI dalam pelaruut metanol pada panjang gelombang 235 nm……………………………………… ..25

xii

DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Perhitungan Persamaan Regresi. .................................................... 31 Lampiran 2. Data kadar nifedipin sediaan tablet ................................................ 32 Lampiran 3. Perhitungan Statistik Kadar Nifedipin pada Generik Kimia Farma .................................................................................. 33 Lampiran 4. Perhitungan Statistik Kadar Nifedipin pada Tablet Nifedipin Generik Dexa Medica.......................................................35 Lampiran 5. Perhitungan Statistik Kadar Nifedipin pada Tablet Adalat (Bayer) .............................................................................. 37 Lampiran 6. Perhitungan Statistik Kadar Nifedipin pada Tablet Nifedin (Sanbe) .......................................................................................... 39 Lampiran 7. Perhitungan Statistik Kadar Nifedipin pada Tablet Farmalat (Pratapa Nirmala) .......................................................................... 41 Lampiran 8. Perhitungan Statistik Kadar Nifedipin pada Tablet Cordalat (Kimia Farma) ............................................................................... 43 Lampiran 9. Perhitungan Konsentrasi Pengukuran ............................................ 45 Lampiran 10.Contoh Perhitungan Penimbangan Sampel ................................... 46 Lampiran 11.Contoh Perhitungan Persentase (%) Perolehan Kembali ............... 47 Lampiran 12.Data hasil persen perolehan kembali Nifedipin pada tablet (PT. Kimia Farma) dengan Metode Penambahan Baku (standard addition method) ........................................................... 49 Lampiran 13. Contoh perhitungan batas deteksi (LOD) dan batas kuantitasi (LOQ ............................................................................................ 50 Lampiran 14. Data Persen Perolehan Kembali (% Recovery)Perhitingan Statistik ........................................................................................ 51
Lampiran 15. Nilai Distribusi t ...................................................................................52

Lampiran 16. Surat Sertifikasi Bahan Baku BPOM………………………………53

xiii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Nifedipin termasuk derivat dihidropiridin, yang merupakan kelompok dari antagonis kalsium (Calcium Entry Blockers). Berkhasiat dalam pencegahan dan pengobatan angina pektoris dan pengobatan hipertensi. Obat ini bekerja dengan menghambat masuknya kalsium ke dalam sel-sel otot jantung dan sel-sel otot polos dinding arteri. Nifedipin diabsobsi dengan cepat dan hampir sempurna (90%) dalam lambung, + 95% terikat oleh protein plasma (Siswandono, 1995). Nifedipin memiliki sifat yang tidak stabil di bawah pengaruh cahaya akan mengalami tata ulang fotokimia menjadi turunan 4-(2-nitrofenil)-piridin (Schunack, W., 1990). Pada pembuatan obat, pemeriksaan kadar zat aktif merupakan persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjamin kualitas sediaan obat. Sediaan obat yang berkualitas baik akan menunjang tercapainya efek terapeutik yang diharapkan. Salah satu persyaratan mutu adalah kadar yang dikandung harus memenuhi persyaratan kadar seperti yang tercantum dalam Farmakope Indonesia. Pada beberapa literatur penetapan kadar nifedipin dalam sediaan tablet dapat dilakukan dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi ( Farmakope Indonesia Edisi IV, 1995; USP XXX, 2007). Metode kromatografi cair kinerja tinggi memiliki kepekaan analisis yang tinggi namun memerlukan biaya yang relatif mahal dalam pelaksanaannya.

xiv

Dilihat dari struktur nifedipin yang mempunyai gugus kromofor (ikatan rangkap terkonjugasi) dan gugus ausokrom (gugus nitro dan gugus karboksil), maka senyawa ini dapat menyerap radiasi pada panjang gelombang di daerah ultraviolet. Dalam The Merck Indeks, nifedipin memiliki serapan maksimum dalam larutan metanol pada panjang gelombang 235 dan 340 nm (ε 21590, 5010 ), dalam larutan asam panjang gelombang 238 dan 338 nm (ε 20600, 5740) dan dalam larutan basa 238 dan 340 nm (ε 20510, 5740). Sedangkan dalam Clark, nifedipin hanya memiliki serapan maksimum dalam larutan asam pada panjang
1 1 gelombang 238 nm ( A1 = 595 b) dan 338 nm ( A1 = 195 b).

Berdasarkan hal tersebut di atas, peneliti memilih metode spektrofotometri ultraviolet sebagai metode yang digunakan pada penetapan kadar nifedipin dalam sediaan tablet. Karena metode ini memiliki banyak keuntungan antara lain dapat digunakan untuk analisis suatu zat dalam jumlah kecil, pengerjaannya mudah, sederhana, cukup sensitif dan selektif, biayanya relatif murah dan mempunyai kepekaan analisis cukup tinggi (Munson, 1991). Untuk menguji keabsahan dari metode ini dilakukan uji validasi dengan parameter akurasi, presisi, limit deteksi dan limit kuantitasi. Selanjutnya metode ini digunakan untuk menentukan apakah sediaan tablet nifedipin yang beredar di pasaran tersebut memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia Edisi IV (1995).

1.2 Perumusan Masalah 1. Apakah metode spektrofotometri ultraviolet dapat digunakan pada penetapan kadar nifedipin dalam sediaan tablet yang memenuhi uji validasi ?

xv

2. Apakah kadar nifedipin dalam sediaan tablet yang beredar di pasaran telah sesuai dengan ketentuan Farmakope Indonesia Edisi IV tahun 1995 ?

1.3 Hipotesis 1. Metode spektrofotometri ultraviolet dapat digunakan pada penentuan kadar nifedipin dalam sediaan tablet serta memenuhi uji validasi. 2. Kadar nifedipin dalam sediaan tablet yang beredar di pasaran sesuai dengan ketentuan Farmakope Indonesia Edisi IV tahun 1995.

1.4 Tujuan 1. Untuk mengetahui metode spektrofotometri ultraviolet dapat digunakan dalam penetapan kadar nifedipin pada tablet serta memenuhi uji validasi. 2. Untuk mengetahui kadar nifedipin dalam sediaan tablet yang beredar di pasaran memenuhi persyaratan yang ditetapkan Farmakope Indonesia Edisi IV tahun 1995.

xvi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Bahan 2.1.1 Sifat Fisikokimia Rumus Struktur :

Rumus Molekul : C17H18N2O6 Nama Kimia : Dimetil 1,4 – dihidro -2,6 –dimetil -4- ( o- nitrofenil ) 3,5 –piridina dikarboksilat ( 21829 -25 -4 ) Berat Molekul Suhu lebur Pemerian Kelarutan : 346,34 : antara 171º sampai 175º : Serbuk kuning; terurai oleh cahaya langsung. : Praktis tidak larut dalam air; mudah larut dalam aseton dan kloroform; kurang larut dalam etanol ( Ditjen POM, 1995; Moffat, 2004) Stabilitas : Nifedipin, suatu turunan 4-(2-nitrofenil)-1,4-dihidropiridin, di bawah pengaruh cahaya mengalami tata ulang fotokimia akan berubah menjadi turunan 4-(2-nitrofenil-piridin (Schunack, 1990).

xvii

2.1.2 Farmakologi Nifedipin adalah zat pertama (1975) dari kelompok dihidropiridin dengan gugusan fenil pada posisi-para. Khasiat utamanya adalah vasodilatasi, maka terutama digunakan pada hipertensi esensil (ringan/ sedang), juga pada angina variant berdasarkan efeknya terhadap jantung yang relatif ringan: tak berkhasiat ionotrop negatif. Pada angina stabil hanya digunakan bila beta-blockers dikontraindikasi atau kurang efektif. Khususnya dianjurkan tablet long-acting Oros (=system osmotis yang melepaskan obat secara teratur untuk waktu lama). Agar efeknya pesat, tablet dapat dikunyah dan diletakkan di bawah lidah (pada krisis hipertensi). Selanjutnya obat ini juga berguna pada Penyakit Raynaud dan serangan sedu (hiccup) (Tjay dan Kirana, 2002).

2.1.3 Efek Samping Efek samping yang sering terjadi adalah udema pergelangan kaki(10%). Dosis awal yang terlalu tinggi dapat memprovokasi serangan angina akibat hipotensi kuat mendadak, sporadis, malah ischemia dan infark akibat refleks tachycardia, terutama pada lansia. Beberapa penelitian memberikan mengenai peningkatan resiko jantung dan kanker (Mycek et all, 2001). Selain itu nifedipin mempunyai insiden yang tinggi (sekitar 20%) tetapi biasanya ringan dan dapat membaik dengan berjalannya waktu. Efek samping ini dapat dikurangi dengan menurunkan dosis atau kombinasi dengan β-blocker. Telah disebutkan bahwa nifedipin dapat menimbulkan serangan angina. Rasa nyeri muncul kira-kira 30 menit setelah makan obat. Bila ini terjadi, obat harus diturunkan dosisnya atau dihentikan (Setiawati, A. dan Suyatna, F.D., 1995) indikasi

xviii

2.1.4 Dosis • Dosis dewasa : Dosis angina dan fenomena Raynaud, sediaan konvensional, dosis awal 10 mg (usia lanjut dan gangguan hati 5 mg) 3 kali sehari dengan atau setelah makan; dosis pemeliharaan 5-20 mg 3 kali sehari; untuk efek yang segera pada angina: gigit kapsul dan telan dengan cairan. Hipertensi ringan sampai sedang dan profilaksis angina: sediaan lepas lambat, 30 mg sekali sehari (tingkatkan bila perlu, maksimum 90 mg sekali sehari) atau 20 mg 2 kali sehari dengan atau setelah makan (awalnya 10 mg 2 kali sehari, dosis pemeliharaan lazim 10-40 mg 2 kali sehari). •

Dosis anak-anak: Hipertrofi kardiopati 0,6-0,9 mg/kg/24 jam dalam 3-4 dosis terbagi.

• •

Dosis pasien hemodialisis: tidak diperlukan dosis tambahan. Dosis pasien dengan gangguan hepar: diperlukan penurunan dosis 50-60% pada pasien yang menderita sirosis hepatik.

(Anonim, 2008; Tjay dan Kirana, 2002)

2.1.5 Sediaan Dalam perdagangan, nifedipin tersedia dalam bentuk tablet mengandung 5 mg; 10 mg, tablet retard 10 mg; 20 mg dan tablet oros 20 mg; 30 mg; 60 mg. Kapsul 10 mg, 20 mg

xix

2.2 Spektrofotometri Ultraviolet 2.2.1 Teori Spektrofotometri Ultraviolet Spektrofotometri serapan merupakan pengukuran suatu interaksi antara radiasi elektromagnetik dan molekul atau atom dari suatu zat kimia. Teknik yang sering digunakan dalam analisis farmasi meliputi spektrofotometri ultraviolet, cahaya tampak, infra merah dan serapan atom. Jangkauan panjang gelombang untuk daerah ultraviolet adalah 190-380 nm, daerah cahaya tampak 380-780 nm, daerah infra merah dekat 780-3000 nm, dan daerah infra merah 2,5-40 µm atau 4000-250 cm-1 ( Ditjen POM, 1995). Radiasi ultraviolet dan sinar tampak diabsorpsi oleh molekul organik aromatik, molekul yang mengandung elektron-π terkonyugasi dan atau atom yang mengandung elektron-n, menyebabkan transisi elektron di orbital terluarnya dari tingkat energi elektron dasar ke tingkat energi elektron tereksitasi lebih tinggi. Besarnya serapan radiasi tersebut sebanding dengan banyaknya molekul analit yang mengabsorpsi sehingga dapat digunakan untuk analisis kuantitatif (Satiadarma, 2004). Gugus fungsi yang menyerap radiasi di daerah ultraviolet dekat dan daerah tampak disebut khromofor dan hampir semua khromofor mempunyai ikatan tak jenuh. Pada khromofor jenis ini transisi terjadi dari π → π *, yang menyerap pada λmax kecil dari 200 nm (tidak terkonyugasi), misalnya pada >C=C< dan -C≡C-. Khromofor ini merupakan tipe transisi dari sistem yang mengandung elektron π pada orbital molekulnya. Untuk senyawa yang mempunyai sistem konyugasi,

xx

perbedaan energi antara keadaan dasar dan keadaan tereksitasi menjadi lebih kecil sehingga penyerapan terjadi pada panjang gelombang yang lebih besar. Gugus fungsi seperti –OH, -NH2 dan –Cl yang mempunyai elektron-elektron valensi bukan ikatan disebut auksokhrom yang tidak menyerap radiasi pada panjang gelombang lebih besar dari 200 nm, tetapi menyerap kuat pada daerah ultraviolet jauh. Bila suatu auksokhrom terikat pada suatu khromofor, maka pita serapan khromofor bergeser ke panjang gelombang yang lebih panjang (efek batokhrom) dengan intensitas yang lebih kuat. Efek hipsokhrom adalah suatu pergeseran pita serapan ke panjang gelombang lebih pendek, yang sering kali terjadi bila muatan positif dimasukkan ke dalam molekul dan bila pelarut berubah dari non polar ke pelarut polar (Dachriyanus, 2004). Secara eksperimental, sangat mudah untuk mengukur banyaknya radiasi yang diserap oleh suatu molekul sebagai fungsi frekuensi radiasi. Suatu grafik yang menghubungkan antara banyaknya sinar yang diserap dengan frekuensi (atau panjang gelombang) sinar merupakan spectrum absorpsi. Transisi yang dibolehkan (allowed transition) untuk suatu molekul dengan struktur kimia yang berbeda adalah tidak sama ssehingga spectra absorpsinya juga berbeda. Dengan demikian, spectra dapat digunkan sebagai bahan informasi yang bermanfaat untuk analisis kualitatif. Banyaknya sinar yang diabsorpsi pada panjang gelombang tertentu sebanding dengan banyaknya molekul yang menyerap radiasi, sehingga spectra absorpsi juga dapat digunakan untuk analisis kuantitatif (Gandjar dan Rohman,2007). Hal–hal yang harus diperhatikan dalam analisis spektofotometri ultraviolet a. Pemilihan panjang gelombang maksimum

xxi

Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif adalah panjang gelombang dimana terjadi serapan maksimum. Untuk memperoleh panjang gelombang serapan maksimum, dilakukan dengan membuat kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu. b. Pembuatan Kurva Kalibrasi Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis dengan berbagai konsentrasi. Masing – masing absorbansi larutan dengan berbagai konsentrasi diukur, kemudian dibuat kurva yang merupakan hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi. Bila hukum Lambert-Beer terpenuhi maka kurva kalibrasi berupa garis lurus. c. Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan Absorbansi yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2 sampai 0,6. Anjuran ini berdasarkan anggapan bahwa pada kisaran nilai absorbansi tersebut kesalahan fotometrik yang terjadi adalah paling minimal (Gandjar dan Rohman, 2007). 2.2.2 Hukum Lambert Beer Menurut Hukum Lambert, serapan berbanding lurus terhadap ketebalan sel yang disinari. Menurut Hukum Beer, yang hanya berlaku untuk cahaya monokromatik dan larutan yang sangat encer, serapan berbanding lurus dengan konsentrasi (banyak molekul zat). Kedua pernyataan ini dapat dijadikan satu dalam Hukum Lambert-Beer, sehingga diperoleh bahwa serapan berbanding lurus terhadap konsentrasi dan ketebalan sel, yang dapat ditulis dalam persamaan: A = a.b.c g/liter atau A = ε . b. C mol/liter

xxii

Dimana: A = serapan (tanpa dimensi) a = absorptivitas ( g-1 cm-1) b = ketebalan sel (cm) C = konsentrasi(g. l-1) ε = absorptivitas molar ( M-1cm-1) Jadi dengan Hukum Lambert-Beer konsentrasi dapat dihitung dari ketebalan sel dan serapan. Absorptivitas merupakan suatu tetapan dan spesifik untuk setiap molekul pada panjang gelombang dan pelarut tertentu. Menurut Roth dan Blaschke (1981), absorptivitas spesifik juga sering digunakan sebagai ganti absorptivitas. Harga ini memberikan serapan larutan 1% (b/v) dengan ketebalan sel 1 cm, sehingga dapat diperoleh persamaan:
1 A = A1 . b . C

1 Dimana: A1 = absorptivitas spesifik (ml g-1 cm-1)

b = ketebalan sel (cm) C = konsentrasi senyawa terlarut (g/100 ml larutan)

2.2.3 Penggunaan Spektrofotometri Ultraviolet Pada umumnya spektrofotometri ultraviolet dalam analisis senyawa organik digunakan untuk: 1. Menentukan jenis khromofor, ikatan rangkap yang terkonyugasi dan auksokhrom dari suatu senyawa organik

xxiii

2. Menjelaskan informasi dari struktur berdasarkan panjang gelombang serapan maksimum suatu senyawa 3. Mampu menganalisis senyawa organik secara kuantitatif dengan menggunakan hukum Lambert-Beer (Dachriyanus, 2004). Analisis kualitatif Kegunaan spektrofotometri ultraviolet dalam analisis kualitatif sangat terbatas, karena rentang daerah radiasi yang relatif sempit hanya dapat mengakomodasi sedikit sekali puncak absorpsi maksimum dan minimum, karena itu identifikasi senyawa yang tidak diketahui, tidak memungkinkan. Penggunaannya terbatas pada konfirmasi identitas dengan menggunakan parameter panjang gelombang puncak absorpsi maksimum, λ max, nilai absorptivitas, a, nilai absorptivitas molar, ε, atau nilai ekstingsi, A1%, 1
cm,

yang

spesifik untuk suatu senyawa yang dilarutkan dalam suatu pelarut dan pH tertentu (Satiadarma, 2002). Analisis Kuantitatif Penggunaan utama spektrofotometri ultraviolet adalah dalam analisis kuantitatif. Apabila dalam alur spektrofotometer terdapat senyawa yang mengabsorpsi radiasi, akan terjadi pengurangan kekuatan radiasi yang mencapai detektor. Parameter kekuatan energi radiasi khas yang diabsorpsi oleh molekul adalah absorban (A) yang dalam batas konsentrasi rendah nilainya sebanding dengan banyaknya molekul yang mengabsorpsi radiasi dan merupakan dasar analisis kuantitatif. Penentuan kadar senyawa organik yang mempunyai gugus khromofor dan mengabsorpsi radiasi ultraviolet-sinar tampak, penggunaannya

xxiv

cukup luas. Konsentrasi kerja larutan analit umumnya 10 sampai 20 µg/ml, tetapi untuk senyawa yang nilai absorptivitasnya besar dapat diukur pada konsentrasi yang lebih rendah. Senyawa yang tidak mengabsorpsi radiasi ultraviolet-sinar tampak dapat juga ditentukan dengan spektrofotometri ultraviolet-sinar tampak, apabila ada reaksi kimia yang dapat mengubahnya menjadi khromofor atau dapat disambungkan dengan suatu pereaksi khromofor (Satiadarma, 2004). Analisis kuantitatif secara spektrofotometri dapat dilakukan dengan metode regresi dan pendekatan. 1. Metode Regresi Analisis kuantitatif dengan metode regresi yaitu dengan menggunakan persamaan garis regresi yang didasarkan pada harga serapan dan konsentrasi standar yang dibuat dalam beberapa konsentrasi, paling sedikit menggunakan 5 rentang konsentrasi yang meningkat yang dapat memberikan serapan yang linier, kemudian diplot menghasilkan suatu kurva yang disebut dengan kurva kalibrasi. Konsentrasi suatu sampel dapat dihitung berdasarkan kurva tersebut. 2. Metode Pendekatan Analisis kuantitatif dengan cara ini dilakukan dengan membandingkan serapan standar yang konsentrasinya diketahui dengan serapan sampel. Konsentrasi sampel dapat dihitung melalui rumus perbandingan C= As.Cb/Ab dimana As= serapan sampel, Ab= serapan standar, Cb= konsentrasi standar, dan konsentrasi sampel (Holme dan Peck, 1983). C=

xxv

2.2.4 Peralatan Untuk Spektrofotometri Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitans atau serapan suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Alat ini terdiri dari spektrometer yang menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer sebagai alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi (Khopkar, 1990; Day and Underwood, 1981). Unsur-unsur terpenting suatu spektrofotometer ditunjukkan secara skematik dalam gambar berikut: Sumber 1 Monokromator 2 Bagian optik Bagian listrik Penguat 5 Kuvet 3 Detektor 4

Pembacaan, pengamatan 6 Berikut ini adalah uraian bagian-bagian spektrofotometer: 1. Sumber-sumber lampu; lampu deutrium digunakan untuk daerah UV pada panjang gelombang dari 190-350 nm, sementara lampu halogen kuarsa atau lampu tungsten digunakan untuk daerah visibel (pada panjang gelombang antara 350-900 nm).

xxvi

2. Monokromator:

digunakan

untuk

memperoleh

sumber

sinar

yang

monokromatis. Alatnya dapat berupa prisma ataupun grating. Untuk mengarahkan sinar monokromatis yang diinginkan dari hasil penguraian. 3. Kuvet: Pada pengukuran didaerah tampak, kuvet kaca atau kuvet kaca corex dapat digunakan, tetapi untuk pengukuran pada daerah UV kita harus menggunakan sel kuarsa karena gelas tidak tembus cahaya pada daerah ini. Umumnya tebal kuvet adalah 10 mm, tetapi yang lebih kecil ataupun yang lebih besar dapat digunakan. Sel yang biasa digunakan berbentuk persegi, tetapi bentuk silinder dapat juga digunakan. Kuvet yang bertutup digunakan untuk pelarut organik. Sel yang baik adalah kuarsa atau gelas hasil leburan yang homogen. 4. Detektor: Peranan detektor penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya pada berbagai panjang gelombang. 5. Suatu amplifier (penguat) dan rangkaian yang berkaitan yang membuat isyarat listrik dapat untuk diamati. 6. Sistem pembacaan yang memperlihatkan besarnya isyarat listrik (Khopkar, 1990; Rohman, 2007; Day and Underwood, 1981).

2.3. Validasi Validasi adalah suatu tindakan penilaian terhadap parameter tertentu pada prosedur penetapan yang dipakai untuk membuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi persyaratan untuk penggunaannya (Harmita, 2004). Parameter analisis yang ditentukan pada validasi adalah akurasi, presisi, kespesifikan, limit deteksi, kelinieran, dan rentang. Akurasi dari suatu metode

xxvii

analisis adalah kedekatan nilai hasil uji yang diperoleh dengan prosedur tersebut dari harga sebenarnya, sering kali dinyatakan dalam persen perolehan kembali analit pada penentuan kadar sampel yang mengandung analit dalam jumlah diketahui. Akurasi merupakan ukuran ketepatan prosedur analisis. Akurasi prosedur analisis ditentukan dengan menerapkan prosedur tersebut pada sampel atau campuran komponen matriks yang telah dibubuhi analit dalam jumlah diketahui. Presisi dari suatu metode analisis adalah derajat kesesuaian diantara masing-masing hasil uji, jika prosedur analisis diterapkan berulang kali pada sejumlah cuplikan yang diambil dari satu sampel homogen. Presisi dinyatakan sebagai deviasi standar atau deviasi standar relatif (koefisien variasi). Presisi dapat diartikan pula sebagai derajat reprodusibilitas atau keterulangan dari prosedur analisis. Kespesifikan dari suatu metode analisis adalah kemampuannya untuk mengukur kadar analit secara khusus dengan akurat, disamping komponen lain yang terdapat dalam matriks sampel. Limit deteksi adalah nilai parameter uji batas, yaitu konsentrasi analit terendah yang dapat dideteksi. Kelinieran suatu metode analisis adalah kemampuan untuk menunjukkan bahwa nilai hasil uji langsung atau setelah diolah secara matematika, proporsional dengan konsentrasi analit dalam sampel dalam batas rentang konsentrasi tertentu. Rentang suatu metode analisis adalah interval antara batas konsentrasi tertiggi dan konsentrasi terendah analit yang dapat ditentukan dengan presisi, akurasi, dan kelinieran (Satiadarma, 2004).

xxviii

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimental. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Farmasi Kualitatif Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

3.1 Alat – alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas, spektrofotometer ultra violet (UV mini 1240 Shimadzu) dan neraca analitik (Vibra AJ)

3.2 Bahan-bahan Bahan- bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : metanol (pro analisis dari E.Merck), akuades (Laboratorium Kimia Farmasi Kuantitatif), nifedipin baku (BPFI); tablet nifedipin generik dan nama dagang.

3.3 Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan secara purposif yaitu tanpa membandingkan antara satu sampel dengan yang lain, karena sampel dianggap homogen. Sampel yang digunakan adalah tablet generik Kimia Farma dan Dexa Medica serta tablet nama dagang Adalat® (Bayer), Farmalat®(Pratapa Nirmala), Cordalat®(Kimia Farma), dan Nifedin® (Sanbe Farma).

xxix

3.4 Prosedur Penelitian 3.4.1 Pembuatan Larutan Induk Baku Nifedipin BPFI Sejumlah lebih kurang 25 mg nifedipin BPFI ditimbang seksama, dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml, dilarutkan dengan metanol lalu dicukupkan sampai garis tanda dengan metanol dan dikocok homogen, sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 500 mcg/ml, larutan ini disebut larutan induk baku (LIB I). Dari larutan ini dipipet 5 ml masukkan ke dalam labu tentukur 50 ml, encerkan dengan metanol sampai garis tanda sehingga diperoleh konsentrasi 50 mcg/ml (LIB II)

3.4.2 Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum Dipipet 3,5 ml dari larutan induk baku (LIB) II (50 mcg/ml) masukkan ke dalam labu tentukur 25 ml, encerkan dengan metanol sampai garis tanda (7 mcg/ml). Lalu dikocok sampai homogen sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 7 mcg/ml. Kemudian ukur serapan pada panjang gelombang 200-400 nm (hasil dapat dilihat pada halaman 11).

3.4.3 Pembuatan Kurva Kalibrasi Dipipet larutan induk baku II BPFI (50 mcg/ml) 2,0; 3,0; 4,0; 5,0 dan 6,0 ml, masing-masing masukkan ke dalam labu tentukur 25 ml, tambahkan metanol sampai garis tanda. Lalu dikocok sampai homogen. Diperoleh larutan dengan konsentrasi 4; 6; 8; 10; 12 mcg/ml. Kemudian diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum yang diperoleh dan sebagai blangko digunakan metanol (hasil dapat dilihat pada halaman 13).

xxx

3.4.4 Penentuan Kadar Nifedipin dalam Sediaan Tablet Timbang dan serbukkan tidak kurang dari 20 tablet. Timbang seksama sejumlah serbuk setara dengan 20 mg nifedipin (Penimbangan serbuk sebanyak 6 kali perlakuan), masukkan ke dalam labu tentukur 25 ml. Lalu ditambahkan 5 ml metanol, kocok dan encerkan dengan metanol sampai garis tanda. Kemudian disaring, 5 ml filtrat pertama dibuang.. Dipipet 2 ml filtrat, masukkan ke dalam labu tentukur 25 ml, dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda dan kocok homogen. Kemudian dipipet 3,5 ml larutan, masukkan ke dalam labu tentukur 25 ml. Lalu dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda, kocok homogen dan diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum yang diperoleh (hasil dapat dilihat pada Tabel 3, halaman 14)

3.4.5 Uji Validasi dengan Parameter Akurasi, Presisi, Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi 3.4.5.1 Uji Akurasi dengan Persen Perolehan Kembali (%Recovery) Uji akurasi dilakukan dengan metode penambahan baku (Standard Addition Method) yaitu dengan membuat 3 konsentrasi analit sampel dengan rentang spesifik 80, 100 dan 120%, dimana masing-masing dilakukan sebanyak 3 kali replikasi. Setiap rentang spesifik mengandung 70% analit sampel dan 30% baku pembanding, kemudian dianalisa dengan perlakuan yang sama seperti pada penetapan kadar sampel (hasil dapat dilihat pada Tabel 4, halaman 15). Persen perolehan kembali (% recovery) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : %Recovery =
A− B C

x

100%

xxxi

Keterangan : A = konsentrasi sampel yang diperoleh setelah penambahan baku B = konsentrasi sampel sebelum penambahan baku C = konsentrasi baku yang ditambahkan 3.4.5.2 Uji Presisi Uji presisi (keseksamaan) ditentukan dengan parameter RSD (Relative Standard Deviasi) dengan rumus : RSD = Keterangan : RSD SD = = = Relative Standard Deviasi Standard Deviasi Kadar Rata-rata Nifedipin dalam Sampel
SD x100% X

X

(WHO, 1992; Indrayanto dan Yuwono, 2003).

3.4.5.3 Penentuan Batas Deteksi (LOD) dan Batas Kuantitasi (LOQ) Untuk menentukan batas deteksi (LOD) dan batas kuantitasi (LOQ) dapat digunakan rumus : SB = (Y − Yi) 2 n−2

LOD =

3 xSB Slope 10 xSB Slope

LOQ =

xxxii

Keterangan : SB = Simpangan Baku

LOD = Batas Deteksi LOQ = Batas Kuantitasi

3.4.6 Analisis Data secara Statistik untuk menghing Standar deviasi (SD) digunakan rumus :

SD =

∑ ( X − Xi )
n −1

2

Untuk mengetahui apakah data diterima atau ditolak digunakan rumus seperti dibawah ini :

t

=

=

X− X SD n

Dasar penolakan data jika thitung ≥ ttabel dan bila thitung mempunyai nilai negatif, ditolak jika thitung ≤ - ttabel. Untuk mencari kadar sebenarnya dengan taraf kepercayaan 99 persen, dengan derajat kebebasan dk = n – 1, digunakan rumus:

µ = X ± t (1-1/2 α)dk x SD / n

xxxiii

Keterangan: µ = interval kepercayaan

X = kadar rata – rata sampel
X = kadar sampel t = harga t tabel sesuai dengan dk = n-1

α = tingkat kepercayaan dk = derajat kebebasan SD = standar deviasi n = jumlah perlakuan

xxxiv

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Menurut

Moffat

(2004), nifedipin

mempunyai spektrum serapan

maksimum pada daerah ultraviolet dalam larutan asam pada panjang gelombang 235 nm (A 1 = 595 b) dan 338 nm (A 1 = 195 b). Menurut Merck Indeks (2001) , 1 1 dalam larutan asam memberikan spektrum serapan maksimum pada panjang gelombang 235 nm (ε = 20600) dan 338 nm (ε = 5740), dalam larutan basa pada panjang gelombang 238 nm (ε = 20600) dan 340 nm (ε = 5740) dan dalam metanol pada panjang gelombang 235 nm (ε = 21590) dan 340 nm (ε = 5010). Dari data kedua literatur diatas kemungkinan nifedipin dapat ditetapkan kadarnya secara spektrofotometri ultraviolet. Dalam penelitian ini digunakan pelarut metanol, karena dari hasil orientasi dalam larutan asam diperoleh larutan yang kurang jernih. Adapun alasan peneliti memilih panjang gelombang 235 nm untuk pengukuran karena panjang gelombang tersebut nifedipin memiliki nilai absorptivitas molar (ε) yang lebih besar daripada panjang gelombang 334 nm. Holme dan Peck (1983) menyatakan bahwa dengan nilai absorptivitas yang besar maka pengukuran dapat dilakukan pada konsentrasi yang rendah, sehingga sensitivitas maksimum dari metode ini dapat tercapai.

4.1 Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum Nifedipin BPFI Sebelum dilakukan penetapan kadar dengan menggunakan metode Spektrofotometri ultraviolet terlebih dahulu dilakukan penentuan panjang

xxxv

gelombang maksimum, meskipun panjang gelombang tersebut sudah diketahui dalam literatur. Hal ini dikarenakan panjang gelombang suatu senyawa dapat berbeda bila ditentukan pada kondisi dan alat yang berbeda. Penentuan panjang gelombang ini dilakukan pada konsentrasi yang memberikan serapan dengan kesalahan fotometrik terkecil ( + 0,4343). Untuk mendapatkan konsentrasi tersebut dapat dihitung menggunakan nilai absorptivitas molar (ε) dari literatur, dalam metanol pada panjang gelombang 235 nm dengan absorptivitas molarnya 21590 (The Merck Indeks, 2001). Contoh perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 9, halaman 33. Dari perhitungan didapatkan konsentrasi pengukuran adalah 7 mcg/ml dan dari hasil pengukuran diperoleh panjang gelombang maksimum, pada 235 nm dan 334 nm dengan serapan masing-masing 0,4370 dan 0,1050 seperti terlihat pada Gambar 1 dan tabel 1.

Gambar 1. Kurva serapan Nifedipin Baku Pembanding Farmakope Indonesia (konsentrasi 7 mcg/ml) dalam pelarut metanol

xxxvi

Tabel 1. Data Absorbansi dari Kurva Serapan Maksimum

Selanjutnya, untuk penetapan kadar nifedipin dalam sediaan tablet yang beredar di pasaran dilakukan pada panjang gelombang maksimum nifedipin BPFI dengan absorptivitas terbesar yaitu pada panjang gelombang 235 nm. Menurut Satiadarma (2004), penentuan kadar dilakukan dengan mengukur serapan pada panjang gelombang maksimum (puncak kurva), agar dapat memberikan serapan tertinggi untuk setiap konsentrasi. Bila suatu senyawa mempunyai lebih dari satu puncak absorpsi maksimum, lebih diutamakan panjang gelombang absorpsi maksimum yang absorptivitasnya terbesar dan memberikan kurva kalibrasi linier dalam rentang konsentrasi yang relatif lebar.

4.2 Pembuatan Kurva Kalibrasi Penentuan linieritas kurva kalibrasi nifedipin BPFI dalam pelarut metanol dengan konsentrasi 4; 6; 8; 10 dan 12 mcg/ml pada panjang gelombang maksimum 235 nm dengan menggunakan metanol sebagai blangko dapat dilihat pada tabel 2 dan gambar 2 berikut ini.

xxxvii

Tabel 2. Data Kurva Kalibrasi dari Nifedipin BPFI

Gambar 2. Kurva kalibrasi nifedipin BPFI dalam pelarut metanol pada panjang gelombang 235 nm. Dari hasil pembuatan kurva kalibrasi nifedipin BPFI diperoleh hubungan yang linier antara konsentrasi dan serapan dengan koefisien korelasi (r) = 0,9996 dan persamaan garis regresi Y = 0,052807 X + 0,002798 yang dapat dilihat pada gambar 2. Kriteria penerimaan untuk korelasi adalah r ≥ 0,995 (Shargel, 1985).

xxxviii

4.3 Penentuan Kadar Nifedipin dalam sediaan tablet Hasil penentuan kadar nifedipin dalam sediaan tablet dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 3. Kadar rata-rata nifedipin pada sediaan tablet Kadar Rata-rata (%) 107,75 106,69 100,26 105,75 100,76 100,02 Kadar Sebenarnya (%) 107,75 ± 1,970 106,69 ± 1,095 100,26 ± 1,183 105,75 ± 0,101 100,76 ± 2,041 100,02 ± 3,066

No 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Nama Sediaan Nifedipin Generik KF Nifedipin Generik Dexa Cordalat Nifedin Farmalat Adalat

Dari data diatas menunjukkan, kadar nifedipin dalam sediaan tablet generik maupun nama dagang, memenuhi persyaratan kadar yang tertera dalam Farmakope Indonesia Edisi IV tahun 1995 yaitu tidak kurang dari 90,0 % dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.

4.4 Uji validasi metode Spektrofotometri Ultraviolet Pada penelitian ini dilakukan uji validasi dengan metode penambahan bahan baku (standard addition method) terhadap sampel tablet nifedipin (PT. Kimia Farma) yang meliputi uji akurasi dengan parameter persen perolehan kembali (% recovery), uji presisi dengan parameter RSD (Relatif Standar Deviasi), batas deteksi (LOD) dan batas kuantitasi (LOQ) (WHO, 1992; Indriyanto dan Yuwono, 2003). Uji akurasi dengan parameter persen perolehan kembali dilakukan dengan membuat 3 konsentrasi analit dengan rentang spesifik 80%, 100%, 120%, masing-

xxxix

masing dengan 3 replikasi dan setiap rentang spesifik mengandung 70% analit dan 30% baku pembanding. Contoh perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 14, halaman 39. Data hasil pengujian perolehan kembali nifedipin dengan metode penambahan bahan baku (standard addition method) dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Data hasil pengujian perolehan kembali nifedipin dengan metode penambahan bahan baku (standard addition method) Rentang Spesifik (%) 80 Konsentrasi (mcg/ml) 10,796 10,766 10,789 11,110 11,048 11,018 11,399 11,334 11,283 Persen perolehan kembali (%) 94,62 91,83 93,97 99,06 94,45 92,22 100,47 96,44 93,28 95,15 1,19 1,25

100

120 Rata-rata (% recovery) Standar Deviasi (SD) Relatif Standar Deviasi (RSD) (%)

Dari data diatas didapatkan persen perolehan kembali (% recovery) ratarata 95,15%, standar deviasi (SD) sebesar 1,19. Persen perolehan kembali ini dapat diterima karena memenuhi syarat akurasi dimana rentang rata-rata hasil persen perolehan kembali adalah 80-110%. Sedangkan dari hasil uji presisi dengan parameter Relative Standar Deviasi (RSD) adalah 1,25%. Nilai RSD yang diizinkan adalah≤ 2 %. M aka dapat disimpulkan bahwa metode yang digunakan mempunyai akurasi dan presisi yang baik (WHO, 1992). Batas deteksi (LOQ) dan batas kuantitasi (LOQ) yang diperoleh dari penelitian ini sebesar 0,2927 mcg/ml dan 0,9785 mcg/ml.

xl

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Metode spektrofotometri ultraviolet dapat digunakan untuk penetapan kadar nifedipin dalam sediaan tablet karena dari hasil uji validasi, metode ini menunjukkan akurasi dan presisi yang baik dengan batas deteksi (LOD) 0,2927 mcg/ml dan batas kuantitasi (LOQ) 0,9758 mcg/ml. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa semua tablet yang diperiksa baik yang generik maupun nama dagang memenuhi standar persyaratan tablet menurut Farmakope Indonesia Edisi IV Tahun 1995 yaitu tidak kurang dari 90,0 % dan tidak lebih dari 110,0 % dari jumlah yang tertera pada etiket.

5.2. Saran Disarankan kepada peneliti selanjutnya agar dapat menentukan kadar nifedipin dalam sediaan tablet dengan metode spektrofotometri sinar tampak ataupun metode volumetri.

xli

DAFTAR PUSTAKA

Budavari, (2001). The Merck Index. Encyclopedia of Chemicals, Drugs, and Biologicals. Thirteenth Edition. Whitehouse: Merck & Co., Inc. Page 1170. Day, R.A & Underwood, A.L. (1999). Analisis Kimia Kuantitatif. Penerjemah: Pudjaatmaka, A.H. Edisi kelima, Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman: 393. Dachriyanus (2004). Analisis Struktur Senyawa Organik Secara Spektrofotometri. Padang : Andalas University Press. Hal 1. Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Halaman 611-613. Gandjar, I. G. dan Rohman, A. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Cetakan II. Yogyakarta: Pustaka pelajar. Halaman 246. Harmita, (2004). Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya. Majalah Ilmu Kefarmasian. Vol. I, No.3. Halaman 117128. Holme, D. J., and Peck, H. (1983). Analytical Biochemistry. London: Longman Inc. Page 40. Indriyanto, G. dan Yuwono M., (2003). In Gazales, J.Ed. Encyclopedia of Chromatography (Marcel Dekker). Suplement. Katzung, B.G., (2001). Farmakologi Dasar dan Klinik. Penerjemah dan Editor Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Edisi Pertama. Jakarta: Penerbit Salemba Medika. Halaman 332-340. Khopkar, S.M., (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. Penerjemah A. Saptoraharjo. Cetakan Pertama. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Halaman Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Halaman 26-217. Moffat, A.C., (2004). Clarke’s Isolation and Identification of Drugs. Third Edition. London: The Pharmaceutics Press. Page 1337. Munson, J.W., (1991). Analisis Farmasi Metode Modern. Penerjemah: Harjana. Parwa B. Surabaya. Airlangga University Press. Hal 334.

xlii

Mycek, M.J., Harvey, R.A., Champe C.C. ( 2001 ). Farmakologi Ulasan Bergambar. Lippincott’s illustrated reviews: Farmacology. Penerjemah Azwar Agoes. Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Widya Medika. Halaman 189-190. Roth, J.H., and Blaschke, G., (1998). Analisis Farmasi. Penerjemah: Kisman, dkk. Cetakan Ketiga. Yogyakarta. UGM Press. Hal 355-357. Satiadarma, K., (2004). Azas Pengembangan Prosedur Analisis. Edisi Pertama. Cetakan Pertama. Surabaya : Airlangga University Press. Halaman 378388. Setiawati, A., dan Bustami, Z.S., (1995). Antihipertensi, dalam Farmakologi dan Terapi. Editor : Ganiswara, S.G., Edisi IV. Jakarta: UI-Press. Halaman 329. Siswandono dan Soekardjo, B. (1995). Kimia Medisinal. Surabaya : Airlangga University Press. Hal 364, 367. Shargel, L. (1985). Biofarmasetika Dan Farmakokinetika Terapan. Penerjemah Fasich. Edisi Kedua. Surabaya: Penerbit Unversitas Airlangga. Halaman 16. Tjay, T.H dan Raharjo, K. (2002). Obat-obat Penting. Jakarta: Penerbit PT Elek Media Komputindo. Halaman 503, 527. USP Pharmacopeia, (2008). The National Formulary. 31st Edition. The United State Pharmacopeia Convention. Page 1247 WHO. (1992). Validation of Analytical Procedures Used in Examination of Pharmaceutical materials. WHO Technical Report Series. No. 823.

xliii

Lampiran 1. Perhitungan Persamaan Regresi Nifedipin BPFI No 1 2 3 4 5 6 Σ Ratarata X 0 4 6 8 10 12 40 6,6667 Y 0 0,215 0,328 0,421 0,527 0,638 2,129 0,3548 XY 0 0,86 1,968 3,368 5,270 7,656 19,122 X² 0 16 36 64 100 144 360 Y² 0 0,0462 0,1076 0,1772 0,2777 0,4070 1,0157

a=

∑ XY − (∑ X )(∑ Y ) /n ∑ Χ − ∑(X ) / n
2 2

19,122 - (40 ) ( 2,129) / 6
=

360 – (40) 2 / 6 = 0,052807

b=Y–aX = 0,3548 – (0,052807) (6,6667) = 0,002798 Maka persamaan garis regresinya adalah Y = 0,052807X – 0,002789 r =

ΣXY −
2

(ΣX )(∑ Y ) / n
2

[(∑ X ) − (ΣY ) ][(ΣY 2 ) − (ΣY ) 2 / n]

=

19,122 − (40)(2,129) / 6 [(360) − (40) 2 ][(1,0157 ) − (2,129) 2 / 6]

=

10,96 10,96265661

= 0,9996

xliv

Lampiran 2. Data kadar nifedipin sediaan tablet

Nama sediaan Nifedipin Generik (Kimia Farma)

Penimbangan (mg) 552 556 552 559 559 556

Setara (mg) 20,08 20,23 20,23 20,35 20,35 20,23 20,96 20,96 20,87 20,87 20,72 20,72 20,10 20,30 20,10 20,14 20,14 20,10 20,16 20,34 20,34 20,27 20,04 20,27 20,04 20,04 20,13 20,17 20,21 20,17 19,82 20,04 19,87 19,95 19,95 20,04

Absorbansi

Kons Konsentrasi Teoritis Perolehan (mcg/ml) (mcg/ml) 8,9976 9,0631 8,9976 9,1116 9,1116 9,0631 9,3901 9,3901 9,3498 9,3498 9,2826 9,2826 9,0062 9,0957 9,0062 9,0212 9,0212 9,0062 9,0296 9,1124 9,1124 9,0793 9,0296 9,0793 8,9761 8,9761 9,0160 9,0357 9,0559 9,0357 8,8799 8,9776 8,8995 8,9385 8,9385 8,9774 9,5983 9,8641 9,6145 9,8826 9,9959 9,7162 10,070 10,061 10,010 9,9705 9,8341 9,7971 8,9672 9,4804 9,0111 9,1036 9,1036 9,0366 9,5659 9,6422 9,6422 9,6122 9,4804 9,6122 8,9510 8,8932 9,1221 9,1637 9,2816 9,1475 8,7060 9,1729 8,7545 8,9140 8,9325 9,2007

Kadar (%) 106,57 108,73 106,75 107,73 109,59 107,10 107,13 107,04 106,95 106,53 105,84 105,44 99,47 104,13 99,95 100,81 100,81 100,24 105,83 105,71 105,71 105,76 104,89 105,76 99,62 98,98 101,08 101,32 102,39 101,14 97,94 102,07 98,27 99,63 99,83 102,38

0,5096 0,5237 0,5105 0,5247 0,5306 0,5159 0,5345 0,5341 0,5314 0,5293 0,5221 0,5201 0,4763 0,5034 0,4786 0,4835 0,4835 0,4800 0,5079 0,5120 0,5120 0,5104 0,5034 0,5104 0,4775 0,4724 0,4845 0,4867 0,4929 0,4858 0,4625 0,4872 0,4651 0,4735 0,4745 0,4886

Nifedipin Generik (Dexa Medica)

688 688 685 685 680 680 604 610 604 605 605 604 545 550 550 548 542 548 450 450 452 453 454 453 455 460 456 458 4585 460

Cordalat

Nifedin

Farmalat

Adalat

xlv

Lampiran 3. Perhitungan Statistik Kadar Nifedipin pada Generik Kimia Farma Kadar [X] (%) 106,57 108,73 106,75 107,73 109,59 107,10 X = 107,745 Xi – X -1,175 0,985 -0,995 -0,015 1,845 -0,645 ( Xi – X)2 1,3806 0,9702 0,9900 0,0002 3,4040 0,4160 ∑ = 7,1610

1 2 3 4 5 6

SD =

∑ ( X − Xi )
n −1

2

=

7,1610 5

=

1,1967

Jika taraf kepercayaan 99% dengan nilai α = 0,01; n = 6, dk = 5, dari daftar tabel distribusi t diperoleh nilai ttabel = 4,0321 Data ditolak jika thitung ≥ t tabel atau thitung ≤ - ttabel

t

=

X− X SD n
: - 1,175 / 0,4886 : 0,985 / 0,4886 = - 2,4048 = 2,0259

t hitung 1 t hitung 2 t hitung 3 t hitung 4 t hitung 5 t hitung 6

: - 0,995 / 0,4886 : - 0,015 / 0,4886 : 1,845 / 0,4886

= - 2,0364 = - 0,0307 = = 3,7761 1,3201

: - 0,645 / 0,4886

xlvi

Lampiran 3, sambungan........ karena thitung ≤ t tabel maka data diterima maka kadar sebenarnya terletak antara: µ = X ± t (1-1/2 α)dk x SD / n

 1,1967  = 107,745 ±  4,0321 x    6  
= 107,745 ± 1,970

xlvii

Lampiran 4. Perhitungan Statistik Kadar Nifedipin pada Tablet Generik Dexa Medica) No 1 2 3 4 5 6 Kadar [X] (%)
107,13 107,04 106,95 106,53 105,84 105,44

Xi – X 0,64 0,55 0,46 0,04 -0,65 -1,05

( Xi – X)2 0,4096 0,3025 0,2116 0,0016 0,4225 1,1025 ∑ = 2,4503

X = 106,49

SD =

∑ ( X − Xi )
n −1

2

=

2,4503 6 −1

=

0,6390

Jika taraf kepercayaan 99% dengan nilai α = 0,01; n = 6, dk = 5, dari daftar tabel distribusi t diperoleh nilai ttabel = 4,0321 Data ditolak jika thitung ≥ t tabel atau thitung ≤ - ttabel

t

=

X− X SD n

t hitung 1 t hitung 2 t hitung 3 t hitung 4 t hitung 5 t hitung 6

: 0,64 / 0,2609 : 0,55 / 0,2609 : 0,46 / 0,2609 : 0,04 / 0,2609 : -0,65 / 0,2609 : -1,05 / 0,2609

= 2,4530 = 2,1081 = 1,7631 = 0,1399 = -2,4914 = -4,0345 (data ditolak)

Karena t hitung ≤ - t tabel. maka data ditolak, selanjutnya dilakukan pengujian selanjutnya terhadap data yang dianggap tidak menyimpang

xlviii

Lampiran 4. sambungan......... No 1 2 3 4 5 Kadar [X] (%)
107,13 107,04 106,95 106,53 105,84

Xi – X 0,432 0,342 0,252 -0,168 -0,858

∑ = 106,698

( Xi – X)2 0,1866 0,1169 0,0635 0,0282 0,7362 ∑ = 1,1314

SD =

∑ ( X − Xi )
n −1

2

=

1,1314 5 −1

=

0,5318

Jika taraf kepercayaan 99% dengan nilai α = 0,01; n = 5, dk = 4, dari daftar tabel distribusi t diperoleh nilai ttabel = 4,6040 Data ditolak jika thitung ≥ ttabel atau thitung ≤ - ttabel

t =

X− X SD n
: 0,432 / 0,2378 : 0,342 / 0,2378 : 0,252 / 0,2378 : -0,168 / 0,2378 : -0,858 / 0,2378 = 1,8167 = 1,4382 = 1,0597 = -0,7065 = -3,6081

t hitung 1 t hitung 2 t hitung 3 t hitung 4 t hitung 5

karena thitung ≤ttabel maka data diterima maka kadar sebenarnya terletak antara: µ = X ± t (1-1/2 α)dk x SD / n  0,5318  = 106,69±  4,6040 x    5   = 106,69 ± 1,095

xlix

Lampiran 5. Perhitungan Statistik Kadar Nifedipin pada Tablet Adalat (Bayer) (Xi – X)2 4,3264 4,2025 3,0625 0,1521 0,0361 5,5696 ∑ = 17,3492

No 1 2 3 4 5 6

Kadar [X] (%) 97,94 102,07 98,27 99,63 99,83 102,38 X = 100,02

Xi – X -2,08 2,05 -1,75 -0,39 -0,19 2,36

SD =

∑ ( X − Xi )
n −1

2

=

17,3492 6 −1

=

1,8628

Jika taraf kepercayaan 99% dengan nilai α = 0,01; n = 6, dk = 5, dari daftar tabel distribusi t diperoleh nilai ttabel = 4,0321 Data ditolak jika thitung ≥ ttabel atau thitung ≤ - ttabel

t =

X− X SD n
: -2,08 / 0,7605 : 2,05 / 0,7605 : -1,75 / 0,7605 : -0,39 / 0,7605 : -0,19 / 0,7605 : 2,36 / 0,7605 = -2,7350 = 2,6956 = -2,3011 = -0,5128 = -0,2498 = 3,1032

t hitung 1 t hitung 2 t hitung 3 t hitung 4 t hitung 5 t hitung 6

Lampiran 5, sambungan..........

l

karena thitung ≤ttabel maka data diterima maka kadar sebenarnya terletak antara: µ = X ± t (1-1/2 α)dk x SD / n  1,8628  = 102,41 ±  4,0321 x    6   = 102,41 ± 3,066

Lampiran 6. Perhitungan Statistik Kadar Nifedipin pada Tablet Nifedin (Sanbe)

li

No 1 2 3 4 5 6

Kadar [X] (%) 105,83 105,71 105,71 105,76 104,89 105,76 X= 105,61

Xi – X 0,22 0,10 0,10 0,15 -0,72 0,15

( Xi – X)2 0,0484 0,0100 0,0100 0,0225 0,5184 0,0225 ∑ = 0,6318

SD =

∑ ( X − Xi )
n −1

2

=

0,6318 6 −1

=

0,3555

Jika taraf kepercayaan 99% dengan nilai α = 0,01; n = 6, dk = 5, dari daftar tabel distribusi t diperoleh nilai ttabel = 4,0321 Data ditolak jika thitung ≥ ttabel atau thitung ≤ - ttabel

t

=

X− X SD n
: 0,22 / 0,1451 : 0,10 / 0,1451 : 0,10 / 0,1451 : 0,15 / 0,1451 : -0,72 / 0,1451 : 0,15 / 0,1451 = 1,5159 = 0,6890 = 0,6890 = 1,0335 = 4,9609 (data ditolak) = 1,0335

t hitung 1 t hitung 2 t hitung 3 t hitung 4 t hitung 5 t hitung 6

Karena t hitung ≤ - t tabel. maka data ditolak, selanjutnya dilakukan pengujian selanjutnya terhadap data yang dianggap tidak menyimpang

Lampiran 6. sambungan.........

lii

No 1 2 3 4 5

Kadar [X] (%) 105,83 105,71 105,71 105,76 105,76 ∑ = 105,754

Xi – X 0,076 -0,044 -0,044 0,006 0,006

( Xi – X)2 0,0058 0,0019 0,0019 0,00004 0,00004 ∑ = 0,00968

SD =

∑ ( X − Xi )
n −1

2

=

0,00968 5 −1

=

0,0492

Jika taraf kepercayaan 99% dengan nilai α = 0,01; n = 5, dk = 4, dari daftar tabel distribusi t diperoleh nilai ttabel = 4,6040 Data ditolak jika thitung ≥ ttabel atau thitung ≤ - ttabel

t =

X− X SD n
: 0,076 / 0,0220 : -0,044 / 0,0220 : -0,044 / 0,0220 : 0,006 / 0,0220 : 0,006 / 0,0220 = 3,4545 = 2,0000 = 2,0000 = 0,2727 = 0,2727

t hitung 1 t hitung 2 t hitung 3 t hitung 4 t hitung 5

karena thitung ≤ttabel maka data diterima maka kadar sebenarnya terletak antara: µ = X ± t (1-1/2 α)dk x SD / n  0,0492  = 102,03 ±  4,6040 x    5   = 102,03 ± 0,101 Lampiran 7. Perhitungan Statistik Kadar Nifedipin pada Tablet Farmalat

liii

(Pratapa Nirmala) (Xi – X)2 1,2882 3,1506 0,1056 0,3192 2,6732 0,1482 ∑ = 7,6850

No 1 2 3 4 5 6

Kadar[X] (%) 99,62 98,98 101,08 101,32 102,39 100,14 X= 100,755

Xi – X -1,135 -1,775 0,325 0,565 1,635 0,385

SD =

∑ ( X − Xi )
n −1

2

=

7,6850 6 −1

=

1,2398

Jika taraf kepercayaan 99% dengan nilai α = 0,01; n = 6, dk = 5, dari daftar tabel distribusi t diperoleh nilai ttabel = 4,0321 Data ditolak jika thitung ≥ ttabel atau thitung ≤ - ttabel

t =

X− X SD n
: -1,135 / 0,5061 : -1,775 / 0,5061 : 0,325 / 0,5061 : 0,565 / 0,5061 : 1,635 / 0,5061 : 0,385 / 0,5061 = -2,2426 = -3,5072 = 0,6422 = 1,1164 = 3,2306 = 0,7607

t hitung 1 t hitung 2 t hitung 3 t hitung 4 t hitung 5 t hitung 6

liv

Lampiran 7. sambungan......... karena thitung ≤ttabel maka data diterima maka kadar sebenarnya terletak antara: µ = X ± t (1-1/2 α)dk x SD / n  1,2398  = 100,76 ±  4,0321 x    6   = 100,76 ± 2,041

lv

Lampiran 8. Perhitungan Statistik Kadar Nifedipin pada Tablet Cordalat (Kimia Farma) No 1 2 3 4 5 6 Kadar % 99,47 104,13 99,95 100,81 100,81 100,24 X = 100,902 Xi – X -1,432 3,228 -0,952 -0,092 -0,092 -0,662 ( Xi – X)2 2,0506 10,4199 0,9063 0,0085 0,0085 0,4382 ∑ = 13,8320

SD =

∑ ( X − Xi )
n −1

2

=

13,8320 6 −1

=

1,6632

Jika taraf kepercayaan 99% dengan nilai α = 0,01; n = 6, dk = 5, dari daftar tabel distribusi t diperoleh nilai ttabel = 4,0321 Data ditolak jika thitung ≥ ttabel atau thitung ≤ - ttabel

t

=

=

X− X SD n
: -1,432 / 0,6790 : 3,228 / 0,6790 : -0,952 / 0,6790 : -0,092 / 0,6790 : -0,092 / 0,6790 : -0,662 / 0,6790 = -2,1089 = 4,7541 (data ditolak) = -1,4021 = -0,1354 = -0,1354 = -0,9749

t hitung 1 t hitung 2 t hitung 3 t hitung 4 t hitung 5 t hitung 6

Karena t hitung 4

≤ - t tabel. maka data ditolak, selanjutnya dilakukan pengujian

selanjutnya terhadap data yang dianggap tidak menyimpang Lampiran 8. sambungan.........

lvi

No 1 2 3 4 5

Kadar [X] (%) 99,47 99,95 100,81 100,81 100,81 ∑ = 100,256

Xi – X -0,786 -0,306 0,554 0,554 -0,016

( Xi – X)2 0,6178 0,0936 0,3069 0,3069 0,0003 ∑ = 1,3255

SD =

∑ ( X − Xi )
n −1

2

=

1,3255 5 −1

=

0,5757

Jika taraf kepercayaan 99% dengan nilai α = 0,01; n = 5, dk = 4, dari daftar tabel distribusi t diperoleh nilai ttabel = 4,6040 Data ditolak jika thitung ≥ ttabel atau thitung ≤ - ttabel

t =

X− X SD n
: -0,786 / 0,2574 : -0,306 / 0,2574 : 0,554 / 0,2574 : 0,554 / 0,2574 : -0,016 / 0,2574 = -3,0536 = -1,1888 = 2,1522 = 2,1522 = 0,0622

t hitung 1 t hitung 2 t hitung 3 t hitung 4 t hitung 5

karena thitung ≤ttabel maka data diterima maka kadar sebenarnya terletak antara: µ = X ± t (1-1/2 α)dk x SD / n  0,5757  = 100,256 ±  4,6040 x    5   = 100,26 ± 1,183

lvii

Lampiran 9. Perhitungan Konsentrasi Pengukuran

Diketahui : nilai absorptivitas (ε) 21590 M-1cm-1 ( Merck Indeks, 2001) BM nifedipin adalah 346,34

A

= ε .b.c (mol/liter)

0,4343 = 21590 M-1cm-1 x 1 cm x c c c c c c =
0,4343 M 21590 x1

= 2,0115 x 10-5 M = 2,0115 x 10-5 mol/ liter = 2,0115 x 10-5 x 346,34 x 103 mcg/ml = 6,966 mcg/ ml

Konsentrasi untuk Pengukuran Panjang Gelombang digunakan 7 mcg/ml

lviii

Lampiran 10. Contoh Perhitungan Penimbangan Sampel

Berat 20 tablet Kandungan nifedipin pada etiket

= 5, 497 g = 10 mg

Dibuat larutan uji dengan kadar lebih kurang 8 mcg/ml. Ditimbang serbuk setara dengan 20 mg nifedipin, maka berat sampel yang ditimbang adalah: Berat penimbangan sampel =

20mg X 5497 mg 20 × 10mg

=549,7 mg Sampel yang telah ditimbang dimasukkan dalam labu ukur 25 ml, lalu dilarutkan dalam pelarut metanol dan cukupkan sampai garis tanda dengan air. Kadar larutan uji =
20mg X 1000 mcg/ml = 800 mcg/ml 25ml

Kemudian dipipet 2,0 ml larutan uji, lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 25 ml dan dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda. Kadar larutan uji =
2ml × 800mcg / ml = 64 mcg/ml 25ml

Lalu dipipet lagi 3,5 ml larutan uji, dan dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml kemudian dicukupkan sampai garis tanda. Kadar larutan uji =
3,5mlx64mcg / ml = 8,96 mcg/ml 25ml

lix

Lampiran 11. Contoh Perhitungan Persentase (%) Perolehan Kembali Berat 20 tablet Berat 1 tablet = 5497 mg = 274,85 mg

Kandungan zat berkhasiat = 10 mg Perolehan 80 % =
80 x 10 mg 100

= 8 mg

Analit 70 % =
70 x 8 mg 100

= 5,6 mg

Sampel yang ditimbang

=

5,6mg x 274,85 mg 10mg

= 153,916 mg Baku 30 % =
30 x 8 mg 100

= 2,4 mg

Perolehan 100 % =
100 x 10 mg 100

= 10 mg

Analit 70 % =
70 x 10 mg 100

= 7 mg

Sampel yang ditimbang

=

7 mg x 274,85 mg 10mg

= 192,395 mg

lx

Baku 30 % =
30 x 10 mg 100

= 3 mg

Perolehan 120 % =
120 x 10 mg 100

= 12 mg

Analit 70 % =
70 x 12 mg 100

= 8,4 mg

Sampel yang ditimbang

=

8,4mg x 274,85 mg 10mg

= 230,874 mg Baku 30 % =
30 x 12 mg 100

= 3,6 mg

lxi

Lampiran 12. Data hasil persen perolehan kembali Nifedipin pada tablet (PT. Kimia Farma) dengan Metode Penambahan Baku (standard addition method)

Persen Konsentrasi perolehan Setelah Sebelum Analit yang Konsentrasi penambahan penambahan ditambahkan No Absorbansi (A-B) x100% (%) analit analit (C) C (A) (B) mcg/ml mcg/ml mcg/ml 1 10,796 9,7786 1,0752 0,5729 94,62 2 10,766 9,7786 1,0752 80 0,5713 91,83 3 10,789 9,7786 1,0752 0,5725 93,97 4 11,110 9,7786 1,3440 0,5895 99,06 5 100 11,048 9,7786 1,3440 0,5862 94,45 6 11,018 9,7786 1,3440 0,5846 92,22 7 11,399 9,7786 1,6128 0,6047 100,47 8 11,334 9,7786 1,6128 120 0,6013 96,44 9 11,283 9,7786 1,6128 0,5986 93,28 Kadar rata – rata (% recovery) 95,15 Standar Deviasi (SD) 1,19 Relatif Standar Deviasi (RSD) (%) 1,25

lxii

Lampiran 13. Contoh perhitungan batas deteksi (LOD) dan batas kuantitasi (LOQ) Persamaan garis regresi: Y = 0,052807X + 0,002789 Konsentrasi No (mcg/ml) X 1 0 2 4 3 6 4 8 5 10 6 12 ∑ ∑ 40 6,6667 Luas Puncak Y 0 0,215 0,328 0,421 0,527 0,638 2,129 0,3548 (Y – Yi)2 0 0,00000100 0,00007056 0,00001764 0,00001444 0,00000256 0,00010620

Yi 0 0,2140 0,3196 0,4252 0,5308 0,6364

Y - Yi 0 0,001 0,0084 -0,0042 -0,0038 0,0016

SB =

∑(Y − Yi) 2 n−2
0,0001062 6−2

=

= 0,0052

LOD =

3 × SB Slope
3× 0,0052 0,052807

=

= 0,2927 mcg/ml LOQ =

10 × SB Slope
10 × 0,0052 0,052807

=

= 0,9758 mcg/ml

lxiii

Lampiran 14. Data Persen Perolehan Kembali (% Recovery) a. Perolehan 80%

b. Perolehan 100%

c. Perolehan 120%

lxiv

Lampiran 15. Nilai Distribusi t α 0.1 df 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 3.0776 1.8856 1.6377 1.5332 1.4758 1.4397 1.4149 1.3968 1.3830 1.3721 1.3634 1.3562 1.3501 1.3450 1.3406 1.3367 1.3333 1.3303 1.3277 1.3253 1.3231 1.3212 1.3194 1.3178 1.3163 1.3149 1.3137 1.3125 1.3114 1.3104 0.05 0.025 0.01 0.005 0.0025 0.001

6.3137 2.9199 2.3533 2.1318 2.0150 1.9431 1.8945 1.8595 1.8331 1.8124 1.7958 1.7822 1.7709 1.7613 1.7530 1.7458 1.7396 1.7340 1.7291 1.7247 1.7207 1.7171 1.7138 1.7108 1.7081 1.7056 1.7032 1.7011 1.6991 1.6972

12.7062 4.3027 3.1824 2.7765 2.5706 2.4469 2.3646 2.3060 2.2621 2.2281 2.2009 2.1788 2.1603 2.1447 2.1314 2.1199 2.1098 2.1009 2.0930 2.0859 2.0796 2.0738 2.0686 2.0638 2.0595 2.0555 2.0518 2.0484 2.0452 2.0422

31.8205 63.6567 127.3213 6.9645 9.9248 14.0890 4.5407 5.8409 7.4533 3.7469 4.6040 5.5975 3.3649 4.0321 4.7733 3.1426 2.9979 2.8964 2.8214 2.7637 2.7180 2.6809 2.6503 2.6244 2.6024 2.5834 2.5669 2.5523 2.5394 2.5279 2.5176 2.5083 2.4998 2.4921 2.4851 2.4786 2.4726 2.4671 2.4620 2.4572 3.7074 3.4994 3.3553 3.2498 3.1692 3.1058 3.0545 3.0122 2.9768 2.9467 2.9207 2.8982 2.8784 2.8609 2.8453 2.8313 2.8187 2.8073 2.7969 2.7874 2.7787 2.7706 2.7632 2.7563 2.7499 4.3168 4.0293 3.8325 3.6896 3.5814 3.4966 3.4284 3.3724 3.3256 3.2860 3.2519 3.2224 3.1965 3.1737 3.1534 3.1352 3.1188 3.1039 3.0905 3.0781 3.0669 3.0565 3.0469 3.0380 3.0297

318.3088 22.3271 10.2145 7.1731 5.8934 5.2076 4.7852 4.5007 4.2968 4.1437 4.0247 3.9296 3.8519 3.7873 3.7328 3.6861 3.6457 3.6104 3.5794 3.5518 3.5271 3.5049 3.4849 3.4667 3.4501 3.4349 3.4210 3.4081 3.3962 3.3851

31 32 33 34 35

1.3094 1.3085 1.3077 1.3069 1.3062

1.6955 1.6938 1.6923 1.6909 1.6895

2.0395 2.0369 2.0345 2.0322 2.0301

2.4528 2.4486 2.4447 2.4411 2.4377

2.7440 2.7384 2.7332 2.7283 2.7238

3.0221 3.0149 3.0082 3.0019 2.9960

3.3748 3.3653 3.3563 3.3479 3.3400

lxv

Lampiran 16. Surat Sertifikasi Bahan Baku POM

lxvi

lxvii

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->