DISKURSUS PENCAPAIAN KONSEP AL-HAQQ, IT-TIHAD DAN HULUL DALAM DUNIA TASAWUF

(Studi Konsep Ketuhanan Husain Ibn Manshur al-Hallaj, Abu Yazid al-Bustami dan Ibn `Arabi)

A. Pendahuluan Secara umum, dalam diri manusia terdapat dua dimensi yang antara keduanya saling mendukung. Pertama, dimensi jasmaniyah (jasad) yang dalam kronologi penciptaannya berasal dari tanah.1 Fenomena ini membangun sebuah argumentsi yang kokoh bahwa secara jasmaniyah manusia berasal dari tanah dan yang memuaskannya, semua berasal dari tanah serta ketika matipun, jasad dikembalikan ke tanah. Kedua, dimensi ruhani (ruh) yang berasal dari Allah.2 Konsekuensi logisnya, bahwa ruh berasal dari Allah dan yang bisa memuaskannya juga sesuatu yang berasal dari Allah serta ketika manusia dinyatakan mati, maka ruh kembali kepada Allah Dimensi jasad, mengantarkan manusia memiliki fitrah (kecenderungan) membutuhkan sesuatu yang bersifat materi. Sebaliknya, dimensi ruh

mengantarkan manusia memiliki fitrah insting keberagaman,3 yang cenderung bernuansa spritualis. Antara keduanya menjadi satu kesatuan yang utuh dalam diri manusia. Manusia yang mampu memahami dirinya secara utuh, maka akan sampai pada pengetahuan kedekatannya tentang Tuhan. Artinya, manusia yang mampu
al-Qur’an al-Karim Surat al-Mukminun (23) : 12-14. al-Qur’an al-Karim surat al-Hijr (15) : 29, lihat juga surat Shaad (38) : 72. 3 M. Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi, Al-Asma’ al-Husna Dalam Perspektif alQur’an, Jakarta, Lentera Hati, Cetakan VIII, 2006, hal. 17.
2
1

65. 4 . menemukan sebuah formulasi komunikasi ideal antara manusia dengan Tuhannya. ia dilahirkan pada 17 ramadhan 560 H. maka sungguh ia telah mengetahui dan mengenal Tuhannya. seorang sufi termasyhur dari andalusia. Yang pertama adalah Abu Bakr Muhammad Ibn `Abd Allah Ibn al-`Arabi alMa`afiri (468-543). hal. Falsafah dan Mistisme dalam Islam. Dalam sejarah pemikiran Islam ada dua tokoh terkemuka yang mempunyai nama yang sama. Amin Syukur. Robson.5 Menurut Harun Nasution “Kesadaran berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad bersatu dengan Tuhan”. (Jakarta: Bulan Bintang. hal. (Jakarta: Mitra Pustaka. 1979). 5 Yusuf Qardawi.6 Manshur al-Hallaj dalam pengalaman spiritualnya. 6 Harun Nasution. 2002). (Jakarta: Hikmah. 56. 7 J. hal. Zikir Menyembuhkan Kankerku: Pengalaman Kesembuhan Seseorang Penderita Kanker Ganas yang Divonis Memiliki Hidup Hanya Tiga Bulan. Konsep al-Haqq dalam teori Ibn `Arabi Nama ibn `arabi dimili tidak hanya oleh satu orang. maka berarti antar manusia dengan Allah sebagai Tuhannya bisa menyatu. Jaziratul Islamiyah).7 Yang kedua adalah Muhammad Ibn `Ali ibn Muhammad ibn al`arabi al-Ta`i al-hatimi. 57. yaitu al-Lahut dan al-Nasut. 1973). Apabila kedua sifat ini melebur jadi satu. M. seorang ahli hadits di Serville. Al-Iman wa al-Hayat. (terj.4 Pada tataran ini. Momentum menyatunya antara al-Lahut dan al-Nusut ini dalam teori tasawufnya Mansur al-Hallaj disebut al-Hullul.mengenal dirinya sendiri. New Edition (London dan Laiden: Luzac dan Brill. Formulasi ini dibangun berdasarkan persepsinya yang utuh bahwa antara manusia dan Tuhan memiliki dua sifat yang sama. Ibn al-`Arab The Encylopedia of Islam. 3:707. 2007). Cet V. tidak ada batas dan tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi hubungan langsung antara manusia dengan Allah. B. hal.

Dengan kata lain. antara Yang Satu dan Yang Banyak? Sebelumnya. Kata al-haqq dalam karya-karya Ibn `arabi mempunyai beberapa pengertian yang berbeda dalam konteks-konteks yang berbeda pula. al-mawjudat dan al-mumkinat. hanya ada satu Realitas. dalam masalah wujud. Sementara. Realitas dan Penampakan.Tokoh pertama adalah sang kadi bukan objek pembicaraan dalam makalah ini. Yang Satu dan Yang Banyak hanyalah nama-nama untuk dua aspek subjektif dari Realitas Tunggal. Ibn Al-`Arabi Wahdat al-wujud dalam Perdebatan. tokoh yang kedua adalah sang sufi. Segala sesuatu selain al-Haqq sesungguhnya tidak memiliki wujud. antara Allah dan alam. Al-Haqq dan al-khalq. (Jakarta: Paramadina. Lantas. bagaimana kedudukan ontologis al-khalq? Kautsar Azhari Noer. Dalam konteks ini al-haqq adalah Allah. Realitas ini kita pandang dari dua sudut yang berbeda. ketika kita memandangnya sebagai fenomena yang termanifestasi dari Esensi tersebut. wujud hanya satu yaitu al-Haqq. Realitas itu kita namai al-Haqq (the Real). Karena itu. antara Sang Pencipta dan ciptaan. dalam hal ini akan mengkaji tentang konsep al-haqq menurutnya sendiri. kita menyebutnya al-khalq.8 Menurut Ibn ’Arabi. Jika satu-satu wujud adalah al-Haqq. yang banyak. Namun dalam hal ini konteks al-haqq yang dimaksudkan adalah hubungan ontologis antara alhaqq dan al-khalq. telah disebutkan bahwa satu-satunya wujud adalah Allah. tidak ada wujud selain wujud Allah. hal. makhluk. 8 . 46. wujud dalam pengertian hakiki hanya milik al-Haqq. sedangkan al-khalq adalah alam. Ketika kita menganggapnya sebagai Esensi dari semua fenomena. 1995). apakah hubungan ontologis antara al-Haqq dan al-Khalq.

Istilah-istilah paradoks dalam irfan Ibn ’Arabi memang diakui juga oleh Bulent Rauf. maka itu bukan Dia. Seperti halnya dua korelasi logis. ”Aku adalah Dia dan Dia adalah aku”. 9 Ibid. atau dengan kata lain. ”Aku adalah Dia dan bukan Dia”. Ibn ‘Arabi mengatakan9. Menurutnya. ”Al-Haqq adalah alkhalq dan al-khalq adalah al-Haqq”. Maka tidak ada dalam wujud kecuali Allah dan sifat-sifat dari entitasentitas al-mumkinat yang dipersiapkan untuk disifati dengan wujud. Tetapi ia tidak mempunyai entitas dalam wujud karena ia tidak ada [dalam wujud].. hal. Ia adalah konsep relatif dari dua aspek Realitas. alam adalah alHaqq dan bukan al-Haqq.Apakah alam identik dengan Tuhan? Atau. 47. Ibn ’Arabi acap menggunakan istilah-istilah ”pencipta adalah yang diciptakan”. Tetapi perbedaan antara maujudat ditangkap oleh akal dan indra karena adanya perbedaan sifat-sifat dari entitas-entitas. Dalam Futuhat-nya. Sesungguhnya. seorang peminat Ibn ’Arabi masa modern. ”al-Haqq bukan al-khalq dan al-khalq bukan al-Haqq” dan seterusnya.. Karena yang nampak (azh-zhahir) adalah sifat-sifatnya. ada resiprositas utuh antara Yang Satu dan Yang Banyak sebagaimana dipahami oleh Ibn ’Arabi. Karena itu. apakah alam tidak mempunyai wujud sama sekali? Jawaban Ibn ’Arabi tampak ambigu. maka [itu] adalah ia [dalam wujud]. “Dia dan bukan Dia” (huwa la huwa). karena Dia adalah yang nampak. dalam wujud adalah ia [entitas-entitas mumkinat] dan bukan dia. Menurutnya. Dengan cara yang sama. . ”[Itu adalah] Dia [Allah] dan bukan Dia. Paradoks ini sebetulnya bukan paradoks sama sekali.. tak ada suatu makna apa pun tanpa yang lain. maka itu adalah Dia.

Dalam wujud hanya ada satu realitas yang dapat dipandang dari dua aspek yang berbeda. Pemahaman tasawuf pertama kali ia kenal dan pelajari dari seorang sufi yang Ibid. 74. baik Tuhan maupun alam. “Tidak ada dalam wujud kecuali satu realitas. Nama lengkapnya adalah Abu al-Mughist al-Husain ibn Mansur ibn Mahma al-Baidlawi al-Hallaj. segala sesuatu dan segala peristiwa di alam ini adalah entifikasi (ta’ayun) al-Haqq. namun memiliki dua sifat yang berbeda: sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan. Manshur al-Hallaj lahir di Persia (Iran) pada tahun 224 H/858 M. 11 10 .11 Masa kecilnya banyak dihabiskan untuk belajar ilmu keagamaan. Kontradiksi-kontradiksi ontologis dalam realitas bukan hanya bersifat horizontal tetapi juga vertikal seperti yang terlihat antara Nama al-Zhahir dan alBathin. Biografi dan Bangunan Pemikiran Keagamaan Mansur al. realitas itu Satu. ia kita sebut ciptaan. al-Awwal dan al-Akhir. Kedua sifat ini hadir dalam segala sesuatu yang ada di alam. Ensiklopedia Islam. hal. (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve. Cet X. alam adalah penyingkapan-diri atau tajali al-Haqq. keduanya tidak bisa dipahami kecuali sebagai kesatuan antara kontradiksi-kontradiksi ontologis. Karena itu.”10 Dengan demikian.. Azyumardi Azra. realitas itu kita sebut Yang Benar. Konsep al-Hulul dalam teorinya Mansur al-Hallaj 1.Hallaj.Dalam pandangan Ibn ’Arabi. 2002).. Dengan demikian. Ibn ’Arabi memandang. C. dan makhluk. penerima.. dan Pencipta. 50. et.. Pelaku. Dipandang dari aspek lain. Dipandang dari satu aspek. al-Haqq dan al-khalq adalah dua aspek bagi wujud yang satu atau realitas yang satu. hal.al.

Hallaj karena dapat membaca pikiran-pikiran manusia yang rahasia. Ib id hal. ia mengalami dan merasakan sebuah pengalaman spiritual yang tiada tara bandingannya. al-Hallaj meninggalkan Tustar menuju kota Basra dan berguru kepada Amr Makki. yaitu al-Junaid al.13 Selanjutnya. Selama di kota suci ini ia tinggal dan bermukim di pelataran Masjid al-Haram sambil melakukan praktek kesufiannya. Menginjak usia 20 tahun. Pada situasi dan kondisi seperti inilah. penenun ilmu ghaib. al-Hallaj muda pergi ke kota Makkah. (Jakarta: Raja Grafindo. Pada tanggal 18 Dzulkaidah 309 H / 922 M ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh pengusa Dinasti Abbasiyah (Khalifah Al-Muktadir Billah). berteman dan bahkan berguru kepada para sufi kenamaan pada masa itu. Tasawuf dan Perkembangannya Dalam Islam. 14 . maka ia dapat bertemu. maka terkenal dengan Hallaj al-Asror. seterusnya pindah Bagdad untuk menemui sekaligus berguru kepada tokoh sufi modern yang termasyhur.12 Karena pengembaraannya yang intens. ia telah mengalami pengalaman mistik yang luar biasa.14 Pada ujung proses merasakan dan mengalami pengalaman spiritual yang luar bisa tersebut. Ia digelari al. yang pada wacana berikutnya kemudian terkenal dengan istilah hulul. 1997). 144. Untuk memperdalam keilmuannya. Namun demikian. Motif dan latar belakang penangkapan dan vonis 12 13 Ibid. keadaan menentukan lain dan memaksanya menjadi rakyat yang tertindas dari kekejaman penguasa saat itu. Dalam sebuah pengakuannya. Simuh. al-Hallaj memutuskan untuk kembali ke kota Baghdad dan menetap di kota ini sambil terus menyebarkan ajaran tasawufnya.bernama Sahl al-Tustari.Baghdadi.

23. et.. hal. Kedekatan berikut dengan segala atribut nuansa spiritualnya bertumpu pada konsep teologi yang masih dalam koridor spiritualitas Islam (Islamic Spirituality).). Konsep al-Hullul Mansur al-Hallaj Konsep yang diusung oleh Mansur al-Hallaj dalam praktek pengalaman tasawufnya sebenarnya berpijak dari kedekatannya dengan Tuhan.17 Demikian juga manusia juga memiliki dua sifat dasar yang sama.16 yang senantiasa identik dengan upaya menyaksikan Yang Satu. Oleh karena itu. 2003). hal. . Argumentasi pemahaman ini dibangun berdasarkan kandungan makna dari sebuah hadits yang mengatakan bahwa: “Sesungguhnya 15 Allah menciptakan Adam sesuai dengan bentukNya” Syiah Qaramitah adalah sebuah kelompok Syiah beraliran garis keras yang dipimpin oleh Hamdan bin Qarmat yang menentang dan memusuhi pemerintah Dinasti Abbasiyah sejak abad kesepuluh sampai dengan abad ke sebelas. hal. Spiritualitas Islam. al-Hallaj juga dituduh mempunyai hubungan dengan Syiah Qaramitah. mengungkap Yang Satu.. antara Tuhan dan manusia terdapat kesamaan sifat.al. Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam: Manifestasi. 17 Azyumardi Azra. Menurut al-Hallaj bahwa Tuhan mempunyai dua sifat dasar.. yaitu allahut (sifat ketuhanan) dan al-nasut (sifat kemanusiaan). Lihat : Azyumardi Azra. Tuhan dalam kemutlakan Realitas-Nya yang melampaui segala manifestasi dan determinasi. (tim penerjemah Mizan). 75.hukuman mati ini adalah bermuara dari tuduhan membawa paham hulul yang dianggap menyesatkan ummat. et.al. 16 Sayyed Hossein Nasr (ed. dan mengenali Yang Satu.op.Ibid. (Bandung: Mizan. Sisi lain.cit. Tuhan dipahami mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu setelah manusia tersebut betul-betul berhasil melenyapkan sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuhnya. 74-75.15 2. Ajaran tasawuf al-Hallaj yang terkenal adalah konsep hulul.

Sebaliknya di dalam diri Tuhan terdapat bentuk manusia yang disebut al-nasut. anNahdhoh. Lenyapnya sifat al-nasut. Dua istilah ini oleh al-Hallaj diambil dari falsafah Kristen yang mengatakan bahwa nasut Allah mengandung tabi`at kemanusiaan di Ibid. Syarah al-Diwan al-Hallaj. Berdasarkan pemahaman adanya sifat antara Tuhan dan manusia tersebut. yaitu “Lahut” dan “Nasut”. 20 Kamil Musthafa al-Syaiby.sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari. 1974). Amin Syukur. Muslim.19 Peristiwa ini terjadi hanya sesaat. Maktabah. Hadits ini memberikan wawasan bahwa di dalam diri Adam as terdapat bentuk Tuhan yang disebut al.20 Dalam syair di atas tampak Tuhan mempunyai dua sifat dasar ke. 1999). hal. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. yang terjadi adalah bersatunya sifat Tuhan di dalam dirinya. 57. M. 18. hal.Tuhanan. dimana manakala manusia berkeinginan menyatu dengan Tuhannya. maka integrasi atau persatuan antara Tuhan dan manusia sangat mungkin terjadi.18 Bersatunya antara Tuhan dan manusia harus melalui proses bersyarat. maka ia harus mampu melenyapkan sifat al-nasutnya. sebagaimana ungkapan syairnya. Kemudian kelihatan bagi makhluknya dengan nyata dalam bentuk manusia yang makan dan minum”. yang artinya: “Maha suci zat yang sifat kemanusiaan-Nya membukakan rahasia ketuhanan-Nya yang gemilang. (Beirut. maka secara otomatis akan dibarengi dengan munculnya sifat al-lahut dan dalam keadaan seperti inilah terjadi pengalaman hulul.lahut. pernyataan al-Hallaj bahwa dirinya tetap ada. dan Ahmad bin Hambal atau Imam Hambali. Proses bersatunya antara Tuhan dan manusia dalam pemahaman ini adalah dalam bentuk hulul. Menggugat Tasawuf. 19 18 .

Dalam pengertian lain dapat diungkapkan bahwa syatahat yang keluar dari mulut al-Hallaj tidak lain adalah ucapan Tuhan melalui lidahnya. Jadi karena sangat cintanya kepada Allah menjadikan tidak ada pemisah antara dirinya dengan kehendak Allah. engkau lihat kami”.dalamnya. Kami adalah dua roh yang bersatu dalam satu tubuh. ketika pertama kali memasuki gerbang ilahi. Kata al-Haq dalam istilah tasawuf. (Jakarta: Bulan Bintang. keluarlah syatahat (kata-kata aneh). ketika menjadi kuat dan meluap. al-Hallaj melukiskan dengan sangat jelas bahwa: “Aku adalah Dia yang kucintai dan Dia yang kucinta adalah aku. seolah-olah dirinya dan Tuhan adalah satu. lalu melahirkan ungkapan yang terasa asing kedengarannya. Jika engkau lihat aku. hal. 23 Secara kebahasan perkatan syathahat berasal dari kata kerja syathaha yang berarti taharraka. al-Hallaj tidak mengaku demikian.21 Dalam konsep hulul al-Hallaj dimana Tuhan dengan sifat ketuhanan menyatu dalam dirinya. hal. Padahal yang sebenarnya. al-Fikr al-Islami wa al-Falsafat al-Muaridlah fi al-Qadim wa al-Hadits. Sebagaimana Abdul Kadir Mahmud. 1986). karena ia mengaku dirinya sebagai Tuhan. Syathahat menurut kaum Sufi adalah ungkapan perasaan para sufi yang bergelora.23 dari lidah al-Hallaj yang berbunyi Ana al-Haqq (Aku adalah Yang Maha Benar). yakni gerak yang bersumber dari perasaan. berbaur sifat Tuhan itu dengan sifat kemanusiaan. 90. semakin tidak mungkin untuk memahami bahwa maksud al-Hallaj dengan hululnya dalam berbagai syairnya adalah dirinya al-Haq. berarti Tuhan. dengan segala kearifan dan kerendahan hati spiritualnya. Falsafah dan Mistisme dalam Islam. Dengan ungkapan ini. Sebagian masyarakat saat itu menganggap al-Hallaj telah kafir. Dalam syairnya yang lain. engkau lihat Dia. 22 Nasution. (Mesir: Hajah al Misriyah al-Ammah li al-Kitab. dan jika engkau lihat Dia.22 Tatkala peristiwa hulul sedang berlangsung. 1973). Syathahat dalam bahasa Arab berarti gerak. yaitu gerak atau tergerak. 78. 21 .

27 24 . Kamil Musthafa al-Syaiby.diungkapkan dalam syairnya: “Aku adalah Dia yang kucintai dan Dia yang kucintai adalah aku”.Hallaj adalah bahwa menurutnya. Oleh karena itu yang lebih tepat dalam manafsirkan atau memahami ajaran al. C. dialah manusia yang memiliki/ dikaruniai sifat Tuhan. (Beirut. ia bukan Tuhan. hal ini dapat diterima. Sedangkan ittihâd menurut Abû Yazîd alBusthâmî secara komprehensif maupun secara etimologis berarti integrasi. maka jadilah Tuhan semisal Isa. ini bertentangan dengan firman Allah “Laisa kamitslihi syaiun”. Sebagaimana menurut al-Hallaj ia bukanlah Yang Maha Benar. 2: 34) adalah pendapat yang sebenarnya yang dimaksud oleh al-Hallaj.24 Seandainya apa yang dikemukakan oleh Harun Nasution. maka jadilah manusia itu satu dari yang benar. Namun pendapat al-Hallaj bahwa dalam diri manusia terdapat sifat ketuhanan itu akan masuk ke dalam diri manusia dengan jalan fana’ yaitu dengan menghilangkan sifat kemanusiaan. Syarah al-Diwan al-Hallaj. Karena apabila masuk ke jiwa seseorang misalnya Isa. Tuhan mengisi diri manusia-manusia tertentu dengan sifat ketuhanan. Jadi menurutnya. anNahdhoh. tentang tafsiran al-Hallaj mengenai perintah Tuhan agar sujud kepada Adam (QS. Pengertian It-Tihad Ittihâd berasal dari kata ittahad-yattahid-ittihâd (dari kata wâhid) yang berarti bersatu atau kebersatuan. 1974). Konsep al-Ittihad dalam teorinya Abu Yazid al-Bustami a. Maktabah. hal. tentu ini pandangan yang sesat. tetapi hanyalah satu dari yang benar.

baqa’ dan ittihad sebagaimana yang dialami oleh Abu Yazid dalam pengalaman tasawwufnya. terutama dari kalangan mutakallimun. 25 Ittihâd dicapai dengan beberapa proses (maqâmât) dengan tazkiyat al-nafs hingga melewati mahabbah dan ma‘rifah kemudian mengalami fanâ’ dan baqâ’ sebagai pintu gerbang menuju ittihâd. yaitu keadaan fana’. Keadaan fana’. cinta. yaitu kesirnaan atau peleburan. merupakan tiga aspek dalam suatu pengalaman sufi yang tejadi setelah tercapainya makam ma’rifat. Dan secara istilah. ittihad terlebih dahulu harus melalui dengan dua keadaan yang tidak dapat dipisahkan. Sedangkan baqâ’ secara etimologis berarti kekal. Dan hal ini tidak banyak sufi yang mencapai tataran demikian. lenyap dan hilang. ittihâd merupakan pengalaman puncak spiritual seorang sufi. meskipun upaya demikian dilakukan dalam rangka mendekatkan diri sedekat mungkin pada Sang Pencipta. penghancuran perasaan atau kesadaran 25 http://gilitengah. Fanâ’ secara etimologis berarti keluruhan diri kemanusiaan.kontra dari kalangan umat Islam sendiri.multiply. abadi. atau persatuan. hancur. bersahabat.com/journal/item/13 . Seorang sufi yang hendak bersatu dengan tuhan.menyatu. karena perjalanan para sufi pada maqam yang setelah mencapai tingkatan ma’rifah hampir selalu dinyatakan sebagai bertentangan dengan ajaran Islam. Dengan kata lain sebelum mengalami ittihâd para sufi harus mengalami al-fanâ’ ‘an al-nafs dan al-baqâ’ bi Allâh. ketika ia dekat. dan mengenal Allah sedemikian rupa hingga dirinya merasa menyatu dengan Allah. bahkan kalaupun ada maka tidak akan pernah lepas dari dijumpainya pro. tetap dan tinggal.

hal. Islam ditinjau dari berbagai aspek. saat yang mencintai dan yang dicintai telah menyatu. 27 26 . karena ia terjadi di dalam waktu yang bersamaan. dimana seorang sufi merasakan dirinya telah bersatu dengan Tuhan. dan dilanjutkan dengan memperjuangkan tersingkapnya pembatas yang menghalangi pandangan mata hatinya. 1985). 83. tetapi diberikan oleh Tuhan melalaui penerangan yang merupakan rahasia tuhan. Abu Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani. Dikatakan demikian karena perjalanan ini di identikkan dengan hancurnya sifat jiwa. dimana pada waktu kesadaran dengan diri dan alam sekelilingnya telah hilang maka bersamaan dengan itu ia mengalami baqa’. yaitu tetap dalam kebajikan dan kekal dalam sifat ketuhanan. Madkhal ila al-Tasawwuf al-Islam.27 Fana’ dan baqa’ merupakan sesuatu yang kembar. dan baqa’ tetap kekal. 106. tetapi harus setelah menenpuh tingkatan fana’. Ittihad tidak muncul dengan begitu saja. yang dilakukan secara terus menerus. Cit. b.. dengan mengikis sifat-sifat tercela.seseorang tentang dirinya dan makhluk lain disekitarnya. sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang lain dengan kata “hai aku”. Ahmad Rafi’ Usman.baqa’ yang dapat ditempuh dengan menyadari keadaan dirinya sebagai individu yang terpisah dari Tuhannya. sehingga jika terjadi fana’. Op. (Bandung: Pustaka. Terj. hal. Harun Nasution. yaitu munculnya kesadaran akan kehadirannya disisi Tuhan. maka pada dirinya akan muncul sifat-sifat terpuji. Al-Ittihad Keadaan ini merupakan suatu tingkatan dalam tasawuf.26 Fana’ dan baqa’ merupakan pengetahuan atau pengalaman yang tidak bisa diperoleh melalui pemikiran. maka barang siapa fana’ dari sifat tercela. atau sirnanya sifat-sifat tercela.

Dia berkata. karena saat itu Abu Yazid telah bersatu dengan Tuhan. Dia berkata. Abu Yazid mengatakan dalam syatahatnya: “Tuhan berkata. Engaku adalah aku adalah Engkau”.Setelah Abu Yazid mengalami ke-fana’an. “Akulah yang satu”. aku dengan perantara-Nya menjawab. Dia selanjutnya berkata. Dalam keadaan yang seperti ini terjadi penyatuan dengan Yang Maha Benar. dengan sirnanya segala sesuatu yang selain Allah dari pandangannya. 85. “Hai engkau”. Bahkan dia tidak lagi melihat dirinya sendiri karena dirinya telah terlebur dalam Dia yang disaksikannya. Kondisi seperti itu telah menghilangkan batas antara sufi dengan Tuhan. “Aku adalah aku”. hal. Aku menjawab. bahkan seluruhnya menjadi satu. Pada saat seperti ini sufi dapat melihat dan merasakan rahasia Tuhan. “Engkau adalah engaku”. kata menjadi satu.. sering terjadi pertukaran peran antara sufi dengan Tuhan. Falsafah dan Mistisme Dalam Islam. Aku menjawab. Tuhan berbicara melalui lidah Abu Yazid. yaitu Allah.28 28 Harun Nasution. atau Tuhan berbicara melalui mulut sufi. Saat itu sufi tidak lagi berbicara atas namanya. saat itu dia tidak lagi menyaksikan selain hakikat yang satu. Op. Ketika terjadi ittihad secara utuh. Ketika sufi telah menyatu dengan Tuhan. Cit. dalam ittihad Abu Yazid berbicara dengan nama Tuhan atau lebih tepat lagi. dengan kata lain. . Kata aku yang diucapkan Abu Yazid bukanlah sebagai gambaran diri Abu Yazid tetapi sebagai gambaran Tuhan. semua mereka kecuali engakau adalah makhlukKu”. melainkan atas nama Tuhan. yang keluar dari mulutnya ungkapan-ungkapan yang kedengarannya ganjil. maka pemilahanpun terputus. antara yang mencintai dan yang dicintai. “Engkau yang satu”. “Aku adalah Engkau. akupun berkata. “Hai aku”.

hal. bukan hakekat jazad.. Semakin larutnya dalam ittihad. Sehingga dia tidak sadar akan diri dan lingkungannya karena yang ada saat itu hanya Allah semata. maka sembahlah aku.. hanya saja dia merasakan kebersatuan antara keduanya. kehendak dan tindakannya telah 29 30 Ibid. seluruh pikiran. maha besar aku”..29 Dengan ucapan-ucapan yang telah dikemukakan. dengan cinta di dalam batin. 86. di rumah ini tak ada kecuali Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi”. “Sesungguhnya aku adalah Allah. Abu Yazid terlihat telah bersatu dengan Tuhan. Abu Yazid dikunjungi seseorang. “Abu Yazid”. tetapi harus dipandang sebagai ungkapan seorang sufi yang sedang dalam keadaan fana’. maha suci aku. Ittihad terjadi dengan perantara fana’-baqa’ sebagaimana telah dikemukakan. Tuhan dan Makhluk.Dalam peristiwa lain. Cit. kemudian ia bertanya: “Siapa yang engkau cari? jawabnya. Abu Yazid mengatakan: “Pergilah. Harun Nasution. pikiran sifat-sifat kebaikan yang menimbulkan kekaguman dalam dirinya. Tuhan tetap Tuhan. Op. makhluk tetap makhluk. . tiada Tuhan selain aku. Sebenarnya Abu Yazid tetap mengakui adanya wujud. Ketika terjadinya ittihad. di suatu pagi setelah shalat shubuh. sedangkan masing-masing masih tetap dalam esensinya. 84. hal. yang dimaksud bersatu adalah dalam arti ruhani. perhatian dan menjadikan diri sebagai obyek Tuhan. . Abu Yazid pernah melafalkan kalimat sampai orang lain menganggapnya orang gila dan menjauhinya dengan kalimat. digambarkan sebagai jiwa yang kehilangan semua hasrat.30 Ungkapan-ungkapan yang dikeluarkan oleh Abu Yazid diatas tidak dapat dilihat secara harfiah.

Oleh karena itu persangkaan bahwa manusia bisa fana’. Dengan demikian satu-satunya wujud yang ada hanyalah wujud Tuhan. karena menurutnya sifat-sifat kemanusiaan tidak mungkin sirna dari manusia. keadaan fana’ para sufi berbeda antara satu dengan yang lain. Ada yang kembali kepada keadaan normal sehingga dia tetap menganggap dualitas antara Tuhan dan alam. “Terhadap apa yang di ucapkan para sufi. atau sebaliknya. yang diawali oleh keadaan fana’.31 Namun juga tidak kurang dari tokoh sufi lain yang memberikan dukungan. sebagai contoh adalah al-Thusi yang memaparkan bahwa ittihad sebagaimana yang di lakukan oleh Abu Yazid. tidak bisa 31 Abu Wafa’ al-Ghanimi al-Taflazani. 109 . tetapi ada pula yang betul-betul merasakan fana’ yang kemudian mengantarkan bersatu dengan Tuhan. Akibat ketidak tahuannya. Pada dasarnya semua wujud selain wujud Tuhan adalah fana’. dipandang dari keberadaan dirinya. Bahkan Abd al-Qadir al-Jailani memberikan komentar. Meskipun Abu Yazid di pandang sebagai tokoh terpandang dalam bidangnya ternyata juga mendapat kritik. yang menyatakan dapat memahami ungkapan yang di keluarkan Abu Yazid. Dalam pengalaman tasawuf. Op.baqa’ dalam Tuhan. pendapat itu hanya akan mengantar mereka kepada hulul atau pendapat orang nasrani tentang isa al-Masih. sehingga tidak ada perbedaan antara Tuhan dengan alam.. atau segala sesuatu selain Tuhan. sudah tidak ada fana’. sebagaimana di sampaikan oleh Al-Junaidi. patut diwaspadai bahaya-bahaya yang akan di timbulkannya. sehingga ia bersifat sebagaimana sifat ketuhanan adalah keliru. Cit. hal.

apabila manusia tanpa mau berusaha menghilangkan atau melenyapkan sifat kemanusiaannya. KESIMPULAN Demikianlah dalam perspektif al-Hallaj dan al-Bustami bahwa Tuhan dan manusia dipahami memiliki dua sifat yang sama. kecuali apa yang di ungkapkannya dalam keadaan sadar”32 karena persoalannya tidak lebih dari psikis yang sedang dialami oleh masingmasing pelaku sufi yang sedang melangsungkan tawajjuh dengan Allah sehingga keadaan alam dan seisinya benar-benar tertutup dari jangkauan akal mereka.dijatuhkan hukum. 119.. . maka sulit untuk bisa dipastikan akan bertemu dan menyatu dengan Allah. maka dipastikan ia akan bisa bertemu dan menyatu dengan sifat Allah. Sebaliknya. DAFTAR KEPUSTAKAAN 32 Ibid. Suatu saat apabila manusia berhasil menghilangkan sifat kemanusiaannya dengan membersihkannya lewat berbagai ibadah yang tulus ikhlas hanya mencari keridlaan Allah. hal...

anNahdhoh. Bandung: Pustaka. 2002. M. Ensiklopedia Islam.Abdul Kadir Mahmud. Ahmad Rafi’ Usman. (tim penerjemah Mizan). . 1986. et.. 1979. Abu Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani. Simuh. Sayyed Hossein Nasr (ed. Menggugat Tasawuf. Maktabah. 1985. Kautsar Azhari Noer. Bandung: Mizan. Al-Iman wa al-Hayat. Islam ditinjau dari berbagai aspek. Tasawuf dan Perkembangannya Dalam Islam. Beirut.Qur’an. Al-Asma’ al-Husna Dalam Perspektif al. Ibn Al-`Arabi Wahdat al-wujud dalam Perdebatan. Jaziratul Islamiyah). Jakarta: Bulan Bintang. Cetakan VIII. (Mesir: Hajah al Misriyah al-Ammah li al-Kitab. 2006. Terj. 2007.multiply. Yusuf Qardawi. Jakarta: Raja Grafindo. Menyingkap Tabir Ilahi. http://gilitengah. 2002. Azyumardi Azra. 1974. London dan Laiden: Luzac dan Brill. 2003. Syarah al-Diwan al-Hallaj. 1973. Harun Nasution. 1999. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve. Zikir Menyembuhkan Kankerku: Pengalaman Kesembuhan Seseorang Penderita Kanker Ganas yang Divonis Memiliki Hidup Hanya Tiga Bulan. Robson. Quraish Shihab. Ibn al-`Arab The Encylopedia of Islam.com/journal/item/13 J. Kamil Musthafa al-Syaiby. Madkhal ila al-Tasawwuf al-Islam. 1997. Falsafah dan Mistisme dalam Islam. Jakarta: Hikmah.al. Amin Syukur. M. al-Fikr al-Islami wa al-Falsafat al-Muaridlah fi al-Qadim wa al-Hadits. Jakarta: Mitra Pustaka. Lentera Hati. Harun Nasution.). Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam: Manifestasi. Amin Syukur. M. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jakarta. 1995. Jakarta: Paramadina. (terj.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful