DISKURSUS PENCAPAIAN KONSEP AL-HAQQ, IT-TIHAD DAN HULUL DALAM DUNIA TASAWUF

(Studi Konsep Ketuhanan Husain Ibn Manshur al-Hallaj, Abu Yazid al-Bustami dan Ibn `Arabi)

A. Pendahuluan Secara umum, dalam diri manusia terdapat dua dimensi yang antara keduanya saling mendukung. Pertama, dimensi jasmaniyah (jasad) yang dalam kronologi penciptaannya berasal dari tanah.1 Fenomena ini membangun sebuah argumentsi yang kokoh bahwa secara jasmaniyah manusia berasal dari tanah dan yang memuaskannya, semua berasal dari tanah serta ketika matipun, jasad dikembalikan ke tanah. Kedua, dimensi ruhani (ruh) yang berasal dari Allah.2 Konsekuensi logisnya, bahwa ruh berasal dari Allah dan yang bisa memuaskannya juga sesuatu yang berasal dari Allah serta ketika manusia dinyatakan mati, maka ruh kembali kepada Allah Dimensi jasad, mengantarkan manusia memiliki fitrah (kecenderungan) membutuhkan sesuatu yang bersifat materi. Sebaliknya, dimensi ruh

mengantarkan manusia memiliki fitrah insting keberagaman,3 yang cenderung bernuansa spritualis. Antara keduanya menjadi satu kesatuan yang utuh dalam diri manusia. Manusia yang mampu memahami dirinya secara utuh, maka akan sampai pada pengetahuan kedekatannya tentang Tuhan. Artinya, manusia yang mampu
al-Qur’an al-Karim Surat al-Mukminun (23) : 12-14. al-Qur’an al-Karim surat al-Hijr (15) : 29, lihat juga surat Shaad (38) : 72. 3 M. Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi, Al-Asma’ al-Husna Dalam Perspektif alQur’an, Jakarta, Lentera Hati, Cetakan VIII, 2006, hal. 17.
2
1

hal. 65. Apabila kedua sifat ini melebur jadi satu. seorang ahli hadits di Serville. 4 . hal. tidak ada batas dan tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi hubungan langsung antara manusia dengan Allah. Ibn al-`Arab The Encylopedia of Islam. 57. Falsafah dan Mistisme dalam Islam. yaitu al-Lahut dan al-Nasut. M. 5 Yusuf Qardawi.7 Yang kedua adalah Muhammad Ibn `Ali ibn Muhammad ibn al`arabi al-Ta`i al-hatimi. Formulasi ini dibangun berdasarkan persepsinya yang utuh bahwa antara manusia dan Tuhan memiliki dua sifat yang sama.4 Pada tataran ini. 1979). (Jakarta: Hikmah. maka berarti antar manusia dengan Allah sebagai Tuhannya bisa menyatu. Al-Iman wa al-Hayat. menemukan sebuah formulasi komunikasi ideal antara manusia dengan Tuhannya. Jaziratul Islamiyah). 2002). Cet V. Robson. seorang sufi termasyhur dari andalusia.6 Manshur al-Hallaj dalam pengalaman spiritualnya. Amin Syukur. Momentum menyatunya antara al-Lahut dan al-Nusut ini dalam teori tasawufnya Mansur al-Hallaj disebut al-Hullul. 1973). Konsep al-Haqq dalam teori Ibn `Arabi Nama ibn `arabi dimili tidak hanya oleh satu orang. Dalam sejarah pemikiran Islam ada dua tokoh terkemuka yang mempunyai nama yang sama.mengenal dirinya sendiri. Zikir Menyembuhkan Kankerku: Pengalaman Kesembuhan Seseorang Penderita Kanker Ganas yang Divonis Memiliki Hidup Hanya Tiga Bulan. hal. B. 7 J. 56. ia dilahirkan pada 17 ramadhan 560 H. New Edition (London dan Laiden: Luzac dan Brill. hal. 2007). maka sungguh ia telah mengetahui dan mengenal Tuhannya.5 Menurut Harun Nasution “Kesadaran berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad bersatu dengan Tuhan”. 3:707. Yang pertama adalah Abu Bakr Muhammad Ibn `Abd Allah Ibn al-`Arabi alMa`afiri (468-543). (Jakarta: Mitra Pustaka. 6 Harun Nasution. (Jakarta: Bulan Bintang. (terj.

Realitas dan Penampakan. bagaimana kedudukan ontologis al-khalq? Kautsar Azhari Noer.8 Menurut Ibn ’Arabi. hal. dalam hal ini akan mengkaji tentang konsep al-haqq menurutnya sendiri. al-mawjudat dan al-mumkinat. Namun dalam hal ini konteks al-haqq yang dimaksudkan adalah hubungan ontologis antara alhaqq dan al-khalq. sedangkan al-khalq adalah alam. Segala sesuatu selain al-Haqq sesungguhnya tidak memiliki wujud. (Jakarta: Paramadina. Yang Satu dan Yang Banyak hanyalah nama-nama untuk dua aspek subjektif dari Realitas Tunggal. telah disebutkan bahwa satu-satunya wujud adalah Allah. kita menyebutnya al-khalq. makhluk. wujud hanya satu yaitu al-Haqq. yang banyak. Sementara. wujud dalam pengertian hakiki hanya milik al-Haqq. hanya ada satu Realitas. Ibn Al-`Arabi Wahdat al-wujud dalam Perdebatan. tokoh yang kedua adalah sang sufi. tidak ada wujud selain wujud Allah. ketika kita memandangnya sebagai fenomena yang termanifestasi dari Esensi tersebut. Kata al-haqq dalam karya-karya Ibn `arabi mempunyai beberapa pengertian yang berbeda dalam konteks-konteks yang berbeda pula. apakah hubungan ontologis antara al-Haqq dan al-Khalq. antara Allah dan alam. dalam masalah wujud. antara Yang Satu dan Yang Banyak? Sebelumnya. Al-Haqq dan al-khalq. Karena itu. antara Sang Pencipta dan ciptaan. Ketika kita menganggapnya sebagai Esensi dari semua fenomena. 8 . Realitas ini kita pandang dari dua sudut yang berbeda. Dengan kata lain.Tokoh pertama adalah sang kadi bukan objek pembicaraan dalam makalah ini. 1995). Realitas itu kita namai al-Haqq (the Real). Lantas. 46. Dalam konteks ini al-haqq adalah Allah. Jika satu-satu wujud adalah al-Haqq.

. Menurutnya. seorang peminat Ibn ’Arabi masa modern. Karena itu. maka [itu] adalah ia [dalam wujud]. 9 Ibid. 47. ”Aku adalah Dia dan Dia adalah aku”. atau dengan kata lain. Ibn ‘Arabi mengatakan9. . Dengan cara yang sama. maka itu adalah Dia. Dalam Futuhat-nya. maka itu bukan Dia. alam adalah alHaqq dan bukan al-Haqq. ”Aku adalah Dia dan bukan Dia”. Paradoks ini sebetulnya bukan paradoks sama sekali. Menurutnya. ada resiprositas utuh antara Yang Satu dan Yang Banyak sebagaimana dipahami oleh Ibn ’Arabi.Apakah alam identik dengan Tuhan? Atau. “Dia dan bukan Dia” (huwa la huwa). Sesungguhnya. Ia adalah konsep relatif dari dua aspek Realitas. Istilah-istilah paradoks dalam irfan Ibn ’Arabi memang diakui juga oleh Bulent Rauf. ”al-Haqq bukan al-khalq dan al-khalq bukan al-Haqq” dan seterusnya. Karena yang nampak (azh-zhahir) adalah sifat-sifatnya. Tetapi perbedaan antara maujudat ditangkap oleh akal dan indra karena adanya perbedaan sifat-sifat dari entitas-entitas. Maka tidak ada dalam wujud kecuali Allah dan sifat-sifat dari entitasentitas al-mumkinat yang dipersiapkan untuk disifati dengan wujud. karena Dia adalah yang nampak. Seperti halnya dua korelasi logis. ”[Itu adalah] Dia [Allah] dan bukan Dia. tak ada suatu makna apa pun tanpa yang lain. apakah alam tidak mempunyai wujud sama sekali? Jawaban Ibn ’Arabi tampak ambigu.. ”Al-Haqq adalah alkhalq dan al-khalq adalah al-Haqq”. Ibn ’Arabi acap menggunakan istilah-istilah ”pencipta adalah yang diciptakan”. hal. Tetapi ia tidak mempunyai entitas dalam wujud karena ia tidak ada [dalam wujud].. dalam wujud adalah ia [entitas-entitas mumkinat] dan bukan dia.

keduanya tidak bisa dipahami kecuali sebagai kesatuan antara kontradiksi-kontradiksi ontologis. 74. “Tidak ada dalam wujud kecuali satu realitas. Dipandang dari aspek lain. 2002). Biografi dan Bangunan Pemikiran Keagamaan Mansur al. al-Haqq dan al-khalq adalah dua aspek bagi wujud yang satu atau realitas yang satu. Ibn ’Arabi memandang. et. Cet X. Manshur al-Hallaj lahir di Persia (Iran) pada tahun 224 H/858 M. 11 10 . dan Pencipta.”10 Dengan demikian. Pemahaman tasawuf pertama kali ia kenal dan pelajari dari seorang sufi yang Ibid. Ensiklopedia Islam. al-Awwal dan al-Akhir. Kontradiksi-kontradiksi ontologis dalam realitas bukan hanya bersifat horizontal tetapi juga vertikal seperti yang terlihat antara Nama al-Zhahir dan alBathin. Konsep al-Hulul dalam teorinya Mansur al-Hallaj 1. 50.. Dipandang dari satu aspek. Karena itu. Kedua sifat ini hadir dalam segala sesuatu yang ada di alam. Dalam wujud hanya ada satu realitas yang dapat dipandang dari dua aspek yang berbeda. realitas itu Satu. realitas itu kita sebut Yang Benar.al. segala sesuatu dan segala peristiwa di alam ini adalah entifikasi (ta’ayun) al-Haqq... C. baik Tuhan maupun alam. hal. Nama lengkapnya adalah Abu al-Mughist al-Husain ibn Mansur ibn Mahma al-Baidlawi al-Hallaj..11 Masa kecilnya banyak dihabiskan untuk belajar ilmu keagamaan. namun memiliki dua sifat yang berbeda: sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan. Azyumardi Azra. ia kita sebut ciptaan. (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve. dan makhluk. Pelaku. alam adalah penyingkapan-diri atau tajali al-Haqq.Hallaj. hal.Dalam pandangan Ibn ’Arabi. Dengan demikian. penerima.

Dalam sebuah pengakuannya. maka ia dapat bertemu. (Jakarta: Raja Grafindo. keadaan menentukan lain dan memaksanya menjadi rakyat yang tertindas dari kekejaman penguasa saat itu. yaitu al-Junaid al. Pada tanggal 18 Dzulkaidah 309 H / 922 M ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh pengusa Dinasti Abbasiyah (Khalifah Al-Muktadir Billah). al-Hallaj meninggalkan Tustar menuju kota Basra dan berguru kepada Amr Makki. 14 . al-Hallaj muda pergi ke kota Makkah. Ia digelari al. ia mengalami dan merasakan sebuah pengalaman spiritual yang tiada tara bandingannya. Selama di kota suci ini ia tinggal dan bermukim di pelataran Masjid al-Haram sambil melakukan praktek kesufiannya. ia telah mengalami pengalaman mistik yang luar biasa.13 Selanjutnya. Namun demikian.Hallaj karena dapat membaca pikiran-pikiran manusia yang rahasia. seterusnya pindah Bagdad untuk menemui sekaligus berguru kepada tokoh sufi modern yang termasyhur. yang pada wacana berikutnya kemudian terkenal dengan istilah hulul. Menginjak usia 20 tahun. 1997). Ib id hal. 144. berteman dan bahkan berguru kepada para sufi kenamaan pada masa itu. al-Hallaj memutuskan untuk kembali ke kota Baghdad dan menetap di kota ini sambil terus menyebarkan ajaran tasawufnya.12 Karena pengembaraannya yang intens.Baghdadi. Tasawuf dan Perkembangannya Dalam Islam. penenun ilmu ghaib. Untuk memperdalam keilmuannya. Motif dan latar belakang penangkapan dan vonis 12 13 Ibid.14 Pada ujung proses merasakan dan mengalami pengalaman spiritual yang luar bisa tersebut. Pada situasi dan kondisi seperti inilah. maka terkenal dengan Hallaj al-Asror. Simuh.bernama Sahl al-Tustari.

Argumentasi pemahaman ini dibangun berdasarkan kandungan makna dari sebuah hadits yang mengatakan bahwa: “Sesungguhnya 15 Allah menciptakan Adam sesuai dengan bentukNya” Syiah Qaramitah adalah sebuah kelompok Syiah beraliran garis keras yang dipimpin oleh Hamdan bin Qarmat yang menentang dan memusuhi pemerintah Dinasti Abbasiyah sejak abad kesepuluh sampai dengan abad ke sebelas. (tim penerjemah Mizan). antara Tuhan dan manusia terdapat kesamaan sifat. yaitu allahut (sifat ketuhanan) dan al-nasut (sifat kemanusiaan).16 yang senantiasa identik dengan upaya menyaksikan Yang Satu. Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam: Manifestasi. dan mengenali Yang Satu.. 17 Azyumardi Azra.. al-Hallaj juga dituduh mempunyai hubungan dengan Syiah Qaramitah. Tuhan dipahami mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu setelah manusia tersebut betul-betul berhasil melenyapkan sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuhnya. 23. et.). 75.. (Bandung: Mizan. Menurut al-Hallaj bahwa Tuhan mempunyai dua sifat dasar. et.15 2. 2003).op. mengungkap Yang Satu. Lihat : Azyumardi Azra.al. Sisi lain. Spiritualitas Islam.Ibid.hukuman mati ini adalah bermuara dari tuduhan membawa paham hulul yang dianggap menyesatkan ummat. Ajaran tasawuf al-Hallaj yang terkenal adalah konsep hulul. hal.17 Demikian juga manusia juga memiliki dua sifat dasar yang sama. hal.al. 16 Sayyed Hossein Nasr (ed. Oleh karena itu. 74-75. hal. Tuhan dalam kemutlakan Realitas-Nya yang melampaui segala manifestasi dan determinasi. . Kedekatan berikut dengan segala atribut nuansa spiritualnya bertumpu pada konsep teologi yang masih dalam koridor spiritualitas Islam (Islamic Spirituality).cit. Konsep al-Hullul Mansur al-Hallaj Konsep yang diusung oleh Mansur al-Hallaj dalam praktek pengalaman tasawufnya sebenarnya berpijak dari kedekatannya dengan Tuhan.

anNahdhoh. maka secara otomatis akan dibarengi dengan munculnya sifat al-lahut dan dalam keadaan seperti inilah terjadi pengalaman hulul. yaitu “Lahut” dan “Nasut”. sebagaimana ungkapan syairnya. Menggugat Tasawuf. Lenyapnya sifat al-nasut. (Beirut. 1974).Tuhanan. Dua istilah ini oleh al-Hallaj diambil dari falsafah Kristen yang mengatakan bahwa nasut Allah mengandung tabi`at kemanusiaan di Ibid. Syarah al-Diwan al-Hallaj. 1999). pernyataan al-Hallaj bahwa dirinya tetap ada. Maktabah.19 Peristiwa ini terjadi hanya sesaat. 20 Kamil Musthafa al-Syaiby. maka ia harus mampu melenyapkan sifat al-nasutnya. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 57. Amin Syukur. hal. 18. Muslim. yang artinya: “Maha suci zat yang sifat kemanusiaan-Nya membukakan rahasia ketuhanan-Nya yang gemilang. maka integrasi atau persatuan antara Tuhan dan manusia sangat mungkin terjadi. Proses bersatunya antara Tuhan dan manusia dalam pemahaman ini adalah dalam bentuk hulul.20 Dalam syair di atas tampak Tuhan mempunyai dua sifat dasar ke. dan Ahmad bin Hambal atau Imam Hambali. dimana manakala manusia berkeinginan menyatu dengan Tuhannya. Hadits ini memberikan wawasan bahwa di dalam diri Adam as terdapat bentuk Tuhan yang disebut al.lahut.sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari. Sebaliknya di dalam diri Tuhan terdapat bentuk manusia yang disebut al-nasut. Kemudian kelihatan bagi makhluknya dengan nyata dalam bentuk manusia yang makan dan minum”.18 Bersatunya antara Tuhan dan manusia harus melalui proses bersyarat. hal. yang terjadi adalah bersatunya sifat Tuhan di dalam dirinya. Berdasarkan pemahaman adanya sifat antara Tuhan dan manusia tersebut. M. 19 18 .

Kami adalah dua roh yang bersatu dalam satu tubuh. Jadi karena sangat cintanya kepada Allah menjadikan tidak ada pemisah antara dirinya dengan kehendak Allah. Padahal yang sebenarnya. engkau lihat Dia. Dengan ungkapan ini. 90. berbaur sifat Tuhan itu dengan sifat kemanusiaan. yakni gerak yang bersumber dari perasaan.21 Dalam konsep hulul al-Hallaj dimana Tuhan dengan sifat ketuhanan menyatu dalam dirinya. 23 Secara kebahasan perkatan syathahat berasal dari kata kerja syathaha yang berarti taharraka. ketika pertama kali memasuki gerbang ilahi. seolah-olah dirinya dan Tuhan adalah satu. Dalam pengertian lain dapat diungkapkan bahwa syatahat yang keluar dari mulut al-Hallaj tidak lain adalah ucapan Tuhan melalui lidahnya. Sebagian masyarakat saat itu menganggap al-Hallaj telah kafir. karena ia mengaku dirinya sebagai Tuhan. Syathahat dalam bahasa Arab berarti gerak.23 dari lidah al-Hallaj yang berbunyi Ana al-Haqq (Aku adalah Yang Maha Benar). lalu melahirkan ungkapan yang terasa asing kedengarannya. Dalam syairnya yang lain. dengan segala kearifan dan kerendahan hati spiritualnya. keluarlah syatahat (kata-kata aneh). berarti Tuhan. al-Hallaj melukiskan dengan sangat jelas bahwa: “Aku adalah Dia yang kucintai dan Dia yang kucinta adalah aku. hal. 22 Nasution. Jika engkau lihat aku.22 Tatkala peristiwa hulul sedang berlangsung. al-Fikr al-Islami wa al-Falsafat al-Muaridlah fi al-Qadim wa al-Hadits. engkau lihat kami”. ketika menjadi kuat dan meluap. semakin tidak mungkin untuk memahami bahwa maksud al-Hallaj dengan hululnya dalam berbagai syairnya adalah dirinya al-Haq. 1973). Sebagaimana Abdul Kadir Mahmud. 1986). Syathahat menurut kaum Sufi adalah ungkapan perasaan para sufi yang bergelora. dan jika engkau lihat Dia. Kata al-Haq dalam istilah tasawuf.dalamnya. hal. (Mesir: Hajah al Misriyah al-Ammah li al-Kitab. 78. (Jakarta: Bulan Bintang. Falsafah dan Mistisme dalam Islam. yaitu gerak atau tergerak. al-Hallaj tidak mengaku demikian. 21 .

dialah manusia yang memiliki/ dikaruniai sifat Tuhan. Oleh karena itu yang lebih tepat dalam manafsirkan atau memahami ajaran al. tetapi hanyalah satu dari yang benar. Pengertian It-Tihad Ittihâd berasal dari kata ittahad-yattahid-ittihâd (dari kata wâhid) yang berarti bersatu atau kebersatuan. anNahdhoh. ini bertentangan dengan firman Allah “Laisa kamitslihi syaiun”. hal ini dapat diterima. C. hal. Maktabah. Sebagaimana menurut al-Hallaj ia bukanlah Yang Maha Benar. maka jadilah Tuhan semisal Isa. tentang tafsiran al-Hallaj mengenai perintah Tuhan agar sujud kepada Adam (QS. Konsep al-Ittihad dalam teorinya Abu Yazid al-Bustami a. ia bukan Tuhan. Jadi menurutnya. (Beirut. Tuhan mengisi diri manusia-manusia tertentu dengan sifat ketuhanan. 27 24 . 1974). tentu ini pandangan yang sesat. Sedangkan ittihâd menurut Abû Yazîd alBusthâmî secara komprehensif maupun secara etimologis berarti integrasi. Namun pendapat al-Hallaj bahwa dalam diri manusia terdapat sifat ketuhanan itu akan masuk ke dalam diri manusia dengan jalan fana’ yaitu dengan menghilangkan sifat kemanusiaan. Karena apabila masuk ke jiwa seseorang misalnya Isa.24 Seandainya apa yang dikemukakan oleh Harun Nasution. maka jadilah manusia itu satu dari yang benar.Hallaj adalah bahwa menurutnya.diungkapkan dalam syairnya: “Aku adalah Dia yang kucintai dan Dia yang kucintai adalah aku”. Kamil Musthafa al-Syaiby. Syarah al-Diwan al-Hallaj. 2: 34) adalah pendapat yang sebenarnya yang dimaksud oleh al-Hallaj.

ittihad terlebih dahulu harus melalui dengan dua keadaan yang tidak dapat dipisahkan. ketika ia dekat.multiply.com/journal/item/13 . dan mengenal Allah sedemikian rupa hingga dirinya merasa menyatu dengan Allah. abadi. Keadaan fana’. Seorang sufi yang hendak bersatu dengan tuhan. bersahabat. 25 Ittihâd dicapai dengan beberapa proses (maqâmât) dengan tazkiyat al-nafs hingga melewati mahabbah dan ma‘rifah kemudian mengalami fanâ’ dan baqâ’ sebagai pintu gerbang menuju ittihâd. bahkan kalaupun ada maka tidak akan pernah lepas dari dijumpainya pro. Dan secara istilah. Fanâ’ secara etimologis berarti keluruhan diri kemanusiaan. atau persatuan. lenyap dan hilang. cinta. Dan hal ini tidak banyak sufi yang mencapai tataran demikian. penghancuran perasaan atau kesadaran 25 http://gilitengah. tetap dan tinggal. Sedangkan baqâ’ secara etimologis berarti kekal. hancur. terutama dari kalangan mutakallimun. ittihâd merupakan pengalaman puncak spiritual seorang sufi.menyatu.baqa’ dan ittihad sebagaimana yang dialami oleh Abu Yazid dalam pengalaman tasawwufnya. merupakan tiga aspek dalam suatu pengalaman sufi yang tejadi setelah tercapainya makam ma’rifat. Dengan kata lain sebelum mengalami ittihâd para sufi harus mengalami al-fanâ’ ‘an al-nafs dan al-baqâ’ bi Allâh.kontra dari kalangan umat Islam sendiri. yaitu kesirnaan atau peleburan. yaitu keadaan fana’. karena perjalanan para sufi pada maqam yang setelah mencapai tingkatan ma’rifah hampir selalu dinyatakan sebagai bertentangan dengan ajaran Islam. meskipun upaya demikian dilakukan dalam rangka mendekatkan diri sedekat mungkin pada Sang Pencipta.

Terj. Islam ditinjau dari berbagai aspek. dimana seorang sufi merasakan dirinya telah bersatu dengan Tuhan. maka barang siapa fana’ dari sifat tercela. Abu Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani. sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang lain dengan kata “hai aku”. Madkhal ila al-Tasawwuf al-Islam. dan baqa’ tetap kekal. (Bandung: Pustaka. dengan mengikis sifat-sifat tercela. 27 26 . sehingga jika terjadi fana’. Al-Ittihad Keadaan ini merupakan suatu tingkatan dalam tasawuf.. yang dilakukan secara terus menerus.26 Fana’ dan baqa’ merupakan pengetahuan atau pengalaman yang tidak bisa diperoleh melalui pemikiran.27 Fana’ dan baqa’ merupakan sesuatu yang kembar. tetapi diberikan oleh Tuhan melalaui penerangan yang merupakan rahasia tuhan. Ahmad Rafi’ Usman. 1985). hal. saat yang mencintai dan yang dicintai telah menyatu. karena ia terjadi di dalam waktu yang bersamaan. atau sirnanya sifat-sifat tercela. hal. Op. tetapi harus setelah menenpuh tingkatan fana’. Cit. Harun Nasution. Dikatakan demikian karena perjalanan ini di identikkan dengan hancurnya sifat jiwa. Ittihad tidak muncul dengan begitu saja. b. 106.baqa’ yang dapat ditempuh dengan menyadari keadaan dirinya sebagai individu yang terpisah dari Tuhannya.seseorang tentang dirinya dan makhluk lain disekitarnya. dimana pada waktu kesadaran dengan diri dan alam sekelilingnya telah hilang maka bersamaan dengan itu ia mengalami baqa’. yaitu munculnya kesadaran akan kehadirannya disisi Tuhan. maka pada dirinya akan muncul sifat-sifat terpuji. 83. yaitu tetap dalam kebajikan dan kekal dalam sifat ketuhanan. dan dilanjutkan dengan memperjuangkan tersingkapnya pembatas yang menghalangi pandangan mata hatinya.

Aku menjawab. Cit. akupun berkata. Kata aku yang diucapkan Abu Yazid bukanlah sebagai gambaran diri Abu Yazid tetapi sebagai gambaran Tuhan. Bahkan dia tidak lagi melihat dirinya sendiri karena dirinya telah terlebur dalam Dia yang disaksikannya. dengan kata lain. atau Tuhan berbicara melalui mulut sufi. .. yaitu Allah. Tuhan berbicara melalui lidah Abu Yazid. melainkan atas nama Tuhan. Dia berkata. Engaku adalah aku adalah Engkau”. antara yang mencintai dan yang dicintai. “Hai aku”. Kondisi seperti itu telah menghilangkan batas antara sufi dengan Tuhan. yang keluar dari mulutnya ungkapan-ungkapan yang kedengarannya ganjil. dalam ittihad Abu Yazid berbicara dengan nama Tuhan atau lebih tepat lagi. bahkan seluruhnya menjadi satu. Op. “Aku adalah aku”. Saat itu sufi tidak lagi berbicara atas namanya. “Engkau adalah engaku”. saat itu dia tidak lagi menyaksikan selain hakikat yang satu. dengan sirnanya segala sesuatu yang selain Allah dari pandangannya. hal. sering terjadi pertukaran peran antara sufi dengan Tuhan. Ketika sufi telah menyatu dengan Tuhan. kata menjadi satu. “Hai engkau”. “Akulah yang satu”. 85.28 28 Harun Nasution. semua mereka kecuali engakau adalah makhlukKu”. Dia berkata. Abu Yazid mengatakan dalam syatahatnya: “Tuhan berkata.Setelah Abu Yazid mengalami ke-fana’an. “Aku adalah Engkau. Dalam keadaan yang seperti ini terjadi penyatuan dengan Yang Maha Benar. maka pemilahanpun terputus. Aku menjawab. karena saat itu Abu Yazid telah bersatu dengan Tuhan. Dia selanjutnya berkata. Ketika terjadi ittihad secara utuh. “Engkau yang satu”. Falsafah dan Mistisme Dalam Islam. Pada saat seperti ini sufi dapat melihat dan merasakan rahasia Tuhan. aku dengan perantara-Nya menjawab.

Cit. Semakin larutnya dalam ittihad. kehendak dan tindakannya telah 29 30 Ibid. Ittihad terjadi dengan perantara fana’-baqa’ sebagaimana telah dikemukakan. Tuhan tetap Tuhan.. “Abu Yazid”. Abu Yazid dikunjungi seseorang. di suatu pagi setelah shalat shubuh. 86. . Abu Yazid mengatakan: “Pergilah. digambarkan sebagai jiwa yang kehilangan semua hasrat. pikiran sifat-sifat kebaikan yang menimbulkan kekaguman dalam dirinya. Tuhan dan Makhluk. hal. yang dimaksud bersatu adalah dalam arti ruhani. “Sesungguhnya aku adalah Allah. tiada Tuhan selain aku. Harun Nasution. Ketika terjadinya ittihad. kemudian ia bertanya: “Siapa yang engkau cari? jawabnya. hal. makhluk tetap makhluk. Abu Yazid terlihat telah bersatu dengan Tuhan. Op. hanya saja dia merasakan kebersatuan antara keduanya. 84. di rumah ini tak ada kecuali Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi”. bukan hakekat jazad. Abu Yazid pernah melafalkan kalimat sampai orang lain menganggapnya orang gila dan menjauhinya dengan kalimat. Sehingga dia tidak sadar akan diri dan lingkungannya karena yang ada saat itu hanya Allah semata. maka sembahlah aku.. perhatian dan menjadikan diri sebagai obyek Tuhan. sedangkan masing-masing masih tetap dalam esensinya. maha suci aku. . tetapi harus dipandang sebagai ungkapan seorang sufi yang sedang dalam keadaan fana’.Dalam peristiwa lain.. dengan cinta di dalam batin.30 Ungkapan-ungkapan yang dikeluarkan oleh Abu Yazid diatas tidak dapat dilihat secara harfiah. Sebenarnya Abu Yazid tetap mengakui adanya wujud. seluruh pikiran.29 Dengan ucapan-ucapan yang telah dikemukakan. maha besar aku”.

yang menyatakan dapat memahami ungkapan yang di keluarkan Abu Yazid. Dengan demikian satu-satunya wujud yang ada hanyalah wujud Tuhan. patut diwaspadai bahaya-bahaya yang akan di timbulkannya. Meskipun Abu Yazid di pandang sebagai tokoh terpandang dalam bidangnya ternyata juga mendapat kritik. Pada dasarnya semua wujud selain wujud Tuhan adalah fana’. dipandang dari keberadaan dirinya. Oleh karena itu persangkaan bahwa manusia bisa fana’. Ada yang kembali kepada keadaan normal sehingga dia tetap menganggap dualitas antara Tuhan dan alam. “Terhadap apa yang di ucapkan para sufi.. Bahkan Abd al-Qadir al-Jailani memberikan komentar. yang diawali oleh keadaan fana’. tetapi ada pula yang betul-betul merasakan fana’ yang kemudian mengantarkan bersatu dengan Tuhan. karena menurutnya sifat-sifat kemanusiaan tidak mungkin sirna dari manusia. Dalam pengalaman tasawuf. Akibat ketidak tahuannya. sebagai contoh adalah al-Thusi yang memaparkan bahwa ittihad sebagaimana yang di lakukan oleh Abu Yazid. sebagaimana di sampaikan oleh Al-Junaidi. Cit. sehingga ia bersifat sebagaimana sifat ketuhanan adalah keliru.31 Namun juga tidak kurang dari tokoh sufi lain yang memberikan dukungan. 109 . atau segala sesuatu selain Tuhan. tidak bisa 31 Abu Wafa’ al-Ghanimi al-Taflazani. Op. sehingga tidak ada perbedaan antara Tuhan dengan alam. keadaan fana’ para sufi berbeda antara satu dengan yang lain. atau sebaliknya. hal. sudah tidak ada fana’.baqa’ dalam Tuhan. pendapat itu hanya akan mengantar mereka kepada hulul atau pendapat orang nasrani tentang isa al-Masih.

. maka sulit untuk bisa dipastikan akan bertemu dan menyatu dengan Allah. Sebaliknya. 119.. Suatu saat apabila manusia berhasil menghilangkan sifat kemanusiaannya dengan membersihkannya lewat berbagai ibadah yang tulus ikhlas hanya mencari keridlaan Allah. maka dipastikan ia akan bisa bertemu dan menyatu dengan sifat Allah. KESIMPULAN Demikianlah dalam perspektif al-Hallaj dan al-Bustami bahwa Tuhan dan manusia dipahami memiliki dua sifat yang sama.. apabila manusia tanpa mau berusaha menghilangkan atau melenyapkan sifat kemanusiaannya. hal.dijatuhkan hukum. . DAFTAR KEPUSTAKAAN 32 Ibid. kecuali apa yang di ungkapkannya dalam keadaan sadar”32 karena persoalannya tidak lebih dari psikis yang sedang dialami oleh masingmasing pelaku sufi yang sedang melangsungkan tawajjuh dengan Allah sehingga keadaan alam dan seisinya benar-benar tertutup dari jangkauan akal mereka.

Jakarta: Mitra Pustaka. Quraish Shihab. Al-Asma’ al-Husna Dalam Perspektif al. (Mesir: Hajah al Misriyah al-Ammah li al-Kitab. 1986. 1973. Lentera Hati. Kamil Musthafa al-Syaiby. Ibn al-`Arab The Encylopedia of Islam. M. Azyumardi Azra. 1997. Maktabah. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve. Menggugat Tasawuf. 1995. 2002.multiply. Terj. 2006. Cetakan VIII. 1974. Jakarta: Raja Grafindo. Sayyed Hossein Nasr (ed. Madkhal ila al-Tasawwuf al-Islam. 2003. Jakarta: Bulan Bintang. Bandung: Pustaka. Amin Syukur. Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam: Manifestasi. Harun Nasution. Jaziratul Islamiyah). M. Ensiklopedia Islam. Islam ditinjau dari berbagai aspek. 2007. http://gilitengah. Zikir Menyembuhkan Kankerku: Pengalaman Kesembuhan Seseorang Penderita Kanker Ganas yang Divonis Memiliki Hidup Hanya Tiga Bulan. London dan Laiden: Luzac dan Brill. al-Fikr al-Islami wa al-Falsafat al-Muaridlah fi al-Qadim wa al-Hadits. 1999. Amin Syukur. 2002. Simuh. Jakarta: Paramadina. . 1985. Ibn Al-`Arabi Wahdat al-wujud dalam Perdebatan.al. Yusuf Qardawi. Ahmad Rafi’ Usman. Robson. 1979. anNahdhoh. Jakarta: Hikmah. Abu Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani. (tim penerjemah Mizan). et. Beirut. (terj. Syarah al-Diwan al-Hallaj. M. Harun Nasution. Bandung: Mizan. Falsafah dan Mistisme dalam Islam. Menyingkap Tabir Ilahi.com/journal/item/13 J. Al-Iman wa al-Hayat. Jakarta. Tasawuf dan Perkembangannya Dalam Islam.. Kautsar Azhari Noer.).Qur’an.Abdul Kadir Mahmud. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful