P. 1
jurnal 1

jurnal 1

|Views: 551|Likes:
Published by Pamel Liskardani

More info:

Published by: Pamel Liskardani on Jan 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2012

pdf

text

original

Sections

  • Ramon*
  • Agus Ganjar Runtiko*
  • Irtanto*
  • Sumarsono*
  • Akhmad Riza Faizal* Wulan Suciska*

Majalah Ilmiah SK Kep. LIPI No.

536/D/2007 tanggal 26 Juni 2007

ISSN : 1410 - 8291

1
JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI

DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SDM BALAI PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA BANDUNG

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI

 Merupakan terbitan berkala setiap caturwulan, yang menyajikan hasil-hasil penelitian : pendapat khalayak, mencakup : praktek dan teori, tinjauan buku, gagasan dan ide-ide baru serta pengembangan dan rekayasa di bidang komunikasi dan informatika..  Merupakan media informasi dan sarana pengembangan ilmu yang diharapkan dapat menjadi masukan bagi Departemen Komunikasi dan Informatika dalam menyusun kebijakan di bidang komunikasi dan informatika.  Sasaran penyebaran ditujukan bagi masyarakat ilmiah, para peneliti dan praktisi komunikasi. Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Bandung Kepala Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Bandung  C. Suprapti Dwi Takariani, SH.

PENERBIT PENANGGUNG JAWAB KETUA PENYUNTING PENYUNTING AHLI

   

Prof. Ris. Rusdi Mukhtar, MA. Dr. Atie Rachmiati, M.Si. Drs. Dian Wardiana Sjuchro, M.Si. Dra. Siti Karlinah, M.Si.

PENYUNTING PELAKSANA SEKRETARIS PENYUNTING ADMINISTRASI DISAIN & TATA LETAK KOREKTOR PELAKSANA DISTRIBUSI ALAMAT REDAKSI PENGIRIMAN NASKAH

 Drs. Ramon, M.Si.  Drs. Mulyono Yalia  Drs. Nana Suryana  Dra. Betty Djuliati

 Yoyo Suhawaya, Sm. Hk.  Widdie Budhiarta, A.Md.

 Ati Sumiati  Hj. Rosariah (Distribusi : Cuma-cuma, tukar menukar, dihadiahkan) Jl. Pajajaran No. 88 Bandung 40173; Telp. : (022) 6017493. Fax. (022) 6021740 E-mail : bppi_wil_3_bandung@depkominfo.go.id Redaksi menerima kiriman naskah dari pembaca yang ditujukan pada alamat redaksi. Naskah yang diterima harus asli dan belum pernah diterbitkan/dimuat di media lain, diketik dengan spasi 1,5 pada kertas A4 minimal 15 halaman maksimal 20 halaman, dilengkapi dengan identitas jati diri penulis. Sumber dituliskan : nama pengarang, tahun karangan dan halaman sumber di antara kurung. Contoh : (Amri Jahi, 1988 : 33). Daftar Pustaka ditulis pada halaman terpisah dan disusun menurut abjad, dengan urutan : nama pengarang atau penyunting, tahun penerbitan, judul buku, artikel, kota dan nama penerbit. Contoh : Costanza R. (ed.) 1991, Ecological Economic, New York : Colombia University Press. Naskah yang tidak diterbitkan menjadi hak milik redaksi dan tidak dapat diminta kembali Jurnal Edisi Perdana Terbit Tahun 1997

ISSN : 1410-8291

 ii Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No.1

KATA PENGANTAR Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi saat ini begitu pesat dan telah merambah di segala bidang kehidupan masyarakat. Beberapa lembaga-lembaga masyarakat telah memanfaatkan TIK sebagai sarana untuk memberdayakan masyarakatnya, namun masih banyak ditemukan berbagai kendala dalam memanfaatkan TIK tersebut. Dalam Jurnal volume 12 No. 1 Tahun 2009 ini, disajikan tujuh tulisan yang merupakan resume hasil penelitian. Ketersediaan alat komunikasi dan informasi yang belum cukup dan belum maksimal serta kemampuan Sumber Daya Manusia yang masih terbatas dalam menggunakan TIK menjadi salah satu kendala dalam menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia (MKPD), hal tersebut terungkap dalam hasil penelitian yang diangkat oleh Ramon, dengan judul tulisan ”Kesiapan Infrastruktur Komunikasi Informasi Menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia (MKPD) 2010”. Kendala tersebut juga ditemukan dalam lembaga-lembaga masyarakat yang mencoba memanfaatkan TIK untuk memberdayakan masyarakatnya, seperti terungkap dalam penelitian tentang ”BALAI INFORMASI MASYARAKAT (BIM) CIHIDEUNG : Memberdayakan Masyarakat Perdesaan Melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi” yang diangkat oleh Sumarsono. Sementara itu keberadaan Warung Masyarakat Informasi (warmasif) yang merupakan model pengembangan Community Access Point (CAP) dan dibangun untuk mempercepat tercapainya masyarakat informasi ternyata belum dimanfaatkan oleh masyarakat sesuai dengan tujuan dan sasarannya. Syarif Budhirianto dalam tulisannya, ” Motivasi Pengguna Warung masyarakat Informasi dalam Pemenuhan Kebutuhan Bermedia di Propinsi Jawa Barat”, menyimpulkan keberadaan warmasif untuk pemenuhan kebutuhan informasi dan komunikasi kurang optimal, warmasif baru dimanfaatkan sebatas untuk memenuhi kebutuhan hiburan bagi masyarakat. Perkembangan TIK dewasa ini telah dimanfaatkan oleh Perguruan Tinggi Negeri dengan mempraktekkan penggunaan social software sebagai media komunikasi dalam proses pengajaran. Dalam tulisan, ”Social Software sebagai Media Komunikasi dalam Proses Pengajaran di Perguruan Tinggi Negeri”, Akhmad Riza Faizal dan Wulan Suciska, menyimpulkan penggunaan social software sebagai

Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1

 iii

budaya mataraman. kesamaan jenis kelamin terutama pada budaya arek. Sementara itu. agama. menyimpulkan bahwa preferensi pemilih lebih banyak karena kesamaan asal daerah. dimana setiap warga bisa melaporkan peristiwa yang terjadi kepada media. Penyunting  iv Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Bagaimana sikap Jurnalis terhadap citizen journalism? Permasalahan tersebut diangkat oleh Dida Dirgahayu dalam penelitiannya yang berjudul ”Sikap Jurnalis Terhadap Citizen Journalism” Dalam tulisan lainnya.media komunikasi dalam proses pengajaran mampu mendorong kemampuan menulis siswa. menerbitkan hasil ujian semester. namun jumlah mereka dari tahun ke tahun tidak pernah menyusut. yang ditulis oleh Irtanto. dalam tulisan ”Perilaku Politik Pemilih Pada Pemilihan Gubernur Jawa Timur Periode 2008-2013”. ”Konstruksi Identitas Sosial Kaum Remaja Marjinal” studi kasus di kalangan remaja pengamen jalanan di Purwokerto. mengkaji mengenai kaum pengamen jalanan yang selama ini selalu identik dengan ketidaktertiban.1 . dan selalu ditertibkan. Hasil penelitian tersebut adalah terbentuknya model penanganan yang lebih tepat bagi para pengamen jalanan. menyebarkan materi perkuliahan. Agus Ganjar Runtiko. dan budaya pandalungan. Namun di sisi lain perkembangan TIK telah mengubah dunia jurnalistik yakni dengan hadirnya citizen journalism. 12 No.

............ 12 No.................................... 1  v .... 63-80 SOCIAL SOFTWARE SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI DALAM PROSES PENGAJARAN DI PERGURUAN TINGGI NEGERI Akhmad Riza Faizal dan Wulan Suciska ............. 81-98 Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.................. 1-22 KONSTRUKSI IDENTITAS SOSIAL KAUM REMAJA MARJINAL (Studi Kasus di Kalangan Remaja Pengamen Jalanan di Purwokerto) Agus Ganjar Runtiko .................. 1 Tahun 2009 ISSN : 1410 ................................................................................................................................................ 23-42 PERILAKU POLITIK PEMILIH PADA PEMILIHAN GUBERNUR JAWA TIMUR PERIODE 2008-2013 Irtanto ................. 12 No......... 43-62 BALAI INFORMASI MASYARAKAT (BIM) CIHIDEUNG : Memberdayakan Masyarakat Perdesaan Melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi Sumarsono ....................................VOL..........8291 JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAFTAR ISI STUDI KESIAPAN INFRASTRUKTUR KOMUNIKASI INFORMASI MENYONGSONG MANADO KOTA PARIWISATA DUNIA (MKPD) 2010 Ramon ....................................

.................... 12 No......................1 ............................................. 119-137  vi Jurnal Penelitian Komunikasi Vol................................MOTIVASI PENGGUNA WARUNG MASYARAKAT INFORMASI DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN BERMEDIA DI PROVINSI JAWA BARAT Syarif Budhirianto ................ 99-118 SIKAP JURNALIS TERHADAP CITIZEN JOURNALISM Dida Dirgahayu ...

Kata kunci : Infrastruktur. 1 1 . Laut Indonesia itu seluas dua per tiga dari kawasan Nusantara. Ramon. sedangkan metode penelitian bersifat sosiologis/empiris. Oleh karena itu perlu sosialisasi secara kontinyu kepada wisatawan mancanegara dan domestik baik melalui dunia maya maupun secara langsung. Jenis penelitian adalah kualitatif dengan analisis deskriptif. baik yang bisa diperbaharui (renewable resources) maupun yang tidak bisa di perbaharui (non-renewable resources). M. Padahal dari laut ini bisa * Drs. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Penggunaan internet hanya dipakai untuk mengakses informasi saja belum sampai pada taraf penambahan pengetahuan/referensi tentang dunia wisata dalam persiapan menyongsong MKPD tahun 2010.STUDI KESIAPAN INFRASTRUKTUR KOMUNIKASI INFORMASI MENYONGSONG MANADO KOTA PARIWISATA DUNIA (MKPD) 2010 Ramon* Abstraksi Penelitian ini ingin melihat kesiapan infrastruktur komunikasi informasi dalam menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia (MKPD) tahun 2010.Si. Instrumen utama interview guide bersifat terbuka dan terstruktur. Ketersediaan alat komunikasi dan informasi belum cukup serta belum maksimal sebagai dukungan sarana dan prasarana menyongsong MKPD tahun 2010. Komunikasi Informasi. PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia terkenal kaya sumber daya alamnya. namun baru dimanfaatkan sebagian kecil saja-terutama potensi ikannya saja. MKPD 2010.. Penulis adalah Peneliti Madya bidang Komunikasi Politik pada Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BP2KI) Bandung. 12 No. Yang menjadi kendala lainnya kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) -nya.

ini membuat munculnya berbagai konflik antara nelayan dan nelayan. 1 . dalam usaha mencapai tujuannya menetapkan visi Kota Manado sebagai “Manado Kota Pariwisata Dunia 2010”. berdaya saing. Oleh karena adanya Otonomi Daerah ini. Visi Kota Manado secara lebih lengkap adalah “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010 menuju terwujudnya masyarakat Kota Manado yang aman. nelayan dengan pemangku kekuasaan daerah dan antar pemangku kekuasaan daerah walaupun ikan yang akan ditangkap para nelayan itu “tidak paham batas territorial daerah”. 2  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Pengkaplingan tersebut berimplikasi pada pembagian 18. Pembangunan sebagai program yang direncanakan untuk melakukan perubahan-perubahan dengan sengaja untuk menyejahterakan masyarakat. Tentu. 12 No. sebelum batas wilayah ini jelas. berkeadilan dan bermartabat”. Selanjutnya akan terdapat keengganan daerah untuk memberdayakan kekayaan alam yang terkandung di daerah batas wilayah tersebut.dihasilkan sebagai energi melalui pemanfaatan gelombang air laut atau angin laut yang dihasilkannya. sejahtera. Hal ini terkait dengan pelaksanaan Otonomi Daerah yang memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri dengan mengandalkan pada sumber daya alam sekaligus sumber daya manusianya. Hal ini tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Manado No. Hal ini berakibat pengelolaan kelautan semakin runyam dengan berbagai pengkaplingan dan diberlakukannya Otonomi Daerah dan Otonomi Khusus. maka pembangunan daerah harus bertumpu pada kemampuan daerah dengan segala sumber yang ada serta juga dituntut adanya kreatifitas daerah dalam mewujudkan pembangunan Propinsi Sulawesi Utara khususnya ibukota propinsinya yaitu Kota Manado.04 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Manado Tahun 2005-2010. Persoalan saat ini adanya pengkaplingan batas-batas territorial oleh pemerintah daerah dalam menyikapi implementasi desentralisasi dan Otonomi Daerah saluas-luasnya itu.100 pulau di Indonesia ke dalam wilayah-wilayah territorial kabupaten dan kota. Penetapan batas titik-titik itu sekaligus tak hanya menetapkan diantara peran dan fungsinya. dan dipandu oleh visi tertentu dalam tahapan tertentu pula. tetapi juga terkait kewenangan daerah untuk mengeksploitasikan.

terwujudnya tata ruang kota berbasis pariwisata. maka sektor infrastruktur komunikasi informasi menjadi faktor penunjang keberhasilan mewujudkan visi dan misi Kota Manado. terwujudnya infrastruktur perkotaan bertaraf internasional. Manado yang terletak di pulau Sulawesi menjadi salah satu andalan Indonesia dari keindahan alamnya untuk mendatangkan devisa negara melalui pariwisata. untuk dapat secara cepat mengakses berbagai informasi di bidang pariwisata di Kota Manado yang akan ditawarkan kepada publik. terkoordinasi.Untuk mewujudkan Visi tersebut dirumuskan Misi: “Menciptakan lingkungan perkotaan yang menyenangkan dimana setiap orang dapat mewujudkan potensi dan impiannya”. Dari ketentuan ini. Upaya-upaya untuk mewujudkan pembangunan ditopang oleh berbagai faktor salah satu yang berperan ialah komunikasi. maka kita dapat tampilkan kekayaan dasar laut yang dikenal dengan nama BUNAKEN sebagai salah satu obyek wisatanya. 1 3 . Dalam melaksanakan misi tersebut telah ditetapkan 4 (empat) sasaran strategis yaitu: terlaksananya sistem pemerintahan dan pelayanan publik yang efisien dan efektif. Hal ini terbukti dengan masih kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana komunikasi informasi serta pengelolaan informasi dan diseminasi yang efektif dari kalangan infrastruktur secara terorganisasi. Berdasarkan kekayaan alam yang dimiliki Pulau Sulawesi khususnya wisata bahari. terutama infrastruktur komunikasi informasi. Salah satu sasaran strategisnya adalah “terbangunnya infrastuktur perkotaan bertaraf internasional” yang akan diwujudkan melalui strategi-strategi pembangunan yaitu : “Infrastruktur Telekomunikasi dan Informasi yang handal dan mampu menghubungkan masyarakat kota Manado dengan dunia internasional“. Untuk mendapatkan gambaran tentang peran komunikasi dan informasi dalam pembangunan menuju Manado Kota Pariwisata Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. terintegrasi dan sinergis. 12 No. dalam hal ini akan terwujud jika ditunjang oleh infrastruktur yang dibutuhkan. Sesuai dengan strategi pembangunan yang salah satunya peran komunikasi dan informasi. Namun ternyata belum terlihat adanya kesiapan infrastruktur komunikasi informasi di Kota Manado dalam menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010. terciptanya lingkungan perkotaan yang menyenangkan.

Monge (1973) mengatakan : “The primary purpose of a scientific theory is scientific explanation … To establish a theory of communication is to seek a set of propositians that explain how communication operates. 5-6) (Tujuan utama suatu teori 4  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Tinjauan Teori Sarjana komunikasi sepakat bahwa tujuan utama teori ialah eksplanasi (Hawes. 12 No. hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi tentang kesiapan infrastruktur komunikasi informasi kota Manado Menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010 untuk menjadi bahan masukan kepada Pemerintah Kota Manado dan pimpinan Departemen Komunikasi dan Informatika dalam pengambilan kebijakan. 2. Kegunaan 1. 1973. Secara Praktis. (pp.Dunia Tahun 2010. dan agar dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya dibidang teknologi informasi dan komunikasi.e. maka dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut: Bagaimana Kesiapan Infrastruktur Komunikasi Informasi Kota Manado Menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010 ? Tujuan dan Kegunaan Penelitian Tujuan Untuk mengetahui Kesiapan Infrastruktur Komunikasi Informasi Kota Manado Menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010. 1 . 1981). 1976. 1975. i. Miller & Nicholson. maka perlu dilakukan penelitian tentang Studi Kesiapan Infrastruktur Komunikasi Informasi di Kota Manado dalam rangka menuju Manado Kota Pariwisata Dunia di tahun 2010. hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu komunikasi informatika. Secara Teoretis. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang pemasalahan di atas. Monge. Tucker et al. why various communication events are related.

internet serta sarana dan prasarana lain yang Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. dalam rangka menunjang kesuksesan Manado sebagai Kota Wisata Dunia di Tahun 2010. berasal dari kata dasar “siap”. sudah selesai (dibuat atau dikerjakan). Pada saat yang bersamaan dan dalam perkembangan kebutuhan akan akses informasi yang cepat terlebih informasi yang terkait dengan pariwisata di Kota Manado. Harre. sebab sebelum digunakan pertama terlebih dahulu dipastikan tentang penerimaan atau penolakan di gunakannya teknologi informasi tersebut. 1983). Dalam penelitian ini. maka kehadiran perangkat infrastruktur komunikasi informasi menjadi suatu keharusan yang sangat mendesak. sangat besar peran komunikasi informasi di dalamnya. pemanfaatan informasi oleh individual. Teknologi informasi dapat digunakan untuk memfasilitasi hampir semua kegiatan manusia. (2001) berpendapat bahwa penggunaan teknologi informasi. Oleh karena itu. Infrastruktur yang dimaksud dalam hal ini berupa peralatan komputerisasi. sudah disediakan (tinggal memakai atau menggunakan saja) . eksplanasi untuk satu peristiwa memerlukan spesifikasi sebab-sebab atau kondisi-kondisi anteseden yang menyebabkan peristiwa itu dan menguraikan kondisi-kondisi bagaimana sehingga eksplanasi itu berlaku (Monge. Dalam ilmu pengetahuan. yang dimaksudkan kesiapan komunikasi informasi adalah sebagai kesudah-tersediaan sarana dan prasarana komunikasi dan informasi yang dapat digunakan untuk mendukung program Manado Kota Wisata Dunia Tahun 2010. 12 No. Sri Astuti. (Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1973. Kesiapan. 1990:835) yang berarti sudah sedia. Untuk membangun suatu teori komunikasi diperlukan adanya seperangkat proposisi yang mampu menjelaskan bagaimana komunikasi memiliki keterkaitan satu sama lain). 1 5 . Dalam penelitian ini. Dalam dekade terakhir ini sangat dirasakan peran teknologi komunikasi informasi bagi kehidupan manusia. kelompok atau organisasi merupakan variabel inti dalam riset sistem informasi. akan dilihat faktor-faktor yang menyebabkan peristiwa yang terkait dengan kesiapan infrastruktur komunikasi informasi sebagai salah satu strategi pembangunan yang akan diwujudkan dalam Misi Manado Kota Wisata Dunia 2010.ilmiah adalah memberi eksplanasi secara ilmiah. hal ini berkaitan dengan perilaku yang ada pada individu/ organisasi yang menggunakan teknologi komputer.

Pandangan jauh kedepan untuk menumbuhkan perekonomian yang berkelanjutan. branding yang tepat dan bagus niscaya membuat suatu daerah tampil lebih atraktif dan eksotis. Dalam beberapa tahun terakhir. Tujuh tahun sudah implementasi Desentralisasi dan Otonomi Daerah (OTDA) seluas-luasnya di Indonesia. jumlah propinsi meningkat dari 26 menjadi 33 Propinsi. maka kesiapan infrastruktur komunikasi informasi dalam hal ini mengenai ketersediaan alat komunikasi yang telah menggunakan teknologi informasi dan komputerisasi juga seharusnya telah dilakukan sejak tahun 2005. Hasil yang tampak jelas. Hal ini diperkuat oleh statement Johnny Karinda “Manado sebagai pusat kegiatan nasional di Sulawesi Utara 6  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 04 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Manado Tahun 2005-2010. Bagi Harry. kabupaten maupun kota dalam menjalankan berbagai kewenangan yang telah diserahkan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. sehingga memikat para investor untuk berlomba-lomba menanamkan investasinya . sumber pendapatan daerah juga akan timbul dengan sendirinya. dengan kekuatan yang bertumpu pada keunggulan potensi daerah. Kesiapan untuk menuju Manado menjadi Kota Wisata Dunia tersebut telah dimulai sejak tahun 2005 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Manado No. dan multifier effect yang ditimbulkan jauh lebih banyak. 12 No. telah terjadi perubahan paradigma. bahwa arogansi lokal muncul diantara propinsi. tampaknya masih belum secara tegas dan jelas. 1 . Namun yang menyedihkan. Sinyo Harry Sarundayang. keengganan pemerintah pusat untuk menyerahkan kewenangan yang harus dimiliki Pemerintah Daerah (berdasarkan Undang-Undang yang berlaku). Di lain sisi. dari 300 menjadi 458 Kabupaten/Kota. Jika kesiapan telah dilakukan sejak Tahun 2005. Ragamnya pun akan semakin banyak. “Selain mendatangkan manfaat nyata berupa pendapatan daerah yang akan meningkat.menggunakan teknologi informasi dalam mengomunikasikan pariwisata di Kota Manado guna mendukung program Manado Kota Wisata Dunia di Tahun 2010.“ tandasnya. “Ujung-ujungnya. sementara jumlah Kabupaten/Kota meningkat. upaya menggali dan mengoptimalkan potensi daerah juga bisa menjadi masukan penting untuk branding suatu daerah” ungkap Gubernur Sulawesi Utara.

dan Gubernur Sulawesi Utara SHS Sarundayang mempromosikannya secara domestik maupun ke mancanegara secara besar-besaran. Selanjutnya sedang gencar-gencarnya pula Walikota Manado Jimmy Rimba Rogi. institusi. Metode Penelitian Jenis Penelitian Metode Penelitian dalam hal ini adalah sosiologis atau empiris atau non doctrinal.Sos. perkebunan kelapa dan perikanan sebagai tumpuan ekonominya. regional maupun nasional secara geografis berada di kawasan Pasifik Rim memberi peluang bagi Kota Tinutuan ini berkembang menjadi kota pariwisata penting dan unggulan di skala nasional maupun internasional. Dengan kedudukan dan posisi strategis dalam konstalasi ekonomi lokal. kelompok. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan analisis yang bersifat deskriptif analitis. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. artinya bahwa data dikumpulkan dengan menggunakan interview guide (pedoman wawancara) yang bersifat terbuka dan terstruktur. atau interaksi-interaksi (sosial) yang terjadi di dalamnya.sebagaimana arahan RTRWN (Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional) menjadi penting sebagai kota tujuan utama (Primary Destination) maupun sebagai kota transit sekaligus pusat pertumbuhan wilayah di kawasan Indonesia Timur. yaitu suatu pendekatan yang dilakukan untuk mempelajari secara mendalam terhadap suatu individu. yang akan menjadi instrumen utama dalam analisis data. Apalagi “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010“ sudah dijadikan Peraturan Daerah. S. Kini Sulawesi Utara bertekad menggarap sektor pariwisata. kemudian didukung oleh perolehan data dari informan yang terkait dengan permasalahan yang akan diteliti. Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis terhadap kasus. hal 4 ). 13 juli 2008. 12 No. dalam hal ini adalah terhadap ketersediaannya sarana dan prasarana komunikasi dan informasi sekaligus sumber daya manusianya dalam menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010. 1 7 .“ (Manado Post.

Teknik Pengumpulan Data 1. Telkom dan Dinas Kominfo Kota Manado. PT. dalam hal ini terpilih : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Manado. Tokoh Masyarakat. Tokoh Lintas Agama. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh di lapangan yang akan dilakukan data dikumpulkan dengan menggunakan interview 8  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.Populasi dan Sampel 1. Yang berarti bahwa setiap individu yang menjadi responden akan dipilih secara sengaja dan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang dalam hal ini adalah : Masyarakat yang menggunakan alat komunikasi informasi untuk mengakses informasi terkait dengan kepariwisataan di Kota Manado. Pakar Komunikasi. Dinas Tata Kota. Balai Pengelola Data Elektronik (BPDE). Sosiolog. Dinas Pekerjaan Umum dan Pengelola Pelabuhan Darat Laut maupun Udara. Dunia Hiburan (Pub. Karaoke. Pos dan Giro. Bappeda Kota Manado. Aparat Pemerintah Kota Manado yang terkait bidang tugasnya dengan kepariwisataan di kota Manado. BPDE. Selanjutnya untuk kebutuhan akurasi data akan dilakukan cross check (cek silang) terhadap informan yang menjadi sasaran penelitian ini dengan melakukan wawancara mendalam (eksploratif). 1 . Diskotik. Pengamat Pariwisata. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Kota Manado sebagai responden yang menggunakan teknologi informasi dalam kaitannya dengan persiapan menyambut Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010. sehingga terpilih: Dosen Pariwisata. dalam hal ini adalah masyarakat umum pihak dinas terkait yakni Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Akademisi bidang IT. dan udara). Dinas Komunikasi dan Informatika. Pengusaha Warnet. 12 No. Pengusaha yang tergabung dalam PHRI. Sampel Dalam penarikan sampelnya digunakan teknik purposive random sampling yang dipilih secara sengaja. Bar). Café. Sekertariat MKPD Provinsi dan Kota. 2. Pengelola Pelabuhan (laut. LSM bidang terkait. darat. PT.

Artinya walaupun jawaban sedikit diluar kuesioner asalkan dalam koridor substansi masih dimungkinkan diteruskan pertanyaan lanjutan. 1 9 . artinya bahwa data yang diperoleh akan dianalisis dengan cara menggambarkan secara kritis data dikumpulkan dengan menggunakan interview guide (pedoman wawancara) yang bersifat terbuka dan terstruktur. 12 No.guide (pedoman wawancara) yang bersifat terbuka dan terstruktur. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Definisi Konsep 1. yang akan menjadi instrumen utama dalam analisis data. koran yang terkait dengan permasalahan penelitian serta juga diperoleh melalui internet. kemudian didukung oleh perolehan data dari informan yang terkait dengan permasalahan yang akan di teliti. 2. Demikian juga faktor-faktor pendorong yang menyebabkan ketidaksiapan infrastruktur komunikasi informasi dalam menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia 2010. Kesiapan Kesiapan adalah sebagai kesudah-tersediaan sarana dan prasarana komunikasi dan informasi yang dapat digunakan untuk mendukung program Manado Kota Pariwisata Dunia 2010. Data yang diperoleh akan menjadi instrumen utama dalam analisis deskriptif tersebut. Dengan demikian saat berlangsungnya wawancara sangat dimungkinkan berkembang sesuai dengan kenyataan yang diperoleh di lapangan. majalah. kemudian didukung oleh perolehan data dari informan yang terkait dengan permasalahan yang akan diteliti untuk memberikan gambaran secara kritis. Data Sekunder Data sekunder diperoleh melalui berbagai literatur. Analisis Data Analisis data yang bersifat deskriptif. Pertanyaan yang diajukan akan berkisar pada kesiapan infrastruktur komunikasi informasi dalam menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010. Wawancara yang dilakukan bersifat terbuka dan terstruktur tersebut sangat tergantung pada tanggapan para responden maupun informan yang menjadi sasaran penelitian.

yang dalam hal ini diambil di hotel-hotel. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Kondisi Geografis Kota Manado terletak diujung utara pulau Sulawesi dan merupakan kota terbesar di belahan Sulawesi Utara sekaligus sebagai ibukota Propinsi Sulawesi Utara secara geografis Kota Manado 10  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 3. perusahaan biro perjalanan. Definisi Operasional 1. internet serta sarana dan prasarana lain yang menggunakan teknologi informasi yang dapat digunakan untuk mengakses informasi yang cepat terkait dengan pariwisata di Kota Manado guna mendukung program Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010. telepon dan semua peralatan komunikasi di tempat-tempat yang berhubungan dengan kepariwisataan untuk menginformasikan pariwisata di Kota Manado. internet. telepon serta sarana dan prasarana lain yang menggunakan teknologi informasi yang dapat digunakan untuk mengakses informasi yang cepat terkait dengan pariwisata di Kota Manado guna mendukung program Manado Kota Pariwisata Dunia 2010. Infrastruktur Komunikasi Informasi Infrastruktur komunikasi informasi yang dimaksud dalam hal ini berupa peralatan komputerisasi. 12 No. warung internet. pusat-pusat perbelanjaan. Infrastruktur Komunikasi Informasi Infrastruktur komunikasi informasi yang dimaksud dalam hal ini berupa peralatan komputer. Menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010 Yang dimaksud dalam hal ini adalah menyambut diadakannya perhelatan besar Pemerintah Kota Manado sebagai tujuan wisatawan baik domestik maupun wisatawan mancanegara yang puncaknya di tahun 2010. 1 . Kesiapan Dengan indikator telah tersedianya komputer. warung telepon dan juga kantor pemerintah maupun swasta yang berhubungan dengan dunia pariwisata. internet. 2.2.

656 jiwa/Km2.terletak diantara : 10 25‟ 88”-10 39‟ 50” LU dan 1240 47‟ 00-1240 56‟ 00 BT. Sebelah Utara : Kecamatan Wori dan Teluk Manado Kabupaten Minahasa Utara. Hal ini menggambarkan bahwa jumlah penduduk laki-laki di Kota Manado lebih kecil daripada jumlah penduduk perempuan. yaitu Pulau Manado Tua. berarti kepadatan penduduknya mencapai 2.726 hektar (157. 12 No. rasio jenis kelamin penduduk Kota Manado lebih dari 100 dengan angka 93. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.41 persen. b. Sebelah Selatan : Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa. Berdasarkan SUSENAS 2006.26 Km2). Sebelah Barat : Laut Manado /Laut Sulawesi. 1 11 . HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kesiapan Infrastruktur Komunikasi Informasi Tabel 1 Ketersediaan Alat Komunikasi Informasi Menyongsong “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” No 1 2 3 4 Ketersediaan alat komunikasi informasi Ya Tidak Belum Jawaban lain N 91 91 F (%) 100 100 Keterangan Internet - Jumlah n = 60 responden + 31 informan Sumber : Data diolah oleh peneliti.26 Km2. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk tahun 2006 berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS 2005) berjumlah 417. Kota Manado mempunyai 3 wilayah pulau dan berpenghuni.700 jiwa. Sedangkan batas administratif adalah sebagai berikut : a. Dengan luas wilayah 157. Pulau Bunaken dan Pulau Siladen. Luas Kota Manado adalah 15. d. c. Sebelah Timur : Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa.

Pengertian “telah tersedia” dalam hal ini dapat dikonotasikan relatif tersedia. karena kalau ditinjau dari jenis sarana dan prasarana yang tersedia sebagian besar dari masyarakat hanya melihat ketersediaan atau ketidak tersedianya internet. 12 No. 1 .29 100 Keterangan Internet - 12  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Padahal alat komunikasi informasi tidak hanya internet saja. No N 21 57 13 91 F (%) 23.63 14. Inilah yang menjadi tanda tanya lebih lanjut apakah internet yang ada telah digunakan sebagaimana yang dimaksud dalam penelitian ini ? Ternyata berdasarkan cross check di lapangan dari informan dapat dicermati bahwa penggunaan internet masih terbatas untuk kepentingan pribadi masing-masing pengguna. Kemudian bila dilihat lebih lanjut ketersediaan internet harus juga di barengi dengan kemanfaatannya sekitar persiapan menyambut “Manado Kota Pariwisata Dunia 2010”. sehingga belum maksimal sebagai dukungan sarana dan prasarana menyongsong “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”. hal ini terlihat dari telah banyak dijumpai internet. namun yang dijadikan barometer masyarakat saat ini adalah internet.Bahwa telah tersedia alat komunikasi dan informasi (100%) dalam rangka menunjang persiapan menyambut Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010. jadi yang menjadi barometernya adalah tersedia atau tidaknya internet. Sehingga dapat dikatakan bahwa ketersediaan infrastruktur komunikasi informasi kurang menunjang program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”. Jumlah Ketersediaan Alat Komunikasi dan Informasi Tabel 2 Ketersediaan Alat Komunikasi Informasi Berdasar Jumlah Dalam Menunjang “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” Ketersediaan alat komunikasi informasi 1 Sangat memadai 2 Cukup memadai 3 Kurang memadai 4 Tidak memadai Jumlah n = 60 responden + 31 informan Sumber : Data diolah oleh peneliti.08 62.

28 100 Keterangan Internet - Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Tabel 3 Ketersediaan Alat Komunikasi Informasi Menunjang “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” Ketersediaan alat komunikasi informasi dalam menunjang “MKPD” 1 Telah menunjang 2 Kurang menunjang 3 Belum menunjang 4 Tidak menunjang Jumlah n = 60 responden + 31 informan Sumber : Data diolah oleh peneliti. 12 No. jika dirasa dari sisi jumlah Pemerintah Kota Manado tidak dapat memenuhi jumlah idealnya.93 14. tidak salah jika pihak swasta yang terkait dengan penyelenggaraan kepariwisataan di kota Manado terlibat maupun dilibatkan. No N 7 11 60 13 91 F (%) 7.70 12. Pemkot. karena sektor swasta lebih merasakan dampak dari keterbatasan jumlah alat komunikasi informasi dari sisi promosi produknya untuk di jual kepada masyarakat. ketersediaannya alat komunikasi informasi masih dikategorikan kurang memadai (62. Hal tersebut didukung juga oleh sebuah artikel dari Johnny Karinda yang mengatakan : “Kegiatan promosi dan pemasaran pariwisata tampak kurang padu antara pihak-pihak yang berkompeten (Pemprov. Kemudian jika dilihat dari sisi jumlahnya. Oleh karena itu. serta stakeholder) masing-masing berjalan sendirisendiri sehingga sasaran yang dituju kurang maksimal. hal 4). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ketersediaan alat komunikasi informasi dalam menunjang program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” secara kuantitatif dapat dikatakan cukup memadai.63%).Data yang diperoleh menunjukkan bahwa ketersediaan alat komunikasi informasi dalam menunjang program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” Kurang memadai (62.09 65. Lombok dan lain-lain di Nusantara” (Manado Post. Tidak heran bila pariwisata Manado kalah bersaing dengan DTW (Daerah Tujuan Wisata) lain seperti Bali. maka selama ini persiapan dari sisi infrastuktur komunikasi informasi masih dapat dikatakan belum cukup. 16 juli 2008.63%) jika dibandingkan dengan jumlah penduduk kota Manado. 1 13 . tetapi secara kualitatif masih sangat kurang.

Disamping itu informan juga menambahkan perlu adanya satu pusat informasi yang dapat diakses dengan mudah tentang program “Manado Kota Pariwisata Dunia 2010” yang akan dapat memberikan informasi secara lengkap kepada semua pihak terkait dengan program tersebut. Dengan demikian masih perlu ditingkatkan lagi ketersediaan alat komunikasi informasi sekaligus dibarengi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang kapabel. apakah alat komunikasi informasi yang belum menunjang tersebut akan segera dapat diatasi permasalahannya?. Hal selaras dengan pendapat informan dari hasil wawancara yang menunjukkan bahwa ada keyakinan bahwa program “Manado Kota Pariwisata Dunia 2010” akan tercapai. lanjutnya lagi dengan adanya informasi yang jelas tentang potensi pariwisata membuat wisatawan tidak ragu-ragu untuk memperpanjang Length Of Stay di Sulut. Menurut observasi peneliti sudah lebih dari cukup (minimal 20 kali) berkunjung ke Bandara Sam Ratulangi Manado tapi ternyata Ruangan Tourist Information Centre (TIC) kosong melompong tidak ada penjaganya. hal 8). Apapun program yang dikampanyekan. kalau tidak dibarengi dengan upaya untuk secara nyata dan terarah segala kemampuan terfokus pada program tersebut. 12 No. Informasi yang diberikan baik berupa informasi langsung maupun tidak langsung. Untuk itu diperlukan kerja sama yang baik dari semua komponen masyarakat yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam kesiapan menyongsong program “Manado Kota Pariwisata Dunia 2010”. maka kita menjadi pesimis melihat perencanaan waktu yang tidak lama lagi yaitu tahun 2010 tersebut. 1 . namun pembenahan tidak segencar kampanyenya. “ (Manado Post. Hal ini sangat disesalkan pengamat Pariwisata Sulut Chefie Nelwan SE. karena menyangkut semua komponen kepariwisataan yang ada di Kota Manado. Par dengan mengatakan : “Mestinya Disparbud Sulut tetap stand by untuk memberikan informasi sebanyak mungkin obyek wisata yang ada di Sulut. tetapi terdapat keraguan kerena waktu yang sudah dekat. Sangat kompleks permasalahan yang ada di dalamnya. 14  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 3 Oktober 2008. lisan maupun tulisan serta media lain yang tersedia.Dengan demikian menjadi bahan perenungan bersama.

Sebaran Lokasi Ketersediaan Alat Komunikasi dan Informasi Selanjutnya dapat dilihat pada tabel 4 bahwa sebaran keberadaan alat tersebut belum merata, karena berdasarkan data di lapangan alat tersebut masih berada ditempat tertentu selain di kampus (33,50%) ataupun perkantoran swasta (11,49%) maupun pemerintah (5,74%), hanya terdapat disekitar pusat perbelanjaan tertentu (Mall sebesar 5,26%), Warung Internet (16,74%) serta biro perjalanan (21,53%) dan juga lain-lain yang dalam hal ini dimaksud adalah internet maupun komputer milik pribadi sebesar 5,74%. Tabel 4 Sebaran Lokasi Ketersediaan Alat Komunikasi Informasi Dalam Menunjang “Manado Kota Pariwisata Dunia 2010”
Lokasi Ketersediaan F N Keterangan alat komunikasi informasi (%) 1 Kampus 70 33,50 Internet,computer 2 Kantor Pemerintah 12 5,74 Internet,computer 3 Kantor swasta 24 11,49 Internet,computer 4 Mall 11 5,26 Internet 5 Warung Internet 35 16,74 Internet 6 Biro Perjalanan 45 21,53 Internet 7 Lain-Lain 12 5,74 Internet,computer Jumlah 209 100 n = 60 responden + 31 informan, responden boleh memilih jawaban lebih dari satu. Sumber : Data diolah oleh peneliti. No

Berdasarkan hasil wawancara rechecking dengan informan dari PHRI (Perusahaan Hotel dan Restoran Indonesia) cabang Manado, sebaran alat komunikasi informasi tersebut belum dibarengi dengan kemampuan sumber daya manusianya atau SDM nya, karena masih sangat kurangnya pengetahuan maupun kemampuan penggunaan alat-alat teknologi informasi yang tersedia. Lebih lanjut diungkapkan bahwa sebenarnya dari alat yang tersedia itupun masih kurang dibandingkan jumlah penduduk di Kota Manado, namun karena yang dapat menggunakan hanya sebagian kecil masyarakat, maka tampaknya ketersediaan alat komunikasi untuk sementara dapat dikatakan cukup memadai, namun belum dapat menunjang sepenuhnya persiapan Program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”.
Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1 15

Selanjutnya terkait dengan ketersediaan infrastruktur komunikasi informasi data di lapangan menunjukkan bahwa di samping perlu disediakan infrastruktur komunikasi informasi juga perlu sumber daya manusia yang handal di bidang tersebut. Untuk tingkat pemanfaatan komputer yang dalam hal ini penggunaan fasilitas internet, masih terbatas pada fasilitas standar, karena fungsi internet belum dapat dimaksimalkan sebagai media mengakses informasi, mempermudah komunikasi. Penggunaan internet sampai saat ini hanya untuk mengakses informasi saja, belum sampai pada taraf penambahan pengetahuan atau mencari referensi yang diperlukan tentang dunia wisata di Kota Manado terkait dengan persiapan “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”. Selanjutnya terkait dengan penyediaan fasilitas komunikasi informasi sebagai infrastruktur, sebagian besar responden maupun informan menghendaki sebaiknya persiapan alat komunikasi informasi pertama-tama diawali dari pihak Pemerintah Kota Manado khususnya Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pengetahuan Tentang Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010 Sementara itu, kalau ditinjau dari konten info yang disediakan melalui internet maupun media massa lain, info tentang “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” tetapi apa itu dan bagaimana itu, masih sangat kurang memuat informasi dan pengetahuan seputar rencana besar tersebut, Walaupun data menunjukkan bahwa responden sangat mengetahui adanya program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” sebagaimana tertuang dalam tabel berikut : Tabel 5 Pengetahuan Tentang “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”
No. 1 2 3 Mengetahui tentang MKPD N 91 91 F (%) 100 100

Ya Tidak Jawaban lain Jumlah n = 60 responden + 31 informan Sumber : Data diolah oleh peneliti.
16  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1

Berdasarkan tabel tersebut di atas tampak sangat menyakinkan bahwa semua komponen masyarakat, pariwisata di Kota Manado mengetahui adanya program Pemerintah Kota Manado yakni “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa program ini telah diketahui oleh masyarakat Manado seluruhnya khususnya masyarakat yang terkait langsung dengan penyelenggaraan pariwisata di Kota Manado. Selanjutnya “tahu”nya perlu dipertanyakan lebih lanjut, apakah benar-benar tahu adanya Program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” tersebut dalam artian bahwa konten dari isi pesan kampanye Pemerintah Kota Manado tersebut benar diketahui?. Ternyata tampak penyajian informasi terkait dengan program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” sebagai pesan, belum efektif, hal ini terbukti dengan ketidaktahuan secara mendalam konten dari pesan kampanye Pemerintah Kota Manado tersebut. Dalam efektifitas penyajian informasi dalam bentuk gambar, secara deskriptif menunjukkan tingkat efektifitas yang tinggi, terhadap komponen afeksi dari masyarakat usaha pariwisata yang sebagian besar memiliki tingkat intensitas penerimaan tinggi. Jelas di sini, bahwa pesan yang berbentuk gambar atau foto dengan latar belakang musik, lebih menyentuh perasaan seseorang, sehingga menimbulkan rasa senang untuk mengamatinya. Namun tidak begitu tinggi efeknya terhadap tingkat pemahaman dan komunikasi dari isi pesan tersebut. Hal ini terungkap dari hasil observasi di lapangan melalui wawancara dengan para pengusaha yang tergabung dalam PHRI. Pengaruh penyajian pesan dalam bentuk naturalis persuatif terhadap perilaku masyarakat mengenai program Pemerintah Kota Manado menuju “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”, ada kecenderungan persamaan dengan penyajian pesan dalam bentuk atraktif informatif, yaitu pengaruh terhadap perilaku menunjukkan lebih besar dibandingkan dengan pengaruh terhadap sikap mengenai Program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”. Pendidikan Terakhir Responden Penyajian pesan dalam bentuk gambar, efektif dalam memengaruhi perilaku, sudah barang tentu tidak terlepas dari variabel lain yang dimiliki oleh masyarakat usaha pariwisata, diantaranya unsur pendidikan. Mereka yang berpendidikan tinggi mampu
Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1 17

penggunaan media yang tinggi. Teori mengatakan : “Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang. Dalam penelitian ini. Nelson. maka semakin tinggi kemampuannya untuk memahami pesan-pesan (stimulus) yang bersifat visual. Perbedaan tingkat ketrampilan berkomunikasi di antara segmensegmen suatu khalayak secara keseluruhan.67 35 18. 1973). juga melengkapi mereka dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi dalam beberapa topik. 1 . Schramm. 18  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. motif. yang menyatakan ketrampilan berkomunikasi yang diperlukan. Kesenjangan efek komunikasi terjadi karena : 1. 12 No.67 41. ikut menentukan adanya kesenjangan efek komunikasi. Sedangkan yang terkecil adalah tamatan SMP yakni 1. dan tingkat persuasibilitas yang ditentukan oleh pengetahuan pemahaman. (Rager. Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir. 1981.67%. 1983). dan Betham. 1977. perhatian.67%. Hal ini mendukung pada penemuanpenemuan terdahulu yang dilakukan oleh Schramm. ditemukan bahwa tingkat pendidikan. Tabel 6 Pendidikan Terakhir Responden No. intensitas penerimaan suatu pesan. non verbal dan emosional”.33 3. (Betinghaus EP.memahami pesan yang sangat abstrak yaitu berupa gambar. data memperlihatkan bahwa tingkat pendidikan terakhir responden tamatan SMU yakni sebanyak 41. dan kemampuan mendapatkan informasi. Sumber : Data diolah oleh peneliti.33 100 Jumlah n = 60 responden. 1 2 3 4 5 6 7 Pendidikan Terahir Tamat SD Tamat SMP Tamat SMU Tamat D 1/2/3 Tamat S1/Sederajat Tamat S2/Sederajat Tamat S3/Sederajat N 1 25 21 11 2 60 F (%) 1. tidak ada yang tamatan SD dan S3.

sebab bukan lingkungan Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 1984. 6. karena fasilitas yang tidak bersih atau keadaan kurang aman di tempat rekreasi. misalnya dengan mengadakan riset tentang salah satu unsur kepariwisataan. 1974. 1973). Tidak hanya mengadakan perbaikan obyek-obyek wisata. minat. Kurangnya partisipasi dari khalayak sasaran dalam pembuatan keputusan dan implementasi keputusan tersebut. Menurut kaum behaviorism. perlunya buku petunjuk/guide. Tugas usaha pariwisata adalah menciptakan kondisi yang menyenangkan ini. Apabila faktor ini dipenuhi. Akses yang berbeda pada sumber daya yang terbatas. Sebab masih ada umpan balik yang bersifat non-formal. tindakan atau informasi yang relevan dengan kebutuhannya. Perbedaan pendidikan. maka peran serta masyarakat akan lebih tergugah. 3. dan lain-lain. 1983. Techenor. yang menunjukkan adanya komunikasi umpan balik (komunikasi resiprokal ). 8. disertai dengan penemuan-penemuan atau rangsangan-rangsangan. 4. 12 No. (Esman dan Uphoff. 7. Bantuan yang tidak memadai dari badan yang melakukan intervensi sosial. Bias urban pada media massa. 10. Riset mengenai kepariwisataan merupakan umpan balik yang dicari dan dilakukan secara formal. 1976.2. Shingi dan Mody. Hyman dan Sheatley. orang cenderung mengulangi kembali pengalaman yang menyenangkan selama hidupnya. Misalnya dengan adanya keluhan-keluhan dari masyarakat yang mengunjungi suatu obyek wisata. Kerelevanan fungsional atau utilitas. 1 19 . Penekanan pada peran serta atau partisipasi masyarakat sangat popular dalam program pembangunan. 5. Fett. baik yang berupa gagasan. Memang masyarakat yang sedang membangun sangat berkepentingan dengan inovasi. dkk. tetapi mampu memasyarakatkan pemahaman yang baik mengenai psikologi wisatawan melalui komunikasi antar budaya. Persepsi selektif. 1972. Umpan balik dapat diperoleh dengan sengaja. kurangnya informasi rambu-rambu di tempat strategis. atau motivasi. Kontak sosial yang relevan dengan orang-orang yang memiliki lebih banyak informasi. Goulet. 9. Tingkat pengetahuan tentang suatu isu yang dikuasai sebelumnya.

tetapi persepsi kita yang memberi makna terhadap lingkungan tersebut. sangat membantu implementasi MKPD 2010. Intensitas dari kebutuhan yang pasti akan adanya informasi adalah faktor yang merupakan kunci untuk memperkirakan tingkat penerimaan suatu kampanye. data di lapangan menunjukkan bahwa infrastruktur komunikasi informasi yang telah ada sudah dapat dikatakan “siap” untuk menyongsong “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”. artinya bahwa kata “siap” ini belum dapat dikatakan siap yang sesungguhnya sesuai dengan tingkat kebutuhan akan alat komunikasi informasi seputar dunia wisata di Kota Manado.yang menyenangkan dan menyusahkan kita. Pulau Manado Tua kemudian misalnya keindahan kota sekitar Manado seperti Kota Bunga Tomohon. bahwa keberhasilan dari program ini bergantung pada daya tarik pribadi yang dirasakan oleh sebagian khalayak. Kemudian dalam meninjau persiapan infrastruktur komunikasi informasi. Makam Imam Bonjol. Danau Tondano. dikonsepkan dan di produksi secara baik. sebab untuk mendukung kesuksesan WOC tersebut pemerintah dan stakeholder sudah melakukan persiapan-persiapan yang selanjutnya dapat 20  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1 . Program ini menggunakan gaya hiburan yang cukup tinggi guna menghadirkan atau mengangkat keadaan yang sesungguhnya melalui bahasa yang mampu dipahami serta berasal dari sumber yang terpercaya. terlihat baik responden maupun informan menghendaki tidak hanya wisata bahari yakni Pulau Bunaken yang ditawarkan. Berkaitan dengan obyek wisata yang ditawarkan. dan lain-lain. Hampir semua jenis informasi. kemudian Obyek wisata lain di luar Kota Manado yang menarik seperti Bukit Kasih. tidak menjadi soal bagaimana cara pelaksanaannya. Di bawah faktor inilah elemen-elemen kualitatif dari pesan yang akan disampaikan. Pantai Malalayang. Dengan demikian WOC (World Ocean Converence) atau Konferensi Kelautan Sedunia yang akan dilangsungkan tanggal 5-11 Mei 2009. Suatu kenyataan. tetapi juga wisata lain yang saat ini belum dikelola secara baik namun cukup punya potensi untuk dikembangkan sebagai alternatif pilihan yaitu Pulau Siladen. akan tetapi diterima bergantung pada hal ini. Rurukan. meskipun durasinya pendek namun program ini dipublikasikan lewat jaringan luas ke seluruh jaringan komunikasi informasi yang telah dipercaya dan mempunyai kredibilitas.

Brosur. Leaflet. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Pemerintah Kota Manado diharapkan dapat bekerjasama dengan pihak swasta yang terkait dengan dunia wisata di Kota Manado untuk bersama-sama mengusahakan Pusat Informasi Wisata dalam rangka Program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”. Spanduk. Misalnya membuat MOU atau pertukaran informasi antar Kabupaten/Kota dengan Pemkot Manado yang ada di Propinsi Sulawesi Utara tentang infrastruktur komunikasi dan informasi. 4. karena masih kurangnya ketersediaan alat komunikasi informasi yang terfokus untuk memberikan informasi Seputar Dunia Wisata Kota Manado sebagai pusat informasi. yang mempunyai obyek wisata yang layak jual sebagai satu paket wisata. maka dapat disimpulkan bahwa kesiapan infrastruktur komunikasi informasi Kota Manado Menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010 dapat dikatakan belum siap. Banner. Seperti : Penambahan Baliho. salah satunya dengan memasukkan program MKPD 2010 ke dunia maya (internet) secara berkesinambungan. Kepada Pemerintah Kota Manado. 3. Perlunya segera menyediakan tenaga yang terampil mengoperasikan peralatan komunikasi informasi yang semakin canggih (SDM IT). termasuk kemampuan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. 1 21 . perlu adanya kerja keras dalam penyediaan infrasruktur komunikasi informasi yang terfokus pada info tentang dunia wisata di Kota Manado. Saran-saran 1. di lokasi-lokasi strategis. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan di atas. serta seputar obyek pariwisata yang belum dikelola dengan baik. 12 No. Pemerintah Kota Manado perlu memberikan alternatif obyek wisata dengan bekerjasama dengan Pemerintah Kota maupun Kabupaten yang ada di Propinsi Sulawesi Utara. Perlu segera dilakukan sosialisasi yang sifatnya sustainable di era globalisasi. 2.dimanfaatkan secara optimal dalam upaya mendukung MKPD tahun 2010. 5.

12 No. Wesart. Bacaan Tambahan : Kamus Besar Bahasa Indonesia. Undang-Undang No. Blade. Peraturan Daerah Kota Manado No. 6 Tahun 2001 tentang Pemanfaatan Teknologi Informasi. 22  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 2004. Perkembangan Teknologi Informatika. 1 . Peraturan Perundang-undangan : Instruksi Presiden No. 3 Oktober 2008. Bandung : Armico. 1973. Fransisca. Ishadi. Harian Manado Post : Rabu. Jakarta : Sentra Informasi Mandala. E-Governance Dalam Era Informasi. Komputerisasi dan Perkembanganny. Inc.04 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Manado Tahun 2005-2010. Jakarta : Gunadarma. halaman 4. Suryadarma. Bandung : Yrama Widya. Jakarta : Elex Media Komputindo. Birokrasi dan Teknologi informatika. halaman 8. Harian Manado Post : Jumat. 2006. Johnny Karinda. Persuasive Communication. Teknologi Komputerisasi Dalam Pemerintahan. Artikel judul “ Mewujudkan Manado Tujuan Utama Pariwisata ” Oleh Drs. New York : Holt. 2005. A. Bandung : Yrama Widya. 2003. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Penerbit Balai Pustaka Depdikbud Jakarta. Harian Komentar Manado. 16 Juli 2008. 2006. Berkomunikasi Dengan Teknologi. Sawyer.DAFTAR PUSTAKA Betinghaus EP. 2003. Rinehart and Winston. 1990. Haris. Ginsu.

Secara kuantitatif.Sos. jumlah mereka dari tahun ke tahun tidak pernah menyusut. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. remaja marjinal.KONSTRUKSI IDENTITAS SOSIAL KAUM REMAJA MARJINAL (Studi Kasus di Kalangan Remaja Pengamen Jalanan di Purwokerto) Agus Ganjar Runtiko* Abstraksi Kaum pengamen jalanan selama ini selalu identik dengan ketidaktertiban. Wacana yang berkembang di media. memahami faktor-faktor penyebab. 1 23 . jumlah remaja pengamen jalanan di Purwokerto menurut data dari Sub Dinas * Agus Ganjar Runtiko. PENDAHULUAN Latar Belakang Pemberitaan di media massa seputar penertiban pengamen jalanan sudah bukan hal asing lagi ditemui di negeri ini. Dengan mengkaji tentang konstruksi identitas sosial mereka. adalah pengajar di FISIP Universitas Jendral Sudirman Purwokerto Jurusan Ilmu Komunikasi. Ironisnya. S. tidak jauh dari persoalan klasik bahwa pengamen adalah salah satu faktor pengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat. Namun. respon remaja pengamen ketika penertiban akan membentuk model penanganan yang lebih tepat terhadap mereka. 12 No.. jumlah remaja pengamen jalanan dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan. Kata kunci : identitas sosial. kita disuguhi pemandangan yang memprihatinkan bahwa ternyata tidak sedikit kaum muda atau remaja yang tidak bisa meneruskan sekolah dengan berbagai sebab tentunya dan harus memilih mengisi hidupnya dengan mengamen. Kebanyakan mereka diarahkan untuk menghuni pantipanti yang telah didirikan oleh pemerintah. Lewat berita di surat kabar atau tayangan televisi. Di mana-mana para pengamen ini selalu „ditertibkan‟.

Para pengamen jalanan ini tidak harus selalu ditempatkan sebagai semata penyakit sosial tanpa melihat terlebih dahulu akar penyebab timbulnya tindakan seperti itu. Apa yang menjadi faktor penyebab sehingga kaum remaja ini memilih tinggal di jalanan dan menjadi pengamen? 24  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Bagaimana proses pembentukan/konstruksi identitas sosial di kalangan remaja pengamen jalanan di Purwokerto? 2. Dengan mencoba mengkaji persoalan dengan pendekatan konstruktivis penelitian ini mencoba memahami secara mendalam bagaimana kaum remaja pengamen ini membangun/mengkonstruksi identitas sosial mereka.Kesejahteraan Sosial Banyumas tahun 2003 menunjukkan angka mencapai 723 remaja. Mereka tidak perlu dianggap semata-mata sebagai penyakit atau seonggok persoalan yang harus disingkirkan melainkan harus ditempatkan sebagai bagian masyarakat yang memiliki hak hidup yang sama dan tentu saja memiliki segenap kemungkinan yang sama untuk tumbuh dan berkarya di negeri ini. 24 Agustus 2003). Jumlah ini menunjukkan semakin banyaknya remaja yang memilih jalanan sebagai tempat mencari uang dan menjalani kehidupannya. 1 . Senin. Informasi ini akan sangat bermanfaat sebagai dasar bagi perumusan berbagai kebijakan pemerintah yang utamanya ditujukan untuk kaum remaja terpinggirkan ini. 12 No. pada tahun 2003 terdapat 214 remaja pengamen jalanan. Bila kita mencoba menengok kehidupan remaja pengamen sesungguhnya kita perlu tergugah untuk bisa menanganinya dengan pendekatan yang tidak semata represif. Pertanyaan Penelitian Masalah pokok yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : 1. Melakukan kajian dengan fokus sebagaimana dimaksud di atas maka setidaknya akan diperoleh konsepsi pemahaman menurut kacamata mereka sendiri tentang siapa dan bagaimana identitas sosial kaum remaja pengamen ini. Berangkat dari fenomena inilah maka penelitian ini beranjak. Khusus di Purwokerto. Bagaimanapun remaja pengamen adalah sebagian generasi bangsa yang kepada mereka pemerintah dan lembaga sosial lainnya turut bertanggung jawab mempersiapkannya agar tidak terlanjur menjadi generasi tanpa masa depan. sementara pada tahun 2000 hanya terdapat 354 remaja (Suara Merdeka.

Bagaimana model penanganan terhadap persoalan remaja pengamen jalanan yang telah dilakukan pemerintah dan lembagalembaga terkait? Tujuan Penelitian Penelitian ini mengarahkan kajiannya secara teliti mengenai : 1. yang dilakukan oleh Rahman (2004). Respon kaum remaja pangamen terhadap segala bentuk tindakan penertiban yang dilakukan oleh pemerintah Kajian Pustaka dan Kerangka Pemikiran Kajian Pustaka Penelitian mengenai remaja marjinal. perspektif yang diambil adalah dari stakeholder. Penelitian yang membahas mengenai model pembinaan anak jalanan ini memilih perspektif pemerintah dalam membina anak jalanan. Artinya disini. 12 No. Penelitian yang berlokasi di Jakarta ini berfokus pada konsep diri pengguna narkoba. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelaksanaan pembinaan anak jalanan selama ini sesuai dengan standar layanan dari Dinas Sosial. 1 25 .3. Model penanganan terhadap persoalan remaja pengamen jalanan yang telah dilakukan pemerintah dan lembaga-lembaga terkait 4. atau lazim disebut sebagai anak-anak jalanan salah satunya dilakukan oleh Astutik (2004). Selain itu para pengguna narkoba juga cenderung susah untuk kembali ke hubungan komunikasi antarpribadi yang normal seperti sebelum memakai Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Faktor-Faktor penyebab sehingga kaum remaja ini memilih tinggal di jalanan dan menjadi pengamen 3. Bagaimana respon kaum remaja pangamen terhadap segala bentuk tindakan penertiban yang dilakukan oleh pemerintah? 4. Selain mengenai anak jalanan. Semuanya dinyatakan masih dalam taraf proses program pembinaan dengan menggunakan gabungan beberapa pendekatan yang ada. Terdapat variasi pengembangan sesuai kebutuhan di lapangan menurut perkiraan para penentu dan pelaksana program. Proses pembentukan/konstruksi identitas sosial di kalangan remaja pengamen jalanan di Purwokerto 2. Kesimpulan penelitian ini antara lain adalah bahwa para pengguna narkoba ini rata-rata mempunyai konsep diri yang negatif. diantaranya adalah rendah diri. penelitian yang berhubungan adalah mengenai konsep diri.

tetapi memberontak dan sepenuhnya melepaskan diri dari keluarga. dalam Keesing. Kelompok ini bisa dikatakan sebagai kelas rendah di perkotaan. Kerangka Pemikiran 1. Dalam kategori on the street. dalam Alfian et. UNICEF (dalam Musyarofah. apatis dan patologis adalah kata-kata yang sering dilabelkan pada kelas proletar marjinal oleh baik kelas borjuis maupun kelas menengah. sementara orangtua berada di kampung.narkoba. Mereka antara lain terbagi dalam kelompok : a. Sebagian anak-anak ini masih sekolah dan berada di jalanan sekadar mencari tambahan bagi nafkah keluarga. sekali lagi karena diakibatkan konsep diri mereka yang negatif. Remaja/Anak-Anak Miskin Perkotaan Kelompok ini berasal dari dalam kota dan masih tinggal bersama orangtuanya. Labelisasi seperti ini akan terus menjebak kelas proletar marjinal ke dalam kemiskinan struktural (lihat Soemardjan. Remaja kelompok ini ada yang memiliki „bos‟ terkait dengan pekerjaan mereka. b. adalah remaja /anak-anak yang berada dijalanan dalam tempo sesaat. yakni orang yang 26  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 1980 :1-11). c.. yang merupakan penduduk asli maupun para urbanisan yang mendiami tempat-tempat kumuh (slum area) perkotaan. Remaja Pengamen dalam Tinjauan Sosiologis Remaja pengamen di kawasan perkotaan secara teoritis dapat ditinjau dari perspektif struktur sosial dalam masyarakat. 1 . Gambaran negatif tentang kelas proletar marjinal ini beberapa bahkan didapatkan oleh seorang antropolog (Lihat Lewis. Radikal. 1992 : 233 – 249). adapula „bos‟ sebagai penguasa kelompok tempat ia berada. Remaja/Anak-Anak yang memberontak dan lepas dari orangtua Kelompok ini biasanya masih memiliki orangtua. sehingga mereka semakin tak berdaya untuk keluar dari kungkungan marjinalisasi struktural. kriminal. 2006 : 27) mengelompokkan remaja/anak-anak yang mencari penghidupannya dijalanan sebagai on the street dan of the street. Remaja/Anak-Anak dari Luar Kota Kelompok ini tinggal bersama teman sebaya dan orang yang lebih tua. 12 No. al. Pengelompokan tersebut terkait dengan periode mereka dijalanan.

Realization. Sedangkan Self adalah gambaran pribadi seseorang atas dirinya sendiri. Kedua. tinggal di emperan toko. 1 27 . Konsep diri termasuk “realitas”. 12 No. terdapat dua sisi yang melekat pada personalitas seseorang : yakni Person dan Self. Adapun thesis dasar tentang “realitas” menurut teori konstruksi realitas sosial adalah bahwa “reality is not an objective set of arrangements outside ourselves. Ini didapat dari interaksi seseorang itu dengan orang-orang lain. Pertama. communities. kelompok yang dikategorikan sebagai of the street. sejauh mana gambaran terhadap diri seseorang diyakini berasal dari orang itu Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 2002). 2002: 168) “the idea of self as a socially constructed “object” is profound and important in the constructionist movement”. Sedangkan. yang sesungguhnya adalah hasil konstruksi sosial. stasiun. Demikian menurut Rom Harre (seperti dikutip Littlejohn. Mereka tidak mempunyai rumah. kolong jembatan atau taman-taman kota. 2002). Display yakni sejauh mana aspek-aspek dalam diri seseorang bisa diketahui oleh publik atau sebaliknya tetap menjadi bagian pribadi seseorang. but is constructed through a process of interaction in groups.mewajibkan setoran untuk kelangsungan pekerjaan atau jaminan keamanan. Selanjutnya masih menurut Rom Harre. Person adalah karakteristik yang melekat pada diri seseorang yang bisa dilihat atau dikenali oleh publik yang ditandai oleh beberapa atribut dan karakter yang relatif mapan dalam sebuah kebudayaan atau kelompok sosial tertentu. terminal. Umumnya berasal dari keluarga yang berkonflik atau tidak tahu siapa orang tuanya dan dimana keluarganya. Konsep Diri dalam Perspektif The Social Construction Of Reality Konsep diri menjadi perhatian utama tidak saja bagi teoritisi yang menggeluti fenomena sosial dalam perspektif interaksi simbolik namun juga bagi para ahli yang mengembangkan teori konstruksi realitas sosial. and culture” (Littlejohn. Self terdiri dari seperangkat elemen yang bisa dikaji secara relatif terpisah. Premis dasar teori ini tentang self adalah bahwa seseorang memahami dirinya sendiri dengan menggunakan “teori” yang mendefinisikan dirinya (Littlejohn. 2. adalah mereka yang berpartisipasi penuh baik secara ekonomi maupun sosial di jalanan.

1978) Menurut Hogg & Abrams (1998) pada dasarnya proses kategorisasi menghasilkan persepsi stereotype. 12 No. hitam. Pernyataan tentang baik. merupakan proses pengelompokkan individu dalam upaya memahami lingkungan sosialnya. Berkaitan dengan hal ini. Seseorang merubah dari kutub personal ke intergorupnya. buruk. Setiap individu mengidentifikasikan dirinya lebih dengan ingroupnya dan hal ini akan mengurangi perbedaan di antara diri dan ingroupnya. Agency : sejauh mana kekuatan aktif menjadi atribusi diri seseorang. individu membutuhkan pandangan positif yang melekat pada sikap dan perilaku dirinya. Identitas Sosial Identitas sosial berkenaan dengan bagaimana seseorang menggunakan kelompok sosial tertentu yang dipandangnya dapat memberikan perasaan positif tertentu pada dirinya. pintar. Kristiani. Secara umum konsep ini diterjemahkan menjadi 3 (tiga) ide utama. 3. Identitas sosial menghadirkan relasi antar kelompok dalam konteks sosial yang nyata (Tajfel 1978. bersih. guru. tinggi dan lainnya lahir dari adanya komparasi (perbandingan). Tajfel & Turner 1979) di 28  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 1 . dan hal ini merupakan bagian dari fungsi normal psikologi seseorang. yaitu persepsi terhadap anggota suatu kelompok yang memiliki karakteristik tertentu yang dapat dijadikan acuan untuk membedakannya dari kelompok lain. Muslim. Untuk menghadapi dunia ini. identitas sosial dikonsepsikan dengan mengaitkan pengetahuan individu tentang perasaan memiliki suatu kelompok sosial tertentu dan emosi. bodoh. Penggunaan kategorisasi misalnya murid. juga evaluasi signifikan yang dihasilkan dari keanggotaan suatu kelompok. Active elemen seperti percakapan dan Passive elements seperti mendengarkan. Di sini ada dua elemen. Ketiga. putih. Sedangkan proses identifikasi terjadi pada saat seseorang mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok tempat ia bergabung. Jika terjadi peningkatan identifikasi terhadap kelompok (ingroup). proses kategorisasi merupakan proses pengelompokkan obyek yang dilakukan untuk memahami obyek tersebut. yaitu kategorisasi. dan seterusnya.sendiri atau dari kelompok-keompok yang ada di sekeliling dia. Tajfel (1978) menyatakan bahwa. identifikasi dan komparasi (Tajwel. Kategorisasi individu. Seseorang menggunakan penanda adalah dalam rangka mencari konsep diri yang dipandang positif.

etnisitas. Alih-alih identitas personal yang berhubungan dengan perilaku interpersonal yang berarti perbedaan di antara diri dan orang lain maka identitas sosial terkait dengan perilaku intergroupnya yang berarti perbedaan di antara kelompok atau „kita‟ dan „mereka‟ Identitas sosial. serta relasi antar kelompok. 2003). atau orientasi politik. di mana anggota kelompok berbagi keyakinan dan keyakinan itu dipandang menghadirkan dasar bagi identitas sosial anggota. konsepsi tersebut digambarkan melalui fenomena yang dikenal luas. Konsepsi awal menunjukkan bahwa keyakinan kelompok termasuk semua keyakinan terdapat di dalam alam pikir individu. Dalam konteks komunikasi antar budaya semacam ini akan membawa persoalan Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. Secara sederhana. self esteem individu akan ikut naik. selain itu juga diartikan sebagai esensi kelompok. Pada saat kelompok memperolah kesuksesan. 1 29 . Cultural Biases dalam Intercultural Communication Konsepsi teoritik yang dipakai dalam melihat respon kaum remaja pengamen jalanan dalam menghadapi tindakan pemerintah diambil dari perspektif teori komunikasi antar budaya. Namun saat ini. gender. dalam bentuk kategorisasi seperti nasionalitas. dan sebaliknya ketika kelompok mendapatkan kegagalan maka self esteem individu turut terancam. Pada keadaan itu individu merasa harus mempertinggi ketertarikan kepada kelompoknya dan meningkatkan rasa nyaman kepada kelompok lain. profesi. Keanggotaan dalam kelompok itu membuat individu memiliki identitas diri dan self esteem. religiusitas. konflik sosial. terinternalisasi dan membentuk suatu bagian penting yang potensial dari self-concept seseorang di mana fokus pada konsep ini adalah pada definisi „ke-kita-an‟ (we-ness) suatu anggota kelompok dalam konteks „kita milik dari satu kelompok‟.mana secara komprehensif memaparkan relasi antar kelompok dalam perubahan sosial dalam masyarakat yang terkelompokkan secara sosial. 4. Komunikasi antarbudaya didefinisikan sebagai interaksi di antara orang-orang yang setidaknya memiliki satu perbedaan budaya di antara mereka (Lustig & Koester. masyarakat membutuhkan identitas sosial positif yang menuntut mereka untuk membangun nilai pembeda yang positif bagi kelompok mereka sendiri yang dibandingkan dengan kelompok lain.

dalam hal rasa aman. kenyamananan dan tingkat sejauh mana kita bisa memprediksikan lawan interaksi kita. Terdapat beberapa situasi dan nilai-nilai yang kemudian memengaruhi respon atau persepsi seseorang terhadap orang lain yang berbeda budayanya. yang lebih menekankan pada masalah proses dan makna (konstruksi identitas sosial). Faktor–faktor yang memengaruhi proses pengolahan informasi tentang orang lain dalam konteks komunikasi antarbudaya lalu diidentifikasi sebagai aspek yang dikenal dengan cultural biases. dan lain-lain). Bentuk dan Strategi Penelitian Berdasarkan masalah yang diajukan dalam penelitian ini. bagan kerangka pemikiran penelitian ini adalah sebagai berikut: Metode Penelitian a. kaum remaja pengamen jalanan diasumsikan memiliki identitas kultural yang berbeda dengan misalnya kaum remaja umumnya yang bisa menikmati kehidupan rumah tangga biasa dan menjalankan aktivitas hidup layaknya remaja mapan (sekolah. Secara singkat. 12 No. 1 . maka jenis penelitian dengan strateginya yang terbaik adalah penelitian kualitatif deskriptif. Dalam konteks penelitian ini. Jenis penelitian ini 30  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.

akan mampu menangkap berbagai informasi kualitatif dengan deskriptif teliti dan penuh nuansa, yang lebih berharga daripada sekedar pernyataan jumlah atau pun frekuensi dalam bentuk angka. Strategi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, dan karena sasaran studi kasus ini hanyalah di kalangan kaum remaja pengamen jalanan. Maka studi kasus ini termasuk penelitian dengan strategi kasus tunggal (Yin, 1987). Selain itu, karena permasalahan dan fokus penelitian sudah ditentukan dalam usul penelitian ini maka jenis strategi penelitian kasus ini secara khusus bisa disebut studi kasus terpancang (embedded case study research). b. Jenis dan Informasi Sumber Data Data atau informasi yang paling penting untuk dikumpulkan dan dikaji dalam penelitian ini sebagian besar adalah data kualitatif. Informasi tersebut akan digali dari beragam sumber data, dan jenis sumber data yang akan dimanfaatkan dalam penelitian ini meliputi: 1. Informan atau nara sumber, dalam hal ini adalah kaum remaja pengamen jalanan di Purwokerto, pemerintah Kabupaten Banyumas, dan lembaga terkait. 2. Dokumen, baik hasil liputan media atau browsing internet c. Teknik Pengumpulan Data Sesuai dengan bentuk penelitian kualitatif dan juga jenis sumber data yang dimanfaatkan, maka teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Wawancara mendalam (in-depth interviewing) Wawancara jenis ini bersifat lentur dan terbuka, tidak terstruktur ketat, tidak dalam suasana formal, dan bisa dilakukan berulang pada informan yang sama (Sutopo, 2002) 2. Observasi langsung Observasi ini dalam penelitian kualitatif sering disebut sebagai observasi berperan pasif (Spradley, 1980) 3. Focus Group Discussion (FGD). Metode ini bermanfaat untuk memperoleh data bagaimana individu sebagai bagian dari sebuah kelompok mendiskusikan sesuatu topik atau isu tertentu, jadi tidak semata melihat
Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1 31

informan sebagai individu. Dengan kata lain, FGD diterapkan untuk memahami orang menanggapi berbagai pandangan orang-orang lain dalam kelompok diskusi, dan bagaimana kemudian informan membangun sebuah pandangan tersendiri berdasarkan interaksi yang dilakukannya dalam sebuah kelompok. (Bryman, 2001) Sampling Penelitian kualitatif cenderung menggunakan teknik cuplikan yang bersifat selektif dengan menggunakan pertimbangan berdasarkan konsep teoritis yang digunakan, keingintahuan pribadi peneliti, karakteristik empirisnya, dan lain-lain. Oleh karena itu cuplikan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat purposive sampling, atau lebih tepat disebut sebagai cuplikan dengan “criterionbased selection” (Goetz & Le Compte, 1984). Dalam hal ini peneliti akan memilih informan yang dipandang paling tahu, sehingga kemungkinan pilihan informan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kemantapan peneliti dalam memperoleh data (Patton, 1980). Pengembangan Validitas Guna menjamin dan mengembangkan validitas data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini maka diperlukan teknik pengembangan validitas data sebagaimana biasa digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu teknik triangulasi. Dari empat teknik triangulasi yang ada (Patton, 1980), hanya akan digunakan tiga di antaranya yakni (1) Triangulasi data (sumber) yaitu mengumpulkan data sejenis dari beberapa sumber data yang berbeda. (2) Triangulasi peneliti yaitu mendiskusikan data yang diperoleh dengan peneliti lain dalam hal ini adalah rekan sejawat dalam sebuah forum diskusi informal yang menyajikan draft awal hasil penelitian lapangan. (3) Triangulasi teori dilakukan dengan menggunakan perspektif lebih dari satu teori dalam membahas permasalahan yang dikaji. Model Analisis Proses analisis dalam penelitian kualitatif pada dasarnya bersifat induktif di mana analisis dilakukan secara bersamaan dengan
32  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1

proses pelaksanakan pengumpulan data. Ada tiga komponen analisis yang saling berkaitan dan berinteraksi, tak bisa dipisahkan dengan kegiatan pengumpulan data yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan. Model analisis yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah model analisis interaktif (Miles dan Huberman 1984). Dalam model analisis ini, tiga komponen aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai suatu proses siklus. Dalam melaksanakan proses ini peneliti aktivitasnya tetap bergerak di antara komponen analisis dengan pengumpulan datanya selama proses pengumpulan data masih berlangsung. Kemudian selanjutnya peneliti hanya bergerak di antara tiga komponen analisis tersebut sesudah pengumpulan data selesai pada setiap unitnya dengan menggunakan waktu yang masih tersisa dalam penelitian ini.

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Eks-Kota Administratif Purwokerto terletak di sebelah barat daya Propinsi Jawa Tengah, dan merupakan bagian dari Kabupaten Banyumas. Terletak di antara garis Bujur Timur 108° 39' 17'' sampai 109° 27' 15'' & di antara garis Lintang Selatan 7° 15' 05'' sampai 7° 37' 10'' yang berarti berada di belahan selatan garis khatulistiwa. Jumlah penduduk Purwokerto sebanyak 239.532 jiwa, yang terbagi menjadi 73.019 jiwa di Kecamatan Purwokerto Selatan, 52.922 jiwa penduduk Kecamatan Purwokerto Barat, 63.360 jiwa penduduk Kecamatan Purwokerto Timur, dan 50.231 penduduk Kecamatan Purwokerto Utara (www.banyumas.go.id diakses pada 2 Juli 2008).

HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Pelaku Penelitian dan Informan Pendukung Terdapat beberapa orang remaja marjinal yang diwawancarai dalam proses penelitian ini. Pertama, Andri yang berusia 24 tahun. Andri adalah seorang lulusan SMU tahun 2001, semenjak tahun 2002 sudah „mangkal‟ di pertigaan Sri Ratu Purwokerto. Andri merupakan

Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1

33

1 . dan dia salah seorang anggota komunitas yang paling rajin mangkal. Pelaku penelitian keempat adalah Anjar. dan memang kampung ini identik dengan dunia marjinal. bagaimana tingkah polah mereka. atau lebih banyak dikenal sebagai Kampung Dayak. Bapak Adi adalah pegawai Dinas Sosial yang sering berhubungan dengan anakanak jalanan. Jalak baru lulus STM tiga tahun lalu (2005). Pak Budi adalah pemilik ruko yang terasnya sering dijadikan tempat mangkal oleh anak-anak komunitas. berusia 21 tahun. waria dan sebagainya. Informan pendukung kedua adalah Pak Budi. 12 No. Pak Adi telah bekerja di Dinas Sosial Purwokerto semenjak tahun 1991. saat disebut sebagai ketua dalam komunitas. sehingga dalam komunitasnya tidak dikenal adanya ketua. Kampung Dayak sendiri merupakan sebuah kampung yang terletak di belakang terminal lama Purwokerto. serta anakanak jalanan. Alasannya bahwa komunitas tersebut muncul untuk menolak segala bentuk keteraturan (komunitas remaja marjinal yang peneliti masuki ternyata adalah komunitas Punk dan komunitas Skinheads). Jalak mengerti sedikit-sedikit tentang mesin. wakil atau sebagainya. 27 tahun. seperti wanita tuna susila. Informan pendukung dalam penelitian ini antara lain adalah Pak Rujito. artinya bukan keluarga berantakan. Di kampung ini terdapat banyak komunitas marjinal. Alasan Jalak masuk STM adalah agar bisa meneruskan pekerjaan bapaknya di bengkel. selanjutnya jalanan menjadi rumahnya. Tomi ini merupakan salah satu anggota „senior‟ dalam komunitas mereka. Anjar hanya bersekolah sampai tingkat SMP saja. Pelaku penelitian kedua adalah Jalak. Informan pendukung ketiga adalah Bapak Adi. Tomi menolaknya. Pelaku penelitian ketiga adalah Tomi. berdagang asongan. Pak Budi sampai hapal siapa-siapa yang sering mangkal. Pak Rujito berusia 52 tahun. Awalnya dia mengamen. Namun.salah seorang remaja marjinal yang selalu memperhatikan perkembangan politik dan berita yang terjadi saat ini. waria. Jalak hidup dalam keluarga yang utuh. Beliau adalah Ketua RW di Kampung Sri Rahayu. 34  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Keluarga yang berantakan mendorongnya untuk masuk ke jalanan. serta perbedaanperbedaan antara beberapa komunitas yang mangkal di depan rukonya tersebut.

Sebenarnya disuruh bertempat ke rumah singgah buat istirahat.” Masalah kaum remaja marjinal ini juga muncul berkaitan dengan interaksi sesama mereka. tapi sekarang rumah singgahnya sudah nggak ada. masalah laper-laper aku nggak kaget. sehingga bingung mendatanya. namun juga dirasakan oleh mereka sendiri. Mereka yang kesitu seringnya nggak punya identitas. kamu pakai itu. Anjar. Sosialisme kamu. “(Kita itu) akrab. terus lama nggak balik-balik. kadang-kadang fasilitas disitu juga hilang. ilang atau dibarter sama yang lain. Seperti Anjar yang mengatakan. Aku pakai ini. Salah satunya adalah keharusan untuk berkarya. Sebagaimana diceritakan oleh Jalak. apa yang ditinggalkan di dunia ini? Harus meninggalkan karya. “Jangan bicara kematian dong. 12 No. kan punyanya cuma sedikit. Karena rumah singgah yang biasanya dijadikan tempat mereka berkumpul ternyata sudah tidak difungsikan lagi. Sebagaimana diungkapkan oleh informan pendukung. “Kadangkadang malah (kegiatannya di rumah singgah) ndak sesuai. Kalau mati. apa kaos atau sepatu. yakni Pak Rujito. yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya para kaum marjinal.” Konsep Diri Terdapat beberapa nilai yang menjadi bentuk-bentuk identitas sosial.” Keberadaan rumah singgah bagi kaum remaja marjinal ini nampaknya juga merupakan masalah tersendiri. “Dulu kan ada rumah singgah. tapi malah digunakan yang lain. Misalnya pakaian. seorang sesepuh di Kampung Sri Rahayu.Masalah Kaum Remaja Marjinal Masalah kaum remaja marjinal tidak hanya dirasakan pemerintah atau masyarakat semata. Jadi nggak mesti kumpul-kumpul. “Kalau puasa aku nggak kaget. 1 35 . jadi sering barter. belum mempunyai karya nih. Terbukti. kumpul-kumpulnya ya kalau ada kegiatan-kegiatan. Sekarang mereka sudah ndak punya rumah singgah. Jadi kayak masalah-masalah sepele gitu. ketika diwawancara mereka juga sempat membicarakan puasa. seperti kata Pak Rujito. tapi kalau ada masalah apa gitu dipanjang-panjangin. komunisme kamu itulah karya kamu!” Komunitas remaja marjinal ini juga bukan tidak percaya Tuhan. jadi masalah. sebelum bulan Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. salah seorang pelaku penelitian mengatakan. sudah dirusak sama anak-anak.

puasa sering nggak makan. jadi orang enak.” Para remaja marjinal ini mengkonstruksi identitas sosial mereka sebagai orang kiri. cari kerja (aja) kenapa mas? Apa enak jadi pengamen mas? Gimana jawabnya. sering laper. kalau mau pulang ya pulang. ya disini.” Model Penanganan Pemerintah Kabupaten anak-anak jalanan ini kepada tertentu. Sehingga. Seperti yang dikatakan Jalak. mereka cenderung membedakan orang berdasarkan terminologi „orang baik‟ dan „orang tidak baik‟. “Ya udah pernah sih ngrasain kerja. “Malem kalau mau di sini. ada gundul ada gondrong. tidak dikenal mereka secara sama. tapi ada orang baik yang ngasih makananlah. rokok.” Tetapi konsep kepercayaan kepada Tuhan ini tidak diaplikasikan sebagaimana umumnya pemeluk agama. „Orang baik‟ menurut remaja marjinal ini adalah orang yang mempunyai rasa keberpihakan kepada mereka.” Bahkan Jalak merasa bahwa kehidupannya saat ini merupakan titik nadhir. bahwa dia sedang berada di bawah. sebagaimana dikatakannya. bahwa dia sedang merasa tidak enak. bingung kan!” Tomi ketika itu menambahkan. “Pernah dulu aku ditanyain. kadang-kadang duit. “Kalau aku nggak puasa sih. ada baik ada buruk. Pernah dulu waktu tidur disini. tapi dia mempunyai keyakinan mengenai kemungkinannya kembali menikmati hidup. sebagaimana yang dikatakan Tomi. pas saur ada orang yang ngasih makanan. 1 . Ada siang ada malem. ada kaya ada miskin. Uniknya konsep baik yang kita kenal dengan simbolisasi „kanan‟. Kalau di sini paling dibelakang sana. Pelibatan aparat kepolisian Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Masalahnya kalau tidur di sini (di emper toko) nanti di garuk juga sama orang-orang kanan (orang-orang yang tidak mau kehilangan tempat tinggal mereka).” Konsep kepercayaan kepada Tuhan diaplikasikan oleh para remaja marjinal sebagai perilaku sosial manusia. orang yang senantiasa selalu berbagi. Sebagaimana yang dikatakan Jalak. Adapun pihak-pihak yang dianggap tidak menaruh keberpihakan kepada mereka akan mendapat label sebagai „orang tidak baik‟. Pada keadaan-keadaan sama dengan Satpol PP dan kadangkepolisian. “Ya ngomong enak bae. di empang. Konstruksi identitas sosial yang mereka miliki selanjutnya adalah bahwa sebenarnya mereka tidak begitu menikmati menjadi remaja marjinal. Dinas Sosial bekerja kadang juga melibatkan aparat 36  Banyumas menyerahkan penanganan Dinas Sosial. 12 No.

Penanganan terhadap anak jalanan juga meliputi perlakuan terhadap keluarga mereka. Di pantipanti ini pembinaan dilakukan. Sebagaimana yang dikatakan Bapak Adi. 1 37 . “Selama ini penanganannya bekerja sama dengan pihak-pihak terkait. untuk dimasukkan ke panti-panti yang umumnya ada di luar kota. Tujuannya disamping anak-anak jalanan ini lebih terkontrol.” Model penanganan yang dilakukan oleh Dinas Sosial selama ini melalui metode pemantian. Seks bebas dengan berganti-ganti pasangan sudah mereka jalani pada usia belasan. Selain panti-panti. Lingkungan tempat tinggal mereka yang permisif terhadap perilaku seks bebas membuat rentan munculnya penyakit menular seksual. Pendekatan penanganan di rumah singgah ini bermacam-macam. sehingga mereka tidak perlu kembali lagi ke jalan. bagi anak jalanan juga tersedia rumah singgah. Ada beberapa LSM yang sering berhubungan dengan kita. sesuai dengan tujuan awal pendiriannya. anak jalanan ini mengenal seks semenjak mereka berusia sepuluh tahun. rumah singgah juga dapat digunakan pengelola untuk menyisipkan pesan-pesan mengenai hal-hal positif. Jalak misalnya mengatakan. Sifat rumah singgah sendiri sebenarnya bukan merupakan tempat pendidikan. Persepsi terhadap Model Penanganan Komunitas remaja marjinal ini umumnya mempunyai pandangan negatif terhadap model penanganan dari pemerintah. Keluarga yang mandiri secara ekonomi akan mengurangi peluang anak-anak turun ke jalan. Menurut Bapak Adi. antara lain Biyung Emban dan Kuncup Mas. Selain itu. Mengenai masalah kesehatan. 12 No. Kabid Dinas Sosial Banyumas. anak jalanan juga diberi penyuluhan mengenai HIV/AIDS. melainkan tempat anak-anak jalanan ini berkumpul saja. Dinas Sosial juga bekerja sama dengan LSM yang bergerak dalam penanganan anak jalanan. terutama dengan beberapa LSM. pemerintah memberikan anak jalanan ini Askeskin untuk digunakan di Puskesmas-Puskesmas terdekat. “(Ketika ditangkap Satpol PP) ada juga yang Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Selain dua instansi pemerintah ini. Umumnya pembinaan itu berupa materi-materi yang dianggap dapat membekali anak jalanan ini. yakni anak jalanan dirazia.ini sebagai bentuk antisipasi apabila terdapat pelaku kriminal diantara anak-anak jalanan. mengingat perilaku seks mereka.

Jadi hasilnya juga sangat minim. apabila ada aparat yang menangkap mereka. Hanya saja program pemerintah dirasakan hanya sesaat-sesaat saja. “Paling kalau ditangkep di omeli thok. kita nggak makan apa dia mau nawarin. Mereka tidak ingin dipublikasi. merupakan proses pencarian ide. Keseharian mereka berkumpul di pelataran gedung toko. tapi yang menilai itu kan orang lain. Kita nggak mandi apa dia mau mandiin kita. “Pemerintah biasanya kan memberikan program. kata mereka.” Bentuk Komunikasi Antarpersona Remaja marjinal ini kebanyakan membentuk komunitas secara terbuka. Jalak mengatakan. 1 . “Yang nangkepin kita itu polisi yang murah. Paling tahun ini program apa itu saja. jadi cari kerja (aja) kenapa mas? Apa enak jadi pengamen mas? Gimana jawabnya. Namun. 12 No.” Tampak dari hasil wawancara ini. bentuk karya mereka. bingung kan?” Model penanganan yang seperti ini sebenarnya tidak terjadi setiap saat. sangat terbuka. tapi kalau penjahat kan susah nangkepnya (karena lari terus). Sebagaimana dikemukakan oleh Pak Rujito. Ketua RW Kampung Sri Rahayu (dulu Kampung Dayak). dipandang tidak mempunyai kerjaan. Namanya mandi itu kan urusan pribadi ya. keterbukaan ini tidak berlaku untuk publikasi. kata Andi lagi. nggak mungkin lah. aku jawabnya tiga hari nggak mandi. Pernah dulu aku ditanyain. Ya pihak manapun yang meluncurkan program tidak berkelanjutan. Soalnya nangkepnya yang mudah dicari. Struktur komuniksi antarpersona mereka sangat egaliter. Demikian juga pilihan mereka untuk mabuk ternyata tidak semata-mata kesenangan. (Ada yang) ngerasa dirinya baik. Jarang orang baik itu jarang. Seolah-olah sepintas hanya meluncurkan program saja. bahwa komunitas ini merasa penangkapan itu tidak diperlukan. itu ya hasilnya sesaat-sesaat. Organisasi mereka tidak mengenal ketua atau pimpinan. merupakan salah satu bentuk keterikatan dengan aturan. tapi kan program itu kan seolaholah tidak berjalan. berapa hari nggak mandi. atau di tanah kosong ternyata tidak semata-mata berkumpul saja. Bahkan. Mabuk pun. bentuk pernyataan mereka. Jadi berkumpul adalah salah satu bentuk progresifitas mereka. kalau ngamen kan jelas lokasinya disini.” Saat ditanya apa saja yang mereka dapatkan ketika berada ditempat penampungan sementara. disebut sebagai aparat murah.nanyain. Publikasi. 38  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. biasanya tidak kontinyu.

Hal ini lebih mengungkap realitas bahwa mereka juga ingin mendapatkan pengakuan mengenai eksistensinya. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Pemicu konflik ini kerapkali adalah masalah-masalah yang sebenarnya dianggap sepele oleh mereka sendiri. Sedangkan komunitas ketiga. 1 39 . Secara lebih dalam eksistensi mereka sebagai manusia yang berhak mendapatkan perlakuan adil. kalau ada masalah apa gitu (sukanya) dipanjang-panjangin. serta tidak lupa pesta minuman beralkohol.” Mafhum kiranya kalau konflik tersebut kadangkala menimbulkan perkelahian antarsesamanya. akan tetapi sangat peka dengan isu-isu sosial yang sedang berkembang. Seperti kata Jalak. Bahkan. komunitas Skinhead dan komunitas pengamen jalanan biasa. terkesan „lebih bersih‟ tetapi cenderung kurang responsif dengan isu-isu sosial saat ini. 12 No. Pertemuan seperti ini biasanya diisi dengan pertunjukan musik-musik keras. maklum mereka adalah komunitas yang antikemapanan. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. pada saat-saat tertentu mereka juga mengadakan pertemuan. yakni komunitas Punk. Mereka lebih suka mendapatkan sebutan sebagai komunitas tertentu. “(Hubungannya) akrab tapi. Komunitas Punk dicirikan dengan pakaian yang seadanya. namun lebih mementingkan kebutuhan ekonomi. Masing-masing mempunyai ciri khas. cenderung tidak peduli dengan isu-isu sosial saat ini. terkesan kumuh. kelompok atau komunitas remaja marjinal pengamen jalanan terbagi menjadi tiga. Kaum remaja marjinal pengamen jalanan ini ada yang tidak mengakui labelisasi kebanyakan orang. Tentu saja pertemuan ini bukan pertemuan rutin. Pertemuan ini lazim disebut sebagai „Punk Party‟ atau „Skinhead Party‟.Selain sehari-hari berkumpul di tempat-tempat yang telah ditentukan. Secara garis besar. Komunitas Skinhead. ketika ditanya mengenai keakraban antaranggota komunitasnnya. Minuman beralkohol merupakan perekat komunikasi antarpersona mereka. Kerekatan mereka dalam jalinan komunikasi antarpersona juga sering diwarnai dengan konflik. pesta minuman beralkohol ini identik dengan rasa solidaritas antarsesama mereka.

Lain halnya dengan komunitas pengamen biasa. Penanganan pemerintah tidak hanya terpancang pada remaja pengamen jalanan saja. Faktor-faktor yang menyebabkan para remaja pengamen jalanan ini memilih tinggal di jalanan dan menjadi pengamen antara lain adalah faktor keluarga yang berantakan. 2. bukan sebagai penyakit. tanpa pernah berusaha mengungkap sisi lain dunia mereka. Pemerintah dan pihak-pihak terkait perlu berusaha menggali hal-hal yang dirasakan oleh mereka. 1 . Sementara label 'orang baik' disematkan pada mereka yang dianggap 'tidak adil'. tetapi juga terhadap keluarganya. penyuluhan kepada keluarga. Kaum remaja pengamen jalanan ini cenderung tidak suka dengan perlakuan yang mereka terima dari pemerintah. namun ada juga yang karena faktor pengaruh teman. penanganan mikro saja. Penanganan secara makro. 3. Akibatnya bagaimanapun penanganannya. Bentuk penanganan ini berupa pengarahan atau penyuluhan. Saran-Saran 1. remaja marjinal pengamen jalanan akan kembali beroperasi sebagaimana biasa. Remaja marjinal pengamen jalanan perlu dipandang sebagai bentuk pemiskinan struktural. 40  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. yakni penanganan secara menyeluruh. yang cenderung tidak mempedulikan latar belakang keluarga teman-temannya.2. Penanganan anak jalanan selama ini cenderung hanya dipandang dari sebuah sisi. Terbukti dengan tindakan mereka yang selalu melarikan diri dari panti-panti yang disediakan oleh pemerintah. Sehingga. Pada komunitas Punk dan Skinhead. yang meliputi penanganan terhadap remaja pengamen jalanan. yakni penanganan yang hanya berorientasi pada remaja pengamen jalanan saja tidak akan pernah menyelesaikan masalah. remaja yang bermasalah dengan keluarga kurang begitu diterima. Mereka menyebut pihak-pihak yang berlaku 'kurang adil' itu sebagai 'orang jahat'. dan pelatihan bagi petugas lapangan yang berhubungan langsung dengan mereka akan lebih memberikan hasil. Yakni para remaja pengamen jalanan dimasukkan di panti untuk dilatih keterampilan-keterampilan guna bekal hidup mereka. 4. 12 No. Model penanganan yang ada selama ini adalah 'pemantian'.

USA : Oxford University Press. Tan. N. 1980. H. Social Identification: A Social Psychology of Intergroup relations and Group Processes. :Sage Publication Spradley. 1984. 1978.3. Selo Soemardjan 1980. & Turner. Turner. Jakarta : YIIS Patton. 2004. Rediscovering the social group : A Selfcategorization theory.Y. CA : Sage Publications Hogg. remaja marjinal pengamen jalanan dan keluarga. New York. Social Research Methods. J. Keesing.Y. Pengembangan Model Pembinaan Anak Jalanan melalui Rumah Singgah di Jawa Timur. M.id / search. Roger M. Kemiskinan Struktural : Suatu Bunga Rampai. Qualitative Evaluation Methods. London: Academic Press. Soekadijo. CA. 1987.php?q=Surabaya Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. J. 1979.: Academic Press.A. 1987. 1 41 . C. Cambridge : Cambridge University Press Goetz. Dalam www. New York. & LeCompte. Ethnography And Qualitative Design on Educational Research. R. Jakarta : Erlangga Bryman. Monterey : Brooks. H. sehingga diperoleh kesepahaman. Tajfel.C. and Winston Tajfel. 2001. M. M. Human Groups and Social Categories: studies in the Social Psychology. U. Antropologi Budaya : Suatu Perspektif Kontemporer.D. 12 No. Inc. D. Perlu dibangun sebuah komunikasi dialogis segitiga antara pemerintah atau lembaga yang terkait. Rinehart. J.or. Alan. Beverly Hills. Case Study Research : Design and Methods. (edisi kedua). J.: Holt. H.C. Differentiation between social gorups : Studies om the social psychology of intergroup relation. An Integrative Theory of Intergroup Conflict : the Social Psychology of Intergroup relation. Beverly Hills. Astutik. Mely G.& Abrams.P. 1980.G. Alih bahasa : R.P. Dwi.K.K. Blackwell : Oxford Yin.A.damandiri. N. 1981. Alfian. London : Routledge. 1988.Q. 1992. Participation Observation. DAFTAR PUSTAKA Tajfel.

id. (7ed).or. 2004. diakses pada 2 Juli 2008 42  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Myron W. Intercultural Competence :Interpersonal Communication across Cultures.Stephen W. diakses 9 Juli 2008 Pemerintah Kabupaten Banyumas. Letak Geografis Banyumas. 2003.id. D.Littlejohn. Purwokerto : tidak diterbitkan Sumber lain : Astutik. 12 No. USA : Wadsworth /Thomson Learning Lustig. Theories of Human Communication. Konsep Diri Anak Jalanan (Studi Deskriptif Konsep Diri Anak Jalanan di Terminal Purwokerto dengan Menggunakan Perspektif Interaksi Simbolik).go. 1 . 2002.banyumas. Jolene.damandiri. USA : Allyn & Bacon Musyarofah. Pengembangan Model Pembinaan Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah di Jawa Timur. Dalam www. Dalam www. Dwi. & Koester. Muhayatun 2006.

Sistem politik di Indonesia dari waktu ke waktu mengalami perubahan seiring dengan bergantian rezim yang berkuasa. budaya pendalungan dan budaya arek. Kata Kunci: pemilihan gubernur. budaya. Di era reformasi sistem politik demokrasi mengalami penguatan dan legitimate sebagai harapan akan munculnya ruang partisipasi politik yang semakin transparan. kalangan profesional. 1 43 . iklan politik. Sedangkan sumber informasi tentang pilgub kebanyakan media massa televisi. orang yang lebih tua usianya. Irtanto adalah peneliti politik dan pemerintahan pada Balitbang Propinsi Jawa Timur. pilihan. pengalaman memimpin organisasi. intelektual. kesamaan jenis kelamin terutama pada budaya arek. putra daerah baik itu pada budaya mataraman. agama. teman. isu-isu kampanye menarik. visi dan misi kandidat. Transparansi dan terbukanya ruang partisipasi dalam sistem politik * Drs. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Perilaku politik massa tentu tidak lepas dari pengaruh faktor budaya dan sistem politik yang berlaku saat itu. status pendidikan memiliki status ekonomi tinggi. 12 No. kandidat. Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku politik pemilih pilgub periode 2008-2013 antara lain seagama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi pemilih lebih banyak karena kesamaan asal daerah. kredibilitas calon. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.PERILAKU POLITIK PEMILIH PADA PEMILIHAN GUBERNUR JAWA TIMUR PERIODE 2008-2013 Irtanto* Abstraksi Penelitian ini bersifat eksploratif dengan pendekatan kualitif bertujuan untuk mengidentifikasi preferensi pemilih kandidat gubernur Jawa Timur periode 2008-2013. dan program kerja yang jelas.

Perkembangan politik lokal di Jawa Timur cukup menarik publik terutama persoalan pemilihan gubernur Jawa Timur. Melalui iklan politiknya. 12 No. Demikian pula banyak latar belakang geografis seperti desa dan kota. kultur pendalungan. Konsekuensi perubahan sistem pemilihan rakyatlah yang menentukan pilihan politik bukan lagi pada sekelompok elit politik yang namanya legislatif. Akibatnya iklan-iklan politik bertebaran dimana-mana dalam bentuk baliho maupun bentuk lainnya seperti memanfaatkan media massa baik media cetak maupun media elektronika. Masyarakat Jawa Timur mempunyai banyak latar belakang kultur. Soetjipto-Ridwan Hisyam (SR) diusung oleh 44  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. kultur mataraman.demokrasi sangat dirasakan oleh masyarakat Indonesia sejak pemilu 2004. baik partai politik maupun kandidat kepala daerah harus mendekat pada rakyat. 1 . sehingga masyarakat di daerah memiliki kesempatan untuk memilih secara bebas pemimpin daerahnya. Sistem Pilkada langsung lebih menjanjikan dibandingkan sistem yang berlaku sebelumnya. dan kultur arek. merekapun mencoba-coba untuk menawarkan berbagai janji-janji politiknya. terutama pilkada langsung berupa Pilgub Jawa Timur periode 2008-2013. demikian pula demokratisasi di tingkat lokal Sistem politik demokratis semakin dirasakan masyarakat Jawa Timur. Pilkada langsung merupakan munculnya berbagai varian preferensi pemilih yang menjadikan berbagai faktor determinan dalam melakukan tindakan politiknya untuk mengapresiasi sistem politik demokrasi tersebut. maka pasangan calon gubernur dan wakil gubernur periode 2008-2023 yang dapat memenuhinya adalah sebagai berikut: Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji Mantep) diusulkan oleh PPP dan Partai Patriot. Pilkada langsung termasuk pemilihan gubernur Jawa Timur diyakini memiliki kapasitas yang memadai untuk memperluas partisipasi politik masyarakat. Latar belakang kultur maupun geografis tersebut diperkirakan akan mempengaruhi pilihan politiknya. Dalam pilgub Jawa Timur 2008-2013 diikuti oleh lima kandidat. Strategi pendekatan terhadap publik sebagai pemilik suara banyak dilakukan oleh para calon kandidat kepala daerah. Sistem Pilkada langsung oleh rakyat yang telah menggeser sistem perwakilan.1/71/KPU-Jtm/VI/2008 tentang penentuan dan penetapan nomor urut pasangan calon kepala daaerah dan wakil kepala daerah. Berdasarkan berita acara Komisi Pemilihan Umum Propinsi Jawa Timur Nomor: 821.

12 No. maupun pengelompokan informal seperti keluarga. umur. 3) Bagaimana pendapat publik terhadap nilai-nilai demokrasi dalam pilgub ? 4) Media apa yang dipakai untuk memperoleh informasi tentang pilgub Jatim ?. psikologis. Pemahaman terhadap pengelompokan sosial baik secara formal. Pendekatan Sosiologis Pendekatan ini pada dasarnya menjelaskan bahwa karakteristik sosial dan pengelompokan-pengelompokan sosial mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam menentukan perilaku memilih seseorang. Perumusan Masalah Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana preferensi pemilih kandidat gubernur Jawa Timur periode 2008-2013?. persepsi. 5) Kapan mereka menentukan pilihan politiknya ? Lingkup Penelitian Penelitian tentang perilaku memilih Gubernur Jawa Timur periode 2008-2013 ini dilaksanakan pada bulan Juli 2008 sampai Desember 2008 yang difokuskan pada ruang lingkup perilaku yang pendekatan dilihat dari sisi sosiologi. pendidikan dan sebagainya) dan karakteristik atau latar belakang sosiologis (seperti agama. dan sebagainya) merupakan faktor penting dalam menentukan pilihan politik. Achamady-Suhartono (Achsan) dicalonkan PKB dan Soekarwo-Syaifullah Yusuf (Karsa) dicalonkan oleh Partai Demokrat dan PAN. Soenaryo-Ali Maschan Musa (Salam) diusung oleh Partai Golkar. 2) Faktor-faktor apa yang memengaruhi perilaku politik pemilih pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur periode 2008-2013?. jenis kelamin. wilayah. pertemanan. ataupun kelompok kecil lainnya memiliki peranan besar dalam membentuk sikap. 1 45 .PDIP. KERANGKA PEMIKIRAN Pendekatan Perilaku Pemilih 1. Karakteristik sosial (seperti pekerjaan. organisasi profesi. rasional dan struktural sosial. seperti kelompok keagamaan. dan Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.

Adanya rasa kedaerahan memengaruhi dukungan seseorang terhadap partai politik. 2006: 140) Dalam berbagai ragam perbedaan struktur sosial. Penelitian-penelitian Rose di Norwegia menunjukkan bahwa ikatan-ikatan kedaerahan. Gerald Pomper (dalam Asfar. 2004 : 23-24). Menurutnya. merupakan variabel yang cukup menentukan dalam memengaruhi perilaku politik seseorang. 2. Pendekatan Psikologis Pendekatan ini menjelaskan bahwa sikap seseorang-sebagai refleksi dari kepribadian seseorang. (Niemi and Herbert F. yaitu variabel predisposisi sosial-ekonomi keluarga pemilih dan predisposisi sosialekonomi pemilih. 1 . yaitu ikatan emosional pada suatu partai politik. yang paling tinggi pengaruhnya terhadap perilaku politik adalah faktor kelas (status ekonomi). Pendekatan Rasional Ada faktor situasional yang ikut perperan dalam mempengaruhi pilihan politik seseorang. (Anwar. orientasi terhadap isu-isu dan orientasi terhadap kandidat. Preferensi-preferensi politik keluarga. Dengan demikian isu-isu politik menjadi pertimbangan 46  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Pendekatan psikologis menekankan pada tiga aspek psikologis.orientasi seseorang. (Lipset. apakah preferensi politik ayah atau preferensi politik ibu akan berpengaruh pada preferensi politik anak. 12 No. (Asfar. 2006) memerinci pengaruh pengelompokan sosial dalam studi voting behavior ke dalam variabel. para pemilih tidak hanya pasif tetapi juga aktif. Weisberg. Dengan begitu.Ikatan kedaerahan terutama sangat kuat dalam mempengaruhi pilihan seseorang terhadap kandidat. yang nanti sebagai dasar atau preferensi dalam menentukan pilihan politiknya. bukan hanya terbelenggu oleh karakteristik sosiologis tetapi juga bebas bertindak. predisposisi sosial pemilih dan keluarga pemilih mempunyai hubungan yang signifikan dengan perilaku memilih seseorang. merupakan faktor-faktor yang cukup signifikan dalam menjelaskan aktivitas dan pilihan politik seseorang. 1995: 1346-1353) Aspek geografis mempunyai hubungan dengan perilaku memilih. 1984: 9-12) Pendekatan psikologis menganggap sikap merupakan variabel sentral dalam menjelaskan perilaku politik seorang. seperti desa-kota. Faktor-faktor situasional itu bisa berupa isu-isu politik ataupun kandidat yang dicalonkan. 3.

kelas. Efektivitas komunikasi politik membutuhkan peran serta media massa. Para pemilih akan menentukan pilihan berdasarkan penilaiannya terhadap isu-isu politik dan kandidat yang diajukan. karena merekalah salah satu profesi penting yang memiliki perangkat dan kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat luas.2008:265) METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN Penelitian ini bersifat eksploratif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengambil lokasi penelitian di wilayah Jawa Timur. Pendekatan psikologi sosial. Mereka melihat adanya analogi antar pasar (ekonomi) dan perilaku memilih (politik). Pendekatan sosiologis cenderung menempatkan kegiatan memilih dalam kaitan dengan konteks sosial. Pendekatan pilihan rasional melihat kegiatan memilih sebagai produk kalkulasi untung dan rugi. 12 No. Peran Media Massa Peran media massa sangat penting dalam memengaruhi pemilih. seperti struktur sosial. secara emosional dirasakan sangat dekat dengan partai politik atau kandidat. Komunikasi politik kerapkali terjadi secara tidak langsung melalui pemberitaan-pemberitaan yang dilakukan oleh media massa. Media massa ini diartikan sebagai suatu entitas yang memiliki peran dan fungsi untuk mengumpulkan sekaligus mendistribusikan informasi dari dan ke masyarakat. pendapatan. pekerjaan. tempat tinggal (kota-desa). dan agama. dan kabupaten. kelurahan. Seseorang memilih kontestan atau kandidat tertentu dapat dilihat dari lima pendekatan yakni pendekatan struktural melihat kegiatan memilih sebagai produk dari konteks struktur yang luas.yang penting. pendidikan. Salah satu kunci persaingan politik adalah media massa. pilihan seseorang dipengaruhi latar belakang demografi dan sosial ekonomi. permasalahan dan program yang ditonjolkan. Sedangkan populasi dalam penelitian ini adalah mereka Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. kecamatan. sistem partai. seperti jenis kelamin. 1 47 . sistem pemilihan umum.(Firmansyah. Pendekatan ekologis cenderung hanya relevan apabila dalam suatu daerah pemilihan terdapat perbedaan karakteristik pemilih berdasarkan unit teritorial seperti desa.

2008:135). Sedangkan untuk mengumpulkan data primer dengan menggunakan instrumen daftar pertanyaan yang semi terstruktur baik terbuka maupun tertutup dengan mewancarai pemilih pada pilgub Jatim 20082013. Adapun sasaran pendistribusian kuesioner adalah para pemilih yang terpilih dengan mempertimbangkan penelitian yang bersifat deskriptif dan eksploratif. Setelah data terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan teknis analisis komparasi (Muhadjir. TEMUAN DAN PEMBAHASAN Identitas Reponden Responden sebanyak 600 orang pemilih calon gubernur Jawa Timur memiliki agama yang berbeda satu sama lainnya. Kota Probolinggo dan Kabupaten Probolinggo. Kemudian budaya arek akan diwakili oleh Kota Surabaya dan Kota Mojokerto. Daerah penelitian adalah dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut. 1 . Daerah tapalkuda yang identik dengan budaya pendalungan yang didominasi dengan budaya Madura diwakili oleh daerah penelitian Kabupaten Banyuwangi. 12 No. maka pengambilan sampel menggunakan sistem acak yang dapat mewakili tiga budaya yang ada di Jawa Timur. Pengumpulan data kualitatif berupa data sekunder dilakukan dengan studi dokumentasi. Sedangkan budaya mataraman. Metode penentuan sampel dengan sistem kuota atas dasar mereka mempunyai hak-hak politik dalam pilgub Jatim 2008-2013. Menurut pengakuan mereka mayoritas beragama Islam. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dengan instrumen kuesioner tertutup dan terbuka kepada mereka yang mempunyai hak politik pada Pilgub Jatim. Masing-masing daerah penelitian yang menjadi lokasi penelitian masing-masing ditentukan sebanyak 200 orang. sehingga semua responden sebanyak 600 orang. 2007). diwakili oleh Kabupaten Blitar dan Kota Kediri serta Kabupaten Blitar dan Kota Blitar.yang sudah memiliki hak-hak politik dalam pilgub 2008-2010. Sedangkan mereka 48  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Selain itu pendekatan kualitatif dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian fenomenologi yang berusaha memahami perilaku manusia dari segi kerangka berpikir maupun bertindak orang itu sendiri (Upe.

Suku Madura 1.0%) dan budaya arek (30.0%).0%. Mereka yang mempunyai budaya pendalungan yang kebanyakan menempati daerah tapalkuda yaitu di daerah bagian pantai utara Jawa Timur yang menggunakan bahasa sehari-harinya bahasa Madura dalam memilih kandidat gubernur mempunyai kecenderungan yang sama dalam memilih terutama mereka tidak mempertimbangkan kesamaan parpol (54. mereka dalam memilih tidak mempertimbangkan pula asal parpol atau partai apa yang mencalonkannya.0%.0%. mereka yang menyatakan tidak mempertimbangkan soal latar belakang parpol kandidat sebanyak 63. bahkan ada pula yang sangat pertimbangan kesamaan parpol dalam memilih calon gubernur. Mereka yang mempunyai budaya pendalungan ada kesamaan dalam memilih kandidat gubenur Jatim periode 2008-2013 baik pada putaran pertama maupun kedua. mereka yang menempati daerah tapalkuda.berjenis kelamin laki-laki 57.0%. budaya pendalungan (35. ada Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.0% dan perempuan 43.0%). Perilaku dalam memilih ada kecenderungan yang sama dengan mereka yang mempunyai budaya mataraman.0%. Demikian pula mereka yang memiliki budaya mempunyai kecenderungan yang sama pula dalam memilih kandidat gubernur Jatim 2008-2013. SMP sebanyak 19. Bagaimana mereka yang mempunyai latar belakang budaya pendalungan. Akademi sebanyak 14.0%) ada yang mempertimbangkan kesamaan parpol. Mereka yang memiliki budaya arek juga tidak mempersoalkan latar belakang parpol kandidat gubernur (58.0% dan Sarjana/Pasca Sarjana sebanyak 16.0%.0%. Walaupun demikian mereka yang memiliki budaya mataraman (30.0%. 1 49 . Preferensi Pemilih Kandidat Gubernur : Perbandingan Budaya Dalam realitasnya mereka yang mempunyai budaya mataraman dalam memilih kandidat gubernur Jatim periode 20082013 cenderung tidak mempertimbangkan latar belakang kesamaan parpol yang mereka pilih pada saat pemilu 2004 yang lalu. SLTA sebanyak 36. budaya pendalungan dan budaya arek. Responden yang diambil sebagai sampel di daerah Mataraman ini kebanyakan Suku Jawa yaitu sebanyak 85. Hampir relatif sama dengan mereka yang memiliki budaya mataraman. dan Keturunan Thionghoa sebanyak 14.0%.0%). 12 No. Pendidikan responden bervariasi yaitu lulusan SD sebanyak 15.

12 No. Hal yang sama terjadi pada budaya pendalungan yang menyatakan putra daerah dipertimbangkan untuk dipilih sebanyak 57. budaya pendalungan.0% dan mereka yang menyatakan sangat dipertimbangkan sebanyak 6. dalam realitasnya pada budaya mataraman. Dengan demikian mereka yang mempertimbangkan asal agama.0% yang menyatakan dipertimbangkan. sebanyak 4.kecenderungan dalam memilih calon gubernur tidak mempertimbangkan parpol yang mengusungnya atau mereka cenderung meninggalkan parpol yang mereka pilih pada pemilu tahun 2004. pendalungan dan arek sama-sama lebih mempertimbangkan putra daerah.0% mempertimbangkan. Kondisi seperti ini dapat dilihat bahwa mereka yang memiliki budaya mataraman yang menyatakan mempertimbangkan dan sangat mempertimbangkan putra daerah untuk dipilih sebanyak 63.0%. pemuka agama dalam pilgub Jatim periode 2008-2013 baik putaran pertama maupun putaran kedua jumlahnya sangat besar. pendalungan maupun arek yang mempertimbangkan untuk memilih kandidat yang 50  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Hal ini terbukti mereka yang tinggal di daerah budaya mataraman sebanyak 53.0% mempertimbangkan. Dan mereka yang menyatakan sangat mempertimbangkan pada budaya mataraman 15. dan budaya arek sebanyak 72. artinya mereka lebih menghendaki yang menjadi gubernur berasal dari daerah Jawa Timur. Apakah latar belakang putra daerah dijadikan referensi dalam memilih kandidat gubernur Jawa ? Mereka yang mempunyai latar belakang budaya mataraman. 1 .0%. budaya pendalungan maupun budaya arek dalam memilih calon gubernur masih ada unsur pertimbangan primordialisme yaitu latar belakang agama calon gubernur. Tampaknya ada kesamaan dalam mempertimbangkan kandidat apakah berasal dari daerah atau tidak. pada budaya pendalungan 21.0% yang menyatakan putra daerah sangat dipertimbangkan untuk memilih dan sebanyak 66. Mereka yang mempunyai budaya mataraman.0%.0% mempertimbankan agama kandidat gubernur. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ada kesamaan antara mereka yang berbudaya mataraman. budaya arek mempertimbangkan asal daerah dalam memilih calon gubernur Jatim menjadi salah satu faktor yang ikut mewarnainya. Demikian juga mereka yang memiliki budaya arek. budaya pendalungan mereka bertempat tinggal di daerah tapalkuda sebanyak 51.0 dan pada budaya arek sebanyak 20.0%.

Demikian pula hal yang hampir sama terjadi pada mereka yang mempunyai latar belakang budaya pendalungan cenderung mempertimbangkan status pendidikan kandidat gubernur (57.0%). profesional dalam mengurus organisasi massa lainnya dijadikan referensi untuk dipilih dalam pilgub Jatim 2008-2013.0%) yang mempersyaratkan status pendidikan calon berpendidikan tinggi. bahkan ada yang sangat mempertimbangkannya (11.0%) bahkan ada yang sangat mempertimbangkan (14.0%) bahkan ada yang sangat dipertimbangkannya (12.0%). Pada budaya mataraman ada kecenderungan kandidat yang profesional dipertimbangkan untuk dipilih (74. mereka lebih cenderung kandidat yang memiliki latar belakang pengalaman memimpin organisasi dipertimbangkan untuk dipilih (61.0%). Demikian juga mereka yang memiliki budaya pendalungan lebih cenderung kandidat yang profesional dipertimbangkan untuk dipilih (72. 12 No.0%) yang mempersyaratkan status pendidikan calon berpendidikan tinggi. Demikian pula mereka yang memiliki budaya arek lebih cenderung status pendidikan dipertimbangkan untuk dipilih (74.0%) pengalamannya dalam memimpin sebuah organisasi apakah organisasi itu formal pemerintahan.berpengalaman untuk memimpin sebuah organisasi. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.0%). ataupun organisasi partai politik maupun ormas.0%). meliter.0%). bahkan mereka ada pula yang sangat mempertimbangkannya untuk dipilih dalam pilgub Jatim periode 2008-2013.0%). bahkan mereka ada pula yang sangat mempertimbangkan status pendidikan calon (16. 1 51 . Mereka yang berbudaya mataraman lebih memilih mempertimbangkan kandidat yang berpengalaman untuk memimpin sebuah organisasi (71. Hal yang sama terjadi pada mereka yang memiliki budaya arek.0%). Demikian juga mereka yang berbudaya pendalungan banyak yang menyatakan mempertimbangkannya (61. Demikian pula pada budaya arek ada kecenderungan kuat pula kandidat yang profesional dipertimbangkan untuk dipilih (88. Dengan demikian masalah status pendidikan dan tentunya kemampuan intelektualitasnya serta kredibilitasnya dijadikan hal yang sangat penting dalam pemilihan gubernur. Tampak sekali hasil penelitian menunjukkan bahwa kandidat yang profesional dalam menangani sebuah organisasi birokrasi. Mereka yang memiliki budaya mataraman dalam memilih juga lebih cenderung mempertimbangkan status pendidikan kandidat gubernur (63.

0%.Latar belakang intelektualitas kandidat menjadi pertimbangan pula dalam pilgub Jatim periode 2008-2013.0%. Kredibilitas kandidat gubernur Jawa Timur memengaruhi perilaku politik pemilih baik itu budaya mataraman.0%. dan mereka yang menyatakan sangat mempertimbangkan isu-isu kampanye sebanyak 9. dan mereka yang menyatakan dipertimbangkanya sebanyak 66. Hasil penelitian membuktikan hal itu.0%. Kecenderungan yang sama juga terjadi pada mereka yang memiliki budaya pendalungan.0%. intelektualitas kandidat sangat dipertimbangkan sebanyak 15. Demikian juga pada budaya arek yang menyatakan sangat dipertimbangkan kemampuan intelektualitasnya sebanyak 8. bahkan mereka yang menyatakan dipertimbangkannya sebanyak (72.0% dan mereka yang mempertimbangkannya sebanyak 72. yaitu pada budaya mataraman mereka yang menyatakan kredibilitas calon sangat dipertimbangkan untuk dipilih dalam pemilihan gubernur Jawa Timur yaitu sebanyak 31. Selain persyaratan intelektualitas kandidat yang menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih juga ketertarikan isu-isu kampanye yang menarik. Sedangkan budaya arek isu-isu kampanye yang dijadikan pertimbangan untuk memilih gubernur sebanyak 76.0%. Kondisi ini dapat dilihat pada budaya mataraman.0%.0%. 1 .0%). dan mereka yang menyatakan sangat dipertimbangkan sebanyak 11. Demikian juga yang terjadi pada budaya pendalungan isu-isu kampanye menarik dijadikan pertimbangan sebanyak 65.0%. pendalungan maupun budaya arek.0%. Dengan demikian kalau kedua 52  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. sedangkan mereka yang menyatakan dipertimbangkan sebanyak 87. Hal ini bisa dilihat pada budaya mataraman mereka mempertimbangkan memilih karena isuisu kampanye sebanyak 61.0%. demikian pula tentunya terjadi pada budaya pendalungan maupun budaya arek isu-isu kampanye menarik salah satu menjadi perhatian para pemilih. baik itu putaran pertama maupun putaran kedua.0% dan mereka yang menyatakan sangat dipertimbangkannya sebanyak 6. Para pemilih yang berada di lingkungan yang mempunyai budaya mataraman isu-isu kampanye menjadi salah satu pertimbangan untuk memilih. 12 No. tetapi dari sisi jumlahnya sangat relatif kecil sekali. Pada budaya mataraman mereka yang menyatakan sangat mempertimbangkan intelektualitas kandidat sebanyak 13. Namun demikian ada pula yang tidak mempersoalkan kemampuan intelektualitas kandidat. pendalungan maupun arek.

0% yang menyatakan kredibilitas calon dipertimbangkan untuk dipilih. Tampaknya fatwa ulama pada budaya tertentu tidak begitu memengaruhi pilihan politik pemilih. Hasil temuan ini menggambarkan bahwa kredibilitas calon sangat memengaruhi perilaku politik pemilih pada pilgub Jatim. Fatwa ulama masih mempunyai pengaruh terhadap perilaku pemilih pada budaya pendalungan yang mereka tinggal di daerah tapalkuda. tetapi pada budaya tertentu masih efektif untuk memengaruhi perilaku politik pemilih. Iklan politik efektif memengaruhi perilaku politiknya dapat dibuktikan bahwa mereka yang menyatakan memengaruhi cenderung besar jumlahnya. walaupun pengaruhnya tidak dominan sekali. Faktor yang Memengaruhi Pilihan Politik Pemilih gubernur dalam menentukan pilihannya tampak terlihat lebih independen tidak dipengaruh oleh atasan dalam bekerja. budaya pendalungan (58.0%) dan budaya arek (76. baik itu dalam bentuk kampanye maupun iklan politik berupa baliho. baik itu mereka yang memiliki budaya mataraman (77. Hal yang sama terjadi pada budaya arek. Namun sebaliknya faktor agama pada budaya mataraman (61. Dengan demikian mereka semua yang mempertimbangkan kredibilitas calon untuk dipilih pada pilgub Jatim. maupun bentuk lainnya.0%.0%).0%) cenderung dijadikan pertimbangan untuk menentukan pilihan politiknya dalam pilgub Jatim 2008-2013. perilaku politik mereka pada pilgub Jatim dipengaruhi oleh kredibilitas calon.0%).hal antara mereka yang sangat mempertimbangkan dan yang mempertimbangkannya jumlahnya sangatlah besar yaitu sebanyak 97. 12 No. mereka yang tinggal di wilayah pantai utara Jawa Timur yang dikenal dengan daerah tapalkuda memperlihatkan bahwa perilaku politik pada pilgub Jatim dipengaruhi juga oleh kredibiltas calon. Mereka yang mempunyai budaya mataraman. budaya pendalungan (70. Hasil penelitian membuktikan sebanyak 39. Berbeda dengan saran dari orang yang lebih tua usianya dalam memilih tampaknya mempunyai pengaruh.0%) dan budaya arek (80. Demikian pula mereka yang mempunyai budaya pendalungan. budaya pendalungan dan budaya arek perilaku politiknya dipengaruhi iklan politik. 1 53 . bahkan mereka ada sebagian yang menyatakan sangat memengaruhi dalam menentukan pilihan politiknya.0%). yaitu Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.0% menyatakan kredibilitas calon sangat dipertimbangkan dan sebanyak 61.

radio maupun televisi. baik itu sebagai dosen. Probolinggo. pegawai BUMN/BUMD.daerah Pasuruan. selebaran. budaya pendalungan dan budaya arek lebih banyak mengenalnya lewat televisi. Demikian juga pasangan kandidat pasangan SoekarwoSaifullah dikenal oleh para pemilih lewat media televisi. Mereka yang memperoleh informasi pemilihan gubernur langsung dari akses media massa tersebut dari berbagai kalangan profesi. Lumajang. Bondowoso. Media radio lebih banyak digunakan oleh masyarakat memiliki budaya arek. tetangga. PNS. Namun mereka ada pula yang menyatakan tidak memengaruhinya (40. baik itu dari media massa elektronik. Hal ini dapat dibuktikan bahwa sebanyak 10. media cetak seperti surat kabar harian (Koran). Sedangkan media massa surat kabar hampir merata digunakan oleh semua kalangan yang baik yang memiliki budaya 54  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Mereka yang menyatakan tidak berpengaruh ini kebanyakan pemilih rasional dan rata-rata berpendidikan tinggi dan ada pula yang berpendidikan SLTA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber informasi yang mereka dapatkan tentang kandidat calon gubernur kebanyakan bersumber dari media televisi. baliho. Situbondo dan Banyuwangi. Fatwa ulama tidak begitu mempunyai pengaruh terhadap perilaku pemilih yang mempunyai budaya mataraman maupun mereka yang memiliki budaya arek. guru.0%). dan berbagai kalangan pendidikan baik berpendidikan tidak sekolah sampai sarjana/pascasarjana serta mereka yang aktif di berbagai organisasi maupun yang tidak aktif yang kapasitasnya sebagai pengurus dan sebagai anggota. 1 . Jember. wiraswasta. kampanye/rapat umum. 12 No.0% yang menyatakan sangat berpengaruh dan sebanyak 50. Mereka mengenal pasangan calon gubernur Khofifah-Mudjiono baik yang memiliki budaya mataraman. Bukan berarti media lainnya tidak digunakan.0% menyatakan berpengaruh. namun jumlahnya relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan media televisi. Sumber Informasi Sumber informasi tentang pemilihan gubernur langsung yang mereka peroleh beraneka ragam. teman. karyawan swasta. organisasi keagamaan dan organisasi partai politik. Tampak bahwa media televisi lebih efektif dijadikan sarana kampanye dari pada media lainnya. umbul-umbul. mahasiswa. TNI/Polri. pengusaha.

serta mereka memperoleh informasi atau mengenal kandidat berasal dari selebaran/baliho. organisasi partai politik. Tidak Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.0%). budaya pendalungan dan budaya arek. umbul-umbul.0%) siapapun yang terpilih akan memosisikan sebagai representasi rakyat. Dari sinilah terlihat dengan jelas mereka mengenal program-program kampanye lewat berbagai media tersebut.0%). 12 No. Mereka yang berpandangan seperti ini kebanyakan memiliki budaya mataraman (84. budaya pendalungan (11. Praktek politik uang tidak lagi berada hanya pada elit politik seperti pada masa berlakunya UU No 22 tahun 1999. budaya pendalungan (81.0%). dan budaya arek (8.0%). Tidak ketinggalan juga mereka memperoleh informasi berasal dari media televisi dan radio. Namun mereka ada yang tidak setuju bahkan tidak tahu menahu apakah kepala daerah akan memosisikan sebagai representasi rakyat ataukah tidak. sehingga pemerintahan menjadi lebih efektif. baik itu budaya mataraman (81. Mereka yang mengandalkan sumber informasi pilkada langsung tersebut selain tersebut di atas juga berasal dari organisasi keagamaan.0%). Pendapat Publik Terhadap Nilai-nilai Demokrasi Proses Demokratisasi Dalam pilgub langsung dipandang oleh sebagian besar rakyat yang memiliki budaya mataraman (75. Mereka yang berpendapat seperti ini sebagian kecil berbudaya mataraman (9.0%). tetapi jumlah mereka hanya relatif kecil sekali. 1 55 .0%) dan budaya arek (87. Dengan adanya pilgub langsung tersebut legitimasi pemerintahan daerah lebih kuat. Mereka berpandangan seperti itu dikarenakan gubernur terpilih akan sulit dijatuhkan oleh DPRD kecuali ada kasus pidananya. budaya pendalungan (80. budaya pendalungan (69. seperti pada proses laporan pertanggung jawaban kepala daerah. dan budaya arek (66. Mereka yang memiliki ketiga budaya.mataraman. dan budaya arek (82.0%).0%) mempunyai kecenderungan yang sama dalam memandang pilgub langsung.0%). Namun mereka ada yang berpendapat bahwa pilgub langsung tidak membatasi pengaruh konfigurasi politk DPRD dengan gubernur terpilih.0%). Mereka kebanyakan berpendapat bahwa dengan adanya pilgub langsung akan berdampak positif terhadap praktekpraktek politik uang atau paling tidak mengurangi praktek politik uang dalam proses pilgub. elektronika dan cetak.

0%) dan budaya arek (90. Keyakinan Rakyat Terhadap Pilgub Mereka baik yang memiliki budaya mataraman (92. Namun mereka sedikit yang tidak mengakui bahwa dengan pilgub langsung tidak akan meningkatkan partisipasi politik dan keterlibatan rakyat secara langsung tidak selalu akan meningkatkan demokratisasi di tingkat lokal. budaya pendalungan (88.0%) sebagian besar mempunyai keyakinan bahwa pilgub langsung akan muncul kepada 56  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.0%). Mereka yang berpendapat seperti itu kebanyakan profesinya sebagai mahasiswa. budaya pendalungan (80. Tidak selamanya pemimpin dapat menyelesaikan secara sendirian ada faktor lain yang ikut berperan.0%) dan budaya arek (84. dosen. rakyat akan dapat menentukan siapa calon pemimpinnya yang dianggap mampu menyelesaikan persoalan di daerah. pendalungan (88. budaya pendalungan (77. Namun mereka ada yang tidak sependapat kalau pilgub langsung tersebut akan dapat menentukan pemimpin yang mampu menyelesaikan persoalan di daerah. dan dengan keterlibatan rakyat secara langsung akan berdampak pada peningkatan demokratisasi di tingkat lokal.0%) dan budaya arek (82. pendalungan (79.0%) dan budaya arek (96.0%). 1 . wiraswasta. Walaupun demikian mereka ada yang tidak tahu-menahu akan persoalan partisipasi politik rakyat di daerahnya. Pilgub langsung juga akan meningkatkan partisipasi politik. wartawan dan berpendidikan peguruan tinggi serta mereka kebanyakan aktif di organisasi. Bagaimana hubungannya dengan kualitas gubernur teripilih?. TNI/Polri. PNS.0%). 12 No.0%) cenderung mempunyai keyakinan bahwa pilgub langsung dengan perangkat UU No.0). guru. Mereka rupanya sebagian besar sepakat bahwa dengan pilgub langsung. Mereka yang mempunyai pandangan seperti ini relatif sama pada ketiga budaya mataraman (95.0) dan mereka yang memiliki budaya arek (87. pilgub langsung selain akan mengurangi praktek-praktek politik uang hal ini diakui oleh sebagian besar mereka yang memiliki budaya mataraman (81.0%).0%).itu saja. Mereka baik yang memiliki budaya mataraman (83. 32 tahun 2004 akan berdampak positif terhadap menegakkan kedaulatan rakyat dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.0%). Mereka yang menyatakan seperti ini di kalangan mereka yang memiliki budaya mataraman (89.0%).

1 57 . berpendidikan SD. Bahkan mereka ada sebagian kecil yang tidak tahu menahu soal apakah dalam pilgub tersebut akan memunculkan kepala daerah yang berkualitas atau tidak. Mereka sebagian besar berkeyakinan bahwa dengan adanya pilgub langsung akan mampu meningkatkan pelayanan pemerintah kepada rakyatnya. RW. Namun mereka tidak semua berkeyakinan gubernur terpilih lebih berkualitas.0%) dan budaya arek (10. Mereka yang memiliki budaya mataraman (91. Mereka yang memandang bahwa pilgub langsung akan memunculkan kepala daerah yang berkualitas kebanyakan profesinya sebagai dosen. Mereka yang berpendapat publik tidak mudah untuk melakukan kontrol kebanyakan berpendidikan akademi sampai pascasarjana. RT. mahasiswa. Polri/TNI. sarjana. pendalungan (90. wiraswasta. Mereka yang berpendapat seperti itu kebanyakan berpendidikan akademi. Mereka baik yang memiliki budaya mataraman. profesinya sebagai dosen. Mereka melihat masih ada kelemahannya yaitu civil society masih belum berkembang. partai politik.0%) cenderung berkeyakinan pilgub langsung akan berdampak positif terhadap pelayanan publik. PNS. PNS. maupun PKK. TNI/Polri dan pegawai BUMN/BUMD. namun tidak menjamin soal kualitasnya. wiraswasta.daerah yang lebih berkualitas. hal ini terbukti masih ada budaya mataraman (9. kebanyakan aktif di organisasi LSM. Walaupun calon gubernur mendapatkan suara mayoritas.0%) yang berpendapat seperti itu. aktif di organisasi dan berpendidikan menengah ke atas.0%). pengusaha dan aktifis organisasi baik di parpol. pendalungan (17.0%) dan budaya arek (81. LSM. SLTP maupun sebagian besar SLTA serta mereka bukan aktifis organisasi. Mereka yang tidak tahu menahu soal kualitas tidaknya gubernur terpilih kebanyakan profesinya sebagai petani penggarap. Selama ini semuanya harus melalui parpol yang mau tidak mau rakyat harus memilih diantara mereka yang disodorkan oleh parpol tersebut. Namun mereka ada yang tidak yakin bahwa publik akan mudah untuk mengontrol gubernur terpilih. mahasiswa. ibu-ibu rumah tangga.0%). sedangkan profesinya sebagai PNS. guru. mahasiswa. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. wiraswasta. kemahasiswaan. pendalungan dan budaya arek kebanyakan mempunyai keyakinan bahwa dengan adanya pilgub langsung publik akan lebih mudah melakukan kontrol. masih minimnya NGO atau tidak ada lembaga independen untuk mengontrol kekuasaannya. 12 No.

terutama mereka yang memiliki budaya mataraman (2. Mereka yang melihat bahwa salah satu dampak positif pilgub terhadap kepekaan pemerintah lokal akan kebutuhan masyarakat. pengusaha. pegawai BUMN/BUMD.0%). Mereka beralasan dengan memilihan langsung oleh rakyat merupakan implementasi demokrasi di daerah. apalagi akan semakin transparan dalam mengelola anggaran daerah. pendalungan (73. mereka yang mempunyai keyakinan seperti ini adalah mereka yang mempunyai budaya mataraman (90.Tidak semua mempunyai keyakinan bahwa pilgub langsung mempunyai dampak positif terhadap pemerintah lokal. guru. rakyatlah yang menentukan pimpinannya dan rakyat akan semakin sadar akan hak-hak politiknya. Mereka yang menyatakan demikian itu mayoritas memiliki budaya mataraman (86. berpendidikan minimal lulus SLTA dan aktifis di organisasi. dosen.0%). Mereka beralasan dengan adanya pilgub langsung.0%) dan budaya arek (98. karyawan swasta. transparan dan mampu mengelola sumber daya.0%). budaya pendalungan (90.0%). Namun sebagian kecil lainnya mereka menyatakan bahwa pilgub langsung tidak menjamin dapat menciptakan stabilitas politik dan pemerintahan di tingkat lokal Aspek Pembelajaran Politik Pilgub langsung mempunyai aspek pembelajaran politik. pendalungan (76. profesinya sebagai mahasiswa. Namun ada sebagian kecil mereka yang tidak sependapat kalau pilgub langsung ini akan menghasilkan gubernur yang peka terhadap kebutuhan masyarakat.0%). pengusaha.0%) dan budaya arek (88. TNI/Polri. Namun demikian ada sebagian kecil dari mereka yang tidak sepenuhnya sependapat bahwa pilgub langsung meningkatkan kesadaran politik masyarakat lokal. wiraswasta. Birokrasi selama ini selalu tertutup dalam mengelola anggaran. Mereka yang mempunyai pendapat bahwa pilgub langsung dapat menciptakan stabalitas politik kebanyakan berpendidikan lulus SLTA sampai pascasarjana. Mereka sebagian besar berpendapat bahwa pilgub langsung meningkatkan kesadaran politik masyarakat lokal.0%). Tetapi 58  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 1 .0%) dan budaya arek (84. Pilgub langsung akan menciptakan stabilitas politik dan pemerintahan lokal. PNS. 12 No. Mereka yang mempunyai pendapat seperti itu kebanyakan latar belakang profesinya sebagai dosen. Hal ini terjadi pada budaya mataraman (92.0%).

Hal itu masih dipengaruhi oleh masih elitisme kekuasaan dan pengaruh geografis yang jauh untuk dijangkaunya.0%). mana mungkin masyarakat lokal akan dapat mengakses dan memengaruhi proses pengambilan keputusan. 12 No. KESIMPULAN Preferensi pemilih pada pemilihan gubernur Jawa Timur periode 2008-2013 lebih banyak dilatar belakangi oleh beberapa hal yaitu kesamaan asal daerah.0%) maupun budaya arek (2. Sangat ironis masyarakat daerah dalam jangka pendek dapat mengakses kekuasaan. petani penggarap dan sebagian karyawan swasta. mereka yang mempunyai pendapat seperti itu terjadi pada semua budaya. karyawan swasta. SLTP. hal ini terjadi pada budaya mataraman (6. Mereka berpendapat masyarakat lokal masih akan sulit untuk mengakses kekuasaan di tingkat propinsi.0%). apalagi memengaruhi proses pengambilan keputusan untuk kepentingan masyarakat lokal. Disamping itu mereka sebagian besar tidak sependapat kalau dikatakan bahwa pilgub langsung mempunyai aspek pembelajaran politik terutama memperluas akses masyarakat lokal untuk memengaruhi proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat lokal. Demikian juga pilgub langsung akan berdampak terhadap mengorganisir masyarakat ke dalam suatu aktivitas politik yang memberi peluang lebih besar pada setiap orang untuk berpartisipasi. PNS.Mereka yang tidak tahu menahu soal itu kebanyakan latar belakang pendidikan hanya lulus SD. kesamaan agama. 1 59 . guru. mahasiswa. Mereka beralasan dengan adanya pilgub langsung akan tumbuh NGO atau LSM baru yang memberi peluang terhadap aktivitas politk rakyat yang dapat melakukan kontrol terhadap berbagai kebijakan pemerintah. kesamaan jenis kelamin Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Hal ini terjadi di ketiga budaya. profesinya sebagai ibu rumah tangga.ada pula mereka yang tidak tahu menahu apakah dengan adanya pilgub langsung ini akan meningkatkan kesadaran politik masyarakat lokal atukah tidak. berpendidikan minimal lulus SLTA serta aktif di organisasi yang kapasitasnya sebagai pengurus maupun sebagai anggota. TNI/Polri. budaya pendalungan (10. Mereka yang mempunyai pendapat seperti itu profesinya sebagai dosen.

budaya pendalungan dan budaya arek. orang yang lebih tua usianya terutama bagi mereka yang memiliki budaya pendalungan. Dengan adanya pilgub langsung akan meningkatkan kesadaran politik masyarakat lokal. kredibilitas calon. putra daerah baik itu pada budaya mataraman. Keyakinan rakyat terhadap pilgub. kesejahteraan rakyat akan lebih diperhatikan. Faktor-faktor yang memengaruhi perilku politik pemilih pemilihan gubernur periode 2008-2013 antara lain seagama. Salain itu akan muncul gubernur yang lebih berkualitas. mengurangi praktek politik uang terutama dalam proses laporan bertanggung jawaban gubernur. d. Karena iklan politik. status pendidikan calon gubernur. Dari aspek pembelajaran politik. Dengan adanya pilgub langsung akan meningkatkan kinerja pemerintah. 1 . 12 No. mengurangi arogansi DPRD. menjamin terciptanya legitimasi pemerintahan daerah. Pemerintah lokal lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat dan akan dapat menciptakan stabilitas politik. rakyat akan dapat menentukan pilihan calon pemimpinnya yang dianggap mampu menyelesaikan persoalan di daerah. peka terhadap aspirasi dan kebutuhan masyarakat. penguatan proses demokratisasi. memiliki status ekonomi tinggi. kalangan professional. dan program kerja yang jelas. Pengaruh pemilihan gubernur terhadap kinerja birokrasi. pengalaman memimpin organisasi. Tentang penguatan proses demokratisasi mereka berpendapat bahwa dengan pilgub langsung gubernur memosisikan sebagai representasi masyarakat. yaitu tentang a. Akuntabilitas calon yang terpilih akan lebih tinggi. Pemerintah daerah akan lebih responsif. Selain itu memberi peluang lebih besar pada setiap orang untuk berpartisipasi. mampu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Mereka yang memiliki budaya mataraman. Sedangkan sumber informasi tentang pilgub kebanyakan media massa televisi Pendapat publik terhadap nilai-nilai demokrasi pada pilgub. Merek juga berkeyakinan kontrol menjadi lebih mudah dilakukan oleh publik. b.terutama pada budaya arek. pendalungan maupun arek berpendapat bahwa dengan pilgub langsung menegakkan kedaulatan rakyat dalam penyelenggaraan pemerintahan. c. keterlibatan rakyat secara langsung akan meningkatkan demokratisasi di tingkat lokal. 60  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. isu-isu kampanye menarik. teman atau orang lain yang status ekonominya lebih tinggi. sehingga pemerintahan menjadi lebih efektif. visi dan misi kandidat. kalangan intelektual. Gubernur yang terpilih akan kuat legitimasinya. membatasi pengaruh konfigurasi politik DPRD dengan gubernur terpilih.

Rakhmat. Fadillah. Peranan Komunikasi Massa dalam Pembangunan. ………………. Surabaya : Java Pustaka. Andrews (Ed). M. Surbakti. DAFTAR PUSTAKA Nimmo. Depari. Ni‟matul. Mufti. 1999. Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 1989. Jakarta. Denis and Seven Weindahl. Bandung : Citra Aditya Bakti. 1999. Jakarta : makalah Pendidikan dan Latihan Penelitian Deppen RI Putra. dan Media.. Mc. Teori Komunikasi Massa. 2003.. 1996. dalam Memperkokoh Otonomi Daerah Kebijakan. Mark N. Jakarta: Gramedia Widiasarana. Udi. 1995. 2004. Bandung : Rosdakarya Liliweri. Yogjakarta : Pustaka Pelajar.meningkatkan akuntabilitas pemerintah.1993. Evaluasi dan Saran. Komunikasi Politik. Pesan. Franklin.. 2005. Ramlan . Transisi Menuju Demokasi. Huda. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. “Pemilihan Kepala daerah Secara Langsung di Era Otonomi Luas. Dennis. Bandung : Remaja Rosdakarya. Rosadi. 12 No. Dan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Alo. Memahami Ilmu Politik. The Encyclopedia of Democracy. Bandung : Rosdakarya. Quali. Jakarta. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Model-Model Komunikasi. Komunikator. Memahami Peran Komunikasi Massa dalam Masyarakat. 1991. 1992. dalam Symour Martin Lipset. Erlangga. “Teori dan Model Penelitian Efek Agenda Setting Media Masa”. Komunikasi Politik. Afan. Partai Politik dan Kebijakan Publik. Politik Indonesia. “Voting Behavior”.. 1995. 1 61 . Sedangkan mereka yang memiliki budaya mataraman. Eduard dan Mac Colin. 1995. budaya pendalungan dan budaya arek dalam memutuskan untuk menentukan pilihan politik sudah ditentukan beberapa minggu sebelum mencoblosan. 1998. Yogyakarta : UII Pres. Mubarok. Psikolgi Komunikasi. Volume IV. Mc Quail. Khalayak dan Efek. Gafar. Washington DC : Congressional Quarterly Inc. Jalahuddin. Suksesi Pilkada.

Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2008. Pilkada Langsung dan Akuntabilitas Pemerintah Daerah. Jakarta : Prestasi Pustaka. Asep Saeful. 62  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Subhan dkk. Jakarta : Raja Grafindo Persada Anwar. Kajian Tentang Rasionalitas Perilaku Politik Pemilih di Era Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung. 2008. Firmanzah.tempointeraktif. 12 No. Sosiologi Politik Kontemporer. Pemilihan Kepala Daerah Langsung: Filsafat.com/hg/ nusa/jawamadura/2008/01/25. Upe. Yogyakarta : UII Pres. dalam Subhan Afiti (Editor). M. Yogyakarta : Fisip UPN”Veteran”. Sistim Politik Indonesia: Kestabilan. Sanit. 2004. Pilkada Langsung dan Akuntabilitas Pemerintah Daerah. Arbi. 2005. Marketing Politik. Undang-Undang Nomor 32/2004 tentang Perintahan Daerah. Joko J. 2005. Kekuatan Politik dan Pembangunan. Wahyudi. Pemilihan Kepala daerah Langsung. Saptopo. dalam Memperkokoh Otonomi Daerah Kebijakan. Bambang Ilkobar.Thalhah M. Yogyakarta : FISIP UPUN “Veteran‟. Khoirul dkk. Hubungan Kepala daerah dengan DPRD. 2006. “Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung: Garansi Moral dan Demokrasi?. Sistem dan Problema Penerapan di Indonesia. Malang : Universitas Muhammadyah. dan Akuntabilitas Pemerintah Daerah. Kumorotomo. Prihatmoko. Perilaku Partai Politik Studi Perilaku Partai Politik dalam Kampanye dan Kecenderungan Pemilih pada Pemilu 2004. 2008. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. Sketsa pada masa Transisi. Ambo. PNS Kediri Terlibat Pilkada Akan Dipecat. http://www. 2005. Afiti. Evaluasi dan Saran. Akuntabilitas Birokrasi Publik. Bandung : Remaja Rosdakarya. Tempointeraktif. Muhtadi. Komunikasi Politik di Indonesia : Dinamika Islam Politik Pasca Orde Baru. 2005. 1 . Peta.

Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif dengan tujuan mendeskripsikan profil BIM berikut berbagai kegiatannya. adalah Peneliti Madya di Pusat Penelitian dan Pengembangan Profesi Balitbang SDM Depkominfo RI. * Drs. 12 No. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Sumarsono. kini banyak desa yang mulai menggeliat dan berangsur angsur berubah menjadi lebih maju.Si.BALAI INFORMASI MASYARAKAT (BIM) CIHIDEUNG : Memberdayakan Masyarakat Perdesaan Melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi Sumarsono* Abstraksi Balai Informasi Masyarakat (BIM) Cihideung adalah lembaga informasi masyarakat yang didirikan atas prakarsa Masyarakat Telekomunikasi (MASTEL) bertujuan untuk memberdayakan masyarakat perdesaan sekitarnya melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi. pemberdayaan masyarakat. kesenjangan dan lain-lain.Penelitian ini dilaksanakan di desa Cihideung. Anggapan yang demikian tidak sepenuhnya benar. Desa seringkali juga dikonotasikan sebagai serba kekurangan. bahkan menuju tingkatan sejahtera. M. sebuah desa penghasil tanaman hias yang sangat terkenal di Bandung. tradisional dan nyaris tanpa dinamika. 1 63 . terbuka pada berbagai akses informasi dan isolasi. kemiskinan. teknologi informasi dan komunikasi PENDAHULUAN Latar Belakang Dahulu desa seringkali dianggap sebagai simbol keterbelakangan. sanitasi yang buruk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BIM Cihideung dalam upaya memberdayakan masyarakat masih banyak menemui permasalahan yang tidak hanya terkait pada pemanfaatan/penguasaan teknologinya tetapi juga dengan penyerapan dan pengolahan informasi sebagai kontennya Kata kunci : BIM..

Hal ini disebabkan karena kehidupan masyarakat kini semakin kompleks. contohnya pada era Orde Baru. apalagi menemukan jalan keluarnya. saling terkait dan memengaruhi yang satu dengan yang lainnya. berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan dan kesempatan memperoleh keadilan. Konsep kemiskinan relatif dirumuskan berdasarkan the idea of relative standard. Namun pada kenyataannya kemiskinan masih tetap ada hanya saja jumlahnya bergeser maju mundur sesuai dengan cara mengukur atau memaknai konsep kemiskinan itu sendiri. kesempatan kerja. kesehatan. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dan lain-lain. Sebagai contoh Bappenas memaknai kemiskinan dengan konsep absolut yaitu dirumuskan dengan membuat ukuran tertentu yang konkrit (a fixed yardstick) dan berorientasi pada kebutuhan hidup dasar minimum anggota masyarakat yaitu sandang. Padahal pemerintah juga sudah banyak campur tangan dalam penanggulangan kemiskinan ini. Selain absolut. berusaha.Namun demikian kita juga tidak menutup mata bahwa masih banyak desa yang tetap menyandang sebutan miskin dan tidak mudah untuk mencari tahu penyebab utamanya. kesempatan memperoleh pendidikan. Pada masa pemerintahan presiden SBY kita juga kenal program subsidi BBM atau Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan pembagian beras untuk masyarakat miskin. 1 . yaitu (1) mengurangi jumlah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan dan (2) melaksanakan delapan jalur pemerataan yang meliputi pemerataan pembagian pendapatan. kita kenal pula konsep kemiskinan relatif dan konsep kemiskinan subjektif . Ada yang konsisten dan berkesinambungan dari tahun ke tahun serta menyeluruh secara nasional namun ada pula yang parsial lokal sifatnya. penyebaran pembangunan di seluruh daerah. 12 No. Sebenarnya program pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat ini sudah lama diterapkan. tepatnya pada Pelita III tahun 1979/80 s/d 1983/84 kita kenal dua program pokok yang dicanangkan pemerintah waktu itu. pangan dan papan. Sedangkan konsep kemiskinan subjektif yaitu ukurannya berdasarkan perasaan diri sendiri. Boleh saja kita mengira 64  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. yaitu dengan memperhatikan dimensi tempat dan waktu (Sunyoto.2004 : 126) yang artinya kemiskinan di suatu daerah tidak sama dengan kemiskinan di daerah lain dan demikian juga pada suatu waktu tertentu tidak sama dengan waktu yang lain. Banyak program yang telah dicanangkan Pemerintah Pusat dan Daerah.

yaitu: perspektif kultural dan perspektif struktural atau perspektif situasional. tergantung dan inferior. kemiskinan ditandai dengan sifat yang lazim disebut a strong feeling of marginality seperti : sikap parokial. Kesenjangan informasi dapat ditempatkan sebagai salah satu indikator kemiskinan. meningkatkan pendidikan supaya lebih memiliki pola pikir yang melihat ke masa depan. acuan dan metodologi sendiri yang berbeda dalam menganalisis masalah kemiskinan. Perspektif kultural mendekati masalah kemiskinan pada tiga tingkat analisis : individu. “Kesenjangan info” menunjukkan ketidak mampuan mengakses dan menggunakan Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Sedangkan apabila kita mengganggap bahwa kemiskinan berakar pada masalah struktural. strategi pembangunan kita perlu dirumuskan kembali. kemiskinan terutama ditunjukkan oleh tidak terintegrasinya kaum miskin dengan institusi-institusi masyarakat secara efektif. Pada tingkat individual. kita perlu menyusun strategi yang meningkatkan etos kerja kelompok miskin. 12 No. 1 65 . bagaimana mencari jalan keluar atau strategi untuk memberdayakan masyarakat atau mengentaskan dari kemiskinan.2004: 128). Jawabnya apabila kita menganggap bahwa akar kemiskinan berkaitan dengan faktor kultural. (Sunyoto. fatalisme atau pasrah pada nasib. Masih menurut Sunyoto sedikitnya ada dua macam perspektif yang lazim dipergunakan untuk mendekati masalah kemiskinan.bahwa seseorang itu berada di bawah garis kemiskinan tetapi menurut perasaan mereka sendiri tidak dan demikian pula sebaliknya seseorang yang kita anggap hidup layak tapi perasaan mereka menganggap dirinya miskin. tetapi seharusnya lebih mementingkan pemerataan kesempatan (Sunyoto. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa perspektif situasional/struktural masalah kemiskinan dilihat sebagai dampak dari sistem ekonomi yang mengutamakan akumulasi kapital dan produk-produk teknologi modern. Dan pada tingkat masyarakat. keluarga dan masyarakat. dan menata kembali institusi-institusi ekonomi kita supaya dapat mewadahi kebutuhan serta aspirasi kelompok miskin. apatisme. boros. kemiskinan ditandai dengan jumlah anggota keluarga yang besar dan free union or consensual marriages. 2004:130). Pada tingkat keluarga. Strategi pembangunan tidak lagi mementingkan pertumbuhan. Jika demikian halnya. Masing-masing perspektif tersebut memiliki tekanan. Kini indikator penentu kemiskinan bertambah lagi dengan kemudahan pada akses informasi.

12 No. Wawancara dilakukan secara langsung di lapangan dan bagi yang sulit ditemui. Landjar Nursalim. Adil Hendra.2007:18) Sekarang ini perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) demikian pesatnya hingga merambah keberbagai kota di berbagai negara belahan dunia ini. (Pe-PP Bappenas-UNDP. Perkembangan ini tidak berhenti di sini akan tetapi ketika diciptakan sistem hubungan antara satu komputer ke komputer yang lain maka lahirlah apa yang disebut internet. Ida Hidayat. dan pengelola BIM antara lain Fitria. Balai Informasi Masyarakat (BIM). pengumpulan data dilakukan dengan cara mewawancarai berbagai key person diantaranya Kepala Desa Cihideung. wawancara dilakukan dengan melalui telepon. Oleh karena itu diperlukan jalan pintas untuk percepatan penguasaan teknologi informasi tersebut terutama ke perdesaan melalui berbagai cara diantaranya fasilitasi untuk pembangunan Community Acces Point (CAP) atau sejenisnya seperti Telecenter. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan BIM Cihideung beserta seluruh kegiatannya sebagai lembaga informasi masyarakat yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat sekitarnya melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi Metodologi Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif. Warmasif. Ayi Sudrajat. dan lain-lain baik yang stasioner maupun yang mobile. Agenda World Summit of the Information Society (WSIS) dimana Indonesia bergabung di dalamnya menegaskan bahwa pada tahun 2015 mendatang separuh penduduk dunia telah memiliki akses ke internet termasuk penduduk perdesaan agar mereka menjadi lebih berdaya. Ketua Kelompok Tani Giri Mekar (KTGM). Ika serta Pengujung BIM dari SMA Cisarua.informasi yang akan berdampak pada kesejahteraan seseorang.Warung Informasi Teknologi (Warintek). Humas KTGM. 66  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 1 . Bendaharawan KTGM. Trisna. Materi pertanyaan sekitar keberadaan dan peranan BIM beserta seluruh kegiatannya di lapangan sehingga dengan demikian diharapkan dapat diperoleh gambaran ataupun deskripsi tentang profil BIM secara utuh dan lengkap.

yang selalu berupaya memajukan keterampilan budidaya para petani terutama yang menjadi anggotanya. Giri Mekar. sisanya (30%) sebagai petani bunga potong yang umumnya dipergunakan sebagai bahan dekorasi. Budidaya tanaman hias ini cukup maju sehingga dapat menopang kehidupan para petaninya secara lebih baik. Jawa Timur dan Pabelan. Kabupaten Bandung Barat. Diperkirakan lebih dari 80% penduduk desa Cihideung yang berjumlah sekitar 12. banyak kendaraan umum menuju desa yang terkenal dengan tanaman hiasnya ini. aster. Untuk mencapai desa Cihideung tidaklah terlalu sulit. Mekarsari Putra. Desa Cihideung bisa dicapai dari terminal Ledeng. Sentra penjualan tanaman hias Cihideung ini diatur sedemikian rupa sehingga menarik minat calon pembeli yang lewat di sekitarnya. kemuning. sedap malam. Madiun. bougenvile. 12 No. macammacam anggrek. dan lain-lain. Jenis tanaman yang dijualnya antara lain meliputi bunga seperti mawar. Muneng. yang berada tidak jauh dari Kampus Universitas Pendidikan (UPI) Bandung. agar hasil produksi tanaman hias ini harganya tidak anjlog di pasaran karena dipermainkan oleh tengkulak atau kelompok orang tertentu. 1 67 . dan lain-lain.900 jiwa ini hidup sebagai petani bunga/tanaman hias yang secara lebih rinci 50% diantaranya sebagai petani bunga hias yaitu jenis tanaman yang berfungsi untuk memperindah taman.44 ha ini kita dapat menikmati pemandangan hijaunya perbukitan dan tegalan yang penuh dengan tanaman bunga dan strowbery. krisan.Untuk memperkaya data dan informasi dilakukan pengamatan langsung di lapangan serta studi banding di Telecenter. Sedangkan pusat penjualan tanaman hias yang luasnya sekitar 1. Dengan menyusuri jalan Sersan Bajuri menuju desa Cihideung yang memiliki luas wilayah 445. Budidaya tanaman hias dan bunga potong di desa ini telah berjalan cukup baik dimana telah berperannya beberapa kelompok tani seperti Kelompok Petapa. Disisi lain. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Cihideung adalah salah satu desa yang terletak di wilayah Kecamatan Parongpong. maka telah dibentuk Asosiasi Pedagang dan Petani Tanaman Hias Cihideung yang selalu berupaya melancarkan tata niaga sekaligus Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. melati. dahlia. lili.150 meter persegi ini terletak memanjang dipinggir kanan-kiri jalan utama desa Cihideung. Yogyakarta serta studi kepustakaan dari berbagai sumber data.

Dari kegiatan-kegiatan pelayanan tersebut di atas.melindungi para petani dan pedagang dari pengaruh sindikat yang mengakibatkan kerugian . Banyak pengunjung dari berbagai daerah baik sekitar Bandung atau kota lain seperti Jakarta terutama dihari libur. Pelatihan komputer yang pernah diselenggarakan diikuti oleh 52 orang yang umumnya terdiri dari pelajar SD dan SLTP dengan membayar masing masing Rp 20. Bandung Barat. Word Processor. Berbeda dengan BIM sebelumnya kepengurusan BIM kali ini sepenuhnya dipegang oleh anak-anak muda. Sebagai sentra penjualan tanaman hias dan bunga. 1 . BIM mendapatkan pemasukan sebesar Rp 875. Sebagai lembaga informasi masyarakat yang berada di perdesaan BIM dilengkapi dengan berbagai infrastruktur pokok dan pendukung yang diharapkan akan melegitimasi eksistensi dan memperlancar operasionalnya di lapangan. Spread Sheet. Balai Informasi Masyarakat (BIM) Cihideung Berdirinya BIM Cihideung diprakarsai oleh Masyarakat Telekomunikasi (MASTEL) dengan tujuan memberikan pengenalan kepada masyarakat terhadap teknologi informasi (internet) yang sekaligus pada gilirannya diharapkan dapat memetik manfaatnya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Sebagai daerah wisata selain ditunjang keindahan alam dan tanaman hiasnya. 12 No. BIM yang ada sekarang ini merupakan BIM generasi ketiga di desa Cihideung yang didirikan kembali pada tanggal 10 November 2006. Cihideung juga memiliki potensi wisata kuliner dimana sekitar desa ini banyak terdapat cafécafé yang sudah cukup populer di seantero Bandung. Pusat kegiatan atau yang disebut sekretariat BIM berada di gedung seluas 28 meter persegi yang lokasinya berada di RT 03/RW 10 Kampung Penyairan Desa Cihideung.Adapun materi pelatihan meliputi : pengenalan komputer.000. Dalam operasionalnya sehari-hari BIM yang dibuka mulai jam 8 pagi sampai jam 20 malam hari rata-rata dikunjungi oleh 8 68  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Sedangkan pelatihnya adalah para sukarelawan setempat yang dianggap sudah melek komputer yang tentu saja sebelumnya mendapatkan pengarahan dari Staf IT Specialist MASTEL yaitu Rochman Fathoni. Cihideung memiliki potensi wisata yang prospektif.yang sebagian besar diperoleh dari biaya pelatihan komputer.800.

Anggota atau unit-unit sistem sosial itu bisa berupa perorangan (individu). kelompok informal.Tokoh-tokoh tersebut dihormati dan disegani oleh masyarakat perdesaan karena peranannya sebagai orang yang dianggap lebih tahu dibidangnya. (Rogers. Masyarakat sekitarnya khususnya yang berprofesi sebagai dekorator ada pula yang sering mengunjungi BIM untuk mencari inspirasi dari model. dan lain-lain. adat dan tokoh formal yang masing masing diakui peranannya bagi masyarakat. Permasalahan yang sering ditemui di lapangan adalah apabila komputer tersebut rusak maka harus tunggu ahlinya yang tinggal di Jakarta.Tanpa restu mereka jangan harap ide-ide baru akan bisa masuk dan diterima masyarakat. Tokoh Masyarakat Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. organisasi modern atau sub sistem.orang yang pada umumnya pelajar untuk berbagai keperluan seperti mengerjakan tugas sekolah. Sikap dan pendapat mereka selalu diperhitungkan dan dipedomani. Singkat kata mereka memiliki tempat tersendiri yang lebih tinggi dan terhormat di masyarakat. 1 69 . Di perdesaan kita kenal tokoh-tokoh agama. Mereka juga mendominasi forum-forum yang ada di perdesaan seperti rembug desa atau musyawarah desa. Oleh karena itu setiap kali ada pengenalan ide-ide baru atau inovasi dipedesaan akan selalu melibatkan para tokoh tersebut untuk mendukungnya.model dekorasi bunga dari berbagai situs. Oleh karena itu mereka berharap punya teknisi sendiri yang selalu stand by kapanpun kalau ada kerusakan. keputusan keputusan komunal dan lain-lain. BIM didirikan dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat yang disebut Dewan Pembina BIM yang terdiri dari Kepala Desa Cihideung (Ayi Sudrajat). 12 No. Ketua Kelompok Tani Giri Mekar (KTGM) Landjar Nursalim.Oleh karena itu tidak jarang mereka dijadikan panutan dan teladan bagi masyarakat sekitarnya. dalam rangka mencapai tujuan bersama. Anggota sistem sosial yang berbeda tersebut menciptakan struktur di dalamnya dimana ada heararki sosial yang harus diperhatikan. Oleh karena itu pendirian BIM juga memperhitungkan peran para tokoh masyarakat Desa Cihideung . Kelembagaan Di perdesaan masih berlaku sistem sosial tertentu yaitu suatu kumpulan unit yang berbeda secara fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah. 1991: 31).

Sukarelawan umumnya terdiri dari para pemuda/pemudi setempat yang bertugas menjaga sekretariat BIM sehari-harinya. 70  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Hanya beberapa orang sukarelawan yang biasa menunggu pelanggan di sekretariat BIM diantaranya ialah Fitria yang menyebut dirinya sebagai Ketua. Mereka bertiga inilah yang disebut Badan Pengelola Harian (BPH) telcenter. 2007:39). Staf Pengelola definitif terdiri dari Project Manager : Taru J Wisnu dari Mastel. Mereka melayani pengunjung yang datang dengan berbagai keperluan seperti mengetik. perwakilan ibu-ibu PKK (Ny.Tayub).Ayi Sudrajat). Tidak semua staf pengelola BIM seperti tersebut di atas aktif melaksanakan tugasnya karena berbagai alasan. pengelola Telecenter atau sejenisnya yang ideal terdiri dari tiga orang yang disebut tim-3 (The Three Musketeer) yaitu manager telecenter. Pengelola BIM BIM Cihideung dikelola oleh staf pengelola yang terdiri dari pengelola definitif dan pengelola sukarelawan. Bappenas UNDP. 12 No. Struktur kepengurusan BIM yang demikian tidaklah terlalu muluk karena memang BIM diharapkan menjadi lembaga milik masyarakat. Menurut buku panduan untuk Fasilitator Infomobilisasi. 1 . staf pengembangan media/IT admin dan staf pengembangan komunitas/Fasilitator Infomobilisasi (FI) yang bertugas mengelola kegiatan Infomobilisasi melalui kegiatan pendampingan kelompok. oleh karena itu seharusnya bekerja secara penuh dan mendapatkan imbalan/gaji. Bendahara : Fitri. Pelatihan komputer di Politeknik Telkom di Gegerkalong. sedangkan kedua orang tadi yaitu Trisna dan Ika sebagai pengurus harian. Sekretaris : Mega. Koordinator Kegiatan : Deden Kosasih. Humas : Rusli. Site Manager: Ida Elvira. BPH ini merupakan tim inti yang berfungsi sebagai motor penggerak lembaga. (Pe-PP.(H. Koordinator Sukarelawan: Dani. mencari data yang terkait penugasan guru di sekolah atau sekedar chatting atau main game. yang berbasis masyarakat oleh karena itu sudah seharusnya sederhana dan tidak elitis untuk ukuran perdesaan. Bandung dan mengunjungi pameran ICT Expo di Jakarta yang diselenggarakan tanggal 20-24 Mei 2008. Perwakilan Pemuda (Deden Kosasih). Sebagai reward yang sekaligus upaya meningkatkan wawasannya para pengurus BIM ini pernah diajak ke Seminar di Yogyakarta.

website. pembuatan data basis tanaman hias. manajemen. membuat coklat candy. dan lainlain. diskusi dan pemecahan masalah. 1 71 . kegiatan BIM akan lebih lengkap apabila ditambahkan dengan kegiatan Infomobilisasi atau pendampingan masyarakat/kelompok dalam hal pencarian. pelatihan komputer. Kegiatan-kegiatan dimaksud sangat beragam yang antara lain mulai dari persiapan pendirian BIM. festival. dekorasi tanaman hias. pengolahan dan penerapan informasi di lapangan. website atau nara sumber yang kompeten. pemetaan daerah. Untuk kegiatan publikasi meliputi : pembuatan buletin BIM. dan lain-lain. Kegiatan BIM Sebagaimana diuraikan terdahulu kegiatan BIM selain melaksanakan layanan rutin sekretariat juga kegiatan terjadwal yang telah tersusun dalam program kerja ataupun Rencana Aksi BIM. majalah dinding. 12 No.Sebagai tanggung jawabnya BPH. Sebagai lembaga yang bergerak dibidang informasi. peresmian BIM. bahasa Inggris. fund raising. penyelenggaraan berbagai pelatihan dan praktek. kompetisi. Seperti diketahui bahwa kegiatan BIM ada yang bersifat layanan komersial dan ada pula yang bersifat sosial dimana keduanya mempunyai bobot yang sama. Kegiatan pencarian informasi dapat berupa menyediakan informasi dari berbagai sumber apakah media massa. kegiatan publikasi. khususnya manager harus dapat mencari dana untuk membiayai sendiri operasionalnya dari penjualan jasa dan layanan lembaga. evaluasi. studi banding dan perpustakaan. seleksi. Sebagaimana diuraikan terdahulu BIM telah dibentuk Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Rencana Aksi ini disusun cukup bagus dan rinci yang dimulai pada 3 Januari 2007. Partisipasi Masyarakat Sebagai lembaga informasi perdesaan BIM telah dirancang sedemikian rupa agar mampu berperan sebagai agen pembaharuan di perdesaan. usaha sampingan. Macam-macam pelatihan yang telah dan akan dilaksanakan meliputi antara lain: pelatihan partisipasi masyarakat. Pendampingan kelompok dapat dilakukan secara berkala atau insidental atas insiatif sendiri ataupun permintaan dari kelompok. Untuk pengolahannya dapat dilakukan melalui saling belajar. sedangkan penerapan di lapangan berupa aplikasi atau praktek di lapangan yang biasanya didampingi oleh tenaga ahli/pengalaman dibidangnya.

Pada kenyataannya menggalang partisipasi dan swadaya masyarakat ini tidaklah mudah ini terbukti bahwa kegiatan BIM pernah vakum atau terhenti selama beberapa tahun karena berbagai alasan. Secara teoritis. Popularitas BIM yang tinggi identik dengan tingginya pengenalan masyarakat terhadap BIM. printer. 1 . Ibarat kata pepatah: tak kenal maka tak sayang sehingga tingginya pengenalan dapat diartikan tinggi pula pemanfaatan BIM oleh masyarakat. Tentu ada permasalahan diantara keduanya yang mengakibatkan terciptanya jarak atau hambatan itu. Popularitas BIM ini didapat dari upaya berbagai publikasi yang dilakukan pengelola melalui berbagai cara. hal ini terbukti bila kita mau berkunjung ke sana tidak akan mengalami kesulitan ketika menanyakan arah menuju ke lokasi BIM kepada penduduk. Padahal sebagaimana diketahui bahwa keberadaan BIM ini didesain untuk memberdayakan masyarakat itu sendiri. Memang biaya operasional BIM sehari-harinya tidak disediakan namun partisipasi dan swadaya masyarakatlah yang diharapkan untuk dapat mengisi kegiatan lembaga tersebut. bagi sebuah lembaga di perdesaan. Menurut penelitian permasalahan yang timbul hanyalah bagaimana menarik partisipasi dan swadaya masyarakat secara lebih baik. Kekosongan kegiatan memang terjadi di BIM periode yang lalu dan mudah-mudahan permasalahan tersebut tidaklah terulang kembali atau setidaknya masih menjadi ganjalan. Kenyataan yang menunjukkan kurang maksimalnya 72  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. perangkat pendukung jaringan. 12 No. scanner. seringkali juga ditemui para pelajar yang berasal dari desa tetangga. malahan masyarakat desa-desa sekitar Cihideung pun banyak yang mengenalnya. kamera. dan lain-lain. BIM telah dilengkapi dengan struktur organisasi beserta personil pengurusnya. Sedangkan bila dilihat pada pengunjung yang datang.dengan berbagai infrastruktur dan sarana penunjangnya agar mudah memainkan peranannya di perdesaan secara maksimal. dewan pembina. sekretariat tetap. Keberadaan BIM sudah pasti dikenal oleh masyarakat luas. Bila kita lihat BIM periode sekarang dimana hubungannya dengan para tokoh masyarakat setempat yang cukup baik maka boleh jadi permasalahan yang timbul tidaklah terlalu banyak dan substansial. program kerja dan peralatan yang berupa komputer. dengan infrastruktur dan sarana perlengkapan yang boleh dibilang telah memadai tentunya lembaga tersebut telah dapat melaksanakan programnya dan berperan banyak bagi masyarakat sekelilingnya.

pembuatan pas foto. pengelola BIM khususnya Fasilitator Infomobilisasi (FI) juga dituntut proaktif untuk mengadakan pendekatan dan pendampingan pada kelompok-kelompok yang ada maupun masyarakat yang memerlukan. dan lain-lain yang masih kurang diperlukan masyarakat desa yang pada umumnya merupakan petani tanaman hias. jasa komputer.tersambungkan dengan sumber informasi. menumbuhkan pemahaman awal yang benar atas fungsi CAP/BIM serta manfaat yang dapat diambil dari keberadaannya. Selain aktifitas ke dalam untuk menggali dana operasionalnya sendiri. merasa ikut memiliki dan memanfaatkannya sehingga dengan demikian kapasitas masyarakat dalam penggunaan TIK meningkat. kedua. Untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat tersebut bisa dimulai dari hal hal yang kecil dan dimulai sejak dini. memperoleh persetujuan dan dukungan masyarakat desa atas pendirian BIM untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap BIM sejak awal (Djuzan. Selain itu bidang usaha BIM seperti foto copy. 12 No. 1 73 . 2006: 13). Selain itu mereka juga termotivasi untuk saling belajar/bertukar pengetahuan. Agar partisipasi masyarakat lebih mantap lagi para pengelola BIM harus dapat membuktikan bahwa kegiatan BIM memang bermanfaat bagi masyarakat baik secara sosial maupun ekonomi. Untuk membuktikannya harus dicoba menerobos keberbagai lembaga perdesaan yang berpengaruh pada peningkatan ekonomi masyarakat seperti kelompok-kelompok tani. Tujuannya adalah agar kelompok dan masyarakat merasa lebih dekat dengan BIM. Partisipasi umumnya tidak tumbuh secara spontan. meningkatkan kesadaran masyarakat desa atas manfaat teknologi informasi dan komunikasi dan kegunaannya untuk kemudahan hidup dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. ketiga. asosiasi petani dan pedagang bunga. Langkah-langkah yang perlu diambil untuk menumbuhkan partisipasi diantaranya : pertama.pemanfaatan BIM bukan karena pengenalan masyarakat yang rendah akan tetapi bisa jadi karena kondisi masyarakat desa itu sendiri yang masih belum melek komputer. saluran dan simpul komunikasi-informasi terpercaya. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Mereka hanya sesekali saja memakai jasa-jasa tersebut. Oleh karena itu para pengelola BIM harus lebih proaktif memecahkan permasalahan tersebut dengan membuka sumber pendapatan yang lebih beragam dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa.

antisipasi permasalahan sekaligus koordinasi untuk solusinya. 74  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Peran Dewan Pembina Sebagaimana diuraikan terdahulu bahwa BIM telah memiliki Dewan Pembina yang terdiri dari para tokoh masyarakat setempat baik formal maupun informal. festival. dan lain-lain. Kemitraan ini sangat penting dalam upaya aktualisasi informasi. Mereka dapat memberi arahan operasional dengan membuat program kerja yang baik dan sekaligus memotivasinya.pemberian reward. Depkominfo dan Instansi lain yang terkait. Terobosan disini dapat diartikan kerjasama ataupun kemitraan yang saling memerlukan dan menguntungkan bagi anggota khususnya dan masyarakat sekitar pada umumnya. Sebagai contoh wakil dari Depatemen Pertanian. 1 . 12 No. Apakah upaya menempatkan para tokoh masyarakat tersebut sebagai Dewan Pembina BIM akan berhasil memperlancar operasionalnya ? Ini sangat tergantung pada kemampuan dan aktifitas para tokoh masyarakat tersebut. Keberadaan Dewan pembina yang aktif dapat mendinamisir kegiatan BIM. membuat pola pembinaan. produsen pupuk dan asosiasi lain yang ada serta penguasa setempat. Dari beberapa tokoh masyarakat yang terpilih sebagai Dewan Pembina.Kemitraan sudah seharusnya dijaga agar tetap berkelanjutan dan selalu bersifat terbuka untuk melakukan hal-hal yang inovatif. Oleh karena itu ada baiknya jika dipilih pembina yang fungsional yaitu pembina yang betul betul bisa aktif dan mempunyai tugas yang ada relevansinya dibidang itu.asosisi pembibitan. tidak semuanya aktif melaksanakan pembinaan. Satu hal lain yang juga sangat penting untuk dilakukan oleh Dewan Pembina ialah memfasilitasi lembaga untuk menjalin kemitraan dengan berbagai fihak baik instansi pemerintah maupun swasta.produksi konten.Hal yang demikian dapat dimaklumi karena para tokoh tersebut kesehariannya memiliki kesibukannya sendiri sesuai bidangnya. Boleh jadi mereka juga menganggap kedudukannya sebagai Dewan Pembina adalah sebagai kehormatan sehingga mereka tidak perlu repot-repot ikut turun tangan. monitoring dan evaluasi serta kegiatan lainnya seperti kompetisi antar lembaga sejenis.

customers/consumers.time. yaitu menjadi sumber informasi. Istilah ini Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Pusat Informasi Desa.2007:39) Lebih jauh BIM sebagai sumber informasi. memfasilitasi proses saling belajar/bertukar pengetahuan.PEMBAHASAN BIM Yang Ideal Sebelum BIM dapat memberdayakan masyarakat sekitarnya. 1 75 . safety. (Tim Pe-PP Bappenas-UNDP. Bank Data Desa. (Sargent. Artinya BIM dapat melaksanakan atau mengontrol seluruh kegiatan operasionalnya secara baik dan dapat mengatasi semua hambatan yang ditemuinya. Generically expressed. output. yaitu : mendampingi kelompok. these values are about: quality. Kantor Berita Komunitas. dan lain-lain Pemberdayaan Masyarakat melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi Istilah pemberdayaan masyarakat telah secara luas dipergunakan di negara kita paska krisis ekonomi 1997.menjadi simpul komunikasi-informasi dan sebagainya. Selain itu juga dapat berperan sebagai pelaku komunikasi di desanya. BIM sengaja dibangun di daerah perdesaan karena masyarakat perdesaan dianggap masih perlu lebih diberdayakan dalam rangka mencapai tingkat kesejahteraannya yang lebih baik. meningkatkan kapasitas masyarakat dalam penggunaan TIK. Most smart companies or organizations quickly realize that succes depends on your ability to control not just a couple of these core value-but all of them at the same time . menjadi saluran/media komunikasi-informasi. dan sebagainya.Sentra Pembelajaran Masyarakat. 2001 :27) Secara umum pembangunan BIM bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat disekitarnya melalui penyediaan akses informasi dari berbagai sumber dan media terutama internet. sudah seharusnya BIM terlebih dahulu berdaya. cost. dapat mengembangkan diri menjadi Pusat Informasi Pembangunan Desa. Konsep BIM dapat disamakan dengan Telecenter dan sejenisnya yang berperan sebagai fasilitator program komunikasiinformasi (Infomobilisasi). 12 No. Menurut Andrew Sargent: all organizations are driven by a series of “core values”.

diterjemahkan dari kata empowerment yang memiliki arti lebih komprehensif. Simon dalam bukunya Rethinking Empowerment (1990) menyatakan bahwa pemberdayaan adalah aktifitas reflektif, atau proses yang mampu diinisiasikan dan dipertahankan hanya oleh agen atau subyek tertentu yang mencari kekuatan atau penentuan diri sendiri (self-determination). Sementara itu, proses lainnya hanya memberikan iklim, menciptakan hubungan, sumber-sumber dan alatalat prosedural yang dengan perantaranya masyarakat dapat meningkatkan kualitas kehidupannya. Pemberdayaan merupakan sistem yang berinteraksi dan berkolaborasi dengan lingkungan sosial dan fisik (Harry Hikmat, 2006 : 134). Selanjutnya pengertian tersebut diperjelas sebagai berikut : pemberdayaan bukanlah merupakan upaya pemaksaan kehendak, atau proses yang dipaksakan, atau kegiatan untuk kepentingan pemrakarsa dari luar, atau keterlibatan dalam kegiatan tetentu saja, dan makna-makna lain yang tidak sesuai dengan pendelegasian kekuasaan atau kekuatan sesuai potensi yang dimiliki oleh masyarakat yang bersangkutan. (Harry Hikmat, 2006 : 135). Sementara itu pemberdayaan masyarakat melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bukanlah suatu hal yang mudah. Pada dasarnya pemberdayaan melalui TIK tidak hanya mengenalkan masyarakat pada komputer saja tetapi lebih kearah bagaimana mengambil manfaat dari informasi yang didapat dari Internet. Yang jadi nilai ekonomis (economic value) dari teknologi ini bukanlah komputer dan komponen-komponennya secara fisik, melainkan penekanan pada informasi yang dibawa dan diolahnya. (Indrajit, 2000:208) Masyarakat yang berdaya adalah masyarakat yang memiliki kesadaran dan kebutuhan terhadap informasi sebagai sumber kekuatan (power). Masyarakat yang dapat menggunakan informasi untuk mengambil keputusan yang baik bagi dirinya sendiri, bertindak secara kritis dalam upaya memperbaiki keadaan dan mengatasi masalahnya sendiri, mampu terlibat dalam proses-proses sosial dan politik termasuk dalam proses pengambilan keputusan publik yang dilakukan komunitasnya (Tim Pe-PP Bappenas-UNDP,2007:5) Memberdayakan masyarakat dengan informasi tidaklah mudah apalagi menyejahterakannya sebab informasi memiliki dimensi yang sangat luas dan beragam serta taksonomikal oleh karena itu tidak secara langsung merubah keadaan dari kurang sejahtera menjadi lebih sejahtera. Kita boleh berharap banyak bahwa masyarakat Cihideung
76  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1

menjadi semakin sejahtera ketika BIM didirikan di desa tersebut. Karena masyarakat dapat informasi tentang berbagai jenis tanaman hias yang berprospek ekonomi lebih baik, juga mendapat informasi berkaitan dengan dimana bibit-bibit tananam hias yang berkualitas itu didapatkan. Selanjutnya juga bagaimana menyemai bibit bibit unggul tersebut hingga besar dan laku dijual. Tidak berhenti disitu , informasi tentang pasar yang baik dan bagaimana mengirimkannya juga sangat diperlukan, karena tidak jarang produsen tanaman hias diperdaya oleh tengkulak karena kurangnya informasi ini. Diharapkan dengan informasi-informasi yang berharga tersebut masyarakat mendapatkan kemudahan dalam membudidayakan tanaman hias sekaligus dapat menjualnya dengan harga yang baik. Pada kenyataannya di lapangan tidak semua informasi seperti tersebut di atas tersedia, bilamana tersedia itupun baru informasi ”mentah” yang masih perlu diolah, diterjemahkan, dipilah dan disaring agar dapat diambil manfaatnya. Dari kondisi tersebut di atas menunjukkan bahwa informasi dari internet belum dapat di akses dan dimanfaatkan oleh semua orang karena adanya hambatan teknis atau hambatan digital. Banyak orang yang belum faham dengan teknologi internet ini sedangkan bagi yang sudah memanfaatkan informasi umumnya masih mempergunakannya untuk keperluan mereka sendiri. Selain hambatan digital, hambatan budaya juga sangat berperan dalam pemanfaatan internet sebagai sumber informasi. Selain internet merupakan barang baru yang dianggap canggih di perdesaan, umumnya masyarakat juga masih terbiasa dengan komunikasi lisan. Mereka mencari informasi dari kawan, tetangga, atau opinion leader setempat melalui forum dan arena sosial yang ada. Sedangkan mereka menyebarkannya melalui getok-tular atau dari mulut kemulut diberbagai kesempatan. Mereka masih terbiasa ngobrol di warung kopi daripada nongkrong di depan komputer layaknya orang kantoran. Salah satu cara sederhana yang mungkin dapat membantu mengenalkan masyarakat terhadap komputer sekaligus memperlancar pencarian situs penting ialah disediakannya para pendamping yang memahami internet dan mampu berbahasa Inggris. Karena bahasa yang dipergunakan di internet tidak hanya bahasa Indonesia tetapi banyak yang mempergunakan bahasa Inggris. Dari uraian di atas terlihat bahwa untuk memberdayakan masyarakat melalui BIM memang masih diperlukan kerja keras dan perlu dicari terobosan agar terhindar dari berbagai hambatan.
Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1 77

Peranan Kelompok Di perdesaan dengan mudah dapat kita jumpai berbagai kelompok masyarakat. Selain kelompok formal yang dibentuk pemerintah ada juga kelompok yang terbentuk karena interest, primordialisme dan tatanan sosial tradisional. Kelompok-kelompok ini biasanya berperan penting dalam memecahkan berbagai permasalahan desa termasuk permasalahan yang ada di BIM. Kelompok masyarakat yang ada di desa Cihideung diantaranya kelompok tani, kelompok tani nelayan andalan, kelompok arisan. Masing masing kelompok punya kegiatan yang berbeda tetapi tujuannya sama yaitu berkeinginan memberdayakan dan menyejahterakan anggotanya. Oleh karena itu tidaklah salah bila ada upaya memfasilitasi kelompok-kelompok yang ada untuk memberdayakan masyarakat sekitarnya. Karena kelompok diyakini memiliki potensi dan ciri-ciri yang menunjang upaya pemberdayaan yang diantaranya : (1) orang-orang dalam kelompok cenderung untuk berlomba (2), mereka membentuk identitas mereka sendiri yang menjadikan personaliti kelompok. (3), kekompakan yaitu daya tarikan anggota kelompok satu sama lain dan keinginan mereka untuk bersatu; (4), ada komitmen terhadap tugas. (Arni Muhammad,2000 ;186). Namun ketika kelompok-kelompok telah terbentuk dan memiliki potensi, upaya untuk menarik partisipasi mereka pada kegiatan BIM tidaklah berjalan linier. Sebab kegiatan BIM yang berbasis internet merupakan hal yang baru dan sama halnya dengan memperkenalkan inovasi atau ide-ide baru pada masyarakat. Sebuah inovasi biasanya penuh liku sehingga memperkenalkannya ke masyarakat sebaiknya dilakukan secara pelan-pelan, berkesinambungan dan hati-hati dengan melalui berbagai cara seperti penyuluhan, komunikasi kelompok dan diskusi pemecahan masalah, demonstrasi atau percontohan, dan lain-lain. Fisher telah mengidentifikasikan empat fase yang dilalui pemecahan masalah yaitu :orientasi, konflik, pemunculan ide, dan dukungan terhadap ide-ide baru. (Goldberg & Larson, 1985 :45). Dari uraian tersebut dapat dilihat bahwa peran kelompok dalam sebuah inovasi sangatlah diharapkan oleh karena itu Fasilitator Infomobilisasi haruslah dapat mendekati kelompok-kelompok yang ada di desa ini .Kelompok-kelompok yang ada di desa ini memiliki potensi dan dapat berperan banyak untuk menarik partisipasi
78  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1

untuk memanfaatkan komputer/ internet sebagai sumber informasi yang bermanfaat bagi pengembangan dirinya. Keberadaan BIM yang sudah populer itu telah menjadi modal untuk menarik minat masyarakat dalam memanfaatkan BIM secara lebih aktif apalagi bila dibarengi program program yang menarik dan dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Tanpa peran FI yang lebih aktif tidak akan terjadi pembelajaran-pembelajaran serta jalinan hubungan ataupun interaksi positif dengan masyarakat sekelilingnya yang pada dasarnya telah memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. banyak kendala teknis dan non teknis yang selalu menghadang. Oleh karena itu peran para pengelola BIM khususnya Fasilitator Infomobilisasi (FI) sangat diharapkan.Oleh karena itu kerjasama hendaknya diperluas dengan kelompok lain yang ada di masyarakat dengan tanpa mengabaikan peran Kelompok Tani Giri Mekar (KTGM) yang telah terjalin dengan baik. KESIMPULAN Mengaktifkan dan membesarkan lembaga informasi masyarakat di perdesaan seperti halnya BIM ini memang tidak mudah. 12 No.Apalagi mengambil manfaat dari informasi yang terdapat di internet untuk memberdayakan diri mereka sendiri dimana diperlukan upaya pencarian.Oleh karena itu peran manajer sebagai pencari dana untuk membiayai operasionalnya sendiri Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 1 79 . Untuk mendorong masyarakat agar melek komputer saja sudah sulit karena komputer/internet merupakan teknologi baru yang tergolong canggih. pemahaman dan pemecahan masalah yang ada di masyarakat melalui diskusi dan kegiatan lainnya. Peran kelompok yang ada di masyarakat juga sangat penting sebab melalui kelompok ini FI akan terbantu dalam hal deseminasi.masyarakat dalam memanfaatkan BIM sekaligus memberdayakan masyarakat desa pada umumnya dan anggota kelompok pada khususnya.Kendala yang paling dominan ialah upaya memperkenalkan masyarakat perdesaan yang masih memiliki banyak keterbatasan dan masih cenderung menyukai komunikasi lisan. Bantuan dan bimbingan orang lain dalam hal ini sangat diperlukan karena selain materi yang ada di internet begitu luas dan beragam juga seringkali disajikan dalam bahasa asing. pemilahan dan pengolahan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA Alvin A. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Sunyoto.or. Arni. 2001. kuliah umum mahasiswa jurusan teknik informatika. Bandung : Humaniora Utama Press. Muhammad. Tim Partnerships for e-Prosperity for the Poor (Pe-PP). 2006. 1985. Soedjito.com 80  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.cihideung.id http://www. Aspek Sosial Budaya dalam Pembangunan Perdesaan. Jakarta : UI-Press. Jakarta : Bappenas. Hikmat. Goldberg & Carl E Larson. Sargent. Lebih lengkap lagi bila peran Dewan Pembina lebih diaktifkan untuk memfasilitasi dan mengarahkan setiap program dan kegiatan BIM agar lebih menyentuh kepentingan masyarakat sekitarnya. 2004. Communication of Innovations. Sumber lain : Kompas. Sosrodihardjo. Mumbai : Jaico Publishing House. How to Motivate People.blogspot. Floyd Shoemaker.UNDP. Proses-Proses Diskusi Dan Penerapannya. Yogyakarta : Tiara Wacana. Bandung 24 November 2006. Komunikasi Kelompok. Memberdayakan Masyarakat dengan Mendayagunakan Telecenter. Usman. Manajemen Sistem Informasi dan Teknologi Informasi. Everett M & F. Strategi Memberdayakan Masyarakat.com http://www. Djusan. Andrew. Indrajit. 1987. Bisnis Model Community Acces Point (CAP) Yang Ideal Bagi Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat. Rogers. Politeknik Pos Indonesia. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Surabaya : Usaha Nasional. 2000. Jakarta : Bumi Aksara. Harry. 12 No.juga tidak kalah pentingnya agar program yang telah tersusun secara baik tersebut dapat terealisir. 1 .ruangkeluarga. Jakarta : Elex Media Komputindo. 2000. Aizirman. Richardus Eko. diterjemahkan Abdillah Hanafi dengan judul Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Komunikasi Organisasi. 2007.mastel. Sabtu 25 Oktober 2008 http://www.

dan Wulan Suciska. Pendalaman data ditelusuri melalui metode wawancara dengan beberapa dosen PTN. 1 81 . (3) menerbitkan hasil ujian semester pada blog sang dosen.. FISIP Universitas Negeri Lampung. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. (2) menggunakan contoh-contoh dari “media-sharing website” untuk menjelaskan materi kelas.I. Pengajar Jurusan Komunikasi.0. Berdasarkan survei awal yang dilakukan pada situs-situs PTN di Indonesia didapati bahwa penggunaan ”social software” masih rendah. teknologi komunikasi.. S. S.Social Software Sebagai Media Komunikasi Dalam Proses Pengajaran Di Perguruan Tinggi Negeri Akhmad Riza Faizal* Wulan Suciska* Abstraksi Pesatnya perkembangan teknologi komunikasi seiring kemajuan teknologi Web menjadikan fenomena ini sangat menarik untuk dikaji dalam kacamata ilmu komunikasi. Kata kunci : social software. 12 No. Penggunaannya semakin terkenal bersamaan dengan munculnya teknologi Web 2. menunjukkan empati sang pengajar melalui situs jejaring sosial.Kom. ”Social software” dapat diartikan sebagai perangkat lunak yang dapat mendukung interaksi kelompok. terungkap beberapa praktek penggunaan ”social software” sebagai media komunikasi dalam proses pengajaran antara lain. (4) menyebarluaskan materi perkuliahan dengan menggunakan “file-sharing websites”. Hasilnya. Studi ini bertujuan untuk memberikan bukti empirik secara kualitatif dan mendukung contohcontoh penggunaan ”social software” sebagai media komunikasi dalam proses pengajaran pada beberapa perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia. (1) mendorong kemampuan menulis siswa dengan menggunakan blog.Sos. teknologi pendidikan PENDAHULUAN Latar Belakang Penggunaan social software sebagai bagian dari komunikasi dalam proses belajar-mengajar telah diteliti dan dilaporkan oleh * Akhmad Riza Faizal.

Setidaknya sesuai dengan karakter pendidikan di Indonesia. Untuk itu pembatasan lingkup penelitian dapat dianggap sebagai 82  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 2008. Virkus. Topper. 2007. dan Korea kemudian Indonesia (APJII. Bryant. Kondisi ini cukup ironis. 1 .... belum adanya data kuat tentang pemanfaatan social software sebagai media komunikasi pada pendidikan di Indonesia itu sendiri menjadikan dasar bahwa penelitian ini bisa dianggap sebagai studi perintis (pilot study). penelitian spesifik yang bisa menyajikan dasar terutama dalam kacamata ilmu komunikasi masih kurang. 2007.banyak ahli di negara-negara maju (Alexander. Jika topik ini dapat ditelaah lebih lanjut. karena munculnya berbagai teknologi web ini telah berdampak secara global dan penggunaan perangkat lunak ini pun sebenarnya cukup besar di Indonesia. Kirriemuir . PTN di Indonesia adalah gerbang terdepan (center of exellence) dalam hal pemanfaatan teknologi komunikasi dibandingkan pada beberapa institusi-institusi pendidikan lainnya seperti sekolah dasar atau sekolah kejuruan. diikuti Jepang. 2008). Namun.0 telah dirasakan beberapa tahun belakangan ini di Indonesia. informasi atau penelitian yang menulis tentang implementasi software ini di negaranegara berkembang masih tetap rendah bahkan tidak terlalu signifikan. G. Terutama mengenai pemanfaatan teknologi ini pada berbagai bidang. Peneliti mengkhususkan objek penelitian pada proses pengajaran di perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia dikarenakan. Penggunan internet di Indonesia telah mencapai 20 juta orang atau masuk kelompok pengguna besar di Asia setelah Cina (210 juta). 2007. Maxymuk. Eijkman. 2007. 2007. Kedua. salah satunya sebagai media komunikasi pada bidang pendidikan. 2008). Namun. 2007. India. Miners & Pascopella. Shim dkk. Sehingga diharapkan dapat dihasilkan teknologi lanjutan karya anak bangsa yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Namun. kondisi penggunaan perangkat lunak ini terutama dalam kaitannya dengan proses belajar-mengajar di Indonesia masih belum jelas sehingga perlu untuk ditelaah dan diteliti. 12 No. Franklin. 2. 2007. Munculnya fenomena teknologi Web 2. Argumentasi tersebut didasarkan pada dua hal : 1. pertama. Anderson. 2006. 2007. maka akan dapat diteliti pula bagaimana memanfaatkan teknologi ini sesuai dengan perkondisian Indonesia. 2007. Franklin. T.

Menyajikan informasi mengenai praktek-praktek penerapan social software sebagai suatu media komunikasi dalam proses belajarmengajar di Indonesia. Baik menggunakan pendekatan kuantitatif atau kualitatif untuk mencari dan mendesain penggunaan yang sesuai dengan pola pendidikan yang sudah diterapkan di Indonesia. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti mengajukan pertanyaan bagaimana penggunaan social software sebagai media komunikasi dalam proses pengajaran pada perguruan tinggi di Indonesia? Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan 1. Khususnya. Dengan menemukan beberapa contoh penggunaan dan menggunakan perangkat lunak ini pada sistem pendidikan di Indonesia. Artikel ini adalah bertujuan untuk menyajikan informasi mengenai praktek-praktek penerapan social software sebagai suatu media komunikasi dalam proses belajar-mengajar di Indonesia. pada penerapannya sebagai bagian dari sistem pendidikan yang digunakan oleh universitasuniversitas negeri di tanah air. Baik menggunakan pendekatan kuantitatif atau kualitatif untuk mencari dan mendesain penggunaan yang sesuai dengan pola pendidikan yang sudah diterapkan di Indonesia.generator bagi peneliti lain untuk meneliti pada bidang-bidang pendidikan yang searah (linear). 12 No. Signifikansi dari artikel ini terutama ditujukan untuk pendidik dan peneliti yang memiliki minat untuk menyelidiki lebih lanjut dan menerapkan teknologi web pada berbagai bidang. hal ini bisa menjadi acuan untuk penelitian berikutnya. 1 83 . Dengan menemukan beberapa contoh penggunaan dan menggunakan perangkat lunak ini pada sistem pendidikan di Indonesia. Mudah-mudahan. Khususnya. pada penerapannya sebagai bagian dari sistem pendidikan yang digunakan oleh universitas-universitas negeri di tanah air. hal ini bisa menjadi acuan untuk penelitian berikutnya. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. dengan minat yang sama kita dapat membangun jaringan pada topik ini.

Metode yang digunakan dalam memperoleh data kualitatif adalah studi kasus (case study). Sebagai validasi. Robson. untuk wawancara dilakukan kombinasi antara wawancara melalui email. dalam Robson. sebagaimana terefleksi dalam pertanyaan penelitian. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini terutama ditujukan untuk pendidik dan peneliti yang memiliki minat untuk menyelidiki lebih lanjut dan menerapkan teknologi web pada berbagai bidang. 1 . 12 No. untuk lebih memahami tentang kualitas penggunaan social software pada proses pengajaran di tingkat universitas maka dilakukan kombinasi pengamatan berupa survei pada situs-situs PTN Indonesia dan wawancara dengan beberapa dosen PTN yang telah menggunakan social software sebagai bagian media komunikasi dari proses pengajaran yang mereka lakukan. Memperkaya kajian ilmu komunikasi di Indonesia terutama mengenai penelitian pemanfaatan teknologi komunikasi. METODE PENELITIAN Fokus dari penelitian adalah memberikan penjelasan mengenai praktik-praktik penggunaan social software sebagai media komunikasi dalam proses pengajaran pada perguruan tinggi di Indonesia. 2002:178-179) menjelaskan bahwa metode studi kasus dalam penelitian kualitatif mengikutsertakan strategi investigasi secara empirik terhadap fenomena tertentu pada konteks kehidupan nyata (real life context). (1994.2. dengan mengutip pendapat Robert Yin. Pada teknik pengumpulan data. Proses pengumpulan dan analisa data dilakukan antara Juli hingga Desember 2008. dalam bidang pendidikan. maka data hasil wawancara telah diulang pada Februari 2009 untuk melihat apakah informan masih mengajukan jawaban yang sama pada pertanyaan yang sama. telepon dan tatap muka. dengan minat yang sama kita dapat membangun jaringan pada topik ini. dan social software pada khususnya. Mudah-mudahan. Hasil dari validasi kemudian digunakan untuk melengkapi hasil penelitian 84  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.

2006). "as We May Think". memungkinkan sindikasi informasi dan membantu personalisasi dari prioritas-prioritas yang dibuat pengguna. sebuah organisasi nirlaba di bidang pendidikan yang berbasis di Inggris. lalu pada perkembangan selanjutnya dari teknologi yang dapat mendukung kerja kolaboratif (collaborative technology) seperti ARPA.0. Licklider dan teknologi augmentation ( 1960-an). dapat mengumpulkan dan mengindeks informasi. Atribut-atribut tersebut antara lain. Futurelab. berbeda. berusaha untuk memperjelas konsep social software dengan menunjukkan beberapa atribut kunci dari social software dalam kaitannya dengan pendidikan. Dia mengaitkan keberadaan social software hingga kembali ke tahun 1940-an ketika Vannevar Bush menulis artikelnya yang terkenal. 2007).TINJAUAN KEPUSTAKAAN Sosial Software : Sebuah Tinjauan Istilah social software sebenarnya bukan merupakan sebuah aplikasi yang baru muncul walaupun akhir-akhir ini pengertiannya mengarah pada konteks penggunaan yang lebih pada konteks "kemanusiaan" dibandingkan konteks "teknologi" (Bryant. argumentasi bahwa social software sebuah konvergensi pemikiran dari domain jaringan sosial Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Patrick dan Dotsika (2006). dan konteks penerimanya (Futurelab. Groupware dan Computer-Supported Collaborative Work/CSCW (1980-an and 1990-an). 2006) tetapi sejarah teknologi ini mungkin akan berjalan dalam arah yang berbeda dengan perkembangan teknologi Web itu sendiri. Christopher Allen (2004) telah melakukan pekerjaan yang sangat bagus dalam menelusuri sejarah social software. office automation dan Electronic Information Exchange System/EIES (1970-an). 12 No. 1 85 . memungkinkan komunikasi antara banyak orang. menyediakan fasilitas untuk mengumpulkan dan berbagi informasi. menyediakan fasilitas untuk menyatukan pengetahuan (knowledge aggregation) dan menciptakan pengetahuan baru. Walaupun kemunculan social software dapat dikatakan hadir sebagai komponen utama dari fenomena Web 2. perangkat lunak ini menjembatani komunikasi antar kelompok.0 (Bryan. serta menyebarluaskan pengetahuan tersebut ke banyak platform yang sesuai dengan keinginan pencipta pengetahuan. Hal yang harus diingat adalah bahwa social software tidak sama pengertiannya dengan Web 2.

Sebaliknya Shim. 2005). dikaitkan dengan proses belajar mereka.. Wiki adalah salah satu platform menulis paling populer diantara platform social software lainnya (Alexander. 2006) dan keberadaaannya telah digunakan dalam berbagai cara dalam bidang 86  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. sedangkan Patrick & Dotsika lebih memahami social software sebagai variasi dari berbagai layanan Web. interaksi manusia-komputer (human-computer interaction/HCI) dan layanan web. 2007).0 ". dkk.0 (O'Reilly. teknologi podcast dapat digunakan untuk mendukung materi-materi yang diberikan di kelas sehingga siswa dapat lebih memahami konsep. dan aplikasi yang mungkin belum disampaikan di kelas. dibandingkan meminta pengguna untuk menyesuaikan diri dengan perangkat lunak tersebut. (Shim dkk. Futurelab melihat berbagai macam social software dalam kaitannya dengan teknologi pendidikan. Sosial Software Untuk Pendidikan Personalisasi merupakan salah satu aspek kunci dalam pengembangan social software saat ini dan selanjutnya. (2007) telah melakukan penelitian dengan menggunakan teori kekayaan-media (media richness theory) untuk menguji faktor yang memengaruhi siswa untuk menggunakan RSS podcast dan juga fitur yang sudah termasuk dalam teknologi ini. Shim. social software sebaliknya lebih berupaya agar bisa menyesuaikan dirinya dengan lingkungan pengguna sehingga pemanfaatannya lebih intuitif dan menarik pengguna untuk terus menggunakannya (Patrick & Dotsika. Mereka menemukan bahwa teknologi podcast telah memberikan banyak manfaat termasuk mudahnya siswa dalam memahami materi melalui teknologi baru ini dan tingkat efektivitas biaya dalam jangka panjang yang lebih baik. 2006).manusia. 1 . Teknologi ini kemudian lebih menonjol seiring dengan hadirnya model terkini dari teknologi web atau yang oleh O'Reilly disebut sebagai Web 2. Perubahan ini membalik arah teknologi informasi yang sebelumnya lebih ke arah menarik (pull) menjadi mendorong (push). teori. dkk. Wikipedia mencoba mendaftar kategori social software dari pendekatan fungsional. 12 No. Menurut mereka. implikasinya adalah aplikasi social software dapat ditemukan di sebagian besar dari teknologi Web "2. Meskipun begitu teknologi podcasting tidak dapat digunakan untuk mengganti model pengajaran kelas konvensional. menambahkan.

the Dictionary of American History dan American National Biography Online tentang kelengkapan dan keakuratan muatan artikel. vandalisme. Rector (2007) telah melakukan studi perbandingan antara artikel dari Wikipedia dan artikel dari Encyclopedia Britannica. masih ada beberapa keraguan dan perdebatan tentang kredibilitas dan konsistensi isinya. Pada tingkatan tertentu Wiki dapat digunakan sebagai suatu refleksi terutama bila berkaitan dengan tingkat literasi informasi (information literacy) para siswa. Contoh penggunaan wiki itu yaitu sebagai sebuah situs sebuah mata pelajaran yang diajarkan di sekolah di mana siswa dapat mempresentasikan hasil belajar mereka.. Socialtext. Literasi informasi merupakan salah satu keterampilan literasi baru (Miners dan Pascopella.pendidikan. 2007). Rector menilai bahwa tingkat akurasi Wikipedia berkisar 80 persen dibandingkan dengan tingkat akurasi sumber-sumber lain yang mencapai 95-96 persen. Dengan memungkinkan kerja kolaborasi ini Wiki tidak hanya menyediakan media dalam proses belajar-mengajar melainkan juga mendorong baik siswa dan guru agar aktif berdasarkan kemampuan mereka sendiri dalam menulis (Bryant. Diskursus tersebut muncul karena muatan dari social software itu sendiri yang rentan terhadap suntingan tidak bertanggungjawab. Kajian ini Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. G. siswa dan guru dapat dengan cepat dan mudah menjelajahi wilayah pengetahuan yang sedang dibahas dan mengembangkan struktur informasi sebanyak yang mereka perlukan. Selain itu Wiki dapat dipergunakan untuk mengumpulkan dan menyimpan data yang berkaitan dengan proses belajar-mengajar di kelas. Dengan menggunakan Wiki. Dia mengungkapkan ketidakakuratan dalam delapan dari sembilan masukan (entries) dan memiliki cacat keakuratan yang besar dalam setidaknya dua dari sembilan artikel Wikipedia. dan TWiki telah terbukti sangat berguna untuk menjadi media komunikasi dalam pendidikan. GoogleDocs. dan sabotase oleh kelompok-kelompok tertentu ( Stvilia dkk. (2007) menyoroti alat seperti Wiki menawarkan cara-cara baru untuk terlibat dan berkomunikasi dengan para siswa. 2007) yang dianggap sebagai suatu standar keterampilan abad ke-21 di samping literasi media (media literacy) dan literasi ICT (ICT literacy). Franklin. Futurelab. 2006). 12 No. 2007. bahkan termasuk gurunya sendiri. Secara keseluruhan. 2005 dalam Anderson. 1 87 . Meskipun beberapa perangkat lunak dengan akses-terbuka (open access software) seperti Wikipedia.

Dengan menggunakan model adopsi teknologi (Technology Adoption 88  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. penguna dapat membuka dan mengakses halaman situs yang sama tanpa perlu mencarinya kembali lewat mesin pencari (search engine). Contoh kegiatan yang menggunakan blog untuk tujuan pendidikan antara lain guru dapat menggunakan blog untuk sebagai media pengumuman. berita dan umpan balik ke mahasiswa dan dalam penggunaanya dapat digabungkan dengan teknologi sindikasi (RSS feed) yang memungkinkan kelompok peserta didik dengan mudah melacak tulisan (posting) yang baru (Franklin. Platform social software lainnya adalah social bookmark.mendukung klaim bahwa Wikipedia kurang dapat diandalkan dibandingkan sumber-sumber referensi lainnya. platform social software yang menyediakan wadah untuk menulis adalah weblog (blogs) dan mungkin adalah perangkat lunak yang paling banyak digunakan dalam praktek pendidikan (Bryant. Adopsi Internet di Indonesia Jumlah pengguna internet di Indonesia telah meningkat pesat lebih dari 1. 12 No. dan Kristiansen. yaitu fasilitas di internet yang dapat digunakan untuk menandai (bookmark) atau memberikan label (tagging) dari halaman situs yang ingin disimpan. 2007). Walaupun cukup mencengangkan dalam segi kuantitas tingkat pertumbuhan tetapi mengingat jumlah penduduknya yang sudah 238 juta jiwa. 1 . T. 2008). Dengan fasilitas ini. Selain Wiki.150% dari 2 juta pengguna di tahun 2000 menjadi 25 juta pengguna pada kuartal kedua 2008 (Internet World Statistic. Dengan menggunakan fitur RSS atau tag. 2007). (Internet World Statistic. 2008).5% dari total penduduk. 2004 dalam Wahid. 2007). Bryant (2007) menekankan bahwa social bookmark ideal dan cocok untuk digunakan sebagai bagian dari proses belajar-mengajar di ruang kelas dengan memungkinkan sekelompok siswa untuk membangun berbagai jenis struktur informasi untuk topik tertentu. Furuholt.. guru dan siswa juga dapat menggunakan situs-situs seperti Technorati dan IceRocket untuk mencari blog tertentu berkaitan dengan subjek pelajaran. kepadatan pengguna internet di Indonesia hanyalah 10. Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2004 menemukan bahwa dua pertiga dari pengguna internet di Indonesia mengakses internet melalui warung internet (warnet) dan 68% dari pengguna warung internet adalah lakilaki (Wahid.

200 institusi pendidikan tinggi. perguruan tinggi. berbelanja. Studinya menemukan bahwa adopsi internet di kalangan laki-laki lebih dipengaruhi oleh persepsi dari kegunaan internet dibandingkan persepsi kemudahan penggunaannya. Proporsi perempuan yang menggunakan internet untuk berbincang (chatting) dan aktivitas yang berkaitan dengan proses belajar lebih besar dari laki-laki. hiburan. Untuk mendapatkan landasan data yang kuat sehingga dapat dipergunakan untuk menyelidiki lebih dalam mengenai perilaku penggunaan social software di tingkat universitas maka langkah awal yang peneliti lakukan adalah mengumpulkan data mengenai penggunaan social software sebagai bagian dari infrastrukstur-maya (cyberinfrastructure) dari PTN-PTN di Indonesia. termasuk lembaga. dan mengunjungi situs porno lebih besar dari perempuan. 2004). peneliti mengambil kategori social software berdasarkan daftar yang dibuat oleh Wikipedia. Oleh karena itu survei yang sederhana dilakukan untuk melihat seberapa banyak dari situssitus PTN tersebut yang telah memasukkan setidaknya satu dari banyak platform social software di situs mereka. dan akademi di seluruh Indonesia (DIKTI.Model /TAM) Wahid (2007) meneliti perbedaan adopsi internet di antara laki-laki dan perempuan di Indonesia. Biaya akses internet yang tinggi. Studi itu juga menujukkan bahwa laki-laki menujukkan fleksibelitas tempat akses internet yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Sebaliknya. proporsi laki-laki yang menggunakan internet untuk membaca berita online. daftar kategori yang dimuat Wikipedia menggunakan istilah yang sudah dikenal oleh Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Penggunaan Social Software Pada PTN-PTN di Indonesia Di tahun 2004 telah terdapat 46 PTN dan lebih dari 2. pengujian dan download software. Untuk definisi operasional. Peneliti menggunakan daftar yang ada di Wikipedia dikarenakan dua alasan. rendahnya kecepatan akses internet dan kurangnya kemampuan berbahasa Inggris diidentifikasi menjadi kendala paling besar dalam adopsi internet di Indonesia. Wahid memberikan kesimpulan umum bahwa tingkat adopsi internet di Indonesia pada kalangan wanita lebih rendah daripada lakilaki. fenomena sebaliknya ditemui dalam adopsi internet oleh perempuan. mencari lowongan pekerjaan. 1 89 . pertama. 12 No. Namun.

Hasil dari survei sederhana sebagaimana ditunjukkan oleh Diagram 1. 2 tanggapan dari PTN dengan skor tinggi yaitu Universitas Padjadjaran dan Universitas Lampung. dan 5-6 (skor tinggi). 90  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Di mana dokumen-dokumen visual perkuliahan dapat disimpan dan terbuka untuk umum.unpad. dan 2 dari PTN dengan skor rendah yaitu Universitas Sriwijaya dan Universitas Jenderal Soedirman. Skor tersebut didistribusikan sebagai 1-2 (skor rendah). menengah dan rendah untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. 3 laki-laki dan 1 perempuan. 3 undangan untuk masing-masing tingkat skor PTN dengan skor tinggi. Kemudian proses wawancara dilakukan antara Juli hingga Oktober 2008 terhadap 4 responden. Situs ini merupakan suatu terobosan terdepan diantara situs-situs resmi PTN di Indonesia bahkan di tingkat Asia Tenggara dalam melaksanakan pendidikan berbasis teknologi web. penggunaan kategorikategori yang dibuat dimiliki oleh Wikipedia adalah untuk menghindari ambiguisitas dari penggunaan label social software itu sendiri. 3-4 (skor sedang). Asumsi di balik pengikutsertaan ini adalah bahwa melihat perkembangan teknologi yang pesat membuat kebutuhan atas social software berada pada tingkatan yang sama dengan keberadaan perpustakaan digital. terdapat satu hal yang sangat positif pada situs Universitas Paddjajaran yang telah menciptakan sebuah media-sharing websites (http://video. Diantara platform lainnya. Berdasarkan data awal seperti terlihat pada diagaram 1 peneliti kemudian memberikan skor penggunaan social software oleh PTN. Sebagai perbandingan keberadaan infrastruktur-maya di bidang pendidikan. 9 undangan kemudian didistribusikan ke 9 PTN berdasarkan penggunaan social software di situs mereka. menunjukkan bahwa keberadaan e-Learning dan perpustakaan digital berdiri di persentase tertinggi di antara aplikasi dan perangkat lunak lainnya (50%). 1 . peneliti hanya menerima tanggapan dari 4 perguruan tinggi. Walaupun demikian.pengguna social software secara umum. peneliti juga menghitung keberadaan perpustakaan digital (digital library) pada situs-situs PTN tersebut. Persentase penggunaan dapat dikatakan tidak cukup signifikan berdasarkan kuantitas terutama jika kita mengingat bahwa aplikasi Web 2. Dari 9 undangan.ac. peneliti menemukan dari 18 kategori social software di Wikipedia hanya 5 yang digunakan dalam situs-situs diamati termasuk e-Learning. 12 No.id/). Kedua.0 telah dikenal di seluruh dunia setidaknya sejak 2004.

Responden pada penelitian ini mempunyai kriteria sebagai tenaga pengajar tetap pada universitas yang bersangkutan. Diagram 1 Penggunaan Social Software Pada Website PTN Di Indonesia (Per Juli 2008) Tehnik wawancara dipilih sebagai teknik pengumpulan data dikarenakan waktu penelitian yang dilakukan selama masa liburan perkuliahan dan awal tahun ajaran 2008/2009 sehingga sulit bagi peneliti untuk melakukan pengamatan lapangan terhadap responden di lingkungan mereka sebenarnya.dengan rentang usia responden antara 26 hingga 38 tahun. Fokus utama dalam wawancara adalah mencari data mengenai aktivitas dan pengalaman para responden berkaitan dengan penggunaan social software dan proses pengajaran yang mereka lakukan. Selain itu. berpendidikan sekurangkurangnya S2 dan telah mempunyai pengalaman menggunakan social software. 1 91 . karakteristik responden lain yang muncul kemudian adalah responden telah mempunyai pengalaman mengajar antara 3 sampai 6 tahun. PEMBAHASAN Keberadaan fasilitas internet memang memengaruhi penggunaan internet di antara para informan. 12 No. penelitian ini bersifat independen atau tidak didanai oleh siapapun sehingga peneliti berusaha menekan biaya pengeluaran seminimal mungkin. 3 dari mereka mengatakan bahwa fasilitas wifi yang disediakan oleh pihak Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.

Sedangkan informan lainnya mengatakan bahwa mereka belajar bagaimana menggunakan internet dan social software secara otodidak. Alasan utama mereka memilih untuk mengakses internet dari universitas dikarenakan fasilitas tersebut gratis. Blogspot untuk weblog. Mengenai asal mulanya mereka belajar internet seorang informan mengatakan bahwa seorang teman yang mengajarkan kepada dia bagaimana cara menggunakan internet. Hal ini dikarenakan penelitian ini lebih melihat pada aspek kualitatif dari penggunaan internet di Indonesia terlebih pada karakteristik informan yang spesifik sekali. Dari wawancara. 2007) bahwa sebagian besar pengguna internet di Indonesia mendapat akses mereka dari warung internet. data di atas mendukung penelitian yang terdahulu oleh Wahid. Popularitas adalah motif utama mengapa mereka menggunakan social software sementara ada juga beberapa yang berpendapat hal ini sebagai usaha mereka untuk lebih dekat dengan perkembangan teknologi terbaru. 12 No. Furuholt. Dengan alasan tersebut maka mudah dimengerti ketika para informan ditanya mengenai social software apa sajakah yang mereka gunakan. peneliti menemukan bahwa penggunaan social software telah dilakukan oleh para informan sebagai media komunikasi dari proses pengajaran di kelas. Salah seorang informan mengatakan bahwa dia baru saja mulai mengakrabkan diri dengan penggunaan social software sekitar setahun belakangan dan menurutnya sangat melelahkan untuk terus menerus beradaptasi dengan versi-versi terbaru dari social software. Untuk platform lainnya mereka akui bahwa mereka mengetahui aplikasi tersebut tetapi tidak pernah menggunakannya. Hanya seorang informan yang menggunakan sambungan dial-up (modem) untuk mengakses internet dikarenakan tidak adanya fasilitas wifi di fakultasnya. dan Friendster. kemudian YouTube untuk media-sharing website. Tempat kedua para informan mengakses internet setelah universitas adalah di warung internet (warnet) dengan intensitas antara 1 sampai 6 jam per minggu. 92  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. dan Wikipedia. dan Kristiansen (2004 dalam Wahid.universitas memang meningkatkan waktu mereka mengakses internet (online) antara 6 hingga 12 jam per minggu. Sekalipun demikian. kesemuanya menjawab dari social software yang paling populer seperti situs-situs jejaring sosial yaitu Facebook. Multiply. 1 . Temuan ini mungkin tidak mendukung penelitian sebelumnya tentang adopsi internet di Indonesia oleh Wahid (2007).

b. Belajar tidak selalu tentang hasil akhir. meng-upload. mereka juga harus dimotivasi dan didorong untuk mengemukakan pendapatnya tentang fenomena sosial di dunia nyata. memberikan tanda bendera (flagging). mencari (searching). peneliti menemukan beberapa model kegiatan. 23 mahasiswa kemudian memiliki blog mereka pribadi. berkaitan dengan penggunaan social software sebagai media komunikasi dalam proses pengajaran.Beberapa perilaku dasar dari penggunaan internet seperti mengunduh (download). Namun. dan menonton adalah aktivitas yang paling banyak informan-informan tersebut lakukan dengan menggunakan social software. Ia menugaskan mahasiswanya untuk menempatkan tulisan-tulisan mereka dalam blog yang sudah dipersiapkan oleh sang dosen. Salah satu kegiatan yang dapat membawa mahasiswa untuk belajar bagaimana mengekspresikan pemikiran mereka adalah dengan menulis artikel. Dari 40 mahasiswa yang berpartisipasi dalam matakuliah komunikasi politiknya. a. melabel (tagging). Menggunakan contoh dari media-sharing website untuk menjelaskan materi kelas. menjelajah (browsing). 1 93 . Setelah itu dia memilih beberapa artikel terbaik sebagai komponen dalam ujian semester. membaca. dan mengikutsertakan (embedding) adalah fasilitas-fasilitas yang paling sedikit digunakan oleh para informan. 12 No. Temuan ini menarik dikarenakan sesungguhnya fasilitas-fasilitas yang paling sedikit digunakan itulah yang membuat social software begitu terkenal penggunaannya. Sementara fitur fitur social software seperti berbagi (sharing). komentar (commenting). terutama bagi mahasiswa ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Ada banyak subjek studi yang kadang-kadang membuat mahasiswa benar-benar harus berusaha keras untuk bisa Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Mendorong kemampuan menulis mahasiswa dengan menggunakan blog. Seorang informan berusaha untuk menggabungkan apresiasi mahasiswa di kelasnya dengan kesukaan mereka untuk menulis di blog. antara lain. Mudahnya penggunaan dan banyaknya pilihan platform membuat blog tidak hanya cocok sebagai media untuk membantu mahasiswa dalam proses belajar mereka tetapi juga media bagi sang dosen untuk mengekspresikan pemikiran mereka mengenai bahan kuliah yang diajarkannya.

Seorang informan memberikan alasan bahwa dia memilih untuk menggunakan blog dalam menyebarluaskan materi kuliahnya dikarenakan dengan memanfaatkan media komunikasi tersebut lebih mudah baginya untuk menjangkau mahasiswamahasiswanya. Sebelumnya ia kesulitan memberikan contoh video PSA dikarenakan hak cipta dan keterbatasan anggaran untuk kegiatan pengajaran di universitasnya. 94  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Bagi informan. Informan lain juga merasakan bahwa mahasiswanya terlihat lebih aktif dalam mencari bahan perkuliahan dan lebih bisa mengingatnya. Dengan menggunakan media-sharing website seperti YouTube. 1 . Ketika mereka ditanya apakah mereka telah menggunakan perangkat lunak sosial untuk membantu aktivitas mereka mengajar dan untuk alasan apa. Fasilitas yang menonjol dari file-sharing website seperti Megaupload. Menyebarluaskan materi perkuliahan dengan menggunakan file-sharing websites. dia memberikan kepada mahasiswa waktu yang lebih leluasa untuk mengakses materi kuliah di luar kelas atau membaca bahan ujian atau nilai tanpa harus kuatir tercampur dengan jam belajar mereka di kampus. Sang informan mengatakan bahwa dia menggunakan video contoh iklan layanan masyarakat (Public Service Adds/PSA) yang ia temukan dari YouTube di dalam kelas Social Marketing-nya. Menerbitkan hasil ujian semester pada blog sang dosen. d. Dia juga berpendapat bahwa dengan menggunakan blog. situs seperti ini membantu mereka untuk menyebarluaskan materi perkuliahan dan menyediakannya secara online sepanjang waktu sehingga bisa diakses mahasiswanya kapan saja dan dimana saja. c. Rapidshare dan Slideshare adalah kemampuannya untuk menyimpan dokumen-dokumen digital secara gratis ataupun mengunduh dokumen-dokumen lainnya. Semua informan mengakui mereka adalah pengguna YouTube tetapi hanya seorang informan yang telah menggunakan YouTube sebagai bagian dari proses pengajarannya.memahaminya. sebagian besar dari mereka mengakui bahwa mereka telah menggunakan sekurang-kurangnya memublikasikan nilai ujian kelas dan juga bahan kuliah di blog mereka. 12 No. ia dapat membantu mahasiswanya untuk memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai fenomena sosial yang sedang dibahas dikelasnya. kecuali jika sang dosen membantu mereka dengan visualisasi contoh.

" Secara umum di lingkungan fakultas saya memang belum banyak yang paham. Peneliti menemukan fakta menarik yang berkaitan dengan penggunaan social software. Seorang informan berkata bahwa ia pernah memberikan tugas di kelasnya dengan menggunakan blog dan meminta mahasiswanya untuk mengirim jawaban mereka melalui email kepadanya. Seperti yang dikatakan seorang informan. Seorang informan menyebutkan bahwa sejak ia bergabung di tahun 2005 sebagai anggota salah satu situs jejaring sosial yang populer. Dengan menyetujui undangan mahasiswanya untuk menjadi teman-teman mereka. dia menerima protes dari salah seorang mahasiswa karena hal tersebut menyebabkan sang mahasiswa menghabiskan lebih banyak uang dan waktu untuk mengakses internet di warnet. 1 95 . Meskipun pihak fakultas telah memfasilitasinya. terutama yang populer. ia bertemu dengan mahasiswanya lebih sering dibandingkan dia bertemu dengan rekan-rekannya seprofesi. "(Informan 2). Diluar hambatan Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. seperti menjadi anggota situs jejaring sosial. Mahasiswa-mahasiswa tersebut kadang bertanya kepadanya mengenai jadwal kelas. Kemudian. ia merasa lebih dekat dengan anak-anak didiknya atau anak didiknya pun lebih terbuka kepadanya. 12 No. dan ingin berbicara 'dari hati ke hati' dengannya.e. Tantangan tidak hanya datang dari mahasiswa tetapi juga dari rekan-rekan informan lainnya yang tidak menggunakan teknologi tersebut karena banyak faktor. Karena pada dasarnya ketidaktahuan mereka hanyalah pada kurangnya keinginan mereka untuk belajar. f. terutama karena sudah berumur/senior dan biaya yang mesti dikeluarkan. Beberapa Tantangan Dalam Penerapan Social Software Meskipun penggunaan social software sudah terbukti membantu dan dapat berperan sebagai media komunikasi dalam proses pengajaran tetapi dalam penyebarluasannya masih menemui banyak tantangan. Tantangan tersebut terutama datang dari pihakpihak yang belum dirangkul oleh teknologi ini. Menunjukkan empati sang pengajar melalui situs jejaring sosial. pada saat itu memang belum ada akses internet gratis di universitas sang informan. Dua orang informan menyatakan dengan bergabung pada situs jejaring sosial tersebut mereka merasa lebih dekat dengan anak didiknya dibandingkan sebelum menggunakannya.

Salah seorang informan mengatakan bahwa dia mengalami hambatan dalam menggunakan beberapa social software dikarenakan kurangnya pemahaman dia tentang penggunaan perangkat lunak itu sendiri. Diunduh pada tanggal 24 Oktober 2008. dari Indonesia Ministry of National Education official website: 96  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. mendorong kemampuan menulis siswa dengan menggunakan blog. seperti pengetahuan mereka tentang perangkat lunak dan bagaimana menggunakannya. 1 .di atas. Keempat. H. dapat menunjukkan empati sang pengajar melalui situs jejaring sosial kepada mahasiswa. Survei awal ini menemukan bahwa penggunaan social software oleh PTN-PTN di Indonesia masih rendah. Temuan selanjutnya bahwa. 2. dosen menerbitkan hasil ujian semester pada blog dan menyebarluaskan materi perkuliahan dengan menggunakan file-sharing websites. Kedua. 2002. KESIMPULAN 1. Social software sebagai suatu media komunikasi dalam proses belajar-mengajar di Indonesia sudah diterapkan oleh sebagian sistem pendidikan di universitas-universitas negeri di tanah air. studi tentang pemanfaatannya di negara-negara berkembang masih rendah termasuk di Indonesia. Hadirnya social software atau juga dikenal sebagai social media telah memengaruhi berbagai aspek kegiatan manusia saat ini. ICT and Education in Indonesia. 3. model praktek-praktek penggunaan social software sebagai media komunikasi dalam proses pengajaran adalah : pertama. Walaupun berbagai studi tentang penggunaan teknologi web ini dalam dunia pendidikan telah dilakukan di banyak negara maju. 12 No. Ketiga. dosen menggunakan contoh-contoh dari media-sharing website untuk menjelaskan materi kelas. Meskipun sebagian besar social software yang populer saat ini sangat mudah digunakan dan lebih intuitif. tantangan mungkin datang dari diri mereka sendiri. DAFTAR PUSTAKA Yuhetty.

Wiki anyone? Reflections on an information literacy class wiki. 1 97 . Franklin. Web 2. 2006.ht ml DIKTI.0 for Content for Learning and Teaching in Higher Education.pdf Allen. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Design Patterns and Business Models for the Next Generation of Software. pp. technologies and implications for education. a. pp. Anderson. VINE: The Journal of Information and Knowledge Management Systems . Journal of information literacy . Opening Education. Web 2. Diunduh pada tanggal 6 Oktober 2008. 2007. M. Tracing the Evolution of Social Software. What Is Web 2.com/pub/a/oreilly/tim/news/2005/09/3 0/what-is-web-20. Emerging Trends in Social Software for Education. Alexander. Strategi Pendidikan Tinggi Jangka Panjang 2003-2010. & Harmelen.0. Farkas. A New Wave of Innovation for Teaching and Learning? Educause Review . F. P. O'Reilly.http://eprints. T. 2006. L. G. Statistik APJII. 12 No. December. October 13). M.lifewithalacrity. 33-44. Jakarta: DIKTI. APJII. G. March/April. Futurelab. dari Life With Alacrity: http://www. 2004. UK: Franklin Consulting. UK: JISC Technology and Standards Watch.php?lang=ind Bryant. Franklin. and community online.id/dokumentasi/statistik. v.or. 2007. Diunduh pada tanggal 12 Juni 2008.. Medford. 2007. 2007.com/2004/10/tracing_the_evo.oreillynet. T. 2006. 2005. 2007. Emerging Technologies for Learning . (2004. 2007. communication.org/archive/00007507/01/Indonesia-ICTpaper.0. 1 (3). 406-422. B. Social software in libraries: building collaboration. UK: Futurelab. Social Software and Learning. September 30. 8-20.apjii. 2. London. What is Web 2. dari O'Reilly: http://www. Towards The New Generation of Web Knowledge.0? Ideas. C. NJ: Information Today Inc. Diunduh pada tanggal 12 Juni 2008. 36 (4).rclis.html Dotsika. dari APJII: http://www.

2008. Shim.checkpointelearning. 26-34. Seegmüller. S. Whose Space? The Bottom Line: Managing Library Finances . and delivery.org/wiki/List_of_social_software 98  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No.Kirriemuir. 2007. 2007. Wikipedia. Industrial Management & Data Sytems . Topper. Behaviours. London: Ofcomm Media. 2008. H.htm Virkus. August. Use of Web 2. Electronic Library and Information Systems . 2008. 2008.internetworldstats. 2008. Wahid. J.. and Use. Miners. Reference Services Review .0 as a Non-foundational Network-centric Learning Space. New Library World . The New Literacies. EJISDC .wikipedia. & Pascopella. Eijkman. Internet Usage in Asia. The Second Life of UK Academics. pp. 1-8.. J. What's New In Libraries. Estonia. 107 (4). communication. W.. I.html Stats. breadth. Bits & Bytes. Diunduh pada tanggal 12 Oktober 2008.0 technologies in LIS education: experiences at Tallinn University.. Social Networking: A Quantitative and Qualitative Research Report Into Attitudes. Harris. 25 (2). Podcasting for e-learning. Web 2. K. J. Ofcomm. 2008. & Campbell. District Administration . August. Shropshire. Z. 108 (7/8). 2008. F. 97-100.com/article/5813. Maxymuk. Ariadne (53).com/stats3. 378-380. 2007. H. 93-104. N. October. Rector. Using the Technology Adoption Model to Analyze Internet Adoption and Use Among Men and Women in Indonesia. Diunduh pada tanggal 8 Oktober 2008. dari Wikipedia: http://en. Comparison of Wikipedia and other encyclopedias for accuracy. October. October 8. 20 (2). F. dari Check Point e-Learning: http://www. E. A. H. Can Social Software Change Teaching and Learning? Diunduh pada tanggal 10 Oktober 2008. 2007. List of Social Software. S. Social Networking In Libraries. 1 . J. Campus-Wide Information Systems . and depth in historical articles. 2007. 7-22. 587-600.. from Internet World Stats: http://www. 2007. 262-274. 36 (1). L. 32 (6). Park.

Kata kunci: CAP. dan tidak satu bidang kehidupan/sektor pembangunan nasional yang tidak memerlukan penggunaan TIK. yang ditempatkan dan dikelola oleh unit Bisnis Kantor Pos setempat. Bahkan maju tidaknya suatu negara ditentukan oleh penguasaan TIK oleh masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tentang motivasi pengguna Warmasif dalam pemenuhan kebutuhan bermedia bagi masyarakat 7 (tujuh) kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat. PENDAHULUAN Latar Belakang Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) merupakan salah satu pilar utama pembangunan bangsa saat ini. Keberadaannya penting dalam mempercepat tercapainya masyarakat informasi yang ditargetkan tahun 2015 tercapai. Hasil penelitian menunjukan bahwa keberadaan Warmasif untuk pemenuhan kebutuhan informasi dan komunikasi kurang optimal dimanfaatkan sesuai dengan tujuan dan sasarannya. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.. kebutuhan bermedia.MOTIVASI PENGGUNA WARUNG MASYARAKAT INFORMASI DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN BERMEDIA DI PROVINSI JAWA BARAT Syarif Budhirianto* Abstraksi Warung Masyarakat Informasi (Warmasif) merupakan model pengembangan Community Access Point (CAP). sementara pemenuhan kebutuhan hiburan dinilai cukup tinggi pemanfaatannya. Syarif Budhirianto adalah peneliti muda di Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika(BP2KI) Bandung. 12 No. segala aktivitas informasi dan komunikasi dapat berjalan dengan cepat tanpa ada hambatan batas-batas suatu negara. interaksi sosial/komunikasi melalui fasilitas teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kepada masyarakat. Dengan penguasaan teknologi tersebut. 1 99 . * Drs. Warmasif. yakni dengan melakukan akses informasi.

Jordan .2007:25) . CAP sebagai wahana multiguna untuk pengembangan masyarakat sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. serta mengurangi kesenjangan digital/digital device (Infomobilitas. Salah satu fasilitas yang sudah dilakukan adalah dengan pemberdayaan telematika dan pemerataan infrastruktur informasi . Salah satu tujuannya adalah mempercepat dan menunjang tumbuh dan berkembangnya usaha pertanian. Warung Masyarakat Informasi (Warmasif). maka pemerintah memberikan fasilitas teknologi informasi dan telematika (TIK) kepada masyarakat. CAP merupakan fasilitas yang diberikan kepada masyarakat di bidang TIK. Community Learning Centre. komunitas sekolah atau kampus yang didukung dengan fasilitas internet. India dan lain-lain. Saat ini keterlibatan masyarakat lebih banyak difasilitasi oleh sejumlah inisiatif penyediaan TIK yang berorientasi bisnis. China. Dengan demikian masyarakat dapat memanfaatkan informasi secara optimal melalui sarana CAP. seperti Peru. Salah satu model pengembangan CAP hasil kerja sama Ditjen Aplikasi Telematika cq Dit. Telecenter. Keterlibatan masyarakat dalam pemberdayaannya harus mampu mendorong upaya mewujudkan masyarakat informasi dalam menciptakan peluangpeluang digital.Untuk terwujudnya masyarakat informasi yang efektif dan efisien dalam meningkatkan kesejahteraan. seperti memfasilitasi pembangunan Community Access Point (CAP) di berbagai daerah di Indonesia. dan lain-lain. diantaranya mengetahui hargaharga pasar dari produk pertanian atau perikanan. misalnya wartel atau warnet. Di Indonesia tempat-tempat sejenis ini tumbuh dengan beragam nama. usaha kelautan dan perdagangan komoditi unggulan melalui e-commerce atau e-UKM yang terdapat di wilayah setempat (Studi Pemberdayaan CAP. sehingga mereka dapat mengenal lebih jauh tentang manfaat dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia di bidang teknologi informasi dan komunikasi. 1 . diantaranya Balai Informasi Masyarakat (BIM). E-Business dengan Kanwil Pos setempat dan Pemerintah Daerah setempat adalah Warmasif. jenis CAP sudah dilakukan dengan baik. Community Training and Learning Center (CTLC). 12 No.2007 :20). Warung Informasi Teknologi (WARINTEK). Namun 100  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Di negara berkembang lainnya. sehingga seorang petani dapat memperkirakan harga yang sesuai untuk hasil produksinya dan dapat belajar mengenai cara mengolah hasil tani.

Kota Bandung. 12 No. 2. Kab.dengan tidak bermaksud menutupi fakta. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. lebih transparan dan membuka peluang setiap anggota masyarakat dalam memanfaatkan TIK.Upaya dalam pembangunan Warmasif memang bukan hal yang mudah dilakukan. Garut. Tuntutannya bukan saja agar masyarakat mendapatkan akses terhadap informasi. melainkan juga tatanan kehidupan masyarakat itu. Karawang. maka masalah penelitian ini adalah bagaimana motivasi pengguna Warmasif dalam memenuhi kebutuhan bermedia di Provinsi Jawa Barat? Identifikasinya adalah : 1. ada juga CAP yang dibangun dan menuai kegagalan memberikan manfaat ekonomis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan. dan Kab. Keberadaan 7 (tujuh) Warmasif yang berlokasi di Provinsi Jawa Barat (Kota Bekasi. Kab. Kuningan. 1 101 .Purwakarta) yang berdiri awal tahun 2007 perkembangannya belum memenuhi harapan sesuai dengan tujuan dan sasarannya. Tujuan 1. Bagaimana motivasi pengguna dalam pemenuhan kebutuhan hiburannya 3. baik sosial. Kota Tasikmalaya. sikap dan perilaku yang melandasi kearifan budaya lokal merupakan sesuatu yang penting dan strategis. perubahan budaya. Bagaimana motivasi pengguna dalam pemenuhan kebutuhan komunikasi (interaksi sosial). budaya dan ekonomi juga memerlukan dukungan agar menjadi lebih baik. Dari kasus-kasus gagal inilah masyarakat pada umumnya menganggap bahwa strategi peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan TIK tidak tepat sasaran. Bagaimana motivasi pengguna dalam mengakses fasilitas-fasilitas di Warmasif dalam pemenuhan kebutuhan informasinya. Selain itu dapat bermanfaat untuk membantu mengatasi masalah kehidupan masyarakat dengan tidak mengabaikan faktor manusia. Kab. Masalah Berdasarkan latar belakang. karena diperlukan upaya dan pemahaman yang cukup mendalam. Untuk mengetahui pemanfaatan warmasif oleh pengguna dalam pemenuhan kebutuhan informasi.

hiburan dan integrasi sosial. interaksi sosial. menurut Katz dalam Marshall (2000). Untuk mengetahui motivasi pengguna dalam pemenuhan kebutuhan berkomunikasi (interaksi sosial). Manfaat 1. Lebih lanjut menurut Katz.2. Melalui peningkatan fungsi. . 1 . 102  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Berkaitan dengan motif manusia yang menggunakan media internet. integrative personal. beberapa kategori kebutuhan individu yang semuanya berasal dari fungsi sosial dan psikologi dari media diantaranya kebutuhan kognitif. dan kebutuhan akan pelarian. 2. 3. motif merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak. 12 No. bahwa untuk memenuhi kebutuhan bermedia . peran dan pemanfaatan secara optimal berguna bagi masyarakat untuk mendukung upaya mempercepat tercapainya masyarakat informasi Indonesia yang ditargetkan tahun 2015. Menurut Gerungan (1983: 25). Berguna bagi pengelola Warmasif dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. setiap individu dapat mencapainya dengan cara pemenuhan kebutuhan yang didapatkan dengan cara mengakses/menggunakan media yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhannya itu. alasan-alasan. Kerangka Pemikiran Motivasi dan Kebutuhan Media Kebutuhan manusia yang berkaitan dengan media menurut McQuail dalam Lull (1998:120) meliputi kebutuhan akan informasi. 3. atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu “. hal ini didasarkan pada suatu kebutuhan tertentu. afektif. Untuk mengetahui motivasi pengguna dalam mengakses fasilitasfasilitas dalam pemenuhan kebutuhan hiburan dan komunikasi/interaksi sosialnya. Bermanfaat bagi Ditjen Aplikasi dan Telematika Departemen Komunikasi dan Informatika dalam rangka penyusunan program. strategi dan kebijakan pemberdayaan Warmasif sebagai sarana pemenuhan kebutuhan informasi sesuai dengan sasaran dan tujuannya.

dapatlah diambil suatu modifikasi tentang macam-macam kebutuhan yang menjadi dasar motivasi para pengguna media internet ke dalam empat bagian yang mencakup fenomena penggunaan media internet dan www.Media internet merupakan salah satu media massa yang pada pemunculannya bisa disebut membuat revolusi tersendiri baik untuk dunia komputer maupun pada dunia media massa. teori ini menunjukan bahwa “ yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku khalayak. Dalam hal daya tarik komunikasi. Dari media inilah mereka mencari informasi dan mendapatkan hiburan untuk memuaskan kebutuhan pribadi dan sosial mereka”. Hunter beranggapan bahwa “Audiens tidak sepenuhnya pasif tetapi mereka merupakan individu yang secara sadar memilih jenis dan isi media. hiburan. Sehingga bagi masyarakat pengguna teknologi informasi dan komunikasi dapat meningkatkan terpaan media alternatif . (Marshall. 12 No. interaksi sosial. melepaskan ketegangan. yaitu : (1) Pemenuhan kebutuhan yang didapatkan dengan cara mengakses/menggunakan media yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan (2) Pemenuhan kebutuhan didapatkan dengan cara mempelajari isi informasi dalam media yang kemudian diterapkan dalam praktek.Jr. Media ini memiliki daya tarik tersendiri. 2.. teman. Kebutuhan akan pelarian : hasrat melarikan diri dari kenyataan. Internet juga memberikan kemungkinan dan kemudahan untuk mencari dan mengakses berbagai macam informasi. dengan alam sekitar. kategori ini antara lain: 1. serta kebutuhan pendidikan. di samping penggunaan media ini sebagai pemberdayaan dalam Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. internet menawarkan kemampuan berkomunikasi secara elektronik (e-mail dan chatting) yang relatif mudah dan murah selama 24 jam penuh. tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak” (Effendi.1993:289) Kemudian Katz Hass dan Gurevitch memberikan beberapa kategori kebutuhan individu. Berdasarkan hal tersebut. Kebutuhan interaksi sosial : memperkuat hubungan dengan keluarga. yaitu :pemenuhan kebutuhan informasi. Dengan kata lain. kebutuhan akan hiburan. 2000) Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat dicapai dengan dua cara. yang semuanya berasal dari fungsi sosial dan psikologi dari media. 1 103 .

Fasilitas tersebut menurut Yuswanto adalah : 1. Media Internet dan Community Access Point Di Provinsi Jawa Barat termasuk di tujuh kabupaten dan kota yang terdapat Warmasif. motivasi adalah proses yang terdiri dari 3 tahap . kebutuhan tercipta apabila terjadi ketidakseimbangan fisiologis. (Kominfo. 12 No. 1993:113). kegiatan untuk memuaskan kebutuhan (a behavioral action to satisfy that need). kini semakin banyak orang yang memanfaatkan internet untuk bermacam-macam kebutuhan. (Sumantri. Menurut Halloran. psikologis atau sosiologis.meningkatkan pemakaian TIK. atau mengeleminir kesenjangan digital di masyarakat digital divide.2001:54) Manusia mempunyai kebutuhan yang diusahakan untuk dipenuhi atau berusaha untuk dipuaskan. Media internet dapat dengan mudah mengintegrasikan seluruh bentuk media massa konvensional seperti media cetak dan audio visual bahkan tradisi lisan (oral tradition) melalui fasilitas-fasilitas yang ada. seperti kebutuhan akan informasi.2002) Adapun pengertian dari motivasi menurut Sumantri adalah suatu proses penting untuk memahami tentang mengapa dan bagaimana perilaku seseorang dalam melakukan kegiatan tertentu. yaitu : kebutuhan internal (internal need). Kegiatan untuk memenuhi kebutuhan inilah yang menjadi motivasi setiap individu. Kebutuhan (needs): kebutuhan merupakan suatu kekurangan dalam pengertian keseimbangan. internet juga telah membuktikan sebagai medium berjangkauan massal yang paling fleksibel. 3. Selain telah secara revolusioner mengubah metode komunikasi massa dan penyebaran data atau informasi. 1 . yakni : 1. dan pelaksanaan pemuasan kebutuhan itu (the accomplishment or the satisfaction of that need)(Effendi. 2. Dorongan (drives): berorientasi pada tindakan untuk mencapai tujuan. Fasilitas search engine : fasilitas pada media internet yang dirancang khusus untuk menyimpan serta menyusun jutaan alamat 104  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Tujuan (goals): segala sesuatu yang akan meredakan suatu kebutuhan dan akan mengurangi dorongan. hiburan maupun interaksi sosial. bahkan untuk keperluan bisnis.

Telecenter memungkinkan masyarakat melakukan hal tersebut dengan pihak di luar daerahnya. merupakan suatu fasilitas tempat masyarakat dapat berinteraksi. faksimili. Fasilitas FTP (file transfer protocol) : fasilitas pada media internet yang dirancang untuk mengirimkan (upload) dan menerima (download) suatu data. belajar .situs yang sudah didaftarkan sebelumnya berdasarkan topik-topik tertentu. video dan suara). 12 No. dengan pengembangan telesenter sebagai model dari CAP. Fasilitas Internet Relay Chat (chatting) : fasilitas pada media internet dan www yang memungkinkan para penggunanya untuk melakukan percakapan mengenai topik tertentu 5. 3. komputer berikut perangkat pendukungnya.yahoo. 6. Fasilitas situs web (web sites) : fasilitas pada media internet yang menyimpan semua jenis informasi (file tulisan. bahkan dengan dunia internasional melalui internet. seperti peningkatan wawasan. Walaupun Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. serta layanan yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. akses internet. Pada situs web ini tersimpan halaman web (web page) yang saling terhubung. pesan tersebut dikirimkan ke komputer yang ada di ISP (internet service provider) yang kemudian dikirimkan kepada penerima pesan. bekerja dan mendapat hiburan dengan memanfaatkan komputer. Fasilitas e-mail (electronic mail) : fasilitas pada media internet dan www yang berguna untuk mengirimkan pesan dalam format data elektronik dari satu komputer ke komputer lainnya. gambar. Fasilitas order : fasilitas pada media internet yang memungkinkan para penggunanya melakukan suatu transaksi ekonomi dengan sistem keamanan yang sangat pribadi.2000:3) CAP merupakan sebuah pusat atau sentra di mana masyarakat (khususnya yang berada di perdesaan) dapat melakukan berbagai aktivitas komunikasi dan pengaksesan informasi dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang tersedia. seperti www. keahlian melalui pendidikan dan latihan bagi masyarakat. Ketika mengirimkan e-mail. 1 105 . terutama telepon. Proyek Partnerships for e-Prosperity for the Poor (Pe-PP) kerjasama Bappenas dengan UNDP. (Yuswanto.com 2. ketrampilan. 4. internet dan berbagai teknologi informasi dan komunikasi (TIK) lainnya. dan layanan informasi lainnya.

Kota Tasikmalaya. (Proyek Bappenas & UNDP. yaitu mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat. Responden penelitian untuk masing-masing Warmasif adalah 10 orang . Kab. Lokasi penelitian adalah di Provinsi Jawa Barat. Kab. memberikan peluang untuk meningkatkan ekonomi masyarakat perdesaan dengan memanfaatkan ICT. 2. Purwakarta. Kedua. memerangi kemiskinan dengan memanfaatkan ICT. Sifat penelitian ini adalah deskriptif. jumlah keseluruhan 70 responden. berdemokrasi dan pembangunan. telecenter mempunyai karakteristik khusus. meningkatkan peran serta pemuda/i dan perempuan. Kab. mengurangi kesenjangan digital. yaitu berdasarkan kesepakatan Direktorat Aplikasi dan Telekomunikasi (Depkominfo) dengan PT. 1 . Keempat. dan sebagainya. Pengambilan responden untuk masing-masing Warmasif dilakukan dengan sampel random secara ordinal (Ordinal random sampling). Karawang. hanya ada 7 (tujuh) kabupaten dan kota yang terdapat fasilitas Warung Masyarakat Informasi ( Warmasif ). kemudian daftar tersebut di satukan untuk diberi nomor secara berurutan mulai dari nomor satu sampai terakhir. Ketiga. Metode Penelitian 1. seperti membantu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kehidupan bernegara. Pada dasarnya CAP bertujuan untuk : Pertama. mengurangi keterisoliran. meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan melalui perbaikan tingkat pendapatan. dan Kab. Kota Bandung. Dari 26 jumlah kota dan kabupaten yang ada. 2007:17). meningkatkan kesadaran masyarakat perdesaan tentang arti penting informasi dan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Garut.berbeda-beda bentuknya. Kota Bekasi. meningkatkan kapasitas masyarakat dalam berorganisasi dan melakukan usaha . Pos Indonesia yakni. 12 No. Adapun dalam konteks pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah berdasarkan daftar catatan pengunjung dalam sebulan terakhir. sekaligus mengurangi kesenjangan akses informasi antara masyarakat perkotaan dan perdesaan. Untuk pengambilan sampel. 106  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. pendekatannya kuantitatif. yakni untuk mengungkapkan motivasi pengguna (user) Warmasif sebagai pemenuhan kebutuhan bermedia di 7 ( tujuh ) kabupaten/kota di Jawa Barat terhadap pemenuhan bermedia. Kuningan.

dan dianalisis dengan menggunakan metode deskripsi. 1 107 . Sumber:Pengelola Warmasif Setempat. Kab. pemasaran melalui Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Definisi dan Operasionalisasi Konsep Definisi Konsep Motivasi merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak.5 dan seterusnya sampai mendapat 10 sampel) Adapun data populasi atau pengunjung warung masyarakat informasi tanggal 1 – 30 April 2007 (Minggu tutup) per lokasi penelitian berdasarkan data hasil pra penelitian.1983) Warmasif adalah model pengembangan Community Access Point (CAP) dimana masyarakat yang berada di suatu wilayah dapat melakukan komunikasi.3. April 2007 (diolah) 3.Kuningan 12 orang 5. Kab. Pengumpulan data primer adalah kuesioner serta wawancara dengan pengelola dan nara sumber di lokasi penelitian. dan interaksi sosial/komunikasi . 12 No. Karawang 52 orang 4. Motif manusia merupakan kebutuhan tertentu dalam mengakses media internet di Warmasif. Lokasi Warmasif Jumlah Pengguna Kota Bandung 130 orang 1. 4. Kab. hiburan. alasan-alasan. akses informasi global. (Gerungan. Sedangkan data sekunder melalui studi kepustakaan dan literatur. Kota Bekasi 35 orang 2. macam-macam kebutuhan yang menjadi dasar motivasi para pengguna media internet digolongkan ke dalam empat bagian yang mencakup : pemenuhan kebutuhan informasi. selanjutnya dilakukan perhitungan tabulasi frekuensi. atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu .diambil secara purposif mulai dari nomor ganjil terkecil (nomor 1. Purwakarta 19 orang 7. Pengolahan data dilakukan dengan menginventarisir seluruh data yang terkumpul dari hasil pengisian kuesioner serta hasil wawancara. Garut 101 orang 6. Kab. sebagai berikut : No. Kota Tasikmalaya 78 orang 3.

pengguna menggunakan fasilitas internet untuk mencari hiburan. dan sikap para pengguna tentang interaksi sosial . 2. Tujuan Warmasif adalah : 1. dan sikap para pengguna tentang hiburan. meningkatkan layanan informasi dan pendidikan masyarakat. dan pemenuhan kebutuhan berkomunikasi.internet. WARUNG MASYARAKAT INFORMASI Tujuan dan Sasaran Warmasif dibentuk berdasarkan kesepakatan kerja sama antara Ditjen Aplikasi Telematika Departemen Komunikasi dan Informatika dengan Dirut PT POS INDONESIA. Pemenuhan kebutuhan informasi. fasilitas internet Warmasif dalam proses pencarian informasi. Pemenuhan kebutuhan komunikasi. penggunaan fasilitas internet di Warmasif untuk melakukan interaksi sosial. dengan indikator : pengetahuan para pengguna tentang komunikasi pada media internet. Operasionalisasi Variabel Variabel motivasi kebutuhan bermedia terdiri atas sub variabel : pemenuhan kebutuhan informasi. dengan indikator : pengetahuan para pengguna tentang hiburan . pemenuhan kebutuhan hiburan.Warmasif dibentuk berdasarkan kesepakatan kerja sama antara Ditjen Aplikasi Telematika Depkominfo dengan Dirut PT POS INDONESIA. 3. Mempercepat dan menunjang tumbuh dan berkembangnya usaha pertanian. usaha kelautan dan perdagangan komoditi unggulan 108  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. transaksi online dan akses perpustakaan digital. Pemenuhan kebutuhan hiburan. jenis-jenis informasi. dengan indikator : asal mula mengenal Warmasif. 2. 1 . 1. Mempercepat tercapainya masyarakat informasi Indonesia (MII) yang ditargetkan tahun 2015 tercapai. 12 No. dan sikap para pengguna tentang informasi yang didapat. yaitu dalam upaya mengembangkan perdagangan komoditi unggulan melalui perdagangan elektronik / e-commerce atau e-UKM.

42%)). Hal ini menunjukan keberadaan Warmasif masih didominir oleh mereka yang berlatar belakang pelajar dan mahasiswa.Bekasi: 5.Kuningan:2 = 27 (38. Sedangkan pendidikannya sebagian besar berlatarbelakang SMA. 12 No.Karawang: 9. perempuan (Bandung) : 3. Pendidikan masyarakat melalui perpustakaan digital dan layanan informasi kesehatan serta layanan informasi lain-lain.Garut: 5. Mempercepat terwujudnya Universal Service Obligation (USO) dalam bidang komunikasi dan informasi. Bekasi: 5. disusul antara 25 – 32 tahun. usia.Garut:5. Data secara rinci dapat dilihat pada tabel 1. yaitu masing-masing satu orang.57 %.58%)). 4.melalui e-commerce atau e-UKM yang terdapat di wilayah setempat. laki-laki (Bandung):7. dan sebagian kecil lagi adalah mereka yang berumur lebih dari 57 tahun. Jenis kelamin responden. karena pengetahuan dan pergaulan mereka semasa di bangku sekolah lebih tertarik mempelajari TIK. Pekerjaan responden sebagian besar adalah dari kalangan pelajar dan mahasiswa. profesional. Karawang:1. Sedangkan usia mereka yang terbesar adalah antara 17 – 24 tahun. Usia mereka sebagian besar adalah antara 17 – 24 tahun yaitu sejumlah 41 orang atau 58. 3. Dari 70 responden yang berada di 7 (tujuh) lokasi Warmasif di kota dan kabupaten di Jawa Barat.Purwakarta:7. dan hanya sebagian kecil saja dari sekolah dasar. Banyaknya mereka yang mengunjungi Warmasif dari kalangan usia muda. Tetapi Kategori jenis kelamin ini bukan merupakan satu-satunya faktor yang diteliti. sebagian besar berjenis kelamin laki-laki. 1 109 . Kuningan: 8 = 43 (61. HASIL PENELITIAN Identitas Responden Jumlah responden penelitian adalah 70 (tujuh puluh) orang . pekerjaan. dan pendidikan. pengusaha. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. yakni 40 orang dan sebagian kecil lainnya adalah petani. identitasnya meliputi : jenis kelamin.Tasikmalaya: 6.Purwakarta: 3.Tasikmalaya:4. dan pensiunan.

57 %) 5 (7..14 %) 4 (5. 41-48 th. 25-32 th. 1 .85 %) 70 (100 %) 3 10 5 2 2 1 10 6 1 1 1 2 10 5 1 1 1 1 10 7 10 1 1 10 8 1 1 3 2 2 1 2 2 10 6 40 (57.85 %) 70 (100 %) Bdg.42 %) 1 (1.42 %) 9 (12.85 %) 38 (55. 57 th. Bks.28 %) 1 (1. 17-24 th. Dr.Tabel 1 Identitas Responden Identitas Responden Usia Krg.57 %) 1 (1. 33-40 th.. 17 th. Lain-lain .14 %) 6 (8.71 %) 2 (2. Karyawan Petani/nelayan PNS/ABRI Pengusaha Profesional Pensiunan Tidak kerja Ibu rumah tgg.57 %) 13 (18.14 %) 12 (18. 49-56 th.95%) 21 (29. Kng Total 7 kota (Persentase) 110  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Jumlah Pendidikan SD SMP SMA Diploma Sarjana Jumlah 1 2 5 2 10 3 4 3 10 5 4 1 10 2 6 2 10 1 7 2 10 7 3 10 1 1 4 3 1 10 2 (2.85 %) 5 (7.28 %) 70 (100 %) 4 2 1 2 1 10 3 4 1 2 10 3 1 3 3 10 2 7 1 10 1 1 5 1 1 1 10 3 3 3 1 10 4 3 1 2 10 20 (28.14 %) 5 (7. 12 No.57 %) 9 (12.85%) 9 (12.42 %) 3 (4.14 %) 3 (4. lebih Jumlah Pekerjaan Pelajar/mhsw.42 %) 1 (1. Krwng Tskml Pwkrt Grt.

serta ada persaingan dari usaha sejenis yang bertebaran di sudut-sudut kota.14 2. 7-9 kali 4 (5. 4-6 kali 15 (21.43 2. dan belum semua masyarakat mengetahui . 6. Pemanfaatan Warmasif Frekuensi pemanfaatan Warmasif di Kantor Pos sejak berdirinya awal tahun 2007. 2. 1 111 .71 21.43 14. Hal ini wajar karena Warmasif keberadaannya masih satu Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Keberadaan Warmasif tergolong baru.majalah dll.43%).86 11.Berdasarkan karakteristik/identitas responden tersebut.86%).28 27. atau mengetahui ketika lewat ke kantor pos secara tidak sengaja. 3. dan tidak ada seorangpun yang telah mengunjungi 10 kali lebih. secara keseluruhan dari jawaban yang diberikan dipandang cukup memenuhi syarat untuk diikutsertakan dalam pembahasan hasil penelitian. radio.) Media elektronik (televisi. Kurangnya masyarakat menggunakan Warmasif dimungkinkan karena letaknya hanya di kantor pos.86 100 Asal mula para responden mengetahui keberadaan Warmasif. Sumber Keluarga Teman Tempat kerja Pemerintah Media cetak (surat kabar. Sebagian besar pengguna Warmasif pemanfaatannya antara 1 sampai 3 kali . 12 No.) Di Kantor Pos Lainnya Jumlah Frekuensi 9 11 1 7 8 28 5 70 Persentase 15. 5. 8. 1. 7. hal ini karena sosialisasi belum optimal. adalah 1-3 kali 51 (72.71%). Tabel 3 Asal Mula Mengetahui Warmasif No. seperti warnet (warung internet). internet dll. sebagian besar dari Kantor Pos. 4. baik sewaktu ada urusan dengan perposan.

fasilitas yang sering digunakan . hal ini menunjukkan bahwa media ini sangat berguna untuk dijadikan sebagai media untuk mencari informasi dan hiburan. jenis informasi yang dicari.1987:72). Sebagaimana dikemukakan oleh MC Quail bahwa “media massa harus dapat digunakan untuk mencari informasi tentang peristiwa dan kondisi yang berkaitan dengan lingkungan terdekat. Bila dari keluarga dan teman diperoleh dari informasi langsung. (McQuail. Sedangkan dari kalangan pemerintah dinilai usaha sosialisasi kurang optimal. dan sikap mengenai informasi media internet. Pemenuhan Kebutuhan Informasi Pemenuhan kebutuhan informasi yang diungkap adalah : kebiasaan dalam mencari informasi. Sedangkan mereka yang menyatakan lainnya adalah yang tidak menyebut secara pasti darimana asal mula mengetahui istilah Warmasif atau ragu menyebut sumber beritanya. 1 . Tabel 4 Motif Pemanfaatan Warmasif No.71 10 14. asal mula mengetahui Warmasif dari pihak keluarga.86 1. 12 No. Ya Tidak F % F % 61 87.14 9 12. dan dari media elektronik berimbang. teman. dan masih dikelola oleh pegawai pos sendiri. dan sebagian kecil lainnya adalah untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan.29 2. frekuensi per minggu . Pemenuhan kebutuhan informasi 60 85.00 21 30. Pemenuhan kebutuhan hiburan 3 Pemenuhan kebutuhan komunikasi/interaksi sosial 49 70.atap dengan Kantor Pos. Selanjutnya .00 Motif Motif penggunaan Warmasif oleh pengguna sebagian besar adalah untuk pemenuhan kebutuhan informasi dan hiburan. masyarakat dan dunia. sehingga dari 70 responden tidak ada yang tersentuh. 112  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. sedangkan media didasarkan pada terpaan yang mereka peroleh.

07 3.26 6. 12 No. dan informasi tentang lowongan pekerjaan. Menjual. seperti menjual. membeli. budaya.25 8. budaya. serta di bidang kesehatan yang notabene program dari Warmasif kurang diminati oleh penggunanya.01 25. 4 promosi produk (e-commerce) Belajar tentang menggunakan komputer 5 Mencari pekerjaan melalui internet 6 Mencari informasi pemerintahan (e7 government) Informasi sosial. olah raga dan lain-lain) yang sering di akses oleh para pengunjung warmasif. 1 113 . Hal ini karena sebagian pengunjung Warmasif dari kalangan generasi muda (pelajar dan mahasiswa) yang kurang begitu berkepentingan (concern) dengan masalah-masalah perdagangan dan kesehatan.43 16. sep. olah raga dll.90 4.politik. mereka justru sering mengakses dengan tren-tren yang berkembang dengan tuntutannya. membeli. Jenis informasi yang bersifat umum (sosial. promosi produk (ecommerce) utamanya dari sektor usaha kecil dan menengah (UKM) . Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Sebaliknya informasi yang berhubungan dengan bidang perdagangan. politik. Lainnya 9.21 100 Informasi yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan bidang pendidikan (e-learning atau e-education) Informasi yang berhubungan dengan bidang 2 kesehatan Referensi perpustakaan (library online) 3 Mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam bidang perdagangan.Tabel 5 Jenis Informasi No. 1 Jenis Informasi Frekuensi 22 14 27 10 8 30 5 43 7 166 Persentase 13. Jumlah n: 70. lebih dari satu jawaban.02 4.82 18. mencari referensi perpustakaan (library online). disamping itu tidak sedikit yang mengakses tentang informasi di bidang pendidikan (e-education). 8 (umum).

8. e-mail (surat elektronik) 5 (9.1%)Sikap pengguna tentang informasi yang di akses di Warmasif tergolong bagus . Hal ini karena pemegang website atau situs di internet selalu di updating sesuai dengan kejadian faktual di masyarakat. koran ataupun majalah. Sebaliknya.4%).8 9 7.5 9 17. sebagian kecil dari mereka yang menilai bahwa berita-beritanya tidak aktual dan kurang dipercaya.4 35. kecuali mereka yang ingin mendapatkan pekerjaan sesuai dengan yang diinginkan yang tergolong berimbang atau cukup bagus. 6.9 7. 2. Jenis Hiburan Lagu (MP3) Chatting On-line games Adult web. 1 . FTP/order 1(4. Selanjutnya Website atau situs 8 (8. 3.5 100 Dari tabel di atas tergambar bahwa salah satu jenis hiburan yang paling banyak dicari oleh pengguna Warmasif adalah chatting . Dengan cara inilah keberadaan media internet akan eksis dicari oleh user serta menyediakan data terbaru ( actual information) dibandingkan dengan media lainnya.Fasilitas yang paling sering digunakan para responden untuk mencari informasi adalah fasilitas search engine (mesin untuk mencari) diantaranya yang paling terkenal adalah yahoo dan google yakni 40 (73%). 9. 1. Dari berbagai informasi yang ada di internet ternyata sebagian besar responden menyatakan berita-berita yang ada pada media ini sangat aktual serta selalu mendapatkan topik informasi tertentu yang dicari. Chatting 7 (5. seperti media televisi. 7. Hal ini 114  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 4. Pemenuhan Kebutuhan Hiburan Tabel 6 Jenis Hiburan Ketika Mengakses Media Internet No. 12 No. 5. radio.1%).5%). dikarenakan saat mengakses pemegang website tidak meng up date data yang terbaru. situs porno Lagu (MP3) danchatting Lagu (MP3) dan on-line games Lagu (MP3) dan situs porno Chatting dan on-line games Chatting dan situs porno Jumlah Frekuensi 8 22 5 7 5 10 3 60 Persentase 13.

Pemenuhan Kebutuhan Berkomunikasi Jenis interaksi sosial yang sering dilakukan adalah percakapan online dinyatakan oleh 53.com.8%. Jenis hiburan lainnya adalah mendengarkan dan men-download lagu-lagu berformat MP3. Hampir setengah responden menggunakan search engine karena tidak mengetahui alamat situs yang akan dituju. Fasilitas yang paling sering digunakan untuk mencari hiburan adalah : search engine 46. FTP 9%. sehingga penggunaan fasilitas ini sangat membantu dalam hal pencarian alamat situs yang dimaksud. Banyaknya yang melakukan interaksi berupa percakapan secara online dengan sebutan chatting. seperti file gambar. tidak hanya dalam kecepatan proses pengiriman. Begitu pula penggunaan e-mail.5%.3%. karena sebagai salah satu cara menjalin komunikasi dengan kerabatnya secara realtime.7%) dan e-mail serta chatting 4 orang (6. lagu.5%). bahkan berkenalan dengan orang yang tinggal di luar negeri. chatting 38.7%. Fasilitas chatting juga dapat digunakan untuk menghibur diri dengan cara melakukan percakapan dengan teman. website atau situs 4. keluarga.1%).dilakukan tidak hanya untuk berinteraksi dengan teman atau dengan sanak saudara yang tinggal saling berjauhan. Fasilitas yang sering digunakan untuk berkomunikasi / interaksi sosial tergambar sebagai berikut : search engine 2 orang (3. dan berkirim surat secara online 46.7%). begitu pula dalam hal kerahasiaan atau privacy menyatakan penggunaan e-mail cukup terjaga. Salah satu situs yang paling terkenal dan paling banyak digemari adalah www. 1 115 .1%). Begitu pula berkiriman surat secara online. chatting 39 orang (53. tetapi menyangkut biaya yang murah. Hal ini karena pada Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. tetapi juga dilakukan dengan individu yang sama sekali tidak saling mengenal. Banyaknya yang tertarik menggunakan fasilitas chat dikarenakan mereka dapat menjadi bagian dari penduduk dunia yang sedang on line. 12 No.5%. e-mail 1. mereka dapat berkiriman surat dengan berbagai macam data. e-mail 21 orang (30.3%.mp3. suara bahkan file video. tidak hanya sekedar berkenalan secara online. Responden beranggapan bahwa berkirim surat secara online cukup mudah. baik lagu baru atau lama yang tak kalah kualitasnya dengan CD audio yang berformat Wav. website atau situs 4 orang (6.

serta meningkatkan layanan informasi pendidikan masyarakat. Sebaliknya mereka lebih banyak mengakses jenis informasi bersifat umum.3 46. men-download atau 116  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. dan lainnya. yakni keinginan untuk sejenak melarikan diri dari realitas hidup.8 55. 1 2 3 4 Interaksi Sosial/komunikasi F Berkiriman surat secara on-line cukup mudah Berkiriman surat secara on-line kerahasiaannya cukup terjaga Merasa aman berbicara terus terang ketika chatting Mempercayai perkataan lawan bicara ketika chatting 48 35 37 10 Ya % 98. yakni dalam upaya mengembangkan perdagangan komoditi unggulan melalui perdagangan elektronik/ecommerce. cari kerja. mencari kepuasan pribadi dan pelepasan emosi.6 81.7 53. Seperti terlihat pada tabel berikut. serta jenis hiburan yang berbeda dengan yang didapat media lainnya. 2. yaitu informasi politik. Tabel 7 Sikap Pengguna Tentang berkomunikasi Pada Media Internet Sikap No.4 18. Pemenuhan kebutuhan informasi pada warung masyarakat informasi (Warmasif) di Provinsi Jawa Barat kurang optimal dimanfaatkan oleh masyarakat pengguna (user) sesuai dengan tujuan dan sasarannya. Motivasi dalam pemenuhan kebutuhan hiburan di Warmasif dinilai tinggi. mencari kesenangan hedonistik. 1 .setiap alamat e-mail yang responden miliki dilindungi oleh password atau kata kunci yang hanya diketahui oleh para responden itu sendiri. olah raga. Pemenuhan kebutuhan hiburan biasanya dilakukan dengan cara melakukan chatting.2 F 1 14 12 39 Tidak % 1. budaya.8 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1.1 44. 12 No.

12 No. Ilmu. Teori Komunikasi Massa. Bandung : PT Erasco. Arikunto. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. karena sebagai salah satu cara menjalani komunikasi dengan kerabatnya secara realtime. atau membuka situs-situs porno. Teori dan Filsafat Komunikasi. sehingga masyarakat dapat mengetahui keberadaannya didalam upaya meningkatkan layanan informasi dan pendidikan masyarakat. Pemenuhan kebutuhan interaksi sosial biasanya dilakukan dengan percakapan secara on-line dengan sebutan internet relay chat (IRC) atau chatting. Suharsimi. perikanan. 3. Psychology Sosial. Suatu Pendekatan Praktek. Untuk selanjutnya dapat diberdayakan lagi. Onong U.mendengarkan lagu berformat MP3. Yogyakarta : Rineka Cipta. Motivasi dalam melakukan komunikasi dapat menyerupai interaksi dunia nyata yakni dengan menggunakan webcam ketika melakukan chatting.. transaksi online. Mc. Begitu pula berkiriman surat secara online.1993. Hendaknya kesepakatan kerja sama antara Ditjen Aplikasi Telematika dengan PT POS Indonesia tentang Warmasif lebih ditingkatkan sosialisasinya. 3. 2. Denis. promosi barang dan akses digital lainnya. tetapi menyangkut biaya yang murah. 1993. hasil kerajinan. dan lain-lain. Saran 1. DAFTAR PUSTAKA Gerungan. seperti pertanian. bermain game online. 1983. sehingga akan termotivasi lagi menggunakannya sebagai media informasi dan komunikasi. WA. seperti pemasaran melalui internet. 1 117 . tidak hanya dalam kecepatan proses pengiriman. menambah fasilitas yang dapat memanjakan pelanggan. Prosedur Penelitian. 1994. Effendi. Idealnya Warmasif berada di daerah-daerah yang memiliki komoditas unggulan tetap. Bandung : Citra Aditya Bakti. Jakarta : Erlangga. serta biaya akses internet yang lebih murah lagi kepada masyarakat. Hendaknya pengelola Warmasif untuk lebih meningkatkan kemampuan mengakses internet.Quail.

Studi Pemberdayaan CAP Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Pedesaan.apjii. Situs lainnya : yahoo. 2001. Dirjen Aplikasi Telematika. Badan Litbang SDM. 1 .id 5.com. 2000. Sumantri. Kominfo. Bandung : Multiunion.2002. Surabaya : Papyrus.co. Toni Edi. Jalaluddin.com. Sumber lainnya : 1. 2007 4. Bandung : Universitas Pajajaran. Jakarta. 2002.Febrian. Depkominfo. Sistem Informasi Nasional. -------------------------. Menggunakan Internet. Jack. Departemen Komunikasi dan Informatika. Warung Masyarakat Informasi Indonesia.go. berita. 2006.or. Metode Penelitian Komunikasi. Perilaku Organisasi. 12 No.Rakhmat.id Pareno. Bandung : Informatika. 3. Psikologi Komunikasi.id) dan situs http://www. Proyek Bappenas dan UNDP. 118  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.com. google. 1996. Situs resmi Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) (http://www. Media Massa. BPPI Wil. Hasil Pengumpulan Data Basis Tentang Lembaga Komunikasi Massa di Provinsi Jawa Barat. 2. 2000. Bandung : Remaja Rosda Karya. 6. dan detik . Suryana. Infomobilisasi . Pusat Litbang Aptel dan SKDI. Bandung : Remaja Rosda Karya. Depkominfo RI. Departemen Komunikasi dan Informatika. III Bandung. Tersedia di : http//www.com. Antara Realitas dan Mimpi. Web Design Plus. Yuswanto.2005. Tahun 2006. Indonesiatelecenter. 2007.Sam Abede.depkominfo. Direktorat E-Business.

Dunia jurnalistik kini mulai mengalami perubahan. pers berada dalam situasi di mana pengertian wartawan dan media mengalami pergeseran penting sebagai akibat dari berkembangnya dua hal. Dengan perkawinan jurnalistik baru dengan perkembangan teknologi * Dida Dirgahayu. 12 No. Citizen Journalism PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi telah mengubah hakekat media. Permasalahan penelitian ini adalah : bagaimana sikap jurnalis terhadap citizen journalism. Merupakan penelitian deskriptif (descriftive studies) dengan metode pendekatan kuantitatif. Dengan internet. Karena itu.SIKAP JURNALIS TERHADAP CITIZEN JOURNALISM Dida Dirgahayu* Abstraksi Saat ini. kini berkembang situs-situs lembaga maupun pribadi. kalau dulu media didirikan oleh lembaga. di zaman internet ini. 1 119 . S. Yaitu perkembangan jurnalistik dan perkembangan media. maka sekarang setiap warga bisa melaporkan peristiwa kepada media. Dengan demikian. melaporkan gagasannya kepada publik. Inilah yang kemudian disebut sebagai citizen journalism. Kata kunci : Sikap. Selain itu. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. atau paling tidak. berkembang juga weblog atau blog. di mana setiap orang bisa melaporkan peristiwa di sekelilingnya. setiap individu juga adalah media. kini setiap individu bisa membuat media. atau individu yang mempunyai uang dan kekuasaan (power). Jurnalis. dulu reportase adalah tugas khusus yang dibebankan kepada wartawan atau reporter media massa.Sos adalah peneliti pertama Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BP2KI) Bandung. Manfaat penelitian ini diantaranya untuk memberikan gambaran tentang eksistensi citizen journalism diantara civic journalis (media mainstream) yang lazim disebut media massa.

dan menjadi foto utama media cetak. Berdasarkan realitas inilah penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana sikap jurnalis surat kabar terhadap citizen journaslism. televisi. media online. Ketika banjir. begitu banyak warga masyarakat yang memberikan informasi kepada radio. ternyata fungsi melaporkan sudah bukan tugas eksklusif wartawan/ reporter. Pada saat bom Bali I dan II meluluh lantakkan bangunan. Dengan berkembangnya citizen journalism. Bagaimana reaksi jurnalis terhadap citizen journalism ? Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menggambarkan : 1. misalnya. Penilaian jurnalis terhadap citizen journaslism 3. Bagaimana penilaian jurnalis terhadap citizen journaslism ? 3. 120  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. apakah laporan awam bisa dikatagorikan sebagai berita. hasil rekaman masyarakat awam lah yang ditayangkan oleh media elektronik. 1 . Permasalahan Pokok Dan Indetifikasi Masalah Permasalahan pokok dari penelitian ini adalah : Bagaimana sikap jurnalis terhadap citizen journaslism? Identifikasi masalahnya adalah : 1. Reaksi jurnalis terhadap citizen journalism Manfaat Penelitian ini layak dilakukan karena bermanfaat untuk memperoleh gambaran tentang sikap jurnalis terhadap citizen journaslism. Apakah citizen journaslism dapat disetarakan atau masuk dalam katagori jenis jurnalistik ( media mainstream) atau sebatas ruang publik. tetapi dikabarkan dengan baik oleh masyarakat. 12 No. Hasil penelitian dan kajian ini akan memberikan data awal. Pertanyaannya adalah. dan setiap individu adalah media. gambaran dan aspirasi para jurnalis. Bagaimana pengetahuan dan pemahaman jurnalis tentang citizen journaslism ? 2. Pengetahuan dan pemahaman jurnalis tentang citizen journaslism 2. Begitu banyak peristiwa di sudut kota yang tidak ter-cover oleh media mainstream.media kita menyaksikan bahwa setiap individu adalah reporter.

individu akan berusaha mengubahnya sehinggga terjadi keseimbangan kembali. Oleh karena itu.177). pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan secara kognitif. Objek dirasakan sebagai hal yang menyenangkan. Operasional konsep dari sikap mengacu kepada tiga komponen dari sikap sebagai indikator. Ini berarti bahwa yang dipikirkan seseorang tidak akan terlepas dari perasaannya. bertingkah laku dengan cara tertentu. akan tetapi menunjukkan bahwa manusia merupakan suatu sistem kognitif. 3. dan konatif. namun merupakan interaksi dari komponen-komponen tersebut secara komplek. 2006). Penekanan Scheerer tidak hanya peristiwaperistiwa yang sifatnya eksternal tetapi lebih jauh adalah peristiwa yang ada dalam dirinya atau faktor internal.(SeverinTankard 2005:295). Komponen afektif.Kerangka Teori Kognisi menurut Scheerer. Yaitu : 1. komponen konasi akan menjawab pertanyaan bagaimana kesediaan/kesiapan untuk bertindak terhadap obyek (Shaver. Komponen kognisi menjawab pertanyaan tentang apa yang dirasakan (senang atau tidak senang) terhadap obyek. Apabila terjadi ketidakseimbangan. afektif. 1 121 . dimana masing-masing mempunyai fungsi yang diarahkan terhadap objek tertentu/ stimulus tertentu. Reaksi ini dipengaruhi kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai benar dan berlaku bagi suatu objek. pengalaman. Komponen kognitif. Masing-masing komponen tidak dapat berdiri sendiri. pengertian. pengetahuan. 2.2005 : 295) Citizen journalism. menurut Lily Yulianti (panyingkul. berhubungan dengan kecenderungan untuk beraksi. menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. adalah proses sentral yang menghubungkan peristiwa-peristiwa di luar (eksternal) dan di dalam (internal) diri sendiri. Berdasarkan pendekatan ini setiap orang akan mencari keseimbangan dalam bidang kognisinya dan terbentuk dari sikap yang bersangkutan. Komponen konatif. tapi konatif ini tidak meramalkan tingkah laku aktual itu sendiri. merupakan model jurnalistik baru ini disebut sebagai Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Ketiga komponen tersebut tidak berdiri sendiri. Aspek kognisi merupakan aspek penggerak perubahan karena informasi yang diterima menentukan perasaan dan kemauan berbuat.com.(Severin-Tankard. hal disukai atau tidak. 12 No. pemahaman jurnalis tentang citizen journalism.

atau perasaan tidak mendukung (unfavourable) pada objek tersebut. Tinjauan Pustaka Sikap Menurut Louis Thurstone dan Charles Osgood. dan proses kognitifnya. Citizen Journalism tidak hadir sebagai saingan. Menuliskan pengalaman yang ditemui sehari-hari di lingkungannya.com). sikap merupakan suatu bentuk evolusi atau reaksi perasaan terhadap suatu objek. persepsi. perekaman. setiap individu bebas melakukan kegiatan-kegiatan jurnalistik. Dalam sebuah lembaga penerbitan pers. 12 No. opini.40/1999 tentang Pers (pasal 1 poin 4). Semua individu bebas melakukan hal itu. Merekalah yang memburu berita (fakta atau kejadian). Jadi. sikap merupakan kecenderungan bereaksi terhadap objek-objek. wartawan masuk dalam Bagian Redaksi (Editor Department) yang dipimpin oleh Pemimpin Redaksi (Editor in Chief). 2003:5). (Azwar. dan menuliskannya untuk dikonsumsi orang banyak. pengolahan. dimana kecenderungan bereaksi ini merupakan cara yang khas tergantung dari motivasi. 122  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. emosi.blogs. tapi sebagai alternatif yang memperkaya pilihan dan referensi. dan feature untuk media massa. Menurut Gerungan (1996:150). yakni aktivitas peliputan. baik perasaan mendukung atau memihak ( favourable ). Citizen Jurnalism ini memberi pengertian bahwa. Jurnalis Wartawan (journalist) adalah orang yang terlibat dalam pencarian. dan penulisan berita. 1 . tidak semua orang yang bekerja di sebuah perusahaan pers (media massa) adalah wartawan. wartawan adalah ”orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik. dengan perspektif masing-masing. meliput berbagai peristiwa. dan penulisan berita. Masyarakat biasa seharusnya masuk dalam ekosistem media sebagai unsur yang aktif berinteraksi (http://sulungz.“Jurnalisme Orang Biasa” .Seperti namanya. ”Di mana terjadi suatu peristiwa. friendster. maupun melakukan interperetasi terhadap suatu peristiwa tertentu. Menurut UU No. Wartawan ( journalist ) adalah orang yang secara rutin melakukan aktivitas jurnalistik. Berita tidak lagi dilihat sebagai produk yang didominasi wartawan dan institusi pers. Mulai dari Pemimpin Redaksi hingga koresponden yang terhimpun dalam bagian redaksi.

sejumlah orang melakukan pemikiran-pemikiran untuk menembus batas ini. Keunggulan itu akhirnya dipergunakan oleh sebagian pihak untuk menjadikan media internet sebagai salah satu wadah media mainstream.com) Pemberitaan Citizen Journalism lebih mendalam dengan proses yang tak terikat waktu. 12 No. Lebih dari media apa pun yang telah ada. ”Seperti mata dan telinga para pembaca suatu harian.wartawan akan berada disana” kata M. Disebut mutakhir karena di weblog kita bisa berkomunikasi. dengan menggunakan visual dari masyarakat (kameramen amatir). awan pun mendapatkan kembali posisi lamanya. Bahkan lebih kuat dan leluasa. (http://www. Wartawan bukanlah dunia bagi orang yang ingin bekerja dari jam sembilan pagi hingga jam lima sore setiap hari dan libur pada hari minggu. Walhasil. misalnya membaca berita surat kabar atau salah satu informasi departemen pemerintah atau perusahaan. Weblog atau blog adalah versi mutakhir dari web.” Wartawan adalah suatu profesi yang penuh tanggungjawab dan risiko. ia harus memiliki idealisme dan ketangguhan. Website seperti kita ketahui adalah satu lembaran informasi yang ada di internet. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Kendati begitu. Karena regulasi pers maupun undang-undang pada media internet ini sangat kabur dan tidak tegas. Perbedaan mendasar antara media mainstream yang tumbuh lebih awal dengan media mainstream pada internet.L Stein (1993:5). seperti halnya tenggat deadline di media mainstream. Berdasar kesadaran itu. Jadi ketika kita masuk ke internet. terstruktur. hanya terletak pada kecepatan penyampaian. Citizen Journalism dinilai sebagai bentuk partisipasi aktif masyarakat untuk menyuarakan pendapat secara lebih leluasa. berdialog dengan orang yang memiliki blog. media kontemporer yang memberi wahana baru dalam aktualitas pemberitaan. 1 123 . serta dapat diakses secara umum dan sekaligus menjadi rujukan alternatif. Tidak ada seorangpun tahu kapan kebakaran atau bencana lain akan terjadi. pemberitaan atau penyebaran informasi di media internet ini tetap terpolarisasi pada model diktum. (Romli :2003 :8) Citizen Journalism Internet kini menjadi new media.pontianakpost. Bentuk Citizen Journalism dapat dilihat pada proses penayangan berita di televisi. Blog sebenarnya sebuah website juga. itu yang kita sebut dengan Website. Karenanya.

Clyde H. Karenanya. Menurut UU No. melakukan liputan karena penugasan. Romli. Dalam aktifitas seorang bloger. sangat pasti tidak mengenal polarisasi pemberitaan karena semuanya tergantung kepada interest kemampuan penulis (bloger). wartawan media mainstream membatasi diri pada 'informasi apa dan yang bagaimana' diinginkan pasar. Citizen Journalism menjadi wadah 'gairah bercerita' dari semua individu. Bentley. tapi mereka ingin berkontribusi secara nyata dengan menuliskan pikiran atau pendapat mereka tentang suatu hal. opini. Perbedaan nyata antara citizen journalist dan wartawan yang bekerja di media massa. sementara seorang citizen journalist menuliskan pandangannya atas suatu peristiwa karena didorong oleh keinginan untuk membagi apa yang dilihat dan diketahuinya. Wartawan media mainstream melakukan peliputan atas peristiwa berdasar pada tugas keredaksian. wartawan setidaknya mempunyai standar profesi sejati (real journalist) disamping aturan profesi lainnya. jurnalistik disebut sebagai “dunia kewartawanan”. menilai bahwa meski sebagian besar masyarakat tidak ingin menjadi jurnalis. Perspektif pembaca yang muncul dari suatu berita media mainstream yang terbiasa terpola 124  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. dijelaskan dengan rinci oleh Bentley (2005) sbb: "Seorang wartawan yang bekerja di media massa. dan feature untuk dipublikasikan atau dimuat di media massa tentang peristiwa atau gagasan.Antara jurnalis dengan aktifitas bloger Penulisan informasi adalah aktifitas penulisan atau penyusunan berita. Citizen Journalism menjadi pengimbang dari media-media yang selama ini melakukan pemberitaan berdasar kepentingan. Aktivitas tersebut dilakukan oleh wartawan (journalist) dan penulis (writter). Jurnalisme yang berkembang saat adalah jurnalisme yang berbasis pada penggunaan teknologi internet. 1 . Citizen journalism adalah keterlibatan warga dalam memberitakan sesuatu.(M. salah satunya adalah penggunaan weblog yang memungkinkan orang untuk menyuarakan opini terhadap berbagai peristiwa secara bebas. guru besar madya pada Sekolah Tinggi Jurnalistik Missouri AS. wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik. 12 No. 2005 : 6) Sebagai ujung tombak bagi suatu penerbitan surat kabar atau media massa lainnya." Seorang penulis pada Citizen Journalism melakukan tugasnya dengan proses penetrasi terhadap obyek pemberitaan dengan totalitas dan penuh atmosfir. 40/1999 tentang Pers (pasal 1 poin 4).

relatif akan lebih murni di citizen journalism ini. 12 No. Pekerjaan media pada hakikatnya adalah mengkonstruksikan realitas suatu fakta atau peristiwa yang dipilihnya. Citizen journalism adalah keterlibatan warga dalam memberitakan sesuatu (dalam pengertian setiap orang adalah wartawan dan kerja wartawan bisa dilakukan oleh setiap orang). Jumlah informasi yang di tawarkan citizen journalism akan lebih banyak dan beragam sementara media mainstream terikat dengan jumlah halaman (suratkabar). maka seluruh isi media adalah realitas yang telah dikonstruksikan (constructed reality).berdasar visi dan misi suatu media. Media massa sebagai media mainstream (civic journalism) Sebenarnya apa yang disebut sebagai civic journalism. aktifitasnya seorang bloger tidak sama dengan profesi seorang wartawan. Isi media pada hakikatnya adalah hasil rekonstruksi realitas dengan bahasa sebagai perangkat dasarnya. Berdasarkan kaidah jurnalistik dan teori tentang media massa seperti dikemukakan di atas. sedangkan bahasa bukan saja alat untuk merefresentasikan realitas. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. durasi penayangan (televisi) atau durasi penyiaran (radio). Bukan hanya memberitakan peristiwa atau fenomena dalam sikap yang objektif dan imparsial. tapi lebih menyatu dan terlibat dalam membimbing warga dan mendorong warga untuk melakukan sesuatu. Hal positif yang perlu disambut baik oleh kalangan citizen journalism maupun civic journalism adalah bahwa keduanya dapat saling mengisi dan memosisikan dirinya sebagai sumber informasi. 1 125 . Sedangkan civic journalism adalah upaya wartawan profesional dan media tempat mereka bekerja untuk lebih mendekat dengan persoalan warga (pembacanya). berbeda dan tidak bisa disamakan dengan dengan media mainstream pada umumnya. padahal keduanya sama sekali berbeda. Demikian pula dipandang dari sudut pelakunya. aktifitas maupun media yang digunakan dalam citizen journalism bukanlah sebuah jurnalistik baru atau bagian dari civic journalism. Disebabkan sifat dan faktanya bahwa pekerjaan media massa adalah menceriterakan peristiwa-peristiwa. Mungkin akan banyak orang yang rancu dengan istilah citizen journalism. serta ikut terlibat dalam menyelesaikan persoalan itu secara langsung. diantaranya realitas dari proses kampanye pemilu.

namun mereka memerlukan kadar persepsi yang sama terhadap realitas tertentu sebagai prasyarat kehidupan sosial yang baik. agama. dan lain-lain. Media menjangkau lebih banyak orang daripada institusi lainnya dan sudah sejak dahulu ”mengambil alih” peran sekolah. Meskipun setiap individu atau kelompok memang memiliki dunia persepsi dan pengalaman yang unik. Lingkungan simbolik itu semakin kita memiliki bersama jika kita semakin berorientasi pada sumber media yang sama. 1 . Sehubungan dengan itu. Jadi. membentuk persepsi kita terhadap pengalaman itu. media massa dapat saja berada diantara kita dengan institusi lainnya yang ada kaitannya dengan kegiatan kita. Pada dasarnya hubungan antara pengirim dan penerima seimbang dan sama.namun juga bisa menentukan relief seperti apa yang akan diciptakan oleh bahasa tentang realitas tersebut. gagasan. dalam beberapa segi media massa berbeda dengan institusi pengetahuan lainnya (misalnya seni. reproduksi dan distribusi pengetahuan dalam pengertian serangkaian simbol yang mengandung acuan bermakna tentang pengalaman dalam kehidupan sosial. media massa seringkali menyediakan bahan bagi kita untuk membentuk persepsi 126  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. lingkungan simbolik di sekitar (informasi. serta menjamin kelangsungan perkembangan pengetahuan kita. dan lain-lain) seringkali kita ketahui melalui media massa. Institusi media menyelenggarakan produksi. 2002 : 88). Menurut asumsi dasar di atas. media juga menyalurkan pihak lain untuk menghubungi kita. kepercayaan. dan media pulalah yang dapat mengaitkan semua unsur lingkungan simbolik yang berbeda. Pengetahuan tersebut membuat kita mampu untuk memetik pelajaran dari pengalaman. orang tua. media massa juga memainkan peran institusi lainnya. Asumsi dasar kedua ialah media massa memiliki peran mediasi (penengah/ penghubung) antara realitas sosial yang objektif dengan pengalaman pribadi. media massa dapat menyediakan saluran penghubung bagi berbagi institusi yang berbeda. dan menyalurkan kita untuk menghubungi pihak lain. dan lain-lain) : Media massa memiliki fungsi pengantar (pembawa) bagi segenap macam pengetahuan. Secara umum. dan memperkaya khasanah pengetahuan masa lalu. Media massa berperan sebagai penengah dan penghubung dalam pengertian bahwa: media massa seringkali berada diantara kita. 12 No. agama. (Sobur. pendidikan. sumbangan media massa dalam menciptakan persepsi demikian mungkin lebih besar daripada institusi lainnya.

com. maupun melakukan interperetasi terhadap suatu peristiwa tertentu. Yaitu : 1. dengan perspektif masing-masing. dan faktual. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif ( descriptive research). 2006). Melalui pengalaman langsung kita hanya mampu memperoleh sedikit pengetahuan. pengertian. 12 No. pengalaman. serta peristiwa tertentu.Seperti namanya. pemahaman jurnalis tentang citizen journalism. Komponen konatif. akurat. Reaksi ini dipengaruhi kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai benar dan berlaku bagi suatu objek. fakta-fakta dari populasi tertentu (Suryabrata. 3. Menuliskan pengalaman yang ditemui seharihari di lingkungannya. tapi konatif ini tidak meramalkan tingkah laku aktual itu sendiri. 1 127 . Komponen afektif. emosi. sikap merupakan kecenderungan bereaksi terhadap objek-objek. persepsi. bertingkah laku dengan cara tertentu. pengetahuan. Citizen journalism Menurut Lily Yulianti (panyingkul. menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. di Indonesia model jurnalistik baru ini disebut sebagai “Jurnalisme Orang Biasa” . bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis. hal disukai atau tidak. dimana masing-masing mempunyai fungsi yang diarahkan terhadap objek tertentu/ stimulus tertentu. Komponen kognitif. berhubungan dengan kecenderungan untuk beraksi. Definisi Konsep Dan Operasional Konsep Definisi konsep dalam penelitian ini adalah : 1. dan proses kognitifnya. 2. 2. Citizen Jurnalism ini memberi pengertian bahwa. setiap individu bebas melakukan kegiatankegiatan jurnalistik. Semua individu bebas melakukan hal itu. Objek dirasakan sebagai hal yang menyenangkan.1983:19) Menggambarkan sikap jurnalis terhadap citizen Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Sikap Menurut Gerungan ( 1996:150). mengenai situasi-situasi. dimana kecenderungan bereaksi ini merupakan cara yang khas tergantung dari motivasi. Operasional konsep dari sikap mengacu kepada tiga komponen dari sikap sebagai indikator.kita terhadap kelompok dan organisasi lain.

dimasukan dalam tabel frekuensi dan persentase yang selanjutnya diinterpretasikan dan dianalisis. Populasi penelitian ini adalah jurnalis surat kabar di Kota Bogor. Pemilihan sampel dilakukan secara tidak acak (non probability sampling). satu cara mengumpulkan data melalui komunikasi dengan individu-individu dalam suatu sampel (Zikmund. Sampel ditentukan secara purposive sampling yaitu 64 jurnalis ( yang bekerja / mempunyai bidang tugas redaksi/ baik redaktur maupun wartawan. Lokasi Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni tahun 2007 di Kota Bogor. penelitian dilakukan melalui pengumpulan data kuantitatif.1997). melakukan pencarian (peliputan) berita. lokasi ini dipilih karena berdasarkan data dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat. Kota Bogor mempunyai jumlah wartawan yang bertugas sebanyak 317 orang. merupakan daerah perkotaan sehingga akses jurnalis terhadap internet relatif lebih dimungkinkan. Pengolahan data dilakukan dengan mengolah jawaban hasil wawancara dan kuesioner. Survey adalah satu bentuk teknik penelitian di mana informasi dikumpulkan dari sejumlah sampel berupa orang. Sejalan dengan paradigma tersebut. 12 No.journalism. tidak dimungkinkan dibuat kerangka sampling. 1 . Tehnik penelitian ini adalah survey. melalui pertanyaanpertanyaan. 128  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. dan untuk memperoleh data yang lebih mendalam dilakukan juga pengumpulan data kualitatif melalui wawancara mendalam. Dengan keterbatasan yang ada. Jurnalis dalam penelitian ini dibatasi pada jurnalis yang bekerja / mempunyai bidang tugas redaksi/ baik redaktur maupun wartawan pada media massa surat kabar dan melakukan pencarian (peliputan) berita yang ada di Kota Bogor.di daerah tersebut mempunyai jumlah wartawan yang banyak. calon responden memiliki pengetahuan tentang citizen journalism.

bahwa handphone dan internet sebagai salah satu bentuk teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi fasilitas yang dimiliki dan mendukung pekerjaan jurnalis. Analisis tentang tingkat kebutuhan jurnalis terhadap teknologi informasi berupa akses internet. 12 No. Data di atas menunjukan bahwa handphone dan internet telah menjadi bagian dari seorang jurnalis (wartawan). dan 17 responden (26. dan teknologi komunikasi handphone berkoneksi internet.38%) mengakses internet sesuai keperluan. Journaslism dan Pemahaman Jurnalis Tentang Citizen Dari 64 orang responden. Semua responden ( 64 orang ) memiliki perangkat komputer. Dari 64 responden. Analisis di atas diperjelas dengan gambaran tentang frekuensi penggunaan fasilitas internet. handphone bukan saja berfungsi sebagai komunikasi diantara perseorangan. tetapi kelengkapan fitur internet menunjukan bahwa kebutuhan informasi yang bisa diperoleh melalui akses internet lewat handphone telah menjadi kebutuhan. Demikian pula dengan kepemilikan perangkat komputer yang mempunyai fasilitas koneksi internet.ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pengetahuan.62%) mengakses internet setiap hari. semuanya menyatakan tetap mengakses internet di kantor tempat bekerja. dan 6 responden (9. dan sebanyak 47 orang (73. Bagi responden yang tidak memiliki handphone dan perangkat komputer berkoneksi internet. telah memungkinkan seorang jurnalis melakukan pencarian sumber informasi.Jawaban di atas menunjukan. 8 responden (13. diperkuat dengan gambaran tentang frekuensi Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.85%) memiliki handphone tidak memiliki koneksi internet. sebanyak 58 responden (90. sebanyak 56 responden (86.57%) memiliki perangkat komputer tanpa koneksi internet.43%) memiliki fasilitas internet. koneksi internet memungkinksn seorang jurnalis di lapangan untuk mengirim berita. 1 129 .15%) memiliki handphone sebagai alat yang memiliki/ bisa koneksi internet. baik dalam bentuk kata-kata atau gambar kepada perusahaan/ penerbitnya. bahkan inspirasi melalui content yang tersedia dalam internet. Tingginya tingkat kebutuhan responden terhadap berbagai ragam informasi yang tersedia di berbagai situs internet. Secara aplikatif.

dan 9 responden (10. Dari 64 responden yang mengenal istilah citizen journalism. Data di atas diperkuat dengan jawaban responden yang sebagain besar menyatakan selain mengenal juga mengetahui aktifitas bloger dalam dunia citizen journalism. sebanyak 51 responden (79. 57 responden (89.33%) mengakses internet dengan keperluan yang beragam ( keperluan lainnya).94%) mengakses tidak berhubungan dengan pekerjaan sebagai jurnalis. hal ini tergambar dari sebagian besar responden mempergunakan internet untuk mengirim e-mail.35%) mengakses internet untuk mengirim e-mail tentang berita ke redaksi. Tentang citizen journalism.29%) untuk mencari data / berita .03%) melakukan komunikasi . dapat dianalisis bahwa soorang responden yang melakukan pekerjaan sebagai jurnalis dapat mengirimkan beritanya ke penerbit dengan mempergunakan e-mail.. Dalam mempergunakan fasilitas internet.06%) melakukannya berkaitan dengan pekerjaan. dimana sebagian besar responden menyatakan setiap hari mengakses internet.68%) mengenal dari internet. bahwa responden selain mempergunakan fasilitas yang berhubungan langsung dengan pekerjaannya sebagai jurnalis. Data ini menunjukan bahwa. Sebanyak 52 responden (81. Data di atas menununjukan. 1 . 12 responden (18. semua responden menyatakan dalam setiap mengakses internet rata-rata di atas satu jam. 15 responden (26.13%) menyatakan memgkses internet dengan frekuesi yang tidak menentu. seluruhnya mengenal istilah bloger sebagai aktifitas citizen journalism.75%) menyatakan cukup mengetahui aktifitas citizen journalism. 9 responden (14. frekuensi maupun kebutuhan responden terhadap internet berkaitan langsung dengan pekerjaannya. 12 No. seperti halnya istilah blog dan bloger. bahwa handphone berakses internet serta perangkat komputer berkoneksi internet merupakan perangkat atau fasilitas pendukung responden yang berprofesi wartawan. 11 responden (19. .25%) sangat mengetahui aktifitas bloger. Dari 64 responden. 8 responden (14. dan 18 responden (38. Dari 57 responden. Dalam mengakses internet. 37 responden (57. Data di atas menunjukan bahwa.6%) antara 3 – 4 jam. Data ini menunjukan.81%) melakukannya antara 1 – 2 jam. 23 responden (40.penggunaa. tetapi mengenal juga perkembangan dalam dunia internet. 5 responden 130  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.

8 responden (12.51%) menyatakan kadang-kadang membuka web bloger.06. dimana internet telah menjadi sumber informasi tentang perkembangan dunia internet. Responden telah menempatkan citizen journalism sebagai back up data dan informasi terhadap hala-hal yang tidak diperoleh oleh dirinya sebagai jurnalis. 1 131 . 12 No. 29 responden (45. dan 5 responden (7. Sebagian besar responden menyatakan mengetahui istilah dan aktifitas citizen journalism justru dari media internet sendiri. citizen journalism telah berfungsi sebagai media informasi dan sumber data bagi pekerjaannya sebagai jurnalis.94%) menyatakan tidak membantu tugas wartawan . Penilaian Jurnalis Tentang Citizen Journalism Sebanyak 49 responden (76. Hal ini menunjukan bahwa memang responden memanfaatkan internet dalam menunjang pekerjaannya serta sebagai sumber informasi bagi penambahan wawasannya. responden dalam mengakses situs atau blog cukup tinggi frekuensinya. Sebagian besar responden menyatakan bahwa citizen journalism telah membantu dirinya sebagai jurnalis seperti telah di analisa pada jawaban sebelumnya. dan sebanyak 15 responden (23.81%) mengenal citizen journalism membaca dari buku. Sebanyak 39 responden (60. Tentang keperluan membuka web para bloger.31%) menyatakan dua hari sekali ..93%) menyatakan mencari informasi lokal yang tidak tercover oleh media massa.%) menyatakan bahwa citizen journalism membantu tugas mereka sebagai wartawan. dimungkinkan karena Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.30%) mengenal dari pembicaraan non formal. dan . Sama halnya dengan jawaban responden dalam membuka situs internet.(7. Namun bagi reponden yang menyatakan bahwa citizen journalism tidak membantu pekerjaanya.18%) menyatakan setiap hari membuka web-bloger. Jawaban responden di atas sangat cocok dan sinkron dengan jawaban sebelumnya. 8 responden (12. Data di atas menunjukan bahwa.51%) menyatakan membuka blog karena sesuai dengan keperluan. 3 responden (4. Sebagian besar responden menyatakan rata-rata setiap hari membuka blog dalam internet.56%) menyatakan mencari artikel tentang informasi aktual. Sebanyak 27 responden (42.81%) mengenal dari artikel surat kabar. 17 responden (26.

93%) menyatakan tidak percaya dan 8 responden (12. bahwa sebagian besar responden menyatakan tidak percaya terhadap isi citizen journalism. Reaksi Jurnalis Terhadap Citizen Journalism Dari 64 responden. Tentang data.69%) menyatakan lebih bersifat ulasan atau pendapat pribadi. Tentang isi atau content yang ada dalam aktifitas citizen journalism.20%) menyatakan senang terhadap kehadiran citizen journalism karena menunjukan aktifitas menulis masyarakat yang tinggi.51%) menyatakan ragu-ragu. dapat dianalisis bahwa di samping menyatakan bahwa citizen journalism bermanfaat bagi mendukung bidang kerjanya. 39 responden (60. 52 responden (81.56%) karena alasan hiburan. 132  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.56%) menyatakan percaya. sarana penambahan wawasan dan sarana hiburan. 9 responden (14.sumber informasi lain diluar internet masih memadai responden dalam melakukan pekerjaannya. Sebagian responden menilai bahwa isi dari aktifitas citizen journalism sebagian besar hanya berupa opini penulis. Hal ini dimungkinkan karena penilaian responden sebagai jurnalis yang tidak begitu saja menyerap informasi tanpa melalui penelusuran kebenaran informasi.25%) menyatakan bersifat opini. dan 11 responden (11. selain sebagai sumber informasi. dan 5 responden (4.Jawaban ini menyiratkan bahwa responden menempatkan citizen journalism sebatas sebagai pendukung dan bukan sebagai sumber berita. fakta. atau informasi yang ada dalam aktifitas citizen journalism. responden sebagai seorang jurnalis menyatakan apresiasinya terhadap aktifitas menulis oleh kalangan bloger.31%) karena dapat menambah wawasan. 1 . Tentang penilaian responden. responden sangat kritis dan selektif dalam memberikan penilaian tentang isi blog atau isi dari citizen jounalism. Data di atas menunjukan bahwa semua responden menyambut baik aktifitas citizen journalism.93%) senang karena menambah sumber informasi. 17 responden (26. 12 No. data atau lainnya. Terdapat jawaban responden yang menarik untuk dianalisis. 23 responden (35. 17 responden (26.06%) menyatakan informasi. seluruhnya merasa senang dengan kehadiran citizen journalism. 13 responden (20.

Data di atas menunjukan kesamaan dengan pendapat para pakar/ ahli dibidang jurnalistik. Data yang menunjukan jawaban responden yang menyatakan bahwa terdapat kontribusi citizen journalism bagi dirinya sebagai jurnalis. 52 responden (91. Kendatipun menyambut baik kehadiran citizen journalism. Tentang eksistensi citizen journalism dalam media mainstream (media massa pada umumnya). diperkuat dengan jawaban responden di atas.38%) menyatakan tidak tahu. 12 No.Namun berkaitan dengan kontribusi citizen journalism terhadap tugas responden sebagai wartawan.34%) menyatakan bahwa citizen journalism berkontribusi dalam hal memberikan wartawan ruang untuk beraktifitas di luar media mainstream. kembali responden menunjukan sikap kritis dan objektifnya. 1 133 . Data di atas menunjukan.62%) menyatakan tidak setuju apabila citizen journalis disamakan dengan media mainstream. 5 responden (41.25%) menyatakan bahwa citizen journalism tidak berkontribusi terhadap tugas responden sebagai jurnalis. dalam hal kontribusi terhadap pekerjaannya.75%) menyatakan ada kontrinbusinya. menegaskan bahwa citizen journalism hanya berkontribusi sebagi sumber inspirasi. Tidak ada keterkaitan antara civic journalism/ media mainstream (media massa pada umumnya) dengan citizen journalism. sama dengan pernyataan responden tentang eksistensi antara bloger dengan wartawan.62%) menyatakan tidak setuju apabila bloger disamakan dengan wartawan.Jawaban tersebut dimungkinkan karena memang tidak ada keterkaitan langsung antara seorang jurnalis aktifitas blog yang lazim disebut bloger. dan 6 responden (9. Sebagian besar responden menyatakan bahwa tidak bisa disamakan antara aktifitas Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. dan 6 responden (9. sebagian responden menyatakan bahwa citizen jounalism tidak berkontribusi secara langsung terhadap profesinya sebagai jurnalis. Sebanyak 58 responden (90. 3 responden (24%) beralasan karena citizen jornalism biasa menjadi sumber informasi. sebanyak 58 responden (90. 12 responden (18.66%) karena bisa menjadi sumber inspirasi. dan 4 responden (33. Pernyataan responden melalui jawabannya tentang tidak bisa disamakannya antara media massa dengan citizen journalism. bahwa memang tidak bisa disamakan antara media massa pada umumnya dengan citizen journalism.38%) menyatakan tidak tahu. Bagi 12 responden yang menyatakan citizen journalism berkontribusi terhadap profesi wartawan. Jawaban responden di atas.

dan 6 responden (10. Responden sebagai seorang yang berprofesi jurnalis melalui jawabannya telah memberikan gambaran dan reaksinya tentang citizen journalism. Sebanyak 58 responden (90. penilaian (aspek afektif). sebanyak 37 responden (53. 134rgument. PEMBAHASAN Berdasarkan jawaban responden yang diberikan dan telah dianalisis di atas. Lebih jelas sebagian responden menyatakan bahwa tidak setuju apabila aktifitas bloger disamakan dengan profesi wartawan. pemahaman. Jawaban responden tersebut memang objektif dan sangat argumentatif. Persentase jawaban yang sama juga diperoleh dari jawaban tentang eksistensi citizen journalism dengan media mainstream (civic journalism) atau media massa pada umumnya. media massa dan segala perangkatnya. radio. Sebagai jurnalis.bloger dengan aktifitas seorang jurnalis.dll) disamakan dengan citizen journalism. dibentuk dan melaksanakan tugas dan fungsinya berdasarkan aturan main yang baku. dan kecenderungan reaksi ( aspek konatif) responden sebagai seorang jurnalis sangat sesuai dengan teori yang dipakai dalam penelitian ini.79%) beralasan karena medianya berbeda. responden menilai bahwa tidak bisa disamakannya antara civic journalism/ media mainstream atau media massa pada umumnya dengan citizen journalism. sebagian besar menyatakan tidak setuju apabila media massa pada umumnya (surat kabar.38%) menyatakan tidak tahu. 1 . jawaban responden yang menggambarkan pengetahuan. pengetahuan. pemahaman sebagai (aspek kognitif).20%) karena audiensnya berbeda.01%) beralasan karena tidak ada persamaan sama sekali. Tentang alasan tidak bisa disamakannya antara citizen journalism dengan civic journalism (media massa) yang diberikan oleh 58 responden. karena faktor audiencenya pun sangat berbeda. dan 6 responden (9. Selain bentuk medianya yang berbeda. penilaian dan reaksinya terhadap citizen 134  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.62%) menyatakan tidak setuju apabila citizen journalism disamakan dengan media massa (media mainstream). 12 No. Senada dengan ketidak setujuan dan penolakannya terhadap disamakannya antara aktifitas bloger dengan profesi wartawan. 21 responden (36.

Komponen kognitif. citizen journalism juga berfungsi sebagai sumber inspirasi dalam melaksanakan tugasnya sebagai jurnalis. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Gambaran sikap responden tersebut secara teoritis mengacu kepada teori atau konsep tentang sikap. Komponen afektif. bahwa isi atau content dari blog sebagai media citizen journalism sebagian merupakan tulisan berbentuk opini dan ulasan. pengetahuan. menyangkut masalah emosional subjektif seorang jurnalis terhadap citizen journalism. Komponen konatif. dipengaruhi kepercayaan atau apa yang responden percayai sebagai benar dan berlaku bagi suatu objek. pengertian. 1 135 . penilaian ini argumentatif karena sebagai seorang jurnalis dalam membuat berita tidak mencampurkan antara opini dan fakta. Terdapat penilaian yang kritis dan objektif dari para jurnalis. Sumber informasi tentang citizen journalism berasal dari informasi/ content dalam internet dan buku . 12 No. menceriterakan apa yang terjadi disekitarnya. Para jurnalis telah mempergunakan weblog dengan frekuensi dan intensitas waktu penggunaan yang cukup tinggi 2. para jurnalis mempunyai frekuensi dan intensitas waktu yang tinggi. 3. tapi konatif ini tidak meramalkan tingkah laku aktual itu sendiri. Para jurnalis dalam penelitian ini telah mengetahui dan memahami istilah dan aktivitas citizen journalism. Yaitu : 1. Pengetahuan dan pemahaman jurnalis tentang citizen journaslism. Penilaian jurnalis tentang citizen journaslism.journalism. Dalam memanfaatkan blog sebagai aktivitas citizen journalism. Para jurnalis memahami timbulnya citizen journalism sebagai ruang publik melalui media internet dalam rangka partisipasi masyarakat dalam mengemukakan pendapatnya. berhubungan dengan kecenderungan untuk beraksi. pengalaman. Para jurnalis menilai bahwa Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. pemahaman jurnalis tentang citizen jounalism. Selain sebagai sumber informasi dan data tambahan. 2. bertingkah laku dengan cara tertentu. Dari penilaian tersebut memunculkan penilaian lainnya bahwa opini dan ulasan kurang dipercaya validitasnya.

3. praktisi telematika dan masyarakat pengguna media tentang keberadaan citizen journalism. Reaksi jurnalis tentang citizen journalism. Ia juga punya tanggungjawab dan kode etik tertentu. seperti halnya dokter atau pengacara. televisi. para jurnalis menyatakan bahwa tidak ada kontribusi atau manfaat secara langsung antara keberadaan citizen journalism dengan profesinya sebagai jurnalis. para jurnalis menyatakan bahwa tidak bisa disamakan atau tidak sama antara citizen journalism yang berkiprah dalam dunia internet dengan civic journalism ( media mainsteram) atau media massa umumnya seperti surat kabar. Lebih jauh para jurnalis menyatakan sukapnya. Kendatipun demikian. 136  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Terhadap anggapan bahwa setiap individu adalah reporter. bloger. Perbedaan secara substantif maupun kelembagaan. Ia memiliki keahlian tersendiri yang tidak dimiliki profesi lain (memburu. Kesimpulan ini sesuai dengan eksistensi wartawan dimana seorang wartawan adalah orang yang profesional. secara eksplisit. dan setiap individu adalah media. karena merupakan satu media bagi penyaluran dan peningkatan kemampuan menulis. eksistensi. tegas dan argumentatif. dan menulis berita). 1 . mekanisme kerja dan pelakunya. Para jurnalis merasa senang dan menyambut baik aktifitas citizen journalism. penyampaikan pendapat. Kesamaan persepsi diantaranya mengenai perbedaan. serta mengangkat sesuatu yang terjadi pada lingkungan sekitarnya. dan keberadaannya masing-masing. Kontribusi yang diberikan citizen journalism diantaranya berupa sumber informasi dan inspirasi dalam hal informasi. mengolah. Saran Perlu adanya kesamaan persepsi yang konstruktif diantara jurnalis. bahwa tidak bisa disamakan atau tidak sama antara aktifitas bloger melalui media blog dalam citizen journalism dengan profesi wartawan. dan persamaan tentang tugas pokok dan fungsi. radio. 12 No.kehadiran citizen journalism melalui aktifitas bloger telah membantu pekerjaannya sebagai jurnalis. sehingga dapat mendudukan keduanya dalam porsi. praktisi pers dan komunikasi.

Tankard Jr. & Terapan Di Dalam Media Massa. 2003.com Pikiran Rakyat. Werner J. James W. Teori Komunikasi : Sejarah.DAFTAR PUSTAKA Sobur. Analisis Teks Media. 12 No.com http://www. 2006. Sumber lain : http://sulungz.friendster.. 2002. Jurnalistik Terapan. Severin.pontianakpost. Alex. 2005. Metode. Bandung .blogs. Pusat Data Redaksi (Unit: Cyber MediaDokumentasi Digital). Bandung : Batic Press.. Edisi kelima. Jakarta : Prenada Media. 1 137 . Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Bandung : Remaja Rosda Karya Romli. Asep Syamsul M.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->