P. 1
The Prospect of Biodiesel CPO

The Prospect of Biodiesel CPO

|Views: 952|Likes:
Published by Rahman Jinar Hadi

More info:

Categories:Types, Reviews, Book
Published by: Rahman Jinar Hadi on Jan 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

PROSPEK PENGEMBANGAN BIODIESEL BERBASIS KELAPA SAWIT DI INDONESIA: STRATEGI, PELUANG, DAN TANTANGAN

OLEH: RAHMAN F34070100

TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN IPB 2010

Pengantar Penyusun

Saat ini, Indonesia adalah “jawarah” dunia dalam memproduksi CPO (crude palm oil) dari tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis). Dengan luas lahan tanam yang tidak kurang dari 7 juta ha, Indonesia mampu menghasilkan CPO sebesar 19,2 ton. Sebagaimana kita ketahui, minyak kelapa sawit (CPO) di Indonesia sebagian besar dikonversi menjadi minyak goreng produk-produk oleokimia. Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun, kebutuhan akan produk turunan dari kelapa sawit juga terus meningkat. Dengan demikian, bisnis kelapa sawit menjadi ladang penghasilan yang sangat prospek, saat ini dan di masa yang akan datang. Selain digunakan sebagai bahan pangan, kelapa sawit juga sangat potensial untuk dikonversi menjadi energi baru dan terbarukan. CPO juga dapat “disulap” menjadi bahan bakar biodiesel mampu mensubstitusi penggunaan BBM yang kini ketersediaannya semakin menipis. Biodiesel yang juga biasa disebut Bahan Bakar Nabati (BBN) dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar alat transportasi dan mesin-mesin di Industri. Meskipun hingga kini belum digunakan secara total (100%), kehadiran biodiesel diharapkan mampu menjadi salah satu jawaban pasti atas pertanyaan solusi krisis energi yang kini sedang dan semakin memanas. Manusia tidak bisa hidup tanpa energi. Manusia membutuhkan energi untuk menjalani siklus kehidupan secara normal. Di sisi lain, manusia juga tidak mampu bertahan tanpa adanya supply makanan yang cukup. Apa tindakan yang harus dilakukan terhadap ketersediaan CPO yang melimpah di bumi Indonesia ini? Melindungi KETAHANAN PANGAN (food security) atau FOKUS pada suplai ENERGI? Kliping ini akan memberikan Jawaban bagi Anda yang selalu menanyakan hal seperti pertanyaan di atas. Semoga kumpulan artikel yang berisi fakta dan opini ini mampu membuka cakrawala pengetahuan kita, khususnya di bidang kelapa sawit, dalam rangka menuju kejayaan Agroindustri di Indonesia.

Bogor, 22 Desember 2010

Best Regards, RAHMAN

PROSPEK PENGEMBANGAN BIODIESEL BERBASIS KELAPA SAWIT DI INDONESIA: STRATEGI, PELUANG, DAN TANTANGAN

Diagram Alir Pembuatan Biodiesel

RAHMAN

GAMBARAN ISI KLIPING
 Luas Lahan Kelapa Sawit Nasional  Trend Produksi CPO  Volume Ekspor CPO

 Kebutuhan CPO untuk Minyak Goreng dan Oleokimia  Kebutuhan CPO untuk Produksi Biodiesel

 Harga Jual Biodiesel Kelapa Sawit  Kelemahan Biodiesel Kelapa Sawit

Perkembangan Luas Lahan dan Produksi CPO Nasional
Sejak dikembangkannya tanaman kelapa sawit di Indonesia pada tahun 60-an, luas areal perkebunan kelapa sawit mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bila pada 1967 Indonesia hanya memiliki areal perkebunan kelapa sawit seluas 105.808 hektar, pada 1997 telah membengkak menjadi 2,5 juta hektar. Pertumbuhan yang pesat terjadi pada kurun waktu 1990-1997, dimana terjadi penambahan luas areal tanam rata-rata 200.000 hektar setiap tahunnya, yang sebagian besar terjadi pada perkebunan swasta. Pertumbuhan luas areal yang pesat kembali terjadi pada lima tahun terakhir, yakni periode 1999-2003, dari 2,96 juta hektar menjadi 3,8 juta hektar pada 2003, yang berarti terjadi penambahan luas areal tanam rata-rata lebih dari 200 ribu hektar setiap tahunnya (Grafik 1). Areal penanaman kelapa sawit Indonesia terkonsentrasi di lima propinsi yakni Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi dan Aceh. Areal penanaman terbesar terdapat di Sumatera Utara (dengan sentra produksi di Labuhan Batu, Langkat, dan Simalungun) dan Riau. Pada 1997, dari luas areal tanam 2,5 juta hektar, kedua propinsi ini memberikan kontribusi sebesar 44%, yakni Sumatera Utara 23,24% (584.746 hektar) dan Riau 20,76% (522.434 hektar). Sementara Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi dan Aceh masing-masing memberikan kontribusi 7% hingga 9,8%, dan propinsi lainnya 1% hingga 5%.

Dilihat dari status kepemilikannya, perkebunan kelapa sawit Indonesia terdiri dari Perkebunan Negara, Perkebunan Swasta dan Perkebunan Rakyat. Pada 2000, perkebunan swasta menguasai 51% dari luas areal perkebunan, perkebunan negara 16%, dan perkebunan rakyat 33%. Perkebunan rakyat terkonsentrasi pada 4 propinsi yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat. Perkebunan milik negara (PTP) terkonsentrasi di Sumatera Utara, dan perkebunan swasta terkonsentrasi di Riau, Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Selatan. Tingkat produktivitas tanaman kelapa sawit Indonesia bervariasi menurut jenis pemilikan. Menurut Departemen Pertanian, pada umumnya tingkat produktivitas perkebunan rakyat paling rendah dibandingkan perkebunan negara dan perkebunan

swasta. Diperkirakan, produktivitas perkebunan rakyat hanya mencapai rata-rata 2,5 ton CPO per ha dan 0,33 ton minyak inti sawit (PKO) per ha. Ini disebabkan kurangnya perawatan perkebunan tersebut. Sementara itu, perkebunan negara memiliki produktivitas tertinggi, yakni rata-rata menghasilkan 4,82 ton CPO per hektar dan 0,91 ton PKO per hektar. Sedangkan perkebunan swasta rata-rata menghasilkan 3,48 ton CPO per hektar dan 0,57 ton PKO per hektar. Tingkat produktivitas rata-rata perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga relatif lebih rendah dibandingkan Malaysia. Menurut GAPKI, produktivitas perkebunan kelapa sawit Indonesia baru mencapai angka 3.1 juta ton per hektar, sementara Malaysia telah mencapai 3.6 juta ton per hektar. Relatif rendahnya tingkat produktivitas kelapa sawit Indonesia diantaranya disebabkan sebagian besar tanaman masih muda usianya, tidak terpenuhinya baku kultur bibit, pencurian buah, serta kelangkaan pupuk dan tingginya harga pupuk. Luas lahan yang tersedia untuk pengembangan kelapa sawit masih sangat luas. Pemerintah sendiri pada 2001 telah menyediakan 9,13 juta hektar di Indonesia bagian Timur untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit. Lokasi lahan yang disediakan terletak di Irian Jaya, Kalimantan Timur, Maluku dan Sulawesi Tenggara. Dari luas lahan yang tersedia tersebut baru 2.79% atau 255 ribu hektar lahan yang telah dimanfaatkan. Hingga saat ini, terdapat tiga perusahaan penghasil benih kelapa sawit bersertifikat di Indonesia, yakni PT. London Sumatera Indonesia, PT. Socfindo, dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yang berlokasi di Medan, dengan total kapasitas produksi 80 juta bibit sawit per tahun. Namun demikian, karena banyaknya jumlah bibit palsu yang beredar – Direktorat Jenderal Perkebunan memperkirakan jumlah bibit palsu mencapai 40% dari total bibit yang beredar – permintaan terhadap benih bersertifikasi cenderung menurun, khususnya dari perkebunan rakyat. Sebagai gambaran, pada 2001 penjualan benih kelapa swait bersertfikat mencapai 20,5 juta, namun pada 2002 merosot tajam menjadi 13,6 juta benih1. Sejalan dengan peningkatan luas areal, produksi CPO Indonesia mengalami peningkatan yang sangat signifikan selama lima tahun terakhir. Lonjakan produksi yang cukup tajam terjadi pada kurun waktu 1999-2001 yang meningkat dari 6 juta ton menjadi 9 juta ton. Produsen CPO terbesar adalah Sumatera Utara yang memberikan kontribusi lebih dari 4,5 juta ton CPO atau sekitar 50% dari total produksi CPO nasional. Saat ini terdapat enam pemain terbesar bisnis CPO yang menguasai lebih dari 50% areal perkebunan kelapa sawit, yakni PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) – yang terdiri dari 9 PTPN -- Sinar Mas, Raja Garuda Mas, Astra Agro Lestari, Minamas Plantation (Kelompok Guthrie Berhad asal Malaysia), dan Indofood Tbk. Konsumsi CPO Sekitar 60% dari produk CPO Indonesia diekspor ke luar negeri, sementara sisanya diserap untuk konsumsi di dalam negeri. Untuk penggunaan lokal, industri minyak goreng merupakan penyerap CPO dominan, mencapai 29,6% dari total produksi, sedang sisanya dikonsumsi oleh industri oleokimia, sabun dan margarine atau shortening (grafik 2). Saat ini terdapat sekitar 215 pabrik CPO di Indonesia (lebih sedikit dibanding Malaysia yang memiliki 374 pabrik)2. Kapasitas pabrik CPO
1 2

Harian Kompas, edisi 10 April 2003 Harian Bisnis Indonesia, edisi 17April 2003

terbesar terdapat di Sumatera – terdiri dari 199 perusahaan) yang mencapai 85% dari kapasitas CPO nasional.

Menurut National Distribution Network, saat ini terdapat sekitar 80 perusahaan penyulingan minyak goreng sawit di Indonesia yang tersebar di 11 propinsi di Sumatera, Jawa dan Kalimantan dengan total kapasitas produksi 7,79 juta ton per tahun. Sebesar 62% diantaranya (4,8 juta ton) dikuasai oleh 7 grup produsen yakni Hasil Karsa, Musim Mas, Sinar Mas, Karya Prajona Nelayan, Raja Garuda Mas, dan Sungai Budi. Pada industri margarine dan shortening, CPO memberikan kontribusi sekitar 80% terhadap komponen bahan baku. Sementara pada industri sabun cuci CPO memberikan kontribusi sebesar 20% dan sabun mandi 80%. Pada saat ini terdapat paling tidak 17 industri margarine dan shortening di Indonesia. Meskipun penggunaan CPO untuk industri sabun masih relatif kecil, penggunaannya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Produk oleochemical yang diolah dari CPO terdiri dari Fatty Acid, Fatty Alkohol, Glyserine dan Stearic Acid. Produk ini memiliki kegunaan yang sangat luas untuk berbagai industri, seperti pembuatan deterjen, personal care, farmasi, industri PVC, pelumas pada industri tekstil, dan lain-lain. Dibanding CPO, produk oleokimia memiliki nilai tambah lebih tinggi dan harga yang lebih stabil. Harga CPO berfluktuasi antara US$ 250 sampai dengan US$ 500 per ton, sedang harga produk oleokimia bisa mencapai hingga US$ 1000 per ton. Namun demikian, penggunaan CPO untuk industri ini masih relatif rendah (sekitar 6,8%) karena kurang berkembangnya industri ini di dalam negeri. Saat ini, menurut Komisi Minyak Sawit Indonesia (KMSI), Indonesia baru memiliki 7 perusahaan oleochemical yang menggunakan 6,8% produksi CPOnya, dengan total produksi 609 ribu ton pada 2002. Bandingkan dengan Malaysia yang telah memiliki 22 pabrik oleochemical (dan telah merencanakan penambahan 19 buah pabrik lagi) dengan total produksi 1,7 juta ton per tahun – yang menggunakan 20% hasil

CPOnya. Disamping itu, produk oleochemical di Indonesia masih berupa produk sampingan sedang di Malaysia sudah menjadi produk utama. Diantara perusahaan yang bergerak di bidang produk oleochemical adalah PT. Cisadane Raya Chemical, PT. Sumiasih Oleochemical, PT. Sinar Oleochemical (Sinar Mas Group), PT. Ecogreen Oleochemical, dan PT Flora Sawita Chemindo. Dimasa mendatang, konsumsi CPO di dalam negeri diperkirakan akan terus mengalami peningkatan dan mencapai 5,6 juta ton pada 2010. Penggunaan terbesar pada industri minyak goreng (51%), diikuti industri margarine dan shortening (37%), Oleochemical (8%), industri sabun mandi (3%) dan industri sabun cuci (1%). Sebagai review, trend produksi dan konsumsi untuk industri dan kebutuhan pangan di Indonesia (periiode 1960-2010) ditunjukkan pada grafik di bawah ini.

Pengembangan Kelapa Sawit Nasional, Mewujudkan Visi Indonesia 2020
JAKARTA-Pengembangan kelapa sawit untuk mewujudkan Visi Indonesia 2020 adalah sebagai sumber kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Hal ini ditegaskan oleh Direktur Jenderal Perkebunan, Achmad Mangga Barani pada Simposium Tentang Kelapa Sawit Indonesia Menunjang Ketahanan Pangan Dunia, Selasa,(30/6) di Menara Kamar Dagang Indonesia (Kadin),Jakarta. Simposium yang dihadiri oleh pengurus dan anggota Kadin se Indonesia bertujuan untuk

melihat peranan komoditas perkebunan kelapa sawit dalam rangka mewujudkan Visi Indonesia 2020. Lebih lanjut dijelaskan oleh Achmad bahwa Indonesia saat ini merupakan negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia, dengan luas areal 7 juta ha dan produksi 19,2 juta minyak sawit (CPO). Oleh sebab itu peranan agribisnis kelapa sawit sangat penting artinya bagi bangsa ini. Tahun 2008, ekspor CPO mencapai 14,3 juta ton dengan nilai US$ 12,4 milyar. Negara juga memperoleh pendapatan dari PE (Pungutan Ekspor) CPO, tahun 2008 sebesar Rp 13,5 triliyun. Memberikan lapangan kerja sekitar 3,5 juta Kepala Keluarga (KK) mulai dari on-farm sampai off-farm. Disamping itu, minyak sawit merupakan sumber bahan baku industri utama di Indonesia, baik untuk kebutuhan pangan (minyak goreng) maupun untuk kebutuhan ole-chemical. Di masa depan, minyak sawit semakin penting sebagai sumber bahan bakar nabati (bio-fuel), seiring dengan semakin langkanya bahan bakar dari fosil (BBM). Tabel 1. Peran Indonesia Dalam Produksi Minyak Sawit Dunia Tahun 1993-2008
Uraian 199 3 Prod (000 ton) Pangs a (%) 200 Prod 0 (000 ton) Pangs a (%) 200 Prod 7 (000 ton) Pangs a (%) 200 Prod 8 (000 ton) Pangs a (%) Pert (%/th) Malaysi a 7.403 53,6 10.842 49,7 15.823 40,9 17.735 41,3 6,0 Indonesi a 3.421 24,8 7.000 32,1 17.373 44,9 19.200 44,7 10,4 Nigeri a 645 4,7 740 3,4 835 2,2 860 2,0 1,9 Thailan d 297 2,2 525 2,4 1.020 2,6 1.160 2,7 9,5 Columbi a 324 2,3 524 2,4 732 1,9 800 1,9 6,2 Lainny a 1.716 12,4 2.196 10,0 2.890 7,5 3.149 7,4 4,3 Dunia 13.80 6 100 21.82 7 100 38.67 3 100 42.90 4 100 7,9

Sumber: Oil World dan MPOB, diolah
Upaya Mewujudkan Visi 2020 Menurut Dirjen, pemerintah bersama stakeholder industri perkelapa sawitan telah berupaya mewujudkan Visi Perkebunan 2020 dengan kelapa sawit sebagai sumber kesejateraan dan kemakmuran bangsa. Arah pengembangan kelapa sawit sebagai unggulan nasional adalah melalui pengembangan industri kelapa sawit yang menghasilkan produk hulu hingga hilir serta pengembangan produk samping untuk

meningkatkan nilai tambah. Pendekatannya adalah: “Pengembangan Klaster

Industri Berbasis Kelapa Sawit”.

Lebih lanjut Dirjen Perkebunan menjelaskan secara rinci upaya-upaya yang sudah dan akan dilakukan untuk mewujudkan Visi Perkebunan 2020 berbasis kelapa sawit yaitu : 1) Revitalisasi Perkebunan 2007-2010, 2) Intensifikasi tanaman kelapa sawit rakyat, 3) Dukungan penyediaan lahan, 4) Dukungan penyediaan benih unggul, 5) Dukungan pembangunan infrastruktur, 6) Pengembangan riset dan development, 7) Penyediaan pembiayaan, dan 8) Meningkatkan penerapan pembangunan kelapa sawit berkelanjutan(sustainable development). Melihat pentingnya peranan, posisi Indonesia serta prospek kelapa sawit ke depan, Achmad Mangga Barani yang menjabat Dirjen Perkebunan sejak tahun 2006, mengharapkan bahwa untuk pengembangkan kelapa sawit ke depan perlu adanya komitmen politik yang kuat dari pemerintah bersama lembaga legislatif. Komoditas kelapa sawit hampir sama dengan beras yaitu merupakan komoditas strategis dalam perekonomian nasional, tambah Dirjen dihadapan ratusan peserta simposium. Diperkirakan komposisi perkebunan kelapa sawit Indonesia tahun 2020 pada tabel berikut: Tabel 2. Perkiraan Kompososisi Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Tahun 2020 Posisi Tahun 2008 Bentuk Luas Areal Persentase Pengusahaan (%) (1.000 ha) Perk.Rakyat 2.903 41,42 Perk.Besar 608 8,67 Negara Perk.Besar 3.497 48.64 Swasta Total 7.008 100,00 Perkiraan Tahun 2020 Bentuk Luas Areal Perentase Pengusahaan (1.000 ha) (%) Perk.Rakyat Perk.Besar Negara Perk.Besar Swasta Total 4.107 912 4.107 9.127 45,00 10,00 45.00 100,00

Sumber: http://ditjenbun.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=85:penge mbangan-kelapa-sawit-nasional-mewujudkan-visi-indonesia-2020&catid=36:news [Diakses Tanggal 20 Desember 2010]

Perkembangan Ekspor CPO

Volume ekspor minyak kelapa sawit Indonesia cenderung meningkat sejak 1999 setelah mengalami penurunan yang cukup tajam pada 1998. Pada 2003, volume ekspor mencapai 6,38 juta ton, meningkat 136% dibanding 1999 yang mencapai 3,3 juta ton. Ini diikuti peningkatan nilai ekspor sebesar 93%, yakni dari US$ 1,1 miliar menjadi US$ 2,6 miliar. Ekspor minyak sawit Indonesia ditujukan ke 123 negara. Pada 2002, volume ekspor terbesar ke India dengan kontribusi 28% (1,8 juta ton), diikuti Belanda 17% (1,1 juta ton), Cina 8% (483 ribu ton), dan Malaysia serta Singapura masing-masing sebesar 6%. Kelima negara ini secara bersama-sama menyerap sekitar 65% dari total ekspor minyak kelapa sawit Indonesia. Pada 2004, ekspor ke India diperkirakan akan menurun, karena adanya ketentuan Pemerintah India yang mensyaratkan kandungan betta carotene minimal 500 part per million (ppm) , sedang kandungan betta carotene CPO dari Indonesia sekitar 450 ppm. Persyaratan tersebut menyebabkan banyaknya CPO yang tertahan di pelabuhan. Namun, pada tahun berikutnya diharapkan ekspor ke India kembali meningkat menyusul 7 ditundanya pemberlakuan ketentuan tersebut oleh pemerintah India setelah pemerintah RI meminta klarifikasi dan penjelasan mengenai kebijakan tersebut. Sebaliknya, peluang ekspor ke Cina pada 2004 diperkirakan meningkat sekitar 10 hingga 15%. Dengan konsumsi minyak goreng per kapita 10-12 kg per tahun, dan jumlah penduduk 1,4 milyar jiwa, kebutuhan minyak goreng Cina diperkirakan mencapai 14 juta ton setiap tahunnya. Jumlah tersebut belum termasuk untuk keperluan industri. Saat ini, sebagian besar kebutuhan minyak sawit Cina dipasok dari Malaysia. Total ekspor Indonesia ke Cina pada 2004 ditargetkan mencapai 600 ribu ton. Harga CPO di pasar internasional sangat berfluktuasi. Pada 1999 misalnya, harga CPO melonjak hingga US$ 700 per ton, namun kembali merosot tajam pada 2001 menjadi US$ 276 per ton. Sementara pada 2004, harga CPO cenderung meningkat dengan harga yang cukup menggairahkan, berkisar pada US$ 400 hingga US$ 550 per ton. Ini disebabkan menurunnya produksi minyak kedelai, tingginya tingkat permintaan dari Cina dan India, serta produksi minyak sawit Malaysia yang cenderung flat. Pada 2010, diperkirakan volume ekspor CPO Indonesia akan mencapai 4,5 juta ton, sedangkan ekspor turunan lainnya mencapai 5,6 juta ton sehingga proyeksi kebutuhan CPO untuk ekspor pada tahun 2010 adalah 10,1 juta ton.

Peluang Pengembangan dan Prospek Industri Kelapa Sawit
Menurut senior managing Director PT. Smart Tbk., pada 2007 produksi CPO Malaysia dan Indonesia akan bersaing ketat3. Pada tahun tersebut produksi Indonesia akan tumbuh pesat dan mencapai 14 juta ton, sedangkan produksi Malaysia cenderung bergerak lambat yang mencapai 15 juta ton. Perkiraan ini

didasarkan asumsi produktivitas kelapa sawit Indonesia 4,3 ton/ha sementara Malaysia 4 ton/ha. Sehingga dalam 10 tahun kedepan Indonesia akan menjadi produsen CPO terbesar dunia. Bila melihat sumberdaya alam dan manusia yang dimiliki Indonesia saat ini yang secara kuantitatif relatif jauh lebih unggul dibanding Malaysia, Indonesia tampaknya berpeluang cukup besar untuk menjadi produsen kelapa sawit terbesar dunia. Dari sisi sumberdaya alam, Indonesia masih memiliki luas lahan untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit yang masih sangat luas yang mencapai 9 juta hektar lebih. Sementara dari sisi sumberdaya manusia, jumlah sumberdaya manusia yang dimiliki Indonesia masih sangat besar untuk perkebunan kelapa sawit yang kebutuhan tenaga kerja sangat besar. Disamping itu, dengan tingkat produktivitas tanaman yang ada saat ini, Indonesia masih berpeluang untuk meningkatkan produktivitas tanamannya dengan penggunaan bibit unggul dan pengelolaan produksi yang lebih profesional. Prospek pengembangan kelapa sawit juga relatif baik. Dari sisi permintaan, diperkirakan permintaan terhadap produk kelapa sawit akan tetap tinggi di masamasa mendatang. Ini disebabkan, dibanding produk substitusinya seperti minyak kedelai, minyak jagung dan minyak bunga matahari, preferensi terhadap minyak kelapa sawit diperkirakan masih relatif tinggi. Relatif tingginya preferensi terhadap minyak kelapa sawit disebabkan minyak sawit memiliki banyak keunggulan dibanding produk substitusinya. Keunggulan tersebut antara lain adalah relatif lebih tahan lama disimpan, tahan terhadap tekanan dan suhu tinggi, tidak cepat bau, memiliki kandungan gizi yang relatif tinggi, serta bermanfaat sebagai bahan baku berbagai jenis industri. Saat ini, Malaysia telah berhasil mengembangkan produk turunan kelapa sawit menjadi sekitar 34 jenis turunan yang memperluas pangsa pasar minyak sawit di negara tersebut. Keunggulan lain adalah dari sisi produktivitas dan biaya produksi. “Minyak sawit memiliki produktivitas relatif lebih tinggi dan biaya produksi yang relatif lebih rendah dibanding minyak nabati lain seperti minyak kedele dan biji matahari. Minyak sawit bisa mencapai produksi hingga 3.5 ton per hektar (bahkan lebih), sedang biji kedele hanya mencapai 0.4 ton per hektar, sedang biji matahari mencapai 0.5 ton per hektar.” Sementara dari sisi biaya produksi, menurut Oil World, biaya produksi rata-rata minyak kedele mencapai US$ 300 per ton, sedangkan minyak sawit hanya mencapai US$ 160 per ton. Indonesia juga memiliki keunggulan komparatif lain, yaitu biaya tenaga kerja yang 55-60% lebih rendah dibandingkan biaya tenaga kerja Malaysia. Sumber: http://www.bni.co.id/Portals/0/Document/197%20Potensi.pdf [Diakses Tanggal 17 Desember 2010] 3 Harian Sinar Harapan, 12 Maret 2003

KUPAS TUNTAS KELAPA SAWIT
Biodiesel Pengembangan industri hilir dan peningkatan nilai tambah kelapa sawit dimaksudkan agar ekspor kelapa sawit Indonesia tidak lagi berupa bahan mentah (CPO) tetapi dalam bentuk hasil olahan, termasuk biodiesel. Biodiesel merupakan produk hilir kelapa sawit yang prospeknya cukup cerah, terutama pada saat harga CPO rendah. Sejalan dengan laju perkembangan ekonomi maka permintaan energi terus meningkat. Salah satu bentuk energi yang digunakan adalah pemanfaatan sektor transportasi yang saat ini bergantung kepada BBM sebagai sumber energi. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut maka diversifikasi energi harus dipercepat melalui pengembangan energi alternatif, salah satu diantaranya adalah biodiesel sebagai energi terbarukan. Hal ini dimungkinkan karena Indonesia memiliki beraneka ragam tanaman yang dapat dijadikan sumber bahan baku biodiesel, seperti kelapa sawit, jarak pagar dan kelapa.

Alternatif Utama
Diantara bermacam-macam jenis bahan baku biodiesel yang ada di Indonesia, minyak kelapa sawit adalah alternatif utama bahan baku yang paling berpotensi untuk dikembangkan sebagai biodiesel. Jarak pagar saat ini tidak tersedia di pasar kendati Pertamina bersedia membayar di muka seluruh biji atau minyak jarak pagar. Dengan demikian, isu utamanya adalah kapan biji tanaman jarak pagar dapat dipanen dalam skala besar-besaran. Tidak seperti biodiesel (campuran solar dan minyak kelapa sawit) atau biofuel (campuran etanol dan bensin) yang bahan bakunya merupakan komoditas pasar siap pakai. Pada tahun 2005 areal kelapa sawit Indonesia mencapai 5,6 juta ha dengan produksi 13,8 juta ton CPO dan ekspor sebesar 75% (PPKS, 2006), sisanya untuk konsumsi dalam negeri dan sebagian dicadangkan sebagai bahan baku biodiesel. Proporsi untuk kebutuhan konsumsi dan untuk bahan baku biodiesel sangat dipengaruhi oleh harga dan ketersediaan CPO. Target pemanfaatan biodiesel sebesar 720.000 kL pada tahun 2009 (2% dari komsumsi solar nasional), maka (1) Sekitar 25 pabrik biodiesel berkapasitas rata-rata 30.000 ton/tahun sudah berproduksi pada tahun itu; (2) Jika diandaikan bahan mentahnya minyak sawit, akan dibutuhkan 650.000 ton CPO, ini dihasilkan dari 210.000 Ha kebun sawit; dan (3) Impor 720.000 kL solar dapat dihindarkan, berarti menghemat 216 juta US$ devisa (asumsi harga solar di pasar curah = US$.30/liter).

Kendala dan Tantangan
Penggunaan bahan baku minyak kelapa sawit untuk biodiesel memiliki tantangan dan kendala yaitu (1) Harga CPO yang tinggi mengakibatkan biaya produksi biodiesel menjadi mahal; (2) Pengembangan biodiesel mengalami keterbatasan modal untuk pengembangan usaha; (3) Insentif investasi belum berjalan dengan baik; (4) Persaingan bahan baku dengan industri pangan/edible oil; (5) Keterbatasan infrastuktur industri penunjang pengembangan biodiesel; (6) Kegiatan litbang terapan teknologi proses di Indonesia belum berkembang; dan (7) Kualitas dan harga produk biodiesel dari negara-negara lain sangat kompetitif dan dapat mempengaruhi pasar. Untuk pengembangan perkebunan sawit, jarak pagar dan industri biodiesel di Indonesia, diperlukan kerjasama antara pemerintah dengan perguruan tinggi, swasta, lembaga keuangan, LSM, yayasan, masyarakat dan pihak lainnya yang terkait. Dukungan Pemerintah Untuk menyikapi kendala dan tantangan biodiesel, diharapkan pemerintah mendukung keberadaan biodiesel agar dapat diterima masyarakat. Dalam hal ini pemerintah perlu koordinasi antar Departemen terkait, yaitu Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral berkoordinasi dengan Departemen Pertanian untuk penyediaan bahan baku, Departemen Perindustrian untuk kebijakan industri, Kementerian Riset dan Teknologi untuk penerapan teknologi, Departemen Dalam Negeri untuk perencanaan daerah, Departemen Keuangan untuk kebijakan perpajakan, dsb. Pemerintah juga harus memberikan kebijakan yang akan mendorong pengembangan pemanfaatan biodiesel antara lain meliputi (1) Penggunaan biodiesel dalam rangka diversifikasi energi untuk pencampur minyak solar atau sebagai salah satu pengganti minyak solar dan mendukung pelestarian lingkungan; (2) Penetapan kebijakan harga biodiesel yang mendorong penggunaannya; (3) Pengaturan pemberian kesempatan kepada Badan Usaha untuk melakukan pengembangan pengolahan dan jaringan distribusi; dan (4) Pemberian insentif. Disamping itu pemerintah juga harus memiliki rencana strategis dalam rangka mengembangkan biodiesel ini, antara lain (1) Mengembangkan kebun energi (energy plantations) yang diperuntukkan sebagai pemasok bahan baku biodiesel/dedicated feedstock; (2) Mengintegrasikan pengembangan biodiesel dengan kegiatan ekonomi masyarakat pedesaan dan industri pengolahan biodiesel; (3) Meningkatkan sosialisasi pemanfaatan biodiesel; dan (4) Melakukan kegiatan litbang pembuatan biodiesel dari minyak sawit maupun non sawit.

Harga
Sebagian besar biodiesel mencapai konsumen akhir dalam bentuk campuran dengan solar (sampai B10). Jika harga biodiesel B100 = Rp.6000/liter dan harga solar Rp.4300/liter maka harga B10 = (0,9 x Rp.4300 + 0,1 x Rp.6000) = Rp.4470/liter dibulatkan Rp.4500/liter. Biodiesel B10 ini masih dalam jangkauan promosi para

pengusaha untuk membujuk konsumen agar mau membelinya karena kualitas lebih baik, emisi lebih bersih, produk dalam negeri, dll.

Pasar
1. Konsumsi Internal : Konsumsi pabrik mencapai 0,325 juta L/th 2. Konsumsi Pasar Domestik : Asumsi 5% kebutuhan energi bersumber dari biodiesel, maka peluang pasar terbuka untuk jangka panjang menengah sekitar 1,3 juta kilo per tahun 3. Pasar Ekspor : Sebagai biodiesel belum teridentifikasi Kelapa Sawit Indonesia Industri kelapa sawit secara nyata memberikan sumbangan yang cukup besar kepada pertumbuhan perekonomian nasional, terbukti dari besarnya devisa hasil ekspor CPO beserta bahan-bahan oleokimia turunannya yang telah mampu mendukung kehidupan jutaan orang di Indonesia. Selama masa krisis ekonomi di Indonesia, industri minyak sawit hanya mengalami sedikit goncangan dan saat ini sepenuhnya telah terselesaikan. Hal ini yang memacu semangat Indonesia untuk menjadi produsen minyak sawit utama dunia. Peningkatan konsumsi minyak sawit dunia yang begitu cepat disebabkan karena pertumbuhan populasi penduduk dunia, permintaan biodiesel dan biofuel serta trend penggunaan minyak sawit untuk menggantikan minyak kedelai. Negara konsumen minyak sawit terbesar di dunia (tahun 2005) yaitu Uni Eropa (13,29% dari total konsumsi dunia), kedua adalah RRC (12,93%), ketiga adalah Indonesia (10,66%) dan keempat adalah India (10,15%). Meningkatnya kebutuhan minyak sawit dunia yang kurang diimbangi dengan produksi yang dihasilkan akan menyebabkan meningkatnya harga minyak nabati dunia, terlebih dengan meningkatnya permintaan biodiesel. Penemuan para ahli kesehatan bahwa minyak sawit mempunyai kelebihan dari segi kesehatan dibandingkan minyak non tropik seperti minyak kedelai dan minyak bunga matahari. Kelapa sawit dinyatakan memiliki kandungan karoten, vitamin E yang tinggi, antioksidan dan yang terpenting bebas dari asam lemak trans (trans fat). Hingga saat ini Indonesia merupakan negara produsen terbesar kedua minyak sawit setelah Malaysia dan diproyeksikan mulai tahun 2008 Indonesia akan menjadi negara produsen terbesar dan menjadi market leader dalam perdagangan minyak sawit dunia. Kendala yang dihadapi di lapangan umumnya menyangkut perizinan dan pertanahan (tumpang tindih kepemilikan tanah, baik antara tanah negara, tanah adat dan tanah milik penduduk) serta permasalahan sosial sebagai akibat kurangnya kepastian hukum. Sebagian besar ekspansi perkebunan kelap sawit mengarah pada lahan marginal yang

memiliki beberapa kendala yaitu kesuburan tanah yang rendah, bulan kering yang lama, topografi bergunung dan lahan gambut. Dukungan dan kebijakan pemerintah yang masih ditunggu-tunggu antara lain penyediaan prasarana jalan hingga tangki timbun, peninjauan kembali tarif pajak ekspor (PE), penguatan kelembagaan yang mempunyai wewenang mengatur industri kelapa sawit mulai hulu hingga ke perdagangan di pasar internasional. Revitalisasi perkebunan perlu dilakukan terutama menyangkut kegiatan perluasan, rehabilitasi dan peremajaan tanaman. Yang tak kalah pentingnya lagi adalah dukungan pemerintah terhadap kegiatan penelitian, pengembangan dan penerapan teknologi. Sumber: http://faisalwahyuindriantoro.blogspot.com/2007_06_01_archive.html [Diakses Tanggal 20 Desember 2010]

Produksi biodiesel dari Crude Palm Oil
M. Ansori Nst, Bagus Giri Yudanto dan D. Darnoko Dalam perekonomian Indonesia, non migas merupakan sektor penerimaan penting yang diharapkan oleh pemerintah dapat menggantikan kedudukan migas sebagai penyumbang utama pada masa mendatang. Justifikasinya adalah bahwa migas merupakan sumber daya alam yang tak dapat diperbarui sehingga terdapat keterbatasan dan kendala dalam upaya pengembangan lebih lanjut. Salah satu komoditas non migas yang diharapkan menjadi andalan dalam sektor penerimaan adalah subsektor perkebunan, diantaranya kelapa sawit yang pada saat ini merupakan komoditas unggulan. Subsektor perkebunan merupakan cabang produksi yang dilakukan melalui pengolahan sumberdaya alam yang dapat diperbarui (renewable). Produk perkebunan merupakan penyumbang terbesar dalam struktur perekonomian nasional mengingat keragaman manfaatnya sangat besar baik sebagai produk pangan maupun non-pangan(1). Salah satu produk hilir minyak sawit yang dapat dikembangkan di indonesia adalah biodiesel yang dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar mesin diesel. Ketersediaan bahan bakar minyak bumi semakin hari semakin terbatas. Indonesia yang saat ini dikenal sebagai salah satu Negara pengekspor minyak bumi, telah menjadi “net importer” bahan bakar minyak pada tahun ini, karena produksi dalam negeri sudah dibawah satu juta barrel per hari. Indonesia sebagai negara produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia mempunyai potensi untuk mengembangkan biodiesel baik untuk keperluan dalam negeri maupun ekspor. Sampai saat ini harga biodiesel masih belum dapat bersaing dengan minyak solar di dalam negeri. Sedangkan untuk harga di luar negeri harga biodiesel sudah bersaing dengan harga bahan bakar petrodiesel. Bahkan harga biodiesel lebih rendah dibandingkan dengan harga petrodiesel.

Permintaan Biodiesel 2011 Naik hingga 700 Ribu Ton
JAKARTA--MICOM: Permintaan bahan bakar nabati jenis biodiesel produksi dalam negeri diperkirakan naik sampai 700 ribu ton pada 2011. "Permintaan tahun 2010 bisa sampai 600 ribu ton menurut laporan yang masuk ke kami dan Kementerian Perindustrian. Kalau pola pemakaian Pertamina seperti sekarang, 2011 bisa sampai 700 ribu ton," kata Wakil Ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) Immanuel Sutarto di sela forum bisnis sawit di Jakarta, Senin (15/11). Menurut dia, sebagian besar permintaan biodiesel produksi dalam negeri berasal dari Pertamina dan sekitar 30 persen sisanya dari pasar luar negeri. Jumlah permintaan tersebut masih jauh lebih kecil dari estimasi kebutuhan biodiesel dalam negeri dan kapasitas produksi pabrik biodiesel nasional yang sudah beroperasi. Kebutuhan biodiesel di dalam negeri menurut perhitungan sebanyak 1,3 juta ton pada 2010 dan akan bertambah menjadi 1,7 juta ton pada 2011. "Itu dihitung berdasarkan kandungan biodiesel dalam solar sebanyak lima persen dengan estimasi konsumsi solar 34 juta ton pada 2011," katanya. Sementara kapasitas produksi terpasang dari 11 pabrik biodiesel yang beroperasi total mencapai 3,6 juta metrik ton dengan total investasi US$1,3 miliar. "Pemakaian kapasitas rendah karena permintaan dalam negeri masih terbatas sementara ekspor belum bisa diandalkan. Ekspor hanya naik pada musim panas, sedang saat musim dingin biasanya tidak ada karena biodiesel kita yang berbahan baku minyak sawit mentah tidak tahan dingin," jelasnya. (Ant/OL-5) Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/11/11/182041/4/2/Permintaan-Biodiesel2011-Naik-hingga-700-Ribu-Ton [diakses pada tanggal 20 Desember 2010]

Kapasitas Produksi Biodiesel Indonesia Capai 3,6 Juta MT
Jakarta | Tuesday, 16/11/2010 04:40 WIB| Oleh: N-014 | Dini Septiana

Kapasitas produksi terpasang 11 pabrik biodiesel yang beroperasi di Indonesia, hingga saat ini baru mencapai 3,6 juta metrik ton dengan total investasi 1,3 miliar dolar AS. Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Immanuel Sutarto, di Jakarta, Senin (15/11). "Pemakaian kapasitas rendah karena permintaan dalam negeri masih terbatas, sementara ekspor belum bisa diandalkan. Ekspor hanya naik pada musim panas, sedang saat musim dingin biasanya tidak ada, karena biodiesel kita yang berbahan baku minyak sawit mentah tidak tahan dingin," jelasnya. Selain itu, lanjut dia, harga biodiesel di dalam negeri belum bisa bersaing dengan harga bahan bakar fosil yang lebih rendah karena mendapat subsidi pemerintah. Menurutnya, kenaikan harga bahan baku biodiesel, minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) yang tidak stabil dan cenderung tinggi juga membuat biodiesel makin sulit bersaing. "Sekarang harga biodiesel yang ditetapkan pemerintah sekitar 1.015 dolar AS per ton, sementara harga CPO sudah 1.000 dolar AS per ton," katanya. Harga jual biodiesel di pasar internasional pun, menurut dia, jatuhnya tidak jauh berbeda dari harga biodiesel yang ditetapkan pemerintah yakni rata-rata 1.150 dolar AS per ton, dengan biaya pengiriman sekitar 120 dolar AS per ton. “Meski demikian, produsen tetap berusaha memproduksi bahan bakar nabati yang ramah lingkungan karena diyakini makin diperlukan pada masa mendatang,” paparnya. Ia mengatakan, produsen bahan bakar nabati berharap mendapat dukungan dari semua pihak dalam mengembangkan energi terbarukan itu, utamanya dukungan kebijakan penciptaan pasar domestik, subsidi dan insentif dari pemerintah. “Selain itu, produsen juga membutuhkan dukungan investasi serta dukungan riset untuk memperbaiki kualitas dan efisiensi produksi,” tuturnya.

Permintaan naik Sementara permintaan biodiesel produksi dalam negeri diperkirakan naik sampai 700 ribu ton pada 2011. "Permintaan tahun 2010 bisa sampai 600 ribu ton menurut laporan yang masuk ke kami dan Kementerian Perindustrian. Kalau pola pemakaian Pertamina seperti sekarang, tahun 2011 bisa sampai 700 ribu ton," katanya. Ia menambahkan, sebagian besar permintaan biodiesel produksi dalam negeri berasal dari Pertamina, dan sekitar 30 persen sisanya dari pasar luar negeri. “Jumlah permintaan tersebut, masih jauh lebih kecil dari estimasi kebutuhan biodiesel dalam negeri dan kapasitas produksi pabrik biodiesel nasional yang sudah beroperasi,” ujarnya. Dikatakan, kebutuhan biodiesel di dalam negeri menurut perhitungan sebanyak 1,3 juta ton pada 2010 dan akan bertambah menjadi 1,7 juta ton pada 2011. "Itu dihitung berdasarkan kandungan biodiesel dalam solar sebanyak lima persen dengan estimasi konsumsi solar 34 juta ton pada 2011," pungkasnya. Sumber: http://www.nonblok.com/mobile/?/blokenergi/tambang/20101116/25643/kapasitas.prod uksi.biodiesel.indonesia.capai.36.juta.mt [Diakses Tanggal 20 Desember 2010]

Biodiesel Butuh Konsistensi Kebijakan Pemerintah
Pontianak (ANTARA News) - Guru Besar Kimia Agroindustri Universitas Tanjungpura, Prof.Dr.Thamrin Usman,DEA mengatakan butuh kebijakan yang konsisten untuk meningkatkan daya saing biodiesel dibanding energi fosil. "Kalau tidak ada kebijakan, selalu mendapatkan harga biodiesel yang lebih mahal dibanding energi fosil," kata Thamrin Usman saat seminar internasional "Trans Borneo Biodiesel Expedition 2010" di Pontianak, Rabu. Bentuk kebijakan itu misalnya kewajiban kendaraan bermotor bebas polusi. Sementara kalau menggunakan bahan bakar fosil sulit untuk mencapai kategori bebas polusi. Sedangkan biodiesel lebih ramah lingkungan dibanding bahan bakar fosil. Menurut Thamrin Usman, proses pembuatan biodiesel yang lebih rumit dan panjang menyebabkan harganya mahal. "Bahan bakar fosil, cukup lakukan untuk menghasilkan jenis-jenis bahan bakar seperti premium," katanya. Proses pembuatan biodiesel menggunakan bahan baku minyak sawit mentah membutuhkan enam tahapan. Ia bersyukur bahwa selisih antara biodiesel dan bahan bakar minyak oleh pemerintah semakin dekat. "Selisihnya makin kecil. Subsidi juga semakin dikurangi," kata dia. Hasil tes terhadap biodiesel dari bahan baku sawit di Kalbar menunjukkan 1 liter dapat menempuh jarak 10 kilometer menggunakan mobil Taft tahun 1980-an. Thamrin Usman dikukuhkan sebagai Guru Besar tahun 2010 tanggal 17 Februari lalu. Ia mengatakan penggunaan "sludge oil" sebagai produk sampingan atau limbah dari proses ekstrasi minyak sawit mentah mampu menekan biaya produksi pembuatan biodiesel menjadi sepertiga lebih murah dibandingkan minyak sawit. Thamrin Usman menyampaikan orasi ilmiah dengan judul "Pengembangan `Green Energy` Biodiesel Solusi Alternatif Di Kalimantan Barat" saat pengukuhan tersebut. Ia dan beberapa rekan melakukan penelitian sintesa biodiesel dari bahan baku sludge oil CPO dengan bantuan katalisator para-toulen sulphonic acid (pTSA) yang diimpregnasi pada matriks padat kaolinit. (T011/K004) Sumber: http://www.rotanindonesia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=746:bio diesel-butuh-konsistensi-kebijakan-pemerintah&catid=45:kehutanan&Itemid=60 [Diakses Tanggal 20 Desember 2010]

Industri Biodiesel, Tumpuan Harapan Harga CPO (Regulasi)
Biofuel Potensi paling prospek untuk dikembangkan di saat harga CPO turun adalah pengembangan bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel. Menurut Kris Hadisubroto, konsumsi BBN terutama biodiesel nasional mencapai 200-300 ribu ton per tahun. “Saat ini, ada angin segar bagi pelaku usaha di sektor industri hilir CPO terutama biodiesel. Pemerintah menetapkan konsumsi biodiesel minimal 5%, dari sebelumnya yang hanya 2,5%. Peningkatan itu setidaknya dapat mendongkrak konsumsi biodiesel nasional sekitar 30-40%,” kata jelas Kris kepada Investor Daily. Sebelumnya, pemerintah mengeluarkan aturan berupa Peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) No 32/2008 tentang mandatori BBN pada akhir September 2008. Uji coba pemberlakuan mandatori itu dilakukan selama tiga bulan sejak 1 Oktober-Desember 2008 dan resmi diberlakukan pada 1 Januari 2009. Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Purnardi Djojosudirjo menjelaskan, realisasi mandatori BBN sebesar 2,5% sudah mulai diujicobakan sejak Oktober 2008. Pelaksanaan kewajiban itu secara resmi akan dimulai Januari 2009. “Dengan mandatori itu, industri BBN bisa menyerap sekitar 700 ribu ton CPO,” ujarnya. Menurut dia, mandatori BBN itu mendorong penyerapan CPO di dalam negeri saat harga di pasar internasional jatuh. “Ini merupakan momentum terbaik karena harga bahan baku sedang turun sehingga sangat feasible diolah menjadi BBN,” tutur dia. Saat ini, lanjut dia, empat perusahaan BBN terutama biodiesel mulai menyuplai 700 ribu ton ke Pertamina dalam ujicoba mandatori BBN. Empat perusahaan itu adalah PT Eterindo Wahanatama Tbk, PT Indobiofuels Energi, PT Molindo Raya Industrial, dan PT Multi Kimia. “Keempat perusahaan itu mulai menyuplai BBN ke Pertamina sejak Oktober 2008,” katanya. Selain keempat perusahaan tersebut, ada tiga perusahaan sejenis yang mulai beroperasi kembali untuk memenuhi permintaan BBN di dalam negeri. Ketiga perusahaan tersebut adalah Wilmar International, Darmex, dan Sumiasih. “Sumiasih sempat menghentikan produksi dan ekspor biofuels ke Uni Eropa saat harga CPO melonjak tinggi. Saat ini mereka mulai hidup kembali,” ujarnya. Aprobi, kata dia, terus mendorong pemerintah untuk memanfaatkan produksi CPO agar bisa diolah menjadi BBN. Dengan harga minyak mentah yang berada di level US$ 53/barel, harga BBN lebih murah sekitar Rp 50-100/liter dibandingkan bahan bakar minyak (BBM). “Saya rasa industri BBN di dalam negeri siap memenuhi

kebutuhan nasional, asalkan pemerintah mendukung. Program ini juga akan meningkatkan pendapatan petani sawit,” ucapnya. Saat ini, menurut dia, kalangan pengusaha BBN masih menunggu revisi Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral terkait penerapan harga BBN. “Aprobi mengusulkan harga BBN mengacu pada harga biofuel internasional dari International Chemical Information Service (ICIS) dan Indec Argus. Jangan pakai acuan harga minyak mentah di Singapura atau MOPS,” ujarnya. Di sisi lain, Purnardi menerangkan, pemerintah perlu meningkatkan besaran persentase mandatori BBN secara bertahap agar komoditas unggulan Indonesia yakni CPO memiliki nilai tambah yang tinggi. “Fluktuasi harga minyak dunia pasti terjadi dan saat itu Indonesia siap dengan BBN. Karena itu, persentase mandatori BBN perlu ditingkatkan, misalnya 30% pada 2020,” ucap dia. Daya Serap 10% Pemerintah tampaknya mulai serius menanggapi berbagai desakan terkait kebutuhan energi nasional yang perlu dicarikan alternatif. Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, saat berada di Dumai, kemarin, mengemukakan, Indonesia menargetkan penyerapan biodiesel dalam negeri bisa mencapai 10% dari konsumsi solar nasional pada 2010. “Jika menggunakan konsumsi solar dan minyak bakar tahun ini sebagai acuan, pada 2010 setidaknya 3,4 juta kilo liter biodiesel akan diserap pasar domestik,” kata Purnomo. DPR mendorong pemerintah untuk mengembangkan biodiesel. Pengembangan biodiesel sekitar 10% dari total kebutuhan bahan bakar minyak Indonesia, akan menaikkan harga CPO di dalam negeri sekitar 50-100% dari harga saat ini. “Dengan minimal 10% dari kebutuhan konsumsi diesel Indonesia, harga CPO bisa naik dari Rp 400-500/kg menjadi Rp 600-800/kg,” kata Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Jhonny Allen Marbun. Jhonny menuturkan, tingginya ketergantungan pemerintah terhadap BBM dan tingginya produksi CPO Indonesia, seharusnya bisa dicukupi dengan mengembangkan BBN. Apalagi, lanjutnya, banyak investor yang telah bersedia berinvestasi di BBN. Senada dengan itu, Wakil Ketua Panitia Anggaran dari fraksi Golkar Harry Azhar Azis mendorong agar pemerintah segera menerbitkan keputusan untuk mengembangkan biodiesel agar bisa meningkatkan harga CPO dalam negeri. “Tapi, harus dilakukan secara cermat agar tidak menyalahi peraturan dan UU yang berlaku,” tegasnya. Sumber: http://kabar.in/2009/indonesia-headline/rilis-berita-depkominfo/05/27/tahun-2010campuran-biodiesel-ke-bbm-dinaikan-5-persen.html [Diakses Tanggal 20 Desember 2010]

Prospek, Tantangan & Strategi Pemenuhan Kebutuhan BBN Nasional

Immanuel Sutarto, Direktur Utama PT Eterindo Wahanatama Tbk. Biodiesel, sejatinya menjadi solusi Indonesia dalam mengatasi semakin merosotnya cadangan bahan bakar berbasis fosil. Selain ramah lingkungan bahan bakar alternatif ini bisa dijadikan sumber energi utama, apalagi bahan bakunya sangat melimpah. Kelapa sawit selain sebagai sumber minyak makan nyatanya bisa juga digunakan sebagai sumber bahan baku energi alternatif (biodiesel). Untuk kasus di Indonesia, pengembangan biodiesel sudah dilakukan semenjak tahun 2006, dimana pemerintah telah me-ngeluarkan regulasi berupa Perpres No.5 tahun 2006 tentang penurunan konsumsi bahan bakar berbasis fosil ke bahan bakar alternatif dengan target capaian 20% dari total pemakaian. Berbagai regulasi guna mengembangkan biodiesel pun diupayakan pemerintah, bahkan sempat ada aturan mandatori pemakaian biodiesel. Sayangnya regulasi itu belum mampu merangsang tumbuhnya industri biodiesel nasional. Padahal pengembangan bahan bakar nabati (BBN) penting untuk energy security, pasalnya di tahun 2007 diperkirakan cadangan minyak Indonesia akan terkuras habis hingga 12 tahun mendatang. Merujuk dari target Tim Nasional BBN diperkirakan tahun 2005 hingga 2015 pemakaian biodiesel bisa ditingkatkan secara bertahap dari 2,5% hingga 20%. Kalau dikonversi ke jumlah produksi maka dibutuhkan biodiesel sekitar 2,41 juta Kl/tahun. Sementara di 2020 kebutuhan itu akan meningkat menjadi 10,22 juta Kl/tahun. Praktis kondisi ini mampu menyerap produksi CPO yang dipekirakan meningkat menjadi 40 juta ton di 2020.

Hingga saat ini kapasitas produksi biodiesel tercatat di tahun 2008 mencapai 1,8 juta Kl, pada 2009 meningkat menjadi 2,9 juta Kl dan pada tahun ini kapasitas produksi biodiesel nasional telah mencapai 3,9 juta Kl, diperkirakan kapasitas produksi di 2011 mencapai 4,4 juta Kl. Bila dibandingkan dengan kebutuhan biodiesel nasional, berada dibawah kapasitas produksi industri biodiesel nasional, misalkan di tahun 2008 tercatat kebutuhan mencapai 25.157 Kl, lantas di 2009 mencapai 1 juta Kl dan di 2010 mencapai 1,2 juta Kl dan di 2011 diperkirakan permintaan bisa mencapai 1,7 juta Kl. Hingga saat ini berdasar data dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), produsen biodiesel nasional mencapai 22 anggota, 11 sudah beroperasi, 5 perusahaan memasok untuk Pertamina. Kualitas biodiesel nasional sudah sesuai dengan standardisasi yang ditentukan baik oleh lembaga standardisasi nasional maupun internasional, contohnya biodiesel nasional telah sesuai standar SNI 7182, ASTM 6751 dan EN 14241. Sayangnya harga masih menjadi kendala pengembangan industri biodiesel nasional. Sebab melangitnya harga CPO di pasar internasional sontak membuat harga biodiesel nasional kalah ketimbang harga solar bersubsidi, maka pemerintah mesti mengeluarkan kebijakan yang mampu mendorong tumbuhnya industri biodiesel nasional. Contohnya, di tahun 2006, harga CPO saat itu mencapai US$ 400/ton dan harga biodiesel US$ 600/ton. Sekarang biodiesel dipatok harga US$ 1.113/ton, padahal harga CPO sudah sekitar US$1.000/ton. Jadi memang biodiesel tidak bisa bersaing karena harga. Masalah lainnya, bahan baku selain CPO belum siap untuk membuat harga biodiesel bisa bersaing dengan pasar. Keunggulan dan Peluang Industri BBN Sejatinya industri biodiesel memiliki peluang dan kesempatan besar guna memenuhi kebutuhan energi nasional, sebab bahan bakar ini memiliki berbagai keunggulan diantaranya, pertama, BBN produk ramah lingkungan dan renewable, dimana cetane number tinggi bisa mengurangi emisi (SO2,CO2,CO), tidak perlu modifikasi mesin, hemat biaya maintenance, non toxic dan biodegradable material, safe-handling storage. Kedua, menciptakan nilai tambah dan menaikkan GNP, dimana agroindustri dan produk hilir bisa berkembang, BBN adalah energi alternatif dan mendukung energi security serta mengurangi impor BBM alhasil hemat devisa dan biaya energi.

Ketiga, bahan baku melimpah dan banyak jenisnya. Pada tahun 2011 diperkirakan produksi CPO Indonesia mencapai 21 juta MT/tahun dan sekitar 70% di ekspor, saat ini pemerintah sedangkan mempersiapkan insentif untuk mendorong perkembangan industri biodiesel nasional. Keempat, permintaan terus meningkat baik untuk pasar domestik maupun internasional.

Sumber:
http://www.infosawit.com/index.php?option=com_content&view=article&id=170:prospektantangan-a-strategi-pemenuhan-kebutuhan-bbn-nasional&catid=45:fokus [Diakses Tanggal 20 Desember 2010]

KRISIS ENERGI, BIOFUEL DAN PANGAN
Subejo Dosen Fak. Pertanian UGM, PhD Student The University of Tokyo, Ketua IASA Pusat Jepang Beberapa laporan internasional menyebutkan bahwa sampai dengan taraf tertentu, berbagai krisis saling pengaruh mempengaruhi. Awalnya muncul krisis energi juga telah menjadi salah satu penyulut krisis pangan global. Dan akhir-akhir ini kembali mencuat kerisis keuangan dunia. Di tingkat internasional, isu krisis energi dan perumusan energi alternatif juga menjadi salah satu isu utama yang dibahas dalam G8 Summit yang yang berlangsung antara 7-9 Juli 2008 di Hokaido Jepang. Telah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak untuk mencari berbagai sumber energi alternatif dalam mengatasi persoalan serius membumbungnya harga bahan bakar minyak di pasar dunia yang semakin tidak terkendali. Sejak dua-tiga tahun terakhir, seiring dengan adanya indikasi maningkatnya harga minyak di pasar dunia, beberapa negara mulai mengambil kebijakan untuk mempromosikan biofuel. Pada awalnya biofuel dipandang sebagai pihan yang jitu selain sebagai alternatif kelangkaan bahan bakar minyak juga dipandang “lebih ramah lingkungan” atau “greener” serta dikampanyekan sebagai sustainable energy. Beberapa negara yang sangat agresif mengembangkan biofuel diantaranya Amerika Serikat, Brasil dan negara-negara Eropa. Untuk sumber bahan baku, Amerika Serikat memiliki pilihan utama pada jagung dan kedele, sedangkan Brasil memilih menggunakan tetes tebu yang ditanam secara besar-besaran dengan mengkonversi hutan di kawasan Amazon. Dalam konteks Indonesia, popularitas biofuel juga mendapatkan sambutan yang cukup baik. Untuk menggencarkan pengembangan biofuel, pemerintah pusat telah membentuk Tim Nasional Bahan Bakar Nabati (BBN). Sebagai implementasinya telah muncul investor lokal dan investor asing utamanya dari Jepang yang mengembangkan biofuel dengan bahan baku bervariasi diantaranya kelapa sawit, ubi kayu, jagung, tebu dan jarak. Dalam satu tahun terakhir, mulai muncul perdebatan yang semakin sengit antara sisi positif dan negatif explorasi sumber daya untuk memasok biofuel. Penggunaan bahan baku yang juga merupakan bahan pangan dipandang sangat membahayakan ketahanan pangan. Selain itu ekspansi lahan-lahan kawasan hutan sebagaimana yang dikembangkan di Brasil untuk tebu dan juga kelapa sawit di Indonesia diindikasikan justru berdampak pada pemanasan global karena emisi gas buang yang sangat besar. Pemilihan biofuel sebagai alternatif sumber energi baru di tengah membumbungnya harga minyak dunia serta indikasi dampak negatif dan kemungkinan ancaman kelangkaan dan kenaikan harga pangan menjadi isu yang sangat strategis.

Kebijkan nasional akan energi alternatif perlu dikaji dan diimplementasikan secara komprehensif sehingga pengembangan biofuel di masa mendatang bisa dipromosikan secara otimal tanpa mengorbankan kepentingan lainnya.

Biofuel Sebuah Pilihan
Pengembangan dan produksi massal biofuel sebagai substitusi sebagian energi dari bahan bakar minyak alam dipandang merupakan satu solusi yang dipercaya dapat meredakan krisis energi dunia. Negara yang paling gencar melakukan pengembangan biofuel adalah Amerika Serikat dan Brasil yang ditunjukkan dengan dominasinya dalam produksi bioetanol di tingkat internasional yaitu masing-masing sebesar 46 dan 42 persen. Pengembangan biofuel di satu sisi merupakan bidang yang cukup menjanjikan karena menjadi salah satu solusi krisis energi namun di sisi yang lain mengandung bahaya dan resiko yang cukup tinggi. Sebagaimana dilansir oleh National Post, Amerika Serikat sebagai negara penghasil pangan terbesar di dunia pada satu dua tahun terakhir ini telah melakukan perubahan dan pergeseran pemanfaatan lahan pertanian yaitu perubahan oreiantasi produksi tanaman pangan menjadi lahan untuk produksi bahan biofuel. Diperkirakan sekitar 16 persen lahan pertanian yang awalnya ditanami kedele dan gandum dirubahmenjadi lahan jagung untuk memasok pabrik biofuel. Meskipun belum tersedia statistik yang gamblang tentang tingkat substitusi biofuel terhadap bahan bakar minyak secara nasional namun potensi dan peluang produksi biofuel sebagai alternatif energi mendapat perhatian yang cukup serius. Kebijakan pengembangan biofuel atau juga dikenal dengan bahan bakar nabati di Indonesia sudah dirintis sejak 3 tahun terakhir. Pilihan ini dipandang memiliki prospek yang baik karena dapat mengurangi subsidi negara untuk bahan bakar minyak, membuka kesempatan kerja serta berpeluang meningkatkan pendapatan masyarakt lokal. Beberapa pihak menengarai perlunya kehati-hatian dalam implementasi program pengembangan biofuel di Indonesia. Implikasi yang ditimbulkan bisa sangat fatal apabila tidak dilaksanakan dengan pertimbangan yang komprehensif. Penggunaan tetes tebu yang masif juga potensi mengurangi bahan baku gula sehingga pada gilirannya mengancam stok dan membahayakan produksi gula nasional. Selain itu penggunaan kelapa sawit secara besar-besaran akan mengancam produksi minyak goreng sebagai salah satu produk tradisionalnya. Ketidaktepatan strategi dan implementasinya bisa menyulut krisis minyak goreng nasional seperti yang pernah terjadi tahun lalu.

Antara Energi dan Pangan Terkait dengan kebijakan pengembangan biofuel, persoalan yang sangat serius untuk dicermati adalah sumber bahan baku biofuel yang sebagain besar juga merupakan bahan baku pangan sehingga akan terjadi persaingan yang sangat sengit. Beberapa ahli internasional sebenarnya juga telah menengarai bahwa efektivitas dan efisiensi biofuel masih dipertanyakan, selain karena membahayakan persediaan bahan pangan namun juga dari aspek dampak emisi gas buang penggunaan biofuel juga disinyalir memiliki dampak yang cukup serius terhadap peningkatan pemanasan global dan fluktuasi perubahan iklim yang tidak terkendali.

World Bank melalui laporannya yang terbaru dalam World Development Report
2008 juga memandang bahwa konversi bahan pangan utamanya jagung menjadi bahan biofuel di Amerika Serikat perlu dikaji lebih mendalam. Dilaporkan pada tahun 2006/2007 sekitar seperlima jagung yang dipanen digunakan untuk bahan baku etanol namun hanya mampu mengganti 3 persen dari kebutuhan bahan bakar minyak di Amerika Serikat.

Lebih lanjut diproyeksikan pada tahun 2010, sekitar 30 persen jagung yang dipanen di Amerika akan digunakan oleh pabrik pembuat etanol namun hanya akan mampu mengganti sekitar 5 persen dari total kebutuhan bahan bakar minyaknya. Perumpamaan yang lebih kongkrit dalam hal persaingan bahan pangan dan bahan biofuel misalnya untuk memenuhi kebutuhan satu tanki mobil sport selama satu hari dibutuhkan etanol sebanyak 100 liter yang diproduksi dari 240 kilogram jagung. Jumlah jagung tersebut dapat untuk digunakan memberi makan satu orang selama satu tahun. Fakta inilah yang semakin memperjelas persaingan yang nyata antara ketersediaan bahan pangan dan produksi biofuel. Ternyata ada indikasi keterkaitan yang sangat erat antara membumbungnya harga pangan dunia dengan kontribusi kebijakan pengembangan biofue. Informasi terkini sebagaimana dilansir oleh The Guardian Newspaper edisi 4 Juli 2008 sangat mengejutkan. Mendasarkan pada laporan World Bank yang tidak dipublikasikan untuk umum, diketahui bahwa biofuel yang telah menyebabkan kenaikan harga pangan dunia sampai dengan 75 persen. Menurut The Guardian, laporan sebenarnya telah selesai pada bulan April 2008, namun tidak dipublikasikan dengan alasan yang tidak jelas. Tanpa adanya konversi penggunaan jagung dan gandum secara besar-besaran untuk bahan baku biofuel, stok untuk dua komoditas tersebut diperkirakan tidak akan mengalami penurunan yang signifikan dan kenaikan harganya hanya akan pada tingkat yang moderate. Dengan melonjaknya harga jagung, gandum dan kedele juga diprediksi menyulut spekulasi petani produsen besar di Amerika Serikat untuk semakin intensif dan berkonsentrasi mengelola komoditasnya sebagai pasokan bahan baku biofuel. Laporan juga mengestimasi bahwa kenaikan energi dan pupuk hanya menyebabkan kenaikan 15 persen atas harga pangan dunia, sedangkan biofuel yang diestimasikan bertanggungjawab atas kenaikan sampai dengan 75 persen terhadap melonjaknya harga pangan.

Alternatif atau Ancaman Isu dan popularitas pilihan sumber bahan baku untuk biofuel juga perlu dicermati. Nampaknya perlu adanya kebijakan yang mengatur pemilihan bahan baku biofuel yang mengarahkan semaksimal mungkin untuk dihindarkan penggunaan bahan baku yang juga sumber pangan karena sangat bersiko dan akan menjadikan persaingan dengan penyediaan pangan nasional. Pemanfaatan lahan-lahan marginal seperti lahan pesisir dan daerah tandus yang kurang sesuai untuk produksi pangan dengan introduksi komoditas sumber energi yang tahan lingkungan kritis seperti tanaman jarak atau pemanfaatan limbah industri pertanian seperti limbah pabrik pengolahan CPO serta pemanfaatan biomassa yang tersedia melimpah akan menjadi strategi alternatif bagi pengembangan biofuel nasional di masa depan. Krisis energi yang juga bersamaan serta saling mempengaruhi dengan krisis pangan akan menjadi ancaman serius bagi Indonesia kalau kita tidak hati-hati memilih strategi dan insentif kebijakan yang tepat. Namun pilihan kebijakan yang tepat dengan mempertimbangkan potensi sumber daya nasional termasuk dalam merancang bahan baku biofuel akan satu menjadi solusi krisis energi di tanah air. Pemanfaatan sumber bahan baku yang tersedia melimpah seperti biomasa atau promosi pengembangan komoditas sumber minyak nabati di lahan-lahan marginal nampaknya akan menjadi pilihan yang baik dalam pengembangan biofuel serta mempunyai potensi yang sangat rendah untuk berkompetisi dengan sumber pangan. Kebijakan ini akan memacu produksi energi alternatif biofuel tanpa mengancam ketersediaan pangan nasional. Dampak krisis energi dan krisis pangan mestinya juga dapat menjadi momentum dan peluang bagi kebangkitan pertanian nasional jika kita mampu mewujudkan kebijakan-kebijakan yang berpihak dan menggairahkan petani untuk meningkatkan produktivitas usaha tani serta memanfaatkan potensi sumber daya yang tersedia secara bijaksana dan produktif. Kita tunggu kebijakan dan implementasi pengembangan biofuel yang mulai berjalan, apakah akan menjadi solusi energi alteratif yang terbarukan ataukah justru menjadi ancaman ketahanan pangan nasional.

POTENSI BIODIESEL INDONESIA
Oleh: Dr. Tirto Prakoso Laboratorium Termofluida dan Sistem Utilitas Departemen Teknik Kimia ITB Email: tirto@che.itb.ac.id dan Achmad Nuzulis Hidayat PT Nawapanca Adhi Cipta Komunitas Migas Indonesia (KMI) Jabar Email: achmadhidayat@nawapanca.com

Pendahuluan Pemenuhan sumber energi dalam bentuk cair terutama solar pada sektor transportasi merupakan sektor paling kritis dan perlu mendapat perhatian khusus. Dengan meningkatnya konsumsi solar dalam negeri, berarti impor dari luar negeri adalah hal yang tidak bisa ditunda lagi, jika tidak maka kekurangan pasukan tidak dapat dihindari, pada saat ini kurang lebih 25% kebutuhan solar dalam negeri telah menjadi bagian yang di Impor yang artinya adalah pengurasan devisa negara. Oleh karena itu sudah saatnya dipikirkan untuk dapat disubtitusi dengan bahan bakar alternatif lainnya terutama bahan bakar yang berkesinambungan terus pengadaannya (renewable) dalam upaya meningkatkan security of supply dan mengurangi kuantitas impor bahan baku tersebut. Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif dari bahan mentah terbaharukan (renewable) selain bahan bakar diesel dari minyak bumi. Biodiesel tersusun dari berbagai macam ester asam lemak yang dapat diproduksi dari minyakminyak tumbuhan seperti minyak sawit (palm oil), minyak kelapa, minyak jarak pagar, minyak biji kapok randu, dan masih ada lebih dari 30 macam tumbuhan Indonesia yang potensial untuk dijadikan sumber energi bentuk cair ini. Biodiesel bisa digunakan dengan mudah karena dapat bercampur dengan segala komposisi dengan minyak solar, mempunyai sifat-sifat fisik yang mirip dengan solar biasa sehingga dapat diaplikasikan langsung untuk mesin-mesin diesel yang ada hampir tanpa modifikasi, dapat terdegradasi dengan mudah (biodegradable), 10 kali tidak beracun dibanding minyak solar biasa, memiliki angka setana yang lebih baik dari minyak solar biasa, asap buangan biodiesel tidak hitam, tidak mengandung sulfur serta senyawa aromatic sehingga emisi pembakaran yang dihasilkan ramah lingkungan serta tidak menambah akumulasi gas karbondioksida di atmosfer sehingga lebih jauh lagi mengurangi efek pemanasan global atau banyak disebut dengan zero CO2 emission.

Oleh karena itu, pengembangan biodiesel di Indonesia dan dunia menjadi sangat penting seiring dengan semakin menurunnya cadangan bahan bakar diesel berbasis minyak bumi, isu pemanasan global, serta isu tentang polusi lingkungan. Pengembangan biodiesel didunia sudah dilakukan sejak tahun 1980-an sehingga pada saat ini ibeberapa bagian dunia telah dilakukan komersialisasi bahan bakar ramah lingkungan ini. Sebagai contoh, di dunia telah ada lebih dari 85 pabrik biodiesel dengan kapasitas 500 - 120.000 ton/tahun dan pada 7 tahun terakhir ini 28 negara telah menguji-coba, 21 di antaranya kemudian memproduksi. Amerika dan beberapa negara Eropa telah menetapkan Standar Biodiesel. Berbagai bahan baku juga telah dipergunakan seperti, Minyak Rapeseed (kanola) di Eropa, Minyak Kedele di Amerika serikat, Minyak Kelapa di Filipina, Minyak Sawit (Malaysia), dan lain-lain. Di Hawaii minyak Jelantah (minyak goreng bekas) juga telah dipergunakan oleh Hawaii, Pacific Biodiesel Inc. dengan kapasitas pabrik kecil (40 ton/bln). Di Nagano (Jepang) bahan baku dari 60 fast-food restaurants telah dipakai sebagai bahan bakunya.Sehingga, Biodiesel telah “merebut” 5% pangsa pasar ADO (automotive diesel oil) di Eropa. Target Uni-Eropa adalah 12% pada tahun 2010. Khusus di Malaysia telah dikembangkan pilot plant biodiesel dengan skala 3000 ton/hari yang telah siap memenuhi kebutuhan solar jika sewaktuwaktu diperlukan. Ada beberapa alternatif teknologi untuk mensubstitusi solar yaitu teknologi gas to liquid (fischer tropsh diesel) atau GTL yang mengubah gas menjadi senyawa hidrokarbon yang lebih tinggi sehingga serupa dengan minyak diesel, DME (dimethyl ether) adalah bahan bakar turunan gas alam atau methanol yang memiliki bilangan setana tinggi tetapi berupa gas pada keadaan sehari-hari. Penerapan teknologi GTL sangat memerlukan investasi yang sangat tinggi dan kebutuhan lapangan gas yang sangat besar serta sangat padat modal dan padat teknologi. Teknologi DME menuntut modifikasi yang cukup besar pada mesin yang memakan dana cukup besar sehingga tidak sesuai diterapkan pada masa-masa ini. Sedangkan teknologi biodiesel memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut: – Selain mengurangi impor ADO, – Juga menguatkan security of supply bahan bakar diesel yang independent dalam negeri, – Kemungkinan yang tinggi dapat diekspor – Meningkatkan kesempatan kerja orang Indonesia di dalam negeri – Mengurangi ketimpangan pendapatan antar individu - antar daerah – Meningkatkan kemampuan teknologi pertanian dan industri proses di dalam negeri – Mengurangi pemanasan global dan pencemaran udara dengan ‘bahan bakar ramah lingkungan’ – Meningkatkan produksi barang modal – Memperbesar basis sumber daya bahan bakar cair

Hal ini karena teknologi biodiesel tidak menuntut teknologi yang sangat tinggi dan mahal, dan melibatkan proses yang tidak membahayakan, pabrik-pabrik biodiesel dapat diadakan dalam skala kecil, sehingga bisnisnya bisa dilakukan pada skala-skala Koperasi sehingga keuntungannya bisa langsung dinikmati oleh lingkungannya. Indonesia adalah penghasil minyak sawit terbesar kedua setelah Malaysia dengan produksi CPO (Crude Palm Oil) sebesar 8 juta ton pada tahun 2002 dan akan menjadi penghasil CPO terbesar didunia pada tahun 2012. Hal ini mengindikasikan bahwa Indonesia sangat berpotensi menghasilkan minyak sawit yang dapat menjadi berbagai macam komoditi selain bahan bakar biodiesel minyak sawit, sehingga hal-hal ini merupakan kesempatan emas bagi sentra-sentra kelapa sawit untuk mandiri dalam energi. Indonesia selayaknya melihat potensi pengembangan biodiesel sebagai suatu alternatif yang segera dapat dengan cepat diimplementasikan, dilihat dari berbagai pertimbangan diantaranya melimpahnya bahan baku pembuatan biodiesel berbasis Crude Palm Oil (CPO), serta kemudahan teknologi pembuatan biodiesel, dan tentunya aspek terpenting berupa independensi Indonesia terhadap energi diesel. Artikel ini menyampaikan tentang prospektif penggunaan biodiesel dengan bahan baku Crude Palm Oil (CPO).

Kebutuhan Bahan Bakar Diesel di Indonesia Diperkirakan pada tahun 2007 atau sebelum tahun 2015 Indonesia akan menjadi negara Net-Importir bahan baku minyak mentah. Saat ini Indonesia mengimpor hampir 5-6 Milyar liter bahan bakar diesel, yang merupakan hampir 50% kebutuhan solar dalam negeri sehingga alternatif substitusi dengan bahan baku di Indonesia sangat layak dilakukan. Subtitusi dalam sedikit bagian saja (1-3%) biodiesel dalam solar akan menghemat devisa yang cukup berarti. Disisi lain, Indonesia termasuk pengekspor Crude Palm Oil (CPO) nomer dua terbesar di dunia setelah Malaysia, dan terus bertambah setiap tahunnya, dan diperkirakan pada tahun 2012 akan menjadi ekportir Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia. Oleh karena itu CPO merupakan bahan baku biodiesel yang paling potensial pada saat ini.

Pengembangan Biodiesel Metode dasar pengembangan biodiesel sudah banyak dilakukan di Indonesia, disamping pengetahuan dan kemampuan penanganan bahan baku kelapa sawit sudah sangat dikenal di Indonesia. Biodiesel adalah bahan bakar mesin diesel yang dibuat dari sumber daya hayati. Biodiesel dapat dibuat dari minyak trigliserida (minyak kelapa sawit,

kedelai, kacang tanah, biji bunga matahari, jarak pagar, kapuk, saga hutan, kelor, kemiri, d.l.l.). Trigliserida tersebut diubah menjadi alkil ester dengan mereaksikannya dengan alkil alkohol. Secara umum, pengembangan biodiesel termasuk teknologi menengah bahkan bisa dikatakan cukup sederhana, tidak memerlukan unit-unit operasi dengan tingkat kerumitan maupun resiko yang tinggi. Reaktor berpengaduk adalah unit utama dalam pembuatan biodisel disamping unit penting lainnya berupa unit-unit pemisahan dan pemurnian. Bahkan pembuatan biodiesel ini dimungkinkan dilakukan dengan skala rumah tangga atau skala kecil. Biodiesel dibuat dengan mereaksikan Crude Palm Oil (CPO) dengan methanol atau etanol melalui reaksi esterifikasi dilanjutkan dengan reaksi transesterifikasi berkatalis menjadi senyawa Ester dengan produk samping gliserin. Pada saat ini gliserin juga merupakan produk dengan harga jual yang cukup tinggi.

- Methyl Ester - 100 Kg Crude Palm Oil - 14 Kg Metanol - Katalis Reaksi menjadi Methyl Ester (Biodiesel) 95 Kg (minimal) - Gliserine 10 Kg

- Metanol Gambar 1. Diagram blok pembuatan Biodiesel Recovery Dalam setiap unit energi yang digunakan untuk menghasilkan biodiesel maka Produk matahari akan dihasilkan 3.2 unit energi. Hal ini berarti, penyerapan - energi Lain menjadi energi kimia dalam biodiesel adalah sangat efisien. Crude Palm Oil (CPO) dipasaran biasanya mengandung sekitar 5% Free Fatty Acid (FFA) yang akan mengganggu reaksi utama pembentukan biodiesel, karena itu FFA ini harus dihilangkan atau dikonversi dengan menggunakan katalis asam melalui reaksi Esterifikasi. Secara umum, karakteristik biodiesel untuk konsumsi mesin diesel adalah sebagai berikut:
Karakteristik Komposisi Bilangan Setana Densitas, g/mL Biodiesel Metil Ester 55 0.8624

Viskositas, cSt Titik Kilat, C Energi yang dihasilkan, MJ/Kg

5.55 172 40.1

Tabel 1. Karakteristik Biodiesel Dapatkah Biodiesel berkompetisi dengan Solar Minyak bumi? Dilihat dari segi harga, biodiesel memang tidak akan bisa menghasilkan harga jual lebih murah dibandingkan dengan solar minyak bumi, tetapi dari segi alternatif energi ramah lingkungan, serta upaya membangun ketahanan nasional di bidang energi, maka biodiesel layak untuk diimplementasikan. Pada saat ini Indonesia adalah satu negara yang mensubsidi harga BBM dan tidak menarik pajak. Sudah tentu hal ini akan mengakibatkan berbagai macam program energi alternatif tidak akan pernah sukses dijalankan, rakyat terlena dengan murahnya harga minyak tanah, harga solar dll. Tidak seperti negara lain yang justru memberikan pajak pada harga BBM. Thailand adalah negara yang memiliki pajak BBM terendah didunia, menerapkan pajak rata-rata 22% untuk harga BBM yang dipasarkan didalam negerinya. Sebagai gambaran kasar, harga produk per/liter Biodiesel dari Crude Palm Oil (CPO) adalah sekitar Rp. 5000, dan jika diproduksi langsung melalui serangkaian proses berbasis buah segar kelapa sawit, maka harga produk biodiesel adalah Rp. 3000. Harga tersebut jelas lebih tinggi dibandingkan harga solar minyak bumi. Akan tetapi jika suatu saat keberadaan minyak bumi semakin langka, maka tidak ayal lagi minyak bumi pun akan menjadi mahal dan akan melebihi harga minyak sawit, hal ini bisa terjadi 10 s.d 20 tahun lagi ketika cekungan minyak didunia sudah habis dikuras. Sehingga suatu saat nanti orang akan kesulitan mencari bensin, solar dan produk turunannya. Pada saat itulah persiapan pada saat ini akan menjadi penolongnya. Salah satu upaya implementasi biodiesel perlu diatur dengan menggunakan strategi blending. Strategi blending itu sendiri bisa dilihat dalam 2 (dua) persepsi, yang pertama adalah upgrading kualitas bahan bakar yang dihasilkan dan yang kedua adalah upaya pemasyarakatan biodiesel itu sendiri. Agar blending bisa menghasilkan upgrading yang nyata terhadap kualitas bahan bakar solar campuran, maka blending optimum berada pada kisaran 30:70 prosen-volume (Biodiesel : Solar). Tetapi jika blending tersebut adalah merupakan upaya pemasyarakatan biodiesel, maka blending biodiesel cukup dilakukan pada prosentase 1-3 % (atau dua prosen volume biodiesel), sebagai awal pemasyarakatan, dan secara perlahan melaksanakan upaya-upaya lanjutan untuk menaikkan kadar biodiesel pada blending bahan bakar campuran tersebut perlahan dinaikkan. Lingkungan dan Biodiesel Biodiesel bersifat terbaharui dari tumbuhan, dan ramah lingkungan, emisi CO 2 yang dihasilkan dari pembakaran mesin-mesin akan diserap kembali oleh

tanaman melalui mekanisme fotosintesis. Sehingga menekan akumulasi CO2 di atmosfir atau yang banyak dikenal dengan zero CO2 emission. Akumulasi CO2 di atmosfer yang dihasilkan oleh bahan bakar berbasis minyak bumi atau batu bara mengakibatkan perubahan iklim global atau yang disebut dengan efek pemanasan global atau global warming, karena membakar minyak bumi atau batu bara sama dengan mengeluarkan CO2 dari dalam bumi dan memindahkannya ke atmosfer. Blending Bahan Bakar Euro 2 Berkaca pada uraian strategi blending 2% (dua prosen volume) dimana dampak terhadap upgrading kualitas serta penurunan emisi bahan bakar tidaklah siginifikan. Karena itu, akan sangat baik jika upaya blending pada prosentase minimum tersebut dilakukan terhadap solar minyak bumi untuk kualitas emisi standar Euro 2. Seandainya harga solar minyak bumi kualitas Euro 2 adalah Rp. 1910 dan harga Biodiesel adalah Rp. 3000,-, maka hasil blending Biodiesel : Solar Minyak Bumi (2 : 98 % Volume ) adalah sekitar Rp 1950 (termasuk biaya blending). Dengan melakukan implementasi tersebut, maka akan dihasilkan produk bermutu baik dengan emisi minimal serta telah dilakukan upaya pemasyarakatan biodiesel. Memang harga jual bahan bakar campuran tersebut tetap akan lebih mahal, tetapi memang selalu ada harga yang harus dibayar dalam upaya meningkatkan kualitas lingkungan serta menurunkan emisi bahan bakar. Penanganan Produk Biodiesel Biodiesel adalah produk yang tidak beracun serta biodegradable, sehingga penanganannya jauh lebih mudah dan lebih sederhana dibandingkan bahan solar minyak bumi. Aktivitas blending biodiesel dan solar minyak bumi tidaklah membutuhkan penanganan yang rumit, karena tanpa dilakukan pengadukanpun kedua material tersebut akan bercampur dengan sempurna dan stabil. Kendala yang sering dikeluhkan (tetapi tidak akan terjadi di Indonesia) adalah kemungkinan terbentuknya gel akibat suhu yang sangat rendah (biasanya identik dengan nilai pour point) yang mungkin terjadi di negara-negara lain yang mengalami musim dingin. Upaya menurunkan nilai pour point dalam rangkaian proses menghasilkan biodiesel akan berakibat terhadap menurun pulanya angka cetane number, yang berarti menurunkan kualitas biodiesel yang dihasilkan, sehingga perlu difikirkan tentang optimalisasi proses.

Cara lain yang bisa diaplikasikan adalah dengan menggunakan penambahan aditiv yang mencegah terbentuknya gel, hanya saja upaya-upaya ini baru perlu difikirkan ketika orientasi produk biodiesel adalah eksport ke negaranegara yang mempunyai musim dingin. Memulai dengan Implementasi Pemasyarakatan dan Percontohan Upaya blending tentu saja harus dibarengi dengan implementasi, karena itu perlu dilakukan semacam percontohan di suatu kota tertentu yang didukung oleh berbagai pihak. Karena apapun kalau hanya berhenti pada tataran tulisan, maka tidak akan pernah dapat diwujudkan. Alternatif terbaik adalah dengan mengaplikasikan produk bahan bakar ramah lingkungan tersebut pada fasilitas-fasilitas kendaraan transport umum yang sebagian besar memakai solar sebagai bahan bakarnya, seperti yang dilakukan pemerintah kota Kyoto di Jepang. Hal ini terutama untuk menyelamatkan udara dan lebih jauh lagi kesehatan warga kota. Hal ini haruslah segera dimulai, karena dilihat dari sisi penting pendukung utama, yaitu ketersediaan bahan baku, kemampuan teknologi, serta sarana pendukung, semuanya bisa dilakukan oleh sumber daya lokal Indonesia. Pada saat ini ITB dan BPPT telah melakukan rekayasa proses/pabrik dan uji jalan kendaraan bermesin diesel dengan menggunakan bahan bakar biodiesel. BPPT mengembangkan pabrik biodiesel yang berbahan baku limbah pabrik sawit, ITB mengembangkan teknologi biodiesel langsung dari buah sawitnya dan juga berbagai macam minyak tanaman yang berpotensi lainnya. Pada bagian reaktornya ITB telah mengembangkan reaktor dengan nama Superhigh Conversion Reactor untuk meningkatkan efisiensi perolehan reaksi dalam waktu yang singkat. Pada saat ini di ITB ada sedikitnya dua mobil staf pengajarnya yang setiap hari berjalan dengan bahan bakar biodiesel ini, tanpa masalah. Jika implementasi tersebut berhasil diterapkan, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara penghasil biodiesel yang dapat diekspor keluar negeri, bisa dibayangkan tentang manfaat ini bagi Indonesia, baik dari segi financial, maupun kebangaan sebagai negara yang mampu menghasilkan sumber energi terbaharukan yang ramah lingkungan, jangan sampai kita tertinggal terlalu jauh dengan negara tetangga kita yang sudah memulai komersialisasi biodiesel untuk skala besar.

OVERVIEW

Indonesia kini menjadi producer CPO nomor satu dunia dengan luas lahan ±7 juta ha dan produksi 19,2 juta ton. Dengan volume produksi tersebut di atas, konversi CPO menjadi biodiesel sejatinya tidak akan mengganggu ketahanan pangan nasional.

Hingga kini, Indonesia hanya mengolah 30% CPO untuk kebutuhan dalam negeri, sementara selebihnya diekspor dalam bentuk mentah. Untuk meningkatkan nilai tambah CPO dalam konteks pangan dan energi, perlu dilakukan pengembangan industri hilir yang mampu mengolah produk CPO menjadi produk turunannya.

Peluang pengembangan Biodiesel berbasis kelapa sawit dalam negeri sangat cerah, terlebih dengan adanya kebijakan pemerintah yang menargetkan penggunaan biodiesel 10% pada tahun ini, dan 25-30% pada tahun 2025. Namun demikian, tantangan yang kini dihadapi adalah biaya produksi dan harga jual biodiesel yang belum mampu bersaing di pasaran jika dibandingkan dengan bahan bakar minyak.

Untuk itu, strategi yang perlu diterapkan dalam mengembangkan biodiesel berbasis minyak kelapa sawit ini adalah melalui regulasi pemerintah yang mengarah pada penggunaan energi terbarukan secara konkrit. Selain itu, diperlukan pula kerjasama oleh semua stakeholder dalam upaya menemukan strategi terbaik dalam mengembangkan biodiesel untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->