Metode Pembelajaran Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing, yaitu pemecahan masalah

dngan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagianbagian yang lebih simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soalpertanyaan.

Pengertian Pendekatan Problem Posing
Menurut Brown dan Walter dalam Kadir (2006:7), pada tahun 1989 untuk pertama kalinya istilah problem posing diakui secara resmi oleh National Council of Teacher of Mathematics (NCTM) sebagai bagian dari national program for re-direction of mathematics education (reformasi pendidikan matematika). Selanjutnya istilah ini dipopulerkan dalam berbagai media seperti buku teks, jurnal serta menjadi saran yang konstruktif dan mutakhir dalam pembelajaran matematika. Problem posing berasal dari bahasa Inggris, yang terdiri dari kata problem dan pose. Problem diartikan sebagai soal, masalah atau persoalan, dan pose yang diartikan sebagai mengajukan (Echols dan Shadily, 1990:439 dan 448). Beberapa peneliti menggunakan istilah lain sebagai padanan kata problem posing dalam penelitiannya seperti pembentukan soal, pembuatan soal, dan pengajuan soal (Yansen, 2005:9). Suryanto (Sutiarso: 2000) mengemukakan bahwa problem posing merupakan istilah dalam bahasa Inggris, sebagai padanan katanya digunakan istilah “merumuskan masalah (soal)” atau “membuat masalah (soal)”. Sedangkan menurut Silver (Sutiarso: 2000) bahwa dalam pustaka pendidikan matematika, problem posing mempunyai tiga pengertian, yaitu: pertama, problem posing adalah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka memecahkan soal yang rumit (problem posing sebagai salah satu langkah problem solving). Kedua, problem posing adalah perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang telah dipecahkan dalam rangka mencari alternatif pemecahan lain (sama dengan mengkaji kembali langkah problem solving yang telah dilakukan). Ketiga, problem posing adalah merumuskan atau membuat soal dari situasi yang diberikan. Sedangkan The Curriculum and Evaluation Standard for School Mathematics merumuskan secara eksplisit bahwa siswa harus mempunyai pengalaman mengenal dan memformulasikan soal-soal (masalah) mereka sendiri. Lebih jauh The Professional Standards for Teaching Mathematics menyarankan hal yang penting bagi guru-guru untuk menyusun soal-soal mereka sendiri. Siswa perlu diberi kesempatan merumuskan soal-soal dari hal-hal yang diketahui dan menciptakan soal-soal baru dengan cara memodifikasi kondisi-kondisi dari masalah-masalah yang diketahui tersebut (Silver & Cai, 1996). Berdasarkan uraian-uraian yang telah dikemukakan di atas, maka dirumuskan pengertian problem posing adalah perumusan atau pembuatan masalah/soal sendiri oleh siswa berdasarkan stimulus yang diberikan.

Penelitian deskriptif adalah penelitian tentang fenomena yang terjadi pada masa sekarang. yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek. Dari asumsi dan logika tersebut disusun praduga (konjektur). Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Salah satu bentuk penerapan asumsi dan logika untuk membentuk konsep guna memecahkan soal adalah membentuk model kuantitatif. sifat dan watak pribadi subyek. Proses penelitian dapat dimulai dengan menyusun asumsi dan logika berpikir. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen.jenis-jenis penelitian Penelitian dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis penelitian. Praduga dibuktikan atau dijelaskan menjadi tesis dengan jalan menerapkan secara sistematis asumsi dan logika. analitis kualitatif untuk menjelaskan fenomena dengan aturan berpikir ilmiah yang diterapkan secara sistematis tanpa menggunakan model kuantitatif. Penelitian historis menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. hubungan dan kedudukan suatu unsur dengan unsur lain. bibliografis. serta analisis dan penafsiran data tersebut. meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. penilaian standar norma. Penelitian deskriptif dapat bersifat komparatif dengan membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu. Prosesnya berupa pengumpulan dan penyusunan data. atau normatif dengan mengadakan klasifikasi. statistik atau komputer. Penelitian teoritis adalah penelitian yang hanya menggunakan penalaran semata untuk memperoleh kesimpulan penelitian. misalnya: Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif)adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik. yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan. Penelitian historis dapat bersifat komparatif. yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumen-dokumen tentang hal tersebut : atau biografis. Dalam beberapa . Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri.

memilih alternatif yang terbaik. Penelitian berawal dari menentukan spesifikasi rancangan yang memenuhi spesifikasi yang ditentukan. dan membuktikan bahwa rancangan yang dipilih dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan secara efisiensi. Penelitian perangkat lunak komputer dapat digolongkan dalam penelitian rekayasa. Penelitian ekperimental adalah penelitian yang dilakukan dengan menciptakan fenomena pada kondisi terkendali. Dalam penelitian eksperimental banyak digunakan model kuantitatif. Penelitian rekayasa (termasuk penelitian perangkat lunak) adalah penelitian yang menerapkan ilmu pengetahuan menjadi suatu rancangan guna mendapatkan kinerja sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. diantaranya adalah : • • • • • Memilih cara dan metode mengajar yang tepat termasuk memperhatikan penampilannya Menginformasilkan dengan jelas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai Menghubungkan kegiatan belajar dengan minat siswa Melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran misalnya melalui kerja kelompok Melakukan evaluasi dan menginformasikan hasilnya. pendekatan eksperimental ini berusaha untuk menjelaskan. Rancangan tersebut merupakan sintesis unsur-unsur rancangan yang dipadukan dengan metode ilmiah menjadi suatu model yang memenuhi spesifikasi tertentu. sehingga siswa mendapat informasi yang tepat tentang keberhasilan dan kegagalan dirinya . Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan sebab-akibat dan pengaruh faktorfaktor pada kondisi tertentu. Penelitian diarahkan untuk membuktikan bahwa rancangan tersebut memenuhi spesifikasi yang ditentukan. mengendalikan dan meramalkan fenomena seteliti mungkin. Dalam bentuk yang paling sederhana. efektif dan dengan biaya yang murah. maka guru harus mengetahui beberapa hal yang bisa dilakukannya untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa. Hal-Hal yang Dilakukan Oleh Guru Sebagai komponen yang secara langsung berhubungan dengan permasalah rendahnya motivasi belajar siswa.penelitian teoritis tidak diadakan pengumpulan data.

Masalah matematika yang diajukan oleh siswa .Ciri Guru yang Bisa Memotivasi Siswa Salah satu ciri guru yang bisa memotivasi adalah antusiasme. Membantu murid-murid untuk menyadari bahwa mereka sedang tumbuh dalam persaingan dan keunggulan. Ciri-ciri guru yang berkualitas dan bisa memotivasi siswa adalah guru yang melakukan hal-hal sebagai berikut : 1. murid-murid akan merasa aman dan nyaman bersamanya 2. Misalnya kegiatan belajar diseling dengan bernyanyi bersama atau sekedar bertepuk tangan yang meriah Menanamkan nilai atau pandangan hidup yang positif tentang belajar misalnya dalam agama islam belajar dipandang sebagi sebuah kegiatan jihad yang akan mendapatkan nilai amal disisi Allah. Memberikan test-tes yang adil. Respon positif ini bisa berupa pujian. Memberikan respon positif kepada siswa ketika mereka berhasil melakukan sebuah tahapan kegiatan belajar. mengorganisasikan serta mengevaluasi kelasnya. Ciri. Memberikan pengaruh arus balik yang bersifat korektif 4. mereka peduli dan paham dengan apa yang diajarkannya dan mengkomunikasikannya dengan murid bahwa apa yang sedang mereka pelajari itu penting. Pelaksanaan Pendekatan Problem posing dalam Pembelajaran Pendek atan probelem posing (pengajuan masalah) dapat dilakukan secara individu atau kelompok (classical). hadiah. Menceritakan keberhasilan para tokoh-tokoh dunia yang dimulai dengan mimpimimpi mereka dan ceritakan juga cara-cara mereka meraih mimpi-mimpi itu. berpasangan (in pairs) atau secara berkelompok (groups). fasilitator yang memperlakukan semua siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar dan bertanggungjawab 3. penilaian yang bersifat informative 5. Masalah matematika yang diajukan secara individu tidak memuat intervensi atau pemikiran dari siswa yang lain. Ia memberikan teladan yang dapat menjadi inspirasi bagi siswanya.mengelola. Ajak siswa untuk bermimpi meraih sukses dalam bidang apa saja seperti mimpinya para tokoh dunia tersebut.• • • • Melakukan improvisasi-improvisasi yang bertujuan untuk menciptakan rasa senang anak terhadap belajar. Menjadi manajer yang baik yang mampu merencanakan. Masalah tersebut adalah murni sebagai hasil pemikiran yang dilatar belakangi oleh situasi yang diberikan. atau pernyataan-pernyataan positif lainnya.

siswa diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengajukan soal sesuai dengan apa yang dikehendaki . akan menjadi lebih berkualitas manakala anggota kelompok dapat berpartsipasi dengan baik (Hamzah. kita bisa mencermati bagaimana siswa mengganti variabel-variabel yang dikatahui lalu mencari variabel yang ditanyakan.Situasi problem posing terstruktur. Setelah itu. Sedangkan English (1998) membedakan dua macam situasi atau konteks. Dengan cara ini kita bisa melihat sejauh mana daya serap siswa terhadap materi yang baru saja di sampaikan. Pembelajaran dengan pendekatan problem posing bisanya diawali dengan penyampaian teori atau konsep.Situasi problem posing bebas. teorema/konsep. Penjelasan kembali contoh. Berkaitan dengan situasi yang dipergunakan dalam kegiatan perumusan masalah/soal dalam pembelajaran matematika. dan solusi dari soal. Siswa dapat menggunakan fenomena dalam kehidupan sehari-hari sebagai acuan untuk mengajukan soal. soal. Dan tidak menutup kemungkinan pendekatan ini juga sudah dikembangkan dalam pembelajaran rumpun IPS dan bahasa. pemberian contoh bagaimana membuat masalah dari masalah yang ada dan menjawanya. namun belakangan ini pembelajaran fisika dan kimia juga menggunakan pendekatan ini.Situasi problem posing semi terstruktur. Problem posing adalah kegiatan perumusan soal atau masalah oleh peserta didik. Meskipun pendekatan ini lebih dikembangkan dalam pembelajaran matematika. Kemudian siswa diminta belajar dengan problem posing. Kemudian siswa diminta untuk mengajukan soal dengan mengkaitkan informasi itu dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Situasi dapat berupa gambar atau informasi yang dihubungkan dengan konsep tertentu. siswa diberikan situasi/informasi terbuka. Sama halnya dengan masalah matematika yang dirumuskan dalam satu kelompok kecil. Pembelajaran dengan pendekatan problem posing mungkin bukan suatu hal yang baru dalam dunia pendidikan. Setelah pemberian contoh cara membuat masalah dari situasi yang tersedia. pemberian contoh soal dan pembahasannya. Peserta didik hanya diberikan situasi tertentu sebagai stimulus dalam merumuskan soal/masalah. Mereka diberi kesempatan belajar induvidu atau berkelompok. yaitu dengan cara siswa diminta mengajukan soal yang sejenis atau setara dari soal yang telah dibahas. . benda manipulatif. 2003: 10). siswa diberi soal atau selesaian soal tersebut. Melalui tugas membuat soal yang setara dengan soal yang telah ada. Pendekatan ini pada awal tahun 2000 sempat menjadi kata kunci di setiap seminar pembelajaran. alat peraga. jika sangat diperlukan. Cara yang seperti ini sangat cocok digunakan dalam pembelajaran untuk rumpun mata pelajaran MIPA. Selanjutnya. Walter dan Brown (1993: 302) menyatakan bahwa soal dapat dibangun melalui beberapa bentuk. 3. Penyampaian materi biasanya menggunakan metode ekspositori. dan konteks informal berupa permainan dalam gambar atau kalimat tanpa tujuan khusus. bagaimana cara mengajukan soal dan menjawabnya bisa dilakukan. Dalam pelaksanaannya dikenal beberapa jenis model problem posing antara lain: 1. jika dilakukan dengan cara kolaborasi. kemudian berdasarkan hal tersebut siswa diminta untuk mengajukan soal baru. khususnya pembelajaran matematika. antara lain gambar. 2. siswa tidak perlu lagi diberikan contoh. permainan. yaitu konteks formal bisa dalam bentuk simbol (kalimat matematika) atau dalam kalimat verbal.yang dbuat secara berpasangan dapat lebih berbobot. Penerapan dan penilaian yang cukup sederhana dari pendekatan ini. utamanya yang berkaitan dengan tingkat keterselesaian masalah tersebut.

y. Tugas membaca yang diperintahkan pada siswa biasanya bermula dari materi. terletak pada fokus belajar siswa.Bagi siswa yang memiliki daya nalar diatas rata. seorang guru cukup membagi-bagikan foto kopian sebuah artikel yang diambil dari majalah atau koran. Setelah itu baru membaca materinya. tentu nilai x = 3. perhatikan persamaan x2 + y2 = z2. Tapi lain masalahnya ketika dibalik. kritis dan kreatif. dan z yang memenuhi persamaan tersebut!” Siswa : “Saya ingat. Mungkin akan lebih dari itu. Ketika siswa membaca pertanyaan terlebih dahulu. Mereka akan tertatang untuk membuat tambahan informasi dari informasi yang tersediakan. Pengetahuan siswa dengan pendekatan ini. siswa diminta membuat pertanyaan dan jawabannya. Kelebihan membaca soal terlebih dahulu baru membaca materi. Sebagai ilustrasi tentang perumusan soal. Sehingga waktu yang dibutuhkan untuk cara belajar membaca materi terlebih dahulu. Mereka akan belajar dengan problem posing sesuai dengan pengetahuaan mereka yang telah dimiliki sebelumnya. Pada pembelajaran bahasa Indonesia. Sehingga pertanyaan yang diajukan memiliki jawab yang lebih kompleks. Guru : “Anak-anak. ada kemungkinan siswa akan membacanya kembali atau membuka-buka bagian yang telah dibaca untuk menjawab soal yang ada. Karena antara siswa yang pandai dengan yang kurang pandai tidak diperlakukan sama. dengan pendekatan tersebut siswa akan belajar sesuai dengan tingkat berfikirnya. Maka akan muncul ratusan pertanyaan dan jawaban hanya berdasarkan sebuah artikel. yang dikutip oleh Sutiarso dalam Brown dan Walter (1990). lebih banyak dibandingkan dengan cara belajar membaca soalnya setelah itu baru membaca materinya. Berdasarkan artikel tersebut. Melalui pendekatan ini mereka bisa terangsang untuk mengembangkan pengetahuannya dengan cara yang mudah dan murah. dan z yang lain?” Siswa : “Ada. Dengan pendekatan ini diharapkan siswa lebih bersemangat. Berapa ya?” . maka mereka akan berusaha untuk mencari jawaban dari pernyaan yang telah mereka baca. carilah nilai x. dengan pendekatan problem posing siswa diharapkan lebih peka terhadap masalah yang timbul disekitanya dan mampu memberikan penyelesaian yang cerdas. Salah satunya melalui pembelajaran dengan pendekatan problem posing. pembelajaran dengan pendekatan problem posing akan melatih sikap kritis dan cara berfikir divergen. dan z = 5”. Pembelajaran dengan pendekatan problem posing dapat juga dimulai dari membaca daftar pertanyaan pada halaman soal latihan yang terdapat dalam buku ajar. berikut disajikan contoh pembelajaran objek matematika yang berupa teorema. pendekatan seperti ini memberikan peluang untuk melakukan eksplorasi intelektualnya. bisa dikembangkan dari yang sederhana hingga pada pengetahuan yang kompleks. y = 4. Sedangkan bagi anak yang berkemampuan biasa cara ini akan memberikan kemudahan untuk membuat soal dengan tingkat kesukaran sesuai dengan kemampuannya. Sebenarnya banyak cara bagaimana mengaktifkan siswa. lalu menjawab soal pada halaman latihan. Bila membaca materi terlebih dahulu. Cara ini berkebalikan dengan cara belajar selama ini. Selain itu. itu seperti persamaan dalam Pythagoras. Misalnya. y. Sebab aspek kebahasaan yang dimuat dalam sebuah artikel banyak sekali. Walhasil. Guru : “Bagus! Sekarang apakah ada x. maka ketika sampai pada bagian soal latihan.

” Berdasarkan ilustrasi di atas. sedangkan tahap challengingnya. siapakah penemu pertama pesamaan itu?. Pendidik perlu menyusun dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar dimana anak dapat aktif membangun pengetahuannya sendiri. 2000) menjelaskan bahwa perumusan soal dalam pembelajaran matematika memiliki dua tahapan kegiatan kognitif. Bagaimana. dan z selalu bilangan bulat?. sekarang Bapak akan menunjukkan contoh merumuskan soal. y. setelah kita menentukan x. tetapi juga pada pengetahuan awal siswa.Tuntutan pendidikan sudah banyak berubah. dan challenging (menantang). y. Dalam pembelajaran. Siswa menantang situasi persamaan tersebut dengan merumuskan soal. lihat. y. dan z sebanyak-banyaknya di buku kalian!” (Setelah siswa menulis hasilnya. Brown dan Walter (Sutiarso. Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Hal ini sesuai dengan pandangan kontruktivisme yaitu keberhasilan belajar tidak hanya bergantung pada lingkungan atau kondisi belajar. misalnya.dan dengar.Belajar melibatkan pembentukan “makna” oleh siswa dari apa yang mereka lakukan. Sistem pengajaran Cooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Pembelajaran Cooperative Learning A. sedangkan tahap menantang adalah suatu kegiatan siswa menantang situasi tersebut dalam rangka perumusan soal. atau Apakah nilai x. kami akan mencobanya. Paradigma lama tentang proses pembelajaran yang bersumber pada teori tabula rasa John Lock dimana pikiran seorang anak seperti kertas kosong dan siap menunggu coretancoretan dari gurunya sepertinya kurang tepat lagi digunakan oleh para pendidik saat ini. sekarang tulis nilai x. Yang . tahap accepting-nya Siswa menerima situasi berupa persamaan x2 + y2 = z2. Tahap menerima adalah suatu kegiatan siswa menerima situasi-situasi yang diberikan guru atau situasi-situasi yang sudah ditentukan. mudah bukan?” Siswa: “Baik pak. Dalam contoh ilustrasi di atas. sekarang buatlah satu pertanyaan dari persamaan tersebut” Siswa: “Bagaimana caranya pak?” Guru: “Baik.Guru: “Nah. yaitu accepting (menerima). Pendahuluan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. guru harus memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannya dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru. guru melanjutkan pertanyaan) Guru: “Anak-anak. dan z yang sesuai.

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Untuk mencapai hasil yang maksimal. setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. keahlian bekerja sama. Komunikasi antar anggota. c.termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson & Johnson. b. yaitu saling ketergantungan positif. dan proses kelompok. Evaluasi proses kelompok. interaksi personal. yaitu: a. Dalam pembelajaran kooperatif. tanggung jawab individual. . belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran. yang terdiri dari dua orang atau lebih. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok. Saling ketergantungan positif. Tanggung jawab perseorangan. 1993). 2002: 14). Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya. Falsafah yang mendasari pembelajaran Cooperative Learning (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah “homo homini socius” yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. d. e. Hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat dilakukan siswa untuk mencapai keberhasilan belajar berdasarkan kemampuan dirinya secara individu dan andil dari anggota kelompok lain selama belajar bersama dalam kelompok. Tetapi belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepedensi efektif diantara anggota kelompok (Sugandi. Tatap muka. maka harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Sistem pembelajaran gotong royong atau cooperative learning merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. 1.

2003: 206). Dengan suasana kelas yang demokratis. dan masing-masing siswa punya peran dan akan memberikan pengalaman belajarnya kepada siswa lain. yang saling membelajarkan memberi kesempatan peluang lebih besar dalam memberdayakan potensi siswa secara maksimal. Peran guru dalam pembelajaran cooperative learning sebagai fasilitator. Pertama.. Kondisi ini peran dan fungsi siswa terlihat. Hal ini dikarenakan sebelumnya hanya dilaksanakan model pembelajaran secara konvensional yaitu camah dan tanya jawab. penggunaanya cooperative learning merupakan suatu model yang efektif untuk menge-mbangkan program pembelajaran terpadu.Menurut Anita Lie dalam bukunya “Cooperative Learning”. membantu guna dalam mengidentifikasikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dan mencarikan alternatif pemecahannya. Dengan cooperative learning siswa . maka tampak suasana kelas menjadi lebih hidup dan lebih bermakna. Dengan digunakannva model cooperative learning. melalui cooperative learning menimbulkan suasana yang baru dalam pembelajaran. Model pembelajaran cooperative learning akan dapat memberikan nunasa baru di dalam pelaksanaan pembelajaran oleh semua bidang studi atau mata pelajaran yang diampu guru. Dampak tersebut tidak saja kepada guru akan tetapi juga pada siswa. Karena pembelajaran cooperative learning dan beberapa hasil penelitian baik pakar pendidikan dalam maupun luar negeri telah memberikan dampak luas terhadap keberhasilan dalam proses pembelajaran. bahwa model pembelajaran Cooperative Learning tidak sama dengan sekadar belajar kelompok. Model pembelajaran cooperative learning adalah salah satu model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran (student oriented). Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang dikembangkan dari teori kontruktivisme karena mengembangkan struktur kognitif untuk membangun pengetahuan sendiri melalui berpikir rasional (Rustaman et al. Ketiga. Kedua. Metode tersebut ternyata kurang memberi motivasi dan semangat kepada siswa untuk belajar. moderator. organisator dan mediator terlihat jelas. Dari hasil penelitian tindakan pelaksanaan cooperative learning dengan diskusi kelompok ternyata mampu membuat siswa terlibat aktif dalam kegiatan belajar. Berikut ini akan dikemukakan beberapa keuntungan yang diperoleh baik oleh guru maupun siswa di dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan model cooperative learning. tetapi ada unsurunsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asalasalan. dan interaksi edukatif muncul dan terlihat peran dan fungsi dari guru maupun siswa. keterlibatan semua siswa akan dapat memberikan suasana aktif dan pembelajaran terkesan de-mokratis.

dengan melalui cooperative learning. Anggota-anggota dalam kelompok diatur terdiri dari siswa yang berkemampuan rendah. Terlebih lagi bila pembahasan materi yang sifatnya problematik atau yang bersifat kontroversial. Keenam. berani dikriik. Dengan bekerja kelompok maka timbul adanya perasaan ingin membantu siswa lain yang mengalami kesulitan sehingga mampu me-ngembangkan sosial skill siswa. dan tinggi. dengan cooperative learning mampu mengembangkan kesadaran pada diri siswa terhadap permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan sekitarya.tidak hanya dapat mengembangkan kemampuan aspek kognitif saja melainkan mampu mengembangkan aspek afektif dan psikomotor. mampu merangsang siswa me-ngembangkan kemampuan berpikirnya . c. maupun menghargai pendapat orang lain. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif Karakteristik pembelajaran kooperatif diantaranya: a. Hal ini dikarenakan kegiatan pembelajaran ini lebih banyak berpusat pada siswa. Jika memungkinkan. b. Sistem penghargaan yang berorientasi kepada kelompok daripada individu. 2. Keempat. dapat me-ngembangkan kemampuan berpikir kritis. dan reflektif. Salah satu model yang dapat memberikan dampak terhadap keberhasilan siswa adalah melalui model pembelajaran koperatif atau cooperative learning. budaya. dan jenis kelamin. d. sehingga siswa diberi kesempatan untuk turut serta dalam diskusi kelompok. kreatif. dengan cooperative learning mampu melatih siswa dalam berkomunikasi seperti berani mengemukakan pendapat. Dari beberapa keuntungan dari model pembelajaran cooperative learning di atas. Siswa bekerja dalam kelompok kooperatif untuk menguasai materi akademis. maka jelaslah bagi kita bahwa keberhasilan suatu proses pendidikan dan pengajaran salah satunya ditentukan oleh kemampuan dan ketera-mpilan guru dalam menggunakan strategi dan model pembelajaran yang digunakannya. Komunikasi interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa menimbulkan dialog yang akrab dan kreatif. . sedang. Disamping itu pula dapat me-latih siswa dalam me-ngembangkan perasaan empati maupun simpati pada diri siswa. masing-masing anggota kelompok kooperatif berbeda suku. Kelima. Pemberian motivasi dari teman sebaya ternyata mampu mendorong semangat siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya.

terdapat empat tahapan keterampilan kooperatif yang harus ada dalam model pembelajaran kooperatif yaitu: a. . b. d. di mana Muslim Ibrahim (2006 : 6. dan menekankan penguasaan serta pemahaman dari materi yang diberikan. Siswa dalam kelompoknya harus beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”. Siswa akan dikena evaluasi atau hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua kelompok.Selain itu. konflik kognitif. mencari lebih banyak informasi. dan mengkomunikasikan pemikiran untuk memperoleh kesimpulan. Formating (perumusan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk pembentukan pemahaman yang lebih dalam terhadap bahan-bahan yang dipelajari. Siswa harus melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama. Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif Sebagaimana yang telah diuraikan di atas bahwa pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok kecil. Forming (pembentukan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk membentuk kelompok dan membentuk sikap yang sesuai dengan norma. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya seperti milik mereka sendiri. Siswa harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya. Fermenting (penyerapan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk merangsang pemahaman konsep sebelum pembelajaran. b. Functioniong (pengaturan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk mengatur aktivitas kelompok dalam menyelesaikan tugas dan membina hubungan kerja sama diantara anggota kelompok. c. e. c. f. merangsang penggunaan tingkat berpikir yang lebih tinggi. d. dalam Depdiknas 2005 : 45) menguraikan unsur-unsur pembelajaran Kooperatif sebagai berikut: a. 3.

tanggung jawab bukan saja terdapat dalam kelompok. 2005 : 46) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut: a.g. 5. Dengan memperhatikan unsur-unsur pembelajaran kooperatif tersebut. Mencari Pasangan . Penghargaan lebih berorientasi pada individu.Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.Setiap siswa mendapatkan satu pasangan. Dalam hal ini Muslim Ibrahim (dalam Depdiknas.Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep. Apabila seorang guru ingin menggunakan pembelajaran kooperatif. peneliti berpendapat bahwa dalam pembelajaran kooperatif setiap siswa yang tergabung dalam kelompok harus betul-betul dapat menjalin kekompakan. 4. tetapi juga dituntut tanggung jawab individu.Setiap siswa mendapat satu buah kartu. . Siswa akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. Selain itu. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif: Sebagai seorang guru dalam memberikan pelajaran kepada siswa tentu ia akan memilih manakah model pembelajaran yang tepat diberikan untuk materi pelajaran tertentu. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi. sedang dan rendah. . Dengan memperhatikan ciri-ciri tersebut. Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras. b. sehingga setiap kelompok dapat bekerja dengan optimal. seorang guru hendaklah dapat membentuk kelompok sesuai dengan ketentuan. jenis kelamin yang berbeda. b. Teknik Pembelajaran Kooperatif Teknik pembelajaran kooperatif diantaranya: a. c. suku. . Bertukar Pasangan . d. maka haruslah terlebih dahulu mengerti tentang pembelajaran kooperatif tersebut. budaya.

Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya. dia harus menyerahkan salah satu kancingnya. Kepala Bernomor . f. Dua Tinggal Dua Tamu . .Guru memanggil salah satu nomor. .Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya . c.Siswa berikutnya juga ikut memberikan kontribusinya. . dia tidak boleh berbicara lagi sampai kancing semua rekannya habis.Siswa dibagi dalam kelompok dan setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor. .Setelah selesai. Keliling Kelompok .Setiap kali seorang siswa berbicara.Jika kancingnya sudah habis. .Temuan baru yang diperoleh dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula. .Setiap siswa dalam kelompok mendapatkan dua atau tiga buah kancing. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka. e.Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan kemudian saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban.Guru menyipkan satu kotak kecil berisi kancing-kancing. Kancing Gemerincing . . d. setiap pasangan bergabung dengan pasangan lain.. . . Giliran bicara bisa dilaksanakan menurut arah perputaran jarum jam atau dari kiri ke kanan.Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini. .Salah satu siswa dalam masing-masing kelompok memulai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang dikerjakan.Demikian seterusnya.

b. Nomor kepala yang sama pada kelompok asal berkumpul pada suatu kelompok yang disebut kelompok ahli. . d. 6. yaitu anggota kelompok asal dan anggota kelompok ahli. c. Tentang hal itu dapat diuraikan sebagai berikut: a. kuis satu sama lain dan atau melakukan diskusi. Anggota kelompok asal terdiri dari 35 siswa yang setiap anggotanya diberi nomor kepala 1-5. baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Tipe-tipe Pembelajaran Kooperatif: Pada pembelajaran kooperatif dikenal ada 4 tipe.Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka. 3) Investigasi Kelompok dan 4) tipe Struktural. Tipe Jigsaw Tipe Jigsaw adalah salah satu model pembelajaran kooperatif di mana pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa yang bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal. selanjutnya menyiapkan dan mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas. . kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pembelajaran melalui tutorial.Setelah selesai. Tipe Struktural . 2) tipe Jigsaw.Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi ke tamu mereka. .. yaitu: 1) tipe STAD. dua orang dari setiap kelompok meninggalkan kelompoknya dan bertamu ke kelompok yang lain. Investigasi Kelompok Investigasi kelompok merupakan pembelajaran kooperatif yang paling komplek dan paling sulit untuk diterapkan. di mana siswa terlibat dalam perencanaan pemilihan topik yang dipelajari dan melakukan pentelidikan yang mendalam atas topik yang dipilihnya. .Tamu mohon diri dan kembali ke kelompoknya kemudian melaporkan hasil temuannya.Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat. Pada pembelajaran tipe Jigsaw ini setiap siswa menjadi anggota dari 2 kelompok. Tipe STAD Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) adalah pembelajaran kooperatif di mana siswa belajar dengan menggunakan kelompok kecil yang anggotanya heterogen dan menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran untuk menuntaskan materi pembelajaran.

o Tahap Kedua: Siswa diminta secara berpasangan untuk mendiskusikan apa yang dipikirkannya pada tahap pertama. yaitu pembelajaran kooperatif dengan menggunakan tahap-tahap pembelajaran sebagai berikut: o Tahap Pertama: Thinking (berfikir).Ada 2 macam pembelajaran koooperatif tipe struktural ini yang terkenal. Hasil kali kelarutan • Hasil kali kelarutan adalah suatu konstanta kesetimbangan . dan setiap anggota diberi nomor 1-5.Numbered head together yaitu pembelajaran kooperatif dengan langkah-langkah sebagai berikut: o Langkah 1: siswa dibagi per kelompok dengan anggota 3-5 orang. kemudian siswa diminta untuk memikirkan jawaban secara mandiri beberapa saat. o Langkah 2: guru mengajukan pertanyaan.Think-pair-share. o Langkah 3: berfikir bersama menyatukan pendapat. dengan mengajukan pertanyaan. . o Tahap Ketiga: Meminta kepada pasangan untuk berbagi kepada seluruh kelas secara bergiliran. dan ada tidaknya ion sejenis di dalam larutan. HASIL KALI KELARUTAN Masih bingung dengan definisi kelarutan dan hasil kali kelarutan? Agar lebih jelas maka perhatikan perbedaan di antara keduanya di bawah ini. o Langkah 4: nomor tertentu disuruh menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. yaitu: . Kelarutan • • Menunjukan posisi kesetimbangan suatu zat dalam larutan Pada suhu tertentu nilainya bervariasi tergantung dari jumlah pelarut.

perak iodide (Ksp = 8. atau dapat dikatakan memiliki satu nilai pada satu temperature. Rumus Ksp PbSO4 tidak sama dengan PbCl2 akan tetapi rumus Ksp PbSO4 akan sama dengan rumus Ksp BaSO4 yang juga mempunyai perbandingan mol kation dan anion 1:1. tembaga(II)sulfide (Ksp = 8.0×10-13) c.. Mengerti konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan sangat menbantu kita untuk memahami dan menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan kelarutan Latihan Soal Persiapan SPMB / SNMPTN 2008 Garam yang paling sukar larut adalah.• • Nilainya tetap pada suhu tertentu. dan kelarutan yang diperoleh dari data Ksp adalah kelarutan garam pada kondisi tepat jenuh. Misalnya PbSO4 adalah garam dengan perbandinga mol kation dan anion 1:1. Untuk soal diatas Perak Klorida = AgCl Perak bromide = AgBr Perak iodide = AgI Seng sulfide = ZnS Tembaga(II)sulfide = CuS Semua garam di atas adalah garam dengan perbandingan mol 1:1 . Kelarutan (s) disini mempunyai konsentrasi molar.7×10-10) b. sedangakn PbCl2 adalah garam dengan perbandingan mol kation dan anion 1:2. seng sulfide (Ksp = 1. perak bromide (Ksp = 5. perak klorida (Ksp = 1. Rumus Ksp tergantung dari jenis garam atau bisa juga dikatakan tergantung dari perbandingan mol spesies anion dan kation penyusun garam tersebut. Tidak dipengaruhi oleh jumlah pelarut dan jumlah ion senama yang terdapat di dalam larutan. a.5×10-17) d.2×10-23) e. sehingga rumus Ksp ke-4 garam tersebut adalah sama yaitu AB -> A+) + Bs—–s—-s .5×10-36) Jawaban: Ksp atau konstanta hasil kali perkalian dapat dipergunakan untuk mencari kelarutan (s) suatu garam yang tidak mudah larut.

perak iodide s = ( 8.5×10-17)1/2 d. perak klorida s = (1.5×10-36)1/2 Jadi yag paling sukar larut adalah garam dengan kelarutan terkecil yaitu tembaga(II)sulfide (E) .7×10-10)1/2 b. tembaga(II)sulfide s = (8.s Ksp = s2 S= Ksp1/2 a.Ksp = [A][B] Ksp = s.0×10-13)1/2 c.2×10-23)1/2 e. seng sulfide s = (1. perak bromide s= (5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.