P. 1
KAJIAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM TENTANG NILAI-NILAI EDUKATIF Q.S AL-A’RAAF : 179

KAJIAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM TENTANG NILAI-NILAI EDUKATIF Q.S AL-A’RAAF : 179

|Views: 1,590|Likes:
Published by wahyudin

More info:

Published by: wahyudin on Jan 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2014

pdf

text

original

Menurut Quraisyihab (2000:103) dalam tafsirnya Al-Misbah

menyebutkan bahwa ayat ini menjadi penjelasan mengapa seseorang, tidak

mendapat petunjuk dan mengapa pula yang lain disesatkan Allah. Ayat ini

juga berfungsi sebagai ancaman kepada mereka yang mengabaikan tuntunan

pengetahuannya. la menjelaskan bahwa mereka yang kami kisahkan

keadaannya itu, yang menguliti dirinya sehingga kami sesatkan adalah

sebagian dari yang kami jadikan untuk isi neraka dan demi keagungan dan

kemuliaan kami sungguh kami telah ciptakan untuk isi neraka jahannam

banyak sekali dari jenis jin dan jenis manusia karena kesesatan mereka;

mereka mempunyai hati, (tetapi) tidak mereka untuk gunakan memahami

ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak mereka gunakan

untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga

(tetapi) tidak mereka gunakan untuk mendengar petunjuk-petunjuk Allah.

Mereka itu seperti binatang ternak yang tidak dapat memanfaatkan petunjuk,

bahkan mereka lebih sesat lagi dari pada binatang. Mereka itulah benar-benar

yang amat lalai.

Hati, mata, dan telinga orang-orang yang memilih kesesatan

dipersamakan dengan binatang karena binatang tidak dapat menganalogikan

apa yang dia dengar dan lihat dengan sesuatu yang lain. Binatang tidak

memiliki akal seperti manusia.

Bahkan manusia yang tidak menggunakan potensi yang dianugrahkan

Allah lebih buruk. Sebab binatang dengan instingnya akan selalu mencari

kebaikan dan menghindari bahaya, sementara manusia durhaka justru

menolak kebaikan dan kebenaran dan mengarah kepada bahaya yang tiada

taranya. Setelah kematian, mereka kekal dia api neraka, berbeda dengan

binatang yang punah dengan kematiannya. Di sisi lain, binatang tidak

dianugrahi potensi sebanyak potensi manusia. Sehingga binatang tidak wajar

dikecam bila tidak mencapai apa yang dapat dicapai manusia. Manusia pantas

dikecam bila sama dengan binatang dan dikecam lebih banyak lagi jika ia

lebih buruk dari pada binatang, karena potensi manusia dapat mengantarnya

meraih ketinggian jauh melebihi kedudukan binatang.

Kata al-Ghaafiluun terambil dari kata ghaflah yakni lalai tidak

mengetahui atau menyadari apa yang seharusnya diketahui dan disadarai.

Keimanan, dan petunjuk Allah sedemikian jelas, apalagi bagi yang

berpengetahuan, tetapi bila mereka tidak memanfaatkannya maka mereka

bagaikan orang yang tidak mengetahui atau tidak menyadari bahwa mereka

memiliki potensi atau alat untuk meraih kebahagiaan. Inilah kelailaian yang

tiada taranya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->