PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 84-97

PERKEMBANGAN BIDANG KETEKNIKAN HUTAN YANG GAYUT DENGAN PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT Oleh: Djaban Tinambunan 1)

ABSTRAK
Peranan keteknikan hutan dalam pengelolaan hutan rakyat sebenarnya sangat penting, tetapi kegiatan penelitian dan pengembangan serta perekayasaan di bidang tersebut masih sangat sedikit sehingga peranan yang penting tersebut menjadi belum terrealisasikan di Indonesia. Pusat Litbang Hasil Hutan Bogor sudah beberapa tahun melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan serta perekayasaan alat-alat yang sesuai untuk hutan rakyat, namun hasilnya masih jauh dari harapan karena terkendala oleh kurangnya dukungan dari para pihak terkait. Beberapa alat telah dibuat dan sudah cukup baik namun belum ada yang berminat untuk menggunakannya dan penelitian lanjutan penyempurnaannya pun berjalan di tempat. Di negara-negara maju, penelitian alat-alat untuk hutan rakyat terus digalakkan untuk mencapai perbaikan terus-menerus menuju tigkat efektivitas dan efisiensi kerja yang lebih tinggi. Kecenderungan seperti itu perlu dimiliki dan dilaksanakan di Indonesia untuk mamajukan usaha hutan rakyat. Kata kunci: Hutan rakyat, keteknikan hutan, perekayasaan ala, alat sederhana.

I.

PENDAHULUAN Hutan rakyat telah lama dipraktekkan secara luas di Indonesia khususnya di P.

Jawa dan beberapa daerah di luar P. Jawa seperti Sumatra, Sulawesi dan lain-lain. Hutan rakyat mencapai luas 1.568.145 ha yang sebagian besar berada di P. Jawa dengan potensi tebangan bisa mencapai 39,5 juta m3 yang diperoleh dari 226,6 juta batang pohon (Anonim, 2006). Prospek usaha hutan rakyat tersebut baik sebagai penghasil kayu maupun bukan kayu di masa mendatang adalah cukup cerah. Faktor-faktor pendorongnya antara lain adalah kecenderungan kebutuhan kayu dalam negeri yang terus meningkat, kebijakan pemerintah yang terus mengurangi produksi kayu dari hutan _____________________ 1) Ahli Peneliti Utama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan hasil Hutan, Bogor 84

kosmetika. industri jasa (ekoturisme) yang terkait dengan hasil-hasil kerajinan. tekstil. 2) Usaha hutan rakyat ditinjau dari segi usaha. perkembangan keteknikan hutan yang gayut dengan pengelolaan hutan rakyat dan pemikiran langkah-langkah yang perlu dilakukan di bidang keteknikan hutan untuk mendukung pengelolaan hutan rakyat yang lebih maju. Jawa) dan status lahan sering belum jelas. Dalam tulisan ini dikemukakan gambaran umum keadaan hutan rakyat dilihat dari sudut keteknikan hutan. obat-obatan dan lain-lain. 1995) adalah sebagai berikut: 1) Lokasi hutan rakyat terbatas pada lahan milik. seperti disajikan dalam rumusan hasil diskusi panel pengembangan hutan rakyat tahun 1995 di Bandung (Ditjen RRL. 85 . Faktor lainnya adalah berkembangnya industri yang menggunakan berbagai hasil hutan bukan kayu di dalam negeri seperti industri pengguna getah damar mata kucing yaitu industri cat. andalannya masih tenaga manusia (manual) sehingga efektivitasnya rendah dan sulit melakukan pengelolaan skala besar. lahan marga/adat. 3) Pelaksana pengelolaan hutan rakyat biasanya adalah stratum masyarakat paling bawah yang mempunyai kemampuan teknis. farmasi. ekonomis dan manajemen minimal. sebagian besar berskala kecil sampai menengah yang dalam pengembangannya menghadapi masalah pemilikan lahan yang sempit (di P. Pengelolaan hutan rakyat belum tersentuh perkembangan teknologi di bidang keteknikan hutan (forest engineering) padahal bidang tersebut telah berkembang pesat di negara-negara maju sedikitnya selama tiga dekade terakhir. dan juga industri pengolahan hasil hutan bukan kayu lainnya seperti bambu. II. Upaya untuk meningkatkan mutu pengelolaan dan efisensi pemanfaatan hasil hutan rakyat sangat membutuhkan penggunaan alat-alat yang sesuai dengan kondisi obyektif hutan rakyat tersebut. kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi yang tidak berhutan dan tanah negara yang terlantar/HGU terlantar. rotan. kosmetika. KEADAAN HUTAN RAKYAT DILIHAT DARI SEGI KETEKNIKAN HUTAN Keadaan sebagian besar hutan rakyat dilihat dari segi keteknikan hutan.PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 84-97 alam dan lingkungan perdagangan internasional yang makin terbuka. Dalam pengelolaan hutan rakyat sampai sekarang ini.

ada tiga pola. Keteknikan Hutan Secara Tradisional/Manual Salah satu kesepakatan yang diambil dalam Seminar/Diskusi Panel Pengembangan Hutan Rakyat di Bandung tahun 1995 adalah kesadaran akan perlunya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan usaha hutan rakyat yang salah satunya adalah dengan pembinaan keterampilan teknik. seperti dikemukakan Simon (1995). tidak ada yang mencakup keteknikan hutan. 5) Pelaksana pengeloaan hutan rakyat umumnya kurang mempunyai ketrampilan dalam pengelolaan hutan. pemerintah bersama pihak terkait lainnya seharusnya sudah mengembangkan teknik operasional pengelolaan hutan rakyat. 86 . PERKEMBANGAN KETEKNIKAN HUTAN YANG GAYUT DENGAN PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT A. biaya murah dan pengoperasiannya mudah namun mampu bekerja efektif dan efisien. Keadaan hutan rakyat yang demikian ini memerlukan peralatan yang berukuran kecil. 9) Pola penanaman lain yang khas terdapat di Gunung Kidul. Sebagai contoh di beberapa hutan rakyat Jawa Barat terlihat bahwa diameter maksimum hanya mencapai sekitar 35 cm. yaitu penanaman berbagai jenis tanaman di satu areal lahan pada waktu bersamaan. operasional dan manajemen. seperti dalam uraian kegiatan pelaksanaan pengelolaan hutan rakyat yang mencapai 10 butir (Badan Litbang Kehutanan. mudah dipindah-pindah. III. yaitu (1) penanaman pohon di sepanjang batas lahan milik.PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 84-97 4) Pola penanaman hutan rakyat tidak monokultur (homogen) tetapi bersifat heterogen. (2) penanaman pohon di teras bangku. 8) Dimensi kayu yang dipanen biasanya kecil. 6) Kelembagaan pengelolaan hutan rakyat belum berkembang ke taraf yang mantap. 1998). Sebagai tindak lanjut seminar tersebut. Alat-alat berat yang biasa digunakan di hutan alam selama ini tidak sesuai digunakan untuk hutan rakyat. dan (3) penanaman pohon di seluruh lahan milik. 7) Dalam peraturan perundangan yang ada.

Dalam majalah tersebut disajikan gambar-gambar sketsa alat dan informasi teknis seadanya sehingga terkesan masih bersifat pengenalan secara umum saja. Bogor. Khusus untuk P. Jawa dan Madura. berat dan pemakaian dan belum mencakup efektivitas. Jawa sebagai akibat maraknya kegiatan di sana. 4 – 9 tahun 1963). Beberapa peneliti pada Direktorat Kehutanan tahun 1960-an sebenarnya berkeinginan untuk meneliti dan mengembangkan peralatan tradisional sehingga didirikan Lembaga Penelitian Daya Guna Tenaga dan Peralatan di Gunung Batu. 1965). Lembaga tersebut meneliti peralatan kehutanan di P.PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 84-97 Praktek pengelolaan hutan rakyat dari dulu sampai sekarang masih secara tradisional dengan andalan utama tenaga manusia (manual) yang hanya menggunakan peralatan sederhana dan tidak mengalami perubahan/perbaikan karena kurang atau tidak mendapat perhatian dari para pihak terkait. Danuwinoto (1964) telah menulis buku pegangan bagi pengguna. cara pemeliharaan. Peralatan yang dapat digunakan dalam pengelolaan hutan rakyat sebenarnya cukup banyak jenis dan variasinya dari satu tempat ke tempat lain. mencakup pengenalan bagian-bagian gergaji. namun selama ini perhatian peneliti terfokus ke hutan alam di luar P. Lembaga Penelitian Ekonomi Kehutanan (nama baru bagi Lembaga Penelitian Daya Guna Tenaga dan Pealatan Pehutanan di atas) telah menginventarisasi peralatan kehutanan tradisional yang ada (Danuwinoto. ekonomi. pembibitan dan persemaian. Untuk mendukung penggunaan alat tersebut. berbagai alat bantu pemeliharaan gergaji dan cara mengoperasikannya serta cara-cara penggunaan gergaji tangan yang benar. Informasi yang dikumpulkan baru bersifat umum meliputi bahan. Misalnya untuk tahun 1963 majalah tersebut terbit 5 nomor (Kerdjantara No. Alat utama dalam pengelolaan (pemanenan dan pengolahan) hutan rakyat adalah gergaji tangan. Pada akhit tahun 1960-an sempat dilakukan beberapa kali pelatihan pemeliharaan dan pengoperasian gergaji tangan namun tidak meluas dan berkelanjutan. 87 . Dari hasil inventarisasi tersebut diketahui ada sebanyak 84 jenis alat-alat manual yang digunakan di semua tahap pengelolaan hutan. ukuran. apalagi kemungkinan penyempurnaannya. mulai dari kegiatan pengerjaan tanah dan persiapan tanaman. Mungkin peneliti penerus diharapkan melanjutkan penelitian dalam rangka penyempurnaan alat-alat tesebut dan kajian berbagai aspeknya. Jawa dan Madura dan hasil penelitiannya dimuat dalam majalah Kerdjantara yang jadwal terbitnya tergantung kepada ketersediaan naskah dan masing-masing nomor memuat 5 – 8 tulisan mengenai peralatan sederhana dalam pengelolaan hutan. pengumpulan dan penyimpanan biji.

2) Gerggaji tangan untuk memotong . 88 . Upaya yang telah dimulai para peneliti senior kehutanan tahun 1960-an tersebut ternyata terhenti sampai di situ saja padahal peranan peralatan tersebut sebenarnya sangat penting dalam melaksanakan pengelolaan hutan rakyat secara baik. diaplikasikan. Beberapa di antara alat-alat tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut (Wasono. terutama yang menyangkut alat-alat manual. digunakan khusus untk membelah kayu. tanpa ketergantungan kepada barang-barang impor. digunakan untuk membantu memperlancar pemotongan kayu. digunakan untuk menyarad kayu yang susah dikeluarkan. muat-bongkar sampai ke pengukuran isi tegakan dan bahkan pengukuran cuaca.PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 84-97 penjarangan. 4) Baji tebang. juga terdiri dari bermacam-macam bentuk gerigi dan ukuran gergaji. Wasono. Semua penelitian tersebut. digunakan untuk memudahkan kerja gergaji dan menentukan arah rebah. 3) Gergaji tangan untuk membelah. penebangan. Semua itu dimaksudkan untuk meningkakan efektivitas dan efisiensi pekerjaan dan menurunkan beban kerja bagi para pekerja. 1967b): 1) Greifzug atau handy andy adalah alat yang sangat bermanfaat dalam pemanenan hutan. mengatur arah roboh pohon. 5) Baji potong. sangat gayut dengan pengelolaan hutan rakyat. terdiri dari berbagai bentuk gerigi dan ukuraan gergaji yang khusus untuk memotong kayu. 1967a. Banyak alat manual yang dibawa oleh Jerman ke Indonesia. diteliti dan dilakukan pelatihan-pelatihan dalam menggunakan peralatan tersebut dengan benar serta pelatihan pemeliharaan alat-alat tersebut secara baik. pengangkutan. Alat-alat tradisional tersebut yang merupakan teknologi tepat guna bagi pengusahaan hutan rakyat sangat potensial untuk diteliti dan selanjutnya dikembangkan ke arah yang lebih baik sehingga dapat digunakan secara efektif dan efisien dengan upaya sendiri. B. juga terdiri dari berbagai bentuk dan ukuran. baik alat-alat mekanis maupun alat-alat sederhana yang dioperasikan secara manual. membongkar tuggak. mengatur letak kayu dan sebagainya. Kerjasama Indonesi dengan Jerman Selama kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jerman pada periode 1963 – 1968 telah dilakukan banyak penelitian keteknikan hutan. terdiri dari berbagai bentuk dan ukuran baji.

terdiri dari berbagai alat perbengkelan yang digunakan untuk memelihara. 89 . mesin bor. Bogor (namanya sejak dulu sudah sering berubah dan sekarang bernama Pusat Litbang Hasil Hutan Bogor) sudah mulai melakukan penelitian dan pengembangan keteknikan hutan. digunakan untuk berbagai kegiatan potong-memmotong kayu dan kegiatan pendukung lainnya. namun setelah kerjasama selesai. Hasilnya sudah ada beberapa macam alat sederhana (alat tepat guna) yang cocok digunakan dalam pengelolaan hutan rakyat. mesin gerinda. 9) Alat-alat bengkel. Alat-alat yang dibawa dan diperkenalkan oleh para ahli Jerman ini sebenarnya sangat baik dan mampu memperbaiki berbagai praktek pengelolaan hutan secara manual. ada beberapa ukuran. palu dan berbagai alat-alat kecil lainnya. 7) Alat ungkit. Namun karena perhatian para pihak terkait akan bidang keteknikan sangat kurang. institusi litbang kehutanan di Gunung Batu. penjepit (file).PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 84-97 6) Kampak (kapak). Di sisi lain. et al. Alat-alat hasil rekayasa dan penelitian Pusat Litbang Hasil Hutan Bogor yang gayut dengan pengelolaan hutan rakyat. hasil-hasil yang telah dicapai tersebut tidak termanfaatkan dan berbagai penelitian lanjutan yang diperlukan tidak dapat dilaksanakan. 8) Kikir. kegiatan lanjutannya tidak ada sehingga alatalatnya tinggal menumpuk begitu saja menunggu prosesnya menjadi besi tua. Usaha Pusat Litbang Hasil Hutan Bogor Sejak sekitar tahun 1970-an. C. mesin las. meliputi mesin bubut.. praktek pengelolaan hutan rakyat masih menggunakan caracara tradisonal yang sangat sederhana dan masih kurang maju. terdiri dari banyak macam dan ukuran. memperbaiki atau menyempurnakan alat-alat yang digunakan dalam kegiatan kehutanan. terdiri dari bermacam-macam bentuk dan ukuran kikir yang fungsinya adalah untuk menajamkan gergaji. digunakan sebagai alat bantu untuk mengungkit kayu yang sedang dikerjakan. 1980). KPH Lawu Ds dan KPH Pekalongan Barat dengan hasil cukup baik (Sinaga. antara lain: 1) Sistem kabel gaya berat (gravity skyline system) adalah alat hasil rekayasa berupa alat untuk mengeluarkan kayu dari daerah perbukitan dan sudah diuji coba di daerah KPH Sukabumi.

Sumedang dan P. Semula dengan mesin 20 HP dan telah diujicoba di Sukabumi. 6) Alat muat KPH2 adalah berupa alat hasil rekayasa dari bahan-bahan besi pipa. et al. 2006). lalu diujicobakan di Pekalongan dan Sukabumi. kabel dan katrol sedemikian rupa sehingga dapat digunakan memuat kayu ke atas truk dengan lancer (Basari. 2002). 7) Kabel layang (skyline system) sederhana. 4) Transkit adalah alat yang berfungsi sebagai pengungkit kayu saat memuat ujung kayu ke atas alat angkut. ternyata tenaganya kurang besar. 3) Ngglebek adalah alat bantu penyaradan kayu bulat yang mampu menyarad kayu dengan panjang 2 m dan diameter 30 cm.5 m3 (Suparto dan Elias. 8) Alat serbaguna EXP2000 yang direkayasa untuk digunakan menyarad kayu dari medan yang sulit dengan menggunakan sistem kabel berukuran kecil.PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 84-97 2) Roda I dan Roda II adalah alat sederhana yang dirancang dan dibuat untuk memudahkan kegiatan penyaradan. telah dicoba di KPH Pekalongan Timur dengan hasil cukup baik (Sutopo dan Idris. 1985).. untuk kemudian diangkut dengan relatif ringan dan ternyata mampu menyarad kayu dengan panjang 3 m dan diameter 40 cm. Semula dengan mesin 11 HP dan dicoba di Jawa Barat. yaitu merupakan alat sistem kabel hasil rekayasa untuk mengeluarkan kayu dari medan yang bertopografi berat. Selanjutnya mesin diganti menjadi berkekuatan 24 HP dan dirancang juga sekaligus untuk memuat/membongkar kayu ke/dari atas truk angkutan. Hasilnya menunjukkan cukup baik dan sebenarnya tinggal memerlukan pebaikan kecil-kecil saja untuk penyempurnaannya dan alat tersebut siap dioperasikan (Sukadaryati dan Dulsalam. 5) Alat muat dengan lir adalah berupa alat bantu untuk memuat kayu dari samping bak truk ke atas truk angkutan yang mampu memuat kayu sampai 1. Perbaikan dilakukan dengan mengganti mesin menjad 24 HP dan penyempurnaan berbagai konstruksinya. Alat ini telah diujicobakan di beberapa lokasi di Kabupaten Bogor dan tampak sangat prospektif untuk pengelolaan (pemanenan) huan rakyat sehingga perlu didorong pengembangannya lebih lanjut agar jangan sampai 90 . 1999). Laut dengan hasil yang menjanjikan tetapi kelemahannya terletak pada mesin yang terlalu kecil.

melihat kecenderungan peralatan kehutanan di negara-negara maju dan kebutuhan nyata di dalam pengelolaan hutan rakyat. Nantinya alat ini direncanakan akan dilengkapi juga dengan alat tambahan untuk mengolah (menggergaji) kayu di hutan agar pemungutan kayu rakyat dari hutan lenih efisien (Endom. Namun di dalam memanfaatkan tenaga alat-alat tersebut untuk tujuan tertentu. D. melakukan penelitian untuk perbaikan/penyempurnaan. Padahal. diteruskan oleh Pusat Litbang Hasil Hutan dengan Selanjutnya menggunakan traktor Ford 5660 dan telah dicoba di P. 9) Alat bantu untuk mengeluarkan kayu dengan traktor pertanian. Traktor yang pernah digunakan adalah traktor sewaan yang di samping sulit memperolehnya. terdapat lima pusat penelitian dan pengembangan peralatan kehutanan yang diberi nama Equipment Development Center di bawah naungan USDA Forest Service. 2006). Pusat-pusat litbang tersebut mendata semua peralatan yang ada beserta berbagai aspeknya. telah dikembangkan dan terus dikembangkan banyak alat bantu sehingga pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien serta mengurangi beban tenaga pekerja dan pekerjaan lebih menyenangkan. juga mahal sewanya dan sangat terbatas waktu penggunaanya. adalah rekayasa alat bantu dalam memanfaatkan traktor pertanian untuk menyarad kayu telah dimulai tahun 1999 bekerjasama dengan Korea Selatan. Perkembangan di Negara-Negara Maju Di negara-negara maju seperti Ameriaka Serikat dan negara-negara di Eropa. Laut dan beberapa tempat di Jawa Barat. mendata industri yang memproduksi alat-alat tersebut. penggunaan traktor pertanian ini merupakan salah satu alternatif terbaik dan penelitian dan pengembangan alat-alat bantu yang sesuai kebutuhan pengelola hutan rakyat sangat penting untuk didorong dan dilaksanakan secara berkelanjutan. Di Amerika Serikat misalnya yang negaranya sudah demikian maju. Secara umum hasilnya cukup baik dan menjanjikan namun terkendala oleh keterbatasan dana dan tiadanya traktor pertanian yang secara leluasa dikuasai. dirancang alat bantunya dan dioperaskan di lapangan sehingga penelitian traktor pertanian ini tidak berjalan lancar. peralatan andalan dalam pengelolaan hutan rakyat adalah alat-alat mekanis yang sudah modern dan setengah modern. lalu menerbitkan dan menyebar-luaskan 91 .PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 84-97 mandek di tengah jalan.

PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 84-97 seluruh informasi tersebut ke semua pihak terkait. pemupukan.. Hanya dalam hal pengembangan peralatan tertentu yang biasanya di Amerika Serikat dikenal dengan ukuran besar. Dua contoh utama dapat disebutkan. Montana. 1980) yang memuat secara lengkap informasi alat-alat penanaman hutan. penaburan biji. Kabel layang Koller 300 jauh lebih kecil dari sistem kabel biasa (hanya 50 HP) sehingga pemasangan dan pemindahannya lebih mudah dan murah. pengelolaan dan fumigasi biji. yaitu alat kabel layang (skyline) Koller 300 dan gergaji mesin (chainsaw) Husqvarna. Gergaji mesin Husqvarna tipe 36 berukuran kecil dan ringan (hanya 2 HP) sehingga sangat cocok untuk digunakan dalam pengelolaan hutan rakyat. Alat ini telah digunakan di Kalimantan Timur oleh PT Surya Hutani Lestari pada pertengahan tahun 1990-an dengan hasil baik. belakangan di Eropa justru telah dikembangkan dengan ukuran kecil sehingga penggunaannya lebih fleksibel dan biayanya lebih murah. Di negara-negara Eropa. Missoula. sketsa dan keterangan teknis serta industri yang memproduksinya dengan alamat yang lengkap (Lowman dan McLaren. Informasinya mencakup alat-alat untuk semua tahap kegiatan pesemaian. Proses tersebut berlangsung secara bersamaan dan berkesinambungan sehingga pengelola hutan selalu dapat mengikuti perkembangan dan memanfaatkan teknologi terbaru. pengolahan tanah. serta buku Equipment for Reforestation and Timberstand Improvement (Larson and Hallman. Sebagai contoh hasil kerja pusat litbang peralatan di Amerika Serikat adalah buku Nursery Equipment Catalog yang dikeluarkan oleh Equipment Development Center. irigasi. berisi informasi lengkap dan jelas berbagai peralatan. penyemprotan. sampai ke pengepakan dan pengangkutan bibit. penyimpanan. keduanya buatan Austria. Contoh produk lain dari instansi litbang tersebut adalah Revegatation Equipment Catalog (Larson. Sekarang 92 . 1976). disajikan dalam bentuk gambar. Inti dari informasi ini adalah adanya kegiatan penelitian dan pengembangana keteknikan hutan yang berkesinambungan walaupun sebenarnya alatalat modern sudah banyak. 1980) yang berisikan informasi alat-alat pembangunan hutan mulai dari tahap awal pembangunan hutan sampai ke masalah keselamatan dalam kegiatan kehutanan. Perbaikan/penyempurnaan terus dilakukan agar dapat mencapai operasi yang lebih efektif dan efisien serta proses pelaksanaan kegiatan lebih menyenangkan atau lebih ringan bagi pekerja. mulai dari alat-alat untuk mengumpulkan biji. perkembangan keteknikan hutan boleh dikatakan sama dengan di Amerika Serikat.

Peralatan yang selama ini masih sederhana dan belum dikembangkan. Salah satu faktor penentu tersebut adalah keteknikan hutan. Komponen utama dalam keteknikan hutan yang sangat penting dalam pengelolaan hutan rakyat adalah peralatan. Tahun 1968 dikembangkan sistem kabel tiang ganda (fixed skyline multispan system) sehingga mampu mencapai jarak ekstraksi 350 m. Hal ini dilakukan karena adanya tekad untuk membangun dan menggunakan peralatan yang murah. IV. 1979). pengeluaran kayu dilakukan dengan menggunakan tenaga kuda. jarak ekstraksinya hanya sampai 150 m. mereka beralih ke sistem kabel kerekan kecil (small winches) yang diimpor dari Skandinavia pada pertengahan tahun 1960-an. Zaman dulu. karena jumlah kuda menurun. UPAYA MENDORONG KEMAJUAN KETEKNIKAN HUTAN UNTUK MENDUKUNG USAHA HUTAN RAKYAT YANG LEBIH MAJU Usaha hutan rakyat dapat maju bila semua faktor penentu dalam pengelolaannya berkembang dengan baik. kereta muatan (carriage) dan lain-lain yang dilakukan di bengkelbengkel sendiri. Penelitian dan pengembangan keteknian hutan untuk hutan rakyat di negaranegara maju terus berlangsung tanpa batas waktu dan teknologi meskipun pada saat ini mereka sudah sangat maju. Lama kemudian. andal. jenis hutan produksi hampir seluruhnya hutan tanaman dan dikelola oleh masyarakat (hutan rakyat) yang memerlukan program pemanenan penjarangan di samping tujuan akhir tebang habis. Sistem kabel tersebut terdiri dari dua drum yang disambungkan dengan traktor sehingga disebut double drum tractor mounted winch. Di Inggris. mesin sederhana. Karena kecil.PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 84-97 ini alat tersebut telah mulai digunakan beberapa pengelola hutan tanaman industri di Indonesia. Hal itu bisa terjadi karena mereka sudah sadar bahwa ilmu keteknikan hutan itu dapat membantu dalam mengikuti perkembangan teknologi guna meningkatkan terus efektivitas dan efisiensi kerja serta mencari terus perbaikan dan kemudahan kerja bagi para pekerjanya. Hasinya adalah semua berjalan dengan baik dan pengelolaan hutan berjalan efisien (Hughes. perlu diteliti dan dikembangkan dengan sunguh-sungguh sehingga 93 . Pembangunan sistem kabel tersebut dilakukan dengan menggunakan traktor pertanian standar sebagai alat dasar (base power unit) dalam membuat kelengkapan sistem kabel seperti tiang. mudah dalam pemeliharaan dan tidak memerlukan operator yang berkeahlian tinggi.

KESIMPULAN DAN SARAN Perkembangan keteknikan untuk hutan rakyat di Indonesia sangat tertinggal karena perhatian dari para pihak terkait sangat kurang padahal peranan keteknikan hutan dalam pengelolaan hutan rakyat sangat penting. Keteknikan hutan rakyat sangat 94 . memudahkan pengadaan peralatan dan meningkatkan kegiatan penelitian dan perekayasaan peralatan dengan tujuan antara meningkatkan lapangan kerja yang semuanya berujung pada pencapaian pengelolaan hutan rakyat yang maju. Berbagai langkah strategis perlu diambil. Dengan melaksanakan berbagai upaya tersebut diharapkan keteknikan hutan dapat berkembang pesat dan mampu mendorong kegiatan pengelolaan hutan rakyat sehingga menjadi usaha yang maju. 7) Membuat peraturan perundangan yang membatasi penggunaan alat-alat impor dan mendorong penggunaan alat-alat produksi dalam negeri demi menggalakkan industri peralatan kecil/menengah lokal. 4) Menyediakan dana yang memadai untuk kegiatan penelitian dan perekayasaan alat-alat kehutanan. perguruan tinggi maupun swasta. 5) Mendorong pengembangan industri kecil dan menengah untuk memproduksi peralatan kehutanan. termasuk alat-alat untuk V. keteknikan hutan agar mampu merekayasa alat-alat kehutanan. baik yang dilakukan oleh instansi kelitbangan pemerintah. 2) Membangun laboratorium-laboratorium penelitian dan perekayasaan peralatan kehutanan yang dilengkapi dengan peralatan kerja yang memadai sesuai perkembangan teknologi yang ada. antara lain: 1) Mendorong pengembangan sumberdaya manusia di bidang hutan rakyat.PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 84-97 praktek pengelolaan hutan rakyat dapat berjalan efektif dan efisien. 3) Mendorong kegiatan penelitian dan perekayasaan alat-alat kehutanan. 6) Mendidik pengelola hutan rakyat agar mampu mengelola hutan dengan baik dengan dukungan teknologi tepat guna.

Danuwinoto. penelitian keteknikan hutan rakyat bejalan pesat. Badan Litbang Kehutanan. Buku Tatanan Praktek Pengelolaan Hutan Indonesia. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. Potensi hutan rakyat harus terus dikembangkan. hlm. Distributor PT Prima Elux. mendidik pengelola hutan rakyat agar mampu mengelola hutan rakyat dengan baik dan membuat peraturan perundangan yang kondusif bagi usaha hutan rakyat. mendorong perkembangan industri kecil/menengah di bidang keteknikan hutan. 2002. Perum Perhutani Unit III Jawa Barat. Taman dan Kebun. Dulsalam dan Y. Gergadji: guna dan pemeliharaannya. S. Jakarta. Basari. Wisma Staco. S. Harian Kompas. Jakarta. antara lain dengan membangun sumberdaya manusia di bidang keteknikan hutan. 1998.. meliputi alat-alat yang modern dan alat-alat yang sederhana (manual) sehingga hutan rakyat maju dan berperan penting dalam menjaga ketersediaan kayu dan kesejahteraan petani hutan. 3. menyediakan dana yang memadai untuk litbang keteknikan hutan rakayat. Bogor. Di negara-negara maju. 18. Jakarta. Penerbit PT Kompas Media Nusantara. Penelitian Hasil Hutan 20(2):165-176. Lembaga Penelitian Ekonomi Kehutanan. Tanpa tahun. Ditjen RRL.PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 84-97 memerlukan penelitian dan pengembangan serta perekayasaan sesuai dengan keadaan obyektif hutan itu sendiri. Bogor. 1995. KPH Bandung Selatan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Suhartana. Endom. Husqvarna: Hutan. Z. _______. Prosiding Seminar/Diskusi Panel Pengembangan Hutan Rakyat. 7 Juni 2006. 95 . Perkembangan keteknikan untuk hutan rakyat perlu didorong melalui beberapa upaya strategis. Pusat Litbang Teknologi Hasil Hutan. Bul. Jakarta. Kajian produktivitas alat muat kayu KPH2 di BKPH Gunung Halu. mendorong kegiatan litbang dan perekayasaan peralatan. Laporan No.H. W. 2006. DAFTAR PUSTAKA Anonim. dilaksanakan di Bandung tanggal 19 – 20 Januari 1995. Sugilar. membangun laboratorium-laboratorium penelitian dan perekayasaan alat kehutanan. 1964.

J. Lembaga Penelitian Daya Guna Tenaga dan Peralatan Perhutanan. 2006. Endom. Lembaga Penelitian Daya Guna Tenaga dan Peralatan Perhutanan. Strategi pengembangan pengelolaan hutan rakyat. B. Pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 di hutan tanaman BKPH Bojong Lopang. Ekologi dan Sosial dalam Pemanfaatan Sumberdaya Hutan Produksi Sebagai Kesatuan Ekosistem. Penggunaan sistem kabel gaya berat dengan rem untuk penyaradan kayu di daerah pegunungan. McLaren. Bandung 19 – 20 Januari 1995. Lembaga Penelitian Hasil Hutan. Pusat Litbang Hasil Hutan.Tjarmat. 1980. Missoula. 1995. USDA Forest Service. Nursery Equipment Catalog. Jakarta. Ditjen RRL. S. Montana. Makalah pada Diskusi Pola Sinergi Ekonomi. tanggal 18 – 19 Agustus 1999 di Bogor.. Lembaga Penelitian Ekonomi Kehutanan.S. and J. Bogor. Bogor. Kerjasama Perum Perhutani. W. Larson. dan Elias. 1965. 96 . Equipment Development Center. Equipment Development Center. 1985. 2006. Pusat Litbang Hasil Hutan. Penel. Konsep laporan. Lowman. Jur. Sutopo. Idris. H. and R. Adaptasi teknologi serbaguna dalam pemanenan kayu menuju sistem semi mekanis. Studi penggunaan kereta kayu Km Exp-I dan alat bantu lain pada operasi pengeluaran kayu sistem kabel layang EXP-2000. Hallman. Missoula. Fak Kehutanan IPB dan Perhimpunan Peminat Pemanenan Hutan Indonesia (PERPPHINDO). Laporan Penelitian Hasil Hutan 152:1-10. Bogor. Kerdjantara No. Sukadayati dan Dulsalam. R. Hasil Hutan 2(3):1-9. Sastrodimedjo dan E.J.. Sistem penyaradan pada eksploitasi hutan pinus di Jawa Tengah. S. Prosiding Seminar/Diskusi Panel Pengembangan hutan Rakyat.E.PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 84-97 _____________. Suparto. Bogor. M. Sinaga. Daftar peralatan tangan kehutanan di Jawa dan Madura. Equipment Development Center. Konsep laporan. Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor. Revegetation Equipment Catalog. Equipment for Reforestation and Timber Stand Improvement. 4 – 9 tahun 1963. Missoula. Hlm. USDA Forest Service. Larson. 1980. USDA Forest Service. Bogor. Simon.M. dan M. 1963. Bogor. 1980. Sukabumi. J. 1976. 1999. Montana. 1 – 18. Mpntana.

Lembaga Penelitian Eksploitasi Hutan. 12. Bogor. Laporan No. Lembaga Penelitian Eksploitasi Hutan. P. 13. Pengalaman mengenai pemakaian greifzug guna eksploitasi di hutan jati. _________. 1967a. Laporan No.PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 84-97 Wasono. 1967b. Pengaruh usaha efisensi penebangan terhadap prestasi kerja dan produksi kayu terutama kayu ekspor. Bogor. 97 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful