IMUNISASI DASAR Tinjauan Umum 5 Imunisasi Dasar 1.

Pengertian Imunisasi berasal dari kata Imun, kebal atau resistan. Anak di imunisasi, berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resistan terhadap suatu penyakit, tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain (Notoadmodjo, 1997 : 37). 2. Tujuan Program imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Pada saat ini penyakit-penyakit tersebut adalah disentri, tetanus, batuk rejan (pertusis), campak (measles), polio dan tubercoluse (Notoadmodjo, 1997 : 39). Tujuan dari pemberian imunisasi adalah sebagai berikut : a. Untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi tertentu. b. Apa bila terjadi penyakit tidak akan terlalu parah dan dapat mencegah gejala yang yang dapat menimbulkan cacat dan kematian (Dick. George, 1992 : 26). 3. Jenis-Jenis Imunisasi Pada dasarnya ada 2 (dua) jenis imunisasi : a. Imunisasi pasif (passive immunization) Imunisasi pasif ini adalah ³Immunoglobulin´ jenis imunisasi ini dapat mencegah penyakit campak (measles pada anak-anak). b. Imunisasi aktif (active immunization) Imunisasi yang diberikan pada anak adalah : 1. BCG, untuk mencegah penyakit TBC 2. DPT, untuk mencegah penyakit-penyakit diptheri, pertusis dan tetanus 3. Polio, untuk mencegah penyakit poliomilitis 4. Campak, untuk mencegah penyakit campak (measles) 5. Hepatitis B, untuk mencegah penyakit hepatitis B (Notoatmodjo. 1997 : 39) 4. Penyakit yang Dapat di Cegah Dengan Imunisasi a. TBC Untuk mencegah timbulnya tuberkolosis (TBC) dapat dilakukan imunisasi BCG. Imunisasi BCG adalah singkatan dari Basillus Calmatto Guenin. Nama ini diambil dari nama penemu kuman

Imunisasi dasar diberikan tiga kali. Difteri. dan perawat. Imunisasi ulangan dapat dilakukan 1 tahun setelah imunisasi ketiga dan pada saat usia masuk sekolah dasar (5-6 tahun). kemudian berturut-turut dua kali dengan jarak masing-masing 4 minggu (1 bulan). dapat timbul luka yang lama sembuh di daerah suntikan.05 ml reaksi yang mungkin timbul setelah penyuntikan adalah : Kemerah-merahan disekitar suntikan. Kemudian diulang dengan jarak 4 minggu sebanyak 4 kali. Pertama kali diberikan bersama BCG dan DPT pertama pada usia dua bulan. Pertusis dan Tetanus Penderita difteri. Bila terjadi hal tersebut di atas yang penting adalah menjaga kebersihan terutama daerah sekitar luka dan segera bawa ke dokter. Imunisasi tambahan dapat diberikan apabila ada resiko kontak dengan virus ganas. Imunisasi ulangan dilakukan satu tahun. Di Indonesia pemberian imunisasi BCG tidak hanya terbatas pada mereka yang memiliki resiko tinggi mengingat tingginya kemungkinan infeksi kuman TBC. misalnya dokter. Imunisasi BCG diberikan pada semua bayi baru lahir sampai usia kurang dari dua bulan. dan terjadi pembengkakan di kelenjar sekitar daerah suntikan (biasanya di daerah ketiak). mahasiswa kedokteran. Poliomyelitis Penderita poliomyelitis apabila terhindar dari kematian banyak yang menderita kecacatan sehingga imunisasi sebagai usaha pencegahan sangat dianjurkan. Imunisasi polio di Indonesia dilakukan dengan cara meneteskan vaksin sabin sebanyak 2 tetes di mulut. imunisasi BCG diberikan kepada mereka yang mempunyai resiko kontak dengan penderita TBC dan uji tuberkulinya masih negative. b. Imunisasi DPT dimaksudkan untuk mencegah ketiga penyakit tersebut di atas. dan tetanus ini bila tidak segera mendapat pertolongan yang memadai maka berakibat fatal. pertama kali bersama dengan BCG dan polio. d.yaitu Calmotto dan Guenin yang digunakan tersebut sejak tahun 1920 dibiakkan sampai 230 kali selama 13 tahun Di Negara yang telah maju. setelah imunisasi dasar ke-4 dan saat masuk SD (6-7 tahun). pertusis. Penyuntikan biasanya dilakukan dibagian atas lengan kanan (region deltoid) dengan dosis 0. Hepatitis B . Uji tuberculin adalah suatu tes (uji) untuk mengetahui apakah seseorang telah memiliki zat anti terhadap penyakit TBC atau belum. c. Imunisasi selanjutnya dianjurkan tiap lima tahun dengan imunisasi DT (tanpa pertusis).

Jadwal Pemberian Imunisasi Jenis Vaksin Jumlah Vaksinasi Selang Waktu Pemberian Sasaran 1. Adapula vaksin yang dibuat secara sintetis. Campak 1 kali 3 kali (DPT 1. Untuk pelaksanaan program diberikan 1 bulan setelah suntikan kedua. 2. 1997 : 22). Dua kali pertama untuk merangsang tubuh menghasilkan zat anti dan yang ketiga untuk meningkatkan jumlah zat anti yang sudah ada 2. Adapun cara pemakaiannya (vaksin dari Koerean Green Cross) sebagai berikut : 1. 2. Jadwal imunisasi yang dianjurkan adalah untuk bayi baru lahir (0 ± 11 bulan) dengan satu kali suntikan dosis 0.Pencegahan dapat dilakukan dengan cara vaksin hepatitis B yang dipakai untuk program pemerintah di Indonesia adalah vaksin buatan Korean Green Cross yang dibuat dari plasma darah penderita hepatitis B. Polio 4. Vaksin ini dibuat dari sel ragi. imunisasi ketiga diberikan pada saat bayi berusia 6 bulan. 2. 3) 4 kali (Polio 1. Imunisasi hepatitis B ulangan dilakukan setiap 5 tahun sekali. 4) 3 kali (Hepatitis B 1. Setelah itu.) 1 kali - . Imunisasi campak bisa diberikan sendiri atau bersama dalam imunisasi MMR (Sudarmanto. Hal ini semata-mata untuk kemudahan dalam pelaksanaan. Campak Pencegahan penyakit campak dapat dilakukan melalui imunisasi. 3. misalnya H-B Vak II yang dikembangkan oleh MSD (Merck Sharp dan Dohme). Imunisasi campak dilakukan ketika bayi berumur sekitar 9 bulan. BCG 2. Imunisasi campak hanya dilakukan satu kali dan kekebalannya bisa berlangsung seumur hidup. tetapi kekebalan yang didapat tidaklah berbeda. Hepatitis B 5. 5. DPT 3. Imunisasi dasar dilakukan tiga kali. 3. e.5 ml satu bulan kemudian mendapat satu kali lagi. mengenai waktu pemberian suntikan yang ketiga ada beberapa pendapat.

berikan anti convulsan. ulkus. (Dick. Hepatitis B Tidak ada efek sampingnya. Demam ringan berikan kompres dan obat antipiretik. b. 2. c. Demam ringan berikan kompres dan anti piretik. 3. George. Campak Efek samping dan penatalaksanaan imunisasi campak adalah sebagai berikut : 1. Rasa sakit di daerah suntikan (1-2) hari kapan perlu berikan analgetik. 2. Sangat jarang. 1992 : 37) . Diare. Nampak sedikit bercak merah pada pipi dan bawah telinga pada hari 7-8 setelah penyuntikan tidak berbahaya lakukan observasi. 4.Bayi 0-11 bulan Bayi 2-11 bulan Bayi 2 ±11 bulan Bayi 0-6 bulan Anak 9-11 bulan Sumber : Prinsip-prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat Tahun 1997 6. d. 2.4 minggu 4 minggu 4 minggu . Efek Samping dan Penatalaksanaan a. e. Polio Efek samping imunisasi polio adalah sebagai berikut : 1. luka dibiarkan (tidak perlu diinsisi ataupun kompres). bila terjadi kelumpuhan ekstremitas segera konsul. 3. biasanya hanya diare ringan).BCG Pembengkakan kelenjar regional menjadi pecah. Jarang demam tinggi atau kejang. DPT Efek samping dan penatalaksanaan imunisasi DPT adalah sebagai berikut: 1. Penanganan kejang positif. Dehidrasi (tergantung derajat diare.

4.5 ml pada anak umur 9-12 bulan. 2005) 2. sebelum terkena infeksi virus campak secara alami. Gejala biasanya demam ringan dan reaksi lokal tempat penyuntikan. Maka untuk Indonesia vaksin campak diberikan mulai abak berumur 9 bulan.4. pertusis dan tetanus adalah dengan pemberian vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan toksoid tetanus yang telah dimurnikan ditambah dengan bakteri bortella pertusis yang telah dimatikan. Reaksi spesifik yang timbul setelah penyuntikan tidak ada.4. Dosis penyuntikan 0.4. 2005) 2. 2005): 2. menangis yang berkepanjangan lebih dari 3 jam. (Depkes RI. Kelebihan dosis dan suntikan yang terlalu dalam akan menyebabkan terjadinya abses ditempat suntikan.3.5 ml diberikan secara subkutan atau intramuscular pada bayi yang berumur 2-12 bulan sebanyak 3 kali dengan interval 4 minggu. (Depkes RI.1.4.2. 2 dan 3 dariSabin. Untuk menjaga potensinya.2. ternyata dapat menghambat terbentuknya zat kebal campak dalam tubuh anak. kesadaran menurun. vaksin BCG harus disimpan pada suhu 20 C.5. Vaksinasi BCG Vaksinasi BCG diberikan pada bayi umur 0-12 bulan secara suntikan intrakutan dengan dosis 0.05 ml. sehingga imunisasi ulangan masih diberikan 4-6 bulan kemudian.4. Bila ada reaksi yang berlebihan seperti suhu yang terlalu tinggi. hendaknya pemberian vaksin DPT diganti dengan DT. Pemberian imunisasi lebih awal rupanya terbentur oleh adanya zat anti kebal bawaan yang berasal dari ibu (maternal antibodi). 2005) 2. Vaksinasi Polio Untuk kekebalan terhadap polio diberikan 2 tetes vaksin polio oral yang mengandung viruis polio yang mengandung virus polio tipe 1. Di negara berkembang imunisasi campak dianjurkan diberikan lebih awal dengan maksud memberikan kekebalan sedini mungkin. (Depkes RI. kejang. Vaksinasi Campak Vaksin yang diberikan berisi virus campak yang sudah dilemahkan dan dalam bentuk bubuk kering ataufreezeried yang harus dilarutkan dengan bahan pelarut yang telah tersedia sebelum digunakan. Ada tidaknya tuberkulin konversi tergantung pada potensi vaksin dan dosis yang tepat serta cara penyuntikan yang benar. Manfaat dan Efek Samping Imunisasi . Vaksinasi DPT Kekebalan terhadap penyakit difteri. Suntikan ini diberikan secara subkutan dengan dosis 0. (Depkes RI. Vaksin yang diberikan melalui mulut pada bayi umur 2-12 bulan sebanyak 4 kali dengan jarak waktu pemberian 4 minggu. Vaksinasi BCG dinyatakan berhasil apabila terjadituberkulin konversi pada tempat suntikan. Jadwal Pemberian Imunisasi 2.

Sedangkan anak yang sama sekali tidak diimunisasi tentu tingkat kekebalannya lebih rendah lagi. maksimal hanya dapat memberikan perlindungan 25-40%. 2000) . Berdasarkan hasil penelitian Ibrahim (1991). (Depkes. Polio 4 kali dan Campak 1 kali) pada waktu anak berusia kurang dari 11 bulan. DPT 3 kali. Imunisasi poliomyelitis dapat memberikan perlindungan seumur hidup apabila telah diberikan 4 kali. Gejala sistemik antara lain panas. 1985). Efek samping imunisasi yang dikenal sebagai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau Adverse Events Following Immunization (AEFI) adalah suatu kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga berhubungan dengan imunisasi. 1991). Penyebab kejadian ikutan pasca imunisasi terbagi atas empat macam. faktor kebetulan dan penyebab tidak diketahui. (Musa. yaitu kesalahan program/tehnik pelaksanaan imunisasi. rewel dan menangis yang berkepanjangan. Gejala klinis KIPI dapat dibagi menjadi dua yaitu gejala lokal dan sistemik. gejala gangguan pencernaan. Walaupun cakupan imunisasi tidak sama dengan 100% tetapi sudah mencapai 70% maka anal-anak yang tidak mendapatkan imunisasi pun akan terlindungi oleh adanya suatu ³herd immunity´. Pemberian tetanus toksoid pada ibu hamil dapat mencegah terjadinya tetanus neonatorum pada bayi baru lahir yang ditolong dengan tidak steril dan pemotongan tali pusat memakai alat tidak steril. sedangkan yang dimaksud imunisasi dasar lengkap adalah telah mendapat semua jenis imunisasi dasar (BCG 1 kali. (Ibrahim. Imunisasi terhadap difteri dan pertusis dimulai sejak umur 2-3 bulan dengan selang 4-8 minggu sebanyak 3 kali akan memberikan perlindungan mendekati 100% sampai anak berusia 1 tahun. induksi vaksin. Gejala lokal seperti nyeri.Imunisasi bertujuan untuk merangsang system imunologi tubuh untuk membentuk antibody spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit. kemerahan. Imunisasi dasar yang tidak lengkap. menyatakan bahwa bila imunisasi dasar dilaksanakan dengan lengkap dan teratur. Imunisasi campak diberikan 1 kali akan memberikan perlindungan seumur hidup. Vaksin sebagai suatu produk biologis dapat memberikan efek samping yang tidak diperkirakan sebelumnya dan tidak selalu sama reaksinya antara penerima yang satu dengan penerima lainnya. lemas. nodelle/ pembengkakan dan indurasi pada lokasi suntikan. maka imunisasi dapat menguragi angka kesakitan dan kematian balita sekitar 80-95%. Pengertian teratur dalam hal ini adalah teratur dalam mentaati jadwal dan jumlah frekuensi imunisasi.

2. Penyimpanan pada suhu < 5°C terhindar dari sinar matahari (indoor day-light) Cara penyunt ikan BCG ‡ Bersihkan lengan dengan kapas air ‡ Letakkan jarum hampir sejajar dengan lengan anak dengan ujung jarum yang berlubang menghadap keatas. Ditemukan oleh Calmette dan Guerin ‡ Diberikan sebelum usia 2 bulan Disuntikkan intra kutan di daerah insertio m. tapi dapat mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut. Ko mplikasi 1. eritema. Abses di tempat suntikan ‡ Abses bersifat tenang (cold abses) ® tidak perlu terapi ‡ Oleh karena suntikan sub kutan ‡ Abses matang ® aspirasi 2. Limfadenitis supurativa ‡ Oleh karena suntikan sub kutan atau dosis tinggi . pustula ‡ Setelah cukup berkembang ® sub kutan® kapiler.05 ml. deltoid dengan dosis 0. eritema. kelenjar limfe. demam (-) ‡ Akan mengecil 1-3 bulan kemudian tanpa pengobatan. Reaksi regional pada kelenjar ‡ Merupakan respon seluler pertahanan tubuh ‡ Kadang terjadi ® di kelj axila dan servikal (normal BCG-it is) ‡ Timbul 2-6 bulan sesudah imunisasi ‡ Kelenjar berkonsistensi padat. Setelah dilarutkan harus segera dipakai dalam waktu 3 jam.pori yang khas diameter 4-6 mm Kenapa suntikan intra kutan? ‡ Vaksin BCG ® lapisan chorium kulit sebagai depo ®berkembang biak® reaksi indurasi. kemudian menjadi pustula ‡ 3-4 minggu ® pustula pecah menjadi ulkus (tidak perlu pengobatan) ‡ 8-12 minggu ® ulkus menjadi scar diameter 3-7 mm. peredaran darah Bayi kulitnya tipis®intra kutan sulit ® sering suntikan terlalu dalam (sub kutan) Reaksi sesudah imunisasi BCG 1. Reaksi normal ® lokal ‡ 2 minggu ® indurasi. Berasal dari bakteri hidup yang dilemahkan ( Pasteur Paris 1173 P2). tidak nyeri.9%. tuberculosa 100%. sebelah kanan ‡ Imunisasi ulang tidak perlu. sisanya dibuang.IMUNISASI BCG Vaksin BCG tidak dapat mencegah seseorang terhindar dari infeksi M.05 ml intra kutan ± merasakan tahan ± benjolan kulit yang pucat dengan pori. keberhasilan diragukan Vaksin BCG berbentuk bubuk kering harus dilarutkan dengan 4 cc NaCl 0. ‡ Suntikan 0.

1 ml PPD di daerah flexor lengan bawah secara intra kutan ‡ Pembacaan dilakukan setelah 48 ± 72 jam penyuntikan ‡ Diukur besarnya diameter indurasi di tempat suntikan. radiasi ‡ Hamil IMUNISASI HEPATITIS B ‡ Vaksin berisi HBsAg murni ‡ Diberikan sedini mungkin setelah lahir ‡ Suntikan secara Intra Muskular di daerah deltoid. obat kanker. ‡ Penyimpanan vaksin pada suhu 2-8°C ‡ Bayi lahir dari ibu HBsAg (+) diberikan imunoglobulin hepatitis B 12 jam setelah lahir + imunisasi Hepatitis B ‡ Dosis kedua 1 bulan berikutnya ‡ Dosis ketiga 5 bulan berikutnya (usia 6 bulan) ‡ Imunisasi ulangan 5 tahun kemudian ‡ Kadar pencegahan anti HBsAg > 10mg/ml ‡ Produksi vaksin Hepatitis B di Indonesia. keganasan ‡ Respon imunologik tertekan: kortikosteroid.2 dan 3) yang dilemahkan. def imun kongenital. dosis 0. Reaksi pada yang pernah tertular TBC: ‡ Koch Phenomenon ® reaksi lokal berjalan cepat (2-3 hari sesudah imunisasi) ® 4-6 minggu timbul scar. dibuat dlm biakan sel-vero : asam amino. ‡ Imunisasi bayi > 2 bulan ® tes tuberkulin (Mantoux) ‡ Untuk menunjukkan apakah pernah kontak dengan TBC ‡ Menyuntikkan 0. calf serum dalam magnesium klorida dan fenol merah . ‡ < 5 mm : negatif ‡ 6-9 mm : meragukan ‡ 10 mm : positif Tes Mantoux (-)®imunisasi(+) Kontraindikasi ‡ Respon imunologik terganggu : infeksi HIV.‡ Terjadi 2-6 bulan sesudah imunisasi ‡ Terapi tuberkulostatik ® mempercepat pengecilan. antibiotik.5 ml. mulai program imunisasi pada tahun 1997 Efek samping ‡ Demam ringan ‡ Perasaan tidak enak pada pencernaan ‡ Rekasi nyeri pada tempat suntikan Tidak ada kontraindikasi IMUNISASI POLIO ‡ Vaksin dari virus polio (tipe 1. leukemia.

syok ® imunisasi selanjutnya diganti dengan DT atau DPaT Kontraindikasi ‡ Kelainan neurologis n terlambat tumbuh kembang ‡ Ada riwayat kejang ‡ Penyakit degeneratif ‡ Pernah sebelumnya divaksinasi DPT menunjukkan: anafilaksis. 1 tahun berikutnya. nyeri pada tempat suntikan 1-2 hari ® diberikan anafilatik + antipiretik ‡ Bila ada reaksi berlebihan pasca imunisasi ® demam > 40°C. ‡ Imunisasi dasar 3x. renjatan. kejang.4 juta penerima vaksin dan 1 per 15. Reaksi pasca imunisasi: ‡ Demam.‡ Vaksin berbentuk cairan dengan kemasan 1 cc atau 2 cc dalam flacon. ‡ Pemberian secara oral sebanyak 2 tetes (0. ‡ Ada 2 jenis vaksin ± IPV ® salk ± OPV ® sabin ® IgA lokal ‡ Penyimpanan pada suhu 2-8°C ‡ Virus vaksin bertendensi mutasi di kultur jaringan maupun tubuh penerima vaksin ‡ Beberap virus diekskresi mengalami mutasi balik menjadi virus polio ganas yang neurovirulen ‡ Paralisis terjadi 1 per 4. ensefalopati. hiperpireksia. VI ‡ Anak diare ® gangguan penyerapan vaksin. pipet.5 ml secara intra muskular di bagian luar paha. interval 4 minggu ‡ Imunisasi ulangan. jika diberikan sub kutan menyebabkan iritasi lokal. SD kelas I. peradangan dan nekrosis setempat. dengan interval 4 minggu. ‡ Dosis 0. IMUNISASI CAMP AK Vaksin dari virus hidup (CAM 70. tangisan/teriakan hebat.1 ml) ‡ Vaksin polio diberikan 4 kali. ‡ Vaksin mengandung Aluminium fosfat. Jika didiamkan sedikit berkabut.chick chorioallantonik membrane) yang dilemahkan + .5 juta kontak dengan penerima vaksin Kontra indikasi : defisiensi imunologik atau kontak dengannya IMUNISASI DPT Terdiri dari ± toxoid difteri ® racun yang dilemahkan ± Bordittela pertusis ® bakteri yang dilemahkan ± toxoid tetanus ® racun yang dilemahkan (+) aluminium fosfat dan mertiolat ‡ Merupakan vaksin cair. endapan putih didasarnya ‡ Diberikan pada bayi > 2 bulan oleh karena reaktogenitas pertusis pada bayi kecil. kejang.

Kontra indikasi: wanita hamil. pada anak > 1 tahun diberikan 1 kali ‡ Vaksin dalam bentuk beku kering dan 0. ruam setelah 7 ± 12 hari pasca imunisasi. konjungtivitis.5 ml diberikan IM ‡ Disimpan pada suhu 2-8°C ‡ Di Asia belum diberikan secara rutin ‡ Imunisasi rutin diberikan di negara Eropa. imunisasi bisa diberikan pada usia 6 bulan. ‡ Disimpan pada suhu 2-8°C. alergi protein telur.5 ml pelarut dalam semprit. defisiensi imunologik. reaksi anafilaksis terhadap telur IMUNISASI TYPHUS Tersedia 2 jenis vaksin: ± suntikan (typhim) ® >2 tahun ± oral (vivotif) ® > 6 tahun.5 ml secara IM. * Anak yang telah diberi transfusi darah atau imunoglobulin ditangguhkan minimal 3 bulan. diulang 6 bulan kemudian Efek samping: demam. Australia.5 ml diberikan sub kutan di lengan kiri. diare.kanamisin sulfat dan eritromisin Berbentuk beku kering. ‡ Diberikan pada bayi umur 9 bulan oleh karena masih ada antibodi yang diperoleh dari ibu.5 ml secara sub kutan. diberikan minimal 1 bulan setelah suntikan imunisasi lain. IMUNISASI MMR Merupakan vaksin hidup yang dilemahkan terdiri dari: ± Measles strain moraten (campak) ± Mumps strain Jeryl lynn (parotitis) ± Rubela strain RA (campak jerman) ‡ Diberikan pada umur 15 bulan. tx imunosupresif. Ulangan umur 12 tahun ‡ Dosis 0. imuno kompromise. 3 dosis ‡ Typhim (Capsular Vi polysaccharide-Typherix) diberikan dengan dosis 0. dilarutkan dalam 5 cc pelarut aquades. ‡ Dosis 0. hipersensitifitas dng kanamisin dan eritromisin. bisa sampai ± 20 derajat celsius ‡ Vaksin yang telah dilarutkan hanya tahan 8 jam pada suhu 2-8°C ‡ Jika ada wabah. Kejadian encefalitis lebih jarang Kontraindikasi: * infeksi akut dengan demam. * Tuberkulin tes ditangguhkan minimal 2 bulan setelah imunisasi campak IMUNISASI HIB ‡ Untuk mencegah infeksi SSP oleh karena Haemofilus influenza tipe B ‡ Diberikan MULAI umur 2-4 bulan. Amerika. kurang 2-3 bulan sebelumnya mendapat transfusi darah atau tx imunoglobulin. wanita hamil. . ‡ Dosis 0. Ulangan dilakukan setiap 3 tahun.

daire. keganasan. kadang terdapat demam dan erupsi papulo-vesikuler. Cakupan imunisasi menjadi lebih tinggi. IMUNISASI VARICELLA Vaksin varicella (vaRiLrix) berisi virus hidup strain OKA yang dilemahkan. pada anak umur > 2 tahun. Belgia). nyeri ringan. Dapat terjadi respon imun antigen kedua berubah. 1. misal DPT + hepatitis B +HiB atau Gabungan beberapa antigen dari galur multipel yg berasal dari organisme penyakit yang sama. kehamilan. Vaksin diberikan secara sub kutan Penyimpanan pada suhu 2-8°C Kontraindikasi: demam atau infeksi akut. ulangan umur 12 tahun. TBC belum tx. muntah. Reaksi yag terjadi minimal kadang demam. tx imunosupresan.5 ml secara IM di daerah deltoid. Dosis vaksin (Harvix-inactivated virus strain HM 175) 0. Nyeri berat lebih sering terjadi pada vaksin kombo (Bogaerts. compliance dan cakupan naik ‡ Penambahan program imunisasi baru mudah ‡ Imunisasi terlambat mudah dikejar ‡ Biaya lebih murah Daya proteksi Titer antibodi salah satu antigen lebih rendah namun masih diatas ambang protektif. HIV. Efektivitasnya sama di berbagai jadwal imunisasi. hipersensitifitas terhadap neomisin. dan 6 bulan kemudian. lesu. IMUNISASI HEPATITIS A Imunisasi diberikan pada daerah kurang terpajan. KIPI pada dosis vaksin ekstra tidak bertambah . indurasi tempat suntikan. kadang ruam kulit dan eritema.‡ Disimpan pada suhu 2-8°C ‡ Tidak mencegah Salmonella paratyphi A atau B ‡ Imunitas terjadi dalam waktu 15 hari sampai 3 minggu setelah imunisasi Reaksi pasca imunisasi: demam. Imunisasi dasar 3x pada bulan ke 0. Reaksi imunisasi sangat minimal. Bisa diberikan pada umur 1 tahun. Bisa terjadi kemampuan membuat antibodi utk mengikat antigen berkurang. Reaktogenitas yang ditentukan terutama oleh ajuvan tidak berbeda jauh. kelainan darah. mual-muntah dan hialng nafsu makan VAKSIN COMBO Gabungan beberapa antigen tunggal menjadi satu jenis produk antigen untuk mencegah penyakit yang berbeda. lelah. misal: OPV Tujuan pemberian ‡ Jumlah suntikan kurang ‡ Jumlah kunjungan kurang ‡ Lebih praktis.

‡ Taruh vaksin Polio.COLD CHAIN (RANTAI DINGIN) ‡ Vaksin harus disimpan dalam keadaan dingin mulai dari pabrik sampai ke sasaran. pada rak I dekat freezer. . ‡ Untuk membawa vaksin ke Posyandu harus menggunakan vaccine carrier/ termos yang berisi es. Campak. ‡ Simpan vaksin di lemari es pada suhu yang tepat ‡ Pintu lemari es harus selalu tertutup dan terkkunsi ‡ Simpan termometer untuk memonitor lemari es.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful