P. 1
Aksiologi

Aksiologi

|Views: 283|Likes:
Published by Ika Ahmaliah Zanani

More info:

Published by: Ika Ahmaliah Zanani on Jan 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/19/2013

pdf

text

original

AKSIOLOGI 1. Pengantar Sebagai bagian dari filsafat, aksiologi secara formal baru muncul pada sekitar abad ke-19.

Aksiologi mempunyai kaitan dengan axia yang berarti nilai atau berharga. Menurut Mautner (dalam Wiramihardja, 2006: 155), aksiologi mulai digunakan sebagaimana adanya saat ini oleh Lotze, Brentano, Husserl Scheeler dan Nicolai Hartmann. Dalam filsafat Yunani kuno, tema aksiologi lebih banyak berhubungan dengan masalah-masalah yang konkret, seperti api, udara dan air. Masalah nilai ini meliputi dua hal penting yaitu ada (being) dan nilai (value). 2. Definisi Aksiologi Aksiologi ilmu terdiri dari nilai-nilai yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana dijumpai dalam kehidupan, yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik ataupun fisik material (Koento, 2003: 13). Kattsoff (2004: 319) mendefinisikan aksiologi sebagai ilmu pengetahuan yang menyelediki hakekat nilai yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Scheleer dan Langeveld (Wiramihardja, 2006: 155-157) memberikan definisi tentang aksiologi sebagai berikut. Scheleer mengontraskan aksiologi dengan praxeology, yaitu suatu teori dasar tentang tindakan tetapi lebih sering dikontraskan dengan deontology, yaitu suatu teori mengenai tindakan baik secara moral. Adapun Langeveld memberikan pendapat bahwa aksiologi terdiri atas dua hal utama, yaitu etika dan estetika. Etika merupakan bagian filsafat nilai dan penilaian yang membicarakan perilaku orang, sedangkan estetika adalah bagian filsafat tentang nilai dan penilaian yang memandang karya manusia dari sudut indah dan jelek. 3. Kegunaan Pengetahuan Filsafat Menurut Tafsir (2006: 89) untuk mengetahui kegunaan filsafat, dapat dimulai dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, yaitu pertama, filsafat sebagai kumpulan teori filsafat. Kedua, filsafat sebagai metode pemecahan masalah dan ketiga, filsafat sebagai pandangan hidup. Penjelasan dari kegunaaan pertama yaitu bahwa mengetahui teori-teori filsafat sangat perlu karena dunia dibentuk oleh teori-teori itu. Adapun filsafat sebagai

bahkan rasio tidak mampu untuk melawannya. Ketentuan hukum dalam fikih terdiri dari tiga hal. bersifat tetap yang berarti bahwa tidak terpengeruh oleh kondisi . Filsafat sebagai pandangan hidup terdapat dalam beberapa segi kehidupan seperti akidah. petunjuk seperti cara sholat. Ketiga unsur tersebut apabila dilihat dari sudut sifatnya dapat dibagi menjadi dua yaitu pertama. Kegunaan Filsafat bagi Akidah Akidah merupakan bagian dari ajaran Islam yang mengatur cara berkeyakinan. dengan pusat keyakinan kepada Tuhan. kesadaran moral atau suara hati memerintahkan mempercayai-Nya. 3. Alam ini mula-mula tidak ada. 2006: 96). puasa dan sebagainya. Suara hati itu memerintah.1.metodologi bermakna cara memecahkan masalah yang dihadapi. Ada sesuatu yang mengatur alam menuju tujuan alam yaitu Tuhan. Menurut Kant akal teoritis atau akal rasional tidak melarang untuk mempercayai Tuhan. larangan seperti larangan zina. argumen tingkatan yaitu Tuhan adalah yang tertinggi sehingga Dia adalah penyebab di bawah-Nya. argumen kemungkinan yang dilatarbelakangi pemikiran bahwa adanya alam itu bersifat mungkin ada dan mungkin tidak ada. Argumen pertama adalah argumen gerak. Argumen kelima adalah argumen teologis atau disebut argumen tujuan. yang tidak memerlukan penyebab yang lain. perintah seperti sholat. Perbedaannya adalah agama berasal dari Tuhan sedangkan filsafat berasal dari pemikiran manusia. Filsafat dapat berguna untuk memperkuat keimanan.2. Keempat. Kedua. Kedua. argumen kausalitas yaitu Tuhan sebagai penyebab pertama. Fikih secara bahasa berarti mengetahui. Kegunaan Filsafat bagi Hukum Hukum yang akan dibahas adalah hukum Islami atau fikih. Ketiga. 3. puasa dan sebagainya. musyrik dan sebagainya. Kant menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat dipahami melalui akal dan hanya dapat dipahami melalui suara hati yang disebut moral. Tafsir (2006: 91-95) mengungkapkan bahwa Thomas Aquinas (1225-1274) berusaha menyusun argumen logis untuk membuktikan adanya Tuhan melalui bukunya Summa Theologia. Kegunaan filsafat sebagai pandangan hidup dimaknai sama dengan agama yaitu dalam hal mempengaruhi sikap dan tindakan penganutnya. sedangkan oleh para ushul al fiqh didefinisikan sebagai hukum praktis hasil ijtihad (Tafsir. zakat. lalu menjadi ada sehingga memerlukan Yang Ada untuk menjadikan alam menjadi ada. Pertama. Filsafat digunakan sebagai cara pemecahan masalah secara secara mendalam dan universal. Ketiga. Penggerak alam adalah Tuhan. hukum dan bahasa.

kekeliruan karena komposisi. Mashudi (dalam Tafsir. . Ketiga. Filsafat. 3. Tujuan diturunkannya hukum Islami atau fikih adalah untuk menciptakan kemaslahatan hidup manusia. Perkembangan berpikir (filsafat) akan diikuti oleh perkembangan bahasa. misalnya mempertanyakan apakah itu sesuai dengan esensi yang dikandung oleh teks yang dijadikan dasar hukum tersebut. filsafat juga berguna dalam memberikan kritik ideologi. 2006: 101) adalah memperbaiki bahasa. Pertama. Dalam memberikan kritik ideologi. 2006: 97-98) mengemukakan bahwa untuk menjamin kemaslahatan tersebut ditetapkan beberapa azaz Islami sebagai berikut: • • • • • tidak sulit dalam melakukannya ringan serta mampu dilaksanakan mudah sesuai kemampuan menghilangkan bahaya boleh melakukan sesuatu asal tidak membahayakan yang lain Kaidah-kaidah pembuatan hukum ini ternyata didasarkan pada teori-teori filsafat. Kedua. Kegunaan Filsafat bagi Bahasa Bahasa berfungsi sebagai alat untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran. muncul permasalahan dan dapat diselesaikan dengan bantuan filsafat.3. yang bersifat dapat berubah sesuai dengan kondisi tertentu. seperti pertama. Kekeliruan dalam bahasa menyebabkan kekeliruan dalam berpikir. Selain dalam hukum fikih. Amfiboli terjadi karena apabila kalimat mempunyai arti ganda. Filsafat sangat berperan dalam menentukan kualitas bahasa. khususnya filsafat sebagai metodologi berguna bagi pengembangan hukum dalam hal ini hukum Islami. Dalam hal ini filsafat dapat melakukan dua hal. Kedua. Peran logika (filsafat) dalam bahasa menurut Qasim (dalam Tafsir. kritik terhadap hukum Islami. Logika dapat mengetahui kesalahan bahasa. kekeliruan karena amfiboli. kritik terhadap ideologi saingan yang akan merusak Islam. Tanpa peran serta filsafat kekeliruan dalam bahasa tidak mungkin dapat diperbaiki.tertentu. kekeliruan dalam pembagian yaitu kekeliruan karena menetapkan sifat keseluruhan maka keliru pula dalam menetapkan sifat bagian. Ketika bahasa berfungsi sebagai alat berpikir ilmiah. kekeliruan tekanan yaitu kekeliruan yang terjadi dalam pembicaraan ketika salah dalam memberikan tekanan dalam pengucapan. yaitu dengan menggunakan fungsi kritis filsafat. Keempat. Kedua.

dan bagaimanakah cara mengetahui nilai dapat diterapkan? proses kejiwaan apakah yang tersangkut dalam tanggapan-tanggapan penilaian dan bagaimanakah cara menentukan makna-makna yang dikandungnya serta verifikasi . Ketiga. Mendalam bermakna bahwa filsafat mencari asal masalah. Filsafat menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal. segi semantis yang merupakan suatu obyek yang diberi nilai. yang artinya berguna merupakan nilai. Pendekatan-pendekatan dalam Aksiologi Kattsoff (2004: 323) menyatakan bahwa pertanyaan mengenai hakekat nilai dapat dijawab dengan tiga macam cara yaitu: • Subyektivitas yatu nilai sepenuhnya berhakekat subyektif. yang artinya baik. yang bermakna sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaiakan masalah bahkan sebagai metode memandang dunia. mempunyai kualitas yang dapat menyebabkan orang mengambil sikap menyetujui atau mempunyai sifat nilai tertentu memberi nilai. • Obyektivisme logis yaitu nilai merupakan kenyataan ditinjau dari segi ontologi. Cara Filsafat Menyelesaikan Masalah Kegunaan filsafat yang lain adalah sebagai metodologi. segi pragmatis yang merupakan suatu subyek yang memberi nilai. Kedua. benar atau indah mempunyai nilai yang artinya merupakan obyek keinginan. Nilai mempunyai bermacam makna seperti: mengandung nilai. Situasi nilai meliputi empat hal yaitu pertama.4.Nilai-nilai tersebut merupakan esensi logis dan dapat diketahui melalui akal. nilai merupakan reaksi yang diberikan manusia sebagai pelaku dan keberadaannya tergantung dari pengalaman. namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu. 5. suatu perbuatan penilaian. Keempat. seperti: apakah yang dinamakan nilai itu? apakah yang menyebabkan bahwa suatu obyek atau perbuatan bernilai. sedangkan universal bermakna filsafat ingin agar masalah dilihat dalam hubungan yang seluas-luasnya sehingga nantinya penyelesaian dapat cepat dan berakibat seluas mungkin. • Obyektivisme metafisik yaitu nilai merupakan unsur obyektif yang menyusun kenyataan. yang artinya menanggapi sesuatu sebagai hal yang diinginkan atau sebagai hal yang menggambarkan nilai tertentu Makna yang dikandung nilai tersebut menimbulkan tiga masalah yang bersifat umum. nilai ditambah perbuatan penilaian. Ditinjau dari sudut pandang ini.

2. seperti dengan menunjukkan contohnya sehingga dapat diketahui secara langsung. Nilai dapat didefinisikan dengan cara-cara lain. setiap perbuatan yang dilakukan maupun yang dipikirkan. seperti rasa nikmat atau kepentingan. Pemberian nilai juga menyangkut tindakan akal untuk menghubungkan sarana dan tujuan. Nilai sebagai Obyek Suatu Kepentingan Seringkali orang tidak sepakat mengenai suatu nilai walapun nilai tersebut sudah jelas. Teori Pragmatis Mengenai Nilai Dewey (dalam Kattsoff. Nilai merupakan Kualitas Empiris yang Tidak Dapat Didefinisikan Kualitas merupakan sesuatu yang dapat disebutkan dari suatu obyek atau suatu segi dari barang sesuatu yang merupakan bagian dari barang tersebut dan dapat membantu melukiskannya. pemberian nilai berkaitan dengan bahan-bahan faktual yang tersedia dan berdasarkan bahan-bahan tersebut. Perry juga berpendapat bahwa setiap obyek yang ada dalam kenyataan maupun pikiran. perangkat. sikap atau kecenderungan untuk setuju atau menentang. misalkan sikap tersebut ditimbulkan oleh suatu kualitas nilai tetapi bukan merupakan bagian dari hakekatnya. 2004: 332) menyatakan bahwa nilai bukanlah sesuatu yang dicari untuk ditemukan.3. tetapi tidak dapat sebaliknya. namun tidak dapat diterangkan apakah baik itu. 5. dapat memperoleh nilai jika berhubungan dengan subyek-subyek yang mempunyai kepentingan. Pendefinisisan nilai juga didasarkan pada hal-hal lain. Dewey mengatakan bahwa pemberian nilai menyangkut perasaan dan keinginan. 2004: 329) disebut kepentingan. 2004: 325) mengatakan bahwa baik merupakan pengertian yang bersahaja. Moore menyebutnya sesat-pikir naturalistis. Dengan kata lain. Dalam Theory of Valuation. Jika nilai merupakan suatu kualitas obyek atau perbuatan tertentu. Apabila seseorang mempertimbangkan tanggapan-tanggapan penilaian yang lain yang dibuatnya mengenai barang sesuatu atau tindakan maka pasti akan dijumpai semacam keadaan. Nilai bukanlah suatu kata benda atau kata sifat. Nilai tidak dapat didefinisikan maksudnya nilai-nilai tidak dapat dipersamakan dengan pengertianpengertian yang setara. Kemungkinan ketiga berarti bahwa apabila seseorang mengatakan x bernilai maka dalam arti yang sama dapat dikatakan bahwa seseorang tersebut mempunyai kepentingan terhadap x. Sikap setuju atau menentang oleh Perry (dalam Kattsoff. Sebagai contoh pengertian baik. Adapun kualitas empiris didefinisikan sebagai kualitas yang diketahui atau dapat diketahui melalui pengalaman.1. Dapat . maka obyek dan perbuatan tersebut dapat didefinisikan berdasarkan atas nilai-nilai. Moore (dalam Kattsoff. artinya pengertian nilai. perbuatan-perbuatan dan obyekobyek dapat dihubungkan dengan tujuan-tujuan yang terbayang. Kenyataan bahwa nilai tidak dapat didefinisikan tidak berarti nilai tidak bisa dipahami. Kemungkinan kedua berarti bahwa. 5. Dalam hal ini tersedia tiga kemungkinan pilihan yaitu: sikap setuju atau menentang tersebut sama sekali bersangkut paut dengan masalah nilai sikap tersebut bersangkutan dengan sesuatu yang tidak hakiki sikap tersebut merupakan sumber pertama serta ciri yang tetap dari segenap nilai Kemungkinan pertama sudah jelas. Masalah nilai berpusat pada perbuatan memberi nilai.yang dapat dilakukan terhadapnya? 5.

341) mendefinisikan etika sebagai cabang aksiologi yang pada pokoknya membicarakan masalah predikat-predikat nilai betul dan salah dalam arti susila dan tidak susila.1. Pandangan ini erat hubungannya dengan pandangan Plato dan Aristoteles (Kattsoff. Kesusilaan sering dikaitkan juga dengan norma agama yang berhubungan dengan masalah pahala dan dosa. bahwa etika berkaitan dengan landasan filsafati norma dan nilai dalam kehidupan kemasyarakatan.2. Etika Etika oleh Driyarkara (dalam Wiramihardja. 2006: 158) disebut juga sebagai filsafat kesusilaan atau moral. sistem-sistem nilai kebiasaan yang penting dalam kehidupan kehidupan kelompok khusus manusia yang digambarkan sebagai etika kelompok ini. 2004: 337) mengenai forma-forma. Masalah Etika dan Meta Etika Etika mempunyai empat pengertian yaitu pertama. namun tidak bereksistensi. Kedua. Berhubung dengan itu. Apabila nilai merupakan ciri intrnsik semua hal yang bereksistensi maka dunia ini merupakan dunia yang baik. 2006: 160) menyatakan terdapat beberapa etika yang . Jika nilai bersifat intrinsik. dapat dikatakan bahwa tidaklah terdapat perbedaan antara apa yang ada (eksistensi) dengan apa yang seharusnya ada. etika dalam sistem moralitas mengacu pada prinsip-prinsip moral aktual. yaitu masalah etika dan meta etika. Keempat. Ketiga.disimpulkan bahwa pemberian nilai adalah ketentuan-ketentuan penggunaan berkaitan dengan kegiatan manusia melalui generalisasi-generalisasi ilmiah sebagai sarana mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan. 5. namun ada dalam kenyataan. Craig dalam bukunya The Shorter Routledge Encyclopedia of Phylosophy mengemukakan tiga masalah utama dalam etika. 6. Nilai-nilai mendasari sesuatu dan bersifat tetap. nilai tidak bereksistensi. moralitas bersangkutan dengan apa yang seyogyanya dilakukan dan apa yang seyogyanya tidak dilakukan karena berkaitan dengan prinsip moralitas yang ditegakkan. maka nilai apa yang akan ada merupakan kelanjutan belaka dari apa yang seharusnya ada. etika merupakan suatu daerah dalam filsafat yang memperbincangkan telaahan etika dalam pengertian-pengertian lain. Sebagai esensi. 6. yaitu pertama. etika digunakan pada satu di antara sistem-sistem khusus tersebut yaitu moralitas yang melibatkan makna dari kebenaran dan kesalahan. nilai-nilai tersebut haruslah merupakan esensi-esensi yang terkandung dalam barang sesuatu serta perbuatan-perbuatan. Sesungguhnya nilai-nilai ada dalam kenyataan. terdapat perbedaan diantara keduanya. Adapun etika merupakan wacana yang memperbincangkan landasanlandasan moralitas. Dengan demikian maka masalah adanya keburukan di dunia terhapus karena memperoleh pengingkaran.4. kerena di dalamnya tidak mungkin terdapat keadaan tanpa nilai. sedangkan moral berkaitan dengan nilai perbuatan yang berhubungan dengan kebaikan atau keburukan perilaku yang bersangkutan dengan agama. Konsep dan Teori Etika Crisp (dalam Wiramihardja. masalah konsep etis dan teori etis serta masalah etika terapan. 6. Yang sungguh-sungguh ada yaitu apa yang ada kini dengan yang mungkin ada (apa yang akan ada). Filsafat etis merupakan usaha untuk memberi landasan terhadap usaha menyelesaikan konflik-konflik secara rasional apabila respon otomatis dan aturan implisit tindakan berbelit dengan respon dan aturan yang bertentangan. Kattsoff (2004. Kedua. Nilai sebagai Esensi Apabila nilai sudah sejak semula terdapat di segenap kenyataan. Namun.

menyakitkan ataupun tidak nyaman. 2006. Filsafat moral atau etika membicarakan advokasi cara-cara khusus hidup dan bertindak. Kattsoff (2004: 366) mengungkapkan bahwa estetika merupakan suatu teori yang meliputi: penyelidikan mengenai yang indah penyelidikan mengenai prinsip-prinsip yang mendasari seni pengalaman yang berkaitan dengan seni seperti masalah penciptaan seni.3. menyangkup ruang lingkup. Pemikiran Hellenik berpendapat bahwa seni pertama kali muncul sebagai reproduksi dari realitas yang merupakan alasan yang ditentang analisis estetik karena berpegang teguh pada signifikan konkret mengenai keindahan dalam diri manusia dan alam. Adapun dua prinsip lainnya lebih . bukan sebagai bimbingan praktis untuk menilai dan membentuk sesuatu yang bernilai estetis. Beberapa tradisi lama sekarang telah hilang. pertanyaan (issues) tentang keindahan. 7. hanya satu yang dianggap sebagai judul yang lebih tepat bagi teori estetika. penilaian terhadap seni atau perenungan atas seni 7. sajak dan musik yang dianggap pilar dari kesenian pada umumnya. Teori lima seni merupakan teori seni yang menyangkut permasalahan seni lukis. nilai.bersifat luas dan umum serta berupaya untuk mendapatkan prinsip-prinsip umum atau keterangan-keterangan dasar mengenai moralitas. cenderung lebih berfokus pada masalah etika. Estetika Estetika menurut The Liang Gie (dalam Wiramihardja. Bosanquet menyatakan bahwa toeri aestetika merupakan cabang filsafat dan lahir untuk keperluan pengetahuan. Teori keindahan mempunyai tiga prinsip yang membangun kerangka kerja Hellenistik mengenai alam dan nilai keindahan. aiesthetika berarti hal-hal yang dapat diserap oleh panca indera. 7. Immanuel Kant menyatakan bahwa konsep estetika bersifat subyektif. tetapi pada taraf dasar manusia secara universal mempunyai perasaan yang sama terhadap apa yang membuat nyaman. Masalah Etika Terapan Etika filsafati selalu dikaitkan dengan taraf penerapan pada kehidupan nyata sehari-hari. namun masih banyak perbedaan cara pandang mengenai bagaimana seharusnya cara orang hidup. Baumgarten (dalam Wiramihardja. Aristoteles meyakini bahwa dalam mempelajari etika tidak terdapat nilai. sedangkan aisthesis berarti persepsi inderawi. seni pahat. Estetika Filsafati Teori keindahan lebih tepat dianggap sebagai kajian ilmiah dalam membahas fenomena atau wujud kesenian daripada dasar-dasar wacana seni. Prinsip Estetika Keindahan mengandung ekspresi imajinatif dan sensuous mengenai kesatuan dalam kemajemukan. jika hal itu tidak akan memberikan keuntungan kepada orang dalam menjalani kehidupannya. 2006: 162) merupakan permasalahan. Marcia Eaton menyatakan bahwa konsep-konsep estetika merupakan konsepkonsep yang berkaitan dengan deskripsi dan evaluasi obyek serta kejadian artistik dan estetika.1.2. perilaku dan pemikiran seniman. pengalaman. Namun. arsitektur. seni serta persoalan estetika dan seni dalam kehidupan manusia. senang. 163) mengatakan bahwa estetika merupakan pengetahuan tentang sensuous. Dalam bahasa Yunani. 6.

Dalam hal ini tugas ilmuwan adalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk mempergunakannya. Ilmu tidak saja bertujuan untuk menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman tetapi bertujuan untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dalam gejala tersebut untuk mengontrol dan mengarahkan proses yang terjadi. Tanner menekankan hubungan antara etika dan estetika. Golongan pertama yaitu golongan yang menginginkan agar ilmu harus netral terhadap nilai-nilai baik secara ontologis maupun aksiologis. Golongan pertama ingin melanjutkan tradisi kenetralan ilmu seperti pada saat era Galileo. sedangkan penggunaannya. Budd mendefinisikan sifat aestetisme sebagai cara kita menganggap sesuatu dan jika kita hanya menangkap inti estetis di dalamnya. Mautner menyatakan bahwa aestetisme mempunyai pengertian aliran filsafat dan orang-orang yang menghadapi permasalahan. Ilmu bukan saja digunakan untuk menguasai alam melainkan juga untuk memerangi sesama manusia dan menguasai mereka. senantiasa mengutamakan nilai-nilai estetis. yaitu bahwa antara penilaian estetika dan etika telah melahirkan subyek materi estetika (Wiramihardja. pemenuhan kebutuhan manusia menjadi lebih mudah dan cepat. Konsep ilmiah yang bersifat abstrak menjelma dalam bentuk konkret yang berupa teknologi. Konsep Estetika Konsep estetika merupakan konsep-konsep yang berasosiasi dengan istilah-istilah yang mengangkat kelengkapan estetik yang mengacu pada deskripsi dan evaluasi mengenai pengalaman-pengalaman yang melibatkan obyek. Mendapatkan otonomi yang terbebas dari segenap nilai yang bersifat dogmatik maka dengan leluasa ilmu dapat mengembangkan dirinya. Golongan kedua mendasarkan pendapatnya pada beberapa hal: ilmu secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya dua Perang Dunia yang mempergunakan teknologiteknologi keilmuan . 8. Dihadapkan pada masalah moral maka ilmuwan dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu golongan pertama dan golongan kedua. maka kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral.3. terdapat sisi buruk dari imu yaitu sejak dalam tahap pertama pertumbuhannnya ilmu sudah dikaitkan dengan tujuan perang. seperti keseimbangan dalam bertingkah laku dan menilai situasi apa pun yang termasuk airan ini tidak harus para seniman. meskipun akar keduanya adalah asumsi metafisika yang juga memadai untuk batasan analisis estetik. Berkat kedua hal tersebut. 2006: 166-168). Namun. Goethe menyatakan bahwa dalam kehidupan umumnya yang harus diutamakan dan didahulukan adalah nilai estetis. Ilmu dan Moral Peradaban manusia bergerak seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Prinsip ketiga dianggap sebagai kondisi ekspresi yang abstrak. 7. Kant menyatakan bahwa konsep estetik secara esensial bersifat subyektif. Adapun golongan kedua merupakan golongan yang berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. bahkan pemilihan obyek penelitian. serta kejadian artistik dan estetik.dekat pada masalah-masalah moral dan metafisik. sedangkan golongan kedua berusaha menyesuaikan kenetralan ilmu berdasarkan perkembangan ilmu dan masyarakat. berakar pada perasaan pribadi mengenai rasa senang dan sakit.

PT Refika Aditama. 1-16. Koento Wibisono (2003).ilmu telah berkembang dengan pesat sehingga ilmuwan lebih mengetahui tentang ekses-ekses yang mungkin terjadi penyalahgunaan ilmu telah berkembang sedemikian rupa. “Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umum mengenai Kelahiran dan Perkembangannya sebagai Pengantar untuk Memahami Filsafat Ilmu”. • • • Suriasumantri.O. seperti kasus revolusi genetika Referensi: • • Kattsoff. L. (2004). Metafisika dan Filsafat Manusia. Siswomihardjo. Filsafat Ilmu sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. S. Bandung.A. Jakarta. Sejarah Filsafat. Tiara Wacana. (2006). Logika dan Filsafat Ilmu. Wiramihardja. Liberty. Jujun S. Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan. Bandung. (2005). PT Remaja Rosdakarya. Pengantar Filsafat. Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi. hal. Pustaka Sinar Harapan. . dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki. Yogyakarta. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Pengantar Filsafat: Sistematika Filsafat. Ahmad (2006). Yogyakarta. Aksiologi. Tafsir.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->